P. 1
Buku Petunjuk Skill Lab FN 2-Baru Edit

Buku Petunjuk Skill Lab FN 2-Baru Edit

|Views: 138|Likes:
Published by Rifa Riviani

More info:

Published by: Rifa Riviani on Sep 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2014

pdf

text

original

Sections

  • BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II
  • TIM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • 1.Pengertian DDST
  • 2.Tujuan DDST
  • 3.Fungsi DDST
  • 4.Intrepretasi hasil DDST
  • 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan
  • 6.Alat yang Digunakan
  • FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN DDST/DENVER II
  • 1. Tahap Pra-Interaksi
  • 2.Tahap Orientasi
  • 3.Tahap Kerja
  • 4.Tahap Terminasi
  • 5.Dokumentasi
  • PIJAT BAYI
  • Pengertian
  • Tujuan
  • Alat yang digunakan
  • Langkah Kerja
  • CHECK LIST PIJAT BAYI
  • 1.Tahap Pre – Interaksi
  • Keterangan :
  • PENGKAJIAN USIA GESTASI
  • 1. Pengertian
  • 2. Tujuan
  • 3. Indikasi
  • 4. Alat
  • 5. Prosedur Kerja
  • 6. Check List
  • PENGKAJIAN USIA GESTASI (BALLARD TEST)
  • 1.Tahap Pra-Interaksi
  • 2. Tahap Orientasi
  • 3. Tahap Kerja
  • PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK
  • PEDOMAN:
  • Test Penglihatan
  • FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK
  • PEMERIKSAAN FISIK NEONATUS/BAYI
  • 1.Pengertian
  • 2.Tujuan
  • 3.Cara Pemeriksaan
  • 4.Alat yang digunakan
  • FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK BAYI/NEONATUS
  • No
  • A. Tahap Persiapan
  • B.Orientasi
  • C.Fase Kerja
  • c.Periksa Keadaan Umum
  • d.Mata
  • e.THT
  • f.Toraks
  • g.Paru-paru
  • h.Jantung
  • i.Abdomen
  • j.Ekstremitas
  • k.Umbilikus
  • k.Genetalia
  • n. Kulit
  • PENGENALAN TIPE OBAT
  • A.PENDAHULUAN
  • B.LANGKAH-LANGKAH
  • C.SASARAN PEMBELAJARAN
  • D.SASARAN KHUSUS Setelah mempelajari buku ini saudara diharapkan mampu :
  • E.MATERI 1.PULVIS DAN PURVERES
  • GAMBAR PULVIS DAN PURVERES
  • Keuntungan bentuk sediaan serbuk :
  • Kerugian bentuk serbuk :
  • 2.CAPSULAE=KAPSUL
  • Bahan yang dapat diformulasi dalam bentuk kapsul :
  • BENTUK CANGKANG KAPSUL
  • Keuntungan:
  • Kerugian:
  • 3.COMPRESSI=TABLET
  • Cara penggunaan
  • MACAM, PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET
  • 4.SUPPOSITORIA, OVULAE
  • BENTUK SUPOSITORIA DAN OVULAE
  • Beberapa keuntungan bentuk sediaan pasta:
  • Fungsi Salep :
  • 6.SOLUTIONES, MIXTURAE, ELIXIRA
  • a.SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN)
  • 1)LARUTAN ORAL
  • 2)LARUTAN TOPIKAL
  • SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. COLLUTORIA (KOLUTORIUM)
  • b. COLLYRIA
  • c. GARGARISMA (Gargle)
  • d. ELIKSIRA (Eliksir)
  • KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR
  • e.SIRUP
  • Sifat- sifat sirup:
  • Ada 4 macam sediaan sirup:
  • f.MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK)
  • b.SUSPENSIONES ( SUSPENSI)
  • SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: 1.GELS / MAGMA
  • 2.EMULSA (EMULSI)
  • Tujuan penggunaan BSO emulsi :
  • Kerugian BSO emulsi :
  • 3.GUTTAE (TETES)
  • Sifat-sifat:
  • 2. Guttae oris
  • 3.Guttae auriculares (tetes telinga)
  • 4.Guttae nasales (tetes hidung)
  • 5.Guttae opthalmicae (tetes mata)
  • c.INFUSA (INFUS)
  • d.INJECTIONES (INJEKSI, OBAT SUNTIK)
  • PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum)
  • KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI
  • SEDIAAN STERIL YANG LAIN a.IMMUNOSERA ( Imunoserrum)
  • b.IRIGATIONES (Irigasi)
  • c.VACCINA ( Vaksin )
  • d.AEROSOLUM ( AEROSOL)
  • Keuntungan bentuk sediaan aerosol:
  • Kerugian bentuk sediaan aerosol :
  • e.INHALATIONES ( INHALASI)
  • SEDIAAN CAIR LAIN : 1.LOTION ( OBAT GOSOK)
  • 2.LINIMENTUM ( LINIMENTA)
  • Sifat-sifatnya :
  • KEUNTUNGAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN
  • KERUGIAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN:
  • DAFTAR PUSTAKA
  • RUTE PEMBERIAN OBAT
  • Memberikan Obat Oral
  • Memberikan Obat Mata (Cair dan Salep)
  • a. Obat tetes mata
  • b. salep mata
  • Keterangan:
  • Memberikan Obat Tetes Telinga
  • Memberikan Obat Tetes Hidung
  • Memberikan Obat Rectal Suppositoria
  • Memberikan Obat Vaginal Suppositoria / Foam
  • Tahap Orientasi
  • a.Obat Supositoria
  • b.Obat jelly/foam
  • Memberikan Obat Inhaler
  • OBAT INJEKSI
  • Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial
  • Peralatan
  • Langkah-Langkah
  • Kewaspadaan Perawat
  • Pemberian Suntikan Subkutan dan Intramuskular
  • Tempat Suntikan Subkutan
  • Tempat Suntikan Intramuskular
  • Subkutis
  • Intramuskular
  • Pertimbangan Pediatri
  • Penyuntikan Intrakutan dan Intravena
  • Injeksi Intrakutan/ Intradermal
  • Langkah-langkah :
  • Injeksi Intravena
  • PUSTAKA
  • CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA DERMAL
  • CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA MUSCULAR
  • INJEKSI SUBCUTANEUS
  • INJEKSI INTRAVENA
  • B. Tahap Orientasi
  • C. Tahap Kerja
  • C. Tahap Terminasi
  • D. Dokumentasi
  • Total Nilai
  • MENGHITUNG DOSIS OBAT

BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

TIM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2013

1

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan sistem Blok Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dapat terselesaikan dengan baik. Kurikulum baru ini dirancang untuk menjawab tantangan global dunia pendidikan khususnya untuk mencipta Ners yang terampil dan profesional. Pendidikan keperawatan pada masa kini selalu mengalami perubahan dinamis, cepat dan kontinyu. Ners dari Universitas Jenderal Soedirman diharapkan mampu menangani pasien maupun masalah kesehatan di masyarakat, sehingga wajib dibekali pengetahuan yang luas, keterampilan yang handal, mampu berkomunikasi berdasarkan empati (komunikasi efektif), serta berbudi pekerti luhur yang tercermin pada sikap dan perilaku. Beranjak dari hal itu, maka (KBK) dengan sistim Blok disusun berdasarkan paradigma baru pendidikan Ners dengan waktu studi diselesaikan minimal selama 3,5 tahun untuk akademik dan satu tahun untuk profesi Ners. Program yang dijalankan untuk menyelesaikan kurikulum baru ini, dijabarkan dalam bentuk program semester yang dilaksanakan dengan pola blok tematik berdasarkan kebutuhan hirarkhi Maslow. Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini merupakan panduan belajar mahasiswa pada ranah psikomotor yang tentunya ranah kognitif dan afektif juga ikut terlibat di dalamnya. Jumlah keterampilan tindakan pada Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini berjumlah 9 keterampilan. Kompetensi psikomotor pada blok ini diharapkan dimiliki oleh seorang Ners atau calon perawat lulusan Universitas Jenderal Soedirman, sehingga setelah menjalani Blok Fundamental of Nursing II selama 5 minggu kemampuan yang diperoleh dapat diinternalisasikan dan terus-menerus diterapkan pada tingkat selanjutnya sampai nanti menjadi Ners praktisi. Saran dan kritik membangun masih kami tim terima dalam rangka perbaikan buku panduan Blok Fundamental of Nursing II ini sehingga pengembangan dan peningkatan mutu pendididikan profesi keperawatan khususnya di Jurusan keperawatan FKIK Unsoed ini akan terwujud dengan kerja sama berbagai pihak dalam proses pembelajaran bersama.

Purwokerto, 10 September 2013

Tim Blok Fundamental of Nursing II

2

DAFTAR ISI DDST ...................................................................................................... KPSP........................................................................................................ Pengenalan Bentuk-Bentuk Sediaan Obat............................................... Rute Pemberian Obat............................................................................... Menghitung dosis obat............................................................................. Leg Exercise ............................................................................................ Pemeriksaan Fisik Anak dan Neonatus ................................................... Ballard Test..............................................................................................

3

2. Pengertian DDST DDST kependekan dari Denver Developmental Screening Test yaitu suatu test untuk melakukan pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia 1 bulan sampai dengan 6 tahun menurut Denver. melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil. Untuk pedoman dalam perawatan perkembangan anak d. Rekomendasi untuk rujukan test suspect atau untestable : d. Untestable : Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75 % sampai dengan 90 %. Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Tujuan DDST Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar. tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. 2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu. 4. bahasa. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas. 3. Normal : Tidak ada kelambatan b.DDST (DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST) 1. Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1) Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri. adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia 1 bulan dampai dengan 6 tahun. Untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak b. Suspect : Satu atau lebih kelambatan dan/atau dua atau lebih banyak kewaspadaan. c. Intrepretasi hasil DDST a. Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan factor 4 . bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Fungsi DDST Fungsi DDST adalah: a. Untuk mendeteksi dini keterlambatan perkembangan anak Aspek perkembangan yang diamati terdiri dari 125 tugas perkembangan. mengikuti perintah dan berbicara spontan 4) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Apa yang harus dilakukan bila hasil DDST Suspect. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. 3) Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara. Untuk menstimulasi perkembangan anak c.

dan 5 tahun B. pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia . pemeriksaan dan riwayat klinis. Langkah-langkah pemeriksaan DDST: 1) Tetapkan umur kronologis anak. Bila skrining ulang bersifat suspect atau untestable. karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu 5. gagal. yaitu: A. 4 tahun. Meragukan dan Tidak dapat dites. OK Melewati.temporer. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. gunakan penilaian klinis berdasarkan hal berikut : angka kewaspadaan dan kelambatan. e. Berdasarkan pedoman. hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal. Abnormal. C. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75 C. usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun Interpretasi dari nilai Denver II: A. ketersediaan rujukan. 1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan. Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut) B. Pada anak-anak yang lahir prematur. tanyakan tanggal lahir anak yang akan 5 . Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan. 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. 9-12 bulan. Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90 D. Kemudian dapat dilakukan pada anak yang berusia: 3 tahun. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan. Cara Pemeriksaan Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap. dan 18-24 bulan.

Contoh: An. kismis/ manik-manik. Penilaian: Jika Lulus (Passed = P). Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. buku gambar/ kertas. Lula lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas. Lula adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan. 6. Lula? Jawab: 2008 – 4 – 1 2006 – 8 – 5 1 – 7 -26 Jadi usia An. gagal (Fail = F).2) 3) 4) 5) diperiksa. sehingga usia kronologis An. 2). Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. Peralatan makan. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah: 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah. ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor. Hitung usia kronologis An. Alat yang Digunakan 1). Alat peraga: benang wol merah. kartu/ permainan ular tangga. pensil. kubus warna merah-kuning-hijau-biru. Lembar formulir DDST II 3). peralatan gosok gigi. 6 . berapa yang P dan berapa yang F. pakaian.

Bahasa c. 4. 1. ……… Evaluator Nilai 1 2 2.Nama NPM No. meliputi aspek perkembangan: a. 2) Pastikan ruangan hangat. Nilai: Purwokerto. FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN DDST/DENVER II : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 1) Siapkan alat yang akan digunakan. 3. dekatkan pada pemeriksa. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 1) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 2) Jelaskan prosedur pemeriksaan. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 1) Siapkan lembar formulit DDST yang akan digunakan 2) Hitung usia kronologis anak. waktu. lakukan pendekatan pada anak. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 3) Berikan privasi.) PIJAT BAYI 7 . 5. Motorik halus (Fine motoric) 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 1) Observasi perubahan perilaku anak 2) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 3) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan Dokumentasi 1) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 2) Catat tanggal. pindahkan pada formulir sesuai dengan usia kronologis anak 3) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 4) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. Personal sosial b. Motorik kasar (Gross motoric) d. Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………………. dan nama pemeriksa (tanda tangan).

. seperti radang telinga tengah.). Lagi pula ia akan merasa aman karena merasa yakin memiliki kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. dan menjadi penentu bagi anak untuk menjadi anak yang berbudi pekerti dan percaya diri. Terhadap perkembangan emosi anak. sentuhan orang tua merupakan dasar perkembangan komunikasi. Namun.Oleh Dian Ramawati. dan bertambahnya kadar serotonin. Untuk keperluan itu. Field seperti dikutip dr. J. Kalau tindakan ini dilakukan secara teratur dan sesuai dengan tata cara dan teknik pemijatan bayi.3 bulan. tidak perlu mengundang dukun pijat bayi sebab pemijatan bisa dilakukan sendiri. Bayi umur 1 . untuk bayi berumur 0 . jarang mengalami simptom hospitalismus (gangguan yang sering dialami bayi yang tinggal di panti asuhan. campak. M. Pijatan juga terbukti dapat melegakan saluran napas yang menyempit karena asma. sebaiknya tidak dipijat di daerah perut. Tiap individu.3 tahun. khususnya dari ibu. bayi yang banyak memperoleh sentuhan. muka. mampu mengurangi perasaan gelisah dan depresi sehingga 8 . Utami Roesli. diberi gerakan pijat halus dengan tekanan ringan. ia bisa menjadi terapi untuk mendapatkan banyak manfaat buat bayi. Pengamatan T. Ns. menurut dr. David Hull. berkurangnya kadar hormon stres.. Terapi pijat 15 menit selama enam minggu pada bayi usia 1 . disarankan hanya diberi gerakan usapan halus. perbaikan kondisi psikis. Ini akan diikuti dengan peningkatan berat badan. dan pijatan akan mempererat ikatan kasih sayang orang tua dengan anak.1 bulan. dll. Sp. yang akan memupuk cinta kasih timbal-balik. gangguan usus. Pemijatan dimulai dari kaki. Sebelum tali pusat lepas.Kep. ahli virologi mulekuler dari Inggris. dalam makalah berjudul Touch Therapy: Science Confirms Instinct. Sentuhan.Kep. Rene Spitz. Tak ada teknik pijat yang baku. bisa ditambah dengan tekanan. melaporkan. bagian dada. tangan. Tidurnya pun bertambah tenang. belaian. An Pengertian Sentuhan alamiah pada bayi sesungguhnya sama artinya dengan tindakan mengurut atau memijat. bisa menerapkan teknik dan tahapan pemijatan masing-masing. dan diakhiri pada bagian punggung. menyebutkan terapi pijat 30 menit per hari bisa mengurangi depresi dan kecemasan. Untuk bayi usia 3 bulan . dokter anak dan psikiater dari Amerika.3 bulan juga meningkatkan kesiagaan (alertness) dan tangisnya berkurang.

Setiap gerakan yang berkaitan dengan kegiatan mengurut atau memijat memiliki khasiat. hasilnya akan lebih baik. Bayi akan mendapat keuntungan lebih besar bila pemijatan dilakukan tiap hari sejak lahir sampai usia enam atau tujuh bulan. Penelitian di Australia 9 . Teknik kocokan dilakukan dengan cara "menggulung". Dari lingkaran besar kemudian mengecil. Sejak usia enam bulan. sekaligus akan lebih melancarkan peredaran darah. sehingga bermanfaat bagi anak yang berpembawaan gugup. Bila dikerjakan secara lengkap. nenek. ahli fosioterapi. Hasilnya. dr. atau anggota keluarga lain. dapat menenangkan anak. aliran darah meningkat dan pembuluh darah lebih lebar. Teknik urut lingkar. kemudian membuat bentuk lingkaran-lingkaran dengan kedua tangan. Tindakan pijat dikurangi seiring dengan bertambahnya usia bayi. menurut Ahr. Semua teknik urut (usapan. Gerakan usapan misalnya. remasan. berkhasiat pada jaringan penentu kemelaran otot yang terletak pada gelendong jaringan otot. memberikan stimulasi pada permukaan jaringan. dan gerakan lingkar) bisa saling melengkapi. ibu. Bahkan pemijatan pada bayi dari ibu HIV-positif dapat lebih menaikkan berat badan dan meningkatkan perkembangan motorik bayi. Pemijatan bisa dilakukan oleh ayah. Barbara Ahr. remasan dapat membuat otot bayi menjadi lebih kuat. menurut Ahr. Teknik remasan dilakukan dengan cara bagian tungkai atau lengan dipadatkan atau dimelarkan menggunakan sisi tangan bagian dalam dan sedikit gerakan memeras. Pada anak yang lesu dan malas bergerak.serangan asma berkurang. Dengan kata lain. menganjurkan agar usapan dilakukan sedikit lebih bertenaga dan diarahkan ke jantung. bahkan ke bagian jaringan lebih dalam. Teknik ini bermanfaat untuk mengendorkan jaringan. Utami Roesli menyebutkan bahwa pijat bayi dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. Bisa juga malam hari sebelum bayi tidur sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak. lingkaran yang terbentuk akan makin bulat. Jadi. pijat dua hari sekali sudah memadai. Tangan diletakkan sejajar dengan anggota badan. sambil mengurut seperti menggulung sosis atau mengaduk adonan. Remasan. Mula-mula dilakukan usapan. mirip gerakan membuat adonan roti. Pemijatan dapat dilakukan pagi hari sebelum mandi. Usapan juga dapat merangsang aliran darah dan getah bening. dengan teknik lingkar. Cara lain. kocokan. dapat dimulai kapan saja sesuai keinginan. Dengan latihan. Mengurut bayi bisa juga dengan gerakan remasan.

2. 2. pastikan tangan Anda bersih dan hangat. Ini membuat kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin naik sehingga penyerapan terhadap sari makanan pun menjadi lebih baik. Meningkatkan bonding attachment antara bayi dengan anggota keluarga yang lain (ibu. 2. 3. 3. nenek atau paman) Meningkatkan nafsu makan dan berat badan bayi Bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus-nya (saraf otak ke10). Lakukan sentuhan ringan dan lembut. atau tak mau dipijat.membuktikan. Akibatnya. Sebelum memijat. sarung tangan dan kaki) Handuk Baby oil / baby lotion Alas kain / kasur kecil . Jangan memijat bayi yang sedang tidak sehat. Baju bersih (popok. 3. Periksa kuku dan perhiasan untuk menghindari goresan pada kulit bayi. Sebelum dan selama pemijatan. Tapi jangan memijat segera setelah bayi selesai makan. Meningkatkan daya tahan tubuh / imunitas bayi Meningkatkan rasa percaya dan harga diri pada pasangan muda Alat yang digunakan 1. 4. Bayi sudah makan atau benarbenar tidak sedang lapar. jangan membangunkan bayi hanya untuk dipijat. produksi ASI akan lebih banyak. sambil diajak berbicara. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. bayi yang dipijat ayahnya berat badannya cenderung naik dan hubungan dengan ayah makin baik. kulit bayi perlu sesering mungkin dilumuri baby oil atau baby lotion. Penyerapan makanan yang lebih baik akan menyebabkan si kecil cepat lapar dan karena itu lebih sering menyusu. Tidak boleh memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi. Yang juga penting diperhatikan. Tujuan 1. 10 Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. Langkah Kerja 1. ayah. 4.

dengan 11 . 5. disusui. dua tangan bergerak bersamaan. pemijatan sebaiknya dihentikan. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. dan diakhiri pada bagian punggung. 4. dari pangkal paha dengan gerakan memeras. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki.terutama bila bayi sudah mulai menerima pijatan itu. Lewat kontak pandang. Atau. 8. Selanjutnya kedua tangan membuat Rapatkan kedua kaki bayi. atau mengantuk. memijat. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. 9. Anda bisa belajar mengenali reaksi anak dan bisa mengamati penerimaan kegiatan memijat ini oleh anak. gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki. tangan. membuat lingkaran-lingkaran kecil pada telapak kaki. dan memutar kaki bayi secara lembut. Pemijatan dimulai dari kaki. telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. dari atas ke bawah. 10. ada baiknya sambil bersenandung atau memutar lagu lembut. Untuk menciptakan suasana tenang. 7. Telapak kaki diurut dengan kedua ibu jari. muka. Kalau tangisnya makin keras. Mungkin bayi minta digendong. 6. Selama pemijatan. bagian dada. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. Bila bayi menangis. 11. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. Untuk memijat perut. Atau.

kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. 15. Atau. gerakan membuat gambar jantung besar hingga ke tepi selangka. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. Atau. Pada telapak tangan. memijat. Kemudian kedua lengan bayi 12 . Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. gerakan seperti membuat gambar jantung kecil di sekitar puting susu. dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. gerakan membentuk huruf "U". 14. kedua tangan melakukan gerakan memeras. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu.12. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari tengah dada ke samping. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Selanjutnya. lalu jari-jari tangan diregangkan seolah membuat gambar burung kecil. 16. Cara lain. Ada juga gerakan membuat lingkaran-lingkaran searah jarum jam. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. 13. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. Atau. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi.

18. tengah ke samping. 19. juga ke daerah pipi di bawah mata. 13 . dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. 20. dengan gerakan mengusap. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. membuat lingkaran-lingkaran kecil. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis.17. Atau.

pastikan tangan kering dan hangat c. pemijatan sebaiknya dihentikan. dua tangan bergerak bersamaan. c. Untuk memijat perut. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. sambil diajak berbicara. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda.. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi.. f... Letakkan bayi pada pangkuan / matras / kasur Tahap Kerja a. dengan telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian... Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. Aspek yang Dinilai Tahap Pre – Interaksi a. dari pangkal paha dengan gerakan memeras. Bila bayi menangis. m..... 3. Lumuri badan bayi dengan baby oil / baby lotion sesering mungkin sebelum dan selama pemijatan d.. i. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah.. Selanjutnya. Siapkan alat yang akan digunakan : • Alas kain / kasur / matras • Baby oil / baby lotion • Baju bersih • Handuk b... Kaji kondisi bayi b... membuat lingkaranlingkaran kecil pada telapak kaki.. NIM No 1. memijat. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu.. dan diakhiri pada bagian punggung. Selanjutnya kedua tangan membuat gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki. h. Cuci tangan.. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari 14 Nilai 0 1 2 2. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. dari atas ke bawah. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. tangan.. dan memutar kaki bayi secara lembut... Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki.. Pemijatan dimulai dari kaki... : .. Rapatkan kedua kaki bayi. muka.. .. Ada juga gerakan membuat lingkaranlingkaran searah jarum jam... Selama pemijatan. bagian dada..CHECK LIST PIJAT BAYI Nama Mahasiswa : ....... gerakan membentuk huruf "U". Atau... Letakkan handuk untuk menutupi badan bayi b. j. g. Urut kedua telapak kaki dengan ibu jari.. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi.. Kalau tangisnya makin keras. l... Lakukan sentuhan ringan dan lembut.... k. Lepaskan perhiasan pada tangan yang dapat menggores kulit bayi Tahap Orientasi a.. e....

dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. juga ke daerah pipi di bawah mata. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. ……………… Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai : Evaluator. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. Tahap Terminasi a. q. 4. Pakaikan bayi baju bersih yang telah disiapkan Purwokerto. s. memijat. Kaji respon bayi selama dan setelah dilakukan tindakan b. r. membuat lingkaran-lingkaran kecil. kedua tangan melakukan gerakan memeras. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Atau. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari tengah ke samping. p. o. dengan gerakan mengusap. t. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Kemudian kedua lengan bayi dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. Atau.n. Pemijatan tangan dimulai dari pundak.) 15 . gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. Atau. Pada telapak tangan.. (…………………………. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. tengah dada ke samping. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan.

Salah satu metode yang paling sering digunakan tentang penentuan usia gestasi didasarkan pada temuan fisik dan neurologis.PENGKAJIAN USIA GESTASI 1. Pengkajian meliputi enam tanda-tanda neuromuskular dan fisik eksternal. Indikasi Dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam pada bayi dengan usia gestasi 20 minggu. sudut popliteal. 1. Setiap tanda mempunyai skor dan skor kumulatif yang didasarkan dengan rentang skala maturitas gestasi dari 20 sampai dengan 40 minggu. Untuk bayi dengan usia gestasi kurang dari 26 minggu dapat dilakukan dalam waktu sampai 96 jam setelah kelahiran. 3. square window. Pada bayi premature dilakukan dalam waktu kurang dari 96 jam. 1. Memberikan perawatan yang dibutuhkan oleh bayi sesuai dengan usia gestasinya. 2. 3. 16 . tanda scarf. 3. 4. yaitu postur. dan tumit sampai telinga. Skala Ballard dapat digunakan untuk melakukan pengkajian pada bayi baru lahir usia gestasi 20 minggu. recoil lengan. Tujuan Memastikan usia gestasi bayi baru lahir. jaringan payudara tidak dapat diidentifikasi. dan sudut square window (fleksi pergelangan tangan) lebih dari 90 derajat. 2. 2. 1. seperti penyatuan kelopak mata. Mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. kulit transparan lembab. Alat ini mempunyai bagian fisik dan neuromuscular yang mencakup skor -1 dan -2 yang menunjukkan bayi sangat premature. tidak ada lanugo (rambut halus di permukaan kulit). Pengertian Pengkajian usia gestasi merupakan kriteria penting karena morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) perinatal berhubungan dengan usia gestasi dan berat badan lahir. Alat Format pengkajian Ballard Test.

Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. 10. Alas dan selimut bayi. 3. Ukur sudut dibelakang lutut. 1. Meteran Meja dan lampu periksa. Letakkan bayi diatas meja periksa. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat.2. dan pernafasan) Siapkan meja periksa yang telah dialasi dengan kain yang lembut dan bersih. Posisikan bayi telentang. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. 5. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. posisikan bayi telentang. 5. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. 4. 8. Cuci tangan Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut (sama dengan sudut popliteal). Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. suhu. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. tahan selama 5 detik. Tonus otot dan derajat fleksi meningkat sesuai maturitas. Observasi letak siku terhadap garis tengah. Telapak tangan bayi akan terlihat seperti akan menggengam. 7. 6. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. 2. Prosedur Kerja Jelaskan prosedur pada ibu dan keluarga. selimuti dan nyalakan lampu periksa. 4. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. 11. Setelah bayi tenang. 17 . fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. 9. 3.

berikan kepada ibu dan keluarga. 14. Catat hasil pemeriksaan pada format yang tersedia. berat badan dan lingkar kepala bayi. 13. Ukur panjang. 16. Bereskan alat. 18 . Selimuti bayi.12. Tentukan usia gestasi bayi (matur atau premature). 15. Dokumentasikan pada catatan perkembangan bayi. cuci tangan.

19 .

20 .

dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat i. Ukur sudut dibelakang lutut. Baca kembali RM bayi. Check List PENGKAJIAN USIA GESTASI (BALLARD TEST) : ………………………… : ………………………. suhu. Jelaskan prosedur kepada keluarga. tahan selama 5 detik.. Observasi letak siku terhadap garis tengah. berat badan dan lingkar kepala bayi. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. cuci tangan. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. n. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen k. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Tahap Kerja a. posisikan bayi telentang. NAMA NIM No 1. b.6. Bawa alat-alat dalam baki dan letakkan dekat bayi. 4. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah h. dan pernafasan) Tahap Orientasi a. e. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. Bereskan alat-alat. j. l. Tahap Terminasi 21 Nilai 0 1 2 2. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki.. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut p. Setelah bayi tenang. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. g. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. dan pastikan suhu kamar hangat. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. selimuti dan nyalakan lampu periksa. Posisikan bayi telentang. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. d. Cuci tangan perawat. Siapkan alat-alat : alasi meja periksa dengan bahan halus dan bersih. b. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. 3. o. Aspek yang dinilai Tahap Pra-Interaksi a. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. berikan privasi. f. . Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. c. m. b. Letakkan bayi diatas meja periksa. Ukur panjang.. q.

(. 22 .... Dokumentasikan tanggal dan waktu tindakan. tentukan usia gestasi bayi. b.. Catat hasil pemeriksaan pada format pengkajian.. ..... nadi dan pernafasan serta respon bayi b.. Kontrak untuk pertemuan selanjutnya bila diperlukan Dokumentasi a.. Observasi suhu............. Nilai : Purwokerto.. Evaluator Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75 % dari total nilai tindakan......5....... …………….. a..........

diperiksa terakhir. b. 9. Jelaskan setiap tahap dengan bahasa yang sederhana. prinsip ABC dan daerah injury lebih dahulu. Libatkan dalam proses: a. Lebih perhatian kepada orang tua. Tinggi badan c. Menerima peralatan yang diberikan. Dilakukan pada area yang tidak berbahaya: a. Mulai dari prosedur yang kurang mengancam. Head to toe b. 8.PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK PEDOMAN: 1. dan suara yang lembut. Jaga privacy anak terutama anak usia sekolah dan remaja.Jika anak tidak siap : a. Jika memungkinkan sediakan ruangan yang sesuai dengan tahap usia. d. Libatkan orang tua selama proses f. 5. tinggi badan. lalu secara bertahap alihkan kepada orang tua atau mainan anak b. Bercerita yang lucu atau bermain magic sederhana. 3. Mau dipisah dari orang tua . Sediakan mainan. d. d. Jika ada beberapa anak. Daerah yang sakit. c. c. Lingkar lengan d. a Lakukan pemeriksaan secepat mungkin. boneka . b. Ijinkan anak untuk menyentuhperalatan pemerikasaan. 4. Lingkar kepala : 23 . 2. Kaji kesiapan anak : a.. PENGUKURAN PERTUMBUHAN Terdiri atas berat badan. c. Minimalkan stimulasi (batasi jumlah orang. Ruangan dengan dekorasi menarik . Hindari penjelason yang lama tentang prosedur pemerikasaan. b. Membina kontak mata. e. gunakan ruangan yang terisolasi. g. 7. mulai dari anak yang paling kooperatif 6. Diskusikan hasil pemeriksaan pada keluarga. Kaji adanya f1engalaman traumatik e. a. c. Berikan pilihan (misal dipangkuan ibu atau diatas meja). Situasi emergensi. c. Lakukan pemeriksaan dengan bertahap a. Hargai dan puji anak atas ker jasama selama periksaan PEMERIKSAAN FISIK I. Membiarkan sentuhan fisiko e. Mau berbicara dengan Perawat. Tinggi badan: Lahir-36 bulan: posisi recumbent 2 tahun-18 tahun : berdiri b. Beri pujian atas penampilan (pakaian) anak atau mainan favorit anak. . Lakukan dengan program bermain. lingkar lengan dan Iingkar kepala. Suhu ruangan nyaman .

indikasi injury serebri • ROM Minta anak untuk melihat (atas. posisi dan pergerakan tubuh Anak dengan pendengaran yang kurang. interaksi dengan orang tua dan perawat dan respon terhadap stimulus. perkembangan dan bicara Wajah: Meringis : nyeri. kesulitan bernapas. tetapi akan lebih akurat dengan menggunakan DDST. h. posisi. kuku. akan memajukan tubuh. distribusi dan elastisitas Faktor yang rnempengaruhi : Iingkungan. reaksi terhadap stres. aktivitas. II. keadaan nutrisi. Kelenjar limphe Cara : Lakukan palpasi dengan gerakan melingkar pada lokasi yang biasanya terdapat kelenjar Iimphe. 24 . Tempratur : oral. Tekanan darah e. Kulit Tekstur. genetik dan fisiologis. servikal. tonsilar. rectal. tempratur. Dilakukan dengan observasi. KEPALA Observosi: • Bentuk & simetris : senyum. aksilaris dan inguinal is. Area pemeriksaan : subingual. kelembaban dan turgor. Penampilan umum. Denyut nadi : Bayi : denyut apikal Lebih dari 2 tahun : denyut radial Pada bayi hitung satu menit penuh b. Adalah penilaian subjektif atas penampilan fisik anak. postur. Variasi warna kulit : sianosis.bayi mampu mengangkat kepala Head lag setelah 6 bulan. PENGUKURAN FISIOlOGIS a. Perkembangan. kiri. submaksilaris. Postur. demam. interaksi dengan orang too dan perawat. nyeri : akan memilih satu posisi tertentu Hygene : bau badan. petekia dan jaundice g. aksila Dipengaruhi oleh usia. eritema. paralisis ? • Kontrol kepala & posture kepala Usia 4 bulan. kanan) Hambatan ROM: wryneck (torticolitis) Timbul akibat injury otot sternocleidomastoditis Kepala melihat ke satu sisi dan dagu bertitik pada satu point. f. pallor. pinna dan mengelilingi occipital Pada usia 1-2 tahun LK=LD Lakukan interpretasi merujuk pada NCHS. tampak sakit umum.- Perlu diukur sampai usia 36 bulan Lokasi : diatas alis mata. Pernapasan: c. kecemasan dan faktor patologik Cara: pada bayi observasi gerakan abdomen dan satu menit penuh d. gigi dan pakaian Behavior: tingkat aktivitas. bawah.

Epistotonos: hiperextensi kepala dg. Inspeksi struktur internal menggunakan ophtalmoskop jika anak menggunakan kaca mota. Sklera Normal: putih Kuning : jaundice Kornea : normal : transparan dan bersih Iris: ukuran. warna.Pertumbuhan bulu mata atas ke bawah beresiko infeksi.5 Inner chantal distance: 2.Down Syndrome Ptosis? Blinking reflex: Asimetric : paralisis Infrequent : kelemahan otot Bulu mata : distribusi. arah pertumbuhan dan warna. infeksi mulut. Inspeksi struktur internal . LEHER Observasi Ukuran: • Normal leher pendek + adanya Iipatan kulit antara leher + kepala + bahu • Abnormal : Leher pendek : sindrome Turner Leher edema : Mumps. lepaskan karena akan menyebabkan distorsi gambar kecuali jika kacamata digunakan untuk mengoreksi astigmatis berat dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan ketajaman penglihatan pemeriksaan dilakukan di ruangan redup tetapi tidak perlu digelapkan persiapkan anak: • demonstrasikan penggunaan alat • jelaskan alaSQn peredupan ruangan 25 . indikasi iritasi meningeal Palpasi Sutura. MATA 1. dan kejernihan 2. fontanel & pembengkakan Fontanel anterior : 12 -18 bulan Fontanel posterior menutup: 2 bulan i. indikasi problem paru-paru. agak ke kanan Abnormal: Pergeseran.nyeri pada saat flexi.5. misal tumor dan benda asing di paru • Kelenjar tiroid o Di dasar leher o 2 lobus kiri kanan dihubungkan oleh is~mus j. Difteri Pelebaran vena di leher : indikasi kesulitan ekspirasi pada astma + cystis fibrosi Palpasi • Masa? • Normal: trachea di tengah. Jarak antar pupil 4.5 Jarak > besar: Hipertelorisme Hipertelorism: epicantal fold upward Palpebral slant : indikasi pada .5 .

Epichantal fold akan menimbulkan salah persepsi pseudostrabismus 2. Jarak 40. bertambahnya alertness. Walau begitu test ini tidak cukup untuk menilai penglihatan anak Test lain yang juga dapat digunakan adalah kernarnpuan bayi untuk 26 .Test Penglihatan Terdiri atas 4 jenis. penglihatan perifer. lampunya secara langsung diarahkan ke mata. strabismus.5 cm (16 inch) b. mobil. apel. dan penglihatan warna a. Otak akan mensupresi image yang dihasilkan oleh mata. satu mota deviasi pada satu point.4 bulan. Cover test Tutup satu mata b. • Merupakan standar ketajaman penglihatan Jika hanya bisa membaca pada tine (baris) 2 : ketajaman penglihatannya 20/100. dengan optalmoskop.30 bulan Simbol: rumah. telpon. lama kelamaan menyebabkan kelemahan pada mata. Test ketajaman penglihatan Yaitu kemampuan untuk melihat benda-benda yang dekat dan jauh Test : Snellen Letter Chart jarak: 20 dari snellen chart lalu membaca setiap huruf yang ada Jika bisa membaca pad a garis ke-7. Evaluasi terhadap adanya kontriksi pupil. yaitu : test binocularity. Test ketajaman penglihatan pada infant dan anak yang sukar untuk ditest Berikan sinar pada mata. BINOCULARITY Kemampuan untuk memfiksasi satu lapangan penolong dengan dua mata secara simultan Normal: 3 . Penglihatan warna a. artinya ketajaman penglihatan 20/20 Arti: pada jarak 20 feet. menolak untuk rnernbuka rnata setelah terkena cahaya. Penglihatan perifer d. Binocularity b. kebutaan (Amblyopia) Dua test deteksi malposisi : 1. ketajaman penglihatan. Ketajaman penglihatan c. mengikuti cahaya. dst. binocularity Strabismus. Arti: orang lain bisa melihat pada jarak 100 feet.Jika dideteksi dalam 4-6 tahun. menutup mata. normal: jika cahaya jatuh simetris pada setiap pupil abnormal: jika cahaya tidak jatuh pada satu pusat mata. ia hanya bisa melihat pada jarak 20 feet Snellen chart : digunakan pad a anak preschool Untuk anak 2 tahun : Black Bird Vision Screening Vision System • Anak diminta untuk menyebutkan ke arah mana burung akan terbang • Mungkin sulit untuk mengkoordinasikan mata & tangan Faye Symbol Charts 27 . Corneal light reflex test (Red reflex gemini = Hirschberg test) a. mereka bisa membaca huruf yang besarnya 7 mm . mobil.

Minta anak mengatakan 'stop' pada saat ia bisa melihat objek/tangan Normal : anak dalam melihat 50% : upward 70% : downward 60'0 : nasalward 90% : temporally Keterbatasan pada area tersebut.Kesulitan memilih karir/pendidikan yang berkaitan dengan dengan warna: elektronik.Atau demonstrasikan prosedur terlebih dahulu terhadap 27 . farmasi Test : Ishihara test Hardy-Rard Rittler (HRR) test Yaitu : gambar/huruf yang dibentuk dari berbagai komposisi warnawarna yang membingungkan untuk penderita buta warna k. Kebersihan telinga 2. bayi belum mampu untuk mengikuti suatu berkas • Lakukan pemeriksaan dengan optalmoskop Tanda lain adanya gangguan penglihatan ketidakmampuan untuk mengikuti suatu benda. 1. Sebelum prosedur ijinkan anak untuk mengeskplore perlengkapan. yang paling banyak: protanomaly dan deuteranomally Protanomally: anak tidak bisa membedakan antara warna abu-abu/biru. strabismus yang nyata. mungkin merupakan indikasi adanya kerusakan pada ke-2 mata. Adanya masalah pada satu sisi mata. mengalami 99 penglihatan warna Ada banyak variasi buta warna. Inspeksi struktur interna Menggunakan otoskop Observasi: membran timpani. buta warna tidak menimbulkan masalah besar. fotografi. benda-benda berwarna lain • Jika sampai 3 . TELINGA Terdiri atas inspeksi strukttr interna dan test pendengaran. Inspeksi struksur exterrn Pinna (auricle) Periksa penempatan dan posisi telinga Bagian atas telinga harus melewati garis khayal dari sebelah dalam. Posisi : tarik telinga ke atas dan ke belakang pada posisi jam 10 atau tarik telinga kebawah dan ke belakang posisi jam 6-9. mungkin merupakan indikasi adanya kebutaan d.10% wanita kulit putih. slow lateral movement. demografi.4 bulan.mengikuti suatu benda • Bisa digunakan wajah pemeriksa. c. nystagmus yang konstan. Penglihatan Warna 8 . pucat dengan hijau Deuteranomally: bingung antara abu-abu dengan ungu pucat dan hijau Secara umum. Diperlukan test-test lain untuk meniastikan adanya kebutaan pada bayi. Tetapi adalah sulit untuk melihat bagian mata satu persatu. Pemeriksaan lapangan pandang Pada anak yang cukup usia dan kooperatif Minta anak untuk melihat satu objek (tangan pemeriksa) yang digerakkan pada 4 quadran penglihatan.

Inspeksi strukstur interna Inspeksi gigi. kering. bawah sternum (terdepresi) Gangguan pernapasan c. sternum keluar • Funnel Chest (pectus b. mukosa hidung akan tampak lebih merah dari mukosa. Simetris  derajat 28 Normal 45 . bau mulut indikasi adanya penyakit gusi atau .kebersihan gigi yang kurang. discharge.orang tua. tonsil dan oropharing posterior. Bentuk  Bayi : AP = Lateral  Abnormal : • Barrel chest = pyk paru kronik (asma dan cystic fibrosis) • Pigeon breast (pectus carinatum). Inspeksi papila Abnormal: Coated tongue pada candidiasis Protrusion tongue ditemukan pada retardasi mental. Kaji dinding telinga. bengkak. katakan pada anak -soya inginmelihat apakah ada gajah pada telinga kamuH. inflamasi. Inspeksi lidah 3. Gunakan tongue spatel atau minta anak untuk mengatak "ahh”. HIDUNG Adakah deviasi ? Simetri ? Minta anak untuk menegadahkan wajahnya soat pemeriksaan. uvula. benda asing dan infeksi Test ketajaman pendengaran. Apakah ada napas cuping hidung ? Inspeksi struktur internal: mukosa. l. 4. Normal. 2. plaque n. bagian Ukur antara sternum dan batas tepi iga. m.Ucapkan "terima kasihH atas ker jasama anak. Costal Angle Excavatum). gusi dan palatu lunak dan palatum keras. Atraumatik Care: Saat akan memeriksa anak. DADA INSPEKSI a. Inspeksi mukosa : normal berwarna pink adanya ulserasi dan perdarahan.Normal berwarna pink Kaji adanya iritasi pada. MULUT DAN TENGGOROKAN 1. Bibir: warna. kering atau perdarahan.setelah selesai pemeriksaan katakan bahwa mencari gajah tersebut hanya perumpamaan saja.

pernapasan abdomen  Anak) 6-7 tahun. Nipple •  simetris  skoliosis  Sirnetris  Asimetris: Normal: Gerakan dinnding dada = abdomen  Anak < 67tahun. Retraksi dinding dada f. basis anterior sela iga 8 dan basis posterior. Gerakan dinding dada  • Abnormal: > 45 deraja t= barrel chest. PARU-PARU Normal. minimal di bagian basis 29  Vocal Fremitus .d. pernapasan dada Normal : pada midcJavicula iga 4-5 o. penya kit paru < 45 derajat = malnutrisi Normal: e. sela iga ke 11 INSPEKSI PERNAPASAN  Frekuensi  Ritme  Kedalaman  Kualitas (sulit / spontan) PALPASI :  Excursion Simetris / tidak? Normal : pada napas dalam paru-paru bawah akan berkembang 5-6 cm Rasakan vibrasi yang simetris pada sternum + vetebra Maximal di apex paru. Apeks: sela iga 3.

Fremitus menurun: penyakit paru Fremitus tidak ada: obstruksi bronkus pada aspirasi benda asing   PERKUSI :     i Pleural Friction Rub Crepitasi Resonan Dullness Flatness Tympan Pleural Friction Rub dan Crepitasi dapat diperiksa dengan auskultasi dan palpitasi Ditemukan pada semua bagian paru Jantung Hepar Gaster AUSKULT ASI :  Normal : • Vesikuler • Bronkovesikuler Terdengar pada seluruh bagian paru kecuali intrascapular dan manubrium Inspirasi > ekspirasi Terdengar di manubrium dan upper intrascapular. asma atau benda asing) Jalan napas besar terobstruksi oleh sekret yang kental. pada trachea & bifurcatio bronkhus Inspirasi = ekspirasi Hanya pada trachea dan suprasternal Inspirasi < ekspirasi Karena adanya cairan pada jalan napas besar Karena adanya cairan pada jalan napas kecil Penyembpitan jalan napas (tumor. INSPEKSI : Penonjolan Indikasi pembesaran jantung Pada anak yang sangat kurus sering ditemui pulsasi Sela iga ke-4 ( < 7 tahun) 30 b. •  Abnormal: • Cracles • Fine Crakles Wheeze Rhonki Bronkhial p. JANTUNG a. PALPASI  PMI (Point of .

hati-hati 31 . c.   AUSKULTASI Peristaltik PERKUSI Tympani Flattnes Setiap 10 – 30 detik Gaster Hepar d. ABDOMEN a. INPEKSI  Asites  Tumor  Organomegali  Umbilicus : hernia. Capilary refill Sela iga ke-5 ( > 7 tahun) Palpasi paling kuat saat ekspirasi   Indiksi sirkulasi perifer Normal kurang dari 2 detik. PALPASI : Mulai dari distal ke proksimal  Hepar Normal teraba pada bayi dan young children Ukuran 1-2 cm Hepatomegali jika lebih dari 3 cm Hepar akan turun saat inspirasi. c. hygene  Hernia inguinalis  Hernia femoralis b. AUSKULT ASI :  Bunyi jantung : • S1 • S2 • S3 • S4 Penutupan katup mitral dan trikuspidal Penutupan katup pulmonal dan aorta Normal terdengar pada anak-anak dan dewasa muda Abnormal q.Maximum) Thrills Vibrasi yang disebabkan karena aliran darah pada satu bagian memalu bagian yang menyempit atau terbuka secara abnormal.

hidrochele Cryptochohidism t. 7. 3. ANUS 1.dalam interpretasi  Spleen Ginjal Blader Caecum Nadi femoralis Normal pada bayi dan young child Spleenomegali > 2 cm    r. Perempuan :  Klitoris  Lesi  Vagina  Labio mayora  Labio minora  Orificium uretra s. GENITAL 1. EKSTREMITAS 1. Dimple + rambut (pilonidal cyst) 3. 2. 2. Mobilitas sefik u. Polip Hemoroid Femosis Hipospadi Hernia inguinalis. 6. Laki-laki :  Glans  Meatu s uretra  Skrotu m  Testis 2. samping) Spina bifida Iritasi CNS Simetris Jari Clubing Sianosis Temperatur Bentuk Bowleg Polidaktili Gangguan sirkulasi Jarak tibia > 5 cm Biasa pada toddler saat belajar jalan Jarak maleoli > 7. finger 4.5 cm 32 . TULANG BELAKANG 1. belakang. 5. Tulang belakang asimetris (depan. Scoliosis 2.

( Genu valgum) 9. ROM Tonus otot Refleks Knock knee Normal pada usia 2 – 7 tahun Hilang setelah 1 tahun Indikasi lesi spinal cord 33 . Babinski 10. 11.(Genu varum) 8.

Punggung 15. Telinga 9. Genitalia 16. lakukan pendekatan pada anak. 4) Pastikan ruangan hangat. frekuensi pernafasan. Dada 11. 4. Tengkuk 10. Tanda vital: suhu. Kulit 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 4) Observasi perubahan perilaku anak 5) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 6) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan 34 Nilai 1 2 2. Hidung 7. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 5) Siapkan lembar pemeriksaan fisik anak yang akan digunakan 6) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 7) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. Mata 6. Jantung 12. postur tubuh (kurus/gemuk) kelemahan 2. : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 3) Siapkan alat yang akan digunakan. nadi. Lingkar Kepala 5. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 4) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 5) Jelaskan prosedur pemeriksaan.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK Nama NPM No 1. 3. Paru-paru 13. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 6) Berikan privasi. Ekstrimitas 17. TB/BB ( persentil ) 4. Mulut 8. Keadaan umum : kesadaran. meliputi aspek: 1. . dekatkan pada pemeriksa. tekanan darah 3. Perut 14.

) 35 . Dokumentasi 3) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 4) Catat tanggal.5. Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. Nilai: Purwokerto. ……… Evaluator. waktu. dan nama pemeriksa (tanda tangan).

Cara Pemeriksaan Ada beberapa pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada neonates / bayi. timbangan. pena. jam dengan detikan 36 . termometer aksila. penlight. Pengertian Neonatus adalah organisme yang sedang berada pada periode adaptasi kehidypan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. 3. 2. pengukur panjang badan badan. antara lain: 1) Penilaian APGAR 2) Pengkajian usia gestasi dan maturitas fisik 3) Pemeriksaan reflex primitive 4) Pengukuran antropometri 5) Pemeriksaan fisik (tanda vital. Tujuan Merupakan tugas para tenaga kesehatan yaitu medis. sarung tangan (k/p). Sedangkan bayi adalah individu yang berusia 40 hari sampai dengan 1 tahun. dan tenaga kesehatan lainnya untuk secara berkesinambungan mengkaji adanya perubahan atau gejala suatu penyakit pada neonatus. Setiap bayi baru lahir perlu diperiksa / dikaji secara cermat pada seluruh sistem tubuhnya. buku catatan. ossilometric (jika ada). Alat yang digunakan Stestoskop.PEMERIKSAAN FISIK NEONATUS/BAYI 1. Masa neonatal adalah periode selama 1 bulan atau lebih tepatnya 4 minggu = 28 hari setelah lahir. perawat. pola fungsional organ tubuh) 4.

1. mengenggam) 6. LP. memperkenalkan diri. No Aspek yang dinilai . menonjol. LD. tenang. 0 Dilakukan 1 2 37 . sarung tangan (k/p). penlight. Ukur PB. letargis) 3. jam dengan detikan. abnormal) f. LK. Palpasi klavikula (normal/abnormal) g. Memberikan kesempatan anak/orangtua untuk bertanya d. Periksa bagian kepala 1. Mencuci tangan. B. Kaji tanda-tanda vital (nadi. Menjelaskan tujuan pemeriksaan. palatum (normal. Amati kesimetrisan wajah 4. b. Kaji sutura sagitalis (tepat.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK BAYI/NEONATUS Nama Mahasiswa : ……………. e. warna kulit) 2. lemah. termometer aksila. amati adanya retraksi (derajat 0. Menyapa. Auskultasi paru. obstruksi. b. Kaji kesadaran bayi (sadar penuh. terpisah atau menjauh) 3. Toraks 1. langkah prosedur. Cuci tangan b. Amati respirasi dan hitung frekuensinya. NPM : ……………. 2. 5. kaji fontanela anterior (lunak. Paru-paru 1. cuping hidung) 3. Tahap Persiapan a. kaji telinga (normal/ abnormal) 2. adakah suara nafas tambahan). Persiapan alat Stestoskop. menghisap. Menjamin privasi C. cekung) 2. hidung (bilateral. waktu (pada orangtua) c. Kaji keaktifan dan tangisan bayi d. THT 1. ossilometric (jika ada).2) 3. pena. Orientasi a. apakah bunyi nafas terdengar disemua lapang paru atau menurun. pernafasan. Periksa Keadaan Umum 1. buku catatan. Amati adanya kaput succedanum dan cephalhematome d. timbangan. Kaji reflek (moro. A. Buka baju bayi. datar. Mata Kaji mata apakah bersih atau ada sekresi. Amati kesimetrisan toraks 2. pengukur panjang badan badan. tegas. menjelaskan tugas perawat. c. Fase Kerja a. amati suara nafas (kanan dan kiri sama atau tidak. Periksa kondisi umum (rewel. BB. suhu) 4.

kaji warna kulit. kaji apakah gerakan bebas 2. kaji apakah testis sudah turun. Genetalia Pada wanita: amati labia mayora. catat adanya kelainan. Evaluasi respon anak dan sampaikan hasil kesimpulan pemeriksaan kepada orangtua. kaji adanya mottled (mengindikasikan terpapar suhu dingin) 2. Kulit 1. auskutasi suaran jantung (apakah bunyi normal sinus rytm (NSR). m. ……… Evaluator.) 38 .h. klitoris. amati iktus kordis 2. Ekstremitas 1. Pada pria: Kaji ukuran penis. palpasi abdomen (supel atau keras) 4. palpasi hati (kurang atau lebih dari 2 cm) j. kaji peradangan n. meatus uretra. Abdomen 1. Dokumentasikan hasil pemeriksaan Nilai: Purwokerto. ada tidaknya atresia ani. sekret. palpasi point maximal impuls 3. Jantung 1. liang vagina. datar) 2. D Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. kaji turgor Fase Terminasi a. kaji kesimetrisan gerakan ekstremitas atas dan bawah k. Dokumentasi a. C. auskultasi bising usus 3. ujung meatus uretra (cek hipo/epispadia). perkusi abdomen (kembung. kaji adanya thriil 4. Anus kaji kepatenan anus. kaji adanya kelainan dinding abdomen (tegas.Umbilikus Kaji adanya peradangan atau hernia umbilikalis k. hitung frekuensinya i. hipertimpani) 3. minora.

LANGKAH-LANGKAH Untuk memudahkan pembelajaran dan pencapaian tujuan. B. Tiap bentuk memiliki tujuan dan kegunaan khusus. Sediaan obat di pasaran dikemas dalam berbagai bentuk. Pulvis berdasarkan cara memberikannya ada 2 : a. PULVERES = terbagi-bagi Serbuk yang terbagi dalam bobot yang sama. Syarat : halus. Mempelajari karakteristik masing-masing tipe obat 2. Menyebutkan keuntungan dan kerugian masing-masing tipe obat E.kering.homogogen. GAMBAR PULVIS DAN PURVERES 39 . Menyebutkan fungsi dan kegunaan masing-masing tipe obat 3. SASARAN KHUSUS Setelah mempelajari buku ini saudara diharapkan mampu : 1. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk membantu saudara mempelajari berbagai tipe obat secara mandiri. b. Menyebutkan karakteristik masing-masing tipe obat 2. MATERI 1.dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. saudara dianjurkan: 1. Mempelajari fungsi atau kegunaan masing-masing tipe obat C.PENGENALAN TIPE OBAT A. PULVIS/SERBUK TABUR = tidak terbagi-bagi Serbuk ringan untuk penggunaan permukaan topikal. PULVIS DAN PURVERES Serbuk adalah campuran kering bahan obat/zat kimia yang dihaluskan.dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit.ditujukan untuk pemakaian oral/untuk pemakaian luar (topikal). SASARAN PEMBELAJARAN Dalam pembelajaran ini saudara diharapkan mampu memahami beberapa tipe obat D.

dilarutkan/disuspensikan dulu dalam air /pelarut yang sesuai dengan volume tertentu. Digunakan untuk : anak – anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. menurut petunjuk dalam brosur yang disediakan. Jumlah volume obat yang tidak praktis /sukar dapat diberikan dalam bentuk pulvis e. Berdasarkan konsistensi cangkang kapsul 1) Kapsul kerasà terbuat dari gelatin berkekuatan gel relatif tinggi. Diharapkan lebih stabil dibandingkan dengan sediaan cair c. Keuntungan bentuk sediaan serbuk : a. Membutuhkan waktu dalam meraciknya. Obat-obatan yang rusak oleh udara tidak boleh diberikan dalam bentuk serbuk. seperti garam-garam fero (mudah teroksidasi) menjadi garam feri. Tidak tepat untuk obat yang tidak enak rasanya. Cara penggunaan . c. Macam kapsul: a. Untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan obat. kertas selofan dll. amis dan lain – lain) e. Cara penggunaan: Sebelum diminum. lengket di lidah. kertas yang dilapisi parafin. Penyebaran obat lebih luas dan lebih cepat daripada sediaan kompak (tablet dan kapsul) b. dapat dicampur dengan air minum untuk oral. Tidak tertutupinya rasa dan bau yang tidak enak (pahit.sebaiknya diberikan dalam bentuk “coated tablet” b. 2. Pada penyimpanan kadang terjadi lembab atau basah. Memberikan kebebasan pada dokter untuk pemilihan obat/kombinasi obat dan dosisnya f. CAPSULAE=KAPSUL Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. GRANUL:Sediaan bentuk padat. berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 μm dengan atau tanpa vehikulum. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. sepet. Cangkang kapsul mengandung: • Zat warnaà berbagai oksida besi • Bahan opak/pemburamàTiO2 • Bahan pendispersi • Pengawet 2) Kapsul lunakà skala besar Cangkang kapsul mengandung : • Pewarna • Bahan opak/pemburam • Pengharum • Pengawet • Sukrosa 5% sebagai pemanis 40 . Lebih cepat di absorbsi d. atau dari pati. Kerugian bentuk serbuk : a.Pengemas : kertas perkamen. d.

krn dosis dan kombinasi obat bisa disesuaikan  Dapat dibuat sediaan cair jika diinginkan dengan konsentrasi tertentu  Dapat utk sediaan lepas lambat Kerugian:  Tidak sesuai untuk bahan obat yang mudah larut (KCl.• Penyalut enterik b. Cembung Jenis : • Compressed tablet: large scale production à dies under pressure (tons) • Molded tablet: manual forcing.BO setengah padat . Bentuk tablet: Pipih. steroid hormon 41 . COMPRESSI=TABLET Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan. KBr. trochisi  Tablet sublingual à ISDN. Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik. Cara pemakaiannya • Per rektal • Per vaginal • Peroral • Topikal Bahan yang dapat diformulasi dalam bentuk kapsul : .BO padat .BO cair BENTUK CANGKANG KAPSUL Keuntungan:  Menutupi rasa dan bau bahan obat yang kurang enak  Memudahkan penggunaannya dibanding serbuk  Mempercepat penyerapannya dibanding pil dan tablet  Kapsul gelatin keras cocok untuk peracikan. CaCl2)à larutan pekat dapat mengiritasi lambung  Tidak dapat digunakan untuk bahan eflorescen (ada air kristalnya) dan delikuesen (menyerap air sampai menjadi larutan) 3. NH4Br. tablet hipodermik Cara penggunaan  Tablet kunyah à lozenge.

antibiotik  Tablet sisip atau pellet (dimasukkan implantasi dibawah kulit) à hormon gonad  Tablet hipodermik (dilarutkan dalam air steril dan diinjeksikan dibawah lidah) à dinitrat material Keuntungan: 1. absorbs optimumnya terlalu tinggi melalui saluran cerna. Tablet bukal (dimasukkan diantara pipi dan gusi di dalam rongga mulut) à hormon  Tablet effervescent à (Na-karbonat) vitamin  Tablet hisap atau trochisci à antiseptik. Bebrapa jenis obat tidak dapat di kempa menjadi padat dan kompak. lambat larut. Tablet merupakan sediaan yang mudah dan murah untukdikemas dan dikirim 4. 2. Kerugian: 1. Tablet merupakan sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua sediaan bentuk oral untuk ketepatan ukuran dan variabilitas kandungan yang paling rendah 2. dosisinya cukup tinggi. Tablet merupakan sediaan yang ongkos pembuatannya paling murah 3. Obat yang sukar di basahkan. Anak kecil: belum tentu suka dan sulit memakannya (ukurannya besar) MACAM. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET 42 . dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. mekanik. 3.

Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan 43 .4. seperti pasien yang mudah muntah. Ovula adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk telur. Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1. melarut atau meleleh pada suhu tubuh. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. Bentuknya ramping seperti pensil. dapat melunak.5 inchi). Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. dan infeksi. dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. baik dalam rectum maupun vagina atau uretra. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai “pessarium”. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao. Supositoria dipakai untuk pengobatan local. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. 2. OVULAE Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram.torpedo atau jari-jari kecil. walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan.0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. berbentuk torpedo. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5. seperti pada penyakit hemoroid. Ovula supaya disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Bahan dasar yang digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao). karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum dan ini digunakan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan. maka supositoria akan masuk dengan sendirinya. Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi: 1. Juga secara rectal digunakan untuk distribusi sistemik. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru. mudah melemah (lembek) dan meleleh pada suhu tubuh.6 mm dengan panjang ± 140 mm. 3. Polietilengli-kol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila yang bagian besar masuk melalui otot penutup dubur. SUPPOSITORIA. gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita.

Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”. mengandung satu/ > bahan obat. memiliki konsistensi yang lebih lunak dan mengkilat. konsistensi dan tujuan penggunaannya. JELLY Salep (unguenta/ointment) : Bentuk sediaan yang lunak.beratnya ½ dari ukuran untuk pria. bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya. panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram. b. oculenta. Tidak menyenangkan penggunaan 2. UNGUENTUM. Berbentuk emulsi minyak 44 . biasanya digunakan pada daerah yang teriritasi atau tempat yang sensitif. biasanya 32 mm. bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung 2. pasta. CREMOR. Baik. Beberapa variasi dari prototipe salep banyak digunakan dalam praktek peresepan dan dibedakan dengan namanya. BENTUK SUPOSITORIA DAN OVULAE Keuntungan: 1. krim. tidak bergerak dan tergolong sediaan semi padat. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat member efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral. suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan. CERATA. biasanya mengandung obat untuk pemakaian pada kulit atau pada membran mukosa. Macamnya : unguenta. keduanya berbentuk sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil. PASTA. Namun. Macam sediaan salep: a. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan. Krim : Jenis salep yang dapat dicuci. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan 3. 4. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Sediaan salep bervariasi dalam komposisi.cerata. Kerugian: 1. 5. bila dipakaikan pada kulit akan melunakkan dan membentuk lapisan penutup pada permukaan kulit. Bahan obat larut/terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. 4. Unguenta : mengandung relatif lebih sedikit bahan dan perbedaan pokok dengan yang lainnya pada konsistensi. Untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. jeli.

d.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang Oculenta ( ungentum ophtalmicae) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. konsistensi lebih kenyal dari unguentum. popular digunakan pada bidang dermatologi. berantai panjang dalam air. mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %. hampir cair. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. e. untuk tujuan melicinkan dan sebagai basis obat. mengandung sedikit atau tanpa malam. h. Vaselin Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. dan umumnya adalah campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik leleh rendah.c. f. Fungsi Salep :  Dasar salep atau pembawa substansi obat untuk penggunaan pada kulit (topikal)  Pelumas pada kulit  Pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit dengan rangsang kulit SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. mudah dibersihkan. mengandung sedikit/tidak lilin. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. digunakan pada membran mukosa. bersifat kaku. tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum. mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical. g. biasanya tidak meleleh pada suhu tubuh. digunakan pada membran mukosa dan untuk tujuan pelicin atau sebagai basis bahan obat. Jeli : Salep yang sangat tipis.50 % Beberapa keuntungan bentuk sediaan pasta:  Mengikat cairan sekret lebih baik dari unguentum  Lebih melekat pada kulit Cerata : Salep berlemak. titik lebur tinggi. dapat dicuci karena mengandung mucilago. gum atau bahan pensuspensi sebagai basis. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. Bahan dasar salep. biasanya terdiri dari ampuran sederhana lemak dengan titik leleh rendah dan minyak. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. asam-asam lemak atau alcohol. jernih & tembus cahaya yang engandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut _lebih encer dari salep. Pasta : mengandung zat padat dalam persentase tinggi. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. dalam air atau dispersi mikrokristal. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap. mengandung malam dalam persentase tinggi. membentuk dan mempertahankan lapisan pelindung pada area yang diaplikasikan. 45 .

tingtur dan air. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung. Apabila menyebut solutio. misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. MIXTURAE. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air. 46 . Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. 1) LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. o Absorpsi obatnya cepat. o Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. manula dan untuk penderita yang sukar menelan. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya. maka omset juga cepat o Dapat diberikan dalam larutan yang encer. ELIXIRA BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR a. misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Sifat-sifat: o Homogen o Dosis dapat diubah-ubah o Cocok untuk anak-anak. maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) o Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. o Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. 2) LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut.6. o Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. SOLUTIONES. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak.

analgetika lokal atau adstringentia.SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak. tidak boleh ditelan. perasa (flavorong agent). lalu dikumur-kumur. Zat aktif yang sukar larut dalam air dan larut dalam alkohol perlu kadar alkohol yang lebih besar. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. Batugin eliksir. Kadar Alkohol antara 3-75%. maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia.Umumnya konsentrasinya 5-10%. namun terkadang digunakan sorbitol. zat pewarna. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut. 47 . juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. Mudah ditelan dibandingkan dengan tablet atau kapsul 2. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR 1. eliksir kurang manis dan kurang kental. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. d. Rasanya enak 3. Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi. 3) Berhubung mengandung alkohol. dan yang tertinggi dapat mencapai 44%. b. zat pewangi dan zat perasa. antiseptika. pengawet dan pewarna. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. Contoh: Betadingargle & mouthwash. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. sehingga harus disimpan dalam botol kedap dan jauh dari sumber api. e. dan saccharinum. ada eliksir yang menggunakan alkohol 3% saja. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan.Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan.Pemanis yang biasa digunakan gula atau sirup gula. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. c. 5. tetapi biasanya sekitar5-15%. Eliksir bersifat hidroalkohol. Contoh: Bisovon eliksir. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. misal sakit hepar.Namun. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. Sifat-sifat: 1) Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2) Dibanding dengan sediaan sirup. tidak ditelan. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. Contoh: Effisol liquid. Kadar alkohol berkisar antara 1012%. 4. glycerinum. Mengandung bahan mudah menguap.

Sirup thymi. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa.sifat sirup: 1. kecuali bahan pelarut.perasa( flavoring agent)  Kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. 3. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas.  Sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten. sehingga cepat mengendap. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta.  Tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. Homogen 2. Contoh suspensi oral:Gelusil. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. stabilisator. Contoh. GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%. 4.Sifat. Mylanta. Liquor Faberi (FMI). Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. Sifat-sifat:  Cocok untuk penderita yang sukar menelan. Polycrol gel 2. rasanya lebih enak. b. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: 1. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. tidak beraroma. Sirup obat.Contoh : panadol sirup. benzalkonium klorida. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi.  Pada umumnya ditambah pemanis. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). Sirup Simpleks. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. tragakant. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. perasa. pemanis. f. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. biasanya 10%. sering disebut sirup putih. glukosa/sakarosa 64%. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Tidak berwarna. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. Contoh. Ada 4 macam sediaan sirup: 1. EMULSA (EMULSI) 48 . dan bahan lainnya. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). pewarna. 2. anak-anak dan manula. tragakant. Sirup kering.

dan zat uuntuk irigasi. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. lokal anastetik. asam benzoat. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia.Emulsi adalah sistem dua fase. penetrasi/absopsi lebih baik 3. lokal anastesik. analgetika. Sifat-sifat: 1.5 mg (1 tetes baku= 0. etil. propil dan butil paraben. emulsi eliksir. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. Guttae oris Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. 2. Oral : memperbaiki absorbsi. Tujuan penggunaan BSO emulsi : 1. Parenteral : memperbaiki absorpsi . Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. Guttae oral Obat tetes untuk oral. 2. Pada umumnya ditambah pemanis. Macam –macam Guttae: 1. analgetika-antipiretika. Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan.5 mg dan 52. Perhatikan kemasan pada bobotnya. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). 3. memperbaiki rasa dan aroma 2. GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). sehingga aturan pakai tepat. pewarna. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). 3. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. perasa. atau suspensi. dan senyawa amonium kuartener. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar. antiseptika. Topikal: mudah dibersihkan. Konsisten emulsi sangat beragam. Contoh: Triaminic drops 2. Volume pemberian kecil. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba.05 ml). vitamin dan antitusif. yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. kortikosteroid. Contoh: effisol liquid. Contoh obat dalam: Scott Emulsion. Kerugian BSO emulsi : 1. Sifat-sifat: 49 . Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A 3. sehingga cocok untuk bayi dan balita. Guttae auriculares (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. topikal maupun injeksi. dll). digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. jadi 1 ml= 20 tetes. memperpanjang efek. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). sirup. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras.

Isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3. gliserol. Sifat-sifat: 1.5 bagian Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. Guttae opthalmicae (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. Isohidris 4. digunakan sejumlah yang tertera: Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0.025% . Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. heksilen glikol dan minyak nabati. dan antiseptika. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol.0-6. pengawet. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. PH sebaiknya antara 5.0) 4.5 % BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA).5-7. c. antimikroba. Contoh: iliadin 0. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. diagnostika. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. 5. b) PH sebaiknya asam (5.5 bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. Steril 2. Cairan pembawa umumnya digunakan air.a) Bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga. Apabila bentuk sediaan suspensi. lokal anastesik. Kecuali dinyatakan lain. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. midriatika. anastetika. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. miotika dan zat irigasi. antiinflamasi. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk 50 . Guttae nasales (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. Untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini.

Contoh: inj Vit C. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. an-cooperatif. inj. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya.Arachidis). Inj Cortison Acetat suspensi 3) Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. propilen-glikol. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. Penicilin oil. minyak zaitun ( Ol olivarum). Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. INJECTIONES (INJEKSI. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. 2) Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. Dextrose.yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Diberikan untuk penderita yang sakit keras. d. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. sebelum disuntikkan. parafin liq. koma. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie). Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. 51 . IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Penicilin G Sodium 4) Kristal steril. untuk dosis tunggal. emulsi. Inj luminal. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. inj valium. inj. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. Streptomycin sulfat. Contoh: inj. Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. gliserin. PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1) Pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2) Pelarut bukan air: 3) Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) 5) Cairan intravena ( infundabilia : infus i. Contoh : inj. dll. Berdasarkan bentuk sediaan: 1) Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. minyak wijen ( Ol sesami). Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. misalnya minyak kacang (Ol. 6. Ringer lactat. Bukan minyak : alkohol.

juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. 5. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. seperti pada asma bronkiale. ataupun rusak karena kelembaban udara. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. Pemakaiannya secara topikal. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. b. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. suspensi. d. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. Vaksin dibuat dari bakteria. ukuran partikel obat harus dikontrol dan terukur. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. Harganya mahal 2. e. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). venin. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. c. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk 52 . 3. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer.Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. 2. tidak boleh digunakan secara parenteral. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. Pada aerosol inhalasi. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid.

Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. Contoh: Vicks Inhaler. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. Sifat-sifatnya :  Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering. LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. Contoh: Alupent aerosol. Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. SEDIAAN CAIR LAIN : 1. 53 .memperoleh efek lokal atau sistemik. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat.  Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. Contoh : Baby Lo 2. LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . Sifat-sifatnya :  Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. Contoh: Bricasma inhaler. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). yang karena bertekanan uap tinggi. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot.  Apabila pelarutnya minyak.

 Dapat diberikan dalam bentuk larutan yang encer. Langley. Jenkins. Chicago: Pharmaceutical Press. 9th Edition. 1957. 2008. sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan.  Mudah diberi pemanis. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. KERUGIAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN:  Volume bentuk larutan lebih besar  Ada obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan. 2008. New York: Mcgraw-hill. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production And Processes. pengaroma dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak.  Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ELIXIR DAFTAR PUSTAKA Cox. Canada: John Wiley & Sons. Dawn. Christopher A And Belcher.  Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat terabsorpsi. Shayne.  Untuk pemakaian luar bentuk larutan mudah digunakan. The Art Of Compounding. Pharmaceutical Compounding And Dispensing. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) KEUNTUNGAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN  Merupakan campuran homogen  Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatannya. 54 . Glenn L Et Al.

Benar obat Ketika obat diterima dari apotek. apakah ada ketentuanya (misal setiap 8 jam dalam satu hari) atau hanya jika dibutuhkan. ditelan dengan minuman/makanan atau dikunyah. Kemudian perawat juga harus tahu apakah obat diberikan sebelum atau sesudah makan. Benar cara Obat diberikan kepada klien sesuai caranya. bisa juga sistemik ke seluruh bagian tubuh. Obat ini tidak boleh dikunyah. Benar dosis Sediaan obat ada yang single doses. 4. klien juga tidak boleh minum sampai obat habis. murah dan sering digunakan. Aksi dari obat bisa lokal di mukosa mulut. perawat harus melihat kembali resep dokter yang biasanya ditulis direkam medik klien untuk meyakinkan bahwa obat yang diterima sesuai dengan order. Obat yang diberikan melalui sublingual didesian agar dapat diserap setelah obat diletakan dibawah lidah. yaitu : a. sehingga siap untuk langsung diberikan kepada klien. 3. tetapi ada juga yang membutuhkan keterampilan untuk menghitung dosis yang dibutuhkan sebelum diberikan kepada pasien. Dosis yang diberikan untuk klien yang satu bisa jadi berbeda dengan klien yang lain. karena akan mengganggu efek dari obat tersebut. Oral Cara pemberian obat melalui oral adalah cara yang paling mudah. untuk itu perawat perlu melihat dosis pemberian obat yang diorderkan dokter di rekam medis klien. 2. maka perawat perlu mengkonsultasikan kepada dokter. Parenteral/Injeksi Pemberian obat melalui parenteral adalah pemberian obat dengan cara menginjeksikan obat dalam bentuk cair ke jaringan tubuh. Obat jenis ini aksinya lebih lambat dan efeknya lebih panjang. Intradermal (ID) 55 . Obat diberikan melalui mulut. biasanya cara menggunakan obat terdapat pada label/pembungkus. Benar waktu Perawat harus tahu tentang waktu pemberian obat. klien juga tidak diperbolehkan untuk minum sebelum obat habis. yaitu : 1. 6. Benar klien Perawat perlu mengklarifikasi kembali nama dan nomor rekam medis klien sebelum memberikan obat (biasanya terdapat di white board diatas tempat tidur klien) atau dengan bertanya namanya secara langsung kepada klien atau keluarga. 2. Subcutaneus (SC) Injeksi dilakukan dibawah jaringan dermis b. dilakukan dengan cara meletakan obat dalam bentuk sediaan padat dimukosa membran mulut hingga obat habis. Benar Dokumentasi Cara pemberian obat tergantung bentuk sediaan. sehingga sebelum melakukan medikasi seorang perawat harus memperhatikan lprinsip LIMA BENAR. Tipe pemberian obat parenteral meliputi empat cara. 5. Klien juga dilarang untuk menelan atau mengunyah obat.RUTE PEMBERIAN OBAT Mempersiapkan dan memberikan obat ke klien adalah tanggung jawab perawat. Jika cara pemberian obat tidak tercantum. efek yang diharapkan serta kondisi fisik dan mental pasien. Sedangkan pemberian obat melalui bukal. Macam – macam rute pemberian obat adalah: 1.

Kepekaan mukosa membran terhadap obat berbeda – beda. Pemberian obat melalui mata Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat ditelinga anak 56 .Injeksi dilakukan didalam lapisan kulit. cornea mata dan nasal adalah mukosa yang sensitif. Intramuskular (IM) Injeksi dilakukan di otot tubuh d. sehingga seringkali klien mengeluh rasa seperti terbakar setelah diberikan obat tetes mata atau tetes hidung. Topikal Obat diberikan dengan cara mengoleskan di kulit atau membran mukoa dengan efek obat lokal maupun sistemik tergantung jenis obat dan dosisnya. Intravena (IV) Injeksi dilakukan melalui vena 3. tepat dibawah epidermis c.

misal obat tetes mata b. Spraying (memasukan obat dengan cara menyemprotkan obat ke bagian tubuh tertentu) 57 . Irrigation (memasukan cairan dengan tujuan untuk membersihkan body cavity) e. Insersi (memasukan obat ke lubang yang ada dalam tubuh. Pemberian obat melalui vagina Pemberian obat melalui rektum Berbagai metode pemberian obat melalui mukosa : a. Instillation (memasukan cairan secara perlahan pada body cavity) d. misal obat pencahar melalui rektal) c.Pemberian obat di telinga orang dewasa Pengobatan pada mokosa rektal atau vagina biasanya lebih tidak iritatif jika dibandingkan dengan pengobatan di mukosa mata dan hidung. Memberikan obat cair secara langsung.

prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Cek rekam medis klien. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat Tahap Pra Interaksi 1. Siapkan alat-alat : Baki obat. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 58 Nilai 1 2 2 . panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. karena terdapat hubungan antara alveoli dan kapiler. alas. 2. air minum 4. baca juga kondisi klien yang berhubungan dengan kesulitan menelan. Memulai tindakan dengan cara yang baik Tahap Kerja 1. mual. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Berikan salam. Keterampilan 0 Tahap Orientasi 1. Inhalasi Inhalasi adalah salah satu metode pemberian obat dengan cara memasukan obat melalui saluran pernafasan. Pemberi an obat menggunakan inhaler Memberikan Obat Oral Nama Mahasiswa : Tanggal : No 1 . Jelaskan tujuan. penurunan peristaltik. muntah. Hal ini disebabkan pada saluran pernafasan bawah terdapat area permukaan yang luas untuk absorpsi abat. operasi gastrointestinal. obat. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. 3 . Cuci tangan 3. biasanya dalam bentuk gas yang lembab. inflamasi saluran cerna. .4. tempat obat. Pengobatan melalui inhalasi dapat memberikan efek lokal maupun sistemik. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR.

baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR.. Jika obat bukal. washlap. Cek rekam medis klien. Berikan salam. Cuci tangan 3. Beri reinforcement positif pada klien 3. Jelaskan tujuan.4 .. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.. c. Membantu klien untuk kembali ke posisi yang nyaman f. nama obat. Jika obat sublingual. Cuci tangan Dokumentasi Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4.. dan obat dalam kemasan. tissue... Tawarkan kepada klien segelas air untuk membantu menelan obat b.... Berikan obat kepada klien a. alas.. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. 1. konsentrasi. waktu pemberian. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Melepas alas e. baca nama klien. jumlah tetesan. sarung tangan. minta klien membuka mulut dan meletakan obat diantara gigi dan pipi klien Perawat tetap bersama klien hingga yakin obat telah diminum. jika belum yakin. waktu.. 2. minta klien untuk membuka mulutnya d. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan Memberikan Obat Mata (Cair dan Salep) Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . minta klien untuk membuka mulut dan meletakan obat dibawah lidah. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Mencuci tangan Tahap Terminasi 1... jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. waskom berisi air hangat. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 59 . Bantu klien pada posisi side lying 3. 5 . Pasang alas dibawah dagu klien 4.. 2 Tahap Pra Interaksi . . mata kanan/kiri 2.. Membereskan peralatan g. 1... dosis. Siapkan alat-alat : kartu obat.

Pasang alas di bawah dagu klien 3. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. 1.. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. 1. Jika pada mata terdapat kotoran.. Bersihkan daerah sekitar mata dari obat 12. Minta klien untuk melihat ke atas 8. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Ambil obat mata. Posisikan klien supine 4. kemudian teteskan obat di konjungtiva. oleskan pada konjungtiva secukupnya. Beri reinforcement positif pada klien 3.. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. Jika klien menutup mata.. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Minta klien melihat ke arah atas 8.. Minta klien untuk menutup mata perlahan b.. kemudian oleskan pada garis mata bagian atas 11. Kaji kondisi mata 5.. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan bagian bawah mata 7. ambil washlap yang dibasahi air hangat.. ulangi sekali lagi 10. Obat tetes mata 6.. Membereskan peralatan 13. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.. atau tetesan tidak tepat di mata.5.. kemudian bersihkan daerah sekitar mata dari arah dalam ke luar a... waktu pemberian. salep mata 6... Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5 Dokumentasi .. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. jumlah tetesan. jumlah tetesan sesuai order 9. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan mata bagian bawah 7. mata kanan/kiri.. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 60 . Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. Ambil salep mata. Lepas sarung tangan kemudian mencuci tangan 4 Tahap Terminasi ..

1. Cuci tangan 3. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5.Memberikan Obat Tetes Telinga Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Berikan salam. sehingga telinga yang 61 . Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. botol obat. waktu pemberian. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Jelaskan tujuan. konsentrasi. jumlah tetesan. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Siapkan alat-alat : kartu obat. tissue. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. 1. cek nama klien. sarung tangan 4. cotton ball. cotton tipped apllicator. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. telinga kanan/kiri. 2. Cek rekam medis klien. nama ibat. 1. Bantu klien pada posisi side lying miring.

.. Lakukan massase yang lembut pada daerah tragus telinga f. letakan cotton ball di lubang telinga (jangan memasukan terlalu dalam) g.. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas lubang telinga c... 4.. 8. Buka lubang telinga dengan menarik auricula ke arah bawah dan belakang (anak) dan kearah atas untuk orang dewasa b. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 10. 1. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 3. Kaji bagian luar telinga etelah dilakukan pengobatan 12. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. dosis. waktu pemberian. 6.. Ambil cotton ball setelah 15 menit 9.. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi .. Teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dengan order dokter d. Jika dibutuhkan. jika ada tanda intoksikasi obat... Beri reinforcement positif pada klien 3. Bantu klien pada posis yang nyaman 11. bersihkan terlebih dahulu Gunakan sarung tangan Bersihkan lubang telinga dari serumen Berikan obat kepada klien : a. 5. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Minta klien tetap dalam posisi side-lying selama 2 – 3 menit e.. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. 7.. 62 . Cuci tangan 5 Dokumentasi .akan diberi obat terletak diatas Pasang alas dibawah dagu klien Kaji kondisi telinga eksternal dan lubang telinga Jika terdapat serumen. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5.... respon klien) Observasi klien 30 menit setelah pemberian obat..

Memberikan Obat Tetes Hidung Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama ibat, konsentrasi, waktu pemberian, jumlah tetesan, hidung kanan/kiri. 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, botol obat, bantal kecil, washlap 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencuci tangan dan menggunakn sarung tangan 2. Inspeksi kondisi eksternal hidung dan sinus 3. Minta klien untuk menghembuskan napas (jika tidak ada kontraindikasi) 63

4. Bantu klien pada posisi supine a. Posterior pharynx  tarik kepala kebelakang b. Ethmoid/Sphenoid sinus  tarik kepala kebelakang atau letakan bantal kecil dibawah dagu c. Frontal/Maxillary sinus  tarik kepala klien kebelakang, kemudian miringkan, letakan bantal kecil dibelakang kepala untuk menahan dari belakang dan satu tangan perawat menahan dari depan 5. Berikan obat kepada klien : a. Minta klien untuk bernafas melalui mulut b. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas hidung c. Teteskan obat denagn jumlah tetesan sesuai order dokter 6. Pertahankan posisi klien selama 5 menit 7. Bersihakan derahsekitar hidung, jika ada obat yang menetes 8. Bantu klien ke posisi yang nyaman 9. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 10. Kaji bagian luar hidung etelah dilakukan pengobatan 11. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 6. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 7. Beri reinforcement positif pada klien 8. Kontrak pertemuan selanjutnya 9. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 10. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat, dosis, waktu pemberian, respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat, jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat, segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto,.................. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan

64

Memberikan Obat Rectal Suppositoria Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama obat, bentuk obat, cara dan waktu pemberian,riwayat operasi/perdarahan di rectum, 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, lubricating jelly, obat, tissue, sarung tangan 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Jaga privacy klien 7. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 65

Bantu klien pada posisi supine atau miring selama 5 menit 12.. 5. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 11. maka perawat mmbantu klien melakukan BAB 14.. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 15. berikan jelly di bagian luar anus Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot sfinkter anal 8... dosis.. waktu pemberian. Jika sarung tangan kotor. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 15. Buka pantat dengan tangan predominan. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi .. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 12.. Kontrak pertemuan selanjutnya 14. 11.. Jika klien tidak bisa BAB sendiri. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat... 7.. Jika obat adalah laxatif. Bersihkan area sekitar anus dengan menggunakan tissue 10.. lakukan palpasi pada area rectum. 13. ganti dengan sarung tangan yang bersih Buka obat. 66 ... jelaskan klien sebentar lagi akan merasa ingin BAB. 4.. Beri reinforcement positif pada klien 13. 3.. 6. Bantu klien pada posisi yang nyaman 16. Cuci tangan 5 Dokumentasi . masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 10 cm (dewasa) dan 5 cm (anak dan infant) 9. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 2.Bantu klien dalam posisi sims Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah Kaji kondisi anus eksternal..

Cuci tangan 3. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Siapkan alat-alat : kartu obat. cara dan waktu pemberian. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. 2. Berikan salam. dosis. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Jaga privacy klien 7. 1. lubricating jelly. nama obat. Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah 67 . panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. sarung tangan 4.Memberikan Obat Vaginal Suppositoria / Foam Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Jelaskan tujuan. cek nama klien. Bantu klien dalam posisi dorsal recumbent 3. Cek rekam medis klien. tissue. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. obat. bentuk obat (krim/supositiria). Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2.

..10 cm 10. Bersihkan daerah genitalia eksterna menggunakan tissue 11. Buka labia mayora dengan tangan predominan...5 cm. Masukan obat ke dalam vagina 10. dosis. Cuci tangan 5 Dokumentasi .. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 14. Kaji area eksternal genitalia dan lubang vagina 5. Berikan obat kepada klien : a. Obat jelly/foam 8. Bersihkan daerah genitalia eksternal menggunakan tissue b... jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 68 . Obat Supositoria 7. Beri reinforcement positif pada klien 3.. Bantu klien memakai pakaian bawah 12. Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot daerah genitalia 9... Tanyakan kepada klien apakah akan memasukan obat sendiri atau dibantu perawat 6. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. waktu pemberian. 1.. Bantu klien pada posisi yang nyaman 15.. berikan jelly di lubang vagina 8. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. masokan aplikator sedalam 5 – 7.. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.5 . masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 7.4... Isi aplikator dengan menggunakan jelly/foam 9. Bantu klien pada posisi supine selama 10 menit 13. Buka obat.. Buka labia mayora dengan tangan predominan.

Cuci tangan 5 Dokumentasi 69 . obat inhaler. Tahan nafas selama 10 detik j.5 cm dari mulut e. Siapkan alat-alat : kartu obat. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . Jelaskan tujuan. tunggu satu menit diantara dua semprotan 8. Perawat mencucl tangan 2. Bersihkan dengan menggunakan tissue jika ada cairan inhaler dipipi. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Dongakkan kepala kebelakang dan hembuskannapas d. 1. Cek rekam medis klien. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. cek nama klien. Bantu klien duduk dikursi 3. Pasang kembali tutup inhaler 9. Kocok inhaler c. tissue 4. Berikan salam. jari telunjuk dan jari tengah b. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Lepaskan penutup inhaler. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Buka mulut. letakan inhaler dengan jarak 0. Sambungkan spacer ke mouthpiece inhaler f. pegang inhaler tegak. cara dan waktu pemberian. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Jika dibutuhkan dosis dua kali semprotan. Letakan mouthpiece inhaler atau spacer ke mulut g. Tarik nafas perlahan selama 2 – 3 detik i. Beri reinforcement positif pada klien 3. 2. Jelaskan kepada klien cara menggunakan inhaler : a. Bantu klien kembali ke posisi semula 4 Tahap Terminasi . 1. dosis. Jaga privacy klien 7. 1. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. nama obat. 10.Memberikan Obat Inhaler Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . genggam dengan ibu jari. Cuci tangan 3. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. bentuk obat (krim/supositiria). Tekan Inhaler ke bawah sambil dihirup perlahan h.

... dosis.. waktu pemberian. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto..... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna ..Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat... 70 .... respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.....

20 cc. Vial berisi medikasi dalam bentuk cairan dan/atau kering. semakin besar diameter jarum. 3. Saat ini syringe sekali pakai (disposible) lebih banyak digunakan untuk menghindari infeksi silang. Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. Gambar.3 Syringe 4. Ukuran syringe dan jarum pada masing-masing tipe injeksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 71 . Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet di atasnya. 1997). 2. Semakin kecil gauge. Pemilihan gauge berdasarkan viskositas larutan yang akan diinjeksikan (Potter & Perry.5 cc. 10 cc. Jarum suntik Jarum suntik memiliki bentuk yang spesifik. Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair. Satuan diameter jarum gauge (G). 50 cc. Vial merupakan sistem tertutup. Jarum biasanya dikemas terpisah dari syringe. Saat menghisap medikasi. Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat di dalam vial tersebut menjadi sulit.OBAT INJEKSI Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial 1. Ujungnya runcing. 3 cc. Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit. Syringe Syringe terdiri dari barrel silinderis dengan ujung yang dibentuk pas untuk jarum dan pada bagian belakang terdapat pendorong karet. Syringe memiliki beragam ukuran: 1 cc. Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit. dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan mengambil cairan di dalamnya. Perawat harus mematahkan leher ampul untuk dapat mencapai medikasi. 2. perawat menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak menyentuh permukaan luar ampul).

Cuci tangan untuk mengurangi infeksi nosokomial 2. Jika leher ampul tidak patah. c. b. gunakan metal untuk mengikir salah satu sisi leher.Kapas alkohol atau kasa 2 x 2 inci .Spuit dan jarum dengan ukuran yang diperlukan .Metal (opsional) . Menurunkan semua cairan yang terkumpul di atas leher ampul. Semua larutan bergerak ke dalam bilik yang lebih rendah. Mencegah percikan gelas ke arah jari atau wajah anda 72 . Patahkan leher ampul ke arah menjauhi tangan anda. Melindungi jari dari trauma ketika gelas ampul pecah.Jarum spuit ekstra Langkah-Langkah 1.Tipe Injeksi Sub Cutan Intra Muscular Intra Dermal Ukuran syringe 1-2 cc 2-3 cc (dewasa) 1-2 cc (anak-anak) 1 cc Ukuran jarum 25 G 19-23 G 26 G Peralatan .Ampul atau vial dari medikasi yang diresepkan . Siapkan medikasi. Ampul a. Letakkan bantalan kasa kecil atau kapas alkohol mengelilingi leher ampul. Sentil bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat menggunakan jari.

Medikasi lebih aman dibuang ke bak. i. Jika spuit terlalu banyak terisi udara. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di dalam jarum memasuki barrel. g. Memeriksa ulang ketinggian cairan memastikan dosis yang tepat Vial a. jangan mengeluarkan udara ke dalam ampul. Dengan perlahan keluarkan kelebihan cairan ke dalam bak. Vial dilengkapi dengan cap untuk mencegah kontaminasi penutup. Masukkan jarum spuit ke dalam lubang ampul. Pegang ampul baik dengan posisi menjorok atau tegak. Mencegah aspirasi gelembung udara. Pegang spuit ke arah vertikal terhadap ujung jarum. angkat jarum dari dalam ampul. dan medikasi di dalamnya akan terbuang h. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari barrel spuit. Jika gelembung udara teraspirasi. Bagian pinggir ampul yang pecah dianggap terkontaminasi. 73 . f. Tekanan udara akan mendorong cairan ke luar ampul. Menahan spuit ke arah vertikal memungkinkan cairan tetap berada di dasar barrel. gunakan bak untuk membuang. Lepaskan cap logam untuk memajan penutup karetnya. pinggiran ampul. Tarik bagian plunger sedikit dan dorong kembali ke atas untuk mengeluarkan udara. Untuk mengeluarkan gelembung udara. Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan. Jika memegang ampul tegak lurus. Jangan biarkan ujung jarum atau batang spuit menyentuh pinggiran ampul. e. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas. Aspirasi medikasi ke dalam spuit dengan menarik ke belakang plunger Menarik plunger ke belakang menciptakan tekanan negatif di dalam barrel yang mendorong cairan ke dalam spuit. angkat ke atas untuk memungkinkan semua cairan masuk ke dalam spuit. CATATAN: Ampul dapat saja dipegang menjorok atau miring sepanjang bagian ujung jarum tidak menyentuh . Periksa ulang ketinggian cairan dengan memegang spuit ke arah vertikal. Jangan mengeluarkan cairan. hentakan sedikit ke bak.d.

dengan bevel jarum mengarah ke atas. Udara harus terlebih dahulu disuntikkan ke dalam vial sebelum mengaspirasi cairan. Dengan kapas alkohol. Tahan bagian ujung jarum di bawah ketinggian cairan. Raih bagian ujung barrel dan plunger dengan ibujari dan jari telunjuk dari tangan yang dominan. Tarik kembali plunger jika perlu. Plunger mungkin akan terdorong kembali ke belakang oleh tekanan udara di dalam vial f. Lepaskan cap jarum. Mencegah aspirasi udara h. Tekanan positif di dalam vial mendorong cairan ke dalam spuit 74 . Membalikkan vial memungkinkan cairan untuk tetap berada di pertengahan bawah vial. Tarik pulunger ke belakang untuk mengumpulkan sejumlah udara yang sama dengan volume medikasi yang akan diaspirasi Mencegah pembentukan tekanan negatif ketika mengaspirasi medikasi.b. d. jangan biarkan plunger kembali ke atas. g. menembus bagian tengah penutup karet (Gbr. usap permukaan penutup karet. Memungkinkan tekanan udara untuk secara bertahap mengisi spuit dengan medikasi. Posisi tangan mencegah plunger dan memudahkan memanipulasi spuit dengan mudah. Bagian tengah dari penutup karet merupakan bagian yang tertipis dan lebih mudah untuk menusukkannya. Balikkan vial sambil tetap memegang vial dengan kuat pada spuit dan plunger. Masukkan bagian ujung jarum. Menjaga bagian bevel ke arah atas dan memberikan tekanan ringan mencegah pemotongan karet sebagai penutup e. 52). Anda pertama-tama harus menyuntikkan udara ke dalam vial. Pegang vial antara ibujari dan jari tengah pada tangan yang dominan. Keluarkan udara ke dalam vial. Membuang debu atau kotoran tetapi tidak mensterilkan permukaan c.

Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. angkat jarum dari dalam vial dengan menarik ke belakang barrel spuit. lepaskan jarum dari vial dengan menarik barrel ke belakang. Sentil bagian barrel dengan hati-hati untuk melepaskan semua gelembung udara. j. Mengurangi transmisi mikroorganisme Kewaspadaan Perawat Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari barrel spuit. Menarik plunger dan bukan barrel menyebabkan terlepas dari barrel dan medikasi dapat terbuang. Buang alat-alat yang basah di tempat yang telah disediakan. Jangan mengeluarkan cairan. Keluarkan semua udara yang terdapat di atas spuit ke dalam vial. Penggantian jarum diharuskan jika perawat menduga terdapat obat pada batang jarum. Manakala dosis yang sesuai sudah terpenuhi. Berikan label pada vial jika masih tersisa obat di dalamnya. Akumulasi udara akan menggantikan medikasi dan menyebabkan kesalahan dosis. menahan spuit secara vertikal memungkinkan cairan untuk tetap berada di dasar barrel. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di datam jarum masuk ke dalam barrel. 4.i. Ganti jarum yang terdapat pada spuit. Mencegah penularan infeksi. Cuci tangan. Untuk mengeluarkan kelebihan gelembung udara. k. Menjamin pemberian obat yang akurat ketika diberikan obat berikutnya 3. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas dan sentil-sentil untulC melepaskan gelembung. 5. l. 75 . Catat jumlah larutan dan konsentrasi obat. Tarik sedikit plunger dan dorong plunger ke atas untuk mengeluarkan udara. Menyentil dengan kuat barel ketika jarum berada di dalam vial dapat membengkokkan jarum. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari berrel. Bungkus jarum dengan capnya. Mencegah kontaminasi jarum dan melindungi perawat dari tusukan jarum. Jarum baru mencegah ceceran obat pada kulit dan jaringan subkutan.

1 cm) .75 cm (dewasa).Ampul atau vial obat . dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik. karakteristik obat. 1991]. memar.Pemberian Suntikan Subkutan dan Intramuskular Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh. Namun. ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah jika perawat tidak cermat. atau nyeri tekan. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika obat diberikan jauh ke dalam otot. jadi hanya obat dalam dosis kecil yang larut dalam air. medikasi dimasukkan ke dalam jaringan ikat jarang di bawah dermis.dan kenakan sarung tangan steril Mengurangi transmisi mikroorganisme.Formulir atau kartu obat Langkah-Langkah 1. 3. perawat harus mengetahui volume obat yang akan diberikan. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi.Untuk suntikan subkutan. Peralatan . Jelaskan prosedur pada klien dan lanjutkan dengan cara yang tenang. 76 . alkohol) . Siapkan medikasi dari ampul atau vial Memastikan bahwa medikasi yang akan diberikan steril. Kaji terhadap alergi. Pastikan bahwa pasien yang tepat mendapatkan obat yang tepat. Kumpulkan peralatan dan periksa urutan medikasi terhadap rute..Spuit (ukuran beragam sesuai dengan volume obat yang akan diberikan) .5 cm [anak] [Whaley and Wong. lecet. Cuci tangan. subkutan-diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. dan waktu pemberian. Membantu klien mengantisipasi tindakan perawat. 6. Hindari area yang terdapat jaringan parut. Pilih tempat penyuntikan yang tepat. intramuskular-diameter 20 sampai 30 dan panjangnya 2. 2. Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat. absorpsi obat agak sedikit lambat dibanding suntikan intramuskular. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat.Jarum (ukuran beragam sesuai dengan tipe jaringan dan ukuran klien. 5. Periksa pita identifikasi klien dan tanyakan nama klien. Memastikan keakuratan urutan pemberian. yang tidak mengiritasi yang dapat diberikan melalui rute ini. diameter 25 sampai 27 dan panjang 1.25 sampai 2. massa. Rute intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai banyak pembuluh darah. Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit. Jaringan subkutan mengandung reseptor nyeri.25 sampai 2. palpasi tempat tersebut terhadap edema.Kasa antiseptik (mis.5 sampai 3. 4. atau infeksi. dosis.

7. atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah. Diperlukan massa otot yang cukup untuk memastikan suntikan intramuskular akurat ke dalam jaringan yang tepat. tengkurap.Lengan klien duduk atau berdiri . gunakan tempat suntikan abdomen.Lengan atas (deltoid klien duduk atau berbaring mendatar dengan lengan atas fleksi tetapi rileks menyilang abdomen atau di atas abdomen.Abdomen-klien duduk atau berbaring . Rotasikan didalam satu region anatomi kemudian pindah ke lokasi anatomi lainnya.Paha (vastus lateralis}-klien berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi .Dorsogluteal-klien tengkurap dengan lutut diputar ke arah dalam.Tungkai-klien duduk di tempat tidur atau kursi Tempat Suntikan Intramuskular . 8. Rotasi tempat suntikan mencegah pembentukan jaringan parut subkutan yang dapat mempengaruhi absorpsi obat.klien berbaring miring. atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan disuntikkan dalam keadaan fleksi Membantu klien mendapatkan posisi yang dapat mengurangi regangan pada otot dengan meminimalkan rasa taknyaman akibat suntikan. . Tempat Suntikan Subkutan . Jangan gunakan kembali tempat suntikan yang sama didalam periode 3 minggu. . Dalam kasus penyuntikan insulin yang berulang setiap hari jangan gunakan tempat penyuntikan.Ventrogluteal . yang melibatkan aktivitas muskular. Saat memberikan heparin subkutan. Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman bergantung pada tempat suntikan yang dipilih.Tempat suntikan harus bebas dari lesi yang mungkin mengganggu absorpsi obat. Untuk penyuntikan intramuskular. palpasi otot untuk menentukan ukuran dan kekerasannya. CATATAN: Antikoagulan dapat menyebabkan perdarahan lokal dan memar jika disuntikan ke dalam area seperti lengan dan tungkai. 77 .

Bicaralah pada klien tentang subjek yang menarik. 11. tempat di mana suntikan akan diberikan. Bersihkan tempat suntikan yang dipilih dengan swab kasa antiseptik. 78 . Cari tempat yang akan dipilih sebagai tempat suntikan menggunakan tanda anatomi. Penyuntikan yang akurat membutuhkan penusukan di tempat anatomi yang tepat untuk menghindari pencederaan jaringan di bawah saraf. atau pembuluh darah.9. Pengalihan perhatian membantu mengurangi ansietas 10. Minimalkan rasa taknyaman selama suntikan. Minta klien untuk melemaskan lengan atau tungkainya. Pasang swab di tengah tempat suntikan dan putar ke arah luar dengan arah melingkar sekitar 5 cm (2 inci). tulang.

encubitan kulit menaikan jaringan subkutan .Untuk klien ukuran sedang. Memastikan bahwa obat mencapai jaringan otot 79 . . Mencegah jarum menyentuh cap dan terkontaminasi 14. Suntikan jarum dengan cepat pada sudut 90 derajat. Pegang spuit diantara ibujari dan jari telunjuk dari tangan anda yang dominan bayangkan seperti memegang anak panah. cubit kulit pada tepmat suntikan dan suntikan jarum di bawah lipatan kulit. dengan tangan nondominan anda regangkan kedua belah sisi kulit tempat suntikan dengan kuat atau cubit kulit yang akan menjadi tempat suntikan. Penusukan yang cepat dan kuat meminimalkan ansietas dan ketidaknyamanan klien Intramuskular . Penyuntikan cepat waspada membutuhkan manipulasi bagian spuit yang tepat 15. Pegang swab diantara jari ketiga dan keempat dari tangan anda yang tidak dominan. cubit otot tubuh dan suntikan obat. Swab akan tetap mudah terakses saat waktunya mencabut jarum 13.Gerakan mekanik swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme 12.Posisikan tangan nondominan pada tanda anatomik yang tepat dan regangkan kulit. Klien obes mempunyai lapisan lemak di atas jaringan subkutan . Lepaskan cap jarum dari spuit dengan menarik cap lurus. Mempercepat penyuntikan dan mengurangi ketidaknyamanan.Suntikan jarum dengan cepat dan kuat pada sudut 45 derajat (kemudian lepaskan cubitan kulit bila dilakukan). Suntikan spuit: Subkutis .Untuk klien obesitas. (Kebanyakan perawat memegang spuit dengan telapak tangan ke atas untuk penyuntikan subkutan dan telapak tangan ke bawah untuk penyuntikan intramuskular karena perbedaan sudut penusukan). P.Jika masa otot tipis. Penusukan jarum pada kulit yang tegang lebih mudah dibanding kulit yang kendur.

Manakala jarum memasuki tempat suntikan. dan ulangi persiapan obat. 18. 16. Darah yang teraspirasi ke dalam spuit menunjukkan bahwa jarum i menusuk intravena.5 sampai 3. Jika terlihat darah di dalam spuit. Dengan perlahan tarik kebelakang plunger untuk mengaspirasi obat. Metoda Ztrack membentuk jalur zig-zag melalui kulit yang membungkus jalur jarum untuk menghindari kebocoran obat melalui jaringan subkutan yang sensitif. 17. pertahankan agar tetap menahan kulit dengan tangan nondominan anda.Jika memberikan preparat yang dapat mengiritasi. Cabut jarum dengan cepat sambil meletakkan swab antiseptik tepat di bawah suntikan 80 . dengan tangan nondominan anda raih ujung bawah barrel spuit. Pindahkan tangan dominan anda ke ujung plunger. Penyuntikan dengan tepat memerlukan manipulasi halus bagian spuit.5 ml udara ke dalam spuit untuk membentuk sumbatan udara. Obat akan menjadi berbusa jika diaspirasi. buang spuit. Jika tidak terlihat darah. CATATAN: Beberapa institusi menganjurkan untuk tidak melakukan aspirasi penyuntikan heparin subkutan. Obat-Obat intramuskular dan subkutan tidak digunakan untuk pemberian intravena. Gerakan spuit dapat mengubah letak jarum dan menyebabkan rasa taknyaman Jika menggunakan metoda Z-track.5 cm ke arah lateral ke samping. Tarik kulit di bawahnya dan jaringan • subkutan 2. - Kulit harus tetap ditarik sampai obat disuntikan. Obat tidak akan berbahaya jika diberikan intravena. suntikan obat dengan perlahan. tarik kembali jarum. Saat menggunakan metoda ini perawat menghisapkan 0. CATATAN: Heparin adalah antikoagulan yang secara khas diberikan dalam dosis kecil melalui subkutan. Tahan bagian belakang kulit dan suntikan jarum dengan cepat Sumbatan udara membersihkan jarum dari obat untuk mencegah tracking obat melalui kulit dan jaringan. Hindari gerakan spuit. Gunakan tangan dominan anda untuk meraih ke arah plunger. Penyuntikan perlahan mengurangi nyeri dan trauma jaringan. lakukan metoda Z-track.

Tempat penyuntikan intrakutan dan tekniknya 81 . Kewaspadaan Perawat Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. Jika tampak darah di dalam jarum spuit selama aspirasi. Kembali untuk mengevaluasi respons klien terhadap obat dalam 15 sampai 30 menit. cepat cabut jarum dan mulai dari awal lagi. Mencatat pemberian obat dan mencegah kesalahan pemberian obat berikutnya 24.2 ml udara ke dalam spuit setelah menyiapkan dosis obat. Tes tuberculin. Kemudian lepaskan kulit setelah menarik jarum. Pertimbangan Pediatri Jika memang diharuskan untuk memberikan obat dalam bentuk cairan pada anak. 2. Masase tempat suntikan dengan perlahan kecuali merupakan kontraindikasi seperti pada penyuntikan heparin. Menyokong jaringan di sekitar tempat suntikan sehingga meminimalkan rasa taknyaman ketika jai-um dicabut. Memungkinkan obat untuk menyebar dengan rata. Jangan sekali-kali mengagetkan anak. Buang jarum tidan berpenutup dan letakkan spuit ke dalam tempat yang sudah diberi label. Otot dorsogluteal seharusnya tidak digunakan untuk penyuntikan pada anak-anak kecuali otot tersebut berkembang dengan sempurna. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. Catat pemberian obat pada lembar obat atau catatan perawat. yang dapat menunjukkan cedera saraf. Pastikan bahwa anak mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan membuat anaknya tidak nyaman. 19. Udara bertindak sebagai ruang vakum untuk membersihkan lubang jarum dari obat. tarik 0. Penyuntikan Intrakutan dan Intravena Injeksi Intrakutan/ Intradermal Injeksi intrakutan adalah salah satu metode injeksi dimana obat dimasukan ke dalam jaringan kulit (dermal) yaitu epidermis. Vastus lateralis adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anakanak. mengontrol penyebaran infeksi 23.Jika mengunakan metoda Z-track. Ada baiknya untuk tetap tidak memperlihatkan ruam pada anak untuk meminimalkan ansietas. Mencegah cedera pada klien dan tenaga personel. Masase menstimulasi sirkulasi kemudian meningkatkan penyebaran serta penyerapan obat 20. Pengamatan anda menentukan kemanjuran kerja obat. Berikan orangtua kesempatan untuk membantu menahan anak mereka selama penyuntikan. Biasanya dipakai untuk : 1. Setelah penyuntikan tenangkan anak. Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. Menutup kembali jarum dapat menyebabkan penusukan dari jarum dan sudah tidak dianggap praktik yang aman 22. Obat parenteral diserap dan bekerja lebih cepat dibanding obat oral. memberikan klien rasa kesejahteraan 21. tahan agar jarum tetap ditempat setelah menyuntikan obat selama 10 detik. Bidang jaringan saling menindih untuk membentuk jalur zig-zag yang menutupi obat ke dalam jaringan otot. Uji coba obat tertentu terhadap reaksi alergi. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa terbakar di tempat suntikan.

Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 7. Gunakan sarung tangan 5. jika lengan bawah tidak dapat digunakan. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 8.15 derajat 12. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . Buat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan dan instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 19. Cuci tangan 82 . Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 11. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 13. Cek catatan perawat dan medis : program pemberian obat melalui intradermal 2. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Cuci tangan 3. muntah. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 18. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. Jika terdapat darah. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 14. gunakan tempat altematif 6. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 15. Buka tutup jarum 10. 16. Kembalikan posisi klien 20. pingsan. mual. berkurangnya tekanan darah. sianosis) 17. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 9. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. berkeringat. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Jika test alergi +.Langkah-langkah : 1. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat.

Gunakan sarung tangan 5. misalnya pada lengan. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin PUSTAKA Kozier. Langkah-langkah : 1. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 9. Kencangkan tourniquet 10. et.Injeksi Intravena Injeksi intravena kita harus memilih vena yang besar. Metode ini menyebabkan reaksi cepat. 14. selama dan setelah dilakukan injeksi IV. Process and Practice. Teknik ini dibutuhkan perawat dengan ketrampilan khusus. all. Cuci tangan 3. Lepaskan tourniquet 16. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 8. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 7. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. lalu tusuk perlahan dan pasti. Sebelum. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. 11. 7nd edition. punggung telapak tangan. 83 . Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. Pada saat penusukan posisi harus tepat dan tidak goyah. B. Lakukan aspirasi 15. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 6. 12. harus dimonitor tanda-tanda vitalnya. Fundamentals of Nursing : Concept. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 17. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. (2004). 13. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. New Jersey : Pearson Education. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 18.

Mhs : Variabel yang dinilai A. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek nama pasien* 4. Siapkan alat 8. Siapkan obat a. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Cek dosis* 5. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Cek waktu pemberian* 7. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 84 . Tahap Preinteraksi 1. Cuci tangan * 9. Cek nama obat* 3. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b.CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA DERMAL Nama No. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 Ni lai 1 2 11. Lakukan double cek obat (nama obat. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10.

Kembalikan posisi klien 24. Tahap Orientasi 1. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Mulai dengan cara yang baik 4. dosis dan cara pemberian* 85 . Tahap Terminasi 1. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. muntah. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . berkeringat. Cuci tangan* E. Dokumentasi Catat nama obat. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 17. Simpulkan hasil kegiatan* 3. nama pasien. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Buat tanda dengan membuat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan 22. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 15. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 21. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 16. Kaji efek obat dan respon klien* 25. pingsan. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 13. Jika terdapat darah. Bereskan alat* 6. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. waktu pemberian. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. jika lengan bawah tidak dapat. Perkenalkan diri* 3. gunakan tempat altematif 8. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 10. Gunakan sarung tangan 6. Tanyakan keluhan dan kaji adanya alergi* 3. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 9. 19. Jaga privasi klien 5. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. mual. Baca label obat sekali lagi* 7. Instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 23. Tahap Kerja 1. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. berkurangnya tekanan darah. Jika test alergi +. 18. Berikan salam 2. Jelaskan tujuan tindakan* C. Buka tutup jarum 12.15 derajat 14.9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* B. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. sianosis)* 20. Evaluasi perasaan klien 2. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 11. Panggil klien dengan namanya* 4.

Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1 = Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75%

Nilai ………………

Pengampu ………………………….

86

CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA MUSCULAR Nama Mhs : Variabel yang dinilai A. Tahap Preinteraksi 1. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek nama obat* 3. Cek nama pasien* 4. Cek dosis* 5. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan alat 8. Cuci tangan * 9. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan Nilai 0 1 2

11. Lakukan double cek obat (nama obat, dosis dan hasil perhitungan)* 12. Siapkan obat a. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas, ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum, tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah, perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 87

B. Tahap Orientasi 1. Berikan salam 2. Perkenalkan diri* 3. Panggil klien dengan namanya* 4. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Jelaskan tujuan tindakan* C. Tahap Kerja 1. Berikan kesempatan klien untuk bertanya 2. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Jaga privasi klien 4. Mulai dengan cara yang balk 5. Gunakan sarung tangan 6. Pilih tempat penusukan 7. Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman dan mudah untuk perawat melihat tempat penusukan 8. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi IM. 9. Bersihkan tempat vang akan digunakan dengan kapas alkohol 10. Buka tutup jarum 11. Tarik kulit di tempat penusukan dengan cara : 12. Tempatkan ibu jari dan jari telunjuk tangan non dominan di atas tempat penusukan (hati-hati jangan sampai mengenai daerah yang lelah dibersihkan) hingga membentuk V 13. Tarik ibu jari & jari telunjuk dengan arah berlawanan, memisahkan jari sepanjang 3 inc 14. Cepat masukkan jarum dengan sudut 90 dengan tangan yang dominan 15. Pindahkan ibu jari dan jari telunjuk jari non dominan dan kulit untuk mendukung barrel spuit, jari sebaiknya ditempatkan pada barrel sehingga saat mengaspirasi, anda dapat melihat barel dengan jelas. 16. Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit 17. Jika terdapat darah, tarik jarum keluarkan berikan tekanan pada tempat tusukan dan ulangi langkah ke C6 hingga C14. Jika tidak ada darah, dorong plunger dengan perlahan, ajak klien berbicara. 18. Tarik jarum dengan sudut yang sama saat penusukan 19. Usap dan bersihkan tempat penusukan dengan kapas alkohol lain (jika kontra indikasi untuk obat, berikan penekanan yang lambat saja) 20. Tempatkan jarum pada baki 21. Buka sarung tangan 20. Kembalikan posisi klien 21. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Tahap Terminasi 1. Evaluasi perasaan klien 2. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Bereskan alat* 6. Cuci tangan* F. Dokumentasi Catat nama obat, nama pasien, waktu pemberian, dosis dan cara pemberian* Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali Pengampu

88

………………………….

89 .1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% Nilai …………… …………….

Siapkan obat a. Cek catatan perawat dan medis 2. Cuci tangan * 9. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 NILAI 1 2 11. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Cek waktu pemberian* 7. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Siapkan alat 8. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Cek nama obat* 3. Cek nama pasien* 4. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Tahap Preinteraksi 1. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Cek dosis* 5. Lakukan double cek obat (nama obat.INJEKSI SUBCUTANEUS Nama MHs : ASPEK YANG DINILAI A. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan*90 .

………………… ………. Berikan reinforcement 3. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. 91 . Akhiri kegiatan 5. Evaluasi hasil kegiatan 2. obat yang diberikan dosis dan cara pemberian Totai Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma Pengampu Nilai 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% ………………………….D. tangan E. Tahap Terminasi 1.

Kencangkan tourniquet 11. Simpulkan hasil kegiatan 3. 16. identifikasi klien dan panggil klien dengan namanya 2. Lepaskan tourniquet 18. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Jaga privasi klien 4. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 10. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. caranya Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% NILAI 0 1 2 Pengampu Nilai …………………………. tangan D. Tahap Orientasi 1. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin C. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 20. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. Evaluasi perasaan klien 2. Mulai dengan cara yang baik 5. 92 .INJEKSI INTRAVENA Nama Mhs : ASPEK YANG DINILAI A. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 19. Jelaskan prosedur dan tujuan pemberian obat pada klien/ keluarga C. 13. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian obat yang diberikan. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 8. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar* B. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Akhiri kegiatan 5. Tahap Kerja 1. Cuci tangan 3. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. dosis. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 9. Tahap Preinteraksi 1. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 7. Gunakan sarung tangan 6. Lakukan aspirasi 17. Tahap Terminasi 1. lalu tusuk perlahan dan pasti 15. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. Berikan salam. 12. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3.

Perawat harus memerksa dosis obat yang tertulis di dalam catatan medis dan mencocokkannya dengan label obat dan melakukan penghitungan dosis yang akurat. dan usia klien. berat badan. sedangkan dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan sediaan obat dalam bentuk bubuk dalam vial yang harus diencerkan menjadi bentuk cair) Yang ditanya: berapa ml/cc obat yang harus diberikan kepada klien Jawab 1. Ada berbagai macam cara atau metode menghitung dosis obat.MENGHITUNG DOSIS OBAT Penghitungan dosis obat adalah kegiatan menentukan dosis yang dipesankan oleh tim medis berada dalam rentang dosis yang sesuai dengan rute pemberian. misalnya obat tersedia dalam jumlah milligram atau milliliter yang ekuivalen (H) Vehicle adalah bentuk/kemasan obat atau jumlah tablet atau jumlah larutan yang sesuai dengan dosis yang tersedia Mount adalah isi/jumlah obat yang diberikan misalnya dalam milliliter atau tablet milligram (A) Rumus penghitungan dosis obat DxV =A H Contoh: Dosis sesuai program dokter (D) adalah 400 mg Dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan bentuk sedian obat adalah tablet) Yang ditanyakan: berapa banyak tablet yang harus diberikan ke klien? Jawab: 400 x 1 tablet = 2 tablet 200 Metode 2 Rasio dan proporsi Rumus: H : V= D : A Contoh Dosis sesuai program dokter adalah 400 mg. Perawat harus membaca label pada obat untuk melihat aturan pengenceran yang diperbolehkan misalnya dalam label obat akan tertulis 93 . Metode 1 Persamaan dasar Dosis yang diinginkan adalah dosis yang sesuai dengan program pengobatan (D) Dosis yang tesedia adalah dosis yang ada di kemasan obat.

Perawat harus membaca berat bubuk di dalam vial misalnya 1 gram isi vial setara dengan 1 gram bubuk obat 3. 1 ml cairan obat setara dengan 200 mg bubuk obat (1 gram/1000 mg = 5 ml.diencerkan dengan 5 ml aquabides. 1 ml = 1000/5 = 200 ml) 94 . Apabila terdapat 1 gram bubuk obat dalam vial yang akan diencerkan dengan 5 ml aquabides berarti ketika pengenceran sudah dilakukan. berarti bubuk obat di dalam vial akan diencerkan dengan 5 ml aquabides sehingga bentuk sediaan akan berubah menjadi cair 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->