PENENTUAN KADAR GLUKOSA DALAM DARAH KELOMPOK 10 Randi Hadianta (G34090020) Yovita Sari (G34090028) Kurrataa’yun (G34090105

)

DEPARTEMEN BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PENDAHULUAN Glukosa, suatu gula monosakarida adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dekstrosa, terutama pada industri pangan. Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat dalam buah-buahan dan madu lebah (Poedjiadi 1994). Bila kadar gula dalam darah melebihi atau kurang dari batas normal maka sistem metabolisme dalam tubuh akan terganggu. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi tetap, yaitu antara 70-100 mg tiap 100 ml darah. Glukosa darah ini dapat bertambah setelah kita makan makanan sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu, jumlah glukosa darah akan kembali pada keadaan semula. Salah satu contoh penyakit yang disebabkan oleh kelainan kadar glukosa yaitu diabetes mellitus. Diabetes mellitus atau yang lebih dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit yang timbul karena suatu gangguan dari pankreas, yaitu organ tubuh yang biasa menghasilkan insulin dan sangat berperan dalam metabolisme glukosa bagi sel tubuh. Seseorang yang terkena diabetes mellitus selalu ditandai oleh naiknya kadar gula darah (hiperglikemia) dan tingginya kadar gula dalam urine (Achjadi 2003). Pada orang yang menderita diabetes mellitus atau kencing manis, jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg per 100 ml darah (Poedjiadi, 1994).

Bahan praktikum yang digunakan adalah darah. Na-Wolframat 10%. Selanjutnya pada setiap tabung dimasukan mL fosfomolibdat pada waktu yang bersamaan untuk setiap . Perlakuan blanko dimasukkan 1 mL akuades dengan 1 mL kupritartrat. PROSEDUR PERCOBAAN Penentuan kadar glukosa dalam darah dilakukan dengan beberapa tahapan. kertas saring. asam urat dan gula-gula lain selain glukosa (manosa. (Girindra 1988). Selanjutnya hasil campuran tersebut didiamkan tanpa dikocok selama 10 menit yang kemudian disaring untuk mendapatkan filtratnya. Hypocalcaemia adalah penyakit metabolisme pada hewan yang terjadi pada waktu atau segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai dengan penderita yang mengalami depresi umum (Subronto 2001). ALAT DAN BAHAN Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi. dan tabung Folin Wu. spekronik-20. akuades. Sebagai pedoman dapat diperkirakan bahwa hasil penentuan glukosa secara reduksi akan memberikan hasil 3. gegep.. Sementara untuk filtrat didapatkan dengan mencampurkan 1 mL filtrat dengan 1 mL kupritartrat.6 -10. kupritartrat. Pengujian dilakukan dengan beberapa perlakuan. standar glukosa. Ketiga jenis perlakuan tersebut dipanaskan dalam air mendidih selama 8 menit tepat. tabung erlenmeyer. pipet tetes. pipet volumetrik 10 mL. dan tiga pengujian terhadap filtrat. Ketiga perlakuan tersebut dilakukan secara bersamaan (pada waktu yang sama).67 N secara perlahan. Hypocalcaemia dapat menghambat ekskresi insulin sehingga pada kasus ini biasanya selalu diikuti kenaikan kadar glukosa. Campuran tersebut pun dikocok dan ditetesi dengan 1 mL H2SO4 0. Perlakuan yang telah dipanaskan pun didinginkan dan diencerkan dengan menambahkan 7 mL akuades pada setiap perlakuan. Glukosa darah dapat ditentukan dengan berbagai cara baik secara kimiawi maupun secara enzimatik. dan larutan fosfolibdat. Tahap awal dengan membuat filtrat penyaringan darah yang akan digunakan dalam pengukuran kadar. terutama bila dalam darah terdapat bahan yang dapat mereduksi misalnya kreatinin. dan 1 mL Na-Wolframat 10% di dalam tabung erlenmeyer kecil. 7 mL akuades. H2SO4 0. galaktosa dan laktosa) yang akan memberikan hasil pemeriksaan yang lebih tinggi daripada kadar glukosa yang sebenarnya. Pembuatan filtrat dilakukan dengan mencampurkan 1 mL darah. Perlakuan standar glukosa didapatkan dengan mencampurkan 1 mL larutan standar glukosa dengan 1 mL kupritartrat.Pada hewan terdapat salah satu penyakit yang dinamakan Hypocalcaemia.8 mg % lebih tinggi daripada cara enzimatik. yaitu perlakuan blanko. pipet volumetric 1 mL. Perbedaan ini akan lebih besar lagi bila terdapat peningkatan kreatinin dan asam urat (Suryohudoyo & Purnomo 1996). larutan standar glukosa.67 N. Penentuan glukosa secara reaksi reduksi kurang spesifik dibanding cara enzimatik. TUJUAN Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kadar gula pereduksi (glukosa) dalam darah dengan metode spektrofotometri. penangas air. Prisip penentuannya didasari pada kemampuan glukosa untuk mereduksi ion anorganik seperti Cu2+ atau Fe(CN)63-.

650 mg/dL Kadar glukosa darah filtrat 3 (mg/dL) = = 42.000 61.350 mg/dL Kadar glukosa darah filtrat rata-rata (mg/dL) = = 53.451 0.000 10.197 mg/dL Kadar glukosa darah filtrat 2 (mg/dL) = = 57. Penentuan kadar glukosa darah Larutan Blanko Standar glukosa Filtrat 1 Filtrat 2 Filtrat 3 Absorban 0.260 0.732 mg/dL .000 0. HASIL PENGAMATAN Tabel 1.197 57. Tera dilakukan dengan memasukkan larutan blanko ke dalam tabung pupet dan dimasukkan ke dalam spektronik.650 42.perlakuan. Angka yang tertera pada spektronik-20 menunjukkan tingkat absorban larutan. Pengukuran pun dilakukan dengan menggunakan spektronik-20.191 [glukosa darah] (mg/dL) 0. Kemudian dilakukan hal yang sama pada setiap perlakuan tanpa menekan tombol blank.276 0. Tingkat absorban larutan pun dicatat yang kemudian akan dihitung untuk menentukan kadar glukosa di dalam darah. Penggunaan spektronik-20 dilakukan dengan men-tera alat terlebih dahulu.1 mg/mL = 10 mg/dL Faktor Pengenceran (FP) = Kadar glukosa darah (mg/dL) = Kadar glukosa darah filtrat 1 (mg/dL) = = 61. selanjutnya ditekan tombol ‘blank’.350 [glukosa darah]rata-rata (mg/dL) 53.732 Contoh perhitungan: CStandar glukosa = 0.

dan 1 mL H2SO4 0. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Larutan yang telah dibuat didiamkan selama 10 menit agar terjadi endapan albumin secara sempurna. Penambahan larutan kupritartrat berfungsi dalam pembentukan warna biru ketika ditambahkan pereaksi fosfomolibdat. H2SO4 berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan albumin oleh Nawolframat. Menurut Girinda (1989). Hasil uji kadar glukosa blanko. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini. Pembuatan filtrat dilakukan dengan memipet 1 ml darah ke dalam erlenmeyer kecil. . metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri. Fungsi penambahan akuades adalah mengencerkan darah sehingga albumin dalam darah akan larut oleh akuades. dan akuades ditambahkan 1 mL larutan kupritartrat. PEMBAHASAN Uji glukosa darah pada praktikum ini menggunakan metode spektofotometri. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur. larutan standar glukosa. filtrat 1. pada penambahan kupritartrat. standar glukosa. Penambahan pereaksi fosfomolibdat kuprooksida melarut lagi dan warna larutan akan berubah menjadi biru tua disebabkan oleh adanya oksidasi Mo. ion kupri akan direduksi oleh gula menjadi kupro dan mengendap sebagai Cu2O. filtrat 2. Menurut (Syabatini 2010). spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. serta ditambahkan 1 mL Na-wolframat 10%. albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Penambahan Na-wolframat bertujuan mengendapkan albumin yang terlarut dalam air.Gambar 1. sehingga ketika endapan tersebut dipisahkan dengan kertas saring akan memisah dengan sempurna. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda. Menurut Poedjiadi (1994). Selanjutnya tabung reaksi yang telah berisi masing-masing bahan.67 N tetes demi tetes. berturut-turut filtrat. Hasil percobaan ini sesuai dengan prinsip uji tauber yang memberikan hasil positif (warna biru) pada larutan yang mengandung monosakarida (glukosa). Hal tersebut dapat terjadi karena larutan kupritartrat mengandung asam laktat dan ion Cu+. Intensitaas warna larutan adalah ukuran banyaknya gula yang ada di dalam filtrat. dan filtrat 3 berturut-turut dari kiri ke kanan.

Larutan blanko yang merupakan campuran dari kupritartrat dan akuades memiliki kadar glukosa 0. Sementara kandungan glukosa dalam darah setelah dirata-ratakan dari ketiga pengulangan adalah 53. Pengamatan dengan spektronik-20 menggunakan prinsip hukum Lambert Beer. Kadarglukosa darah normal 50 –100 /dL ( 50/18 –100/18 mmol/dL ).000 mg/dL. namun tubuh tetap merasa lapar. Fosforilase kinase a akan mengaktifkan fosforilase (fosforilase fosforilase-P). Karena glukosa tidak dapat mencukupi kebutuhan energi jaringan. Penambahan H2SO4 0. enzim ini akan mengkatalisis pembentukan cAMP dari ATP.372 mg/dL. dibawah kontrol hormonal (glukagon atau kalau turunnya drastis menjadi epinefrin). Hasil pengukuran kadar glukosa dalam darah yang telah dilakukan pada praktikum ini menunjukkan bahwa larutan standar glukosa memiliki kadar glukosa 10 mg/dL (sesuai dengan literatur). lalu diencerkan dengan 7 ml akuades.67 N bertujuan untuk menciptakan suasana asam. glukosa darah menumpuk. sehingga tidak tercapai kadar glukosa yang normal dalam darah. Sehingga dapat diketahui bahwa yang digunakan dalam praktikum adalah darah ayam. Sedangkan diabetes adalah adanya berbagai gangguan yang ditandai dengan polyuria. Selain diabetes. yang selanjutnya akan mengubah fosforilase kinase b a (dengan fosforilasi membutuhkan ATP). Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum sinar tampak yang sinambung dan monokromatis. Terdapat dua jenis penyakit diabetes melitus yaitu diabetes melitus tipe 1 (insulin-dependent diabetes mellitus) yaitu kondisi defisiensi produksi insulin oleh pankreas. Ketiga tabung tersebut didinginkan. Kondisi ini hanya bisa diobati dengan pemberian insulin. karena reaksi dengan fosfomolibdat terjadi pada suasana asam. Hepar mempertahankan glukosa dengan glikogenolisis dan glukoneogenesis. Diabetes melitus tipe 2 (non-insulin-dependent diabetes mellitus) yang terjadi akibat ketidakmampuan tubuh untuk berespons dengan wajar terhadap aktivitas insulin yang dihasilkan pankreas (resistensi insulin). Bersama dgn enzim glukantransferase dan debrancing enzim glikogen akan dipecah semuanya. Diabetes melitus tipe 2 ini lebih banyak ditemukan dan diperkirakan meliputi 90% dari semua kasus diabetes di seluruh dunia (Suryohudoyo 1996). Apabila glukosa darah turun. Pemanasan berfungsi menambah laju reaksi oleh kupritartat. Bila kadar gula dalam darah melebihi atau kurang dari batas normal maka sistem metabolisme dalam tubuh akan terganggu. Akibatnya. Selanjutnya fosforilase yang aktif memecah glikogen menghasilkan G 1P. Salah satu contoh penyakit yang disebabkan oleh kelainan kadar glukosa yaitu diabetes melitus. Perubahan warna yang terjadi diamati dan intensitas warnanya diamati dengan spektronik-20 pada panjang gelombang 660 nm. penyakit yang diakibatkan ketidakseimbangan glukosa adalah polyuria. Sel pengabsorbsi untuk mengukur perbedaan absorbsi antara cuplikan dengan blanko ataupun pembanding.Selanjutnya ketiga tabung tersebut dipanaskan dengan air mendidih selama 8 menit tepat. Polifagia terjadi akibat jaringan tubuh tidak mendapatkan suplai glukosa yang cukup akibat gagalnya insulin membuka kanal glukosa. glukagon dilepas pankreas. cAMP akan mengaktifkan cAMP dependent protein kinase. Adapun penggunaan panjang gelombang sebesar 660 nm disebabkan karena panjang gelombang maksimum untuk transmitansi larutan glukosa adalah 660nm (Syabatini 2010). Menurut Dorland (2002).glukagon akan mengaktifkan adenilil siklase. Polyuria adalah kondisi dimana ekskresi urin yang besar atau berlebihan dalam periode tertentu. Sebanyak 1 mL larutan fosfomolibdat ditambahkan pada setiap tabung. maka tubuh mengambil energi tersebut dari sumber .

energi yang lain. namun secara khusus keduanya jelas terlibat dalam patogenesis katarak diabetika. sehingga protein ikut terlarut dalam urin. Poedjiadi Anna 1994. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Untuk menjaga agar urin tidak terlalu pekat. Biokimia I. Syabatini Annisa. Subronto. Penyakit Gangguan Metabolisme. Adanya kalsifikasi pada pankreas menunjukkan terganggunya fungsi pankreas dalam memproduksi insulin dalam jumlah normal. Dasar-dasar Biokimia.A Newman. Ilmu Penyakit Ternak II. Jakarta: UI Press. Ginjal tidak mampu menyaring protein dengan baik. sehingga lama kelamaan pasien menjadi semakin kurus. Naskah Lengkap Surabaya Diabetes Update-I : 71-73. sehingga cairan tubuh ikut keluar bersama urin. Bogor : IPB Press. Kadar kreatinin dan hasil uji protein urin yang abnormal juga menunjukkan salah satu komplikasi DM. Suryohudoyo P & Purnomo SU. Pengetahuan tentang kadar gula dalam darah sangat penting untuk metabolisme tubuh. DAFTAR PUSTAKA Achjadi K. Bogor: IPB Press.1988. Biokimia Patologi. penumpukan fruktosa dan sorbitol mengganggu kerja sistem saraf. Jakarta : Gramedia _________.732mg/dL. Selanjutnya. dan jaringan tubuh mengalami dehidrasi. Pontianak : UNLAM Press. Hasil uji kadar gula dalam darah sampel yaitu 53. . 2001. penderita DM pada umumnya merasa sering haus (polidipsi). seperti lemak atau protein. karena ginjal mempunyai ambang batas tertentu terhadap filtrasi glukosa. 2002. Karena itu pengujian urin untuk glukosa reduksi mempunyai hasil posisitif (+++). KESIMPULAN Kadar gula pereduksi dalam darah dapat dilakukan dengan uji spektofotometri. Secara umum. 2003. Sebab itu. maka glukosa ikut lolos sehingga keluar bersama urin. Jakarta: EGC. Girindra A. yaitu defisiensi kerja ginjal. Gejala klinis berupa polineuropati dan retinopati berkaitan dengan akumulasi fruktosa dan sorbitol. 1996. Dorland W. ginjal mempunyai sistem pengaturan sendiri. 2010. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Analisis Campuran Dua Komponen Tanpa Pemisahan Dengan Spektrofotometer.1989. Dasar Molekuler Diabetes Mellitus (DM).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful