DEMAM TYPHOID Wendy Yolanda Rosa

PENDAHULUAN Demam tifoid adalah penyakit sistemik yang akut yang mempunyai karakteritik demam, sakit kepala dan ketidakenakan abdomen berlangsung lebih kurang 3 minggu yang juga disertai gejala-gejala perut pembesaran limpa dan erupsi kulit. Demam typhoid adalah penyakit infeksi bakteri, yang disebabkan oleh Salmonella typhi.1 Gejala awal demam typhoid berlangsung antara 10 – 14 hari. Pada minggu I pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu menigkat . sifat demam meningkat perlahan – lahan pada sore hari dan malam hari. Dalam minggu II gejala jelas berupa demam, bradikardi, lidah kotor, hepatomegali, splenomegali, serta gangguan mental berupa somnolen, stupor dan delirium.1 Untuk mendiagnosis demam tifoid perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada 3 metode untuk mendiagnosis penyakit demam tifoid, yaitu :2,3 a. Diagnosis klinik b. Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman Metode diagnosis mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90% penderita yang tidak diobati, kultur darahnya positip dalam minggu pertama. c.Diagnosis serologik Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella typhi terdapat dalam serum penderita demam tifoid, pada orang yang pernah tertular Salmonella typhi dan pada orang yang pernah mendapatkan vaksin demam tifoid. Interpretasi hasil uji Widal adalah sebagai berikut a. Titer O yang tinggi ( > 160) menunjukkan adanya infeksi akut b. Titer H yang tinggi ( > 160) menunjukkan telah mendapat imunisasi atau pernah menderita infeksi c. Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier. Indikasi pasien tifoid dipulangkan jika telah memenuhi syarat berikut : 1. Pasien setelah 2 hari bebas demam dapat mobilisasi
1

setiap mencret + 100 cc dan BAK bewarna seperti the. keringat dingin (-). Pasien setelah 2 hari tidak demam tanpa obat dapat dipulangkan ILUSTRASI KASUS Identitas pasien Nama Umur : Tn. muntah (-). mual (+). pasien dibawa berobat Ke RSUD AA 2 . muncul perlahan lahan tidak mendadak. persendian terasa pegal (-). S : 35 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Alamat Masuk RS Tgl Periksa : Palalawan : 12 juni 2013 : 13 juni 2013 Anamnesis ( Autoanamnesis ) Keluhan utama Demam terus menerus sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) Riwayat Penyakit Sekarang  + 7 hari SMRS pasien mengeluhkan demam terus menerus dan tak kunjung sembuh. demam disertai menggigil. Pasien setelah 2 hari mobilisasi dapat distop obat 3.   3 hari SMRS pasien berobat dan pasien merasakan demam sedikit turun dan beberapa saat kemudian demam naik lagi. demam (+) . Pasien mengeluhkan BAB mencret >5 kali perhari. 1 hari SMRS pasien berobat dengan keluhan badan terasa lemas. mencret berkurang.2. nafsu makan berkurang . bintik kemerahan pada tubuh (-). demam dirasakan meningkat pada sore dan malam hari. sakit kepala (+).

gusi tidak ada Perdarahan . tremor (+) .Riwayat penyakit dahulu  Pasien tidak pernah mengeluhkan hal yang sama sebelumnya. PEMERIKSAAN UMUM    Keadaan umum Kesadaran Tanda – tanda vital : Tampk Sakit Sedang : komposmentis : tekanan darah :120 / 80 mmHg Nadi Suhu Nafas : 78 x/i : 37. sianosis (-). kebiasaan dan sosial ekonomi   Pasien bekerja sebagai petani Pasien mengaku memiliki kebiasaan membeli makanan diluar.8 °C : 18 x/i Pemeriksaan Khusus  Kepala dan leher Kulit dan wajah Mata : wajah tidak pucat : konjungtiva anemis (-/-) Sklera ikterik (-/-) Pupil isokor. bibir tidak kering. reflek cahaya (+/+). Riwayat penyakit keluarga  Tidak ada keluarga menderita sakit yang sama Riwayat pekerjaan. hiperemis (-). faring tidak hiperemis 3 . mata cekung (-) Mulut : lidah kotor (+).

shifting dullness (-) : perut datar. lien tidak Auskultasi : bising usus (+). gerak nafas simetris. hepar tidak teraba. Thorak Paru Inspeksi : Pengembangan dinding dada simetris kiri = kanan. Tidak ada bagian yang tertinggal Palpasi Perkusi : vokal fremitus kanan = kiri : sonor pada kedua lapangan paru Auskultasi : Vesikuler kedua lapagan paru  Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak terlihat : Ictus cordis tidak teraba : batas jantung dalam batas normal Auskultasi : bunyi jantung I – II murni regular. gallop (-). nyeri tekan (+) kuadran kanan. murmur (-)  Abdomen Inspeksi Palpasi teraba. distensi abdomen (-) : supel. normal  Ekstremitas Akral hangat CRT < 2 detik Peteckhie (-) Diagnosis Klisnis Demam Tifoid 4 . Perkusi : timpani.

000/ mm3 Leukosit Hemoglobin Hematokrit Trombosit  Urinalisis Makro Warna : kuning jernih Mikro Eritrosit Leukosit Epitel : 1– 2 /LBP : 2 .3 /LBP : 3 .7 % : 128.Diagnosis Banding Malaria Demam tifoid + DBD Rencana Pemeriksaan penunjang Darah rutin Urinalisis Feses rutin Imunoserologi (Uji Widal) Kultur darah Pemeriksaan laboratorium  Pemeriksaan darah Rutin : 9.7 g/dl : 42.4 / LBP 5 .1 x 103/ul : 13.

Para Typhy BH S. Para Typhy BO S.Protein Glukosa pH  Feses rutin Makroskopis Warna Konsistensi Mikroskopis Eritrosit : (-) : (-) :7 : kuning kecoklatan. darah (-) : lunak :- Telur cacing : Kultur tidak dapat dilakukan  Imunoserologi S. Para Typhy H S. Para Typhy AO S. Typhi O S. Para Typhy CH :1/320 :1/320 :1/160 :1/320 :1/160 :1/80 :1/80 :1/160 Diagosis Kerja Demam tifoid FOLLOW UP 14 juni 2013 S O : Badan terasa lemah. Para Typhy AH S. mual (+) muntah (-) : keadaan umum : tampak sakit sedang 6 . Para Typhy CO S.

HR : 78x/I. RR : 18 x/I. mual (-).Kesadaran : komposmentis Tanda – tanda vital : TD 110/70 mmHg.0 °C A P : Demam typhoid : : IVFD RL 20 tpm Paracetamol 3 x 1 Ranitidin 2 x 1 Ciprofloxacin 2 x 500mg 16 Juni 2013 S O : Badan sudah mulai membaik . T : 37. muntah (-) : keadaan umum : tampak sakit ringan 7 . RR : 18 x/I.4s °C A P : Demam typhoid : IVFD RL 20 tpm Paracetamol 3 x 1 Ranitidin 2 x 1 Ciprofloxacin 2 x 500mg 15 Juni 2013 S O : Bdan masih terasa lemah. T : 37. muntah (-) : keadaan umum Kesadaran : tampak sakit sedang : komposmentis Tanda – tanda vital : TD 120/70 mmHg. HR : 88x/I. mual (+).

sakit perut. Proses yang sama terulang kembali. malaise. mialgia. dan koagulasi. mialgia. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam. T : 37. seperti demam.4 8 . instabilitas vaskular gangguan mental. malaise. sakit kepala.4 Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel terutama sel M dan selanjutnya ke lamina propia. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik. Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah menembus usus. RR : 18 x/I. dan bersama cairan empedu diekskresikan secara intermiten ke dalam lumen usus. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag.Kesadaran : komposmentis Tanda – tanda vital : TD 110/70 mmHg.4 °C A P : Demam typhoid : pasien pulang dengan edukasi DISKUSI Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. HR : 88x/I. kuman masuk ke dalam kandung empedu. sakit kepala dan sakit perut. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. berkembang biak. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Di dalam hati.

diare lebih sering terjadi. 3. dengan nadi antara 80-100 kali permenit. seperti demam tinggi yang berkepanjangan yaitu setinggi 39º C hingga 40º C. Selama minggu pertama. pegal-pegal. muntah. Jika penderita ke dokter pada periode tersebut. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. mual. suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari. demam berlangsung 3 minggu. gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan penyakit infeksi akut yang lain. Demam Pada kasus-kasus yang khas. anoreksia. sedangkan diare dan sembelit silih berganti. batuk. tepi dan ujung merah serta bergetar atau tremor.4 Pada minggu pertama setelah melewati masa inkubasi 10-14 hari. Dalam minggu kedua. Dalam minggu ketiga suhu tubuh beraangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. 20025 a. perut kembung dan merasa tak enak. Khas lidah pada penderita adalah kotor di tengah. pernapasan semakin cepat dengan gambaran bronkitis kataral. Epistaksis dapat dialami oleh penderita sedangkan tenggorokan terasa kering dan meradang. sakit kepala. pusing. akan menemukan demam dengan 9 . penderita terus berada dalam keadaan demam. denyut lemah.Gambar 1 : Patofisiologi Demam Tifoid diambil dari Christoper. Bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Pada akhir minggu pertama.

timbul paling sering pada kulit perut. kimia klinik. Dapat juga terjadi trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakterimia kepada bayinya Utara . berkelompok. Limpa menjadi teraba dan abdomen mengalami distensi. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). purpura kulit yang difus dapat dijumpai. Bibir kering dan pecah-pecah (ragaden) .65) dan anak yang mempunyai kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan beresiko terkena penyakit demam tifoid 2. kelihatan memucat bila ditekan. mengatakan bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid pada anak 3. jarang disertai tremor. Terjadinya penularan Salmonella thypi sebagian besar melalui makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau carrier yang biasanya keluar bersama dengan tinja atau urine. urinalis.6 kali lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan tidak jajan diluar (OR=3. Pada infeksi yang berat. Biasanya didapatkan konstipasi. akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. Faktor Resiko Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi. lengan atas atau dada bagian bawah. Ganguan pada saluran pencernaan Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap.7 lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan (OR=2. Roseola terjadi terutama pada penderita golongan kulit putih yaitu berupa makula merah tua ukuran 2-4 mm. Penelitian yang dilakukan oleh Heru Laksono (2009) dengan desain case control . dan biologi molekular. Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan.3 d. kemudian hilang dengan sempurna. mikrobiologi. Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu 10 . Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan terbatas pada abdomen di salah satu sisi dan tidak merata. Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue).6 b.6 C. bercak-bercak ros (roseola) berlangsung 3-5 hari. imunoreologi. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi.7). ujung dan tepinya kemerahan.gejala-gejala di atas yang bisa saja terjadi pada penyakit-penyakit lain juga.

Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin.3 1. bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman terhadap fagositosis. Antigen O (Antigen somatik). tetapi dapat pula normal atau tinggi. yaitu : 1. menetapkan prognosis. Kimia Klinik Enzim hati (SGOT.20 2. Mikrobiologi Uji kultur merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam Typhoid/ paratyphoid. Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. Urinalis Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam) Leukosit dan eritrosit normal. Sebalikanya jika hasil negati. 3. 2.19. Hitung jenis leukosit: sering neutropenia dengan limfositosis relatif. Hitung leukosit sering rendah (leukopenia).20 4. 5. Uji Serologi Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen. Hematologi Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit perdarahan usus atau perforasi. yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit 11 .menegakkan diagnosis (adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis). fimbriae atau pili dari kuman. Interpretasi hasil : jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk Demam Tifoid/ Paratifoid. SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai hepatitis Akut. yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. belum tentu bukan Demam Tifoid/ Paratifoid. karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol. yang terletak pada flagella. Antigen H (Antigen Flagella). LED ( Laju Endap Darah ) : Meningkat Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia). 3.19. memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya penyulit.

Perawatan Medis Menurut Levine (2009). Medika Mentosa Pada 1990-an. kemudian untuk stadium lanjut/ carrierdigunakan urin dan tinja. Jika seorang pasien menunjukkan gejala menyerupai demam tifoid yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya dalam waktu 60 hari setelah kembali dari daerah endemik demam tifoid (demam enterik) atau setelah mengkonsumsi makanan yang dipersiapkan oleh seseorang yang terinfeksi demam tifoid. Kurang dari 2% dari pasien yang dirawat telah mengalami penyakit persisten atau relaps. Pilihan bahan specimen yang digunakan pada awal sakit adalah darah. Fluoroquinolones harus digunakan pada dosis semaksimal mungkin dalam waktu minimal 10-14 hari. Tata laksana Demam Tifoid 1.kurang dari 2mL). Tinja dan urin harus dibuang secara aman. Panas berkurang dalam waktu rata-rata kurang dari 4 hari. Menurut Agarwal (2004) fluorokuinolon adalah obat yang paling efektif untuk pengobatan demam tifoid.20 e. S.7 Pasien dengan penyakit tanpa komplikasi dapat diobati secara rawat jalan. Mereka harus disarankan untuk menerapkan teknik mencuci tangan yang ketat dan menghindari menyiapkan makanan untuk orang lain selama sakit. dan angka kesembuhan melebihi 96%. maka penggunaan antibiotika empirik spektrum luas harus segera dimulai. darah tidak segera dimasukan ke dalam medial Gall (darah dibiarkan membeku dalam spuit sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan). Pasien harus ditempatkan dalam ruang isolasi selama fase akut infeksi. Ofloksasin telah terbukti efektif dalam kasus-kasus resisten kloramfenikol yang dibuktikan dengan pemeriksaan kultur sumsum 12 . saat pengambilan darah masih dalam minggu ke-1 sakit. sudah mendapatkan terapi antibiotika. 2008) 2. Pengobatan tidak boleh ditunda untuk uji konfirmatori sejak ditemukan bahwa pengobatan yang tepat secara drastis mengurangi risiko komplikasi dan kematian. (Getenet. bila belum ada pertumbuhan koloni ditunggu sampai 7 hari).19. Kekurangan uji ini adalah hasilnya tidak dapat segera diketahui karena perlu waktu untuk pertumbuhan kuman (biasanya positif antara 2-7 hari. dan sudah mendapat vaksinasi.typhi mengembangkan resistansi secara bersamaan untuk semua obat yang terdapat pada pengobatan lini pertama.

2. cefotaxime. Dosisnya adalah 4x500mg. Demam menghilang dalam 4-6 hari dan tingkat kekambuhan dan kesembuhan adalah <3%. hanya saja. Sefalosporin generasi ke-3 : seftriakson dengan dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100cc diberikan ½ jam per infuse per hari. Ampisilin dan amoksisilin : kemampuan menurunkan demam lebih rendah dibandingkan kloramfenikol. Dosis untuk dewasa adalah 2x2 tablet (1 tablet mengandung sufametoksazol 400 mg dan trimetoprim 80 mg) diberikan selama 2 minggu. mungkin diperlukan pengobatan sampai 2-3 minggu. Diberikan 3-5 hari. fluoroquinolones parenteral adalah pengobatan pilihan. memiliki kemungkinan lebih rendah untuk komplikasi hematologinya. pemilihan antibiotika terhadap demam tifoid adalah sebagai berikut : 9 1. di Indonesia. 5. 4. dan trimethoprimsulfamethoxazole tetap digunakan untuk pengobatan demam tifoid di daerah-daerah di dunia di mana bakteri penyebab demam tifoid masih sepenuhnya rentan terhadap obat-obatan ini dan di mana fluoroquinolones tidak tersedia atau tidak terjangkau.8 Sementara itu.tulang. Tingkat kekambuhan adalah 3-6%. Dengan penggunaan seftriakson dan sefiksim. Tingkat penyembuhan 95% dicapai dalam 5-7 hari dengan pengobatan azitromisin. Kotrimoksazol : dosis dan efektivitasnya hampir sama dengan kloramfenikol. Dosis yang diberika adalah 4x500 mg per hari per oral. dan cefoperazone) dan macrolides seperti azitromisin juga efektif untuk pengobatan demam tifoid. Aztreonam13 dan imipenem merupakan obat potensial lini 12 ketiga. amoksisilin. tingkat relaps adalah 1-7% .Namun. Sefalosporin generasi ketiga (Ceftriaxone. Untuk demam tifoid yang berat. angka kesembuhan adalah 95%. Tiamfenikol : dosis dan efektivitasnya sama dengan kloramfenikol. Demam rata-rata turun pada hari ke-5 sampai ke-6 3. cefixime. dengan penurunan suhu badan sampai yg normal biasanya terjadi dalam waktu 5-7 hari. Efek samping berupa depresi sum-sum tulang. Meskipun. dosis yang dianjurkan berkisar antara 50-150 mg/kgBB dan digunakan selama 2 minggu. penurunan demam terjadi dalam waktu rata-rata satu minggu dan tingkat kegagalan pengobatan adalah 5-10%. Obat-obat ini dapat menghilangkan gejala. Kloramenikol : merupakan obat pilihan utama. 13 . Obat ini dapat menurunkan demam rata-rata dalam 7 hari.8 Kloramfenikol.

septic syok. a. 10 14 .(2000) berpendapat perlu pemakaian 2 kombinasi antibiotika yang diindikasikan hanya pada keadaan tertentu saja seperti toksik tifoid. Fluorokuinolon : Demam pada umumnya turun pada hari ke-3 atau ke-4. peritonitis. Siprofloksasin : 2x500 mg/hari selama 6 hari c. Ofloxasin : 2x400 mg/hari selama 7 hari b. atau perforasi.6. Fleroksasin : 400 mg/hari selama 7 hari e. Norfloksasin 2x400 mg/hari selama 14 hari Suhendro. Pefloksasin : 400 mg/hari selama 7 hari d. dimana pernah terbukti 2 macam organisme selain bakteri Salmonella.

KESIMPULAN Demam Tifoid merupakan penyakit infeksi tropis yang mewabah dengan penyebab utama bakteri S. Host S typhi yang utama adalah manusia. Demam Tifoid sangat berkaitan dengan transmisi fecal oral dan sanitasi yang buruk dimana pada Negara berkembang seperti di Indonesia kurang diperhatikan. malaise. hal ini didapat kan dari gejala klinis dan pemeriksaan labor paisien seperti demam. dan infeksi yang ditimbulkan bila tidak ditangani segera dapat menimbulkan gejala yang serius seperti pada demam tifoid terjadi perforasi usus dan perlu intervensi bedah. Pasien menderita demam tifoid. mialgia. 15 . sakit kepala dan sakit perut serta titer serologi uji widal positif. Selain itu pengobatan pada demam tifoid terus berkembang dengan munculnya mutasi dari bakteri tersebut sehingga menimbulkan resistensi tersendiri dalam pengobatannya. typhi.

Demam Tifoid. [ Pada Tanggal 21 Mei 2013]. 361 : 403-405 8. N Engl J Med.id/bitstream/123456789/31283/3/Chapter%20II. [ Dikutip Pada 17 JUNI 2013]: Diakses Dari : Tanggal http://repository. Diakses Dari : Dikutip http://fk.pdf 7. Christopher M.ac.uwks. Fakultas kedokteran UR. Widiyanto T.ac. Hendrawanto.pdf 4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Zulkarnain I. Atul G.usu. [ Dikutip Pada 17 JUNI 2013]: Diakses Dari : Tanggal http://repository.ac.wordpress. Demam tifoid . Accessed at http://www. Medical journal. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. JIAM 2004. 347:1770-1782 Demam typhoid. N Engl J Med 2002. 2009 5. Typoid Vaccines Ready for Implementation.pdf. et al. 6. Agarwal. Exomed Indonesia.usu.files. 2004.KEPUSTAKAAN 1. Demam Tifoid. [ Dikutip Pada Tanggal 21 2013]: Diakses Dari : http://yayanakhyar.pdf 10. 2009. Accessed at : http:// adulgopar.co.wordpress. Mei Nugraha T. PK. 5 (1) : 60-4.cc/2010/03/demam-tifoid_04. . Demam tifoid Abdominalis. Badrijah M. RK Gupta. 2010 3. Aulia D. 2009.com/2010/03/belibis_a17_demam_tifoid. Inada K.com /2009/12/demam-tifoid. Suhendro. Morgan M. Patogenesis Demam Tifoid Dalam Buku Panduan dan Diskusi Demam Tifoid. 2002. Lecture Note Tyfoid Fever. Demam typhoid. 2000. 9.html. Typhoid Fever.id/bitstream/123456789/31283/3/Chapter%20II.id/archieve/jurnal/Vol%20Edisi%20Khusus%20Desember%202009/DE MAM%20TIFOID. Levine. Hal : 3 16 . Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.files.pdf 2. Jakarta : Subagian Penyakit Tropik Dan Infeksi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful