P. 1
trafo

trafo

|Views: 213|Likes:
Published by Ibnu Al-Cireboni
penting iki
penting iki

More info:

Published by: Ibnu Al-Cireboni on Sep 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2015

pdf

text

original

BAB 4 TRANSFORMATOR

4.1 Mesin Listrik
Mesin listrik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mesin listrik statis dan mesin listrik dinamis. Mesin listrik statis adalah transformator, alat untuk mentransfer energi listrik dari sisi primer ke sekunder dengan perubahan tegangan pada frekuensi yang sama. Mesin listrik dinamis terdiri atas motor listrik dan generator. Motor listrik merupakan alat untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik putaran. Generator merupakan alat untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Anatomi keseluruhan mesin listrik tampak pada Gambar 4.1 berikut.

Gambar 4.1 Peta jenis-jenis mesin listrik

4.2 Transformator
Berikut adalah ilustrasi pentingnya pemakaian transformator dalam sistem distribusi tenaga listrik. Daya listrik sebesar 5.500 kW disalurkan sejauh 100 km dengan tegangan 220 V, faktor kerja cos ϕ =1. Besarnya arus yang mengalir P 5.500.000 W sebesar I = = = 25.000 A. U cos ϕ 220 V (1)

99

Jika drop tegangan yang diijinkan sepanjang penghantar 10%, maka penampang 2 L I cos ϕ (2.100.000 m)(25.000 A)(1) penghantar yang digunakan q = = = 4.05 m2 (56)(22 V) x Uv Bisa dibayangkan penampang penghantar 4.05m2 sepanjang 100 km akan sangat merepotkan, harganya akan sangat mahal, tiang penyangga kabel akan sangat besar. Untuk itu jika tegangan listrik dinaikkan menjadi 220 kV, maka besarnya arus hanya 25 A saja dan penampang kabel penghantar cukup 4,05 mm2. Ilustrasi di atas pentingnya peranan transformator untuk menyalurkan tenaga listrik dalam sistem distribusi, dengan sistem tegangan tinggi, arus listrik yang dialirkan cukup kecil dan penampang penghantarnya kecil serta ekonomis.

4.3

Prinsip Kerja Transformator
Transformator Gambar 4.2 memiliki konstruksi sebuah inti dari tumpukan pelat tipis bahan ferro magnetis yang satu sisi dipasang belitan primer N1, dan satu sisi lainnya dipasangkan belitan sekunder N2. Belitan primer N1 dihubungkan ke sumber listrik AC dengan tegangan primer U1 dan arus primer I1. Pada inti trafo timbul garis gaya magnet yang diinduksikan ke belitan sekunder N2. Pada belitan sekunder N2 timbul tegangan sekunder U2 dan arus sekunder I2. Pada trafo ideal berlaku daya primer sama dengan daya sekunder. Energi listrik sekunder disalurkan ke beban listrik. Besarnya tegangan induksi berlaku persamaan sebagai berikut: U0 = 4,44 B. Afe. f. N U 0 = Tegangan induksi B = Fluks magnet Afe = Luas inti f = Frekuensi N = Jumlah belitan
Gambar 4.2 Prinsip kerja transformator satu phasa

Spesifikasi teknik sebuah transformator dicantumkan dalam nameplate, seperti Gambar 4.3 berikut ini: Daya trafo 20 KVA Tegangan primer 6.000 V Arus primer 3,44 A Frekuensi 50 Hz Tegangan sekunder 230 V Arus sekunder 87 A Impedansi trafo 5%
Gambar 4.3 Nameplate Trafo Satu Pasa

100

Gambar 4. Besarnya tegangan induksi: ∆t ∆Φ Uinduksi = N ∆t Mengingat pada trafo memiliki dua belitan.Berbagai bentuk inti transformator salah satunya disebut tipe Core. yaitu belitan primer N1 dan belitan sekunder N2.4 Transformator Ideal Transformator ideal adalah trafo yang rugi-ruginya nol. maka tegangan primer dan sekunder dapat diketahui: 101 . Dalam kondisi trafo tanpa beban. hubungan antara tegangan primer dan sekunder dengan jumlah belitan primer dan sekunder berlaku persamaan: N U1 = 1 N U2 2 Perbandingan tegangan disebut perbandingan transformasi dituliskan dengan simbol η.4 Trafo satu phasa jenis Core Transformator: a) memindahkan daya listrik dari satu sisi ke sisi lainnya b) tidak ada perubahan frekuensi c) bekerja berdasarkan induksi elektromagnetis d) dua rangkaian terjadi mutual induksi saling mempengaruhi 4. seperti Gambar 4. Transformator ideal tidak memiliki rugi-rugi sehingga daya primer sama dengan daya sekunder. U sisi − tegangan − tinggi = 1 U2 sisi − tegangan − rendah Perbandingan transformasi (η) juga berlaku pada perbandingan belitan primer η= dan sekunder η = N1 N2 Hubungan antara tegangan dan jumlah belitan.4. artinya daya pada belitan primer sama dengan daya pada belitan sekunder. Satu kaki dipasang belitan primer dan kaki lainnya dipasang belitan sekunder. secara teoritis mengikuti hukum ∆Φ induksi yang besarnya jumlah belitan N dan .

5c berbeda sudut phasa tegangan primer dengan sekunder sebesar 180°. siklus positif dengan sudut 0 sampai 180° dan siklus negatif dari 180° sampai 360°. Tegangan sekunder yang dihasilkan Gambar 4. tahanan belitan tembaga R dan induktansi belitan X dapat diturunkan dari tegangan dan arus. Arus magnetisasi Im Gambar 4. berlaku juga hubungan antara impedansi Z dengan jumlah belitan N sebagai berikut: N1 Z1 N2 Z1 = 12 atau = N2 Z2 Z2 N2 Kondisi Trafo Ideal jika ditinjau dari arus primer dan sekunder berlaku: S1 = S2 ⇒ U1 I1 = U2 I2 Dengan demikian perbandingan transformasi untuk arus berlaku η = Belitan kawat primer maupun belitan sekunder mengandung komponen resistansi R dan komponen induktansi XL yang keduanya membentuk impedansi Z. Induksi magnet yang terjadi pada inti trafo akan diinduksikan ke belitan sekunder.5a berbentuk sinusoida U dengan frekuensi 50 Hz (20 milidetik). dan berlaku persamaan: R X Z η2 = 1 η2 = 1 η2 = 1 R2 X2 Z2 Dengan menggunakan perbandingan transformasi tersebut.U1 = N1 ∆Φ ∆t U ∆Φ = 1 N1 ∆t dan dan U2 = N2 ∆Φ ∆t U ∆Φ = 2 N2 ∆t Mengingat ∆Φ . menghasilkan fluks magnet Φ pada inti trafo yang juga berbentuk sinusoida yang bentuknya sama dengan arus magnetisasi. sisi kiri sama dengan sisi kanan maka persamaan umum ∆t hubungan antara tegangan dan jumlah belitan pada trafo ideal adalah: U1 N U U1 = 2 atau = 1 U2 N2 N2 N1 Perbandingan transformasi antara arus dengan jumlah belitan transformator dapat diuraikan dengan persamaan: N I2 = 1 I1 N2 I2 I1 Perbandingan transformasi untuk impedansi Z.5b terlambat 90° dari tegangan primer. 102 . Persamaan impedansi untuk Trafo Ideal berlaku: N I U U Z1 Z1 = 1 Z2 = 2 = 1 2 N2 I1 I1 I2 Z2 Tegangan primer Gambar 4.

7 Belitan primer dan sekunder trafo satu phasa Gambar 4. Gambar 4. timbul arus tanpa beban I0. Belitan primer N1 yang dihubungkan dengan tegangan AC dialiri arus primer I1.8 Bentuk inti trafo tipe E-I. Im = I0 sin α Iv = I0 sin α Garis gaya magnet pada inti trafo tampak pada Gambar 4. arus magnetisasi dan tegangan output trafo Pada belitan primer ketika dihubungkan dengan sumber tegangan U.6 Vektor arus magnetisasi Gambar 4. L. Ketika belitan sekunder dipasang kan beban.Gambar 4.7. Gambar 4. timbul arus sekunder I2 yang menghasilkan fluks magnet yang berlawanan arah dengan fluks magnet arus primer. Arus primer menghasilkan fluks magnet yang mengalir sepanjang inti besi yang melingkupi juga belitan sekunder N2.6.5 Bentuk tegangan input. M dan tipe UI 103 . dan komponen arus rugi inti Iv. Arus primer I0 terbentuk dari komponen arus magnetisasi Im yang menghasilkan fluks magnet Φ.

setiap lapisan gulungan dipisahkan dengan kertas yang berfungsi sebagai isolasi. Belitan primer digulungkan terlebih dulu. dibawahnya belitan sekunder. Cara ketiga sama dengan cara kedua. Bentuk EI b. Cara pertama belitan primer dibelitkan di atas tumpang tindih dengan belitan sekunder.8. Bentuk inti lainnya adalah bentuk M.9. diantaranya: a.9 Inti trafo tipe EI satu phasa Belitan sekunder trafo jenis Shell diperlihatkan pada Gambar 4. Bentuk UI atau sering disebut jenis inti banyak dipakai untuk trafo dengan daya kecil peralatan elektronika. Gambar 4.10 Susunan belitan primer dan sekunder Jumlah belitan dan penampang kawat belitan primer dan sekunder berbeda ukuran. Belitan primer dan sekunder digulung pada inti bagian tengah. Bentuk UI Inti transformator EI atau tipe Shell Gambar 4. ditambahkan isolasi untuk memisahkan dua belitan.yang sebenarnya akan membentuk tipe yang sama dengan tipe Shell Gambar 4. 3. disesuaikan dengan tegangan dan besarnya arus yang mengalir di masing belitan primer dan sekunder. Bentuk L c.4. Bentuk M d. 104 .5 Inti Transformator Komponen transformator yang penting adalah inti trafo. 2. Inti trafo dibuat dari bahan ferromagnetis berupa plat-plat tipis yang ditumpuk menjadi satu sehingga membentuk inti dengan ketebalan tertentu. 1. Cara kedua belitan primer dibelitkan di atas. Ada beberapa jenis inti trafo.10 di bawah ini. Trafo jenis ini paling banyak dipakai untuk trafo daya kecil puluhan watt sampai daya besar orde kilowatt. (a) (b) Gambar 4.

11 disamping.13 memperlihatkan karakteristik tegangan sekunder dan peningkatan arus beban. Selanjutnya kedua gulungan inti diikat dengan pelat sehingga inti tidak terlepas. Gambar 4. Belitan primer dan sekunder digulung dalam satu kern. Dengan beban kapasitor C. Tegangan U2 menyatakan tegangan sekunder. Drop tegangan pada resistor sebesar UR = I R. Induktor XL. Besarnya tegangan terminal: U2 = U20 – UR – UL U2 = U20 – I R – I XL Beban trafo dapat berupa resistor R.12 terdiri atas R menyatakan resistansi belitan primer dan sekunder.13 Grafik tegangan sekunder fungsi arus beban 105 . Komponen Impedansi Z terdiri R dan XL dalam satuan Ohm. Gambar 4. Dengan beban induktor L ketika arus meningkat. drop tegangan di induktor sebesar UL = I XL.12 Rangkaian ekivalen trafo Gambar 4.11 Inti trafo jenis pelat gulung 4. induktor L atau kapasitor C. Gambar 4. Saat dibebani resistor R ketika arus meningkat beban terminal menurun. Tegangan U20 merupakan penjumlahan vektor tegangan U2. tegangan terminal sekunder menurun tajam.Bentuk inti trafo yang lainnya tampak seperti Gambar 4.6 Rangkaian Listrik Transformator Rangkaian pengganti trafo Gambar 4. Sedangkan inti merupakan pita berbentuk memanjang yang dibelitkan di dua sisi trafo sampai mengisi penuh belitan kawatnya. UR dan UL. menyatakan induktansi belitan primer dan sekunder. ketika arus meningkat tegangan terminal lebih besar.

Gambar 4. 4. Pengukuran rugi inti seperti Gambar 4. trafo dengan beban kapasitor. Tegangan U2 dan arus I berbeda sudut phasa sebesar ϕ. Gambar 4.15a. Rugi-rugi inti trafo = penunjukan wattmeter Sebuah trafo dalam pengukuran tanpa beban penunjukan voltmeter U1n 220 V. dimana arus I terbelakang (lagging) sebesar 90°.68 A. ktor diagram.15 Pengawatan uji trafo (a) Uji tanpa beban (b) Uji hubung singkat Dalam prakteknya beban trafo lebih bersifat resistip atau beban impedansi (gabungan resistor dan induktor). Maka dapat dilakukan analisis rugi-rugi trafo sebagai berikut. Rugi inti trafo disebabkan oleh proses magnetisasi dan histerisis. Bagian primer trafo dipasang wattmeter dan voltmeter.14 Vektor tegangan (a) beban induktip (b) beban kapasitip Gambar 4. menggambarkan tegangan dan arus trafo dengan beban induktor. Tegangan U2 lebih kecil dibandingkan tegangan U20. Tegangan sekunder U2 penjumlahan vektor tegangan induksi U20.4. yaitu rugi inti dan rugi tembaga. Antara tegangan U2 dan arus I berbeda phasa sebesar ϕ. 106 .14a. Untuk mengukur rugi inti dilakukan dengan pengujian trafo tanpa beban dan untuk mengukur rugi tembaga dilakukan dengan pengujian trafo hubung singkat. dimana arus I mendahului (leading) sebesar 90°.14b.8 Rugi-Rugi Transformator Ada dua jenis kerugian dalam transformator.7 Diagram Vektor Tegangan Vektor diagram Gambar 4. Tegangan sekunder U2 penjumlahan tegangan induksi U20. Bagian sekunder trafo tanpa beban. UR dan UL. penunjukan wattmeter 20 W dipasang ampermeter penunjukan arus 0. UR dan tegangan UL. a. Pengujian Trafo Tanpa Beban Pengujian trafo tanpa beban dimaksudkan untuk mengukur rugi-rugi pada inti trafo.

Pengukuran rugi-rugi tembaga dilakukan dengan cara seperti Gambar 4. Sedangkan tegangan U beda sudut phasa dengan arus I0 sebesar ϕ = 82° Gambar 4.68 A yang melalui tahanan tembaga RCU. b. Pengujian Trafo Hubung Singkat Pengujian Trafo hubung singkat dilakukan untuk mengukur besarnya kerugian tembaga pada trafo.1337 = 82° Transformator tanpa beban. yang mengalir hanya arus sisi primer I0 sebesar 0. Gambar 4. Arus I0 terukur oleh amperemeter dibagian primer sebenarnya merupakan komponen arus magnetisasi Im dan arus aktif IR. dinaikkan bertahap sampai ampermeter menunjukkan arus primer nominalnya I1n.6 VA Z= 220 V U = = 323. Gambar 4.68 A = 149.6 VA Gambar 4.18 Vektor tegangan dan arus pada uji tanpa beban 107 .15b.16.16 Rangkaian pengganti trafo tanpa beban ϕ = arc 0.68 A I P 20 W Cos ϕ = = = 0. Trafo bagian primer dihubungkan dengan sumber tegangan yang bisa diatur besarnya. Belitan sekundernya dihubung singkatkan. Vektor tegangan U tegak lurus dengan arus magnetisasi Im.17.17 Vektor tegangan dan arus pada uji tanpa beban Gambar 4.5 Ω 0. Tegangan diatur dari paling kecil. Besar tegangan primer Uk antara 5% sampai dengan 10% dari tegangan primer.S = U I = 220 V × 0. Arus tanpa beban I0 terdiri atas arus magnetisasi Im yang melalui induktansi XLdan arus aktif IR yang melewati tahanan inti besi RFE dengan sudut ϕ = 82°. dipasang ampermeter dan wattmeter.1337 S 149.

95 V Z= V 21 V = =7Ω I 3A RK = Z cos ϕ = 7 Ω · 0. penunjukan ampermeter 3 A pada tegangan 21 V. UR = U cos ϕ = 21 V · 0.95 UI 21 V ⋅ 3 A Tegangan UK sephasa dengan komponen impedansi Zk.20 Rangkaian pengganti trafo dengan komponen resistansi dan induktansi Kesimpulan dari kedua pengujian trafo.31 = 6.65 Ω UX = U sin ϕ = 21 V · 0. Besarnya rugi inti trafo: 20 W 2.20. komponen induktansi XK dari sebuah transformator diperlihatkan pada Gambar 4.51 V XK = Z sin ϕ = 7 Ω · 0. Cos ϕ = ϕ = 18° P 60 W = = 0. Gambar 4.95 = 19.95 = 6.Besarnya rugi-rugi tembaga = penunjukan wattmeter Pengujian hubung singkat trafo dihasilkan data pengukuran wattmeter 60 W.19.54% 220 V Saat dilakukan pengujian hubung singkat dapat ditentukan impendansi internal trafo Z dan kerugian tembaga pada belitan PCU. Parameter tegangan hubung singkat UK: 9.17 Ω Besarnya rugi-rugi tembaga = penunjukan wattmeter = 60 W Komponen tahanan tembaga RK. Maka dapat dilakukan analisis sebagai berikut: 21 V ⋅ 100% Uk = = 9. tegangan UR sephasa dengan komponen tahanan tembaga R dan tegangan UX sephasa dengan komponen induktansi XK Gambar 4.31 = 2.54% 108 .19 Rangkaian pengganti trafo sekunder dihubung singkat Gambar 4. yaitu uji trafo tanpa beban dan pengujian trafo hubung singkat dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Besarnya rugi tembaga: 60 W 3.

8 · 2 · IKD is ≥ 2.21 Grafik arus hubung singkat trafo grafik arus hubung singkat trafo 4. arus 1 A/9 A.4. Efisiensi trafo dapat dihitung dengan persamaan berikut ini: η = 175 W 175 W = 175 W + 10 W + 15 W 200 W = 0. Besarnya arus hubung singkat: IKD = In · 100% Uk IKD = arus hubung singkat In = arus nominal Uk = tegangan hubung singkat Gambar 4.2 efisiensi trafo mencapai sekitar 65%.10 Akibat Hubung Singkat Kejadian hubung singkat pada trafo bisa berakibat fatal. η= Pab Pab + PVFe + Pcu Trafo berdaya kecil 250 VA.22 yang sangat besar dan bisa merusak belitan tembaga baik sisi primer atau sisi belitan sekundernya.21. misalnya sekering atau pemutus daya Circuit Breaker.55 · IKD = 2. efisiensi trafo bisa mencapai 90%. IKD = 100% · In Uk 9A = 100% · = 180 A 5% is ≥ 1. Pada beban dengan faktor kerja cos ϕ = 1. Untuk menghindari akibat buruk hubung singkat trafo dipasangkan alat pengaman. cos ϕ = 0. Ketika terjadi hubung singkat akan terjadi arus hubung singkat Gambar 4. pada faktor kerja cos ϕ = 0. Penyebabnya bisa karena isolasi antara belitan primer dan sekunder cacat dan terkelupas. rugi inti 10 watt dan rugi tembaga 15 watt. Gambar 4. prosentase hubung singkat Uk = 5%. atau terjadi hubung singkat pada belitan sekundernya.55 × 180 A = 459 A 109 .875 Gambar 4.9 Efisiensi Transformator Efisiensi trafo dinyatakan dalam angka prosentase.7. hitung besarnya arus hubung singkat. misalnya belitan primer atau sekunder terbakar.22 Grafik efisiensi transformator Sebuah trafo 220 V/24 V.0.

24. karena berakibat tegangan 220 V yang membahayakan. karena belitan primer dan belitan sekunder menggunakan satu belitan. Besarnya tegangan sisi primer. Rumus untuk Autotransformator tetap berlaku persamaan: U1 N I = 1 ≈ 2 U2 N2 I1 Autotrafo jumlah belitan primer N1 300 belitan.4.11 Autotransformator Autotransformator termasuk trafo yang dibuat dengan rancangan berbeda. Autotrafo memiliki efisiensi yang baik sekali mendekati 98% dikarenakan rugi-rugi tembaga dan rugi inti trafo sangat kecil.24 Autotrafo dengan bentuk inti toroida 110 .23. sehingga tegangan sekunder berbanding dengan sudut putaran knop putarnya. Tegangan sekunder berubah-ubah dengan cara memutar knop yang dapat berputar. Sehingga ada belitan yang terhubung seri dan ada belitan yang terhubung secara paralel. Gambar 4. menentukan jumlah belitan sekundernya. Gambar 4. Dengan memutar knop pada sudut tertentu. Jika tegangan sekunder U2 sebesar 270 volt.23 Rangkaian listrik autotransformator Gambar 4. jumlah belitan sekunder N2 sebanyak 207 belitan. U1 N1 207 V ⋅ 300 V = 230 V U1 = N = 270 2 Konstruksi autotransformator yang umum kita temukan berbentuk bulat seperti Gambar 4. Tetapi yang harus diperhatikan pemasangan penghantar phasa dan netral tidak boleh terbalik. Tegangan primer konstan dihubungkan dengan jala-jala PLN.

Daerah kerja trafo berada saat arus antara 80 A sampai 130 A. garis gaya magnet mengecil dan arus sekunder lebih kecil.27. menunjukkan tegangan 70 V dan arus sekunder sampai 150 A. garis gaya magnet maksimal dan arus sekunder lebih besar.26 Rangkaian Trafo Welding 111 .4 sampai 0. dibuatlah inti bagian tengah terpisah dengan inti utama dan dapat diputar kanan atau kiri.4. sedangkan untuk pengelasan logam yang tebal dibutuhkan arus yang besar. Pada arus 40 A tegangan sekitar 55 A. Ketika elektro las menyentuh benda kerja logam. tegangan di elektrode 40 A. terjadi hubung singkat pada belitan sekunder. Ada tegangan UD 68 V didrop pada pada induktor. Grafik Gambar 4. Karakteristik tegangan dan arus trafo las Gambar 4. Untuk pengelasan logam tipis arus yang dipakai kecil. seperti tegangan kecil tetapi arusnya sangat besar dan arus bisa diatur sesuai kebutuhan.25 Prinsip Transformator khusus untuk Welding Gambar 4.27 menjelaskan beda tegangan pada elektrode las sebanding dengan arus yang dipakai. tegangan sekunder U0 = 70 V. sebelum elektro las disentuhkan ke benda kerja.26. Untuk itu.25 diperlukan karakteristik khusus.12 Transformator Khusus Untuk kebutuhan khusus seperti trafo untuk pengelasan logam Gambar 4. Cara kerja trafo pengelasan Gambar 4.5. Saat arus 80 A. Saat elektrode las menyentuh benda kerja logam. Gambar 4. Pada saat inti yang diputar segaris dengan inti utama. Ketika inti yang diputar bergeser dari garis lurus. terjadi hubung singkat tegangan di ujung elektrode 2 V dan arus lewat elektroda 150 A. sebagai akibatnya faktor kerja trafo las rendah antara 0. tegangan di sekunder trafo tetap 70 V dan tegangan di ujung elektroda hanya 2 V. Trafo Welding (mesin las) dirancang khusus mampu menahan arus hubung singkat yang besar secara terus menerus.

terminal 2. terminal 2.2 dihubungkan dengan bumi sebagai pengaman bahaya tegangan sentuh jika terjadi gangguan pada trafo tegangan. 6.2 dihubungkan dengan Voltmeter dengan batas ukur 100 V. tetapi untuk mengoperasikan berbagai peralatan kontrol relai tegangan.1 dan 2.27 Grafik tegangan fungsi arus. Gambar 4. disamping untuk keamanan manusia.13 Transformator Pengukuran Untuk pengukuran tegangan dan arus yang besar diperlukan trafo pengukuran. pada Trafo Welding 4. 5. relai bimetal. ampermeter. Terminal 2. 3.2 dipasang pengaman dua sekering yang terhubung dengan jalajala L1 dan L2.1 dipasangkan sebuah sekering pengaman.14 Trafo Pengukuran Tegangan Panel distribusi dengan tegangan menengah 20 KV atau panel tegangan tinggi 150 KV menggunakan trafo pengukuran tegangan (Potential Transformer = PT ).28 untuk menurunkan arus menjadi 1 A atau 5 A. Bagian primer trafo tegangan terminal 1. Untuk arus beban yang lebih besar 50 A dipakai trafo arus (Current Transformer = CT ) Gambar 4.29. relai arus. Data teknis trafo pengukuran tegangan tertera dalam name plate Gambar 4. 4. Tujuannya untuk menyesuaikan besaran pengukuran dengan kemampuan alat ukur.Gambar 4. 8.28 Bentuk fisik Trafo Arus (CT) sambungan belitan input belitan input peredam panas inti besi belitan output name plate terminal belitan input sekrup ground Untuk pengukuran tegangan 20 KV sistem tiga phasa. untuk menurunkan tegangan 150 KV atau 20 KV menjadi 100 V.1 dan 1. kWhmeter saja.30 yang menjelaskan spesifikasi teknis mencakup: 112 . Pemakaian trafo pengukuran tidak hanya untuk voltmeter. Bagian sekunder trafo tegangan. 2. 4. 7. dan sebagainya. 1. digunakan trafo tegangan PT dengan ratio 20KV/100 V Gambar 4.

35. Ampermeter yang digunakan memiliki batas ukur 1 A atau 5 A dengan skala pengukuran sesuai kebutuhan.5/3/6 kV Ratio arus: 300 A/5 A Arus thermal: 6 kA Daya trafo: 30–60 VA Presisi pengukuran: 0. Spesifikasi teknis trafo CT dapat dibaca pada nameplate yang menempel di bagian badan trafo CT Gambar 4. dan terminal L menghadap sisi beban. Terminal K harus dihubungkan dengan bumi untuk mengamankan dari tegangan sentuh yang berbahaya jika ada gangguan kerusakan CT.000 V 100 V 12. Jika terjadi kerusakan pada alat ukur atau alat kontrol yang dihubungkan dengan trafo pengukuran arus CT.Tegangan primer Tegangan sekunder Tegangan kerja Daya trafo Presisi pengukuran Frekuensi 10.31 dengan terminal K menghadap sisi suplai daya.33. Trafo CT dipasang pada jala-jala seperti Gambar 4.2 – 0. 28.0 % Frekuensi: 50 Hz Gambar 4. Yang perlu diperhatikan ratio arus primer dan arus sekunder trafo CT (CT ratio 300 A/5 A). maka sisi sekunder trafo arus harus dihubung singkatkan.30 Name plate Trafo tegangan 4.5% 50 Hz Gambar 4.31 Pengukuran dengan Trafo Arus 113 . Jika tidak akan berbahaya karena akan menimbulkan tegangan induksi yang sangat tinggi dan berbahaya. 75 KV 100 – 150 VA 0. Informasi yang terkandung mencakup data-data sebagai berikut: Tegangan nominal: 0.29 Pengukuran dengan trafo tegangan (PT) Gambar 4.5–1.15 Trafo Pengukuran Arus Untuk pengukuran arus beban yang besar digunakan trafo pengukuran arus (Current Transformer = CT).

Untuk trafo 3 phasa berukuran berdaya besar. periksa batas ukurnya dan penunjukan amper terbaca secara digital. 114 .16 Transformator Tiga Phasa Transformator 3 phasa digunakan untuk sistem listrik berdaya besar.36.Gambar 4. Pendinginan rumah trafo disempurnakan dengan dipasang sirip pendingin agar panas mudah diserap oleh udara luar. Terminal tegangan tinggi (primer) tampak dari isolator yang panjang. Trafo 3 phasa bisa dibangun dari dua buah trafo satu phasa. maka trafo yg rusak tersebut dapat diganti dengan cepat dan praktis. S. Gambar 4.33 Keterangan nameplate Trafo Arus Trafo arus dalam bentuk portabel untuk kebutuhan pemeriksaan atau pemeliharaan dipakai jenis tang amper dengan sistem digital Gambar 4.34. Terminal tegangan rendah (sekunder) dengan terminal lebih pendek. Bagian terpenting dari trafo 3 phasa.meter dengan menghubungkan kabel clip-on tegangan ke phasa R. Tang amper juga dapat mengukur daya listrik KW. Transformator 3 phasa yang umum kita lihat pada gardu distribusi daya 250 KVA sampai 630 KVA berbentuk persegi Gambar 4. Trafo ditempatkan dalam rumah trafo yang diisi dengan minyak trafo yang berfungsi sebagai pendingin sekaligus isolasi. Arus beban yang tidak seimbang berpotensi merusak alat listrik. tekan tang amper masukkan ke salah satu kabel phasa yang akan diukur. T dan N. Tang amper sangat bermanfaat untuk mengukur arus beban tiaptiap phasa untuk mengetahui keseimbangan arus. Inti trafo berbentuk E-I dengan belitan primer dan sekunder pada ketiga kaki inti trafo. Cara penggunaannya sangat praktis. Secara berkala minyak trafo diganti.32 Nameplate Trafo Arus Gambar 4. baik pada sistem pembangkitan. Dengan metode tertentu tang amper bisa digunakan untuk melacak jika terjadi pencurian listrik yang disengaja.35. transmisi maupun distribusi. dibangun dari tiga buah trafo satu phasa. tujuannya jika ada salah satu phasa yang rusak/ terbakar. atau tiga buah trafo satu phasa.34 Aplikasi trafo arus sebagai meter potable 4. Konstruksi transformator 3 phasa untuk daya besar dalam bentuk potongan lihat Gambar 4.

35 Bentuk fisik Transformator tiga phasa Gambar 4. Belitan primer atau sekunder dapat dihubungkan secara Bintang atau hubungan Segitiga.37. 115 . Tiga belitan primer dan tiga belitan sekunder. Tipe U terdiri atas tiga inti U dipasang sudut menyudut 120° Gambar 4. Tipe menyudut ini dipakai untuk trafo 3 phasa yang dipasang pada tabung bulat untuk trafo outdoor yang dipasang pada tiang jaringan distribusi. sedang sampai daya besar. bisa menjadi trafo tiga phasa.36 Belitan primer dan sekunder trafo tiga phasa Trafo 3 phasa memiliki enam belitan Gambar 4.37b. Tipe E-I yang banyak dipakai. 4. Tipe U-I terdiri dari tiga inti yang dipasangkan sudut menyudut 120° Gambar 4. Tipe jenis ini banyak dipakai untuk daya kecil. artinya belitan sekunder phasa U.17 Inti Transformator Tiga Phasa Bahan inti trafo 3 phasa dari bahan plat tipis ferromagnetis yang ditumpuk dengan ketebalan tertentu.36. misalnya 2U2 – 2U1. Belitan sekunder diberikan notasi nomor awal 2. belitan 1U1 – 1U2 artinya belitan primer phasa U.37c. tiap kaki terdapat belitan primer dan sekunder masing-masing phasa Gambar 4.Gambar 4. Bahkan tiga buah trafo satu phasa yang digabungkan. Ada beberapa tipe inti trafo 3 phasa tampak pada Gambar 4. Plat tipis dimaksudkan untuk menekan rugi-rugi histerisis dan arus edy pada batas minimal.37a. Belitan primer diberikan nomor awal 1.

menunjukkan belitan primer dalam hubungan Delta (segitiga).Gambar 4. yaitu L1.39. huruf d kedua belitan sekunder hubungan Delta (segitiga). kedua hubungan Segitiga. menunjukkan huruf D pertama belitan primer dalam hubungan Delta (segitiga). angka 0 menunjukkan beda phasa tegangan primer-sekunder 0°. L2 dan L3. Belitan trafo Dd0 Gambar 4. Belitan primer terminal 1U. 116 . Belitan sekunder terminal 2U. Satu putaran jam dibagi dalam 12 bagian.38.18 Hubungan Belitan Transformator Ada dua metoda hubungan belitan primer dan belitan sekunder. Hubungan belitan Segitiga baik pada belitan primer maupun belitan sekunder Gambar 4. belitan sekunder Y (bintang).39 Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Segitiga 4. maka setiap jam berbeda phasa 30° (360°/12).40a. yang diperoleh ketiganya merupakan tegangan line ke line.19 Hubungan Jam Belitan Trafo Transformator 3 phasa antara tegangan primer dan tegangan sekunder perbedaan phasa dapat diatur dengan metoda aturan hubungan jam belitan trafo. baik belitan primer dan sekunder dihubungkan secara Bintang. Hubungan segitiga primer-sekunder Hubungan bintang primer-sekunder Gambar 4.37 Belitan primer dan sekunder trafo tiga phasa 4. Belitan trafo Dy5 Gambar 4. beda phasa antara tegangan primer-sekunder 5 × 30° = 150°. 1V dan 1W dihubungkan dengan supply tegangan 3 phasa.40b. Pada Gambar 4. jika satu siklus sinusoida 360°. Pertama hubungan Bintang.38 Trafo tiga phasa belitan primer dan sekunder hubungan Bintang Gambar 4. 2V dan 2W disambungkan dengan sisi beban. Pada hubungan Bintang tidak ada titik netral.

belitan sekunder Y (bintang). daya maksimumnya = 0.42.40 Vektor kelompok Jam pada Trafo 3 phasa Belitan trafo Dy-11 Gambar 4.577 × kapasitas trafo 3 phasa. beda phasa antara tegangan primer-sekunder 11 × 30° = 330°. 4. Cadangan minyak trafo ditempatkan dalam tangki terpisah yang letaknya lebih tinggi dari rumah trafo. Relai tabung mercury kedua mendeteksi jumlah gas dalam ruang.Gambar 4. terdiri dari dua trafo. maka relai akan memutuskan circuit breaker dan tegangan listrik putus. Relai tabung mercury pertama mengamankan jika level minyak trafo berkurang.41 Relai Buchholz 4. menunjukkan belitan primer dalam hubungan Delta (segitiga). Contoh dua buah trafo 10 KVA dalam konfigurasi segitiga terbuka. Hubungan segitiga terbuka Gambar 4.577 × 3 × 10 KVA = 17.40c. Dalam hubungan segitiga terbuka kapasitas maksimum beban besarnya = 0. Antara tangki cadangan minyak trafo dan rumah trafo ditempatkan relai Buchholz berupa dua tabung mercuri yang fungsinya berbeda Gambar 4. 117 .20 Minyak Trafo dan Relai Buchholz Untuk mendinginkan trafo dipakai minyak trafo yang berfungsi sebagai isolasi.21 Konfigurasi Transformator Tiga phasa Di samping hubungan bintang dan segitiga dikenal juga hubungan segitiga terbuka (open delta-VV conection) dan hubungan Zig-zag. Tegangan primer 20 KV dan tegangan sekunder 400 V. Gambar 4. jika trafo mengalami pemanasan yang berlebihan. relai tabung mercury akan memutuskan circuit breaker dan tegangan primer trafo aman.32 KVA saja.41.

ada yang lebih besar atau lebih kecil.44.43 Trafo tiga phasa dengan belitan primer hubungan Segitiga. harus diperhatikan rasio belitan N1/N2 dari ketiga trafo harus sama.22 Transformator dalam Jaringan Asimetris Jaringan distribusi untuk melayani pelanggan rumah tangga atau komersial dicatu dari PLN dengan tegangan 20 KV dan diturunkan menjadi 400 V/230 V dengan transformator 3 phasa jenis pasangan luar Gambar 4. belitan sekunder hubungan Bintang 4. arus yang mengalir sebesar I2. Kondisi beban asimetris diatasi dengan penggunaan trafo dalam hubungan Yyn6. Artinya beban antarphasa tidak sama. blok lainnya phasa T dan N.43 untuk transformator transmisi tegangan tinggi.42 Trafo 3 phasa hubungan Segitiga terbuka (hubungan VV) Gambar 4. Dalam satu blok rumah menggunakan phasa R dan N. Jala-jala tegangan tinggi 380 KV diturunkan tegangan menjadi 220 KV. Perhatikan beban sekunder terpasang pada L3 dan N. Hubungan Yyn6 pada Gambar 4. Dyn5 atau Yzn5. Dalam jaringan distribusi yang melayani kelompok rumah tangga sering terjadi kondisi beban tidak seimbang. 118 .Berikut ini konfigurasi hubungan bintang dan segitiga Gambar 4. Gambar 4. belitan primer 20 KV dan sekunder 400 V dalam hubungan segitiga dengan netral. Agar tegangan benar-benar simetris dari ketiga phasa. Problem muncul karena beban masing-masing phasa tidak seimbang. Satu trafo distribusi dengan daya 400 KVA bisa melayani antara 200 sd 300 rumah tinggal dengan beban antara 2 KVA sampai 1. Rumah tinggal menggunakan suply satu phasa yang diambil dari salah satu dari tiga phasa yang ada.3 KVA tiap rumah. blok lainnya phasa S dan N. Beda phasa tegangan primer dan sekunder 180°.45a.

Hubungan Dyn5 pada Gambar 4. belitan sekunder 400 V dalam hubungan bintang. belitan sekunder memiliki enam belitan.44 Pemasangan trafo outdoor Gambar 4. Belitan primer dikelompokkan dalam hubungan bintang dan segitiga. yaitu belitan primer memiliki tiga belitan.23 Pengelompokan Hubungan Transformator Hubungan belitan transformator 3 phasa sesuai dengan Tabel 4. 2 belitan primer 20 KV dalam hubungan segitiga. beda phasa tegangan primer dan sekunder 150°. segitiga dan zig-zag. Pada belitan primer mengalir I1 dari L1 dan L2. Saat beban sekunder L1 dan N mengalir I2. Saat beban terhubung dgn phasa U dan N arus sekunder I2 mengalir melalui belitan phasa phasa U dan phasa S. sedangkan belitan sekunder ada hubungan bintang. Transformator dengan hubungan Zig-zag memiliki ciri khusus. phasa R dan N.Pada sisi primer kita anggap phasa T mendapat beban sebesar I1.46 menunjukkan belitan primer 20 KV terhubung dalam bintang L1. Gambar 4.1 terbagi dalam kelompok jam 0 (beda phasa 0°) dan kelompok jam 5 (beda phasa 150°). tetapi menggeser dengan sudut 60°.45 Trafo daya (Yyn6 dan Dyn5) dengan beban asimetris Gambar 4.46 Trafo daya Yyn5 dan bentuk vektor tegangan sekundernya 4. L2 dan L3 tanpa netral N. Hubungan Yzn5 Gambar 4. sedang phasa 1 R dan S mendapat beban sebesar I1. Bentuk vektor tegangan Zig-zag garis tegangan bukan garis lurus. Belitan sekunder 400 V merupakan hubungan Zig-zag dimana hubungan dari enam belitan sekunder saling menyilang satu dengan lainnya.45b. 119 .

Klas isolasi A kemampuan hubung singkat 1.48 Pengaturan tapping terminal trafo distribusi Tabel 4.1 trafo-1 120 . Tujuannya untuk mendapatkan kapasitas daya yang tersedia lebih besar sesuai kebutuhan beban.Nameplate transformator 3 phasa pada Gambar 4. yaitu pada tegangan 20.200 V.62 A dan arus sekunder 231 A. Arus primer 4. Tapping trafo pada Gambar 4. dengan tiga tahapan tapping. Belitan primer dilakukan agar ratio N1/N2 tetap konstan.47 Name plate trafo daya tiga phasa Gambar 4. Prosedur paralel trafo satu phasa dengan menyambungkan dua trafo Gambar 4. Ada tiga tapping sesuai nameplate. Rugi tegangan pada tegangan menengah 20 KV pasti terjadi karena pengaruh panjang kabel dan pengaruh beban. tegangan primer 20 KV.24 Paralel Dua Transformator Paralel dua transformator dilakukan dengan cara menyambungkan secara paralel dua transformator. tegangan sekunder 400 V.1 Grup Rangkaian Umum untuk Arus Putar-Transformator Daya 4. Gambar 4. frekuensi 50 Hz.8 detik.000 V dan tegangan 19.47 menjelaskan daya trafo 160 KVA. tegangan 20. Hubungan belitan trafo Yzn5. Terminal 2.49 .800 V.48. sehingga rugi tegangan tidak berpengaruh pada tegangan sekunder. Impedansi trafo 4%.

50.dihubungkan voltmeter ke terminal 2. dapat disambungkan terminal seperti Gambar 4. Transformator : a) memindahkan daya listrik dari satu sisi ke sisi lainnya. jika penunjukan adalah 0 volt. Gambar 4. Impedansi kedua usahakan sama. Ratio daya trafo besar dan kecil tidak melebihi 3 : 1. yaitu mesin listrik statis dan mesin listrik dinamis. Mesin listrik statis adalah transformator. Ratio belitan N1/N2 kedua trafo sama.2 dan terminal 2. Jika salah dalam hubungan voltmeter maka penunjukan akan dua kali lipat tegangan terminalnya = 800 V. Tegangan kedua trafo harus sama. Paralel dua trafo 3 phasa Gambar 4. 2. Ratio belitan N1/N2 kedua trafo identik sama termasuk setting tapping kedua trafo juga harus sama. 4.50 Paralel Dua Trafo Tiga phasa Sebelum dilakukan penyambungan paralel dilakukan pengecekan dengan voltmeter.2 ke-2L2. trafo dengan kapasitas daya lebih kecil impedansinya harus lebih besar.1 trafo-2. Lepaskan voltmeter dan sambungan terminal 2.49 Paralel Dua Trafo satu phasa Syarat teknis paralel dua transformator.25 Rangkuman • • Mesin listrik dapat dibagi menjadi dua bagian. Terminal 2. Gambar 4. 3. mesin listrik dinamis terdiri atas motor listrik dan generator. 2.50 harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut: 1.1 sambung kan ke-2L1. Jika penunjukan voltmeter 230 V berarti dicapai beda tegangan nominal. 1.2 trafo-2. Kemudian trafo-2 terminal 2.1 trafo-2.2 trafo-1 disambungkan ke terminak 2. terminal 2. b) tidak ada perubahan frekuensi 121 .

bentuk M. Ada dua jenis kerugian dalam transformator. tegangan sekunder.• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • c) bekerja berdasarkan induksi elektromagnetis d) dua rangkaian terjadi mutual induksi saling mempengaruhi Transformator ideal adalah trafo yang rugi-ruginya nol. arus primer. arus sekunder. artinya daya pada belitan primer sama dengan daya dibelitan sekunder. bentuk UI. Ada dua metoda hubungan belitan primer dan belitan sekunder. menunjukkan belitan primer dalam hubungan Delta (segitiga). Trafo pengukuran ada dua jenis. frekuensi dan impendansi trafo.sekunder 5 × 30° = 150°. Efisiensi trafo dinyatakan dalam angka prosentase. Ada beberapa jenis inti trafo. karena belitan primer dan belitan sekunder menggunakan satu belitan. Trafo pengukuran tegangan (Potensial Transformer) menurunkan dari tegangan menengah atau tegangan tinggi menjadi tegangan pengukuran. contoh: Hubungan Dy5. Transformator 3 phasa digunakan untuk sistem listrik berdaya besar. Autotransformator termasuk trafo yang dibuat dengan rancangan berbeda. yaitu rugi inti dan rugi tembaga. Di samping hubungan bintang dan segitiga dikenal juga hubungan segitiga terbuka (open delta-VV conection) dan hubungan Zig-zag. Untuk mengukur rugi inti dilakukan dengan pengujian trafo tanpa beban dan untuk mengukur rugi tembaga dilakukan dengan pengujian trafo hubung singkat. Perbandingan transformasi ( η ) juga berlaku pada perbandingan belitan primer dan sekunder. Trafo 3 phasa memiliki enam belitan. bentuk L. tegangan primer. diantaranya. Hubungan transformator 3 phasa antara tegangan primer dan tegangan sekunder perbedaan phasa dapat diatur dengan metoda aturan hubungan jam belitan trafo. transmisi maupun distribusi. Tiga belitan primer dan tiga belitan sekunder. 122 . mencakup data pabrik pembuat. daya trafo. Perbandingan tegangan primer dan sekunder disebut perbandingan transformasi. misalnya 20 KV/100 V. belitan sekunder Y (bintang). beda phasa antara tegangan primer. Trafo pengukuran arus (Current Transformer) menurunkan dari arus yang besar menjadi arus pengukuran. baik pada sistem pembangkitan. yaitu hubungan Delta (segitiga). Belitan trafo 3 phasa Dy5. belitan sekunder Y (bintang). Spesifikasi teknik sebuah transformator dicantumkan dalam nameplate. misalnya 400A/5A. bentuk EI. Inti trafo dibuat dari bahan ferro magnetis berupa plat-plat tipis yang ditumpuk menjadi satu sehingga membentuk inti dengan ketebalan tertentu. merupakan perbandingan antara daya output dengan daya input trafo. Tegangan sekunder yang dihasilkan berbeda sudut phasa tegangan primer dengan sekunder sebesar 180°. yaitu trafo pengukuran tegangan (Potensial Transformer) dan trafo pengukuran arus (Current Transformer). Untuk mendinginkan trafo dipakai minyak trafo yang berfungsi sebagai isolasi antara belitan primer dan sekunder.

Trafo distribusi untuk supply daerah perumahan dipakai hubungan Yzn5. 12. Trafo distribusi dilengkapi dengan alat relai Buchholz. Hitung efisiensi trafo. tegangan 20. 10.000 V dan tegangan 19. impedansi trafo sama. b) trafo hubung singkat. 5. yaitu pada tegangan 20. Dua buah trafo distribusi 3 phasa akan dihubungkan paralel. Dua buah trafo 20 KVA tegangan 20 KV/400 V dihubungkan segitiga terbuka terhubung dengan sistem 3 phasa. 4. 123 . Gambarkan hubungan belitan primer dan sekunder. Trafo 200 Watt. memiliki tegangan primer 220 V dan tegangan sekunder 20 V. 8. daya trafo mendekati sama. Daya listrik 4 MW disalurkan sejauh 100 Km dengan tegangan 150 KV faktor kerja cos ϕ = 1. 13. 2. arus magnetisasi dan tegangan sekunder transformator. Gambarkan pengawatan dan hubungan alat ukur. Jelaskan cara kerja tapping dan mengapa tapping dilakukan pada trafo distribusi. Gambarkan bentuk gelombang sinusoida dari tegangan primer trafo. 11. 3.• Paralel dua transformator dilakukan dengan cara menyambungkan secara paralel dua transformator. Hitunglah: a) jumlah belitan sekunder. faktor kerja cos ϕ = 1. Hitung: a) besarnya arus yang mengalir. b) Hitung penampang kawat jika drop tegangan 10%. 6.7.800 V. Ada tiga tapping sesuai nameplate. b) besarnya arus primer dan arus sekunder. a) Hitunglah besarnya arus yang lewat penghantar. 7. Transformator 3 phasa memiliki data nameplate belitan trafo Dy5. Gambarkan hubungan kedua trafo tersebut dan berapa daya yang dihasilkan dari gabungan dua trafo tersebut. b) jika drop tegangan yang dijinkan 10%. serta jelaskan urutan proses pengujian: a) trafo tanpa beban. Syarat paralel: tegangan harus sama. Hitunglah penampang kawat penghantar yang dipakai. Gambarkan rangkaian pengganti trafo. rugi inti 50 Watt dan rugi tembaga 75 watt. dan jelaskan ketika terjadi beban tidak seimbang pada salah satu phasanya. 4. gambarkan skematik alat tersebut dan cara kerjanya alat tersebut. Jelaskan makna dari kode tersebut. 9. Daya listrik 4 MW disalurkan sejauh 100 Km dengan tegangan 220 V.26 Soal-Soal 1. cos ϕ = 0. Trafo berdaya kecil 450 VA.200 V. sebutkan syarat agar kedua trafo dapat diparalelkan dan jelaskan prosedur paralel dengan menggunakan gambar pengawatan kedua trafo tersebut. yang terdiri atas komponen resistansi R dan induktansi XL serta beban. Jika jumlah belitan primer 1000 lilitan.

124 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->