BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Tradisi pesantren merupakan kerangka sistem

pendidikan Islam, tradisi di Jawa dan Madura yang dalam perjalanan sejarahnya telah menjadi obyek para sarjana yang mempelajari Islam di Indonesia.1 Penelitian terhadap pesantren selalu menyisakan bagi para peneliti berikutnya, termasuk pula di dalamnya pesantren Suryalaya. Hal ini disebabkan pesantren Suryalaya mempunyai peranan yang dapat dilihat dari berbagai aspek. Bentuk pesantren itu sendiri, tarekat yang diamalkan dalam pesantren,

pengobatan/terapi maupun sejarah perkembangan pesantren Suryalaya sering kali menjadi obyek penelitian baik peneliti dari dalam negeri maupun dari dunia Barat.2
1 Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal. 16. 2 Telah dilakukan beberapa penelitian, diantaranya Martin Van Bruinessen meneliti tentang tarekat yang ada di pesantren Suryalaya dalam bentuk ritualnya, Zamakhsyari Dhafir dalam penelitiannya tentang Tradisi Pesantren menyinggung tentang perkembangan tarekat ini, Haryanto meneliti terhadap peranan Inabah dalam peranannya sebagai pengobatan terhadap ketergantungan narkotika, Kharisudin Aqib meneliti peranan TQN Suryala dalam bentuk tazkiyatun nafsi sebagai metode penyadaran diri dan dalam meneliti sejarah asal usul dan perkembangan tarekat ini dilakukan oleh Harun Nasution, lihat Kharisudin Aqib, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Suryalaya Studi Tentang Tzkiyatun Nafsi Sebagai Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta, Tahun 2001. hal. 17-19

Pesantren yang didirikan oleh Kyai Sepuh yang terkenal dengan panggilan Abah sepuh bernama Abdullah Mubarak Ibn Nur Muhammad
3

, mempunyai tradisi

kepesantrenan layaknya pesantren yang lain 4 . Namun dengan tarekat yang menjadi sumber utama pengajaran, menyebabkan pesantren ini identik dengan tarekat yang dianutnya. Nama tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) seringkali menggantikan nama pesantren Suryalaya yang saat ini dipimpin oleh Abah Anom yang bernama Shahibul Wafa Tajul Arifin. Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah adalah dua tarekat yang berbeda, baik pendirinya maupun bentuk ajarannya. Perpaduan dua tarekat ini merupakan jasa dari seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sambas Kalimantan Barat bernama Syeikh Ahmad Khatib As Sambasi (lahir
Pesantren Suryalaya didirikan pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905 M oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit, www.suryalaya.org/sejarah.html diakses tanggal 1 Mei 2010 4 Dibawah naungan Yayasan Serba Bakti yang didirikan pada 11 Maret 1961 telah didirikan pula lembaga pendidikan formal sesuai dengan keperluan dan kepentingan masyarakat. Lembaga pendididkan yang diselenggarakan dari mulai tingkat taman kanak-kanak hingga ke perguruan tinggi. Selain untuk menunjang pendidikan formal, yayasan juga berusaha mendukung berbagai kepentingan pesantren antara lain; mengatur pengajian bulanan yang biasa disebut manaqib, baik di Suryalaya maupun di tempat-tempat lainnya, www.suryalaya.org/yayasan.html diakses tanggal 1 Mei 2010
3

2

tahun 1802 M), yang bermukim dan meninggal di Mekkah pada tahun 1878 M.5 Tarekat Qadiriyah berasal dari Syeikh Abd. Qadir Jailani. Ia adalah seorang ulama besar sunni yang bermazhab Hanbali, lahir pada tahun 470 H/1077 M di Jilan wilayah Iraq sekarang dan meninggal di Baghdad pada tahun 561 H/1166 M 6 . Syeikh Abd. Qadir Jailani memimpin madrasah dan ribatnya di Baghdad, pelestarian tarekatnya didukung penuh oleh putra putrinya hingga keganasan Hulagu Khan (1258 M/656 H) menghancurkan keluarga besar Syekh Abd. Qadir al Jailani serta mengakhiri eksistensi madrasah dan ribathnya di Baghdad 7. Salah satu yang membedakan tarekat ini dengan tarekat lainnya adalah dzikir jahr atau dzikir dengan suara keras. Dalam melantunkan dzikir jahar, digunakan dengan tekanan keras, dimaksudkan agar gema suara dzikir yang kuat dapat mencapai rongga batin mereka yang berdzikir,

Hawas Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara, Surabaya, al Ikhlas, 1980, hal 177. 6 HAR. Gibb and J.H. Karamers, Shorter Encyclopedia of Islam, Leiden : E.J. Eril, 1961, hal. 115. 7 Zurkani Yahya, Asasl Usul Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan perkembangannnya dalam Harun Nasution (ed) Tareqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah: Sejarah Asal Usul dan Perkembangannya, Tasikmalaya : IAILM, 1990, h. 63.

5

3

sehingga memancarlah nur dzikir dalam jiwanya.

8

Demikian pula gerakan dzikir pada dzikir tersebut di ulangulang secara pelan-pelan, kemudian semakin lama semakin cepat. Setelah terasa meresap dalam jiwa maka terasa panasnya dzikir itu ke seluruh bagian tubuh9. Sementara itu tarekat Naqsabandiah yang dipadukan dengan tarekat Qadiriyah juga sering disebut dengan tarekat Khawajakiyah. kepada Penamaan sufi Naqsabandiyah besar bernama

dinisbahkan

seorang

Muhammad Ibn Muhammad Bahauddin al Uwaisi al Bukhari al Naqsabandi10 suatu daerah di Bukhara wilayah Yugoslavia saat ini. Adapun penamaan yang kedua (Khawajakiyah) dinisbahkan kepada Abd. Khaliq

Ghujdawani yang wafat pada tahun 1220 M. Sebenarnya ulama kedua inilah peletak dasar tarekat Naqsabandiyah. An Naqsabandy menambahkan ajaran dari Abd Khaliq Ghujdawani 3 ajaran pokok sehingga seluruhnya menjadi sebelas. 11

KH. Shohibul Wafa’ Tadjul Arifin, Miftah al-Shudur, Terj. H. Aboe Bakar Atjeh, Kunci Pembuka Dada, Kutamas, Sukabumi, t.t, hlm. 24. 9 Asmaran AS.,Pengantar Studi Tasawuf, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994,hlm.81. 10 Ulama besar ini hidup antara tahun 717 H/1317 M-791H/1389M, lihat Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat, Solo, Ramadhani, 1992, hal. 319. 11 J. Spencer Trimingham, hal. 62-63.

8

4

Tarekat Naqsabandiyah menggunakan dzikir khafi/ sirr (tidak terdengar). Dzikir ini juga diamalkan dalam TQN. Dzikir khafi dilakukan dengan tanpa suara dan katakata, hanya hati yang mengucapkan (lafadz Ismudzat). Dzikir ini hanya memenuhi qalbu dengan kesadaran yang sangat dekat dengan Allah, seirama dengan detak jantung serta mengikuti keluar-masuknya nafas. Caranya mulamula mulut berdzikir Allah, Allah diikuti hadirnya hati. Lalu lidah berdzikir sendiri, dengan dzikir tanpa sadarkekuatan akal tidak berjalan melainkan terjadi sebagai ilham yang tiba-tiba masuk ke dalam hati, kemudian naik ke mulut sehingga lidah bergerak sendiri mengucapkan Allah-Allah 12 . Pada dzikir ini, pikiran diarahkan kepada hati, dan hati kepada Allah. Selama dzikir berlangsung, perlu adanya wuquf al-qalbi (keterjagaan hati), dan dzikir harus banyak diucapkan agar kesadaran dan keberadaan Allah, yang merupakan esensi hakekat manusia, bisa lahir dalam hati.13 Masuknya tarekat qadiriyah dan naqsabandiyah ke daerah haramain diterangkan oleh berbagai ilmuwan.

M. Zain Abdullah, op. cit., hlm. 66. Mir Valiuddin, Contemplative Disiplines in Sufism, Terj. M.S. Nasrullah, Dzikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf, Pustaka Hidayah, Bandung 2000, hlm. 144.
13

12

5

Snouck Hurgronje memberitakan ketika ia belajar di Mekah menyamar sebagai seorang muslim, melihat adanya markas besar tarekat Naqsabandiyah di kaki gunung Jabal Qais
14

. Demikian pula menurut Trimingham seorang

Syaikh dari Minangkabau dibai’at di Mekah pada tahun 1845 15 . Menurut Van Bruneissen baik tarekat qadiriyah maupun naqsabandiyah dibawa ke tanah mekkah melalui para pengikutnya dari India. 16 Di Makkah ini dan khususnya di Masjid al-Haram, muncul pusat-pusat diskusi (halaqah-halaqah) atau ribâthribâth dalam berbagai disiplin ilmu agama termasuk pengembangan ajaran-ajaran tarekat. Dan kemudian dalam perkembangan selanjutnya pada abad ke-18 muncul sebuah tarekat yang dimodifikasi dari gabungan Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah oleh Syekh Ahmad Khatib Sambasi dengan nama Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah17. Syeikh Akhmad Khatib As Sambasi yang berhasil memadukan kedua tarekat tersebut tidak memakai namanya

Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesntren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal.141 15 J. Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (London, Oxford, New York, Oxfor University Press, 1971), hal. 122 16 Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Survey Historis, Geografis, dan Sosiologis, (Bandung: Mizan, 1996), hal. 72-73 17 Shohimun Faisol dan Muhammad, dalam makalah Kontribusi Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Dalam Dakwah Islamiyah Di Lombok, hal 5

14

6

untuk perpaduan kedua tarekat tersebut. Syeikh Akhmad Khatib as Sambasi yang notabene berasal dari Indonesia berusaha menyebarkan TQN kepada orang-orang yang berasal dari Indonesia. Sebagai seorang guru tarekat, ia mengangkat

muridnya yang dianggap dipercaya atau sering disebut khalifah yang sewaktu-waktu menjadi asistennya dalam memperlancar proses transformasi ajarannya. Mereka para khalifah tersebut adalah tiga orang yang dianggap paling berpengaruh dan menonjol yaitu; Syekh Abdul Karim yang berasal dari Banten, Syekh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad yang berasal dari Madura, dan Syekh Tholhah yang berasal dari Cirebon. 18 Syekh Tholhah merupakan guru dari “Abah Sepuh” pendiri pondok pesantren Suryalaya. Pada tahun 1908 Syeikh Tholhah memberikan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) kepada “Abah Sepuh” atau tepatnya tiga tahun setelah pesantren berdiri. 19 Zamakhsyari Dhofier menyebutkan bahwa di tahun tujuh puluhan, empat pusat utama TQN di Jawa, yaitu: Rejoso, Jombang di bawah pimpinan Kiai Tamim;
Dadang Rahmad, Tarekat Dalam Islam Spiritualitas Masyarakat Modern, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hal. 100 19 www.suryalaya.org/sejarah.html diakses tanggal 1 Mei 2010
18

7

Mranggen

dipimpin

oleh

Kiai

Muslih,

Suryalaya,

Tasikmalaya di bawah pimpinan K.H. Shohibul wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom); dan Pegentongan,Bogor dipimpin Kiai Thohir Falak. Silsilah Rejoso didapat dari jalur Ahmad Hasbullah, Suryalaya dari jalur Kiai Tolhah. Cirebon dan yang lainnya dari jalur Syaikh Abd. Al-Karim Banten dan khalifah-khalifah. 20 Kepemimpinan Abah Anom telah memberikan perkembangan bagi TQN pada Pesantren Suryalaya. Pesantren tidak hanya sebagai pusat pengembangan TQN tetapi juga mempunyai peranan dalam penyembuhan anakanak remaja yang mempunyai ketergantungan terhadap narkotika dan zat terlarang lainnya. Dengan menggunakan metode riyadlah dalam tarekat ini, Abah Anom

mengembangkan psikoterapi alternatif untuk kesembuhan bagi mereka yang mempunyai penyakit-penyakit (psikosomatik) terlarang21. fisik karena akibat penyakit psikis dan gangguan psikhis

penyalahgunaan

obat-obatan

20 Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesntren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal. 90. 21 Shahibul Wafa Tajul Arifin, Uqud al Juman, Tanbih, Jakarta, Yayasan Serba Bhakti, Ponpes suryalaya, 1995, hal 84-85.

8

Untuk kepentingan terapi ini, kemursyidan TQN membuka “cabang-cabang pondok pesantren” dalam bentuk inabah 22 yang menurut Kharisudin Aqib pondok inabah ini merupakan suatu bentuk “ijtihad” metode suluk atau khalwat yang lazim dipraktekkan dalam tradisi tasawuf dalam rangka pembersihan jiwa (tazkiyatun nafsi)23. Pada saat ini inabah-inabah tersebut berjumlah 25 buah, 6 (enam) diantaranya tidak aktif. 24 TQN di Pesantren Suryalaya telah menjelma dalam bentuk tarekat perpaduan dengan berbagai tradisi yang dimilikinya. Amalan-amalan tarekat yang terdapat TQN dapat digolongkan pada amalan khusus dan amalan umum. Amalan khusus adalah amalan yang harus benar-benar diamalkan oleh pengikut sebuah tarekat dan tidak diamalkan oleh orang di luar tarekat atau pengikut tarekat lain, amalan ini bisa bersifat individual ataupun kolektif. Yang termasuk individual adalah dzikir, muroqabah,
22 Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab anaba-yunibu (mengembalikan) sehingga inabah berarti pengembalian atau pemulihan, maksudnya proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah. Istilah ini digunakan pula dalam Al-Qur’an yakni dalam Luqman surat ke-31 ayat ke-15, Surat ke-42, Al-Syura ayat ke-10; dan pada surat yang lainnya, lihat www.suryalaya.org/inabah.html diakses tanggal 1 Mei 2010. 23 Kharisudin Aqib, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Suryalaya Studi Tentang Tzkiyatun Nafsi Sebagai Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta, Tahun 2001. hal. 151 24 www.suryalaya.org/inabah.html diakses tanggal 1 Mei 2010.

9

rabitah, mengamalkan syariat, melaksanakan amalanamalan sunnah, berperilaku zuhud dan wara’, khalwat atau uzlah. Sedangkan amalan kolektif adalah khataman. Adapun yang termasuk dengan amalan-amalan umum adalah amalan yang ada dan menjadi tradisi dalam tarekat tetapi amalan juga biasa dilakukan oleh masyarakat Islam di luar pengikut tarekat. Yang termasuk individual adalah wirid, tawashul, hizib, ‘ataqah atau fida akbar dan yang termasuk kolektifnya adalah istighatsah, manaqib, ratib. Dengan peranan pesantren yang cukup besar, baik dalam bidang pendidikan, tarekat, maupun penyembuhan tampaknya perlu dilakukan penelitian terhadap masyarakat sekitar pesantren khususnya di Desa Tanjungkerta

Kecamatan Pagerageung dalam praktek keagamaan, apakah pesantren Suryalaya mempunyai peranan cukup besar terhadap praktek keagamaan di masjid-masjid wilayah Desa Tanjungkerta Kecamatatan Pagerageung tempat di mana pesantren Suryalaya berada.

B. Perumusan Masalah Untuk mempertegas penelitian ini, akan diuraikan rumusan masalah sebagai berikut :

10

1. Bagaimanakah

praktek-praktek

Tarekat

Qadiriyah

Naqsabandiyah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya? 2. Bagaimanakah pengaruh Tarekat Qadiriyah

Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya terhadap praktek keagamaan pada masjid-masjid di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung tempat

pesantren berada?

C. Tujuan Penelitian Untuk lebih tegasnya tujuan penelitian ini

dimaksudkan untuk mengetahui: 1. Praktek-praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah

yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya. 2. Pengaruh Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya terhadap praktek keagamaan pada mesjid-mesjid di Desa Tanjungkerta Kecamatan

Pagerageung tempat pesantren berada. Pada dasarnya tujuan penelitian ini adalah karena melihat besarnya Pondok Pesantren Suryalaya baik sebagai sebuah tarekat (Qadiriyah Naqsabandiyah) maupun dengan peranan lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Pesantren Suryalaya

11

dalam

dimensi

lokal

yaitu

pengaruhnya

terhadap

lingkungan Kecamatan Pagerageung tempat pesantren berada. Pengaruh ini dapat dilihat dari adanya kesamaan praktek ritual pada Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya dengan masjidmasjid yang ada di Kecamatan Pagerageung.

D. Signifikansi Penelitian Penelitian ini mempunyai kegunaan yang cukup signifikan terutama untuk: 1. Memberikan pemahaman terhadap keberadaan

Pesantren Suryalaya pada saat ini baik dari tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, lembaga pendidikan,

maupun inabah untuk terapi psikis. 2. Memberikan pemahaman tentang pelaksanaan ritual tarekat yang dilakukan oleh Pesantren Suryalaya. 3. Memberikan pemahaman yang seimbang tentang peranan Pesantren Suryalaya pada tingkat regional maupun dalam dimensi lokal di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung tempat pesantren berada.

12

E. Penelitian Terdahulu Yang Relevan Terdapat beberapa penelitian terdahulu menyangkut dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah berkenaan dengan Pesantren Suryalaya yaitu : 1. Martin van Bruinessen tentang Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia yang menguraikan tarekat tersebut dengan sedikit menjelaskan tentang bentuk ritual

keagamaannya. 2. Zamakhsari Dhofier dalam penelitiannya yang

berhubungan dengan Tradisi Pesantren menyinggung dalam salah satu babnya tentang perkembangan tarekat Qadiriyah Nadsabandiyah. 3. Nurcholis Majid dalam bukunya Islam Agama

Peradaban membahas mengenai tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah sebagai sebuah praktek keagamaan dan gerakan kesufian. 4. Haryatno meneliti Pondok Pesantren Suryala di bidang terapi psikhis dalam tesisnya berjudul Jangka waktu Pembinaan dengan Penurunan Gejala-gejala

Ketergantungan Narkotika di Inabah I PP Suryalaya, Yogyakarta FPS UGM, 1994. 5. Penelitian yang dilakukan Kharisudin Aqib

menyangkut upaya kesufian dalam mensucikan jiwa
13

yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya dengan judul disertasinya, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Suryalaya Studi Tentang Tazkiyatun Nafsi Sebagai Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta ini selesai pada Tahun 2001. 6. Sebuah buku berjudul Sejarah oleh Tarekat Asal Harun Qadiriyah Usul Nasution dan (ED)

Naqsabandiyah Perkembangannya

merupakan buku yang banyak dijadikan rujukan mengenai tarekat meskipun hanya membahas seputar keberadaannya, sejarah, asal usul dan perkembangan pada kemursyidan Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat. Dari penelitian-penelitian tersebut, belum ada yang secara khusus meneliti tentang hubungan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dengan masyarakat sekitarnya. Oleh karenanya

penelitian ini dianggap belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya meskipun beberapa referensi tetap mengambil dari peneliti yang sudah ada.

F. Kerangka Teori Penelitian ini merupakan penelitian terhadap tarikattarikat Islam. Tarekat itu sendiri menurut Abu Bakar adalah
14

suatu jalan untuk sampai kepada tujuan ibadah yaitu hakikat 25 . Tarekat secara harfiah berarti “jalan” mengacu kepada suatu system latihan meditasi maupun amalanamalan yang dihubungkan dengan sederet guru sufi. Tarekat juga berarti organisasi yang tumbuh seputar metode sufi yang khas. Pada masa permulaan, setiap guru sufi dikelilingi oleh lingkaran murid mereka dan beberapa murid ini kelak akan menjadi guru pula. Boleh dikatakan bahwa tarekat itu mensistematiskan ajaran-ajaran dan metode tasawuf. Guru tarekat yang sama mengajarkan metode yang sama, zikir yang sama, muraqabah (meditasi) yang sama. Seorang pengikut tarekat akan memperoleh kemajuan melalui sederet amalan-amalan berdasarkan tingkat yang dilalui oleh semua pengikut tarekat yang sama. Dari pengikut biasa (mansub) menjadi murid (tamid) selanjutnya pembantu Syeikh atau wakil guru (khalifahnya) dan akhirnya menjadi guru yang mandiri (mursyid).26 Secara sosiologis, nampaknya latar belakang lahirnya pola-pola kehidupan kerohanian termasuk tarekat ataupun tasawuf serta gelombang pasang surutnya tidak hanya
Abubakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, (Jakarta: Ramadhani, 1992), hal. 63
Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Survey Historis, Geografis, dan Sosiologis, (Bandung: Mizan, 1996), hal. 12
26 25

15

berlandaskan doktrin keagamaan belaka, melainkan juga sumber-sumber nonagamawi seperti aspek sosial, politik, ekonomi dan psikologis sebagai wujud perubahan dan dinamika dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu 27 . Sebagai contoh adalah munculnya gerakan kehidupan zuhud dan uzlah yang dipelopori oleh Hasan al-Basri (110 H) sebagai reaksi terhadap pola hidup hedonistik (berfoyafoya) yang
28

dipraktekkan

oleh

para

pejabat

Bani

Umayyah.

Pada gilirannya kegiatan ini akan membentuk pandangan hidup baik individu ataupun kelompoknya. Dapatlah dikatakan bahwa ajaran agama dalam bentuk tarekat ini telah membentuk budaya dan pribadi seseorang yang terlihat dalam kegiatan keagamaannya. Geertz mengatakan bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk

pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. 29 Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan
27 Fazlur Rahman, Islam, terj. Ahsin Mohammad., cet. Ke-3 (Bandung : Pustaka, 1997), hlm. 219 28 Harun Nasution, Filasafat dan Mistisime dalam Islam, (Jakarta : Bulan Binatang, 1973), hlm. 64 29 Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

16

berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya30. Di Indonesia bentuk tarekat yang telah memberikan corak keagamaan tertentu adalah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang termasuk jajaran Tarekat

mu’tabarah dengan kualifikasi kejelasan silsilahnya, yakni bersambung baik tidak langsung maupun langsung kepada Nabi dan Ajarannya sesuai dengan syari’at yang

berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. 31 Ajaran tarekat yang telah melekat pada pribadi seorang muslim dapat dilihat dalam kehidupan sehariharinya terutama setelah ia melakukan shalat fardhu dalam bentuk amalan dzikir. Pada Pondok Pesantren Suryalaya ritual tarekat sangat mudah dijumpai terutama di masjid Pesantren setelah melakukan shalat fardhu atau waktuwaktu tertentu. Sedangkan bagi masyarakat sekitarnya yaitu di Kecamatan Pagerageung, amalan tarekat dapat dilihat di masjid-masjid. Bagi sebuah pesantren, masjid merupakan

Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik, Bandung, Pustaka Hidayah, 1998, hal. 282. 31 Sri Mulyati, Tarekat -Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta : Kencana, 2004) hal.vii

30

17

elemen yang sangat penting dan bagi individu muslim lainnya, masjid merupakan sarana beribadah dalam menjalankan shalat lima waktu, khutbah dan sembahyang jum’ah. 32 Mesjid sebagai sebuah tempat beribadah umat Islam di Indonesia memiliki banyak sebutan atau istilah seperti surau, langgar, tajug dan masjid seperti yang akan dijelaskan. Keragaman istilah tersebut berkaitan erat dengan fungsi, ukuran dan kepemilikannya. Misalnya Tajug – di daerah Jawa Barat – selain fungsi utamanya sebagai tempat shalat berjamaah, rukun warga, juga sekaligus berfungsi lembaga pendidikan non formal keagamaan. Tajug berukuran lebih kecil dari masjid dan bersifat terbuka yakni siapapun boleh menggunakannya sebagai tempat beribadah. Kepemilikan Tajug sering dinisbahkan pada ustadz pengasuh yang biasanya menjadi pendiri tajug tersebut. Selain masjid masih ada penamaan lain dalam bentuk yang sama yaitu “Langgar” yaitu: tempat ibadah yang

memenuhi persyaratan yang digunakan untuk shalat rawatib dan berada dilingkungan masyarakat yang

jamaahnya sedikit dan umumnya dibangun oleh seorang
Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesntren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal. 49
32

18

tokoh agama atau ustad dan sekaligus dijadikan sebagai tempat pengajian atau majelis taklim dan tidak

digunakan untuk shalat jum’at. Dan “Mushala” adalah tempat atau ruangan atau bangunan yang digunakan untuk shalat (rawatib atau sholat jum’at) yang terletak di tempattempat tertentu seperti Kantor, Mall/Pasar, Lembaga Pendidikan, Stasiun pelabuhan laut, bandar udara, dan tempat-tempat umum lainnya. Kemudian dibeberapa daerah dikenal pula dengan istilah surau dan meunasah untuk pengertian yang sama mushala atau langgar. Di Jawa Barat (Sunda) di sebut Tajug. Banten (Serang) disebut Bale untuk sebutan mushalla, atau Bale Kambang yang dibangun alakadarnya yang digunakan sebagai tempat berteduh juga dapat digunakan untuk tempat shalat Zhuhur dan Ashar yang berada di tempat pemandian umum atau di pematang sawah yang hanya cukup untuk tiga sampai lima

orang. Baik masjid, mushalla, langgar, surau, tajug maupun bale sesuai dengan fungsinya sebagai tempat ibadah adalah hak milik Allah dan statusnya bersifat terbuka untuk semua kaum muslimin. 33

http://www.bimasislam.depag.go.id/index.php?option=com_c ontent&view=category&layout=blog&id=49&Itemid=92 diakses tanggal 1 Mei 2010 19

33

Dalam

penelitian

ini

perlu

dibatasi

mengenai

pengertian masjid sebagai tempat ibadah di mana di tempat itu dilakukan ibadah shalat jum’at. Akar kata dari masjid adalah sajada dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Arab. Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 Sebelum Masehi. Kata masgid (m-s-g-d) ini berarti "tiang suci" atau "tempat sembahan" 34 Dalam kajian sosiologi agama35, kedudukan masjid mempunyai nilai sentral untuk mengetahui perilaku seseorang sebagai pemeluk agama Islam, maupun untuk mengetahui praktek-praktek

Hillenbrand, R "Masdjid. I. In the central Islamic lands". Encyclopaedia of Islam Online.

34

Sosiologi secara umum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara empiris untuk mencapai hukum kemasyarakatan yang seumum-umumnya. Sosiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang perilaku social ditinjau dari kecenderungan individu dengan individu lain, dengan memperhatikan symbol-simbol interaksi. Agama dalam arti sempit ialah seperangkat kepercayaan, dogma, pereturan etika, praktek penyembahan, amal ibadah, terhadap tuhan atau dewa-dewa tertentu. Dalam arti luas, agama adalah suatu kepercayaan atau seperangkat nilai yang minmbulkan ketaatan pada seseorang atau kelompok tertentu kepada sesuatu yang mereka kagumi, cita-citakan dan hargai. Sosiologi agama adalah studi tentang fenomena social, dan memandang agama sebagai fenomena social. Sosiologi agama selalu berusaha untuk menemukan pinsip-prinsip umum mengenai hubungan agama dengan masyarakat, lihat pengertian, tempat, fungsi dan aliran-aliran serta metode penelitian dalam sosiologi agama, http://orthevie.wordpress.com/2010/02/13/ pengertian-tempat-fungsidan-aliran-aliran-serta-metode-penelitian-dalam-sosiologi-agama/ 20

35

keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya. Kajian sosiologi Islam pada dasarnya ingin memahami tentang sesuatu praktek keagamaan yang telah teratur dan terjadi secara berulang-ulang dalam masyarakat sebagai suatu kesatuan yang didasarkan pada ikatan-ikatan yang sudah teratur atau stabil. 36 Kajian sosiologis pedesaan menjadi bagian terpenting dalam memahami sebuah praktek keagamaan ataupun ritual tarekat ketika terjadinya perbedaan antara satu lokasi penelitian dengan penelitian lainnya. Pada tahun 1970 Smith dan Zopt melahirkan sosiologi pedesaan untuk mengkaji hubungan anggota masyarakat di dalam dan antara kelompok-kelompok di lingkungan pedesaan. Roger yang mempelajari ilmu kemasyarakatan dengan setting pedesaan perlu untuk mengungkapkan unsur-unsur yakni Daerah, Tanah yang produktif, lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografis. Unsur penduduk, jumlah penduduk, pertambahan penduduk, persebaran penduduk dan mata pencaharian penduduk. Unsur tata kehidupan pola

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2009), hal. 392. 21

36

tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa termasuk seluk beluk kehidupan masyarakat desa.37

37

Sosiologi Pedesaan, http://blog.unila.ac.id/rone/mata-kuliah/sosiologipedesaan/ diakses tanggal 5 Mei 2010

22

BAB II HUBUNGAN TAREKAT DAN TASAWUF

A. Makna Tarekat Tarekat (tarekat, jamaknya.: thuruq atau tharaiq) secara bahasa berarti "jalan" atau "cara".38 Dalam bahasa Arab berarti juga kaifiyyah yang bermakna metode, atau sistem al-uslûb, juga bermakna mazhab, aliran, haluan almazhab, atau keadaan al-halah dan bermakna tiang tempat berteduh, tongkat, payung (amud al-mizalah). Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 H), menulis pengertian tarekat adalah metode khusus yang dipakai oleh sâlik (orang-orang berjalan) menuju Allãh Ta’ala melalui tahapan-tahapan melewati maqamat-maqamat. Kata tarekat seringkali disandingkan dengan syari’ah dan tasawuf. Tarekat tidak membicarakan filsafat

tasawwuf, tetapi merupakan amalan (tasawwuf) atau prakarsanya. Pengamalan tarekat merupakan suatu

kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariat Islam dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya, baik yang bersifat ritual maupun sosial, yaitu dengan

Ibnu Manzur, Lisân al-Arab, (Bairut: Dar Ihya al-Turats al'Araby. T.th ), h. 155.

38

menjalankan praktek-praktek dan mengerjakan amalan yang bersifat sunnah, baik sebelum maupun sesudah sholat wajib, dan mempraktekkan riyadhoh. Penggunaan kata tarekat kemudian secara

terminologis ditujukan pada suatu organisasi sosial maupun kewajiban-kewajiban yang ditujukan untuk maksud khusus yang menjadi basis ritual dan struktur kelompok. Maka kelompok sufi atau tarekat mencakup spektrum aktivitas yang luas dalam sejarah dan masyarakat muslim. 39 Pengertian tarekat dalam arti membina Tarbiyah ini dapat dijumpai dalam tulisan al-Junaid (w.819), alHallâj (w.922), al-Sarâjj (w.988), al-Hujwirî (w.1072), dan al-Qusyairî (w.1074). Maka dengan demikian tarekat abad ke 9 dan 10 M lebih berorientasi pada perorangan (individu) utamanya. Tarekat dalam pengertian lain sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) tumbuh sejalan dengan semakin mantapnya berbagai-bagai teori dan amalanamalan sufistik. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan hubungan Syeikh dan murîd sejak abad ke-10 dengan kehidupan sufistik sebagai ciri

John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Moderen, jilid 5 (Bandung , Mizan, 2001), h. 215. 24

39

dengan adanya hubungan yang lebih formal melalui lembaga zâwiyah, rîbâth, atau khânaqâh sebagai pusat kegiatannya. Selanjutnya lahir pula konsep ijâzah, silsîlah yang semua ditujukan untuk menopang kokohnya sistem persaudaraan sufi yang telah melembaga itu. Bahkan, pada masa-masa berikutnya, seorang murid tidaklah sekedar pengikut syaikh akan tetapi mereka juga harus menerima bai’ah (sumpah setia) kepada sang Syeikh ataupun pendiri tarekat sesuai dengan garis lurus silsîlah yang diterimanya dari Syeikh, maka dengan begitu seorang murid

memperoleh legitimasi dalam pengetahuan tarekat dan jalinan silsîlah persaudaraan, yang berarti sudah berada dalam satu keluarga besar tarekat yang dimasukinya. Pada abad ke 12 tarekat dalam pengertian paguyuban ini semakin mapan, maka kemudian tarekat menjadi suatu komunitas dari orang-orang yang diikat sejumlah aturanaturan tertentu (misalnya gaya hidup, amalan-amalan keagamaan khusus, bahkan cita-cita) dalam bingkai syarî’ah. Dari sinilah kemudian tarekat menjadi sesuatu yang menggejala seantero dunia Islam, lebih-lebih lagi ketika kondisi sosial politik ummat Islam memberikan ruang yang cukup tumbuhnya kehidupan sufistik,

disebabkan jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu Khan di

25

abad ke-13. Kemudian muncullah beberapa tarekat sesuai dengan nama tokoh pendirinya.

B. Makna Tasawuf Pentingnya pembahasan tentang tarekat tidak dapat dilepaskan dari tasawuf. Nicholson, seorang orientalis yang kompeten dalam bidang ini, menjelaskan bahwa sufisme bukanlah sistem yang tersusun atas aturan atau sains, namun menurutnya adalah merupakan aturan moral. Bila tasawuf merupakan sebuah sains, tentu hanya akan di ketahui melalui serangkaian instruksi, sedangkan akhlak kepada Tuhan tidak akan dapat di wujudkan hanya melalui serangkaian aturan atau sains. 40 Tarekat merupakan bagian terpenting daripada pelaksanaan tasawuf. Mempelajari tasawuf dengan tidak mengetahui dan melakukan tarekat merupakan suatu usaha yang hampa. Hamka juga mendifinisikan tasawuf, ialah keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang mulia atau terpuji. 41 Dalam tasawuf diterangkan bahwa syari’at itu hanya peraturan belaka,
Mahfud Junaidi dalam MEDIA, Jurnal Ilmu dan Pendidikan Islam, Benang Merah Sufisme dan Pendidikan Dalam Islam,Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2000, hal. 38. 41 HAMKA, Tasawuf Modern, Pustaka Panjimas, Jakarta, 2000, hal. 13 26
40

tarekatlah yang merupakan perbuatan untuk melaksanakan syariat itu, apabila tarekat dan tasawuf sudah dapat dikuasai, maka lahirlah hakikat yang tidak lain dari pada perbaikan keadaan atau ahwal, sedang tujuan yang terakhir ialah ma’rifat yaitu mengenal dan mencintai Tuhan dengan sebaik-baiknya. 42 Ibnu tasawuf Khaldun mengungkapkan, adalah pola dasar

kedisiplinan beribadah, konsentrasi

tujuan hidup menuju Allah (untuk mendapatkan ridlaNya), dan upaya membebaskan diri dari keterikatan mutlak pada kehidupan duniawi, sehingga tidak

diperbudak harta atau tahta, atau kesenangan duniawi lainnya. Beberapa ciri tasawuf yang merupakan ajaran terpenting adalah 43: 1. Peningkatan moral. Setiap tasawuf memiliki nilai-nilai moral tertentu yang bertujuan untuk membersihkan jiwa, untuk perealisasian nilai-nilai itu. 2. Pemenuhan fana’ dalam realitas mutlak. Yang dimaksud fana’ adalah kondisi seorang sufi dimana seorang sufi tidak lagi merasakan adanya diri ataupun
42

Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1976), h. 57. 43 Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ila alTashawwuf al-Islam,Terjemahan, cetakan keempat, Pustaka, Bandung, 1985, h. 138-139 27

keakuannya, bahkan dia merasa kekal abadi dalam realitas yang tertinggi, dia telah meleburkan

kehendaknya begai kehendak yang mutlak. 3. Pengetahuan intuitif langsung. Para sufi berkeyakinan atas terdapatnya metode yang lain bagi pemahaman hakikat realitas di balik persepsi inderawi dan penalaran intelektual yang disebut dengan kasf atau intuisi. 4. Ketentraman dan kebahagiaan. Tasawuf diniatkan sebagai pengenadali berbagai dorongan hawa nafsu dan pembangkit keseimbangan psikis bagi diri seorang sufi. 5. Penggunaan simbol dalam ungkapan-ungkapan. Ini mengandung dua pengertian. Pertama, pengertian yang di timba dari harfiah kata-kata. Kedua, pengertian di peroleh dari analisa yang mendalam. Nilai-nilai tasawuf sebagai kesederhanaan dan kezuhudan sudah terlihat di masa sahabat oleh Abu Dzar al Ghifari ra. Dalam suatu kunjungan ke Da`maskus pada 32 H/652 M, Abu Dzarr menyaksikan Gubernur Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan membangun istana gubernur yang sangat megah. Abu Dzarr berkata kepada Mu’awiyah, "Kalau engkau membangun istana dengan hartamu, itu berlebih-

28

lebihan. Kalau engkau membangun dengan harta rakyat, engkau berkhianat." Karena kritiknya yang pedas itu, Abu Dzarr ditangkap dan dikirim oleh Mu’awiyah kepada Khalifah Utsman di Madinah. Oleh Khalifah Utsman, Abu Dzarr beserta keluarganya dibuang ke Rabadzah, sebuah padang gersang jauh di luar kota Madinah. Dalam perjalanan menuju pembuangan itu, Ali ibn Abi Talib, sahabatnya yang turut mengantarnya di samping para petugas berkata, "Wahai Abu Dzarr, engkau takut kepada mereka karena dunianya. Mereka takut kepada engkau karena

keyakinanmu." Kecenderungan seperti ini secara umum terjadi pada kalangan kaum muslim angkatan pertama. Pada angkatan berikutnya (abad 2 H) dan seterusnya, secara berangsurangsur terjadi pergeseran nilai sehingga orientasi

kehidupan duniawi menjadi lebih berat. Ketika itulah angkatan pertama kaum muslim yang mempertahankan pola hidup sederhananya lebih dikenal sebagai kaum sufiyah. Sufi-sui besar yang mengajarkan tarekat kepada murid, secara individual dan kolektif. Para murid berkumpul dan melakukan latihan bersama-sama dibawah bimbingan guru mursyid. Inilah cikal bakal tarekat sebagai

29

organisasi sufi. Sejak itu mucullah dalam sejarah kumpulan sufi dengan seorang sufi yang bertindak sebagai guru tertinggi dan disebut syaikh atau Mursyid. Kumpulan ini kemudian berkembang dalam bentuk organisasi dengan peratuarn sendiri sejak abad ke-20 M. Mengenai kelompok tasawuf ada dua pendapat. Pertama, mereka adalah kelompok spiritual dalam umat Islam yang berada di tengah-tengah dua kelompok lainnya yang disebut kelompok formal dan kelompok Intelektual. Kelompok intelektual ini terdiri dari ulama-ulama

mutakallim (ahli teologi), sedangkan kelompok formal terdiri dari ulama-ulama muhaddits dan fuqaha. Kedua, bahwa tasawuf itu hanyalah suatu kecenderungan spiritual yang membentuk etika moral dan lingkungan sosial khusus. Sehingga seharusnya dikatakan seorang

muhaddttsin sekaligus juga ulama sufiyah, begitu pula seorang mutakallimin sekaligus juga ulama sufiyah.44

C. Tasawuf dan Tarekat di Indonesia Sejarah mencatat bahwa para pendakwah yang datang ke Indonesia berasal dari Gujarat India yang
Syari'ah, Thariqah, Haqiqah, dan Ma'rifah Ali Yafie, http://www.tasawufpositif.com/qudwah/bimbingan-fiqhdalam-tasawuf/49-syariah-thariqah-haqiqah-dan-marifah.html 30
44

kebanyakan nenek moyang mereka adalah berasal dari Hadlramaut Yaman. Negara Yaman saat itu, bahkan hingga sekarang, adalah “gudang” al-Asyrâf atau alHabâ’ib; ialah orang-orang yang memiliki garis keturunan dari Rasulullah. Karena itu pula para wali songo yang tersebar di wilayah Nusantara memiliki garis keturunan yang bersambung hingga Rasulullah. Yaman adalah pusat kegiatan ilmiah yang telah melahirkan ratusan bahkan ribuan ulama sebagai pewaris peninggalan Rasulullah. Kegiatan ilmiah di Yaman memusat di Hadlramaut. Berbeda dengan Iran, Libanon, Siria, Yordania, dan beberapa wilayah di daratan Syam, negara Yaman dianggap memiliki tradisi kuat dalam memegang teguh ajaran Ahlussunnah. Mayoritas orangorang Islam di negara ini dalam fikih bermadzhab Syafi’i dan dalam akidah bermadzhab Asy’ari. Bahkan hal ini diungkapkan dengan jelas oleh para para tokoh terkemuka Hadlramaut sendiri dalam karya-karya mereka. Salah satunya as-Sayyid al-Imam ‘Abdullah ibn ‘Alawi alHaddad, penulis ratib al-Haddad, dalam Risâlah alMu’âwanah mengatakan bahwa seluruh keturunan asSâdah al-Husainiyyîn atau yang dikenal dengan Al Abi ‘Alawi adalah orang-orang Asy’ariyyah dalam akidah dan

31

Syafi’iyyah

dalam

fikih.

Dan

ajaran

Asy’ariyyah

Syafi’iyyah inilah yang disebarluaskan oleh moyang keturunan Al Abi ‘Alawi tersebut, yaitu al-Imâm alMuhâjir as-Sayyid Ahmad ibn ‘Isa ibn Muhammad ibn ‘Ali ibn al-Imâm Ja’far ash-Shadiq. Dan ajaran

Asy’ariyyah Syafi’iyyah ini pula yang di kemudian hari di warisi dan ditanamkan oleh wali songo di tanah Nusantara.45 Wali songo yang terdiri dari Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Gresik, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati adalah sebagai tokoh-tokoh terkemuka dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara. Tokoh-tokoh melegenda ini hidup di sekitar pertengahan abad sembilan hijriah. Artinya Islam sudah bercokol di wilyah Nusantara ini sejak sekitar 600 tahun lalu, bahkan mungkin sebelum itu. Pasca wali songo, pada permulaan abad ke tiga belas hijriah, di salah satu kepulauan di wilayah Nusantara lahir sosok ulama besar. Di kemudian hari tokoh kita ini sangat
45

Sekilas Perkembangan Tasawuf dan Tarekat Di Indonesia (Ulama Ahlussunnah Adalah Kaum Sufi Sejati) http://www.alimancommunity.com/2011/05/sekilas-perkembangan-tasawufdan.html 32

dihormati tidak hanya oleh orang-orang Indonesia dan sekitarnya, tapi juga oleh orang-orang timur tengah, bahkan oleh dunia Islam secara keseluruhan. Beliau menjadi guru besar di Masjid al-Haram dengan gelar “Sayyid ‘Ulamâ’ al-Hijâz”, juga dengan gelar “Imâm ‘Ulamâ’ al-Haramain”. Berbagai hasil karya yang lahir dari tangannya sangat populer, terutama di kalangan pondok pesantren di Indonesia. Beberapa judul kitab, seperti Kâsyifah al-Sajâ, Qâmi’ al-Thughyân, Nûr alZhalâm, Bahjah al-Wasâ’il, Mirqât Shu’ûd al-Tashdîq, Nashâ’ih al-‘Ibâd, dan Kitab Tafsir al-Qur’an Marâh Labîd adalah sebagian kecil dari hasil karyanya. Kitab-kitab ini dapat kita pastikan sangat akrab di lingkungan pondok pesantren. Santri yang tidak mengenal kitab-kitab tersebut patut dipertanyakan “kesantriannya”. Tokoh kita ini tidak lain adalah Syaikh Nawawi alBantani. Kampung Tanara, daerah pesisir pantai yang cukup gersang di sebelah barat pulau Jawa adalah tanah kelahirannya. Beliau adalah keturunan ke-12 dari garis keturunan yang bersambung kepada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) Cirebon. Dengan demikian dari silsilah ayahnya, garis keturunan Syaikh Nawawi

bersambung hingga Rasulullah.

33

Perjalanan

ilmiah

yang

beliau

lakukan

telah

menempanya menjadi seorang ulama besar. Di Mekah beliau berkumpul di “kampung Jawa” bersama para ulama besar yang juga berasal dari Nusantara, dan belajar kepada yang lebih senior di antara mereka. Di antaranya kepada Syaikh Khathib Sambas (dari Kalimantan) dan Syaikh ‘Abd al-Ghani (dari Bima NTB). Kepada para ulama Mekah terkemuka saat itu, Syaikh Nawawi belajar di antaranya kepada as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (mufti madzhab Syafi’i), as-Sayyid Muhammad Syatha adDimyathi, Syaikh ‘Abd al-Hamid ad-Dagestani, dan lainnya. Dari didikan tangan Syaikh Nawawi di kemudian hari bermunculan syaikh-syaikh lain yang sangat populer di Indonesia. Mereka tidak hanya sebagai tokoh ulama yang “pekerjaannya” bergelut dengan pengajian saja, tapi juga merupakan tokoh-tokoh terdepan bagi perjuangan kemerdekaan RI. Di antara mereka adalah; KH. Kholil Bangkalan (Madura), KH. Hasyim Asy’ari (pencetus gerakan sosial NU), KH. Asnawi (Caringin Banten), KH. Tubagus Ahmad Bakri (Purwakarta Jawa Barat), KH. Najihun (Tangerang), KH. Asnawi (Kudus) dan tokohtokoh lainnya.

34

Para ulama inilah yang kemudian menjadi cikal bakan berdirinya pesantren-pesantren yang selain

menunjukkan keIslaman dengan pendidikannya juga menunjukkan berbagai kehidupan sufi dan tarekatnya. Menurut Alwi Shihab awal berdirinya pesantren

memperkenalkan suatu kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan di lingkungan setempat, kemudian terjadi interaksi antar kedua kebudayaan tersebut, dan yang pertama mempengaruhi yang kedua sehingga dalam perkembangannya masyarakat menjadi bagian dari kebudayaan tersebut dan loyal kepadanya.46 Tradisi kehidupan kesederhanaan yang diperlihatkan kaum sufi (tarekat) ini dalam bentangan sejarah Islam kemudian tertransformasikan lewat pembinaan di pojokpojok masjid (zâwiyah), ribâth-ribâth dan rumah-rumah guru. Dan dari sinilah muncul cikal bakal proses pembinaan yang lebih terlembagaformalkan. Meskipun awal penyebaran Islam berasal dari Hadramaut Yaman, namun diyakini dua masjid agung di Makkah dan Madinah dipastikan sebagai lokus terpenting bagi para ulama dan murid untuk terlibat dalam jaringan ilmu keilmuan sejak

Alwi Shihab, Islam Sufistik:: Islam Pertama dan Pengaruhnya hingga Kini di Indonesia (Bandung: Mizan, 2001), h. 215. 35

46

dekade abad ke-15 dan selanjutnya47. Instrumen-instrumen pembinaan yang merupakan media penguatan sistem sosio-organik seperti; bai’at dan talqin, riyadlah,

khataman, manaqiban serta haul adalah simbol-simbol yang dimiliki Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang berfungsi sebagai dengan Allah instrumen untuk mendekatkan diri min Allah) dan membangun

(habl

komunikasi interaktif dengan sesama (habl min al-nas).

D. Jenis-Jenis Tarekat dan Ajarannya Tarekat merupakan salah satu solusi yang akan mampu memberikan pemahaman terhadap ajaran-ajaran yang belum dapat di pahami oleh khalayak umum, khususnya adalah orang-orang yang sudah lanjut usia yang tidak mempunyai pengetahuan dan pemahaman dalam bidang tersebut. Karena yang merupakan salah satu dari ciri hidup kesufian adalah di dalam memahami al Qur’an mereka selalu menggunakan intuitif yang jernih, sehingga kontekstualitas di dalam memahami makna sebuah ayat selalu hidup dan relevan. 48
Azyumardi Azra, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, Bandung: Mizan, 2002, hal. 64 48 Buletin LPM Edukasi Quantum, melirik Pendidikan Sufistik di Indonesia,Edisi 3/Th.2/XI/2003, Hal. 13. 36
47

Pokok dari semua tarekat itu ada lima : pertama mempelajari ilmu pengetahuan yang bersangkut paut dengan pelaksanaan semua perintah, kedua mendampingi guru-guru dan teman setarekat untuk melihat bagaimana cara melakukannya sesuatu ibadah, ketiga meninggalkan segala rukhsah dan takwil untuk menjaga dan memlihara kesempurnaan amal. Keempat menjaga dan mempergunakan waktu serta mengisikanya dengan segala wirid dan doa guna mempertebal khusyu dan khudur, dan kelima mengekang diri, jangan sampai keluar melakukan hawa nafsu dan supaya diri itu terjaga dari pada kesalahan. Pendidikan seperti diatas kalau kita lihat dalam kerangka pendidikan tasawuf dapat di pahami sebagai bentuk pendidikan keagamaan yang bersifat pribadi bagi seorang murid (salik), yang di berikan oleh seorang guru (mursyid). Keberadaan guru tarekat dalam sebuah tarekat amat penting, bahkan sangat mutlak. Keberadaan Mursyid atau Syekh bagaikan Nabi Muhammad SAW. tarekat dalam arti ajaran adalah jalan yang harus di tempuh oleh kaum sufi dalam berusaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ajaran-ajaran yang telah ditentukan dan

dicontohkan oleh ulama- ulama sebelumnya sebagai upaya

37

untuk penyucian hati dari sesuatu selain Allah, dan untuk menghiasi dzikir kepada Allah. 49 Munculnya tarekat (al-thuruq al-shufiyah) itu dalam sejarah perkembangan gerakan tasawuf Dr. Kamil

Musthafa al-Syibli dalam tesisnya tentang gerakan tasawuf dan gerakan syi'ah mengungkapkan, tokoh pertama yang memperkenalkan sistem thariqah (tarekat) itu Syekh Abdul Qadir al-Jilani (w. 561 H/1166 M) di Baghdad. Ajaran tarekatnya menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam, yang mendapat sambutan luas di Aljazair, Ghinia dan Jawa. Sedangkan di Mesir, tarekat yang banyak

pengikutnya Tarekat Rifa'iyyah yang dibangun Sayid Ahmad al-Rifa'i. Dan tempat ketiga diduduki tarekat ulama penyair kenamaan Parsi, Jalal al-Din al-Rumi (w. 672 H/1273 M). Beliau membuat tradisi baru dengan menggunakan alat-alat musik sebagai sarana dzikir. Kemudian sistem ini berkembang terus dan meluas. Dalam periode berikutnya muncul tarekat al-Syadziliyah yang mendapat sambutan luas di Maroko dan Tunisia

Al Ghozali, Ikhya Ulum al Din, Juz I, Dar Al Ma’arif, Bairut, hlm. 68 38

49

khususnya, umumnya.50

dan

dunia

Islam

bagian

Timur

pada

Adapun tarekat-tarekat tersebut antara abad ke-12 sampai abad ke-16 lahirlah empat belas tarekat yang merupakan tarekat asli. Tarekat ini adalah tarekat Qadiriyah (W. 1166), Suhrawardiyah (W. 1167), Rifai’yah (W. 1175), Chishtiyya (W. 1236), Shadziliyah (W. 1256), Maulawiyah Dasuqiyyah (W. (W. 1273), 1277), (W. (W. Badawiyah Sa’idiyyah (W. (W. 1276), 1335) (W.
51

Naqsabandiyah

1388), 1569)

Khalwatiyyah dan

1397),Sha’baniyyah

Uwaissiyah.

Beberapa tarekat yang dapat dijelaskan adalah : 1. Tarekat Hadadiyah. Tarekat yang didirikan oleh Habib Abdullah bin Alwi Al Hadad yang wafat thn 1095 M di Yaman. Banyak orang yang takut ikut tarekatnya berhubung ratibnya yang terkenal, Ratib al hadad, dipercayai sebagai doa selamat yang bermantra. Pengaruhnya tak hanya di Aceh, tapi hampir di seluruh negara Indonesia.

KH Ali Yafie, Syari'ah, Thariqah, Haqiqah Dan Ma'rifah (hal. 181) http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/islam/Paramadina/Konteks/ TasawufAY.html Jangan memvonis aliran http://www.kocarkacir.info/?p=578 39
51

50

tarekat

dan

tasawuf

sesat

2.

Tarekat Khalwatiyah. Tarekat yang di propagandakan dalam abad -18 oleh Syaikh Musthofa al Bakri di Mesir dan Suriah. Salah seorang tokoh tarekat ini ialah Ahmad At Tijani yang berasal dari Aljazair.

3.

Tarekat Mu'tabaroh Nahdliyin. Para kiai pada tanggal 10 Oktober 1957 M mendirikan suatu badan federal bernama Pucuk Pimpinan Jam'iyah Ahli Tarekah Mu'tabaroh, sebagai tindak lanjut keputusan Muktamar NU 1957 di Magelang. Belakangan dalam muktamar NU 1979 di Semarang ditambahkan kata Nahdliyin, untuk menegaskan bahwa badan ini tetap berafiliasi kepada NU. Dalam anggaran dasarnya dinyatakan bahwa badan ini bertujuan :\ a. Meningkatkan pengamalan syareat Islam di kalangan masyarakat. b. Mempertebal kesetian masyarakat kepada ajaranajaran dari salah satu madzhab yang empat. c. Menganjurkan para anggota agar meningkatkan amalan-amalan ibadah dan mu'amalah, sesuai dengan yang dicontohkan ulama' sholihin.

40

Alasan ulama' mendirikan badan federasi ini adalah untuk membimbing organisasi-organisasi tarekat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan yang sesuai dengan Al Qur'an dan hadist dan untuk mengawasi organisasi-organisasi tarekat agar tidak menyalahgunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak di benarkan oleh ajaran-ajaran agama. 4. Tarekat Maulawiyah. Tarekat yang didirikan oleh Maulawi Jalaluddin Ar Rumi, meninggal dunia di Anatolia, Turki. Dzikirnya disertai tarian mistik dengan cara keadaan tak sadar, agar dapat bersatu dengan Tuhan. Penganut-

penganutnya bersifat pengasih dan tidak mengharapkan kepentingan diri sendiri, serta hidup sederhana menjadi teladan bagi orang lain. 5. Tarekat Naqsabandiyah. Tarekat ini mula-mula didirikan di Turkistan oleh Bahauddin Naqsyabandy (sumber lain menyebutkan, Muhammad bin Muhammad Bahauddin Al Bukhori 1317-1389 M, bukan imam Al Bukhori perowi hadits), dan di Indonesia tarekat yang paling berpengaruh. Pada umumnya tarekat ini paling banyak pengikutnya di Jawa sejak abad ke-19 sampai saat ini.

41

Terekat ini adalah tarekat terbesar di dunia, juga di Indonesia,dan di anggap paling terawat baik. Ada seleksi untuk jadi pengikutnya. Markasnya di Jawa ada di Jombang, Semarang dan Sukabumi serta Labuhan Haji (Aceh) di Pesantren Syaikh Waly, Khalidi. 6. Tarekat Qadiriyah. Asal mulanya di Baghdad, dan dipandang paling tua. Pendirinya ialah Syaikh Abdul Qadir al Jailani (10771166 M). Mula-mula ia seorang ahli bahasa dan fiqih dari Madzhab Hambali. Pelajaran tarekat Qadariyah tidak jauh berbeda dari pelajaran Islam pada umumnya. Hanya saja tarekat ini mementingkan kasih sayang terhadap semua makhluq, rendah hati dan menjahui fanatisme dalam keagamaan maupun politik. Keistemewaan tarekat ini ialah dzikir dengan menyebut-nyebut terlalu nama Tuhan. Tuhan Kaum dengan

Qadariyah

menyamakan

manusia. Paham Qadariyah pada hakikatnya adalah sebagian dari paham Mu'tazilah, karena imamimamnya dari Mu'tazilah. Ada anggapan bahwa membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani pada tanggal 10 malam tiap bulan

42

bisa melepaskan kemiskinan. Karena itu manaqibnya popular baik di Jawa maupun di Sumatra. Kadangkala Naqsabandiyah Naqsabandiyah. tarekat ini digabung terekat halnya di dengan Qadiriyah Suryalaya

menjadi Seperti

(Tasikmalaya Jawa Barat, dipimpin Abah Anom yang sering dikunjungi Harun Nasutiaon, Dan Jombang (Jawa Timur). 7. Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Gabungan ajaran dua tarekat, yaitu tarekat Qadariyah dan tarekat Naqsabandiyah, Secara etimologis TQN berasal dari dua istilah yakni tarekat Qadiriyyah dan Naqsabandiyyah. Secara eksplisit kedua tarekat ini dipadukan oleh seorang maha guru tarikat, yaitu Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Qadiriyyah adalah nama sebuah tarekat yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Sultan al-Auliya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Sementara Naqsabandiyah adalah tarekat yang dinisbahkan kepada pendirinya, yaitu Syaikh Bahauddin an-Naqsabandi. Tarekat ini merupakan sarana yang sangat penting bagi penyebaran agama Islam di Indonesia dan Malaya dari pusatnya di

43

Makkah antara pertengahan abad ke-19 sampai dengan perempatan pertama abad ke-20. Syekh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang sangat disegani pada masanya dan menjadi panutan dari murid-murid (penuntut ilmu) khususnya yang berasal dari Nusantara. Beliau berasal dari Sambas, Kalimantan Barat dan tinggal di Makkah sampai wafat disana sekitar tahun 1878.52 Jabatan guru di dalam tarekat tidak boleh di emban oleh sembarang orang. Ia merupakan orang pilihan yang telah berhasil menguasai pokok ajaran ilmu tarekat. Dalam pada itu juga peranan guru di dalam tarekat juga merupakan sosok yang wajib di hormati, di patuhi dan tidak boleh di ganggu gugat.53 Sebagai seorang guru tarekat, ia mengangkat khalifah yang sewaktu-waktu menjadi asistennya dalam memperlancar proses transformasi ajarannya. Mereka para khalifah tersebut adalah tiga orang yang dianggap paling berpengaruh dan menonjol yaitu; Syekh Abdul
Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia Survei Historis,Geografis dan Sosiologis, Mizan, Bandung, 1992, h. 91. 53 Drs. Saifudin Zuhri, MA., Pengaruh Tarekat di Dunia Islam, Makalah disampaikan dalam diskusi bulanan dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, tanggal 28 Nopember 1994, hal. 4. 44
52

Karim yang berasal dari Banten, Syekh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad yang berasal dari Madura, dan Syekh Tholhah yang berasal dari Cirebon.
54

Disamping itu ada beberapa khalifah-nya yang kurang begitu penting; Muhammad Ismail ibn Ibrahim dari Bali, Syekh Yassin dari Kedah (Malaysia), dan juga beberapa orang yang berjasa dalam mengembangkan ajarannya yaitu; Haji Ahmad Lampung, dan

Muhammad Ma’ruf ibn ‘Abdullah Khatib dari Palembang. 55 Tarekat Qadiriyyah wa an-Naqsabandiyah (TQN) adalah salah satu aliran dalam tasawuf yang substansi ajarannya merupakan gabungan dari dua tarekat, yaitu Qadiriyyah dan Naqsabandiyah. Secara keilmuan, dari akidah lahir ilmu aqaid, tauhid, teologi Islam, dan ilmu kalam, dari syariat lahir ilmu fikih dengan segala cabangnya dan dari aspek hakikat lahir ilmu tasawuf dan tarekat Al-Gazali biasanya menggunakan istilah tauhid, fikih, dan tasawuf untuk memberikan padanan pada ketiga aspek akidah, syariat, dan hakikat. Menurut Elizabeth K. Notingham simbol-simbol
Dadang Rahmad, Tarekat Dalam Islam Spiritualitas Masyarakat Modern, ( Bandung: Pustaka Setia, 2002 ), 100 55 Martin Van Bruinessen, Tarekat.., h. 92.. 45
54

tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah fungsinya lebih besar untuk mempersatukan komunitas ketimbang definisi-definisi intelektual yang sering memiliki keterbatasan arti56 8. Tarekat Rifaiyah. Didirikan oleh Syaikh Ahmad bin Ali Abul Abas (wafat 578 H/1183 M). Syaikh Ahmad yang konon guru Syaikh Abdul Qadir jailani, begitu asyik berdzikir hingga tubuhnya terangkat keatas angkasa. Tangannya menepuk-nepuk dadanya. Kemudian Allah memerintahkan kepada bidadari-bidadari untuk

memberinya rebana di dadanya, daripada menepuknepuk dada. Tapi syaikh Ahmad tidak ingat apa-apa, begitu khusuknya, sehingga ia tidak mendengar suara rebananya yang nyaring itu. Padahal seluruh dunia mendengar suara rebana itu. Terakat ini agak fanatik dan anggotanya dapat melakukan hal-hal yang ajaib, misalnya makan pecahan kaca, berjalan di atas api, dan sebagainya. Rifaiyah, yang memang merinci tarekatnya dengan rebana, di Acah dulu pernah berkembang besar dan

Elizabeth K Notingham, Sosiologi Agama , ( Jakarta: Rajawali, 1990), h. 16-17 46

56

disebut Rapa'i sudah sulit mencarinya yang asli, yang masih berpegang teguh pada ajaran. 9. Tarekat Samaniyah. Tarekat yang dikenal di Jawa Barat dan Aceh, didirikan oleh Syaikh Muhammad Saman dari Madinah, Arab Saudi yang wafat tahun 1702 M. Manaqib (riwayah hidup) Syaikh Saman banyak di baca orang yang mengharap berkah. Manakib itu ditulis oleh Syaikh Siddiq al madani, murid beliau. Disitu tertulis "barang siapa berziyarah ke makam Rosulullah tanpa meminta izin kepada Syaikh Saman ziarahnya sia-sia. Juga disebutkan "siapa yang menyeru nama Syaikh tiga kali, hilang kesedihannya. Siapa yang makan makanannya masuk surga. Siapa yang berziarah kemakamnya serta membaca doa-doa untuknya, diampuni dosanya. Tarekat Saman sekarang menjadi tari Seudati di Aceh. Dzikir Saman mulanya hampir sama dengan dzikir-dzikir yang lain. Namun kemudian berkembang menjadi dzikir yang ekstrim. 10. Tarekat Sanusiah. Tarekat yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Ali as Sanusi, tahun 1837 M, di Aljazair, meninggal dunia tahun 1957 M. pusat tarekat ini di Libia.

47

11. Tarekat Siddiqiyah. Asal usul tarekat ini tidak begitu jelas, dan tidak terdapat di negara-negara lain. Muncul dan

berkembang di Jombang, Jawa Timur, dimulai oleh kegiatan Kiai Mul\khtar Mukti yang mendirikan tarekat ini tahun 1953. 12. Tarekat Syattariah. Tarekat yang dibangun oleh Syaikh Abdullah Syattari di India. Tarekat ini di Jawa masih ada, misalnya di sekitar Madiun. Di Aceh dulu mengalami puncaknya di zaman Sultanah (ratu) Safiatuddin. Tarekat ini dibawah oleh Syaikh Abdurrouf Singkil kemudian menggelar Syiah Kuala. 13. Tarekat Syaziliah. Tarekat yang didirikan oleh Ali As Syazili, terdapat di Afrika Utara, Arab dan Indonesia, walaupun tidak luas tersebarnya dan pengaruhnya relative kecil. 14. Tarekat Tijaniyah. Tarekat yang didirikan oleh Ahmad at Tijani. Tarekat ini dengan cepat meluas di Afrika Barat dan dinegaranegara lain, diantaranya Indonesia. Di Afrika tarekat ini telah banyak yang mengislamkan orang-orang Negro. yang

48

15. Tarekat Wahidiyah. Tarekat yang ini didirikan oleh Kiai Majid Ma'ruf di Kedonglo, Kediri Jawa Timur, 1963 M. Teoritis tarekat ini terbuka sifatnya, karena orang tidak usah mengucapkan sumpah untuk menjadi anggota, siapa saja yang mengamalkan Dzikir salawat Wahidiyah sudah dianggap sebagai anggota. Motivasi mendirikan tarekat ini adalah meningkatkan ketaatan orang Islam kepada perintah-perintah agama. Pendirinya menganggap masyarakat Jawa dewasa ini mengalami kekosongan agama dan kejiwaan. Itulah sebabnya ia mengajak masyarakat islam agar meningkatkan

ketaqwaannya kepada Tuhan dengan setiap kali mengucapkan dzikir, ( fafirruu ila llaha ) "marilah kita kembali kepada Allah" (lihat Tasawwuf Belitan Iblis hal:119-127). Selain memahami beberapa jenis tarekat tersebut, perlu pula memahami beberapa kriteria Tariqah

Mu’tabaroh antara lain : 1. Silsilah, Hirqah dan Wasiat Silsilah bagi seorang syaikh atau guru tarikat yang acap kali dinamakan mursyid, karena ia memberi petunjuk kepada murid-muridnya, merupakan syarat

49

terpenting untuk mengajarkan atau memimpin suatu tarikat, hendaklah mengetahui sungguh-sungguh nisbah atau hubungan guru-guru itu sambung-bersambung antara satu sama lain sampai kepada nabi. Karena yang demikian itu dianggap perlu dan tidak boleh tidak, sebab bantuan kerohanian yang diambil dari gurugurunya harus benar, dan jika tidak benar tidak berhubungan dengan Nabi, maka bantuan itu dianggap terputus dan tidak merupakan warisan daripada Nabi. Silsilah itu merupakan hubungan nama-nama yang sangat panjang, yang satu bertali dengan yang lain, biasanya tertulis rapi dengan bahasa arab diatas sepotong kertas yang diserahkan kepada murid terekat, sesudah ia melakukan latihan dan amal-amal, dan sesudah menerima petunjuk-petunjuk, irsyad dan

peringatan-peringatan, talkin, dan sesudah membuat janji untuk tidak melakukan maksiat-maksiat yang dilarang oleh gurunya, ahd dan menerima ijazah atau hirqah, sebagai tanda boleh meneruskan lagi pelajaran terekat itu kepada orang lain. Sebagi contoh silsilah Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi, salah seorang syeh terekat naqsabandiyah terkenal, Mgl. 1332 H.

pengarang kitab Tanwirul Qulub, yang menerangkan

50

bahwa ia mengambil terekat Naqsabandiyah itu dari syaikh Umar, yang mengambil dari ayahnya Usman, selanjutnya sambung menyambung mengambil dari syaikh kholid, Syaih abdulloh ad-Dahlawi, dari

habibbulloh janjanan Mazhur, dari Muhammad alBadwani, dari Muhammad Syaifudin, dari Muhammad Ma’sum, dari ayhnya Ahmad al-Faruqi as sarhandi, dari Muhammad al-Baqi Billah, dari Muhammad Khawajiki as-Samarqandi, dari ayahnya Darwis Muhammad assamarqandi, dari Muhammad az-Zahid, dari Ubaidillah as-Samarqandi, dari Zaqubal-Jarkhi, dari Muhammad bin Muhammad “alauddin al-ahtar al-Bukhari alkhawarismi, yang mengambil dari pencipta terekat Naqsabandiyah sendiri, bernama Syahnaqsaban sendiri, bernama Syahnaqsaban Bahauddin Muhammaddin Muhammad al-Uwaisi al-Bukhari, yang mengambil pula dari Amir kalal, dari Muhammad Baba as-Samasi, dari Ali ar-Ramitani, yang termasyhur dengan nama syaikh Azinan, dari syaih Mahmud al-anjir Faghnawi, dari syekh Ari far-Riyukiri, dari Syaih Abdul Khaliq alKhojuwani dari Syaikh Abu Yaqub yusuf al-Hamadani, dari Syaikh Abu Ali al-Fadhol at-Thussi, dari Syaikh Abul Hasan Ali bin ja’far al harqani dari syaikh Abu

51

Yazid Taifur al-Bistami, dari Imam Ja’far as-Shadiq, dari Qassim bin Muhammad bin Abu Bakar assidiq dari salman al-Farisi, sahabat Nabi yang mengambil pula dari Abu Bakar as-Siddiq sahabat Nabi dan Khalifah yang pertama, yang akhirnya mengambil dari Nabi Muhammad SAW, yang menerima pula melalui jibril dari Allah SWT. Jika seorang mursyid mempunyai silsilah

semacam itu, maka berhaklah ia mengajar tarekat tersebut kepada orang lain. Perbedaan antara ijazah dan khirqah kadang-kadang terletak pada perbedaan bentuk, ijazah biasanya merupakan surat keterangan yang memberikan kekuasaan pada seseorang untuk

selanjutnya mengajarkan tarekat itu kepada orang lain, baik bersama-sama dengan beberapa wasiat dan nasehat, Khirqah kadang-kadang merupakan sepotong kain atau pakaian dari bekas gurunya, yang biasanya oleh murid dianggap setengah suci dan menjadi kenag0kenangan baginya. Wasiat dan nasehat merupakan suatu kesenian susunan kata-kata yang indah, yang dapat member kesan yang dalam kepada orang yang dinasehati, dan dapat menjadi tali ikatan peraudaraan yang kokoh yang

52

tidak akan putus-putus antara guru dan muridnya, antara orang yang member nasehat dengan orang yang dinasehati atau yang menerima wasiat terakhir. 2. Wasilah dan Rabitah. Wasilah atau tawasul acapkali juga kita dengar dalam lmu sufi. Istilah ini, yang kemudian ini mempunyai arti tertentu, pada mulanya hamper dapat diterjemahkan dengan penghubung atau hubungan, khususnya hubungan dengan guru. Yang dijadikan alasan terpokok untuk wasilah ini ialah ayat Qur’an yang menerangkan : “Tuntut olehmu akan wasilah” (Q.S V:35) Kemudian diambil pula perbandingan dari kisah Nabi mi’raj ke langit menemui Tuhanya yang diantaranya melalui malaikat Jibril. Pengantaran ini dianggap wasilah sehingga dalam kalangan ahli tarekat cerita ini lebih terkenal dengan kata-kata : Nabi Muhammad mi’raj hendak bertemu dengan Tuhan berwasilah kepada malaikat Jibril. Sesampai pada sidratul Muntaha malaikat Jibril ditinggalkan disitu, karena Nabi ketika itu hendak masuk ke dalam laut ma’rifatulloh, musyahadah akan Allah yang bersifat laisa kamislihi syai’.

53

Ahli tarekat mengambil ibarat, behwa merekapun ada baiknya jika berwasilah kepada guru atau kepada pengajar pada waktu beribadah kepada Allah. Lalu istilah wasilah itu beroleh arti yang khusus baginya yaitu jalan yang menyampaikan hambanya kepada Allah. Tarekat Naqsabandiyah mengartikan hakekat wasilah itu tabarruk atau mengambil berkat,

sebagaimana yang dikerjakan oleh murid-murid tarekat sebelum melakukan dzikir. Misalnya murid tarekat itu berdo’a : “Ya Allah ! Aku pinta pada-Mu berkat Rasulullah dan berkat guruku, agar engkau memberikan daku ma’rifat dan cinta kasih hatiku kepada-Mu”. Rabitah berarti hubungan atau ikatan, dalam tarekat terbagi menjadi tiga, pertama Rabitah wajib, kedua Rabtah sunat, ketiga Rabitah harus. Adapun Rabitah wajib adalah seperti yang terdapat pada waktu orang sembahyang mewnghadap ke baitullah.

Menghadapkan dada dan muka ke baitullah itu wajib hukumnya karena tidak syah sembahyang jika tidak menghadap ke ka’bah itu, padahal yang disembah bukanlah ka’bah yang dihadapi itu, tetapi Allah sematamata ka’bah hanya menjadi Rabitah wajib.

54

Raabitah sunnah, seperti yangterdapat [pada seseorang ma’mum, yang harus memandang kepada imamnya dalam bersembahyang berjamah. Sekali-kali tidak dimaksudkan bahwa berpalig daripada

menyembah Allah dalam sembahyang. Baik ma’mum atu imam kedua-duanya bersama-sama menyembah Allah. Rabitah harus diterangkan seperti melihat

barang-barang yang baik pada waktu kita hendak mengerjakan sesuatu barang agar baik pula. Dalam kata sehari-hari : meniru mengikuti yang baik-baik. Murid diibaratkan orang buta yang harus mengikuti gurunya yang matanya jelas melihat. Yang dikatakan guru yang mursyid yaitu orang yang telah karam dalam laut muraqabah dan musyahadah berkekalan akan Tuhanya. 3. Mu’jizat dan keramat Orang-orang sufi itu yakin bahwa wli-wali itu mempunyai keistimewaan kelihatan pada dirinya keadaan yang aneh-aneh. Pada saat tertentu mereka dapat menciptakan sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh manusia biasa. Pekerjaan-pekerjaan yang luar biasa ini dinamakan keramat. Perkataan eramat dalam pengertian ini sudah umum diketahui dan dipakai di Indonesia, terutama untuk orang-orang yang telah

55

wafat, yang menurut sejarah pada waktu hidupnya menunjukan beberapa keanehan, dan pada waktu matinya banyak niat-niat orang yang diucapkan dengan menggunakan namanya, konon banyak terkabul dan berhasil. 4. Wali dan Qutub Dalam pelajaran Islam biasa, wali dinamakan seseorang yang tinggi kedudukanya dalam pandangan Tuhan karena kehidupanya yang murni dan amalnya yang shaleh, yang dilakukan dengan tulus ikhlas sepanjang ajaran Allah dan Rasulnya. Tetapi dalam kalangan sufi pengertian wai lebih dari itu, wali merupakan hamba dan kecintaan Tuhan yang luar biasa, kekasih Tuhan yang diberi kedudukan istimewa dalam kalagan Tuhanya, kadang-kadang menjdi perantaraan antara manusia biasa dengan mereka Tuhan, Tawasul, Nabi

sebagaimana

acapkali

menjadikan

Muhammad atau salah seorang sahabatnya menjadi penghubung dengan Tuhan dalam menyampaikan sesuatu permintaan dan hajat. Ibnu ‘Arabi

membayngkan dalam ajaranya, hamper-hampir ta ada pembedaan antara Rasul Tuhan dengan walinya, padahal hanya berbeda bahwa Rosul itu diistimewakan

56

pula dengan syariat dan peraturan-peraturan Tuhan yang harus disampaikan kepada manusia. Dalam kitab-kitab sufi diceritakan bahwa QutubQutub itu atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat diatas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukanya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah

memahami rahasia qudrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakakn dengan tenaganya sendiri, sesudah tubuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lahi hidup duniawi tetapi semata-mata menunjukan perjalananya menemui wajah Tuhan. Qutub-qutub itu didampingi amaman, yang

seorang disebelah kanannya dan seorang mendampingi disebelah kirinya, sampai qutub itu wafat dan barulah mereka itu diambil kembali.

57

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Secara tipologis, penelitian penulis ini merupakan model penelitian terhadap tarekat-tarekat memakai

metodologi deskriptif analitis dan mempergunakan pendekatan historis sosiologis. Penelitian ini juga dilakukan melalui library research untuk menelusuri data-data menyangkut Tarekat Qadiriyah dan

Naqsabandiyah. Penelitian ini mempergunakan pendekatan

sosiologis historis di mana teori-teori yang berkenaan dengan sosiologi keagamaan dipakai untuk membantu untuk merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui pengumpulan, observasi maupun studi pustaka sehingga ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu deskripsi tentang keberadaan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya. Beberapa hal menyangkut kajian historis adalah mengenai keberadaan pesantren itu sendiri serta pengembangannya di wilayah Kecamatan

Pagerageung.

Adanya

praktek

Tarekat

Qadiriyah

Naqsabandiyah di sebuah masjid harus diungkapkan pula mulai dilakukannya tarekat tersebut. Demikian pula sebaliknya ketika Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah tidak dilakukan dalam sebuah masjid dimungkinkan beberapa waktu sebelumnya pernah dilakukan. Kajian historis akan mengungkapkan keadaan tersebut. Adapun kajian mengenai sosiologis akan permasalahan tentang terjadinya

mengungkapkan mengenai realitas sosial masyarakat. Hal ini digunakan untuk memperoleh informasi mengenai perbedaan-perbedaan praktek keagamaan antara satu masjid dengan masjid lainnya. Sinkronisasi antara satu masjid dengan masjid lainnya perlu diungkapkan untuk melihat keteraturan hubungan antara Pondok Pesantren Suryalaya dengan wilayah sekitarnya. B. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian adalah Pondok Pesantren

Suryalaya yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian di Pondok Pesantren Suryalaya untuk mengetahui sejauh mana praktek Tarekat Qadiriyah
59

Naqsabandiyah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya. Lokus penelitian lainnya adalah masjid-masjid yang terdapat di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktek-praktek keagamaan dalam hal ini untuk

mengetahui apakah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya juga dilakukan di masjid-masjid Kecamatan Pagerageung. Penelitian terhadap masjid-masjid di Pagerageung, dilatarbelakangi adanya kecenderungan tempat yang sama untuk melakukan kegiatan ritual Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Sementara itu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di rumah-rumah dalam bentuk dzikir sir tidak termasuk dalam penelitian ini, karena ritual itu sulit untuk diobservasi secara langsung. C. Sumber Data Sumber data dapat dibagi dua yaitu sumber data primer dan sekunder. Adapun yang dikategorikan dengan data primer adalah hasil observasi peneliti pada lokus yang telah ditentukan serta hasil wawancara dengan

pimpinan/pengurus pesantren dan dua orang pengurus mesjid di Kecamatan Pagerageung. Sedangkan sumber data
60

sekunder penulis peroleh referensi menyangkut Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah serta hasil penelitian terdahulu yang relevan. D. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu ; studi pustaka, observasi, wawancara. Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh data yang maksimal

mengenai keberadaan tarekat Qadiriyah dan tarekat Naqsabandiyah serta tarekat sebagai hasil perpaduan antara keduanya. Selain itu studi pustaka juga dilakukan untuk memperoleh data-data keberadaan pesantren pada masamasa sebelumnya ataupun demografi pada kependudukan awal

Kecamatan

Pagerageung

masa-masa

pembentukan Pondok Pesantren Suryalaya Observasi dilakukan dengan penginderaan langsung kondisi, situasi, proses yang terjadi pada Pondok Pesantren Suryalaya untuk mengetahui ritual Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya. Observasi juga dilakukan dengan melihat praktek-praktek keagamaan di masjid-masjid di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Observasi ini untuk mendapatkan data tentang masjid-masjid yang didalamnya

61

dilakukan ritual Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya Wawancara dilakukan kepada pimpinan dan pengurus Pondok Pesantren Suryalaya, hal ini untuk mengetahui perkembangan Pondok Pesantren, perkembangan mengenai ritual tarekat yang dikerjakan serta perkembangan lain yang menyangkut dengan Pondok Pesantren Suryalaya. Selain itu wawancara juga dilakukan kepada 2 (dua) orang pengurus masjid untuk mengetahui kegiatan pada masjid tersebut, jamaah masjid serta keberadaan masjid tersebut mulai berdiri hingga pada saat penelitian dilakukan. Dimungkinkan sebuah masjid awalnya hanya berupa mushalla yang dipergunakan oleh beberapa orang, namun setelah penduduk bertambah mushalla dapat berubah menjadi masjid yang dipakai untuk berjamaah shalat jum’at. Dengan melihat teknik pengumpulan data, secara terstruktur pengambilan data dilakukan dengan : a. Mengidentifikasi bahan-bahan pustaka, baik yang bersifat primer maupun sekunder, menyangkut tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah serta perpaduan antara kedua tarekat tersebut.

62

b. Mengidentifikasi bahan-bahan pustaka, menyangkut sejarah dan keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya. c. Mengobservasi praktek Tarekat Qadiriyah

Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya. d. Melakukan wawancara dengan pimpinan/pengurus Pondok Pesantren Suryalaya. e. Mengobservasi praktek keagamaan di masjid-masjid Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya

berkenaan dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya f. Melakukan wawancara dengan dua orang pengurus dari setiap masjid Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya.

E. Analisis Data Dalam menganalisis data, diterapkan teknik analisis isi secara kualitatif (qualitative content analysis).

Adapun langkah analisis data dimaksud adalah sebagai berikut : 1) Menyajikan data kepustakaan berkenaan dengan Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah

63

2) Menyajikan data mengenai Pondok Pesantren Suryalaya. 3) Menyajikan data mengenai pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah pada Pondok Pesantren Suryalaya. 4) Menyajikan demografi Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. 5) Menganalisa data hasil observasi terhadap praktek keagamaan Pagerageung. 6) Mencari hubungan antara praktek keagamaan di masjid-masjid Kecamatan Pagerageung dengan praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya. Data yang telah dikumpulkan menggunakan teknik di atas akan di analisis secara kualitatif dan hasilnya akan disajikan secara deskriptif analitis. Data tersebut terlebih dahulu dipilah, dikategorikan, dan dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan analisis. Beberapa data disajikan dalam bentuk tabel, hal ini untuk mempermudah menganalisa data tersebut. Untuk mendeskripsikan sebuah hasil penelitian, dimungkinkan data tersebut diperoleh baik melalui studi pustaka, di masjid-masjid Kecamatan

64

observasi maupun wawancara atau dengan salah satu dari ketiga metode tersebut. Data yang telah dianalisa tersebut selanjutnya dihubungkan dengan pokok

permasalahan yang dikaji.

65

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Sejarah

Pesantren

Suryalaya

Sebagai

Pusat

Pengembangan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya didirikan oleh Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) ra pada hari Kamis Tanggal 7 Rajab 1323 H/ 5 September 1905 M, beliau diangkat menjadi “mursyid” oleh gurunya bernama Syekh Ahmad Thalhah bin Tholabudin (Guru Agung) ra yang berdomisili di Trusmi Cirebon pada tahun 1907 M, yang sekaligus sebagai pemimpin tertinggi Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah setelah guru beliau wafat. Abah Sepuh menyadari bahwa usia beliau sudah diatas rata-rata umur orang Indonesia, karena itu sudah mulai mempersiapkan kader penerus beliau dari salah seorang murid yang lebih menonjol dari murid-murid lainnya, sang murid ini berdasarkan pengamatan beliau

(gurunya) dipandang memenuhi persyaratan sebagai kader atau calon untuk suksesi kepemimpinan Abah Sepuh. Kader ini telah cukup lama mendapat gemblengan dari Abah Sepuh, beliau termasuk murid yang senantiasa penuh hormat dan adab serta taat kepada guru dan orangtua, maka sebagai kader yang memang dipersiapkan harus menjalani proses magang dan mencapai sukses sepanjang tahapan-tahapan pengujian. Murid yang menjadi kader untuk suksesi

kepemimpinan itu tidak lain adalah putra Abah Sepuh yang kelima, yaitu H. A. Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom). Murid yang dikaderkan ini pada sekitar tahun 1950 M telah berusia 35 tahun, namun ketika itu masih relatif muda (anom). Sehingga cukup lincah dan cekatan secara terus mendampingi gurunya dalam berbagai kegiatan di Pondok Pesantren dan di Masjid. Maka untuk memapankan proses suksesi, guna menuntun proses kesinambungan prinsip ilmu, ajaran dan pola praktek amalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah dan disamping itu juga untuk memudahkan sebutan bagi para ikhwan/akhwat dan masyarakat pada umumnya, lahirlah panggilan Abah Sepuh dan Abah Anom.
67

Ketika Abah Sepuh sudah mengalami udzur dan berhubung dengan masih seringnya terjadi gangguan keamanan disekitar kampong Godebag yang dilancarkan oleh para pemberontak DI /TII dibawah pimpinan Kartosuwiryo, maka sekitar tahun 1952 M atau pada usia Abah Sepuh 116 tahun, beliau pindah ke kota Tasikmalaya untuk dapat beristirahat, dan untuk memimpin Pondok Pesantren sehari-hari diserahkan sepenuhnya kepada Abah Anom. Abah Sepuh dirawat di rumah keluarga H.O. Sobari, salah seorang murid yang sangat mencintai dan menghormati Abah Sepuh dan dirumah ini pula beliau akhirnya wafat pada tanggal 25 Januari 1956 M dalam usia 120 tahun. Tujuan TQN sama dengan tujuan Islam itu sendiri, yaitu menuntun manusia agar mendapat ridha Allah, sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat. Tujuan TQN tergambar dalam muqadimah yang mesti dibaca oleh setiap ikhwan manakala ia akan melakukan zikrullah. Kalimah dimaksud adalah: Ilaahii anta maqsuudi wa ridhaaka mathluubii A’thinii mahabbataka wa

ma’rifataka. (Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud dan keridhoan-Mu yang aku cari. Berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai-Mu dan ma’rifat kepada-Mu)
68

Do’a tersebut di atas oleh para ikhwan Tarikat Qadiriyah Naqsabandiyah setiap habis sembahyang wajib dibaca minimal tiga kali sebagai mukaddimah untuk mengamalkan zikir. Dalam do’a tersebut terkandung empat macam tujuan TQN itu sendiri, yaitu: 1. 2. 3. 4. Taqarrub terhadap Allah Swt Menuju jalan Mardhatillah Kemahabbahan dan Kemarifatan terhadap Allah Swt.

B. Visi dan Misi Pondok Pesantren Suryalaya Pada pesantren Suryalaya terdapat lambang

pesantren yang mempunyai makna filosofis tentang misi dan visi pesantren. Misi adalah tugas yang dirasakan orang sebagai suatu kewajiban yang melaksanakannya seperti demi agama Islam, khususnya di Pontren yang divisualkan dalam Lambang Pondok Pesantren yang mengandung esensi sebagai berikut: 1. Bingkai segi lima, yang menyatukan seluruh misi, yaitu: a. b. Secara nasional adalah Pancasila Secara universal adalah Rukun Islam

69

2. Seekor kupu-kupu yang sedang terbang, yang memiliki kelengkapan anggotanya, lima macam, yaitu: Empat buah sayap yang terdiri dari : dua buah sayap atas berwarna merah bergaris-garis sebanyak 12, dan dua buah sayap bawah berwarna putih bergarisgaris sebanyak 9 Garis-garis (geratan) pada badan sebanyak 12 Dua buah kumis Dua buah mata Empat buah kaki

Proses kupu-kupu : sejenis ulat menjadi kepompong akhirnya kupu-kupu. Proses Tasawuf : Takhalli, Tahalli, Tajalli. Pelaksanaan Nabi Saw : Hidup di masyarakat jahiliyah, pergi Uzlah (Gua Hira) dan didatangi Malaikat Jibril as sebagai tanda pengangkatan sebagai Rasul Allah. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Setangkai padi yang memiliki 17 butir Setangkai kapas yang memiliki 8 pintalan Trap Islam lima macam Sinar Islam yang menyinari 17 sudut Satu buah kubah masjid Kitab pedoman utama 2 buah Tulisan Allah di atas kubah masjid

70

10. Tulisan cageur bageur lahir batin (dalam bahasa daerah Sunda) 11. Empat macam warna, yaitu: Merah, Putih, Hijau, dan Kuning Emas. 12. Tulisan Pondok Pesantren Tasikmalaya, 7 Rajab 1323 H/ 1905 M Adapun esensi visi (Tugu Latifah Mubarakiyah). Visi adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan atau pandangan luas (wawasan) kemasa yang akan datang tentang Pondok Pesantren sebagai Pusat Pembinaan dan Pengembangan Tarikat Qadiriyah Naqsabandiyah yang divisualkan dalam Tugu Latifah Mubarakiyah yang mengandung esensi adalah bulatan yang sempurna sebanyak 7 buah. Tujuh buah bulatan yang sempurna itu adalah mencerminkan makna yang terkandung di dalam hukum dasar adalah Tujuh lapisan (lingkaran) yang terdapat dalam diri manusia, sebagaimana dalam Hadits Qudsi sebagai berikut: “Aku jadikan pada anak Adam (manusia) itu ada istana, di dalam istana itu ada dada, di dalam dada itu ada qalbu (tempat bolak baliknya ingatan), di dalam qalbu itu ada fu’ad (jujur ingatannya), di dalam fu’ad itu ada syaghaf (kerinduan), di dalam syaghaf itu ada

71

lubb (sangat rindu), di dalam lubb itu ada Sirr (mesra) dan di dalam sir itulah ada AKU. Tujuh latifah yang ada dalam diri manusia, yang dalam ilmu tasawuf dikenal dengan Latifah al Qalbi, Latifah al Ruhi, Latifah al Sirri, Latifah al Khafi, Latifah al Akhfa, Latifah al Nafsi, Latifah al Qalab. Tujuh tulang harus disujudkan ketika melaksanakan sujud dalam shalat, sebagaimana diterangkan dalam HR Bukhari-Muslim berikut ini: Rasulullah Saw telah

bersabda: Bersujudlah dengan tujuh tulang, yaitu dahi (kening), dua telapak tangan, dua lutut dan dua ujung jari kedua kaki. Allah menciptakan manusia dalam tujuh proses, sebagaimana dalam QS Al-Mukminun ayat 12-14 C. Tarekat Qodiriyah Naqsabandiyah Pada Pesantren Suryalaya Di Indonesia terkenal sebuah tarekat bernama Qodiriyah Naqsabandiyah ( disingkat TQN). Tarekat ini dianggap sebagai tarekat terbesar, terutama di pulau Jawa. 57 salah satu pusat penyebarannya berada di Jawa

Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren Pandangan Hidup Kiyai, LP3ES, Jakarta, h. 141. 72

57

Studi

Tentang

Barat, yaitu di Pondok Pesantren Suryalaya. Kini anggotanya berjuta-juta orang. Tersebar diseluruh pelosok tanah air dan berbagai Negara ASEAN, seperti Malaysia, Singafura dan Brunei Darussalam. 58 TQN yang berkembang di Pesantren Suryalaya ialah TQN yang berasal dari Syekh Ahmad Khotib Syambas melalui Syekh Tolhah dari Trusmi, Kalisapu Cirebon Jawa Barat. Penyiaran TQN hingga ke Suryalaya dipererat dengan hubungan kekeluargaan melalui pernikahan putera Syekh Tolhah, guru Abah Sepuh, dengan putra Abah Sepuh. Putra Syekh Tolhah bernama Raden H.K. Munadi. Putri Abah Sepuh bernama Hj. Sukanah. Dengan demikian, hubungan Syekh Tolhah dengan Abah Sepuh bukan saja hubungan guru murid melainkan juga hubungan besan. Modal pertama TQN Suryalaya berupa sebuah mesjid yang dijadikan tempat mengaji dan mengajarkan TQN. Mesjid itu dibangun atas restu Syekh Tolhah. Cikal bakal pesantren tersebut diberi nama patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah dengan singkat disebut

Unang Sunardjo, Naskah Buku Pesantren Suryalaya dalam Perjalanan Sejarahnya, Yayasan Serba Bhakti Suryalaya, 1985 73

58

Suryalaya.. mesjid itu diresmikan pada tanggal 7 Rajab 1323 H /5 September 1905 M. tanggal tersebut kemudian dijadikan titi mangsa kelahiran (milad) Pesantren

Suryalaya. Sekalipun pesantren itu telah diberi nama Suryalaya, ketika itu masyarakat masih menyebutnya Godebag, nama kampong di mana terletak Pesantren Suryalaya.59 TQN Pondok Pesantren Suryalaya adalah salah satu tarekat yang dinilai mu’tabar (sah). Zamakhsyari Dhofier menyatakan bahwa tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah adalah sebagai tarekat yang sah
60

akan tetapi, pada

umumnya masyarakat masih terpengaruh oleh pandangan keliru dan negatif terhadap tarekat. Pandangan keliru dan tuduhan pelaku bid’ah terhadap Pesantren Suryalaya telah muncul sejak

kepemimpinan Abah Sepuh. Tuduhan itu makin hari semakin berkurang apalgi ketika kemerdekaan

diproklamasikan. Menyurutnya fitnah dan tuduhan itu, berkat ketegaran pimpinan pesantren, katabahan ikhwan
59

Harun Nasution ed., Thoriqot Qodiriyyah Naqsabandiyyah ; Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangannya, (Tasikmalaya : IAILM, 1990), h.199. 60 Tradisi Pesantren, h. 143. 74

dalam pembuktian kebenaran ajaran dalam bentuk pengamalan TQN, juga perilaku yang didasari ketulusan dan kesucian jiwa. Selain itu, peranserta, dukungan dan kerjasama pemerintah dengan TQN Pesantren Suryalaya. Bahkan mungkin yang terutama berkat charisma

kepemimpinan dan kepribadian pemimpin pesantren, baik Abah Sepuh maupun Abah Anom. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa TQN pada awal pemunculannya tidak begitu berkembang. Disamping itu adanya tekanan penjajah yang menuduh Abah Sepuh mengajarkan perlawanan terhadap Belanda. Abah Sepuh dipanggil penjajah atas tuduhan mengajarkan para santrinya tentang tata cara kekebalan, seperti tidak tembus peluru. Abah Sepuh secara diplomatis menjawab bahwa yang beliau ajarkan adalah bagaimana hidup agar saleh dengan melaksanakan TQN. Apabila hidup saleh dan selalu berbuat kebajikan, maka tidak aka nada lagi orang lain yang membenci. Jika tidak ada yang membenci, maka tidak mungkin ada orang yang berbuat jahat kepadanya. Apalagi menembakan pelurunya. Inilah yang dimaksud TQN mengajarkan kepada muridnya ilmu kekebalan.

75

Pada masa-masa berikutnya, dakwah TQN lebih merupakan dakwah bilhal, dengan perbuatan nyata dalam ikut serta membangun umat dalam berbagai lapangan kehidupan. Dakwah TQN pada masyarakat luas melalui jaringan-jaringan para wakil talqin, pejabat, dan keluarga pimpinan Pesantren Suryalaya yang berpusat di Patapan Suryalaya. Oleh karena itu, penyebaran wilayah dan pengaruh TQN banyak ditentukan oleh ketiga factor tersebut. Belakangan, pengaruh dan penyebaran wilayah itu didukung pula oleh kaum intelektual dan kelompok aghniya’ (orang-orang hartawan dan dermawan), yang ditopang oleh system pengorganisasian melalui Yayasan Serba Bhakti. Di samping itu, keberhasilan Pondok Remaja Inabah dalam meyadarkan para korban

penyalahgunaan obat terlarang, seperti narkotika dan berbagai macam gangguan kejiwaan, turut mendukung pengaruh dan penyebaran wilayah TQN.61 Eksistensi Pesantren Suryalaya berpengaruh

terhadap perkembangan masyarakat sekitarnya. Pengaruh itu tentu pertama-tama dari sudut ajarannya. Sampai pada masa DI/TII masyarakat sekitar pesantren masih banyak

61

Harun Nasution, ed. h. 200-201 76

yang tidak simpati, terutama mereka yang mendukung DI/TII. Suryalaya dianggap musuh DI/TII karena

dukungannya terhadap pemerintah RI yang sah. Akan tetapi, kini dukungan masyarakat sekitarnya cukup cukup menggembirakan. Umumnya, masyarakat sekitar

Pesantren adalah ikhwan TQN atau setidak-tidaknya bersikap simpati. Disamping itu, pengaruh yang dirasakan masyarakat ialah dibidang peningkatan kesejahteraan rakyat, baik dibidang mental spiritual maupun dibidang pisik material. Pesantren Suryalaya selalu tampil menjadi pelopor dalam gerakan pelestarian lingkungan hidup. Penanaman dan penyebaran bibit cengkih tahun 1970-an dipelopori oleh pesantren sehingga Menteri Pertanian Syarif Tayyib menyumbang bibit cengkih sekitar lima ribu pohon. Bibit tersebut kemudian dijadikan modal oleh pesantren untuk penghijauan dan reboisasi DAS Citanduy. Di bidang kesehatan pun tak ketinggalan. Pesantren mempelopori berdirinya PUSKESMAS dan POSYANDU, serta penyediaan air bersih. Begitu pula dibidang penerangan pesantren mempelopori pendirian stasiun relay TV untuk daerah sekitarnya sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangan pembangunan yang sedang dilaksanakan pemerintah dan rakyat Indonesia. kini sarana
77

komunikasi

dan

transportasi

yang

dipelopori

oleh

pesantren tersebut semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Peningkatan sarana komunikasi tahun 1990 ditandai dengan dibukanya Warung Telekomunikasi (WARTEL) sehingga memudahkan komunikasi dengan masyarakat lain yang jauh. Di samping itu, Radio Orari telah lebih dahulu ada. Transportasi dari dank e Suryalaya, kini sangat mudah, karena sarana jalan yang

menghubungkan Suryalaya dengan kota-kota lainnya telah memadai. Kemajuan lembaga ini dengan jumlah santri yang mencapai angka ribuan serta tamu yang berkunjung ke pesantren setiap harinya berjumlah ratusan orang, bahkan jumlah di atas bisa meningkat lebih banyak pada waktu pelaksanaan manaqiban, memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat sekitarnya. Masyarakat merasa bangga atas keberadaan pesantren. Kebanggan itu ada yang dilatarbelakangi oleh kebanggaan atas kejayaan ajaran Islam, ada pula kebanggaan yang dilatarbelakangi dampak ekonomis dan prestise yang muncul bersamaan dengan kehadiran pesantren tersebut.62

62

Ibid., h.211. 78

D. Dasar dan Amalan Tarikat Qadiriyah Naqsabandiyah Adapun dasar-dasar TQN agar dapat mencapai tujuan sebagaimana tertulis di atas, dijelaskan oleh Tuan Syekh sendiri yaitu sebagai berikut: 1. Tinggi cita-cita. Barangsiapa yang tinggi cita-citanya, maka menjadi tinggilah martabatnya 2. Memelihara kehormatan. Barangsiapa memelihara kehormatan kehormatannya 3. Memperbaiki khidmat. Barangsiapa memperbaiki khidmat, ia wajib memperoleh rahmat 4. Melaksanakan cita-cita. Barangsiapa berusaha Allah, Allah akan memelihara

mencapai cita-citanya, ia kan selalu memperoleh hidayahnya 5. Membesarkan nikmat. Barangsiapa membesarkan nikmat Allah berarti ia bersyukur kepada Allah. Barangsiapa bersyukur kepada-Nya maka ia akan mendapatkan tambahan nikmat sebagaimana yang dijanjikan Allah TQN sebagai sebuah aliran dalam tasawuf

mempunyai amaliyah yang khusus yang sudah barang tentu tidak akan sama dengan amaliyah dalam tarekat yang

79

lain. Kalaupun ada kesamaan, kemungkinan dalam beberapa hal saja karena memang sumber ajarannya samasama dari Rasulullah. Amaliyah yang bersifat spiritual ini harus diamalkan oleh siapa saja yang telah menyatakan diri melalui “talqin” senbagai murid dan ikhwan bagi Guru Mursyid dalam komunitas tarekat termaksud. Amaliyah tersebut merupakan amalan yang maha penting yang mesti dilakukan oleh murid setelah melakukan amaliyah syar’iyyah yaitu shalat fardu. 1. Dzikrullah Zikir yang dimaksud dalam TQN adalah zikir dengan makna khas, yaitu “hudurul Qalbi ma’ Allah (hadirnya hati bersama Allah). Zikir dalam arti khusus ini terbagi dua, yaitu: a. Dzikir lisan / jahar untuk mengunci pintu syetan di dalam diri manusia, berdasarkan petunjuk Allah dalam Q.S. Al-A’raaf ayat 17, Q.S. Ibrahim ayat 24-25 dan 27. b. Dzikir khafi / ingatan hati untuk membersihkan qalbu (hati) dari semua sifat-sifat mazmumah / tercela berdasarkan Q.S. Al-A’raaf ayat 205 Zikir jahar adalah melafalkan kalimah tayyibah yakni “ La ilaha illallah” secara lisan dengan suara

80

keras dan dengan cara-cara tertentu. Dzikir lisan/jahar diamalkan setiap selesai mendirikan shalat fardu banyaknya tidak boleh kurang dari 165x dan lebih banyak sangat diutamakan, sedangkan dzikir

khafi/ingatan hati harus secara terus menerus tidak henti-hentinya, baik sedang berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring kapan saja dan dimana saja, sebagaimana keberadaan orang-orang yang

dikategorikan ulil albab dalam Q.S. Ali Imran 191. Dalam kitab Miftah as-Sudur dijelaskan

bagaimana cara berzikir yang benar sebagai amalan dalam TQN, baik zikir jahar maupun zikir khafi, yaitu: “orang yang berzikir memulai dengan ucapan Laa dari bawah pusat dan diangkatnya sampai ke otak dalam kepala, sesudah itu diucapkan Ilaaha dari otak dengan menurunkannya perlahan-lahan kebahu kanan. Lalu memulai lagi mengucapkan Illallah dari bahu kanan dengan menurunkan kepala kepada pangkal dada disebelah kiri dan berkesudahan pada hati sanubari dibawah tulang rusuk lambung dengan menghembuskan lafadz nama Allah sekuat mungkin sehingga terasa geraknya pada seluruh badan seakan-akan di seluruh

81

bagian badan amal yang rusak itu terbakar dan memancarkan Nur Tuhan. Amaliah zikir berupa kalimah thoyyibah bagi ikhwan / akhwat Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya merupakan amalan harian yang dilaksanakan setiap ba’da shalat fardhu maupun shalat sunat dengan ketentuan sebagai beikut: a. Bilangan zikir kalimah Thayyibah bagi ikhwan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok

Pesantren Suryalaya setiap kali melaksanakan tidak boleh kurang dari 165 kali, lebih banyak lebih baik dengan ketentuan diakhiri hitungan bilangan ganjil. b. Bagi ikhwan yang memiliki kesibukan atau sedang dalam safar (perjalanan) dilain waktu ketika senggang. Sebaiknya malam hari sebelum tidur atau setelah shalat malam. c. Pelaksanaan amaliyah zikir sebaiknya dilaksanakan berjama’ah dengan suara keras sehingga

diharapkan dapat “menghancurkan” kerasnya hati kita yang diliputi oleh sifat-sifat mazmumah (buruk) diganti dengan sifat mahmudah (baik) sehingga berbekas membentuk perilaku

pengamalnya, yaitu pribadi pengamal zikir yang

82

berakhlak mulia berbudi luhur sebagai buahnya zikir. Untuk melakukan zikir terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, hendaklah orang yang berzikir mempunyai wudu secara sempurna. Kedua, hendaklah berzikir dengan suara keras sehingga hasil cahaya zikir terpancar di dalam hati pelakunya jadilah hati akibat cahaya ini menjadi hidup abadi hingga ke kehidupan ukhrawi. 2. Talqin dan Bai’at Untuk dapat mengamalkan zikir khas (yakni zikir dalam TQN), begitu juga amalan-amalan lainnya dalam TQN, seorang salik (murid) mesti memulai dengan proses “talqin” talqin ialah peringatan guru kepada murid. Sedangkan bai’at adalah kesanggupan dan kesetiaan murid dihadapan gurunya untuk mengamalkan dan mengerjakan segala kebajikan yang diperintahkan mursyidnya. Talqin memiliki dua sasaran; pertama, sasaran yang bersifat umum, dan kedua, bersifat khusus. Adapun sasaran yang bersifat umum adalah seseorang yang sudah bertalqin berarti sudah masuk dalam silsilah (lingkaran) komunitas pengamal ajaran

83

tarekat. Sedangkan sasaran talqin yang bersifat khusus yakni talqin suluk setelah masuk dalam lingkaran komunitas sufi. Karena perkembangan TQN begitu pesat, maka guru mursyid mengangkat wakil talqin. Wakil talqin adalah orang yang mendapat izin dari guru mursyid untuk melaksanakan talqin, sekaligus melakukan pembinaan bagi ikhwan-ikhwan yang sudah di talqin. Dengan semakin menyebarnya ajaran TQN di dalam dan di luar negeri, maka Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya menunjuk beberapa orang

kepercayaan yang disebut “Wakil” dengan tugas utama ialah mentalqinkan zikir TQN kepada siapa yang menginginkan dan yang merasa dirinya

berkepentingan, dengan maksud supaya orang-orang yang sedang dalam keadaan sakit dan orang-orang yang jauh tempat tinggalnya dapat melaksanakan maksudnya tanpa banyak memakan biaya dan waktu, begitu pula meringankan beban Pimpinan Pondok Pesantren yang setiap hari terus menerus didatangi tamu dari berbagai tempat sehingga agak sukar untuk meninggalkan Pondok Pesantren.63
63

Ibid., h.349-350 84

3.

Tahapan-Tahapan Dalam Bidang Ubudiyah Tahapan Pertama, yang paling ringan adalah melaksanakan shalat sunat rawatib, yaitu salat sunat qabla dan ba’da salat-salat fardu salat sunat yang biasa dilaksanakan oleh para ikhwan di Suryalaya adalah: Salat sunat fajar (qabla Subuh) dan salat lidaf’il bala Salat sunat qabla dan ba’da dhuhur Salat sunat qabla ‘Asar Salat sunat qabla dan ba’da magrib Salat sunat qabla dan ba’da Isya Selain salat sunat ba’da magrib, Abah Anom biasa melaksanakan salat sunat yang lainnya, yaitu: Salat sunat awwabin Salat sunat lihifdzil Iman Salat sunat istikharah Salat sunat Hajat Salat sunat Libirril walidain Salat sunat lidaf’il bala Salat sunat ikhlas Salat sunat mutlak (pangersa Abah tidak beranjak dari tempat salat antara magrib hingga isya. Setelah selesai salat

85

isya dengan zikirnya baru beliau bersama para tamu makan malam). Tahapan kedua, tahapan ini merupakan upaya peningkatan ubudiyah dengan melaksanakan salatsalat sunat sebagai berikut: Salat sunat Syukrul wudu setiap kali selesai berwudu Salat sunat Isyraq, sekitar pukul 06.00 Salat sunat Isti’azah, setelah selesai salat Isyraq Salat sunat istikharah, setelah selesai salat Isti’azah Salat sunat Duha waktunya sekitar pukul 07.30 Salat sunat kifarat al-baol setelah selesai salat duha Salat sunat lidaf’il bala, setelah salat isya Salat sunat hajat sebelum tidur Tahapan pelaksanaan ketiga, qiyamullail tahapan atau ini slat berupa malam.

Pelaksanaannya mengikuti cara-cara sebagimana dijelaskan oleh Pangersa Abah dalam buku yang beliau tulis berjudul “Ibadah sebagai Metode Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja”. Buku ini sebagai panduan bagi
86

para Pembina Inabah bagaimana proses penyadaran dan penyembuhan para remaja korban Narkoba dan obat-obat terlarang di Inabah agar sembuh dari ketergantungan dengan sadar dan sukarela. Cara dimaksud adalah sebagai berikut: Mandi Taubat sekitar pukul 02.00 dini hari Salat sunat Syukrul wudu Salat sunat Taubat Salat sunat Tahajud (12 rakaat) Salat Sunat Tasbih (4 rakaat) Salat sunat witir (11 rakaat) Setelah selesai melaksanakan salat sunat hendaklah si salik berzikir sebanyak banyaknya hingga waktu salat subuh tiba. Pangersa Abah tidak beranjak dari tempat salat setelah subuh sampai waktu isyraq. Berikut ini rincian ubudiyah yang biasa dilaksanakan oleh para pengamal TQN Pondok Pesantren Suryalaya walaupun pelaksanaannya

bertahap sesuai kemampuan masing-masing.

87

JADWAL KEGIATAN UBUDIYAH SEHARI-HARI:
Waktu Jam 02.00 Kegiatan -Bangun, Mandi Taubat - Sunat Syukrul Wudhu - Sunat Taubat - Sunat Tahajud - Sunat Tasbih - Sunat Witir Dzikir 2 rakaat 2 rakaat 12 rakaat 4 rakaat 11 rakaat sebanyak-banyaknya, 31 Ket

minimal 165 x sampai menjelang subuh

Jam 04.00

-Sunat Subuh -Sunat lidaf’il bala -Shalat Subuh -Dzikir minimal 165 x

2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 6

Jam 06.00

-Sunat Israq -Sunat Isti’adah -Sunat Istikharah

2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 8 rakaat 8 6

Jam 09.00 Jam 12.00

-Sunat Dhuha

-Sunat qabla Dhuhur -Shalat Dhuhur -Dzikir minimal 165 x -Sunat ba’da Dhuhur

2 rakaat 4 rakaat 8 2 rakaat 2 rakaat

Jam

-Sunat Ashar

88

15.00

-Shalat Ashar -Dzikir minimal 165 x

4 rakaat

6

Jam 18.00

-Sunat Qabla Maghrib -Shalat Magrib -Dzikir minimal 165 x -Khataman -Sunat ba’da Magrib -Sunat Awwabin -Sunat Birrul Walidain -Sunat Lihifdzil Iman -Sunat Syukrun Nikmat -Sunat Kifarotul Baol

2 rakaat 3 rakaat

2 rakaat 6 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 4 rakaat 2 rakaat 8 21

Jam 19.00

-Sunat Qabla Isya -Shalat Isya -Sunat Ba’da Isya -Dzikir minimal 165 x

Jam 20.00 Jam 21.30 sebelu m tidur

-Sunat Lidaf’il Bala -Khataman -Sunat Syukrul Wudhu -Sunat Mutlak -Sunat Istikharah -Sunat Hajat

2 rakaat 2 2 rakaat 4 rakaat 2 rakaat 2 rakaat 10

4. Khataman Kata khataman berasal dari kata “khatama yakhtumu khataman” artinya selesai/menyelesaikan. Maksud khataman dalam TQN adalah menyelesaikan
89

atau menamatkan pembacaan aurad (wirid-wirid) yang menjadi ajaran TQN pada waktu-waktu tertentu. Wiridwirid itu minimal dibaca secara keseluruhan sampai khatam (tamat) satu kali dalam satu minggu. Aurad TQN yang menjadi amalan mingguan itu terdapat dalam buku yang dihimpun dan dikodifikasikan oleh Syekh Mursyid. Buku tersebut diberi nama “Uqud alJuman”, yang secara etimologis artinya untaian mutiara. Secara substansial, aurad itu terdiri atas dzikir, shalawat, do’a-do’a dan bacaan-bacaan yang biasa diamalkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Khataman dilakukan setelah selesai shalat fardu dan dzikir. Tertib amalan khataman pertama tawasul, lalu membaca wirid-wirid yang terdapat dalam kitab uqud al juman sampai selesai dan diakhiri dengan do’a khataman itu sendiri. Khataman bisa dilakukan secara munfarid atau berjama’ah, bisa di masjid atau di

rumah-rumah. Namun kalau dilakukan di masjid dengan berjama’ah tentu lebih baik. Kalau tidak memungkinkan di masjid secara berjama’ah di majlismajlis dzikir juga akan lebih baik. Yang penting bagaimana wirid itu dapat dilakukan secara khusyu’ dan tamat.

90

Secara umum, waktu pelaksanaan khotaman yang biasa dilaksanakan di Pondok Pesantren Suryalaya adalah Setiap hari antara Magrib dan Isya dan setelah shalat sunat Lidaf’il Bala’i ba’da shalat Isya dan Hari Senin dan Kamis ba’da shalat Ashar.

5. Manaqib Kata manaqib merupakan kata jama dari

manqabah mendapat akhiran an. Manqabah sendiri artinya babakan sejarah hidup seseorang. Dalam tradisi bahasa Sunda kata manaqib ditambah dengan an sehingga bacaannya menjadi manaqiban yang

mengandung arti proses pembacaan penggalan hidup seseorang secara spiritual. Manaqib dalam TQN adalah manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sebagai pendiri tarikat Qadiriyah. Isi manaqib secara khusus

menceritakan akhlak Tuan Syeikh, silsilahnya, kegiatan dakwahnya, karomahnya dan lain-lainnya yang relevan untuk dijadikan pelajaran oleh para pengikutnya. Manaqiban dalam TQN merupakan amalan

syahriyyah artinya amalan yang harus dilakukan minimal satu bulan satu kali. Biasanya materi manaqiban terbagi pada dua bagian penting. Pertama,

91

materi (kontens) tentang hidmah ‘amaliyah yang intinya adalah manaqiban itu sendiri. Kedua, hidmah ‘ilmiyyah adalah pembahasan tasawuf secara keilmuan dan pembahasan keseluruhan. aspek-aspek Tujuannya ajaran adalah Islam untuk secara

membuka

wawasan keislaman para ikhwan, memperdalam ilmu ketasawufan, dan memotivasi para ikhwan agar semakin rajin (konsisten) melakukan amalan ajaran Islam khususnya amalan TQN. Pelaksanaan amalan manaqib berjama’ah paling sedikit 1x dalam sebulan dan susunan acara manaqib harus sesuai dengan Maklumat Nomor 50. PPS.III. 1995 tanggal 11 Maret 1995 yang ditandatangani oleh sesepuh Pontren Suryalaya, K.H. A. Shohibulwafa Tajul Arifin ra a. Pembukaan b. Pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an c. Pembacaan Tanbih d. Pembacaan Tawasul e. Pembacaan Manqabah dan Do’a f. Pembinaan pemahaman amalan g. Pembacaan shalawat Bani Hasyim 3x

92

Dalam maklumat tersebut terdapat beberapa catatan penting antara lain sebagai berikut: a. Kalau ada hal-hal penting yang disampaikan kepada para ikhwan/akhwat atau sambutan dari pejabat termasuk permohonan barakah al Fatihah adalah pada acara pembukaan. b. Setiap manaqib pada bulan Muharam, Rabiul Awwal, Rajab dan Dzulhijjah dibaca shalawat Badr setelah pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an c. Sebelum pembacaan Tanbih oleh yang mendapat kepercayaan untuk melaksanakannya, terlebih dahulu bertawasul kepada Syaikhuna al Mukaram Guru Almarhum Syekh H. Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad ra. Selesai pembacaan Tanbih diteruskan membaca Untaian Mutiara dan akhirnya ditutup dengan membaca Al Fatihah d. Rabithah : Hubungan atau kaitan murid dengan guru, baik ketika berdekatan fisik maupun ketika berjauhan fisik, demikian juga secara zhahir atau bathin e. Adab : Kehalusan dan kebaikan budi pekerti atau disebut juga akhlak murid terhadap guru, hingga membentuk pribadi yang dapat dijadikan panutan atau suri tauladan

93

f.

Kesetiaan : Setiap murid terhadap guru tidak cukup kalau hanya monoloyalitas artinya kesetiaannya tidak terpecah, tetapi harus sampai bersetia artinya setia selamanya.

g.

Riyadhah : Latihan untuk memantapkan pribadi setiap murid yang diberikan oleh Syaikhuna al Mukaram Wali Mursyid H.A. Shahibulwafa Tajul Arifin ra

Hal yang menjadi perhatian pada pembahasan bagian ini adalah tanbih yang mempunyai sinonim Wasiat, Amanat, Petunjuk, Pedoman, Peringatan, Pengajaran dan Nasihat. Materi dari tanbih adalah : a. Syekh Mursyid yang arif bersemayam di Patapan Kajembaran Rahmaniyah b. Do’a Syekh Mursyid untuk segenap murid-murid beliau c. Do’a Syekh Mursyid untuk pemimpin Negara d. Hak Prerogatif Syekh Mursyid e. Prinsip orang-orang yang beriman f. Pedoman dalam pergaulan g. Mengenal jati diri h. Membina persatuan dan kesatuan

94

i.

Sistem

pengamalan

Thariqat

Qadiriyah

Naqsabandiyah j. Tiga filter dalam usaha mencari jalan kebenaran dan kebaikan k. Tujuan hidup l. Kewajiban mengaplikasikan Tanbih dalam

kehidupan sehari-hari secara nyata dan terasa Dalam mengkaji tanbih terdapat untaian mutiara yang menyatu dengan Tanbih tersebut di atas yang terdiri dari lima macam esensi guna diwujudkan secara nyata dan terasa dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: a. Jangan membenci ulama yang sejaman (sesame umat Islam) b. Jangan menyalahkan terhadap pengajaran orang lain c. Jangan mengoreksi murid orang lain d. Jangan mengorak sila jika dikoreksi oleh orang lain (tersinggung) e. Harus kasih saying kepada orang yang

membencimu Tanbih adalah wasiat K.H. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (W. 1956 M) dalam bahasa Sunda, yang beliau tulis pada tahun 1954.

95

Tanbih ini diperuntukkan khusus bagi ikhwan-ikhwan TQN, baik yang berada di dalam maupun di luar negeri. Inti tanbih ini mengajarkan bagaimana

seharusnya ikhwan-ikhwan TQN hidup bermasyarakat, baik dengan Negara maupun dengan sesame saudaranya yang seagama dan saudaranya yang tidak seagama. Adapun tujuannya, agar mereka mendapat kebahagiaan dan ketentraman lahir batin. Dengan perkataan lain agar mereka menjadi manusia-manusia yang “Cageur

Bageur” (Budi Utama – Jasmani Sempurna). Untuk mencapai tujuan itu, diharapkan agar para ikhwan TQN mengamalkan ajaran TQN sebaik-baiknya dan bertindak teliti dalam segala jalan yang akan ditempuh. Ajaran TQN di Pondok Pesantren Suryalaya dikembangkan oleh dua orang mursyid, yaitu K.H. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (W. 1956 M) dan K.H. A. Shohibulwafa Tajul Arifin. 1. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur

Muhammad (Abah Sepuh)

96

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten

Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka Setelah memperhatikan menyelesaikan

kesejahteraan

masyarakat.

pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lainlain di tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengahtengah masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah

Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama. Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada tahun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih
97

terus belajar dan mendalami ilmu Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan

(bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim. Karena situasi dan kondisi di daerah Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage dan tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke Kampung Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal di rumah ayahnya. Pada tahun 1904 dari Cisero Abah Sepuh beserta keluarganya pindah ke Dusun Godebag.
98

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad kemudian dan bermukim dan memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sampai akhir hayatnya. Beliau memperoleh gelar Syaikh Mursyid. Dalam perjalanan sejarahnya, pada tahun 1950, Abah Sepuh hijrah dan bermukim di Gg Jaksa No 13 Bandung. Sekembalinya dari Bandung, beliau bermukim di rumah H Sobari Jl Cihideung No 39 Tasikmlaya dari tahun 1950-1956 sampai beliau wafat. Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad-sebagai Guru Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dengan segala keberhasilan yang dicapainya melalui perjuangan yang tidak ringan, dipanggil Al Khaliq kembali ke Rahmatullah pada tangal 25 Januari 1956, dalam usia 120 tahun. Beliau meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi

pembinaan umat manusia, agar senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta mewariskan sebuah wasiat berupa “TANBIH” yang sampai saat sekarang dijadikan pedoman bagi seluruh Ikhwan Thariqah Qadiriyah

99

Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dalam hidup dan kehidupannya. 2. KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom) KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.

100

Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancangancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang.

Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah. Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman

101

keagamaan

yang

mendalam.

Pengetahuan

beliau

meliputi tafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik

Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik. Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam

memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan

kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui

pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren

102

Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya. Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan,

pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu

103

agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan

membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang

pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok, BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin (Alm) Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dibutuhkan oleh segenap umat manusia. Pada periode K.H. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad ajaran TQN ini disampaikan kepada dan semakin

104

murid-muridnya melalui ceramah-ceramah, baik di mesjid-mesjid maupun di rumah-rumah. Oleh karena itu, tidak heran bila pada masa ini ajaran TQN dalam bentuk tulisan tidak banyak ditemukan kecuali sedikit. Berbeda dengan periode di atas, pada periode K.H. A. Shohibulwafa Tajul Arifin ajaran TQN ini tidak hanya disampaikan melalui ceramah-ceramah saja, tetapi juga melalui tulisan. Ajaran TQN dalam bentuk tulisan ini disusun sendiri oleh K.H. A. Shohibul wafa Tajul Arifin, secara bertahap dan dalam waktu yang cukup lama. Setelah itu diadakan penyempurnaan dan penelaahan kembali yang mendalam sehingga himpunan tulisan ini diberi nama dengan judul Miftah al-Shudur. Kitab ini menurut penyusun, khusus

diperuntukkan bagi ikhwan-ikhwan TQN, baik yang berada di dalam maupun di luar negeri. Adapun tujuannya, agar para ikhwan tersebut memperoleh ketegasan dan kemudahan dalam mempelajari serta mengamalkannya, sehingga pada akhirnya diharapkan mereka mendapat ketentraman jiwa dalam hidup di dunia ini dan kemenangan di akherat.

105

Inti ajaran yang terdapat dalam kitab “Miftah alShudur” ini merujuk kepada kitab-kitab karya ulama besar antara lain: Jami’ al-Ushul Fi al-Auliya karangan Ahmad al-Naqsyabandi, Manhl al-Saniyah ‘Ala alWashiyyah al-Maqbulah karangan ‘Abd al-Wahhab alSya’rani, Tanwir al-Qulub Fi Mu’amalah ‘Allam alGhuyub karangan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi, al-Fath al-Rabbani karangan Syekh ‘Abd al-Qadir alJailani, ‘Awarif al-Ma’arif karangan ‘Abd al-Qahir alSuhrawardi dan al-Shufiyah Fi Ilhamihim karangan Hasan al-Kamil al-Malthawi. 64 Pelajaran TQN juga terdapat dalam kitab ‘uqudul juman. Menurut bahasa uqud berarti ikatan-ikatan dan al-juman berarti permata. Jadi, uqud al-juman adalah ikatan-ikatan atau mata rantai permata. Kiranya buku ini diberi judul demikian karena isinya antara lain berisi tawashul, dalam wiridan dan khataman, kepada mata rantai yang mengajarkan Islam (TQN) sejak Allah Swt sehingga silsilah terakhir TQN. Dalam kitab Uqud alJuman terdapat tiga ajaran, yaitu: Wiridan, Khataman dan Silsilah TQN.

64

Ibid., h. 257-258 106

Sebagaimana proses penyampaian ajaran TQN, yang terkandung dalam kitab Miftah al-Shudur, pada mulanya, ketiga ajaran tersebut juga disampaikan oleh K.H. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, melalui ceramah-ceramah. Jumlah ikhwan TQN, baik dari dalam maupun dari luar negeri, terus meningkat dari tahun ke tahun. Oleh sebab itu, kiranya, menurut Pangersa K.H. A. Shohibulwafa, ketiga ajaran tersebut dirasa perlu untuk ditulis dalam sebuah buku yang kemudian diberi judul “Uqud al-Juman”. Adapun tujuan penulisannya juga sama dengan tujuan penulisan kitab “Miftah alShudur”, yaitu untuk mempertegas dan mempermudah para ikhwan TQN dalam memahami dan mengamalkan ketiga ajaran tersebut. Ketiga ajaran ini juga sama dengan ajaran Miftah al-Shudur diperuntukkan khusus bagi ikhwan TQN di dalam dan di luar negeri. 65

65

Ibid., h. 325. 107

E. Silsilah TQN Pondok Pesantren Suryalaya Silsilah adalah rangkaian para guru dan pengamal tarekat yang ada pada setiap tabaqah, sejak Rasulullah sebagai guru mursyid pertama hingga guru mursyid yang ada sekarang. Secara skema, sanad dan silsilah TQN Pondok Pesantren Suryalaya adalah sebagai berikut: 1. Allah SWT 2. Jibril ‘Alaihissalam 3. Muhammad SAW

QADIRIYYAH

NAQSYABANDIYYAH

4. Ali bin Abu Thalib 5. Husain Ibn ‘Ali 6. Zainal Abidin

4. Abu Bakar Siddiq ra. 5. Salman Al-Farisi 6. Qasim Ibnu Muhd Ibn Abu Bakar

7. Muhammad Baqir 8. Ja’far Al-Sadiq 9. Musa Al-Kazhim

7. Imam Ja’far Al-Sadiq 8. Abu Yazid al-Bustam 9. Abu Hasan Kharqani
108

10. Ali Ibnu Musa al-Ridha 10. Abu Ali Al-Farmadi 11. Ma’ruf al-Karkhi 12. Sirri Al-Saqati 13. Abu Al-Kasim Junaid Al-Baghdadi 14. Abu Bakar Al-Sibli 14. Muhammad Anjari 11. Syekh Yusuf Al-Hamdani 12. Abdul Khaliq Al-Gazdawi 13. Arif Riya Qari

15. Abdul Wahid Al-Tamimi 15. Ali Ramli Tamimi 16. Abu Al-Farraj Al-Turtusi 16. M. Baba Sammasi 17. Abdul Hasan Ali AlKarakhi 18. Abu Sa’id Mubarok Al-Majzumi 19. Syekh Abdul Kadir Al-Jailani 20. Abdul Aziz 21. M. Mattaq 22. Syamsuddin 23. Syarifuddin 20. Ya’qub Jareki 21. Ubaidillah Ahrari 22. M. Zahidi 23. Darwisi Muhammad Baqibillah 24. Nuruddin 25. Waliyuddin 26. Hisyamuddin 24. A. Faruqi Al-Sirhindi 25. Al-Maksum al-Sirhindi 26. Saifuddin Afif Muhammad 19. M. Alauddin al-Tari 18. Bahaudin an-Naqsyabandi 17. Amir Kulaili

109

27. Yahya 28. Abu Bakar

27. Nur Muhammad Badawi 28. Syamsuddin Habibullah Janjani

29. Abdul Rahim 30. Usman 31. Abdul Farrah 32. Muhammad Murad

29. Abdullah Al-Dahlawi 30. Abu Said Al-Ahmadi 31. Ahmad Said 32. M. Jan Al-Makki

33. Syamsuddin

33. Khalid Hilmi

34. A. Khatib Al-Sambasi 35. Syekh Tolhah Cirebon 36. Abdullah Mubarok Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) 37. KH Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom)

Dengan melihat silsilah tertulis di atas, jelaslah bahwa Abah Anom adalah salah seorang sanad TQN dan sekaligus sebagai seorang mursyid dalam tarekat tersebut. Beliau mendapat hirqah dari ayahandanya sendiri, Syaikh

110

Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya. Abah Anom selain sebagai mursyid (guru spiritual TQN), dalam kepesantrenan, juga beliau sebagai penerus, pengembang dan pengayom Pondok Pesantren Suryalaya sejak ayahandanya meninggal hingga saat ini. Dilihat dari segi ajaran, baik Abah Sepuh maupun Abah Anom sama-sama meneruskan, melestarikan dan mengembangkan TQN dengan salah satu wahana

pengembangannya adalah Pondok Pesantren dengan segala kelengkapannya. Betapa besar peranan Pondok Pesantren Suryalaya dalam pelestarian, dan pengembangan ajaran TQN, maka dinisbahkanlah term TQN kepada Pondok Pesantren Suryalaya. Dengan demikian, maka termasyhurlah dalam pembahasan bagian integral tarekat mu’tabarah sebutan TQN Pondok Pesantren Suryalaya Selain itu, TQN yang dikembangkan di Pondok Pesantren Suryalaya, juga memiliki kekhasan, yaitu ajarannya terbuka, boleh dipelajari, boleh diamalkan oleh semua kalangan dan segala umur, kontens ajarannya dikemas dalam bingkai yang praktis sehingga mudah bagi

111

siapa

saja

untuk

memahaminya

sekaligus

mengamalkannya. F. Praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Pesantren Suryalaya terletak di kampung Godebag Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung. Adapun batas-batas lokasi Pondok Pesantren Suryalaya Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung adalah sebagai berikut: 1. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Puteran Kecamatan Pagerageung 2. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Sindangherang kecamatan Panumbangan 3. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Guranteng Kecamatan Pagerageung 4. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaresik Adapun masjid-masjid yang mempraktekkan amalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pesantren Suryalaya adalah Masjid As-Salam. As-Shofa, Nurul Falah, Nurul Ulum, dan Al-Amin.

112

DATA MASJID DESA TANJUNGKERTA YANG MEMPRAKTEKKAN AMALAN TQN PESANTREN SURYALAYA
NO 1. MASJID As-Salam PENGAJIAN MANAQIB Tanggal 13 malam 14 Hijriyah 2. As-Shofa Tanggal 20 malam 21 Hijriyah 3. Nurul Falah Tanggal 19 malam 20 Hijriyah 4. Nurul Asror Tanggal 11 Hijriyah KH. A. Shohibul Wafa Tajul Arifin 5. Nurul Ulum Tanggal 18 malam 19 Hijriyah 6. Al-Amin Tanggal 23 malam 24 Hijriyah Taryudin Yusup Hamzah Ohim Abdurrohim Agus Sopyan KETUA DKM H. Endang S.

Selain praktek tarekat dilakukan di masjid, juga dilakukan di berikut ini :
NO 1. 2. 3. 4. MUSHALA Al-Hidayah Pa Juhandi Ciseupan Miftahul Jannah PENGAJIAN Hari Minggu Hari Jum’at Hari Rabu Jum’at keempat KETERANGAN Pengajian Umum Pengajian Umum Pengajian Umum Pengajian Umum

mushalla-mushalla

sebagaimana

data

113

5.

Al-Munawaroh

Tanggal 16 malam 17 Hijriyah

Pengajian Manaqib

6.

H. Rosid

Tanggal 6 malam 7 Hijriyah

Pengajian Manaqib

7.

Nurul Iman

Tanggal 24 malam 25 Hijriyah

Pengajian Manaqib

8. 9.

Al-Hidayah Baiturrahman

Hari Minggu Tanggal 18 malam 19 Hijriyah

Pengajian Umum Pengajian Manaqib

10.

H. Tanu

Tanggal 24 malam 25 Hijriyah

Pengajian Manaqib

11.

Pa Suhadma

Tanggal 7 malam 8 Hijriyah

Pengajian Manaqib

12.

Pa Usman

Tanggal 14 malam 15 Hijriyah

Pengajian Manaqib

13.

Desa

Minggu

ke

2

Pengajian Manaqib

setelah Suryalaya

Masjid-masjid dan mushala-mushala yang ada di desa Tanjungkerta semuanya mengikuti dan

mengamalkan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) Pesantren Suryalaya baik yang bersifat amalan harian, mingguan dan bulanan.

114

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan

sebelumnya, sampailah pada kesimpulan seperti di bawah ini : 1. Tarekat Qadiriah wa Naqsabandiah yang terdapat pada pesantren Suryalaya menggabungkan dua tarekat yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiah

dengan melakukan dzikir jahar dan khafi. Selain itu Tarekat ini juga melakukan “ritual” ubudiyah lainnya di samping sebagai upaya alternatif dalam pengobatan korban Narkoba. 2. Pelaksanaan Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiah ternyata berpengaruh terhadap kehidupan

beragama di lingkungan sekitarnya yaitu di Desa Tanjungkerta yang dapat dilihat dari seluruh aktifitas yang dilakukan oleh jamaah di Masjidmasjid dan mushalla.

115

B. Saran Dengan memperhatikan hasil dari penelitian ini yang menunjukkan adanya pengaruh tarekat dari Pesantren Suryalaya terhadap lingkungan sekitarnya (Desa

Tanjungkerta), maka dimohonkan kepada para peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian dengan dimensi yang lebih luas lagi.

116

LAMPIRAN I

Tanbih (Bahasa Sunda)

Ieu pangeling-ngeling ti Pangersa Guru Almarhum, Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, panglinggihan di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniah. Dawuhanana khusus kangge ka sadaya murid-murid pameget, istri, sepuh, anom, muga-muga sing ginanjar kawilujengan, masing-masing rahayu sapapanjangna, ulah aya kebengkahan jeung sadayana. Oge nu jadi Papayung Nagara sina tambih kamulyaananan, kaagunganana tiasa nagtayungan ka sadaya abdi-abdina, ngauban ka sadaya rakyatna dipaparin karaharjaan, kajembaran, kani’matan ku Gusti Nu Maha Suci dlohir bathin. Jeungna sim kuring nu jadi pananyaan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, ngahaturkeun kagegelan wasiat ka sadaya murid-murid poma sing hade-hade dina sagala laku lampah, ulah aya carekeun Agama jeung Nagara. Eta dua-duanana kawulaan sapantesna samistina, kudu kitu manusa anu tetep cicing dina kaimanan, tegesna tiasa ngawujudkeun karumasaan terhadep agama jeung nagara ta’at ka Hadorot Ilahi nu ngabuktikeun parentah dina agama jeung nagara. Inget sakabeh murid-murid, ulah kabaud ku pangwujuk napsu, kagendam ku panggoda syetan, sina awas kana jalan anu matak mengparkeun kana parentah agama jeung nagara sina telik kana diri bisi katarik ku iblis anu nyelipkeun dina bathin urang

117

sarerea. Anggurmah buktikeun kahadean sina medal tina kasucian : Kahiji : ka saluhureun ulah nanduk boh saluhureun harkatna atawa darajatna, boh dina kabogana estu kudu luyu akur jeung batur-batur. Kadua : ka sasama tegesna ka papantaran urang dina sagalagalana ulah rek pasea, sabalikna kudu rendah babarengan dina enggoning ngalakukeun parentah agama jeung nagara, ulah jadi pacogregan pacengkadan, bisi kaasup kana pangandika :Adzabun alim”, anu hartina jadi pilara salawasna, tidunya nepi ka akherat (badan payah ati susuah) Katilu : Ka sahandapeun ulah hayang ngahina atawa nyieun deleka culika, hentau daek ngajenan, sabalikna kudu heman, kalawan karidloan malar senang rasana gumbira atina, ulah sina ngarasa reuwas jeung giras, rasa kapapas mamaras, anggur ditungtun dituyun ku nasehatr anu lemah lembut, nu matak nimbulkeun nurut, bisa napak dina jalan kahadean. Kaopat : Kanu pakir jeung miskin kudu welas asih someah, tur budi beresih, sarta daek mere maweh, ngayatakeun hate urang sareh. Geura rasakeun awak urang sorangan kacida ngerikna ati ari dina kakurangan. Anu matak ulah rek kajongjonan ngeunah dewek henteu lian, da pakir miskin teh lain kahayangna sorangan, estu kadaring Pangeran. Tah kitu pigeusaneun manusa anu pinuh karumasaan, sanajan jeung sejen bangsa, sabab tungal turunan ti Nabi Adam a s. Numutkeun ayat 70 surat Isro anu pisundaeunana kieu : “Kacida ngamulyakeunana Kami ka turunan Adam, jeung Kami nyebarkeun sakabeh daratan oge lautan, jeung ngarijkian Kami ka maranehanana, anu aya di darat jeung lautan, jeung
118

Kami ngutamakeun ka maranehanana, malah leuwih utama ti mahkluk anu sejenna.” Jadi harti ieu ayat nyaeta akur jeung batur-batur ulah aya kuciwana, nurutkeun ayat tina surat Almaidah anu Sundana. “Kudu silih tulungan jeung batur dina enggoning kahadean jeung katakwaan terhadep agama jeung nagara, soson-soson ngalampahkeunana, sabalikna ulah silsih tulungan kana jalan perdosaan jeung permusuhan terhadep parentah agama jeung nagara.” Ari sebagi agama, saagamana-saagamana, nurutkeun surat Alkafirun ayat 6: “agama anjeun keur anjeun, agama kuring keur kuring”, surahna ulah jadi papaseaan “ kudu akur jeung batur-batur tapi ulah campur baur”. Geuning dawuhan sepuh baheula “ Sina logor dina liang jarum, ulah sereg di buana”. Lamun urangna henteu kitu tangtu hanjakal diakhirna. Karana anu matak tugeunah terhadep badan urang masing-masing eta teh tapak amal perbuatanana. Dina surat Annahli ayat 112 diuynggelkeun anu kieu : “Gusti Allah geus maparing conto pirang-pirang tempat, boh kampungna atawa desana atawa nagarana, anu dina eta tempat nuju aman sentosa, gemah ripah loh jinawi, aki-kari pendudukna (nu nyicinganana) teu narima kana ni’mat ti Pangeran, maka tuluy bae dina eta tempat kalaparan, loba kasusah, loba karisi jeung sajabana, kitu teh samata-mata pagawean maranehanana”. Ku lantaran kitu sakabeh murid-murid kudu arapik tilik jeung pamilih, dina nyiar jalan kahadean lahir bathin dunya akherat sangkan ngeunah nyawa betah jasad, ulah jadi kabengkahan

119

anu disuprih “cageur bageur”. Teu aya lian pagawean urang sarerea Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah amalkeun kalawan enya-enya keur ngahontal sagala kahadean dlohir bathin, keur nyingkahan sagala kagorengan dlohir bathin, anu ngeunaan ka jasad utama nyawa, anu dirungrung ku pangwujuk napsu, digoda ku dayana setan. Ieu wasiat kudu dilaksanakaeun ku sadaya murid-murid, supaya jadi kasalametan dunya rawuh akherat. Patapan4 Suryalaya, 13 Februari 1956 Ieu Wasiat kahatur ka sadaya akhli-akhli

(KH.A Shohibulwafa Tajul Arifin)

RANGGEUYAM MUTIARA Ulah ngewa ka ulama sajaman Ulah nyalahkeun kana pangajaran batur Ulah mariksa murid batur Ulah medal sila upama kapanah Kudu asih ka jalma nu mikangewa ka maneh

120

LAMPIRAN II Tanbih (Bahasa Indonesia)

Tanbih ini dari Syaekhuna Almarhum Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah. Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun wanita, tua maupun muda: “Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian. Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dhohir maupun bathin. Pun kami tempat orang bertanya tentang Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid : berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama maupun negara. Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadlirat Illahi Robbi yang membuktikan perintah dalam agama maupun negara. Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan setan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah agama maupun negara, agar dapat meneliti diri, kalau kalau tertarik oleh bisikan iblis yang selalu
121

menyelinap dalam hati sanubari kita. Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian : 1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik dlohir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun dan saling menghargai. 2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segalagalanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti dukanestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah). 3. Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan. 4. Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan. Demikanlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran, meskipun terhadap orang-orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a.s. mengingat ayat 70 Surat Isro yang artinya: “Sangat kami mulyakan keturunan Adam dan kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan
122

mereka lebih utama dai makhluk lainnya.” Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat Surat AlMaidah yang artinya : “Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap agama maupun negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah agama maupun negara". Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Surat Al-Kafirun ayat 6 :”Agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”, Maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur. Cobalah renungakan pepatah leluhur kita: “ Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri. Dalam surat An-Nahli ayat 112 diterangkan bahwa : “Tuhan yang Maha Esa telah memberikan contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri”. Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dlohir-bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya “ Budi UtamaJasmani Sempurna “ (Cageur-Bageur).

123

Tiada lain amalan kita, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan dhohir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan. Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap muridmurid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Amin. Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956. Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan

(KH.A Shohibulwafa Tadjul Arifin)

UNTAIAN MUTIARA Jangan membenci kepada ulama yang sejaman Jangan menyalahkan kepada pengajaran orang lain Jangan memeriksa murid orang lain Jangan mengubah sikap walau disakiti orang Harus menyayangi orang yang membenci kepadamu

124

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat, Ramadhani, Solo, 1992. Abubakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Ramadhani, Jakarta, 1992. Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Raja Grapindo Persada, Jakarta, 2009. Al Ghozali, Ikhya Ulum al Din, Juz I, Dar Al Ma’arif, Bairut Alwi Shihab, Islam Sufistik:: Islam Pertama dan Pengaruhnya hingga Kini di Indonesia, Mizan, Bandung, 2001. Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998. Asmaran AS.,Pengantar Studi Tasawuf, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994. Azyumardi Azra, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, Bandung: Mizan, 2002. Buletin LPM Edukasi Quantum, melirik Pendidikan Sufistik di Indonesia,Edisi 3/Th.2/XI/2003 Cecep Alba, Cahaya Tasawuf, CV. Wahana Karya Grafika, Bandung, cetakan pertama, 2009.

125

Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1992. Dadang Rahmad, Tarekat Dalam Islam Spiritualitas Masyarakat Modern, Pustaka Setia, Bandung, 2002. Drs. Saifudin Zuhri, MA., Pengaruh Tarekat di Dunia Islam, Makalah disampaikan dalam diskusi bulanan dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, tanggal 28 Nopember 1994. Elizabeth K Notingham, Sosiologi Agama, Rajawali, Jakarta, 1990. Fazlur Rahman, Islam, terj. Ahsin Mohammad., cet. Ke-3, Pustaka, Bandung, 1997. HAMKA, Tasawuf Modern, Pustaka Panjimas, Jakarta, 2000. HAR. Gibb and J.H. Karamers, Shorter Encyclopedia of Islam, Leiden : E.J. Eril, 1961 Harun Nasution, Filasafat dan Mistisime dalam Islam, Bulan Binatang, Jakarta, 1973. Hawas Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokohtokohnya di Nusantara, al Ikhlas, Surabaya, 1930. Ibnu Manzur, Lisân al-Arab, Dar Ihya al-Turats al-'Araby. Beirut, T.th. J. Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (London, Oxford, New York, Oxfor University Press, New York, 1971
126

John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Moderen, jilid 5, Mizan, Bandung, 2001. KH. Shohibul Wafa’ Tadjul Arifin, Miftah al-Shudur, Terj. H. Aboe Bakar Atjeh, Kunci Pembuka Dada, Kutamas, Sukabumi, t.t, ------------- Kitab Uquudul Jumaan, PT. Mudawwamah Warohmah, Tasikmalaya, cetakan pertama, 2007. -------------- Ibadah Sebagai Mathoda Pembinaan Korban Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja, khusus untuk ikhwan TQN, PT. Mudawwamah Warohmah, Tasikmalaya, 1985. Kharisudin Aqib, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Suryalaya Studi Tentang Tzkiyatun Nafsi Sebagai Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta, Tahun 2001 Mahfud Junaidi dalam MEDIA, Jurnal Ilmu dan Pendidikan Islam, Benang Merah Sufisme dan Pendidikan Dalam Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2000. Mir Valiuddin, Contemplative Disiplines in Sufism, Terj. M.S. Nasrullah, Dzikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf , Pustaka Hidayah, Bandung, 2000. Shohimun Faisol dan Muhammad, dalam makalah Kontribusi Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Dalam Dakwah Islamiyah Di Lombok.

127

Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2004. Unang Sunardjo, Naskah Buku Pesantren Suryalaya dalam Perjalanan Sejarahnya, Yayasan Serba Bhakti Suryalaya, 1985. Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Survey Historis, Geografis, dan Sosiologis, Mizan, Bandung, 1996. www.suryalaya.org/sejarah.html diakses tanggal 1 Mei 2010 Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1985. Zurkani Yahya, Asal Usul Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan perkembangannya dalam Harun Nasution (ed) Tareqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah: Sejarah Asal Usul dan Perkembangannya, IAILM, Tasikmalaya, 1990.

128

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful