BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

TIM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2013

1

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan sistem Blok Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dapat terselesaikan dengan baik. Kurikulum baru ini dirancang untuk menjawab tantangan global dunia pendidikan khususnya untuk mencipta Ners yang terampil dan profesional. Pendidikan keperawatan pada masa kini selalu mengalami perubahan dinamis, cepat dan kontinyu. Ners dari Universitas Jenderal Soedirman diharapkan mampu menangani pasien maupun masalah kesehatan di masyarakat, sehingga wajib dibekali pengetahuan yang luas, keterampilan yang handal, mampu berkomunikasi berdasarkan empati (komunikasi efektif), serta berbudi pekerti luhur yang tercermin pada sikap dan perilaku. Beranjak dari hal itu, maka (KBK) dengan sistim Blok disusun berdasarkan paradigma baru pendidikan Ners dengan waktu studi diselesaikan minimal selama 3,5 tahun untuk akademik dan satu tahun untuk profesi Ners. Program yang dijalankan untuk menyelesaikan kurikulum baru ini, dijabarkan dalam bentuk program semester yang dilaksanakan dengan pola blok tematik berdasarkan kebutuhan hirarkhi Maslow. Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini merupakan panduan belajar mahasiswa pada ranah psikomotor yang tentunya ranah kognitif dan afektif juga ikut terlibat di dalamnya. Jumlah keterampilan tindakan pada Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini berjumlah 9 keterampilan. Kompetensi psikomotor pada blok ini diharapkan dimiliki oleh seorang Ners atau calon perawat lulusan Universitas Jenderal Soedirman, sehingga setelah menjalani Blok Fundamental of Nursing II selama 5 minggu kemampuan yang diperoleh dapat diinternalisasikan dan terus-menerus diterapkan pada tingkat selanjutnya sampai nanti menjadi Ners praktisi. Saran dan kritik membangun masih kami tim terima dalam rangka perbaikan buku panduan Blok Fundamental of Nursing II ini sehingga pengembangan dan peningkatan mutu pendididikan profesi keperawatan khususnya di Jurusan keperawatan FKIK Unsoed ini akan terwujud dengan kerja sama berbagai pihak dalam proses pembelajaran bersama.

Purwokerto, 10 September 2013

Tim Blok Fundamental of Nursing II

2

DAFTAR ISI DDST ...................................................................................................... KPSP........................................................................................................ Pengenalan Bentuk-Bentuk Sediaan Obat............................................... Rute Pemberian Obat............................................................................... Menghitung dosis obat............................................................................. Leg Exercise ............................................................................................ Pemeriksaan Fisik Anak dan Neonatus ................................................... Ballard Test..............................................................................................

3

bahasa. bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. 3. Rekomendasi untuk rujukan test suspect atau untestable : d. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Intrepretasi hasil DDST a.DDST (DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST) 1. 3) Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara. Untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak b. Pengertian DDST DDST kependekan dari Denver Developmental Screening Test yaitu suatu test untuk melakukan pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia 1 bulan sampai dengan 6 tahun menurut Denver. Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan factor 4 . Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas. Tujuan DDST Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar. melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. Apa yang harus dilakukan bila hasil DDST Suspect. c. adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia 1 bulan dampai dengan 6 tahun. Untuk menstimulasi perkembangan anak c. 2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu. 4. Fungsi DDST Fungsi DDST adalah: a. mengikuti perintah dan berbicara spontan 4) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1) Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri. Normal : Tidak ada kelambatan b. tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Suspect : Satu atau lebih kelambatan dan/atau dua atau lebih banyak kewaspadaan. Untuk pedoman dalam perawatan perkembangan anak d. 2. Untuk mendeteksi dini keterlambatan perkembangan anak Aspek perkembangan yang diamati terdiri dari 125 tugas perkembangan. Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Untestable : Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75 % sampai dengan 90 %. Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak.

karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu 5. Cara Pemeriksaan Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap. Langkah-langkah pemeriksaan DDST: 1) Tetapkan umur kronologis anak. 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90 D. gunakan penilaian klinis berdasarkan hal berikut : angka kewaspadaan dan kelambatan. 9-12 bulan. Bila skrining ulang bersifat suspect atau untestable. Berdasarkan pedoman. Abnormal. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan. Kemudian dapat dilakukan pada anak yang berusia: 3 tahun. OK Melewati. hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal. 1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan. dan 18-24 bulan. pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia . yaitu: A. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75 C. usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun Interpretasi dari nilai Denver II: A. pemeriksaan dan riwayat klinis. penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan.temporer. gagal. Pada anak-anak yang lahir prematur. Meragukan dan Tidak dapat dites. 4 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. ketersediaan rujukan. e. dan 5 tahun B. tanyakan tanggal lahir anak yang akan 5 . Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis. C. Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut) B.

Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Lembar formulir DDST II 3). 2). kubus warna merah-kuning-hijau-biru. kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). Lula? Jawab: 2008 – 4 – 1 2006 – 8 – 5 1 – 7 -26 Jadi usia An. jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas. pensil. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah: 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah. buku gambar/ kertas. sehingga usia kronologis An. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. berapa yang P dan berapa yang F. Contoh: An. pakaian. Hitung usia kronologis An. Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Lula adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan. Penilaian: Jika Lulus (Passed = P). 6 . Alat yang Digunakan 1). Alat peraga: benang wol merah. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor. Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. kismis/ manik-manik. kartu/ permainan ular tangga. peralatan gosok gigi. gagal (Fail = F). ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). 6. Peralatan makan. Lula lahir pada tanggal 5 Agustus 2006.2) 3) 4) 5) diperiksa.

Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………………. pindahkan pada formulir sesuai dengan usia kronologis anak 3) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 4) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. meliputi aspek perkembangan: a. 5. ……… Evaluator Nilai 1 2 2. dekatkan pada pemeriksa. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 3) Berikan privasi. Bahasa c. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 1) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 2) Jelaskan prosedur pemeriksaan. waktu. 1. FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN DDST/DENVER II : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 1) Siapkan alat yang akan digunakan. 3. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 1) Siapkan lembar formulit DDST yang akan digunakan 2) Hitung usia kronologis anak. 4. Motorik kasar (Gross motoric) d. 2) Pastikan ruangan hangat. Motorik halus (Fine motoric) 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 1) Observasi perubahan perilaku anak 2) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 3) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan Dokumentasi 1) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 2) Catat tanggal. dan nama pemeriksa (tanda tangan).) PIJAT BAYI 7 . Nilai: Purwokerto.Nama NPM No. Personal sosial b. lakukan pendekatan pada anak.

An Pengertian Sentuhan alamiah pada bayi sesungguhnya sama artinya dengan tindakan mengurut atau memijat. ia bisa menjadi terapi untuk mendapatkan banyak manfaat buat bayi. dan bertambahnya kadar serotonin. bagian dada. disarankan hanya diberi gerakan usapan halus. Tak ada teknik pijat yang baku. seperti radang telinga tengah.Kep. bayi yang banyak memperoleh sentuhan. tangan. yang akan memupuk cinta kasih timbal-balik. Utami Roesli. Untuk keperluan itu. Bayi umur 1 . Sp. Sebelum tali pusat lepas.Oleh Dian Ramawati. M. menyebutkan terapi pijat 30 menit per hari bisa mengurangi depresi dan kecemasan. khususnya dari ibu. Lagi pula ia akan merasa aman karena merasa yakin memiliki kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. campak. dan diakhiri pada bagian punggung. Namun. melaporkan. mampu mengurangi perasaan gelisah dan depresi sehingga 8 . dokter anak dan psikiater dari Amerika. sebaiknya tidak dipijat di daerah perut.. Kalau tindakan ini dilakukan secara teratur dan sesuai dengan tata cara dan teknik pemijatan bayi. Terhadap perkembangan emosi anak. Ini akan diikuti dengan peningkatan berat badan. dan menjadi penentu bagi anak untuk menjadi anak yang berbudi pekerti dan percaya diri. Pemijatan dimulai dari kaki. dalam makalah berjudul Touch Therapy: Science Confirms Instinct. perbaikan kondisi psikis. muka. J. Untuk bayi usia 3 bulan . ahli virologi mulekuler dari Inggris. belaian. Field seperti dikutip dr.. bisa menerapkan teknik dan tahapan pemijatan masing-masing. berkurangnya kadar hormon stres. Rene Spitz.3 bulan. Pijatan juga terbukti dapat melegakan saluran napas yang menyempit karena asma. menurut dr. David Hull. untuk bayi berumur 0 . jarang mengalami simptom hospitalismus (gangguan yang sering dialami bayi yang tinggal di panti asuhan. Pengamatan T. diberi gerakan pijat halus dengan tekanan ringan. Ns. sentuhan orang tua merupakan dasar perkembangan komunikasi. dan pijatan akan mempererat ikatan kasih sayang orang tua dengan anak. Terapi pijat 15 menit selama enam minggu pada bayi usia 1 .1 bulan.Kep.). gangguan usus. bisa ditambah dengan tekanan.3 bulan juga meningkatkan kesiagaan (alertness) dan tangisnya berkurang. Tidurnya pun bertambah tenang. Sentuhan. dll. tidak perlu mengundang dukun pijat bayi sebab pemijatan bisa dilakukan sendiri. Tiap individu.3 tahun.

nenek. memberikan stimulasi pada permukaan jaringan. berkhasiat pada jaringan penentu kemelaran otot yang terletak pada gelendong jaringan otot. menganjurkan agar usapan dilakukan sedikit lebih bertenaga dan diarahkan ke jantung. Tangan diletakkan sejajar dengan anggota badan. aliran darah meningkat dan pembuluh darah lebih lebar. Penelitian di Australia 9 . atau anggota keluarga lain. dr. sehingga bermanfaat bagi anak yang berpembawaan gugup. menurut Ahr. menurut Ahr. Cara lain. ahli fosioterapi. ibu. Bayi akan mendapat keuntungan lebih besar bila pemijatan dilakukan tiap hari sejak lahir sampai usia enam atau tujuh bulan.serangan asma berkurang. sambil mengurut seperti menggulung sosis atau mengaduk adonan. dapat menenangkan anak. Dari lingkaran besar kemudian mengecil. dan gerakan lingkar) bisa saling melengkapi. Mengurut bayi bisa juga dengan gerakan remasan. Barbara Ahr. Usapan juga dapat merangsang aliran darah dan getah bening. lingkaran yang terbentuk akan makin bulat. remasan. Teknik kocokan dilakukan dengan cara "menggulung". Setiap gerakan yang berkaitan dengan kegiatan mengurut atau memijat memiliki khasiat. Bila dikerjakan secara lengkap. Bahkan pemijatan pada bayi dari ibu HIV-positif dapat lebih menaikkan berat badan dan meningkatkan perkembangan motorik bayi. Dengan kata lain. kemudian membuat bentuk lingkaran-lingkaran dengan kedua tangan. bahkan ke bagian jaringan lebih dalam. Gerakan usapan misalnya. dapat dimulai kapan saja sesuai keinginan. kocokan. Sejak usia enam bulan. mirip gerakan membuat adonan roti. Utami Roesli menyebutkan bahwa pijat bayi dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. sekaligus akan lebih melancarkan peredaran darah. Teknik ini bermanfaat untuk mengendorkan jaringan. hasilnya akan lebih baik. Tindakan pijat dikurangi seiring dengan bertambahnya usia bayi. Remasan. Mula-mula dilakukan usapan. Teknik remasan dilakukan dengan cara bagian tungkai atau lengan dipadatkan atau dimelarkan menggunakan sisi tangan bagian dalam dan sedikit gerakan memeras. Teknik urut lingkar. Hasilnya. Bisa juga malam hari sebelum bayi tidur sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak. Pada anak yang lesu dan malas bergerak. Pemijatan bisa dilakukan oleh ayah. pijat dua hari sekali sudah memadai. Jadi. dengan teknik lingkar. Semua teknik urut (usapan. Pemijatan dapat dilakukan pagi hari sebelum mandi. remasan dapat membuat otot bayi menjadi lebih kuat. Dengan latihan.

bayi yang dipijat ayahnya berat badannya cenderung naik dan hubungan dengan ayah makin baik. ayah. Baju bersih (popok. sarung tangan dan kaki) Handuk Baby oil / baby lotion Alas kain / kasur kecil . 3. sambil diajak berbicara. 2. atau tak mau dipijat. Sebelum dan selama pemijatan. Meningkatkan bonding attachment antara bayi dengan anggota keluarga yang lain (ibu. 2. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. Tujuan 1. Yang juga penting diperhatikan. 3. Meningkatkan daya tahan tubuh / imunitas bayi Meningkatkan rasa percaya dan harga diri pada pasangan muda Alat yang digunakan 1. 4. Tidak boleh memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi. Lakukan sentuhan ringan dan lembut.membuktikan. Periksa kuku dan perhiasan untuk menghindari goresan pada kulit bayi. Akibatnya. Penyerapan makanan yang lebih baik akan menyebabkan si kecil cepat lapar dan karena itu lebih sering menyusu. 4. Sebelum memijat. nenek atau paman) Meningkatkan nafsu makan dan berat badan bayi Bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus-nya (saraf otak ke10). Tapi jangan memijat segera setelah bayi selesai makan. kulit bayi perlu sesering mungkin dilumuri baby oil atau baby lotion. Bayi sudah makan atau benarbenar tidak sedang lapar. pastikan tangan Anda bersih dan hangat. produksi ASI akan lebih banyak. Ini membuat kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin naik sehingga penyerapan terhadap sari makanan pun menjadi lebih baik. 2. Jangan memijat bayi yang sedang tidak sehat. 10 Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. 3. jangan membangunkan bayi hanya untuk dipijat. Langkah Kerja 1.

Atau. disusui. 4. dari pangkal paha dengan gerakan memeras. Anda bisa belajar mengenali reaksi anak dan bisa mengamati penerimaan kegiatan memijat ini oleh anak. dari atas ke bawah. Pemijatan dimulai dari kaki. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. muka. membuat lingkaran-lingkaran kecil pada telapak kaki. 7. Lewat kontak pandang. telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. pemijatan sebaiknya dihentikan. Telapak kaki diurut dengan kedua ibu jari. ada baiknya sambil bersenandung atau memutar lagu lembut. atau mengantuk. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. bagian dada.terutama bila bayi sudah mulai menerima pijatan itu. memijat. Bila bayi menangis. tangan. 11. dan memutar kaki bayi secara lembut. Atau. Untuk memijat perut. 9. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. dengan 11 . pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. Selama pemijatan. dan diakhiri pada bagian punggung. 5. dua tangan bergerak bersamaan. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. 8. Selanjutnya kedua tangan membuat Rapatkan kedua kaki bayi. 10. Kalau tangisnya makin keras. 6. Mungkin bayi minta digendong. Untuk menciptakan suasana tenang. gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki.

Pemijatan tangan dimulai dari pundak. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. Atau. gerakan membuat gambar jantung besar hingga ke tepi selangka. gerakan membentuk huruf "U". dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Ada juga gerakan membuat lingkaran-lingkaran searah jarum jam. Cara lain. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. memijat. kedua tangan melakukan gerakan memeras. Pada telapak tangan. lalu jari-jari tangan diregangkan seolah membuat gambar burung kecil. 14. Atau. 13. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari tengah dada ke samping. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Atau. Kemudian kedua lengan bayi 12 . gerakan seperti membuat gambar jantung kecil di sekitar puting susu. 15. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. 16. Selanjutnya.12. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari.

Kedua ibu jari memijat alis mulai dari Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. 18. 20. 13 . Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. dengan gerakan mengusap. membuat lingkaran-lingkaran kecil. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan.17. 19. Atau. juga ke daerah pipi di bawah mata. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. tengah ke samping. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi.

Selanjutnya kedua tangan membuat gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari 14 Nilai 0 1 2 2. Lumuri badan bayi dengan baby oil / baby lotion sesering mungkin sebelum dan selama pemijatan d. Kaji kondisi bayi b... Rapatkan kedua kaki bayi. dengan telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian..... Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan.. j....... membuat lingkaranlingkaran kecil pada telapak kaki. m... NIM No 1. Selanjutnya.. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. . e. : . dari pangkal paha dengan gerakan memeras. bagian dada. tangan. c. Siapkan alat yang akan digunakan : • Alas kain / kasur / matras • Baby oil / baby lotion • Baju bersih • Handuk b.. Letakkan handuk untuk menutupi badan bayi b. 3. h... dua tangan bergerak bersamaan. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu... Atau. f... Pemijatan dimulai dari kaki. muka... Urut kedua telapak kaki dengan ibu jari. g. Cuci tangan. Letakkan bayi pada pangkuan / matras / kasur Tahap Kerja a. i.. Selama pemijatan. k. sambil diajak berbicara.... dan diakhiri pada bagian punggung. Kalau tangisnya makin keras.. Bila bayi menangis. gerakan membentuk huruf "U".. memijat.CHECK LIST PIJAT BAYI Nama Mahasiswa : . Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. dan memutar kaki bayi secara lembut. dari atas ke bawah. pemijatan sebaiknya dihentikan.. Untuk memijat perut.... gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. pastikan tangan kering dan hangat c..... Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi.. l. Ada juga gerakan membuat lingkaranlingkaran searah jarum jam. Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala... dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari.. Lakukan sentuhan ringan dan lembut.. Aspek yang Dinilai Tahap Pre – Interaksi a. Lepaskan perhiasan pada tangan yang dapat menggores kulit bayi Tahap Orientasi a...... pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang..

tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. (…………………………. Kemudian kedua lengan bayi dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. juga ke daerah pipi di bawah mata. Kaji respon bayi selama dan setelah dilakukan tindakan b..) 15 . tengah dada ke samping. o. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari tengah ke samping. Atau. r. Atau. t. 4. Tahap Terminasi a. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. membuat lingkaran-lingkaran kecil. memijat. s. q. kedua tangan melakukan gerakan memeras. p. Atau. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. Pada telapak tangan. Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Pakaikan bayi baju bersih yang telah disiapkan Purwokerto. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. ……………… Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai : Evaluator. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. dengan gerakan mengusap. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut.n. dan memutar secara lembut pada lengan bayi.

yaitu postur. jaringan payudara tidak dapat diidentifikasi. recoil lengan. 3. 1. 1. seperti penyatuan kelopak mata. tidak ada lanugo (rambut halus di permukaan kulit). kulit transparan lembab. square window. 4. 3. 2. Salah satu metode yang paling sering digunakan tentang penentuan usia gestasi didasarkan pada temuan fisik dan neurologis. Alat ini mempunyai bagian fisik dan neuromuscular yang mencakup skor -1 dan -2 yang menunjukkan bayi sangat premature. 3. dan sudut square window (fleksi pergelangan tangan) lebih dari 90 derajat. Skala Ballard dapat digunakan untuk melakukan pengkajian pada bayi baru lahir usia gestasi 20 minggu. Alat Format pengkajian Ballard Test. Memberikan perawatan yang dibutuhkan oleh bayi sesuai dengan usia gestasinya. Pada bayi premature dilakukan dalam waktu kurang dari 96 jam. Setiap tanda mempunyai skor dan skor kumulatif yang didasarkan dengan rentang skala maturitas gestasi dari 20 sampai dengan 40 minggu. 1. 2. 16 . Mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir.PENGKAJIAN USIA GESTASI 1. Tujuan Memastikan usia gestasi bayi baru lahir. tanda scarf. 2. Pengkajian meliputi enam tanda-tanda neuromuskular dan fisik eksternal. sudut popliteal. Untuk bayi dengan usia gestasi kurang dari 26 minggu dapat dilakukan dalam waktu sampai 96 jam setelah kelahiran. dan tumit sampai telinga. Pengertian Pengkajian usia gestasi merupakan kriteria penting karena morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) perinatal berhubungan dengan usia gestasi dan berat badan lahir. Indikasi Dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam pada bayi dengan usia gestasi 20 minggu.

ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut (sama dengan sudut popliteal). posisikan bayi telentang. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah. tahan selama 5 detik. 4. 3. Posisikan bayi telentang. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen. Observasi letak siku terhadap garis tengah. 9. Meteran Meja dan lampu periksa. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. selimuti dan nyalakan lampu periksa. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. Ukur sudut dibelakang lutut. Prosedur Kerja Jelaskan prosedur pada ibu dan keluarga. Tonus otot dan derajat fleksi meningkat sesuai maturitas. dan pernafasan) Siapkan meja periksa yang telah dialasi dengan kain yang lembut dan bersih. 8. 17 . 4. 3. Letakkan bayi diatas meja periksa.2. 11. Setelah bayi tenang. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. 5. 6. Alas dan selimut bayi. 10. suhu. Telapak tangan bayi akan terlihat seperti akan menggengam. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. 1. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. 7. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. Cuci tangan Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. 5. 2. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi.

18 . 14. berikan kepada ibu dan keluarga. Bereskan alat. 16. Tentukan usia gestasi bayi (matur atau premature). 13. berat badan dan lingkar kepala bayi. Catat hasil pemeriksaan pada format yang tersedia. cuci tangan. Dokumentasikan pada catatan perkembangan bayi. 15. Ukur panjang.12. Selimuti bayi.

19 .

20 .

Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. Observasi letak siku terhadap garis tengah. Tahap Kerja a. g. Baca kembali RM bayi. Check List PENGKAJIAN USIA GESTASI (BALLARD TEST) : ………………………… : ……………………….. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah h. o. b. Posisikan bayi telentang. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. Setelah bayi tenang. b. tahan selama 5 detik.. 3. Ukur sudut dibelakang lutut. NAMA NIM No 1. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut p. c. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. Siapkan alat-alat : alasi meja periksa dengan bahan halus dan bersih. Bereskan alat-alat. Jelaskan prosedur kepada keluarga. Tahap Terminasi 21 Nilai 0 1 2 2. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. m. Bawa alat-alat dalam baki dan letakkan dekat bayi. cuci tangan. Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen k. j. 4. dan pernafasan) Tahap Orientasi a. f. d. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. suhu. l. b. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. posisikan bayi telentang. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. selimuti dan nyalakan lampu periksa. n. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat i.6. Ukur panjang. e. dan pastikan suhu kamar hangat. Cuci tangan perawat.. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. berikan privasi. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. Aspek yang dinilai Tahap Pra-Interaksi a. . berat badan dan lingkar kepala bayi. Letakkan bayi diatas meja periksa. q. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras.

.... Nilai : Purwokerto..(.... b.. Evaluator Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75 % dari total nilai tindakan... nadi dan pernafasan serta respon bayi b. . Catat hasil pemeriksaan pada format pengkajian............. tentukan usia gestasi bayi... a. Dokumentasikan tanggal dan waktu tindakan...... ……………......5.... 22 .. Observasi suhu.. Kontrak untuk pertemuan selanjutnya bila diperlukan Dokumentasi a......

Lingkar lengan d. dan suara yang lembut. mulai dari anak yang paling kooperatif 6. c. diperiksa terakhir. 2. Ruangan dengan dekorasi menarik . Lakukan dengan program bermain. 3. Kaji adanya f1engalaman traumatik e. Tinggi badan c. Mau berbicara dengan Perawat. 9. Libatkan dalam proses: a. c. 8. b. Suhu ruangan nyaman .Jika anak tidak siap : a. c. 7. Bercerita yang lucu atau bermain magic sederhana. Jelaskan setiap tahap dengan bahasa yang sederhana. Membina kontak mata. Head to toe b. Dilakukan pada area yang tidak berbahaya: a. Lebih perhatian kepada orang tua. prinsip ABC dan daerah injury lebih dahulu. Hindari penjelason yang lama tentang prosedur pemerikasaan. Menerima peralatan yang diberikan. b. Jika ada beberapa anak. Daerah yang sakit. 4. PENGUKURAN PERTUMBUHAN Terdiri atas berat badan. e. b. lalu secara bertahap alihkan kepada orang tua atau mainan anak b. c. g. Berikan pilihan (misal dipangkuan ibu atau diatas meja). tinggi badan. Minimalkan stimulasi (batasi jumlah orang. Tinggi badan: Lahir-36 bulan: posisi recumbent 2 tahun-18 tahun : berdiri b. Lingkar kepala : 23 . c. d. Ijinkan anak untuk menyentuhperalatan pemerikasaan. a Lakukan pemeriksaan secepat mungkin. lingkar lengan dan Iingkar kepala. Mulai dari prosedur yang kurang mengancam. Mau dipisah dari orang tua .. a. Lakukan pemeriksaan dengan bertahap a. gunakan ruangan yang terisolasi. Membiarkan sentuhan fisiko e. boneka . Jaga privacy anak terutama anak usia sekolah dan remaja. d. . Situasi emergensi. Jika memungkinkan sediakan ruangan yang sesuai dengan tahap usia. d.PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK PEDOMAN: 1. Diskusikan hasil pemeriksaan pada keluarga. Hargai dan puji anak atas ker jasama selama periksaan PEMERIKSAAN FISIK I. Libatkan orang tua selama proses f. Beri pujian atas penampilan (pakaian) anak atau mainan favorit anak. 5. Kaji kesiapan anak : a. Sediakan mainan.

Area pemeriksaan : subingual. nyeri : akan memilih satu posisi tertentu Hygene : bau badan. 24 . eritema. servikal. Variasi warna kulit : sianosis. Penampilan umum. Adalah penilaian subjektif atas penampilan fisik anak. demam. tempratur. tampak sakit umum. kuku. distribusi dan elastisitas Faktor yang rnempengaruhi : Iingkungan. keadaan nutrisi. kiri. Pernapasan: c.- Perlu diukur sampai usia 36 bulan Lokasi : diatas alis mata. posisi dan pergerakan tubuh Anak dengan pendengaran yang kurang. akan memajukan tubuh. h. Kulit Tekstur. genetik dan fisiologis. perkembangan dan bicara Wajah: Meringis : nyeri. indikasi injury serebri • ROM Minta anak untuk melihat (atas. Kelenjar limphe Cara : Lakukan palpasi dengan gerakan melingkar pada lokasi yang biasanya terdapat kelenjar Iimphe.bayi mampu mengangkat kepala Head lag setelah 6 bulan. reaksi terhadap stres. gigi dan pakaian Behavior: tingkat aktivitas. pinna dan mengelilingi occipital Pada usia 1-2 tahun LK=LD Lakukan interpretasi merujuk pada NCHS. interaksi dengan orang too dan perawat. kanan) Hambatan ROM: wryneck (torticolitis) Timbul akibat injury otot sternocleidomastoditis Kepala melihat ke satu sisi dan dagu bertitik pada satu point. kesulitan bernapas. posisi. bawah. postur. tetapi akan lebih akurat dengan menggunakan DDST. Tekanan darah e. kecemasan dan faktor patologik Cara: pada bayi observasi gerakan abdomen dan satu menit penuh d. paralisis ? • Kontrol kepala & posture kepala Usia 4 bulan. kelembaban dan turgor. Dilakukan dengan observasi. Denyut nadi : Bayi : denyut apikal Lebih dari 2 tahun : denyut radial Pada bayi hitung satu menit penuh b. Perkembangan. KEPALA Observosi: • Bentuk & simetris : senyum. Tempratur : oral. aktivitas. petekia dan jaundice g. II. submaksilaris. PENGUKURAN FISIOlOGIS a. aksilaris dan inguinal is. interaksi dengan orang tua dan perawat dan respon terhadap stimulus. pallor. rectal. Postur. aksila Dipengaruhi oleh usia. tonsilar. f.

dan kejernihan 2.5 . indikasi problem paru-paru. Difteri Pelebaran vena di leher : indikasi kesulitan ekspirasi pada astma + cystis fibrosi Palpasi • Masa? • Normal: trachea di tengah.nyeri pada saat flexi. arah pertumbuhan dan warna. agak ke kanan Abnormal: Pergeseran. LEHER Observasi Ukuran: • Normal leher pendek + adanya Iipatan kulit antara leher + kepala + bahu • Abnormal : Leher pendek : sindrome Turner Leher edema : Mumps. infeksi mulut.5 Inner chantal distance: 2.Epistotonos: hiperextensi kepala dg. fontanel & pembengkakan Fontanel anterior : 12 -18 bulan Fontanel posterior menutup: 2 bulan i. Jarak antar pupil 4. misal tumor dan benda asing di paru • Kelenjar tiroid o Di dasar leher o 2 lobus kiri kanan dihubungkan oleh is~mus j. Sklera Normal: putih Kuning : jaundice Kornea : normal : transparan dan bersih Iris: ukuran.Down Syndrome Ptosis? Blinking reflex: Asimetric : paralisis Infrequent : kelemahan otot Bulu mata : distribusi. MATA 1.5. indikasi iritasi meningeal Palpasi Sutura. Inspeksi struktur internal . lepaskan karena akan menyebabkan distorsi gambar kecuali jika kacamata digunakan untuk mengoreksi astigmatis berat dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan ketajaman penglihatan pemeriksaan dilakukan di ruangan redup tetapi tidak perlu digelapkan persiapkan anak: • demonstrasikan penggunaan alat • jelaskan alaSQn peredupan ruangan 25 . Inspeksi struktur internal menggunakan ophtalmoskop jika anak menggunakan kaca mota. warna.5 Jarak > besar: Hipertelorisme Hipertelorism: epicantal fold upward Palpebral slant : indikasi pada .Pertumbuhan bulu mata atas ke bawah beresiko infeksi.

Corneal light reflex test (Red reflex gemini = Hirschberg test) a.4 bulan. Evaluasi terhadap adanya kontriksi pupil. dst. Penglihatan perifer d. artinya ketajaman penglihatan 20/20 Arti: pada jarak 20 feet. mengikuti cahaya. dan penglihatan warna a. bertambahnya alertness. Ketajaman penglihatan c. Penglihatan warna a. menutup mata. strabismus. binocularity Strabismus. kebutaan (Amblyopia) Dua test deteksi malposisi : 1. Walau begitu test ini tidak cukup untuk menilai penglihatan anak Test lain yang juga dapat digunakan adalah kernarnpuan bayi untuk 26 . satu mota deviasi pada satu point. mereka bisa membaca huruf yang besarnya 7 mm . Binocularity b. Test ketajaman penglihatan Yaitu kemampuan untuk melihat benda-benda yang dekat dan jauh Test : Snellen Letter Chart jarak: 20 dari snellen chart lalu membaca setiap huruf yang ada Jika bisa membaca pad a garis ke-7. • Merupakan standar ketajaman penglihatan Jika hanya bisa membaca pada tine (baris) 2 : ketajaman penglihatannya 20/100. Arti: orang lain bisa melihat pada jarak 100 feet.30 bulan Simbol: rumah. Otak akan mensupresi image yang dihasilkan oleh mata. Jarak 40. dengan optalmoskop. ia hanya bisa melihat pada jarak 20 feet Snellen chart : digunakan pad a anak preschool Untuk anak 2 tahun : Black Bird Vision Screening Vision System • Anak diminta untuk menyebutkan ke arah mana burung akan terbang • Mungkin sulit untuk mengkoordinasikan mata & tangan Faye Symbol Charts 27 . mobil. menolak untuk rnernbuka rnata setelah terkena cahaya. normal: jika cahaya jatuh simetris pada setiap pupil abnormal: jika cahaya tidak jatuh pada satu pusat mata. Cover test Tutup satu mata b. Epichantal fold akan menimbulkan salah persepsi pseudostrabismus 2. BINOCULARITY Kemampuan untuk memfiksasi satu lapangan penolong dengan dua mata secara simultan Normal: 3 . lampunya secara langsung diarahkan ke mata. penglihatan perifer.5 cm (16 inch) b. Test ketajaman penglihatan pada infant dan anak yang sukar untuk ditest Berikan sinar pada mata. mobil.Jika dideteksi dalam 4-6 tahun. apel. ketajaman penglihatan. telpon. yaitu : test binocularity. lama kelamaan menyebabkan kelemahan pada mata.Test Penglihatan Terdiri atas 4 jenis.

Pemeriksaan lapangan pandang Pada anak yang cukup usia dan kooperatif Minta anak untuk melihat satu objek (tangan pemeriksa) yang digerakkan pada 4 quadran penglihatan. 1. Kebersihan telinga 2. benda-benda berwarna lain • Jika sampai 3 . Penglihatan Warna 8 . mungkin merupakan indikasi adanya kerusakan pada ke-2 mata. farmasi Test : Ishihara test Hardy-Rard Rittler (HRR) test Yaitu : gambar/huruf yang dibentuk dari berbagai komposisi warnawarna yang membingungkan untuk penderita buta warna k. Diperlukan test-test lain untuk meniastikan adanya kebutaan pada bayi. Minta anak mengatakan 'stop' pada saat ia bisa melihat objek/tangan Normal : anak dalam melihat 50% : upward 70% : downward 60'0 : nasalward 90% : temporally Keterbatasan pada area tersebut. Adanya masalah pada satu sisi mata.4 bulan. bayi belum mampu untuk mengikuti suatu berkas • Lakukan pemeriksaan dengan optalmoskop Tanda lain adanya gangguan penglihatan ketidakmampuan untuk mengikuti suatu benda.Atau demonstrasikan prosedur terlebih dahulu terhadap 27 . Posisi : tarik telinga ke atas dan ke belakang pada posisi jam 10 atau tarik telinga kebawah dan ke belakang posisi jam 6-9. Inspeksi struksur exterrn Pinna (auricle) Periksa penempatan dan posisi telinga Bagian atas telinga harus melewati garis khayal dari sebelah dalam. buta warna tidak menimbulkan masalah besar. Sebelum prosedur ijinkan anak untuk mengeskplore perlengkapan. slow lateral movement. pucat dengan hijau Deuteranomally: bingung antara abu-abu dengan ungu pucat dan hijau Secara umum. mungkin merupakan indikasi adanya kebutaan d.mengikuti suatu benda • Bisa digunakan wajah pemeriksa. c. fotografi. Inspeksi struktur interna Menggunakan otoskop Observasi: membran timpani. demografi. TELINGA Terdiri atas inspeksi strukttr interna dan test pendengaran. mengalami 99 penglihatan warna Ada banyak variasi buta warna. strabismus yang nyata. nystagmus yang konstan. Tetapi adalah sulit untuk melihat bagian mata satu persatu. yang paling banyak: protanomaly dan deuteranomally Protanomally: anak tidak bisa membedakan antara warna abu-abu/biru.10% wanita kulit putih.Kesulitan memilih karir/pendidikan yang berkaitan dengan dengan warna: elektronik.

Kaji dinding telinga. Normal. benda asing dan infeksi Test ketajaman pendengaran. discharge. Inspeksi lidah 3. mukosa hidung akan tampak lebih merah dari mukosa.Normal berwarna pink Kaji adanya iritasi pada.kebersihan gigi yang kurang.setelah selesai pemeriksaan katakan bahwa mencari gajah tersebut hanya perumpamaan saja. Inspeksi mukosa : normal berwarna pink adanya ulserasi dan perdarahan. Bentuk  Bayi : AP = Lateral  Abnormal : • Barrel chest = pyk paru kronik (asma dan cystic fibrosis) • Pigeon breast (pectus carinatum). tonsil dan oropharing posterior. Costal Angle Excavatum). uvula. m. Simetris  derajat 28 Normal 45 . HIDUNG Adakah deviasi ? Simetri ? Minta anak untuk menegadahkan wajahnya soat pemeriksaan. Atraumatik Care: Saat akan memeriksa anak. bau mulut indikasi adanya penyakit gusi atau . gusi dan palatu lunak dan palatum keras. MULUT DAN TENGGOROKAN 1. inflamasi. bagian Ukur antara sternum dan batas tepi iga. Apakah ada napas cuping hidung ? Inspeksi struktur internal: mukosa. katakan pada anak -soya inginmelihat apakah ada gajah pada telinga kamuH. plaque n.Ucapkan "terima kasihH atas ker jasama anak. DADA INSPEKSI a. Bibir: warna.orang tua. Inspeksi strukstur interna Inspeksi gigi. sternum keluar • Funnel Chest (pectus b. Inspeksi papila Abnormal: Coated tongue pada candidiasis Protrusion tongue ditemukan pada retardasi mental. 2. bawah sternum (terdepresi) Gangguan pernapasan c. bengkak. kering atau perdarahan. l. 4. Gunakan tongue spatel atau minta anak untuk mengatak "ahh”. kering.

Nipple •  simetris  skoliosis  Sirnetris  Asimetris: Normal: Gerakan dinnding dada = abdomen  Anak < 67tahun. penya kit paru < 45 derajat = malnutrisi Normal: e. minimal di bagian basis 29  Vocal Fremitus . PARU-PARU Normal. Retraksi dinding dada f. sela iga ke 11 INSPEKSI PERNAPASAN  Frekuensi  Ritme  Kedalaman  Kualitas (sulit / spontan) PALPASI :  Excursion Simetris / tidak? Normal : pada napas dalam paru-paru bawah akan berkembang 5-6 cm Rasakan vibrasi yang simetris pada sternum + vetebra Maximal di apex paru. basis anterior sela iga 8 dan basis posterior. pernapasan abdomen  Anak) 6-7 tahun.d. Apeks: sela iga 3. Gerakan dinding dada  • Abnormal: > 45 deraja t= barrel chest. pernapasan dada Normal : pada midcJavicula iga 4-5 o.

Fremitus menurun: penyakit paru Fremitus tidak ada: obstruksi bronkus pada aspirasi benda asing   PERKUSI :     i Pleural Friction Rub Crepitasi Resonan Dullness Flatness Tympan Pleural Friction Rub dan Crepitasi dapat diperiksa dengan auskultasi dan palpitasi Ditemukan pada semua bagian paru Jantung Hepar Gaster AUSKULT ASI :  Normal : • Vesikuler • Bronkovesikuler Terdengar pada seluruh bagian paru kecuali intrascapular dan manubrium Inspirasi > ekspirasi Terdengar di manubrium dan upper intrascapular. PALPASI  PMI (Point of . INSPEKSI : Penonjolan Indikasi pembesaran jantung Pada anak yang sangat kurus sering ditemui pulsasi Sela iga ke-4 ( < 7 tahun) 30 b. •  Abnormal: • Cracles • Fine Crakles Wheeze Rhonki Bronkhial p. pada trachea & bifurcatio bronkhus Inspirasi = ekspirasi Hanya pada trachea dan suprasternal Inspirasi < ekspirasi Karena adanya cairan pada jalan napas besar Karena adanya cairan pada jalan napas kecil Penyembpitan jalan napas (tumor. JANTUNG a. asma atau benda asing) Jalan napas besar terobstruksi oleh sekret yang kental.

PALPASI : Mulai dari distal ke proksimal  Hepar Normal teraba pada bayi dan young children Ukuran 1-2 cm Hepatomegali jika lebih dari 3 cm Hepar akan turun saat inspirasi. hygene  Hernia inguinalis  Hernia femoralis b. Capilary refill Sela iga ke-5 ( > 7 tahun) Palpasi paling kuat saat ekspirasi   Indiksi sirkulasi perifer Normal kurang dari 2 detik. hati-hati 31 . c.Maximum) Thrills Vibrasi yang disebabkan karena aliran darah pada satu bagian memalu bagian yang menyempit atau terbuka secara abnormal. ABDOMEN a. INPEKSI  Asites  Tumor  Organomegali  Umbilicus : hernia. c.   AUSKULTASI Peristaltik PERKUSI Tympani Flattnes Setiap 10 – 30 detik Gaster Hepar d. AUSKULT ASI :  Bunyi jantung : • S1 • S2 • S3 • S4 Penutupan katup mitral dan trikuspidal Penutupan katup pulmonal dan aorta Normal terdengar pada anak-anak dan dewasa muda Abnormal q.

Dimple + rambut (pilonidal cyst) 3. 6. Polip Hemoroid Femosis Hipospadi Hernia inguinalis. Perempuan :  Klitoris  Lesi  Vagina  Labio mayora  Labio minora  Orificium uretra s. Laki-laki :  Glans  Meatu s uretra  Skrotu m  Testis 2. 7. ANUS 1. Tulang belakang asimetris (depan. 3. belakang. 2. hidrochele Cryptochohidism t. 2. samping) Spina bifida Iritasi CNS Simetris Jari Clubing Sianosis Temperatur Bentuk Bowleg Polidaktili Gangguan sirkulasi Jarak tibia > 5 cm Biasa pada toddler saat belajar jalan Jarak maleoli > 7. finger 4. Mobilitas sefik u.dalam interpretasi  Spleen Ginjal Blader Caecum Nadi femoralis Normal pada bayi dan young child Spleenomegali > 2 cm    r. TULANG BELAKANG 1. Scoliosis 2. GENITAL 1.5 cm 32 . 5. EKSTREMITAS 1.

(Genu varum) 8. 11. ROM Tonus otot Refleks Knock knee Normal pada usia 2 – 7 tahun Hilang setelah 1 tahun Indikasi lesi spinal cord 33 . Babinski 10. ( Genu valgum) 9.

3. 4. Jantung 12. Keadaan umum : kesadaran. Mulut 8. : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 3) Siapkan alat yang akan digunakan. Kulit 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 4) Observasi perubahan perilaku anak 5) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 6) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan 34 Nilai 1 2 2. tekanan darah 3. Telinga 9. Genitalia 16.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK Nama NPM No 1. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 5) Siapkan lembar pemeriksaan fisik anak yang akan digunakan 6) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 7) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. . 4) Pastikan ruangan hangat. meliputi aspek: 1. Tengkuk 10. Lingkar Kepala 5. Ekstrimitas 17. Dada 11. dekatkan pada pemeriksa. postur tubuh (kurus/gemuk) kelemahan 2. Hidung 7. TB/BB ( persentil ) 4. Punggung 15. frekuensi pernafasan. Perut 14. Paru-paru 13. Mata 6. nadi. Tanda vital: suhu. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 4) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 5) Jelaskan prosedur pemeriksaan. lakukan pendekatan pada anak. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 6) Berikan privasi.

……… Evaluator. Nilai: Purwokerto.5. Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. waktu.) 35 . Dokumentasi 3) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 4) Catat tanggal. dan nama pemeriksa (tanda tangan).

buku catatan. Sedangkan bayi adalah individu yang berusia 40 hari sampai dengan 1 tahun. 3. penlight. Setiap bayi baru lahir perlu diperiksa / dikaji secara cermat pada seluruh sistem tubuhnya. ossilometric (jika ada). Cara Pemeriksaan Ada beberapa pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada neonates / bayi. dan tenaga kesehatan lainnya untuk secara berkesinambungan mengkaji adanya perubahan atau gejala suatu penyakit pada neonatus. pengukur panjang badan badan. 2.PEMERIKSAAN FISIK NEONATUS/BAYI 1. pena. termometer aksila. timbangan. perawat. Masa neonatal adalah periode selama 1 bulan atau lebih tepatnya 4 minggu = 28 hari setelah lahir. Tujuan Merupakan tugas para tenaga kesehatan yaitu medis. Alat yang digunakan Stestoskop. pola fungsional organ tubuh) 4. Pengertian Neonatus adalah organisme yang sedang berada pada periode adaptasi kehidypan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. antara lain: 1) Penilaian APGAR 2) Pengkajian usia gestasi dan maturitas fisik 3) Pemeriksaan reflex primitive 4) Pengukuran antropometri 5) Pemeriksaan fisik (tanda vital. sarung tangan (k/p). jam dengan detikan 36 .

Mencuci tangan. pena. b. Palpasi klavikula (normal/abnormal) g. cekung) 2. Kaji tanda-tanda vital (nadi. lemah. pernafasan. Ukur PB. amati suara nafas (kanan dan kiri sama atau tidak. waktu (pada orangtua) c. Fase Kerja a. mengenggam) 6. ossilometric (jika ada). suhu) 4. Tahap Persiapan a. 1. Persiapan alat Stestoskop. cuping hidung) 3. c. Auskultasi paru. buku catatan. apakah bunyi nafas terdengar disemua lapang paru atau menurun.2) 3. menonjol. tegas. terpisah atau menjauh) 3. B. timbangan. Menjamin privasi C. Mata Kaji mata apakah bersih atau ada sekresi. palatum (normal. Toraks 1. Amati respirasi dan hitung frekuensinya. Kaji keaktifan dan tangisan bayi d. Paru-paru 1. e. LK. Periksa bagian kepala 1. b. A. No Aspek yang dinilai . 2. Memberikan kesempatan anak/orangtua untuk bertanya d. langkah prosedur. 0 Dilakukan 1 2 37 . kaji telinga (normal/ abnormal) 2. Amati adanya kaput succedanum dan cephalhematome d. Menyapa. abnormal) f. jam dengan detikan. Kaji kesadaran bayi (sadar penuh. Orientasi a. menghisap. warna kulit) 2. NPM : ……………. pengukur panjang badan badan. obstruksi. 5. penlight. sarung tangan (k/p). Cuci tangan b. Buka baju bayi. Periksa kondisi umum (rewel. Kaji reflek (moro. LP. LD. Kaji sutura sagitalis (tepat. THT 1. hidung (bilateral. menjelaskan tugas perawat. adakah suara nafas tambahan). memperkenalkan diri. amati adanya retraksi (derajat 0. Amati kesimetrisan wajah 4. Periksa Keadaan Umum 1. termometer aksila. Amati kesimetrisan toraks 2. datar. tenang. Menjelaskan tujuan pemeriksaan.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK BAYI/NEONATUS Nama Mahasiswa : ……………. BB. letargis) 3. kaji fontanela anterior (lunak.

) 38 . liang vagina. perkusi abdomen (kembung. kaji adanya mottled (mengindikasikan terpapar suhu dingin) 2. auskultasi bising usus 3. catat adanya kelainan. Pada pria: Kaji ukuran penis. kaji kesimetrisan gerakan ekstremitas atas dan bawah k. ada tidaknya atresia ani. Kulit 1. kaji warna kulit. meatus uretra. ……… Evaluator. Dokumentasikan hasil pemeriksaan Nilai: Purwokerto. palpasi abdomen (supel atau keras) 4. kaji apakah testis sudah turun. kaji apakah gerakan bebas 2. Jantung 1. ujung meatus uretra (cek hipo/epispadia). auskutasi suaran jantung (apakah bunyi normal sinus rytm (NSR). minora. m. kaji peradangan n. Abdomen 1. Dokumentasi a. Genetalia Pada wanita: amati labia mayora. klitoris. C. palpasi hati (kurang atau lebih dari 2 cm) j. kaji adanya kelainan dinding abdomen (tegas. Ekstremitas 1. hitung frekuensinya i. datar) 2. sekret.h. Anus kaji kepatenan anus. D Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. amati iktus kordis 2. hipertimpani) 3. kaji adanya thriil 4. Evaluasi respon anak dan sampaikan hasil kesimpulan pemeriksaan kepada orangtua. kaji turgor Fase Terminasi a.Umbilikus Kaji adanya peradangan atau hernia umbilikalis k. palpasi point maximal impuls 3.

kering. b. Mempelajari karakteristik masing-masing tipe obat 2. Menyebutkan fungsi dan kegunaan masing-masing tipe obat 3. PULVIS/SERBUK TABUR = tidak terbagi-bagi Serbuk ringan untuk penggunaan permukaan topikal. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk membantu saudara mempelajari berbagai tipe obat secara mandiri.homogogen. PULVIS DAN PURVERES Serbuk adalah campuran kering bahan obat/zat kimia yang dihaluskan. Syarat : halus. Mempelajari fungsi atau kegunaan masing-masing tipe obat C. GAMBAR PULVIS DAN PURVERES 39 . B. Menyebutkan keuntungan dan kerugian masing-masing tipe obat E. saudara dianjurkan: 1.dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.PENGENALAN TIPE OBAT A. Sediaan obat di pasaran dikemas dalam berbagai bentuk. MATERI 1.ditujukan untuk pemakaian oral/untuk pemakaian luar (topikal). Menyebutkan karakteristik masing-masing tipe obat 2. Pulvis berdasarkan cara memberikannya ada 2 : a. LANGKAH-LANGKAH Untuk memudahkan pembelajaran dan pencapaian tujuan. SASARAN PEMBELAJARAN Dalam pembelajaran ini saudara diharapkan mampu memahami beberapa tipe obat D. PULVERES = terbagi-bagi Serbuk yang terbagi dalam bobot yang sama.dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. SASARAN KHUSUS Setelah mempelajari buku ini saudara diharapkan mampu : 1. Tiap bentuk memiliki tujuan dan kegunaan khusus.

dapat dicampur dengan air minum untuk oral. Keuntungan bentuk sediaan serbuk : a. seperti garam-garam fero (mudah teroksidasi) menjadi garam feri. Cara penggunaan . menurut petunjuk dalam brosur yang disediakan. Kerugian bentuk serbuk : a. Penyebaran obat lebih luas dan lebih cepat daripada sediaan kompak (tablet dan kapsul) b. Digunakan untuk : anak – anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet. Memberikan kebebasan pada dokter untuk pemilihan obat/kombinasi obat dan dosisnya f. c. Obat-obatan yang rusak oleh udara tidak boleh diberikan dalam bentuk serbuk. Berdasarkan konsistensi cangkang kapsul 1) Kapsul kerasà terbuat dari gelatin berkekuatan gel relatif tinggi. Lebih cepat di absorbsi d. Membutuhkan waktu dalam meraciknya. 2. d. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. Macam kapsul: a. berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 μm dengan atau tanpa vehikulum. kertas yang dilapisi parafin. Jumlah volume obat yang tidak praktis /sukar dapat diberikan dalam bentuk pulvis e. Untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan obat. Tidak tertutupinya rasa dan bau yang tidak enak (pahit.Pengemas : kertas perkamen. atau dari pati. GRANUL:Sediaan bentuk padat. dilarutkan/disuspensikan dulu dalam air /pelarut yang sesuai dengan volume tertentu. kertas selofan dll. lengket di lidah.sebaiknya diberikan dalam bentuk “coated tablet” b. Pada penyimpanan kadang terjadi lembab atau basah. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. Tidak tepat untuk obat yang tidak enak rasanya. amis dan lain – lain) e. Cangkang kapsul mengandung: • Zat warnaà berbagai oksida besi • Bahan opak/pemburamàTiO2 • Bahan pendispersi • Pengawet 2) Kapsul lunakà skala besar Cangkang kapsul mengandung : • Pewarna • Bahan opak/pemburam • Pengharum • Pengawet • Sukrosa 5% sebagai pemanis 40 . sepet. Diharapkan lebih stabil dibandingkan dengan sediaan cair c. Cara penggunaan: Sebelum diminum. CAPSULAE=KAPSUL Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak.

NH4Br. Cembung Jenis : • Compressed tablet: large scale production à dies under pressure (tons) • Molded tablet: manual forcing. COMPRESSI=TABLET Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan. trochisi  Tablet sublingual à ISDN. KBr. steroid hormon 41 .• Penyalut enterik b. Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik. krn dosis dan kombinasi obat bisa disesuaikan  Dapat dibuat sediaan cair jika diinginkan dengan konsentrasi tertentu  Dapat utk sediaan lepas lambat Kerugian:  Tidak sesuai untuk bahan obat yang mudah larut (KCl.BO setengah padat . Cara pemakaiannya • Per rektal • Per vaginal • Peroral • Topikal Bahan yang dapat diformulasi dalam bentuk kapsul : .BO padat .BO cair BENTUK CANGKANG KAPSUL Keuntungan:  Menutupi rasa dan bau bahan obat yang kurang enak  Memudahkan penggunaannya dibanding serbuk  Mempercepat penyerapannya dibanding pil dan tablet  Kapsul gelatin keras cocok untuk peracikan. CaCl2)à larutan pekat dapat mengiritasi lambung  Tidak dapat digunakan untuk bahan eflorescen (ada air kristalnya) dan delikuesen (menyerap air sampai menjadi larutan) 3. tablet hipodermik Cara penggunaan  Tablet kunyah à lozenge. Bentuk tablet: Pipih.

Bebrapa jenis obat tidak dapat di kempa menjadi padat dan kompak. 2. Tablet merupakan sediaan yang ongkos pembuatannya paling murah 3. antibiotik  Tablet sisip atau pellet (dimasukkan implantasi dibawah kulit) à hormon gonad  Tablet hipodermik (dilarutkan dalam air steril dan diinjeksikan dibawah lidah) à dinitrat material Keuntungan: 1. absorbs optimumnya terlalu tinggi melalui saluran cerna. Anak kecil: belum tentu suka dan sulit memakannya (ukurannya besar) MACAM. Obat yang sukar di basahkan. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET 42 . Tablet merupakan sediaan yang mudah dan murah untukdikemas dan dikirim 4. mekanik. 3. Kerugian: 1. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia. dosisinya cukup tinggi. lambat larut. Tablet bukal (dimasukkan diantara pipi dan gusi di dalam rongga mulut) à hormon  Tablet effervescent à (Na-karbonat) vitamin  Tablet hisap atau trochisci à antiseptik. dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. Tablet merupakan sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua sediaan bentuk oral untuk ketepatan ukuran dan variabilitas kandungan yang paling rendah 2.

SUPPOSITORIA. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum dan ini digunakan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan. Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5. 2. melarut atau meleleh pada suhu tubuh. baik dalam rectum maupun vagina atau uretra. maka supositoria akan masuk dengan sendirinya. berbentuk torpedo. mudah melemah (lembek) dan meleleh pada suhu tubuh. Bentuknya ramping seperti pensil. Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram.0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai “pessarium”. seperti pasien yang mudah muntah. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao. Supositoria dipakai untuk pengobatan local. 3. dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam.4.5 inchi). Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru. dapat melunak.torpedo atau jari-jari kecil. dan infeksi. Polietilengli-kol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin. walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya. gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita. Ovula adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk telur.6 mm dengan panjang ± 140 mm. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan 43 . Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. Bahan dasar yang digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao). Ovula supaya disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. OVULAE Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur. tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Juga secara rectal digunakan untuk distribusi sistemik. Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. seperti pada penyakit hemoroid. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila yang bagian besar masuk melalui otot penutup dubur. Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi: 1.

Macam sediaan salep: a. b. BENTUK SUPOSITORIA DAN OVULAE Keuntungan: 1. biasanya digunakan pada daerah yang teriritasi atau tempat yang sensitif. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung 2. suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan. biasanya 32 mm. tidak bergerak dan tergolong sediaan semi padat. Krim : Jenis salep yang dapat dicuci. Sediaan salep bervariasi dalam komposisi. 4.cerata. konsistensi dan tujuan penggunaannya. jeli. biasanya mengandung obat untuk pemakaian pada kulit atau pada membran mukosa. UNGUENTUM. 4. panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram. mengandung satu/ > bahan obat. bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. 5. Bahan obat larut/terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. CERATA. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan. pasta. Baik. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Beberapa variasi dari prototipe salep banyak digunakan dalam praktek peresepan dan dibedakan dengan namanya. bila dipakaikan pada kulit akan melunakkan dan membentuk lapisan penutup pada permukaan kulit.beratnya ½ dari ukuran untuk pria. krim. Tidak menyenangkan penggunaan 2. CREMOR. Kerugian: 1. memiliki konsistensi yang lebih lunak dan mengkilat. Untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”. Namun. Berbentuk emulsi minyak 44 . Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat member efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral. JELLY Salep (unguenta/ointment) : Bentuk sediaan yang lunak. bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya. Unguenta : mengandung relatif lebih sedikit bahan dan perbedaan pokok dengan yang lainnya pada konsistensi. oculenta. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan 3. PASTA. keduanya berbentuk sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil. Macamnya : unguenta.

titik lebur tinggi. Fungsi Salep :  Dasar salep atau pembawa substansi obat untuk penggunaan pada kulit (topikal)  Pelumas pada kulit  Pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit dengan rangsang kulit SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. berantai panjang dalam air. mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical. mengandung sedikit atau tanpa malam. h. popular digunakan pada bidang dermatologi. biasanya terdiri dari ampuran sederhana lemak dengan titik leleh rendah dan minyak. bersifat kaku. mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %. d. asam-asam lemak atau alcohol. mengandung malam dalam persentase tinggi. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. 45 .50 % Beberapa keuntungan bentuk sediaan pasta:  Mengikat cairan sekret lebih baik dari unguentum  Lebih melekat pada kulit Cerata : Salep berlemak. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. dan umumnya adalah campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik leleh rendah. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. konsistensi lebih kenyal dari unguentum. hampir cair.c.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang Oculenta ( ungentum ophtalmicae) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. membentuk dan mempertahankan lapisan pelindung pada area yang diaplikasikan. dalam air atau dispersi mikrokristal. e. tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum. Vaselin Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. gum atau bahan pensuspensi sebagai basis. dapat dicuci karena mengandung mucilago. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap. mudah dibersihkan. digunakan pada membran mukosa. Pasta : mengandung zat padat dalam persentase tinggi. mengandung sedikit/tidak lilin. g. Bahan dasar salep. f. jernih & tembus cahaya yang engandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut _lebih encer dari salep. digunakan pada membran mukosa dan untuk tujuan pelicin atau sebagai basis bahan obat. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. biasanya tidak meleleh pada suhu tubuh. untuk tujuan melicinkan dan sebagai basis obat. Jeli : Salep yang sangat tipis.

maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. ELIXIRA BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR a. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. MIXTURAE. 46 . Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya.6. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. manula dan untuk penderita yang sukar menelan. 2) LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. o Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) o Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. Sifat-sifat: o Homogen o Dosis dapat diubah-ubah o Cocok untuk anak-anak. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air. SOLUTIONES. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. maka omset juga cepat o Dapat diberikan dalam larutan yang encer. misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus. o Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut. o Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. 1) LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. Apabila menyebut solutio. o Absorpsi obatnya cepat. tingtur dan air.

SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. antiseptika. Mengandung bahan mudah menguap. misal sakit hepar. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. d. e. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. ada eliksir yang menggunakan alkohol 3% saja. glycerinum. analgetika lokal atau adstringentia. Eliksir bersifat hidroalkohol. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. eliksir kurang manis dan kurang kental. Contoh: Bisovon eliksir. Mudah ditelan dibandingkan dengan tablet atau kapsul 2. lalu dikumur-kumur.Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan. tidak ditelan. 47 . Contoh: Effisol liquid. 5. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. 4. pengawet dan pewarna. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. zat pewangi dan zat perasa. Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak.Umumnya konsentrasinya 5-10%. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. namun terkadang digunakan sorbitol. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. dan yang tertinggi dapat mencapai 44%. dan saccharinum. Contoh: Betadingargle & mouthwash.Namun. b. Kadar alkohol berkisar antara 1012%. c. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut. Batugin eliksir. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. Sifat-sifat: 1) Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2) Dibanding dengan sediaan sirup. maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol. sehingga harus disimpan dalam botol kedap dan jauh dari sumber api. tetapi biasanya sekitar5-15%. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR 1. zat pewarna. tidak boleh ditelan. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. Rasanya enak 3.Pemanis yang biasa digunakan gula atau sirup gula. perasa (flavorong agent). Zat aktif yang sukar larut dalam air dan larut dalam alkohol perlu kadar alkohol yang lebih besar. 3) Berhubung mengandung alkohol. Kadar Alkohol antara 3-75%. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator.

pemanis. Polycrol gel 2. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. Homogen 2. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. Sirup Simpleks. Contoh suspensi oral:Gelusil. perasa. anak-anak dan manula. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta. sering disebut sirup putih. f. biasanya 10%. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. benzalkonium klorida. Sirup kering. b. 4. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. tragakant. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. kecuali bahan pelarut.  Pada umumnya ditambah pemanis. 3.sifat sirup: 1. Ada 4 macam sediaan sirup: 1. tragakant. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%.perasa( flavoring agent)  Kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. EMULSA (EMULSI) 48 . Contoh. Tidak berwarna. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). 2. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi.Sifat. Sirup thymi. glukosa/sakarosa 64%. stabilisator. Sifat-sifat:  Cocok untuk penderita yang sukar menelan. rasanya lebih enak. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: 1.Contoh : panadol sirup. Liquor Faberi (FMI). Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). Contoh. Sirup obat. sehingga cepat mengendap. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. Mylanta. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . dan bahan lainnya. pewarna. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi.  Sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten.  Tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. tidak beraroma.

2. Parenteral : memperbaiki absorpsi .5 mg dan 52. 2. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. dan zat uuntuk irigasi. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. perasa. Konsisten emulsi sangat beragam. pewarna. kortikosteroid. 3. memperpanjang efek. jadi 1 ml= 20 tetes. sirup. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan.Emulsi adalah sistem dua fase. Sifat-sifat: 1. Kerugian BSO emulsi : 1. vitamin dan antitusif. atau suspensi. Volume pemberian kecil. asam benzoat. Macam –macam Guttae: 1. Sifat-sifat: 49 . GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). Contoh: Triaminic drops 2. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). Tujuan penggunaan BSO emulsi : 1. etil. Guttae oral Obat tetes untuk oral. analgetika. Pada umumnya ditambah pemanis.5 mg (1 tetes baku= 0. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. Guttae oris Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. emulsi eliksir. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur. digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. Perhatikan kemasan pada bobotnya. Contoh obat dalam: Scott Emulsion. sehingga cocok untuk bayi dan balita. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. 3. lokal anastesik. sehingga aturan pakai tepat. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. Guttae auriculares (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. analgetika-antipiretika. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. topikal maupun injeksi. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). lokal anastetik. Bentuk sediaannya dapat berupa solutio.05 ml). memperbaiki rasa dan aroma 2. dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. Contoh: effisol liquid. Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A 3. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. propil dan butil paraben. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. penetrasi/absopsi lebih baik 3. antiseptika. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. Topikal: mudah dibersihkan. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. dll). dimaksudkan untuk obat dalam dan luar. dan senyawa amonium kuartener. Oral : memperbaiki absorbsi.

Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. antiinflamasi. heksilen glikol dan minyak nabati. Untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM. Isohidris 4. gliserol. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk 50 . Guttae opthalmicae (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol. digunakan sejumlah yang tertera: Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. Contoh: iliadin 0.5 bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan. Steril 2. pengawet. INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. Sifat-sifat: 1. Guttae nasales (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. Kecuali dinyatakan lain. b) PH sebaiknya asam (5. antimikroba.a) Bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga.0-6. Isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3. miotika dan zat irigasi. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA).5-7. Cairan pembawa umumnya digunakan air.5 % BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar.0) 4. PH sebaiknya antara 5. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. c. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. lokal anastesik. 5.5 bagian Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. diagnostika. Apabila bentuk sediaan suspensi.025% . anastetika. midriatika. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. dan antiseptika.

antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. Berdasarkan bentuk sediaan: 1) Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. 51 . Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Inj luminal. Streptomycin sulfat. emulsi. parafin liq. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. 6. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. Ringer lactat. Contoh: inj. Bukan minyak : alkohol. untuk dosis tunggal. inj. Dextrose. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) 5) Cairan intravena ( infundabilia : infus i. minyak zaitun ( Ol olivarum). Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1) Pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2) Pelarut bukan air: 3) Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. Contoh : inj. sebelum disuntikkan. an-cooperatif. koma.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. INJECTIONES (INJEKSI. misalnya minyak kacang (Ol. minyak wijen ( Ol sesami). d.Arachidis). Penicilin G Sodium 4) Kristal steril. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie). inj. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. Inj Cortison Acetat suspensi 3) Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. dll. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. propilen-glikol. Penicilin oil. 2) Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. inj valium. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. Diberikan untuk penderita yang sakit keras.yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri. Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati. gliserin. Contoh: inj Vit C.

seperti pada asma bronkiale. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. venin. Pada aerosol inhalasi. INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk 52 . VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. 5. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. 3. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing. membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. Pemakaiannya secara topikal. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. e. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. c. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. ukuran partikel obat harus dikontrol dan terukur. d. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. Harganya mahal 2. b. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. ataupun rusak karena kelembaban udara. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. suspensi. Vaksin dibuat dari bakteria. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin.Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. tidak boleh digunakan secara parenteral. 2. Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan.

Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan.  Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya. Contoh: Bricasma inhaler. LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. SEDIAAN CAIR LAIN : 1. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. Contoh: Vicks Inhaler. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. 53 . dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek.  Apabila pelarutnya minyak. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi. yang karena bertekanan uap tinggi. Sifat-sifatnya :  Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. Contoh : Baby Lo 2. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat. Contoh: Alupent aerosol. Sifat-sifatnya :  Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering.memperoleh efek lokal atau sistemik. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus.

 Untuk pemakaian luar bentuk larutan mudah digunakan. Christopher A And Belcher. Dawn.  Mudah diberi pemanis. Pharmaceutical Compounding And Dispensing. 1957. Jenkins. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) KEUNTUNGAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN  Merupakan campuran homogen  Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatannya.  Dapat diberikan dalam bentuk larutan yang encer. New York: Mcgraw-hill. The Art Of Compounding. 2008. Chicago: Pharmaceutical Press. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production And Processes. 2008. 54 .  Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ELIXIR DAFTAR PUSTAKA Cox. KERUGIAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN:  Volume bentuk larutan lebih besar  Ada obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan. 9th Edition. pengaroma dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. Langley. Shayne. Canada: John Wiley & Sons.  Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat terabsorpsi. sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan. Glenn L Et Al.

Dosis yang diberikan untuk klien yang satu bisa jadi berbeda dengan klien yang lain. Macam – macam rute pemberian obat adalah: 1. klien juga tidak diperbolehkan untuk minum sebelum obat habis. 3. Subcutaneus (SC) Injeksi dilakukan dibawah jaringan dermis b. efek yang diharapkan serta kondisi fisik dan mental pasien. Kemudian perawat juga harus tahu apakah obat diberikan sebelum atau sesudah makan. ditelan dengan minuman/makanan atau dikunyah. Obat yang diberikan melalui sublingual didesian agar dapat diserap setelah obat diletakan dibawah lidah. sehingga siap untuk langsung diberikan kepada klien. Oral Cara pemberian obat melalui oral adalah cara yang paling mudah.RUTE PEMBERIAN OBAT Mempersiapkan dan memberikan obat ke klien adalah tanggung jawab perawat. Obat ini tidak boleh dikunyah. Benar waktu Perawat harus tahu tentang waktu pemberian obat. 2. Benar dosis Sediaan obat ada yang single doses. sehingga sebelum melakukan medikasi seorang perawat harus memperhatikan lprinsip LIMA BENAR. 5. yaitu : a. Sedangkan pemberian obat melalui bukal. tetapi ada juga yang membutuhkan keterampilan untuk menghitung dosis yang dibutuhkan sebelum diberikan kepada pasien. klien juga tidak boleh minum sampai obat habis. karena akan mengganggu efek dari obat tersebut. 6. apakah ada ketentuanya (misal setiap 8 jam dalam satu hari) atau hanya jika dibutuhkan. Benar obat Ketika obat diterima dari apotek. dilakukan dengan cara meletakan obat dalam bentuk sediaan padat dimukosa membran mulut hingga obat habis. Benar Dokumentasi Cara pemberian obat tergantung bentuk sediaan. 4. maka perawat perlu mengkonsultasikan kepada dokter. Jika cara pemberian obat tidak tercantum. yaitu : 1. Aksi dari obat bisa lokal di mukosa mulut. Parenteral/Injeksi Pemberian obat melalui parenteral adalah pemberian obat dengan cara menginjeksikan obat dalam bentuk cair ke jaringan tubuh. untuk itu perawat perlu melihat dosis pemberian obat yang diorderkan dokter di rekam medis klien. Obat diberikan melalui mulut. murah dan sering digunakan. Intradermal (ID) 55 . Tipe pemberian obat parenteral meliputi empat cara. Benar klien Perawat perlu mengklarifikasi kembali nama dan nomor rekam medis klien sebelum memberikan obat (biasanya terdapat di white board diatas tempat tidur klien) atau dengan bertanya namanya secara langsung kepada klien atau keluarga. Klien juga dilarang untuk menelan atau mengunyah obat. biasanya cara menggunakan obat terdapat pada label/pembungkus. perawat harus melihat kembali resep dokter yang biasanya ditulis direkam medik klien untuk meyakinkan bahwa obat yang diterima sesuai dengan order. Benar cara Obat diberikan kepada klien sesuai caranya. bisa juga sistemik ke seluruh bagian tubuh. 2. Obat jenis ini aksinya lebih lambat dan efeknya lebih panjang.

tepat dibawah epidermis c. Intramuskular (IM) Injeksi dilakukan di otot tubuh d. Pemberian obat melalui mata Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat ditelinga anak 56 . sehingga seringkali klien mengeluh rasa seperti terbakar setelah diberikan obat tetes mata atau tetes hidung. Topikal Obat diberikan dengan cara mengoleskan di kulit atau membran mukoa dengan efek obat lokal maupun sistemik tergantung jenis obat dan dosisnya. Intravena (IV) Injeksi dilakukan melalui vena 3. Kepekaan mukosa membran terhadap obat berbeda – beda. cornea mata dan nasal adalah mukosa yang sensitif.Injeksi dilakukan didalam lapisan kulit.

Instillation (memasukan cairan secara perlahan pada body cavity) d. Memberikan obat cair secara langsung.Pemberian obat di telinga orang dewasa Pengobatan pada mokosa rektal atau vagina biasanya lebih tidak iritatif jika dibandingkan dengan pengobatan di mukosa mata dan hidung. Spraying (memasukan obat dengan cara menyemprotkan obat ke bagian tubuh tertentu) 57 . Insersi (memasukan obat ke lubang yang ada dalam tubuh. Pemberian obat melalui vagina Pemberian obat melalui rektum Berbagai metode pemberian obat melalui mukosa : a. Irrigation (memasukan cairan dengan tujuan untuk membersihkan body cavity) e. misal obat pencahar melalui rektal) c. misal obat tetes mata b.

prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Jelaskan tujuan. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Pengobatan melalui inhalasi dapat memberikan efek lokal maupun sistemik. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. baca juga kondisi klien yang berhubungan dengan kesulitan menelan. tempat obat. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Hal ini disebabkan pada saluran pernafasan bawah terdapat area permukaan yang luas untuk absorpsi abat. biasanya dalam bentuk gas yang lembab. Siapkan alat-alat : Baki obat. . operasi gastrointestinal. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 58 Nilai 1 2 2 . obat. Cuci tangan 3. Inhalasi Inhalasi adalah salah satu metode pemberian obat dengan cara memasukan obat melalui saluran pernafasan.4. mual. alas. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat Tahap Pra Interaksi 1. penurunan peristaltik. Memulai tindakan dengan cara yang baik Tahap Kerja 1. Berikan salam. Pemberi an obat menggunakan inhaler Memberikan Obat Oral Nama Mahasiswa : Tanggal : No 1 . 2. 3 . inflamasi saluran cerna. muntah. Cek rekam medis klien. Keterampilan 0 Tahap Orientasi 1. air minum 4. karena terdapat hubungan antara alveoli dan kapiler.

. dosis. mata kanan/kiri 2.. jika belum yakin.. Cek rekam medis klien. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. c. jumlah tetesan. washlap. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Mencuci tangan Tahap Terminasi 1.. Jelaskan tujuan.. Cuci tangan Dokumentasi Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. waktu pemberian. konsentrasi. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Pasang alas dibawah dagu klien 4. nama obat. Cuci tangan 3.. Tawarkan kepada klien segelas air untuk membantu menelan obat b.. .4 . 5 . 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan Memberikan Obat Mata (Cair dan Salep) Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi .... Siapkan alat-alat : kartu obat. Membereskan peralatan g. 2. Bantu klien pada posisi side lying 3. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. Berikan obat kepada klien a. Beri reinforcement positif pada klien 3. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. dan obat dalam kemasan. minta klien membuka mulut dan meletakan obat diantara gigi dan pipi klien Perawat tetap bersama klien hingga yakin obat telah diminum.. alas. Jika obat sublingual. waktu. Jika obat bukal. Kontrak pertemuan selanjutnya 4.. tissue. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. 2 Tahap Pra Interaksi . Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 59 . 1. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Melepas alas e. Berikan salam.. minta klien untuk membuka mulutnya d. Membantu klien untuk kembali ke posisi yang nyaman f.. waskom berisi air hangat... baca nama klien. 1.. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. sarung tangan. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. minta klien untuk membuka mulut dan meletakan obat dibawah lidah.

. Minta klien untuk melihat ke atas 8. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. Ambil obat mata.. 1. Obat tetes mata 6.. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5 Dokumentasi . 1. Beri reinforcement positif pada klien 3. kemudian oleskan pada garis mata bagian atas 11. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. kemudian teteskan obat di konjungtiva. salep mata 6. waktu pemberian. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.. Ambil salep mata. ambil washlap yang dibasahi air hangat. Minta klien untuk menutup mata perlahan b.. Posisikan klien supine 4... Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. atau tetesan tidak tepat di mata... Jika klien menutup mata. Kaji kondisi mata 5. oleskan pada konjungtiva secukupnya..... Lepas sarung tangan kemudian mencuci tangan 4 Tahap Terminasi . ulangi sekali lagi 10. Pasang alas di bawah dagu klien 3. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 60 .. mata kanan/kiri. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. kemudian bersihkan daerah sekitar mata dari arah dalam ke luar a. jumlah tetesan.5. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. Jika pada mata terdapat kotoran. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Bersihkan daerah sekitar mata dari obat 12.. Membereskan peralatan 13. Minta klien melihat ke arah atas 8. jumlah tetesan sesuai order 9.. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan mata bagian bawah 7. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan bagian bawah mata 7. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja ..

tissue. cek nama klien. jumlah tetesan. botol obat.Memberikan Obat Tetes Telinga Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Jelaskan tujuan. konsentrasi. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . waktu pemberian. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Siapkan alat-alat : kartu obat. sarung tangan 4. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. cotton ball. telinga kanan/kiri. cotton tipped apllicator. Berikan salam. 1. Cuci tangan 3. Bantu klien pada posisi side lying miring. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. 1. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. sehingga telinga yang 61 . 1. nama ibat. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. 2. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Cek rekam medis klien.

Letakan obat kira – kira 1 cm diatas lubang telinga c. 4.. 8.. bersihkan terlebih dahulu Gunakan sarung tangan Bersihkan lubang telinga dari serumen Berikan obat kepada klien : a. letakan cotton ball di lubang telinga (jangan memasukan terlalu dalam) g.. 7. Kaji bagian luar telinga etelah dilakukan pengobatan 12... Cuci tangan 5 Dokumentasi . Jika dibutuhkan... dosis.... Bantu klien pada posis yang nyaman 11. Ambil cotton ball setelah 15 menit 9. Minta klien tetap dalam posisi side-lying selama 2 – 3 menit e.. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 3. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. 62 .. Teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dengan order dokter d..akan diberi obat terletak diatas Pasang alas dibawah dagu klien Kaji kondisi telinga eksternal dan lubang telinga Jika terdapat serumen. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5... 1.. jika ada tanda intoksikasi obat. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 10. 6. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. 5. waktu pemberian. Beri reinforcement positif pada klien 3. Buka lubang telinga dengan menarik auricula ke arah bawah dan belakang (anak) dan kearah atas untuk orang dewasa b.. Lakukan massase yang lembut pada daerah tragus telinga f. respon klien) Observasi klien 30 menit setelah pemberian obat.. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.

Memberikan Obat Tetes Hidung Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama ibat, konsentrasi, waktu pemberian, jumlah tetesan, hidung kanan/kiri. 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, botol obat, bantal kecil, washlap 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencuci tangan dan menggunakn sarung tangan 2. Inspeksi kondisi eksternal hidung dan sinus 3. Minta klien untuk menghembuskan napas (jika tidak ada kontraindikasi) 63

4. Bantu klien pada posisi supine a. Posterior pharynx  tarik kepala kebelakang b. Ethmoid/Sphenoid sinus  tarik kepala kebelakang atau letakan bantal kecil dibawah dagu c. Frontal/Maxillary sinus  tarik kepala klien kebelakang, kemudian miringkan, letakan bantal kecil dibelakang kepala untuk menahan dari belakang dan satu tangan perawat menahan dari depan 5. Berikan obat kepada klien : a. Minta klien untuk bernafas melalui mulut b. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas hidung c. Teteskan obat denagn jumlah tetesan sesuai order dokter 6. Pertahankan posisi klien selama 5 menit 7. Bersihakan derahsekitar hidung, jika ada obat yang menetes 8. Bantu klien ke posisi yang nyaman 9. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 10. Kaji bagian luar hidung etelah dilakukan pengobatan 11. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 6. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 7. Beri reinforcement positif pada klien 8. Kontrak pertemuan selanjutnya 9. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 10. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat, dosis, waktu pemberian, respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat, jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat, segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto,.................. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan

64

Memberikan Obat Rectal Suppositoria Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama obat, bentuk obat, cara dan waktu pemberian,riwayat operasi/perdarahan di rectum, 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, lubricating jelly, obat, tissue, sarung tangan 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Jaga privacy klien 7. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 65

Jika sarung tangan kotor. jelaskan klien sebentar lagi akan merasa ingin BAB... 3. Beri reinforcement positif pada klien 13. Jika klien tidak bisa BAB sendiri. Buka pantat dengan tangan predominan. Bersihkan area sekitar anus dengan menggunakan tissue 10. 13..Bantu klien dalam posisi sims Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah Kaji kondisi anus eksternal. 5.. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 2..... dosis. Bantu klien pada posisi yang nyaman 16. Jika obat adalah laxatif.. 4. waktu pemberian. lakukan palpasi pada area rectum. 6. 66 . masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 10 cm (dewasa) dan 5 cm (anak dan infant) 9. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 15. berikan jelly di bagian luar anus Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot sfinkter anal 8. 11. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. 7. ganti dengan sarung tangan yang bersih Buka obat... Bantu klien pada posisi supine atau miring selama 5 menit 12. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 15.. maka perawat mmbantu klien melakukan BAB 14.. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 12. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 11.. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi ... respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. Kontrak pertemuan selanjutnya 14. Cuci tangan 5 Dokumentasi ...

Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Cuci tangan 3. bentuk obat (krim/supositiria). Bantu klien dalam posisi dorsal recumbent 3. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. 1. cek nama klien. 1. tissue. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Jaga privacy klien 7. Cek rekam medis klien. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja .Memberikan Obat Vaginal Suppositoria / Foam Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Jelaskan tujuan. dosis. Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah 67 . obat. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. nama obat. 1. cara dan waktu pemberian. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. lubricating jelly. Siapkan alat-alat : kartu obat. sarung tangan 4. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . Berikan salam. 2.

Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 14. Obat Supositoria 7. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5.. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.4.. dosis. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 68 . Kontrak pertemuan selanjutnya 4. 1. Buka obat. Kaji area eksternal genitalia dan lubang vagina 5.. Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot daerah genitalia 9... Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat...5 . jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Berikan obat kepada klien : a. Obat jelly/foam 8. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Bantu klien pada posisi yang nyaman 15. masokan aplikator sedalam 5 – 7. waktu pemberian.10 cm 10. Tanyakan kepada klien apakah akan memasukan obat sendiri atau dibantu perawat 6. Bantu klien pada posisi supine selama 10 menit 13... Masukan obat ke dalam vagina 10. Bersihkan daerah genitalia eksterna menggunakan tissue 11..5 cm. Isi aplikator dengan menggunakan jelly/foam 9..... Buka labia mayora dengan tangan predominan. masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 7. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Bantu klien memakai pakaian bawah 12. Bersihkan daerah genitalia eksternal menggunakan tissue b.. Beri reinforcement positif pada klien 3. berikan jelly di lubang vagina 8.. Buka labia mayora dengan tangan predominan..

Bersihkan dengan menggunakan tissue jika ada cairan inhaler dipipi.5 cm dari mulut e. Kocok inhaler c. Pasang kembali tutup inhaler 9. bentuk obat (krim/supositiria). 1. Perawat mencucl tangan 2. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. 1. Dongakkan kepala kebelakang dan hembuskannapas d. Lepaskan penutup inhaler. Tekan Inhaler ke bawah sambil dihirup perlahan h. Sambungkan spacer ke mouthpiece inhaler f. Siapkan alat-alat : kartu obat. letakan inhaler dengan jarak 0. Jaga privacy klien 7. Cek rekam medis klien. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. obat inhaler. cek nama klien. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Jika dibutuhkan dosis dua kali semprotan. Buka mulut. tunggu satu menit diantara dua semprotan 8. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Bantu klien kembali ke posisi semula 4 Tahap Terminasi . Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. 1. pegang inhaler tegak. Berikan salam. Cuci tangan 5 Dokumentasi 69 . 10. Letakan mouthpiece inhaler atau spacer ke mulut g. Tarik nafas perlahan selama 2 – 3 detik i. 1. Jelaskan kepada klien cara menggunakan inhaler : a. cara dan waktu pemberian. Cuci tangan 3. tissue 4. jari telunjuk dan jari tengah b. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Beri reinforcement positif pada klien 3. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2.Memberikan Obat Inhaler Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . dosis. Tahan nafas selama 10 detik j. Bantu klien duduk dikursi 3. nama obat. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. genggam dengan ibu jari. Jelaskan tujuan. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 2. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR.

. dosis......Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat..... jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. waktu pemberian... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna ... 70 ....

Jarum suntik Jarum suntik memiliki bentuk yang spesifik. 3 cc. Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. Syringe Syringe terdiri dari barrel silinderis dengan ujung yang dibentuk pas untuk jarum dan pada bagian belakang terdapat pendorong karet. Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet di atasnya. dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan mengambil cairan di dalamnya. Pemilihan gauge berdasarkan viskositas larutan yang akan diinjeksikan (Potter & Perry. 50 cc. Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair. 2. Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit. Vial berisi medikasi dalam bentuk cairan dan/atau kering. Vial merupakan sistem tertutup. Saat menghisap medikasi.5 cc. 1997). Ukuran syringe dan jarum pada masing-masing tipe injeksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 71 . Perawat harus mematahkan leher ampul untuk dapat mencapai medikasi. 10 cc. perawat menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak menyentuh permukaan luar ampul). Syringe memiliki beragam ukuran: 1 cc. Saat ini syringe sekali pakai (disposible) lebih banyak digunakan untuk menghindari infeksi silang. semakin besar diameter jarum. 20 cc. Satuan diameter jarum gauge (G).3 Syringe 4. Jarum biasanya dikemas terpisah dari syringe. 2. Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat di dalam vial tersebut menjadi sulit. Semakin kecil gauge. Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit. Gambar.OBAT INJEKSI Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial 1. 3. Ujungnya runcing.

Kapas alkohol atau kasa 2 x 2 inci .Ampul atau vial dari medikasi yang diresepkan . gunakan metal untuk mengikir salah satu sisi leher.Tipe Injeksi Sub Cutan Intra Muscular Intra Dermal Ukuran syringe 1-2 cc 2-3 cc (dewasa) 1-2 cc (anak-anak) 1 cc Ukuran jarum 25 G 19-23 G 26 G Peralatan .Spuit dan jarum dengan ukuran yang diperlukan . Ampul a. Letakkan bantalan kasa kecil atau kapas alkohol mengelilingi leher ampul.Jarum spuit ekstra Langkah-Langkah 1. c. b. Cuci tangan untuk mengurangi infeksi nosokomial 2. Melindungi jari dari trauma ketika gelas ampul pecah. Siapkan medikasi. Menurunkan semua cairan yang terkumpul di atas leher ampul. Mencegah percikan gelas ke arah jari atau wajah anda 72 . Jika leher ampul tidak patah. Patahkan leher ampul ke arah menjauhi tangan anda. Semua larutan bergerak ke dalam bilik yang lebih rendah. Sentil bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat menggunakan jari.Metal (opsional) .

pinggiran ampul. Menahan spuit ke arah vertikal memungkinkan cairan tetap berada di dasar barrel. Pegang spuit ke arah vertikal terhadap ujung jarum. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari barrel spuit. Tarik bagian plunger sedikit dan dorong kembali ke atas untuk mengeluarkan udara. angkat jarum dari dalam ampul. Lepaskan cap logam untuk memajan penutup karetnya. Bagian pinggir ampul yang pecah dianggap terkontaminasi. e. gunakan bak untuk membuang. Medikasi lebih aman dibuang ke bak. Jika gelembung udara teraspirasi.d. 73 . Tekanan udara akan mendorong cairan ke luar ampul. Jangan biarkan ujung jarum atau batang spuit menyentuh pinggiran ampul. Jika spuit terlalu banyak terisi udara. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di dalam jarum memasuki barrel. Periksa ulang ketinggian cairan dengan memegang spuit ke arah vertikal. dan medikasi di dalamnya akan terbuang h. jangan mengeluarkan udara ke dalam ampul. Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan. Dengan perlahan keluarkan kelebihan cairan ke dalam bak. f. angkat ke atas untuk memungkinkan semua cairan masuk ke dalam spuit. g. Vial dilengkapi dengan cap untuk mencegah kontaminasi penutup. hentakan sedikit ke bak. Jangan mengeluarkan cairan. Masukkan jarum spuit ke dalam lubang ampul. CATATAN: Ampul dapat saja dipegang menjorok atau miring sepanjang bagian ujung jarum tidak menyentuh . i. Pegang ampul baik dengan posisi menjorok atau tegak. Untuk mengeluarkan gelembung udara. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas. Aspirasi medikasi ke dalam spuit dengan menarik ke belakang plunger Menarik plunger ke belakang menciptakan tekanan negatif di dalam barrel yang mendorong cairan ke dalam spuit. Memeriksa ulang ketinggian cairan memastikan dosis yang tepat Vial a. Jika memegang ampul tegak lurus. Mencegah aspirasi gelembung udara.

Udara harus terlebih dahulu disuntikkan ke dalam vial sebelum mengaspirasi cairan. jangan biarkan plunger kembali ke atas. Tarik pulunger ke belakang untuk mengumpulkan sejumlah udara yang sama dengan volume medikasi yang akan diaspirasi Mencegah pembentukan tekanan negatif ketika mengaspirasi medikasi. 52). Masukkan bagian ujung jarum. Balikkan vial sambil tetap memegang vial dengan kuat pada spuit dan plunger. Lepaskan cap jarum. Membalikkan vial memungkinkan cairan untuk tetap berada di pertengahan bawah vial. Bagian tengah dari penutup karet merupakan bagian yang tertipis dan lebih mudah untuk menusukkannya. Plunger mungkin akan terdorong kembali ke belakang oleh tekanan udara di dalam vial f. Pegang vial antara ibujari dan jari tengah pada tangan yang dominan. Membuang debu atau kotoran tetapi tidak mensterilkan permukaan c. Dengan kapas alkohol.b. usap permukaan penutup karet. Anda pertama-tama harus menyuntikkan udara ke dalam vial. menembus bagian tengah penutup karet (Gbr. Tekanan positif di dalam vial mendorong cairan ke dalam spuit 74 . Memungkinkan tekanan udara untuk secara bertahap mengisi spuit dengan medikasi. Raih bagian ujung barrel dan plunger dengan ibujari dan jari telunjuk dari tangan yang dominan. d. Tahan bagian ujung jarum di bawah ketinggian cairan. Posisi tangan mencegah plunger dan memudahkan memanipulasi spuit dengan mudah. dengan bevel jarum mengarah ke atas. Tarik kembali plunger jika perlu. Keluarkan udara ke dalam vial. Menjaga bagian bevel ke arah atas dan memberikan tekanan ringan mencegah pemotongan karet sebagai penutup e. Mencegah aspirasi udara h. g.

Ganti jarum yang terdapat pada spuit. Mencegah penularan infeksi. Jarum baru mencegah ceceran obat pada kulit dan jaringan subkutan. Berikan label pada vial jika masih tersisa obat di dalamnya. 4. Jangan mengeluarkan cairan. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas dan sentil-sentil untulC melepaskan gelembung. Penggantian jarum diharuskan jika perawat menduga terdapat obat pada batang jarum. Untuk mengeluarkan kelebihan gelembung udara. 5. menahan spuit secara vertikal memungkinkan cairan untuk tetap berada di dasar barrel. Buang alat-alat yang basah di tempat yang telah disediakan. Mengurangi transmisi mikroorganisme Kewaspadaan Perawat Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari barrel spuit. angkat jarum dari dalam vial dengan menarik ke belakang barrel spuit. Catat jumlah larutan dan konsentrasi obat. Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. lepaskan jarum dari vial dengan menarik barrel ke belakang. Manakala dosis yang sesuai sudah terpenuhi. j. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di datam jarum masuk ke dalam barrel. 75 . Sentil bagian barrel dengan hati-hati untuk melepaskan semua gelembung udara.i. k. Cuci tangan. Keluarkan semua udara yang terdapat di atas spuit ke dalam vial. Menyentil dengan kuat barel ketika jarum berada di dalam vial dapat membengkokkan jarum. Menjamin pemberian obat yang akurat ketika diberikan obat berikutnya 3. Mencegah kontaminasi jarum dan melindungi perawat dari tusukan jarum. Akumulasi udara akan menggantikan medikasi dan menyebabkan kesalahan dosis. Tarik sedikit plunger dan dorong plunger ke atas untuk mengeluarkan udara. Bungkus jarum dengan capnya. Menarik plunger dan bukan barrel menyebabkan terlepas dari barrel dan medikasi dapat terbuang. l. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari berrel.

6. palpasi tempat tersebut terhadap edema.Spuit (ukuran beragam sesuai dengan volume obat yang akan diberikan) . massa. Peralatan .Jarum (ukuran beragam sesuai dengan tipe jaringan dan ukuran klien. lecet. Kaji terhadap alergi. atau nyeri tekan. Hindari area yang terdapat jaringan parut.dan kenakan sarung tangan steril Mengurangi transmisi mikroorganisme. Rute intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat. Pilih tempat penyuntikan yang tepat.5 cm [anak] [Whaley and Wong. Pastikan bahwa pasien yang tepat mendapatkan obat yang tepat.25 sampai 2. subkutan-diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. 1991]. yang tidak mengiritasi yang dapat diberikan melalui rute ini. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi. ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah jika perawat tidak cermat. Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit. Jaringan subkutan mengandung reseptor nyeri. 2. Kumpulkan peralatan dan periksa urutan medikasi terhadap rute. jadi hanya obat dalam dosis kecil yang larut dalam air. Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat. atau infeksi. Memastikan keakuratan urutan pemberian. Periksa pita identifikasi klien dan tanyakan nama klien.Pemberian Suntikan Subkutan dan Intramuskular Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh. perawat harus mengetahui volume obat yang akan diberikan. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika obat diberikan jauh ke dalam otot.75 cm (dewasa).1 cm) .Untuk suntikan subkutan.5 sampai 3..Kasa antiseptik (mis. 3. karakteristik obat. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat.Ampul atau vial obat . medikasi dimasukkan ke dalam jaringan ikat jarang di bawah dermis. dan waktu pemberian. Siapkan medikasi dari ampul atau vial Memastikan bahwa medikasi yang akan diberikan steril. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai banyak pembuluh darah. Namun. Membantu klien mengantisipasi tindakan perawat.Formulir atau kartu obat Langkah-Langkah 1. Jelaskan prosedur pada klien dan lanjutkan dengan cara yang tenang.25 sampai 2. dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik. 4. alkohol) . diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. absorpsi obat agak sedikit lambat dibanding suntikan intramuskular. 76 . intramuskular-diameter 20 sampai 30 dan panjangnya 2. memar. 5. dosis. Cuci tangan.

Dorsogluteal-klien tengkurap dengan lutut diputar ke arah dalam. Jangan gunakan kembali tempat suntikan yang sama didalam periode 3 minggu. atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah.Tempat suntikan harus bebas dari lesi yang mungkin mengganggu absorpsi obat.Paha (vastus lateralis}-klien berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi . Rotasikan didalam satu region anatomi kemudian pindah ke lokasi anatomi lainnya.Lengan klien duduk atau berdiri . CATATAN: Antikoagulan dapat menyebabkan perdarahan lokal dan memar jika disuntikan ke dalam area seperti lengan dan tungkai. yang melibatkan aktivitas muskular. Tempat Suntikan Subkutan . . 77 . 8.Ventrogluteal . gunakan tempat suntikan abdomen. 7.Lengan atas (deltoid klien duduk atau berbaring mendatar dengan lengan atas fleksi tetapi rileks menyilang abdomen atau di atas abdomen.Tungkai-klien duduk di tempat tidur atau kursi Tempat Suntikan Intramuskular . . tengkurap. atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan disuntikkan dalam keadaan fleksi Membantu klien mendapatkan posisi yang dapat mengurangi regangan pada otot dengan meminimalkan rasa taknyaman akibat suntikan.Abdomen-klien duduk atau berbaring . Untuk penyuntikan intramuskular. Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman bergantung pada tempat suntikan yang dipilih. Saat memberikan heparin subkutan. palpasi otot untuk menentukan ukuran dan kekerasannya. Dalam kasus penyuntikan insulin yang berulang setiap hari jangan gunakan tempat penyuntikan. Rotasi tempat suntikan mencegah pembentukan jaringan parut subkutan yang dapat mempengaruhi absorpsi obat. Diperlukan massa otot yang cukup untuk memastikan suntikan intramuskular akurat ke dalam jaringan yang tepat.klien berbaring miring.

9. Penyuntikan yang akurat membutuhkan penusukan di tempat anatomi yang tepat untuk menghindari pencederaan jaringan di bawah saraf. tulang. atau pembuluh darah. Minta klien untuk melemaskan lengan atau tungkainya. Pengalihan perhatian membantu mengurangi ansietas 10. Bicaralah pada klien tentang subjek yang menarik. Minimalkan rasa taknyaman selama suntikan. tempat di mana suntikan akan diberikan. 78 . Bersihkan tempat suntikan yang dipilih dengan swab kasa antiseptik. Pasang swab di tengah tempat suntikan dan putar ke arah luar dengan arah melingkar sekitar 5 cm (2 inci). Cari tempat yang akan dipilih sebagai tempat suntikan menggunakan tanda anatomi. 11.

Pegang swab diantara jari ketiga dan keempat dari tangan anda yang tidak dominan. cubit kulit pada tepmat suntikan dan suntikan jarum di bawah lipatan kulit. . Suntikan jarum dengan cepat pada sudut 90 derajat. dengan tangan nondominan anda regangkan kedua belah sisi kulit tempat suntikan dengan kuat atau cubit kulit yang akan menjadi tempat suntikan. Klien obes mempunyai lapisan lemak di atas jaringan subkutan . Penusukan yang cepat dan kuat meminimalkan ansietas dan ketidaknyamanan klien Intramuskular . Lepaskan cap jarum dari spuit dengan menarik cap lurus.Jika masa otot tipis. Mencegah jarum menyentuh cap dan terkontaminasi 14. cubit otot tubuh dan suntikan obat. Memastikan bahwa obat mencapai jaringan otot 79 . Penyuntikan cepat waspada membutuhkan manipulasi bagian spuit yang tepat 15. P. Mempercepat penyuntikan dan mengurangi ketidaknyamanan.Untuk klien ukuran sedang.Untuk klien obesitas.Suntikan jarum dengan cepat dan kuat pada sudut 45 derajat (kemudian lepaskan cubitan kulit bila dilakukan). (Kebanyakan perawat memegang spuit dengan telapak tangan ke atas untuk penyuntikan subkutan dan telapak tangan ke bawah untuk penyuntikan intramuskular karena perbedaan sudut penusukan).Posisikan tangan nondominan pada tanda anatomik yang tepat dan regangkan kulit. Swab akan tetap mudah terakses saat waktunya mencabut jarum 13. Pegang spuit diantara ibujari dan jari telunjuk dari tangan anda yang dominan bayangkan seperti memegang anak panah.encubitan kulit menaikan jaringan subkutan . Suntikan spuit: Subkutis .Gerakan mekanik swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme 12. Penusukan jarum pada kulit yang tegang lebih mudah dibanding kulit yang kendur.

Hindari gerakan spuit. Tarik kulit di bawahnya dan jaringan • subkutan 2. Pindahkan tangan dominan anda ke ujung plunger. CATATAN: Beberapa institusi menganjurkan untuk tidak melakukan aspirasi penyuntikan heparin subkutan. 18. - Kulit harus tetap ditarik sampai obat disuntikan. Gunakan tangan dominan anda untuk meraih ke arah plunger. Dengan perlahan tarik kebelakang plunger untuk mengaspirasi obat. Cabut jarum dengan cepat sambil meletakkan swab antiseptik tepat di bawah suntikan 80 .5 sampai 3.Jika memberikan preparat yang dapat mengiritasi. pertahankan agar tetap menahan kulit dengan tangan nondominan anda. dan ulangi persiapan obat. buang spuit. Saat menggunakan metoda ini perawat menghisapkan 0. Darah yang teraspirasi ke dalam spuit menunjukkan bahwa jarum i menusuk intravena. CATATAN: Heparin adalah antikoagulan yang secara khas diberikan dalam dosis kecil melalui subkutan. Obat akan menjadi berbusa jika diaspirasi. Jika tidak terlihat darah. Obat-Obat intramuskular dan subkutan tidak digunakan untuk pemberian intravena. tarik kembali jarum. 17. Penyuntikan perlahan mengurangi nyeri dan trauma jaringan. Tahan bagian belakang kulit dan suntikan jarum dengan cepat Sumbatan udara membersihkan jarum dari obat untuk mencegah tracking obat melalui kulit dan jaringan. Metoda Ztrack membentuk jalur zig-zag melalui kulit yang membungkus jalur jarum untuk menghindari kebocoran obat melalui jaringan subkutan yang sensitif. Obat tidak akan berbahaya jika diberikan intravena. Penyuntikan dengan tepat memerlukan manipulasi halus bagian spuit. Jika terlihat darah di dalam spuit.5 cm ke arah lateral ke samping. lakukan metoda Z-track. dengan tangan nondominan anda raih ujung bawah barrel spuit. 16. Gerakan spuit dapat mengubah letak jarum dan menyebabkan rasa taknyaman Jika menggunakan metoda Z-track. suntikan obat dengan perlahan. Manakala jarum memasuki tempat suntikan.5 ml udara ke dalam spuit untuk membentuk sumbatan udara.

Pengamatan anda menentukan kemanjuran kerja obat. Tempat penyuntikan intrakutan dan tekniknya 81 . 2. Masase menstimulasi sirkulasi kemudian meningkatkan penyebaran serta penyerapan obat 20.Jika mengunakan metoda Z-track. Pertimbangan Pediatri Jika memang diharuskan untuk memberikan obat dalam bentuk cairan pada anak. Uji coba obat tertentu terhadap reaksi alergi. Kemudian lepaskan kulit setelah menarik jarum. Memungkinkan obat untuk menyebar dengan rata. Jika tampak darah di dalam jarum spuit selama aspirasi. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan membuat anaknya tidak nyaman. Setelah penyuntikan tenangkan anak. 19. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa terbakar di tempat suntikan. Berikan orangtua kesempatan untuk membantu menahan anak mereka selama penyuntikan. Vastus lateralis adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anakanak.2 ml udara ke dalam spuit setelah menyiapkan dosis obat. tarik 0. Biasanya dipakai untuk : 1. Kembali untuk mengevaluasi respons klien terhadap obat dalam 15 sampai 30 menit. Otot dorsogluteal seharusnya tidak digunakan untuk penyuntikan pada anak-anak kecuali otot tersebut berkembang dengan sempurna. Mencatat pemberian obat dan mencegah kesalahan pemberian obat berikutnya 24. Udara bertindak sebagai ruang vakum untuk membersihkan lubang jarum dari obat. Catat pemberian obat pada lembar obat atau catatan perawat. Mencegah cedera pada klien dan tenaga personel. Pastikan bahwa anak mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan. Bidang jaringan saling menindih untuk membentuk jalur zig-zag yang menutupi obat ke dalam jaringan otot. memberikan klien rasa kesejahteraan 21. mengontrol penyebaran infeksi 23. Buang jarum tidan berpenutup dan letakkan spuit ke dalam tempat yang sudah diberi label. Menutup kembali jarum dapat menyebabkan penusukan dari jarum dan sudah tidak dianggap praktik yang aman 22. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. Masase tempat suntikan dengan perlahan kecuali merupakan kontraindikasi seperti pada penyuntikan heparin. Kewaspadaan Perawat Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. yang dapat menunjukkan cedera saraf. Ada baiknya untuk tetap tidak memperlihatkan ruam pada anak untuk meminimalkan ansietas. cepat cabut jarum dan mulai dari awal lagi. tahan agar jarum tetap ditempat setelah menyuntikan obat selama 10 detik. Menyokong jaringan di sekitar tempat suntikan sehingga meminimalkan rasa taknyaman ketika jai-um dicabut. Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. Tes tuberculin. Penyuntikan Intrakutan dan Intravena Injeksi Intrakutan/ Intradermal Injeksi intrakutan adalah salah satu metode injeksi dimana obat dimasukan ke dalam jaringan kulit (dermal) yaitu epidermis. Obat parenteral diserap dan bekerja lebih cepat dibanding obat oral. Jangan sekali-kali mengagetkan anak.

observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 11. Gunakan sarung tangan 5. Kembalikan posisi klien 20. Buat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan dan instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 19. berkeringat.Langkah-langkah : 1. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. gunakan tempat altematif 6. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 14. Cuci tangan 3. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah.15 derajat 12. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. jika lengan bawah tidak dapat digunakan. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. Jika test alergi +. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 9. pingsan. Cek catatan perawat dan medis : program pemberian obat melalui intradermal 2. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 18. mual. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 8. 16. muntah. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 15. berkurangnya tekanan darah. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 7. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 13. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. Jika terdapat darah. Cuci tangan 82 . masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . sianosis) 17. Buka tutup jarum 10.

misalnya pada lengan. B. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 7. New Jersey : Pearson Education. Sebelum. (2004). Teknik ini dibutuhkan perawat dengan ketrampilan khusus. 11. Lakukan aspirasi 15. punggung telapak tangan. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 8. et. Fundamentals of Nursing : Concept.Injeksi Intravena Injeksi intravena kita harus memilih vena yang besar. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. 12. all. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. harus dimonitor tanda-tanda vitalnya. Gunakan sarung tangan 5. Langkah-langkah : 1. Cuci tangan 3. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 17. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. 7nd edition. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 9. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 18. Pada saat penusukan posisi harus tepat dan tidak goyah. Kencangkan tourniquet 10. 83 . Process and Practice. Lepaskan tourniquet 16. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 6. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. Metode ini menyebabkan reaksi cepat. lalu tusuk perlahan dan pasti. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. selama dan setelah dilakukan injeksi IV. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. 14. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin PUSTAKA Kozier. 13.

Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Tahap Preinteraksi 1. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Cek dosis* 5. Cek catatan perawat dan medis 2. Lakukan double cek obat (nama obat. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 Ni lai 1 2 11. Mhs : Variabel yang dinilai A. Cek waktu pemberian* 7. Cek nama obat* 3. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 84 .CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA DERMAL Nama No. Siapkan alat 8. Siapkan obat a. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Cuci tangan * 9. Cek nama pasien* 4.

observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Jika test alergi +. Mulai dengan cara yang baik 4. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Cuci tangan* E. Tahap Kerja 1. Evaluasi perasaan klien 2. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 10. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 21. sianosis)* 20. Jika terdapat darah. berkeringat. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Jelaskan tujuan tindakan* C.9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* B. Instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 23.15 derajat 14. waktu pemberian. Tanyakan keluhan dan kaji adanya alergi* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 15. Tahap Orientasi 1. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 13. gunakan tempat altematif 8. Kaji efek obat dan respon klien* 25. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 17. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. muntah. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 11. Buat tanda dengan membuat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan 22. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Gunakan sarung tangan 6. pingsan. mual. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. berkurangnya tekanan darah. Kembalikan posisi klien 24. Perkenalkan diri* 3. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. Panggil klien dengan namanya* 4. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 9. Jaga privasi klien 5. 19. Bereskan alat* 6. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 16. jika lengan bawah tidak dapat. nama pasien. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . Dokumentasi Catat nama obat. Baca label obat sekali lagi* 7. Buka tutup jarum 12. dosis dan cara pemberian* 85 . Tahap Terminasi 1. 18. Berikan salam 2. Jelaskan prosedur tindakan * 5.

Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1 = Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75%

Nilai ………………

Pengampu ………………………….

86

CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA MUSCULAR Nama Mhs : Variabel yang dinilai A. Tahap Preinteraksi 1. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek nama obat* 3. Cek nama pasien* 4. Cek dosis* 5. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan alat 8. Cuci tangan * 9. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan Nilai 0 1 2

11. Lakukan double cek obat (nama obat, dosis dan hasil perhitungan)* 12. Siapkan obat a. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas, ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum, tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah, perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 87

B. Tahap Orientasi 1. Berikan salam 2. Perkenalkan diri* 3. Panggil klien dengan namanya* 4. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Jelaskan tujuan tindakan* C. Tahap Kerja 1. Berikan kesempatan klien untuk bertanya 2. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Jaga privasi klien 4. Mulai dengan cara yang balk 5. Gunakan sarung tangan 6. Pilih tempat penusukan 7. Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman dan mudah untuk perawat melihat tempat penusukan 8. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi IM. 9. Bersihkan tempat vang akan digunakan dengan kapas alkohol 10. Buka tutup jarum 11. Tarik kulit di tempat penusukan dengan cara : 12. Tempatkan ibu jari dan jari telunjuk tangan non dominan di atas tempat penusukan (hati-hati jangan sampai mengenai daerah yang lelah dibersihkan) hingga membentuk V 13. Tarik ibu jari & jari telunjuk dengan arah berlawanan, memisahkan jari sepanjang 3 inc 14. Cepat masukkan jarum dengan sudut 90 dengan tangan yang dominan 15. Pindahkan ibu jari dan jari telunjuk jari non dominan dan kulit untuk mendukung barrel spuit, jari sebaiknya ditempatkan pada barrel sehingga saat mengaspirasi, anda dapat melihat barel dengan jelas. 16. Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit 17. Jika terdapat darah, tarik jarum keluarkan berikan tekanan pada tempat tusukan dan ulangi langkah ke C6 hingga C14. Jika tidak ada darah, dorong plunger dengan perlahan, ajak klien berbicara. 18. Tarik jarum dengan sudut yang sama saat penusukan 19. Usap dan bersihkan tempat penusukan dengan kapas alkohol lain (jika kontra indikasi untuk obat, berikan penekanan yang lambat saja) 20. Tempatkan jarum pada baki 21. Buka sarung tangan 20. Kembalikan posisi klien 21. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Tahap Terminasi 1. Evaluasi perasaan klien 2. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Bereskan alat* 6. Cuci tangan* F. Dokumentasi Catat nama obat, nama pasien, waktu pemberian, dosis dan cara pemberian* Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali Pengampu

88

………………………….

89 .1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% Nilai …………… …………….

Lakukan double cek obat (nama obat. Siapkan obat a. Tahap Preinteraksi 1. Siapkan alat 8. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan*90 . tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Cek waktu pemberian* 7. Cek nama obat* 3. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Cek nama pasien* 4. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Cek dosis* 5. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Cuci tangan * 9. Cek catatan perawat dan medis 2. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 NILAI 1 2 11.INJEKSI SUBCUTANEUS Nama MHs : ASPEK YANG DINILAI A. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas.

Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Evaluasi hasil kegiatan 2. Akhiri kegiatan 5. obat yang diberikan dosis dan cara pemberian Totai Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma Pengampu Nilai 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% …………………………. 91 .D. Tahap Terminasi 1. ………………… ………. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian. tangan E. Berikan reinforcement 3.

Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Gunakan sarung tangan 6. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. 12. Berikan salam. Tahap Preinteraksi 1. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar* B. Jaga privasi klien 4.INJEKSI INTRAVENA Nama Mhs : ASPEK YANG DINILAI A. 16. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Tahap Orientasi 1. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 8. Akhiri kegiatan 5. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. caranya Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% NILAI 0 1 2 Pengampu Nilai …………………………. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 9. Tahap Terminasi 1. 13. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian obat yang diberikan. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. 92 . Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 10. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 20. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 19. Cuci tangan 3. identifikasi klien dan panggil klien dengan namanya 2. Simpulkan hasil kegiatan 3. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin C. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Tahap Kerja 1. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 7. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. Lakukan aspirasi 17. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. tangan D. Evaluasi perasaan klien 2. Kencangkan tourniquet 11. Jelaskan prosedur dan tujuan pemberian obat pada klien/ keluarga C. lalu tusuk perlahan dan pasti 15. Mulai dengan cara yang baik 5. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. dosis. Lepaskan tourniquet 18.

Perawat harus membaca label pada obat untuk melihat aturan pengenceran yang diperbolehkan misalnya dalam label obat akan tertulis 93 . misalnya obat tersedia dalam jumlah milligram atau milliliter yang ekuivalen (H) Vehicle adalah bentuk/kemasan obat atau jumlah tablet atau jumlah larutan yang sesuai dengan dosis yang tersedia Mount adalah isi/jumlah obat yang diberikan misalnya dalam milliliter atau tablet milligram (A) Rumus penghitungan dosis obat DxV =A H Contoh: Dosis sesuai program dokter (D) adalah 400 mg Dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan bentuk sedian obat adalah tablet) Yang ditanyakan: berapa banyak tablet yang harus diberikan ke klien? Jawab: 400 x 1 tablet = 2 tablet 200 Metode 2 Rasio dan proporsi Rumus: H : V= D : A Contoh Dosis sesuai program dokter adalah 400 mg. sedangkan dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan sediaan obat dalam bentuk bubuk dalam vial yang harus diencerkan menjadi bentuk cair) Yang ditanya: berapa ml/cc obat yang harus diberikan kepada klien Jawab 1. Perawat harus memerksa dosis obat yang tertulis di dalam catatan medis dan mencocokkannya dengan label obat dan melakukan penghitungan dosis yang akurat. Ada berbagai macam cara atau metode menghitung dosis obat. dan usia klien. Metode 1 Persamaan dasar Dosis yang diinginkan adalah dosis yang sesuai dengan program pengobatan (D) Dosis yang tesedia adalah dosis yang ada di kemasan obat.MENGHITUNG DOSIS OBAT Penghitungan dosis obat adalah kegiatan menentukan dosis yang dipesankan oleh tim medis berada dalam rentang dosis yang sesuai dengan rute pemberian. berat badan.

berarti bubuk obat di dalam vial akan diencerkan dengan 5 ml aquabides sehingga bentuk sediaan akan berubah menjadi cair 2. 1 ml cairan obat setara dengan 200 mg bubuk obat (1 gram/1000 mg = 5 ml. 1 ml = 1000/5 = 200 ml) 94 .diencerkan dengan 5 ml aquabides. Perawat harus membaca berat bubuk di dalam vial misalnya 1 gram isi vial setara dengan 1 gram bubuk obat 3. Apabila terdapat 1 gram bubuk obat dalam vial yang akan diencerkan dengan 5 ml aquabides berarti ketika pengenceran sudah dilakukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.