ULUMUL HADIS: PENGERTIAN SEJARAH PERKEMBANGAN DAN CABANG-CABANGNYA

Bab 1 Pendahuluan MANUSIA dalam hidupnya membutuhkan berbagai macam pengetahuan. Sumber dari pengetahuan tersebut ada dua macam yaitu naqli dan aqli. Sumber yang bersifat naqli ini merupakan pilar dari sebagian besar ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia baik dalam agamanya secara khusus, maupun masalah dunia pada umumnya. Dan sumber yang sangat otentik bagi umat Islam dalam hal ini adalah Alquran dan Hadis Rasulullah SAW. Allah telah menganugerahkan kepada umat kita para pendahulu yang selalu menjaga Alquran dan hadis Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang jujur, amanah, dan memegang janji. Sebagian di antara mereka mencurahkan perhatiannya terhadap Alquran dan ilmunya yaitu para mufassir. Dan sebagian lagi memprioritaskan perhatiannya untuk menjaga hadis Nabi dan ilmunya, mereka adalah para ahli hadis. Salah satu bentuk nyata para ahli hadis ialah dengan lahirnya istilah Ulumul Hadis(Ilmu Hadis) yang merupakan salah satu bidang ilmu yang penting di dalam Islam, terutama dalam mengenal dan memahami hadis-hadis Nabi SAW. Karena hadis merupakan sumber ajaran dan hukum Islam kedua setelah dan berdampingan dengan Alquran. Namun begitu perlu disadari bahwa hadis-hadis yang dapat dijadikan pedoman dalam perumusan hukum dan pelaksanaan ibadah serta sebagai sumber ajaran Islam adalah hadis-hadis yang Maqbul (yang diterima), yaitu hadis sahih dan hadis hasan. Selain hadis maqbul, terdapat pula hadis Mardud, yaitu hadis yang ditolak serta tidak sah penggunaannya sebagai dalil hukum atau sumber ajaran Islam. Bahkan bukan tak mungkin jumlah hadis mardud jauh lebih banyak jumlahnya daripada hadis yang maqbul. Untuk itulah umat Islam harus selalu waspada dalam menerima dan mengamalkan ajaran yang bersumber dari sebuah hadis. Artinya, sebelum meyakini kebenaran sebuah hadis, perlu dikaji dan diteliti keotentikannya sehingga tidak terjerumus kepada kesia-siaan. Adapun salah satu cara untuk membedakan antara hadis yang diterima dengan yang ditolak adalah dengan mempelajari dan memahami Ulumul Hadis yang memuat segala permasalahan yang berkaitan dengan hadis. Bahasan masalah
  

Pengertian ulumul hadis Sejarah perkembangan ilmu hadis Cabang-cabang ilmu hadis

Bab 2 Pembahasan Pengertian Ulumul Hadis Ilmu Hadis atau yang sering diistilahkan dalam bahasa Arab dengan Ulumul Hadis yang mengandung dua kata, yaitu „ulum‟ dan „al-Hadis‟. Kata ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari „ilm, jadi berarti ilmu-ilmu, sedangkan al-Hadis dari segi bahasa mengandung beberapa arti, diantaranya baru, sesuatu yang dibicarakan, sesuatu yang sedikit dan banyak. Sedangkan menurut istilah Ulama Hadits adalah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya”. Sedangkan menurut ahli ushul fiqh, hadis adalah: “perkataan, perbuatan, dan penetapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW setelah kenabian.” Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadis, karena yang dimaksud dengan hadis adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian. Adapun gabungan kata ulum dan al-Hadis ini melahirkan istilah yang selanjutnya dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu, yaitu Ulumul Hadis yang memiliki pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadits Nabi SAW”. Pada mulanya, ilmu hadis memang merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadis Nabi SAW dan para perawinya, sepertiIlmu al-Hadis alSahih, Ilmu al-Mursal, Ilmu al-Asma‟ wa al-Kuna, dan lain-lain. Penulisan ilmu-ilmu hadis secara parsial dilakukan, khususnya, oleh para ulama abad ke-3 H. Umpamanya, Yahya ibn Ma‟in (234H/848M) menulis Tarikh al-Rijal, Muhammad ibn Sa‟ad (230H/844) menulis Al— Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-„Ilal dan Al-Nasikh wal Mansukh, serta banyak lagi yang lainnya. Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadis, karena masing-masing membicarakan tentang Hadis dan para perawinya. Akan tetapi, pada masa berikutnya, ilmu-ilmu yang terpisah itu mulai digabungkan dan dijadikan satu, serta selanjutnya dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Terhadap ilmu yang sudah digabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut tetap dipergunakan nama Ulumul Hadis, sebagaimana halnya sebelum disatukan. Jadi penggunaan lafaz jamak Ulumul Hadis setelah keadaannya menjadi satu adalah mengandung makna mufrad atau tunggal, yaitu Ilmu Hadis, karena telah terjadi perubahan makna lafaz tersebut dari maknanya yang pertama (beberapa ilmu yang terpisah) menjadi nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus yang nama lainnya adalahMusthalahul Hadis.1

1

http://istanailmu.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html

Sejarah perkembangan ulumul hadis Pada dasarnya Ulumul Hadis telah lahir sejak dimulainya periwayatan hadis di dalam Islam, terutama setelah Rasul SAW wafat, ketika umat merasakan perlunya menghimpun hadis-hadis Rasul SAW dikarenakan adanya kekhawatiran hadis-hadis tersebut akan hilang atau lenyap. Para sahabat mulai giat melakukan pencatatan dan periwayatan hadis. Mereka telah mulai mempergunakan kaidah-kaidah dan metode-metode tertentu dalam menerima hadis, namun mereka belumlah menuliskan kaidah-kaidah tersebut. Adapun dasar dan landasan periwayatan hadis di dalam Islam dijumpai dalam Alquran dan hadis

Nabi SAW. Dalam QS. Al-Hujarat ayat 6, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk meneliti dan mempertanyakan berita-berita yang datang dari orang lain, terutama dari orang fasik. Firman Allah SWT (: 6). “Hai orang-orang yang telah beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah berita tersebut dengan teliti agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan (yang sebenarnya) yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu”.(QS. Al-Hujurat: 6). Sementara dalam hadis disebutkan, “(Semoga) Allah membaguskan rupa seseorang yang mendengar dari kami sesuatu (hadis), lantas dia menyampaikannya (hadis tersebut) sebagaimana dia dengar, kadang-kadang orang yang menyampaikan lebih hafal daripada yang mendengar”. (HR. At-Tirmizi). Dalam kitab Mabahits Ulumil Hadis, Syekh Manna Al-Qaththani menyimpulkan bahwa yang mendasari lahir dan berkembangnya Ilmu Hadis ada 2 (dua) hal pokok, yaitu adanya: (1) dorongan agama, dan (2) dorongan sejarah. Berikut akan penulis paparkan secara singkat kedua hal pokok tersebut: Pertama: Dorongan Agama Bahwasanya umat manusia memperhatikan warisan pemikiran yang dapat menyentuh dan membangkitkan kehidupan mereka, memenuhi kecintaan hati mereka, menjadi pijakan kebangkitan mereka, lalu mereka terdorong untuk menanamkannya pada anak-anak mereka agar menjadi orang yang memahaminya, hingga warisan itu selalu hadir di hadapan mereka, membimbing langkah dan jalan mereka. Jika umat lain begitu perhatian terhadap warisan pemikiran mereka, maka umat Islam yang mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW juga tidak kalah dalam memelihara warisan yang didapatkan dari Nabi SAW dengan cara periwayatan,menukil, hafalan, dan menyampaikannya, serta mengamalkan isinya,

karena itu bagian dari eksistensinya, dan hidup umat ini tiada berarti tanpa dengan agama. Oleh karenanya Allah mewajibkan dalam agama untuk mengikuti dan menaati Rasul-Nya, menjalani semua apa yang dibawa beliau, dan meneladani kehidupannya. Kedua : Dorongan Sejarah Dalam sejarah, umat manusia banyak dihadapkan pada pertentangan dan halangan sehingga mendorong untuk menjaga warisan mereka dari penyusupan yang menyebabkan terjadinya fitnah dan saling bermusuhan serta tipu muslihat. Dan umat Islam yang telah merobohkan pilar kemusyrikan, dan mendobrak benteng Romawi dan Persia, menghadapi musuh-musuh bebuyutan, tahu benar bahwa kekuatan umat ini terletak pada kekuatan agamanya, dan tidak dapat dihancurkan kecuali dari agama itu sendiri, dan salah satu jalannya adalah pemalsuan terhadap hadis. Dari sini, kaum muslimin mendapat dorongan yang kuat untuk meneliti dan menyelidiki periwayatan hadis, dan mengikuti aturan-aturan periwayatan yang benar, agar mereka dapat menjaga warisan yang agung ini dari penyelewengan dan penyusupan terhadapnya sehingga tetap bersih, tidak dikotori oleh aib maupun oleh keraguan. Dan di antara aturan-aturan yang diberlakukan pada masa sahabat adalah: 1- Mengurangi periwayatan hadis .

Mereka khawatir dengan banyaknya riwayat akan tergelincir pada kesalahan dan kelalaian, dan menyebabkan kebohongan terhadap Rasul SAW. Selain itu mereka juga khawatir dengan memperbanyak periwayatan akan menyibukkan umat Islam terhadap as-Sunnah dan mengabaikan Al-Quran 2- Ketelitian dalam periwayatan. Para sahabat sangat berhati-hati dalam menerima hadis tanpa adanya perawi yang benar-benar dapat dipercaya, karena mereka sangat takut terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadis Nabi SAW. 3- Kritik terhadap riwayat. Adapun bentuk kritik terhadap riwayat adalah dengan cara memaparkan dan membandingkan riwayat dengan Al-Qur‟an, jika bertentangan maka mereka tinggalkan dan tidak mengamalkannya. Ketelitian dan sikap hati-hati para Sahabat Nabi SAW tersebut diikuti pula oleh para ulama yang datang sesudah mereka, dan sikap tersebut semakin ditingkatkan terutama setelah munculnya hadis-hadis palsu, yakni sekitar tahun 41 H setelah masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. Semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadis dengan mempraktikkan ilmu al-jarah wa al-ta‟dil, dan sekaligus mulai pulalah ilmu ini tumbuh dan berkembang. Setelah munculnya kegiatan pemalsuan hadis dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadis dalam rangka memelihara kemurnian hadis, yaitu seperti: a) melakukan pembahasan terhadap sanad hadis serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi hadis, hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan; b) melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber hadis agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut melaluinya; c) melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha‟if-an atau kepalsuan suatu hadis. Demikianlah kegiatan para ulama hadis di abad pertama Hijrah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadis. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi hadis, yaitu: Hadis Marfu‟, Hadis Mawquf, Hadis Muttashil, dan Hadis Mursal. Dari macam-macam hadis tersebut, juga telah dibedakan antara hadis maqbul, yang pada masa berikutnya disebut dengan hadis shahih dan hadis hasan, serta hadis mardud yang kemudian dikenal dengan hadis dha‟if dengan berbagai macamnya. Pada abad kedua Hijrah, ketika hadis telah dibukukan secara resmi atas prakarsa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan dimotori oleh Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri, para ulama yang bertugas dalam menghimpun dan membukukan hadis tersebut menerapkan ketentuan-ketentuan Ilmu Hadis yang sudah ada dan berkembang sampai pada masa mereka. Mereka memperhayikan ketentuan-ketentuan hadis shahih, demikian juga keadaan para perawinya. Hal ini dilakukan lantaran semakin banyaknya para penghafal hadis yang telah wafat. Pada abad ketiga Hijrah yang dikenal dengan masa keemasan dalam sejarah perkembangan Hadis, mulailah ketentuan dan perumusan kaidah-kaidah Hadis ditulis dan dibukukan, namun masih bersifat parsial.Yahya ibn Ma‟in (w. 234H/848M) menulis tentang Tarikh ar-Rijal, Muhammad ibn Sa‟ad (w. 230H/844M) menulis Al-Tabaqat, Ahmad ibn Hanbal (241H/855M) menulis Al-„Ilal, dan lain-lain.

” Dari definisi ini dapat dijelaskan beberapa hal. para ulama hadis memberikan definisi yang bervariasi. (oleh: Indra L Muda) 2 CABANG-CABANG ILMU HADITS Para Ulama Hadis telah membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian. macam-macam.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html 1) Ilmu Hadis Riwayah Adapun yang dimaksud dengan Ilmu Hadis Riwayah. jenis yang diriwayatkan. dan keadaan Rasul SAW serta periwayatan.  Objek Kajian Ilmu Hadis Riwayah 1. pada abad setelah itu mulailah bermunculan karya-karya di bidang Ilmu Hadis ini yang sampai saat ini masih menjadi referensi utama dalam membicarakan ilmu hadis. yaitu: . cara pemeliharaan hadis. terutama dari segi sasaran dan pokok bahasannya. kitabnya Al Muhaddits al Fashil Baina al Rawi wa al Wa‟i. pemeliharaan. Selanjutnya. penulisan. pencatatan. yaitu: 2 http://istanailmu. baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lain. dan pembukuannya. perbuatan.Pada abad keempat dan kelima hijrah mulailah ditulis secara khusus kitab-kitab yang membahas tentang Ilmu Hadis yang bersifat komprehensif. dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi SAW.keadaan para perawi. dan penguraian lafaz-lafaznya. cara periwayatan hadis. Dari definisi tentang ilmu Hadis Riwayah di atas dapat dipahami bahwa Ilmu Hadis Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan. 2. syarat-syarat mereka. dan hukum-hukumnya. yaitu dalam bentuk penghafalan. sebagaiamana yang disebutkan oleh Zhafar Ahmad ibn Lathif al-Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa‟id fi Ulum al-Hadisseperti yang dikutip oleh Nawir Yuslem dalam Ulumul Hadis adalah sebagai berikut: : Ilmu Hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan. dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Adapun ulama yang pertama kali menyusun kitab dalam bidang ini adalah al Qadhi Abu Muhammad al Hasan bin Abdurrahman bin Chalad ar Ramaharmuzi (wafat pada tahun 360 H). namun jika dicermati berbagai definisi yang mereka kemukakan. syarat-syarat. yaitu Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah. maka akan ditemukan persamaan antara satu dengan lainnya. 2) Ilmu Hadis Dirayah Mengenai pengertian Ilmu Hadis Dirayah. Di sini akan penulis kemukakan dua di antaranya: Ibn al-Akfani memberikan definisi Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut: : “Dan ilmu hadis yang khusus tentang dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat.

3 . seperti perkataan: “akhbarana fulan” (telah mengabarkan kepada kami si Fulan). maksudnya adalah keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al„adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh). yakni al-qabul (diterimannya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu. adalah penulisan hadis di dalam kitab almusnad. atau al-ajza‟ dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun hadis-hadis Nabi SAW. tidak diketahui identitasnya atau tersamar. “haddasana fulan” (telah menceritakan kepada kami si Fulan). tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad. washiyyat(mewasiatkan kepada seseorang koleksi hadis yang dimilikinya). di tengah. atau di akhir. segi persambungan sanad (ittishal al-sanad). seperti sama‟ (perawi mendengar langsung bacaan hadis dari seorang guru).munawalah (menyerahkan suatu hadis yang tertulis kepada seseorang untuk diriwayatkan). atau ikhbar. Oleh karenanya tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus. 3. yaitu bahwa suatu rangkaian sanad hadis haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan hadis tersebut. Hukum Riwayat. segi keterpercayaan sanad (siqat al-sanad). yaitu seperti periwayatan muttsahil (periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai kepada perawi terakhir. segi keselamatannya dari kejanggalan (syadz). baik di awal.       Hakikat Riwayat. yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi hadisnya).ataumunqathi‟ (periwayatan yang terputus. Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat). segi keselamatannya dari cacat („illat). Objek Kajian Ilmu Hadis Dirayah  1. al-mu‟jam. dan 5. yaitu kegiatan periwayatan hadis dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdis. dan wajadah(mendapatkan koleksi tertentu tentang hadis dari seorang guru. ijazah (member izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu hadis dari seorang ulama tanpa dibacakan sebelumnya). I‟lam (member tahu seseorang bahwah hadis-hadis tertentu adalah koleksinya). yaitu perkataan seorang perawi. dan lainnya. kitabah (menuliskan hadis untuk seseorang). Syarat-syarat Mereka. Macam-macam Riwayat. dan al-radd (ditolak. qira‟ah (murid membacakan catatan hadis dari gurunya dihadapan guru tersebut). karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi. yaitu syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang perawi ketika menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-add‟). Syarat-Syarat Riwayat. yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang diriwayatkannya dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadis). tersembunyi. 4. 2. Keadaan para Perawi.

Di antara yang menyusun kitab ini. dari tabi‟in. dari sahabat. maupun dari angkatan sesudahnya. merafa‟kan yang mauquf.com/pendidikan/ Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Semuanya ini. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadits. d. melainkan oleh ulama. Ilmu Fannil Mubhammat Ilmu fannil Mubhamat adalah ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan. Ilmu Rijalul Hadits ialah ilmu yang membahas para perawi hadits. Ilmu Jarhi wat Ta’dil Ilmu yang menerangkan tentang hal cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta‟dilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat kata-kata itu. e. keadaan para perawi yang menerima hadits dari Rasulullah dan keadaan perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya. sehingga ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut. dan yang sudah dipahami karena jarang dipakai. yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabatmartabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadits. Ilmu ‘Ilalil Hadits Adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi. Dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi. yang dapat merusakkan hadits. Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah ialah: a. . ilmu yang berpautan dengan keshahihan hadits. bila diketahui dapat merusakkan hadits. memasukkan suatu hadits ke dalam hadits yang lain dan yang serupa itu. yang dilakukan oleh orang orang yang ahli dalam ilmu ini. Ilmu Jarhi wat Ta‟dil dibutuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan. b. Kitab Al Khatib itu diringkas dan dibersihkan oleh An-Nawawy dalam kitab Al-Isyarat Ila Bayani Asmail Mubhamat. atau di dalam sanad. c. Perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih bukhari diterangkan dengan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al-Asqallanni dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari. Al-Khatib Al Baghdady. Dengan ilmu ini kita dapat mengetahui.3 http://syahrulhsb. madzhab yang dipegangi oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu menerima hadits. mana informasi yang benar yang datang dari Nabi dan mana yang bukan. Jika menurut dugaan penelitinya ada „illat pada hadits tersebut maka dihukuminya sebagai hadits tidak shahih . Menurut Syaikh Manna‟ Al-Qaththan bahwa cara mengetahui „illah hadits adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan hadits dan mencermati perbedaan perawinya dan kedhabithan mereka. Dengan cara ini akan dapat diketahui apakah hadits itu mu‟tal (ada „illatnya) atau tidak. Ilmu Ghoriebil Hadits Yang dimaksudkan dalam ilmu haddits ini adalah bertujuan menjelaskan suatu hadits yang dalam matannya terdapat lafadz yang pelik. tidak nyata. Ilmu ini. Yakni: menyambung yang munqathi‟.wordpress.

Adapun cabang ilmu hadis dibagi menjadi 2.4 4 http://myant2526. yang lebih dikenal dengan Ibn hamzah AlHusainy Al-Dimasyqy (1054-1120H) denagn karyanya Al-Bayan Wa Al Ta‟rif Fi Asbab Wurud Al.com/2010/05/blog-post. baik sebelum kenabian atau sesudahnya. atau mentaqyidkan yang mutlak. h. Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits Yaitu ilmu yang menggabungkan dan memadukan antara hadits yang zhahirnya bertentangan atau ilmu yang menerangkan ta‟wil hadits yang musykil meskipun tidak bertentangan dengan hadits lain. dan (2) dorongan sejarah. g. tapi mungkin dikumpulkan dengan tidak sukar maka hadits itu dinamai muhtaliful hadits. atau semisal dengan itu. Abu Hafs Al. dinamailah hadits tersebut muhkam.blogspot.hadits Al-Syarif.Misalnya. Terkadang. Dan jika dilawan oleh hadits yang sederajat. adapun sejarah perkembangan ilmu hadis terjadi sejak dimulainya periwayatan hadis di dalam Islam. Karenanya tidak mustahil kalau ada beberapa ulama yang tertarik untuk menulis tema semacam ini.f. atau dengan memandang banyak kali terjadi. ada hadits yang apabila tidak diketahui sebab turunnya. Ilmu ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang menguasai hadits dan fiqih . j.sejak abad pertama hingga kelima hijriah dan yang mendasari lahir dan berkembangnya Ilmu Hadis terdiri dari 2 (dua) hal pokok. yaitu adanya: (1) dorongan agama. Ilmu Talfiqil hadits Yaitu ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan antar hadits yang berlawanan lahirnya. Dikumpulkan itu ada kalanya dengan mentahsikhkan yang „amm. Ilmu Tashif wat Tahrif Yaitu ilmu yang menerangkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (dinamai mushohaf). perbuatan. maka yang terkemudian itu dinamai nasikh dan yang terdahulu dinamai mansukh. akan menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak diamalkan. Zuhri ilmu Asbabi Wurudil Hadits dalah ilmu yang menyingkap sebab-sebab timbulnya hadits. Ilmu Nasikh wal Mansukh Adalah ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimansukhkan dan menasikhkannya. Disamping itu.html kesimpulan dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa pengertian dari ilmu hadis atau ulumul hadis adalah apa yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa ucapan. ilmu ini mempunyai fungsi lain untuk memahami ajaran islam secara komprehensif.Akbari (380456H). Menurut Prof Dr. Apabila didapati sesuatu hadits yang maqbul tak ada perlawanan. penetapan. terutama setelah Rasul SAW wafat. yaitu: Ilmu Dirayatul Hadits dan Ilmu Riwayatul Hadits . Jika tidak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian. Asbabul Wurud dapat juga membantu kita mengetahui mana yang datang terlebih dahulu di antara dua hadits yang “Pertentangan”. Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Kamaluddin. i. sifat. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits Yaitu ilmu yang membicarakan tentang sebab-sebab Nabi menuturkan sabda beliau dan waktu beliau menuturkan itu. dan bentuknya (dinamai muharraf). Oleh sebagaian ulama dinamakan dengan “Mukhtalaf Al-Hadits” atau “Musykil Al-Hadits”. atau sirah beliau.

Ilmu Mukhtalaf dan Musykil Hadits saran saran kami untuk para pembaca agar dapat mengambil intisari atau kesimpulan dari makalah ini.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html http://istanailmu. Maka persoalan yang ada dalam ilmu hadis ada dua. banyak istilah untuk menyebut nama-nama hadis sesuai dengan fungsinya dalam menetapkan syari`at Islam.com/2010/05/blog-post. dan apakah para periwayat hadis yang di cantumkan di dalam sanad hadis itu orang-orang yang terpercaya aau tidak. kulitas para periwayat yang di lalui hadis. Maret 23.karena kami hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits. kedua berkaitan dengan matan. Hadis Hasan. daftar pustaka 1 2 http://istanailmu. Ada Hadis Shahih. dan Hadis Dha`if. dan ada pula yang berkaitan dengan kandungan hadis itu sendiri.com/2011/02/15/pengertian-dan-sejarah-ilmu-hadis/html 3 http://syahrulhsb. Pertama berkaitan dengan sanad.1 Latar Belakang Masalah Sebagai di ketahui. Adapun Ilmu yang berkaitan dengan matan akan membantu kita mempersoalkan dan akhirnya mengetahui apakah informasi yang terkandung di dalamnya berasal dari . Persyaratan itu ada yang berkaitan dengan persambungan sanad. Ilmu Tashif wat Tahrif.yaitu: Ilmu Rijalul Hadits. Masing-masing memiliki persyaratan sendiri-sendiri.wordpress. Ilmu yang berkaitan dengan sanad akan mengantar kita menelusuri apakah sebuah hadis itu bersambung sanadnya atau tidak. Ilmu „Ilalil Hadits.Dan Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah terdiri dari 10 cabang. Ilmu Talfiqil hadits. Ilmu Ghoriebil Hadits. Ilmu Fannil Mubhammat.com/pendidikan/ 4 http://myant2526. Ilmu Jarhi wat Ta‟dil.dan kami sebagai penyusun makalah ini mengharapkan kritik dan saran. Ilmu Nasikh wal Mansukh. 2012 Mambaulhikam Induk BAB I PENDAHULUAN No comments 1.html ULUMUL HADITS DAN CABANG-CABANGNYA Jumat.blogspot.

3 Pengertian Ulumul Hadis.2. Contoh Kitab yang Berhubungan dengan Cabang-cabang Ulumul Hadis.2.2. Pengertian Ilmu Hadis Dirayah.1 13.1 Tujuan Umum Secara umum penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui tentang Ulumul Hadis beserta cabang-cabangnya.3 Batasan Masalah 1. Pengertian Ilmu Hadis Riwayah. 1.2.2 1.1 13. Cabang-cabang Ulumul Hadis.1.2 1. apakah kandungan hadis bertentangan dengan dalil lain atau tidak.2 Apa Pengertian Ilmu Hadis Dirayah? 1. .3.1 Apa Pengertian Ilmu Hadis Riwayah? 1.4 Tujuan 14.1.1.2.1.3. Misalnya. 1.3 Apa Saja Cabang-cabang Ulumul Hadis? Apa Saja Contoh Kitab yang Berhubungan dengan Cabang-cabang Ulumul Hadis? 1.3.1 Apa Pengertian Ulumul Hadis? 1.2 Rumusan Masalah 1.Nabi atau tidak.2 1.

pencatatannya.1.  Mengetahui Contoh Kitab yang Berhubungan dengan Cabang-cabang Ulumul Hadis. BAB II PEMBAHASAN MASALAH 2. b. (Arabnya: `Ulum al Hadits). taqrir.  Mengetahui Cabang-cabang Ulumul Hadis. Kata `Ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari `Ilm. sifat jasmaniah. c. atau sifat. dan penguraian lafaz-lafznya.” Dengan demikian `Ulum Al Hadits mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadis Nabi “. atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti dan terperinci. perbuatan. berupa perkataan. Menurut Muhammad `Ajjaj al-Khathib. `Ulum al Hadits terdiri atas dua kata. Pengertian Ilmu Hadis Riwayah Menurut Ibn al-Akfani.2 Tujuan Khusus Secara khusus makalah ini bertujuan untuk:  Mengetahui Pengertian Ulumul Hadis. sedangkan al Hadits di kalangan Ulama` Hadis berarti “segala sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan.14. yaitu Ilmu Hadis Riwayah (`Ilm al Hadits Riwayah) dan Ilmu Hadis Dirayah (`Ilm al Hadits Dirayah): 2. Menurut Zhafar Ahmad ibn lathif al-`Utsmani al-Tahanawi di dalam Qawa`id fi `Ulum al-Hadits. perbuatan.  Mengetahui Pengertian Ilmu Hadis Riwayah. Secara umum para Ulama` Hadis membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian. yaitu: Ilmu yang membahas tentang pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW. serta periwayatannya. yaitu: Ilmu Hadis yang khusus berhubungan dengan riwayah adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi SAW dan perbuatannya. taqrir (ketetapan atau pengakuan).1 Pengertian Ulumul Hadis Ulumul Hadis adalah istilah Ilmu Hadis di dalam tradisi Ulama` Hadis. sebagaimana yang di kutip oleh Al-Suyuthi.  Mengetahui Pengertian Ilmu Hadis Dirayah. jadi berarti “ilmu-ilmu”.1 a. yaitu `Ulum dan al Hadits. yaitu: .

qira`ah . dan penulisan atau pembukuan hadis Nabi SAW. dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi SAW serta periwayatan. pencatatan. Imam al-Suyuti merupakan uraian dan elaborasi dari definisi diatas. (telah mengabarkan kepada kami si fulan). baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lainnya. Dari ketiga definisi di atas dapat di pahami bahwa Ilmu Hadis Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan. serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau dalam penulisan dan pembukuannya. penulisan dan pembukuannya. dan hukum-hukumnya. seperti sama` (perawi yang mendengar langsung bacaan Hadis dari seorang guru). jenis yang diriwayatkan. dan penguraian lafaz-lafaznya. syarat-syarat. Sedangkan tujuan dan urgensi ilmu ini adalah: pemeliharaan terhadap Hadis Nabi SAW agar tidak lenyap dan sia-sia. 2. syarat-syarat mereka. atau ikhbar. yaitu: Hakikat Riwayat adalah kegiatan periwayatan sunnah (Hadis) dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdits. b. terutama dari segi sasaran kajian dan pokok bahasannya.1. a. Yaitu dalam bentuk penghafalan. seperti perkataannya “akhbarana fulan”. apabila di cermati definisi-definisi yang mereka kemukakan. Menurut ibnu al-Akfani. dan segala sesuaatu yang berhubungan dengannya. Hal tersebut mencakup:  Cara periwayatan Hadis. keadaan para perawi. Syarat-syarat Riwayat yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang di riwayatkan dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadits). Objek kajian Ilmu Hadis Riwayah adalah Hadis Nabi SAW dari segi periwayatannya dan pemeliharaannya. macam-macam.2 Pengertian Ilmu Hadis Dirayah Para ulama memberikan definisi yang bervariasi terhadap Ilmu Hadis Dirayah ini. dan keadaan Rosul SAW serta periwayatan.  Cara pemeliharaan Hadis. (telah menceritakan kepada kami si fulan).Ilmu Hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan. perbuatan. terdapat titik persamaan di antara satu dan yang lainnya. pemeliharaan. yaitu perkataan seorang perawi “haddatsana fulan”. yaitu: Dan ilmu hadis yang khusus tentang Dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat. Akan tertapi. pemeliharaan.

Al-marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan. yaitu: Ilmu Hadis Dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi dari segi di terima atau ditolaknya. dan al-radd (ditolak. washiyyat (mewasiat-kan kepada seseorang koleksi Hadis yang di milikinya). `Ajjaj al-Khatib dengan definisi yang lebih ringkas dan komprehensif. Syarat-syarat mereka yaitu syarat-syarat yang harus di penuhi oleh seorang perawi ketika menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-adda`). karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi). Dengan urian sebagai berikut: Al-rawi atau perawi adalah orang yang meriwayatkan atau menyampaikan Hadis dari satu orang kepada yang lainnya. dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan Hadis. c. Keadaan para perawi maksudnya adalah keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al`adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh). Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat) adalah penulisan Hadis di dalam kitab almusnad. atau munqothi` (periwayatan yang terputus. i`lam (memberi tahu seseorang bahwa Hadis-hadis tertentu adalah koleksinya). al-mu`jam. keadaan marwi adalah segala sesuatu . atau al-ajza` dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun Hadishadis Nabi SAW.(murid membacakan catatan Hadis dari gurunyadi hadapan guru tersebut). Hukum riwayat adalah al-qobul (di terimanya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu). Macam-macam riwayat adalah seprti periwayatan muttashil (periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai kepada perawi yang terakhir). keadaan perawi dari segi diterima atau ditolaknya adalah mengetahui keadaan para perawi dari segi jarh dan ta`dil ketika tahammul dan adda` al-Hadits. kitabah (menuliskan Hadis untuk seseorang). munawalah (menyerahkan suatu Hadis yang tertulis kepada seseorang untuk di riwayatkan). ijazah (memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu hadis dari seorang Ulama` tanpa di bacakan sebelumnya). M. yaitu sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW atau kepada yang lainnya seperti Sahabat atau Tabi`in. dan wajadah (mendapat-kan koleksi tertentu tentang Hadis dari seorang guru). baik di awal. di tengah atau di akhir). dan yang lainnya.

(iv)keselamatannya dari cacat (`illat). Sedangakan pembahasan mengenai matan adalah meliputi segi ke-shahih-an atau kedho`ifan-nya. (ii) dari cacat atau kejanggalan pada maknanya (fasd al-ma`na).2 Cabang-cabang Ulumul Hadis Diantara cabang-cabang besar yang tumbuh dari Ilmu Hadis Riwayah dan Dirayah ialah: a. atau Ushul al-Hadits. karena bertentangan dengan akal dan panca indra. namun mempunyai arti dan tujuan yang sama yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan perawi (sanad) dan marwi (matan) suatu Hadis. dari segi diterima dan di tolaknya. tidak di benarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus. (ii) segi keterpercayaan sanad (tsiqot al-sanad). atau dengan kandungan dan makna Al-Qur`an. yaitu bahwa suatu rangkaian sanad Hadis haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan Hadis tersebut. dan (v) tinggi dan rendahnya suatu sanad. Ilmu Hadis Dirayah inilah yang selanjutnya secara umum dikenal dengan Ulumul Hadis. adanya `illat atau tidak. Objek kajian atau pokok bahasan Ilmu Hadis Dirayah ini. yaitu kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal. tidak diketahui idenatitasnya atau tersamar. Keseluruhan nama-nama diatas. meskipun bervariasi. 2. oleh karenanya. Hal tersebut dapat terlihat melalui kesejalanannya dengan makna dan tujuan yang terkandung di dalam Al-Qur`an. dan yang mardud (yang ditolak). Ilmu Rijal al-Hadis . tersembunyi. (iii) segi keselamatannya dari kejanggalan (syadz). atau keselamatannya: (i) dari kejanggalan redaksi (rakakat alfaz). yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat didalam sanad suatu Hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi Hadisnya). berdasarkan definisi diatas adalah sanad dan matan Hadis. yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu Hadis. atau dengan fakta sejarah. Tujuan dan urgensi Ilmu Hadis Dirayah adalah untuk mengetahui dan menetapkan Hadishadis yang Maqbul (yang dapat diterima sebagai dalil atau untuk di amalkan). dan (iii) dari kata-kata asing (gharib).yang berhubungan dengan ittishal al-sanad (persambungan sanad) atau terputusnya. Pembahasan tentang sanad meliputi: (i) segi persambungan sanad (ittishal al-sanad). Mushthalah al-Hadits.

Ilmu al-Jarh wa al-Ta`dil Yaitu Ilmu yang menerangkan tentang hal cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta`dilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. namun ada kemungkinan dapat diterima dengan syarat.Yaitu ilmu yang membahas para perawi hadits. pelupa. kepada siapa saja mereka memperoleh hadis dan kepada siapa saja mereka menyampaikan Hadis. Orang yang mendapat penilaian seperti ini disebut `adil. negeri asal. Mungkin dengan cara membatasi kemutlakan atau keumumannya dan lainnya. mupun dari angkatan-angkatan sesudahnya. c. meliputi masa kelahiran dan wafat mereka. Misalnya memuttasilkan Hadis yang munqathi`. . Ilmu Fannil Mubhamat Yaitu ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut di dalam matan atau di dalam sanad. terpercaya. dan lain sebagainya. dan hadisnya di nilai lemah (dha`if). kuat hafalan. Hal yang terpenting di dalam ilmu Rijal al-Hadits adalah sejarah kehidupan para tokoh tersebut. Sesuai dengan fungsinya sebagai suber ajaran Islam. Maksudnya al-Ta`dil (menilai adil kepada orang lain) yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sifat baik yang melekat pada periwayat. ada juga yang menyebutnya Ilmu Tarikh al-Ruwat. Misalnya perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih Bukhory diterangkan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al `Asqollany dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari. seperti. Ilmu Mukhtalif al-Hadis Yaitu ilmu yang membahas Hadis-hadis secara lahiriah bertentangan. Hadis yang dibawa oleh periwayat seperti ini ditolak. memarfu`kan Hadis yang mauquf. ada yang menyebut Tarikh al-Ruwat. Maksudnya al-Jarh (cacat) yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan “sifat jelek” yang melekat pada periwayat hadis seperti. dari tabi`in. Ada beberapa istilah untuk menyebut ilmu yang mempelajari persoalan ini. e. negeri mana saja tokoh-tokoh itu mengembara dan dalam jangka berapa lama. Ada yang menyebut Ilmut Tarikh. maka yang diambil adalah hadis shahih. baik dari sahabat. b. dan sebagainya. d. Ilmu `Ilalil Hadits Yaitu ilmu yang membahas tentang sebab-sebab tersembunyi yang dapat merusak keabsahan suatu Hadis. Hadisnya dinilai shahih. sehingga hadis yang di bawanya dapat di terima sebagai dalil agama. Apabila sifat itu dapat dikemukakan maka dikatakan bahwa periwayat tesebut cacat. cermat. yang bisa disebut sebagai ilmu Talfiq al-Hadits. pembohong.

dan yang muncul belakangan dinamakan nasikh.memasukkan suatu Hadis ke Hadis yang lain. karya Khalifah ibn Khayyath al-`Ushfuri (w. karya Abu abdillah ibn Sa`ad Katib al-Waqidi (168-230 H) Thobaqot al-Riwayat. Yang datang dahulu disebut mansukh. i. Ilmu Rijal al-Hadis 1. bahkan mampu berperan amat penting yang dapat melemahkan suatu Hadis.3 Contoh Kitab yang Berhubungan dengan Cabang-cabang Ulumul Hadis. Ilmu yang satu ini menentukan apakah suatu Hadis termasuk Hadis dla`if. Kitab yang disusun secara umum berdasarkan huruf abjad agar mudah menggunakannya. a. seperti Al-Tarikh al-Kabir. f. 240 H) Kitab Tadzkirat al-Huffazh. 746 H/1348 M). Ilmu Mushthalah Ahli Hadits Yaitu ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah yang di pakai oleh ahliahli Hadis. h. Kitab Al-Thabaqot al-Kubra. karya Muhammad ibn Ahmad al-Dzahabi (w. Kitab yang disusun berdasarkan generasi (thabaqot) 2. g. di dalam Ilmu hadis ada Ilmu Asbab wurud al-Hadits. Seperti di dalam Al Qur`an dikenal adalah Ilmu Asbab al-nuzul. . 2. karya Al-Imam Muhammad ibn Isma`il al-Bukhari (194-256 H). Terkadang ada hadis yang apabila tidak di ketahui sebab turunnya. Hukum hadis yang satu menghapus (menasikh) hukum Hadis yang lain (mansukh). Atau ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadis yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum. dan sebagainya. akan menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak di amalkan. Ilmu Gharibul-Hadits Yaitu ilmu yang membahas dan menjelaskan Hadis Rasulullah SAW yang sukar di ketahui dan di pahami orang banyak karena telah berbaur dengan bahasa lisan atau bahasa Arab pasar. sekalipun lahirnya Hadis tersebut seperti luput dari segala illat. Nasikh inilah yang berlaku selanjutnya. Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadis Yaitu ilmu yang membahas Hadis-hadis yang bertentangan dan tidak mungkin di ambil jalan tengah. Ilmu Asbab Wurud al-Hadits (sebab-sebab munculnya Hadis) Yaitu ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menuturkan itu.

seperti: Al-Isti`ab fi Ma`rifat al-Ashab. yang memuat biografi sebanyak 7554 orang sahabat. Ilmu Mukhtalif al-Hadis Kitab Ikhtilaf al-Hadits. 3. 4. Usud al-Ghabah fi Ma`rifat al-Shahabah. Kitab Ta`wil Mukhtalif al-Hadits. Kitab Musykilul Atsar. Kitab yang melengkapi orang-orang kepercayaan dan orang-orang lemah. seperti Kitab Ats Tsiqot. Ilmu al-Jarh wa al-Ta`dil Kitab-kitab yang disusun mengenai Jarh dan Ta`dil. karangan Al-Imam Abu Bakr Muhammad ibn al-Hasan (w. Ilmu Fannil Mubhamat Kitab susunan Al Khatib Al Baghdady. 630 H/1232 M). 463 H/1071 M). Shahih Muslim. karya `Izzuddin ibnul Atsir (w. Kitab yang membicarakan para periwayat enam kitab (Shahih al-Bukhori. karangan Imam al-Syafi`i (150-204 H). karangan Al-Imam Abu Ja`far ibn Muhammad al-Thahawi (239-321 H). d. Sunan al-Turmudzi. Sunan Ibn Majah) antara lain.3. karangan `Abdullah ibn Muslim ibn Qutaibah al-Danuri (213276 H). Kitab yang membahas biografi para sahabat Nabi. yang memuat biografi tidak kurang dari 3500 orang sahabat. c. Kitab Musykil al-Hadits wa Bayanuhu. Al-Kamal fi Asma al-Rijal. karangan Abu Hatim ibn Hibban Al Busty. Kitab yang menerangkan orang-orang yang lemah-lemah saja. 2. Kitab yang menerangkan tingkatan penghafal-penghafal Hadis. karya `Abdul Ghani al-Maqdisi (w. Sunan al-Nasa`I. b. Ilmu `Ilalil Hadits . 600 H/1202 M). Kitab yang menerangkan orang-orang yang dapat di percaya saja. e. karangan Al `Ajaly (261 H) dan kitab Ats Tsiqot. Sunan Abi Daud. ada beberapa macam yaitu: 1. 406 H). 4. seperti Kitab Thobaqot Muhammad ibn Sa`ad Az Zuhry Al Bashory (230 H). yang kemudian kitab tersebut diringkas dan di bersihkan oleh An Nawawy dalam Kitab Al Isyarat ila bayani Asmail Mubhamat. seperti kitab karangan Ibnu Hajar Al `Asqolany dan As Sayuthy. seperti Kitab Adl Dlu`afa karangan Al Bukhary dan Kitab Adl Dlu`afa karangan Ibnul Jauzy (597 H). karya Ibn `Abdil Barr (w.

g. Kitab Qawa`idul Tahdiets.$3B - Ilmu Asbab Wurud al-Hadits Kitab karangan Abu Hafsh al-Akbari (380-456 H). yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi . karangan Zamakhsari. Talkhis Nihayah Ibnal Atsir. i. Kitab Al-Bayan wa al-Ta`rif fi Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif. Kitab Al-Dar al-Natsir.1 KESIMPULAN a. karangan Allamah Jamaluddien Al Qasimy. c. karangan Abu Bakr Muhammad ibn Musa al-Hazimi al-Hamdzani (584 H). Kitab Al-Nihayat fi Ghorib al-Hadits wal-Atsar. Ilmu Hadis Dirayah adalah ilmu yang mempelajari tentang kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi dari segi di terima atau di tolaknya. Ilmu Hadis Riwayah adalah ilmu yang mempelajari tentang tata cara periwayatan. Marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan. Imam Muslim (261 H). - Ilmu Gharibul-Hadits Kitab Al-Fa`iq fi Ghorib al-Hadits. f. karangan asy Syaikh Thahir Al Jaza-iry. . dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi SAW. PENUTUP 3.- Kitab Ilalil Hadits karangan Ibnu al-Madani (234 H). - Ilmu Mushthalah Ahli Hadits Kitab Taujihun Nadhar fi Ushulil Atsar. Ibn Abu Hatim (237 H). Wahbatullah bin Salamah (410 H). Ali bin Umar Daruquthni (375 H). Muhammad bin Abdullah al-Hakim (405 H). h. Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadis Kitab Nasikh wal Mansukh . Muhamad bin Bahr al-Ashbahani (322 H). karangan Ibn Hamzahal Husaini al-Dimasyqi (1054-1120 H). karangan Ahmad bin Ishak ad-Dinari (318 H). dan Ibn al-Jauzi (597 H). Objek kajiannya adalah Hadis Nabi SAW dari segi periwayatan dan pemeliharaannya. Rawi adalah orang yang menyampaikan Hadis dari satu orang kepada yang lainnya. pemeliharaan. - Kitab Al-I`tibar fi al nasikh wa al-Mansukh min al-Atsar. Ulumul Hadis adalah ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadis Nabi SAW. karangan As-Suyuthi. karangan Ibn al-Atsir (606 H). b.

DAFTAR PUSTAKA     Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Yogyakarta 2003 Subhi As-Shalih Dr.SAW atau kepada Sahabat dan Tabi`in. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Ilmu Hadis Dirayah inilah yang selanjutnya disebut dengan Ulumul Hadis. Mutiara Sumber Widya (angota IKAPI) 2001 Pengertian Cabang-cabang Ilmu Hadits A. Semarang 2005 Muh. maka kita harus sesuikan dengan kitab yang membahas tentang informasi tersebut. Prof. Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis. DR. Ilmu Rijallil Hadits . Pengertian Cabang-cabang Ilmu Hadits 1. Tiara Wacana Yogya (anggota IKAPI). Prof. Zuhri. MA. d. Jakarta 2007 Nawir Yuslem. Pustaka Firdaus. Dr.2 SARAN   Untuk mengetahui informasi tentang sebuah Hadis baik dari segi sanad maupun matannya maka perlu di ketahui terlebih dahulu ilmu-ilmu yang mempelajari tentang hal tersebut. Untuk mendapatkan informasi yng sesuai dengan keinginan kita. Pustaka Rizki Putra.          e. Ulumul Hadis. Cabang-cabang Ulumul Hadis diantaranya adalah: Ilmu Rijal al-Hadis Ilmu al-Jarh wa al-Ta`dil Ilmu Fannil Mubhamat Ilmu Mukhtalif al-Hadis Ilmu `Ilalil Hadits Ilmu Gharibul-Hadits Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadis Ilmu Asbab Wurud al-Hadits Ilmu Mushthalah Ahli Hadits Ada banyak Ulama` yang mengarang kitab tentang masing-masing cabang dari cabang-cabang Ulumul Hadis. Sejarah dan pengantar Ilmu Hadits. Dr. 3.

seperti pada keadilan dan kedabitannya. ilmu rijallil hadits ialah: "Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitas mereka sebagai perawi hadits.*3 3. Ilmu Tashhif Wat Tahrif Ilmu tashhif wat tahrif adalah ilmu ilmu yang berusaha menerangkan hadits-haditas yang sudah diubah titik atau syakalnya (mushhaf). Ilmu Ilalil Hadits Kata Ilal adalah bentuk jama dari kata al-illah yang menurut bahasa berarti "al-marrad (penyakit atau sakit). tidak nyata yang dapat merusak hadits. akan tetapi ilmu ini dipandang bagian yang terpenting. 7. akan tetrapi yang kelihatan adalah kebaikannya. menyebut marfu terhadap hadits mauquf. Dari segi bahasa berarti luka atau cacat adalah ilmu yang mempelajari tentang kecacatan para perawi." Adapun at-ta'dil. Sedangkan menurut Endang Soetari ilmu nasikh wal mansukh ialah ilmua yang menerngakan hadits-hadits yang sudah diamasukkan dan menassakhkannya. Ilmu Gharibil Hadits .*2 2. yakni tidak terlihat adanya kecacatan. menurut ulama muhaddisis." 4. yang dari segi bahasa berarti at-tasywiyah (menyamakan). istilah "illlah" berarti sebab yang tersembunyi atau samar-samar yang berakibat tercemarnya hadits." *1 Sedangkan menurut Mudatsir dalam bukunya Ilmu Hadits. dan hal-hal yang seperti itu.Ilmu Rijallil Hadits ialah "Ilmu yang membahas para perawi hadits-hadits. An-naskh menurut istilah menurut pendapat ulama usul ialah "syari" mengangkat (membatalkan) sesuatu hukum syara dengan menggunakan dallil syary yang datang kemudian. dan bentuknya yang dinamai muharraf." 6. Hal ini karena objek kajian hadits pada dasarnya terletak pada dua hal. yaitu pembersih atau penyucian perawi dan ketetapan bahwa ia adil atau dabit. sedangkan menurut istilah berarti lawan dari al-jarh. Ilmu nasikh Wal Mansukh Yang dimaksud ilmua an-nasikh wal mansukh disini ialah terbatas sekitar nasikh dan mansukh pada hadits. memasukkan hadits kedalam hadits lain. yaitu matan dan sanad. yang kemudian menjadi ilmu yang berdiri sendiri. misalnya mengatakan muttasil terhadap hadits yang munqati. Para ahli hadits mendefinisikan al-jarhi dengan: "Kecacatan pada perawi hadits karena sesuatu yang dapat merusak keadilan atau kedabitannya. Ilmu Fannul Mubhamat Yang dimaksud dengan ilmu ini ialah: "Ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut didalam sanad. Imu Jarhi Wat Ta'dil Pada hakikatnya ilmu jahi wat ta'dil merupakan suatu bagian dari ilmu rijallil hadits. "Ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (yang dinamai mushahhaf)." Ilmu ini sangat penting kedudukannya dalam lapangan ilmu hadits." Adapun dalam buku Mudasir: "Ilmu yang membahas sebab-sebab yang tersembunyi yang dapat mencacatkan kesahihan hadits. baik dari sahabat." 5. "Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi. dari tabi'in maupun dari angkatan-angkatan sesudahnya.

Menurut Ibn Salah yang dimaksud dengan gharib al hadits ialah: "ilmu untuk mengetahui dan menerangkan makna yang terdapat pada lafadz-lafadz hadits yang jauh dan sulit dipahami. kitabnya bernama Al Istiab." 10. yang penting diterangkan ialah Ibn Abdil Bar r (463 H). Sesudah itu pada abad kesembilan Hijriah. Di antaranya. Kitab Izuddin diperbaiki oleh Az Dzahaby (747 H) dalam kitab At Tajrid. Sesudah itu bangunlah beberapa ahli lagi. Ibnul Atsir ini adalah saudara dari Majduddin Ibnul Atsir pengarang An Nihayah fi Gharibil Hadits." B. ialah. Ilmu Asbab Wurud Al Hadits Asbab adalah jama dari sabab yang menurut ahli bahasa. Al Bukhary (256 H). Kitab ini telah diringkas oleh As Sayuthy dalam kitab Ainul Ishabah. Ilmu Rijalil Hadits Permulaan lahirnya ilmu hadits ini yaitu disaat para ulama menyusun kitab riwayat ringka para sahabat . Sejarah Cabang-Cabang Ilmu Hadits 1. 9. Ilmu Jarhi wat Ta'dil Menurut keterangan Ibn Ady (365 H) dalam muqadimah kitabnya Al kamil. Ilmu Mushthalah ahli hadits Ilmu mushthalah ahli hadits ialah: "Ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah yang dipakai oleh ahli-ahli hadits). Dalam kitab ini dikumpulkanAl Istiab dengan usdul Ghabah dan ditambah dengna yang tidak terdapat dalam kitab-kitab tersebut. Ilmu Talfiqil Hadits Ilmu talfiqil hadits ialah "Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan antara hadits-hadits yang berlainan lahirnya. para ahli telah membahas keadaan-keadaan para perawi sejak dari zaman sahabat." 11. karena (lafadz-lafadz tersebut) jarang digunakan. Pada permualaan abad ketujuh Hijriah izzuddin Ibn Atsir (630 H) mengumpulkan kitab-kitab yang telah disusun sebelum masanya dalam sebuah kitab besar yang dinamai Usdul Ghabah. Al Bukhary dan Muslim telah menulis juga kitab yang menerangkan nama-nama shahaby yang hanya meriwayatkan suatu hadits saja yang dinamai Wudhdan. 2. asbab diartikan dengan al-habl (tali). Di antara para sahabat yang . Adapun menurut istilah "Segala sesuatu yang mengantar pada tujuan." Menurut Muhammad Hasbi Ash Shiddiqy ilmu asbab wurud al hadits ialah ilmu yang menerangkan sebab-sebab nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya nabi menuturkan itu. kemudian usaha itu dilaksanakan oleh muhammad Ibn Sa'ad (230 H)." 8. bangunlah Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalany menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama Al Ishabah. yang artinya adalah segala sesuatu yang menghubungkan suatu benda dengan benda lainnya. Yaitu yang menurut lisan al-arab berarati saluran. Ilmu Mukhtalif Al-Hadits Ilmu mukhtalif al-hadits ialah: "Ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan atau berlawanan agar pertentangan tersebut dapat dihilangkan atau dikompromikan antara keduanya sebagaimana membahas hadits-hadits yang sulit dipahami isi dan kandungannya dengan menghilangkan kemusyikitan atau kesulitannya serta menjelaskan hakikatnya.

beliau menulis kitabnya yang terkenal. Sesudah berakhir masa tabiin. Ilmu Fannul Mubhamat Di antara yang menyusun kitab ini. 3. yang diusahakan dalam tempo 40 tahun. terkumpullah sebagian besar dari kata-kata yang gharib. Kitab beliau ini sangat baiknya dinamai Kitab Ilalil hadits. yang boleh diterima riwayatnya dan yang ditolak. Sesudah itu bangun pula Abu Bakar Al Ashbahany (581 H). Kitab ini di ikhtisyarkan oleh As Sayuthy (911 H) dalam kitabnya yang . Perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih Bukhary diterangkan dengan selengkapnya oleh ibn Hajar Al Asqalany dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari. Al Khatib Al Baghdady. yang sebenarnya mauquf. Ilmu Gharibil Hadits Menurut sejarah. Ad Daraquthny (375 H) dan Muhammad ibn Abdillah Al Hakim. semisal Abu Harun Al'Abdary (143 H). bergeraklah para ahli memperkatakan keadaan-keadaan perawi.. hingga sampailah kepada ibn Hajar Al Asqalany (852 H). Ubadah ibn Shamit (34 H) dan Anas ibn Malik (94 H). Di dalamnya diterangkan keadaan para perawi. IbnI Abi Hatim (327 H). karangan Abu Ahmad Al Askary (283 H). terdapatlah tiga induk kitab dari segala kitab Ghariebil Hadits. Sesudah itu barulah barulah para ahli menyusun kitab-kitab jarah dan ta'dil. Kitab Al Khatib itu diringkaskan dan dibersihkan oleh An Nawawy dalam kitab Al Isyarat ila bayani asmail Mubhamat. Ilmu Ilalil Hadits Ilmu ini. Sesudah itu datanglah Ibnul Atsier (606 H) lalu menyusun kitabnya An Nihayahb. Kelemahan itu adakala karena mengirsalkan hadits. ilmu yang berpautan dengan kesahihan hadits. Mulai abad kedua barulah banyak orang-orang yang lemah. yaitu kira-kira pada tahun 150 H. Di awal abad ketiga Hijriah berusahalah Abu Ubaid Al Qasim ibn Sallam (224 H) menyusun kitabnya yang terkenal dalam ilmu Gharibil Hadits. Dalam masa mereka itu. Kitab inilah sebesar-besar kitab Ghariebil Hdits yang terdapat dalam masyarakat Islam. adakala karena merafakan hadits. yang mula-mula berusaha dalam bab ini ialah Abu Ubaidah Ma'mar ibn Al Mutsanna (210 H). Dan setelah selesai kitabnya itu. Dan diantara yang menulis kitab ini pula. Kemudian Abu Ubaid Ahmad ibn Al Harawy (40 H) menusun kitabnya dengan mengumpulkan antara Ghariebiil Qur'an dan Ghariebil Hadits. 6. Kitab ini tinggi nilainya. kemudian usaha itu diluaskan lagi oleh Abdul Hasan Ala Maziny (204 H). menyusun kitabnya dengan mengikuti sistem Al Hawary. ialah Yahya ibn Sa'id Al Qaththan (189 H). 4. masih sedikit orang yang dicela. Al Imam Muslim (261 H). ialah kitab Ad Daraquthny (385 H) dan kitab At Tashhif wat tahrif. 5. Di antara ulama yang menulis ilmu ini. dan Abdurrahman ibn Mahdy (198 H). Dan setelah itu tereus berlanjut pada tiap-tiap masa terdapat ulama-ulama yang memperhatikan keadaan perawi. disusun setiap abjad. berusaha pula beberapa ahli sehingga sampai kepada masa Al Khaththaby (378 H). Maka di antara ulama besar yang memberikan perhatian pada urusan ini. ialah: Ibnul Madiny (234 H). Maka dengan terdapat dua kitab itu. menta'dil dan mentajrihkan mereka. Sesudah itu. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadits. melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabatmartabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan hadits. dan adakala karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja. Sesudah itu berusaha pula Az Zumakhsyary menyusun kitabnya yang dinamai Al Faiq.membahas keadaan para perawi hadits ialah Ibnu Abbas (68 H). Ilmu Tashhif wat Tahrif Di antara kitab yang menerangkan ilmu ini.

Ilmu Nasikh wal Mansukh Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab nasikh dan mansukh ini. Ibnu Khutaibah (276 H). An Nawawy (676 H) dalam kitabnya Al Irsyad.dinamai As Durrun Natsier. kitab ini telah diringkaskan oleh Ibnul Abdil Haq (744 H). kitab ini boleh dikatakan hampir lengkap isinya. Ilmu Asbabi Wurudil Hadits Ulama yang mula-mula menyusub kitab ini. Kiranya. Muhammad ibn Bahar Al ashbahany (322 H). dari murid Ahmad (309 H). ialah Nukhbatul Fikar dan syarahnya Nuzhatunnadhar. yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husainy (1120 H). Dan kemudian ditulis pula oleh Ibrahim ibn Muhammad. Ulama-ulama yang datang sesudahnya. 9. kitab ini kemudian diberi komentar oleh Al Biqay (855 H) dalam kitabnya yang dinamai An Nukatul Waiyah. susunan Al Asqalany yang telah disyarahkan lagi oleh bnyak ulama yang datang sesudahnya. ialah Taujihun Nadhar Fi Ushullil Atsar karangan Asy Syaikh Thahir Al Jazairy dan Qawaidul Tahdiets karangan Allamah Jamalluddien Al Qasimy. Ada yang menadhamkannya. Ada ulama yang membantahnya. Ilmu Talfiqil Hadits Di antara ulama yang telah berusaha menyusun ilmu ini. yang dinamai Al I'tibar. Kitab ini diselesaikan pada tahun 768 H dan disayarahkan dengan sebuah kitab yang dinamai Fathul Mughits yang selesai dikerjakan pada tahun 771 H. Yang mula-mula mengusahakannya. 1. Di antara kitab Musthalah yang tinggi nilainya. dalam kitabnya Al Bayan wat Ta'rif yang telah dicetak dalam tahun 1329 H. Ada ulama yang mempertahankan isinya. Di antara yang memukhtasarkannya. 7. Ada yang membantah sedikit-sedikit isinya. dan seudah beberapa uloama lagi menyusunnya. Kitab ini sudah disyarahkan oleh Al ustadz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya. Sesudah itu barulah para ulama meluaskan gelanggang ilmu ini. 8. At Taqrieb ini telah diayarahkan oleh As Sayuthy dalam kitab Tadriebur Rawi. Ilmu Mushthalah Ahli Hadits Ilmu ini yang mula-mula mengusahakannya ialah Abu Muhammad Ar Ramaharmuzy (360 H). datanglah Muhammad ibn Musa Al Hazimy (584 H) menyusun kitabnya. ialah Abu Hafash Umar ibn Muhammad ibn Raja Al Ukbary. Ada yang mensyarahkannya. yang ada kitabnya dalam masyarakat. Ahmad ibn Muhammad An Nahhas (338 H). Di antaranya. Sesudah itu datang Al Hafidz Ibn Shalah (463 H) menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama Muqaddamah ibn Shalah. kitabnya bernama At Tahqiq. Kitab ini mudah diperoleh. boleh dikatakan berpegang kepada kitab-kitabnya. Kemudian di ikhtisharkan lagi mukthasharnya itu kedalam kitab At Taqrieb. Ath Thahawy (321 H) dan Ibnul Jauzy (597 H). Ahmad ibn Ishaq Ad Dienary (318 H). Ada yang mengihktisarkannya. Al Hakim Muhammad ibn Abdillah An Naisabury. Di antara kitab-kitab ringkas yang mengenai ilmu ini. 10. Kitab ini mendapat sambutan hangat dari ulama.Ilmu Rijal al-Hadits . kitab An Nihayah ini mencukupi bagi seseorang didalam mempelajari kata-kata yang sukar dan ganjil yang terdapat dalam matan-matan hadits. ialah: Al Imamusy Syafi'y (204 H). Zainuddin Al Iraqy (805 H) menadhamkan kitab ibnush Shalah dengan memberi beberapa tambahan dalam seribu baris.

Ghalath. tabi‟in dan atba‟ al-Tabi‟in.Jarh wa at-ta‟dil dan ilmu tarikh al.. Endang Soetari AD.Ruwwah .Jarh. Bila seorang rawi yang adil menta‟dilkan seorang rawi yang lain yang belum dikenal keadilanya. disebutkan Ilmu Rijal al. b) Berdasarkan pujian atau pen-tajrih-an dari rawi lain yang adil. tabi‟in dan tabi‟.Ilmu Rijal al-Hadits ialah “Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits dalam kapasitasnya dalam perawi hadits”.Ilmu al. yaitu: a) popualaritas para perawi dikalangan para ahli ilmu bahwa mereka dikenal dengan seorang yang adil.bid‟ah. Karena obyek kajian hadits pada dasarnya ada dua hal. ditemukan adanya dua cabang ilmu hadits lainya yang dicakup oleh ilmu ini. Ulama laian mendefinisikan al.Jarh.Jahalat al. yakni berbeda dengan periwayatan dari rawi yang lebih Tsiqqah . yaitu matan dan sanad. Apabila seorang rawi “ Jarh” ole para ahli sebagai rawi yang cacat maka periwayatannya harus ditolak.M. yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan perawi dan ketetapan. Al.Ta‟dil dalam satu definisi yaitu ilmu yang membahas tentang para perwai hadits dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka. yaitu tidak diketahui identitasnya secara jelas dan lengkap .Ta‟dil secara bahasa berarti at. dan secara bahasa berarti luka. Kecacatan rawi itu bisa ditelusuri melalui perbuatan-perbuatan ynag dialakuaknya. ilmu ini sangat penting kedudukannya dalam dalam lapangan ilmu hadits. Diantaranya akitab yang paling tua yang menguraikan tentang sejarah para perawi Thobaqat demi Thobaqat adalah karya Muhammad Ibn Sa‟ad (W. yakni banyak melakuakn kekeliruan dalam meriwayatkan hadits .mukalaf.Jarh wa at. Ilmu Rijalul Hadits ini lahir bersamasma dengan periwayatan hadits dalam Islam dan mengambil kedudukan khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan sanad. Ilmu ini digunakan untuk menetapkan apakah periwayatan seorang perawi itu bisa diterima atau harus ditolak sama sekali.Hadits adalah ilmu yang membahas tentang hal ihwal dan sejarah para rawi dari kalangan sahabat. yaitu diduga penyandaran (sanad) –nya tidak bersambung Adapun informasi Jarh dan Ta‟dilnya seorang rawi bisa diketahui melalui dua jalan. atau cacat. H. dalam buku ilmu hadits (kajian riwayah dan dirayah ) karangan Prof. 3. DR. atau rawi yang mempunyai aib. Ilmu Tarikh ar.Hadits ialah ilmu yang membahas tentang para perawi dan biografinya dari kalnagn sahabat.Si.Jarh dan at. bila dipuji maka haditsnya bisa diterima Selama syarta-syarat yang lain dipenuhi. seperti pada keadilan dan kedhabitanya.Ta’dil Ilmu al. para ulama muhaditsin mendefinisikan ilmu Rijal al. adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kecacatan para perawi. Para ahli hadits mendefinisikan al. ilmu al. Seang at.Hal. Apabila dilihat lebih lanjut. biasanya dikatagorikan dalam lingkup perbutan: . maka telah dianggap cukup dan rawi bisa menyandang gelar adail dan periwaytanya bisa diterima.Tabi‟in . 230 H) yaitu Thobaqat al-ruwwah dan lain-lain.Jarh dengan: “kecacatan para perawi hadits disebabkan oleh sesuatu yang dapat merusak keadalian atau kedhabitan perawi”.Tasywiyah (menymakan) menurut istilah berarti: “lawan dari al.Ruwwah 2. dengan ungkapan atau lafaz tertentu. bahwa ia adil atau dhabit”. Sebaliknya. cela. yakni melakukan tindakan tercela atau diluar ketentuan Syariah .Da‟wat al-Inqitha‟.

Ada juga yang mendefinisikan dengan: “sesuatu jalan menuju terbentuknya suatu hokum tanpa adanya pengaruh apa pun dalam hokum itu”. Ilmu Hadis Riwayah Menurut bahasa riwayah berasal dari kata rawa-yarwi-riwayatan yang berarti annaql = memindahkan dan penukilan. guru-gurunya. Menurut ahli bahasa diartikan dengan “ al. Sedangkan ilmu hadits riwayah menurut istilah sebagaimana pendapat Dr. menyampaikan pada orang lain dan memindahkan atau membukukan dalam suatu Kitab Hadits. AL. Subhi Asshalih adalah : ” ilmu hadits riwayah adalah ilmu yang mempelajari tentang periwayatan secara teliti dan berhati-hati bagi segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad baik berupa perkataan.Habl” (tali).Ruwwah ialah “ ilmu untuk mengetahui para perwai Hadis yang berkaitan dengan usaha periwayatan mereka terhadap hadits”. atau air yang mengalir” Dalam pengertian yang lebih lua. ketetapan beliau. seperti kelahirannya.Marad (penyakit atau sakit). yang menurut bahasa adalah “al. Sebagai bagian dari ilmu Rijal al. muncul. perbuatan. 107) Menurut Syaikh Manna‟ A-Qhaththan. wafatnya. siapa yang meriwayatakan hadits darinya. tempat tinggal mereka. Sedangkan kata Wurud bisa berarti sampai. Menurut istilah adalah “ segala sesuatu yang mengantarkan pada tujuan”. Ilmu Asbab Wurud al. Dalam menyampaikan dan membukukan Hadits. Faidahnya: menjaga As-Sunnah dan menghindari kesalahan dalam periwayatannya Sementara itu.Suyuthi merumuskan pengertian asbab wurud al. mutlak atau muqayyad. ilmu ini mengkhususkan pembahasanya secara mendalam pada sudut kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan Jadi ilmu tarikh ar.Ilmu tarikh ar. perbuatan beliau. obyek pembahasan ilmu riwayatul hadits: sabda Rasulullah. ialah membicarakan bagaimana cara menerima. Menurut Muhaddisin. saluran. terutama untuk membongkar para perawi 4. dinasak. yang artinya dijelaskan sebagai: “segala yang menghubungkan satu beda dengan benda dengan benda yang lainnya”. Ulumul Hadits…hal.Hadits Kata „ilal adalah bentuk jama dari kata al. . istilah „ilah berarti sebab yang tersembunyi atau samar-samar yang berakibat tercemarnya hadits. persetujuan dan sifat serta segala segala sesuatu yang disandarkan kepada sahabat dan tabiin ” (Subhi Asshalih. 5.„Ilah.ruwah ini merupakan senajata yang ampuh untuk megetahui keadaan rawi yang sebenarnya. Ilmu ‘Ilal al.Hadits. A. hanya dinukilkan dan dituliskan apa adanya. dan sifat-sifat beliau dari segi periwayatannya secara detail dan mendalam. seperti: “ air yang memancar. baik berkaitan dengan arti umum atau khusus. masa. dan mengalir. Akan tetapi yang terlihat adalah kebalikanya yakni tidak terlihat adanya kecacatan. atau waktu mereka mendengar hadits dari gurunya. dan lain-lain.hadits dengan: “sesuatu yang membatasi arti suatu hadits. tempat mereka mengadakan lawatan. obyek Ilmu Hadits Riwayah.Hadits Kata Asbab adalah jam‟ dari sabab. Dengan ilmu ini akan diketahui keadaan dan identitas para perawi.

Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab suatu hadits diperselisihkan oleh para ulama tentang kehujjahannya. dan berkembang sesuai kebutuhan. Terlepas dari itu. hal ini berkaitan dengan matan. yaitu :    Objek Ilmu Hadits Riwayah adalah matan atau isi hadits yang disandarkan kepada Nabi. ilmu hadis riwayah ini sudah ada sejak periode Rasulunah SAW sendiri.baik mengenai matan maupun sanadnya. 1. Jadi jelaslah. Fokus kajian Ilmu Hadits Riwayah adalah Matan Hadits.” 1. Namun tidak mungkin ada matan tanpa disertai Sanad Hadits. seorang imam dan ulama besar di Hedzjaz (Hijaz) dan Syam (Suriah). Ilmu Hadits Riwayah ialah studi hermeneutika atas teks hadits atau informasi tentang ungkapan isi hadits Nabi dari berbagai segi. sanad dan lainnya. atau bahkan sumbernya tidak jelas sama sekali. Perbedaan pemahaman hadits yang dilakukan para sahabat antara tekstual dengan kontekstual melahirkan apa yang disebut dengan “Hadits Riwayah Bil-lafdzi” dan “Hadits Riwayah Bilma‟na.   Ulama yang terkenal dan dipandang sebagai pelopor ilmu hadis riwayah adalah Abu Bakar Muhammad bin Syihab az-Zuhri (51-124 H). Sahabat dan Tabiin. dan pengolahan morfologi hadits disebut Ilmu Hadits Dirayah. yaitu Nabi Muhammad Saw. Dalam sejarah perkembangan hadis. ilmu fiqh dan atau ilmu lainnya. perawi. Dua bidang ilmu itu bergerak terus. memang banyak dipersoalkan. Ilmu Hadits Riwayah mempelajari periwayatan yang mengakumulasikan apa. Pengolahan anatomi hadits disebut Ilmu Hadits Riwayah. HADITS RIWAYAH BIL-LAFDZI . dan Hasyiyah atau Ta‟liqat. yang kesemuanya menjadi boleh atau tidaknya suatu hadits untuk dijadikan hujjah. bersamaan dengan dimulainya periwayatan hadis itu sendiri. Mereka berupaya mendapatkannya dengan menghadiri majelis Rasulullah SAW serta mendengar dan menyimak pesan atau nasihat yang disampaikan Nabi SAW. Kehadiran hadits sebagai sumber pokok ajaran islam. Sedangkan Ilmu Hadits ialah seperangkat kaidah yang mengatur tentang anatomi dan morfologi hadits. Sebab berita yang beredar pada umat Islam bisa jadi bukan hadits. siapa dan dari siapa suatu riwayat. Semua berkaitan dengan ilmu kalam. para sahabat menaruh perhatian yang tinggi terhadap hadis Nabi SAW. melainkan juga ada berita-berita lain yang sumbernya bukan dari Nabi. Kitab Kuning mengulas masalah ini dengan sebutan Syarah Hadits. perbedaan sahabat dalam memahami hadits pun menjadi hal yang penting untuk ditelaah lebih lanjut. dari definisi diatas kita dapat menarik beberapa point . Meskipun demikian. untuk menformatisasikan isi hadits Nabi kepada lokasi atau kepada perkembangan masyarakat. karena perbedaan pemahaman tersebut mengakibatkan periwayatan pun menjadi berbeda. Adapun kegunaan mempelajari ilmu ini adalah untuk menghindari adanya kemungkinan yang salah dari sumbernya. az-Zuhri tercatat sebagai ulama pertama yang menghimpun hadis Nabi SAW atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz atau Khalifah Umar II (memerintah 99 H/717 M-102 H /720 M). Sebagaimana diketahui.

ia berkata: Aku melihat Umar bin Khaththab ra. ???? ???? ???? ???? ???? ???? ????? (Saya melihat Rasulullah saw berbuat) Artinya: Dari Abbas bin Rabi‟ ra. Oleh karenanya para ulama menetapkan hadits yang diterima dengan cara itu menjadi hujjah. dengan tidak ada khilaf. Hal ini dikarenakan para sahabat tidak sama daya ingatannya. karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan. Artinya: Ada seorang wanita datang menghadap Nabi saw. Hadits yang menggunakan lafadz-lafadz di atas memberikan indikasi. ada yang kuat dan ada pula yang lemah. ?????? ???? ???? ???? ???? ???? ????? (Menceritakan kepadaku Rasulullah saw) Artinya: Telah bercerita kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Humaidi bin Abdur Rahman dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang beramadhan dengan iman dan mengharap pahala. Di samping itu kemungkinan masanya sudah lama..Meriwayatkan hadits dengan lafadz adalah meriwayatkan hadits sesuai dengan lafadz yang mereka terima dari Nabi saw dan mereka hafal benar lafadz dari Nabi tersebut. Atau dengan kata lain meriwayatkan dengan lafadz yang masih asli dari Nabi saw. dihapus doasa-dosanya yang telah lalu. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. dan barang siapa dusta atas namaku dengan sengaja. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah saw.” (HR. bahwa para sahabat langsung bertemu dengan Nabi saw dalam meriwayatkan hadits. bersabda: “Sesungguhnya dusta atas namaku itu tidak seperti dusta atas nama orang lain. ?????? ???? ???? ???? ???? ???? ????? (Mengkhabarkan kepadaku Rasulullah saw) 4. 1. Atau dengan kata lain apa yang diucapkan oleh Rasulullah hanya dipahami maksudnya saja. ???? ???? ???? ???? ???? ???? ????? (Saya mendengar Rasulullah saw) Artinya: Dari Al-Mughirah ra. yang bermaksud menyerahkan dirinya (untuk dikawin) kepada beliau.. Hal ini dapat kita lihat pada hadits-hadits yang memakai lafadz-lafadz sebagai berikut: 1. sedangkan laki-laki tersebut tidak memiliki sesuatu untuk dijadikan sebagai maharnya selain dia hafal . Riwayat hadits dengan lafadz ini sebenarnya tidak ada persoalan. Bukhari dan Muslim).” (HR.” 3. Menukil atau meriwayatkan hadits secara makna ini hanya diperbolehkan ketikan hadits-hadits belum terkodifikasi. tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafadz/matan yang lain meskipun maknanya tetap. menciummu. nikahkanlah wanita tersebut kepadaku. Adapun contoh hadits ma‟nawi adalah sebagai berikut: 1. maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka. aku (pun) tak akan menciummu. sehingga yang masih ingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya.. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah. mencium Hajar Aswad dan ia berkata: “Sesungguhnya benar-benar aku tahu bahwa engkau itu sebuah batu yang tidak memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat. Adapun hadits-hadits yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitabkitab tertentu (seperti sekarang). lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafadz atau susunan redaksi mereka sendiri. dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya. Muslim dan lain-lainnya) 2. 2. HADITS RIWAYAH BIL-MA’NA Meriwayatkan hadits dengan makna adalah meriwayatkan hadits dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan.

Ilmu Hadits Dirayah adalah ” ilmu yang mempelajari tentang hakikat periwayatan. keadaan para perawi. Menurut sebagian ulama. Disebut dengan juga ilmu Musthalahul Hadits – undang-undang (kaidah-kaidah) untuk mengetahui hal ihwal sanad. macam-macamnya dan hukum-hukumnya. syarat-syaratnya. cara-cara menerima dan menyampaikan al-Hadits. syarat-syarat mereka. Obyek Ilmu Hadits Riwayah : meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya (sanad dan matannya). yang menjadi obyeknya ialah Rasulullah SAW sendiri dalam kedudukannya sebagai Rasul Allah. bagi para perawi yang tidak ingat lagi lafadz asli yang ia dengar. Tidak diperbolehkan. 1. Maka Nabi saw berkata kepada laki-laki tersebut: Aku nikahkan engkau kepada wanita tersebut dengan mahar (mas kawin) berupa mengajarkan ayat Al-Qur‟an. Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Aku jadikan wanita tersebut milik engkau dengan mahar berupa (mengajarkan) ayat-ayat AlQur‟an”. matan. Menurut imam Assyuthi. Ilmu Hadist Dirayah Ilmu Hadits Dirayah. umpamanya hadits mengenai ilmu dan sebagainya.sebagian ayat-ayat Al-Qur‟an. ahli fiqh dan ushuliyyin. Faedahnya atau tujuan ilmu ini : untuk menetapkan maqbul (dapat diterima) atau mardudnya (tertolaknya) suatu hadits dan selanjutnya untuk diamalkannya yang maqbul dan ditinggalnya yang mardud. menurut bahasa dirayah berasal dari kata dara-yadri-daryan yang berarti pengetahuan. Diperbolehkan. 5. dalam arti pengertian dan maksud hadits itu dapat mencakup dan tidak menyalahi. 2. Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku kawinkan engkau kepada wanita tersebut atas dasar mahar berupa (mengajarkan) ayat-ayat Al-Qur‟an”. 3. Jika hadits itu tidak mengenai masalah ibadah atau yang diibadati. Maka seringkali kita mendengar Ilmu Hadits Dirayah Disebut-sebut sebagai pengetahuan tentang ilmu Hadits atau pengantar ilmu hadits. macam-macam periwayatan. 4. pendapat segolongan ahli hadits. kalau masih ingat maka tidak diperbolehkan menggantinya. 6. umpamanya tentang lafadz tasyahud dan qunut. sifat-sifat rawi dan lain sebagainya. Diperbolehkan. maksud kandungan dan pengertiannya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hadits itu yang terpenting adalah isi. maka diperbolehkan dengan catatan: Hanya pada periode sahabat Bukan hadits yang sudah didewankan atau di bukukanTidak pada lafadz yang diibadati. . dan hal-hal yang berkaitan dengannya”. masalah lafadz tidak jadi persoalan. (Al-Hadits) 1. Diperbolehkan. Dalam satu riwayat disebutkan: “Aku kawinkan engkau kepada wanita tersebut dengan mahar berupa (mengajarkan) ayat-ayat Al-Qur‟an”. B. dengan syarat yang diriwayatkan itu bukan hadits marfu‟. Jadi diperbolehkan mengganti lafadz dengan murodifnya. baik hadits itu marfu‟ atau bukan asal diyakini bahwa hadits itu tidak menyalahi lafadz yang didengar. Secara lebih terperinci dapat dikatakan bahwa meriwayatkan hadits dengan maknanya itu sebagai berikut: 1.

namun ada kemumkinan dapat diterima dengan syarat. Istilah lain yang dipakai oleh ulama ahli hadits terhadap ilmu hadits dirayah adalah ilmu ushul al-hadits. “tiada penyakit menular ” dan sabdanya dalam hadits lain berbunyi. apakah bisa diterima atau ditolak. 1. Ilmu Jarah Wa Al-Ta‟dil Ilmu ini membahas para rawi. Definisi ini lebih pendek dari definisi di atas. Berikut di antara ilmu-ilmu yang bermunculan dari berbagai ragam topik ilmu dirayah. Ilmu hadits dirayah adalah pembahasan masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan yang diriwayahkan. Orang yang pertama di bidang ini adalah al-bukhari (256 H). Berbagai definisi di atas banyak kemiripan. Misalnya sabda rasulullah SAW. dalam bukunya thabaqat. yakni ilmu hadits. macam-macamnya atau hukumhukumnya. Ilmu Mukhtalaf Al-Hadits Iamam Nawawi berkata dalam kitab al-Taqrib. syarat-syarat. definisi paling baik dari berbagai definisi ilmu hadits dirayah adalah pengetahuan tentang kaidah-kaidah yang dapat memperkenalkan keadaankeadaan rawi dan yang diriwayahkan.” Ilmu ini membahas hadits-hadits yang secara lahiriyah bertentangan. Ulama lain berpendapat. 1. meskipun dari berbagai definisi itu ada kemiripan batasab-batasan definisi. macam-macam dan hokum-hukumnya. ilmu hadits dirayah adalah ilmu yang dapat mengetahui hakikat riwayah. 1. ibn sa‟ad (230 H) banyak menjelaskannya. “Larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari singa”. Ilmu Tokoh-Tokoh Hadits Dengan ilmu ini dapat diketahui apakah para rawi layak menjadi perawi atau tidak. umpamanya ada dua hadits yang yang makna lahirnya bertentangan. ilmu yang dapat mengetahui keadaan para rawi. syarat-syarat rawi dan yang diriwayahkannya serta semua yang berkaitan dengan periwayahannya. kemudian dapat diambil jalan tengah. Ibn Akfani berpendapat. Lalu diterapkanlah jalan tengah bahwa sesungguhnya penyakit tersebut tidak . “ini adalah salah satu disiplin ilmu dirayah yang terpentinng. Kedua hadits tersebut sama-sama shahih. Kemudian muncullah beberapa ilmu yang bertalian dengan kajian analisis dan semuanya terangkum dalam satu nama.Ulama hadits berbeda dalam memberikan definisi ilmu hadsit dirayah. Ini adalah buah ilmu tersebut dan merupakan bagian terbesarnya. Jelasnya. Sedangkan definisi lain sebagaimana di sebutkan ibnu hajar. atau salah satunya ada yang di utamakan. Pada mulanya pembahasan yang menyangkut ilmu hadits dirayah sangat beragam. Munculnya berbagai ilmu tersebut diakibatkan banyaknya topik tentang hadits dirayah tersebut dengan tujuan dan metodenya berbeda-beda. ilmu hadits dirayah adalah ilmu undang-undang yang dapat mengetahui keadaan sanad dan matan. sekiranya masalah yang membuat mereka tercela atau bersih dalam menggunakan lafad-lafad tertentu. pada dasarnya semua definisi itu sama yakni pengetahuan tentang rawi dan yang diriwayahkan atau sanad dan matannya baik juga berkaitan dengan pengetahuan tentang syarat-syarat periwayahan.

Akan tetapi allah SWT menjadikan pergaulan orang yang sakit dengan yang sehat sebagai sebab penularan penyakit. 1. Ulama yang terdahulu menyusun kitab tentang ilmu ini adalah abu hasan al-nadru ibn syamil al-mazini. 1. seperti. Sebab tidak mungkin bagi seseorang yang akan membahas tentang hokum syar‟I sementara ia tidak mengenal dan menguasai ilmu tentang nasikh mansukh. 1. yaitu : 1. 1. jarah-ta‟dil. Karena telah berbaur dengan bahasa arab pasar. dan sedangkan faidah dari pengetahuan tentang penikilan adalah pengetahuan tentang nasikh dan mansukh.menular dengan sendirinya. Pengetahuan ilmu tentang nasikh mansukh ini merupakan ilmu yang sangat penting untuk dan wajib dikuasai oleh seorang yang akan mengkaji hokum syariat. Misalnya memuttasilkan hadits yang mungkati‟.” Pendiri Ilmu Hadits Dirayah adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurahman bin Khalad Ramahumuzi (w. sabdanya. 1.yang dating dahulu disebut mansukh (hadits yang dihapus) dan yang datang kemudian disebut nasikh (hadits yang menghapus). karena itu akan mengingattkanmu pada akhirat. Abu Yahya Zakariya Bin Yahya al-Saji (307 H) dan Ibnu al-Jauzi (598 H). memarfu‟kan hadits yang maukuf dan sebagainya. Nasikh adalah yang menghapus atau membatalkan. atau hasan atau dla‟if. bahwa suatu matan hadits dinilai shahih. rukun yang paling penting dalam beriitihad adalah pengetahuan tentang penulilan hadits. rijal al-sanad 2. Ibn Qutaibah (276 H). lalu sekarang berziarahlah. Dari pembahasan dua ulasan itu muncul penilaian. ilmu Nasakh Wa Al-Mansukh Al-Hadits ilmu nasakh wa al-mansukh al-hadits adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang hukumnya tidak dapat dikompromikan antara yang satu dengan yang lain. “Aku pernah melarang ziarah kubur. Kata penilaian seperti itu biasa disebut Mushthalah al-Hadits. Rijal al-Sanad . Karena. Al-hazimi berkata: disiplin ilmu ini (nasikh mansukh) termasul kesempurnaan ijtihad.360 H) Pokok pembahasan ilmu dirayah itu dua. Di antara ulama yang menulis tentang ilmu mukhtalaf al-hadits adalah imam syafi‟I (204 H). Ilmu Ilal Al-Hadits Ilmu ini membahas tetentang sebab-sebab tersembunyinya yang dapat merusak keabsahan suatu hadits. Kadang-kadang nasikh ini di lakukan oleh nabi sendiri. Ilmu Gharib Al-Hadits ilmu ini membahas tentang kesamaran makna lafad hadits. wafat pada tahun 203 H. Dengan demikian menjadi nyata betapa pentingnya ilmu ini posisinya dalam disiplin ilmu hadits.

dan begitulah seterusnya. Tingkatan perawi hadits pertama adalah shahabat Rasulullah Saw.). Ali ibn al-Madini (161-234 H). pekerjaan itu sudah dilakukan oleh pengamal hadits sejak dari zaman Rasulullah. baik karya ulama mutaqaddimin atau mutaakhirin. Jarah ta‟dil adalah sebuah ilmu yang menurut sifat dan tabiatnya adalah berkembang. Tokoh yang pertama kali memperhatikan jarah ta‟dil sebagai ilmu. adalah Ibn Sirin (w. yaitu untaian informasi tentang sosok perawi yang menceritakan matan hadits dari satu rawi kepada rawi yang lain. aqil-baligh. persyaratan perawi hadits adalah muslim. sadar dan beriman (Islam) sampai dia wafat dalam keadaan Islam. (w. selalu membahas jarah ta‟dil. Informasi itu menceritakan setiap rawi. Tetapi . dari daerah mana dia. dan ulama berikutnya. dan Ahmad ibn Hanbal (164-241 H). Syu‟bah. atau website. Semua bisa dikembangan dengan teknologi sekarang. Sedangkan tokoh yang pertama kali menulis kitab jarah-ta‟dil adalah Yahya ibn Ma‟in (168-223 H). dari segi kapan dia lahir dan wafatnya. seperti sebutan : Rawahu al-Bukhari dari Ibn Umar dan sebagainya. Kitab-kitab yang membahas jarah-ta‟dil banyak sekali. baik dlabith imgatan atau dlabit catatan Sedangkan cara penyampaiannya bisa menggunakan pendengaran teks dari guru kepada murid. dengan metoda dan penyajian materi yang berbeda-beda. timbang terima teks dari guru ke murid. 2. seperti konsep dlabith bisa ditambah dengan catatan. Teknik penulisan matan hadits. kapan tahun belajarnya. baik penyajian ulama mutaqaddimin atau ulama mutaakhrin. antara lain ayat 6 Surat al-Hujurat. Dengan kata lain hadits Nabi dinilai shahih atau tidak. Penyajian seperti itu. atau dalam periwatan hadits terdapat illat (cacad) bagi perawi. dan penemuan tulisan guru oleh murid (wijadah). Atas dasar itu. diterima atau ditolak matan haditsnya. Kemudian pemahaman terhadap ayat dan hadits itu dikongkritkan oleh ahli hadits untuk dijadikan sebagai konsep jarah ta‟dil. Kemudian bermunculan kitab-kitab yang menulis jarah ta‟dil. 1. atau sms dan sebagainya. tabi‟ altabi‟in dan murid-muridnya. dan al-imam Malik (w. Kemudian konsep itu diterapkan pada setiap orang yang akan menceritakan hadits Nabi. dan beberapa hadits Nabi Saw. zaman sahabat Nabi. didasarkan pada penilaian itu. ijazah. yaitu seseorang yang pernah bertemu Rasulullah Saw. pada zaman tabi‟in. sampai pada penghimpun hadits. ditentukan oleh unsur itu juga. Dari segi lain. Tetapi gagasan itu baru dinormatifkan sebagai ilmu hadits. Sedangkan penulisan ulama mutaakhirin dalam kitab-kitabnya hanya menyebutkan sahabat Nabi dan nama penghimpun matan hadits itu saja. pengumuman guru. sampai guru perawi hadits yang ditulis oleh penghimpun hadits. wasiat. siapa murid-murid yang berguru kepadanya. kedatangan dia ke seorang guru kapan. dalam keadaan hidup. Jarah ta‟dil pada dasarnya diangkat dari ayat-ayat al-Qur‟an. Semua penyajian seperti itu biasanya ditulis oleh ulama mutaqaddimin dalam kitab karangannya masing-masing. tabi‟in. kesatria (‟adalah) dan kuat ingatan (dlabith). Al-Sya‟bi (w.110 H). dalam keadaan sehat. Sebenarnya. atau bagi matan hadits.160 H). tulisan guru yang terkirimkan. Dari satu segi.. siapa guru-gurunya. klasifikasi tingkat tinggi-rendahnya nilai hadits pun.sering disebut riwayat perawi al-hadits. sanadnya dimulai dari penyebutan sahabat Nabi. murid membaca teks di depan guru.103 H). hampir semua kitab Ulum al-Hadits. seperti tersebut di atas. 179 H. Jarah-ta’dil adalah unsur ilmu hadits yang penting dalam menentukan perawi hadits. atau campur aduk katakatanya (ikhtilath).

2. 3. Dua kelompok itulah merupakan pilar utama dalam bangunan Ilmu Hadits Dirayah. hadits riwayat bi al-makna. tetapi dalam tulisan ini hanya disajikan dua model saja. Nasikh Mansukh fi al-Hadits. Pemilahan rawi dari segi jarah atau ta‟dil berdasarkan jenjang kaidahnya. hadits muamalah. atau mekanisme matan hadits. Selain itu. gagasan. Pemilahan matan hadits. sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh hadits itu. atau maksud yang dibawakan oleh format hadits. hadits hukum. yaitu : 1. seperti hadits akidah. fokus pengembangan jarah ta‟dil tersebar berdasarkan dua pemilahan. Model-model pengolahan itu banyak sekali. Unsur penerapan formatisasi ada lima. Penyusun konsep syarah yang berinisiatip untuk mengembangkan format hadits . 2. Atas dasar itu. sehingga ada rawi yang disepakati jarahnya. jawami‟ al-kalim. untuk menyampaikan pesan formatisasi kepada masyarakat. Semua dikutip untuk dikembangkan. sehingga tidak ada komentar baru. unsur dalil unsur penilaian. hadits kepribadian. Matan Hadits Nabi dan kebudayaan (Format dan formatisasi oleh matan hadits) Format hadits dinilai agama. dan aqwal al-shahabah. hadits sosial. Yaitu unsur alasan ditetapkannya jarah atau ta‟dil kepada seorang rawi.sesudah karya Ibn Hajar al-Asqallani. kitab yang muncul berikutnya hanya mengutip apa adanya. Yaitu pengolahan konsep penerapan hadits Nabi kepada masyarakat. jarah-ta‟dil dapat diterapkan pada konteks yang berbeda-beda. dan sebagainya. berangkat dari unsur rawi (pembawa hadits) dan unsur takhrij (metoda pengeluaran predikat jarah atau ta‟dil pada seorang rawi yang ada dalam sanad). setelah ditafsirkan oleh para ulama dalam bentuk kitab. ada yang disepakati adilnya. Semua itu berangkat dari penilaian mereka terhadap rawi. sedangkan kehidupan masyarakat dinilai budaya. norma. yaitu (1) bentuk-bentuk hadits Nabi meliputi hadits qudsi. Ilmu Hadits Dirayah juga mengolah matan hadits. yaitu : 1. hadits dzikir dan do‟a. Pengembangan jarah ta‟dil berangkat dari dua kelompok pembahasan. dan unsur norma-norma penilaian jarah atau ta‟dil itu sendiri. maka penerapan hadits kepada masyarakat disebut formatisasi. 1. ulama mutawassithin. yaitu matan hadits dan kebudayaan. atau ulama mutasahilin. Alat atau wahana yang digunakan oleh penyusun konsep. Secara rinci. 2. . hadits nabawi bukan qudsi. 1. Penafsiran ulama dalam kitab-kitab itu disebut format hadits Gambarannya adalah sebagai berikut : 1. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk mengolah jarahta‟dil menjadi sebuah ilmu yang berkembang. dari segi penawaran beberapa metoda yang diperlukan oleh Ilmu Hadits Riwayah. sehingga muncul pengkelompokkan ulama pemikir jarah ta‟dil menjadi ulama mutasyaddidin. Matan hadits dan kebudayaan terdiri atas tiga masalah. dan yang paling banyak adalah ualam yang diikhtilafkan penilaian jarah dan ta‟dilnya. Misi format baik verbal atau non-verbal yang memiliki nilai.

Gambaran atau tanggapan yang terjadi pada penerima format setelah melihat formatisasi. atau hadits dengan kasus yang melingkari. Hampir semua kitab Dirayah Hadits membahas tentang nasikh-mansukh. Dua teori itu banyak dibahas oleh kitab-kitab Ulum al-Hadits. Abu Dawud. Tetapi kitab yang lebih lengkap adalah Al-Bayan wa al-Tarif fi Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif karya Ibn Hamzah alDimasyqi (w. Contohnya seperti sabda Rasulullah ”Saya melarang kamu sekalian tentang ziarah ke kuburan. atau kejadian yang melatarbelakangi tampilnya sebuah hadits. Lebih dari itu. Hadits yang datang pertama disebut mansukh. karena itu mengingatkan kamu ke akhirat. atau pada maksud hadits yang dituju. yang dikandung oleh matan hadits. 468 H). atau ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya. Teori ini dikembangkan oleh Ilmu Ushul Fiqh ketika membahas hadits sebagai dalil hukum. Halayak atau komentator yang menerima formatisasi dari penyusun konsep. Nasikh-Mansukh dan Asbab Wurud al-Hadits adalah dua teori Ilmu Hadits Dirayah yang berdekatan sasaranya. 261 H). Tokoh yang pertama kali membahas tentang Asbab Wurud al-Hadits adalah Abu Hafsh al-‟Ukburi (w. 5. 1120 H). Lingkungan itu. Disusul oleh kitab ”Nasikh al-hadits wa mansukhuh” karya Al-Atsram (w. Al-Tirmizi dan al-Nasai. Sistem internal adalah semua sistem nilai yang dibawakan oleh sebuah hadits. Jika nasikh-mansukh dan wurud al-hadits hanya diolah dengan pendekatan tekstualis. Nasikh-Mansukh dalam hadits tidak dapat diketahui tanpa melihat Wurud al-Hadits lebih dahulu. atau yuridis. tologis saja. termasuk struktur yang mendorong munculnya matan hadits. Dua sistem itu adalah sistem internal dan sistem eksternal (maa fi al-hadits dan maa haul al-hadits). Asbab Wurud al-Hadits. Tokoh yang pertama kali menulis Dirayah tentag ini adalah Qatadah ibn Di‟amah (w. do‟a dan sebagainya. dan hadits berikutnya disebut nasikh. 584 H).118 H). akhlak. disusul lagi oleh kitab ”Nasikh al-Hadits wa Mansukhuh” karya Ibn Syahin (w. maka ilmu hadits tidak dapat berkembang. Pembahasan ini sama seperti ungkapan Ilmu Asbab al-Nuzul dalam Ulum alQur‟an. 3. nasihat. seperti filosofis. dan saling menunjang dalam penerapan makna. Sedangkan sistem eksternal terdiri atas unsur-unsur yang ada dalam lingkungan di luar isi matan hadits. Teori ini membahas tentang latarbelakang datangnya sebuah hadits yang diterima oleh seorang rawi (shahabat). dan susah dijadikan istinbath sebagai dalil hukum. Dalam kaitan ini. atau juga sikap. Maka ziarahilah ke kuburan. ketika ada dua hadits yang isinya kelihatan bertentangan. Tetapi kitab yang banyak beredar adalah Al-I‟tibar fi al-Nasikh wa al-Mansukh min alAtsar” karya Abu Bakar al-Hamdzani (w. kerangka rujukan. Nilai itu terlihat ketika hadits itu diberi interpretasi seperti nilai akidah. Muslim. ketika ia diterapkan pada satu makna. sistem internal mencakup juga pola pikir. baik interaksi antara hadits dengan hadits. Dalam istilah lain. Salah satu model pengembangan masalah ini adalah menggunakan pendekatan interdisipliner. atau jawaban Rasulullah yang muncul karena pertanyaan sahabat. 386 H). struktur kognitif.” Riwayat Malik. Teori nasikh-mansukh diterapkan.4. tetapi kitab itu tidak dicetak sampai sekarang. hukum fiqh. pemecahan sebuah hadits yang ditulis oleh seorang . Unsur ini tetap diperlukan untuk melihat perkembangan formatisasi. wurud al-hadits juga banyak membahas persesuaian (munasabat) antara satu matan hadits dengan matan hadits yang lain. 1. Setidaknya ada dua sistem nilai yang diterapkan pada makna hadits yang berinteraksi.

atau para mudallis. Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama. Ini dinamai Musytabah. kitab ini belum membahas masalah-masalah ilmu hadis secara lengkap. pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu rijalil hadis. al-Muhaddis al-Fasil bain ar-Rawi wa al. C. Ilmul Jarhi Wat Takdil Ilmu Jarhi Wat Takdir. karena bagian ini dipandang sebagai yang terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat. 1. tabi‟in. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. Ulama pertama yang membukukan ilmu hadis dirayah adalah Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi (265-360 H) dalam kitabnya.nama yang serupa tulisan dan sebutan. Umpamanya Khalil ibnu Ahmad.wa „iz (Ahli Hadis yang Memisahkan Antara Rawi dan Pemberi Nasihat). lain orangnya. Nama ini banyak orangnya. IImu Rijalil Hadis Ilmu yang membahas tentang para perawi hadits. ” Ilmu Jarhi wat Ta‟dil dibutuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan. Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja. Kemudian muncul al-Hakim an-Naisaburi (w. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah. Cabang-cabang Ilmu Hadist Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. 405 H/1014 M) dengan sebuah kitab yang lebih sistematis. mana informasi yang benar yang datang . Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. Sebagai pemula. maupun dari angkatan sesudahnya. 2. mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu dalam menerima hadis. Ma‟rifah „U1um al-Hadis (Makrifat Ilmu Hadis). Dan ada yang menerangkan nama. Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi penerima hadits dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya. 1. sedang dalam tulisan serupa. Ada yang menerangkan riwayatriwayat umum para perawi-perawi. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan. baik dari sahabat. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya. Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dianggap cacat dan sebabsebab dipandang adil dengan menyebut kata -kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan. Ini dinamai Muttafiq dan Muftariq. karena hadis itu terdiri dari sanad dan matan. Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah ialah: 1. atau para pemuat hadis maudu‟. Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang di dalam ilmu hadits disebut Mu‟talif dan Mukhtalif.perawi pun bisa diterima berdasarkan latarbelakang munculnya pemecahan itu. Akan tetapi. tetapi berlainan keturunan dalam sebutan. Yang dimaksud dengan ilmul jarhi wat takdil ialah: “Ilmu yang menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi. 1.

Ibnu Sirin (110H). Kitab bidang ilmu ini yang terkenal diantaranya “Al Jarhu wat Ta‟dil” karya Abdur Rahman Bin Abi Hatim Ar Razy. Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik. maka yang terkemudian itu. Di antara para ulama yang menulis ilmu ini. dan Anas ibnu Malik (93 H). masih sedikit orang yang dipandang cacat. Jika menurut dugaan penelitinya ada „illat pada hadits tersebut maka dihukuminya sebagai hadits tidak shahih . Alunad ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa ulama lagi yang . diantaranya Ahmad ibnu Ishaq Ad-Dillary (318 H). Di antara para sahabat yang menyebutkan keadaan perawi-perawi hadits ialah Ibnu Abbas (68 H). Jika tak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian. Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H). Menurut Syaikh Manna‟ Al-Qaththan bahwa cara mengetahui „illah hadits adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan hadits dan mencermati perbedaan perawinya dan kedhabithan mereka. telah tumbuh sejak zaman sahabat. Yakni menyambung yang munqati. 1. 4. Di antara tabi‟in ialah Asy Syabi(103 H). Kelemahan itu adakalanya karena meng-irsalkan hadits. Namun jika dilawan oleh hadits yang sederajatnya.Menurut keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab AI-Kamil. Ilmu ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis. 1. dapat merusakkan kesahihan hadis. Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AIHakim. Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab nasih dan mam‟uh ini. dan sehalus-halusnya. bila diketahui. Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak orang-orang yang lemah. Dalam masa mereka itu. para ahli telah menyebutkan keadaankeadaan para perawi sejak zaman sahabat. Ilmun nasil wal mansuh ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang menasihkannya. merafakan yang mauqu memasukkan satu hadits ke dalam hadits yang lain dan yang serupa itu Semuanya ini. Selain itu. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadits melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadits. tetapi dikumpulkan dengan mudah maka hadits itu dinamai Mukhatakiful Hadits. Ibnu Abi Hatim (327 H). tidak nyata. ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H). yang dilakukan oleh orang orang yang ahli dalam ilmu ini.Apabila didapati suatu hadits yang maqbul. adakalanya karena me. ialah Ibnul Madini (23 H).rafa-kan hadits yang sebenarnya mauquf dan adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja. 3. kitab beliau sangat baik dan dinamai Kitab Illial Hadis. Ubadah ibnu Shamit (34 H). agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya). Said Ibnu AI-Musaiyab (94 H). dinamai Nasih dan yang terdahulu dinamai Mansuh. Dengan cara ini akan dapat diketahui apakah hadits itu mu‟tal (ada „illatnya) atau tidak. tidak ada yang memberikan perlawanan maka hadits tersebut dinamai Muhkam.dari Nabi dan mana yang bukan. seperti Abu Harun AI-Abdari (143 H). IImu Illail Hadis Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi. yang dapat mencacatkan hadis.

Disamping itu. Di antara para ulama besar yang telah berusaha menyusun. sehingga . 1. UIama yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari. atau menaqyidkan yang mutlak. Ilmu Talfiqil Hadis Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits-hadits yang isinya berlawanan. 7. 1. Kitabnya bernama At-Tahqiq. ilmu ini ialah AlImamusy Syafii (204 H). Di antara yang menyusun kitab ini. akan menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak diamalkan. yaitu Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H) menyusun kitabnya. Al-Khatib Al Baghdady. Kitab Al Khatib itu diringkas dan dibersihkan oleh An-Nawawy dalam kitab Al-Isyarat Ila Bayani Asmail Mubhamat. Ibnu Qurtaibah (276 H). Zuhri ilmu Asbabi Wurudil Hadits adalah ilmu yang menyingkap sebab-sebab timbulnya hadits. 1. Terkadang. 6. yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H). yang dinamai Al-lktibar. atau di dalam sanad. Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menurunkan itu.hadits Al-Syarif. Ilmu Ghoriebil Hadits Yang dimaksudkan dalam ilmu haddits ini adalah bertujuan menjelaskan suatu hadits yang dalam matannya terdapat lafadz yang pelik. 8. At-Tahawi (321 H) dan ibnu Jauzi (597 H). dari murid Ahmad (309 H). sebagaimana ilmu Ashabin Nuzul menolong kita dalam memahami Al-Quran. ilmu ini mempunyai fungsi lain untuk memahami ajaran islam secara komprehensif. Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis. Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibhu Muhammad. Asbabul Wurud dapat juga membantu kita mengetahui mana yang datang terlebih dahulu di antara dua hadits yang “Pertentangan”.Akbari (380-456H). dan yang sudah dipahami karena jarang dipakai. kitab ini sudah disyarahkan oleh Al-Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya. Abu Hafs Al. Kitab AI-Iktibar itu telah diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H) 1. Karenanya tidak mustahil kalau ada beberapa ulama yang tertarik untuk menulis tema semacam ini. dalam kitabnya AI-Bayan Wat Tarif yang telah dicetak pada tahun 1329 H. ada hadits yang apabila tidak diketahui sebab turunnya. karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadits. 5. Penting diketahui. Perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih bukhari diterangkan dengan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al-Asqallanni dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari. yang lebih dikenal dengan Ibn hamzah Al-Husainy Al-Dimasyqy (1054-1120H) denagn karyanya Al-Bayan Wa Al Ta‟rif Fi Asbab Wurud Al. Menurut Prof Dr. atau dengan memandang banyaknya yang terjadi.menyusunnya.Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang „amm. Ilmu Fannil Mubhammat ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan. Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Kamaluddin.Misalnya.

Ilmu Tawarikhir Ruwah Ilmu tentang hal-ihwal para rawi. hadits. keadaan masa tuanya dan semua yang berkaitan dengan per haditsan. orang yang berguru kepadanya. Kitab yang terkenal dalam ilmu ini diantaranya “Al-Faiqu fi Gharibi‟l Hadits” karya Imam Zamakhsyary 1. 9. 1. tasawuf. sebagaimana halnya membahas hadits hadits yang sukar dipahami atau diambil isinya. 1. Dalam sejarah. Pada masa ini telah hidup ulama besar yang tidak sedikit jumlahnya. untuk dikompromikan. Ilmu Mukhtaliful Hadits Ilmu yang membahas hadits hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan. Kitab yang terkenal dalam ilmu ini diantaranya “Mahasinu‟l Ishthilah” karya Imam Sirajuddin Abu Hafsh „Amar Bin Salar Al-Bulqiny. Ilmu Tawarikhu’l Mutun Ilmu yang menitik beratkan kapan dan dimana atau di waktu apa hadits itu diucapkan atau peebuatan itu dilakukan Rasulullah saw. 1. Ilmu Thabaqotur Ruwah Ilmu yang pembahasannya diarahkan kepada kelompok orang-orang (rawi) yang berserikat dalam suatu alat pengikat yang sama. 11. tanggal wafat. 10. perantauannya. baik di bidang tafsir. untuk menghilangkan kesukarannya dan menjelaskan hakikat-hakikatnya. tanggal lahir. ilmu kalam. sejarah maupun bidang pengetahuan lainnya . puncak kemajuan ini terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M. Kitab bidang ilmu ini yang terkenal diantaranya “Thabaqatur Ruwah” karya Al Hafidz Abu „Amr Khalifah Bin Khayyath Asy Syaibany. 1. LATAR BELAKANG Umat Islam mengalami kemajuan pada zaman klasik (650-1250).ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut. CABANG ILMU HADITS DAN KEGUNAANNYA joko purwanto BAB I PENDAHULUAN A. Ilmu Tashif wat Tahrif Yaitu ilmu yang menerangkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (dinamai mushohaf). 12. tanggap kapan mendengar dari gurunya. kota kampung halamannya. filsafat. 13. Kitab yang terkenal dalam bidang ini diantaranya “Musykilu‟l Hadits wa Bayanuhu” karya Abu Bakr Muhammad Bin Al Hasan (Ibnu Furak) Al Anshary Al Asbihany. Kitab Tawarikhir Ruwah yang terkenal “At-Tarikhu‟l-Kabir” karya Imam Bukhary dan “Tarikh Baghdad” karya Imam Al Khatib Baghdady. dan bentuknya (dinamai muharraf). fiqih. guru-gurunya. Berdasarkan bukti historis ini menggambarkan bahwa periwayatan dan perkembangan pengetahuan hadits berjalan seiiring dengan perkembangan .

„ulum al-hadist terdiri dari 2 kata. banyak ragam macamnya. ketetapan beliau. sebagaimana halnya Al-Qur‟an telah memerintahkan orang-orang beriman menuntut pengetahuan. dari segi kelakuan para perawinya. taqrir. mengenai kekuatan hapalan dan keadilan mereka dan dari segi keadaan sanad. apakah diterima atau ditolak.14) dengan demikian. TUJUAN PEMBAHASAN Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah: 1.pengetahuan lainnya. 1. Menurut Syaikh Manna‟ A-Qhaththan. yakni illmu yang berpautan dengan hadits.” (Mahmud al-thahhan. mengetahui cabang-cabang dan ilmu hadits serta kegunaanya BAB II PEMBAHASAN A. obyek Ilmu Hadits Riwayah. Tatsir Mushthalah al-hadist (Beirut: Dar Alqur‟an al-karim. yaitu ilmu hadits riwayat (riwayah) dan ilmu hadits diroyat (diroyah) . (Arabnya: „ulumul alhadist). CABANG-CABANG ILMU HADITS DAN KEGUNAANNYA Secara garis besar ilmu-ilmu hadits dapat dibagi menjadi dua. ilmu hadits. jadi berarti “ilmu-ilmu”. perbuatan beliau. dan sifat-sifat beliau dari segi periwayatannya secara detail dan mendalam. yaitu „ulum dan Al-hadist. Sebab hadits Nabi. Dengan demikian prespektif keilmuan hadits. atau sifat. gabungan kata „ulumul-hadist mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan Hadits nabi sholallahu „alaihi wasallam”. Tak heran jika saat ini muncul berbagai ilmu hadits serta cabang-cabangnya untuk memahami hadits Nabi. PENGERTIAN ILMU HADITS Ulumul Hadis adalah istilah ilmu hadits di dalam tradisi ulama hadits. Sementara itu. . sedangkan al-hadist di kalangan Ulama Hadits berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan. 1979). RUMUSAN MASALAH Adapun batasan-batasan masalah atau batasan pembahasan makalah ini adalah: 1. tetapi kenyataannya justru tercipta suasana keilmuan pada hadits Nabi SAW. B. justru menyebabkan kemajuan umat Islam Meskipun asbab al-Nuzul dan asbab al –Wurud terbatas pada peristiwa dan pertanyaan yang mendahului nuzul (turun) Al-Qur‟an dan wurud hadits. Ilmu hadits adalah ilmu yang membahas kaidah-kaidah untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan. perkataan. ialah membicarakan bagaimana cara menerima. Nabi Muhammad SAW. Apa saja cabang-cabang ilmu hadits dan apa kegunaan masing-masing cabang-cabang ilmu hadis? C. Ilmu Hadits Riwayah Ilmu hadis riwayah ialah ilmu yang membahas perkembangan hadits kepada Sahiburillah. h. Apa definisi ilmu hadits? 2. B. mengetahui definisi ilmu hadits 2. obyek pembahasan ilmu riwayatul hadits: sabda Rasulullah. bagaimana cara menyampaikan kepada orang lain dan membukukan hadis dalam suatu kitab. Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Faidahnya: menjaga As-Sunnah dan menghindari kesalahan dalam periwayatannya . sehingga As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua dapat dipahami serta diamalkan umat Islam sesuai dengan yang dimaksudkan Rasulullah. Ilmu hadis riwayah ini berkisar pada bagaimana cara-cara penukilan hadis yang dilakukan oleh para ahli hadis. Kata „ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari „ilm.

pada hakekatnya merupakan suatu bagian dari ilmu rijalil hadis. Menurut Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. atau para pemuat hadis maudu‟. tetapi berlainan keturunan dalam sebutan. Dan ada yang menerangkan nama. Di antara para sahabat yang menyebutkan keadaan . Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dianggap cacat dan sebabsebab dipandang adil dengan menyebut kata -kata yang dipakai untuk itu serta martabat perkataan.nama yang serupa tulisan dan sebutan. Yang dimaksud dengan ilmul jarhi wat takdil ialah: Artinya: “Ilmu yang menerangkan tentang catatan-catatan yang dihadapkan pada para perawi dan tentang penakdilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. Ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja. sedang dalam tulisan serupa. Nama ini banyak orangnya. Cabang-cabang besar yang tumbuh dari ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah ialah: a) IImu Rijalil Hadis llmu Rijalil Hadis ialah: Artinya:”Ilmu yang membahas tentang para perawi hadits. atau para mudallis.” Dengan ilmu ini dapatlah kita mengetahui keadaan para perawi penerima hadits dari Rasulullah dan keadaan para perawi yang menerima hadits dari sahabat dan seterusnya.menyampaikan pada orang lain dan memindahkan atau membukukan dalam suatu Kitab Hadits. Ini dinamai Muttafiq dan Muftariq. melainkan juga ada berita-berita lain yang sumbernya bukan dari Nabi. para ahli telah menyebutkan keadaankeadaan para perawi sejak zaman sahabat. Sungguh penting sekali ilmu ini dipelajari dengan seksama. mana informasi yang benar yang datang dari Nabi dan mana yang bukan. Dan ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat. hanya dinukilkan dan dituliskan apa adanya. maupun dari angkatan sesudahnya . karena hadis itu terdiri dari sanad dan matan. mazhab yang dipegang oleh para perawi dan keadaan-keadaan para perawi itu dalam menerima hadis. b) Ilmul Jarhi Wat Takdil Ilmu Jarhi Wat Takdir. baik mengenai matan maupun sanadnya. Menurut keterangan Ibnu Adi (365 H) dalam Muqaddimah kitab AI-Kamil. Ada yang menerangkan nama-nama yang serupa tulisan berlainan sebutan yang di dalam ilmu hadits disebut Mu‟talif dan Mukhtalif. telah tumbuh sejak zaman sahabat. Ini dinamai Musytabah. Ada yang menerangkan riwayatriwayat umum para perawi-perawi. Dan ada yang menerangkan nama-nama perawi yang sama namanya. agar orang tidak terpedaya dengan riwayat-riwayatnya). Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya. tabi‟in. Maka mengetahui keadaan para perawi yang menjadi sanad merupakan separuh dari pengetahuan. Umpamanya Khalil ibnu Ahmad. Mencacat para perawi (yakni menerangkan keadaannya yang tidak baik. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah. Sebab berita yang beredar pada umat Islam bisa jadi bukan hadits. Akan tetapi. Adapun kegunaan mempelajari ilmu ini adalah untuk menghindari adanya kemungkinan yang salah dari sumbernya. ” Ilmu Jarhi wat Ta‟dil dibutuhkan oleh para ulama hadits karena dengan ilmu ini akan dapat dipisahkan. yaitu Nabi Muhammad Saw. Dalam menyampaikan dan membukukan Hadits. baik dari sahabat. Seumpama Muhammad ibnu Aqil dan Muhammad ibnu Uqail. atau bahkan sumbernya tidak jelas sama sekali. karena bagian ini dipandang sebagai yang terpenting maka ilmu ini dijadikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Di dalam ilmu ini diterangkan tarikh ringkas dari riwayat hidup para perawi. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja. lain orangnya.

Kitab AI-Iktibar itu telah diringkaskan oleh Ibnu Abdil Haq (744 H) e) Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis Ilmu Asbabi Wuruddil Hadis. adakalanya karena me. kitab beliau sangat baik dan dinamai Kitab Illial Hadis. Jika tak mungkin dikumpul dan diketahui mana yang terkemudian.” Menurut Prof Dr. ” Apabila didapati suatu hadits yang maqbul. ialah: Artinya: “ilmu yang menerangkan hadis-hadis yang sudah dimansuhkan dan yang menasihkannya. Yakni menyambung yang munqati. yang dapat mencacatkan hadis. dinamai Nasih dan yang terdahulu dinamai Mansuh. Alunad ibnu Muhaminad An-Nah-has (338 H) Dan sesudah itu terdapat beberapa ulama lagi yang menyusunnya. seperti Abu Harun AI-Abdari (143 H). maka yang terkemudian itu. Di antara tabi‟in ialah Asy Syabi(103 H). dan Anas ibnu Malik (93 H). yaitu Muhammad ibnu Musa Al-Hazimi (584 H) menyusun kitabnya.perawi-perawi hadits ialah Ibnu Abbas (68 H). Ad-Daruqutni (357 H) dan Muhammad ibnu Abdillah AIHakim. Muhammad ibnu Bahar AI-Asbahani (322 H). Dengan cara ini akan dapat diketahui apakah hadits itu mu‟tal (ada „illatnya) atau tidak. ulama yang menulis kitab ini adalah AI-lmam Muslim (261 H). Ilmu ini merupakan semulia-mulia ilmu yang berpautan dengan hadis. tidak nyata. Ibnu Abi Hatim (327 H). c) IImu Illail Hadis Ilmu IllaIl Hadis. Ibnu Sirin (110H). ialah Ibnul Madini (23 H). bila diketahui. Said Ibnu AI-Musaiyab (94 H). Mulai abad kedua Hijrah baru ditemukan banyak orang-orang yang lemah. Ubadah ibnu Shamit (34 H).rafa-kan hadits yang sebenarnya mauquf dan adakalanya karena beberapa kesalahan yang tidak disengaja. yang dinamai Al-lktibar. Banyak para ahli yang menyusun kitab-kitab nasih dan mam‟uh ini. Dalam masa mereka itu. ialah: Artinya: “Ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi yang menurunkan sabdanya dan masamasanya Nabi menurunkan itu. Namun jika dilawan oleh hadits yang sederajatnya. yang dilakukan oleh orang orang yang ahli dalam ilmu ini. Tak dapat diketahui penyakit-penyakit hadits melainkan oleh ulama yang mempunyai pengetahuan yang sempurna tentang martabat-martabat perawi dan mempunyai malakah yang kuat terhadap sanad dan matan-matan hadits. diantaranya Ahmad ibnu Ishaq Ad-Dillary (318 H). dan sehalus-halusnya. ialah: Artinya: Ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi. tetapi dikumpulkan dengan mudah maka hadits itu dinamai Mukhatakiful Hadits. Selain itu. Jika menurut dugaan penelitinya ada „illat pada hadits tersebut maka dihukuminya sebagai hadits tidak shahih . tidak ada yang memberikan perlawanan maka hadits tersebut dinamai Muhkam. Kelemahan itu adakalanya karena meng-irsalkan hadits. merafakan yang mauqu memasukkan satu hadits ke dalam hadits yang lain dan yang serupa itu Semuanya ini. d) Ilmun nasil wal mansuh Ilmun nasih wal Mansuh. masih sedikit orang yang dipandang cacat. Zuhri ilmu Asbabi Wurudil Hadits adalah ilmu yang menyingkap sebab-sebab . Menurut Syaikh Manna‟ Al-Qaththan bahwa cara mengetahui „illah hadits adalah dengan mengumpulkan beberapa jalan hadits dan mencermati perbedaan perawinya dan kedhabithan mereka. dapat merusakkan kesahihan hadis. Di antara para ulama yang menulis ilmu ini.

i) Ilmu Tashif wat Tahrif Yaitu ilmu yang menerangkan tentang hadits-hadits yang sudah diubah titiknya (dinamai mushohaf). karena ilmu itu menolong kita dalam memahami hadits. Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Kamaluddin. Ibnu Qurtaibah (276 H). Di antara yang menyusun kitab ini. dan yang sudah dipahami karena jarang dipakai. Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadis. dalam kitabnya AI-Bayan Wat Tarif yang telah dicetak pada tahun 1329 H f) Ilmu Talfiqil Hadis Ilmu Talfiqil Hadis.Misalnya. Menurut kata sebagian ulama Tahqiq. Karenanya tidak mustahil kalau ada beberapa ulama yang tertarik untuk menulis tema semacam ini. Disamping itu. akan menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak diamalkan. putus dan bersambungnya. Abu Hafs Al. ialah: Artinya: “Ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan hadits-hadits yang isinya berlawanan. At-Tahawi (321 H) dan ibnu Jauzi (597 H). dari murid Ahmad (309 H). dan bentuknya (dinamai muharraf). atau Ilmu Ushulur Riwayah dan disebut juga dengan Ilmu Musthalah Hadits. 2. Kitabnya bernama At-Tahqiq. Asbabul Wurud dapat juga membantu kita mengetahui mana yang datang terlebih dahulu di antara dua hadits yang “Pertentangan”.hadits Al-Syarif. Al-Khatib Al Baghdady. dan dari segi keadaan sanad. sehingga ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut. atau di dalam sanad. memberikan definisi . mengenai kekuatan hafalan dan keadilan mereka. sebagaimana ilmu Ashabin Nuzul menolong kita dalam memahami Al-Quran.timbulnya hadits.” Cara mengumpulkannya adakalanya dengan menakhsiskan yang „amm. Kitab Al Khatib itu diringkas dan dibersihkan oleh An-Nawawy dalam kitab Al-Isyarat Ila Bayani Asmail Mubhamat. Terkadang.Akbari (380-456H). Perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih bukhari diterangkan dengan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al-Asqallanni dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari. kitab ini sudah disyarahkan oleh Al-Ustaz Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilainya. Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim ibhu Muhammad. ilmu ini mempunyai fungsi lain untuk memahami ajaran islam secara komprehensif. atau menaqyidkan yang mutlak. Penting diketahui. h) Ilmu Ghoriebil Hadits Yang dimaksudkan dalam ilmu haddits ini adalah bertujuan menjelaskan suatu hadits yang dalam matannya terdapat lafadz yang pelik. Muhammad Abu Zahwu dalam kitabnya Al-Haditsu wal Muhadditsun. junjungan kita Muhammad SAW dari sikap perawinya. ada hadits yang apabila tidak diketahui sebab turunnya. dan yang sepertinya. yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah Al Husaini (1120 H). ilmu ini ialah AlImamusy Syafii (204 H). Ilmu Hadits Dirayah Ilmu Dirayatul Hadits. Di antara para ulama besar yang telah berusaha menyusun. g) Ilmu Fannil Mubhammat Ilmu fannil Mubhamat adalah ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut dalam matan. UIama yang mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyarakat iaIah Abu Hafas ibnu Umar Muhammad ibnu Raja Al-Ukbari. Ilmu Dirayatul Hadits adalah ilmu yang membahas cara kelakuan persambungan hadits kepada Shahibur Risalah. atau dengan memandang banyaknya yang terjadi. yang lebih dikenal dengan Ibn hamzah Al-Husainy Al-Dimasyqy (1054-1120H) denagn karyanya Al-Bayan Wa Al Ta‟rif Fi Asbab Wurud Al.

macam-macamnya. Dalam penjelasannya. Bandung: Pustaka Setia Anwar. 2005. bagaimana mereka menerima dan menyampaikan haditsnya serta sanadnya bersambung atau tidak. Hal-hal yang berhubungan dengan itu. apakah dengan jalan mendengar langsung atau dengan jalan ijazah. Muh. d. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar Ash-Shiddieqy. B. Ilmu Mushthalah Hadits. atau lainnya. 2005. Tengku Muhammad Hasbi. hakikat periwayatan adalah menyampaikan berita dan menyandarkannya kepada orang yang menjadi sumber berita itu. Surabaya: Al-Ikhlas Al-Khaththan. ialah istilah-istilah yang dipakai oleh ahli-ahli hadits. dengan demikian kita dapat mengetahui sekilas tentang istilah tersebut. g. Dengan begitu pembahasan tentang objek kajian dikelompokkan di masingmasing cabang tersebut. ialah apakah yang diriwayatkannya itu berupa hadits Nabi. atsar atau yang lain. 1998.Semarang: PT Pustaka Rizki Putra . Pengantar Ilmu Hadits. dan keadaan perawiperawinya dan syarat-syaratnya. hukum-hukumnya. baik mengenai pembahasan maupun hasil pemaparan dapat dikaji lebih lanjut untuk mengembangkan tentang objek pengkajian. Hukum-hukumnya. Dalam ilmu hadis terdapat beberapa cabang yang digunakan untuk membedakan objek pembahasan diantara masing-masing cabang tersebut kemudian dari masing-masing cabang tersebut terdapat cabang objek pembahasan yang lebih khusus. f. apakah sanadnya itu bersambung-sambung atau putus dan sebagainya. BAB III PENUTUP A. macam-macam yang diriwayatkan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu.Ilmu Ushulur Riwayah atau Ilmu Riwayatul Hadits adalah ilmu yang membahas tentang hakikat periwayatan. artinya diterima atau ditolaknya apa yang diriwayatkannya itu. Muhammad-Mudzakir. SIMPULAN Dalam pengertian ilmu hadits dapat kita ketahui dari asal kata yang membentuk istilah tersebut. yang masih belum terdapat dalam makalah DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Keadaan perawi dan syarat-syaratnya. b. Syarat-syarat periwayatan adalah syarat-syarat perawi di dalam menerima hal-hal yang diriwayatkan oleh gurunya. diteliti tentang keadilan dan kecacatannya. SARAN Dari seluruh isi makalah. Adapun obyek Ilmu Hadits Dirayah ialah meneliti kelakuan para rawi dan keadaan marwinya (sanad dan matannya). Macam-macam periwayatan. yaitu adil tidaknya dan syarat-syarat menjadi perawi baik tatkala menerima hadits maupun menyampaikan hadits. Sedang dari aspek matannya diteliti tentang kejanggalan atau tidaknya. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits . Masing-masing cabang tersebut mempunyai istilah tersendiri yang mendeskripsikan objek bahasan tertentu. beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan: a. Macam-macam yang diriwayatkan. Ulumul Hadits. Syaikh Manna‟. Dapat pula membuat perbandingan mengenai objek pembahasan tersebut bagi siapapun yang berkeinginan mengembangkan dan mencari lebih banyak penjelasan mengenai pengertian ilmu hadis. Dari aspek sanadnya. syarat-syaratnya. c. e. 1981. sehubungan dengan adanya nash-nash lain yang berkaitan dengannya.

1996. Hadis-hadis Sekte. 2005. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya . Hadits Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Sa‟adullah.Assa‟idi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Zuhri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful