BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

TIM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2013

1

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan sistem Blok Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dapat terselesaikan dengan baik. Kurikulum baru ini dirancang untuk menjawab tantangan global dunia pendidikan khususnya untuk mencipta Ners yang terampil dan profesional. Pendidikan keperawatan pada masa kini selalu mengalami perubahan dinamis, cepat dan kontinyu. Ners dari Universitas Jenderal Soedirman diharapkan mampu menangani pasien maupun masalah kesehatan di masyarakat, sehingga wajib dibekali pengetahuan yang luas, keterampilan yang handal, mampu berkomunikasi berdasarkan empati (komunikasi efektif), serta berbudi pekerti luhur yang tercermin pada sikap dan perilaku. Beranjak dari hal itu, maka (KBK) dengan sistim Blok disusun berdasarkan paradigma baru pendidikan Ners dengan waktu studi diselesaikan minimal selama 3,5 tahun untuk akademik dan satu tahun untuk profesi Ners. Program yang dijalankan untuk menyelesaikan kurikulum baru ini, dijabarkan dalam bentuk program semester yang dilaksanakan dengan pola blok tematik berdasarkan kebutuhan hirarkhi Maslow. Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini merupakan panduan belajar mahasiswa pada ranah psikomotor yang tentunya ranah kognitif dan afektif juga ikut terlibat di dalamnya. Jumlah keterampilan tindakan pada Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini berjumlah 9 keterampilan. Kompetensi psikomotor pada blok ini diharapkan dimiliki oleh seorang Ners atau calon perawat lulusan Universitas Jenderal Soedirman, sehingga setelah menjalani Blok Fundamental of Nursing II selama 5 minggu kemampuan yang diperoleh dapat diinternalisasikan dan terus-menerus diterapkan pada tingkat selanjutnya sampai nanti menjadi Ners praktisi. Saran dan kritik membangun masih kami tim terima dalam rangka perbaikan buku panduan Blok Fundamental of Nursing II ini sehingga pengembangan dan peningkatan mutu pendididikan profesi keperawatan khususnya di Jurusan keperawatan FKIK Unsoed ini akan terwujud dengan kerja sama berbagai pihak dalam proses pembelajaran bersama.

Purwokerto, 10 September 2013

Tim Blok Fundamental of Nursing II

2

DAFTAR ISI DDST ...................................................................................................... KPSP........................................................................................................ Pengenalan Bentuk-Bentuk Sediaan Obat............................................... Rute Pemberian Obat............................................................................... Menghitung dosis obat............................................................................. Leg Exercise ............................................................................................ Pemeriksaan Fisik Anak dan Neonatus ................................................... Ballard Test..............................................................................................

3

Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan factor 4 . 3. 2. Fungsi DDST Fungsi DDST adalah: a. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas. adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia 1 bulan dampai dengan 6 tahun. bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Suspect : Satu atau lebih kelambatan dan/atau dua atau lebih banyak kewaspadaan. tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak b.DDST (DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST) 1. bahasa. 2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu. c. Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Normal : Tidak ada kelambatan b. melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil. 4. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Untuk menstimulasi perkembangan anak c. mengikuti perintah dan berbicara spontan 4) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1) Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri. Rekomendasi untuk rujukan test suspect atau untestable : d. Intrepretasi hasil DDST a. Pengertian DDST DDST kependekan dari Denver Developmental Screening Test yaitu suatu test untuk melakukan pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia 1 bulan sampai dengan 6 tahun menurut Denver. 3) Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara. Apa yang harus dilakukan bila hasil DDST Suspect. Untestable : Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75 % sampai dengan 90 %. Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tujuan DDST Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar. Untuk mendeteksi dini keterlambatan perkembangan anak Aspek perkembangan yang diamati terdiri dari 125 tugas perkembangan. Untuk pedoman dalam perawatan perkembangan anak d.

9-12 bulan. penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan. Meragukan dan Tidak dapat dites. gunakan penilaian klinis berdasarkan hal berikut : angka kewaspadaan dan kelambatan. Pada anak-anak yang lahir prematur. pemeriksaan dan riwayat klinis. usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun Interpretasi dari nilai Denver II: A. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Langkah-langkah pemeriksaan DDST: 1) Tetapkan umur kronologis anak. 1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan. 4 tahun. 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. C. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. gagal. Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut) B. dan 18-24 bulan. Cara Pemeriksaan Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap. Berdasarkan pedoman.temporer. hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal. ketersediaan rujukan. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. Abnormal. Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90 D. Bila skrining ulang bersifat suspect atau untestable. OK Melewati. yaitu: A. Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis. Kemudian dapat dilakukan pada anak yang berusia: 3 tahun. e. atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75 C. karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu 5. tanyakan tanggal lahir anak yang akan 5 . Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan. dan 5 tahun B. pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia .

Lula? Jawab: 2008 – 4 – 1 2006 – 8 – 5 1 – 7 -26 Jadi usia An. kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). buku gambar/ kertas. Contoh: An. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. kismis/ manik-manik. ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). berapa yang P dan berapa yang F. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor. Hitung usia kronologis An. 6. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah: 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah. gagal (Fail = F). Lula lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. sehingga usia kronologis An. peralatan gosok gigi. Lembar formulir DDST II 3). Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. Alat yang Digunakan 1).2) 3) 4) 5) diperiksa. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. pensil. pakaian. Alat peraga: benang wol merah. Lula adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan. kubus warna merah-kuning-hijau-biru. Peralatan makan. 2). jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas. 6 . kartu/ permainan ular tangga. Penilaian: Jika Lulus (Passed = P).

tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 1) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 2) Jelaskan prosedur pemeriksaan. Bahasa c. ……… Evaluator Nilai 1 2 2. Personal sosial b.) PIJAT BAYI 7 . gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 1) Siapkan lembar formulit DDST yang akan digunakan 2) Hitung usia kronologis anak. waktu. FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN DDST/DENVER II : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 1) Siapkan alat yang akan digunakan. Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………………. dan nama pemeriksa (tanda tangan). Nilai: Purwokerto. 4. 5. 1. 3. 2) Pastikan ruangan hangat. Motorik kasar (Gross motoric) d. dekatkan pada pemeriksa. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 3) Berikan privasi. meliputi aspek perkembangan: a. lakukan pendekatan pada anak. pindahkan pada formulir sesuai dengan usia kronologis anak 3) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 4) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. Motorik halus (Fine motoric) 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 1) Observasi perubahan perilaku anak 2) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 3) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan Dokumentasi 1) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 2) Catat tanggal.Nama NPM No.

sebaiknya tidak dipijat di daerah perut. Tiap individu. berkurangnya kadar hormon stres. bayi yang banyak memperoleh sentuhan. dokter anak dan psikiater dari Amerika. perbaikan kondisi psikis.3 bulan juga meningkatkan kesiagaan (alertness) dan tangisnya berkurang. Untuk keperluan itu. menurut dr. dalam makalah berjudul Touch Therapy: Science Confirms Instinct. tidak perlu mengundang dukun pijat bayi sebab pemijatan bisa dilakukan sendiri. ia bisa menjadi terapi untuk mendapatkan banyak manfaat buat bayi.). Field seperti dikutip dr. Pemijatan dimulai dari kaki. Ini akan diikuti dengan peningkatan berat badan. Namun. untuk bayi berumur 0 . campak. Bayi umur 1 .Kep. Tidurnya pun bertambah tenang. Pengamatan T. sentuhan orang tua merupakan dasar perkembangan komunikasi.Oleh Dian Ramawati. mampu mengurangi perasaan gelisah dan depresi sehingga 8 .1 bulan. Ns. muka. J. belaian. Utami Roesli.3 bulan. bagian dada. Tak ada teknik pijat yang baku. dll. disarankan hanya diberi gerakan usapan halus. menyebutkan terapi pijat 30 menit per hari bisa mengurangi depresi dan kecemasan. dan bertambahnya kadar serotonin. M.. gangguan usus. Sentuhan. jarang mengalami simptom hospitalismus (gangguan yang sering dialami bayi yang tinggal di panti asuhan. An Pengertian Sentuhan alamiah pada bayi sesungguhnya sama artinya dengan tindakan mengurut atau memijat.. dan pijatan akan mempererat ikatan kasih sayang orang tua dengan anak. Terhadap perkembangan emosi anak. dan diakhiri pada bagian punggung. melaporkan. tangan. bisa menerapkan teknik dan tahapan pemijatan masing-masing. David Hull. Terapi pijat 15 menit selama enam minggu pada bayi usia 1 .3 tahun. Pijatan juga terbukti dapat melegakan saluran napas yang menyempit karena asma. seperti radang telinga tengah. yang akan memupuk cinta kasih timbal-balik. Sebelum tali pusat lepas. dan menjadi penentu bagi anak untuk menjadi anak yang berbudi pekerti dan percaya diri. ahli virologi mulekuler dari Inggris. Sp. Rene Spitz. diberi gerakan pijat halus dengan tekanan ringan. khususnya dari ibu. Lagi pula ia akan merasa aman karena merasa yakin memiliki kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. Untuk bayi usia 3 bulan . bisa ditambah dengan tekanan.Kep. Kalau tindakan ini dilakukan secara teratur dan sesuai dengan tata cara dan teknik pemijatan bayi.

Pada anak yang lesu dan malas bergerak. Teknik ini bermanfaat untuk mengendorkan jaringan. Tangan diletakkan sejajar dengan anggota badan. lingkaran yang terbentuk akan makin bulat. berkhasiat pada jaringan penentu kemelaran otot yang terletak pada gelendong jaringan otot. Teknik kocokan dilakukan dengan cara "menggulung". Hasilnya. dapat dimulai kapan saja sesuai keinginan. dapat menenangkan anak. Utami Roesli menyebutkan bahwa pijat bayi dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. memberikan stimulasi pada permukaan jaringan. Pemijatan dapat dilakukan pagi hari sebelum mandi. Pemijatan bisa dilakukan oleh ayah. Usapan juga dapat merangsang aliran darah dan getah bening. hasilnya akan lebih baik. Cara lain. Tindakan pijat dikurangi seiring dengan bertambahnya usia bayi. Mengurut bayi bisa juga dengan gerakan remasan. mirip gerakan membuat adonan roti. Penelitian di Australia 9 . Teknik urut lingkar. Dengan latihan. remasan. ibu. Dengan kata lain. Jadi. Setiap gerakan yang berkaitan dengan kegiatan mengurut atau memijat memiliki khasiat. Teknik remasan dilakukan dengan cara bagian tungkai atau lengan dipadatkan atau dimelarkan menggunakan sisi tangan bagian dalam dan sedikit gerakan memeras. Bayi akan mendapat keuntungan lebih besar bila pemijatan dilakukan tiap hari sejak lahir sampai usia enam atau tujuh bulan. dengan teknik lingkar. Barbara Ahr. kemudian membuat bentuk lingkaran-lingkaran dengan kedua tangan. bahkan ke bagian jaringan lebih dalam. sehingga bermanfaat bagi anak yang berpembawaan gugup. Mula-mula dilakukan usapan.serangan asma berkurang. Remasan. Bahkan pemijatan pada bayi dari ibu HIV-positif dapat lebih menaikkan berat badan dan meningkatkan perkembangan motorik bayi. menganjurkan agar usapan dilakukan sedikit lebih bertenaga dan diarahkan ke jantung. Bila dikerjakan secara lengkap. kocokan. ahli fosioterapi. remasan dapat membuat otot bayi menjadi lebih kuat. Semua teknik urut (usapan. Dari lingkaran besar kemudian mengecil. Bisa juga malam hari sebelum bayi tidur sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak. Sejak usia enam bulan. atau anggota keluarga lain. pijat dua hari sekali sudah memadai. menurut Ahr. sambil mengurut seperti menggulung sosis atau mengaduk adonan. dan gerakan lingkar) bisa saling melengkapi. menurut Ahr. nenek. aliran darah meningkat dan pembuluh darah lebih lebar. sekaligus akan lebih melancarkan peredaran darah. Gerakan usapan misalnya. dr.

sambil diajak berbicara. Jangan memijat bayi yang sedang tidak sehat. Bayi sudah makan atau benarbenar tidak sedang lapar. Langkah Kerja 1. Akibatnya. 2. Meningkatkan daya tahan tubuh / imunitas bayi Meningkatkan rasa percaya dan harga diri pada pasangan muda Alat yang digunakan 1.membuktikan. Baju bersih (popok. 3. 3. 4. atau tak mau dipijat. 3. 4. nenek atau paman) Meningkatkan nafsu makan dan berat badan bayi Bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus-nya (saraf otak ke10). jangan membangunkan bayi hanya untuk dipijat. Sebelum dan selama pemijatan. Tidak boleh memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi. Meningkatkan bonding attachment antara bayi dengan anggota keluarga yang lain (ibu. sarung tangan dan kaki) Handuk Baby oil / baby lotion Alas kain / kasur kecil . bayi yang dipijat ayahnya berat badannya cenderung naik dan hubungan dengan ayah makin baik. Lakukan sentuhan ringan dan lembut. produksi ASI akan lebih banyak. ayah. Tujuan 1. 10 Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. pastikan tangan Anda bersih dan hangat. Yang juga penting diperhatikan. Ini membuat kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin naik sehingga penyerapan terhadap sari makanan pun menjadi lebih baik. 2. Penyerapan makanan yang lebih baik akan menyebabkan si kecil cepat lapar dan karena itu lebih sering menyusu. kulit bayi perlu sesering mungkin dilumuri baby oil atau baby lotion. Tapi jangan memijat segera setelah bayi selesai makan. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. 2. Periksa kuku dan perhiasan untuk menghindari goresan pada kulit bayi. Sebelum memijat.

Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi. muka. pemijatan sebaiknya dihentikan. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. memijat. Kalau tangisnya makin keras. dari atas ke bawah. Selanjutnya kedua tangan membuat Rapatkan kedua kaki bayi. 8. disusui. bagian dada. 6. gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki. 7. dan diakhiri pada bagian punggung. Telapak kaki diurut dengan kedua ibu jari. Pemijatan dimulai dari kaki. Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. Atau. Anda bisa belajar mengenali reaksi anak dan bisa mengamati penerimaan kegiatan memijat ini oleh anak. 4. dari pangkal paha dengan gerakan memeras.terutama bila bayi sudah mulai menerima pijatan itu. dan memutar kaki bayi secara lembut. dua tangan bergerak bersamaan. Atau. Untuk memijat perut. ada baiknya sambil bersenandung atau memutar lagu lembut. 5. membuat lingkaran-lingkaran kecil pada telapak kaki. atau mengantuk. dengan 11 . Untuk menciptakan suasana tenang. Lewat kontak pandang. Bila bayi menangis. 9. tangan. Selama pemijatan. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. 11. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. Mungkin bayi minta digendong. 10. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu.

Pemijatan tangan dimulai dari pundak. 13. kedua tangan melakukan gerakan memeras. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Atau. gerakan membuat gambar jantung besar hingga ke tepi selangka. Pada telapak tangan. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Atau. Selanjutnya. Atau. dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. 16. gerakan membentuk huruf "U". tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. Cara lain. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. 15. Ada juga gerakan membuat lingkaran-lingkaran searah jarum jam. Kemudian kedua lengan bayi 12 . 14.12. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari tengah dada ke samping. memijat. gerakan seperti membuat gambar jantung kecil di sekitar puting susu. lalu jari-jari tangan diregangkan seolah membuat gambar burung kecil.

dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. 20. dengan gerakan mengusap. Atau. 13 . 18. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. tengah ke samping. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. membuat lingkaran-lingkaran kecil. 19. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. juga ke daerah pipi di bawah mata. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan.17.

Atau. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. Letakkan bayi pada pangkuan / matras / kasur Tahap Kerja a. bagian dada... l. k. pastikan tangan kering dan hangat c. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. Letakkan handuk untuk menutupi badan bayi b... dengan telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian.. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan.... dari atas ke bawah.. Lumuri badan bayi dengan baby oil / baby lotion sesering mungkin sebelum dan selama pemijatan d. Aspek yang Dinilai Tahap Pre – Interaksi a.... Urut kedua telapak kaki dengan ibu jari. dari pangkal paha dengan gerakan memeras..... Lepaskan perhiasan pada tangan yang dapat menggores kulit bayi Tahap Orientasi a. Bila bayi menangis..... h. dan diakhiri pada bagian punggung.... g... Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari 14 Nilai 0 1 2 2. m. i... muka.. 3. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. tangan.. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang.. Selanjutnya kedua tangan membuat gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki.... Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. . Rapatkan kedua kaki bayi. Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. NIM No 1.. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari... Untuk memijat perut. Selama pemijatan. Siapkan alat yang akan digunakan : • Alas kain / kasur / matras • Baby oil / baby lotion • Baju bersih • Handuk b. Selanjutnya.. Cuci tangan. Ada juga gerakan membuat lingkaranlingkaran searah jarum jam. pemijatan sebaiknya dihentikan... c. : . dua tangan bergerak bersamaan.. Pemijatan dimulai dari kaki. Kaji kondisi bayi b.. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. f... Lakukan sentuhan ringan dan lembut. j.. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi.CHECK LIST PIJAT BAYI Nama Mahasiswa : . gerakan membentuk huruf "U".. membuat lingkaranlingkaran kecil pada telapak kaki. memijat.... e. dan memutar kaki bayi secara lembut.. Kalau tangisnya makin keras. sambil diajak berbicara..

p. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. ……………… Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai : Evaluator. 4. Atau. (…………………………. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. tengah dada ke samping. t. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. kedua tangan melakukan gerakan memeras. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Atau. Pada telapak tangan. o.n. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. juga ke daerah pipi di bawah mata. Kaji respon bayi selama dan setelah dilakukan tindakan b. Tahap Terminasi a. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. q. Atau. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. membuat lingkaran-lingkaran kecil. s. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. Pakaikan bayi baju bersih yang telah disiapkan Purwokerto. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari tengah ke samping. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan.) 15 . Kemudian kedua lengan bayi dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. dengan gerakan mengusap. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. memijat. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. r..

Memberikan perawatan yang dibutuhkan oleh bayi sesuai dengan usia gestasinya.PENGKAJIAN USIA GESTASI 1. 1. Pengertian Pengkajian usia gestasi merupakan kriteria penting karena morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) perinatal berhubungan dengan usia gestasi dan berat badan lahir. 2. Untuk bayi dengan usia gestasi kurang dari 26 minggu dapat dilakukan dalam waktu sampai 96 jam setelah kelahiran. Alat Format pengkajian Ballard Test. tidak ada lanugo (rambut halus di permukaan kulit). Salah satu metode yang paling sering digunakan tentang penentuan usia gestasi didasarkan pada temuan fisik dan neurologis. sudut popliteal. Mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. square window. 1. 3. 1. 3. 2. seperti penyatuan kelopak mata. dan tumit sampai telinga. Indikasi Dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam pada bayi dengan usia gestasi 20 minggu. Pengkajian meliputi enam tanda-tanda neuromuskular dan fisik eksternal. dan sudut square window (fleksi pergelangan tangan) lebih dari 90 derajat. jaringan payudara tidak dapat diidentifikasi. tanda scarf. 3. recoil lengan. kulit transparan lembab. Skala Ballard dapat digunakan untuk melakukan pengkajian pada bayi baru lahir usia gestasi 20 minggu. Setiap tanda mempunyai skor dan skor kumulatif yang didasarkan dengan rentang skala maturitas gestasi dari 20 sampai dengan 40 minggu. Alat ini mempunyai bagian fisik dan neuromuscular yang mencakup skor -1 dan -2 yang menunjukkan bayi sangat premature. 4. Tujuan Memastikan usia gestasi bayi baru lahir. 16 . yaitu postur. 2. Pada bayi premature dilakukan dalam waktu kurang dari 96 jam.

9. Alas dan selimut bayi. 3. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah. Meteran Meja dan lampu periksa. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. 4. Tonus otot dan derajat fleksi meningkat sesuai maturitas. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. 5. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. 11. 8. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat. dan pernafasan) Siapkan meja periksa yang telah dialasi dengan kain yang lembut dan bersih. 7. 1. 3. Prosedur Kerja Jelaskan prosedur pada ibu dan keluarga. Setelah bayi tenang. suhu. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. 10. 5. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen. 6. Ukur sudut dibelakang lutut. Observasi letak siku terhadap garis tengah. Telapak tangan bayi akan terlihat seperti akan menggengam. posisikan bayi telentang. 17 . Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. Posisikan bayi telentang. 4. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. 2. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. tahan selama 5 detik. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. selimuti dan nyalakan lampu periksa.2. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. Cuci tangan Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. Letakkan bayi diatas meja periksa. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut (sama dengan sudut popliteal).

cuci tangan. 14. berat badan dan lingkar kepala bayi. Selimuti bayi.12. berikan kepada ibu dan keluarga. 16. Tentukan usia gestasi bayi (matur atau premature). Ukur panjang. 18 . Catat hasil pemeriksaan pada format yang tersedia. Bereskan alat. 15. Dokumentasikan pada catatan perkembangan bayi. 13.

19 .

20 .

6. Baca kembali RM bayi. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut p. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. l. b. selimuti dan nyalakan lampu periksa. b. Bawa alat-alat dalam baki dan letakkan dekat bayi. tahan selama 5 detik. NAMA NIM No 1. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. f. Aspek yang dinilai Tahap Pra-Interaksi a. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah h. . Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. dan pastikan suhu kamar hangat. Siapkan alat-alat : alasi meja periksa dengan bahan halus dan bersih.. m. o. berat badan dan lingkar kepala bayi. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. Tahap Terminasi 21 Nilai 0 1 2 2. Ukur sudut dibelakang lutut. Observasi letak siku terhadap garis tengah. q. Check List PENGKAJIAN USIA GESTASI (BALLARD TEST) : ………………………… : ………………………. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain... fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. Ukur panjang. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. berikan privasi. c. suhu. b. Tahap Kerja a. cuci tangan. Setelah bayi tenang. e. d. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat i. n. Jelaskan prosedur kepada keluarga. Bereskan alat-alat. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen k. 3. dan pernafasan) Tahap Orientasi a. Cuci tangan perawat. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. posisikan bayi telentang. 4. Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. g. j. Letakkan bayi diatas meja periksa. Posisikan bayi telentang. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama.

.. a. 22 .... …………….... Observasi suhu.........(. tentukan usia gestasi bayi........... nadi dan pernafasan serta respon bayi b....... b...5..... Dokumentasikan tanggal dan waktu tindakan. Nilai : Purwokerto.. Evaluator Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75 % dari total nilai tindakan... Catat hasil pemeriksaan pada format pengkajian..... . Kontrak untuk pertemuan selanjutnya bila diperlukan Dokumentasi a.

3. b. lalu secara bertahap alihkan kepada orang tua atau mainan anak b. Libatkan orang tua selama proses f. Kaji adanya f1engalaman traumatik e. b. Menerima peralatan yang diberikan. tinggi badan. Tinggi badan: Lahir-36 bulan: posisi recumbent 2 tahun-18 tahun : berdiri b. 4. c. 5. prinsip ABC dan daerah injury lebih dahulu. . Diskusikan hasil pemeriksaan pada keluarga. Dilakukan pada area yang tidak berbahaya: a.PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK PEDOMAN: 1. c. Jika memungkinkan sediakan ruangan yang sesuai dengan tahap usia. c. Membina kontak mata. Ruangan dengan dekorasi menarik . Jika ada beberapa anak. mulai dari anak yang paling kooperatif 6. Membiarkan sentuhan fisiko e. Mau berbicara dengan Perawat. Head to toe b. Daerah yang sakit. 2. Hindari penjelason yang lama tentang prosedur pemerikasaan. Lingkar kepala : 23 . Sediakan mainan. Lebih perhatian kepada orang tua. 7. e. dan suara yang lembut. c. 8. d. Libatkan dalam proses: a. boneka . a. Mau dipisah dari orang tua . d. b. Berikan pilihan (misal dipangkuan ibu atau diatas meja). Ijinkan anak untuk menyentuhperalatan pemerikasaan. Lingkar lengan d. Lakukan dengan program bermain. Hargai dan puji anak atas ker jasama selama periksaan PEMERIKSAAN FISIK I. Suhu ruangan nyaman . c. Beri pujian atas penampilan (pakaian) anak atau mainan favorit anak. Jaga privacy anak terutama anak usia sekolah dan remaja. PENGUKURAN PERTUMBUHAN Terdiri atas berat badan.Jika anak tidak siap : a. gunakan ruangan yang terisolasi. Bercerita yang lucu atau bermain magic sederhana. diperiksa terakhir. Tinggi badan c. lingkar lengan dan Iingkar kepala. g. Situasi emergensi. d. Mulai dari prosedur yang kurang mengancam. a Lakukan pemeriksaan secepat mungkin. 9. Minimalkan stimulasi (batasi jumlah orang. Lakukan pemeriksaan dengan bertahap a.. Jelaskan setiap tahap dengan bahasa yang sederhana. Kaji kesiapan anak : a.

eritema. KEPALA Observosi: • Bentuk & simetris : senyum. interaksi dengan orang too dan perawat. servikal. Area pemeriksaan : subingual. II.- Perlu diukur sampai usia 36 bulan Lokasi : diatas alis mata. rectal. bawah. aktivitas. Perkembangan. indikasi injury serebri • ROM Minta anak untuk melihat (atas. Dilakukan dengan observasi. kesulitan bernapas. distribusi dan elastisitas Faktor yang rnempengaruhi : Iingkungan. tetapi akan lebih akurat dengan menggunakan DDST. perkembangan dan bicara Wajah: Meringis : nyeri. kanan) Hambatan ROM: wryneck (torticolitis) Timbul akibat injury otot sternocleidomastoditis Kepala melihat ke satu sisi dan dagu bertitik pada satu point. aksilaris dan inguinal is. Tekanan darah e. Denyut nadi : Bayi : denyut apikal Lebih dari 2 tahun : denyut radial Pada bayi hitung satu menit penuh b. pallor. genetik dan fisiologis. Penampilan umum. tonsilar. petekia dan jaundice g. paralisis ? • Kontrol kepala & posture kepala Usia 4 bulan. tempratur. reaksi terhadap stres. Kelenjar limphe Cara : Lakukan palpasi dengan gerakan melingkar pada lokasi yang biasanya terdapat kelenjar Iimphe. kecemasan dan faktor patologik Cara: pada bayi observasi gerakan abdomen dan satu menit penuh d. Pernapasan: c. interaksi dengan orang tua dan perawat dan respon terhadap stimulus. keadaan nutrisi. tampak sakit umum. demam. Tempratur : oral. aksila Dipengaruhi oleh usia. Variasi warna kulit : sianosis. kelembaban dan turgor. gigi dan pakaian Behavior: tingkat aktivitas. kuku. Kulit Tekstur. akan memajukan tubuh. postur. submaksilaris.bayi mampu mengangkat kepala Head lag setelah 6 bulan. posisi. 24 . nyeri : akan memilih satu posisi tertentu Hygene : bau badan. Adalah penilaian subjektif atas penampilan fisik anak. h. pinna dan mengelilingi occipital Pada usia 1-2 tahun LK=LD Lakukan interpretasi merujuk pada NCHS. Postur. kiri. f. PENGUKURAN FISIOlOGIS a. posisi dan pergerakan tubuh Anak dengan pendengaran yang kurang.

5 . MATA 1.Epistotonos: hiperextensi kepala dg.5 Inner chantal distance: 2. warna. Inspeksi struktur internal menggunakan ophtalmoskop jika anak menggunakan kaca mota. arah pertumbuhan dan warna. Difteri Pelebaran vena di leher : indikasi kesulitan ekspirasi pada astma + cystis fibrosi Palpasi • Masa? • Normal: trachea di tengah.Pertumbuhan bulu mata atas ke bawah beresiko infeksi. Jarak antar pupil 4. fontanel & pembengkakan Fontanel anterior : 12 -18 bulan Fontanel posterior menutup: 2 bulan i. lepaskan karena akan menyebabkan distorsi gambar kecuali jika kacamata digunakan untuk mengoreksi astigmatis berat dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan ketajaman penglihatan pemeriksaan dilakukan di ruangan redup tetapi tidak perlu digelapkan persiapkan anak: • demonstrasikan penggunaan alat • jelaskan alaSQn peredupan ruangan 25 . Inspeksi struktur internal . Sklera Normal: putih Kuning : jaundice Kornea : normal : transparan dan bersih Iris: ukuran.5 Jarak > besar: Hipertelorisme Hipertelorism: epicantal fold upward Palpebral slant : indikasi pada . misal tumor dan benda asing di paru • Kelenjar tiroid o Di dasar leher o 2 lobus kiri kanan dihubungkan oleh is~mus j. dan kejernihan 2. indikasi iritasi meningeal Palpasi Sutura.nyeri pada saat flexi.5. indikasi problem paru-paru. agak ke kanan Abnormal: Pergeseran.Down Syndrome Ptosis? Blinking reflex: Asimetric : paralisis Infrequent : kelemahan otot Bulu mata : distribusi. LEHER Observasi Ukuran: • Normal leher pendek + adanya Iipatan kulit antara leher + kepala + bahu • Abnormal : Leher pendek : sindrome Turner Leher edema : Mumps. infeksi mulut.

mengikuti cahaya. normal: jika cahaya jatuh simetris pada setiap pupil abnormal: jika cahaya tidak jatuh pada satu pusat mata. Penglihatan perifer d.4 bulan. telpon. strabismus. dan penglihatan warna a. dengan optalmoskop. lampunya secara langsung diarahkan ke mata. ia hanya bisa melihat pada jarak 20 feet Snellen chart : digunakan pad a anak preschool Untuk anak 2 tahun : Black Bird Vision Screening Vision System • Anak diminta untuk menyebutkan ke arah mana burung akan terbang • Mungkin sulit untuk mengkoordinasikan mata & tangan Faye Symbol Charts 27 . Test ketajaman penglihatan Yaitu kemampuan untuk melihat benda-benda yang dekat dan jauh Test : Snellen Letter Chart jarak: 20 dari snellen chart lalu membaca setiap huruf yang ada Jika bisa membaca pad a garis ke-7.30 bulan Simbol: rumah. artinya ketajaman penglihatan 20/20 Arti: pada jarak 20 feet. dst. binocularity Strabismus. Jarak 40. mereka bisa membaca huruf yang besarnya 7 mm . BINOCULARITY Kemampuan untuk memfiksasi satu lapangan penolong dengan dua mata secara simultan Normal: 3 . satu mota deviasi pada satu point. mobil. Penglihatan warna a. mobil.Test Penglihatan Terdiri atas 4 jenis. Evaluasi terhadap adanya kontriksi pupil.Jika dideteksi dalam 4-6 tahun. Cover test Tutup satu mata b. Ketajaman penglihatan c. yaitu : test binocularity. Test ketajaman penglihatan pada infant dan anak yang sukar untuk ditest Berikan sinar pada mata. Otak akan mensupresi image yang dihasilkan oleh mata. menolak untuk rnernbuka rnata setelah terkena cahaya. bertambahnya alertness. Arti: orang lain bisa melihat pada jarak 100 feet. penglihatan perifer. Walau begitu test ini tidak cukup untuk menilai penglihatan anak Test lain yang juga dapat digunakan adalah kernarnpuan bayi untuk 26 . Binocularity b. Corneal light reflex test (Red reflex gemini = Hirschberg test) a.5 cm (16 inch) b. kebutaan (Amblyopia) Dua test deteksi malposisi : 1. apel. Epichantal fold akan menimbulkan salah persepsi pseudostrabismus 2. menutup mata. lama kelamaan menyebabkan kelemahan pada mata. • Merupakan standar ketajaman penglihatan Jika hanya bisa membaca pada tine (baris) 2 : ketajaman penglihatannya 20/100. ketajaman penglihatan.

Inspeksi struksur exterrn Pinna (auricle) Periksa penempatan dan posisi telinga Bagian atas telinga harus melewati garis khayal dari sebelah dalam. nystagmus yang konstan. farmasi Test : Ishihara test Hardy-Rard Rittler (HRR) test Yaitu : gambar/huruf yang dibentuk dari berbagai komposisi warnawarna yang membingungkan untuk penderita buta warna k. TELINGA Terdiri atas inspeksi strukttr interna dan test pendengaran. Adanya masalah pada satu sisi mata. slow lateral movement. bayi belum mampu untuk mengikuti suatu berkas • Lakukan pemeriksaan dengan optalmoskop Tanda lain adanya gangguan penglihatan ketidakmampuan untuk mengikuti suatu benda. Penglihatan Warna 8 . Posisi : tarik telinga ke atas dan ke belakang pada posisi jam 10 atau tarik telinga kebawah dan ke belakang posisi jam 6-9. fotografi. benda-benda berwarna lain • Jika sampai 3 . mengalami 99 penglihatan warna Ada banyak variasi buta warna. strabismus yang nyata.10% wanita kulit putih. pucat dengan hijau Deuteranomally: bingung antara abu-abu dengan ungu pucat dan hijau Secara umum.mengikuti suatu benda • Bisa digunakan wajah pemeriksa.4 bulan. demografi. Pemeriksaan lapangan pandang Pada anak yang cukup usia dan kooperatif Minta anak untuk melihat satu objek (tangan pemeriksa) yang digerakkan pada 4 quadran penglihatan. Tetapi adalah sulit untuk melihat bagian mata satu persatu. Diperlukan test-test lain untuk meniastikan adanya kebutaan pada bayi. mungkin merupakan indikasi adanya kebutaan d. 1. c. yang paling banyak: protanomaly dan deuteranomally Protanomally: anak tidak bisa membedakan antara warna abu-abu/biru.Kesulitan memilih karir/pendidikan yang berkaitan dengan dengan warna: elektronik. Sebelum prosedur ijinkan anak untuk mengeskplore perlengkapan. mungkin merupakan indikasi adanya kerusakan pada ke-2 mata. Kebersihan telinga 2. buta warna tidak menimbulkan masalah besar. Minta anak mengatakan 'stop' pada saat ia bisa melihat objek/tangan Normal : anak dalam melihat 50% : upward 70% : downward 60'0 : nasalward 90% : temporally Keterbatasan pada area tersebut. Inspeksi struktur interna Menggunakan otoskop Observasi: membran timpani.Atau demonstrasikan prosedur terlebih dahulu terhadap 27 .

mukosa hidung akan tampak lebih merah dari mukosa. MULUT DAN TENGGOROKAN 1. bawah sternum (terdepresi) Gangguan pernapasan c.setelah selesai pemeriksaan katakan bahwa mencari gajah tersebut hanya perumpamaan saja. inflamasi. m. Inspeksi papila Abnormal: Coated tongue pada candidiasis Protrusion tongue ditemukan pada retardasi mental. bau mulut indikasi adanya penyakit gusi atau . l. Simetris  derajat 28 Normal 45 . HIDUNG Adakah deviasi ? Simetri ? Minta anak untuk menegadahkan wajahnya soat pemeriksaan. kering. plaque n. bengkak. 4. DADA INSPEKSI a. Bentuk  Bayi : AP = Lateral  Abnormal : • Barrel chest = pyk paru kronik (asma dan cystic fibrosis) • Pigeon breast (pectus carinatum). Costal Angle Excavatum). Kaji dinding telinga. katakan pada anak -soya inginmelihat apakah ada gajah pada telinga kamuH. Gunakan tongue spatel atau minta anak untuk mengatak "ahh”. gusi dan palatu lunak dan palatum keras. bagian Ukur antara sternum dan batas tepi iga. Atraumatik Care: Saat akan memeriksa anak. Apakah ada napas cuping hidung ? Inspeksi struktur internal: mukosa. 2. sternum keluar • Funnel Chest (pectus b. Normal. Inspeksi strukstur interna Inspeksi gigi.kebersihan gigi yang kurang.Normal berwarna pink Kaji adanya iritasi pada.Ucapkan "terima kasihH atas ker jasama anak. tonsil dan oropharing posterior. Bibir: warna. uvula. discharge. benda asing dan infeksi Test ketajaman pendengaran. Inspeksi mukosa : normal berwarna pink adanya ulserasi dan perdarahan.orang tua. kering atau perdarahan. Inspeksi lidah 3.

penya kit paru < 45 derajat = malnutrisi Normal: e. pernapasan dada Normal : pada midcJavicula iga 4-5 o. PARU-PARU Normal. Nipple •  simetris  skoliosis  Sirnetris  Asimetris: Normal: Gerakan dinnding dada = abdomen  Anak < 67tahun. pernapasan abdomen  Anak) 6-7 tahun.d. Gerakan dinding dada  • Abnormal: > 45 deraja t= barrel chest. basis anterior sela iga 8 dan basis posterior. Apeks: sela iga 3. Retraksi dinding dada f. minimal di bagian basis 29  Vocal Fremitus . sela iga ke 11 INSPEKSI PERNAPASAN  Frekuensi  Ritme  Kedalaman  Kualitas (sulit / spontan) PALPASI :  Excursion Simetris / tidak? Normal : pada napas dalam paru-paru bawah akan berkembang 5-6 cm Rasakan vibrasi yang simetris pada sternum + vetebra Maximal di apex paru.

•  Abnormal: • Cracles • Fine Crakles Wheeze Rhonki Bronkhial p. PALPASI  PMI (Point of . INSPEKSI : Penonjolan Indikasi pembesaran jantung Pada anak yang sangat kurus sering ditemui pulsasi Sela iga ke-4 ( < 7 tahun) 30 b. pada trachea & bifurcatio bronkhus Inspirasi = ekspirasi Hanya pada trachea dan suprasternal Inspirasi < ekspirasi Karena adanya cairan pada jalan napas besar Karena adanya cairan pada jalan napas kecil Penyembpitan jalan napas (tumor. asma atau benda asing) Jalan napas besar terobstruksi oleh sekret yang kental.Fremitus menurun: penyakit paru Fremitus tidak ada: obstruksi bronkus pada aspirasi benda asing   PERKUSI :     i Pleural Friction Rub Crepitasi Resonan Dullness Flatness Tympan Pleural Friction Rub dan Crepitasi dapat diperiksa dengan auskultasi dan palpitasi Ditemukan pada semua bagian paru Jantung Hepar Gaster AUSKULT ASI :  Normal : • Vesikuler • Bronkovesikuler Terdengar pada seluruh bagian paru kecuali intrascapular dan manubrium Inspirasi > ekspirasi Terdengar di manubrium dan upper intrascapular. JANTUNG a.

  AUSKULTASI Peristaltik PERKUSI Tympani Flattnes Setiap 10 – 30 detik Gaster Hepar d.Maximum) Thrills Vibrasi yang disebabkan karena aliran darah pada satu bagian memalu bagian yang menyempit atau terbuka secara abnormal. PALPASI : Mulai dari distal ke proksimal  Hepar Normal teraba pada bayi dan young children Ukuran 1-2 cm Hepatomegali jika lebih dari 3 cm Hepar akan turun saat inspirasi. c. c. Capilary refill Sela iga ke-5 ( > 7 tahun) Palpasi paling kuat saat ekspirasi   Indiksi sirkulasi perifer Normal kurang dari 2 detik. INPEKSI  Asites  Tumor  Organomegali  Umbilicus : hernia. hati-hati 31 . AUSKULT ASI :  Bunyi jantung : • S1 • S2 • S3 • S4 Penutupan katup mitral dan trikuspidal Penutupan katup pulmonal dan aorta Normal terdengar pada anak-anak dan dewasa muda Abnormal q. ABDOMEN a. hygene  Hernia inguinalis  Hernia femoralis b.

GENITAL 1. Dimple + rambut (pilonidal cyst) 3. 2. 2. 3. ANUS 1. samping) Spina bifida Iritasi CNS Simetris Jari Clubing Sianosis Temperatur Bentuk Bowleg Polidaktili Gangguan sirkulasi Jarak tibia > 5 cm Biasa pada toddler saat belajar jalan Jarak maleoli > 7. 6. Polip Hemoroid Femosis Hipospadi Hernia inguinalis. 5. hidrochele Cryptochohidism t.5 cm 32 . Laki-laki :  Glans  Meatu s uretra  Skrotu m  Testis 2. belakang. Perempuan :  Klitoris  Lesi  Vagina  Labio mayora  Labio minora  Orificium uretra s.dalam interpretasi  Spleen Ginjal Blader Caecum Nadi femoralis Normal pada bayi dan young child Spleenomegali > 2 cm    r. Tulang belakang asimetris (depan. Scoliosis 2. TULANG BELAKANG 1. EKSTREMITAS 1. finger 4. 7. Mobilitas sefik u.

11. ( Genu valgum) 9.(Genu varum) 8. ROM Tonus otot Refleks Knock knee Normal pada usia 2 – 7 tahun Hilang setelah 1 tahun Indikasi lesi spinal cord 33 . Babinski 10.

3. : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 3) Siapkan alat yang akan digunakan. Keadaan umum : kesadaran. Lingkar Kepala 5. dekatkan pada pemeriksa. postur tubuh (kurus/gemuk) kelemahan 2. 4) Pastikan ruangan hangat. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 5) Siapkan lembar pemeriksaan fisik anak yang akan digunakan 6) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 7) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK Nama NPM No 1. Perut 14. Ekstrimitas 17. TB/BB ( persentil ) 4. meliputi aspek: 1. Punggung 15. frekuensi pernafasan. Tanda vital: suhu. Tengkuk 10. lakukan pendekatan pada anak. Paru-paru 13. Genitalia 16. nadi. tekanan darah 3. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 6) Berikan privasi. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 4) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 5) Jelaskan prosedur pemeriksaan. Dada 11. Kulit 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 4) Observasi perubahan perilaku anak 5) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 6) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan 34 Nilai 1 2 2. 4. Telinga 9. Mata 6. . Hidung 7. Jantung 12. Mulut 8.

Nilai: Purwokerto. ……… Evaluator.5.) 35 . waktu. Dokumentasi 3) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 4) Catat tanggal. dan nama pemeriksa (tanda tangan). Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (………………….

antara lain: 1) Penilaian APGAR 2) Pengkajian usia gestasi dan maturitas fisik 3) Pemeriksaan reflex primitive 4) Pengukuran antropometri 5) Pemeriksaan fisik (tanda vital. timbangan. ossilometric (jika ada). dan tenaga kesehatan lainnya untuk secara berkesinambungan mengkaji adanya perubahan atau gejala suatu penyakit pada neonatus. sarung tangan (k/p). jam dengan detikan 36 . Cara Pemeriksaan Ada beberapa pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada neonates / bayi. 2.PEMERIKSAAN FISIK NEONATUS/BAYI 1. Alat yang digunakan Stestoskop. termometer aksila. 3. Masa neonatal adalah periode selama 1 bulan atau lebih tepatnya 4 minggu = 28 hari setelah lahir. buku catatan. pengukur panjang badan badan. Pengertian Neonatus adalah organisme yang sedang berada pada periode adaptasi kehidypan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. pola fungsional organ tubuh) 4. perawat. penlight. Tujuan Merupakan tugas para tenaga kesehatan yaitu medis. Sedangkan bayi adalah individu yang berusia 40 hari sampai dengan 1 tahun. Setiap bayi baru lahir perlu diperiksa / dikaji secara cermat pada seluruh sistem tubuhnya. pena.

Kaji reflek (moro. amati adanya retraksi (derajat 0. cuping hidung) 3. LK. Amati adanya kaput succedanum dan cephalhematome d. buku catatan. menjelaskan tugas perawat. tegas. 0 Dilakukan 1 2 37 . 1. pengukur panjang badan badan. langkah prosedur. e. Tahap Persiapan a. kaji fontanela anterior (lunak. Menjamin privasi C. Orientasi a. obstruksi. adakah suara nafas tambahan). NPM : ……………. pena. Ukur PB. b. palatum (normal. cekung) 2. waktu (pada orangtua) c. Fase Kerja a. menonjol. tenang. A. Amati respirasi dan hitung frekuensinya. Palpasi klavikula (normal/abnormal) g. Toraks 1. Periksa Keadaan Umum 1. No Aspek yang dinilai . abnormal) f. apakah bunyi nafas terdengar disemua lapang paru atau menurun. Periksa bagian kepala 1. Kaji keaktifan dan tangisan bayi d. pernafasan.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK BAYI/NEONATUS Nama Mahasiswa : ……………. memperkenalkan diri. sarung tangan (k/p). BB. timbangan. LD. Kaji sutura sagitalis (tepat. amati suara nafas (kanan dan kiri sama atau tidak. termometer aksila. Persiapan alat Stestoskop. mengenggam) 6. B. Mencuci tangan. warna kulit) 2. 5. Menjelaskan tujuan pemeriksaan. Amati kesimetrisan toraks 2. Periksa kondisi umum (rewel. letargis) 3. datar. Menyapa. Kaji tanda-tanda vital (nadi. Kaji kesadaran bayi (sadar penuh. kaji telinga (normal/ abnormal) 2. terpisah atau menjauh) 3. LP. Amati kesimetrisan wajah 4. 2. ossilometric (jika ada). Auskultasi paru. jam dengan detikan. THT 1. suhu) 4. Buka baju bayi. Paru-paru 1. Cuci tangan b.2) 3. c. penlight. b. Memberikan kesempatan anak/orangtua untuk bertanya d. menghisap. Mata Kaji mata apakah bersih atau ada sekresi. lemah. hidung (bilateral.

minora. hipertimpani) 3. C. auskutasi suaran jantung (apakah bunyi normal sinus rytm (NSR). palpasi abdomen (supel atau keras) 4. Jantung 1. D Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. Genetalia Pada wanita: amati labia mayora. kaji adanya kelainan dinding abdomen (tegas. klitoris. ujung meatus uretra (cek hipo/epispadia). Kulit 1. Abdomen 1. Ekstremitas 1. ……… Evaluator. perkusi abdomen (kembung. Evaluasi respon anak dan sampaikan hasil kesimpulan pemeriksaan kepada orangtua. amati iktus kordis 2. kaji apakah gerakan bebas 2. Pada pria: Kaji ukuran penis. sekret. liang vagina. kaji peradangan n. kaji apakah testis sudah turun. ada tidaknya atresia ani.Umbilikus Kaji adanya peradangan atau hernia umbilikalis k. m. kaji adanya thriil 4. kaji warna kulit. kaji adanya mottled (mengindikasikan terpapar suhu dingin) 2. palpasi hati (kurang atau lebih dari 2 cm) j. hitung frekuensinya i. datar) 2. kaji kesimetrisan gerakan ekstremitas atas dan bawah k.h. Dokumentasikan hasil pemeriksaan Nilai: Purwokerto. Dokumentasi a.) 38 . palpasi point maximal impuls 3. auskultasi bising usus 3. Anus kaji kepatenan anus. kaji turgor Fase Terminasi a. catat adanya kelainan. meatus uretra.

dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Tiap bentuk memiliki tujuan dan kegunaan khusus. Syarat : halus. Mempelajari karakteristik masing-masing tipe obat 2.ditujukan untuk pemakaian oral/untuk pemakaian luar (topikal). SASARAN KHUSUS Setelah mempelajari buku ini saudara diharapkan mampu : 1.homogogen. LANGKAH-LANGKAH Untuk memudahkan pembelajaran dan pencapaian tujuan. GAMBAR PULVIS DAN PURVERES 39 . Menyebutkan keuntungan dan kerugian masing-masing tipe obat E. b. Menyebutkan karakteristik masing-masing tipe obat 2. PULVERES = terbagi-bagi Serbuk yang terbagi dalam bobot yang sama.dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Menyebutkan fungsi dan kegunaan masing-masing tipe obat 3. MATERI 1. B. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk membantu saudara mempelajari berbagai tipe obat secara mandiri. Mempelajari fungsi atau kegunaan masing-masing tipe obat C. Sediaan obat di pasaran dikemas dalam berbagai bentuk. PULVIS/SERBUK TABUR = tidak terbagi-bagi Serbuk ringan untuk penggunaan permukaan topikal.kering. Pulvis berdasarkan cara memberikannya ada 2 : a. SASARAN PEMBELAJARAN Dalam pembelajaran ini saudara diharapkan mampu memahami beberapa tipe obat D.PENGENALAN TIPE OBAT A. saudara dianjurkan: 1. PULVIS DAN PURVERES Serbuk adalah campuran kering bahan obat/zat kimia yang dihaluskan.

Cangkang kapsul mengandung: • Zat warnaà berbagai oksida besi • Bahan opak/pemburamàTiO2 • Bahan pendispersi • Pengawet 2) Kapsul lunakà skala besar Cangkang kapsul mengandung : • Pewarna • Bahan opak/pemburam • Pengharum • Pengawet • Sukrosa 5% sebagai pemanis 40 . sepet. c. Untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan obat. Keuntungan bentuk sediaan serbuk : a. Obat-obatan yang rusak oleh udara tidak boleh diberikan dalam bentuk serbuk. Penyebaran obat lebih luas dan lebih cepat daripada sediaan kompak (tablet dan kapsul) b. Pada penyimpanan kadang terjadi lembab atau basah. Diharapkan lebih stabil dibandingkan dengan sediaan cair c. Tidak tertutupinya rasa dan bau yang tidak enak (pahit. Membutuhkan waktu dalam meraciknya. 2. amis dan lain – lain) e. dapat dicampur dengan air minum untuk oral.Pengemas : kertas perkamen.sebaiknya diberikan dalam bentuk “coated tablet” b. Macam kapsul: a. Memberikan kebebasan pada dokter untuk pemilihan obat/kombinasi obat dan dosisnya f. Digunakan untuk : anak – anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. GRANUL:Sediaan bentuk padat. Lebih cepat di absorbsi d. d. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. dilarutkan/disuspensikan dulu dalam air /pelarut yang sesuai dengan volume tertentu. atau dari pati. menurut petunjuk dalam brosur yang disediakan. Berdasarkan konsistensi cangkang kapsul 1) Kapsul kerasà terbuat dari gelatin berkekuatan gel relatif tinggi. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. Jumlah volume obat yang tidak praktis /sukar dapat diberikan dalam bentuk pulvis e. Cara penggunaan: Sebelum diminum. Cara penggunaan . berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 μm dengan atau tanpa vehikulum. Kerugian bentuk serbuk : a. seperti garam-garam fero (mudah teroksidasi) menjadi garam feri. CAPSULAE=KAPSUL Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak. kertas yang dilapisi parafin. Tidak tepat untuk obat yang tidak enak rasanya. kertas selofan dll. lengket di lidah.

BO cair BENTUK CANGKANG KAPSUL Keuntungan:  Menutupi rasa dan bau bahan obat yang kurang enak  Memudahkan penggunaannya dibanding serbuk  Mempercepat penyerapannya dibanding pil dan tablet  Kapsul gelatin keras cocok untuk peracikan. COMPRESSI=TABLET Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan. KBr.BO setengah padat . trochisi  Tablet sublingual à ISDN.BO padat . Cembung Jenis : • Compressed tablet: large scale production à dies under pressure (tons) • Molded tablet: manual forcing.• Penyalut enterik b. tablet hipodermik Cara penggunaan  Tablet kunyah à lozenge. Bentuk tablet: Pipih. krn dosis dan kombinasi obat bisa disesuaikan  Dapat dibuat sediaan cair jika diinginkan dengan konsentrasi tertentu  Dapat utk sediaan lepas lambat Kerugian:  Tidak sesuai untuk bahan obat yang mudah larut (KCl. Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik. NH4Br. steroid hormon 41 . CaCl2)à larutan pekat dapat mengiritasi lambung  Tidak dapat digunakan untuk bahan eflorescen (ada air kristalnya) dan delikuesen (menyerap air sampai menjadi larutan) 3. Cara pemakaiannya • Per rektal • Per vaginal • Peroral • Topikal Bahan yang dapat diformulasi dalam bentuk kapsul : .

antibiotik  Tablet sisip atau pellet (dimasukkan implantasi dibawah kulit) à hormon gonad  Tablet hipodermik (dilarutkan dalam air steril dan diinjeksikan dibawah lidah) à dinitrat material Keuntungan: 1. 2. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET 42 . lambat larut. dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. absorbs optimumnya terlalu tinggi melalui saluran cerna. Tablet merupakan sediaan yang mudah dan murah untukdikemas dan dikirim 4. mekanik. Tablet merupakan sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua sediaan bentuk oral untuk ketepatan ukuran dan variabilitas kandungan yang paling rendah 2. Obat yang sukar di basahkan. Tablet bukal (dimasukkan diantara pipi dan gusi di dalam rongga mulut) à hormon  Tablet effervescent à (Na-karbonat) vitamin  Tablet hisap atau trochisci à antiseptik. Anak kecil: belum tentu suka dan sulit memakannya (ukurannya besar) MACAM. Bebrapa jenis obat tidak dapat di kempa menjadi padat dan kompak. 3. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia. Tablet merupakan sediaan yang ongkos pembuatannya paling murah 3. Kerugian: 1. dosisinya cukup tinggi.

Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3. Bentuknya ramping seperti pensil. mudah melemah (lembek) dan meleleh pada suhu tubuh. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan 43 . Supositoria dipakai untuk pengobatan local. SUPPOSITORIA. OVULAE Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur. Bahan dasar yang digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao). Ovula supaya disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai “pessarium”. berbentuk torpedo. Ovula adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk telur.6 mm dengan panjang ± 140 mm. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5. Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. seperti pada penyakit hemoroid. Juga secara rectal digunakan untuk distribusi sistemik. seperti pasien yang mudah muntah. Polietilengli-kol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin. baik dalam rectum maupun vagina atau uretra. dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. 2. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila yang bagian besar masuk melalui otot penutup dubur. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1. tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi: 1.5 inchi). Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru. karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum dan ini digunakan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan.0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi.torpedo atau jari-jari kecil. dan infeksi. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. 3.4. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao. dapat melunak. gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita. maka supositoria akan masuk dengan sendirinya. melarut atau meleleh pada suhu tubuh.

Macam sediaan salep: a. biasanya 32 mm. suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan. CERATA. keduanya berbentuk sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil. konsistensi dan tujuan penggunaannya. pasta. 5. Sediaan salep bervariasi dalam komposisi. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan. Unguenta : mengandung relatif lebih sedikit bahan dan perbedaan pokok dengan yang lainnya pada konsistensi. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan 3. Namun. panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram. Macamnya : unguenta. b. 4.cerata. biasanya mengandung obat untuk pemakaian pada kulit atau pada membran mukosa. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”. tidak bergerak dan tergolong sediaan semi padat. biasanya digunakan pada daerah yang teriritasi atau tempat yang sensitif. CREMOR.beratnya ½ dari ukuran untuk pria. Tidak menyenangkan penggunaan 2. Untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. BENTUK SUPOSITORIA DAN OVULAE Keuntungan: 1. memiliki konsistensi yang lebih lunak dan mengkilat. bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung 2. bila dipakaikan pada kulit akan melunakkan dan membentuk lapisan penutup pada permukaan kulit. jeli. Bahan obat larut/terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. oculenta. Berbentuk emulsi minyak 44 . bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya. Kerugian: 1. 4. PASTA. Baik. krim. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Beberapa variasi dari prototipe salep banyak digunakan dalam praktek peresepan dan dibedakan dengan namanya. UNGUENTUM. JELLY Salep (unguenta/ointment) : Bentuk sediaan yang lunak. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat member efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral. Krim : Jenis salep yang dapat dicuci. mengandung satu/ > bahan obat.

memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. biasanya terdiri dari ampuran sederhana lemak dengan titik leleh rendah dan minyak. jernih & tembus cahaya yang engandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut _lebih encer dari salep. dalam air atau dispersi mikrokristal.c. mengandung sedikit/tidak lilin. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. e.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang Oculenta ( ungentum ophtalmicae) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum. titik lebur tinggi. hampir cair. Bahan dasar salep. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. gum atau bahan pensuspensi sebagai basis. f. mengandung sedikit atau tanpa malam. untuk tujuan melicinkan dan sebagai basis obat. popular digunakan pada bidang dermatologi. g. Vaselin Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. digunakan pada membran mukosa dan untuk tujuan pelicin atau sebagai basis bahan obat. asam-asam lemak atau alcohol. Fungsi Salep :  Dasar salep atau pembawa substansi obat untuk penggunaan pada kulit (topikal)  Pelumas pada kulit  Pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit dengan rangsang kulit SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. membentuk dan mempertahankan lapisan pelindung pada area yang diaplikasikan. d. 45 . mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %. dapat dicuci karena mengandung mucilago. konsistensi lebih kenyal dari unguentum. h. biasanya tidak meleleh pada suhu tubuh. mudah dibersihkan. Pasta : mengandung zat padat dalam persentase tinggi. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap. mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical.50 % Beberapa keuntungan bentuk sediaan pasta:  Mengikat cairan sekret lebih baik dari unguentum  Lebih melekat pada kulit Cerata : Salep berlemak. berantai panjang dalam air. mengandung malam dalam persentase tinggi. Jeli : Salep yang sangat tipis. dan umumnya adalah campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik leleh rendah. digunakan pada membran mukosa. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. bersifat kaku.

manula dan untuk penderita yang sukar menelan. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. tingtur dan air. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan.6. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. o Absorpsi obatnya cepat. o Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya. 46 . untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. Sifat-sifat: o Homogen o Dosis dapat diubah-ubah o Cocok untuk anak-anak. ELIXIRA BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR a. Apabila menyebut solutio. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. MIXTURAE. misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus. o Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). 2) LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. SOLUTIONES. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) o Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. maka omset juga cepat o Dapat diberikan dalam larutan yang encer. 1) LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. o Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral.

sehingga harus disimpan dalam botol kedap dan jauh dari sumber api. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu.Pemanis yang biasa digunakan gula atau sirup gula. Eliksir bersifat hidroalkohol. 3) Berhubung mengandung alkohol. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol. Contoh: Effisol liquid. tidak boleh ditelan. namun terkadang digunakan sorbitol. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR 1. ada eliksir yang menggunakan alkohol 3% saja. antiseptika. Zat aktif yang sukar larut dalam air dan larut dalam alkohol perlu kadar alkohol yang lebih besar. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. c. lalu dikumur-kumur. Contoh: Betadingargle & mouthwash. d. 5. Sifat-sifat: 1) Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2) Dibanding dengan sediaan sirup. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. dan yang tertinggi dapat mencapai 44%. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. analgetika lokal atau adstringentia. 47 . tidak ditelan. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. Mengandung bahan mudah menguap. Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi. tetapi biasanya sekitar5-15%.SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. e. eliksir kurang manis dan kurang kental. Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. perasa (flavorong agent). Kadar alkohol berkisar antara 1012%. pengawet dan pewarna.Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan.Umumnya konsentrasinya 5-10%. misal sakit hepar. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. Batugin eliksir. zat pewangi dan zat perasa. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. Contoh: Bisovon eliksir. 4. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. glycerinum. zat pewarna. Rasanya enak 3.Namun. dan saccharinum. b. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. Kadar Alkohol antara 3-75%. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut. Mudah ditelan dibandingkan dengan tablet atau kapsul 2. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan.

2.perasa( flavoring agent)  Kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi.  Tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. dan bahan lainnya. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. sehingga cepat mengendap. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium).  Sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. 3. Sirup obat. pemanis. Mylanta. biasanya 10%. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . perasa.  Pada umumnya ditambah pemanis. Liquor Faberi (FMI). Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. 4. Sirup kering. tragakant. tragakant. benzalkonium klorida. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. rasanya lebih enak. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. b. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%. glukosa/sakarosa 64%. GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. Polycrol gel 2. kecuali bahan pelarut. Sifat-sifat:  Cocok untuk penderita yang sukar menelan. stabilisator. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. anak-anak dan manula. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. tidak beraroma. Contoh suspensi oral:Gelusil. Tidak berwarna. Ada 4 macam sediaan sirup: 1. f. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. Contoh. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. Sirup Simpleks. Contoh. Sirup thymi. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya.Sifat. sering disebut sirup putih. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: 1.Contoh : panadol sirup. pewarna.sifat sirup: 1. Homogen 2. EMULSA (EMULSI) 48 .

dan senyawa amonium kuartener. Pada umumnya ditambah pemanis. 3. 2. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). sirup. yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. Parenteral : memperbaiki absorpsi . Perhatikan kemasan pada bobotnya. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. Tujuan penggunaan BSO emulsi : 1. Topikal: mudah dibersihkan. Macam –macam Guttae: 1. pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. dll). dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. sehingga aturan pakai tepat. Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A 3. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. atau suspensi. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar. memperbaiki rasa dan aroma 2. antiseptika.5 mg dan 52. Kerugian BSO emulsi : 1. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. Contoh: Triaminic drops 2. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Contoh: effisol liquid. memperpanjang efek. Guttae auriculares (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. lokal anastesik. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. propil dan butil paraben. Oral : memperbaiki absorbsi. kortikosteroid. Contoh obat dalam: Scott Emulsion. Sifat-sifat: 1. GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. emulsi eliksir. Konsisten emulsi sangat beragam. dan zat uuntuk irigasi. topikal maupun injeksi. 3. Volume pemberian kecil. Sifat-sifat: 49 . pewarna. Guttae oris Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya.Emulsi adalah sistem dua fase. Guttae oral Obat tetes untuk oral. etil. analgetika-antipiretika. vitamin dan antitusif. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. asam benzoat. penetrasi/absopsi lebih baik 3. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. analgetika. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. perasa. sehingga cocok untuk bayi dan balita. 2.05 ml). lokal anastetik.5 mg (1 tetes baku= 0. jadi 1 ml= 20 tetes.

Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. diagnostika. Sifat-sifat: 1. 5. pengawet. Guttae opthalmicae (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok.5 % BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. antiinflamasi. antimikroba.0-6. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol.5 bagian Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. Isohidris 4.0) 4. Apabila bentuk sediaan suspensi. Kecuali dinyatakan lain.5-7. Steril 2. b) PH sebaiknya asam (5. Contoh: iliadin 0. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Guttae nasales (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. lokal anastesik.5 bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan. Cairan pembawa umumnya digunakan air. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk 50 . heksilen glikol dan minyak nabati.a) Bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga.025% . infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. dan antiseptika. gliserol. anastetika. digunakan sejumlah yang tertera: Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. PH sebaiknya antara 5. midriatika. Isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. miotika dan zat irigasi. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. c.

Bukan minyak : alkohol. Penicilin oil. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. Contoh : inj. Ringer lactat. Streptomycin sulfat.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1) Pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2) Pelarut bukan air: 3) Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. koma. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. emulsi. minyak zaitun ( Ol olivarum). inj. Contoh: inj Vit C.yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. Berdasarkan bentuk sediaan: 1) Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. inj. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie). dll.Arachidis). Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot. minyak wijen ( Ol sesami). OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. INJECTIONES (INJEKSI. Contoh: inj. propilen-glikol. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. 51 . suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. d. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) 5) Cairan intravena ( infundabilia : infus i. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. Inj luminal. Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. an-cooperatif. misalnya minyak kacang (Ol. sebelum disuntikkan. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. untuk dosis tunggal. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. parafin liq. Inj Cortison Acetat suspensi 3) Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. Dextrose. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. 2) Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. 6. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. inj valium. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. Penicilin G Sodium 4) Kristal steril. Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati. gliserin. Diberikan untuk penderita yang sakit keras.

sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. d. 2. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. 5. b. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. c. ukuran partikel obat harus dikontrol dan terukur. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar.Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. Harganya mahal 2. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). tidak boleh digunakan secara parenteral. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. Vaksin dibuat dari bakteria. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. e. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). seperti pada asma bronkiale. 3. venin. INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk 52 . ataupun rusak karena kelembaban udara. mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. Pemakaiannya secara topikal. suspensi. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. Pada aerosol inhalasi.

Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot. yang karena bertekanan uap tinggi. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. Sifat-sifatnya :  Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. Contoh: Bricasma inhaler. Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. Sifat-sifatnya :  Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . 53 . Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. Contoh: Vicks Inhaler.memperoleh efek lokal atau sistemik. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya.  Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert.  Apabila pelarutnya minyak. Contoh : Baby Lo 2. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. Contoh: Alupent aerosol. SEDIAAN CAIR LAIN : 1. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat.

Dawn. 2008. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production And Processes. 1957. Christopher A And Belcher. Chicago: Pharmaceutical Press. Shayne. Canada: John Wiley & Sons. KERUGIAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN:  Volume bentuk larutan lebih besar  Ada obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan. The Art Of Compounding. 9th Edition.  Mudah diberi pemanis. Pharmaceutical Compounding And Dispensing.  Untuk pemakaian luar bentuk larutan mudah digunakan. pengaroma dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak.  Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ELIXIR DAFTAR PUSTAKA Cox. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. 2008. Jenkins.  Dapat diberikan dalam bentuk larutan yang encer. New York: Mcgraw-hill. sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan. 54 . Glenn L Et Al.  Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat terabsorpsi. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) KEUNTUNGAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN  Merupakan campuran homogen  Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatannya. Langley.

Tipe pemberian obat parenteral meliputi empat cara. Macam – macam rute pemberian obat adalah: 1. yaitu : a. Dosis yang diberikan untuk klien yang satu bisa jadi berbeda dengan klien yang lain. Jika cara pemberian obat tidak tercantum. Obat diberikan melalui mulut. 2. Benar Dokumentasi Cara pemberian obat tergantung bentuk sediaan. Intradermal (ID) 55 . biasanya cara menggunakan obat terdapat pada label/pembungkus. Obat yang diberikan melalui sublingual didesian agar dapat diserap setelah obat diletakan dibawah lidah. perawat harus melihat kembali resep dokter yang biasanya ditulis direkam medik klien untuk meyakinkan bahwa obat yang diterima sesuai dengan order. 5. Benar obat Ketika obat diterima dari apotek. Benar cara Obat diberikan kepada klien sesuai caranya. karena akan mengganggu efek dari obat tersebut. efek yang diharapkan serta kondisi fisik dan mental pasien. Aksi dari obat bisa lokal di mukosa mulut. Kemudian perawat juga harus tahu apakah obat diberikan sebelum atau sesudah makan. Benar waktu Perawat harus tahu tentang waktu pemberian obat. 4. klien juga tidak diperbolehkan untuk minum sebelum obat habis. Benar klien Perawat perlu mengklarifikasi kembali nama dan nomor rekam medis klien sebelum memberikan obat (biasanya terdapat di white board diatas tempat tidur klien) atau dengan bertanya namanya secara langsung kepada klien atau keluarga. tetapi ada juga yang membutuhkan keterampilan untuk menghitung dosis yang dibutuhkan sebelum diberikan kepada pasien. Subcutaneus (SC) Injeksi dilakukan dibawah jaringan dermis b. apakah ada ketentuanya (misal setiap 8 jam dalam satu hari) atau hanya jika dibutuhkan. ditelan dengan minuman/makanan atau dikunyah. Obat ini tidak boleh dikunyah. untuk itu perawat perlu melihat dosis pemberian obat yang diorderkan dokter di rekam medis klien. sehingga sebelum melakukan medikasi seorang perawat harus memperhatikan lprinsip LIMA BENAR. Klien juga dilarang untuk menelan atau mengunyah obat. klien juga tidak boleh minum sampai obat habis. yaitu : 1. murah dan sering digunakan. Oral Cara pemberian obat melalui oral adalah cara yang paling mudah. 2. bisa juga sistemik ke seluruh bagian tubuh. Obat jenis ini aksinya lebih lambat dan efeknya lebih panjang. sehingga siap untuk langsung diberikan kepada klien. 3. Parenteral/Injeksi Pemberian obat melalui parenteral adalah pemberian obat dengan cara menginjeksikan obat dalam bentuk cair ke jaringan tubuh. Sedangkan pemberian obat melalui bukal.RUTE PEMBERIAN OBAT Mempersiapkan dan memberikan obat ke klien adalah tanggung jawab perawat. 6. dilakukan dengan cara meletakan obat dalam bentuk sediaan padat dimukosa membran mulut hingga obat habis. Benar dosis Sediaan obat ada yang single doses. maka perawat perlu mengkonsultasikan kepada dokter.

Pemberian obat melalui mata Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat ditelinga anak 56 .Injeksi dilakukan didalam lapisan kulit. Topikal Obat diberikan dengan cara mengoleskan di kulit atau membran mukoa dengan efek obat lokal maupun sistemik tergantung jenis obat dan dosisnya. Kepekaan mukosa membran terhadap obat berbeda – beda. tepat dibawah epidermis c. Intramuskular (IM) Injeksi dilakukan di otot tubuh d. sehingga seringkali klien mengeluh rasa seperti terbakar setelah diberikan obat tetes mata atau tetes hidung. cornea mata dan nasal adalah mukosa yang sensitif. Intravena (IV) Injeksi dilakukan melalui vena 3.

Pemberian obat melalui vagina Pemberian obat melalui rektum Berbagai metode pemberian obat melalui mukosa : a. Instillation (memasukan cairan secara perlahan pada body cavity) d.Pemberian obat di telinga orang dewasa Pengobatan pada mokosa rektal atau vagina biasanya lebih tidak iritatif jika dibandingkan dengan pengobatan di mukosa mata dan hidung. misal obat tetes mata b. Irrigation (memasukan cairan dengan tujuan untuk membersihkan body cavity) e. Memberikan obat cair secara langsung. Insersi (memasukan obat ke lubang yang ada dalam tubuh. Spraying (memasukan obat dengan cara menyemprotkan obat ke bagian tubuh tertentu) 57 . misal obat pencahar melalui rektal) c.

air minum 4.4. muntah. Berikan salam. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Memulai tindakan dengan cara yang baik Tahap Kerja 1. alas. 3 . Cuci tangan 3. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. 2. . Jelaskan tujuan. obat. Hal ini disebabkan pada saluran pernafasan bawah terdapat area permukaan yang luas untuk absorpsi abat. Keterampilan 0 Tahap Orientasi 1. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. karena terdapat hubungan antara alveoli dan kapiler. baca juga kondisi klien yang berhubungan dengan kesulitan menelan. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat Tahap Pra Interaksi 1. Pemberi an obat menggunakan inhaler Memberikan Obat Oral Nama Mahasiswa : Tanggal : No 1 . mual. Cek rekam medis klien. inflamasi saluran cerna. operasi gastrointestinal. Siapkan alat-alat : Baki obat. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 58 Nilai 1 2 2 . biasanya dalam bentuk gas yang lembab. Pengobatan melalui inhalasi dapat memberikan efek lokal maupun sistemik. Inhalasi Inhalasi adalah salah satu metode pemberian obat dengan cara memasukan obat melalui saluran pernafasan. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. tempat obat. penurunan peristaltik.

Berikan obat kepada klien a. washlap... Melepas alas e. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. 2. Tawarkan kepada klien segelas air untuk membantu menelan obat b. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. waskom berisi air hangat. mata kanan/kiri 2. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto... Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5.. minta klien membuka mulut dan meletakan obat diantara gigi dan pipi klien Perawat tetap bersama klien hingga yakin obat telah diminum.. Jika obat bukal. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Membereskan peralatan g. minta klien untuk membuka mulutnya d. c. Bantu klien pada posisi side lying 3. waktu pemberian. Beri reinforcement positif pada klien 3. sarung tangan. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan Memberikan Obat Mata (Cair dan Salep) Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . jika belum yakin. minta klien untuk membuka mulut dan meletakan obat dibawah lidah. 2 Tahap Pra Interaksi . konsentrasi.. waktu. Pasang alas dibawah dagu klien 4. Berikan salam. 1.. Jelaskan tujuan. 1. nama obat. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Membantu klien untuk kembali ke posisi yang nyaman f. tissue..4 . baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Siapkan alat-alat : kartu obat. Jika obat sublingual. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. .. alas.. dan obat dalam kemasan. jumlah tetesan. Cuci tangan 3. Kontrak pertemuan selanjutnya 4.. Cek rekam medis klien.. Mencuci tangan Tahap Terminasi 1. 5 ... Cuci tangan Dokumentasi Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. dosis.. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 59 .. baca nama klien.

. Posisikan klien supine 4. Kaji kondisi mata 5. Ambil obat mata... Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Jika pada mata terdapat kotoran. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2.. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan mata bagian bawah 7. Obat tetes mata 6.. ambil washlap yang dibasahi air hangat. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Minta klien untuk menutup mata perlahan b. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. salep mata 6.. Minta klien untuk melihat ke atas 8. Membereskan peralatan 13. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. oleskan pada konjungtiva secukupnya... Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan bagian bawah mata 7. Pasang alas di bawah dagu klien 3..5.. jumlah tetesan.. Bersihkan daerah sekitar mata dari obat 12. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. ulangi sekali lagi 10. mata kanan/kiri. atau tetesan tidak tepat di mata.. kemudian bersihkan daerah sekitar mata dari arah dalam ke luar a. Ambil salep mata. kemudian teteskan obat di konjungtiva.. jumlah tetesan sesuai order 9. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja .. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 60 .. 1. waktu pemberian. Jika klien menutup mata... 1. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5 Dokumentasi . Minta klien melihat ke arah atas 8. Lepas sarung tangan kemudian mencuci tangan 4 Tahap Terminasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. kemudian oleskan pada garis mata bagian atas 11.. Beri reinforcement positif pada klien 3.

Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. 1. Jelaskan tujuan. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. telinga kanan/kiri. Cuci tangan 3. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. Berikan salam. 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. 1. nama ibat. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. konsentrasi. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. tissue. 1. Siapkan alat-alat : kartu obat. Cek rekam medis klien. jumlah tetesan. sehingga telinga yang 61 . cek nama klien. cotton tipped apllicator. cotton ball.Memberikan Obat Tetes Telinga Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . sarung tangan 4. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. botol obat. waktu pemberian. Bantu klien pada posisi side lying miring. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja .

Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Kaji bagian luar telinga etelah dilakukan pengobatan 12. Lakukan massase yang lembut pada daerah tragus telinga f. 62 . waktu pemberian. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 3. Buka lubang telinga dengan menarik auricula ke arah bawah dan belakang (anak) dan kearah atas untuk orang dewasa b. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas lubang telinga c. bersihkan terlebih dahulu Gunakan sarung tangan Bersihkan lubang telinga dari serumen Berikan obat kepada klien : a..akan diberi obat terletak diatas Pasang alas dibawah dagu klien Kaji kondisi telinga eksternal dan lubang telinga Jika terdapat serumen..... letakan cotton ball di lubang telinga (jangan memasukan terlalu dalam) g. 8.... Ambil cotton ball setelah 15 menit 9. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Jika dibutuhkan. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 10. respon klien) Observasi klien 30 menit setelah pemberian obat. 1. Cuci tangan 5 Dokumentasi . jika ada tanda intoksikasi obat.. Minta klien tetap dalam posisi side-lying selama 2 – 3 menit e. 4.. 7... 5.. 6. Bantu klien pada posis yang nyaman 11... Kontrak pertemuan selanjutnya 4. dosis. Beri reinforcement positif pada klien 3. Teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dengan order dokter d... Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5.

Memberikan Obat Tetes Hidung Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama ibat, konsentrasi, waktu pemberian, jumlah tetesan, hidung kanan/kiri. 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, botol obat, bantal kecil, washlap 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencuci tangan dan menggunakn sarung tangan 2. Inspeksi kondisi eksternal hidung dan sinus 3. Minta klien untuk menghembuskan napas (jika tidak ada kontraindikasi) 63

4. Bantu klien pada posisi supine a. Posterior pharynx  tarik kepala kebelakang b. Ethmoid/Sphenoid sinus  tarik kepala kebelakang atau letakan bantal kecil dibawah dagu c. Frontal/Maxillary sinus  tarik kepala klien kebelakang, kemudian miringkan, letakan bantal kecil dibelakang kepala untuk menahan dari belakang dan satu tangan perawat menahan dari depan 5. Berikan obat kepada klien : a. Minta klien untuk bernafas melalui mulut b. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas hidung c. Teteskan obat denagn jumlah tetesan sesuai order dokter 6. Pertahankan posisi klien selama 5 menit 7. Bersihakan derahsekitar hidung, jika ada obat yang menetes 8. Bantu klien ke posisi yang nyaman 9. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 10. Kaji bagian luar hidung etelah dilakukan pengobatan 11. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 6. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 7. Beri reinforcement positif pada klien 8. Kontrak pertemuan selanjutnya 9. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 10. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat, dosis, waktu pemberian, respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat, jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat, segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto,.................. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan

64

Memberikan Obat Rectal Suppositoria Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama obat, bentuk obat, cara dan waktu pemberian,riwayat operasi/perdarahan di rectum, 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, lubricating jelly, obat, tissue, sarung tangan 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Jaga privacy klien 7. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 65

respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. 13. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. 7. Cuci tangan 5 Dokumentasi . masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 10 cm (dewasa) dan 5 cm (anak dan infant) 9. 11. maka perawat mmbantu klien melakukan BAB 14.Bantu klien dalam posisi sims Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah Kaji kondisi anus eksternal. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. waktu pemberian.. dosis. Bantu klien pada posisi supine atau miring selama 5 menit 12... Jika sarung tangan kotor... Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 15.. 6.. 4. 66 . jelaskan klien sebentar lagi akan merasa ingin BAB. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . berikan jelly di bagian luar anus Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot sfinkter anal 8. Bersihkan area sekitar anus dengan menggunakan tissue 10. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 11.. 3... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 2.... Jika obat adalah laxatif. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 12.. lakukan palpasi pada area rectum. Buka pantat dengan tangan predominan... Kontrak pertemuan selanjutnya 14.. Beri reinforcement positif pada klien 13. Jika klien tidak bisa BAB sendiri.. ganti dengan sarung tangan yang bersih Buka obat. 5. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 15. Bantu klien pada posisi yang nyaman 16.

Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. tissue. 2. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . lubricating jelly. 1. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . Cek rekam medis klien. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. sarung tangan 4. Siapkan alat-alat : kartu obat. Jelaskan tujuan. bentuk obat (krim/supositiria). prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. nama obat. 1. Cuci tangan 3. obat. dosis. cek nama klien. Berikan salam. Bantu klien dalam posisi dorsal recumbent 3. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR.Memberikan Obat Vaginal Suppositoria / Foam Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. 1. cara dan waktu pemberian. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jaga privacy klien 7. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah 67 .

. Berikan obat kepada klien : a. Bantu klien pada posisi yang nyaman 15. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 14... waktu pemberian. Bantu klien memakai pakaian bawah 12. Kaji area eksternal genitalia dan lubang vagina 5.. Buka labia mayora dengan tangan predominan..5 .. masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 7. Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot daerah genitalia 9.. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 68 . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. masokan aplikator sedalam 5 – 7. Tanyakan kepada klien apakah akan memasukan obat sendiri atau dibantu perawat 6. berikan jelly di lubang vagina 8. Obat jelly/foam 8. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Buka obat. Buka labia mayora dengan tangan predominan. Isi aplikator dengan menggunakan jelly/foam 9. Beri reinforcement positif pada klien 3. dosis.4. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5..10 cm 10. Bersihkan daerah genitalia eksternal menggunakan tissue b.. Bersihkan daerah genitalia eksterna menggunakan tissue 11... Kontrak pertemuan selanjutnya 4.... Obat Supositoria 7.. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat... 1.5 cm. Bantu klien pada posisi supine selama 10 menit 13. Masukan obat ke dalam vagina 10..

Tahan nafas selama 10 detik j. Perawat mencucl tangan 2. jari telunjuk dan jari tengah b. Kocok inhaler c. Cuci tangan 5 Dokumentasi 69 . tissue 4. Jaga privacy klien 7. Bantu klien kembali ke posisi semula 4 Tahap Terminasi . 1. tunggu satu menit diantara dua semprotan 8. genggam dengan ibu jari. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Sambungkan spacer ke mouthpiece inhaler f. 1. Jelaskan tujuan. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Bantu klien duduk dikursi 3. nama obat. obat inhaler. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. 2. pegang inhaler tegak. Cuci tangan 3. Letakan mouthpiece inhaler atau spacer ke mulut g. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Pasang kembali tutup inhaler 9. Jelaskan kepada klien cara menggunakan inhaler : a. Buka mulut. Jika dibutuhkan dosis dua kali semprotan. Bersihkan dengan menggunakan tissue jika ada cairan inhaler dipipi. dosis. Dongakkan kepala kebelakang dan hembuskannapas d.5 cm dari mulut e. Beri reinforcement positif pada klien 3. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. cek nama klien. 1. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . bentuk obat (krim/supositiria). Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Lepaskan penutup inhaler. Tarik nafas perlahan selama 2 – 3 detik i. Siapkan alat-alat : kartu obat. Cek rekam medis klien. 10.Memberikan Obat Inhaler Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Berikan salam. 1. letakan inhaler dengan jarak 0. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. Tekan Inhaler ke bawah sambil dihirup perlahan h. cara dan waktu pemberian.

. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. waktu pemberian. 70 ......Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.... dosis..... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna ......

Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat di dalam vial tersebut menjadi sulit.OBAT INJEKSI Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial 1. Vial merupakan sistem tertutup. 50 cc. 1997). Satuan diameter jarum gauge (G).3 Syringe 4. Saat menghisap medikasi. 2. semakin besar diameter jarum. Gambar. 3. Semakin kecil gauge. Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet di atasnya. Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit. 2. Vial berisi medikasi dalam bentuk cairan dan/atau kering. Jarum suntik Jarum suntik memiliki bentuk yang spesifik. Perawat harus mematahkan leher ampul untuk dapat mencapai medikasi. perawat menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak menyentuh permukaan luar ampul). 3 cc. Jarum biasanya dikemas terpisah dari syringe. Pemilihan gauge berdasarkan viskositas larutan yang akan diinjeksikan (Potter & Perry. Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. 10 cc. Syringe memiliki beragam ukuran: 1 cc. Ujungnya runcing. Saat ini syringe sekali pakai (disposible) lebih banyak digunakan untuk menghindari infeksi silang. Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair.5 cc. Syringe Syringe terdiri dari barrel silinderis dengan ujung yang dibentuk pas untuk jarum dan pada bagian belakang terdapat pendorong karet. 20 cc. Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit. dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan mengambil cairan di dalamnya. Ukuran syringe dan jarum pada masing-masing tipe injeksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 71 .

Letakkan bantalan kasa kecil atau kapas alkohol mengelilingi leher ampul. gunakan metal untuk mengikir salah satu sisi leher. c.Ampul atau vial dari medikasi yang diresepkan . Cuci tangan untuk mengurangi infeksi nosokomial 2. Sentil bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat menggunakan jari. b.Metal (opsional) . Melindungi jari dari trauma ketika gelas ampul pecah.Kapas alkohol atau kasa 2 x 2 inci . Semua larutan bergerak ke dalam bilik yang lebih rendah. Siapkan medikasi.Spuit dan jarum dengan ukuran yang diperlukan . Mencegah percikan gelas ke arah jari atau wajah anda 72 .Jarum spuit ekstra Langkah-Langkah 1. Menurunkan semua cairan yang terkumpul di atas leher ampul. Ampul a.Tipe Injeksi Sub Cutan Intra Muscular Intra Dermal Ukuran syringe 1-2 cc 2-3 cc (dewasa) 1-2 cc (anak-anak) 1 cc Ukuran jarum 25 G 19-23 G 26 G Peralatan . Patahkan leher ampul ke arah menjauhi tangan anda. Jika leher ampul tidak patah.

Tarik bagian plunger sedikit dan dorong kembali ke atas untuk mengeluarkan udara. hentakan sedikit ke bak. i. gunakan bak untuk membuang. f. Tekanan udara akan mendorong cairan ke luar ampul. Bagian pinggir ampul yang pecah dianggap terkontaminasi. Lepaskan cap logam untuk memajan penutup karetnya. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas. Vial dilengkapi dengan cap untuk mencegah kontaminasi penutup. Pegang spuit ke arah vertikal terhadap ujung jarum. 73 . Memeriksa ulang ketinggian cairan memastikan dosis yang tepat Vial a. Pegang ampul baik dengan posisi menjorok atau tegak. Jangan biarkan ujung jarum atau batang spuit menyentuh pinggiran ampul. Menahan spuit ke arah vertikal memungkinkan cairan tetap berada di dasar barrel.d. Untuk mengeluarkan gelembung udara. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari barrel spuit. g. CATATAN: Ampul dapat saja dipegang menjorok atau miring sepanjang bagian ujung jarum tidak menyentuh . angkat ke atas untuk memungkinkan semua cairan masuk ke dalam spuit. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di dalam jarum memasuki barrel. Aspirasi medikasi ke dalam spuit dengan menarik ke belakang plunger Menarik plunger ke belakang menciptakan tekanan negatif di dalam barrel yang mendorong cairan ke dalam spuit. Jika spuit terlalu banyak terisi udara. Mencegah aspirasi gelembung udara. Masukkan jarum spuit ke dalam lubang ampul. Dengan perlahan keluarkan kelebihan cairan ke dalam bak. Jangan mengeluarkan cairan. jangan mengeluarkan udara ke dalam ampul. pinggiran ampul. Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan. dan medikasi di dalamnya akan terbuang h. Medikasi lebih aman dibuang ke bak. Jika memegang ampul tegak lurus. Jika gelembung udara teraspirasi. e. angkat jarum dari dalam ampul. Periksa ulang ketinggian cairan dengan memegang spuit ke arah vertikal.

Plunger mungkin akan terdorong kembali ke belakang oleh tekanan udara di dalam vial f. Tarik kembali plunger jika perlu. Tarik pulunger ke belakang untuk mengumpulkan sejumlah udara yang sama dengan volume medikasi yang akan diaspirasi Mencegah pembentukan tekanan negatif ketika mengaspirasi medikasi. Mencegah aspirasi udara h.b. d. Bagian tengah dari penutup karet merupakan bagian yang tertipis dan lebih mudah untuk menusukkannya. Tahan bagian ujung jarum di bawah ketinggian cairan. Menjaga bagian bevel ke arah atas dan memberikan tekanan ringan mencegah pemotongan karet sebagai penutup e. Keluarkan udara ke dalam vial. usap permukaan penutup karet. dengan bevel jarum mengarah ke atas. Tekanan positif di dalam vial mendorong cairan ke dalam spuit 74 . menembus bagian tengah penutup karet (Gbr. Posisi tangan mencegah plunger dan memudahkan memanipulasi spuit dengan mudah. jangan biarkan plunger kembali ke atas. Pegang vial antara ibujari dan jari tengah pada tangan yang dominan. g. Raih bagian ujung barrel dan plunger dengan ibujari dan jari telunjuk dari tangan yang dominan. Masukkan bagian ujung jarum. Memungkinkan tekanan udara untuk secara bertahap mengisi spuit dengan medikasi. Balikkan vial sambil tetap memegang vial dengan kuat pada spuit dan plunger. Dengan kapas alkohol. Lepaskan cap jarum. Anda pertama-tama harus menyuntikkan udara ke dalam vial. Membuang debu atau kotoran tetapi tidak mensterilkan permukaan c. Udara harus terlebih dahulu disuntikkan ke dalam vial sebelum mengaspirasi cairan. 52). Membalikkan vial memungkinkan cairan untuk tetap berada di pertengahan bawah vial.

Manakala dosis yang sesuai sudah terpenuhi. j. 5. Akumulasi udara akan menggantikan medikasi dan menyebabkan kesalahan dosis. Mengurangi transmisi mikroorganisme Kewaspadaan Perawat Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari barrel spuit. Jangan mengeluarkan cairan. Berikan label pada vial jika masih tersisa obat di dalamnya. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas dan sentil-sentil untulC melepaskan gelembung. 75 . Mencegah penularan infeksi. Penggantian jarum diharuskan jika perawat menduga terdapat obat pada batang jarum. Catat jumlah larutan dan konsentrasi obat. angkat jarum dari dalam vial dengan menarik ke belakang barrel spuit. k. Menarik plunger dan bukan barrel menyebabkan terlepas dari barrel dan medikasi dapat terbuang. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari berrel. Jarum baru mencegah ceceran obat pada kulit dan jaringan subkutan. Keluarkan semua udara yang terdapat di atas spuit ke dalam vial. Ganti jarum yang terdapat pada spuit. Buang alat-alat yang basah di tempat yang telah disediakan.i. Sentil bagian barrel dengan hati-hati untuk melepaskan semua gelembung udara. Untuk mengeluarkan kelebihan gelembung udara. Menyentil dengan kuat barel ketika jarum berada di dalam vial dapat membengkokkan jarum. Bungkus jarum dengan capnya. Cuci tangan. lepaskan jarum dari vial dengan menarik barrel ke belakang. menahan spuit secara vertikal memungkinkan cairan untuk tetap berada di dasar barrel. 4. Tarik sedikit plunger dan dorong plunger ke atas untuk mengeluarkan udara. Menjamin pemberian obat yang akurat ketika diberikan obat berikutnya 3. l. Mencegah kontaminasi jarum dan melindungi perawat dari tusukan jarum. Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di datam jarum masuk ke dalam barrel.

Siapkan medikasi dari ampul atau vial Memastikan bahwa medikasi yang akan diberikan steril. Hindari area yang terdapat jaringan parut. Namun. Rute intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi. massa.Jarum (ukuran beragam sesuai dengan tipe jaringan dan ukuran klien. 1991]. jadi hanya obat dalam dosis kecil yang larut dalam air. palpasi tempat tersebut terhadap edema. medikasi dimasukkan ke dalam jaringan ikat jarang di bawah dermis.Ampul atau vial obat . Pilih tempat penyuntikan yang tepat.. Kumpulkan peralatan dan periksa urutan medikasi terhadap rute.Untuk suntikan subkutan. 2. 6. Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit. 3. subkutan-diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. Cuci tangan. Jelaskan prosedur pada klien dan lanjutkan dengan cara yang tenang.5 sampai 3.75 cm (dewasa). diameter 25 sampai 27 dan panjang 1.Kasa antiseptik (mis. Jaringan subkutan mengandung reseptor nyeri. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat. Memastikan keakuratan urutan pemberian. Membantu klien mengantisipasi tindakan perawat. 76 . 5. yang tidak mengiritasi yang dapat diberikan melalui rute ini. perawat harus mengetahui volume obat yang akan diberikan.5 cm [anak] [Whaley and Wong. absorpsi obat agak sedikit lambat dibanding suntikan intramuskular.dan kenakan sarung tangan steril Mengurangi transmisi mikroorganisme.25 sampai 2. atau infeksi. atau nyeri tekan. Periksa pita identifikasi klien dan tanyakan nama klien. dan waktu pemberian. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika obat diberikan jauh ke dalam otot. 4. lecet. memar. Kaji terhadap alergi. intramuskular-diameter 20 sampai 30 dan panjangnya 2.Formulir atau kartu obat Langkah-Langkah 1. alkohol) . dosis. dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik.1 cm) .Spuit (ukuran beragam sesuai dengan volume obat yang akan diberikan) . karakteristik obat. Pastikan bahwa pasien yang tepat mendapatkan obat yang tepat. Peralatan . ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah jika perawat tidak cermat. Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat.Pemberian Suntikan Subkutan dan Intramuskular Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh.25 sampai 2. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai banyak pembuluh darah.

CATATAN: Antikoagulan dapat menyebabkan perdarahan lokal dan memar jika disuntikan ke dalam area seperti lengan dan tungkai. 7.Abdomen-klien duduk atau berbaring . tengkurap. Jangan gunakan kembali tempat suntikan yang sama didalam periode 3 minggu. Dalam kasus penyuntikan insulin yang berulang setiap hari jangan gunakan tempat penyuntikan.klien berbaring miring.Lengan klien duduk atau berdiri . palpasi otot untuk menentukan ukuran dan kekerasannya.Tempat suntikan harus bebas dari lesi yang mungkin mengganggu absorpsi obat.Paha (vastus lateralis}-klien berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi . 8. atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah. 77 . Rotasi tempat suntikan mencegah pembentukan jaringan parut subkutan yang dapat mempengaruhi absorpsi obat. yang melibatkan aktivitas muskular.Ventrogluteal . . Saat memberikan heparin subkutan. atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan disuntikkan dalam keadaan fleksi Membantu klien mendapatkan posisi yang dapat mengurangi regangan pada otot dengan meminimalkan rasa taknyaman akibat suntikan. Diperlukan massa otot yang cukup untuk memastikan suntikan intramuskular akurat ke dalam jaringan yang tepat.Lengan atas (deltoid klien duduk atau berbaring mendatar dengan lengan atas fleksi tetapi rileks menyilang abdomen atau di atas abdomen.Dorsogluteal-klien tengkurap dengan lutut diputar ke arah dalam. .Tungkai-klien duduk di tempat tidur atau kursi Tempat Suntikan Intramuskular . Tempat Suntikan Subkutan . Rotasikan didalam satu region anatomi kemudian pindah ke lokasi anatomi lainnya. Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman bergantung pada tempat suntikan yang dipilih. Untuk penyuntikan intramuskular. gunakan tempat suntikan abdomen.

Bicaralah pada klien tentang subjek yang menarik. Cari tempat yang akan dipilih sebagai tempat suntikan menggunakan tanda anatomi. Bersihkan tempat suntikan yang dipilih dengan swab kasa antiseptik. Pasang swab di tengah tempat suntikan dan putar ke arah luar dengan arah melingkar sekitar 5 cm (2 inci). tulang. Penyuntikan yang akurat membutuhkan penusukan di tempat anatomi yang tepat untuk menghindari pencederaan jaringan di bawah saraf. Pengalihan perhatian membantu mengurangi ansietas 10.9. tempat di mana suntikan akan diberikan. 78 . 11. Minimalkan rasa taknyaman selama suntikan. atau pembuluh darah. Minta klien untuk melemaskan lengan atau tungkainya.

Penusukan yang cepat dan kuat meminimalkan ansietas dan ketidaknyamanan klien Intramuskular .encubitan kulit menaikan jaringan subkutan .Untuk klien obesitas. cubit otot tubuh dan suntikan obat. Mencegah jarum menyentuh cap dan terkontaminasi 14.Jika masa otot tipis.Posisikan tangan nondominan pada tanda anatomik yang tepat dan regangkan kulit. Penusukan jarum pada kulit yang tegang lebih mudah dibanding kulit yang kendur. Suntikan jarum dengan cepat pada sudut 90 derajat. . P. Suntikan spuit: Subkutis . Lepaskan cap jarum dari spuit dengan menarik cap lurus. Pegang swab diantara jari ketiga dan keempat dari tangan anda yang tidak dominan. Pegang spuit diantara ibujari dan jari telunjuk dari tangan anda yang dominan bayangkan seperti memegang anak panah. Penyuntikan cepat waspada membutuhkan manipulasi bagian spuit yang tepat 15. Memastikan bahwa obat mencapai jaringan otot 79 . Swab akan tetap mudah terakses saat waktunya mencabut jarum 13.Untuk klien ukuran sedang.Suntikan jarum dengan cepat dan kuat pada sudut 45 derajat (kemudian lepaskan cubitan kulit bila dilakukan). dengan tangan nondominan anda regangkan kedua belah sisi kulit tempat suntikan dengan kuat atau cubit kulit yang akan menjadi tempat suntikan. (Kebanyakan perawat memegang spuit dengan telapak tangan ke atas untuk penyuntikan subkutan dan telapak tangan ke bawah untuk penyuntikan intramuskular karena perbedaan sudut penusukan). Mempercepat penyuntikan dan mengurangi ketidaknyamanan.Gerakan mekanik swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme 12. Klien obes mempunyai lapisan lemak di atas jaringan subkutan . cubit kulit pada tepmat suntikan dan suntikan jarum di bawah lipatan kulit.

Obat-Obat intramuskular dan subkutan tidak digunakan untuk pemberian intravena. Tahan bagian belakang kulit dan suntikan jarum dengan cepat Sumbatan udara membersihkan jarum dari obat untuk mencegah tracking obat melalui kulit dan jaringan. Metoda Ztrack membentuk jalur zig-zag melalui kulit yang membungkus jalur jarum untuk menghindari kebocoran obat melalui jaringan subkutan yang sensitif. Gerakan spuit dapat mengubah letak jarum dan menyebabkan rasa taknyaman Jika menggunakan metoda Z-track.5 cm ke arah lateral ke samping. dengan tangan nondominan anda raih ujung bawah barrel spuit. 18. Saat menggunakan metoda ini perawat menghisapkan 0. Gunakan tangan dominan anda untuk meraih ke arah plunger. lakukan metoda Z-track. Obat tidak akan berbahaya jika diberikan intravena. suntikan obat dengan perlahan. tarik kembali jarum. pertahankan agar tetap menahan kulit dengan tangan nondominan anda. CATATAN: Heparin adalah antikoagulan yang secara khas diberikan dalam dosis kecil melalui subkutan. buang spuit. Jika terlihat darah di dalam spuit. Manakala jarum memasuki tempat suntikan. 17. Cabut jarum dengan cepat sambil meletakkan swab antiseptik tepat di bawah suntikan 80 . Tarik kulit di bawahnya dan jaringan • subkutan 2.Jika memberikan preparat yang dapat mengiritasi. Pindahkan tangan dominan anda ke ujung plunger. Obat akan menjadi berbusa jika diaspirasi. - Kulit harus tetap ditarik sampai obat disuntikan. Jika tidak terlihat darah. Dengan perlahan tarik kebelakang plunger untuk mengaspirasi obat. 16. Darah yang teraspirasi ke dalam spuit menunjukkan bahwa jarum i menusuk intravena. Penyuntikan perlahan mengurangi nyeri dan trauma jaringan. Hindari gerakan spuit. CATATAN: Beberapa institusi menganjurkan untuk tidak melakukan aspirasi penyuntikan heparin subkutan. dan ulangi persiapan obat.5 ml udara ke dalam spuit untuk membentuk sumbatan udara.5 sampai 3. Penyuntikan dengan tepat memerlukan manipulasi halus bagian spuit.

19. Vastus lateralis adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anakanak. yang dapat menunjukkan cedera saraf. memberikan klien rasa kesejahteraan 21.2 ml udara ke dalam spuit setelah menyiapkan dosis obat. Masase tempat suntikan dengan perlahan kecuali merupakan kontraindikasi seperti pada penyuntikan heparin.Jika mengunakan metoda Z-track. tahan agar jarum tetap ditempat setelah menyuntikan obat selama 10 detik. Mencegah cedera pada klien dan tenaga personel. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan membuat anaknya tidak nyaman. Pastikan bahwa anak mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa terbakar di tempat suntikan. Masase menstimulasi sirkulasi kemudian meningkatkan penyebaran serta penyerapan obat 20. Bidang jaringan saling menindih untuk membentuk jalur zig-zag yang menutupi obat ke dalam jaringan otot. Berikan orangtua kesempatan untuk membantu menahan anak mereka selama penyuntikan. Kewaspadaan Perawat Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. Jangan sekali-kali mengagetkan anak. Menyokong jaringan di sekitar tempat suntikan sehingga meminimalkan rasa taknyaman ketika jai-um dicabut. mengontrol penyebaran infeksi 23. Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. Tempat penyuntikan intrakutan dan tekniknya 81 . Udara bertindak sebagai ruang vakum untuk membersihkan lubang jarum dari obat. Penyuntikan Intrakutan dan Intravena Injeksi Intrakutan/ Intradermal Injeksi intrakutan adalah salah satu metode injeksi dimana obat dimasukan ke dalam jaringan kulit (dermal) yaitu epidermis. Memungkinkan obat untuk menyebar dengan rata. Kemudian lepaskan kulit setelah menarik jarum. Menutup kembali jarum dapat menyebabkan penusukan dari jarum dan sudah tidak dianggap praktik yang aman 22. Otot dorsogluteal seharusnya tidak digunakan untuk penyuntikan pada anak-anak kecuali otot tersebut berkembang dengan sempurna. tarik 0. Ada baiknya untuk tetap tidak memperlihatkan ruam pada anak untuk meminimalkan ansietas. Setelah penyuntikan tenangkan anak. 2. Kembali untuk mengevaluasi respons klien terhadap obat dalam 15 sampai 30 menit. Buang jarum tidan berpenutup dan letakkan spuit ke dalam tempat yang sudah diberi label. Mencatat pemberian obat dan mencegah kesalahan pemberian obat berikutnya 24. Pengamatan anda menentukan kemanjuran kerja obat. Obat parenteral diserap dan bekerja lebih cepat dibanding obat oral. Catat pemberian obat pada lembar obat atau catatan perawat. Pertimbangan Pediatri Jika memang diharuskan untuk memberikan obat dalam bentuk cairan pada anak. Biasanya dipakai untuk : 1. Tes tuberculin. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. Jika tampak darah di dalam jarum spuit selama aspirasi. cepat cabut jarum dan mulai dari awal lagi. Uji coba obat tertentu terhadap reaksi alergi.

Jika test alergi +. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 18. berkurangnya tekanan darah. Kembalikan posisi klien 20. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Buat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan dan instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 19. Cuci tangan 82 . berkeringat. pingsan. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 15. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. sianosis) 17. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 14. 16. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. jika lengan bawah tidak dapat digunakan. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 13. Jika terdapat darah. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat.Langkah-langkah : 1. Gunakan sarung tangan 5. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 8. mual. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 9. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. Cek catatan perawat dan medis : program pemberian obat melalui intradermal 2. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Cuci tangan 3. Buka tutup jarum 10. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 7. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4.15 derajat 12. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 11. gunakan tempat altematif 6. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . muntah.

Fundamentals of Nursing : Concept. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 7. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin PUSTAKA Kozier. punggung telapak tangan. harus dimonitor tanda-tanda vitalnya. Metode ini menyebabkan reaksi cepat. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. Lepaskan tourniquet 16. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 9. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 18.Injeksi Intravena Injeksi intravena kita harus memilih vena yang besar. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 6. Cuci tangan 3. 13. (2004). Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 8. Sebelum. Langkah-langkah : 1. Kencangkan tourniquet 10. 14. Teknik ini dibutuhkan perawat dengan ketrampilan khusus. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 17. 7nd edition. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. B. Gunakan sarung tangan 5. Process and Practice. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. 83 . lalu tusuk perlahan dan pasti. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. misalnya pada lengan. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. selama dan setelah dilakukan injeksi IV. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. all. 12. 11. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. et. New Jersey : Pearson Education. Lakukan aspirasi 15. Pada saat penusukan posisi harus tepat dan tidak goyah.

CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA DERMAL Nama No. Cek dosis* 5. Lakukan double cek obat (nama obat. Tahap Preinteraksi 1. Cuci tangan * 9. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Siapkan obat a. Cek catatan perawat dan medis 2. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Cek waktu pemberian* 7. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 84 . Cek nama pasien* 4. Cek nama obat* 3. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Siapkan alat 8. Mhs : Variabel yang dinilai A. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 Ni lai 1 2 11. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b.

Tahap Terminasi 1. jika lengan bawah tidak dapat. Tahap Kerja 1. Berikan salam 2. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Cuci tangan* E. Buat tanda dengan membuat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan 22. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. 18. pingsan. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 10. Dokumentasi Catat nama obat. Baca label obat sekali lagi* 7. mual. Gunakan sarung tangan 6. gunakan tempat altematif 8. dosis dan cara pemberian* 85 . Kembalikan posisi klien 24. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. nama pasien.9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* B. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 16. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. Bereskan alat* 6. Kaji efek obat dan respon klien* 25. Tahap Orientasi 1. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . Jelaskan tujuan tindakan* C. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 17. Panggil klien dengan namanya* 4. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 11. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Perkenalkan diri* 3. sianosis)* 20. Buka tutup jarum 12. muntah. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 9. Evaluasi perasaan klien 2. Mulai dengan cara yang baik 4. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. 19. Jika terdapat darah. waktu pemberian. Instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 23. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 21.15 derajat 14. berkeringat. Tanyakan keluhan dan kaji adanya alergi* 3. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 15. Jaga privasi klien 5. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Jika test alergi +. berkurangnya tekanan darah. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 13. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat.

Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1 = Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75%

Nilai ………………

Pengampu ………………………….

86

CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA MUSCULAR Nama Mhs : Variabel yang dinilai A. Tahap Preinteraksi 1. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek nama obat* 3. Cek nama pasien* 4. Cek dosis* 5. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan alat 8. Cuci tangan * 9. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan Nilai 0 1 2

11. Lakukan double cek obat (nama obat, dosis dan hasil perhitungan)* 12. Siapkan obat a. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas, ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum, tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah, perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 87

B. Tahap Orientasi 1. Berikan salam 2. Perkenalkan diri* 3. Panggil klien dengan namanya* 4. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Jelaskan tujuan tindakan* C. Tahap Kerja 1. Berikan kesempatan klien untuk bertanya 2. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Jaga privasi klien 4. Mulai dengan cara yang balk 5. Gunakan sarung tangan 6. Pilih tempat penusukan 7. Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman dan mudah untuk perawat melihat tempat penusukan 8. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi IM. 9. Bersihkan tempat vang akan digunakan dengan kapas alkohol 10. Buka tutup jarum 11. Tarik kulit di tempat penusukan dengan cara : 12. Tempatkan ibu jari dan jari telunjuk tangan non dominan di atas tempat penusukan (hati-hati jangan sampai mengenai daerah yang lelah dibersihkan) hingga membentuk V 13. Tarik ibu jari & jari telunjuk dengan arah berlawanan, memisahkan jari sepanjang 3 inc 14. Cepat masukkan jarum dengan sudut 90 dengan tangan yang dominan 15. Pindahkan ibu jari dan jari telunjuk jari non dominan dan kulit untuk mendukung barrel spuit, jari sebaiknya ditempatkan pada barrel sehingga saat mengaspirasi, anda dapat melihat barel dengan jelas. 16. Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit 17. Jika terdapat darah, tarik jarum keluarkan berikan tekanan pada tempat tusukan dan ulangi langkah ke C6 hingga C14. Jika tidak ada darah, dorong plunger dengan perlahan, ajak klien berbicara. 18. Tarik jarum dengan sudut yang sama saat penusukan 19. Usap dan bersihkan tempat penusukan dengan kapas alkohol lain (jika kontra indikasi untuk obat, berikan penekanan yang lambat saja) 20. Tempatkan jarum pada baki 21. Buka sarung tangan 20. Kembalikan posisi klien 21. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Tahap Terminasi 1. Evaluasi perasaan klien 2. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Bereskan alat* 6. Cuci tangan* F. Dokumentasi Catat nama obat, nama pasien, waktu pemberian, dosis dan cara pemberian* Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali Pengampu

88

………………………….

89 .1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% Nilai …………… …………….

tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Lakukan double cek obat (nama obat. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 NILAI 1 2 11. Cek nama obat* 3. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan*90 .INJEKSI SUBCUTANEUS Nama MHs : ASPEK YANG DINILAI A. Siapkan alat 8. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan obat a. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Cek nama pasien* 4. Cek catatan perawat dan medis 2. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Tahap Preinteraksi 1. Cuci tangan * 9. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek dosis* 5.

Evaluasi hasil kegiatan 2. Akhiri kegiatan 5. Tahap Terminasi 1. obat yang diberikan dosis dan cara pemberian Totai Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma Pengampu Nilai 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% ………………………….D. tangan E. ………………… ………. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian. 91 . Berikan reinforcement 3.

caranya Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% NILAI 0 1 2 Pengampu Nilai …………………………. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Kencangkan tourniquet 11. Tahap Kerja 1. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 19. 16. Lepaskan tourniquet 18. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Lakukan aspirasi 17. Tahap Terminasi 1. Cuci tangan 3. Tahap Preinteraksi 1. 13. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 9. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 10. Tahap Orientasi 1. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 20. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin C. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. identifikasi klien dan panggil klien dengan namanya 2. Akhiri kegiatan 5. Simpulkan hasil kegiatan 3. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. 12. Jaga privasi klien 4. Mulai dengan cara yang baik 5. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan.INJEKSI INTRAVENA Nama Mhs : ASPEK YANG DINILAI A. 92 . Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian obat yang diberikan. Jelaskan prosedur dan tujuan pemberian obat pada klien/ keluarga C. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 7. Berikan salam. Gunakan sarung tangan 6. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Evaluasi perasaan klien 2. tangan D. dosis. lalu tusuk perlahan dan pasti 15. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 8. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar* B.

Metode 1 Persamaan dasar Dosis yang diinginkan adalah dosis yang sesuai dengan program pengobatan (D) Dosis yang tesedia adalah dosis yang ada di kemasan obat. misalnya obat tersedia dalam jumlah milligram atau milliliter yang ekuivalen (H) Vehicle adalah bentuk/kemasan obat atau jumlah tablet atau jumlah larutan yang sesuai dengan dosis yang tersedia Mount adalah isi/jumlah obat yang diberikan misalnya dalam milliliter atau tablet milligram (A) Rumus penghitungan dosis obat DxV =A H Contoh: Dosis sesuai program dokter (D) adalah 400 mg Dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan bentuk sedian obat adalah tablet) Yang ditanyakan: berapa banyak tablet yang harus diberikan ke klien? Jawab: 400 x 1 tablet = 2 tablet 200 Metode 2 Rasio dan proporsi Rumus: H : V= D : A Contoh Dosis sesuai program dokter adalah 400 mg. dan usia klien. Perawat harus membaca label pada obat untuk melihat aturan pengenceran yang diperbolehkan misalnya dalam label obat akan tertulis 93 . berat badan. Perawat harus memerksa dosis obat yang tertulis di dalam catatan medis dan mencocokkannya dengan label obat dan melakukan penghitungan dosis yang akurat. Ada berbagai macam cara atau metode menghitung dosis obat.MENGHITUNG DOSIS OBAT Penghitungan dosis obat adalah kegiatan menentukan dosis yang dipesankan oleh tim medis berada dalam rentang dosis yang sesuai dengan rute pemberian. sedangkan dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan sediaan obat dalam bentuk bubuk dalam vial yang harus diencerkan menjadi bentuk cair) Yang ditanya: berapa ml/cc obat yang harus diberikan kepada klien Jawab 1.

Apabila terdapat 1 gram bubuk obat dalam vial yang akan diencerkan dengan 5 ml aquabides berarti ketika pengenceran sudah dilakukan. Perawat harus membaca berat bubuk di dalam vial misalnya 1 gram isi vial setara dengan 1 gram bubuk obat 3. berarti bubuk obat di dalam vial akan diencerkan dengan 5 ml aquabides sehingga bentuk sediaan akan berubah menjadi cair 2. 1 ml cairan obat setara dengan 200 mg bubuk obat (1 gram/1000 mg = 5 ml.diencerkan dengan 5 ml aquabides. 1 ml = 1000/5 = 200 ml) 94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful