KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “HAK ASASI MANUSIA”Kami mengucapkan terima kasih kepada semua anggota kelompok 1 yang telah membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi teman-teman dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Banjarmasin, 19 juli 2013

Penyusun

B... 3.. Penegakan HAM di Indonesia………………………………………………………. BAB II PEMBAHASAN 1.…………………. Perkembangan HAM di Indonesia…………………………………………………….…. 2. Pembentukan HAM di Indonesia…………………………………………………….. PENGERTIAN Hak Asasi Manusia ………………. 6..DAFTAR ISI KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………….. Sejarah HAM di Indonesia…………………………………………………………….……………………………. BAB III PENUTUP KESIMPULAN…………………………………………………………………………………………… DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………… i ii 1 1 2 3 4 7 10 13 15 16 .……………………………………. LATAR BELAKANG……………………………………………………………………………. RUMUSAN MASALAH……………………………………………………. Sejarah lahirnya HAM………………………………………. 4. 5.…..…. DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN A..

meskipun demikian sifat dan hakikat HAM di mana-mana pada dasarnya sama juga. Demikian pula tidak ada seorangpun diperkenankan untuk merampasnya. hak itu tetap eksis dalam setiap diri manusia. Hak asasi manusia (HAM) pada hakekatnya merupakan hak kodrati yang secara inheren melekat dalam setiap diri manusia sejak lahir. maka eksistensi HAM memerlukan landasan yuridis untuk diberlakukan dalam mengatur kehidupan manusia Perjuangan dan perkembangan hak-hak asasi manusia di setiap negara mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri sesuai dengan perjalanan hidup bangsanya. 6. Mengingat HAM itu adalah karunia Allah. sebenarnya ia tidak memerlukan legitimasi yuridis untuk pemberlakuannya dalam suatu sistem hukum nasional maupun internasional. 4. human right (Inggris) antau mensen rechten (Belanda). 3. Gagasan HAM yang bersifat teistik ini diakui kebenarannya sebagai nilai yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. yang dalam bahasa Indonesia disalin menjadi hak-hak kemanusiaan atau hak-hak asasi manusia.BAB 1 PENDAHULUAN A. Pengertian Hak Asasi Manusia Sejarah lahirnya HAM Sejarah HAM di Indonesia Pembentukan HAM di Indonesia Perkembangan HAM di Indonesia Penegakan HAM di Indonesia . maka tidak ada badan apapun yang dapat mencabut hak itu dari tangan pemiliknya. 5. Sekalipun tidak ada perlindungan dan jaminan konstitusional terhadap HAM. Latar Belakang Masalah Istilah hak-hak asasi manusia dalam beberapa bahasa asing dikenal dengan sebutan sebagai berikut : droit de l’home (Perancis) yang berarti hak manusia. B. yaitu : 1. 2. Namun karena sebagian besar tata kehidupan manusia bersifat sekuler dan positivistik. serta tidak ada kekuasaan apapun yang boleh membelenggunya Karena HAM itu bersifat kodrati. Pengertian ini mengandung arti bahwa HAM merupakan karunia Allah Yang Maha Pencipta kepada hambanya. Rumusan Masalah Makalah ini akan mengidentifikasikan beberapa hal yang berkaitan tentang perkembangan HAM di Indonesia.

Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan. Karena itu dihadapan tuhan manusia ada sama kecuali nanti pada amalnya. yang dalam bahasa Indonesia disalin menjadi hak-hak kemanusiaan atau hakhak asasi manusia. 2. kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya. Ketiga unsur tersebut menyatu dalam pengertian dasar tentang hak. Dengan demikian hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan dengan instansi. sebagai berikut : 1. Dengan demikian keuntungan dapat diperoleh dari pelaksanaan hak bila dsertai dengan pelaksanaan kewajiban. dimiliki. yakni kodrat manusia. Dalam kaitan dengan pemerolehan hak paling tidak ada dua teori yaitu teori McCloskey dan teori Joel Fenberg. Dalam teori McCloskey dinyatakan bahwa pemberian hak adalah untuk dilakukan. . Landasan yang langsung dan pertama. Hal itu berarti antara hak dan kewajiban merupakan dua hal tidak dapat dipisahkan dalam perwujudannya. Kodrat manusia adalah sama derajat dan martabatnya. Hak mempunyai unsur-unsur sebagai berikut : a) pemilik hak b) ruang lingkup penerapan hak c) pihak yang bersedia dalam penerapan hak. Istilah hak-hak asasi manusia dalam beberapa bahasa asing dikenal dengan sebutan sebagai berikut : droit de l’home (Perancis) yang berarti hak manusia. Pengertian Hak Asasi Manusia Secara definitif “hak” merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berprilaku. Landasan yang kedua dan yang lebih dalam : Tuhan menciptakan manusia. melindungi kebebasan. Sedangkan dalam teori Joel Fenberg dinyatakan bahwa pemberian hak penuh merupakan kesatuan dari klaim yang abash(keuntungan yang didapat dari pelaksanaan hak yang disertai pelaksanaan kewajiban). dinikmati atau sudah dilakukan. Semua manusia adalah makhluk dari pencipta yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. dan sebagainya. human right (Inggris) atau mensen rechten (Belanda). Semua manusia adalah sederajat tanpa membedakan ras. Hak merupakan sesuatu yang diperoleh. Karena itu ketika seseorang menuntut hak juga harus melakukan kewajiban. bahasa.BAB II PEMBAHASAN A. suku. agama.

Kehadiran Bill Of Right telah menghasilkan asas persamaan harus diwujudkan. hukum. Jadi . B. Setelah itu kemudian disusul oleh Mountesquieu dengan doktrin trias politikanya yang terkenal yang mengajarkan pemisahan kekuasaan untuk mencegah tirani. dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara. dengan lahirnya Bill Of Right di inggris pada tahun 1689. Berdasarkan beberapa rumusan pengertian HAM diatas. hak asasi manusia adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia. Untuk mewujudkan asas persamaan itu maka lahirlah teori “kontrak sosial” J. Hak asasi manusia ini tertuang dalam undang-undang (UU) No 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia. Selanjutnya jhon locke di inggris dan Thomas Jefferson di AS dengan gagasan tentang hak-hak dasar kebebasan dan persamaan. dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”. Artinya sejak itu. karena hak kebebasan baru dapat diwujudkan kalau ada hak persamaan.J. dijaga dan dilindungi oleh setiap individu. ia harus di adili dan mempertanggung jawabkan kebijaksanaannya kepada parlemen. karena tanpa hak tersebut eksistensinya sebagai manusia akan hilang. Dengan demikian hakikat penghormatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan yaitu keseimbangan antara hak dan kewajiban. adalah klaim untuk memperoleh dan melakukan segala sesuatu yang dapat membuat seseorang tetap hidup. Sejak lahirnya piagam ini maka dimulailah babak baru bagi pelaksanaan HAM yaitu jika raja melanggar hukum. betapapun berat resikonya yang dihadapi. kekuasaan raja mulai dibatasi sebagai embrio lahirnya monarki konstitusional yang berintikan kekuasaan raja sebagai simbol belaka.Menurut Teaching Human Right yang diterbitkan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB). Hak hidup misalnya. Berbarengan dengan peristiwa itu timbullah adagium yang intinya bahwa manusia sama dimuka hukum (Equality Before The Law). sudah mulai dinyatakan bahwa raja terikat dengan hukum dan bertanggungjawab kepada rakyat. walaupun kekuasaan membuat undangundang pada masa itu lebih banyak berada ditangannya. Adagium ini selanjutnya memperkuat dorongan timbulnya supremasi Negara hukum dan domokrasi. Sejarah Lahirnya HAM Pada umumnya para pakar HAM berpendapat bahwa lahirnya HAM dimulai dengan lahirnya Magna Charta. Rosseau. serta keseimbangan antara kepentingan perseorangan dengan kepentingan umum. pemerintah. yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Dalam salah satu bunyi pasalnya (pasal 1) secara tersurat dijelaskan bahwa “hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk tuhan yang maha esa dan merupakan anugrah-Nya yang wajib dihormati. masyarakat atau negara. Dengan demikian. Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan kemunculan the American declaration of independence di Amerika Serikat yang lahir dari semangat paham Rosseau dan Monesquieu. Lahirnya Magna Charta ini kemudian diikuti oleh perkembangan yang lebih konkret. diperoleh suatu kesimpulan bahwa HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat qodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati.

namun telah muncul amerika. sering disejajarkan dengan istilah hak. Hal ini mendorong pemikiran bahwa perlu adanya aturan tertulis yang melindungi hak-hak asasi warga Negara agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran serupa di kemudian hari.hak kodrat. pengurangan persenjataan. menggantikan natural right yang menjadi kontroverasi karena pemahaman dan konsep hukum alam yang berkaitan dengan hak-hak alam. C. fundamental rights. hakhak dasar manusia. Istilah hak asasi manusia di Indonesia. Keempat. Di dalamnya dinyatakan pula asas presumpsion of innocence. human rights. terkandung adanya suatu tuntutan (claim) . Ketiga. kebebasan dari kemiskinan dalam Pengertian setiap bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya. sehingga tidaklah masuk akal bila sesudah lahir ia harus dibelenggu. the right of property (perlindungan hak milik). kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat. Pada masa ini munculnya Piagam PBB. Kedua. Penting untuk diketahui bahwa The Four Freedoms dari presiden Roosevelt yang dinyatakan pada 6 januari 1941. yang dikeluarkan oleh pejabat yang sah. gronrechten. termasuk ditangkap tanpa alas an yang sah atau ditahan tanpa surat perintah. berhak dinyatakan tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap menyatakan ia bersalah. seperti kekejam yang dilakukan oleh Negara-negara Fasis dan Nazi Jerman dalam perang dunia II. Deklarasi HAM sedunia itu mengandung makna ganda. Sejak inilah mulai dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya. Selanjutnya pada tahun 1789 lahir The French Declaration. Tetapi nyatanya banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh Negara terhadap hak-hak asasi warga negaranya. Pada abad XX berkembang adanya konversi hak-hak asasi manusia yang sifatnya kodrat menjadi hak-hak hukum (positif) dan hak-hak sosial (sosiale grondrechten). rechten van den mens dan fundamental rechten Menurut Philipus M Hadjon. dimana hak-hak asasi manusia ditetapkan lebih rinci lagi yang kemudian menghasilkan dasar-dasar Negara hukum atau The Rule Of Law. Pada tanggal 10 Desember 1948 PBB mendeklarasikan piagam Hak Asasi Manusia yaitu Universal Declaration of Human Rights yang menjadi Internasional yang mengilhami instrument tambahan dan deklarasi HAM lainnya. sehingga tidak satupun bangsa berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap tetangganya”. kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang diperlukannya.dalam dasar-dasar ini antara lain dinyatakan bahwa tidak boleh terjadi penangkapan dan penahanan yang semena-mena. freedom of religion (kebebasan menganut keyakinan atau agama yang dikehendaki). Artinya ada pembatasan-pembatasan tertentu yang di berlakukan pada Negara agar warga Negara yang paling hakiki terlindung dari kesewenang-wenangan kekuasaan. pemasungan dan atau pembatasan ruang gerak warga Negara oleh Negara. Selanjutnya dipertegas juga dengan asas freedom of expression (kebebasan mengeluarkan pendapat). baik keluar (antar Negara-bangsa) . “pertama. Hak asasi sendiri sudah menjadi pembahasan sejak abad XVII setelah perang dunia ke II dan pada pembentukan PBB pada tahun 1945. yang meliputi usaha. Sejarah HAM di Indonesia Menurut Hendarmin Ranadineksa Hak Asasi Manusia pada hakekatnya adalah seperangkat ketentuan atau aturan untuk melindungi warga Negara dari kemungkinan penindasan. dan hak-hak dasar lainnya. di dalam hak (rights). mensenrechten. yaitu bahwa orang-orang yang ditangkap kemudian ditahan dan dituduh.sekalipun di Negara kedua tokoh HAM itu yakni Inggris dan Perancis belum lahir rincian HAM. kebebasan dari ketakutan. natural rights.

agar terhindar dan tidak terjerumus lagi dalam malapetaka peperangan yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi meskipun tidak mengikat secara Yuridis namun dokumen ini memiliki pengaruh moril. Konstitusi Republik Indonesia Serikat (Konstitusi RIS) yang mulai berlaku pada tanggal 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950. dan edukatif yang sangant besar Dokumen ini melambangkan “commitment” moril dari dunia internasional pada norma-norma dan hak asasi. Sedangkan makna ke dalam. Lalu sejak tanggal 5 Juli 1959 sampai dengan sekarang konstitusi Negara Indonesia kembali pada Undang-Undang . Agar pernyataan itu dapat mengikat secara yuridis harus di tuangkan dalam perjanjian unilateral. Sebagai sebuah pernyataan atau piagam Universal Declaration of Human Rights baru mengikat secara moral namun belum secara yuridis. hal atas pekerjaan (Pasal 6). Tanggal 16 desember 1966 lahirlah Convenant dari sidang umum PBB yang mengikat bagi Negara-negara yang meratifikasi Convenant (perjanjian) tersebut. politik. (Convenant on economic. Semula HAM ini hanya di akui di Negara-negara maju saja. Perjanjian yang memuat hak-hak ekonomi. hak pension (Pasal 9). memuat hal-hal sebagai berikut. hak tingkat hidup yang layak bagi diri sendiri dan keluarga (Pasal 11). Perjanjian tentang hak-hak sipil dan politik (Convenant on civil and political rights) yang meliputi . mengandung pengertian bahwa deklarasi HAM seDunia itu harus senantiasa menjadi criteria obyektif oleh rakyat dari masing-masing Negara dalam menilai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahannya.maupun ke dalam (intra Negara bangsa). serta kebudayaan bangsa Indonesia . HAM bukanlah wacana yang asing dalam pelaksanaan politik dan ketatanegaraan di Indonesia. berlaku bagi semua bangsa dan pemerintahan di Negara masing-masing. Indonesia menjadi salah satu anggota PBB dan sesuai dengan perkembangan kemajuan transportasi dan komunikasi secara meluas. social dan budaya. Perjanjian tersebut memuat : a. Hak atas hidup (Pasal 6). Meski demikian pada periode-periode emas tersebut wacana HAM gagal dituangkan ke dalam hukum dasar negara atau konstitusi. social and culture). dan hak berserikat (Pasal 22). dan Undang-undang Dasar Sementara Tahun 1950 yang di berlakukan 17 agustus 1950 – 5 Juli 1959. kebebasan berkumpul secara damai (Pasal 21). membentuk serikat pekerja (Pasal 8). Makna keluar adalah berupa komitmen untuk saling menghormati dan menunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan antar Negara bangsa. kebebasan dan keamanan diri (Pasal 9). sebagai periode awal perdebatan HAM. dan hak mendapat pendidikan (Pasal 13) b. Dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia telah memiliki tiga undang-undang dasar dengan empat kali masa berlaku yaitu : Undang-undang Dasar 1945 yang berlaku mulai dari tanggal 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949. yaitu mulai dari tahun 1945. kebebasan berfikir dan beragama(Pasal19). diikuti dengan periode Konstituante (tahun 1957-1959) dan periode awal bangkitnya Orde Baru (tahun 1966-1968). harus menerimanya untuk melakukan ratifikasi instrument HAM internasional sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. kesamaan di muka badan-badan peradilan (Pasal 14). Dalam ketiga periode inilah perjuangan untuk menjadikan HAM sebagai sentral dari kehidupan berbangsa dan bernegara berlangsung dengan sangat serius. maka Negara berkembang seperti Indonesia mau tidak mau. Pembahasan mengenai HAM dalam ketatanegaraan Indonesia yang ditandai dengan perdebatan yang sangat intensif dalam tiga periode sejarah ketatanegaraan.

Wujudnya adalah tampak pada pasal 27. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita 2.Dasar 1945.33. Pengaturan tentang Hak Asasi manusia dalam UUDS 1950 merupakan pemindahan dari pasal-pasal yang terdapat dalam konstitusi RIS hanya berubah satu kalimat saja dan penambahan satu pasal. Sementara M. Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Hak-Hak Anak 3. untuk menghormati. menegakkan dan menyebarluaskan pemahaman mengenai HAM kepada seluruh masyarakat. Ketetapan ini juga menegaskan kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat untuk meratifikasi berbagai instrumen PBB tentang HAM. dan 34 UUD 1945. Untuk menghapus kekecewaan pada kepada bangsa Indonesia terhadap piagam HAM. Ketika para pendiri negara (founding fathers) merumuskan Konstitusi Negara RI tahun 1945 juga tidak lepas dari diskursus tersebut. tentu saja pemuatan HAM dalam UUD 1945 relatif lebih sedikit. 31. Dapat dilihat bahwa pada saat itu pemerintahan Orde abaru bersifat anti terhadap piagam HAM. Hal tersebut lebih disebabkan faktor keanggotan Indonesia sebagai anggota PBB. Kemudian berbagai pihak berpendapat bahwa untuk melengkapi UUD 1945 yang berkaitan dengan HAM. Pada tanggal 15 Agustus 1998 Presiden B. pemajuan. Soepomo memandang HAM sangat identik dengan ideologi individual-liberal yang karenanya tidak cocok dengan sifat kekeluargaan bangsa Indonesia. melalui MPRS dalam sidang-sidangnya awal orde baru telah menyusun Piagam Hak-hak Asasi Manusia dan Hak-hak serta Kewajiban Warg Negara. Dibanding dengan UUDS Tahun 1950 yang memuat 36 pasal (pasal 7 – pasal 43) terkait HAM. Karena berbagai kepentingan politik pada saat itu. Dari pertentangan pemikiran tersebut akhirnya tercapai kompromi untuk memasukkan beberapa prinsip HAM dalam UUD yang sedang dirancang. Dalam Keppres . Meski demikian terdapat beberapa peraturan yang menyangkut tentang HAM yang lahir pada masa orde baru. Yamin berpendapat bahwa tidak ada dasar apa pun yang dapat dijadikan alasan untuk menolak memasukkan HAM dalam UUD yang sedang dirancang. Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1993 Tentang Komisi Nasional HAM. maka MPR pada sidang Istimewanya pada tanggal 11 Nopember 1998 mensahkan ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 yang menugaskan kepada Lembaga-lembaga Tinggi Negara dan seluruh Apratur Pemerintah. penghormatan terhadap Piagam PBB dan Deklarasi Universal HAM serta untuk perlindungan. penegakan dan pemenuhan HAM sesuai dengan prinsip-prinsip kebudayaan bangsa Indonesia. Perkembangan demokrasi dan HAM pada era orde baru belum berjalan dengan baik. Dalam konstitusi RIS tentang HAM di atur dalam pasal 7 . akhirnya tidak jadi di berlakukan. Prof. sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. 28. Habibie telah menetapkan berlakunya Keppres Nomor 129 Tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia Indonesia 1998-2003 atau yang disebut RAN HAM. Sedangkan dalam UUDS tahun 1950 tentang HAM ini di atur dalam pasal 7 – 34.J. Pancasila dan Negara berdasarkan atas Hukum telah menetapkan: 1. dan beranggapan bahwa masalah HAM sudah di atur di berbagai peraturan perundang-undangan. MPRS telah menyampaikan nota MPRS kepada presiden dan DPR tentang pelaksanaan hak-hak asasi manusia. 29.

tersebut ditegaskan bahwa RAN HAM akan dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan dalam program 5 (lima) tahunan yang akan ditinjau dan disempurnakan setiap 5 (lima) tahun. Dengan demikian sifat perjuangan dalam mewujudkan tegaknya HAM di Indonesia itu tidak bisa dilihat sebagai pertentangan yang hanya mewakili kepentingan suatu golongan tertentu saja. Hal ini tidak berarti bahwa sebelum bangsa Indonesia mengalami masa penjajahan bangsa asing. Sebagai tindak lanjut dari Keppres Nomor 129 Tahun 1998 maka ditetapkanlah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 yang merupakan penetapan dari pengesahan Convention Against Torture and other Cruel. Perkembangan-perkembangan yang terjadi begitu cepat dalam lingkup domestik maupun Internasional dan kehadiran Kementrian Negara Urusan Hak Asasi Manusia pada Kabinet Persatuan Nasional (yang kemudian digabungkan dengan Depatemen Hukum dan Perundang-undangan menjadi Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia) membuat RAN HAM harus disesuaikan. tidak pernah mengalami gejolak berupa timbulnya penindasan manusia atas manusia. bangsawan. D. kepastian. melainkan menyangkut kepentingan bangsa Indonesia secara utuh. Tidak Manusiawi atau Merendahkan Martabat Manusia) Pada tanggal 23 September 1999 diberlakukan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yang berlandaskan pada Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998. Pertentangan kepentingan manusia dengan segala atributnya (sebagai raja. penguasa. Selain diatur mengenai Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar Manusia. Pada tanggal 8 Oktober 1999 Pemerintah membentuk Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 1999 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman lain yang Kejam. pembesar dan seterusnya) akan selalu ada dan timbul tenggelam sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. dapat dikatakan terjadi sejak masuk dan bercokolnya bangsa asing di Indonesia dalam jangka waktu yang lama. Hanya saja di bumi Nusantara warna pertentangan-pertentangan yang ada tidak begitu menonjol dalam panggung sejarah. bahkan sebaliknya dalam catatan sejarah yang ada berupa kejayaan bangsa Indonesia ketika berhasil dipersatukan di bawah panji-panji kebesaran Sriwijaya pada abad VII . keadilan dan perasaan aman bagi perorangan maupun masyarakat maka perlu diambil tindakan atas pelanggaran terhadap HAM. Sehingga timbul berbagai perlawanan dari rakyat untuk mengusir penjajah. Keluarnya Perpu tersebut didasarkan pada pertimbangan untuk menjaga agar pelaksanaan HAM sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta memberi perlindungan. Pembentukan HAM di Indonesia Berbeda dengan di Inggris dan Perancis yang mengawali sejarah perkembangan dan perjuangan hak asasi manusianya dengan menampilkan sosok pertentangan kepentingan antara kaum bangsawan dan rajanya yang lebih banyak mewakili kepentingan lapisan atas atau golongan tertentu saja. Perjuangan hak-hak asasi manusia Indonesia mencerminkan bentuk pertentangan kepentingan yang lebih besar. dalam UU HAM juga diatur beberapa hal yang berkaitan dengan Kewajiban Dasar Manusia.

yang bersifat kebangsaan dan bukan bersifat individu. yang di dalamnya memuat ketentuan hak-hak asasi manusia yang tercantum dalam Pasal 7 sampai dengan 33. dan kerajaan Majapahit sekitar abad XII hingga permulaan abad XVI Hingga kemudian diskursus tentang HAM memasuki babakan baru. istilah hak asasi manusia dicantumkan secara tegas.hingga pertengahan abad IX. Hal ini mendorong lahirnya Orde Baru tahun 1966 sebagai koreksi terhadap Orde Lama. batang tubuh. dalam pembahasan-pembahasan tentang sebuah konstitusi bagi negara yang akan segera merdeka. Hal ini seirama dengan latar belakang perjuangan hak-hak asasi manusia Indonesia. dan hak-hak Dewan Perwakilan Rakyat. Sedangkan pihak kedua menghendaki agar UUD itu memuat masalah-masalah HAM secara eksplisit Sehari setelah proklamasi kemerdekaan. Pemahaman atas hak-hak asasi manusia antara tahun 1959 hingga tahun 1965 menjadi amat terbatas karena pelaksanaan UUD 1945 dikaitkan dengan paham NASAKOM yang membuang paham yang berbau Barat. yaitu The Universal Declaration of human Rights tahun 1948 yang berisikan 30 Pasal. Seperti yang tertuang dalam Pembukaan. Dalam awal masa Orde baru pernah diusahakan untuk menelaah kembali masalah HAM. Dengan demikian terwujudlah perangkat hukum yang di dalamnya memuat hak-hak dasar/asasi manusia Indonesia serta kewajiban-kewajiban yang bersifat dasar/asasi pula. Sedangkan setelah konstitusi RIS berubah menjadi UUDS (1950). Pihak yang pertama menolak dimasukkannya HAM terutama yang individual ke dalam UUD karena menurut mereka Indonesia harus dibangun sebagai negara kekeluargaan. pada saat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas menyiapkan rancangan UUD pada tahun 1945. maupun penjelasannya. pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia tidak mendahulukan hak-hak asasi individu. silang selisih tentang perumusan HAM sesungguhnya telah muncul. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan sidang untuk mengesahkan UUD 1945 sebagai UUD negara Republik Indonesia. Kedua konstitusi yang disebut terakhir dirancang oleh Soepomo yang muatan hak asasinya banyak mencontoh Piagam Hak Asasi yang dihasilkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dengan Dekrit Presiden RI tanggal 5 juli 1959. maka UUD 1945 dinyatakan berlaku lagi dan UUDS 1950 dinyatakan tidak berlaku. Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia pernah mengalami perubahan konstitusi dari UUD 1945 menjadi konstitusi RIS (1949). Hal ini berarti ketentuan-ketentuan yang mengatur hakhak asasi manusia Indonesia yang berlaku adalah sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945. tanggal 18 Agustus 1945. Istilah yang dapat ditemukan adalah pencantuman dengan tegas perkataan hak dan kewajiban warga negara. melainkan pengakuan atas hak yang bersifat umum. ketentuan mengenai hak-hak asasi manusia dimuat dalam Pasal 7 sampai dengan 34. Dalam masa Orde Lama ini banyak terjadi penyimpanganpenyimpangan terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang suasananya diliputi penuh pertentangan antara golongan politik dan puncaknya terjadi pemberontakan G-30-S/PKI tahun 1965. yang melahirkan . Baru setelah UUD 1945 mengalami perubahan atau amandemen kedua. yaitu hak bangsa. Sedangkan istilah atau perkataan hak asasi manusia itu sendiri sebenarnya tidak dijumpai dalam UUD 1945 baik dalam pembukaan. Di sana terjadi perbedaan antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin di pihak lain.

secara Ideologis. Namun rancangan ini tidak berhasil disepakati menjadi suatu ketetapan. Guna lebih memantapkan perhatian atas perkembangan HAM di Indonesia. Kemudian di dalam pidato kenegaraan Presiden RI pada pertengahan bulan Agustus 1990. sebelumnya telah pula lahir UU No. melainkan kunci keseluruhan hak asasi atas pembangunan itu sendiri. karena sejak saat itu secara ideologis. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang disahkan pada tanggal 23 september 1999. telah diusulkan agar dapat diterbitkannya suatu Ketetapan MPR yang memuat piagam hak-hak asasi Manusia atau Ketetapan MPR tentang GBHN yang didalamnya memuat operasionalisasi daripada hak-hak dan kewajiban-kewajiban asasi manusia Indonesia yang ada dalam UUD 1945. politis dan konseptual. Keikutsertaan rakyat dalam pembangunan bukan sekedar aspirasi. Hal ini senada dengan deklarasi PBB tahun 1986. Meskipun demikian. Perkembangan selanjutnya adalah dengan dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) berdasarkan Keputusan Presiden RI No. Sebagai bagian dari HAM. 165. karena konsep HAM dianggap berasal dari paham individualisme dan liberalisme yang secara ideologis tidak diterima. menunjukkan keterkaitan yang erat antara penegakkan HAM di satu pihak dan penegakkan hukum di pihak lainnya. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum yang disahkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 26 oktober 1998. telah diputuskan lahirnya Ketetapan MPR RI No. Pembentukan KOMNAS HAM tersebut pada saat bangsa Indonesia sedang giat melaksanakan pembangunan. A3/I/Ad Hoc B/MPRS/1966. politis dan konseptual HAM dipahami sebagai suatu implementasi dari sila-sila Pancasila yang merupakan dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia. yaitu selama Sidang Istimewa MPR yangberlangsung dari tanggal 10 sampai dengan 13 November 1988. serta dimuat dalam LNRI Tahun 1999 No. yaitu berupa rancangan Pimpinan MPRS RI No. 50 Tahun 1993 tanggal 7 Juni 1993. Dalam rapat paripurna ke-4 tanggal 13 November 1988. dinyatakan bahwa rujukan Indonesia mengenai HAM adalah sila kedua Pancasila “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” dalam kesatuan dengan sila-sila Pancasila lainnya. Kemudian Ketetapan MPR tersebut menjadi salah satu acuan dasar bagi lahirnya UU No. Undang-Undang ini kemudian diikuti lahirnya Perpu No. 1 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan dan ditetapkan menjadi UU No. oleh berbagai kalangan masyarakat (organisasi maupun lembaga). . XVII/MPR/1988 tentang Hak Asasi Manusia. Secara historis pernyataan Presiden mengenai HAM tersebut amat penting. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Akhirnya ketetapan MPR RI yang diharapkan memuat secara adanya HAM itu dapat diwujudkan dalam masa Orde Reformasi. yang terdiri dari Mukadimah dan 31 Pasal tentang HAM. sila kedua tersebut agak diabaikan sebagai sila yang mengatur HAM. Dan menjadi tugas badan-badan pembangunan internasional dan nasional untuk menempatkan HAM sebagai fokus pembangunan. yang menyatakan HAM merupakan tujuan sekaligus sarana pembangunan.sebuah rancangan Ketetapan MPRS.

 Partai Komunis Indonesia Sebagai partai yang berlandaskan paham Marxisme lebih condong pada hak – hak yang bersifat sosial dan menyentuh isu – isu yang berkenan dengan alat produksi. E. Deklarasi tentang Perlindungan dan Penyiksaan. pemimpin Boedi Oetomo telah memperlihatkan adanya kesadaran berserikat dan mengeluarkan pendapat melalui petisi – petisi yang dilakukan kepada pemerintah kolonial maupun dalam tulisan yang dalam surat kabar goeroe desa. melalui UU No. 36 Tahun 1990.  Indische Partij Pemikiran HAM yang paling menonjol adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakuan yang sama dan hak kemerdekaan. melalui UU No. Bentuk pemikiran HAM Boedi Oetomo dalam bidang hak kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat. 5 Tahun 1998. Indonesia telah merativikasi pula beberapa konvensi internasional yang mengatur HAM. Konvensi tentang Ketenagakerjaan. Periode Sebelum Kemerdekaan ( 1908 – 1945 )  Boedi Oetomo Dalam konteks pemikiran HAM. Konvensi tentang Penghapusan Bentuk Diskriminasi Ras Tahun 1999.  Perhimpunan Indonesia Lebih menitikberatkan pada hak untuk menentukan nasib sendiri. melalui UU No. 4.  Serikat Islam Menekankan pada usaha – usaha unutk memperoleh penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan dan deskriminasi rasial. 2. Konvensi mengenai Hak Politik Wanita 1979. 68 Tahun 1958. Perkembangan HAM di Indonesia 1. melalui UU No. 7 Tahun 1984. 5. melalui UU No. 3. Konvensi Perlindungan Hak-Hak Anak. yang pelaksanaannya ditangguhkan sementara. antara lain: 1. 29 Tahun 1999. . 6. 25 Tahun 1997. Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap wanita. melalui Keppres No.Di samping itu.

Perdebatan pemikiran HAM yang terjadi dalam sidang BPUPKI berkaitan dengan masalah hak persamaan kedudukan di muka hukum. karena suasana kebebasan yang menjadi semangat demokrasi liberal atau demokrasi parlementer mendapatkan tempat di kalangan elit politik. hak berserikat dan berkumpul. Kelima. Seperti dikemukakan oleh Prof. hak untuk memeluk agama dan kepercayaan. Pemikiran HAM telah mendapat legitimasi secara formal karena telah memperoleh pengaturan dan masuk kedalam hukum dasar Negara ( konstitusi ) yaitu. hak untuk mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan lisan. Pertama. 2. hak persamaan di muka hukum serta hak untuk turut dalam penyelenggaraan Negara. hak untuk menentukan nasib sendiri. semakin banyak tumbuh partai – partai politik dengan beragam ideologinya masing – masing. hak untuk berkumpul. Pemikiran HAM pada periode ini menapatkan momentum yang sangat membanggakan. Kebebasan pers sebagai pilar demokrasi betul – betul menikmati kebebasannya. 2. fair ( adil ) dan demokratis. hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan serta hak kebebasan untuk untuk menyampaikan pendapat terutama di parlemen. pemilihan umum sebagai pilar lain dari demokrasi berlangsung dalam suasana kebebasan. Partai Nasional Indonesia Mengedepankan pada hak untuk memperoleh kemerdekaan. Kedua. 3. Indikatornya menurut ahli hukum tata Negara ini ada lima aspek. komitmen terhadap HAM pada periode awal sebagaimana ditunjukkan dalam Maklumat Pemerintah tanggal 1 November 1945. UUD 45. parlemen atau dewan perwakilan rakyat resprentasi dari kedaulatan rakyat menunjukkan kinerja dan kelasnya sebagai wakil rakyat dengan melakukan kontrol yang semakin efektif terhadap eksekutif.Langkah selanjutnya memberikan keleluasaan kepada rakyat untuk mendirikan partai politik. hak berserikat. wacana dan pemikiran tentang HAM mendapatkan iklim yang kondusif sejalan dengan tumbuhnya kekuasaan yang memberikan ruang kebebasan. Bagir Manan pemikiran dan aktualisasi HAM pada periode ini mengalami “ pasang” dan menikmati “ bulan madu “ kebebasan. hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Periode 1945 – 1950 Pemikiran HAM pada periode awal kemerdekaan masih pada hak untuk merdeka. Keempat. Periode 1959 – 1966 . Sebagaimana tertera dalam Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945.  Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia Menekankan pada hak politik yaitu hak untuk mengeluarkan pendapat. Periode 1950 – 1959 Periode 1950 – 1959 dalam perjalanan Negara Indonesia dikenal dengan sebutan periode Demokrasi Parlementer. Periode Setelah Kemerdekaan ( 1945 – sekarang ) 1. Ketiga. Pemikiran HAM sebelum kemerdekaan juga terjadi perdebatan dalam sidang BPUPKI antara Soekarno dan Soepomo di satu pihak dengan Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin pada pihak lain.

pembentukan Komisi dan Pengadilan HAM untuk wilayah Asia. Dalam kaitan dengan HAM. Sikap defensif pemerintah tercermin dalam ungkapan bahwa HAM adalah produk pemikiran barat yang tidak sesuai dengan nilai –nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila serta bangsa Indonesia sudah terlebih dahulu mengenal HAM sebagaimana tertuang dalam rumusan UUD 1945 yang terlebih dahulu dibandingkan dengan deklarasi Universal HAM.Pada periode ini sistem pemerintahan yang berlaku adalah sistem demokrasi terpimpin sebagai reaksi penolakan Soekarno terhaap sistem demokrasi Parlementer. kasus di Irian Jaya. Selanjutnya pada pada tahun 1968 diadakan seminar Nasional Hukum II yang merekomendasikan perlunya hak uji materil ( judical review ) untuk dilakukan guna melindungi HAM. kasus DOM di Aceh.Upaya yang dilakukan oleh masyarakat menjelang periode 1990-an Nampak memperoleh hasil yang menggembirakan karena terjadi pergeseran strategi pemerintah dari represif dan defensive menjadi ke strategi akomodatif terhadap tuntutan yang berkaitan dengan penegakan HAM.Pada masa awal periode ini telah diadakan berbagai seminar tentang HAM. dan saran kepada pemerintah perihal pelaksanaan HAM. Salah satu seminar tentang HAM dilaksanakan pada tahun 1967 yang merekomendasikan gagasan tentang perlunya pembentukan Pengadilan HAM. Begitu pula dalam rangka pelaksanan TAP MPRS No.Meskipun dari pihak pemerintah mengalami kemandegan bahkan kemunduran. Sementara itu. pertimbangan. Akibat dari sistem demokrasi terpimpin Presiden melakukan tindakan inkonstitusional baik pada tataran supratruktur politik maupun dalam tataran infrastruktur poltik. Selain itu sikap defensif pemerintah ini berdasarkan pada anggapan bahwa isu HAM seringkali digunakan oleh Negara – Negara Barat untukmemojokkan. dilindungi dan ditegakkan. serta member pendapat. dan sebagainya. Pemerintah pada periode ini bersifat defensif dan represif yang dicerminkan dari produk hukum yang umumnya restriktif terhadap HAM. Salah satu sikap akomodatif pemerintah terhadap tuntutan penegakan HAM adalah dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM ) berdasarkan KEPRES No. 5. Lembaga ini bertugas untuk memantau dan menyelidiki pelaksanaan HAM. pemikiran HAM nampaknya terus ada pada periode ini terutama dikalangan masyarakat yang dimotori oleh LSM ( Lembaga Swadaya Masyarakat ) dan masyarakat akademisi yang concern terhadap penegakan HAM. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan jaringan dan lobi internasional terkait dengan pelanggaran HAM yang terjadi seprtikasus Tanjung Priok. pada sekitar awal tahun 1970-an sampai periode akhir 1980-an persoalan HAM mengalami kemunduran. telah terjadi pemasungan hak asasi masyarakat yaitu hak sipil dan dan hak politik. Periode 1966 – 1998 Setelah terjadi peralihan pemerintahan dari Soekarno ke Soeharto. kasus Keung Ombo. 50 Tahun 1993 tertanggal 7 Juni 1993. Pada sistem ini ( demokrasi terpimpin ) kekuasan berpusat pada dan berada ditangan presiden. karena HAM tidak lagi dihormati. 4. ada semangat untuk menegakkan HAM. XIV/MPRS 1966 MPRS melalui Panitia Ad Hoc IV telah menyiapkan rumusan yang akan dituangkan dalam piagam tentang Hak – hakAsasiManusiadanHak – hak serta KewajibanWarga negara. Periode 1998 – sekarang . Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.

Pada tahap penentuan telah ditetapkan beberapa penentuan perundang–undangan tentang HAM seperti amandemen konstitusi Negara ( Undang–undangDasar 1945 ). Hasil dari pengkajian tersebut menunjukkan banyaknya norma dan ketentuan hukum nasional khususnya yang terkait dengan penegakan HAM diadopsi dari hokum dan instrument Internasional dalam bidang HAM. Penegakan HAM di Indonesia Tegaknya HAM selalu mempunyai hubungan korelasional positif dengan tegaknya negara hukum. Pada saat ini mulai dilakukan pengkajian terhadap beberapa kebijakan pemerintah orde baru yang berlawanan dengan pemajuan dan perlindungan HAM. ketetapan MPR ( TAP MPR ). Terutama dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk .Pergantian rezim pemerintahan pada tahun 1998 memberikan dampak yang sangat besar pada pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia. Dan harus disadari pula bahwa kebutuhan terhadap tegaknya HAM dan keadilan itu memang memerlukan proses dan tuntutan konsistensi politik. Gerak yang cepat tersebut terutama karena memang telah terjadi begitu banyak pelanggaran HAM. peraturan pemerintah dan ketentuan perundang–undangan lainnya. Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap status penentuan dan tahap penataan aturan secara konsisten. yang mengakibatkan sulit mengendalikan dirinya sendiri sehingga terjadi pelanggaran terhadap hak-hak orang lain.Selanjutnya dilakukan penyusunan peraturan perundang – undangan yang berkaitan dengan pemberlakuan HAM dalam kehidupan ketatanegaraan dan kemasyarakatan di Indonesia. Di samping itu juga karena gigihnya organisasi-organisasi masyarakat dalam memperjuangkan pemajuan dan perlindungan HAM Pelanggaran HAM yang berat menurut Pasal 7 UU No. baik karena konsep dasarnya yang bersumber dari UUD 1945 maupun dalam realita praktisnya di lapangan ditengarai penuh dengan pelanggaranpelanggaran. Sebab-sebab pelanggaran HAM antara lain adanya arogansi kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki seorang pejabat yang berkuasa. regulasi hukum HAM dengan ditetapkannya UU No. hal itu akan berimplikasi terhadap budaya politik yang lebih sehat dan proses demokratisasi yang lebih cerah. 26 Tahun 2000 serta dipilihnya para hakim ad hoc. mulai dari yang sederhana sampai pada pelanggaran HAM berat (gross human right violation). Artinya kebenaran hukum dan keadilan harus dapat dinikmati oleh setiap warganegara secara egaliter. Undang – undang (UU). Begitu pula keberadaan budaya hukum dari aparat pemerintah dan tokoh masyarakat merupakan faktor penentu (determinant) yang mendukung tegaknya HAM. dengan adanya political will dari pemerintah terhadap penegakkan HAM. Kenyataan menunjukkan bahwa masalah HAM di indonesia selalu menjadi sorotan tajam dan bahan perbincangan terus-menerus. 39 Tahun 1999 dan UU No. issue mengenai HAM di Indonesia bergerak dengan cepat dan dalam jumlah yang sangat mencolok. Disadari atau tidak. F. Sehingga dengan dibentuknya KOMNAS HAM dan Pengadilan HAM. akan lebih menyegarkan iklim penegakkan hukum yang sehat. 26 Tahun 2000 meliputi kejahatan genocide (the crime of genocide) dan kejahatan terhadap kemanusiaan(crime against humanity).

. perkosaan. merupakan forum paling tepat untuk membuktikan kebenaran tuduhantuduhan adanya pelanggaran HAM di Indonesia. karena diharapkan dapat meningkatkan citra baik Indonesia di mata internasional. pengusiran. bahwa Indonesia mempunyai komitmen dan political will untuk menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat. Sedangkan kejahatan terhadap kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan. dalam hal ini Pengadilan HAM. 39 Tahun 1999 secara tegas menyatakan bahwa untuk mengadili pelanggaran HAM yang berat dibentuk Pengadilan HAM di lingkungan Peradilan Umum. Seiring dengan itu upaya penegakkan HAM di Indonesia diharapkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya. kelompok etnis. kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini. dengan cara :      Membunuh anggota kelompok. perbudakan. pemusnahan. 26 Tahun 2000. ras. Pasal 104 ayat (1) UU No. Banyak kasus-kasus pelanggaran HAM berat atau yang mengandung unsur adanya pelanggaran HAM yang selama ini tidak tersentuh oleh hukum. Dibentuknya Pengadilan HAM di Indonesia patut disambut gembira. kelompok agama. Memindahkan secara paksaan anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain. Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok.menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa. Hukum acara yang berlaku atas perkara pelanggaran HAM yang berat menurut Pasal 10 UU No. perampasan kemerdekaan. dilakukan berdasarkan ketentuan hukum acara pidana. penganiayaan. sebagai akibat dari bergulirnya reformasi secara perlahan tapi pasti mulai diajukan ke lembaga peradilan. Lembaga peradilan. penghilangan orang secara paksa dan kejahatan apartheid Munculnya berbagai kasus pelanggaran HAM berat telah melahirkan kesadaran kolektif tentang perlunya perlindungan HAM melalui instrumen hukum dan kinerja institusi penegak hukumnya. penyiksaan.

di mana keduanya berjalan secara paralel dan merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. oleh karena itu konsepsi dan implementasi HAM dari suatu negara tidak dapat disamaratakan. melainkan menyangkut kepentingan bangsa Indonesia secara utuh. Di samping itu telah dibentuknya Pengadilan HAM dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi. . dan Islam telah memberikan pedoman yang sangat jelas mengenai masalah ini. Perkembangan dan perjuangan dalam mewujudkan tegaknya HAM di Indonesia terutama terjadi setelah adanya perlawanan terhadap penjajahan bangsa asing. Hal ini terlihat dengan adanya regulasi hukum HAM melalui peraturan perundang-undangan.BAB III PENUTUP HAM adalah persoalan yang bersifat universal. tetapi sekaligus juga kontekstual. meskipun ditengarai banyak kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. baik menyangkut perkembangan dan penegakkannya mulai menampakkan tanda-tanda kemajuan. Adanya HAM menimbulkan konsekwensi adanya kewajiban asasi. Pengabaian salah satunya akan menimbulkan pelanggaran HAM. Dewasa ini. sehingga tidak bisa dilihat sebagai pertentangan yang hanya mewakili kepentingan suatu golongan tertentu saja. Setiap negara mempunyai sejarah perjuangan dan perkembangan HAM yang berbeda. tetapi secara umum Implementasi HAM di Indonesia.

Philipus M. Cet. 2005. Walisongo Press. Falsafah Negara Pancasila. Jakarta : Percetakan Mutiara Sumber Widya. Jakarta : IAIN jakarta press. 2000. 2007. dkk. 2009. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. 1995 Effendi. Pancasila dan UUD’ 45 dalam Paradigma Reformasi. Hak Asasi Menurut Al-Qur’an. 4 Rosyada.. A. Niken. Jakarta. dkk. Perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia (suatu studi tentang Prinsip-prinsipnya. cet. cet. 1 Muladi. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: Graha Ilmu. cet. 2005 Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia. cet. Peter Baehr. 2005. 2007. Bandung : PT. Dede. 2001 Instrumen Internasional Pokok Hak-hak Asasi Manusia. HAK ASASI MANUSIA Hakekat. Subandi.. 1995. II. Bumi Aksara. PT Refika Aditama. Refika Aditama. 1 Srijanti. Pusat Studi Hukum Tata Negara. penanganannya oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum dan pembentukan peradilan administrasi). 2001 Dalizar. Pendidikan Kewargaan (Civic Education). dkk. 2007. Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan masyarakat.. Peradaban. Jakarta : Prenada Media. cet. . Semarang : BP. Jakarta : PT.DAFTAR PUSTAKA Al Marsudi. Pendidikan Kewargaan (Civic Education). Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. 1 . 3 Winarno. Jakarta : ICCE UIN Syarif Hidayatullah. 1 Ubaidillah. 2 Savitri. Hadjon. 2008. cet. M. Bandung. Pendidikan Kewarganegaraan. Satya Arinanto. HAM Perempuan. cet. Pendidikan Kewargaan (Civic Education).