P. 1
paper fix

paper fix

|Views: 12|Likes:

More info:

Published by: Septian Bayu Nugraha on Sep 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2014

pdf

text

original

KAJIAN RUGI – RUGI PADA FIBER OPTIK POLYMER OPTICAL FIBER (POF) 0,5 MM TERGORES UNTUK FIBER SENSOR Fatimah

Nur Hidayah, Ahmad Marzuki, Mohtar Yunianto Email: fatimahnur.h@gmail.com Laboratorium Optika dan Fotonika Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No. 36 A Surakarta ABSTRAK Kajian secara eksperimen tentang pengaruh kedalaman goresan terhadap rugi-rugi fiber optik untuk fiber sensor telah dilakukan. Fiber sensor bekerja atas dasar adanya rugi-rugi karena perlakuan bending pada fiber tergores. Pembuatan goresan pada fiber optik menggunakan alat gores yang telah dilengkapi dengan mikrometer sekrup. Teknik macrobending dilakukan dengan menggunakan set alat sistem bending yang telah terhubung dengan personal computer. Set up alat terdiri dari sistem bending, Light Emittig Diode (LED) merah sebagai sumber cahaya, Light Dependent Resistor (LDR) sebagai sensor cahaya, interface dan personal computer. Variasi kedalaman goresan yang digunakan adalah 0,05 mm; 0,15 mm dan 0,25 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar kedalaman goresan maka rugi-rugi fiber optik juga semakin besar. Kelinieran yang diperoleh dari masing-masing data yaitu 0,989; 0,987 dan 0,984 dengan gardien masing-masing 0,272; 0,303 dan 0,318. Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa sensitifitas fiber optik yang memenuhi spesifikasi untuk fiber sensor adalah goresan sedalam 0,05 mm. Kata kunci: Polymer Optical Fiber (POF), macrobending dan fiber sensor. PENDAHULUAN Selama beberapa dekade terakhir telah terjadi banyak perubahan produk dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan Optoelektronik dan industri komunikasi berbasis fiber optik. Dalam proses perkembangan fiber optik, telah dilakukan penelitian tentang desain yang sesuai dengan penggunaannya. Sebuah cabang penting dari penelitian ini adalah pemikiran baru yang diarahkan untuk menggunakan fiber optik sebagai sistem penginderaan (sensor) [1], misalnya detektor gempa, ektensometer dan hydrophones. Kemampuan sensor fiber optik untuk menggantikan sensor tradisional seperti rotasi, percepatan, pengukuran medan listrik dan magnetik, suhu, tekanan, akustik, getaran, posisi linier dan sudut, ketegangan, kelembaban, viskositas, pengukuran kimia dan aplikasi sensor lainnya dalam beberapa tahun terakhir ini telah meningkat [2]. Saat ini, sensor fiber optik menawarkan alternatif kinerja yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan sensor fiber optik memberikan solusi biaya rendah, tahan terhadap gangguan elektromagnetik, kemampuan multiplexing dan sensitifitasnya tinggi. Keuntungan fiber optik lainnya yaitu tidak mengalirkan arus listrik tahan interferensi frekuensi radio, kemampuan sensing seperti tekanan, korosi, regangan dan sinyal akustik [3]. Kinerja sensor fiber optik berlaku untuk mengukur parameter fisik seperti tekanan dan suhu. Selain itu juga dapat digunakan untuk menganalisis biokimia yang sangat sensitif [4]. Konsep fiber optik sebagai enabler utama dalam teknologi sensor kembali dikenalkan ketika fiber optik dipatenkan pada pertengahan 1960. Fiber optik digunakan sebagai alat pengukuran presisi pada suatu permukaan medium tertentu yang berhubungan dengan referensi cahaya. Hal ini dilakukan dengan mengukur cahaya yang dipantulkan dan ditransmisikan pada permukaan medium. Sensor fiber optik sudah ada jauh sebelum kertas dibuat oleh Kao dan Hockum. Spitz mengusulkan bahwa fiber optik dapat digunakan dalam sistem komunikasi [1]. Polymer Optical Fiber (POF) banyak digunakan dalam jaringan industri dan otomotif, seperti koneksi internet di daerah tertentu. Teknologi ini membutuhkan jaringan berkecepatan tinggi. Teknologi POF dapat memenuhi persyaratan tersebut. Selain itu, di bidang penginderaan optik, POF mengalami pertumbuhan yang pesat karena memiliki banyak keuntungan. Misalnya penanganan lebih mudah karena diameternya sekitar 1 mm dibandingkan fiber optik gelas yang umumnya berdiameter 125 µm. POF bersifat dielektris sehingga menghindari risiko akibat arus pendek. Hal ini sangat cocok untuk digunakan pada daerah yang eksplosif dan rawan kebakaran di kawasan industri. Selain itu POF juga lebih fleksibel, tak mudah putus dan biaya lebih murah dibandingkan dengan fiber optik gelas [5]. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah goresan, kedalaman goresan dan jarak antar goresan terhadap rugi-rugi fiber optik tergores. Pemanfaatan rugirugi tersebut melalui teknik pembengkokan mikro (macrobending) yang digunakan untuk fiber sensor. Prinsip kerja dari fiber optik berdasarkan pada perubahan intensitas cahaya yang ditransmisikan oleh fiber optik. Perubahan intensitas cahaya disebabkan oleh adanya perlakuan goresan dan macrobending yang diberikan pada fiber optik. Aplikasi dari fiber sensor yaitu dapat digunakan untuk sensor tanah longsor, sensor tsunami, sensor keretakan gedung bertingkat dan lain-lain. Data yang dihasilkan dari penelitian ini adalah besarnya transmitansi cahaya pada fiber optik. Nilai transmitansi didapatkan dari perbandingan tegangan modulasi dan tegangan referensi yang terukur oleh dua buah sensor cahaya. Variasi yang digunakan pada penelitian ini adalah kedalaman goresan. Dari data yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan teori-teori yang ada. METODE Kegiatan pokok dari penelitian ini adalah dilakukannya pengukuran tentang rugi-rugi fiber optik tergores untuk fiber sensor. Pengukuran rugi-rugi fiber optik dilakukan dengan menggunakan teknik macrobending (pembengkokan

makro). Teknik ini diberikan pada fiber optik yang telah diberi perlakuan berupa goresan. Hal tersebut dilakukan dengan cara memvariasi kedalaman goresan. Prinsip penggoresan yaitu fiber optik diletakkan secara lurus di atas sebuah bidang datar pada alat gores. Posisi fiber optik tersebut harus dalam keadaan tegang sehingga saat penggoresannya dapat tegak lurus dengan silet. Fiber optik yang digunakan adalah fiber optik polimer atau Polymer Optical Fiber (POF) 0,5 mm. Sumber cahaya yang digunakan adalah Light Emitting Dioda (LED) merah dengan panjang gelombang 638 nm. Fiber optik mentransmisikan cahaya dari LED menuju ke sensor cahaya berupa Light Dependent Resistor (LDR). LDR digunakan untuk mendeteksi keluaran intensitas cahaya pada fiber optik, kemudian cahaya tersebut diteruskan menuju interface (antarmuka) yang telah terhubung dengan Personal Computer (PC). Fungsi dari interface adalah peubah sinyal cahaya menjadi sinyal listrik. Besarnya keluaran intensitas cahaya fiber optik yang berupa sinyal listrik dapat diketahui dengan menggunakan PC. Perangkat lunak yang digunakan untuk mengetahui perubahan nilai transmitansi fiber optik yang diberi perlakuan adalah software akuisisi data. Untuk mengetahui sensitifitas pada masing-masing fiber optik tergores maka pengambilan data dilakukan dengan memvariasi kedalaman goresan. Variasi kedalaman goresan yang digunakan adalah 0,05 mm; 0,15 mm dan 0,25 mm. Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui sensitifitas fiber optik yang memenuhi spesifikasi untuk fiber sensor. Skema penelitian dan alat gores fiber optik masing-masing ditunjukkan pada gambar 1 dan gambar 2.

HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini ditujukan untuk menunjukkan adanya pengaruh kedalaman goresan dengan rugi-rugi fiber optik. Rugi-rugi fiber optik diperoleh dari perlakuan berupa goresan dan pergeseran. Perlakuan tersebut dilakukan dengan mikrometer sekrup yang telah dirangkai pada masing-masing alat gores dan sistem bending. Rugi-rugi fiber optik diperoleh dengan menggunakan persamaan:

dB = rugi-rugi fiber optik. T = transmisi cahaya pada fiber optik. Besarnya transmisi cahaya pada fiber optik tergores diperoleh dengan persamaan:

V2 = besarnya tegangan yang fiber optik tergores. V1 = besarnya tegangan referensi fiber optik. Prinsip fiber sensor adalah adanya perubahan transmitansi cahaya yang dialamai oleh fiber optik karena diberi perlakuan tertentu. Dalam penelitian ini perlakuan tersebut berupa goresan dan bending (pembengkokan). Gambar 3, 4 dan 5 merupakan grafik hasil penelitian yang menunjukkan hubungan antara pergeseran dengan rugi rugi fiber optik. Variasi kedalaman 0,05 mm; 0,15 mm dan 0,25 mm masing-masing ditunjukkan oleh gambar 3, gambar 4 dan gambar 5.

Gambar 3. Kedalaman goresan 0,05 mm. Gambar 1. Skema penelitian rugi-rugi fiber optik tergores.

Gambar 2. Skema alat gores fiber optik.

Gambar 4. Kedalaman goresan 0,15 mm.

Gambar 5. Kedalaman goresan 0,25 mm. Dari grafik tersebut dapat diketahui bahwa adanya pengaruh besarnya pergeseran, kemiringan dan kedalaman goresan linieritas yang lebih rendah dibandingkan dengan kedalaman goresan 0,05 mm. Hal ini menunjukkan bahwa kedalaman goresan yang diberikan dapat mempengaruhi kerusakan pada core (inti) pada fiber optik. Core berfungsi untuk mentransmisikan cahaya dari ujung satu ke ujung fiber optik lainnya. Dengan demikian dalamnya goresan mempengaruhi transmitansi cahaya pada fiber optik. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yaitu semakin besar kerusakan pada core maka transmitansi cahaya fiber optik semakin rendah. Jika transmitansi cahaya semakin rendah maka rugi-rugi fiber optik yang dihasilkan semakin besar. Hal ini sesuai dengan persamaan (1) tentang rugi-rugi fiber optik. dalam penelitian ini perubahan transmitansi disebabkan oleh goresan dan teknik macrobending.Perubahan transmitansi cahaya fiber optik yang paling linier terdapat pada kedalaman goresan 0,05 mm. Dalam aplikasinya kedalaman tersebut memenuhi spesifikasi untuk dijadikan desain fiber sensor. KESIMPULAN Kajian rugi-rugi fiber optik Polymer Optical Fiber (POF) tergores 0,5 mm untuk fiber sensor menunjukkan adanya hubungan antara pergeseran, kedalaman goresan terhadap rugi-rugi fiber optik. Pada pergeseran yang sama, semakin besar kedalaman goresan maka rugi-rugi fiber optik semakin besar pula. Dari Hasil penelitian diperoleh bahwa 005

terhadap rugi-rugi fiber optik. Pada pergeseran yang sama, grafik penelitian menunjukkan bahwa semakin dalam goresan maka rugi-rugi fiber optik semakin besar. Hal ini mempengaruhi kemiringan pada masing-masing variasi kedalaman goresan. Pada setiap kedalaman goresan, masing-masing diperoleh kemiringan 0,272; 0,303 dan 0,318. Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin besar kedalaman goresan yang diberikan maka kemiringannya semakin besar pula. Fiber sensor didasari oleh kelinieran data penelitian dan sensitifitas yang dihasilkan oleh fiber optik. Pada penelitian ini pergeseran untuk fiber sensor yang digunakan adalah 0,6 – 2 mm. Pada masing-masing kedalaman goresan didapatkan data linieritas 0,989; 0,987 dan 0,984. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa linieritas yang paling tinggi pada kedalaman goresan 0,05 mm. Sedangkan, pada kedalaman goresan 0,15 mm dan 0,25 mm diperoleh data

kedalaman goresan 0,05 mm dengan kelinieran 0,989 paling memenuhi spesifikasi untuk dijadikan desain fiber sensor. DAFTAR PUSTAKA [1] Cusano, A., Higuera,J. M. L., Matias, I. R., dan Culshaw, B. 2008. Editorial Optical Fiber Sensor Technology dan Applications. IEEE SENSORS JOURNAL, VOL, 8, NO, 7, July 2008. Hal: 1052 – 1054. [2] Gholamzadeh, Bahareh dan Nabovati, Hooman. 2008. Fiber Optic Sensor. World Academy of Science, Engineering dan Technology 18. [3] Fidanboylu, K. dan Efendioğlu, H. S.. 2009. Fiber Optic Sensors and Their Applications. 5th International Advanced Technologies Symposium (IATS’09), May 13-15, 2009, Karabuk, Turkey, Hal 1-6. [4] Silva, A. F., Gonçalves, F., Ferreira, L. A., Araújo, F. M., Mendes, P. M., dan Correia, J.H. 2007. Optical Fiber Sensors Ontegrated in Polymeric Foils. Portuguese Foundation for Science dan Technology. [5] Montero, D. S., Vàzquez, C., Möllers, I., Arrúe, J., dan Jäger, D. 2009. A Self – Referencing Intensity Based Polymer Optical Fiber Sensor for Liquid Detection. Sensors, 2009, 9. Hal: 6446 – 6455.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->