KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “HAK ASASI MANUSIA”Kami mengucapkan terima kasih kepada semua anggota kelompok 1 yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi teman-teman dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Banjarmasin, 19 juli 2013

Penyusun

. 3. Penegakan HAM di Indonesia……………………………………………………….DAFTAR ISI KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………….….. BAB III PENUTUP KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………… i ii 1 1 2 3 4 7 10 13 15 16 ... DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN A.…. 2. PENGERTIAN Hak Asasi Manusia ……………….. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………….…………………. Sejarah HAM di Indonesia……………………………………………………………. LATAR BELAKANG……………………………………………………………………………..……………………………………. Perkembangan HAM di Indonesia……………………………………………………. 6..…………………………….…. 5. BAB II PEMBAHASAN 1. B.. 4. Sejarah lahirnya HAM………………………………………. Pembentukan HAM di Indonesia…………………………………………………….

sebenarnya ia tidak memerlukan legitimasi yuridis untuk pemberlakuannya dalam suatu sistem hukum nasional maupun internasional. 6. maka tidak ada badan apapun yang dapat mencabut hak itu dari tangan pemiliknya. Mengingat HAM itu adalah karunia Allah. maka eksistensi HAM memerlukan landasan yuridis untuk diberlakukan dalam mengatur kehidupan manusia Perjuangan dan perkembangan hak-hak asasi manusia di setiap negara mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri sesuai dengan perjalanan hidup bangsanya. Pengertian ini mengandung arti bahwa HAM merupakan karunia Allah Yang Maha Pencipta kepada hambanya. Demikian pula tidak ada seorangpun diperkenankan untuk merampasnya. Sekalipun tidak ada perlindungan dan jaminan konstitusional terhadap HAM. Latar Belakang Masalah Istilah hak-hak asasi manusia dalam beberapa bahasa asing dikenal dengan sebutan sebagai berikut : droit de l’home (Perancis) yang berarti hak manusia. hak itu tetap eksis dalam setiap diri manusia.BAB 1 PENDAHULUAN A. serta tidak ada kekuasaan apapun yang boleh membelenggunya Karena HAM itu bersifat kodrati. meskipun demikian sifat dan hakikat HAM di mana-mana pada dasarnya sama juga. 3. Hak asasi manusia (HAM) pada hakekatnya merupakan hak kodrati yang secara inheren melekat dalam setiap diri manusia sejak lahir. yaitu : 1. 4. yang dalam bahasa Indonesia disalin menjadi hak-hak kemanusiaan atau hak-hak asasi manusia. B. human right (Inggris) antau mensen rechten (Belanda). Namun karena sebagian besar tata kehidupan manusia bersifat sekuler dan positivistik. Pengertian Hak Asasi Manusia Sejarah lahirnya HAM Sejarah HAM di Indonesia Pembentukan HAM di Indonesia Perkembangan HAM di Indonesia Penegakan HAM di Indonesia . 5. Gagasan HAM yang bersifat teistik ini diakui kebenarannya sebagai nilai yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. 2. Rumusan Masalah Makalah ini akan mengidentifikasikan beberapa hal yang berkaitan tentang perkembangan HAM di Indonesia.

Semua manusia adalah makhluk dari pencipta yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu dihadapan tuhan manusia ada sama kecuali nanti pada amalnya. Dalam teori McCloskey dinyatakan bahwa pemberian hak adalah untuk dilakukan. Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan dengan instansi. Pengertian Hak Asasi Manusia Secara definitif “hak” merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berprilaku. Semua manusia adalah sederajat tanpa membedakan ras. sebagai berikut : 1. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya.BAB II PEMBAHASAN A. Sedangkan dalam teori Joel Fenberg dinyatakan bahwa pemberian hak penuh merupakan kesatuan dari klaim yang abash(keuntungan yang didapat dari pelaksanaan hak yang disertai pelaksanaan kewajiban). . Hak merupakan sesuatu yang diperoleh. bahasa. agama. melindungi kebebasan. suku. dan sebagainya. Landasan yang kedua dan yang lebih dalam : Tuhan menciptakan manusia. Karena itu ketika seseorang menuntut hak juga harus melakukan kewajiban. Dengan demikian keuntungan dapat diperoleh dari pelaksanaan hak bila dsertai dengan pelaksanaan kewajiban. Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan. dimiliki. Istilah hak-hak asasi manusia dalam beberapa bahasa asing dikenal dengan sebutan sebagai berikut : droit de l’home (Perancis) yang berarti hak manusia. Landasan yang langsung dan pertama. yang dalam bahasa Indonesia disalin menjadi hak-hak kemanusiaan atau hakhak asasi manusia. human right (Inggris) atau mensen rechten (Belanda). Kodrat manusia adalah sama derajat dan martabatnya. Hak mempunyai unsur-unsur sebagai berikut : a) pemilik hak b) ruang lingkup penerapan hak c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak. Dalam kaitan dengan pemerolehan hak paling tidak ada dua teori yaitu teori McCloskey dan teori Joel Fenberg. Hal itu berarti antara hak dan kewajiban merupakan dua hal tidak dapat dipisahkan dalam perwujudannya. yakni kodrat manusia. 2. dinikmati atau sudah dilakukan. Ketiga unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak.

ia harus di adili dan mempertanggung jawabkan kebijaksanaannya kepada parlemen. masyarakat atau negara.Menurut Teaching Human Right yang diterbitkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB). Sejak lahirnya piagam ini maka dimulailah babak baru bagi pelaksanaan HAM yaitu jika raja melanggar hukum. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM diatas. diperoleh suatu kesimpulan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat qodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati. dengan lahirnya Bill Of Right di inggris pada tahun 1689. dijaga dan dilindungi oleh setiap individu. adalah klaim untuk memperoleh dan melakukan segala sesuatu yang dapat membuat seseorang tetap hidup. Hak hidup misalnya. hak asasi manusia adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia. Untuk mewujudkan asas persamaan itu maka lahirlah teori “kontrak sosial” J. Artinya sejak itu. Adagium ini selanjutnya memperkuat dorongan timbulnya supremasi Negara hukum dan domokrasi. sudah mulai dinyatakan bahwa raja terikat dengan hukum dan bertanggungjawab kepada rakyat. hukum. dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”. Berbarengan dengan peristiwa itu timbullah adagium yang intinya bahwa manusia sama dimuka hukum (Equality Before The Law).J. Dalam salah satu bunyi pasalnya (pasal 1) secara tersurat dijelaskan bahwa “hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk tuhan yang maha esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati. karena tanpa hak tersebut eksistensinya sebagai manusia akan hilang. Lahirnya Magna Charta ini kemudian diikuti oleh perkembangan yang lebih konkret. walaupun kekuasaan membuat undangundang pada masa itu lebih banyak berada ditangannya. Hak asasi manusia ini tertuang dalam undang-undang (UU) No 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia. yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. B. Sejarah Lahirnya HAM Pada umumnya para pakar HAM berpendapat bahwa lahirnya HAM dimulai dengan lahirnya Magna Charta. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan kemunculan the American declaration of independence di Amerika Serikat yang lahir dari semangat paham Rosseau dan Monesquieu. Setelah itu kemudian disusul oleh Mountesquieu dengan doktrin trias politikanya yang terkenal yang mengajarkan pemisahan kekuasaan untuk mencegah tirani. pemerintah. Dengan demikian. Rosseau. Jadi . dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara. betapapun berat resikonya yang dihadapi. Kehadiran Bill Of Right telah menghasilkan asas persamaan harus diwujudkan. kekuasaan raja mulai dibatasi sebagai embrio lahirnya monarki konstitusional yang berintikan kekuasaan raja sebagai simbol belaka. Selanjutnya jhon locke di inggris dan Thomas Jefferson di AS dengan gagasan tentang hak-hak dasar kebebasan dan persamaan. Dengan demikian hakikat penghormatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. karena hak kebebasan baru dapat diwujudkan kalau ada hak persamaan.

Selanjutnya dipertegas juga dengan asas freedom of expression (kebebasan mengeluarkan pendapat).dalam dasar-dasar ini antara lain dinyatakan bahwa tidak boleh terjadi penangkapan dan penahanan yang semena-mena. Artinya ada pembatasan-pembatasan tertentu yang di berlakukan pada Negara agar warga Negara yang paling hakiki terlindung dari kesewenang-wenangan kekuasaan. mensenrechten. berhak dinyatakan tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap menyatakan ia bersalah. pemasungan dan atau pembatasan ruang gerak warga Negara oleh Negara. Penting untuk diketahui bahwa The Four Freedoms dari presiden Roosevelt yang dinyatakan pada 6 januari 1941. di dalam hak (rights). Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makna ganda. “pertama. Hal ini mendorong pemikiran bahwa perlu adanya aturan tertulis yang melindungi hak-hak asasi warga Negara agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran serupa di kemudian hari. Hak asasi sendiri sudah menjadi pembahasan sejak abad XVII setelah perang dunia ke II dan pada pembentukan PBB pada tahun 1945. yaitu bahwa orang-orang yang ditangkap kemudian ditahan dan dituduh. kebebasan dari ketakutan. human rights. natural rights. Selanjutnya pada tahun 1789 lahir The French Declaration. Pada abad XX berkembang adanya konversi hak-hak asasi manusia yang sifatnya kodrat menjadi hak-hak hukum (positif) dan hak-hak sosial (sosiale grondrechten). the right of property (perlindungan hak milik). baik keluar (antar Negara-bangsa) . yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. gronrechten. kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang diperlukannya. Pada masa ini munculnya Piagam PBB. Ketiga. sehingga tidaklah masuk akal bila sesudah lahir ia harus dibelenggu. Di dalamnya dinyatakan pula asas presumpsion of innocence. Sejak inilah mulai dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. menggantikan natural right yang menjadi kontroverasi karena pemahaman dan konsep hukum alam yang berkaitan dengan hak-hak alam. rechten van den mens dan fundamental rechten Menurut Philipus M Hadjon. seperti kekejam yang dilakukan oleh Negara-negara Fasis dan Nazi Jerman dalam perang dunia II. terkandung adanya suatu tuntutan (claim) . hakhak dasar manusia. C.sekalipun di Negara kedua tokoh HAM itu yakni Inggris dan Perancis belum lahir rincian HAM. Tetapi nyatanya banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Negara terhadap hak-hak asasi warga negaranya. sering disejajarkan dengan istilah hak. namun telah muncul amerika. kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. Istilah hak asasi manusia di Indonesia. Pada tanggal 10 Desember 1948 PBB mendeklarasikan piagam Hak Asasi Manusia yaitu Universal Declaration of Human Rights yang menjadi Internasional yang mengilhami instrument tambahan dan deklarasi HAM lainnya. kebebasan dari kemiskinan dalam Pengertian setiap bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. dan hak-hak dasar lainnya. freedom of religion (kebebasan menganut keyakinan atau agama yang dikehendaki). sehingga tidak satupun bangsa berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap tetangganya”. pengurangan persenjataan. Sejarah HAM di Indonesia Menurut Hendarmin Ranadineksa Hak Asasi Manusia pada hakekatnya adalah seperangkat ketentuan atau aturan untuk melindungi warga Negara dari kemungkinan penindasan. Keempat. termasuk ditangkap tanpa alas an yang sah atau ditahan tanpa surat perintah. Kedua. dimana hak-hak asasi manusia ditetapkan lebih rinci lagi yang kemudian menghasilkan dasar-dasar Negara hukum atau The Rule Of Law.hak kodrat. fundamental rights. yang meliputi usaha.

(Convenant on economic. dan hak berserikat (Pasal 22). Tetapi meskipun tidak mengikat secara Yuridis namun dokumen ini memiliki pengaruh moril. sebagai periode awal perdebatan HAM. hal atas pekerjaan (Pasal 6). kesamaan di muka badan-badan peradilan (Pasal 14). Dalam ketiga periode inilah perjuangan untuk menjadikan HAM sebagai sentral dari kehidupan berbangsa dan bernegara berlangsung dengan sangat serius. Perjanjian tentang hak-hak sipil dan politik (Convenant on civil and political rights) yang meliputi . hak tingkat hidup yang layak bagi diri sendiri dan keluarga (Pasal 11). harus menerimanya untuk melakukan ratifikasi instrument HAM internasional sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hak atas hidup (Pasal 6). diikuti dengan periode Konstituante (tahun 1957-1959) dan periode awal bangkitnya Orde Baru (tahun 1966-1968). Perjanjian yang memuat hak-hak ekonomi. Meski demikian pada periode-periode emas tersebut wacana HAM gagal dituangkan ke dalam hukum dasar negara atau konstitusi. agar terhindar dan tidak terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. membentuk serikat pekerja (Pasal 8). serta kebudayaan bangsa Indonesia . Makna keluar adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar Negara bangsa. Indonesia menjadi salah satu anggota PBB dan sesuai dengan perkembangan kemajuan transportasi dan komunikasi secara meluas. dan Undang-undang Dasar Sementara Tahun 1950 yang di berlakukan 17 agustus 1950 – 5 Juli 1959. kebebasan berkumpul secara damai (Pasal 21). Lalu sejak tanggal 5 Juli 1959 sampai dengan sekarang konstitusi Negara Indonesia kembali pada Undang-Undang . HAM bukanlah wacana yang asing dalam pelaksanaan politik dan ketatanegaraan di Indonesia. Semula HAM ini hanya di akui di Negara-negara maju saja. kebebasan berfikir dan beragama(Pasal19). Perjanjian tersebut memuat : a. Dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia telah memiliki tiga undang-undang dasar dengan empat kali masa berlaku yaitu : Undang-undang Dasar 1945 yang berlaku mulai dari tanggal 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949.maupun ke dalam (intra Negara bangsa). berlaku bagi semua bangsa dan pemerintahan di Negara masing-masing. Pembahasan mengenai HAM dalam ketatanegaraan Indonesia yang ditandai dengan perdebatan yang sangat intensif dalam tiga periode sejarah ketatanegaraan. Tanggal 16 desember 1966 lahirlah Convenant dari sidang umum PBB yang mengikat bagi Negara-negara yang meratifikasi Convenant (perjanjian) tersebut. Agar pernyataan itu dapat mengikat secara yuridis harus di tuangkan dalam perjanjian unilateral. dan hak mendapat pendidikan (Pasal 13) b. politik. maka Negara berkembang seperti Indonesia mau tidak mau. social dan budaya. Sebagai sebuah pernyataan atau piagam Universal Declaration of Human Rights baru mengikat secara moral namun belum secara yuridis. dan edukatif yang sangant besar Dokumen ini melambangkan “commitment” moril dari dunia internasional pada norma-norma dan hak asasi. Sedangkan makna ke dalam. Konstitusi Republik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS) yang mulai berlaku pada tanggal 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950. mengandung pengertian bahwa deklarasi HAM seDunia itu harus senantiasa menjadi criteria obyektif oleh rakyat dari masing-masing Negara dalam menilai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahannya. hak pension (Pasal 9). memuat hal-hal sebagai berikut. kebebasan dan keamanan diri (Pasal 9). yaitu mulai dari tahun 1945. social and culture).

Ketika para pendiri negara (founding fathers) merumuskan Konstitusi Negara RI tahun 1945 juga tidak lepas dari diskursus tersebut. maka MPR pada sidang Istimewanya pada tanggal 11 Nopember 1998 mensahkan ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 yang menugaskan kepada Lembaga-lembaga Tinggi Negara dan seluruh Apratur Pemerintah. Ketetapan ini juga menegaskan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk meratifikasi berbagai instrumen PBB tentang HAM. Dalam konstitusi RIS tentang HAM di atur dalam pasal 7 . Dapat dilihat bahwa pada saat itu pemerintahan Orde abaru bersifat anti terhadap piagam HAM. Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993 Tentang Komisi Nasional HAM. Sedangkan dalam UUDS tahun 1950 tentang HAM ini di atur dalam pasal 7 – 34. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita 2. Hal tersebut lebih disebabkan faktor keanggotan Indonesia sebagai anggota PBB. 31. Sementara M. akhirnya tidak jadi di berlakukan. MPRS telah menyampaikan nota MPRS kepada presiden dan DPR tentang pelaksanaan hak-hak asasi manusia. penghormatan terhadap Piagam PBB dan Deklarasi Universal HAM serta untuk perlindungan. 28. Soepomo memandang HAM sangat identik dengan ideologi individual-liberal yang karenanya tidak cocok dengan sifat kekeluargaan bangsa Indonesia. untuk menghormati. Dalam Keppres .33. Karena berbagai kepentingan politik pada saat itu. Pada tanggal 15 Agustus 1998 Presiden B. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Hak-Hak Anak 3. dan 34 UUD 1945. Meski demikian terdapat beberapa peraturan yang menyangkut tentang HAM yang lahir pada masa orde baru. sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Pengaturan tentang Hak Asasi manusia dalam UUDS 1950 merupakan pemindahan dari pasal-pasal yang terdapat dalam konstitusi RIS hanya berubah satu kalimat saja dan penambahan satu pasal. penegakan dan pemenuhan HAM sesuai dengan prinsip-prinsip kebudayaan bangsa Indonesia. Perkembangan demokrasi dan HAM pada era orde baru belum berjalan dengan baik. tentu saja pemuatan HAM dalam UUD 1945 relatif lebih sedikit. Habibie telah menetapkan berlakunya Keppres Nomor 129 Tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia 1998-2003 atau yang disebut RAN HAM. 29. Prof. Pancasila dan Negara berdasarkan atas Hukum telah menetapkan: 1.J. Dari pertentangan pemikiran tersebut akhirnya tercapai kompromi untuk memasukkan beberapa prinsip HAM dalam UUD yang sedang dirancang. pemajuan. Yamin berpendapat bahwa tidak ada dasar apa pun yang dapat dijadikan alasan untuk menolak memasukkan HAM dalam UUD yang sedang dirancang. melalui MPRS dalam sidang-sidangnya awal orde baru telah menyusun Piagam Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warg Negara. menegakkan dan menyebarluaskan pemahaman mengenai HAM kepada seluruh masyarakat. Dibanding dengan UUDS Tahun 1950 yang memuat 36 pasal (pasal 7 – pasal 43) terkait HAM. Wujudnya adalah tampak pada pasal 27. Kemudian berbagai pihak berpendapat bahwa untuk melengkapi UUD 1945 yang berkaitan dengan HAM. dan beranggapan bahwa masalah HAM sudah di atur di berbagai peraturan perundang-undangan. Untuk menghapus kekecewaan pada kepada bangsa Indonesia terhadap piagam HAM.Dasar 1945.

pembesar dan seterusnya) akan selalu ada dan timbul tenggelam sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Dengan demikian sifat perjuangan dalam mewujudkan tegaknya HAM di Indonesia itu tidak bisa dilihat sebagai pertentangan yang hanya mewakili kepentingan suatu golongan tertentu saja. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia) Pada tanggal 23 September 1999 diberlakukan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yang berlandaskan pada Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998. Hanya saja di bumi Nusantara warna pertentangan-pertentangan yang ada tidak begitu menonjol dalam panggung sejarah. dalam UU HAM juga diatur beberapa hal yang berkaitan dengan Kewajiban Dasar Manusia. Keluarnya Perpu tersebut didasarkan pada pertimbangan untuk menjaga agar pelaksanaan HAM sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta memberi perlindungan. bahkan sebaliknya dalam catatan sejarah yang ada berupa kejayaan bangsa Indonesia ketika berhasil dipersatukan di bawah panji-panji kebesaran Sriwijaya pada abad VII . melainkan menyangkut kepentingan bangsa Indonesia secara utuh.tersebut ditegaskan bahwa RAN HAM akan dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan dalam program 5 (lima) tahunan yang akan ditinjau dan disempurnakan setiap 5 (lima) tahun. Pembentukan HAM di Indonesia Berbeda dengan di Inggris dan Perancis yang mengawali sejarah perkembangan dan perjuangan hak asasi manusianya dengan menampilkan sosok pertentangan kepentingan antara kaum bangsawan dan rajanya yang lebih banyak mewakili kepentingan lapisan atas atau golongan tertentu saja. kepastian. penguasa. Sehingga timbul berbagai perlawanan dari rakyat untuk mengusir penjajah. Pertentangan kepentingan manusia dengan segala atributnya (sebagai raja. Selain diatur mengenai Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar Manusia. Pada tanggal 8 Oktober 1999 Pemerintah membentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 1999 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. bangsawan. Sebagai tindak lanjut dari Keppres Nomor 129 Tahun 1998 maka ditetapkanlah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 yang merupakan penetapan dari pengesahan Convention Against Torture and other Cruel. keadilan dan perasaan aman bagi perorangan maupun masyarakat maka perlu diambil tindakan atas pelanggaran terhadap HAM. Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman lain yang Kejam. Hal ini tidak berarti bahwa sebelum bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan bangsa asing. D. Perkembangan-perkembangan yang terjadi begitu cepat dalam lingkup domestik maupun Internasional dan kehadiran Kementrian Negara Urusan Hak Asasi Manusia pada Kabinet Persatuan Nasional (yang kemudian digabungkan dengan Depatemen Hukum dan Perundang-undangan menjadi Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia) membuat RAN HAM harus disesuaikan. tidak pernah mengalami gejolak berupa timbulnya penindasan manusia atas manusia. Perjuangan hak-hak asasi manusia Indonesia mencerminkan bentuk pertentangan kepentingan yang lebih besar. dapat dikatakan terjadi sejak masuk dan bercokolnya bangsa asing di Indonesia dalam jangka waktu yang lama.

Sedangkan pihak kedua menghendaki agar UUD itu memuat masalah-masalah HAM secara eksplisit Sehari setelah proklamasi kemerdekaan. istilah hak asasi manusia dicantumkan secara tegas. melainkan pengakuan atas hak yang bersifat umum. pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia tidak mendahulukan hak-hak asasi individu. Seperti yang tertuang dalam Pembukaan. Hal ini berarti ketentuan-ketentuan yang mengatur hakhak asasi manusia Indonesia yang berlaku adalah sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945. Sedangkan setelah konstitusi RIS berubah menjadi UUDS (1950). yang melahirkan . dan hak-hak Dewan Perwakilan Rakyat. yaitu The Universal Declaration of human Rights tahun 1948 yang berisikan 30 Pasal. yaitu hak bangsa. ketentuan mengenai hak-hak asasi manusia dimuat dalam Pasal 7 sampai dengan 34. maupun penjelasannya. dan kerajaan Majapahit sekitar abad XII hingga permulaan abad XVI Hingga kemudian diskursus tentang HAM memasuki babakan baru. Hal ini mendorong lahirnya Orde Baru tahun 1966 sebagai koreksi terhadap Orde Lama. Dengan demikian terwujudlah perangkat hukum yang di dalamnya memuat hak-hak dasar/asasi manusia Indonesia serta kewajiban-kewajiban yang bersifat dasar/asasi pula. Istilah yang dapat ditemukan adalah pencantuman dengan tegas perkataan hak dan kewajiban warga negara. Pihak yang pertama menolak dimasukkannya HAM terutama yang individual ke dalam UUD karena menurut mereka Indonesia harus dibangun sebagai negara kekeluargaan. Hal ini seirama dengan latar belakang perjuangan hak-hak asasi manusia Indonesia. yang di dalamnya memuat ketentuan hak-hak asasi manusia yang tercantum dalam Pasal 7 sampai dengan 33. Dalam masa Orde Lama ini banyak terjadi penyimpanganpenyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang suasananya diliputi penuh pertentangan antara golongan politik dan puncaknya terjadi pemberontakan G-30-S/PKI tahun 1965. pada saat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas menyiapkan rancangan UUD pada tahun 1945. Kedua konstitusi yang disebut terakhir dirancang oleh Soepomo yang muatan hak asasinya banyak mencontoh Piagam Hak Asasi yang dihasilkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Baru setelah UUD 1945 mengalami perubahan atau amandemen kedua. Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia pernah mengalami perubahan konstitusi dari UUD 1945 menjadi konstitusi RIS (1949). tanggal 18 Agustus 1945. maka UUD 1945 dinyatakan berlaku lagi dan UUDS 1950 dinyatakan tidak berlaku. yang bersifat kebangsaan dan bukan bersifat individu. silang selisih tentang perumusan HAM sesungguhnya telah muncul. Dalam awal masa Orde baru pernah diusahakan untuk menelaah kembali masalah HAM. Di sana terjadi perbedaan antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin di pihak lain. batang tubuh.hingga pertengahan abad IX. Pemahaman atas hak-hak asasi manusia antara tahun 1959 hingga tahun 1965 menjadi amat terbatas karena pelaksanaan UUD 1945 dikaitkan dengan paham NASAKOM yang membuang paham yang berbau Barat. dalam pembahasan-pembahasan tentang sebuah konstitusi bagi negara yang akan segera merdeka. Dengan Dekrit Presiden RI tanggal 5 juli 1959. Sedangkan istilah atau perkataan hak asasi manusia itu sendiri sebenarnya tidak dijumpai dalam UUD 1945 baik dalam pembukaan. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan sidang untuk mengesahkan UUD 1945 sebagai UUD negara Republik Indonesia.

Keikutsertaan rakyat dalam pembangunan bukan sekedar aspirasi. Secara historis pernyataan Presiden mengenai HAM tersebut amat penting. XVII/MPR/1988 tentang Hak Asasi Manusia. karena konsep HAM dianggap berasal dari paham individualisme dan liberalisme yang secara ideologis tidak diterima. telah diusulkan agar dapat diterbitkannya suatu Ketetapan MPR yang memuat piagam hak-hak asasi Manusia atau Ketetapan MPR tentang GBHN yang didalamnya memuat operasionalisasi daripada hak-hak dan kewajiban-kewajiban asasi manusia Indonesia yang ada dalam UUD 1945. Undang-Undang ini kemudian diikuti lahirnya Perpu No. Namun rancangan ini tidak berhasil disepakati menjadi suatu ketetapan. yang terdiri dari Mukadimah dan 31 Pasal tentang HAM. Pembentukan KOMNAS HAM tersebut pada saat bangsa Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan. 165. Sebagai bagian dari HAM. karena sejak saat itu secara ideologis. politis dan konseptual HAM dipahami sebagai suatu implementasi dari sila-sila Pancasila yang merupakan dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. Akhirnya ketetapan MPR RI yang diharapkan memuat secara adanya HAM itu dapat diwujudkan dalam masa Orde Reformasi. Meskipun demikian. Kemudian di dalam pidato kenegaraan Presiden RI pada pertengahan bulan Agustus 1990. secara Ideologis. yaitu selama Sidang Istimewa MPR yangberlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 13 November 1988. Hal ini senada dengan deklarasi PBB tahun 1986. Dan menjadi tugas badan-badan pembangunan internasional dan nasional untuk menempatkan HAM sebagai fokus pembangunan. dinyatakan bahwa rujukan Indonesia mengenai HAM adalah sila kedua Pancasila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” dalam kesatuan dengan sila-sila Pancasila lainnya. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum yang disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 26 oktober 1998. Perkembangan selanjutnya adalah dengan dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan Keputusan Presiden RI No. politis dan konseptual.sebuah rancangan Ketetapan MPRS. A3/I/Ad Hoc B/MPRS/1966. 1 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dan ditetapkan menjadi UU No. melainkan kunci keseluruhan hak asasi atas pembangunan itu sendiri. 50 Tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993. oleh berbagai kalangan masyarakat (organisasi maupun lembaga). 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang disahkan pada tanggal 23 september 1999. serta dimuat dalam LNRI Tahun 1999 No. Guna lebih memantapkan perhatian atas perkembangan HAM di Indonesia. Kemudian Ketetapan MPR tersebut menjadi salah satu acuan dasar bagi lahirnya UU No. sebelumnya telah pula lahir UU No. sila kedua tersebut agak diabaikan sebagai sila yang mengatur HAM. . menunjukkan keterkaitan yang erat antara penegakkan HAM di satu pihak dan penegakkan hukum di pihak lainnya. yang menyatakan HAM merupakan tujuan sekaligus sarana pembangunan. telah diputuskan lahirnya Ketetapan MPR RI No. Dalam rapat paripurna ke-4 tanggal 13 November 1988. yaitu berupa rancangan Pimpinan MPRS RI No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.

Konvensi tentang Penghapusan Bentuk Diskriminasi Ras Tahun 1999. melalui UU No. melalui UU No. melalui UU No. Konvensi tentang Ketenagakerjaan.  Partai Komunis Indonesia Sebagai partai yang berlandaskan paham Marxisme lebih condong pada hak – hak yang bersifat sosial dan menyentuh isu – isu yang berkenan dengan alat produksi. Bentuk pemikiran HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat. 25 Tahun 1997. 3. 5 Tahun 1998.  Indische Partij Pemikiran HAM yang paling menonjol adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap wanita. 29 Tahun 1999. Periode Sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 )  Boedi Oetomo Dalam konteks pemikiran HAM. yang pelaksanaannya ditangguhkan sementara.  Perhimpunan Indonesia Lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri.  Serikat Islam Menekankan pada usaha – usaha unutk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan deskriminasi rasial.Di samping itu. 6. 4. . 2. Deklarasi tentang Perlindungan dan Penyiksaan. Indonesia telah merativikasi pula beberapa konvensi internasional yang mengatur HAM. 7 Tahun 1984. 36 Tahun 1990. melalui UU No. E. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Anak. pemimpin Boedi Oetomo telah memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi – petisi yang dilakukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dalam surat kabar goeroe desa. Perkembangan HAM di Indonesia 1. melalui Keppres No. 68 Tahun 1958. melalui UU No. 5. Konvensi mengenai Hak Politik Wanita 1979. antara lain: 1.

hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen. Partai Nasional Indonesia Mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan. Keempat. hak berserikat.  Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia Menekankan pada hak politik yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat. fair ( adil ) dan demokratis. semakin banyak tumbuh partai – partai politik dengan beragam ideologinya masing – masing. 2.Langkah selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mendirikan partai politik. 2. pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. hak untuk menentukan nasib sendiri. komitmen terhadap HAM pada periode awal sebagaimana ditunjukkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November 1945. Ketiga. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk kedalam hukum dasar Negara ( konstitusi ) yaitu. hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan lisan. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi liberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat di kalangan elit politik. parlemen atau dewan perwakilan rakyat resprentasi dari kedaulatan rakyat menunjukkan kinerja dan kelasnya sebagai wakil rakyat dengan melakukan kontrol yang semakin efektif terhadap eksekutif. UUD 45. hak berserikat dan berkumpul. Pemikiran HAM pada periode ini menapatkan momentum yang sangat membanggakan. Seperti dikemukakan oleh Prof. Periode 1950 – 1959 Periode 1950 – 1959 dalam perjalanan Negara Indonesia dikenal dengan sebutan periode Demokrasi Parlementer. Pertama. Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi betul – betul menikmati kebebasannya. Kedua. Pemikiran HAM sebelum kemerdekaan juga terjadi perdebatan dalam sidang BPUPKI antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. Periode Setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ) 1. 3. Periode 1959 – 1966 . Sebagaimana tertera dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. Periode 1945 – 1950 Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak untuk merdeka. Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum. wacana dan pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang kondusif sejalan dengan tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan. Bagir Manan pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami “ pasang” dan menikmati “ bulan madu “ kebebasan. Indikatornya menurut ahli hukum tata Negara ini ada lima aspek. Kelima. hak untuk berkumpul. hak persamaan di muka hukum serta hak untuk turut dalam penyelenggaraan Negara.

Pada sistem ini ( demokrasi terpimpin ) kekuasan berpusat pada dan berada ditangan presiden. pada sekitar awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM mengalami kemunduran. dan sebagainya. Selain itu sikap defensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh Negara – Negara Barat untukmemojokkan. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. Periode 1998 – sekarang . XIV/MPRS 1966 MPRS melalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam piagam tentang Hak – hakAsasiManusiadanHak – hak serta KewajibanWarga negara. 5. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai –nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila serta bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang terlebih dahulu dibandingkan dengan deklarasi Universal HAM. Akibat dari sistem demokrasi terpimpin Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran supratruktur politik maupun dalam tataran infrastruktur poltik.Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. karena HAM tidak lagi dihormati. dilindungi dan ditegakkan. telah terjadi pemasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan dan hak politik. 4. Periode 1966 – 1998 Setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. kasus DOM di Aceh. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Selanjutnya pada pada tahun 1968 diadakan seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil ( judical review ) untuk dilakukan guna melindungi HAM. dan saran kepada pemerintah perihal pelaksanaan HAM. kasus di Irian Jaya. ada semangat untuk menegakkan HAM. kasus Keung Ombo. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM ( Lembaga Swadaya Masyarakat ) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM. Begitu pula dalam rangka pelaksanan TAP MPRS No. Dalam kaitan dengan HAM. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan jaringan dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seprtikasus Tanjung Priok. serta member pendapat. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan Pengadilan HAM. Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM ) berdasarkan KEPRES No. pertimbangan.Pada masa awal periode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM.Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an Nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi pergeseran strategi pemerintah dari represif dan defensive menjadi ke strategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM.Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi terpimpin sebagai reaksi penolakan Soekarno terhaap sistem demokrasi Parlementer. Sementara itu.

Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang – undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di Indonesia. Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hokum dan instrument Internasional dalam bidang HAM. akan lebih menyegarkan iklim penegakkan hukum yang sehat. 39 Tahun 1999 dan UU No. Artinya kebenaran hukum dan keadilan harus dapat dinikmati oleh setiap warganegara secara egaliter. Pada tahap penentuan telah ditetapkan beberapa penentuan perundang–undangan tentang HAM seperti amandemen konstitusi Negara ( Undang–undangDasar 1945 ). Di samping itu juga karena gigihnya organisasi-organisasi masyarakat dalam memperjuangkan pemajuan dan perlindungan HAM Pelanggaran HAM yang berat menurut Pasal 7 UU No. Sehingga dengan dibentuknya KOMNAS HAM dan Pengadilan HAM. issue mengenai HAM di Indonesia bergerak dengan cepat dan dalam jumlah yang sangat mencolok. Terutama dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini. Kenyataan menunjukkan bahwa masalah HAM di indonesia selalu menjadi sorotan tajam dan bahan perbincangan terus-menerus. Disadari atau tidak. Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap status penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. yang mengakibatkan sulit mengendalikan dirinya sendiri sehingga terjadi pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. peraturan pemerintah dan ketentuan perundang–undangan lainnya. mulai dari yang sederhana sampai pada pelanggaran HAM berat (gross human right violation).Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. 26 Tahun 2000 serta dipilihnya para hakim ad hoc. Begitu pula keberadaan budaya hukum dari aparat pemerintah dan tokoh masyarakat merupakan faktor penentu (determinant) yang mendukung tegaknya HAM. baik karena konsep dasarnya yang bersumber dari UUD 1945 maupun dalam realita praktisnya di lapangan ditengarai penuh dengan pelanggaranpelanggaran. F. 26 Tahun 2000 meliputi kejahatan genocide (the crime of genocide) dan kejahatan terhadap kemanusiaan(crime against humanity). Penegakan HAM di Indonesia Tegaknya HAM selalu mempunyai hubungan korelasional positif dengan tegaknya negara hukum. dengan adanya political will dari pemerintah terhadap penegakkan HAM. Undang – undang (UU). hal itu akan berimplikasi terhadap budaya politik yang lebih sehat dan proses demokratisasi yang lebih cerah. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk . Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM. regulasi hukum HAM dengan ditetapkannya UU No. Dan harus disadari pula bahwa kebutuhan terhadap tegaknya HAM dan keadilan itu memang memerlukan proses dan tuntutan konsistensi politik. Gerak yang cepat tersebut terutama karena memang telah terjadi begitu banyak pelanggaran HAM. Sebab-sebab pelanggaran HAM antara lain adanya arogansi kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki seorang pejabat yang berkuasa. ketetapan MPR ( TAP MPR ).

sebagai akibat dari bergulirnya reformasi secara perlahan tapi pasti mulai diajukan ke lembaga peradilan. penyiksaan. perampasan kemerdekaan. kelompok etnis. Seiring dengan itu upaya penegakkan HAM di Indonesia diharapkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. merupakan forum paling tepat untuk membuktikan kebenaran tuduhantuduhan adanya pelanggaran HAM di Indonesia. dengan cara :      Membunuh anggota kelompok. perkosaan. Memindahkan secara paksaan anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain. 39 Tahun 1999 secara tegas menyatakan bahwa untuk mengadili pelanggaran HAM yang berat dibentuk Pengadilan HAM di lingkungan Peradilan Umum. Pasal 104 ayat (1) UU No. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok.menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. ras. Banyak kasus-kasus pelanggaran HAM berat atau yang mengandung unsur adanya pelanggaran HAM yang selama ini tidak tersentuh oleh hukum. karena diharapkan dapat meningkatkan citra baik Indonesia di mata internasional. Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. penghilangan orang secara paksa dan kejahatan apartheid Munculnya berbagai kasus pelanggaran HAM berat telah melahirkan kesadaran kolektif tentang perlunya perlindungan HAM melalui instrumen hukum dan kinerja institusi penegak hukumnya. Hukum acara yang berlaku atas perkara pelanggaran HAM yang berat menurut Pasal 10 UU No. bahwa Indonesia mempunyai komitmen dan political will untuk menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat. Lembaga peradilan. penganiayaan. . dalam hal ini Pengadilan HAM. pemusnahan. Sedangkan kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. 26 Tahun 2000. Dibentuknya Pengadilan HAM di Indonesia patut disambut gembira. kelompok agama. pengusiran. perbudakan. kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini. dilakukan berdasarkan ketentuan hukum acara pidana.

Di samping itu telah dibentuknya Pengadilan HAM dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi. di mana keduanya berjalan secara paralel dan merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.BAB III PENUTUP HAM adalah persoalan yang bersifat universal. . Dewasa ini. Setiap negara mempunyai sejarah perjuangan dan perkembangan HAM yang berbeda. Adanya HAM menimbulkan konsekwensi adanya kewajiban asasi. Pengabaian salah satunya akan menimbulkan pelanggaran HAM. dan Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai masalah ini. Perkembangan dan perjuangan dalam mewujudkan tegaknya HAM di Indonesia terutama terjadi setelah adanya perlawanan terhadap penjajahan bangsa asing. meskipun ditengarai banyak kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. oleh karena itu konsepsi dan implementasi HAM dari suatu negara tidak dapat disamaratakan. baik menyangkut perkembangan dan penegakkannya mulai menampakkan tanda-tanda kemajuan. sehingga tidak bisa dilihat sebagai pertentangan yang hanya mewakili kepentingan suatu golongan tertentu saja. tetapi sekaligus juga kontekstual. Hal ini terlihat dengan adanya regulasi hukum HAM melalui peraturan perundang-undangan. tetapi secara umum Implementasi HAM di Indonesia. melainkan menyangkut kepentingan bangsa Indonesia secara utuh.

Hak Asasi Menurut Al-Qur’an. dkk. Pendidikan Kewargaan (Civic Education). 2007. Peter Baehr. 2007. II. dkk. HAM Perempuan. Jakarta : PT. Semarang : BP. cet. 1 Muladi. 2009. 1 Ubaidillah. 2008. Niken. . A. HAK ASASI MANUSIA Hakekat. cet. cet. Subandi. Pendidikan Kewargaan (Civic Education). Bandung. Peradaban. Refika Aditama. 2005. 1 Srijanti. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. 1 . Walisongo Press. Satya Arinanto. penanganannya oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum dan pembentukan peradilan administrasi). 1995 Effendi. cet. cet. cet. dkk. Bumi Aksara. Pancasila dan UUD’ 45 dalam Paradigma Reformasi. Pusat Studi Hukum Tata Negara. Pendidikan Kewarganegaraan. 1995. Falsafah Negara Pancasila. Jakarta : Prenada Media. 2000.DAFTAR PUSTAKA Al Marsudi. 2005. 4 Rosyada. Jakarta : ICCE UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta : IAIN jakarta press. Pendidikan Kewargaan (Civic Education). Hadjon.. Yayasan Obor Indonesia. Philipus M. Bandung : PT. 3 Winarno. 2001 Instrumen Internasional Pokok Hak-hak Asasi Manusia. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan masyarakat. 2005 Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia. Cet. Perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia (suatu studi tentang Prinsip-prinsipnya. 2 Savitri. M. 2007. cet. 2001 Dalizar. Jakarta: Graha Ilmu. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan.. Dede. PT Refika Aditama. Jakarta. Jakarta : Percetakan Mutiara Sumber Widya..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful