1) Perjanjian Internasional Secara umum Perjanjian Internasional didefinisikan sebagai perjanjian antara subjek-subjek hukum internasional yang

menimbulkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban menurut hukum internasional. Sementara Mochtar Kusumaatmadja mendefinisikan Perjanjian Internasional ini sebagai perjanjian yang diadakan antara masyarakat bangsa-bangsa dan bertujuan untuk mengakibatkan akibat hukum tertentu. Suatu hal yang harus menjadi catatan, bahwa dalam konteks Perjanjian Internasional ini ada banyaknya istilah yang digunakan. Ada kalanya dinamakan traktat (treaty), pakta (pact), konvensi (convention), piagam (charter), statuta (statute), deklarasi (declaration), protokol (protocol), arrangement, accord, modus vivendi, covenant, dan sebagainya. Dilihat dari segi yuridis semua istilah ini tidak mempunyai arti khusus, sehingga perjanjian internasional dirujuk sebagai padanan dari kata-kata yang dimaksud di atas. Macam-macam Perjanjian Internasional Ditinjau dari pelbagai segi, Perjanjian Internasional dapat digolongkan ke dalam 4 (empat) segi, yaitu: a. Perjanjian Internasional ditinjau dari jumlah pesertanya. Secara garis besar, ditinjau dari segi jumlah pesertanya, Perjanjian Internasional dibagi lagi ke dalam: a.1 Perjanjian Internasional Bilateral, yaitu Perjanjian Internasional yang jumlah peserta atau pihak-pihak yang terikat di dalamnya terdiri atas dua subjek hukum internasional saja (negara dan / atau organisasi internasional, dsb). Kaidah hukum yang lahir dari perjanjian bilateral bersifat khusus dan bercorak perjanjian tertutup (closed treaty), artinya kedua pihak harus tunduk secara penuh atau secara keseluruhan terhadap semua isi atau pasal dari perjanjian tersebut atau sama sekali tidak mau tunduk sehingga perjanjian tersebut tidak akan pernah mengikat dan berlaku sebagai hukum positif, serta melahirkan kaidah-kaidah hukum yang berlaku hanyalah bagi kedua pihak yang bersangkutan. Pihak ketiga, walaupun mempunyai kepentingan yang sama baik terhadap kedua pihak atau terhadap salah satu pihak, tidak bisa masuk atau ikut menjadi pihak ke dalam perjanjian tersebut. a.2 Perjanjian Internasional Multilateral, yaitu Perjanjian Internasional yang peserta atau pihak-pihak yang terikat di dalam perjanjian itu lebih dari dua subjek hukum internasional. Sifat kaidah hukum yang dilahirkan perjanjian multilateral bisa bersifat khusus dan ada pula yang bersifat umum, bergantung pada corak perjanjian multilateral itu sendiri. Corak perjanjian multilateral yang bersifat khusus adalah tertutup, mengatur hal-hal yang berkenaan dengan masalah yang

2 Law Making Treaty Sebagai perjanjian umum atau perjanjian terbuka. b. maka tidak ada relevansinya bagi pihak lain untuk ikut serta sebagai pihak di dalamnya dalam bentuk intervensi apapun. bisa sebagian negara.1 Treaty Contract Sebagai perjanjian khusus atau perjanjian tertutup. ditinjau dari segi isi atau materinya maupun kaidah hukum yang dilahirkannya tidak saja berkenaan dengan kepentingan subjek-subjek hukum yang dari awal terlibat secara aktif dalam proses pembuatan perjanjian tersebut. tetapi juga kepentingan dari pihak lain atau pihak ketiga. yaitu terbagi dalam 2 (dua) kelompok: b. Perlu menjadi catatan bahwa sebagaimana sifatnya yang khusus dan tertutup menyangkut kepentingan-kepentingan para pihak yang bersangkutan saja. maupun relevensinya bagi para pihak yang bersangkutan untuk mengajak atau membuka kesempatan bagi pihak ketiga untuk ikut serta di dalamnya. Perjanjian Internasional ditinjau dari kaidah hukum yang dilahirkannya. Dengan demikian perjanjian itu. isi atau pokok masalah yang diatur dalam perjanjian itu tidak saja bersangkut-paut dengan kepentingan para pihak atau subjek hukum internasional yang ikut serta dalam merumuskan naskah perjanjian tersebut. perjanjian multilateral sesungguhnya sama dengan perjanjian bilateral. Perjanjian ini bisa saja berbentuk perjanjian bilateral maupun perjanjian multilateral. perjanjian-perjanjian multilateral semacam itu memang membuka diri bagi pihak ketiga untuk ikut serta sebagai pihak di dalam perjanjian tersebut. memiliki corak terbuka. Dalam kenyatannya. pihak lain atau pihak ketiga ini mungkin bisa menyangkut seluruh negara di dunia.khusus menyangkut kepentingan pihak-pihak yang mengadakan atau yang terikat dalam perjanjian tersebut. yang membedakan hanya dari segi jumlah pesertanya semata. melainkan juga dapat merupakan kepentingan pihak-pihak lainnya. b. perjanjian multilateral yang terbuka ini cenderung berkembang menjadi kaidah hukum internasional yang berlaku secara umum atau universal. Maksudnya. Oleh karenanya. merupakan perjanjian yang hanya melahirkan kaidah hukum atau hak-hak dan kewajibankewajiban yang hanya berlaku antara pihak-pihak yang bersangkutan saja. bahkan bisa jadi hanya beberapa negara saja. Dalam konteks negara. Maka dari segi sifatnya yang khusus tersebut. merupakan perjanjianperjanjian yang ditinjau dari isi atau kaidah hukum yang dilahirkannya dapat diikuti oleh subjek hukum internasional lain yang semula tidak ikut serta dalam proses pembuatan perjanjian tersebut. Oleh karena itulah dalam konteks subjek . Penggolongan Perjanjian Internasional dari segi kaidah yang dilahirkan sesungguhnya berkaitan erat dengan pengolongan sebagaimana dikemukakan pada poin (a). Sedangkan perjanjian multilateral yang bersifat umum.

Semakin bertambah banyak negara-negara yang ikut serta di dalamnya maka semakin besar pula kemungkinannya menjadi kaidah hukum yang berlaku umum. Law making treaty ini pun dapat dijabarkan lagi berdasarkan jenisnya menjadi: b.1 Perjanjian terbuka atau perjanjian umum.3 Perjanjian terbuka atau umum yang berdasarkan ruang lingkup masalah ataupun objeknya hanya terbatas bagi negara-negara dalam satu kawasan tertentu saja.2. namun pada tahap ketiga ada proses pengesahan (ratification). Pada perjanjian ini penandatangan itu bukanlah merupakan pengikatan diri negara penandatangan pada perjanjian.2 Perjanjian Internsional yang melalui tiga tahap. mempunyai makna sebagai pengikatan diri dari para pihak terhadap naskah perjanjian yang telah disepakati itu. Perumusan itu nantinya merupakan hasil kata sepakat antara pihak yang akhirnya berupa naskah perjanjian.2 Perjanjian terbuka atau perjanjian umum yang isi atau masalah yang diatur di dalamnya merupakan kepentingan sebagian besar atau seluruh negara di dunia. biasanya negara-negara perancang dan perumus perjanjian itu membuka kesempatan bagi negara-negara lain yang merasa berkepentingan untuk ikut sebagai peserta atau pihak dalam perjanjian tersebut. Dari segi prosedur atau tahap pembentukanya Perjanjian Internasional dibagi ke dalam dua kelompok yaitu: c. sama dengan proses Perjanjian Internasionl yang melalui dua tahap. b. Pada tahap perundingan wakil-wakil para pihak bertemu dalam suatu forum atau tempat yang secara khusus membahas dan merumuskan pokok-pokok masalah yang dirundingkan itu. Dengan demikian. yang isi atau masalah yang diaturnya adalah masalah yang menjadi kepentingan beberapa negara saja.2. melainkan hanya berarti bahwa wakil-wakil para pihak yang bersangkutan telah berhasil mencapai kata sepakat mengenai masalah yang dibahas dalam perundingan yang telah dituangkan dalam bentuk naskah perjanjian. b.1 Pejanjian Internasional yang melalui dua tahap. . maka perjanjian itu telah mempunyai kekuatan mengikat bagi para pihak yang bersangkutan. Perjanjian melalui dua tahap ini hanyalah sesuai untuk masalah-masalah yang menuntut pelaksanaannya sesegera mungkin diselesaikan. Pada Perjanjian Internasional yang melalui tiga tahap. tahap terakhir dalam perjanjian dua tahap. Selanjutnya memasuki tahap kedua yaitu tahap penandatangan.hukumnya adalah negara. Perjanjian Internasional ditinjau dari prosedur atau tahap pembentukannya.2. Kedua tahap tersebut meliputi tahap perundingan (negotiation) dan tahap penandatanganan (signature). c. c.

Kebiasaan dimulai apabila adat-istiadat berakhir. Ditinjau dari sudut isi maupun materi dari perjanjian yang dibentuk melalui tiga tahap ini. terutama bagi para pihak yang bersangkutan. corak perjanjian ini merupakan perjanjian yang mengandung kaidah hukum yang penting. sementara kebiasaan harus terunifikasi dan bersesuaian (self-consistent). dibutuhkan pemahaman yang mendalam akan sifat. maksud dan tujuan perjanjian itu. maka perjanjian itu baru berlaku atau mengikat para pihak yang bersangkutan. Hanya saja kriteria mengenai penting atau tidak pentingnya masalah tersebut. Persamaan keduanya adalah sebagai praktik kebiasaan. d. Dengan dilalui tahap pengesahan atau tahap ratifikasi ini. Adat-istiadat adalah suatu kebiasaan bertindak yang tidak mengikat atau tidak memiliki kekuatan hukum (unreceived full legal attestation). pada umumnya menyangkut hal-hal yang mengandung nilai penting atau prinsipil bagi para pihak yang bersangkutan. Namun demikian. maka wakil-wakil tersebut harus mengajukan kepada pemerintah negaranya masing-masing untuk disahkan atau diratifikasi. secara mudah dapat diketahui pada naskah perjanjian itu sendiri.Agar perjanjian yang telah di tandatangani oleh wakil-wakil pihak tersebut mengikat bagi para pihak. karena hakikatnya perjanjian itu dimaksudkan untuk berlaku dalam jangka waktu tertentu atau terbatas. yang berkenaan dengan . sepanjang dan selama perjanjian itu masih dapat memenuhi keinginan para pihak atau masih mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan umum. ditentukan sepenuhnya oleh negara-negara yang bersangkutan. jika objek yang diperjanjikan itu sudah terlaksana atau terwujud sebagaimana mestinya. Adat-istiadat merupakan tahapan yang mendahului adanya kebiasaan. Adat-istiadat mungkin bertentangan satu sama lain. Ada memang perjanjian-perjanjian yang tidak menetapkan batas waktu berlakunya karena dimaksudkan berlaku sampai jangka waktu yang tidak terbatas. dalam hal Perjanjian Internasional tersebut tidak secara tegas dan eksplisit menetapkan batas waktu berlakunya. Pembedaan atas Perjanjian Internasional berdasarkan atas jangka waktu berlakunya. Tetapi sesungguhnya ada perbedaan teknis yang tegas di antara kedua istilah tersebut. 2) Hukum Kebiasaan Internasional Costum and Usage Istilah “kebiasaan” (custom) dan “adat-istiadat” (usage) sering digunakan secara bergantian. sebab dalam beberapa Perjanjian Internasional hal ini ditentukan secara tegas. namun sesungguhnya perjanjian ini tetap terbatas. Perjanjian Internasional ditinjau dari jangka waktu berlakunya. Misalnya. yakni pada kebutuhan dan perkembangan zaman itu sendiri. Viner’s Abrigement. Dilihat dari sudut materinya. maka perjanjian tersebut berakhir dengan sendirinya. pola tingkah laku masyarakat internasional (internasional habit of action).

Unsur Material. yaitu kebiasaan itu harus telah diterima atau ditaati sebagai perilaku yang memiliki nilai sebagai hukum. Keputusan-keputusan pengadilan internasional maupun nasional. mengemukakan bahwa. Poin terakhir diadopsi oleh ICJ: “…… not only must the acts concerned amount to a settled practice. Ada kalanya diperlukan waktu yang lama sekali. Perundang-undangan nasional negara-negara. namun perjanjian-perjanjian pada umumnya dan perjanjian bilateral . sebagaimana dimaksudkan oleh hukum. perilaku atau praktik negaranegara dalam membuat perjanjian internasional dapat dipandang sebagai petunjuk adanya hukum kebiasaan internasional. Sebenarnya. tetapi banyak pula contoh bahwa masyarakat internasional telah menerima satu pola tindakan sebagai hukum kebiasaan dalam waktu yang tidak begitu lama. or be carried out in such a way. dan e. hukum kebiasaan internasional dapat dilihat dan diamati serta dibuktikan eksistensinya. yang secara jelas dan tegas dapat diketahui isi dan maksudnya. they must also be such. d. Mengenai opini juris inilah yang menjadi problema. satusatunya upaya untuk mengetahuinya adalah dengan memperhatikan perilaku atau praktek negara-negara. maka dalam hal kebiasaan maupun hukum kebiasaan internasional. Kebiasaan dan Traktat atau Perjanjian Sebagaimana sedikit disinggung di atas. Tulisan-tulisan atau karya-karya yuridis para sarjana. dan b. c. dalam kaidah Latin dikenal opinio juris sive necessitatis .” Kebiasaan sebagai Hukum Untuk dapat dikategorikan sebagai sumber hukum. as to be evidence of a believe that this practice is rendered obligatory by existence of a rule of law requiring it. Perjanjian-perjanjian internasional. Menurut Michael Akheurst . Unsur Psikologis. karena tiadanya parameter konkret yang menetapkan setelah berapa lama praktik masyarakat internasional dapat dikategorikan sebagai sebuah kebiasaan. Perilaku atau tindakan pejabat-pejabat negara. maka kebiasaan internasional tersebut harus memenuhi 2 unsur yang dikenal dengan the two elements theory: a.kebiasaan dalam Hukum Inggris. perjanjianperjanjian internasional merupakan salah satu sumber hukum internasional sendiri. karena bentuknya yang tertulis. b. adalah suatu adat-istiadat yang telah memperoleh kekuatan hukum. “Kebiasaan. yaitu harus terdapat kebiasaan yang bersifat umum yang diwujudkan dalam praktik kehidupan bernegara oleh masyarakat internasional (the evidence of material fact). sedikitnya dalam bentuk: a. Berbeda halnya dengan Perjanjian Internasional.

Starke berpendapat bahwa prinsip-prinsip umum hukum ini dimasukkan ke dalam Statuta Mahkamah (Pasal 38 (1) Statuta ICJ) untuk memberikan suatu dasar tambahan bagi keputusan dalam hal bahan-bahan lain. Contoh dari prinsip umum tentang hukum adalah prinsip keadilan. sudah dapat dijadikan sebagai petunjuk tentang adanya atau terbentuk hukum kebiasaan melalui perjanjian multilateral atau perjanjian-perjanjian bilateral. ─ bukan mengenai isinya ─. Prinsip-prinsip hukum dari pelbagai sistem hukum. b. Karena dengan adanya ini. namun secara universal mengandung kesamaan. Adanya prinsip-prinsip umum tentang hukum sebagai sumber hukum tersendiri di samping perjanjian dan kebiasaan internasional. Dalam hal ini patut ditekankan bahwa. Secara hirarkis macam dan tingkatan dari prinsip-prinsip umum tentang hukum ini terdiri: a. Prinsip-prinsip hukum pada umumnya.pada khususnya. dalam asas atau prinsip yang mendasarinya. dan sebagainya. walaupun dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya. Jadi perjanjian itu hanya berfungsi sebagai wadah atau sarana untuk memudahkan mengetahui perilaku atau praktik negara-negara berkenaan dengan masalah yang diatur di dalam perjanjian tersebut. 3) Prinsip-prinsip Umum tentang Hukum Prinsip-prinsip umum tentang hukum adalah sekumpulan peraturan hukum dari pelbagai bangsa dan negara yang secara universal mengandung kesamaan. prinsip kepatutan dan kelaikan. Mahkamah Internasional tidak dapat menyatakan non liquest ─ menolak mengadili perkara karena tiadanya hukum yang mengatur persoalan yang diajukan ─. hanyalah mengikat para pihak yang bersangkutan saja. Jika kemudian negara-negara lain meniru dan mengikutinya dengan jalan membuat perjanjian yang serupa. Hukum positif dari pelbagai bangsa dan negara maupun hukum internasional. prinsip itikad baik. sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan hukum internasional sebagai sistem hukum positif. sehingga memperkuat kedudukan Mahkamah Internasional sebagai badan yang membentuk dan menemukan hukum baru. tidak dapat membantu Mahkamah. melainkan isi atau pokok masalah yang dituangkan di dalamnya. ─ dua sumber hukum internasional yang telah dibahas di atas ─. maka pokok masalah yang dituangkan dan dirumuskan dalam perjanjian-perjanjian yang jumlahnya semakin banyak dan menyebar luas itu. bukanlah perjanjian itu yang dipandang sebagai hukum kebiasaan internasional. . yang harus digunakan secara analogi dengan menyeleksi konsep-konsep yang diakui oleh semua sistem hukum nasional. prinsip kesamaan derajat antara sesama manusia.

prinsip pacta sunt servanda dalam hukum perjanjian atau perikatan.. Kesamaan inilah yang dapat disimpulkan sebagai prinsip umum tentang hukum. prinsip resiprositas atau prinsip timbal balik . sistem hukum yang sudah secara klasik dikenal dan berpengaruh luas adalah sistem hukum Anglo-Saxon dan sistem hukum Eropa Kontinental. Tentu saja semua sistem hukum ini kalau diteliti lebih mendalam. tentu tidak sedikit pula kesamaannya dengan jalan mendeduksikannya.Menurut sejarahnya. prinsip penentuan nasib sendiri dari setiap negara. walaupun contoh khusus yang konkrit sulit untuk diberikan. sistem hukum Hindu. dan sebagainya. setiap hukum nasional negara-negara mengenal prinsip non bis in idem. prinsip pacta van survanda. sistem hukum Sosialis. prinsip pacta tertiis nec nocent nec prosunt. Namun di samping kedua sistem hukum ini. dan sistem hukum Magribi. dan sebagainya. dalam bidang hukum humaniter dikenal prinsip pembelaan dan prinsip kekesatriaan. prinsip kesamaan derajat negara-negara. dan sebagainya. prinsip internasional yang terkandung di dalam Piagam PBB. dalam bidang hukum perjanjian internasional dikenal prinsip itikad baik (good faith) . Hukum internasional pun mengenal prinsip-prinsip hukum. Prinsip-prinsip hukum nasional pada umumnya. Dari prinsip-prinsip hukum nasional negara-negara di dunia pada umumnya. Tentunya paling banyak dijumpai adalah prinsip-prinsip hukum internasional dalam perlbagai bidang hukum internasional itu sendiri. Sebagai contoh. dan prinsip nullum delictum dalam hukum pidana. walaupun berbeda-beda. dalam bidang hukum laut internasional dikenal prinsip kebebasan laut lepas (freedom of the high seas) . dalam bidang hukum ekonomi internasional dikenal prinsip non-diskriminasi. Misalnya. d. Sebagai contoh. prinsip dasar samudera sebagai warisan bersama umat manusia (seabed and ocean floor beyond national jurisdiction as common heritage of mankind) . tentunya identik dengan prinsip-prinsip hukum dari hukum nasional negara-negara. dapat ditemukan pula asas-asas atau prinsip-prinsip hukum yang sama antara satu dengan lainnya. c. masih ada beberapa sistem lain yang juga dianut secara luas. antara lain sistem hukum Islam. prinsip non intervensi. e. prinsip national treatment. Prinsip-prinsip hukum dari pelbagai pelbagai cabang hukum internasional. Hubungan Prinsip-prinsip Umum tentang Hukum dengan Perjanjian Internasional dan Hukum Kebiasan Internasional . Karena sistem hukum ini berlaku dan berpengaruh pada pelbagai negara atau pelbagai kawasan. Prinsip-prinsip hukum internasional pada umumnya. prinsip ius soli dan ius sanguinis dalam hukum kewarganegaraan. yang melandasi berlakunya kaidah hukum internasional positif.

4) Keputusan Badan-badan Peradilan dan Pendapat Para Ahli (Doktrin) Meski keputusan badan-badan peradilan itu hanya berlaku dan mengikat bagi para pihak yang berperkara.Jika sudah dirumuskan dalam bentuk Perjanjian Internasional ataupun sudah menjadi bagian dari Hukum Kebiasaan Internasional. tetap dapat dijadikan sebagai dasar bagi norma-norma hukum (internasional) positif lainnya. Namun. tidak dapat disangkal seringkali memiliki wibawa yang demikian tinggi sehingga dapat mempengaruhi kecenderungan dan perkembangan hukum internasional itu sendiri. baik yang sudah ada sebelumnya maupun yang akan muncul pada masa yang akan datang. Termasuk pula di dalamnya keputusan badan-badan peradilan nasional negara-negara. Mahkamah Hak-hak Asasi Manusia. walaupun bukan . dapat disamakan atau disejajarkan dengan hukum internasional positif yang mempunyai kekuatan mengikat yang sama. badan-badan arbitrase internasional. ─ yang sesungguhnya bukanlah norma hukum positif karena hanyalah berupa pendapat perorangan saja ─. Dengan kata lain. meliputi keputusan Mahkamah Internasional (International Court of Justice). Isi. namun kerap nilai hukum yang dikandung di dalamnya dapat berlaku menjadi hukum yang berlaku umum. terutama yang mengandung aspek-aspek hukum internasional. maka prinsipprinsip umum tentang hukum yang seperti itu. Mahkamah Internasional Permanen (the Pemanent Court of International Justice). Hal ini menunjukkan betapa suatu badan peradilan nasional pun memberikan sumbangan positif bagi pembentukan hukum internasional. tidaklah menghilangkan hakikatnya sebagai prinsip-prinsip umum hukum sebab daripadanya masih dapat diturunkan atau ditarik norma hukum (internasional) yang lain. juga dapat berpengaruh besar terhadap hukum internasional. dan keputusan badanbadan peradilan internasional lainnya. Dengan demikian. Pendapat Para Ahli (Doktrin) Pendapat para ahli mengenai suatu masalah tertentu. badan arbitrase nasional maupun badan-badan peradilan nasional lainnya yang ada dalan suatu negara. Keputusan badan-badan peradilan nasional seperti Mahkamah Agung suatu negara. dan semangat yang terkandung di dalam keputusan itu kemudian diikuti oleh negara-negara dalam praktik dan ada pula yang diundangkan di dalam peraturan perundang-undangan nasionalnya. jiwa. keputusan badan peradilan internasional yang semula hanya berlaku bagi para pihak yang berperkara saja. lama kelamaan berkembang menjadi norma hukum internasional yang berlaku umum. Demikian pula halnya dengan doktrin. Keputusan Badan-badan Peradilan Keputusan badan-badan peradilan atau yurisprudensi mencakup seluruh keputusan badan peradilan.

Sebagai gambaran. . Walaupun keputusan atau resolusinya itu hanyalah pendapat atau pandangan organisasi dan atau para anggotanya. seringkali berkembang menjadi norma hukum positif. International Law Association.merupakan hukum positif. dan International Law Institute yang masing-masing sebagai organisasi independen yang terdiri dari para ahli hukum internasional. 5) Sumber-sumber Hukum lainnya a. apabila dikemukakan oleh badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan professional sebagai wadah profesi. Komisi Hukum Internasional (International Law Commission) sebagai komisi ahli yang dibentuk oleh Majelis Umum PBB. tentu saja nilai hukum yang dikandungnya menjadi lebih berbobot. Bahkan pendapat para ahli tersebut. karena wibawa dan pengaruhnya yang demikian luas. Hal ini berarti bahwa yang semula berasal dari pendapat perorangan kini melahirkan suatu kesamaan pandangan dan sikap atau perilaku anggota masyarakat. Di samping itu ada pula yang berupa kesepakatankesepakatan yang mengikat sebagai norma hukum terhadap negara-negara anggotanya. terutama yang bersifat internasional. Supaya semua organ tersebut dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan demi terjalinnya hubungan antar organ-organnya itu. lama kelamaan pandangan ini dapat berkembang menjadi suatu kesamaan pandangan para ahli lain maupun anggota masyarakat luas tentang masalah tersebut. Organisasi internasional sebagai suatu lembaga. memiliki organ-organ yang terstruktur menurut kebutuhan organisasi itu sendiri dalam rangka mencapai tujuannya. Pendapat para ahli akan lebih cepat berpengaruh dan berkembang menjadi norma hukum positif. pandangan seorang ahli yang dikemukakan di dalam karya tulisannya mengenai masalah tertentu yang kemudian dikutip dan disetujui oleh penulis atau sarjana lain maupun oleh hakim-hakim dalam penyusunan keputusan atas suatu perkara yang sedang diperiksanya. maka dapat dipandang sebagai telah terbentuknya suatu norma hukum. dibutuhkan adanya peraturan yang berfungsi sebagai aturan permainan (rule of procedure) yang berlaku interen bagi organisasi internasional itu sendiri. Seperti misalnya. seringkali dikutip untuk memperkuat argumentasi tentang adanya kebenaran dari suatu norma hukum. Putusan Organisasi Internasional Putusan-putusan organisasi internasional dapat menjadi sumber hukum internasional. namun karena pada hakikatnya merupakan kesepakatan para anggotanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful