FORMAT PENGKAJIAN FISIK SEDERHANA

Posted on Maret 9, 2008 by harnawatiaj A. PENGKAJIAN 1.Identitas a.Nama :…………………………………………………………… b.Usia :…………………………………………………………… c.Jenis kelamin :…………………………………………………………… d.Tinggi badan :…………………………………………………………… e.Berat badan :…………………………………………………………… f.Agama :…………………………………………………………… g.Suku :…………………………………………………………… h.Pendidikan :…………………………………………………………… i.Pekerjaan :…………………………………………………………… j.Alamat :…………………………………………………………… 2.Pengkajian fisik a.Tingkat kesadaran : b.Tanda – tanda vital : TD : N: P: S: Posisi ( duduk, berdiri, berbaring) c.Keadaan umum : Penampilan Posisi saat dikaji Postur tubuh Ekspresi wajah Bahasa tubuh d.Sistem integumen Warna kulit Warna rambut Kuku Turgor kulit Tekstir kulit Integritas kulit e.Kepala : Bentuk Kesimetrisan Nervus V & VII Keadaan rambut Kondisi kulit kepala Massa

Nyeri tekan f.Mata : Persebaran alis Warna alis Bentuk alis Bulu mata Kelopak mata Sklera Konjungtiva Iris Kornea Pupil Kelenjar lakrimalis Alat bantu penglihatan g.Telinga : Daun telinga Kesimetrisan Lubang telinga Membran timpani Status pendengaran h.Hidung dan penciuman : Ukuran dan bentuk Septum Mukosa nasal Patensi jalan napas Nervus olfaktory Status penciuman i.Mulut dan orofaring : Bibir Gigi Bunyi napas Gusi Nervus VII & IX Lidah Nervus XIII Mukosa Palatum Uvula Faring Tonsil Pergerakan mandibular j.Leher : Penamapakan luar Tiroid Trakea Nodus limfe

k.Thoraks dan paru-paru : Pernafasan Thorax posterior Auskultasi paru l.Payudara dan axilla : Ukuran payudara Puting Axilla Nodus limfe m.Jantung dan pembuluh darah : Tekanan darah Nadi karotis Nadi apikal Nadi perifer n.Abdomen : Bentuk Kulit Bunyi peristaltik o.Sistem muskuloskeletal : Punggung Tulang vertebra Sendi Pergerakan Ekstremitas atas Ekstremitas bawah p.Sistem igenitourinaria dan rektum : Rektum Genetalia wanita Genetalia pria q.Sistem neurologi : keseimbangan Nervus XI Refleks Kordinasi Nervus kranial r.Status mental : Status kesadaran Orientasi Memori Bahasa dan pembicaraan Respon Filed under: C. PENGKAJIAN FISIK | 2 Komentar »

CT SCAN

Brain atrofi.Inflamasi.PRINSIP KERJA Film yang menerima proyeksi sinar diganti dengan alat detektor yang dapat mencatat semua sinar secara berdispensiasi. 3. hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengertian kepada pasien dengan demikian menguragi stress sebelum waktu prosedur dilakukan. Sebelum dilakukan pemeriksaan CT scan pada klien. Hal ini dipertimbangkan dengan tingkat kekuatan scanner. Bila klien ada riwayat alergi atau dalam pemeriksaan ditemukan adanya alergi maka pemberian zat kontras iodine harus distop pemberiannya. Test awal yang dilakukan meliputi : . naik turunnya vaskularisasi dan infark. Bila perlu dengan menggunakan kaset video atau poster. 2. harus dilakukan test apakah klien mempunyai kesanggupan untuk diam tanpa mengadakan perubahan selama 20-25 menit.PENGERTIAN CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak. Harus dilakukan pengkajian terhadap klien sebelum dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah klien bebas dari alergi iodine.TUJUAN Menemukan patologi otak dan medulla spinalis dengan teknik scanning/pemeriksaan tanpa radioisotop 3. Karena eliminasi zat kontras sudah harus terjadi dalam 24 jam. d. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperjelas adanya dugaan yang kuat antara suatu kelainan. Berat badan klien yang dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan adalah klien dengan berat badan dibawah 145 kg. 2008 by harnawatiaj PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK CT SCAN (Computerized Axial Tomografi) 1. yaitu : a. Pasien diberi gambaran tentang alat yang akan digunakan. menurut posisi jam 12. 10 dan jam 02 dengan memakai waktu 4. hematoma dan abses.Gambaran lesi dari tumor. b.Perubahan vaskuler : malformasi. Pencatatan dilakukan dengan mengkombinasikan tiga pesawat detektor.5 menit. karena hal ini berhubungan dengan lamanya pemeriksaan yang dibutuhkan. dua diantaranya menerima sinar yang telah menembus tubuh dan yang satu berfungsi sebagai detektor aferen yang mengukur intensitas sinar rontgen yang telah menembus tubuh dan penyinaran dilakukan menurut proteksi dari tiga tititk. e.Hydrocephalus. Berat badan klien merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan. sebab pada klien yang akan dilakukan pemeriksaan CT Scan disuntik dengan zat kontras berupa iodine based kontras material sebanyak 30 ml. c.Posted on Maret 9. PENATALAKSAAN PERSIAPAN PASIEN Pasien dan keluarga sebaiknya diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan.Brain contusion. Maka ginjal klien harus dalam keadaan normal. f.

Pada orang normal . memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter.PROSEDUR a. Antigen tersebut disebut autoantigen. Melakukan pernapasan dengan aba – aba ( untuk keperluan bila ada permintaan untuk melakukannya ) saat dilakukan pemeriksaan. b.HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN a. Oliguri merupakan gejala gangguan fungsi ginjal. sedang antibody yang dibentuk disebut autoantibody. c. Bersihkan rambut pasien dari jelly atau obat-obatan. Perhatikan keadaan klinis klien apakah pasien mengalami alergi terhadap iodine.Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer. tetapi pengalaman klinis menunjukkan bahwa adakalanya timbul reaksi autoimunitas. Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat kontras yang eliminasinya selama 24 jam. g. meskipun . DIAGNOSTIK ZONE | 3 Komentar » TEORI AUTOIMUNITAS Posted on Maret 9. 2008 by harnawatiaj TEORI AUTOIMUNITAS A. c. Bila terjadi alergi dapat diberikan deladryl 50 mg.Posisi terlentang dengan tangan terkendali. Sel autoreaktif adalah limfosit yang mempunyai reseptor untik autoantigen. 5.Pendahuluan Dalam keadaan normal.Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.Mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin kelelahan selama prosedur berlangsung. b.Ukur ntake dan out put. 4.Meja elektronik masuk ke dalam alat scanner. Rambut tidak boleh dikepang dan tidak boleh memakai wig. Bila sel tersebut memberikan respons autoimun. Filed under: A.Sesudah pengambilan gambar pasien dirapihkan. karena tubuh mempunyai toleransi terhadap self antigen.Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit. e. sistem imun dapat membedakan antigen tubuh sendiri dari antigen asing.Kekuatan untuk diam ditempat ( dimeja scanner ) selama 45 menit.Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan memakai protektif lead approan. Apabila pasien merasakan adanya rasa sakit berikan analgetik dan bila pasien merasa cemas dapat diberikan minor tranguilizer. disebut sel limfosit reaktif (SLR). f. dan hal ini merupakan hal yang normal dari reaksi obat tersebut. Penjelasan kepada klien bahwa setelah melakukan injeksi zat kontaras maka wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh badan.Observasi keadaan alergiterhadap zat kontras yang disuntikan. Reaksi autoimiunitas adalah reaksi system imun terhadaap antigen sel jaringan sendiri. d. Mengikuti aturan untuk memudahkan injeksi zat kontras.

Reaksi silang dengan mikroorganisme Kerusakan jantung pada demam reumatik anak diduga terjadi kaibat produksi antigen terhadap streptokok A yang bereaksi silang dengan miokard penderita 5. Kadang-kadang tidak jelas apakah autoantibody tersebut merupakan penyebab atau timbul sekunder akibat suatu penyakit.Autoantibodi dibentuk sekunder akibat kerusakan jaringan Autoantibodi terhadap jantung ditemukan pada jantung infark. yang menyatakan bahwa tubuh menjadi toleran terhadap jaringannya sendiri oleh karena sel-sel yang autoreaktif selama perkembangan embriologiknya akan musnah. misalnya pada lanjut usia 3. dapat timbul penyakit autoimmun 2. Autoantibody dapat dibentuk pula terhadap antigen mitokondria pada kerusakan hati atau jantung.Teori defesiensi immun Hilangnya self tolerance mungkin disebabkan oleh karena adanya gangguan system limfoid.Virus sebagai pencetus autoimunitas Virus yang terutama mengginfeksi system limfoid dapat tmempengaruhi mekanisme kontrol imunologik sehingga terjadi autoimunitas 6.Pembagian Penyakit Autoimmun Penyakit autoimmun dapat dibagi menajdi 2 golongan yaitu organ spesifik dan non spesifik Organ spesifik Non organ spesifik Tiroiditis hasimoto Miksidema primer Tirotoksotosis Anemia pernesiosa Gastritis kronik autoimun . Penyakit autoimmune sering ditemukan bersamaan dengan defesiensi imun.Determinan antigen baru Pembentukan autoantibody dapat dicetuskan oleh karena timbul deterrminan antigen baru pada protein normal. dapat pula ditemukan autoantibody terhadap antigen jaringan dalam kadar gula yang rendah C. Pada tuberculosis dan tripanosomiasis yang menimbulkan kerusakan luas pada berbagai jaringan. tidak selalu terjadi respon autoimun. lensa mata. FR dibentuk terhadap determinan antigen yang terdapat pada immunoglobulin 4. sedangkan bila tidak disertai gejala klinis disebut fenomena autoimun.SLR berpasangan dengan autoantigen. karena ada system yang mengontrol reaksi autoimun.Teori sequestered antigen atau hidden antigen Sequestered aatau hidden antigen adalah antigen yang karena sawar anatomic tek pernah berhubungan dengna system imu n misalnya antigen sperma. Burnett mengajukan teori forbidden clones. dan saraf pusat. Reaksi autoantibody dan autoantigen yang menimbulkan kerusakan jaringan dan gejala-gejala klinis disebut penyakit autoimun. B. Bila sawar tersebut rusak. Contoh autoantibody yang timbul akibat hal tersebut ialah factor rematoid (FR). Oleh karena itu harus dibedakan antara fenomena autoimun dengan penyakit autoimu.Teori-teori autoimunitas 1. Pada umumnya kadar autoantibody disini terlalu rendah untuk dapat menimbulkan penyakit autoimmun.

Sklerosis Sistemik 1. usus.Penyakit dapat dipindahkan dari satu binatang ke binatang yang lain melalui serum atau limfosit yang hidup Filed under: 9. dan arteri .Ditemukan autoantibody 3.Epidemiologi Sclerosis sistemik merupakan penyakit yang terdapat diseluruh dunia dan dijumpai pada semua .Penyakit dpat ditimbulkan oleh bahan yang diduga merupakan antigen 4. 2008 by harnawatiaj A. juga pada parenkim organ dalam terutama esophagus.Penyakit Addison Menopause premature Disbetes juvenile Sindorm goodpasture Miastenia gravis Infertilitas pada pria Pemfigus vulgaris Pemfigoid Oftalmia simpatis Uveitis vagogenik Sclerosis multiple Anemia hemolitik autoimun Purpura trombositopenik idiopatik Leucopenia idiopatik Sirosis bilier primer Hepatitis kronik aktif dengan HBsAg negative Sirosis kriptogenik Colitis ulseratif Sindrom Sjögren Arthritis rematoid Dermatomiositis Scleroderma LE discoid Lupus eritermatosus sistemik (SLE) D. IMUNOLOGY ZONE | 5 Komentar » PENYAKIT AUTOIMMUN Posted on Maret 9.Kriteria Penyakit Autoimun Kriteria untuk menegakkan diagnosis penyakit autoimmun adalah sebagai berikut : 1. sinovium.Defenisi Sklerosis sistemik adalah panyakit jaringan ikat yang ditandai oleh fibrosis dan perubahan degeneratif pada kulit. Penyakit ini dikenal juga dengan nama skleroderma 2. ginjal dan kelenjar gondok. jantung.Penyakit timbul akibat adanya respons autoimun 2. paru.

terjadi striktur esophagus yang memerlukan dilatasi mekanis. dan kulit menjadi tegang. gangguan metabolisme kolagen pada fibroblast dapat menerangkan baik manifestasi vascular maupun manifestasi fibrosis pada sclerosis sistemik progresif 4. rambut dan lemak menghilang.Patogenensis dan patofisiologi Etiologi dan patogenesis yang pasti belum diketahui. Sklerodaktili ialah keadaaan kakunya kulit bagian distal dari sendi interfalangeal proksimal.Gejala klinis dan konplikasi a. Peristiea ini akan diikuti oleh fibrosis reaktif berupa proliferasi intima yang sangat menoniol pada aklerosis sistemik progresif Penipisan tunika intima media mungkin terjadinya sekunder terhadap perubahan distensibilitas struktur mikrovaskular yang terjepit diantara materi fibrotik yang terdapat pada intima dan adventisia. keringat berkurang. b. Dugaan ini timbul karena sebelum terjadi perubahan pada dermis dan epidermis. atau antara trombosit dan leukosit. Keluhan akan lebih berat jika terjadi esofagitis atau striktur Pada keadaaan lanjut.Saluran pencernaan Hipomotilitas asofagus merupakan manifestasi paling sering dari terlibatnya organ dalam. Kulit tampak kering dan retak-retak.Paru Scleroderma paru yang klasik ditandai dengan fibrosis intestinal yang klasik ditandai dengan fibrosis interstitial difus. Fibrosis menyebabkan kulit melekat pada struktur dibawahnya. Terdapat daerah-daerah dengan pegmentasi dan vitiligo. Diduga patogenesisnya berdasarkan kelainan vascular. Kemudian terjadi adhesi antara trombosit dan kolagen. Keluhan mungkin baru timbul lama setelah terdapat gangguan fungsi .Kulit Pada kasus yang khas trias terdiri atas penipisan epidermis.bangsa. Ditemukan juga kelainan kolon yang dianggap diagnostic. hilangnya alat-alat seperti rambut. Karena timbul dini. ternyata pada scleroderma. Terdapat pembengkakan dan ketegangan lengan bawah dan tangan yang difus dan simetris. Sering timbul dini dan dirasakan swebagai rasa penuh di substernal. Reaksi peradangan dan perubahan vascular subkutan ini akan menyebabkan hilangnya kapiler-kapiler kulit (devaskularisasi) yang selanjutnya mengakibatkan atrofi epidermis dan penebalan dermis Hipotesis yang diajukan berdasarkan hasil observasi pada biakan jaringan. Jari-jari mengalami fleksi kontraktur. kelenjar keringat. Kolagen ini dapat melekat pada endotel pembuluh darah. Frekwensi pada wakita 3 kali frekwensi pria 3. Dengan demikian. Dapat juga terjadi anemia karena telangiektasis di saluran pencernaan mengalami perdarahan. kelenjer lemak di epidermis. Epidermis mudah terkelupas karena tipis. Klien tidak dapat dicubit. Biasanya dimulai pada usis 20-50 tahun. Kelainan ini ditandai dengan terbentuknya kantong-kantong bermulut lebar pada dinding kolon. Dilatasi dan hipoosmolalitas duodenum dan jejunum menyebabkan malabsorbsi sehingga mengakibatkan berat badan menurun. telah ada reaksi peradangan vascular dan perivaskular pada jaringan subkutan. aehingga kontraktilitas dan vasodilatasi arteri kecil dan arteriol terganggu. Biasanya kalainan ini asimptomatik c. sangat berguna sebagai gejala diagnostic. yangmenyebabkan kerusakan endotel dan membrane basal. jarang pada anak-anak. Akibatnya timbul gangguan vasomotor seperti yang terlihat pada syndrome raynaud dan sclerosis sistemik progresif. fibroblast kulit mensintesis koleagen lebih banyak dengan fibroblast kulit normal Peningkatan produksi kolagen yang dideposit pada jaringan ikat disekitar tunika adventisia akan mengekang arteri kecil/arteriol yang bersangkutan.

Jantung Kelainan jantung pada scleroderma ada 3 macam : 1)Sclerosis koroner : merupakan kelainan yang paling tidak spesifik. dan uremia. Factor presipitasi untuk timbulnya gangguan ini adalah berhurangnya volume darah sehingga aliran darah ginjal terganggu.Foto rongten gigi : pelebaran membran periodontal g.Diagnosis Sulit untuk menegakkan diagnosis scleroderma sebelum timbul kelaianan kulit yang khas. d. mulamula pucat dan sianosis (karena vasokontriksi). ileum e. pemakaian diuretic yang berlebihan. misalnya karene operasi besar.Arteriogram ginjal disertai pemeriksaan aliran darah korteks ginjal Gambaran histopatologik kulit menunjukkan adanya penebalan epidermis disertai menghilangnya organ-organ epidermis dan tampak pula bertambahnya jaringan kolagen dalam dermis 6. kerjanya menurunkan depot katekolamin. misalnya dyspnea d‘effort atau nafas pendek. kemudian menjadimerah dan nyeri pada waktu sirkulasi kembali normal. efusi perikard tanpa gejala yang berlangsung lambat tapi progresif Gejala gangguan jantung sering sukar dibedakan dengan gejala gangguan paru. 5. Scleroderma harus dipikirkan jika pada seorang wamnita berumur 20-50 tahun terdapt syndrome raynaud dan pembengkakan tangan. Untuk ini kadang-kadang diperlukan pemeriksaan penunjang lain seperti foto rongten/analisis jantung.paru dan kelainan pada gambaran radiologist. ini penting karena pada kebanyakan penderita telah terdapat hipertensi paru sebelum timbul keluhan pada paru.Foto rongten oesophagus maag duodenum (OMD) : tampak hipoosmolalitas esophagus b.Foto rongten usus halus : dilatasi jejenum .Foto rongten tangan/lengan : tampak resorpsi falang. Dimulai dengan dosis rendah sampai mencapai dosis 2 g/hari . Pemerisaan radiologik banyak membantu dalam menegakkan diagnosis scleroderma . suatu obat alfa adrenergic. Biasanya timbul akibat pengaruh udara dingin atau ketegangan emosi.Medikamentosa 1)Obat vasoaktif a)Fenoksibenzamin. 10-40 mg/hari b)Guanetidin dengan dosis 40 mg. perdarahan. EKG/ekokardiografi dan kateterisasi jantung e.Foto rongten kolon : gambaran kantong-kantong pada kolon f. Pengawasan terhadap perkembangan hipertensi paru dapat dilakukan dengan memperhatikan peningklatan intensitas komponen pulmonal pada bunyi jantung 2 dan derajat pecahnya (splitting bunyi jantung 2.Ginjal Tanda-tanda klinis kelainan ginjal yaitu hipertensi ( tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg). proteinuria > 1+. Syndrome raynaud ini tampak pada jari-jari tangan . Kelainan ginjal sering timbul akut. sekali sehari c)Metildopa.Arteriogram perifer : penyumbatan pembuluh darah h. Jarang timbul angina atau infark jantung 2)Fibrosis miokard 3)Kelainan perikard : berupa epikarditis akut. diberikan peroral.Foto rongten toraks : fibrosis interstitial difus di paru-paru d.Penatalaksanaan a. pemeriksaaan radiologik yang biasanya dilakukan adalah : a. Jarang ditemukan jari clubbing. kalsifikasi subkutan c.

Artritis rematoid juga bisa menyebabkan sejumlah gejala di seluruh tubuh.5-2. gangguan saluran pencernaan yang berat berupa diare.d)Reserpin. B. Efek sampingnya terhadap saluran pencernaan serta timbulnya reaksi alergi di kulit menyulitkan pemberian jangka lama d)Antimalaria 3)Lain-lain a)Rheomacrodex b)Imunosupresif misalnya klorambusil c)Colchicines. Dianjurkan pemberian dosis rendah sacara intra arteri untuk menghindari pengaruh sistemik dan mencapai pengaruh maksimal pada arteri perifer.Aspek psikososial Perlu penjelasan mengenai penyakit disertai sokongan penderita maupun keluarganya. juga merupakan penghambat simpatis. Dosis mungkin mencapai 4-5 g/hari b)Kortikosteroid. malnutrisi. Penyakit ini terjadi pada sekitar 1% dari jumlah penduduk. diberikan jika terdapat tanda-tanda peradangan pada awal penyakit c)Potassium para-aminobenzoat 12-16 g/hari. pemanasan.Tindakan operatif Tindakan operatif terutama ditujukan terhadap : Ulserasi : debridement dan sebagainya Simpatektomi : hasilnya hanya bersifat sementara. Mengurangai sekresi proklagen oleh fibroblast d)D. memerlukan bimbingan fisioterapi yang ketat.5 mg menghasilkan perlindungan terhadap vasokonstriksi perifer selama ± 6 bulan 2)Obat-obat antiinflamasi a)Asam asetilsilat.Fisioterapi Fisioterapi merupakan hal yang tak boleh dilupakan pada penatalaksanaan scleroderma. jantung.Perawatan di Rumah sakit Perawatan di Rumah sakit perlu silakukan apabila ditemukan kegagalan kardiopulmonal. Latihan range of motion aktif/pasif. usus halus.Defenisi Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan. dan persiapan operasi f. Pemberian 0.penisilamin. tidak berlangsung lama Rekontruksi d. tetapi bisa terjadi pada usia berapapun. terutama untuk atralgia dan mialgia. ginjal. paru. kegagalan ginjal. dosis 0. 7-10 mg/minggu. sehingga terjadi pembengkakan. dan sebagainya e. . Biasanya pertama kali muncul pada usia 25-50 tahun. dan wanita 2-3 kali lebih sering dibandingkan pria. dehidrasi.0 g/hari b.Arthritis Reumatoid 1. Keduanya bermanfaat untuk memperbaiki peredaran darah dankontraktur yang disebabkan oleh fibrosis pada sendi dan kulit Pencegahan vasokonstriksi karena dingin dan usaha mempertahankan pembuluh darah dalam keadaan sedikit vasodilatasi dilakukan misalnya dengan melindungi tubuh terhadap dingin dan melakukan latihanjasmani bertahap c.Pengobatan khusus Bergantung pada organ/system yang terkene misalnya esophagus. muntah. nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi.

Pada AR. kaki. Sekitar 30-40% penderita memiliki benjolan keras (nodul) tepat dibawah kulit. Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk. peradangan berlangsung terus menerus dan menyebar ke struktur-struktur sendi disekitarnya termasuk tulang rawansendi dan kapsul fibrosa sendi. sikut dan pergelangan kaki. Hal ini akan menyebabkan nyeri yang sangat hebat dan deformitas. reaksi autoimun terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Peradangan pada selaput di sekitar paru-paru (pleuritis) atau pada kantong di sekitar jantung (perikarditis) atau peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru bisa menyebabkan nyeri dada.2. 3. tetapi berbagai faktor (termasuk kecenderungan genetik) bisa mempengaruhi reaksi autoimun. maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang.Penyebab Penyebab yang pasti tidak diketahui. gangguan pernafasan dan kelainan fungsi jantung. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan menganggu gerak sendi. Penyakit Still merupakan variasi dari artritis rematoid dimana yang pertama muncul adalah deman tinggi dan gejala umum lainnya. tangan. sehingga tendon pada jari jari tangan bergeser dari tempatnya. Di belakang lutut yang terkena. Yang pertama kali meradang adalah sendi-sendi kecil di jari tangan. Pembengkakan pergelangan tangan bisa mengakibatkan terjadinya sindromaterowongankarpal. terutama menjelang sore hari. Otot akan ikut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot. Akhirnya ligament dan tendon ikut meradang. pergelangan tangan. Biasanya peradangan bersifat simetris. sindroma Sjögren atau peradangan mata. terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas. yang apabila pecah bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada tungkai sebelahbawah. membrane sinovium mengalami hipertropi dan menebal sehingga terjadi hambatan aliran darah yang menyebabkan nekrosis sel dan respon peradangan berlanjut. Pannus ini dapat menyebar ke seluruh sendi dan merangsang proses peradangan dan pembentukan jaringan parut dan secara lambat akan merusak sendi. proliferasi membrane sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Bisa terjadi demam ringan dan kadang terjadi peradangan pembuluh darah (vaskulitis) yang menyebabkan kerusakan saraf atau luka (ulkus) di tungkai. yang biasanya terletak di daerah sekitar timbulnya penyakit ini. 4.Diagnosa .Gejala Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba.Patofisiologi Pada AR. Pada p[eradangan kronik. Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat diregangkanataudibukasepenuhnya. bisa terbentuk kista. Pada proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena. Sindroma Felty terjadi jika pada penderita artritis rematoid ditemukan pembesaran limpa dan penurunan jumlah sel darah putih. Sinovium yang menebal inilah yang dilapisi oleh jaringan granuler disebut sebagai pannus seeperti yang disebutkan sebelumnya. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan meniombulkan erosi tulang. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking. Enzim-enzim ini akan memecah kolagen sehingga terjadi edema. dimana pada saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. Beberapa penderita merasa lelah dan lemah. jari kaki. 5. Penderita lainnya menunjukkan pembengkakan kelenjar getah bening. Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku.

maka semakin berat penyakitnya dan semakin jelek prognosisnya. maka semakin hebat potensi efek sampingnya. Pola gejalanya sangat khas. perlu dilakukan beberapa pergerakan sendi yang sistematis. 4. Obat ini mengurangi pembengkakan pada sendi yang terkena dan meringankan rasa nyeri. kortikosteroid dan obat imunosupresif. Artritisgonokokal c. Spondilitisankilosing g. PenyakitLyme d. Demamrematik b. Biasanya. tetapi untuk memperkuat diagnosis perlu dilakukan: 1.Rontgen. Osteoartritis. .Perubahan yang khas pada foto rontgen.Biopsi nodul.Membedakan artritis rematoid dari berbagai keadaan lainnya yang bisa menyebabkan artritis.7 dari 10 penderita memiliki antibodi yang disebut faktor rematoid. bisa menunjukkan adanya perubahan khas pada sendi. Obat anti peradangan non-steroid.sehingga diperlukan pemantauan ketat.Pemeriksaan darah . tetapi untuk mencegah kekakuan. Gout h. karena pemakaian sendi yang terkena akan memperburuk peradangan.Kekakuan di pagi hari yang berlangsung lebih dari 1 jam (selama minimal 6 minggu) 2. Seseorang yang memiliki 4 dari 5 gejala berikut. biasanya semakin tinggi kadar faktor rematoid dalam darah. 3. SindromaReiter e. Keadaan-keadaaan yang menyerupai artritis rematoid adalah: a.kadang jumlah sel darah putih berkurang . Mengenali artritis rematoid. Pembidaian bisa digunakan untuk imobilisasi dan mengistirahatkan satu atau beberapa sendi. kemungkinan menderita artritis rematoid: 1.Artritis pada persendian tangan. tidaklah mudah. pergelangan tangan atau jari tanan (selama minimal 6 minggu) 4. Yang paling banyak digunakan adalah aspirin dan ibuprofen. Pseudogout i. Mengistirahatkan sendi secara rutin seringkali membantu mengurangi nyeri. Aspirin merupakan obat tradisional untuk artritis rematoid.Pengobatan Prinsip dasar dari pengobatan artrtitis rematoid adalah mengistirahatkan sendi yang terkena. Kadar antibodi ini bisa menurun jika peradangan sendi berkurang dan akan meningkat jika terjadi serangan. semakin kuat obatnya. Artritispsoriatik f. Obat-obatan utama yang digunakan untuk mengobati artritis rematoid adalah obat anti peradangan non-steroid.Pemeriksaan cairan sendi.Peradangan (artritis) pada 3 atau lebih sendi (selama minimal 6 minggu) 3.Faktor rematoid di dalam darah 5. 6.sebagian besar menderita anemia . 2.9 dari 10 penderita memiliki laju endap eritrosit yang meningkat . obat slow-acting. obat yang lebih baru memiliki lebih sedikit efek samping tetapi harganya lebih mahal.

Yang sekarang ini digunakan adalah senyawa emas. Misoprostol bisa membantu mencegah erosi lapisan lambung dan pembentukan ulkus gastrikum. Jika terjadi efek samping tersebut. Kadang perbaikan dicapai setelah diberikannya dosis pemeliharaan selama beberapa tahun. Obat ini juga bisa menyebabkan miastenia gravis. Efek sampingnya adalah penekanan terhadap pembentukan sel darah di dalam sumsum tulang. Jika setelah 6 bulan tidak menunjukkan perbaikan. 1. dosisnya dikurangi secara bertahap. Biasanya diberikan sebagai suntikan mingguan.Senyawa emas. maka pemakaiannya segera dihentikan. yang merupakan efek samping dari dosis yang terlalu tinggi. sehingga penderita yang mendapatkan obat ini harus memeriksakan matanya sebelum dilakukan pengobatan dan setiap 6 bulan selama pengobatan berlangsung. sindroma Goodpasture dan sindroma yang menyerupai lupus. Jika terjadi efek samping yang serius. Efek sampingnya biasanya ringan. Jika obat ini efektif. Gangguan pencernaan dan ulkus peptikum. maka pemakaian obat harus dihentikan. Digunakan untuk mengobati artritis rematoid yang tidak terlalu berat.Dosis awal adalah 4 kali 2 tablet (325 mgram)/hari. Sebelum pengobatan dimulai dan setiap seminggu sekali selama pengobatan berlangsung. kelainan ginjal. Pemakaiannyaharusdipantausecaraketat. Suntikan mingguan diberikan sampai tercapai dosis total 1 gram atau sampai timbulnya efek samping atau terjadinya perbaikan yang berarti. Senyawa emas bisa menimbulkan efek samping pada beberapa organ. Selama pengobatan berlangsung. 3. Obat ini biasanya ditambahkan jika obat anti peradangan non-steroid terbukti tidak efektif setelah diberikan selama 2-3 bulan atau diberikan segera jika penyakitnya berkembang dengan cepat. Jika . dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih setiap 2-4 minggu sekali. bisa dicegah dengan memakan makanan atau antasid atau obat lainnya pada saat meminum aspirin. ruam kulit dan rasa tidak enak di mulut. Obat slow-acting. maka pemberian obat ini dihentikan.Penisilamin. sakit otot dan kelainan mata. hydroxycloroquinine dan sulfasalazine. yaitu berupa ruam kulit. dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih. karena itu obat ini tidak diberikan kepada penderita penyakit hati atau ginjal yang berat atau penyakit darah tertentu. Obat slow-acting kadang merubah perjalanan penyakit. Tetapi beberapa kelainan mata bisa menetap. Efek sampingnya berupa ruam kulit. meskipun perbaikan memerlukan waktu beberapa bulan dan efek sampingnya berbahaya. penyakit otot.Hydroxycloroquine. Telinga berdenging merupakan efek samping yang menunjukkan bahwa dosisnya terlalu tinggi. Dosisnya secara bertahap dinaikkan sampai terjadinya perbaikan. gatal dan berkurangnya sejumlah sel darah. penisilamin. Senyawa emas berfungsi memperlambat terjadinya kelainan bentuk tulang. Efeknya menyerupai senyawa emas dan bisa digunakan jika senyawa emas tidak efektif atau menyebabkan efek samping yang tidak dapat ditoleransi. 2. tetapi obat ini juga menyebabkan diare dan tidak mencegah terjadinya mual atau nyeri perut karena aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya.

tetapi bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang. biasanya dilakukan pembedahan untuk . peradangan paru-paru. Kortikosteroid. maka hampir selalu digunakan dosis efektif terendah. terapi fisik. tetapi jangan sampai terlalu lelah. Karena itu obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi kekambuhan yang mengenai beberapa sendi atau jika obat lainnya tidak efektif.terjadi perbaikan. Obat ini semakin banyak digunakan untuk mengobati artritis rematoid. memar. Kortikosteroid efektif pada pemakaian jangka pendek dan cenderung kurang efektif jika digunakan dalam jangka panjang. seperti peradangan selaput paru-paru (pleuritis) atau peradangan kantong jantung (perikarditis). Sulfasalazine bisa menyebabkan gangguan pencernaan. dilakukan latihan yang intensif dan kadang digunakan pembidaian untuk meregangkan sendi secara perlahan. bisa dilakukan latihan aktif yang rutin. Efek samping yang sering terjadi adalah penipisan kulit. Dosisnya dinaikkan secara bertahap dan perbaikan biasanya terjadi dalam 3 bulan. pemanasan pada sendi yang meradang dan kadang pembedahan. Jika pemberian obat tidak membantu. Bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi peradangan sendi. Setelah peradangan mereda. kadar gula darah yang tinggi dan katarak. Obat imunosupresif. 4. pemakaian obat ini bisa dilanjutkan sesuai dengan kebutuhan. Siklosporin bisa digunakan untuk mengobati artritis yang berat jika obat lainnya tidak efektif. Kortikosteroid juga digunakan untuk mengobati peradangan diluar sendi. mungkin perlu dilakukan pembedahan. Kortikosteroid biasanya tidak memperlambat perjalanan penyakit ini dan pemakaian jangka panjang menyebabkan berbagai efek samping. Untuk mengobati persendian yang kaku. mudah terkena infeksi. Biasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air. terutama jika sendi yang terkena digunakan secara berlebihan sehingga mempercepat terjadinya kerusakan sendi. bisa dilakukan latihanlatihan. Terapi lainnya. Sendi yang meradang harus dilatih secara halus sehingga tidak terjadi kekakuan. azatioprin dan cyclophosphamide) efektif untuk mengatasi artritis rematoid yang berat. Untuk mengembalikan pergerakan dan fungsinya. Obat ini bisa disuntikkan langsung ke dalam sendi. Selain itu azatioprine dan siklofosfamid bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker. Obat imunosupresif (contohnya metotreksat. padahal artritis rematoid adalah penyakit yang biasanya aktif selama bertahun-tahun. yang melibatkan hampirsetiaporgan. digunakan untuk mengobati arthritis rematoid stadium awal. Untuk menghindari resiko terjadinya efek samping. kelainan sel darah dan ruam kulit. Obat ini menekan peradangan sehingga pemakaian kortikosteroid bisa dihindari atau diberikan kortikosteroid dosis rendah. kelainan hati. Efek sampingnya berupa penyakit hati. penekanan terhadap pembentukan sel darah di sumsum tulang dan perdarahan kandung kemih (karena siklofosfamid). Metotreksat diberikan per-oral (ditelan) 1 kali/minggu.Sulfasalazine. tekanan darah tinggi. osteoporosis. Kortikosteroid (misalnya prednison) merupakan obat paling efektif untuk mengurangi peradangan di bagian tubuh manapun.

2. bisa terjadi anemia megaloblastik. Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal. C.Kesemutan ditangan dan kaki . Persendian juga bisa diangkat atau dilebur (terutama pada kaki). Jika kekurangan salah satu darinya.Pergerakanyangkaku.mengganti sendi lutut atau sendi panggul dengan sendi buatan. sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas). Jika kekurangan salah satu darinya. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat.Anoreksia .Buta warna tertentu.termasuk warna kuning dan biru . fluorourasil dan sitarabin). Penderita yang menjadi cacat karena artritis rematoid bisa menggunakan beberapa alat bantu untuk menyelesaikan tugas sehari-harinya. Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut.Penurunan berat badan .Hilangnya rasa ditungkai. supaya kaki tidak terlalu nyeri ketika digunakan untuk berjalan.Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal. kekurangan vitamin B12 juga mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan: . Pada anemia jenis ini. sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas). Contohnya adalah sepatu ortopedik khusus atau sepatu atletik khusus. 3. hidroksiurea. sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah.Gejala Selain mengurangai pembentukan sel darah merah.Lidah licin . hidroksiurea. Selain zat besi.Linglung .Pucat .Warna kulit menjadi lebih gelap . fluorourasil dan sitarabin). sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah.Anemia Pernesiosa 1. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat. Gejala lainnya adalah: .Penyebab Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12.Luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar . kaki dan tangan . Selain zat besi.Defenisi Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. bisa terjadi anemia megaloblastik. Ibu jari bisa dilebur sehingga penderita bisa menggenggam dan tulang belakang di ujung leher yang tidak stabil bisa dilebur untuk mencegah penekanan terhadap urat saraf tulang belakang. Pada anemia jenis ini. Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut.

Diagnosa Biasanya. Selanjutnya suntikan diberikan 1 kali/bulan. Kemudian diberikan faktor intrinsik dan vitamin B12. Sering ditemukan dengan gastritis atrofi (dalam jangka waktu lama dikaitkan dengan peningkatan risiko karsinoma gaster).Pencegahan Jika penyebabnya adalah asupan yang kurang. Selanjutnya diambil contoh cairan lambung dan diperiksa untuk menemukan adanya faktor intrinsik. 7. Kadar vitamin B12 serum kurang dari 100 pg/ml 6.Contoh darah diambil untuk memeriksa adanya antibodi terhadap faktor intrinsik. Gambaran sum-sum tulang megaloblastik. kekurangan vitamin B12 terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin untuk anemia.Pengobatan Pengobatan kekurangan vitamin B 12 atau anemia pernisiosa adalah pemberian vitamin B12. 4. IMUNOLOGY ZONE | 2 Komentar » SKIN GRAFT Posted on Maret 9.yaitu analisa lambung. Lalu disuntikkan pentagastrin (hormon yang merangasang pelepasan faktor intrinsik) ke dalam sebuah vena. Diberikan sejumlah kecil vitamin B12 radioaktif per-oral (ditelan) dan diukur penyerapannya. bisa dilakukan tes Schilling. 2008 by harnawatiaj . Jika sudah pasti terjadi kekurangan vitamin B12. Biasanya pemeriksaan dipusatkan kepada faktor intrinsik: 1.. tetapi tidak diserap tanpa faktor intrinsik.Pemeriksaan penunjang Sel darah merah besar-besar (makrositik). Dimasukkan sebuah selang kecil (selang nasogastrik) melalui hidung. sehingga menyebabkan aklorhidria. Pada awalnya suntikan diberikan setiap hari atau setiap minggu. Jika penyebabnya masih belum pasti.Pemeriksaan yang lebih spesifik. maka anemia ini bisa dicegah melalui pola makanan yang seimbang. terutama jika penderita telah menderita anemia dalam jangka waktu yang lama. 2. Sebagian besar penderita tidak dapat menyerap vitamin B12 per-oral (ditelan). bisa dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya. MCV ≥ 100fmol/l. neutrofilo hiperpigmentsi. Jika diduga terjadi kekurangan. Penderita harus mengkonsumsi tambahan vitamin B12 sepanjang hidupnya.Penurunan fungsi intelektual. Filed under: 9. 5. maka diagnosisnya pasti anemia pernisiosa. Biasanya antibodi ini ditemukan pada 60-90% penderita anemia pernisiosa. Pada contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop.karena itu diberikan melalui suntikan. maka dilakukan pengukuran kadar vitamin B12 dalamdarah. Juga dapat dilihat perubahan sel darah putih dan trombosit. lalu penyerapannya diukur kembali. selama beberapa minggu sampai kadar vitamin B12 dalam darah kembali normal. tampak megaloblas (sel darah merah berukuran besar). Jika vitamin B12 diserap dengan faktor intrinsik.Depresi . melewati tenggorokan dan masuk ke dalam lambung.

KLASIFIKASI SKIN GRAFT 1.Mempercepat penyembuhan luka b. atau drum dermatome.Meshed skin graft Skin graft pada daerah mata dan lubang b. Cangkokan kulit diperoleh dari lokasi donor atau ―host‖ dan dipasangkan pada lokasi yang dikehendaki yang disebut lokasi ―resipien‖ atau ―graft bed‖.Split thickness yaiu skin graft yang tipis. 2. tangan dan kaki 2. seperti .1. namun lazimnya berasal dari daerah paha. b.TUJUAN Tujuan dilakukan skin graft adalah : 1.PEMASANGAN GRAFT Graft atau cangkokan diperoleh dengan berbagai unstrumen seperti pisau tipis seperti silet ( rasa blades ).PENGERTIAN Skin graft ( pencangkokan kulit ) merupakan tehnik untuk melepaskan potongan kulit dari suplai darahnya sendiri dan kemudian memindahkannya sebagai jaringan bebas ke lokasi yang jauh ( resipien ).Berdasarkan ketebalannya a.Mengurangi lamanya perawatan d.Tujuan umum : Untuk memperbaiki kecacatan atau kelainan yang timbul akibat kecelakaan.Zenograft atau heterograft Yaitu skin graft yang donornya adalah jaringan yang diperoleh dari spesies yang lain / berbeda 3. Skin graft adalah suatu tindakan atau tehnik memindahkan kulit yang sehat dan menempelkan ke bagian kulit yang luka. leher.Mencegah kontraktur c. 4.Sheet skin graft Skin graft pada daerah wajah . dermatom bertenaga listrik atau udara. pantat. (yudini. punggung atau perut. Skin graft merupakan pencangkokan lapisan epidermis kulit yang dapat dipindahkan secara bebas.Full thickness yaitu tergantung dari banyaknya dermis yang ikut dalam spesimen.Berdasarkan letak a. sedang atau tebal.Autograft Yaitu skin graft yang donornya adalah jaringan yang diperoleh dari kulit pasien sendiri b.Tujuan khusus : a.Memperbaiki defek yang terjadi akibat eksisi tumor kulit e. Kulit yang digunakan dapat berasal dari bagian mana saja dari tubuh.Allograft Yaitu skin graft yang donornya adalah jaringan yang diperoleh dari spesies yang sama c.2007) 2. pisau graft kulit.Menutup daerah kulit yang terkelupas dan menutup luka dimana kulit sekitarnya tidak cukup menutupinya 3. Kulit yang digunakan untuk graft dapat berasal dari bagian bagian tubuh yang lain .Berdasarkan sumber donornya a.

PERAWATAN PRE OPERASI SKIN GRAFT 1.Cangkokan harus melekat rapat dengan dasar (bed) lokasi resipien (untuk menghindari penumpukan darah atau cairan). sehingga luasnya mencapai 1. Permukaan kulit dapat dioerluas dengan membuat irisan yang bila direnggang akan membentuk jala.Mencocokkan tekstur dan kualitas kulit untuk membawa rambut.punggung. b.beberapa persayaratannya : a.5 kali sampai 6-9 kali luas semula. Flap adalah cangkok jaringan kulit beserta jaringan lunak dibawahnya yang diangkat dari tempat asalnya tetapi tetap mempunyai hubungan perdarahan dengan tempat asal. tidak ada infeksi dan keadaan umum penderita. Kriteria pemilihan lokasi donor yaitu harus dipertimbangkan : a.Mempertimbangkan efek kosmetik pada lokasi donor setelah kesembuhan terjadi sehingga lokasi ini sebaiknya dipilih dari tempat yang tersembunyi.Pengkajian Keadaan umum Vital sign Status nutrisi Pola eliminasi Pola istirahat dan tidur Persepsi pasien Hasil laboratorium .Lokasi resipien harus memiliki pasokan darah yang adekuat sehingga fungsi fisiologi yang normal dapat berlangsung kembali. Pada pemasangan di lokasi resipien.Proses revaskularisasi (pembentukan kembali pasokan darah) dan perlekatan kembali cangkokan kulit pada dasar lokasi resipien. perdarahan pada daerah resipien harus baik.Mencapai kecocokan warna sedekat mungkin dengan memperhatikan jumlah cangkokan kulit yang diperlukan. c.Cangkokan ini bisa dipotong dan dibentangkan seperti jala agar menutupi suatu daerah yang lebar. d. Setelah cangkokan kulit terpasang pada tempatnya.Mendapatkan cangkokan kulit yang setebal mungkin tanpa mengganggu kesembuhan luka pada lokasi donor. Tehnik cangkok jala ini disebut ―mesh‖ dan biasanya digunakan pada skin loss yang luas/parah.Daerah pencangkokan harus bebas dari infeksi. d. Flap yang dipindahkan akan membentuk perdarahan baru ditempat resipien.Cankokan harus terfiksasi kuat (terimmobilisasi) sehingga posisinya dipertahankan pada lokasi resipien.untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka diperlukan beberapa pensyaratan antara lain. c. b.cangkokan ini dapat dibiarkan terbuka (pada daerah yang tidak mungkin diimmobilisai) atau ditutup dengan kasa pembalut tipis atau pembalut tekan manurut daerahnya. Agar cangkokan kulit dapat hidup dan efektif.cangkokan kulit dapat dijahitkan atau tidak pada lokasi tersebut. 5.

b.Gangguan sirkulasi (ada spalak) d.Perdarahan post op c.Buka balutan dengan pemberian NaCl bila balutan kering / lengket.Bila luka bersih.Jika bioskin kering bersihkan dengan savlon 1% dan biarkan bioskin tetap enempel dan tutup dengan gaas steril. e. nyeri tekan.Skin graft (immobilisasi) sampai menempel dengan baik bila memindahkan pasien.2. d. sokong bantal di bawahnya untuk mencegah edema.Keadan umum b.9% (normal salin).Persiapan fisik Puasakan pasien 8 jam Cukur daerah donor Cairan / nutrisi parenteral selama puasa Laboratorium Thoraks foto EKG Concern form Kaji tingkat kecemasan Penjelasan tentang skin graft 6. 3) Perawatan luka pada donor a. c. hati-hatie.Skin graft pada tangan dan kaki.lepaskan alloask dan berikan sufratulle dan zalf AB kemudian tutup gaas steril. bengkak. rawat luka 2 hari sekali.Amati tanda-tanda infeksi.PERAWATAN POST OPERASI 1) Hal yang perlu diperhatikan : a. c.Beri zalk silver sulfadiazine (ssp) pada luka (0.Bila menggunakan Bioskin (alloask) buka pada hari ketiga. bila ada bau busuk.Luka donor yang hanya diberi sufratulle.Keringkan dengan kasa steril d. 7. buka balutan setelah 2 minggu post op. 2) Urutan perawatan luka a.Luka dicuci dengan cairan savlon 1% kemudian dibilas NaCl 0. rawat setiap hari.PERAWATAN SKIN GRAFT .Luka pada bagian donor tidak boleh tergeser dan boleh bergerak bebes b.5 cm) e.Tutup dengan menggunakan gaas steril.

a.LED : Peningkatan mengindikasikan respon inflamasi b.SDP : Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan kehilangan sel pada sisi luka dan respon inflamasi terhadap cedera g.Infeksi b. kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal h.Pletismografi : mengukur TD segmental bawah terhadap ekstremitas bawah mengevaluasi aliran darah arterial d.Bagian skin graft tidak boleh dibuka sebelum hari kelima. d.Bila ada tanda infeksi (merah.Glukosa Serum : Peningkatan menunjukkan respon terhadap stress i. buatlah gulungan gaas steril dan gulung perlahan-lahan gulungan gaas ke arah tepi. g.Bersihkan skin graft dengan savlon 1%.Tutup dengan gaas steril dan elastis verban.Perhatikan jika terjadi hipertropi jaringan (pemakaian elastis verban). b.Kultur luka : mengidentifikasi adanya infeksi . e.Hitung darah lengkap/diferensial : peninggian dan ―perpindahan kekiri‖ diduga proses infeksi c.Jika ncairan terkumpul di bawah graft. c. i.BUN / Kreatinin : dapat meningkat akibat cedera jaringan k. kelompok dan masyarakat baik .Reaksi tubuh : tidak magnetis. h. j.Jika terjadi perdarahan tekan daerah tersebut sampai perdarahan berhenti dan laporkan jika berlanjut.bau.Fotografi area luka : catatan untuk penyembuhan luka/ skin loss KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial dan spiritual yang komprehensif ditujukan kepada individu. 8.Pus bersihkan dengan bethadine. tidak menghantar listrik I. f. kecuali ada tanda infeksi segera buka.Buka balutan harus sangat hati-hati.Reaksi penolakan/alergi c.Elektrolit serum : Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cedera jaringan. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. jika ada stepler dibuka pada hari ketujuh dan buka jahitan pada hari ke 14. keluarga.pus).Rehabilitasi/ latihan setelah skin graft benar-benar lengket.KOMPLIKASI a.Ganti verban setiap hari. tekan skin graft agar tetap menempel gunakan 2 buah pinset. dan organisme penyebab l.Albumin serum : rasio albumin/globulin mungkin terbalik sehubungan dengan kehilangan protein pada edema cairan j.Ultrasound Dropler : untuk mengkaji dan mengukur aliran darah e.bengkak.Tekanan O2 Transkutaneus : memberi peta area perfusi paling besar dan paling kecil dalam keterlibatan ekstremitas f.Kering atau lengket basahi NaCl jangan dipaksakan. 1untuk menekan dan yang lainnya untuk melepaskan.

ansietas.Pernafasan : Gejala : takipnea. kecacatan Tanda : ansietas.Aktifitas / istirahat : Gejala : keterbatasan aktual Tanda : penurunan kekuatan. dangkal . cepat dan pernafasan keras Tanda : batuk. meringis. takikardi ( syok. ketidak mampuan menelan. nyeri). ketergantungan. perubahan tonus b. stress.Pengkajian Pada pengkajian keperawatan pasien dengan skin graft meliputi : a. cedera vaskuler langsung.)Nyeri berhubungan dengan cedera pada jaringan lunak. keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit.Sirkulasi e. d. menyangkal.)Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan donor berhubungan dengan skin graf dan mobilisasi. pembentukan trombus. sekresi oral i. 4.Diagnosa Keperawatan Brdasarkan pada pengkajian. perubahan membran alveolar/kapiler.Nyeri/ kenyamanan Gejala : berbagai tingkat nyeri.Penyuluhan/pembelajaran: Pengobatan sekarang misalnya ‗ anti-inflamasi. masalah dengan citra tubuh j. . mengi. masalah tentang peran fungsi. ansietas. Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan proses keperawatan untuk meningkatkan. menangis. 3. 5.)Resiko tinggi terhadap disfungsi perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah. penurunan refleks g. penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera c.gejala : masalah tentang keintiman hubungan f.)Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan inkontuinitas jaringan (kehilangan integritas jaringan). tahanan. hipovolemia.)Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak. 2. pekerjaan. sensitif untuk disentuh.Neurosensori : Tanda : perubahan orientasi. reaksi orang lain.Interaksi sosial : Gejala : masalah sehubungan dengan penyakit/ kondisi. marah. menarik diri. 1990) 1. steroid 2. keuangan . perencanaan. diteka.yang sehat maupun yang sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan. edema berlebihan.sirkulasi Tanda : hipotensi. imobilisasi.Integritas ego : Gejala : masalah tentang keluarga.)Gangguan mobilitas berhubungan dengan nyeri 6. gangguan massa otot. pelaksanaan dan evaluasi yang memerlukan kecakapan dan keterampilan profesional tenaga keperawatan (Budi Keliat. analgesik narkotik. mencegah dan memulihkan kesehatan melalui 4 tahap proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian. diagnosa keperawatan utama dapat mencakup yang berikut : 1. efek prilaku. berteriak. gerakan udara dan perubahan suhu Tanda : melindungi area yang sakit. menangis h.

7.)Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah informasi/tidak mengenal sumber informasi. 8.)Gangguan pemenuhan ADL ; berhubungan dengan immobilisasi. 9.)Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan skin loss/ skin graf 10.)Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien, maka langkah selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan tersebut melalui suatu perencanaan yang baik. a.)Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan inkontuinitas jaringan (kehilangan integritas jaringan).. (1.)Tujuan Mencegah terjadinya infeksi untuk mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan demam. (2.)Intervensi (a.)Pantau TTV dan Tanda – tanda infeksi. Rasional : Perubahan tanda vital mengindikasikan ada infeksi. (b.)Kaji nilai-nilai Lab terutama LED. Rasional : Untuk mengetahui adanya tingkat infeksi (c.)Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainage yang tak sedap atau asam. Rasional : Tanda perkiraan infeksi gas gangren. (d.)Pertahankan tindakan isolasi dgn teknik isolasi. Rasional : Mencegah penyebaran kuman / mikroorganisme agar tidak terjadi infeksi silang. (e.)Rawat luka dengan cara aseptic steril.. Rasional : Meminimalkan Infeksi. (f.)Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik IV/topikal. Rasional : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme. (g.)Pantau adanya sepsis, demam, Takhipnoe. Rasional :Sepsis, demam, takhipnoe menandakan Infeksi (h.)Ciptakan lingkungan yg tidak memungkinkan pertumbuhan bakteri Rasional :Infeksi Mencegah infeksi bertambah parah dan mencegah infeksi silang b.)Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak, imobilisasi, stress, ansietas (1.)Tujuan : Menyatakan nyeri hilang atau berkurang Menunjukkan tindakan santai ; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan cepat. Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi. (2.)Intervensi : a.tutup luka sesering mungkin Rasional : Perubahan suhu dan paparan udara dapat menyebabkan nyeri hebat pada pemajanan ujung syaraf b.Tinggikan ektrimitas secara periodik

Rasional : Setelah perubahan posisi dan peninggian menurunkan ketidak nyamanan serta resiko kontraktur c.Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi / karakter dan intensitas ( skala 0 – 10 ) Rasional : Perubahan lokasi / karakter dan intensitas nyeri dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi d.Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri Rasional : Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping e.Dorong penggunaan tehnik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, nafas dalam, bimbingan imajinasi dan visualisasi Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi dapat menurunkan ketergantungan farmakologis f.Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan Rasional : Kurang tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri / kemampuan koping menurun. c.). Resiko tinggi terhadap disfungsi perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah, cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan trombus, hipovolemia. (1.)Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan. (2.)Intervensi : (a.)Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada fraktur. Rasional : Kembalinya warna cepat (3 – 5 detik), warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial, sianosis diduga ada gangguan vena. (b.)Lakukan pengkajian neuromuskuler, perhatikan fungsi motorik/sensori. Rasional : Gangguan perasaan bebas, kesemutan, peningkatan/ penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi syaraf tidak adekuat atau syaraf rusak. (c.)Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua dan kaji kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan. Rasional : Panjang dan posisi syaraf parineal meningkatkan resiko cedera pada adanya fraktur kaki, edema/sindrom kompartement, atau melapisi alat traksi. (d.)Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk pembengkakan/pembentukan edema. Ukur ekstremitas yang cedera dan bandingkan dengan yang tak cedera. Rasional : Peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera dapat diduga ada pembengkakan jaringan/edema umum tetapi menunjukkan perdarahan. (e.)Awasi tanda vital, perhatikan tanda-tanda pucat, cyanosis, kulit dingin. Rasional : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan. (f.)Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi. Rasional : Menurunkan edema/pembentukan hematoma yang dapat mengganggu sirkulasi. (g.)Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi.

Rasional : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan membutuhkan keefektifan terapi penggantian. d.)Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak. (1.)Tujuan : Mempertahankan fungsi pernafasan yang adekuat. (2.)Intervensi : (a.)Awasi frekuensi pernafasan. Rasional : Takipnea, dispnea dan insufisiensi pernafasan. (b.)Auskultasi bunyi nafas perhatikan terjadinya ketidaksamaan bunyi hiperesonan, juga adanya gemericik, ronchi, mengi, dan inspeksi mengorok/sesak nafas. Rasional : Perubahan dalam/adanya bunyi adventisius menunjukkan terjadinya komplikasi pernafasan. (c.)Observasi sputum untuk tanda adanya darah. Rasional : Hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru. (d.)Inspeksi kulit untuk petekie di atas garis puting pada aksilla meluas ke abdomen/tubuh, mukosa mulut kantong konjungtiva dan retina. Rasional : Ini adalah karakteristik yang paling nyata dari tanda emboli lemak,. Yang tampak dalam 2 – 3 hari setelah cedera. (e.)Berikan tambahan oksigen bila diindikasikan. Rasional : Meningkatkan sediaan O2 untuk oksigenasi optimal jaringan. (f.)Berikan obat sesuai indikasi, heparin dosis rendah. Rasional : Blok siklus pembekuan dan mencegah bertambahnya pembekuan pada adanya tromboplebitis. e.)Gangguan mobilitas berhubungan dengan nyeri (1.)Tujuan Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin mempertahankan posisi fungsional. (2.)Intervensi (a.)Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap mobilitas. Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual memerlukan intervensi/informasi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan. (b.)Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang tidak sakit. Rasional : kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan massa otot. (c.)Pertahankan posisi tubuh tepat dengan dukungan. Rasional : Meningkatkan posisi fungsiinal pada extremita dan mencegah kontraktur. (d.)lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, di awali dgn pasif kemudian aktif. Rasional : Mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut dan kontraktur, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot sendi dan menurunkan kehilangan kalsium dari tulang (e.)Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, pertahankan penurunan kandungan protein sampai setelah defekasi pertama. Rasional : pada cedera muskuloskeletal, nutrisi yang diperlukan untuk penyembuhan berkurang

perubahan warna. Rasional : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan yang dapat bantuan. Sering mengakibatkan penurunan BB.)Kaji ulang patologi. (d..)Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi yang sehat Rasional : Mencegah kekakuan sendi. (2. (1. Rasional : meminimalkan tekanan pada area ini. (c. demam . Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi.)Kurang pengetahuan tentang kondisi.)Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas tonjolan tulang.)Tinggikan area graft bila mungkin/tepat. (d. Gerakan jaringan di bawah graft dapat mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal. Rasional : Membatasi risiko pemisahan graft.)Gunakan plester traksu kulit dengan memanjang pada posisi tungkai yang sakit. (1. Pertahankan posisi yang diinginkan. Rasional : Untuk membuat aktivitas individual/program latihan pasien dapat memerlukan bantuan jangka panjang dengan gerakan. Rasional : Plester traksi melingkari tungkai dapat mempengaruhi pada sirkulasi. (e. (b.)Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan donor berhubungan dengan skin graf dan mobilisasi. Rasional : Untuk mengurangi tekanan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit. (e.)Intervensi (a. kekuatan dan aktivitas yang mengandalkan BB. penggunaan trapeze dapat menurunkan abrasi pada siku/tumit. g. tonus dan kekuatan. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah informasi. kemerahan.dengan cepat. Rasional : Berikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat dan atau pemasangan gips/beban/traksi.)Identifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik.)Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan atau rehabiltasi spesialis. kontraktur dan kelelahan otot meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari. f. (c. perdarahan. Rasional : Menurunkan resiko infeksi (f.)Buat daftar aktivitas di mana pasien dapat melakukannya secara mandiri dan yang memerlukan bantuan.)Ubah posisi dengan sering.)Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat. prognosis dan pengobatan. prognosis. selama traksi tulang ini dapat mempengaruhi massa otot. dorong penggunaan trapeze bila mungkin. contoh : nyeri berat. benda asing.)Kaji kulit untuk luka. (2. prognosis dan harapan yang akan datang.)Tujuan Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.)Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan. Rasional : perlambatan penyembuhan dapat terjadi terhadap ketidaktepatan penggunaan alat ambulasi.)Tujuan Menyatakan pemahaman kondisi. (b. (f.)Intervensi (a.

(c. Rasional : Membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup sebelumnya dan membantu pemecahan masalah.)Sediakan waktu klien dalam melakukan aktivitas dengan segenap kemampuannya.)Berikan pujian terhadap kemampuan yang dicapai oleh klien dalam menolong dirinya.)Bantu klien memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan anjurkan klien agar dapat mengerjakan sebanyak mungkin untuk dirinya (memandikan klien).)Kaji derajat dukungan yang ada untuk pasien. (b. membicarakan diri tentang hal negatif. Rasional : Dapat mengurangi kecemasan dan ketidakmampuan pasien untuk membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita.tinggi. (1. h.)Intervensi (a. Rasional : Dibutuhkan pada masalah ini untuk membantu adaptasi lanjut yang optimal dan rehabilitasi. berhubungan dengan immobilisasi. Rasional : Dukungan yang cukup dari orang terdekat dan teman dapat membantu proses rehabilitasi.)Tujuan Mewujudkan kemampuan untuk mengatasi masalah. . (1.)Intervensi (a. Rasional : Membantu pasien untuk merasa diterima pada kondisi sekarang tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan perasaan harga diri dan kontrol. Rasional : Perawatan ini membantu memelihara harga diri dan kembali untuk hidup tanpa tergantung kepada orang lain.)Berikan informasi yang dapat dipercaya dan konsisten.)Berikan lingkungan terbuka di mana pasien akan merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menahan diri untuk berbicara.)Tujuan Kebutuhan rawat diri terpenuhi. Rasional : Mengetahui sejauh mana kemampuan klien dalam merawat dirinya. (2. Rasional : Intervensi cepat menurunkan beratnya komplikasi seperti infeksi/gangguan sirkulasi.)Kaji tingkat kemampuan klien dalam merawat dirinya. (d. (b. Rasional : Untuk memotivasi agar mematuhi program rehabilitasi secara kontinyu.)Berikan informasi akurat dan konsisten mengenai prognosis.)Tujuan Klien dapat melakukan interaksi dengan orang lain tanpa merasa rendah diri.)Perhatikan prilaku menarik diri.)Diskusikan persepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan dan bagaimana pasien melihat dirinya dalam pola/peran fungsi yang biasanya. penggunaan penyangkalan atau terus menerus melihat perubahan nyata/yang diterima. Rasional : Mengurangi frustasi yang sering menyertai kesulitan yang dihadapi bila belajar. (b.)Intervensi (a. (2.)Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. i. (c. bau tak enak.)Gangguan pemenuhan ADL . juga dukungan untuk orang terdekat. (c.)Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan skin loss/ skin graft (1. j. (2.

m. Kemudian ketiga otot dinding perut. Adapun evaluasi klien dengan post skin graft dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dan asuhan keperawatan dikatakan berhasil apabila dalam evaluasi terlihat pencapaian kriteria tujuan perencanaan yang diberikan pada klien dengan post skin graft. oblikus abdominis internus. b. Rasional : Menjamin adanya sistem pendamping bagi pasien dan memberikan kesempatan orang terdekat untuk berpartisipasi dalam kehidupan pasien.Rasional : menciptakan interaksi interpersonal yang lebih baik dan menurunkan ansietas dan rasa takut. Disebelah atas. tranfersus abdominis dan ahirnya lapis preperitoneum. Dinding perut membentuk rongga perut yang melindung isi di dalamnya. Integritas lapisan . Faktor-faktor yang perlu diperhatikan : Kebutuhan klien. Dasar dari tindakan. 2008 by harnawatiaj I.Mendokumentasikan/mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan dan respon pasien. lemak sub cutan dan fasia superfisialis ( Fasia scarpa ). yang meliputi 3 hal : a. tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam menggunakan proses keperawatan. yaitu fasia tranversalis. lemak peritoneal dan peritoneum. m. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Sumber-sumber dari keluarga dan klien sendiri. (d. 3. Filed under: 9.Konsep Dasar Dinding perut mengandung struktur muskulo aponeuresis yang kompleks. Evaluasi adalah merupakan pengukuran dari keberhasilan rencana keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. m. DERMATOLOGY ZONE | 5 Komentar » OMPHALOCELE / GASTROSCHISIS Posted on Maret 9. yaitu dari luar ke dalam lapisan kulit yang terdiri dari kutis dan sub cutis.Mengidentifikasi respon klien. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rectus abdominis dengan fasianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. struktur ini melekat pada tulang belakang. Dalam melaksanakan proses keperawatan harus kerjasama dengan tim kesehatan-kesehatan yang lain keluarga klien dan dengan klien sendiri. Sumber-sumber dari instansi.Melaksanakan tindakan keperawatan dengan memperhatikan kode etik dengan standar praktek dan sumber-sumber yang ada. oblikus abdominis externus.Pelaksanaan Pelaksanaan adalah perwujudan dari rencana keperawatan yang meliputi tindakan-tindakan yang direncakan oleh perawat. Dibagian belakang. c. Kemampuan perseorangan dan keahlian/keterampilan dari perawat. Peritoneum. melekat pada iga. Evaluasi. Di bagian bawah melekat pada tulang panggul.)Libatkan orang terdekat sesuai petunjuk pada pengambilan keputusan bersifat mayor.

Tetapi omfalokel biasanya terlalu besar dan rongga perut terlalu kecil sehingga isi kantong tidak bisa dimasukkan ke dalam rongga perut. dapatan maupun iatogenik. usus akan berada di luar rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan amnion. Bila usus keluar dari titik terlemah di kanan umbilikus. Vaskularisasi dinding perut berasal dari beberapa arah. juga pada saat berkemih. lumbalis I. Dari kranio dorsal diperoleh pendarahan dari cabang aa. luasnya cacat dinding perut dan ada tidaknya hati di dalam kantong akan menentukan cara pengobatan.muskulo aponeuresis sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada waktu pernafasan. II. dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdomen. Bila proses ini terhambat maka akan terjadi kantong di pangkal umbilikus yang berisi usus. Patofisiologi Kelainan kongenital Omfalokel dan Gastrischisis Embriogenesis Pada janin usia 5 – 6 minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selom. Tindakan yang dapat dilakukan ialah dengan melindungi kantong omfalokel dengan cairan anti septik misalnya betadin dan menutupnya dengan kain dakron agar tidak tercemar. Dinding kantong dibuang. Dari kaudal terdapat a. Dindingnya tipis terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang keduanya bening sehingga isi kantong tengah tampak dari luar. Pada usia 10 minggu terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari extra peritoneum akanmasuk ke rongga perut. Diagnosis Pada omfalokel tampak kantong yang berisi usus dengan atau tanpa hati di garis tengah pada bayi yang baru lahir. Obstruksi vena cava inferior juga dapat terjadi karena penekanan tersebut. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horisontal maupun vertical tanpa menimbulkan gangguan pendarahan. Intercostalis VI s/d XII dan a epigastrika superior. Bila kantong omfalokel kecil. Jika dipaksakan maka karena regangan dinding perut diafragma terdorong ke atas dan terjadi gangguan pernafasan. fasia dan kulit. keadaan ini disebut gastroschisis. Dengan demikian ada kesempatan terjadinya epitelisasi dari tepi sehingga seluruh kantong tertutup epitel dan terbentuk hernia ventralis yang besar. isi kantong dimasukkan ke dalam rongga perut. lambung kadang hati. torakalis VI s/d XII dan n. a pudenta externa dan a epigastrika inferior. Pada gastro schisis usus berada di luar rongga perut tanpa adanya kantong. kemudian lubang ditutup dengan peritoneum. Epitelisasi ini membutuhkan waktu 3 – 4 bulan. iliaka sirkum fleksa superfisialis. keadaan ini disebut omfalokel. Pada gastroschisis operasi koreksi untuk menempatkan usus ke dalam rongga perut dan menutup lobang harus dikerjakan secepat mungkin sebab tidak ada perlindungan infeksi. dapat dilakukan operasi satu tahap. Tambahan lagi makin ditunda operasi makin sukar karena usus akan udem. Persyarafan dinding perut dilayani secara segmental oleh n.Pengobatan Paliatif Besarnya kantong. Kemudian operasi koreksi hernia ventralis tersebut dapat dikerjakan setelah anak berusia 5 – 10 tahun. Komplikasi Komplikasi dini merupakan infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang .

Penyakit usus seperti Colitis ulserative.Infeksi parasit : Cacing.Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan. Gangguan osmotik Makanan atau zat yang tidak dapat diserap menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. 4. III. 11.Alergi makanan : susu dan protein. Gangguan sekresi Toxin pada dinding usus meningkatkan sekresi air dan lektrolit kedalam usus. peningkatan isi rongga usus merangsang usus untuk mengeluarkannya.Gangguan metabolik atau malabsorbsi.Obstruksi usus. crohn disease dan enterocolitis. protozoa dan jamur. Gangguan motalitas usus Hyperperistaltik menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan.Obat-obatan seperti antibiotik. Keadaan ini terutama pada bayi dan anak dibawah 2 tahun.Faktor psikologis : rasa tahut dan cemas.Infeksi enternal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Pengertian Diare adalah keadaan kekerapan dan keenceran buang air besar dimana frekuensinya lebih dari tiga kaliper hari dan banyaknya lebih dari 200 – 250 gram. 10. 3. 9. Yersenia dan Acromonas. sepertiOtitis Media Akut. Ecserchia coli. Coxechasi dan Poliomyelitis). Patofisiologi A. Kelainan kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain yang memperburuk prognosis. Adeno virus. Tonsilopharingitis dan sebagainya. PEDIATRIK ZONE | 1 Komentar » DIARE PADA ANAK Posted on Maret 9. 2. Etiologi Faktor Infeksi 1. 2008 by harnawatiaj I. C.Infeksi parental.Infeksi virus : Entero virus (Virus echo. 7. Bukan faktor infeksi 6.telanjang. Atau peristaltik yang menurun menyebabkan bakteri tumbuh berlebihan menyebabkan peradangan . Rota virus dan Astrovirus. Filed under: 1. 8. Salmonella.Infeksi bakteri : Vibrio coma. yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alatpencernaan. hal ini menyebabkan isi rongga usus berlebihan sehingga merangsang usus mengeluarkannya (diare). II. Compilobacter. Shigella. 12. 5.

c. f. 3.Dehidrasi ringan : dimana berat badan menurun 3 – 5 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 ml/kgBB. Mikroorganisme patogen Zat – zat sulit diserap Infeksi Peningkatan tekanan osmotik Peningkatan sekresi aktif cairan Menarik air dan garam ke dalam usus Peningkatan motilitas usus Peristaltik meningkat Diare IV. lemah.pada rongga usus sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat hal ini menyebabkan absorsi rongga usus menurun sehingga terjadilah diare.Feces encer dan terjadi perubahan warna dalam beberapa hari. terdapat fontanel dan mata yang cekung serta terjadi penurunan tekanan darah.Sering buang air besar lebih dari 3 kali dan dengan jumlah 200 – 250 gr. namun secara umum tanda dan gejala yang sering terjadi adalah : a. konvulsi.Vomiting.Dehidrasi 2.Kehilangan cairan/dehidrasi dimana jumlah urine menurun.Dehidrasi berat : dimana berat badan menurun lebih dari 10 % dengan volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/kgBB. 2. pucat. turgor kulit jelek.Dehidrasi sedang : dimana berat badan menurun 6 – 9 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 – 90 ml/kgBB. VI.Respirasi cepat dan dalam. 6. 3.Asidosis. Klasifikasi diare Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1977) : 1.Cardiac disrythmias 5.Terjadi perubahan tingkah laku seperti rewel. g. V. d. Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi pada anak yang menderita diare adalah : 1. iritabel.Hipokalsemi 4. . Gejala Klinik Gejal klinik yang timbul tergantung dari intensitas dan tipe diare.Syok hipovolemik 7. kulit kering. b.Anorexia. e.Hiponatremi. flasiddity dan merasa nyeri pada saat buang air besar.Hipokalemi.

B. 2/3 penuh ditambah oralit. pecahan kaca.Etologi Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang. Filed under: 1. 3. Formula susu dihentikan dan baru dimulai lagi secara realimentasi setalh makan nasi. pada suhu 65 C akan hancur dalam lima menit. Pengobatan diare lebih mengutamakan pemberian cairan.Bila tidak minum ASI : 1. PEDIATRIK ZONE | 1 Komentar » TETANUS Posted on Maret 9. 2.Seperti pengobatan dehidrasi ringan b.Kurang dari 1 tahun LLM dengan takaran 1/3.Oralit + cairan b. Kekuatan tonus otot massater dan otot-otot rangka. luka baker. Organisme multiple membentuk dua toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin kuat dan .4-0.Definisi Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani.Termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. bermanifestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. luka tembak.Untuk umur 1 tahun lebih . tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Penatalaksanaan Dasar-dasar penatalaksanaan diare pada anak adalah : (5 D) 1.ASI/susu yang sesuai c. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. penderita harus dirawat di RS. Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. penderita tidak perlu dirawat dan diberikan : a. 2008 by harnawatiaj A.Antibiotika (hanya kalau perlu saja) Pada dehidrasi sedang. biskuit. BB 7 kg lebih : teh.Defisiensi disakarida 5. C. 4.5 milimikro yang berbentuk spora selama diluar tubuh manusia. bubur dan seterusnya selain oralit. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang hemolisis. luka yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat. ramping.Drugs Pada dehidrasi ringan diberikan : a. berukuran 2-5 x 0. 2. atau kaleng. Toksin ini labil pada pemanasan. Spasmolitika dan obstipansia pada diare tidak diberikan karena tidak bermanfaat bahkan dapat memberatkan penyakit.Diet. sedangkan antibiotika atau obat lain hanya diberikan bila ada indikasi yang jelas.Diagnosis. Pada dehidrasi berat. kalori dan elektrolit yang bisa berupa larutan oralit (garam diare) guna mencegah terjadinya dehidrasi berat.VII. yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit.Patofisiologi Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku.Dehidrasi.

Dalam waktu singkat konstruksi otot somatik — meluas. mudah tersinggung dan sakit kepala merupakan manifestasi awal. trismus. tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum.gelisah. menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah.sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramusculus karena kontraksi yang kuat. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan : 1. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat. lengan kaku dan tangan mengepal kuat. 5. Ada 3 bentuk klinik dari tetanus. 10. yaitu: 1.atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot.tetanus local : otot terasa sakit.Gejala klinis Masa tunas biasanya 5 – 14 hari. 2. ekstremitas inferior dalam keadaan ekstensi. Pada mulanya spasme berlangsuang beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi. 6. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari. toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik. 7. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. yaitu badan kaku dengan epistotonus. masuk kedalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk kedalam susunan saraf pusat. 2. 8. 3.Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas). bibir tertekan kuat pada gigi. Anak tetap sadar. Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi.Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris.Tetanus segal : varian tetanus local yang jarang terjadi masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah . mudah terangsang. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menhilang tanpa sekuele.Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak. Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan saraf pusat. Kedua. dan mempengaruhi sistem saraf pusat. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. nyeri anggota badan sering marupakan gejala dini. D. timbul mendadak dengan kaku kuduk. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot manjadi kejang mudah sekali terangsang.Tetanus general merupakan bentuk paling sering. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin.Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot.Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring.Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot urethral.Spasme yang khas . lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luak. gelisah. 9. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher.Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dengan abdomen akut) 4.Kaku kuduk sampai epistotonus (karena ketegangan otot-otot erector trunki) 3.Kesukaran menelan.

E.Spame otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saripa) di dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi.otitis media atau luka kepala dan muka. Kuduk baku juga dapat terjadi pada meningitis (pada tetanus kesadaran tidak menurun). ~ Mengatur cairan dan elektrolit. spondilitis leher. Menurut berat gejala dapat dibedakan 3 stadium : 1.Trismur (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang. IV. Pada rabies terdapat anamnesis gigitan anjing dan kucing disertai gejala spasme laring dan faring yang terus menerus dengan pleiositosis tetapi tanpa trismus. Trismus dapat pula terjadi pada argina yang berat.Antitoksin . IX dan XI tersering adalah saraf otak VII diikuti tetanus umum.Fraktura kompresi. F. usia yang sangat mudah (neunatus) dan usia lanjut. H.Diagnosis banding Spasme yang disebabkan oleh striknin jarang menyebabkan spasme otot rahang tetapi didiagnosis dengan pemeriksaan darah (kalsium dan fospat).Diagnosis Biasanya tidak sukar. pengobatan yang terlambat.Pemeriksaan diagnostic ~ Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang sangat membantu. ~ Isolasi pada ruang yang tenang bebas dari rangsangan luar.Secara Umum ~ Merawat dan memebersihkan luka sebaik-baiknya. bila disertai frekuensi kejang yang tinggi. mastoiditis. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III. miositis leher.Atelektaksis karena obstruksi secret 4. Mortalitas di Amerika Serikat dilaporkan 62 % (masih tinggi) J.Prognosis Dipengaruhi oleh beberapa factor dan akan buruk pada masa tunas yang pendek (kurang dari 7 hari). b.Obat-obatan 1. 3. ~ Diet TKTP pemberian tergantung kemampuan menelan bila trismus makanan diberi pada sonde parenteral.000-12.Trismur (1 cm) dengan kejang torik umum spontan. 2. preumonia lobaris atas. ~ Oksigen pernafasan butan dan trakeotomi bila perlu. kenaikan suhu tubuh yang tinggi. 2. abses gigi yang hebat.Trismus (3 cm) tanpa kejang-lorik umum meskipun dirangsang. pembesaran getah bening leher. Kejang pada meningitis dapat dibedakan dengan kelainan cairan serebropinalis.Asfiksia 3.Komplikasi 1.Penatalaksanaan a.000 ca. I. period of onsed yang pendek (jarak antara trismus dan timbulnya kejang) dan adanya kompikasi terutama spame otot pernafasan dan obstruksi saluran pernafasan. ~ Pemeriksaan darah : leukosit 8. abses retrofaringeal. G. VII.

2. 200 mg/hari). 2.Bila mendapat luka : ~ Perawatan luka yang baik : luka tusuk harus di eksplorasi dan dicuci dengan H2O2.5-1. sehingga timbul kerusakan dalam susunan parenkim hati.M lalu dilanjutkan 6 x 30 mg hari (max.0 mg/kg BB/1.M.Fungsional Uraian : A. diikuti proliferasi jaringan ikat. 4. dll. ~ Tetanus toksoid sebagai boster bagi yang telah mendapat imunisasi dasar.Pengertian Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan kronik pada hati.Antibiotik Penizilin prokain 1.M/hari untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB.V Dapat memusnakan oleh tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya.Antitoksin 20.000 iu/1.u/hari atau tetrasiflin 1 gr/hari/1.M/4 jam. untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1. yang diberikan sebagai dapat paad usia 3. II.4 dan 5 bulan. juta 1. INFEKSION ZONE | Leave a Comment » SIROSIS HEPATIS Posted on Maret 9.Imunisasi aktif toksoid tetanus. ~ Diazepam 0. ~ Bila luka berta berikan pp selama 2-3 hari (50. ~ Klorpromasin 3 x 25 mg/1.Anti kejang/Antikonvulsan ~ Fenobarbital (luminal) 3 x 100 mg/1. 2008 by harnawatiaj I. K.000 iu/kg BB/hari).Etiologi B.m/5 hari.Klasifikasi etiologi 1)Etiologi yang diketahui penyebabnya (a)Hepatitis virus B & C (b)Alkohol (c)Metabolik (d)Kolestasis kronik/sirosis siliar sekunder intra dan ekstrahepatik .Morfologi C.Etiologi & Klasifikasi Sirosis hepatis diklasifikasikan berdasarkan atas : A. Pemberian baru dilaksanakan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.Pencegahan 1. ~ Pemberian ATS 1500 iu secepatnya. Booster diberikan 1 tahun kemudian selanjutnya tiap 2-3 tahun. degenerasi dan regenerasi. Filed under: 9.

C. sedangkan sirosis makronodular ada yang berubah menjadi makronodular sehingga dijumpai campuran mikro dan makronodular. sirosis hati dibagi atas : kompensasi baik (laten. berat badan menurun.mikronodular 2. Eritema palmaris Asites Pertumbuhan rambut berkurang Atrofi testis dan ginekomastia pada pria Sebagai tambahan dapat timbul : Ikterus/jaundice.kegagalan hati/hepatoselular : dapat timbul keluhan subjektif berupa lemah. hepatitis kronik aktif (g)Toksik & obat INH. sirosis campuran umumnya sirosis hati adalah jenis campuran ini. flapping tremor akibat amonia dan produksi nitrogen (akibat hpertensi portal dan kegagalan hati) Hipoalbuminemia.makronodular 3. edema pretibial. bicara gagok/slurred speech.sirosis dini) dekompensasi (aktif. metildopa (h)Operasi pintas usus halus pada obesitas (i)Malnutrisi.(e)Obstruksi aliran vena hepatik Penyakit vena oklusif Sindrom budd chiari Perikarditis konstriktiva Payah jantung kanan (f)Gangguan imunologis Hepatitis lupoid. B. gembung. Sirosis mikronodular besar nodulnya sampai 3 mm. subfebris. dll Spider nevi/angiomata pada kulit tubuh bagian atas.sirosis mikronodular : ditandai dengan terbentuknya septa tebal teratur. danfoetor hepatik. muka dan lengan atas. 2)Etiologi tanpa diketahui penyebabnya. gangguan koagulasi darah/defisiensi protrombin. infeksi seperti malaria.Klasifikasi Fungsional Secara fungsi. Sirosis yang tidak diketahui penyebabnya dinamakan sirosis kriptogenik/heterogenous. mual. . 2. sirkulasi hiperkenetik. disertai kegagalan hati dan hipertensi portal) 1. mengandung nodul yang besarnya juga bervariasi ada nodul besar didalamnya ada daerah luas dengan parenkim yang masih baik atau terjadi regenerasi parenkim. sirosis makronodula ditandai dengan terbentuknya septa dengan ketebalan bervariasi.campuran Uraian : 1. Ensefalopati hepatik. 3. Klasifikasi Morfologi Secara makroskopik sirosis dibagi atas: 1. di dalam septa parenkim hati mengandung nodul halus dan kecil merata tersebut seluruh lobul.

retikulo endotel. dan hipertensi portal.sinusoid. Biasa yang dominan adalah peningkatan resistensi.biasa terdapat lokasi obstruksi campuran. misalnya peningkatan resistensi atau aliran corta atau keduanya. biokimia darah. dan ini menyebabkan distorsi percabangan pembuluh hepatik dan gangguan aliran daerah portal dan menimbulkan hipertensi portal. terjadi fibrogenesis dan septa aktif jaringan kologen berubah dari reversibel menjadi irrevensibel bila telah terbentuk septa permanen yang aseluler pada daerah portal dan parenkhim hati sel limfosit T dan makrofag menghasilkan limfokin dan monokin sebagai mediator fibrinogen. yakni kegagalan hati. Gambaran klinis. Kolagen ada 4 tipe dengan lokasi sebagai berikut: Tipe 1: lokasi daerah sentral Tipe 2: sinusoid Tipe 3: jaringan retikulin (sinusoid portal) Tipe 4: membram basal Pada semua sirosis terdapat peningkatan pertumbuhan semua jenis kologen tersebut. insufisiensi trikuspidal. Mekanisme terjadinya sirosis hati bisa secara: -mekanik -imunologis -campuran . jaringan parut ini dapats menghubungkan daerah portal yang satu dengan yang lain atau portal dengan sentral (bridging neerosis). biasa kongenital.septal aktif ini berasal dari portal menyebar keparenkim hati. d)Posthepatik karena perikarditis konstriktiva.septa bisa dibenyuk dari sel retikulum penyangga kolaps dan berubah menjadi parut . Intrahepatik a)Presinusoidal b)Sinusoinal(sirosis hati) c)Post-sinusoidal (veno oklusif). dan kedua akibat meningkatnya aliran portal karena transmisi dari tekanan arteri hepatikke sistem portal akibat distorsi arsitektur hati. Lokasi peningkatan resistensi bisa : prehepatik. III. trombosis vena porta waktu lahir. Beberapa sel tumbuh kembali dan membentuk nodul dengan berbagai ukuran . Pembentukan jaringan kologen diransang oleh nekrosis hepatoseluluer dan asidosis laktat merupakan faktor perangsang. Tekanan splanknik meningkat tetapi tekanan portal intra hepatik normal.Patognesis: Adanya faktor etilogi menyebabkan peradangan dan kerusakan inekrosis meliputi daerah yang luas (hapatoseluler) . regresif.2. Peningkatan tekanan prehepatik bisa juga diakibatkan meningkatnya aliran splanknik karena fistula atriovenosa atau mielofibrosis limfa.hipertensi portal : bisa terjadi pertama akibat meningkatnya reistensi portal dan splanknik karena mengurangnya sirkulasi akibat fibrosis. Tahap berikutnya terjadi peradangan dan nekrosis pada sel duktules . pengobatan dan prognosis pasien sirosis hati tergantung pada 2 komplikasi. Aktivitas sirosis hati dapat dinilai dari aspek klinis. dan status quo (stasioner).Bisa disebabkan satu faktor saja. histologi jaringan dan dibagi atas progresif.terjadi kolaps lobulus hati dan ini memacu timbulnya jaringan parut disertai terbentuknya septa fibrosa difus dan modul sel hati .

nekrosis luas dan pembentukan jaringan ikat yang luas disertai pembentukan jaringan ikat yang luas disrtai pembentukan nodul regenerasi oleh sel parenkim hati. kadang mencret atau konstipasi berat badan menurun. Ikterus dengan eir kemih berwarna seperti air kemih yang pekat mungkin disebabkan oleh penyakit yang berlanjut atau transformasi ke arah keganasan hati. mual. dan pemeriksaan penunjang lainnya. hipokrom normositer. spider nevy. Sebagian pasien datang dengan gejala hematemesis. Jadi fibrosis pasca nekrotik adalah dasar timbulnya sirosis hati. epistaksis. Perkembangan sirosis dengan cara ini memerlukan waktu sekitars 4 tahun sels yang nengandung virus ini merupakan sumber rangsangan terjadinya proses imunologis yang berlangsung terus menerus sampai terjadi kerusakan hati. hipokrom mikrositer. Pada mekanisme terjadinya sirosis secara imunologis dimulai dengan kejadian hepatitis viral akut yang menimbulkan peradangan sel hati . Bisa juga pasien datang dengan gangguan pembentukan darah seperti perdarahan gusi. anemia normokrom normositer. Gejala kegagalan hati ditimbulkan oleh keaktifan proses hepatitis kronik yang masih berjalan bersamaan dengan sirosis hati yang telah terjadi dalam proses penyakit hati yang berlanjut sulit dibedakan hepatitis kronik aktif yang berat dengan permulaan sirosis yang terjadi (sirosis dini ). Kadang-kadang pasien sering mendapat flu akibat infeksi sekunder atau keadaan aktivitas sirosis itu sendiri. 2. Terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal dengan manifestasi seperti: eritema palmaris. gangguan siklus haid. Perdarahan bisa masif dan menyebabkan pasien jatuh ke dalam renjatan. Kolesterol darah yang selalu rendah mempunyai prognosis yang kurang baik. Fase kompensasi sempurna pada fase ini tidak mengeluh sama sekali atu bisa juga keluhan samar-samar tidak khas seperti pasien merasa tidak bugar/ fit merasa kurang kemampuan kerja selera makan berkurang. SGPT tidak merupakan petunjuk tentang berat dan . atau hipokrom makrositer. Kenaikan kadar enzim transaminase/SGOT. Fase dekompensasi Pada sirosis hati dalam fase ini sudah dapat ditegakkan diagnosisnya dengan bantuan pemeriksaan klinis. edema pretibial dan asites. haid berhenti. atau melena saja akibat perdarahan farises esofagus. Darah : bisa dijumpai HB rendah.Manifestasi klinis 1.nekrosis /nekrosis bridging dengan melalui hepatitis kronik agresif diikuti timbulnya sirosis hati. hematemesis dan melena.Pemeriksaan Laboratorium Perlu diingat bahwa tidak ada pemeriksaan uji biokimia hati yang dapat menjadi pegangan dalam menegakkan diagnosis sirosis hati. IV. sirosis datang dengan gangguan kesadran berupa ensefalopati. Pada kasus lain. perasaan perut gembung. Keluhan pasien sirosis hati tergantung pada fase penyakitnya. yang masih baik.Dalam hal mekanisme terjadinya sirosis secara mekanik dimulai dari kejadian hepatitis viral akut. V. pengurangan masa otot terutama pengurangannya masa daerah pektoralis mayor. dimana tumor akan menekan saluran empedu atau terbentuknya trombus saluran empedu intra hepatik. ikterus.Pemeriksaan Penunjang 1. bisa akibat kegagalan hati pada sirosis hati fase lanjut atau akibat perdarahan varises esofagus. timbul peradangan luas. vena kolateral pada dinding perut. laboratorium. Anemia bisa akibat hipersplenisme dengan leukopenia dan trombositopenia.

transaminase dan gamma GT tidak meningkat pada sirosis inaktif.Hacket : bila limpa membesar ke arah bawah saja (HI-V). kadar Na 500-1000. mempunyai nilai diagnostik suatu kanker hati primer. Perlu diperhatikan adanya eritema palmaris. pada perbaikan terjadi kenaikan CHE menuju nilai normal. dada.mol/dl0 50 Alb. Pada sirosis hati. 2.serum (mu. pinggir hati biasanya tumpul dan ada sakit pada perabaan hati. bila hati mengecil artinya. konsistensi hati biasanya kenyal/firm. Pemeriksaan CHE (kolinesterase) : penting dalam menilai sel hati. pinggang. dan atrofi testis pada pria. ginekomastia. Limpa : pembesaran limpa diukur dengan 2 cara : a.serum(gr/dl) >35 30-35 <30 Asites Nihil Mudah dikontrol Susah Pse/ensefalopati Nihil Minimal Berat/koma . Manifestasi diluar perut : perhatikan adanya spider navy pada tubuh bagian atas. biasa hati membesar pada awal sirosis. bahu. b. Besar hati normal selebar telapak tangannya sendiri (7-10 cm).luasnya kerusakan parenkim hati. Albumin : kadar albumin yang merendah merupakan cerminan kemampuan sel hati yang kurang. dan tubuh bagian bawah. prognosis kurang baik. Penurunan kadar albumin dan peningkatan kadar globulin merupakan tanda kurangnya daya tahan hati dalam menghadapi stress seperti : tindakan operasi. Bila terjadi kerusakan sel hati. Pemeriksaan laboratorium bilirubin. leher.Pemeriksaan Jasmani Hati : perkiraan besar hati.Schuffner : hati membesar ke medial dan kebawah menuju umbilikus (SI-IV) dan dari umbilikus ke SIAS kanan (SV-VIII). Dalam hal ensefalopati. ini lebih sensitif tetapi kurang spesifik. Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan pembatasan garam dalam diet. Klasifikasi Child Pasien Sirosis Dati Dalam Terminologi Derajat kerusakan Minimal sedang Berat Bil. caput medussae. Kenaikan kadarnya dalam serum timbul akibat kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan. Bisa juga dijumpai hemoroid. mempunyai prognosis yang jelek. kadar CHE akan turun. Nilai CHE yang bertahan dibawah nilai normal. Peninggian kadar gamma GT sama dengan transaminase. Perut & ekstra abdomen : pada perut diperhatikan vena kolateral dan ascites.

gambaran vena hepatika. E R C P : digunakan untuk menyingkirkan adanya obstruksi ekstrahepatik. Sonografi bisa mendukung diagnosis sirosis hati terutama stadium dekompensata. timbul spider nevi. perdarahan dan eksudat. permukaan. dapat dievaluasi besar dan panjang varises serta kemungkinan terjadi perdarahan yang lebih besar. Ultrasonografi : pada saat pemeriksaan USG sudah mulai dilakukan sebagai alat pemeriksaa rutin pada penyakit hati. maka gambaran klinis. Bisa dijumpai tanda-tanda infeksi (peritonitis bakterial spontan). seperti tumor atau kista hidatid. Esofagoskopi : dapat dilihat varises esofagus sebagai komplikasi sirosis hati/hipertensi portal. splenomegali. pembesaran. ensefalopati.Komplikasi Bila penyakit sirosis hati berlanjut progresif. Bila penyakit berlanjut maka dari kedua komplikasi tersebut dapat timbul komplikasi dan berupa : . selia gastrik atau splenotofografi terutama pengukuran tekanan vena porta. limpa. hepatoma/tumor. kultur cairan dan pemeriksaan kadar protein. atrofi testis. sel retikuloendotel dan limpa. vena porta. Pada beberapa kasus. bentuk dan homogenitas hati. kemungkinan perdarahan yang lebih besar akan terjadi bila dijumpai tanda diffus redness. Angiografi : angiografi selektif. daerah hipo atau hiperekoik atau adanya SOL (space occupyin lesion0. dilakukan pemeriksaan mikroskopis. amilase dan lipase. Diperlukan pengalaman seorang sonografis karena banyak faktor subyektif. caput medusae. red whale marking.Kegagalan hati (hepatoseluler) . Pada sirosis hati dan kelainan difus parenkim terlihat pengambilan radionukleid secara bertumpuk-tumpu (patchty) dan difus. dll. homogenitas.nutrisi Sempurna Baik Kurang/kurus Pemeriksaan Penunjang Lainnya : Radiologi : dengan barium swallow dapat dilihat adanya varises esofagus untuk konfirmasi hepertensi portal. Juga dapat dilihat besar. eritema palmaris. Bisa dilihatbesar dan bentuk hati. ginekomastia. prognosis dan pengobatan tergantung pada 2 kelompok besar komplikasi : 1. Akelebihan endoskopi ialah dapat melihat langsung sumber perdarahan varises esofagus. tandatanda yang mengarah akan kemungkinan terjadinya perdarahan berupa cherry red spot. dll. Selain tanda tersebut. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah pemeriksaan cairan asites dengan melakukan pungsi asites. kelainan tumor hati. 2. pelebaran saluran empedu/HBD. ikterus. filling defek. hemoroid. Sidikan hati : radionukleid yang disuntikkan secara intravena akan diambil oleh parenkim hati. Tomografi komputerisasi : walaupun mahal sangat berguna untuk mendiagnosis kelainan fokal. Yang dilihat pinggir hati. kista. vena kolateral dinding perut.Hipertensi portal : dapat menimbulkan splenomegali. VI. asites. sel tumor. ikterus obstruktif batu kandung empedu dan saluran empedu. pemekaran pembuluh vena esofagus/cardia. prosedur ini sangat berguna untuk melihat keadaan sirkulasi portal sebelum operasi pintas dan mendeteksi tumopr atau kista.

d)Terapi yang diberikan berupa antibiotik seperti sefotaksim 2 g/8 jam i.1 g dalam 500 cc cairan d 5 % atau salin pemberian selama 4 jam dapat dulang 3 kali.Pasien dalam keadaan kompensasi hati yang baik cukup dilakukan kontrol yang teratur.Transformasi ke arah kanker hati primer (hepatoma) VII.Sindrom hepatorenal 7. aminoglikosida. e)Sindrom haptorenal/nefropati hepatik.bila perlu dikombinasi dengan furosemid. Operasi pintas dilakukan pada Child AB atau dilakukan transeksi esofagus (operasi Tanners0. Psien dirawat di RS sebagai kasus perdarahan saluran cerna. diberikan D-penicilamine 20 mg/kgBB/hari yang akan mengikat kelebihan cuprum. istirahat yang cukup. dicoba melakukan parasentesis abdominal . Pertama melakukan pemasangan NG tube. protein dikurangi. 0. untuk mencegah rebleeding dapatdiberikan propanolol. Dilakukan pemasangan SB tube untuk menghentikan perdarahan varises. lemak secukupnya. Bila tidak tersedia fasilitas diatas. 2.3. Dapat dilakukan skleroterapi sesudah dilakukan endoskopi kalau ternyata perdarahan berasal dari pecahnya varises. Dilakukan venaseksi 2x seminggu sebanyak 500 cc selama setahun. Spirolakton dimulai dengan dosis awal 4×25 mg/hr dinaikkan sampai total dosis 800 mg sehari. Alkohol akan mengurangi pemasukan protein ke dalam tubuh. aspirasi cairan lambung bagi pasien yang mengalami perdarahan pada varises. dan menambah ekskresi melalui urin. Pada saat ini sudah mulai dikembangkan transplantasi hati dengan menggunakan bahan cadaveric liver. amokisilin. Pada hepatitis kronik autoimun diberikan kortikosteroid Pada keadaan lain dilakukan terapi terhadap komplikasi yang timbul a)Untuk asites. susunan diet TKTP. diberikan diet rendah garam 0. 1.v. Bila timbul ensefalopati. b)Perdarahan varises esofagus.Pasien sirosis hatidengan sebab yang diketahui. Hemokromatosis. Pada penyakit wilson (penyakit metabolik yang diturunkan). Dengan kontrol pasien yang teratur pada fase dini akan dapat dipertahankan keadaan kompensasi dalam jangka panjang dan kita dapat memperpanjang timbulnya komplikasi. dilakukan klisma.5 l/hr.Asites 4. Bila perdarahan banyak. c)U ntuk ensefalopati dilakukan koreksi faktor pencetus seperti pemberian KCL pada hipokalemia. pemberian neomisin per oral.Ensefalopati 5. Bila tersedia fasilitas dapat dilakukan foto koagulasi dengan laser dan heat probe. tekanan sistolik 100 x/mnt atau Hb .Peritonitis bakterial spontan 6.9 g% dilakukan pemberian IVFD dengan pemberian dekstrosa/salin dan transfusi darah secukupnya. disamping melakukan aspirasi cairan lambung. terapinya adalah imbangan air dan garam diatur dengan ketat. dihentikan pemakaian preparat yang mengandung besi atau terapi kelasi (desferioxamine).5 g/hr dan total cairan 1. Pengobatan Terapi & prognosis sirosis hati tergantung pada derajat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal. seperti : Alkohol & obat-obat lain dianjurkan menghentikan penggunaannya. atasi infeksi dengan pemberian antiobiotik. Diberikan vasopresin 2 amp.

0 –. 40.2.0 – 6.0.0.0 persen Fungsi Hati (LFT) Ukuran Satuan Nilai Rujukan. Filed under: 9. Jl.0. Batang1 % 2. Jakarta 12130. Asam Urat mmol/L 54 – 42 CATATAN PENTING: Setiap laboratorium menentukan nilai ‗normal‘. Eritrosit (sel darah merah) juta/μl 4.0 – 40.0 – 4.5 Profil Lipid Kolesterol total mmol/L 3.0. Limfosit % 20. INTERNIS ZONE | 4 Komentar » HASIL TES LAB NORMAL Posted on Maret 9.0 – 18.5 – 5.0 – 8. Kalium mmol/L 3.0. SGOT (AST) U/L < 35. Hemoglobin (Hb) g/dL 12. Trigliserid mmol/L 0.0 (L) Hitung Jenis Basofil % 0.0.0 – 48.< 15 (L.0 – 1.9 (P). Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan New Mexico AIDS InfoNet. usia < 50). HDL mmol/L < 4. 4. 80 – 316 (L). Alkalin fosfatase U/L 64 – 306 (P). Radio IV/10. 2008 by harnawatiaj HASIL TES LAB NORMAL Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia.4. 13.Bilirubin langsung mg/dL 0.dengan ekstra hati-hati untuk memperbaiki aliran vena kava.6 – 5.0 – 10. Laju endap darah (LED) mm < 25 (P. Amilase U/L < 125. SGPT (ALT) U/L < 36.0 MCH/HER pg 27. Natrium mmol/L 135 – 150.0.0.0 (P). < 30 (P. dengan nilai rujukan.0 – 6. 60 – 400 (L). Protein total g/L 66. Hematokrit % 39. sehingga timbul perbaikan pada curah jantung dan fungsi ginjal. Urea mg/dL 8 – 25.0 – 45.aidsinfonet. Kadang kala dilaporkan persentase neutrofil saja.11 – 2. 92.1.0 – 87.0. Klorid mmol/L 95 – 108. usia 50) Leukosit (sel darah putih) 103/μl 5. MCV/VER fl 82.0 – 16.0 – 0.6 – 5. Nilai ini tergantung pada alat yang dipakai dan .0 – 1.0 (P). Batang dan segmen adalah jenis neutrofil. Lihat http:// www. Eosinofil % 1. Bilirubin total mg/dL 0.org Darah Ukuran Satuan Nilai Rujukan.9. Tel: (021) 7279 7007 Fax: (021) 726-9521.15 Lain Glukosa mmol/L 3.0 – 31. Monosit % 2. 50. usia 50) . < 20 (L.5 (L).0 Trombosit 103/μl 150 – 400 Catatan: 1. usia < 50).0 (L). MCHC/KHER g/dL 32.0 – 36. yang ditunjukkan pada kolum ‗Nilai Rujukan‘ atau ‗Nilai Normal‘ pada laporan laboratorium. Segmen1 % 50.0.0 – 70.0 – 3. Albumin g/L 38 – 57 Fungsi Ginjal Kreatinin U/L 40 – 150 (P).0 – 75.

Jenis ketidakstabilan akut. post traumatic paruparu. Jakarta. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire‘s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. kongesti atelektasis. Aspirasi virus pneumonia. tenggelam. ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. hemorrhagic. pneumonia septic) . Non pulmonary : Shock (traumatic. Hampir tenggelam dan trauma dada. Menyerupai perubahan pada IRDS. angka ini diambil terutama dari laboratorium RSCM. DIAGNOSTIK ZONE | 2 Komentar » ADULT RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM Posted on Maret 9. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat. bukan dengan nilai rujukan pada lembaran ini. post infusion paru. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. Tidak ada standar nilai rujukan. nilai laboratorium lain dapat berbeda. perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar Darah yang beracun. Filed under: A. 2008 by harnawatiaj ARDS Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru. O2 konsentrasi meningkat. Jadi angka pada laporan kita harus dibandingkan dengan nilai rujukan pada laporan. amniotic fluid embolic. hydrocarbon. dan ventilasi paru. baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom.cara pemakaiannya. bacterial. kimia corrosive.

susah bernafas.Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis. Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan. Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar. Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan. keadaan abnormal ventrikel kiri. Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis. methadone barbiturat). Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia . Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory. oleh karena itu mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi.

4.Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator.Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia.Perubahan nutrisi.Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan. HR) stabil.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia. 6. . 12. 3. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic.Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik  menegakkan diagnosis: adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasiStatus klinik klien yang adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasikekakuan paru-paru) alveolar.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest. 13.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive mengetahui atau berguna untuk memenuhiEnd Expiratory Pressure) kebutuhan ventilasi paru.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. Hemodinamic parameter (CO. BP. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2. 5. O2 C Hypoksimia. 7. 11. 10. 8. 2. 14. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. 9.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan. Diagnosa Keperawatan 1.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg.

Karena peningkatanKlien dengan ARDS metabolisme dan gangguan oral intake. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. . Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2. Keseimbangan intake dan output. terpenuhinyaBerguna untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru kebutuhan ventilasi paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada. Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps. Komunikasi nonverbal dapat diartikan.Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi. Integritas kulit baik.Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi. 1982) tingkat rasa nyaman. Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli. atau swan-Ganz cateter). Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi. Membran mukosa mulut baik. Berat badan stabil.Tekanan kapiler paru normal. alat monitor khususKetepatan pemeriksaan gas darah. Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output). PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah harusdarah vena yang kembali ke jantung sering dimonitor. Pelaksanaan 1. mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. TKTP diberikan. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi. cardiac output (CVP. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic. utuh. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah.

yang panjangnya kirakira 25 cm (10 inchi) menjadi distensi bila makanan melewatinya. Lambung dapat dibagi ke dalam empat bagian anatomis. Filed under: 5. Bagian sisa dari saluran gastrointestinal terletak di dalam rongga peritoneal. Istilah ini menjadi acuan bahwa terjadi proses inflamasi dalam lambung dan usus Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml per jam tinja). 4. Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organorgan vital. Lambung ditempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh.3. menurun-kanUntuk mengurangi peradangan dari membran alveoli permeabilitas kapiler paru-paru.Pencegahan cedera paru berlanjut. 2008 by harnawatiaj A. Lambung adalah suatu kantung yang dapat berdistensi dengan kapasitas kira-kira ± 1500 ml. Diare adalah defekasi yang tidak normal baik frekuensi maupun konsistensinya. 1996 ). dan pathogen parasitic. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri. frekuensi diare lebih dari 4 kali sehari. Selang yang dapat mengempis ini. virus. kortikosteroid. korpus dan . Pemberian O2. tepat di bawah diafragma kiri.Anatomi fisiologi Saluran gastrointestinal yang berjalan dari mulut melalui esofagus. B. dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi yang meningkat (Arif Mansjoer.Pengertian Gastroenteritis atau diare akut adalah kekerapan dan keenceran BAB dimana frekuensinya lebih dari 3 kali perhari dan banyaknya lebih dari 200 – 250 gram (Syaiful Noer.Individu dan family coping. anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. fundus. kardia. RESPIRATORY ZONE | 1 Komentar » GASTROENTERITIS Posted on Maret 9. Esofagus terletak di mediastinum rongga torakal. 1999 : 501). Gastroenteritis (diare akut) adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri . lambung dan usus sampai anus. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks. Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dan/ atau munmtah akut. Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif.

Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit itu adalah aeromonashidrophilia. yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak dibagian bawah kanan duodenum. Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal.6 – 2. yaitu saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare. coli infasif (EIEC).Infeksi parenteral. bacillus cereus. clostridium defficile. Sedangkan golongan bakteri invasiv adalah salmonella spp. Diare karena bakteri invasive dan non ihnvasiv terjadi melalui suatu mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan transport ion di dalam sel-sel usus berikut ini : cAMP (cyclic adenosine monophospate). Penyebab itu dapat digolongkan lagi kedalam penyakit yang ditimbulkan adanya virus. yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti : otitis media akut tonsilopharingitis. astrovirus. Yang mana fungsinya mengabsorbsi air dan elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon. dan sebagainya. staphylococcus aureus. campylobacter jejuni. dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. cGMP (cyclic guaniosin monophospate). coli hemorrhagic (EHEC) dan camphylobcter. vibrio cholerae. Kolon sigmoid dan rektum kolon sigmoid berfungsi menampung massa faeces yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. jalan keluar anal diatur oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal. bagian tengah disebut yeyunum. fasiolapsis buski. Rektum berlanjut pada anus. Kolon mengabsorbsi sekitar 600 ml air perhari sedangkan usus halus mengabsorbsi sekitar 8000 ml kapasitas absorbsi usus besar adalah 2000 ml perhari. ialah bvakteri non invasive dan bakteri invasive. Pada tempat ini terdapat apendiks veriformis. E. usus halus dibagi dalam 3 bagian yaitu bagian atas disebut duodenum.Etiologi Faktor infeksi a. C.Bakteri penyebab gastroenteritis (diare akut) dibagi dalam dua golongan besar. isospora billi. c. sarcocystis suihominis. Usus besar terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen. shigella spp. shigelloides. Ini disebut sekum pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal. Untuk sekresi dan absorbsi. segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen.Insiden Data departemen kesehatan RI. entamoeba histolitica. salmonella spp.pilorus. Pada sat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi. bakteri. calcivirus. Bila jumlah ini dilampaui. plesiomonas. Yang termauk dalam golongan bakteri non invasive adalah : vibrio cholera.ETEC. bagian bawah disebut ileum. cryptosporidium. coli pathogen (EPEC. capillaria philippinensis. dan trichuris trichuria. E.Infeksi internal. Bagian ujung dari usus besar terdiri dua bagian. Sedangkan penyebab gastroenteritis (diare akut) oleh parasit adalah balantidium coli. dan yersinia enterocolitica. dan parasit usus. Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah rotavirus (40-60%) sedangkan virus lainnya ialah virus Norwalk.EIEC). giarsia lamblia. D.2 episode diare . menyebutkan bahwa angka kesakitan diare diindonesia saat ini adalah 230-330 per 1000 pendududk intuk semua golongan umur dan 1. clostridium perfringens. coronavirus. minirotavirus dan virus bulat kecil. b. E. Yang berfungsi untuk mengontrol isi usus ke dalam usus besar. E. Ca-dependent dan pengaturan ulang sitoskeleton. coli. strongiloides stercoralis. misalnya adalah karena adanya kiriman yang berlebihan dari ileum maka akan terjadi diare.

Shigela. S.Patogenesis Diare akut akibat infeksi( gastro enteritis) terutama dilakukan secara fekal oral. Yersinia dan Perfringens tipe C. Bakteri kemudian tertelan dan masuk kedalam lambung. sub unit B melekat di dalam membrane dari sub unit A dan akan bersentuhan dengan membrane sel serta mengeluarkan cAMP (cyclic Adenosin Monophospate). Angka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. bahkan yang disajikan tanpa dimasak penularannya transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi (Norwalk. Kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat menginduksi diare patogenesis diare disebabkan infeksi bakteri terbagi dua yaitu : 1. namun bila jumlah bakteri terlalu banyak maka akan ada yang lolos kedalam usus 12 jari (duodenum). tangan yang terkontaminasi (clostridium difficille). makanan yang tidak matang. Di dalam membrane bakteri mengeluarkan toksin yang disebut sub unit A dan sub unit B. dan bersifat sekretorik eksudatif.setiap tahunnya untukgolongan umur balita. Bila jumlah cairan meningkat sampai dengan 4500 ml (4. E. Typhimurium. Enteriditis. S. Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain daya penetrasi. soetomo pada tahun 1996 didapatkan 871 penderita diare yang dirawat dengan dehidrasi ringan 5%. Coli (EIEC). tetapi bila jumlah tersebut melampaui kapasitasnya menyerap. Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agent) dan faktor penjamu (host). volume cairan didalam lumen usus akan bertambah banyak. Faktor penjamu adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme.tahun 2000 terdapat 1160 penderita diare yang dirawat dengan 227 (19.1%. didalam lambung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung. S. seperti keasaman lambung.Bakteri noninvasif (enterotoksigenik) Bakteri masuk kedalam makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut. Bakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah Enteroinvasif E. 2. Choleraesuis. atau melalui aktivitas seksual. Cairan ini akan menyebabkan dinding usus menggelembung dan tegang dan sebagai reaksi dinding usus akan megadakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk mengalirkan cairan ke baeah atau ke usus besar. maka akan terjadi diare. rotavirus).56 %) penderita yangmeninggal karena dehidrasi. tetapi tentu saja ada batasannya.Bakteri enteroinvasif Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. dan dehidrasi berat 23 %. tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut. Hal ini disebabkan masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi tinja ditambah dengan ekskresi yang buruk. Dalam keadaan normal usus besar akan meningkatkan kemampuannya untuk menyerap cairan yang bertambah banyak. kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus serta daya lekat kuman. Di dalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga jumlahnya mencapai 100 juta koloni atau lebih per ml cairan usus. Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah. imunitas juga mencakup lingkungan mikroflora usus. motilitas lambung. Paratyphi B. masih belum terjadi diare. dehidrasi sedang 7. Sebagai akibat adanya rangsangan sekresi cairan dan hambatan absorbsi cairan tersebut. cAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus di bagian kripta vili dan menghambat absorbsi cairan di bagian kripta vili. Di laboratorium kesehatan anak RSUD Dr. Denan memproduksi enzim muicinase bakteri berhasil mencairkan lapisan lendir yang menutupi permukaan sel epitel usus sehingga bakteri dapat masuk ke dalam membrane (dinding sel epitel).5 liter). yaitu faktor daya tahan tubuh atau lingkungan lumen saluran cerna. yang merusak sel mukosa. . S.

Secara klinis dianggap diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan pertama. turgor kulit menurun. E. salmonella. elisa Parasit : Pemeriksaan mikroskopika PH dan uji reduksi Lemak (pewarna sudam III) Elektrolit dan osmolalitas Darah tepi lengkap Asam folat serum dan eritrosit Mikroskopik : glordia dorstring dan loides. ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis. Mekanisme yang dilakukan virus masih belum jelas kemungkinan dengan merusak sel epitel mukosa walaupun hanya superfisial. mungkin karena superinfeksi dengan jasad renik lain.Penyebab diare lainnya. Biakan : kuman aerob dan anaerob. pada saat diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah.Gejala Klinik Pasien dengan diare akibat infeksi sering mengalami nausea. dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja. F. Selain itu terjadi pula kerusakan enzim-enzim disakarida yang menyebabkan intoleransi yang akhirnya memperlama diare. dan elektrolit. Histolytica) kerusakan vili yang penting menyerap air. coli. seperti parasit menyebabkan kerusakan berupa usus besar (E. Kedua disentriform.Tes Diagnostik BAHAN PEMERIKSAAN Tinja Tinja Darah Cairan duadenum Biakan : Siggela. tulang pipi menonjol. kolerifrom. . Bila terjadi renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120 kali/menit) tekanan darah menurun tak terukur. lidah kering. kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. G. muka pucat. cholarae Virus : Mikroskop elektron. Perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria. elektrolit dan zat makanan (lamdia) patofisologi kandida menyebabkan gastroenteritis belum jelas. pasien gelisah. muntah. V. demam dan diare terjadi renjatan hipovolemik harus dihindari kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus. gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). nyeri perut sampai kejang perut. Sebaliknya sel-sel kripti akan berpoliferasi dan menyebabkan bertambahnya sekresi cairan ke dalam lumen usus. sehingga mengganggu absorpsi air. serta suara menjadi serak. sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penulit berupa nekrosis tubular akut.

Cairan parenteral : 1).Untuk anak lebih dari 25 tahun dengan BB 10 – 15 kg : 1 jam pertama : 30 ml /kg BB/jam = 8 tetes/kgBB/menit. 4). Ketiga dasar pengobatan tersebut dijelaskan sebagai berikut : 1.Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun. b. atau 3 tetes/ kgBB/m. 3). 8 tetes/kgBB/ menit. atau 4 tetes/kgBB/menit.Dietetik. Selanjutnya .Pengobatan dietetik Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg jenis makanan : . Formula lengkap sering disebut juga oralit. Belum ada dehidrasi Peroral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas tiap defekasi. teruskan dengan intravena 2 tetes/. 16 jam berikutnya : 125 ml/kg BB oralit peroral atau intragastrik.kg BB/menit atau 3 tetes/kgBB/menit. berat badan 3 – 10 kg. 2. 20 jam berikutnya 150 ml /kg BB /20 jam = 2 tetes/kgBB/ menit. Jenis cairan a. Dehidrasi berat (a). 3. Selanjutnya : 125 ml/kg BB /hari. atau air tajin yang diberi garam dan gula untuk pengobatan sementara sebelum di bawah berobat ke rumah sakit pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh. (b). Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/m. 2).H. 125 ml/kg BB/hari.Penatalaksanaan Dasar pengobatan diare adalah : 1. Jenis cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 % + 1 bagian NaHCO3 1 %) dengan kecepatan 4 jam pertama = 25 ml / kg BB /jam atau 6 tetes/kgBB/menit.Obat-obatan. Cairan peroral : Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik diberikan peroral berupa cairan yang berisi NaCl dan NaHCO3. Bila anak tidak mau minum.Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum.Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan BB 2 – 3 kg. yaitu 1 jam pertama : 40 ml/kg BB / jam = 10 tetes / kg BB /menit (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes / kg BB /menit (set infus 1 ml : 20 tetes). (c).. KCI dan glukosa. 7 jam berikutnya : 12 ml /kg BB/jam = 33 tetes / kg BB/ m atau 4 tetes / kg BB/menit. Dehidrasi ringan 1 jam pertama : 25 – 50 ml/kg BB per oral (intragastrik). Kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml /kg bb /24 jam. atau 2 ½ tetes/kgBB/menit. 7 jam berikutnya : 10 ml /kg BB /jam = 3 tetes/kgBB/ menit. Cairan sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap)hanya mengandung garam dan gula (NaCl dan sukrosa). cara memberikan dan jumlah cairan. atau 10 tetes/kgBB/menit. 16 jam berikutnya : 125 ml /kg BB oralit peroral atau intragastrik. Dehidrasi sedang 1 jam pertama : 50 – 100 ml/kg BB peroral /intragastrik (sonde).Pemberian cairan : jenis cairan. 2.

b. Pergantian dapat dilakukan baik peroral atau intravena dan akan tergantung pada kehilangan air dan elektrolit melalui diare. dilanjutkan selama 24 jam c. Obat spasmolitik. Cara memberikannya : a. ada kemungkinan lebih disukai untuk merawat anak di rumah.Dihentikannya pemberian susu b.5 – 1 mg /kg bb /hari.a. Pada kasus ini.Perawatan bayi dengan terapi intra vena d. secara berangsur-angsur susu diberikan kembali seperti yang diuraikan untuk dehidrasi ringan . gambaran klinik ditegakkan secara baik danbayi mulai dirawat : a. Bila diberi ASI/susu formula tapi masih diare diberikan oralit selang-seling.Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan. Antibiotik (Ngastiyah. jika diberikan jumlah kecil (15 ml susu krim separuh) setiap 4 jam dengan salin antara waktu makan d. jumlah campuran glucose elektrolit diturunkan secara berimbang e.Penggantian deficit cairan danelektrolit serta koreksi gangguan asam basa.Obat-obatan a. c. b.Sucrose hanya ditambahkan jika feces mulai berbentuk Dehidrasi ringan. 1997). Dehidrasi ringan . Kembali susu atau makanan biasa. b.Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tak jenuh). c. Klorpromazin dosis 0. asal diberikan perawatan medis tang efesien. c. atau pada rekaman kehi.angan berat badanterakhir.Prinsip Pengobatan Dan Managemen Perawatan 1. I. Bayi dalamkedaan sakit parah dengan kegagalan sirkulasi : a. Ini didasarkan pada penilaian klinis.Infuse plasma untukmenggantikan penurunan volume plasma c.Koreksi asidosis merabolik dengan pemberian secara intravena 8.Dihentikannya pemberian susu yang diganti dengan campuran glucose elektrolit (dioralite). Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim).Setelah 24 jam pemberian susu dimulai kembali.Dengan ditingkatkannya pemberian susu.Infuse intravena dengan larutan yang sesuai dan masukan cairan dengan peningkatan yang seksama b. 3.Penimbangan berat badan harian dan pengumpilan urin harian Dehidrasi parah.Pemeriksaan biokimia dan obsevasi klinis untuk menentukan status elektrolit e. c.4 % natrium bikarbonat dengan penilaian kembali status asam basa d.Dimulainya pemberian susu secara berangsur-angsur seperti yangdiuraikanuntuk dehidrasi ringan g. Hari kedua – keempat : ASI /susu formula rendah laktosa penuh.Cairan harus diberikan setiap 2 jam pada siang hari dan setiap 4 jam selama malam hari.Jika suatu elektrolit dan cairan telah dikoreksi.Hari pertama : setelah dehidrasi segera diberikan makanan peroral.Pengobatan tergantung pada derajat dehidrasi.Dimulainya pemberian cairan peroral secara perlahan – lahan untuk kmenentukan kemampuan menerima cairan f. b. Hari kelima : bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. a.Obat anti sekresi : dosis 25 mg /tahun dengan dosis minimum 30 mg.

Inspeksi dan perawatan mulit bayi e.Persiapan pulang ke rumah. Terdiri dari campuran air dan elektrolit dengan konsentrasi hampir sama dengan serum darah normal. Dimana didalamnya mempunyai 2 kompartemen dialisat yang dibatasi selaput semipermeabel. Perawatan dapat diawasi dan diberikan bantuan.Perawatan rutin a. Meninggalkan bokong dalam kedaan terpapar merupakan cara yang terbaik untuk mendorong terjadinya penyembuhan. seperti kloramfenikol atau streptomisin. Walaupun demikian. Membran semi permeabel Lapisan yang sangat tipis dan memiliki lubang-lubang submikroskopik (pori) Ginjal buatan/ dialyzer (halofiber/artificial kidney) Alat yang digunakan untuk mengeluarkan sampah metabolisme tubuh atau zat toksik lain dari dalam tubuh. terutama antibiotika untuk mengatasu kuman infeksi .Selama fase akut.Dukungan bagi orang tua. DIGESTIVE ZONE | 3 Komentar » TEHNIK DAN PROSEDUR HD Posted on Maret 9. c. dan peningkatan kadar kalium secara cepat membawa resiko henti jantung.Isolasi bayi dan pengertian akan proses infeksi silang serta pencegahannya. Feces yang encer akan menyebabkan kemerahan dan ekskoriasi kulit. jika muntah parah. bayi dirawat dalam incubator. f. Bayi tidak boleh ditinggal berbaring dengan popok yang basah dan kotor. dan orang tua tidak boleh disalahkan karena keadaan ini. Orang tua diminta untuk datang ke unit rawat jalan untuk mengubungi dokter umum untuk menilai kemajuan bayi. Blood lines Pipa-pipa atau selang-selang yang mengalirkan darah dari tubuh menuju dialyzerdan yang dari dialyzer ke tubuh. Dialisat Cairan yang digunakan untuk proses hemodialisis. 2008 by harnawatiaj Hemodialisis berasal dari kata : Hemo : darah Dialisis : memisahkan dari yang lain Hemodialisis Proses pemisahan zat-zat tertentu dari darah melaui suatu membran semi permeabel. dapat diberikan secara parenteral b. 2. karena penurunan kadar kalium serum menimbulkan perubahan aktivitas jantung. Diberikan oksigen dan bayi diobservasi secara seksama. .Pemberian obat-obatan. obat-obatan yang sesuai.ibu harusdidorong untuk tinggal bersama anak. d.e. dan jika terjadi pertambahan berat badan anak yang memuaskan dan tidak terdapat muntah atau feces yang encer. Area popok dibasuh secara lebih dan diberikan krim pelindung. harus diingat bahwa banyak bayi yangmenderita gastroenteritis kendatipun perawatan bayi yang bhaik. Filed under: 9. Segera setelah petunjuk pemberian makanan mencapai tingkat sesuai umur dan kebutuhan anak. bila fungsi ginjal sudah tidak memadai lagi.Perawatan bokong anak. Jika terdapat bukti tidak adanya pengertian dalam hal perawatan anak. maka anak dizinkan pulang.

Aliran darah Secara teori seharusnya aliran darah secepat mungkin. Hal-hal yang membatasi kemungkinan tersebut antara lain : tekanan darah. aliran darah yang keluar kurang. Meninggalkan tekanan dialisat berarti menambah daya hisap dari cairan dialisat sehingga cairan darah berpindah ke dialisat dan ultrafiltrasi meninggi Faktor-faktor yang mempengaruhi hemodialisis 1. Segment pump : Bagian dari ABL yang ditempatkan pada Blood pump. Tekanan Negative/ Negative Pressure/ Dialisat Pressure : pada inlet dimonitoring sebelum blood pump. terjadi bila ada tekanan pada dialyzer (misalnya: ada bekuan dalam dialyzer). jarum. venous blood line/ outlet/ VBL. Tekanan Positif/ Positive Pressure : pada inlet dimonitoring sesudah blood pump. Temperatur suhu dialisat Temperature dialisat tidak boleh kurang dari 360C karena bisa terjadi spasme dari vena sehingga . pada bubble trap disebut juga arterial pressure. Qb : kecepatan aliran darah dalam sirkulasi darah (ml/m) Qd : kecepatan aliran dialisat dalam sirkulasi dialisat (ml/m) Qf : ultrafiltration rate (ml/m) yaitu jumlah air yang keluar dari kompartemen darah ke kompartemen dialisat melalui membran semi permeabel yang disebabkan karena perbedaan tekanan. Terlalu besar aliran darah bisa menyebabkan syok pada penderita. menimbulkan borosnya pemakaian cairan.Luas selaput/ membran yang dipakai Yang biasa dipakai : 1-1. terjadi bila ada hambatan dari arteri.Terdiri dari : arteri blood line/ inlet/ ABL.5 cm2 Tergantung dari besar badan/ berat badan 3. 2. Priming : pengisian cairan yang pertama kali dalam sirkulasi darah (ABL+Dialyzer+VBL) ……NaCl Conductivity : kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan aliran listrik.Aliran dialisat Semakin cepat aliran dialisat semakin efisien proses hemodialisis. Bersifat ganda yaitu menarik dan mendorong. disebut juga fistula pressure. Bubble trap/ air trap Suatu ruangan pada ABL dan VBL yang bertugas menahan/ mengamankan gelembung udara dalam sirkulasi darah. Terjadi karena hambatan pada jalan masuk darah ke tubuh. misalnya karena : Jarum kecil Posisi jarum kurang baik Vasokonstriksi dari vena Trans Membrane Pressure/ TMP : adalah perbedaan tekanan antara kompartemen darah dan kompartemen dialisat melalaui membrane. Blood pump/ pompa darah Alat yang menyebabkan darah mengalir dalam sirkulasi darah. Tekanan positif pada outlet dimonitoring pada bubble trap dari outlet disebut juga venous pressure.

kassa.5cc.Peralatan kesehatan dan obat-obatan.aliran darah melambat dan penderita menggigil. 5cc.Sarana ruangan Tempat tidur Penerangan yang cukup Wastafel dan kran Kran-kran untuk sarana hubungan dengan mesin hemodialisis Saluran pembuangan Alat pendingin ruangan/ AC Tempat sampah Meja suntik Stop kontak 2. 10cc.Mesin hemodialisis/ pengelola air Mesin pengelola air : Water softener Revense osmosis 3. Peralatan kedokteran : Tensi meter + stetoskop Timbangan BB Tabung oksigen lengkap Alat EKG Slym zuiger Tromol (duk. 30/50cc Conductivity meter . nierbekken Mat kan/ gelas ukuran Zeil + karet alat untuk alas tangan Sarung tangan Kassa/ gaas Plester/ band aid Verband Alat-alat khusus : Dialyzer Blood lines (ABL/ VBL) AV fistula/ Abocath no G14 s/d G16 Dialisat pekat Infuse set Micro drip Spuit : insulin 2. Temperatur dialisat tidak boleh lebih dari 420C karena bisa menyebabkan hemolisis. klem) Bak spuit dan kom kecil Korentang dan tempatnya Klem-klem (besar dan kecil) Gunting Bengkok. Untuk menjalankan hemodialisis perlu : 1.

2008 by harnawatiaj 1. dll . protamin Sodium bicarbonat 7 % (meylon) Obat-obat penyelamat hidup Yang perlu selain yang diatas adalah : Surat izin dialysis Formulir dialysis Traveling dialsis Formulir laboratorium Formulir radiologi Filed under: D.PERAWATAN SEBELUM HEMODIALISIS (PRA HD) Persiapan mesin Listrik Air (sudah melalui pengolahan) Saluran pembuangan Dialisat (proportioning sistim. bethadine Heparin. HD ZONE | 4 Komentar » PERAWATAN HEMODIALISA Posted on Maret 9. insulin Heparin inj Xylocain (anestesi local) NaCl 0. batch sistim) Persiapan peralatan + obat-obatan Dialyzer/ Ginjal buatan (GB) AV Blood line AV fistula/abocath Infuse set Spuit : 50 cc. 5 cc.Obat-obatan : Lidocain. Novocain Alcohol.90 % Kain kasa/ Gaas steril Duk steril Sarung tangan steril Bak kecil steril Mangkuk kecil steril Klem Plester Desinfektan (alcohol + bethadine) Gelas ukur (mat kan) Timbangan BB Formulir hemodialisis Sirkulasi darah .

hubungkan ujung ABL dengan ujung VBL. (untuk hubungan tekanan arteri. VBL dan infus set 100 ml/mJalankan Qb dengan kecepatan Udara yang ada dalam GB harus hilang (sampai bebeas udara) dengan cara menekan-nekan VBL Air trap/Bubble trap diisi 2/3-3/4 bagian Setiap kolf NaCl sesudah/ hendak mengganti kolf baru Qb dimatikan Setelah udara dalam GB habis.Cuci tangan Letakkan GB pada holder. masukkan ke dalam tabung gelas. masukkanAmbil cairan 1 tablet clinitest ke dalam tabung gelas yang sudah berisi cairan Lihat reaksi : Warna biru : – / negatif . ujung biru VBL dihubungkan dengan alat penampung/ mat-kan Letakkan posisi GB terbalik. tekanan vena. klem tetap dilepas Masukkan heparin dalam sirkulasi darah sebanyak 1500-2000 U Ganti kolf NaCl dengan yang baru yang telah diberi heparin 500 U dan klem infus dibuka Jalankan sirkulasi darah + soaking (melembabkan GB) selama 10-15 menit sebelu dihubungkan dengan sirkulasi sistemik (pasien) CATATAN !!!! PERSIAPAN SIRKULASI Rinsing/Membilas GB + VBL + ABL Priming/ mengisi GB + VBL + ABL Soaking/ melembabkan GB. VBL. biru diatas Gantungkan NaCl 0. yaitu yang tanda merah dibawah.9 % (2-3 kolf) Pasang infus set pada kolf NaCl Hubungkan ujung infus set dengan ujung merah ABL atau tempat khusus Tutup semua klem yang ada pada slang ABL. pemberian obat-obatan) Buka klem ujung dari ABL. dengan posisi merah diatas Hubungkan ujung putih pada ABL dengan GB ujung merah Hubungkan ujung putih VBL dengan GB ujung biru. Volume priming : darah yang berada dalam sirkulasi (ABL + GB + VBL ) Cara menghitung volume priming : Σ NaCl yang dipakai membilas dikurangi jumlah NaCl yang ada didalam mat kan (gelas tampung/ ukur) Contoh : ∑ NaCl yang dipakai membilas : 1000 cc ∑ NaCl yang ada didalam mat kan : 750 cc Jadi volume priming : 1000 cc – 750 cc = 250 cc Cara melembabkan (soaking) GB Yaitu dengan menghubungkan GB dengan sirkulasi dialisat Bila mempergunakan dialyzer reuse / pemakaian GB ulang : Buang formalin dari kompartemen darah dan kompartemen dialisat Hubungkan dialyzer dengan selang dialisat 15 menit pada posisi rinseBiarkan Test formalin dengan tablet clinitest : Tampung cairan yang keluar dari dialyzer atau drain 10 tts (1/2 cc).

Ujung VBL line dihubungkan dengan punksi outlet 3.Izin hemodialisis 3.Jalankan pompa darah (blood pump) dengan Qb sirkulasi darah terisi darah semua. tutup kassa steril Punksi inlet (vena/ arteri femoralis) Raba arteri femoralis Tekan arteri femoralis 0. Posisi.Ujung ABL line dihubungkan dengan punksi inlet 2.5 – 1 cm ke arah medialVena femoralis Anestesi lokal (infiltrasi anetesi) Vena femoralis dipunksi setelah anestesi lokal 3-5 menit Fiksasi Tutup dengan kassa steril Memulai hemodialisis 1. fiksasi. kecuali klem infus set 100 ml/m. fiksasi. biasanya di lengan). Bolus heparin inj (dosis awal) Fiksasi.Semua klem dibuka.16/ abocath. procain inj) Punksi vena (outlet). sambungkan ujung dari VBL dengan punksi outlet .14 s/d G.Persiapan fisik :Timbang BB. Observasi KU (ukur TTV) 2. tutup dengan kasa steril Berikan bolus heparin inj (dosis awal) Punksi inlet (fistula). tutup dengan kassa steril Dengan eksternal A-V shunt (Schibner) Desinfektan Klem kanula arteri & vena Bolus heparin inj (dosis awal) Tanpa 1 & 2 (femora dll) Desinfektan Anestesi local Punksi outlet/ vena (salah satu vena yang besar.Pompa darah (blood pump stop.PERAWATAN SELAMA HEMODIALISIS (INTRA HD) Pasien Sarana hubungan sirkulasi/ akses sirkulasi : Dengan internal A-V shunt/ fistula cimino Pasien sebelumnya dianjurkan cuci lengan & tangan Teknik aseptic + antiseptic : bethadine + alcohol Anestesi local (lidocain inj. sampai4. Dengan AV fistula no G.Warna hijau : + / positif Warna kuning : + / positif Warna coklat : +/ positif Selanjutnya mengisi GB sesuai dengan cara mengisi GB baru Persiapan pasien 1.Persiapan mental 2. 5.

N.Temperatur : 36-400C 4. Nadi setiap 1 jam. TD.Isi formulir HD antara lain : Nama.cairan priming diampung di gelas ukur dan jumlahnya dicatat (cairan dikeluarkan sesuai kebutuhan).TMP. UFR 5. lebih sering. P. udara harus diamankan lebih dulu 3. untuk menghindari terjadi perdarahan dari tempat punksi.Semua sambungan dikencangkan 4. 8.Tempat-tempat punksi harus harus sering dikontrol. Tipe GB. 2. N. hidupkan air/ blood leak detector 10. makan/minum. Heparinisasi Dosis heparin : Dosis awal : 25 – 50 U/kg BB Dosis selanjutnya (maintenance) = 500 – 1000 U/kg BB Cara memberikan Kontinus Intermiten (biasa diberikan tiap 1 jam sampai 1 jam terakhir sebelum HD selesai) Heparinisasi umum Kontinus : Dosis awal : ……. Bila keadaan pasien tidak baik/ lemah lakukan mengukur TD. BB. CATATAN !!!! 1.Qd : 300 – 500 ml/m 3.Pompa heparin dijalankan (dosis heparin sesuai keperluan). keluhan selama HD. Mesin Memprogram mesin hemodialisis : 1. S.Jalankan pompa darah dengan Qb = 100 ml/m.Heparinisasi Tekanan (+) /venous pressure Trans Membran Pressure / TMP Tekanan (-) / dialysate pressure Tekanan (+) + tekanan (-) Tekanan / pressure : Arterial pressure / tekanan arteri : banyaknya darah yang keluar dari tubuh Venous pressure / tekanan vena : lancar/ tidak darah yang masuk ke dalam. arteri pressure. Cairan priming yang masuk.Qb : 200 – 300 ml/m 2. masalah selama HD. 12. U Dosis selanjutnya : …… U .Hubungkan selang-selang untuk monitor : venous pressure. Umur.6.Fiksasi ABL & VBL (sehingga pasien tidak sulit untuk bergerak) 7.Pada waktu menghubungkan venous line dengan punksi outlet. setelah 15 menit bisa dinaikkan sampai 300 ml/m (dilihat dari keadaan pasien) 9.Permulaan HD posisi dialyzer terbalik setelah dialyzer bebas udara posisi kembalikan ke posisi sebenarnya. Heparin dilarutkan dengan NaCl 11.Ukur TD.

Bilas dengan NaCl setiap : ½ – 1 jam Banyaknya NaCl yang masuk harus dihitung Jumlahnya NaCl yang masuk harus dikeluarkan dari tubuh. Qb tinggi (250 – 300 ml/m) Dosis heparin : 500 U (pada sirkulasi darah). bisa dimasukkan ke dalam program ultrafiltrasi CATATAN Dosis awal : diberikan pada waktu punksi : sirkulasi sistem Dosis selanjutnya: diberikan dengan sirkulasi (maintenance) ekstra korporeal.MESIN & PERALATAN Qb Qd Temperature Koduktiviti Pressure/ tekanan : arterial. venous. UFR Air leak & Blood leak Heparinisasi Sirkulasi ekstra corporeal Sambungan-sambungan CATATAN : Obat menaikkan TD ( tu. Protamin diberikan/ dipasang pada selang sebelum masuk ke tubuh/ VBL. outlet Keluhan/ komplikasi hemodialisis 2. U Heparinisasi regional Dosis awal : …… U Dosis selanjutnya : …. PENGAMATAN OBSERVASI. pend hipotensi berat) : Efedrin 1 ampul + 10 cc aquadest kmd disuntik 2 ml/IV . dialysate. MONITOR SELAMA HEMODIALISA 1..Intermitten : Dosis awal : …… U Dosis selanjutnya : ……. Heparinisasi minimal Syarat-syarat : Dialyzer khusus (kalau ada). U Heparin : protamin = 100 U : 1 mg Heparin & protamin dilarutkan dengan NaCl.PASIEN KU pasien TTV Perdarahan Tempat punksi inlet. U Protamin : …. Heparin diberikan/ dipasang pada selang sebelum dializer.

Pakai sarung tangan 2.Isi formulir hemodialisis CATATAN : 1.Setelah darah masuk ke tubuh Blood pump stop. lalu tutup dengan kain kassa/band aid lalu pasang verband. N.Memakai teknik aseptik dan antiseptik SCRIBNER 1.Fiksasi . S. kalau perlu di dorong dengan udara ( harus hati-hati) 2.Ukur TD.Sebelum ABL & VBL dilepas dari kanula maka kanula arteri & kanula vena harus diklem lebih dulu 3.Timbang BB (kalau memungkinkan) 12.kanula arteri & vena dibilas dengan NaCl yang diberi 2500 U – 300 U heparin inj 4. 8.Jarum outlet dicabut. nadi 3.Bila perdarahan pada punksi sudah berhenti.Lepas klem pada kedua kanula 6.Blood pump stop 4.5 menit sebelum hemodialisis berakhir Qb diturunkan sekitar 100cc/m UFR = 0 2.PERAWATAN SESUDAH HEMODIALISIS (POST HD) Mengakhiri HD Persiapan alat : Kain kasa/ gaas steril Plester Verband gulung Alkohol/ bethadine Antibiotik powder (nebacetin/ cicatrin) Bantal pasir (1-1/2 keram) : pada punksi femoral Cara bekerja 1.Bekas punksi femoral lebih lama.Ujung ABL diklem. bubuhi bekas punksi inlet & outlet dengan antibiotik powder. 10.Bekas punksi arteri penekanan harus tepat. P 11.Darah dimasukkan ke dalam tubuh dengan do dorong dengan nacl sambil qb 50 – 100 cc) 100 ml/m (NaCl masuk : dijalankan 7. bekas punksi inlet & outlet ditekan dengan kassa steril yang diberi bethadine 9. ujun VBL diklem.Penekanan bekas punksi dengan 3 jari sekitar 10 menit 3. ditekan kembali dengan bantal pasir 4. bekas punksi inlet ditekan dengan kassa steril yang diberi betadine.Ukur TTV : TD.Kedua sisi kanula dihubungkan kembali dengan konektor 5. setelah perdarahan berhenti.Hubungkan ujung abl dengan infus set 6. 5. lebih lama 5. jarum inlet dicabut .Cairan pendorong/ pembilas (NaCl) sesuai dengan kebutuhan .3.

Pada tahap persiapan Persiapan alat dan mesin Selama ini pasien dipersilahkan masuk ke ruangan HD dalam keadaan mesin sudah siap pakai karena perawat sudah menyiapkannya.7. memprogram penurunan berat badan. memasang alat pada mesin. pengaturan posisi tubuh. jika kondisi pasien memungkinkan. setelah mencoba mengatasi sendiri. pemberian anestesi lokal (kalau perlu). Pada tahap penghentian hemodialisis meliputi : penghentian aliran darah. Langkah selanjutnya adalah mencabut jarum out line dan menekan bekas tusukan. program penurunan BB . mengukur suhu. Pembuatan rencana perawatan pasien sudah berjalan dimana dalam pengkajian meliputi data fisik dan psikososial. diet. Semua kegiatan baik pada tahap pre hemodialisis selama pemasangan dan penghentian hemodialisis dilakukan oleh perawat kecuali penimbangan berat badan dan minum yang pada beberapa pasien dilakukan sendiri.Pasang balutan dengan sedikit kanula bisa dilihat dari luar. Kemudian menghubungkan heparin contnous ke sirkulasi. mempersiapkan alat-alat. Pada tahap pemasangan alat dan selama pemasangan. Selain itu pasien diberikan penjelasan ringkas tentang prosedur yang akan dijalankan. Hal ini dapat terlihat dari kegiatan : a. dosis heparin. mengukur tekanan darah dan menghitung denyut nadi. pasien diorientasikan pada ruangan paviliun II dan alat-alat yang ada. hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama hemodialisis dan efek dari hemodialisis. Data psikososial yang dikaji sebatas pada adanya rasa cemas dan bosan. mengukur suhu badan. mengukur tekanan darah dan menciptakan suasana ruangan untuk mengisi kegiatan pasien selama hemodialisis berlangsung. kegiatannya meliputi : desinfeksi daerah penusukan. dari mulai menghidupkan mesin. waktu pelaksanaan. penusukan jarum. meyediakan alatalat. Pada saat itu pasien menunggu di ruang tunggu. pembatasan cairan. Lalu menekan tombol BFR. Intervensi keperawatan yang dilakukan mengarah kepada pemberian bantuan sepenuhnya. kecepatan aliran heparin dan UFR. Menimbang BB . monitoring alat-alat dan kelancaran sirkulasi darah. Disamping itu beberapa pasien telah dapat melaporkan pada perawat apabila ada ketidakberesan pada mesin atau akses vaskular. priming dan keluhan pasien setelah HD. kegiatan perawatan meliputi : menghidupkan mesin. membuka klem venous dan arteri blood line. mengganti gaas bethadine dan fiksasi dengan plester. Pada pre hemodialisis. makan dan minum. dilakukan pengukuran tekanan darah. mencabut jarum inlet dan menekan bekas tusukan sambil menunggu sampai aliran darah pada venous blood line habis. selanjutnya menyambung jarum pada arteri blood line. perawatan cimino. monitoring pernafasan. Sistem pencatatan dan pelaporan yang dijalankan dalam bentuk lembaran observasi pasien yang berisi tentang : TTV sebelum atau selama dan sesudah HD. venous pressure. pemasukan heparin (bolus). untuk mengetahui ada bekuan atau tidak. mengawasi penimbangan berat badan. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN HEMODIALISIS Pada pasien yang baru pertama kali hemodialisis. memasang alat pada mesin sampai mesin tersebut dipakai. sirkulasi cairan NaCl pada mesin. membereskan alat-alat dan dilanjutkan dengan desinfeksi alat. Setelah penghentian hemodialisis. mengawasi penimbangan berat badan pasien. Sebenarnya bagi pasien yang memungkinkan bisa dilibatkan sejak awal. prinsip hemodialisis. BB sebelum dan sesudah HD.

mulai dari hal-hal yang sedrhana tapi dapat menarik minat untuk belajar. HD ZONE | 8 Komentar » « Halaman Sebelumnya — Halaman Berikutnya » . b. Dalam hal ini pasien dapat diberi kesempatan untuk mencatat Bbnya sendiri.Pada tahap pelaksanaan c. tekanan darah dan menghitung denyut nadi Kegiatan-kegiatan ini semuanya masih dilakukan oleh perawat.Pada tahap penghentian Filed under: D. Sebenarnya dapat mulai dikenalkan kepada pasien mengenai alat-alat dan cara pengukurannya. Mengukur suhu badan. namun tetap dalam pengawasan perawat. Pasien menyebutkan berapa BBnya dan perawat mencatatnya dalam lembaran observasi.Penimbangan BB bagi pasien yang mampu memang sudah dilakukan sendiri oleh pasien begitu mereka masuk ruangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful