INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PROGRAM DEKADE AKSI KESELAMATAN JALAN PRESIDEN REPUBLIK

INDONESIA, Dalam rangka penguatan koordinasi antar pemangku kepentingan di bidang keselamatan jalan dan untuk pelaksanaan Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 64/255 tanggal 10 Maret 2010 tentang Improving Global Road Safety melalui Program Decade of Action for Road Safety 2011-2020, dengan ini

menginstruksikan:

Kepada

:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Menteri Pekerjaan Umum; Menteri Perhubungan; Menteri Kesehatan; Menteri Perindustrian; Menteri Dalam Negeri; Menteri Pendidikan dan Kebudayaan; Menteri Keuangan; Menteri Komunikasi dan Informatika; Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan

Nasional; 10. 11. 12. 13. 14. Menteri Riset dan Teknologi; Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Menteri Lingkungan Hidup; Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; Para Gubernur; dan

15. Para Bupati/Walikota; Untuk: …

Riset Keselamatan Jalan. g.. Sistem Manajemen Keselamatan Angkutan Umum. Regulasi Keselamatan 2. Survailans Cedera (Surveilance Injury) dan Sistem Informasi Terpadu. h. Protokol Kelalulintasan Kendaraan Darurat. e. d. Penyelarasan dan Koordinasi Keselamatan Jalan. yang fokus kepada: a. dan kewenangan masingmasing untuk melaksanakan Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Instruksi Presiden ini.2 Untuk: PERTAMA : Mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas. fungsi. KEDUA : Dalam mengambil langkah-langkah sebagaimana dimaksud dalam Diktum PERTAMA.. b. Dana Keselamatan Jalan. Kemitraan Keselamatan Jalan. berpedoman kepada 5 (lima) Pilar Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan yang meliputi: 1. c. f. Penyempurnaan Jalan. Pilar I yaitu Manajemen Keselamatan Jalan.. Pilar . .

Kepatuhan Pengoperasian Kendaraan. g. e. d. . d. b. Perencanaan kapan Jalan. Penghapusan Kendaraan (Scrapping). Pilar III yaitu Kendaraan yang Berkeselamatan. Penerapan Manajemen Kecepatan. 4. f. Penyelenggaraan dan Perbaikan Prosedur Uji Berkala dan Uji Tipe.. Penanganan Muatan Lebih (Overloading). Lingkungan Jalan yang Berkeselamatan. c. b.. Peningkatan . c. Pembatasan Kecepatan pada Kendaraan. Kegiatan Tepi Jalan yang Berkeselamatan. e. Pilar II yaitu Jalan yang Berkeselamatan. Perencanaan dan Pelaksanaan Pekerjaan Jalan yang Berkeselamatan. Pemeriksaan Kesehatan Pengemudi. Badan Jalan yang Berkeselamatan.3 2. 3. Menyelenggarakan Peningkatan Standar dan Pelaksanaan Perleng- Kelaikan Jalan yang Berkeselamatan. Penetapan Standar Keselamatan Kendaraan Angkutan Umum. d.. b. yang fokus kepada: a. c. Pemeriksaan Kondisi Pengemudi. Pilar IV yaitu Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan. yang fokus kepada: a. yang fokus kepada: a.

e. Riset Pra dan Pasca Kejadian Kecelakaan pada Korban.4 - d. Menteri … . KETIGA : Pelaksanaan 5 (lima) pilar sebagaimana dimaksud dalam Diktum PERTAMA. Penanganan terhadap 5 (lima) Faktor Risiko Utama Plus. j. h. d. Pendidikan Formal Keselamatan Jalan. dikoordinasikan oleh: 1. Pilar V yaitu Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan. Penanganan Pra Kecelakaan. c. e. 5. g. Surat Izin f. Penanganan Pasca Kecelakaan. Penggunaan Elektronik Penegakan Hukum.. Penyempurnaan Prosedur Uji Mengemudi. Kampanye Keselamatan. i. Pengalokasian Sebagian Premi Asuransi untuk Dana Keselamatan Jalan. Pembinaan Teknis Sekolah Mengemudi. Penjaminan Korban Kecelakaan yang Dirawat di Rumah Sakit Rujukan. b. Peningkatan Sarana dan Prasarana Sistem Uji Surat Izin Mengemudi. yang fokus kepada: a.

Menteri Perhubungan untuk Pilar III. Menteri Pekerjaan Umum untuk Pilar II. yang bertanggung jawab untuk menyediakan infrastruktur jalan yang lebih berkeselamatan dengan melakukan perbaikan mulai tahap perencanaan. konstruksi dan operasional jalan. 4. desain. yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kendaraan yang digunakan di jalan telah memenuhi standar keselamatan. 3. yang bertanggung jawab untuk mendorong terselenggaranya koordinasi antarpemangku kepentingan dan terciptanya kemitraan sektoral guna menjamin efektivitas dan keberlanjutan pengembangan dan perencanaan strategi keselamatan jalan pada level nasional.5 1. Kepala … . Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional untuk Pilar I. termasuk di dalamnya penetapan target pencapaian dari keselamatan jalan dan melaksanakan evaluasi untuk memastikan penyelenggaraan keselamatan jalan telah dilaksanakan secara efektif dan efisien. 2..

yang bertanggung jawab untuk memperbaiki perilaku pengguna jalan melalui pendidikan keselamatan berlalu lintas. KEEMPAT : Koordinator dimaksud masing-masing dalam Diktum pilar KETIGA sebagaimana melaporkan pelaksanaan Instruksi Presiden ini kepada Presiden melalui Menteri Perencanaan Badan Pembangunan Perencanaan Nasional/Kepala Pembangunan Nasional paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. KELIMA : Melaksanakan Instruksi Presiden ini dengan penuh tanggung jawab.. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk Pilar IV. yang bertanggung jawab meningkatkan penanganan pra kecelakaan meliputi promosi dan pada peningkatan kesehatan khusus pengemudi dan keadaan/situasi pasca penanganan Sistem Terpadu kecelakaan Gawat dengan Darurat Penanggulangan (SPGDT). .. Menteri Kesehatan untuk Pilar V. meningkatkan kualitas sistem uji surat izin mengemudi dan penegakan hukum di jalan serta mengembangkan sistem pendataan kecelakaan lalu lintas. 5. Instruksi .6 4..

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Deputi Bidang Kesejahteraan Rakyat.7 - Instruksi Presiden ini mulai berlaku pada tanggal dikeluarkan. H. Dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 April 2013 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ttd. ttd.. DR. Siswanto Roesyidi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful