BAB I PENDAHULUAN

Polip hidung adalah peradangan kronis selaput lendir dan sinus paranasal yang ditandai dengan pembengkakan massa mukosa yang meradang dengan tangkai dasar luas atau sempit. Kebanyakan polip berasal dari celah osteomeatal yang menyebabkan obstruksi hidung. Polip sering tumbuh pada sinus ethmoidalis dan maxillaris. Polip antrokoanal adalah jenis polip yang berasal dari mukosa dinding posterior di daerah antrum maksila, yang kemudian keluar dari ostium sinus dan meluas hingga ke belakang di daerah koana posterior. Polip ini juga dikenal sebagai Killian’s polyps karena ia pertama kali ditemukan oleh Killian pada tahun 1753. Polip antrochoanal (ACP) terdiri dari 2 komponen yaitu komponen kistik dan padat. Polip antrokoanal adalah suatu lesi polipoid jinak yang berasal dari mukosa antrum sinus maksila yang inflamasi dan udematous dapat melua ke koana. Terbanyak berasal dari mukosa dinding antrum bagian posterior. Etiopatogenesis dengan gejala utama hidung tersumbat unilateral dan rinore. Nasoendoskopi dan tomografi computer merupakan pemeriksaan baku emas untuk menegakkan diagnosis polip antrokoanal. Penatalaksanaan polip antrokoanal adalah polipektomi. Banyak teknik polipektomi polip antrokoanal yang telah terkenal akan tetapi dengan efek samping dan rekusrensi yang tinggi. Penyebab dan mekanisme yang mendasari polip masih tidak dipahami dengan baik, namun peradangan kronis merupakan faktor utama seperti peningkatan sel inflamasi seperti eosinofil. Polip sering dikaitkan dengan rinosinusitis kronis dan alergi. Namun peran alergi pada polip masih kontroversial. Sebuah studi 3000 pasien atopik menunjukkan prevalensi 0,5%, sedangkan studi di 300 pasien alergi menunjukkan prevalensi sebesar 4,5%. Polip antrochoanal hanya mewakili sekitar 3-6% dari polip nasal. Etiologi yang tepat tidak diketahui, tetapi diduga infeksi mungkin merupakan penyebab umum. Namun Cook et al menemukan kejadian yang lebih tinggi 10,4%. Sinusitis kronik ditemukan pada sekitar 25% dari pasien. Tidak seperti polip lainnya, polip antrochoanal lebih sering terjadi pada pasien non atopic (4,7 %) daripada pasien rinitis atopik (1,5 %). Polip ini sering pada anakanak dan remaja tetapi dapat bermanisfestasi pada usia lebih tua dan lebih banyak mengenai laki-laki dibandingkan perempuan. Pada anak-anak insidensi polip ini mencapai 33%. Dalam sejumlah studi perspektif pada tahun 2002, diketahui bahwa usia rata-rata terjadinya polip antrokoanal ini adalah 27 dan 50 tahun.

Gejala ACP yang sering dikeluhkan adalah sumbatan hidung dan secret yang keluar dari hidung, kadang diawali dengan episode epistaksis, rhinorrea purulenta, strangulasi polip, amputasi spontan, dispneu dan disfagia, gangguan berbicara, obstructive sleep apnoea, serta kakeksia. Nasal endoskopi dan computed tomography (CT) scan yang diperlukan

untuk membuat diagnosis dan perencanaan perawatan. Sebagaimana polip jenis lain, penatalaksanaan polip antrokoanal ini masih belum memuaskan. Hal ini dikarenakan tingkat rekurensinya yang cukup tinggi. Hingga saat ini cara yang sering digunakan untuk mencegah rekurensi polip ini adalah dengan mengangkat mukosa sumber polip hingga mendekati dasarnya agar terbentuk jaringan parut yang menghambat pertumbuhan sel. Penatalaksanaan polip antrocoanal umumnya adalah dengan operatif. Berbagai teknik pembedahan yang sudah dikembangkan untuk tujuan ini antara lain metode Caldwell-Luc, polipektomi endoskopis dengan meatotomi media, polipektomi endoskopis dengan antrostomi melalui meatus inferior, dan penggunaan microshaver dengan atau tanpa pemberian transkanin. Functional endoscopic sinus surgery (FESS) merupakan prosedur yang umum digunakan serta aman dan efektif. Polip nasi merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemukan di bagian THT. Keluhan pasien yang datang dapat berupa sumbatan pada hidung yang makin lama semakin berat. Kemudian pasien juga mengeluhkan adanya gangguan penciuman dan sakit kepala. Untuk mengetahui massa di rongga hidung merupakan polip atau bukan selain perlu dikuasai anatomi hidung juga perlu dikuasai cara pemeriksaan yang dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosa lain. Di dalam referat ini akan dijelaskan mengenai anatomi, fisiologi hidung serta patofisiologi, gejala klinis, pemeriksaan dan penatalaksanaan pada polip nasi.

BAB II POLIP NASI

DEFINISI Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung. Kebanyakan polip berwarna putih bening atau keabu – abuan, mengkilat, lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa). Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi kekuning – kuningan atau kemerah – merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa). Polip kebanyakan berasal dari mukosa sinus etmoid, biasanya multipel dan dapat bilateral. Polip yang berasal dari sinus maksila sering tunggal dan tumbuh ke arah belakang, muncul di nasofaring dan disebut polip koanal. Polip antrokoanal adalah suatu lesi polipoid jinak yang berasal dari mukosa antrum sinus maksila yang inflamasi dan udematus, dapat meluas ke koana. Terbanyak berasal dari mukosa dinding antrum bagian posterior. Polip ini juga dikenal sebagai Killian’s polyps karena ia pertama kali ditemukan oleh Killian pada tahun 1753. Polip antrochoanal (ACP) terdiri dari 2 komponen yaitu komponen kistik dan padat. Etiopatogenesis polip antrokoanal sampai saat ini masih kontroversi. Polip antrokoanal banyak ditemukan pada anak dan dewasa muda dengan gejala utama hidung tersumbat unilateral dan rinore. Nasoendoskopi dan tomografi komputer merupakan gold standard untuk menegakkan diagnosis polip antrokoanal.

ANATOMI

1. HIDUNG LUAR Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke bawah : a) Pangkal hidung (bridge) b) Dorsum nasi c) Puncak hidung d) Ala nasi e) Kolumela f) Lubang hidung (nares anterior) Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot – otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas

Infratroklearis) Cabang dari N. Oftalmika. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. A. Maksilaris interna. Nasalis anterior (cabang A. cabang dari A. antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Gambar 1: Anterolateral Tulang Hidung Perdarahan : i. cabang dari A. N. os nasal. os maksila Inferior : kartilago septi nasi. Fasialis) Persarafan : i. A. Angularis (cabang dari A. Oftalmikus (N. Etmoidalis anterior) . Maksilaris (ramus eksternus N.nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar).Sfenopalatinum. Karotis interna) iii. yang dibatasi oleh :   Superior : os frontal. kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel. Cabang dari N. ii. Nasalis posterior (cabang A. Supratroklearis. Karotis interna). kartilago nasi lateralis. cabang dari a. ii.

2. korpus sfenoidale dan sebagian os vomer c) Lantai : merupakan bagian yang lunak. kedudukannya hampir horisontal. Konka nasalis suprema. KAVUM NASI Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Gambar 2: Potongan Sagital Cavum Nasi . os etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. palatum dan os sfenoid. Batas – batas kavum nasi : a) Posterior : berhubungan dengan nasofaring b) Atap : os nasal. os maksila. fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini. os lakrima. lamina kribriformis etmoidale. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. pada bagian bawah apeks nasi. septum nasi dilapisi oleh kulit. superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. konka nasalis inferior. sinus sfenoid. bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. e) Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial. d) Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra). os frontal. Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal.

Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet.maksilaris dan A. Oftalmika. Trigeminus yaitu N. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Etmoidalis anterior Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.  Persarafan : Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Dengan gerakan silia yang teratur. Gambar 3: Perdarahan kavum nasi 3. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri. Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A. MUKOSA HIDUNG Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang – kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. .

udara masuk melalui nares anterior. b) Mengatur suhu. sel basal dan sel reseptor penghidu. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan. sekret kental dan obat – obatan. radang. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi . 2. udara hampir jenuh oleh uap air. sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung. Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh : a. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Pada musim panas. FISIOLOGIS 1. lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). yaitu sel penunjang. udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. penguapan dari lapisan ini sedikit. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi. Pada ekspirasi. Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a) Mengatur kelembaban udara. 3.

lambung dan pankreas. 5. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu – raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Indra penghidu Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung. d. 7. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti.b. 6. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri. sehingga terdengar suara sengau. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.n. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna. 4. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang. disebut lysozime. kardiovaskuler dan pernafasan. palatum molle turun untuk aliran udara. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus. Palut lendir (mucous blanket). ETIOLOGI Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel – partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Polip .ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka. Silia c. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah.

mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai. Sinusitis kronis (65%) dan alergi seperti rinitis alergi (70%) ditemukan mempunyai hubungan dengan terjadinya ACP. Iritasi. Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Dalam jangka waktu yang lama. vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa.biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak – anak. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler. sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Sinusitis maksila dan penyakit kompleks ostiomeatal menghalangi fungsi mukosiliar dari mukosa sinus. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Pada anak – anak. PATOFISIOLOGI Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di daerah meatus medius. kemudian sinus etmoid. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. 3. polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media. Ketidakseimbangan vasomotor . akan turun ke kavum nasi. polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. Alergi terutama rinitis alergi. Setelah polip terus membesar di antrum. Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Bila proses terus berlanjut. 2. Sinusitis kronik. 5. Beberapa penelitiann menunjukkan kemungkinan peran aktivator dan inhibitor urokinase plasminogen dan peran metabolit asam arakidonat dalam patogenesis ACP. Beberapa teori tentang pembentukan polip yaitu: 1. 4. sehingga terbentuk polip. Biasanya terjadi di sinus maksila. infeksi Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka. Etiologi polip antrochoanal (ACP) belum diketahui pasti. Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain : 1. Begitu sampai dalam kavum nasi.

maka asma.Teori ini tersirat karena mayoritas polip hidung pasien tidak atopik dan tidak ada alergen yang jelas yang dapat ditemukan. COX1 atau COX2 mungkin lebih rentan terhadap ASA atau bisa menghasilkan metabolit yang tidak diketahui yang merangsang cysteinyl leukotrien (Cys-LT). 5. Pasien sering memiliki periode prodomal rhinitis sebelum terjadinya polip. Teori Ruptur Epitel Rupturnya epitel mukosa hidung akibat alergi atau infeksi dapat menyebabkan prolaps mukosa lamina propria sehingga polip terbentuk. Alergi Alergi dicurigai karena 3 faktor yaitu mayoritas nasal polip mempunyai eosinofil. Vaskular terganggu peraturan dan permeabilitas pembuluh darah meningkat dapat menyebabkan edema dan pembentukan polip. Hal ini dapat berkontribusi untuk respon peradangan tidak terkendali dan peradangan kronis. berhubungan dengan asma. dan hidung polip. Polip hidung sering memiliki vaskularisasi yang buruk tidak memiliki persarafan vasokonstriktor. Hal ini menyebabkan adanya siklik AMP-regulated . LTC4 sintase berlebih selanjutnya akan meningkatkan jumlah dari LTS cysteinyl. 4. Tampaknya bahwa tekanan negatif menginduksi mukosa yang meradang pada rongga hidung mengakibatkan pembentukan polip. mukosa terdekat katup hidung akan membentuk polypoidal. Cystic fibrosis disebabkan oleh mutasi pada gen tunggal pada kromosom 7. Jika ini satu-satunya faktor. intoleransi aspirin. 2. PG antiinflamasi. Fenomena Bernoulli Hasil Fenomena Bernoulli dalam Penurunan tekanan yang menyebabkan vasokonstriksi. Ini adalah sindrom klinis yang berbeda. dan mempunyai gejala dan tanda mirip dengan alergi 3. ditandai dengan presipitasi serangan rhinitis dan asma oleh aspirin dan kebanyakan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID). Rinitis persisten muncul di usia rata-rata 30 tahun. aspirin sensitivitas dan polip hidung. memiringkan keseimbangan ke arah peradangan. Metabolisme asam arakidonat merangsang jalur inflamasi leukotrien. Intoleransi Aspirin Banyak konsep yang canggih untuk menjelaskan patogenesis intoleransi aspirin dan asosiasi dengan polip hidung. Hal ini menyebabkan penurunan di tingkat PGE2. nama transmembran cystic fibrosis regulator (CFTR). Sebuah entitas klinis terkenal yang merupakan produk dari tiga kondisi: asma. Cystic fibrosis Cystic fibrosis adalah merupakan gangguan autosomal resesif populasi kulit putih. Mungkin cacat diperbesar oleh efek gravitasi atau obstruksi drainase vena. 6.

Karlidag et al melaporkan peningkatan dalam kadar oksida nitrat dan penurunan enzim (SOD) pada pasien polip hidung dibandingkan dengan kontrol. 9. Antibodi IgE spesifik untuk SEA dan SEB terdeteksi pada 50% dari hidung jaringan polip dan antibodi IgE spesifik dalam serum untuk stafilokokus (SEB. Poeningkatan penyerapan natrium dan penurunan sekresi klorida menyebabkan pergerakan cairan ke dalam sel dan ruang interstitial yang menyebabkan retensi cairan. menyebabkan penyakit kronis lymphocyticeosinophilic. yang sering ditemukan dalam cystic fibrosis. Infeksi jamur Elemen jamur dihirup menjadi terperangkap dalam lendir sinonasal. cedera jaringan dan penyakit kronis. dan dehidrasi. 8. yang dihasilkan dari L-arginin oleh keluarga enzim oksida nitrat synthases (Noss). IL-5). radikal bebas bisa membanjiri antioksidan yang mengakibatkan kerusakan sel. pembentukan polip. Staphylococcus enterotoxin B (SEB) dan Toxic shock syndrome toxin-1 (TSST-1). Nitrat oksida memainkan peran utama dalam reaksi imun spesifik. pertahanan tubuh. Meskipun transien. Ini diaktifkan limfosit menghasilkan sitokin Th1 dan Th2 baik (IFN-γ. menyebabkan aktivasi dan klon perluasan dari limfosit dengan dalam dinding lateral hidung. katalase dan glutation. Staphylococcus aureus. 7. Organisme ini selalu menghasilkan toxin. yang mungkin bertindak sebagai superantigens. IL-4. IL-2. menunjukkan adanya radikal bebasyang menyebabkan kerusakan pada polip hidung. Infeksi Peran infeksi dianggap penting dalam pembentukan polip. menyebabkan eosinofil bergeser dari mukosa pernafasan ke lumen oleh mekanisme yang belum . Nitrat oksida Oksida nitrat adalah gas radikal bebas. klorida menghasilkan impermeabilitas dan penyerapan natrium meningkat. Ini didasarkan pada model eksperimental di mana terdapat gangguan epitel dengan proliferasi jaringan diinisiasi oleh infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae. Staphylococcus enterotoxin A (SEA). dan peradangan jaringan. atau Bacteroides fragilis (semua umum patogen dalam rinosinusitis) atau Pseudomonas aeruginosa.saluran klorida dan abnormal regulasi natrium. regulasi vaskular. TSST) ditemukan pada 78% dari polip hidung. Hipotesis superantigen Staphylococcus aureus terdapat pada musin polip hidung pada sekitar 60 sampai 70%. 10. Radikal bebas dipertahankan dalam keseimbangan oleh sistem pertahanan antioksidan superoksida dismutase (SOD) peroksidase.

Orang dengan HLA-DR7-DQA1 dan HLA-DQB1 haplotipe memiliki dua atau tiga kali lebih tinggi untuk mengembangkan polip hidung. peningkatan ekspresi dan produksi varietas sitokin proinflamasi dan kemokin telah telah dilaporkan dalam polip hidung. Histamine nyata meningkat pada polip hidung. lobular. Cystic fibrosis merupakan resesif autosomal yang berhubungan dengan mutasi gen CFTR dalam wilayah Q31 pada lengan panjang kromosom 7. Peningkatan kadar IL-8 dapat menginduksi infiltrasi neutrofil. mereka memproduksi mediator yang mengakibatkan peradangan pada mukosa. Komposisi Selular Pada sebagian besar polip hidung. IL-5. Warna polip yang pucat tersebut disebabkan kerana mengandung banyak cairan dan sedikitnya aliran darah ke polip. Kimia mediator Selain infiltrasi sel inflamasi meningkat. Ada adalah peningkatan sel T CD8+ diaktifkan oleh sel T mendominasi lebih dibandingkan CD4+. 11. Elemen jamur ditemukan pada histologi pada 82% pasien rinosinusitis kronis menjalani operasi sinus. Predisposisi genetik Etiologi genetik dicurigai dalam pengembangan dari poliposis hidung berdasarkan agregasi keluarga. berwarna putih keabu-abuan. bentuk bulat atau lonjong. 13. eosinofil terdiri lebih dari 60% dari populasi sel. MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS Secara makroskopis polip merupakan massa bertangkai dengan permukaan licin.diketahui. melebihi tingkat 4000 ng/ml. dapat tunggal atau multiple dan tidak sensitif ( bila ditekan/ditusuk tidak terasa sakit). Selain itu. produksi lokal IgE dalam polip hidung dapat berkontribusi pada kekambuhan polip hidung melalui IgE-sel mast-Fc RI [epsilon] kaskade. HLA-DR dinyatakan pada permukaan sel-sel inflamasi paranasal pada mukosa dan polip hidung. Bila terjadi iritasi kronis atau proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerah- . 12. RANTES dan eotaxin dapat berkontribusi untuk migrasi eosinofil. Mast sel dan plasma sel juga meningkat dibandingkan dengan mukosa hidung yang normal. IgA dan IgE juga meningkat pada hidung polip. Meningkatkan ekspresi faktor pertumbuhan endotel vaskular dan upregulationnya dengan mengubah faktor pertumbuhan-[beta] yang dapat berkontribusi edema dan angiogenesis dalam polip hidung. agak bening. kecuali di cystic fibrosis. Selama proses ini. Peningkatan produksi granulosit/macrophage colony-stimulating factor.

Gambar 5: Gambaran endoskopi cavum nasi kiri.merahan dan polip yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena banyak mengandung jaringan ikat. Adanya polip tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring. Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan endoskop. berwarna pucat dan putih berkilau. Tempat asal tumbuhnya polip terutama di kompleks ostio-meatal di meatus medius dan sinus ethmoid. Gambar 4: Polip antrochoanal kiri yang menggantung pada orofaring . menunjukkan polip pada prosesus uncinatus. Polip koana kebanyakan berasal dari sinus maksila dan juga disebut polip antrokoana. disebut polip koana. mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat. Tampak jelas polip berada di tengah.

Sel stroma abnormal atau menunjukkan gambaran atipikal. dan jaringan ikat berisi sel inflammatori. menjadi epitel transisional. HISTOPATOLOGIS Berdasarkan temuan histologis diklasifikasikan polip menjadi empat jenis: 1) Tipe eosinofilik Edema stroma dengan sejumlah besar eosinofil 2) Inflamasi atau fibrosis jenis kronis Sejumlah besar sel-sel inflamasi terutama limfosit dan neutrofil dengan eosinofil lebih sedikit. Infiltrasi sel inflamasi lebih parah daripada infiltrasi eosinofilik. Gambaran utama dari tipe ini adalah adanya glandula dan duktus dalam jumlah yang banyak. Tanda dari respon inflamasi mungkin dapat ditemukan walaupun yang dominan adalah limfosit. Stroma terdiri atas fibroblas. 3) Seromucinous Tipe I + hiperplasia kelenjar seromucous. Pembuluh darah dan kelenjar sangat sedikit. Sel-selnya terdiri dari limfosit. tampak epitel pada polip serupa dengan mukosa hidung normal. Berdasarkan jenis radangnya polip dikelompokkan menjadi 2. neutrofil dan makrofag. . stroma ACP dilapisi dengan epitel bersilia pseudostratified. sel plasma. tetapi tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai suatu neoplasma Karakteristik histopatologi ACP mirip dengan orang non-alergi. Mukosa mengandung sel-sel goblet. Tipe ini hanya terdapat kurang dari 5% dari seluruh kasus. Penebalan dari membran basement tidak nyata. yaitu polip tipe eosinofilik dan neutrofilik. kubik atau gepeng berlapis tanpa keratinisasi. Tipe ini ditandai dengan tidak ditemukannya edema stroma dan penurunan jumlah dari sel goblet. 4) Jenis atipikal stroma Tipe ini merupakan jenis yang jarang ditemui dan dapat mengalami misdiagnosis dengan neoplasma.Secara mikroskopis. eosinofil. Stroma membengkak dan sangat vaskular terdiri dari jaringan ikat longgar disisipi sel plasma dan sedikit eosinofil. yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan submukosa yang sembap. Polip yang sudah lama dapat mengalami metaplasia epitel karena sering terkena aliran udara.

Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia. dan stroma berisi sejumlah minimal kelenjar lendir dengan eosinofil. Polip :       ii. Perbedaan antara polip dan konka polipoid ialah: i. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat keluhannya.Sebuah studi melaporkan bahwa sel-sel permukaan epitelial pasien ACP memiliki sedikit atau tidak ada silia. GEJALA KLINIS Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di hidung. Pada rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Polip antrokhoanal : Rasa sumbatan di hidung. maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore. Bila penyebabnya adalah alergi. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal. Sumbatan ini tidak hilang – timbul dan makin lama semakin berat keluhannya. Hiposmia atau anosmia Epistaksis Mendengkur Nyeri pada pipi Sleep apneu Nyeri kepala Post nasal drip Bernafas dengan mulut . maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi di hidung.          Bertangkai Mudah digerakkan Konsistensi lunak Tidak nyeri bila ditekan Tidak mudah berdarah Pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.

dapat disertai bersin-bersin. keluhan uatama pasien adalah hidung tersumbat dari ringan ke berat. Stadium 3: polip yang massif/ obstruksi total Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah naso-endoskopi. kelainan anatomi. 1) Naso-endoskopi Naso-endoskopi memberikan gambaran yang baik dari polip. Sering juga ada keluhan pilek lama yang tidak sembuh-sembuh. khususnya polip berukuran kecil di meatus media. Stadium 0: Tidak ada polip Stadium 1: polip masih terbatas di meatus medius Stadium 2: polip sudah keluar dari meatus medius. suara sengau. polip atau sumbatan pada KOM. nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah frontal. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemneriksaan nasoendoskopi. Sumbatan di hidung adalah gejala utama yang dirasakan semakin memberat. Pada rinoskopi anterior. berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan. dapat juga tiba-tiba dan cepat setelah infeksi akut. Foto polos sinus paranasal ( posisi Waters. 1997): i. rinore yang mulai dari jernih sampai purulen. DIAGNOSIS Berdasarkan anamnesa. Pada sumbatan hidung yang hebat dapat menimbulkan gejala hiposmia bahkan anosmia. tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung dan tidak menyebabkan obstruksi total iv. hiposmia/ anosmia. Bila disertai infeksi sekunder didapatkan post nasal drip dan rinore purulen. iii. serta sakit kepala. Pemeriksaan CT scan sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang. dilihat adanya massa berwarna pucat. Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udaracairan di dalam sinus. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksan naso- . hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung akibat polip nasi yang masif yang menyebabkan deformitas hidung luar. dan rasa berlendir di tenggorok. Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. ii. Stadium polip ( Mackey dan Lund.Timbulnya gejala biasanya pelan dan insidius. AP. Pada pemeriksaan fisik. namun kurang bermanfaat pada kasus polip.

3) CT scan Sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada kelainan anatomi. CT scan terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diterapi dengan medikamentosa.endoskopi. atau sumbatan pada komplek osteomeatal. tetapi pemeriksaan ini kurang bermanfaat pada pada kasus polip. Gb. yang ciri – cirinya sebagai berikut : Tidak bertangkai Sukar digerakkan Nyeri bila ditekan dengan pinset . caldwell. Pada kasus polip koanal juga dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. polip. dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara dan cairan di dalam sinus. Antrochoanal polip pada hidung kanan DIAGNOSIS BANDING Polip didiagnosa bandingkan dengan konka polipoid. 2) Pemeriksaan radiologi Foto polos sinus paranasal (AP. Dengan naso-endoskopi dapat juga dilakukan biopsi.

Ini biasanya terjadi di frontoethmoid. Mukokel Mucocele mengandung lendir dan epitel desquamated dan mucoceles dapat mengisi rongga sinus. Obat-obatan lain tidak memberikan . yang mengurangi ukuran polip dan mengurangi gejala sumbatan hidung. Baik bentuk oral maupun topikal. dan ini timbul dari pterygoideus plate ii. Diagnosis diferensial dari ACP mencakup : i. memberikan respon anti inflamasi non-spesifik. terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati – hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik. Angiofibroma Angiofibroma adalah neoplasmavaskuler jinak yang memiliki potensi untuk penghancuran lokal. Mucoceles jarang muncul di sinus maksilaris dan tidak mencapai choana PENATALAKSANAAN MEDIKA MENTOSA Satu-satunya pengobatan yang efektif untuk polip nasal adalah kortikosteroid. iv. penghancuran struktur tulang dan invasi ke dalam sinus paranasal vi. v. Kebanyakan muncul dari septum hidung anterior dan turbinat hidung vii. Hemangioma Lesi vaskuler jinak di rongga hidung dan sinus paranasal. Glioma hidung Meningoencephalocele Limfoma Keganasan/ tumor nasofaringeale Menyebabkan obstruksi saluran napas. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid. iii.- Mudah berdarah Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin). maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.

Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan dari kortikosteroid intranasal. Penggunaan steroid sistemik juga dapat merupakan pendahuluan dari penggunaan steroid topikal dimana pemberian awal steroid sistemik bertujuan membuka obstruksi nasal sehingga pemberian steroid topikal spray selanjutnya menjadi lebih sempurna. termasuk celah olfaktorius dan meatus media dan memperbaiki penciuman lebih baik dari steroid topikal.Respon anti-inflamasi non-spesifiknya secara teoritis mengurangi ukuran polip dan mencegah tumbuhnya polip kembali jika digunakan berkelanjutan. sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. budesonid dan lain-lain. Kortikosteroid topikal hidung atau nasal spray Untuk polip stadium 1 dan 2. Kortikosteroid oral Pengobatan yang telah teruji untuk sumbatan yang disebabkan polip nasal adalah kortikosteroid oral seperti prednison. steroid sistemik dapat mencapai seluruh bagian hidung dan sinus. Kortikosteriod sistemik Pengunaan kortikosteroid sistemik jangka pendek merupakan metode alternatif untuk menginduksi remisi dan mengontrol polip. Dosis kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku. a. Tetapi masa kerja sebentar dan polip sering tumbuh kembali dan munculnya gejala yang sama dalam waktu mingguan hingga bulanan. maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. c. Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien. pengobatan ini diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang.dampak yang berarti. Lidholdt untuk polip dapat diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam . Bila reaksinya baik. b. Tersedia semprot hidung steroid yang efektif dan relatif aman untuk pemakaian jangka panjang dan jangka pendek seperti fluticson. mometason. sehingga dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. terapi medika mentosa juga bertujuan untuk menunda selama mungkin perjalanan penyakit.Selain itu. mencegah pembedahan dan mencegah kekambuhan setelah prosedur pembedahan. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa. Agen anti inflamasi non-spesifik ini secara signifikan mengurangi ukuran peradangan polip dan memperbaiki gejala lain secara cepat. pemberian masih secara empirik misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama seminggu. Berbeda dengan steroid topikal.

Pemberian suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli.beberapa dosis. Pengobatan infeksi dengan antibiotik akan mencegah perkembangan polip lebih lanjut dan mengurangi perdarahan selama pembedahan. kemudian dilakukan tapering off 5 mg per hari. . Pasien dengan gejala obstruktif yang mengganggu memerlukan follow up yang lebih sering. Antibiotik Polip nasi dapat menyebabkan obstruksi dari sinus yang berakibat timbulnya infeksi. Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip dan adanya sinusitis yang menyertainya). Pemberian antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis sekurang-kurangnya selama 10-14 hari. . d. Pemilihan antibiotik dilakukan berdasarkan kekuatan daya bunuh dan hambat terhadap spesies staphylococcus. dan golongan anaerob yang merupakan mikroorganisme tersering yang ditemukan pada sinusitis kronik. NON-MEDIKA MENTOSA Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. fasilitas alat yang tersedia dan kemampuan dokter yang menangani. yaitu 60 mg/hari selama 4 hari. Indikasi Operasi   Polip menghalangi saluran nafas. Menurut Naclerio pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun. Polip menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksisinus. terutama jika mereka sedang menerima kortikosteroid oral dosis tinggi atau menggunakan semprot hidung steroid topikal dalam jangka lama. Follow up   Pasien dengan gejala minimal dapat dimonitor sekali setahun atau dua kali setahun. Kalau ada tanda-tanda infeksi harus diberikan juga antibiotik.  Intervensi bedah pada polip nasal dipertimbangkan setelah terapi medikamentosa gagal dan untuk pasien dengan infeksi / peradangan sinus berulang yang memerlukan perawatan dengan berbagai antibiotik.

gangguan pendarahan. anatomi dan variasi dinding lateral misalnya meatus medius sempit karena deviasi septum. Pada polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. demikian pula yang menderita asma dan lainnya.obatan. Pada anak-anak dengan multipel polip atau kronik rhinosinusitis yang gagal pengobatan maksimum dengan obat. Foto polos sinus paranasal (posisi waters. Sehingga operator bisa memprediksi dan mengantisipasi kesulitan dan kemungkinan timbulnya komplikasi saat operasi. Kontraindikasi Operasi   Absolut. karena inflamasi akan menyebabkan edema dan perdarahan yang banyak.  Polip berhubungan dengan tumor. Menjelang operasi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. polip meatus medius. konka media bulosa. Naso-endoskopi prabedah untuk menilai anatomi dinding lateral hidung dan variasinya. anemia. memakai obat-obat antikoagulansia juga harus diperhatikan. Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus. konka media paradoksikal dan lainnya.penyakit jantung dan penyakit paru Relatif. meatus-meatus terutama meatus media beserta kompleks . namun kurang bermanfaat pada kasus polip. Pada pemeriksaan ini operator dapat menilai kelainan rongga hidung. Konka-konka. infeksi akut yang berat (eksaserbasi asma akut) Tindakan Pra-Operasi Pra-operasi kondisi pasien perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. selama 4 atau 5 hari sebelum operasi pasien diberi antibiotik dan kortikosteroid sistemik dan lokal. Kondisi pasien yang hipertensi. CT scan sinus paranasal diperlukan untuk mengidentifikasi penyakit dan perluasannya serta mengetahui landmark dan variasi anatomi organ sinus paranasal dan hubungannya dengan dasar otak dan orbita serta mempelajari daerah-daerah rawan tembus ke dalam orbita dan intra kranial. AP. Kortikosteroid juga bermanfaat untuk mengecilkan polip sehingga operasinya akan lebih mudah dijalankan. yang akan mengganggu kelancaran operasi. Hal ini penting untuk mengeliminasi bakteri dan mengurangi inflamasi.

prosedur operasi ini tak membersihkan polip yang berada dalam . mungkin terdapat indikasi koreksi bedah terhadap penyakit sinus. n. Terapi pembedahan bertujuan menghilangkan obstruksi hidung dan mencegah kekambuhan. khususnya pada kasus polip yang tersembunyi atau polip yang sedikit. Polipektomi sederhana cukup efektif untuk memperbaiki gejala pada hidung. adanya sel Onodi. Oleh karena sifatnya yang rekuren. kemudian polip dengan tangkai dan dasar pedikel seluruhnya ditarik bersamaan. Pembedahan demikian harus secara konservatif guna mencegah rinitis atrofik. kadang-kadang terapi pembedahan juga mengalami kegagalan dimana 7-50% pasien yang menjalani pembedahan akan mengalami kekambuhan.Keuntungan dari cara ini adalah. risiko operasi hampir-hampir tidak ada. Terapi pembedahan dapat dilakukan: 1) Polipektomi Sebelum polipektomi hidung dilakukan. perlu diberikan premedikasi dan anestesi topikal memadai. perawatan post operasi singkat.etmoid anterior. operator dapat mengetahui daerah-daerah rawan tembus dan dapat menghindari daerah tersebut atau bekerja hati-hati sehingga tidak terjadi komplikasi operasi. Konka yang hipertrofi mungkin memerlukan kauterisasi. sel Haller dan lainnya perlu diketahui dan diidentifikasi. Untuk menilai tingkat keparahan inflamasi dapat menggunakan beberapa sistem gradasi antaranya adalah staging Lund-Mackay. untuk polip yang besar tetapi belum memadati rongga hidung. biasanya mereda lebih cepat setelah polipektomi. Jika polip kembali kambuh dan disertai sinusitisrekurens. bahwa prosedur sederhana. atau reseksi parsial guna menciptakan jalan nafas memadai. Sistem ini sangat sederhana untuk digunakan secara rutin dan didasarkan pada skor angka hasil gambaran CT scan.Gambar CT scan penting sebagai pemetaan yang akurat untuk panduan operator saat melakukan operasi.optikus dan a.karotis interna penting diketahui.Akan tetapi kerugiannya adalah. bedah beku (cryosurgery). Kawat pengait kemudian dilingkarkan pada tangkai polip tanpa perlu diikatkan erat-erat. Berdasarkan gambar CT tersebut. demikian pula lokasi a. Infeksi sinus akibat tangkai polip yang menyumbat ostium. Tindakan pengangkatan polip atau polipektomi dapat dilakukan dengan menggunakan senar polip dengan anestesi lokal.ostiomeatal dan variasi anatomi seperti kedalaman fossa olfaktorius.

Keuntungan cara operasi ini adalah kans residif lebih kecil dan kalau memangterjadi. dengan sendirinya kans untuk residif besar sekali. Kemudian jaringan diatas tulang pipi diangkat kearah superior.sehigga apa yang akan dikerjakan dapat dilihat dengan baik.artinya di samping mengangkat polip yang berada dalam hidung. Polip yang ditemukan dikeluarkan sampai bersih. dengan menembus tulang pipi. Setelah konka media di dorong ke tengah. maka dimasukkan .sinus. dengan demikian rongga sinus maksila kelihatan. Kerugian operasi ini ialah prosedur operasi lebih sukar dan waktu perawatan lebih panjang serta resiko komplikasi post operasi relatif lebih besar. Dengan pahat atau bor tulang itu dibuka. 2) Etmoidektomi Etmoidektomi. Supaya tidak terdapat cacat di muka. maka insisi dilakukan di bawah bibir. maka dengan cunam sel etmoid yang terbesar ( bula etmoid ) dibuka. Seringkali akan terdapat jaringan granulasi atau polip di dalam sinus maksila. Dapat juga dengan bius lokal (analgesia). Bila terdapat banyak perdarahan dari sinus maksila. sehingga tampak tulang sedikit di atas cuping hidung. yang disebut fosa kanina. Perawatan pasca-bedah yang terpenting ialah memperhatikan kemungkinan perdarahan. Operasi Etmoidektomi di bagi menjadi dua yaitu: 1) Etmoidektomi Intranasal – Tindakan dilakukan dengan pasien dibius umum ( anastesia). Sekarang tindakan ini dilakukan dengan menggunakan endoskop. di bagian superior ( atas ) akar gigi geraham 1 dan 2. pada batas hidung dan mata. Di daerah itu sinus etmoid dibuka. maka dibuat anthrostom. 3) Operasi Caldwell-Luc Operasi ini ialah membuka sinus maksila. kemudian dibersihkan. malahan dalam waktu yang singkat dapat terjadi residif. Isi sinus maksila dibersihkan. Dengan cunam pemotong tulang lubang itu diperbesar. Setelah sinus bersih dan dicuci dengan larutan bethadine. 2) Etmoidektomi Ekstranasal Insisi dibuat di sudut mata. maka jangka waktunya cukup lama. Jadi kita berusaha untuk membersihkan sampai ke akar-akarnya (teknik operasi akan dibicarakan dalam kuliah sinuschronica). diangkat juga polip yang berada di dalam sinus paranasalis.

yang merupakan tempat asal polip yang tersering sehingga akan membantu mengurangi angka kekambuhan. sistim kamera + CCTV 6. Intrumentasi Bedah. Kemudian luka insisi dijahit. Kontraindikasi BSEF adalah osteitis atau osteomielitis tulang frontal yang disertai pembentukan sekuester. Indikasi lain BSEF termasuk didalamnya adalah rinosinusitis dengan komplikasi dan perluasannya. mukokel. dekompresi nervus optikus. Indikasi umumnya adalah untuk rinosinusitis kronik atau rinosinusitis akut berulang dan polip hidung yang telah diberi terapi medikamentosa yang optimal. menambal kebocoran liquor serebrospinal. tumor dasar otak sebelah anterior. teleskop 4 mm 700 (tambahan untuk melihat lebih luas ke arah frontal dan maksila) 2. Diperlukan peralatan endoskopi berupa teleskop dan instrumen operasi yang sesuai.pasca operasi radikal dengan rongga sinus yang mengecil (hipoplasi). diabetes mellitus. dakriosistorinostomi. kelainan kogenital (atresia koana) dan lainnya. teleskop 4 mm 00 7. tumor hipofisa.penderita yang disertai hipertensi maligna. teleskop 4 mm 300 8. 4) Bedah Sinus Endoskopi Fungsional(BSEF) Bedah Sinus Endoskopi Fungsional(BSEF) merupakan teknik yang lebih baik tidak hanya membuang polip tapi juga membuka celah di meatus media. Bedah sinus endoskopi sudah meluas indikasinya antara lain untuk mengangkat tumor hidung dan sinus paranasal. media bahkan posterior. sinusitis alergi yang berkomplikasi atau sinusitis jamur yang invasif dan neoplasia. Peralatan endoskopi yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. dekompresi orbita. yang ujungnya disalurkan melalui antrostomi ke luar rongga hidung. cable light 5. monitor . light source (sumber cahaya) 4. teleskop 2.tampon panjang serta pipa dari plastik.7 mm 300 (tambahan untuk pasien anak) 3. dan kelainan hemostasis yang tidak terkontrol.

Jarum panjang (FESS/Septum Needle. dbl-end. Cunam Jamur (Stammberger Punch) Tahapan operasi: Tujuan BSEF adalah membersihkan penyakit di celah-celah etmoid dengan panduan endoskop dan memulihkan kembali drenase dan ventilasi sinus besar yang sakit secara alami. Ostium seeker 12. Pisau Sabit (Sickle Knife 19cm) 3. Respatorium (MASING Elevator. act. mulai dari yang paling ringan yaitu infundibulektomi. sehingga tiap individu berbeda jenis atau tahap operasi.Sementara itu instrumen operasi pada operasi BSEF adalah sebagai berikut: 1. Teknik operasi BSEF adalah secara bertahap. Kuhn Curette (Sinus Frontal Curette Oblong) 15. graduated. Cunam Jerapah (Girrafe Fcps dbl. 21.5cm) 4. Luer-lock) 2. Cunam Blakesley lurus (BLAKESLEY Nasal Forceps) 7. Suction Bengkok 6. Karenanya tidak ada tindakan rutin seperti bedah sinus terdahulu. angular 0. Cunam Cutting-through lurus (BLAKESLEY Nasal Forceps Cutting Straight) 9. Berikut ini dijelaskan tahapantahapan operasi. Prinsip BSEF adalah bahwa hanya jaringan patologik yang diangkat. Cunam Backbiting (“Backbiter” Antrum Punch) 11. sedangkan jaringan sehat dipertahankan agar tetap berfungsi. Cunam Cutting-through upturned (BLAKESLEY Nasal Forceps Cutting Upturned) 10. maka BSEF jauh lebih konservatif dan morbiditasnya dengan sendirinya menjadi lebih rendah.8mm. J Curette (Antrum Curette Oval) 14. Cunam Jerapah (Girrafe Fcps dbl. Infundibulektomi dan pembesaran ostium sinus maksila . Cunam Blakesley upturned (BLAKESLEY-WILDE Nasal Forceps 8. Tahap operasi disesuaikan dengan luas penyakit. act. Jika dibandingkan dengan bedah sinus terdahulu yang secara radikal mengangkat jaringan patologik dan jaringan normal. Trokar sinus maksila 13. jaws 3mm) 16. sharp/blunt. BSEF mini sampai frontosfenoidektomi total. Suction lurus 5. jaws 3mm) 17.

Tidak setiap deviasi septum harus dikoreksi. Jika tindakan ini sulit. sebaiknya mempergunakan teleskop 00. Caranya adalah retrograde sebagai berikut. Selanjutnya ostium dinilai. apakah perlu diperlebar atau dibersihkan dari jaringan patologik. Dapat pula dipertimbangkan memasukkan cunam melalui meatus inferior jika cara diatas gagal. Eksenterasi sinus maksila Pengangkatan kelainan ekstensif di sinus maksila seperti polip difus atau kista besar dan jamur masif. dapat menggunakan cunam bengkok yang dimasukkan melalui ostium sinus maksila yang telah diperlebar. Dengan membuka ostium sinus maksila dan infundibulum maka drenase dan ventilasi sinus maksila pulih kembali dan penyakit di sinus maksila akan sembuh tanpa melakukan manipulasi di dalamnya. Tahap operasi semacam ini disebut sebagai Mini FESS atau BSEF Mini. Tahap awal operasi adalah membuka rongga infundibulum yang sempit dengan cara mengangkat prosesus uncinatus sehingga akses ke ostium sinus maksila terbuka. Jika ada sinus lateralis.Pertama-tama perhatikan akses ke meatus medius. Etmoidektomi retrograde Jika ada sinusitis etmoid. sel-sel sinus dibersihkan termasuk daerah resesus frontal jika ada sumbatan di daerah ini dan jika disertai sinusitis frontal. Lamina basalis berada tepat di depan endoskop 00 dan tampak tipis keabu-abuan. jika sempit akibat deviasi septum. kecuali diduga sebagai penyebab penyakit atau dianggap akan mengganggu prosedur endoskopik. tetapi prinsip BSEF yang hanya mengangkat jaringan patologik dan meninggalkan jaringan normal agar tetap berfungsi dan melebarkan ostium asli di meatus medius dianjurkan untuk dilakukan disini. lamina ditembus di bagian infero-medialnya untuk membuka sinus etmoid posterior. maka lamina basalis akan berada dibalakang sinus lateralis ini. tahap awal operasi ini sudah cukup. konka bulosa atau polip. Selanjutnya sel-sel etmoid posterior (umumnya selnya besar-besar) di observasi dan jika ada kelainan. dinding anterior bula etmoid ditembus dan diangkat sampai tampak dinding belakangnya yaitu lamina basalis yang membatasi sel-sel etmoid anterior dan posterior. koreksi atau angkat polip terlebih dahulu. Sekali-kali jangan melakukan koreksi septum hanya agar instrumen besar bisa masuk. Setelah tahap awal tadi (BSEF Mini). sel-sel dibersihkan dan atap sinus etmoid posterior yang merupakan dasar otak diidentifikasi. . lakukanlah bedah CaldwellLuc. operasi dilanjutkan dengan etmoidektomi. Identifikasi dasar otak di sinus etmoid posterior sangat penting mencegah penetrasi dasar otak pada pengangkatan sel etmoid selanjutnya. Jika kelainan hanya di sinus maksila.

Lokasi ostium dapat di identifikasi berdasar tempat perlekatan superior dari prosesus unsinatus. Cara membersihkan sel etmoid anterior secara retrograde ini lebih aman dibandingkan cara lama yaitu dari anterior ke posterior dengan kemungkinan penetrasi intrakranial lebih besar. maka drenase dan ostium ada disebelah lateral perlekatan. Jika perlekatan tersebut pada orbita. maka diseksi dilanjutkan ke depan secara retrograde membersihkan partisi sel-sel etmoid anterior sambil memperhatikan batas superior diseksi adalah tulang keras dasar otak (fossa kranii anterior).karotis di sisi lateralnya. Disini mempergunakan teleskop 00 atau 300. Perhatikan apakah ada penonjolan n. Hindari trauma pada organ penting ini. Keuntungan melakukan diseksi etmoid posterior terlebih dahulu adalah karena dasar otak yang merupakan atap sinus etmoid posterior lebih mudah ditemukan dan diidentifikasi sebagai tulang keras yang letaknya agak horisontal sehingga kemungkinan penetrasi lebih kecil dari pada di etmoid anterior dimana dasar otaknya lebih vertikal. Setelah diseksi. Ia berada di atas perlekatan bula etmoid pada dasar otak. sel-sel frontal dan variasi anatomi. harus ingat adanya sel Onodi. Sel Onodi tampak pada gambar CT dan menurut Sethi akan ditemukan 1: 2-3 pada spesimen Asia. Identifikasi arteri sangat penting. maka drenase dan lokasi ostium ada di sebelah medial perlekatan unsinatus. Jika unsinatus melekat pada dasar otak atau konka media. resesus frontal harus dibersihkan terlebih dahulu. Hati-hati saat diseksi di sisi medial. terutama trauma pada a.Dengan jejas dasar otak sebagai batas atas diseksi. Sinus frontal Untuk memperbaiki drenase sinus frontal dan membuka ostium sinus frontal.karotis interna dapat berakibat fatal bagi pasien. terutama jika pada gambar CT scan ditemukan lamina . Saat diseksi di sinus etmoid posterior. Panduan ini terutama diperlukan jika ostium tersembunyi oleh polip. batas lateral adalah lamina papirasea dan batas medial konka media. Diseksi disini menggunakan cunam Blakesley upturned dipandu endoskop 300. berbentuk piramid dengan dasarnya menghadap ke endoskop. ini adalah sel Onodi. arteri akan tampak dalam kanal tulang di batas belakang atap resesus frontal. Arteri etmoid anterior.Karotis Interna pada dinding lateralnya.optikus dan a. Hindari trauma pada arteri ini.optikus dan / atau a. Setelah partisi sel-sel resesus frontal dibersihkan. ostium biasanya langsung tampak. Bahaya keberadaan sel Onodi adalah kemungkinan melekatnya n. Jika ada sel etmoid posterior yang sangat berpneumatisasi.

Ada beberapa teknik yang bisa dilakukan mencegah trauma a. yaitu hanya membuka sinus sfenoid. Setelah resesus frontal dan infudibulum dibersihkan. sel supra-orbital sangat cekung menyerupai kedalaman sinus frontal dan lainnya. maka sebaiknya diseksi di bagian medial dan inferior saja. a.lateralis kribriformis yang panjang (Keros tipe III). variasi anatomi seperti sel-sel agger nasi yang meluas ke posterior. Perhatikan letak n. cunam-cunam jerapah atau kuret J dipandu endoskop 30 dan / 70. Pada keadaan ini operasi trepinasi sinus frontal yang dikombinasi endoskopi merupakan pilihan. serta mengingat lokasi drenase sinus frontal. polip/popipoid. pada 25% kasus ditemukan dehisence di . Manipulasi di sinus sfenoid harus dilakukan secara hati-hati. kekeliruan membuka ostium sinus frontal dapat dihindari. dalam hal ini harus dilakukan pendekatan ekstranasal. maka jalan ke sinus frontal dan maksila sudah terbuka. Sfenoidektomi Biasa yang dilakukan bukan sfenoidektomi tetapi sfenoidotomi. Menurut Stammberger. Polip yang berada di ujung lateral sinus frontal merupakan kontraindikasi tindakan BSEF karena tidak dapat dicapai dengan teknik ini. kebocoran likuor atau perdarahan hebat dengan kemungkinan fatal. Ini bukan prosedur rutin BSEF. Karena n. biasanya seluruh polip ikut tertarik keluar. sehingga manipulasi daerah ini dapat berakibat kebutaan. Di dalam sinus ada kanal n. Kista atau polip di sinus frontal dapat dibersihkan dengan menarik ujung polip yang dapat dicapai dengan cunam jerapah.karotis sehingga jika diangkat dapat menyebabkan ruptur arteri yang fatal. Adanya gelembung udara atau turunnya sekret menunjukkan lokasi ostium yang sebenarnya.etmoid anterior dan dasar otak antaranya Intact Bulla Technique dan Axillary Flap.karotis berada di daerah laterosuperior.optikus dan a. drenase dan ventilasi akan pulih dan kelainan patologik di kedua sinus tersebut akan sembuh sendiri dalam beberapa minggu tanpa dilakukan suatu tindakan didalamnya. Beberapa penyebab ostium sinus frontal tersembunyi adalah jaringan udem.optikus. Semua ini dibersihkan dengan cunam Blekesley upturned.karotis dan apakah ujung septum intersfenoid melekat pada a. Cunam jerapah ini khusus dibuat untuk bekerja di atap resesus frontal.karotis.optikus dan a. sisa prosesus uncinatus di bagian superior. bula etmoid meluas ke anterior. Anatomi rincinya harus dipelajari dengan seksama dan CT scan potongan koronal bahkan kalau perlu potongan aksial dan MRI. dengan memperhatikan luasnya sinus frontal pada gambar CT. hindarkan ujung cunam menghadap daerah ini. Sfenoidektomi memerlukan perencanaan yang matang. Jaringan parut masif yang menutup ostium juga merupakan kontraindikasi BSEF.

Karenanya para ahli segera melakukan penelitian tentang komplikasi yang mungkin terjadi akibat BSEF dan mencari cara untuk mencegah dan menghindarinya dan mengobatinya. dan osteitis. jaringan fibrotik. Perawatan Pasca Operasi Secara teoritis. penyembuhan terjadi lebih cepat dan lebih baik. Komplikasi operasi BSEF Semenjak diperkenalkan teknik BSEF sangat popular dan diadopsi dengan cepat oleh para ahli bedah THT diseluruh dunia. pembersihan pasca operasi dilakukan untuk membersihkan sisa perdarahan. dan devitalisasi tulang yang bila tidak dilakukan dapat menimbulkan infeksi. Jika ingin mengangkat septum intersfenoid. cara ini menunjang penyembuhan fisiologik dimana sel-sel bersilia akan regenerasi setelah 6 bulan. Komplikasi BESF dapatr dikategorikan menjadi komplikasi intranasal. krusta. Dalam penyelidikannya. I.karotis. Pamahaman yang mendalam tentang anatomi bedah sinus akan mengurangi dan mencegah terjadinya komplikasi. Perawatan operasi sebaiknya dilaksanakan oleh operator karena operator yang mengetahui lokasi dan luas jaringan yang diangkat. Manipulasi agresif dihindari untuk mencegah terjadinya penyakit iatrogenik. endapan fibrin.optikus. Komplikasi intranasal .5% pasien meperlihatkan perbaikan gejala klinik sekitar 50% lebih pada perawatan pasca operasi hanya dengan irigasi larutan salin hipertonik setelah hari ke-10 postoperatif. Moriyama juga menganjurkan mengangkat jaringan patologik dipermukaan mukosa saja dengan cunam yang memotong (cutting forcep). Prinsip ini penting dalam menunjang hasil terapi. muncul berbagai komplikasi akibat operasi bahkan komplikasi yang berbahaya. sekret. Fernandes pada suatu studi prospektif melaporkan pada 55 pasien dilakukan BSEF 95. Kennedy mengemukakan bahwa dengan mempertahankan mukosa sedapat mungkin.karotis interna atau n. sinekia.kanal tulang a. Seiring dengan kemajuannya. periorbital/orbital. vaskular dan sistemik. Beberapa penulis menyebutkan prosedur pembersihan pasca operasi dilakukan seawal mungkin setelah operasi selasai yaitu pada hari ke -1 dan selanjutnya setiap 2 sampai 4 hari secara teratur. harus yakin bahwa ujung septum tidak bertaut pada a. walaupun belum terbukti.

Edema kelopak mata. Metode terbaik memeperlebar ostium adalah dengan membuka ke salah satu atau beberapa dari arah ini yaitu ke anterior. Rekomendasi untuk mencegah hal ini adalah melakukan pelebaran ostium sinus maksila terutama dari arah posterior dan / inferior. ekimosis dan atau emfisema kelopak mata secara tidak langsung terjadi akibat trauma pada lamina papirasea. umumnya permukaan konka media dan dinding lateral hidung. Pada umumnya akan sembuh sendiri dalam 5 hari tanpa diperlukan pengobatan khusus. Stenosis ostium sinus maksila pasca pembedahan terjadi sekitar 2%. Stenosis ostium sinus maksila. Komplikasi periorbital/ Orbital Edema kelopak mata/ekinmosis/emfisema. Bolger dan Parson dkk melakukan studi terhadap pasien yang mengalami perlukaan duktus nasolakrimalis. Disfungsi pemciuman dapat terjadi bila celah olfaktori obstruksi akibat sinekia konka media dengan septum. Duktus ini dapat terluka saat pelebaran ostium maksila ke arah anterior. Proyeksi medial lemina papirasea pada rongga hidung dan struktur tulangnya yang lembut menyebabkan lamina papirasea mudah trauma selama prosedur bedah dilakukan. Pembukaan ostium sebesar diameter 3mm diperkirakan sudah dapat menghasilkan drainase fisiologik. . posterior dan inferior. II. tidak ada yang mengalami gejala dakriosisititis atau epifora. Bila stenosis terjadi bersamaan dengan timbulnya gejala maka revisi bedah mungkin diperlukan. Komplikasi ini jarang karena duktus nasolakrimalis berada disepanjang kanal keras sakus lakrimalis dan bermuara di meatus inferior.Sinekia. Masalah yang timbul berkaitan dengan bedah sinus endoskopik adalah terjadinya sinekia yang disebabkan melekatnya dua permukaan luka yang saling berdekatan. Untuk mencegah ketidakstabilan konka media. Kerusakan duktus lakrimalis. maka perlekatan superior dan inferior dari konka media harus dipertahankan. Stammberger dkk melaporkan insidens sinekia yaitu 8% namun hanya 20% yang menyebabkan gangguan sumbatan.

IV. perdarahan subkonjungtiva.9%. Masalah yang dapat terjadi berkaitan dengan komplikasi sistemik pada bedah sinus adalah pemakaian tampon hidung yang dapat menyebabkan toxic shock syndrome . serta buruknya pemahaman mengenai anatomi bedah merupakan penyebab terjadinya trauma pada n. infeksi dan sepsis mungkin terjadi pada setiap prosedur bedah. Jika terjadi saat operasi harus segera dilakukan penambalan menggunakan jaringan sekitarnya misalnya konka media dan septum. Pembedahan pada dinding medial dapat menyebabkan trauma atau putusnya otot rektus medialis atau otot oblikus superior mata serta kerusakan pada saraf yang menginervasinya. Kebocoran cairan serebrospinal selama prosedur beda merupakan komplikasi yang jarang terjadi. III. Meskipun sangat jarang. Karenanya saat prosedur pembedahan. bola mata keras disertai edema kelopak mata. Tandanya adalah proptosis mendadak. Perdarahan retrobulbar merupakan komplikasi yang berbahaya. Seiring dengan meningkatnya tekanan intraokuler. Komplikasi intrakranial Komplikasi intrakranial merupakan komplikasi yang sering terjadi pada pemula. Kerusakan nervus optikus. Visualisasi yang kurang adekuat selama pembedahan.Perdarahan retrobulbar. yang dapat pula disebabkan oleh adanya perdarahan. oftalmoplegi dan proptosis. Optikus yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan. nyeri. iskemi retina terjadi dan menyebabkan kehilangan penglihatan. Insidensi komplikasi ini dilaporkan sebanyak 0. komplikasi ini pernah dilaporkan. Komplikasi sistemik Walaupun jarang. mata pasien agar selalu tampak dalam pandangan operator.05-0. Cara diseksi etmoidektomi retrograde dan membaca daerah rawan tembus di CT scan preoperasi ( tipe Keros) akan menghindarkan komplikasi ini. midriasis dan defek pupil. Jika terjadi pasca operasi dapat diobservasi karena 90% diharapkan dapat menutup sendiri. Gangguan pergerakan otot mata.

Kematian Follow. Perawatan medis dan pengendalian rhinitis alergi bagi mencegah kekambuhan polip.(TSS). Pembuluh darah: trauma pada pembuluh darah dapat menyebabkan perdarahan d.5 ⁰C. trauma yang mengenai duktus lakrimalis dapat menyebabkan epiphora c. Post operatif Penting bagi perawatan tindak lanjut dan debridement dari sinus dan rongga hidung. Pedoman ini tergantung individu mengikut kemajuan klinis pasien dan tingkat keparahan penyakit sebelum operasi. tindak lanjut perawatan interval 4 hingga 6 bulan memadai. trauma nervus opticus. abses otak. orbital hematoma. perdarahan intrakranial.up       Hari 1-2: Melepaskan nasal packing dan debridement pada sinus dan instruksi agar pasien menggunakan salep antibiotik topikal Hari 4-5: Inspeksi dan debridement pada sinus dan observasi penyembuhan yang tepat Hari 10: Inspeksi dan debridement pada sinus dan pasien meneruskan perawatan medis dengan menggunakan inhaler steroid hidung Minggu ke 2-3: Inspeksi dan debridement pada sinus bagi memastikan penyembuhan lengkap hidung dan sinus mukosa Minggu ke 5-6: Inspeksi dan perawatan tindak lanjut dan medis rutin Bulan ke 3: Inspeksi dan perawatan tindak lanjut dan medis rutin Setelah protokol di atas. SSP: Kerusakan LCS. Mata: Kebutaan. meningitis. herniasi otak b. Kondisi ini ditandai dengan adanya demam dengan suhu tinggi dari 39. deskuamasi dan hipotensi ortostatik. trauma otot-otot mata bisa menyebabkan diplopia. Tidak jarang pasien yang memiliki hasil yang baik pascaoperasi langsung dalam menghilangkan . Komplikasi yang terbanyak meliputi: a.

adanya riwayat rinitis alergi. bertangkai. Penatalaksanaan untuk polip nasi bisa secara konservatif maupun operatif. mudah digerakkan. didapatkan keluhan obstruksi hidung. Sehingga kemungkinan pasien harus menjalani polipektomi beberapa kali dalam hidupnya. polip nasi mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk rekuren. misalnya alergi. sehingga banyak didapatkan bersamaan dengan adanya rinitis alergi. anosmia. PROGNOSIS Polip hidung sering tumbuh kembali. dapat diberikan antihistamin dengan atau tanpa dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung kortikosteroid atau tidak. Pada pasien dengan riwayat rinitis alergi. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitasi dan hiposensitisasi. keluhan sakit kepala daerah frontal atau sekitar mata dan adanya sekret hidung. Secara medika mentosa. KESIMPULAN Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan keluhan sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat dirasakan. Etiologi polip terbanyak merupakan akibat reaksi hipersensitivitas yaitu pada proses alergi.gejala sumbatan hidung. yang menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan. . Terapi yang paling ideal pada rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi. Pasien juga harus diberikan penyuluhan mengenai pengobatan jangka panjang. yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan keluhan dari pasien sendiri. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan masaa yang lunak. oleh karena itu pengobatannya juga perlu ditujukan kepada penyebabnya. Pada anamnesis pasien. tidak ada nyeri tekan dan tidak mengecil pada pemberian vasokonstriktor lokal.

Lawrence. 113 – 114.DAFTAR PUSTAKA 1. Efiaty. Boies. John Jacob. Diktat Anatomi Hidung FK Usakti hal. PL Dhingra. Buku Ajar Penyakit Telinga Hidung Tenggorok. W. New Delhi.h 215. Penerbit Media Aesculapius FK-UI 2000 6.h 123-125. Lea & Febiger 14th edition. Diseaes of The Nose Throat Ear Head and Neck.B. 4. Pg 241. 5th Edition. Adams. Lawrence. Saunders.247. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok edisi VI cetakan 1. 1 – 12 7. Saunders. Peter. Higler. Philadelphia 1991 . Fachri. Nurbaiti. Balai Penerbit FK-UI.B. Peter. W. Jakarta 2007. 2. Efiaty. 3. Philadelphia 1997. Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I hal. George. Adams. Balai Penerbit FK-UI. Penatalaksanaan dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok edisi II. Iskandar. Iskandar. Soepardi. Philadelphia 1989 8. Nurbaiti. Jakarta 2000 5. Soepardi. George. Hadjat. Boies. Disease of Ear. Higler. 2010. Nose & Throat. Buku Ajar Penyakit Telinga Hidung Tenggorok. Elsevier. Ballenger.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful