P. 1
Politik Agraria Dan Struktur Pedesaan

Politik Agraria Dan Struktur Pedesaan

|Views: 58|Likes:
Published by Eka Wahyu Widodo

More info:

Published by: Eka Wahyu Widodo on Sep 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2014

pdf

text

original

Politik Agraria dan Struktur Pedesaan

PENGARUH POLITIK AGRARIA TERHADAP PERUBAHAN POLA PENGUASAAN TANAH DAN STRUKTUR PEDESAAN DI INDONESIA Oleh: @ Syahyuti 2001

Abstract The agrarian pattern in Indonesia has been change throught time, where land always be political policy by government. Historically, from feudal era to Orde Baru, land tenure by government made subordinate of farmer. The farmer have not right of to cultivate land as theirs land. The social structure changes due to te land structure change, because land is the main resource for land base agriculture. Key words: agrarian, land tenure, rural socio-structure. Abstrak Aspek penguasaan tanah di Indonesia adalah bagian utama politik agraria dari satu masa ke masa pemerintahan, dimana tanah selalu dijadikan alat politik bagi pihak penguasa. Dari tinjauan historis terlihat bahwa mulai dari zaman kerajaan sampai dengan Orde Baru, penguasaan sumber daya tanah oleh pemerintah telah menjadikan petani selalu berada posisi subordinat dan tergantung. Hal ini disebabkan karena pemerintahlah yang memegang hak penguasaan tanah, sedangkan petani menjadi penggarap. Petani belum diberi hak penguasaan yang secukupnya agar dapat menjadi pengelola penuh dalam usahataninya. Struktur sosial masyarakat pedesaan juga berubah mengikuti perubahan pola penguasaan tanah tersebut, karena bagi komunitas agraris tanah adalah sumber daya utama kehidupannya. Kata Kunci: agraria, penguasaan tanah, struktur sosial pedesaan. PENDAHULUAN Meskipun tanah adalah sumberdaya utama dalam masyarakat agraris, namun nilai tanah bagi mereka jauh lebih luas yang mencakup sebagai faktor ekonomi, sosial, bahkan religius. Menurut kaca mata ekonomi tanah adalah salah satu sumber agraria yang paling penting di samping sumber daya lain, misalnya modal dan tenaga kerja (keterampilan). Oleh karena itu, dapat diperkirakan, bahwa struktur masyarakat pedesaan sangat terkait dengan struktur agraria yang berlaku, khususnya dalam hal penguasaan dan pengusahaannya. Sampai saat ini, pembangunan sektor pertanian dan kehidupan masyarakat pedesaan belum mencapai seperti apa yang diinginkan. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, dapat dikatakan bahwa struktur pertanian kita masih goyah, sehingga belum mampu menjadi penopang untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu ke tahap masyarakat industri. Sementara itu, kehidupan masyarakat pedesaan juga dihadapkan kepada berbagai persoalan-persoalan sosial, diantaranya kemiskinan, ketimpangan pendapatan, pengangguran, konflik agraria, disamping perosalan-persoalan sosio budaya lainnya. Berdasarkan permasalahan itu, melalui tulisan ini ingin diperlihatkan, bahwa dinamika persoalan agraria telah memainkan peranan yang esensial dalam perubahan sosial ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia selama ini. Tulisan ini bertujuan ingin menunjukkan (atau berteori), bahwa berbagai perubahan sosial di pedesaan Indonesia tidak terlepas dari persoalan agraria. Lebih jauh dari itu, sesungguhnya tanahlah yang menjadi penyebab perubahan, membentuk perubahan, dan membatasi sejauh apa perubahan dapat terjadi di tengah masyarakat. Persoalan sektor pertanian dan pedesaan sampai saat ini yang tidak mencapai bentuknya yang diinginkan, yaitu perkembangan yang tidak permanen dan kokoh sebagai penopang sosial ekonomi masyarakat, adalah karena belum konstruktifnya penataan tanah (landreform) di Indonesia. Jika kedua hipotesis ini dapat dibuktikan, implikasinya adalah, bahwa jika kita ingin melakukan perubahan mendasar terhadap

Pada bagian awal disampaikan uraian histroris dari berbagai kasus.pertanian dan struktur pedesaan yang kuat. karena menurutnya masyarakat Jawa sudah sejak lama secara historis terbagi dalam kelas-kelas agraris yang dibedakan atas perbedaan penguasaan tanah. Intervensi pemerintah kolonial dalam masalah pertanahan secara praktis baru mulai dirasakan di zaman Raffles yaitu mulai tahun 1811. akan mencakup kondisi sebelum era kalonial tersebut. bagaimanakah struktur masyarakat pedesaan saat itu ? Sebagian besar ahli berpendapat bahwa struktur masyarakat saat itu lebih egaliter. Disadari bahwa karena sebagian besar tulisan yang diacu menulis tentang Jawa. serta penyediaan bangunan lumbung padi. belum ada perubahan yang mendasar dalam pertanian di Indonesia. wilayah Indonesia didominasi pertanian dengan adanya variasi performa antar daerah. yang secara kasar sering merepresentasikan perbedaan ekologi Jawa dan luar Jawa (lihat juga Geertz. disampaikan bagaimana perlunya diperhatikan permasalahan agraria dalam merancang perubahan sosial berencana atau pembangunan pedesaan. Keterangan dalam bagian ini. 1976). karena pengaruh Barat juga tidak progresif. Ada dua bentuk utama pertanian pada saat itu. pada bagian akhir. Selanjutnya. maka itu mestilah berasal dari bangun struktur agraria yang kuat pula. terutama yang terkait erat dengan aspek agraria. Namun ini tidak berarti bahwa kehidupan saat itu dapat dikatakan harmonis. ketika kedatangan Barat ke Indonesia pertama kali. dimana agraria menjadi aspek utama dalam perubahan sosial pedesaan yang konstruktif. karena saat itu mereka lebih berkosentrasi sebagai pedagang rempah-rempah. TINJAUAN HISTORIS PERUBAHAN AGRARIA DAN STRUKTUR SOSIAL EKONOMI PEDESAAN DI INDONESIA Pada bagian berikut dipaparkan kondisi dan perubahan-perubahan masyarakat pedesaan khususnya performa sosial ekonominya dikaitkan dengan struktur agraria yaitu pola penguasaan dan pengusahaan tanahnya. Hal ini karena wilayah sawah beririgasi dibantu kerajaan untuk konstruksi dan pemeliharaan saluran irigasi dan jalannya. bagaimana perubahan sosial yang terjadi di pedesaan. termasuk juga pada awal kolonial ketika keterlibatan pemerintah kolonial terhadap masalah pertanahan belum terasa. Menurut Wertheim (1956). karena surplus produksi hanyalah untuk keluarga raja dan birokrasi di keraton. prakolonial. maka perubahan yang digambarkan dalam tulisan ini lebih mewakili kondisi di pulau Jawa daripada bagian Indonesia lainnya yang sesungguhnya memiliki dinamikanya sendiri yang kompleks dan khas. karena investasi pihak kerajaan yang besar dalam produksi pertanian sawah tersebut. Artinya. yaitu sawah dan ladang. Masa Feodalisme Indonesia sebelum kedatangan bangsa Barat sering disebut dengan masa pra-kapitalis. kondisi masyarakat desa era pra-kolonial yang sangat egaliter dan penuh dengan keintiman sosial tersebut adalah tidak benar. A. baik secara ekonomi maupun sosial. Perubahan tersebut diterangkan melalui perubahan struktur agraria. atau zaman feodal. menjamin keamanan. Areal sawah beririgasi menjadi sumber konsentrtasi penduduk. Pendapat ini tidak disetujui oleh Husken dan White (1989). Dalam Schrieke (1955) dijelaskan. sampai dengan tahun 1800. Artinya. dan komersialisasipun telah lama ada dalam masyarakat Jawa. Tulisan ini merupakan review dari berbagai bahan tentang persoalan sosial ekonomi di pedesaan. kehidupan petani berada di dalam tekanan pihak kerajaan. dimana usaha pertanian dilakukan secara intensif. Schrieke (1955) menyatkan bahwa insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi tidak ada. Lalu. .

1999). (3) Kelas pamong desa yang selain menguasai tanah pribadi. yang semakin memperkuat tesis stratifikasi sosial. Misalnya Raffles yang menganggap tak adanya nilai-nilai komersial pada masyarakat desa. menggunakan. Tentang hal ini. alat produksi seperti tanah adalah milik raja dan bangsawan. Selain itu. padi. maka ketimpangan antara kehidupan petani dan raja beserta kaum bangsawan sangat besar. atau eigendom) memang tidak dikenal. barang-barang mentah atau sudah jadi.Husken dan White (1989) menolak anggapan Jawa yang tak terdiferensiasi. artinya pada masa itu pola hubungan majikan-buruh dan tenaga kerja upahan sudah dijumpai. yaitu mereka yang belum keluarga. dan secara teroitis punya hak untuk menguasai. sehingga mereka pesimis terhadap pemilikan yang sempit-sempit dan relatif seragam. Akibat dari sistem ini. berupa buah-buahan. Di bawah sistem feodalisme. ditambah lagi hak memperkejakan sikep atau kuli untuk mengarap tanah mereka tersebut tanpa membayar upah. ada empat lapisan dalam masyarakat desa. secara umum di Jawa dikenal 3 kelas penguasaan tanah . karena objektivitasnya sebagai ilmuwan bercampur aduk dengan motivasi politiknya. ataupun menjual hasil-hasil buminya sesuai dengan adat yang . (2) Masyarakat tani (sikep) sebagai bagian inti masyarakat. Mereka berada pada lapisan paling atas dan dihormati oleh warga lain. egaliter. Petani diharuskan menyerahkan separoh hasil buminya sebagai upeti. namun juga sering merupakan kelompok tenaga kerja musiman yang tidak terikat dan cukup mobil. Secara kuantitas jumlah petani tuna-kisma ini cukup besar dan menjadi kelompok inti kegiatan pertanian. dan untuk hak tersebut berkewajiban membayar pajak dan upeti yang besar jumlahnya kepada pihak kerajaan. juga berhak menguasai sejumlah besar tanah desa sebagai upah mereka dalam mengatur pemerintahan (lungguh dan tanah bengkok). (2) Kelompok mayoritas petani (sikep atau kuli) yang memiliki hak atas tanah. Dengan posisinya sebagai penggarap. dan ekonomi yang merata. Pada masa abad 18 dan awal 19. (3) Para wuwungan (=penumpang) yang hidup sebagai buruh tani. atau dari keluarga kerajaan. Menurut Breman. dan stagnan yang mendominasi pikiran peneliti dan pemerintah kolonial. Secara kuantitas jumlah mereka paling besar dibanding yang lain. Karena itu tanah-tanah tersebut bukannya dimiliki pejabat-pejabat atau penguasa. maka kehidupan petani hanya mampu memenuhi kebutuhan dasarnya saja. yaitu: (1) Penguasa desa dan orang-orang penting lokal yang tidak pernah menggarap tanah secara langsung namun mendapat hak apanage atau lungguh dari raja. lemahnya rangsangan untuk investasi dipertanian. Dengan komposisi seperti ini. bahkan rakyatpun menjadi milik raja yang dapat dikerahkan tenaganya untuk kepentingan penguasa (Fauzi. Perlu kehati-hatian dalam mengapresiasi pandangan ahli-ahli Belanda. penelitian Breman (1986) di wilayah Cirebon juga menemukan struktur yang hampir serupa. (4) Para bujang. dan membangun rumah di pekarangan sikep karena tidak punya tanah sendiri. bahkan juga bagi penguasa. yaitu: (1) Kelompok besar petani tuna-kisma yang kadangkala berlindung pada keluarga-keluarga petani yang memiliki tanah. melainkan bahwa para penguasa itu dalam artian politik mempunyai hak jurisdiksi atas tanah-tanah dalam wilayahnya yang dengan kekuasaan dan pengaruhnya dapat mereka pertahankan. Pemilikan tanah komunal dianggap tidak kondusif untuk pertumbuhan. Biasanya mereka adalah dari keluarga pembuka wilayah tersebut pertama kali. serta kayu-kayu gelondongan. Wiradi (2000) berendapat bahwa pada masa itu konsep kepemilikan menurut konsep Barat (property. sebagaimana dikatakan Husken dan White di atas. Mereka adalah petani tuna-kisma. Rakyat yang menggarap hanya punya hak menggunakan.

meskipun struktur penguasa di tingkat atas berubah. maka perolehan bagi petani sangat terbatas. dan penguasan individual dan juga kolektif ada pada satu daerah secara bersamaan. yang seluruhnya berada di bawah pengawasan desa. Dari uraian di atas terlihat. Hal ini sama kondisinya dengan pengaturan penggunaan pemakaian tanah adat oleh dewan “doumtuatua” di Bima (dalam Brewer. Bentuk tradisional yang paling umum adalah hak penguasaan secara komunal semua tanah. Perdebatan tentang apakah pemilikan komunal atau individual tersebut. Tentang pola penguasaan tanah pada saat ini. sebagai penanggung jawab wilayah. dengan pola kerja yang sama. Dengan yuridikasi tersebut. dapat melimpahkan ke ahli warisnya. yaitu sebidang tanah yang dapat dikuasai selama lamanya oleh satu keluarga. dan Besuki di Jawa Timur (van de Kroef. dimana lembaga desa dijadikan alat penarikan pajak. meskipun pemerintahan kolonial menerapkan politik agraria yang berbeda. B. 1985). bahwa tanah komunal banyak di pesisir Utara Jawa. baik yang dapat ditanami maupun sebagai cadangan. menjadi alat politik pihak kerajaan. Akibatnya. dan Jawa Timur. karena hak penguasaan tanah ada pada kerajaan. Bagi yang berpendapat bahwa sebelumnya tidak ada tanah komunal di Jawa. Hal ini karena pemerintah kolonial Belanda menggunakan para bupati dalam jalur pemerintahannya. komersialisasi pedesaan tidak berjalan. Penguasaan tanah oleh kerajaan. 1984). Pasuruan. terdapat beragam bentuk penguasaan antar daerah di Jawa. di luar masalah perdebatan penguasaan tersebut. Hal ini dimulai dengan usaha Raffles untuk memudahkan penarikan pajak tanah. dimana seluruh tanah dianggap sebagai tanah desa. maka Belandalah yang dianggap mengkomunalkan tanah pedesaan untuk memudahkan pajak dan wajib kerja. namun juga ada yang non-redistribusi. Secara umum dikenal. dan pemilikan perorangan dengan beberapa hak istimewa komunal. ada perdebatan. sedangkan tanah private banyak di wilayah Jawa Barat pedalaman. Dalam kenyataannya. Kepatuhan dari pembantu di tingkat desa terbentuk melalui pemberian tanah lungguh kepada mereka yang sewaktu-waktu dapat dicabut oleh pihak kerajaan. walau pengalihan ke luar desa tidak diperbolehkan. sudah ada stratifikasi luas dan hak penguasaan tanah di antara warga desa. pemerintah kolonial bekerjasama dengan golongan elit feodal sebelumnya. sehingga petani hanyalah berstatus sebagai penggarap. maka pihak kolonial cukup berhubungan dengan penguasa desa. yaitu pemilikan komunal yang kuat atau hak ulayat. sebagiannya disebabkan karena perbedaan persepsi di antara pengamat saja. namun masyarakat pedesaan lebih banyak berhadapan langsung dengan golongan feodal yang sebelumnya juga. Masa Pemerintahan Kolonial Secara umum. agar dapat mengontrol seluruh warga dan terutama pembantu-pembantunya di level desa. Namun yang pasti. Pola penguasaan tanah di Jawa sangat beragam antar daerah. . Pola penguasaan tanah cenderung berada di antara dua kutub yang berlawanan. bahkan ada daerah yang hampir tidak mengenal prinsip penguasaan komunal kecuali untuk sedikit tanah khusus. dimana petani penggarap menerima tanah desa atas kesepakatan bersama para anggota masyarakat desa. Jawa Tengah Selatan. Disamping itu. namun pengaruhnya bagi masyarakat tani secara prinsip relatif sama. dan investasi pertanian mandeg. juga ada tanah “individual”. Namun menurut van de Kroef (1984). apakah pemilikan tanah berbentuk hak komunal atau individual. karena ada tanah-tanah komunal yang dapat diwariskan sehingga terlihat sebagai tanah individual. misal di Probolinggo.berlaku. yaitu para bupati dan pembantu-pembantunya. Ada tanah komunal yang diredistribusikan berkala. Dengan demikian. seperti yang dilihat banyak ahli.

Namun. Apalagi ditambah sikap para raja dan sultan baik di Jawa maupun di Luar Jawa yang tergiur untuk memberikan konsesi kepada para penguasa swasta asing. Uraian ini menunjukkan bagaimana pemerintah kolonial telah memilih pola penguasaan atas tanah. karena meskipun pada tingkat atas kerajaan digantikan oleh Belanda. Pada tahap selanjutnya. 1999: 28). Untuk itu pemerintah Belanda merasa perlu mengeluarkan Undang-Undang Agararia tahun 1870 (Agrarische Wet). disewa atau dengan pajak. program tanam paksa telah menjadi faktor penting yang bertanggungjawab terhadap keterbelakangan dan kemiskinan di Indonesia. namun struktur masyarakat pada tingkat bawah (desa) masih tetap sama. Kebijakan ini dilandasi asumsi. 1991). pihak swasta di sana menuntut diberi kesempatan untuk membuka perkebunan di Indonesia. Undang–undang ini memberi kesempatan kepada penyewaan jangka panjang tanah-tanah untuk perkebunan. pada era sistem tanam paksa gubernur Van den Bosch yang terjadi sepanjang 18301870. karena bagi orang asing berlaku hukum Barat. Petani tetaplah seorang penggarap dengan kewajiban menyerahkan sebagian hasilnya kepada pihak penguasa. Peraturan ini menjadi dasar peraturan agraria di Indonesia. yaitu melindungi dan memperkuat hak atas tanah bagi bangsa Indonesia asli ternyata jauh dari harapan (Wiradi. sistem sewa ini diarahkan untuk tujuan ekspor dengan mengundang swasta-swasta besar dari Belanda. Disini dimungkinkan untuk memiliki mutlak (hak eigendom) termasuk hak untuk menyewakannya ke pihak lain. Dengan “mengkomunalkan” tanah maka pemerintah dapat secara efisien dalam menarik pajak tanah berupa natura dari penduduk. Dengan tanam paksa terjadi pengalihan surplus ekonomi dari Indonesia ke Belanda serta memperbanyak kaum “proletariat desa” (Sritua Arief dan Adi Sasono dalam Suwarsono dan So. meskipun kurang berhasil (Fauzi. Politik agraria Belanda memberikan dampak yang hampir serupa bagi petani dibandingkan dengan politik agraria kerajaan. 1999). bahwa tanah adalah milik Belanda. Pemerintah juga melakukan kebijakan sistem sewa tanah kepada petani. Tujuan UU ini adalah untuk memberikan kesempatan luas bagi modal swasta asing yang memang berhasil secara gemilang. sebagai instrumen yang penting dalam memajukan pertanian. 2000). terutama kopi dan gula.Mulai dari tahap ini terlihat bagaimana “penguasaan” atau aspek hukum tanah menjadi mekanisme yang utama dalam menjalankan program-program pemerintahan kolonial. Sistem tanam paksa ini ternyata mampu memberi keuntungan kepada negara jajahan. Apa yang terjadi selama masa penjajahan adalah dominasi dan eksploitasi sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan penjajah (Fauzi. meskipun ini bersifat sepihak yaitu untuk kepentingan dirinya saja. Para bupati dan raja berhak memungut hasil-hasil pertanian untuk diserahkan kepada kolonial. Sesungguhnya ini hanyalah meneruskan pola zaman kerajaan. Bersamaan dengan munculnya iklim politik yang bercorak liberalisme di Belanda. Tanam paksa ini pada dasarnya merupakan penyatuan antara sistem penyerahan wajib dan sistem pajak tanah. Selanjutnya. petani diwajibkan menanam tanaman ekspor yang dijual dengan harga yang telah ditetapkan atau menurut remisi pajak penyewaan tanah kepada pemerintah kolonial. dimana pajak dibayar dalam bentuk natura bukan uang. Produksi tanaman ekspor meningkat. Selain itu juga diharapkan kebijakan ini dapat menjaga kelestarian pendapatan pemerintah. Sistem sewa ini diterapkan dengan harapan akan dapat memberikan kebebasan dan kepastian hukum serta merangsang untuk menanam tanaman dagang kepada petani. dan bagi rakyat Indonesia berlaku hukum adat. Pemerasan tersebut berupa tenaga dan hasil produksinya. . Tetapi tujuan lainnya. dimana penjajah bekerjasama dengan kaum bangsawan. eksploitasi kepada petani semakin intensif. sehinga akibatnya. namun bersifat dualistis.

Menurut Fauzi (1999). Sebagai pengikut (termasuk urusan perpolitikan) mereka harus ikut. tidak memperhatikan sama sekali aspek struktur penguasaan tanah. menjadikan tanah sebagai alat pembangunan yang sentralistis. Melalui prinsip Hak Menguasai dari negara.Secara ringkas dapat diutarakan. dengan menggabungkan dualisme hukum sebelumnya. sementara para petani sesungguhnya. sehingga menimbulkan berbagai konflik dengan masyarakat. namun hak tersebut memiliki “fungsi sosial”. namun kemudian gagal karena ditunggangi oleh muatan politik. dengan UUPA sekaligus juga menentang sosialisme yang dianggap meniadakan hak-hak individu atas tanah. 2000). kebijakan hukum dalam UUPA ini sesungguhnya menentang kapitalisme yang melahirkan kolonialisme yang menyebabkan penghisapan manusia atas manusia. usaha privatisasi tanah tetap diusahakan pemerintah Orde Baru melalui program sertifikasi tanah meskipun kurang memuaskan. Pembangunan pertanian dengan mengintroduksikan tekonologi maju dan efisien tanpa sadar telah meminggirkan petani. Tanah telah dijadikan alat politik sehingga dukungan kepada partai ini menjadi besar. hanyalah pengikut yang powerless. dapat dikatakan landreform tidak dilaksanakan sama sekali. 5 tahun 1960. sebagaimana dikatakan Husken (1998). namun kurang memperdulikan semakin banyaknya jumlah petani yang tidak bertanah dan sangat membutuhkannya. dan memanennya. Karena segala yang berkaitan dengan PKI dilarang. yaitu hukum Belanda dan hukum adat. Meskipun demikian. Pemilik tanah yang jumlahnya sedikit namun menguasai tanah sangat luas dan berkuasa mengatur proses produksi. maka usaha perbaikan hak penguasaan tanah pun (program landreform) menjadi negatif di mata pemerintah dan masyarakat. Pemerintah Orde Baru yang sangat terinpirasi dengan kemajuan ekonomi. Dalam proses pembuatan produk hukum ini terlihat bahwa pemerintah memberi perhatian serius terhadap pentingnya permasalahan agraria sebagai landasan pokok dalam pembangunan pertanian dan pedesaan (Wiradi. Meskipun demikian. kegiatan landreform yang ideal pernah berjalan setelah kelahiran UUPA ini. C. sepanjang pemerintahan Orde Baru selama tiga dasawarsa. Hal ini misalnya. bahwa struktur yang terjadi adalah “Kerbau besar selalu menang” (kebo gedhe menang berike). Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai yang menggunakan politik populis telah berhasil mendapat sambutan yang tinggi dari masyarakat pedesaan. Mereka memiliki akses kuat ke dunia politik. Kegiatan landreform selalu diberi cap negatif sebagai kegiatan partai terlarang PKI. Mereka praktis menguasai tanah sawah dan pengatur tenaga kerja. dan di antara mereka semua saling berhubungan keluarga. secara yuridis peraturan ini masih lemah secara hukum. Hal ini karena memang PKI dulu menjadikan program landreform sebagai alat perjuangannya. Program revolusi hijau dipercaya telah menimbulkan polarisasi sosial . Pemerintah meneruskan program pembangunan perkebunan-perkebunan berskala besar dengan tanah-tanah yang luas. Meskipun di dalamnya sudah terjadi proses pemodernan. yang mengolah tanah. Masa Kemerdekaan (Orde Lama dan Orde Baru) Masa Orde Lama ditandai dengan kelahiran Undang-Undang Pokok Agraria No. Selain itu. Selanjutnya. Politik agraria yang terkandung dalam UUPA 1960 adalah politik populisme. pemerintah mengatur agar tanah-tanah dapat dipergunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat sebagaimana termaktub dalam pasal 33 UUD 1945. yang mengakui hak individu atas tanah. namun masih banyak ketentuan-ketentuannya yang belum aplikatif. memelihara tanaman. dalam penelitian di Jawa Tengah. karena pemerintah hanya mengejar industrialisasi pertanian. mengatur air. Namun sebagai aturan pokok. sebab jika melawan maka pengikutnya ini juga yang akan menderita.

karena perkembangannya bukanlah karena kekuatan ekonomi murni (sistem pasar) namun lebih karena kekuasaan melalui kekuatan politik kolonial. Untuk menggambarkan bagaimana perubahan tersebut berlangsung dapat dilihat misalnya hasil penelitian Berger (1996) dalam penelitiannya di satu desa di bagian utara Jawa Tengah. sehingga dapat disewakan dan diperjualbelikan. 1999). Sebelumnya hanya dikenal pemilikan individual terbatas. Namun. adalah suatu fenomena klasik. yaitu mendorong pemilikan tanah secara individual dan pembelian oleh orang luar sehingga akhirnya banyak warganya yang menjadi buruh lepas tanpa tanah. Selain itu.ekonomi. Akibatnya. Produksi yang lebih tinggi menyebabkan terakumulasinya keuntungan. 1999). menyekolahkan anak lebih tinggi. Pola pertanian subsisten telah digantikan oleh pertanian kapitalis yang agresif. Tengger sebelumnya dianggap sebagai wilayah cagar budaya yang dianggap steril dari pengaruh-pengaruh eksternal. hal ini bukanlah suatu kapitalisme murni. Pengaruh kapitalisme ini tidak hanya terasa di wilayah-wilayah dataran rendah terutama karena kompetisi tebu dengan padi. karena hanya petani berlahan luas yang lebih mampu menarik manfaatnya. ditambah oleh kebijakan pemerintahan RI yang menjadikan sebagian wilayahnya sebagai taman nasional. serta kebingungan hubungan sosial sesama warga khususnya mengenai aspek normatif. serta revolusi hijau. terjadi perubahan kultural berupa gaya hidup baru. terjadi peningkatan aktivitas non-pertanian dan pasar tenaga kerja. Penelitian Brewer (1985) di dua desa di daerah Bima. Namun kondisi ini berubah karena berbagai tekanan luar. Hal ini terlihat dari semakin hilangnya tanah-tanah hak ulayat digantikan bentuk penguasaan “milik” privat. faktor kepemilikan tanah berperan terhadap mobilitas sosial. telah terjadi perubahan pola penguasaan dari komunal ke penguasaan individual semenjak zaman pra kolonial sampai Orde Baru. Perubahan sosial ekonomi pedesaan adalah karena pengaruh kapitalisme Belanda melalui tanam paksa komoditas perkebunan untuk ekspor. Artinya. bukan jaminan subsistensi dari patron. mereka tak mengenal sistem bagi hasil. Bersamaan dengan itu. Jenis pemilikan seperti ini disebut juga dengan “pemilikan komunal yang berciri privat”. hubungan patron klien. Dengan demikian. Hal ini karena mereka bergantung pada tanahnya sendiri. sewa tanah. luas tanah komunal berkurang. desakan pendatang. namun tidak dapat disewakan apalagi diperjual belikan. Meskipun teknologi yang diintroduksikan bersifat bebas skala. yaitu tanam paksa (khususnya antara 1830 sampai 1850) perkebunan kopi. Penggunaan tenaga kerja upahan semakin biasa yang berlangsung melalui mekanisme pasar. Dampak kebijakan ini. Revolusi hijau ternyata bersifat mempolarisasikan masyarakat desa. Ketika belum ada pengaruh luar. dan kultur yang egaliter. tapi bahkan sampai ke daerah yang relatif tertutup yaitu misalnya pada komunitas masyarakat Tengger yang berdiam di lereng gunung Bromo (Hefner. namun secara umum dapat dikatakan. Ia menemukan bahwa sepanjang waktu tersebut pemilikan tanah menjadi lebih individualistis. yaitu tanah komunal yang meskipun dapat dikelola secara terus menerus oleh satu keluarga dan boleh diwariskan. dengan membandingkan kondisi selama 60 tahun (antara tahun 1869 dan 1929). . struktur yang kurang teratratifikasi. menurut Nurhadiantomo (1986). menemukan hilangnya fungsi lembaga “doumtuatua” sebagai institusi desa yang sebelumnya berwenang mendistribusikan pengusahaan tanah di antara warga. namun para petani yang berlahan luas berproduksi lebih banyak. pengaruh kebijakan pemerintah dengan menggunakan mekanisme penguasaan tanah juga telah merusak lembaga tradisional yang sudah mapan. serta maraknya pembelian tanah oleh orang luar desa. atau setidak-tidaknya penegasan stratifikasi. telah terjadi proses invidualisasi ekonomi dan peningkatan diferensisasi pekerjaan. Kaitan Faktor Penguasaan Tanah terhadap Perubahan Struktur Masyarakat Pedesaan Meskipun diwarnai perdebatan. serta membuka akses politiknya. yang pada gilirannya menyebabkan mereka lebih mampu mengembangkan usaha non pertanian. dan terusirya kelompok petani landless dari pedesaan (Tjondronegoro.

Namun demikian. Kondisi sebelum tahun 1960 dimana masyarakat terbagi atas tiga lapisan sosial. dan mobilitas penguasaan cenderung sentrifugal atau terpolarisasi. misalnya pemberontakan petani Banten dan berbagai pemberontakan dengan skala desa di Jawa Tengah. Masyarakat dalam satu desa yang berbentuk komunal (Temple. ada tiga jenis hak penguasaan tanah komunal. Artinya. lebotan. peluang tunakisma untuk menggarap mengecil. Respon Petani Terhadap Kebijakan Agraria Tampaknya respon yang diberikan petani terhadap tekanan pemerintah melalui mekanisme agraria berbeda-beda. lembaga desa menjamin seluruh orang yang menginginkan pekerjaan memperoleh pekerjaan. mrlimo. Dengan cara itu setiap warga terjamin kebutuhan subsistensinya. dan penggilingan padi mekanis. Organisasi produksi dari sebelumnya berupa pola-pola penyakapan seperti maro. Sebelum tahun 1960. dapat dikatakan sebagai suatu bentuk perlawanan politik yang “tidak terang-terangan”. Jadi dapat dikatakan. Akibatnya. dan mutu. . mrapat.Seiring dengan itu. serta satu yang bersifat individual yaitu hak yasan. meskipun produksi per luasan tanah ada meningkat. respon yang umum di Jawa menurut Clifford Geertz (1976) adalah apa yang disebutnya dengan fenomena “involusi pertanian”. tanah yasan mencakup 76. hak narawita. Tranformasi sistem sosial pedesaan ini juga didukung oleh Temple (1976) yang melihat adanya evolusi desa Jawa dari desa komunal (1830-1870). dan terakhir desa komersial bersamaan dengan era revolusi hijau. Dengan kondisi represif saat itu ia hanya dapat melakukan perlawanan dengan cara tersebut dan sulit melakukan perlawanan secara frontal dan terbuka.7 persen dari total tanah di desa tersebut. yang menemukan kesamaan dampak revolusi hijau di Indonesia dan Filipina. buruh lepas. 1976). hak banda desa. Selanjutnya Amaluddin (1987) melihat bahwa komersialisasi pertanian telah juga menyebabkan perubahan pola hubungan antar lapisan petani. yaitu hak bengkok. dilanjutkan desa tradisional (1870-1959). Perlawanan terhadap kebijakan pemerintahan kolonial tersebut dibungkus sebagai gerakan mesianis dengan motivasi kedatangan “Ratu Adil”. digantikan dengan pola dengan penyewaan. sementara jumlah penduduk terus meningkat. juga banyak dijumpai perlawanan fisik secara terbuka dan terorganisir yang sudah berupa pemberontakan-pemberontakan bersenjata (rebellions). bawon. Respon petani pada masa feodal terhadap posisinya yang hanya sebagai petani penggarap adalah “berproduksi secukupnya” sebagaimana dijabarkan Schrieke (1955). Penerapan UUPA tahun 1960 menyebabkan konversi tanah yang semula berdasarkan hukum adat (komunal) menjadi hak milik. perlawanan pada masa ini lebih bersifat individual dan tidak terorganisir. Saat itu. 1976) melakukan adaptasi organisasi produksi sedemikian rupa. fungsi tanah yang dulu menyatukan telah berubah menjadi “memisahkan”. selain strategi adaptasi tersebut. dalam penelitian Amaluddin (1987) di Kendal Jawa Tengah untuk memahami kondisi pada zaman Orde Lama. Temuan ini didukung oleh Hayami dan Kikuchi (1987). panen tebasan. perubahan sistem penguasaan tanah juga telah menyebabkan perubahan sistem produksi pertanian. yaitu sarekat (pemegang hak bengkok). namun produksi per satuan tenaga kerja menurun. secara de facto sudah menjadi milik individual. sikep ngajeng (pemegang hak narawita) dan sikep wingking (tunakisma) dilandasi hubungan “patron – klien”. sehingga penjualan tanah berkembang. Sikap petani yang menghindari produksi berlebih tersebut. Melemahnya hubungan patron klien ini bersamaan dengan menurunnya tanggung jawab lembaga desa dalam menjamin subsistensi. Politik sentralisasi penguasaan tanah dengan kewajiban menyerahkan surplus produksi kepada raja telah berdampak negatif terhadap kegairahan untuk meningkatkan produksi pertanian. Selanjutnya menghadapi tekanan pemaksaan penanaman sebagian tanah dalam desa dengan komoditas ekspor kolonial. berubah menjadi hubungan berdasarkan nilai-nilai komersial pola “tuan tanah – buruh”. Bersamaan dengan itu. dimana dengan tanah yang tersisa. melalui jaminan memperoleh pekerjaan dan distribusi (Temple. Hak narawita. sistem produksi yang semula dilandasi nilai-nilai tradisional digantikan oleh sistem produksi komersial.

yaitu antara pihak yang menguasai dengan pengusahaannya berupa hubungan-hubungan tenancy (penyakapan dan persewaan). karena pengkutuban antara rakyat sebagai buruh di satu pihak dengan pemilik modal swasta asing (Suhendar dan Winarni. menurut sisi pandang struktur makro adalah karena berkembangnya ekonomi mode kapitalis. Posisi subordinatif petani semenjak era feodal. konflik kembali bersifat struktural-vertikal yang bercirikan konflikkonflik lokal dan sporadis. respon petani tidak lagi perlawanan diam-diam. yaitu materialistic perspective yang berasal dari Karl Marx dan idealistic perspective dari Max Weber (Harper. Perubahan Sosial Pedesaan yang Tidak Bercirikan Emansipatif Tak dapat dipungkiri. Meskipun petani telah mampu mengendalikan alam berkat teknologi. Hal ini karena para tuan tanah menolak UUPA 1960. perubahan sosial harus mengandung tujuan hakikinya. Namun demikian. baik sebagai migran musiman maupun migran permanen (Tjondronegoro. 1999). maka perubahan sosial di pedesaan kita dengan mengubah modes of production atau organisasi produksi. kelompok buruh tani dan petani bertanah sempit yang tidak mencapai skala ekonomi secara pasti “terusir” dari desanya sendiri. Pada masa ini. 1998). Emansipasi adalah suatu pembebasan manusia dari kungkungan alam serta dari dominasi manusia atas manusia. Secara umum. serta nilai-nilai budaya dan norma. . Dengan kata lain. Konflik-konflik tersebut bersifat strukturalvertikal. Bertolak dari perspektif teori ini. berarti merubah hubungan antara orang dengan dengan tanah dalam pengusahaannya. kepercayaan. penyebab perubahan adalah faktor ekonomi atau teknologi yang berkaitan dengan ekonomi. Kebijakan landreform telah mengangkat konflik agraria ke tingkat nasional. bahwa secara umum desa-desa telah mengalami perubahan. pada masa Orde Baru. perubahan hanya bermakna apabila mengarah kepada tujuan-tujuan emansipatif tersebut. organisasi sosial. yaitu sifat emansipatif (=pembebasan). meskipun desa telah mengalami perubahan sosial. semakin bertambah parah ketika petani tak berlahan tersingkir sama sekali dari ekosistem pedesaan. dari satu era ke era pemerintahan lainnya. Melakukan pembangunan pedesaan dengan pendekatan materialistik artinya melakukan perubahan agraria itu sendiri. apakah perubahan tersebut sudah mengandung prinsip-prinsip emansipasi? Menurut Wertheim (1999). Implikasinya. Membicarakan perubahan sosial tidak bisa terlepas dari analisis aspek-aspek sumber penyebab perubahan. dimana terjadi pergeseran wilayah konflik menjadi konflik antara buruh tani dan petani miskin dengan tuan-tuan tanah atau petani kaya. namun sudah berubah menjadi perlawanan fisik. Apa yang terlihat pada sistem sosial pedesaan kita tampaknya masih jauh dari nilai-nilai emansipatif. Mereka terpaksa migrasi ke kota-kota terdekat untuk berburu pekerjaan-pekerjaan di sektor informal. Pemerintah tampaknya memahami betul persoalan ini. ada dua kubu teori tentang sumber penyebab perubahan sosial. Terakhir.Konflik agraria yang banyak terjadi di masa kolonial tersebut. Makna emansipatif yang sesungguhnya bagi petani yaitu “memiliki tanahnya sendiri” belum pernah dicapai selama ini. namun mereka belum mampu menembus tembok struktural yang mengungkungnya dari dominasi antar sesama manusia. 1989) Dalam perspektif material. walaupun kuatnya represif birokrasi dengan dukungan militer membuat petani tak berkutik. dengan melakukan perubahan dalam aspek-aspek budaya material misalnya teknologi. Konflik strutural-vertikal ini berubah menjadi konflik horizontal semenjak kemerdekaan. Sementara pada waktu yang bersamaan. Diasumsikan bahwa teknologi baru atau modes of economic production menyebabkan perubahan sosial berupa interaksi. perubahan emansipatif bagi petani adalah perubahan yang mampu melepaskan mereka dari jerat penguasa tanah yang menjadikan mereka hanya “buruh” di tanah garapan mereka sendiri.

serta analisis konflik yang terjadi. akan berpokok kepada struktur penguasaan dan pengusahaannya. namun perubahan sosial tidak terjadi begitu saja. maka dapat ditarik suatu implikasi betapa perlunya penanganan persoalan agraria sebagai dasar pembangunan pertanian. khususnya dalam kaitannya dengan tanah. Perubahan dalam sistem sosial komunitas pedesaan dapat dilihat dalam aspek strukturnya. maka ia memiliki tujuan dan mekanisme mencapai tujuan tersebut. maka masyarakat pedesaan selalu dapat dibedakan antara kelas pemilik dan bukan pemilik tanah. Pembicaraan tentang struktur agraria. Reforma (Sebuah Agraria sebagai Dasar Perubahan Sosial Pedesaan yang Konstruktif Implikasi) Setelah mempelajari berbagai bentuk dan pola perubahan sosial ekonomi pedesaan dan keagrarian. integrasi. serta siapa yang akan mendapat pembagian hasil produksi dan berapa. sebagaimana diterangkan oleh Husken (1998). Mereka lebih memperjuangkan hak atas tanah dibandingkan memperjuangkan ideologi komunisnya. maka mereka dapat menguasakan pengusahaannya tanahnya kepada para petani yang tak bertanah yang secara kuantitas jumlahnya lebih banyak. struktur masyarakat pedesaan berisi sebagian besar dengan mereka yang justeru jauh dari hak-hak emansipatifnya karena posisinya yang bukan sebagai pemilik tanah yang digarapnya. Persoalan ini juga dapat dipandang dari sisi lain. yaitu aspek sumberdaya tanah. udara. berkaitan dengan eksplorasi sumber daya dan distribusi. karena tidak memihak kepada sebagian besar unsur komunitasnya yang merindukan hak-hak emansipatifnya. bukan konflik ideologi. dan kepada bagaimana stratifikasi sosial ekonomi atau struktur desa terbentuk. dimana tanah beserta komponen kimia dan fisikanya sebagai salah satu sumberdaya terpenting. Meskipun misalnya pemberontakan petani dalam PKI dibungkus dengan ideologi komunis. maka penggambaran struktur dapat menggunakan pelapisan anggota komunitas pedesaan berdasarkan kekuasaan ekonomi. respon petani. Adaptasi berkaitan dengan masalah mengamankan fasilitas lingkungan yang cukup dan membagikan fasilitas tersebut dalam sistem. Selanjutnya hal ini akan menentukan besarnya pendapatan keluarga. dan lain-lain. Dengan kata lain. Kepemilikan ini pada gilirannya menentukan kepada kekuasaan sebagai dasar menyusun struktur masyarakat desa. Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh kelas pemilik.Dari uraian historis di atas terlihat bahwa penyebab perubahan ditekankan kepada aspek-aspek materialistik. Sebagai sebuah closed system. maka akibatnya konflik-konflik yang terjadi juga lebih bersifat materialistis ketimbang idealis. Menurut Sosrodihardjo (1972). Apabila desa dipandang sebagai sebuah sistem. pencapaian tujuan. maka bagaimana pemanfaatan sumber daya tanah diorganisasikan dan didistribusikan di antara anggota sistemnya menjadi salah satu bagian yang esensial. maka tergantung kepada berfungsinya aspek-aspek adaptasi. yaitu para penguasa. Artinya. Dalam sistem sosial agraria. Terlihat bahwa pada fungsi adaptasi. Penguasaan tanah berimpilkasi kepada siapa yang boleh terlibat dalam produksi. namun janji untuk memperoleh tanahlah yang menjadi dasar perjuangannya. karena memang tanah adalah sumber daya utama bagi masyarakat pedesaan. khususnya tanah. Dari analisis struktur sosial di pedesaan. selain air. Meskipun perubahan sosial adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dihindari oleh bangsa manapun. Menurut Teori Sistem (dalam Soekanto dan Lestarini. faktor penentu struktur sosial adalah kekuasaan. sehingga akan diperoleh kelas pemilik dan bukan pemilik. dalam sistem sosial komunitas pedesaan. Upaya penguasa untuk mengendalikan perubahan melalui persoalan agraria adalah cara yang efektif. Dari uraian di atas terlihat bagaimana di setiap zaman selalu saja ada pihak yang berkepentingan dengan perubahan sosial. agar sistem dapat bertahan. namun perubahan tersebut bukanlah perubahan yang hakiki. Dengan pendapat ini. Dengan persepktif meterialistik ini. maka tanahlah yang menjadi sumber konflik dari satu era ke era lainnya. 1988). Hal ini karena tanah adalah . meskipun pedesaan Indonesia telah mengalami perubahan sosial. dan latensi. Dengan demikian.

Bagi Indonesia saat ini. maka bagaimana pemerintah daerah masing-masing mempersepsikannya menjadi faktor penentu dalam pelaksanaan reforma agraria. reforma agraria menimbulkan perdebatan di antara berbagai disiplin ilmu (Wiradi. Menurut ekonomi neo-klasik misalnya. Namun sayangnya usaha ini tidak pernah dijalankan secara sungguh-sungguh. Namun. pengumpulan data dasar. Dalam tataran teoritis. 2000). Tujuan dalam revolusi bukan sekedar penggantian kelas sosial yang berkuasa. sebenarnya Indonesia belum dapat dikatakan telah mengalami transisi agraris. Dalam revolusi tak hanya sekedar perubahan struktur sosial namun “perubahan mendasar tata sosial” (Wertheim. Khusus untuk pembangunan pertanian. Menurut Wiradi (2000). Tanah jumlahnya selalu tetap di dunia ini. reforma agraria perlu agar tercipta alokasi yang optimal atas masyarakat secara keseluruhan melalui redistribusi penguasaan tanah. aparat yang tangguh. diharapkan ada kesempatan untuk berkembang melalui mekanisme persaingan. tetapi belum dilakukan reforma agraria secara tuntas yang semestinya mendahului proses industrialisasi tersebut. namun lebih kepada perbaikan struktur sosial ekonomi secara makro nasional. Dengan otonomisasi daerah saat ini. Memperlakukan tanah sebagai komoditas memang tampak rasional dan wajar-wajar saja. karena reforma agraria haruslah menjadi suatu gerakan nasional. bagaimana pemerintah daerah masing-masing memaknai dan memahami reforma agraria menjadi faktor krusial yang sayangnya mungkin tidak terlalu mudah dijalankan. Sementara menurut pandangan evolusionist. Untuk dapat melaksanakan reforma agraria saat ini dibutuhkan berbagai syarat dan kondisi. atau belum pernah menjadi suatu “gerakan” nasional yang memadai. yang berbeda dengan ciri-ciri benda lainnya. 1999). distribusi tanah yang merata menyebabkan. Tidak tercapainya perubahan yang emansipatif di pedesaan adalah karena belum adanya perubahan yang mendasar dalam penguasaan dan pengusahaan tanah (agraria). namun keberadaannya tetap saja adanya. Selain itu. pemanfaatan tanah kurang optimal. tanah dijadikan sebagai komoditi yang dapat diperjual belikan secara bebas. Untuk itu maka dibutuhkan keterlibatan semua pihak dengan landasan hukum yang kuat. namun umurnya tak terbatas. secara keseluruhan. ketika berhasil dirumuskan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. sesungguhnya ada peluang untuk melakukan reforma agraria secara “lokal”. serta termasuk alokasi dana yang cukup besar untuk penelitian.sumber daya utama dalam pertanian. Hal ini berbeda dengan modal kapitalis yang lain yang mudah rusak. sehingga bagaimana hubungan manusia dengan tanah menjadi sangat esensial. Meskipun kita sudah memiliki UUPA namun itu harus dilengkapi dengan banyak lagi peraturan-peraturan pendukung. Tanah. serta pendistribusiannya. sesungguhnya telah ada kesadaran bahwa reforma agraria berupa landreform adalah kebijakan yang sangat penting dalam membangun pertanian di masa depan. Artinya. Di sisi lain. dengan menciptakan struktur yang “adil dalam peluang”. meski sebidang tanah dibiarkan karena belum dimanfaatkan. yang diperjuangkan dalam reforma agraria bukanlah sekedar merebut tanah dan dibagi-bagikan kepada petani. berkurang atau menurun nilainya Belum mantapnya langkah Indonesia menuju tahap industrialisasi adalah karena belum kokohnya pembangunan sektor pertanian. Sebab. Pada zaman Orde Lama. Dengan kepemilikan tanah yang tidak lagi bersifat tradisional. . modal dan tenaga kerja adalah tiga faktor utama dalam produksi kapitalis. Hal ini sangat berbahaya karena akan melahirkan praktek-praktek monopoli dan spekulasi tanah (Wiradi 1996). reformasi agraria dapat dianggap sebagai suatu revolusi. 5 tahun 1960. namun menciptakan struktur baru dengan perimbangan kekuasaan. namun tanah adalah sumber daya yang unik. termasuk modal dan tenaga kerja. apa yang terjadi selama ini di dalam ekonomi kapitalis semenjak Orde Baru adalah menjadikan tanah semata-mata sebagai kapital sebagaimana sumber daya lain. meskipun proses industrilaisasi sudah mulai.

Makna kemerdekaan yang sesungguhnya bagi petani yaitu “memiliki tanahnya sendiri” belum pernah dicapai. Hayami. Petani dan Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia. 1985. maka surplus produksi selalu terkumpul kepada pihak penguasa. Hal ini berimplikasi kepada terbatasnya pembangunan pertanian dan selanjutnya kepada mandeknya transformasi struktur ekonomi nasional. Moh. 1986. Yujiro dan Masao Kikuchi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hal ini adalah karena desa telah terkooptasi oleh “atas” baik secara politis (elit yang berkuasa). Jakarta: Bhratara K. Yogyakarta: LKIS. masih tetap bertahan. Reforma agraria tampaknya merupakan implikasi yang rasional sebagai dasar melakukan perubahan sosial yang terencana (pembangunan) di pedesaan. Harper. 1999. Brewer. dan Pustaka Pelajar. . Clifford. sehingga bagaimana arah dan bentuk perubahan yang diinginkan tidak selalu sama dengan yang diinginkan masyarakat itu sendiri. Jakarta: UI Press. 1976. Robert W. Dilema Ekonomi Desa: Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. Hefner. 1999. Geertz. Sejarah Lokal di Indonesia. Kendal. Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik.A. Dalam: Taufik Abdullan (ed) 1996. 163 – 188). Dari uraian di atas terlihat bahwa masyarakat pedesaan selalu berada dalam tekanan ekternal yang kuat. KPA. pemerintah yang berkuasa selalu menggunakan aspek agraria sebagai alat politik yang penting. New Jersey: Prectice Hall. Noer. Perubahan yang hakiki bagi petani adalah perubahan yang menuju kepada penguasaan tanah. D. Jakarta: LP3ES. Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi. Jeffrey D. 1989. Dalam alam pemikiran sosiologis penguasa. 1987. Exploring Social Change. Dove (ed) 1985. ekonomi (struktur ekonomi kapitalis). Jan. Meskipun semenjak era Politik Etis sampai Orde Baru kesejahteraan petani selalu dijargonkan. 1987. namun perubahan tersebut belum mengandung prinsip-prinsip emansipasi bagi penduduknya. Desa Ngablak Kabupaten Pati Dalam tahaun 1869 dan 1929. Namun sayangnya ini hanya digunakan untuk kepentingan penguasa sepihak saja. Dengan menguasai tanah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Dari uraian di atas terlihat bahwa dalam setiap era. Posisi subordinatif yang sudah dialami petani semenjak era feodal. Daftar Pustaka Amaluddin. Breman. Tanah dijadikan jalan dalam merealisasikan tujuantujuan politiknya. Penguasaan Tanah dan Tenaga Kerja di Jawa di Masa Kolonial. aspek penguasaan tanah dipercaya sebagai faktor utama pengendalian sosial. Dari uraian historis terlihat bahwa petani belum pernah benar-benar menguasai tanah yang digarapnya. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Charles L. Meskipun desa mengalami perubahan sosial. Dalam: Michael R. Kemiskinan dan Polarisasi Sosial: Studi Kasus di Desa Bulugede. Yogyakarta: Insist Press. karena hal yang pokok dalam reforma agraria adalah pengaturan tentang penguasaan tanah. 1996. Puncaknya justeru ketika petani tak berlahan tersingkir sama sekali dari ekosistem pedesaan. Fauzi. Sumbawa Timur (hal.H. Berger. Jawa Tengah. Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Penggunaan Tanah Tradisional dan Kebijakan Pemerintah di Bima. yang pada gilirannya menjadikan alat kekuasaan bagi rakyatnya. namun kebijakan pemerintah tak menyentuh persoalan tanah secara mendasar. dan sosial (nilai-nilai budaya kota).

Jakarta: Garba Budaya dan ISAI. Soekanto.F. Edisi Revisi. Second Edition. Dalam: SMP Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi (ed). 1986. 1956. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Edisi 3 Juli 1996.F. G.P. Sarman. Reforma Agraria: Perjalanan yang Belum Berakhir. Gunawan. Kerja dan Pembagian Pendapatan di Pedesaan Jawa. 1994. Endang dan Yohana Budi Winarni. Ekonomi Politik Pembangunan Pedesaan dan Struktur Agraria di Jawa. Husken. Perubahan Struktur Masyarakat di Jawa: Suatu Analisa. London: Routledge and Keegan Paul. 1981. Wiradi. Jangan Perlakukan Tanah sebagai Komoditi. 2000. 145-167). Sanderson. Majalah Prisma No. Jurnal “Analisis Sosial. 1993. 1984. Bandung: W. 1955. Suwarsono dan Alvin Y. Birokrasi dan Perubahan Sosial di Indonesia (hal 33-49). Frans dan Benjamin White. Jakarta:Rajawali Press. Sostodihardjo. Van de Kroef. dan Pustaka Pelajar. Bandung: Yayasan AKATIGA. B. Frans. Suhendar. Perubahan Sosial dan Pembangunan. 7 tahun 1994. Harcourt: Brace and World Inc. Gunawan. Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. W. Ronald et. Indonesians Sociological Studies. 1999. Indonesian Society in Transition: A Study of Social Change. KPA. Rendall. al. SMP. 2 Part One. 1999. Fungsionalisme dan Teori Konflik dalam Perkembangan sosiologi. Wertheim. Penguasaan Tanah dan Struktur Sosial di Pedesaan Jawa (hal.Husken. 1998. Yogyakarta: Penerbit Karya. 3 April 1976. Surakarta: Penerbit HAPSARA. Lippit. Mundurnya Involusi Pertanian: Migrasi. Yogyakarta: Insist Press. So. van Hoeve . 1988. Jakarta: Sinar Grafika. Cet. Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa Ke Masa.The Hague. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.2 Strasser. Nurhadiantomo. Majalah Prisma No. Prisma No. Kepemimpinan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Dalam: Lance Castles. 1984. Stephen K. Planned Change. An Introduction to Theories of Social Change. W. Jakarta: PT Gramedia. Soerjono dan Ratih Lestarini. Mukhtar. Jakarta: LP3ES. 4. 1996. 1976. 1989. 1972. dan Suyatno. Wiradi. Dalam: keping-Keping Sosiologi dari Pedesaan. Soedjito. Schrieke. 1958. Wertheim. dan Perubahan Sosial di Indonesia. Nurhadiantomo. Sosiologi Makro. Bandung: Penerbit “Sumur Bandung”. Vol. Birokrasi. Petani dan Konflik Agraria. Tjondronegoro. Perubahan Status Sosial dan Moral Ekonomi Petani. Hermann dan Susan C. Gelombang Pasang Emansipasi: Evolusi dan Revolusi. 1991. Temple. . 1998. Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa. 1989. 1986.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->