ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN KOGNITIF ( DEMENSIA

)

OLEH KELOMPOK :

1. AGUS TRI WAHYUDI 2. BAYU MUHAMAD IKHROM 3. BUDI SARI DEWI 4. EKO YULIANTO 5. RINA KARTIKA SARI 6. SANTI NIRMAWATI 7. ULFA AGUSVIA PUTERI 8. YULISKA ISDAYANTI

P27220011160 P27220011165 P27220011166 P27220011170 P27220011194 P27220011200 P27220011203 P27220011206

DIII-DIV KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURAKARTA 2011/2012

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………………………………………………………………. B. Rumusan Masalah…………………………………………………………… C. Tujuan dan Manfaat…………………………………………………………. BAB 2 PEMBAHASAN A. Konsep Dementia 1. Pengertian Dementia…………………………………………………….. 2. Epidemiologi…………………………………………………………….. 3. Etiologi Dementia……………………………………………………….. 4. Klasifikasi……………………………………………………………….. 5. Patofisiologi…………………………………………………………….. 6. Pathway…………………………………………………………………. 7. Gejala Klinis…………………………………………………………….. 8. Diagnosis………………………………………………………………… 9. Penatalaksanaan………………………………………………………… 10. Pencegahan…………………………………………………………….. B. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian………………………………………………………………. 2. Diagnosa………………………………………………………………… 3. Intervensi………………………………………………………………… 4. Evaluasi…………………………………………………………………. DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………...

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau progresif di mana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi,termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar,kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului, oleh kemerosotandalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular, dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi otak (Durand dan Barlow, 2006). Menurut data Asia Pasifik tahun 2006, jumlah orang yang menderita demensia di wilayah Asia Pasifik pada 2025 diperkirakan meningkat lebih daridua kali lipat dan peningkatan ini akan lebih cepat dibandingkan dengan yangterjadi di negara-negara barat. Sementara di dunia, pada tahun 2040 jumlahpenderita demensia diperkirakan menjadi sekitar 80 juta orang. (Demensia dikawasan asia pasifik, 2006). Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan,penurunan emosi atau

perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringandalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana,menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-katayang tepat. Ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkankesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak dapatmenjalankan fungsi sosialnya. Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia lanjut.Bahkan, penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 501tahun. Sebagian besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yang hanya diderita oleh para Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapasaja dari semua tingkat usia dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003). Untuk mengurangi risiko, otak perlu dilatih sejak dini disertai penerapan gaya hidupsehat. (Harvey, R. J., Robinson, M. S. & Rossor, M. N, 2003)

B . RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pada uraian latar belakang di atas, adapun permasalahan yang hendak kelompok kemukakan dalam penulisan makalah ini, yaitu mengenai bagaimana gambaran klinis dari polisitemia serta bagaimana proses asuhan keperawatan pada klien dengan demensia ?

C . TUJUAN DAN MANFAAT Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain : 1. Melakukan pengkajian keperawatan dengan demensia 2. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan dengan demensia 3. Melakukan tindakan keperawatan dalam berbagai pendekatan tindakan keperawatan dengan demensia 4. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan dengan demensia

C.(Kushariyadi. (Mickey Stanley. pemikiran. namun rawatan untuk menangani gejala-gejala boleh diperolehi. fikiran. penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian. A. 1998).BAB II PEMBAHASAN A. Penyakit ini boleh dialami oleh semua orang dari berbagai latarbelakang pendidikan mahupun kebudayaan. Sel yang terpengaruh pertama kali kehilangan kemampuannya untuk mengeluarkan asetilkolin lalu terjadi degenerasi. 2006) Demensia tipe alzhimer adalah proses degenerative yang terjadi pertama-tama pada sel yang terletak pada dasar otak depan yang mengirim informasi ke korteks serebral dan hipokampus. dan bisa terjadi kemunduran kepribadian. KONSEP DEMENSIA 1. . dimana terjadi gangguan ingatan. 2010) Demensia adalah satu penyakit yang melibatkan sel-sel otak yang mati secara abnormal. dewasa ini tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk menghidupkan kembali sel-sel atau menggantikannya. Mahoney. Grayson (2004) menyebutkan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa. Demensia adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kerusakan fungsi kognitif global yang biasanya bersifat progresif dan mempengaruhi aktivitas social dan okupasi yang normal juga aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS). Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive) (Volicer. Walaupun tidak terdapat sebarang rawatan untuk demensia. Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan. melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.. Daya ingatan. Hurley. E.. Jika degenerasi ini mulai berlangsung.Hanya satu terminologi yang digunakan untuk menerangkan penyakit otak degeneratif yang progresif. tingkah laku dan emosi terjejas bila mengalami demensia. Pengertian Demensia Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. L.

Pada negara industri kasus demensia 0. Tetapi demensia biasanya timbul secara perlahan dan menyerang usia diatas 60 tahun. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 – 60 % dan 30 – 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer.Pada usia muda.2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). yang makin lama makin parah. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15. Demensia merupakan penurunan kemampuan mental yang lebih serius.000 penduduk indonesia mengalami demensia dengan berbagai penyebab. seseorang bisa lupa akan hal-hal yang detil. . Namun demensia bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. penyakit atau zat-zat racun (misalnya karbon monoksida) menyebabkan hancurnya sel-sel otak. yang salah satu diantaranya adalah alzeimer. peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi .0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 – 15% atau sekitar 3 – 4 juta orang. Masalah demensia sering terjadi pada pasien lansia yang berumur diatas 60 tahun dan sampai saat ini diperkirakan kurang lebih 500. Lupa pada usia lanjut bukan merupakan pertanda dari demensia maupun penyakit Alzheimer stadium awal.35% disebabkan demensia lainnya. tetapi penderita demensia bisa lupa akan keseluruhan peristiwa yang baru saja terjadi. Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Pada penuaan normal. populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7. Perubahan normal ini tidak mempengaruhi fungsi. Epidemiologi Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998. demensia bisa terjadi secara mendadak jika cedera hebat.5 –1. Sejalan dengan bertambahnya umur. Kira-kira 5 % usia lanjut 65 – 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. 2. maka perubahan di dalam otak bisa menyebabkan hilangnya beberapa ingatan (terutama ingatan jangka pendek) dan penurunan beberapa kemampuan belajar. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50-70%.

demensia Lewy body.3. 2006). adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik. neurotransmiter. kegagalan metabolisme energi. P. polusi udara/industri. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan calcium intraseluler. Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori. gangguan fungsi imunitas. trauma. tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor genetika. Etiologi Demensia Disebutkan dalam sebuah literatur bahwa penyakit yang dapat menyebabkan timbulnya gejala demensia ada sejumlah tujuh puluh lima.V. N. penyakit vascular (pembuluh darah). 2004). Beberapa penyakit dapat disembuhkan sementara sebagian besar tidak dapat disembuhkan (Mace. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson. infeksi virus. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. Dasar kelainan patologi penyakit Alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal.L. kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kongnitif dengan penurunan daya ingat secara progresif. tetapi beberapa penelitian telah membuktikan . tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat. Penyakit Alzheimer adalah penyakit genetika. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika. C. kegagalan metabolisme energi. & Rabins. defisit formasi sel-sel filament predisposisi heriditer. dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus faktor genetika. Kemungkinan sel-sel tersebut mengalami degenerasi yang diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium intraseluler. Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer. kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir Untuk demensia tipe Alzheimer ada beberapa penyebab yang telah dihipotesa adalah intoksikasi logam. adanya formasi radikal bebas atau terdapat produksi protein abnormal yang non spesifik. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer.

agnosia. Demensia ini ditandai dengan gejala :   Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif.    Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru. Orang yang pertama kali mendefinisikan penyakit ini adalah Alois Alzheimer sekitar tahun 1910. . Demensia pada penyakit Alzheimer belum diketahui secara pasti penyebabnya. dimana faktor lingkungan hanya sebagai pencetus factor genetika. apraksia. Daya ingat terganggu. Demensia Tipe Alzheimer Dari semua pasien dengan demensia. obsesitive. ditemukan adanya : afasia. Perubahan kepribadian (depresi. kecurigaan). 50 – 60 % memiliki demensia tipe ini. Beberapa factor lain yang menyebabkan alzeimer :       Faktor genetic Faktor infeksi Faktor lingkungan Faktor imunologis Faktor trauma Faktor neurotransmitter 4. gangguan fungsi eksekutif. walaupun pemeriksaan neuropatologi dan biokimiawi post mortem telah ditemukan lose selective neuron kolinergik yang strukturnya dan bentuk fungsinya juga terjadi perubahan. Kehilangan inisiatif.bahwa peran faktor non-genetika (lingkungan) juga ikut terlibat. Klasifikasi a.

b. Demensia senilis (>65th) 2. Demensia Vaskuler Penyakit ini disebabkan adanya defisit kognitif yang sama dengan Alzheimer tetapi terdapat gejala-gejala / tanda-tanda neurologis fokal seperti :      Peningkatan reflek tendon dalam. Palsi pseudobulbar. vit B Defisiensi. Demensia dapat ditegakkan juga dengan MRI dan aliran darah sentral. merokok. Demensia prasenilis (<65th)  Menurut perjalanan penyakit: 1. Demensia vaskuler merupakan demensia kedua yang paling sering pada lansia. Respontar eksensor. subdural hematoma. hipertensi. DM. Pedoman diagnostik penyakit demensia vaskuler :    Terdapat gejala demensia Hendaya fungsi kognitif biasanya tidak merata Onset mendadak dengan adanya gejala neurologis fokal  Menurut Umur: 1. Hipotiroidisma. sehingga perlu dibedakan dengan demensi Alzheimer. Pencegahan pada demensia ini dapat dilakukan dengan menurunkan faktor resiko misalnya . intoxikasi Pb. Kelainan gaya berjalan. aritmia. . Reversibel 2. Kelemahan anggota gerak. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus.

Morbus Pick 10. Prion disease 13. Kerusakan neuron tersebut terjadi secara primer pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak. Menurut kerusakan struktur otak 1. Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang . Patofisiologi Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi yang dijumpai pada penyakit Alzheimer. Multiple sklerosis 15. Demensia terkait dengan SIDA(HIV-AIDS) 7. Tipe non-Alzheimer 3. Menurut sifat klinis: 17. Demensia proprius 18. Sindrom Gerstmann-Sträussler-Scheinker 12. perubahan otak pada Alzheimer melibatkan kerusakan berat neuron korteks dan hippocampus. Demensia Lobus frontal-temporal 6. terdapat perubahan morfologik (structural) dan biokimia pada neuron – neuron. Demensia vaskular 4. protein prukesor amiloid (APP). Morbus Huntington 9. bagian dari suatu protein besar. Morbus Jakob-Creutzfeldt 11. Secara mikroskopik. Pseudo-demensia 5. Morbus Parkinson 8. serta penimbunan amiloid dalam pembuluh darah intracranial. Palsi Supranuklear progresif 14. Demensia Jisim Lewy (Lewy Body dementia) 5. antara lain: serabut neuron yang kusut (masa kusut neuron yang tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis (deposit protein beta-amiloid. Tipe Alzheimer 2. Secara maskroskopik. Neurosifilis 16.

Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks ganda yang sekelilingnya masing – masing terluka. Pembentukan neuron yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan Alzheimer. Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein “tau”. secara kimia menyebabkan perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara bersama – sama. dan diyakini beracun bagi neuron yang utuh.pada akhirnya berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit. salah satunya A-beta. Lesi khas lain adalah plak senilis. protein tau sebagian besar sebagai penghambat pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus dan merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. terutama terdiri dari beta amiloid (A-beta) yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan dalam sel neuronal. hubungan interseluler adalah yang pertama kali tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel. perubahan biokimia dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Dengan kolapsnya system transport internal. Secara neurokimia kelainan pada otak . fragmen lengket yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan tersebut akhirnya bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril – fibril plak yang membeku. padat. Abeta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP) yang pada keadaan normal melekat pada membrane neuronal yang berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron. Kemungkinan lain adalah A-beta menghasilkan radikal bebas sehingga menggagu hubungan intraseluler dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan makin rentannya neuron terhadap stressor. tidak dapat larut. Dalam SSP. APP terbagi menjadi fragmen – fragmen oleh protease. Selain karena lesi. matang. Pada neuron AD terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau.

Hal ini disebabkan adanya gangguan kognitif sehingga timbul gejala neuropsikiatrik seperti. menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya. gangguan bahasa (afasia). gangguan tidur. dimana akibat proses degenaratif menyebabkan kematian sel-sel otak yang massif. dan ada gangguan visuospasial. depresi. dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara lain: Disorientasi. “Fungsi memori yang t erganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami Stadium II Berlangsung selama 2-10 tahun. Kematian selsel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam kurun waktu 30 tahun. mengacau). Wahan (curiga. berlanjut dengan kesulitan mengenal benda dan akhirnya tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah. nafsu makan dan gangguan aktifitas psikomotor.  Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium. Awalnya ditemukan gejala mudah lupa (forgetfulness) yang menyebabkan penderita tidak mampu menyebut kata yang benar. depresi berat prevalensinya 15-20%. berkelana.” . penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai. agitasi (gelisah. Gejala Klinis Demensia yang paling banyak ditemukan yaitu tipe Alzheimer Demensia Alzheimer Gejala klinis demensia Alzheimer merupakan kumpulan gejala demensia akibat gangguan neuro degenaratif (penuaan saraf) yang berlangsung progresif lambat. sampai menuduh ada yang mencuri barangnya).Pathway (terlampir) 6. berhitung dan aktifitas spontan menurun. yaitu : Stadium I Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori. Penderita mudah bingung. tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi. halusinasi pendengaran atau penglihatan.

namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil. kematian terjadi akibat infeksi atau trauma. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas.Gejala klinisnya antara lain: Penderita menjadi vegetatif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri. Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia. mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi. tidak bergerak dan membisu. Mereka sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka. daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri. perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan. mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal.Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat. Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan.. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. mulai .

seperti : acuh tak acuh. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul. ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti. pemeriksaan fisik.. bulan. melawan. halusinasi. depresi. minggu. E. apatis. “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi. tahun. pengkajian status mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium. Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan. Mahoney. tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. cemas. kerusakan fungsi tubuh.dari pengkajian latar belakang individu. Secara umum tanda dan gejala demensia adalah sbb:  Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. dan kabur dari tempat tinggal (Volicer. agitasi. marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain. misalnya: lupa hari. misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi. sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. pengkajian syaraf. L. disorientasi spasial. tempat penderita demensia berada  Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. marah. menarik diri dan gelisah .  Gangguan orientasi waktu dan tempat. rasa takut dan gugup yang tak beralasan. mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali  Ekspresi yang berlebihan. Pada penderita demensia. A..C. 1998). Hurley. menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi.  Adanya perubahan perilaku.

Tanamkanlah dalam hati bahwa penderita demensia tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Merawat penderita dengan demensia memang penuh dengan dilema. hewan dan alat dengan susah payah  Pemeriksaan laboratonium. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia. Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. walaupun setiap hari selama hampir 24 jam kita mengurus mereka. pemeriksaan EEC  Pencitraan otak amat penting CT atau MRI  Peran Keluarga Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian Lansia. mungkin mereka tidak akan pernah mengenal dan mengingat siapa kita. bahkan tidak ada ucapan terima kasih setelah apa yang kita lakukan untuk mereka. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Merekapun berusaha dengan keras untuk melawan gejala yang muncul akibat demensia. . Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia. Diagnosis Diagnosis difokuskan pada hal-hal berikut ini:  Pembedaan antara delirium dan demensia  Bagian otak yang terkena  Penyebab yang potensial reversibel  Perlu pembedaan dan depresi (ini bisa diobati relatif mudah)  Pemeriksaan untuk mengingat 3 benda yg disebut  Mengelompokkan benda.7.

termasuk gejala perilaku yang mengganggu. kesedihan. harus dilakukan segera setelah diagnosis dicurigai. diabetes dan ketergantungan alkohol. Pasien dengan merokok harus diminta untuk berhenti. Pengobatan simptomatik termasuk pemeliharaan diet gizi. faktor risiko yang berperan pada penyakit kardiovaskular harus diidentifikasi dan ditanggulangi secara terapetik. 8. pemeriksaan fisik. latihan yang tepat. Jika diagnosis demensia vaskular dibuat. dan pengobatan farmakologis untuk gejala spesifik. terapi diarahkan untuk mengobati gangguan dasar. dan pengobatan masalah medis yang menyertai. seperti infeksi saluran kemih. Pemeliharaan kesehatan fisik pasien. penyakit jantung. ulkus dekubitus. dan tes laboratorium. terapi rekreasi dan aktivitas. Faktor-faktor tersebut adalah hipertensi. bantuan emosional untuk pasien dan keluarganya. Riwayat medis yang lengkap. Penatalaksanaan Beberapa kasus demensia dianggap dapat diobati karena jaringan otak yang disfungsional dapat menahan kemampuan untuk pemulihan jika pengobatan dilakukan tepat pada waktunya. Jika pasien menderita akibat suatu penyebab demensia yang dapat diobati. dan disfungsi kardiopulmonal. hiperlipidemia. perhatian terhadap masalah visual dan audiotoris.Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia. dan masalah psikologis saat mereka merawat pasien selama periode waktu yang lama. termasuk pencitraan otak yang tepat. karena penghentian merokok disertai dengan perbaikan perfusi serebral dan fungsi kognitif. lingkungan yang mendukung. Perhatian khusus karena diberikan pada pengasuh atau anggota keluarga yang menghadapi frustasi. obesitas. Pendekatan pengobatan umum pada pasien demensia adalah untuk memberikan perawatan medis suportif. . dan pengobatan farmakologis simptomatik diindikasikan dalam pengobatan sebagian besar jenis demensia.

cholinedan lecithin merupakan salah satu pilihan dan memberi hasil lumayan. Obat untuk demensia Cholinergic-enhancing agents Untuk terapi demensia jenis Alzheimer. walaupun dengan dosis yang berlebih sehingga kadar dalam serum mencapai 120 persen dan dalam cairan serebrospinal naik sampai 58 persen. pemberian obat kombinasi ini harus hati-hati karena dapat terjadi interaksi yang mengganggu sistem kardiovaskular. vasopressin dan ACTH Pemberian neuropetida. Pemberian prekursor. Dengancholine ada sedikit perbaikan terutama dalam fungsi verbal dan visual. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa demensia alzheimerntidak semata-mata disebabkan oleh defisiensi kolinergik. Neuropeptide. c. ialahnicer goline dan co-dergocrine mesylate. namun demikian tidak memperlihatkan hal yang istimewa. demensia ini juga disebabkan oleh defisiensi neurotransmitter lainnya. Pemberian cholinergic-enhancing agents menunjukkan hasil yang lumayan pada beberapa penderita. Denganlecith in hasilnya cenderung negatif. Keduanya berpengaruh terhadap katekolamin. a. telah banyak dilakukan penelitian. Neuropeptida dapat memperbaiki daya ingat semantik yang berkaitan dengan informasi dan kata-kata. vasopressin dan ACTH perlu memperoleh perhatian. b. Pada lansia tanpa gangguan psiko-organik. Sementara itu. Nootropic agents Dari golongan nootropic substances ada dua jenis obat yang sering digunakan dalam terapi demensia. pemberian ACTH dapat memperbaiki daya konsentrasi dan memperbaiki keadaan umum. Co-dergocrine mesylate memperbaiki perfusi serebral dengan cara mengurangi tahanan vaskular dan meningkatkan konsumsi . Cholinedan lecithin Defisit asetilkolin di korteks dan hipokampus pada demensia Alzheimer dan hipotesis tentang sebab dan hubungannya dengan memori mendorong peneliti untuk mengarahkan perhatiannya pada neurotransmitter. d. namun demikian secara keseluruhan tidak menunjukkan keberhasilan sama sekali. kombinasi kolinergik dan noradrenergic ternyata bersifat kompleks.

Nimodipin memelihara sel-sel endothelial/kondisi mikrovaskular tanpa dampak hipotensif. dengan demikian sangat dianjurkan sebagai terapi alternatif untuk lansia terutama yang mengidap hipertensi esensial 9. 3. Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif  Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama. 5. Dihydropyridine Pada lansia dengan perubahan mikrovaskular dan neuronal. serta memperbaiki kognisi. Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan 2. Kegiatan merangsang mental dapat meningkatkan kemampuan anda untuk menangani dan mengkompensasi perubahan yang berhubungan dengan demensia. Obat ini memperbaiki perilaku.bermain alat music. Lipophilic dihydropyridine bermanfaat untuk mengatasi kerusakan susunan saraf pusat pada lansia.  Tetap berinteraksi dengan lingkungan. L-type calcium channels menunjukkan pengaruh yang kuat.oksigen otak. dan mengurangi bingung. berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi 4. seperti : 1. e. aktivitas.belajar bahasa.menulis. Disisi lain.atau menggambar. Nimodipin bermanfaat untuk mengembalikan fungsi kognitif yang menurun pada lansia dan demensia jenis Alzheimer.nicergoline tampak bermanfaat untuk memperbaiki perasaan hati dan perilaku. Ini mencakup teka teki dan permainan kata. Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat. Pencegahan demensia Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia ataupun menunda terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak. Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari. Tidak hanya kegiatan ini . Jagalah pikiran anda agar tetap aktif.membaca.

Semakin sering melakukan aktivitas maka semakin menguntungkan. Pada akhirnya penderita tidak mampu mengikuti suatu percakapan dan bisa kehilangan kemampuan berbicara. . Biasanya ditemukan pada ikan dan kacangkacangan tertentu dapat memiliki efek perlindungan dan menurunkan resiko terkena demensia. Endapan yang terjadi dalam otak orang-orang dengan kolesterol tinggi merupakan salah satu penyebab demesia vaskuler. 7. Turunkan kadar homosistein.difteri signifikan mengurangi resiko demensia karena memiliki efek perlindungan terhadap berkembangnya demensia.tetapi juga membantu menurunkan efek. Prognosis Pada sebagian besar demensia stadium lanjut terjadi penurunan fungsi otak yang hampir menyeluruh. Penelitian awal menunjukkan bahwa tiga dosis tinggi vitamin B-asam folat-B6 dan B12 membantu menurunkan kadar homosistein dan berguna untuk memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer. 9. Suasana hatinya sering berubah-ubah dan senang berjalan-jalan (berkelana). Turunkan kadar kolesterol.tetanus. Diet yang sehat adalah penting karena menurut penelitian bahwa makanan seperti buah-buahan.yang membantu menunda terjadinya demensia. Penderita lebih menarik dirinya dan tidak mampu mengendalikan perilakunya.sayuran dan omega 3 dan asam lemak. Mereka dan yang polio menerima tampaknya vaksinasi secara untuk influenza. Pertahankan pola makan sehat. 10. 8. Dapatkan vaksinasi. 6.

Pengkajian Pengkajian yang dilakukan secara umum pada penyakit demensia antara lain: a. Eliminasi Gejala: Dorongan berkemih Tanda: Inkontinensia urine/feaces. hipertensi. Integritas ego Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan. . c.B. duduk dan menonton yang lain. kehilangan multiple. d. Aktifitas istirahat Gejala: Merasa lelah Tanda: Siang/malam gelisah. Gangguan keterampilan motorik. aktivitas pertama mungkin menumpuk benda tidak bergerak dan emosi stabil. atau berjalan-jalan. episode emboli (merupakan factor predisposisi). kesalahan identifikasi terhadap objek dan orang. Sirkulasi Gejala: Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik. gerakan berulang ( melipat membuka lipatan melipat kembali kain ). b. gangguan pola tidur Letargi: penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa. cenderung konstipasi/ imfaksi dengan diare. Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak mampu untuk melakukan kewajiban. ketidakmampuan untuk melakukan hal yang telah biasa yang dilakukannya. menyembunyikan barang. kesalahan persepsi terhadap lingkungan. penimbunan objek : meyakini bahwa objek yang salah penempatannya telah dicuri. ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang dibaca/ mengikuti acara program televisi. tidak berdaya. perubahan citra tubuh dan harga diri yang dirasakan. gerakan yang sangat bermanfaat. mungkin juga tangan membuka buku namun tanpa membacanya) . Pengkajian 1. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN DEMENSIA 1. hobi.

e.kata yang benar ( terutama kata benda ). Tanda: Kehilangan kemampuan untuk mengunyah. bertanya berulang-ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak memiliki arti. mengingat yang berlalu. Neurosensori Gejala : Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan kognitif. emboli atau hipoksia yang berlangsung secara periodic ( sebagai factor predisposisi ) serta aktifitas kejang ( merupakan akibat sekunder pada kerusakan otak ). h. dan adanya riwayat penyakit serebral vaskuler/sistemik. kebiasaan pembersihan buruk. g. Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau bagian tubuh dalam ruang tertentu ). terpenggal-penggal. lupa langkah-langkah untuk buang air. Kenyamanan Gejala : Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin menjadi factor predisposisi atau factor akselerasinya). mengingkari terhadap rasa lapar/ kebutuhan untuk makan. keluhan hipokondria tentang kelelahan. luka bakar dan sebagainya). Makanan/cairan Gejala: Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor predisposisi) perubahan dalam pengecapan. menggunakan alat makan. kehilangan berat badan. Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia. dan atau gambaran yang kabur. Tanda : Ekimosis. nafsu makan. lupa untuk pergi kekamar mandi. laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang lain i. mengambil keputusan. adanya keluhan dalam kemampuan kognitif. Hiygene Gejala : Perlu bantuan /tergantung orang lain Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan. . makan. f. kesulitan dalam menemukan kata. Kehilangan kemampuan untuk membaca dan menulis bertahap ( kehilangan keterampilan motorik halus ). tidak dapat menemukan kamar mandi dan kurang berminat pada atau lupa pada waktu makan: tergantung pada orang lain untuk memasak makanan dan menyiapkannya dimeja. dan tampak semakin kurus (tahap lanjut). kebiasaan personal yang kurang. trauma kecelakaan ( jatuh. Interaksi social Gejala : Merasa kehilangan kekuatan. pusing atau kadang-kadang sakit kepala. pengaruh personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah laku yang muncul. factor psikososial sebelumnya. atau bicaranya tidak terdengar. penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh orang terdekat). menghindari/menolak makan (mungkin mencoba untuk menyembunyikan keterampilan).

recall. Perkembangan dari senile plaques atau lesi yang anatomik terkait dengan penuaan. Perubahan umum dari sistem saraf yang terkait dengan Proses Menua adalah sebagai berikut: Struktur Otak:        Kehilangan berat otak karena penuaan menyebabkan pengurangan jumlah dari neuron dengan kehilangan area yang besar dari cortex dan cerebellum. memory dan kemampuan kognitif). mood mengakibatkan gangguan tidur. kelincahan dan ketangkasan). aliran darah. peraba dan perasa).Tanda : Kehilangan control social.  Penurunan kadar norepinephrine.  Demensia terjadi akibat kerusakan yang terjadi di dalam susunan saraf pusat terkait dengan proses penuaan. . Pada pengkajian Lansia dengan masalah demensia bisa digolongkan dalam pengkajian sistem saraf secara umum. Perubahan metabolik dari kompleks sinaptik menyebabkan efek neurotransmiter berhubungan dengan fungsi otak dengan tidur.  Penurunan jumlah neuron menyebabkan penurunan dalam kekuatan transmisi dari otak ke anggota badan dan mengakibatkan perubahan ambang bekerja dari organ dan sistem. Fungsi Metabolik dan Fisiologik Menurunnya konsumsi oksigen menyebabkan penurunan energi intraseluler. kontrol temperatur. afek. intoleransi terhadap dingin dan depresi. Dilatasi dari ventrikel karena proses menua. komunikasi). dalam pergerakan (kekuatan motorik.  Perubahan umum dalam sirkulasi otak menyebabkan kekacauan mental (association retrieval. penggunaan glukosa. pada interpretasi sensory (penglihatan. kemampuan dalam koping dengan kejadian multipel (depresi. Atrofi dari tegangan dengan perluasan sulci dan gyri paling banyak di daerah frontal. penciuman. peningkatan kadar serotonin dan monoamin oksidase menyebabkan perubahan dalam fungsi neurotransmiter dan depresi.perilaku tidak tepat. penurunan kadar dopamin menyebabkan penyakit parkinson’s. pendengaran. Peningkatan akumulasi intrasel dari pigmen lipofuscin menyebabkan intisel mengasumsikan posisi yang abnormal.

 Peningkatan recovery time dari susunan saraf otonom menyebabkan pemanjangan waktu untuk kembali ke fungsi organ awal setelah stimulasi mengakibatkan kecemasan dan ketegangan akibat stimulasi yang berlebihan. Insomnia. Perubahan ekstra piramidal menyebabkan perubahan affect. pada malam hari atau adaptasi yang lambat untuk melihat dalam gelap. menyebabkan frekuensi bangun saat malam hari dan penurunan intensitas dari tidur membuat lebih mudah untuk bangun dan tidak mendapatkan tidur yang cukup.   Penurunan dendrites pada saraf. letargi dan depresi. waktu tahap IV sangat berkurang atau terlewati semua dengan penuaan.  Penurunan dalam sensitivitas dari cones di retina terhadap warna menyebabkan kesulitan dalam membedakan warna (merah dan hijau menjadi hitam). sinap. mengurangi pergerakan dan berkedip. Perubahan Pola Tidur   Tetap pada tahap I dan II untuk jangka waktu yang lama dan mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk tertidur. Tahap III tetap sama. meningkat dengan usia menyebabkan gangguan pola tidur dan penyimpangan. . lesi pada akson menyebabkan penurunan pada hantaran saraf tepi dan memperlambat waktu reaksi. sleep apnea dan tidur sebentar. Fungsi dan Struktur Sensori  Penurunan ukuran pupil dan perubahan respon cahaya yang minimal menyebabkan kesulitan melihat dalam gelap.   Pengurangan pada tahap IV menyebabkan rasa lemas. cemas dan tegang. capek.  Waktu tidur REM sebanding dengan tahap lain dari masa dewasa tetapi penuaan mengakibatkan mimpi kurang dan pengurangan pada REM mengakibatkan mudah terangsang. Perubahan Electroencephalographic (EEG)  Pada pembacaan menampakkan satu siklus yang lebih rendah daripada tahap lain yang matang.

9) Risiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan. perubahan sensori. tidak mampu menginterpretasikan stimulasi dan menilai realitas dengan akurat. . 4) Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori ditandai dengan keluhan verbal tentang kesulitan tidur. curiga. gangguan tidur. mudah tersinggung. nyeri) ditandai dengan cemas. mudah tersinggung. 3) Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari ditandai dengan kebingungan. kemunduran hobi. 8) Risiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mudah lupa. gelisah. otot tidak terkoordinasi. 5) Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif. orang dan waktu. tampak cemas. kekacauan mental. transmisi atau integrasi sensori (penyakit neurologis. keprihatinan. Diagnosa Keperawatan 1) Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis (degenerasi neuron ireversibel) ditandai dengan hilang ingatan atau memori. 2) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi. tingkah laku curiga. tingkah laku defensive.2. 7) Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan persepsi ditandai dengan disorientasi tempat. apatis. 6) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan pemecahan masalah tidak adekuat ditandai dengan cepat marah. frustasi atas kehilangan kemandiriannya ditandai dengan penurunan kemampuan melakukan perawatan diri. gelisah. kelemahan. tidak mampu berkomunikasi. dan tingkah laku agresif. terus-menerus terjaga. hilang konsentrsi. aktivitas kejang. tidak mampu menentukan kebutuhan/ waktu tidur. halusinasi.

Pertahankan meningkatkan . Memberikan perbandingan akan datang dasar yang dan diri yang dan konflik dan seperti Rasional berhubungan tindakan perubahan diharapkan mampu (degenerasi neuron perubahan ireversibel) ditandai berpikir dengan KH: dengan ingatan memori. konsentrsi. Bicarakan dengan keluarga derajat kognitif. perhatian. meningkatkan pengembangan evaluasi positif mengurangi psikologis yang b. memengaruhi rencan intervensi. Kembangkan lingkungan mendukung hubungan perawat terapeutik yang dan klienyang Mandiri a. mampu menginterpretasikan stimulasi menilai dan realitas hilang atau hilang tidak Mampu memperlihatkan kemampuan kognitifuntuk menjalani konsekuensi kejadian menegangkan terhadap emosi dan pikiran tentang diri Mampu mengembangkan strategi untuk dengan akurat. perubahan rentang b. Mengurangi kecemasan emosional. Kaji gangguan seperti orientasi.3. Intervensi No Diagnosa keperawatan 1 Perubahan pikir dengan fisiologis Tujuan dan kriteria Intervensi hasil proses Setelah diberikan Mandiri keperawatan klien mengenali dalam a. evaluasi Catatan: orientasi secara berulang dapat meningkatkan respon yang negative/tingkat frustasi c. kemampuan berpikir. kemarahan. Kebisingan merupakan berlebihan sensori yang mengatasi anggapan diri yang negative Mampu mengenali perubahan berpikir tingkah laku dalam atau dan mengenai perubahan perilaku factor penyebab Mampu c.

Lakukan pendekatan dengan cara persepsi/perasaan. Seiring perkembangan dan yang g. ancaman. Gunakan suara yang agak rendah dan penyakit. Tatap wajah ketika berbicara klien dengan f. f. Menimbulkan perhatian. Nama adalah bentuk identitas diri dan menimbulkan pengenalan terhadap realita dan klien g. terancam e. Panggil klien tinggi dank Ucapan eras dengan namanya menimbulkan stress/marah mencetuskan konfrontasi respons marah h. diinginkan. Meningkatkan pemahaman. Pendekatan buru klien kesalahan terburu- menyenangkan dan tenang menyebabkan bingung.memperlihatkan penurunan tingkah laku yang tidak lingkungan yang gangguan neuron d. kebingungan dan d. pada klien terutama dengan perlahan dan tenang gangguan perceptual e. komunikasi otak pusat dalam terganggu berbicara dengan .

Dengarkan dengan dalam membantu meningkatkan disorientasi. memberi pengalaman positif j. Orientasi . Gunakan kata-kata keseluruhan i. menstimulasi komunikasi. Membantu dengan proses i. kalimat dan Ulangi tersebut kebutuhan instruksi sesuai menurunkan frustasi k. Beri isyarat tertentu. Berhenti sejenak di antara kalimat/pertanyaan. gunakan terbuka kalimat alat kata klien bantu dalam dan Isyarat secara pendek. Lamunan j. Provokasi menurunkan harga diri dan ancaman mencetuskan merupakan yang agitasi yang tidak sesuai l.perlahan pada klien sehingga menghilangkan kemampuan dalam klien respons penerimaan pesan dan percakapan h. Mengarahkan perhatian penghargaan. meningkatkan pemahaman. Menimbulkan respons verbal.

pada meningkatkan realita pembicaraan Interpretasikan perasaan realita klien. Hindari kritikan. dan kata. Tertawa membantu dan argumentasi. dan menurunkan keikutsertaan meningkatkan kecurigaan. tentang yang saat tidak meningkatkan kecemasan . delusi n. arti. Beri kata yang benar k. penghargaan diri dan kemuliaan (kebahagiaan) personal m. Keterpaksaan pertanyaan. jika distraksi. konfrontasi negative dalam komunikasi dan meningkatkan kestabilan emosi l. Gunakan Bicarakan kejadian sebenarnya klien mengungkapkan ide yang salah.penuh perhatian klien.

seperti haloperidol (haldol). Dapat meningkatkan kesadaran mental dan tetapi memerlukan . tioridazin (Mallril) Kolaborasi a. Antisiklotik. Mallril jarang digunakan karena adanya beberapa efek samping yang bersifat ekstrapiramidal. Vasodilator.m. Dapat digunakan untuk mengontrol agitasi. halusinasi. Gunakan hal yang humoris berinteraksi klien saat pada Kolaborasi a. seperti b. masalah penglihatan dan terutama gangguan berdiri berjalan. Hindari klien dari aktivitas komunikasi dipaksakan dan yang n. meningkatkan kekacauan mental. b.

beri . c. Dalam lebih penelitian cara merupakan yang terus dilakukan menerus untuk menyelidiki kemanfaatan dari tiamin dosis tinggi selama fase awal penyakit untuk memperlambat berkembangnya gangguan/meningk atan kognisi sederhana keadaan secara 2 Perubahan persepsi Setelah sensori berhubungan dengan tindakan diharapkan diberikan Mandiri keperawatan perubahan a. Meningkatkan kenyamanan menurunkan kecemasan pada klien b. Titamin penelitian lanjut. ditandai strategi psikososial c. Bantu klien untuk memahami halusinasi neurologis. mampu berkomunikasi. Meningkatkan koping dan halusinasi c.siklandelat (Cyclospasmol) c. Untuk membantu klien informasi dalam memahami menurunkan dan perubahan persepsi sensori klien persepsi. kembangkan lingkungan suportif yang dan Mandiri a. transmisi dapat berkurang atau atau sensori integrasi terkontrol dengan KH: (penyakit tidak Mengalami penurunan halusinasi Mengembangkan hubungan perawat – klien terapeutik b. gangguan nyeri) tidur.

halusinasi.membatasi /menurunkan kesalahan interpretasi stimulasi mata atau alat bantu pendengaran keperluan sesuai . cemas. ajarkan untuk stress f. kaji derajat sensori d.pengobatan dan cara mengatasi d. anjurkan menggunakan strategi mengurangi e.hubungannya dengan sifat halusinasi stress atau mengatur prilaku. Meningkatkan masukan sensori. Mendemonstrasikan respon yang sesuai stimulasi Perawat mampu stresor/pengalaman emosional yang traumatic. gelisah. Untuk halusinasi menurunkan akan kebutuahan untuk kaca f. Keterlibatan atau persepsi bagaimana tersebut mempengaruhi klien termasuk penurunan penglihatan pendengaran atau gangguan dan hal memperlihatkan masalah yang bersifat asimetris menyebabkan klien kehilangan otak mengidentifikasi factor yang eksternal berperan terhadap perubahan kemampuan persepsi sensori kemampuan pada salah satu sisi tubuh (gangguan unilateral). untuk mengurangi tentang halusinasi .dengan apatis. e. Klien tidak dapat mengenali rasa lapar .

hari Mempertahankan rasa berharga pada diri dan identitas pribadi yang positif Membuat pernyataan positif status kesehatan) d. tingkah defensive. Orientasikan lingkungan rutinitas baru pada dan b. Memberi kesempatan mengontrol lingkungan melindungi dan dari tentang lingkungan yang baru Memperlihatkan penerimaan terhadap perubahan lingkungan penyesuaian kehidupan Mampu menunjukan tentang dan kelainan tingkah laku e. kekacauan mental.3 Sindrom relokasi berhubungan dengan dalam kehidupan stress Setelah tindakan diberikan Mandiri keperawatan a. Untuk membangun diharapkan klien dapat dengan aktivitas hari dan kepercayaan dan rasa aman perubahan beradaptasi aktivitas perubahan sehari. Konsistensi . perubahan krisis persepsi klien tentang kejadian dan tingkat serangan. perkembangan. lingkungan aktivitas kehidupan sehari. Tempatkan pada d. Untuk menentukan c. cemas. keprihatinan. tersinggung. Tentukan jadwal e. laku laku tampak mudah : Mengidentifikasi perubahan Mampu beradaptasi pada perubahan dan perasaan terganggu c. Kaji tingkat stressor (seperti penyesuaian diri. Jalin saling hubungan mendukung Mandiri a. Menurunkan kecemasan dan hari ditandai dengan lingkungan dengan KH kebingungan. sebaginya dan dengan terdekat aktivitas waktu dan meningkatkan masalah tingkah laku. gelisah. makan. tingkah laku curiga. dan tingkah agresif.sehari- dengan klien b. peran akibat keluarga. Perawatan di rumah sakit aktivitas mengubah klien dan ruangan pribadi jika mungkin bergabung orang dalam perawatan.

defensive h. munculnya perasaan curiga/paranoid. Perilaku katastropik menimbulkan ini panic . mudah tersinggung. Saat klien mengetahui secara perlahan tentang apa yang terjadi.perasaan yang aktivitas yang wajar dan masukkan mengurangi kebingungan meningkatkan kebersamaan dan rasa sesuai/tidak cemas dan rasa takut dalam kegiatan rutin berkurang Tidak menyimpan f. Identifikasi kekuatan klien yang dimiliki sebelumnya pengalaman menyakitkan Menggunakan bantuan dari sumber yang tepat selama waktu pada baru pengaturan lingkungan f. Berikan penjelasan g. mempertahankan rasa saling percaya dan dan informasi yang menyenangkan mengenai kegiatan/peristiwa orientasi. koping klien akan meningkat h. Menurunkan ketegangan. tidak fisik kelelahan mencetuskan penurunan tingkah laku dan gangguan komunikasi. Stress rasa nyaman/nyeri dan meningkat. Memfasilitasi bantuan dengan komunikasi dan manajemen dari kekurangan sekarang serta selanjutnya g. Catat tingkah laku.

Memberikan keyakinan. menuunkan dan dan diterima rasa respons stress. agresif k. Irama sirkadian (siklus tidur-bangun)yang tersinkronisasi disebabkan oleh tidur siang yang singkat berhubungan tindakan perubahan diharapkan tidak terjadi pola tidur lingkungan ditandai gangguan dengan verbal kesulitan keluhan pada klien dengan KH : tentang tidur. Gunakan jika mengalami paranoid/sedang mengalami sesaat 4 Perubahan tidur dengan pola Setelah dilakukan Mandiri keperawatan a. meningkatkan kualitas hidup Mandiri a. Rasa menurunkan takut. Menenangkan situasi i. Atasi tingkah laku agresif pendekatan tenang k. Pertahankan keadaan Tempatkan lingkungan yang tenang.dan rasa bermusuhan i. Memahami factor penyebab gangguan . Jangan menganjurkan klien tidur siang apabila berakibat negative tidur pada efek terhadap malam agitasi sentuhan tidak dengan yang j. dalam tenang dan waktu member klien untuk memperoleh kendali terhadap perilaku dan emosinya memberikan untuk kesempatan “beristirahat” j.

respons karenanya kardiovaskular terhadap suara emningkatkan otomatik. Evaluasi efek obat b. Hambatan kortikal terbiasa makan malam dari klien hari tidur yang adekuat dengan terhadap yang penurunan pikiran melayang- mengganggu d. termasuk perubahan mengganggu tidur mood. Memberika lingkungan nyaman meningkatkan (mematikan ventilasi yang untuk tidur lampu. insomnia ksi penyebab tidur c. Gangguan tidur terjadi untuk dengan seringnya tidur . Mengubah pola yang sudah asupan pada terbukti tidur d. Buat intervensi jadwal e. Derangement klien . waktu penggunaan kortikosteroid.diuretik) (steroid yang terjadi bila psikis terdapat mampu menentukan kebutuhan/ tidur. Tentukan kebiasaan tidak adekuat Mampu menciptakan pola dan rutinitas waktu tidur malam dengan kebiasaan (memberi hangat) klien susu c. ruang layang (melamun) Tampak melaporkan beristirahat cukup atau dapat yang pada formasi reticular akan berkurang selama tidur. respons adekuat.terus-menerus terjaga. tidak - pola tidur Mampu menentukan penyebab inadekuat Mampu memahami rencana untuk menangani/mengore khusus tidur hari b. suhu yang sesuai. menghindari kebisingan) meningkat selama tidur e.

Hindari penggunaan “pengikatan” secara terus menerus gangguan sensori. turunkan aktivitas mental/fisik pada sore hari f. disorientasi. Peningkatan kebingungan. mengubah posisi) f. aktivitas yang terprogram tanpa stimulasi berlebihan waktu meningkatkan tidur g. anjurkan latihan saat siang hari. irama terganggu gangguan dan sehingga sirkadian lama(memeriksa tanda vital. Evaluasi tingkat stress/orientasi sesuai perkembangan demi hari hari laku tidak kooperatif (sindrom sundower) .memungkinkan waktu tidur lebih dan mengganggu pemulihan sehubungan dengan psikologis fisiologis. Risiko g. meningkatkan agitasi menghambat istirahat h. tingkah dan waktu h. Aktivitas mental fisik yang dan lama mengakibatkan kelelahan yang dapat meningkatkan kebingungan. Berikan kesempatan untuk tidur sejenak.

Menurunkan kebutuhan bangun berkemih malam hari l. Identifikasi kesulitan a. Meningkatkan relaksasi dengan j. Memahami penyebab diri berhubungan tindakan keperawatan dalam berpakaian/ yang mempengaruhi dengan intoleransi diharapkan klien dapat perawatan diri. Menurunkan stimulasi sensori dengan akan untuk selama sebelum tidur l. dan masase punggung k. intervensi. Catatan : penundaan waktu diindikasikan klien tidur agar membuang kelebihan energy dan memfasilitasi tidur j.dapat mengurangi tidur i. Masalah perawatan Setelah . Buat secara jadwal tidur teratur. susu hangat. mandi. Turunkan minuman Lakukan jumlah sore. Katakan pada klien bahwa saat ini adalah waktu untuk tidur mempertahankan kestabilan lingkungan. Putarkan musik yang lembut atau “suara yang jernih” menghambat suara lain dari lingkungan sekitar yang menghambat tidur akan 5 Kurang diberikan Mandiri Mandiri a. Penguatan saatnya tidur bahwa dan i. Berikan makanan kecil sore hari. berkemih perasaan mengantuk k.

b.  Mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber pribadi/ yang komunitas dapat b. apatis/ depresi. konsultasi dari ahli lain. penurunan seperti dapat dengan atau diminimalkan menyesuaikan memerlukan tahan dan kekuatan dengan KH : ditandai penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. d.Pekerjaan yang tadinya mudah sekarang menjadi terhambat karena melakukan penurunan motorik dan perubahan kognitif.aktivitas. Perhatikan tanda-tanda nonverbal fisiologis. sesuai tingkat kemampuan. yang adanya c. dan gosok gigi. banyak waktu d. melakukan perawatan dengan kognitif apraksia. terengah-engah. berkemih memegang dirinya. menurunnya merawat dirinya sesuai daya dengan kemampuannya dengan  Mampu aktivitas diri seperti: keterbatasan gerak fisik. Beri untuk tugas. memberikan bantuan.Seiring penyakit. Identifikasi kebutuhan kebersihan diri dan berikan sesuai dengan bantuan kebutuhan perawatan kulit. kebersihan perkembangan kebutuhan dasar mungkin dilupakan. Kehilangan sensori dan penurunan fungsi bahasa menyebabkan mengungkapkan kebutuhan diri perawatan cara seperti ingin dengan klien dengan nonverbal. rambut/kuku/ bersihkan kaca mata. c. .

Mampu menyatakan penerimaan terhadap situasi . Koping tidak berhubungan dengan pemecahan masalah adekuat dengan marah. . Dukung kemampuan b. untuk dan indah. tidak ditandai cepat curiga. . Kepatuhan koping program berjalan terhadap latihan dan mudah tersinggung.Mampu menyatakan atau mengkomunikasika n dengan orang tentang dan yang b. Meningkatkan yang rapi kepercayaan hidup. terdekat situasi perubahan membantu memperlambat kemajuan penyakit. klien haraga yang negatif realitas bahwa masih dapat menggunakan untuk merasakan adanya harapan dan mulai sisi yang sakit dan menerima situasi baru. Menentukan bantuan asuhan keperawatan gangguan persepsi individual dalam diharapkan koping dan hubungan dengan menyusun rencana individu menjadi efektif derajat perawatan atau dengan kriteria hasil : ketidakmampuan pemilihan intervensi.Mengakui menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara tanpa yang akurat diri c. Pernyataan pengakuan penolakan mengingatkan kembali kejadian fakta tentang terhadap tubuh. Kaji perubahan dari a. sedang terjadi . dan diri Dukungan dan sumber bantuan dapat diberikan melalui ketekunan berdoa dan penekanan keluar terhadap aktivitas dengan mepertahankan patisipasi aktif c.e. individu Setelah efektif diberikan Mandiri Mandiri a. Membantu klien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua bagian sebagai seluruh Mengizinkan bagian dari tubuh. Bantu pakaian mengenakan e. 6.

Setiap upaya dibuat untuk mendukung klien keluar darii tugas-tugas yang termasuk koping dengan kebutuhan mereka setiap hari dan untuk membentuk klien . tidak adekuat. Bentuk aktivitas keseluruhan hari program e. Klien Demensia sering secara merasa malu. apatis. bosan dan merasa sendiri. Klien dibantu dan didukung untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (seperti meningkatnya mobilitas) e.belajar mengontrol sisi yang sehat d. Beri psikologis menyeluruh dukungan d. Perasaan ini dapat disebabkan fisik akibat keadaan yang lambat dan upaya yang besar dibutuhkan terhadap tugas-tugas kecil. Bentuk pada aktivitas program pada keseluruhan hari untuk mencegha waktu tidur yang terlalu banyak yang dapat mengarah padda tidak adanya keinginan dari apatis.

Rujuk pada ahli Kolaborasi neuropsikologi dan konseling a. Monitor tidur gangguan h. Dapat memfasilitasi perubahan peran bila ada indikasi yang penting untuk perkembangan perasaan. g. Apapun yang dilakukan hanya untuk keamanan f. . dan withdrawal intervensi dan evaluasi lebih lanjut Kolaborasi a. Klien dapat beradaptasi usaha peningkatan seperti minat terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu mendatang. Anjurkan orang yang terdekat mengizinkan melakukan untuk untuk klien sewaktu mencapai tujuan dengan meningkatnya kemampuan koping. masa atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi h. terjadinya dimana depresi memerlukan konsentrasi. Dukung perilaku atau g. hal-hal f.mandiri. Menghidupkan kembali dirinya perasaan dan kemandirian membantu semaksimal mungkin perkembangan harga diri serta mempengaruhi proses rehabilitasi. Dapat mengindikasikan peningkatan letargi.

klien dalam mengalami hambatan berkomunikasi. dukungan partisipasi kelompok menolong mengurangi depresi yang juga sering muncul pada kejadian ini. terjadi dapat dan dengan disorientasi tempat. psikoterapi. bahasa isyarat. dan . atau papan tulis. 7. menggunakan kertas pensil/bolpoint. cara berkomunikasi seperti mempertahankan kontak pertanyaan jawaban ya mata. komunikasi verbal dengan kriteria hasil :  Membuat teknik/metode komunikasi dapat sesuai yang b. Menentukan carab.Kerjasama fisioterapi. Kaji kemampuan a. klien untuk tingkat kemampuan diharapkan klien tidak berkomunikasi. Hambatan komunikasi berhubungan dengan persepsi perubahan ditandai verbal Setelah diberikan Mandiri Mandiri a. Untuk menentukan asuhan keperawatan. Untuk membantu proses berkomunikasi dengan klien. terapi obat-obatan. gambar. dengan atau dimengerti kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi tidak. dan agar tidak miskomunikasi. orang dan waktu.

 Mengubah kemunduran hobi. dilakukan Mandiri Mandiri a. perubahn sensori. Kolaborasi dengan ahli bahasa. Usahakan/ bantuan memilih menu berikan b.penjelas arti dari yang komunikasi disampaikan. jika Kolaborasi a. kebutuhan panggilan dengan Penuhi klien. Katakan kepada klien bahwa perawat siap membantu dibutuhkan. penjelasan memanggil saat membutuhkan bantuan. Risiko wicara Kolaborasi a. c. Letakkan bel/lampu c. Untuk klien memudahkan dalam perawat panggilan di tempat mudah dijangkau dan berikan cara menggunakannya. Jawab tersebut segera. Klien dalam tidak mampu pilihan menentukan kebutuhan nutrisi terhadap Setelah asupan yang benar. diet . Memberikan terapi bicara pada klien.  Mendapat pola b. Kaji pengetahuan a. Identifikasi kebutuhan perubahan nutrisi tindakan keperawatan klien/keluarga untuk membantu kurang dari diharapkan klien mengenai kebutuhan perencanaan pendidikan kebutuhan tubuh mendapat nutrisi yang makan berhubungan seimbang dengan KH: dengan mudah lupa. 8.

Pemberian suppositoria dan pelumas faeces / pencahar. Klien dengan tingkah laku impulsif berisiko dengan lingkungan trauma karena kurang . Bantuan diperlukan untuk mengembangkan keseimbangan diet dan menemukan aktifitas mempermudah koping adaptif. aktivitas kejang. Pertolongan terhadap utama fungsi bowell atau BAB 9. tidak otot dengan KH : Meningkatkan tingkat aktivitas Dapat beradaptasi tidak terkoordinasi.tingkah laku impulsive dan penurunan visual. Berikan makanan c. kesadaran akan bahaya. Kaji derajat gngguan kemampuan. Makan mengakibatkan panas mulut yang terlalu panas terbakar atau menolak untuk makan Kolaborasi: atau a. konsultasikan dengan ahli gizi kebutuhan / makan yang disukai b.  Ikut serta dalam yang Kolaborasi : a.nutrisi seimbang. Rujuk makanan d. kelemahan. Makan makanan kecil meningkatkan masukan yang sesuai kecil setiap jam sesuai kebutuhan  Mempertahankan/ mendapat kembali berat badan yang d. yang c. Hindari sesuai. keluarga mengidentifikasi risiko terjadinya persepsi Bantu Mandiri a. Mengidentifikasi risiko di lingkungan dan mempertinggi perawat cedera berhubungan tindakan dengan kesulitan diharapkan cedera keseimbangan. b. Risiko terhadap Setelah dilakukan Mandiri keperawatan Risiko terjadi a.

untuk risiko mengurangi bahaya mungkin timbul yang mampu memgendalikan perilaku. Klien dengan kognitif. persepsi terjadi Penurunan visual trauma/cedera Tidak mengalami trauma/cedera Keluarga mengenali potensial lingkungan mengidentifikasi tahap-tahap untuk di dan b. Gunakan sesuai lingkungan fisik/kebutuhan klien pakaian dengan metabolisme mengakibatkan hipotermia. Klien yang tidak dapat proses yang rasa proses . Perlambatan d. Hipotalamus dipengaruhi penyakit menyebabkan kedinginan e. Hilangkan sumber gangguan gangguan adalah awal bahaya lingkungan memperbaikinya trauma akibat tidak bertanggung terhadap jawab kebutuhan keamanan dasar c. persepsi berisiko terjatuh b. Mempertahankan c. Alihkan saat teragitasi perhatian perilaku keamanan menghindari konfrontasi meningkatkan yang risiko dengan terjadinya trauma d.

Ukuran dosis/penggantian obat diperlukan untuk mengurangi gangguan f. keracunan tanda (tanda melaporkan tanda/gejala dapat obat menimbulkan ekstrapiramidal.gangguan penglihatan. Hindari penggunaan restrain menerus. meningkatkan agitasi dan fraktur lansia dengan timbul pada risiko klien kesempatan keluarga tinggal bersama klien selama agitasi akut periode (berhubungan penurunan kalsium tulang) .hipot ensi ortostatik. Kaji efek samping obat.e. Membahayakan klien. terusBerikan kadar toksisitas pada lansia. gangguan gastrointestinal) f.

Implementasi (implementasi sesuai dengan intervensi) 5. gangguan tidur. Dx 1. tidak mampu berkomunikasi. Diagnosa Keperawatan Perubahan proses pikir berhubungan dengan (degenerasi perubahan neuron fisiologis ireversibel) Evaluasi  Mampu memperlihatkan kemampuan kognitifuntuk menjalani konsekuensi kejadian yang menegangkan terhadap emosi dan pikiran tentang diri   Mampu mengembangkan strategi untuk mengatasi anggapan diri yang negative Mampu mengenali perubahan dalam berpikir atau tingkah laku dan factor penyebab  Mampu memperlihatkan penurunan ditandai dengan hilang ingatan atau memori. tingkah laku yang tidak diinginkan.4. ancaman. apatis. gelisah. hilang konsentrsi. tidak mampu menginterpretasikan stimulasi dan menilai realitas dengan akurat. halusinasi. .  Mendemonstrasikan respon yang sesuai stimulasi  Perawat mampu mengidentifikasi factor eksternal yang berperan terhadap perubahan  kemampuan persepsi sensori transmisi sensori (penyakit neurologis. Perubahan berhubungan persepsi. persepsi dengan atau sensori perubahan integrasi   Mengalami penurunan halusinasi Mengembangkan strategi psikososial untuk mengurangi stress atau mengatur prilaku. dan kebingungan 2. nyeri) ditandai dengan cemas. Evaluasi No.

Perubahan pola tidur dengan ditandai perubahan dengan berhubungan lingkungan verbal    Memahami factor penyebab gangguan pola tidur Mampu menentukan penyebab tidur inadekuat Mampu memahami rencana khusus untuk menangani/mengoreksi penyebab tidur tidak adekuat keluhan tentang kesulitan tidur. kekacauan mental.  Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan terhadap pikiran yang melayang-layang .   Mengidentifikasi perubahan Mampu beradaptasi pada perubahan lingkungan dan aktivitas kehidupan sehari. tingkah laku curiga. gelisah.3. dan tingkah laku agresif. mudah tersinggung. tidak mampu menentukan kebutuhan/ waktu tidur. terus-menerus terjaga. tingkah laku defensive.hari    Mempertahankan rasa berharga pada diri dan identitas pribadi yang positif Membuat pernyataan positif tentang lingkungan yang baru Memperlihatkan penerimaan terhadap perubahan lingkungan dan penyesuaian kehidupan  Mampu menunjukan tentang perasaan yang sesuai/tidak cemas dan rasa takut berkurang   Tidak menyimpan pengalaman menyakitkan Menggunakan bantuan dari sumber yang tepat selama waktu pengaturan pada lingkungan baru 4. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan perubahan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari ditandai dengan kebingungan. keprihatinan. tampak cemas.

curiga. Mendapat diet nutrisi yang seimbang. perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa haraga diri yang negative 7. . Risiko terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mudah lupa. Mempertahankan/ mendapat kembali berat badan yang sesuai. kemunduran hobi. 8.  Ikut serta dalam aktifitas yang persepsi ditandai dengan disorientasi tempat.  Mampu mengidentifikasi sumber dan pribadi/ menurunnya daya tahan dan kekuatan ditandai kemampuan sehari-hari. orang dan waktu. Hambatan berhubungan komunikasi dengan verbal perubahan  Membuat teknik/metode komunikasi yang dapat dimengerti sesuai kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi    Mengubah pola asupan yang benar.  Mampu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan tingkat kemampuan. mudah tersinggung. 6. dengan melakukan penurunan aktivitas menggunakan komunitas yang dapat memberikan bantuan. Koping individu tidak efektif  Mampu menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi  Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi  Mengakui dan menggabungkan berhubungan masalah tidak dengan pemecahan ditandai adekuat dengan cepat marah. Kurang perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas.(melamun)  Tampak atau melaporkan dapat beristirahat yang cukup 5. perubahn sensori.

Risiko terhadap cedera berhubungan dengan kesulitan keseimbangan. 9. otot tidak terkoordinasi.    Meningkatkan tingkat aktivitas Dapat beradaptasi dengan lingkungan untuk mengurangi risiko trauma/cedera Tidak mengalami trauma/cedera  Keluarga mengenali potensial di lingkungan dan mengidentifikasi tahaptahap untuk memperbaikinya kelemahan. .mempermudah koping adaptif. aktivitas kejang.

Kushariyadi. Askep pada Klien Lanjut Usia.Mickey.1999 Stanley.Edisi2. Jakarta: FKUI Muttaqin.2010. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. 2003. 2008. L.DAFTAR PUSTAKA Brunner & Suddarth. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Salemba Medika: Jakarta Nugroho. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. 2006. Arif. Keperawatan Gerontik. 1997.Wahjudi.J.Jakarta.Edisi2.Buku Kedokteran EGC. Jakarta. EGC. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.2002 . Jakarta: Salemba Medika Lumbantobing. Kecerdasan Pada Usia Lanjut dan Demensia. Carpenito.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful