P. 1
Konstitusi HmI

Konstitusi HmI

|Views: 242|Likes:
Published by Andi Tri Sutrisno
hmi
hmi

More info:

Published by: Andi Tri Sutrisno on Sep 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2014

pdf

text

original

i

Konstitusi HMI
Konstitusi HMI
Anggaran Dasar
Anggaran Rumah Tangga
Pedoman Struktur
Pedoman Kesekretariatan
Pedoma Kerja Nasional
konstitusi.indd 1 25/07/2009 22:36:11
ii
Konstitusi HMI
Konstitusi
Himpunan Mahasiswa Islam
Design dan Tata Letak : she_nichi
Penerbit : Universal Press
(Kornas LAPMI Divisi Penerbitan)
Isi diluar tanggungjawab penerbit
Cetakan Pertama September 2009
Dipersilahkan mereproduksi sebagian atau seluruh isi buku ini, dalam bentuk
apa pun atau dengan cara apa pun, serta memperjualbelikannya tanpa izin
tertulis dari penerbit
© HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG
konstitusi.indd 2 25/07/2009 22:36:11
iii
Konstitusi HMI
Anggaran Dasar 1
Anggaran Rumah Tangga 7
Pedoman Struktur 27
Pedoman Kesekretariatan 65
Pedoman Kerja Nasional 95
Daftar Isi
konstitusi.indd 3 25/07/2009 22:36:11
iv
Konstitusi HMI
konstitusi.indd 4 25/07/2009 22:36:11
1
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Dasar
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
1
ANGGARAN DASAR
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Bismillahirromanirrahiim
MUQODDIMAH
Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah mewahyukan Islam sebagai
ajaran yang haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia berperikehidupan sesuai
dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi, dengan kewajiban mengabdikan diri
semata-mata kehadirat-Nya.
Menurut iradat Allah Subhanahu Wata’ala, kehidupan yang sesuai dengan fitrah
manusia ialah Islam, yakni paduan utuh antara aspek duniawi dan ukhrawi, individu
dan masyarakat, serta iman, ilmu dan amal dalam mencapai kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat.
Sesuai dengan fungsi penciptaan manusia, umat Islam berkewajiban mengemban
amanah kekhalifahannya guna mewujudkan masyarakat yang diridhoi Allah Subhanhu
Wata’ala.
Mahasiswa Islam sebagai bagian dari umat Islam yang menyadari akan hak dan
kewajibannya, dituntut peran serta dan tanggung jawabnya dalam mengembangkan
dakwah Islamiyah untuk mewujudkan nlai-nilai aqidah, kemanusiaan yang berdasarkan
pada fitrah, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariah. Umat
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam musyawarah, serta tegaknya nilai-nilai
kebenaran, keadilan dan kesejahteraan bagi umat manusia dalam rangka mengabdi
kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Meyakini bahwa tujuan itu dapat dicapai dengan hidayah dan taufiq Allah
Subhanahu Wata’ala, serta usaha-usaha yang teratur, terencana dan penuh hikmah
dengan mengharap ridho Allah, kami mahasiswa Islam menghimpun diri dalam satuan
organisasi yang tergerakkan dengan Pedoman Anggaran Dasar sebagai berikut:
konstitusi.indd 1 25/07/2009 22:36:11
2
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Dasar
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
2
BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT
Pasal 1 : Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam di singkat HMI.
Pasal 2 : HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan
dengan tanggal 5 Februari 1947, untuk waktu yang tidak ditentukan.
BAB II
ASAS TUJUAN, USAHA DAN SIFAT
Pasal 3 : HMI Berazaskan Islam.
Pasal 4 : Tujuan yang ingin dicapai adalah terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan
Ulul Albab yang turut bertanggungjawab atas terwujudnya tatanan
masyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala.
Pasal 5 : Pencapaian tujuan dilakukan dengan usaha organisasi berupa:
a. Membina mahasiswa Islam untuk menuju tercapainya Insan Mu’abbid,
Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid;
b. Mengembangkan potensi kreatif terhadap berbagai aspek kehidupan;
c. Mengambil peran aktif dan mewarnai dunia kemahasiswaan, perguruan
tinggi dan kemasyarakatan dengan inisiatif, partisipasi yang konstruktif,
kreatif sehingga tercapainya nuansa yang Islami;
d. Memajukan kehidupan umat Islam dan masyarakat pada umumnya sebagai
implementasi rahmatan lil’alamin;
e. Membangun kerjasama dengan organisasi Islam lainnya dan organisasi
lainnya yang berlandaskan pada nilai kemanusiaan, kebenaran dan
keadilan;
f. Usaha-usaha lain yang sesuai dengan asas organisasi dan berguna untuk
mencapai tujuan.
Pasal 6 : Himpunan Mahasiswa Islam bersifat Independen.
konstitusi.indd 2 25/07/2009 22:36:11
3
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Dasar
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
3
BAB III
STATUS DAN IDENTITAS
Pasal 7 : Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi kemahasiswaan.
Pasal 8 : Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi perkaderan dan perjuangan.
BAB IV
KEANGGOTAAN
Pasal 9 : Anggota HMI terdiri atas Anggota Muda, Anggota Biasa dan Anggota
Kehormatan.
BAB V
STRUKTUR ORGANISASI
Pasal 10 : HMI berkedudukan di tempat Pengurus Besar.
Pasal 11 : Kekuasaan dipegang oleh Kongres ditingkat pusat, Konferensi di tingkat
cabang dan Rapat Anggota Komisariat ditingkat komisariat;
Pasal 12 : Pimpinan terdiri atas Pengurus Besar, Pengurus Cabang, dan Pengurus
Komisariat;
Pasal 13 : Lembaga Koordinasi merupakan lembaga yang mengkoordinir struktur
pimpinan dalam memastikan akan jalannya kebijakan Pengurus Besar atau
perogram kerja Pengurus Cabang di lingkungan wilayahnya;
Pasal 14 : Lembaga Khusus merupakan lembaga yang menjalankan tugas khusus
organisasi;
Pasal 15 : Lembaga Kekaryaan dibentuk untuk meningkatkan dan mengembangkan
keahlian dan bakat para anggota di bidang tertentu;
Pasal 16 : Di tingkat Pengurus Besar dibentuk Majelis Syuro Organisasi dan apabila
dipandang perlu dapat dibentuk di tingkat cabang.;
konstitusi.indd 3 25/07/2009 22:36:11
4
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Dasar
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
4
BAB VI
KESEKRETARIATAN
Pasal 17 : Keberadaan organisasi disimbolkan dalam wujud kesekretariatan yang
dilengkapi dengan alat organisasi lainnya berupa sistem administrasi dan
sistem keprotokoleran;
BAB VII
KEUANGAN
Pasal 18 : Sumber-sumber keuangan HMI diperoleh dari:
a. Uang pangkal, iuran, infaq, dan/atau sumbangan anggota;
b. Usaha-usaha yang sah, halal dan tidak mengikat;
BAB VIII
ATRIBUT ORGANISASI
Pasal 19 : Atribut-atribut Organisasi ditetapkan sebagai simbol-simbol organisasi yang
digunakan dalam aktifitas organisasi.
BAB IX
ATURAN TAMBAHAN
Pasal 20 : Amandemen Anggaran Dasar hanya dilakukan di Kongres melalui prosedur :
a. Pengajuan amandemen oleh struktur pimpinan HMI ditujukan kepada
MSO.
b. Usulan amandemen oleh MSO Pusat diajukan ke Kongres
konstitusi.indd 4 25/07/2009 22:36:11
5
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Dasar
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
5
Pasal 21 : a. Dalam Muqadimah alinea 1 dan 2 menjiwai pasal 3, alinea 3 menjiwai
pasal 4 dan 8, alinea 4 menjiwai pasal 6 dan 7 dan alinea 5 menjiwai
pasal-pasal selain yang tercantum diatas.
b. Penjelasan Pasal 3, 4, 5 dan 6 tentang azas, tujuan, usaha dan sifat
disebut Khittoh perjuangan.
c. Penjelasan pasal 7 dan 8 tentang identitas dan status terdapat dalam
pedoman perkaderan (PP).
d. Penjelasan Anggaran Dasar tentang hal-hal diluar huruf a, b dan c diatas
dijelaskan dalam Anggaran Rumah Tangga (ART).
Pasal 22 : Pengesahan ditetapkan pada Kongres ke-3 di Jakarta pada tanggal 4
September 1953, yang diperbaharui pada Kongres ke-4 di Bandung, pada
tanggal 14 Oktober 1955, Kongres ke-5 di Medan pada tanggal 31 Desember
1957, Kongres ke-6 di Makassar (Ujung pandang) pada tanggal 20 Juli 1960,
Kongres ke-7 di Jakarta pada tanggal 14 September 1963, Kongres ke-8 di
Solo (Surakarta) pada tanggal 17 September 1966, Kongres ke-9 di Malang
pada tanggal 10 Mei 1969, Kongres ke-10 di Palembang pada tanggal 10
Oktober 1971, Kongres ke-11 di Bogor pada tanggal 12 Mei 1974, Kongres
ke-12 di Semarang pada tanggal 16 Oktober 1976, Kongres ke-13 di Ujung
pandang pada tanggal 12 Februari 1979, Kongres ke-14 di Bandung pada
tanggal 30 April 1981, Kongres ke-15 di Medan pada tanggal 26 Mei 1983,
Kongres ke-16 di Yogyakarta pada tahun 1986, Kongres ke-17 di Yogyakarta
pada tanggal 5 Juli 1988, Kongres ke-18 di Bogor pada tanggal 10 Oktober
1990, Kongres ke-19 di Semarang pada tanggal 24 Desember 1992, Kongres
ke-20 di Purwokerto pada tanggal 27 April 1995, Kongres ke-21 di
Yogyakarta pada tanggal 28 Juli 1997, kongres ke-22 di Jakarta pada
tanggal 26 Agustus 1999, kongres ke-23 di Makassar tanggal 25 Juli 2001,
kongres ke-24 di Semarang tanggal 11 September 2003, kongres ke-25 di
Palu tanggal 17 Agustus 2005, kongres ke-26 di Depok tanggal 16 Agustus
2007 dan dikukuhkan kembali di Kongres ke-27 di Yogyakarta pada tanggal 9
Juni 2009.
Billahit taufiq walhidayah,
Palu tanggal 17 Agustus 2005 kongres ke-26 di Jakarta Selatan tanggal 16 Agustus
konstitusi.indd 5 25/07/2009 22:36:11
6
Konstitusi HMI
konstitusi.indd 6 25/07/2009 22:36:11
7
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
1
ANGGARAN RUMAH TANGGA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Bismillahirrohmanirrahiim
BAB I
KEANGGOTAAN
BAGIAN I : ANGGOTA
Pasal 1 : Anggota Muda ialah mahasiswa Islam yang telah memenuhi syarat
keanggotaan.
Pasal 2 : Anggota Biasa ialah anggota muda yang telah memenuhi syarat untuk
menjadi anggota biasa dan atau mahasiswa Islam yang telah lulus Latihan
Kader I yang dianggap sah oleh Pengurus Cabang.
Pasal 3 : Anggota Kehormatan ialah orang yang dianggap telah berjasa kepada HMI
yang ditetapkan oleh Pengurus Cabang atau Pengurus Besar.
BAGIAN II : TATA CARA KEANGGOTAAN
Pasal 4 : a. Setiap mahasiswa Islam yang ingin menjadi anggota harus menyatakan
persetujuannya terhadap Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga,
Khittah Perjuangan serta Pedoman-pedoman lainnya;
b. Bila telah memenuhi apa yang tersebut dalam ayat a, serta pernah
mengikuti aktivitas HMI dan memenuhi syarat keanggotaan, maka yang
bersangkutan dinyatakan sebagai Anggota Muda HMI;
c. Anggota muda yang telah memenuhi syarat untuk menjadi anggota biasa
dan atau mahasiswa Islam yang telah lulus Latihan Kader I berhak
menjadi Anggota Biasa;
d. Syarat untuk menjadi anggota kehormatan ditentukan oleh Pengurus
Cabang berdasarkan aturan-aturan HMI setelah melihat dedikasi,
aktivitas, kontinuitas, dan komitmen perjuangannya terhadap HMI.
konstitusi.indd 7 25/07/2009 22:36:11
8
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
2
BAGIAN III : HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA
Pasal 5 : Hak Anggota
a. Anggota Muda berhak mengikuti LK I dan aktivitas-aktivitas lainnya yang
diselenggarakan oleh organisasi;
b. Anggota Muda yang telah memenuhi syarat untuk menjadi Anggota Biasa
dan atau mahasiswa Islam yang telah lulus LK I berhak menjadi Angota
Biasa;
c. Anggota Muda berhak mengikuti kegiatan-kegiatan berdasarkan ketentuan
pimpinan HMI dan berhak mengeluarkan pendapat atau mengajukan usul,
namun tidak mempunyai hak dipilih dan memilih;
d. Anggota Biasa mempunyai hak mengeluarkan pendapat, mengajukan usul
atau pertanyaan baik dengan lisan maupun tulisan kepada pengurus, serta
mempunyai hak dipilih dan memilih;
e. Anggota Kehormatan dapat mengajukan saran atau usul, serta
pertanyaan-pertanyaan kepada Pengurus HMI.
Pasal 6 : Kewajiban Anggota
a. Membayar uang pangkal anggota dan uang iuran anggota yang besarnya
ditentukan oleh masing-masing cabang;
b. Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan HMI;
c. Menjaga nama baik organisasi;
d. Terkecuali bagi Anggota Kehormatan tidak berlaku ayat a.
BAGIAN IV : STATUS KEANGGOTAAN
Pasal 7 : Massa Keanggotaan
a. Masa keanggotaan HMI berlaku sejak menjadi anggota HMI hingga 12
tahun dan sesudahnya disebut alumni.;
b. Anggota yang habis masa keanggotaannya disaat masih memegang
amanah kepengurusan, maka usia keanggotaannya diperpanjang hingga
habis masa kepengurusan.
konstitusi.indd 8 25/07/2009 22:36:11
9
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
3
Pasal 8 : Jabatan Rangkap
a. Anggota HMI yang mempunyai kedudukan pada organisasi atau badan-
badan lainnya di luar HMI harus menyesuaikan tindakan-tindakannya
dengan AD/ART dan ketentuan-ketentuan lainnya;
b. Pengurus HMI tidak dibenarkan untuk merangkap jabatan di dalam
struktur HMI, kecuali dalam keadaan tertentu dan atas persetujuan
pimpinan HMI sesuai dengan jenjang kepengurusan.
Pasal 9 : Mutasi Anggota
a. Anggota HMI dapat melakukan Mutasi dari satu cabang ke cabang yang
lain jika pindah Perguruan Tinggi pada cabang yang berbeda;
b. Mutasi anggota HMI dari cabang yang satu ke cabang yang lain diwajibkan
membawa Surat Pengantar dan Kartu Anggota dari cabang asal.
BAGIAN V : PEMBERHENTIAN KEANGGOTAAN
Pasal 10 : Anggota diberhentikan keanggotaannya, karena :
a. Meninggal dunia;
b. Atas permintaan sendiri;
c. Diskors (pemberhentian sementara);
d. Dipecat.
Pasal 11 : Anggota dapat diskors atau dipecat, karena :
a. Bertindak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan HMI;
b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik HMI.
Pasal 12 : Tata Cara Skorsing/Pemecatan
a. Tuntutan skorsing/ pemecatan dapat diajukan oleh Pengurus Komisariat
kepada Pengurus Cabang;
b. Tata cara skorsing/pemecatan terhadap anggota dilakukan dengan suatu
peringatan terlebih dahulu, sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali peringatan;
Pasal 13 : Pembelaan
a. Anggota yang diskorsing/pemecatan, dapat membela diri dalam
Konferensi atau forum yang ditunjuk MSO untuk itu dan Pengurus Cabang
berkewajiban untuk melaksanakannya;
b. Putusan skorsing/pemecatan yang diambil di dalam Konferensi atau
forum lain yang ditunjuk MSO dianggap sah apabila sekurang-kurangnya
konstitusi.indd 9 25/07/2009 22:36:11
10
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
4
dihadiri oleh lebih dari separuh jumlah utusan Komisariat yang
seharusnya hadir;
c. Prosedur pembelaan diatur dalam Pedoman Operasional HMI.
BAB II
STRUKTUR ORGANISASI
A. STRUKTUR KEKUASAAN
BAGIAN I : KONGRES
Pasal 14 : Status
a. Kongres merupakan musyawarah utusan cabang-cabang;
b. Kongres memegang kekuasaan tertinggi organisasi;
c. Kongres diadakan 2 (dua) tahun sekali;
d. Kongres dapat diadakan menyimpang dari ayat c jika atas inisiatif 1 (satu)
Cabang, dan disetujui lebih dari separuh jumlah Cabang-cabang.
Pasal 15 : Kekuasaan/Wewenang
a. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Besar HMI;
b. Mendengar Laporan Pelaksanaan Tugas Majelis Syuro Organisasi;
c. Menetapkan Anggaran Dasar, Aanggaran Rumah Tangga, Khittoh
Perjuangan, dan Pedoman-pedoman Operasional HMI;
d. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formateur dan
memilih 4 (empat) Mide Formateur;
e. Menunjuk Majelis Syuro Organisasi.
Pasal 16 : Tata Tertib
a. Peserta Kongres terdiri dari Utusan Cabang dan Peninjau;
b. Utusan Cabang mempunyai Hak Suara dan Hak Bicara;
c. Peninjau hanya memiliki hak bicara
d. Peninjau adalah Pengurus Besar yang telah dinyatakan demisioner dan
peninjau dari cabang-cabang;
e. Pimpinan Kongres dipilih dari peserta oleh Utusan Cabang, dan berbentuk
Presidium yang memahami konstitusi HMI dengan baik;
f. Steering Committee Kongres memimpin sidang kongres sebelum
Presidium Kongres terbentuk;
konstitusi.indd 10 25/07/2009 22:36:11
11
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
5
g. Pengurus Besar dinyatakan demisioner setelah pertanggung-jawabannya
dinilai oleh Kongres;
h. Kongres dapat dinyatakan sah apabila telah dihadiri lebih dari separuh
jumlah utusan cabang-cabang;
i. Apabila pada ayat h tidak terpenuhi, maka Kongres diundur selambat-
lambatnya 1 x 24 jam, dan setelah itu dapat dimulai;
j. Jumlah Utusan Cabang dalam Kongres ditentukan dengan rumus:
Sn = a p
n-1
Sn : Batas atas Jumlah anggota a : 50
p : Pembanding = 2 n : Jumlah utusan
Contoh Jumlah Anggota Utusan
50 = 1
100 = 2
200 = 3
400 = 4
800 = 5
1600 = 6
Dan seterusnya = dst
k. Jumlah peninjau Cabang ditetapkan oleh Panitia Kongres atas
pertimbangan Steering Committe Kongres;
l. Jumlah Utusan dapat ditetapkan oleh Pengurus Besar HMI atas
persetujuan Majelis Syuro Organisasi untuk cabang yang tidak memiliki
kejelasan jumlah anggota.
BAGIAN II : KONFERENSI
Pasal 17 : Status
a. Konferensi merupakan musyawarah utusan komisariat-komisariat
ditingkatan cabang;
b. Konferensi memegang kekuasaan tertinggi ditingkat cabang;
c. Konferensi diadakan 1 (satu) kali setahun;
konstitusi.indd 11 25/07/2009 22:36:11
12
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
6
d. Konferensi dapat diadakan menyimpang dari ketentuan b jika atas
inisiatif 1 (satu) komisariat, dan disetujui lebih dari separuh jumlah
utusan komisariat.
Pasal 18 : Kekuasaan/Wewenang
a. Menetapkan Garis Besar Program Kerja sebagai pengejawantahan
Ketetapan-ketetapan Kongres;
b. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Cabang HMI;
c. Memilih Ketua Umum yang merangkap sebagai Formateur dan kemudian
memilih 4 (empat) Mide Formateur;
d. Mendengar Laporan Pelaksanaan Tugas MSO Cabang
e. Menunjuk anggota MSO Cabang
Pasal 19 : Tata Tertib
a. Peserta Konferensi terdiri dari Utusan Komisariat, dan Peninjau;
b. Utusan Komisariat memiliki Hak Suara dan Hak Bicara;
c. Peninjau hanya memiliki hak bicara;
d. Peninjau adalah Pengurus Cabang yang telah demisioner dan peninjau
dari Komisariat-komisariat;
e. Pimpinan Konferensi dipilih dari peserta oleh Utusan k, dan berbentuk
Presidium yang memahami konstitusi HMI dengan baik;
f. Steering Committee Konfrensi memimpin sidang konferensi sebelum
Presidiun Konferensi terbentuk;
g. Pengurus Cabang dinyatakan demisioner setelah pertanggung-jawabannya
dinilai oleh Konferensi;
h. Konferensi dinyatakan sah bila dihadiri lebih dari separuh utusan
Komisariat;
i. Apabila ayat h tidak terpenuhi, maka Konferensi diundur selambat-
lambatnya 1 x 24 jam, dan setelah itu dianggap sah;
j. Jumlah Utusan Komisariat pada Konferensi disesuaikan dengan pasal 16
ayat j dengan ketentuan a = 10 (sepuluh);
k. Jumlah peninjau dari Komisariat ditentukan oleh Panitia konferensi atas
persetujuan Steering Committe;
l. Jumlah Utusan dapat ditetapkan oleh Pengurus Cabang atas persetujuan
MSO pada komisariat yang tidak memiliki kejelasan jumlah anggota.
konstitusi.indd 12 25/07/2009 22:36:11
13
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
7
m. Untuk cabang yang memiliki kurang dari 3 komisariat, maka utusannya
adalah anggota cabang.
n. Bila point m tidak terpenuhi, sidang ditunda selambat-lambatnya 1 x 24
jam dan setelah itu dianggap sah.
BAGIAN III : RAPAT ANGGOTA
Pasal 20 : Status
a. Rapat Anggota merupakan musyawarah anggota Komisariat;
b. Rapat Anggota memegang kekuasaan tertinggi ditingkat Komisariat
c. Rapat Anggota diadakan 1 (satu) tahun sekali;
d. Rapat Anggota dapat menyimpang dari ayat a jika atas inisiatif 1 (satu)
anggota dan disetujui lebih dari separuh jumlah anggota pleno
Komisariat.
Pasal 21 : Kekuasaan/Wewenang
a. Menetapkan Garis Besar Haluan Kerja Komisariat sebagai bentuk
pengejawantahan Ketetapan Konferensi;
b. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Komisariat;
c. Memilih Ketua Umum merangkap sebagai Formateur dan kemudian
memilih 4 (empat) Mide Formateur;
Pasal 22 : Tata Tertib
a. Peserta Rapat Anggota adalah Pengurus Komisariat dan Anggota
Komisariat;
b. Anggota Komisariat memiliki Hak Suara dan Hak Bicara;
c. Pengurus Komisariat hanya memiliki Hak Bicara;
d. Pimpinan Rapat Anggota dipilih dari peserta oleh Anggota Komisariat, dan
berbentuk Presidium yang memahami konstitusi HMI dengan baik;
e. Steering Committee Rapat Anggota memimpin sidang rapat anggota
sebelum Presidium rapat anggota terbentuk;
f. Pengurus komisariat dinyatakan demisioner setelah Laporan pertanggung-
jawabannya dinilai oleh Rapat Anggota;
konstitusi.indd 13 25/07/2009 22:36:11
14
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
8
g. Rapat Anggota dinyatakan sah apabila dihadiri lebih dari separuh
anggota;
h. Apabila ayat g tak dapat dipenuhi, Rapat Anggota dapat diundur
maskimal 1 x 24 jam dan dinyatakan sah;
B. STRUKTUR PIMPINAN
BAGIAN I : PUSAT
Pasal 23 : Status
a. Pengurus Besar adalah badan tertinggi di struktur kepemimpinan HMI;
b. Masa jabatan Pengurus Besar adalah 2 (dua) tahun;
Pasal 24 : Pengurus Besar
a. Pengurus Besar terdiri dari Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara
Umum, Pengurus Harian, Lembaga Koordinasi, Lembaga-Lembaga
kekaryaan dan Lembaga-Lembaga Khusus dan para stafnya;
b. Pengurus Besar adalah anggota HMI yang pernah menjadi Pengurus
Cabang, dan telah lulus Latihan Kader II dan senior course;
c. Apabila Ketua Umum berhalangan tetap, maka dapat diangkat Pejabat
Ketua Umum oleh Rapat Presidium Pengurus Besar;
Pasal 25 : Tugas dan Kewajiban :
a. Pengurus Besar Melaksanakan Ketetapan-Ketetapan Kongres;
b. Pengurus Besar menjalankan tugasnya setelah dilakukan serah terima dari
pengurus periode sebelumnya;
c. Pengurus Besar wajib mengumumkan ke seluruh Cabang segala Kebijakan
Strategis HMI;
d. Ketua Umum Pengurus Besar HMI bertanggungjawab pada Kongres.
Pasal 26 : Forum pengambilan keputusan pengurus besar terdiri dari :
a. Rapat pleno, adalah forum pengambilan keputusan untuk mengevaluasi
atas pelaksanaan amanah kongres yang diadakan minimal tiap 6 bulan
dan minimal dihadiri oleh ketua umum, sekretaris jendral, bendahara
umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;
konstitusi.indd 14 25/07/2009 22:36:12
15
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
9
b. Rapat presidium adalah forum pengambilan keputusan strategis organisasi
yang dihadiri oleh hanya ketua umum, sekretaris jendral, bendahara
umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;
c. Rapat harian adalah forum koordinasi yang diadakan secara periodik yang
dipimpin oleh ketua umum atau sekretaris jendral
BAGIAN II : C A B A N G
Pasal 27 : Status
a. Cabang merupakan kesatuan organisasi yang dibentuk oleh Pengurus
Besar di tempat yang ada Perguruan Tinggi pada satu Kabupaten/Kota
atau di beberapa kabupaten/kota.
b. Cabang dapat didirikan dengan sekurang-kurangnya memiliki Ketua
Umum, Sekretaris Umum dan Bendahara Umum, dan disahkan oleh Ketua
Umum dan Sekretaris Jenderal HMI dengan status cabang persiapan;
c. Cabang persiapan menjadi cabang Penuh jika telah memenuhi 30 anggota
dan telah mendapat bimbingan minimal satu tahun oleh Pengurus Besar;
d. Penetapan Cabang Penuh dilakukan melalui Surat Keputusan Ketua Umum
dan Sekretaris Jendral Pengurus Besar HMI;
e. Pendirian cabang dapat dilakukan oleh Anggota atau Komisariat yang
sebelumnya telah masuk pada satu cabang tertentu yang disetujui oleh
pengurus cabang bersangkutan.
Pasal 28 : Pengurus Cabang
a. Pengurus Cabang adalah badan tertinggi dalam struktur kepemimpinan
HMI ditingkat Cabang;
b. Pengurus Cabang terdiri dari Ketua Umum dan Pengurus Harian,
Koordinator Komisariat, Lembaga-Lembaga khusus, dan Lembaga-
Lembaga Kekaryaan;
c. Masa jabatan Pengurus Cabang adalah 1 (satu) tahun;
d. Pengurus Cabang adalah anggota yang pernah menjadi Pengurus
Komisariat dan/atau telah lulus Latihan Kader II;
e. Apabila Ketua Umum Pengurus Cabang berhalangan tetap, dapat diangkat
Pejabat Ketua Umum oleh Rapat Presidium Pengurus Cabang.
konstitusi.indd 15 25/07/2009 22:36:12
16
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
10
Pasal 29 : Tugas dan Kewajiban
a. Pengurus Cabang melaksanakan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
Pengurus Besar dan Ketetapan-Ketetapan Konferensi
b. Pengurus Cabang menjalankan tugasnya setelah dilakukan serah terima
dari kepengurusan periode sebelumnya;
c. Pengurus Cabang harus memberikan laporan kepada Pengurus Besar Tiap
4 (empat) bulan;
d. Ketua Umum Cabang bertanggungjawab pada Konferensi.
Pasal 30 : Forum pengambilan keputusan pengurus cabang terdiri dari :
a. Rapat pleno, adalah forum pengambilan keputusan untuk mengevaluasi
atas pelaksanaan amanah konferensi yang diadakan minimal tiap 3 bulan
dan minimal dihadiri oleh ketua umum, sekretaris umum, bendahara
umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;
b. Rapat presidium adalah forum pengambilan keputusan strategis organisasi
yang dihadiri oleh hanya ketua umum, sekretaris umum, bendahara
umum, dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;
c. Rapat harian adalah forum koordinasi yang diadakan secara periodik yang
dipimpin oleh ketua umum atau sekretaris umum.
BAGIAN III : KOMISARIAT
Pasal 31 : Status
a. Komisariat merupakan kesatuan organisasi pada suatu Perguruan
Tinggi/Fakultas/Jurusan, atau beberapa Fakultas/Jurusan pada
perguruan tinggi yang sama yang dibentuk oleh Pengurus Cabang;
b. Pendirian Komisariat dapat dilakukan sekurang-kurangnya harus ada 3
(tiga) anggota komisariat dengan status komisariat persiapan;
c. Komisariat persiapan menjadi komisariat penuh jika telah memenuhi 10
anggota dan telah mendapat bimbingan minimal 6 bulan dari cabang.
d. Pendirian Komisariat dapat dilakukan oleh Anggota HMI yang sebelumnya
telah masuk dalam satu komisariat tertentu dengan mengajukan
konstitusi.indd 16 25/07/2009 22:36:12
17
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
11
permohonan kepada Pengurus Cabang untuk mendapat persetujuan serta
pertimbangan komisariat tersebut.
Pasal 32 : Pengurus Komisariat:
a. Pengurus Komisariat adalah badan tertinggi dalam struktur kepemimpinan
HMI ditingkat Komisariat;
b. Pengurus Komisariat memiliki masa jabatan 1 (satu) tahun;
c. Pengurus Komisariat minimal terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
Bendahara;
d. Pengurus Komisariat merupakan anggota biasa Komisariat.
e. Apabila Ketua Komisariat berhalangan tetap, dapat diangkat Pejabat
Ketua Umum oleh Rapat Koordinasi Pengurus Komisariat.
Pasal 33 : Tugas dan Kewajiban
a. Pengurus Komisariat melaksanakan Keputusan-Keputusan Pengurus
Cabang dan Ketetapan-Ketetapan Rapat Anggota
b. Pengurus Komisariat menjalankan tugasnya setelah dilakukan serah
terima dari pengurus periode sebelumnya;
c. Pengurus Komisariat harus memberikan laporan kepada Pengurus Cabang
tiap 4 (empat) bulan;
d. Ketua Umum Komisariat HMI sebagai pemimpin Pengurus Komisariat
bertanggungjawab pada Rapat Anggota.
Pasal 34 : Forum pengambilan keputusan pengurus besar terdiri dari :
a. Rapat pleno, adalah forum pengambilan keputusan untuk mengevaluasi atas
pelaksanaan amanah rapat anggota yang diadakan minimal tiap 3 bulan dan
minimal dihadiri oleh ketua umum, sekretaris umum, bendahara umum, dan
lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;
b. Rapat presidium adalah forum pengambilan keputusan strategis organisasi
yang dihadiri oleh hanya ketua umum, sekretaris umum, bendahara umum,
dan lebih dari separuh pimpinan lembaga-lembaga HMI;
c. Rapat harian adalah forum koordinasi yang diadakan secara periodik yang
dipimpin oleh ketua umum atau sekretaris umum.
konstitusi.indd 17 25/07/2009 22:36:12
18
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
12
BAGIAN IV : PENGURUS HARIAN
A. KOMISI KEBIJAKAN
Pasal 35 : Status
a. Komisi kebijakan adalah bentuk Pengurus Harian dari Pengurus Besar;
b. Komisi kebijakan disusun oleh Formatur dan Mide Formatur dengan
ketetapan Ketua Umum HMI;
c. Formasi Komisi Kebijakan adalah Ketua Komisi Kebijakan dan para
anggota Komisi Kebijakan;
Pasal 36 : Tugas dan Kewajiban
a. Menetapkan kebijakan-kebijakan keorganisasian HMI;
b. Melakukan kerjasama-kerjasama organisasi dengan berbagai pihak;
c. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum HMI;
B. BIDANG KERJA
Pasal 37 : Status
a. Bidang Kerja adalah bentuk Pengurus Harian dari Pengurus Cabang;
b. Bidang Kerja disusun oleh Formatur dan Mide Formatur dengan ketetapan
Ketua Umum Cabang HMI;
c. Formasi Bidang Kerja adalah Ketua Bidang dan para anggota Bidang.
Pasal 38 : Tugas dan Kewajiban
a. Membantu Ketua Umum dalam Menjalankan amanah Konferensi yang
diberikan pada kepengurusan menurut bidang kerjanya;
b. Membantu Ketua Umum dalam menjalankan organisasi:
c. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum Cabang;
C. UNIT AKTIFITAS
Pasal 39 : Status
a. Unit Aktifitas adalah bentuk minimal Pengurus Harian dari Pengurus
Komisariat;
b. Unit Aktifitas disusun oleh Formatur dan Mide Formatur dengan ketetapan
Ketua Umum Komisariat HMI;
c. Formasi Unit Aktifitas adalah Ketua Unit Aktifitas dan para anggota
Anggota Unit aktifitas;
konstitusi.indd 18 25/07/2009 22:36:12
19
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
13
d. Unit Aktifitas dapat dibentuk dalam bentuk Bidang kerja bagi komisariat
yang sehat.
Pasal 40 : Tugas dan Kewajiban
a. Membantu Ketua Umum dalam menjalankan amanah Rapat Anggota yang
diberikan pada kepengurusan;
b. Membantu Ketua Umum dalam menjalankan organisasi:
c. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum Komisariat;
BAGIAN V : LEMBAGA KOORDINASI
A. BADAN KOORDINASI
Pasal 41 : Status
a. Badan Koordinasi adalah Pengurus Besar yang mengkoordinir aktifitas
internal HMI di beberapa cabang dalam satu wilayah tertentu;
b. Pembagian wilayah yang dikoordinir ditetapkan Ketua Umum HMI;
Pasal 42 : Struktur
a. Formasi Pengurus Badan Koordinasi sekurang-kurangnya terdiri dari
Ketua, Sekretaris, dan Bendahara;
b. Pejabat Ketua Badan Koordinasi dapat diangkat oleh Ketua Umum HMI,
jika Ketua Badan Koordinasi tersebut berhalangan tetap, dengan
memperhatikan aspirasi Cabang-cabang;
c. Masa jabatan Pengurus Badan Koordinasi adalah 2 (dua) tahun;
Pasal 43 : Tugas dan Kewajiban
a. Mengkoordinir kebijakan-kebijakan Pengurus Besar oleh cabang-cabang
diwilayah koordinasinya;
b. Menjalankan peran-peran HMI dicabang-cabang wilayahnya;
c. Membentuk Cabang baru di wilayah koordinasinya;
d. Melantik Pengurus Cabang di Wilayah Koordinasinya
e. Memberikan bimbingan, mengkoordinasikan, dan mengawasi kegiatan-
kegiatan Cabang dalam wilayah koordinasinya;
f. Meminta laporan Cabang-Cabang dalam wilayah koordinasinya;
g. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum HMI;
h. Memberikan laporan kerja ke Musyawarah Badan Koordinasi;
konstitusi.indd 19 25/07/2009 22:36:12
20
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
14
i. Melaksanakan segala hal yang diputuskan di Musyawarah Daerah;
j. Mengeluarkan kebijakan di wilayah koordinasinya selama tidak
bertentangan dengan kebijakan pengurus besar HMI
Pasal 44 : Musyawarah Badan Koordinasi
a. Musyawarah Badan Koordinasi adalah musyawarah utusan cabang-cabang
di wilayah Badan Koordinasi yang diadakan 2 (dua) tahun sekali;
b. Kekuasaan dan wewenang Musyawarah Badan Koordinasi adalah memilih 3
(tiga) orang calon Ketua dan menentukan Haluan Kerja Badan Koordinasi;
c. Ketua Badan Koordinasi ditetapkan Ketua Umum Pengurus Besar HMI dari
nama-nama calon yang diajukan Musyawarah Badan Koordinasi;
d. Jumlah utusan cabang di Musyawarah Badan Koordinasi sesuai pasal 16 j.
B. KOORDINATOR KOMISARIAT
Pasal 45 : Status
a. Koordinator Komisariat adalah Pengurus Cabang yang mengkoordinir
Komisariat di 1 (satu) atau beberapa Perguruan Tinggi;
b. Pembagian komisariat yang dikoordinir ditetapkan Ketua Umum Cabang;
Pasal 46 : Struktur
a. Formasi Pengurus Koordinator Komisariat sekurang-kurangnya terdiri dari
Ketua, Sekretaris dan Bendahara;
b. Pejabat Ketua Koordinator Komisariat dapat diangkat oleh Ketua Umum
Cabang HMI jika Ketua Koordinator Komisariat tersebut berhalangan
tetap, dengan memperhatikan aspirasi komisariat- komisariat;
c. Masa jabatan Pengurus Koordinator Komisariat adalah 1 (satu) tahun.
Pasal 47 : Tugas dan Kewajiban
a. Membimbing dan membina Komisariat-Komisariat di lingkungannya;
b. Mengkoordinasikan dan mengawasi Komisariat dilingkungannya;
c. Mengkoordinir pelaksanaan program kerja kepengurusan cabang di
komisariat-komisariat lingkungannya;
d. Membantu pelaksanaan operasional program Kerja kepengurusan cabang
untuk lingkungannya;
e. Bertanggungjawab terhadap Ketua Umum Cabang HMI;
f. Melaksanakan keputusan Musyawarah Koordinator Komisariat.
konstitusi.indd 20 25/07/2009 22:36:12
21
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
15
g. Mengeluarkan kebijakan di wilayah koordinasinya selama tidak
bertentangan dengan kebijakan pengurus cabang HMI
Pasal 48 : Musyawarah Koordinator Komisariat
a. Musyawarah Koordinator Komisariat adalah musyawarah utusan
komisariat-komisariat di lingkungannya, yang diadakan 1 (satu) tahun
sekali;
b. Memilih maksimal 3 (tiga) orang calon Ketua dan menentukan Garis Besar
Program Kerja Koordinator Komisariat;
c. Ketua Koordinator Komisariat ditentukan oleh Ketua Umum Pengurus
Cabang dari nama-nama calon yang diajukan Musyawarah Koordinator
Komisariat;
d. Jumlah utusan Komisariat yang hadir pada Musyawarah Koordinator
Komisariat disesuaikan dengan pasal 19 ayat j dengan ketentuan a = 30
BAGIAN VI : LEMBAGA KHUSUS
Pasal 49 : Status
a. Lembaga-lembaga Khusus HMI adalah bagian dari struktur pimpinan yang
memiliki peran-peran khusus;
b. Lembaga-lembaga Khusus bersifat semi otonom;
c. Lembaga-lembaga Khusus HMI dibentuk oleh pimpinan HMI sesuai dengan
kebutuhan;
d. Lembaga-lembaga Khusus HMI dapat berupa: Korp HMI-wati (Kohati), Korp
Pengader (KP), dan Pusat Arsip dan lainnya yang dibentuk Pengurus HMI.
Pasal 50 : Struktur
a. Formasi Pengurus Lembaga-lembaga Khusus HMI sekurang-kurangnya
terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara;
b. Bila diperlukan, pada tingkat pusat dapat dibentuk Koordinator Nasional
lembaga-lembaga khusus.
Pasal 51 : Tugas dan Kewajiban
a. Lembaga-lembaga Khusus bertugas melaksanakan program dan
kewajiban-kewajiban HMI sesuai dengan fungsi dan perannya masing-
masing;
b. Pengurus lembaga-lembaga khusus berkewajiban melaksanakan hasil
Musyawarah lembaga Khusus;
konstitusi.indd 21 25/07/2009 22:36:12
22
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
16
c. Pimpinan Lembaga Khusus bertanggungjawab pada Struktur
Kepemimpinan HMI dengan melaksanakan Laporan Pelaksanaan Tugas
dalam lembaganya;
d. Lembaga Khusus memberikan laporan kerja kepada Struktur
Kepemimpinan HMI minimal 2 (dua) kali selama satu periode dan/atau
jika sewaktu-waktu bila diminta Struktur kepemimpinan.
Pasal 52 : Musyawarah
a. Status musyawarah Lembaga Khusus adalah merupakan forum kekuasaan
tertinggi di internal lembaga khusus dengan tanpa bertentangan dengan
ketetapan-ketetapan lembaga kekuasaan HMI ditingkatannya;
b. Musyawarah Lembaga khusus HMI berhak mengajukan sebanyak-
banyaknya 3 (tiga) calon Pimpinan Lembaga Khusus untuk ditetapkan oleh
pimpinan HMI.
BAGIAN VII : LEMBAGA KEKARYAAN
Pasal 53 : Status
a. Lembaga Kekaryaan adalah bagian dari struktur pimpinan HMI yang
memiliki peran kekaryaan;
b. Lembaga-lembaga kekaryaan bersifat semi otonom;
c. Lembaga-lembaga kekaryaan dibentuk bila ada aspirasi dan kebutuhan
anggota, yang memiliki minat dan bakat di bidang yang sama;
d. Lembaga Kekaryaan memiliki spesifikasi bidang yang mengarah pada
peningkatan keahlian dan profesionalitas tertentu.
Pasal 54 :Struktur
a. Formasi pengurus Lembaga-lembaga kekaryaan sekurang-kurangnya
terdiri dari Direktur dan Staf Direktur;
b. Bila diperlukan, pada tingkat pusat dapat dibentuk Koordinator Nasional
lembaga-lembaga kekaryaan.
Pasal 55 : Tugas dan Kewajiban
a. Lembaga-lembaga kekaryaan mempunyai tugas meningkatkan dan
mengembangkan keahlian dan profesionalisme anggota HMI pada bidang
tertentu dalam bentuk kerja kemanusiaan;
b. Pengurus lembaga-lembaga kekaryaan berkewajiban melaksanakan hasil
Musyawarah lembaga kekaryaan;
konstitusi.indd 22 25/07/2009 22:36:12
23
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
17
c. Pimpinan lembaga-lembaga kekaryaan bertanggungjawab pada Struktur
Kepemimpinan HMI dengan melaksanakan pertanggung-jawabannya pada
Struktur Kekuasaan di tingkatannya;
d. Pengurus memberikan laporan kerja kepada pimpinan HMI minimal 2
(dua) kali selama satu periode;
e. Koordinator Nasional berperan dalam usaha mendorong keberhasilan
pencapaian tujuan lembaga kekaryaan ditingkatan Cabang.
Pasal 56 : Musyawarah
a. Status musyawarah Lembaga-lembaga Kekaryaan adalah merupakan rapat
anggota yang bertugas untuk merumuskan dan mengevaluasi program-
program kerja lembaga-lembaga kekaryaan;
b. Musyawarah Lembaga Kekaryaan HMI berhak mengajukan satu atau
beberapa calon pimpinan Lembaga Kekaryaan untuk ditetapkan oleh
pimpinan HMI.
C. MAJELIS SYURO ORGANISASI (MSO)
Pasal 57 : Status
a. MSO berstatus sebagai Lembaga Konsultasi dan Lembaga Peradilan HMI;
b. Sidang MSO adalah Majelis yang terdiri dari sebagian besar anggota MSO;
c. Anggota MSO adalah anggota HMI yang telah menjadi Pengurus HMI
maksimal 2 (dua) periode sebelumnya dengan jumlah maksimal 13 orang.
Pasal 58 : Struktur MSO terdiri dari Koordinator dan anggota MSO
Pasal 59 : Tugas dan kewajiban
a. Memberikan pertimbangan dan saran kepada struktur kepemimpinan HMI
untuk menentukan kebijakan-kebijakan;
b. Memberikan keputusan atas konflik yang terjadi dalam struktur
kepemimpinan HMI yang tidak bisa diselesaikan oleh ketua umum struktur
kepemimpinan tersebut melalui proses persidangan;
c. Memberikan Laporan Pelaksanaan Tugas pada Struktur Kekuasaan.
d. MSO Pusat bertugas untuk menampung dan memberikan pertimbangan
terhadap usulan amandemen dari struktur pimpinan HMI untuk diajukan
ke Kongres.
konstitusi.indd 23 25/07/2009 22:36:12
24
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
18
Pasal 60 : Tata Kerja
a. Tata Kerja MSO diselenggarakan oleh Koordinator MSO;
b. Sebelum Koordinator MSO terpilih, sidang MSO pertama diselenggarakan
dan dipimpin oleh struktur kepemimpinan;
c. MSO dapat membuat tim-tim kerja melalui keputusan sidang MSO yang
dihadiri lebih dari separuh jumlah anggota MSO;
d. MSO melaporkan pelaksanaan tugasnya pada struktur kekuasaan.
BAB III
KESEKRETARIATAN
Pasal 61 :Kesekretariatan memiliki fungsi dalam menjalankan sisitem
keadministrasian, dan sistem keprotokoleran organisasi.
Pasal 62 :Sistem administrasi merupakan sistem organisasi dalam mengatur sirkulasi
administrasi.
Pasal 63 :Sistem keprotokoleran merupakan sistem organisasi dalam mengatur
prosedur aktifitas elemen-elemen organisasi.
Pasal 64 :Sekretariat berfungsi sebagai tempat domisili tiap Struktur kepemimpinan
HMI yang berperan sebagai sentral koordinasi organisasi dan sarana aktifitas
strukutur keorgansiasian serta alat interaksi lembaga dengan lingkungannya;
BAB IV
KEUANGAN
Pasal 65: Sumber Keuangan Internal organisasi berasal dari Uang Pangkal dan Iuran
yang diserahkan Anggota.
Pasal 66 :Uang pangkal diberikan Anggota kepada Pengurus Cabang saat ia
mendaftarkan diri jadi Anggota HMI.
Pasal 67 :Iuran anggota diberikan Anggota kepada Pengurus Komisariat secara
periodik selama ia menjadi Anggota HMI.
Pasal 68 :20 (dua puluh) persen iuran anggota yang diterima pengurus Komisariat
adalah hak milik dari Pengurus Cabang dan maksimal 20 (dua puluh) dari
jumlah yang diterima Pengurus Cabang adalah hak milik Pengurus besar.
konstitusi.indd 24 25/07/2009 22:36:12
25
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Anggaran Rumah Tangga
Di Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
19
Pasal 69 :Tiap Struktur Kepemimpinan, Struktur Kekuasaan dan MSO berhak menerima
dana dari pihak eksternal sesuai dengan pedoman yang berlaku.
Pasal 70 :Pengelolaan Keuangan pada Struktur Kekuasaan, Struktur Pimpinan dan MSO
harus berdasarkan prinsip akuntabilitas dan keadilan.
Pasal 71 : Seluruh kekayaan HMI akan diserahkan pada pihak yang akan ditunjuk oleh
kongres saat pembubaran organisasi.
BAB IV
ATRIBUT ORGANISASI
Pasal 72 :Atribut-atribut Organisasi yang dipakai dalam operasional organisasi
ditetapkan oleh Kongres.
Pasal 73 : Jenis-jenis Atribut organisasi HMI terdiri dari Lambang HMI, Bendera HMI,
Baret HMI, Muts HMI, Selempang HMI, Himne HMI, dan Mars Hijau Hitam.
Pasal 74 : Lembaga Khusus dapat menentukan jenis dan bentuk atributnya tersendiri
melalui Musyawarah Lembaga Khusus.
BAB V
ATURAN TAMBAHAN
Pasal 75 :Keputusan pembubaran HMI dilakukan di kongres dengan persetujuan
minimal 2/3 utusan-utusan cabang.
Pasal 76 :Anggaran Rumah Tangga merupakan pedoman penjelas Anggaran Dasar HMI
yang kemudian diturunkan dalam pedoman-pedoman operasional berupa:
Pedoman Keanggotaan, Pedoman Struktur Organisasi, Pedoman
Kesekretariatan, Pedoman Keuangan, Pedoman Atribut, dan Pedoman
Lembaga-lembaga yang ditetapkan di Kongres.
konstitusi.indd 25 25/07/2009 22:36:12
26
Konstitusi HMI
konstitusi.indd 26 25/07/2009 22:36:12
27
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
1
PEDOMAN STRUKTUR ORGANISASI
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Bismillahirromanirrahiim
BAB I
PENDAHULUAN
Organisasi bagi HMI merupakan alat dalam menyusun barisan perjuangan
untuk membentuk insan ulil albab dan masyarakat yang diridhoi oleh Allah SWT. Hal
ini berdasarkan sebuah kesadaran bahwa berjuang secara bersama mempunyai nilai
lebih daripada sendiri. Oleh sebab itu mulai dari pembentukan individu (kader)
sampai menggerakkannya di masyarakat umum, HMI lakukan dengan alat yang
disebut organisasi. Struktur merupakan fokus utama selain kultur ketika
membicarakan organisasi untuk mencapai tujuan dan keberlanjutan perjuangan
HMI.
Pencapaian tujuan tersebut tentunya harus dilakukan dengan manajemen
organisasi yang berkualitas. Oleh sebab itu pembentukan dan pemakaian struktur
organisasi di tiap lini atau tiap tingkatan harus berdasarkan pada 3 komponen, yaitu
Fleksibel, Responsif, dan Visioner. Makna yang terkandung dalam faktor Fleksibel
adalah; struktur HMI dituntut untuk tidak kaku dan mampu memacu semua kadernya
melakukan kreatitivitas-kreativitas individu dalam lingkungan kerjasama organisasi
tanpa lepas dari pedoman yang berlaku. Responsif, merupakan sebuah dasar bagi
struktur HMI untuk menjawab segala tantangan dan hambatan dalam HMI serta
mengambil kesempatan dengan memperhatikan kekuatan dan kelemahan organisasi.
Hal ini perlu karena struktur HMI dibentuk untuk bergerak kedepan walau bentuk
struktur merupakan hasil kesepakatan yang diambil berdasarkan pertimbangan masa
lalu. Visioner, struktur HMI merupakan sebuah gambaran organisasi tentang masa
depan bukan masa lalu. Dengan demikian organisasi punya tujuan yang dapat ia lihat
dan jalani dari waktu ke waktu. Jika salah satu komponen ini tidak ada, maka struktur
organisasi akan pincang bahkan lumpuh dalam gerak organisasinya.
Ketiga hal di atas akan terlihat bermakna ketika struktur didesain dan
dijalankan sesuai dengan ketentuan-ketentuan dasar yang ditetapkan oleh organisasi
konstitusi.indd 27 25/07/2009 22:36:12
28
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
2
dengan pertimbangan sisi kemanuisaan. Tidak seperti dasar organisasi pada umumnya,
tiga dasar ini menyatakan bahwa HMI merupakan organisasi yang tidak didasarkan atas
kekuasaan semata namun atas dasar kesepakatan bersama dengan komitmen bersama
pula. Pola ini merupakan pola masyarakat yang punya tingkat kesadaran tinggi untuk
berjuang bukan kesadaran tinggi untuk berkuasa dan menguasai. Kita akan banyak
melihat proses-proses dimana semua pihak berhak dan dapat beraktualisasi dalam
kerangka kerjasama yang sebenar-benarnya.
Bagan Struktur Organisasi merupakan sebuah skema kendali organisasi dengan
tingkatan tingkatannya (Pusat, Cabang dan Komisariat). Tiap tingkatan bagan struktur
terdiri dari Manajemen Puncak (Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara Umum)
tingkat Manajemen Menengah (Pengurus Harian, Pimpinan Lembaga Koordinasi,
Pimpinan Lembaga Khusus, Pimpinan Lembaga Kekaryaan), tingkat manajemen bawah
(staf atau panitia).
HMI memiliki tiga strukutur organisasi, yaitu Struktur Kekuasaan dan Struktur
pimpinan serta Majelis Syuro Organisasi. Struktur Kekuasaan adalah tempat keluarnya
amanah-amanah untuk aktifitas lembaga, Struktur ini terdiri dari Kongres, Konferensi
dan Rapat Anggota. Struktur pimpinan adalah pihak yang melaksanakan amanah.
Struktur pimpinan ini terdiri dari Pengurus Besar, Pengurus Cabang dan Pengurus
Komisariat. Adapun Majelis Syuro Organisasi merupakan struktur peradilan dan
konsultasi bagi organisasi yang terdiri dari MSO tingkat Pusat dan MSO tingkat cabang.
konstitusi.indd 28 25/07/2009 22:36:12
29
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
3
BAB II
STRUKTUR KEKUASAAN
HMI dalam strukturnya hanya memiliki tiga tingkatan struktur kekuasaan.
Ketiga tingkatan itu terdiri dari tingkat pusat, tingkat cabang dan tingkat komisariat.
Pada tingkat pusat, Kongres menjadi forum pengambilan keputusan tertinggi dalam
orgnisasi HMI, pada tingkat cabang HMI mengenal Konferensi dan Rapat Anggota
sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi yang ada pada tingkat Komisariat.
1. Kongres
Kongres merupakan struktur kekuasaan yang berbentuk forum dan
dilaksanakan setiap dua tahun sekali diakhir periode Pengurus Besar. Pelaksanaan
diluar waktu ini dapat diadakan atas pengajuan satu cabang yang kemudian
disepakati oleh sebagian besar cabang lainnya pelaksanaan diluar waktu normal,
tanggungjawabnya dipegang oleh cabang pengusul dan yang menyetujuinya.
Kongres pada dasarnya memiliki beberapa kekuasaan atau wewenang utama yang
dapat dipakai, yaitu:
a. Menetapkan Pedoman Dasar (Anggaran Dasar), Pedoman Penjelas (Aanggaran
Rumah Tangga, Khittah Perjuangan) dan Pedoman Operasional (Pedoman
Perkaderan, Pedoman Keanggotaan, Pedoman Struktur Organisasi, Pedoman
Kesekretariatan, Pedoman Keuangan, Pedoman Atribut dan Pedoman lembaga-
lembaga.
b. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Besar HMI.
c. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formatur.
d. Memilih 4 (empat) Mide Formatur yang bertugas membantu Formatur dalam
pembentukan struktur kepengurusan. Mide Formatur akan bubar dengan
sendirinya saat Pengurus yang dibentuk dilantik.
e. Menunjuk Majelis Syuro Organisasi atas usulan cabang-cabang. Masing-masing
cabang cukup menunjuk 3 nama calon dan kongres menetapkan maksimal 13
orang bersuara terbesar menjadi bagian dari MSO.
f. Melakukan pembubaran organisasi.
g. Melakukan Pelaksanaan Banding tingkat akhir atas keputusan cabangdalam
memecat anggotanya.
h. Menentukan agenda-agenda organisasi yang lainnya.
konstitusi.indd 29 25/07/2009 22:36:13
30
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
4
Forum kongres dihadiri oleh utusan-utasan cabang dengan jumlah menurut
perhitungan utusan dalam Anggaran Rumah Tangga. Pada tingkatan teknis prosedur
yang harus dilakukan dalam hal utusan ini adalah:
1. PB HMI memberikan data mutakhir anggota HMI Cabang di seluruh Indonesia
kepada Steering Committee kongres.
2. SC Kongres memverifikasi jumlah anggota dan kemudian menentukan jumlah
utusan untuk setiap cabang.
3. Cabang mengirimkan nama-nama utusan sejumlah yang ditentukan SC sehari
sebelum kongres dibuka.
4. Jika terjadi keterlambatan, SC berhak menolak kehadiran utusan cabang dan tak
ada satu pihakpun yang berhak menggantikan utusan cabang tersebut,
5. Dalam keadaaan darurat pergantian utusan dalam suatu cabang dimungkinkan
dengan syarat harus diberitahukan secara resmi dan disahkan oleh Steering
Committee kongres.
6. Jumlah peninjau yang dapat hadir mewakili suatu cabang ditentukan oleh
panitia kongres setelah mendapat pertimbangan dari SC Kongres.
Pelaksanaan kongres dilakukan tiap dua tahun dengan waktu pelaksanaannya
diputuskan dalam Pleno III PB HMI. Kongres yang dilakukan diluar jangka waktu
tersebut dinamakan Kongres Luar Biasa. Kongres luar biasa ini memiliki wewenang
dan kekuasaan yang sama dengan kongres yang biasa. Namun Kongres luar biasa ini
dapat dilakukan dengan prosedur:
1. Satu cabang memberikan usulan Kongres luar biasa kepada pihak Majelis Syuro
Organisasi.
2. Dalam waktu satu bulan pihak pengusul harus menyerahkan surat persetujuan
untuk melaksanakan Kongres dari cabang-cabang lain yang berjumlah separuh
tambah satu dari cabang-cabang HMI yang ada kepada MSO.
3. Dalam kurun waktu satu bulan pihak-pihak yang menyetujui kongres Luar Biasa
harus dapat memembentu Steering Comitee dan Panitia Kongres luar biasa dan
menyerahkannya kepada MSO.
4. MSO berhak menyatakan pembatalan kongres Luar Biasa jika tenggang waktu
diatas tidak terpenuhi dan pihak pengusul dan pihak yang menyetujui tidak
berhak melakukan tindaan apapun yang mengarah pada Kongres Luar Biasa.
5. Ketua Umum PB HMI wajib hadir dan melakukan pertanggungjawaban dalam
Kongres luar biasa jika diminta.
konstitusi.indd 30 25/07/2009 22:36:13
31
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
5
6. Segala keputusan yang lahir dalam Kongres luar biasa dapat menggantikan
keputusan Kongres sebelumnya.
2. Konferensi
Konferensi merupakan struktur kekuasaan tertinggi pada tingkatan cabang
yang waktu pelaksanaannya diputuskan di pleno terakhir pengurus cabang HMI.
Sebagaimana halnya Kongres, konferensipun berbentuk forum, namun dilaksanakan
tiap tahun pada akhir periode Pengurus Cabang. Konferensi ini dihadiri oleh utusan
komisariat-komisariat. Jumlah utusan komisariat ditentukan dalam rumusan yang
terdapat dalam Anggaran Rumah Tangga HMI. Prosedur teknis dalam hal utusan
komisariat adalah:
1. Pengurus cabang yang menangani pendataan anggota memberikan anggota data
mutakhir pada steering committee Konferensi.
2. SC Konferensi memverifikasi jumlah anggota lalu menentukan jumlah utusan.
3. Komisariat mengirimkan nama-nama utusannya, paling lambat sehari sebelum
konferensi dibuka.
4. Jika terjadi keterlambatan, SC berhak menolak kehadiran utusan dan tak ada
satu pihakpun yang berhak menggantikan utusan tersebut,
5. Pergantian nama utusan harus diketahui oleh SC konferensi.
6. Jumlah peninjau yang dapat hadir mewakili suatu komisariat ditentukan oleh
panitia konferensi setelah mendapat pertimbangan dari SC Konferensi.
Konferensi dapat dilaksanakan jika utusan yang hadir pada acara pembukaan
Konferensi lebih dari separuh jumlah utusan yang telah terdaftar oleh panitia
Konferensi. Jika jumlah tersebut (quota) tidak tercapai maka Konferensi dapat
dundur maksimal 1 x 24 jam. Konferesi pada dasarnya memiliki beberapa
kekuasaan atau wewenang utama, yaitu:
1. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Cabang.
2. Menentukan Garis Besar Haluan Kerja pengurus Cabang.
3. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formatur.
4. Memilih 4 (empat) Mide Formatur yang bertugas membantu Formatur dalam
pembentukan struktur kepengurusan. Mide Formatur akan bubar dengan
sendirinya saat Pengurus yang dibentuk dilantik.
5. Menunjuk Majelis Syuro Organisasi atas usulan Komisariat jika diperlukan. Pada
Konferensi, komisariat-komisariat cukup menunjuk 3 nama calon dan konferensi
menetapkan maksimal 7 orang bersuara terbesar menjadi bagian dari MSO.
konstitusi.indd 31 25/07/2009 22:36:13
32
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
6
6. Anggota MSO yang dipilh menjadi Pengurus Cabang harus diganti oleh
Koordinator MSO atas persetujuan anggota MSO lainnya.
7. Melakukan proses banding atas keputusan cabang dalam memecat anggotanya.
8. Menentukan agenda-agenda organisasi yang lainnya.
Konferensi yang dilakukan diluar periode satu tahun dinamakan Konferensi
Luar Biasa. Prosedur yang harus dilakukan adalah:
1. Satu komisariat memberikan usulan Konferensi Luar Biasa kepada Majelis Syuro
Organisasi Cabang.
2. Ketika cabang tidak memiliki MSO maka komisariat mengirimkan usulan
Konferensi Luar Biasa ke MSO pusat.
3. Dalam waktu satu bulan pihak pengusul harus menyerahkan surat persetujuan
untuk melaksanakan Konferensi dari Komisariat lain yang berjumlah separuh
tambah satu dari seluruh Komisariat HMI yang ada kepada MSO Cabang atau MSO
pusat jika cabang yang bersangkutan tidak memiliki MSO.
4. Dalam kurun waktu satu bulan pihak-pihak yang menyetujui Konferensi Luar
Biasa harus dapat memebentuk Steering Comitee dan Panitia Konferensi Luar
Biasa dan menyerahkan daftar namanya kepada MSO cabang atau MSO pusat jika
cabang yang bersangkutan tidak memiliki MSO.
5. MSO cabang atau MSO pusat berhak menyatakan pembatalan Konferensi Luar
Biasa jika tenggang waktu di atas tidak terpenuhi dan pihak pengusul dan pihak
yang menyetujui tidak berhak melakukan tindakan apapun yang mengarah pada
Konferensi Luar biasa.
6. Ketua Umum Cabang HMI wajib hadir dan melakukan pertanggungjawaban
dalam Koferensi Luar Biasa jika diminta.
7. Segala keputusan yang lahir dalam Konferensi Luar Biasa dapat menggantikan
keputusan Konferensi sebelumnya.
3. Rapat Anggota
Pada tingkat kekuasaan terendah Rapat Anggota merupakan forum yang
dihadiri oleh semua anggota komisariat yang diadakan tiap tahun. Wewenang dan
kekuasaan yang dimiliki oleh Rapat Anggota adalah :
1. Menilai pertanggungjawaban Pengurus Komisariat.
2. Menetapkan Garis Besar Program Kerja Komisariat.
3. Memilih Ketua Umum HMI yang merangkap sebagai Formatur.
konstitusi.indd 32 25/07/2009 22:36:13
33
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
7
4. Memilih 4 (empat) Mide Formatur yang bertugas membantu Formatur dalam
pembentukan struktur kepengurusan. Mide Formatur akan bubar dengan
sendirinya saat Pengurus yang dibentuk dilantik.
5. Menentukan agenda-agenda komisariat lainnya.
Peserta yang hadir dalam Rapat Anggota terdiri dari Pengurus Komisariat,
Anggota Komisariat, dan Undangan Pengurus Komisariat. Anggota komisariat
memiliki hak untuk bicara dan hak suara sedangkan undangan memiliki hak bicara
atas ijin dari pimpinan sidang Rapat Anggota. Berbeda dengan kongres dan
konferensi pengurus komisariat memiliki hak untuk bicara dan hak suara setelah ia
telah menyelesaikan pertanggungjawabannya dan dinyatakan demisioner. Itu
artinya ia menjadi anggota biasa dalam Rapat Anggota setelah
pertanggungjawaban.
Rapat Anggota dapat dimulai ketika dihadiri oleh lebih dari separuh anggota
komisariat. Jika tidak dapat terpenuhi maka acara dapat diundur maksimal 1 x 24
jam. Jika tetap tidak terpenuhi rapat anggota tetap bisa dilanjutkan dan dianggap
sah. Proses pemilihan pimpinan sidang Rapat Anggota sama dengan Kongres dan
Konferensi dalam bentuk presidium.
Rapat Anggota Luar Biasa merupakan rapat anggota yang dilakukan dalam
kondisi menyimpang. Rapat Anggota luar biasa dapat dilakukan jika lebih dari
separuh Pengurus komisariat setuju untuk melakukannya. Prosedur Rapat anggota
luar biasa yang harus dijalankan adalah:
1. Satu anggota melakukan pengusulan Rapat Anggota Luar Biasa kepada Ketua
Umum Komisariat.
2. Jika usulan ini disetujui oleh sebagain besar pengurus, maka pengusul
memimpin pembentukan Panitia dan Steering Comite pelaksanaan Rapat
Anggota Luar biasa.
3. Pembentukan ini harus terbentuk dalam waktu 1 bulan setelah pengusulan
Rapat Anggota luar biasa. Jika dalam waktu satu bulan belum terbentuk maka
Rapat Anggota Luar Biasa tidak boleh dilaksanakan.
konstitusi.indd 33 25/07/2009 22:36:13
34
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
8
BAB III
STRUKTUR PIMPINAN
Struktur Pimpinan merupakan struktur yang memiliki peran dalam menjalankan
amanah yang dihasilkan oleh struktur kekuasaan. Dalam HMI ada tiga bentuk Struktur
Pimpinan, yaitu Pengurus Besar, Pengurus Cabang dan Pengurus Komisariat.
1. Tingkatan Struktur Organisasi
A. Pengurus Besar
Pengurus Besar merupakan sebuah struktur perwujudan HMI itu sendiri
yang dipimpin oleh Ketua Umum. Artinya sentral keberadaan HMI adalah
Pengurus Besar itu sendiri. Pada Pengurus Besar Ketua Umum memimpin
struktur yang terdiri dari Sekretaris Jendral, Bendahara Umum, Pengurus Harian
Ketua-Ketua Komisi Kebijakan, Ketua-ketua Lembaga koordinasi yang bernama
Badan Koordinasi, kepala lembaga-lembaga Kekaryaan dan Pimpinan Lembaga-
lembaga Khusus.
Formasi struktur Pengurus Besar ditentukan oleh Formatur Kongres (Ketua
Umum), dibantu oleh para Mide Formatur sebagai pemberi saran. Formaturiat
(formatur dan mide Formatur) dapat menerima saran dari cabang-cabang dan
dapat juga menolaknya. Pada Lembaga Koordinsai dan Lembaga Kekaryaan,
forumatur (Ketua Umum) hanya dapat memilih 1 diantara 3 orang yang
diusulkan oleh forum musyawarah lembaga tersebut sebagai Ketua Lembaga.
Dan ketua lembaga memiliki wewenang menentukan sendiri aparatur
lembaganya dengan status yang sama sebagai Pengurus Besar.
Ketua Umum dalam kondisi tidak mampu mengendalikan strukutur
Pengurus Besar dalam jangka waktu tertentu dapat menunjuk Pejabat
Sementara Ketua Umum. Jangka Waktu penunjukan Pejabat Sementara Ketua
Umum ini maksimal dalam waktu 3 bulan atau setengah jarak antar rapat Pleno.
Jika Melebihi Jangka Waktu tersebut maka Ketua Umum harus diganti secara
permanen. Pengganti Ketua Umum ini bernama pejabat Ketua Umum.
Penggantian ini bisa dilakukan dengan penunjukan oleh Ketua Umum atau
dengan keputusn Rapat Pleno PB.
Hal yang sama juga berlaku bagi Sekretaris Jendral, Ketua Lembaga-
Lembaga, dan Ketua Komisi Kebijakan. Bagi staf Sekretaris Jendral, Bendahara
konstitusi.indd 34 25/07/2009 22:36:13
35
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
9
Umum, Komisi-komisi Kebijakan dapat diganti oleh Ketua Umum sewaktu-waktu.
Staf yang masuk dalam lembaga-lembaga hanya dapat diganti oleh Ketua
lembaga tersebut atau dengan keputusan Rapat Pleno Pengurus Besar.
Pengurus Besar memiliki peran eksekutor atas hasil Kongres. Oleh sebab
itu Ketua Umum sebagai kader yang diberi Amanah oleh Kongres dan sebagai
pemimpin atas pelaksanaan amanah tersebut harus mempertanggungjawabkan
perjalanan Pengurus Besar dalam satu periode. Pembeda peran struktur
Pengurus Besar dan struktur pimpinan lainnya adalah sifat kerjanya. Pengurus
Besar dalam HMI lebih bersifat sebagai pengambil kebijakan (regulator).
Pengurus Besar hanya membuat kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu bagi
HMI dalam kehidupannya dengan organ lainnya dan kebijakan-kebijakan HMI
dalam kehidupannnya sendiri.
Kebijakan-kebijakan organisasi yang bersifat strategis, yaitu: kebijakan
yang mempengaruhi warna dan pola gerak organisasi, harus dikemukakan ke
organ HMI yang lainnya secara baik. Hal ini dijalankan agar tingkat
kesepahaman seluruh elemen organisasi mencapai pada tingkat yang bisa
terhindar dari kesalahan komunikasi. Ada beberapa ciri utama yang bisa
dikatakan sebagai sebuah kebijakan strategis yaitu:
1. Melibatkan struktur cabang atau struktur komisariat secara
menyeluruh dalam pelaksanaannya
2. Mempengaruhi posisi organisasi diantara posisi organisasi lainnya
ditingkat nasional ataupun internasional.
3. Melibatkan sumber daya yang lebih besar dari sumber daya yanga ada
di Pengurus Besar selama satu semeter, baik itu sumber daya Manusia
ataupun sumber daya finansial.
Ciri khas nomer 1 dan 2 merupakan ciri khas yang tidak terpisahkan sedangkan
nomer 3 merupakan ciri khas yang bisa diambil dan bisa juga tidak. Dengan kata
lain ada 2 kondisi dimana suatu kebijakan Pengurus Besar disebut dengan
kebijakan strategis yaitu kondisi yang memiliki unsur nomer 1 dan 2 atau juga
dan 3 dan kondisi yang yang memiliki unsur nomer 3 saja.
Kebijakan strategis yang diambil oleh Pengurus Besar ini dalam pola
komunikasinya harus dikemukakan dalam Rapat pimpinan cabang. Pada forum
inilah Pengurus Besar diwajibkan bertukar pikiran atas kebijakan strategis yang
diambilnya. Pada dasarnya rapat pimpinan cabang tidak bisa menolak atau
konstitusi.indd 35 25/07/2009 22:36:13
36
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
10
memveto kebijakan strategis yang diambil Pengurus Besar karena hubungan
antara PB dan pimpinan cabang dalam rapat pimpinan ini adalah hubungan
konsultasi dimana kehadran PB ada jika ada yang perlu dikonsultasikan atau
dikomunikasikan. Namun demikian sikap penolakan para pimpinan cabang akan
menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan kebijakan strategis Pengurus Besar.
B. Pengurus Cabang
Pengurus Cabang merupakan sebuah struktur pimpinan dari sebuah
cabang yang dibentuk oleh Pengurus Besar. Pembentukan Cabang dilakukan jika:
1. Adanya sumber daya yang dipandang mampu menggerakan cabang selama
kurun waktu minimal 2 tahun.
2. Adanya sarana komunikasi yang dapat menciptakan kondisi transfer informasi
antara cabang dan Pengurus Besar dan dengan cabang-cabang lainnya.
3. Pembentukan cabang didasarkan atas pertimbangan dan kemampuan elemen
Pengurus Besar yang bernama Badan Koordinasi dalam menjaga eksistensi
cabang minimal selama 2 tahun.
4. Pembentukkan cabang baru oleh disuatu kota atau kabupaten yang sudah
ada cabangnya harus seizin cabang yang bersangkutan.
Suatu Cabang dapat ”diberikan sanksi” oleh Pengurus Besar jika Pengurus
Cabang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebijakan Pengurus Besar
atau melakukan pelanggaran-pelanggaran konstitusi. Tahapannya adalah:
Teguran 1 : Dalam waktu maksimal 3 bulan cabang harus melakukan
tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Besar. Teguran ini
hanya diketahui oleh Cabang dan Pengurus Besar.
Teguran 2 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya cabang harus
melakukan tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Besar.
Teguran ini dapat diketahui oleh cabang lain di satu wilayah
Badan Koordinasinya.
Teguran 3 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya cabang harus
melakukan tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Besar.
Teguran ini dapat diketahui oleh cabang lain diseluruh Indonesia.
Sanksi : Penurunan status cabang dari status cabang penuh ke cabang
persiapan,kemudian cabang diberi waktu maksimal 3 bulan
konstitusi.indd 36 25/07/2009 22:36:13
37
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
11
untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan permintaan
Pengurus Besar.
Pembekuan : Jika cabang tetap tidak mengikuti kebijakan Pengurus Besar
maka Pengurus Besar berhak membekukan pengurus cabang
tersebut dan menggantinya dengan kepengurusan baru melalui
penunjukan langsung. Masa pembekuan sampai terbentuknya
Pengurus Cabang baru ini dilakukan maksimal selama 2 tahun.
Dalam kurun waktu ini, Badan Koordinasi melakukan pemulihan
kondisi agar kebijakan PB dapat diikuti atau pelanggaran
konstitusi dapat diatasi dan agar syarat-syarat cabang dapat
terpenuhi.
Pembubaran : Jika dalam kurun waktu 2 tahun tidak ada tanda-tanda kedua
kondisi diatas dapat dipenuhi secara menyeluruh maka PB dapat
melakukan pembubaran Cabang.
Cabang yang dibekukan tidak memiliki hak apapun dalam kongres dan
forum-forum lainnya kecuali hak untuk hadir dan hak mendapatkan informasi
atas segala hal yang berkaitan dengan HMI. Aktifitas keanggotaan dapat terus
berlangsung dengan kendali ketua Badan Koordinasi sebagai pimpinan cabang.
Namun aktifitas eksternal tidak dapat dilakukan sama sekali.
Cabang yang dibentuk dari status ”tidak ada cabang” atau Cabang yang
dipulihkan dari status ”Cabang dibekukan” adalah Cabang yang berstatus
”Persiapan”. Perbedaan status ini hanya memiliki perbedaan pada hak jumlah
utusan yang bisa dikirim ke kongres. Utusan bagi cabang persiapan maksimal
hanya 1 utusan saja walaupun jumlah anggotanya melebihi dari porsi 1 utusan
cabang. Status cabang Persiapan dapat berlaku maksimal dalam waktu 1 tahun.
Pengurus Cabang terdiri dari Pengurus Harian, Pimpinan Lembaga
Koordinasi, Pimpinan Lembaga Khusus dan Pimpinan Lembaga Kekaryaan serta
semua stafnya. Pengurus Harian dipilih oleh Formatur dan ditetapkan oleh Ketua
Umum, sedangkan Pimpinan Lembaga Koordinasi, Lembaga Khusus dan Lembaga
Kekaryaan ditetapkan oleh Ketua Umum berdasarkan usulan musyawarah
Lembaga. Staf yang ada dikepengurusan ditetapkan oleh Ketua Umum.
Pengurus cabang memiliki peran yang berbeda dengan Pengurus Besar.
Pengurus cabang memiliki fungsi Mobilisator organisasi. Hal ini mengakibatkan
konstitusi.indd 37 25/07/2009 22:36:13
38
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
12
wilayah kerjanya yang berbeda dengan PB. Wilayah kerja Pengurus Cabang
adalah;
1. Melaksanakan kebijakan Pengurus Besar
2. Melaksanakan Keputusan Konferensi
3. Mengangkat dan memberhentikan Kader.
4. Menggerakan Kader HMI dalam menjalankan kebijakan Pengurus Besar.
5. Meningkatkan kapasitas Kader HMI.
6. Melibatkan anggota dalam partisipasi dinamika masyarakat di wilayahnya.
Dari gambaran diatas maka akan terlihat bahwa kemampuan yang
dituntut dalam diri seorang Pengurus Cabang atau sekelompok Pengurus Cabang
adalah :
1. Mengkonsep sebuah aktifitas dalam sebuah tahapan beserta target dan
tujuan selama satu periode kepngurusan.
2. Kemampuan mengajak Kader dalam beraktifitas dalam sebuah Tim.
3. Menjadi figur tauladan bagi struktur dibawahnya yaitu komisariat.
4. Mampu menggerakan organisasi HMI dalam dinamika lingkungan sekitarnya.
C. Pengurus Komisariat
Pengurus Komisariat merupakan sebuah struktur Pimpinan di bawah
tingkatan cabang yang dibentuk oleh Pengurus Cabang. Pembentukan Komisariat
dilakukan jika memenuhi beberapa syarat utama yaitu:
1. Adanya institusi pendidikan tinggi yang jelas dapat dikelompokan dalam satu
komisariat atau lebih.
2. Adanya sumber daya yang dipandang mampu menggerakan Komisariat selama
kurun waktu minimal 1 tahun.
3. Letak geografis institusi pendidikan tinggi dengan sekretariat cabang yang
berjarak 5 Kilometer.
4. Pembentukan Komisariat didasarkan atas pertimbangan dan kemampuan
elemen Pengurus Cabang yang bernama Koordinasi Komisariat atau Bidang
kerja yang memiliki fungsi dan peran internal (bagi cabang yang tidak
memiliki Koordinator Komisariat) dalam menjaga eksistensi Komisariat
minimal selama 1 tahun.
Suatu Komisariat dapat ”diberikan sanksi” oleh Pengurus Cabang jika
Pengurus Komisariat melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kebijakan
konstitusi.indd 38 25/07/2009 22:36:13
39
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
13
Pengurus Cabang atau melakukan pelanggaran-pelanggaran konstitusi.
Tahapannya sanksi terebut adalah:
Teguran 1 : Dalam waktu maksimal 3 bulan Komisariat harus melakukan
tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus Cabang. Teguran
ini hanya diketahui oleh Komisariat dan Pengurus Cabang.
Teguran 2 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya Komisariat harus
melakukan tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus
Cabang. Teguran ini dapat diketahui oleh Komisariat lain di satu
wilayah Badan Koordinasinya.
Teguran 3 : Dalam waktu maksimal 3 bulan berikutnya Pengurus Komisariat
harus melakukan tindakan sesuai dengan yang diminta Pengurus
Cabang. Teguran ini dapat diketahui oleh Komisariat lain
diseluruh Cabang.
Sanksi : Penurunan status Komisriat dari status Komisariat penuh ke
komisariat persiapan, kemudian pengurus komisariat diberi
waktu maksimal 3 bulan untuk melakukan tindakan yang sesuai
dengan permintaan pengurus cabang.
Pembekuan : Jika Pengurus Komisariat tetap tidak mengikuti kebijakan
Pengurus Cabang maka Pengurus cabang berhak membekukan
Kepengurusan Komisariat tersebut dan menggantinya dengan
kepengurusan baru melalui penunjukan langsung. Masa
pembekuan sampai terbentuknya Pengurus Komisariat baru ini
dilakukan maksimal selama 2 tahun. Dalam kurun waktu ini,
Koordinator Komisariat melakukan pemulihan kondisi agar
kebijakan Pengurus Cabang dapat diikuti atau pelanggaran
konstitusi dapat diatasi dan agar syarat Komisariat terpenuhi.
Pembubaran : Jika dalam kurun waktu 2 tahun tidak ada tanda-tanda kedua
kondisi diatas dapat dipenuhi secara menyeluruh maka Pengurus
Cabang dapat melakukan pembubaran Komisariat.
Komisariat yang dibekukan tidak memiliki hak apapun dalam Konferensi
dan forum-forum HMI lainnya kecuali hak untuk hadir dan Hak mendapatkan
informasi atas segala hal yang berkaitan dengan HMI. Aktifitas keanggotaan
dapat terus berlangsung dengan kendali ketua Koordinator Komisariat sebagai
pimpinan cabang. Namun aktifitas eksternal tidak dapat dilakukan.
konstitusi.indd 39 25/07/2009 22:36:13
40
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
14
Komisariat yang dibentuk dari status ”tidak ada Komisariat” atau
Komisariat yang dipulihkan dari status ”Komisariat dibekukan” adalah
Komisariat yang berstatus ”Persiapan”. Perbedaan status ini hanya memiliki
perbedaan pada hak jumlah utusan yang bisa dikirim ke Konferensi. Utusan bagi
Komisariat persiapan maksimal hanya 1 utusan saja walaupun jumlah
anggotanya melebihi dari porsi 1 utusan. Status Komisariat Persiapan dapat
berlaku maksimal dalam waktu 1 tahun.
Pengurus Komisariat minimal terdiri dari pimpinan Komisariat yang
bernama ”Ketua Komisariat” dan Sekretaris Komisariat. Kemudian Ketua
Komisariat dapat membentuk struktur dibawahnya atau tidak sama sekali.
Seperti halnya Pengurus Cabang, Pengurus Komisariat memiliki peran yang
berbeda dengan Struktur pimpinan lainnya. Pengurus Komisariat memiliki fungsi
sebagai kantong massa. Hal ini mengakibatkan wilayah kerjanya yang berbeda
dengan Pengurus Cabang. Wilayah kerja Pengurus Komisariat adalah;
1. Melaksanakan Kebijakan Pengurus Cabang
2. Melaksanakan Keputusan Rapat Anggota
3. Melindungi Kader HMI dalam aktifitas dilingkungannya
4. Menjaga kekerabatan antar anggota HMI.
5. Melibatkan kader agar berpartisipasi dalam dinamika lingkungan
akademisnya.
2. Struktur Organisasi Tiap Tingkatan
A. Formatur dan Mide Formatur
Formatur adalah pimpinan HMI pada tingkatannya yang belum memiliki
pengurus dalam menjalankan amanah yang diberikan oleh struktur
kekuasaannya. Tugas utama formatur adalah membentuk kepengurusan. Dalam
menjalankan tugas ini ia dibantu oleh Mide Formatur. Setelah kepengurusan
terbentuk dan dilantik maka formatur dan mide formatur bubar secara
sendirinya.
Namun ia memiliki batasan waktu dalam penyelesaian tugas ini. Formatur
maksimal harus mampu membentuk suatu kepengurusan (sampai pengurus itu
dilantik) selama-lamanya 6 bulan untuk tingkat Pusat dan 3 bulan untuk tingkat
cabang, komisariat dan untuk lembaga khusus dan lembaga kekaryaan di
tingkatannya. Jika dalam batasan waktu ini formatur tidak dapat membentuk
konstitusi.indd 40 25/07/2009 22:36:13
41
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
15
kepengurusan maka satu atau beberapa cabang dapat memulai untuk melakukan
Kongres Istimewa (untuk tingkat Pusat) atau Konferensi Luar Biasa (untuk
tingkat Cabang) atau Rapat Anggota luar biasa (untuk tingkat Komisariat). Dan
untuk lembaga khusus dan lembaga kekaryaan diserahkan kepada kebijakan
struktur pimpinan.
Formatur dapat mengambil segala tindakan atas segala hal yang diperlukan
untuk menjaga eksistensi lembaga terhadap lingkungan eksternalnya ataupun
terhadap lingkungan internalnya. Dengan kata lain formatur dapat melakukan
segala sesuatu yang dapat dilakukan oleh Ketua Umum. Namun hal ini tidak
berlaku bagi mide formatur.
B. Ketua Umum
Pimpinan HMI dikenal sebagai Ketua Umum. Pada Pengurus Besar,
Pimpinan HMI adalah ”Ketua Umum HMI”. Bagi pimpinan Lembaga-lembaga HMI
disebut dengan ”Ketua”. Ketua Umum HMI, adalah kader yang dipilih melalui
Kongres untuk memimpin organisasi HMI secara mnyeluruh. Ia-lah yang akan
diminta pertanggung-jawabannya atas gerak organsasi HMI selama satu periode
kepengurusan. Pada perjalanan organisasi ia memimpin sebuah tim kerja yang
bernama Pengurus Besar untuk menjalankan amanah-amanah Kongres. Tim kerja
inilah yang berhak memakai segala perangkat struktur HMI lainnya baik itu
cabang atau komisariat untuk mencapai tujuan yang ditentukan dalam Kongres.
Pimpinan Komisi Kebijakan dan Bidang Kerja hanya dapat menggunakan
kata ”ketua” saja dalam dokumen organisasi. Karena Pimpinan Komisi Kebijakan
merupakan pimpinan HMI yang berada di bawah Ketua Umum. Namun ketua
lembaga lainnya menggunakan istilah Ketua Badko (untuk Lembaga Koordinasi
tingkat Pusat) dan Istilah Ketua Korkom (untuk Lembaga Koordinasi tingkat
cabang). Bagi pimpinan lembaga khusus dan lembaga kekaryaan, mereka dapat
menggunakan istilah lain (selain ”Ketua Umum HMI”) sesuai dengan ketetapan
lembaganya.
Para Ketua Komisi Kebijakan dan bidang kerja hanya boleh membubuhkan
tanda tangan dalam administrasi surat menyurat Kepengurusan HMI ketika di
dampingi oleh bubuhan tanda tangan Sekretaris Jenderal HMI disisi kanan Surat.
Namun hal ini tidak berlaku bagi Lembaga Koordinasi dan Lembaga Kekaryaan
serta Lembaga Khusus yang diberi wewenang dalam kebijakan administrasi
kelembagaannya.
konstitusi.indd 41 25/07/2009 22:36:13
42
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
16
Khusus bagi Ketua Umum, baik itu pada tingkat Pusat, Cabang ataupun
Komisariat, harus mendelegasikan kekuasaannya untuk sementara waktu kepada
salah satu ketua dibawahnya atau sekretaris (sekjen atau sekum) atau
Bendahara Umum, jika ia tidak mampu menjalankan tugas dalam kurun waktu
minimal 14 hari sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar) atau 3 bulan (untuk
Pengurus Cabang). Ketua yang menerima pendelegasian ini disebut Pejabat
Sementara Ketua Umum.
Jika lebih dari 6 bulan bagi Ketua Umum PB HMI atau lebih dari 3 bulan
bagi Ketua Umum Cabang atau Komisariat tidak mampu menjalankan aktifitas
keorganisasian maka Ketua Umum dapat digantikan secara tetap dengan salah
satu ketua yang ada dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Ketua Umum
ini dinamakan sebagai ”Pejabat Ketua Umum”. Pejabat Ketua Umum dapat
meneruskan periode kepengurusan sampai habis dengan segala wewenang dan
tanggungjawab yang sama dengan yang dimiliki Ketua Umum.
C. Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum
Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum merupakan bagian dari Struktur
Kepemimpinan yang memiliki peran membantu Ketua Umum dalam menjaga
kestabilan gerak Struktur Kepemimpinan. Pada tingkat Pengurus Besar skeretaris
bernama Sekretaris Jendaral namun pada tingkat Pengurus Cabang dan Pengurus
Komisariat seretaris bernama Sekretaris Umum. Peran Sekretaris Jenderal atau
Sekretaris Umum sendiri ada tiga macam yaitu:
1. Fasilitator bagi seluruh perangkat HMI dalam menjalankan aktifitasnya
2. Protokol atas semua bagian Struktur Kepemimpinan
3. Administratur Struktur Kepemimpinan dalam gerak aktifitasnya.
Sekretaris Jendral dan Sekretaris Umum ditentukan dan ditetapkan oleh
Formatur dan Mide Formatur. Namun para staf sekretaris ditentukan oleh
Sekeretaris Jendral atau Sekretaris Umum dengan Surat Keputusan Ketua Umum
Struktur Kepemimpinan HMI. Dengan demikian sekeretaris dan seluruh stafnya
bertanggungjawab kepada Ketua Umum. Pada diri mereka selama menjadi
(Sekretaris Jenderal atau Sekretaris Umum atau staf) melekat kewajiban untuk
membantu Ketua Umum saat diminta ataupun tidak diminta.
Sekretaris Jenderal pada tingkat Pengurus Besar dan Sekretaris Umum
pada tingkat Cabang, harus mendelegasikan kekuasaannya untuk sementara
waktu kepada salah satu ketua dibawahnya jika ia tidak mampu menjalankan
konstitusi.indd 42 25/07/2009 22:36:13
43
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
17
tugas dalam kurun waktu minimal 14 hari sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar)
atau 3 bulan (untuk Pengurus cabang). Ketua yang menerima pendelegasian ini
disebut sebagai Pejabat Sementara Sekretaris Jendral (pada Pengurus Besar)
atau Pejabat Sementara Sekeretaris Umum (pada Pengurus Cabang atau
Pengurus Komisariat).
Jika lebih dari 6 bulan bagi Sekretaris Jenderal Pengurus Besar HMI atau
lebih dari 3 bulan bagi Sekretaris Umum Pengurus Cabang atau Komisariat tidak
mampu menjalankan aktifitas keorganisasian maka Sekretaris Jenderal atau
Sekretaris Umum dapat digantikan secara tetap dengan salah satu ketua yang
ada dibawahnya melalui Rapat Pleno. Pengganti Sekretaris Jenderal atau
Sekretaris Umum ini dinamakan sebagai ”Pejabat Sekretaris Jenderal” bagi
Pengurus Besar dan ”Pejabat Sekretaris Umum” bagi Pengurus Cabang dan
Komisariat. ”Pejabat Sekretaris Jenderal” dan ”Pejabat Sekretaris Umum”
dapat meneruskan periode kepengurusan sampai habis dengan memiliki
wewenang dan tanggungjawab yang sama dengan Sekretaris Jendral dan
Sekretaris Umum
D. Bendahara Umum
Bendahara Umum merupakan bagian dari Struktur Kepemimpinan yang
memiliki peran membantu Ketua Umum dalam wilayah keungan Organisasi.
Wewenang Bendahara Umum sendiri ada beberapa yaitu :
1. Melakukan regulasi atas penggunaan segala aset yang dimiliki oleh HMI.
2. Menentukan distibusi Keuangan ke tiap elemen Struktur Kepemimpinan.
3. Mengontrol penggunaan aset HMI oleh seluruh elemen Struktur
Kepemimpinan.
4. Mencari dan mengelola sumber keuangan HMI baik itu dari lingkungan
eksternal dan lingkungan internal HMI.
Bendahara Umum ditentukan dan ditetapkan oleh Formatur dan Mide
Formatur. Namun para staf Kebendaharaan ditentukan oleh Bendahara Umum
dengan SK Ketua Umum Struktur Kepemimpinan HMI. Dengan demikian
Bendahara Umum dan seluruh stafnya bertanggungjawab kepada Ketua Umum.
Sebagaimana halnya Ketua Umum, Bendahara Umumpun baik itu pada
tingkat Pusat, Cabang ataupun Komisariat, harus mendelegasikan kekuasaannya
untuk sementara waktu kepada salah satu Ketua atau Sekretaris (sekjen atau
sekum) jika ia tidak mampu menjalankan tugas dalam kurun waktu minimal 14
konstitusi.indd 43 25/07/2009 22:36:14
44
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
18
hari sampai 6 bulan (untuk Pengurus Besar) atau 3 bulan (untuk Pengurus
cabang). Bendahara yang menerima pendelegasian ini disebut ”Pejabat
Sementara Bendahara Umum”.
Jika lebih dari 6 bulan bagi Bendahara Umum PB HMI atau lebih dari 3
bulan bagi Bendahara Umum Cabang atau Komisariat masih belum mampu
menjalankan aktifitas keorganisasian maka Ketua Umum dapat digantikan secara
tetap dengan salah satu ketua yang ada dibawahnya melalui Rapat Pleno.
Pengganti Ketua Umum ini dinamakan sebagai ”Pejabat Bendahara Umum”.
Pejabat Bendahara Umum dapat meneruskan periode kepengurusan sampai
habis dengan segala wewenang dan tanggungjawab yang sama dengan yang
dimiliki Bendahara Umum.
E. Pengurus Harian
1. Komisi Kebijakan
Komisi Kebijakan adalah bagian dari Struktur Kepemimpinan HMI
ditingkat pusat yang membantu Ketua Umum dalam menjalankan Amanah
Kongres. Komisi Kebijakan berfungsi sebagai pengambil kebijakan pada
tubuh HMI dan tidak mengambil fungsi kerja teknis dalam HMI. Dengan
demikian Komisi kebijakan menjadi regulator penentu sikap HMI atas dirinya
sendiri dan dinamika masyarakat luas.
Pembentukan dan pembagian Komisi Kebijakan dilakukan oleh
Formatur dan Mide Formatur. Tiap Komisi Kebijakan dikoordinir oleh Ketua
Komisi Kebijakan dan kesemua Ketua Komisi Kebijakan dipimpin oleh Ketua
Umum dan Sekretaris Jendral HMI. Ketua Komisi inilah inilah yang kemudian
memilih anggota komisinya dengan ketetapan Ketua Umum Pengurs Besar
HMI. Jumlah anggota Komisi Kebijakan ditentukan oleh Ketua Umum dan
Sekretaris Jendral dalam jumlah angka bilangan prima. Anggota Komisi
Kebijakan dapat diberhentikan dan diganti serta ditambah atas Keputusan
Rapat Pleno Pengurus Besar.
2. Bidang Kerja
Bidang kerja adalah bagian dari pengurus HMI ditingkat cabang dan
komisariat yang mempunyai tugas untuk membantu Ketua Umum dalam
menjalankan amanah Konferensi dalam pembagian bidang-bidang kerja.
Bidang kerja ini tidak sama halnya Komisi Kebijakan pada Pengurus Besar.
Bidang kerja memiliki wewenang dalam melakukan aktifitas internal
konstitusi.indd 44 25/07/2009 22:36:14
45
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
19
organisasi dan aktifitas eksternal organisasi. Dengan kata lain wewenang
kerjanya lebih luas dari pada Komisi Kebijakan Pengurus Besar yang berada
pada wilayah eksternal HMI.
Pembentukan dan pembagian Bidang Kerja dilakukan oleh Formatur
dan Mide Formatur. Bidang-bidang Kerja ini dikoordinir oleh Ketua ketua
idang, dan para ketua bidang dipimpin langsung oleh Ketua Umum. Pemilihan
Ketua-ketua bidang ini dilakukan oleh Formatur dan Mide Formatur dan jika
ada pergantian maka pergantian dilakukan oleh Presidium Kepengurusan.
Ketua-ketua Bidang ditetapkan oleh Ketua Umum dan bertanggungjawab
kepada Ketua Umum.
Staf yang dimiliki Bidang Kerja semuanya ditentukan oleh masing-
masing Ketua Bidang melalui ketetapan Ketua Umum. Di tingkatan cabang
seluruh personel Pengurus Harian diharapkan minimal telah melalui jenjang
latihan Kader II. Standar kualitas kader ini diharapakan agar cabang mampu
menjalankan aktifitas berupa aktualisasi lembaga atau kader HMI
dilingkungan masyarakat lokalnya. Sehingga keberadaan Pengurus Cabang
dirasakan manfaatnya pada lingkungan sekitarnya.
3. Unit Aktifitas
Pada tngkat Komisariat Unit Aktifitas adalah bagian dari struktur
kepengurusan. Elemen struktur ini mempunyai tugas untuk membantu Ketua
Umum dalam menjalankan amanah Rapat Anggota. Bentuk struktur unti
aktifitas dapat berupa unit kerja yang memiliki jangka waktu kurang dari
satu periode atau bidang kerja yang memiliki waktu satu periode.
Fleksibilitas ini untuk menekankan agar beban struktural tidak terlalau berat
dipikul pada tingkat Komisariat. Namun yang akan menjadi fokus dari
komisariat adalah menjaga kebersamaan kader dalam lingkungan
strukturnya.
Sehingga aktifitas organisasi pada tingkat Komisariat tidak
memerlukan banyak aktifitas formal dan struktur formal pula. Pengutamaan
penciptaan kondisi kebersamaan kader membuat struktur pada tingkatan
komisariat tidak perlu baku dan tetap. Ketua Umum Komisariat dapat
merancang bentuk struktur yang cocok dalam lingkungan komisariatnya.
Mulai dari unit aktifitas yang paling sederhana sampai unit aktifitas
dalambentuk bidang kerja.
konstitusi.indd 45 25/07/2009 22:36:14
46
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
20
Pimpinan Unit Aktifitas dapat diberi nama apapun oleh formatur dan
mide formatur. Pimpinan unit aktifitas ini dipilih dan ditetapkan oleh
Formatur dan Mide Formatur namun para stafnya dapat dipilih langsung oleh
para pimpinan Unit Aktifitas dengan Surat Keputusan Ketua Umum.
Pergantian pimpinan Unit Aktifitas dan para stafnya dapat dilakukan dalam
Rapat Presidium Komisariat namun tetap dengan Surat Keputusan Ketua
Umum. Oleh sebab itu para pimpinan Unit Aktifitas beserta para stafnya
harus bertanggungjawab pada Ketua Umum atas segala aktifitas
keorganisasiannya.
F. Lembaga Koordinasi
1. Badan Koordinasi
Lembaga Koordinasi pada tingkat Pusat dinamakan Badan Koordinasi.
Badan Koordinasi ini memiliki sifat yang Semi Otonom dari struktur Pengurus
Besar. Semi Otonom artinya:
a. Badan Koordinasi melalui Musyawarah Badan Kordinasi Badan Koordinasi
(Musbadko) diberi hak untuk menentukan calon ketuanya dengan
mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum
Pengurus Besar.
b. Ketua Badan Koordinasi diberi hak untuk mengangkat staf
kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut memiliki
status yang sama sebagai Pengurus Besar.
c. Badan Koordinasi diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya
diluar forum rapat penentuan agenda kerja Pengurus Besar.
d. Badan Koordinasi diberi hak penuh dalam mengelola cabang-cabang HMI
yang ada dalam wilayah kerjanya.
e. Ketua Umum PB berhak memveto seluruh bagian yang dilahirkan oleh
Badan Koordinasi, Termasuk memberhentikan dan menggantikan posisi
Ketua Badan Koordinasi atas persetujuan Rapat Pleno PB. Catatannya,
pengganti yang ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain
Ketua Badko yang akan diganti) yang diajukan oleh Musbadko terakhir
dan untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
f. Ketua Badan Koordinasi tetap bertanggungjawab atas segala aktifitasnya
kepada Ketua Umum Pengurus Besar.
konstitusi.indd 46 25/07/2009 22:36:14
47
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
21
Sifat kerja yang mengambil peran internal dan eksternal antar elemen
dalam HMI dan membantu pelaksanaan amanah menjadi hal yang
membedakan sifat kerjanya dengan lembaga lainnya. Badan Koordinasi juga
bertugas melakukan pembentukan dan penyehatan cabang. Tugas ini
dilakukan dengan membuat sarana dan prasarana yang memungkinkan
cabang hidup dengan baik dan mandiri. Akibatnya ia memiliki kewenangan
atas prosesi pelantikan Pengurus Cabang dan menjamin keberlangsungan
kesehatan perkaderan di cabang-cabang wilayahnya. Namun SK Pembentukan
cabang dan Surat keputusan pelantikan Pengurus Cabang tetap dikeluarkan
oleh Ketua Umum dan Sekjen PB HMI.
Selain bertanggungjawab kepada Ketua Umum Pengurus Besar HMI
Ketua Badan Koordinasi wajib melaporkan segala aktifitas kepengurusannya
ke Musyawarah Daerah dalam sebuah Laporan Pelaksanaan Tugas. Forum
Musyawarah Daerah tidak memiliki hak dalam penilaian namun memiliki hak
bertanya atas laporan tersebut.
Pada dasarnya tugas utama dari Badan Koordinasi adalah
meningkatkan kualitas kesehatan cabang. Pada pelaksanaannya ia perlu
melakukan pengidentifikasi terlebih dahulu. Tugas Pengidentifikasian
kesehatan cabang inilah yang melekat dalam tubuh Badan Koordinasi.
Berikut pola kesehatan cabang:
Identifikasi Kesehatan Cabang
Awas Bina Sehat Kuat Mapan
Perkaderan
Latihan Kader + + + +
Pengader + + +
Senior Course + +
Kemandirian +
Kepengurusan
Regenerasi + + + +
konstitusi.indd 47 25/07/2009 22:36:14
48
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
22
Proses Pengambilan Kebijakan + + +
Kesekretariatan dan Kualitas
Struktur
+ +
Laporan +
Aktifitas
Kajian + + + +
Kepanitian + + +
Kegiatan Regional + +
Kegiatan Nasional +
Jaringan
Pengakuan + + + +
Intra Kampus + + +
Organisasi masyarakat + +
Organisasi keNegaraan +
+ : Unsur yang harus ada dalam kualifikasi kesehatan cabang.
Dari pengidentifikasian itu lahirlah perlakuan dalam bentuk:
1. Pada status Beku
Petugas : Seluruh Pengurus Badan Koordinasi
Tugas : - Menunjuk Ketum, Sekum, Bendum.
- Membubarkan cabang jika dipandang perlu.
Otoritas : Otoritas penuh dari Pengurus Besar. Namun semua Surat
Keputusan tetap dari Ketua Umum dan Sekretaris Jendral
PB.
Waktu : Selama masih ada anggota tercatat atau anggota belum
semuanya dimutasi ke cabang lain.
2. Pada status Pengawasan
Petugas : Seluruh Pengurus Badan Koordinasi.
Tugas : - Melaksanakan rekruitmen anggota.
konstitusi.indd 48 25/07/2009 22:36:14
49
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
23
- Membekukan cabang jika dipandang perlu.
Otoritas : Penuh atas nama Cabang, sepengetahuan Ketum Cabang.
Waktu : 2 periode kepengurusan cabang.
3. Pada status Pembinaan
Petugas : Tim Asistensi Khusus (Ketua Tim tidak boleh rangkap
jabatan).
Tugas : Melakukan pendampingan dengan memberi bantuan teknis.
Otoritas : Otoritas penuh namun Cabang dapat memveto kebijakan
tim.
Waktu : 2 periode kepengurusan cabang.
4. Pada status Sehat
Petugas : 1 orang konsultan dapat ditambah tim asistensi saat
tertentu.
Tugas : - Memberi konsultasi
- Memberi bantuan teknis jika diminta
Otoritas : Terbatas pada permintaan cabang saja.
Waktu : 2 periode kepengurusan cabang.
5. Pada status Kuat
Petugas : 1 orang Pemantau
Tugas : Memberi motivasi kultural
Otoritas : Terbatas pada permintaan Pengurus Besar saja.
Waktu : 2 periode kepengurusan cabang.
6. Pada status Mapan
Petugas : Seluruh Pengurus Besar
Tugas : menjadikan cabang sebagai model bagi cabang lainnya
Otoritas : tidak ada.
Waktu : selama masih berstatus mapan.
konstitusi.indd 49 25/07/2009 22:36:14
50
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
24
2. Koordinator Komisariat
Lembaga Koordinasi pada tingkat Cabang dinamakan Koordinator
Komisariat. Koordinator Komisariat ini juga memiliki sifat yang Semi Otonom
dari struktur Pengurus Cabang. Semi Otonom artinya:
a. Koordinator Komisariat melalui Musyawarah Kordinasi Komisariat
(Muskom) diberi hak untuk menentukan calon ketuanya dengan
mengusulkan 3 calon ketua untuk dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum
Pengurus Cabang.
b. Ketua Koordinator Komisariat diberi hak untuk mengangkat staf
kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut memiliki
status yang sama sebagai Pengurus Cabang.
c. Koordinator Komisariat diberi otonomi dalam menentukan agenda
kerjanya diluar forum rapat penentuan agenda kerja Pengurus Cabang.
d. Koordinator Komisariat diberi hak penuh dalam mengelola Komisariat-
komisariat HMI yang ada dalam wilayah kerjanya.
e. Ketua Umum pengurus HMI berhak memveto seluruh bagian yang
dilahirkan oleh Koordinator Komisariat. Ketua Umum Pengurus Cabang
Juga berhak memberhentikan dan menggantikan posisi Ketua
Koordinator Komisariat atas persetujuan Rapat Pleno Pengurus Cabang.
Catatannya, pengganti yang ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3
calon (selain Ketua Korkom terpilih) yang diajukan oleh Muskom
terakhir.
f. Ketua Koordinator Komisariat tetap bertanggungjawab atas segala
aktifitasnya kepada Ketua Umum Pengurus Cabang.
Sama seperti halnya Badan Koordinasi, sifat kerja Koordinator
Komisariat mengambil peran internal antar elemen dalam HMI dan
membantu pelaksanaan amanah menjadi hal yang membedakan sifat
kerjanya dengan lembaga lainnya. Koordinator Komisariat juga bertugas
melakukan pembentukan dan penyehatan Komisariat. Akibatnya ia memiliki
kewenangan atas prosesi pelantikan Pengurus Komisariat dan menjamin
keberlangsungan kesehatan perkaderan di cabang-cabang wilayahnya. Namun
SK Pembentukan Komisariat dan Surat Keputusan pelantikan Pengurus
Komisariat tetap dikeluarkan oleh Ketua Umum dan Sekum Pengurus Cabang.
konstitusi.indd 50 25/07/2009 22:36:14
51
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
25
Selain bertanggungjawab kepada Ketua Umum Pengurus Cabang,
Ketua Koordinator Komisariat wajib melaporkan segala aktifitas
kepengurusannya ke Musyawarah Komisariat dalam sebuah Laporan
Pelaksanaan Tugas. Forum Musyawarah Komisariat tidak memiliki hak dalam
penilaian namun memiliki hak bertanya atas laporan tersebut
Sama halnya dengan tugas utama Badan Koordinasi, tugas utama
Koordinator Komisariat juga adalah meningkatkan kualitas kesehatan
Komisariat. Pengidentifikasipun perlu dilakukan. Berikut gambaran
pengidentifikasian yang menjadi acuan peningkatan kualitas nantinya:
Identifikasi Kesehatan Komisariat
Awas Bina Sehat Kuat Mapan
Perkaderan
Forum Perkenalan + + + +
Latihan Kader I + + +
Rutinitas Silaturahim sesama
anggota
+ +
Pengader +
Kepengurusan
Regenerasi + + + +
Proses Pengambilan Kebijakan + + +
Kesekretariatan dan Kualitas
Struktur
+ +
Laporan +
Aktifitas
Kajian + + + +
Kepanitian + + +
Kegiatan Wilayah + +
konstitusi.indd 51 25/07/2009 22:36:14
52
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
26
Kegiatan Cabang +
Jaringan
Pengakuan + + + +
Intra Kampus + + +
Organisasi masyarakat + +
Organisasi keNegaraan +
+ : Unsur yang harus ada dalam kualifikasi kesehatan komisariat.
Dari pengidentifikasian itu lahirlah perlakuan dalam bentuk:
1. Pada status Beku
Petugas : Seluruh Pengurus Koordinator Komisariat.
Tugas : - Menunjuk Ketum, Sekum, Bendum.
- Membubarkan Komisariat jika dipandang perlu.
Otoritas : Otoritas penuh dari Pengurus Cabang. Namun semua Surat
Keputusan tetap dari Ketum dan Sekum Cabang.
Waktu : Selama masih ada anggota tercatat.
2. Pada status Pengawasan
Petugas : Seluruh Pengurus Koordinator Komisariat.
Tugas : - Melaksanakan rekruitmen anggota.
- Membekukan Komisariat jika dipandang perlu.
Otoritas : Penuh atas nama Komisariat, sepengetahuan Ketua Umum
Komisariat.
Waktu : 2 periode kepengurusan Komisariat.
3. Pada status Pembinaan
Petugas : Tim Asistensi Khusus (Ketua Tim tidak boleh rangkap
jabatan).
Tugas : Melakukan pendampingan dengan memberi bantuan teknis.
Otoritas : Otoritas penuh tapi Komisariat dapat memveto kebijakan
tim.
Waktu : 2 periode kepengurusan Komisariat.
konstitusi.indd 52 25/07/2009 22:36:14
53
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
27
4. Pada status Sehat
Petugas : 1 orang konsultan dapat ditambah tim asistensi saat
tertentu.
Tugas : - Memberi konsultasi
- Memberi bantuan teknis jika diminta
Otoritas : Terbatas pada permintaan Komisariat saja.
Waktu : selama masih berstatus sehat.
5. Pada status Kuat
Petugas : 1 orang Pemantau
Tugas : Memberi motivasi kultural
Otoritas : Terbatas pada permintaan Pengurus Cabang saja.
Waktu : selama masih berstatus kuat.
6. Pada status Mapan
Petugas : Seluruh Pengurus Cabang
Tugas : menjadikan Komisariat sebagai model bagi Komisariat
lainnya
Otoritas : tidak ada.
Waktu : selama masih berstatus mapan.
G. Lembaga Khusus
Keberadaan Lembaga Khusus tidak lain untuk melaksanakan tugas-tugas
kewajiban dalam bidang khusus yang tidak dapat tertampung pada struktur
lainnya. Lembaga ini juga bersifat Semi Otonom dari Struktur Pimpinan, artinya:
a. Lembaga Khusus melalui Musyawarah Lembaga diberi hak untuk
menentukan calon pimpinannya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk
dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Besar untuk tingkat Pusat
dan pengurus Cabang pada tingkat cabang.
b. Pimpinan Lembaga Khusus diberi hak untuk membentuk struktur dan
mengangkat staf kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut
memiliki status yang sama (Pengurus Besar untuk tingkat pusat dan
Pengurus Cabang untuk tingkat Cabang).
c. Lembaga Khusus diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya diluar
forum rapat penentuan agenda kerja Struktur Pimpinan.
konstitusi.indd 53 25/07/2009 22:36:14
54
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
28
d. Lembaga ini dapat memiliki Pedoman Lembaganya sendiri yang harus
disetujui oleh Ketua Umum Pengurus Besar.
e. Ketua Umum Pengurus Besar berhak memveto seluruh bagian yang
dilahirkan oleh Lembaga Khusus. Ketua Umum Pengurus Besar juga berhak
memberhentikan dan menggantikan posisi pimpinan Lembaga Khusus atas
persetujuan Rapat Pleno Pengurus Besar. Catatannya, pengganti yang
ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain Pimpinan Lembaga
Khusus terpilih) yang diajukan oleh Musyawarah Lembaga Khusus terakhir
dan untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
f. Ketua Lembaga Khusus tetap bertanggungjawab atas segala aktifitasnya
kepada Ketua Umum Pengurus Besar.
Keberadaan Lembaga Khsusus tidak wajib pada tiap struktur Pimpinan.
Keberadaannya tergantung atas kebutuhan yang ada. Bentuknyapun disesuaikan
dengan kebutuhan dan kepentingan wilayah masing-masing. Lembaga khusus
dapat bekerjasama dengan pihak eksternal dengan diketahui Ketua Pengurus
Besar atau Pengurus Cabang. Contoh dari Lembaga Khusus antara lain, Kohati,
Korps Pengader Cabang, Pusat Arsip dan lainnya. Lembaga ini dapat memiliki
pedoman operasionalnya sendiri.
a. Pimpinan Lembaga Khusus juga diwajibkan membuat sebuah Laporan
Pelaksanaan Tugas pada Musyawarah Lembaga Khusus. Laporan Pelaksanaan
Tugas pada dasarnya sama dengan pertanggungjawaban. Perbedaannya
terletak pada forum dan bentuk pelaksanaannya. Laporan Pelaksanaan
Tugas merupakan proses evaluasi yang dilaksanakan di musyawarah
Lembaga khusus dimana prosesnya dilakukan tanpa ada tahapan penilaian.
Oleh sebab itu forum ini hanya berupa forum pengumuman pelaksanaan
tugas dengan tanya jawab tanpa proses penilaian.
G. Lembaga kekaryaan
Lembaga kekaryaan hadir untuk melaksanakan tugas-tugas dan kewajiban
dalam meningkatkan dan mengembangkan keahlian dan profesionalisme anggota
dibidang tertentu. Lembaga Kekaryaan juga memiliki sifat Semi Otonom dari
Struktur pimpinan. Semi Otonom artinya:
a. Lembaga kekaryaan melalui Musyawarah Lembaga diberi hak untuk
menentukan calon pimpinannya dengan mengusulkan 3 calon ketua untuk
dipilih 1 diantaranya oleh Ketua Umum Pengurus Besar.
konstitusi.indd 54 25/07/2009 22:36:14
55
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
29
b. Pimpinan Lembaga Kekaryaan diberi hak untuk membentuk struktur dan
mengangkat staf kepengurusannya secara sepihak dimana staf-staf tersebut
memiliki status yang sama Pengurus Besar untuk tingkat Pusat dan Pengurus
Cabang untuk tingkat Cabang.
c. Lembaga Kekaryaan diberi otonomi dalam menentukan agenda kerjanya
diluar forum rapat penentuan agenda kerja Struktur Pimpinan.
d. Lembaga Kekaryaan dapat membuat nama lembaganya secara khusus atas
persetujuan Ketua Umum Struktur Pimpinan.
e. Ketua Umum struktur Pimpinan berhak memveto seluruh bagian yang
dilahirkan oleh lembaga Kekaryaan. Ketua Umum Struktur Pimpinan juga
berhak memberhentikan dan menggantikan posisi pimpinan Lembaga
Kekaryaan atas persetujuan Rapat Pleno. Catatannya, pengganti yang
ditetapkan diutamakan dari 2 diantara 3 calon (selain Pimpinan Lembaga
Kekaryaan terpilih) yang diajukan oleh Musyawarah Lembaga terakhir dan
untuk formatur diserahkan kepada kebijakan struktur pimpinan.
f. Pimpinan Lembaga Kekaryaan tetap bertanggungjawab atas segala
aktifitasnya kepada Ketua Umum Struktur Pimpinan.
Keberadaan Lembaga Kekaryaan tidak wajib pada tiap struktur Pimpinan.
Keberadaannya tergantung atas kebutuhan yang ada. Bentuknyapun disesuaikan
dengan kebutuhan dan kepentingan wilayah masing-masing. Lembaga Kekaryaan
dapat bekerjasama dengan pihak eksternal dengan diketahui Ketua Umum.
Pimpinan Lembaga Kekaryaan juga diwajibkan membuat sebuah Laporan
Pelaksanaan Tugas pada Musyawarah Lembaga. Laporan Pelaksanaan Tugas pada
dasarnya sama dengan pertanggungjawaban. Perbedaannya terletak pada forum
dan bentuk pelaksanaannya. Lapaoran Pelaksanaan Tugas merupakan proses
evaluasi yang dilaksanakan di musyawarah Lembaga dimana prosesnya dilakukan
tanpa ada tahapan penilaian. Oleh sebab itu forum ini hanya berupa forum
pengumuman pelaksanaan tugas dengan tanya jawab tanpa proses penilaian.
H. Panitia atau Tim Kerja
Untuk melakukan kegiatan kegiatan organisasi yang bersifat jangka
pendek, maka Struktur Pimpinan dapat membentuk Panitia atau Tim kerja. Hal
serupa juga dapat dilakukan oleh Lembaga-Lembaga Khusus dan lembaga
Lembaga Kekaryaan. Khusus untuk Lembaga Koordinasi ditingkat cabang atau
konstitusi.indd 55 25/07/2009 22:36:15
56
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
30
komisariat. Namun Pengurus Besar dengan segala elemen struktur didalamnya
tidak bisa membuat sebuah kepanitiaan kecuali Panitia Kongres. Jika ada
aktifitas yang membutuhkan kepanitiaan maka Pengurus Besar harus menunjuk
satu cabang sebagai pelaksana, dan kemudian cabang tersebutlah yang
membentuk kepanitiaan.
Perbedaan antara panitia dan tim kerja ada pada strukturnya. Panitia
memiliki struktur yang sama dengan struktur Pimpinan. Dimana seluruh panitia
bertanggungjawab pada ketua panitia dan ketua panitia bertanggungjawab
kepada Struktur Pimpinan. Tim Kerja memiliki anggota yang sama-sama harus
bertanggung-jawab kepada Struktur Pimpinan. Tim memiliki seorang koordinator
yang mengkoordinir aktifitas anggota tim lainnya namun ia bukanlah pimpinan.
Perbedaan lainnya adalah pada pembagian peran. Pembagian peran pada
kepanitian sudah tertuang jelas dalam sebuah surat keputusan pengangkatan
panitia. Namun pada Tim Kerja, pembagian peran baru ada dan muncul saat tim
kerja mulai beraktifitas (tidak ditentukan dan dituangkan dalam sebuah surat
Keputusan pengangkatan Tim Kerja.
Konsekwensinya Kepanitian memiliki kejelasan dan keterbatasan aktifitas
sebagaimana yang ada dalam Surat Keputusan pengangkatan panitia. Sedangkan
Tim Kerja memiliki fleksibilitas gerak atas tugas yang ia dapatkan. Kepanitaiaan
memang cenderung melibatkan individu yang lebih banyak dari pada Tim Kerja
karena kepanitian menuntut profesionalitas dan keahlian spesifik saat
menjalankan tugas yang diberikan. Keterlibatan individu dalam Tim Kerja yang
sedikit, karena Tim kerja memiliki arahan kerja yang sederhana dan hanya
dituntut untuk bersikap luwes dalam berbagi peran untuk menyelesaikan
amanah yang diberikan.
Sebagai bahan evaluasi terhadap kinerja, Panitia atau Tim Kerja
diwajibkan untuk membuat laporan kegiatan pada setiap akhir kegiatannya.
Waktu kerja yang dimiliki oleh Panitia atau Tim Kerja tidak boleh melewati
masa kepengurusan. Hal ini dikarenakan mekanisme pertanggungjawaban
kepanitiaannya akan sangat tidak jelas. Jika kerja panitia atau setingkat panitia
pada suatu kepengurusan belum selesai diperiode kepengurusan tersebut maka
panitia atau setingkat panitia tersebut harus dibubarkan terlebih dahulu lalu
dilakukan evaluasi kepanitian kemudian dapat dibentuk lagi setelah
konstitusi.indd 56 25/07/2009 22:36:15
57
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
31
kepengurusan baru terbentuk oleh pengurus baru tersebut, yang akhirnya diikuti
evaluasi kepanitiaan yang baru pula.
3. Mekanisme Kerja Struktur
A. Pengambilan Keputusan.
Tiap struktur organisasi pasti memiliki sebuah mekanisme dalam
pengambilan keputusan. Pada HMI mekanisme pengambilan keputusan
dilakukan melalui farum yang bernama Rapat. Mekanisme pengambilan
keputusan melalui Rapat diperlukan untuk menjamin berjalannya amanah yang
diemban struktur kekuasaan. Mekanisme ini dilakukan untuk menurunkan
amanah-amanah yang lahir dari keputusan struktur organisasi ketingkat
aktifitas keseharian. Adapun bentuk-bentuk rapat yang ada dalam HMI adalah:
1. Rapat Pleno adalah forum tertinggi kepengurusan HMI untuk mengambil
berbagai kebijakan organisatoris baik internal maupun eksternal meliputi:
a. Rapat Pleno Pengurus Besar adalah rapat pleno yang dihadiri oleh
seluruh Pengurus Besar sebagai pengambil kebijakan.
b. Rapat Pleno Cabang adalah rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh
Pengurus Cabang sebagai pengambil kebijakan.
c. Rapat Pleno Komisariat adalah rapat pleno yang dihadiri oleh seluruh
Pengurus Komisariat.
2. Rapat Presidium adalah rapat untuk mengambil kebijakan organisatoris
yang penting sebagai derivasi kebijakan pleno yang dihadiri pemimpin HMI
dalam satu kepengurusan yang terdiri dari Ketua Umum, Pengurus Harian,
Pimpinan Lembaga Koordinasi, Pimpinan Lembaga Khusus dan Pimpinan
Lembaga Kekaryaan.
3. Rapat Pimpinan adalah Rapat yang dihadiri oleh para pimpinan HMI untuk
mengambil kebijakan yang berhubungan dengan permasalahan bersama,
meliputi :
Rapim Cabang adalah rapat pimpinan para pimpinan cabang.
Rapim Komisariat adalah rapat pimpinan para pimpinan komisariat.
4. Rapat Harian adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh fungsionaris HMI guna
menjabarkan kerangka operasional program kerja, evaluasi program kerja,
dan hal hal teknis lainnya
konstitusi.indd 57 25/07/2009 22:36:15
58
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
32
5. Rapat Bidang adalah rapat yang dihadiri oleh anggota bidang (staf atau
departemen dibawahnya) yang bersangkutan untuk menjabarkan teknis dari
program kerja bidang yang telah ditetapkan oleh kepengurusan.
B. Acuan Kerja
Acuan kerja merupakan sebuah susunan agenda aktifitas yang dimiliki
oleh Struktur Pimpinan dalam satu periode. Acuan kerja dalam sebuah
organisasi kerja memiliki unsur waktu pelaksanaan, target capaian dan alat
yang dipakai. Struktur Pimpinan dalam HMI sebagai pengemban amanah
Struktur Kekuasaan memiliki banyak perbedaan ditiap tingkatannya. Antara
lain adalah perbedaan sifat dan peran struktur Pimpinan ditiap tingkatan yang
mengakibatkan bentuk dan warna acuan kerja juga berbeda ditiap tingkatan.
Pengurus Besar punya peran sebagai Regulator, oleh sebab itu Pengurus
Besar dalam melakasanakan aktifitasnya memilki apa yang dinamakan
“Kerangka Kebijakan”. Kerangka Kebijakan ini dilahirkan dalam Rapat Pleno
Pengurus Besar dengan mengacu pada pedoman pedoman HMI dan rekomendasi
yang dilahirkan di Kongres. Aktifitas kerja teknis tingkat pusat lebih banyak
dilakukan oleh lembaga-lembaga (lembaga kekaryaan, lembaga khusus dan
lembaga koordinasi) yang ada di tingkat pusat. Namun demikian aktifitas teknis
yang dilaksanakan hanya bersifat penguatan sistem internal organisasi bukan
penguatan keanggotaan.
Kepengurusan Cabang punya peran sebagai mobilisator, sehingga
aktifitasnya berupa penindaklanjutan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
Pengurus Besar untuk keseluruhan cabang atau untuk cabang yang terkait.
Maka dari itu pada tingkat Pengurus Cabang Acuan Kerja yang dimiliki adalah
“Program Kerja” yang dihasilkan oleh Rapat Pleno Pula. Namun dasar
pertimbangan yang ada dalam program kerja adalah Kebijakan Pengurus Besar
yang berjalan dan Garis Besar Haluan Kerja yang dihasilkan dalam Konferensi
Cabang.
Peran kepengurusan tingkat Komisariat adalah pembentuk komunitas
sehingga aktifitas kerjanya terdiri dari aktifitas-aktifitas yang bertujuan
menjaga keutuhan kebersamaan di komisariatnya. Acuan kerja tingkat
Komisariat dapat disebut sebagai ”Rencana Kerja”. Rencana Kerja ini memiliki
dasar atas Program Kerja yang ditentukan cabang dan Garis Besar Rencana
Kerja” Komisariat.
konstitusi.indd 58 25/07/2009 22:36:15
59
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
33
Karena peran komisariat adalah sebagai pembentuk dan penjaga
kantong massa maka aktifitas-aktifitas yang ada dalam Rencana Kerja
merupakan aktifitas bersifat kekeluargaan akan lebih dominan dalam tingkat
komisariat. Selain itu aktifitas komisariat juga fokus dalam hal pembekalan
anggota secara langsung atas pemahaman keagamaan dan pemahaman
perjuangan. Selain itu komisariat juga melakukan aktifitas dalam bentuk
pembekalan intelektualitas kader yang dilakukan tiap saatnya.
C. Evaluasi Organisasai.
Ada dua topik yang menjadi fokus dalam evaluasi organisasi yaitu Evaluasi
Kinerja Struktur dan Mekanisme Evaluasi dalam Struktur Organisasi. Evaluasi
Struktur Organisasi. Evaluasi Kinerja Struktur adalah evaluasi untuk melihat
sebarapa jauh pengurus bisa bergerak dalam struktur organisasi dalam
melakukan perjuangannya, dan seberapa jauh perjuangan yang dilakukannya
itu tepat dalam beberapa aspek. Sedangkan Mekanisme Evaluasi dalam Struktur
Organisasi berisi bagaimana Struktur melakukan evaluasinya.
I. Evaluasi Kinerja Struktur:
1. Tingkat Pengurus Besar
a. Jumlah kebijakan internal dan eksternal dari waktu kewaktu
b. Ketepatan kebijakan yang dikeluarkan terhadap lingkungan yang ada
c. Kemampuan menggerakan cabang dalam menjalankan kebijakan HMI
d. Keberhasilan Pengurus Besar dalam menjalankan amanah Kongres
e. Kesesuaian laporan pertanggungjawaban dengan aturannya
2. Tingkat Pengurus Cabang
a. Kemampuan menindaklanjuti keputusan keputusan Pengurus Besar
b. Tingkat keikutsertaan komisariat pada kegiatan cabang
c. Jumlah Latihan Kader dan yang dijalankan
d. Kelengkapan administrasi organisasi
e. Aktifitas Lembaga Khusus, Lembaga Kekaryaan dan Lembaga
Koordinasi.
f. Tingkat keberhasilan Pengurus dalam menjalankan amanah
Konferensi
g. Kesesuaian laporan pertanggungjawaban sesuai dengan aturan
3. Tingkat pengurus Komisariat
a. Pertambahan anggota dari waktu kewaktu
konstitusi.indd 59 25/07/2009 22:36:15
60
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
34
b. Komposisi angkatan dan kelompok akademis dari waktu kewaktu
c. Tingkat partisipasi dan pemerataannya anggota dalam aktifitas HMI
d. Jumlah iuran dan sumbangan yang diberikan kader dari waktu
kewaktu
e. Frekwensi komisariat dalam beraktifitas pada agenda Cabang dan
atau Pusat
f. Rasio antar kader yang lulus LK I, LK II, LK III
g. Aktifitas dari Lembaga lembaga Khusus dan Lembaga lembaga
Kekaryaan.
h. Tingkat keberhasilan Pengurus menjalankan amanah Rapat Anggota.
i. Kemampuan membuat laporan pertanggungjawaban sesuai dengan
aturan.
II. Mekanisme evaluasi struktur organisasi HMI:
Mekanisme evaluasi struktur organisasi HMI dikenal dengan
Pertanggungjawaban. HMI cuma mengenal dua bentuk pertanggungjawaban
yaitu Pertanggungjawaban Pengurus dan Pertanggungjawaban Panitia atau
setingkat panitia. Selain mekanisme pertanggungjawaban juga ada
mekanisme laporan pelaksanaan tugas yang dilakukan oleh Lembaga
Koordinasi, Lembaga Khusus dan Lembaga Kekaryaan dalam
musyawarahnya.
1. Pertanggungjawaban Pengurus
Pertanggungjawaban Pengurus dalam lingkungan HMI terdapat di
Kongres untuk Pengurus Besar, Konferensi untuk Pengurus Cabang dan
Rapat Anggota bagi Pengurus Komisariat. Disitulah pengurus
mempertanggungjawabkan segala aktifitas atau kebijakan yang
dilakukannya. Prosesnya adalah laporan pelaksanaan amanah, tanya
jawab dan penilaian atas laporan tersebut. Keputusan yang akan diambil
terdiri dari Diterima atau Ditolak. Keputusan “Diterima” artinya
penghargaan atas yang dilakukan kepengurusan dan atas kelayakan
Laporan Pertanggungjawaban. Keputusan “Ditolak” artinya pengurus
tidak bisa mengemukakan apa yang dilakukannya selama kepengurusan
secara jelas dan bertanggungjawab. Keputusan ini kepengurusan dapat
memperbaiki LPJ untuk perbaikan penilaian atau tidak memperbaikinya
dengan penilaian yang tetap.
konstitusi.indd 60 25/07/2009 22:36:15
61
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
35
Dasar penilaian yang dilakukan dalam proses pertanggungjawaban
hanya terdiri dari kesesuaian pengungkapan laporan
Pertanggungjawaban yang dibuat pengurus dengan realita yang terjadi
selama kepengurusan dan kesesuaian dengan aturan penyusunan Laporan
Pertanggungjawaban Pengurus yang berlaku.
2. Pertanggujawaban panitia atau setingkat panitia
Pertanggungjawaban panitia atau setingkat panitia merupakan
proses pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas yang dilakukan
panitia atau setingkat panitia pada Pengurus Harian, Pimpinan Lembaga
Khusus,Pimpinan Lembaga Kekaryaan. Pelaksanaan pertanggungjawaban
dapat dilakukan di Rapat Pleno atau Rapat Harian atau pada momen
khusus untuk pertanggungjawaban panitia. Seperti halnya
pertanggungjawaban Struktur Kepemimpinan, pertanggungjawban inipun
boleh dilaksanakan setelah semua kewajibannya terhadap pihak lain
selesai.
konstitusi.indd 61 25/07/2009 22:36:15
62
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
36
4. Ikrar Pelantikan Kepengurusan
IKRAR PELANTIKAN PENGURUS
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Ώαϡ ΍ϝϝϩ ΍ϝέΡϡϥ ΍ϝέΡϱϡ
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ϳ΍ ϝϮγέ ΍ΪϤΤϣ ˷ϥ΍ ΪϬη΃ ϭ Ϳ΍ ϻ΍ Ϫϟ΍ϻ ϥ΍ ΪϬη΃
“Aku bersaksi bahwasannya tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya
Muhammad adalah Utusan Allah”
ένϱΕ Ώ΍ϝϝϩ έΏ΍ ϭ Ώ΍ϝ΍αϝ΍ϡ Ωϱϥ ϭ ΏϡΡϡΩ ϥΏϱ ϭ έαϭϝ
“Kami redla Allah Tuhan kami, Islam agama kami, dan Muhammad adalah
Nabi dan Utusan Allah”
Dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, kami pengurus Himpunan Mahasiswa Islam
Komisariat /Cabang /Pengurus Besar_______________________________ periode
_________ H/ ________ M, dengan ini berjanji dan berikrar:
1. Bahwa kami dengan kesungguhan hati akan melaksanakan keputusan-keputusan Rapat
Anggota/ Konferensi Cabang _______________________________/ Kongres Himpunan
Mahasiswa Islam ke _______ sebagai amanah yang dibebankan kepada kami ;
2. Bahwa kami akan selalu menjaga nama baik Himpunan Mahasiswa Islam dengan selalu
tunduk dan patuh kepada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Pedoman-
Pedoman Pokok serta ketentuan-ketentuan lainnya;
3. Bahwa apa yang kami kerjakan dalam kepengurusan ini adalah untuk mencapai tujuan
Himpunan Mahasiswa Islam dalam rangka mengabdi kepada Allah Subhanahu Wata’ala,
untuk kesejahteraan Ummat di dunia dan di akhirat
΍ϥ ιϝ΍Εϱ ϭ ϥαϙϱ ϭ ϡΡϱ΍ϱ ϭ ϡϡ΍Εϱ ϝϝϩ έΏ ΍ϝω΍ϝϡϱϥ
“Sesungguhnya sholatku, perjuanganku, hidup dan matiku hanya untuk Allah
Tuhan seru sekalian alam”.
Billahitaufiq walhidayah.
konstitusi.indd 62 25/07/2009 22:36:15
63
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
37
BAB IV
MAJELIS SYURO ORGANISASI
Majelis Syuro Organisasi (MSO) merupakan Badan Konsultasi yang dapat
dilahirkan sesuai dengan kebutuhan Pengurus Besar atau Pengurus Cabang. MSO
memiliki tugas memberikan pertimbangan atau saran kepada Pengurus Besar (untuk
MSO tingkat pusat) atau Pengurus Cabang (untuk MSO tingkat Cabang). Tugas ini dapat
dilaksanakan dengan inisiatif lembaga atau atas permintaan pengurus. MSO juga
memiliki tugas untuk membantu pengurus untuk mempersiapkan draft-draft kongres
untuk tingkat Pusat dan draft-draft konferensi untuk tingkat cabang.
Anggota MSO merupakan anggota atau alumni HMI yang memiliki kualifikasi
tertentu dan pernah menjadi Pengurus HMI minimal 1 (satu) periode sebelumnya.
Anggota MSO jumlahnya maksimal 13 orang dimana merupakan usulan ketua ketua
cabang (tingkat Pusat) dalam forum kongres dan usulan usulan ketua komisariat
(tingkat Cabang) dalam konferensi.
Masa keanggotaan yang dimiliki MSO adalah sama dengan masa kepengurusan
tiap tingkatan. Aktifitas awal MSO dalam bentuk persidangan rapat dipimpin oleh
Ketua Umum dan kemudian dilanjuti oleh ketua MSO sampai akhir periode
kepengurusan. Peran struktur MSO yang berperan sebagai konsultan maka segala
keputusan yang dikeluarkan dapat dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh
kepengurusan. Peran ini dapat bertambah pada wilayah peradilan keanggotaan dimana
MSO menjadi moderator sidang dengan menunjuk satu atau lebih anggotanya. Seluruh
aktifitas kerja ini harus dilaporkan dalam Kongres atau konferensi dalam bentuk
laporan pelaksanaan tugas.
Jika anggota Majelis Syuro Organisasi mengundurkan diri maka mekanisme
penggantian diserahkan pada pimpinan HMI.
konstitusi.indd 63 25/07/2009 22:36:15
64
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Struktur Organisasi
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
38
Lampiran 1
GAMBARAN
HIRARKI STRUKTUR ORGANISASI
STRUKTUR
KEKUASAAN
STRUKTUR KEPEMIMPINAN
KONGRES MSO PENGURUS BESAR
KETUA UMUM
KOMISI KEBIJAKAN L KEKARYAAN L KHUSUS L KOORDINASI
x INTERNAL
x EKSTERNAL
KONFERENSI MSO PENGURUS CABANG
KETUA CABANG
BIDANG KERJA L KEKARYAAN L KHUSUS L KOORDINASI
RAPAT ANGGOTA PENGURUS KOMISARIAT
KETUA KOMISARIAT
UNIT AKTIFITAS L KHUSUS L KEKARYAAN
: Garis Pengembanan Amanah
: : Garis Koordinasi Kerja
konstitusi.indd 64 25/07/2009 22:36:15
65
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
1
PEDOMAN KESEKRETARIATAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Bismillahirromanirrahiim
BAB I
SEKRETARIAT
Agar seluruh administrasi organisasi dalam segala tingkatan (pusat hingga
komisariat) dapat berjalan secara efektif dan efisien diperlukan sekretariat organisasi
atau kantor organisasi. Sekretariat organisasi berfungsi sebagai:
1. Pusat kendali aktifitas organisasi;
2. Pusat komunikasi organisasi;
3. Pusat kegiatan administrasi;
4. Wahana interaksi dengan masyarakat sekitar.
Dengan mengingat begitu urgennya sekretariat bagi organisasi, maka pengadaan
sekretariat HMI hendaknya memperhatikan lokasi sekretariat, kebutuhan ruang bagi
terselenggaranya kegiatan organisasi dan tata ruang sekretariat.
Lokasi sekretariat hendaknya terletak pada tempat yang strategis dipandang dari
segala segi sehingga memperlancar komunikasi dengan anggota, dan interaksi
organisasi dengan masyarakat sekitar yang mampu menjamin ketenangan dan
kesehatan sehingga memungkinkan bagi fungsionaris (pengurus) organisasi dapat
bekerja dan menunaikan tugasnya di sekretariat.
Kebutuhan ruang bagi sekretariat HMI pada prinsipnya disesuaikan dengan
kebutuhan setiap unit organisasi baik itu Pengurus Besar, Pengurus Cabang, maupun
Pengurus Komisariat. Paling tidak setiap sekretariat memiliki :
1. Ruang administrasi;
2. Ruang Sholat;
3. Ruang tamu;
4. Ruang sidang;
5. Ruang pelatihan;
6. Ruang dapur.
konstitusi.indd 65 25/07/2009 22:36:15
66
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
2
Pengatuaran tata ruang dalam sekretariat hendaknya memperhatikan hubungan
antar ruangan yang satu dengan yang lain. Sehingga mampu menjamin kelancaran
komunikasi antar bagian.
Dalam mengusahakan gedung sekretariat, sedapat mungkin sekretariat
mempunyai fungsi ganda yaitu di samping kantor organisasi juga berfungsi sebagai
tempat tinggal fungsionaris organisasi (Wisma HMI/ Markas HMI) sehingga semua
fungsionaris HMI dapat menjalankan tugas organisasi setiap saat.
Sekretariat organisasi diharuskan memiliki papan pengenal organisasi atau
papan nama HMI. Papan nama HMI ini berfungsi sebagai pengenal organisasi dan
sebagai penunjuk atas keberadaan fungsionaris HMI dalam melakukan aktifitas
organisasi. Berikut bentuk Papan Nama HMI
Ukuran : panjang : lebar = 2 : 1
Warna Dasar : Putih
Warna Tulisan : Hijau Hitam,
Contoh :
SEKRETARIAT
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)
CABANG MEDAN
S U M A T E R A U T A R A
Jl Durung no 158 Medan 20222 Telp (061) 4552139
e-mail: hmimedan@yahoo.com
konstitusi.indd 66 25/07/2009 22:36:16
67
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
3
BAB II
ADMINISTRASI HMI
A. Surat Menyurat
Administrasi surat-menyurat adalah suatu proses dan rencana teratur dari
pengolahan surat-menyurat. Mulai dari ide sampai pada penyelesaian dan
penyimpanan sebagaimana mestinya. Administrasi surat-menyurat bagi suatu
organisasi merupakan sesuatu yang penting dan merupakan bagian tugas lapangan
pekerjaan administrasi kesekretariatan. Administrasi surat-menyurat
(ketatausahaan) mempunyai ciri-ciri utama sebagai berikut :
1. Bersifat pelayanan;
2. Bersifat menetes ke seluruh bagian atau aparat organisasi, dan;
3. Dilaksanakan semua pihak dalam organisasi.
Ciri yang pertama berarti bahwa ketatausahaan service work (pekerjaan
pelayanan) berfungsi memudahkan (facilitating function), dilakukan untuk
membantu pekerjaan-pekerjaan lain agar dapat berjalan lebih efektif. Sebagai
service work, ketatausahaan memberikan pelayanan ke pelbagai bagian atau
aparat organisasi. Konsekuensinya, ia tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa
terkait dengan pekerjaan operatif atau fungsi substantif lainnya.
Administrasi berupa surat menyurat merupakan bentuk ketatausahaan yang
diperlukan di mana-mana, dan dilaksanakan dalam seluruh organisasi.
Ketatausahaan dapat dijumpai pada pucuk pimpinan tertinggi (aparat tertinggi
organisasi) sampai pada satuan organisasi terendah bentuk ini merupakan ciri khas
dari administrasi surat menyurat yang kedua.
Surat pada hakikatnya adalah bentuk penuangan ide atau kehendak seseorang
dalam bentuk tulisan yang kemudian menjadi bukti sejarah. Artinya surat
merupakan jembatan pengertian dan alat komunikasi bagi seorang dengan orang
lain. Surat Juga merupakan potret sejarah yang akan dibaca dari satu generasi
kegenerasi berikunya. Dari satu masa ke masa lainnya. Karena sifat yang demikian
maka surat-surat disusun secara singkat dan padat, tetapi jelas dan tegas. Bahasa
yang dipakai harus mudah dimengerti sederhana dan teratur. Kertas yang
digunakan dalam melakukan surat menyurat resmi adalah kertas HVS warna putih
ukuran F 4 dengan berat 70 gr. Bagi organisasi, surat berfungsi sebagai:
konstitusi.indd 67 25/07/2009 22:36:16
68
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
4
1. Alat komunikasi;
2. Dokumen organisasi;
3. Tanda bukti (alat pembuktian ).
1. Kepala Surat;
Ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam kepala surat adalah :
a. Surat-surat organisasi ditulis di kertas putih berkop (berkepala);
b. Format Kop Surat Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Khusus
ditetapkan oleh musyawarah lembaga;
c. Nama Pengurus Besar diletakan di baris pertama, selain itu nama
institusi diletakkan di baris ketiga setelah tulisan Himpunan
Mahasiswa Islam dan tulisan Association of Islamic University
Students;
d. Nama lembaga hanya diperkenankan satu baris. Sehingga penggunaan
singkatan atau akronim dapat diperkenankan
e. Panitia pelaksana kegiatan dapat menentukan format kop suratnya
atas persetujuan ketua umum struktur pimpinan, kecuali pantia
pelaksanan Kongres, Konferensi dan Rapat Anggota.
f. Contoh Kop surat HMI sebagai berikut:
P E N G U R U S B E S A R
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510
Telp. 021-7992750, SMS-Center 0815-84148020, Fax. 00 62 21 7992750
e-mail : pb-hmi@telkom.net , http://www.hminews.com
Contoh Kop Surat Pengurus besar
konstitusi.indd 68 25/07/2009 22:36:16
69
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
5
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
MAJELIS SYURO ORGANISAS I
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510
Contoh Kop Surat MSO
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
BADAN KOORDINASI INDONESIA BAGIAN BARAT
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510
Contoh Kop Surat Badan Koordinasi
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
CABANG YOGYAKARTA
Sekretariat : Karangkajen MG III/966 Yogyakarta 55252Telp. 0274-6567900, ,
e-mail : hmijogja@hotmail.com
Contoh Kop Surat HMI Cabang
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
MAJELIS SYURO ORGANISASI CABANG SORONG
Sekretariat : Jl.
Contoh Kop Surat MSO CABANG
konstitusi.indd 69 25/07/2009 22:36:16
70
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
6
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
KORKOM UNIVERSITAS ISLAM JAKARTA
Sekretariat : Jl.
Contoh Kop Surat Badan Koordinasi
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
KOMISARIAT FISIP UNHAS
Sekretariat : Jl. Kompleks perumah Dosen Unhas Tamalanrea Blok I No.3 Makassar 12510
Telp. 021-7992750, Fax. 00 62 21 7900099, e-mail : komfisip@telkom.net
Contoh Kop Surat HMI Komisariat
PANITIA PELAKSANA KONGRES KE 27
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)
Sekretariat : Karangkajen MG III/966 Yogyakarta 55252Telp. 0274-6567900, ,
e-mail : kongreshmi27jogjakarta@gmail.com
Contoh Kop Surat HMI Panitia Pelaksana Kongres
PANITIA PELAKSANA KONFERENSI KE 2
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)
CABANG LAMPUNG
Sekretariat : Jl. Kompleks perumah Dosen Unhas Tamalanrea Blok I No.3 Makassar 12510
Telp. 021-7992750, Fax. 00 62 21 7900099, e-mail : komfisip@telkom.net ,
Contoh Kop Surat HMI Panitia Pelaksana Konferensi
konstitusi.indd 70 25/07/2009 22:36:16
71
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
7
PANITIA PELAKSANA RAPAT ANGGOTA KE 34
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students)
KOMFAK AGAMA ISLAM UMY
Sekretariat : Jl. Kompleks perumah Dosen Unhas Tamalanrea Blok I No.3 Makassar 12510
Telp. 021-7992750, Fax. 00 62 21 7900099, e-mail : komfisip@telkom.net
Contoh Kop Surat HMI Panitia Pelaksana Rapat Anggota
Keterangan :
1. (PENGURUS……) menggunakan huruf kapital berwarna hitam dengan
jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 24;
2. (CABANG..../KOMISARIAT.....) dengan huruf kapital hijau tua, dengan
jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 24;
3. (HIMPUNAN……..) menggunakan huruf kapital berwarna hijau tua,
dengan jenis huruf Arial dan ukuran huruf 24;
4. (Association……………) menggunakan huruf kecil berwarna hitam
dengan jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 18 cetak
miring ;
5. (Sekretariat :……...) menggunakan huruf kecil berwarna hitam,
dengan jenis huruf Times New Roman dan ukuran huruf 10;
6. (e-mail……………) menggunakan huruf kecil berwarna hitam, ukuran 10;
7. Garis pembatas kop surat berwarna hitam dengan ukuran 4,5 pt (dua
garis atas tipis, bawah tebal) dan bentuk tulisan basmalah harus
sesuai dengan kop PB berwarna hitam;
8. Susunan kalimat kop surat Pengurus Besar, MSO, Lembaga Koordinasi,
Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Khusus PB, seperti pada contoh kop
surat Pengurus Besar
9. Susunan kalimat kop surat Pengurus Cabang, MSO, Lembaga
Koordinasi, Lembaga Kekaryaan dan Lembaga Khusus ditingkat cabang
seperti pada contoh kop surat Pengurus Cabang
10. Susunan kalimat kop surat Pengurus Komisariat, Lembaga Kekaryaan
dan Lembaga Khusus seperti pada contoh kop surat Pengurus
komisariat
konstitusi.indd 71 25/07/2009 22:36:16
72
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
8
11. Jenis surat (kertas), F4 dengan margin:
- Top : 2,0 cm
- Buttom: 0 cm
- Left: 2,5 cm
- Right: 2,0 cm
Surat resmi HMI terdiri dari
a. Surat Biasa ( Lampiran 2);
b. Surat Mandat/Tugas (Lampiran 3);
c. Surat Keterangan (Lampiran 4)
d. Surat Keputusan/Ketetapan (Lampiran 5).
2. Isi Surat
a. Surat Biasa
(1) Penomoran
a. Penomoran surat menggunakan satu buku registrasi surat keluar
yang dilakukan oleh Sekjen/Sekum struktur pimpinan, MSO,
Lembaga Koordinasi, lembaga kekaryaan dan khusus.
b. Nomor untuk surat yang ditujukan untuk intern HMI menggunakan
kode A setelah nomor registrasi surat keluar (…/A/SEK/no urut
bulan Hijriyah/tahun Hijriyah);
c. Nomor untuk surat yang ditujukan kepada ekstern HMI kode B
setelah nomor registrasi surat keluar (……./B/SEK/ nomor urut bulan
Hijriyah/ tahun Hijriyah);
d. Pengeluar surat baik interen maupun eksteren harus disingkat
maksimal dalam 3 huruf saja.
x Pengeluar Surat Ketua Umum : (……./B/KU/ nomor urut bulan
Hijriyah/ tahun Hijriyah)
x Pengeluar Sekjen atau Sekum: (……./A/SEK/ nomor urut bulan
Hijriyah/ tahun Hijriyah)
x Pengeluar Ketua Komisi Hubungan Internasional: (……./B/KHI/
nomor urut bulan Hijriyah/ tahun Hijriyah)
x Pengeluar Ketua Bidang Pelatihan: (……./A/KBP/ nomor urut
bulan Hijriyah/ tahun Hijriyah)
konstitusi.indd 72 25/07/2009 22:36:16
73
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
9
x Pengeluar Ketua Panitia Konferensi Cabang : (……./B/PKC/
nomor urut bulan Hijriyah/ tahun Hijriyah)
e. Nomor surat keluar, surat mandat, surat keterangan semuanya urut
menurut waktu terbitnya, tidak sendiri sendiri, kecuali surat
keputusan.
f. Lamp. diisi jika surat disertai lampiran;
g. Hal : menerangkan isi singkat surat;
h. Letak Nomor : Lamp: dan Hal: dalam surat lurus dengan sudut lancip
sebelah kiri bawah gambar/lambang HMI
(2) Alamat surat (tujuan surat dikirim);
(3) Kalimat pendahuluan
Kalimat pendahuluan seharusnya tidak lebih dari satu alinea, yang berisi
ucapan syukur kepada Allah SWT atas rahmat yang diberikannya dan
pujian rasul dan keluarganya.
(4) Kalimat Isi
Kalimat isi surat hendaklah menggunakan bahasa yang lugas, jelas,
sehingga tidak menimbulkan salah persepsi dari teks yang tertulis.
Kalimat isi merupakan uraian persoalan pokok, harus:
a. Tidak berbelit-belit;
b. Singkat dan tidak terputus-putus;
c. Menggunakan kalimat-kalimat yang sopan dan wajar
(5) Kalimat penutup
Untuk kesopanan diperlukan adanya kalimat penutup seperti:
Demikianlah harap maklum.
Atas perhatian Saudara kami haturkan terima kasih.
Jazakumullah khairan katsiiraa.
Sekian dan terima kasih. Dsbnya.
konstitusi.indd 73 25/07/2009 22:36:16
74
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
10
(6) Tempat tanggal surat
Contoh:
Kotamubagu, 05 Dzulkaidah 1425 H
17 Desember 2004 M
(7) Pengirim Surat
Nama lembaga pada pengirim surat maksimal terdiri dari tiga baris,
dimana baris pertama adalah Himpunan Mahassiawa Islam, baris kedua
dan ketiga adalah institusi lembaga.
(8) Tanda Tangan
Penandatangan harus terdiri dari dua unsur saja yaitu unsur
pengeluar surat dan unsur pemberi legalitas surat. Surat Keputusan
kelulusan Latihan Kader harus ditanda tangani seluruh pemandu LK.
Surat Keputusan Kongres, Konferensi, Rapat Anggota dan Musyawarah
Lembaga harus ditanda tangani seluruh pimpinan sidang. Surat yang
dikeluarkan Ketua Umum harus ditandatangani oleh Sekjen/Sekum
sebagai pihak yang mengetahui (bukan pemberi legalitas). Tanda tangan
menggunakan tinta berwarna hitam. Contoh :
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENGURUS BESAR
Stempel...
MASHUDI MUQOROBBIN ABDUL HADY
KETUA UMUM SEKRETARIS JENDRAL
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
MAJELIS SYURO ORGANISASI
Stempel...
SYAFINUDIN AL MANDARI M SYIFA AMIN WIDIGDO
KOORDINATOR SEKRETARIS
konstitusi.indd 74 25/07/2009 22:36:16
75
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
11
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
BADAN KOORDINASI
INDONESIA BAGIAN TIMUR
Stempel...
H. M. AQIL RAHMAN MUHAMMAD KASMAN
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
MAJELIS SYURO ORGANISASI
CABANG MAKASAR
Stempel...
YUSUF GUNAWAN FAHRIE NOER
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
KOMISARIAT FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HASANUDIN
Stempel...
HARIMAN HARTONO
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PANITIA LATIHAN KADER I
KOMFAK AA YKPN
Stempel...
SUSANTO LIBBIE ANATAGIA
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM
konstitusi.indd 75 25/07/2009 22:36:17
76
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
12
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
TIM PEMANDU LATIHAN KADER II
CABANG JAKARTA SELATAN
MARTADINATA
PEMANDU
TENTY NOVARI
PEMANDU
W MUZAKIR
PEMANDU
IMROATUSHOLIHAH
PEMANDU
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
TIM PEMANDU LATIHAN KADER I
CABANG YOGYAKARTA
MARTADINATA
PEMANDU
TENTY NOVARI
PEMANDU
W MUZAKIR
PEMANDU
IMROATUSHOLIHAH
PEMANDU
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PIMPINAN SIDANG KONFERENSI
CABANG SEMARANG
MARTADINATA
PIMPINAN
SIDANG
TENTY NOVARI
PIMPINAN SIDANG
W MUZAKIR
PIMPINAN
SIDANG
IMROATUSHOLIHAH
PIMPINAN SIDANG
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PIMPINAN SIDANG KONGRES KE 25
MARTADINATA
PIMPINAN
SIDANG
TENTY NOVARI
PIMPINAN SIDANG
W MUZAKIR
PIMPINAN
SIDANG
IMROATUSHOLIHAH
PIMPINAN SIDANG
konstitusi.indd 76 25/07/2009 22:36:17
77
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
13
(9) Stempel surat
Pihak-pihak yang berhak mengeluarkan Stempel Surat adalah
Struktur Pimpinan, Lembaga Koordinasai, dan Majelis Syuro Organisasi
serta panitia pelaksana. Bagi lembaga Koordinasi, Lembaga Kekaryaan
dan Panitia Pelaksana (selain kongres, Konferensi, dan Rapat Anggota)
dapat menentukannya sendiri atas persetujuan Ketua Umum Struktur
pimpinan. Stempel diletakkan/ dibubuhkan di tengah-tengah antara
Ketua dan Sekretaris dan berbaris sejajar dengan nama ketua dan nama
sekretaris. Stempel diusahakan agar menyentuh Tanda tangan ketua dan
sekretaris atau mengenai tanda tangan sekretaris saja. Jika stempel
menggunakan tinta satu warna maka warnanya hijau tua. Jika warna
stempel menggunakan warna multi warna maka warna stempel warna
hitam dan hijau tua. Stempel dianggap sah apabila dibubuhkan dengan
menggunakan stempel basah. Ukuran besar stempel sesuai dengan
kebijakan cabang masing-masing sebagaimana dibawah ini:
Stempel struktur pimpinan dan lembaga
Stempel panitia
PANITIA RAPAT ANGGOTA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
KOMFAK PERTANIAN INSTIPER
CABANG YOGYAKARTA
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
13
(9) Stempel surat
Pihak-pihak yang berhak mengeluarkan Stempel Surat adalah
Struktur Pimpinan, Lembaga Koordinasai, dan Majelis Syuro Organisasi
serta panitia pelaksana. Bagi lembaga Koordinasi, Lembaga Kekaryaan
dan Panitia Pelaksana (selain kongres, Konferensi, dan Rapat Anggota)
dapat menentukannya sendiri atas persetujuan Ketua Umum Struktur
pimpinan. Stempel diletakkan/ dibubuhkan di tengah-tengah antara
Ketua dan Sekretaris dan berbaris sejajar dengan nama ketua dan nama
sekretaris. Stempel diusahakan agar menyentuh Tanda tangan ketua dan
sekretaris atau mengenai tanda tangan sekretaris saja. Jika stempel
menggunakan tinta satu warna maka warnanya hijau tua. Jika warna
stempel menggunakan warna multi warna maka warna stempel warna
hitam dan hijau tua. Stempel dianggap sah apabila dibubuhkan dengan
menggunakan stempel basah. Ukuran besar stempel sesuai dengan
kebijakan cabang masing-masing sebagaimana dibawah ini:
Stempel struktur pimpinan dan lembaga
Stempel panitia
PANITIA RAPAT ANGGOTA
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
KOMFAK PERTANIAN INSTIPER
CABANG YOGYAKARTA
konstitusi.indd 77 25/07/2009 22:36:17
78
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
14
(10) Tembusan Surat
Tembusan surat merupakan sebuah keterangan yang menunjukkan
bahwa surat tersebut dibuat rangkap. Rangkap ini terdiri dari surat asli
yang dikirim sesuai dengan alamat dimana surat itu ditujukan dan surat
tembusan yang disampaikan kepada beberapa instansi atau pihak yang
terkait atas dibuatnya surat tersebut.
Apabila surat dari komisariat ditujukan kepada Pengurus Besar HMI,
maka tembusan suratnya ditujukan kepada
1. Pengurus koordinator komisariat dimana komisariat berada (jika
ada);
2. Pengurus HMI cabang dimana komisariat berada;
3. Pengurus HMI Badko dimana cabang bergabung;
4. Arsip.
Apabila surat dibuat oleh Pengurus Komisariat dan ditujuakan
untuk Pengurus Komisariat dalam wilayah Cabang yang berbeda, namun
tetap dalam satu Wilayah Koordinasi, maka tembusan surat yang dibuat
harus ditujukan kepada:
1. Pengurus HMI Badan Koordinasi;
2. Pengurus HMI Cabang dimana komisariat berada;
3. Pengurus HMI Cabang di Komisariat yang dituju;
4. Arsip.
Apabila surat dibuat oleh Pengurus HMI Komisariat ditujukan
Pengurus HMI Komisariat dalam wilayah Cabang dan Badko yang
berbeda, maka tembusan suratnya ditujukan kepada:
1. Pengurus koordinator komisariat dimana komisariat berada (jika
ada);
2. Pengurus HMI Cabang dimana Komisariat yang membuat bergabung;
3. Pengurus HMI Cabang dimana Komisariat yang dituju;
4. Arsip
5. Dan lain sebagainya
konstitusi.indd 78 25/07/2009 22:36:17
79
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
15
Dengan demikian setiap surat tidak lagi membutuhkan legalisasi yang
dikeluarkan oleh instansi yang lebih tinggi (misalnya adanya kata
mengetahui, dilegalisasi oleh, dll).
b. Surat Keputusan
Isi surat keputusan dibanding surat biasa terdapat persamaan yaitu
tentang dimana surat keputusan ditetapkan, tanggal ditetapkannya surat
keputusan, nomor dan stempel surat. Secara spesifik isi surat keputusan
sebagai berikut:
(1). Nomor surat : …../KPTS/A/No. urut bl Hijriyah /Th Hijriyah;
(2). Uraian singkat isi surat keputusan;
(3). Instansi pengambil keputusan (PB, PC, PK,dll);
(4) Konsideran (latar belakang dikeluarkannya surat keputusan);
(5) Landasan yuridis dikeluarkannya surat keputusan;
(6). Landasan-landasan lainnya dari surat keputusan;
(7) Diktum (muatan surat keputusan)
Pada bagian akhir diktum diharuskan terdapat klausa “Surat Keputusan
ini mulai berlaku sejak ditetapkan dan akan ditinjau kembali jika terdapat
kekeliruan di kemudian hari.” Surat Keputusan Hanya bisadikeluarkan Oleh
Ketuam Umum (PB< PC dan PK) saja. Sehingga yang bertanda tangan adalah
hanya Ketua Umumdan Sekretaris (Jendral atau Umum) saja.
3. Surat Mandat/Tugas
(1). Nomor surat keterangan sama dengan surat biasa, karenanya
merupakan urutan dari surat biasa;
(2). Surat mandat/tugas berisi penugasan atau mandat yang ditujukan
pada seorang kader.
(3). Surat keterangan memuat identitas dan keperluan yang diberi
mandat/tugas/keterangan, (dalam rangka apa surat diberikan);
(4). Pemberi surat mandat/tugas kepada yang diberi mandat/tugas.
konstitusi.indd 79 25/07/2009 22:36:17
80
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
16
Catatan :
1. Nomor urut Bulan-bulan Hijriyah
1. Muharram 5. Jumadil Awal 9. Ramadhan
2. Shafar 6. Jumadil Akhir 10. Syawal
3. Rabi’ul Awal 7. Rajab 11. Dzulqo’idah
4. Rabi’ul Akhir 8. Sya’ban 12. Dzul Hijjah
2. Bulan-bulan nomor surat ditulis denngan angka Arab, bukan angka
Romawi.
3. Amplop Surat
Ukuran amplop : 22 cm x 11 cm atau 25 cm x 35 cm
Jenis dan ukuran huruf : (pengurus…) menggunakan huruf kapital, ukuran 18
times new roman bold. (fakultas…) menggunakan huruf kapital pada setiap
awal kata, ukuran 18 times new roman. (secretariat…) menggunakan huruf
kecil, ukuran 12.
Warna Dasar : Putih atau Coklat
Contoh :
PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta
Janturan UH 4/384 Rt 15/04 Yogyakarta 55281
PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Fakultas Eksakta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Dsn. Gatak no. 47 Rt 01/03 Kasihan Bantul Yogyakarta 55281
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
16
Catatan :
1. Nomor urut Bulan-bulan Hijriyah
1. Muharram 5. Jumadil Awal 9. Ramadhan
2. Shafar 6. Jumadil Akhir 10. Syawal
3. Rabi’ul Awal 7. Rajab 11. Dzulqo’idah
4. Rabi’ul Akhir 8. Sya’ban 12. Dzul Hijjah
2. Bulan-bulan nomor surat ditulis denngan angka Arab, bukan angka
Romawi.
3. Amplop Surat
Ukuran amplop : 22 cm x 11 cm atau 25 cm x 35 cm
Jenis dan ukuran huruf : (pengurus…) menggunakan huruf kapital, ukuran 18
times new roman bold. (fakultas…) menggunakan huruf kapital pada setiap
awal kata, ukuran 18 times new roman. (secretariat…) menggunakan huruf
kecil, ukuran 12.
Warna Dasar : Putih atau Coklat
Contoh :
PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta
Janturan UH 4/384 Rt 15/04 Yogyakarta 55281
PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Fakultas Eksakta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Dsn. Gatak no. 47 Rt 01/03 Kasihan Bantul Yogyakarta 55281
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
16
Catatan :
1. Nomor urut Bulan-bulan Hijriyah
1. Muharram 5. Jumadil Awal 9. Ramadhan
2. Shafar 6. Jumadil Akhir 10. Syawal
3. Rabi’ul Awal 7. Rajab 11. Dzulqo’idah
4. Rabi’ul Akhir 8. Sya’ban 12. Dzul Hijjah
2. Bulan-bulan nomor surat ditulis denngan angka Arab, bukan angka
Romawi.
3. Amplop Surat
Ukuran amplop : 22 cm x 11 cm atau 25 cm x 35 cm
Jenis dan ukuran huruf : (pengurus…) menggunakan huruf kapital, ukuran 18
times new roman bold. (fakultas…) menggunakan huruf kapital pada setiap
awal kata, ukuran 18 times new roman. (secretariat…) menggunakan huruf
kecil, ukuran 12.
Warna Dasar : Putih atau Coklat
Contoh :
PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Fakultas Ekonomi Universitas Teknologi Yogyakarta
Janturan UH 4/384 Rt 15/04 Yogyakarta 55281
PENGURUS KOMISARIAT HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Fakultas Eksakta Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Dsn. Gatak no. 47 Rt 01/03 Kasihan Bantul Yogyakarta 55281
konstitusi.indd 80 25/07/2009 22:36:17
81
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
17
4. Sirkulasi Surat
a. Surat Masuk
Surat masuk adalah surat yang diterima dari luar yang kemudian akan
mulai perjalanannya sampai dengan dimasukkannya surat ke file-file (arsip)
organisasi. Surat yang baru diterima diagendakan terlebih dahulu dilampiri
kartu disposisi yang berbentuk :
SURAT DISPOSISI
Nomor Surat : Yang tercantum dalam surat
Tanggal Terima :
Asal Surat : Nama Penerima
Ditujukan : Bidang yang akan menangani surat
Catatan : Kebutuhan atas perlakuan surat
Kemudian surat yang baru masuk diterima diagendakan pada Agenda Surat
Masuk PB HMI. Pada Agenda Surat Masuk dibuat kolom-kolom :
Identifikasi surat masuk
No
Tgl terima
Nomor Tanggal
Asal surat Isi Petugas
1 15-12-1423 124/MA/12/1423 10-12-1423 HMI Cabang
semarang
Pengutusan
anggota
Arif
a. Surat Keluar
Surat keluar adalah surat yang kita keluarkan untuk mengemukakan
kehendak, pemikiran dan maksud kita kepada pihak lain. Surat keluar
melalui sirkulasi sebagai berikut:
konstitusi.indd 81 25/07/2009 22:36:17
82
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
18
i Konsep surat terlebih dahulu harus dimintakan clearence kepada
pengurus yang berkepentingan agar tidak terjadi perbedaan-
perbedaan tentang isi dan reaksi surat tersebut;
i Konsep yang telah mendapat clearence, kemudian diberikan nomor
verbal, yang terdapat pada agenda buku verbal.
Nomor Tanggal Isi Surat Tujuan Petug
as
25/KPTS/A/7/1423 12/7/1423 Susunan SC LK III Anggota SC LK III Arif
26/SEK/7/1423 13/7/1423 Pemberitahuan LK III Cabang-cabang
HMI
Rahma
27/SEK/7/1423 14/7/1423 Tugas cari informasi DPRD Nugroho
5. Surat Elektronik
Surat elektronik merupakan surat yang dibuat dengan media elektronik
seperti internet, mesin fax, dan pesan melalui telepon. Surat elektronik
melalui internet harus memenuhi prosedur dibawah ini:
1. Format surat seperti format biasa yang dikirmkan dalam bentuk PDF.
2. Surat tetap memuat tanda tangan yang berwenang walau tanpa stempel
organisasi
3. Alamat e-mail pihak pengirim dan pihak yang dituju merupakan alamat
yang terdaftar dalam organisasi (ditetapkan melalui Surat Ketetapan dari
Struktur Kepemimpinan) sebagai alamat yang berwenang melakukan
pengirIman surat via internet.
Pengiriman surat dengan memakai mesin fax harus melalui prosedur:
1. Format surat sama dengan format yang biasa (lengkap dengan tanda
tangan dan stempel organisasi).
2. Nomor fax pihak pengirim dan pihak yang dituju merupakan alamat yang
terdaftar dalam organisasi (ditetapkan melalui Surat Ketetapan dari
Struktur Kepemimpinan) sebagai nomor yang berwenang.
3. Pihak pengirim harus mengirimkan dokumen aslinya kepada pihak yang
dituju setelah melakukan pengiriman surat melalui fax selambat-lambatnya
3 x 24 Jam.
Pengriman pesan melalui pelayanan pesan singkat (Short Messege Services)
harus melalui nomor telepon yang telah ditetapkan sebagai nomor telepon
konstitusi.indd 82 25/07/2009 22:36:18
83
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
19
yang berwenang nelakukan pengiriman pesan, baik dari pihak pengirim maupun
pihak penerima. Semua pesan yang dikirim maupun diterima harus dicatat
ulang dalam sebuah berita acara bulanan.
6. Buku Ekspedisi
Setelah surat telah diketik sesuai dengan jumlah yang dikehendaki,
ditulis nomor, dan diagendakan dan telah mendapat legalitas (tanda tangan
Ketua, Sekretaris, dan stempel) maka surat siap dikirim. Untuk pengiriman
surat ini diagendakan dalam Buku Ekspedisi dengan kolom-kolom.
Tanggal Kirim Tujuan Nomor surat Paraf Penerima Keterangan
12/7/1423 Anggota SC
Adi,Dian
25/KPTS/A/7/1423 Adi
Dian
Langsung
kirim
12/7/1423 Anggota SC
Umar
25/KPTS/A/7/1423 - Via email
14/7/1423 Cabang Palu 26/SEK/7/1423 - Via Pos
B. Dokumen Organisasi
Dokumen adalah semua tanda bukti yang sah menurut hukum dari peristiwa-
peristiwa atau kejadian-kejadian dan kemudian disimpan. Sedangkan Dokumentasi
adalah segala upaya untuk pencarian, pengumpulan, penyimpanan, serta
pengawetan dokumen-dokumen organisasi. Bentuk-bentuk dokumen beserta
aturannya adalah sebagai berikut:
i Surat-surat disusun menurut urutan nomor dan dijilid tiap periodenya.
i Laporan-laporan pertanggungjawaban tiap periode;
i Dokumen lainnya yang dijilid (kalau memungkinkan) terdiri dari
1. Kliping-kliping media tulis ataupun elektronik;
2. Naskah-naskah kepengurusan tiap periode;
3. Berita acara aktifitas kepengurusan;
4. Bukti-bukti keuangan organisasi;
5. Tulisan-tulisan penting;
i Gambar-gambar dan foto-foto; disusun berdasarkan waktu dengan
mencantumkan tanggal dan jenis kegiatan yang dilakukan pada foto.
konstitusi.indd 83 25/07/2009 22:36:18
84
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
20
Semua dokumen organisasi kecuali surat harus dibuat dan atau disusun dalam
kertas ukuran kwarto 70 gr. Benda-benda berharaga dan bernilai; disusun dengan
aman dan rapi didalam sekretariat kepengurusan dalam betuk media penyimpanan
yang mudah disimpan dan mudah diakses.
C. Penyimpanan/Pengarsipan
Arsip adalah kumpulan dokumen yang disimpan secara sistematis.
Pengarsipan yang sempurna apabila semua surat dan dokumen-dokumen lainnya
tersimpan pada suatu tempat tertentu dan teratur rapi dan apabila diperlukan
mudah dilacak kembali. Pengarsipan yang baik sangat berguna dalam membantu
kelancaran dan kerapihan organisasi.
Dokumen-dokumen organisasi HMI pada prinsipnya harus disimpan di
sekretariat atau kantor. Sangatlah tidak dibenarkan dan dilarang apabila terjadi
penyimpanan surat-surat dan dokumen-dokumen organisasi di luar sekretariat atau
kantor HMI, terutama jika penyimpanan dilakukan oleh individu-individu pengurus
ataupun bukan pengurus. Hal ini untuk mengurangi resiko kerusakan, kehilangan
dan penyalah gunaan dokumen organisasi HMI. Sistem pengarsipan yang harus
dilakukan oleh HMI adalah:
1. Chronological filling
2. Geographical filling
3. Subject filling
4. Numerical filling
5. Alphabetic filling
Artinya setiap dokumen-dokumen HMI harus disusun sesuai dengan periode
kepengurusannya yang kemudian diikuti berdasarkan wilayahnya. Urutan
penyusunan berikutnya berdasarkan subjek atau bidang, kemudian diikuti oleh
nomor surat atau alphbet dokumen non surat. Pengarsipan secara elektornik harus
dilakukan juga sehingga semua dokumen terjaga kelestarian-nya dari waktu
kewaktu. Namun format yang digunakan adalah format yang tidak memungkinkan
seseorang mengganti atau merubah isi dokumen tersebut.
Semua arsip harus dilakukan penjilidan tiap periode kepengurusan. Berikan
penjildan atau pembatas warna putih untuk LPJ, hijua muda untuk Kumpulan surat
masuk dan keluar dan warna hijua tua untuk dokumen lainnya. Pengarsipan secara
konstitusi.indd 84 25/07/2009 22:36:18
85
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
21
elektornik dapat dengan wadah Compact Disc (untuk pengarsipan tiap periode),
atau dalam web (untuk pengarsipan dalam waktu lama). Pengarsipan dokumen
secara elektronik harus dijamin bahwa dokumen itu asli dan sama seperti bentuk
fisiknya. Dengan demikian orisinalitas dokumen dalam media elektronik benar
benar diperhatikan.
D. Tingkat Kerahasiaan
1. Rahasia Utama
Informasi atau dokumen hanya boleh diketahui oleh Ketua Umum PB HMI,
Sekretrasi jendral PB HMI, Bendahara Umum PB HMI, dan Koordinator MSO PB
HMI. Informasi atau dokumen rahasia ini harus dimusnahkan segera setelah
keempat pihak tersebut mengetahuinya. Ke empat pihak tersebut dilarang
menyebarluaskan informsai dan dokumen tersebut kepada pihak lain seumur
hidupnya.
2. Rahasia Utama Terbatas
Informasi atau dokumen hanya boleh diketahui oleh Ketua Umum Cabang,
Sekretrasi Umum Cabang, Bendahara Umum Cabang, Koordinator MSO Cabang
dan Ketua Umum PB HMI, serta satu pihak yang bersangkutan (individu atau
Pengurus Terkait) Informasi atau dokumen rahasia ini harus dimusnahkan segera
setelah kelima pihak tersebut mengetahuinya. Kesemuanya dilarang
menyebarluaskan informsai dan dokumen tersebut kepada pihak lain seumur
hidupnya.
3. Sangat Rahasia
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Presidium dan
Koordinator MSO. Infomasi dan dokumen ini harus disimpan (baik itu milik PB
atau cabang) oleh Sekretaris jendral PB HMI. Hanya dapat diturunkan satu
tingkat dalam waktu 25 tahun kedepan. Begitu seterusnya dalam penurunan
tingkat kerahasiaannya.
4. Rahasia
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Pengurus dan MSO.
Infomasi dan dokumen ini harus disimpan (baik itu milik PB atau cabang) oleh
Sekretaris jendral PB HMI. Hanya dapat diturunkan satu tingkat dalam waktu 25
tahun kedepan. Begitu seterusnya dalam penurunan tingkat kerahasiaannya.
konstitusi.indd 85 25/07/2009 22:36:18
86
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
22
5. Terbatas
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Pengurus Besar, MSO,
Ketua Cabang dan koordinator MSO cabang. Infomasi dan dokumen ini harus
disimpan (baik itu milik PB atau cabang) oleh Sekretaris jendral PB HMI. Hanya
dapat diturunkan satu tingkat dalam waktu 25 tahun kedepan. Begitu seterusnya
dalam penurunan tingkat kerahasiaannya.
6. Terbuka
Informasi atau dokumen yang hanya boleh diketahui oleh Kader HMI saja. Hanya
dapat diturunkan satu tingkat dalam waktu 25 tahun kedepan. Infomasi dan
dokumen ini harus disimpan oleh Sekretaris Jendral/Umum.
7. Publik
Informasi atau dokumen yang dapat diketahui oleh saja.
E. Administrasi Keanggotaan
Anggota HMI merupakan sasaran kerja, pembinaan dan perkaderan
organisasi sehingga perlu ada administrasi yang rapi tentang anggota HMI yang
kongkrit dan terarah. HMI adalah organisasi kader sehingga HMI selalu menerima
anggota baru, selanjutnya melalui proses/jenjang perkaderan dan akhirnya
melepaskan diri sebagai alumni HMI.
Setiap anggota HMI (baik itu anggota biasa ataupun anggota kehormatan)
berhak mendapat Kartu Anggota setelah melewati prosesi pelantikan anggota.
Pengurus Cabang merupakan pihak yang paling berhak mengeluarkan kartu
keanggotaan tersebut kepada anggota HMI. Format kartu anggota yang digunakan
oleh pengurus cabang untuk anggotanya memakai format yang telah diputuskan
dalam Kongres HMI. Semua anggota tersebut juga berhak untuk dicatat dalam buku
daftar anggota. Hal ini dilakukan pada tingkatan cabang. Buku daftar anggota
memuat kolom-kolom sebagai berikut.
No anggota Nama Tempat/tanggal
lahir
Komisariat Masuk HMI Tahun
1555/YK/1416 Murni Ambon/27/04/1975 Kehutanan/
Instiper
Semester ganjil
1996
1556/YK/1417 Hasan Malang/02/03/1975 Tarbiyah/
IAIN/ SUKA
Semester genap
1996
konstitusi.indd 86 25/07/2009 22:36:18
87
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
23
Setiap satu tahun sekali diadakan pendaftaran ulang (heregristasi) anggota
HMI. Pendaftran ulang dilakukan dengan melakukan penggantian kartu anggota
yang lama menjadi kartu anggota yang baru yang dikeluarkan oleh pengurus
cabang. Sedangkan nomor anggota tetap sebagai nomor induk yang lama.
Pelaksanaan heregristasi cukup dilakukan dengan mengisi formulir permohonan
pendaftaran ulang keanggotaan kepada Penngurus Cabang. Pengurus Cabang
kemudian melakukan penerbitan kartu anggota yang baru dengan nomor anggota
yang tetap atas nama anggota yang melakukan heregristasi. Pendaftran ulang
keanggotaan dilakukan agar jumlah anggota di tiap cabang dapat diketahui secara
pasti dari waktu-kewaktu. Sehingga naik turunnya keaktifan anggota dapat juga
terdeteksi dari waktu kewaktu.
F. Inventarisasi Organisasi
1. Inventarisasi adalah upaya untuk mendata semua kekayaan organisasi;
2. Inventarisasi dilakukan pada benda permanen dan benda tidak permanen;
3. Benda permanen ialah kekayaan yang tidak habis dalam satu periode;
4. Benda tidak permanen adalah kekayaan yang habis dalam satu periode;
5. Inventarisasi organisasi dibukukan dalam daftar inventaris yang memuat
tanggal penerimaan, nama dan jumlah barang, pemakaian dan keterangan.
G. Alat komunikasi.
Segala jenis alat komunikasi manusia dapat dijadikan sebagai alat komunikasi
dalam keorganisasian HMI dengan syarat alat itu memungkinkan untuk verifikasi
dan klarifikasi atas penyampaian dan penerimaan informasi. Sehingga informasi
yang diberikan atau diterima dapat dijadikan dasar atas aktifitas organisasi.
Informasi yang diberikan dalam pertukaran informasi harus ada identitas struktur
penyampai informasi, dan identitas individu penyampai informasi (nomor anggota,
asal cabang, asal komisariat) serta waktu dan lokasi informasi disampaikan.
konstitusi.indd 87 25/07/2009 22:36:18
88
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
24
H. Perpustakaan
Perpustakaan yang ideal bagi HMI meliputi buku-buku atau dokumen bentuk
lainnya yang diperlukan oleh anggota dalam rangka peningkatan kualitas anggota
HMI. Oleh karena itu perpustakaan HMI berisi koleksi buku-buku atau dokumen
bentuk lainnya, seperti :
i Data dan informasi yang menunjang aktifitas organisasi;
i Jurnal-jurnal sosial kemsayarakatan;
i Media-media elektronik yang berisi liputan aktifitas HMI;
i Media-media elektronik yang berisi sesuatu penting bagi aktifitas HMI;
i Buku buku atau media-media elektronik dalam topik kemahasiswaan,
keorganisasian dan ke-HMI-an;
i Buku atau media elektronik dalam topik Ideologi, kemasyarakatan,
kenegaraan, politik, ekonomi, pendidikan dsbnya
Penyelenggaraan administrasi perpustakaan sebaiknya diserahkan kepada seorang
anggota pengurus/ lembaga yang bertanggungjawab secara khusus.
konstitusi.indd 88 25/07/2009 22:36:18
89
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
25
BAB VII
KEPROTOKOLERAN
Keprotokoleran HMI merupakan segala aktifitas yang berhubungan dengan
penyelenggaraan suatu prosedur acara (upacara) di dalam organisasi HMI. Agar sasaran
suatu aktifitas dapat dicapai secara optimal diperlukan penanggung jawab
penyelenggara dan pembagian tugas di dalam penyelenggaraannya. Jika
penyelenggaraan suatu aktifitas tidak ada panitia penyelenggara/project officer, maka
pengelolaan, penataan, dan penyelenggaraannya dapat langsung di bawah
tanggungjawab Sekretaris. Namun demikian kesemuanya itu masih membutuhkan
tambahan unsur penyelenggara seperti pengantar acara, penerima tamu, pengatur
perlengkapan, konsumsi, kesenian, dan segala hal yang berhubungan dengan
keacaraan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam suatu upacara:
i Tempat/gedung (lay out, pengaturan kursi);
i Waktu acara
i Tamu/undangan (disediakan tempat khusus);
i Jenis acara;
i Pengantar acara;
i Susunan acara.
Khusus yang terakhir, jika ada kata sambutan, maka urutan pemberi sambutan
adalah dari instansi terendah kemudian menuju ke instansi yang lebih tinggi. Untuk
lebih jelasnya, berikut contoh susunan acara :
1. Pembukaan,
2. Pembacaan ayat suci Al Qur’an,
3. Himne HMI dan Mars Hijau Hitam
4. Laporan Panitia
5. Sambutan-sambutan
a. Tuan Rumah
b. Pengurus HMI Komisariat Pertanian UNTAD;
c. Pengurus HMI Cabang Palu;
d. Pengurus Besar HMI.
6. Acara lainnya,
konstitusi.indd 89 25/07/2009 22:36:18
90
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
26
7. Doa
8. Penutup
Susunan acara diatas selalu diterapkan untuk memulai dan mengakhiri 2
ritual organisasi HMI. 2 (dua) ritual itu menjadi sebuah prosedur (formal) yaitu:
1. Pelantikan
Pelantikan merupakan sebuah protokoler yang digunakan untuk pengesahan
pengurus dan pengesahan keanggotaan. Pelantikan merupakan sebuah pengumuman
legalitas yang didapat oleh struktur atau anggota untuk memulai aktifitas dalam
system organisasi dengan segala hak dan kewajibannya. Pada pelantikan pengurus
atau anggota elemen yang ada dalam acara pelantikan, Petugas Pelantikan dan
Pengurus atau anggota yang dilantik.
Acara pelantikan minimal terdiri dari Ikrar Janji Pengurus dan Pembacaan
Surat Keputusan atas susunan kepengurusan yang dikeluarkan oleh institusi
kepemimpinan yang lebih atas dari pengurus yang dilantik. Petugas pelantik
dilakukan oleh struktur kepemimpinan yang lebih tinggi dari Pengurus yang dilantik
atau perwakilan forum yang mengangkat pengurus. Pengurus yang dilantik minimal
terdiri dari tiga orang dan satu diantaranya adalah ketua kepengurusan.
2. Pembukaan dan Penutupan Acara
Setiap acara yang dilakukan oleh HMI dapat diadakan suatu ritual yang
dinamakan Pembukaan dan Penutupan Acara. Pembukaan dan Penutupan Acara
mempunyai makna bahwa sebuah institusi dalam HMI mempunyai sebuah kegiatan.
Sifat memperjelas pelaksana kegiatan inilah yang menjadi tujuan dalam sebuah
Pembukaan Acara. Pembuka dan penutup acara dapat dilakuakan oleh Ketua
Panitia/ yang mewakili atau Ketua Struktur Pemimpinan Pelaksana Acara/ yang
mewakili atau Ketua Struktur Pemimpinan yang lebih atas.
konstitusi.indd 90 25/07/2009 22:36:18
91
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
27
Lampiran 1
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
KOMFAK ADAB UIN SUNAN KALIJAGA
Sekretariat : wisma marakom, Jl. Tri Dharma No. 354 Baciro Yogyakarta 55225
Telp. 0274-565126. e-mail: maracomunity@yahoo.com
Nomor : 26/A/SEK/7/1423
Lamp : Pemberitahuan LK III
Hal : 1 lembar (sejajar) Kepada yang kami hormati:
______________________
Di
______________________
(2 spasi)
Assalamu’alaikum wr wb
(1 spasi)
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
(1 spasi)
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
(1 spasi)
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________
(1 spasi)
Billahi taufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb
(2 spasi)
Jakarta, 05 Dzulkaedah 1425 H
17 Desember 2005 M
(1 spasi)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
KOMISARIAT FAKULTAS ADAB
UIN SUNAN KALIJAGA
(3 spasi)
ADE RAHMAN
KETUA UMUM
SULASMI
SEKRETARIS UMUM
Tembusan : 1. __________________
konstitusi.indd 91 25/07/2009 22:36:19
92
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
28
Lampiran 2
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
KOMFAK TEKHNIK UNY
Sekretariat : Padepokan HMI, Jalan Komojoyo No. 16 B Yogyakarta 55281
E mail: hmi-ftuny@yahoo.co.id
Surat Mandat/Tugas
Nomor: 27/SEK/7/1423

(2 spasi)
_______________________________________
_______________________________________
(2 spasi)
Nama : ___________________________________________________________
Nomor Anggota : ___________________________________________________________
Jabatan : ___________________________________________________________
Alamat : ___________________________________________________________
Keperluan : ___________________________________________________________
Keterangan : ___________________________________________________________
(1 spasi
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
___________________________________________________________________________
(1 spasi)
Bilahit tawfiq wal hidayah
Jakarta, 05 Dzulkaedah 1425 H
17 Desember 2005 M

(2 spasi)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
KOMISARIAT FAKULTAS TEKHNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
(3 spasi)
M. MASHUR ROMANSYAH
KETUA UMUM
SULASMI
SEKRETARIS UMUM
konstitusi.indd 92 25/07/2009 22:36:19
93
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
29
Lampiran 3
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
CABANG YOGYAKARTA
Sekretariat : KarangKajen MG III/966 Jogjakarta Telp (0274) 6567900
Email : hmijogja@hotmail.com, http//www.hmi-jogja.org
Surat Keterangan
Nomor: 28/A/SEK/7/1423

(2 spasi)
Assalamua’alaikum wr wb
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
(2 spasi)
Nama : ___________________________________________________________
No Identitas : ___________________________________________________________
Alamat : ___________________________________________________________
Tpt/ Tgl Lahir : ___________________________________________________________
(1 spasi)
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________
(1 spasi)
Bilahit tawfiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum wr wb
Jakarta, 05 Dzulkaedah 1425 H
17 Desember 2005 M

(2 spasi)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
CABANG YOGYAKARTA
(3 spasi)
THRES SANTYAKA M CHOZIN
KETUA UMUM SEKRETARIS UMUM
konstitusi.indd 93 25/07/2009 22:36:19
94
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
30
Lampiran 4
P E N G U R U S B E S A R
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(Association Of Islamic University Students )
Sekretariat : Jl. Mesjid Baru No. 18 Pejaten Timur Pasar Minggu Jakarta Selatan 12510
Telp. 021-7992750, SMS-Center 0815-84148020, Fax. 00 62 21 7900099
e-mail : pb-hmi@telkom.net , http://www.hminews.com
SURAT KEPUTUSAN
Nomor : 29/ A/KPTS/ 7/1425
(1 spasi)
Tentang
(1 spasi)
SUSUNAN STRERING COMITEE
LATIHAN KADER III
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
(2 spasi)
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
(1 spasi)
Menimbang : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Mengingat : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Memperhatikan : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Memutuskan
(1 spasi)
Menetapkan : ______________________________________________________________
______________________________________________________________
______________________________________________________________
(1 spasi)
Billahit tawfiq wal hidayah

(2 spasi)
Ditetapkan di : J AKARTA
Pada tanggal : 05 Dzulkaedah 1425 H
17 Desember 2005 M

(2 spasi)
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
PENGURUS BESAR
(3 spasi)
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kesekretariatan
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
31
CAHYO PAMUNGKAS M SYIFA AMIN WIDOGDO
KETUA UMUM SEKRETARIS JENDRAL
konstitusi.indd 94 25/07/2009 22:36:19
95
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
1
PEDOMAN KERJA NASIONAL
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
Bismillahirromanirrahiim
BAB I
PENDAHULUAN
Perjalanan HMI cukup memberikan gambaran tentang peran yang seharusnya
dimainkan dalam menggapai cita-cita organisasi. Sejak berdiri, para aktivis yang
menjadi motor penggerak organisasi mempunyai komitmen kuat terhadap Islam
sebagai visi gerakan. Syari’at Islam yang berawal, berakhir, dan bertumpu pada
kekuatan tauhid sangat menginspirasi dinamika langkah organisasi.
Penetapan PKN merupakan upaya organisatoris untuk menetapkan langkah-
langkah yang harus ditempuh, sehingga berjalan di atas kristalisasi orientasi dan
komitmen terhadap masa depan diri dan ummatnya. Langkah-langkah HMI ke depan
harus berdasar pada idealisme yang dikehendaki para kader, realitas dinamik internal
dan eksternal HMI.
A. Pengertian
1. PKN adalah pokok-pokok kebijakan di segala bidang dalam rangka melakukan
pembaharuan, peningkatan, dan penyempurnaan terhadap kultur perkaderan
dan perjuangan untuk memberikan arahan dan pedoman bagi pencapaian
tujuan strategis yang ditetapkan oleh Kongres XXVII untuk periode 2009-2011 M
sebagaimana diamanatkan di dalam Muqoddimah, pasal asas, tujuan, sifat dan
usaha AD serta Khittah Perjuangan,
2. PKN merupakan haluan perkaderan dan perjuangan dalam bentuk garis-garis
besar sebagai pernyataan kehendak utusan-utusan cabang yang ditetapkan oleh
kongres XXVII,
3. PKN ini merupakan serangkaian program perkaderan dan perjuangan yang
bersifat holistik, terarah, terpadu yang berlangsung secara berkelanjutan,
4. Serangkaian agenda dalam program umum ini dimaksudkan untuk mewujudkan
tujuan HMI yaitu "Terbinanya Mahasiswa Islam menjadi Insan Ulul Albab Yang
Turut Bertanggung jawab Atas Terwujudnya Tatanan Masyarakat Yang Diridhoi
Allah SWT."
konstitusi.indd 95 25/07/2009 22:36:19
96
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
2
B. Landasan
1. Landasan Ideal : Al Qur'an dan Al Hadits,
2. Landasan Konstitusional : AD HMI
3. Landasan Operasional : ART HMI, Khittah Perjuangan, dan Pedoman
Perkaderan.
C. Prinsip Dasar
1. Keberpihakan
Saat ini semua pihak akan bertanya: “apa yang kamu lakukan?”
pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat umum dimana interaksi satu
pihak dengan pihak lain sangat intens dan luas. Jika ada yang ter”alienasi”
dalam pola interaksi ini maka ia adalah pihak yang tidak bisa berbuat apa saja
atau hanya bias melakukan kemauan pihak lain saja. Hal ini disebut dengan
“kegagalan berperan”. Peran adalah hal utama dalam interaksi kehidupan. Kini
semua pihak sudah tidak akan lagi bertanya “Siapa kamu?” tapi pertama kali
akan ditanya “Apa yang kamu lakukan?” dengan kata lain “Apa peranmu?”
Peran bukanlah adanya aktifitas belaka namun aktifitas yang didahuli
oleh kesadaran dalam memilih. Dalam konteks interaksi, “kesadaran dalam
memilih” ini disebut “keberpihakan”. Pilihan untuk berpihak inilah yang harus
diambil oleh HMI. Kepasifan atau ketidakmauan berpihak adalah sebuah
apatisme gerakan yang sangat memalukan. Berpihak tentunya adalah sikap
dengan sadar memilih untuk mengajak, menemani atau mendukung pihak lain.
Pihak lain ini adalah pihak yang memilki kesamaan atau kesesuaian atas tujuan
organisasi HMI itu sendiri.
2. Keadilan
HMI dalam melakukan aktifitas interaksinya tentu wajib memperjelas
keberpihakannya. Program Kerja Nasional sebagai arahaan aktifitas tersebut
akan menggambarkan bahwa keberpihakan HMI adalah “sistem yang adil”. Ini
akan menjadi identitas gerak organisasi dalam satu periode kepengurusan
mendatang. Sistem yang adil ini memang tidak akan pernah mencapai
kesempurnaankeadilan itu sendiri. Oleh sebab itu perbaikan-perbaikan harus
terus dilakukan. Uasaha yang berlanjut ini merupakan sebuah konsistensi yang
akan menjadi sebuah magnet dukungan dari berbagai pihak.
konstitusi.indd 96 25/07/2009 22:36:19
97
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
3
Sistem yang adil ini juga merupakan orientasi organisasi dalam melakukan
interaksinya yang membawa konsekwensi atas berkurangnya diskriminasi,
kesewenang-wenangan, kecemburuan sosiial, kesenjangan sosial yang lebar.
Sistem yang adil akan juga meningkatkan partisipasi semua lingkungan HMI
dalam mencapai tujuan bersama sacara bersama-sama. Semua pihak adalah
pemeran yang berperan. Tak ada yang dihalangi tak ada yang disegala-galakan
dalam tatanan hidup masyarakat.
D. Maksud dan Tujuan
1. PKN dimaksudkan sebagai arah dan pedoman umum bagi HMI dalam menetapkan
pokok sasaran dan langkah perkaderan dan perjuangan dalam satu periode
kepengurusan 2009-2011 M;
2. PKN dimaksudkan sebagai arah dan pedoman untuk mencapai tujuan perkaderan
dan perjuangan HMI dalam kurun dua tahun.
E. Fungsi
1. Memberikan arahan dalam mewujudkan visi dan misi HMI;
2. Memberikan arahan kepada organisasi di dalam melaksanakan peningkatan,
pembaharuan, dan penyempurnaan kultur perkaderan-perjuangan HMI
3. Memberikan arahan tentang pokok kebijakan dan program yang akan dijadikan
pedoman bagi HMI dalam menjalankan kegiatannya.
konstitusi.indd 97 25/07/2009 22:36:19
98
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
4
BAB II
DIMENSI STRUKTUR ORGANISASI
A. Penguatan jaringan kemahasiswaan di seluruh struktur pimpinan HMI dalam
meningkatkan kualitas peran kelembagaan.
Jaringan kemahasiswaan yang dimaksud diatas adalah semua lembaga
kemahasiswaan yang ada, baik itu lembaga dakwah, lembaga politik atau lembaga
media. Beberapa hal yang perlu dicapai adalah:
x Peningkatkan kuantitas kader dalam peran strategis dilembaga kemahasiswaan.
x Adanya ruang komunikasi kader yang aktif di lembaga kemahasiswaan sehingga
mampu meningkatkan kualitas kader dalam menjalankan peran stratetgisnya.
x Peningkatan peran organisasi HMI dalam pembentukan arah dan keberpihakan
gerakan mahsasiswa secara keseluruhan melalui jaringan kemahasiswaan.
B. Penguatan jaringan Kemasyarakatan di seluruh struktur pimpinan HMI dalam
meningkatkan kualitas peran kelembagaan.
Harus ada pemahaman di struktur cabang bahwa jaringan kemasayarakatan
juga merupakan wilayah tanggungjawab keorganisasian, maka perlu dilakukan :
x Peningkatkan kuantitas kerjasama lembaga dengan lembaga masyarakat untuk
mengejawantahkan keberpihakan HMI pada masyarakat sekitarnya.
x Adanya ruang komunikasi antar kader yang aktif di lembaga kemasyarakatan
sehingga kader dapat menjadi wakil organisasi dalam dinamika masyarakat.
x Peningkatan peran organisasi HMI dalam pembentukan arah dan keberpihakan
gerakan kemasyarakatan secara keseluruhan melalui jaringannya.
C. Melakukan penguatan jaringan kenegaraan diseluruh struktur pimpinan HMI dalam
meningkatkan kualitas peran kelembagaan.
Perlu dipahami satu hal oleh organisasi HMI bahwa “Negara” bukanlah
“Entitas Haram”. Keberpihakan kepada kehidupan manusia tidak bisa dilahirkan
dengan mengesampingkan peran negara yang secara nyata memiliki pengaruh cukup
besar dalam pembentukan kualitas hidup. Ikut berperan dalam pembentukan
negara harus juga dilakukan melalui kerjasama dengan lembaga kenegaraan. Bahwa
lembaga kenegaraan menjadi entitas yang harus diarahkan, menuntut HMI tidak
konstitusi.indd 98 25/07/2009 22:36:19
99
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
5
bisa menjauhkan dirinya. Kerjasama dan pengendalian yang baik dapat dilakukan
dengan menjaga kemandirian dan independensi organisasi. Nilai tambah dalam
kerjasama dengan entitas negara dalam pembentukan masyarakatpun akhirnya
dapat diperoleh.
D. Optimalisasi sistem komunikasi dan sistem informasi eksternal HMI sehingga tiap lini
struktur HMI mampu berperan dalam dinamika sosial dilingkungan sekitarnya.
Beberapa pemahaman dasar yang harus dimiliki jajaran kepengurusan HMI
yaitu:
x Dituntut adanya kerjasama yang luas dengan organ-organ lainnya.
x Memberi dan menerima adalah dasar sebuah kerjasama dengan organ lain.
x Tidak ada organ lain yang dimusuhi, yang ada hanya perbedaan kepentingan.
x Independensi bukan berarti sendirian bergerak.
x Jalur komunikasi harus dijaga secara efektif melalui jalur kultural
x Kepentingan organisasi harus lebih besar dari pada lainnya dalam bekerjasama.
E. Mendorong kemandiran pengelolaan perkaderan ditingkat cabang-cabang dengan
arah peningkatan kapasitas anggota dalam peran strategis kemasayarakatan.
Beberapa indikator kemandirian yang harus dibentuk adalah:
x Mampu melaksanakan Senior Course setiap tahunnya.
x Mampu melakukan kerjasama pengader antar cabang.
x Mampu melakukan evaluasi pengader secara berkala dan dapat terukur .
x Memiliki komisariat sehat diatas 50 persen.
x Memiliki forum atau lembaga yang mampu meningkatkan mutu perkaderan
F. Pendampingan secara intensif terhadap cabang- baru dan cabang tidak sehat.
Pendampingan ini harus mampu menciptakan beberapa hal yaitu:
x Sistem peningkatan jumlah anggota yang berlanjut.
x Struktur pengader mampu minimal bertahan dalam 2 periode generasi dan
mampu melakukan regenerasi yang berlanjut.
x Adanya ruang dan sarana komunikasi dengan cabang – cabang mapan untuk
berbagi pengalaman pengelolaan organisasi.
konstitusi.indd 99 25/07/2009 22:36:20
100
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
6
x Memiliki jaringan kerjasama dengan lembaga- lembaga kemasyarakatan dan
lembaga-lembaga kenegaraan untuk peningkatan peran kemasyarakatan cabang.
x Memilki kemampuan mencari referensi ide dalam mendinamisir gerakan.
BAB III
DIMENSI SUPRA STRUKTUR ORGANISASI
A. Penajaman wacana Tema dan mentransformasikannya ke cabang-cabang.
Tema dapat efektif menjadi warna gerak kepepungurusan ketika ada usaha
pemahaman yang efektif pula dalam konsolidasi kepengurusan. Kesinergisan gerak
dan irama gerak kepengurusanpun tercipta dalam satu pola yaitu pola yang telah
ada dalam tema gerakan. Namun demikian lini cabang dan lini komisariat juga
harus cepat menangkap irama ini, sehingga tema tidak menjadi wacana dan warna
gerakan elit pusat namun mampu diturunkan pada wilayah lokal, yaitu daerah
dimana HMI berada.
B. Penguatan pemahaman Sejarah Peran HMI dalam dinamika kebangsaan
“Sejarah yang menggerakan suatu generasi” adalah peristiwa yang dekat
dengan generasi tersebut. Kita tidak dapat menyangkal bahwa era reformasi adalah
peran HMI diantara entitas lainnya. Namun ini kurang menjadi ghiroh bersama.
Generasi HMI 50 an ghirohnya pada pendirian HMI 47, ghiroh generasi HMI angkatan
60 an pada perlawanan HMI atas PKI tahun 65, menolak korupsi era 70 an adalah
ghiroh generasi 70 an, generasi HMI 80 ghirohnya tentu pada penolakan asas
tunggal. Dan generasi 90 dan 2000 an tentu ghirohnya pada era reformasi. Jadikan
era 98 sebagai ghiroh baru kita.
C. Memperkuat peran kewirausahaan.
Era gerakan bawah tanah dalam HMI harus benar-benar diselesaikan.
Masyarakat saat ini membutuhkan pembaharu-pembaharu yang mampu
bekerjasama satu dengan yang lainnya. HMI harus memiliki kesadaran bahwa ada
biaya yang harus dipenuhi dalam gerakan yang dijalani. Biaya itu tidak murah dan
tidak dapat ditutupi dari dalam HMI belaka. Namun akan dapat ditutupi dari pihak
konstitusi.indd 100 25/07/2009 22:36:20
101
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
7
lain yang bersimpati dengan HMI. Dari sinilah kita akan mendapatkan tidak sekedar
dana namun juga jaringan dan pengalaman.
D. Menjaga dialog antar generasi HMI.
Dialog antar generasi ini dilakukan dalam lingkaran siaturahmi dan lingkaran
sinergitas peran gerakkeorganisasian. Namun demikian dialog antar generasi ini
bukan untuk menciptakan pola sub-ordinasi atau patronase-patronase mapan.
BAB IV
WILAYAH KEBIJAKAN
Pokok-Pokok Kebijakan:
A. KEBIJAKAN ORGANISASI
I. Bidang Garap Keorganisasian:
1. Secara organisatoris, HMI membutuhkan kesolidan organisasi mulai dari tingkat
Pengurus Besar, Cabang, hingga Komisariat untuk memermudah proses-proses
organisasi dalam rangka pencapaian tujuan HMI.
2. Pentingnya penciptaan budaya-budaya organisasi yang mampu memperkuat posisi
HMI (membaca, menulis, riset, dan kerja-kerja ilmiah lainnya).
3. Penguasaan dan pengaturan teknologi dengan pertimbangan efesiensi,
efektivitas, dan relevansi untuk mempermudah kerja-kerja organisasi.
4. Modernisasi manajemen pengarsipan HMI.
5. Pembuatan sistem data base anggota HMI di seluruh Indonesia.
II. Bidang Perkaderan:
1. Kontekstualisasi proses-proses perkaderan dan organisasi dengan masa kini.
2. Mencari format-format baru perkaderan yang mendukung penguatan karakter-
karakter kader.
3. Meningkatkan loyalitas kader terhadap organisasi
III. Regional Internal:
1. Penguatan aparatur organisasi (Badko dan Korkom) untuk penguatan organisasi di
masing-masing wilayah.
konstitusi.indd 101 25/07/2009 22:36:20
102
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
8
2. Peningkatan-peningkatan event-event di masing-masing wilayah.
B. Kebijakan Bidang Kawasan:
I. Nasional:
1. Partisipasi HMI dalam penyadaran kebangkitan bangsa. Partipasi HMI dalam
peran memotivasi masyarakat yang semakin pesimis.
2. Mendorong dan aktif dalam gerakan-gerakan pemberantasan korupsi, kolusi
dan nepotisme dalam semua lini kehidupan.
3. Mendorong terciptanya proses-proses dan kebijakan-kebijakan politik yang
berpihak pada masyarakat. Bukan kepada kepentingan-kepentingan kelompok
seperti yang terjadi sekarang.
4. Sistem pemerintahan yang bebas dari campur tangan asing dalam ekonomi,
politik dan hubungan internasional.
5. Menciptakan stabilitas politik tingkat kawasannya.
6. Mendorong kekuatan regional untuk menopang kekuatan nasional.
II. Internasional:
1. Kebangkitan Islam di seluruh dunia.
2. Penguatan posisi Indonesia dan Dunia Islam dalam percaturan politik dunia
dalam upaya menciptakan perdamaian dunia dan penegakan nilai-nilai islam.
3. Pro-aktif dan berperan terhadap penyelesaian konflik ummat Islam dan lainnya
yang terjadi di dunia.
4. Pembelaan dan melakukan advokasi terhadap penderitaan yang dialami ummat
Islam di seluruh dunia. Seperti Rohing di Thailand, Palestina, dan Kelompok
Moro di Philipina.
5. Konsolidasi dan penguatan partisipasi HMI dalam organisasi-organisasi
kepemudaan internasional (Pepiat, dan lain-lain).
C. Kebijakan-kebijakan Sektoral:
I. Wilayah Kebijakan Pendidikan
Wilayah kebijakan pendidikan difokuskan untuk terselenggaranya sistem
pendidikan yang bisa diakses semua kalangan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa, yang dapat dilakukan dengan:
1. Mendorong terselenggaranya pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia
2. Perlindungan akses pendidikan, terutama bagi kaum lemah dan terpinggirkan
konstitusi.indd 102 25/07/2009 22:36:20
103
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
9
3. Mendukung terciptanya mekanisme pendidikan yang benar-benar
mengutamakan aspek kualitas sumber daya manusia
4. Turut berpartisipasi dalam membangun sistem pendidikan yang membentuk
karakter dan identitas bangsa
II . Wilayah Kebijakan Kesehatan
Fokus wilayah kebijakan kesehatan adalah terciptanya sistim pelayanan
kesehatan yang baik dari pemerintah untuk semua warga.
1. Pemerataan pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Indonesia
2. Pencegahan terhadap segala bentuk tindakan mal praktik
3. Penghapusan mavia farmasi di Indonesia
4. Penolakan segala bentuk privatisasi kesehatan
5. Mendorong pembentukan pelayanan kesehatan gratis
III . Wilayah Kebijakan Ekonomi
Wilayah kebijakan ekonomi difokuskan pada terwujudnya cita-cita ekonomi
kerakyatan yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk terciptanya tujuan tersebuta adalah:
1. Mendorong pemerintah untuk membangun perekonomian berbasis ekonomi
kecil dan menengah
2. Pemanfaatan SDA untuk kepentingan nasional
3. Kemandirian perekonomian nasional dan masyarakat sipil
4. Penguatan ekonomi syariah sebagai kekuatan baru ekonomi
5. Pembebasan birokrasi ekonomi dari segala suap dan pungutan
6. Keadilan ekonomi bagi daerah
7. Mendorong pemerintah untuk menasionalisasikan aset-aset strategis negara
IV . Wilayah Kebijakan Hukum dan HAM
Wilayah kebijakan Hukum dan HAM difokuskan pada terciptanya penegakan
supremasi hukum yang adil:
1. Mendorong pembersihan lembaga hukum dari mafia peradilan
2. Memasukkan nilai-nilai hukum syariah pada hukum positif
3. Mendorong penegakan ham dan pengusutan kasus-kasus pelanggaran HAM
berat
4. Memberikan pelayanan advokasi hukum dan HAM kepada masyarakat
konstitusi.indd 103 25/07/2009 22:36:20
104
Konstitusi HMI
K O N S T I T U S I H M I Pedoman Kerja Nasional
DI Tetapkan dalam KONGRES HMI Ke 27
10
V. Wilayah Kebijakan Pertahanan dan Keamanan
Wilayah kebijakan pertahanan dan keamanan difokuskan pada upaya untuk
mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia. Wilayah-wilayah strategis
yang harus dilakukan adalah:
1. Mendorong adanya pengawasan intensif terhadap batas-batas wilayah negara
Indonesia
2. Peningkatan anggaran pertahanan
3. Penguatan otoritas keamanan pada sipil
4. Peningkatan jaminan keamanan bagi seluruh warga Indonesia
VI. Wilayah Kebijakan Politik dan Pemerintahan
Usaha yang dilakukan dalam rangka penjaminan hak-hak politik setiap warga
negara Indonesia:
1. Mendorong proses penyadaran dan edukasi rakyat menuju transisi demokrasi
substansial
2. Penguatan sistem politik untuk kepentingan rakyat
3. Perbaikan sistem ketatanegaraan republik indonesia
VII. Wilayah Kebijakan Lingkungan
Kebijakan pembangunan yang berwawasan lingkungan yang berorientasi pada
pembangunan berkelanjutan.
1. Pembangunan berwawasan lingkungan
2. Penentangan terhadap segala macam perusakan lingkungan
3. Turut berperan atas penyadaran konsep ekologi
4. Mendorong kepastian kesejahteraan dan perlindungan terhadap hak atas
kebutuhan dan hasil usaha kepada pelaku sektor lingkungan khususnya
petani, rimbawan, dan nelayan.
VIII. Wilayah Kebijakan Teknologi
Pengembangan rekayasa teknologi informasi berbasiskan komunitas mahasiswa
Islam
1. Mendukung informasi yang islami
2. Inovasi di bidang teknologi
konstitusi.indd 104 25/07/2009 22:36:20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->