BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

TIM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2013

1

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan sistem Blok Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dapat terselesaikan dengan baik. Kurikulum baru ini dirancang untuk menjawab tantangan global dunia pendidikan khususnya untuk mencipta Ners yang terampil dan profesional. Pendidikan keperawatan pada masa kini selalu mengalami perubahan dinamis, cepat dan kontinyu. Ners dari Universitas Jenderal Soedirman diharapkan mampu menangani pasien maupun masalah kesehatan di masyarakat, sehingga wajib dibekali pengetahuan yang luas, keterampilan yang handal, mampu berkomunikasi berdasarkan empati (komunikasi efektif), serta berbudi pekerti luhur yang tercermin pada sikap dan perilaku. Beranjak dari hal itu, maka (KBK) dengan sistim Blok disusun berdasarkan paradigma baru pendidikan Ners dengan waktu studi diselesaikan minimal selama 3,5 tahun untuk akademik dan satu tahun untuk profesi Ners. Program yang dijalankan untuk menyelesaikan kurikulum baru ini, dijabarkan dalam bentuk program semester yang dilaksanakan dengan pola blok tematik berdasarkan kebutuhan hirarkhi Maslow. Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini merupakan panduan belajar mahasiswa pada ranah psikomotor yang tentunya ranah kognitif dan afektif juga ikut terlibat di dalamnya. Jumlah keterampilan tindakan pada Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini berjumlah 9 keterampilan. Kompetensi psikomotor pada blok ini diharapkan dimiliki oleh seorang Ners atau calon perawat lulusan Universitas Jenderal Soedirman, sehingga setelah menjalani Blok Fundamental of Nursing II selama 5 minggu kemampuan yang diperoleh dapat diinternalisasikan dan terus-menerus diterapkan pada tingkat selanjutnya sampai nanti menjadi Ners praktisi. Saran dan kritik membangun masih kami tim terima dalam rangka perbaikan buku panduan Blok Fundamental of Nursing II ini sehingga pengembangan dan peningkatan mutu pendididikan profesi keperawatan khususnya di Jurusan keperawatan FKIK Unsoed ini akan terwujud dengan kerja sama berbagai pihak dalam proses pembelajaran bersama.

Purwokerto, 10 September 2013

Tim Blok Fundamental of Nursing II

2

DAFTAR ISI DDST ...................................................................................................... KPSP........................................................................................................ Pengenalan Bentuk-Bentuk Sediaan Obat............................................... Rute Pemberian Obat............................................................................... Menghitung dosis obat............................................................................. Leg Exercise ............................................................................................ Pemeriksaan Fisik Anak dan Neonatus ................................................... Ballard Test..............................................................................................

3

Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak b. Apa yang harus dilakukan bila hasil DDST Suspect. Fungsi DDST Fungsi DDST adalah: a. Untuk pedoman dalam perawatan perkembangan anak d. Pengertian DDST DDST kependekan dari Denver Developmental Screening Test yaitu suatu test untuk melakukan pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia 1 bulan sampai dengan 6 tahun menurut Denver. Rekomendasi untuk rujukan test suspect atau untestable : d. 2. Normal : Tidak ada kelambatan b. melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil. 3) Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara. Untestable : Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75 % sampai dengan 90 %. Intrepretasi hasil DDST a. 2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu. tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Tujuan DDST Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar. Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan factor 4 . 4. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Suspect : Satu atau lebih kelambatan dan/atau dua atau lebih banyak kewaspadaan. 3.DDST (DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST) 1. Untuk mendeteksi dini keterlambatan perkembangan anak Aspek perkembangan yang diamati terdiri dari 125 tugas perkembangan. bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. bahasa. c. Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1) Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri. Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia 1 bulan dampai dengan 6 tahun. mengikuti perintah dan berbicara spontan 4) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas. Untuk menstimulasi perkembangan anak c.

1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan. Abnormal. pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia . Kemudian dapat dilakukan pada anak yang berusia: 3 tahun. C. OK Melewati. ketersediaan rujukan. Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut) B. gagal. 9-12 bulan. 4 tahun. Meragukan dan Tidak dapat dites. hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal. gunakan penilaian klinis berdasarkan hal berikut : angka kewaspadaan dan kelambatan. Cara Pemeriksaan Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap. Pada anak-anak yang lahir prematur. Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan. penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan. e. pemeriksaan dan riwayat klinis. Berdasarkan pedoman. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. yaitu: A. atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75 C. Langkah-langkah pemeriksaan DDST: 1) Tetapkan umur kronologis anak. usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun Interpretasi dari nilai Denver II: A. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90 D.temporer. tanyakan tanggal lahir anak yang akan 5 . dan 5 tahun B. 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu 5. Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis. Bila skrining ulang bersifat suspect atau untestable. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. dan 18-24 bulan.

Alat peraga: benang wol merah. Lula adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan. Penilaian: Jika Lulus (Passed = P). Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST.2) 3) 4) 5) diperiksa. ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. sehingga usia kronologis An. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. 2). Alat yang Digunakan 1). Peralatan makan. buku gambar/ kertas. Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. Lula lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. pakaian. Contoh: An. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah: 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah. gagal (Fail = F). kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). pensil. jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas. kartu/ permainan ular tangga. Lula? Jawab: 2008 – 4 – 1 2006 – 8 – 5 1 – 7 -26 Jadi usia An. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor. 6. kismis/ manik-manik. Lembar formulir DDST II 3). peralatan gosok gigi. Hitung usia kronologis An. 6 . kubus warna merah-kuning-hijau-biru. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. berapa yang P dan berapa yang F. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008.

Motorik kasar (Gross motoric) d. meliputi aspek perkembangan: a. Bahasa c. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 3) Berikan privasi. Nilai: Purwokerto.Nama NPM No.) PIJAT BAYI 7 . Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………………. dekatkan pada pemeriksa. dan nama pemeriksa (tanda tangan). 3. 4. waktu. Motorik halus (Fine motoric) 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 1) Observasi perubahan perilaku anak 2) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 3) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan Dokumentasi 1) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 2) Catat tanggal. lakukan pendekatan pada anak. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 1) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 2) Jelaskan prosedur pemeriksaan. Personal sosial b. 5. 1. 2) Pastikan ruangan hangat. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 1) Siapkan lembar formulit DDST yang akan digunakan 2) Hitung usia kronologis anak. FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN DDST/DENVER II : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 1) Siapkan alat yang akan digunakan. pindahkan pada formulir sesuai dengan usia kronologis anak 3) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 4) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. ……… Evaluator Nilai 1 2 2.

jarang mengalami simptom hospitalismus (gangguan yang sering dialami bayi yang tinggal di panti asuhan. disarankan hanya diberi gerakan usapan halus. dan diakhiri pada bagian punggung.Oleh Dian Ramawati. Pijatan juga terbukti dapat melegakan saluran napas yang menyempit karena asma. Tidurnya pun bertambah tenang. dan pijatan akan mempererat ikatan kasih sayang orang tua dengan anak. Lagi pula ia akan merasa aman karena merasa yakin memiliki kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. dokter anak dan psikiater dari Amerika. David Hull. perbaikan kondisi psikis. menurut dr. tidak perlu mengundang dukun pijat bayi sebab pemijatan bisa dilakukan sendiri.3 bulan juga meningkatkan kesiagaan (alertness) dan tangisnya berkurang. belaian. M. bagian dada. melaporkan. sebaiknya tidak dipijat di daerah perut.Kep.1 bulan. dalam makalah berjudul Touch Therapy: Science Confirms Instinct. bisa menerapkan teknik dan tahapan pemijatan masing-masing. Namun. mampu mengurangi perasaan gelisah dan depresi sehingga 8 .3 bulan. Terapi pijat 15 menit selama enam minggu pada bayi usia 1 . sentuhan orang tua merupakan dasar perkembangan komunikasi.. Tiap individu. Ini akan diikuti dengan peningkatan berat badan. Sp. Pemijatan dimulai dari kaki. diberi gerakan pijat halus dengan tekanan ringan. yang akan memupuk cinta kasih timbal-balik.Kep.. Terhadap perkembangan emosi anak. seperti radang telinga tengah. ahli virologi mulekuler dari Inggris. Sentuhan. tangan. dll. Sebelum tali pusat lepas. An Pengertian Sentuhan alamiah pada bayi sesungguhnya sama artinya dengan tindakan mengurut atau memijat. Field seperti dikutip dr. Untuk bayi usia 3 bulan . menyebutkan terapi pijat 30 menit per hari bisa mengurangi depresi dan kecemasan. Pengamatan T. Tak ada teknik pijat yang baku. campak. bayi yang banyak memperoleh sentuhan. Utami Roesli. dan menjadi penentu bagi anak untuk menjadi anak yang berbudi pekerti dan percaya diri.). berkurangnya kadar hormon stres. ia bisa menjadi terapi untuk mendapatkan banyak manfaat buat bayi. J. untuk bayi berumur 0 . muka. gangguan usus.3 tahun. bisa ditambah dengan tekanan. dan bertambahnya kadar serotonin. Ns. Untuk keperluan itu. Rene Spitz. khususnya dari ibu. Bayi umur 1 . Kalau tindakan ini dilakukan secara teratur dan sesuai dengan tata cara dan teknik pemijatan bayi.

dan gerakan lingkar) bisa saling melengkapi. Pemijatan dapat dilakukan pagi hari sebelum mandi. remasan dapat membuat otot bayi menjadi lebih kuat. hasilnya akan lebih baik. ibu. lingkaran yang terbentuk akan makin bulat. berkhasiat pada jaringan penentu kemelaran otot yang terletak pada gelendong jaringan otot. Barbara Ahr. Pada anak yang lesu dan malas bergerak.serangan asma berkurang. dapat menenangkan anak. Cara lain. kocokan. Sejak usia enam bulan. Penelitian di Australia 9 . aliran darah meningkat dan pembuluh darah lebih lebar. Setiap gerakan yang berkaitan dengan kegiatan mengurut atau memijat memiliki khasiat. Teknik remasan dilakukan dengan cara bagian tungkai atau lengan dipadatkan atau dimelarkan menggunakan sisi tangan bagian dalam dan sedikit gerakan memeras. Tindakan pijat dikurangi seiring dengan bertambahnya usia bayi. Semua teknik urut (usapan. Teknik kocokan dilakukan dengan cara "menggulung". menganjurkan agar usapan dilakukan sedikit lebih bertenaga dan diarahkan ke jantung. dr. menurut Ahr. Bisa juga malam hari sebelum bayi tidur sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak. Hasilnya. dapat dimulai kapan saja sesuai keinginan. Mula-mula dilakukan usapan. Dari lingkaran besar kemudian mengecil. bahkan ke bagian jaringan lebih dalam. Utami Roesli menyebutkan bahwa pijat bayi dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. Teknik ini bermanfaat untuk mengendorkan jaringan. Jadi. nenek. Teknik urut lingkar. Mengurut bayi bisa juga dengan gerakan remasan. Remasan. pijat dua hari sekali sudah memadai. Bila dikerjakan secara lengkap. ahli fosioterapi. kemudian membuat bentuk lingkaran-lingkaran dengan kedua tangan. Dengan latihan. dengan teknik lingkar. Usapan juga dapat merangsang aliran darah dan getah bening. sehingga bermanfaat bagi anak yang berpembawaan gugup. Pemijatan bisa dilakukan oleh ayah. mirip gerakan membuat adonan roti. memberikan stimulasi pada permukaan jaringan. atau anggota keluarga lain. sekaligus akan lebih melancarkan peredaran darah. remasan. sambil mengurut seperti menggulung sosis atau mengaduk adonan. Dengan kata lain. Bahkan pemijatan pada bayi dari ibu HIV-positif dapat lebih menaikkan berat badan dan meningkatkan perkembangan motorik bayi. menurut Ahr. Bayi akan mendapat keuntungan lebih besar bila pemijatan dilakukan tiap hari sejak lahir sampai usia enam atau tujuh bulan. Gerakan usapan misalnya. Tangan diletakkan sejajar dengan anggota badan.

membuktikan. Meningkatkan daya tahan tubuh / imunitas bayi Meningkatkan rasa percaya dan harga diri pada pasangan muda Alat yang digunakan 1. produksi ASI akan lebih banyak. 3. sambil diajak berbicara. 4. Lakukan sentuhan ringan dan lembut. Sebelum dan selama pemijatan. 3. Akibatnya. atau tak mau dipijat. 3. Baju bersih (popok. 4. kulit bayi perlu sesering mungkin dilumuri baby oil atau baby lotion. Bayi sudah makan atau benarbenar tidak sedang lapar. 2. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. sarung tangan dan kaki) Handuk Baby oil / baby lotion Alas kain / kasur kecil . Tapi jangan memijat segera setelah bayi selesai makan. nenek atau paman) Meningkatkan nafsu makan dan berat badan bayi Bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus-nya (saraf otak ke10). Langkah Kerja 1. pastikan tangan Anda bersih dan hangat. 10 Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. jangan membangunkan bayi hanya untuk dipijat. Jangan memijat bayi yang sedang tidak sehat. ayah. Tidak boleh memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi. 2. Periksa kuku dan perhiasan untuk menghindari goresan pada kulit bayi. Tujuan 1. 2. Meningkatkan bonding attachment antara bayi dengan anggota keluarga yang lain (ibu. Sebelum memijat. Ini membuat kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin naik sehingga penyerapan terhadap sari makanan pun menjadi lebih baik. bayi yang dipijat ayahnya berat badannya cenderung naik dan hubungan dengan ayah makin baik. Yang juga penting diperhatikan. Penyerapan makanan yang lebih baik akan menyebabkan si kecil cepat lapar dan karena itu lebih sering menyusu.

Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi. muka. gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki. membuat lingkaran-lingkaran kecil pada telapak kaki. disusui. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. 4. Bila bayi menangis. Untuk menciptakan suasana tenang. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. Anda bisa belajar mengenali reaksi anak dan bisa mengamati penerimaan kegiatan memijat ini oleh anak. 11. 6. Atau. Mungkin bayi minta digendong.terutama bila bayi sudah mulai menerima pijatan itu. bagian dada. Kalau tangisnya makin keras. dua tangan bergerak bersamaan. Telapak kaki diurut dengan kedua ibu jari. tangan. Untuk memijat perut. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. Atau. dari pangkal paha dengan gerakan memeras. dan memutar kaki bayi secara lembut. telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. memijat. 7. Selama pemijatan. atau mengantuk. 10. ada baiknya sambil bersenandung atau memutar lagu lembut. 5. Lewat kontak pandang. dengan 11 . Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. Selanjutnya kedua tangan membuat Rapatkan kedua kaki bayi. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. dari atas ke bawah. 8. Pemijatan dimulai dari kaki. dan diakhiri pada bagian punggung. 9. pemijatan sebaiknya dihentikan.

gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. gerakan seperti membuat gambar jantung kecil di sekitar puting susu. Cara lain. Pada telapak tangan. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. 14. Atau. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. gerakan membuat gambar jantung besar hingga ke tepi selangka. Atau. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. Ada juga gerakan membuat lingkaran-lingkaran searah jarum jam. 16. 13. kedua tangan melakukan gerakan memeras. memijat. gerakan membentuk huruf "U". dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Selanjutnya. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari tengah dada ke samping. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. 15. Atau. lalu jari-jari tangan diregangkan seolah membuat gambar burung kecil. Kemudian kedua lengan bayi 12 .12. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda.

tengah ke samping. dengan gerakan mengusap. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. 19.17. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. membuat lingkaran-lingkaran kecil. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. 18. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. 20. juga ke daerah pipi di bawah mata. 13 . dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Atau.

. pastikan tangan kering dan hangat c.. pemijatan sebaiknya dihentikan.... lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu... Bila bayi menangis.. Untuk memijat perut.. Lakukan sentuhan ringan dan lembut. l..CHECK LIST PIJAT BAYI Nama Mahasiswa : . Letakkan bayi pada pangkuan / matras / kasur Tahap Kerja a. Lumuri badan bayi dengan baby oil / baby lotion sesering mungkin sebelum dan selama pemijatan d. g..... gerakan membentuk huruf "U". memijat. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan.. dan diakhiri pada bagian punggung. dan memutar kaki bayi secara lembut.. Ada juga gerakan membuat lingkaranlingkaran searah jarum jam.. Selanjutnya.. Aspek yang Dinilai Tahap Pre – Interaksi a. Kaji kondisi bayi b. Siapkan alat yang akan digunakan : • Alas kain / kasur / matras • Baby oil / baby lotion • Baju bersih • Handuk b... Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari.. Lepaskan perhiasan pada tangan yang dapat menggores kulit bayi Tahap Orientasi a... muka. Urut kedua telapak kaki dengan ibu jari. Selama pemijatan.. dari pangkal paha dengan gerakan memeras. dari atas ke bawah.. i.. bagian dada... Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. NIM No 1. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari 14 Nilai 0 1 2 2... membuat lingkaranlingkaran kecil pada telapak kaki.. dua tangan bergerak bersamaan.. 3.... e. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi. h. Rapatkan kedua kaki bayi...... Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki.. dengan telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. Letakkan handuk untuk menutupi badan bayi b. tangan. Cuci tangan. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi.. Atau. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. f.. Kalau tangisnya makin keras. m.. c.. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. : .. Pemijatan dimulai dari kaki.. k. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. . j.. sambil diajak berbicara. Selanjutnya kedua tangan membuat gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki...

q. Atau. Tahap Terminasi a. Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. Kaji respon bayi selama dan setelah dilakukan tindakan b. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. Pada telapak tangan. Kemudian kedua lengan bayi dirapatkan ke badannya dan diusap lembut.. juga ke daerah pipi di bawah mata. (…………………………. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Pakaikan bayi baju bersih yang telah disiapkan Purwokerto. ……………… Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai : Evaluator. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati.) 15 . 4. s. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. Atau. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. membuat lingkaran-lingkaran kecil. t. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis.n. kedua tangan melakukan gerakan memeras. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari tengah ke samping. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. dengan gerakan mengusap. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. r. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. tengah dada ke samping. Atau. p. memijat. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. o. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda.

dan sudut square window (fleksi pergelangan tangan) lebih dari 90 derajat. Mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. 2. jaringan payudara tidak dapat diidentifikasi. Untuk bayi dengan usia gestasi kurang dari 26 minggu dapat dilakukan dalam waktu sampai 96 jam setelah kelahiran. Pada bayi premature dilakukan dalam waktu kurang dari 96 jam. 1. Setiap tanda mempunyai skor dan skor kumulatif yang didasarkan dengan rentang skala maturitas gestasi dari 20 sampai dengan 40 minggu. 3. 4. 16 . tanda scarf. seperti penyatuan kelopak mata. 2. 3. yaitu postur. Alat Format pengkajian Ballard Test. 1. Indikasi Dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam pada bayi dengan usia gestasi 20 minggu. tidak ada lanugo (rambut halus di permukaan kulit). Skala Ballard dapat digunakan untuk melakukan pengkajian pada bayi baru lahir usia gestasi 20 minggu. 1. Salah satu metode yang paling sering digunakan tentang penentuan usia gestasi didasarkan pada temuan fisik dan neurologis. kulit transparan lembab. recoil lengan. Tujuan Memastikan usia gestasi bayi baru lahir. Pengkajian meliputi enam tanda-tanda neuromuskular dan fisik eksternal. dan tumit sampai telinga. sudut popliteal. 2. 3. Memberikan perawatan yang dibutuhkan oleh bayi sesuai dengan usia gestasinya. square window. Alat ini mempunyai bagian fisik dan neuromuscular yang mencakup skor -1 dan -2 yang menunjukkan bayi sangat premature.PENGKAJIAN USIA GESTASI 1. Pengertian Pengkajian usia gestasi merupakan kriteria penting karena morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) perinatal berhubungan dengan usia gestasi dan berat badan lahir.

Posisikan bayi telentang. Observasi letak siku terhadap garis tengah. 3. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah. 11. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen. posisikan bayi telentang. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. 9. 7. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. dan pernafasan) Siapkan meja periksa yang telah dialasi dengan kain yang lembut dan bersih. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Tonus otot dan derajat fleksi meningkat sesuai maturitas. 4. Telapak tangan bayi akan terlihat seperti akan menggengam. Letakkan bayi diatas meja periksa. Setelah bayi tenang. 1. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. 5. 17 . fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. 4. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat. 5. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. tahan selama 5 detik. Prosedur Kerja Jelaskan prosedur pada ibu dan keluarga. Meteran Meja dan lampu periksa. Cuci tangan Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi.2. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. 3. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. 10. Ukur sudut dibelakang lutut. suhu. 2. 8. Alas dan selimut bayi. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut (sama dengan sudut popliteal). ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. selimuti dan nyalakan lampu periksa. 6.

18 . Tentukan usia gestasi bayi (matur atau premature). Ukur panjang. Catat hasil pemeriksaan pada format yang tersedia. berat badan dan lingkar kepala bayi. 15. 16.12. berikan kepada ibu dan keluarga. cuci tangan. 13. 14. Selimuti bayi. Dokumentasikan pada catatan perkembangan bayi. Bereskan alat.

19 .

20 .

fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen k.. Ukur sudut dibelakang lutut. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. Siapkan alat-alat : alasi meja periksa dengan bahan halus dan bersih. Observasi letak siku terhadap garis tengah. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat i. Bawa alat-alat dalam baki dan letakkan dekat bayi. selimuti dan nyalakan lampu periksa. Tahap Kerja a. . Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. berat badan dan lingkar kepala bayi. suhu. Cuci tangan perawat. Check List PENGKAJIAN USIA GESTASI (BALLARD TEST) : ………………………… : ………………………. tahan selama 5 detik. f.6. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. b. n. q. d. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. b. 3. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. Tahap Terminasi 21 Nilai 0 1 2 2. l. Setelah bayi tenang. m. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut p. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah h. Baca kembali RM bayi. posisikan bayi telentang. g. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. c. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. j. Ukur panjang. berikan privasi. Bereskan alat-alat. e.. o. Letakkan bayi diatas meja periksa. dan pernafasan) Tahap Orientasi a. cuci tangan. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. dan pastikan suhu kamar hangat.. NAMA NIM No 1. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Jelaskan prosedur kepada keluarga. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. Posisikan bayi telentang. 4. b. Aspek yang dinilai Tahap Pra-Interaksi a.

. Catat hasil pemeriksaan pada format pengkajian............ nadi dan pernafasan serta respon bayi b. b... Nilai : Purwokerto... …………….. ... Observasi suhu..... a. Dokumentasikan tanggal dan waktu tindakan... Evaluator Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75 % dari total nilai tindakan..5..(...... 22 .... tentukan usia gestasi bayi......... Kontrak untuk pertemuan selanjutnya bila diperlukan Dokumentasi a...

Ruangan dengan dekorasi menarik . Tinggi badan c. g. Lingkar kepala : 23 . Suhu ruangan nyaman . d. b. 2. mulai dari anak yang paling kooperatif 6.PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK PEDOMAN: 1. 4. c.Jika anak tidak siap : a. b. a. Bercerita yang lucu atau bermain magic sederhana. c. Lakukan dengan program bermain. gunakan ruangan yang terisolasi. Kaji kesiapan anak : a. c. Ijinkan anak untuk menyentuhperalatan pemerikasaan. 8. Libatkan orang tua selama proses f. 3. Mau berbicara dengan Perawat. prinsip ABC dan daerah injury lebih dahulu. 9. Kaji adanya f1engalaman traumatik e. Mulai dari prosedur yang kurang mengancam. Tinggi badan: Lahir-36 bulan: posisi recumbent 2 tahun-18 tahun : berdiri b. Hargai dan puji anak atas ker jasama selama periksaan PEMERIKSAAN FISIK I. e. Lakukan pemeriksaan dengan bertahap a. Jaga privacy anak terutama anak usia sekolah dan remaja. Jika memungkinkan sediakan ruangan yang sesuai dengan tahap usia. Lingkar lengan d. Menerima peralatan yang diberikan. Hindari penjelason yang lama tentang prosedur pemerikasaan. Diskusikan hasil pemeriksaan pada keluarga. Dilakukan pada area yang tidak berbahaya: a. lalu secara bertahap alihkan kepada orang tua atau mainan anak b. . Mau dipisah dari orang tua . Membiarkan sentuhan fisiko e. Lebih perhatian kepada orang tua. d. Minimalkan stimulasi (batasi jumlah orang.. d. Membina kontak mata. a Lakukan pemeriksaan secepat mungkin. Sediakan mainan. b. Head to toe b. diperiksa terakhir. lingkar lengan dan Iingkar kepala. c. dan suara yang lembut. Libatkan dalam proses: a. 5. PENGUKURAN PERTUMBUHAN Terdiri atas berat badan. Berikan pilihan (misal dipangkuan ibu atau diatas meja). Daerah yang sakit. Beri pujian atas penampilan (pakaian) anak atau mainan favorit anak. tinggi badan. Situasi emergensi. boneka . 7. c. Jika ada beberapa anak. Jelaskan setiap tahap dengan bahasa yang sederhana.

posisi. KEPALA Observosi: • Bentuk & simetris : senyum.bayi mampu mengangkat kepala Head lag setelah 6 bulan. Kulit Tekstur. tonsilar. servikal. aksila Dipengaruhi oleh usia. pinna dan mengelilingi occipital Pada usia 1-2 tahun LK=LD Lakukan interpretasi merujuk pada NCHS. postur. II. Tempratur : oral. Variasi warna kulit : sianosis. submaksilaris. nyeri : akan memilih satu posisi tertentu Hygene : bau badan. Perkembangan. posisi dan pergerakan tubuh Anak dengan pendengaran yang kurang. Pernapasan: c. kecemasan dan faktor patologik Cara: pada bayi observasi gerakan abdomen dan satu menit penuh d. pallor. 24 . Denyut nadi : Bayi : denyut apikal Lebih dari 2 tahun : denyut radial Pada bayi hitung satu menit penuh b. f. perkembangan dan bicara Wajah: Meringis : nyeri. keadaan nutrisi. kelembaban dan turgor. interaksi dengan orang too dan perawat. tampak sakit umum. PENGUKURAN FISIOlOGIS a. kanan) Hambatan ROM: wryneck (torticolitis) Timbul akibat injury otot sternocleidomastoditis Kepala melihat ke satu sisi dan dagu bertitik pada satu point. interaksi dengan orang tua dan perawat dan respon terhadap stimulus. Area pemeriksaan : subingual. Postur. indikasi injury serebri • ROM Minta anak untuk melihat (atas.- Perlu diukur sampai usia 36 bulan Lokasi : diatas alis mata. kesulitan bernapas. bawah. demam. paralisis ? • Kontrol kepala & posture kepala Usia 4 bulan. eritema. genetik dan fisiologis. gigi dan pakaian Behavior: tingkat aktivitas. Kelenjar limphe Cara : Lakukan palpasi dengan gerakan melingkar pada lokasi yang biasanya terdapat kelenjar Iimphe. kuku. kiri. distribusi dan elastisitas Faktor yang rnempengaruhi : Iingkungan. Adalah penilaian subjektif atas penampilan fisik anak. petekia dan jaundice g. Dilakukan dengan observasi. akan memajukan tubuh. aktivitas. aksilaris dan inguinal is. tetapi akan lebih akurat dengan menggunakan DDST. rectal. Penampilan umum. tempratur. reaksi terhadap stres. h. Tekanan darah e.

misal tumor dan benda asing di paru • Kelenjar tiroid o Di dasar leher o 2 lobus kiri kanan dihubungkan oleh is~mus j.5 Inner chantal distance: 2. Sklera Normal: putih Kuning : jaundice Kornea : normal : transparan dan bersih Iris: ukuran. indikasi iritasi meningeal Palpasi Sutura. indikasi problem paru-paru.5.nyeri pada saat flexi. infeksi mulut.Down Syndrome Ptosis? Blinking reflex: Asimetric : paralisis Infrequent : kelemahan otot Bulu mata : distribusi. dan kejernihan 2. Inspeksi struktur internal . fontanel & pembengkakan Fontanel anterior : 12 -18 bulan Fontanel posterior menutup: 2 bulan i.Pertumbuhan bulu mata atas ke bawah beresiko infeksi. lepaskan karena akan menyebabkan distorsi gambar kecuali jika kacamata digunakan untuk mengoreksi astigmatis berat dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan ketajaman penglihatan pemeriksaan dilakukan di ruangan redup tetapi tidak perlu digelapkan persiapkan anak: • demonstrasikan penggunaan alat • jelaskan alaSQn peredupan ruangan 25 .5 . warna. arah pertumbuhan dan warna. agak ke kanan Abnormal: Pergeseran. LEHER Observasi Ukuran: • Normal leher pendek + adanya Iipatan kulit antara leher + kepala + bahu • Abnormal : Leher pendek : sindrome Turner Leher edema : Mumps. Difteri Pelebaran vena di leher : indikasi kesulitan ekspirasi pada astma + cystis fibrosi Palpasi • Masa? • Normal: trachea di tengah. MATA 1. Inspeksi struktur internal menggunakan ophtalmoskop jika anak menggunakan kaca mota.5 Jarak > besar: Hipertelorisme Hipertelorism: epicantal fold upward Palpebral slant : indikasi pada .Epistotonos: hiperextensi kepala dg. Jarak antar pupil 4.

dan penglihatan warna a. mereka bisa membaca huruf yang besarnya 7 mm . Otak akan mensupresi image yang dihasilkan oleh mata.Test Penglihatan Terdiri atas 4 jenis. dst. Cover test Tutup satu mata b. mobil. mobil. BINOCULARITY Kemampuan untuk memfiksasi satu lapangan penolong dengan dua mata secara simultan Normal: 3 . telpon. binocularity Strabismus. satu mota deviasi pada satu point. kebutaan (Amblyopia) Dua test deteksi malposisi : 1.4 bulan. Epichantal fold akan menimbulkan salah persepsi pseudostrabismus 2. dengan optalmoskop. menolak untuk rnernbuka rnata setelah terkena cahaya. Corneal light reflex test (Red reflex gemini = Hirschberg test) a. menutup mata. • Merupakan standar ketajaman penglihatan Jika hanya bisa membaca pada tine (baris) 2 : ketajaman penglihatannya 20/100. strabismus. Test ketajaman penglihatan Yaitu kemampuan untuk melihat benda-benda yang dekat dan jauh Test : Snellen Letter Chart jarak: 20 dari snellen chart lalu membaca setiap huruf yang ada Jika bisa membaca pad a garis ke-7.Jika dideteksi dalam 4-6 tahun. Binocularity b. Walau begitu test ini tidak cukup untuk menilai penglihatan anak Test lain yang juga dapat digunakan adalah kernarnpuan bayi untuk 26 . artinya ketajaman penglihatan 20/20 Arti: pada jarak 20 feet. Ketajaman penglihatan c.30 bulan Simbol: rumah. ia hanya bisa melihat pada jarak 20 feet Snellen chart : digunakan pad a anak preschool Untuk anak 2 tahun : Black Bird Vision Screening Vision System • Anak diminta untuk menyebutkan ke arah mana burung akan terbang • Mungkin sulit untuk mengkoordinasikan mata & tangan Faye Symbol Charts 27 . Evaluasi terhadap adanya kontriksi pupil. normal: jika cahaya jatuh simetris pada setiap pupil abnormal: jika cahaya tidak jatuh pada satu pusat mata. lama kelamaan menyebabkan kelemahan pada mata. bertambahnya alertness. Penglihatan perifer d. apel. penglihatan perifer. yaitu : test binocularity. Test ketajaman penglihatan pada infant dan anak yang sukar untuk ditest Berikan sinar pada mata. ketajaman penglihatan. Jarak 40. mengikuti cahaya.5 cm (16 inch) b. lampunya secara langsung diarahkan ke mata. Arti: orang lain bisa melihat pada jarak 100 feet. Penglihatan warna a.

mungkin merupakan indikasi adanya kebutaan d. yang paling banyak: protanomaly dan deuteranomally Protanomally: anak tidak bisa membedakan antara warna abu-abu/biru. fotografi. bayi belum mampu untuk mengikuti suatu berkas • Lakukan pemeriksaan dengan optalmoskop Tanda lain adanya gangguan penglihatan ketidakmampuan untuk mengikuti suatu benda. Inspeksi struksur exterrn Pinna (auricle) Periksa penempatan dan posisi telinga Bagian atas telinga harus melewati garis khayal dari sebelah dalam.4 bulan. Adanya masalah pada satu sisi mata. Pemeriksaan lapangan pandang Pada anak yang cukup usia dan kooperatif Minta anak untuk melihat satu objek (tangan pemeriksa) yang digerakkan pada 4 quadran penglihatan. Sebelum prosedur ijinkan anak untuk mengeskplore perlengkapan. benda-benda berwarna lain • Jika sampai 3 . mengalami 99 penglihatan warna Ada banyak variasi buta warna.mengikuti suatu benda • Bisa digunakan wajah pemeriksa. Minta anak mengatakan 'stop' pada saat ia bisa melihat objek/tangan Normal : anak dalam melihat 50% : upward 70% : downward 60'0 : nasalward 90% : temporally Keterbatasan pada area tersebut. slow lateral movement. mungkin merupakan indikasi adanya kerusakan pada ke-2 mata. strabismus yang nyata. Tetapi adalah sulit untuk melihat bagian mata satu persatu. pucat dengan hijau Deuteranomally: bingung antara abu-abu dengan ungu pucat dan hijau Secara umum. Kebersihan telinga 2. Posisi : tarik telinga ke atas dan ke belakang pada posisi jam 10 atau tarik telinga kebawah dan ke belakang posisi jam 6-9. Inspeksi struktur interna Menggunakan otoskop Observasi: membran timpani. c. Diperlukan test-test lain untuk meniastikan adanya kebutaan pada bayi. TELINGA Terdiri atas inspeksi strukttr interna dan test pendengaran. 1.Atau demonstrasikan prosedur terlebih dahulu terhadap 27 .Kesulitan memilih karir/pendidikan yang berkaitan dengan dengan warna: elektronik. nystagmus yang konstan. farmasi Test : Ishihara test Hardy-Rard Rittler (HRR) test Yaitu : gambar/huruf yang dibentuk dari berbagai komposisi warnawarna yang membingungkan untuk penderita buta warna k. demografi. Penglihatan Warna 8 .10% wanita kulit putih. buta warna tidak menimbulkan masalah besar.

bau mulut indikasi adanya penyakit gusi atau . l. Normal. sternum keluar • Funnel Chest (pectus b.kebersihan gigi yang kurang. plaque n. Simetris  derajat 28 Normal 45 . Atraumatik Care: Saat akan memeriksa anak. kering atau perdarahan. bawah sternum (terdepresi) Gangguan pernapasan c. Bentuk  Bayi : AP = Lateral  Abnormal : • Barrel chest = pyk paru kronik (asma dan cystic fibrosis) • Pigeon breast (pectus carinatum).Normal berwarna pink Kaji adanya iritasi pada. 4. Inspeksi mukosa : normal berwarna pink adanya ulserasi dan perdarahan. tonsil dan oropharing posterior.Ucapkan "terima kasihH atas ker jasama anak. 2. uvula. Costal Angle Excavatum). MULUT DAN TENGGOROKAN 1. discharge. katakan pada anak -soya inginmelihat apakah ada gajah pada telinga kamuH. bengkak. Inspeksi strukstur interna Inspeksi gigi. bagian Ukur antara sternum dan batas tepi iga. mukosa hidung akan tampak lebih merah dari mukosa. Kaji dinding telinga. benda asing dan infeksi Test ketajaman pendengaran. gusi dan palatu lunak dan palatum keras. Inspeksi papila Abnormal: Coated tongue pada candidiasis Protrusion tongue ditemukan pada retardasi mental. Inspeksi lidah 3. Gunakan tongue spatel atau minta anak untuk mengatak "ahh”. kering. Bibir: warna. HIDUNG Adakah deviasi ? Simetri ? Minta anak untuk menegadahkan wajahnya soat pemeriksaan. m. inflamasi. Apakah ada napas cuping hidung ? Inspeksi struktur internal: mukosa. DADA INSPEKSI a.orang tua.setelah selesai pemeriksaan katakan bahwa mencari gajah tersebut hanya perumpamaan saja.

Nipple •  simetris  skoliosis  Sirnetris  Asimetris: Normal: Gerakan dinnding dada = abdomen  Anak < 67tahun.d. pernapasan dada Normal : pada midcJavicula iga 4-5 o. sela iga ke 11 INSPEKSI PERNAPASAN  Frekuensi  Ritme  Kedalaman  Kualitas (sulit / spontan) PALPASI :  Excursion Simetris / tidak? Normal : pada napas dalam paru-paru bawah akan berkembang 5-6 cm Rasakan vibrasi yang simetris pada sternum + vetebra Maximal di apex paru. basis anterior sela iga 8 dan basis posterior. PARU-PARU Normal. Retraksi dinding dada f. minimal di bagian basis 29  Vocal Fremitus . penya kit paru < 45 derajat = malnutrisi Normal: e. pernapasan abdomen  Anak) 6-7 tahun. Gerakan dinding dada  • Abnormal: > 45 deraja t= barrel chest. Apeks: sela iga 3.

INSPEKSI : Penonjolan Indikasi pembesaran jantung Pada anak yang sangat kurus sering ditemui pulsasi Sela iga ke-4 ( < 7 tahun) 30 b. pada trachea & bifurcatio bronkhus Inspirasi = ekspirasi Hanya pada trachea dan suprasternal Inspirasi < ekspirasi Karena adanya cairan pada jalan napas besar Karena adanya cairan pada jalan napas kecil Penyembpitan jalan napas (tumor.Fremitus menurun: penyakit paru Fremitus tidak ada: obstruksi bronkus pada aspirasi benda asing   PERKUSI :     i Pleural Friction Rub Crepitasi Resonan Dullness Flatness Tympan Pleural Friction Rub dan Crepitasi dapat diperiksa dengan auskultasi dan palpitasi Ditemukan pada semua bagian paru Jantung Hepar Gaster AUSKULT ASI :  Normal : • Vesikuler • Bronkovesikuler Terdengar pada seluruh bagian paru kecuali intrascapular dan manubrium Inspirasi > ekspirasi Terdengar di manubrium dan upper intrascapular. JANTUNG a. asma atau benda asing) Jalan napas besar terobstruksi oleh sekret yang kental. •  Abnormal: • Cracles • Fine Crakles Wheeze Rhonki Bronkhial p. PALPASI  PMI (Point of .

ABDOMEN a. INPEKSI  Asites  Tumor  Organomegali  Umbilicus : hernia. c. c. hygene  Hernia inguinalis  Hernia femoralis b. Capilary refill Sela iga ke-5 ( > 7 tahun) Palpasi paling kuat saat ekspirasi   Indiksi sirkulasi perifer Normal kurang dari 2 detik. PALPASI : Mulai dari distal ke proksimal  Hepar Normal teraba pada bayi dan young children Ukuran 1-2 cm Hepatomegali jika lebih dari 3 cm Hepar akan turun saat inspirasi.Maximum) Thrills Vibrasi yang disebabkan karena aliran darah pada satu bagian memalu bagian yang menyempit atau terbuka secara abnormal. AUSKULT ASI :  Bunyi jantung : • S1 • S2 • S3 • S4 Penutupan katup mitral dan trikuspidal Penutupan katup pulmonal dan aorta Normal terdengar pada anak-anak dan dewasa muda Abnormal q.   AUSKULTASI Peristaltik PERKUSI Tympani Flattnes Setiap 10 – 30 detik Gaster Hepar d. hati-hati 31 .

5. 6.dalam interpretasi  Spleen Ginjal Blader Caecum Nadi femoralis Normal pada bayi dan young child Spleenomegali > 2 cm    r. hidrochele Cryptochohidism t. finger 4. 3. 7. samping) Spina bifida Iritasi CNS Simetris Jari Clubing Sianosis Temperatur Bentuk Bowleg Polidaktili Gangguan sirkulasi Jarak tibia > 5 cm Biasa pada toddler saat belajar jalan Jarak maleoli > 7. Laki-laki :  Glans  Meatu s uretra  Skrotu m  Testis 2. ANUS 1.5 cm 32 . 2. Dimple + rambut (pilonidal cyst) 3. Tulang belakang asimetris (depan. EKSTREMITAS 1. Mobilitas sefik u. Perempuan :  Klitoris  Lesi  Vagina  Labio mayora  Labio minora  Orificium uretra s. Polip Hemoroid Femosis Hipospadi Hernia inguinalis. Scoliosis 2. 2. GENITAL 1. belakang. TULANG BELAKANG 1.

ROM Tonus otot Refleks Knock knee Normal pada usia 2 – 7 tahun Hilang setelah 1 tahun Indikasi lesi spinal cord 33 . 11. Babinski 10. ( Genu valgum) 9.(Genu varum) 8.

Perut 14. Ekstrimitas 17. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 6) Berikan privasi.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK Nama NPM No 1. . Hidung 7. Tengkuk 10. TB/BB ( persentil ) 4. Paru-paru 13. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 4) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 5) Jelaskan prosedur pemeriksaan. meliputi aspek: 1. Mata 6. postur tubuh (kurus/gemuk) kelemahan 2. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 5) Siapkan lembar pemeriksaan fisik anak yang akan digunakan 6) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 7) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. frekuensi pernafasan. Lingkar Kepala 5. Mulut 8. Dada 11. 3. lakukan pendekatan pada anak. dekatkan pada pemeriksa. Telinga 9. Kulit 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 4) Observasi perubahan perilaku anak 5) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 6) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan 34 Nilai 1 2 2. Jantung 12. Punggung 15. Tanda vital: suhu. : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 3) Siapkan alat yang akan digunakan. 4. nadi. 4) Pastikan ruangan hangat. tekanan darah 3. Keadaan umum : kesadaran. Genitalia 16.

……… Evaluator. dan nama pemeriksa (tanda tangan).5. Dokumentasi 3) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 4) Catat tanggal. waktu. Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (………………….) 35 . Nilai: Purwokerto.

jam dengan detikan 36 . Cara Pemeriksaan Ada beberapa pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada neonates / bayi. pola fungsional organ tubuh) 4. Sedangkan bayi adalah individu yang berusia 40 hari sampai dengan 1 tahun. ossilometric (jika ada). dan tenaga kesehatan lainnya untuk secara berkesinambungan mengkaji adanya perubahan atau gejala suatu penyakit pada neonatus. Masa neonatal adalah periode selama 1 bulan atau lebih tepatnya 4 minggu = 28 hari setelah lahir. 3. Tujuan Merupakan tugas para tenaga kesehatan yaitu medis. buku catatan.PEMERIKSAAN FISIK NEONATUS/BAYI 1. pena. perawat. termometer aksila. timbangan. sarung tangan (k/p). Pengertian Neonatus adalah organisme yang sedang berada pada periode adaptasi kehidypan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Alat yang digunakan Stestoskop. Setiap bayi baru lahir perlu diperiksa / dikaji secara cermat pada seluruh sistem tubuhnya. penlight. antara lain: 1) Penilaian APGAR 2) Pengkajian usia gestasi dan maturitas fisik 3) Pemeriksaan reflex primitive 4) Pengukuran antropometri 5) Pemeriksaan fisik (tanda vital. 2. pengukur panjang badan badan.

Cuci tangan b. lemah. Kaji tanda-tanda vital (nadi. BB. Buka baju bayi. suhu) 4. Memberikan kesempatan anak/orangtua untuk bertanya d. pernafasan. LK. Auskultasi paru. tegas. Amati kesimetrisan toraks 2. buku catatan. Amati respirasi dan hitung frekuensinya. 2. apakah bunyi nafas terdengar disemua lapang paru atau menurun. mengenggam) 6. THT 1. Amati adanya kaput succedanum dan cephalhematome d. Kaji sutura sagitalis (tepat. LD. abnormal) f. amati suara nafas (kanan dan kiri sama atau tidak. b. penlight. waktu (pada orangtua) c. ossilometric (jika ada). langkah prosedur. palatum (normal. hidung (bilateral. A. tenang. cuping hidung) 3. Tahap Persiapan a. e. warna kulit) 2. Kaji reflek (moro. Ukur PB. Orientasi a. timbangan. termometer aksila. c. Fase Kerja a. pengukur panjang badan badan. terpisah atau menjauh) 3. B. obstruksi. Paru-paru 1. Mata Kaji mata apakah bersih atau ada sekresi. Menjamin privasi C. Amati kesimetrisan wajah 4. cekung) 2. 1. letargis) 3. Menjelaskan tujuan pemeriksaan.2) 3. menjelaskan tugas perawat. jam dengan detikan. sarung tangan (k/p). Kaji keaktifan dan tangisan bayi d. 0 Dilakukan 1 2 37 . kaji fontanela anterior (lunak. pena.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK BAYI/NEONATUS Nama Mahasiswa : ……………. Menyapa. Palpasi klavikula (normal/abnormal) g. menonjol. Kaji kesadaran bayi (sadar penuh. Toraks 1. LP. adakah suara nafas tambahan). datar. Periksa bagian kepala 1. b. kaji telinga (normal/ abnormal) 2. menghisap. amati adanya retraksi (derajat 0. No Aspek yang dinilai . NPM : ……………. Periksa kondisi umum (rewel. Periksa Keadaan Umum 1. 5. Mencuci tangan. memperkenalkan diri. Persiapan alat Stestoskop.

hitung frekuensinya i. auskultasi bising usus 3. meatus uretra. Abdomen 1. Evaluasi respon anak dan sampaikan hasil kesimpulan pemeriksaan kepada orangtua. Kulit 1. catat adanya kelainan.) 38 . Jantung 1. palpasi point maximal impuls 3. Dokumentasikan hasil pemeriksaan Nilai: Purwokerto. ujung meatus uretra (cek hipo/epispadia). kaji apakah testis sudah turun. Ekstremitas 1. kaji adanya kelainan dinding abdomen (tegas. minora. C. datar) 2. sekret. kaji adanya thriil 4. palpasi hati (kurang atau lebih dari 2 cm) j. Dokumentasi a. Genetalia Pada wanita: amati labia mayora. kaji warna kulit. ada tidaknya atresia ani. kaji peradangan n. kaji apakah gerakan bebas 2. Pada pria: Kaji ukuran penis. ……… Evaluator.Umbilikus Kaji adanya peradangan atau hernia umbilikalis k. auskutasi suaran jantung (apakah bunyi normal sinus rytm (NSR). kaji adanya mottled (mengindikasikan terpapar suhu dingin) 2. D Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. kaji kesimetrisan gerakan ekstremitas atas dan bawah k. amati iktus kordis 2. palpasi abdomen (supel atau keras) 4. perkusi abdomen (kembung. Anus kaji kepatenan anus.h. m. liang vagina. kaji turgor Fase Terminasi a. klitoris. hipertimpani) 3.

ditujukan untuk pemakaian oral/untuk pemakaian luar (topikal). PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk membantu saudara mempelajari berbagai tipe obat secara mandiri. Sediaan obat di pasaran dikemas dalam berbagai bentuk. Menyebutkan fungsi dan kegunaan masing-masing tipe obat 3.kering.PENGENALAN TIPE OBAT A. Menyebutkan karakteristik masing-masing tipe obat 2. GAMBAR PULVIS DAN PURVERES 39 . PULVIS/SERBUK TABUR = tidak terbagi-bagi Serbuk ringan untuk penggunaan permukaan topikal.dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit.homogogen. SASARAN KHUSUS Setelah mempelajari buku ini saudara diharapkan mampu : 1. Mempelajari fungsi atau kegunaan masing-masing tipe obat C. PULVIS DAN PURVERES Serbuk adalah campuran kering bahan obat/zat kimia yang dihaluskan. SASARAN PEMBELAJARAN Dalam pembelajaran ini saudara diharapkan mampu memahami beberapa tipe obat D. PULVERES = terbagi-bagi Serbuk yang terbagi dalam bobot yang sama. saudara dianjurkan: 1. B. Tiap bentuk memiliki tujuan dan kegunaan khusus. Pulvis berdasarkan cara memberikannya ada 2 : a.dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Syarat : halus. MATERI 1. Menyebutkan keuntungan dan kerugian masing-masing tipe obat E. b. Mempelajari karakteristik masing-masing tipe obat 2. LANGKAH-LANGKAH Untuk memudahkan pembelajaran dan pencapaian tujuan.

c. seperti garam-garam fero (mudah teroksidasi) menjadi garam feri. kertas selofan dll. menurut petunjuk dalam brosur yang disediakan. Berdasarkan konsistensi cangkang kapsul 1) Kapsul kerasà terbuat dari gelatin berkekuatan gel relatif tinggi. atau dari pati. Memberikan kebebasan pada dokter untuk pemilihan obat/kombinasi obat dan dosisnya f. Digunakan untuk : anak – anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. Penyebaran obat lebih luas dan lebih cepat daripada sediaan kompak (tablet dan kapsul) b. dapat dicampur dengan air minum untuk oral. Obat-obatan yang rusak oleh udara tidak boleh diberikan dalam bentuk serbuk. Macam kapsul: a. Keuntungan bentuk sediaan serbuk : a. berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 μm dengan atau tanpa vehikulum. Jumlah volume obat yang tidak praktis /sukar dapat diberikan dalam bentuk pulvis e. Cara penggunaan . Tidak tertutupinya rasa dan bau yang tidak enak (pahit. Cara penggunaan: Sebelum diminum. 2. dilarutkan/disuspensikan dulu dalam air /pelarut yang sesuai dengan volume tertentu. Lebih cepat di absorbsi d.Pengemas : kertas perkamen. kertas yang dilapisi parafin. Diharapkan lebih stabil dibandingkan dengan sediaan cair c. Kerugian bentuk serbuk : a. sepet. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. GRANUL:Sediaan bentuk padat. Membutuhkan waktu dalam meraciknya. Tidak tepat untuk obat yang tidak enak rasanya. CAPSULAE=KAPSUL Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak. lengket di lidah. Pada penyimpanan kadang terjadi lembab atau basah. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. Cangkang kapsul mengandung: • Zat warnaà berbagai oksida besi • Bahan opak/pemburamàTiO2 • Bahan pendispersi • Pengawet 2) Kapsul lunakà skala besar Cangkang kapsul mengandung : • Pewarna • Bahan opak/pemburam • Pengharum • Pengawet • Sukrosa 5% sebagai pemanis 40 . amis dan lain – lain) e.sebaiknya diberikan dalam bentuk “coated tablet” b. d. Untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan obat.

Cara pemakaiannya • Per rektal • Per vaginal • Peroral • Topikal Bahan yang dapat diformulasi dalam bentuk kapsul : . KBr.• Penyalut enterik b.BO setengah padat . Bentuk tablet: Pipih. tablet hipodermik Cara penggunaan  Tablet kunyah à lozenge. steroid hormon 41 . Cembung Jenis : • Compressed tablet: large scale production à dies under pressure (tons) • Molded tablet: manual forcing. Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik. krn dosis dan kombinasi obat bisa disesuaikan  Dapat dibuat sediaan cair jika diinginkan dengan konsentrasi tertentu  Dapat utk sediaan lepas lambat Kerugian:  Tidak sesuai untuk bahan obat yang mudah larut (KCl. COMPRESSI=TABLET Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan. NH4Br.BO padat . trochisi  Tablet sublingual à ISDN. CaCl2)à larutan pekat dapat mengiritasi lambung  Tidak dapat digunakan untuk bahan eflorescen (ada air kristalnya) dan delikuesen (menyerap air sampai menjadi larutan) 3.BO cair BENTUK CANGKANG KAPSUL Keuntungan:  Menutupi rasa dan bau bahan obat yang kurang enak  Memudahkan penggunaannya dibanding serbuk  Mempercepat penyerapannya dibanding pil dan tablet  Kapsul gelatin keras cocok untuk peracikan.

 Tablet bukal (dimasukkan diantara pipi dan gusi di dalam rongga mulut) à hormon  Tablet effervescent à (Na-karbonat) vitamin  Tablet hisap atau trochisci à antiseptik. absorbs optimumnya terlalu tinggi melalui saluran cerna. 2. Obat yang sukar di basahkan. Tablet merupakan sediaan yang mudah dan murah untukdikemas dan dikirim 4. Anak kecil: belum tentu suka dan sulit memakannya (ukurannya besar) MACAM. mekanik. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia. antibiotik  Tablet sisip atau pellet (dimasukkan implantasi dibawah kulit) à hormon gonad  Tablet hipodermik (dilarutkan dalam air steril dan diinjeksikan dibawah lidah) à dinitrat material Keuntungan: 1. dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. lambat larut. Tablet merupakan sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua sediaan bentuk oral untuk ketepatan ukuran dan variabilitas kandungan yang paling rendah 2. Tablet merupakan sediaan yang ongkos pembuatannya paling murah 3. dosisinya cukup tinggi. 3. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET 42 . Bebrapa jenis obat tidak dapat di kempa menjadi padat dan kompak. Kerugian: 1.

Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5. SUPPOSITORIA. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1. Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. melarut atau meleleh pada suhu tubuh.4. Bentuknya ramping seperti pensil. dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. mudah melemah (lembek) dan meleleh pada suhu tubuh. Polietilengli-kol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin.torpedo atau jari-jari kecil. berbentuk torpedo. Ovula adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk telur. Supositoria dipakai untuk pengobatan local. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai “pessarium”. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram. Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3. seperti pasien yang mudah muntah.6 mm dengan panjang ± 140 mm. gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. baik dalam rectum maupun vagina atau uretra. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan 43 . maka supositoria akan masuk dengan sendirinya. Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi: 1. dapat melunak. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao. dan infeksi. OVULAE Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur.5 inchi). Ovula supaya disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. 3. karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum dan ini digunakan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan. Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. seperti pada penyakit hemoroid. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru. 2. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila yang bagian besar masuk melalui otot penutup dubur.0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Bahan dasar yang digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao). Juga secara rectal digunakan untuk distribusi sistemik.

biasanya mengandung obat untuk pemakaian pada kulit atau pada membran mukosa. PASTA. oculenta. krim. b. biasanya 32 mm. Tidak menyenangkan penggunaan 2. biasanya digunakan pada daerah yang teriritasi atau tempat yang sensitif. Namun. CREMOR. Krim : Jenis salep yang dapat dicuci. BENTUK SUPOSITORIA DAN OVULAE Keuntungan: 1. 4. Untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan 3. jeli. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Unguenta : mengandung relatif lebih sedikit bahan dan perbedaan pokok dengan yang lainnya pada konsistensi. Beberapa variasi dari prototipe salep banyak digunakan dalam praktek peresepan dan dibedakan dengan namanya. suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan. Baik. pasta.cerata. UNGUENTUM. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan.beratnya ½ dari ukuran untuk pria. mengandung satu/ > bahan obat. tidak bergerak dan tergolong sediaan semi padat. panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram. Berbentuk emulsi minyak 44 . Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung 2. Macam sediaan salep: a. bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. CERATA. 5. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat member efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral. JELLY Salep (unguenta/ointment) : Bentuk sediaan yang lunak. 4. Kerugian: 1. bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya. bila dipakaikan pada kulit akan melunakkan dan membentuk lapisan penutup pada permukaan kulit. Sediaan salep bervariasi dalam komposisi. memiliki konsistensi yang lebih lunak dan mengkilat. Macamnya : unguenta. keduanya berbentuk sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil. Bahan obat larut/terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. konsistensi dan tujuan penggunaannya.

e. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. Vaselin Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. berantai panjang dalam air. popular digunakan pada bidang dermatologi.50 % Beberapa keuntungan bentuk sediaan pasta:  Mengikat cairan sekret lebih baik dari unguentum  Lebih melekat pada kulit Cerata : Salep berlemak. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. mengandung malam dalam persentase tinggi. d. konsistensi lebih kenyal dari unguentum. jernih & tembus cahaya yang engandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut _lebih encer dari salep. f. Fungsi Salep :  Dasar salep atau pembawa substansi obat untuk penggunaan pada kulit (topikal)  Pelumas pada kulit  Pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit dengan rangsang kulit SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. untuk tujuan melicinkan dan sebagai basis obat.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang Oculenta ( ungentum ophtalmicae) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. digunakan pada membran mukosa dan untuk tujuan pelicin atau sebagai basis bahan obat. dapat dicuci karena mengandung mucilago. bersifat kaku. mengandung sedikit atau tanpa malam. titik lebur tinggi. digunakan pada membran mukosa. tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum. mudah dibersihkan. mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. biasanya terdiri dari ampuran sederhana lemak dengan titik leleh rendah dan minyak. h. Jeli : Salep yang sangat tipis. Bahan dasar salep. hampir cair. asam-asam lemak atau alcohol. membentuk dan mempertahankan lapisan pelindung pada area yang diaplikasikan. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. dalam air atau dispersi mikrokristal. Pasta : mengandung zat padat dalam persentase tinggi. mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %. gum atau bahan pensuspensi sebagai basis. biasanya tidak meleleh pada suhu tubuh. mengandung sedikit/tidak lilin.c. 45 . dan umumnya adalah campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik leleh rendah. g.

misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus.6. Apabila menyebut solutio. 1) LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. tingtur dan air. SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air. misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. 46 . maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. o Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). SOLUTIONES. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) o Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Sifat-sifat: o Homogen o Dosis dapat diubah-ubah o Cocok untuk anak-anak. o Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. ELIXIRA BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR a. o Absorpsi obatnya cepat. MIXTURAE. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. 2) LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. o Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. manula dan untuk penderita yang sukar menelan. maka omset juga cepat o Dapat diberikan dalam larutan yang encer. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya.

Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi. lalu dikumur-kumur. antiseptika. Kadar Alkohol antara 3-75%. zat pewarna.Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan. eliksir kurang manis dan kurang kental. Contoh: Betadingargle & mouthwash. 3) Berhubung mengandung alkohol. Rasanya enak 3.Pemanis yang biasa digunakan gula atau sirup gula. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR 1. perasa (flavorong agent). dan yang tertinggi dapat mencapai 44%. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. tidak boleh ditelan. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. Contoh: Effisol liquid. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. 5. Eliksir bersifat hidroalkohol. b.Umumnya konsentrasinya 5-10%. d. sehingga harus disimpan dalam botol kedap dan jauh dari sumber api. 47 . COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut. tidak ditelan. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. zat pewangi dan zat perasa. pengawet dan pewarna. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. dan saccharinum.Namun. Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak. ada eliksir yang menggunakan alkohol 3% saja. analgetika lokal atau adstringentia. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. Contoh: Bisovon eliksir. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. Batugin eliksir. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. tetapi biasanya sekitar5-15%. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. 4. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. glycerinum. e. misal sakit hepar. c. Mengandung bahan mudah menguap. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. Mudah ditelan dibandingkan dengan tablet atau kapsul 2. Zat aktif yang sukar larut dalam air dan larut dalam alkohol perlu kadar alkohol yang lebih besar. Sifat-sifat: 1) Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2) Dibanding dengan sediaan sirup. namun terkadang digunakan sorbitol.SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol. Kadar alkohol berkisar antara 1012%.

mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). stabilisator. Sirup obat. EMULSA (EMULSI) 48 . SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. Contoh.  Pada umumnya ditambah pemanis. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%.  Tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: 1. Homogen 2. pemanis. Sirup thymi. sehingga cepat mengendap. pewarna. tragakant. Ada 4 macam sediaan sirup: 1. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. dan bahan lainnya. Mylanta. b. 3. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. Sirup kering. Contoh suspensi oral:Gelusil. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. tidak beraroma. benzalkonium klorida. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. Sifat-sifat:  Cocok untuk penderita yang sukar menelan. tragakant. biasanya 10%.Contoh : panadol sirup. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . f. Sirup Simpleks. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. anak-anak dan manula.perasa( flavoring agent)  Kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. perasa. Polycrol gel 2.sifat sirup: 1.  Sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. Tidak berwarna. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. 4. kecuali bahan pelarut. glukosa/sakarosa 64%.Sifat. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. 2. Liquor Faberi (FMI). Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). rasanya lebih enak. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. Contoh. sering disebut sirup putih.

penetrasi/absopsi lebih baik 3. Macam –macam Guttae: 1. Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. Volume pemberian kecil. Contoh: effisol liquid. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. Kerugian BSO emulsi : 1. Pada umumnya ditambah pemanis. Guttae oris Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). memperbaiki rasa dan aroma 2. Konsisten emulsi sangat beragam. 2. Contoh obat dalam: Scott Emulsion. Perhatikan kemasan pada bobotnya. atau suspensi. asam benzoat. dan senyawa amonium kuartener. 3. lokal anastesik. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. Oral : memperbaiki absorbsi.05 ml).5 mg dan 52. topikal maupun injeksi. Sifat-sifat: 1. sirup. Guttae oral Obat tetes untuk oral. analgetika-antipiretika. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. memperpanjang efek. Guttae auriculares (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. 3. Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A 3. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. etil. Tujuan penggunaan BSO emulsi : 1. analgetika. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar. jadi 1 ml= 20 tetes. sehingga aturan pakai tepat. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. vitamin dan antitusif. Topikal: mudah dibersihkan. GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. pewarna. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). propil dan butil paraben. Sifat-sifat: 49 . suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. 2. lokal anastetik. Parenteral : memperbaiki absorpsi . antiseptika. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. kortikosteroid. perasa. dan zat uuntuk irigasi. Contoh: Triaminic drops 2. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil.Emulsi adalah sistem dua fase.5 mg (1 tetes baku= 0. emulsi eliksir. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. dll). sehingga cocok untuk bayi dan balita.

digunakan sejumlah yang tertera: Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. b) PH sebaiknya asam (5. pengawet. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit.5-7. lokal anastesik. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. Isohidris 4. diagnostika. midriatika. Guttae opthalmicae (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.0-6. miotika dan zat irigasi. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae.5 bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. Kecuali dinyatakan lain.025% .a) Bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga.5 bagian Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. anastetika.5 % BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk 50 . Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. Steril 2. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). Guttae nasales (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. c. Contoh: iliadin 0. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. Apabila bentuk sediaan suspensi. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. Isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3. antimikroba. 5. Untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok.0) 4. heksilen glikol dan minyak nabati. PH sebaiknya antara 5. antiinflamasi. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. gliserol. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol. Sifat-sifat: 1. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. dan antiseptika. Cairan pembawa umumnya digunakan air.

PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1) Pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2) Pelarut bukan air: 3) Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. Ringer lactat. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. 51 . yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. inj. inj. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie). Inj Cortison Acetat suspensi 3) Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. parafin liq. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. 6. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot. Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. untuk dosis tunggal. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. dll.yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Penicilin G Sodium 4) Kristal steril. Inj luminal. d. 2) Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. Diberikan untuk penderita yang sakit keras. gliserin. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. an-cooperatif. Streptomycin sulfat. inj valium. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) 5) Cairan intravena ( infundabilia : infus i. koma. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. Contoh : inj. misalnya minyak kacang (Ol. Contoh: inj. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik SEDIAAN STERIL YANG LAIN a.Arachidis). Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. propilen-glikol. sebelum disuntikkan. INJECTIONES (INJEKSI. Bukan minyak : alkohol. Dextrose. Berdasarkan bentuk sediaan: 1) Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. Contoh: inj Vit C. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. minyak wijen ( Ol sesami). minyak zaitun ( Ol olivarum). emulsi. Penicilin oil.

ukuran partikel obat harus dikontrol dan terukur. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. Pada aerosol inhalasi. venin. 3. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu.Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. tidak boleh digunakan secara parenteral. tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. ataupun rusak karena kelembaban udara. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). d. suspensi. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk 52 . selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. 2. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. b. c. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. Vaksin dibuat dari bakteria. 5. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. Harganya mahal 2. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. Pemakaiannya secara topikal. seperti pada asma bronkiale. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. e. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1.

Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi.  Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot. LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat. Contoh : Baby Lo 2. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus.memperoleh efek lokal atau sistemik. yang karena bertekanan uap tinggi. Contoh: Vicks Inhaler. SEDIAAN CAIR LAIN : 1.  Apabila pelarutnya minyak. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. Sifat-sifatnya :  Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. Contoh: Bricasma inhaler. LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. 53 . dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. Sifat-sifatnya :  Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. Contoh: Alupent aerosol. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert.

 Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ELIXIR DAFTAR PUSTAKA Cox. 2008. Dawn. Christopher A And Belcher. 2008.  Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat terabsorpsi. Glenn L Et Al. Shayne. 1957. The Art Of Compounding. KERUGIAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN:  Volume bentuk larutan lebih besar  Ada obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan.  Untuk pemakaian luar bentuk larutan mudah digunakan. New York: Mcgraw-hill.  Mudah diberi pemanis. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. Jenkins. Langley.  Dapat diberikan dalam bentuk larutan yang encer. Chicago: Pharmaceutical Press. pengaroma dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak. Pharmaceutical Compounding And Dispensing. Canada: John Wiley & Sons. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) KEUNTUNGAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN  Merupakan campuran homogen  Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatannya. 9th Edition. sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan. 54 . Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production And Processes.

Kemudian perawat juga harus tahu apakah obat diberikan sebelum atau sesudah makan. Obat ini tidak boleh dikunyah. efek yang diharapkan serta kondisi fisik dan mental pasien. Macam – macam rute pemberian obat adalah: 1. Benar Dokumentasi Cara pemberian obat tergantung bentuk sediaan. yaitu : 1. 2. Benar cara Obat diberikan kepada klien sesuai caranya. Aksi dari obat bisa lokal di mukosa mulut. yaitu : a. Oral Cara pemberian obat melalui oral adalah cara yang paling mudah. 3. dilakukan dengan cara meletakan obat dalam bentuk sediaan padat dimukosa membran mulut hingga obat habis. Dosis yang diberikan untuk klien yang satu bisa jadi berbeda dengan klien yang lain. Intradermal (ID) 55 . biasanya cara menggunakan obat terdapat pada label/pembungkus. Benar obat Ketika obat diterima dari apotek. 4. maka perawat perlu mengkonsultasikan kepada dokter. Obat jenis ini aksinya lebih lambat dan efeknya lebih panjang. Benar dosis Sediaan obat ada yang single doses. Benar waktu Perawat harus tahu tentang waktu pemberian obat. Sedangkan pemberian obat melalui bukal. Klien juga dilarang untuk menelan atau mengunyah obat. Benar klien Perawat perlu mengklarifikasi kembali nama dan nomor rekam medis klien sebelum memberikan obat (biasanya terdapat di white board diatas tempat tidur klien) atau dengan bertanya namanya secara langsung kepada klien atau keluarga. Subcutaneus (SC) Injeksi dilakukan dibawah jaringan dermis b. Tipe pemberian obat parenteral meliputi empat cara. murah dan sering digunakan. 2.RUTE PEMBERIAN OBAT Mempersiapkan dan memberikan obat ke klien adalah tanggung jawab perawat. tetapi ada juga yang membutuhkan keterampilan untuk menghitung dosis yang dibutuhkan sebelum diberikan kepada pasien. klien juga tidak boleh minum sampai obat habis. 5. Obat diberikan melalui mulut. sehingga sebelum melakukan medikasi seorang perawat harus memperhatikan lprinsip LIMA BENAR. apakah ada ketentuanya (misal setiap 8 jam dalam satu hari) atau hanya jika dibutuhkan. Obat yang diberikan melalui sublingual didesian agar dapat diserap setelah obat diletakan dibawah lidah. untuk itu perawat perlu melihat dosis pemberian obat yang diorderkan dokter di rekam medis klien. bisa juga sistemik ke seluruh bagian tubuh. karena akan mengganggu efek dari obat tersebut. sehingga siap untuk langsung diberikan kepada klien. perawat harus melihat kembali resep dokter yang biasanya ditulis direkam medik klien untuk meyakinkan bahwa obat yang diterima sesuai dengan order. Jika cara pemberian obat tidak tercantum. klien juga tidak diperbolehkan untuk minum sebelum obat habis. 6. Parenteral/Injeksi Pemberian obat melalui parenteral adalah pemberian obat dengan cara menginjeksikan obat dalam bentuk cair ke jaringan tubuh. ditelan dengan minuman/makanan atau dikunyah.

tepat dibawah epidermis c. Pemberian obat melalui mata Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat ditelinga anak 56 . Intravena (IV) Injeksi dilakukan melalui vena 3. cornea mata dan nasal adalah mukosa yang sensitif. sehingga seringkali klien mengeluh rasa seperti terbakar setelah diberikan obat tetes mata atau tetes hidung. Intramuskular (IM) Injeksi dilakukan di otot tubuh d.Injeksi dilakukan didalam lapisan kulit. Kepekaan mukosa membran terhadap obat berbeda – beda. Topikal Obat diberikan dengan cara mengoleskan di kulit atau membran mukoa dengan efek obat lokal maupun sistemik tergantung jenis obat dan dosisnya.

misal obat pencahar melalui rektal) c. misal obat tetes mata b. Irrigation (memasukan cairan dengan tujuan untuk membersihkan body cavity) e. Insersi (memasukan obat ke lubang yang ada dalam tubuh.Pemberian obat di telinga orang dewasa Pengobatan pada mokosa rektal atau vagina biasanya lebih tidak iritatif jika dibandingkan dengan pengobatan di mukosa mata dan hidung. Instillation (memasukan cairan secara perlahan pada body cavity) d. Pemberian obat melalui vagina Pemberian obat melalui rektum Berbagai metode pemberian obat melalui mukosa : a. Spraying (memasukan obat dengan cara menyemprotkan obat ke bagian tubuh tertentu) 57 . Memberikan obat cair secara langsung.

air minum 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. muntah. Siapkan alat-alat : Baki obat. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat Tahap Pra Interaksi 1. Hal ini disebabkan pada saluran pernafasan bawah terdapat area permukaan yang luas untuk absorpsi abat. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. obat. Cuci tangan 3. penurunan peristaltik. Cek rekam medis klien.4. Memulai tindakan dengan cara yang baik Tahap Kerja 1. Inhalasi Inhalasi adalah salah satu metode pemberian obat dengan cara memasukan obat melalui saluran pernafasan. inflamasi saluran cerna. Pengobatan melalui inhalasi dapat memberikan efek lokal maupun sistemik. baca juga kondisi klien yang berhubungan dengan kesulitan menelan. 3 . mual. . baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Pemberi an obat menggunakan inhaler Memberikan Obat Oral Nama Mahasiswa : Tanggal : No 1 . operasi gastrointestinal. Keterampilan 0 Tahap Orientasi 1. tempat obat. Jelaskan tujuan. biasanya dalam bentuk gas yang lembab. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 58 Nilai 1 2 2 . karena terdapat hubungan antara alveoli dan kapiler. 2. Berikan salam. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. alas.

segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. minta klien untuk membuka mulut dan meletakan obat dibawah lidah. Cuci tangan 3. .4 ... Siapkan alat-alat : kartu obat. alas... Pasang alas dibawah dagu klien 4. c. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Jika obat bukal. dosis. 5 . minta klien untuk membuka mulutnya d.. baca nama klien. Tawarkan kepada klien segelas air untuk membantu menelan obat b... baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. washlap. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan Memberikan Obat Mata (Cair dan Salep) Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . mata kanan/kiri 2. Bantu klien pada posisi side lying 3.. waktu. tissue. Beri reinforcement positif pada klien 3. minta klien membuka mulut dan meletakan obat diantara gigi dan pipi klien Perawat tetap bersama klien hingga yakin obat telah diminum.. Cek rekam medis klien. jumlah tetesan. dan obat dalam kemasan.... waskom berisi air hangat.. Membereskan peralatan g. konsentrasi. jika belum yakin. nama obat. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 59 . Berikan salam. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.. 2 Tahap Pra Interaksi . Melepas alas e. 1. Mencuci tangan Tahap Terminasi 1. Berikan obat kepada klien a. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. Jika obat sublingual... sarung tangan. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. 2.. Membantu klien untuk kembali ke posisi yang nyaman f. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. 1. Jelaskan tujuan. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. waktu pemberian. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. Cuci tangan Dokumentasi Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.

waktu pemberian. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan mata bagian bawah 7. atau tetesan tidak tepat di mata. kemudian teteskan obat di konjungtiva. Posisikan klien supine 4. Ambil salep mata. kemudian bersihkan daerah sekitar mata dari arah dalam ke luar a. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 60 . Kontrak pertemuan selanjutnya 4.5. Minta klien melihat ke arah atas 8. 1. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja .. jumlah tetesan. Beri reinforcement positif pada klien 3.. Pasang alas di bawah dagu klien 3. oleskan pada konjungtiva secukupnya. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. Jika klien menutup mata. ulangi sekali lagi 10. 1. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. Kaji kondisi mata 5... ambil washlap yang dibasahi air hangat.. Jika pada mata terdapat kotoran. Minta klien untuk melihat ke atas 8.... Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2... segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2.. mata kanan/kiri. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5 Dokumentasi .. salep mata 6. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan bagian bawah mata 7. Lepas sarung tangan kemudian mencuci tangan 4 Tahap Terminasi ... kemudian oleskan pada garis mata bagian atas 11.. Ambil obat mata. Obat tetes mata 6.. Minta klien untuk menutup mata perlahan b. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6.. Bersihkan daerah sekitar mata dari obat 12. Membereskan peralatan 13.. jumlah tetesan sesuai order 9.

telinga kanan/kiri. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . tissue. Cek rekam medis klien. cotton tipped apllicator. waktu pemberian. Jelaskan tujuan. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. sehingga telinga yang 61 . 1. 1. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. jumlah tetesan. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. nama ibat. Berikan salam. 2. Cuci tangan 3. cotton ball. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. cek nama klien. Bantu klien pada posisi side lying miring. sarung tangan 4. konsentrasi. Siapkan alat-alat : kartu obat. botol obat. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4.Memberikan Obat Tetes Telinga Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi .

Teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dengan order dokter d... Buka lubang telinga dengan menarik auricula ke arah bawah dan belakang (anak) dan kearah atas untuk orang dewasa b. 4. Kontrak pertemuan selanjutnya 4... letakan cotton ball di lubang telinga (jangan memasukan terlalu dalam) g. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.. waktu pemberian. Kaji bagian luar telinga etelah dilakukan pengobatan 12.. 62 . Ambil cotton ball setelah 15 menit 9. 1. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 3.. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Lakukan massase yang lembut pada daerah tragus telinga f.akan diberi obat terletak diatas Pasang alas dibawah dagu klien Kaji kondisi telinga eksternal dan lubang telinga Jika terdapat serumen. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 10. 6. Minta klien tetap dalam posisi side-lying selama 2 – 3 menit e. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. 5. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Jika dibutuhkan. respon klien) Observasi klien 30 menit setelah pemberian obat. dosis... 7. jika ada tanda intoksikasi obat. 8... Letakan obat kira – kira 1 cm diatas lubang telinga c. Beri reinforcement positif pada klien 3.... Bantu klien pada posis yang nyaman 11... Cuci tangan 5 Dokumentasi .. bersihkan terlebih dahulu Gunakan sarung tangan Bersihkan lubang telinga dari serumen Berikan obat kepada klien : a. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.

Memberikan Obat Tetes Hidung Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama ibat, konsentrasi, waktu pemberian, jumlah tetesan, hidung kanan/kiri. 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, botol obat, bantal kecil, washlap 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencuci tangan dan menggunakn sarung tangan 2. Inspeksi kondisi eksternal hidung dan sinus 3. Minta klien untuk menghembuskan napas (jika tidak ada kontraindikasi) 63

4. Bantu klien pada posisi supine a. Posterior pharynx  tarik kepala kebelakang b. Ethmoid/Sphenoid sinus  tarik kepala kebelakang atau letakan bantal kecil dibawah dagu c. Frontal/Maxillary sinus  tarik kepala klien kebelakang, kemudian miringkan, letakan bantal kecil dibelakang kepala untuk menahan dari belakang dan satu tangan perawat menahan dari depan 5. Berikan obat kepada klien : a. Minta klien untuk bernafas melalui mulut b. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas hidung c. Teteskan obat denagn jumlah tetesan sesuai order dokter 6. Pertahankan posisi klien selama 5 menit 7. Bersihakan derahsekitar hidung, jika ada obat yang menetes 8. Bantu klien ke posisi yang nyaman 9. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 10. Kaji bagian luar hidung etelah dilakukan pengobatan 11. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 6. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 7. Beri reinforcement positif pada klien 8. Kontrak pertemuan selanjutnya 9. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 10. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat, dosis, waktu pemberian, respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat, jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat, segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto,.................. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan

64

Memberikan Obat Rectal Suppositoria Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama obat, bentuk obat, cara dan waktu pemberian,riwayat operasi/perdarahan di rectum, 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, lubricating jelly, obat, tissue, sarung tangan 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Jaga privacy klien 7. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 65

ganti dengan sarung tangan yang bersih Buka obat. waktu pemberian. jelaskan klien sebentar lagi akan merasa ingin BAB. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 12. Cuci tangan 5 Dokumentasi .. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 11.. maka perawat mmbantu klien melakukan BAB 14..Bantu klien dalam posisi sims Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah Kaji kondisi anus eksternal... Bantu klien pada posisi supine atau miring selama 5 menit 12. dosis. Bantu klien pada posisi yang nyaman 16. Buka pantat dengan tangan predominan. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 15. 6. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. berikan jelly di bagian luar anus Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot sfinkter anal 8. Jika sarung tangan kotor. Bersihkan area sekitar anus dengan menggunakan tissue 10... 11. 4. Kontrak pertemuan selanjutnya 14. 13.. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 15. Jika obat adalah laxatif... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 2. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 10 cm (dewasa) dan 5 cm (anak dan infant) 9. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 5. 66 .. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. Jika klien tidak bisa BAB sendiri.... 7.. Beri reinforcement positif pada klien 13. 3.. lakukan palpasi pada area rectum..

Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Siapkan alat-alat : kartu obat. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. cara dan waktu pemberian. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. lubricating jelly. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. 2.Memberikan Obat Vaginal Suppositoria / Foam Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . dosis. cek nama klien. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . obat. tissue. Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah 67 . Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Bantu klien dalam posisi dorsal recumbent 3. Cek rekam medis klien. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. bentuk obat (krim/supositiria). 1. nama obat. Berikan salam. Jelaskan tujuan. Cuci tangan 3. Jaga privacy klien 7. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. 1. sarung tangan 4. 1.

waktu pemberian.5 .. Buka labia mayora dengan tangan predominan. dosis... respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. Obat Supositoria 7.. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Buka obat. Bantu klien pada posisi yang nyaman 15. Obat jelly/foam 8. Bersihkan daerah genitalia eksternal menggunakan tissue b..5 cm. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. 1. Bantu klien memakai pakaian bawah 12. Tanyakan kepada klien apakah akan memasukan obat sendiri atau dibantu perawat 6. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Isi aplikator dengan menggunakan jelly/foam 9..10 cm 10. Kontrak pertemuan selanjutnya 4.. masokan aplikator sedalam 5 – 7. berikan jelly di lubang vagina 8. Bersihkan daerah genitalia eksterna menggunakan tissue 11. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5..4. Buka labia mayora dengan tangan predominan.. Kaji area eksternal genitalia dan lubang vagina 5. Masukan obat ke dalam vagina 10. Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot daerah genitalia 9. Bantu klien pada posisi supine selama 10 menit 13.. Berikan obat kepada klien : a..... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 68 . Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 14. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat... masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 7.. Beri reinforcement positif pada klien 3.

Bantu klien kembali ke posisi semula 4 Tahap Terminasi . Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. 1. Bantu klien duduk dikursi 3. Tarik nafas perlahan selama 2 – 3 detik i. cek nama klien. 1. Berikan salam. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. 2. Pasang kembali tutup inhaler 9. Beri reinforcement positif pada klien 3. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. 1. Jelaskan tujuan. Tekan Inhaler ke bawah sambil dihirup perlahan h. letakan inhaler dengan jarak 0. Buka mulut. jari telunjuk dan jari tengah b. Letakan mouthpiece inhaler atau spacer ke mulut g. Kocok inhaler c. Tahan nafas selama 10 detik j. Sambungkan spacer ke mouthpiece inhaler f.5 cm dari mulut e. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. 1. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . tunggu satu menit diantara dua semprotan 8. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Cuci tangan 5 Dokumentasi 69 . baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. 10. Cuci tangan 3.Memberikan Obat Inhaler Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . pegang inhaler tegak. Cek rekam medis klien. Jaga privacy klien 7. Perawat mencucl tangan 2. Bersihkan dengan menggunakan tissue jika ada cairan inhaler dipipi. obat inhaler. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. tissue 4. Siapkan alat-alat : kartu obat. nama obat. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Jika dibutuhkan dosis dua kali semprotan. cara dan waktu pemberian. genggam dengan ibu jari. dosis. Lepaskan penutup inhaler. bentuk obat (krim/supositiria). Jelaskan kepada klien cara menggunakan inhaler : a. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . Dongakkan kepala kebelakang dan hembuskannapas d.

... dosis...... waktu pemberian......Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat... respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. 70 .... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna .

Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat di dalam vial tersebut menjadi sulit. 1997). 2. Jarum suntik Jarum suntik memiliki bentuk yang spesifik. Pemilihan gauge berdasarkan viskositas larutan yang akan diinjeksikan (Potter & Perry.5 cc. Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair. 20 cc. 2. Saat ini syringe sekali pakai (disposible) lebih banyak digunakan untuk menghindari infeksi silang. Syringe memiliki beragam ukuran: 1 cc. Saat menghisap medikasi. Perawat harus mematahkan leher ampul untuk dapat mencapai medikasi. perawat menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak menyentuh permukaan luar ampul). Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet di atasnya. Ujungnya runcing. Semakin kecil gauge. 50 cc. semakin besar diameter jarum. Syringe Syringe terdiri dari barrel silinderis dengan ujung yang dibentuk pas untuk jarum dan pada bagian belakang terdapat pendorong karet. dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan mengambil cairan di dalamnya. Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. Gambar. Jarum biasanya dikemas terpisah dari syringe. Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit. 10 cc.3 Syringe 4. 3. Ukuran syringe dan jarum pada masing-masing tipe injeksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 71 .OBAT INJEKSI Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial 1. Vial merupakan sistem tertutup. Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit. Satuan diameter jarum gauge (G). Vial berisi medikasi dalam bentuk cairan dan/atau kering. 3 cc.

b.Ampul atau vial dari medikasi yang diresepkan .Metal (opsional) .Tipe Injeksi Sub Cutan Intra Muscular Intra Dermal Ukuran syringe 1-2 cc 2-3 cc (dewasa) 1-2 cc (anak-anak) 1 cc Ukuran jarum 25 G 19-23 G 26 G Peralatan .Kapas alkohol atau kasa 2 x 2 inci . Melindungi jari dari trauma ketika gelas ampul pecah. Letakkan bantalan kasa kecil atau kapas alkohol mengelilingi leher ampul. Jika leher ampul tidak patah. Ampul a. Siapkan medikasi. Mencegah percikan gelas ke arah jari atau wajah anda 72 . c. Patahkan leher ampul ke arah menjauhi tangan anda. Cuci tangan untuk mengurangi infeksi nosokomial 2. Menurunkan semua cairan yang terkumpul di atas leher ampul.Spuit dan jarum dengan ukuran yang diperlukan . Semua larutan bergerak ke dalam bilik yang lebih rendah. gunakan metal untuk mengikir salah satu sisi leher.Jarum spuit ekstra Langkah-Langkah 1. Sentil bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat menggunakan jari.

Masukkan jarum spuit ke dalam lubang ampul. dan medikasi di dalamnya akan terbuang h. Aspirasi medikasi ke dalam spuit dengan menarik ke belakang plunger Menarik plunger ke belakang menciptakan tekanan negatif di dalam barrel yang mendorong cairan ke dalam spuit. Vial dilengkapi dengan cap untuk mencegah kontaminasi penutup. g. Tekanan udara akan mendorong cairan ke luar ampul. angkat jarum dari dalam ampul. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari barrel spuit. Lepaskan cap logam untuk memajan penutup karetnya. Periksa ulang ketinggian cairan dengan memegang spuit ke arah vertikal. Jika memegang ampul tegak lurus. Tarik bagian plunger sedikit dan dorong kembali ke atas untuk mengeluarkan udara. Jangan mengeluarkan cairan. jangan mengeluarkan udara ke dalam ampul. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di dalam jarum memasuki barrel. Menahan spuit ke arah vertikal memungkinkan cairan tetap berada di dasar barrel. i. Jangan biarkan ujung jarum atau batang spuit menyentuh pinggiran ampul. Medikasi lebih aman dibuang ke bak. Pegang ampul baik dengan posisi menjorok atau tegak. Dengan perlahan keluarkan kelebihan cairan ke dalam bak. 73 .d. pinggiran ampul. gunakan bak untuk membuang. Jika spuit terlalu banyak terisi udara. CATATAN: Ampul dapat saja dipegang menjorok atau miring sepanjang bagian ujung jarum tidak menyentuh . Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan. Memeriksa ulang ketinggian cairan memastikan dosis yang tepat Vial a. Pegang spuit ke arah vertikal terhadap ujung jarum. e. hentakan sedikit ke bak. angkat ke atas untuk memungkinkan semua cairan masuk ke dalam spuit. Mencegah aspirasi gelembung udara. Jika gelembung udara teraspirasi. f. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas. Bagian pinggir ampul yang pecah dianggap terkontaminasi. Untuk mengeluarkan gelembung udara.

Udara harus terlebih dahulu disuntikkan ke dalam vial sebelum mengaspirasi cairan. Mencegah aspirasi udara h. Masukkan bagian ujung jarum. Membalikkan vial memungkinkan cairan untuk tetap berada di pertengahan bawah vial. Keluarkan udara ke dalam vial. g. Lepaskan cap jarum.b. d. Menjaga bagian bevel ke arah atas dan memberikan tekanan ringan mencegah pemotongan karet sebagai penutup e. Tahan bagian ujung jarum di bawah ketinggian cairan. 52). jangan biarkan plunger kembali ke atas. Membuang debu atau kotoran tetapi tidak mensterilkan permukaan c. Tarik pulunger ke belakang untuk mengumpulkan sejumlah udara yang sama dengan volume medikasi yang akan diaspirasi Mencegah pembentukan tekanan negatif ketika mengaspirasi medikasi. menembus bagian tengah penutup karet (Gbr. Balikkan vial sambil tetap memegang vial dengan kuat pada spuit dan plunger. Bagian tengah dari penutup karet merupakan bagian yang tertipis dan lebih mudah untuk menusukkannya. Tarik kembali plunger jika perlu. Posisi tangan mencegah plunger dan memudahkan memanipulasi spuit dengan mudah. Pegang vial antara ibujari dan jari tengah pada tangan yang dominan. Dengan kapas alkohol. Plunger mungkin akan terdorong kembali ke belakang oleh tekanan udara di dalam vial f. Anda pertama-tama harus menyuntikkan udara ke dalam vial. Tekanan positif di dalam vial mendorong cairan ke dalam spuit 74 . usap permukaan penutup karet. Memungkinkan tekanan udara untuk secara bertahap mengisi spuit dengan medikasi. Raih bagian ujung barrel dan plunger dengan ibujari dan jari telunjuk dari tangan yang dominan. dengan bevel jarum mengarah ke atas.

Berikan label pada vial jika masih tersisa obat di dalamnya. menahan spuit secara vertikal memungkinkan cairan untuk tetap berada di dasar barrel. angkat jarum dari dalam vial dengan menarik ke belakang barrel spuit. Buang alat-alat yang basah di tempat yang telah disediakan. k. 5. Mencegah kontaminasi jarum dan melindungi perawat dari tusukan jarum. Jarum baru mencegah ceceran obat pada kulit dan jaringan subkutan. Catat jumlah larutan dan konsentrasi obat. Menarik plunger dan bukan barrel menyebabkan terlepas dari barrel dan medikasi dapat terbuang. Mencegah penularan infeksi. Sentil bagian barrel dengan hati-hati untuk melepaskan semua gelembung udara. Bungkus jarum dengan capnya. Jangan mengeluarkan cairan. Manakala dosis yang sesuai sudah terpenuhi. j. Menyentil dengan kuat barel ketika jarum berada di dalam vial dapat membengkokkan jarum. l. Cuci tangan. Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. Mengurangi transmisi mikroorganisme Kewaspadaan Perawat Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari barrel spuit. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas dan sentil-sentil untulC melepaskan gelembung. 75 . Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari berrel. 4. Tarik sedikit plunger dan dorong plunger ke atas untuk mengeluarkan udara. Menjamin pemberian obat yang akurat ketika diberikan obat berikutnya 3. Keluarkan semua udara yang terdapat di atas spuit ke dalam vial.i. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di datam jarum masuk ke dalam barrel. Untuk mengeluarkan kelebihan gelembung udara. Penggantian jarum diharuskan jika perawat menduga terdapat obat pada batang jarum. lepaskan jarum dari vial dengan menarik barrel ke belakang. Ganti jarum yang terdapat pada spuit. Akumulasi udara akan menggantikan medikasi dan menyebabkan kesalahan dosis.

Kaji terhadap alergi.Spuit (ukuran beragam sesuai dengan volume obat yang akan diberikan) . intramuskular-diameter 20 sampai 30 dan panjangnya 2. Jelaskan prosedur pada klien dan lanjutkan dengan cara yang tenang.5 cm [anak] [Whaley and Wong. karakteristik obat.. 1991]. Pastikan bahwa pasien yang tepat mendapatkan obat yang tepat. absorpsi obat agak sedikit lambat dibanding suntikan intramuskular. Kumpulkan peralatan dan periksa urutan medikasi terhadap rute. Namun. perawat harus mengetahui volume obat yang akan diberikan. 4. dosis. 6. medikasi dimasukkan ke dalam jaringan ikat jarang di bawah dermis. subkutan-diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat. Cuci tangan. yang tidak mengiritasi yang dapat diberikan melalui rute ini. Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat. Membantu klien mengantisipasi tindakan perawat. diameter 25 sampai 27 dan panjang 1.75 cm (dewasa). atau nyeri tekan. 2. 5. dan waktu pemberian. Jaringan subkutan mengandung reseptor nyeri.5 sampai 3. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi. 3.25 sampai 2. Rute intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat. 76 . atau infeksi. palpasi tempat tersebut terhadap edema.Formulir atau kartu obat Langkah-Langkah 1.25 sampai 2. Peralatan . Memastikan keakuratan urutan pemberian. Pilih tempat penyuntikan yang tepat.dan kenakan sarung tangan steril Mengurangi transmisi mikroorganisme.1 cm) . memar. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai banyak pembuluh darah. Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit. Siapkan medikasi dari ampul atau vial Memastikan bahwa medikasi yang akan diberikan steril. Periksa pita identifikasi klien dan tanyakan nama klien.Pemberian Suntikan Subkutan dan Intramuskular Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh.Kasa antiseptik (mis. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika obat diberikan jauh ke dalam otot. massa. lecet.Ampul atau vial obat . jadi hanya obat dalam dosis kecil yang larut dalam air.Untuk suntikan subkutan.Jarum (ukuran beragam sesuai dengan tipe jaringan dan ukuran klien. alkohol) . Hindari area yang terdapat jaringan parut. dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik. ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah jika perawat tidak cermat.

Dorsogluteal-klien tengkurap dengan lutut diputar ke arah dalam. Jangan gunakan kembali tempat suntikan yang sama didalam periode 3 minggu. Untuk penyuntikan intramuskular.Tungkai-klien duduk di tempat tidur atau kursi Tempat Suntikan Intramuskular . CATATAN: Antikoagulan dapat menyebabkan perdarahan lokal dan memar jika disuntikan ke dalam area seperti lengan dan tungkai. gunakan tempat suntikan abdomen. atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan disuntikkan dalam keadaan fleksi Membantu klien mendapatkan posisi yang dapat mengurangi regangan pada otot dengan meminimalkan rasa taknyaman akibat suntikan.klien berbaring miring. Rotasikan didalam satu region anatomi kemudian pindah ke lokasi anatomi lainnya.Ventrogluteal . 7. 8.Paha (vastus lateralis}-klien berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi . Tempat Suntikan Subkutan . Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman bergantung pada tempat suntikan yang dipilih. . palpasi otot untuk menentukan ukuran dan kekerasannya. atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah. .Tempat suntikan harus bebas dari lesi yang mungkin mengganggu absorpsi obat. Rotasi tempat suntikan mencegah pembentukan jaringan parut subkutan yang dapat mempengaruhi absorpsi obat. tengkurap. yang melibatkan aktivitas muskular. 77 . Saat memberikan heparin subkutan.Lengan klien duduk atau berdiri .Lengan atas (deltoid klien duduk atau berbaring mendatar dengan lengan atas fleksi tetapi rileks menyilang abdomen atau di atas abdomen. Diperlukan massa otot yang cukup untuk memastikan suntikan intramuskular akurat ke dalam jaringan yang tepat.Abdomen-klien duduk atau berbaring . Dalam kasus penyuntikan insulin yang berulang setiap hari jangan gunakan tempat penyuntikan.

tempat di mana suntikan akan diberikan. atau pembuluh darah. Minta klien untuk melemaskan lengan atau tungkainya. tulang. Minimalkan rasa taknyaman selama suntikan. 11. Penyuntikan yang akurat membutuhkan penusukan di tempat anatomi yang tepat untuk menghindari pencederaan jaringan di bawah saraf. Pengalihan perhatian membantu mengurangi ansietas 10. Cari tempat yang akan dipilih sebagai tempat suntikan menggunakan tanda anatomi. 78 . Pasang swab di tengah tempat suntikan dan putar ke arah luar dengan arah melingkar sekitar 5 cm (2 inci). Bersihkan tempat suntikan yang dipilih dengan swab kasa antiseptik.9. Bicaralah pada klien tentang subjek yang menarik.

.Gerakan mekanik swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme 12. Suntikan jarum dengan cepat pada sudut 90 derajat. Pegang spuit diantara ibujari dan jari telunjuk dari tangan anda yang dominan bayangkan seperti memegang anak panah. Klien obes mempunyai lapisan lemak di atas jaringan subkutan . cubit kulit pada tepmat suntikan dan suntikan jarum di bawah lipatan kulit. Pegang swab diantara jari ketiga dan keempat dari tangan anda yang tidak dominan.Jika masa otot tipis.Untuk klien ukuran sedang. Memastikan bahwa obat mencapai jaringan otot 79 .Untuk klien obesitas. (Kebanyakan perawat memegang spuit dengan telapak tangan ke atas untuk penyuntikan subkutan dan telapak tangan ke bawah untuk penyuntikan intramuskular karena perbedaan sudut penusukan). Suntikan spuit: Subkutis . Penyuntikan cepat waspada membutuhkan manipulasi bagian spuit yang tepat 15. Mencegah jarum menyentuh cap dan terkontaminasi 14.Posisikan tangan nondominan pada tanda anatomik yang tepat dan regangkan kulit.encubitan kulit menaikan jaringan subkutan . Mempercepat penyuntikan dan mengurangi ketidaknyamanan. Penusukan jarum pada kulit yang tegang lebih mudah dibanding kulit yang kendur.Suntikan jarum dengan cepat dan kuat pada sudut 45 derajat (kemudian lepaskan cubitan kulit bila dilakukan). cubit otot tubuh dan suntikan obat. Swab akan tetap mudah terakses saat waktunya mencabut jarum 13. Lepaskan cap jarum dari spuit dengan menarik cap lurus. Penusukan yang cepat dan kuat meminimalkan ansietas dan ketidaknyamanan klien Intramuskular . dengan tangan nondominan anda regangkan kedua belah sisi kulit tempat suntikan dengan kuat atau cubit kulit yang akan menjadi tempat suntikan. P.

Jika memberikan preparat yang dapat mengiritasi. 17. Pindahkan tangan dominan anda ke ujung plunger. suntikan obat dengan perlahan. Gunakan tangan dominan anda untuk meraih ke arah plunger. Penyuntikan dengan tepat memerlukan manipulasi halus bagian spuit.5 ml udara ke dalam spuit untuk membentuk sumbatan udara. lakukan metoda Z-track. dan ulangi persiapan obat. Gerakan spuit dapat mengubah letak jarum dan menyebabkan rasa taknyaman Jika menggunakan metoda Z-track. 18. Obat akan menjadi berbusa jika diaspirasi. 16. Metoda Ztrack membentuk jalur zig-zag melalui kulit yang membungkus jalur jarum untuk menghindari kebocoran obat melalui jaringan subkutan yang sensitif. Obat tidak akan berbahaya jika diberikan intravena. Cabut jarum dengan cepat sambil meletakkan swab antiseptik tepat di bawah suntikan 80 . Tarik kulit di bawahnya dan jaringan • subkutan 2. Tahan bagian belakang kulit dan suntikan jarum dengan cepat Sumbatan udara membersihkan jarum dari obat untuk mencegah tracking obat melalui kulit dan jaringan. CATATAN: Beberapa institusi menganjurkan untuk tidak melakukan aspirasi penyuntikan heparin subkutan.5 sampai 3. tarik kembali jarum. buang spuit. Jika terlihat darah di dalam spuit. dengan tangan nondominan anda raih ujung bawah barrel spuit. Hindari gerakan spuit. Manakala jarum memasuki tempat suntikan. CATATAN: Heparin adalah antikoagulan yang secara khas diberikan dalam dosis kecil melalui subkutan. Darah yang teraspirasi ke dalam spuit menunjukkan bahwa jarum i menusuk intravena. Dengan perlahan tarik kebelakang plunger untuk mengaspirasi obat.5 cm ke arah lateral ke samping. Obat-Obat intramuskular dan subkutan tidak digunakan untuk pemberian intravena. Penyuntikan perlahan mengurangi nyeri dan trauma jaringan. pertahankan agar tetap menahan kulit dengan tangan nondominan anda. Saat menggunakan metoda ini perawat menghisapkan 0. - Kulit harus tetap ditarik sampai obat disuntikan. Jika tidak terlihat darah.

2. Uji coba obat tertentu terhadap reaksi alergi. Kewaspadaan Perawat Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. tahan agar jarum tetap ditempat setelah menyuntikan obat selama 10 detik. Menyokong jaringan di sekitar tempat suntikan sehingga meminimalkan rasa taknyaman ketika jai-um dicabut. Masase menstimulasi sirkulasi kemudian meningkatkan penyebaran serta penyerapan obat 20. Ada baiknya untuk tetap tidak memperlihatkan ruam pada anak untuk meminimalkan ansietas. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan membuat anaknya tidak nyaman. Setelah penyuntikan tenangkan anak. memberikan klien rasa kesejahteraan 21. Penyuntikan Intrakutan dan Intravena Injeksi Intrakutan/ Intradermal Injeksi intrakutan adalah salah satu metode injeksi dimana obat dimasukan ke dalam jaringan kulit (dermal) yaitu epidermis. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa terbakar di tempat suntikan. Vastus lateralis adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anakanak. Catat pemberian obat pada lembar obat atau catatan perawat. Masase tempat suntikan dengan perlahan kecuali merupakan kontraindikasi seperti pada penyuntikan heparin. Mencegah cedera pada klien dan tenaga personel. Jika tampak darah di dalam jarum spuit selama aspirasi.2 ml udara ke dalam spuit setelah menyiapkan dosis obat. Kembali untuk mengevaluasi respons klien terhadap obat dalam 15 sampai 30 menit. Tempat penyuntikan intrakutan dan tekniknya 81 . Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. Udara bertindak sebagai ruang vakum untuk membersihkan lubang jarum dari obat. mengontrol penyebaran infeksi 23. Obat parenteral diserap dan bekerja lebih cepat dibanding obat oral. Pengamatan anda menentukan kemanjuran kerja obat. cepat cabut jarum dan mulai dari awal lagi. Otot dorsogluteal seharusnya tidak digunakan untuk penyuntikan pada anak-anak kecuali otot tersebut berkembang dengan sempurna. Biasanya dipakai untuk : 1. Bidang jaringan saling menindih untuk membentuk jalur zig-zag yang menutupi obat ke dalam jaringan otot. Pertimbangan Pediatri Jika memang diharuskan untuk memberikan obat dalam bentuk cairan pada anak. Buang jarum tidan berpenutup dan letakkan spuit ke dalam tempat yang sudah diberi label. tarik 0. Menutup kembali jarum dapat menyebabkan penusukan dari jarum dan sudah tidak dianggap praktik yang aman 22. Tes tuberculin. Kemudian lepaskan kulit setelah menarik jarum. 19. Mencatat pemberian obat dan mencegah kesalahan pemberian obat berikutnya 24. Jangan sekali-kali mengagetkan anak. Berikan orangtua kesempatan untuk membantu menahan anak mereka selama penyuntikan.Jika mengunakan metoda Z-track. yang dapat menunjukkan cedera saraf. Memungkinkan obat untuk menyebar dengan rata. Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. Pastikan bahwa anak mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan.

Buka tutup jarum 10. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 13. Gunakan sarung tangan 5. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. Cek catatan perawat dan medis : program pemberian obat melalui intradermal 2.15 derajat 12. gunakan tempat altematif 6. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 14. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 11. Cuci tangan 3. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Buat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan dan instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 19. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 7. Cuci tangan 82 . Jika test alergi +. pingsan. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. jika lengan bawah tidak dapat digunakan. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 15. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. berkurangnya tekanan darah. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 8. sianosis) 17. 16. Jika terdapat darah. muntah. Kembalikan posisi klien 20. mual.Langkah-langkah : 1. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 18. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 9. berkeringat.

Injeksi Intravena Injeksi intravena kita harus memilih vena yang besar. 11. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. selama dan setelah dilakukan injeksi IV. B. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 9. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. (2004). 83 . lalu tusuk perlahan dan pasti. Teknik ini dibutuhkan perawat dengan ketrampilan khusus. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 7. Process and Practice. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin PUSTAKA Kozier. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Fundamentals of Nursing : Concept. 7nd edition. all. misalnya pada lengan. Pada saat penusukan posisi harus tepat dan tidak goyah. 14. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. 12. Gunakan sarung tangan 5. harus dimonitor tanda-tanda vitalnya. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 18. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 17. et. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. punggung telapak tangan. 13. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. Lepaskan tourniquet 16. Metode ini menyebabkan reaksi cepat. Sebelum. New Jersey : Pearson Education. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 8. Cuci tangan 3. Kencangkan tourniquet 10. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 6. Lakukan aspirasi 15. Langkah-langkah : 1. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin.

Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Mhs : Variabel yang dinilai A. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 84 . Cek catatan perawat dan medis 2. Cek dosis* 5. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek nama pasien* 4. Lakukan double cek obat (nama obat.CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA DERMAL Nama No. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 Ni lai 1 2 11. Siapkan alat 8. Cuci tangan * 9. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan obat a. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Tahap Preinteraksi 1. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Cek nama obat* 3.

Cuci tangan* E. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 10. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. Jelaskan prosedur tindakan * 5. berkeringat. Mulai dengan cara yang baik 4. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. Buka tutup jarum 12. muntah. Perkenalkan diri* 3. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. nama pasien. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. Gunakan sarung tangan 6. waktu pemberian. Panggil klien dengan namanya* 4. mual. dosis dan cara pemberian* 85 . Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 17. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 21. gunakan tempat altematif 8. Tahap Kerja 1. Buat tanda dengan membuat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan 22. sianosis)* 20. Instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 23. Jika test alergi +. Kaji efek obat dan respon klien* 25. pingsan. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Jaga privasi klien 5. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 16. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 13. Evaluasi perasaan klien 2. Baca label obat sekali lagi* 7. Tanyakan keluhan dan kaji adanya alergi* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Berikan salam 2. 18.9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* B. Kembalikan posisi klien 24. Jelaskan tujuan tindakan* C. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 9. Dokumentasi Catat nama obat. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. 19. jika lengan bawah tidak dapat. Jika terdapat darah. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . berkurangnya tekanan darah. Tahap Terminasi 1.15 derajat 14. Bereskan alat* 6. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 15. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Tahap Orientasi 1. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 11.

Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1 = Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75%

Nilai ………………

Pengampu ………………………….

86

CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA MUSCULAR Nama Mhs : Variabel yang dinilai A. Tahap Preinteraksi 1. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek nama obat* 3. Cek nama pasien* 4. Cek dosis* 5. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan alat 8. Cuci tangan * 9. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan Nilai 0 1 2

11. Lakukan double cek obat (nama obat, dosis dan hasil perhitungan)* 12. Siapkan obat a. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas, ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum, tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah, perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 87

B. Tahap Orientasi 1. Berikan salam 2. Perkenalkan diri* 3. Panggil klien dengan namanya* 4. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Jelaskan tujuan tindakan* C. Tahap Kerja 1. Berikan kesempatan klien untuk bertanya 2. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Jaga privasi klien 4. Mulai dengan cara yang balk 5. Gunakan sarung tangan 6. Pilih tempat penusukan 7. Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman dan mudah untuk perawat melihat tempat penusukan 8. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi IM. 9. Bersihkan tempat vang akan digunakan dengan kapas alkohol 10. Buka tutup jarum 11. Tarik kulit di tempat penusukan dengan cara : 12. Tempatkan ibu jari dan jari telunjuk tangan non dominan di atas tempat penusukan (hati-hati jangan sampai mengenai daerah yang lelah dibersihkan) hingga membentuk V 13. Tarik ibu jari & jari telunjuk dengan arah berlawanan, memisahkan jari sepanjang 3 inc 14. Cepat masukkan jarum dengan sudut 90 dengan tangan yang dominan 15. Pindahkan ibu jari dan jari telunjuk jari non dominan dan kulit untuk mendukung barrel spuit, jari sebaiknya ditempatkan pada barrel sehingga saat mengaspirasi, anda dapat melihat barel dengan jelas. 16. Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit 17. Jika terdapat darah, tarik jarum keluarkan berikan tekanan pada tempat tusukan dan ulangi langkah ke C6 hingga C14. Jika tidak ada darah, dorong plunger dengan perlahan, ajak klien berbicara. 18. Tarik jarum dengan sudut yang sama saat penusukan 19. Usap dan bersihkan tempat penusukan dengan kapas alkohol lain (jika kontra indikasi untuk obat, berikan penekanan yang lambat saja) 20. Tempatkan jarum pada baki 21. Buka sarung tangan 20. Kembalikan posisi klien 21. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Tahap Terminasi 1. Evaluasi perasaan klien 2. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Bereskan alat* 6. Cuci tangan* F. Dokumentasi Catat nama obat, nama pasien, waktu pemberian, dosis dan cara pemberian* Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali Pengampu

88

………………………….

1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% Nilai …………… ……………. 89 .

Tahap Preinteraksi 1. Lakukan double cek obat (nama obat.INJEKSI SUBCUTANEUS Nama MHs : ASPEK YANG DINILAI A. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Cek nama obat* 3. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Cek dosis* 5. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Siapkan alat 8. Cek waktu pemberian* 7. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Cek catatan perawat dan medis 2. Cuci tangan * 9. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 NILAI 1 2 11. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan*90 . Siapkan obat a. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek nama pasien* 4.

Akhiri kegiatan 5. 91 . Evaluasi hasil kegiatan 2. tangan E. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian. Berikan reinforcement 3. Tahap Terminasi 1. obat yang diberikan dosis dan cara pemberian Totai Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma Pengampu Nilai 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% …………………………. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4.D. ………………… ……….

Tahap Orientasi 1. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Lepaskan tourniquet 18. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Jelaskan prosedur dan tujuan pemberian obat pada klien/ keluarga C. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Cuci tangan 3. Simpulkan hasil kegiatan 3. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar* B. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 8. Akhiri kegiatan 5. Evaluasi perasaan klien 2. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 19. Berikan salam. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Lakukan aspirasi 17. tangan D. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 20. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin C. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. 16. 92 . dosis. 13. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. Tahap Kerja 1. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Jaga privasi klien 4. 12. Kencangkan tourniquet 11. identifikasi klien dan panggil klien dengan namanya 2. Tahap Terminasi 1.INJEKSI INTRAVENA Nama Mhs : ASPEK YANG DINILAI A. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 9. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 10. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. Mulai dengan cara yang baik 5. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian obat yang diberikan. lalu tusuk perlahan dan pasti 15. Tahap Preinteraksi 1. caranya Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% NILAI 0 1 2 Pengampu Nilai …………………………. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 7. Gunakan sarung tangan 6. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk.

berat badan. Perawat harus membaca label pada obat untuk melihat aturan pengenceran yang diperbolehkan misalnya dalam label obat akan tertulis 93 . Perawat harus memerksa dosis obat yang tertulis di dalam catatan medis dan mencocokkannya dengan label obat dan melakukan penghitungan dosis yang akurat. Metode 1 Persamaan dasar Dosis yang diinginkan adalah dosis yang sesuai dengan program pengobatan (D) Dosis yang tesedia adalah dosis yang ada di kemasan obat. Ada berbagai macam cara atau metode menghitung dosis obat.MENGHITUNG DOSIS OBAT Penghitungan dosis obat adalah kegiatan menentukan dosis yang dipesankan oleh tim medis berada dalam rentang dosis yang sesuai dengan rute pemberian. misalnya obat tersedia dalam jumlah milligram atau milliliter yang ekuivalen (H) Vehicle adalah bentuk/kemasan obat atau jumlah tablet atau jumlah larutan yang sesuai dengan dosis yang tersedia Mount adalah isi/jumlah obat yang diberikan misalnya dalam milliliter atau tablet milligram (A) Rumus penghitungan dosis obat DxV =A H Contoh: Dosis sesuai program dokter (D) adalah 400 mg Dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan bentuk sedian obat adalah tablet) Yang ditanyakan: berapa banyak tablet yang harus diberikan ke klien? Jawab: 400 x 1 tablet = 2 tablet 200 Metode 2 Rasio dan proporsi Rumus: H : V= D : A Contoh Dosis sesuai program dokter adalah 400 mg. sedangkan dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan sediaan obat dalam bentuk bubuk dalam vial yang harus diencerkan menjadi bentuk cair) Yang ditanya: berapa ml/cc obat yang harus diberikan kepada klien Jawab 1. dan usia klien.

1 ml cairan obat setara dengan 200 mg bubuk obat (1 gram/1000 mg = 5 ml. berarti bubuk obat di dalam vial akan diencerkan dengan 5 ml aquabides sehingga bentuk sediaan akan berubah menjadi cair 2.diencerkan dengan 5 ml aquabides. Apabila terdapat 1 gram bubuk obat dalam vial yang akan diencerkan dengan 5 ml aquabides berarti ketika pengenceran sudah dilakukan. Perawat harus membaca berat bubuk di dalam vial misalnya 1 gram isi vial setara dengan 1 gram bubuk obat 3. 1 ml = 1000/5 = 200 ml) 94 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.