P. 1
PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA POKOK BAHASAN LAJU REAKSI KELAS XI IPA SMAN 1 SIAK SRI INDRAPURA

PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA POKOK BAHASAN LAJU REAKSI KELAS XI IPA SMAN 1 SIAK SRI INDRAPURA

|Views: 5,139|Likes:
Published by siak_0081741
PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA POKOK BAHASAN LAJU REAKSI KELAS XI IPA SMAN 1 SIAK SRI INDRAPURA
PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA POKOK BAHASAN LAJU REAKSI KELAS XI IPA SMAN 1 SIAK SRI INDRAPURA

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: siak_0081741 on Jul 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2013

pdf

text

original

PENERAPAN PENDEKATAN INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SISWA PADA POKOK BAHASAN LAJU REAKSI KELAS XI IPA

SMAN 1 SIAK SRI INDRAPURA Fitri Eka Sari, Betty Holiwarni, Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau Pekanbaru ABSTRAK Pembelajaran kimia mencakup dua aspek yaitu kerja ilmiah dan pemahaman konsep. Untuk memahami suatu konsep atau materi maka siswa seharusnya melakukan kerja ilmiah. Kerja ilmiah mengajak siswa untuk berinkuiri, sehingga siswa dapat meningkatkan keterampilan prosesnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan keterampilan proses siswa melalui penerapan pendekatan inkuiri pada pokok bahasan laju reaksi. metode yang digunakan adalah eksperimen dan diskusi kelompok. Subjek penelitiannya adalah kelas XI IPA SMAN 1 Siak Sri Indrapura. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai bulan November 2008, Di mana waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober 2008 semester I tahun ajaran 2008/2009. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dari lembar kerja siswa (LKS) dan dari observasi langsung. Teknik analisis data yang digunakan adalah menghitung nilai keterampilan proses dengan cara menghitung perbandingan jumlah skor pencapaian dengan jumlah skpr maksimal dikali dengan 100. Hasil penelitian diperoleh peningkatan nilai keterampilan proses siswa sebesar 11,02%, dengan demikian disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses siswa pada pokok bahasan laju reaksi di SMAN 1 Siak Sri Indrapura tahun ajawan 2008/2009. Kata kunci: Pendekatan Inkuiri, Keterampilan Proses PENDAHULUAN Sains merupakan bagian kehidupan manusia dari sejak manusia itu mengenal diri dan alam sekitarnya. manusia dan lingkungan manusia hidup merupakan sumber, objek, serta subjek sains (Budiono, 2005). Ilmu kimia merupakan salah satu mata pelajaran dalam rumpun sains. Pembelajaran kimia yang dikehendaki adalah pembelajaran yang diarahkan pada kegiatan-kegiatan yang menantang dan mendorong siswa secara aktif untuk memahami konsepkonsep kimia tanpa mengabaikan hakekat IPA itu sendiri yaitu sebagai produk ilmiah dan sebagai proses ilmiah melalui keterampilan proses (Depdiknas, 2003).

Selanjutnya, di dalam kurikulum 2004 disebutkan bahwa Kompetensi bahan kajian kimia mencakup dua aspek yaitu kerja ilmiah, pemahaman konsep serta penerapannya. Kerja ilmiah diajarkan secara terintegrasi dalam pemahaman konsep. Oleh karena itu untuk mencapai suatu pemahaman konsep, siswa harus melakukan kerja ilmiah. Namun pada kenyataannya, kebanyakan guru hanya mengajarkan pemahaman konsep saja. Hal ini yang menyebabkan pencapaian tujuan pembelajaran kurang optimal (Depdiknas, 2003). Keterampilan proses merupakan hasil belajar yang dicapai seseorang dalam wujud kemampuan untuk melakukan kerja ilmiah atau penelitian seperti merencanakan 1994). Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan. selain itu, keterampilan proses membuat siswa belajar produk dan proses ilmu pengetahuan sekaligus. Pelaksanaan keterampilan proses memerlukan suatu pendekatan yang dapat mengarahkan siswa pada pembelajaran yang lebih bermakna. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalaminya sendiri apa yang dipelajarinya, bukan hanya sekedar mengetahuinya (Trianto, 2007). Pendekatan inkuiri adalah suatu pembelajaran yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa bagaimana cara meneliti permasalahan atau pertanyaan fakta-fakta. Pembelajaran inkuiri memerlukan lingkungan kelas dimana siswa merasa bebas untuk berkarya, berpendapat, membuat kesimpulan dan membuat dugaan. Suasana seperti itu amat penting karena keberhasilan pembelajaran bergantung pada kondisi pemikiran siswa. Inkuiri menciptakan pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pelajar sepanjang hayat. Inkuiri melibatkan komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang, penelitian ilmiah, melaksanakan penelitian ilmiah, mengkomunikasikan hasil penelitian ilmiah dan bersikap ilmiah (Usman.U,

peluang, dan tenaga bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, obyektif dan bermakna, serta untuk melaporkan hasil-hasil kerja mereka (Roestiyah, 1990). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melakukan penelitian mengenai pembelajaran dengan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan nilai keterampilan proses siswa melalui kerja ilmiah. Inkuiri Di dalam Kerja ilmiah bisa dilakukan melalui suatu ekperimen atau percobaan baik di kelas maupun di laboratorium. Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari guru SMA Negeri 1 Siak Sri Indrapura, bahwa sekolah memiliki laboratorium khusus untuk kimia dilengkapi alat dan bahan yang bisa dikatakan lengkap. Selain itu, siswa di sekolah tersebut juga pernah melakukan praktikum dan mempresentasikan hasil percobaannya di depan kelas, namun guru belum pernah menilai keterampilan proses siswa. Hal ini terjadi karena guru masih bingung dalam menentukan keterampilan proses tersebut. Berdasarkan uraian di atas penulis melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Pendekatan Inkuiri Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Siswa Pada Pokok Bahasan Laju Reaksi Kelas XI IPA di SMAN 1 Siak Sri Indrapura”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan proses siswa melalui pendekatan inkuiri pada pokok bahasan Laju Reaksi kelas XI IPA di SMAN 1 Siak Sri Indrapura. Kemudian untuk mengetahui berapa besar peningkatan keterampilan proses siswa melalui pendekatan inkuiri pada pokok bahasan laju reaksi kelas XI IPA di SMAN 1 Siak Sri Indrapura. METODE Penelitian ini telah dilaksanakan dari tanggal 02 Juli 2008 sampai 29 November 2008 di SMAN 1 Siak Sri Indrapura kelas XI IPA pada semester I tahun ajaran 2008/2009. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 3 SMAN 1 Siak Sri Indrapura yang terdiri dari 31 siswa. Bentuk penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian Pre-Eksperimen jenis studi kasus sekali tes. Pada penelitian jenis ini yang memperoleh perlakuan hanya satu kelompok, tidak ada kriteria penilaian

kelompok lain sebagai kelompok pembanding, tidak ada pretest, hanya postest saja, selain itu kondisi subjek sebelum diadakan penelitian tidak diketahui (Russefendi, 1994). Instrumen pembelajaran (Perangkat Pembelajaran) yang digunakan pada penelitian ini adalah: Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Buku paket yang relevan, Alat dan bahan percobaan. Selanjutnya, instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Lembar Penilaian keterampilan proses siswa mengenai sub pokok bahasan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Rancangan Penelitian terdiri dari dari 2 tahap, yaitu: 1. Tahap Persiapan a. Menetapkan satu kelas sebagai subjek penelitian. Kelas eksperimen yang dipilih oleh guru bidang studi adalah kelas XI IPA 3 SMAN 1 Siak Sri Indrapura. Pemilihan ini berdasarkan tingkat kemampuan siswa. b. Perlakuan yang diberikan pada kelas ini adalah pendekatan inkuiri yang berupa kegiatan praktikum (eksperimen) c. Menetapkan pokok bahasan yaitu Laju Reaksi, dengan sub pokok bahasan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi sebagai materi yang akan dinilai keterampilan prosesnya. d. Mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Lembar Penilaian Keterampilan Proses. e. Menyiapkan alat dan bahan percobaan. f. Membentuk kelompok belajar dan terdiri dari 5-6 orang setiap kelompok. 2. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran a. Kegiatan Awal 1) Guru meminta siswa untuk duduk dalam kelompok yang telah ditetapkan. 2) Guru bersama dengan siswa melakukan tanya jawab tentang materi prasyarat

3) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai serta cara penilaian melalui lembar penilaian keterampilan proses. b. Kegiatan inti 1) Guru memberikan LKS kepada masing- masing anggota kelompok 2) Guru meminta siswa membaca LKS yang telah diberikan 3) Guru meminta perwakilan kelompok untuk mengambil alat dan bahan percobaan. 4) Guru membimbing siswa dalam melakukan praktikum 5) Siswa mengerjakan LKS yang telah diberikan 6) Siswa mempresentasikan hasil pengamatannya ke depan kelas dan kelompok lain mananggapi atau mengajukan pertanyaan 7) Guru mengumpulkan lembar kerja siswa dan memberikan nilai melalui lembar penilaian keterampilan proses. 8) Guru memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok yang aktif baik dalam praktikum maupun dalam diskusi. c. Kegiatan akhir 1) Guru melibatkan siswa untuk menyimpulkan kembali intisari materi yang telah dipelajari 2) Guru memberikan tugas rumah Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah dari Lembar Kerja Siswa (LKS) serta Lembar Observasi Langsung. Data dikumpulkan dari Lembar Penilaian Keterampilan Proses Siswa yang terdiri dari penilaian melalui Lembar Kerja Siswa, meliputi: keterampilan menerapkan (menentukan hipotesis, menspesifikasi variabel dengan teliti), keterampilan merencanakan (menetapkan instrumen yang sesuai dengan tujuan penelitian), keterampilan menafsirkan (Membuat tabel data pengamatan, menganalisa data hasil pengamatan, menyimpulkan hasil penyelidikan ilmiah). Sedangkan Lembar Observasi Langsung digunakan untuk menilai keterampilan proses siswa dalam berkomunikasi yang terdiri dari empat aspek, yaitu .mengkomunikasikan hasil

pengamatan dan kesimpulan hasil percobaan; mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan atau memberikan tanggapan. Data penelitian keterampilan proses adalah skor yang diperoleh dari lembar penilaian keterampilan proses siswa pada sub pokok bahasan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi melalui pendekatan inkuiri. Nilai keterampilan proses yang dicapai oleh peserta didik dapat dihitung dengan cara: Jumlah skor pencapaian
 Keterampilan Proses = 
 Jumlah skor maksimal X 100


 Secara klasikal dinyatakan tuntas jika 100% dari siswa telah mencapai nilai ≥ 70.

Skor diperoleh dengan cara mengisi format penilaian keterampilan proses berupa skala penilaian (rating scale) sesuai dengan kriteria penilaian keterampilan proses, yaitu dalam bentuk skala numerik. Skala numerik adalah skala penilaian yang menggunakan angka-angka (skor-skor) untuk menunjukkan gradiasi-gradiasi disertai penjelasan singkat pada masing-masing angka. Di dalam penelitian ini skala yang digunakan peneliti adalah 1-4, dengan kriteriasebagai berikut: 1 = pernyataan benar 2 = pernyataan kurang benar dan bahasa kurang tepat 3 = pernyataan benar namun bahasa kurang tepat 4 = membuat dan jawaban benar, bahasa tepat HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data penelitian penilaian keterampilan proses yang telah dilakukan, maka pencapaian nilai keterampilan proses siswa setiap pertemuan digambarkan pada tabel dan grafik berikut ini.

Tabel 1. Rata-rata Nilai Keterampilan Proses Siswa Berdasarkan Aspek Yang Dinilai Dalam Setiap Pertemuan
Keterampilan Proses Aspek yang Dinilai Keterampilan Menerapkan Keterampilan Merencanakan Keterampilan Menafsirkan K3 K4 K5 K6 Keterampilan Mengkomunik asikan Jumlah Rata-rata Nilai Keterampilan Proses Keterangan K1: Keterampilan menentukan hipotesis K2: Keterampilan menspesifikasi variabel yang diteliti K3: Keterampilan menetapkan instrumen yang sesuai dengan tujuan penelitian K4: Keterampilan membuat tabel data pengamatan K5: Keterampilan menganalisa data hasil pengamatan K6: Keterampilan menyimpulkan hasil penyelidikan ilmiah K7: Keterampilan mengkomunikasikan hasil pengamatan dan kesimpulan hasil K7 K8 K9 58,87 73,39 68,55 63,71 70,16 62,90 61,29 564,52 62,72 0 0 0 0 0 0 0 0 0 56,45 79,03 70,97 66,13 74,19 60,48 50 577,41 64,16 -2,42 +5,64 +2,42 +2,42 +4,03 -2,42 -11,29 +12,89 +1,43 78,23 72,58 87,10 74,19 78,23 74,19 57,23 655,62 72,85 +21,78 -6,45 +16,13 +8,06 +4,04 +13,71 +7,23 +78,21 +8,69 66,13 76,61 88,71 67,74 79,03 74,19 57,26 663,71 73,75 -12,1 +4,03 +1,61 -6,45 +0,8 0 +0,03 +8,09 +0,899 +7,26 +3,22 +20,16 +4,03 +8,87 10,75 -4,03 +99,18 +11,02 K1 K2 Nilai 54,84 50,81 I ∆% 0 0 Nilai 59,68 60,48 II ∆% +4,84 +9,67 Nilai 73,39 60,48 Pertemuan III ∆% +13,71 0 Nilai 84,68 69,35 IV ∆% +11,29 +8,87 +29,48 +18,54

∑ ∆%

percobaan K8: Mengajukan pertanyaan K9: Menjawab pertanyaan atau memberikan tanggapan ∆% : Perubahan persentase pencapaian nilai keterampilan proses siswa ∑ ∆% : Jumlah perubahan persentase pencapaian nilai keterampilan proses siswa (+) : Peningkatan (-) : Penurunan

Gambar 1. Peningkatan Rata-rata Nilai Keterampilan Proses Siswa Setiap Pertemuan Berdasarkan hasil analisis data penelitian di atas, terlihat bahwa tidak semua aspek keterampilan proses dari pertemuan I sampai ke pertemuan IV terjadi peningkatan. Penyebab penurunan rata-rata nilai keterampilan proses siswa akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan berikut ini. Keterampilan proses memerlukan latihan atau penggunaan secara terus menerus agar dapat dimiliki siswa. Perkembangannya berlangsung sedikit demi sedikit dan memerlukan waktu lama ( Usman, 1994). Pada penelitian ini terlihat

ada beberapa aspek keterampilan proses yang mengalami peningkatan dari setiap pertemuan, yaitu keterampilan menentukan hipotesis (K1), keterampilan menspesifikasikan variabel yang teliti (K2), keterampilan menganalisa data hasil pengamatan (K5), dan keterampilan mengkomunikasikan hasil pengamatan dan kesimpulan hasil percobaan (K7). Pada keterampilan menentukan hipotesis, bisa dikatakan bahwa siswa jadi terbiasa dalam menentukan dugaan sementara (hipotesis) berdasarkan masalah atau ilustrasi yang telah diberikan. Untuk keterampilan menspesifikasi variabel yang teliti (K2) siswa harus mampu membedakan antara variabel manipulasi, variabel kontrol dan variabel respon. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa siswa sudah bisa dikatakan mampu dalam mengendalikan variabel berdasarkan langkah kerja yang terdapat pada LKS. Kemudian untuk keterampilan menganalisa data hasil pengamatan (K5), siswa dituntut untuk menuliskan jawaban dari beberapa pertanyaan seputar penyelidikan yang telah dilakukan. Keterampilan tersebut juga mengalami peningkatan dari pertemuan I hingga pertemuan IV. Aspek lain yang mengalami peningkatan dari pada setiap pertemuan adalah keterampilan mengkomunikasikan hasil pengamatan dan kesimpulan hasil percobaan (K7). Berkomunikasi secara lisan dengan baik dan manyampaikannya dengan kalimat yang benar dan terstruktur tidaklah mudah, hal tersebut juga memerlukan latihan. Menurut holil (2008), melalui latihan siswa seharusnya menjadi kompeten dalam pengkomunikasian metode-metode eksperimen, mengikuti petunjuk,

mendeskripsikan pengamatan, mengikhtisarkan hasil-hasil dari kelompok lain, dan menjelaskan kepada kelompok lain tentang penyelidikan-penyelidikan dan penjelasan-penjelasan. Dari hasil penelitian, terlihat bahwa siswa sudah bisa mempertanggungjawabkan hasil pengamatannya di depan kelas dan sudah mulai terbiasa berbicara di depan umum. Aspek keterampilan proses yang peningkatannya tidak terjadi di setiap pertemuan terdapat pada aspek keterampilan menentapkan instrumen yang sesuai dengan tujuan penelitian (K3), keterampilan membuat tabel data pengamatan (K4), keterampilan menyimpulkan hasil penyelidikan ilmiah (K6), keterampilan

mengajukan pertanyaan (K8), dan keterampilan menjawab pertanyaaan atau memberikan tanggapan (K9). Untuk aspek keterampilan nomor 3, keterampilan nomor 4 dan keterampilan nomor 6, penyebab utama penurunan rata-rata nilai adalah karena keterbatasan waktu. Hal tersebut dilihat dari banyaknya siswa yang tidak mengisi alat dan bahan percobaan, kesimpulan hasil percobaan, dan tabel pengamatannya. Selain itu, ada beberapa siswa yang belum tuntas dalam menulis alat/bahan yang digunakan, tabel data hasil pengamatan ataupun kesimpulan menuliskan kesimpulan hasil penyelidikannya. Untuk keterampilan berikutnya yaitu keterampilan mengajukan pertanyaan(K8) dan keterampilan menjawab pertanyaan (K9), rata-rata nilai siswa juga tidak mengalami peningkatan disetiap pertemuan, bahkan untuk keterampilan nomor 9 perubahan persentase pencapaian rata-rata nilai siswa menurun. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingkat pemahaman siswa yang kurang dan juga beberapa siswa takut atau malu dalam bertanya apalagi menjawab pertanyaan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat penulis identifikasi faktor-faktor yang menunjang dalam peningkatan keterampilan proses, yaitu: 1) Guru dan siswa yang dapat saling bekerjasama untuk melaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses siswa. Pendekatan ini membalik kebiasaan sehari-hari, di sini siswa yang aktif dan guru sebagai fasilisator, maka tanpa adanya kerjasama dari kedua belah pihak pelaksanaan keterampilan proses tidak akan berjalan dengan baik. 2) Laboratorium dan alat praktik mutlak diperlukan dalam meningkatkan keterampilan proses siswa melalui suatu penyelidikan ilmiah atau praktikum. 3) Kemauan serta kreativitas pengajar dalam merencanakan pelajaran untuk menilai keterampilan proses siswa. Pendekatan pemebelajaran ini memerlukan perencanaan yang baik, memerlukan persiapan praktik, menentukan keterampilan-keterampilan proses apa yang perlu dimiliki siswa. penyelidikan. Penyebab lainnya karena ada juga beberapa siswa yang kurang benar dalam

4) Antusiasme siswa lebih menonjol jika pelajaran kimia menggunakan pendekatan inkuiri dalam hal ini praktikum, sebab siswa tidak lagi mendengarkan penjelasan guru secara panjang lebar kemudian latihan soal tapi siswa mengalami sendiri dalam melakukan praktikum. Di samping itu penulis mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses siswa, yaitu siswa belum terbiasa melakukan keterampilan proses sehingga pelaksanaan menjadi tidak teratur dengan baik, kelihatan tersendat-sendat/kaku dan makan waktu. Selain itu, alat praktik yang ada kualitas dan kuantitasnya tidak dapat menunjang secara optimal. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses siswa pada pokok bahasan laju reaksi kelas XI IPA di SMA Negeri 1 Siak Sri Indrapura. Secara keseluruhan, peningkatan rata-rata nilai 9 keterampilan proses siswa dari pertemuan pertama hingga pertemuan keempat yaitu sebesar 11,02%. SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses siswa. Selanjutnya, bagi guru atau peneliti yang ingin melatih keterampilan proses siswa dengan melakukan praktikum, maka guru atau peneliti harus lebih mengawasi siswa dalam melakukan percobaan dan akan lebih baik lagi jika guru atau peneliti tidak hanya menilai kerja ilmiah saja tetapi juga dapat menilai sikap ilmiah siswa seperti bekerjasama dalam menyelesaikan masalah, teliti, cermat, akurat, dan sebagainya. Untuk sekolah, sebaiknya dapat melengkapi alat-alat praktik yang masih kurang sehingga pelaksanaan praktikum bisa berjalan dengan lancar.

UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih penulis ucapkan Kepala Sekolah SMAN 1 Siak Sri Indrapura yang telah memberikan izin pelaksanaan penelitian di sekolah tersebut. kemudian terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan masukan kepada penulis. DAFTAR PUSTAKA Amnah, R., 2004, Pemupukan Kemahiran Proses Sains Di Kalangan Pelajar Tingkatan Dua Di Sekolah Bestari, Fakulti Pendidikan Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi-Malaysia. Budiono., 2002, Kurkulum dan Hasil Belajar, Depdiknas, Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional., 2003, Kurikulum 2004 SMA Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional, 2003, Kurikulum 2004 SMA Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Jakarta. Dimyati, Dan Mudjiono., 1999, Belajar Dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta. Djamarah, S, B., Dan Zain, A., 1995, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta. Fransiscamudji., 2008, Rating Scale (Skala Penilaian). http://fransiscamudji.winamadiun.com (3 Maret 2008) Gulo, W., 2008, Strategi Belajar Mengajar, Grasindo, Jakarta. Holil, A., 2008, Hubungan Inkuiri Dan Keterampilan Proses. http://anwarholil.blogspot.com (19 April 2008) Ibrahim, M., 2006, Strategi Asesmen Dan Pengembangannya. muslimin-ibrahim@yahoo.com (9 November 2006) Joyce, Bruce – Weil., 1980, Models Of teaching, New Jersey, Prantice Hall Inc. Roestiyah, N, K., 1990, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta. Russefendi, E, T., 1994, Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan Dan Bidang Non-

Eksakta Lainnya, IKIP Semarang. Trianto., 2007, Pendekatan Terpadu dalam Teori dan Praktek, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta. Usman, Uzer., 1994, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->