BUKU PANDUAN PRAKTIKUM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

TIM BLOK FUNDAMENTAL OF NURSING II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PURWOKERTO 2013

1

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan sistem Blok Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dapat terselesaikan dengan baik. Kurikulum baru ini dirancang untuk menjawab tantangan global dunia pendidikan khususnya untuk mencipta Ners yang terampil dan profesional. Pendidikan keperawatan pada masa kini selalu mengalami perubahan dinamis, cepat dan kontinyu. Ners dari Universitas Jenderal Soedirman diharapkan mampu menangani pasien maupun masalah kesehatan di masyarakat, sehingga wajib dibekali pengetahuan yang luas, keterampilan yang handal, mampu berkomunikasi berdasarkan empati (komunikasi efektif), serta berbudi pekerti luhur yang tercermin pada sikap dan perilaku. Beranjak dari hal itu, maka (KBK) dengan sistim Blok disusun berdasarkan paradigma baru pendidikan Ners dengan waktu studi diselesaikan minimal selama 3,5 tahun untuk akademik dan satu tahun untuk profesi Ners. Program yang dijalankan untuk menyelesaikan kurikulum baru ini, dijabarkan dalam bentuk program semester yang dilaksanakan dengan pola blok tematik berdasarkan kebutuhan hirarkhi Maslow. Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini merupakan panduan belajar mahasiswa pada ranah psikomotor yang tentunya ranah kognitif dan afektif juga ikut terlibat di dalamnya. Jumlah keterampilan tindakan pada Buku Panduan Praktikum Blok Fundamental of Nursing II ini berjumlah 9 keterampilan. Kompetensi psikomotor pada blok ini diharapkan dimiliki oleh seorang Ners atau calon perawat lulusan Universitas Jenderal Soedirman, sehingga setelah menjalani Blok Fundamental of Nursing II selama 5 minggu kemampuan yang diperoleh dapat diinternalisasikan dan terus-menerus diterapkan pada tingkat selanjutnya sampai nanti menjadi Ners praktisi. Saran dan kritik membangun masih kami tim terima dalam rangka perbaikan buku panduan Blok Fundamental of Nursing II ini sehingga pengembangan dan peningkatan mutu pendididikan profesi keperawatan khususnya di Jurusan keperawatan FKIK Unsoed ini akan terwujud dengan kerja sama berbagai pihak dalam proses pembelajaran bersama.

Purwokerto, 10 September 2013

Tim Blok Fundamental of Nursing II

2

DAFTAR ISI DDST ...................................................................................................... KPSP........................................................................................................ Pengenalan Bentuk-Bentuk Sediaan Obat............................................... Rute Pemberian Obat............................................................................... Menghitung dosis obat............................................................................. Leg Exercise ............................................................................................ Pemeriksaan Fisik Anak dan Neonatus ................................................... Ballard Test..............................................................................................

3

Fungsi DDST Fungsi DDST adalah: a. Adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. Denver II adalah revisi utama dari standardisasi ulang dari Denver Development Screening Test (DDST) dan Revisied Denver Developmental Screening Test (DDST-R). Untuk pedoman dalam perawatan perkembangan anak d. 3) Language (bahasa) Kemampuan untuk memberikan respons terhadap suara. Ada 4 sektor perkembangan yang dinilai: 1) Personal Social (perilaku sosial) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri.DDST (DENVER DEVELOPMENTAL SCREENING TEST) 1. Apa yang harus dilakukan bila hasil DDST Suspect. Untuk mengkaji dan mengetahui tingkat perkembangan anak b. 4. 2. mengikuti perintah dan berbicara spontan 4) Gross motor (gerakan motorik kasar) Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh. Tujuan DDST Tujuan DDST adalah mengkaji dan mengetahui perkembangan anak yang meliputi motorik kasar. Tes ini bukan tes diagnostik atau tes IQ. bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Untestable : Penolakan pada satu atau lebih pokok dengan lengkap ke kiri garis usia atau pada lebih dari satu pokok titik potong berdasarkan garis usia pada area 75 % sampai dengan 90 %. Waktu yang dibutuhkan 15-20 menit. Normal : Tidak ada kelambatan b. Rekomendasi untuk rujukan test suspect atau untestable : d. c. Skrining ulang pada 1 sampai 2 minggu untuk mengesampingkan factor 4 . bahasa. melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot-otot kecil. tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Intrepretasi hasil DDST a. Untuk mendeteksi dini keterlambatan perkembangan anak Aspek perkembangan yang diamati terdiri dari 125 tugas perkembangan. Untuk menstimulasi perkembangan anak c. Pengertian DDST DDST kependekan dari Denver Developmental Screening Test yaitu suatu test untuk melakukan pemeriksaan terhadap perkembangan anak usia 1 bulan sampai dengan 6 tahun menurut Denver. Tugas yang diperiksa setiap kali skrining hanya berkisar 25-30 tugas. 3. 2) Fine Motor Adaptive (gerakan motorik halus) Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu. Suspect : Satu atau lebih kelambatan dan/atau dua atau lebih banyak kewaspadaan. adaptif-motorik halus dan personal sosial pada anak usia 1 bulan dampai dengan 6 tahun.

Kemudian dapat dilakukan pada anak yang berusia: 3 tahun. penolakan ke kiri garis usia juga dapat dianggap sebagai kelambatan. ketersediaan rujukan. 2) Meragukan a) Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih b) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia. 3) Tidak dapat dites Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan. 4 tahun. Caution Gagal atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia kronologis di atas atau diantara persentil ke-75 dan ke-90 D. dan 5 tahun B. pada 2 sektor atau lebih b) Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia . gunakan penilaian klinis berdasarkan hal berikut : angka kewaspadaan dan kelambatan. tanyakan tanggal lahir anak yang akan 5 . OK Melewati. dan 18-24 bulan. Langkah-langkah pemeriksaan DDST: 1) Tetapkan umur kronologis anak. Bila skrining ulang bersifat suspect atau untestable. 1) Abnormal a) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan. Advanced Melewati pokok secara lengkap ke kanan dari garis usia kronologis (dilewati pada kurang dari 25% anak pada usia lebih besar dari anak tersebut) B. usia disesuaikan hanya sampai anak usia 2 tahun Interpretasi dari nilai Denver II: A. yaitu: A. karena alasan untuk menolak mungkin adalah ketidakmampuan untuk melakukan tugas tertentu 5. pemeriksaan dan riwayat klinis. 4) Normal Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas. hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal. atau menolak pokok yang dipotong berdasarkan garis usia antara persentil ke-25 dan ke-75 C. gagal. Delay Gagal pada suatu pokok secara menyeluruh ke arah kiri garis usia kronologis. Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Abnormal. Meragukan dan Tidak dapat dites. Cara Pemeriksaan Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap.temporer. Berdasarkan pedoman. Pada anak-anak yang lahir prematur. e. C. Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia: 3-6 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap. 9-12 bulan.

Penilaian: Jika Lulus (Passed = P). jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas. Alat yang Digunakan 1). 6. gagal (Fail = F). 2). Diperiksa perkembangannya dengan DDST II pada tanggal 1 April 2008. Lula? Jawab: 2008 – 4 – 1 2006 – 8 – 5 1 – 7 -26 Jadi usia An. sehingga usia kronologis An. Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST. Lula untuk pemeriksaan DDST II adalah: 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah. pakaian. Lula : 5-8-2006 Tanggal periksa : 1-4-2008 Ditanyakan: Berapa usia kronologis An. kismis/ manik-manik. Lembar formulir DDST II 3). Hitung usia kronologis An. Lula adalah 1 tahun 7 bulan 26 hari atau 1 tahun 8 bulan atau 20 bulan. Lula! Diketahui: Tanggal lahir An. Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya. berapa yang P dan berapa yang F. buku gambar/ kertas. 6 . kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa). kartu/ permainan ular tangga. Lula lahir pada tanggal 5 Agustus 2006. ataukah anak tidak mendapat kesempatan melakukan tugas (No Opportunity = NO). Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.2) 3) 4) 5) diperiksa. Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor. pensil. Contoh: An. Alat peraga: benang wol merah. kubus warna merah-kuning-hijau-biru. peralatan gosok gigi. Peralatan makan.

dekatkan pada pemeriksa. Nilai: Purwokerto. Personal sosial b. 3. Motorik halus (Fine motoric) 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 1) Observasi perubahan perilaku anak 2) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 3) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan Dokumentasi 1) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 2) Catat tanggal. meliputi aspek perkembangan: a. 1. 4. 2) Pastikan ruangan hangat.Nama NPM No. lakukan pendekatan pada anak. Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………………. 5. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 1) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 2) Jelaskan prosedur pemeriksaan. dan nama pemeriksa (tanda tangan). FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN DDST/DENVER II : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 1) Siapkan alat yang akan digunakan. Bahasa c. pindahkan pada formulir sesuai dengan usia kronologis anak 3) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 4) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan.) PIJAT BAYI 7 . Motorik kasar (Gross motoric) d. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 3) Berikan privasi. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 1) Siapkan lembar formulit DDST yang akan digunakan 2) Hitung usia kronologis anak. ……… Evaluator Nilai 1 2 2. waktu.

melaporkan. gangguan usus. menurut dr. Namun. Lagi pula ia akan merasa aman karena merasa yakin memiliki kasih sayang dan perlindungan dari orang tua. sebaiknya tidak dipijat di daerah perut.Oleh Dian Ramawati. mampu mengurangi perasaan gelisah dan depresi sehingga 8 . Ns.3 bulan juga meningkatkan kesiagaan (alertness) dan tangisnya berkurang. diberi gerakan pijat halus dengan tekanan ringan.3 bulan. M.Kep. Untuk bayi usia 3 bulan . campak. An Pengertian Sentuhan alamiah pada bayi sesungguhnya sama artinya dengan tindakan mengurut atau memijat. Utami Roesli. Sebelum tali pusat lepas.1 bulan.. ia bisa menjadi terapi untuk mendapatkan banyak manfaat buat bayi. dokter anak dan psikiater dari Amerika. ahli virologi mulekuler dari Inggris. dan bertambahnya kadar serotonin. David Hull. jarang mengalami simptom hospitalismus (gangguan yang sering dialami bayi yang tinggal di panti asuhan. Ini akan diikuti dengan peningkatan berat badan. Tiap individu. Tidurnya pun bertambah tenang. Tak ada teknik pijat yang baku. khususnya dari ibu. dalam makalah berjudul Touch Therapy: Science Confirms Instinct. seperti radang telinga tengah. Rene Spitz. bisa menerapkan teknik dan tahapan pemijatan masing-masing. Terapi pijat 15 menit selama enam minggu pada bayi usia 1 .. muka. Kalau tindakan ini dilakukan secara teratur dan sesuai dengan tata cara dan teknik pemijatan bayi. tangan. dan menjadi penentu bagi anak untuk menjadi anak yang berbudi pekerti dan percaya diri. belaian.). dll. Sentuhan. Field seperti dikutip dr. berkurangnya kadar hormon stres. perbaikan kondisi psikis. menyebutkan terapi pijat 30 menit per hari bisa mengurangi depresi dan kecemasan. sentuhan orang tua merupakan dasar perkembangan komunikasi.3 tahun. Pemijatan dimulai dari kaki. tidak perlu mengundang dukun pijat bayi sebab pemijatan bisa dilakukan sendiri. dan pijatan akan mempererat ikatan kasih sayang orang tua dengan anak. yang akan memupuk cinta kasih timbal-balik. Pijatan juga terbukti dapat melegakan saluran napas yang menyempit karena asma. Sp. J. dan diakhiri pada bagian punggung. bayi yang banyak memperoleh sentuhan. bagian dada. Pengamatan T. bisa ditambah dengan tekanan. Untuk keperluan itu.Kep. Bayi umur 1 . Terhadap perkembangan emosi anak. disarankan hanya diberi gerakan usapan halus. untuk bayi berumur 0 .

kemudian membuat bentuk lingkaran-lingkaran dengan kedua tangan. Sejak usia enam bulan. Utami Roesli menyebutkan bahwa pijat bayi dapat dilakukan segera setelah bayi lahir. ahli fosioterapi. Cara lain. bahkan ke bagian jaringan lebih dalam. remasan. berkhasiat pada jaringan penentu kemelaran otot yang terletak pada gelendong jaringan otot.serangan asma berkurang. dan gerakan lingkar) bisa saling melengkapi. sekaligus akan lebih melancarkan peredaran darah. Tangan diletakkan sejajar dengan anggota badan. Teknik urut lingkar. memberikan stimulasi pada permukaan jaringan. Barbara Ahr. ibu. lingkaran yang terbentuk akan makin bulat. menurut Ahr. sehingga bermanfaat bagi anak yang berpembawaan gugup. Hasilnya. Jadi. dapat dimulai kapan saja sesuai keinginan. Bisa juga malam hari sebelum bayi tidur sehingga bayi dapat tidur lebih nyenyak. Mula-mula dilakukan usapan. Setiap gerakan yang berkaitan dengan kegiatan mengurut atau memijat memiliki khasiat. Pemijatan dapat dilakukan pagi hari sebelum mandi. pijat dua hari sekali sudah memadai. Dengan kata lain. Pada anak yang lesu dan malas bergerak. kocokan. aliran darah meningkat dan pembuluh darah lebih lebar. Usapan juga dapat merangsang aliran darah dan getah bening. Dengan latihan. Pemijatan bisa dilakukan oleh ayah. atau anggota keluarga lain. Dari lingkaran besar kemudian mengecil. nenek. Mengurut bayi bisa juga dengan gerakan remasan. Bila dikerjakan secara lengkap. Penelitian di Australia 9 . Remasan. Bayi akan mendapat keuntungan lebih besar bila pemijatan dilakukan tiap hari sejak lahir sampai usia enam atau tujuh bulan. Teknik kocokan dilakukan dengan cara "menggulung". menganjurkan agar usapan dilakukan sedikit lebih bertenaga dan diarahkan ke jantung. dengan teknik lingkar. Tindakan pijat dikurangi seiring dengan bertambahnya usia bayi. sambil mengurut seperti menggulung sosis atau mengaduk adonan. Gerakan usapan misalnya. remasan dapat membuat otot bayi menjadi lebih kuat. menurut Ahr. Teknik ini bermanfaat untuk mengendorkan jaringan. Semua teknik urut (usapan. hasilnya akan lebih baik. mirip gerakan membuat adonan roti. Teknik remasan dilakukan dengan cara bagian tungkai atau lengan dipadatkan atau dimelarkan menggunakan sisi tangan bagian dalam dan sedikit gerakan memeras. dapat menenangkan anak. Bahkan pemijatan pada bayi dari ibu HIV-positif dapat lebih menaikkan berat badan dan meningkatkan perkembangan motorik bayi. dr.

nenek atau paman) Meningkatkan nafsu makan dan berat badan bayi Bayi yang dipijat mengalami peningkatan tonus nervus vagus-nya (saraf otak ke10). Meningkatkan bonding attachment antara bayi dengan anggota keluarga yang lain (ibu. 4. kulit bayi perlu sesering mungkin dilumuri baby oil atau baby lotion. bayi yang dipijat ayahnya berat badannya cenderung naik dan hubungan dengan ayah makin baik. Langkah Kerja 1. Lakukan sentuhan ringan dan lembut. Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. atau tak mau dipijat. Tidak boleh memaksakan posisi pijat tertentu pada bayi. 3. ayah. 4. 2. Penyerapan makanan yang lebih baik akan menyebabkan si kecil cepat lapar dan karena itu lebih sering menyusu. jangan membangunkan bayi hanya untuk dipijat. 10 Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala. Ini membuat kadar enzim penyerapan gastrin dan insulin naik sehingga penyerapan terhadap sari makanan pun menjadi lebih baik. Bayi sudah makan atau benarbenar tidak sedang lapar. sambil diajak berbicara. Baju bersih (popok. 2. 3. Meningkatkan daya tahan tubuh / imunitas bayi Meningkatkan rasa percaya dan harga diri pada pasangan muda Alat yang digunakan 1. Jangan memijat bayi yang sedang tidak sehat. Sebelum memijat. Tapi jangan memijat segera setelah bayi selesai makan. 3. 2. sarung tangan dan kaki) Handuk Baby oil / baby lotion Alas kain / kasur kecil . produksi ASI akan lebih banyak. Akibatnya. pastikan tangan Anda bersih dan hangat.membuktikan. Tujuan 1. Periksa kuku dan perhiasan untuk menghindari goresan pada kulit bayi. Sebelum dan selama pemijatan. Yang juga penting diperhatikan.

dan memutar kaki bayi secara lembut. 11. muka. Selanjutnya kedua tangan membuat Rapatkan kedua kaki bayi. membuat lingkaran-lingkaran kecil pada telapak kaki. tangan. Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki. Atau. Atau. Mungkin bayi minta digendong.terutama bila bayi sudah mulai menerima pijatan itu. gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki. telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi. disusui. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan. dari pangkal paha dengan gerakan memeras. atau mengantuk. Telapak kaki diurut dengan kedua ibu jari. memijat. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. 4. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. dari atas ke bawah. dengan 11 . Lewat kontak pandang. Anda bisa belajar mengenali reaksi anak dan bisa mengamati penerimaan kegiatan memijat ini oleh anak. 8. Bila bayi menangis. 7. 5. 9. Pemijatan dimulai dari kaki. bagian dada. 10. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. Untuk memijat perut. Kalau tangisnya makin keras. dua tangan bergerak bersamaan. dan diakhiri pada bagian punggung. Selama pemijatan. Untuk menciptakan suasana tenang. pemijatan sebaiknya dihentikan. ada baiknya sambil bersenandung atau memutar lagu lembut. 6.

lalu jari-jari tangan diregangkan seolah membuat gambar burung kecil. Selanjutnya. memijat. Kemudian kedua lengan bayi 12 . Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. gerakan membentuk huruf "U". Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. Cara lain. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. 14. Pada telapak tangan. 15. gerakan seperti membuat gambar jantung kecil di sekitar puting susu.12. Ada juga gerakan membuat lingkaran-lingkaran searah jarum jam. kedua tangan melakukan gerakan memeras. Atau. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. 13. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi. 16. gerakan membuat gambar jantung besar hingga ke tepi selangka. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. Atau. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari tengah dada ke samping. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. Atau. Pemijatan tangan dimulai dari pundak.

Kedua ibu jari memijat alis mulai dari Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. 18. dengan gerakan mengusap. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. membuat lingkaran-lingkaran kecil. gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. 19. 13 . 20.17. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis. Atau. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. juga ke daerah pipi di bawah mata. tengah ke samping. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan.

k. g.. membuat lingkaranlingkaran kecil pada telapak kaki. dan diakhiri pada bagian punggung. muka. Ada juga gerakan membuat lingkaranlingkaran searah jarum jam. Dada dipijat dengan telapak tangan yang membuat gerakan dari 14 Nilai 0 1 2 2. Aspek yang Dinilai Tahap Pre – Interaksi a. lakukan gerakan pada perut bayi seperti mengayuh pedal sepeda. c.... Selanjutnya.. dan memutar kaki bayi secara lembut. e. Pemijatan kaki dengan cara memegang pangkal paha bayi.... j.... 3. l...CHECK LIST PIJAT BAYI Nama Mahasiswa : . Rapatkan kedua kaki bayi. dan diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari.. gerakan membentuk huruf "U". Pemijatan dimulai dari kaki. Lakukan gerakan pembuka berupa sentuhan ringan di sepanjang sisi wajah bayi dan mengusap-usap rambut kepala.. gerakkan menekuk kedua lutut bayi secara lembut hingga menekan ke perut bayi.... dengan telapak tangan kanan dan kiri secara bergantian. pastikan tangan kering dan hangat c. Selama pemijatan. Lumuri badan bayi dengan baby oil / baby lotion sesering mungkin sebelum dan selama pemijatan d... NIM No 1.. bagian dada. tangan. Untuk memijat perut. tenangkan dulu sebelum pemijatan dilanjutkan.. Letakkan handuk untuk menutupi badan bayi b.. Letakkan bayi pada pangkuan / matras / kasur Tahap Kerja a. : . Kaji kondisi bayi b... h.. Kalau tangisnya makin keras. dari pangkal paha dengan gerakan memeras... Lepaskan perhiasan pada tangan yang dapat menggores kulit bayi Tahap Orientasi a. Lakukan sentuhan ringan dan lembut. Bila bayi menangis. memijat.. lalu tangan digerakkan ke arah pergelangan kaki seperti memerah susu... f. dua tangan bergerak bersamaan. m. sambil diajak berbicara. dan dengan halus kedua kaki bayi diusap dari atas ke bawah. Cuci tangan. pemijatan sebaiknya dihentikan.. pandanglah mata bayi dengan penuh kasih sayang. Siapkan alat yang akan digunakan : • Alas kain / kasur / matras • Baby oil / baby lotion • Baju bersih • Handuk b.... Jemari kaki dipijat satu per satu dengan gerakan memutar menjauhi telapak kaki...... Urut kedua telapak kaki dengan ibu jari... dari atas ke bawah... i.... Kemudian secara bertahap ditambahkan tekanan pada sentuhan itu. Atau.. Selanjutnya kedua tangan membuat gerakan menggulung ke arah pergelangan kaki... .

juga ke daerah pipi di bawah mata. Gerakan ini diakhiri dengan tarikan lembut pada tiap ujung jari. Atau. Jari bayi dipijat satu per satu ke arah ujung jari dengan gerakan memutar. kedua tangan melakukan gerakan memeras.) 15 . gerakan menggaruk dengan tekanan lembut. Atau. Pemijatan punggung dilakukan menggunakan kedua telapak tangan. p. t. Pada telapak tangan. tangan kanan dan kiri Anda bergerak seperti memerah susu. Kemudian kedua lengan bayi dirapatkan ke badannya dan diusap lembut. dan membuat gerakan ke samping kiri dan kanan. Tahap Terminasi a.n. kedua ibu jari membuat lingkaran-lingkaran kecil. dan memutar secara lembut pada lengan bayi. r. 4. (…………………………. Pemijatan muka dimulai dengan mengusap wajah bayi ke arah samping dengan kedua telapak tangan. Lengan bayi dipijat dengan gerakan menggulung dari kedua telapak tangan Anda. Lalu jemari menekan lembut di tengah dahi. membuat lingkaran-lingkaran kecil. q. gerakan membentuk gambar jantung dengan meletakkan ujung-ujung jari pada ulu hati. Kaji respon bayi selama dan setelah dilakukan tindakan b. s. Kedua ibu jari memijat alis mulai dari tengah ke samping. o. tengah dada ke samping. ……………… Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai : Evaluator. dengan gerakan mengusap. Pemijatan tangan dimulai dari pundak. memijat. Buat lingkaran-lingkaran kecil di pelipis.. Pakaikan bayi baju bersih yang telah disiapkan Purwokerto. Sementara keempat jari Anda memijat bagian punggung tangan bayi. Atau.

Pengertian Pengkajian usia gestasi merupakan kriteria penting karena morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) perinatal berhubungan dengan usia gestasi dan berat badan lahir. 1. dan tumit sampai telinga. 4. kulit transparan lembab. 3. 2. Tujuan Memastikan usia gestasi bayi baru lahir. tidak ada lanugo (rambut halus di permukaan kulit). Mengurangi angka morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir. recoil lengan. 2. Skala Ballard dapat digunakan untuk melakukan pengkajian pada bayi baru lahir usia gestasi 20 minggu. Indikasi Dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam pada bayi dengan usia gestasi 20 minggu. jaringan payudara tidak dapat diidentifikasi. Alat Format pengkajian Ballard Test. Setiap tanda mempunyai skor dan skor kumulatif yang didasarkan dengan rentang skala maturitas gestasi dari 20 sampai dengan 40 minggu. Untuk bayi dengan usia gestasi kurang dari 26 minggu dapat dilakukan dalam waktu sampai 96 jam setelah kelahiran. Salah satu metode yang paling sering digunakan tentang penentuan usia gestasi didasarkan pada temuan fisik dan neurologis. 1. 16 . Memberikan perawatan yang dibutuhkan oleh bayi sesuai dengan usia gestasinya. dan sudut square window (fleksi pergelangan tangan) lebih dari 90 derajat. yaitu postur. Pengkajian meliputi enam tanda-tanda neuromuskular dan fisik eksternal. 3.PENGKAJIAN USIA GESTASI 1. tanda scarf. 2. Pada bayi premature dilakukan dalam waktu kurang dari 96 jam. square window. 3. 1. Alat ini mempunyai bagian fisik dan neuromuscular yang mencakup skor -1 dan -2 yang menunjukkan bayi sangat premature. seperti penyatuan kelopak mata. sudut popliteal.

4. 5. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. Alas dan selimut bayi. 3. Letakkan bayi diatas meja periksa. 5. 17 . 11. 4. Ukur sudut dibelakang lutut. 1. Posisikan bayi telentang. Observasi letak siku terhadap garis tengah. 3. suhu. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. 8. Telapak tangan bayi akan terlihat seperti akan menggengam. 2. dan pernafasan) Siapkan meja periksa yang telah dialasi dengan kain yang lembut dan bersih. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah. Cuci tangan Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. 9. Meteran Meja dan lampu periksa. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. selimuti dan nyalakan lampu periksa. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. 6. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. tahan selama 5 detik. Terangi meja periksa dengan lampu periksa. Prosedur Kerja Jelaskan prosedur pada ibu dan keluarga. posisikan bayi telentang. Setelah bayi tenang.2. Tonus otot dan derajat fleksi meningkat sesuai maturitas. 7. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut (sama dengan sudut popliteal). fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen. 10.

Catat hasil pemeriksaan pada format yang tersedia. Tentukan usia gestasi bayi (matur atau premature). 16. berikan kepada ibu dan keluarga. 18 .12. Dokumentasikan pada catatan perkembangan bayi. cuci tangan. 13. Bereskan alat. berat badan dan lingkar kepala bayi. 14. 15. Ukur panjang. Selimuti bayi.

19 .

20 .

suhu. m. fleksikan penuh kedua lengan bawah pada lengan atas. Siapkan alat-alat : alasi meja periksa dengan bahan halus dan bersih. Dengan bayi telentang dan pelvis datar pada permukaan keras. Tahap Kerja a. berikan privasi. Posisikan bayi telentang. Bereskan alat-alat. selimuti dan nyalakan lampu periksa. c. Observasi kecepatan dan intensitas recoil untuk status fleksi. Check List PENGKAJIAN USIA GESTASI (BALLARD TEST) : ………………………… : ………………………. ekstensikan kaki dengan jari telunjuk tangan yang lain. Tahan kepala bayi dalam garis tengah dengan satu tangan. Ukur sudut dibelakang lutut. l.. NAMA NIM No 1. Terangi meja periksa dengan lampu periksa.6. tahan selama 5 detik. 4. Ukur jarak telapak kaki dari telinga dan derajat fleksi lutut p. o. f. cuci tangan. e. Beri tekanan lembut dengan ibu jari dan jari ketiga pada bagian punggung tangan tanpa melakukan gerakan memutar pergelangan tangan bayi. Observasi letak siku terhadap garis tengah.. Ukur sudut antara dasar ibu jari dan lengan bawah h. Tahap Terminasi 21 Nilai 0 1 2 2. Aspek yang dinilai Tahap Pra-Interaksi a. Letakkan bayi diatas meja periksa. Cuci tangan perawat. g. Kaji tanda-tanda vital bayi (nadi. j. Sambil menahan lutut dengan ibu jari dan jari telunjuk. dan pastikan suhu kamar hangat. dorong ke bawah pada tangan untuk ekstensi penuh dan lepaskan lengan dengan cepat i. Baca kembali RM bayi. Observasi derajat fleksi lengan dan kaki. d. 3. fleksikan kaki bawah pada paha dan kemudian fleksikan paha pada abdomen k. b. . b. Jelaskan prosedur kepada keluarga. q. b. berat badan dan lingkar kepala bayi.. posisikan bayi telentang. Setelah bayi tenang. Dengan ibu jari menopang bagian belakang / punggung lengan di bawah pergelangan tangan. Observasi pergerakan tangan dan kaki bayi. Ukur panjang. Bawa alat-alat dalam baki dan letakkan dekat bayi. Dorong kaki bayi sejauh mungkin ke arah telinga pada sisi tubuh yang sama. dan pernafasan) Tahap Orientasi a. n. gunakan tangan yang lain untuk mendorong lengan bayi melewati bahu sehingga tangan bayi menyentuh bahu yang lain.

.. Nilai : Purwokerto..... tentukan usia gestasi bayi.......... Dokumentasikan tanggal dan waktu tindakan.. Observasi suhu.......(..... Kontrak untuk pertemuan selanjutnya bila diperlukan Dokumentasi a....... a.. 22 ...5........ nadi dan pernafasan serta respon bayi b.. b. Evaluator Keterangan : Nilai 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakukan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75 % dari total nilai tindakan. ……………. Catat hasil pemeriksaan pada format pengkajian... .

dan suara yang lembut. Lebih perhatian kepada orang tua.PEMERIKSAAN FISIK PADA ANAK PEDOMAN: 1. d. Jika ada beberapa anak. Ruangan dengan dekorasi menarik . Hargai dan puji anak atas ker jasama selama periksaan PEMERIKSAAN FISIK I. Berikan pilihan (misal dipangkuan ibu atau diatas meja). prinsip ABC dan daerah injury lebih dahulu. c. diperiksa terakhir. Ijinkan anak untuk menyentuhperalatan pemerikasaan. 9. lalu secara bertahap alihkan kepada orang tua atau mainan anak b. Beri pujian atas penampilan (pakaian) anak atau mainan favorit anak. e. Lingkar lengan d. d. Tinggi badan: Lahir-36 bulan: posisi recumbent 2 tahun-18 tahun : berdiri b. 2. g. 3. Lakukan dengan program bermain. Suhu ruangan nyaman . 4. 8. Jelaskan setiap tahap dengan bahasa yang sederhana. c. c. PENGUKURAN PERTUMBUHAN Terdiri atas berat badan. Mau berbicara dengan Perawat. lingkar lengan dan Iingkar kepala. Jaga privacy anak terutama anak usia sekolah dan remaja. 7. Lingkar kepala : 23 . Situasi emergensi. Membina kontak mata. boneka . Diskusikan hasil pemeriksaan pada keluarga. Tinggi badan c..Jika anak tidak siap : a. a. Menerima peralatan yang diberikan. Bercerita yang lucu atau bermain magic sederhana. c. Membiarkan sentuhan fisiko e. mulai dari anak yang paling kooperatif 6. Daerah yang sakit. Libatkan dalam proses: a. Hindari penjelason yang lama tentang prosedur pemerikasaan. b. . b. Head to toe b. Mau dipisah dari orang tua . c. 5. a Lakukan pemeriksaan secepat mungkin. Libatkan orang tua selama proses f. b. Jika memungkinkan sediakan ruangan yang sesuai dengan tahap usia. tinggi badan. Dilakukan pada area yang tidak berbahaya: a. gunakan ruangan yang terisolasi. Kaji kesiapan anak : a. Minimalkan stimulasi (batasi jumlah orang. Sediakan mainan. Kaji adanya f1engalaman traumatik e. Mulai dari prosedur yang kurang mengancam. d. Lakukan pemeriksaan dengan bertahap a.

II. Kulit Tekstur. pallor. pinna dan mengelilingi occipital Pada usia 1-2 tahun LK=LD Lakukan interpretasi merujuk pada NCHS. posisi. indikasi injury serebri • ROM Minta anak untuk melihat (atas. tonsilar. Penampilan umum. h. petekia dan jaundice g. nyeri : akan memilih satu posisi tertentu Hygene : bau badan. reaksi terhadap stres. Postur. f. Tekanan darah e. posisi dan pergerakan tubuh Anak dengan pendengaran yang kurang. kelembaban dan turgor. rectal. interaksi dengan orang tua dan perawat dan respon terhadap stimulus. bawah. Adalah penilaian subjektif atas penampilan fisik anak. paralisis ? • Kontrol kepala & posture kepala Usia 4 bulan. interaksi dengan orang too dan perawat. eritema. servikal. tempratur. Perkembangan. KEPALA Observosi: • Bentuk & simetris : senyum. Kelenjar limphe Cara : Lakukan palpasi dengan gerakan melingkar pada lokasi yang biasanya terdapat kelenjar Iimphe. aksilaris dan inguinal is. PENGUKURAN FISIOlOGIS a. tetapi akan lebih akurat dengan menggunakan DDST. kecemasan dan faktor patologik Cara: pada bayi observasi gerakan abdomen dan satu menit penuh d. Pernapasan: c. demam. aksila Dipengaruhi oleh usia. akan memajukan tubuh. perkembangan dan bicara Wajah: Meringis : nyeri. kanan) Hambatan ROM: wryneck (torticolitis) Timbul akibat injury otot sternocleidomastoditis Kepala melihat ke satu sisi dan dagu bertitik pada satu point.- Perlu diukur sampai usia 36 bulan Lokasi : diatas alis mata. keadaan nutrisi. kuku. 24 . aktivitas. Area pemeriksaan : subingual. Dilakukan dengan observasi. kiri. submaksilaris. tampak sakit umum. Denyut nadi : Bayi : denyut apikal Lebih dari 2 tahun : denyut radial Pada bayi hitung satu menit penuh b.bayi mampu mengangkat kepala Head lag setelah 6 bulan. Tempratur : oral. genetik dan fisiologis. distribusi dan elastisitas Faktor yang rnempengaruhi : Iingkungan. postur. gigi dan pakaian Behavior: tingkat aktivitas. Variasi warna kulit : sianosis. kesulitan bernapas.

nyeri pada saat flexi. misal tumor dan benda asing di paru • Kelenjar tiroid o Di dasar leher o 2 lobus kiri kanan dihubungkan oleh is~mus j.5 . infeksi mulut. Difteri Pelebaran vena di leher : indikasi kesulitan ekspirasi pada astma + cystis fibrosi Palpasi • Masa? • Normal: trachea di tengah. indikasi problem paru-paru.5 Jarak > besar: Hipertelorisme Hipertelorism: epicantal fold upward Palpebral slant : indikasi pada . arah pertumbuhan dan warna. Jarak antar pupil 4. warna.5 Inner chantal distance: 2. dan kejernihan 2. fontanel & pembengkakan Fontanel anterior : 12 -18 bulan Fontanel posterior menutup: 2 bulan i. Sklera Normal: putih Kuning : jaundice Kornea : normal : transparan dan bersih Iris: ukuran.5. Inspeksi struktur internal menggunakan ophtalmoskop jika anak menggunakan kaca mota. lepaskan karena akan menyebabkan distorsi gambar kecuali jika kacamata digunakan untuk mengoreksi astigmatis berat dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan ketajaman penglihatan pemeriksaan dilakukan di ruangan redup tetapi tidak perlu digelapkan persiapkan anak: • demonstrasikan penggunaan alat • jelaskan alaSQn peredupan ruangan 25 . MATA 1. agak ke kanan Abnormal: Pergeseran. Inspeksi struktur internal .Down Syndrome Ptosis? Blinking reflex: Asimetric : paralisis Infrequent : kelemahan otot Bulu mata : distribusi.Pertumbuhan bulu mata atas ke bawah beresiko infeksi.Epistotonos: hiperextensi kepala dg. indikasi iritasi meningeal Palpasi Sutura. LEHER Observasi Ukuran: • Normal leher pendek + adanya Iipatan kulit antara leher + kepala + bahu • Abnormal : Leher pendek : sindrome Turner Leher edema : Mumps.

Penglihatan perifer d. Cover test Tutup satu mata b. Test ketajaman penglihatan Yaitu kemampuan untuk melihat benda-benda yang dekat dan jauh Test : Snellen Letter Chart jarak: 20 dari snellen chart lalu membaca setiap huruf yang ada Jika bisa membaca pad a garis ke-7. dan penglihatan warna a. lampunya secara langsung diarahkan ke mata. apel. lama kelamaan menyebabkan kelemahan pada mata. Binocularity b. menolak untuk rnernbuka rnata setelah terkena cahaya. Otak akan mensupresi image yang dihasilkan oleh mata. Corneal light reflex test (Red reflex gemini = Hirschberg test) a.4 bulan. Epichantal fold akan menimbulkan salah persepsi pseudostrabismus 2. yaitu : test binocularity. Arti: orang lain bisa melihat pada jarak 100 feet. Walau begitu test ini tidak cukup untuk menilai penglihatan anak Test lain yang juga dapat digunakan adalah kernarnpuan bayi untuk 26 . Evaluasi terhadap adanya kontriksi pupil. Ketajaman penglihatan c. dst. ketajaman penglihatan. telpon.Jika dideteksi dalam 4-6 tahun. bertambahnya alertness. dengan optalmoskop. artinya ketajaman penglihatan 20/20 Arti: pada jarak 20 feet. menutup mata. kebutaan (Amblyopia) Dua test deteksi malposisi : 1. mobil. mobil.5 cm (16 inch) b. • Merupakan standar ketajaman penglihatan Jika hanya bisa membaca pada tine (baris) 2 : ketajaman penglihatannya 20/100. satu mota deviasi pada satu point.Test Penglihatan Terdiri atas 4 jenis. mereka bisa membaca huruf yang besarnya 7 mm . Test ketajaman penglihatan pada infant dan anak yang sukar untuk ditest Berikan sinar pada mata. strabismus. Penglihatan warna a. BINOCULARITY Kemampuan untuk memfiksasi satu lapangan penolong dengan dua mata secara simultan Normal: 3 . ia hanya bisa melihat pada jarak 20 feet Snellen chart : digunakan pad a anak preschool Untuk anak 2 tahun : Black Bird Vision Screening Vision System • Anak diminta untuk menyebutkan ke arah mana burung akan terbang • Mungkin sulit untuk mengkoordinasikan mata & tangan Faye Symbol Charts 27 . normal: jika cahaya jatuh simetris pada setiap pupil abnormal: jika cahaya tidak jatuh pada satu pusat mata. Jarak 40. binocularity Strabismus. penglihatan perifer. mengikuti cahaya.30 bulan Simbol: rumah.

strabismus yang nyata. c.10% wanita kulit putih.Kesulitan memilih karir/pendidikan yang berkaitan dengan dengan warna: elektronik. Adanya masalah pada satu sisi mata. Tetapi adalah sulit untuk melihat bagian mata satu persatu. Penglihatan Warna 8 . yang paling banyak: protanomaly dan deuteranomally Protanomally: anak tidak bisa membedakan antara warna abu-abu/biru.Atau demonstrasikan prosedur terlebih dahulu terhadap 27 . Sebelum prosedur ijinkan anak untuk mengeskplore perlengkapan. benda-benda berwarna lain • Jika sampai 3 . Inspeksi struktur interna Menggunakan otoskop Observasi: membran timpani. demografi. Minta anak mengatakan 'stop' pada saat ia bisa melihat objek/tangan Normal : anak dalam melihat 50% : upward 70% : downward 60'0 : nasalward 90% : temporally Keterbatasan pada area tersebut. Kebersihan telinga 2. Diperlukan test-test lain untuk meniastikan adanya kebutaan pada bayi. mungkin merupakan indikasi adanya kebutaan d. 1. slow lateral movement. nystagmus yang konstan. mengalami 99 penglihatan warna Ada banyak variasi buta warna. pucat dengan hijau Deuteranomally: bingung antara abu-abu dengan ungu pucat dan hijau Secara umum. Posisi : tarik telinga ke atas dan ke belakang pada posisi jam 10 atau tarik telinga kebawah dan ke belakang posisi jam 6-9.mengikuti suatu benda • Bisa digunakan wajah pemeriksa. bayi belum mampu untuk mengikuti suatu berkas • Lakukan pemeriksaan dengan optalmoskop Tanda lain adanya gangguan penglihatan ketidakmampuan untuk mengikuti suatu benda.4 bulan. fotografi. farmasi Test : Ishihara test Hardy-Rard Rittler (HRR) test Yaitu : gambar/huruf yang dibentuk dari berbagai komposisi warnawarna yang membingungkan untuk penderita buta warna k. TELINGA Terdiri atas inspeksi strukttr interna dan test pendengaran. buta warna tidak menimbulkan masalah besar. Inspeksi struksur exterrn Pinna (auricle) Periksa penempatan dan posisi telinga Bagian atas telinga harus melewati garis khayal dari sebelah dalam. mungkin merupakan indikasi adanya kerusakan pada ke-2 mata. Pemeriksaan lapangan pandang Pada anak yang cukup usia dan kooperatif Minta anak untuk melihat satu objek (tangan pemeriksa) yang digerakkan pada 4 quadran penglihatan.

MULUT DAN TENGGOROKAN 1. sternum keluar • Funnel Chest (pectus b. Gunakan tongue spatel atau minta anak untuk mengatak "ahh”. 2.Normal berwarna pink Kaji adanya iritasi pada. Normal. Simetris  derajat 28 Normal 45 . discharge. kering. Kaji dinding telinga. bawah sternum (terdepresi) Gangguan pernapasan c.Ucapkan "terima kasihH atas ker jasama anak. kering atau perdarahan. benda asing dan infeksi Test ketajaman pendengaran. bagian Ukur antara sternum dan batas tepi iga. uvula. plaque n. Bibir: warna.orang tua. Inspeksi strukstur interna Inspeksi gigi. m. bengkak. tonsil dan oropharing posterior. Inspeksi lidah 3. Inspeksi papila Abnormal: Coated tongue pada candidiasis Protrusion tongue ditemukan pada retardasi mental. Inspeksi mukosa : normal berwarna pink adanya ulserasi dan perdarahan. mukosa hidung akan tampak lebih merah dari mukosa. katakan pada anak -soya inginmelihat apakah ada gajah pada telinga kamuH. bau mulut indikasi adanya penyakit gusi atau . DADA INSPEKSI a. Atraumatik Care: Saat akan memeriksa anak. Bentuk  Bayi : AP = Lateral  Abnormal : • Barrel chest = pyk paru kronik (asma dan cystic fibrosis) • Pigeon breast (pectus carinatum). l. Costal Angle Excavatum). HIDUNG Adakah deviasi ? Simetri ? Minta anak untuk menegadahkan wajahnya soat pemeriksaan. inflamasi.setelah selesai pemeriksaan katakan bahwa mencari gajah tersebut hanya perumpamaan saja. Apakah ada napas cuping hidung ? Inspeksi struktur internal: mukosa. gusi dan palatu lunak dan palatum keras.kebersihan gigi yang kurang. 4.

Gerakan dinding dada  • Abnormal: > 45 deraja t= barrel chest. Apeks: sela iga 3. pernapasan abdomen  Anak) 6-7 tahun. pernapasan dada Normal : pada midcJavicula iga 4-5 o. Retraksi dinding dada f.d. basis anterior sela iga 8 dan basis posterior. Nipple •  simetris  skoliosis  Sirnetris  Asimetris: Normal: Gerakan dinnding dada = abdomen  Anak < 67tahun. sela iga ke 11 INSPEKSI PERNAPASAN  Frekuensi  Ritme  Kedalaman  Kualitas (sulit / spontan) PALPASI :  Excursion Simetris / tidak? Normal : pada napas dalam paru-paru bawah akan berkembang 5-6 cm Rasakan vibrasi yang simetris pada sternum + vetebra Maximal di apex paru. penya kit paru < 45 derajat = malnutrisi Normal: e. PARU-PARU Normal. minimal di bagian basis 29  Vocal Fremitus .

asma atau benda asing) Jalan napas besar terobstruksi oleh sekret yang kental. pada trachea & bifurcatio bronkhus Inspirasi = ekspirasi Hanya pada trachea dan suprasternal Inspirasi < ekspirasi Karena adanya cairan pada jalan napas besar Karena adanya cairan pada jalan napas kecil Penyembpitan jalan napas (tumor. PALPASI  PMI (Point of . •  Abnormal: • Cracles • Fine Crakles Wheeze Rhonki Bronkhial p. JANTUNG a. INSPEKSI : Penonjolan Indikasi pembesaran jantung Pada anak yang sangat kurus sering ditemui pulsasi Sela iga ke-4 ( < 7 tahun) 30 b.Fremitus menurun: penyakit paru Fremitus tidak ada: obstruksi bronkus pada aspirasi benda asing   PERKUSI :     i Pleural Friction Rub Crepitasi Resonan Dullness Flatness Tympan Pleural Friction Rub dan Crepitasi dapat diperiksa dengan auskultasi dan palpitasi Ditemukan pada semua bagian paru Jantung Hepar Gaster AUSKULT ASI :  Normal : • Vesikuler • Bronkovesikuler Terdengar pada seluruh bagian paru kecuali intrascapular dan manubrium Inspirasi > ekspirasi Terdengar di manubrium dan upper intrascapular.

AUSKULT ASI :  Bunyi jantung : • S1 • S2 • S3 • S4 Penutupan katup mitral dan trikuspidal Penutupan katup pulmonal dan aorta Normal terdengar pada anak-anak dan dewasa muda Abnormal q. Capilary refill Sela iga ke-5 ( > 7 tahun) Palpasi paling kuat saat ekspirasi   Indiksi sirkulasi perifer Normal kurang dari 2 detik. hygene  Hernia inguinalis  Hernia femoralis b.Maximum) Thrills Vibrasi yang disebabkan karena aliran darah pada satu bagian memalu bagian yang menyempit atau terbuka secara abnormal. hati-hati 31 . ABDOMEN a. INPEKSI  Asites  Tumor  Organomegali  Umbilicus : hernia. PALPASI : Mulai dari distal ke proksimal  Hepar Normal teraba pada bayi dan young children Ukuran 1-2 cm Hepatomegali jika lebih dari 3 cm Hepar akan turun saat inspirasi. c.   AUSKULTASI Peristaltik PERKUSI Tympani Flattnes Setiap 10 – 30 detik Gaster Hepar d. c.

samping) Spina bifida Iritasi CNS Simetris Jari Clubing Sianosis Temperatur Bentuk Bowleg Polidaktili Gangguan sirkulasi Jarak tibia > 5 cm Biasa pada toddler saat belajar jalan Jarak maleoli > 7. hidrochele Cryptochohidism t. EKSTREMITAS 1.5 cm 32 . GENITAL 1. Tulang belakang asimetris (depan. Polip Hemoroid Femosis Hipospadi Hernia inguinalis. Dimple + rambut (pilonidal cyst) 3. Mobilitas sefik u. Scoliosis 2.dalam interpretasi  Spleen Ginjal Blader Caecum Nadi femoralis Normal pada bayi dan young child Spleenomegali > 2 cm    r. belakang. ANUS 1. 6. finger 4. TULANG BELAKANG 1. 7. Perempuan :  Klitoris  Lesi  Vagina  Labio mayora  Labio minora  Orificium uretra s. 3. 2. 2. Laki-laki :  Glans  Meatu s uretra  Skrotu m  Testis 2. 5.

Babinski 10. 11. ( Genu valgum) 9. ROM Tonus otot Refleks Knock knee Normal pada usia 2 – 7 tahun Hilang setelah 1 tahun Indikasi lesi spinal cord 33 .(Genu varum) 8.

Hidung 7. 4) Pastikan ruangan hangat. dekatkan pada pemeriksa. Punggung 15.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK ANAK Nama NPM No 1. meliputi aspek: 1. Mulut 8. Ekstrimitas 17. gunakan mainan yang disukai oleh anak dan libatkan keluarga atau orangtua Tahap Kerja 5) Siapkan lembar pemeriksaan fisik anak yang akan digunakan 6) Bersihkan tangan dengan hand sanitizer 7) Siapkan alat yang telah disesuaikan dengan pemeriksaan yang akan dilakukan. Tengkuk 10. Tanda vital: suhu. tekanan darah 3. frekuensi pernafasan. Perut 14. Keadaan umum : kesadaran. nadi. Jantung 12. tenang dan cukup pencahayaan saat dilakukan pemeriksaan Tahap Orientasi 4) Perkenalkan diri pemeriksa pada keluarga 5) Jelaskan prosedur pemeriksaan. 3. Kulit 4) Lakukan wawancara dengan orangtua bila diperlukan untuk melengkapi pemeriksaan 5) Berikan penilaian berdasarkan hasil pemeriksaan Tahap Terminasi 4) Observasi perubahan perilaku anak 5) Jelaskan pada keluarga berdasarkan kesimpulan hasil pemeriksaan 6) Kontrak untuk pertemuan berikutnya bila diperlukan 34 Nilai 1 2 2. : …………………… : …………………… Aspek yang dinilai 0 Tahap Pra-Interaksi 3) Siapkan alat yang akan digunakan. Telinga 9. berikan kesempatan pada keluarga untuk bertanya 6) Berikan privasi. postur tubuh (kurus/gemuk) kelemahan 2. Genitalia 16. Dada 11. Lingkar Kepala 5. . TB/BB ( persentil ) 4. lakukan pendekatan pada anak. 4. Mata 6. Paru-paru 13.

Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. Dokumentasi 3) Catat hasil pemeriksaan dan berikan kesimpulan pemeriksa 4) Catat tanggal. dan nama pemeriksa (tanda tangan).5. waktu.) 35 . Nilai: Purwokerto. ……… Evaluator.

Pengertian Neonatus adalah organisme yang sedang berada pada periode adaptasi kehidypan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. pola fungsional organ tubuh) 4. sarung tangan (k/p). jam dengan detikan 36 . perawat. pengukur panjang badan badan. dan tenaga kesehatan lainnya untuk secara berkesinambungan mengkaji adanya perubahan atau gejala suatu penyakit pada neonatus. ossilometric (jika ada). 3. 2. Sedangkan bayi adalah individu yang berusia 40 hari sampai dengan 1 tahun. buku catatan. Setiap bayi baru lahir perlu diperiksa / dikaji secara cermat pada seluruh sistem tubuhnya. termometer aksila. pena. penlight. timbangan.PEMERIKSAAN FISIK NEONATUS/BAYI 1. Masa neonatal adalah periode selama 1 bulan atau lebih tepatnya 4 minggu = 28 hari setelah lahir. Cara Pemeriksaan Ada beberapa pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada neonates / bayi. Alat yang digunakan Stestoskop. antara lain: 1) Penilaian APGAR 2) Pengkajian usia gestasi dan maturitas fisik 3) Pemeriksaan reflex primitive 4) Pengukuran antropometri 5) Pemeriksaan fisik (tanda vital. Tujuan Merupakan tugas para tenaga kesehatan yaitu medis.

0 Dilakukan 1 2 37 . 1. Amati respirasi dan hitung frekuensinya. Kaji reflek (moro. menonjol. kaji telinga (normal/ abnormal) 2. No Aspek yang dinilai . timbangan. Tahap Persiapan a. pengukur panjang badan badan. Buka baju bayi. penlight. cekung) 2. Menjamin privasi C. pernafasan. buku catatan. mengenggam) 6. Mata Kaji mata apakah bersih atau ada sekresi. Fase Kerja a. menghisap. 2. c. warna kulit) 2. Toraks 1. terpisah atau menjauh) 3. b. amati suara nafas (kanan dan kiri sama atau tidak. amati adanya retraksi (derajat 0. Kaji sutura sagitalis (tepat. pena. tegas. sarung tangan (k/p). adakah suara nafas tambahan). Kaji kesadaran bayi (sadar penuh. Amati kesimetrisan toraks 2. langkah prosedur. NPM : ……………. Amati kesimetrisan wajah 4. Cuci tangan b. Palpasi klavikula (normal/abnormal) g. jam dengan detikan. THT 1. palatum (normal. Periksa Keadaan Umum 1. Mencuci tangan. LP. menjelaskan tugas perawat. LK. LD. Ukur PB. Kaji tanda-tanda vital (nadi. Periksa bagian kepala 1. abnormal) f. lemah.2) 3. Orientasi a. datar. suhu) 4. waktu (pada orangtua) c. memperkenalkan diri. 5. b. B. kaji fontanela anterior (lunak.FORMAT PENILAIAN PEMERIKSAAN FISIK BAYI/NEONATUS Nama Mahasiswa : ……………. apakah bunyi nafas terdengar disemua lapang paru atau menurun. tenang. obstruksi. BB. Paru-paru 1. Auskultasi paru. Periksa kondisi umum (rewel. termometer aksila. ossilometric (jika ada). letargis) 3. Memberikan kesempatan anak/orangtua untuk bertanya d. cuping hidung) 3. hidung (bilateral. Amati adanya kaput succedanum dan cephalhematome d. Menjelaskan tujuan pemeriksaan. Kaji keaktifan dan tangisan bayi d. e. Persiapan alat Stestoskop. A. Menyapa.

catat adanya kelainan. kaji peradangan n. kaji adanya kelainan dinding abdomen (tegas. auskultasi bising usus 3. hitung frekuensinya i. kaji apakah gerakan bebas 2. klitoris. minora. Anus kaji kepatenan anus. kaji adanya mottled (mengindikasikan terpapar suhu dingin) 2. Dokumentasikan hasil pemeriksaan Nilai: Purwokerto. Jantung 1. ada tidaknya atresia ani. kaji adanya thriil 4. D Keterangan : 0 = Tidak dilakukan 1 = Dilakuan dengan tidak sempurna 2 = Dilakukan dengan sempurna Batas lulus minimal 75% dari total nilai tindakan (…………………. palpasi point maximal impuls 3. palpasi hati (kurang atau lebih dari 2 cm) j. amati iktus kordis 2. palpasi abdomen (supel atau keras) 4. ……… Evaluator. Dokumentasi a. auskutasi suaran jantung (apakah bunyi normal sinus rytm (NSR). Evaluasi respon anak dan sampaikan hasil kesimpulan pemeriksaan kepada orangtua. kaji warna kulit. Kulit 1. Genetalia Pada wanita: amati labia mayora.Umbilikus Kaji adanya peradangan atau hernia umbilikalis k. hipertimpani) 3. ujung meatus uretra (cek hipo/epispadia).h. meatus uretra. sekret. Ekstremitas 1. C. kaji apakah testis sudah turun. Pada pria: Kaji ukuran penis. perkusi abdomen (kembung. kaji turgor Fase Terminasi a. kaji kesimetrisan gerakan ekstremitas atas dan bawah k. Abdomen 1.) 38 . datar) 2. liang vagina. m.

PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk membantu saudara mempelajari berbagai tipe obat secara mandiri.homogogen. SASARAN KHUSUS Setelah mempelajari buku ini saudara diharapkan mampu : 1. Mempelajari fungsi atau kegunaan masing-masing tipe obat C.dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum. Pulvis berdasarkan cara memberikannya ada 2 : a. b.ditujukan untuk pemakaian oral/untuk pemakaian luar (topikal). PULVIS DAN PURVERES Serbuk adalah campuran kering bahan obat/zat kimia yang dihaluskan. SASARAN PEMBELAJARAN Dalam pembelajaran ini saudara diharapkan mampu memahami beberapa tipe obat D. Sediaan obat di pasaran dikemas dalam berbagai bentuk. LANGKAH-LANGKAH Untuk memudahkan pembelajaran dan pencapaian tujuan. B. PULVERES = terbagi-bagi Serbuk yang terbagi dalam bobot yang sama. Menyebutkan karakteristik masing-masing tipe obat 2. GAMBAR PULVIS DAN PURVERES 39 . Mempelajari karakteristik masing-masing tipe obat 2. Menyebutkan fungsi dan kegunaan masing-masing tipe obat 3. Tiap bentuk memiliki tujuan dan kegunaan khusus.PENGENALAN TIPE OBAT A. Syarat : halus. saudara dianjurkan: 1. MATERI 1. PULVIS/SERBUK TABUR = tidak terbagi-bagi Serbuk ringan untuk penggunaan permukaan topikal.dapat dikemas dalam wadah yang bagian atasnya berlubang halus untuk memudahkan penggunaan pada kulit. Menyebutkan keuntungan dan kerugian masing-masing tipe obat E.kering.

amis dan lain – lain) e. Membutuhkan waktu dalam meraciknya. Memberikan kebebasan pada dokter untuk pemilihan obat/kombinasi obat dan dosisnya f. seperti garam-garam fero (mudah teroksidasi) menjadi garam feri. atau dari pati. Pada penyimpanan kadang terjadi lembab atau basah. sepet. lengket di lidah. Penyebaran obat lebih luas dan lebih cepat daripada sediaan kompak (tablet dan kapsul) b. berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 μm dengan atau tanpa vehikulum. Kerugian bentuk serbuk : a. dapat dicampur dengan air minum untuk oral. d. Macam kapsul: a. Untuk anak-anak dan orang dewasa yang sukar menelan obat. dilarutkan/disuspensikan dulu dalam air /pelarut yang sesuai dengan volume tertentu. Cara penggunaan: Sebelum diminum. Tidak tepat untuk obat yang tidak enak rasanya. kertas selofan dll. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tambahan lain. Digunakan untuk : anak – anak atau orang dewasa yang sukar menelan kapsul atau tablet.sebaiknya diberikan dalam bentuk “coated tablet” b. Cangkang dapat pula dibuat dari Metilsselulosa atau bahan lain yang cocok. CAPSULAE=KAPSUL Kapsul adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul keras atau lunak.Pengemas : kertas perkamen. Lebih cepat di absorbsi d. Jumlah volume obat yang tidak praktis /sukar dapat diberikan dalam bentuk pulvis e. Keuntungan bentuk sediaan serbuk : a. 2. c. Diharapkan lebih stabil dibandingkan dengan sediaan cair c. Cangkang kapsul mengandung: • Zat warnaà berbagai oksida besi • Bahan opak/pemburamàTiO2 • Bahan pendispersi • Pengawet 2) Kapsul lunakà skala besar Cangkang kapsul mengandung : • Pewarna • Bahan opak/pemburam • Pengharum • Pengawet • Sukrosa 5% sebagai pemanis 40 . GRANUL:Sediaan bentuk padat. kertas yang dilapisi parafin. Obat-obatan yang rusak oleh udara tidak boleh diberikan dalam bentuk serbuk. Cara penggunaan . Berdasarkan konsistensi cangkang kapsul 1) Kapsul kerasà terbuat dari gelatin berkekuatan gel relatif tinggi. menurut petunjuk dalam brosur yang disediakan. Tidak tertutupinya rasa dan bau yang tidak enak (pahit.

• Penyalut enterik b. COMPRESSI=TABLET Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan tambahan. NH4Br. Cembung Jenis : • Compressed tablet: large scale production à dies under pressure (tons) • Molded tablet: manual forcing. krn dosis dan kombinasi obat bisa disesuaikan  Dapat dibuat sediaan cair jika diinginkan dengan konsentrasi tertentu  Dapat utk sediaan lepas lambat Kerugian:  Tidak sesuai untuk bahan obat yang mudah larut (KCl. tablet hipodermik Cara penggunaan  Tablet kunyah à lozenge. trochisi  Tablet sublingual à ISDN.BO cair BENTUK CANGKANG KAPSUL Keuntungan:  Menutupi rasa dan bau bahan obat yang kurang enak  Memudahkan penggunaannya dibanding serbuk  Mempercepat penyerapannya dibanding pil dan tablet  Kapsul gelatin keras cocok untuk peracikan. Cara pemakaiannya • Per rektal • Per vaginal • Peroral • Topikal Bahan yang dapat diformulasi dalam bentuk kapsul : . KBr. CaCl2)à larutan pekat dapat mengiritasi lambung  Tidak dapat digunakan untuk bahan eflorescen (ada air kristalnya) dan delikuesen (menyerap air sampai menjadi larutan) 3. Tablet digunakan baik untuk tujuan pengobatan lokal atau sistemik.BO padat . Bentuk tablet: Pipih.BO setengah padat . steroid hormon 41 .

mekanik. Tablet merupakan sediaan yang mudah dan murah untukdikemas dan dikirim 4. lambat larut. dosisinya cukup tinggi. dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. antibiotik  Tablet sisip atau pellet (dimasukkan implantasi dibawah kulit) à hormon gonad  Tablet hipodermik (dilarutkan dalam air steril dan diinjeksikan dibawah lidah) à dinitrat material Keuntungan: 1. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia. PEMAKAIAN DAN TEMPAT ABSORPSI TABLET 42 . Tablet bukal (dimasukkan diantara pipi dan gusi di dalam rongga mulut) à hormon  Tablet effervescent à (Na-karbonat) vitamin  Tablet hisap atau trochisci à antiseptik. absorbs optimumnya terlalu tinggi melalui saluran cerna. Bebrapa jenis obat tidak dapat di kempa menjadi padat dan kompak. Anak kecil: belum tentu suka dan sulit memakannya (ukurannya besar) MACAM. Tablet merupakan sediaan yang ongkos pembuatannya paling murah 3. Tablet merupakan sediaan yang utuh dan menawarkan kualitas terbaik dari semua sediaan bentuk oral untuk ketepatan ukuran dan variabilitas kandungan yang paling rendah 2. Kerugian: 1. Obat yang sukar di basahkan. 2. 3.

Suppositoria saluran urin pria berdiameter 3. Suppositoria vaginal : umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5. Bentuk suppositoria rektum antara lain bentuk peluru. Bahan dasar yang digunakan adalah lemak coklat (Oleum Cacao). Ovula supaya disimpan dalam wadah tertutup baik dan ditempat yang sejuk. dapat melunak. walaupun ukuran ini masih bervariasi satu dengan yang lainnya.6 mm dengan panjang ± 140 mm. baik dalam rectum maupun vagina atau uretra. seperti pasien yang mudah muntah. Bentuknya ramping seperti pensil. Supositoria dipakai untuk pengobatan local. Penggolongan suppositoria berdasarkan tempat pemberiannya dibagi menjadi: 1. Ovula adalah sediaan padat yang umumnya berbentuk telur. Beratnya menurut USP sebesar 2 g untuk yang menggunakan basis oleum cacao. OVULAE Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur. gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urine pria atau wanita. dan infeksi.0 g dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Apabila basisnya dari oleum cacao maka beratnya ± 4 gram. karena dapat diserap oleh membrane mukosa dalam rectum dan ini digunakan terutama bila penggunaan obat per oral tidak memungkinkan. dan berbentuk silinder dan kedua ujungnya tajam. berbentuk torpedo. maka supositoria akan masuk dengan sendirinya. dapat melarut dan digunakan sebagai obat luar khusus untuk vagina. Keuntungan bentuk torpedo adalah bila yang bagian besar masuk melalui otot penutup dubur. Bahan dasar yang digunakan harus dapat larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Polietilengli-kol atau lemak tengkawang (Oleum Shoreae) atau gelatin. melarut atau meleleh pada suhu tubuh. Suppositoria ini biasa dibuat sebagai “pessarium”. tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan basis yang digunakan. 2. Juga secara rectal digunakan untuk distribusi sistemik.torpedo atau jari-jari kecil. Suppositoria untuk rektum umumnya dimasukkan dengan jari tangan. Suppositoria untuk saluran urin wanita panjang dan 43 . mudah melemah (lembek) dan meleleh pada suhu tubuh.5 inchi). Biasanya suppositoria rektum panjangnya ± 32 mm (1. Suppositoria uretra : suppositoria untuk saluran urine yang juga disebut “bougie”. 3.4. SUPPOSITORIA. Suppositoria rectal : suppositoria rectal untuk dewasa berbentuk berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. seperti pada penyakit hemoroid.

CREMOR. keduanya berbentuk sama dengan suppositoria uretra hanya ukuran panjangnya lebih kecil. biasanya mengandung obat untuk pemakaian pada kulit atau pada membran mukosa. Macam sediaan salep: a.beratnya ½ dari ukuran untuk pria. memiliki konsistensi yang lebih lunak dan mengkilat. Tidak menyenangkan penggunaan 2. panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram. suppositoria untuk obat hidung dan telinga jarang digunakan. Krim : Jenis salep yang dapat dicuci. Sediaan salep bervariasi dalam komposisi. mengandung satu/ > bahan obat. Suppositoria untuk hidung dan untuk telinga disebut juga “kerucut telinga”. konsistensi dan tujuan penggunaannya. suppositoria telinga umumnya diolah dengan basis gelatin yang mengandung gliserin. Namun. jeli. Absorbsi obat sering tidak teratur dan sedikit diramalkan. bila digunakan oleum cacao sebagai basisnya. Dapat menghindari terjadinya iritasi obat pada lambung 2. Macamnya : unguenta. 4. 4. UNGUENTUM. Beberapa variasi dari prototipe salep banyak digunakan dalam praktek peresepan dan dibedakan dengan namanya. CERATA. pasta. bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar. Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah dan berakibat obat dapat member efek lebih cepat daripada penggunaan obat per oral. JELLY Salep (unguenta/ointment) : Bentuk sediaan yang lunak. biasanya 32 mm. Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzim pencernaan 3. b. PASTA. Baik. krim. Bahan obat larut/terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok. bila dipakaikan pada kulit akan melunakkan dan membentuk lapisan penutup pada permukaan kulit. Unguenta : mengandung relatif lebih sedikit bahan dan perbedaan pokok dengan yang lainnya pada konsistensi. Kerugian: 1. BENTUK SUPOSITORIA DAN OVULAE Keuntungan: 1. biasanya digunakan pada daerah yang teriritasi atau tempat yang sensitif. 5. Untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. tidak bergerak dan tergolong sediaan semi padat. oculenta. Berbentuk emulsi minyak 44 .cerata.

tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum. Pasta : mengandung zat padat dalam persentase tinggi. titik lebur tinggi. memungkinkan difusi obat dalam cairan mata dan tetap mempertahankan aktivitas obat dalam jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang cocok. e. dalam air atau dispersi mikrokristal. konsistensi lebih kenyal dari unguentum. g. Fungsi Salep :  Dasar salep atau pembawa substansi obat untuk penggunaan pada kulit (topikal)  Pelumas pada kulit  Pelindung untuk mencegah kontak permukaan kulit dengan rangsang kulit SAPO Sediaan cair/setengah padat/padat yang terdiri dari campuran satu atau lebih bahan obat dengan suatu detergent/sabun. biasanya terdiri dari ampuran sederhana lemak dengan titik leleh rendah dan minyak. asam-asam lemak atau alcohol. Jeli : Salep yang sangat tipis. mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topical. mengandung malam dalam persentase tinggi. d.50 % Beberapa keuntungan bentuk sediaan pasta:  Mengikat cairan sekret lebih baik dari unguentum  Lebih melekat pada kulit Cerata : Salep berlemak. mengandung sedikit atau tanpa malam. gum atau bahan pensuspensi sebagai basis. Vaselin Vaselin merupakan dasar salep mata yang banyak digunakan. jernih & tembus cahaya yang engandung zat-zat aktif dalam keadaan terlarut _lebih encer dari salep. membentuk dan mempertahankan lapisan pelindung pada area yang diaplikasikan. f. popular digunakan pada bidang dermatologi. dapat dicuci karena mengandung mucilago.c.3) Fungsi : pembersih kulit & pembawa obat Sediaan : Non Generik / Obat dengan nama dagang Oculenta ( ungentum ophtalmicae) Sediaan salep steril untuk pengobatan mata dengan menggunakan dasar/basis salep yang cocok. berantai panjang dalam air. untuk tujuan melicinkan dan sebagai basis obat. Bahan dasar : Penyabunan Alkali dengan lemak ( A no. dan umumnya adalah campuran sederhana dari minyak dan lemak dengan titik leleh rendah. mengandung bahan serbuk (padat) antara 40 %. Bahan dasar yang lain adalah beberapa bahan dasar salep yang dapat menyerap. digunakan pada membran mukosa. Sabun diperoleh dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi. bersifat kaku. 45 . mengandung sedikit/tidak lilin. hampir cair. biasanya tidak meleleh pada suhu tubuh. bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang mudah dicuci dengan air dan bahan dasar yang larut dalam air. mudah dibersihkan. h. Bahan dasar salep. Dasar salep yang dipilih tidak boleh mengiritasi mata. digunakan pada membran mukosa dan untuk tujuan pelicin atau sebagai basis bahan obat.

SOLUTIONES/MIXTURA ( LARUTAN) Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut. misal: terdispersi secara molekular dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. 46 . maka penggunaan larutan sebagai bentuk sediaan. oleh karena itu biasanya ditambah pemanis atau perasa ( flavoring agen) o Untuk obat luar mudah pemakaiannnya. ELIXIRA BENTUK SEDIAAN OBAT (BSO) CAIR a. 2) LARUTAN TOPIKAL Larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali mengandung pelarut lain seperti etanol dan poliol untuk penggunaan topikal pada kulit. o Bagi obat yang rasanya pahit atau baunya tidak enak sukar ditutupi. Istilah lotio digunakan untuk larutan atau suspesi yang digunakan secara topikal. tingtur dan air. Apabila menyebut solutio. jika hanya melarutkan satu jenis zat dalam pelarut yang cocok. misalnya larutan topikal atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat pelarut dan terlarut seperti spiritus. pemanis dan pemanis dan pewarna yang larut dalam air atau campuran konsolven-air. 1) LARUTAN ORAL Sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral. manula dan untuk penderita yang sukar menelan. Sifat-sifat: o Homogen o Dosis dapat diubah-ubah o Cocok untuk anak-anak. jangan diberikan dalam bentuk sediaan cair karena obat dapat rusak. MIXTURAE. untuk obat yang bersifat iritasi terhadap lambung.Diantara solutio dan mixtura tidak ada perbedaan yang pokok. atau dalam hal larutan lidokain oral topikal untuk penggunaan pada permukaan mukosa mulut.6. maka omset juga cepat o Dapat diberikan dalam larutan yang encer. umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika larutan diencerkan atau dicampur. Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya. SOLUTIONES. Oleh karena molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata. o Obat-obat yang tidak stabil dalam air (misal: asetosal). mengandung satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma. o Volume pemberian besar jika dibandingkan dengan tetes oral. o Absorpsi obatnya cepat.

Contoh: Effisol liquid. Sifat-sifat: 1) Cocok untuk penderita yang sukar menelan 2) Dibanding dengan sediaan sirup. Contoh: Betadingargle & mouthwash. ada eliksir yang menggunakan alkohol 3% saja. 4. GARGARISMA (Gargle) Adalah obat kumur. pengawet dan pewarna. tidak boleh ditelan. perasa (flavorong agent).Proporsi jumlah alkohol yang digunakan bergantung pada keperluan. Eliksir bersifat hidroalkohol. Batugin eliksir.Pemanis yang biasa digunakan gula atau sirup gula. Cara pemakaian : diencerkan dulu dengan sesuai aturan. lalu dikumur-kumur. Kadar alkohol berkisar antara 1012%. c. misal sakit hepar. Kegunaan akohol disini selain sebagai pelarut juga. Mudah ditelan dibandingkan dengan tablet atau kapsul 2. Kadar Alkohol antara 3-75%. Zat aktif yang sukar larut dalam air dan larut dalam alkohol perlu kadar alkohol yang lebih besar. 3) Berhubung mengandung alkohol. selain mengandung bahan obat juga alkohol dan zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya. gliserol atau sorbitol sebagai pengental atau stabilisator. kemudian dikumur-kumur sampai pharing. sehingga harus disimpan dalam botol kedap dan jauh dari sumber api. juga sebagai pengawet atau corrigens saporis. d. eliksir kurang manis dan kurang kental.Umumnya konsentrasinya 5-10%. Contoh: Bisovon eliksir. b. 5. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN ELIKSIR 1. biasanya merupakan larutan pekat yang mengandung antiseptika atau adstringentia. dan saccharinum. zat pewangi dan zat perasa.Namun. COLLUTORIA (KOLUTORIUM) Adalah obat cuci mulut. agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan. 47 . SIRUP Larutan oral yang selain mengandung bahan obat juga mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi sebagai pemanis. dan yang tertinggi dapat mencapai 44%. Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi. glycerinum. tidak ditelan. Mengandung bahan mudah menguap.SEDIAAN FARMASI YANG BERUPA LARUTAN / MIXTURA a. biasanya merupakan larutan pekat dalam air yang mengandung bahan deodoran. maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol. antiseptika. hati-hati untuk penderita yang tidak tahan alkohol atau penderita tertentu. Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak. analgetika lokal atau adstringentia. ELIKSIRA (Eliksir) Larutan oral. Cara pemakaian: diencerkan dulu dengan air sesuai aturan. e. zat pewarna. namun terkadang digunakan sorbitol. COLLYRIA Adalah obat cuci mata sediaan harus memenuhi syarat-syarat seperti tetes mata. Tujuan penggunaan untuk pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorokan. tetapi biasanya sekitar5-15%. Rasanya enak 3.

Homogen 2. Sirup thymi. Sirup Simpleks. glukosa/sakarosa 64%. MIXTURA AGITANDA ( CAMPURAN KOCOK) Mixtura agitanda adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut dalam cairan pembawa. GELS / MAGMA Sediaan suspensi yang berbentuk kolodial dispersi. 2. Suspensi dapat digunakan secara oral maupun topikal. sediaan padat yang berupa serbuk atau granul yang terdiri dari bahan obat. mengandung ekstrak thymi 36% ( biasanya sebagai expectorant). 4.  Tidak terbentuk garam kompleks yang tidak dapat diabsorpsi dari saluran pencernaan. tragakant. Ada 4 macam sediaan sirup: 1. tragakant. rasanya lebih enak. Polycrol gel 2. Contoh. tidak beraroma. Cocok diberikan untuk anak-anak dan penderita yang sukar menelan.Sifat. Suspensi selain mengandung obat juga mengandung zat tambahan untuk menjamin stabilitas. Pada umumnya untuk pemakaian luar (topikal) dan dihindari penambahan stabilisator PGA(Pulvis gummi arabicium). benzalkonium klorida. kecuali bahan pelarut. EMULSA (EMULSI) 48 . Contoh suspensi oral:Gelusil. Suspensi merupakan cairan kental tetapi kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi. sehingga cepat mengendap. Contoh. pemanis. 3. Liquor Faberi (FMI).  Sering menimbulkan “cake” yang menyulitkan obat terbagi rata pada pengocokan terutama untuk sediaan paten.perasa( flavoring agent)  Kecepatan absorpsi obat tergantung pada besar kecilnya ukuran partikel yang terdispersi. sering disebut sirup putih.  Pada umumnya ditambah pemanis. SUSPENSIONES ( SUSPENSI) Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fase cair. perasa. Tujuan stabilisator adalah menghambat pengendapan zat aktif obat sehingga pada penuangan obat pertama dan terakhir mendekati sama kadarnya. pewarna. Tidak berwarna. f. Contoh zat tambahan (stabilisator): PGA. SEDIAAN FARMASI LAIN YANG BERUPA SUSPENSI: 1. Sifat-sifat:  Cocok untuk penderita yang sukar menelan.Contoh : panadol sirup. biasanya 10%. sediaan harus dikocok dan mudah dituangkan. selain mengandung obat juga mengandung sakarosa <60%. Sirup kering. anak-anak dan manula. karena zat aktif (obat) BM-nya lebih tinggi dan pada umumnya merupakan sedian Non Generik . dan bahan lainnya. b. Mylanta. stabilisator. solutio oral mengandung glukosa/sakarosa 65%. Apabila akan digunakan ditambah pelarut (air suling) sesuai petunjuk yang diminta.sifat sirup: 1. Kekentalannya lebih tinggi dibanding suspensi. Sirup obat. Pada umumnya bahan obat adalah antimikroba atau lainnya yang tidak larut dan tidak stabil dalam bentuk cair pada penyimpanan.

pewarna. emulsi eliksir. Contoh obat luar: Cream A/M atau M/A 3. kortikosteroid. GUTTAE (TETES) Sediaan cair berupa larutan (solutio). Sifat-sifat: 1. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal ( antiseptika. antiseptika. Tujuan penggunaan BSO emulsi : 1. Parenteral : memperbaiki absorpsi . pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah metil. Topikal : dalam penyimpanan yang cukup lama dapat menjadi keras. dan senyawa amonium kuartener. propil dan butil paraben. Topikal: mudah dibersihkan. Jika minyak yang merupakan fase terdispersi dan larutan dalam air merupakan fase pembawa. dengan mengencerkan lebih dahulu dengan air dan kemudian dikumur-kumur.05 ml). Konsisten emulsi sangat beragam. Kerugian BSO emulsi : 1. salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan kecil. 2. Khasiat obat yang sering digunakan meliputi antimikroba. 3. analgetika. sehingga aturan pakai tepat. Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena air mempermudah pertumbuhan mikroorganisme. dan zat uuntuk irigasi. Guttae oris Obat tetes topikal yang digunakan untuk mulut. asam benzoat. jadi 1 ml= 20 tetes. dan bahan tambahan lain yang sesuai dengan bentuk sediaannya. etil. Penggunaan sediaan ini untuk efek lokal. yaitu penetes pada suhu 200C memberikan tetesan air suling yang bobotnya antara 47. Pada umumnya ditambah pemanis. mulai dari cairan yang mudah dituang hingga krim setengah padat. Contoh: Triaminic drops 2. sistem ini disebut emulsi minyak dalam air (A/M). Guttae oral Obat tetes untuk oral. 2. atau suspensi. Perhatikan kemasan pada bobotnya. lokal anastesik. Oral : dalam penyimpanan dapat terjadi pemisahan antara air dan minyak yang tidak dapat diperbaiki dengan pengocokan. digunakan dengan cara meneteskan dengan alat penetes tertentu. emulsi dapat distabilkan dengan penambah bahan pengemulsi (surfaktan). Contoh: effisol liquid. Macam –macam Guttae: 1. topikal maupun injeksi. Contoh obat dalam: Scott Emulsion. memperbaiki rasa dan aroma 2. Guttae auriculares (tetes telinga) Obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat kedalam telinga. Volume pemberian kecil. sirup. penetrasi/absopsi lebih baik 3. 3. sehingga cocok untuk bayi dan balita.5 mg dan 52. Penetes yang dimaksud adalah penetes baku yang tertera dalam Farmakope Indonesia. suspensi dan merupakan sediaan paten (nama dagang). memperpanjang efek. Bentuk sediaan obat emulsi dapat digunakan untuk oral. Bahan obatnya berkhasiat sebagai antimikroba. vitamin dan antitusif. Oral : memperbaiki absorbsi.5 mg (1 tetes baku= 0. analgetika-antipiretika. perasa. dll). lokal anastetik.Emulsi adalah sistem dua fase. Sifat-sifat: 49 . Bentuk sediaannya dapat berupa solutio. digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam minuman atau makanan. dimaksudkan untuk obat dalam dan luar.

INFUSA (INFUS) Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 90 derajat celcius selama 15 menit.0-6.5 % BERBEDA DENGAN CAIRAN INFUS UNTUK TERAPI CAIRAN INTRAVENA. INFUSA SIMPLISIA TIDAK BOLEH ATAU DILARANG DIBERIKAN SECARA INTRAVENA (INFUSDABILATA). diagnostika. antiinflamasi.0) 4. b) PH sebaiknya asam (5. Pembawa yang digunakan pada umumnya adalah propilen-glikol. Guttae opthalmicae (tetes mata) Obat tetes mata merupakan sediaan steril berupa larutan atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. Untuk pemakaian ganda (multiple) ditambah pengawet yang cocok. PH sebaiknya antara 5. dan kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah ini. sedang untuk pemakaian tunggal atau untuk operasi tanpa bahan pengawet. anastetika. EXTRACTUM ET EXTRACTUM LIQUIDUM (EKSTRAK DAN EKSTRAK CAIR) Ekstrak adalah sediaan paket yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dan simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai. antimikroba. Guttae nasales (tetes hidung) Obat tetes untuk hidung dengan cara meneteskan bahan obat ke dalam rongga hidung. pengawet.025% . gliserol. Isohidris 4. Komposisi selain zat berkhasiat juga mengandung zat pendapar. Sifat-sifat: 1. Cairan pembawa umumnya digunakan air.a) Bahan pembawa yang digunakan harus mempunyai kekentalan yang cocok agar bahan obat yang mudah menempel pada dinding telinga. Steril 2. digunakan sejumlah yang tertera: Daun kumis kucing( orthosiphon folia) 0. ISTILAH INFUSA DI SINI DITUJUKAN UNTUK MENUNJUKKAN METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM.5-7. sebaiknya isotonis atau hampir isotonis. infus yang mengandung bukan bahan berkhasiat keras. dibuat dengan menggunakan 10% simplisia.5 bagian Daun tempuyung (sonchus folia) 2 bagian Temulawak( curcuma rhizoma) 4 bagian Contoh: Infus Orthosiphon 0. miotika dan zat irigasi. 5. kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk 50 . midriatika. Contoh: Cendometason guttae opthalmicae. Minyak lemak dan minyak mineral tidak boleh digunakan sebagai pembawa. c. Isotonis atau hampir isotonis (hipertonis masih diperbolehkan) 3. lokal anastesik. Untuk pembuatan 100 bagian infus berikut. Kecuali dinyatakan lain. Apabila bentuk sediaan suspensi. dan antiseptika. harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau goresan bila terjadi massa yang mengeras atau pengumpulan. heksilen glikol dan minyak nabati. Pada umumnya obat berkhasiat sebagai antimikroba. Contoh: iliadin 0.5 bahan obat pada umumnya berkhasiat sebagai dekongestan.

Rasa nyeri pada tempat suntikan 7. Streptomycin sulfat. Efek obat dapat diramalkan dengan tepat 3. Efek psikologis pada penderita yang takut disuntik SEDIAAN STERIL YANG LAIN a. suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan. d. gliserin. 51 . 6. Dextrose. untuk dosis tunggal. koma. Biasanya zat tersebut dicampurkan dengan air. dll. Biovailabilitas sempurna atau hampir sempurna 4. Berdasarkan bentuk sediaan: 1) Larutan : obat terlarut dalam air suling/minyak/pelarut organik yang lain. Minyak yang dipakai adalah minyak lemak berasal dari nabati. Contoh: inj.Arachidis). misalnya minyak kacang (Ol. Inj Cortison Acetat suspensi 3) Kristal steril untuk dibuat larutan Obat dalam bentuk kristal. Kerusakan obat dalam GIT dapat dihindari 5. yang disuntikan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. minyak zaitun ( Ol olivarum). Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati. minyak wijen ( Ol sesami). sebelum disuntikkan.V) Sediaan steril berupa larutan atau suspensi dalam volume besar. PELARUT OBAT SUNTIK ( Vehiculum) 1) Pelarut air: aqua bidestilata steril (pro injectionem) 2) Pelarut bukan air: 3) Minyak: olea neutralisata ad injectionem Guna pelarut minyak ialah agar waktu kerja obat lebih lama. untuk dibuat suspensi dengan zat cair steril yang ditentukan (umumnya aqua pro injetie) 5) Cairan intravena ( infundabilia : infus i. parafin liq. propilen-glikol. Penicilin G Sodium 4) Kristal steril. 2) Suspensi : obat tersuspensi dalam air suling/minyak Contoh: inj. Sediaan digunakan untuk dehidrasi atau pemberian nutrisi secara parenteral. Penicilin oil. IMMUNOSERA ( Imunoserrum) Imunoserum adalah sediaan yang mengandung imunglobulin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. dilarutkan/disuspensikan terlebih dahulu dalam pelarut steril (umumnya dalam aqua pro injectie). INJECTIONES (INJEKSI. antigen virus atau antigen lain yang digunakan untuk pembuatan sediaan. yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. inj. Contoh: inj Vit C. emulsi. Bekerjanya obat cepat (onset cepat) 2. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PEMBERIAN SECARA INJEKSI 1. Pembawa minyak hanya dipakai penyuntikan ke dalam otot. Inj luminal. OBAT SUNTIK) Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan. Imunoserum mempunyai kekuatan khas mengikat venon atau toksin yang dibentuk oleh bakteri.yang tersisa diperlukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Bukan minyak : alkohol. Contoh : inj. inj valium. selain sebagai pelarut juga digunakan untuk mempertinggi stabilitas obat atau hasil larutannya. Ringer lactat. inj. Diberikan untuk penderita yang sakit keras. an-cooperatif.

Jenis aerosol lain dapat mengandung partikel-partikel berdiameter beberapa ratus mikrometer. IRIGATIONES (Irigasi) Irigasi adalah larutan steril yang digunakan untuk mencuci atau membersihkan luka terbuka atau rongga-rongga tubuh. AEROSOLUM ( AEROSOL) Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas di bawah tekanan. selama imunisasi hewan tidak boleh diberi penisilin. Pemakaiannya secara topikal. seperti pada asma bronkiale. Bagi penderita asma atau emfisema apabila bronkus sudah banyak sekret (lendir). membentuk lapisan yang tipis pada kulit tanpa menyentuh area sehingga menimbulkan efek dingin dan segar. mikroorganisme atau antigen lain yang sesuai. mengandung zat aktif terapetik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Vaksin dibuat dari bakteria. venin. Kerugian bentuk sediaan aerosol : 1. sedangkan aerosol topikal untuk pengobatan berbagai penyakit kulit. 5. tenggorokkan dan hidung yang dapat dipakai berulang kali. Obat yang perlu diberikan dalam dosis tertentu. Obat tidak terkontaminasi dengan bahan asing.Imunoserum diperoleh dari hewan yang diimunisasi dengan penyuntikan toksin atau toksid. Pada aerosol inhalasi. Untuk pemakaian topikal dapat uniform. terutama untuk preparat yang digunakan untuk telinga. Keuntungan bentuk sediaan aerosol: 1. VACCINA ( Vaksin ) Vaksin adalah sediaan yang mengandung zat antigenik yang mampu menimbulkan kekebalan aktif dan khas pada manusia. Imunoglobin khas diperoleh dari serum yang mengandung kekebalan dengan endapan fraksi dan perlakuan dengan enzim atau cara kimia atau fisika lain. riketsia atau virus dan dapat berupa suspensi organisme hidup atau fraksi-fraksinya atau toksoid. ataupun rusak karena kelembaban udara. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit dan juga pemakaian lokal pada hidung ( aerosol nasal). Pada etiket diberi tanda bahwa sediaa ini tidak dapat digunakan untuk injeksi. Obat mudah dipakai hanya dengan menekan tombol. suspensi. e. INHALATIONES ( INHALASI) Inhalasi adalah sediaan obat atau larutan atau suspensi terdiri atas satu atau lebih bahan obat yang diberikan melalui saluran nafas hidung atau untuk 52 . penggunaan aerosol inhalasi tidak efektif. juga untuk pertolongan pertama pada keadaan tertentu. ukuran partikel obat harus dikontrol dan terukur. Aerosol digunakan untuk obat dalam dan luar. mulut (aerosol lingua) atau paru-paru ( aerosol inhalasi). tidak boleh digunakan secara parenteral. wadahnya dilengkapi dengan katup khusus sebagai meterd aerosol sehingga dosisnya dapat terkontrol. c. Aerosol oral digunakan untuk pengobatan simtomatik. 2. 3. d. b. Sterilitas obat dapat dipertahankan 4. Harganya mahal 2.

yang karena bertekanan uap tinggi. Sifat-sifatnya :  Dipakai pada kulit yang utuh ( tidak boleh adanya luka berakibat terjadinya iritasi) dan dengan cara digosokkan pada permukaan kulit. Wadah obat yang diberikan secara inhalasi disebut inhaler. Penyemprotan hanya sesuai untuk pemberian larutan inhalasi jika memberikan tetesan dengan ukuran cukup halus dan seragam sehingga kabut dapat mencapai bronkioli (2-6 um). Contoh : Baby Lo 2. menggunakan alat mekanik secara manual untuk menghasilkan tekanan atau inhalasi yang dalam bagi penderita yang bersangkutan. Kelompok sediaan lain yang dikenal sebagai inhaler dosis terukur adalah suspensi atau larutan obat dalam gas propelan cair dengan atau tanpa konsolven dan dimaksud untuk memberikan dosis obat terukur ke dalam saluran pernapasan. Bentuk sediaan obat lotion dapat berupa solutio atau emulsi tergantung dari zat aktifnya. LINIMENTUM ( LINIMENTA) Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian topikal pada kulit . SEDIAAN CAIR LAIN : 1. Sifat-sifatnya :  Dioleskan pada kulit yang luka atau sakit sehingga membentuk lapisan yang tipis di permukaan kulit setelah kering.  Sebagai pelindung atau pengobatan tergantung dari komponen zat aktifnya. Bentuk sediaan linimentum dapat berupa emulsi. Volume dosis tunggal yang umum diberikan mengandung 25-100 ul/ug tiap kali semprot.memperoleh efek lokal atau sistemik. Serbuk dapat juga diberikan secara inhalasi. Jenis inhalasi khusus disebut inhalat terdiri dari satu atau kombinasi beberapa obat. 53 . Contoh: Alupent aerosol. sedangkan dosis ganda biasanya lebih dari beberapa ratus. iritasinya berkurang apabila dibandingkan dengan pelarut alkohol. suspensi atau solutio dalam minyak atau alkohol tergantung dari zat aktifnya. LOTION ( OBAT GOSOK) Sediaan cair yang dihunakan untuk pemakaiain luar pada kulit.  Apabila pelarutnya minyak. Larutan bahan obat dalam air steril atau dalam larutan natrium klorida untuk inhalasi dapat disempotkan menggunakan gas inert. dapat terbawa oleh aliran udara ke dalam saluran hidung dan memberikan efek. Contoh: Bricasma inhaler. Contoh: Vicks Inhaler.

 Ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam larutan ELIXIR DAFTAR PUSTAKA Cox. Glenn L Et Al. Linimentum dengan pelarut alkohol atau hidroalkohol baik digunakan untuk tujuan counterrritan sedang pelarut minyak cocok untuk tujuan memijat atau mengurut. 9th Edition. Pharmaceutical Compounding And Dispensing. KERUGIAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN:  Volume bentuk larutan lebih besar  Ada obat yang tidak stabil dalam bentuk larutan. New York: Mcgraw-hill. Jenkins. 2008.  Untuk pemakaian luar bentuk larutan mudah digunakan. The Art Of Compounding. Canada: John Wiley & Sons. pengaroma dan warna dan hal ini cocok untuk pemberian obat pada anak-anak. Dawn. Chicago: Pharmaceutical Press. 54 .  Dapat diberikan dalam bentuk larutan yang encer. Contoh : Linimentum salonpas ( untuk counteriritant) KEUNTUNGAN BENTUK SEDIAAN LARUTAN  Merupakan campuran homogen  Dosis dapat mudah diubah-ubah dalam pembuatannya.  Kerja awal obat lebih cepat karena obat cepat terabsorpsi. Shayne. sedangkan kapsul dan tablet sulit diencerkan. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production And Processes. Christopher A And Belcher. 2008. 1957. Langley.  Mudah diberi pemanis.

untuk itu perawat perlu melihat dosis pemberian obat yang diorderkan dokter di rekam medis klien. Benar klien Perawat perlu mengklarifikasi kembali nama dan nomor rekam medis klien sebelum memberikan obat (biasanya terdapat di white board diatas tempat tidur klien) atau dengan bertanya namanya secara langsung kepada klien atau keluarga. Intradermal (ID) 55 . 4. klien juga tidak boleh minum sampai obat habis. tetapi ada juga yang membutuhkan keterampilan untuk menghitung dosis yang dibutuhkan sebelum diberikan kepada pasien. ditelan dengan minuman/makanan atau dikunyah.RUTE PEMBERIAN OBAT Mempersiapkan dan memberikan obat ke klien adalah tanggung jawab perawat. Benar cara Obat diberikan kepada klien sesuai caranya. Obat ini tidak boleh dikunyah. Benar Dokumentasi Cara pemberian obat tergantung bentuk sediaan. bisa juga sistemik ke seluruh bagian tubuh. sehingga siap untuk langsung diberikan kepada klien. 6. Aksi dari obat bisa lokal di mukosa mulut. Benar dosis Sediaan obat ada yang single doses. Jika cara pemberian obat tidak tercantum. Obat jenis ini aksinya lebih lambat dan efeknya lebih panjang. Subcutaneus (SC) Injeksi dilakukan dibawah jaringan dermis b. Dosis yang diberikan untuk klien yang satu bisa jadi berbeda dengan klien yang lain. 2. Obat diberikan melalui mulut. Klien juga dilarang untuk menelan atau mengunyah obat. perawat harus melihat kembali resep dokter yang biasanya ditulis direkam medik klien untuk meyakinkan bahwa obat yang diterima sesuai dengan order. Benar obat Ketika obat diterima dari apotek. 3. karena akan mengganggu efek dari obat tersebut. klien juga tidak diperbolehkan untuk minum sebelum obat habis. Kemudian perawat juga harus tahu apakah obat diberikan sebelum atau sesudah makan. Macam – macam rute pemberian obat adalah: 1. Parenteral/Injeksi Pemberian obat melalui parenteral adalah pemberian obat dengan cara menginjeksikan obat dalam bentuk cair ke jaringan tubuh. efek yang diharapkan serta kondisi fisik dan mental pasien. biasanya cara menggunakan obat terdapat pada label/pembungkus. yaitu : a. Obat yang diberikan melalui sublingual didesian agar dapat diserap setelah obat diletakan dibawah lidah. murah dan sering digunakan. Sedangkan pemberian obat melalui bukal. Benar waktu Perawat harus tahu tentang waktu pemberian obat. apakah ada ketentuanya (misal setiap 8 jam dalam satu hari) atau hanya jika dibutuhkan. 5. maka perawat perlu mengkonsultasikan kepada dokter. sehingga sebelum melakukan medikasi seorang perawat harus memperhatikan lprinsip LIMA BENAR. Oral Cara pemberian obat melalui oral adalah cara yang paling mudah. Tipe pemberian obat parenteral meliputi empat cara. 2. dilakukan dengan cara meletakan obat dalam bentuk sediaan padat dimukosa membran mulut hingga obat habis. yaitu : 1.

Kepekaan mukosa membran terhadap obat berbeda – beda. tepat dibawah epidermis c. Intravena (IV) Injeksi dilakukan melalui vena 3. cornea mata dan nasal adalah mukosa yang sensitif. Topikal Obat diberikan dengan cara mengoleskan di kulit atau membran mukoa dengan efek obat lokal maupun sistemik tergantung jenis obat dan dosisnya. Intramuskular (IM) Injeksi dilakukan di otot tubuh d.Injeksi dilakukan didalam lapisan kulit. sehingga seringkali klien mengeluh rasa seperti terbakar setelah diberikan obat tetes mata atau tetes hidung. Pemberian obat melalui mata Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat melalui hidung Pemberian obat ditelinga anak 56 .

Irrigation (memasukan cairan dengan tujuan untuk membersihkan body cavity) e. misal obat pencahar melalui rektal) c.Pemberian obat di telinga orang dewasa Pengobatan pada mokosa rektal atau vagina biasanya lebih tidak iritatif jika dibandingkan dengan pengobatan di mukosa mata dan hidung. Memberikan obat cair secara langsung. Instillation (memasukan cairan secara perlahan pada body cavity) d. Spraying (memasukan obat dengan cara menyemprotkan obat ke bagian tubuh tertentu) 57 . misal obat tetes mata b. Pemberian obat melalui vagina Pemberian obat melalui rektum Berbagai metode pemberian obat melalui mukosa : a. Insersi (memasukan obat ke lubang yang ada dalam tubuh.

Jelaskan tujuan. Keterampilan 0 Tahap Orientasi 1. obat. inflamasi saluran cerna. Inhalasi Inhalasi adalah salah satu metode pemberian obat dengan cara memasukan obat melalui saluran pernafasan. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat Tahap Pra Interaksi 1. Cuci tangan 3. alas. penurunan peristaltik. muntah. mual. biasanya dalam bentuk gas yang lembab. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. 3 . air minum 4. Pengobatan melalui inhalasi dapat memberikan efek lokal maupun sistemik. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Berikan salam. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. operasi gastrointestinal. 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. baca juga kondisi klien yang berhubungan dengan kesulitan menelan. Pemberi an obat menggunakan inhaler Memberikan Obat Oral Nama Mahasiswa : Tanggal : No 1 . Cek rekam medis klien.4. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 58 Nilai 1 2 2 . baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Memulai tindakan dengan cara yang baik Tahap Kerja 1. Hal ini disebabkan pada saluran pernafasan bawah terdapat area permukaan yang luas untuk absorpsi abat. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. karena terdapat hubungan antara alveoli dan kapiler. Siapkan alat-alat : Baki obat. tempat obat. .

tissue. alas. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3.... jika belum yakin. 1. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. Cuci tangan Dokumentasi Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. Berikan obat kepada klien a. Beri reinforcement positif pada klien 3. nama obat. Siapkan alat-alat : kartu obat. Tawarkan kepada klien segelas air untuk membantu menelan obat b.. dan obat dalam kemasan. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. Jika obat bukal. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. dosis. Berikan salam. 5 . Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 59 . washlap... Jelaskan tujuan.. 2 Tahap Pra Interaksi . waktu. waktu pemberian. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Membantu klien untuk kembali ke posisi yang nyaman f. jumlah tetesan. Melepas alas e. konsentrasi. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. minta klien untuk membuka mulutnya d. sarung tangan. 1. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan Memberikan Obat Mata (Cair dan Salep) Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi .. minta klien untuk membuka mulut dan meletakan obat dibawah lidah.. minta klien membuka mulut dan meletakan obat diantara gigi dan pipi klien Perawat tetap bersama klien hingga yakin obat telah diminum. Mencuci tangan Tahap Terminasi 1. Bantu klien pada posisi side lying 3.. baca nama klien.. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Membereskan peralatan g... panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2.. Jika obat sublingual. c. 2.. .4 .. Cuci tangan 3.. mata kanan/kiri 2. Cek rekam medis klien. Pasang alas dibawah dagu klien 4. waskom berisi air hangat.

1... jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat.. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan mata bagian bawah 7.. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. oleskan pada konjungtiva secukupnya. mata kanan/kiri. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. salep mata 6. Obat tetes mata 6... Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. waktu pemberian. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5 Dokumentasi . Ambil obat mata. Minta klien melihat ke arah atas 8. Kaji kondisi mata 5.. jumlah tetesan. 1. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6.. Posisikan klien supine 4. Gunakan cotton ball atau tissue untuk menekan bagian bawah mata 7. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 60 . Beri reinforcement positif pada klien 3. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. kemudian teteskan obat di konjungtiva. Jika klien menutup mata. kemudian oleskan pada garis mata bagian atas 11. Minta klien untuk menutup mata perlahan b. kemudian bersihkan daerah sekitar mata dari arah dalam ke luar a. atau tetesan tidak tepat di mata.. Pasang alas di bawah dagu klien 3.. Membereskan peralatan 13. Lepas sarung tangan kemudian mencuci tangan 4 Tahap Terminasi . ulangi sekali lagi 10.. ambil washlap yang dibasahi air hangat. Bersihkan daerah sekitar mata dari obat 12.. Kontrak pertemuan selanjutnya 4.. jumlah tetesan sesuai order 9.. Ambil salep mata.. Minta klien untuk melihat ke atas 8.5. Jika pada mata terdapat kotoran..

Jelaskan tujuan. Bantu klien pada posisi side lying miring. nama ibat. Cek rekam medis klien. tissue. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Siapkan alat-alat : kartu obat. botol obat. 2. 1. cotton ball. telinga kanan/kiri. Cuci tangan 3. Berikan salam. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6.Memberikan Obat Tetes Telinga Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . konsentrasi. sehingga telinga yang 61 . 1. cek nama klien. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. sarung tangan 4. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. 1. cotton tipped apllicator. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . jumlah tetesan. waktu pemberian.

62 . respon klien) Observasi klien 30 menit setelah pemberian obat. letakan cotton ball di lubang telinga (jangan memasukan terlalu dalam) g.. Jika dibutuhkan. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas lubang telinga c. Kontrak pertemuan selanjutnya 4. waktu pemberian.. Bantu klien pada posis yang nyaman 11..akan diberi obat terletak diatas Pasang alas dibawah dagu klien Kaji kondisi telinga eksternal dan lubang telinga Jika terdapat serumen.. jika ada tanda intoksikasi obat. 1. 5. 8.. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. Ambil cotton ball setelah 15 menit 9.. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 10. segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto.. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . Teteskan obat dengan jumlah tetesan sesuai dengan order dokter d.. dosis. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5... Buka lubang telinga dengan menarik auricula ke arah bawah dan belakang (anak) dan kearah atas untuk orang dewasa b....... 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 3. Kaji bagian luar telinga etelah dilakukan pengobatan 12. 6. Minta klien tetap dalam posisi side-lying selama 2 – 3 menit e.. 4. Lakukan massase yang lembut pada daerah tragus telinga f. bersihkan terlebih dahulu Gunakan sarung tangan Bersihkan lubang telinga dari serumen Berikan obat kepada klien : a. Beri reinforcement positif pada klien 3.. 7.

Memberikan Obat Tetes Hidung Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama ibat, konsentrasi, waktu pemberian, jumlah tetesan, hidung kanan/kiri. 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, botol obat, bantal kecil, washlap 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencuci tangan dan menggunakn sarung tangan 2. Inspeksi kondisi eksternal hidung dan sinus 3. Minta klien untuk menghembuskan napas (jika tidak ada kontraindikasi) 63

4. Bantu klien pada posisi supine a. Posterior pharynx  tarik kepala kebelakang b. Ethmoid/Sphenoid sinus  tarik kepala kebelakang atau letakan bantal kecil dibawah dagu c. Frontal/Maxillary sinus  tarik kepala klien kebelakang, kemudian miringkan, letakan bantal kecil dibelakang kepala untuk menahan dari belakang dan satu tangan perawat menahan dari depan 5. Berikan obat kepada klien : a. Minta klien untuk bernafas melalui mulut b. Letakan obat kira – kira 1 cm diatas hidung c. Teteskan obat denagn jumlah tetesan sesuai order dokter 6. Pertahankan posisi klien selama 5 menit 7. Bersihakan derahsekitar hidung, jika ada obat yang menetes 8. Bantu klien ke posisi yang nyaman 9. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 10. Kaji bagian luar hidung etelah dilakukan pengobatan 11. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 6. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 7. Beri reinforcement positif pada klien 8. Kontrak pertemuan selanjutnya 9. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 10. Cuci tangan 5 Dokumentasi . Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat, dosis, waktu pemberian, respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat, jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat, segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto,.................. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan

64

Memberikan Obat Rectal Suppositoria Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . 1. Cek rekam medis klien, baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR, cek nama klien, nama obat, bentuk obat, cara dan waktu pemberian,riwayat operasi/perdarahan di rectum, 2. Cuci tangan 3. Siapkan alat-alat : kartu obat, lubricating jelly, obat, tissue, sarung tangan 4. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . 1. Berikan salam, panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Jaga privacy klien 7. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . 1. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 65

. 66 .. 13.. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 12. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Bantu klien pada posisi supine atau miring selama 5 menit 12.. Jika obat adalah laxatif. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 2.. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat. berikan jelly di bagian luar anus Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot sfinkter anal 8. dosis. 5.. Lepas sarung tangan dan cuci tangan 15... Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi . 11. Jika klien tidak bisa BAB sendiri. Cuci tangan 5 Dokumentasi . 7. ganti dengan sarung tangan yang bersih Buka obat. Kontrak pertemuan selanjutnya 14. lakukan palpasi pada area rectum. 4. Bantu klien pada posisi yang nyaman 16. Beri reinforcement positif pada klien 13... waktu pemberian. 3. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 15... maka perawat mmbantu klien melakukan BAB 14.. Buka pantat dengan tangan predominan...Bantu klien dalam posisi sims Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah Kaji kondisi anus eksternal. Jika sarung tangan kotor. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 11. jelaskan klien sebentar lagi akan merasa ingin BAB. masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 10 cm (dewasa) dan 5 cm (anak dan infant) 9. 6.. Bersihkan area sekitar anus dengan menggunakan tissue 10..

Berikan salam. 1. Siapkan alat-alat : kartu obat. Jelaskan tujuan. Bantu klien dalam posisi dorsal recumbent 3. Cuci tangan 3. 1. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. obat. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . bentuk obat (krim/supositiria). dosis. baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. sarung tangan 4. Perawat mencucl tangan dan memakai sarung tangan 2. 1. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. 2. nama obat.Memberikan Obat Vaginal Suppositoria / Foam Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. tissue. Jaga privacy klien 7. cara dan waktu pemberian. lubricating jelly. Cek rekam medis klien. cek nama klien. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Bantu klien membuka/menurunkan pakaian bagian bawah 67 . Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi .

. Bantu klien pada posisi supine selama 10 menit 13. respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat. Tanyakan kepada klien apakah akan memasukan obat sendiri atau dibantu perawat 6.. jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat/obat keluar segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto. Bersihkan daerah genitalia eksternal menggunakan tissue b. Buka obat. dosis.5 .. Buka labia mayora dengan tangan predominan.. masokan aplikator sedalam 5 – 7. 1. waktu pemberian. Kaji area eksternal genitalia dan lubang vagina 5. Bersihkan daerah genitalia eksterna menggunakan tissue 11. Kontrak pertemuan selanjutnya 4.. Bantu klien memakai pakaian bawah 12. Berikan obat kepada klien : a..... Beri reinforcement positif pada klien 3. masukan obat dengan tangan yang menggunakan sarung tangan secara perlahan sedalam 7. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. Masukan obat ke dalam vagina 10. Obat jelly/foam 8. Bantu klien pada posisi yang nyaman 15... Isi aplikator dengan menggunakan jelly/foam 9.. Minta klien untuk melakukan napas dalam menggunakan mulut dan relaksasi otot daerah genitalia 9. berikan jelly di lubang vagina 8.10 cm 10. Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.... Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. Membereskan peralatan 4 Tahap Terminasi .. Lepas sarung tangan dan mencuci tangan 14.4.5 cm. Obat Supositoria 7. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna Mahasiswa dinyatakan lulus bila nilai > 75 % dari total nilai seluruh tindakan 68 ... Buka labia mayora dengan tangan predominan. Cuci tangan 5 Dokumentasi .

1. Kenalkan nama dan tanggung jawab perawat 3. Lepaskan penutup inhaler. tissue 4. dosis. Jika dibutuhkan dosis dua kali semprotan. Letakan mouthpiece inhaler atau spacer ke mulut g. Tahan nafas selama 10 detik j. Tanyakan kepada klien apakah ada keluhan 6. Berikan salam. Jelaskan kepada klien cara menggunakan inhaler : a. 2. 1. pegang inhaler tegak. Jaga privacy klien 7. prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan pada klien 4. Dongakkan kepala kebelakang dan hembuskannapas d. Memulai tindakan dengan cara yang baik 3 Tahap Kerja . Siapkan alat-alat : kartu obat. Jelaskan tujuan. letakan inhaler dengan jarak 0. genggam dengan ibu jari. Menyiapkan kartu obat dan ambil obat sesuai dengan order dokter untuk satu kali waktu pemberian obat 2 Tahap Pra Interaksi . Pasang kembali tutup inhaler 9. tunggu satu menit diantara dua semprotan 8. Mengakhiri pertemuan dengan cara yang balk 5. cara dan waktu pemberian. Bantu klien duduk dikursi 3. Kocok inhaler c. 1.Memberikan Obat Inhaler Nama Mahasiswa : Tanggal : N Keterampilan Nilai o 0 1 2 1 Tahap Orientasi . Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya 5. Cuci tangan 5 Dokumentasi 69 . baca kembali order dokter dengan menggunakan prinsip LIMA BENAR. Tekan Inhaler ke bawah sambil dihirup perlahan h. obat inhaler. Buka mulut. Beri reinforcement positif pada klien 3. Sambungkan spacer ke mouthpiece inhaler f. Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif) 2. jari telunjuk dan jari tengah b. 10. panggil klien dengan namanya (cocokan dengan kartu obat) 2. Cek rekam medis klien. bentuk obat (krim/supositiria). Kontrak pertemuan selanjutnya 4.5 cm dari mulut e. Bantu klien kembali ke posisi semula 4 Tahap Terminasi . 1. Perawat mencucl tangan 2. Cuci tangan 3. nama obat. cek nama klien. Bersihkan dengan menggunakan tissue jika ada cairan inhaler dipipi. Tarik nafas perlahan selama 2 – 3 detik i.

..Perawat mendokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan di rekam medis klien (nama obat.. 0 Penguji 1 = dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = dilakukan dengan sempurna ........ jika terdapat tanda – tanda intoksikasi obat segera lapor dokter Keterangan: = tidak dilakukan Purwokerto....... respon klien) Catatan : perawat mengobservasi keadaan klien 30 menit setelah pemberian obat.. 70 . waktu pemberian.. dosis.

Vial adalah wadah dosis tunggal atau multi dosis dengan penutup karet di atasnya. Jika gagal untuk menyuntikkan udara sebelum mengambil obat bagian dalam vial tetap vakum sehingga untuk mengambil obat di dalam vial tersebut menjadi sulit. Pemilihan gauge berdasarkan viskositas larutan yang akan diinjeksikan (Potter & Perry. Ukuran syringe dan jarum pada masing-masing tipe injeksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 71 .5 cc. Vial berisi medikasi dalam bentuk cairan dan/atau kering. 3. Gambar. Saat menghisap medikasi. Jarum biasanya dikemas terpisah dari syringe. Ampul adalah wadah gelas bening dengan bagian leher menyempit. Syringe Syringe terdiri dari barrel silinderis dengan ujung yang dibentuk pas untuk jarum dan pada bagian belakang terdapat pendorong karet. dan harus disuntikkan udara ke dalam vial untuk memudahkan mengambil cairan di dalamnya. 20 cc. Semakin kecil gauge. Wadah ini berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cair. Cairan dapat diaspirasi dengan mudah ke dalam spuit cukup dengan menarik ke belakang plunger spuit. perawat menggunakan teknik aseptik (mencegah jarum agar tidak menyentuh permukaan luar ampul). Cap logam melindungi penutup steril sampai vial siap digunakan. Perawat harus mematahkan leher ampul untuk dapat mencapai medikasi. 3 cc. Syringe memiliki beragam ukuran: 1 cc. semakin besar diameter jarum. Satuan diameter jarum gauge (G). Jarum suntik Jarum suntik memiliki bentuk yang spesifik. 50 cc.3 Syringe 4. Vial merupakan sistem tertutup. 2. Saat ini syringe sekali pakai (disposible) lebih banyak digunakan untuk menghindari infeksi silang. 10 cc. Ujungnya runcing.OBAT INJEKSI Menyiapkan Obat Suntikan dari Ampul atau Vial 1. 1997). 2.

Spuit dan jarum dengan ukuran yang diperlukan . Jika leher ampul tidak patah.Tipe Injeksi Sub Cutan Intra Muscular Intra Dermal Ukuran syringe 1-2 cc 2-3 cc (dewasa) 1-2 cc (anak-anak) 1 cc Ukuran jarum 25 G 19-23 G 26 G Peralatan .Jarum spuit ekstra Langkah-Langkah 1. c. Cuci tangan untuk mengurangi infeksi nosokomial 2. Menurunkan semua cairan yang terkumpul di atas leher ampul. Ampul a. b. Melindungi jari dari trauma ketika gelas ampul pecah.Ampul atau vial dari medikasi yang diresepkan .Metal (opsional) . Letakkan bantalan kasa kecil atau kapas alkohol mengelilingi leher ampul. Sentil bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat menggunakan jari. Patahkan leher ampul ke arah menjauhi tangan anda. Mencegah percikan gelas ke arah jari atau wajah anda 72 . Siapkan medikasi.Kapas alkohol atau kasa 2 x 2 inci . Semua larutan bergerak ke dalam bilik yang lebih rendah. gunakan metal untuk mengikir salah satu sisi leher.

gunakan bak untuk membuang. Tarik bagian plunger sedikit dan dorong kembali ke atas untuk mengeluarkan udara. g. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari barrel spuit. hentakan sedikit ke bak. i. Pegang spuit ke arah vertikal terhadap ujung jarum. Memeriksa ulang ketinggian cairan memastikan dosis yang tepat Vial a. Jika spuit terlalu banyak terisi udara. Vial dilengkapi dengan cap untuk mencegah kontaminasi penutup. Mencegah aspirasi gelembung udara.d. Lepaskan cap logam untuk memajan penutup karetnya. Jangan mengeluarkan cairan. Medikasi lebih aman dibuang ke bak. 73 . Periksa ulang ketinggian cairan dengan memegang spuit ke arah vertikal. Jika memegang ampul tegak lurus. jangan mengeluarkan udara ke dalam ampul. angkat jarum dari dalam ampul. dan medikasi di dalamnya akan terbuang h. e. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas. Dengan perlahan keluarkan kelebihan cairan ke dalam bak. Masukkan jarum spuit ke dalam lubang ampul. Jika gelembung udara teraspirasi. f. Pegang ampul baik dengan posisi menjorok atau tegak. Pertahankan ujung jarum di bawah permukaan cairan. Menahan spuit ke arah vertikal memungkinkan cairan tetap berada di dasar barrel. Untuk mengeluarkan gelembung udara. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di dalam jarum memasuki barrel. pinggiran ampul. CATATAN: Ampul dapat saja dipegang menjorok atau miring sepanjang bagian ujung jarum tidak menyentuh . Bagian pinggir ampul yang pecah dianggap terkontaminasi. Tekanan udara akan mendorong cairan ke luar ampul. Jangan biarkan ujung jarum atau batang spuit menyentuh pinggiran ampul. angkat ke atas untuk memungkinkan semua cairan masuk ke dalam spuit. Aspirasi medikasi ke dalam spuit dengan menarik ke belakang plunger Menarik plunger ke belakang menciptakan tekanan negatif di dalam barrel yang mendorong cairan ke dalam spuit.

jangan biarkan plunger kembali ke atas. Keluarkan udara ke dalam vial. Membuang debu atau kotoran tetapi tidak mensterilkan permukaan c. Balikkan vial sambil tetap memegang vial dengan kuat pada spuit dan plunger. d. Raih bagian ujung barrel dan plunger dengan ibujari dan jari telunjuk dari tangan yang dominan. Dengan kapas alkohol. menembus bagian tengah penutup karet (Gbr. usap permukaan penutup karet. Posisi tangan mencegah plunger dan memudahkan memanipulasi spuit dengan mudah. Menjaga bagian bevel ke arah atas dan memberikan tekanan ringan mencegah pemotongan karet sebagai penutup e. Udara harus terlebih dahulu disuntikkan ke dalam vial sebelum mengaspirasi cairan. Mencegah aspirasi udara h. g. Masukkan bagian ujung jarum. Tahan bagian ujung jarum di bawah ketinggian cairan. Anda pertama-tama harus menyuntikkan udara ke dalam vial.b. Bagian tengah dari penutup karet merupakan bagian yang tertipis dan lebih mudah untuk menusukkannya. Membalikkan vial memungkinkan cairan untuk tetap berada di pertengahan bawah vial. Pegang vial antara ibujari dan jari tengah pada tangan yang dominan. Tarik kembali plunger jika perlu. dengan bevel jarum mengarah ke atas. Plunger mungkin akan terdorong kembali ke belakang oleh tekanan udara di dalam vial f. Lepaskan cap jarum. Tekanan positif di dalam vial mendorong cairan ke dalam spuit 74 . Memungkinkan tekanan udara untuk secara bertahap mengisi spuit dengan medikasi. 52). Tarik pulunger ke belakang untuk mengumpulkan sejumlah udara yang sama dengan volume medikasi yang akan diaspirasi Mencegah pembentukan tekanan negatif ketika mengaspirasi medikasi.

Penggantian jarum diharuskan jika perawat menduga terdapat obat pada batang jarum. 5. Jangan mengeluarkan cairan. Menjamin pemberian obat yang akurat ketika diberikan obat berikutnya 3. Ganti jarum yang terdapat pada spuit. Catat jumlah larutan dan konsentrasi obat. 4. Menarik plunger dan bukan barrel menyebabkan terlepas dari barrel dan medikasi dapat terbuang. Mencegah penularan infeksi. 75 . j. Ini akan menyebabkan kontaminasi spuit. Untuk mengeluarkan kelebihan gelembung udara. lepaskan jarum dari vial dengan menarik barrel ke belakang. k. Menyentil dengan kuat barel ketika jarum berada di dalam vial dapat membengkokkan jarum. Buang alat-alat yang basah di tempat yang telah disediakan. Mencegah kontaminasi jarum dan melindungi perawat dari tusukan jarum. menahan spuit secara vertikal memungkinkan cairan untuk tetap berada di dasar barrel. Akumulasi udara akan menggantikan medikasi dan menyebabkan kesalahan dosis. Berikan label pada vial jika masih tersisa obat di dalamnya. Mengurangi transmisi mikroorganisme Kewaspadaan Perawat Pastikan bahwa tekanan udara tidak mendorong plunger keluar dari barrel spuit. Tarik sedikit plunger dan dorong plunger ke atas untuk mengeluarkan udara. Menarik plunger terlalu jauh akan menariknya dari berrel. Menarik kembali plunger memungkinkan cairan di datam jarum masuk ke dalam barrel. Sentil bagian barrel dengan hati-hati untuk melepaskan semua gelembung udara. Manakala dosis yang sesuai sudah terpenuhi.i. Pegang spuit dengan jarum mengarah ke atas dan sentil-sentil untulC melepaskan gelembung. l. Keluarkan semua udara yang terdapat di atas spuit ke dalam vial. Cuci tangan. Bungkus jarum dengan capnya. Jarum baru mencegah ceceran obat pada kulit dan jaringan subkutan. angkat jarum dari dalam vial dengan menarik ke belakang barrel spuit.

Jelaskan prosedur pada klien dan lanjutkan dengan cara yang tenang. subkutan-diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. 3.5 cm [anak] [Whaley and Wong.Jarum (ukuran beragam sesuai dengan tipe jaringan dan ukuran klien. Membantu klien mengantisipasi tindakan perawat. dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik..5 sampai 3. absorpsi obat agak sedikit lambat dibanding suntikan intramuskular. Cuci tangan.dan kenakan sarung tangan steril Mengurangi transmisi mikroorganisme. intramuskular-diameter 20 sampai 30 dan panjangnya 2. ada risiko yang merugikan dari penyuntikan ke dalam pembuluh darah jika perawat tidak cermat.Formulir atau kartu obat Langkah-Langkah 1. Bahaya kerusakan jaringan menjadi lebih sedikit jika obat diberikan jauh ke dalam otot. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat. Periksa pita identifikasi klien dan tanyakan nama klien. jadi hanya obat dalam dosis kecil yang larut dalam air. Jaringan subkutan mengandung reseptor nyeri. Otot juga kurang sensitif terhadap obat-obat yang kental dan mengiritasi.Ampul atau vial obat .75 cm (dewasa). 6.25 sampai 2. Karena jaringan subkutan tidak mempunyai banyak pembuluh darah. perawat harus mengetahui volume obat yang akan diberikan. 76 . lecet.1 cm) . yang tidak mengiritasi yang dapat diberikan melalui rute ini. Kumpulkan peralatan dan periksa urutan medikasi terhadap rute. Hindari area yang terdapat jaringan parut. 5. massa. Pilih tempat penyuntikan yang tepat. Peralatan . Rute intramuskular memberikan absorpsi obat lebih cepat. karakteristik obat. Namun.Spuit (ukuran beragam sesuai dengan volume obat yang akan diberikan) . 1991]. alkohol) . 4.Kasa antiseptik (mis.Pemberian Suntikan Subkutan dan Intramuskular Menyuntikkan obat adalah prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh.Untuk suntikan subkutan. 2. Pastikan bahwa pasien yang tepat mendapatkan obat yang tepat.25 sampai 2. memar. dosis. Memastikan keakuratan urutan pemberian. Teknik aseptik harus dipertahankan karena klien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit. Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat. medikasi dimasukkan ke dalam jaringan ikat jarang di bawah dermis. atau nyeri tekan. palpasi tempat tersebut terhadap edema. Kaji terhadap alergi. atau infeksi. Siapkan medikasi dari ampul atau vial Memastikan bahwa medikasi yang akan diberikan steril. diameter 25 sampai 27 dan panjang 1. dan waktu pemberian.

. Tempat Suntikan Subkutan .klien berbaring miring. 7.Abdomen-klien duduk atau berbaring .Lengan klien duduk atau berdiri . Bantu klien untuk mengambil posisi yang nyaman bergantung pada tempat suntikan yang dipilih. gunakan tempat suntikan abdomen. .Tempat suntikan harus bebas dari lesi yang mungkin mengganggu absorpsi obat. Rotasi tempat suntikan mencegah pembentukan jaringan parut subkutan yang dapat mempengaruhi absorpsi obat. Saat memberikan heparin subkutan.Dorsogluteal-klien tengkurap dengan lutut diputar ke arah dalam. atau terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan disuntikkan dalam keadaan fleksi Membantu klien mendapatkan posisi yang dapat mengurangi regangan pada otot dengan meminimalkan rasa taknyaman akibat suntikan.Tungkai-klien duduk di tempat tidur atau kursi Tempat Suntikan Intramuskular . tengkurap.Lengan atas (deltoid klien duduk atau berbaring mendatar dengan lengan atas fleksi tetapi rileks menyilang abdomen atau di atas abdomen. CATATAN: Antikoagulan dapat menyebabkan perdarahan lokal dan memar jika disuntikan ke dalam area seperti lengan dan tungkai. 77 .Paha (vastus lateralis}-klien berbaring terlentang dengan lutut sedikit fleksi . palpasi otot untuk menentukan ukuran dan kekerasannya. Dalam kasus penyuntikan insulin yang berulang setiap hari jangan gunakan tempat penyuntikan. Rotasikan didalam satu region anatomi kemudian pindah ke lokasi anatomi lainnya. Diperlukan massa otot yang cukup untuk memastikan suntikan intramuskular akurat ke dalam jaringan yang tepat. yang melibatkan aktivitas muskular. atau miring dengan lutut bagian atas dan pinggul fleksi dan diletakkan di depan tungkai bawah. Untuk penyuntikan intramuskular. 8. Jangan gunakan kembali tempat suntikan yang sama didalam periode 3 minggu.Ventrogluteal .

Pengalihan perhatian membantu mengurangi ansietas 10. Bicaralah pada klien tentang subjek yang menarik.9. Cari tempat yang akan dipilih sebagai tempat suntikan menggunakan tanda anatomi. tulang. atau pembuluh darah. Minimalkan rasa taknyaman selama suntikan. Bersihkan tempat suntikan yang dipilih dengan swab kasa antiseptik. Minta klien untuk melemaskan lengan atau tungkainya. 11. Penyuntikan yang akurat membutuhkan penusukan di tempat anatomi yang tepat untuk menghindari pencederaan jaringan di bawah saraf. tempat di mana suntikan akan diberikan. Pasang swab di tengah tempat suntikan dan putar ke arah luar dengan arah melingkar sekitar 5 cm (2 inci). 78 .

Suntikan jarum dengan cepat pada sudut 90 derajat. Pegang swab diantara jari ketiga dan keempat dari tangan anda yang tidak dominan. cubit otot tubuh dan suntikan obat.Untuk klien obesitas. cubit kulit pada tepmat suntikan dan suntikan jarum di bawah lipatan kulit.encubitan kulit menaikan jaringan subkutan . Mencegah jarum menyentuh cap dan terkontaminasi 14.Posisikan tangan nondominan pada tanda anatomik yang tepat dan regangkan kulit. . Pegang spuit diantara ibujari dan jari telunjuk dari tangan anda yang dominan bayangkan seperti memegang anak panah. P. Suntikan spuit: Subkutis . Memastikan bahwa obat mencapai jaringan otot 79 .Untuk klien ukuran sedang.Gerakan mekanik swab membuang sekresi yang mengandung mikroorganisme 12.Suntikan jarum dengan cepat dan kuat pada sudut 45 derajat (kemudian lepaskan cubitan kulit bila dilakukan). (Kebanyakan perawat memegang spuit dengan telapak tangan ke atas untuk penyuntikan subkutan dan telapak tangan ke bawah untuk penyuntikan intramuskular karena perbedaan sudut penusukan). Penusukan yang cepat dan kuat meminimalkan ansietas dan ketidaknyamanan klien Intramuskular . Swab akan tetap mudah terakses saat waktunya mencabut jarum 13. Lepaskan cap jarum dari spuit dengan menarik cap lurus. dengan tangan nondominan anda regangkan kedua belah sisi kulit tempat suntikan dengan kuat atau cubit kulit yang akan menjadi tempat suntikan. Klien obes mempunyai lapisan lemak di atas jaringan subkutan . Penusukan jarum pada kulit yang tegang lebih mudah dibanding kulit yang kendur. Mempercepat penyuntikan dan mengurangi ketidaknyamanan. Penyuntikan cepat waspada membutuhkan manipulasi bagian spuit yang tepat 15.Jika masa otot tipis.

pertahankan agar tetap menahan kulit dengan tangan nondominan anda. Gerakan spuit dapat mengubah letak jarum dan menyebabkan rasa taknyaman Jika menggunakan metoda Z-track. 16. Tarik kulit di bawahnya dan jaringan • subkutan 2. CATATAN: Heparin adalah antikoagulan yang secara khas diberikan dalam dosis kecil melalui subkutan. Tahan bagian belakang kulit dan suntikan jarum dengan cepat Sumbatan udara membersihkan jarum dari obat untuk mencegah tracking obat melalui kulit dan jaringan. Darah yang teraspirasi ke dalam spuit menunjukkan bahwa jarum i menusuk intravena. Obat akan menjadi berbusa jika diaspirasi. Jika tidak terlihat darah. dengan tangan nondominan anda raih ujung bawah barrel spuit. Obat tidak akan berbahaya jika diberikan intravena. Pindahkan tangan dominan anda ke ujung plunger. lakukan metoda Z-track. Penyuntikan dengan tepat memerlukan manipulasi halus bagian spuit. suntikan obat dengan perlahan. Dengan perlahan tarik kebelakang plunger untuk mengaspirasi obat.5 ml udara ke dalam spuit untuk membentuk sumbatan udara. Jika terlihat darah di dalam spuit. buang spuit.5 cm ke arah lateral ke samping.Jika memberikan preparat yang dapat mengiritasi. Metoda Ztrack membentuk jalur zig-zag melalui kulit yang membungkus jalur jarum untuk menghindari kebocoran obat melalui jaringan subkutan yang sensitif. dan ulangi persiapan obat. 18.5 sampai 3. Penyuntikan perlahan mengurangi nyeri dan trauma jaringan. - Kulit harus tetap ditarik sampai obat disuntikan. Cabut jarum dengan cepat sambil meletakkan swab antiseptik tepat di bawah suntikan 80 . CATATAN: Beberapa institusi menganjurkan untuk tidak melakukan aspirasi penyuntikan heparin subkutan. Saat menggunakan metoda ini perawat menghisapkan 0. Manakala jarum memasuki tempat suntikan. Hindari gerakan spuit. tarik kembali jarum. 17. Gunakan tangan dominan anda untuk meraih ke arah plunger. Obat-Obat intramuskular dan subkutan tidak digunakan untuk pemberian intravena.

2 ml udara ke dalam spuit setelah menyiapkan dosis obat. Masase tempat suntikan dengan perlahan kecuali merupakan kontraindikasi seperti pada penyuntikan heparin. Udara bertindak sebagai ruang vakum untuk membersihkan lubang jarum dari obat. Pengamatan anda menentukan kemanjuran kerja obat. mengontrol penyebaran infeksi 23. Tempat penyuntikan intrakutan dan tekniknya 81 . Menyokong jaringan di sekitar tempat suntikan sehingga meminimalkan rasa taknyaman ketika jai-um dicabut. Pertimbangan Pediatri Jika memang diharuskan untuk memberikan obat dalam bentuk cairan pada anak. 19. Menutup kembali jarum dapat menyebabkan penusukan dari jarum dan sudah tidak dianggap praktik yang aman 22. Otot dorsogluteal seharusnya tidak digunakan untuk penyuntikan pada anak-anak kecuali otot tersebut berkembang dengan sempurna. Jika tampak darah di dalam jarum spuit selama aspirasi. Vastus lateralis adalah tempat suntikan yang paling dipilih untuk anakanak. Mencatat pemberian obat dan mencegah kesalahan pemberian obat berikutnya 24. Tes tuberculin. Berikan orangtua kesempatan untuk membantu menahan anak mereka selama penyuntikan. 2. Mencegah cedera pada klien dan tenaga personel. Jangan sekali-kali mengagetkan anak. Memungkinkan obat untuk menyebar dengan rata. Catat dan laporkan semua nyeri setempat mendadak atau rasa terbakar di tempat suntikan. Buang jarum tidan berpenutup dan letakkan spuit ke dalam tempat yang sudah diberi label. tarik 0. Setelah penyuntikan tenangkan anak. Obat parenteral diserap dan bekerja lebih cepat dibanding obat oral. Bantu klien mendapatkan posisi yang nyaman. Biasanya dipakai untuk : 1. Kemudian lepaskan kulit setelah menarik jarum. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan. tahan agar jarum tetap ditempat setelah menyuntikan obat selama 10 detik.Jika mengunakan metoda Z-track. Uji coba obat tertentu terhadap reaksi alergi. Ada baiknya untuk tetap tidak memperlihatkan ruam pada anak untuk meminimalkan ansietas. Bidang jaringan saling menindih untuk membentuk jalur zig-zag yang menutupi obat ke dalam jaringan otot. Catat pemberian obat pada lembar obat atau catatan perawat. yang dapat menunjukkan cedera saraf. cepat cabut jarum dan mulai dari awal lagi. Pastikan bahwa anak mengetahui bahwa ia akan mendapatkan suntikan. Beberapa orangtua tidak ingin disertakan karena akan membuat anaknya tidak nyaman. memberikan klien rasa kesejahteraan 21. Kewaspadaan Perawat Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan. Masase menstimulasi sirkulasi kemudian meningkatkan penyebaran serta penyerapan obat 20. Penyuntikan Intrakutan dan Intravena Injeksi Intrakutan/ Intradermal Injeksi intrakutan adalah salah satu metode injeksi dimana obat dimasukan ke dalam jaringan kulit (dermal) yaitu epidermis. Kembali untuk mengevaluasi respons klien terhadap obat dalam 15 sampai 30 menit.

Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 15. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 7. muntah. berkeringat. Gunakan sarung tangan 5. jika lengan bawah tidak dapat digunakan. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Jika test alergi +.15 derajat 12. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 18. mual. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. 16. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 9. pingsan. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 14. Buat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan dan instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 19. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Buka tutup jarum 10. sianosis) 17. Kembalikan posisi klien 20. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 11. masukkan lagi sekitar 1/8 inci 13. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Cek catatan perawat dan medis : program pemberian obat melalui intradermal 2. Cuci tangan 3. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. gunakan tempat altematif 6.Langkah-langkah : 1. Cuci tangan 82 . berkurangnya tekanan darah. Jika terdapat darah. masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 8.

Lepaskan tourniquet 16. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 8. New Jersey : Pearson Education. Gunakan sarung tangan 5. Metode ini menyebabkan reaksi cepat. Pada saat penusukan posisi harus tepat dan tidak goyah. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. Process and Practice. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. selama dan setelah dilakukan injeksi IV. Keluarkan jarum dari pembuluh vena 18. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. harus dimonitor tanda-tanda vitalnya. B. lalu tusuk perlahan dan pasti. misalnya pada lengan. Sebelum. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 6. Teknik ini dibutuhkan perawat dengan ketrampilan khusus. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 9. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. 12. Lakukan aspirasi 15. punggung telapak tangan. 11. 83 . Cuci tangan 3. 13. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar 4. Fundamentals of Nursing : Concept. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 7. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Kencangkan tourniquet 10. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. Langkah-langkah : 1.Injeksi Intravena Injeksi intravena kita harus memilih vena yang besar. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. 14. 7nd edition. (2004). et. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 17. all. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin PUSTAKA Kozier.

Cek nama pasien* 4. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 Ni lai 1 2 11. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek waktu pemberian* 7. Lakukan double cek obat (nama obat. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 84 . Siapkan obat a. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Cek dosis* 5. Tahap Preinteraksi 1. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b.CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA DERMAL Nama No. Mhs : Variabel yang dinilai A. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. dosis dan hasil perhitungan)* 12. Cek nama obat* 3. Cuci tangan * 9. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Siapkan alat 8.

9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* B. gunakan tempat altematif 8. Tahap Kerja 1. dosis dan cara pemberian* 85 . masukkan jarum tepat di bawah kulit dengan sudut 10 . masukkan lagi sekitar 1/8 inci 15. Tanyakan keluhan dan kaji adanya alergi* 3. Baca label obat sekali lagi* 7. Masukkan obat perlahan-lahan perhatikan adanya jendalan (jendalan harus terbentuk) 16. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. 15 menit dan selanjutnya secara periodik selama waktu dinas 21. Tempatkan ibu jari tangan non dominan sekitar 1 inci di bawah tempat penusukan dan tarik kulit 13. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Jelaskan tujuan tindakan* C. Jika jarum telah masuk ke bawah kulit dan teriihat. Kaji efek obat dan respon klien* 25. observasi adanya reaksi sistemik (misalnya sulit bernafas. Cuci tangan* E. Pilih tempat tusukan pada lengan bawah. jika lengan bawah tidak dapat. Jika test alergi +. Jika terdapat darah. Buka tutup jarum 12. Jaga privasi klien 5. berkurangnya tekanan darah. Dokumentasi Catat nama obat. nama pasien. Kaji kembali klien dan tempat injeksi setelah 5 menit. Bersihkan tempat yang akan digunakan dengan kapas alkohol 11. Gunakan sarung tangan 6. 18. Evaluasi perasaan klien 2. Tahap Orientasi 1. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. mual. Perkenalkan diri* 3. waktu pemberian. sianosis)* 20. Observasi kulit adanya kemerahan atau bengkak. Buat tanda dengan membuat lingkaran 1 inci di sekeliling jendalan 22. Posisikan klien dengan lengan bawah menghadap muka perawat 9. muntah. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. Tahap Terminasi 1. Mulai dengan cara yang baik 4. Berikan salam 2. Dengan ujung jarum menghadap ke atas dan menggunakan tangan dominan. Panggil klien dengan namanya* 4. Instruksikan klien untuk tidak menggosok daerah itu 23. usap dengan lembut menggunakan kapas alkohol lain. Kembalikan posisi klien 24. 19. Simpulkan hasil kegiatan* 3. pingsan. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi intradermal 10. Cabut jarum dengan sudut yang sama saat disuntikkan 17. berkeringat.15 derajat 14. Bereskan alat* 6.

Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1 = Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75%

Nilai ………………

Pengampu ………………………….

86

CHECKLIST KETERAMPILAN INJEKSI INTRA MUSCULAR Nama Mhs : Variabel yang dinilai A. Tahap Preinteraksi 1. Cek catatan perawat dan medis 2. Cek nama obat* 3. Cek nama pasien* 4. Cek dosis* 5. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. Cek waktu pemberian* 7. Siapkan alat 8. Cuci tangan * 9. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan Nilai 0 1 2

11. Lakukan double cek obat (nama obat, dosis dan hasil perhitungan)* 12. Siapkan obat a. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas, ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum, tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah, perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 87

B. Tahap Orientasi 1. Berikan salam 2. Perkenalkan diri* 3. Panggil klien dengan namanya* 4. Jelaskan prosedur tindakan * 5. Jelaskan tujuan tindakan* C. Tahap Kerja 1. Berikan kesempatan klien untuk bertanya 2. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Jaga privasi klien 4. Mulai dengan cara yang balk 5. Gunakan sarung tangan 6. Pilih tempat penusukan 7. Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang nyaman dan mudah untuk perawat melihat tempat penusukan 8. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan dilakukan terapi IM. 9. Bersihkan tempat vang akan digunakan dengan kapas alkohol 10. Buka tutup jarum 11. Tarik kulit di tempat penusukan dengan cara : 12. Tempatkan ibu jari dan jari telunjuk tangan non dominan di atas tempat penusukan (hati-hati jangan sampai mengenai daerah yang lelah dibersihkan) hingga membentuk V 13. Tarik ibu jari & jari telunjuk dengan arah berlawanan, memisahkan jari sepanjang 3 inc 14. Cepat masukkan jarum dengan sudut 90 dengan tangan yang dominan 15. Pindahkan ibu jari dan jari telunjuk jari non dominan dan kulit untuk mendukung barrel spuit, jari sebaiknya ditempatkan pada barrel sehingga saat mengaspirasi, anda dapat melihat barel dengan jelas. 16. Tarik plunger dan observasi adanya darah pada spuit 17. Jika terdapat darah, tarik jarum keluarkan berikan tekanan pada tempat tusukan dan ulangi langkah ke C6 hingga C14. Jika tidak ada darah, dorong plunger dengan perlahan, ajak klien berbicara. 18. Tarik jarum dengan sudut yang sama saat penusukan 19. Usap dan bersihkan tempat penusukan dengan kapas alkohol lain (jika kontra indikasi untuk obat, berikan penekanan yang lambat saja) 20. Tempatkan jarum pada baki 21. Buka sarung tangan 20. Kembalikan posisi klien 21. Buang peralatan yang sudah tidak diperlukan D. Tahap Terminasi 1. Evaluasi perasaan klien 2. Simpulkan hasil kegiatan* 3. Lakukan reinforcement posisit pada klien* 4. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 5. Bereskan alat* 6. Cuci tangan* F. Dokumentasi Catat nama obat, nama pasien, waktu pemberian, dosis dan cara pemberian* Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali Pengampu

88

………………………….

89 .1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% Nilai …………… …………….

dosis dan hasil perhitungan)* 12. Ambil obat yang benar (baca label dan baca kadaluawarsa)* 10. Cek waktu pemberian* 7. Menarik obat dari ampul 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Yakinkan seluruh obat berada pada dasar ampul (bawah leher ampul) 3) Jika masih ada di atas. Cek catatan perawat dan medis 2. Siapkan obat a. tarik udara sejumlah dosis obat* 6) Tusukkan jarum pada pusat karet penutup vial* 7) Balikkan atau putar vial sehingga menghadap ke bawah. Lakukan double cek obat (nama obat. Siapkan alat 8. Cek dosis* 5. Tahap Preinteraksi 1. Cek nama pasien* 4. ketuk-ketuk dengan tangan sehingga obat berada di dasar ampul semua 4) Gergaji leher ampul jika perlu 5) Gunakan kassa/swab alkohol untuk melindungi tangan kita dari risiko cedera* 6) Patahkan dengan tangan 7) Pegang ampul dengan tangan non dominan dan spuit dengan tangan dominan 8) Masukkan jarum ke dalam ampul 9) Tarik obat sesuai dengan dosisi yang diperlukan 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan* 11) Buang bekas ampul ke dalam bengkok b.INJEKSI SUBCUTANEUS Nama MHs : ASPEK YANG DINILAI A. Menarik obat dari vial/vlakon 1) Baca label obat sekali lagi* 2) Buka pelindung yang menutupi vial tanpa menutupi karet 3) Bersihkan pelindung karet yang menutupi vial dengan alkohol (prinsip bersih)* 4) Kocok obat bila diperlukan sesuai aturan penggunaan obat* 5) Lepaskan penutup jarum. Cek cara pemberian (Intra Dermal)* 6. perhatikan ujung jarum seharusnya ada di permukaan cairan obat 8) Tarik sesuai dosis 9) Lepaskan jarum dari vial 10) Keluarkan gelembung-gelembung udara yang ada disuntikkan*90 . Cuci tangan * 9. Cek nama obat* 3. Hitung dosis obat yang benar* Dosis yang diberikan= Dosis yang diminta x jumlah yang tersedia di tangan Dosis yang ditangan 0 NILAI 1 2 11.

Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian. ………………… ………. Tahap Terminasi 1.D. Akhiri kegiatan 5. 91 . tangan E. Evaluasi hasil kegiatan 2. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Berikan reinforcement 3. obat yang diberikan dosis dan cara pemberian Totai Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma Pengampu Nilai 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% ………………………….

Keluarkan jarum dari pembuluh vena 20. dosis. Siapkan obat sesuai prinsip 5 benar* B. Cuci tangan 3. Tutup tempat tusukan dengan kasa steril yang diberi betadin C. Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol. Bebaskan lengan pasien dari baju/kemeja 9. lalu diulangi dengan menggunakan kapas betadin. 13. Cuci Dokumentasi Catat waktu pemberian obat yang diberikan. Gunakan sarung tangan 6. Masukkan obat ke dalam pembuluh vena perlahan-lahan 19. Jaga privasi klien 4. Rendahkan posisi jarum sejajar kulit dan teruskan jarum ke dalam vena. Cek catatan perawatan dan medik : program pemberian obat melalui intra vena 2. identifikasi klien dan panggil klien dengan namanya 2. Tahap Orientasi 1. Evaluasi perasaan klien 2. Jelaskan prosedur dan tujuan pemberian obat pada klien/ keluarga C. Lepaskan tourniquet 18. Kencangkan tourniquet 11.INJEKSI INTRAVENA Nama Mhs : ASPEK YANG DINILAI A. Tahap Kerja 1. Letakkan pasien pada posisi semi fowler atau supine jika tidak memungkinkan 7. Tanyakan keluhan klien dan kaji adanya alergi 3. Mulai dengan cara yang baik 5. Lakukan aspirasi 17. Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tempat tusukan 14. palpasi dan pastikan tekanan yang akan ditusuk. tangan D. Pegang Jarum dalam posisi 30 derajat sejajar vena yang akan ditusuk. Tahap Preinteraksi 1. Simpulkan hasil kegiatan 3. Tahap Terminasi 1. Beri kesempatan klien untuk bertanya 2. 16. Letakkan alas di bawah bagian tubuh yang akan di lakukan tindakan terapi intravena 8. Letakkan tourniquet 5 cm diatas tempat tusukan 10. Arah melingkar dari dalam keluar lokasi tusukan. Anjurkan pasien untuk mengepalkan telapak tangan dan membukanya beberapa kali. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya 4. Berikan salam. 92 . 12. caranya Total Nilai 0 = Tidak dilakukan sama sekali 1= Dilakukan tetapi tidak sempuma 2 = Dilakukan dengan sempurna Nilai Batas Lulus = 75% NILAI 0 1 2 Pengampu Nilai …………………………. Akhiri kegiatan 5. lalu tusuk perlahan dan pasti 15.

Perawat harus memerksa dosis obat yang tertulis di dalam catatan medis dan mencocokkannya dengan label obat dan melakukan penghitungan dosis yang akurat. Ada berbagai macam cara atau metode menghitung dosis obat. misalnya obat tersedia dalam jumlah milligram atau milliliter yang ekuivalen (H) Vehicle adalah bentuk/kemasan obat atau jumlah tablet atau jumlah larutan yang sesuai dengan dosis yang tersedia Mount adalah isi/jumlah obat yang diberikan misalnya dalam milliliter atau tablet milligram (A) Rumus penghitungan dosis obat DxV =A H Contoh: Dosis sesuai program dokter (D) adalah 400 mg Dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan bentuk sedian obat adalah tablet) Yang ditanyakan: berapa banyak tablet yang harus diberikan ke klien? Jawab: 400 x 1 tablet = 2 tablet 200 Metode 2 Rasio dan proporsi Rumus: H : V= D : A Contoh Dosis sesuai program dokter adalah 400 mg. berat badan. Perawat harus membaca label pada obat untuk melihat aturan pengenceran yang diperbolehkan misalnya dalam label obat akan tertulis 93 . sedangkan dosis yang tersedia (H) dalam 1 kemasan obat (V) adalah 200 mg (keterangan sediaan obat dalam bentuk bubuk dalam vial yang harus diencerkan menjadi bentuk cair) Yang ditanya: berapa ml/cc obat yang harus diberikan kepada klien Jawab 1.MENGHITUNG DOSIS OBAT Penghitungan dosis obat adalah kegiatan menentukan dosis yang dipesankan oleh tim medis berada dalam rentang dosis yang sesuai dengan rute pemberian. Metode 1 Persamaan dasar Dosis yang diinginkan adalah dosis yang sesuai dengan program pengobatan (D) Dosis yang tesedia adalah dosis yang ada di kemasan obat. dan usia klien.

1 ml = 1000/5 = 200 ml) 94 . berarti bubuk obat di dalam vial akan diencerkan dengan 5 ml aquabides sehingga bentuk sediaan akan berubah menjadi cair 2. 1 ml cairan obat setara dengan 200 mg bubuk obat (1 gram/1000 mg = 5 ml. Perawat harus membaca berat bubuk di dalam vial misalnya 1 gram isi vial setara dengan 1 gram bubuk obat 3.diencerkan dengan 5 ml aquabides. Apabila terdapat 1 gram bubuk obat dalam vial yang akan diencerkan dengan 5 ml aquabides berarti ketika pengenceran sudah dilakukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times