P. 1
BUDIDAYA-TEMBAKAU

BUDIDAYA-TEMBAKAU

|Views: 58|Likes:
Published by Fariez Dark
BUDIDAYA TEMBAKAU

Kegiatan teknik budidaya tembakau meliputi beberapa jenis kegiatan dengan urutan sebagai berikut :
 Pembibitan, yaitu kegiatan untuk menyiapkan bahan pertanaman.
 Pengolahan tanah merupakan kegiatan untuk menyiapkan media tumbuh tanaman tembakau.
 Penanaman yang meliputi pengaturan jarak tanam, pembuatan lubang tanam dan penanaman.
 Pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman, penyiangan (pengendalian gulma dan penggemburan), pengendalian hama dan penyakit, pemupukan dan pewiwilan.
 Panen dan penanganan lepas panen hingga hasil tembakau dipasarkan.
Dalam teknologi budidaya tembakau terdapat beberapa yang spesifik sesuai karakteristik tanaman tembakau. Teknologi budidaya tersebut secara lengkap disajikan dalam uraian berikut.

 PEMBIBITAN

Langkah pertama dalam pembibitan adalah mengadakan benih yang bermutu dari varietas unggul. Benih yang bermutu dan varietas unggul dapat menentukan hasil tembakau. Varietas unggul tembakau dapat diperoleh dari tetua-tetua yang memiliki sifat-sifat yang unggul.
Dengan telah lamanya pengembangan tembakau di Indonesia (1860), (de Jonge, 1989) maka diperkirakan Indonesia telah memiliki plasma nutfah yang besar sebagai sumber genetik untuk melakukan pemuliaan tanaman. Kelemahan-kelemahan varietas yang ada terhadap lingkungan marginal seperti hama dan penyakit, kekeringan, kemiskinan unsur hara dan kemasaman tanah dapat diatasi dengan memberdayakan berbagai ragam genetik dalam plasma nutfah yang ada.
Seperti yang telah dilakukan oleh Balitas Malang telah mengidentifikasi varietas atau galur yang tahan beberapa hama dan penyakit tanaman tembakau, seperti tertera pada tabel berikut.
Varietas/Galur Tembakau Virginia yang Tahan Terhadap Beberapa Macam Penyakit Utama
Sumber : Lucas (1975); Todd (1981); Melton et. Al. (1991)
Keterangan ST = Sangat Tahan; T = Tahan; M = Moderat; R = Rentan
- = tidak ada informasi; @ hanya tahan terhadap M. incognita ras 1 dan 3
Pemuliaan tanaman tembakau juga dapat digunakan untuk menghasilkan daun tembakau bernikotin rendah sehingga dapat memenuhi peraturan pemerintah No. 81 tahun 1999. Pada prinsipnya pembibitan tembakau dapat dilakukan secara bedengan dengan hasil bibit tembakau cabutan atau sistem polybag dengan hasil bibit dalam polybag. Kegiatan pembibitan tembakau terdiri dari persiapan benih, pemilihan tempat pembibitan, pembuatan bedengan, penaburan benih, pemeliharaan, seleksi dan pemindahan bibit.
Benih-Benih tembakau sangat kecil dengan indeks biji 50 – 80 mg/1 000 biji atau setiap gram mengandung 13000 butir benih, dengan demikian untuk dapat menyebar secara merata di atas bedengan tidak dapat disebarkan secara langsung. Benih yang digunakan untuk pembibitan harus dipersiapkan dari areal khusus pembibitan dan diseleksi secara tepat. Benih harus memiliki daya kecambah lebih dari 80 %.
Benih merupakan sarana produksi yang menentukan hasil tembakau karena setiap benih memiliki sifat genetik dan morfofisiologis yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Benih haruslah memiliki kemurnian yang tinggi tidak tercampur benih rusak, kotoran ataupun biji gulma, daya kecambah di atas 80 % dan bebas hama dan penyakit. Dengan demikian untuk pengadaan benih harus diseleksi dari pohon induk ataupun proses pemuliaan yang benar serta teknologi produksi benih yang memenuhi standar sehingga diperoleh benih unggul dan bermutu.
Untuk pengadaan benih tersebut diperlukan sarana prasarana yang memadai serta sumber daya manusia yang memahami pemuliaan dan produksi benih. Untuk itu pengadaan benih haruslah dikelola secara profesional baik oleh instansi terkait (seperti Balitas Malang dan Badan Penangkar Benih) dan swasta yang berkecimpung dalam industri tembakau. Sebagai contoh kasus Balitas Malang telah menghasilkan beberapa varietas unggul tembakau beserta sistem produksi benihnya. Contoh yang lain adalah untuk petani tembakau binaan PT. BAT Indonesia Tbk memperoleh benih yang dihasilkan secara standar produksi benih oleh PT
BUDIDAYA TEMBAKAU

Kegiatan teknik budidaya tembakau meliputi beberapa jenis kegiatan dengan urutan sebagai berikut :
 Pembibitan, yaitu kegiatan untuk menyiapkan bahan pertanaman.
 Pengolahan tanah merupakan kegiatan untuk menyiapkan media tumbuh tanaman tembakau.
 Penanaman yang meliputi pengaturan jarak tanam, pembuatan lubang tanam dan penanaman.
 Pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman, penyiangan (pengendalian gulma dan penggemburan), pengendalian hama dan penyakit, pemupukan dan pewiwilan.
 Panen dan penanganan lepas panen hingga hasil tembakau dipasarkan.
Dalam teknologi budidaya tembakau terdapat beberapa yang spesifik sesuai karakteristik tanaman tembakau. Teknologi budidaya tersebut secara lengkap disajikan dalam uraian berikut.

 PEMBIBITAN

Langkah pertama dalam pembibitan adalah mengadakan benih yang bermutu dari varietas unggul. Benih yang bermutu dan varietas unggul dapat menentukan hasil tembakau. Varietas unggul tembakau dapat diperoleh dari tetua-tetua yang memiliki sifat-sifat yang unggul.
Dengan telah lamanya pengembangan tembakau di Indonesia (1860), (de Jonge, 1989) maka diperkirakan Indonesia telah memiliki plasma nutfah yang besar sebagai sumber genetik untuk melakukan pemuliaan tanaman. Kelemahan-kelemahan varietas yang ada terhadap lingkungan marginal seperti hama dan penyakit, kekeringan, kemiskinan unsur hara dan kemasaman tanah dapat diatasi dengan memberdayakan berbagai ragam genetik dalam plasma nutfah yang ada.
Seperti yang telah dilakukan oleh Balitas Malang telah mengidentifikasi varietas atau galur yang tahan beberapa hama dan penyakit tanaman tembakau, seperti tertera pada tabel berikut.
Varietas/Galur Tembakau Virginia yang Tahan Terhadap Beberapa Macam Penyakit Utama
Sumber : Lucas (1975); Todd (1981); Melton et. Al. (1991)
Keterangan ST = Sangat Tahan; T = Tahan; M = Moderat; R = Rentan
- = tidak ada informasi; @ hanya tahan terhadap M. incognita ras 1 dan 3
Pemuliaan tanaman tembakau juga dapat digunakan untuk menghasilkan daun tembakau bernikotin rendah sehingga dapat memenuhi peraturan pemerintah No. 81 tahun 1999. Pada prinsipnya pembibitan tembakau dapat dilakukan secara bedengan dengan hasil bibit tembakau cabutan atau sistem polybag dengan hasil bibit dalam polybag. Kegiatan pembibitan tembakau terdiri dari persiapan benih, pemilihan tempat pembibitan, pembuatan bedengan, penaburan benih, pemeliharaan, seleksi dan pemindahan bibit.
Benih-Benih tembakau sangat kecil dengan indeks biji 50 – 80 mg/1 000 biji atau setiap gram mengandung 13000 butir benih, dengan demikian untuk dapat menyebar secara merata di atas bedengan tidak dapat disebarkan secara langsung. Benih yang digunakan untuk pembibitan harus dipersiapkan dari areal khusus pembibitan dan diseleksi secara tepat. Benih harus memiliki daya kecambah lebih dari 80 %.
Benih merupakan sarana produksi yang menentukan hasil tembakau karena setiap benih memiliki sifat genetik dan morfofisiologis yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. Benih haruslah memiliki kemurnian yang tinggi tidak tercampur benih rusak, kotoran ataupun biji gulma, daya kecambah di atas 80 % dan bebas hama dan penyakit. Dengan demikian untuk pengadaan benih harus diseleksi dari pohon induk ataupun proses pemuliaan yang benar serta teknologi produksi benih yang memenuhi standar sehingga diperoleh benih unggul dan bermutu.
Untuk pengadaan benih tersebut diperlukan sarana prasarana yang memadai serta sumber daya manusia yang memahami pemuliaan dan produksi benih. Untuk itu pengadaan benih haruslah dikelola secara profesional baik oleh instansi terkait (seperti Balitas Malang dan Badan Penangkar Benih) dan swasta yang berkecimpung dalam industri tembakau. Sebagai contoh kasus Balitas Malang telah menghasilkan beberapa varietas unggul tembakau beserta sistem produksi benihnya. Contoh yang lain adalah untuk petani tembakau binaan PT. BAT Indonesia Tbk memperoleh benih yang dihasilkan secara standar produksi benih oleh PT

More info:

Categories:Book Excerpts
Published by: Fariez Dark on Sep 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/21/2014

pdf

text

original

Nama : Rocky Napitupulu NPM : 240110090111

BUDIDAYA DAN PASCAPANEN TEMBAKAU

BUDIDAYA TEMBAKAU
Kegiatan teknik budidaya tembakau meliputi beberapa jenis kegiatan dengan urutan sebagai berikut :
  

Pembibitan, yaitu kegiatan untuk menyiapkan bahan pertanaman. Pengolahan tanah merupakan kegiatan untuk menyiapkan media tumbuh tanaman tembakau. Penanaman yang meliputi pengaturan jarak tanam, pembuatan lubang tanam dan penanaman.

Pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman, penyiangan (pengendalian gulma dan penggemburan), pengendalian hama dan penyakit, pemupukan dan pewiwilan.

Panen dan penanganan lepas panen hingga hasil tembakau dipasarkan.

Dalam teknologi budidaya tembakau terdapat beberapa yang spesifik sesuai karakteristik tanaman tembakau. Teknologi budidaya tersebut secara lengkap disajikan dalam uraian berikut.  PEMBIBITAN Langkah pertama dalam pembibitan adalah mengadakan benih yang bermutu dari varietas unggul. Benih yang bermutu dan varietas unggul dapat menentukan hasil tembakau. Varietas unggul tembakau dapat diperoleh dari tetua-tetua yang memiliki sifat-sifat yang unggul.

Dengan telah lamanya pengembangan tembakau di Indonesia (1860), (de Jonge, 1989) maka diperkirakan Indonesia telah memiliki plasma nutfah yang besar sebagai sumber genetik untuk melakukan pemuliaan tanaman. Kelemahan-kelemahan varietas yang ada terhadap lingkungan marginal seperti hama dan penyakit, kekeringan, kemiskinan unsur hara dan kemasaman tanah dapat diatasi dengan memberdayakan berbagai ragam genetik dalam plasma nutfah yang ada. Seperti yang telah dilakukan oleh Balitas Malang telah mengidentifikasi varietas atau galur yang tahan beberapa hama dan penyakit tanaman tembakau, seperti tertera pada tabel berikut. Varietas/Galur Tembakau Virginia yang Tahan Terhadap Beberapa Macam Penyakit Utama Penyakit Lanas Layu Nematoda @ TMV bakteri Coker 48 ST ST R R Coker 51 ST ST T T Coker 80-F T T Coker 86 ST ST T T Coker 111 T Coker 187 Hicks ST M R R Coker 206 ST ST R R Coker 254 M ST T R Coker 258 ST ST T R Coker 298 ST ST R R Coker 316 T T Coker 319 R R R R Coker 371 Gold ST M R R McNair 133 ST ST R R Speight G-28 ST ST T R NC 95 M ST T R NC 2326 M R R R SC 72 M ST T T K 399 ST ST T R Dixie Bright 27 T Dixie Bright 101 T T Dixie Bright 102 T T Oxford 1 T Oxford 3 T Oxford 26 T Sumber : Lucas (1975); Todd (1981); Melton et. Al. (1991) Keterangan ST = Sangat Tahan; T = Tahan; M = Moderat; R = Rentan - = tidak ada informasi; @ hanya tahan terhadap M. incognita ras 1 dan 3 Nama Varietas/galur

Benih harus memiliki daya kecambah lebih dari 80 %. Contoh yang lain adalah untuk petani tembakau binaan PT. Pada prinsipnya pembibitan tembakau dapat dilakukan secara bedengan dengan hasil bibit tembakau cabutan atau sistem polybag dengan hasil bibit dalam polybag. vigor tanaman tinggi yang diawali oleh daya kecambah yang tinggi. Kegiatan pertama adalah pemilihan lahan untuk pembibitan dengan kriteria : dekat dengan areal pertanian. Untuk itu pengadaan benih haruslah dikelola secara profesional baik oleh instansi terkait (seperti Balitas Malang dan Badan Penangkar Benih) dan swasta yang berkecimpung dalam industri tembakau. Benih yang digunakan untuk pembibitan harus dipersiapkan dari areal khusus pembibitan dan diseleksi secara tepat. dekat dengan sumber air. Untuk pengadaan benih tersebut diperlukan sarana prasarana yang memadai serta sumber daya manusia yang memahami pemuliaan dan produksi benih. Dengan demikian untuk pengadaan benih harus diseleksi dari pohon induk ataupun proses pemuliaan yang benar serta teknologi produksi benih yang memenuhi standar sehingga diperoleh benih unggul dan bermutu. dengan demikian untuk dapat menyebar secara merata di atas bedengan tidak dapat disebarkan secara langsung. Benih-Benih tembakau sangat kecil dengan indeks biji 50 – 80 mg/1 000 biji atau setiap gram mengandung 13000 butir benih. Hasil dari benih ini adalah : keseragaman tanaman. daya kecambah di atas 80 % dan bebas hama dan penyakit. Kegiatan pembibitan tembakau terdiri dari persiapan benih. pembuatan bedengan. tanahnya gembur subur . penaburan benih. 81 tahun 1999. kotoran ataupun biji gulma. Sebagai contoh kasus Balitas Malang telah menghasilkan beberapa varietas unggul tembakau beserta sistem produksi benihnya. Pesemaian Bedengan. pemeliharaan. BAT Indonesia Tbk memperoleh benih yang dihasilkan secara standar produksi benih oleh PT.Pemuliaan tanaman tembakau juga dapat digunakan untuk menghasilkan daun tembakau bernikotin rendah sehingga dapat memenuhi peraturan pemerintah No. Benih merupakan sarana produksi yang menentukan hasil tembakau karena setiap benih memiliki sifat genetik dan morfofisiologis yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman. seleksi dan pemindahan bibit. pemilihan tempat pembibitan. Benih haruslah memiliki kemurnian yang tinggi tidak tercampur benih rusak. Sedangkan contoh kasus petani Temanggung yang menggunakan benih hasil panen sendiri terdapat banyak kelemahan seperti daya kecambah serta produksi yang rendah. BAT Indonesia Tbk di Bali.

00 sampai 10. penyiangan.30 pada saat bibit berumur 15 – 20 hari. Plastik Polyotilen (atap) dapat dibuka dari pukul 07. Waktu dan volume penyiraman pada pembibitan seperti tertera pada tabel berikut .00 pada saat umur bibit 20 – 28 hari dan satu hari penuh setelah umur bibit 28 hari.5 – 1 kg pupuk NPK/m2.5 m. Bedengan dibentuk dengan arah timur barat yang berukuran lebar 1 m panjang 5 m tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 75 – 100 cm. penjarangan mulsa. Pengolahan tanah terdiri dari pembajakan I dan pembajakan II dengan interval 1 sampai 2 minggu dan dengan kedalaman bajak 30 – 40 cm. pengaturan naungan. penjarangan tanaman. karena umur bibit tembakau siap salur adalah 40 – 45 hari. Pemeliharaan pembibitan meliputi penyiraman. bebas dari tanaman famili Solanaseae pada pertanaman sebelumnya dan bebas dari gangguan hewan peliharaan.2 m x 1. 3 sampai 4 hari sebelum sebar. Mulsa tersebut berfungsi untuk mencegah benih berpindah pada saat penyiraman atau saat hujan. Benih tembakau dapat disebar di bedengan dengan perendaman atau tanpa rendaman sebelumnya. Perendaman benih dapat dilakukan selama 48 jam sebelum sebar. Pembibitan perlu diberi naungan untuk melindungi benih dari cahaya matahari konstruksi atap naungan terbuat dari bambu berbentuk setengah lingkaran memanjang sepanjang bedengan. Di atas benih perlu dihamparkan mulsa dari potongan jerami berukuran ± 25 cm.2 m x 0. Pengolahan tanah ini harus sudah dilakukan 70 – 80 hari sebelum tanam agar bibit siap salur pada waktu tanam. pemupukan. Penyiraman pada pembibitan harus dilakukan secara intensif untuk memperoleh pertumbuhan bibit yang baik. Sebelum penaburan benih dilakukan pemupukan dasar dengan dosis 0. Naungan dapat digunakan plastik Polyetilen berukuran 5.dan mudah diolah. Pengolahan Tanah pesemaian bedengan dilakukan 30 – 35 hari sebelum penaburan benih. Penyebaran benih tanpa perendaman dapat dilakukan dengan mencampur benih dengan abu atau pasir halus agar merata. Penaburan benih dapat dilakukan dengan gembor berisi air ditambah sabun sebagai pendispersi agar benih tidak mengumpul. lahan terbuka terhadap sinar matahari. pukul 07. Penaburan Benih dilakukan setelah bedengan semai siap tanam. melindungi kecambah dari matahari dan mengurangi penguapan serta mencegah kerusakan permukaan bedengan. pengendalian hama dan penyakit dan seleksi bibit.00 – 12.

ulat tanah dan penyakit rebah kecambah Phytium spp.8 1. Contoh jadwal penyemprotan insektisida dan fungisida pada pembibitan tembakau seperti tersaji pada tabel berikut.4 – 2.6 2.2 1. Atau dapat digunakan pupuk majemuk NPK dengan dosis 0.8 – 4. Jadwal Penyemprotan Insektisida dan Fungisida di Pembibitan Tembakau Umur No Bibit (hari) 1 2 3 14 17 20 Volume Air (l/ha) 500 500 500 Fastac atau Decis Fastac atau Decis Fastac atau Decis Benlate Benlate Topsin Orthocide 23 600 Fastac atau Decis Topsin Orthocide 26 600 Azodrine Gusadrin 29 32 700 800 Fastac atau Decis Fastac atau Decis atau Topsin Orthocide Benlate Topsin Orthocide atau atau atau atau Insektisida Fungisida 4 5 6 7 . 2. Hama dan penyakit yang sering menyerang pembibitan adalah ulat daun.2 – 5.5 Keterangan : HSS = Hari Setelah Sebar Sumber : Standar kultur Teknis PT. 100 g SP-36 dan 20 g ZK per m2 bedengan.1 – 1 kg/m2 bedengan. Dosis pemupukan adalah 35 g ZA. 4. Pupuk ditabur merata di atas bedengan dan dicampur dengan lapisan tanah atas. BAT Indonesia Klaten Pemupukan bedengan semai dilakukan 3-4 hari sebelum penaburan benih. 3.Waktu dan Volume Penyiraman pada Pembibitan Tembakau No 1. Waktu Penyiraman (HSS) 0–7 7 – 20 20 – 30 30 – 35 Frekuensi 3 – 4 kali/hari 2 – 3 kali/hari 1 – 2 kali/hari 1 kali/minggu Volume (l/m2) 4. ulat pucuk.

jumlah daun 5 -6 lembar. Pencabutan bibit dilakukan pada pagi atau sore hari dengan menyiram bedengan sebelumnya. . Pencabutan dilakukan dengan menyatukan daun yang telah sempurna. 20 – 23 hari dan 33 hari. Media bibit sistem polybag terdiri dari tanah dicampur dengan pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan : a. menghilangkan stagnasi dan menyeragamkan pertumbuhan bibit. Disampig itu penjarangan juga diperlukan agar bibit tidak mengalami etiolasi dan tidak terjadi persaingan unsur hara sehingga bibit tumbuh dengan vigor seragam.8 – 1 cm. Bibit siap salur memiliki kriteria umur 38 – 40 hari. Cara pembibitan dengan sistem polybag pada awalnya sama seperti sistem bedengan. Tanah media tersebut sebelumnya disterilisasi dengan metode solarisasi selama 14 – 20 hari. Di samping itu media dicampur dengan pupuk NPK dengan dosis 1. tinggi bibit 10 – 12 cm. pada tanah sedang 5 : 2 : 2 c. warna daun hijau dan tanaman sehat. pada tanah berat 5 : 3 : 2 b.8 9 10 36 900 Azodrine Topsin Orthocide atau 38 41 1000 1500 Azodrine Benlate Fastac/Decis/Gusadrin Benlate Sumber : Arsip Kebun Wedi Birit. diameter batang 0. hanya setelah umur bibit 21 hari bibit dipindahkan ke polybag. Pembibitan Sistem Polybag Kelebihan utama dari sistem ini adalah mengurangi kerusakan akar pada saat pemindahan bibit. pada tanah ringan 5 : 3 : 1. Selanjutnya bibit yang telah berumur 3 minggu (21 HSS) dipindahkan ke polybag dan dilakukan penyiraman seperti pada pembibitan bedengan. mengurangi tingkat kematian bibit.5 – 2 kg pupuk NPK setiap 1 m3 tanah. Ukuran plastik media adalah panjang 110 cm dan diameter 110 cm. Reseting dilakukan pada umur 21 hari. (1998) Penjarangan bibit (reseting) perlu dilakukan untuk menghindari kelembaban yang berlebihan karena bibit terlalu padat yang dapat menimbulkan serangan penyakit rebah kecambah atau lanas. Dengan demikian penyulaman dapat ditekan hingga tingkat nol. Seleksi bibit dilakukan tiga kali yaitu pada umur 10 – 13 hari. Tanah media dimasukkan ke dalam plastik polybag.

H30 pembajakan 4. H-55 pembajakan 2.  PENGOLAHAN TANAH Pengolahan tanah ditujukan untuk memberi kondisi yang menguntungkan bagi pertumbuhan akar tanaman tembakau. Selanjutnya dilakukan bajak 3 dan bajak 4 serta penghancuran tanah yang masih berupa bongkahan. sedang varietas F1K sebesar 16 930 tanaman/ha. Untuk lahan bekas sawah pekerjaan pertama adalah membersihkan jerami kemudian dilanjutkan dengan pembuatan got keliling untuk mengeringkan lahan dan sebagai saluran irigasi di areal pertanaman tembakau. Guludan yang tinggi menentukan keberhasilan tanaman tembakau karena berhubungan dengan drainase dan pemupukan.Pemeliharaan dan kriteria salur seperti pada pembibitan bedengan.  PENANAMAN Jarak Tanam dan Populasi Tanam  Tembakau virginia dan tembakau Burley digunakan jarak tanam 110 cm x 50 cm. Gebrus total dilakukan dengan cara menarik tanah lapisan atas dan mencangkul tanah lapisan bawah sedalam 30 cm untuk menutup lubang dibelakangnya (lihat Gambar 2). H-40 pembajakan 3. H-60 pembuatan got keliling. 120 cm x 50 cm atau 120 cm x 45 cm dengan populasi tanaman berkisar antara 16 000 – 18 000 pohon /ha. Guna memperoleh perakaran yang baik pengolahan tanah harus mencapai kedalaman olah lebih dari 30 cm. . Gebrus total bertujuan untuk menembus lapisan olah dan oksigen tanah.  Tembakau Cerutu Vorstendlanden varietas hibrida TV38XG populasi idealnya adalah 17 480 tanaman/ha. hanya pada pembibitan polybag telah dilakukan seleksi bibit dan pengaturan jarak tanam. Gebrus total dilaksanakan sesudah jarak tanam yang digunakan ditentukan. sehingga sistem perakaran berkembang baik dan mampu menyerap air serta unsur hara dalam jumlah yang cukup untuk menunjang pertumbuhan yang terjadi dalam waktu singkat. disamping upaya lain kearah terbentuknya struktur tanah yang remah. Pengolahan tanah dilakukan 70 hari sebelum penanaman dimana H-70 dilakukan pembersihan jerami. Selanjutnya dilakukan pembajakan pertama dan dilanjutkan bajak ke-dua dengan arah memotong bajak pertama. H-25 pembersihan rumput di pematang dan H-15 dilakukan bajak siap tanam.

musim tanam tembakau dapat dibedakan :   Tembakau cerutu Na-Oosgt ditanam pada sekitar bulan Juni-Juli (kemarau) Tembakau Virginia dan Voor-Oosgt ditanam pada bulan Maret-April (akhir musim hujan di Jawa). Untuk mencegah serangan hama pada bibit yang baru ditanam di sekitar lubang tanam diaplikasikan Furadan 3G dengan dosis 2 gram/lubang tanam. Penyulaman dilakukan mulai umur 3 hari sampai umur 10 hari setelah tanam. Untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang seragam dilakukan seleksi bibit yang akan ditanam. Tembakau rajangan Temanggung Jarak tanam digunakan 100 cm x 50cm (jarak tanam pagar ganda) atau 100 cm x 75 cm. bibit diambil dari cadangan bibit yang ditanam diantara barisan tanaman. Pendangiran dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman yang berada pada kedalaman 30 cm – 40 cm di dalam . Cara penanaman diusahakan agar akar bibit tidak terlipat dan patah.  Tembakau rajangan Madura ditanam dengan populasi berkisar antara 20 000 sampai dengan 33 000 tanaman/ha.  PEMELIHARAAN TANAMAN Pendangiran/pembumbunan Pendangiran dimaksudkan untuk memperbaiki susunan udara tanah. dan  Tembakau rajangan ditanam pada bulan Maret-April. Jarak tanam yang paling baik adalah 100 cm x 50 cm atau 100 cm x 45 cm dengan populasi tanaman 33 000 tanaman /ha. Populasi tanaman berkisar antara 11 000 hingga 18 000 batang/ha. Musim Tanam dan Penanaman Sesuai dengan jenis tembakaunya. mengendalikan gulma dan memperbaiki guludan.00) untuk menghindari kelayuan bibit karena terik sinar matahari. Waktu tanam sebaiknya dilakukan pada sore hari (pukul 14. Penyiraman pada waktu penanaman dapat dilakukan sebelum atau setelah penanaman. Penyiraman sebanyak 1 liter/lubang tanam dilakukan setelah penanaman setiap pagi dan sore sampai tanaman “nglilir” (mulai tumbuh). memudahkan perembesan air. Penanaman dilakukan dengan tangan sedalam 4 cm kemudian tanah ditekan agar pangkal batang dan akar melekat dengan tanah.00 – 17.

Untuk menghasilkan 2. Jumlah Unsur Hara yang Terserap Oleh Tanaman Tembakau untuk Menghasilkan 2. 45 – 55 HST dan 80 – 85 HST. Pendangiran dilakukan 3 – 4 kali tergantung pada kondisi tanah pada lahan dan gulma. Pemupukan Pemupukan pada tanaman tembakau ditujukan untuk memenuhi unsur hara sehingga tanaman dapat menghasilkan krosok yang tinggi baik jumlah maupun kualitasnya. Pendangiran umumnya dilakukan setelah pengairan.7 Sedikit Sedikit 0.07 0. BAT di Klaten misalnya melakukan pendangiran sebanyak 4 kali yaitu pada 1 sampai 14 HST 30 – 35 HST.tanah. Pada tanaman tembakau ceretu Vorstenlanden di bawah naungan misalnya pendangiran dilakukan 3 kali pada umur 7 – 10 hari setelah tanam (HST). Pendangiran pada tanaman tembakau virginia PT.000 kg krosok/ha. 20 – 22 HST dan 30 – 35 HST.04 Sedikit Sumber : McCants dan Woltz (1967) .000 kg krosok/ha tanaman tembakau menyerap unsur hara seperti tertera pada tabel berikut. Unsur Hara Tanaman N P K Ca Mg S B Mn Fe Zn Cu Mo Kg/ha 70 12 80 55 22 18 0.

ZA (2-0-0). jenis tembakau dan kemampuan pendanaan. 100 – 120 kg SP36/ha dan 5 ton pupuk kandang/ha.5 kg N/ha. pemupukan I dan pemupukan II) dalam bentuk cair.5 141 90 36 126 K 114 67. Konsentrasi SP36 dalam larutan adalah 0.125 kg/liter. Aplikasi Pemupukan Tembakau Burley PT BAT dengan Populasi Tanaman 15.  Tembakau Burley PT.25 kg/ha.22 kg/liter CaS dan 0. 15 gram K2SO4 /tanaman pada 15 HST dan 3 gram urea/tanaman pada 5 HST.5 19.5 ton/ha.5 181.125 kg/liter CaS dan KNO3 pada pemupukan I masing-masing 0. 700 kg CaS/ha. KNO3 pada starter 0.09 kg/liter KNO3. Bondowoso Jawa Timur seperti terlihat pada tabel berikut. Pemupukan I terdiri dari CaS dan CaCO3 masing-masing dengan dosis 350 dan 200 kg/ha serta pemupukan II 350 CaS/ha dan 150 KNO3/ha.  .  Tembakau Rajangan Temanggung : Pemupukan yang diterapkan petani : 600 kg ZA. Pupuk Starter terdiri dari SP36 dan KNO3 masing-masing dengan dosis 400 dan 200 kg/ha. BAT Klaten : 76. 82. Tembakau Madura : 200 kg ZA/ha. Beberapa contoh dosis pupuk yang diterapkan untuk tanaman tembakau sebagai berikut. BAT Indonesia. dan KNO3 (13-0-45) Tembakau cerutu Besuki NO PT Perkebunan Nusantara XI : 3 gram TSP/tanaman dan 5 gram KNO3 /tanaman sebelum tanam. sedang untuk pemupukan II 0. Perkebunan Nusantara X Klaten : 400 kg SP36/ha.22 dan 0.   Tembakau Virginia PT.000 pohon/ha Jenis Pupuk N Fertila ZA SP 36 KNO3 Total Kebutuhan  Kandungan P 8 21 12 15 36 K 19 45 Kg/ha Aplikasi/ha N P 48 73. 100 kg TSP dan pupuk kandang sekitar 17-22. Pupuk tersebut diberikan 3 kali (starter. SP36 (0-36-0). 550 KNO3/ha.Dosis pupuk yang diterapkan sangat beragam tergantung pada tanah teknologi.5 600 350 100 150 Keterangan : Fertila (8-15-19).5 kg P2O5/ha dan 217 kg K2O/ha. Tembakau Cerutu Vorstenlanden PT.

Pemangkasan Pada tanaman tembakau dikenal 2 macam pemangkasan yaitu : topping (pangkas pucuk) dan suckering atau pembuangan tunas samping (wiwil). pada 50 – 65 HST tinggi air ½ guludan dan menjelang panen tinggi air ¼ guludan. Pangkas pucuk maupun wiwil pada tanaman tembakau bertujuan untuk menghentikan pengangkutan bahan makanan ke mahkota bunga atau kekuncup tunas sehingga hasil foto sintesis dapat terakumulasi pada daun sehingga diperoleh produksi krosok dan kualitasnya yang tinggi. Wiwil dilakukan sampai panen berakhir. Pangkasan wiwil dilakukan 3 sampai 5 hari sekali pada saat panjang tunas samping sekitar 7 cm. Penggunaan sucrisida memberikan hasil yang lebih baik. Pangkasan wiwil saat ini sudah dapat dilakukan dengan bahan kimia (sucrisida) Hyline 715. Beberapa petani dengan modal yang cukup melakukan penyiraman dengan sumber air tanah atau sungai dengan sistem pompanisasi. terhadap residu pestisida baik pada tanaman tembakau. Tinggi air irigasi ditentukan berdasarkan umur tanaman yaitu : sampai dengan umur 45 hari setelah tanam volume air ¾ buludan. penyiraman dilakukan dengan cara sprinkler irigation. Pada tanaman tembakau cerutu di bawah naungan. Waktu pemberian air irigasi dapat ditentukan dengan indikator sebagai berikut : tanaman layu pada pukul 11. Pangkas pucuk dan wiwil biasanya dilakukan secara manual. Pada lahan kering (umumnya tembakau rakyat) pengairan sangat tergantung pada curah hujan. Pangkasan pucuk dilakukan pada saat button stage atau saat daun berjumlah 20 helai di atas daun bibit. Furadan) tergantung serangan hama yang ada. Dengan demikian volume air yang diterima tanaman cukup seragam dan mencukupi volumenya. Pengendalian Hama dan Penyakit Tembakau Pengendalian Hama Terpadu dilaksanakan sesuai kondisi tanaman yang ada dengan memprioritaskan penggunaan Bio Pestisida dengan pengawasan secara berkala.00 atau tanah tidak lagi melekat apabila digenggam. Adapaun penggunaan pestisida dan bahan kimia bisa digunakan (Dancis. Pengairan Cara pengairan tembakau pada lahan beririgasi yaitu dengan cara dilep (basin irigation) hingga guludan tempat tanaman cukup basah dan selanjutnya lahan dikeringkan kembali. .

nicotianae Mendadak Fungisida layu 2-3g/l Mankozeb 2-3g/l (2-3 kg/ha) Patogen/ Penyebab Gejala Serangan Pestisida Jenis Dosis Mankozeb (2-3 kg/ha) II Hama Ulat Pucuk H. Daun berlubang Daun keriting. penggenangan sesaat pada pagi/sore hari. Penyakit dan Pengendaliannya pada Tanaman Tembakau Jenis No I Hama/Penyakit Penyakit Rebah Kecambah Phytiumspp.Secara umum jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman tembakau serta jenis pestisida dan dosis yang digunakan untuk pengendaliannya disajikan pada tabel berikut. Ulat Grayak ( Spodoptera litura ) Gejala : berupa lubang-lubang tidak beraturan dan berwarna putih pada luka bekas gigitan. Sclerotiumspp. Tan. warna hitam Ulat Tanah Agrotis ipsilon. Rizoctoniaspp Pangkal batang mengecil. Muda terpotong Decis/ Regent 1 cc/l Orthene Lannate 2 cc/l (2l/ha) 2 cc/l HAMA a. bibit rebah Lanas P. semprot Natural VITURA b. assulta/ armigera Kutu Daun Myzus sp. Pengendalian: Pangkas dan bakar sarang telur dan ulat. Ulat Tanah ( Agrotis ypsilon ) . Jenis Hama.

daun berguguran dan akhirnya mati. Thrips sp. Pengendalian: pangkas daun sarang telur/ulat. semprot Natural GLIO. . b. Hama lainnya Gangsir (Gryllus mitratus ). terserang akan lemas dan menggantung lalu layu dan mati. Pengendalian: predator Koksinelid. Nematoda ( Meloydogyne sp. Hangus batang ( damping off ) Penyebab : jamur Rhizoctonia solani. Pengendalian: sanitasi kebun. semut geni (Solenopsis geminata). Gejala: timbul bercak-bercak pada daun berwarna kelabu yang akan meluas. Jamur juga menyerang batang dan biji. Pengendalian: desinfeksi bibit. renggangkan jarak tanam. jangkrik (Brachytrypes portentosus).kutuan ( Aphis Sp. Bercak coklat Penyebab : jamur Alternaria longipes. Gejala: timbul bercak-bercak coklat. Bemisia sp. Busuk daun Penyebab : bakteri Sclerotium rolfsii. semprot PESTONA. pemberian GLIO diawal tanam. Pengendalian: cabut tanaman yang terserang dan bakar. bagian daun yang terserang menjadi rapuh dan mudah robek. Pengendalian: cabut tanaman yang terserang dan bakar. Pengendalian: kumpulkan dan musnah telur / ulat. semprot PESTONA. c. Pengendalian: cabut dan bakar tanaman terserang. olah tanah intensif. orong-orong (Gryllotalpa africana). semprotkan Natural GLIO. nicotinae. tanaman kerdil. Patik daun Penyebab : jamur Cercospora nicotianae. Ulat penggerek pucuk ( Heliothis sp. layu. semprot Natural GLIO. d. akarnya bila diteliti diselubungi oleh massa cendawan. belalang banci (Engytarus tenuis). selain tanaman dewasa penyakit ini juga menyerang tanaman di persemaian. PESTONA e.Gejala : daun terserang berlubang-lubang terutama daun muda sehingga tangkai daun rebah. Pengendalian: mencabut dan membakar tanaman yang terserang. Kutu . pada batang. Gejala: batang tanaman yang terinfeksi akan mengering dan berwarna coklat sampai hitam seperti terbakar. gunakan air bersih. e. pencegahan awal dengan Natural GLIO. ) Gejala : bagian akar tanaman tampak bisul-bisul bulat. f. Gejala: di atas daun terdapat bercak bulat putih hingga coklat. Gejala: mirip dengan lanas namun daun membusuk. Penyakit a. d. bongkar dan bakar tanaman terserang. c. ) Gejala: daun pucuk tanaman terserang berlubanglubang dan habis. penggenangan sesaat. Lanas Penyebab : Phytophora parasitica var.) pembawa penyakit yang disebabkan virus. Natural BVR. sanitasi kebun.

mekanik. Konsep pengendalian hama dan penyakit tanaman adalah pengendalian secara terpadu. Mozaik ketimu (Cucumber Mozaic Virus). dosis + 5 ml ( ½ tutup) pertangki. Apabila populasi hama dan penyakit melewati titik kritis ambang ekonomi maka harus dilakukan pengendalian baik secara fisik. Pseudomozaik. (TVM). Hama ulat pucuk misalnya pada kepadatan populasi tertentu cukup dikendalikan dengan mengutip ulat tersebut. Berikut diuraikan pemanenan dan penanganan pasca panen beberapa jenis tembakau yang diusahakan di Indonesia. Penyakit Virus Penyebab: virus mozaik (Tobacco Virus Mozaic. Dalam hal ini yang penting adalah melakukan pengamatan perkembangan populasi hama atau penyakit.Penanganan daun hasil panenan Sebagian besar dari varietas tembakau dipanen berdasarkan tingkat kematangan daunnya dilakukan mulai dari daun bawah sampai daun atas dengan pemetikan 2 sampai 3 daun pada setiap tanaman dengan interval satu minggu hingga daun tanaman habis.Kematangan daun . dapat digunakan pestisida kimia sesuai anjuran. Marmer.Keseragaman daun dalam proses penanaman . biologis.f. Gejala: pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810. Waktu panen dan cara penanganan pasca panen tembakau sangat tergantung pada jenis tembakaunya. teknik budidaya maupun secara kimia.  PANEN Pemanenan adalah suatu tahapan yang sangat penting diperhatikan dalam mendapatkan kualitas panenan yang tinggi. Adapun yang hams diperhatikan sebagai berikut : . Pengendalian: menjaga sanitasi kebun. Kerupuk (Krul). tanaman yang terinfeksi di cabut dan dibakar. . Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi.

memudahkan grading setelah pengeringan. Untuk mendapatkan hasil yang tinggi tembakau burley biasanya diperlakukan reaping paling banyak dua kali dan selanjutnya stalk cutting. Setelah itu krosok diunting . Daun tengah (4-6 lembar) berwarna “kuning kenanga”. Reaping dilakukan dengan memetik daun-daunya saja. Sortasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan proses pengeringan. daun kurang tua (unripe).Tembakau Burley BAT Bondowoso Umur Panen Kriteria waktu panen tembakau dapat dilihat dari gejala tingkat kematangan daun di pohon sebagai berikut    Daun bawah (3-4 lembar) mendekati kehijau-hijauan dan gagangnya keputih-putihan. siang dan sore) berpengaruh terhadap kualitas daun tembakau. Pemetikan pertama daun tembakau Burley dilakukan pada saat tanaman berumur 65-70 har. Pengeringan dilakukan selama ± 22 hari sampai diperoleh krosok yang baik. Sortasi Pendahuluan Sortasi pendahuluan dilakukan terhadap daun hijau tembakau Burley untuk memisahkan daun yang agak muda (immature). Stalk cutting dilakukan apabila daun pucuk kelihatan sudah cukup tua (berwarna kuning) dengan umur tanaman 90-100 HST. Pengeringan dilakukan di dalam Los. memudahkan penentuan harga jual dan memudahkan pemasaran. daun tua (ripe) dan daun yang rusak. Saat pemetikan (pagi. Saat pemetikan tembakau burley yang baik adalah pada pagi hari. Cara Pemetikan Pemetikan daun tembakau Burley dilakukan dengan dua cara yaitu petik biasa (reaping) dan tebang batang ( stalk cutting). Selama pengeringan terjadi proses aging yaitu pembentukan warna dan pengeringan. Daun atas (6-9 lembar) dan daun pucuk (4-7 lembar) telah matang benar. dengan jumlah daun yang dipetik 2-3 lembar. Tembakau Burley ini termasuk ke dalam jenis pengeringan air cured. sedangkan stalk cutting dilakukan dengan menebang batang tembakau beserta daunnya tepat pada pangkal batang. Pengeringan (Curing) Dalam pengeringan dilakukan penurunan kadar air dari 80 – 90%.

Fermentasi juga menyebabkan terbentuknya aroma. kayu.00 – 08. pendolokan dan penyusunan daun. Pada bagian atap dan dinding terdapat jendela yang berfungsi untuk mengatur kelembaban udara di dalamnya. jendela ditutup dan dilakukan pengomprongan (pengeringan buatan dengan bahan sekam. warna krosok menjadi lebih gelap dan merata serta teksturnya lebih halus.00 pagi secara manual. atau briket batubara). sudut daun telah melebar atau merunduk daun mudah dipetik dan tanaman dalam kondisi segar. Pemetikan dilakukan pada pukul 06. pembebasan tanah. sunduk. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Los pengering adalah sortasi. Pembebasan NH3 dan penurunan kadar air 14 – 20 %. Pada malam hari bila kelembaban udara terlalu tinggi.100 dolok (1 dolok terdiri dari 50 lembar daun). warna daun “menongo bener” (hijau seperti bunga kenanga). Tembakau Cerutu Vorstenlanden Pemetikan Pemetikan daun dilakukan secara bertahap. Setelah fermentasi krosok kemudian disusun . 6 lembar daun koseran pertama (DKP) 10 lembar daun koseran atas (DKA).(diikat beberapa lembar krosok) kemudian dipak/dibal dengan bobot 1 bal 50 – 60 kg dan dibungkus dengan tikar. 1 Los (bangunan pengering) terdiri dari 30 kamar yang mampu menampung 2. penaikan dan pelolosan. Pada siang hari jendela dibuka agar kelembaban dalam ruang pengering tersebut turun. pembebasan CO2. penyerapan udara. pemetikan pada pagi hari akan menghasilkan krosok yang berwarna lebih cerah daripada sore hari. Jenis dan banyaknya daun yang akan dipetik terdiri dari : 2 lembar daun tanah/pasir (DT). 60 – 70% dari populasi telah membentuk kuncup bunga. kriteria tanaman siap dipanen yaitu setelah tanaman berumur 50 hari. Dalam proses fermentasi terjadi perubahan-perubahan seperti penurunan berat 6-18 %. Pengeringan Pengeringan tembakau cerutu Vorstenlanden pada prinsipnya menggunakan sistem air curing. 4 lembar daun madya pertama (DMP) 6 lembar daun madya tengah (DMT) dan 4 lembar daun madya atas (DMA). Setelah pengeringan dilakukan fermentasi yaitu proses biokimiawi yang melibatkan sejumlah enzim yang terdapat dalam krosok terhadap sulfat atau senyawa protein dan polisakarida. Tembakau dikeringkan di dalam Los dengan tinggi bangunan sekitar 12 m.

Saat panen biasanya dimulai apabila sudah ada berita tentang dimulainya pembelian tembakau rajangan oleh pabrik rokok atau gudang mulai buka.5 mm – 2. perajangan dan penjemuran. Sebelum diperam. Stapel kemudian ditutup rapat sampai suhunya mencapai 42 – 430C.5 ton. Daun yang telah dipetik segera diproses atau diolah menjadi tembakau rajangan. Setelah daun tembakau diperam. pisau yang digunakan untuk merajang harus selalu tajam agar hasil rajangannya baik dan seragam. Tebal irisan (rajangan) daun tembakau temanggung antara 1.75 tablet/m3 setiap 40 hari sekali. selanjutnya dilakukan perajangan. Pemeraman dilakukan dengan cara mengatur daun. Lamanya pemeraman tergantung dari posisi daun pada batang.dalam tumpukan atau stapel berukuran 4 m x 5 m dengan berat 2 -2. Tembakau Rajangan Temanggung Panen dilakukan secara bertahap. warna tulang daun putih/hijau terang. daun tembakau disortasi agar diperoleh daun hijau yang ukurannya seragam. Daun koseran ( daun bawah). lama pemeraman 1-2 malam (24 – 48 jam) dengan warna daun peraman hijau-kekuningan. Untuk penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi untuk mencegah serangan serangga gudang dengan insektisida Phostoxin dengan dosis 0. Perajangan dimulai pada tengah malam sampai pagi dengan tujuan hasil rajangan dapat segera dijemur pada pagi harinya. Waktu panen pagi hari setelah embun menguap sampai siang hari. Pemetikan daun dimulai dari bawah. Sedangkan daun tengah yang tebal dan daun atas memerlukan waktu peraman 4 – 7 malam (96 – 168 jam) dengan warna daun peraman kuning merata sampai kuning kemerahan. Apabila waktu panen turun hujan. Pengolahan tembakau rajangan terdiri dari 3 tahap kegiatan. Daun tengah memerlukan waktu peraman 3 – 5 malam (72-120 jam) dengan warna peraman hijau kekuningan sampai kuning merata. permukaan daun agak kasar dan tangkai daun mudah dipatahkan. tepi daun mengering. Setelah . Panen daun tembakau dilakukan 10 – 15 hari sebelum awal pembelian tembakau rajangan. yaitu didirikan di rak pemeraman. maka daun yang cukup matang segera dipetik atau ditunda 6-8 hari. dari hijau menjadi kuning kehijauan.0 mm. yaitu Pemeraman. Daun yang siap panen ditandai oleh perubahan warna daun. pemetikan daun sebanyak 5 – 8 kali tergantung kemasakan dan jumlah daun. Selanjutnya krosok dipak dalam satu bal dengan berat 80 kg dengan ukuran panjang 100 cm lebar 70 cm dan tinggi 22 cm. dipetik 2 – 3 lembar daun setiap kali petik.

 PENGERINGAN (CURING) Pengeringan setiap jenis tembakau berbeda-beda. daun tua (ripe) dan daun yang rusak.00.00 – 11. Di sini ada beberapa carapnegeringan tembakau dari beberapa jenis tembakau. rajangan diembunkan untuk memperoleh warna hitam. Pada malam harinya. Selama pengeringan terjadi proses aging yaitu pembentukan warna dan pengeringan. Pada hari kedua. Selanjutnya tembakau rajangan siap dijual ke “gudang perwakilan pabrik rokok” atau kepada “tengkulak pengumpul”. kemudian dimasukkan kedalam keranjang bambu. memudahkan grading setelah pengeringan. Setelah rajangan tersebut kering. Sortasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan proses pengeringan. Di dalam satu keranjang berisi tembakau rajangan yang sama mutunya. daun kurang tua (unripe). tergantung panas matahari. Pada hari pertama rajangan di balik apabila lapisan atas sudah cukup kering. Pengeringan dilakukan .  Pengeringan I Dalam pengeringan dilakukan penurunan kadar air dari 80 – 90%. pekerjaan ini dilakukan kira-kira pukul 10. kemudian tembakau rajangan dicampur merata (digagrak) dan diratakan di atas “widig” atau “rigen” untuk dijemur. Sortir daun berdasarkan kualitas warna daun yaitu: a) Trash (apkiran): warna daun hitam b) Slick (licin/mulus): warna daun kuning muda c) Less slick (kurang liciin): warna daun kuning (seperti warna buah jeruk lemon) d) More grany side ( sedikit kasar ) : warna daun antara kuning-oranye. memudahkan penentuan harga jual dan memudahkan pemasaran. penjemuran dimulai pada siang hari sampai rajangan tembakau lemas kembali.daun tembakau dirajang. Penjemuran hasil rajangan harus kering dalam 2 hari. PASCAPANEN TEMBAKAU  SORTASI Sortasi pendahuluan dilakukan terhadap daun hijau tembakau Burley untuk memisahkan daun yang agak muda (immature).

kayu. Dalam proses fermentasi terjadi perubahan-perubahan seperti penurunan berat 6-18 %. jendela ditutup dan dilakukan pengomprongan (pengeringan buatan dengan bahan sekam. Tembakau Burley ini termasuk ke dalam jenis pengeringan air cured. warna krosok menjadi lebih gelap dan merata serta teksturnya lebih halus. penyerapan udara. Setelah pengeringan dilakukan fermentasi yaitu proses biokimiawi yang melibatkan sejumlah enzim yang terdapat dalam krosok terhadap sulfat atau senyawa protein dan polisakarida. Pada bagian atap dan dinding terdapat jendela yang berfungsi untuk mengatur kelembaban udara di dalamnya. 1 Los (bangunan pengering) terdiri dari 30 kamar yang mampu menampung 2. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Los pengering adalah sortasi. Fermentasi juga menyebabkan terbentuknya aroma.di dalam Los. Pembebasan NH3 dan penurunan kadar air 14 – 20 %. Pada malam hari bila kelembaban udara terlalu tinggi. penaikan dan pelolosan. pembebasan CO2. Tembakau dikeringkan di dalam Los dengan tinggi bangunan sekitar 12 m. Pada siang hari jendela dibuka agar kelembaban dalam ruang pengering tersebut turun. Selanjutnya krosok dipak dalam satu bal dengan berat 80 kg dengan ukuran panjang 100 cm lebar 70 cm dan tinggi 22 cm. Untuk penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi untuk mencegah serangan serangga gudang dengan insektisida Phostoxin dengan dosis 0. pembebasan tanah. Setelah itu krosok diunting (diikat beberapa lembar krosok) kemudian dipak/dibal dengan bobot 1 bal 50 – 60 kg dan dibungkus dengan tikar. Pengeringan dilakukan selama ± 22 hari sampai diperoleh krosok yang baik. pendolokan dan penyusunan daun. Stapel kemudian ditutup rapat sampai suhunya mencapai 42 – 430C.75 tablet/m3 setiap 40 hari sekali. sunduk. .100 dolok (1 dolok terdiri dari 50 lembar daun).  Pengeringan II Pengeringan tembakau cerutu Vorstenlanden pada prinsipnya menggunakan sistem air curing. atau briket batubara). Setelah fermentasi krosok kemudian disusun dalam tumpukan atau stapel berukuran 4 m x 5 m dengan berat 2 -2.5 ton.

.Melepaskan air daun tembakau hidup dari kadar air 80 -90 % menjadi 10 -15 %. sebagai lambang ketuaan. Tujuan Curing adalah : .8 ha.8 ha. Ciri-ciri daun yang sudah masak adalah : . Hal-hal yang perlu diperhatikan : Pada saat curing. kalau musim hujan harus lebih longgar daripada waktu musim kering.Pada umunya Tembakau dijual dalam wujud kering oven atau pengomprongan (Curing). yang perlu diperhatikan juga adalah kapasitas daun di dalam oven. . Tidak menyadari bahwa sel-sel di dalam daun tersebut masih tetap hidup setelah dipanen.Perubahan warna dari Zat hijau daun menjadi WarDa orange dengan aroma sesuai dengan standar tembakau yang diproses.Wama daun sudah mulai hijau kekuningan dengan sebagian ujung dan tepi daun berwama coklat. Curing merupakan proses biologis yaitu melepaskan kadar air dari daun tembakau basah yang dipanen dalam keadaan hidup. Juga cuaca waktu proses. keputih-putihan. sedangkan 5 x 5 x 7 rak maksimum 2. . Selama ini di beberapa petani ada yang berpendapat bahwa curing adalah proses pengeringan tembakau saja.Wama tangkai daun hijau kuning. . Sebagai contoh untuk oven ukuran 4 x 4 x 7 rak sebanding dengan 1.Posisi daun/tulang daun mendatar .Kadang-kadang pada lembaran daun ada bintik-bintik coklat.

yang harus dibuang keluar oven agar tidak . maka secara pertiahan-lahan suhu dinaikkan. Pada saat proses ini terjadi. Proses ini harus dilakukan secara perlahan-lahan waktu yang diperlukan tergantung posisi daun. maka apabila daun masih berwama hijau. maka jangan terburu-buru menaikkan temperatur lebih dari 42 °C. yaitu : 1. Karena pada suhu 43-52 °C ini terjadi pengikatan warna. Ada 4 tahapan curing. baik atas maupun bawah. karena hilangnya zat hijau daun / klorophyil ke zat kuning daun dan terjadi penguraian zat tepung menjadi gula. Pengikatan Wama Apabila seluruh daun sudah berwama kuning orange baik lembar daun maupun tulang daun. 2.Tahapan Curing Sebelum memulai curing harus dipastikan bahwa seluruh gelantang sudah tersedia dan bebas palstik. sebaliknya apabila sudah berwama kuning orange maka hasil curing akan kuning orange. karena air yang keluar dari sel-sel daun akan menjadi uap air. pintu bisa menutup rapat. Pada tahapan ini ventilasi dibuka secara bertahap. sedikit demi sedikit sampai akhirnya dibuka seluruhnya. Tetapi apabila seluruh daun sudah berwama kuning orange ventilasi atas dibuka 1/4 . Sehingga apabila warna daun pada proses PENGUNINGAN belum sempuna. kompor sudah dicek kondisinya dengan melakukan test nyala api sebelurnnya. Perubahan ini bisa terjadi pada suhu 32 s/d 42 derajat celcius. proses ini sangat menentukan terhadap hasil curing. Penguningan Proses biologis daun ini merupakan proses perubahan warna dari hijau ke warna kuning. Waktu yang diperlukan kalau berjalan sempuma umumnya sekitar 18-19 jam. Pengeringan Lembar Daun Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air didalam lembar daun dengan cara menaikkan suhu 53-62 °C. Umumnya berlangsung selama 55 s/d 58 jam. Pada saat ini awalnya semua ventilasi ditutup. Pada saat ini seluruh ventilasi dibuka. seluruh dinding oven tidak ada yang berlubang. pipa-pipa tidak ada yang rusak clan berlubang. 3. maka daun tetap akan berwama hijau.

Pengeringan Gagang Pengeringan gagang dilakukan pada suhu 63-72 °C. Ciri-ciri tahapan ini bisa selesai apabila seluruh tulang daun sudah kering. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati clan penuh pengawasan karena tembakau yang sudah sangat baik pertumbuhannya dilapangan. Ini menandakan bahwa tahap ini berjalan baik 5-8 jam sebelum proses berakhir. 4. Dan juga setiap oven harus memiliki table pedoman prosedur curing tembakau virginia serta menggunakan alat Hygrocurometer untuk mengukur suhu dan kelembaban udaranya. Proses ini memerlukan waktu normalnya 30-32 jam jangan pernah menaikkan suhu oven diatas 72 C. Pada saat ini air yang bisa dilapas didalam batang daun akan dikeluarkan proses awal tahap ini ventilasi mulai ditutup secara perlahan dan bertahap. . Oleh karena itu untuk semua oven yang aktif harus memiliki termometer untuk memastikan apakah setiap tahapan tersebut sudah berjalan baik atau belum. tapi tulang daun masih terasa basah daun terlihat keriput atau keriting waktu yang dibutuhkan lebih kurang 30-32 jam. seluruh ventilasi harus ditutup agar kelembaban udara tetap terjaga. daun sudah terasa kering apabila dipegang. untuk menjaga kelembaban udara tetap berkisar pada 32 %. karena tembakau akan terbakar. akan sia-sia hasilnya apabila proses curing ini tidak berjalan lancar. dan bila ditekuk batangnya akan patah dan berbunyi krek. Demikian tahapan curing yang terjadi.kembali ke daun. Ciri-ciri proses ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->