FORMAT PENGKAJIAN FISIK SEDERHANA

Posted on Maret 9, 2008 by harnawatiaj A. PENGKAJIAN 1.Identitas a.Nama :…………………………………………………………… b.Usia :…………………………………………………………… c.Jenis kelamin :…………………………………………………………… d.Tinggi badan :…………………………………………………………… e.Berat badan :…………………………………………………………… f.Agama :…………………………………………………………… g.Suku :…………………………………………………………… h.Pendidikan :…………………………………………………………… i.Pekerjaan :…………………………………………………………… j.Alamat :…………………………………………………………… 2.Pengkajian fisik a.Tingkat kesadaran : b.Tanda – tanda vital : TD : N: P: S: Posisi ( duduk, berdiri, berbaring) c.Keadaan umum : Penampilan Posisi saat dikaji Postur tubuh Ekspresi wajah Bahasa tubuh d.Sistem integumen Warna kulit Warna rambut Kuku Turgor kulit Tekstir kulit Integritas kulit e.Kepala : Bentuk Kesimetrisan Nervus V & VII Keadaan rambut Kondisi kulit kepala Massa

Nyeri tekan f.Mata : Persebaran alis Warna alis Bentuk alis Bulu mata Kelopak mata Sklera Konjungtiva Iris Kornea Pupil Kelenjar lakrimalis Alat bantu penglihatan g.Telinga : Daun telinga Kesimetrisan Lubang telinga Membran timpani Status pendengaran h.Hidung dan penciuman : Ukuran dan bentuk Septum Mukosa nasal Patensi jalan napas Nervus olfaktory Status penciuman i.Mulut dan orofaring : Bibir Gigi Bunyi napas Gusi Nervus VII & IX Lidah Nervus XIII Mukosa Palatum Uvula Faring Tonsil Pergerakan mandibular j.Leher : Penamapakan luar Tiroid Trakea Nodus limfe

k.Thoraks dan paru-paru : Pernafasan Thorax posterior Auskultasi paru l.Payudara dan axilla : Ukuran payudara Puting Axilla Nodus limfe m.Jantung dan pembuluh darah : Tekanan darah Nadi karotis Nadi apikal Nadi perifer n.Abdomen : Bentuk Kulit Bunyi peristaltik o.Sistem muskuloskeletal : Punggung Tulang vertebra Sendi Pergerakan Ekstremitas atas Ekstremitas bawah p.Sistem igenitourinaria dan rektum : Rektum Genetalia wanita Genetalia pria q.Sistem neurologi : keseimbangan Nervus XI Refleks Kordinasi Nervus kranial r.Status mental : Status kesadaran Orientasi Memori Bahasa dan pembicaraan Respon Filed under: C. PENGKAJIAN FISIK | 2 Komentar »

CT SCAN

Bila perlu dengan menggunakan kaset video atau poster. 2008 by harnawatiaj PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK CT SCAN (Computerized Axial Tomografi) 1. Maka ginjal klien harus dalam keadaan normal.5 menit.PENGERTIAN CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak. PENATALAKSAAN PERSIAPAN PASIEN Pasien dan keluarga sebaiknya diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan.Gambaran lesi dari tumor. Harus dilakukan pengkajian terhadap klien sebelum dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah klien bebas dari alergi iodine.Brain contusion.Posted on Maret 9.Perubahan vaskuler : malformasi. e. Pasien diberi gambaran tentang alat yang akan digunakan.Brain atrofi. Test awal yang dilakukan meliputi : . dua diantaranya menerima sinar yang telah menembus tubuh dan yang satu berfungsi sebagai detektor aferen yang mengukur intensitas sinar rontgen yang telah menembus tubuh dan penyinaran dilakukan menurut proteksi dari tiga tititk. d. 3. Hal ini dipertimbangkan dengan tingkat kekuatan scanner. Karena eliminasi zat kontras sudah harus terjadi dalam 24 jam. harus dilakukan test apakah klien mempunyai kesanggupan untuk diam tanpa mengadakan perubahan selama 20-25 menit. naik turunnya vaskularisasi dan infark. Berat badan klien yang dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan adalah klien dengan berat badan dibawah 145 kg.PRINSIP KERJA Film yang menerima proyeksi sinar diganti dengan alat detektor yang dapat mencatat semua sinar secara berdispensiasi. c. hal ini dimaksudkan untuk memberikan pengertian kepada pasien dengan demikian menguragi stress sebelum waktu prosedur dilakukan.TUJUAN Menemukan patologi otak dan medulla spinalis dengan teknik scanning/pemeriksaan tanpa radioisotop 3. 2. yaitu : a. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperjelas adanya dugaan yang kuat antara suatu kelainan. sebab pada klien yang akan dilakukan pemeriksaan CT Scan disuntik dengan zat kontras berupa iodine based kontras material sebanyak 30 ml. Pencatatan dilakukan dengan mengkombinasikan tiga pesawat detektor. karena hal ini berhubungan dengan lamanya pemeriksaan yang dibutuhkan. Bila klien ada riwayat alergi atau dalam pemeriksaan ditemukan adanya alergi maka pemberian zat kontras iodine harus distop pemberiannya. hematoma dan abses. Berat badan klien merupakan suatu hal yang harus dipertimbangkan.Hydrocephalus. 10 dan jam 02 dengan memakai waktu 4.Inflamasi. b. f. menurut posisi jam 12. Sebelum dilakukan pemeriksaan CT scan pada klien.

Apabila pasien merasakan adanya rasa sakit berikan analgetik dan bila pasien merasa cemas dapat diberikan minor tranguilizer.Meja elektronik masuk ke dalam alat scanner.Pendahuluan Dalam keadaan normal. Penjelasan kepada klien bahwa setelah melakukan injeksi zat kontaras maka wajah akan nampak merah dan terasa agak panas pada seluruh badan. Mengikuti aturan untuk memudahkan injeksi zat kontras.PROSEDUR a. Sel autoreaktif adalah limfosit yang mempunyai reseptor untik autoantigen. 2008 by harnawatiaj TEORI AUTOIMUNITAS A. b. Bila sel tersebut memberikan respons autoimun. Rambut tidak boleh dikepang dan tidak boleh memakai wig. e. disebut sel limfosit reaktif (SLR).Ukur ntake dan out put. Filed under: A. b. Pada orang normal . Hal ini merupakan tindak lanjut setelah pemberian zat kontras yang eliminasinya selama 24 jam. sedang antibody yang dibentuk disebut autoantibody. c. g. d. tetapi pengalaman klinis menunjukkan bahwa adakalanya timbul reaksi autoimunitas. sistem imun dapat membedakan antigen tubuh sendiri dari antigen asing. Bila terjadi alergi dapat diberikan deladryl 50 mg. Oliguri merupakan gejala gangguan fungsi ginjal.HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN a. memerlukan koreksi yang cepat oleh seorang perawat dan dokter.Kekuatan untuk diam ditempat ( dimeja scanner ) selama 45 menit. f. Reaksi autoimiunitas adalah reaksi system imun terhadaap antigen sel jaringan sendiri.Selama prosedur berlangsung perawat harus menemani pasien dari luar dengan memakai protektif lead approan.Selama prosedur berlangsung pasien harus diam absolut selama 20-45 menit. Melakukan pernapasan dengan aba – aba ( untuk keperluan bila ada permintaan untuk melakukannya ) saat dilakukan pemeriksaan. DIAGNOSTIK ZONE | 3 Komentar » TEORI AUTOIMUNITAS Posted on Maret 9. Antigen tersebut disebut autoantigen. 4. dan hal ini merupakan hal yang normal dari reaksi obat tersebut.Observasi keadaan alergiterhadap zat kontras yang disuntikan. Perhatikan keadaan klinis klien apakah pasien mengalami alergi terhadap iodine. Bersihkan rambut pasien dari jelly atau obat-obatan.Pengambilan gambar dilakukan dari berbagai posisi dengan pengaturan komputer. karena tubuh mempunyai toleransi terhadap self antigen.Dilakukan pemantauan melalui komputer dan pengambilan gambar dari beberapa sudut yang dicurigai adanya kelainan.Posisi terlentang dengan tangan terkendali.Mobilisasi secepatnya karena pasien mungkin kelelahan selama prosedur berlangsung.Sesudah pengambilan gambar pasien dirapihkan. c. 5. meskipun .

Teori-teori autoimunitas 1. Oleh karena itu harus dibedakan antara fenomena autoimun dengan penyakit autoimu.SLR berpasangan dengan autoantigen. Kadang-kadang tidak jelas apakah autoantibody tersebut merupakan penyebab atau timbul sekunder akibat suatu penyakit. Autoantibody dapat dibentuk pula terhadap antigen mitokondria pada kerusakan hati atau jantung. Bila sawar tersebut rusak. lensa mata. dapat pula ditemukan autoantibody terhadap antigen jaringan dalam kadar gula yang rendah C. karena ada system yang mengontrol reaksi autoimun.Autoantibodi dibentuk sekunder akibat kerusakan jaringan Autoantibodi terhadap jantung ditemukan pada jantung infark. Pada tuberculosis dan tripanosomiasis yang menimbulkan kerusakan luas pada berbagai jaringan. B. Reaksi autoantibody dan autoantigen yang menimbulkan kerusakan jaringan dan gejala-gejala klinis disebut penyakit autoimun. Contoh autoantibody yang timbul akibat hal tersebut ialah factor rematoid (FR). Penyakit autoimmune sering ditemukan bersamaan dengan defesiensi imun. tidak selalu terjadi respon autoimun. Burnett mengajukan teori forbidden clones. yang menyatakan bahwa tubuh menjadi toleran terhadap jaringannya sendiri oleh karena sel-sel yang autoreaktif selama perkembangan embriologiknya akan musnah.Pembagian Penyakit Autoimmun Penyakit autoimmun dapat dibagi menajdi 2 golongan yaitu organ spesifik dan non spesifik Organ spesifik Non organ spesifik Tiroiditis hasimoto Miksidema primer Tirotoksotosis Anemia pernesiosa Gastritis kronik autoimun . sedangkan bila tidak disertai gejala klinis disebut fenomena autoimun. misalnya pada lanjut usia 3. dan saraf pusat.Virus sebagai pencetus autoimunitas Virus yang terutama mengginfeksi system limfoid dapat tmempengaruhi mekanisme kontrol imunologik sehingga terjadi autoimunitas 6.Teori sequestered antigen atau hidden antigen Sequestered aatau hidden antigen adalah antigen yang karena sawar anatomic tek pernah berhubungan dengna system imu n misalnya antigen sperma.Reaksi silang dengan mikroorganisme Kerusakan jantung pada demam reumatik anak diduga terjadi kaibat produksi antigen terhadap streptokok A yang bereaksi silang dengan miokard penderita 5. dapat timbul penyakit autoimmun 2.Determinan antigen baru Pembentukan autoantibody dapat dicetuskan oleh karena timbul deterrminan antigen baru pada protein normal. FR dibentuk terhadap determinan antigen yang terdapat pada immunoglobulin 4.Teori defesiensi immun Hilangnya self tolerance mungkin disebabkan oleh karena adanya gangguan system limfoid. Pada umumnya kadar autoantibody disini terlalu rendah untuk dapat menimbulkan penyakit autoimmun.

Penyakit Addison Menopause premature Disbetes juvenile Sindorm goodpasture Miastenia gravis Infertilitas pada pria Pemfigus vulgaris Pemfigoid Oftalmia simpatis Uveitis vagogenik Sclerosis multiple Anemia hemolitik autoimun Purpura trombositopenik idiopatik Leucopenia idiopatik Sirosis bilier primer Hepatitis kronik aktif dengan HBsAg negative Sirosis kriptogenik Colitis ulseratif Sindrom Sjögren Arthritis rematoid Dermatomiositis Scleroderma LE discoid Lupus eritermatosus sistemik (SLE) D.Penyakit dpat ditimbulkan oleh bahan yang diduga merupakan antigen 4.Penyakit timbul akibat adanya respons autoimun 2.Kriteria Penyakit Autoimun Kriteria untuk menegakkan diagnosis penyakit autoimmun adalah sebagai berikut : 1.Penyakit dapat dipindahkan dari satu binatang ke binatang yang lain melalui serum atau limfosit yang hidup Filed under: 9. Penyakit ini dikenal juga dengan nama skleroderma 2. ginjal dan kelenjar gondok. jantung. IMUNOLOGY ZONE | 5 Komentar » PENYAKIT AUTOIMMUN Posted on Maret 9. juga pada parenkim organ dalam terutama esophagus. 2008 by harnawatiaj A.Sklerosis Sistemik 1.Epidemiologi Sclerosis sistemik merupakan penyakit yang terdapat diseluruh dunia dan dijumpai pada semua . sinovium.Ditemukan autoantibody 3. dan arteri .Defenisi Sklerosis sistemik adalah panyakit jaringan ikat yang ditandai oleh fibrosis dan perubahan degeneratif pada kulit. usus. paru.

Akibatnya timbul gangguan vasomotor seperti yang terlihat pada syndrome raynaud dan sclerosis sistemik progresif. Kulit tampak kering dan retak-retak. Sklerodaktili ialah keadaaan kakunya kulit bagian distal dari sendi interfalangeal proksimal.Paru Scleroderma paru yang klasik ditandai dengan fibrosis intestinal yang klasik ditandai dengan fibrosis interstitial difus. telah ada reaksi peradangan vascular dan perivaskular pada jaringan subkutan. Keluhan akan lebih berat jika terjadi esofagitis atau striktur Pada keadaaan lanjut. Karena timbul dini. hilangnya alat-alat seperti rambut. kelenjer lemak di epidermis. rambut dan lemak menghilang. Dengan demikian. Epidermis mudah terkelupas karena tipis. kelenjar keringat. b. Ditemukan juga kelainan kolon yang dianggap diagnostic. Sering timbul dini dan dirasakan swebagai rasa penuh di substernal. keringat berkurang. ternyata pada scleroderma.Gejala klinis dan konplikasi a. Klien tidak dapat dicubit. Keluhan mungkin baru timbul lama setelah terdapat gangguan fungsi . Dilatasi dan hipoosmolalitas duodenum dan jejunum menyebabkan malabsorbsi sehingga mengakibatkan berat badan menurun. Jari-jari mengalami fleksi kontraktur. Kolagen ini dapat melekat pada endotel pembuluh darah. dan kulit menjadi tegang. atau antara trombosit dan leukosit. Peristiea ini akan diikuti oleh fibrosis reaktif berupa proliferasi intima yang sangat menoniol pada aklerosis sistemik progresif Penipisan tunika intima media mungkin terjadinya sekunder terhadap perubahan distensibilitas struktur mikrovaskular yang terjepit diantara materi fibrotik yang terdapat pada intima dan adventisia.Kulit Pada kasus yang khas trias terdiri atas penipisan epidermis. Frekwensi pada wakita 3 kali frekwensi pria 3.bangsa.Saluran pencernaan Hipomotilitas asofagus merupakan manifestasi paling sering dari terlibatnya organ dalam. Terdapat pembengkakan dan ketegangan lengan bawah dan tangan yang difus dan simetris. Biasanya dimulai pada usis 20-50 tahun. Reaksi peradangan dan perubahan vascular subkutan ini akan menyebabkan hilangnya kapiler-kapiler kulit (devaskularisasi) yang selanjutnya mengakibatkan atrofi epidermis dan penebalan dermis Hipotesis yang diajukan berdasarkan hasil observasi pada biakan jaringan. gangguan metabolisme kolagen pada fibroblast dapat menerangkan baik manifestasi vascular maupun manifestasi fibrosis pada sclerosis sistemik progresif 4. Biasanya kalainan ini asimptomatik c. aehingga kontraktilitas dan vasodilatasi arteri kecil dan arteriol terganggu. Kelainan ini ditandai dengan terbentuknya kantong-kantong bermulut lebar pada dinding kolon. Dapat juga terjadi anemia karena telangiektasis di saluran pencernaan mengalami perdarahan. Dugaan ini timbul karena sebelum terjadi perubahan pada dermis dan epidermis. yangmenyebabkan kerusakan endotel dan membrane basal.Patogenensis dan patofisiologi Etiologi dan patogenesis yang pasti belum diketahui. Diduga patogenesisnya berdasarkan kelainan vascular. sangat berguna sebagai gejala diagnostic. Terdapat daerah-daerah dengan pegmentasi dan vitiligo. Kemudian terjadi adhesi antara trombosit dan kolagen. Fibrosis menyebabkan kulit melekat pada struktur dibawahnya. fibroblast kulit mensintesis koleagen lebih banyak dengan fibroblast kulit normal Peningkatan produksi kolagen yang dideposit pada jaringan ikat disekitar tunika adventisia akan mengekang arteri kecil/arteriol yang bersangkutan. terjadi striktur esophagus yang memerlukan dilatasi mekanis. jarang pada anak-anak.

Foto rongten toraks : fibrosis interstitial difus di paru-paru d.Arteriogram perifer : penyumbatan pembuluh darah h.Arteriogram ginjal disertai pemeriksaan aliran darah korteks ginjal Gambaran histopatologik kulit menunjukkan adanya penebalan epidermis disertai menghilangnya organ-organ epidermis dan tampak pula bertambahnya jaringan kolagen dalam dermis 6. Factor presipitasi untuk timbulnya gangguan ini adalah berhurangnya volume darah sehingga aliran darah ginjal terganggu. diberikan peroral. ini penting karena pada kebanyakan penderita telah terdapat hipertensi paru sebelum timbul keluhan pada paru. mulamula pucat dan sianosis (karena vasokontriksi).Penatalaksanaan a. suatu obat alfa adrenergic.Foto rongten kolon : gambaran kantong-kantong pada kolon f.Foto rongten oesophagus maag duodenum (OMD) : tampak hipoosmolalitas esophagus b. efusi perikard tanpa gejala yang berlangsung lambat tapi progresif Gejala gangguan jantung sering sukar dibedakan dengan gejala gangguan paru. d. pemeriksaaan radiologik yang biasanya dilakukan adalah : a.paru dan kelainan pada gambaran radiologist.Medikamentosa 1)Obat vasoaktif a)Fenoksibenzamin. kemudian menjadimerah dan nyeri pada waktu sirkulasi kembali normal. Untuk ini kadang-kadang diperlukan pemeriksaan penunjang lain seperti foto rongten/analisis jantung.Ginjal Tanda-tanda klinis kelainan ginjal yaitu hipertensi ( tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg).Diagnosis Sulit untuk menegakkan diagnosis scleroderma sebelum timbul kelaianan kulit yang khas. Pemerisaan radiologik banyak membantu dalam menegakkan diagnosis scleroderma . Jarang timbul angina atau infark jantung 2)Fibrosis miokard 3)Kelainan perikard : berupa epikarditis akut. misalnya karene operasi besar. proteinuria > 1+. Jarang ditemukan jari clubbing. Syndrome raynaud ini tampak pada jari-jari tangan .Foto rongten tangan/lengan : tampak resorpsi falang. Scleroderma harus dipikirkan jika pada seorang wamnita berumur 20-50 tahun terdapt syndrome raynaud dan pembengkakan tangan. ileum e. 5.Jantung Kelainan jantung pada scleroderma ada 3 macam : 1)Sclerosis koroner : merupakan kelainan yang paling tidak spesifik. kalsifikasi subkutan c. Dimulai dengan dosis rendah sampai mencapai dosis 2 g/hari . misalnya dyspnea d‘effort atau nafas pendek.Foto rongten usus halus : dilatasi jejenum . pemakaian diuretic yang berlebihan. Biasanya timbul akibat pengaruh udara dingin atau ketegangan emosi.Foto rongten gigi : pelebaran membran periodontal g. 10-40 mg/hari b)Guanetidin dengan dosis 40 mg. kerjanya menurunkan depot katekolamin. perdarahan. EKG/ekokardiografi dan kateterisasi jantung e. Pengawasan terhadap perkembangan hipertensi paru dapat dilakukan dengan memperhatikan peningklatan intensitas komponen pulmonal pada bunyi jantung 2 dan derajat pecahnya (splitting bunyi jantung 2. sekali sehari c)Metildopa. dan uremia. Kelainan ginjal sering timbul akut.

kegagalan ginjal. diberikan jika terdapat tanda-tanda peradangan pada awal penyakit c)Potassium para-aminobenzoat 12-16 g/hari.Fisioterapi Fisioterapi merupakan hal yang tak boleh dilupakan pada penatalaksanaan scleroderma. tidak berlangsung lama Rekontruksi d. dan wanita 2-3 kali lebih sering dibandingkan pria.Pengobatan khusus Bergantung pada organ/system yang terkene misalnya esophagus. paru.Arthritis Reumatoid 1. Latihan range of motion aktif/pasif. usus halus.d)Reserpin. Dosis mungkin mencapai 4-5 g/hari b)Kortikosteroid. Penyakit ini terjadi pada sekitar 1% dari jumlah penduduk. dan persiapan operasi f.Perawatan di Rumah sakit Perawatan di Rumah sakit perlu silakukan apabila ditemukan kegagalan kardiopulmonal. terutama untuk atralgia dan mialgia. dosis 0. sehingga terjadi pembengkakan. dehidrasi.5-2. Dianjurkan pemberian dosis rendah sacara intra arteri untuk menghindari pengaruh sistemik dan mencapai pengaruh maksimal pada arteri perifer.5 mg menghasilkan perlindungan terhadap vasokonstriksi perifer selama ± 6 bulan 2)Obat-obat antiinflamasi a)Asam asetilsilat. nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Mengurangai sekresi proklagen oleh fibroblast d)D. pemanasan. gangguan saluran pencernaan yang berat berupa diare. B. juga merupakan penghambat simpatis.Defenisi Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan. Keduanya bermanfaat untuk memperbaiki peredaran darah dankontraktur yang disebabkan oleh fibrosis pada sendi dan kulit Pencegahan vasokonstriksi karena dingin dan usaha mempertahankan pembuluh darah dalam keadaan sedikit vasodilatasi dilakukan misalnya dengan melindungi tubuh terhadap dingin dan melakukan latihanjasmani bertahap c. 7-10 mg/minggu.Tindakan operatif Tindakan operatif terutama ditujukan terhadap : Ulserasi : debridement dan sebagainya Simpatektomi : hasilnya hanya bersifat sementara. Biasanya pertama kali muncul pada usia 25-50 tahun. Pemberian 0.penisilamin. dan sebagainya e. ginjal. Artritis rematoid juga bisa menyebabkan sejumlah gejala di seluruh tubuh. Efek sampingnya terhadap saluran pencernaan serta timbulnya reaksi alergi di kulit menyulitkan pemberian jangka lama d)Antimalaria 3)Lain-lain a)Rheomacrodex b)Imunosupresif misalnya klorambusil c)Colchicines. muntah. jantung.0 g/hari b. memerlukan bimbingan fisioterapi yang ketat.Aspek psikososial Perlu penjelasan mengenai penyakit disertai sokongan penderita maupun keluarganya. malnutrisi. . tetapi bisa terjadi pada usia berapapun.

Sinovium yang menebal inilah yang dilapisi oleh jaringan granuler disebut sebagai pannus seeperti yang disebutkan sebelumnya.Patofisiologi Pada AR. Pannus ini dapat menyebar ke seluruh sendi dan merangsang proses peradangan dan pembentukan jaringan parut dan secara lambat akan merusak sendi. tangan. yang apabila pecah bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada tungkai sebelahbawah. proliferasi membrane sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Sendi yang terkena akan membesar dan segera terjadi kelainan bentuk. Pembengkakan pergelangan tangan bisa mengakibatkan terjadinya sindromaterowongankarpal. Penderita lainnya menunjukkan pembengkakan kelenjar getah bening. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan meniombulkan erosi tulang. Pada proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. gangguan pernafasan dan kelainan fungsi jantung. Jari-jari pada kedua tangan cenderung membengkok ke arah kelingking. Enzim-enzim ini akan memecah kolagen sehingga terjadi edema. Hal ini akan menyebabkan nyeri yang sangat hebat dan deformitas. Di belakang lutut yang terkena. Sendi yang meradang biasanya menimbulkan nyeri dan menjadi kaku. sindroma Sjögren atau peradangan mata. Pada AR. terutama menjelang sore hari. 3. tetapi berbagai faktor (termasuk kecenderungan genetik) bisa mempengaruhi reaksi autoimun. 4.Diagnosa . dimana pada saat yang sama banyak sendi yang mengalami peradangan. maka sendi yang sama di sisi kanan tubuh juga akan meradang. jika suatu sendi pada sisi kiri tubuh terkena. sikut dan pergelangan kaki. Sekitar 30-40% penderita memiliki benjolan keras (nodul) tepat dibawah kulit. Sindroma Felty terjadi jika pada penderita artritis rematoid ditemukan pembesaran limpa dan penurunan jumlah sel darah putih.Gejala Artritis rematoid bisa muncul secara tiba-tiba. 5. Penyakit Still merupakan variasi dari artritis rematoid dimana yang pertama muncul adalah deman tinggi dan gejala umum lainnya. Beberapa penderita merasa lelah dan lemah. jari kaki.2. Akhirnya ligament dan tendon ikut meradang. pergelangan tangan. sehingga tendon pada jari jari tangan bergeser dari tempatnya. Peradangan pada selaput di sekitar paru-paru (pleuritis) atau pada kantong di sekitar jantung (perikarditis) atau peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru bisa menyebabkan nyeri dada. reaksi autoimun terutama terjadi dalam jaringan sinovial.Penyebab Penyebab yang pasti tidak diketahui. membrane sinovium mengalami hipertropi dan menebal sehingga terjadi hambatan aliran darah yang menyebabkan nekrosis sel dan respon peradangan berlanjut. Sendi bisa terhenti dalam satu posisi (kontraktur) sehingga tidak dapat diregangkanataudibukasepenuhnya. Bisa terjadi demam ringan dan kadang terjadi peradangan pembuluh darah (vaskulitis) yang menyebabkan kerusakan saraf atau luka (ulkus) di tungkai. Yang pertama kali meradang adalah sendi-sendi kecil di jari tangan. yang biasanya terletak di daerah sekitar timbulnya penyakit ini. Otot akan ikut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot. peradangan berlangsung terus menerus dan menyebar ke struktur-struktur sendi disekitarnya termasuk tulang rawansendi dan kapsul fibrosa sendi. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan menganggu gerak sendi. kaki. Pada p[eradangan kronik. bisa terbentuk kista. Biasanya peradangan bersifat simetris. terutama pada saat bangun tidur atau setelah lama tidak melakukan aktivitas.

maka semakin berat penyakitnya dan semakin jelek prognosisnya.sebagian besar menderita anemia . Yang paling banyak digunakan adalah aspirin dan ibuprofen. Mengistirahatkan sendi secara rutin seringkali membantu mengurangi nyeri. biasanya semakin tinggi kadar faktor rematoid dalam darah. Artritisgonokokal c. Spondilitisankilosing g. PenyakitLyme d. kortikosteroid dan obat imunosupresif. Obat ini mengurangi pembengkakan pada sendi yang terkena dan meringankan rasa nyeri. SindromaReiter e. karena pemakaian sendi yang terkena akan memperburuk peradangan. Pseudogout i. tidaklah mudah. semakin kuat obatnya. Pembidaian bisa digunakan untuk imobilisasi dan mengistirahatkan satu atau beberapa sendi. pergelangan tangan atau jari tanan (selama minimal 6 minggu) 4.Perubahan yang khas pada foto rontgen.9 dari 10 penderita memiliki laju endap eritrosit yang meningkat .kadang jumlah sel darah putih berkurang . tetapi untuk mencegah kekakuan.Biopsi nodul.Artritis pada persendian tangan. maka semakin hebat potensi efek sampingnya. Osteoartritis. 3. obat slow-acting. kemungkinan menderita artritis rematoid: 1.Kekakuan di pagi hari yang berlangsung lebih dari 1 jam (selama minimal 6 minggu) 2. Seseorang yang memiliki 4 dari 5 gejala berikut.sehingga diperlukan pemantauan ketat. Kadar antibodi ini bisa menurun jika peradangan sendi berkurang dan akan meningkat jika terjadi serangan. Keadaan-keadaaan yang menyerupai artritis rematoid adalah: a.Faktor rematoid di dalam darah 5.Pemeriksaan cairan sendi. perlu dilakukan beberapa pergerakan sendi yang sistematis. . Aspirin merupakan obat tradisional untuk artritis rematoid. Obat anti peradangan non-steroid.Membedakan artritis rematoid dari berbagai keadaan lainnya yang bisa menyebabkan artritis.7 dari 10 penderita memiliki antibodi yang disebut faktor rematoid.Pengobatan Prinsip dasar dari pengobatan artrtitis rematoid adalah mengistirahatkan sendi yang terkena. Artritispsoriatik f. obat yang lebih baru memiliki lebih sedikit efek samping tetapi harganya lebih mahal. Mengenali artritis rematoid. tetapi untuk memperkuat diagnosis perlu dilakukan: 1.Peradangan (artritis) pada 3 atau lebih sendi (selama minimal 6 minggu) 3. Gout h. Obat-obatan utama yang digunakan untuk mengobati artritis rematoid adalah obat anti peradangan non-steroid. Pola gejalanya sangat khas. bisa menunjukkan adanya perubahan khas pada sendi.Pemeriksaan darah . 6. 2. Biasanya.Rontgen. Demamrematik b. 4.

sakit otot dan kelainan mata. Senyawa emas bisa menimbulkan efek samping pada beberapa organ. Tetapi beberapa kelainan mata bisa menetap. gatal dan berkurangnya sejumlah sel darah. Obat slow-acting. Jika . Efek sampingnya adalah penekanan terhadap pembentukan sel darah di dalam sumsum tulang. Yang sekarang ini digunakan adalah senyawa emas. Jika obat ini efektif. sehingga penderita yang mendapatkan obat ini harus memeriksakan matanya sebelum dilakukan pengobatan dan setiap 6 bulan selama pengobatan berlangsung. Misoprostol bisa membantu mencegah erosi lapisan lambung dan pembentukan ulkus gastrikum. sindroma Goodpasture dan sindroma yang menyerupai lupus. Jika terjadi efek samping yang serius. maka pemberian obat ini dihentikan. Telinga berdenging merupakan efek samping yang menunjukkan bahwa dosisnya terlalu tinggi. karena itu obat ini tidak diberikan kepada penderita penyakit hati atau ginjal yang berat atau penyakit darah tertentu. Jika setelah 6 bulan tidak menunjukkan perbaikan. dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih. Gangguan pencernaan dan ulkus peptikum.Senyawa emas. bisa dicegah dengan memakan makanan atau antasid atau obat lainnya pada saat meminum aspirin. 1. Jika terjadi efek samping tersebut. Suntikan mingguan diberikan sampai tercapai dosis total 1 gram atau sampai timbulnya efek samping atau terjadinya perbaikan yang berarti. Obat slow-acting kadang merubah perjalanan penyakit. Kadang perbaikan dicapai setelah diberikannya dosis pemeliharaan selama beberapa tahun. yang merupakan efek samping dari dosis yang terlalu tinggi. Efeknya menyerupai senyawa emas dan bisa digunakan jika senyawa emas tidak efektif atau menyebabkan efek samping yang tidak dapat ditoleransi. Sebelum pengobatan dimulai dan setiap seminggu sekali selama pengobatan berlangsung. Efek sampingnya biasanya ringan. maka pemakaian obat harus dihentikan.Hydroxycloroquine. dosisnya dikurangi secara bertahap. tetapi obat ini juga menyebabkan diare dan tidak mencegah terjadinya mual atau nyeri perut karena aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya. Digunakan untuk mengobati artritis rematoid yang tidak terlalu berat.Dosis awal adalah 4 kali 2 tablet (325 mgram)/hari. Biasanya diberikan sebagai suntikan mingguan.Penisilamin. dilakukan pemeriksaan darah dan air kemih setiap 2-4 minggu sekali. yaitu berupa ruam kulit. penisilamin. kelainan ginjal. penyakit otot. 2. 3. Dosisnya secara bertahap dinaikkan sampai terjadinya perbaikan. Efek sampingnya berupa ruam kulit. ruam kulit dan rasa tidak enak di mulut. Obat ini juga bisa menyebabkan miastenia gravis. Obat ini biasanya ditambahkan jika obat anti peradangan non-steroid terbukti tidak efektif setelah diberikan selama 2-3 bulan atau diberikan segera jika penyakitnya berkembang dengan cepat. Pemakaiannyaharusdipantausecaraketat. hydroxycloroquinine dan sulfasalazine. maka pemakaiannya segera dihentikan. meskipun perbaikan memerlukan waktu beberapa bulan dan efek sampingnya berbahaya. Selama pengobatan berlangsung. Senyawa emas berfungsi memperlambat terjadinya kelainan bentuk tulang.

Jika pemberian obat tidak membantu. Untuk mengembalikan pergerakan dan fungsinya. Kortikosteroid. Dosisnya dinaikkan secara bertahap dan perbaikan biasanya terjadi dalam 3 bulan. seperti peradangan selaput paru-paru (pleuritis) atau peradangan kantong jantung (perikarditis). osteoporosis.Sulfasalazine. bisa dilakukan latihan aktif yang rutin. Obat ini menekan peradangan sehingga pemakaian kortikosteroid bisa dihindari atau diberikan kortikosteroid dosis rendah. Bersamaan dengan pemberian obat untuk mengurangi peradangan sendi. 4. dilakukan latihan yang intensif dan kadang digunakan pembidaian untuk meregangkan sendi secara perlahan. tetapi bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang. mungkin perlu dilakukan pembedahan. Untuk menghindari resiko terjadinya efek samping. mudah terkena infeksi. Terapi lainnya. kelainan hati. padahal artritis rematoid adalah penyakit yang biasanya aktif selama bertahun-tahun. Kortikosteroid juga digunakan untuk mengobati peradangan diluar sendi. penekanan terhadap pembentukan sel darah di sumsum tulang dan perdarahan kandung kemih (karena siklofosfamid). Sendi yang meradang harus dilatih secara halus sehingga tidak terjadi kekakuan. Efek sampingnya berupa penyakit hati. maka hampir selalu digunakan dosis efektif terendah. kadar gula darah yang tinggi dan katarak.terjadi perbaikan. Selain itu azatioprine dan siklofosfamid bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker. digunakan untuk mengobati arthritis rematoid stadium awal. Untuk mengobati persendian yang kaku. azatioprin dan cyclophosphamide) efektif untuk mengatasi artritis rematoid yang berat. pemanasan pada sendi yang meradang dan kadang pembedahan. Setelah peradangan mereda. pemakaian obat ini bisa dilanjutkan sesuai dengan kebutuhan. Obat ini semakin banyak digunakan untuk mengobati artritis rematoid. Obat imunosupresif. biasanya dilakukan pembedahan untuk . Obat ini bisa disuntikkan langsung ke dalam sendi. tekanan darah tinggi. Karena itu obat ini biasanya digunakan untuk mengatasi kekambuhan yang mengenai beberapa sendi atau jika obat lainnya tidak efektif. memar. terapi fisik. Sulfasalazine bisa menyebabkan gangguan pencernaan. terutama jika sendi yang terkena digunakan secara berlebihan sehingga mempercepat terjadinya kerusakan sendi. kelainan sel darah dan ruam kulit. Kortikosteroid biasanya tidak memperlambat perjalanan penyakit ini dan pemakaian jangka panjang menyebabkan berbagai efek samping. Obat imunosupresif (contohnya metotreksat. Siklosporin bisa digunakan untuk mengobati artritis yang berat jika obat lainnya tidak efektif. Efek samping yang sering terjadi adalah penipisan kulit. Metotreksat diberikan per-oral (ditelan) 1 kali/minggu. Biasanya latihan akan lebih mudah jika dilakukan di dalam air. yang melibatkan hampirsetiaporgan. bisa dilakukan latihanlatihan. Kortikosteroid (misalnya prednison) merupakan obat paling efektif untuk mengurangi peradangan di bagian tubuh manapun. peradangan paru-paru. Kortikosteroid efektif pada pemakaian jangka pendek dan cenderung kurang efektif jika digunakan dalam jangka panjang. tetapi jangan sampai terlalu lelah.

fluorourasil dan sitarabin). Jika kekurangan salah satu darinya. bisa terjadi anemia megaloblastik. sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah.Anemia Pernesiosa 1.Defenisi Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. Ibu jari bisa dilebur sehingga penderita bisa menggenggam dan tulang belakang di ujung leher yang tidak stabil bisa dilebur untuk mencegah penekanan terhadap urat saraf tulang belakang. Pada anemia jenis ini. kaki dan tangan .Pucat .Hilangnya rasa ditungkai. Contohnya adalah sepatu ortopedik khusus atau sepatu atletik khusus. Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal.mengganti sendi lutut atau sendi panggul dengan sendi buatan. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat. Jika kekurangan salah satu darinya. sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas). C. Kadang anemia ini disebabkan oleh obat-obat tertentu yang digunakan untuk mengobati kanker (misalnya metotreksat. supaya kaki tidak terlalu nyeri ketika digunakan untuk berjalan. fluorourasil dan sitarabin). Persendian juga bisa diangkat atau dilebur (terutama pada kaki).Penyebab Anemia Karena Kekurangan Vitamin B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12. Pada anemia jenis ini. Selain zat besi.Penurunan berat badan . Gejala lainnya adalah: . Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. 3. Anemia megaloblastik paling sering disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 dan asam folat dalam makanan atau ketidakmampuan untuk menyerap vitamin tersebut. sumsum tulang menghasilkan sel darah merah yang besar dan abnormal (megaloblas).Luka terbuka di lidah atau lidah seperti terbakar .Buta warna tertentu.Anoreksia . hidroksiurea.Linglung . sumsum tulang memerlukan vitamin B12 dan asam folat untuk menghasilkan sel darah merah. hidroksiurea.termasuk warna kuning dan biru . Penderita yang menjadi cacat karena artritis rematoid bisa menggunakan beberapa alat bantu untuk menyelesaikan tugas sehari-harinya.Gejala Selain mengurangai pembentukan sel darah merah.Pergerakanyangkaku.Warna kulit menjadi lebih gelap .Lidah licin . 2.Sel darah putih dan trombosit juga biasanya abnormal.Kesemutan ditangan dan kaki . kekurangan vitamin B12 juga mempengaruhi sistem saraf dan menyebabkan: . Selain zat besi. bisa terjadi anemia megaloblastik.

Filed under: 9. bisa dilakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebabnya. Selanjutnya suntikan diberikan 1 kali/bulan.Diagnosa Biasanya. neutrofilo hiperpigmentsi. Jika diduga terjadi kekurangan. sehingga menyebabkan aklorhidria.Pengobatan Pengobatan kekurangan vitamin B 12 atau anemia pernisiosa adalah pemberian vitamin B12. Biasanya antibodi ini ditemukan pada 60-90% penderita anemia pernisiosa. maka anemia ini bisa dicegah melalui pola makanan yang seimbang. 7.Pencegahan Jika penyebabnya adalah asupan yang kurang. Pada contoh darah yang diperiksa dibawah mikroskop. 2008 by harnawatiaj . Jika vitamin B12 diserap dengan faktor intrinsik. Penderita harus mengkonsumsi tambahan vitamin B12 sepanjang hidupnya. melewati tenggorokan dan masuk ke dalam lambung. tetapi tidak diserap tanpa faktor intrinsik. Pada awalnya suntikan diberikan setiap hari atau setiap minggu.Pemeriksaan yang lebih spesifik.Depresi .yaitu analisa lambung. MCV ≥ 100fmol/l. 2. terutama jika penderita telah menderita anemia dalam jangka waktu yang lama. Kadar vitamin B12 serum kurang dari 100 pg/ml 6. Jika penyebabnya masih belum pasti.karena itu diberikan melalui suntikan. selama beberapa minggu sampai kadar vitamin B12 dalam darah kembali normal. Sering ditemukan dengan gastritis atrofi (dalam jangka waktu lama dikaitkan dengan peningkatan risiko karsinoma gaster). Dimasukkan sebuah selang kecil (selang nasogastrik) melalui hidung. Diberikan sejumlah kecil vitamin B12 radioaktif per-oral (ditelan) dan diukur penyerapannya. Gambaran sum-sum tulang megaloblastik.Penurunan fungsi intelektual. tampak megaloblas (sel darah merah berukuran besar).. Jika sudah pasti terjadi kekurangan vitamin B12.Pemeriksaan penunjang Sel darah merah besar-besar (makrositik). Selanjutnya diambil contoh cairan lambung dan diperiksa untuk menemukan adanya faktor intrinsik. 5. bisa dilakukan tes Schilling. Sebagian besar penderita tidak dapat menyerap vitamin B12 per-oral (ditelan). 4. kekurangan vitamin B12 terdiagnosis pada pemeriksaan darah rutin untuk anemia. IMUNOLOGY ZONE | 2 Komentar » SKIN GRAFT Posted on Maret 9. lalu penyerapannya diukur kembali. maka diagnosisnya pasti anemia pernisiosa. Biasanya pemeriksaan dipusatkan kepada faktor intrinsik: 1. maka dilakukan pengukuran kadar vitamin B12 dalamdarah.Contoh darah diambil untuk memeriksa adanya antibodi terhadap faktor intrinsik. Kemudian diberikan faktor intrinsik dan vitamin B12. Juga dapat dilihat perubahan sel darah putih dan trombosit. Lalu disuntikkan pentagastrin (hormon yang merangasang pelepasan faktor intrinsik) ke dalam sebuah vena.

2007) 2.PEMASANGAN GRAFT Graft atau cangkokan diperoleh dengan berbagai unstrumen seperti pisau tipis seperti silet ( rasa blades ). Skin graft merupakan pencangkokan lapisan epidermis kulit yang dapat dipindahkan secara bebas. pisau graft kulit.Berdasarkan sumber donornya a.Full thickness yaitu tergantung dari banyaknya dermis yang ikut dalam spesimen. b.KLASIFIKASI SKIN GRAFT 1. seperti . leher.Berdasarkan ketebalannya a.Berdasarkan letak a.Zenograft atau heterograft Yaitu skin graft yang donornya adalah jaringan yang diperoleh dari spesies yang lain / berbeda 3. tangan dan kaki 2. Kulit yang digunakan untuk graft dapat berasal dari bagian bagian tubuh yang lain .Sheet skin graft Skin graft pada daerah wajah . sedang atau tebal.Meshed skin graft Skin graft pada daerah mata dan lubang b.Mencegah kontraktur c. Cangkokan kulit diperoleh dari lokasi donor atau ―host‖ dan dipasangkan pada lokasi yang dikehendaki yang disebut lokasi ―resipien‖ atau ―graft bed‖. Kulit yang digunakan dapat berasal dari bagian mana saja dari tubuh.Memperbaiki defek yang terjadi akibat eksisi tumor kulit e. namun lazimnya berasal dari daerah paha.Split thickness yaiu skin graft yang tipis.Allograft Yaitu skin graft yang donornya adalah jaringan yang diperoleh dari spesies yang sama c. Skin graft adalah suatu tindakan atau tehnik memindahkan kulit yang sehat dan menempelkan ke bagian kulit yang luka. pantat.Mengurangi lamanya perawatan d.Menutup daerah kulit yang terkelupas dan menutup luka dimana kulit sekitarnya tidak cukup menutupinya 3.PENGERTIAN Skin graft ( pencangkokan kulit ) merupakan tehnik untuk melepaskan potongan kulit dari suplai darahnya sendiri dan kemudian memindahkannya sebagai jaringan bebas ke lokasi yang jauh ( resipien ).Tujuan khusus : a. atau drum dermatome.Mempercepat penyembuhan luka b.Autograft Yaitu skin graft yang donornya adalah jaringan yang diperoleh dari kulit pasien sendiri b. 4. 2.1. punggung atau perut. (yudini. dermatom bertenaga listrik atau udara.Tujuan umum : Untuk memperbaiki kecacatan atau kelainan yang timbul akibat kecelakaan.TUJUAN Tujuan dilakukan skin graft adalah : 1.

Mempertimbangkan efek kosmetik pada lokasi donor setelah kesembuhan terjadi sehingga lokasi ini sebaiknya dipilih dari tempat yang tersembunyi. b. Kriteria pemilihan lokasi donor yaitu harus dipertimbangkan : a. Setelah cangkokan kulit terpasang pada tempatnya. Pada pemasangan di lokasi resipien. d.Mencocokkan tekstur dan kualitas kulit untuk membawa rambut. d.Daerah pencangkokan harus bebas dari infeksi.cangkokan ini dapat dibiarkan terbuka (pada daerah yang tidak mungkin diimmobilisai) atau ditutup dengan kasa pembalut tipis atau pembalut tekan manurut daerahnya.Pengkajian Keadaan umum Vital sign Status nutrisi Pola eliminasi Pola istirahat dan tidur Persepsi pasien Hasil laboratorium .Cangkokan ini bisa dipotong dan dibentangkan seperti jala agar menutupi suatu daerah yang lebar. tidak ada infeksi dan keadaan umum penderita.Mendapatkan cangkokan kulit yang setebal mungkin tanpa mengganggu kesembuhan luka pada lokasi donor. 5. perdarahan pada daerah resipien harus baik. c.PERAWATAN PRE OPERASI SKIN GRAFT 1. Agar cangkokan kulit dapat hidup dan efektif.beberapa persayaratannya : a.Proses revaskularisasi (pembentukan kembali pasokan darah) dan perlekatan kembali cangkokan kulit pada dasar lokasi resipien.5 kali sampai 6-9 kali luas semula.Lokasi resipien harus memiliki pasokan darah yang adekuat sehingga fungsi fisiologi yang normal dapat berlangsung kembali.Cangkokan harus melekat rapat dengan dasar (bed) lokasi resipien (untuk menghindari penumpukan darah atau cairan). Permukaan kulit dapat dioerluas dengan membuat irisan yang bila direnggang akan membentuk jala. sehingga luasnya mencapai 1.Cankokan harus terfiksasi kuat (terimmobilisasi) sehingga posisinya dipertahankan pada lokasi resipien.untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka diperlukan beberapa pensyaratan antara lain.punggung.Mencapai kecocokan warna sedekat mungkin dengan memperhatikan jumlah cangkokan kulit yang diperlukan. Flap yang dipindahkan akan membentuk perdarahan baru ditempat resipien.cangkokan kulit dapat dijahitkan atau tidak pada lokasi tersebut. Flap adalah cangkok jaringan kulit beserta jaringan lunak dibawahnya yang diangkat dari tempat asalnya tetapi tetap mempunyai hubungan perdarahan dengan tempat asal. Tehnik cangkok jala ini disebut ―mesh‖ dan biasanya digunakan pada skin loss yang luas/parah. b. c.

Skin graft pada tangan dan kaki.5 cm) e.Luka donor yang hanya diberi sufratulle.2. nyeri tekan. e.Luka pada bagian donor tidak boleh tergeser dan boleh bergerak bebes b. 3) Perawatan luka pada donor a.Perdarahan post op c.Beri zalk silver sulfadiazine (ssp) pada luka (0. c.Skin graft (immobilisasi) sampai menempel dengan baik bila memindahkan pasien.Persiapan fisik Puasakan pasien 8 jam Cukur daerah donor Cairan / nutrisi parenteral selama puasa Laboratorium Thoraks foto EKG Concern form Kaji tingkat kecemasan Penjelasan tentang skin graft 6. sokong bantal di bawahnya untuk mencegah edema. buka balutan setelah 2 minggu post op.Jika bioskin kering bersihkan dengan savlon 1% dan biarkan bioskin tetap enempel dan tutup dengan gaas steril.Buka balutan dengan pemberian NaCl bila balutan kering / lengket. rawat luka 2 hari sekali.PERAWATAN SKIN GRAFT . c.PERAWATAN POST OPERASI 1) Hal yang perlu diperhatikan : a.Keringkan dengan kasa steril d. 2) Urutan perawatan luka a.9% (normal salin).Amati tanda-tanda infeksi.Keadan umum b.Luka dicuci dengan cairan savlon 1% kemudian dibilas NaCl 0. 7.Bila luka bersih.Gangguan sirkulasi (ada spalak) d. bila ada bau busuk. b. bengkak. hati-hatie. rawat setiap hari.lepaskan alloask dan berikan sufratulle dan zalf AB kemudian tutup gaas steril.Bila menggunakan Bioskin (alloask) buka pada hari ketiga. d.Tutup dengan menggunakan gaas steril.

Jika terjadi perdarahan tekan daerah tersebut sampai perdarahan berhenti dan laporkan jika berlanjut.Hitung darah lengkap/diferensial : peninggian dan ―perpindahan kekiri‖ diduga proses infeksi c.Ganti verban setiap hari.Glukosa Serum : Peningkatan menunjukkan respon terhadap stress i. buatlah gulungan gaas steril dan gulung perlahan-lahan gulungan gaas ke arah tepi.Perhatikan jika terjadi hipertropi jaringan (pemakaian elastis verban).Pletismografi : mengukur TD segmental bawah terhadap ekstremitas bawah mengevaluasi aliran darah arterial d.Infeksi b.Kering atau lengket basahi NaCl jangan dipaksakan. g. i.Buka balutan harus sangat hati-hati.Bila ada tanda infeksi (merah.LED : Peningkatan mengindikasikan respon inflamasi b.Bersihkan skin graft dengan savlon 1%.Jika ncairan terkumpul di bawah graft. tekan skin graft agar tetap menempel gunakan 2 buah pinset.pus).Fotografi area luka : catatan untuk penyembuhan luka/ skin loss KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan didasarkan pada kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial dan spiritual yang komprehensif ditujukan kepada individu. c. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a.Pus bersihkan dengan bethadine.Reaksi tubuh : tidak magnetis.BUN / Kreatinin : dapat meningkat akibat cedera jaringan k.Rehabilitasi/ latihan setelah skin graft benar-benar lengket. jika ada stepler dibuka pada hari ketujuh dan buka jahitan pada hari ke 14. dan organisme penyebab l. 1untuk menekan dan yang lainnya untuk melepaskan.Ultrasound Dropler : untuk mengkaji dan mengukur aliran darah e. kelompok dan masyarakat baik .Tutup dengan gaas steril dan elastis verban. tidak menghantar listrik I. keluarga.Kultur luka : mengidentifikasi adanya infeksi . d. j.Reaksi penolakan/alergi c.Tekanan O2 Transkutaneus : memberi peta area perfusi paling besar dan paling kecil dalam keterlibatan ekstremitas f.bau. kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal h. f. b.Albumin serum : rasio albumin/globulin mungkin terbalik sehubungan dengan kehilangan protein pada edema cairan j. kecuali ada tanda infeksi segera buka.SDP : Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan kehilangan sel pada sisi luka dan respon inflamasi terhadap cedera g. 8.Elektrolit serum : Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cedera jaringan.bengkak.Bagian skin graft tidak boleh dibuka sebelum hari kelima. h. e.a.KOMPLIKASI a.

keuangan . ketidak mampuan menelan. perencanaan. ansietas. gangguan massa otot. dangkal . penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera c. diteka. perubahan tonus b. menarik diri.Penyuluhan/pembelajaran: Pengobatan sekarang misalnya ‗ anti-inflamasi.gejala : masalah tentang keintiman hubungan f. . gerakan udara dan perubahan suhu Tanda : melindungi area yang sakit. Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan proses keperawatan untuk meningkatkan. marah. stress. hipovolemia. 5.yang sehat maupun yang sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan. steroid 2. pekerjaan. menangis. 1990) 1. keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit.Sirkulasi e.Interaksi sosial : Gejala : masalah sehubungan dengan penyakit/ kondisi. diagnosa keperawatan utama dapat mencakup yang berikut : 1.)Nyeri berhubungan dengan cedera pada jaringan lunak.Aktifitas / istirahat : Gejala : keterbatasan aktual Tanda : penurunan kekuatan. meringis.sirkulasi Tanda : hipotensi. ketergantungan.)Resiko tinggi terhadap disfungsi perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah. 3. cedera vaskuler langsung.Nyeri/ kenyamanan Gejala : berbagai tingkat nyeri. penurunan refleks g. cepat dan pernafasan keras Tanda : batuk.Pengkajian Pada pengkajian keperawatan pasien dengan skin graft meliputi : a.Integritas ego : Gejala : masalah tentang keluarga.Neurosensori : Tanda : perubahan orientasi. ansietas. pembentukan trombus.Diagnosa Keperawatan Brdasarkan pada pengkajian. takikardi ( syok. edema berlebihan. tahanan. sekresi oral i.)Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan inkontuinitas jaringan (kehilangan integritas jaringan).)Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan donor berhubungan dengan skin graf dan mobilisasi. 4. d. imobilisasi. masalah tentang peran fungsi. pelaksanaan dan evaluasi yang memerlukan kecakapan dan keterampilan profesional tenaga keperawatan (Budi Keliat. berteriak. menyangkal.Pernafasan : Gejala : takipnea. mengi.)Gangguan mobilitas berhubungan dengan nyeri 6. mencegah dan memulihkan kesehatan melalui 4 tahap proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian. sensitif untuk disentuh. analgesik narkotik.)Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak. perubahan membran alveolar/kapiler. nyeri). masalah dengan citra tubuh j. menangis h. kecacatan Tanda : ansietas. efek prilaku. 2. reaksi orang lain.

7.)Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah informasi/tidak mengenal sumber informasi. 8.)Gangguan pemenuhan ADL ; berhubungan dengan immobilisasi. 9.)Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan skin loss/ skin graf 10.)Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan klien, maka langkah selanjutnya adalah memenuhi kebutuhan tersebut melalui suatu perencanaan yang baik. a.)Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan inkontuinitas jaringan (kehilangan integritas jaringan).. (1.)Tujuan Mencegah terjadinya infeksi untuk mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema dan demam. (2.)Intervensi (a.)Pantau TTV dan Tanda – tanda infeksi. Rasional : Perubahan tanda vital mengindikasikan ada infeksi. (b.)Kaji nilai-nilai Lab terutama LED. Rasional : Untuk mengetahui adanya tingkat infeksi (c.)Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainage yang tak sedap atau asam. Rasional : Tanda perkiraan infeksi gas gangren. (d.)Pertahankan tindakan isolasi dgn teknik isolasi. Rasional : Mencegah penyebaran kuman / mikroorganisme agar tidak terjadi infeksi silang. (e.)Rawat luka dengan cara aseptic steril.. Rasional : Meminimalkan Infeksi. (f.)Berikan obat sesuai indikasi, contoh antibiotik IV/topikal. Rasional : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme. (g.)Pantau adanya sepsis, demam, Takhipnoe. Rasional :Sepsis, demam, takhipnoe menandakan Infeksi (h.)Ciptakan lingkungan yg tidak memungkinkan pertumbuhan bakteri Rasional :Infeksi Mencegah infeksi bertambah parah dan mencegah infeksi silang b.)Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak, imobilisasi, stress, ansietas (1.)Tujuan : Menyatakan nyeri hilang atau berkurang Menunjukkan tindakan santai ; mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan cepat. Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi. (2.)Intervensi : a.tutup luka sesering mungkin Rasional : Perubahan suhu dan paparan udara dapat menyebabkan nyeri hebat pada pemajanan ujung syaraf b.Tinggikan ektrimitas secara periodik

Rasional : Setelah perubahan posisi dan peninggian menurunkan ketidak nyamanan serta resiko kontraktur c.Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi / karakter dan intensitas ( skala 0 – 10 ) Rasional : Perubahan lokasi / karakter dan intensitas nyeri dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi d.Dorong ekspresi perasaan tentang nyeri Rasional : Pernyataan memungkinkan pengungkapan emosi dan dapat meningkatkan mekanisme koping e.Dorong penggunaan tehnik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, nafas dalam, bimbingan imajinasi dan visualisasi Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi dapat menurunkan ketergantungan farmakologis f.Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan Rasional : Kurang tidur dapat meningkatkan persepsi nyeri / kemampuan koping menurun. c.). Resiko tinggi terhadap disfungsi perifer berhubungan dengan penurunan/interupsi aliran darah, cedera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan trombus, hipovolemia. (1.)Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan. (2.)Intervensi : (a.)Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada fraktur. Rasional : Kembalinya warna cepat (3 – 5 detik), warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial, sianosis diduga ada gangguan vena. (b.)Lakukan pengkajian neuromuskuler, perhatikan fungsi motorik/sensori. Rasional : Gangguan perasaan bebas, kesemutan, peningkatan/ penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi syaraf tidak adekuat atau syaraf rusak. (c.)Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua dan kaji kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila diindikasikan. Rasional : Panjang dan posisi syaraf parineal meningkatkan resiko cedera pada adanya fraktur kaki, edema/sindrom kompartement, atau melapisi alat traksi. (d.)Kaji keseluruhan panjang ekstremitas yang cedera untuk pembengkakan/pembentukan edema. Ukur ekstremitas yang cedera dan bandingkan dengan yang tak cedera. Rasional : Peningkatan lingkar ekstremitas yang cedera dapat diduga ada pembengkakan jaringan/edema umum tetapi menunjukkan perdarahan. (e.)Awasi tanda vital, perhatikan tanda-tanda pucat, cyanosis, kulit dingin. Rasional : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem perfusi jaringan. (f.)Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi. Rasional : Menurunkan edema/pembentukan hematoma yang dapat mengganggu sirkulasi. (g.)Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi.

Rasional : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan membutuhkan keefektifan terapi penggantian. d.)Resiko tinggi terhadap gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah/emboli lemak. (1.)Tujuan : Mempertahankan fungsi pernafasan yang adekuat. (2.)Intervensi : (a.)Awasi frekuensi pernafasan. Rasional : Takipnea, dispnea dan insufisiensi pernafasan. (b.)Auskultasi bunyi nafas perhatikan terjadinya ketidaksamaan bunyi hiperesonan, juga adanya gemericik, ronchi, mengi, dan inspeksi mengorok/sesak nafas. Rasional : Perubahan dalam/adanya bunyi adventisius menunjukkan terjadinya komplikasi pernafasan. (c.)Observasi sputum untuk tanda adanya darah. Rasional : Hemodialisa dapat terjadi dengan emboli paru. (d.)Inspeksi kulit untuk petekie di atas garis puting pada aksilla meluas ke abdomen/tubuh, mukosa mulut kantong konjungtiva dan retina. Rasional : Ini adalah karakteristik yang paling nyata dari tanda emboli lemak,. Yang tampak dalam 2 – 3 hari setelah cedera. (e.)Berikan tambahan oksigen bila diindikasikan. Rasional : Meningkatkan sediaan O2 untuk oksigenasi optimal jaringan. (f.)Berikan obat sesuai indikasi, heparin dosis rendah. Rasional : Blok siklus pembekuan dan mencegah bertambahnya pembekuan pada adanya tromboplebitis. e.)Gangguan mobilitas berhubungan dengan nyeri (1.)Tujuan Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin mempertahankan posisi fungsional. (2.)Intervensi (a.)Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap mobilitas. Rasional : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual memerlukan intervensi/informasi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan. (b.)Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang tidak sakit. Rasional : kontraksi otot isometrik tanpa menekuk sendi atau menggerakkan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan massa otot. (c.)Pertahankan posisi tubuh tepat dengan dukungan. Rasional : Meningkatkan posisi fungsiinal pada extremita dan mencegah kontraktur. (d.)lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, di awali dgn pasif kemudian aktif. Rasional : Mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut dan kontraktur, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot sendi dan menurunkan kehilangan kalsium dari tulang (e.)Berikan diet tinggi protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, pertahankan penurunan kandungan protein sampai setelah defekasi pertama. Rasional : pada cedera muskuloskeletal, nutrisi yang diperlukan untuk penyembuhan berkurang

Rasional : Plester traksi melingkari tungkai dapat mempengaruhi pada sirkulasi.)Tujuan Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. (d. Gerakan jaringan di bawah graft dapat mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal. demam . kekuatan dan aktivitas yang mengandalkan BB.)Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan atau rehabiltasi spesialis. Rasional : Untuk mengurangi tekanan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.)Identifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik. prognosis dan harapan yang akan datang.)Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas tonjolan tulang. Pertahankan posisi yang diinginkan. g.)Kaji kulit untuk luka. (1. prognosis dan pengobatan. f. selama traksi tulang ini dapat mempengaruhi massa otot. Rasional : perlambatan penyembuhan dapat terjadi terhadap ketidaktepatan penggunaan alat ambulasi. (c. contoh : nyeri berat. Rasional : Untuk membuat aktivitas individual/program latihan pasien dapat memerlukan bantuan jangka panjang dengan gerakan. Rasional : Menurunkan resiko infeksi (f.)Kurang pengetahuan tentang kondisi.)Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi yang sehat Rasional : Mencegah kekakuan sendi. Sering mengakibatkan penurunan BB.)Intervensi (a.dengan cepat. kontraktur dan kelelahan otot meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari. Rasional : Membatasi risiko pemisahan graft.)Resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan donor berhubungan dengan skin graf dan mobilisasi. Rasional : meminimalkan tekanan pada area ini. tonus dan kekuatan. perubahan warna. (e..)Gunakan plester traksu kulit dengan memanjang pada posisi tungkai yang sakit. perdarahan. kemerahan. dorong penggunaan trapeze bila mungkin. (d. (f. (b.)Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat. (b. dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah informasi. prognosis. (2. penggunaan trapeze dapat menurunkan abrasi pada siku/tumit. (1. Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi. (c. Rasional : Berikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat dan atau pemasangan gips/beban/traksi. benda asing.)Kaji ulang patologi.)Tujuan Menyatakan pemahaman kondisi.)Buat daftar aktivitas di mana pasien dapat melakukannya secara mandiri dan yang memerlukan bantuan. (2.)Intervensi (a.)Tinggikan area graft bila mungkin/tepat.)Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan terapis fisik bila diindikasikan.)Ubah posisi dengan sering. Rasional : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan yang dapat bantuan. (e.

Rasional : Mengurangi frustasi yang sering menyertai kesulitan yang dihadapi bila belajar.)Diskusikan persepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan dan bagaimana pasien melihat dirinya dalam pola/peran fungsi yang biasanya. j. (c. bau tak enak. membicarakan diri tentang hal negatif.)Sediakan waktu klien dalam melakukan aktivitas dengan segenap kemampuannya.)Intervensi (a.)Kaji tingkat kemampuan klien dalam merawat dirinya.)Perhatikan prilaku menarik diri. Rasional : Intervensi cepat menurunkan beratnya komplikasi seperti infeksi/gangguan sirkulasi.)Berikan pujian terhadap kemampuan yang dicapai oleh klien dalam menolong dirinya. .)Bantu klien memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan anjurkan klien agar dapat mengerjakan sebanyak mungkin untuk dirinya (memandikan klien). Rasional : Dapat mengurangi kecemasan dan ketidakmampuan pasien untuk membuat keputusan/pilihan berdasarkan realita.)Berikan informasi yang dapat dipercaya dan konsisten. juga dukungan untuk orang terdekat. i. (d. Rasional : Untuk memotivasi agar mematuhi program rehabilitasi secara kontinyu.)Tujuan Klien dapat melakukan interaksi dengan orang lain tanpa merasa rendah diri.)Intervensi (a.)Berikan informasi akurat dan konsisten mengenai prognosis. Rasional : Membantu pasien untuk merasa diterima pada kondisi sekarang tanpa perasaan dihakimi dan meningkatkan perasaan harga diri dan kontrol. Rasional : Mengetahui sejauh mana kemampuan klien dalam merawat dirinya.)Tujuan Mewujudkan kemampuan untuk mengatasi masalah.)Berikan lingkungan terbuka di mana pasien akan merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menahan diri untuk berbicara. (b.)Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.)Tujuan Kebutuhan rawat diri terpenuhi. Rasional : Membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup sebelumnya dan membantu pemecahan masalah. (b.tinggi. h. (2. Rasional : Dukungan yang cukup dari orang terdekat dan teman dapat membantu proses rehabilitasi. (1.)Gangguan konsep diri (body image) berhubungan dengan skin loss/ skin graft (1.)Intervensi (a. penggunaan penyangkalan atau terus menerus melihat perubahan nyata/yang diterima. (b. (2. (1. Rasional : Dibutuhkan pada masalah ini untuk membantu adaptasi lanjut yang optimal dan rehabilitasi. (2.)Gangguan pemenuhan ADL . berhubungan dengan immobilisasi. (c. Rasional : Perawatan ini membantu memelihara harga diri dan kembali untuk hidup tanpa tergantung kepada orang lain.)Kaji derajat dukungan yang ada untuk pasien. (c.

yang meliputi 3 hal : a. tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam menggunakan proses keperawatan. 3. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rectus abdominis dengan fasianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Sumber-sumber dari instansi. yaitu dari luar ke dalam lapisan kulit yang terdiri dari kutis dan sub cutis. Kemampuan perseorangan dan keahlian/keterampilan dari perawat. Dalam melaksanakan proses keperawatan harus kerjasama dengan tim kesehatan-kesehatan yang lain keluarga klien dan dengan klien sendiri. Integritas lapisan . m. Di bagian bawah melekat pada tulang panggul.Melaksanakan tindakan keperawatan dengan memperhatikan kode etik dengan standar praktek dan sumber-sumber yang ada. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan : Kebutuhan klien. m. (d. Sumber-sumber dari keluarga dan klien sendiri. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis. Evaluasi. Filed under: 9. oblikus abdominis externus. c. Rasional : Menjamin adanya sistem pendamping bagi pasien dan memberikan kesempatan orang terdekat untuk berpartisipasi dalam kehidupan pasien. Dibagian belakang.Konsep Dasar Dinding perut mengandung struktur muskulo aponeuresis yang kompleks. Kemudian ketiga otot dinding perut. Evaluasi adalah merupakan pengukuran dari keberhasilan rencana keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. lemak peritoneal dan peritoneum. b. struktur ini melekat pada tulang belakang. lemak sub cutan dan fasia superfisialis ( Fasia scarpa ). Disebelah atas.)Libatkan orang terdekat sesuai petunjuk pada pengambilan keputusan bersifat mayor. tranfersus abdominis dan ahirnya lapis preperitoneum. m.Mendokumentasikan/mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan dan respon pasien.Mengidentifikasi respon klien. 2008 by harnawatiaj I.Rasional : menciptakan interaksi interpersonal yang lebih baik dan menurunkan ansietas dan rasa takut. Dinding perut membentuk rongga perut yang melindung isi di dalamnya. Dasar dari tindakan. DERMATOLOGY ZONE | 5 Komentar » OMPHALOCELE / GASTROSCHISIS Posted on Maret 9. oblikus abdominis internus. yaitu fasia tranversalis. melekat pada iga. Peritoneum.Pelaksanaan Pelaksanaan adalah perwujudan dari rencana keperawatan yang meliputi tindakan-tindakan yang direncakan oleh perawat. Adapun evaluasi klien dengan post skin graft dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dan asuhan keperawatan dikatakan berhasil apabila dalam evaluasi terlihat pencapaian kriteria tujuan perencanaan yang diberikan pada klien dengan post skin graft.

Pada gastroschisis operasi koreksi untuk menempatkan usus ke dalam rongga perut dan menutup lobang harus dikerjakan secepat mungkin sebab tidak ada perlindungan infeksi.Pengobatan Paliatif Besarnya kantong. lambung kadang hati. Dari kaudal terdapat a.muskulo aponeuresis sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan. II. Dinding kantong dibuang. lumbalis I. Bila proses ini terhambat maka akan terjadi kantong di pangkal umbilikus yang berisi usus. Epitelisasi ini membutuhkan waktu 3 – 4 bulan. Bila usus keluar dari titik terlemah di kanan umbilikus. kemudian lubang ditutup dengan peritoneum. keadaan ini disebut gastroschisis. Intercostalis VI s/d XII dan a epigastrika superior. Pada gastro schisis usus berada di luar rongga perut tanpa adanya kantong. a pudenta externa dan a epigastrika inferior. Kemudian operasi koreksi hernia ventralis tersebut dapat dikerjakan setelah anak berusia 5 – 10 tahun. keadaan ini disebut omfalokel. Dindingnya tipis terdiri dari lapisan peritoneum dan lapisan amnion yang keduanya bening sehingga isi kantong tengah tampak dari luar. dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdomen. iliaka sirkum fleksa superfisialis. Diagnosis Pada omfalokel tampak kantong yang berisi usus dengan atau tanpa hati di garis tengah pada bayi yang baru lahir. Dari kranio dorsal diperoleh pendarahan dari cabang aa. Tetapi omfalokel biasanya terlalu besar dan rongga perut terlalu kecil sehingga isi kantong tidak bisa dimasukkan ke dalam rongga perut. Tambahan lagi makin ditunda operasi makin sukar karena usus akan udem. dapat dilakukan operasi satu tahap. torakalis VI s/d XII dan n. Pada usia 10 minggu terjadi pengembangan lumen abdomen sehingga usus dari extra peritoneum akanmasuk ke rongga perut. Bila kantong omfalokel kecil. Obstruksi vena cava inferior juga dapat terjadi karena penekanan tersebut. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada waktu pernafasan. juga pada saat berkemih. Vaskularisasi dinding perut berasal dari beberapa arah. Persyarafan dinding perut dilayani secara segmental oleh n. dapatan maupun iatogenik. isi kantong dimasukkan ke dalam rongga perut. usus akan berada di luar rongga perut tanpa dibungkus peritoneum dan amnion. Patofisiologi Kelainan kongenital Omfalokel dan Gastrischisis Embriogenesis Pada janin usia 5 – 6 minggu isi abdomen terletak di luar embrio di rongga selom. fasia dan kulit. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horisontal maupun vertical tanpa menimbulkan gangguan pendarahan. Tindakan yang dapat dilakukan ialah dengan melindungi kantong omfalokel dengan cairan anti septik misalnya betadin dan menutupnya dengan kain dakron agar tidak tercemar. luasnya cacat dinding perut dan ada tidaknya hati di dalam kantong akan menentukan cara pengobatan. Jika dipaksakan maka karena regangan dinding perut diafragma terdorong ke atas dan terjadi gangguan pernafasan. Dengan demikian ada kesempatan terjadinya epitelisasi dari tepi sehingga seluruh kantong tertutup epitel dan terbentuk hernia ventralis yang besar. Komplikasi Komplikasi dini merupakan infeksi pada kantong yang mudah terjadi pada permukaan yang .

Infeksi parental. Pengertian Diare adalah keadaan kekerapan dan keenceran buang air besar dimana frekuensinya lebih dari tiga kaliper hari dan banyaknya lebih dari 200 – 250 gram.Faktor psikologis : rasa tahut dan cemas. Bukan faktor infeksi 6. PEDIATRIK ZONE | 1 Komentar » DIARE PADA ANAK Posted on Maret 9.Infeksi virus : Entero virus (Virus echo. 8.Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan.Infeksi enternal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak.Infeksi bakteri : Vibrio coma. 2008 by harnawatiaj I. protozoa dan jamur.Obstruksi usus. 5.Obat-obatan seperti antibiotik. Rota virus dan Astrovirus. 4.Infeksi parasit : Cacing. 2. 7.telanjang. Coxechasi dan Poliomyelitis). Gangguan motalitas usus Hyperperistaltik menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan. peningkatan isi rongga usus merangsang usus untuk mengeluarkannya.Penyakit usus seperti Colitis ulserative. Ecserchia coli.Alergi makanan : susu dan protein. Shigella. Adeno virus.Gangguan metabolik atau malabsorbsi. II. sepertiOtitis Media Akut. crohn disease dan enterocolitis. yaitu infeksi dibagian tubuh lain diluar alatpencernaan. 3. Compilobacter. Etiologi Faktor Infeksi 1. 12. Gangguan osmotik Makanan atau zat yang tidak dapat diserap menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Keadaan ini terutama pada bayi dan anak dibawah 2 tahun. C. Tonsilopharingitis dan sebagainya. hal ini menyebabkan isi rongga usus berlebihan sehingga merangsang usus mengeluarkannya (diare). Filed under: 1. 9. 11. Yersenia dan Acromonas. 10. Gangguan sekresi Toxin pada dinding usus meningkatkan sekresi air dan lektrolit kedalam usus. III. Patofisiologi A. Salmonella. Atau peristaltik yang menurun menyebabkan bakteri tumbuh berlebihan menyebabkan peradangan . Kelainan kongenital dinding perut ini mungkin disertai kelainan bawaan lain yang memperburuk prognosis.

konvulsi. e. d. V.Dehidrasi ringan : dimana berat badan menurun 3 – 5 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 ml/kgBB. b. Komplikasi Komplikasi yang sering terjadi pada anak yang menderita diare adalah : 1. 6.Kehilangan cairan/dehidrasi dimana jumlah urine menurun. namun secara umum tanda dan gejala yang sering terjadi adalah : a.Syok hipovolemik 7.Terjadi perubahan tingkah laku seperti rewel.Feces encer dan terjadi perubahan warna dalam beberapa hari. lemah. pucat. VI. c.Cardiac disrythmias 5. terdapat fontanel dan mata yang cekung serta terjadi penurunan tekanan darah.Hipokalsemi 4. Mikroorganisme patogen Zat – zat sulit diserap Infeksi Peningkatan tekanan osmotik Peningkatan sekresi aktif cairan Menarik air dan garam ke dalam usus Peningkatan motilitas usus Peristaltik meningkat Diare IV.Dehidrasi sedang : dimana berat badan menurun 6 – 9 % dengan volume cairan yang hilang kurang dari 50 – 90 ml/kgBB.Hipokalemi. g.Respirasi cepat dan dalam.Anorexia. f.Vomiting. turgor kulit jelek. iritabel.Sering buang air besar lebih dari 3 kali dan dengan jumlah 200 – 250 gr.pada rongga usus sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat hal ini menyebabkan absorsi rongga usus menurun sehingga terjadilah diare. Gejala Klinik Gejal klinik yang timbul tergantung dari intensitas dan tipe diare.Hiponatremi. .Dehidrasi berat : dimana berat badan menurun lebih dari 10 % dengan volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih dari 100 ml/kgBB.Dehidrasi 2. 3.Asidosis. Klasifikasi diare Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1977) : 1. flasiddity dan merasa nyeri pada saat buang air besar. 2. 3. kulit kering.

Kekuatan tonus otot massater dan otot-otot rangka. Toksin ini labil pada pemanasan.Diet. tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi baik. Spasmolitika dan obstipansia pada diare tidak diberikan karena tidak bermanfaat bahkan dapat memberatkan penyakit. 4.ASI/susu yang sesuai c.Bila tidak minum ASI : 1. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. luka baker. biskuit.Definisi Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani.Untuk umur 1 tahun lebih . bermanifestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. PEDIATRIK ZONE | 1 Komentar » TETANUS Posted on Maret 9. 2008 by harnawatiaj A. berukuran 2-5 x 0. B. 2.Patofisiologi Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku.Dehidrasi.VII. yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit. luka yang kotor dan pada bayi dapat melalui tali pusat. ramping.4-0. Filed under: 1. Organisme multiple membentuk dua toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin kuat dan . Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik.5 milimikro yang berbentuk spora selama diluar tubuh manusia.Defisiensi disakarida 5. Pada dehidrasi berat.Etologi Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang. pecahan kaca. C.Diagnosis. Penatalaksanaan Dasar-dasar penatalaksanaan diare pada anak adalah : (5 D) 1. bubur dan seterusnya selain oralit. luka tembak. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang hemolisis.Termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. 2/3 penuh ditambah oralit. 3. sedangkan antibiotika atau obat lain hanya diberikan bila ada indikasi yang jelas. atau kaleng. penderita tidak perlu dirawat dan diberikan : a. 2.Kurang dari 1 tahun LLM dengan takaran 1/3. penderita harus dirawat di RS.Seperti pengobatan dehidrasi ringan b. pada suhu 65 C akan hancur dalam lima menit.Oralit + cairan b. Pengobatan diare lebih mengutamakan pemberian cairan.Drugs Pada dehidrasi ringan diberikan : a. kalori dan elektrolit yang bisa berupa larutan oralit (garam diare) guna mencegah terjadinya dehidrasi berat. BB 7 kg lebih : teh. Formula susu dihentikan dan baru dimulai lagi secara realimentasi setalh makan nasi.Antibiotika (hanya kalau perlu saja) Pada dehidrasi sedang.

masuk kedalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk kedalam susunan saraf pusat. Kedua.sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah. 9.Spasme yang khas . trismus. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari. 5.Gejala klinis Masa tunas biasanya 5 – 14 hari.Kejang tonik terutama bila dirangsang karena toksin terdapat di kornu anterior. yaitu badan kaku dengan epistotonus. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. Gejala itu dapat menetap dalam beberapa minggu dan menhilang tanpa sekuele. D.Panas biasanya tidak tinggi dan terdapat pada stadium akhir.Biasanya terdapat leukositosis ringan dan kadang-kadang peninggian tekanan cairan otak. Dalam waktu 48 jam penyakit ini menjadi nyata dengan : 1. 7. Fraktur kolumna vertebralis dapat pula terjadi karena kontraksi otot yang sangat kuat. lalu timbul rebiditas dan spasme pada bagian paroksimal luak. 2.Tetanus segal : varian tetanus local yang jarang terjadi masa inkubasi 1-2 hari terjadi sesudah . Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan saraf pusat. Penyakit ini biasanya terjadi mendadak dengan ketegangan otot yang makin bertambah terutama pada rahang dan leher.Asfiksia dan sianosis terjadi akibat serangan pada otot pernapasan dan laring. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot manjadi kejang mudah sekali terangsang.gelisah. 6. Kadang-kadang terjadi perdarahan intramusculus karena kontraksi yang kuat. 2. Pada mulanya spasme berlangsuang beberapa detik sampai beberapa menit dan terpisah oleh periode relaksasi. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin. Retensi urine dapat terjadi karena spasme otot urethral. dan mempengaruhi sistem saraf pusat. Kemudian tidak jelas lagi dan serangan tersebut disertai rasa nyeri.Ketegangan otot dinding perut (harus dibedakan dengan abdomen akut) 4. tetapi kadang-kadang sampai beberapa minggu pada infeksi ringan atau kalau terjadi modifikasi penyakit oleh antiserum. ekstremitas inferior dalam keadaan ekstensi. Anak tetap sadar.Tetanus general merupakan bentuk paling sering. 8.Risus sardonikus karena spasme otot muka (alis tertarik ke atas). toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik. nyeri anggota badan sering marupakan gejala dini. Dalam waktu singkat konstruksi otot somatik — meluas. mudah tersinggung dan sakit kepala merupakan manifestasi awal. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Timbul kejang tetanik bermacam grup otot.Kesukaran menelan. yaitu: 1.Kaku kuduk sampai epistotonus (karena ketegangan otot-otot erector trunki) 3. Ada 3 bentuk klinik dari tetanus. menimbulkan aduksi lengan dan ekstensi ekstremitas bagian bawah. 3. lengan kaku dan tangan mengepal kuat. 10.atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot. Spasme mula-mula intermitten diselingi periode relaksasi. bibir tertekan kuat pada gigi. timbul mendadak dengan kaku kuduk.tetanus local : otot terasa sakit. gelisah. mudah terangsang.Trismus (kesukaran membuka mulut) karena spasme otot-otot mastikatoris.

spondilitis leher.Trismur (3 cm atau lebih kecil) dengan kejang torik umum bila dirangsang.Diagnosis banding Spasme yang disebabkan oleh striknin jarang menyebabkan spasme otot rahang tetapi didiagnosis dengan pemeriksaan darah (kalsium dan fospat). VII.Obat-obatan 1. Mortalitas di Amerika Serikat dilaporkan 62 % (masih tinggi) J. 2. G. Pada rabies terdapat anamnesis gigitan anjing dan kucing disertai gejala spasme laring dan faring yang terus menerus dengan pleiositosis tetapi tanpa trismus. 3.Komplikasi 1. Kuduk baku juga dapat terjadi pada meningitis (pada tetanus kesadaran tidak menurun).Diagnosis Biasanya tidak sukar.000-12.Fraktura kompresi. bila disertai frekuensi kejang yang tinggi.otitis media atau luka kepala dan muka. F. E.Atelektaksis karena obstruksi secret 4.Spame otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air liur (saripa) di dalam rongga mulut dan hal ini memungkinkan terjadinya aspirasi sehingga dapat terjadi pneumonia aspirasi. abses retrofaringeal. ~ Diet TKTP pemberian tergantung kemampuan menelan bila trismus makanan diberi pada sonde parenteral.Antitoksin . mastoiditis. b. IV. Paling menonjol adalah disfungsi saraf III.Asfiksia 3. I. preumonia lobaris atas.Trismur (1 cm) dengan kejang torik umum spontan. abses gigi yang hebat. Trismus dapat pula terjadi pada argina yang berat.Trismus (3 cm) tanpa kejang-lorik umum meskipun dirangsang. usia yang sangat mudah (neunatus) dan usia lanjut. miositis leher. H.Pemeriksaan diagnostic ~ Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang. ~ Oksigen pernafasan butan dan trakeotomi bila perlu. pengobatan yang terlambat. period of onsed yang pendek (jarak antara trismus dan timbulnya kejang) dan adanya kompikasi terutama spame otot pernafasan dan obstruksi saluran pernafasan. Kejang pada meningitis dapat dibedakan dengan kelainan cairan serebropinalis. ~ Mengatur cairan dan elektrolit. ~ Pemeriksaan darah : leukosit 8. 2. kenaikan suhu tubuh yang tinggi. ~ Isolasi pada ruang yang tenang bebas dari rangsangan luar.Prognosis Dipengaruhi oleh beberapa factor dan akan buruk pada masa tunas yang pendek (kurang dari 7 hari). Menurut berat gejala dapat dibedakan 3 stadium : 1.000 ca. pembesaran getah bening leher. IX dan XI tersering adalah saraf otak VII diikuti tetanus umum. Anamnesis terdapat luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang sangat membantu.Penatalaksanaan a.Secara Umum ~ Merawat dan memebersihkan luka sebaik-baiknya.

2. 2.Pencegahan 1. dll.Etiologi & Klasifikasi Sirosis hepatis diklasifikasikan berdasarkan atas : A.Imunisasi aktif toksoid tetanus. yang diberikan sebagai dapat paad usia 3. diikuti proliferasi jaringan ikat. Pemberian baru dilaksanakan setelah dipastikan tidak ada reaksi hipersensitivitas.M/hari untuk anak-anak mula-mula 4-6 mg/kg BB. ~ Bila luka berta berikan pp selama 2-3 hari (50. 200 mg/hari).M/4 jam.0 mg/kg BB/1.Bila mendapat luka : ~ Perawatan luka yang baik : luka tusuk harus di eksplorasi dan dicuci dengan H2O2. ~ Pemberian ATS 1500 iu secepatnya.M lalu dilanjutkan 6 x 30 mg hari (max. Filed under: 9. II.M.000 iu/kg BB/hari).Morfologi C.V Dapat memusnakan oleh tetani tetapi tidak mempengaruhi proses neurologiknya. ~ Tetanus toksoid sebagai boster bagi yang telah mendapat imunisasi dasar.u/hari atau tetrasiflin 1 gr/hari/1. 2008 by harnawatiaj I.4 dan 5 bulan.5-1.m/5 hari. juta 1. untuk anak diberikan mula-mula 60-100 mg/1.Antibiotik Penizilin prokain 1. ~ Diazepam 0. degenerasi dan regenerasi.Antitoksin 20.Etiologi B. K. INFEKSION ZONE | Leave a Comment » SIROSIS HEPATIS Posted on Maret 9.Pengertian Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan kronik pada hati. Booster diberikan 1 tahun kemudian selanjutnya tiap 2-3 tahun.Klasifikasi etiologi 1)Etiologi yang diketahui penyebabnya (a)Hepatitis virus B & C (b)Alkohol (c)Metabolik (d)Kolestasis kronik/sirosis siliar sekunder intra dan ekstrahepatik . ~ Klorpromasin 3 x 25 mg/1.000 iu/1. sehingga timbul kerusakan dalam susunan parenkim hati.Fungsional Uraian : A.Anti kejang/Antikonvulsan ~ Fenobarbital (luminal) 3 x 100 mg/1. 4.

metildopa (h)Operasi pintas usus halus pada obesitas (i)Malnutrisi. subfebris. sirkulasi hiperkenetik. berat badan menurun.mikronodular 2. Sirosis mikronodular besar nodulnya sampai 3 mm. gangguan koagulasi darah/defisiensi protrombin. Klasifikasi Morfologi Secara makroskopik sirosis dibagi atas: 1. flapping tremor akibat amonia dan produksi nitrogen (akibat hpertensi portal dan kegagalan hati) Hipoalbuminemia. 2)Etiologi tanpa diketahui penyebabnya. sedangkan sirosis makronodular ada yang berubah menjadi makronodular sehingga dijumpai campuran mikro dan makronodular. 3. C. gembung. disertai kegagalan hati dan hipertensi portal) 1. 2.kegagalan hati/hepatoselular : dapat timbul keluhan subjektif berupa lemah. sirosis campuran umumnya sirosis hati adalah jenis campuran ini. infeksi seperti malaria. .sirosis dini) dekompensasi (aktif. Eritema palmaris Asites Pertumbuhan rambut berkurang Atrofi testis dan ginekomastia pada pria Sebagai tambahan dapat timbul : Ikterus/jaundice. bicara gagok/slurred speech.makronodular 3. danfoetor hepatik. Ensefalopati hepatik. mengandung nodul yang besarnya juga bervariasi ada nodul besar didalamnya ada daerah luas dengan parenkim yang masih baik atau terjadi regenerasi parenkim. di dalam septa parenkim hati mengandung nodul halus dan kecil merata tersebut seluruh lobul.campuran Uraian : 1.(e)Obstruksi aliran vena hepatik Penyakit vena oklusif Sindrom budd chiari Perikarditis konstriktiva Payah jantung kanan (f)Gangguan imunologis Hepatitis lupoid. edema pretibial.Klasifikasi Fungsional Secara fungsi. Sirosis yang tidak diketahui penyebabnya dinamakan sirosis kriptogenik/heterogenous. muka dan lengan atas. sirosis hati dibagi atas : kompensasi baik (laten. dll Spider nevi/angiomata pada kulit tubuh bagian atas. mual. hepatitis kronik aktif (g)Toksik & obat INH.sirosis mikronodular : ditandai dengan terbentuknya septa tebal teratur. B. sirosis makronodula ditandai dengan terbentuknya septa dengan ketebalan bervariasi.

Peningkatan tekanan prehepatik bisa juga diakibatkan meningkatnya aliran splanknik karena fistula atriovenosa atau mielofibrosis limfa. pengobatan dan prognosis pasien sirosis hati tergantung pada 2 komplikasi. dan ini menyebabkan distorsi percabangan pembuluh hepatik dan gangguan aliran daerah portal dan menimbulkan hipertensi portal. trombosis vena porta waktu lahir. Lokasi peningkatan resistensi bisa : prehepatik. jaringan parut ini dapats menghubungkan daerah portal yang satu dengan yang lain atau portal dengan sentral (bridging neerosis).Bisa disebabkan satu faktor saja. Tekanan splanknik meningkat tetapi tekanan portal intra hepatik normal. insufisiensi trikuspidal.septal aktif ini berasal dari portal menyebar keparenkim hati.biasa terdapat lokasi obstruksi campuran. Pembentukan jaringan kologen diransang oleh nekrosis hepatoseluluer dan asidosis laktat merupakan faktor perangsang.sinusoid. biasa kongenital. histologi jaringan dan dibagi atas progresif. regresif. d)Posthepatik karena perikarditis konstriktiva.septa bisa dibenyuk dari sel retikulum penyangga kolaps dan berubah menjadi parut . dan status quo (stasioner). Biasa yang dominan adalah peningkatan resistensi.2. Tahap berikutnya terjadi peradangan dan nekrosis pada sel duktules . terjadi fibrogenesis dan septa aktif jaringan kologen berubah dari reversibel menjadi irrevensibel bila telah terbentuk septa permanen yang aseluler pada daerah portal dan parenkhim hati sel limfosit T dan makrofag menghasilkan limfokin dan monokin sebagai mediator fibrinogen. Intrahepatik a)Presinusoidal b)Sinusoinal(sirosis hati) c)Post-sinusoidal (veno oklusif).terjadi kolaps lobulus hati dan ini memacu timbulnya jaringan parut disertai terbentuknya septa fibrosa difus dan modul sel hati . dan kedua akibat meningkatnya aliran portal karena transmisi dari tekanan arteri hepatikke sistem portal akibat distorsi arsitektur hati. Aktivitas sirosis hati dapat dinilai dari aspek klinis. Mekanisme terjadinya sirosis hati bisa secara: -mekanik -imunologis -campuran .hipertensi portal : bisa terjadi pertama akibat meningkatnya reistensi portal dan splanknik karena mengurangnya sirkulasi akibat fibrosis.Patognesis: Adanya faktor etilogi menyebabkan peradangan dan kerusakan inekrosis meliputi daerah yang luas (hapatoseluler) . dan hipertensi portal. III. misalnya peningkatan resistensi atau aliran corta atau keduanya. yakni kegagalan hati.retikulo endotel. Beberapa sel tumbuh kembali dan membentuk nodul dengan berbagai ukuran . Kolagen ada 4 tipe dengan lokasi sebagai berikut: Tipe 1: lokasi daerah sentral Tipe 2: sinusoid Tipe 3: jaringan retikulin (sinusoid portal) Tipe 4: membram basal Pada semua sirosis terdapat peningkatan pertumbuhan semua jenis kologen tersebut. biokimia darah. Gambaran klinis.

Pada kasus lain. Keluhan pasien sirosis hati tergantung pada fase penyakitnya. bisa akibat kegagalan hati pada sirosis hati fase lanjut atau akibat perdarahan varises esofagus. Bisa juga pasien datang dengan gangguan pembentukan darah seperti perdarahan gusi. epistaksis. Kenaikan kadar enzim transaminase/SGOT. mual. edema pretibial dan asites. ikterus. sirosis datang dengan gangguan kesadran berupa ensefalopati. Perkembangan sirosis dengan cara ini memerlukan waktu sekitars 4 tahun sels yang nengandung virus ini merupakan sumber rangsangan terjadinya proses imunologis yang berlangsung terus menerus sampai terjadi kerusakan hati.Manifestasi klinis 1. Fase kompensasi sempurna pada fase ini tidak mengeluh sama sekali atu bisa juga keluhan samar-samar tidak khas seperti pasien merasa tidak bugar/ fit merasa kurang kemampuan kerja selera makan berkurang. spider nevy. kadang mencret atau konstipasi berat badan menurun. yang masih baik. hematemesis dan melena. dan pemeriksaan penunjang lainnya. atau hipokrom makrositer. V. Darah : bisa dijumpai HB rendah.nekrosis /nekrosis bridging dengan melalui hepatitis kronik agresif diikuti timbulnya sirosis hati. hipokrom mikrositer. Kolesterol darah yang selalu rendah mempunyai prognosis yang kurang baik. SGPT tidak merupakan petunjuk tentang berat dan . haid berhenti. timbul peradangan luas. Sebagian pasien datang dengan gejala hematemesis. Terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal dengan manifestasi seperti: eritema palmaris. laboratorium. pengurangan masa otot terutama pengurangannya masa daerah pektoralis mayor. Anemia bisa akibat hipersplenisme dengan leukopenia dan trombositopenia. hipokrom normositer. gangguan siklus haid. atau melena saja akibat perdarahan farises esofagus. Fase dekompensasi Pada sirosis hati dalam fase ini sudah dapat ditegakkan diagnosisnya dengan bantuan pemeriksaan klinis. Jadi fibrosis pasca nekrotik adalah dasar timbulnya sirosis hati. perasaan perut gembung. Gejala kegagalan hati ditimbulkan oleh keaktifan proses hepatitis kronik yang masih berjalan bersamaan dengan sirosis hati yang telah terjadi dalam proses penyakit hati yang berlanjut sulit dibedakan hepatitis kronik aktif yang berat dengan permulaan sirosis yang terjadi (sirosis dini ). 2. Kadang-kadang pasien sering mendapat flu akibat infeksi sekunder atau keadaan aktivitas sirosis itu sendiri. Perdarahan bisa masif dan menyebabkan pasien jatuh ke dalam renjatan.Pemeriksaan Laboratorium Perlu diingat bahwa tidak ada pemeriksaan uji biokimia hati yang dapat menjadi pegangan dalam menegakkan diagnosis sirosis hati. Ikterus dengan eir kemih berwarna seperti air kemih yang pekat mungkin disebabkan oleh penyakit yang berlanjut atau transformasi ke arah keganasan hati. dimana tumor akan menekan saluran empedu atau terbentuknya trombus saluran empedu intra hepatik.Dalam hal mekanisme terjadinya sirosis secara mekanik dimulai dari kejadian hepatitis viral akut. anemia normokrom normositer.Pemeriksaan Penunjang 1. IV. Pada mekanisme terjadinya sirosis secara imunologis dimulai dengan kejadian hepatitis viral akut yang menimbulkan peradangan sel hati . vena kolateral pada dinding perut. nekrosis luas dan pembentukan jaringan ikat yang luas disertai pembentukan jaringan ikat yang luas disrtai pembentukan nodul regenerasi oleh sel parenkim hati.

Bisa juga dijumpai hemoroid. Limpa : pembesaran limpa diukur dengan 2 cara : a. Klasifikasi Child Pasien Sirosis Dati Dalam Terminologi Derajat kerusakan Minimal sedang Berat Bil. Dalam hal ensefalopati.Hacket : bila limpa membesar ke arah bawah saja (HI-V). Pemeriksaan laboratorium bilirubin. pada perbaikan terjadi kenaikan CHE menuju nilai normal.serum (mu. dan atrofi testis pada pria. Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan pembatasan garam dalam diet.luasnya kerusakan parenkim hati. ginekomastia.Schuffner : hati membesar ke medial dan kebawah menuju umbilikus (SI-IV) dan dari umbilikus ke SIAS kanan (SV-VIII). Pemeriksaan CHE (kolinesterase) : penting dalam menilai sel hati. Penurunan kadar albumin dan peningkatan kadar globulin merupakan tanda kurangnya daya tahan hati dalam menghadapi stress seperti : tindakan operasi. Bila terjadi kerusakan sel hati. mempunyai nilai diagnostik suatu kanker hati primer.Pemeriksaan Jasmani Hati : perkiraan besar hati. Perlu diperhatikan adanya eritema palmaris.serum(gr/dl) >35 30-35 <30 Asites Nihil Mudah dikontrol Susah Pse/ensefalopati Nihil Minimal Berat/koma . Peninggian kadar gamma GT sama dengan transaminase. konsistensi hati biasanya kenyal/firm. bahu. Perut & ekstra abdomen : pada perut diperhatikan vena kolateral dan ascites. biasa hati membesar pada awal sirosis. b. Albumin : kadar albumin yang merendah merupakan cerminan kemampuan sel hati yang kurang. Pada sirosis hati. kadar Na 500-1000. pinggir hati biasanya tumpul dan ada sakit pada perabaan hati. prognosis kurang baik. Nilai CHE yang bertahan dibawah nilai normal. kadar CHE akan turun. Kenaikan kadarnya dalam serum timbul akibat kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan. leher. mempunyai prognosis yang jelek. dada. dan tubuh bagian bawah. transaminase dan gamma GT tidak meningkat pada sirosis inaktif. Manifestasi diluar perut : perhatikan adanya spider navy pada tubuh bagian atas. 2.mol/dl0 50 Alb. caput medussae. pinggang. Besar hati normal selebar telapak tangannya sendiri (7-10 cm). bila hati mengecil artinya. ini lebih sensitif tetapi kurang spesifik.

gambaran vena hepatika. ginekomastia. splenomegali. atrofi testis. asites. pembesaran. Ultrasonografi : pada saat pemeriksaan USG sudah mulai dilakukan sebagai alat pemeriksaa rutin pada penyakit hati. limpa. Yang dilihat pinggir hati. timbul spider nevi. kista. pemekaran pembuluh vena esofagus/cardia. Sonografi bisa mendukung diagnosis sirosis hati terutama stadium dekompensata. prosedur ini sangat berguna untuk melihat keadaan sirkulasi portal sebelum operasi pintas dan mendeteksi tumopr atau kista. tandatanda yang mengarah akan kemungkinan terjadinya perdarahan berupa cherry red spot. vena porta. hemoroid. sel retikuloendotel dan limpa. ensefalopati. ikterus obstruktif batu kandung empedu dan saluran empedu. 2. amilase dan lipase. dll.Hipertensi portal : dapat menimbulkan splenomegali. vena kolateral dinding perut. Bila penyakit berlanjut maka dari kedua komplikasi tersebut dapat timbul komplikasi dan berupa : . filling defek. Tomografi komputerisasi : walaupun mahal sangat berguna untuk mendiagnosis kelainan fokal. bentuk dan homogenitas hati. Pada beberapa kasus. selia gastrik atau splenotofografi terutama pengukuran tekanan vena porta. Juga dapat dilihat besar. Bisa dilihatbesar dan bentuk hati.Komplikasi Bila penyakit sirosis hati berlanjut progresif. kemungkinan perdarahan yang lebih besar akan terjadi bila dijumpai tanda diffus redness. dapat dievaluasi besar dan panjang varises serta kemungkinan terjadi perdarahan yang lebih besar. Diperlukan pengalaman seorang sonografis karena banyak faktor subyektif. red whale marking. sel tumor. Angiografi : angiografi selektif. hepatoma/tumor. perdarahan dan eksudat. pelebaran saluran empedu/HBD. Esofagoskopi : dapat dilihat varises esofagus sebagai komplikasi sirosis hati/hipertensi portal. E R C P : digunakan untuk menyingkirkan adanya obstruksi ekstrahepatik. Akelebihan endoskopi ialah dapat melihat langsung sumber perdarahan varises esofagus. Bisa dijumpai tanda-tanda infeksi (peritonitis bakterial spontan). kelainan tumor hati. dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Selain tanda tersebut.nutrisi Sempurna Baik Kurang/kurus Pemeriksaan Penunjang Lainnya : Radiologi : dengan barium swallow dapat dilihat adanya varises esofagus untuk konfirmasi hepertensi portal. prognosis dan pengobatan tergantung pada 2 kelompok besar komplikasi : 1. maka gambaran klinis. Pada sirosis hati dan kelainan difus parenkim terlihat pengambilan radionukleid secara bertumpuk-tumpu (patchty) dan difus. ikterus. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah pemeriksaan cairan asites dengan melakukan pungsi asites. dll. daerah hipo atau hiperekoik atau adanya SOL (space occupyin lesion0. caput medusae. homogenitas. Sidikan hati : radionukleid yang disuntikkan secara intravena akan diambil oleh parenkim hati. VI. eritema palmaris.Kegagalan hati (hepatoseluler) . kultur cairan dan pemeriksaan kadar protein. seperti tumor atau kista hidatid. permukaan.

dihentikan pemakaian preparat yang mengandung besi atau terapi kelasi (desferioxamine). 0. b)Perdarahan varises esofagus.bila perlu dikombinasi dengan furosemid. e)Sindrom haptorenal/nefropati hepatik.1 g dalam 500 cc cairan d 5 % atau salin pemberian selama 4 jam dapat dulang 3 kali. dan menambah ekskresi melalui urin. disamping melakukan aspirasi cairan lambung.Asites 4. Bila perdarahan banyak. Dengan kontrol pasien yang teratur pada fase dini akan dapat dipertahankan keadaan kompensasi dalam jangka panjang dan kita dapat memperpanjang timbulnya komplikasi. dicoba melakukan parasentesis abdominal . Operasi pintas dilakukan pada Child AB atau dilakukan transeksi esofagus (operasi Tanners0. diberikan D-penicilamine 20 mg/kgBB/hari yang akan mengikat kelebihan cuprum.Sindrom hepatorenal 7. untuk mencegah rebleeding dapatdiberikan propanolol. atasi infeksi dengan pemberian antiobiotik.5 g/hr dan total cairan 1.v. 2. Bila timbul ensefalopati. Dapat dilakukan skleroterapi sesudah dilakukan endoskopi kalau ternyata perdarahan berasal dari pecahnya varises. aspirasi cairan lambung bagi pasien yang mengalami perdarahan pada varises. aminoglikosida. dilakukan klisma. 1. c)U ntuk ensefalopati dilakukan koreksi faktor pencetus seperti pemberian KCL pada hipokalemia.9 g% dilakukan pemberian IVFD dengan pemberian dekstrosa/salin dan transfusi darah secukupnya.5 l/hr. Bila tersedia fasilitas dapat dilakukan foto koagulasi dengan laser dan heat probe. istirahat yang cukup. lemak secukupnya. diberikan diet rendah garam 0. pemberian neomisin per oral. Hemokromatosis. Pada saat ini sudah mulai dikembangkan transplantasi hati dengan menggunakan bahan cadaveric liver.3. Dilakukan pemasangan SB tube untuk menghentikan perdarahan varises.Pasien sirosis hatidengan sebab yang diketahui. amokisilin.Pasien dalam keadaan kompensasi hati yang baik cukup dilakukan kontrol yang teratur. Dilakukan venaseksi 2x seminggu sebanyak 500 cc selama setahun. Diberikan vasopresin 2 amp. Psien dirawat di RS sebagai kasus perdarahan saluran cerna. susunan diet TKTP. d)Terapi yang diberikan berupa antibiotik seperti sefotaksim 2 g/8 jam i. terapinya adalah imbangan air dan garam diatur dengan ketat. Pengobatan Terapi & prognosis sirosis hati tergantung pada derajat komplikasi kegagalan hati dan hipertensi portal. Pada hepatitis kronik autoimun diberikan kortikosteroid Pada keadaan lain dilakukan terapi terhadap komplikasi yang timbul a)Untuk asites. seperti : Alkohol & obat-obat lain dianjurkan menghentikan penggunaannya. Alkohol akan mengurangi pemasukan protein ke dalam tubuh.Ensefalopati 5.Transformasi ke arah kanker hati primer (hepatoma) VII. Pertama melakukan pemasangan NG tube. tekanan sistolik 100 x/mnt atau Hb .Peritonitis bakterial spontan 6. Spirolakton dimulai dengan dosis awal 4×25 mg/hr dinaikkan sampai total dosis 800 mg sehari. Pada penyakit wilson (penyakit metabolik yang diturunkan). protein dikurangi. Bila tidak tersedia fasilitas diatas.

0 – 3. Batang1 % 2.9.6 – 5. < 20 (L.0 – 16. Alkalin fosfatase U/L 64 – 306 (P). Albumin g/L 38 – 57 Fungsi Ginjal Kreatinin U/L 40 – 150 (P).0.0.0. yang ditunjukkan pada kolum ‗Nilai Rujukan‘ atau ‗Nilai Normal‘ pada laporan laboratorium. Laju endap darah (LED) mm < 25 (P.6 – 5.5 (L). SGPT (ALT) U/L < 36.< 15 (L. Jakarta 12130.0 – 6.0 – 6. usia 50) .0 (L) Hitung Jenis Basofil % 0.0 (P).0 – 45.0 – 4. Protein total g/L 66. Monosit % 2. Natrium mmol/L 135 – 150. Radio IV/10. 92. Eritrosit (sel darah merah) juta/μl 4. HDL mmol/L < 4.0 – 8. Batang dan segmen adalah jenis neutrofil.0 – 36.0 Trombosit 103/μl 150 – 400 Catatan: 1.0.0 – 1.0 – 0.0.0 – 48.0 MCH/HER pg 27. < 30 (P.2. Kadang kala dilaporkan persentase neutrofil saja. usia < 50). 50. INTERNIS ZONE | 4 Komentar » HASIL TES LAB NORMAL Posted on Maret 9.0 (P).0. Urea mg/dL 8 – 25.Bilirubin langsung mg/dL 0. 2008 by harnawatiaj HASIL TES LAB NORMAL Diterbitkan oleh Yayasan Spiritia.0 – 87. Klorid mmol/L 95 – 108. 40.0.0 – 75. sehingga timbul perbaikan pada curah jantung dan fungsi ginjal.11 – 2. 80 – 316 (L).5 Profil Lipid Kolesterol total mmol/L 3. usia 50) Leukosit (sel darah putih) 103/μl 5.4.0 persen Fungsi Hati (LFT) Ukuran Satuan Nilai Rujukan.dengan ekstra hati-hati untuk memperbaiki aliran vena kava. SGOT (AST) U/L < 35. Nilai ini tergantung pada alat yang dipakai dan . 60 – 400 (L).0. Trigliserid mmol/L 0. Hematokrit % 39.aidsinfonet.0 – 1. Lihat http:// www. 13. MCV/VER fl 82.9 (P).15 Lain Glukosa mmol/L 3.0 – 18. Jl.0. dengan nilai rujukan.0 –.1. Hemoglobin (Hb) g/dL 12.0 – 40. Filed under: 9.org Darah Ukuran Satuan Nilai Rujukan.0 – 70.0 (L).0 – 10. 4. Bilirubin total mg/dL 0.5 – 5. Amilase U/L < 125. Lembaran Informasi ini berdasarkan terbitan New Mexico AIDS InfoNet. Eosinofil % 1. Tel: (021) 7279 7007 Fax: (021) 726-9521. Limfosit % 20.0 – 31. usia < 50). Asam Urat mmol/L 54 – 42 CATATAN PENTING: Setiap laboratorium menentukan nilai ‗normal‘. Segmen1 % 50.0. Kalium mmol/L 3. MCHC/KHER g/dL 32.

cara pemakaiannya. Keadaan yang tidak langsung : Trauma dan shock karena pembedahan Sepsis dengan pelepasan endotoksin Pembekuan darah intravaskuler Transfusi darah massive Reaksi transudasi Penyakit Yang Dapat Menyebabkan ARDS : Pulmonary : Virus pneumonia Fungi pneumonia Pneumocystis carinii Military tuberculosis Legionaire‘s pneumonia Radiation pneumonitis Contusio paru Cairan aspirasi (gastric. post traumatic paruparu. hemorrhagic. baik langsung atau tidak langsung berperan dalam menimbulkan syndrom. Menyerupai perubahan pada IRDS. nilai laboratorium lain dapat berbeda. Filed under: A. Non pulmonary : Shock (traumatic. 2008 by harnawatiaj ARDS Sering merupakan kelanjutan dari shock paru-paru. pneumonia septic) . dan ventilasi paru. Tidak ada standar nilai rujukan. DIAGNOSTIK ZONE | 2 Komentar » ADULT RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM Posted on Maret 9. tenggelam. post infusion paru. Keadaan yang langsung : Menghirup racun iritan Infeksi diffusi alveolar Darah yang beracun. kimia corrosive. bukan dengan nilai rujukan pada lembaran ini. Jenis ketidakstabilan akut. hydrocarbon. Aspirasi virus pneumonia. amniotic fluid embolic. Hampir tenggelam dan trauma dada. kongesti atelektasis. angka ini diambil terutama dari laboratorium RSCM. Jadi angka pada laporan kita harus dibandingkan dengan nilai rujukan pada laporan. perbedaannya terletak pada penurunan surfaktan akibat dari kerusakan paru. bacterial. O2 konsentrasi meningkat. Jakarta. Kondisi akut paru-paru yang mengakibatkan macam-macam perubahan patofisiologi dalam paru. ethylene glycol) Inhalasi racun (rokok. Kliennya umumnya masih muda yang sebelumnya dia sehat.

Pa O2 60 % Kompliance paru rendah 1000 gr) Congestive atelektasis Membran hyaline Fibrosis PENGKAJIAN Gejala terjadi tiba-tiba dalam 2 – 3 hari sesudah trauma atau kesakitan. Plasma dan sel darah merah keluar dari kapiler-kapiler yang rusak. Radiografi Difusi pulmonal menyebar Infiltrasi interstitial (awal) Infiltrasi alveoli (lanjut/akhir) Fisiologi Hipoksemia refractory. Adanya peningkatan permeabilitas kapiler dan akibat masuknya cairan ke dalam ruang interstitial. Banyak teori yang menerangkan patogenesis dari syndrom yang berhubungan dengan kerusakan awal paru-paru yang terjadi dimembran kapiler alveolar.Emboli lemak Trauma kepala Trauma non thoraks Pancreatitis Uremia Drug overdose (heroin. Cairan juga masuk dalam alveoli dan mengakibatkan oedema paru. susah bernafas. Tanda-tanda utama manifestasi klinik: Dyspnea Tachicardia . oleh karena itu mungkin perdarahan merupakan manifestasi patologi yang umum. pada orang muda yang biasa mempunyai riwayat sakit paru-paru. Akibatnya terjadi tanda-tanda atelektasis. Massive blood transfusion Reaksi transfusi Pembekuan darah intravaskuler By pass cardiopulmonary Penambahan tekanan intrakranial Cairan overload Eclampsia Gejala defisiensi autoimmune Patofisiologi. Distress pernafasan : Tachypnea > 20 x/menit. methadone barbiturat). keadaan abnormal ventrikel kiri. Kriteria untuk diagnosa ARDS : Klinik Keadaan katastropik : paru atau bukan paru Eksklusi : Penyakit paru kronis. seolah-olah dipengaruhi oleh aktifitas surfaktan.

5.Perubahan membran mukosa mulut berhubungan dengan jalan napas buatan. 6.Gangguan pola tidur berhubungan dengan lingkungan yang kritis dan kebutuhan akan bantuan perawat. shunt friction kurang atau sama dengan 20 % Jalan napas tetap.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan jalan napas buatan dan kelumpuhan.Potensial injury berhubungan dengan barotrauma atau tidak aktifnya aliran ventilator. 13. PaO2 lebih dari atau sama dengan 60 mmHg. 2. HR) stabil. Perencanaan Dan Pelaksanaan Perawatan klien dengan ARDS perencanaannya yaitu perbaikan pola napas dan kestabilan hemodinamic.Cyanosis dengan atau tanpa retraksi intercostals refractory hypoxemia. 8.Kelemahan berhubungan dengan ketergantungan dalam pemakaian alat. 11. Hypotensia/bradicardia atau hipertension/tachicardia. 14.Tidak efektifnya koping keluarga berhubungan dengan mengatasi stress dan kecemasan dalam kondisi kritis. 4.Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penambahan shunt dan ventilasi – perfusi terganggu. Pencegahan dengan meminimalkan komplikasi dan stressor untuk klien dan keluarganya merupakan hal yang penting. O2 C Hypoksimia.Kurangnya cardiac output berhubungan dengan tingginya PEEP (Positive mengetahui atau berguna untuk memenuhiEnd Expiratory Pressure) kebutuhan ventilasi paru.Perubahan nutrisi. 10.Tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan immobilisasi dan jalan napas buatan.Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penambahan (peningkatan) permiabilitas membran pulmonal dan kelebihan sekresi ADH. Kriteria tujuan untuk klien: Stabil dan sinkronnya antara pernapasan dengan ventilator dengan slow rate yang cukup dalam level yang normal ventilasi Pa CO2 35 – 45 mmHg. Hemodinamic parameter (CO. Diagnosa Keperawatan 1. Tekanan maximum jalan napas 50 – 70 mmHg. 12. Dysritmia Tanda-tanda adanya asidosis metabolic dan respiratorik  menegakkan diagnosis: adanya kesulitan memperoleh pemenuhan ventilasiStatus klinik klien yang adekuat (sehingga penurunan pemenuhan ventilasi yang meningkatkan menurunkan kapasitas vital paru-paru infiltrasikekakuan paru-paru) alveolar. 3. . 9.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan dan bedrest. lebih dari pada intake berhubungan dengan perubahan metabolisme dan ketidakmampuan intake makanan melalui oral. 7. kurang dari atau sama dengan 40 % Fi O2.Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan kurangnya complain paru dan kecemasan.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perfusi dan immobilisasi. BP.

Keseimbangan intake dan output. atau swan-Ganz cateter). Jika keadaan ini tidak terpenuhi paru-paru akan kolaps. Kelemahan dan penyakit respirasi merupakan indikasi untuk menggunakan ventilasi mekanic. terpenuhinyaBerguna untuk memenuhi kebutuhan ventilasi paru kebutuhan ventilasi paru ditandai dengan adanya elastisitas paru dan dada. Berat badan stabil.Kegagalan mempertahankan O2 Meningkatkan keperluan O2 dengan mempertahankan suhu klien pada tingkat normal. utuh. Oksigenasi jaringan secara adekuat dilakukan dengan pemberian O2 konsentrasi tinggi. 1982) tingkat rasa nyaman. Pelaksanaan 1. PEEP kemungkinan besar menurunkan cardiac output karena lemahnya aliran denyut nadi dan tekanan darah harusdarah vena yang kembali ke jantung sering dimonitor. . Kemungkinan kecenderungan terjadi retensi cairan dan edema paru selama ventilasi (intake dan output). Membran mukosa mulut baik. Perawat harus memonitor perfusi pada organ vital : CNS : Tingkat kesadaran Pergerakan Sensasi Ginjal : Urine output Blood urine nitrogen (BUN) Serum kreatinin Myocardium : Heart rate Rhytm 2. alat monitor khususKetepatan pemeriksaan gas darah. Komunikasi nonverbal dapat diartikan. untuk mempertahankan tekanan O2 arteri sekitar 20 mmHg (William. Keefektifan dari PEEP dimonitor dengan seringnya analisa gas darah.Nutrisi: resiko terjadi malnutrisi.Tekanan kapiler paru normal. Mempertahankan tekanan jalan napas di atas tekanan atmosfer melalui siklus respirasi. PEEP (Positive End Expiratory Pressure) Digunakan untuk memberi tekanan inflasi yang tinggi.Mempertahankan oksigenasi secara adekuat. Karena peningkatanKlien dengan ARDS metabolisme dan gangguan oral intake. Integritas kulit baik. Mempertinggi distribusi O2 ke seluruh paru-paru dengan mempertahankan expansi alveoli. mengurangi rasa nyeri dan menjaga ketenangan klien. TKTP diberikan. Vena bercampur (mengalir dari kiri ke kanan) dan hypoxemia dikurangi. cardiac output (CVP.

lambung dan usus sampai anus. Esofagus terletak di mediastinum rongga torakal. Istilah ini menjadi acuan bahwa terjadi proses inflamasi dalam lambung dan usus Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya (normal 100 – 200 ml per jam tinja). Lambung adalah suatu kantung yang dapat berdistensi dengan kapasitas kira-kira ± 1500 ml. Gastroenteritis (diare akut) adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri . RESPIRATORY ZONE | 1 Komentar » GASTROENTERITIS Posted on Maret 9. 1996 ). 1999 : 501). B. dan pathogen parasitic.Pencegahan cedera paru berlanjut. yang panjangnya kirakira 25 cm (10 inchi) menjadi distensi bila makanan melewatinya. Lambung dapat dibagi ke dalam empat bagian anatomis. Kortikosteroid Mungkin juga meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi sirkulasi periferal serta organorgan vital.Pengertian Gastroenteritis atau diare akut adalah kekerapan dan keenceran BAB dimana frekuensinya lebih dari 3 kali perhari dan banyaknya lebih dari 200 – 250 gram (Syaiful Noer. tepat di bawah diafragma kiri. Lambung ditempatkan dibagian atas abdomen sebelah kiri dari garis tengah tubuh.Anatomi fisiologi Saluran gastrointestinal yang berjalan dari mulut melalui esofagus. Istilah gastroenteritis digunakan secara luas untuk menguraikan pasien yang mengalami perkembangan diare dan/ atau munmtah akut. virus. menurun-kanUntuk mengurangi peradangan dari membran alveoli permeabilitas kapiler paru-paru. 4. kardia. kortikosteroid. Pemberian O2. 2008 by harnawatiaj A. Pemberian albumin dan dextran dengan molekul tinggi Mungkin juga mengurangi permeabilitas kapiler Untuk menjaga paru tetap kering Antibiotik Mencegah infeksi bakteri. dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai frekuensi yang meningkat (Arif Mansjoer. frekuensi diare lebih dari 4 kali sehari. fundus. anterior terhadap tulang punggung dan posterior terhadap trakea dan jantung. Selang yang dapat mengempis ini.Individu dan family coping. Sekresi sebaiknya dihisap dengan suction sesuai kebutuhan Posisi pasien sering diubah-ubah dan pentingnya dilakukan gerakan/latihan pasif. korpus dan . Filed under: 5. Diare adalah defekasi yang tidak normal baik frekuensi maupun konsistensinya. Lingkungan sekitar klien harus tenang dan rileks.3. Bagian sisa dari saluran gastrointestinal terletak di dalam rongga peritoneal.

shigelloides. E. sarcocystis suihominis. Rektum berlanjut pada anus.Insiden Data departemen kesehatan RI. E. bakteri. isospora billi. Bila jumlah ini dilampaui. campylobacter jejuni.Infeksi internal. ialah bvakteri non invasive dan bakteri invasive. E. Ca-dependent dan pengaturan ulang sitoskeleton. dan sebagainya. coli. bacillus cereus. coronavirus. menyebutkan bahwa angka kesakitan diare diindonesia saat ini adalah 230-330 per 1000 pendududk intuk semua golongan umur dan 1. astrovirus. cryptosporidium. E. Penyebab utama oleh virus yang terutama ialah rotavirus (40-60%) sedangkan virus lainnya ialah virus Norwalk. bagian tengah disebut yeyunum. Usus besar terdiri dari segmen asenden pada sisi kanan abdomen. segmen transversum yang memanjang dari abdomen atas kanan ke kiri dan segmen desenden pada sisi kiri abdomen. entamoeba histolitica. D. yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti : otitis media akut tonsilopharingitis.pilorus. Untuk sekresi dan absorbsi. shigella spp. Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit itu adalah aeromonashidrophilia. plesiomonas. c. staphylococcus aureus. fasiolapsis buski. minirotavirus dan virus bulat kecil.2 episode diare . dan parasit usus. Pertemuan antara usus halus dan usus besar terletak dibagian bawah kanan duodenum. Kolon mengabsorbsi sekitar 600 ml air perhari sedangkan usus halus mengabsorbsi sekitar 8000 ml kapasitas absorbsi usus besar adalah 2000 ml perhari.ETEC. b. Pada tempat ini terdapat apendiks veriformis. calcivirus. Kolon sigmoid dan rektum kolon sigmoid berfungsi menampung massa faeces yang sudah dehidrasi sampai defekasi berlangsung. Yang berfungsi untuk mengontrol isi usus ke dalam usus besar. usus halus dibagi dalam 3 bagian yaitu bagian atas disebut duodenum. dan yersinia enterocolitica. dan mencegah refluks bakteri ke dalam usus halus. salmonella spp. Yang termauk dalam golongan bakteri non invasive adalah : vibrio cholera. jalan keluar anal diatur oleh jaringan otot lurik yang membentuk baik sfingter internal dan eksternal. cGMP (cyclic guaniosin monophospate). Pada sat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi. C. dan trichuris trichuria. Bagian ujung dari usus besar terdiri dua bagian. Ini disebut sekum pada pertemuan ini yaitu katup ileosekal. bagian bawah disebut ileum.Infeksi parenteral. clostridium defficile.EIEC). yaitu saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare. Sedangkan penyebab gastroenteritis (diare akut) oleh parasit adalah balantidium coli.6 – 2. coli pathogen (EPEC. Penyebab itu dapat digolongkan lagi kedalam penyakit yang ditimbulkan adanya virus. vibrio cholerae. Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal. clostridium perfringens. Sedangkan golongan bakteri invasiv adalah salmonella spp. coli infasif (EIEC). strongiloides stercoralis.Bakteri penyebab gastroenteritis (diare akut) dibagi dalam dua golongan besar. Yang mana fungsinya mengabsorbsi air dan elektrolit yang sudah hampir lengkap pada kolon. Diare karena bakteri invasive dan non ihnvasiv terjadi melalui suatu mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan transport ion di dalam sel-sel usus berikut ini : cAMP (cyclic adenosine monophospate).Etiologi Faktor infeksi a. coli hemorrhagic (EHEC) dan camphylobcter. capillaria philippinensis. misalnya adalah karena adanya kiriman yang berlebihan dari ileum maka akan terjadi diare. yang jumlah panjangnya kira-kira dua pertiga dari panjang total saluran. giarsia lamblia.

Di laboratorium kesehatan anak RSUD Dr. Dalam keadaan normal usus besar akan meningkatkan kemampuannya untuk menyerap cairan yang bertambah banyak.Patogenesis Diare akut akibat infeksi( gastro enteritis) terutama dilakukan secara fekal oral. soetomo pada tahun 1996 didapatkan 871 penderita diare yang dirawat dengan dehidrasi ringan 5%. Di dalam membrane bakteri mengeluarkan toksin yang disebut sub unit A dan sub unit B. Denan memproduksi enzim muicinase bakteri berhasil mencairkan lapisan lendir yang menutupi permukaan sel epitel usus sehingga bakteri dapat masuk ke dalam membrane (dinding sel epitel).tahun 2000 terdapat 1160 penderita diare yang dirawat dengan 227 (19.Bakteri noninvasif (enterotoksigenik) Bakteri masuk kedalam makanan atau minuman yang tercemar oleh bakteri tersebut. Enteriditis. Faktor penyebab yang mempengaruhi patogenesis antara lain daya penetrasi. E. dan dehidrasi berat 23 %. yang merusak sel mukosa. atau melalui aktivitas seksual. makanan yang tidak matang. Sebagai akibat adanya rangsangan sekresi cairan dan hambatan absorbsi cairan tersebut. tetapi bila jumlah tersebut melampaui kapasitasnya menyerap. Shigela. didalam lambung bakteri akan dibunuh oleh asam lambung.1%. S.Bakteri enteroinvasif Diare menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan ulserasi. Coli (EIEC).setiap tahunnya untukgolongan umur balita. dehidrasi sedang 7. imunitas juga mencakup lingkungan mikroflora usus. Bila jumlah cairan meningkat sampai dengan 4500 ml (4. 2. tangan yang terkontaminasi (clostridium difficille).5 liter). rotavirus).56 %) penderita yangmeninggal karena dehidrasi. tanpa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut. S. Hal ini disebabkan masukan minuman atau makanan yang terkontaminasi tinja ditambah dengan ekskresi yang buruk. tetapi tentu saja ada batasannya. Bakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah Enteroinvasif E. Faktor penjamu adalah kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme. S. bahkan yang disajikan tanpa dimasak penularannya transmisi orang ke orang melalui aerosolisasi (Norwalk. Paratyphi B. maka akan terjadi diare. Choleraesuis. Cairan diare dapat bercampur lendir dan darah. Kuman tersebut membentuk koloni-koloni yang dapat menginduksi diare patogenesis diare disebabkan infeksi bakteri terbagi dua yaitu : 1. sub unit B melekat di dalam membrane dari sub unit A dan akan bersentuhan dengan membrane sel serta mengeluarkan cAMP (cyclic Adenosin Monophospate). Bakteri kemudian tertelan dan masuk kedalam lambung. volume cairan didalam lumen usus akan bertambah banyak. dan bersifat sekretorik eksudatif. S. cAMP berkhasiat merangsang sekresi cairan usus di bagian kripta vili dan menghambat absorbsi cairan di bagian kripta vili. yaitu faktor daya tahan tubuh atau lingkungan lumen saluran cerna. seperti keasaman lambung. Yersinia dan Perfringens tipe C. motilitas lambung. Cairan ini akan menyebabkan dinding usus menggelembung dan tegang dan sebagai reaksi dinding usus akan megadakan kontraksi sehingga terjadi hipermotilitas atau hiperperistaltik untuk mengalirkan cairan ke baeah atau ke usus besar. . masih belum terjadi diare. Faktor penentu terjadinya diare akut adalah faktor penyebab (agent) dan faktor penjamu (host). kemampuan memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan di usus serta daya lekat kuman. Di dalam duodenum bakteri akan berkembang biak sehingga jumlahnya mencapai 100 juta koloni atau lebih per ml cairan usus. Angka kematian diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000 balita. namun bila jumlah bakteri terlalu banyak maka akan ada yang lolos kedalam usus 12 jari (duodenum). Typhimurium.

pasien gelisah. Bila terjadi renjatan hipovolemik berat maka denyut nadi cepat (lebih dari 120 kali/menit) tekanan darah menurun tak terukur. seperti parasit menyebabkan kerusakan berupa usus besar (E. turgor kulit menurun. sehingga bila kekurangan cairan tak segera diatasi dapat timbul penulit berupa nekrosis tubular akut. mungkin karena superinfeksi dengan jasad renik lain. tulang pipi menonjol.Gejala Klinik Pasien dengan diare akibat infeksi sering mengalami nausea. elisa Parasit : Pemeriksaan mikroskopika PH dan uji reduksi Lemak (pewarna sudam III) Elektrolit dan osmolalitas Darah tepi lengkap Asam folat serum dan eritrosit Mikroskopik : glordia dorstring dan loides. serta suara menjadi serak. G. E. muka pucat. Sebaliknya sel-sel kripti akan berpoliferasi dan menyebabkan bertambahnya sekresi cairan ke dalam lumen usus. coli. kolerifrom. cholarae Virus : Mikroskop elektron. muntah. V. Mekanisme yang dilakukan virus masih belum jelas kemungkinan dengan merusak sel epitel mukosa walaupun hanya superfisial. F. kekurangan kalium dapat menimbulkan aritmia jantung. . sehingga mengganggu absorpsi air. salmonella. pada saat diare didapatkan lendir kental dan kadang-kadang darah. lidah kering. ujung ekstremitas dingin dan kadang sianosis. Perfusi ginjal dapat menurun sehingga timbul anuria. Histolytica) kerusakan vili yang penting menyerap air. elektrolit dan zat makanan (lamdia) patofisologi kandida menyebabkan gastroenteritis belum jelas. Secara klinis dianggap diare karena infeksi akut dibagi menjadi dua golongan pertama. Selain itu terjadi pula kerusakan enzim-enzim disakarida yang menyebabkan intoleransi yang akhirnya memperlama diare.Penyebab diare lainnya. nyeri perut sampai kejang perut. demam dan diare terjadi renjatan hipovolemik harus dihindari kekurangan cairan menyebabkan pasien akan merasa haus. Kedua disentriform. gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolik akan menyebabkan frekuensi pernafasan lebih cepat dan dalam (pernafasan kusmaul). dengan diare yang terutama terdiri atas cairan saja.Tes Diagnostik BAHAN PEMERIKSAAN Tinja Tinja Darah Cairan duadenum Biakan : Siggela. dan elektrolit. Biakan : kuman aerob dan anaerob.

Cairan sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap)hanya mengandung garam dan gula (NaCl dan sukrosa). atau 3 tetes/ kgBB/m. Cairan parenteral : 1). atau 10 tetes/kgBB/menit. 16 jam berikutnya : 125 ml /kg BB oralit peroral atau intragastrik. 7 jam berikutnya : 12 ml /kg BB/jam = 33 tetes / kg BB/ m atau 4 tetes / kg BB/menit.H. teruskan dengan intravena 2 tetes/.Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan BB 2 – 3 kg. Selanjutnya . berat badan 3 – 10 kg. KCI dan glukosa. 7 jam berikutnya : 10 ml /kg BB /jam = 3 tetes/kgBB/ menit. 2. 125 ml/kg BB/hari. 16 jam berikutnya : 125 ml/kg BB oralit peroral atau intragastrik.Pemberian cairan : jenis cairan.Penatalaksanaan Dasar pengobatan diare adalah : 1. 2. (c). 20 jam berikutnya 150 ml /kg BB /20 jam = 2 tetes/kgBB/ menit. Selanjutnya : 125 ml/kg BB /hari. cara memberikan dan jumlah cairan. 3).Dietetik. Belum ada dehidrasi Peroral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas tiap defekasi. atau 2 ½ tetes/kgBB/menit. Ketiga dasar pengobatan tersebut dijelaskan sebagai berikut : 1.Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan keadaan umum. Dehidrasi sedang 1 jam pertama : 50 – 100 ml/kg BB peroral /intragastrik (sonde). b.kg BB/menit atau 3 tetes/kgBB/menit. 3. Bila anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2 tetes/kgBB/m.Pengobatan dietetik Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg jenis makanan : ..Obat-obatan. Jenis cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 % + 1 bagian NaHCO3 1 %) dengan kecepatan 4 jam pertama = 25 ml / kg BB /jam atau 6 tetes/kgBB/menit. Cairan peroral : Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa dehidrasi dan bila anak mau minum serta kesadaran baik diberikan peroral berupa cairan yang berisi NaCl dan NaHCO3. atau 4 tetes/kgBB/menit. yaitu 1 jam pertama : 40 ml/kg BB / jam = 10 tetes / kg BB /menit (set infus berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes / kg BB /menit (set infus 1 ml : 20 tetes). Kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml /kg bb /24 jam. Dehidrasi berat (a). Dehidrasi ringan 1 jam pertama : 25 – 50 ml/kg BB per oral (intragastrik). Jenis cairan a.Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun. (b). 8 tetes/kgBB/ menit.Untuk anak lebih dari 25 tahun dengan BB 10 – 15 kg : 1 jam pertama : 30 ml /kg BB/jam = 8 tetes/kgBB/menit. Formula lengkap sering disebut juga oralit. Bila anak tidak mau minum. 2). 4). atau air tajin yang diberi garam dan gula untuk pengobatan sementara sebelum di bawah berobat ke rumah sakit pelayanan kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.

Obat anti sekresi : dosis 25 mg /tahun dengan dosis minimum 30 mg. Obat spasmolitik. Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim).Infuse plasma untukmenggantikan penurunan volume plasma c. Pergantian dapat dilakukan baik peroral atau intravena dan akan tergantung pada kehilangan air dan elektrolit melalui diare. I. ada kemungkinan lebih disukai untuk merawat anak di rumah. a. Bila diberi ASI/susu formula tapi masih diare diberikan oralit selang-seling. Ini didasarkan pada penilaian klinis. Hari kedua – keempat : ASI /susu formula rendah laktosa penuh.Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tak jenuh). c. Klorpromazin dosis 0.Penggantian deficit cairan danelektrolit serta koreksi gangguan asam basa. b.Dihentikannya pemberian susu yang diganti dengan campuran glucose elektrolit (dioralite).Obat-obatan a. jumlah campuran glucose elektrolit diturunkan secara berimbang e. c.Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan.a. secara berangsur-angsur susu diberikan kembali seperti yang diuraikan untuk dehidrasi ringan .Penimbangan berat badan harian dan pengumpilan urin harian Dehidrasi parah. b. asal diberikan perawatan medis tang efesien. dilanjutkan selama 24 jam c. 3. atau pada rekaman kehi.Dihentikannya pemberian susu b. c.Pengobatan tergantung pada derajat dehidrasi.angan berat badanterakhir.Infuse intravena dengan larutan yang sesuai dan masukan cairan dengan peningkatan yang seksama b.Dimulainya pemberian susu secara berangsur-angsur seperti yangdiuraikanuntuk dehidrasi ringan g. 1997). Hari kelima : bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. b. Antibiotik (Ngastiyah. c.5 – 1 mg /kg bb /hari. b.Hari pertama : setelah dehidrasi segera diberikan makanan peroral.Sucrose hanya ditambahkan jika feces mulai berbentuk Dehidrasi ringan.Perawatan bayi dengan terapi intra vena d. jika diberikan jumlah kecil (15 ml susu krim separuh) setiap 4 jam dengan salin antara waktu makan d.Prinsip Pengobatan Dan Managemen Perawatan 1. Kembali susu atau makanan biasa.Cairan harus diberikan setiap 2 jam pada siang hari dan setiap 4 jam selama malam hari.Koreksi asidosis merabolik dengan pemberian secara intravena 8. gambaran klinik ditegakkan secara baik danbayi mulai dirawat : a.Pemeriksaan biokimia dan obsevasi klinis untuk menentukan status elektrolit e. Bayi dalamkedaan sakit parah dengan kegagalan sirkulasi : a.Dimulainya pemberian cairan peroral secara perlahan – lahan untuk kmenentukan kemampuan menerima cairan f. Cara memberikannya : a.Jika suatu elektrolit dan cairan telah dikoreksi.4 % natrium bikarbonat dengan penilaian kembali status asam basa d.Dengan ditingkatkannya pemberian susu. Dehidrasi ringan . Pada kasus ini.Setelah 24 jam pemberian susu dimulai kembali.

Selama fase akut.Persiapan pulang ke rumah. Meninggalkan bokong dalam kedaan terpapar merupakan cara yang terbaik untuk mendorong terjadinya penyembuhan. jika muntah parah. Walaupun demikian. dan peningkatan kadar kalium secara cepat membawa resiko henti jantung. karena penurunan kadar kalium serum menimbulkan perubahan aktivitas jantung. Terdiri dari campuran air dan elektrolit dengan konsentrasi hampir sama dengan serum darah normal.Perawatan bokong anak. obat-obatan yang sesuai. maka anak dizinkan pulang. dapat diberikan secara parenteral b. . Orang tua diminta untuk datang ke unit rawat jalan untuk mengubungi dokter umum untuk menilai kemajuan bayi. 2. f. Membran semi permeabel Lapisan yang sangat tipis dan memiliki lubang-lubang submikroskopik (pori) Ginjal buatan/ dialyzer (halofiber/artificial kidney) Alat yang digunakan untuk mengeluarkan sampah metabolisme tubuh atau zat toksik lain dari dalam tubuh. Blood lines Pipa-pipa atau selang-selang yang mengalirkan darah dari tubuh menuju dialyzerdan yang dari dialyzer ke tubuh. Dimana didalamnya mempunyai 2 kompartemen dialisat yang dibatasi selaput semipermeabel. Perawatan dapat diawasi dan diberikan bantuan. terutama antibiotika untuk mengatasu kuman infeksi . 2008 by harnawatiaj Hemodialisis berasal dari kata : Hemo : darah Dialisis : memisahkan dari yang lain Hemodialisis Proses pemisahan zat-zat tertentu dari darah melaui suatu membran semi permeabel. bila fungsi ginjal sudah tidak memadai lagi.Perawatan rutin a.e.Pemberian obat-obatan. dan orang tua tidak boleh disalahkan karena keadaan ini.ibu harusdidorong untuk tinggal bersama anak. Area popok dibasuh secara lebih dan diberikan krim pelindung. Diberikan oksigen dan bayi diobservasi secara seksama. Segera setelah petunjuk pemberian makanan mencapai tingkat sesuai umur dan kebutuhan anak. c. Dialisat Cairan yang digunakan untuk proses hemodialisis. dan jika terjadi pertambahan berat badan anak yang memuaskan dan tidak terdapat muntah atau feces yang encer. seperti kloramfenikol atau streptomisin. Feces yang encer akan menyebabkan kemerahan dan ekskoriasi kulit. Jika terdapat bukti tidak adanya pengertian dalam hal perawatan anak. Filed under: 9. bayi dirawat dalam incubator. DIGESTIVE ZONE | 3 Komentar » TEHNIK DAN PROSEDUR HD Posted on Maret 9. Bayi tidak boleh ditinggal berbaring dengan popok yang basah dan kotor. d.Inspeksi dan perawatan mulit bayi e.Dukungan bagi orang tua. harus diingat bahwa banyak bayi yangmenderita gastroenteritis kendatipun perawatan bayi yang bhaik.Isolasi bayi dan pengertian akan proses infeksi silang serta pencegahannya.

Terdiri dari : arteri blood line/ inlet/ ABL.Luas selaput/ membran yang dipakai Yang biasa dipakai : 1-1. Temperatur suhu dialisat Temperature dialisat tidak boleh kurang dari 360C karena bisa terjadi spasme dari vena sehingga . venous blood line/ outlet/ VBL. Tekanan Negative/ Negative Pressure/ Dialisat Pressure : pada inlet dimonitoring sebelum blood pump. terjadi bila ada tekanan pada dialyzer (misalnya: ada bekuan dalam dialyzer).Aliran dialisat Semakin cepat aliran dialisat semakin efisien proses hemodialisis. pada bubble trap disebut juga arterial pressure. menimbulkan borosnya pemakaian cairan. Tekanan Positif/ Positive Pressure : pada inlet dimonitoring sesudah blood pump. Terjadi karena hambatan pada jalan masuk darah ke tubuh. Hal-hal yang membatasi kemungkinan tersebut antara lain : tekanan darah.5 cm2 Tergantung dari besar badan/ berat badan 3. Blood pump/ pompa darah Alat yang menyebabkan darah mengalir dalam sirkulasi darah.Aliran darah Secara teori seharusnya aliran darah secepat mungkin. Bubble trap/ air trap Suatu ruangan pada ABL dan VBL yang bertugas menahan/ mengamankan gelembung udara dalam sirkulasi darah. Bersifat ganda yaitu menarik dan mendorong. Priming : pengisian cairan yang pertama kali dalam sirkulasi darah (ABL+Dialyzer+VBL) ……NaCl Conductivity : kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan aliran listrik. misalnya karena : Jarum kecil Posisi jarum kurang baik Vasokonstriksi dari vena Trans Membrane Pressure/ TMP : adalah perbedaan tekanan antara kompartemen darah dan kompartemen dialisat melalaui membrane. Terlalu besar aliran darah bisa menyebabkan syok pada penderita. terjadi bila ada hambatan dari arteri. Meninggalkan tekanan dialisat berarti menambah daya hisap dari cairan dialisat sehingga cairan darah berpindah ke dialisat dan ultrafiltrasi meninggi Faktor-faktor yang mempengaruhi hemodialisis 1. Tekanan positif pada outlet dimonitoring pada bubble trap dari outlet disebut juga venous pressure. Segment pump : Bagian dari ABL yang ditempatkan pada Blood pump. disebut juga fistula pressure. jarum. 2. Qb : kecepatan aliran darah dalam sirkulasi darah (ml/m) Qd : kecepatan aliran dialisat dalam sirkulasi dialisat (ml/m) Qf : ultrafiltration rate (ml/m) yaitu jumlah air yang keluar dari kompartemen darah ke kompartemen dialisat melalui membran semi permeabel yang disebabkan karena perbedaan tekanan. aliran darah yang keluar kurang.

10cc.5cc. 5cc. kassa.Mesin hemodialisis/ pengelola air Mesin pengelola air : Water softener Revense osmosis 3. nierbekken Mat kan/ gelas ukuran Zeil + karet alat untuk alas tangan Sarung tangan Kassa/ gaas Plester/ band aid Verband Alat-alat khusus : Dialyzer Blood lines (ABL/ VBL) AV fistula/ Abocath no G14 s/d G16 Dialisat pekat Infuse set Micro drip Spuit : insulin 2. 30/50cc Conductivity meter .Peralatan kesehatan dan obat-obatan. Temperatur dialisat tidak boleh lebih dari 420C karena bisa menyebabkan hemolisis.aliran darah melambat dan penderita menggigil.Sarana ruangan Tempat tidur Penerangan yang cukup Wastafel dan kran Kran-kran untuk sarana hubungan dengan mesin hemodialisis Saluran pembuangan Alat pendingin ruangan/ AC Tempat sampah Meja suntik Stop kontak 2. klem) Bak spuit dan kom kecil Korentang dan tempatnya Klem-klem (besar dan kecil) Gunting Bengkok. Peralatan kedokteran : Tensi meter + stetoskop Timbangan BB Tabung oksigen lengkap Alat EKG Slym zuiger Tromol (duk. Untuk menjalankan hemodialisis perlu : 1.

bethadine Heparin. protamin Sodium bicarbonat 7 % (meylon) Obat-obat penyelamat hidup Yang perlu selain yang diatas adalah : Surat izin dialysis Formulir dialysis Traveling dialsis Formulir laboratorium Formulir radiologi Filed under: D. 2008 by harnawatiaj 1. Novocain Alcohol. HD ZONE | 4 Komentar » PERAWATAN HEMODIALISA Posted on Maret 9. 5 cc.Obat-obatan : Lidocain.PERAWATAN SEBELUM HEMODIALISIS (PRA HD) Persiapan mesin Listrik Air (sudah melalui pengolahan) Saluran pembuangan Dialisat (proportioning sistim. insulin Heparin inj Xylocain (anestesi local) NaCl 0. batch sistim) Persiapan peralatan + obat-obatan Dialyzer/ Ginjal buatan (GB) AV Blood line AV fistula/abocath Infuse set Spuit : 50 cc.90 % Kain kasa/ Gaas steril Duk steril Sarung tangan steril Bak kecil steril Mangkuk kecil steril Klem Plester Desinfektan (alcohol + bethadine) Gelas ukur (mat kan) Timbangan BB Formulir hemodialisis Sirkulasi darah . dll .

Volume priming : darah yang berada dalam sirkulasi (ABL + GB + VBL ) Cara menghitung volume priming : Σ NaCl yang dipakai membilas dikurangi jumlah NaCl yang ada didalam mat kan (gelas tampung/ ukur) Contoh : ∑ NaCl yang dipakai membilas : 1000 cc ∑ NaCl yang ada didalam mat kan : 750 cc Jadi volume priming : 1000 cc – 750 cc = 250 cc Cara melembabkan (soaking) GB Yaitu dengan menghubungkan GB dengan sirkulasi dialisat Bila mempergunakan dialyzer reuse / pemakaian GB ulang : Buang formalin dari kompartemen darah dan kompartemen dialisat Hubungkan dialyzer dengan selang dialisat 15 menit pada posisi rinseBiarkan Test formalin dengan tablet clinitest : Tampung cairan yang keluar dari dialyzer atau drain 10 tts (1/2 cc). VBL. ujung biru VBL dihubungkan dengan alat penampung/ mat-kan Letakkan posisi GB terbalik. hubungkan ujung ABL dengan ujung VBL. VBL dan infus set 100 ml/mJalankan Qb dengan kecepatan Udara yang ada dalam GB harus hilang (sampai bebeas udara) dengan cara menekan-nekan VBL Air trap/Bubble trap diisi 2/3-3/4 bagian Setiap kolf NaCl sesudah/ hendak mengganti kolf baru Qb dimatikan Setelah udara dalam GB habis. tekanan vena.9 % (2-3 kolf) Pasang infus set pada kolf NaCl Hubungkan ujung infus set dengan ujung merah ABL atau tempat khusus Tutup semua klem yang ada pada slang ABL. pemberian obat-obatan) Buka klem ujung dari ABL. yaitu yang tanda merah dibawah. biru diatas Gantungkan NaCl 0. masukkanAmbil cairan 1 tablet clinitest ke dalam tabung gelas yang sudah berisi cairan Lihat reaksi : Warna biru : – / negatif . masukkan ke dalam tabung gelas.Cuci tangan Letakkan GB pada holder. dengan posisi merah diatas Hubungkan ujung putih pada ABL dengan GB ujung merah Hubungkan ujung putih VBL dengan GB ujung biru. klem tetap dilepas Masukkan heparin dalam sirkulasi darah sebanyak 1500-2000 U Ganti kolf NaCl dengan yang baru yang telah diberi heparin 500 U dan klem infus dibuka Jalankan sirkulasi darah + soaking (melembabkan GB) selama 10-15 menit sebelu dihubungkan dengan sirkulasi sistemik (pasien) CATATAN !!!! PERSIAPAN SIRKULASI Rinsing/Membilas GB + VBL + ABL Priming/ mengisi GB + VBL + ABL Soaking/ melembabkan GB. (untuk hubungan tekanan arteri.

sambungkan ujung dari VBL dengan punksi outlet .5 – 1 cm ke arah medialVena femoralis Anestesi lokal (infiltrasi anetesi) Vena femoralis dipunksi setelah anestesi lokal 3-5 menit Fiksasi Tutup dengan kassa steril Memulai hemodialisis 1. 5.Ujung ABL line dihubungkan dengan punksi inlet 2. kecuali klem infus set 100 ml/m.16/ abocath.PERAWATAN SELAMA HEMODIALISIS (INTRA HD) Pasien Sarana hubungan sirkulasi/ akses sirkulasi : Dengan internal A-V shunt/ fistula cimino Pasien sebelumnya dianjurkan cuci lengan & tangan Teknik aseptic + antiseptic : bethadine + alcohol Anestesi local (lidocain inj. fiksasi. Dengan AV fistula no G. biasanya di lengan).Izin hemodialisis 3. procain inj) Punksi vena (outlet). tutup kassa steril Punksi inlet (vena/ arteri femoralis) Raba arteri femoralis Tekan arteri femoralis 0.Warna hijau : + / positif Warna kuning : + / positif Warna coklat : +/ positif Selanjutnya mengisi GB sesuai dengan cara mengisi GB baru Persiapan pasien 1.Ujung VBL line dihubungkan dengan punksi outlet 3. Posisi. Observasi KU (ukur TTV) 2.14 s/d G.Persiapan fisik :Timbang BB. Bolus heparin inj (dosis awal) Fiksasi. fiksasi.Jalankan pompa darah (blood pump) dengan Qb sirkulasi darah terisi darah semua.Semua klem dibuka. tutup dengan kasa steril Berikan bolus heparin inj (dosis awal) Punksi inlet (fistula).Persiapan mental 2. sampai4. tutup dengan kassa steril Dengan eksternal A-V shunt (Schibner) Desinfektan Klem kanula arteri & vena Bolus heparin inj (dosis awal) Tanpa 1 & 2 (femora dll) Desinfektan Anestesi local Punksi outlet/ vena (salah satu vena yang besar.Pompa darah (blood pump stop.

Umur. Mesin Memprogram mesin hemodialisis : 1.6.cairan priming diampung di gelas ukur dan jumlahnya dicatat (cairan dikeluarkan sesuai kebutuhan).Fiksasi ABL & VBL (sehingga pasien tidak sulit untuk bergerak) 7.Tempat-tempat punksi harus harus sering dikontrol. BB.Permulaan HD posisi dialyzer terbalik setelah dialyzer bebas udara posisi kembalikan ke posisi sebenarnya. 12.Hubungkan selang-selang untuk monitor : venous pressure. CATATAN !!!! 1. 8. TD. Heparinisasi Dosis heparin : Dosis awal : 25 – 50 U/kg BB Dosis selanjutnya (maintenance) = 500 – 1000 U/kg BB Cara memberikan Kontinus Intermiten (biasa diberikan tiap 1 jam sampai 1 jam terakhir sebelum HD selesai) Heparinisasi umum Kontinus : Dosis awal : ……. Nadi setiap 1 jam.Heparinisasi Tekanan (+) /venous pressure Trans Membran Pressure / TMP Tekanan (-) / dialysate pressure Tekanan (+) + tekanan (-) Tekanan / pressure : Arterial pressure / tekanan arteri : banyaknya darah yang keluar dari tubuh Venous pressure / tekanan vena : lancar/ tidak darah yang masuk ke dalam. lebih sering. setelah 15 menit bisa dinaikkan sampai 300 ml/m (dilihat dari keadaan pasien) 9. Tipe GB.Pada waktu menghubungkan venous line dengan punksi outlet.Semua sambungan dikencangkan 4. Bila keadaan pasien tidak baik/ lemah lakukan mengukur TD.TMP.Pompa heparin dijalankan (dosis heparin sesuai keperluan). keluhan selama HD. udara harus diamankan lebih dulu 3. N. S. untuk menghindari terjadi perdarahan dari tempat punksi. Heparin dilarutkan dengan NaCl 11. Cairan priming yang masuk. U Dosis selanjutnya : …… U . masalah selama HD. UFR 5. arteri pressure. 2.Qd : 300 – 500 ml/m 3. makan/minum.Jalankan pompa darah dengan Qb = 100 ml/m. hidupkan air/ blood leak detector 10.Ukur TD. P. N.Isi formulir HD antara lain : Nama.Qb : 200 – 300 ml/m 2.Temperatur : 36-400C 4.

Bilas dengan NaCl setiap : ½ – 1 jam Banyaknya NaCl yang masuk harus dihitung Jumlahnya NaCl yang masuk harus dikeluarkan dari tubuh. Qb tinggi (250 – 300 ml/m) Dosis heparin : 500 U (pada sirkulasi darah). Protamin diberikan/ dipasang pada selang sebelum masuk ke tubuh/ VBL. bisa dimasukkan ke dalam program ultrafiltrasi CATATAN Dosis awal : diberikan pada waktu punksi : sirkulasi sistem Dosis selanjutnya: diberikan dengan sirkulasi (maintenance) ekstra korporeal. U Heparin : protamin = 100 U : 1 mg Heparin & protamin dilarutkan dengan NaCl.Intermitten : Dosis awal : …… U Dosis selanjutnya : …….PASIEN KU pasien TTV Perdarahan Tempat punksi inlet. UFR Air leak & Blood leak Heparinisasi Sirkulasi ekstra corporeal Sambungan-sambungan CATATAN : Obat menaikkan TD ( tu..MESIN & PERALATAN Qb Qd Temperature Koduktiviti Pressure/ tekanan : arterial. U Heparinisasi regional Dosis awal : …… U Dosis selanjutnya : …. Heparinisasi minimal Syarat-syarat : Dialyzer khusus (kalau ada). dialysate. U Protamin : …. MONITOR SELAMA HEMODIALISA 1. outlet Keluhan/ komplikasi hemodialisis 2. PENGAMATAN OBSERVASI. pend hipotensi berat) : Efedrin 1 ampul + 10 cc aquadest kmd disuntik 2 ml/IV . Heparin diberikan/ dipasang pada selang sebelum dializer. venous.

Bila perdarahan pada punksi sudah berhenti.Blood pump stop 4. bekas punksi inlet & outlet ditekan dengan kassa steril yang diberi bethadine 9. 5.Lepas klem pada kedua kanula 6.Penekanan bekas punksi dengan 3 jari sekitar 10 menit 3.Ujung ABL diklem.Timbang BB (kalau memungkinkan) 12.Bekas punksi femoral lebih lama.Ukur TD. lalu tutup dengan kain kassa/band aid lalu pasang verband.Cairan pendorong/ pembilas (NaCl) sesuai dengan kebutuhan .Hubungkan ujung abl dengan infus set 6.Ukur TTV : TD. kalau perlu di dorong dengan udara ( harus hati-hati) 2.Jarum outlet dicabut. N. S.Bekas punksi arteri penekanan harus tepat.3.kanula arteri & vena dibilas dengan NaCl yang diberi 2500 U – 300 U heparin inj 4.Setelah darah masuk ke tubuh Blood pump stop.Pakai sarung tangan 2. setelah perdarahan berhenti.5 menit sebelum hemodialisis berakhir Qb diturunkan sekitar 100cc/m UFR = 0 2.PERAWATAN SESUDAH HEMODIALISIS (POST HD) Mengakhiri HD Persiapan alat : Kain kasa/ gaas steril Plester Verband gulung Alkohol/ bethadine Antibiotik powder (nebacetin/ cicatrin) Bantal pasir (1-1/2 keram) : pada punksi femoral Cara bekerja 1.Memakai teknik aseptik dan antiseptik SCRIBNER 1.Isi formulir hemodialisis CATATAN : 1. nadi 3. P 11. bubuhi bekas punksi inlet & outlet dengan antibiotik powder. ujun VBL diklem.Kedua sisi kanula dihubungkan kembali dengan konektor 5. jarum inlet dicabut . lebih lama 5. ditekan kembali dengan bantal pasir 4. 8.Darah dimasukkan ke dalam tubuh dengan do dorong dengan nacl sambil qb 50 – 100 cc) 100 ml/m (NaCl masuk : dijalankan 7. 10.Sebelum ABL & VBL dilepas dari kanula maka kanula arteri & kanula vena harus diklem lebih dulu 3.Fiksasi . bekas punksi inlet ditekan dengan kassa steril yang diberi betadine.

membereskan alat-alat dan dilanjutkan dengan desinfeksi alat. memasang alat pada mesin. pengaturan posisi tubuh. venous pressure. pasien diorientasikan pada ruangan paviliun II dan alat-alat yang ada. mengganti gaas bethadine dan fiksasi dengan plester. pemasukan heparin (bolus). Menimbang BB . ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN HEMODIALISIS Pada pasien yang baru pertama kali hemodialisis. dilakukan pengukuran tekanan darah. penusukan jarum. Sistem pencatatan dan pelaporan yang dijalankan dalam bentuk lembaran observasi pasien yang berisi tentang : TTV sebelum atau selama dan sesudah HD. Intervensi keperawatan yang dilakukan mengarah kepada pemberian bantuan sepenuhnya. Pada tahap pemasangan alat dan selama pemasangan. mengawasi penimbangan berat badan pasien. prinsip hemodialisis. hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama hemodialisis dan efek dari hemodialisis. mengukur suhu badan. setelah mencoba mengatasi sendiri. program penurunan BB . mencabut jarum inlet dan menekan bekas tusukan sambil menunggu sampai aliran darah pada venous blood line habis. pemberian anestesi lokal (kalau perlu). kecepatan aliran heparin dan UFR. makan dan minum. mempersiapkan alat-alat. monitoring pernafasan.7. dari mulai menghidupkan mesin. sirkulasi cairan NaCl pada mesin. Pada tahap penghentian hemodialisis meliputi : penghentian aliran darah. Lalu menekan tombol BFR. mengukur suhu. Semua kegiatan baik pada tahap pre hemodialisis selama pemasangan dan penghentian hemodialisis dilakukan oleh perawat kecuali penimbangan berat badan dan minum yang pada beberapa pasien dilakukan sendiri. mengukur tekanan darah dan menghitung denyut nadi. Setelah penghentian hemodialisis. priming dan keluhan pasien setelah HD. Selain itu pasien diberikan penjelasan ringkas tentang prosedur yang akan dijalankan. Langkah selanjutnya adalah mencabut jarum out line dan menekan bekas tusukan. mengawasi penimbangan berat badan. memasang alat pada mesin sampai mesin tersebut dipakai. Sebenarnya bagi pasien yang memungkinkan bisa dilibatkan sejak awal. kegiatan perawatan meliputi : menghidupkan mesin. membuka klem venous dan arteri blood line. memprogram penurunan berat badan. meyediakan alatalat. Disamping itu beberapa pasien telah dapat melaporkan pada perawat apabila ada ketidakberesan pada mesin atau akses vaskular.Pasang balutan dengan sedikit kanula bisa dilihat dari luar. Hal ini dapat terlihat dari kegiatan : a. Pada pre hemodialisis. monitoring alat-alat dan kelancaran sirkulasi darah. untuk mengetahui ada bekuan atau tidak. jika kondisi pasien memungkinkan. dosis heparin. diet.Pada tahap persiapan Persiapan alat dan mesin Selama ini pasien dipersilahkan masuk ke ruangan HD dalam keadaan mesin sudah siap pakai karena perawat sudah menyiapkannya. selanjutnya menyambung jarum pada arteri blood line. Kemudian menghubungkan heparin contnous ke sirkulasi. waktu pelaksanaan. pembatasan cairan. Pembuatan rencana perawatan pasien sudah berjalan dimana dalam pengkajian meliputi data fisik dan psikososial. kegiatannya meliputi : desinfeksi daerah penusukan. perawatan cimino. Pada saat itu pasien menunggu di ruang tunggu. mengukur tekanan darah dan menciptakan suasana ruangan untuk mengisi kegiatan pasien selama hemodialisis berlangsung. Data psikososial yang dikaji sebatas pada adanya rasa cemas dan bosan. BB sebelum dan sesudah HD.

Penimbangan BB bagi pasien yang mampu memang sudah dilakukan sendiri oleh pasien begitu mereka masuk ruangan.Pada tahap penghentian Filed under: D. namun tetap dalam pengawasan perawat. Dalam hal ini pasien dapat diberi kesempatan untuk mencatat Bbnya sendiri. mulai dari hal-hal yang sedrhana tapi dapat menarik minat untuk belajar. tekanan darah dan menghitung denyut nadi Kegiatan-kegiatan ini semuanya masih dilakukan oleh perawat. HD ZONE | 8 Komentar » « Halaman Sebelumnya — Halaman Berikutnya » . Sebenarnya dapat mulai dikenalkan kepada pasien mengenai alat-alat dan cara pengukurannya. b.Pada tahap pelaksanaan c. Mengukur suhu badan. Pasien menyebutkan berapa BBnya dan perawat mencatatnya dalam lembaran observasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful