P. 1
Makalah Hukum Internasional

Makalah Hukum Internasional

|Views: 551|Likes:
Published by erik sosanto

More info:

Published by: erik sosanto on Sep 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2015

pdf

text

original

MAKALAH HUKUM INTERNASIONAL

DOSEN PENGASUH :MUTIA EVI KRISTI, SH.M.Hum

Disusun Oleh:

NAMA NIM JURUSAN

: ERIK SOSANTO : EAA 110 039 : HUKUM

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS HUKUM TAHUN 2011
i

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur atas limpahan berkat dan Rahmat-Nya dari Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya penyusunan makalah mengenai Hukum Internasional. Makalah ini disusun berdasarkan sumber dari buku-buku dan sumber lainnya yang berhubungan dengan Hukum Internasional. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi orang yang membacanya. Penulis menyadari akibat keterbatasan waktu dan pengalaman penulis, maka tulisan ini masih banyak kekurangan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan penulisan ini. Harapan penulis semoga tulisan yang penuh kesederhanaan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya tentang Hukum Internasional.

Palangka Raya, November 2011

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI....................................................................................................

i ii iii

BAB I Hukum Internasional .......................................................................... 1 BAB II Hukum Luat ....................................................................................... 4 BAB III Hukum Angkasa ................................................................................ 10 BAB IV Hukum Diplomatik dan Konsuler ..................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I HUKUM INTERNASIONAL

A. Pengertian Hukum Internasional Prof Dr. Mochtar Kusumaatmaja mengatakan bahwa Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara antara negara dengan Negara, negara dengan subjek hukum internasional lainnya. Hukum internasional terbagi menjadi dua bagian, yaitu : 1) Hukum Perdata Internasional, adalah hukum internasional yang mengatur hubungan hukum antara warga negara di suatu negara dengan warga negara dari negara lain (hukum antar bangsa). 2) Hukum Publik Internasional, adalah hukum internasional yang mengatur negara yang satu dengan lainnya dalam hubungan internasional (Hukum Antarnegara). B. Asas-Asas Hukum Internasional Asas-asas yang berlaku dalam hukum internasional, adalah : 1) Asas Teritorial, Menurut asas ini, negara melaksanakan hukum bagi semua orang dan semua barang yang berada dalam wilayahnya. 2) Asas Kebangsaan, Menurut asas ini setap warganegara dimanapun dia berada, tetap mendapat perlakuan hukum dari nearanya. asas ini memiliki kekuatan ekstrateritorial, artinya hukum negara tetap berlaku bagi seorang warganegara walaupun ia berada di negara lain. 3) Asas Kepentingan Umum, Menurut asas ini negara dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan peristiwa yang bersangkut paut dengan kepentingan umum. Jadi, hukum tidak terikat pada batas-batas wilayah suatu negara. C. Subjek Hukum Internasional Subjek hukum Internasional terdiri dari : 1) Negara. 2) Individu. 3) Tahta Suci / vatican. 4) Palang Merah Internasional. 5) Organisasi Internasional. Sebagian Ahli mengatakan bahwa pemberontak pun termasuk bagian dari subjek hukum internasional. D. Sumber Hukum Internasional Sumber hukum dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu : 1) Sumber hukum materil, yaitu segala sesuatu yang membahas dasar berlakunya hukum suatu negara.

1

2) Sumber hukum formal, yaitu sumber darimana kita mendapatkan atau menemukan ketentuanketentuan hukum internasional. Menurut pasal 38 Piagam mahkamah Internasional, sumber hukum formal terdiri dari : 1) Perjanjian Internasional, (traktat/Treaty). merupakan sumber hukum utama apabila perjanjian tersebut ber bentuk Law MakingTreaties, yaitu perjanjian internasional yang berisikan prinsip-prinip dan ketentuan-ketentuan yang berlaku secara umum, Misalnya : 1. Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa 1945; 2. Konvensi Wina mengenai Hubungan Diplomatik 1961, Konsuler 1963. 3. Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982, dll 2) Kebiasaan-kebiasaan internasional yang terbukti dalam praktek umum dan diterima sebagai hukum. Hal ini berasal dari praktek negara-negara melalui sikap dan tindakan yang diambilnya terhadap suatu persoalan. Contoh hasil kodifikasi hukum kebiasaan adalah Konvensi Hubungan Diplomatik, Konsuler, Hukum Laut tahun 1958, dan Hukum Perjanjian tahun 1969. 3) Asas-asas umum hukum yang diakui oleh negara-negara beradab. Asaa-asas umum hukum nasional yang dapat mengisi ke kosongan dalam hukum internasional. Misalnya : Praduga tak Bersalah, dll. 4) Yurisprudency, yaitu keputusan hakim hukum internasional yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. Keputusan–Keputusan Peradilan: a. Memainkan peranan yang cukup penting dalam pembentukan norma-norma baru dalam hukum internasional, misalnya dalam sengketa ganti rugi dan penangkapan ikan. b. Mahkamah diperbolehkan memutuskan suatu perkara secara “ex aequo et bono” yaitu keputusan yang bukan atas pelaksanaan hukum positif tetapi atas dasar prinsip keadillan dan kebenaran. 5) Doktrin, yaitu pendapat para ahli hukum internasional. F. Sebab-Sebab Sengketa Internasional Secara garis besar sengketa internasional terjadi karena hal-hal berikut : a. Sengketa terjadi karena masalah Politik Hal ini terjadi karena adanya perang dingin antara blok barat (liberal membentuk pakta pertahanan NATO) di bawah pimpinan Amerika dan blok Timur (Komunis membentuk pakta pertahanan Warsawa) dibawah pimpinan Uni Sovyet/ Rusia. kedua blok ini saling memeperluas pengaruh ideologi dan ekonominya di berbagai negara sehingga banyak negara yang kemudian menjadi korban. contoh korea yang terpecah menjadi dua, yaitu Korea Utara dengan paham komunis dan korea selatan dengan paham liberal. b. Karena batas wilayah hal ini terjadi karena tidak adanya kejelasan batas wilayah suatu negara dengan negara lain sehingga masing-masing negara akan mengklaim wilayah perbatan tertentu. contoh : Tahun 1976 Indonesia dan Malaysia yang memperebutkan pula sipadan dan ligitan dan diputuskan

2

oleh MI pada tahun 2003 dimenangkan oleh malaysia, perbatasan kasmir yang diperebutkan oleh india dan pakistan. G. Penyelesaian Sengketa Internasional Penyelesaian sengketa internasional dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu : 1. Dengan cara damai, terdiri dari : a) Arbitrasi. arbitrase biasanya dilakukan dengan cara menyerahkan sengketa kepada orangorang tertentu (arbitrator) yag dipilih secarea bebas oleh berbagai pihak untuk memutuskannya tanpa terlalu terikat dengan prosedur hukum. b) Penyelesaian Yudisia, adalah suatu penyelesaian dihasilkan melalui suatu peradilan yudicial internasional yang dibentuk sebagaimana mestinya dengan memberlakukan kaidah-kaidah hukum. Contoh International Court of Justice, yang berkedudukan di Denhag Belanda. c) Negosiasi (perundingan), jasa-jasa baik, mediasi, dan konsiliasi. d) Penyelidikan. e) Penyelesaian di bawah naungan PBB. 2. Dengan cara paksa atau kekerasan, terdisi dari : a) Perang dan tindakan bersenjata non perang. b) Retorsi, yaitu istilah teknis untuk pembalasan dendam oleh suatu negara terhadap negara lain karena diperlakukan secara tidak pantas. c) Tindakan-tindakan pembalasan (Repraisal), yaitu suatu metode yang dipakai oleh suatu negara untuk memperoleh ganti kerugian dari negara lain dengan melakukan tindakantindakan pemalasan. d) Blokade secara damai. e) Intervensi. H. Peranan Mahkamah Internasional Terhadap Pelanggaran Ham Mahkamah Internasional (MI) merupakan salah satu badan perlengkapan PBB yang berkedudukan di Denhag (Belanda). MI memiliki 15 orang hakim yang dipilih dari 15 negara dengan masa jabatan 9 tahun. Selain memberikan pertimbangan hukum kepada Majelis Umum PBB dan Dewan Keamanan PBB MI pun bertugas untuk memeriksa dan menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang diserahkan kepadanya. Dalam mengadili suatu perara MI berpedoman pada Traktat-traktat dan kebiasaan - kebiasaan Internasional. I. Prosedur Penyelesaian Kasus HAM Internasional Penyelesaian kasus pelanggaran HAM oleh mahkamah internasional dapat dilakukan melalui prosedur berikut : 1) Korban pelanggaran HAM dapat mengadukan kepada komisi tinggi HAM PBB atau melalui lembaga HAM internasional lainnya. 2) pengaduan ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan penyidikan. 3) dengan bukti-bukti hasil penyelidikan dan penyidikan proses dilanjutkan pada tahap peradilan, dan jika terbukti maka hakim MI akan menjatuhkan sanksi.

3

BAB II HUKUM LAUT

A. Pengertian Laut Internsional Laut adalah keseluruhan rangkaian air asin yang menggenangi seluruh permukaan bumi, akan tetapi arti laut menurut definisi hukum adalah keseluruhan air laut yang berhubungan secara bebas diseluruh permukaan bumi. Sehingga keberadaan dari Laut Mati, Laut Kaspia dan the Great Salt Lake yang terdapat di Amerika Serikat dari segi hukum tidak dapat dikatakan laut, karena laut-laut tersebut tertutup dan tidak memiliki hubungan dengan bagian-bagian laut lainnya. Walaupun airnya asin dan menggenangi lebih dari satu negara pantai seperti Laut Kaspia, tetapi tetap tidak memiliki hubungan dengan laut lain yang berada di permukaan bumi. Sebenarnya laut merupakan jalan raya yang menghubungkan transportasi ke seluruh pelosok dunia. Melalui laut, masyarakat internasional dan subjek-subjek hukum internasional lainnya yang memiliki kepentingan dapat melakukan perbuatan-perbuatan hukum dalam hal pelayaran, perdagangan sampai penelitian ilmu pengetahuan. Hukum Laut dibagi menjadi 2 (dua) istilah: 1.Hukum Laut Keperdataan atau istilah lain disebut Hukum Maritim (Maritime Law). 2.Hukum Laut Internasional Publik (International Law of The Sea). Hukum Maritim adalah kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dibidang keperdataan yang ditimbulkan akibat adanya kegiatan yang terjadi di laut. “ Contoh : seseorang atau badan hukum yang tunduk pada hukum nasionalnya akan melakukan perbuatan hukum dibidang keperdataan, yaitu mengirim sebuah barang menggunakan kapal dari tanjung priok ke singapura, maka si pengirim barang tersebut wajib menghubungi Perusahaan Pengangkutan di Singapura, sehingga terjadilah hubungan hukum keperdataan di bidang pengangkutan. “ Hukum Laut Internasional adalah kaidah-kaidah hukum yang mengatur hak dan kewenangan suatu negara atas kawasan laut yang berada dibawah yurisdiksi nasionalnya (national jurisdiction).

Contoh : 1.Hak & Kewenangan Republik Indonesia atas perairan kepulauan. 2.Hak & Kewenangan Republik Indonesia atas laut territorial. Kedua contoh pengertian tersebut dapat dibedakan, walau tidak dapat dipisahkan secara mutlak, karena keduanya memiliki hubungan sebab akibat. Seperti halnya dalam ketentuan

4

Hukum Maritim terdapat aspek Publik dan sebaliknya Hukum Laut Internasional Publik terdapat aspek keperdataan. Contoh ketentuan keperdataan yang memuat unsur publik : 1.Aturan Hukum yang berhubungan dengan pelabuhan (Port Regulation). 2.Aturan Hukum mengenai keselamatan berlayar (Safety of Navigation). 3.Pendaftaran Kapal (Ships Registration). Contoh ketentuan publik yang memuat unsur keperdataan : 1.Ketentuan-ketentuan mengenai pencemaran di laut. 2.Ketentuan mengenai SFCW (Standard of Training Certification & Watch Keeping). Terdapat 3 (tiga) konvensi mengenai Hukum Laut Internasional, akan tetapi yang saat ini berlaku adalah Konvensi yang ketiga pada tahun 1982. Naskah konvensi yang ditandatangani oleh 117 Negara dan ditandatangani di Montego Bay, Jamaica 1982. Konvensi ini resmi bernama “Konvensi Hukum Laut PBB 1982 (United Nations Conference on the Law of the Sea 1982)” Prosedur berlakunya Konvensi Hukum Laut 1982 : 1) International Conference (1972-1983). 2) Signing of Draft Convention (Montego Bay, Jamaica 1982). 3) Ratification,Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Pengesahan Perjanjian Internasional,menurut Undang-Undang tersebut ratifikasi harus dilakukan dalam bentuk Undang-Undang, apabila materi perjanjian internasional tersebut berkaitan dengan batas wilayah negara, hankam negara, Hak Azasi Manusia dan yang menciptakan kaidah-kaidah Hukum Internasional yang baru dan hutang luar negeri. Di luar materi tersebut ratifikasi cukup dengan menggunakan Keppres. 4) Deposit – Depostiory 5) Dokumen Ratifikasi tersebut di simpan ke lembaga Internasional yang ditunjuk oleh Konvensi tersebut. Dalam hal Konvensi Hukum Laut 1982, lembaga hukum yang di tunjuk adalah Sekjend PBB. 6) Entry into Force 7) Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 diberikan syarat untuk “entry into force” yaitu sudah di ratifikasi minimal 60 Negara. Syarat tersebut sudah dipenuhi pada tanggal 16 November 1993. Negara yang terakhir meratifikasi konvensi ini adalah Guyana. Sehingga konvensi ini mulai berlaku pada tanggal 16 November 1994. 8) Resevertion 9) Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 tidak membuka kesempatan untuk reservasi, dikarenakan amanat dari Majelis Umum PBB kepada UNSC yang menegaskan untuk dibuat Konvensi Hukum Laut yang komprehensif (menyeluruh). 10) Accession 11) Negara yang tidak mengikuti konferensi, tidak ikut meratifikasi akan tetapi dapat terikat dengan ketentuan Hukum Laut Internasional 1982.

5

Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 1. Isi : a) Memuat hal-hal yang sudah baku, seperti pengaturan mengenai laut bebas (high sea), pengaturan mengenai Hak Lintas Damai, pengaturan mengenai Hak Pengejaran Seketika. b) Memuat hal-hal yang merupakan penyempurnaan, antara lain: pengaturan mengenai landas kontinen. c) Merupakan ketegasan, yaitu mengenai lebar laut territorial, yang merupakan 12 mil dari garis pangkal. d) Memuat hal-hal baru / konsepsi baru dibidang hukum laut, antara lain: konsepsi negara kepulauan, konsepsi mengenai ZEE, konsepsi mengenai alih teknologi kelautan, konsepsi mengenai dasar samudera dalam, pengaturan mengenai laut, konsepsi mengenai negaranegara tertutup / setengah tertutup (Land Locked State). 2. Materi yang diatur: a) Pengertian dari ruang lingkup diatur dalam Bab 1 Pasal 1. b) Laut territorial diatur dalam Bab 2 Pasal 2-23. c) Selat yang digunakan untuk pelayaran internasional diatur dalam Bab 3 Pasal 24-45. d) Negara Kepulauan diatur dalam Bab 4 Pasal 46-54. e) Zona Ekonimi Eksklusif diatur dalam Bab 5 Pasal 55-75. f) Landas Kontinen diatur dalam Bab 6 Pasal 76-85. g) Laut Bebas (High Sea) diatur dalam Bab 7 Pasal 86-120. h) Rejim Pulau diatur dalam Bab 7 pasal 121. i) Laut Tertutup diatur dalan Bab 9 Pasal 122-123. j) Hak Akses Negara-negara yang dibatasi daratan ke dan dari laut serta hak transit diatur dalam Bab 10 Pasal 124-132. k) Dasar laut & Samudera diatur dalam Bab 11 Pasal 133-237. l) Perlindungan & Pelestarian lingkungan di laut diatur dalam Bab 12 Pasal 192-237. m) Penelitian Ilmiah Kelautan diatur dalam Bab 13 Pasal 238-265. n) Pengembangan & Alih Teknologi Bab 14 Pasal 266-278. o) Penyelesaian Perselisihan diatur dalam Bab 15 pasal 279-299. p) Ketentuan Umum diatur dalam Bab 16 Pasal 300-304. q) Ketentuan Khusus diatur dalam Bab 17 Pajsal 305-320. Kawasan Laut dalam Yurisdiksi Nasional Indonesia : a. Dibawah Kedaulatan(Souvereignty). 1) Perairan Kepulauan (Archipelago Waters). 2) Laut Teritorial (Territorial Sea). b. Dibawah Hak-hak berdaulat (Sovereignty Right) 1) Zona Tambahan (Contigous Zone). 2) Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). 3) Landa Kontinen (Continental Shelf).

6

Kawasan Laut diluar Yurisdiksi Nasional Indonesia : 1) Laut Bebas. 2) Dasar Samudera Dalam (International Sea Bed Area). Penentuan Batas Maritim (Maritime Boundaries) : a. Jenis-jenis Garis Pangkal: Batas maritime suatu negara dengan negara tetangga harus jelas dan diadakan melalui perjanjian bilateral. Suatu batas maritime ditentukan dari garis pangkal yang merupakan titik awal, untuk menentukan batas keluar, Jenisnya. - Garis Pangkal Normal. - Garis Pangkal Lurus. - Garis Pangkal Lurus Kepulauan. B. Otentisitas Deklarasi Djuanda Pada awal kemerdekaan Indonesia, persoalan wilayah (teritorial) menjadi salah satu isu strategis. Perdebatan yang terjadi di dalam BPUPKI ketika pembahasan wilayah republik menjadi buktinya. Akan tetapi, beragam pendapat yang muncul terbatas pada soal wilayah daratan. Tidak banyak tokoh republik pada waktu itu yang menyinggung pentingnya wilayah lautan, kecuali Muhammad Yamin. Kondisi geografis Indonesia yang unik, banyaknya wilayah laut dibanding darat, menyadarkan pemerintah bahwa persoalan wilayah laut merupakan faktor penting bagi kedaulatan negara. Atas asumsi itulah Deklarasi Djuanda dideklarasikan pada 13 Desember 1957. Berdasarkan fakta sejarah itulah maka sejak tahun 1999 setiap tanggal 13 Desember diperingati sebagai Hari Nusantara yang kemudian dikukuhkan berdasarkan Keppres No.126/2001 sebagai hari nasional. Namun, dalam pembacaan saya terhadap lahirnya Deklarasi DDjuanda, terdapat “masalah” kecil yang penting untuk dibicarakan, yaitu mengenai otentisitas ide. Penggagas Ide Negara Kepulauan Ide cemerlang yang terdapat dalam Deklarasi Djuanda adalah konsepsi negara kepulauan. Konsepsi itu mamandang “segala perairan di sekeliling dan di antara pulau-pulau dinyatakan sebagai bagian yang integral dari wilayah Indonesia.” Pendapat demikian pada waktu itu tidak lazim dalam hubungan antarnegara. Selain itu, kita hanya memiliki aturan hukum wilayah laut warisan dari Belanda. (Territoriale Zee en Maritime Kringen Ordonantie/TZMKO, 1939), yang hanya mengatur lebar laut teritorial sejauh tiga mil saja. Pemerintah menyadari bahwa wilayah perairan Indonesia banyak yang melebihi jarak 3 mil sesuai dengan TZMKO pasal 1 ayat 1. Dampaknya adalah terdapat laut bebas yang dapat dilalui oleh kapal-kapal asing dalam wilayah republik. Adanya laut bebas itu dikhawatirkan akan digunakan oleh kapal-kapal Belanda untuk mengganggu kedaulatan negara. Apalagi pada waktu itu kita masih bersengketa mengenai status Irian Barat. Berdasarkan keterangan Mochtar Kusumaatmadja, saat itu menjadi salah satu tim penyusun RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim, bahwa tim tersebut telah berhasil menyusun lebar laut teritorial seluas 12 mil sesuai dengan perkembangan yang terjadi dalam hukum internasional. Kemudian Chaerul Saleh (Menteri Veteran) mendatangi beliau dan tidak setuju dengan usulan tim penyusun. Alasannya adalah jika aturan diterapkan maka terdapat laut

7

bebas antara pulau-pulau di Indonesia sehingga kapal-kapal asing bisa bebas keluar masuk. Hal tersebut jelas dapat “mengganggu” kedaulatan Indonesia yang masih berumur muda. Saran dari Chaerul Saleh adalah untuk menutup perairan dalam (Laut Jawa) sehingga tidak ada kategori laut bebas didalamnya. Mochtar lantas menjawab tidak mungkin karena tidak sesuai dengan hukum internasional saat itu dan berjanji untuk mendiskusikanya dengan tim. Hari Jumat 13 Desember 1957, tim RUU Laut Teritorial menghadap kepada perdana menteri Djuanda. Beliau meminta untuk dijelaskan perihal hasil rancangan tim. Mochtar Kusumaatmadja sebagai ahli hukum internasional (hukum laut) tampil ke depan untuk menjelaskan. Kemudian diputuskan untuk menerima sebuah deklarasi yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda. Fakta di atas memunculkan tiga aktor penting hingga dikeluarkanya Deklarasi Djuanda, yaitu; Djuanda, Mochtar Kusumaatmadja dan Chaerul Saleh. Satu hal yang pasti ialah deklarasi Djuanda merupakan keputusan Djuanda karena posisi dia saat itu sebagai pengambil kebijakan. Lalu apakah ide negara kepulauan merupakan konsep dari Chaerul Saleh, karena berdasarkan kesaksian Mochtar di atas bahwa ide untuk menutup Laut Jawa merupakan saran dari beliau? jawabanya belum pasti, karena terbukti ide tersebut sudah dibahas oleh Muhammad Yamin dalam rapat BPUPKI tahun 1945. Mari kita lihat pernyataan M. Yamin dalam BPUPKI, “Tanah air Indonesia ialah terutama daerah lautan dan mempunyai pantai yang panjang. Bagi tanah yang terbagi atas beribu-ribu pulau, maka semboyan mare liberum (laut merdeka) menurut ajarah Hugo Grotius itu dan yang diakui oleh segala bangsa dalam segala seketika tidak tepat dilaksanakan dengan begitu saja, karena kepulauan Indonesia tidak saja berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, tetapi juga berbatasan dengan beberapa lautan dan beribu-ribu, selat yang luas atau yang sangat sempit. Di bagian selat dan lautan sebelah dalam, maka dasar “laut merdeka” tidak dapat dijalankan, dan jikalau dijalankan akan sangat merendahkan kedaulatan negara dan merugikan kedudukan pelayaran, perdagangan laut dan melemahkan pembelaan negara. Oleh sebab itu, maka dengan penentuan batasan negara, haruslah pula ditentukan daerah, air lautan manakah yang masuk lautan lepas. Tidak menimbulkan kerugian, jikalau bagian Samudea Hindia Belanda, Samudera Pasifik dan Tiongkok Selatan diakui menjadi laut bebas, tempat aturan laut merdeka. Sekeliling pantai pulau yang jaraknya beberapa kilometer sejak air pasang-surut dan segala selat yang jaraknya kurang dari 12 km antara kedua garis pasang-surut, boleh ditutup untuk segala pelayaran di bawah bendera negara luaran selainnya dengan seizin atau perjanjian negara kita.” Jika kita liat pernyataan M. Yamin di atas, khususnya bagian terakhir, beliau secara eksplisit menyebutkan untuk menutup wilayah laut pedalaman. Selain itu, terlihat dengan jelas bahwa beliau menguasai persoalan hukum laut internasional. Hal ini dikarenakan beliau memang salah satu ahli hukum yang brilian di zamannya. Mungkin tidak salah untuk mengakuinya sebagai pionir dalam pemikiran hukum laut.

8

Oleh karena itu, ada kemungkinan Chaerul Saleh berpendapat demikian dengan alasan strategis, yaitu demi menjaga kesatuan (integral) wilayah Indonesia, karena Chaerul Saleh mempunyai latar belakang militer. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa Mochtar menerima ide Chaerul Saleh padahal dia tahu bahwa usulan tersebut bertentangan dengan hukum internasional pada saat itu? Menurut Adi Sumardiman (Mantan anggota delegasi RI ke berbagai pertemukan Hukum Laut) ada kemungkinan Mochtar dipengaruhi pendapat Norwegia di mahkamah internasional pada kasus “Norwegian Fisheries Case” tahun 1951. Jadi sudah ada presedenya. Jika benar asumsi Adi Sumardiman, maka Deklarasi Djuanda 1957 tidak sepenuhnya ide otentik Indonesia karena ada persinggungan ide dengan pendapat Norwegia, meskipun M. Yamin pernah menyinggungnya enam tahun sebelumnya. Perihal siapa tokoh yang paling berperan, maka kembali pada persepsi masing-masing. Seperti kata Taufik Abdullah-ahli sejarah- dalam sejarah tidak ada pahlawan (tokoh) yang ada hanya pelaku sejarah. Namun, kolaborasi antara Djuanda, Chaerul Saleh dan Mochtar Kusumaatmadja telah berhasil merumuskan sebuah politik hukum yang menguntungkan kepentingan republik. Hebatnya, Deklarasi Djuanda dapat diterima oleh masyarakat internasional dan konsepsi negara kepulauan ditetapkan menjadi bagian hukum internasional dengan dicantumkannya dalam United Nations Convention on the Law of The Sea (UNCLOS) pada tahun 1982.

9

BAB III HUKUM ANGKASA

A. Sejarah Perkembangan Hukum internasinal Bila status yuridik laut lepas merupakan bagian dari ketentuan-ketentuan hukum internasional yang paling tua, maka sebaliknya statusnya yuridik angkasa luar merupakan karya yang paling baru karena hanya berkembang semenjak permulaan tahun 1960 an. Hukum angkasa ini bersifat orisinil bila ditinjau dari kondisi bagaimana lahirnya, dan dari beberapa aspek, hukum angkasa ini juga bersifat klasik kalau dilihat dari karakteristik pokok rejim yuridiknya seperti halnya dengan rezimlaut lepas. Pembentukan hukum angkasa luar ini ditandai oleh kecepatan dan kelancaran relativedimana masyarakat internasional dengan segala telah dapat merumuskan kesepakatankesepakatanatas sekumpulan prinsip-prinsip dasar segara sesudah peluncuran satelit pertama sputnik oleh uni soviet pada bulan oktober 1957 dan kemudian disusul oleh peluncuran manusia pertama ke angkasa luar, yuri Gagarin, juga dari uni soviet pada tahun 1961. Kegiatan Negara-negara dibidang eksplorasi dan pemanfaatan angkasa luar dengan peluncuran ke angkasa luar berbagai satelit dengan cepat tela menjadi beraneka ragam seperti pengawasan wilayah-wilayah yang dilintasi, pencarian sumber-sumber alam darat dan laut, siaran radio dan televise langsung, hubungan telepon, penentuan posisi kapal-kapal, meteorology, observasi astronom dan berbagai eksperimen lainnya. B. Resolusi-Resolusi Majelis Umum Hukum angkasa luar ini berbeda dari cabang-cabang hukum internasional lainnya mempunyai ciri-ciri khusus yaitu sifat hukumnya yang asli, menyangkut kepentingan yang bersifat universal dan peranan penting yang diamainkan oleh Negara-negara adi daya uni soviet dan amerika serikat. Ciri-ciri khas ini terutama peranan kedua Negara adi daya tersebut telah menyebabkan prosedur pembuatan hukum antariksa cukup unik yang dimulai dengan perundingan-perundingan bilateral antara kedua Negara diatas yang dilanjutkan dengan pembahasan-pembahasan di majelis umum PBB. Majelis umum merumuskan prinsip-prinsip umum yang dimuat oleh resolusi-resolusi dan perjanjian-perjanjian yang bersifat universal. Pada permulaan awal November 1963, majelis umum menerima sesuatu resolusi mengenai pelucutan senjata (res.1149-Xll) yang berisikan kepeduliannya atas bahaya penggunaan angkasa luar untuk tujuan militer. Kemudian dalam semangat yang sama, majelis umum pada tanggal 17 oktober 1973 menerima resolusi yang meminta Negara-negara anggota untuk tidak menempatkan di orbit benda-benda yang membawa senjata nuklir atau senjata pemusnah missal lainnya. Pada tahun 1961 di tahun peluncuran yuri Gagarin dengan pesawat ruang angkasanya, majelis umum pada tanggal 20 desember 1961 menerima resolusi pertamanya bersifat substantive yang mencanangkan prinsip kebebasan ruang angkasa. Dua tahun kemudian pada tahun 1963, majelis umum menerima deklarasi prinsip-prinsip yuridik yang mengatur kegiatan-kegiatan Negara di bidang eksplorasi dan penggunaan angkasa luar . deklarasi yang juga diterima oleh amerika serikat dan uni soviet tersebut talah memungkinkan masyarakat internasional untuk merumuskan suatu perjanjian internasional umum mengenai ruang angkasa. Berkat perundingan-perundingan yang berhasil dengan baik antara uni soviet dan amerika serikat dan hasil-hasil karya dari komite penggunaan

10

secara damai angkasa luar, akhirnya majelis umum pada tanggal 19 desember 1966 menerima perjanjian internasional mengenai prinsip-prinsip yang mengatur kegiatan-kegiatan Negara dibidang eksplorasi dan penggunaan angkasa luar termasuk bulan dan benda-benda angkasa alamiah lainnya. Perjanjian ini dapat dianggap sebagai dokumen hukum induk bagi kegiatan-kegiatan di ruang angkasa luar. Perjanjian ini secara serentak dibuka untuk penandatanganan di London, moskow dan Washington tanggal 27 januari 1967 dan dengan cepat mulai berlaku tanggal 10 oktober tahun yang sama. Sesuai dengan namanya dan atas keinginan uni soviet dokumen hukum tersebut hanya semacam kerangka yang menyebutkan prinsip-prinsip umum yang selanjutnya harus diperjelas, dirinci dan dilaksanakan. Perjanjian-perjanjian Internasional Yang Diterima Majelis Umum : Sebagai kelanjutan deklarasi 1963 dan perjanjian internasional 1967, majelis umum menerima 4 perjanjian tambahan yang melengkapi dari mengembangkan dokumen-dokumen yang telah ada yaitu: 1) Persetujuan mengenai penyelamatan astronot, pengembalian astronot dan resitusi benda-benda yang diluncurkan keruang angkasa tanggal 22 april 1968, Res. No.2345 (XXII). 2) Konvensi mengenai tanggung jawab internasional untuk kerugian yang disebabkan benda-benda spasil tanggal 29 maret 1972, Res. 2223 (XXIX) 19 desember 1966. 3) Konvensi mengenai imatrikulasi benda-benda yang diluncurkan ke angkasa luar tanggal 14 januari 1975, Res. 3235 (XXIX). 4) Persetujuan yang mengatur kegiatan-kegiatan Negara di bulan dan benda-benda ruang angkasa lain, tanggal 18 desember 1979, Res 34/68. Komite Penggunaan Secara Damai Ruang Angkasa Luar : Pada tahun 1958 segera setelah peluncuran satelit buatan pertama, majelis umum PBB memutuskan untuk mendirikan suatu AD Hoc Commite On the Peacefull Usus of the outer Space untuk membahas : 1) Kegiatan-kegiatan dan sumber-sumber PBB,badan-badan khusus dan badan-badan internasional lainnya mengenai penggunaan secara damai ruang angkasa luar. 2) Kerjasama internasional dan program-program di bidang yang kiranya dapat dilakukan dibawah naungan PBB. 3) Pengaturan-pengaturan organisasi untuk mempermudah kerjasama internasional dalam rangka PBB. 4) Masal-masal hukum yang dapat muncul dalam kegiatan eksplorasi ruang angkasa. Ada Juga Beberapa Teori Yang Dilahirkan Dari Organisasi Internasional, Perjanjian Internasional, Cara Bekerja Sebuah Pesawat Angkasa, Cara Bekerja Transmisi Gelombang Radio, Teori Orbit Satelit. Antara lain: • Teori ICAO (International Civil Aviation Organization). Teori ini berdasarkan pada bunyi konvensi Chicago tahun 1944 dengan segenap annex-nya yang menggunakan batas berlakunya ketentuan hukum udara internasional.Dimulai batas maksimum yang dapat dipakai oleh pesawat udara (aircraft) dengan mendefinisikan pesawat udara

11

sebagai”. Setiap alat yang mendapat gaya angkat aerodinamis di atmosfir karena reaksi udara (any machine can derive support in the atmosphere from the reaction of the air). Konvensi ini tidak menyebutkan secara jelas dan pasti batas ketinggian kedaulatan suatu negara atas ruang udaranya. Dapat dikatakan bahwa ruang angkasa dimulai pada saat tidak ada reaksi udara menurut teknologi penerbangan berkisar 25 mil sampai 30 mil dari permukaan bumi atau sekitar 60.000 kaki. • Teori Transmisi Radio. Teori ini didasarkan pada sifat gelombang yang memancar melalui perantaraan konduktor atmosfir udara dapat ditentukan bahwa batas ruang angkasa dimulai dari batas maksimum udara dimana gelombang radio tidak dapat menembus batas tersebut melainkan kembali memantul ke bumi ketinggian berdasarkan teori berkisar 150 mil sampai 300 mil dari permukaan bumi.

• Teori Outer Space Treaty 1967. Teori ini memberi batas antara ruang udara dan ruang angkasa berdasarkan teori titik terendah orbit suatu satelit atau suatu space objects. Pembatasan teori outer space treaty bersifat tidak pasti. Hal ini bergantung pada karakteristik suatu satelit buatan dan kepadatan atmosfir di suatu orbit pada waktu tertentu. Menurut teori ini, ruang angkasa dimulai pada ketinggian 80 Km diatas permukaan bumi yang merupakan batas ketinggian minimum (lower limit) dari suatu orbit satelit. • Teori GSO (Geo Stationary Orbit). Teori ini dipakai oleh negara-negara “kolong” dimana negaranya dilalui garis khatulistiwa termasuk Indonesia untuk memperjuangkan klaim hak-hak berdaulat, mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alam di ruang angkasa yang berbentuk cincin ketinggian berkisar 36.000 km dari permukaan bumi. Teori ini lahir dari kegigihan perjuangan negara-negara equator (khatulistiwa) untuk memperoleh preferential rights atas GSO (Ida Bagus Rahmadi Supancana, E Saefullah Wiradipradja, Mieke Komar Kantaatmadja, 1988). Ide ini diusulkan pada sidang ke-22 sub komite hukum UNCOPOUS (United Nations Committee of Peacefull of Outer Space) untuk memperkuat argumentasi yuridis atas kekayaan alam ruang angkasa bagi negara-negara khatulistiwa. • Teori Pesawat Lockheed U-2 Milik Amerika Serikat dengan kemampuan terbang berkisar 78. 000 kaki. Pesawat LU-2 jenis pengintai ini ditembak jatuh oleh USSR. Sehingga menimbulkan perang argumentasi antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Pihak Uni Soviet memprotes Amerika karena pesawat udaranya telah memasuki wilayah udara Uni Soviet. Sebaliknya, Amerika berdalih bahwa pesawatnya terbang pada ketinnggian yang dikategorikan sebagai wilayah ruang angkasa yang bebas dari klaim kedaulatan dari negara manapun. Pihak USSR berpegang pada Air Code Soviet yang berbunyi “The Complete and exclusive sovereignity over the airspace of USSR shall be long to the USSR.Air space of USSR shall be deemed to be the air space above the land and water territory of the USSR including the space above territorial waters as determined by laws of USSR and by international treaties”

12

• Teori Space Shuttle atau teori Orbiter. Untuk,memperkuat argumentasi yuridis masalah status hukum pesawat ulang-alik yang banyak menimbulkan silang pendapat di kalangan ilmuan hukum udara. Beberapa ilmuan hukum udara masih belum bisa menarik kesimpulan tentang penundukan hukum atas pesawat ulang alik. Di satu sisi tunduk pada hukum ruang angkasa dan di sisi lain tunduk pada hukum udara internasional. Karena sifat-sifat kendaraan tersebut selalu berubah-ubah, kadang sifatnya sebagai pesawat angkasa dan juga sebagai pesawat udara biasa (K Martono, 1987).Untuk memperkuat argumen yuridis berkenaan dengan batas delimitasi ruang udara dan ruang angkasa dapat dilihat dari proses kerja pesawat ulang alik pada saat menjalankan misinya.Meluncur ke ruang angkasa melalui tiga tahapan yakni tahap ascend/launching (peluncuran), tahap orbital (penempatan ke orbit),dan tahap descend (pulang turun kembali ke bumi memasuki atmosfir). Turunya pesawat dengan gaya aerodinamis menggunakan reaksi udara mirip pesawat udara komersial biasa. Dari proses kerja pesawat ini dapat diambil teori penentuan delimitasi ruang udara dan ruang angkasa. Teori tersebut adalah batas ruang udara berlaku pada saat tangki luar bahan bakar pecah dan terbakar disusul dua roket pendorong lepas pada ketinggian 50 mil dari permukaan bumi.

13

BAB IV HUKUM DIPLOMATIK DAN KONSULER

A.Pengertian Hukum Diplomatik Dan Konsuler Berbicara mengenai hukum diplomatik tentunya tidak dapat terpisah dari apa yang dinamakan dengan diplomasi. Diplomasi merupakan suatu cara komunikasi yang dilakukan antara berbagai pihak termasuk negosiasi antara wakil-wakil yang sudah diakui. Ada beberapa ahli yang mencoba untuk memberikan definis dari diplomasi, beberapa diantaranya adalah : a. Random House Dictionary : “The conduct by goverment officials of negotiations and other relations between nationas; the art of science of conducting such negotiations; skill in managing negotiations, handling of people so that there is little or no ill-will tact”. b. Sir Ernest Satow : “Diplomacy is the application of intelligence and tact to the conduct of official relations between the Goverments of Independent States, extending sometimes also to their relations with vassal states; or more briefly still, the conduct of business between States by peaceful means”. c. Quency Wright( dalam buku The Study of International Relations) memberikan batasan dalam 2 cara : 1) The employment of tact, shrewdness, and skill in any negotiation or transaction. 2) The art of negotiation in order to achieve the maximum of cost, within a system of politics in which war is a possibility. d. Harold Nicholson : 1) The management of internal relations by means of negotiation. 2) The method by which these relations are adjusted and manage by ambassadors and envoys. 3) The business of art of the diplomatist. 4) Skill or address in the conduct of international intercourse and negotiations. e. Brownlie : “...diplomacy comprises any means by which states establish or maintain mutual relations, communicate with each other, or carry out political or legal transactions, in each case through their authorized agents”. Jika ditinjau dari pengertian secara tradisionalnya, hukum diplomatik digunakan untuk merujuk pada norma-norma hukum internasional yang mengatur tentang kedudukan dan fungsi misi diplomatik yang dipertukarkan oleh negara-negara yang telah membina hubungan diplomatik. Pengertian hukum diplomatik secara tradisional itu kini telah meluas karena hukum diplomatik sekarang bukan sekedar mencakup hubungan diplomatik dan konsuler antar negara, akan tetapi juga meliputi keterwakilan negara dalam hubungannya dengan organisasi-organisasi internasional.

14

Ada beberapa faktor penting yang didapatkan dari pengertian hukum diplomatik yang telah disebutkan sebelumnya diatas, yaitu : a) Hubungan antar bangsa untuk merintis kerja sama dan persahabatan. b) Hubungan itu dilakukan dengan pertukaran misi diplomatik. c) Para pejabat yang bersangkutan harus diakui statusnya sebagai wakil diplomatik. Dari faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, maka pengertian hukum diplomatik pada hakikatnya merupakan ketentuan atau prinsip-prinsip hukum internasional yang mengatur hubungan diplomatik antar negara yang dilakukan atas dasar permufakatan bersama dan ketentuan atau prinsip-prinsip tersebut dituangkan dalam instrumen-instrumen hukum sebagai hasil dari kodifikasi hukum kebiasaan internasional dan pengembangan kemajuan hukum internasional. B. Perkembangan Kodifikasi Hukum Diplomatik Dalam pergaulan masyarakat, negara sudah mengenal semacam misi-misi konsuler dan diplomatik dalam arti yang sangat umum seperti yang dikenal sekarang pada abad ke-16 dan ke-17, dan penggolongan Kepala Perwakilan Diplomatik telah ditetapkan dalam Kongres Wina 1815 sebagai berikut : 1. Duta-duta besar dan para utusan (ambassadors and legate). 2. Minister plenipoteniary dan envoys extraordinary. 3. Kuasa Usaha (charge d' affaires). Dan setelah PBB didirikan pada tahun 1945, dua tahun kemudian telah dibentuk Komisi Hukum Internasional. Setelah tiga puluh tahun (1949-1979), komisi telah menangani 27 topik dan subtopik hukum internasional, 7 diantaranya adakah menyangkut hukum diplomatik, yaitu : 1. Pergaulan dan kekebalan diplomatik. 2. Pergaulan dan kekebalan konsuler. 3. Misi-misi khusus. 4. Hubungan antara negara bagian dan organisasi internasional. 5. Masalah perlindungan dan tidak diganggu gugatnya pejabat diplomatik dan orang lain yang memperoleh perlindungan khusus menurut hukum internasional. 6. Status kurir diplomatik dan kantong diplomatik yang diikutsertakan pada kurir diplomatik. 7. Hubungan antara negara dengan organisasi internasional. C. Konvensi-konvensi PBB Mengenai Hukum Diplomatik 1. Konvensi Wina 1961 mengenai hubungan diplomatic. Setelah berdirinya PBB pada tahun 1945, untuk pertama kalinya pengembangan kodifikasi hukum internasional termasuk hukum diplomatik telah dimulai pada tahun 1949 secara intensif oleh Komisi Hukum Internasional khususnya mengenai ketentuan-ketentuan yang menyangkut kekebalan dan pergaulan diplomatik yang telah digariskan secara rinci. Konvensi Wina 1961 ini terdiri dari 53 pasal yang meliputi hampir semua aspek penting dari hubungan diplomatik secara permanen antar negara. Di samping itu, juga terdapat 2 protokol pilihan mengenai masalah kewarganegaraan dan keharusan untuk menyelesaikan sengketa yang masing-

15

masing terdiri dari 8-10 pasal. Konvensi Wina 1961 itu beserta dengan dua protokolnya telah diberlakukan sejak tanggal 24 April 1964 hingga 31 Desember 1987. Ada total 151 negara yang menjadi para pihak dalam Konvensi tersebut dimana 42 di antaranya adalah pihak dalam protokol pilihan mengenai perolehan kewarganegaraan dan 52 negara telah menjadi pihak dalam protokol pilihan tentang keharusan untuk menyelesaikan sengketa. Pasal 1-19 Konvensi Wina 1961 menyangkut pembentukan misi-misi diplomatik, hak dan caracara untuk pengangkatan serta penyerahan surat-surat kepercayaan dari Kepala Perwakilan Diplomatik (Dubes); pasal 20-28 mengenai kekebalan dan keistimewaan bagi misi-misi diplomatik termasuk di dalamnya pembebasan atas berbagai pajak. Pasal 29-36 adalah mengenai kekebalan dan keistimewaan yang diberikan kepada para diplomat dan keistimewaan bagi anggota keluarganya serta staf pelayanan yang bekerja pada mereka dan pasal 48-53 berisi tentang berbagai ketentuan mengenai penandatanganan, aksesi, ratifikasi dan mulai berlakunya Konvensi itu. 2. Konvensi Wina 1963 mengenai hubungan konsuler Untuk pertama kalinya usaha guna mengadakan kodifikasi peraturan-peraturan tentang lembaga konsul telah dilakukan dalam Konverensi negara-negara Amerika tahun 1928 di Havana, Kuba, di mana dalam tahun itu telah disetujui Convention on Consular Agents. Setelah itu, dirasakan belum ada suatu usaha yang cukup serius untuk mengadakan kodifikasi lebih lanjut tentang peraturan-peraturan tentang hubungan konsuler kecuali setelah Majelis Umum PBB meminta kepada Komisi Hukum Internasional untuk melakukan kodifikasi mengenai masalah tersebut. 3. Konvensi New York 1969 mengenai misi khusus Konvensi ini Wina tahun 1961 dan 1963 telah mengutamakan kodifikasi dari hukum kebiasaan yang ada, sementara konvensi ini bertujuan untuk memberi peraturan yang lebih mengatur mengenai misi-misi khusus yang memiliki tujuan terbatas yang berbeda dengan misi diplomatik yang sifatnya permanen. 4. Konvensi New York mengenai pencegahan dan penghukuman kejahatan terhadap orang-orang yang menurut hukum internasional termasuk para diplomat. Dalam perkembangannya, hukum diplomatik telah mencatat kemajuan lebih lanjut dengan secara khusus mengharuskan melalui sebuah konvensi, suatu kewajiban penting bagi Negara penerima untuk mencegah setiap serangan yang ditujukan pada seseorang, kebebasan dan kehormatan para diplomat serta untuk melindungi gedung perwakilan diplomatik. Dalam tahun 1971, Organisasi Negara-negara Amerika telah menyetujui suatu konvensi tentang masalah tersebut. Dalam sidangnya yang ke-24 dalam tahun 1971, sehubungan dengan meningkatnya kejahatan yang dilakukan kepada misi diplomatik termasuk juga para diplomatnya, Majelis Umum PBB telah meminta Komisi Hukum Internasional untuk mempersiapkan rancangan pasal-pasal mengenai pencegahan dan penghukuman kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap orang-orang yang dilindungi secara hukum internasional. Konvensi mengenai masalah itu akhirnya disetujui oleh Majelis Umum PBB di New York pada tanggal 14 Desember 1973 dengan rseolusi 3166(XXVII). Dalam mukadimahnya,ditekankan akan pentingnya aturan-aturan hukum internasional mengenai tidak boleh diganggu gugatnya dan perlunya proteksi secara khusus bagi orang-orang yang menurut

16

hukum internasional harus dilindungi termasuk kewajiban-kewajiban negara dalam menangani dan mengatasi masalah itu. Konvensi New York 1973 ini terdiri dari 20 pasal dan walaupun hanya beberapa ketentuan tetapi cukup untuk mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan perlindungan dan penghukuman terhadap pelanggaran. 5. Konvensi Wina 1975 mengenai keterwakilan negara dalam hubungannya dengan Organisasi Internasional yang bersifat universal. Pentingnya perumusan konvensi ini sebenarnya didorong dengan adanya situasi dimana pertumbuhan organisasi internasional yang begitu cepatnya baik dalam jumlah maupun lingkup masalah hukumnya yang timbul akibat hubungan negara dengan organisasi internasional. Dalam perkembangannya lebih lanjut, ada permasalahan dalam persidangan tahun 1971 yang mengajukan tiga masalah, yaitu : a. Dampak yang mungkin terjadi dalam keadaan yang luar biasa seperti tidak adanya pengakuan,tidak adanya putusan, hubungan diplomatik dan konsuler atau adanya pertikaian senjata di antara anggota-anggota organisasi internasional itu sendiri. b. Perlu dimasukkannya ketentuan-ketentuan mengenai penyelesaian sengketa c. Delegasi peninjau dari negara-negara ke berbagai badan dan konferensi. D. Sumber Hukum Internasional Membicarakan perihal sumber hukum diplomatik tentunya tidak dapat dipisahkan dari sumber hukum internasional karena hukum diplomatik pada dasarnya adalah bagian dari hukum internasional itu sendiri. Menurut Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional, sumber hukum diplomatik meliputi : a. Konvensi atau perjanjian internasional. b. Kebiasaan internasional. c. Prinsip hukum umum d. Doktrin hukum. 1. Konvensi atau Perjanjian Internasional. Konvensi atau perjanjian internasional dalam arti umum pada hakikatnya melibatkan banyak negara sebagai pihak, oleh karena itu konvensi atau perjanjian secara lazim dikenal memiliki sifat multilateral. Sementara dalam arti khususnya, konvensi dapat terjadi dengan hanya beberapa negara dan apabila hanya antara 2 negara saja, secara umum disebut dengan sifat bilateral. Konvensi atau perjanjian internasional secara umum sudah dapat dikenal dan diterima sebagai sumber hukum internasional. Akan tetapi perlu kita ingat bahwa banyak perjanjian internasional tidak menciptakan suatu peraturan umum dalam hukum internasional, melainkan hanya bersifat pernyataan tentang peraturan-peraturan yang sudah ada. Oleh sebab itu, perjanjian internasional yang dapat dikatakan sebagai sumber hukum internasional bukanlah perjanjian internasional biasa, melainkan dalam jenis khusus yang disebut sebagai perjanjian yang menciptakan hukum (law making treaty). Akan tetapi juga perlu dipahami jika perjanjian yang sifatnya menciptakan hukum tidak dapat dipaksakan atau tidak memiliki sifat mengikat bagi negara-negara yang melakukan penolakan

17

secara khusus atas perjanjian tersebut. Contoh dari perjanjian internasional yang menciptakan hukum: 1). The final Act of the congress of Vienna (1815) on Diplomatic Ranks. 2). Vienna Convention on Diplomatic Relations and Optional Protocols (1961) Disamping konvensi, ada juga resolusi atau deklarasi yang dikeluarkan terutama sekali oleh Majelis Umum PBB yang dapat menimbulkan permasalahan apakah keduanya dapat dianggap memiliki kewajiban-kewajiban hukum yang mengikat. Berkenaan dengan masalah mengenai resolusi itu, secara tradisional, resolusi dan deklarasi yang tidak memiliki sifat seperti perjanjian haruslah dianggap tidak memiliki kekuatan wajib karena tidak menciptakan hukum, akan tetapi disamping pandangan secara tradisional itu, mulai berkembang adanya teori dari kesepakatan sampai pada konsensus yang menjadi dasar bagi negara-negara akan keterikatannya dengan kewajiban-kewajiban hukum yang bersangkutan. Meski ada dua pendapat seperti yang telah diajukan di atas, kekuatan mengikat bagi sebuah resolusi memang masih belum jelas batasannya. Persoalan yang ada adalah apabila resolusi itu disetujui oleh mayoritas negara anggota, apakah resolusi itu memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Dalam hal ini, resolusi yang dihasilkan dengan jalan biasa tidak akan menjadikan, merumuskan atau mengubah resolusi itu menjadi hukum internasional. Akan tetapi, resolusi baru benar-benar dikatakan memiliki kekuatan mengikat apabila resolusi itu memperoleh dukungan secara universal, atau Jika Majelis umum PBB memiliki maksud untuk menyatakan resolusi itu menciptakan hukum atau menyatakan sebagai dasar hukum dan jika isi dari resolusi itu tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan umum negara. Contoh dari resolusi yang menjadi sumber hukum internasional Resolusi 3166 (XXVIII). 2. Kebiasaan Internasional Mengenai kedudukan kebiasaan internasional sebagai sumber hukum internasional telah dinyatakan dalam Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional dan dianggap sebagai kenyataan dari praktik-praktik umum yang diterima sebagai hukum,Akan tetapi, dasar hukum dari kebiasaan internasional ini sebelumnya telah menimbulkan pertentangan terutama bagi negara yang baru berdiri. Masalah mengenai dasar hukum dari kebiasaan internasional ini diperdebatkan di Komisi Hukum Internasional dan di Komite Umum PBB terutama saat merumuskan rancangan Pasal 24 Statuta Komisi Hukum Internasional yang telah disepakati bersama bahwa : “a general recogintion among states of a certain practice as obligatory”, the emergence of a principle or rule of customary international law would seem to require presence of the following elements : a. Concordant practice by a number of states with reference of a type of situation failing within the domain of interantional relations; b. Continuation or repetition of the practice over the considerable period of time; c. Conception that the practice is required by, or consistent with, prevailing international law; and d. General acquiescence in the practice by other States. Kebiasaan dan perjanjian internasional adalah sumber pokok dalam hukum diplomatik, sementara sumber hukum diplomatik lain yang sifatnya adalah subsider adalah : a. Prinsip hukum umum. b. Doktrin atau Keputusan Mahkamah internasional.

18

Yang dimaksudkan dengan prinsip hukum umum adalah prinsip-prinsip umum yang diakui dalam hukum yang diakui oleh negara-negara. Khusus mengenai keputusan Mahkamah, sumber hukum ini pada hakikatnya tidak memiliki kekuatan yang mengikat (seperti halnya prinsip hukum umum) kecuali bagi pihak-pihak tertentu yang terlibat dalam suatu kasus.

19

DAFTAR PUSTAKA

http://manalor.wordpress.com/2010/04/14/hukum-internasional/

http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_internasional

http://senandikahukum.wordpress.com/2009/12/30/otentisitas-deklarasi-djuanda/#more-138

http://andriankamil4u.blogspot.com/2010/06/hukum-laut-internasional.html

http://eezcyank.blogspot.com/2011/01/hukum-internasional-hukum-udara-dan.html

http://roysanjaya.blogspot.com/2009/01/pengertian-sejarah-dan-sumber-hukum.html

Mieke komar kontaatmadja.1989.Hukum Udara dan Angkasa. Remaja Karya.Bandung.

http://senandikahukum.wordpress.com/2009/12/30/otentisitas-deklarasi-djuanda/#more-138

Suherman.1978. Hukum Udara Indonesia dan Internasional.Alumni.Bandung.

Junaidi indrawadi.2006.hukum internasional.Proyek Sitem Penyusunan Program Pedoman dan Penganggaran.Padang Laode Muh Syahartian SH MH, dekan Fakultas Hukum Universitas Putra Bangsa Surabaya. Kontak

person: 081 331 87083 Email: laode.syahartian@yahoo.com

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->