P. 1
Motto Pecinta Alam

Motto Pecinta Alam

|Views: 1,263|Likes:
Published by Dinha Mardiana M

More info:

Published by: Dinha Mardiana M on Sep 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2014

pdf

text

original

MOTTO PECINTA ALAM

1. Bring nothing, but health Jangan membawa sesuatu kecuali kesehatan 2. Take nothing, but pictures Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar 3. Kill nothing, but times Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu 4. Leave nothing, but foot-print Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak kaki

Kami Pecinta Alam
Asmara Nusantara Waktu itu kamu pakai baju merah Yang ku tahu aku pakai baju putih Kita bergandengan menyusuri kota Dan cinta kita seperti Indonesia. Walau kini kau ada di wakatobi Yang jelas-jelas aku di raja ampat Luasnya lautan memisahkan kita Oh indahnya bercinta di nusantara. Kita sepakat bila rasa yang sesungguhny a Tak mudah didapat Perlu ada pengorbanan, perlu ada perju angan Seperti pahlawan Kita tulis cerita yang takkan kita lupa Bersama di bawah langit senja Kita nyatakan saja pada mereka lewat se buah lagu Asmara kau dan aku di bumi khatulistiwa

Burung - Burung Enggan Bernyanyi Lagi (Mh. Sanuri Surya Permana) Bising gergaji mengoyak sepi dari hutan Pohon - pohon tumbang Mobil - mobil besar menggendongnya Tergesa - gesa ke kota Gunung dan lembah luka parah Kulitnya terkelupas Erang sakitnya merambah ke mana mana Burung -burung kehilangan dahan dan ranting Enggan beryanyi lagi Bila pun ada tegur sapa di antara mereka Tentulah pertanyaan yang menyesakkan Kemana kita harus mengungsi ? Pohon - pohon perdu dan melata itu Bukanlah tempat tinggal yang ideal. Kita perlu gunung yang teduh Lembah yang indah Bukan yang luka parah begini

MITOS
 Kebiasaan bersiul diwaktu malam Janganlah anda selalu bersiul diwaktu karena disaat anda tidur dimalam itu dan akan mendengar siulan yang berasal dari luar kamar anda itu adalah ulah dari makhluk halus yang merasa terganggu dengan siulan anda dan membalasnya.  Kebiasaan membuang nasi sisa makan, karena masih kenyang Janganlah selalu membuang nasi sisa makan, karena masih kenyang bermakna kelak selama satu tahun akan mengalami bentrokan keluarga yang beruntun.  Berteriak-teriak mengucapkan kata-kata kotor dalam hutan. Janganlah anda berteriak-teriak berkata-kata kotor pada saat berada di dalam hutan, karena anda tak lama lagi akan dimasuki roh halus jahat yang menguasai diri anda (kesurupan).

`1

SLOGAN MPA GLEOCAPSA 1. Hiasi alamku dengan penuh kasih sayang 2. Mengotori alam berarti merusak hidup kita 3. Cegah pencemaran untuk merawat lingkungan 4. Merubah dunia berawal dari diri sendiri 5. Sadarilah, alam butuh kita !!! 6. Say no to global warming, say yes to save our earth 7. Kehidupan berawal dari alam, kita akan mati bila alam pun mati 8. Seribu pohon, seribu senyuman 9. Allah telah menganugerahkan kita lingkungan yang luar biasa, maka nikmat tuhan mu manakah yang telah engkau dustakan. 10. Jangankan kita, alam pun menangis bila tersakiti

Figure 1

CINTA VIA INTERNET
Vemale.Com. namanya juga cinta,datang dan perginya tak terduga bertemunya dimana tak bias di tebak,bias jadi di sekolah,di supermarket,di mall,di bioskop,di perjalanan,dirumah teman, atau bahkan bertemu via internet. Semuanya punya cerita, semuanya punya bahagia dan kesedihan tersendiri. Ada kisah cinta yang diisi dengan beragam kisah bahagia, ada pula yang malah berakhir dengan patah hati. Dan pernahkah Anda mendengar kisah-kisah mereka yang akhirnya menikah, hidup bahagia setelah dipertemukan via internet? Yah, memang tak seperti dugaan Anda. Dunia maya tak selamanya dianggap sebagai dunia yang penuh kebohongan. Apalagi seiring perkembangan jaman, kini internet menjadi sebuah media, sebuah fasilitas untuk berkomunikasi. Tak sedikit lho yang akhirnya menikah setelah bertemu kekasih di dunia maya. Pun demikian, seperti yang kami bilang tadi, tak semua kisah cinta berakhir bahagia. Beberapa cerita malah diwarnai dengan air mata, dan melalui cerita ini kami ingin mengingatkan Anda untuk selalu waspada menjalin cinta via internet.

vemale.com - Namanya juga cinta, datang dan perginya tak terduga. Bertemunya di mana tak bisa ditebak, bisa jadi di sekolah, di supermarket, di mall, di gedung bioskop, di perjalanan, di rumah teman, atau bahkan bertemu via internet. Semuanya punya cerita, semuanya punya bahagia dan kesedihan tersendiri. Ada kisah cinta yang diisi dengan beragam kisah bahagia, ada pula yang malah berakhir dengan patah hati. Dan pernahkah Anda mendengar kisah-kisah mereka yang akhirnya menikah, hidup bahagia setelah dipertemukan via internet? Yah, memang tak seperti dugaan Anda. Dunia maya tak selamanya dianggap sebagai dunia yang penuh kebohongan. Apalagi seiring perkembangan jaman, kini internet menjadi sebuah media, sebuah fasilitas untuk berkomunikasi. Tak sedikit lho yang akhirnya menikah setelah bertemu kekasih di dunia maya. Pun demikian, seperti yang kami bilang tadi, tak semua kisah cinta berakhir bahagia. Beberapa cerita malah diwarnai dengan air mata, dan melalui cerita ini kami ingin mengingatkan Anda untuk selalu waspada menjalin cinta via internet.

Apakah Seperti Ini Pecinta Alam Indonesia abad 21?
Oleh: Gispala

Seandainya pohon bisa memberontak dan bicara tentunya ia bakal menjerit ketika ditebang, seadainya satwa liar itu bisa bicara tentunya ia bakal menyelamatkan hidupnya, namun kita sebagai manusia punya mulut, hati, telinga, otak malah diam saja melihat, mendengar jeritanjeritan alam yang rusak ditangan kerakusan spesies manusia seperti kita ini. Apakah kita bangga dengan kekuasaan kita sendiri sementara kita telah melakukan bunuh diri secara perlahan bersama-sama oleh perbuatan kita sendiri. Sebelum kita membahas pecinta alam dan kegiatannya mari kita pahami betul apa epistemologi dari “Pencinta Alam”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Cinta mempunyai empat makna, yakni, [1] „suka sekali‟ ; „sayang benar‟ ; [2] „kasih sekali‟ ; terpikat‟ ; terpikat ; [3] „ingin sekali‟ ; berharap sekali ; „rindu‟ ; dan [4] „susah hati ; risau‟ (1993 -190). Yang artinya pencinta diberi makna „orang yang suka akan‟ (h191). Selain itu kata alam yang diserap dari bahasa Arab, di Indonesia berkembang sehingga mempunyai tujuh makna. Ketujuh makna itu ialah [1] „segala ada yang dilangit dan dibumi‟ ; [2] „lingkungan dan kehidupan‟ ; [3] „segala sesuatu yang termasuk dalam satu lingkungan dan dianggap satu lingkungan dan dianggap sebagai satu keutuhan‟ [4] „segala daya yang menyebabkan terjadinya dan seakan-akan mengatur segala sesuatu yang ada di dunia ini [5] „yang bukan buatan manusia‟ ; [6] „dunia‟ ; dan [7] „kerajaan ; daerah ; negeri „ (h.22). Kalau kedua kata tersebut digabung maka arti dari pencinta alam adalah „orang yang sangat suka akan alam‟. Namun tidak disaat ini, pencinta alam yang sebenarnya hanya pantas ditunjukan pada masyarakat asli hutan, organisasi non pemerintah yang peduli terhadap lingkungan dan alam,

individu yang peduli dengan lingkungan hidup lewat kemampuan yang dia bisa, seperti menanam pohon, membuang sampah tidak sembarangan, tidak memelihara satwa liar yang dilindungi UU, tidak menebang pohon ditaman nasional dan disekitar hutan lainnya, naik sepeda, menulis tentang lingkungan, membuat film tentang hutan dan kelestariannya, dan masih banyak lagi bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Makna „orang yang suka akan alam‟ berarti manusia yang peduli dengan alam dan menjaga kelestariannya. Dengan menjaga kelesatariannya berarti ia membela nasib hutan dan satwa liar yang sedang mengalami kepunahan bukan berpetualang menantang andrenallin naik gunung, memanjat tebing, atau membuka jalur untuk latihan atau dengan bangga bisa menaklukan alam. Sejarah memang harus dipelajari tentang pendirian pencinta alam yang motori almarhum Soe Hok Gie, Herman Lantang dan kawan-kawan. Di era 60-an memang terjadi pergolakan masa transisi kemerdekaan. Invansi politik praktis diluar kampus Universitas Indonesia lewat organisasi dan kesatuan aksi mahasiswa dari berbagai atribut dan ideologinya berusaha memasuki Universitas. Namun, Almarhum Soe dan rekan-rekannya tidak peduli dan menjadi kelompok yang tidak memihak dengan kemelut politik saat itu. Mereka lari ke gunung dan pergi ke tempat-tempat sepi terpencil. Kalau penulis menyimpulkan contemplasi ala raja-raja Jawa seperti pendeta-pendeta hinduisme. Mereka paham waktu itu posisi benar-benar terjepit. Kebersamaan dan pengalaman itulah lahir istilah pencinta alam, yaitu Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Prajnaparamita FSUI. Di Tahun 1971 nama Prajnaparamita dilepas diganti dengan Mapala UI. Alhasil bangsa yang euforia ini bermunculan organisasi pencinta alam baik dari kampus dan diluar kampus. Kegiatan mereka hanya berlarian ke gunung, ke goa, ke tebing hanya untuk menikmati alam. Jaman abad ini sudah berubah namun masih ada saja organisasi pencinta alam baik dari kampus dan masyarakat yang bergiat untuk naik gunung, ke goa, arung jeram, ke tebing atau pendidikan seperti gaya militer, menggampar seenaknya calon peserta dengan alasan biar berdisiplin seperti militer. Padahal pendidikan ala militer dewasa ini dengan kekerasan sudah mulai dikurangi. Pernah penulis mendengar cerita dari aktivis lingkungan dari negeri yang hutannya sudah hilang bahwa seandainya gunung itu dipenuhi sampah dan hutannya gundul, iklimnya panas, sungai dipenuhi limbah pabrik, tebing karst di bom dan batunya diambil untuk bahan lantai, meja, dan satwa liar yang eksotik punah seperti Harimau Jawa, Jalak Bali. Apakah organisasi pencinta alam baik itu dikampus maupun diluar kampus diam saja melihat itu semua. Memang hutan Indonesia belum parah meski terlihat parah atau sungai-sungai masih belum tercemar hingga bisnis olah raga arus deras pun menjamur atau gunung masih ada tempat menarik meski jauh paling atas, goa-goa masih banyak yang bagus, tebing-tebing masih menjulang tinggi toh mereka hanya santaisantai saja atau tidak perduli sama sekali lebih mementingkan event-event kejuaraan atau pelatihan-pelatihan yang tidak ada

hubungannya dengan makna dari pencinta alam. Sangat tragis benar. Apa ada yang salah dari Almarhum Soe Hok Gie dan kawan-kawan lamanya hingga penerusnya hanya mementingkan kepuasaan sesaat atau kode etik pencinta alam Se-Indonesia yang syahkan bersama dalam gladian ke-4 yang setiap kegiatan wajib dibacakan setiap kegiatan seperti maksud dari pesannya Pencinta Alam Indonesia adalah sebagai dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kami kepada Tuhan, Bangsa dan Tanah Air. Dengan kesadarannya mereka (Pencinta Alam) menyatakan pada poin 2 yang isinya memelihara alam beserta isinya menjadi ucapan atau janji tanpa makna (Lip Service). Namun hasilnya pun hutan tetap gundul, satwa liar makin lama makin punah, bencana lingkungan mulai bermunculan, bahkan pemanasan global yang dibicarakan setiap negara dan para aktifis lingkungan dari LSM dengan gencarnya mencari solusi. Sedangkan organisasi yang namanya Pencinta Alam belum menunjukan taringnya untuk peduli terhadap lingkungan. Bahkan hanya bisa dihitung oleh jari organisasi pencinta alam yang peduli terhadap lingkungan. Atau menurut saran respon dari pembaca tulisan Quo Vadis Pecinta Alam yang ditulis penulis mending diganti saja nama pencinta alam dengan nama jenis petualang. Biar tidak terjadi pembiasan makna dari kata Pencinta Alam. Alhasil, makin sepinya minat pemuda sekarang untuk masuk organisasi pencinta alam. Tradisi lama masih dipakai tidak ada formulasi-formulasi baru untuk merefleksikan kegiatankegiatannya. Atau organisasi pencinta alam dewasa ini telah bangga dengan “establishment” (kemapanan). Kebiasaan-kebiasaan lama yang harus ditinggalkan malah terus diulang-ulang saja seperti pendidikan dengan kekerasan atau perbedaan yang antara senior dan yunior, pendendaman akibat dari pendidikan yang keras, menebang pohon untuk simulasi SAR, atau pembukaan jalur. Meski kecil namun tetap saja kita memberikan pendidikan yang tidak baik terhadap masyarakat sekitar gunung atau hutan. Pernah penulis ditanya saat masuk organisasi mahasiswa pencinta alam waktu masih kuliah dulu oleh senior, apa tujuan anda masuk pencinta alam? Penulis menjawab ingin mengenal alam lebih dekat. Namun, ketika pendidikan tidak dikenalkan dengan alam malah disiksa di bentak meski tidak ada kekerasan fisik, membuka jalur hutan dengan parang seperti kesatria. Ironisnya, bencana-bencana alam tidak separah di jaman itu. Namun saat ini kita mendengar dan merasakan dampak dari penyakit lingkungan seperti pemanasan global, banjir, longsor, tsunami, belum lagi penyakit-penyakit aneh lainnya. Apa kita sebagai pencinta alam terus merenung naik gunung?Apa kita sebagai pencinta alam masih saja manjat memenuhi kepuasaan jiwa? Apa kita sebagai pencinta alam terus menelusuri goa?Apa kita sebagai pencinta alam terus pergi keriam berarung jeram melintasi sungai?Apa kita sebagai pencinta alam bangga dengan ucapan sebagai penikmat alam? Waktunya kita bergabung dan belajar dari organisasi-organisasi non pemerintah, masyarakat dengan kearifan tradisional sekitar hutan yang peduli terhadap lingkungan untuk melakukan sinergi bersama mencari solusi tentang kerusakan alam. Ini tugas semua pencinta alam Indonesia di abad 21 ini. Waktunya meninggalkan dunia petualang. Take Action Now. (DPR/GP)

Sumber: http://gispala.wordpress.com/2011/10/12/apakah-seperti-ini-pecinta-alam-indonesiaabad-21/

Courtesy Vemale.com/bsb
         

INTRO 1 2 3 4 5 6 7

Vemale.com - Boleh percaya, boleh tidak. Di Indonesia ternyata soal santet masih saja diakui ada oleh masyarakat. Khususnya masyarakat di pulau Jawa bagian timur, santet menjadi sesuatu yang masih misteri, tak dapat dirunut dengan akal, tetapi terjadi di kehidupan sehari-hari. Santet sendiri, seperti dikutip dari misteriprimbon dikatakan bekerja lewat bantuan jin jahat dengan mengirimkan serangan gaib kepada korban. Dibutuhkan orang yang punya kemampuan khusus untuk menangkal korban santet. Melalui pembacaan doadoa, santet bisa dikembalikan atau dihilangkan dari tubuh. Tetapi jangan khawatir, santet bisa dicegah sebelum ia terkena korbannya. Konon, ada tanaman-tanaman yang apabila diletakkan di rumah dapat membantu menangkal santet sehingga penghuninya tak sampai terserang santet. Sebelum melangkah pada daftar tanaman, penting diketahui bahwa posisi penempatan tanaman juga harus tepat. Apabila salah penempatan, maka efeknya bisa berkurang atau bahkan membawa efek buruk

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->