P. 1
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SD NEGERI PADAWENING DI DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH.rtf

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SD NEGERI PADAWENING DI DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH.rtf

|Views: 939|Likes:
Published by sufikaya
a
a

More info:

Published by: sufikaya on Sep 23, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2014

pdf

text

original

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA SD NEGERI PADAWENING DI DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH (DTA) NURUL AMANAH DTA

ITTIHAD KABUPATEN TASIKMALAYA MIFTAHUS SA’ADAH, DAN DTA AL-

SKRIPSI
Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto Guna Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Wandi Ruswandi
052631064

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2

JURUSAN TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PURWOKERTO 2010
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan agama merupakan bagian pendidikan nasional yang sangat penting, sebab salah satu tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor. 20 Tahun 2003 BAB. II Pasal 3 yang berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU SISDIKNAS 2003 : 12) Demi mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut, di Indonesia pendidikan agama mendapatkan perhatian dan memegang peranaan yang sangat penting. Hal ini terbukti dengan dimasukannya pendidikan agama kedalam kurikulum nasional yang wajib diikuti oleh semua peserta didik mulai tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi (Zuhairini dkk, 1993 : 19). 1

3

Akan tetapi dalam pelaksanaanya, meskipun Pendidikan Agama Islam (PAI) telah dimasukkan kedalam kurikulum nasional sebagai subsistem dari sistem pendidikan nasional, Pendidikan Agama Islam di sekolah umum masih jauh dari keberhasilan. Menurut beberapa pendapat sebagaimana dikutip

Abdul Majid dan Dian Andayani (2005:165) mengemukakan bahwa: 1. Hasil-hasil PAI di sekolah belum sesuai dengan tujuan-tujuan Pendidikan Agama Islam (Mimbar pendidikan, No 1 tahun 2000) 2. Sudijarto (1999:3) : Pendidikan nasional belum sepenunya mampu mengembangkan manusia Indonesia yang religius, berakhlak, berwatak kesatria dan patriorik 3. Nurcholis Majid : kegagalan pendidikan agama disebabkan pembelajaran pendidikan Agama Islam lebih menitik beratkan pada hal-hal yang bersifat formal dan hafalan, bukan pada pemaknaannya, (Pikiran Rakyat 30 juni 2003) 4. Arief Rahman : Pendidikan kita lebih banyak menekankan pada kemampuan berbahasa (verbal) dan kemampuan menghitung (numerik), sementara kemampuan mengendalikan diri dan penanaman keimanan diabaikan, (Pikiran Rakyat 25 November 2000) 5. Karo Hukum dan Humas Depag. RI mengutip pernyataan Presiden RI menyatakan bahwa : Pendidikan Agama belum berhasil dengan baik, salah satu indikatornya adalah masih banyaknya kejadian perkelahian antar pelajar terutama di Jakarta, (Pikiran Rakyat,28/1997) 6. Husni Rahim : Penyampaian materi akhlak di sekolah oleh guru-guru yang diberikan kepada siswa hanya sebatas teori, padahal yang diperlukan adalah suasana keagamaan (Republika, 18/2000) 7. Malik Fajar (1998:9) menyatakan bahwa : proses belajar mengajar sampai saat ini hanya sekedar mengejar target pencapaian kurikulum yang telah ditentukan 8. Mentri Agama (Said Agil Munawar) bahwa pendidikan agama Islam di sekolah mengalami masalah metodologi (Pikiran Rakyat, 2003:9) Selanjutnya Abdul Majid dan Dian Andayani (2005:171)

mengemukakan bahwa rendahnya kualitas Pendidikan Agama Islam sebagaimana pendapat diatas, disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Kualitas dan kuantitas kompetensi guru agama yang masih rendah

4

2. Proses belajar mengajar sampai saat ini hanya sekedar mengejar target pencapaian kurikulum 3. Pembelajaran PAI yang bukan diarahkan pada penguasaan dan pencapaian kompetensi, melainkan hanya terfokus pada aspek kognitif saja 4. Alokasi waktu yang tersedia sangat sedikit sedangkan muatan materi sangat padat 5. Terbatasnya sarana dan prasarana 6. Penilaian hanya terfokus pada aspek kognitif. Sedangkan menurut Ahmad Ludjito (1998:5) yang menjadi masalah Pendidikan Agama Islam di sekolah umum diantaranya: (1). kurangnya jumlah jam pelajaran, (2). metodologi pendidikan agama yang kurang tepat, (3). adanya dikotomi antara pendidikan agama (madrasah) dengan pendidikan umum, (4). heterogenitas pengetahuan dan penghayatan agama peserta didik, (5). kurangnya perhatian serta kepedulian pimpinan sekolah dan guru-guru. Problem dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum atau antara ilmu agama dan ilmu umum sejak lama dan sampai sekarang masih berlangsung. Secara simbolik, dikotomi jenis keilmuan ini masih

terlihat dengan jelas antara madrasah dan sekolah umum. Di madrasah, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dibagi kedalam beberapa sub mata pelajaran, yaitu Al-Quran Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Bahasa Arab, yang masing-masing berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. Sedangkan disekolah umum, mata pelajaran Pendidikan

5

Agama Islam (PAI) yang disebutkan diatas digabungkan menjadi satu, dengan porsinya hanya dua jam pelajaran setiap minggu. Terkait dengan permasalahan diatas, SD Negeri Padawening merupakan salah satu Sekolah Dasar yang memiliki permasalahan sebagaimana diuraikan diatas. Namun dalam hal ini, SD Negeri Padawening selalu berupaya agar pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah dapat dilaksanakan sebaik mungkin guna mencapai tujuan yang diharapkan meskipun dengan keterbatasan jumlah jam pelajaran dan tenaga pengajar yang ada. Salah satu upaya yang dilakukan SD Negeri Padawening ini adalah bekerjasama dengan orang tua siswa serta masyarakat sekitar dengan cara mewajibkan seluruh peserta didiknya untuk mengikuti pendidikan agama di lembaga pendidikan non formal. Untuk kelas I (satu) dan kelas II (dua) masuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), sedangkan untuk kelas III (tiga) sampai kelas VI (enam) masuk Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang ada dilingkungan masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, melalui pengawasan sekolah khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), orang tua siswa dan masyarakat, setiap siswa kelas III (tiga) sampai kelas VI (enam) yang belajar di Sekolah Dasar Negeri Padawening setelah pulang sekolah harus mengikuti pendidikan di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang ada di lingkungan masyarakat setempat. (Wawancara dan observasi pendahuluan pada tanggal 22 Mei-26 Mei 2009).

6

Upaya tersebut dilakukan karena selain waktu dan tenaga pengajar pendidikan agama di sekolah sangat terbatas, untuk masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) siswa wajib memiliki ijazah madrasah diniyah atau Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA). Hal tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan Bupati Tasikmalaya No. 421.2 /Kep.326A /Sos /2001 tentang persyaratan memasuki Sekolah Dasar (SD/MI) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP/MTs) di Kabupaten Tasikmalaya yang isinya antara lain: 1. Bagi anak-anak usia pra sekolah yang beragama Islam yang akan memasuki pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD/MI) atau yang sederajat diharuskan sudah memiliki kemampuan membaca Al-Quran. 2. Kepada para siswa SD dan SLTP yang beragama Islam diharuskan untuk mengikuti pendidikan Sekolah Diniyah (Ula / Awaliyah dan Wustho). 3. Bagi anak-anak yang beragama Islam yang telah lulus pada tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD/MI) atau yang sederajat yang akan melanjutkan se Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP/MTs atau yang sederajat) diharuskan sudah memiliki sertifikat / STTB/ Ijazah Madrasah Diniyah Awwaliyah. B. Definisi Operasional. Untuk menghindari kesalah pahaman dalam memahami maksud dari judul skripsi ini “Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa SD Negeri Padawening Di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah Dan DTA Al-Ittihad Kabupaten

7

Tasikmalaya”, maka perlu dijelaskan istilah-istilah yang terkandung dalam judul di atas. 1. Pelaksanaan Pelaksanaan adalah proses, cara, perbuatan melaksanakan hasil rancangan atau keputusan (Depdikbud, 1993:488). Menurut E. Mulyasa (2004:21) pelaksanaan adalah kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Adapun pelaksanaan yang dimaksud dalam skripsi ini adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh ustadz/ustadzah sebagai pendidik dan siswa SD Negeri Padawening sebagai peserta didik dalam proses kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk mencapai pengetahuan dan meperoleh perubahan tingkah laku pada siswa. 2. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pembelajaran adalah “proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” (UndangUndang SISDIKNAS No.20 Tahun 2003:11). Menurut Wina Sanjaya

(2007:102) pembelajaran adalah proses pengaturan lingkungan yang diarahkan dalam rangka mengubah perilaku siswa ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Sedangkan Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang telah

8

diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikannya sebagai pandangan hidup demi mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat (Zakiyah Daradjat, 2008:86). Adapun pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam skripsi ini adalah suatu proses kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan di Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang meliputi tujuan, waktu, materi pembelajaran, metode, media dan evaluasi pembelajaran. 3. Siswa SD Negeri Padawening Siswa adalah murid, terutama pada tingkat Sekolah Dasar dan menengah. Sedangkan murid adalah orang yang menuntut ilmu di

Sekolah Dasar (Depdikbud, 1993:849). SD Negeri Padawening ini adalah sebuah lembaga pendidikan dasar di bawah Departemen Pendidikan Nasional yang berada di wilayah Desa Ciampanan Kecamatan Cineam Kabupaten Tasikmalaya. Adapun yang dimaksud siswa SD Negeri

Padawening disini adalah siswa dari mulai kelas tiga sampai dengan kelas enam yang diwajibkan oleh SD Negeri Padawening untuk mengikuti Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang berada di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. 4. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah Sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam di bawah Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya yang bekerjasama dengan SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam.

9

Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini menghimpun sebagian siswa SD Negeri Padawening sebanyak 16 siswa. Letaknya berada sekitar 500 meter di sebelah utara SD Negeri Padawening. 5. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Miftahus Sa’adah Sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam di bawah Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya yang bekerjasama dengan SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam. Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini menghimpun sebagian siswa SD Negeri Padawening sebanyak 25 siswa. Letaknya berada sekitar 800 meter di sebelah timur SD Negeri Padawening. 6. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al Ittihad Sebuah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam di bawah Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya yang bekerjasama dengan SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam. Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini menghimpun sebagian siswa SD Negeri Padawening sebanyak 22 siswa. Letaknya berada sekitar 500 meter di sebelah barat SD Negeri Padawening. Dari uraian tersebut diatas dapatlah ditegaskan bahwa penelitian yang berjudul “Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa SD Negeri Padawening Di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah Dan DTA Al-Ittihad Kabupaten Tasikmalaya” ini adalah penelitian untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar Pendidikan Agama Islam para siswa SD Negeri Padawening dari kelas tiga sampai dengan

10

kelas enam yang di laksanakan di masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah yaitu di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah dan di DTA Al-Ittihad yang meliputi, tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran, sebagai suatu upaya dalam memberikan Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak sebagai pelengkap Pendidikan Agama Islam bagi para siswa Sekolah Dasar Negeri Padawening, agar para siswa dapat mengetahui, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan baik. C. Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah? 2. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Miftahus Sa’adah? 3. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Al-Ittihad? D. Tujuan dan Manfaat Penelitian. 1. Tujuan Penelitian. a. Untuk mengetahui dengan jelas tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad.

11

b. Untuk mengetahui dengan jelas tentang faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah dan di DTA Al-Ittihad. 2. Manfaat Penelitian. a. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi sekolah khususnya para guru, orang tua dan masyarakat tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad. b. Sebagai bahan informasi ilmiah bagi para guru, orang tua dan masyarakat tentang faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad. c. Menambah wawasan pengetahuan yang berharga bagi penulis, terutama dalam memahami pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad. E. Tinjauan Pustaka. Tinjauan pustaka yang penulis lakukan ini bertujuan untuk menerangkan teori-teori, konsep, dan generalisasi yang relevan dan dapat dijadikan landasan teori dalam penelitian.

12

Abdullah Idi dan Toto Suharto dalam bukunya “Revitalisasi Pendidikan Islam” mengemukakan bahwa sebagai suatu proses bimbingan dan pembinaan, pendidikan Islam harus ditunjang oleh sebuah lingkungan yang dapat dijadikan tempat untuk melangsungkan proses pembelajaran. Oleh

karena itu pendidikan tidak akan pernah lepas dari tiga pusat pendidikan yang utama, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena ketiganya merupakan sebuah sistem yang saling melengkapi dan tidak mungkin terpisahkan. (Abdullah Idi dan Toto Suharto, 2006 : 77) Sejalan dengan ungkapan diatas, Langeveld dan Ki Hajar Dewantara, sebagaimana dikutip Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati (2003 : 176) dalam buku “Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan bahwa terdapat 4 (empat) unsur pusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, masyarakat dan tempat-tempat Ibadah. Abdul Majid dan Dian Andayani (2005:186-187) dalam bukunya “Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi” mengemukakan bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah perlu adanya keterpaduan sistem kerjasama antara sekolah dan guru-guru dengan orang tua, serta kerjasama antara sekolah dengan masyarakat. Sebagai langkah-langkah dalam mewujudkan kerjasama pembinaan Pendidikan Agama Islam tersebut, menurut Abdul Majid dan Dian Andayani ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu:

13

1. Menekankan kepada siswa agar aktif belajar di mushalla masing-masing, pesantren yang menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam pada sore atau malam hari 2. Mendatangi Ustadz-Ustadz di mushalla, pesantren untuk

mengkomunikasikan rencana sederhana Pendidikan Agama Islam yang perlu mendapatkan pengembangan lebih lanjut kepada mereka 3. Guru agama mengontrol kegiatan belajar Pendidikan Agama Islam di mushalla dan pesantren 4. Mengkondisikan para siswa untuk mengikuti pendidikan di Madrasah Diniyah 5. Khusus bulan Ramdhan para siswa diwajibkan mengikuti kegiatan bulan Ramadhan seperti tarawih, tadarus Al-Quran, dan kuliah subuh 6. Mengadakan komunikasi dengan orang tua secara periodik baik dalam rapat formal maupun nonformal. Dari penelaahan terhadap laporan penelitian (skripsi) sebelumnya, penulis menemukan telah banyak penelitian yang mengkaji pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di lembaga-lembaga non formal yang ada kaitannya dengan Pendidikan Agama di sekolah formal. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Nardjo (2003) tentang “Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam”, studi komparatif antara siswa yang memiliki pengalaman pendidikan di madrasah diniyah dengan siswa yang tidak memiliki pengalaman pendidikan di madrasah diniyah pada siswa kelas IV SD Karang Kemiri”. Pada pembahasannya membandingkan prestasi belajar Pendidikan

14

Agama Islam antara siswa yang memiliki pengalaman belajar Pendidikan Agama Islam di madrasah diniyah dengan siswa yang tidak memiliki pengalaman belajar di madrasah diniyah. Selanjutnya Amalia Setiati (2008) yang mendeskripsikan penelitiannya dengan judul “Peranan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Baitul Hikmah sebagai penunjang keberhasilan Pendidikan Agama Islam di MIN Purwokerto”. Mengkaji tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dalam menunjang keberhasilan Pendidikan Agama Islam di MIN Purwokerto. Dari penelitian yang telah dilakukan tersebut, terdapat kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan. Persamaannya ialah sama-sama melakukan penelitian terhadap lembaga pendidikan keagamaan non formal yang berada di masyarakat. Adapun perbedaannya yaitu penelitian yang dilakukan ini lebih menekankan pada pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di lembaga pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA), yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh ustadz/ustadzah dalam rangka mendidik, mengajar, membimbing dan mengarahkan para siswa Sekolah Dasar Negeri Padawening agar ia dapat memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. F. Metode Penelitian. 1. Jenis Penelitian.

15

Penelitian yang penulis lakukan merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hal ini didasarkan pada tempat penelitian sumber data yaitu DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad. Jenis data yang dicari adalah data kualitatif tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan oleh

ustadz/ustadzah dan para siswa SD Negeri Padawening di masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran. 2. Lokasi Penelitian. Lokasi penelitian ini adalah tiga lembaga pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah yaitu DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah, dan DTA Al-Ittihad. Adapun yang menjadi alasan penulis melakukan penelitian di sekolah dan Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini antara lain: a. Diniyah Takmiliyah Awaliyah tersebut merupakan salah satu sekolah yang telah bekerjasama dengan SD Negeri Padawening, orang tua dan masyarakat dalam meningkatkan pendidikan agama anak didiknya dengan cara mewajibkan setiap peserta didiknya mengikuti pendidikan di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) setelah pulang sekolah. b. Dengan segala keterbatasan, orang tua dan masyarakat yang sebagian besar adalah petani dan buruh, mampu mendirikan sebuah lembaga Diniyah Takmiliyah Awaliyah. Bahkan rela mendatangkan serta

16

memberikan fasilitas tempat tinggal dan biaya kepada Ustadz dan Ustadazah lulusan pondok pesantren dari luar desa maupun kecamatan, untuk mendidik dan mengajar di diniyah tersebut. c. Diniyah Takmiliyah Awaliyah tersebut mudah dijangkau oleh peneliti sehingga memungkinkan peneliti memperoleh data yang valid dan lengkap, sehingga proses pelaksanaan penelitian dapat efektif dan efisien baik dari segi tenaga, waktu dan biaya. 3. Subjek dan Objek Penelitian. a. Subjek Penelitian. 1. Kepala Diniyah Takmiliyah Awaliyah. Dari kepala Diniyah Takmiliyah Awaliyah diperoleh informasi tentang sejarah berdirinya, letak geografis, visi dan misi masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah, keadaan pendidik, keadaan santri, struktur organisasi, kurikulum, sarana prasarana serta pelaksanaan gambaran umum pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di masing-masing Diniyah Takmiliyah Awaliyah. 2. Ustadz dan Ustadzah Diniyah Takmiliyah Awaliyah. Dari Ustadz dan Ustadzah Diniyah Takmiliyah Awaliyah diperoleh informasi tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi pembelajaran,

17

dan informasi tentang faktor pendukung dan penghambat serta upaya mengatasinya. b. Objek Penelitian. Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah dan di DTA Al-Ittihad yang meliputi tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi yang digunakan oleh

ustadz/ustadzah. 4. Metode Pengumpulan Data. Metode pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Metode Observasi (observation). “Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek

penelitian”(S.Margono, 2007:158). Metode observasi ini digunakan untuk mengamati kondisi sosial dengan tujuan untuk mendapatkan data secara holistik (menyeluruh). Yaitu tentang kondisi lingkungan, fasilitas, letak geografis, hubungan antara ustadz/ustadzah dan siswa, serta proses pembelajaran di Diniyah Takmiliyah Awaliyah. Observasi yang penulis lakukan adalah observasi partisipatif, yaitu peneliti melibatkan diri dalam kegiatan sehari-hari objek yang diobservasi. dilakukan Namun pada proses pelaksanaannya observasi yang adalah observasi partisipasi moderat (moderate

partisifation) yaitu peneliti datang ketempat kegiatan orang yang

18

diamati, ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak ikut terlibat semuanya. b. Metode Wawancara (intrview). Wawancara atau interview adalah alat pengumpulan data dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan kepada responden untuk dijawab secara lisan pula. (Sugiyono, 2008 : 165) Dalam pelaksanaannya, teknik yang digunakan adalah

interview bebas terpimpin atau interview terkontrol, yaitu teknik interview yang memadukan antara interview terpimpin dengan interview bebas (tidak terpimpin) dimana hanya menggunakan pedoman wawancara berupa garis-garis besar atau kerangka

permasalahan (frameework of question) yang akan ditanyakan, tetapi cara bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dan irama ( timing) interview sama sekali diserahkan pada kebijakan interviewer. Metode ini dilakukan langsung dengan Kepala Diniyah Takmiliyah Awaliyah untuk memeperoleh data tentang gambaran umum DTA, serta pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA. Sedangkan kepada ustadz/ustadzah dilakukan untuk

mengetahui pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA secara lebih jelas tentang tujuan, waktu, materi, metode, media dan evaluasi yang digunakan. c. Metode dokumentasi.

19

“Dokumen yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya”. (Suharsimi Arikunto, 2006:230) Metode dokumentasi digunakan untuk mencari data yang berwujud dokumen, seperti data tentang sejarah sekolah, keadaan guru, siswa, dan karyawan, fasilitas sekolah, struktur organisasi, nilai ulangan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian, sehingga data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi lebih kredibel (dapat dipercaya). 5. Uji Keabsahan Data. Uji kebsahan data ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas data yang telah diperoleh. Dalam menetapkan keabsahan data pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik uji kredibilitas (derajat kepercayaan). Teknik yang dilakukan penulis dalam uji kredibilitas (derajat kepercayaan) data ini menggunakan beberapa teknik antara lain: a. Teknik triangulasi, yaitu pengecekan data dari berbagai sumber dan berbagai cara atau teknik, dan berbagai waktu. Untuk penelitian ini menggunakan cek silang data antara data dari Kepala DTA dengan ustad/ustadzah yang satu dan ustadz/ustadzah yang lain. Juga dengan cara memadukan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi.

20

b. Member Check, yaitu dengan cara pengecekan data yang telah diperoleh peneliti kepada pemberi data agar data yang telah diperoleh sesuai dengan apa yang telah diberikan pemberi data. 6. Metode Analisis Data. Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif. Bogdan dan Biklen sebagaimana dikutip Lexy J Moleong (2007:248) mengatakan bahwa analisis kualitaif adalah: Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Dalam menggunakan analisis kualitatif tersebut, digunakan metode berpikir sebagai berikut: a. Metode Berpikir Induktif. Metode berpikir indkutif adalah metode berpikir yang berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang kongkret, kemudian dari fakta dan peristiwa yang khusus dan kongkret itu ditarik generalisasi yang bersifat umum. ( Sutrisno Hadi, 2004:47) Metode berpikir induktif ini penulis gunakan untuk menganalisa data berupa uraian-uraian rinci dari sumber data tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad. b. Metode Berpikir Deduktif.

21

Metode berpikir dedukutif adalah “metode berpikir yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum dan dengan bertitik tolak pada pengetahuan yang umum tersebut kita hendak menilai sesuatu yang khusus”. ( Sutrisno Hadi, 2004:47). Metode berpikir deduktif ini penulis gunakan untuk menguraikan data yang masih umum dari sumber data tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-Ittihad. G. Sistematika Penulisan. Untuk mempermudah dalam memahami skripsi ini, penulis

membaginya kedalam tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian utama dan bagian akhir. Bagian awal meliputi: halaman judul, pernyataan keaslian, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman persembahan, halaman motto, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, dan halaman daftar tabel. Bagian utama merupakan pokok-pokok dalam skripsi ini yang penulis sajikan kedalam lima bab yang meliputi: Bab I adalah pendahuluan yang meliputi : latar belakang masalah, definisi operasional, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian,

tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sitematika penulisan. Bab II menjelaskan teori-teori tentang pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) yang meliputi tiga sub bab yaitu : sub bab pertama tenatang Pembelajaran yang

22

meliputi pengertian, ciri-ciri, komponen-komponen serta faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran. Sub bab kedua tentang Pendidikan Agama

Islam yang meliputi pengertian Pendidikan Agama Islam, dasar-dasar pelaksanaan Pendidikan Agama Islam, tujuan dan fungsi Pendidikan Agama Islam, ruang lingkup Pendidikan Agama Islam, metode Pendidikan Agama Islam, serta media Pendidikan Agama Islam. Sub bab ketiga tentang Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA), berisi tentang, pengertian Diniyah Takmiliyah Awaliyah, dasar pelaksanaan Diniyah Takmiliyah Awaliyah, tujuan Diniyah Takmiliyah Awwaliyah, kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah, pelaksanaan Pembelajaran Diniyah Takmiliyah Awaliyah, evaluasi Diniyah Takmiliyah Awaliyah. Bab III meliputi tiga sub bab yaitu: sub bab pertama berisi tentang gambaran umum Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul Amanah yang terdiri dari : sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi, tujuan, keadaan ustadz/ustadzah dan santri, dan sarana prasarana. Sub bab kedua tentang gambaran umum Diniyah Takmiliyah Awaliyah Miftahus Sa’adah yang terdiri dari : sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi, tujuan, keadaan ustadz/ustadzah dan santri, dan sarana prasarana. Sub bab ketiga tentang gambaran umum Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al-Itihad yang terdiri dari : sejarah berdirinya, letak geografis, struktur organisasi, tujuan, keadaan ustadz/ustadzah dan santri, dan sarana prasarana. Bab IV berisi penyajian dan analisis data yang meliputi dua sub bab yaitu sub bab pertama tentang penyajian data yang berisi tentang pelaksanaan

23

pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah, di DTA Miftahus Sa’adah, dan di DTA Al-Ittihad. Sub bab kedua tentang analisis data yang meliputi analisis data tentang pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah, analisis peranan DTA Miftahus Sa’adah, analisis peranan DTA Al-Ittihad. Bab V penutup. adalah penutup yang meliputi: kesimpulan, saran, dan kata

Sedangkan bagian akhir pada skripsi ini berisi tentang daftar

pustaka, lampiran-lampiran, dan daftar riwayat hidup.

BAB II PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN DINIYAH TAKMILIYAH AWALIYAH (DTA)

A. Pembelajaran 1. Pengertian Pembelajaran

24

Memaknai kata pembelajaran tidak akan lepas dari dua konsep belajar dan mengajar. Slameto sebagaimana dikutip Syaiful Bahri

Djamarah mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Syaiful Bahri Djamarah, 2002:13). Sedangkan mengajar merupakan sebuah proses mengatur lingkungan agar siswa mau dan mampu belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya (Nana Sudjana, 1991:29). Dua konsep tersebut menjadi terpadu dalam suatu kegiatan apabila terjadi interaksi antara guru dengan siswa serta siswa dengan lingkungannya. Dan keterpaduan antara proses belajar dan mengajar memerlukan berbagai pengaturan dan perencanaan. Dalam Undang-Undang SISDIKNAS No.20 Tahun 2003 dikemukakan bahwa proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar dimaknai sebagai pembelajaran.22 Pembelajaran sendiri merupakan terjemahan dari kata “instruction” yang diartikan sebagai proses pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa ke arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa (Wina Sanjaya, 2007:102). Pembelajaran juga dimaknai sebagai suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi demi mencapai tujuan pembelajaran (Oemar Hamalik, 2008:57).

25

Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi antara guru dan siswa dengan lingkungannya untuk memperoleh perubahan perilaku pada diri siswa, dengan menggunakan seperangkat pengaturan dan perencanaan pada setiap komponen pembelajaran, yang meliputi tujuan, materi, metode, media dan evaluasi. 2. Ciri-Ciri Pembelajaran Sebagai suatu proses pengaturan, pembelajaran tidak terlepas dari cirri-ciri tertentu. Menurut Edi Suardi sebagaimana dikutip Syaiful Bahri dan Aswan Zain (2006:39) mengemukakan bahwa ciri-ciri pembelajaran antara lain: a. Memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu. Setiap pembelajaran harus memiliki tujuan yang hendak dicapai oleh setiap peserta didik. b. Adanya suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain secara sistematik dan relevan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. c. Ditandai dengan penggarapan materi yang khusus yang sudah didesain sehingga sesuai dengan tujuan. d. Ditandai dengan aktivitas anak didik, yakni siswa aktif dalam melakukan setiap kegiatan belajar. e. Dalam kegiatan pembelajaran, guru berperan sebagai pembimbing, dan fasilitator belajar siswa.

26

f. Membutuhkan disiplin, yakni dalam pembelajaran perlu adanya suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh pihak guru maupun siswa denga sadar. g. Ada batas waktu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. h. Evaluasi untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. 3. Komponen-Komponen Pembelajaran Sebagai suatu sistem, proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi dan berinterelasi. komponen-komponen tersebut antara lain: a. Tujuan Tujuan merupakan komponen yang utama dan sangat penting karena tujuan merupakan arah yang akan dituju. Seberapapun

bagusnya komponen lain dalam pendidikan, tanpa adanya arah yang dituju maka akan kehilangan kendali dan akan terombang-ambing pada aktivitas yang tidak jelas. Tujuan perlu dirumuskan dalam merancang suatu proses pembelajaran. Karena dengan tujuan yang jelas akan membawa suatu aktivitas menuju kepada keberhasilan. Ada beberapa alasan kenapa tujuan penting untuk dirumuskan dalam merancang proses pembelajaran, antar lain: 1) Rumusan tujuan yang jelas dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas keberhasilan proses pembelajaran

27

2) Tujuan dapat digunakan sebagai pedoman dan panduan proses pembelajaran 3) Tujuan dapat membantu mendesain sistem pembelajaran 4) Tujuan dapat dijadikan sebagai kontrol dalam menentukan batasbatas dan kualitas pembelajaran. (Wina Sanjaya, 2007: 64). b. Materi atau Bahan Materi atau bahan adalah subtansi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Menurut Suharsimi Arikunto (1999)

sebagaimana dikutip Syaiful Bahri dan Aswan Zain (2006:43) mengemukakan bahwa materi atau bahan pembelajaran merupakan komponen inti yang terdapat dalam pembelajaran, karena materi atau bahan itulah yang diupayakan untuk dikuasai siswa. Oleh karena itu guru sebagai pengembang kurikulum harus memikirkan keluasan serta kedalaman materi atau bahan pembelajaran sehingga sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik anak didik. Karena minat anak didik akan bangkit apabila materi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu guru harus menguasai materi atau bahan pembelajaran yang akan dikuasai siswa. c. Strategi atau Metode Terdapat perbedaan makna antara pendekatan (approach), strategi, metode, teknik dan taktik pembelajaran. Mengutip

pendapatnya Wina Sanjaya (2007) , terlebih dahulu akan dijelaskan perbedaan istilah-istilah tersebut.

28

Pendekatan diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang seseorang terhadap proses pembelajaran. Hal ini merujuk pada suatu proses yang sifatnya masih umum. Oleh karena itu, strategi dan

metode tergantung dari pendekatan tertentu. Strategi menurut Kemp (1995) sebagaimana dikutif Wina Sanjaya menjelaskan bahwa “strategi pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien”. Strategi ini merujuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu (a plan of operation achieving something). Metode adalah upaya mengimplementasikan rencana (strategi) yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Metode merujuk pada cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi tersebut ( a way in a achieving something). Sedangkan teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan metode. Sedangkan taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu. (Wina Sanjaya, 2007:126-127). Misalnya, jika pendekatan yang digunakan adalah berpusat pada siswa (student centerd approach) akan menurunkan strategi pembelajaran inkuiri dan discovery serta strategi pembelajaran induktif. Metode yang digunakannya diskusi dan akan menurunkan teknik tentang cara yang baik agar diskusi tersebut berjalan lancar.

29

Dan selanjutnya akan menurunkan taktik atau gaya dari masingmasing guru. Dari beberapa perbedaan diatas, pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik yang digunakan seorang guru akan berpengaruh pada pencapaian tujuan. Meskipun komponen yang lain sangat lengkap, tanpa diimplementasikan dengan strategi dan metode yang tepat, komponen-komponen tersebut tidak akan bermakna dalam mencapai keberhasilan pembelajaran. d. Media Salah satu sarana pendukung terhadap kelancaran dan keberhasilan proses pembelajaran adalah media pembelajaran. Menurut Arief S. Sadiman sebagaimana dikutip Suwarna

mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan dari pengirim pesan kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa, dan dengan demikian terjadilah proses pembelajaran (Suwarna,dkk, 2006:128). Dalam kemajuan teknologi seperti sekarang ini memungkinkan siswa dapat belajar dari mana saja dan kapan saja dengan memanfaatkan hasil teknologi. Penggunaan media pembelajaran akan meningkatkan gairah dan motivasi mengajar bagi guru, dan yang utama akan menumbuhkan semangat belajar siswa, apalagi jika menggunakan berbagai media serta sumber belajar yang bervariasi.

30

e. Evaluasi Menurut Roestiyah N.K sebagaimana dikutip Syaiful Bahri dan Aswan Zain (2006:50) evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan

kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. Evaluasi memiliki tujuan dan fungsi bagi guru dan siswa dalam pembelajaran. Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi antara lain: 1) Tujuan umum evaluasi adalah mengumpulkan data-data tentang taraf kemajuan belajar siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, memungkinkan guru menilai aktivitas pembelajaran yang didapat, serta menilai metode pembelajaran yang digunakan. 2) Tujuan khusus evaluasi adalah merangsang kegiatan siswa, menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan belajar siswa, memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan,

perkembangan dan bakat siswa, memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa, serta untuk memperbaiki mutu pembelajaran tentang cara dan metode mengajar. Sedangkan sebagai komponen terakhir dalam pembelajaran, evaluasi berfungsi sebagai berikut: 1) Untuk memberikan umpan balik (feed back) kepada guru sebagai dasar memperbaiki kualitas mengajar serta mengadakan perbaikan program bagi siswa.

31

2) Untuk memberikan angka yangtepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap siswa. 3) untuk menentukan situasi belajar yang tepat sesuai dengan karakteristik siswa. 4) Untuk mengenal latar belakang (psikologis, fisik dan lingkungan) siswa yang mengalami kesulitan belajar. 4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembelajaran Menurut Wina Sanjaya, (2007 : 52) pembelajaran sebagai suatu sistem memiliki beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya. Faktorfaktor tersebut adalah faktor guru, faktor siswa, sarana, serta faktor lingkungan. a. Faktor Guru Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, serta mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.(Undang-Undang RI No. 14. Th. 2005, 2006: 2). Dengan tugas utamanya itu guru haruslah orang yang berpengalaman dan memiliki banyak ilmu. Karena dengan pengalaman dan keilmuan yang dimilikinya,

diharapkan setiap peserta didik menjadi manusia yang cerdas. Menurut Dunkin (1974) sebagaimana dikutif Wina Sanjaya (2007:51) ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru antara lain:

32

1) Teacher formatif experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup yang menjadi latar belakang sosial mereka. 2) Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru, misalnya latihan profesional guru, tingkat pendidikan, pengalaman jabatan, pembinaan guru dan sebagainya. 3) Teacher properties, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru. Misalnya sikap guru terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, intelegensi guru, termasuk kemampuan menguasai materi pembelajaran, mengelola pembelajaran,

merencanakan dan mengevaluasi. Dari berbagai aspek tersebut, guru dengan perbedaan kepribadian, pandangan, latar belakang pendidikan serta pengalaman mengajar dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran. b. Peserta Didik Peserta didik adalah orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Sedangkan dalam Undang-Undang sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 pada bagian ketentuan umum, “peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu”.

33

Peserta didik yang berusaha mengembangkan potensi dirinya di sekolah memiliki karakteristik yang bervariasi. Mereka datang dan berkumpul di sekolah dengan latar belakang kehidupan sosial keluarga dan masyarakat yang berlainan. Dengan membawa perbedaan

kepribadian, kemampuan intelektual, perbedaan biologis maupun psikologis yang dimiliki peserta didik tentu akan mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh, sejumlah siswa yang terbiasa disiplin akan berbeda dengan anak yang sehari-hari dirumahnya kurang disiplin. Siswa yang terbiasa disiplin akan mudah Sebaliknya siswa yang

menyesuaikan diri dan mudah dibimbing.

terbiasa kurang disiplin akan sukar untuk dibimbing. Begitu juga dengan siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap suatu pelajaran akan berbeda dengan siswa yang tidak memiliki minat pada suatu mata pelajaran. Siswa yang memilki minat terhadap suatu pelajaran, ia dengan senang hati mempelajarinya. Sebaliknya siswa yang tidak menyukai suatu pelajaran, ia selalu malas untuk belajar sehingga tidak heran bila prestasinya kurang bagus. Dengan demikian, dapat diyakini bahwa peserta didik dengan berbagai perbedaan yang ia miliki, datang dan berkumpul disekolah dalam suatu kelas sangat mempengaruhi kegiatan pembelajaran berikut hasil pembelajarannya. c. Sarana dan Prasarana

34

Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran alat-alat proses pembelajaran, misalnya media sekolah.

pembelajaran,

pembelajaran,

perlengkapan

Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung mendukung terhadap kelancaran dan keberhasilan proses

pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan ruangan kelas, kamar kecil, dan sebagainya. (Wina Sanjaya, 2007:55). Oleh karena itu, sarana dan prasarana sangat penting sekali dalam menunjang keberhasilan pembelajaran. Dengan adanya sarana dan prasarana yang lengkap akan membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran akan berjalan

dengan lancar dan tujuan pembelajaranpun akan tercapai dengan baik. d. Kurikulum Dalam Undang-Undang SISDIKNAS Bab I Pasal I ayat 19, kurikulum diartikan “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu”. Sebagai seperangkat rencana, kurikulum merupakan unsur pokok dalam pendidikan. Tanpa kurikulum proses pembelajaran tidak dapat berlangsung, sebab tujuan pembelajaraan, materi atau bahan yang akan dipelajari, kegiatan pembelajaran serta evaluasi yang akan digunakan mengacu pada kurikulum.

35

Tugas guru ialah mempelajari dan menjabarkan isi kurikulum kedalam program yang lebih rinci dan jelas sasarannya. Kesesuaian isi/materi dengan tujuan, kedalaman serta keluasan materi

pembelajaran harus dipertimbangkan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, karena hal itu akan mempengaruhi tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. e. Lingkungan Lingkungan dalam pengertian umum berarti segala sesuatu yang berada disekitar kita. Dalam lingkup pendidikan yaitu segala sesuatu yang berada disekitar anak di alam semesta ini. Ramayulis mengemukakan bahwa lingkungan adalah: Segala yang ada disekitar anak, baik berupa benda-benda, peristiwa-peristiwa yang terjadi maupun kondisi masyarakat, terutama yang dapat memberi pengaruh kuat terhadap anak yaitu lingkungan dimana proses pendidikan berlangsung dan lingkungan dimana anak bergaul sehari-hari. (Ramayulis, 1998:147). Jika dilihat dari dimensi lingkungan, ada dua hal yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu faktor organisasi kelas dan faktor iklim sosial-psikologis. Faktor organisasi kelas yang meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu

besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Faktor lain yaitu iklim sosial-psikologis yang terdiri dari iklim sosial-psikologis internal dan iklim sosial-psikologis eksternal. Iklim sosial-psikologis internal adalah hubungan yang terlibat secara

36

langsung dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah. Iklim sosial-psikologis

eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat dan lain sebagainya (Wina Sanjaya, 2007:57). B. Pendidikan Agama Islam. 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam Menurut Zakiyah Daradjat Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan dengan melalui ajaran-ajaran agama Islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, mennghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikannya sebagai pandangan hidup demi mencapai keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat (Zakiyah Daradjat, 2008:86) Menurut Marasudin Siregar (1998:178) Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk senantiasa menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam lingkup masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

37

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat diambil suatu pemahaman bahwa Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlakul karimah serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam dari sumber utamanya Al-Quran dan Hadits sebagai pandangan hidupnya, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, dan penggunaan pengalaman dibarengai tuntunan untuk menghormati penganut agama lain, dengan tujuan mendapatkan keselamatan hidup didunia dan akhirat kelak. 2. Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam Dasar-dasar pelaksanaan pendidikan Agama Islam tidak akan pernah lepas dari dasar pendidikan Islam itu sendiri yakni Al-Quran dan Sunnah Rasulullah (Hadits). Sedangkan dasar-dasar pelaksanaan

Pendidikan Agama Islam di sekolah, menurut Zuhairini (1981) dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu: a. Dasar Yuridis (Hukum) Dasar yuridis ialah kekuatan hukum atau perundang-undangan yang secara tidak langsung menjadi pegangan dalam pelaksanaan pendidikan Agama Islam disekolah secara formal. tersebut terdiri dari tiga macam, yaitu: 1) Landasan Idiil. Yaitu dasar falsafah negara Pancasila sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Dasar yuridis

38

2) Landasan Struktural (Konstitusional) Yaitu Undang-Undang Dasar tahun 1945 Bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2 yang berbunyi: 1). Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa. 2). Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. 3) Landasan Operasional Dasar operasionalnya yaitu terdapat dalam Tap MPR No IV/MPR/1973 yang kemudian dikokohkan dalam tap MPR No IV/MPR/1978. Ketetapan MPR Np. II/MPR/1983, yang diperkuat oleh Tap. MPR No. II/MPR/1988 dan Tap. MPR No. II/MPR/ 1993 tentang GBHN yang pada pokok intinya menyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukan dalam kurikulum sekolah-sekolah formal mulai dari Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi (Zuhairini, 1981:19-24) b. Dasar Religius Yang dimaksud dasar religius adalah dasar yang yang bersumber dari Al-quran dan Hadist Nabi yang secara langsung atau tidak langsung mewajibkan kepada umat Islam untuk melaksanakan pendidikan. 1) Firman Allah QS. at-Tahrim ayat 6 tentang kewajiban bagi orang tua mendidik anaknya. :

39

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. 2) Hadits Riwayat Ibnu Majah

َ ّ ‫م هَدِي‬ ‫ة‬ ِ َ‫م ف‬ ِ ‫ح‬ ّ ‫اء‬ َ َ ‫وا ا‬ ْ َ ‫م وَا‬ ْ ُ ‫ن ا َوْل َد َك‬ ْ ُ‫دا ب َه‬ ْ ُ ‫وا ا َوْل َد َك‬ ُ ِ‫ا َك ْر‬ ْ ُ ‫سن‬ ْ ‫م‬ ‫م‬ ْ ُ ‫إ ِل َي ْك‬
“Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah pendidikannya, karena anak-anakmu adalah karunia Allah bagimu”. (HR. Ibnu c. Dasar Psikologis Psikologis adalah dasar yang berhubungan dengan aspek kejiwaan manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Hal ini Majah)

didasarkan bahwa dalam hidupnnya manusia dihadapkan pada hal-hal yang tidak tenang dan tenteram sehingga memerlukan adanya pegangan hidup. Zuhairini dkk (1981:25) mengemukakan bahwa semua manusia di dunia ini senantiasa membutuhkan adanya pegangan hidup yang disebut agama. Baik pada masyarakat yang masih primitif maupun masyarakat modern, mereka merasakan bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Zat Yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung dan tempat mereka memohon pertolongan-Nya.

40

Mereka

merasa

tenang

dan

tenteram

hatinya

apabila

dapat

mendekatkan diri dan mengabdi kepada Zat Yang Maha Kuasa. Dengan demikian jelaslah bahwa untuk membuat hati tenang dan tenteram ialah dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Ar-Ra’ad ayat 28 yang berbunyi:

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. 3. Tujuan Pendidikan Agama Islam Tujuan Pendidikan Agama di lembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia dibagi menjadi dua macam: a. Tujuan Umum Pendidikan Agama Tujuan umum Pendidikan Agama adalah membimbing anak agar mereka menjadi orang muslim sejati yang beriman teguh, beramal sholeh, berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan bangsa, demi mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (Zuhairini dkk, 1981: 43-45).

b. Tujuan Khusus Pendidikan Agama Tujuan khusus Pendidikan Agama adalah tujuan pada setiap jenjang pendidikan. Dalam pembahasan ini , tujuan Pendidikan

Agama Islam di Sekolah Dasar ialah:

41

1) Menumbuh kembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah SWT 2) Mewujudkan manusia Indonesi yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan personal dan sosial, serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah (Depdiknas, Direktorat Pendidikan TK dan SD, 2007 : 2) 4. Fungsi Pendidikan Agama Islam a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarga, melalui bimbingan, pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan ketaqwaannya tersebut dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya. b. Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan peserta didik yang memiliki bakat khusus di bidang agama agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan dapat pula bermanfaat untuk orang lain.

42

c. Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangankekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam keyakinan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. d. Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal yang negatif dari lingkungan peserta didik atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dan mennghambat perkembangan dirinya menuju manusia Indonesia seutuhnya. e. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik, psykis maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam. f. Sumber Nilai, yaitu memberikan pedoman hidup demi mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. g. Pengajaran, yaitu memberikan ilmu pengetahuan keagamaan secara umum yang fungsional (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2005:134). 5. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara: a. Hubungan manusia dengan Allah SWT (Hablumminallah) Hubungan antar manusia (makhluk) dengan Allah SWT (Khalik) merupakan hubungan vertikal (menegak). Hubungan ini menempati prioritas pertama dalam pengajaran agama Islam, karena itu merupakan sentral dan dasar utama dari ajaran islam. Dengan

43

demikian hal itulah yang pertama-tama harus ditanamkan kepada peserta didik. Ruang lingkup program pengajarannya meliputi iman, islam dan ihsan. Sebagai alat untuk meresapi keyakinan dan ketundukan kepada Allah SWT, maka termasuk pula pelajaran membaca Al-Quran sesuai dengan aturannya. (Direktorat Jenderal Pembinaan

Kelembagaan Agama Islam, 1985:136). b. Hubungan manusia dengan sesama manusia (Hablumminannas) Hubungan manusia dengan sesamanya merupakan hubungan horizontal (mendatar) dalam kehidupan bermasyarakat dan menempati urutan kedua dalam ajaran agama Islam. Dalam pendidikan agama, guru harus berusaha menumbuh kembangkan pemahaman siswa agar mereka hidup bermasyarakat sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Ruang lingkup program pengajarannya berkisar pada

pengaturan hak dan kewajiban serta larangan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. (Direktorat Jenderal Pembinaan

Kelembagaan Agama Islam, 1985:137). c. Hubungan manusia dengan alam Hubungan manusia dengan alam memiliki ruang lingkup program pengajaran yang berkisar pada mengenal, memahami dan mencintai alam, sehingga memiliki kemampuan untuk memelihara, mengolah dan memanfaatkan alam sekitar serta mampu mensyukuri

44

nikmat Allah SWT (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1985:138). Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam di tingkat Sekolah Dasar, penekanannya meliputi lima unsur pokok, yaitu: a. Pengajaran Keimanan Pengajaran keimanan berarti proses pembelajaran tentang berbagai aspek kepercayaan menurut ajaran Islam. Ruang lingkupnya meliputi rukun Iman, yaitu iman kepada Allah SWT, iman kepada para Malaikat Allah, iman kepada para Rasul Allah, iman kepada Kitabkitab Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qada dan Qadar Allah SWT ( Zakiyah Daradjat, 2001:67). b. Pengajaran Akhlaq Pengajaran akhlak berarti pengajaran tentang bentuk batin seseorang yang kelihatan dari tingkah lakunya. Dalam

pelaksanaannya, pengajaran akhlak ini membicarakan tentang nilainilai suatu perbuatan sesuai dengan ajaran Islam, serta membicarakan berbagai hal yang ikut mempengaruhi pembentukan sifat-sifat pada diri seseorang secara umum ( Zakiyah Daradjat, 2001:71). c. Pengajaran Ibadah/ Fiqh Ibadah ialah suatu upacara pengabdian yang sudah digariskan oleh syariat Islam, baik bentuknya, caranya, waktunya, serta syarat dan rukunnya. Pengajarannya yaitu membicarakan ibadah pokok yang terdapat dalam rukun Islam ( Zakiyah Daradjat, 2001:73-74).

45

d. Pengajaran Al-Quran Pengajaran Al-Quran yang paling penting adalah mengajarkan keterampilan membaca Al-Quran dengan benar sesuai aturan dalam ilmu tajwid. Pengajaran ini diawali dengan pengenalan huruf hijaiyah dan kata, selanjutnya diteruskan dengan pengenalan tanda baca, cara membacanya. Kemudian menghafal ayat-ayat dan surat-surat pendek yang perlu dibaca dalam shalat, serta mengerti maksud yang terkandung didalam ayat-ayat Al-Quran tersebut (Mahmud Yunus 1983: 60). e. Pengajaran Tarikh Tarikh atau sejarah Islam adalah suatu bidang studi yang memberikan pengetahuan tentang sejarah dan kebudayaan Islam, meliputi masa sebelum kelahiran Islam, masa Nabi dan sesudahnya, baik pada masa sahabat, daulah Islamiyah maupun Negara di dunia dan di Indonesia (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1985:134). Pada tingkat Sekolah Dasar, pengajaran tarikh dimulai dari kelas IV. Pengajarannya membicarakan tentang kisah Nabi, Sahabat Nabi, dan kisah orang-orang yang menentang perjuangan Nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam. 6. Metode Pendidikan Agama Islam Metode adalah upaya mengimplementasikan rencana (strategi) yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun

46

tercapai secara optimal. Metode merujuk pada cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi tersebut (a way in a achieving something). (Wina Sanjaya, 2007: 126-127). Dalam Pendidikan Agama Islam banyak sekali metode yang dapat digunakan oleh guru untuk membina tingkah laku siswa secara edukatif pada setiap kegiatan belajar. Namun jika dihubungkan dengan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar, tentu tidak semua metode dapat diterapkan karena harus disesuaikan dengan tingkat usia, pemikiran, pemahaman, dan karakteristik siswa pada setiap tingkatan pendidikan. Adapun metode-metode yang dapat digunakan dalam Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar antara lain: a. Metode Keteladanan Keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh seseorang dari orang lain (Armai Arief, 2002:117). Sedangkkan

pendidikan keteladanan berarti pendidikan dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat, cara berfikir, dan sebagainya (Hery Noer Aly, 1999:178) Penerapannya dalam Pendidikan Agama Islam, setiap pendidik baik di keluarga, sekolah, masyarakat, maupun di lembaga-lembaga keagamaan hendaknya menerapkan metode keteladanan yang baik dalam kehidupan sehari hari. Sebab seorang pendidik merupakan

contoh ideal dalam pandangan anak, yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru baik disadari atau tidak. Bahkan semua

47

keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, hal yang bersifat material, inderawi maupun spiritual. b. Metode Pembiasaan Pembiasaan merupakan proses penanaman kebiasaan (Hery Noer Aly, 1999:184). Kaitannya dengan metode pendidikan agama Islam, pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak berpikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran Islam (Armai Arief, 2002:110). Menurut Abdullah Nasih Ulwan sebagaimana dikutip Hery Noer Aly (1999:189) mengatakan bahwa untuk menanamkan suatu kebiasaan, pendidik bisa memberikan motivasi berupa kata-kata yang baik, pujian, hadiah, bahkan hukuman apabila dipandang perlu dalam meluruskan penyimpangan. Dalam pembentukan kebiasan ini, anak didik akan terbiasa berperilaku apabila hal itu dilakukan dengan berulang-ulang. Maka dari itu, pendidik hendaknya selalu mengawasi secara terus menerus, disertai dengan usaha membangkitkan kesadaran agar setiap anak didik memiliki kesadaran atau pengertian akan maksud dari tingkah laku yang dibiasakan. c. Metode Pemberian Nasihat Menurut Abdurrahman An-Nahlawi sebagimana dikutip oleh Hery Noer Aly (1999:191), yang dimaksud dengan nasihat ialah

48

penjelasan tentang kebenaran dan kemaslahatan dengan tujuan menghindarkan orang yang dinasihati dari bahaya serta

menunjukannya ke jalan yang mendatangkan kebahagiaan dan manfaat Memberi nasihat kepada anak hendaknya didasarai dengan hati yang tulus. Sehingga timbul kesan dari peserta didik bahwa gurunya punya niat baik dan peduli terhadap kebaikannya. Oleh sebab itu dalam memberi nasihat kepada anak, hindari perintah dan larangan langsung seperti “Kerjakan ini!” dan “Jangan lakukan itu!”. Sebaiknya pendidik menggunakan teknik-teknik tidak langsung seperti dengan bercerita, kisah dan membuat perumpamaan. Seperti cerita tentang akhlak para Nabi dan para Sahabatnya. d. Metode Ceramah Metode ceramah adalah teknik penyampaian pesan yang sudah lajim dipakai guru di sekolah. Ceramah diartikan sebagai suatu cara penyampaian bahan secara lisan oleh guru di muka kelas (Basyiruddin Usman, 2005 : 34). Ceramah dapat digunakan pada semua bahan atau materi Pendidikan Agama Islam. Akan tetapi dalam penerapannya perlu dipadukan dengan metode-metode lain yang dibantu dengan media yang bervariasi agar peserta didik tidak bosan dan mudah memahami apa yang disampaikan. e. Metode Kisah Kisah diartikan sebagai cerita atau riwayat tentang perjalanan hidup seseorang (M. Dahlan Al Barry, 1994:339). Sedangkan metode

49

kisah merupakan cara menyampaikan pesan dari riwayat seseorang untuk diambil hikmah atau manfaatnya. Penerapannya dalam

Pendidikan Agama Islam adalah dengan cara menceritakan kisah-kisah kehidupan tokoh-tokoh perjuangan Islam seperti kisah para Nabi dan Rasul, para Sahabat, para pahlawan Islam, Para Wali dan sebagainya. Dengan metode kisah ini, anak didik diharapkan akan mengambil hikmah dari peristiwa yang pernah dialami para tokohtokoh perjuangan dan pembesar Islam. f. Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab adalah penyampaian pesan dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan untuk dijawab oleh siswa, atau sebaliknya siswa diberi kesempatan bertanya dan guru yang menjawab pertanyaan (Basyiruddin Usman, 2005 : 43). Metode ini dipakai untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa tentang suatu materi yang akan disampaikan di awal pelajaran, atau di akhir pelajaran sebagai umpan balik. Jika metode ini dilakukan secara tepat, maka akan dapat meningkatkan perhatian siswa untuk belajar aktif. g. Metode Drill atau Latihan Menurut Winarno Surachmad sebagaimana dikutip Basyiruddin Usman (2005 : 55) mengemukakan bahwa metode drill atau latihan adalah metode yang digunakan untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadapa apa yang dipelajari, karena hanya

50

dengan

melakukan

secara

praktis

suatu

pengetahuan

dapat

disempurnakan dan disiap diagakan. Metode ini dapat dipakai dalam meningkatkan sejumlah keterampilan dan ketangkasan anak didik. Misalnya latihan menulis arab, membaca, dan menghafal Al-Quran, latihan untuk

mengumandangkan azan dan iqomah, latihan tilawatil Quran dan sebagainya. h. Metode Pemberian Tugas (Resitasi) Metode resitasi biasa disebut metode pekerjaan rumah, karena siswa diberi tugas khusus diluar jam pelajaran (Basyiruddin Usman, 2005 : 47) Metode ini tujuannya untuk mengaktifkan siswa agar pengetahuannya lebih mantap dan terbiasa mempelajari suatu masalah serta menemukannya secara langsung. Selain itu metode ini dapat membiasakan siswa untuk melaksanakan tanggung jawab. i. Metode Demontrasi Demontrasi adalah salah satu teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau orang lain yang dengan sengaja diminta, atau siswa sendiri yang ditunjuk untuk memperlihatkan kepada kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu Usman, 2005 : 45) Dalam Pendidikan Agama Islam demontrasi dipakai untuk mengajarkan siswa agar mereka lebih memahami tata cara ibadah (Basyiruddin

51

sesuai aturannya.

Misalnya demontrasi tentang tata cara shalat,

wudhu, tayamum, memandikan jenazah, tawaf pada saat menunaikan ibadah haji dan sebagainya. j. Metode Karyawisata Metode karyawisata adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan mengajak para siswa untuk mengunjungi suatu peristiwa atau tempat yang ada kaitannya dengan pokok bahasan. (Basyiruddin Usman, 2005 : 53) Dalam Pendidikan Agama Islam, metode ini dapat digunakan agar siswa lebih mengenal akan adanya alam yang sengaja dibuat oleh Allah SWT untuk di ambil manfaatnya oleh manusia. Sehingga dapat menambah keimanan serta meningkatkan ketaqwaan dan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Misalnya mengajak siswa ke pantai, pegunungan, kebun binatang, atau berziarah kubur ke makam para wali dan sebagainya. 7. Media Pendidikan Agama Islam Media berasal dari bahasa latin medius yang artinya tengah,

ْ ِ ‫سائ‬ perantara, atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media ( ‫ل‬ َ ََ‫ )و‬artinya
perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Azhar Arsyad, 2007:3). Menurut Arief S. Sadiman (1986) sebagaimana dikutip Suwarna (2006:128) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan dari pengirim pesan kepada penerima pesan, sehingga dapat merangsang

52

pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa, dan dengan demikian terjadilah proses pembelajaran. Dalam Pendidikan Agama Islam banyak sekali media yang dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan informasi berupa materi pembelajaran pada setiap kegiatan belajar, meskipun tidak semua media dapat digunakan karena harus disesuaikan dengan tujuan, materi, metode pembelajaran, serta sarana yang dimiliki oleh masing-masing sekolah. Menurut Seels dan Glasgow (1990:181-183) sebagaimana dikutip Azhar Arsyad, (2007:33) mengemukakan bahwa sesuai dengan

perkembangan teknologi, media dibagi kedalam dua kategori luas, yaitu pilihan media tradisional dan mutakhir. Media tersebut antara lain: a. Media Tradisional 1) Media audio, adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, video-cassete, piringan, pita kaset. 2) Media visual, adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini terbagi kedalam tiga jenis yaitu visual diam yang diproyeksikan seperti proyeksi opaque (tak tembus pandang, proyeksi operhead, film strip (film rangkai), slides (film bingkai). Visual diam yang tidak diproyeksikan seperti foto, gambar, lukisan, cetakan, poster, grafik, diagram, pameran, papan info, dan visual dinamis yang diproyeksikan seperti televisi, film dan video. 3) Media audiovisual, yaitu media yang bisa menampilkan gambar dan suara sekaligus. Media ini terbagi menjadi media audiovisual

53

diam, yaitu yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara dan film cetak suara, juga media audiovisual gerak yaitu yang menampilkan suara dan gambar gerak seperti film suara dan video-cassete. 4) Media grafis, yaitu media yang menuangkan pesan dalm bentuk simbol-simbol komunikasi verbal, misalnya gambar foto, sketsa, diagram, bagan (chart), grafik, kartun, poster, peta, papan flannel, dan papan buletin. 5) Media dua dimensi non projeksi, yaitu media yang mempunyai dimensi panjang dan lebar saja, yang penggunaanya tidak memerlukan bantuan perangkat projeksi. Misalnya papan tulis, papan putih magnetis, papan tulis elektronik, Alat Lebar Gantungan (ALG), Alat Lebar Sampiran (ALS). 6) Media permainan, seperti teka teki, simulasi, permainan papan. 7) Media cetak, seperti buku teks, modul, teks berprogram, workbook, majalah ilmiah, majalah berkala, lembaran lepas (hand-out). 8) Realia, seperti model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka) b. Media Mutakhir 1) Media berbasis telekomunikasi, seperti telekonfern yaitu suatu teknik komunikasi dimana kelompok yang berada di lokasi geografis bebeda menggunakan mikrofon dan amplifier khusus yang dihubungkan satu dengan lainnya sehingga setiap orang dapat

54

berpartisipasi dengan aktif dalam suatu pertemuan besar dan diskusi. Selanjutnya kuliah jarak jauh (telecture), dimana seorang ahli dalam bidang tertentu menghadapi sekelompok pendengar yang mendengarkan melalui dengan menggunakan amplifier dan telepon. 2) media berbasis mikroprosesor, seperti computer assisted intruction, permainan komputer, sistem tutor intelejen, interaktif, hypermedia, compact(video) disc. C. Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) 1. Pengertian Diniyah Takmiliyah Awaliyah Diniyah Takmiliyah adalah satuan pendidikan keagamaan Islam non formal yang menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam sebagai pelengkap bagi siswa sekolah umum. Diniyah Takmiliyah terdiri dari Diniyah Takmiliyah Awaliyah (dasar) dengan masa belajar 4 tahun, Diniyah Takmiliyah Wushta (tingkat menengah pertama) dengan masa belajar 2 tahun, dan Diniyah Takmiliyah Ulya (tingkat menengah atas) dengan masa belajar 2 tahun. Sedangkan Diniyah Takmiliyah Awaliyah adalah satuan pendidikan keagamaan non formal tingkat permulaan yang menyelenggarakan Pendidikan Agama Islam sebagai pelengkap bagi siswa Sekolah Dasar (SD/sederajat) dengan masa belajar 4 (empat) tahun mulai dari kelas I sampai dengan kelas IV dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam setiap minggu (Departemen Agama RI, 2006:5)

55

2. Kedudukan Diniyah Takmiliyah Awaliyah Diniyah Takmiliyah Awaliyah sebagai satuan pendidikan

keagamaan Islam non formal di lingkungan Departemen Agama, berada di dalam pembinaan Departemen Agama Kabupaten atau Kota, dalam hal ini Kepala Seksi Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, atau tingkat organisasi yang sejenis (Departemen Agama RI, 2006:5). 3. Dasar Hukum Penyelenggaraan Diniyah Takmiliyah a. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; b. Peraturan pemerintah No. 39 Tahun 1992 tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan nasional; c. Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar sekolah; d. Peraturan pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; e. Keputusan Mentri Agama No. 18 Tahun 1985 tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Departemen Agama yang telah diubah dan disempurnakan dengan keputusan Mentri Agama N0. 1 Tahun 2001; f. Peraturan mentri agama No. 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah (Departemen Agama RI, 2006:2) 4. Tujuan Diniyah Takmiliyah Awaliyah a. Memberikan bekal kemampuan dasar kepada warga belajar untuk mengembangkan kehidupannya sebagai warga muslim yang beriman, bertaqwa, dan beramal saleh serta berakhlaq mulia, juga sebagai warga Negara Indonesia yang berkepribadian, percaya diri, sehat jasmani dan rohani. b. Membina warga belajar agar memiliki pengalaman, pengetahuan, keterampilan beribadah dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan dirinya.

56

c. Mempersiapkan warga belajar untuk dapat mengikuti pendidikan agama Islam pada Diniyah Takmiliyah Wushta (Departemen Agama RI, 2006:5). 5. Fungsi Diniyah Takmiliyah Awaliyah Dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Diniyah Takmiliyah

(2006: 6) disebutkan bahwa Diniyah Takmiliyah Awaliyah berfungsi: a. Menyelenggarakan pendidikan agama Islam yang meliputi Al-Quran Hadits, Tajwid, Aqidah Akhlak, Fiqih-Ibadah, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab dan Praktek Ibadah. b. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tambahan kebutuhan

Pendidikan Agama Islam terutama bagi siswa yang belajar di Sekolah Dasar atau sederajat. c. Memberikan bimbingan dalam pelaksanaan pengalaman ajaran Islam. d. Membina kerjasama antara orang tua, peserta didik dan masyarakat. e. Melaksanakan tata usaha dan rumah tangga pendidikan serta perpustakaan (Departemen Agama RI, 2006:6). 6. Kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah. Kurikulum Diniyah Takmiliyah Awaliyah disusun sesuai jenjang pendidikan yang ada yaitu dengan masa belajar 4 (empat) tahun dari kelas 1 (satu) sampai dengan kelas 4 (empat) dengan jumlah jam belajar masingmasing maksimal 18 (delapan belas) jam pelajaran setiap mingggu. Ruang lingkup materi pembelajarannya meliputi mata pelajaran Al-Quran-Hadits,

57

Aqidah-Akhlaq, Fiqih-Ibadah, Sejarah Kebudayaan Islam, Bahasa Arab serta Praktek Ibadah (Departemen Agama RI, 2006:17). Struktur program pada jenjang Diniyah Takmiliyah Awaliyah selanjutnya dapat dijelaskan sebagai berikut: Jenjang Dan Kelas Diniyah Takmiliyah Awwaliyah I II III IV 4 4 8 8 (4) (4) (2) (2) (2) (2) (2) (2) (2) (2) 4 4 2 2 4 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 18 18 18 18

No 01

Bidang studi

02 03 04 05 06

Quran-Hadits a. Quran b. Hadits c. Terjemah-Tafsir d. Tajwid Aqidah-Akhlaq Fiqih-Ibadah Sejarah Kebudayaan Islam Bahasa Arab Praktek Ibadah Jumlah Keterangan: Satu jam pelajaran berarti: 1. Kelas I Diniyah Takmiliyah Awaliyah adalah 30 menit 2. Kelas II s.d kelas IV Diniyah Takmiliyah Awaliyah adalah 40 menit 7. Kompetensi Lulusan Diniyah Takmiliyah Awaliyah Kompetensi lulusan Diniyah Takmiliyah Awaliyah adalah: a. Memiliki sikap sebagai seorang muslim yang berakhlak mulia b. Memiliki sikap sebagai warga negara indonesia yang baik c. Memiliki kepribadian, percaya diri, sehat jasmani dan rohani

d. Memiliki pengalaman, pengetahuan, keterampilan beribadah dan sikap terpuji yang berguna bagi pengembangan pribadinya. Kompetensi lulusan Diniyah Takmiliyah Awaliyah ini terbagi dalam tiga bidang, yaitu:

58

a. Dalam Bidang Pengetahuan: 1) Memiliki pengetahuan dasar tentang agama Islam 2) Memiliki pengetahuan dasar tentang Bahasa Arab sebagai alat untuk memahami ajaran agama Islam. b. Dalam Bidang Pengalaman: 1) Dapat mengamalkan ajaran agama Islam 2) Dapat belajar dengan cara yang baik 3) Dapat bekerja sama dengan orang lain dan dapat mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan masyarakat 4) Dapat menggunakan dasar-dasar Bahasa Arab. c. Dalam Bidang Nilai dan Sikap: 1) Cinta terhadap agama Islam dan berkeinginan untuk melakukan ibadah shalat dan ibadah lainnya 2) Berminat dan bersikap positif terhadap ilmu pengetahuan 3) Mematuhi disipilin dan dan peraturan yang berlaku 4) Menghargai kebudayaan nasional dan kebudayaan lain yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam 5) Memiliki sikap demokratis, tenggang rasa dan mencintai sesama manusia dan lingkungan sekitarnya 6) Menghargai setiap pekerjaan dan usaha yang halal 7) Menghargai waktu, hemat dan produktif (Departemen Agama RI, 2006:21).

59

8. Proses Pembelajaran Diniyah Takmiliyah Awaliyah Proses pembelajaran di Diniyah Takmiliyah terbagi dua kegiatan, yaitu intrakurikuler dan ekstrakurikuler. a. Kegiatan Intrakurikuler Kegiatan Intrakurikuler adalah kegiatan pembelajaran di Diniyah Takmiliyah yang penjatahan waktunya telah ditentukan dalam program (Departemen Agama RI, 2006:2). Dalam pelaksanaannya, harus memperhatikan hal berikut: 1) Waktu yang terjadwal dalam struktur program 2) Kompetensi mata pelajaran dari masing-masing jenjang Diniyah Takmiliyah 3) Sifat masing-masing bidang mata pelajaran, sehingga dapat ditetapkan pengorganisasian kelas, metode serta sarana dan sumber belajar 4) Berbagai sumber dan sarana yang terdapat di Diniyah Takmiliyah dan lingkungan sekitarnya 5) Pelaksanaan dapat berbentuk belajar secara klasikal, kelompok dan perorangan  Belajar klasikal, ditujukan untuk memberikan informasi atau pengantar dalam proses belajar mengajar  Belajar kelompok, ditujukan untuk mengembangkan

keterampilan siswa dalam mempelajari dan mengembangkan materi pokok setiap pokok bahasan

60

 Belajar perorangan, ditujukan untuk menampung kegiatan perbaikan dan pengayaan b. Kegiatan Ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan diluar jam pelajaran biasa, yang dilakukan di dalam atau diluar pendidikan dengan tujuan memperluas pengetahuan siswa, mengenai hubungan antara berbagai bidang pengembangan/mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya. Kegiatan ini dilakukan secara berkala dalam waktu-waktu tertentu. Dalam pelaksanaannya harus memperhatikan beberapa hal berikut: 1) Materi kegiatan yang dapat memberi pengayaan bagi siswa 2) Sejauh mungkin tidak membebani siswa 3) Memanfaatkan potensi dan lingkungan 4) Memanfaatkan kegiatan keagamaan (Departemen Agama RI, 2006:28). 9. Evaluasi (Penilaian) Diniyah Takmiliyah Awaliyah Penilaian adalah suatu usaha untuk mengumpulkan informasi yang berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa melalui kegiatan belajar mengajar yang ditetapkan sehingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan langkah berikutnya (Departemen Agama RI, 2006:30). Sasaran penilaiannya meliputi semua komponen yang menyangkut proses dan hasil belajar siswa dalam kegiatan

61

belajar mengajar baik kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler. Jenis penilaiannya adalah tes formatif, ulangan harian, tugas, tes sub sumatif (UTS) dan tes sumatif (UAS). Cara penilaiannya dilakukan dengan dua cara, antara lain: a. Dari segi cara mengerjakan/pelaksanaan evaluasi 1) Cara tertulis 2) Cara lisan 3) Cara praktek b. Dari segi cara memberi skor 1) Cara kualitatif seperti istimewa, baik sekali, baik, cukup, sedang dan kurang 2) Cara kuantitatif, dalam bentuk rentangan antara 0-10 atau 0-100 (Departemen Agama RI, 2006:34). Sedangkan teknik penilaian yang dapat digunakan oleh guru meliputi dua golongan pokok, yaitu: a. Teknik tes, terutama untuk menilai kemampuan siswa dalam ranah pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotorik) sebagi hasil belajar. b. Teknik non-tes, terutama untuk menilai mutu ranah afektif sebagai hasil belajar (Departemen Agama RI, 2006:36).

62

BAB III GAMBARAN UMUM DTA NURUL AMANAH DTA MIFTAHUS SA’ADAH, DAN DTA AL-ITTIHAD

A. Gambaran Umum DTA Nurul Amanah 1. Sejarah Berdiri Lembaga Pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah pada mulanya bernama Madrasah Diniyah Awaliyah Nurul Amanah berdiri pada tanggal 21 Juli 1993. Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Amanah didirikan atas dasar semakin banyaknya jumlah siswa yang mengikuti pengajian di mesjid. Melalui Dewan Kerja Mesjid (DKM)

Nurul Hidayah beserta orang tua, masyarakat dan aparat pemerintahan setempat berupaya semaksimal mungkin mendirikan madrasah yang diberi nama Nurul Amanah. Dengan harapan mampu meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam bagi anak-anak. 60 Tokoh-tokoh yang berjasa pada saat itu adalah ketua DKM Nurul Hidayah yaitu Bapak Irin, Kepala Dusun Sindangrasa yaitu Bapak Samdi, dan tokoh masyarakat lainnya adalah Bapak Haedin, Bapak Unan, Bapak Komon, Bapak Eman, Bapak, Misja, Bapak Udjo, Bapak Dedi Hidayat, Bapak RN Iskandar, Bapak Utam Bapak Ace Aceng (Wawancara dengan Bapak Ali Ridho selaku Kepala DTA dan salah satu tokoh pendiri DTA Nurul Amanah Bapak Ace Aceng pada tanggal 28 Oktober 2009).

63

Dalam perkembangan selanjutnya, dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya Nomor:

Kd.10.06/05/PP.007/573/2009 tanggal 25 Maret 2009, Madrasah Diniyah Nurul Amanah ini berganti nama menjadi Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Amanah dengan No. statistik 311.2.32.06.2154. 2. Letak Geografis Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Amanah terletak di Dusun Sindangrasa, RT 01 RW 04, Desa Ciampanan, Kecamatan Cineam. Jika ditinjau dari letak SD negeri Padawening, maka DTA Nurul Amanah berada di sebelah utara SD Negeri Padawening. Jarak dari DTA ke SD sekitar 500 Meter. DTA ini sangat strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat karena dikelilingi oleh pemukiman penduduk (Wawancara dengan Bapak Ali Ridho selaku Kepala DTA Nurul Amanah pada tanggal 28 Oktober 2009). 3. Struktur Organisasi Bagan 1. Struktur Organisasi Lembaga Pendidikan DTA Nurul Amanah Tahun Ajaran 2009/2010 Kepala Diniyah Ali Ridho, S.Pd

G. Kelas 1 Didah G. Kelas 2

64

Oop S G. Kelas 3 Ai Nur A G. Kelas 4 Kholis

Sumber: (Dokumentasi DTA Nurul Amanah dikutip tanggal 28 Oktober 2009). 4. Visi dan Misi DTA Nurul Amanah Visi Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Amanah adalah membentuk santri yang beriman, berilmu, beramal shaleh, dan berakhlakul karimah sesuai tuntunan agama Islam. Misi Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Amanah antara lain: a. Melalui pembinaan profesionalisme, ustadz/ustadzah meningkatkan kualitas tenaga kependidikan b. Menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan c. Menciptakan pembiasaan melalui penerapan beribadah dan berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari d. Bekerjasama dengan orang tua, Sekolah Dasar, dan masyarakat melalui pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan santri (Wawancara dengan Bapak Ali Ridho selaku Kepala DTA Nurul Amanah tanggal 28 Oktober 2009). 5. Keadaan Ustadz / Ustadazah dan Santri Ustadz/Ustadzah yang menjadi tenaga pendidik adalah warga masyarakat yang dipercaya oleh Dewan Kerja Mesjid (DKM) Nurul Hidayah dan secara sukarela dapat membantu mengajar di DTA.

65

Ustadz/Ustadzah tersebut lebih diutamakan mereka yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang Agama baik lulusan pendidikan formal maupun pondok pesantren. Sedangkan santrinya

adalah warga masyarakat sekitar, yang berada di wilayah Dewan Kerja Mesjid Nurul Hidayah yang semuanya merupakan siswa SD Negeri Padawening. Jumlah Ustadz/Ustadzah di DTA Nurul Amanah pada tahun ajaran 2009/2010 berjumlah 5 (lima) orang termasuk Kepala DTA. Sementara jumlah santri pada tahun 2009/2010 sebanyak 16 orang putra dan putri. Siswa kelas 1 DTA adalah kelas 3 Sekolah Dasar (Wawancara dengan Kepala DTA Nurul Amanah tanggal 28 Oktober 2009). Tabel 1. Keadaan Ustadz/Ustadzah DTA Nurul Amanah Tahun Ajaran 2009/2010 No 1 2 3 4 5 Tk. Pendidikan Formal Non Formal Ali Ridho, S.Pd Kepala DTA S1 Pondok Pesantren 3 Th Kholis Fuadi Guru Kelas 4 MTs Pondok Pesantren 12 Th Ai Nur Asiyah Guru Kelas 3 MAN Pondok Pesantren 6 Th Oop Sofiyah Guru Kelas 1 MAN Pondok Pesantren 3 Th Didah Guru Kelas 2 MTs Pondok Pesantren 4 Th Sumber: (Dokumentasi DTA Nurul Amanah dikutip tanggal 28 Oktober Nama Jabatan 2009) Tabel 2. Keadaan Santri DTA Nurul Amanah

66

Tahun Ajaran 2009/2010 Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan I 1 1 II 1 1 2 III 3 3 6 IV 2 5 7 Jumlah 7 9 16 Sumber: (Dokumentasi DTA Nurul Amanah dikutip tanggal 28 Oktober Kelas 2009). 6. Keadaan Sarana dan Prasarana Tabel 3. Keadaan Bangunan DTA Nurul Amanah Tahun Ajaran 2009/2010 No 1 2 3 4 5 Bangunan /Ruang Ruang Kelas Ruang Guru dan Kepala Sekolah Mesjid Tempat Wudu WC / Toilet Kondisi Rusak Ringan Rusak Berat Juml ah 1 1 1 3 2

Baik 1 1 1 3 2

Tabel 4. Keadaan Mebeler DTA Nurul Amanah Tahun Ajaran 2009/2010 Mebeler Meja Murid Kursi murid Meja Guru Kursi Guru Lemari Rak Buku Papan Tulis Baik 2 1 3 Kondisi Rusak Ringan 2 2 2 2 1 Jumlah 7 4 2 1 4 2 4

Rusak Berat 5 2 1 2 4

67

Tabel 5. Keadaan Buku Sumber DTA Nurul Amanah Tahun Ajaran 2009/2010 No 1 2 3 4 5 6 7 Mata Pelajaran Buku Sumber

Jumlah Asal Akidah Akhlak 4 Bantuan B. Arab 4 Bantuan Fiqih Ibadah 4 Bantuan Quran-Hadits 4 Bantuan SKI 4 Bantuan Al-Quran 30 Bantuan Kitab Kuning 20 Swadaya Sumber: (Dokumentasi DTA Nurul Amanah dikutip tanggal 28 Oktober 2009).

B. Gambaran Umum DTA Miftahus Sa’adah 1. Sejarah Berdiri Pada mulanya Miftahus Sa’adah merupakan pusat perkembangan agama Islam di Desa Ciampanan. Banyak warga masyarakat lain yang berdatangan ke sana guna menuntut ilmu agama. Untuk melaksanakan shalat jumat pun pada waktu itu baru ada satu mesjid yaitu di Miftahus Saadah ini. Namun dengan semakin banyaknya warga masyarakat

khususnya anak-anak yang belajar agama, pada tanggal 15 Juni 1978 para tokoh masyarakat beserta warga masyarakat merintis sebuah pembangunan Madrasah Diniyah Awaliyah yang bertempat di sebelah utara mesjid. Tokoh perintis pembangunan madrasah tersebut antara lain Bapak H. Amat, Bapak Enceng Disa, Bapak Uung, Bapak Kayat, Bapak Bajuri. (Wawancara dengan Bapak Uca selaku Kepala DTA Miftahus Sa’adah pada tanggal 16 November 2009).

68

Dalam perkembangan selanjutnya, dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya Nomor:

Kd.10.06/05/PP.007/573/2009 tanggal 25 Maret 2009, Madrasah Diniyah Miftahus Sa’adah ini berganti nama menjadi Diniyah Takmiliyah Awaliyah Miftahus Sa’adah dengan No. statistik 311.2.32.06.2150. 2. Letak Geografis DTA Miftahus Sa’adah terletak di Dusun Sukabakti, RT 04 RW 05, Desa Ciampanan, Kecamatan Cineam. Jika ditinjau dari letak SD negeri Padawening, maka DTA Miftahus Sa’adah berada di sebelah timur SD Negeri Padawening. Letaknya sangat strategis karena dapat dilalui

kendaraan umum angkutan pedesaan dan berada di tengah-tengah rumah warga. Jarak dari DTA ke SD Negeri padawening sekitar 800 Meter. (Wawancara dengan Bapak Uca Ganda selaku Kepala DTA Miftahus Sa’adah pada tanggal 16 November 2009). 3. Struktur Organisasi Bagan 2. Struktur Organisasi Lembaga Pendidikan DTA Miftahus Sa’adah Tahun Ajaran 2009/2010 Kepala Diniyah Uca Ganda P

G. Kelas 1 Aas Siti A G. Kelas 2

69

D. Salamah G. Kelas 3 Diyanto G. Kelas 4 Iip T Arifin

Sumber : (Dokumentasi DTA Miftahus Sa’adah dikutip pada tanggal 16 November 2009). 4. Visi dan Misi DTA Miftahus Sa’adah Visi DTA Miftahus Sa’adah adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, beramal shaleh dan berakhlak mulia menuju kebahagiaan fi dunya wal akhirat. Misi DTA Miftahus Sa’adah antara lain: a. Meningkatkan kualiatas kerja ustadz/ustadzah dalam proses belajar mengajar b. Menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan melalui privat dan klasikal c. Menerapkan metode pembiasaan dalam penerapan ibadah dan akhlak d. Menciptakan lingkungan yang harmonis sebagai sarana dan kegiatan belajar e. Bekerjasama dengan orang tua, Sekolah Dasar dan masyarakat untuk mengawasi keseharian santri (Wawancara dengan Kepala DTA Miftahus Sa’adah pada tanggal 16 November 2009). 5. Keadaan Ustadz/Ustadazah dan Santri

70

Salah satu Ustadz/ustadazah yang menjadi tenaga pendidik utama di DTA Miftahus Sa’adah adalah didatangkan dari luar kecamatan yakni berasal dari Kecamatan Gunung Tanjung. Hal ini dikarenakan di

lingkungan setempat, dari segi keilmuan warga merasa tidak mampu mengelola siswa yang cukup banyak. Ustadz/ustadazah tersebut diberikan fasilitas dan tempat tinggal oleh masyarakat setempat. Ustadz/ustadazah yang lainnya adalah warga masyarakat setempat yang dipercaya oleh DKM Miftahus Sa’adah dan secara sukarela dapat membantu mengajar di DTA. Ustadz/Ustadzah tersebut lebih diutamakan mereka yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang Pendidikan Agama Islam baik lulusan pendidikan formal maupun pondok pesantren. Sedangkan siswanya adalah warga masyarakat sekitar, yang berada di wilayah DKM Miftahus Sa’adah yang semuanya merupakan siswa SD Negeri Padawening. Jumlah Ustadz/Ustadzah di DTA Miftahus Sa’adah pada tahun ajaran 2009/2010 berjumlah 5 (lima) orang termasuk Kepala DTA. Sementara jumlah santri pada tahun 2009/2010 sebanyak 25 orang putra dan putri. Santri kelas 1 DTA adalah siswa kelas 3 Sekolah Dasar (Wawancara dengan Kepala DTA Miftahus Sa’adah pada tanggal 16 November 2009). Tabel 6. Keadaan Ustadz/Ustadzah DTA Miftahus Sa’adah Tahun Ajaran 2009/2010 No Nama Jabatan Tk. Pendidikan

71

1 2 3 4 5

Non Formal Pondok Pesantren 9 Th Aas Siti Asiyah Guru Kelas 1 SD Pondok Pesantren 5 Th Dede Salamah Guru Kelas 2 MTs Pondok Pesantren 7 Th Diyanto Guru Kelas 3 SD Pondok Pesantren 7 Th Sumber: (Dokumentasi DTA Miftahus Sa’adah dikutip tanggal 16 Uca Ganda P Iif T Arifin Kepala Dniyah Guru Kelas 4 November 2009 Tabel 7. Keadaan Santri DTA Miftahus Sa’adah Tahun Ajaran 2009/2010 Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan I 4 1 5 II 2 2 4 III 5 6 11 IV 2 3 5 Jumlah 22 13 25 Sumber: (Dokumentasi DTA Miftahus Sa’dah dikutip tanggal 16 Kelas November 2009). 6. Sarana dan Prasarana Tabel 8. Keadaan Bangunan DTA Miftahus Sa’adah Tahun Ajaran 2009/2010 No 1 2 3 4 5 Bangunan /Ruang Ruang Kelas Ruang Guru dan Kepala Sekolah Mesjid Tempat Wudu Toilet Kondisi Rusak Ringan Rusak Berat Juml ah 3 1 1 1 1

Formal S1 SD

Baik 3 1 1 1 1

72

6

Ruang Imtihan

1

-

-

1

Tabel 9. Keadaan Mebeler DTA Miftahus Sa’adah Tahun Ajaran 2009/2010 Mebeler Meja Murid Kursi murid Meja Guru Kursi Guru Lemari Rak Buku Papan Tulis Baik 11 3 3 3 Kondisi Rusak Ringan 2 3 Jumlah 11 3 3 2 2 6

Rusak Berat 2 -

Tabel 10. Keadaan Buku Sumber DTA Miftahus Sa’adah Tahun Pelajaran 2009/2010 No 1 2 3 4 5 6 7 Mata Pelajaran Buku Sumber

Jumlah Asal Akidah Akhlak 4 Bantuan B. Arab 4 Bantuan Fiqih Ibadah 4 Bantuan Quran-Hadits 4 Bantuan SKI 4 Bantuan Al-Quran 50 Bantuan Kitab Kuning 10 Swadaya Sumber: (Dokumentasi DTA Miftahus Sa’adah dikutip tanggal 16 November 2009) C. Gambaran Umum DTA Al-Ittihad 1. Sejarah Berdiri Pada awalnya DTA Al-Ittihad merupakan sekolah agama yang jauh dari kepengurusan atau dibentuk dalam suatu organisasi. Baru ketika Bapak Sukirman DH menjabat sebagai ketua Dewan Kerja Mesjid AlIttihad, mereka bekerjasama dengan warga masyarakat setempat

73

membangun madrasah.

Setelah madrasah tersebut dibangun, pihak

pengelola kemudian mengajukan kepada Kelompok Kerja Madrasah Diniyah Desa Ciampanan agar Sekolah Agama di Al-Ittihad memiliki kepercayaan sebagai penyelenggara pendidikan agama, dan pada akhirnya terbentuklah Madrasah Diniyah Al-Ittihad yang berdiri pada tanggal 14 Januari 2000. Tokoh yang paling berjasa dalam pembangunan madrasah Diniyah tersebut ialah Bapak Tisna dan Ibu Ana Sugiarti (alm) yang telah memberikan sejumlah tanah wakap, meteri yang telah diberikan kepada DKM. Tokoh-tokoh lainnya antara lain Bapak Sukirman DH, Bapak

Muhtar, Bapak Hamida, Bapak Fahrurraji dan Bapak Suwarjono (Wawancara dengan Bapak Lili Sukarto selaku Kepala DTA Al-Ittihad pada tanggal 7 Desember 2009). Dalam perkembangan selanjutnya, dengan Surat Keputusan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya Nomor:

Kd.10.06/05/PP.007/573/2009 tanggal 25 Maret 2009, Madrasah Diniyah Al-Ittihad ini berganti nama menjadi Diniyah Takmiliyah Awaliyah AlIttihad dengan No. statistik 311.2.32.06.2158 (Dokumentasi DTA AlIttihad dikutip tanggal 7 Desember 2009) 2. Letak Geografis DTA Al-Ittihad terletak di Jl. Raya Cidolog Cineam, Dusun Kertaharja, RT 02 RW 03, Desa Ciampanan, Kecamatan Cineam. Jika ditinjau dari letak SD negeri Padawening, maka DTA Al-Ittihad berada di

74

sebelah barat SD Negeri Padawening.

Letaknya sangat strategis karena

dapat dilalui kendaraan umum angkutan pedesaan dan berada di tengahtengah rumah warga. Jarak dari DTA ke SD Negeri padawening sekitar 500 Meter (Wawancara dengan Bapak Lili Sukarto selaku Kepala DTA AlIttihad tanggal 7 Desember 2009). 3. Struktur Organisasi Bagan 3. Struktur Organisasi Lembaga Pendidikan DTA Al-Ittihad Tahun Ajaran 2009/2010 Kepala Diniyah Lili Sukarto

G. Kelas 4 Yuyu Y G. Kelas 3 Rani G. Kelas 2 Halimah G. Kelas 1 Derti

Sumber: (Dokumentasi DTA Al-Ittihad dikutip tanggal 7 Desember 2009). 4. Visi dan Misi DTA Al-Ittihad Visi Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al-Ittihad adalah menjadi wahana terbaik dalam membentuk siswa berilmu, beramal shaleh,

75

berakhlak mulia, menuju manusia dewasa yang bertaqwa, berguna bagi agama, bangsa dan Negara. Misi Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al-Ittihad antara lain: a. Meningkatkan kualitas kinerja ustadz/ustadzah b. Menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan c. Menciptakan lingkungan yang harmonis melalui pembiasaan dalam beribadah, berpakaian, berucap, dan bertingkah laku sesuai aturan Islam d. Memperbaiki sarana dan menambah fasilitas belajar di Diniyah Takmiliyah Awaliyah e. Bekerjasama dengan orang tua, Sekolah Dasar dan masyarakat dalam mengawasi kegiatan anak didik (Wawancara dengan Bapak Lili Sukarto selaku Kepala DTA Al-Ittihad tanggal 7 Desember 2009). 5. Keadaan Ustadz / Ustadazah dan Santri Ustad/ Ustadazah yang menjadi tenaga pendidik adalah warga masyarakat di wilayah DKM Al-Ittihad yang dipercaya oleh masyarakat dapat membantu mengajar di DTA. Sedangkan santrinya adalah warga masyarakat sekitar, yang berada di wilayah DKM Al-Ittihad yang

semuanya merupakan siswa SD Negeri Padawening. Jumlah Ustadz/Ustadzah di DTA Al-Ittihad pada tahun ajaran 2009/2010 berjumlah 5 (lima) orang termasuk Kepala DTA Al-Ittihad. Sementara jumlah santri pada tahun 2009/2010 sebanyak 22 orang putra dan putri. Siswa kelas 1 DTA adalah kelas 3 Sekolah Dasar.

76

Tabel 11. Keadaan Ustadz/Ustadzah DTA Al-Ittihad Tahun Ajaran 2009/2010 No 1 2 3 4 5 Tk. Pendidikan Formal Non Formal Lili Sukarto Kepala DTA TNI AD Halimah Guru Kelas 2 MTs Pondok Pesantren 1 Th Derti Guru Kelas 1 MAN Rani Guru Kelas 3 MAN Pondok Pesantren 3 Th Yuyu Yuhaenah Guru Kelas 4 MAN Pondok Pesantren 3 Th Sumber: (Dokumentasi DTA Al-Ittihad dikutip tanggal 7 Desember 2009) Nama Jabatan Tabel 12. Keadaan Santri DTA Al-Ittihad Tahun Ajaran 2009/2010 Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan I 1 3 4 II 2 3 5 III 5 5 10 IV 2 1 3 Jumlah 10 12 22 Sumber: (Dokumentasi DTA Al-Ittihad dikutip tanggal 7 Desember 2009) Kelas 6. Sarana dan Prasarana Tabel 13. Keadaan Bangunan DTA Al-Ittihad Tahun Ajaran 2009/2010 No 1 2 3 Bangunan /Ruang Ruang Kelas Ruang Guru dan Kepala Sekolah Mesjid Kondisi Rusak Ringan Rusak Berat Jumla h 4 1 1

Baik 4 1 1

77

4 5

Tempat Wudu 1 1 Toilet 1 1 Sumber: (Dokumentasi DTA Al-Ittihad dikutip tanggal 7 Desember 2009) Tabel 14. Keadaan Mebeler DTA Al-Ittihad Tahun Ajaran 2009/2010 Kondisi Jumlah Rusak Rusak Baik Ringan Berat Meja Murid 32 32 Kursi murid 64 64 Meja Guru 4 4 Kursi Guru 4 4 Lemari 4 4 Papan Tulis 4 4 Sumber: (Dokumentasi DTA Al-Ittihad dikutip tanggal 7 Desember 2009) Mebeler Tabel 15. Keadaan Buku Sumber DTA Al-Ittihad Tahun Pelajaran 2009/2010

No 1 2 3 4 5 6

No 1 2 3 4 5 6

Jumlah Asal Akidah Akhlak 4 Bantuan B. Arab 4 Bantuan Fiqih Ibadah 4 Bantuan Quran-Hadits 4 Bantuan SKI 4 Bantuan Al-Quran 32 Bantuan Sumber: (Dokumentasi DTA Al-Ittihad dikutip tanggal 7 Desember 2009)

Mata Pelajaran

Buku Sumber

78

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

A. Penyajian Data 1. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Diniyah

Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah a. Tujuan Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah secara umum memiliki tujuan yaitu memberikan dasar Pendidikan Agama Islam serta melengkapi Pendidikan Agama Islam khususnya bagi anakanak warga Dewan Kerja Mesjid (DKM) Nurul Hidayah yang semuanya sekolah di Sekolah Dasar Negeri Padawening. Namun

sebagai suatu lembaga pendidikan keagamaan, sesuai dengan visinya DTA Nurul Amanah memiliki tujuan khusus yaitu membentuk anak didik agar mereka memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang dasar agama Islam, memiliki keterampilan dalam bidang agama Islam terutama dalam penanaman ibadah sehari-hari, serta memiliki budi pekerti atau akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam. (Wawancara dengan Bapak Ali Ridho selaku Kepala DTA Nurul Amanah tanggal 28 Oktober 2009).

79

b. Waktu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah 75 Kegiatan pembelajaran di DTA Nurul Amanah dilaksanakan pada waktu siang dan malam. Siang hari dilaksanakan setelah pulang Sekolah Dasar yaitu dari pukul 13.15 sampai pukul 15.30 (Ashar), dari mulai hari senin sampai kamis dan hari sabtu. Khusus hari jumat digunakan untuk pengajian mingguan ibu-ibu dan hari minggu merupakan hari libur. Sedangkan malam hari sebagai penunjang kegiatan

intrakurikuler siang dimulai pukul 18.00 (maghrib) sampai dengan 19.30 (isya) setiap malam kecuali malam sabtu karena diisi oleh pengajian mingguan bapak-bapak. (Wawancara dengan ustdaz Kholis Fuadi pada tanggal 29 Oktober 2009). Waktu dan materi kegiatan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 22. Jadwal Pembelajaran Siang DTA Nurul Amanah Tahun Ajaran 2009/2010 Waktu 13.15-13.30 13.30-14.00 14.00-14.30 14.30-15.00 Senin Sorogan AlQuran Talaran Juz Ama Akidah Akhlak Akidah Akhlak Kelas I-Kelas IV Selasa Rabu Kamis Sorogan Sorogan Sorogan AlAlAl-Quran Quran Quran Talaran Talaran Talaran Juz Ama Juz Ama Juz Ama Fiqih Quran SKI Ibadah Hadits Fiqih Quran SKI Ibadah Hadits Sabtu Sorogan Al-Quran B. Arab B. Arab Praktek Ibadah

80

15.00-15.30

Akidah Fiqih Akidah Praktek Akhlak Ibadah Akhlak Ibadah Shalat Berjamaah Ashar Sumber: (Dokumentasi DTA Nurul Amanah dikutip tanggal 29 Oktober 2009). Tabel 23. Jadwal Pembelajaran Malam DTA Nurul Amanah Tahun Ajaran 2009/2010

Fiqih Ibadah

Rabu dan Kamis Jumat Shalat Berjamah Maghrib Hafalan doa wiridan Hafalan doa Hafalan doa wiridan wiridan Tadarus Al-Quran Tadarus Al-Quran Yasin dan (sorogan) (sorogan) Tahlilan Kitab Safinatunnaja Kitab Tijan Al-Barjanji Addarari dan Shalawat Shalat Berjamaah Isya Sumber: (Dokumentasi DTA Nurul Amanah dikutip 2009)

Senin dan Selasa

Minggu Hafalan doa wiridan Tadarus AlQuran (sorogan) Belajar Tilawatil Quran tanggal 29 Oktober

c. Kurikulum dan Materi Pendidikan Agama Islam DTA Nurul Amanah Kurikulum yang digunakan di DTA Nurul amanah mengacu pada Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang disusun oleh Departemen Agama bagian Pendidikan Keagamaan Dan Pondok Pesantren Kabupaten Tasikmalaya. Materi pokok yang disampaikan dalam pelaksanaan

pembelajaran meliputi enam mata pelajaran untuk siang yaitu Akidah Akhlak, Fiqih Ibadah, Quran Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Bahasa Arab dan Praktek Ibadah. Sedangkan materi penunjangnya adalah sorogan Al-Quran, dan talaran (hafalan) Juz Ama. Materi-materi pokok dalam setiap mata

81

pelajaran tersebut mengacu pada buku paket. yang memuat sejumlah materi yang harus disampaikan dalam jangka waktu satu tahun. Sedangakan malam hari digunakan sebagai penunjang kegiatan diniyah dengan materi pokoknya belajar kitab kuning Sapinatunnaja dan Tijan. Dan sebagi materi tambahannya yaitu hafalan doa wiridan, do’a tahlilan, Al-Barjanji dan shalawat setiap malam jum’at, serta tilawatil Quran. (Wawancara dengan ustadz Kholis Fuadi pada tanggal 29 Oktober 2009). d. Metode Pendidikan Agama Islam DTA Nurul Amanah Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Kholis Fuadi, ustadzah Ai Nur Asiyah, ustadzah Didah dan ustadzah Oop Shopiyah pada tanggal 29 Oktober 2009 dan hasil observasi pada tanggal 30 Oktober sampai dengan tanggal 14 November 2009, metode Pendidikan Agama Islam yang diterapkan di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah antara lain: 1) Keteladanan Metode keteladanan digunakan oleh ustadz/ustadzah karena menurut beliau setiap santri membutuhkan sosok ideal dalam diri anak yang setiap ucapan dan perbuatannya akan selalu ditiru oleh anak. Cara yang dilakukan adalah setiap ustadz/ustadzah wajib memberikan contoh yang baik bagi santrinya, baik di DTA ataupun diluar lingkungan DTA, jangan sampai anak melihat perbuatan buruk dari ustadznya, seperti menyuruh anak datang tepat waktu

82

tapi ustadznya telat. Selain itu metode keteladanan diterapkan kepada setiap santri agar setiap santri menjadi tauladan bagi temantemannya yang lain.

2) Pembiasaan Metode pembiasaan yang diterapkan kepada santri adalah pembiasaan dalam bidang akhlak dan ibadah sehari-hari agar santri memiliki kedisiplinan, antara lain setiap hari santri wajib berbusana muslim atau berpakaian yang menutup aurat, berkata dan berperilaku yang sopan, menjaga kebersihan mesjid dan madrasah dari kotoran dan najis setiap hari, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, bertadarus Al-Quran sebelum belajar, adzan bergiliran bagi santri putra, shalat sunah sebelum ashar, berjamaah shalat ashar, mushafahah setelah salat ashar, shalat qobliyah maghrib, berjamaah shalat maghrib, shalat ba’diyah maghrib,

wiridan (dzikir dengan doa) setelah shalat maghrib, musafahah setelah shalat maghrib, tadarus Al-Quran setiap ba’da maghrib, (tahlilan, yasinan, belajar Al-barjanji, shalawat setiap malam jumat), tilawah Al-Quran, shalat sunnah qabliyah isya, shalat

berjamaah isya, shalat sunnah ba’diyah isya, dan shalat witir. 3) Nasihat Metode ini digunakan ustadz/ustadzah apabila santri terkadang melakukan kesalahan baik tidak disengaja ataupun yang

83

disengaja. Pada saat bermain, seringkali santri tidak sengaja mengucapkan kata-kata kasar, marah dan membuat teman menangis. Cara yang dilakukan adalah memberikan nasihat dengan kata-kata yang ramah, halus, dan menyenangkan bagi anak, sehingga santri punya kesadaran bahwa ustadnya perhatian dan sayang terhadap mereka. 4) Hukuman Metode hukuman digunakan ustadz/ustadzah untuk

menindak lanjuti kegiatan santri apabila santri melakukan kesalahan secara berulang-ulang setelah diberi nasihat. Hukuman yang diberikan biasanya hukuman yang dapat menambah pengetahuan santri seperti menghafal juz ama, hadits, atau do’ado’a untuk di tes sendirian. Sedangkan metode yang digunakan oleh ustadz/ustadzah dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah antara lain: 1) Ceramah Pada setiap mata pelajaran, metode ceramah selalu digunakan ustadz/ustadzah DTA Nurul Amanah, khususnya dalam proses pembelajaran klasikal. Menurut ustadz/ustadzah bahwa

ceramah sangat mudah digunakan untuk menerangkan berbagai pengertian, serta konsep-konsep yang berkaitan dengan materi yang bisa dipahami oleh santri, seperti menerangkan macam-

84

macam

najis,

syarat-syarat

shalat,

macam-macam

yang

membatalkan wudhu.

Untuk memudahkan pemahaman siswa,

sambil menyampaikan materi dengan ceramah, ustadz/ustadzah menuliskan poin-poin penting materi di papan tulis. 2) Tanya jawab Metode tanya jawab biasa dilakukan ustadz/ustadzah diawal pembelajaran dan diakhir pelajaran. Diawal pelajaran untuk mengulas materi sebelumnya dengan cara bertanya pada santri, atau bertanya tentang sejauh mana santri mengetahui materi yang akan dibahas. Sedangkan diakhir pelajaran digunakan untuk

mengetahui materi apa yang belum dipahami oleh santri dengan cara memberikan kesempatan pada santri untuk bertanya. Jika

tidak ada yang bertanya, maka ustadz/ memberikan pertanyaan kepada setiap santri satu persatu atau untuk dijawab secara rebutan. 3) Kisah/cerita Metode kisah sering digunakan poleh ustadz/ustadzah pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dan Sejarah Kebudayaan Islam, caranya ustadz bercerita tentang sejarah Nabi, Shahabat, atau orang-orang kafirin yang menentang perjuangan Nabi, kemudian menuliskan hikmah-hikmahnya di papan tulis, atau ustadz/ustadzah menyuruh santri membaca cerita/kisah dari buku, disuruh mencatat poin-poin pentingnya dan terakhir satu persatu santri maju kedepan untuk menceritakan serta menyampaikan hasil kerjanya.

85

4) Hafalan Metode hafalan digunakan ustadz/ustadzah untuk semua mata pelajaran yang berkaitan dengan materi berupa konsepkonsep ibadah seperti rukun wudhu, rukun shalat, macam-macam yang membatalkan shalat, rukun puasa dan sebagainya, serta materi-materi yang berkaitan dengan Al-Quran dan Hadits seperti talaran juz ama dan ayat-ayat pilihan, hafalan hadits, hafalan bacaan shalat, hafalan doa-doa wudhu, doa wiridan, doa tahlilan. Proses hafalan ini dilakukan secara bertahap, untuk hafalan Juz Ama minimal satu hari santri menghafal ayat Al-Quran 1-5 ayat. 5) Demontrasi/praktek Demontrasi/praktek dilakukan ustadz/ustadzah agar santri lebih memahami tata cara yang sesungguhnya yang harus dilaksanakan, khususnya dalam praktek ibadah sehari-hari. Dalam pelaksanaannya ustadz melakukan demontrasi pada tempat serta kejadian yang sebenarnya. Pada saat observasi diketahui ustadz menerangkan tata cara membersihkan najis, setelah diberikan konsep tentang pengertian, macam-macam najis serta tata cara menghiangkan najis, siswa dibawa keluar ruangan untuk menemukan kotoran cicak, kemudian ustadz mempraktekkannya dengan urut. Mula-mula bentuk

najisnya dibuang dengan potongan lap, lalu dibilas dengan lap yang sudah dibasahi air sampai warna dan baunya hilang, apalagi

86

kata ustadz sambil bergurau lebih baik apabila jika rasanya hilang. Setelah diberi contoh seperti itu, kemudian ustadz menyuruh santri mempraktekannya sendiri secara bergiliran.

6) Tugas Metode tugas digunakan ustadz/ustadzah untuk

membiasakan santri bertanggung jawab, serta memantapkan pemahaman santri terhadap materi yang telah disampaikan. Tugas yang diberikan umumnya berupa tugas hafalan, baik aya-ayat alQuran, hadits, doa-doa, untuk diberikan tes pada pertemuan berikutnya. 7) Dikte dan menyalin Metode dikte digunakan ustadz/ustadzah untuk

memberikan sejumlah keterampilan menulis, khususnya menulis arab, dan sering kali dilakukan pada pelajaran Quran-Hadits dan Bahasa Arab. Caranya ustadz/ustadzah mendikte apa yang harus ditulis santri atau menuliskannya di papan tulis untuk disalin oleh santri. 8) Latihan Metode latihan khusus diberikan pada materi-materi yang berisi keterampilan. Di DTA Nurul Amanah, latihan digunakan untuk melatih keterampilan siswa dalam hal membaca Al-Quran, seperti panjang pendeknya, makhrojnya, tadjwidnya, dalam hal

87

Tilawah seperti lagu-lagunya, apakah bayati, ros, nahawan dan sebaginya, juga dalam hal belajar membaca shalawat. Kemudian latihan mengumandangkan adzan dan iqomah, serta latihan menulis arab dengan indah dan rapi. 9) Percakapan Metode percakapan digunakan ustadz/ustadzah khususnya dalam proses pembelajaran Bahasa Arab. Caranya masing-masing santri secara bergiliran maju kedepan untuk mengadakan percakapan sesuai materi yang terdapat dalam buku paket. 10) Bandungan Metode bandungan ini digunakan khusus pelajaran kitab sapinatunnaja dan tijan pada malam hari. Caranya ustadz

membaca kitab, kemudian diikuti oleh santri, lalu ustadz mengartikannya, kemudian santri menirukan arti yang diucapkan ustadz. e. Media dan Sumber Belajar Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz ustadz Kholis Fuadi, ustadzah Ai Nur Asiyah, ustadzah Didah dan ustadzah Oop Shopiyah pada tanggal 29 Oktober 2009 dan observasi terhadap proses pembelajaran, media yang digunakan dalam proses pembelajaran hanya terfokus pada buku paket mata pelajaran, papan tulis dan media gambar, seperti gambar tata cara wudhu dan shalat.

88

Akan tetapi dalam kegiatan diluar pembelajaran, lingkungan sekitar sering dimanfaatkan sebagai sarana dan sumber belajar. Contohnya speker untuk praktek adzan dan iqomah, tanah untuk belajar tayamun, air dan tempat wudhu untuk belajar wudhu, sapu dan lap untuk belajar membersihkan najis. Jika ada yang meninggal dunia, anak diajak melayat, dan ikut menyolati jenazah, kemudian mengantar sampai kuburan, jika ada yang ulang tahun, nikahan, khitanan, ustadz senantiasa mengajak anak-anak untuk berjanjenan, jika hari libur ustadz mengajak siswa untuk kerjabakti bersama. f. Evaluasi Evaluasi yang dilakukan ustadz/ustadzah DTA Nurul Amanah antara lain ulangan harian setiap selesai satu pokok bahasan, Ulangan Tengah Semester (UTS), Ulanga Akhir Semester (UAS). Tekniknya berupa ujian lisan seperti hafalan, ujian tulisan dan praktek serta pengamatan terhadap ucapan dan sikap dari keseharian santri. Soal yang diberikan, untuk ulangan harian dan Ulangan

Tengah Semester (UTS), dibuat oleh ustadz/ustadzah, mengacu pada tujuan dan materi yang telah disampaikan sesuai buku paket. Sedangkan soal untuk Ulangan Akhir Semester (UAS) dibuat oleh Kelompok Kerja Diniyah Takmiliyah Kabupaten Tasikmalaya. Hasil rata-rata evaluasi di DTA seluruhnya diberikan ke SD Negeri Padawening sebagai nilai tambahan dalam penentuan akhir prestasi siswa di Sekolah Dasar apalagi jika tidak memenuhi Kriteria

89

Ketuntasan Minimal (KKM). (Wawancara dengan ustadz Kholis Fuadi pada tanggal 29 Oktober 2009). g. Kegiatan DTA Nurul Amanah Selain Pembelajaran Harian 1) Bekerjasama dengan SD Negeri Padawening mengadakan

Pendidikan Pesantren khusus bulan Ramadhan, karena setiap bulan Ramadhan sekolah formal khusunya di Tasikmalaya diliburkan, sehingga siswa wajib mengikuti Pesantren Ramadhan. 2) Bekerjasama dengan SD Negeri Padawening, ustadz/ustadzah mengisi materi pada peringatan khusus Isra Mi’raj, Maulid Nabi, serta melatih siswa Sekolah Dasar Padawening setiap akan mengikuti kegiatan perlombaan di tingkat kecamatan maupun kabupaten. 3) Bekerjasama dengan orang tua dan masyarakat dalam

memperingati hari-hari besar Islam. Yaitu Idul Adha (Qurban), Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj, Lomba antar DTA setiap tahun baru Islam. (Wawancara dengan Ustadz Kholis Fuadi pada tanggal 29 Oktober 2009). h. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Serta Upaya Mengatasinya Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Kholis Fuadi, ustadzah Ai Nur Asiyah, ustadzah Didah dan ustadzah Oop Shopiyah pada tanggal 29 Oktober 2009, terdapat beberapa paktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah.

90

1) Faktor Pendukung  Ustadz/Ustadzah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah semuanya merupakan lulusan pondok pesantren sehingga lebih banyak memiliki pengalaman dan pengetahuan agama Islam.  Kepala DTA Nurul Amanah merupakan pendidik yang memiliki latar belakang sebagai lulusan sarjana pendidikan, sehingga sedikit banyak mengetahui dasar-dasar tentang pendidikan.  Ustadz/Ustadzah DTA Nurul Amanah mau mengajar dengan sukarela meskipun tanpa imbalan materi, yang terpenting anak dapat belajar agama tiap hari dan terbiasa beribadah dan berperilaku sesuai ajaran agama Islam  Peran serta pengawasan orang tua dan masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan santri baik menyangkut kegiatan

pembelajaran di DTA, maupun kegiatan sehari-hari di lingkungan sekitar seperti peringatan hari-hari besar Islam.  Waktu yang digunakan dalam pembelajaran cukup banyak baik siang hari maupun malam hari.  Materi yang diberikan kepada santri tidak hanya sebagaimana yang ada pada kurikulum, tetapi ditambahkan dengan materi lain seperti talaran juz ama, belajar kitab kuning, doa wiridan. 2) Faktor Penghambat

91

 Terbatasnya tenaga pendidik dapat menghambat proses pembelajaran, apabila ustadz/ustadzah berhalangan hadir ke diniyah untuk mengajar  Ustadz/ustadzah DTA Nurul Amanah belum sepenuhnya memahami kurikulum dan perencanaan pembelajaran.  Perbedaan karakteristik masing-masing santri. Beberapa

diantaranya ada yang mudah memahami pelajaran dan ada yang lambat, ada yang keterampilan beribadahnya rajin tetapi ada juga yang kurang.  Media dan sumber belajar masih sangat minim, terpokus pada buku paket dan papan tulis. Buku paket yang digunakan hanya dipegang oleh ustadz/ustadzah, santri dibiasakan mencatat poin-poin penting dari buku dan penjelasan ustadz/ustadzah. 3) Upaya Mengatasinya  Pembinaan profesionalisme ustadz/ustadzah yang dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (KKDT) baik tingkat Kabupaten maupun tingkat Kecamatan.  Bekerjasama dengan orang tua, masyarakat dan pemerintah setempat untuk menggalang dana secara bertahap dalam memperbaiki serta menambah kelengkapan sarana, terutama media dan sumber belajar.  Memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang tersedia dengan sebaik-baiknya agar santri tetap belajar agama setiap hari.

92

2. Pelaksanaan

Pembelajaran

Pendidikan Agama

Islam

di

Diniyah

Takmiliyah Awaliyah (DTA) Miftahus Sa’adah a. Tujuan Pendidikan Agama Islam di DTA Miftahus Sa’adah Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Uca Ganda selaku Kepala DTA Miftahus Sa’adah tanggal 16 November 2009 dan keterangan ustadz/ustadzah mengemukakan bahwa secara umum Diniyah Takmiliyah Awaliyah di seluruh Kabupaten Tasikmalaya memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan dasar serta melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar, khususnya bagi anak-anak warga Dewan Kerja Mesjid (DKM) Miftahus Sa’adah yang semuanya sekolah di Sekolah Dasar Negeri Padawening. Sedangkan sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan, DTA Miftahus Sa’adah memiliki tujuan khusus yaitu agar para santri memiliki ilmu agama, beramal shaleh, berakhlak mulia, sehingga mereka menjadi manusia yang bertaqwa demi mencapai kebahagiaan fi dunya wal akhirat. b. Waktu Pendidikan Agama Islam di DTA Miftahus Sa’adah Pelaksanaan pembelajaran di DTA Miftahus Saadah

dilaksanakan pada waktu siang dan malam. Siang hari dilaksanakan setelah pulang Sekolah Dasar yaitu dari pukul 13.00 sampai pukul 15.30 (Ashar), dari mulai hari senin sampai kamis dan hari sabtu, hari jumat dan hari minggu merupakan hari libur. Sedangkan malam hari sebagai penunjang kegiatan intrakurikuler siang dimulai pukul 18.00 (maghrib) sampai dengan 19.30 (isya) setiap malam kecuali malam

93

sabtu karena diisi oleh pengajian mingguan bapak-bapak. (Wawancara dengan ustdaz Iip T Arifin pada tanggal 17 November 2009). Waktu dan materi kegiatan pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah dapat dilihat dari tabel berikut: Tabel 24. Jadwal Pembelajaran Siang DTA Miftahus Sa’adah Tahun Ajaran 2009/2010 Senin SKI SKI Kelas I Selasa Rabu Kamis Quran Akidah Fiqih dan Hadits Akhlak Praktek Ibadah Quran Akidah Fiqih dan Hadits Akhlak Praktek Ibadah Shalat Berjamaah Ashar Sabtu Bahasa Arab Bahasa Arab

Senin SKI SKI

Kelas II Selasa Rabu Bahasa Fiqih dan Arab Praktek Ibadah Bahasa Fiqih dan Arab Praktek Ibadah Shalat Berjamaah Ashar Kelas III Selasa Rabu Akidah Bahasa Akhlak Arab Akidah Bahasa Akhlak Arab Shalat Berjamaah Ashar Kelas IV Rabu Akidah Akhlak

Kamis Akidah Akhlak Akidah Akhlak

Sabtu Quran Hadits Quran Hadits

Senin Fiqih dan Praktek Ibadah Fiqih dan Praktek Ibadah

Kamis Quran Hadits Quran Hadits

Sabtu SKI SKI

Senin SKI

Selasa Quran Hadits

Kamis Fiqih dan Praktek Ibadah

Sabtu Bahasa Arab

94

SKI

Quran Akidah Fiqih dan Bahasa Hadits Akhlak Praktek Ibadah Arab Shalat Berjamaah Ashar Dokumentasi DTA Miftahus Sa’adah dikutip tanggal 17 November 2009).

Tabel 25. Jadwal Pembelajaran Malam DTA Miftahus Sa’adah Tahun Ajaran 2009/2010 Selasa Rabu Kamis Jumat Minggu Shalat Berjamaah Maghrib Sorogan Al-Quran Sorogan Sorogan Sorogan Sorogan Yasinan Al-Quran Al-Quran Al-Quran Al-Quran dan Kitab Sapinah Kitab Kitab Tilawah / AlTahlilan Tijan Sapinah Murattal Barjanji Shalat Berjamaah Isya Dokumentasi DTA Miftahus Sa’adah dikutip tanggal 17 November 2009). c. Kurikulum dan Materi Pendidikan Agama Islam Kurikulum yang digunakan di DTA Miftahus Sa’adah sama dengan kurikulum DTA Nurul Amanah yaitu mengacu pada Kurikulum Berbasis Kompetensi. Hal ini disesuaikan dengan kurikulum yang disusun oleh Departemen Agama bagian Pendidikan Keagamaan Dan Pondok Pesantren Kabupaten Tasikmalaya. Materi pokok yang disampaikan dalam pelaksanaan Senin

pembelajaran meliputi enam mata pelajaran untuk siang yaitu Akidah Akhlak, Fiqih Ibadah, Quran Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Bahasa Arab, dan Praktek Ibadah.

95

Sedangakan malam hari digunakan sebagai penunjang kegiatan diniyah dengan materi pokoknya belajar kitab kuning Sapinatunnaja, Tijan dan materi tambahannya yaitu Al-Barjanji, riyadhoh, murottal dan tilawatil Quran. (Wawancara dengan ustdaz Iip T Arifin pada tanggal 17 November 2009).

d. Metode Pendidikan Agama Islam di DTA Miftahus Sa’adah Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Iip T Arifin, ustadzah Aas dan ustadzah Dede Salamah pada tanggal 17 November 2009 dan observasi tanggal 17 November sampai 5 Desember 2009, metode Pendidikan Agama Islam yang diterpkan di DTA Miftahus Sa’adah antara lain: 1) Keteladanan Metode keteladanan digunakan oleh ustadz/ustadzah karena menurut beliau mendidik akhlak khususnya terhadap anak-anak sangat tepat jika dilakukakan dengan akhlak. Anak akan patuh, taat terhadap setiap pendidik apabila dalam diri pendidik memiliki sifat yang diidolakan anak, misalnya penyayang, penyabar, tidak pernah membentak, tidak pernah marah. Cara yang dilakukan adalah setiap ustadz/ustadzah wajib memberikan contoh yang baik bagi santrinya, baik di DTA ataupun diluar lingkungan DTA, selain itu setiap santri harus menjadi tauladan bagi santri lain. 2) Pembiasaan

96

Seperti halnya di DTA Nurul Amanah, metode pembiasaan yang diterapkan kepada santri adalah pembiasaan dalam bidang akhlak dan ibadah sehari-hari agar santri memiliki kedisiplinan, antara lain setiap hari santri wajib berbusana muslim atau berpakaian yang menutup aurat, berkata dan berperilaku yang sopan, menjaga kebersihan mesjid dan madrasah, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, bertadarus Al-Quran, adzan bergiliran bagi santri putra, shalat sunah sebelum ashar, berjamaah shalat ashar, mushafahah setelah salat ashar, shalat qobliyah maghrib, berjamaah shalat maghrib, shalat ba’diyah maghrib, wiridan

(dzikir dengan doa) setelah shalat maghrib, musafahah setelah shalat maghrib, tadarus Al-Quran setiap ba’da maghrib, (tahlilan, yasinan, shalawat setiap malam jumat), belajar Al-barjanji, tilawah Al-Quran, shalat sunnah qabliyah isya, shalat berjamaah isya, shalat sunnah ba’diyah isya, dan shalat sunnah witir minimal satu rakaat 3) Nasihat Metode ini digunakan ustadz/ustadzah apabila santri terkadang melakukan kesalahan baik tidak disengaja ataupun yang disengaja. Karena sifat anak-anak sangat mudah tersinggung, khususnya pada saat bermain, seringkali santri tidak sengaja mengucapkan kata-kata kasar, marah, mengejek teman. Cara yang dilakukan adalah memberikan nasihat dengan kata-kata yang

97

ramah, halus, dan menyenangkan bagi anak, sehingga santri tidak mudah tersinggung, dan akhirnya menyadari kesalahannya. 4) Hukuman Metode hukuman digunakan ustadz/ustadzah untuk

menindak lanjuti kegiatan santri apabila santri melakukan kesalahan secara berulang-ulang setelah diberi nasihat. Hukuman yang diberikan biasanya hukuman yang dapat menambah pengetahuan santri seperti menghafal surat-surat pendek, hadits, atau do’a-do’a. Sedangkan metode yang digunakan oleh ustadz/ustadzah dalam proes pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Miftahus Sa’adah antara lain: 1) Ceramah Pada setiap mata pelajaran, metode ceramah selalu digunakan ustadz/ustadzah DTA Miftahus Sa’adah, khususnya dalam proses pembelajaran klasikal. Untuk memudahkan

pemahaman siswa, sambil menyampaikan materi dengan ceramah, ustadz/ustadzah menuliskan poin-poin penting materi di papan tulis yang harus dicatat oleh santri, dipahami serta dihafal. 2) Tanya jawab Metode tanya jawab biasa dilakukan ustadz/ustadzah diawal pembelajaran dan diakhir pelajaran. Diawal pelajaran untuk mengulas materi sebelumnya dengan cara bertanya pada santri,

98

atau bertanya tentang sejauh mana santri mengetahui materi yang akan dibahas. Sedangkan diakhir pelajaran digunakan untuk

mengetahui materi apa yang belum dipahami oleh santri dengan cara memberikan kesempatan pada santri untuk bertanya, atau memberikan pertanyaan kepada setiap santri untuk mengetahui seberapa besar materi yang disampaikan dapat dikuasai santri. 3) Kisah/cerita Metode kisah sering digunakan poleh ustadz/ustadzah pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dan Sejarah Kebudayaan Islam. Caranya ustadz/ustadzah menceritakan tentang sejarah para Nabi, para Shahabat, atau orang-orang kafirin yang menentang perjuangan Nabi. Kemudian ustadz/ustadzah menuliskan hikmahhikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut di papan tulis. Atau ustadz/ustadzah menyuruh santri membaca cerita/kisah dari buku untuk disampaikan di depan teman-temannya, serta yang lain mendengarkan dan mencatat hikmah dari kisah tersebut. 4) Hafalan Metode hafalan digunakan ustadz/ustadzah agar materi yang telah disampaikan tidak cepat hilang dari ingatan anak, karena masa anak-anak merupakan masa dimana anak memiliki kecerdasan yang kuat. Materi yang dihafal khusunya materi yang dapat dipraktekan sehari-hari seperti dalam ibadah, misalnya rukun wudhu, doa-doa wudhu, rukun sahalat, bacaan dalam shalat, atau

99

materi-materi yang berkaitan dengan Al-Quran dan Hadits seperti talaran surat-surat pendek, ayat-ayat pilihan, hafalan hadits, hafalan doa, melalui proses hafalan secara bertahap setiap hari. 5) Demontrasi/praktek Metode ini dilakukan ustadz/ustadzah agar santri lebih memahami tata cara yang sesungguhnya yang harus dilaksanakan, khususnya dalam praktek ibadah sehari-hari. Metode praktek

khususnya dilakukan pada mata pelajaran fiqih dan praktek ibadah seperti praktek wudhu, praktek tayamum, praktek shalat, praktek membaca AL-Quran. 6) Tugas Metode tugas digunakan ustadz/ustadzah untuk

membiasakan santri bertanggung jawab, serta memantapkan pemahaman santri terhadap materi yang telah disampaikan. Tugas yang diberikan umumnya berupa tugas hafalan, baik aya-ayat alQuran, hadits, doa, untuk dites pada pertemuan berikutnya. 7) Dikte dan menyalin Metode dikte digunakan ustadz/ustadzah untuk

memberikan sejumlah keterampilan menulis, khususnya menulis arab, dan sering kali dilakukan pada pelajaran Quran-Hadits dan Bahasa Arab dengan cara ustadz/ustadzah mendikte apa yang harus ditulis santri. Sedangkan metode menyalin dilakukan

ustdaz/ustadzah dengan cara menuliskannya di papan tulis untuk

100

disalin oleh santri, atau santri menulis di papan tulis untuk disalin oleh santri lain. 8) Latihan Metode latihan khusus diberikan pada materi-materi yang berisi keterampilan. Seperti halnya di DTA Nurul Amanah, Di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Miftahus Sa’adah, latihan digunakan untuk melatih keterampilan siswa dalam hal membaca Al-Quran, seperti panjang pendeknya, makhrojnya, tadjwidnya, dan latihan Musabaqah Tilawatl Quran (MTQ), latihan

mengumandangkan adzan dan iqomah, serta latihan menulis arab dengan indah dan rapi. 9) Percakapan Metode percakapan digunakan ustadz/ustadzah khususnya dalam proses pembelajaran Bahasa Arab. Caranya masing-masing santri secara bergiliran maju kedepan untuk mengadakan percakapan sesuai materi yang terdapat dalam buku paket. 10) Bandungan Metode bandungan ini digunakan khusus pelajaran kitab sapinatunnaja dan tijan pada malam hari. Caranya ustadz

membaca kitab, kemudian diikuti oleh santri, lalu ustadz mengartikannya, kemudian santri menirukan arti yang diucapkan ustadz. e. Media dan Sumber Belajar

101

Seperti halnya di DTA Nurul Amanah, media yang digunakan dalam proses pembelajaran di DTA Miftahus Sa’adah terfokus pada buku paket mata pelajaran dan papan tulis. Namun terkadang

memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sarana dan sumber belajar. Contohnya speker untuk praktek adzan dan iqomah, air dan tempat wudhu untuk belajar wudhu. f. Evaluasi Pembelajaran Evaluasi yang dilaksanakan di DTA Miftahus Sa’adah yaitu ulangan harian, tugas, Ulangan Tengah Semester (UTS), Ulanga Akhir Semester (UAS). Tekniknya berupa ujian lisan, tulisan dan praktek serta pengamatan terhadap keseharian santri. Soal yang diberikan, untuk ulangan harian dan Ulangan Tengah Semester (UTS) dibuat oleh ustadz/ustadzah mengacu pada tujuan dan materi yang telah disampaikan sesuai dengan buku paket, sedangkan soal untuk Ulanga Akhir Semester (UAS) dibuat oleh Kelompok Kerja Diniyah Takmiliyah Kabupaten Tasikmalaya. Hasil rata-rata evaluasi di DTA diberikan ke SD Negeri Padawening sebagai nilai tambahan dalam menentukan hasil akhir prestasi siswa di Sekolah Dasar, apalagi jika tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). g. Kegiatan DTA Miftahus Sa’adah Selain Pembelajaran Harian Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Iip T Arifin pada tanggal 17 November 2009 ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan

102

oleh DTA Miftahus Sa’adah diluar kegiatan belajar sehari-hari dalam waktu satu tahun, antara lain: 1) Bekerjasama dengan SD Negeri Padawening mengadakan

Pendidikan Pesantren khusus bulan Ramadhan, karena setiap bulan Ramadhan sekolah formal khusunya di Tasikmalaya diliburkan, sebagai konsekuensinya selama sebulan penuh itu siswa wajib mengikuti Pesantren Ramadhan. 2) Bekerjasama dengan SD Negeri Padawening, ustadz/ustadzah mengisi materi pada peringatan khusus Isra Mi’raj, Maulid Nabi, serta melatih siswa Sekolah Dasar Padawening setiap akan mengikuti kegiatan perlombaan di tingkat kecamatan maupun kabupaten. 3) Bekerjasama dengan orang tua dan masyarakat dalam

memperingati hari-hari besar Islam. Yaitu Idul Adha (Qurban), Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj, Lomba antar Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) setiap tahun baru Islam. h. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Serta Upaya Mengatasinya Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Iip T Arifin,

ustadzah Aas dan ustadzah Dede Salamah pada tanggal 17 November 2009, diperoleh keterangan sebagai berikut 1) Faktor Pendukung  Waktu yang digunakan dalam pembelajaran di DTA Miftahus Sa’adah cukup banyak baik siang hari maupun malam hari.

103

 Ustadz/Ustadzah DTA Miftahus Sa’adah semuanya merupakan lulusan pondok pesantren sehingga lebih banyak memiliki pengalaman dan pengetahuan agama Islam.  Ustadz/Ustadzah DTA Miftahus Sa’adah mau mengajar dengan sukarela meskipun tanpa imbalan materi, yang terpenting anak dapat belajar agama tiap hari dan terbiasa beribadah dan berperilaku sesuai ajaran agama Islam  Peran serta pengawasan orang tua dan masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan santri baik menyangkut kegiatan

pembelajaran di DTA, maupun kegiatan sehari-hari di lingkungan sekitar seperti peringatan hari-hari besar Islam.  Materi yang diberikan kepada santri tidak hanya sebagaimana yang ada pada kurikulum, tetapi ditambahkan dengan materi lain seperti, belajar kitab kuning, Tilawatil Quran, dan AlBarjanji. 2) Faktor Penghambat  Ustadz/ustadzah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Miftahus Sa’adah belum sepenuhnya memahami kurikulum dan

perencanaan pembelajaran  Terbatasnya tenaga pendidik dapat menghambat proses pembelajaran, apabila ustadz/ustadzah berhalangan hadir ke diniyah untuk mengajar.

104

 Perbedaan karakteristik masing-masing santri.

Beberapa

diantaranya ada yang mudah memahami pelajaran dan ada yang lambat, ada yang keterampilan beribadahnya rajin tetapi ada juga yang kurang.  Media dan sumber belajar masih sangat minim, terpokus pada buku paket dan papan tulis. Buku paket yang digunakan hanya dipegang oleh ustadz/ustadzah, santri dibiasakan mencatat poin-poin penting dari buku dan penjelasan ustadz/ustadzah. 3) Upaya Mengatasinya  Pembinaan profesionalisme ustadz/ustadzah yang dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (KKDT) baik tingkat Kabupaten maupun tingkat Kecamatan.  Bekerjasama dengan orang tua, masyarakat dan pemerintah setempat untuk menggalang dana secara bertahap dalam memperbaiki serta menambah kelengkapan sarana, terutama media dan sumber belajar.  Memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang tersedia dengan sebaik-baiknya agar santri tetap belajar agama setiap hari 3. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Diniyah

Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Ittihad a. Tujuan Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam DTA Al-Ittihad Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Lili Sukarto selaku Kepala DTA Al-Ittihad tanggal 7 Desember 2009,

105

mengemukakan bahwa tujuan umum Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Ittihad sama dengan tujuan umum DTA Nurul Amanah dan DTA Miftahus Sa’adah yaitu memberikan dasar sekaligus melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar, khususnya bagi anak-anak warga Dewan Kerja Mesjid (DKM) Al-Ittihad. Sedangkan sebagai sebuah lembaga keagamaan, sesuai dengan visinya bahwa pelaksanaan Pendidikan Agama Islam yang

dilaksanakan di DTA Al-Ittihad bertujuan agar santri memiliki ilmu agama, beramal shaleh dan berakhlak mulia, menuju manusia dewasa yang bertaqwa, berguna bagi agama, bangsa dan Negara. b. Waktu Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam DTA Al-Ittihad. Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di DTA Al-Ittihad dilaksanakan hanya pada siang hari setelah pulang Sekolah Dasar yaitu dari pukul 13.30 sampai pukul 15.30 (Ashar), dari mulai hari senin sampai kamis. Hari jumat, sabtu dan minggu merupakan hari libur. (Wawancara dengan ustadzah Halimah pada tanggal 10 Desember 2009). Tabel 26. Jadwal Pembelajaran DTA Al-Ittihad Tahun Ajaran 2009/2010 Waktu 13.30-14.00 14.00-14.30 14.30-15.00 Kelas I-Kelas IV Senin Selasa Rabu Doa Sebelum Belajar Fiqih Ibadah Quran Hadits SKI Fiqih Ibadah Praktek Quran Hadits Hafalan Juz SKI Akidah Kamis Bahasa Arab Bahasa Arab Kaligerafi

106

Ibadah Ama Akhlak Praktek Hafalan Juz Akidah Kaligerafi Ibadah Ama Akhlak 15.15-15.30 Sorogan AlSorogan AlSorogan AlSorogan Quran Quran Quran Al-Quran Shalat Berjamaah Ashar Sumber: (Dokumentasi DTA Al-Ittihad Dikutip Tanggal 10 Desember 2009) 15.00-15.15 c. Kurikulum dan materi pembelajaran Kurikulum yang digunakan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Ittihad sama dengan kurikulum DTA Nurul Amanah dan DTA Miftahus Sa’adah yaitu mengacu pada Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dalam pelaksanaan pembelajarannya mengacu pada

buku paket yang disusun oleh Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya. Materi yang disampaikan dalam pelaksanaan pembelajaran meliputi enam ata pelajaran untuk siang yaitu Akidah Akhlak, Fiqih Ibadah, Quran Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Bahasa Arab, dan Praktek Ibadah. Materi-materi dalam setiap mata pelajaran

tersebut mengacu pada buku paket pelajaran (Wawancara dengan ustadzah Halimah dan ustadzah Yuyu Yuhainah pada tanggal 10 Desember 2009). d. Metode Pendidikan Agama Islam DTA Al-Ittihad Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadzah Halimah, ustadzah Yuyu Yuhainah, ustadzah Rani dan ustadzah Derti pada tanggal 10 Desember 2009 dan observasi tanggal 10-26 Desember

107

2009, metode Pendidikan Agama Islam yang diterpkan di DTA AlIttihad antara lain: 1) Keteladanan Metode keteladanan digunakan oleh ustadzah dalam kegiatan sehari adalah setiap ustadzah wajib memberikan contoh yang baik bagi santrinya, baik di DTA ataupun diluar lingkungan DTA, jangan sampai anak melihat perbuatan buruk dari ustadznya. Selain itu metode keteladanan diterapkan kepada setiap santri agar setiap santri menjadi tauladan bagi teman-temannya yang lain. 2) Pembiasaan Metode pembiasaan yang diterapkan kepada santri adalah pembiasaan dalam bidang akhlak dan ibadah sehari-hari agar santri memiliki kedisiplinan, antara lain setiap hari santri wajib berbusana muslim atau berpakaian yang menutup aurat, berkata dan berperilaku yang sopan, menjaga kebersihan mesjid dan madrasah, berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, bertadarus Al-Quran, adzan bergiliran bagi santri putra, shalat sunah sebelum ashar, berjamaah shalat ashar, mushafahah setelah salat ashar. 3) Nasihat Metode ini digunakan ustadzah apabila santri terkadang melakukan kesalahan baik tidak disengaja ataupun yang disengaja, misalnya tidak sengaja mengucapkan kata-kata kasar, marah, mengejek temannya yang lain. Cara yang dilakukan adalah

108

memberikan nasihat dengan kata-kata yang ramah, halus, dan menyenangkan bagi anak, sehingga santri tidak tersinggung dan punya kesadaran akan kesalahannya. 4) Hukuman Metode hukuman digunakan ustadzah untuk menindak lanjuti kegiatan santri apabila santri melakukan kesalahan secara berulang-ulang setelah diberi nasihat. Hukuman yang diberikan biasanya hukuman yang dapat menambah pengetahuan santri seperti menghafal surat pendek, hadits, do’a dan ayat-ayat pilihan. Sedangkan metode yang digunakan oleh ustadzah dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Al-Ittihad antara lain: 1) Ceramah Pada setiap mata pelajaran, metode ceramah selalu digunakan ustadzah DTA Al-Ittihad, khususnya dalam proses pembelajaran klasikal. Menurut ustadzah ceramah sangat mudah digunakan untuk menyampaikan materi apalagi tidak ada media yang dipakai. Untuk memudahkan pemahaman siswa, sambil

menyampaikan materi dengan ceramah, ustadzah menuliskan poinpoin penting materi di papan tulis yang harus dicatat, dipahami serta dihafal oleh santri. 2) Tanya jawab

109

Metode tanya jawab biasa dilakukan ustadz/ustadzah diawal pembelajaran dan diakhir pelajaran. Diawal pelajaran untuk mengulas materi sebelumnya dengan cara bertanya pada santri, atau bertanya tentang sejauh mana santri mengetahui materi yang akan dibahas. Sedangkan diakhir pelajaran digunakan untuk mengetahui materi apa yang belum dipahami oleh santri dengan cara memberikan kesempatan pada santri untuk bertanya, juga memberikan pertanyaan kepada setiap santri untuk mengetahui seberapa besar materi yang telah disampaikan dipahami oleh santri. 3) Kisah/cerita Metode kisah sering digunakan poleh ustadz/ustadzah khususnya pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dan Sejarah Kebudayaan Islam, caranya ustadz/ustadzah menceritakan tentang sejarah atau kisah para Nabi, Shahabat, atau orang-orang kafirin yang menentang perjuangan Nabi, kemudian menuliskan hikmahhikmahnya di papan tulis, atau terkadang ustadzah menyuruh santri membaca cerita/kisah dari buku, disuruh mencatat poin-poin pentingnya dan terakhir satu persatu santri maju kedepan untuk menceritakannya kembali. 4) Hafalan Metode hafalan digunakan ustadz/ustadzah agar materi yang telah disampaikan tidak cepat hilang dari ingatan anak,

110

karena masa anak-anak merupakan masa dimana anak memiliki kecerdasan yang kuat. Materi yang dihafal khusunya materi yang dapat dipraktekan sehari-hari seperti dalam ibadah, misalnya rukun wudhu, doa-doa wudhu, rukun sahalat, bacaan dalam shalat, atau materi-materi yang berkaitan dengan Al-Quran dan Hadits seperti talaran juz ama dan ayat-ayat pilihan, hafalan hadits, serta hafalan doa. 5) Demontrasi/praktek Demontrasi/praktek dilakukan ustadzah agar santri lebih memahami tata cara yang sesungguhnya yang harus dilaksanakan, khususnya dalam praktek ibadah sehari-hari, yaitu pada mata pelajaran fiqih dan praktek ibadah. Dalam pelaksanaannya

ustadzah melakukan demontrasi pada tempat serta kejadian yang sebenarnya. Misalnya praktek shalat santri langsung dibawa ke mesjid, wudhu dibawa ketempat wudhu. 6) Tugas Metode tugas digunakan ustadzah untuk membiasakan santri bertanggung jawab, serta memantapkan pemahaman santri terhadap materi yang telah disampaikan. Tugas yang diberikan umumnya berupa tugas hafalan, baik aya-ayat Al-Quran, hadits, doa-doa, untuk diberikan tes pada pertemuan berikutnya. 7) Dikte/menyalin

111

Metode

dikte

digunakan

ustadz/ustadzah

untuk

memberikan sejumlah keterampilan menulis, khususnya menulis arab, dan sering kali dilakukan pada pelajaran Quran-Hadits dan Bahasa Arab dengan cara ustadz/ustadzah mendikte apa yang harus ditulis santri. Sedangkan metode menyalin dilakukan

ustdaz/ustadzah dengan cara menuliskannya di papan tulis untuk disalin oleh santri, atau santri menulis di papan tulis untuk disalin oleh santri lain. 8) Latihan Metode latihan khusus diberikan pada materi-materi yang berisi keterampilan. Metode latihan digunakan untuk melatih keterampilan siswa dalam hal membaca Al-Quran, seperti panjang pendeknya, makhrojnya, tadjwidnya, kemudian latihan

mengumandangkan adzan dan iqomah, serta latihan menulis arab dengan indah dan rapi. 9) Percakapan Metode percakapan digunakan ustadzah khususnya dalam proses pembelajaran Bahasa Arab. Caranya masing-masing santri secara bergiliran maju kedepan untuk mengadakan percakapan sesuai materi yang terdapat dalam buku paket. e. Media dan Sumber Belajar Seperti halnya di DTA Nurul Amanah, media yang digunakan dalam proses pembelajaran di DTA Al-Ittihad terfokus pada buku paket

112

mata pelajaran dan papan tulis.

Namun terkadang memanfaatkan Contohnya

lingkungan sekitar sebagai sarana dan sumber belajar.

speker untuk praktek adzan dan iqomah, air dan tempat wudhu untuk belajar wudhu. f. Evaluasi Evaluasi yang dilaksanakan di DTA Al-Ittihad yaitu ulangan harian, tugas, Ulangan Tengah Semester (UTS), Ulanga Akhir Semester (UAS). Tekniknya berupa ujian lisan, tulisan dan praktek. Soal yang diberikan, untuk ulangan harian dan Ulangan Tengah

Semester (UTS) dibuat oleh ustadz/ustadzah mengacu pada tujuan dan materi yang telah disampaikan sesuai dengan buku paket, sedangkan soal untuk Ulanga Akhir Semester (UAS) dibuat oleh Kelompok Kerja Diniyah Takmiliyah Kabupaten Tasikmalaya. Selanjutnya hasil rata-rata evaluasi di DTA Al-Ittihad diberikan ke guru Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Padawening sebagai nilai tambahan untuk menentukan nilai akhir siswa apalagi jika di Sekolah Dasar prestasi siswa tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). g. Kegiatan DTA Al-Ittihad Selain Pembelajaran Harian Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadzah Halimah dan ustadzah Yuyu Yuhaenah pada tanggal 10 Desember 2009 ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh DTA Al-Ittihad diluar kegiatan belajar sehari-hari dalam waktu satu tahun, antara lain:

113

1) Bekerjasama

dengan

SD

Negeri

Padawening

mengadakan

Pendidikan Pesantren khusus bulan Ramadhan, karena setiap bulan Ramadhan sekolah formal khusunya di Tasikmalaya diliburkan, sehingga siswa wajib mengikuti Pesantren Ramadhan. 2) Bekerjasama dengan SD Negeri Padawening, ustadz/ustadzah mengisi materi pada peringatan khusus Isra Mi’raj, Maulid Nabi, serta melatih siswa Sekolah Dasar Padawening setiap akan mengikuti kegiatan perlombaan di tingkat kecamatan maupun kabupaten. 3) Bekerjasama dengan orang tua dan masyarakat dalam

memperingati hari-hari besar Islam. Yaitu Idul Adha (Qurban), Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj, Lomba antar DTA setiap tahun baru Islam. h. Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Serta Upaya Mengatasinya Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadzah Halimah ustadzah Yuyu Yuhainah, ustadzah Rani pada DTA Miftahus Sa’adah tanggal 10 Desember 2009, diperoleh keterangan sebagai berikut: 1) Faktor Pendukung  Ustadz/Ustadzah DTA Al-Ittihad mau mengajar dengan sukarela meskipun tanpa imbalan materi, yang terpenting anak dapat belajar agama tiap hari dan terbiasa beribadah dan berperilaku sesuai ajaran agama Islam

114

 Peran serta pengawasan orang tua dan masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan santri baik menyangkut kegiatan

pembelajaran di DTA, maupun kegiatan sehari-hari di lingkungan sekitar seperti peringatan hari-hari besar Islam.  Fasilitas belajar yang memadai sehingga menimbulkan kenyamanan bagi santri maupun ustadzah dalam melaksanakan pembelajaran. 2) Faktor Penghambat  Perbedaan karakteristik masing-masing santri. Beberapa

diantaranya ada yang mudah memahami pelajaran dan ada yang lambat, ada yang keterampilan beribadahnya rajin tetapi ada juga yang kurang.  Terbatasnya tenaga pendidik dapat menghambat proses pembelajaran, apabila ustadzah berhalangan hadir ke diniyah untuk mengajar  Ustadz/ustadzah DTA Al-Ittihad belum sepenuhnya memahami kurikulum dan perencanaan pembelajaran.  Media dan sumber belajar masih sangat minim, terpokus pada buku paket dan papan tulis. Buku paket yang digunakan hanya dipegang oleh ustadz/ustadzah, santri dibiasakan mencatat poin-poin penting dari buku dan penjelasan ustadz/ustadzah.

115

 Kurangnya dorongan orang tua terhadap santri, karena masih ada sebagian santri yang jarang masuk diniyah. santri tersebut banyak ketinggalan pelajaran.  Tidak ada kegiatan pembelajaran di malam hari karena belum ada kesiapan dari pihak tenaga pengajar, sehingga pendidikan agama yang diperoleh santri di DTA Al-Ittihad lebih sedikit jika dibandingkan dengan DTA Nurul Amanah dan Miftahus Sa’adah. 3) Upaya Mengatasinya  Pembinaan profesionalisme ustadz/ustadzah yang dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (KKDT) baik tingkat Kabupaten maupun tingkat Kecamatan.  Bekerjasama dengan orang tua, masyarakat dan pemerintah setempat untuk menggalang dana secara bertahap dalam memperbaiki serta menambah kelengkapan sarana, terutama media dan sumber belajar.  Memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang tersedia dengan sebaik-baiknya agar santri tetap belajar agama setiap hari.  Memanggil orang tua santri dan melakukan musyawarah agar lebih memperhatikan putra-putrinya terutama agar santri rajin berangkat ke diniyah untuk mengikuti pembelajaran. B. Analisis Data Sehingga

116

1. Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah a. Segi Tujuan Ditinjau dari segi tujuan, Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Amanah bertujuan melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar, sedangkan visi SD Negeri Padawening yaitu membentuk

manusia yang cerdas, terampil dan bernuansa islami, dengan salah satu misinya adalah meningkatkan budaya islami bagi seluruh warga sekolah dan mempererat hubungan sekolah dengan lingkungan sekitar. Maka ditinjau dari segi tujuan, SD Negeri Padawening dan Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul Amanah memiliki hubungan yang erat. Dengan tujuan dan tersebut, Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul dapat memberikan kemudahan bagi tercapainya Visi dan Misi SD Negeri Padawening, sehingga dapat menunjang bagi Keberhasilan Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Padawening. b. Segi Waktu Ditinjau dari segi waktu belajar, waktu belajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar adalah maksimal 3 jam pelajaran setiap minggu dengan alokasi waktu 35 menit 1 jam pelajarannya. Sedangkan waktu pembelajaran di DTA Nurul Amanah mencapai 18 jam pelajaran setiap minggu. Di Sekolah Dasar siswa belajar agama satu hari, sedangkan di DTA Nurul Amanah siswa belajar agama mulai dari senin sampai kamis dan sabtu. Kemudian ditambah dengan

117

kegiatan di malam hari dari maghrib sampai dengan isya. Dengan demikian DTA Nurul Amanah memberikan jumlah waktu belajar yang lebih banyak bagi para siswa dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam, sehingga akan sangat menunjang bagi tercapainya keberhasilan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. c. Segi Materi Ditinjau dari segi materi yang diajarkan, Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah telah menerapkan program

Pendidikan Agama Islam sesuai dengan struktur kurikulum Diniyah Takmiliyah Awwaliyah pada umumnya, meskipun masih mengacu sepenuhnya terhadap kurikulum yang disusun oleh Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya. Apabila dibandingkan antara materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar dengan materi Pendidikan Agama Islam di DTA Nurul Amanah, materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar tergabung menjadi satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sedangkan materi di DTA Nurul Amanah terpisah dan memiliki satu mata pelajaran khusus yang masing-masing berdiri sendiri menjadi satu mata pelajaran. Ditambah lagi dengan Bahasa Arab, Praktek

Ibadah dan pelajaran kitab kuning Sapinatunnaja dan Tijan, Tilawatil Quran, Al-Barjanji, Shalawat, serta do’a wiridan. Dengan demikian ditinjau dari segi materi, DTA Nurul Amanah memberikan materi Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak, lebih

118

luas dan mendalam sehingga dapat menambah serta menunjang bagi siswa untuk lebih menguasai materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. d. Segi Metode Ditinjau dari segi metode, Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah menerapkan metode yang beragam sehingga

memberikan kemudahan kepada para santri dalam memahami sejumlah materi Pendidikan Agama Islam. Selain itu, melalui metode pembiasaan yang diterapkan, Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Nurul telah memberikan bimbingan pengalaman serta pengamalan ibadah dan akhlak bagi siswa Sekolah Dasar untuk terbiasa beribadah dan berperilaku sesuai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. e. Segi Media Melalui pemanfaatan sarana dan lingkungan sekitar sebagai media dan sumber belajar, serta mengikut sertakan para santri dalam situasi sosial yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam, setiap anak didik akan merasa bangga dan senang. Selain itu, dengan

memanfaatkan sarana yang ada seperti mesjid tidak hanya digunakan untuk tempat khusus ibadah shalat, tetapi dijadikan tempat baca AlQuran, tempat belajar, kemudian sarana speker untuk latihan adzan dan iqomah, ada tempat wudhu untuk belajar wudhu, sarana-sarana seperti itu akan memberikan kemudahan bagi santri dalam mengaplikasikan hasil belajarnya.

119

f. Segi Evaluasi Jika ditinjau dari segi evaluasi, DTA Nurul Amanah tidak hanya memandang keberhasilan siswa dari faktor kecerdasan semata, tetapi memadukan antara penilaian terhadap pengetahuan, sikap seharihari dan keterampilan ibadah, karena di DTA ustadz/ustadzah akan lebih memahami setiap karakter masing-masing santri. Apalagi dari hasil akhir penilaian ustadz/ustadzah diberikan kepada guru

Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Dengan demikian jika ditinjau dari segi evaluasai, DTA Nurul Amanah memberikan kontribusi terhadap penentuan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. g. Segi Kegiatan Tahunan Melalui kerjasama antara DTA Nurul Amanah, Sekolah Dasar Negeri Padawening dan masyarakat dalam melaksanakan kegiatankegiatan keagamaan, DTA Nurul Amanah memberikan kontribusi yang sangat besar tidak hanya dalam memberikan ilmu pengetahuan agama bagi anak-anak, tetapi dalam memelihara dan mensiarkan tradisi serta budaya Islam. 2. Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA Miftahus Sa’adah a. Segi Tujuan Ditinjau dari segi tujuan, Diniyah Takmiliyah Miftahus Sa,adah bertujuan melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar,

120

sedangkan Visi SD Negeri Padawening yaitu membentuk manusia yang cerdas, terampil dan bernuansa islami, dengan salah satu misinya adalah meningkatkan budaya islami bagi seluruh warga sekolah dan mempererat hubungan sekolah dengan lingkungan sekitar. Maka

ditinjau dari segi tujuan, Sekolah Dasar Negeri Padawening dan Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA) Miftahus Sa’adah memiliki hubungan yang erat, dimana DTA Miftahus Sa’adah dengan Visinya yaitu membentuk manusia yang beriman, berilmu, beramal shaleh dan berakhlak mulia menuju kebahagiaan fi dunya wal akhirat, dapat memberikan kemudahan bagi tercapainya Visi dan Misi SD Negeri Padawening, sehingga dapat menunjang bagi Keberhasilan Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Padawening. b. Segi Waktu Jika ditinjau dari segi waktu belajar, waktu belajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar adalah maksimal 3 jam pelajaran setiap minggu dengan alokasi waktu 35 menit 1 jam pelajarannya. Sedangkan waktu pembelajaran di DTA Miftahus Sa’adah mencapai 18 jam pelajaran setiap minggu. Di Sekolah Dasar siswa belajar

agama satu hari sedangkan di DTA siswa belajar agama mulai dari senin sampai kamis dan sabtu. Kemudian ditambah dengan kegiatan di malam hari dari maghrib sampai dengan isya. Dengan demikian jika ditinjau dari segi waktu, DTA Miftahus Sa’adah memberikan jumlah waktu belajar yang lebih banyak bagi

121

para siswa dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam, sehingga sangat menunjang bagi tercapainya keberhasilan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. c. Segi Materi Ditinjau dari segi materi yang diajarkan, materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar tergabung menjadi satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sedangkan materi di DTA Miftahus Sa’adah terpisah dan memiliki satu mata pelajaran khusus yang masing-masing berdiri sendiri menjadi satu macam mata pelajaran. Ditambah lagi dengan Bahasa Arab, Praktek Ibadah dan pelajaran kitab kuning Sapinatunnaja dan Tijan serta Tilawatil Quran. Dengan demikian, DTA Miftahus Sa’adah memberikan materi Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak, lebih luas dan mendalam sehingga dapat menambah serta menunjang bagi siswa untuk lebih menguasai materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. d. Segi Metode Ditinjau dari segi metode, DTA Miftahus Sa’adah memiliki banyak metode pembelajaran yang terbiasa diterapkan ustadz/ustadzah, baik dalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran. Dengan

metode seperti itu materi yang disampaikan oleh ustadz akan cepat dipahami serta diamalkan oleh santri. Apalagi jika melihat penerapan ibadah dan akhlak melalui metode pembiasaan santri setiap hari. Suasana dan kegiatan-kegiatan seperti itu, semakin lama akan

122

membentuk kebiasaan serta kesadaran dalam jiwa anak untuk senantiasa beribadah. Melalui metode pembiasaan seperti itu, Diniyah Takmiliyah Awwaliyah Miftahus Sa’adah memberikan banyak bimbingan terhadap pengalaman serta pengamalan ibadah dan akhlak siswa dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya akan membentuk kebiasaan serta kesadaran dalam jiwa anak untuk senantiasa beribadah. e. Segi Media Melalui pemanfaatan sarana dan lingkungan sekitar sebagai media dan sumber belajar, serta mengikut sertakan para santri dalam situasi sosial yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam, setiap anak didik akan merasa bangga dan senang. Selain itu, dengan

memanfaatkan sarana yang ada seperti mesjid tidak hanya digunakan untuk tempat khusus ibadah shalat, tetapi dijadikan tempat baca AlQuran, tempat belajar, kemudian sarana speker untuk latihan adzan dan iqomah, ada tempat wudhu untuk belajar wudhu, sarana-sarana seperti itu akan memberikan kemudahan bagi santri dalam mengaplikasikan hasil belajarnya. f. Segi Evaluasi Jika ditinjau dari segi evaluasi, DTA Miftahus Sa’adah tidak hanya memandang keberhasilan siswa dari faktor kecerdasan semata, tetapi memadukan antara penilaian terhadap pengetahuan, sikap seharihari dan keterampilan ibadah, karena di DTA ustadz/ustadzah akan lebih memahami setiap karakter masing-masing santri. Apalagi dari

123

hasil

akhir

penilaian

ustadz/ustadzah

diberikan

kepada

guru

Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Dengan demikian jika ditinjau dari segi evaluasai, DTA Miftahus Sa’adah memberikan kontribusi terhadap penentuan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. g. Segi Kegiatan Tahunan Kegiatan diluar pembelajaran yang dilaksanakan di DTA Miftahus Sa’adah memiliki kesamaan dengan kegiatan di DTA Nurul Amanah. Dengan demikian melalui kerjasama antara DTA Miftahus Sa’adah, Sekolah Dasar Negeri Padawening dan masyarakat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan tersebut, DTA Miftahus Sa’adah memberikan kontribusi yang sangat besar terutama dalam memberikan ilmu pengetahuan agama bagi anak-anak, orang tua dan masyarakat, serta dalam memelihara dan mensiarkan tradisi serta budaya Islam. 3. Analisis Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di DTA AlIttihad a. Segi Tujuan Ditinjau dari segi tujuan, Diniyah Takmiliyah Awaliyah Nurul Amanah bertujuan melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar, sedangkan visi SD Negeri Padawening yaitu membentuk

manusia yang cerdas, terampil dan bernuansa islami, dengan salah satu misinya adalah meningkatkan budaya islami bagi seluruh warga

124

sekolah dan mempererat hubungan sekolah dengan lingkungan sekitar. Maka ditinjau dari segi tujuan, SD Negeri Padawening dan Diniyah Takmiliyah Awaliyah Al-Ittihad memiliki hubungan yang erat, DTA Al-Ittihad dengan visinya yaitu membentuk santri agar memiliki ilmu agama, beramal shaleh dan berakhlak mulia, menuju manusia dewasa yang bertaqwa, berguna bagi agama, bangsa dan Negara, dapat memberikan kemudahan bagi tercapainya Visi dan Misi SD Negeri Padawening, sehingga dapat menunjang bagi Keberhasilan Pendidikan Agama Islam di SD Negeri Padawening. b. Segi Waktu Jika ditinjau dari segi waktu belajar, waktu belajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar adalah maksimal 3 jam pelajaran setiap minggu dengan alokasi waktu 35 menit 1 jam pelajarannya. Sedangkan waktu pembelajaran di DTA Al-Ittihad, siswa belajar Pendidikan Agama Islam mulai dari senin sampai kamis. Walaupun jika dibandingkan dengan waktu belajar di DTA Nurul Amanah dan DTA Miftahus Sa’adah lebih sedikit. Dengan demikian jika ditinjau dari segi waktu, DTA Al-Ittihad memberikan jumlah waktu belajar yang lebih banyak bagi para siswa dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam, sehingga sangat menunjang bagi tercapainya keberhasilan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. c. Segi Materi

125

Ditinjau dari segi materi yang diajarkan, DTA Al-Ittihad telah menerapkan program Pendidikan Agama Islam sesuai dengan struktur kurikulum Diniyah Takmiliyah Awwaliyah pada umumnya, meskipun masih mengacu sepenuhnya terhadap kurikulum yang disusun oleh Departemen Agama Kabupaten Tasikmalaya. Apabila dibandingkan antara materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar dengan materi Pendidikan Agama Islam di DTA AlIttihad, materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar tergabung menjadi satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sedangkan materi di DTA Al-Ittihad terpisah dan memiliki satu mata pelajaran khusus yang masing-masing berdiri sendiri menjadi satu mata pelajaran. Ditambah lagi dengan Bahasa Arab, Praktek Ibadah. Dengan demikian ditinjau dari segi materi, DTA Al-Ittihad memberikan materi Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak, lebih luas dan mendalam sehingga dapat menambah serta menunjang bagi siswa untuk lebih menguasai materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. d. Segi Metode Ditinjau dari segi metode, DTA Al-Ittihad memberikan kemudahan kepada para santri dalam memahami sejumlah materi Pendidikan Agama Islam dan membentuk kepribadian siswa dengan cara memberikan bimbingan pengalaman serta pengamalan ibadah bagi siswa Sekolah Dasar untuk terbiasa beribadah dan berperilaku

126

sesuai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun

pembiasaan ibadah sehari-hari yang diterapkan DTA Al-Ittihad lebih sedikit jika dibandingkan dengan pembiasaan di DTA Nurul Amanah dan Miftahus Sa’adah, tetapi Diniyah Takmiliyah Awwaliyah AlIttihad telah memberikan bimbingan terhadap pengalaman serta pengamalan ibadah dan akhlak siswa dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya akan membentuk kebiasaan serta kesadaran dalam jiwa anak untuk senantiasa beribadah. e. Segi Media Melalui pemanfaatan sarana dan lingkungan sekitar sebagai media dan sumber belajar, serta mengikut sertakan para santri dalam situasi sosial yang mengandung nilai-nilai ajaran Islam, setiap anak didik akan merasa bangga dan senang. Selain itu, dengan

memanfaatkan sarana yang ada seperti mesjid tidak hanya digunakan untuk tempat khusus ibadah shalat, tetapi dijadikan tempat baca AlQuran, tempat belajar, kemudian sarana speker untuk latihan adzan dan iqomah, ada tempat wudhu untuk belajar wudhu, sarana-sarana seperti itu akan memberikan kemudahan bagi santri dalam mengaplikasikan hasil belajarnya. f. Segi Evaluasi Ditinjau dari segi evaluasi, DTA Al-Ittihad melaksanakan evaluasi seperti di DTA Nurul Amanah dan Miftahus Sa’adah. Tidak hanya memandang keberhasilan siswa dari faktor kecerdasan semata,

127

tetapi memadukan antara penilaian terhadap pengetahuan, sikap seharihari dan keterampilan ibadah, karena di DTA ustadzah akan lebih memahami setiap karakter masing-masing santri. Apalagi dari hasil akhir penilaian ustadz/ustadzah diberikan kepada guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. Dengan demikian jika ditinjau dari segi evaluasai, DTA Al-Ittihad memberikan kontribusi terhadap penentuan hasil belajar Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. g. Segi Kegiatan Tahunan Melalui kerjasama antara DTA Al-Ittihad, Sekolah Dasar Negeri Padawening dan masyarakat dalam melaksanakan kegiatankegiatan keagamaan tersebut, DTA Al-Ittihad memberikan kontribusi yang sangat besar terutama dalam memberikan ilmu pengetahuan agama bagi anak-anak, serta dalam memelihara dan mensiarkan tradisi serta budaya Islam.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Perkembangan lembaga pendidikan keagamaan non formal di Indonesia salah satunya Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) sangat mendukung bagi tercapainya tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah formal khususnya Sekolah Dasar. Dengan pengelolaan yang baik,

pengawasan serta kerjasama antara orang tua, sekolah, masyarakat dan

128

pemerintah daerah termasuk Dinas Pendidikan dan Departemen Agama, lembaga-lembaga pendidikan keagamaan Islam non formal sangat dibutuhkan bagi kelancaran pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah dasar. Berdasarkan hasil penelitian tentang Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA), dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah. a. Dari segi tujuan, DTA Nurul Amanah bertujuan memberikan tambahan serta melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Padawening, khususnya bagi siswa yang berdada di wilayah Dewan Kerja Mesjid (DKM) Nurul Hidayah yang berjumlah 16 siswa. 124 b. Dari segi waktu, DTA Nurul Amanah memberikan jumlah waktu belajar yang lebih banyak bagi para siswa SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam. Yaitu dari hari senin sampai hari kamis dan hari sabtu pukul 13.15 sampai dengan 15.30 (Ashar), ditambah waktu belajar malam hari dari maghrib sampai isyak. c. Dari segi materi, DTA Nurul Amanah memberikan materi Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak, lebih luas dan mendalam sehingga dapat menambah serta menunjang bagi siswa untuk lebih menguasai materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar.

129

d. Dari segi metode, DTA Nurul Amanah menerapkan metode yang beragam sehingga memberikan kemudahan kepada para siswa SD Negeri Padawening dalam memahami sejumlah materi Pendidikan Agama Islam, serta memberikan bimbingan pengalaman dan pengamalan ibadah dan akhlak melalui metode pembiasaan dalam penerapan ibadah dan akhlak. e. Dari segi media dan sarana, DTA Nurul Amanah memberikan kemudahan bagi santri dalam mengaplikasikan kegiatan belajarnya, khususnya dalam penerapan ibadah sehari-hari. f. Dari segi evaluasi, DTA Nurul Amanah melaksanakan evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang komprehensif artinya tidak hanya mengukur kemampuan siswa dari segi kognitifnya saja, tetapi mencakup penilaian dari segi sikap dan perbuatan siswa. g. Dari segi kegiatan tahunan, DTA Nurul Amanah melaksanakan kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam bagi siswa SD Negeri Padawening khususnya pada Bulan Ramadhan dan hari-hari besar Islam. 2. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Miftahus Sa’adah a. Dari segi tujuan, DTA Miftahus Sa’adah bertujuan memberikan tambahan serta melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Padawening, khususnya bagi siswa yang berdada di wilayah

130

Dewan Kerja Mesjid (DKM) Miftahus Sa’adah yang berjumlah 25 siswa. b. Dari segi waktu, DTA Miftahus Sa’adah memberikan jumlah waktu belajar yang lebih banyak bagi para siswa SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam. Yaitu dari hari senin sampai hari kamis dan hari sabtu pukul 13.00 sampai dengan pukul 15.30 (Ashar), sampai isyak c. Dari segi materi, DTA Miftahus Sa’adah memberikan materi Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak, lebih luas dan mendalam sehingga dapat menambah serta menunjang bagi siswa untuk lebih menguasai materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. d. Dari segi metode, DTA Miftahus Sa’adah menerapkan metode yang beragam sehingga memberikan kemudahan kepada para siswa SD Negeri Padawening dalam memahami sejumlah materi Pendidikan Agama Islam, serta memberikan bimbingan pengalaman dan pengamalan ibadah dan akhlak melalui metode pembiasaan dalam penerapan ibadah dan akhlak. e. Dari segi media dan sarana, DTA Miftahus Sa’adah memberikan kemudahan bagi santri dalam mengaplikasikan kegiatan belajarnya, khususnya dalam penerapan ibadah sehari-hari. f. Dari segi evaluasi, DTA Miftahus Sa’adah melaksanakan evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang komprehensif artinya tidak ditambah waktu belajar malam hari dari maghrib

131

hanya mengukur kemampuan siswa dari segi kognitifnya saja, tetapi mencakup penilaian dari segi sikap dan perbuatan siswa. g. Dari segi kegiatan tahunan, DTA Miftahus Sa’adah melaksanakan kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam bagi siswa SD Negeri Padawening khususnya pada Bulan Ramadhan dan hari-hari besar Islam. 3. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam siswa SD Negeri Padawening di Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Ittihad a. Dari segi tujuan, DTA Al-Ittihad bertujuan memberikan tambahan serta melengkapi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar Negeri Padawening, khususnya bagi siswa yang berdada di wilayah Dewan Kerja Mesjid (DKM) Al-Ittihad yang berjumlah 22 siswa. b. Dari segi waktu, DTA Al-Ittihad memberikan jumlah waktu belajar yang lebih banyak bagi para siswa SD Negeri Padawening dalam melaksanakan Pendidikan Agama Islam. Yaitu dari hari senin sampai hari kamis pukul 13.30 sampai dengan pukul 15.30 (Ashar). c. Dari segi materi, Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Ittihad memberikan materi Pendidikan Agama Islam yang lebih banyak, lebih luas dan mendalam sehingga dapat menambah serta menunjang bagi siswa untuk lebih menguasai materi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dasar. d. Dari segi metode, Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Ittihad menerapkan metode yang beragam sehingga memberikan kemudahan

132

kepada para siswa SD Negeri Padawening dalam memahami sejumlah materi Pendidikan Agama Islam, serta memberikan bimbingan pengalaman dan pengamalan ibadah dan akhlak melalui metode pembiasaan dalam penerapan ibadah dan akhlak. e. Dari segi media dan sarana, Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) AlIttihad memberikan kemudahan bagi santri dalam mengaplikasikan kegiatan belajarnya, khususnya dalam penerapan ibadah sehari-hari. f. Dari segi evaluasi, Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Ittihad melaksanakan evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang komprehensif artinya tidak hanya mengukur kemampuan siswa dari segi kognitifnya saja, tetapi mencakup penilaian dari segi sikap dan perbuatan siswa. g. Dari segi kegiatan tahunan, Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) AlIttihad melaksanakan kegiatan pembelajaran pendidikan Agama Islam bagi siswa SD Negeri Padawening khususnya pada Bulan Ramadhan dan hari-hari besar Islam. B. Saran-Saran Dari berbagai problematika yang muncul dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang penulis rumuskan sebagai berikut: 1. Sebagai sebuah lembaga pendidikan keagamaan non formal dan telah diatur oleh Negara dan Undang-Undang, lembaga Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA) Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah dan DTA Al-

133

Ittihad

hendaknya

lebih

meningkatkan

kualitas

profesionalisme

ustadz/ustadzah. 2. Pengadaan sarana dan pemanfaatan media serta sumber belajar hendaknya lebih diperhatikan demi kelancaran proses pembelajaran, agar hasil yang ingin dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. 3. Pengawasan serta kepedulian orang tua terhadap fasilitas belajar anak lebih diperhatikan, karena sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, baik di Diniyah Takmiliyah Awaliyah maupun di Sekolah Dasar. 4. Kerjasama antara orang tua, ustadz/ustadzah, dan guru Pendidikan Agama Islam agar lebih ditingkatkan, khususnya dalam menciptakan kedisiplinan siswa mengikuti pendidikan Diniyah Takmiliyah Awaliyah. C. Kata Penutup Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dalam menempuh gelar sarjana ini. Semoga kesejahteraan dan keselamatan

senantiasa tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai pendidik dan uswatun hasanah bagi umatnya. Penulis menghaturkan terimakasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak, dosen pembimbing, atas motivasi dan masukan sehingga terselesaikannya skripsi ini. Kepada Kepala DTA Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah, DTA Al-Ittihad, beserta ustadz/ustadzah yang telah berkenan di wawancarai dan memberikan informasi guna kelengkapan data

134

dalam penulisan skripsi ini.

Juga permohonan maaf

penulis sampaikan

kepada semua pihak atas kekhilafan dalam penulisan skripsi ini. Penulis berharap atas masukan, kritik yang konstruktif dan saran guna lebih menyempurnakan penelitian ini, supaya bermanfaat bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya untuk lembaga Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA). Semoga skripsi ini kiranya dapat menjadi bagian kecil dari referensi kajian dan pengelolaan lembaga pendidikan keagamaan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Nurul Amanah, DTA Miftahus Sa’adah, DTA Al-Ittihad dan Sekolah Dasar Negeri Padawening Tasikmalaya, serta Sekolah Dasar lainnya. Demikianlah yang dapat penulis paparkan dalam skripsi ini, terlepas dari banyak kekhilafan, semoga bermanfaat bagi penulis sendiri dan pembaca lainnya, Amiin.

Penulis,

Wandi Ruswandi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->