Politik Agraria dan Struktur Pedesaan

PENGARUH POLITIK AGRARIA TERHADAP PERUBAHAN POLA PENGUASAAN TANAH DAN STRUKTUR PEDESAAN DI INDONESIA Oleh: @ Syahyuti 2001

Abstract The agrarian pattern in Indonesia has been change throught time, where land always be political policy by government. Historically, from feudal era to Orde Baru, land tenure by government made subordinate of farmer. The farmer have not right of to cultivate land as theirs land. The social structure changes due to te land structure change, because land is the main resource for land base agriculture. Key words: agrarian, land tenure, rural socio-structure. Abstrak Aspek penguasaan tanah di Indonesia adalah bagian utama politik agraria dari satu masa ke masa pemerintahan, dimana tanah selalu dijadikan alat politik bagi pihak penguasa. Dari tinjauan historis terlihat bahwa mulai dari zaman kerajaan sampai dengan Orde Baru, penguasaan sumber daya tanah oleh pemerintah telah menjadikan petani selalu berada posisi subordinat dan tergantung. Hal ini disebabkan karena pemerintahlah yang memegang hak penguasaan tanah, sedangkan petani menjadi penggarap. Petani belum diberi hak penguasaan yang secukupnya agar dapat menjadi pengelola penuh dalam usahataninya. Struktur sosial masyarakat pedesaan juga berubah mengikuti perubahan pola penguasaan tanah tersebut, karena bagi komunitas agraris tanah adalah sumber daya utama kehidupannya. Kata Kunci: agraria, penguasaan tanah, struktur sosial pedesaan. PENDAHULUAN Meskipun tanah adalah sumberdaya utama dalam masyarakat agraris, namun nilai tanah bagi mereka jauh lebih luas yang mencakup sebagai faktor ekonomi, sosial, bahkan religius. Menurut kaca mata ekonomi tanah adalah salah satu sumber agraria yang paling penting di samping sumber daya lain, misalnya modal dan tenaga kerja (keterampilan). Oleh karena itu, dapat diperkirakan, bahwa struktur masyarakat pedesaan sangat terkait dengan struktur agraria yang berlaku, khususnya dalam hal penguasaan dan pengusahaannya. Sampai saat ini, pembangunan sektor pertanian dan kehidupan masyarakat pedesaan belum mencapai seperti apa yang diinginkan. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, dapat dikatakan bahwa struktur pertanian kita masih goyah, sehingga belum mampu menjadi penopang untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu ke tahap masyarakat industri. Sementara itu, kehidupan masyarakat pedesaan juga dihadapkan kepada berbagai persoalan-persoalan sosial, diantaranya kemiskinan, ketimpangan pendapatan, pengangguran, konflik agraria, disamping perosalan-persoalan sosio budaya lainnya. Berdasarkan permasalahan itu, melalui tulisan ini ingin diperlihatkan, bahwa dinamika persoalan agraria telah memainkan peranan yang esensial dalam perubahan sosial ekonomi masyarakat pedesaan di Indonesia selama ini. Tulisan ini bertujuan ingin menunjukkan (atau berteori), bahwa berbagai perubahan sosial di pedesaan Indonesia tidak terlepas dari persoalan agraria. Lebih jauh dari itu, sesungguhnya tanahlah yang menjadi penyebab perubahan, membentuk perubahan, dan membatasi sejauh apa perubahan dapat terjadi di tengah masyarakat. Persoalan sektor pertanian dan pedesaan sampai saat ini yang tidak mencapai bentuknya yang diinginkan, yaitu perkembangan yang tidak permanen dan kokoh sebagai penopang sosial ekonomi masyarakat, adalah karena belum konstruktifnya penataan tanah (landreform) di Indonesia. Jika kedua hipotesis ini dapat dibuktikan, implikasinya adalah, bahwa jika kita ingin melakukan perubahan mendasar terhadap

maka itu mestilah berasal dari bangun struktur agraria yang kuat pula. Disadari bahwa karena sebagian besar tulisan yang diacu menulis tentang Jawa. Masa Feodalisme Indonesia sebelum kedatangan bangsa Barat sering disebut dengan masa pra-kapitalis. Selanjutnya. Schrieke (1955) menyatkan bahwa insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi tidak ada. akan mencakup kondisi sebelum era kalonial tersebut. karena pengaruh Barat juga tidak progresif. Artinya. Areal sawah beririgasi menjadi sumber konsentrtasi penduduk. menjamin keamanan. ketika kedatangan Barat ke Indonesia pertama kali. A. pada bagian akhir. wilayah Indonesia didominasi pertanian dengan adanya variasi performa antar daerah. Tulisan ini merupakan review dari berbagai bahan tentang persoalan sosial ekonomi di pedesaan. karena investasi pihak kerajaan yang besar dalam produksi pertanian sawah tersebut. . sampai dengan tahun 1800. Perubahan tersebut diterangkan melalui perubahan struktur agraria. belum ada perubahan yang mendasar dalam pertanian di Indonesia. bagaimanakah struktur masyarakat pedesaan saat itu ? Sebagian besar ahli berpendapat bahwa struktur masyarakat saat itu lebih egaliter. Lalu. terutama yang terkait erat dengan aspek agraria. yang secara kasar sering merepresentasikan perbedaan ekologi Jawa dan luar Jawa (lihat juga Geertz. Pada bagian awal disampaikan uraian histroris dari berbagai kasus. dimana usaha pertanian dilakukan secara intensif. prakolonial. Artinya. TINJAUAN HISTORIS PERUBAHAN AGRARIA DAN STRUKTUR SOSIAL EKONOMI PEDESAAN DI INDONESIA Pada bagian berikut dipaparkan kondisi dan perubahan-perubahan masyarakat pedesaan khususnya performa sosial ekonominya dikaitkan dengan struktur agraria yaitu pola penguasaan dan pengusahaan tanahnya. Keterangan dalam bagian ini. karena saat itu mereka lebih berkosentrasi sebagai pedagang rempah-rempah. dimana agraria menjadi aspek utama dalam perubahan sosial pedesaan yang konstruktif. dan komersialisasipun telah lama ada dalam masyarakat Jawa. termasuk juga pada awal kolonial ketika keterlibatan pemerintah kolonial terhadap masalah pertanahan belum terasa.pertanian dan struktur pedesaan yang kuat. Menurut Wertheim (1956). Intervensi pemerintah kolonial dalam masalah pertanahan secara praktis baru mulai dirasakan di zaman Raffles yaitu mulai tahun 1811. atau zaman feodal. Hal ini karena wilayah sawah beririgasi dibantu kerajaan untuk konstruksi dan pemeliharaan saluran irigasi dan jalannya. Pendapat ini tidak disetujui oleh Husken dan White (1989). kondisi masyarakat desa era pra-kolonial yang sangat egaliter dan penuh dengan keintiman sosial tersebut adalah tidak benar. maka perubahan yang digambarkan dalam tulisan ini lebih mewakili kondisi di pulau Jawa daripada bagian Indonesia lainnya yang sesungguhnya memiliki dinamikanya sendiri yang kompleks dan khas. serta penyediaan bangunan lumbung padi. Namun ini tidak berarti bahwa kehidupan saat itu dapat dikatakan harmonis. bagaimana perubahan sosial yang terjadi di pedesaan. 1976). yaitu sawah dan ladang. baik secara ekonomi maupun sosial. karena surplus produksi hanyalah untuk keluarga raja dan birokrasi di keraton. Ada dua bentuk utama pertanian pada saat itu. Dalam Schrieke (1955) dijelaskan. disampaikan bagaimana perlunya diperhatikan permasalahan agraria dalam merancang perubahan sosial berencana atau pembangunan pedesaan. karena menurutnya masyarakat Jawa sudah sejak lama secara historis terbagi dalam kelas-kelas agraris yang dibedakan atas perbedaan penguasaan tanah. kehidupan petani berada di dalam tekanan pihak kerajaan.

yaitu: (1) Penguasa desa dan orang-orang penting lokal yang tidak pernah menggarap tanah secara langsung namun mendapat hak apanage atau lungguh dari raja. (2) Kelompok mayoritas petani (sikep atau kuli) yang memiliki hak atas tanah. egaliter. menggunakan. Mereka adalah petani tuna-kisma. dan stagnan yang mendominasi pikiran peneliti dan pemerintah kolonial. karena objektivitasnya sebagai ilmuwan bercampur aduk dengan motivasi politiknya. yang semakin memperkuat tesis stratifikasi sosial. atau dari keluarga kerajaan. Mereka berada pada lapisan paling atas dan dihormati oleh warga lain. Biasanya mereka adalah dari keluarga pembuka wilayah tersebut pertama kali. Petani diharuskan menyerahkan separoh hasil buminya sebagai upeti. namun juga sering merupakan kelompok tenaga kerja musiman yang tidak terikat dan cukup mobil. artinya pada masa itu pola hubungan majikan-buruh dan tenaga kerja upahan sudah dijumpai. (3) Para wuwungan (=penumpang) yang hidup sebagai buruh tani. dan ekonomi yang merata. Di bawah sistem feodalisme. Pemilikan tanah komunal dianggap tidak kondusif untuk pertumbuhan. lemahnya rangsangan untuk investasi dipertanian. maka kehidupan petani hanya mampu memenuhi kebutuhan dasarnya saja. dan untuk hak tersebut berkewajiban membayar pajak dan upeti yang besar jumlahnya kepada pihak kerajaan. ada empat lapisan dalam masyarakat desa. Perlu kehati-hatian dalam mengapresiasi pandangan ahli-ahli Belanda. secara umum di Jawa dikenal 3 kelas penguasaan tanah . Secara kuantitas jumlah petani tuna-kisma ini cukup besar dan menjadi kelompok inti kegiatan pertanian. juga berhak menguasai sejumlah besar tanah desa sebagai upah mereka dalam mengatur pemerintahan (lungguh dan tanah bengkok). serta kayu-kayu gelondongan. Selain itu. melainkan bahwa para penguasa itu dalam artian politik mempunyai hak jurisdiksi atas tanah-tanah dalam wilayahnya yang dengan kekuasaan dan pengaruhnya dapat mereka pertahankan. Dengan komposisi seperti ini. Tentang hal ini. sebagaimana dikatakan Husken dan White di atas. Misalnya Raffles yang menganggap tak adanya nilai-nilai komersial pada masyarakat desa. berupa buah-buahan. bahkan juga bagi penguasa. padi. dan secara teroitis punya hak untuk menguasai. dan membangun rumah di pekarangan sikep karena tidak punya tanah sendiri. Menurut Breman. 1999). yaitu mereka yang belum keluarga. penelitian Breman (1986) di wilayah Cirebon juga menemukan struktur yang hampir serupa. Secara kuantitas jumlah mereka paling besar dibanding yang lain. Rakyat yang menggarap hanya punya hak menggunakan. Dengan posisinya sebagai penggarap. Karena itu tanah-tanah tersebut bukannya dimiliki pejabat-pejabat atau penguasa. (2) Masyarakat tani (sikep) sebagai bagian inti masyarakat. Wiradi (2000) berendapat bahwa pada masa itu konsep kepemilikan menurut konsep Barat (property. (3) Kelas pamong desa yang selain menguasai tanah pribadi.Husken dan White (1989) menolak anggapan Jawa yang tak terdiferensiasi. sehingga mereka pesimis terhadap pemilikan yang sempit-sempit dan relatif seragam. (4) Para bujang. yaitu: (1) Kelompok besar petani tuna-kisma yang kadangkala berlindung pada keluarga-keluarga petani yang memiliki tanah. ataupun menjual hasil-hasil buminya sesuai dengan adat yang . ditambah lagi hak memperkejakan sikep atau kuli untuk mengarap tanah mereka tersebut tanpa membayar upah. Pada masa abad 18 dan awal 19. atau eigendom) memang tidak dikenal. alat produksi seperti tanah adalah milik raja dan bangsawan. maka ketimpangan antara kehidupan petani dan raja beserta kaum bangsawan sangat besar. Akibat dari sistem ini. barang-barang mentah atau sudah jadi. bahkan rakyatpun menjadi milik raja yang dapat dikerahkan tenaganya untuk kepentingan penguasa (Fauzi.

Hal ini sama kondisinya dengan pengaturan penggunaan pemakaian tanah adat oleh dewan “doumtuatua” di Bima (dalam Brewer. Dari uraian di atas terlihat. dimana petani penggarap menerima tanah desa atas kesepakatan bersama para anggota masyarakat desa. Tentang pola penguasaan tanah pada saat ini. Hal ini dimulai dengan usaha Raffles untuk memudahkan penarikan pajak tanah. Namun menurut van de Kroef (1984). dimana seluruh tanah dianggap sebagai tanah desa. Masa Pemerintahan Kolonial Secara umum. Namun yang pasti.berlaku. sebagiannya disebabkan karena perbedaan persepsi di antara pengamat saja. Secara umum dikenal. dimana lembaga desa dijadikan alat penarikan pajak. dan pemilikan perorangan dengan beberapa hak istimewa komunal. yang seluruhnya berada di bawah pengawasan desa. namun juga ada yang non-redistribusi. Dengan yuridikasi tersebut. maka Belandalah yang dianggap mengkomunalkan tanah pedesaan untuk memudahkan pajak dan wajib kerja. Hal ini karena pemerintah kolonial Belanda menggunakan para bupati dalam jalur pemerintahannya. dan investasi pertanian mandeg. Jawa Tengah Selatan. walau pengalihan ke luar desa tidak diperbolehkan. dapat melimpahkan ke ahli warisnya. . maka pihak kolonial cukup berhubungan dengan penguasa desa. dan Besuki di Jawa Timur (van de Kroef. sebagai penanggung jawab wilayah. 1984). menjadi alat politik pihak kerajaan. meskipun pemerintahan kolonial menerapkan politik agraria yang berbeda. Akibatnya. bahkan ada daerah yang hampir tidak mengenal prinsip penguasaan komunal kecuali untuk sedikit tanah khusus. B. Dalam kenyataannya. Disamping itu. Dengan demikian. misal di Probolinggo. yaitu sebidang tanah yang dapat dikuasai selama lamanya oleh satu keluarga. karena hak penguasaan tanah ada pada kerajaan. Perdebatan tentang apakah pemilikan komunal atau individual tersebut. yaitu pemilikan komunal yang kuat atau hak ulayat. komersialisasi pedesaan tidak berjalan. Ada tanah komunal yang diredistribusikan berkala. agar dapat mengontrol seluruh warga dan terutama pembantu-pembantunya di level desa. maka perolehan bagi petani sangat terbatas. namun masyarakat pedesaan lebih banyak berhadapan langsung dengan golongan feodal yang sebelumnya juga. apakah pemilikan tanah berbentuk hak komunal atau individual. dan Jawa Timur. namun pengaruhnya bagi masyarakat tani secara prinsip relatif sama. Bentuk tradisional yang paling umum adalah hak penguasaan secara komunal semua tanah. Kepatuhan dari pembantu di tingkat desa terbentuk melalui pemberian tanah lungguh kepada mereka yang sewaktu-waktu dapat dicabut oleh pihak kerajaan. juga ada tanah “individual”. sedangkan tanah private banyak di wilayah Jawa Barat pedalaman. meskipun struktur penguasa di tingkat atas berubah. karena ada tanah-tanah komunal yang dapat diwariskan sehingga terlihat sebagai tanah individual. Bagi yang berpendapat bahwa sebelumnya tidak ada tanah komunal di Jawa. sudah ada stratifikasi luas dan hak penguasaan tanah di antara warga desa. dan penguasan individual dan juga kolektif ada pada satu daerah secara bersamaan. baik yang dapat ditanami maupun sebagai cadangan. yaitu para bupati dan pembantu-pembantunya. bahwa tanah komunal banyak di pesisir Utara Jawa. terdapat beragam bentuk penguasaan antar daerah di Jawa. Pola penguasaan tanah di Jawa sangat beragam antar daerah. 1985). seperti yang dilihat banyak ahli. Penguasaan tanah oleh kerajaan. ada perdebatan. Pola penguasaan tanah cenderung berada di antara dua kutub yang berlawanan. Pasuruan. pemerintah kolonial bekerjasama dengan golongan elit feodal sebelumnya. di luar masalah perdebatan penguasaan tersebut. dengan pola kerja yang sama. sehingga petani hanyalah berstatus sebagai penggarap.

Tujuan UU ini adalah untuk memberikan kesempatan luas bagi modal swasta asing yang memang berhasil secara gemilang. program tanam paksa telah menjadi faktor penting yang bertanggungjawab terhadap keterbelakangan dan kemiskinan di Indonesia. disewa atau dengan pajak. pihak swasta di sana menuntut diberi kesempatan untuk membuka perkebunan di Indonesia. 1999). Apa yang terjadi selama masa penjajahan adalah dominasi dan eksploitasi sumber kekayaan tanah jajahan untuk kepentingan penjajah (Fauzi. dan bagi rakyat Indonesia berlaku hukum adat. Selain itu juga diharapkan kebijakan ini dapat menjaga kelestarian pendapatan pemerintah. Petani tetaplah seorang penggarap dengan kewajiban menyerahkan sebagian hasilnya kepada pihak penguasa. pada era sistem tanam paksa gubernur Van den Bosch yang terjadi sepanjang 18301870. Dengan “mengkomunalkan” tanah maka pemerintah dapat secara efisien dalam menarik pajak tanah berupa natura dari penduduk. Pemerasan tersebut berupa tenaga dan hasil produksinya. Produksi tanaman ekspor meningkat. 1991). Pemerintah juga melakukan kebijakan sistem sewa tanah kepada petani. Undang–undang ini memberi kesempatan kepada penyewaan jangka panjang tanah-tanah untuk perkebunan. terutama kopi dan gula. bahwa tanah adalah milik Belanda. namun bersifat dualistis. yaitu melindungi dan memperkuat hak atas tanah bagi bangsa Indonesia asli ternyata jauh dari harapan (Wiradi. eksploitasi kepada petani semakin intensif. Peraturan ini menjadi dasar peraturan agraria di Indonesia. Sistem sewa ini diterapkan dengan harapan akan dapat memberikan kebebasan dan kepastian hukum serta merangsang untuk menanam tanaman dagang kepada petani. sehinga akibatnya. sistem sewa ini diarahkan untuk tujuan ekspor dengan mengundang swasta-swasta besar dari Belanda. Sesungguhnya ini hanyalah meneruskan pola zaman kerajaan. Tanam paksa ini pada dasarnya merupakan penyatuan antara sistem penyerahan wajib dan sistem pajak tanah. dimana penjajah bekerjasama dengan kaum bangsawan. Namun. Tetapi tujuan lainnya. . dimana pajak dibayar dalam bentuk natura bukan uang. Pada tahap selanjutnya. Selanjutnya. Kebijakan ini dilandasi asumsi. Bersamaan dengan munculnya iklim politik yang bercorak liberalisme di Belanda.Mulai dari tahap ini terlihat bagaimana “penguasaan” atau aspek hukum tanah menjadi mekanisme yang utama dalam menjalankan program-program pemerintahan kolonial. Sistem tanam paksa ini ternyata mampu memberi keuntungan kepada negara jajahan. Untuk itu pemerintah Belanda merasa perlu mengeluarkan Undang-Undang Agararia tahun 1870 (Agrarische Wet). Apalagi ditambah sikap para raja dan sultan baik di Jawa maupun di Luar Jawa yang tergiur untuk memberikan konsesi kepada para penguasa swasta asing. sebagai instrumen yang penting dalam memajukan pertanian. Para bupati dan raja berhak memungut hasil-hasil pertanian untuk diserahkan kepada kolonial. Dengan tanam paksa terjadi pengalihan surplus ekonomi dari Indonesia ke Belanda serta memperbanyak kaum “proletariat desa” (Sritua Arief dan Adi Sasono dalam Suwarsono dan So. Uraian ini menunjukkan bagaimana pemerintah kolonial telah memilih pola penguasaan atas tanah. Disini dimungkinkan untuk memiliki mutlak (hak eigendom) termasuk hak untuk menyewakannya ke pihak lain. 1999: 28). meskipun kurang berhasil (Fauzi. karena meskipun pada tingkat atas kerajaan digantikan oleh Belanda. karena bagi orang asing berlaku hukum Barat. namun struktur masyarakat pada tingkat bawah (desa) masih tetap sama. meskipun ini bersifat sepihak yaitu untuk kepentingan dirinya saja. 2000). petani diwajibkan menanam tanaman ekspor yang dijual dengan harga yang telah ditetapkan atau menurut remisi pajak penyewaan tanah kepada pemerintah kolonial. Politik agraria Belanda memberikan dampak yang hampir serupa bagi petani dibandingkan dengan politik agraria kerajaan.

Pemilik tanah yang jumlahnya sedikit namun menguasai tanah sangat luas dan berkuasa mengatur proses produksi. sepanjang pemerintahan Orde Baru selama tiga dasawarsa. Pemerintah meneruskan program pembangunan perkebunan-perkebunan berskala besar dengan tanah-tanah yang luas. 5 tahun 1960. pemerintah mengatur agar tanah-tanah dapat dipergunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat sebagaimana termaktub dalam pasal 33 UUD 1945. Pembangunan pertanian dengan mengintroduksikan tekonologi maju dan efisien tanpa sadar telah meminggirkan petani. namun kemudian gagal karena ditunggangi oleh muatan politik. usaha privatisasi tanah tetap diusahakan pemerintah Orde Baru melalui program sertifikasi tanah meskipun kurang memuaskan. Selanjutnya.Secara ringkas dapat diutarakan. menjadikan tanah sebagai alat pembangunan yang sentralistis. sebagaimana dikatakan Husken (1998). kebijakan hukum dalam UUPA ini sesungguhnya menentang kapitalisme yang melahirkan kolonialisme yang menyebabkan penghisapan manusia atas manusia. Masa Kemerdekaan (Orde Lama dan Orde Baru) Masa Orde Lama ditandai dengan kelahiran Undang-Undang Pokok Agraria No. memelihara tanaman. dan memanennya. Mereka memiliki akses kuat ke dunia politik. dapat dikatakan landreform tidak dilaksanakan sama sekali. dan di antara mereka semua saling berhubungan keluarga. Namun sebagai aturan pokok. yaitu hukum Belanda dan hukum adat. Pemerintah Orde Baru yang sangat terinpirasi dengan kemajuan ekonomi. Kegiatan landreform selalu diberi cap negatif sebagai kegiatan partai terlarang PKI. yang mengakui hak individu atas tanah. dalam penelitian di Jawa Tengah. Meskipun demikian. namun masih banyak ketentuan-ketentuannya yang belum aplikatif. sehingga menimbulkan berbagai konflik dengan masyarakat. sebab jika melawan maka pengikutnya ini juga yang akan menderita. Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai yang menggunakan politik populis telah berhasil mendapat sambutan yang tinggi dari masyarakat pedesaan. Karena segala yang berkaitan dengan PKI dilarang. Sebagai pengikut (termasuk urusan perpolitikan) mereka harus ikut. secara yuridis peraturan ini masih lemah secara hukum. C. Dalam proses pembuatan produk hukum ini terlihat bahwa pemerintah memberi perhatian serius terhadap pentingnya permasalahan agraria sebagai landasan pokok dalam pembangunan pertanian dan pedesaan (Wiradi. dengan menggabungkan dualisme hukum sebelumnya. Selain itu. Tanah telah dijadikan alat politik sehingga dukungan kepada partai ini menjadi besar. mengatur air. sementara para petani sesungguhnya. Melalui prinsip Hak Menguasai dari negara. Hal ini misalnya. bahwa struktur yang terjadi adalah “Kerbau besar selalu menang” (kebo gedhe menang berike). kegiatan landreform yang ideal pernah berjalan setelah kelahiran UUPA ini. karena pemerintah hanya mengejar industrialisasi pertanian. yang mengolah tanah. Mereka praktis menguasai tanah sawah dan pengatur tenaga kerja. 2000). Hal ini karena memang PKI dulu menjadikan program landreform sebagai alat perjuangannya. Menurut Fauzi (1999). tidak memperhatikan sama sekali aspek struktur penguasaan tanah. Program revolusi hijau dipercaya telah menimbulkan polarisasi sosial . Meskipun demikian. Meskipun di dalamnya sudah terjadi proses pemodernan. Politik agraria yang terkandung dalam UUPA 1960 adalah politik populisme. namun hak tersebut memiliki “fungsi sosial”. maka usaha perbaikan hak penguasaan tanah pun (program landreform) menjadi negatif di mata pemerintah dan masyarakat. dengan UUPA sekaligus juga menentang sosialisme yang dianggap meniadakan hak-hak individu atas tanah. namun kurang memperdulikan semakin banyaknya jumlah petani yang tidak bertanah dan sangat membutuhkannya. hanyalah pengikut yang powerless.

pengaruh kebijakan pemerintah dengan menggunakan mekanisme penguasaan tanah juga telah merusak lembaga tradisional yang sudah mapan. Untuk menggambarkan bagaimana perubahan tersebut berlangsung dapat dilihat misalnya hasil penelitian Berger (1996) dalam penelitiannya di satu desa di bagian utara Jawa Tengah. serta kebingungan hubungan sosial sesama warga khususnya mengenai aspek normatif. Namun kondisi ini berubah karena berbagai tekanan luar. namun tidak dapat disewakan apalagi diperjual belikan. Tengger sebelumnya dianggap sebagai wilayah cagar budaya yang dianggap steril dari pengaruh-pengaruh eksternal.ekonomi. struktur yang kurang teratratifikasi. yaitu tanah komunal yang meskipun dapat dikelola secara terus menerus oleh satu keluarga dan boleh diwariskan. menemukan hilangnya fungsi lembaga “doumtuatua” sebagai institusi desa yang sebelumnya berwenang mendistribusikan pengusahaan tanah di antara warga. dan kultur yang egaliter. sewa tanah. Akibatnya. karena perkembangannya bukanlah karena kekuatan ekonomi murni (sistem pasar) namun lebih karena kekuasaan melalui kekuatan politik kolonial. menurut Nurhadiantomo (1986). namun secara umum dapat dikatakan. serta maraknya pembelian tanah oleh orang luar desa. Artinya. yaitu mendorong pemilikan tanah secara individual dan pembelian oleh orang luar sehingga akhirnya banyak warganya yang menjadi buruh lepas tanpa tanah. 1999). Perubahan sosial ekonomi pedesaan adalah karena pengaruh kapitalisme Belanda melalui tanam paksa komoditas perkebunan untuk ekspor. Produksi yang lebih tinggi menyebabkan terakumulasinya keuntungan. atau setidak-tidaknya penegasan stratifikasi. bukan jaminan subsistensi dari patron. dan terusirya kelompok petani landless dari pedesaan (Tjondronegoro. dengan membandingkan kondisi selama 60 tahun (antara tahun 1869 dan 1929). faktor kepemilikan tanah berperan terhadap mobilitas sosial. ditambah oleh kebijakan pemerintahan RI yang menjadikan sebagian wilayahnya sebagai taman nasional. Pengaruh kapitalisme ini tidak hanya terasa di wilayah-wilayah dataran rendah terutama karena kompetisi tebu dengan padi. sehingga dapat disewakan dan diperjualbelikan. serta membuka akses politiknya. terjadi perubahan kultural berupa gaya hidup baru. telah terjadi perubahan pola penguasaan dari komunal ke penguasaan individual semenjak zaman pra kolonial sampai Orde Baru. 1999). Pola pertanian subsisten telah digantikan oleh pertanian kapitalis yang agresif. yaitu tanam paksa (khususnya antara 1830 sampai 1850) perkebunan kopi. menyekolahkan anak lebih tinggi. serta revolusi hijau. Selain itu. Ketika belum ada pengaruh luar. tapi bahkan sampai ke daerah yang relatif tertutup yaitu misalnya pada komunitas masyarakat Tengger yang berdiam di lereng gunung Bromo (Hefner. terjadi peningkatan aktivitas non-pertanian dan pasar tenaga kerja. desakan pendatang. luas tanah komunal berkurang. hal ini bukanlah suatu kapitalisme murni. Penelitian Brewer (1985) di dua desa di daerah Bima. Dengan demikian. . Revolusi hijau ternyata bersifat mempolarisasikan masyarakat desa. Penggunaan tenaga kerja upahan semakin biasa yang berlangsung melalui mekanisme pasar. karena hanya petani berlahan luas yang lebih mampu menarik manfaatnya. Hal ini karena mereka bergantung pada tanahnya sendiri. Bersamaan dengan itu. adalah suatu fenomena klasik. Ia menemukan bahwa sepanjang waktu tersebut pemilikan tanah menjadi lebih individualistis. Kaitan Faktor Penguasaan Tanah terhadap Perubahan Struktur Masyarakat Pedesaan Meskipun diwarnai perdebatan. Dampak kebijakan ini. Hal ini terlihat dari semakin hilangnya tanah-tanah hak ulayat digantikan bentuk penguasaan “milik” privat. mereka tak mengenal sistem bagi hasil. namun para petani yang berlahan luas berproduksi lebih banyak. Meskipun teknologi yang diintroduksikan bersifat bebas skala. hubungan patron klien. yang pada gilirannya menyebabkan mereka lebih mampu mengembangkan usaha non pertanian. Sebelumnya hanya dikenal pemilikan individual terbatas. Namun. telah terjadi proses invidualisasi ekonomi dan peningkatan diferensisasi pekerjaan. Jenis pemilikan seperti ini disebut juga dengan “pemilikan komunal yang berciri privat”.

1976) melakukan adaptasi organisasi produksi sedemikian rupa. dan mobilitas penguasaan cenderung sentrifugal atau terpolarisasi. mrapat. Organisasi produksi dari sebelumnya berupa pola-pola penyakapan seperti maro. Namun demikian. Respon Petani Terhadap Kebijakan Agraria Tampaknya respon yang diberikan petani terhadap tekanan pemerintah melalui mekanisme agraria berbeda-beda. berubah menjadi hubungan berdasarkan nilai-nilai komersial pola “tuan tanah – buruh”. Dengan cara itu setiap warga terjamin kebutuhan subsistensinya. dan penggilingan padi mekanis. . Penerapan UUPA tahun 1960 menyebabkan konversi tanah yang semula berdasarkan hukum adat (komunal) menjadi hak milik.7 persen dari total tanah di desa tersebut. Jadi dapat dikatakan. Respon petani pada masa feodal terhadap posisinya yang hanya sebagai petani penggarap adalah “berproduksi secukupnya” sebagaimana dijabarkan Schrieke (1955). digantikan dengan pola dengan penyewaan. melalui jaminan memperoleh pekerjaan dan distribusi (Temple. Melemahnya hubungan patron klien ini bersamaan dengan menurunnya tanggung jawab lembaga desa dalam menjamin subsistensi. peluang tunakisma untuk menggarap mengecil. mrlimo. dalam penelitian Amaluddin (1987) di Kendal Jawa Tengah untuk memahami kondisi pada zaman Orde Lama. lebotan. Selanjutnya Amaluddin (1987) melihat bahwa komersialisasi pertanian telah juga menyebabkan perubahan pola hubungan antar lapisan petani. Kondisi sebelum tahun 1960 dimana masyarakat terbagi atas tiga lapisan sosial. Hak narawita. juga banyak dijumpai perlawanan fisik secara terbuka dan terorganisir yang sudah berupa pemberontakan-pemberontakan bersenjata (rebellions). sehingga penjualan tanah berkembang. dapat dikatakan sebagai suatu bentuk perlawanan politik yang “tidak terang-terangan”. secara de facto sudah menjadi milik individual. perlawanan pada masa ini lebih bersifat individual dan tidak terorganisir. Sikap petani yang menghindari produksi berlebih tersebut. buruh lepas. yaitu sarekat (pemegang hak bengkok). dan terakhir desa komersial bersamaan dengan era revolusi hijau. Politik sentralisasi penguasaan tanah dengan kewajiban menyerahkan surplus produksi kepada raja telah berdampak negatif terhadap kegairahan untuk meningkatkan produksi pertanian. Perlawanan terhadap kebijakan pemerintahan kolonial tersebut dibungkus sebagai gerakan mesianis dengan motivasi kedatangan “Ratu Adil”. Dengan kondisi represif saat itu ia hanya dapat melakukan perlawanan dengan cara tersebut dan sulit melakukan perlawanan secara frontal dan terbuka. Masyarakat dalam satu desa yang berbentuk komunal (Temple. panen tebasan. sikep ngajeng (pemegang hak narawita) dan sikep wingking (tunakisma) dilandasi hubungan “patron – klien”. hak narawita. Saat itu. tanah yasan mencakup 76. serta satu yang bersifat individual yaitu hak yasan. meskipun produksi per luasan tanah ada meningkat. misalnya pemberontakan petani Banten dan berbagai pemberontakan dengan skala desa di Jawa Tengah. Selanjutnya menghadapi tekanan pemaksaan penanaman sebagian tanah dalam desa dengan komoditas ekspor kolonial. Tranformasi sistem sosial pedesaan ini juga didukung oleh Temple (1976) yang melihat adanya evolusi desa Jawa dari desa komunal (1830-1870). dimana dengan tanah yang tersisa. Bersamaan dengan itu. yaitu hak bengkok. Sebelum tahun 1960. hak banda desa. sementara jumlah penduduk terus meningkat. Artinya. selain strategi adaptasi tersebut. dan mutu. 1976). sistem produksi yang semula dilandasi nilai-nilai tradisional digantikan oleh sistem produksi komersial. ada tiga jenis hak penguasaan tanah komunal. namun produksi per satuan tenaga kerja menurun. yang menemukan kesamaan dampak revolusi hijau di Indonesia dan Filipina. Akibatnya. bawon. respon yang umum di Jawa menurut Clifford Geertz (1976) adalah apa yang disebutnya dengan fenomena “involusi pertanian”. perubahan sistem penguasaan tanah juga telah menyebabkan perubahan sistem produksi pertanian. Temuan ini didukung oleh Hayami dan Kikuchi (1987). fungsi tanah yang dulu menyatukan telah berubah menjadi “memisahkan”. lembaga desa menjamin seluruh orang yang menginginkan pekerjaan memperoleh pekerjaan. dilanjutkan desa tradisional (1870-1959).Seiring dengan itu.

1999). Hal ini karena para tuan tanah menolak UUPA 1960. yaitu antara pihak yang menguasai dengan pengusahaannya berupa hubungan-hubungan tenancy (penyakapan dan persewaan). 1998). Kebijakan landreform telah mengangkat konflik agraria ke tingkat nasional. Perubahan Sosial Pedesaan yang Tidak Bercirikan Emansipatif Tak dapat dipungkiri. dari satu era ke era pemerintahan lainnya. menurut sisi pandang struktur makro adalah karena berkembangnya ekonomi mode kapitalis. penyebab perubahan adalah faktor ekonomi atau teknologi yang berkaitan dengan ekonomi. Melakukan pembangunan pedesaan dengan pendekatan materialistik artinya melakukan perubahan agraria itu sendiri. apakah perubahan tersebut sudah mengandung prinsip-prinsip emansipasi? Menurut Wertheim (1999). Sementara pada waktu yang bersamaan. Pemerintah tampaknya memahami betul persoalan ini. bahwa secara umum desa-desa telah mengalami perubahan. karena pengkutuban antara rakyat sebagai buruh di satu pihak dengan pemilik modal swasta asing (Suhendar dan Winarni. perubahan hanya bermakna apabila mengarah kepada tujuan-tujuan emansipatif tersebut. baik sebagai migran musiman maupun migran permanen (Tjondronegoro. Konflik-konflik tersebut bersifat strukturalvertikal. respon petani tidak lagi perlawanan diam-diam. . yaitu sifat emansipatif (=pembebasan). Dengan kata lain. kelompok buruh tani dan petani bertanah sempit yang tidak mencapai skala ekonomi secara pasti “terusir” dari desanya sendiri. Secara umum. Bertolak dari perspektif teori ini. konflik kembali bersifat struktural-vertikal yang bercirikan konflikkonflik lokal dan sporadis. Terakhir. Posisi subordinatif petani semenjak era feodal. dengan melakukan perubahan dalam aspek-aspek budaya material misalnya teknologi. Mereka terpaksa migrasi ke kota-kota terdekat untuk berburu pekerjaan-pekerjaan di sektor informal. meskipun desa telah mengalami perubahan sosial. ada dua kubu teori tentang sumber penyebab perubahan sosial. Konflik strutural-vertikal ini berubah menjadi konflik horizontal semenjak kemerdekaan. semakin bertambah parah ketika petani tak berlahan tersingkir sama sekali dari ekosistem pedesaan. Membicarakan perubahan sosial tidak bisa terlepas dari analisis aspek-aspek sumber penyebab perubahan. organisasi sosial. Makna emansipatif yang sesungguhnya bagi petani yaitu “memiliki tanahnya sendiri” belum pernah dicapai selama ini. perubahan sosial harus mengandung tujuan hakikinya. berarti merubah hubungan antara orang dengan dengan tanah dalam pengusahaannya. kepercayaan. pada masa Orde Baru. Namun demikian. Meskipun petani telah mampu mengendalikan alam berkat teknologi. namun sudah berubah menjadi perlawanan fisik. maka perubahan sosial di pedesaan kita dengan mengubah modes of production atau organisasi produksi. Implikasinya. Diasumsikan bahwa teknologi baru atau modes of economic production menyebabkan perubahan sosial berupa interaksi. yaitu materialistic perspective yang berasal dari Karl Marx dan idealistic perspective dari Max Weber (Harper. serta nilai-nilai budaya dan norma. dimana terjadi pergeseran wilayah konflik menjadi konflik antara buruh tani dan petani miskin dengan tuan-tuan tanah atau petani kaya. walaupun kuatnya represif birokrasi dengan dukungan militer membuat petani tak berkutik. Emansipasi adalah suatu pembebasan manusia dari kungkungan alam serta dari dominasi manusia atas manusia. 1989) Dalam perspektif material. namun mereka belum mampu menembus tembok struktural yang mengungkungnya dari dominasi antar sesama manusia.Konflik agraria yang banyak terjadi di masa kolonial tersebut. perubahan emansipatif bagi petani adalah perubahan yang mampu melepaskan mereka dari jerat penguasa tanah yang menjadikan mereka hanya “buruh” di tanah garapan mereka sendiri. Apa yang terlihat pada sistem sosial pedesaan kita tampaknya masih jauh dari nilai-nilai emansipatif. Pada masa ini.

Terlihat bahwa pada fungsi adaptasi. agar sistem dapat bertahan. namun janji untuk memperoleh tanahlah yang menjadi dasar perjuangannya. faktor penentu struktur sosial adalah kekuasaan. Adaptasi berkaitan dengan masalah mengamankan fasilitas lingkungan yang cukup dan membagikan fasilitas tersebut dalam sistem. 1988). maka akibatnya konflik-konflik yang terjadi juga lebih bersifat materialistis ketimbang idealis. Perubahan dalam sistem sosial komunitas pedesaan dapat dilihat dalam aspek strukturnya. selain air. dan latensi. Dengan kata lain. Dalam sistem sosial agraria. Dari uraian di atas terlihat bagaimana di setiap zaman selalu saja ada pihak yang berkepentingan dengan perubahan sosial. serta analisis konflik yang terjadi. maka bagaimana pemanfaatan sumber daya tanah diorganisasikan dan didistribusikan di antara anggota sistemnya menjadi salah satu bagian yang esensial. bukan konflik ideologi. Persoalan ini juga dapat dipandang dari sisi lain. Penguasaan tanah berimpilkasi kepada siapa yang boleh terlibat dalam produksi. integrasi. Dari analisis struktur sosial di pedesaan. Dengan demikian. khususnya dalam kaitannya dengan tanah. dan lain-lain. Sebagai sebuah closed system. maka tanahlah yang menjadi sumber konflik dari satu era ke era lainnya. Pembicaraan tentang struktur agraria. Menurut Teori Sistem (dalam Soekanto dan Lestarini. Hal ini karena tanah adalah . meskipun pedesaan Indonesia telah mengalami perubahan sosial. Meskipun misalnya pemberontakan petani dalam PKI dibungkus dengan ideologi komunis. yaitu para penguasa. yaitu aspek sumberdaya tanah. karena tidak memihak kepada sebagian besar unsur komunitasnya yang merindukan hak-hak emansipatifnya. Meskipun perubahan sosial adalah suatu keniscayaan yang tak dapat dihindari oleh bangsa manapun. maka mereka dapat menguasakan pengusahaannya tanahnya kepada para petani yang tak bertanah yang secara kuantitas jumlahnya lebih banyak. karena memang tanah adalah sumber daya utama bagi masyarakat pedesaan. berkaitan dengan eksplorasi sumber daya dan distribusi. Dengan persepktif meterialistik ini. khususnya tanah. sehingga akan diperoleh kelas pemilik dan bukan pemilik. Apabila desa dipandang sebagai sebuah sistem. Menurut Sosrodihardjo (1972). Selanjutnya hal ini akan menentukan besarnya pendapatan keluarga. Artinya. dan kepada bagaimana stratifikasi sosial ekonomi atau struktur desa terbentuk. dalam sistem sosial komunitas pedesaan. Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh kelas pemilik. Mereka lebih memperjuangkan hak atas tanah dibandingkan memperjuangkan ideologi komunisnya. maka masyarakat pedesaan selalu dapat dibedakan antara kelas pemilik dan bukan pemilik tanah. akan berpokok kepada struktur penguasaan dan pengusahaannya. maka dapat ditarik suatu implikasi betapa perlunya penanganan persoalan agraria sebagai dasar pembangunan pertanian. sebagaimana diterangkan oleh Husken (1998). Reforma (Sebuah Agraria sebagai Dasar Perubahan Sosial Pedesaan yang Konstruktif Implikasi) Setelah mempelajari berbagai bentuk dan pola perubahan sosial ekonomi pedesaan dan keagrarian. dimana tanah beserta komponen kimia dan fisikanya sebagai salah satu sumberdaya terpenting. Upaya penguasa untuk mengendalikan perubahan melalui persoalan agraria adalah cara yang efektif. Kepemilikan ini pada gilirannya menentukan kepada kekuasaan sebagai dasar menyusun struktur masyarakat desa.Dari uraian historis di atas terlihat bahwa penyebab perubahan ditekankan kepada aspek-aspek materialistik. Dengan pendapat ini. maka ia memiliki tujuan dan mekanisme mencapai tujuan tersebut. respon petani. udara. struktur masyarakat pedesaan berisi sebagian besar dengan mereka yang justeru jauh dari hak-hak emansipatifnya karena posisinya yang bukan sebagai pemilik tanah yang digarapnya. maka penggambaran struktur dapat menggunakan pelapisan anggota komunitas pedesaan berdasarkan kekuasaan ekonomi. namun perubahan tersebut bukanlah perubahan yang hakiki. namun perubahan sosial tidak terjadi begitu saja. maka tergantung kepada berfungsinya aspek-aspek adaptasi. serta siapa yang akan mendapat pembagian hasil produksi dan berapa. pencapaian tujuan.

Dengan otonomisasi daerah saat ini. Pada zaman Orde Lama. reformasi agraria dapat dianggap sebagai suatu revolusi. sehingga bagaimana hubungan manusia dengan tanah menjadi sangat esensial. 1999). Sebab. reforma agraria menimbulkan perdebatan di antara berbagai disiplin ilmu (Wiradi. Memperlakukan tanah sebagai komoditas memang tampak rasional dan wajar-wajar saja. 5 tahun 1960. termasuk modal dan tenaga kerja. Menurut Wiradi (2000). yang diperjuangkan dalam reforma agraria bukanlah sekedar merebut tanah dan dibagi-bagikan kepada petani. serta pendistribusiannya. maka bagaimana pemerintah daerah masing-masing mempersepsikannya menjadi faktor penentu dalam pelaksanaan reforma agraria. Tujuan dalam revolusi bukan sekedar penggantian kelas sosial yang berkuasa. bagaimana pemerintah daerah masing-masing memaknai dan memahami reforma agraria menjadi faktor krusial yang sayangnya mungkin tidak terlalu mudah dijalankan. namun umurnya tak terbatas. namun tanah adalah sumber daya yang unik. pemanfaatan tanah kurang optimal. pengumpulan data dasar. aparat yang tangguh. 2000). Hal ini berbeda dengan modal kapitalis yang lain yang mudah rusak. Untuk itu maka dibutuhkan keterlibatan semua pihak dengan landasan hukum yang kuat. distribusi tanah yang merata menyebabkan. Meskipun kita sudah memiliki UUPA namun itu harus dilengkapi dengan banyak lagi peraturan-peraturan pendukung. .sumber daya utama dalam pertanian. Artinya. diharapkan ada kesempatan untuk berkembang melalui mekanisme persaingan. Tidak tercapainya perubahan yang emansipatif di pedesaan adalah karena belum adanya perubahan yang mendasar dalam penguasaan dan pengusahaan tanah (agraria). Dalam revolusi tak hanya sekedar perubahan struktur sosial namun “perubahan mendasar tata sosial” (Wertheim. Sementara menurut pandangan evolusionist. meskipun proses industrilaisasi sudah mulai. namun menciptakan struktur baru dengan perimbangan kekuasaan. Hal ini sangat berbahaya karena akan melahirkan praktek-praktek monopoli dan spekulasi tanah (Wiradi 1996). Dalam tataran teoritis. sesungguhnya telah ada kesadaran bahwa reforma agraria berupa landreform adalah kebijakan yang sangat penting dalam membangun pertanian di masa depan. namun lebih kepada perbaikan struktur sosial ekonomi secara makro nasional. Dengan kepemilikan tanah yang tidak lagi bersifat tradisional. sesungguhnya ada peluang untuk melakukan reforma agraria secara “lokal”. yang berbeda dengan ciri-ciri benda lainnya. secara keseluruhan. apa yang terjadi selama ini di dalam ekonomi kapitalis semenjak Orde Baru adalah menjadikan tanah semata-mata sebagai kapital sebagaimana sumber daya lain. atau belum pernah menjadi suatu “gerakan” nasional yang memadai. namun keberadaannya tetap saja adanya. tetapi belum dilakukan reforma agraria secara tuntas yang semestinya mendahului proses industrialisasi tersebut. Khusus untuk pembangunan pertanian. modal dan tenaga kerja adalah tiga faktor utama dalam produksi kapitalis. Namun sayangnya usaha ini tidak pernah dijalankan secara sungguh-sungguh. Untuk dapat melaksanakan reforma agraria saat ini dibutuhkan berbagai syarat dan kondisi. ketika berhasil dirumuskan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) No. Menurut ekonomi neo-klasik misalnya. Namun. Bagi Indonesia saat ini. dengan menciptakan struktur yang “adil dalam peluang”. Tanah jumlahnya selalu tetap di dunia ini. meski sebidang tanah dibiarkan karena belum dimanfaatkan. Selain itu. Tanah. karena reforma agraria haruslah menjadi suatu gerakan nasional. tanah dijadikan sebagai komoditi yang dapat diperjual belikan secara bebas. serta termasuk alokasi dana yang cukup besar untuk penelitian. berkurang atau menurun nilainya Belum mantapnya langkah Indonesia menuju tahap industrialisasi adalah karena belum kokohnya pembangunan sektor pertanian. reforma agraria perlu agar tercipta alokasi yang optimal atas masyarakat secara keseluruhan melalui redistribusi penguasaan tanah. Di sisi lain. sebenarnya Indonesia belum dapat dikatakan telah mengalami transisi agraris.

Reforma agraria tampaknya merupakan implikasi yang rasional sebagai dasar melakukan perubahan sosial yang terencana (pembangunan) di pedesaan. 1985. Perubahan yang hakiki bagi petani adalah perubahan yang menuju kepada penguasaan tanah. Noer. Yujiro dan Masao Kikuchi.H. Berger. Penguasaan Tanah dan Tenaga Kerja di Jawa di Masa Kolonial. Moh. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1999. Geertz. 1987. Hayami. Sumbawa Timur (hal. pemerintah yang berkuasa selalu menggunakan aspek agraria sebagai alat politik yang penting. Puncaknya justeru ketika petani tak berlahan tersingkir sama sekali dari ekosistem pedesaan. sehingga bagaimana arah dan bentuk perubahan yang diinginkan tidak selalu sama dengan yang diinginkan masyarakat itu sendiri. Fauzi. aspek penguasaan tanah dipercaya sebagai faktor utama pengendalian sosial. 1989. Robert W. yang pada gilirannya menjadikan alat kekuasaan bagi rakyatnya. Jan. KPA. Jakarta: UI Press. Meskipun semenjak era Politik Etis sampai Orde Baru kesejahteraan petani selalu dijargonkan. Sejarah Lokal di Indonesia. Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi. dan Pustaka Pelajar. Meskipun desa mengalami perubahan sosial. Desa Ngablak Kabupaten Pati Dalam tahaun 1869 dan 1929. .A. Dari uraian historis terlihat bahwa petani belum pernah benar-benar menguasai tanah yang digarapnya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Hefner.KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Dari uraian di atas terlihat bahwa dalam setiap era. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Dove (ed) 1985. Jeffrey D. Jakarta: Bhratara K. 1987. Kemiskinan dan Polarisasi Sosial: Studi Kasus di Desa Bulugede. 1986. New Jersey: Prectice Hall. masih tetap bertahan. Dalam alam pemikiran sosiologis penguasa. Dalam: Michael R. Makna kemerdekaan yang sesungguhnya bagi petani yaitu “memiliki tanahnya sendiri” belum pernah dicapai. Petani dan Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia. Brewer. karena hal yang pokok dalam reforma agraria adalah pengaturan tentang penguasaan tanah. Harper. Jakarta: LP3ES. Tanah dijadikan jalan dalam merealisasikan tujuantujuan politiknya. namun perubahan tersebut belum mengandung prinsip-prinsip emansipasi bagi penduduknya. D. Posisi subordinatif yang sudah dialami petani semenjak era feodal. Dilema Ekonomi Desa: Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. 163 – 188). 1976. Jawa Tengah. Daftar Pustaka Amaluddin. Yogyakarta: LKIS. Dalam: Taufik Abdullan (ed) 1996. Charles L. Clifford. Hal ini berimplikasi kepada terbatasnya pembangunan pertanian dan selanjutnya kepada mandeknya transformasi struktur ekonomi nasional. Dari uraian di atas terlihat bahwa masyarakat pedesaan selalu berada dalam tekanan ekternal yang kuat. Kendal. Penggunaan Tanah Tradisional dan Kebijakan Pemerintah di Bima. maka surplus produksi selalu terkumpul kepada pihak penguasa. ekonomi (struktur ekonomi kapitalis). Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. namun kebijakan pemerintah tak menyentuh persoalan tanah secara mendasar. 1996. Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik. Dengan menguasai tanah. Hal ini adalah karena desa telah terkooptasi oleh “atas” baik secara politis (elit yang berkuasa). Exploring Social Change. dan sosial (nilai-nilai budaya kota). Yogyakarta: Insist Press. 1999. Namun sayangnya ini hanya digunakan untuk kepentingan penguasa sepihak saja. Breman.

Stephen K. Soekanto. Suwarsono dan Alvin Y. Second Edition. al.Husken. Gelombang Pasang Emansipasi: Evolusi dan Revolusi. Rendall. Penguasaan Tanah dan Struktur Sosial di Pedesaan Jawa (hal. 1986. dan Suyatno. B. Wertheim. Majalah Prisma No. Jakarta:Rajawali Press.The Hague. Fungsionalisme dan Teori Konflik dalam Perkembangan sosiologi. Frans. Perubahan Status Sosial dan Moral Ekonomi Petani. London: Routledge and Keegan Paul. 1989. 1988. Sarman. Tjondronegoro. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. 1996. Bandung: W. Dalam: SMP Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi (ed). 1989. 2 Part One. Majalah Prisma No. Wiradi. Sosiologi Makro. 1994. 7 tahun 1994. 1976. 3 April 1976. Jakarta: PT Gramedia. 2000.F. Harcourt: Brace and World Inc. Endang dan Yohana Budi Winarni. Edisi 3 Juli 1996. Hermann dan Susan C. van Hoeve . Yogyakarta: Insist Press. 1984. 145-167). 1999. Soerjono dan Ratih Lestarini. 1972. Cet. An Introduction to Theories of Social Change. 1956. Bandung: Penerbit “Sumur Bandung”. Surakarta: Penerbit HAPSARA. Dalam: keping-Keping Sosiologi dari Pedesaan. Sostodihardjo. Reforma Agraria: Perjalanan yang Belum Berakhir. Sanderson. Mukhtar. Edisi Revisi. Petani dan Konflik Agraria. G. . Wertheim. Jakarta: Garba Budaya dan ISAI. Ronald et. Mundurnya Involusi Pertanian: Migrasi. Dalam: Lance Castles. Kepemimpinan. Kerja dan Pembagian Pendapatan di Pedesaan Jawa. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Gunawan. So. 1999. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Gunawan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Jangan Perlakukan Tanah sebagai Komoditi. Temple. W. Schrieke. Jurnal “Analisis Sosial. KPA. 1984. 1998.F. Indonesian Society in Transition: A Study of Social Change. Soedjito. Prisma No. Jakarta: LP3ES. Revolusi Hijau dan Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa. 1993.2 Strasser. dan Pustaka Pelajar. 1958. Vol. Planned Change. Wiradi. Lippit.P. 1998. Yogyakarta: Penerbit Karya. Birokrasi dan Perubahan Sosial di Indonesia (hal 33-49). 1991. W. Indonesians Sociological Studies. Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. 1986. 1955. Van de Kroef. Bandung: Yayasan AKATIGA. Jakarta: Sinar Grafika. Husken. Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa Ke Masa. Suhendar. 4. Ekonomi Politik Pembangunan Pedesaan dan Struktur Agraria di Jawa. SMP. Frans dan Benjamin White. Birokrasi. Perubahan Struktur Masyarakat di Jawa: Suatu Analisa. 1981. dan Perubahan Sosial di Indonesia. Nurhadiantomo. Nurhadiantomo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful