Dampak Peralihan Fungsi Lahan terhadap Banjir di Kelurahan Panjer Kota Denpasar

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Sejak manusia pertama kali menempati bumi, lahan sudah menjadi salah satu unsur utama dalam menunjang kelangsungan kehidupan. Konkritnya, lahan difungsikan sebagai tempat manusia beraktivitas untuk mempertahankan eksistensi. Aktivitas yang pertama kali dilakukan adalah pemanfaatan lahan untuk bercocok tanam (pertanian). Seiring pertumbuhan populasi dan perkembangan peradaban manusia, penguasaan dan penggunaan lahan mulai terusik. Keterusikan ini akhirnya menimbulkan kompleksitas permasalahan akibat pertambahan jumlah penduduk, penemuan dan pemanfaatan teknologi, serta dinamika pembangunan. Lahan yang semula berfungsi sebagai media bercocok tanam (pertanian), berangsur-angsur berubah menjadi multifungsi pemanfaatan. Penduduk adalah salah satu komponen yang mempengaruhi perkembangan suatu kota. Namun yang kemudian menjadi masalah adalah pengendalian pertumbuhan dan perkembangan kota itu yang harus diseimbangkan dengan daya dukung lingkungan. Banyak kota yang berkembang secara tidak terkendali, sehingga menyebabkan degradasi lingkungan. Di antaranya penyebab erosi lingkungan adalah terjadinya invansi penggunaan tanah untuk pembangunan kawasan baru dan peningkatan infrastruktur pada wilayah-wilayah yang semestinya menjadi daerah preservasi alami untuk melestarikan sumberdaya air permukaan, air tanah, dan tanah. Perkembangan dan kemajuan kota diakibatkan oleh pertumbuhan penduduk dan sebagai konsekuensinya perkembangan kegiatan ekonomi maupun sosial dari peningkatan penduduk. Beberapa hal yang menjadi daya pikat kota itu sendiri maupun di wilayah sekitarnya yaitu ketika daya dukung kota melampaui batas. Maka timbul berbagai macam permasalahan, di antaranya meningkatnya kebutuhan akan fasilitas infrastruktur. Akibatnya perubahan tata guna lahan berdampak negatif kepada kota sendiri terutama menurunnya tingkat kenyamanan akibat dari terbatasnya areal lahan terbuka yang ada. Secara lebih khususnya perubahan tersebut berdampak kepada banjir dan genangan yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

Aktivitas perubahan tata guna lahan yang dilakukan di daerah hulu daerah aliran sungai (DAS) tidak hanya memberikan dampak di daerah di mana kegiatan tersebut berlangsung (hulu DAS), tetapi juga akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran air lainnya (Asdak, 1995). Banyaknya peralihan fungsi penggunaan lahan terbuka (hutan, pertanian, padang rumput, dan lain-lain.) menjadi lokasi dan/atau peruntukan lainnya yang bersifat pemadatan tanah telah memberikan dampak lingkungan di daerah hilir, misalnya: banjir pada musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau. Peningkatan jumlah penduduk memberikan konsekuensi pula terhadap terjadinya kompetisi dalam pemanfaatan tata guna lahan pada suatu DAS, mengandung arti bahwa penduduk semakin banyak melakukan penggunaan dan pemanfaatan lahan untuk berbagai pemanfaatan dan aktivitas serta melakukan konversi atau perubahan vegetasi. Menurut Soemarwoto (1978), menurun dan merosotnya kondisi suatu DAS pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: adanya tekanan penduduk, tekanan pembangunan, dan tekanan sosial ekonomi masyarakat dalam kawasan daerah aliran sungai (DAS). Pemanfaatan tataguna lahan yang tidak memperhatikan daya dukungnya, budidaya pertanian yang tidak memperdulikan azas konservasi tanah serta penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan fungsinya dapat menurunkan mutu tanah, degradasi lingkungan di wilayah aliran sungai, terganggunya tatanan air, terutama ketersediaan air dalam kualitas dan kuantitasnya. Urbanisasi yang terjadi hampir di seluruh kota besar di Indonesia akhir-akhir ini menambah beban daerah perkotaan menjadi lebih berat. Kebutuhan akan lahan, baik untuk pemukiman maupun kegiatan perekonomian meningkat, sehingga lahan yang berfungsi sebagai retensi dan resapan menurun, akibatnya aliran permukaan bertambah besar. Kapasitas saluran drainase yang sudah ada menjadi tidak mampu menampung debit yang terjadi, air melimpah, dan terjadilah genangan banjir. Genangan banjir tidak hanya menyebabkan kerugian langsung pada penduduk dan aset-asetnya, tetapi juga menyebabkan kerugian tidak langsung berupa penundaan aktivitas sehari-hari. Genangan banjir juga menyebabkan lingkungan menjadi kotor, tidak sehat, dan mengganggu estetika. Kegiatan tataguna lahan yang bersifat merubah tipe atau jenis penutup lahan dalam suatu DAS dapat memperbesar atau memperkecil hasil air (water yield). Pada batas-batas tertentu, kegiatan tersebut dapat mempengaruhi kualitas air, terjadinya perubahan tataguna lahan dan jenis vegetasi dalam skala besar dan bersifat permanen dapat mempengaruhi besar kecilnya hasil air. Kekeringan dan banjir adalah dua contoh klasik yang kontras tentang

perilaku aliran air sebagai akibat perubahan kondisi tataguna lahan dan faktor meteorologi, khususnya curah hujan. Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat ditambah dengan urbanisasi menyebabkan wilayah pemukinan semakin meningkat sehingga menambah kerapatan bangunan. Kerapatan bangunan ini menuntut perubahan dan pembaruan sistem drainase perkotaan, serta akan memperbesar wilayah kedap air yang secara langsung meningkatkan volume aliran air permukaan (surface run-off). Dengan kata lain bagian air yang diserap atau terinfiltrasi semakin kecil. Pengaruh meningkatnya volume aliran permukaan (surface run-off) menyebabkan debit air semakin tinggi yang secara tidak langsung akan menimbulkan permasalahn banjir di perkotaan. Bledsoe (1999) dalam desertasinya tentang sungai terhadap urbanisasi antara lain menyimpulkan bahwa keseimbangan sungai mulai terganggu jika perubahan fungsi kawasan bagian hulu (dari hutan menjadi ) telah melebihi 15% dari luas daerah pengaliran sungainya. Dengan kata lain suatu daerah yang masih asli, masih mungkin dapat beralih fungsi tanpa harus merubah keadaan alam sungai yang bersangkutan. Akibat perkembangan penduduk yang pesat dan tingkat urbanisasi ke kota cukup tinggi, hal ini berpengaruh terhadap kebutuhan akan lahan kawasan perkotaan dan dikarenakan dengan meningkatnya permintaan akan lahan, masyarakat pendatang tidak mampu untuk memiliki lahan yang legal. Dengan banyaknya konversi lahan di perkotaan maka sekarang ini banyak sekali lahan-lahan yang seharusnya menjadi penopang dan penyerapan air hujan di kawasan terbuka hijau Kota Denpasar berubah menjadi kawasan terbangun dan menjadi kawasan yang dipenuhi dengan berbagai aktivitas. Keadaan ini dapat diperhatikan dengan jelas, salah satunya di Kelurahan Panjer. Hal tersebut seolah-olah menjadi hal yang biasa dan tidak dipikirkan dampak yang akan diperoleh yaitu banjir. Padahal akhir-akhir ini akibat perubahan lingkungan yang cukup tinggi, Kota Denpasar serta Kelurahan Panjer yang terletak di Kecamatan Denpasar Selatan ini menjadi sering dilanda banjir.

1.2 Rumusan Masalah Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk di Kota Denpasar, khususnya Kelurahan Panjer, baik yang disebabkan urbanisasi, migrasi, maupun pertambahan jumlah penduduk berdampak langsung terhadap peningkatan kebutuhan lahan. Bertambahnya luas daerah terbangun mengakibatkan daya dukung daerah resapan berkurang yang selanjutnya akan

Bagaimana dampak peralihan fungsi lahan terhadap banjir di Kota Denpasar pada umumnya dan di Kelurahan Panjer pada khususnya? 2. Apa saja langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah Kota Denpasar untuk mengendalikan peralihan fungsi lahan di Kota Denpasar umumnya dan Kelurahan Panjer khususnya? 1. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Peningkatan pengaliran mengakibatkan peningkatan pada kapasitas pengaliran yang terjadi sehingga mengakibatkan terjadinya genangan atau banjir. . nyaman. tidak sehat dan mengganggu estetika. Sebagai kota yang berwawasan budaya sangatlah diperlukan lingkungan yang bersih. Untuk mengetahui seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari peralihan fungsi lahan terhadap banjir di Kota Denpasar pada umumnya dan di Kelurahan Panjer pada khususnya. maka pembuatan makalah ini bertujuan: a.meningkatkan pengaliran.3 Tujuan Berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah sebagaimana diuraikan diatas. dan indah. Genangan banjir juga menyebabkan lingkungan menjadi kotor. Permasalahan drainase yang menyebabkan genangan banjir tidak hanya menyebabkan kerugian langsung pada penduduk dan aset-asetnya. tetapi juga menyebabkan kerugian tidak langsung berupa penundaan kegiatan sehari-hari. Untuk mengetahui besarnya perubahan luasan lahan terbangun yang terjadi di Kota Denpasar pada umumnya dan di Kelurahan Panjer pada khususnya. b.

dan metode observasi.1 Metode Kajian Pustaka Metode kajian pustaka dilakukan dengan mengumpulkan data dari sejumlah pustaka yang memiliki kaitan erat dengan judul yang diambil. Denpasar. 2.BAB II METODE PENGUMPULAN DATA Metode pengumpulan data dalam makalah ini dilakukan dengan 4 metode. . metode wawancara.3 Metode Observasi Metode observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan di sejumlah tempat di kawasan kelurahan Panjer. 2. 2. yaitu metode kajian pustaka. yaitu petugas di lingkungan Kantor Lurah Panjer. Selain itu. Wawancara dilakukan dengan 2 orang narasumber. Denpasar serta Pekaseh Kelurahan Panjer. pustaka online juga dijadikan media untuk mengumpulkan informasi terkait kepentingan makalah ini.2 Metode Wawancara Metode wawancara dilakukan dengan mengumpulkan beberapa data dari narasumber yang memiliki kaitan erat dengan judul yang diambil. yaitu Dampak Peralihan Fungsi Lahan terhadap Banjir di Kelurahan Panjer Kota Denpasar. Denpasar.

Banjar Sasih.16 ha luas keseluruhan Kelurahan Panjer dan sisanya merupakan lahan yang sudah dibangun menjadi perumahan.037 jiwa. Banjar Kangin. yaitu Banjar Bekul. Batas-batas Kelurahan Panjer yaitu. Banjar Tegal Sari. Kelurahan ini memiliki luas 314.172 jiwa. Kondisi ini dapat dengan jelas diperhatikan . 16 ha dan menaungi 9 banjar. sementara Tukad Rangda mengalir di kawasan Banjar Celuk. sementara aliran air sungai di sekitar Jalan Tukad Pakerisan ditampung di Bendungan Bekul.1 Kelurahan Panjer Kelurahan Panjer adalah salah satu kelurahan di Kota Denpasar yang terletak di Kecamatan Denpasar Selatan.292 jiwa. Sistem drainase di kawasan Kelurahan Panjer kondisinya dapat dijelaskan berupa gotgot dangkal dengan trotoar sebagai penutupnya. Ketiga bendungan dibangun kurang lebih 40 tahun yang lalu dan masih berfungsi sampai sekarang. Tukad Rangda. yaitu Tukad Punggawa. sebelah selatan Desa Sidakarya. dan Banjar Manik Saga. Menurut data yang penulis peroleh dari narasumber. dan data terakhir pada akhir 2009 jumlah penduduknya adalah 17. Hasil panen umumnya langsung dijual karena ketidakadaan fasilitas penggiling padi di kawasan Kelurahan Panjer untuk saat ini.BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 3.368 jiwa. perbandingan penduduk asli dan pendatang Kelurahan Panjer tahun 2010 adalah 65% : 35%. sebelah utara Desa Dangin Puri Kelod dan Desa Sumerta Kelod. Jumlah penduduk Kelurahan Panjer pada akhir tahun 2006 tercatat sebanyak 17. dan sungai yang alirannya di sekitar Jalan Tukad Pakerisan. Aliran air Tukad Punggawa ditampung di Bendungan Sebun dan Bendungan Pandian. Produksi padi di lahan pertanian Kelurahan Panjer pada tahun 2010 adalah 9-11 ton per ha tiap 6 bulan. Banjar Kaja. Luas lahan pertanian di Kelurahan Panjer pada tahun 2010 yang masih dapat ditanami adalah seluas 35 ha dari 314. sebelah timur Kelurahan Renon. Banjar Kertasari. Banjar Antap. Tukad Punggawa mengalir di kawasan Banjar Kangin. pada akhir tahun 2008 tercatat 17. Banjar Celuk. pada akhir tahun 2007 tercatat 17. Kelurahan Panjer dilewati oleh 3 sungai. dan sebelah barat Kelurahan Sesetan. Data kependudukan dari masing-masing tahun yang telah disebutkan dapat dilihat pada lampiran.

08%) dan sisanya seluas 1. dan Jalan Tukad Pakerisan (sisi barat). tambak dan kolam 10 ha (0.189 ha (27. dan tanah kosong. Dari 12. Sawah merupakan penggunaan lahan terluas kedua setelah pemukiman.20%) termasuk penggunaan lainnya seperti rumput. Diikuti oleh sawah dengan luas 2.778 ha luas lahan Kota Denpasar. 3. Sampah yang dihasilkan di Kelurahan Panjer per hari rata-rata 4 truk mobil Dinas Pekerjaan Umum (DKP) Kota Denpasar. dan tambak/kolam tidak terdapat di Kecamatan Denpasar Barat. Hampir semua jenis penggunaan lahan tersebar di masingmasing kecamatan. Kondisi sampah di tempat penampungan sampah sementara ini tercampur aduk.591 ha atau 33. Denpasar Selatan merupakan kecamatan dengan luas sawah terbesar. baik sampah organik maupun nonorganik. yaitu 935 ha (34.59%).26%). kecuali hutan negara hanya ditemukan di Kecamatan Denpasar Selatan.29%.831 atau 61.21%). penggunaan lahan untuk pemukiman adalah 7.28% dari luas total Kota Denpasar.176 ha (9. 35% dari luas Kota Denpasar).10%). Pemukiman yang merupakan penggunaan lahan terluas di Kota Denpasar terdistribusi paling luas di Kecamatan Denpasar Selatan seluas 2.217 ha (15. Kecamatan Denpasar Barat 1.54% dari luas pemukiman atau 9. kemudian diikuti oleh Kecamatan Denpasar Utara 2. Jalan Tukad Jogading.717 ha (21. Kemudian diikuti oleh Kecamatan Denpasar Utara .13% dari luas Kota Denpasar).53% dari luas Kota Denpasar). Sampah dikumpulkan sementara di tempat penampungan sampah sementara yang terletak di samping belakang Setra Banjar Kangin.2 Gambaran Penggunaan Lahan Sawah di Kota Denpasar pada Umumnya dan Kelurahan Panjer pada Khususnya Penggunaan lahan Kota Denpasar didominasi oleh pemukiman. maka dari itu kawasan ini menjadi langganan banjir tiap musim hujan.41% dari luas keseluruhan sawah di Kota Denpasar).834 (23.27%). tegalan 396 ha (3. perkebunan 35 ha (0. hutan negara seluas 538 ha (4. rawa. Sementara untuk di kawasan Jalan Tukad Batanghari sistem drainase belum dapat dikatakan layak. Sementara tegalan. sedangkan perkebunan hanya ditemukan di Kecamatan Denpasar Timur dan Denpasar Selatan. hutan rakyat. hutan rakyat 75 ha (0. pasir.42% dari total luas pemukiman atau 14.08% dari luas seluruh pemukiman di Kota Denpasar atau 20.di sepanjang Jalan Waturenggong.95% dari luas pemukiman yang ada atau 17. dan luasan pemukiman terkecil terdapat di Kecamatan Denpasar Timur seluas 1.

00%). Tambak dan Kolam juga terdapat di 3 kecamatan. 5 tahun lagi keberadaan lahan sawah irigasi di Panjer akan habis. 3. 272 Ha merupakan lahan sawah .19%). pada tahun 2008 pembangunan Kelurahan Panjer didominasi oleh pendirian warung atau toko dengan jumlah 204 toko.72%). Penggunaan lahan tegalan tersebar di 3 kecamatan. Penggunaan lahan lain termasuk di antaranya rumput. Pendirian bengkel dan koperasi masing-masing menduduki peringkat ketiga dan keempat yaitu sejumlah 24 bengkel dan 17 koperasi. dan Kecamatan Denpasar Timur 2 ha (20. Kecamatan Denpasar Timur 726 ha (26. dan Kecamatan Denpasar Barat 284 ha (10.41%). pasir.seluas 772 ha (28. Dari data yang penulis peroleh dari Kantor Lurah Panjer.00%).21%).00%).36%).00%). Di Kecamatan Denpasar Selatan terdapat 762 ha (57.45%). Dan menurut estimasi pekaseh Kelurahan Panjer. yaitu Kecamatan Denpasar Selatan seluas 183 (46. Dari data yang penulis peroleh dari wawancara dengan Pekaseh Kelurahan Panjer. Kecamatan Denpasar Utara 2 ha (20.00%). Selanjutnya disusul dengan pendirian biro jasa sejumlah 34 kantor.00%) dan Kecamatan Denpasar Timur 14 ha (40.53%). masingmasing Kecamatan Denpasar Selatan 53 ha (70.3 Perubahan Penggunaan Lahan di Kota Denpasar Dari 8 jenis penggunaan lahan yang ada di Kota Denpasar. dan Kecamatan Denpasar Utara 7 ha (9. penggunaan lahan sawah dan pemukiman merupakan 2 penggunaan lahan yang selalu mengalami perubahan setiap . Perkebunan hanya terdapat di 2 kecamatan. Sementara hutan negara (Tahura) hanya terdapat di Kecamatan Denpasar Selatan seluas 538. dan Kecamatn Denpasar Utara 103 ha (8. dan Kecamatan Denpasar Utara seluas 69 ha (17. Seiring dengan banyaknya pendatang yang menetap di kawasan ini. Kecamatan Denpasar Timur 144 ha (36. rawa.51%). Hutan rakyat terdistribusi di 3 Kecamatan. pada tahun 1980. pembangunan mulai dilakukan sekitar tahun 1981. Dan puncak dari pembangunan itu sendiri adalah pada tahun 1992. dari total luas lahan Panjer. yaitu Kecamatan Denpasar Selatan 21.33%). dan tanah kosong terdapat di semua kecamatan.00 ha. yaitu Kecamatan Denpasar Selatan 6 ha (60. Dari pihak pemerintah Kota Denpasar sendiri untuk tahun 2010 ironisnya telah memberikan izin penuh untuk melakukan pembangunan total di kelurahan Panjer yang saat ini tercatat masih memiliki 35 Ha lahan sawah irigasi. Kecamatan Denpasar Timur 15 ha (20.77%).42%). Kecamatan Denpasar Timur 112 ha (9.67%).00 ha (60. Kecamatan Denpasar Barat 288 ha (24.

dan sarana lainnya). Sementara luas pemukiman meningkat sebesar 293 ha atau 3. Sementara di sisi lain. Sementara penggunaan lahan yang lain tidak selalu mengalami perubahan dan perubahan yang terjadi pun tidak terlalu signifikan. Penurunan jumlah sawah dan peningkatan jumlah pemukiman paling drastis terjadi dari tahun peralihan tahun 2001 dan 2002.98%.14%).90%). Pada kisaran waktu tersebut terjadi penurunan luas sawah sebesar 149 ha atau 4. pertambahan jumlah penduduk sendiri akan menurunkan kualitas dan kuantitas sumberdaya lahan tersebut . Atas dasar pertimbangan ekonomi atau finansial. terjadi perebutan penggunaan lahan terutama di sekotor pertanian dan non pertanian. 11 ha (0. penurunan luas sawah per tahun masing-masing 26 ha (0.22%).20%). dan 16 ha (0. Berkurangnya potensi air tanah juga merupakan konsekuensi dari berkurangnya daerah resapan air hujan.tahun.92%. di antaranya menurunkan ruang terbuka hijau dan berkurangnya daerah resapan air hujan.46%). 35 ha (0. Pertambahan jumlah penduduk dari tahun ke tahun di satu sisi memerlukan ketersediaan sumber daya lahan yang semakin banyak. Oleh karena itu. Sementara pada selang waktu 2002/2003. sedangkan peningkatan luas pemukiman per tahun pada kurun waktu yang sama berturut-turut 17 ha (0. Sementara berkurangnya daerah resapan akan berakibat terjadinya banjir karena sebagian besar air hujan akan mengalami run-off dibandingkan dengan yang terinfiltrasi ke dalam tanah.63%). dan 10 ha (0.84%). Perubahan luasan sawah dan pemukiman dari tahun 2001 sampai tahun 2007 selalu mengalami fluktuasi. 2003/2004. banyak lahan-lahan pertanian dikonversi menjadi penggunaan non pertanian (pemukiman.52%). Penurunan luas lahan pertanian khususnya sawah menjadi penggunaan non pertanian seperti pemukiman tentu akan menimbulkan berbagai konsekuensi ekologis. perkantoran. 46 ha (1. Perubahan luas sawah dan pemukiman yang cukup signifikan juga terjadi pada kisaran tahun 2005 dan 2006. Penggunaan lahan sawah dari tahun ke tahun mengalami pengurangan. sedangkan pemukiman terus mengalami peningkatan. Luas sawah pada selang waktu tersebut mengalami penurunan sebanyak 51 ha (1. sedangkan pemukiman bertambah sebesar 117 ha (1. dan 2006/2007.47%). Dampak dari penuruna ruang terbuka hijau adalah meningkatnya kadar CO2 di udara sehingga temperatur udara di Kota Denpasar menjadi semakin panas.37%). Pesatnya pembangunan di berbagai bidang dan semakin bertambahnya jumlah penduduk Kota Denpasar dari tahun ke tahun menyebabkan semakin banyaknya kebutuhan lahan baik untuk kebutuhan pembangunan di berbagai sektor maupun untuk tempat tinggal. 42 ha (1. 2004/2005.

serta berbagai konsekuensi yang ditimbulkan. tepatnya di Kecamatan Denpasar Selatan. Pada masa lampau yang terjadi adalah lebih banyak karena dua hal yang terakhir. Sejalan dengan kebijaksanaan pembangunan yang menekankan kepada aspek pertumbuhan melalui kemudahan fasilitas investasi. 2. Kelurahan Panjer yang termasuk salah satu bagian wilayahnya pun mendapatkan imbasnya. Kelurahan Panjer adalah salah satu Kelurahan yang terletak di Kota Denpasar. Ketersediaan agroekosistem dominan sawah Kepadatan penduduk di Kelurahan Panjer pada tahun 1980-an yang mempunyai agroekosistem dominan sawah pada umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan agroekosistem lahan kering. sistematis. Beberapa faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan sawah Kelurahan Panjer antara lain: 1.4 Faktor-faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan Sawah di Kelurahan Panjer Terjadinya perubahan penggunaan lahan secara umum dapat disebabkan karena adanya perubahan rencana tata ruang wilayah. baik kepada investor lokal maupun luar negeri dalam penyediaan tanahnya. yang terletak di wilayah selatan Kota Denpasar. Dalam hubungannya dengan pemanfaatan dan konservasi lahan terutama lahan pertanian ke non pertanian khususnya pemukiman. dan berkesinambungan. Maka terjadilah peralihan lahan sawah menjadi lahan non sawah secara besar-besaran di kawasan ini yang tercatat dimulai pada tahun 1990an. 3. Secara khusus. atau rencana tata ruang wilayah yang sulit diwujudkan. respon Pemerintah Kota Denpasar yang telah diambil adalah menutup izin pembangunan perumahan. Hal ini dapat menimbulkan krisis ekologis apabila tidak ditangani secara serius. karena kurangnya pengertian masyarakat maupun aparat pemerintah mengenai tata ruang wilayah. adanya kebijaksanaan arah pembangunan dan karena mekanisme pasar. lahan yang paling rentan terhadap alih fungsi adalah sawah. maka perubahan penggunaan tanah dari pertanian ke nonpertanian terjadi secara meluas. Daerah pesawahan Panjer yang lokasinya berada di daerah perkotaan Seperti yang kita ketahui bersama. Mempercepat perizinan dalam pembuatan bangunan dengan melengkapi IMB (Izin Mendirikan Bangunan) sehingga ekses yang ditimbulkan dari perubahan fungsi lahan tersebut dapat ditangani dengan baik. sehingga tekanan penduduk atas lahan juga lebih tinggi seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut perkembangan bidang infrastruktur. Hal tersebut telah dirasakan oleh Kelurahan Panjer. . Seiring dengan perkembangan Kota Denpasar.

Kelurahan Panjer yang terletak di daerah bertopografi datar Pembangunan prasarana dan sarana . Peraturan perundangan-undangan yang berlaku kadangkala bersifat paradoksal dan dualistik. sehingga alih fungsi lahan dapat berlangsung tanpa melanggar peraturan yang berlaku. Keadaan topografi yang strategis ini sangat mendukung terjadinya pembangunan di kawasan ini dan terjadilah peralihan lahan persawahan di Kelurahan Panjer.5 Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Sawah Menjadi Non-Sawah di Kelurahan Panjer . Di satu sisi bermaksud untuk melindungi alih fungsi lahan sawah. dan sebagainya cenderung berlangsung cepat di wilayah bertopografi datar. Obyek lahan pertanian yang dilindungi dari proses alih fungsi ditetapkan berdasarkan kondisi fisik lahan. baik yang menyangkut dimensi maupun pihak yang dikenai sanksi.3. namun di sisi lainnya pemerintah cenderung mendorong pertumbuhan industri yang notabene basisnya membutuhkan lahan. b. Lemahnya peraturan perundang-undangan alih funsi lahan Beberapa peraturan perundang-undangan alih fungsi lahan pertanian yang ada memiliki berbagai kelemahan. Peraturan yang ada cenderung bersifat himbauan dan tidak dilengkapi sanksi yang jelas. mengingat izin alih fungsi lahan merupakan keputusan kolektif berbagai instansi. 3. dan pengembangan kompetensi lembaga-lembaga formal dalam menangani alih fungsi lahan pertanian Kelurahan Panjer. sehingga akan memperbesar kecenderungan aliih fungsi lahan oleh salah satu pihak. c. Jika terjadi alih fungsi lahan pertanian yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. perbaikan sistem koordinasi. Hal ini akan mendorong ketimpangan persepsi antara kedua pihak yang terlibat. maka sulit ditelusuri pihak mana yang paling bertanggung jawab. 5. Kurangnya keterlibatan petani Panjer Belum banyak dilibatkannya petani sebagai pemilik lahan dan pelaku dalam kelembagaan lokal secara aktif dalam berbagai upaya pengendalian alih fungsi lahan pertanian. kawasan industri. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain: a. Belum terbangunnya komitmen. 4. keadaan medan Kota Denpasar secara umum miring ke arah selatan dengan ketinggian berkisar antara 0-75 meter diatas permukaan laut. dimana pada wilayah dengan topografi seperti itu ekosistem pertaniannya dominan areal persawahan. padahal kondisi fisik lahan tersebut relative mudah direkayasa. d. Jika ditinjau dari topografi. 6.

kemiringan lereng. Kondisi ini menyebabkan kenapa Kota Denpasar akhir-akhir ini sering terkena banjir. . serta ketinggian tempat. 4. Kegagalan investor dalam melaksanakan pembangunan perumahan maupun industri. di satu sisi menambah terbukanya lapangan kerja di sektor nonpertanian seperti jasa konstruksi. dan altitude yang rendah.6 Dampak Peralihan Fungsi Lahan terhadap Banjir di Kota Denpasar pada Umumnya dan Kelurahan Panjer pada Khususnya Banjir merupakan peristiwa atau kejadian di mana volume curah hujan yang jatuh melebihi kapasitas infiltrasi tanah dan saluran air yang tersedia. dan perdagangan. 5. sebagai dampak krisis ekonomi. yang apabila tenaga kerja lokal yang ada tidak terserap seluruhnya justru akan meningkatkan angka pengangguran. Hal ini disebabkan karena topografi Kota Denpasar termasuk datar sampai landai. curah hujan yang cukup tinggi (±1800 mm per tahun). baik itu untuk kebutuhan masyarakat Panjer sendiri maupun kebutuhan beras Kota Denpasar. Faktor utama penyebab banjir adalah intensitas dan volume curah hujan. akan tetapi juga menimbulkan dampak negatif yang kurang menguntungkan.Terkonsentrasinya pembangunan di Kelurahan Panjer. 2. Investasi pemerintah Kota Denpasar dalam pengadaan prasarana dan sarana pengairan menjadi tidak optimal pemanfaatannya. 3. jenis tanah dan kondisi permukaannya. yang mengganggu tercapainya swasembada pangan. Dilihat dari segi faktor penyebab banjir. Terjadi Banjir di Kelurahan Panjer yang disebabkan oleh produksi sampah-sampah rumah tangga maupun industri masyarakat di Kelurahan Panjer. 3. atau karena kesalahan perhitungan mengakibatkan tidak termanfaatkannya tanah yang telah diperoleh. industri. sehingga air hujan tidak dapat menghilang dengan cepat baik ke dalam tanah maupun ke saluran pembuangan akhir atau laut. Kota Denpasar mempunyai potensi banjir yang tinggi. sehingga meningkatkan luas tanah tidur yang pada gilirannya juga menimbulkan konflik sosial seperti penjarahan tanah. Dampak negatif tersebut antara lain : 1. Dampak sosial ini akan berkembang dengan meningkatnya kecemburuan sosial masyarakat setempat terhadap pendatang yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan konflik sosial. kondisi penutup tanah yang kedap air karena banyaknya ruang yang terbangun. Berkurangnya luas sawah Kelurahan Panjer yang mengakibatkan bergesernya lapangan kerja dari sektor pertanian ke nonpertanian. Berkurangnya luas sawah di Kelurahan Panjer yang mengakibatkan turunnya produksi padi.

Kecamatan Denpasar Barat . . 6. Tegal Lantang. pada Rabu 28 Juli 2010 juga sempat menimbulkan kepanikan warga. Permasalahan banjir sebenarnya adalah persoalan dampak banjir bagi manusia. illegal logging hanyalah sebagian dari permasalahan penyebab banjir. Sehingga diperkirakan kerugian yang terjadi akibat bencana banjir tersebut sebesar Rp. Jl. Jalan Gunung Talang I Gg.00. Jalan Kebo Iwa di Perumahan Gunung Sari Indah air setinggi leher orang dewasa. beberapa fasilitas umum tembok tempat pemujaan roboh.00 WITA. 2. dan Februari.915. Permasalahan banjir terbesar adalah penggunaan lahan di daerah rawan bencana banjir (flood plain) oleh manusia. 2. Lokasi Bencana Banjir pun ada di beberapa titik. Desa Pemecutan Klod. Bencana banjir di Kota Denpasar yang dicatat sebagai kejadian luar biasa oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Denpasar antara lain adalah banjir yang terjadi pada awal tahun 2009 dan pertengahan tahun 2010. Di samping itu. Air hujan yang jatuh pada permukaan yang kedap air menyebabkan tidak adanya air hujan yang masuk ke dalam tanah melalui proses filtrasi. Faktor utama penyebab terjadinya banjir di Kota Denpasar adalah permukaan tanah yang sebagian besar merupakan daerah terbangun dan rendahnya resapan air hujan. Perilaku manusia yang menyebabkan banjir seperti pembuangan sampah. Br. Banjar Buana Santi evakuasi 10 orang 4. Selain itu.582. melainkan langsung menuju ke tempat yang lebih rendah dan saluran-saluran pembuangan air. I/31B melakukan evakuasi korban 10 orang.5 meter. Januari.Banjir di Kota Denpasar terutama terjadi pada saat puncak musim hujan. 7.5 meter yang menggenangi daerah penduduk sehingga menyebabkan aktivitas masyarakat terganggu. yaitu bulan Desember. Jalan Buana Raya depan kantor pos. Penyebab banjir yang utama tentunya curah hujan yang berlebih sehingga menyebabkan overload sungai. ada korban 3 ekor sapi mati. Banyaknya volume limpasan permukaan air hujan tanpa didukung oleh adanya saluran drainase yang memadai ditambah dengan adanya kebiasaan buruk masyarakat dengan membuang sampah ke saluransaluran pembuangan air menyebabkan peluang terjadinya banjir semakin tinggi. Kawasan Jalan Mahendradata di Gang Manggis air setinggi 1. Perumnas Monang-maning air setinggi orang dewasa. Kota Denpasar.000. 5. 3. pukul 23. bencana banjir yang menimpa Kota Denpasar akibat hujan lebat. Bencana banjir terjadi pada 11 sampai dengan 12 Januari 2009 berlokasi di Denpasar Selatan dengan dampak genangan air setinggi 1. Desa Padang Sambian Kaja. antara lain: 1. Pura Demak.

3. Jalan Gunung Gede Melakukan evakuasi 3 orang.7. Pada tahun 1980-an. 11 dan 13 air setinggi 1 meter. 14. Jalan Pudak yang menghubungkan Jalan Cokroaminoto dan Jalan Ken Arok Jebol. Waktu untuk surutnya banjir ini mencapai 3-4 jam.8. 13. tembok warga roboh sepanjang 25 meter atas nama Made Yasa.7 Kajian Sistem Drainase dan Konsep Penanganan/Pengendalian Banjir Kota Denpasar 3. Kota Denpasar. (lantai dan halaman sekolah digenangi lumpur dan telah dilakukan penyemprotan dan pembersihan oleh BPBD dan Dinas PU Kota Denpasar.1 Kajian Sistem Drainase Kota Denpasar Kota Denpasar merupakan kota yang kerap kali mengalami genangan pada musim hujan. Jalan Tukad Batanghari. saluran-saluran air di Kelurahan Panjer ternyata sudah mengalami penyumbatan namun belum terjadi banjir. VI dan jalan Pulau Buru Denpasar. Kecamatan Denpasar Barat. 12.5 m. dari data yang penulis peroleh banjir terkonsentrasi di kawasan Banjar Manik Saga. dan Jalan Waturenggong. Kecamatan Denpasar Barat. Berbagai fenomena bencana yang terjadi di Kota Denpasar pada umumnya dan Kelurahan Panjer pada khususnya ini pada dasarnya merupakan indikasi yang kuat terjadinya ketidakselarasan dalam pemanfaatan ruang. 10. Citarum Banjar Batu Kandik. Br. SD No. Penyebab terjadinya genangan adalah : . Pande. Banjar Kertasai. Jalan Kebo Iwa Gg. yakni antara manusia dengan kepentingan ekonominya dan alam dengan kelestarian lingkungannya. Desa Padangsambian Kaja ada 4 pelinggih longsor. Untuk Banjir yang terjadi di Kelurahan Panjer. Jalan Tukad Jogading. Kec. 11. Jalan Kecubung No. Dauh Puri. Kota Denpasar kerugian material terendam dan melakukan evakuasi 17 orang. 25. Karena kurangnya partisipasi masyarakat dalam menangani pendangkalan sungai. akibatnya sekarang ini ketika banjir ketinggian air mencapai 35 cm. Kelurahan Padang Sambian. di Jalan Gunung Tangkuban Perahu Lingkungan Buana Desa Kelurahan Padang Sambian. Kel. Denpasar Timur. Jalan Diponegoro Gg. Gunung Agung (Sebelah barat jembatan tukad mati) air meluap setinggi leher orang dewasa ±1. 9.

Masalah selanjutnya adalah masih dijumpai saluran drainase tertimbun sampah akibat masih kurangnya tingkat kesadaran masyarakat dalam membuang sampah. Biaya operasi dan pemeliharaan saluran drainase belum memadai atau terbatas. Instansi penyelenggara sistem drainase Kota Denpasar adalah Dinas Pekerjaan Umum Kota Denpasar. Penurunan kapasitas saluran akibat pendangkalan saluran. 2. Water storage dibangun di daerah hilir untuk menampung limpahan air drainase. Program Perencanaan Master Plan Drainase Kota Denpasar 2002 – 2007 yang sudah digarap secara bertahap melalui proyek drainase Perkotaan setiap tahun. Program Perencanaan Master Plan Kota Denpasar 2007 – 2012 yang dirancang pada tahun Anggaran Perubahan 2007 untuk menyiapkan master plan drainase berbasis topografi. Daerah yang dekat pantai sering terjadi genangan akibat pengaruh back water air laut pada saat kondisi air laut pasang. c. Tiga sungai penting dalam sistem drainase Kota Denpasar adalah Tukad Ayung. Tukad Badung. Program pengembangan sektor drainase Kota Denpasar: a. dan Tukad Mati. dan Sistem V Pemogan.1. Berbagai permasalahan sektor drainase Kota Denpasar. Sistem IV Niti Mandala-Suwung. Kondisi topografi kota relatif rendah maka banyak terjadi genangan rawan banjir. Beban banjir puncak meningkat akibat penurunan kualitas dan kuantitas daerah aliran sungai. . Kapasitas saluran belum cukup untuk mengalirkan beban drainase maksimum. termasuk juga pada saluran drainase perkotaan dilakukan pengerukan secara berkala. Sistem III Tukad Mati. Sistem drainase primer yang melintasi Kota Denpasar terdiri dari lima sistem. memanfaatkan sungai atau tukad di Denpasar. b. Perkembangan guna lahan yang tidak sesuai rencana mengakibatkan berkurangnya resapan tanah dan jaringan drainase yang telah ada tidak berfungsi dengan baik. Program kali Bersih (PROKASIH) sarana untuk melaksanakan penggelontoran pada sungaisungai di Kota Denpasar yang merupakan titik-titik rawan banjir. yaitu Sistem I Tukad Badung. antara lain adalah sistem perencanaan dan pelaksanaan saluran drainase belum optimal atau dapat dikatakan masih terbatas. 3. adanya tumpang tindih saluran irigasi (kebutuhan air) dan drainase (pembuangan air) dibeberapa lokasi perkotaan serta banyak adanya titik-titik rawan banjir atau genangan air di Kota Denpasar adalah kumpulan permasalahan yang juga menjadi faktor penghambat dalam sistem drainase Kota Denpasar. Sistem II Tukad Ayung.

Pemerintah Kota Denpasar juga sudah mengambil langkah-langkah antisipasi yakni dengan menyiagakan tim Penanggulangan Bencana yang tergabung dalam tim Satlak PB (Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana). Mengantisipasi datangnya musim hujan yang biasanya datang pada bulan Oktober. 3. Sementara itu Dinas Pekerjaan Umum Kota Denpasar mengungkapkan untuk mengantisipasi banjir pihaknya sedang melakukan penggelontoran di sungai dan trotoar serta sudah menyiagakan sebanyak 70 orang tenaga penggelontoran untuk membantu masyarakat bila kena banjir.8 Peran Dinas Tata Kota dan Bangunan serta Badan Perencanaan Daerah Kota Denpasar dalam Bidang Penataan Ruang Kota Denpasar . Program Pengendalian Banjir Modern sarana sistem dan rangkaian peralatan penyaring Sampah Otomatis Mekanikal-Electrical Hydraulic yang berlokasi di Sungai Badung-Banjar Buagan Desa Pemecutan Kelod. Para perangkat desa diharapkan segera melapor jika terjadi banjir atau bencana ke call center 223333 dan ikut mengawasi saluran-saluran sungai yang berada diwilayahnya. 3. pemasangan jaring penangkap sampah di beberapa sungai. Ketua Badan Penaggulangan Bencana Kota Denpasar ini juga akan membuat surat edaran untuk menginstruksikan kepada camat. Penyiapan langkah ini sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Kota Denpasar dalam melindungi warga kota Denpasar dari bencana alam. Denpasar (program terpadu antara sampah dan drainase). Namun demikian. pelanggaran terhadap pembuangan sampah ke saluran air. dan pelanggaran pembuatan bangunan di sempadan-sempadan sungai. Untuk itu Dinas PU segera membuat peta-peta daerah yang rawan banjir. musibah banjir sering terjadi pada daerah yang rendah dan yang berada dibantaran sungai. Kepala Desa/Lurah untuk lebih rajin memantau wilayahnya. dengan penduduk padat serta prilaku masyarakat yang masih banyak membuang sampah kesungai sehingga sedikit saja turun hujan akan terjadi banjir. partisipasi masyarakat Kota Denpasar untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan termasuk got dan sungai dengan tidak membuang sampah ke selokan atau sungai juga sangat diperlukan.7.2 Penanganan dan Pengendalian Banjir Kota Denpasar pada Umumnya dan Kelurahan Panjer pada Khususnya Langkah-langkah umum yang dilakukan pemerintah dalam penanggulangan banjir adalah perbaikan dan pemeliharaan saluran drainase seperti perbaikan got dan tanggultanggul sungai. Berdasarkan evaluasi. Seperti diketahui topografi Kota Denpasar realtif landai.d.

1 Dinas Tata Kota dan Bangunan Kota Denpasar Pemanfaatan ruang di Kota Denpasar sudah terlihat adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari berbagai kepentingan seperti kegiatan untuk bangunan-bangunan baik perumahan. Terkendalinya Kawasan Terbangun dan Tak Terbangun 2. Dengan kondisi demikian. Memperhatikan kondisi pemanfaatan tata ruang yang dimaksud. yang secara garis besar terdiri dari peningkatan pertumbuhan ekonomi.8. kestabilan yang tangguh dan dinamis. Dinas Tata Kota dan Bangunan Kota Denpasar adalah Dinas Daerah yang melaksanakan sebagian rencana rumah tangga daerah di bidang penataan ruang yang mencakup penataan fungsi-fungsi ruang dan fungsi bangunan. dan di samping itu melalui penataan ruang diharapkan dapat digunakannya nila-nilai budaya daerah sebagai landasan penyusunan pedoman teknis pembangunan yang bercirikan budaya daerah. lembaga yang bertanggung jawab adalah Dinas Tata Kota dan Bangunan Kota Denpasar serta Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Denpasar. adanya peningkatan kualitas lingkungan.Tata ruang merupakan mata ruang yang ditujukan untuk menata fungsi ruang melalui pengaturan jenis kegiatan sehingga akan terjadi sinergi antara satu jenis kegiatan dengan kegiatan lainnya dan diharapkan kegiatan-kegiatan tersebut dapat berakselerasi secara optimal. pemanfaatan ruang di Kota Denpasar untuk kawasan terbangun dan tidak terbangun perlu dikendalikan. perdagangan dan jasa serta perkantoran. Kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah Kota Denpasar dalam mewujudkan Penataan Ruang Kota Denpasar adalah mengendalikan pemanfaatan ruang yang efektif untuk menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan keseimbangan antar fungsi. terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. di mana dalam mewujudkan Misi Kota Denpasar Dinas Tata Kota dan Bangunan telah menentukan tujuan organisasinya: “Citra Penataan Kota yang Berwawasan Budaya” yang dijabarkan lebih rinci dalam bentuk . terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang untuk kawasan kawasan yang dilindungi dan kawasan yang dapat dibudidayakan serta tercapainya tata ruang berkualitas bagi manusia. Untuk mewujudkan sasaran Penataan Ruang Kota Denpasar yang nyaman dan terkendali. Terkendalinya Kawasan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK) 3. Untuk mewujudkan hal tersebut di atas. pertokoan. Pemerintah Kota Denpasar memfokuskan pengendalian melalui: 1. 3. penataan ruang mutlak diperlukan mengingat tujuan pembangunan pada umumnya. pemerataan kemakmuran bagi seluruh masyarakat. Terkendalinya Pelanggaran Tata Ruang dan Tata Bangun pada masa yang akan datang.

“sasaran” yang harus dilaksanakan dalam kurun waktu lima tahun jaitu: “Penataan Ruang Kota Denpasar yang Nyaman dan Terkendali” Keberhasilan pencapaian sasaran “Penataan Ruang Kota Denpasar yang Nyaman dan Terkendali” dicapai melalui indikator sasaran: No.84:54. Kedua hal ini akan .7% 100% 2. pengendalian dan pemanfaatan ruang sesuai dengan peraturan yang berlaku dituangkan dalam 9 Program dan 19 Kegiatan Pembangunan terdiri dari: a. Program Penataan Ruang dijabarkan dalam 1 kegiatan Hal ini penting untuk diprogramkan agar pemanfaatan ruang dapat mengakomodasi seluruh keperluan masyarakat dan dapat mengikuti/menyesuaikan perkembangan kota. Meningkatkan kegiatan penataan ruang melalui perencanaan. swasta maupun pemerintah dapat diarahkan sesuai dengna peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1.  Indikator Sasaran Terkendalinya pemanfaatan ruang Terkendalinya kawasan terbangun terbangun dan tak Target Realisasi Capaian 51:49% 45.7% 45. Menurunnya angka pelanggaran terkait tata ruang dan bangunan  Terkendalinya pelanggaran tata ruang dan tata bangunan 555 kasus 271 kasus 47. di mana diharapkan seluruh pembangunan baik oleh masyarakat.16% 110%  Terkendalinya Kawasan Ruang Terbuka Hijau 45.36% Kedua indikator tersebut sebagai gambaran hasil pencapaian sasaran sekaligus mencakup aspek pembangunan masyarakat itu sendiri yaitu dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam melaksanakan peraturan tata ruang yang ada. Oleh karena itu seluruh program yang direncanakan terfokus kepada tercapainya indikator sasaran yang dimaksud.

16%. Dengan upaya-upaya yang telah dilakukan kondisi saat ini berada pada posisi 45. Upaya berkesinambungan dalam pengendalian tata ruang. Kawasan sudah Perbangun (sudah ada bangunan). perdagangan. Capaian kinerja sasaran tahun 2008 dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Terkendalinya kawasan terbangun dan tak terbangun dengan perbandingan 38:62%. luas yang telah terbangun 3. pembinaanpembinaan kepada masyarakat masih tetap dilaksanakan tahun 2008. Kalau dilihat kondisi saat ini maka dapat disampaikan bahwa total RTHK Publik dan Privat (kawasan belum terbangun) = 38.008 Ha (70%). yang dijabarkan dalam kegiatan-kegiatan pembinaan dan penertiban pelanggaran serta penegakan tata ruang wilayah Kota Denpasar. Kawasan dengan peruntukan ini telah melebihi ketentuan yang berlaku (kurang lebih 5%) Pada kawasan KDB 30 yang sudah terbangun 432 Ha. 26 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang.999 ha (55%) berarti yang tidak terbangun 3.008 Ha = 4. pengawasan.masih lebih besar dari ketentuan yang ada. terdiri dari fungsi-fungsi: Pariwisata maksimal KDB 40% luas sudah terbangun 414 ha. b.272 Ha + 1. berarti yang tidak terbangun 60% = 620 ha.35% dari luas Kota denpasar).73 % dari luas wilayah Kota Denpasar: Sesuai arahan UU No.berdampak kepada arus pengaturan perpindahan maupun distribusi pemukiman penduduk di Kota Denpasar. (30%).08% --.272 ha (45%). . 2) Terkendalinya Kawasan Ruang Terbuka Hijau Kota (RTHK): Berdasarkan hasil kajian atas peta-peta digitasi dan foto udata yang tersedia. Program Pemeliharaan Kamtibnas yang dijabarkan dalam 2 kegiatan Hal ini dimaksudkan adalah tindaka-tindakan pembinaan serta pengendalian pelanggaranpelanggaran yang ada baik pelanggaran tata ruang dan tata bangunan. RTHK disyaratkan 30% dari luas wilayah yang terbagi menjadi RTHK Publik (20%) dan RTHK Privat (10%). Pemukiman. berarti yang tidak terbangun pada kawasan KDB 30%=1. Kesimpulannya pada kawasan yang sudah terbangun. jasa. Kawasan tidak terbangun samapai saat ini seluas 3.73% = 62. termasuk pelayanan perijinan.84% : 54. Sampai dengan tahun 2008 pergeseran kawasan terbangun dan tak terbangun masih terkendali yaitu di bawah target sasaran tahun 2008.900 Ha = 38.35% + 23. di mana hal ini meliputi: Pelayanan Advice Planning dan Ijin Lokasi b.033 Ha atau 23. terdapat area terbuka seluas (620 Ha + 3. hal-hal terkait RTHK dapat disampaikan sebagai berikut: a. KDB max 50%.

informasi peruntukan lahan dan ijin lokasi. Untuk dapat memberikan rekomendasi penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. namun jumlah pelanggaran terus menerus menurun setiap tahunnya. Sehingga walaupun pelanggaran-pelanggaran tata ruang masih ada dan telah ditangani sesuai prosedur yang berlaku. telah dibentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) yang telah ditetapkan dengan Keputusan Walikota Denpasar Nomor 188.3) Terkendalinya pelanggaran Tata Ruang dan Tata Bangunan Tahun 2008 pelanggaran tata ruang dan tata bangunan sebanyak 555 buah telah ditindak lanjuti 271 buah yang belum ditindaklanjuti 284 buah pelanggaran tahun ini menurun sebanyak 6 buah dari tahun sebelumnya yaitu 568 buah pelanggaran. Untuk dapat memberikan rekomendasi dan memfasilitasi keterpaduan perencanaan tata ruang. Sesuai dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 147 tahun 2004 tentang Pedoman Penataan Ruang Daerah. Upaya-upaya lainnya dalam pengendalian tata ruang adalah mengadakan evaluasi pemanfaatan ruang kota melalui pemantauan-pemantauan yang diharapkan dapat menjadi pedoman dalam upaya mengendalikan pemanfaatan ruang yang dilaksanakan melalui informasi peruntukan lahan. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang Kota Denpasar dengan kabupaten yang berbatasan 4.8.2 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Denpasar. Untuk dapat memberikan rekomendasi dan memfasilitasi permasalahn-permasalahan mengenai ketataruangan yang terjadi di Kota Denpasar dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten lainnya dalam mencarikan jalan keluar permasalahan tersebut. 2. Untuk dapat merumuskan dan mengkoordinasikan berbagai kebijakan penataan ruang Kota Denpasar dengan memperhatikan kebijakan penataan ruang nasional dan provinsi serta kabupaten lainnya. . Adapun tujuan dari BKPRD ini adalah: 1.45/13/HK/2008 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah ( BKPRD) Kota Denpasar untuk kegiatan tahun 2008. Pada tahun 2008 Bappeda Kota Denpasar dalam sasaran ini melaksanakan 2 kegiatan yaitu Koordinasi Pelaksanaan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) Kota Denpasar dan penyusunan Perda RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) Kota Denpasar. dengan maksud untuk meyelenggarakan koordinasi penataan ruang tingkat daerah dalam rangka membantu Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam merumuskan kebijakan. 3. 3.

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana. wabah penyakit. jaringan irigasi. 9. Curah hujan tinggi. Kurang lancar hingga macetnya aliran sungai karena tumpukan sampah. bandar udara. dan prasarana publik lainnya. tambak. intervention maupun recovery. 4. Pengembangan kota yang tidak terkendali. Luapan beberapa sungai besar yang mengalir ke tengah kota. Ketidakjelasan status dan fungsi saluran. Pada tahap pra bencana dilakukan: 1. kurangnya prasarana darinase. telah disusun berbagai kebijakan dan program penanggulangan. 2. Jumlah dan kepadatan penduduk tinggi.9 Kebijakan Penanggulangan Banjir di Indonesia. 8. 3. antara lain meliputi: 1. Kerusakan lingkungan pada daerah hulu. banjir juga membawa kerugian non material. 5. Berkurangnya kapasitas pengaliran sungai akibat penyempitan sungai. 3. Kerugian akibat banjir yang melanda berbagai kota dan wilayah. sekolah dan bangunan sosial. dan kurangnya pemeliharaan. Terganggunya transportasi. 10. Kehilangan harta benda. dan kolam ikan. tidak sesuai tata ruang daerah. Di samping kerugian yang bersifat material. tanggul sungai.3. yaitu: 1. baik yang bersifat prevention. Kerusakan rumah penduduk. antara lain kerawanan sosial. prasarana jalan. 4. . Rusak hingga hilangnya lahan budidaya seperti sawah. dan tidak berwawasan lingkungan sehingga menyebabkan berkurangnya daerah resapan dan penampungan air. Dalam rangka mengurangi dampak banjir. Kondisi pasang air laut pada saat hujan sehingga mengakibatkan backwater. Drainase kota yang tidak memadai akibat sistem drainase yang kurang tepat. Membuat peta rawan bencana. serta menurunnya kesejahteraan masyarakat akibat kegiatan perekonomianmereka terhambat. 2. jembatan. Korban manusia. 7. penggunaan lahan illegal di bantaran sungai. Direktorat Pengairan dan Irigasi Dari penelusuran data ditemukan. menurunnya kenyamanan lingkungan. baik di daerah kajian utama atau daerah pembanding penyebab banjir relatif sama. meskipun dengan intensitas berbeda. 6. 5.

sesuai yang telah direncanakan dengan memanfaatkan seluruh komponen masyarakat. 8. Menyusun peraturan dan menertibkan daerah bantaran sungai. dan peralatan kebutuhan lainnya. 14. Memberikan bantuan pangan. Menyiapkan sarana penanggulangan. Merevisi tata ruang propinsi maupun kota secara terkoordinasi dan terintegrasi. Pendataan kerusakan bangunan dan fasilitas publik. Mendirikan Posko banjir di wilayah RT/ RW. Membangun fasilitas pengolah limbah dan sampah. tampungan air. Mendata lokasi dan jumlah korban bencana. dan Karang Taruna. Mereboisasi kota dan daerah hulu. 4. 16. Memperbaiki prasarana publik yang rusak. Badan SAR Nasional (Basarnas). 2. Mengendalikan perkembangan lingkungan dan pengembangan daerah hulu. serta pelayanan kesehatan darurat kepada korban bencana. Pembersihan lingkungan. 3. 6. TNI. 13. Menerapkan pengelolaan sungai terpadu berdasarkan satuan wilayah sungai (SWS) dan memberdayakan kelembagaan pengelolaan SWS. 7. program dan kegiatan fisik yang telah dilakukan adalah: 1. 11. Menegakkan hokum terhadap pelanggaran pengelolaan daerah aliran sungai. Satlak PBP. Pada tahap setelah banjir. termasuk bahan banjiran. 3. Membuat peta daerah genangan banjir. . 12. 5. 6. Membuat penampungan air berteknologi tinggi. Satkorlak PBP. meningkatkan. Sosialisasi dan pelatihan prosedur tetap penanggulangan banjir. memperbaiki atau normalisasi. 9. Pemberitahuan dini kepada masyarakat tentang kondisi cuaca. pakaian. dan drainase beserta peralatan dan fasilitas penunjangnya. berupa: 1. Pemantapan Satkorlak PBP. Mengevakuasi dan mengungsikan penduduk ke daerah aman. 4. 3.2. Membuat sumur resapan. 2. 15. Kebijakan dan program pada tahapan ketika terjadi bencana. Menyediakan cadangan pangan dan sandang serta peralatan darurat banjir lainnya. 5. Polri. dan memelihara sungai. Mengajukan usulan pembiayaan program pembangunan fasilitas penanggulangan banjir. 4. Menempatkan petugas pada pos-pos pengamatan. Membangun. ( 10.

Lemahnya penegakan hukum. pembagian makanan. Pada saat bencana. maka penegakan hukum tersebut terbatas pada penertiban penggunaan lahan secara illegal. Pada tahap pra bencana. antara lain lantaran: 1. Kurangnya kesadaran masyarakat mematuhi peraturan yang berlaku dan menjaga kebersihan lingkungan. seperti sosialisasi berbagai peraturan. . 2. Sementara itu pemerintah daerah hanya memiliki Perda yang mengatur pengelolaan sungai dan tata ruang. membangun atau membersihkan saluran drainase lingkungan secara swadaya. 7. namun hanya memanfaatkan kelembagaan RT/RW. terutama penerima dampak bencana (beneficiaries). tanpa diupayakan pemerintah. hampir semua pemerintah daerah (Pemda) belum mempunyai peraturan daerah (Perda) tentang penanggulangan banjir dan hanya beberapa propinsi saja yang sedang mempersiapkannya. Kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintah. 3. terjadi kerjasama yang baik dalam pengevakuasian korban. Jika ada. 4. Peraturan daerah masih sangat terbatas. masih terbatas dan peran pemerintah masih sangat dominan. Partisipasi masyarakat seperti ini muncul secara spontan sebagai bentuk kepedulian sosial sesama masyarakat. Dalam hal ketersediaan landasan hukum. Di samping itu aspirasi masyarakat belum dikelola dalam bentuk kelompok/organisasi kemasyarakatan. sehubungan dengan penanggulangan banjir. bahkan cenderung tergantung pada bantuan pemerintah. belum semua pemerintah daerah melakukan penegakan hukum. 6. Upaya pemerintah daerah mengendalikan banjir banyak menemui kendala. pakaian. Dari hasil survai diketahui bahwa secara umum peran stakeholder. Upaya penanggulangan banjir tidak terlepas dari peran stakeholder dalam setiap kegiatan. Kurangnya kepedulian masyarakat menjaga lingkungan. Dengan belum tersedianya peraturan perundangan yang mengatur penanggulangan banjir. 5. menjaga dan memantau kondisi lingkungan. Terbatasnya dana pemerintah. maka pengaturan partisipasi masyarakat juga belum diatur. memprakarsai lomba kebersihan. partisipasi masyarakat berupa keikutsertaan mereka dalam berbagai kegiatan. dan penyediaan obat-obatan.Sementara itu. Kurangnya partisipasi masyarakat.

sehingga daya dukung lingkungan menurun drastis. bahkan kawasan retensi banjir (retarding basin) yang disediakan alam berupa situ-situ telah juga dihabiskan. namun belum diimplementasikan di semua kota lokasi survai. pendanaan program penanggulangan banjir sebagian besar sangat tergantung pada pemerintah. Di sisi lain.Pada semua daerah survai. dan pada akhirnya karena kapasitas tampung dan pengaliran sungai telah menurun. Sebab. yaitu partisipasi masyarakat sangat kentara dan dominan. melainkan hanya mencakup pembiayaan bantuan spontan yang bersifat charity dan perbaikan kecil prasarana lingkungan secara swadaya. apalagi pengaturan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir. terutama pada areal-areal bangunan pengendali banjir. kemampuan bangunan pengendali banjir menjadi turun. terutama pada kegiatan tanggap darurat. Optimalisasi sumber pendanaan masyarakat. secara umum hasil survai menunjukkan bahwa tidak ada landasan hukum spesifik yang mengatur penanggulangan banjir. persawahan. mampu memberi bantuan darurat bagi para korban banjir. meluaplah air sungai ke kawasankawasan permukiman. swasta juga mulai ikut berpartisipasi menjaga kebersihan sungai melalui penyediaan dana pengelolaan. menimbulkan genangan air di mana-mana. ternyata pada wilayah-wilayah kajian. belum dikelola secara baik. Bahkan bersama-sama dengan kelompok stakeholder dari unsur intermediaries. karena kapasitas tampung dan pengaliran sungai menurun dan terjadilah luapan air. Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase permukiman yang kurang memadai. bahkan masuk ke badan sungai. Keadaan ini makin memperburuk sistem tata air lingkungan. Keadaan ini secara signifikan menurunkan kapasitas penyerapan air secara drastis. meskipun potensinya cukup besar. Penambangan pasir illegal. mereka membentuk “gugus tugas reaksi cepat” yang secara mandiri dan tanpa intervensi pemerintah. Di kawasan budidaya telah terjadi perubahan tata ruang secara massive. Selain itu. secara umum belum ada implementasi kebijakan efektif untuk mengendalikan penggundulan hutan dan perubahan fungsi ruang di daerah hulu. lemahnya penegakan hukum ikut mendorong tumbuh dan berkembangnya permukiman ilegal di bantaran sungai. Aktivitas dan perubahan ini makin meningkatkan debit air yang masuk langsung dan secara cepat ke badan sungai. Di sisi lain. Secara umum penyebab utama banjir adalah perubahan dan eskalasi perilaku manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Temuan lapangan menunjukkan . Meski demikian. Pesatnya pertumbuhan permukiman dan industri telah mengubah keseimbangan fungsi lingkungan. dan pertambakan serta kawasan industri. Namun ada temuan yang menggembirakan. sehingga pada curah hujan tertentu. yang umumnya mudah diakses juga ikut memperparah keadaan.

identifikasi lokasi dan pengaturan pemanfaatan peralatan yang diperlukan. ternyata tidak dapat disamaratakan. yang terdiri dari kegiatan pemetaan wilayah terkena banjir. dan decision/policy maker) mempunyai peran dan pengaruh yang sama pada tiap tahap penanggulangan banjir. bahkan tidak ada. 2. pembangunan sistem serapan air. 3. Demikian juga masing-masing karakteristik/jenis kegiatan penanggulangan banjir. kebijakan penyediaan ruang terbuka (open space reservastion). pedoman pengelolaan air permukaan. direct social cost dikenali pada kelompok kegiatan struktural di luar badan air (off-stream structural measures) yang meliputi kegiatan-kegiatan peningkatan dan pembangunan sistem drainase. Kegiatan berciri targeted assistance ditemukan pada kelompok kegiatan manajemen darurat banjir jangka pendek (short term flood emergency management) khususnya pada kegiatan-kegiatan pre-flood preparation. pemeriksaan dan . Pada tahap tertentu partisipasinya sangat besar dan begitu dominan. Indirect benefits.bahwa partisipasi masyarakat lebih didorong oleh semangat kesetiakawanan dalam bermasyarakat. maka dalam penanggulangan banjir ditemukan tiga jenis kebijakan/kegiatan yaitu: 1. pengendalian penggunaan lahan di luar dataran banjir. Kegiatan berciri indirect benefits. bukan merupakan resultant upaya pemerintah untuk menggalangnya. Large number of beneficiaries and few social cost. kebijakan sarana dan pelayanan umum. Sementara pada tahap lain sulit ditemukan. Analisis stakeholder memberi gambaran bahwa tidak semua unsur stakeholder (beneficiaries. Mengikuti pengelompokkan kegiatan yang diperkenalkan Bank Dunia. serta pendidikan dan informasi kepada masyarakat. penyimpanan bahan penahan banjir. direct social cost. antara lain karung pasir dan bronjong kawat. pembangunan parasarana retensi air (retention facilities). pembangunan sistem polder. Perlu dianalisis lebih jauh untuk menemukenali jenis dan tingkat partisipasi masyarakat pada kelompok-kelompok kegiatan penanggulangan banjir. Targeted assistance. Mencermati partisipasi masyarakat pada tahap siklus banjir. Kegiatan berciri large number of beneficiaries and few social cost terdapat pada kelompok kegiatan non-struktural jangka panjang (long term flood prevention nonstructural measures) yang mencakup kegiatan-kegiatan pengaturan dataran banjir (floodplain). intermediaris. dan penanganan masalah erosi dan kemiringan tebing. memerlukan jenis dan tingkat partisipasi yang berbeda.

hingga penyusunan konsep partisipasi masyarakat dalam skema pembiayaan pemeliharaan saluran drainase. namun partisipasi masyarakat ditemukan dalam pembiayaan tahap operasionalisasi prasarana. maupun sistem ganti rugi melalui subsidi yang harus diatur secara jelas dan adil. Isu penting dalam hal ini adalah skema pembiayaan. tidak teridentifikasi kebijakan/perundangan yang berlaku spesifik. direct social cost. seharusnya diperlukan upaya mengakomodasi dan merekognisi kepentingan pihak-pihak yang mungkin dirugikan (yang terkena adverse impact). Pengaturan ini sangat penting untuk meminimalisasi dampak negatif (adverseimpact) yang dapat mempengaruhi kelancaran proses penanggulangan banjir.perawatan peralatan dan bangunan pengendali banjir. tidak teridentifikasi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan konstruksi dan umumnya dilaksanakan penyedia jasa konstruksi. peraturan pemerintah. di tahap penyusunan konsep. Pada implementasinya di lapangan. prosedur keterlibatan masyarakat harus lebih spesifik dikembangkan. sedangkan partisipasi masyarakat secara langsung tidak ditemukan. Kebijakan ini dapat dijadikan acuan menyusun konsep pembangunan fisik di luar badan air. baik berupa undang-undang. karena pembangunan inftastruktur pengendali banjir. dan penentuan dan pengaturan lokasi dan barak-barak pengungsian. Pada tahap pembangunan/konstruksi. Dengan ciri kegiatan yang biaya sosialnya dapat dirasakan langsung. . Kelompok Kegiatan Struktural di Luar Badan Air (off-stream structural measures) Pada kelompok kegiatan ini. dalam mengidentifikasi masalah drainase. sudah tersedia kebijakan nasional dan kebijakan daerah yang bersifat umum. Selain itu. Pada tahap monitoring dan evaluasi. walaupun pada dasarnya masih dapat digunakan kebijakan umum yang sudah ada. Dalam implementasinya. hanya teridentifikasi peran pemerintah daerah yang memonitor dan mengevaluasi prasarana off-stream structural measure. Temuan-temuan tersebut menegaskan masih lemahnya dukungan aspek legal untuk mengakomodasi dan merekognisi peranserta masyarakat dalam kelompok kegiatan offstream structural measure yang berciri indirect benefits. maupun peraturan daerah. misalnya masyarakat yang terkena penggusuran. teridentifikasi cukup banyak kegiatan-kegiatan kerjasama antara pemerintah daerah dan masyarakat. Meskipun dalam kebijakan dan peraturan perundangan tidak ditemukan dasar yang jelas.

dan media massa dapat melakukan monitoring dan evaluasi. dan pada tahapan implementasi mencapai skala ke 1 dari skala 0-6 atau pada tataran information-sharing. sedang untuk tahapan kontruksi mencapai skala ke 3 dari skala 0-6 atau pada tataran concensus building and agreement. dalam kondisi ideal adalah collaboration (skala ke 4 dari skala 0-6) terutama untuk tahapan konsep dan implementasi. maka dalam penyusunan regulasi. namun belum ada regulasi yang tegas mengatur hal ini. pemerintah sebagai fasilitator harus mampu menjembatani berbagai kepentingan tersebut dengan secermat mungkin mengidentifikasi stakeholder utama dan menyusun skema birokrasiyang sesuai dan efektif. pada skala ke 4 dari skala 0-6 atau pada tataran collaboration untuk tahapan konsep. Meskipun penduduk daerah rawan banjir. serta biaya sosial yang rendah. Umumnya kebijakan ini hanya menekankan pada floodplain regulation. Mereka menindak dengan menggusur pemukim ilegal pada bantaran dan badan sungai. Dengan demikian menerapkan floodplain regulation secara utuh. serta perencanaan pelaksanaan yang terintegrasi dan terkoordinasi.Tingkat partisipasi maksimum pada jenis kegiatan ini. Dengan ciri kegiatan yang jumlah beneficiaries-nya banyak dan kepentingan yang berbeda-beda. cukup banyak kebijakan nasional yang dapat diidentifikasi. Monitoring dan evaluasi terhadap floodplain regulation hanya dilakukan pengelola sungai dan Pemda. terutama pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR). Kegiatan konsultasi publik dan penyuluhan ditemukan pada tahapan implementasi merupakan bentuk dari public information and education yang merupakan tahap lanjutan dari implementasi floodplain regulation. dan Perda yang berkaitan dengan tata ruang dan pemanfaatan sumberdaya air. profesional/ahli. Tingkat partisipasi maksimum pada jenis kegiatan ini dalam kondisi ideal adalah empowerment-risk sharing (skala ke 5 dari skala 0-6) untuk tahapan pengembangan dan tahapan evaluasi. Umumnya kegiatan ini masih berupa konsep yang tertuang dalam bentuk master plan pengelolaan sumberdaya air yang belum mampu dilaksanakan. . Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). aturan pengelolaan dan pemanfaatan sungai. di tahap penyusunan konsep. Pada tahap pengembangan konsep. karena keterbatasan dana dan sumberdaya manusia. LSM. pemuka masyarakat dan agama. Kelompok Kegiatan Non-Struktural Jangka Panjang (long term flood prevention non structural measures) Pada kelompok kegiatan ini. belum banyak kegiatan yang berkaitan dengan floodplain regulation.

partisipasi masyarakat tidak teridentifikasi secara spesifik. Dengan ciri kegiatan yang beneficiaries-nya sudah teridentifikasi secara jelas. tingkat partisipasi maksimum pada jenis kegiatan ini dalam kondisi ideal adalah collaboration (skala ke 4 dari skala 0-6) untuk tahapan konsep sampai dengan implementasi. Sedang instansi pemerintah atau institusi pengelola sungai melakukan hampir semua kegiatan. sehingga dalam perencanaan kegiatan penanggulangan bencana banjir. Dalam hal ini pemerintah harus memfasilitasi. namun belum banyak yang secara spesifik mengakomodasi partisipasi masyarakat. Pada tahap implementasi persiapan menghadapi banjir. maka masyarakat yang secara langsung terkena bencana banjir harus mendapatkan perhatian utama. sedangkan untuk tahapan evaluasi pada skala ke 6 pada skala 0-6 atau pada tataran empowerment and partnership. . dalam tahap pengembangan juga sudah terdapat peraturan daerah yang mengatur pengembangan peta daerah rawan banjir dan penetapan daerah alternatif pengungsian korban bencana dan pengadaan sarana perhubungan di daerah yang terkena bencana.pemerintah harus berperan lebih banyak. Dari hasil analisis. Namun pada tahapan ini. kelompok ini dapatmenyumbangkan pemikiran mereka lebih mendalam. sebab tidak ada stakeholder lain yang mempunyai kekuatan hukum untuk menindak pelanggaran suatu regulasi.8 Pada tahap terakhir dalam kelompok kegiatan ini. di tahap penyusunan konsep terdapat cukup banyak aspek legal yang bisa dijadikan acuan. Kelompok Kegiatan Manajemen Darurat Banjir Jangka Pendek (short term flood emergency management) Dalam kelompok kegiatan penanganan darurat banjir. Seperti pada tahap penyusunan konsep. Di samping itu. sehingga kelompok masyarakat ini mempunyai akses terhadap kegiatan yang memungkinkan mereka menghindari bencana. terutama pada kegiatanpersiapan menghadapi banjir (pre-flood prevention). tidak teridentifikasi kegiatan monitoring dan evaluasi persiapan menghadapi banjir yang melibatkan masyarakat secara langsung. perlu disusun kebijakan yang memprioritaskan peningkatan kapasitas sumber daya manusia kelompok masyarakat tersebut. atau paling tidak mengurangi kerugian (materi) akibat bencana banjir. di lapangan tidak teridentifikasi partisipasi masyarakat dan segala persiapan untuk menghadapi banjir dilakukan instansi pemerintah.

Peralihan fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian di Kelurahan Panjer mulai terjadi pada tahun 1980an dan berlangsung hingga sekarang. salah satunya adalah banjir setiap musim penghujan akibat berkurangnya daerah resapan air. Peralihan fungsi lahan di Kota Denpasar umumnya dan Kelurahan Panjer khususnya mengakibatkan berbagai dampak negatif. Sisa lahan pertanian di Kelurahan Panjer untuk sekarang ini adalah sekitar 35 ha dari total luas Kelurahan Panjer yaitu 314.BAB IV PENUTUP 4.16 ha. Penggunaan lahan di Kota Denpasar umumnya dan Kelurahan Panjer khususnya didominasi oleh pemukiman penduduk.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut: a. b. . c.

dan berkesinambungan antar dinas yang terkait dan antar pemerintah kabupaten/kota. Tabanan. Pemerintah Kota Denpasar diharapkan melakukan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu dan berkesinambungan antar instansi yang terkait dan antar pemerintah kabupaten lain seperti Kabupaten Badung. dengan melakukan pengawasan lebih intensif dan memberikan sanksi yang tegas sesuai dengan peraturan yang berlaku kepada pihak-pihak yang melanggar. d. c. Pemerintah Kota Denpasar diharapkan melakukan penataan dan perbaikan tanggul-tanggul sungai dan got-got tempat saluran air hujan. b. e. Berbagai fenomena bencana yang terjadi di Kota Denpasar pada umumnya dan Kelurahan Panjer pada khususnya ini pada dasarnya merupakan indikasi yang kuat terjadinya ketidakselarasan dalam pemanfaatan ruang. yakni antara manusia dengan kepentingan ekonominya dan alam dengan kelestarian lingkungannya. bukan tempat pembuangan sampah. sistematis.2 Saran Masalah banjir sebenarnya adalah masalah lintas sektor dan lintas daerah sehingga diperlukan adanya kerjasama yang baik.d. dan Gianyar sesuai dengan kaedah konservasi tanah dan air. Beberapa saran terkait dengan permasalahan yang diangkat pada makalah ini. Pemerintah Kota Denpasar diharapkan melakukan penataan pembangunan perumahan dengan baik. Berbagai langkah telah ditempuh oleh Pemerintah Kota Denpasar untuk menangani banjir di kawasan kota. namun masalah banjir tetap saja terjadi setiap tahunnya akibat kurangnya kerjasama dari masyarakat Kota Denpasar sendiri untuk penanganan banjir tersebut. Pemerintah Kota Denpasar diharapkan membuat peraturan pelanggaran pembuangan sampah ke sungai ataupun ke saluran drainase air. 4. dan dengan peran serta masyarakat Kota Denpasar agar bersama-sama menjadikan sungai-sungai di Kota Denpasar sebagai tempat rekreasi. . yaitu: a.

Denpasar Kantor Lurah Panjer. Draft Laporan Identifikasi Kawasan Pemukiman Padat/Kumuh dan Pembuatan Design Engeering Detail (DED) Pemukiman Padat/Kumuh di Kecamatan Denpasar Timur. 2003 (www. Denpasar Bambang S. bambang Rahardjono. Dr. Aspek Pertanahan dalam Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian (Sawah). 2008. Denpasar Pemerintah Kota Denpasar. 2008. Laporan Status Lingkungan Hidup Kota Denpasar.net) Pemerintah Kota Denpasar. Laporan Akuntabilitas Kinerja Pemerintah Kota Denpasar. Jakarta . 2008. “Disaster Risk Management and the Systems Approach by”. Denpasar Muhammad Iqbal dan Sumaryanto. Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bertumpu pada Partisipasi Masyarakat.-. 2010. Widjanarko. Denpasar Selatan. Program Sanitasi Kota Denpasar. Rekapitulasi Jumlah Penduduk Kelurahan Panjer. Denpasar Perintah Kota Denpasar. Stephan.DAFTAR PUSTAKA Dinas Tata Kota. Moshedayan Pakpahan.-. Bogor Bieri.drmonline. dan Putu Suweken. World Institute for Disaster Risk Management (DRM). 2008. Denpasar Barat dan Denpasar Utara Kota Denpasar..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful