BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

TIM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2013

1

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan sistem Blok Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dapat terselesaikan dengan baik. Kurikulum baru ini dirancang untuk menjawab tantangan global dunia pendidikan khususnya untuk mencipta Ners yang terampil dan profesional. Pendidikan keperawatan pada masa kini selalu mengalami perubahan dinamis, cepat dan kontinyu. Ners dari Universitas Jenderal Soedirman diharapkan mampu menangani pasien maupun masalah kesehatan di masyarakat, sehingga wajib dibekali pengetahuan yang luas, keterampilan yang handal, mampu berkomunikasi berdasarkan empati (komunikasi efektif), serta berbudi pekerti luhur yang tercermin pada sikap dan perilaku. Beranjak dari hal itu, maka (KBK) dengan sistim Blok disusun berdasarkan paradigma baru pendidikan Ners dengan waktu studi diselesaikan minimal selama 3,5 tahun untuk akademik dan satu tahun untuk profesi Ners. Program yang dijalankan untuk menyelesaikan kurikulum baru ini, dijabarkan dalam bentuk program semester yang dilaksanakan dengan pola blok tematik berdasarkan kebutuhan hirarkhi Maslow. Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini merupakan panduan belajar mahasiswa pada ranah psikomotor yang tentunya ranah kognitif dan afektif juga ikut terlibat di dalamnya. Jumlah keterampilan tindakan pada Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini berjumlah 9 keterampilan. Kompetensi psikomotor pada blok ini diharapkan dimiliki oleh seorang Ners atau calon perawat lulusan Universitas Jenderal Soedirman, sehingga setelah menjalani Blok Fundamental of Nursing II selama 5 minggu kemampuan yang diperoleh dapat diinternalisasikan dan terus-menerus diterapkan pada tingkat selanjutnya sampai nanti menjadi Ners praktisi. Saran dan kritik membangun masih kami tim terima dalam rangka perbaikan buku panduan Blok Fundamental of Nursing II ini sehingga pengembangan dan peningkatan mutu pendididikan profesi keperawatan khususnya di Jurusan keperawatan FKIK Unsoed ini akan terwujud dengan kerja sama berbagai pihak dalam proses pembelajaran bersama.

Purwokerto, 10 September 2013

Tim Blok Fundamental of Nursing II

2

DAFTAR ISI DDST ...................................................................................................... KPSP........................................................................................................ Pengenalan Bentuk-Bentuk Sediaan Obat............................................... Rute Pemberian Obat............................................................................... Menghitung dosis obat............................................................................. Leg Exercise ............................................................................................ Pemeriksaan Fisik Anak dan Neonatus ................................................... Ballard Test..............................................................................................

3

3. Intrepretasi hasil DDST a. Untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak b. Apa yang harus dilakukan bila hasil DDST Suspect. c. tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. 4. mengikuti perintah dan berbicara spontan 4) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. 2. Suspect : Satu atau lebih kelambatan dan/atau dua atau lebih banyak kewaspadaan.DDST (DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST) 1. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil. Untestable : Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75 % sampai dengan 90 %. Rekomendasi untuk rujukan test suspect atau untestable : d. Fungsi DDST Fungsi DDST adalah: a. Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan factor 4 . Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Normal : Tidak ada kelambatan b. Untuk pedoman dalam perawatan perkembangan anak d. bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). bahasa. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas. Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1) Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri. Pengertian DDST DDST kependekan dari Denver Developmental Screening Test yaitu suatu test untuk melakukan pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia 1 bulan sampai dengan 6 tahun menurut Denver. Tujuan DDST Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar. Untuk mendeteksi dini keterlambatan perkembangan anak Aspek perkembangan yang diamati terdiri dari 125 tugas perkembangan. Untuk menstimulasi perkembangan anak c. adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia 1 bulan dampai dengan 6 tahun. 2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu. Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. 3) Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara.

dan 5 tahun B. pemeriksaan dan riwayat klinis. pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia .temporer. Meragukan dan Tidak dapat dites. Kemudian dapat dilakukan pada anak yang berusia: 3 tahun. karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu 5. penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan. C. atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75 C. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. Berdasarkan pedoman. ketersediaan rujukan. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis. Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut) B. Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90 D. 1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan. Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan. gagal. yaitu: A. dan 18-24 bulan. gunakan penilaian klinis berdasarkan hal berikut : angka kewaspadaan dan kelambatan. OK Melewati. Bila skrining ulang bersifat suspect atau untestable. Langkah-langkah pemeriksaan DDST: 1) Tetapkan umur kronologis anak. 4 tahun. e. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal. usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun Interpretasi dari nilai Denver II: A. 9-12 bulan. Cara Pemeriksaan Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap. Pada anak-anak yang lahir prematur. Abnormal. 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. tanyakan tanggal lahir anak yang akan 5 .

gagal (Fail = F). Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah: 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah. Lula? Jawab: 2008 – 4 – 1 2006 – 8 – 5 1 – 7 -26 Jadi usia An. jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas. Lula adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan. Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. pensil. 2). Peralatan makan. Contoh: An. ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. 6. sehingga usia kronologis An. peralatan gosok gigi. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008.2) 3) 4) 5) diperiksa. Lembar formulir DDST II 3). pakaian. 6 . Alat yang Digunakan 1). kismis/ manik-manik. kubus warna merah-kuning-hijau-biru. berapa yang P dan berapa yang F. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. Alat peraga: benang wol merah. kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. kartu/ permainan ular tangga. Lula lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. Hitung usia kronologis An. Penilaian: Jika Lulus (Passed = P). buku gambar/ kertas. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor.

1. Nilai: Purwokerto. pindahkan pada formulir sesuai dengan usia kronologis anak 3) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 4) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.Nama NPM No. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 3) Berikan privasi. Personal sosial b. 4. 3. 5. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 1) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 2) Jelaskan prosedur pemeriksaan. lakukan pendekatan pada anak. meliputi aspek perkembangan: a. Motorik halus (Fine motoric) 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 1) Observasi perubahan perilaku anak 2) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 3) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan Dokumentasi 1) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 2) Catat tanggal. FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN DDST/DENVER II : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 1) Siapkan alat yang akan digunakan. Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………………. waktu.) PIJAT BAYI 7 . ……… Evaluator Nilai 1 2 2. dekatkan pada pemeriksa. 2) Pastikan ruangan hangat. Bahasa c. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 1) Siapkan lembar formulit DDST yang akan digunakan 2) Hitung usia kronologis anak. Motorik kasar (Gross motoric) d. dan nama pemeriksa (tanda tangan).

ia bisa menjadi terapi untuk mendapatkan banyak manfaat buat bayi.3 bulan. tidak perlu mengundang dukun pijat bayi sebab pemijatan bisa dilakukan sendiri. Sentuhan. tangan. Bayi umur 1 .Kep.1 bulan. Pijatan juga terbukti dapat melegakan saluran napas yang menyempit karena asma. Field seperti dikutip dr. yang akan memupuk cinta kasih timbal-balik. David Hull. perbaikan kondisi psikis. Kalau tindakan ini dilakukan secara teratur dan sesuai dengan tata cara dan teknik pemijatan bayi.Oleh Dian Ramawati. melaporkan. belaian. An Pengertian Sentuhan alamiah pada bayi sesungguhnya sama artinya dengan tindakan mengurut atau memijat. Untuk bayi usia 3 bulan .. Ns. Lagi pula ia akan merasa aman karena merasa yakin memiliki kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. Terapi pijat 15 menit selama enam minggu pada bayi usia 1 . J. dll. Tiap individu. Untuk keperluan itu. gangguan usus.3 bulan juga meningkatkan kesiagaan (alertness) dan tangisnya berkurang. bayi yang banyak memperoleh sentuhan. seperti radang telinga tengah. berkurangnya kadar hormon stres. bisa ditambah dengan tekanan. Namun. Rene Spitz. Tidurnya pun bertambah tenang.3 tahun. sentuhan orang tua merupakan dasar perkembangan komunikasi. dan pijatan akan mempererat ikatan kasih sayang orang tua dengan anak. Pengamatan T. menurut dr.. Terhadap perkembangan emosi anak. Sp.Kep. dan bertambahnya kadar serotonin. campak. Utami Roesli. jarang mengalami simptom hospitalismus (gangguan yang sering dialami bayi yang tinggal di panti asuhan. Pemijatan dimulai dari kaki. mampu mengurangi perasaan gelisah dan depresi sehingga 8 . Tak ada teknik pijat yang baku. bisa menerapkan teknik dan tahapan pemijatan masing-masing. khususnya dari ibu. diberi gerakan pijat halus dengan tekanan ringan.). dan menjadi penentu bagi anak untuk menjadi anak yang berbudi pekerti dan percaya diri. M. Sebelum tali pusat lepas. muka. dalam makalah berjudul Touch Therapy: Science Confirms Instinct. dokter anak dan psikiater dari Amerika. bagian dada. ahli virologi mulekuler dari Inggris. dan diakhiri pada bagian punggung. untuk bayi berumur 0 . sebaiknya tidak dipijat di daerah perut. Ini akan diikuti dengan peningkatan berat badan. menyebutkan terapi pijat 30 menit per hari bisa mengurangi depresi dan kecemasan. disarankan hanya diberi gerakan usapan halus.

Teknik remasan dilakukan dengan cara bagian tungkai atau lengan dipadatkan atau dimelarkan menggunakan sisi tangan bagian dalam dan sedikit gerakan memeras. Pada anak yang lesu dan malas bergerak. dapat dimulai kapan saja sesuai keinginan. Setiap gerakan yang berkaitan dengan kegiatan mengurut atau memijat memiliki khasiat. Bila dikerjakan secara lengkap. Semua teknik urut (usapan. menurut Ahr. Cara lain. Hasilnya. Utami Roesli menyebutkan bahwa pijat bayi dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. kocokan. Bisa juga malam hari sebelum bayi tidur sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak. menurut Ahr. sambil mengurut seperti menggulung sosis atau mengaduk adonan. aliran darah meningkat dan pembuluh darah lebih lebar. Tangan diletakkan sejajar dengan anggota badan. atau anggota keluarga lain. dapat menenangkan anak. kemudian membuat bentuk lingkaran-lingkaran dengan kedua tangan. memberikan stimulasi pada permukaan jaringan. Dengan latihan. Mengurut bayi bisa juga dengan gerakan remasan. mirip gerakan membuat adonan roti. dengan teknik lingkar. bahkan ke bagian jaringan lebih dalam. ahli fosioterapi. berkhasiat pada jaringan penentu kemelaran otot yang terletak pada gelendong jaringan otot. remasan. sehingga bermanfaat bagi anak yang berpembawaan gugup. Teknik ini bermanfaat untuk mengendorkan jaringan. dan gerakan lingkar) bisa saling melengkapi. Gerakan usapan misalnya. Remasan. remasan dapat membuat otot bayi menjadi lebih kuat. dr. Jadi. Bahkan pemijatan pada bayi dari ibu HIV-positif dapat lebih menaikkan berat badan dan meningkatkan perkembangan motorik bayi. Usapan juga dapat merangsang aliran darah dan getah bening.serangan asma berkurang. Teknik kocokan dilakukan dengan cara "menggulung". sekaligus akan lebih melancarkan peredaran darah. Pemijatan bisa dilakukan oleh ayah. Penelitian di Australia 9 . pijat dua hari sekali sudah memadai. Mula-mula dilakukan usapan. Sejak usia enam bulan. Bayi akan mendapat keuntungan lebih besar bila pemijatan dilakukan tiap hari sejak lahir sampai usia enam atau tujuh bulan. Barbara Ahr. nenek. Teknik urut lingkar. Pemijatan dapat dilakukan pagi hari sebelum mandi. Dari lingkaran besar kemudian mengecil. hasilnya akan lebih baik. Dengan kata lain. menganjurkan agar usapan dilakukan sedikit lebih bertenaga dan diarahkan ke jantung. ibu. lingkaran yang terbentuk akan makin bulat. Tindakan pijat dikurangi seiring dengan bertambahnya usia bayi.

produksi ASI akan lebih banyak. Tapi jangan memijat segera setelah bayi selesai makan. jangan membangunkan bayi hanya untuk dipijat. Bayi sudah makan atau benarbenar tidak sedang lapar. 4. sambil diajak berbicara. 10 Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. Tujuan 1. ayah. 2. 3. Penyerapan makanan yang lebih baik akan menyebabkan si kecil cepat lapar dan karena itu lebih sering menyusu. Baju bersih (popok. Sebelum dan selama pemijatan. Lakukan sentuhan ringan dan lembut. kulit bayi perlu sesering mungkin dilumuri baby oil atau baby lotion. Meningkatkan bonding attachment antara bayi dengan anggota keluarga yang lain (ibu. Periksa kuku dan perhiasan untuk menghindari goresan pada kulit bayi. Jangan memijat bayi yang sedang tidak sehat. 3. Sebelum memijat. nenek atau paman) Meningkatkan nafsu makan dan berat badan bayi Bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus-nya (saraf otak ke10). Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. atau tak mau dipijat. sarung tangan dan kaki) Handuk Baby oil / baby lotion Alas kain / kasur kecil . pastikan tangan Anda bersih dan hangat. 4. Meningkatkan daya tahan tubuh / imunitas bayi Meningkatkan rasa percaya dan harga diri pada pasangan muda Alat yang digunakan 1. 2. Tidak boleh memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi. Ini membuat kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin naik sehingga penyerapan terhadap sari makanan pun menjadi lebih baik. bayi yang dipijat ayahnya berat badannya cenderung naik dan hubungan dengan ayah makin baik. Yang juga penting diperhatikan. Akibatnya.membuktikan. 2. 3. Langkah Kerja 1.

4. bagian dada. 9. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. dari atas ke bawah. Selanjutnya kedua tangan membuat Rapatkan kedua kaki bayi. dua tangan bergerak bersamaan. 10. dan diakhiri pada bagian punggung. dengan 11 . atau mengantuk. Untuk memijat perut. muka. Untuk menciptakan suasana tenang. Lewat kontak pandang. Bila bayi menangis. Atau. Kalau tangisnya makin keras. Anda bisa belajar mengenali reaksi anak dan bisa mengamati penerimaan kegiatan memijat ini oleh anak. 5. 11. 8. Telapak kaki diurut dengan kedua ibu jari. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. memijat. tangan. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. ada baiknya sambil bersenandung atau memutar lagu lembut. Selama pemijatan. Pemijatan dimulai dari kaki. Atau. 6. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi. gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki. Mungkin bayi minta digendong. telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. membuat lingkaran-lingkaran kecil pada telapak kaki. Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. 7. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. pemijatan sebaiknya dihentikan. dari pangkal paha dengan gerakan memeras.terutama bila bayi sudah mulai menerima pijatan itu. disusui. dan memutar kaki bayi secara lembut. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang.

lalu jari-jari tangan diregangkan seolah membuat gambar burung kecil. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. Kemudian kedua lengan bayi 12 . 13. 16. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari tengah dada ke samping. Cara lain. Pada telapak tangan. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. Selanjutnya. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. Atau. 15. gerakan membentuk huruf "U".12. Atau. kedua tangan melakukan gerakan memeras. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Atau. 14. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. memijat. gerakan membuat gambar jantung besar hingga ke tepi selangka. gerakan seperti membuat gambar jantung kecil di sekitar puting susu. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Ada juga gerakan membuat lingkaran-lingkaran searah jarum jam.

20. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. 13 . gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. juga ke daerah pipi di bawah mata.17. 18. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. Atau. 19. tengah ke samping. membuat lingkaran-lingkaran kecil. dengan gerakan mengusap. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan.

. dengan telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian... Bila bayi menangis.... Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala.. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu.. Urut kedua telapak kaki dengan ibu jari. f... pemijatan sebaiknya dihentikan. l...... Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi.CHECK LIST PIJAT BAYI Nama Mahasiswa : . muka... Kalau tangisnya makin keras... Pemijatan dimulai dari kaki. dari pangkal paha dengan gerakan memeras.. i.. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. NIM No 1.. Selanjutnya... tangan. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. sambil diajak berbicara. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. k. Aspek yang Dinilai Tahap Pre – Interaksi a.. gerakan membentuk huruf "U".. Letakkan handuk untuk menutupi badan bayi b. Atau.. .. Selama pemijatan. pastikan tangan kering dan hangat c... Siapkan alat yang akan digunakan : • Alas kain / kasur / matras • Baby oil / baby lotion • Baju bersih • Handuk b. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi.. j... e. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. Untuk memijat perut. Selanjutnya kedua tangan membuat gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki.... Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. h. Lumuri badan bayi dengan baby oil / baby lotion sesering mungkin sebelum dan selama pemijatan d.. dan memutar kaki bayi secara lembut..... Lepaskan perhiasan pada tangan yang dapat menggores kulit bayi Tahap Orientasi a.. Letakkan bayi pada pangkuan / matras / kasur Tahap Kerja a. Lakukan sentuhan ringan dan lembut. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. : . dari atas ke bawah. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari 14 Nilai 0 1 2 2. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. dan diakhiri pada bagian punggung. m. Rapatkan kedua kaki bayi. Cuci tangan. membuat lingkaranlingkaran kecil pada telapak kaki. bagian dada.. memijat. g. dua tangan bergerak bersamaan.. Ada juga gerakan membuat lingkaranlingkaran searah jarum jam.. 3. c...... Kaji kondisi bayi b.

s. t. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. Tahap Terminasi a. membuat lingkaran-lingkaran kecil.n. q. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. Kemudian kedua lengan bayi dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. 4. o. r. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil.. dengan gerakan mengusap.) 15 . Kedua ibu jari memijat alis mulai dari tengah ke samping. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. kedua tangan melakukan gerakan memeras. p. Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. Atau. juga ke daerah pipi di bawah mata. Kaji respon bayi selama dan setelah dilakukan tindakan b. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Atau. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. tengah dada ke samping. Pada telapak tangan. ……………… Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai : Evaluator. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. (…………………………. Atau. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Pakaikan bayi baju bersih yang telah disiapkan Purwokerto. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. memijat.

Tujuan Memastikan usia gestasi bayi baru lahir. 3. 2. Pengkajian meliputi enam tanda-tanda neuromuskular dan fisik eksternal. 3. Mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. square window. Pada bayi premature dilakukan dalam waktu kurang dari 96 jam. Salah satu metode yang paling sering digunakan tentang penentuan usia gestasi didasarkan pada temuan fisik dan neurologis. Skala Ballard dapat digunakan untuk melakukan pengkajian pada bayi baru lahir usia gestasi 20 minggu. yaitu postur. 1. Untuk bayi dengan usia gestasi kurang dari 26 minggu dapat dilakukan dalam waktu sampai 96 jam setelah kelahiran. 4. Memberikan perawatan yang dibutuhkan oleh bayi sesuai dengan usia gestasinya. Setiap tanda mempunyai skor dan skor kumulatif yang didasarkan dengan rentang skala maturitas gestasi dari 20 sampai dengan 40 minggu. dan tumit sampai telinga. Alat Format pengkajian Ballard Test. 1. sudut popliteal. 2. Indikasi Dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam pada bayi dengan usia gestasi 20 minggu. 1. tanda scarf. tidak ada lanugo (rambut halus di permukaan kulit). 3.PENGKAJIAN USIA GESTASI 1. recoil lengan. jaringan payudara tidak dapat diidentifikasi. kulit transparan lembab. Alat ini mempunyai bagian fisik dan neuromuscular yang mencakup skor -1 dan -2 yang menunjukkan bayi sangat premature. 16 . dan sudut square window (fleksi pergelangan tangan) lebih dari 90 derajat. 2. Pengertian Pengkajian usia gestasi merupakan kriteria penting karena morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) perinatal berhubungan dengan usia gestasi dan berat badan lahir. seperti penyatuan kelopak mata.

5. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. 8. Tonus otot dan derajat fleksi meningkat sesuai maturitas. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. dan pernafasan) Siapkan meja periksa yang telah dialasi dengan kain yang lembut dan bersih. 3. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. Meteran Meja dan lampu periksa.2. Posisikan bayi telentang. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. 4. 6. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. posisikan bayi telentang. tahan selama 5 detik. selimuti dan nyalakan lampu periksa. Setelah bayi tenang. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. 9. 17 . 5. 1. 10. 3. Telapak tangan bayi akan terlihat seperti akan menggengam. 7. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. suhu. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen. Alas dan selimut bayi. Cuci tangan Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. 4. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat. Prosedur Kerja Jelaskan prosedur pada ibu dan keluarga. Observasi letak siku terhadap garis tengah. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Ukur sudut dibelakang lutut. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut (sama dengan sudut popliteal). Letakkan bayi diatas meja periksa. 11. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. 2.

berikan kepada ibu dan keluarga. Selimuti bayi.12. Catat hasil pemeriksaan pada format yang tersedia. 14. 16. 18 . Bereskan alat. 13. 15. Ukur panjang. berat badan dan lingkar kepala bayi. cuci tangan. Tentukan usia gestasi bayi (matur atau premature). Dokumentasikan pada catatan perkembangan bayi.

19 .

20 .

posisikan bayi telentang. b. e. Bereskan alat-alat. Observasi letak siku terhadap garis tengah. dan pernafasan) Tahap Orientasi a. l. Tahap Kerja a. c.. d. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. n. NAMA NIM No 1. Bawa alat-alat dalam baki dan letakkan dekat bayi. g. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah h.. Aspek yang dinilai Tahap Pra-Interaksi a. Tahap Terminasi 21 Nilai 0 1 2 2. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. Letakkan bayi diatas meja periksa. m. Siapkan alat-alat : alasi meja periksa dengan bahan halus dan bersih. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat i. j. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen k. dan pastikan suhu kamar hangat. selimuti dan nyalakan lampu periksa.6. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. 3. o.. q. Posisikan bayi telentang. Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. Cuci tangan perawat. f. Jelaskan prosedur kepada keluarga. b. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. Baca kembali RM bayi. Ukur sudut dibelakang lutut. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. . berat badan dan lingkar kepala bayi. tahan selama 5 detik. 4. berikan privasi. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. suhu. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut p. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. Check List PENGKAJIAN USIA GESTASI (BALLARD TEST) : ………………………… : ………………………. Setelah bayi tenang. b. cuci tangan. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. Ukur panjang.

....... 22 .... …………….. a.... Catat hasil pemeriksaan pada format pengkajian... Evaluator Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75 % dari total nilai tindakan. nadi dan pernafasan serta respon bayi b... Dokumentasikan tanggal dan waktu tindakan. Kontrak untuk pertemuan selanjutnya bila diperlukan Dokumentasi a....... Nilai : Purwokerto...(... tentukan usia gestasi bayi..5....... Observasi suhu.... b...... ...

c. Mau berbicara dengan Perawat. 5. lalu secara bertahap alihkan kepada orang tua atau mainan anak b. 7. Situasi emergensi. Lakukan dengan program bermain. c. 4. d. Membiarkan sentuhan fisiko e. 3. Beri pujian atas penampilan (pakaian) anak atau mainan favorit anak. gunakan ruangan yang terisolasi. Bercerita yang lucu atau bermain magic sederhana. Tinggi badan: Lahir-36 bulan: posisi recumbent 2 tahun-18 tahun : berdiri b. lingkar lengan dan Iingkar kepala. g. mulai dari anak yang paling kooperatif 6. d. Mau dipisah dari orang tua . Jika memungkinkan sediakan ruangan yang sesuai dengan tahap usia. Lebih perhatian kepada orang tua. Berikan pilihan (misal dipangkuan ibu atau diatas meja). Menerima peralatan yang diberikan. e.Jika anak tidak siap : a. Diskusikan hasil pemeriksaan pada keluarga. tinggi badan. Jaga privacy anak terutama anak usia sekolah dan remaja. Minimalkan stimulasi (batasi jumlah orang. Daerah yang sakit. Sediakan mainan. 9. Kaji kesiapan anak : a. b.PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK PEDOMAN: 1.. 2. Hargai dan puji anak atas ker jasama selama periksaan PEMERIKSAAN FISIK I. diperiksa terakhir. b. 8. b. Ruangan dengan dekorasi menarik . Suhu ruangan nyaman . Lakukan pemeriksaan dengan bertahap a. c. Tinggi badan c. Lingkar kepala : 23 . a. Jelaskan setiap tahap dengan bahasa yang sederhana. prinsip ABC dan daerah injury lebih dahulu. Libatkan dalam proses: a. a Lakukan pemeriksaan secepat mungkin. Membina kontak mata. d. Dilakukan pada area yang tidak berbahaya: a. . Libatkan orang tua selama proses f. PENGUKURAN PERTUMBUHAN Terdiri atas berat badan. Mulai dari prosedur yang kurang mengancam. c. Kaji adanya f1engalaman traumatik e. Head to toe b. Ijinkan anak untuk menyentuhperalatan pemerikasaan. dan suara yang lembut. Jika ada beberapa anak. c. Hindari penjelason yang lama tentang prosedur pemerikasaan. boneka . Lingkar lengan d.

Tempratur : oral. interaksi dengan orang too dan perawat. aksilaris dan inguinal is. distribusi dan elastisitas Faktor yang rnempengaruhi : Iingkungan. Penampilan umum. rectal. reaksi terhadap stres. 24 . eritema. kecemasan dan faktor patologik Cara: pada bayi observasi gerakan abdomen dan satu menit penuh d. Adalah penilaian subjektif atas penampilan fisik anak. Denyut nadi : Bayi : denyut apikal Lebih dari 2 tahun : denyut radial Pada bayi hitung satu menit penuh b. kelembaban dan turgor. paralisis ? • Kontrol kepala & posture kepala Usia 4 bulan.- Perlu diukur sampai usia 36 bulan Lokasi : diatas alis mata. Kulit Tekstur. Kelenjar limphe Cara : Lakukan palpasi dengan gerakan melingkar pada lokasi yang biasanya terdapat kelenjar Iimphe. keadaan nutrisi.bayi mampu mengangkat kepala Head lag setelah 6 bulan. demam. kanan) Hambatan ROM: wryneck (torticolitis) Timbul akibat injury otot sternocleidomastoditis Kepala melihat ke satu sisi dan dagu bertitik pada satu point. perkembangan dan bicara Wajah: Meringis : nyeri. f. Area pemeriksaan : subingual. Dilakukan dengan observasi. Perkembangan. genetik dan fisiologis. submaksilaris. aksila Dipengaruhi oleh usia. posisi dan pergerakan tubuh Anak dengan pendengaran yang kurang. postur. indikasi injury serebri • ROM Minta anak untuk melihat (atas. Tekanan darah e. tonsilar. pallor. tampak sakit umum. Postur. Pernapasan: c. h. Variasi warna kulit : sianosis. KEPALA Observosi: • Bentuk & simetris : senyum. petekia dan jaundice g. nyeri : akan memilih satu posisi tertentu Hygene : bau badan. posisi. pinna dan mengelilingi occipital Pada usia 1-2 tahun LK=LD Lakukan interpretasi merujuk pada NCHS. aktivitas. akan memajukan tubuh. tempratur. kesulitan bernapas. PENGUKURAN FISIOlOGIS a. bawah. interaksi dengan orang tua dan perawat dan respon terhadap stimulus. kuku. gigi dan pakaian Behavior: tingkat aktivitas. servikal. kiri. II. tetapi akan lebih akurat dengan menggunakan DDST.

Pertumbuhan bulu mata atas ke bawah beresiko infeksi. Difteri Pelebaran vena di leher : indikasi kesulitan ekspirasi pada astma + cystis fibrosi Palpasi • Masa? • Normal: trachea di tengah. fontanel & pembengkakan Fontanel anterior : 12 -18 bulan Fontanel posterior menutup: 2 bulan i. warna.5 Jarak > besar: Hipertelorisme Hipertelorism: epicantal fold upward Palpebral slant : indikasi pada . misal tumor dan benda asing di paru • Kelenjar tiroid o Di dasar leher o 2 lobus kiri kanan dihubungkan oleh is~mus j. Inspeksi struktur internal menggunakan ophtalmoskop jika anak menggunakan kaca mota.5 . indikasi problem paru-paru. indikasi iritasi meningeal Palpasi Sutura. Jarak antar pupil 4. arah pertumbuhan dan warna.nyeri pada saat flexi. infeksi mulut. agak ke kanan Abnormal: Pergeseran. LEHER Observasi Ukuran: • Normal leher pendek + adanya Iipatan kulit antara leher + kepala + bahu • Abnormal : Leher pendek : sindrome Turner Leher edema : Mumps.Down Syndrome Ptosis? Blinking reflex: Asimetric : paralisis Infrequent : kelemahan otot Bulu mata : distribusi. Inspeksi struktur internal . MATA 1.Epistotonos: hiperextensi kepala dg. dan kejernihan 2.5 Inner chantal distance: 2.5. lepaskan karena akan menyebabkan distorsi gambar kecuali jika kacamata digunakan untuk mengoreksi astigmatis berat dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan ketajaman penglihatan pemeriksaan dilakukan di ruangan redup tetapi tidak perlu digelapkan persiapkan anak: • demonstrasikan penggunaan alat • jelaskan alaSQn peredupan ruangan 25 . Sklera Normal: putih Kuning : jaundice Kornea : normal : transparan dan bersih Iris: ukuran.

Arti: orang lain bisa melihat pada jarak 100 feet.4 bulan. Epichantal fold akan menimbulkan salah persepsi pseudostrabismus 2.5 cm (16 inch) b. normal: jika cahaya jatuh simetris pada setiap pupil abnormal: jika cahaya tidak jatuh pada satu pusat mata. telpon. Penglihatan warna a. • Merupakan standar ketajaman penglihatan Jika hanya bisa membaca pada tine (baris) 2 : ketajaman penglihatannya 20/100. yaitu : test binocularity.30 bulan Simbol: rumah. dengan optalmoskop. Otak akan mensupresi image yang dihasilkan oleh mata. Penglihatan perifer d. Cover test Tutup satu mata b. mobil. kebutaan (Amblyopia) Dua test deteksi malposisi : 1. Ketajaman penglihatan c. bertambahnya alertness. Test ketajaman penglihatan pada infant dan anak yang sukar untuk ditest Berikan sinar pada mata. satu mota deviasi pada satu point. mereka bisa membaca huruf yang besarnya 7 mm . artinya ketajaman penglihatan 20/20 Arti: pada jarak 20 feet. Walau begitu test ini tidak cukup untuk menilai penglihatan anak Test lain yang juga dapat digunakan adalah kernarnpuan bayi untuk 26 . ia hanya bisa melihat pada jarak 20 feet Snellen chart : digunakan pad a anak preschool Untuk anak 2 tahun : Black Bird Vision Screening Vision System • Anak diminta untuk menyebutkan ke arah mana burung akan terbang • Mungkin sulit untuk mengkoordinasikan mata & tangan Faye Symbol Charts 27 .Test Penglihatan Terdiri atas 4 jenis. dst. menolak untuk rnernbuka rnata setelah terkena cahaya. Evaluasi terhadap adanya kontriksi pupil. BINOCULARITY Kemampuan untuk memfiksasi satu lapangan penolong dengan dua mata secara simultan Normal: 3 . penglihatan perifer. Jarak 40. dan penglihatan warna a.Jika dideteksi dalam 4-6 tahun. strabismus. mobil. Test ketajaman penglihatan Yaitu kemampuan untuk melihat benda-benda yang dekat dan jauh Test : Snellen Letter Chart jarak: 20 dari snellen chart lalu membaca setiap huruf yang ada Jika bisa membaca pad a garis ke-7. mengikuti cahaya. binocularity Strabismus. lampunya secara langsung diarahkan ke mata. menutup mata. Binocularity b. Corneal light reflex test (Red reflex gemini = Hirschberg test) a. apel. lama kelamaan menyebabkan kelemahan pada mata. ketajaman penglihatan.

c. Pemeriksaan lapangan pandang Pada anak yang cukup usia dan kooperatif Minta anak untuk melihat satu objek (tangan pemeriksa) yang digerakkan pada 4 quadran penglihatan. Kebersihan telinga 2. TELINGA Terdiri atas inspeksi strukttr interna dan test pendengaran. pucat dengan hijau Deuteranomally: bingung antara abu-abu dengan ungu pucat dan hijau Secara umum. Penglihatan Warna 8 .10% wanita kulit putih. strabismus yang nyata. bayi belum mampu untuk mengikuti suatu berkas • Lakukan pemeriksaan dengan optalmoskop Tanda lain adanya gangguan penglihatan ketidakmampuan untuk mengikuti suatu benda. Inspeksi struksur exterrn Pinna (auricle) Periksa penempatan dan posisi telinga Bagian atas telinga harus melewati garis khayal dari sebelah dalam. nystagmus yang konstan.Kesulitan memilih karir/pendidikan yang berkaitan dengan dengan warna: elektronik. yang paling banyak: protanomaly dan deuteranomally Protanomally: anak tidak bisa membedakan antara warna abu-abu/biru. Inspeksi struktur interna Menggunakan otoskop Observasi: membran timpani. demografi.mengikuti suatu benda • Bisa digunakan wajah pemeriksa. Tetapi adalah sulit untuk melihat bagian mata satu persatu. Sebelum prosedur ijinkan anak untuk mengeskplore perlengkapan. Posisi : tarik telinga ke atas dan ke belakang pada posisi jam 10 atau tarik telinga kebawah dan ke belakang posisi jam 6-9. Adanya masalah pada satu sisi mata. buta warna tidak menimbulkan masalah besar. mungkin merupakan indikasi adanya kerusakan pada ke-2 mata. slow lateral movement. farmasi Test : Ishihara test Hardy-Rard Rittler (HRR) test Yaitu : gambar/huruf yang dibentuk dari berbagai komposisi warnawarna yang membingungkan untuk penderita buta warna k. benda-benda berwarna lain • Jika sampai 3 . mengalami 99 penglihatan warna Ada banyak variasi buta warna.Atau demonstrasikan prosedur terlebih dahulu terhadap 27 .4 bulan. 1. Minta anak mengatakan 'stop' pada saat ia bisa melihat objek/tangan Normal : anak dalam melihat 50% : upward 70% : downward 60'0 : nasalward 90% : temporally Keterbatasan pada area tersebut. mungkin merupakan indikasi adanya kebutaan d. Diperlukan test-test lain untuk meniastikan adanya kebutaan pada bayi. fotografi.

kering atau perdarahan. Simetris  derajat 28 Normal 45 . Bibir: warna. bau mulut indikasi adanya penyakit gusi atau . uvula. Costal Angle Excavatum). discharge. gusi dan palatu lunak dan palatum keras.orang tua. Kaji dinding telinga. 2. tonsil dan oropharing posterior. m.setelah selesai pemeriksaan katakan bahwa mencari gajah tersebut hanya perumpamaan saja. HIDUNG Adakah deviasi ? Simetri ? Minta anak untuk menegadahkan wajahnya soat pemeriksaan. 4. MULUT DAN TENGGOROKAN 1. inflamasi. bengkak. bawah sternum (terdepresi) Gangguan pernapasan c. plaque n.Normal berwarna pink Kaji adanya iritasi pada. Atraumatik Care: Saat akan memeriksa anak. Inspeksi lidah 3. Inspeksi strukstur interna Inspeksi gigi. Apakah ada napas cuping hidung ? Inspeksi struktur internal: mukosa. sternum keluar • Funnel Chest (pectus b. katakan pada anak -soya inginmelihat apakah ada gajah pada telinga kamuH. DADA INSPEKSI a. Inspeksi papila Abnormal: Coated tongue pada candidiasis Protrusion tongue ditemukan pada retardasi mental. Inspeksi mukosa : normal berwarna pink adanya ulserasi dan perdarahan. Bentuk  Bayi : AP = Lateral  Abnormal : • Barrel chest = pyk paru kronik (asma dan cystic fibrosis) • Pigeon breast (pectus carinatum). mukosa hidung akan tampak lebih merah dari mukosa. bagian Ukur antara sternum dan batas tepi iga. Normal.Ucapkan "terima kasihH atas ker jasama anak. l. Gunakan tongue spatel atau minta anak untuk mengatak "ahh”.kebersihan gigi yang kurang. benda asing dan infeksi Test ketajaman pendengaran. kering.

basis anterior sela iga 8 dan basis posterior. penya kit paru < 45 derajat = malnutrisi Normal: e. Nipple •  simetris  skoliosis  Sirnetris  Asimetris: Normal: Gerakan dinnding dada = abdomen  Anak < 67tahun. pernapasan abdomen  Anak) 6-7 tahun.d. Apeks: sela iga 3. Retraksi dinding dada f. minimal di bagian basis 29  Vocal Fremitus . PARU-PARU Normal. Gerakan dinding dada  • Abnormal: > 45 deraja t= barrel chest. sela iga ke 11 INSPEKSI PERNAPASAN  Frekuensi  Ritme  Kedalaman  Kualitas (sulit / spontan) PALPASI :  Excursion Simetris / tidak? Normal : pada napas dalam paru-paru bawah akan berkembang 5-6 cm Rasakan vibrasi yang simetris pada sternum + vetebra Maximal di apex paru. pernapasan dada Normal : pada midcJavicula iga 4-5 o.

asma atau benda asing) Jalan napas besar terobstruksi oleh sekret yang kental. •  Abnormal: • Cracles • Fine Crakles Wheeze Rhonki Bronkhial p. JANTUNG a. INSPEKSI : Penonjolan Indikasi pembesaran jantung Pada anak yang sangat kurus sering ditemui pulsasi Sela iga ke-4 ( < 7 tahun) 30 b.Fremitus menurun: penyakit paru Fremitus tidak ada: obstruksi bronkus pada aspirasi benda asing   PERKUSI :     i Pleural Friction Rub Crepitasi Resonan Dullness Flatness Tympan Pleural Friction Rub dan Crepitasi dapat diperiksa dengan auskultasi dan palpitasi Ditemukan pada semua bagian paru Jantung Hepar Gaster AUSKULT ASI :  Normal : • Vesikuler • Bronkovesikuler Terdengar pada seluruh bagian paru kecuali intrascapular dan manubrium Inspirasi > ekspirasi Terdengar di manubrium dan upper intrascapular. pada trachea & bifurcatio bronkhus Inspirasi = ekspirasi Hanya pada trachea dan suprasternal Inspirasi < ekspirasi Karena adanya cairan pada jalan napas besar Karena adanya cairan pada jalan napas kecil Penyembpitan jalan napas (tumor. PALPASI  PMI (Point of .

AUSKULT ASI :  Bunyi jantung : • S1 • S2 • S3 • S4 Penutupan katup mitral dan trikuspidal Penutupan katup pulmonal dan aorta Normal terdengar pada anak-anak dan dewasa muda Abnormal q. Capilary refill Sela iga ke-5 ( > 7 tahun) Palpasi paling kuat saat ekspirasi   Indiksi sirkulasi perifer Normal kurang dari 2 detik.Maximum) Thrills Vibrasi yang disebabkan karena aliran darah pada satu bagian memalu bagian yang menyempit atau terbuka secara abnormal. ABDOMEN a.   AUSKULTASI Peristaltik PERKUSI Tympani Flattnes Setiap 10 – 30 detik Gaster Hepar d. INPEKSI  Asites  Tumor  Organomegali  Umbilicus : hernia. PALPASI : Mulai dari distal ke proksimal  Hepar Normal teraba pada bayi dan young children Ukuran 1-2 cm Hepatomegali jika lebih dari 3 cm Hepar akan turun saat inspirasi. c. hati-hati 31 . hygene  Hernia inguinalis  Hernia femoralis b. c.

Laki-laki :  Glans  Meatu s uretra  Skrotu m  Testis 2. GENITAL 1. ANUS 1. finger 4. Dimple + rambut (pilonidal cyst) 3. Polip Hemoroid Femosis Hipospadi Hernia inguinalis. 2. EKSTREMITAS 1. Perempuan :  Klitoris  Lesi  Vagina  Labio mayora  Labio minora  Orificium uretra s. hidrochele Cryptochohidism t. 2. 7. 6.5 cm 32 . 5.dalam interpretasi  Spleen Ginjal Blader Caecum Nadi femoralis Normal pada bayi dan young child Spleenomegali > 2 cm    r. Mobilitas sefik u. Tulang belakang asimetris (depan. belakang. 3. Scoliosis 2. samping) Spina bifida Iritasi CNS Simetris Jari Clubing Sianosis Temperatur Bentuk Bowleg Polidaktili Gangguan sirkulasi Jarak tibia > 5 cm Biasa pada toddler saat belajar jalan Jarak maleoli > 7. TULANG BELAKANG 1.

ROM Tonus otot Refleks Knock knee Normal pada usia 2 – 7 tahun Hilang setelah 1 tahun Indikasi lesi spinal cord 33 .(Genu varum) 8. ( Genu valgum) 9. Babinski 10. 11.

Dada 11. frekuensi pernafasan. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 5) Siapkan lembar pemeriksaan fisik anak yang akan digunakan 6) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 7) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. Punggung 15. TB/BB ( persentil ) 4. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 4) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 5) Jelaskan prosedur pemeriksaan. 3. lakukan pendekatan pada anak. dekatkan pada pemeriksa. Jantung 12. Keadaan umum : kesadaran. Mulut 8. : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 3) Siapkan alat yang akan digunakan. Hidung 7. Ekstrimitas 17. Tengkuk 10. Mata 6. postur tubuh (kurus/gemuk) kelemahan 2. Telinga 9. Perut 14.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK Nama NPM No 1. 4. Kulit 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 4) Observasi perubahan perilaku anak 5) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 6) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan 34 Nilai 1 2 2. meliputi aspek: 1. 4) Pastikan ruangan hangat. Tanda vital: suhu. Genitalia 16. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 6) Berikan privasi. nadi. tekanan darah 3. . Lingkar Kepala 5. Paru-paru 13.

Nilai: Purwokerto. ……… Evaluator.) 35 . waktu.5. dan nama pemeriksa (tanda tangan). Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. Dokumentasi 3) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 4) Catat tanggal.

ossilometric (jika ada). pola fungsional organ tubuh) 4. jam dengan detikan 36 . 2. Sedangkan bayi adalah individu yang berusia 40 hari sampai dengan 1 tahun. pena. Alat yang digunakan Stestoskop. 3. termometer aksila. Setiap bayi baru lahir perlu diperiksa / dikaji secara cermat pada seluruh sistem tubuhnya. pengukur panjang badan badan. Pengertian Neonatus adalah organisme yang sedang berada pada periode adaptasi kehidypan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Masa neonatal adalah periode selama 1 bulan atau lebih tepatnya 4 minggu = 28 hari setelah lahir. perawat. penlight. antara lain: 1) Penilaian APGAR 2) Pengkajian usia gestasi dan maturitas fisik 3) Pemeriksaan reflex primitive 4) Pengukuran antropometri 5) Pemeriksaan fisik (tanda vital.PEMERIKSAAN FISIK NEONATUS/BAYI 1. Cara Pemeriksaan Ada beberapa pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada neonates / bayi. buku catatan. dan tenaga kesehatan lainnya untuk secara berkesinambungan mengkaji adanya perubahan atau gejala suatu penyakit pada neonatus. timbangan. Tujuan Merupakan tugas para tenaga kesehatan yaitu medis. sarung tangan (k/p).

2) 3. pengukur panjang badan badan. cekung) 2. Persiapan alat Stestoskop. 0 Dilakukan 1 2 37 . menonjol. LD. hidung (bilateral. menghisap. Cuci tangan b. Amati adanya kaput succedanum dan cephalhematome d. Buka baju bayi. langkah prosedur. Ukur PB. B. Menjelaskan tujuan pemeriksaan. Paru-paru 1. memperkenalkan diri. menjelaskan tugas perawat. amati suara nafas (kanan dan kiri sama atau tidak. NPM : ……………. Periksa kondisi umum (rewel. pernafasan. 5. Menjamin privasi C. suhu) 4. tegas. Periksa Keadaan Umum 1. Menyapa. ossilometric (jika ada). Kaji reflek (moro. Mata Kaji mata apakah bersih atau ada sekresi. Palpasi klavikula (normal/abnormal) g. THT 1. tenang. warna kulit) 2. Memberikan kesempatan anak/orangtua untuk bertanya d. buku catatan. LK. LP. Kaji sutura sagitalis (tepat. Kaji kesadaran bayi (sadar penuh.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK BAYI/NEONATUS Nama Mahasiswa : ……………. Kaji keaktifan dan tangisan bayi d. penlight. Amati respirasi dan hitung frekuensinya. cuping hidung) 3. jam dengan detikan. Amati kesimetrisan toraks 2. Amati kesimetrisan wajah 4. 1. termometer aksila. BB. amati adanya retraksi (derajat 0. Kaji tanda-tanda vital (nadi. b. Toraks 1. letargis) 3. apakah bunyi nafas terdengar disemua lapang paru atau menurun. adakah suara nafas tambahan). No Aspek yang dinilai . Mencuci tangan. b. pena. obstruksi. Fase Kerja a. terpisah atau menjauh) 3. Periksa bagian kepala 1. A. palatum (normal. 2. e. c. Auskultasi paru. timbangan. kaji telinga (normal/ abnormal) 2. kaji fontanela anterior (lunak. Tahap Persiapan a. mengenggam) 6. sarung tangan (k/p). waktu (pada orangtua) c. abnormal) f. lemah. datar. Orientasi a.

ujung meatus uretra (cek hipo/epispadia). D Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. datar) 2. minora. Dokumentasikan hasil pemeriksaan Nilai: Purwokerto. kaji adanya thriil 4. auskutasi suaran jantung (apakah bunyi normal sinus rytm (NSR). kaji apakah gerakan bebas 2. catat adanya kelainan. Genetalia Pada wanita: amati labia mayora. meatus uretra. klitoris. kaji apakah testis sudah turun. ……… Evaluator. perkusi abdomen (kembung. kaji adanya mottled (mengindikasikan terpapar suhu dingin) 2. Abdomen 1. palpasi abdomen (supel atau keras) 4. ada tidaknya atresia ani. palpasi hati (kurang atau lebih dari 2 cm) j. C. amati iktus kordis 2. Pada pria: Kaji ukuran penis.h. hitung frekuensinya i. palpasi point maximal impuls 3. m. Evaluasi respon anak dan sampaikan hasil kesimpulan pemeriksaan kepada orangtua. Anus kaji kepatenan anus. kaji warna kulit. liang vagina. kaji turgor Fase Terminasi a. Jantung 1. Ekstremitas 1.) 38 .Umbilikus Kaji adanya peradangan atau hernia umbilikalis k. auskultasi bising usus 3. kaji peradangan n. hipertimpani) 3. kaji adanya kelainan dinding abdomen (tegas. sekret. Kulit 1. Dokumentasi a. kaji kesimetrisan gerakan ekstremitas atas dan bawah k.

PULVIS/SERBUK TABUR = tidak terbagi-bagi Serbuk ringan untuk penggunaan permukaan topikal.PENGENALAN TIPE OBAT A.dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. GAMBAR PULVIS DAN PURVERES 39 . PULVERES = terbagi-bagi Serbuk yang terbagi dalam bobot yang sama. LANGKAH-LANGKAH Untuk memudahkan pembelajaran dan pencapaian tujuan. Menyebutkan keuntungan dan kerugian masing-masing tipe obat E. SASARAN PEMBELAJARAN Dalam pembelajaran ini saudara diharapkan mampu memahami beberapa tipe obat D. Menyebutkan karakteristik masing-masing tipe obat 2. b. Pulvis berdasarkan cara memberikannya ada 2 : a. saudara dianjurkan: 1. B. Menyebutkan fungsi dan kegunaan masing-masing tipe obat 3. Tiap bentuk memiliki tujuan dan kegunaan khusus.kering. Sediaan obat di pasaran dikemas dalam berbagai bentuk. Mempelajari karakteristik masing-masing tipe obat 2. Syarat : halus.dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. SASARAN KHUSUS Setelah mempelajari buku ini saudara diharapkan mampu : 1.ditujukan untuk pemakaian oral/untuk pemakaian luar (topikal). PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk membantu saudara mempelajari berbagai tipe obat secara mandiri. MATERI 1.homogogen. Mempelajari fungsi atau kegunaan masing-masing tipe obat C. PULVIS DAN PURVERES Serbuk adalah campuran kering bahan obat/zat kimia yang dihaluskan.

Lebih cepat di absorbsi d. Keuntungan bentuk sediaan serbuk : a. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. Berdasarkan konsistensi cangkang kapsul 1) Kapsul kerasà terbuat dari gelatin berkekuatan gel relatif tinggi. Obat-obatan yang rusak oleh udara tidak boleh diberikan dalam bentuk serbuk. Pada penyimpanan kadang terjadi lembab atau basah. kertas selofan dll. Kerugian bentuk serbuk : a. seperti garam-garam fero (mudah teroksidasi) menjadi garam feri. amis dan lain – lain) e.Pengemas : kertas perkamen. 2. GRANUL:Sediaan bentuk padat. Cara penggunaan . atau dari pati. kertas yang dilapisi parafin. dapat dicampur dengan air minum untuk oral. sepet. dilarutkan/disuspensikan dulu dalam air /pelarut yang sesuai dengan volume tertentu. Digunakan untuk : anak – anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. menurut petunjuk dalam brosur yang disediakan. Tidak tertutupinya rasa dan bau yang tidak enak (pahit. Diharapkan lebih stabil dibandingkan dengan sediaan cair c. c. CAPSULAE=KAPSUL Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak. Cara penggunaan: Sebelum diminum. Memberikan kebebasan pada dokter untuk pemilihan obat/kombinasi obat dan dosisnya f. Penyebaran obat lebih luas dan lebih cepat daripada sediaan kompak (tablet dan kapsul) b. Tidak tepat untuk obat yang tidak enak rasanya. Cangkang kapsul mengandung: • Zat warnaà berbagai oksida besi • Bahan opak/pemburamàTiO2 • Bahan pendispersi • Pengawet 2) Kapsul lunakà skala besar Cangkang kapsul mengandung : • Pewarna • Bahan opak/pemburam • Pengharum • Pengawet • Sukrosa 5% sebagai pemanis 40 . Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. lengket di lidah. Macam kapsul: a. Membutuhkan waktu dalam meraciknya. Untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan obat.sebaiknya diberikan dalam bentuk “coated tablet” b. Jumlah volume obat yang tidak praktis /sukar dapat diberikan dalam bentuk pulvis e. d. berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 μm dengan atau tanpa vehikulum.

CaCl2)à larutan pekat dapat mengiritasi lambung  Tidak dapat digunakan untuk bahan eflorescen (ada air kristalnya) dan delikuesen (menyerap air sampai menjadi larutan) 3. Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik. Bentuk tablet: Pipih. krn dosis dan kombinasi obat bisa disesuaikan  Dapat dibuat sediaan cair jika diinginkan dengan konsentrasi tertentu  Dapat utk sediaan lepas lambat Kerugian:  Tidak sesuai untuk bahan obat yang mudah larut (KCl. steroid hormon 41 . trochisi  Tablet sublingual à ISDN.BO cair BENTUK CANGKANG KAPSUL Keuntungan:  Menutupi rasa dan bau bahan obat yang kurang enak  Memudahkan penggunaannya dibanding serbuk  Mempercepat penyerapannya dibanding pil dan tablet  Kapsul gelatin keras cocok untuk peracikan. tablet hipodermik Cara penggunaan  Tablet kunyah à lozenge.BO padat .BO setengah padat . NH4Br. KBr. COMPRESSI=TABLET Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan. Cembung Jenis : • Compressed tablet: large scale production à dies under pressure (tons) • Molded tablet: manual forcing. Cara pemakaiannya • Per rektal • Per vaginal • Peroral • Topikal Bahan yang dapat diformulasi dalam bentuk kapsul : .• Penyalut enterik b.

mekanik. Anak kecil: belum tentu suka dan sulit memakannya (ukurannya besar) MACAM. antibiotik  Tablet sisip atau pellet (dimasukkan implantasi dibawah kulit) à hormon gonad  Tablet hipodermik (dilarutkan dalam air steril dan diinjeksikan dibawah lidah) à dinitrat material Keuntungan: 1. Bebrapa jenis obat tidak dapat di kempa menjadi padat dan kompak. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia. Obat yang sukar di basahkan. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET 42 . dosisinya cukup tinggi. absorbs optimumnya terlalu tinggi melalui saluran cerna. Tablet merupakan sediaan yang mudah dan murah untukdikemas dan dikirim 4. Tablet merupakan sediaan yang ongkos pembuatannya paling murah 3. lambat larut. dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. 3. Tablet bukal (dimasukkan diantara pipi dan gusi di dalam rongga mulut) à hormon  Tablet effervescent à (Na-karbonat) vitamin  Tablet hisap atau trochisci à antiseptik. Tablet merupakan sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua sediaan bentuk oral untuk ketepatan ukuran dan variabilitas kandungan yang paling rendah 2. 2. Kerugian: 1.

Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. maka supositoria akan masuk dengan sendirinya. tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. dapat melunak. 2. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila yang bagian besar masuk melalui otot penutup dubur. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1. Ovula supaya disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. seperti pasien yang mudah muntah. Bentuknya ramping seperti pensil. mudah melemah (lembek) dan meleleh pada suhu tubuh. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao.4. melarut atau meleleh pada suhu tubuh.0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. SUPPOSITORIA. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai “pessarium”. Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. baik dalam rectum maupun vagina atau uretra. dan infeksi. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram. berbentuk torpedo.6 mm dengan panjang ± 140 mm. seperti pada penyakit hemoroid. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5. walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan 43 . Polietilengli-kol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin. Supositoria dipakai untuk pengobatan local. Juga secara rectal digunakan untuk distribusi sistemik. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. OVULAE Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru. Ovula adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk telur. karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum dan ini digunakan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan. Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3. gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita. Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi: 1. 3. Bahan dasar yang digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao).torpedo atau jari-jari kecil.5 inchi).

5. CREMOR. BENTUK SUPOSITORIA DAN OVULAE Keuntungan: 1. pasta. bila dipakaikan pada kulit akan melunakkan dan membentuk lapisan penutup pada permukaan kulit. Bahan obat larut/terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan. Macamnya : unguenta. 4. biasanya mengandung obat untuk pemakaian pada kulit atau pada membran mukosa. Krim : Jenis salep yang dapat dicuci. Untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir.cerata. biasanya 32 mm.beratnya ½ dari ukuran untuk pria. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan 3. panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram. oculenta. jeli. bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. biasanya digunakan pada daerah yang teriritasi atau tempat yang sensitif. memiliki konsistensi yang lebih lunak dan mengkilat. PASTA. Namun. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat member efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral. Sediaan salep bervariasi dalam komposisi. Tidak menyenangkan penggunaan 2. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung 2. Baik. keduanya berbentuk sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil. Unguenta : mengandung relatif lebih sedikit bahan dan perbedaan pokok dengan yang lainnya pada konsistensi. b. konsistensi dan tujuan penggunaannya. 4. Berbentuk emulsi minyak 44 . mengandung satu/ > bahan obat. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Beberapa variasi dari prototipe salep banyak digunakan dalam praktek peresepan dan dibedakan dengan namanya. bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya. krim. CERATA. JELLY Salep (unguenta/ointment) : Bentuk sediaan yang lunak. tidak bergerak dan tergolong sediaan semi padat. Macam sediaan salep: a. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan. Kerugian: 1. UNGUENTUM. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”.

bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. Bahan dasar salep. tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum. digunakan pada membran mukosa dan untuk tujuan pelicin atau sebagai basis bahan obat. biasanya tidak meleleh pada suhu tubuh. Vaselin Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. f. asam-asam lemak atau alcohol. mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical. Fungsi Salep :  Dasar salep atau pembawa substansi obat untuk penggunaan pada kulit (topikal)  Pelumas pada kulit  Pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit dengan rangsang kulit SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun.c. dan umumnya adalah campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik leleh rendah. Pasta : mengandung zat padat dalam persentase tinggi. hampir cair. titik lebur tinggi. membentuk dan mempertahankan lapisan pelindung pada area yang diaplikasikan. mudah dibersihkan. mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %. mengandung sedikit atau tanpa malam. mengandung sedikit/tidak lilin. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. biasanya terdiri dari ampuran sederhana lemak dengan titik leleh rendah dan minyak. mengandung malam dalam persentase tinggi. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok.50 % Beberapa keuntungan bentuk sediaan pasta:  Mengikat cairan sekret lebih baik dari unguentum  Lebih melekat pada kulit Cerata : Salep berlemak. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. popular digunakan pada bidang dermatologi. dalam air atau dispersi mikrokristal. d. digunakan pada membran mukosa. 45 .3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang Oculenta ( ungentum ophtalmicae) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. konsistensi lebih kenyal dari unguentum. e. Jeli : Salep yang sangat tipis. gum atau bahan pensuspensi sebagai basis. jernih & tembus cahaya yang engandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut _lebih encer dari salep. berantai panjang dalam air. h. untuk tujuan melicinkan dan sebagai basis obat. g. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap. bersifat kaku. dapat dicuci karena mengandung mucilago.

Apabila menyebut solutio. misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. MIXTURAE. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Sifat-sifat: o Homogen o Dosis dapat diubah-ubah o Cocok untuk anak-anak. maka omset juga cepat o Dapat diberikan dalam larutan yang encer. manula dan untuk penderita yang sukar menelan. o Absorpsi obatnya cepat. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. ELIXIRA BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR a. SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya. o Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. tingtur dan air. o Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). SOLUTIONES. o Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. 46 . 2) LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) o Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. 1) LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus.6. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal.

glycerinum. Mudah ditelan dibandingkan dengan tablet atau kapsul 2. Contoh: Bisovon eliksir.Namun. analgetika lokal atau adstringentia. zat pewarna. dan saccharinum. Contoh: Betadingargle & mouthwash. dan yang tertinggi dapat mencapai 44%. lalu dikumur-kumur.SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. pengawet dan pewarna. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. 4. Mengandung bahan mudah menguap. Contoh: Effisol liquid. 5. Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. misal sakit hepar. Sifat-sifat: 1) Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2) Dibanding dengan sediaan sirup. Kadar alkohol berkisar antara 1012%. 47 .Umumnya konsentrasinya 5-10%. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak. Zat aktif yang sukar larut dalam air dan larut dalam alkohol perlu kadar alkohol yang lebih besar. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. ada eliksir yang menggunakan alkohol 3% saja. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. d. namun terkadang digunakan sorbitol. c. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. tidak boleh ditelan. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. kemudian dikumur-kumur sampai pharing.Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan.Pemanis yang biasa digunakan gula atau sirup gula. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. Eliksir bersifat hidroalkohol. e. b. antiseptika. Rasanya enak 3. tetapi biasanya sekitar5-15%. Kadar Alkohol antara 3-75%. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. zat pewangi dan zat perasa. Batugin eliksir. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. eliksir kurang manis dan kurang kental. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. perasa (flavorong agent). maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol. 3) Berhubung mengandung alkohol. sehingga harus disimpan dalam botol kedap dan jauh dari sumber api. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. tidak ditelan. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR 1.

Mylanta. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik .  Sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. EMULSA (EMULSI) 48 . Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. 2.  Tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. pewarna. anak-anak dan manula. Contoh suspensi oral:Gelusil. benzalkonium klorida. f. GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. Sirup thymi. tragakant. Tidak berwarna. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. biasanya 10%. pemanis. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: 1.Contoh : panadol sirup. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. sering disebut sirup putih. 3. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. Sifat-sifat:  Cocok untuk penderita yang sukar menelan. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. kecuali bahan pelarut. Liquor Faberi (FMI). Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. tragakant. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. Ada 4 macam sediaan sirup: 1. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. dan bahan lainnya. glukosa/sakarosa 64%. Contoh. rasanya lebih enak. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant).Sifat. Sirup obat. Sirup Simpleks. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair.  Pada umumnya ditambah pemanis. Polycrol gel 2. perasa. Homogen 2. stabilisator.sifat sirup: 1. Sirup kering.perasa( flavoring agent)  Kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. tidak beraroma. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. b. 4. Contoh. sehingga cepat mengendap.

Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A 3.Emulsi adalah sistem dua fase. Konsisten emulsi sangat beragam. dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. atau suspensi. antiseptika. GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). sehingga aturan pakai tepat. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. Contoh: Triaminic drops 2. Topikal: mudah dibersihkan. emulsi eliksir. penetrasi/absopsi lebih baik 3. propil dan butil paraben. pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). kortikosteroid. analgetika. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). dan zat uuntuk irigasi. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. sehingga cocok untuk bayi dan balita.05 ml). Tujuan penggunaan BSO emulsi : 1. Perhatikan kemasan pada bobotnya. dan senyawa amonium kuartener. asam benzoat. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. dll). Guttae auriculares (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. memperpanjang efek. Contoh: effisol liquid. lokal anastesik. analgetika-antipiretika. pewarna. Contoh obat dalam: Scott Emulsion. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. lokal anastetik. memperbaiki rasa dan aroma 2. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu.5 mg (1 tetes baku= 0. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar. 2. Sifat-sifat: 1. 3. topikal maupun injeksi. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. 2. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. perasa. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. 3. Pada umumnya ditambah pemanis. Oral : memperbaiki absorbsi. sirup. Sifat-sifat: 49 . Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. Volume pemberian kecil. Kerugian BSO emulsi : 1. Macam –macam Guttae: 1. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. Guttae oris Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. Guttae oral Obat tetes untuk oral. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. jadi 1 ml= 20 tetes. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang).5 mg dan 52. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. etil. vitamin dan antitusif. Parenteral : memperbaiki absorpsi .

infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. Steril 2. antimikroba. Guttae opthalmicae (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. antiinflamasi. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok.0) 4. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. Isohidris 4. Guttae nasales (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. midriatika. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk 50 . Cairan pembawa umumnya digunakan air.5-7. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. PH sebaiknya antara 5.5 % BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. Sifat-sifat: 1. Apabila bentuk sediaan suspensi. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. pengawet. heksilen glikol dan minyak nabati. gliserol. Contoh: iliadin 0. anastetika. lokal anastesik. dan antiseptika. Isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3.025% . Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. c. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). b) PH sebaiknya asam (5. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. diagnostika.0-6. miotika dan zat irigasi. 5. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. digunakan sejumlah yang tertera: Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. Kecuali dinyatakan lain. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol.5 bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan.5 bagian Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0.a) Bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga.

Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1) Pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2) Pelarut bukan air: 3) Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. untuk dosis tunggal. Contoh: inj Vit C. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. Penicilin oil. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. INJECTIONES (INJEKSI. dll. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. gliserin. inj. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot. Inj Cortison Acetat suspensi 3) Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. inj valium. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) 5) Cairan intravena ( infundabilia : infus i. Contoh : inj. Dextrose. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. Penicilin G Sodium 4) Kristal steril. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Bukan minyak : alkohol. 6. minyak zaitun ( Ol olivarum). Ringer lactat.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie). minyak wijen ( Ol sesami). sebelum disuntikkan.Arachidis). Berdasarkan bentuk sediaan: 1) Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. misalnya minyak kacang (Ol. parafin liq. Streptomycin sulfat. an-cooperatif. propilen-glikol. emulsi. Contoh: inj. Diberikan untuk penderita yang sakit keras. 2) Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. d. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. inj. koma. Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. Inj luminal.yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. 51 . Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati.

mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. e. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. Pada aerosol inhalasi. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. 5. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. ataupun rusak karena kelembaban udara. Vaksin dibuat dari bakteria. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk 52 . Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing. Harganya mahal 2. 2. seperti pada asma bronkiale. 3. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. suspensi. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. b. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. tidak boleh digunakan secara parenteral. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. venin. mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan.Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. d. c. ukuran partikel obat harus dikontrol dan terukur. Pemakaiannya secara topikal. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan.

memperoleh efek lokal atau sistemik. Sifat-sifatnya :  Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. Contoh: Alupent aerosol. 53 . Contoh: Vicks Inhaler. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). Contoh : Baby Lo 2. LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi.  Apabila pelarutnya minyak. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya.  Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya. SEDIAAN CAIR LAIN : 1. Contoh: Bricasma inhaler. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. Sifat-sifatnya :  Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. yang karena bertekanan uap tinggi. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek.

The Art Of Compounding. Dawn. pengaroma dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak.  Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ELIXIR DAFTAR PUSTAKA Cox. Chicago: Pharmaceutical Press. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. KERUGIAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN:  Volume bentuk larutan lebih besar  Ada obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan.  Dapat diberikan dalam bentuk larutan yang encer. 54 . Christopher A And Belcher. 9th Edition. 2008. sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production And Processes.  Mudah diberi pemanis. Pharmaceutical Compounding And Dispensing. 1957. Langley. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) KEUNTUNGAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN  Merupakan campuran homogen  Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatannya. 2008.  Untuk pemakaian luar bentuk larutan mudah digunakan.  Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat terabsorpsi. Shayne. Jenkins. New York: Mcgraw-hill. Glenn L Et Al. Canada: John Wiley & Sons.

maka perawat perlu mengkonsultasikan kepada dokter. karena akan mengganggu efek dari obat tersebut. tetapi ada juga yang membutuhkan keterampilan untuk menghitung dosis yang dibutuhkan sebelum diberikan kepada pasien. Benar cara Obat diberikan kepada klien sesuai caranya. Jika cara pemberian obat tidak tercantum. Klien juga dilarang untuk menelan atau mengunyah obat. Tipe pemberian obat parenteral meliputi empat cara. untuk itu perawat perlu melihat dosis pemberian obat yang diorderkan dokter di rekam medis klien. klien juga tidak diperbolehkan untuk minum sebelum obat habis. Subcutaneus (SC) Injeksi dilakukan dibawah jaringan dermis b. Macam – macam rute pemberian obat adalah: 1. dilakukan dengan cara meletakan obat dalam bentuk sediaan padat dimukosa membran mulut hingga obat habis. klien juga tidak boleh minum sampai obat habis. Oral Cara pemberian obat melalui oral adalah cara yang paling mudah. efek yang diharapkan serta kondisi fisik dan mental pasien. sehingga siap untuk langsung diberikan kepada klien. Obat yang diberikan melalui sublingual didesian agar dapat diserap setelah obat diletakan dibawah lidah. bisa juga sistemik ke seluruh bagian tubuh. 2.RUTE PEMBERIAN OBAT Mempersiapkan dan memberikan obat ke klien adalah tanggung jawab perawat. yaitu : 1. Dosis yang diberikan untuk klien yang satu bisa jadi berbeda dengan klien yang lain. Obat ini tidak boleh dikunyah. Obat diberikan melalui mulut. Parenteral/Injeksi Pemberian obat melalui parenteral adalah pemberian obat dengan cara menginjeksikan obat dalam bentuk cair ke jaringan tubuh. sehingga sebelum melakukan medikasi seorang perawat harus memperhatikan lprinsip LIMA BENAR. 6. Sedangkan pemberian obat melalui bukal. biasanya cara menggunakan obat terdapat pada label/pembungkus. Intradermal (ID) 55 . 3. murah dan sering digunakan. ditelan dengan minuman/makanan atau dikunyah. Aksi dari obat bisa lokal di mukosa mulut. Benar klien Perawat perlu mengklarifikasi kembali nama dan nomor rekam medis klien sebelum memberikan obat (biasanya terdapat di white board diatas tempat tidur klien) atau dengan bertanya namanya secara langsung kepada klien atau keluarga. Benar Dokumentasi Cara pemberian obat tergantung bentuk sediaan. perawat harus melihat kembali resep dokter yang biasanya ditulis direkam medik klien untuk meyakinkan bahwa obat yang diterima sesuai dengan order. Kemudian perawat juga harus tahu apakah obat diberikan sebelum atau sesudah makan. apakah ada ketentuanya (misal setiap 8 jam dalam satu hari) atau hanya jika dibutuhkan. yaitu : a. Benar dosis Sediaan obat ada yang single doses. Benar obat Ketika obat diterima dari apotek. Benar waktu Perawat harus tahu tentang waktu pemberian obat. 5. 2. Obat jenis ini aksinya lebih lambat dan efeknya lebih panjang. 4.

sehingga seringkali klien mengeluh rasa seperti terbakar setelah diberikan obat tetes mata atau tetes hidung. Topikal Obat diberikan dengan cara mengoleskan di kulit atau membran mukoa dengan efek obat lokal maupun sistemik tergantung jenis obat dan dosisnya. Kepekaan mukosa membran terhadap obat berbeda – beda. Intramuskular (IM) Injeksi dilakukan di otot tubuh d.Injeksi dilakukan didalam lapisan kulit. Pemberian obat melalui mata Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat ditelinga anak 56 . cornea mata dan nasal adalah mukosa yang sensitif. Intravena (IV) Injeksi dilakukan melalui vena 3. tepat dibawah epidermis c.

Spraying (memasukan obat dengan cara menyemprotkan obat ke bagian tubuh tertentu) 57 . Insersi (memasukan obat ke lubang yang ada dalam tubuh. Irrigation (memasukan cairan dengan tujuan untuk membersihkan body cavity) e. Pemberian obat melalui vagina Pemberian obat melalui rektum Berbagai metode pemberian obat melalui mukosa : a. misal obat pencahar melalui rektal) c. Memberikan obat cair secara langsung.Pemberian obat di telinga orang dewasa Pengobatan pada mokosa rektal atau vagina biasanya lebih tidak iritatif jika dibandingkan dengan pengobatan di mukosa mata dan hidung. Instillation (memasukan cairan secara perlahan pada body cavity) d. misal obat tetes mata b.

Pemberi an obat menggunakan inhaler Memberikan Obat Oral Nama Mahasiswa : Tanggal : No 1 . Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. 3 . Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 58 Nilai 1 2 2 . tempat obat. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat Tahap Pra Interaksi 1. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Cuci tangan 3. Jelaskan tujuan. obat. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. alas. Cek rekam medis klien. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. operasi gastrointestinal. Siapkan alat-alat : Baki obat. Pengobatan melalui inhalasi dapat memberikan efek lokal maupun sistemik. Memulai tindakan dengan cara yang baik Tahap Kerja 1. Inhalasi Inhalasi adalah salah satu metode pemberian obat dengan cara memasukan obat melalui saluran pernafasan. penurunan peristaltik. muntah. mual.4. Keterampilan 0 Tahap Orientasi 1. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. air minum 4. Hal ini disebabkan pada saluran pernafasan bawah terdapat area permukaan yang luas untuk absorpsi abat. inflamasi saluran cerna. Berikan salam. . baca juga kondisi klien yang berhubungan dengan kesulitan menelan. biasanya dalam bentuk gas yang lembab. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. 2. karena terdapat hubungan antara alveoli dan kapiler.

Pasang alas dibawah dagu klien 4. Siapkan alat-alat : kartu obat.. waktu pemberian. Melepas alas e.. jumlah tetesan. waktu... minta klien untuk membuka mulut dan meletakan obat dibawah lidah.. c. Cuci tangan Dokumentasi Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. 1. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan Memberikan Obat Mata (Cair dan Salep) Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Tawarkan kepada klien segelas air untuk membantu menelan obat b. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat.. 1. washlap. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. sarung tangan. nama obat. dan obat dalam kemasan. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. 5 . 2. Berikan salam... Beri reinforcement positif pada klien 3... Jelaskan tujuan. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. Mencuci tangan Tahap Terminasi 1.. Membereskan peralatan g.. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3.. alas. Membantu klien untuk kembali ke posisi yang nyaman f. mata kanan/kiri 2. minta klien untuk membuka mulutnya d. jika belum yakin. baca nama klien. waskom berisi air hangat. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Cuci tangan 3.. Cek rekam medis klien. . tissue. Jika obat sublingual.4 . minta klien membuka mulut dan meletakan obat diantara gigi dan pipi klien Perawat tetap bersama klien hingga yakin obat telah diminum. konsentrasi. Jika obat bukal. Bantu klien pada posisi side lying 3. 2 Tahap Pra Interaksi .. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.. Berikan obat kepada klien a. dosis. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4.. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 59 .

.5.. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. Lepas sarung tangan kemudian mencuci tangan 4 Tahap Terminasi . 1. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . oleskan pada konjungtiva secukupnya. Minta klien untuk melihat ke atas 8. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan mata bagian bawah 7. Posisikan klien supine 4. kemudian oleskan pada garis mata bagian atas 11. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. kemudian bersihkan daerah sekitar mata dari arah dalam ke luar a. 1. Bersihkan daerah sekitar mata dari obat 12.. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.. waktu pemberian.. Beri reinforcement positif pada klien 3.. Ambil obat mata. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. kemudian teteskan obat di konjungtiva.. atau tetesan tidak tepat di mata. Ambil salep mata. salep mata 6.. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat.. ambil washlap yang dibasahi air hangat. Membereskan peralatan 13.. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. Jika klien menutup mata. ulangi sekali lagi 10.. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 60 . jumlah tetesan sesuai order 9. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Minta klien untuk menutup mata perlahan b. Obat tetes mata 6. mata kanan/kiri. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5 Dokumentasi . Pasang alas di bawah dagu klien 3.... Minta klien melihat ke arah atas 8. jumlah tetesan. Jika pada mata terdapat kotoran.. Kaji kondisi mata 5. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan bagian bawah mata 7...

Jelaskan tujuan. sarung tangan 4. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. cek nama klien. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Cuci tangan 3. Berikan salam.Memberikan Obat Tetes Telinga Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . sehingga telinga yang 61 . Siapkan alat-alat : kartu obat. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 2. cotton ball. jumlah tetesan. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. 1. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Bantu klien pada posisi side lying miring. nama ibat. Cek rekam medis klien. cotton tipped apllicator. telinga kanan/kiri. 1. tissue. konsentrasi. waktu pemberian. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. 1. botol obat.

Kaji bagian luar telinga etelah dilakukan pengobatan 12. respon klien) Observasi klien 30 menit setelah pemberian obat.. 4. 62 ... segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. Beri reinforcement positif pada klien 3.. bersihkan terlebih dahulu Gunakan sarung tangan Bersihkan lubang telinga dari serumen Berikan obat kepada klien : a... dosis. Buka lubang telinga dengan menarik auricula ke arah bawah dan belakang (anak) dan kearah atas untuk orang dewasa b. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 10.. 6.. 5. Lakukan massase yang lembut pada daerah tragus telinga f.. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. 1.. 7. Ambil cotton ball setelah 15 menit 9. letakan cotton ball di lubang telinga (jangan memasukan terlalu dalam) g. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Bantu klien pada posis yang nyaman 11.. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. waktu pemberian.. Cuci tangan 5 Dokumentasi .. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 8. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas lubang telinga c. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. Minta klien tetap dalam posisi side-lying selama 2 – 3 menit e. Teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dengan order dokter d... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 3.akan diberi obat terletak diatas Pasang alas dibawah dagu klien Kaji kondisi telinga eksternal dan lubang telinga Jika terdapat serumen... jika ada tanda intoksikasi obat. Jika dibutuhkan.

Memberikan Obat Tetes Hidung Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama ibat, konsentrasi, waktu pemberian, jumlah tetesan, hidung kanan/kiri. 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, botol obat, bantal kecil, washlap 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencuci tangan dan menggunakn sarung tangan 2. Inspeksi kondisi eksternal hidung dan sinus 3. Minta klien untuk menghembuskan napas (jika tidak ada kontraindikasi) 63

4. Bantu klien pada posisi supine a. Posterior pharynx  tarik kepala kebelakang b. Ethmoid/Sphenoid sinus  tarik kepala kebelakang atau letakan bantal kecil dibawah dagu c. Frontal/Maxillary sinus  tarik kepala klien kebelakang, kemudian miringkan, letakan bantal kecil dibelakang kepala untuk menahan dari belakang dan satu tangan perawat menahan dari depan 5. Berikan obat kepada klien : a. Minta klien untuk bernafas melalui mulut b. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas hidung c. Teteskan obat denagn jumlah tetesan sesuai order dokter 6. Pertahankan posisi klien selama 5 menit 7. Bersihakan derahsekitar hidung, jika ada obat yang menetes 8. Bantu klien ke posisi yang nyaman 9. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 10. Kaji bagian luar hidung etelah dilakukan pengobatan 11. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 6. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 7. Beri reinforcement positif pada klien 8. Kontrak pertemuan selanjutnya 9. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 10. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat, dosis, waktu pemberian, respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat, jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat, segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto,.................. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan

64

Memberikan Obat Rectal Suppositoria Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama obat, bentuk obat, cara dan waktu pemberian,riwayat operasi/perdarahan di rectum, 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, lubricating jelly, obat, tissue, sarung tangan 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Jaga privacy klien 7. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 65

Jika klien tidak bisa BAB sendiri.. jelaskan klien sebentar lagi akan merasa ingin BAB. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 12. Jika sarung tangan kotor. Bantu klien pada posisi yang nyaman 16.... masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 10 cm (dewasa) dan 5 cm (anak dan infant) 9.. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 2. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 11. maka perawat mmbantu klien melakukan BAB 14. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 15.. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. 7.. Jika obat adalah laxatif. Bersihkan area sekitar anus dengan menggunakan tissue 10... ganti dengan sarung tangan yang bersih Buka obat.. berikan jelly di bagian luar anus Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot sfinkter anal 8. Buka pantat dengan tangan predominan. lakukan palpasi pada area rectum. waktu pemberian. 3... Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 15. 6. 4. 11. 66 . 13. Beri reinforcement positif pada klien 13. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. dosis. Kontrak pertemuan selanjutnya 14.... 5..Bantu klien dalam posisi sims Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah Kaji kondisi anus eksternal... Bantu klien pada posisi supine atau miring selama 5 menit 12.

nama obat. Bantu klien dalam posisi dorsal recumbent 3. Jelaskan tujuan. obat. 2. Siapkan alat-alat : kartu obat. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2.Memberikan Obat Vaginal Suppositoria / Foam Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. dosis. Berikan salam. lubricating jelly. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. 1. Cek rekam medis klien. 1. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Cuci tangan 3. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. cara dan waktu pemberian. sarung tangan 4. tissue. Jaga privacy klien 7. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah 67 . Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . cek nama klien. bentuk obat (krim/supositiria).

1. Bantu klien memakai pakaian bawah 12.5 cm. masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 7. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. masokan aplikator sedalam 5 – 7.. Kaji area eksternal genitalia dan lubang vagina 5. Obat Supositoria 7... Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi .. Buka obat. Buka labia mayora dengan tangan predominan.4.10 cm 10... Bantu klien pada posisi yang nyaman 15.. Buka labia mayora dengan tangan predominan.. Masukan obat ke dalam vagina 10. Bersihkan daerah genitalia eksterna menggunakan tissue 11. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 68 . Obat jelly/foam 8. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat..5 ... waktu pemberian. Isi aplikator dengan menggunakan jelly/foam 9. Cuci tangan 5 Dokumentasi ... Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot daerah genitalia 9.. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto... Bersihkan daerah genitalia eksternal menggunakan tissue b. Bantu klien pada posisi supine selama 10 menit 13. Berikan obat kepada klien : a. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5.. Beri reinforcement positif pada klien 3. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 14. berikan jelly di lubang vagina 8. Kontrak pertemuan selanjutnya 4.. dosis. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. Tanyakan kepada klien apakah akan memasukan obat sendiri atau dibantu perawat 6.

Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Letakan mouthpiece inhaler atau spacer ke mulut g. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Bersihkan dengan menggunakan tissue jika ada cairan inhaler dipipi. 1. nama obat. tunggu satu menit diantara dua semprotan 8. genggam dengan ibu jari. obat inhaler. Tahan nafas selama 10 detik j. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. 1. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. Tekan Inhaler ke bawah sambil dihirup perlahan h. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. pegang inhaler tegak. Sambungkan spacer ke mouthpiece inhaler f. Jika dibutuhkan dosis dua kali semprotan. Jelaskan tujuan. 1. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tarik nafas perlahan selama 2 – 3 detik i. dosis. Kocok inhaler c. tissue 4. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Beri reinforcement positif pada klien 3. 1. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 2. Siapkan alat-alat : kartu obat. cek nama klien. Bantu klien duduk dikursi 3. Bantu klien kembali ke posisi semula 4 Tahap Terminasi . Berikan salam.5 cm dari mulut e. Perawat mencucl tangan 2. cara dan waktu pemberian. Cek rekam medis klien. jari telunjuk dan jari tengah b. Cuci tangan 3. Jaga privacy klien 7. 10.Memberikan Obat Inhaler Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . letakan inhaler dengan jarak 0. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Cuci tangan 5 Dokumentasi 69 . Pasang kembali tutup inhaler 9. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Buka mulut. Dongakkan kepala kebelakang dan hembuskannapas d. Lepaskan penutup inhaler. bentuk obat (krim/supositiria). Jelaskan kepada klien cara menggunakan inhaler : a.

dosis........... waktu pemberian.. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. 70 .....Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna .. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.

2. Saat menghisap medikasi. Saat ini syringe sekali pakai (disposible) lebih banyak digunakan untuk menghindari infeksi silang.5 cc. Perawat harus mematahkan leher ampul untuk dapat mencapai medikasi. Ukuran syringe dan jarum pada masing-masing tipe injeksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 71 . Ujungnya runcing. Vial merupakan sistem tertutup. Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. Semakin kecil gauge. Satuan diameter jarum gauge (G). semakin besar diameter jarum. 1997). Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair. Jarum suntik Jarum suntik memiliki bentuk yang spesifik. 3. Syringe Syringe terdiri dari barrel silinderis dengan ujung yang dibentuk pas untuk jarum dan pada bagian belakang terdapat pendorong karet. Gambar. 20 cc. 10 cc. Jarum biasanya dikemas terpisah dari syringe.3 Syringe 4.OBAT INJEKSI Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial 1. Vial berisi medikasi dalam bentuk cairan dan/atau kering. Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet di atasnya. dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan mengambil cairan di dalamnya. Pemilihan gauge berdasarkan viskositas larutan yang akan diinjeksikan (Potter & Perry. perawat menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak menyentuh permukaan luar ampul). Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat di dalam vial tersebut menjadi sulit. 50 cc. Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit. 2. Syringe memiliki beragam ukuran: 1 cc. Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit. 3 cc.

Ampul a. Semua larutan bergerak ke dalam bilik yang lebih rendah.Spuit dan jarum dengan ukuran yang diperlukan . Sentil bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat menggunakan jari. Mencegah percikan gelas ke arah jari atau wajah anda 72 .Ampul atau vial dari medikasi yang diresepkan .Tipe Injeksi Sub Cutan Intra Muscular Intra Dermal Ukuran syringe 1-2 cc 2-3 cc (dewasa) 1-2 cc (anak-anak) 1 cc Ukuran jarum 25 G 19-23 G 26 G Peralatan . Patahkan leher ampul ke arah menjauhi tangan anda.Metal (opsional) . Melindungi jari dari trauma ketika gelas ampul pecah.Kapas alkohol atau kasa 2 x 2 inci .Jarum spuit ekstra Langkah-Langkah 1. c. Letakkan bantalan kasa kecil atau kapas alkohol mengelilingi leher ampul. b. Menurunkan semua cairan yang terkumpul di atas leher ampul. Cuci tangan untuk mengurangi infeksi nosokomial 2. gunakan metal untuk mengikir salah satu sisi leher. Jika leher ampul tidak patah. Siapkan medikasi.

d. Pegang ampul baik dengan posisi menjorok atau tegak. hentakan sedikit ke bak. Medikasi lebih aman dibuang ke bak. Untuk mengeluarkan gelembung udara. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas. Jangan mengeluarkan cairan. Jika memegang ampul tegak lurus. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari barrel spuit. Vial dilengkapi dengan cap untuk mencegah kontaminasi penutup. angkat jarum dari dalam ampul. pinggiran ampul. Jangan biarkan ujung jarum atau batang spuit menyentuh pinggiran ampul. angkat ke atas untuk memungkinkan semua cairan masuk ke dalam spuit. gunakan bak untuk membuang. jangan mengeluarkan udara ke dalam ampul. Bagian pinggir ampul yang pecah dianggap terkontaminasi. dan medikasi di dalamnya akan terbuang h. f. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di dalam jarum memasuki barrel. Periksa ulang ketinggian cairan dengan memegang spuit ke arah vertikal. Memeriksa ulang ketinggian cairan memastikan dosis yang tepat Vial a. Tekanan udara akan mendorong cairan ke luar ampul. 73 . Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan. Mencegah aspirasi gelembung udara. Menahan spuit ke arah vertikal memungkinkan cairan tetap berada di dasar barrel. Jika gelembung udara teraspirasi. Tarik bagian plunger sedikit dan dorong kembali ke atas untuk mengeluarkan udara. CATATAN: Ampul dapat saja dipegang menjorok atau miring sepanjang bagian ujung jarum tidak menyentuh . e. Pegang spuit ke arah vertikal terhadap ujung jarum. Lepaskan cap logam untuk memajan penutup karetnya. Aspirasi medikasi ke dalam spuit dengan menarik ke belakang plunger Menarik plunger ke belakang menciptakan tekanan negatif di dalam barrel yang mendorong cairan ke dalam spuit. Masukkan jarum spuit ke dalam lubang ampul. i. Jika spuit terlalu banyak terisi udara. g. Dengan perlahan keluarkan kelebihan cairan ke dalam bak.

Membuang debu atau kotoran tetapi tidak mensterilkan permukaan c. jangan biarkan plunger kembali ke atas. usap permukaan penutup karet. Mencegah aspirasi udara h. Balikkan vial sambil tetap memegang vial dengan kuat pada spuit dan plunger. Raih bagian ujung barrel dan plunger dengan ibujari dan jari telunjuk dari tangan yang dominan. Bagian tengah dari penutup karet merupakan bagian yang tertipis dan lebih mudah untuk menusukkannya. Pegang vial antara ibujari dan jari tengah pada tangan yang dominan. Tahan bagian ujung jarum di bawah ketinggian cairan. menembus bagian tengah penutup karet (Gbr. Anda pertama-tama harus menyuntikkan udara ke dalam vial. 52). Plunger mungkin akan terdorong kembali ke belakang oleh tekanan udara di dalam vial f. Dengan kapas alkohol. Keluarkan udara ke dalam vial. Memungkinkan tekanan udara untuk secara bertahap mengisi spuit dengan medikasi. Tarik kembali plunger jika perlu. Masukkan bagian ujung jarum. Posisi tangan mencegah plunger dan memudahkan memanipulasi spuit dengan mudah. Udara harus terlebih dahulu disuntikkan ke dalam vial sebelum mengaspirasi cairan.b. Lepaskan cap jarum. Membalikkan vial memungkinkan cairan untuk tetap berada di pertengahan bawah vial. d. dengan bevel jarum mengarah ke atas. Tekanan positif di dalam vial mendorong cairan ke dalam spuit 74 . Menjaga bagian bevel ke arah atas dan memberikan tekanan ringan mencegah pemotongan karet sebagai penutup e. g. Tarik pulunger ke belakang untuk mengumpulkan sejumlah udara yang sama dengan volume medikasi yang akan diaspirasi Mencegah pembentukan tekanan negatif ketika mengaspirasi medikasi.

Penggantian jarum diharuskan jika perawat menduga terdapat obat pada batang jarum. Mencegah kontaminasi jarum dan melindungi perawat dari tusukan jarum. Menjamin pemberian obat yang akurat ketika diberikan obat berikutnya 3. Jangan mengeluarkan cairan. Cuci tangan. 4. Catat jumlah larutan dan konsentrasi obat. Mengurangi transmisi mikroorganisme Kewaspadaan Perawat Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari barrel spuit. Mencegah penularan infeksi. angkat jarum dari dalam vial dengan menarik ke belakang barrel spuit. Ganti jarum yang terdapat pada spuit. 75 . Berikan label pada vial jika masih tersisa obat di dalamnya.i. Menyentil dengan kuat barel ketika jarum berada di dalam vial dapat membengkokkan jarum. Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. lepaskan jarum dari vial dengan menarik barrel ke belakang. Tarik sedikit plunger dan dorong plunger ke atas untuk mengeluarkan udara. j. Sentil bagian barrel dengan hati-hati untuk melepaskan semua gelembung udara. Bungkus jarum dengan capnya. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas dan sentil-sentil untulC melepaskan gelembung. Buang alat-alat yang basah di tempat yang telah disediakan. menahan spuit secara vertikal memungkinkan cairan untuk tetap berada di dasar barrel. Untuk mengeluarkan kelebihan gelembung udara. Jarum baru mencegah ceceran obat pada kulit dan jaringan subkutan. l. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari berrel. 5. Keluarkan semua udara yang terdapat di atas spuit ke dalam vial. k. Menarik plunger dan bukan barrel menyebabkan terlepas dari barrel dan medikasi dapat terbuang. Manakala dosis yang sesuai sudah terpenuhi. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di datam jarum masuk ke dalam barrel. Akumulasi udara akan menggantikan medikasi dan menyebabkan kesalahan dosis.

5 cm [anak] [Whaley and Wong. Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit. 2. Periksa pita identifikasi klien dan tanyakan nama klien.Untuk suntikan subkutan. absorpsi obat agak sedikit lambat dibanding suntikan intramuskular. Memastikan keakuratan urutan pemberian. perawat harus mengetahui volume obat yang akan diberikan. Peralatan .25 sampai 2.Ampul atau vial obat . lecet. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat.dan kenakan sarung tangan steril Mengurangi transmisi mikroorganisme.Kasa antiseptik (mis. 76 .Jarum (ukuran beragam sesuai dengan tipe jaringan dan ukuran klien. 5. palpasi tempat tersebut terhadap edema. 4.1 cm) . Kaji terhadap alergi.Pemberian Suntikan Subkutan dan Intramuskular Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh. jadi hanya obat dalam dosis kecil yang larut dalam air. Cuci tangan. medikasi dimasukkan ke dalam jaringan ikat jarang di bawah dermis. atau nyeri tekan. Pilih tempat penyuntikan yang tepat. massa. intramuskular-diameter 20 sampai 30 dan panjangnya 2.Formulir atau kartu obat Langkah-Langkah 1.75 cm (dewasa). diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. atau infeksi. alkohol) . Namun. Pastikan bahwa pasien yang tepat mendapatkan obat yang tepat. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai banyak pembuluh darah. Rute intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat. 1991]. Membantu klien mengantisipasi tindakan perawat. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi. Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat.25 sampai 2. memar. Kumpulkan peralatan dan periksa urutan medikasi terhadap rute. ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah jika perawat tidak cermat. Jelaskan prosedur pada klien dan lanjutkan dengan cara yang tenang. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika obat diberikan jauh ke dalam otot. Siapkan medikasi dari ampul atau vial Memastikan bahwa medikasi yang akan diberikan steril. 3. yang tidak mengiritasi yang dapat diberikan melalui rute ini. Jaringan subkutan mengandung reseptor nyeri. Hindari area yang terdapat jaringan parut. dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik. 6. dosis. dan waktu pemberian. subkutan-diameter 25 sampai 27 dan panjang 1.. karakteristik obat.Spuit (ukuran beragam sesuai dengan volume obat yang akan diberikan) .5 sampai 3.

Ventrogluteal . 77 .klien berbaring miring. CATATAN: Antikoagulan dapat menyebabkan perdarahan lokal dan memar jika disuntikan ke dalam area seperti lengan dan tungkai. Saat memberikan heparin subkutan. atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah.Paha (vastus lateralis}-klien berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi . . Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman bergantung pada tempat suntikan yang dipilih. palpasi otot untuk menentukan ukuran dan kekerasannya. yang melibatkan aktivitas muskular. Untuk penyuntikan intramuskular. Dalam kasus penyuntikan insulin yang berulang setiap hari jangan gunakan tempat penyuntikan. 8. tengkurap.Lengan atas (deltoid klien duduk atau berbaring mendatar dengan lengan atas fleksi tetapi rileks menyilang abdomen atau di atas abdomen. Rotasikan didalam satu region anatomi kemudian pindah ke lokasi anatomi lainnya. gunakan tempat suntikan abdomen. 7.Tungkai-klien duduk di tempat tidur atau kursi Tempat Suntikan Intramuskular . atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan disuntikkan dalam keadaan fleksi Membantu klien mendapatkan posisi yang dapat mengurangi regangan pada otot dengan meminimalkan rasa taknyaman akibat suntikan.Abdomen-klien duduk atau berbaring . Diperlukan massa otot yang cukup untuk memastikan suntikan intramuskular akurat ke dalam jaringan yang tepat. Rotasi tempat suntikan mencegah pembentukan jaringan parut subkutan yang dapat mempengaruhi absorpsi obat. Jangan gunakan kembali tempat suntikan yang sama didalam periode 3 minggu. Tempat Suntikan Subkutan .Dorsogluteal-klien tengkurap dengan lutut diputar ke arah dalam. .Tempat suntikan harus bebas dari lesi yang mungkin mengganggu absorpsi obat.Lengan klien duduk atau berdiri .

Pasang swab di tengah tempat suntikan dan putar ke arah luar dengan arah melingkar sekitar 5 cm (2 inci).9. tempat di mana suntikan akan diberikan. Bersihkan tempat suntikan yang dipilih dengan swab kasa antiseptik. Minta klien untuk melemaskan lengan atau tungkainya. Penyuntikan yang akurat membutuhkan penusukan di tempat anatomi yang tepat untuk menghindari pencederaan jaringan di bawah saraf. Pengalihan perhatian membantu mengurangi ansietas 10. 78 . atau pembuluh darah. 11. Cari tempat yang akan dipilih sebagai tempat suntikan menggunakan tanda anatomi. tulang. Minimalkan rasa taknyaman selama suntikan. Bicaralah pada klien tentang subjek yang menarik.

.Untuk klien obesitas. Suntikan jarum dengan cepat pada sudut 90 derajat. Lepaskan cap jarum dari spuit dengan menarik cap lurus. Klien obes mempunyai lapisan lemak di atas jaringan subkutan .Suntikan jarum dengan cepat dan kuat pada sudut 45 derajat (kemudian lepaskan cubitan kulit bila dilakukan). Mempercepat penyuntikan dan mengurangi ketidaknyamanan. Mencegah jarum menyentuh cap dan terkontaminasi 14.Jika masa otot tipis. Pegang spuit diantara ibujari dan jari telunjuk dari tangan anda yang dominan bayangkan seperti memegang anak panah.Gerakan mekanik swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme 12.encubitan kulit menaikan jaringan subkutan . Pegang swab diantara jari ketiga dan keempat dari tangan anda yang tidak dominan. dengan tangan nondominan anda regangkan kedua belah sisi kulit tempat suntikan dengan kuat atau cubit kulit yang akan menjadi tempat suntikan.Posisikan tangan nondominan pada tanda anatomik yang tepat dan regangkan kulit. cubit kulit pada tepmat suntikan dan suntikan jarum di bawah lipatan kulit. cubit otot tubuh dan suntikan obat. Penusukan jarum pada kulit yang tegang lebih mudah dibanding kulit yang kendur. Swab akan tetap mudah terakses saat waktunya mencabut jarum 13. Memastikan bahwa obat mencapai jaringan otot 79 . (Kebanyakan perawat memegang spuit dengan telapak tangan ke atas untuk penyuntikan subkutan dan telapak tangan ke bawah untuk penyuntikan intramuskular karena perbedaan sudut penusukan). Penusukan yang cepat dan kuat meminimalkan ansietas dan ketidaknyamanan klien Intramuskular . P. Penyuntikan cepat waspada membutuhkan manipulasi bagian spuit yang tepat 15. Suntikan spuit: Subkutis .Untuk klien ukuran sedang.

dan ulangi persiapan obat. Obat akan menjadi berbusa jika diaspirasi. pertahankan agar tetap menahan kulit dengan tangan nondominan anda. Penyuntikan perlahan mengurangi nyeri dan trauma jaringan. Gunakan tangan dominan anda untuk meraih ke arah plunger. lakukan metoda Z-track. 18. tarik kembali jarum. Jika terlihat darah di dalam spuit. Tahan bagian belakang kulit dan suntikan jarum dengan cepat Sumbatan udara membersihkan jarum dari obat untuk mencegah tracking obat melalui kulit dan jaringan. - Kulit harus tetap ditarik sampai obat disuntikan.5 sampai 3.5 ml udara ke dalam spuit untuk membentuk sumbatan udara. 16. Obat-Obat intramuskular dan subkutan tidak digunakan untuk pemberian intravena. Jika tidak terlihat darah. suntikan obat dengan perlahan. Hindari gerakan spuit. Penyuntikan dengan tepat memerlukan manipulasi halus bagian spuit. Manakala jarum memasuki tempat suntikan. Gerakan spuit dapat mengubah letak jarum dan menyebabkan rasa taknyaman Jika menggunakan metoda Z-track. buang spuit. Saat menggunakan metoda ini perawat menghisapkan 0.5 cm ke arah lateral ke samping. dengan tangan nondominan anda raih ujung bawah barrel spuit. Darah yang teraspirasi ke dalam spuit menunjukkan bahwa jarum i menusuk intravena. Metoda Ztrack membentuk jalur zig-zag melalui kulit yang membungkus jalur jarum untuk menghindari kebocoran obat melalui jaringan subkutan yang sensitif. CATATAN: Beberapa institusi menganjurkan untuk tidak melakukan aspirasi penyuntikan heparin subkutan. Tarik kulit di bawahnya dan jaringan • subkutan 2. Obat tidak akan berbahaya jika diberikan intravena. Pindahkan tangan dominan anda ke ujung plunger. CATATAN: Heparin adalah antikoagulan yang secara khas diberikan dalam dosis kecil melalui subkutan.Jika memberikan preparat yang dapat mengiritasi. Dengan perlahan tarik kebelakang plunger untuk mengaspirasi obat. 17. Cabut jarum dengan cepat sambil meletakkan swab antiseptik tepat di bawah suntikan 80 .

Masase menstimulasi sirkulasi kemudian meningkatkan penyebaran serta penyerapan obat 20. Memungkinkan obat untuk menyebar dengan rata. Pertimbangan Pediatri Jika memang diharuskan untuk memberikan obat dalam bentuk cairan pada anak. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa terbakar di tempat suntikan. cepat cabut jarum dan mulai dari awal lagi. Biasanya dipakai untuk : 1. memberikan klien rasa kesejahteraan 21. Kewaspadaan Perawat Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. Pengamatan anda menentukan kemanjuran kerja obat. Menutup kembali jarum dapat menyebabkan penusukan dari jarum dan sudah tidak dianggap praktik yang aman 22. 19. Uji coba obat tertentu terhadap reaksi alergi. Ada baiknya untuk tetap tidak memperlihatkan ruam pada anak untuk meminimalkan ansietas. 2. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan membuat anaknya tidak nyaman. Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. Jangan sekali-kali mengagetkan anak. Kemudian lepaskan kulit setelah menarik jarum. Menyokong jaringan di sekitar tempat suntikan sehingga meminimalkan rasa taknyaman ketika jai-um dicabut. Mencegah cedera pada klien dan tenaga personel. Udara bertindak sebagai ruang vakum untuk membersihkan lubang jarum dari obat. Obat parenteral diserap dan bekerja lebih cepat dibanding obat oral. Vastus lateralis adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anakanak. Mencatat pemberian obat dan mencegah kesalahan pemberian obat berikutnya 24. Masase tempat suntikan dengan perlahan kecuali merupakan kontraindikasi seperti pada penyuntikan heparin. Otot dorsogluteal seharusnya tidak digunakan untuk penyuntikan pada anak-anak kecuali otot tersebut berkembang dengan sempurna. Bidang jaringan saling menindih untuk membentuk jalur zig-zag yang menutupi obat ke dalam jaringan otot. Setelah penyuntikan tenangkan anak. Penyuntikan Intrakutan dan Intravena Injeksi Intrakutan/ Intradermal Injeksi intrakutan adalah salah satu metode injeksi dimana obat dimasukan ke dalam jaringan kulit (dermal) yaitu epidermis.Jika mengunakan metoda Z-track. Catat pemberian obat pada lembar obat atau catatan perawat. Tempat penyuntikan intrakutan dan tekniknya 81 . tarik 0. Buang jarum tidan berpenutup dan letakkan spuit ke dalam tempat yang sudah diberi label. Jika tampak darah di dalam jarum spuit selama aspirasi. tahan agar jarum tetap ditempat setelah menyuntikan obat selama 10 detik. Pastikan bahwa anak mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan. Berikan orangtua kesempatan untuk membantu menahan anak mereka selama penyuntikan.2 ml udara ke dalam spuit setelah menyiapkan dosis obat. yang dapat menunjukkan cedera saraf. mengontrol penyebaran infeksi 23. Kembali untuk mengevaluasi respons klien terhadap obat dalam 15 sampai 30 menit. Tes tuberculin. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan.

Gunakan sarung tangan 5. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 13. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 7. Cuci tangan 3. sianosis) 17. berkeringat. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. jika lengan bawah tidak dapat digunakan. Kembalikan posisi klien 20. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 18. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah.15 derajat 12. gunakan tempat altematif 6. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. Jika terdapat darah. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 8. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. 16. mual. Buat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan dan instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 19. Cek catatan perawat dan medis : program pemberian obat melalui intradermal 2. Jika test alergi +.Langkah-langkah : 1. pingsan. muntah. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 9. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 11. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 15. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. Buka tutup jarum 10. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . Cuci tangan 82 . Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 14. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. berkurangnya tekanan darah.

harus dimonitor tanda-tanda vitalnya. Teknik ini dibutuhkan perawat dengan ketrampilan khusus. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 17.Injeksi Intravena Injeksi intravena kita harus memilih vena yang besar. et. all. selama dan setelah dilakukan injeksi IV. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Cuci tangan 3. Fundamentals of Nursing : Concept. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 6. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. misalnya pada lengan. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. punggung telapak tangan. Lepaskan tourniquet 16. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin PUSTAKA Kozier. Sebelum. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 18. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Lakukan aspirasi 15. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 9. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. Langkah-langkah : 1. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 8. Process and Practice. Gunakan sarung tangan 5. (2004). 83 . Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. B. lalu tusuk perlahan dan pasti. New Jersey : Pearson Education. 7nd edition. 13. 12. Kencangkan tourniquet 10. Metode ini menyebabkan reaksi cepat. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 7. 11. Pada saat penusukan posisi harus tepat dan tidak goyah. 14.

Cek dosis* 5.CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA DERMAL Nama No. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Cuci tangan * 9. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Mhs : Variabel yang dinilai A. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Cek waktu pemberian* 7. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Tahap Preinteraksi 1. Lakukan double cek obat (nama obat. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 Ni lai 1 2 11. Siapkan alat 8. Cek nama pasien* 4. Cek catatan perawat dan medis 2. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 84 . Cek nama obat* 3. Siapkan obat a.

nama pasien. sianosis)* 20. muntah. Tahap Terminasi 1. Jelaskan tujuan tindakan* C. Berikan salam 2. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. berkurangnya tekanan darah. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 15. Instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 23. Gunakan sarung tangan 6. waktu pemberian.9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* B. Jaga privasi klien 5. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Evaluasi perasaan klien 2. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. Kaji efek obat dan respon klien* 25. berkeringat. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 13. mual. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 10. Bereskan alat* 6. Buat tanda dengan membuat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan 22. Jika terdapat darah. Baca label obat sekali lagi* 7. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 21. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 9. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 11. Perkenalkan diri* 3. Mulai dengan cara yang baik 4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Panggil klien dengan namanya* 4. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Tahap Orientasi 1. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. 19. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . Buka tutup jarum 12. gunakan tempat altematif 8. Tanyakan keluhan dan kaji adanya alergi* 3. Jika test alergi +. 18. jika lengan bawah tidak dapat. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 16. pingsan.15 derajat 14. Dokumentasi Catat nama obat. Kembalikan posisi klien 24. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Tahap Kerja 1. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 17. Cuci tangan* E. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. dosis dan cara pemberian* 85 .

Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1 = Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75%

Nilai ………………

Pengampu ………………………….

86

CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA MUSCULAR Nama Mhs : Variabel yang dinilai A. Tahap Preinteraksi 1. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek nama obat* 3. Cek nama pasien* 4. Cek dosis* 5. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan alat 8. Cuci tangan * 9. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan Nilai 0 1 2

11. Lakukan double cek obat (nama obat, dosis dan hasil perhitungan)* 12. Siapkan obat a. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas, ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum, tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah, perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 87

B. Tahap Orientasi 1. Berikan salam 2. Perkenalkan diri* 3. Panggil klien dengan namanya* 4. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Jelaskan tujuan tindakan* C. Tahap Kerja 1. Berikan kesempatan klien untuk bertanya 2. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Jaga privasi klien 4. Mulai dengan cara yang balk 5. Gunakan sarung tangan 6. Pilih tempat penusukan 7. Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman dan mudah untuk perawat melihat tempat penusukan 8. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi IM. 9. Bersihkan tempat vang akan digunakan dengan kapas alkohol 10. Buka tutup jarum 11. Tarik kulit di tempat penusukan dengan cara : 12. Tempatkan ibu jari dan jari telunjuk tangan non dominan di atas tempat penusukan (hati-hati jangan sampai mengenai daerah yang lelah dibersihkan) hingga membentuk V 13. Tarik ibu jari & jari telunjuk dengan arah berlawanan, memisahkan jari sepanjang 3 inc 14. Cepat masukkan jarum dengan sudut 90 dengan tangan yang dominan 15. Pindahkan ibu jari dan jari telunjuk jari non dominan dan kulit untuk mendukung barrel spuit, jari sebaiknya ditempatkan pada barrel sehingga saat mengaspirasi, anda dapat melihat barel dengan jelas. 16. Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit 17. Jika terdapat darah, tarik jarum keluarkan berikan tekanan pada tempat tusukan dan ulangi langkah ke C6 hingga C14. Jika tidak ada darah, dorong plunger dengan perlahan, ajak klien berbicara. 18. Tarik jarum dengan sudut yang sama saat penusukan 19. Usap dan bersihkan tempat penusukan dengan kapas alkohol lain (jika kontra indikasi untuk obat, berikan penekanan yang lambat saja) 20. Tempatkan jarum pada baki 21. Buka sarung tangan 20. Kembalikan posisi klien 21. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Tahap Terminasi 1. Evaluasi perasaan klien 2. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Bereskan alat* 6. Cuci tangan* F. Dokumentasi Catat nama obat, nama pasien, waktu pemberian, dosis dan cara pemberian* Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali Pengampu

88

………………………….

89 .1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% Nilai …………… …………….

Cek nama obat* 3. Siapkan alat 8. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Tahap Preinteraksi 1. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6.INJEKSI SUBCUTANEUS Nama MHs : ASPEK YANG DINILAI A. Cek dosis* 5. Siapkan obat a. Cek nama pasien* 4. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Lakukan double cek obat (nama obat. Cek catatan perawat dan medis 2. Cuci tangan * 9. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan*90 . ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Cek waktu pemberian* 7. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 NILAI 1 2 11.

Tahap Terminasi 1. 91 . obat yang diberikan dosis dan cara pemberian Totai Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma Pengampu Nilai 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% …………………………. tangan E. Akhiri kegiatan 5. ………………… ………. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian. Evaluasi hasil kegiatan 2. Berikan reinforcement 3.D. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4.

Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 7. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Jelaskan prosedur dan tujuan pemberian obat pada klien/ keluarga C. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. identifikasi klien dan panggil klien dengan namanya 2. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin C. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 20. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 10. lalu tusuk perlahan dan pasti 15. Lakukan aspirasi 17. Jaga privasi klien 4. Berikan salam. tangan D. Tahap Preinteraksi 1. 12. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. Evaluasi perasaan klien 2. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 19. Cuci tangan 3. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian obat yang diberikan. Simpulkan hasil kegiatan 3. caranya Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% NILAI 0 1 2 Pengampu Nilai …………………………. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Tahap Orientasi 1. Lepaskan tourniquet 18. dosis. Tahap Kerja 1. Mulai dengan cara yang baik 5. Akhiri kegiatan 5. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan.INJEKSI INTRAVENA Nama Mhs : ASPEK YANG DINILAI A. 16. Tahap Terminasi 1. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 9. 92 . 13. Gunakan sarung tangan 6. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar* B. Kencangkan tourniquet 11. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 8.

dan usia klien. misalnya obat tersedia dalam jumlah milligram atau milliliter yang ekuivalen (H) Vehicle adalah bentuk/kemasan obat atau jumlah tablet atau jumlah larutan yang sesuai dengan dosis yang tersedia Mount adalah isi/jumlah obat yang diberikan misalnya dalam milliliter atau tablet milligram (A) Rumus penghitungan dosis obat DxV =A H Contoh: Dosis sesuai program dokter (D) adalah 400 mg Dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan bentuk sedian obat adalah tablet) Yang ditanyakan: berapa banyak tablet yang harus diberikan ke klien? Jawab: 400 x 1 tablet = 2 tablet 200 Metode 2 Rasio dan proporsi Rumus: H : V= D : A Contoh Dosis sesuai program dokter adalah 400 mg. Metode 1 Persamaan dasar Dosis yang diinginkan adalah dosis yang sesuai dengan program pengobatan (D) Dosis yang tesedia adalah dosis yang ada di kemasan obat. Ada berbagai macam cara atau metode menghitung dosis obat. Perawat harus memerksa dosis obat yang tertulis di dalam catatan medis dan mencocokkannya dengan label obat dan melakukan penghitungan dosis yang akurat.MENGHITUNG DOSIS OBAT Penghitungan dosis obat adalah kegiatan menentukan dosis yang dipesankan oleh tim medis berada dalam rentang dosis yang sesuai dengan rute pemberian. sedangkan dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan sediaan obat dalam bentuk bubuk dalam vial yang harus diencerkan menjadi bentuk cair) Yang ditanya: berapa ml/cc obat yang harus diberikan kepada klien Jawab 1. berat badan. Perawat harus membaca label pada obat untuk melihat aturan pengenceran yang diperbolehkan misalnya dalam label obat akan tertulis 93 .

1 ml cairan obat setara dengan 200 mg bubuk obat (1 gram/1000 mg = 5 ml. berarti bubuk obat di dalam vial akan diencerkan dengan 5 ml aquabides sehingga bentuk sediaan akan berubah menjadi cair 2. Apabila terdapat 1 gram bubuk obat dalam vial yang akan diencerkan dengan 5 ml aquabides berarti ketika pengenceran sudah dilakukan. 1 ml = 1000/5 = 200 ml) 94 .diencerkan dengan 5 ml aquabides. Perawat harus membaca berat bubuk di dalam vial misalnya 1 gram isi vial setara dengan 1 gram bubuk obat 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.