P. 1
Sejarah Penjelasan Dan Ciri-ciri

Sejarah Penjelasan Dan Ciri-ciri

|Views: 379|Likes:
Published by Engkos Dzhano

More info:

Published by: Engkos Dzhano on Sep 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2015

pdf

text

original

arsitektur postmodern PENDAHULUAN SENI POST MODERN

POST-MODERNISM – EXPERIMENTAL, ENCYCLOPEDICT, and ECLECTIC Pengertian paham Post Moderen adalah suatu keadaan yang digunakan untuk mendeskripkan sesuatu yang bercita rasa tinggi. Hal tersebut lalu dipasarkan secara menarik terutama dalam hal penyajiannya serta re-interpretasi gaya dan tema dari seni masa lalu.Seni masa lalu tersebut lalu ditampilkan pada masa sekarang dengan ditambahkan oleh sentuhan – sentuhan artistic. Spesifikasi Post-Modern berbeda dengan atitud Modernism terutama jika dilihat dari sisi penciptaan ‘gaya baru’. Post-Modern juga dikategorikan sebagai explorasi dari prioritas tradisional – modern dalam hal melukis dan penggunaan museum sebagai ‘ruang seni’ Post- Modernisme adalah suatu keaadaan yang mana kemudian diaplikasikan ke dalam pendeskripsian seni bercita rasa tinggi (avant garde) sejak awal abad ke 17. Dimana kedua isi budaya seni cita rasa tinggi dan kebenaran-kebenaran pembangunan artistiknya dapat mencapai titik perubahan yang kritis. Layaknya Post – Impresionisme, Post – Modernisme tidaka dapat mendeskripsikan secara jelas apakah itu seniman Post Modern yang sudah ada sejak era Moderen dimulai. Seni Post – Modern mengandung banyak tradisi bercita rasa tinggi yang penuh pengalaman. Bedanya dari Modernisme, Modernisme lebih agresif dalam ‘meminjam’ dan ‘mengkombinasikan’ gaya-gaya seni masa lalu. Sedangkan Post – Modernisme lebih konstan untuk mencari ‘langkah selanjutnya’ daripada

hanya sekadar meminjam gaya-gaya masa lalu, Ia bahkan tak jarang menciptakan gaya baru. Gaya seni masa lalu terdiri atas kumpulan bentuk yang hamper sama untuk menciptakan ‘seni yang baru’. Sedangkan dalam pendekatan ala Post –modern, ia mengkombinasikan bentuk-bentuk yang bertentangan dari gaya seni masa lalu sampai akhirnya ia menciptakan suatu bentuk yang baru. Contoh terbaik dari Post- Modern yang bekerja sama dengan seni adalah Arsitektur Kontemporer. Sudah lebih dari 60 tahun, ‘langit’ kota-kota di Amerika didominasi oleh logam dan kaca yang dibentuk seakan akan akan ‘mencakar langit’. Hal ini tentunya didasarkan pada beberapa fungsi arsitektur bercita rasa tinggi. Untuk 2 dekade terakhir ini, kota-kota di Amerika sudah mulai mengembangkan ‘desain pinjaman ‘ gaya arsitektur dari berbagai era. Sebagai contoh, misalnya arsitektur The Bonaventure Hotel di Los Angeles yang terlihat ‘tak terduga’, ‘ mengejutkan’ , dan ‘ memiliki beberapa cerita’ karena begitu besarnya lobby hotel itu. Contoh lainnya adalah bangunan pencakar langit New York AT & T di San Francisco yang monumental. Bentuknya yang seperti it, diadopsi dari bentuk jam seorang kakek yang si arsiteknya temui di Chippendale. Bentuk keseluruhannya benar-benar ‘bersih’, dibagi atas beberapa section yang ditutup oleh kaca. Yang perlu kita ketahui , konsentrasi terbesar Post Modern adalah menyatukan lingkungan sekitar, kebenaran ide artistic dan material termasuk di dalamnya yang dilupakan oleh Era arsitektur Modern.

TEORI POSTMODERN

Sejak pertengahan tahun 1960-an, teori arsitektur telah benar-benar menjadi interdisipliner; bergantung pada jajaran luas paradigma kritis. Proyek perbaikan moderenisme ini, disajikan sebagai Pembuatan Teori baru untuk Arsitektur, dijalankan dari sudut pandang paradigma politik, etika, ilmu bahasa, estetika, dan fenomonologi. Jenis teori-teori dapat digolongkan dalam beberapa sikap menurut subyeknya: yakni preskriptif, proskriptif, afirmatif, atau kritis.  Teori preskriptif menawarkan penyelesaian baru atau dihidupkan lagi untuk masalah khusus; berfungsi untuk menentukan norma baru untuk praktek. Jadi ini menaikkan standart atau bahkan metode disain. Dapat menjadi kritis (cenderung radikal) atau afirmatif dari status quo (konservatif).  teori proskritif, yang menawarkan keadaan standar apa yang dihindarkan dalam desain. Arsitektur yang baik atau urbanisme dalam hal proskriptif didefinisikan dengan tiadanya sifat negative.  Teori kritis menilai dunia yang dibangun dan hubungannya terhadap masyarakat yang dilayaninya. Teori ini sering memiliki orientasi politik atau etika yang dinyatakan untuk mendorong perubahan. Teori kritis secara ideologi dapat didasarkan pada paradigma Marxisme atau feminisme, bersifat spekulatif, mengandung pertanyaan, dan kadang-kadang utopia/ idaman.

Jika teori harus membawa kepada hasil yang dapat diperkirakan, maka satusatunya teori yang dapat diterima adalah preskriptif dan proskriptif. Kedua aspek dalil ini ditantang oleh para pembuat teori postmodern seperti Alberto PerezGomez: Kepercayaan (modern) bahwa teori telah disahkan, dapat dipakai dan memerlukan pengurangan teori yang benar terhadap status ilmu terapan teori¨ ini tidak termasuk dongeng dan pengetahuan yang bebas dan secara eksklusive mengenai dominasi efisien dunia materi. Teori juga mengalamatkan hubungan

antara arsitektur dan alam, saat dikembangkan melalui konstruksi tempat. Paradigma filosofi dan ilmiah sebagian besar telah membentuk pandangan arsitek

ISI AWAL MULA ARSITEKTUR POST-MODERN

Pada era 1980 ada ‘spektrum’ yang melingkupi seluruh Eropa yaitu Post Modern. Fenomena ini pada awalnya meledak di Amerika, kemudian menyebar ke seluruh Eropa dan bahkan ‘mengendap’ di Eropa. Mengapa Post Modern begitu meledak di dunia barat pada saat itu ? Menurut Paolo Portogeshi, seorang arsitek dari Era Post Moderen, Arsitektur pada era ini adalah suatu bentuk ‘penolakan’ dari sesuatu yang rumit, suatu pembaharuan yang lebih dari sekadar simple, tetapi juga dapat merubah pemikiran seseorang. Post Modern menjamin adanya pembaharuan pada penampilan bangunan, penyederhanaan isi bangunan yang meyakinkan untuk merubah bentuk dan strategi pembangunan. Tetapi pada akhirnya, sensasi sulit dari era arsitektur Modern, ketidaknyamanan penyesuaian budaya manusia pada arsitektur Modern, akan terhapuskan dengan perealisasian arsitektur Post Modern. Post Modern, menurut Paolo Portogeshi, adalah kebenaran suatu pendobarakan dalam hal hubungan social dunia. Aspek lain dari kondisi Post Modern adalah ketidakmanusiawian proses dasar dari teori kritik kaum borjuis.

KEMATIAN ARSITEKTUR MODERN

Kematian arsitektur Modern dimulai di St. Louis , Missoury pada 15 Juli 1972 ketika gedung apartemen Pruitt Igoe diledakkan dengan dinamit . Mengapa hal ini bias terjadi ? karena di gedung ini terjadi banyak tindakan vandalisme yang berkepanjangan. Tingkat kriminalitas disini meningkat tajam dib daerah ini daripada di daerah lain. Dan Oscar Newman, sang arsitek semakin ‘memfasilitasi’ hal ini dengan dibangunnya Pruitt Igoe. Keberadaan koridor panjang. Tak ada pembatas antara ruang privat dan public dan juga desain tanp-a memperhatikan lingkugan membuat vandalisme semakin marak di gedung ini. Maka dari itu, gedung inipun dihancurkan dan dijadikan titik kehancuran Arsitektur Modern . Selain Pruitt Igoe, ada pula bangunan lain yang disebut-sebut sebagai awal kehancuran Arsitektur moderen yaitu apartemen Lake Shore Drive di Chicago karya Mies Van Der Rohe. Bangunan yang mengadopsi gaya arsitektur Doria Kuno terlihat amatlah tidak manusiawi. Mengapa? Karena fasadnya yang dipenuhi oleh kaca gelap dan logam terlihat seperti kantor sehingga orangoranmg yang tinggal di dalamnya merasa amat tertekan. Pada tahun 1955 ada sebuah essai yang mengekspos beberapa rahasia dibalik Arsitektur Modern. Essai tersebut mencoba untuk menyerang pertanggung jawaban Arsitektur Modern akan utilitas dan efisiensi structural ketika 2 hal yang amat bertentangan ( sisi struktur dan kemanusiaan penghuni ) Philip Johnson dalam “ The Processionsl Element in Architecture “ 1965, mengkombinasikan spasial rasionalitas dari pergerakan modern dengan permainannya serta bentuk-bentuk histories arsitektur. Argumen ini tanpa raguragu mendobrak pintu sejarah arsitektur.

‘ Mies is such jenius! But I grew old ! And bored! My direction is clear; eclectic tradition. This is not academic revivalism. There are no classic orders or gothic finalos, I try to pick up what I like throughout history. We can’t know history ‘

Jadi pada tahun 1961, apa yang Philip Johnson pertahankan yaitu rasa eklektisisme_ bukan hanya tone-tone yang unik, pilihannya yang terlihat dangkal di permukaan, tetapi sebuah pilihan itu sebenarnya begitu mendalam karena merupakan hasil investigasi yang terus menerus.

PEMBAGIAN ERA DALAM ARSITEKTUR POSTMODEREN

 Era Diagonal Arsitek yang terkenal pada era ini : Robert Venturi, dengan desainnya yang terkenal pada North Penn Visiting Nurses ( Headquarters Builiding). Kahn, dengan rancangannya yang ‘berputar ke segala arah’ pada Salk Lab. Aalto, dengan Berlin Phil. Le Corbusier, dengan Carpenter Centre dan Chatedral du Ronchamp yang terkenal.  Era Asimetrikal Simetri, era ini dapat dibagi lagi menjadi : Era Moore  bangunan yang terkenal : Sea Ranch, Santa Barbara. Era Supergrafis  bangunan yang terkenal : Westchester Rest.

Era Graves  bangunan yang terkenal : Warehouse Conversion , Villa Snellman. Era Layering dan Ambiguitas  bangunan yang terkenal : Hotel de Beauvis dan Folly Farm. Era Frontalitas dan Rotasi  bangunan yang terkenal Gunwyn Venture. Era Demi Form dan Kejutan  bangunan yang terkenal : Yinyang Hse dan Anti Dwelling Box. Era Shifted Axes  Bangunan yang terkenal : Atheneum dan Matthew Street.

PENGERTIAN POSTMODERN DAN ARSITEKTUR POSTMODERN

Pengertian postmodern : • Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis. • Anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama. • Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern. Jadi hal-hal yang benar dari Arsitektur Modern tetap dipakai. • Merupakan pengulangan periode 1890-1930. • Arsitektur yang menyatu-padukan Art dan Science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal. Mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur.

• Tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Arsitektur Modern.

Perubahan mendasar dalam sejarah dunia arsitektur adalah saat hadirnya arsitektur modern. Arsitektur sampai abad ke-19 dianggap sebagai seni bangunan. Reformasi pemikiran Arsitektur Modern ini mulai muncul pada abad ke-18, dimana yang dimaksud Arsitektur Modern bukan karya arsitektur, melainkan ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur. Pemikiran tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan abad ke-19 dikarenakan pendidikan Arsitektur yang dibagi menjadi dua, sebagai kesenian dan sebagai ilmu teknik sipil, dan munculnya industri bahan bangunan. Antara tahun 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan, antara lain : Art and Craft, Art Noveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll. Periode tersebut merupakan puncak sekaligus titik awal dari arsitektur modern. Pada tahun 1950-1960, terdapat 2 pihak yang berlawanan : 1. Kelompok yang berpihak pada teknologi dan industrialisasi; tahun 1950 dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern. 2. Kelompok yang memuja estetik dan artistik; tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern.

Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua pihak itu terjadi lagi dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang 'untuk siapa arsitektur itu diciptakan?'. Hal tersebut yang menjadi titik awal lahirnya Post Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataan: Less Is Bore. Media massa juga ikut berperan dalam memicu timbulnya pluralism yang menjadi bahan dasar post modernisme.

Perbedaan karakter Modernisme dan Post Modernisme : • Modernisme : singular, seragam, tunggal. • Post Modernisme : plural, beraneka ragam, bhinneka.

Sebuah Gambaran tentang Post Modern Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tentang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti `sehabis modern' (modern sudah usai); `setelah modern' (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan dominan); atau yang mengartikan sebagai `kelanjutan modern' (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini). Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sublanggam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi. 1. PURNA MODERN a. Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern' yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)

b. Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi. c. Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang. d. Tokohnya antara lain : Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell. 2. NEO MODERN a. Dahulu diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, sehingga pengertiannya tetap tidak berubah. b. Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction). Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi. c. Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri. d. Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra). e. Tokohnya antara lain: Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster. f. Tampilan dominan bentuk geometri. g. Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak. 3. DEKONSTRUKSI a. Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3-D bukan dari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.

b. Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O'Gehry. c. Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan. `Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu. 1. Tidak memakai semboyan Form Follows Function Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan. Apa yang dikomunikasikan? Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu : PURNA MODERN : yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian. NEO MODERN : mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan. DEKONSTRUKSI : yang dikomunikasikan adalah a. Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur. b. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial. Karena pokok-pokok pikiran itu dapat pula dikatakan bahwa:

Arsitektur PURNA MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past), Arsitektur NEO MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa ini (The Present), sedangkan Arsitektur DEKONSTRUKSI tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi "Ini merupakan kesombongan dekonstruksi." 2. Fungsi ( bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur) Yang dimaksud dengan `fungsi' di sini bukanlah `aktivitas', bukan pula `apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia tehadap arsitektur' (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang `fungsi' yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran adan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia sebagai mahluk yang berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi. Fungsi = apa yang dilakukan arsitektur, bukan apa yang dilakukan manusia; dan dengan demikian, 'FUNGSI bukan AKTIVITAS' Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu : Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom), Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat,

Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan, Arsitektur berfungsi untuk menyadarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya, Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal, Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya. Berdasarkan pokok pikiran ini, maka : Dalam PURNA MODERN yang ditonjolkan didalam fungsinya itu, adalah fungsifungsi metaforik (=simbolik) dan historikal. NEO MODERN menunjuk pada fungsi-fungsi mimpi, yang utopi (masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak bisa terbayangkan). DEKONSTRUKSI menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya.

3. Bentuk dan Ruang Didalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-2, merdeka, sehingga bisa dihubungkan atau tidak. Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang. Ciri pokok dari bentuk adalah 'ada dan nyata/terlihat/teraba', sedangkan ruang mempunyai ciri khas 'ada dan tak-terlihat/tak-nyata'. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya. Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur :

PURNA MODERN bentuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang, NEO MODERN sebaliknya bertolak belakang , menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan, sedangkan dalam DEKONSTRUKSI tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama. Arsitektur Post Modern sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970-an melalui karya dari Y.B Mangunwijaya. Tapi bila dilihat dari ciri visual Post Modern maka langgam ini belum cukup populer di Indonesia. Hanya beberapa buah saja yang berusaha menghadirkannya antara lain: Sonny Sutanto, Yori Antar, Sardjono Sani, dll. (Dari berbag

ARSITEKTUR POST MODEREN

CIRI ARSITEKTUR POSMODEREN Ciri arsitektur pada era ini bisa dibilang amat jelas dan amat mirip dengan gaya arsitektur minimalis. Mengapa ? karena bentuknya yang persegi tegas, sudutsudutnya tajam, lingkarang tegas, lengkungan-lengkungan tanpa banyak detail, membuatnya terlihat simple sampai-sampai dijadikan symbol penolakan arsitektur moderen yang rumit. Lihat saja pada kebanyakan bangunan era Posmoderen, atap plat beton yang kokoh, split level yang jelas, sudut-sudut yang tajam, serta tak lupa bentuk lengkung dan patahan yang tegas menjadi cirri utama arsitektur pada era ini. Warna-warna contras juga banyak digunakan pada arsitektur era ini. Yang paling penting, arsitektur pada era ini amat

menekankan pada kenyamanan penghuni meskipun pada akhirnya bentuk bangunan yang dibuat terlihat ambigu / aneh. Seperti yang dikemukakan pada awal paper ini, arsitektur Postmoderen masih mengakui bahwa ia mengadopsi gaya-gaya arsitektur lama terutama pada penggunaan kolom model Doria dan Hellenic. Misalnya saja pada Athens Apartement karya david Hicks. Ia mengadopsi gaya Doria pada pengecatan dinding apartemen sehingga terlihat ‘deep freeze’ ( putih dingin kebiru-biruan) dan pola lantai hitam-putih dari gaya Hellenic. Contoh lain , Moscow State University. Ia meminjam bentuk limas segi 4 dari Piramid dan menggabungkannya dengan balok. Mengapa dipilih pyramid ? karena pyramid dianggap sebagai miliknya ‘kaum borju’. Yang pasti saat Universitas itu dibangun, paham komunis masih amat kuat pengaruhnya di Rusia dimana hanya orang kaya saja yang bisa kuliah di Universitas Moscow.

METAFORA dan METAFISIKA Alasan lain penyebab banyak arsitek meningglakan prinsip Modernisme adalah begitu nyata ketidakmampuan Modernisme untuk mendeskripsikan apa arti Arsitektur sebenarnya. Apakah yang paling penting dalam arsitektur itu ? Terutama sekarang ketika modernis percaya kemajuan teknologi dan mesin Aestetic terlihat begitu naïf ? Arsitektur seharusnya punya referensi yang signifikan seperti Renaissance yang punya Metafisik Plato, Romawi yang punya kepercayaan kan organisasi imperial. Satu dari beberapa hal tersebut (referensi.red) mampu mendefinisikan karakteristik dari Posmoderen adalah suatu ‘pencarian’. Sesudah segala keanehan yang terlhat,Para arsitek akhirnya malah lebih familiar dan lelah dengan proses dan kegunaanya. Tetapi meskipun mesin metafora itu mati, kita

tidak menutup kemungkinan metafora yang mati itu akan membangun metafisika. Meskipun sedikit,fungsi spiritual dari arsitektur memang ada. Faktanya tidak pergi meski agama dan pemahaman tentang metafisika sudah hilang. Dan yang pasti arsitektur Posmoderen yang sama seperti pelukis Surealisme, mengkristalisasikan spritulitasnya di sekitar kemungkinan tangan bermetafora lagi. Contoh bangunan yang menggunakan metafora adalah Sydney Opera House dan Chatedral du Ronchamp . Sydney Opera House menggunakan metafora 3 kura-kura yang bertumpukan pada bentuk atapnya. Sedangkan pada Chatedral du Ronchamp, menggunakan analogi lonceng gereja pada denahnya.

DEFINISI TEORITIS PARADIGMA POSTMODERNISME

Dengan meningkatnya publikasi teori arsitek, dan eksibisi postmodernisme terdapat tambahan yang ditandai dengan adanya paradigma teorikal atau framework ideologikal, yang strukturnya masih menjadi perdebatan. Dilihat dari sisi lain, paradigma utama yaitu teori bentuk arsitek yang merupakan sebuah fenomena, kecantikan, teori bahasa tubuh (semiotics, structuralism, poststructuralism, dan deconstruction), Marxism, dan feminism).

PARADIGMA 1: PHENOMENOLOGY Phenomenology adalah kebenaran teori arsitektur pada metode filosofi. Dimana ancaman filosofikal ini didasarkan pada kebiasaan postmodern melalui tempat, pandangan, dan pembuatan yang terkadang terlihat berlebihan dan tidak dapat

dipertanyakan. Pada teori terbaru ditunjukkan spekulasi dari filosofi, dengan membuat masalah pada interaksi tubuh dengan lingkungannya. Pada tahun 1950, dimana Martin Heidgger dan Gaston Bachelard menerjemahkan sebuah pekerjaan terdapat kemungkinan, pemikiran fenomenologikal arsitektur mulai tidak menempatkan formalitas dan bergantung pada pekerjaan tanah untuk kecantikan mendadak. Fenomenologi mengkritik logika dari ilmuwan, melalui pemikiran (optimisme mengenai keuntungan dari adanya metode ilmuwan yang dapat dikaitkan dengan kemanusiaan) positif telah dielevasikan dan tidak diberi nilai, tampil seperti postmodernist yang berpikir ulang menjadi modernity dengan hanya sedikit keinginan yang antusias. Tulisan Heidgger didasarkan dengan motivasi kekhawatiran mengenai ketidakmampuan orang modern untuk merefleksikan hidup sebagai manusia, ia mendebat, refleksi semacam itu mengartikan kondisi seorang manusia. Salah satu fenomenologikal yang sangat berpengaruh pada arsitektur adalah Building Dwelling Thinking,dimana Heidgger menuliskan hubungan antara bangunan, tempat tinggal, manusia, konstruksi, dan penghematan. Dengan menyelidiki etimologi pada kata bauen (bangunan) Heidgger menemukan kembali konotasi kuno dan arti luas yang menyampaikan kesejahteraan potensial. Tempat tinggal didefinisikan sebagai ‘tempat untuk bermalam’. Sedangkan benda merupakan elemen yang mengumpulkan ‘empat fungsi’ dari bumi, udara, makhluk hidup, dan dewa. Melalui essay-nya, Heidgger menyimpulkan bahwa bahasa membentuk suatu pemikiran, sedangkan pemikiran dan puisi diperlukan untuk sebuah tempat tinggal. Christian Norberg-Schulz mengartikan konsep tempat tinggal Heidgger sebagai berada di tempat yang damai pada tempat yang telah dilindungi. Ia mendebat, potensi arsitektur untuk mendukung tempat tinggal: “Tujuan utama dari arsitektur adalah untuk membuat dunia terlihat. Dapat diumpamakan sebuah benda, dan dunia yang dibawa ke permukaan terdiri dari apa yang didapatkan.”

Kritik norwegia muncul dengan adanya koneksi antara arsitektur dan tempat tinggal. Norberg-Sshulz secara luas diteliti, dan dipertimbangkan sebagai arsitektur yang fenomenologi, yaitu, memberi perhatian terhadap ‘ruang yang konkrit’ melalui seluruh tempat. Aspek teknik dari arsitektur memainkan sebuah peran, terutama detail yang konkrit, dimana norberg-Schulz berkata “jelaskan lingkungan dan buatlah karakter tersebut memanifestasi.” Fenomenologi pada arsitektur membutuhkan perhatian dalam pembebasan mengenai bagaimana benda dibuat. Seperti yang dikatakan Mies “Tuhan adalah detail.” Pengaruh pemikiran ini dikenali sebagai elemen dasar dari arsitektur (dinding, lantai, tembok,dll, sebagai pembatas atau beban) tetapi juga menunjuk kearah ketertarikan yang dibentuk ulang dalam kualitas yang sensual alam material, cahaya, warna dan simbol, merupakan hal yang signifikan untuk digabungkan. Perez-Gomez mengatakan, dengan mengembangkan konsep Heidgger mengenai tempat tinggal untuk memungkinkan ‘orientasi keberadaan’, pengenalan budaya, dan hubungan dengan sejarah. Fenomenologi Finnish, Juhani Pallasmoa, mengartikan arsitektur dari segi fisik. “Pembukaan pandangan ke kedua realita mengenai persepsi, mimpi, memori yang terlupakan dan imaginasi.” Hal ini merupakan pemikiran yang sempurna mengenai ‘arsitektur diam’ yang abstrak. Sementara Pallasmoa menginvestigasi ketidaksadaran paralel dalam Freudian, arsitekturnya membentuk sebuah sublime sementara.

PARADIGM 2: AESTHETIC OF THE SUBLIME Seperti fenomenologi, estetik sebagai paradigma filosofi berhadapan dengan produksi dan penerimaan seni pekerjaan. Karena fungsinya sebagai ekspresi

karakter modern, konstitusi sublime bergabung dengan dasar kategori estetik pada periode postmodern. Kelahiran kembali ketertarikan pada sublime merupakan masa yang dapat diterapkan pada emphasis sekarang, pada pengetahuan arsitektur melalui fenomenologi. Paradigma fenomenologi sebagai persoalan fundamental pada estetik: efek pekerjaan arsitektur mempunyai sudut pandang. Sebagai contah pada sublime, pengalaman merupakan sebuiah hal yang penting. Definisi penggabungan dari sublime memberikan bentuk pada model estetik modern dan pemikiran postmodern. Pemikiran kembali mengenai sublime dapat dipergunakan untuk membangun kembali arsitektur yang salah dan pindah ke formalisme sekarang. Pada arsitektur abad ke-20. pemikiran mengenai sublime atau kecantikan terlihat begitu bebas. Untuk mencapai ‘titik radikal’ pada sejarah dari masa modern, teori estetik harus berubah. Polemik modernist adalah untuk estetik tabula rasa (abstraksi) dan untuk aplikasi ilmu dalam desain, menanamkan teori yang berlangsung. Perhatian secara positif diberikan kepada rasional, fungsi kecantikan dan sublime sebagai masalah arsitektural. Postmodern sendiri, pada sublime adalah sebagai batas ijin perkembangan teori yang penting. Deskripsi Postmodern menurut Sigmund Froud, merupakan sebuah penemuan mengenai sesuatu yang tidak asing lagi untuk ditampilkan; perasaan yang tidak mudah mengenal ketidakberadaan. Campuran dari yang diketahui dan tidak asing oleh orang asing, asla dari kata unheimliche, yang diartikan tidak mempunyai rumah. Penbelajaran terbaru Vidler pada The architectural PostModern ditulis, tema umum dari ide adalah mengenai tubuh manusia. Vidler mengenali kegunaan dari defamiliarizing, ‘pembalikan dari norma kecantikan dan penggantian sublime’ sebagai sebuah strategi pengamatan formal. Penjelasan dari eksplorasi Eisenman adalah sebagai ‘manifestasi ketidakpastian fisikal’, ia mengklaim penawaran grolesque sebagai tantangan

untuk terus mendominasi kecantikan, sejak zaman Renaissance. Eisenman berpikir bahwa gerakan modern merupakan sesuatu yang tidak terganggu selama 500 tahun, yang dikatakan sebagai ‘masa klasikal’. Sublime yang sangat penting dikenal dengan tulisan kritis, yang mempunyai seni dan literature utama. Ditampilkan sebagai sebuah fenomena modern sebagai sebuah kritik sosial, atau sebuah aspek psikologi yang ditemui, profil dari sublime bergabung. Yang kemudian Jean Franquois Lyolara dan Eisenman mengkonstruksi ulang dan menentukan keabstrakan tersebut. Posisi teori ini telah berpindah dan mempunyai batasan dari kemampuan untuk melihat arsitektur pada masa dialog yang terus-menerus antara sublime dan ‘yang cantik’. Perhatian Vidler dan penempatan Eisenman merupakan pengalaman spasial mengenai tantangan tujuan manusia sebagai seorang formalis dan penerimaan arsitektur non-percobaan.

PARADIGMA 3: LINGUISTIC THEORY Perputaran perhatian pada budaya kritis postmodern juga mempengaruhi restrukturisasi pemikiran dari paradigma bahasa. Semiotik, strukturalisme, dan post-strukturalisme membentuk ulang literatur, filosofi, antropologi, sosiologi, dan aktivitas kritikal yang besar. SEMIOTICS Paradigma ini diparalelkan sebagai sebuah kebangkitan arti dan simbol pada dunia arsitektur. Arsitektur mempelajari bagaimana arti dibawa dalam bahasa dan diaplikasikan terhadap ilmu melalui ‘linguistic analogy’ menjadi sebuah arsitektur. Timbul pertanyaan, apakah dalam hal umum seperti bahasa, dapat dimengerti oleh orang awam diluar dunia arsitektur dalam proses pembuatannya.

Diana Agrest dan Mario Gandelsonas pada “Semiotics and Architecture” serta Geoffrey Broodbent pada “A Plain Man’s Guide to the Theory of Signs in Architecture”, menanyakan mengenai ‘kontak sosial’ yang terdapat pada setiap arsitektur. Sebagai perwujudan fungsi modern dimana bentuk yang menentukan, hal ini didebat dari poin bahasa, dimana obyek arsitektur tersebut tidak mempunyai maksud lain, namun mampu membentuk suatu budaya. Ahli bahasa Swiss, De Saussure memberi kontribusi utama, yaitu pembelajaran bahasa secara sinkron, dan pemeriksaan bagian bahasa dan hubungannya antar setiap bagian. De Saussure merupakan penemu note signifier, yang relasi strukturalnya ditandai dengan bahasa. Sebagai dua komponen penting pada tanda, timbul ide: “bahasa merupakan sebuah sistem yang mempunyai masa bebas dimana setiap masa menghasilkan kesulitan dari kehadiran secara simultan terhadap yang lainnya.” Mario Gondelsonas membandingkan sintatis yang diambil pada pekerjaan Eisenman dengan semantik yang digunakan oleh Graves. Agrset dan Gondelsonas dalam teori dan pelatihannya dipengaruhi oleh bahasa, dimana mereka menemukan cara semiotik dalam membaca arsitektur sebagai sebuah lapangan produksi pengetahuan. STRUCTURALISME Strukturalisme merupakan metode pembelajaran yang secara umum menuntut: “bentuk alami benda dapat dikatakan tidak terdapat pada benda itu sendiri, tetapi pada hubungan yang telah kita bangun dan buat diantara benda tersebut.” Dunia dibentuk oleh bahasa, dimana struktur mempunyai hubungan yang berarti antara tanda, namun ada juga perbedaan antara struktur dan sistem bahasa pada saat tidak adanya masa yang positif. Struktural focus pada kode, konvensi, dan proses pertanggungjawaban pada pekerjaan, dimana mampu menciptakan arti sosial yang tersedia. Sementara

struktur yang telah menjadi dasar pada linguistic dan antropologi, merupakan sebuah persilangan disiplin. Penampilan dari strukturalisme untuk arsitektur rasional sangat jelas melalui penjelasan metode berikut ini, yaitu bila salah satu pengganti arsitektur bekerja untuk pekerjaan literatur: ‘Strukturalis mengambil bahasa sebagai sebuah model dan mencoba untuk membangun sebuah grammar – peralatan sistematik dari elemen dan kemungkinannya untuk kombinasi – yang akan dihitung untuk bentuk dan arti dari pekerjaan literatur.’ POST-STRUCTURALISME Kritik budaya Hal Foster menandai perubahan dari modern menjadi postmodern melalui dua ide yang dipinjam secara langsung dari literatur dan kritik budaya Roland Barther. Perubahan focus pada artistic atau produksi literatur dari kreasi modern terhadap seluruh atau kesatuan, menjadi kreasi postmodern terhadap ‘ruang multidimensi’ atau ‘methodological field’. Sangat sulit untuk memisahkan strukturalisme dan post-strukturalisme. Cara lain untuk menandai perubahan strukturalisme menjadi poststrukturalisme, yaitu pergerakan dari memandang bahasa secara obyektif, memandangnya sebagai obyek yang tidak salah. Dimana Eagleton menjelaskan ‘discourse’ berarti bahasa diambil sebagai sebuah dasar atau pelatihan. Sebelum strukturalisme, tindakan interpretasi dilakukan untuk menemukan arti yang melibatkan tujuan dari pengarang atau pembaca; hal ini berarti dipertimbangkan secara jelas. Strukturalisme tidak mencoba menegaskan arti yang benar mengenai pekerjaan, atau untuk mengevaluasi pekerjaan dalam relasinya dengan peraturan-peraturan. Pada post-strukturalisme, hal tersebut menjadi tidak berarti, dan berada di bagian paling dasar. Menurut Foster pada ‘[Post]modern Polemics’, paradigma poststrukturisasi mengajukan dua pertanyaan utama bagi arsitektur postmodern, status dari

subyek dan bahasanya, dan status sejarah dan perwakilannya; dimana keduanya dibentuk dengan perwakilan sosial. Obyek dari post-strukturalis adalah untuk menampilkan segala sesuatu dalam kenyataan sebagai yang diberi kuasa oleh penulisnya, untuk merefleksikan mereka. Sebagai contoh, sejarah, merupakan implikasi yang subyektif. Barthe dan Michel Foucault menyarankan keunikan dan kekreativitasan dari pengarang untuk kenyamanan, dibandingkan dengan pemilihan, pengurangan peran pengarang yang memainkan dibatasi oleh sejumlah masalah. Teori postmodern diambil untuk diteliti ulang oleh arsitektur modern, juga relasi terhadap sejarah, perhatian pada inovasi modernisme, serta tanda pada individual, arsitek ‘pahlawan’. Banyak pencoba berpengaruh dan pelatih arsitektur beranggapan bahwa post-strukturalis benar. DECONSTRUCTION Salah satu post-strukturalis yang sangat penting adalah dekonstruksi. Dekonstruksi terlihat sebagai sebuah dasar pada pemikiran dari ‘logocentrisme’ dan pondasi dari bentuk lain seperti arsitektur. Jacques Derrida, seorang filsuf Perancis yang hampir selalu bekerja dengan yang berkaitan dengan dekonstruksi, menjelajahi kegunaan dari operasi teori untuk memproduksi dasar tanah atau pondasi perdebatan, dan mengambil catatan untuk setiap catatan yang telah diberikan konsep. Tujuan dari dekonstruksi adalah untuk menempatkan kategori filosofi dan menjadi seorang ahli, seperti membuat suatu bentuk menjadi bentuk lainnya yang bertentangan, seperti hadir atau tidak hadir. Derrida melihat arsitektur sebagai sebuah pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi pada bidang sosial, sama halnya dengan bidang ekonomi. Dekonstruksi merupakan bagian dari kritik postmodern, yang tujuannya untuk mengakhiri dominasi arsitektur modern.

Pernyataan Tschumi mengenai arsitektur sangat dekat dengan Derrida: untuk mendapatkan konstruksi kondisi dimana ditempatkan yang paling tradisional dan aspek dari sosial kita dan mengatur ulang secara simultan elemen ini dengan cara yang paling bebas. Untuk mencoba batasan tersebut, ditemukan batasan yang bertentangan dengan disiplin dan subyek, yaitu kritis radikal. Tschumi merupakan bagian arsitektural dari Barthes dan Derrida. Ia tertarik dengan teks arsitektur, sebagaimana suatu potensial yang terbatas, tapi melanggar batasan disiplin tersebut. Jika tanda tidak dapat diartikan, maka kemudian diartikan dengan beberapa cara simultan. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana arsitektur mendapat arti tersebut, apakah dapat terjadi persetujuan ‘bahasa’ dalam arsitektur.

Contoh bangunan : HOUSE X – Peter Eisenman [deconstruction] House X milik Peter Eisenman ini memasukkan kategori filosofi di dalamnya, dimana bangunan ini dibuat dengan konsep yang jelas terhadap urban. Terdapatnya aksis urban yang juga dijadikan aksis dalam bangunan tersebut, menjadikan House X sebagai bentukan yang saling bertentangan, terlihat jelas bentukan-bentukan seperti hadir – tidak hadir. Arsitektur sebagai pengendalian yang mengarah ke komunikasi dan transportasi di bidang sosial, hal diwujudkan House X dalam perannya yang mampu mengkomunikasikan urban dengan baik secara sosial. Dari aspek sosial tersebut, terlihat adanya elemen-elemen yang diatur ulang secara simultan dengan cara yang bebas, yaitu bentukan-bentukan kotaknya.

PARADIGMA 4: MARXISTME

Arsitektur post modern tak dapat lepas dari paradigma marxistme. Paradigma ini merupakan suatu kritik terhadap arsitektur postmo.Pendekatan marxist berkaitan dengan masalah politik,ideologi dan hubungan antar kelas arsitektur dan urbanisme.Paradigma marxist menyoroti krisis arsitektur modern yang gagal karena hanya bergantung dan mengikuti revolusi umum dan mengandalkan kritik dari kelas arsitektur saja, tanpa mampu menyebabkan revolusi itu sendiri.Teori yang kritis baru datang dari institut penelitian sosial frankurt yang melakukan pendekatan tidak hanya terhadap arsitektur tetapi juga melalui filosofi, sejarah dan psikologi untuk mendeskripsikan fenomena budaya pada konteks sosial.

PARADIGMA 5: FEMINISME Diawali pada tahun 1960an yang menaruh perhatian pada masalah sosial terutama masalah perbedaan seksual. Pendekatan kritis yang bermunculan membawa jenis kelamin sebagai pengontrol sosial. Sebagai pengontrol sosial feminisme menggunakan paradigma kritis termasuk poststrukturalisme, marxisme dan psikoanalisis.Jadi, jenis kelamin dipergunakan dalam sejarah untuk membatasi atau memberi tanda terhadap yang lainnya.Dalam karyaarsitektur Sedangkan Psikoanalisis menawarkan teori universal mengenai pembangunan fisik jenis kelamin pada dasar perwakilan, hal tersebut menawarkan sebuah kerangka kerja dimana feminin dan maskulin dapat dimengerti. Kritik feminisme mengenai arsitektur bertujuan untuk mengejar teori berkaitan dengan kenyataan sosialnya.Kritik ini bersifat kritis, sehingga bangunan yang dimaksud bisa saja sangat radikal, dimana tolak ukurnya sendiri adalah keadaan sosialnya. Di sini Merupakan tempat dimana seseorang dapat dekat dengan arsitektur dan bahkan berada di dalamnya, dapat meneliti mekanisme

ideologi dan mengaburkan batas yang memisahkan arsitektur dengan yang lainnya. Tema umum yang beredar merupakan pokok-pokok permasalahan yang disoroti oleh teori postmodern. Tema merupakan tanggung jawab sosial dan tubuh dari budaya postmodern.Adapun dalam dunia arsitektur post modern dikenal 6 macam tema yang menjadi isu penting dalam teori postmodern yakni: Histori dan historikisme, meaning(arti),tempat(place),poloitik dan etika,teori urban dan tubuh(body)

TEMA 1. Histori dan Historikisme Terjadinya krisis pada arsitektur modern meningkatkan kesadaran diri, analitis, image baru , dan orientasi pada alam dari periode postmodern. Para arsitek postmodern kemudian lebih menaruh perhatian pada mereka sendiri dengan suatu sejarah yang mempengaruhi. Cara yang ditempuh dapat melalui: Apropriasi dan kesadaran diri mengenai saat ini sebagai moment sejarah. Pendekatan yang dilakukan postmodern adalah suatu pendekatan progresif dengan adanya suatu keinginan untuk meluas dan melengkapi apa yang kurang dari tradisi budaya modern. Foster menyetujui pendapat dari Clement Greenberg bahwa modern adalah suatu program kritik diri dengan menjanjikan suatu kualitas tinggi dari suatu budaya yang diterapkan pada produksi masa kini dengan adanya kelanjutan estetik dari nilai tertentu. Habermas seorang aliran dari postmodernisme menyatakan perbedaan antara efek modernisasi dan post modern adalah kurangnya keefektifan pada arsitektur modern dalam memecahkan masalah sosial. Lyotard mengatakan bahwa dalam modernisme teknologi telah mengambil alih semua posisi kekuatan.

Salah satu teori historikisme yang dipakai dalam postmodern adalah Teori sejarah abad 19 yang mementingkan relatifisme modernitas budaya khususnya ide affan garde, maksudnya kreasi bentuk baru berkelanjutan di bawah gerak sosial dan teknologi dan representasi simbol tsb dari masyrakat melalui bentukbentuk ini.Jadi bentukan baru yang tercipta mampu merepresentasikan keadaan sosial masyarakat namun tidak meninggalkan teknologi dan kekreatifan desain. Colqiuhoun menemukan 2 aspek paradok historikisme. 1. pencarian ekspresi kesalahan penjelasan spirit seseorang ke pola perubahan yang kontinu 2. modernisme mengganti sarana ke masa depan karena ide yang statis dan peraturan klasiknya. Paradoks tersebut tidak dapat dihindari

Historikisme meliputi bagaimana seseorang dapat mengidentifikasikan penentuan spirit dari sejarah. Dua definisi historikisme dalam postmodern: 1. sikap yang perhatian pada tradisi masa lalu 2. praktek artistik dari penggunaan bentuk sejarah Para arsitek postmodern menggunakan elemen-elemen klasik dari kolase,patische atau rekonstruksi otentik Kejadian penting dalam sejarah arsitek saat ini adalah penilaian kembali dari hasil karya bukan untuk mencocokkan diri.Jadi sebenarnya karya yang baru

tidak menyamakan diri dengan sejarah, tetapi tetap memperhatikan sejarah dan alam dan sosial budaya. Para historian arsitektur Marxist memilih suatu pendekatan dialetik yang menekankan ke alam yang lain dari aliran modern.

Revisi postmodern dengan tema historikisme bertujuan mencari kesinambungan dengan hasil karya yang lebih awal, dan mempertanyakan apakah suatu perubahan yang radikal itu layak? dari gaya historikalnya.

Contoh bangunan yang mengambil tema histori dan historikisme ini adalah bangunan karya ROBERT VENTURI yakni bangunan Sainsbury Wing, (1986) di London England.Gaya bangunan ini didesain utuk menanggapi bangunan lama yang ada di sebelahnya yakni bangunan national gallery yang dibangun pada 1983. Sainsbury wing menampilkan replikasi ornamen lama . Menurut Robert Venturi arsitektur tidak muncul begitu saja , namun berasal dari suatu sejarah, yang memiliki identitas dan unsur historis.Hal ini sesuai dengan karyanya yang benyak menampilkan kekompleksan desain karena Venturi tidak menyukai elemen yang murni,bersih dan terus terang.Namun elemen kompleksitu didapatkan dari kultur yang sudah ada, yakni unsur historikisme yang dimaksud di atas, yakni sikap memperhatikan tradisi masa lalu.Venturi juga menggunakan elemen klasik pada sainsbury wing dengan cara ‘ menempel’ maupun rekonstruksi ulang dari bangunan national galeri. Jadi, venturi menganggap perlunya kesinambungan antara bangunan lama yang sudah ada sebelumnya dengan bangunan baru.Tidak perlu perubahan radikal

MANUSIA, ARSITEKTUR, DAN ALAM

Hubungan antara manusia dengan alam adalah masalah filosofi yang panjang, yang dapat dijelaskan dengan fenomena, seperti Norberg-Schulz. Negara Barat memikirkan alam sebagai ‘hal yang berbeda’ dalam hubungannya dengan budaya yang mampu menstabilkan/memberi tema untuk suatu negara. Sejak revolusi industri, kemajuan revolusi tersebut mengurangi hambatanhambatan yang selalu hadir. Hal ini ditunjukkan dengan dekonstruksi, dimana oposisi budaya/alam tidak dilibatkan, adanya ketidaksesuaian, dan sepanjang semua ini benar, apakah perbedaan struktur harus dibatasi? Beberapa pendapat yang ada mengatakan, bahwa alam diutamakan, tantangan budaya sekarang ini berasal dari perlawanan akhir pada spectrum, juga dari pengetahuan manusia dan bentuk instrumentalnya yang dinamakan teknologi. Dalam perindustrian masa lalu, produksi dalam arsitektur dilakukan atas referensi yang disusun untuk alam dan berhubungan dengan alam. Arsitektur modern memegang analogi mesin disamping analogi organik. Walaupun mesin seringkali didesain berdasarkan sistem alam, namun digunakan sebagai model formal dari arsitektur yang menimbulkan pencegahan dari hubungan langsung dengan alam. Problem tersebut karena adanya kemajuan teknologi, dimana simbol posisi manusia bersama-sama dengan alam meninggalkan peraturan arsitektur.

TEMPAT DAN GENIUS LOCI Albert Einstein mengatakan tempat sebagai bagian kecil pada permukaan bumi yang diidentifikasi dengan nama, obyek material dan hal-hal yang lain. Sejarahwan arsitektur, Peter Collins menerima definisi dari Albert Einstein tersebut dan mengembangkan implikasinya : “Saat ini ada berbagai macam kecepatan yang dilibatkan dalam desain arsitektur, salah satu kemungkinan yang dimuat bahwa ‘tempat’ (plaza, piazza) adalah kecepatan terbesar bahwa pada arsitektur bisa disesuaikan dengan kinerja seni yang tidak menyatu.” Teori tempat timbul dari fenomena dan geografi fisik. Tempat menawarkan cara untuk mempertahankan kerelatifan dalam teori modern pada sejarah penggambaran tubuh dan versifikasinya pada kualitas utama pada sisi. Menurut Heidgger posisi yang berhubungan dengan alam adalah usaha untuk memperkaya pengalaman manusia yang ditampung oleh banyak arsitek kontemporer dan teoritis, seperti Gregotti, Raimund Abraham, Tadao Ando, dan Norberg-Schulz. Klaim pertanggungjawaban arsitek yang selanjutnya adalah untuk menyelidiki genius loci dan desain dalam cara (pembuatan-tempat) yang diperhitungkan untuk kehadirannya. Sebaliknya, Norberg-Schulz menyebutkan intervensi manusia untuk intensitas atribut alam pada keadaan. Elemen yang nyata pada arsitektur diperingatkan pada fenomena sebagai ‘kesesuaian pada perbedaan’ dan ‘batasan dan ambang pintu’ merupakan elemen yang menunjang tempat. Gregoti menetapkan pembuatan-tempat untuk tindakan arsitektur prima, dimana keasliannya : meletakkan batu pada tanah dan mulai ‘memodofikasi’ bahwa tempat ditentukan kedalam arsitektur. Tugas arsitek adalah menghubungkan alam dengan keadaan dan penggunaan landscape. Keindahan yang berlangsung didalam penyusunan site

mencerminkan hasrat untuk membuat tempat, seperti yang dipromosikan oleh Norberg-Schulz dan Gregotti.

TEMPAT DAN DAERAH Didasarkan pada fenomena, regionalisma Frampton melihat kemungkinan pada tempat tinggal dalam arsitektur untuk dimaksudkan pada pengalaman yang lebih besar. Frampton mengamati daerah, bangunan, kepekaan cahaya, kepekaan udara, dan kepekaan suhu. Aspek regionalis dalam kritik umu adalah sikap kontra terhadap pemakaian massa yang mampu menghasilkan produk bangunan. Frampton menyebut puisi Samper yang memahami perbedaan didalam rangka (ceriol) dan membawa kebaikan sistem bangunan dinding (bumi’telluric’). Arsitek Ezra Ehrenkrontz memprediksi sosial dan ekonomi untuk Amerika berdasarkan pada dispersal populasi sebagai penerima informasi yang canggih, pengamatannya dilengkapi dengan tingkat teori urban yang timbul ketika arsitek postmodern menyelidiki kembali sebagai landasan aktifitas arsitektural pada tingkat : sosio ekonomi, politik, sejarah, formal, puisi dan artistic. Bila dikaitkan dengan tema “tempat”, maka dalam berarsitektur hendaknya disesuaikan dengan keadaan geografis dan site sekitar. Arsitektur dibangun tidak sekedar asal bangunan indah dan menbarik perhatian namun, disini juga dituntut bangunan yang peduli pada lingkungan, pada tempat bangunan tersebut berdiri. Contohnya pada bangunan Wisma Dharmala, pada fasadenya terdapat sunshading yang miring-miring, sunshading tersebut tidak muncul begitu saja tanpa fungsi yang jelas namun telah diperhitungkan sebelumnya oleh Paul Rudolf, dimana ia membangun perkantoran di daerah tropis, yang membutuhkan banyak pembayangan sehingga, energi listrik dalam bangunan

dapat dihemat dan dapat digolongkan sebagai bangunan yang sesuai dengan tema “tempat”. Dengan memperhatikan keadaan lingkungan sekitar banyak keuntungan yang didapat, contohnya: pada daerah yang banyak terdapat kayu jati, kita dapat mempertimbangkan untuk menggunakan bahan kayu tersebut daripada menggunakan bahan batu kali, karena banyak kerugiannya mengingat kita harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengangkut batu-batu tersebut ke lokasi proyek kita sementara disekitar lokasi proyek tersebut kayu jati melimpah, disamping itu juga bangunan yang berdiri pada site tersebut tidak selaras dengan lingkungan sekitarnya, dimana ditengah-tengah hutan kayu berdiri suatu bangunan kokoh dengan material batu, dan memberi kesan seperti “rusa ditengah kota”. Contoh lainnya pada Electa Book Shop for the Venice Biennale karya James Stirling dan Michael Wilford. Toko buku karya Stirling ini dibangun di tengah site taman yang terdapat banyak pepohonan rimbun. Toko buku tersebut sengaja diberi warna coklat terang pada bagian bawahnya (dinidingnya) dan warna hijau pada bagian atapnya. Hal ini dimaksudkan agar bangunan tersebut selaras dan menyatu pada alam sekitar tempatnya dibangun, sehingga bila dipandang akan memberi kesan selaras dan harmonis. Atapnya yang berwarna hijau sesuai dengan rimbunnya dedaunan di atas pohon, sementara dindingnya selaras dengan batang pohon. Bagaimana pun juga bangunan yang dibangun dengan mempertimbangkan tema “tempat” mempunyai nilai tambah dari pada bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan keadaan alam sekitarnya.

TEORI URBAN

Pada tahun 1960, urban terjadi kembali dan berhubungan drastis dengan modern yang memperhatikan fabric urban. Arsitek berfokus pada penciptaan kebebasan ‘obyek’ bangunan (misalnya Museum Guggensheim dan bangunan Seagram di New York) untuk 40 tahun, mulai merealisasi bahwa ada perlawanan yang diperuntukkan bagi obyek itu. Contohnya, fungsional penempatan dibawah semangat postmodern untuk pendekatan negatifnya pada perencanaan.

KONTEKSTUALISME Artikel milik Rowe dan Kottler ‘Kota Sekolah Tinggi’ menawarkan analisa pengaruh dan strategi desain yang masih ditetapkan pada beberapa sekolah arsitektur saat ini. Ada bukti nyata Rome seperti yang dikatakan Rowe dan Kotler ‘mentalitas bricolage’, tidak masuk akal, tidak terpikirkan secara sistematis bahwa pertahanan mampu membahayakan keseluruhan hambatan dalam perancanaan urban. Mereka berusaha untuk menggunakan logika positif untuk sesuatu yang tidak pasti, seperti arsitektur dan desain urban. Teknik grafik pada bacaan dikembangkan oleh Rowe dan sekolah Cornell yang menawarkan kamusdan syntax pada validitas yang berkelanjutan untuk menguraikan dan memahami kota.

TEORI MEMBACA DAN MENGARTIKAN Dalam periode postmodern, semiologi juga mempunyai dampak pada persepsi kota, yang menunjukkan proses membaca letak kota sebagai teks. Memakai model bahasa untuk maksud yang diberikan dari hubungan antara obyek didalam kota.

Bahasa ditetapkan oleh arsitek postmodern sebagai cara pengkodean maksud arsitektural kedalam sistem. Tschumi memilih penetapan aspek yang berbeda dengan bahasan Barthes tentang kota yang memperhatikan ‘dimensi erotis’ pada kota yang diidentifikasi sebagai pusat kota yang memegang keluasan. Semiologi Barthes dan urbanisme serta le plaisir du texle merupakan pengaruh jelas pada Tschumi, ‘keindahan pada arsitektur.’

IMAGE KOTA Kritik pada post kota WWII, Lynch membutuhkan catatan visual yang memesan ungkapan manusia, kemampuan ber-image atau kemampuan untuk dibaca menjadi atribut penting yang diperhatikan oleh perancang urban dan arsitek sendiri yang berkenaan dengan isu komunikasi pada makna. Barthes menuntut Lynch agar dapat menyelesaikan masalah semantik urban, tapi pada kenyataannya bahwa konsepsi pada kota lebih gestaltik daripada struktural. URBANISME EROPA : NEORATIONALISME DAN TYPOLOGY Rossi juga menuntut Lynch terhadap pendapatnya bahwa orientasi didalam kota berasal dari pengalaman, seperti monumental. Strukturalis berpendapat bahwa kota adalah menjelaskan keseluruhan repetisi pada komponen elemental. Dimana Rossi menyelidiki fungsi bentuk di kota-kota Eropa sebagai penyimpan memori kolektif. Rossi juga mengingatkan simbol kota yang penting dalam memfokuskan kembali perhatian pada pendapat pembuat arsitektur dalam konteks urban, “pertentangan diantara utama dan umum, diantara individu dan kolektif, dicukupi dari kota dan dari konstruksinya, juga arsitekturnya.”

Rossi memperkenalkan kembali catatan tipologi sebagai alat analitik dan sebagai dasar rasional untuk proses desain pada transformasi.

ARSITEK-ARSITEK PADA ERA POSTMODERN

Beberapa Arsitek yang tekenal karena pengaruhnya pada ewra Postmodern :

• John Burgee • Michael Graves ( paling terkenal karena karenanya dijadikan sebagai figure pergerakan Postmodern • Jon Jerde • Philip Johnson • Ricardo Legorreta • Ricardo Bofill • Charles Willard Moore • William Pereira • Cesar Pelli • Antoine Predock • Robert A.M. Stern • James Stirling

• Robert Venturi • Peter Eisenman • Thomas Gordon Smith

Bangunan pada era Postmodern, terkadang menampilkan ‘si tua la trompe d’oeil’, menciptkan ilusi bentuk atau kedalaman dimana sebenarnya tidak ada sesuatupun disana tetapi ter4lihat ada karena sudah ‘diutak-atik ‘ oleh ‘si pelukis’ seperti pada zaman Renaissance. Misalnya pada Gedung The Portland Public Service (1980) yang terlihat mempunyai pillar-pilar-pilar pada satu sisi bangunan. Padahal sebenarnya pilarpilar itu tidak ada. Contoh lainnya adalah Museum Seni Hood ( 1981-1983) yang punya tipikal simetrikal fasad yang menunjukkan betapa ia dibangun dengan pengaruh Post modern. Juga Vanna Venturi House rancangan Robert Venturi ( 1962-1964 ) mengilustrasikan tujuan para Postmoderenis yaitu mengkomunikasikan karakteristik tiap symbol.Fasadnya, menurut Venturi adalah symbol gambar sebuah rumah. Sama seperti ketika abad ke 18. Ini adalah bagian dari kegunaan simetri dan kelebihan lengkungan pada entrance rumah. Mungkin contoh terbaik dari ironi dalam bangunan-bangunan Postmodern adalah Charles Willard Moore’s Piazza d’italia ( 1978 ). Moore mengambil elemen arsitektural dari zaman Renaissance Italia dan Keantikan zaman Romawi. Meskipun ia tidak menggabungkan keduanya. Ironinya dating ketika ada pilar-pilar yang dibungkus oleh logam. Hal itu juga menajadi suatu paradox ketika kita menyadari bahwa Keantikan Italia amat jauh dari ‘keaslian ‘ New Orleans tempat bangunan ini berdiri.

Double coding mengandung arti bahwa bangunan-bangunan ‘ menampilkan sesuatu’ pada banyak bangunan secara simultan. Bangunan yang menerapkan system ini vdengan baik adalah gedung The AT & T . Bangunan pencakar langit ini dapat memberikan konotasi-konotasi mengenai betapa bangunan ini dibangun dengan teknologi yang amat tinggi. Tetapi tidak begitu pada bagian atas bangunan ini. Bagian atas bangunhan ini menampilkan elemen yang terlihat antic. Double Coding ini adalah perkecualian dalam Postmodern. Karakteristik dari Postmodern terkadang amat tak terduga. Hal yang paling bisa diingat adalah keceriaan dan bentuk mereka yang mengagumkan serta penuh humor sehingga penampilan bangunan merekapun sangat menarik.

PENUTUP KESIMPULAN

PERLUNYA TEORI POSTMODERN Teori postmodern dapat mengembangkan atau membuka paradigma arsitek untuk berkarya secara bertanggung jawab antara bangunan & perilaku. Karena gaya arsitektur ini diciptakan untuk membetulkan segala yang salah pada gaya arsitektur pada era sebelumnya, hingga bisa dipastikan gaya arsitektur pada era ini lebih baik dalam hal menyamankan penghuni. Hasil teori ini tidak dapat diprediksi macam-macam karena bersifat spekulatif dan berakhir terbuka yang berdampak pada bidang politik & sosial ditahun 1960-an – 1970-an. Pada tahun 1990-an ada 3 tema teori yang muncul yaitu masalah badan, estetika dan etika lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

• Postmodern Architecture: Restoring Context Princeton University Lecture • Postmodern Architecture and Urbanism University of California - Berkeley Lecture • Venturi ,Robert. 1977 .Learning from Las Vegas: The Forgotten Symbolism of Architectural Form. Cambridge, MA: MIT Press, ISBN 0-262-22015-6 • Klotz, Heinrich .History of Post-Modern Architecture. 1998.Cambridge, MA: MIT Press,. ISBN 0-262-11123-3 • http://en.wikipedia.org/wiki/Postmodern_architecture • Pelfrey, Robert and Hall, Mary.1985. Art and Mass Media. Harper and Row Publisher. New York • Portogeshi, Paolo. 1983. Postmodern. Electa Editrice. Milan, Italy • Jencks, Charles. 1984. The Languange of Post-Modern Architecture.Rizoli International Publication, Inc. New York • http://www.googlee.co.id/arsitektur postmodern/Kajian arsitektur Postmodern dalam kaitannya dengan bangunan • http://www.yahoo.com/post modern architecture Posted by b2network Labels: arsitektur postmodern

gertian Arsitektur ,Modern,Postmodern,Dekonstruksi

Posted on 1 Februari 2009. Filed under: Bobby_Saragih Tutorial |

A.ARSITEKTUR MODERN

Sepanjang sejarah manusia, Arsitektur hanya mengalami satu kali perubahan yang mendasar, yaitu di saat hadirnya Arsitektur Modern

. Sampai dengan masa Neo-klasik abad ke-19, Arsitektur dianggap sebagai pengetahuan kesenian, yaitu seni bangunan. Artinya Arsitektur dianggap sebagai suatu ‘olah rasa’ yang dibuat berdasarkan perasaan sebagai sumber idenya dan tidak ada rumusnya.

Merintis Modern

Di pertengahan abad ke-18, tahun 1750-an di Perancis, muncul orang-orang yang berambisi untuk menghasilkan Arsitektur dengan menggunakan akal dan idenya sebagai sumber idenya, bukan seni dengan perasaan.

Beberapa nama tersebut adalah : Boulle Blondel, Quatremere de Quincy (Tipologi misalnya, dimunculkan pertama kali pada abad ke-18 oleh Quatremere de Quincy.)

Bagi mereka ini, Arsitektur adalah olah pikir, bukan olah seni. Bagi dunia Arsitektur, apa yang dilakukan oleh orang-orang Perancis ini adalah sebuah

reformasi, perubahan. tak ayal lagi, sejarah menobatkan orang-orang ini sebagai the first Modern

. Dengan demikian, dapat saj dikatakan bahwa Arsitektur Modern

ini sudah hadir pada abad ke-18 bukan abad ke-20. Tetapi, yang dimaksud Arsitektur Modern

bukan karya Arsitektur, bukan bangunan atau gedung tapi adalah ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang Arsitektur. Oleh sebab itu seringkali dikatakan bahwa pikiran-pikiran dasar/pokok mengenai Arsitektur Modern

telah dimunculkan di abad ke-18.

Pikiran-pikiran dasar yang baru tadi, baru mendapat kesempatan untuk direalisasikan pada pertengahan abad 19, karena beberapa hal :

1. Di pertengahan abad 19 itu secara resmi pendidikan Arsitektur telah terbagi menjadi dua yaitu :

Ecole des Beaux Arts – yang mengajarkan Arsitektur sebagai kesenian

Ecole Polytechnique – yang mengajarkan Arsitektur sebagai ilmu teknik sipil

2. Munculnya industri bahan bangunan, yang mampu menghasilkan keseragaman ukuran dan kecepatan membangun. Kedua hal ini menjadi faktor yang sangat mendorong percepatan dari Arsitektur Modern

tersebut.

Tahun 1851 di Inggris, diselenggarakan sebuah Expo , dimana gedung utamanya adalah rancangan dari seorang ahli botani. Gedung tersebut dikenal sebagai “Crystal Palace” karya Joseph Paxton yang oleh sejarah Arsitektur dinyatakan sebagai karya Arsitektur Modern

yang pertama, karena dalam perwujudannya mampui memperlihatkan keberadan dari Arsitektur yang mendominasikan unsur space sebagai. Sebelumnya, form merupakan unsur utama perancangan Arsitektur

Eiffel Tower karya Gustav Eiffel, seorang insinyur sipil.

Kesimpulan:

Ide tahun 1750: ide tentang Arsitektur adalah ‘olah pikir’ dan bukan ‘olah rasa’

Ide tahun 1851: ide tebtang Arsitektur adalah permainan ‘ruang’ dan bukan ‘bentuk’

Modern

Periode 1890 – 1930

Mulai tahun 1890-an sampai dengan 1930-an, terjadi sejumlah pertentangan dalam dunia Arsitektur yang ditunjukkan melalui munculnya berbagai eksperimen yang dilekukan oleh perorangan maupun oleh kelompok, Eksperimen tersebut, kalau diungkapkan sebagai sebuah pertentangan akan dapat dikatakan sebagai berikut ini.

Arsitektur sebagai art vs Arsitektur sebagai science

Arsitektur sebagai form vs Arsitektur sebagai space

rsitektur sebagai craft vs Arsitektur sebagai assembly

Arsitektur sebagai karya manual vs Arsitektur sebagai karya machinal

Ya, Dibutuhkan 40 tahun untuk mengubah Arsitektur menjadi sekarang apa yang dikenal sebagai Arsitektur Modern

. Antara 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan: art and craft, art noveau, ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll.

Periode 40 tahun itu merupakan puncak sekaligus titik awal dari Arsitektur Modern

.

Periode 1950-1960an

Dalam sejarah Arsitektur, berakhirnya Perang Dunia II membawa perjalanan Arsitektur dapat dibaca dari dua sisi yang saling berlawanan yakni:

a. Bagi mereka yang berpihak pada Teknologi dan Industrialisasi, tahun 1950an dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern

b. Bagi mereka yang menempatkan Arsitektur sebagai karya yang estetik dan artistik, tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern

Mengapa tahun 50-an dikatakan sebagai puncak Arsitektur Modern

(banyak dianut oleh pengikut Arsitektur merupakan kerja ilmu dan teknologi)?

a. Karena tahun 50-an, segenap filosofi dan prinsip Arsitektur sebagai ilmu telah dapat diformulasikan dengan sempurna dari ide sampai dengan realisasinya: bangunan kotak dan geometris murni, Platonic solid, menjadi ekspresi yang pas bagi Arsitektur sebagai ilmu, karena dalam ilmu, yang disebut bentuk jikalau memenuhi aturan-aturan geometri, mis : lingkaran, bujursangkar, segitiga ( 2 matra/Dimensi ) dan bola, piramid, kubus ( 3 matra/Dimensi ).

b. Karya-karya Arsitektur mampu dan sangat sempurna untuk mengekspresikan space/ruang (ciri utama ruang adalah: ada tapi tidak dapat dilihat ) yang diwakili oleh kaca lebar dan bidang-bidang polos (Kaca adalah elemen ruang yang sangat tepat untuk mewakili ruang, karena kaca juga memiliki ciri `ada tapi tak terlihat’. Bidang polos pun dianggap sebagai pengekspresi ruang).

c. Faktor lain yang mendukung Arsitektur Modern

pd tahun 50-an: Mass Production.

Dengan produksi massal bahan bangunan oleh pabrik, terjadi 2 akibat:

Kecepatan membangun, dlm waktu singkat dapat menghasilkan bangunan.

Hal ini penting karena pada tahun 1945, Eropa sudah hancur akibat Perang Dunia.

Bahan bangunan dapat menembus batas budaya dan geografis, sehingga Arsitektur menjadi Internasional dan bangunan-bangunan di dunia menjadi seragam.

Dengan kata lain, Arsitektur menjadi sangat demokratis.

Mengapa tahun 50-an dikatakan sebagai kegagalan/ kemerosotan Arsitektur Modern

(banyak dianut oleh pengikut Arsitektur merupakan kerja seni dan estetika)?

Karena Arsitektur telah kehilangan identitas/ ciri individual perancangnya. Tahun-tahun itu, nama yang dikenal orang adalah nama biro-biro Arsitektur, bukan arsiteknya.

Walaupun Arsitektur menjadi sangat demokratis, dalam masyarakat tidak bisa dihilangkan adanya hirarki atau kelas-kelas. Maka kata-kata demokratis itu sama saja bohong/ omong kosong.

Dengan maraknya produksi massal, pabrik-pabrik dapat menghasilkan bahanbahan bangunan yang sejenis atau mirip, tapi dengan kualitas berbeda.

Dengan hilangnya batas dunia, mengakibatkan hilangnya privacy.

Contoh: diterapkannya open plan, yang berarti anti privacy.

Karena penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simpel, bidang-bidang kaca lebar. Ciri ini juga disebut nihilism yang berarti tidak ada apa-apanya kecuali geometri dan bahan. (Dengan demikian, siapa pun bisa menjadi arsitek. Tidak ada bedanya arsitek atau bukan. Kalau sudah begini, apa gunanya sekolah arsitek?)

Keseragaman bentuk yang geometris menyebabkan pemandangan yang disharmoni, tidak menyatu dengan lingkungan. Terutama di Eropa, di mana bentukan yang geometrik dianggap merusak dan memperburuk wajah lingkungan yang masih kental dengan wajah-wajah neoklasik/pramodern.

Sekitar tahun 1960, pertentangan antara kedua aliran itu (pro dan kontra 1950) terjadi lagi. Inti masalahnya adalah:

“Untuk siapa sebenarnya Arsitektur itu diciptakan?”

Maka tahun ini menjadi titik awal lahirnya Post-Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataannya: Less is Bore.

Contoh: Brutalisme, aliran yang dianut oleh Paul Rudolph (salah satu proyeknya di Surabaya adalah Gedung Dharmala, tapi belum boleh dikatakan sebagai bangunan yang brutalistik).

Ada satu unsur lain di tahun 60-an yang cukup berpengaruh dalam dunia Arsitektur namun baru diakui peranannya pada tahun 1990-an, yaitu: Mass Media. (media cetak, TV, film). Media massa menjadi bagian dari Arsitektur karena Media menjadi wadah bagi kebebasan individual, alat diskusi/ pertukaran dan penyebar-luasan ide. Media massa menjadi pemicu timbulnya Pluralisme atau Kemajemukan yang menjadi bahan dasar Post-Modernisme.

Perbedaan karakter Modernisme dan Post-Modernisme:

Modernisme

: singular, seragam, tunggal

Post-Modernisme

: plural, beraneka-ragam, bhinneka

B.ARSITEKTUR POSTMODERN

Pengertian postmodern :

Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis. Anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama. Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern. Jadi hal-hal yang benar dari Arsitektur Modern tetap dipakai. Merupakan pengulangan periode 1890-1930. Arsitektur yang menyatu-padukan Art dan Science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal. Mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur. Tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Arsitektur Modern. (ciri-ciri arsitektur modern) Perubahan mendasar dalam sejarah dunia arsitektur adalah saat hadirnya arsitektur modern. Arsitektur sampai abad ke-19 dianggap sebagai seni bangunan. Reformasi pemikiran Arsitektur Modern ini mulai muncul pada abad ke-18, dimana yang dimaksud Arsitektur Modern bukan karya arsitektur, melainkan ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur. Pemikiran tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan abad ke-19 dikarenakan pendidikan Arsitektur yang dibagi menjadi dua, sebagai kesenian dan sebagai ilmu teknik sipil, dan munculnya industri bahan bangunan.

Antara tahun 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan, antara lain : Art and Craft, Art Noveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll. Periode tersebut merupakan puncak sekaligus titik awal dari arsitektur modern.

Pada tahun 1950-1960, terdapat 2 pihak yang berlawanan :

1. Kelompok yang berpihak pada teknologi dan industrialisasi; tahun 1950 dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern.

2. Kelompok yang memuja estetik dan artistik; tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern.

Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua pihak itu terjadi lagi dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang ‘untuk siapa arsitektur itu diciptakan?’. Hal tersebut yang menjadi titik awal lahirnya Post Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataan: Less Is Bore. Media massa juga ikut berperan dalam memicu timbulnya pluralism yang menjadi bahan dasar post modernisme.

Perbedaan karakter Modernisme dan Post Modernisme :

Modernisme : singular, seragam, tunggal.

Post Modernisme : plural, beraneka ragam, bhinneka.

Sebuah Gambaran tentang Post Modern

Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tentang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti `sehabis modern’ (modern sudah usai); `setelah modern’ (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan dominan); atau yang mengartikan sebagai `kelanjutan modern’ (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini).

Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sublanggam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi.

1.

PURNA MODERN

a. Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern’ yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)

b. Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi.

c. Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang.

d.

Tokohnya antara lain : Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell.

2.

NEO MODERN

a. Dahulu diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, sehingga pengertiannya tetap tidak berubah.

b. Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction). Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi.

c. Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri.

d. Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra).

e. Tokohnya antara lain: Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster.

f.

Tampilan dominan bentuk geometri.

g. Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak.

3.

DEKONSTRUKSI

a. Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3-D bukan dari hasil proyeksi 2-D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.

b. Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O’Gehry.

c. Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan.

Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu.

1.

Tidak memakai semboyan Form Follows Function

Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.

Apa yang dikomunikasikan?

Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu :

PURNA MODERN : yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian.

NEO MODERN : mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan.

DEKONSTRUKSI : yang dikomunikasikan adalah

a. Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.

b. Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.

Karena pokok-pokok pikiran itu dapat pula dikatakan bahwa:

Arsitektur PURNA MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past),

Arsitektur NEO MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa ini (The Present), sedangkan

Arsitektur DEKONSTRUKSI tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi “Ini merupakan kesombongan dekonstruksi.”

2. Fungsi ( bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur)

Yang dimaksud dengan `fungsi’ di sini bukanlah `aktivitas’, bukan pula `apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia tehadap arsitektur’ (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang `fungsi’ yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran adan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia sebagai mahluk yang

berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi.

Fungsi = apa yang dilakukan arsitektur, bukan apa yang dilakukan manusia; dan dengan demikian, ‘FUNGSI bukan AKTIVITAS’

Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu :

Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom),

Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat,

Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan,

Arsitektur berfungsi untuk menyadarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya,

Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal,

Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka :

Dalam PURNA MODERN yang ditonjolkan didalam fungsinya itu, adalah fungsi-fungsi metaforik (=simbolik) dan historikal.

NEO MODERN menunjuk pada fungsi-fungsi mimpi, yang utopi (masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak bisa terbayangkan).

DEKONSTRUKSI menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya.

3.

Bentuk dan Ruang

Didalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-2, merdeka, sehingga bisa dihubungkan atau tidak.

Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang.

Ciri pokok dari bentuk adalah ‘ada dan nyata/terlihat/teraba’, sedangkan ruang mempunyai ciri khas ‘ada dan tak-terlihat/tak-nyata’. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur :

Purna Modern bentuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang,

Neo Modern sebaliknya bertolak belakang , menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan, sedangkan dalam

Dekonstruksi tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.

Tokoh Postmodern :

ORDRUPGAARD MUSEUM EXTENSION

KARYA ZAHA HADID

Bangunan seluas 1150 m2 yang memiliki konsep awal museum dan garden ini, mengacu pada teori analogi biologis, lebih tepatnya organik. Bangunan ini berkembang dari dalam ke luar dan ingin menampilkan interior ke luar bangunan sebagai sarana menyatukan bangunan dengan alam sekitar.

Museum yang terletak di negara Denmark ini, memakai material berupa beton in-situ black lava, baja, dan kaca. Struktur yang digunakan adalah gabungan struktur rangka dan membran. Kekhasan museum ini adalah tetap dipertahankannya bangunan lama sebagai bangunan utama dan landscape sekitar.

Dari segi lighting, terdapat perpaduan pencahayaan alami dan buatan di mana pencahayaan alami lebih kuat; segi penghawaan juga seperti pada pencahayaan, ada yang alami dan buatan. Interior pada bangunan ini memiliki kesan light atau ringan. Hal ini dikarenakan penggunaan elemen pengisi dan pelengkap yang ringan. Penggunan elemen-elemen yang tidak terlalu berat ini dipakai karena pada beberapa bagian fasade terdapat kaca yang ditopang bajabaja disusun grid yang menimbulkan kesan berat. Sehingga untuk memperingan kondisi tersebut, dipakailah elemen-elemen yang terkesan ringan.

ARSITEKTUR DEKONSTRUKSI

Arsitektur dekonstruksi merupakan pengembangan dari arsitektur modern. Munculnya arsitektur dekonstruksi sekitar tahun 1988 dalam sebuah diskusi Academy Forum di Tate Gallery, London. Kemudian disusul oleh pameran di Museum of Art, New York dengan tema “Deconstructivist Archiecture” yang diorganisir oleh Philip Johnson dan terdapat tujuh arsitek yang menampilkan karya-karyanya, yaitu; Peter Esienman, Bernard Tschumi, Daneil Libeskind, Frank Gerhy, Zaha Hadid, Rem Koolhaas, dan Coop Himmelblau.

Gejala “Dekon” dalam arsitektur telah menjadi tema perdebatan yang hangat dengan karya-karyanya yang mendobrak aturan-aturan yang berlaku.

Pada 8 April 1988 dalam “international Symposium on Deconstruction” yang diselenggarakan oleh Academy Group di Tate Gallery, dikukuhkan bahwa dekonstruksi bukanlah gerakan yang tunggal atau koheren, meski banyak diwarnai oleh kemiripan – kemiripan formal di antara karya arsitek yang satu dengan yang lainnya. Dekonstruksi tidak memiliki ideologi ataupun tujuan formal, kecuali semangat untuk membongkar kemapaman dan kebakuan.

Aliran dekonstruksi mulanya berkembang di kalangan arsitek Perancis dan Inggris, kemudian oleh Philip Johnson dan Mark Wigley melalui sebuah pameran yang bertema “deconstructivist Architecture” yang di selenggarakan di Museum of Art, New York, tanggal 23 Juni – 30 Agustus 1988 mencetuskan

‘dekonstruktivisme’ yang lebih berkonotasi pragmatis dan formal serta berkembang di Amerika.

Telaah dan pemahaman dekonstruksi memerlukan suatu kesiapan untuk belajar menerima beberapa kemungkinan phenomena. Syarat dari semua ini berdiri di atas keterbukaan dan kesabaran. Keterbukaan membiarkan phenomena berbicara langsung tanpa prekonseosi. Kesabaran memberikan ruang kepada orang untuk mendengar lebih cermat dan seksama.

Deconstruction sebuah konsep Perancis yang diturunkan oleh Jacques Derrida ( lahir 1921) tidak mudah disampaikan sebagaimana pemahaman orang tentang konstruksi, destruksi, dan rekonstruksi. Derrida mengajak semua orang termasuk arsitek untuk merenungkan kembali hakekat sesuatu karya agar berbicara menurut pesona dan kapasitasnya masing –masing. Keseluruhan ini berangkat dari suatu metoda komposisi. Derrida menyebutkannya dalam merajut rangkaian hubungan – hubungan. Dalam tekniknya terdapat beberapa teknik dan terminologi yang perlu klarifikasi di sini. Usaha demikian diharapkan dapat memperjelas hubungan Deconstruction dan Rancang bangunan.

Konsep utama memproduksi atau mengadakan karya bertolak dari konsep yang oleh Derrida pada kasus literatur disebut differance. Dalam rancang bangun konsep ini tidak dapat dipahami sebagai suatu pendekatan yang membuka pemikiran bahwa karya bukanlah semata – mata representasi yang direduksi sebagai alat menyampaikan gagasan atau pesan. Merancang karya diharapkan memberi peluang agar kemungkinannya berbicara bisa merdeka dari prinsip dominasi. Differance memahami setiap komponen bahkan elemen dari komposisi sebagai suatu potensi yang tidak terpisahkan keberadaan, peran dan

fungsinya dalam kesemestaan. Artinya mereka tidak hanya sebagai suatu alat untuk menunjuk pada sesuatu gagasan atau ingatan atau nilai tertentu. Diferance memberikan pemahaman baru bagaimana melihat elemen rancangan rancang bangun dalam sebagai batas – batas wilayah yang mengkaitkan : manusia-material-konstruksi-rupa/bentuk dan tempat. Rancang bangunan sebagai suatu keutuhan dan aspek – aspeknya adalah jejak – jejak dari suatu kesemestaan yang mampu berbicara sendiri sebagai pembangun pemahaman dunia. Seperti halnya suatu ‘text’ rancang bangunan marupakan suatu komposisi yang berosilasi di antara hadir dan absen. Dengan osilasi tersebut terjalin suatu yang terputus – putus sebagaimana pemahaman kita sebenarnya akan dunia ini.

Diskontinuitas dan putusnya linearitas menghadirkan permainan dalam setiap komposisi karena apa yang digagas dan dibangun tidaklah berdiri sendiri. Gagasan yang dituangkan dalam komponen komposisi yang sebenarnya dikutip dari rujukan di tempat lain. Bentuk/rupa material-konstruksi-lokasi. Jadi tidak pernah komponen komposisi berdiri sendiri yang lahir dan tercipta dari ruang hampa. Differance mengangkat permasalahan komposisi yang terdiri atas “ citatioans” atau kutipan – kutipan ke dalam suatu komposisi. Dengan komposisi sebenarnya orang melihat dan merasakan suatu representsi pentunjuk yang hadir dengan rujukan yang tidak hadir ( entah di mana ). Komposisi ini memberikan suatu gambaran fragmen – fragmen dari sumbernya yang “mengada” di suatu lokasi dan tampil seolah – olah utuh dan stabil sebagai sosok mandiri. Rujukan gagasan bentuk/rupa misalnya, tidak pernah lepas dari keinginan untuk melayani “kebutuhan” manusia. Atas dasar merujuk pada sumber – sumber tidak hadir itulah sebuah komposisi “meng-ada”. Dengan itu pula apa yang hadir sebenarnya memberikan “jejak” kepada sumber – sembernya. Interprestasi komposisi menurut prinsip differance tidak mungkin dilakukan tanpa membaca atau menelusuru jejak – jejak yang hadir ke sumber –

sumber mereka. Hasil dari komposisi yang lahir dengan hadirnya jejak – jejak tersebut oleh Derrida disebut Dissemination.

Deconstruction sebagai upaya atau metoda kritis, tidak hanya berupaya membongkar bangun – bangun teori atau karya lewat elemen, struktur, infrastruktur maupun contextnya. Lebih dari itu, kekuatan – kekuatan yang berperan pada konsep yang bersangkutan akan: dilucuti atribut – atributnya, dikupas habis hingga telanjang bulat, dilacak asal usul dan perkembangannya, dicari kaitan – kaitannya dengan konsep – konsep lain, digelar kemungkinan – kemungkinan posisi maupun kontribusinya terhadap apa saja. Semua proses pembongkaran tersebut dimaksudkan untuk membangun kembali karakteristik phenomenalnya. Dalam pembangunan kembali tersebut, ekspose dari ‘interplay’ kekuatan – kekuatan melalui : kontradiksi – kontradiksi, kesenjangan – kesenjangan, decomposition, disjunction, discontinuity, dan deformation, merupakan cara untuk memperlihatkan kemungkinan – kemungkinan “ada” dan “mengada”. Daya tarik deconstruction bagi dunia rancang bangun terletak di dalam cara melihatnya bahwa ruang dan bentuk adalah tempat kejadian yang selayaknya terbuka bagi yang mungkin dan yang tidak mungkin

Beberapa karya besar dari arsitek-arsitek yang menjunjung langgam dekonstruksi dapat dilihat pada uraian berikut.

VILA OLIMPICA HOTEL ARTS

Arsitek : Frank O. Gehry

Lokasi : Barcelona, Spanyol

The Vila Olimpica Hotel Arts berlokasi di Olympic Village yang memiliki luas 150.000 square feet. Dengan waktu pelaksanaan yang cukup lama (1989-1992), bangunan ini menjadi sebuah karya yang unik.

Dengan menampilkan bentukan – bentukan trimatra , bangunan yang merupakan transformasi dari bentuk ikan yang direalisasikan dalam sebuah konstruksi sepanjang 54 meter dengan ketinggian 35 meter. Dengan bentukan dan dimensi seperti ini, bangunan ini menjadi landmark bagi daerah sekitar.

Bangunan ini memamerkan penonjolan konstruksi yang mutakhir sebagai daya tarik yang menjadikan bangunan ini lebih hidup dan berirama. Pengkomunikasian antara hasil teknologi dan pemilihan bahan mampu berperan dalam meningkatkan elemen – elemen artistic dan estetik yang dominan pada bangunan ini.

Selain unsur –unsur yang lepas dari keteraturan, masih dapat kita amati bagian – bagian yang tak lepas dari ‘peninggalan’ pendahulunya, yaitu arsitektur

modern. Hal ini nampak pada hadirnya unsur – unsur geometris yang terdapat pada sisi podium.

Sehingga dapat kita amati bagaimana arsitek melakukan perjalanan untuk menghasilkan karya, langkah – langkah apa yang menjadi pemikiran arsitek sebelum masuk kedalam dekonstruksi.

DENVER ART MUSEUM

Arsitek : Daniel Libeskind

Lokasi : Denver, Colorado – USA

Bangunan ini didirikan diatas lahan seluas 146.000 square feet dan menjadi bangunan yang memiliki konstruksi paling unik bagi lingkungan sekitarnya.

Hal yang pertama kali nampak pada bangunan ini adalah proyeksi trimatra yang nampak kontras namun menjadikan bangunan ini lebih berirama.

Bentukan yang penuh dengan bidang mencuat yang dikantilever menjadi daya tarik utama dari bangunan ini. Penggunaan metal, kaca, titanium dan batu-batu alam dianggap menambah sifat artistic dari bangunan ini.

Untuk dapat menghasilkan bentukan seperti ini tentunya juga mengandalkan kemampuan teknologi dan pemilihan bahan yang tepat dan memiliki spesifikasi yang tepat dan tentunya berkualitas tinggi.

Bangunan ini lebih cenderung mencerminkan ‘massa’ daripada ‘ruang’ yang ada didalamnya.

Sehingga eksprisi sang arsitek dapat dituangkan secara lugas tanpa ada batasan apapun. VITRA INTERNATIONAL HEADQUARTERS

Arsitek : Frank O. Gehry

Lokasi : Basel, Switzerland

Bangunan ini berlokasi didaerah sub-urban di luar kota Basel yang dipenuhi oleh bangunan industri seperti pabrik serta apartment yang diperuntukkan sebagai pelengkap daerah baru yang sedang berkembang.

Sebagai bangunan yang berlokasi di daerah yang sedang berkembang, maka diperlukan hal – hal yang mampu menjadi daya tarik bagi keperluan komersial bangunan itu sendiri, terlebih bangunan ini juga diperuntukkan sebagai bangunan industri.

Karenanya pada bangunan ini, unsur ‘ruang’ masih diperhatikan dalam penggarapan desainnya, sehingga muncul bentukan yang lebih ‘sederhana’ jika dibandingkan dengan contoh kasus pada Denver Art Museum pada pembahasan sebelumnya. Bangunan ini nampak memperatahankan bentukan geometrisnya .

Meskipun bentukan yang terjadi lebih sederhana, namun tidak mengurangi eksistensi bangunan sebagai bagian dari arsitektur dekonstruksi. Permainan bidang masih menjadi unsur penangkap bagi eksistensi tersebut .

Unsur penangkap lain dapat dihadirkan dari permainan penggunaan bahan pada fasade eksterior bangunan. Nampak penggunaan metal dan permainan

Perbandingan Ciri-ciri antara Arsitektur Moderen dan Post-Moderen Ideologi

Moderen Post-moderen Satu gaya internasional Berupa khayalan ,idealis Fungsional

Arsitek sebagai nabi Elitis untuk setiap manusia Zeitgeit Bersifat menyeluruh, luas Bentuk semiotic Tradisi dan pilihan Arsitek sebagai wakil dan aktifis Elitis dan partisipatif Ornamen, klien Sifat berbeda-beda Gaya dengan dua makna

.

Stylistic

Moderen

Post-moderen Bersifat lurus ke depan Sederhana Bentuk abstrak Mempertahankan kemurnian Estetika mesin, logika, sirkulasi, teknologi, mekanikal Anti ornamen Anti historis Anti humor Anti simbol Ekspresi campuran Kerumitan Ruang yang berubah-ubah dan dengan kejutan Konvensional dan bentuk abstrak Artikulasi semiotic Bermacam-macam estetika yang berubah berdasarkan keadaan, pengungkapan isi Pro organik, pemakaian ornamen Pro metaphor Pro simbol Pro referensi historis

.

Ide desain

Moderen Post-moderen Kota di taman Pemisahan fungsi “Kulit dan tulang” Volume bukan massa Papan, ujung balok Transparan Keadaan kota dan perbaikan Pencampuran fungsi Arti yang langsung dimengerti Ruang tidak simetris dan perluasan Street building Kedwiartian

Cenderung asimetri /simetri

Teori Arsitektur

Tantangan dalam dunia arsitektur dapat dilihat dari praktek dan karya arsitektur itu sendiri. Teori yang berkembang di dunia Arsitektur berasal dari kritikan, penafsiran, dan deskripsi dari hasil pekerjaan yang telah dihasilkan dan berhasil membangun opini masyarakat sehingga timbul pemahaman baru. Dalam perkembangan dunia arsitektur, muncul aliran post modern yang menekankan pada kunci dominansi persoalan tunggal, hal ini berbeda dengan arsitektur modern yang bersifat formalisme, dan gagasan fungsionalisme, kebutuhan “ pemecahan radikal ” dan ungkapan jujur bahan dan struktur.

Sejak pertengahan tahun 1960–an, teori arsitektur benar-benar telah menjadi interdisipliner ; bergantung pada kritis. Proyek perbaikan modernisme ini disajikan sebagai pembuatan teori agenda baru untuk arsitektur, dilihat dari sudut pandang politik, etika, ilmu bahasa, estetika, dan fenomenologi.

Teori dapat digolongkan menjadi beberapa pokok pikiran masalah berdasarkan subjeknya diantaranya : Preskriptif, proskriptif, Afirmatif, atau Kritis. Yang kesemuanya itu berbeda dari sudut pandang deskriptif yang netral.

Teori preskriptif menawarkan penjelasan baru mengenai masalah khusus yang berfungsi untuk menentukan norma baru yang digunakan sebagai pedoman dalam praktek. Jadi ini menaikan standart metode desain. Jenis ini dapat bersifat kritis dalam situasi status quo.

Sedangkan teori proskritif yang menawarkan keadaan standart apa yang dihindarkan dalam desain. Urbanisme dalam sudut pandang proskriptif didefinisikan tidak secara negatif tetapi lebih kepada pemecahan atau pembelajaran untuk mengatasi hal tersebut, contohnya dengan menentukan

zona fungsional. Seperti kode perencanaan kota untuk Seaside, Florida oleh Andreas Duany dan Elizabeth Plater – Zyberk.

Teori kritis menilai perkembangan dunia arsitektur dan hubungannya dengan masyarakat. Jenis tulisan yang berpolemik ini sering memiliki orientasi politik atau etika yang dinyatakan untuk mendorong perubahan. Teori kritis secara ideologi didasarkan pada marxisme atau feminisme. Contoh yang bagus dari teori kritis adalah Critical Regionalisme karya arsitektur kenneth Frampton yang mengusulkan ketahanan terhadap homogenisasi lingkungan visual melalui tradisi bangunan lokal. Teori kritis bersifat spekulatif, mengandung pertanyaan dan terkadang utopia.

Inti dari teori – teori yang ada pokoknya mengenai masalah pelaksanaan dan seni. Berasitektur dinyatakan sebagai cikal bakal seni bangunan yang halus. Hal ini sangat berbeda dengan prinsip ilmu matematika dan ilmu yang lainnya. Dilihat dari subjek dasar, prinsip dalam dunia arsitektur dapat digolongkan menjadi 5 point, diantaranya:

1. Arsitektur yang memiliki tingkatan mutu yang diharuskan oleh seorang arsitek dalam hal kepribadian, pendidikan, dan pengalaman.

2. Apresiasi arsitektur baik berupa seni maupun kesenangan sebagai salah satu kriteria arsitektur.

3. Teori desain atau metode konstruksi. Meliputi: teknik, bagian, jenis, bahan, dan prosedur unsur pokok.

4. contoh contoh senjata arsitektur, pemilihan, dan penyajian yang menyatakan sikap menulis terhadap sejarah.

5. Sikap tentang hubungan antara teori dan praktek. Pandangan yang tentang subyek pokok ini dinyatakan oleh arsitektur Bernard Tschumi. Bagi Tschumi arsitek bukanlah seni dan teori yang mengambarkan. Tulisannya menunjukan bahwa peran teori merupakan penafsiran dan propokasi.

Jika teori harus membawa hasil sesuai dengan yang diperkirakan maka satu satunya teori yang dapat diterima Preskriptif atau Proskriptif. Kedua aspek dalil ini ditantang oleh para pembuat teori postmodern seperti Alberto Perez Gomez yang berpendapat bahwa kekuatan kritis dari proyek yang tidak dibangun untuk arsitektur kertas. Teori juga menyelamatkan hubungan arsitektur dengan alam paradikma pilosofi dan ilmiah sebagian besar telah membentuk pandangan arsitektur tentang daerah aktifitas dimana alam menjadi pemandangan alam melalui upaya desainer.

Pengertian Postmodern

Postmodern adalah istilah yang memiliki arti yang berbeda dalam konteks yang berbeda, dilihat dari tiga sudut yakni: sebagai periode sejarah dengan hubungan khusus ke modern; sebagai golongan paradikma siknifikan untuk pertimbangan persoalan dan obyek budaya; sebagai kelompak tema.

Postmodern dikenal sebagai kapitalisme akhir, kapitalisme multi nasional, masyarakat konsumen pada pertengahan tahun 1960-an tantangan terhadap ideologi gerakan modern dan terhadap arsitektur modern yang menurunkan nilai dipercepat serta berkembang biak sehingga dikenal sebagai kritik postmodern.

Perusakan kompleks perumahan pruitti-Igoe di St Louis misauri pada tahun 1972 secara luas diterima sebagai berakhirnya visi arsitektur modern.

Lembaga teori di New York pada tahun 1967-1985 dan Venice, keduanya menjalankan publikasi yang sangat banyak yang menawarkan program pengajaran, konfrensi, simposium, panel dan pameran hal tersebut juga dilakukan oleh Insitute Arcsitekture and Urban Studies (IAUS) di Manhattan. IAUS menerbitkan surat kabar Skyline dua jurnal, dan serangkaian buku dibawah terbitan opposition. Penekanan berat lembaga tersebut pada teori berkarakteristik post modern.

Publikasi: Majalah, Jurnal Akademi , polemik.

Respon lainnya terhadap arsitektur modern adalah berkembangnya literatur teoritis seperti majalah mandiri baru dan jurnal akademi. Disamping itu Venice institute, italia menghasilkan tiga majalah arsitek lain semuanya di cetak lotus, asabela, dan domus. Dua yang terakhir didirikan mulai tahun 1928 sedangkan lotus didirikan 1963.

Selama sepuluh tahun (1985-1995) para arsitek Denmark dibawah pengaruh Kopenhagen Henning Larsen yang menebitkan nordic magazine of architekture and art artikel wawancara dalam bahasa Denmark dan Inggris dilengkapi dengan Layout berukuran besar menggunakan desain grafis yang kuat dan ilustrasi.

Postscrip merupakan sebuah puncak modernisasi yang membahas mengenai tata kota, tampak (fasade), hal yang menyangkut kebudayaan. Stern mengungkapkan bahwa arsitektur merupakan kombinasi dari respek budaya dan sejarah, dan merupakan sebuah fragmen dari kontektualisasi. Pada tahun 1977 Charles jencks memaparkan akan bahasa ‘Arsitektur Postmodern’. Karena terbesit kata postmodern pada telinga para arsitek, maka sekelompok arsitek mengadakan sebuah konferensi yang membahas seluk beluk dari arsitektur modern. Tokoh dalam arsitektur modern yang dibahas antara lain Peter Eisenman, Michael Groves, Charles Gwathmey, John Hajduk,Richard Merier yang seringkali tenar dengan nama ‘ The New York Five’, tetapi dari bahasan ini timbulah berbagai pendapat bahwa topik arsitektur modern yang diangkat merupakan suatu yang tidak membuat kehidupan semakin membaik, tetapi kehidupan berjalan sebagi mana mestinya.

Perkembangan arsitektur menuju kearah yang lebih baik pada saat diadakannya pameran di New York museum Moma, pada pameran ini banyak karya arsitektur mulai dari sytle klasik, hirarki, poche, proporsi dan pameran transformasi yang dipaparkan oleh Charles Jenks.

Kalimat postmodern dalam dunia arsitektur berarti suatu gaya kontemporer yang mengembalikan kembali aspek sejarah yang pernah hilang pada arsitektur modern.

Paradigma arsitektur postmodern merupakan suatu fenomena, kecantikan, teori bahasa tubuh (semiotik, strukturalisme, poststrukturalisme dan dekonstruksi), marxism, dan feminism.

PARADIGMA 1 : PHENOMENOLOGI

Aspek dari keteraturan akan menghasilkan suatu kebenaran dari teori arsitektur pada metode filosofi yang dikenal dengan nama phenomenologi, yang dapat diartikan sebagai suatu ancaman filosofis yang didasarkan atas kebiasaan postmodern melalui tempat, pandangan, pembuatan yang seringkali terlihat berlebihan dan sulit untuk diartikan. Phenomenologi mengkritik logika dari para ilmuwan yang dapat membawa aspek kemanusiaan.

Salah satu tokoh yang sangat ekstrim mengritik modernisasi ialah Heidengger, ia mengemukakan bahwa orang-orang pada era modern diangap tidak mampu merefleksikan hidupnya sebagai manusia. Nortberg-Schulz mengacu pada lingkungan dan karakter yang dimanifestasikan kedalam sebuah bangunan. Sedangkan Mies mempunyai paradigma bahwa Tuhan merupakan sumber dari detail yang dibuat dalam desain arsitektural, karena setiap tatanan kehidupan dan sumber alam yang dihasilkan berasal dari Tuhan.

Peres Gomes mengemukakan akan konsep dari Heidengger yang memungkinkan orientasi keberadaan, pengenalan budaya, dan hubungan dengan sejarah. Phenomenologi terakhir disampaikan oleh Juhani Pallasmoa yang mengartikan arsitektur merupakan fisik dari ide yang dihasilkan yang meliputi persepsi, mimpi, memori yang terlupakan dan imajinasi.

Didalam uraian Francois Coli yang mengemukakan bahwa arsitektur merupakan suatu pemandangan yang tak nyata, yang nantinya akan diulas lebih lanjut melalui suatu pola pemikiran fisik, mistik, dan legenda.

Menurut pendapat dari kelompok kami mengenai phenomonologi ialah:

Phenomenologi merupakan sebuah konteks yang membicarakan mengenai arsitektur dalam kaitannya dengan segala keteraturan yang ada di alam. Keteraturan tersebut membentuk suatu pemaknaan yang menimbulkan berbagai macam filosofi, sebenarnya bila dikaji lebih mendalam unsur dari metafisika dapat masuk kedalam paradigma ini. Jadi konsep tersebut diatas ‘phenomenologi’ menjadi suatu pegangan dalam proses perancangan. Mengenai ulasan phenomenologi ini yang mendasari asal mula ide tersebut

muncul yang didasari oleh segala macam keseimbangan yang ada. Menurut kelompok kami dapat disimpulkan bahwa paradigma phenomenologi ini :

merupakan keterkaitan dengan tradisi masa lalu, yang dapat diartikan sebagai memorial

Tidak terbatas akan teori saja tetapi dapat menembus disiplin dari keilmuan.

Menunjukan makna bahwa adanya keberadaan manusia yang telah diabaikan oleh modernisasi.

Aplikasi bentukan :

1. Stone house oleh Gunther Domenig

Bangunan ini memiliki suatu unsur yang tidak mempunyai kaitan dengan segala keteraturan yang ditimbulkan dari aspek phenomonologi. Hal ini dapat dilihat dari bentukan yang ada, kurang dirasakan adanya kesinambungan dengan

lingkungan sekitar ‘posisi bangunan terhadap lingkungan’ dan juga tidak terdapat unsur budaya dan sejarah yang melandasi perancangan.

PARADIGMA 2 : AESTHETIC OF SUBLIME

Pada pembahasan ini lebih menampilkan akan artikulasi dari sebuah kategori oestetik yang penting pada periode postmodern. Untuk menuju titik yang radikal sejarah dari modernisasi, haruslah merombak teori aestetik secara utuh. Dalam teori aestetik tabula rasa dibahas mengenai polemic modernist beirisikan akan aplikasi antara ilmu dan desain yang saling terkait. Dalam arsitektur fragmentasi merupakan suatu hal yang sangat penting dari sejarah modern karena mengandung suatu penolakan dari bentukan desain yang umumnya ada.

Dalam bukunya Robert Am Stern mengemukakan bahwa tubuh dari aliran clasic tidak mengarah pada politik dan moral, tetapi lebih mengarah pada bahasa. Dan bahasa clasic yang dipakai bukan merupakan sesuatu hal yang pasti tetapi haruslah dapat memberikan suatu kemurnian bentuk. Sedangkan menurut Aldo Rosi yang mengemukakan pendapatnya bahwa bangunan clasic memiliki sesuatu yang praktis.

Menurut Pandangan kami terhadap sublisme ialah :

Sublime dalam hal ini berbicara mengenai arsitektur gaya-gaya klasik yang dipadukan dengan unsur modern. Pada sublime ini terlihat akan perpaduan antara unsur klasik dengan modern dapat melalui ornamennya, dan yang terpenting ialah tidak meninggalkan tradisi sejarah secara utuh tetapi mengadopsikan hal tersebut pada bangunan, sublime juga berbicara mengenai keindahan / kecantikan dari bangunan.

Aplikasi bentukan :

1. Single Family Residence

Catalonia, Spanyol, 1983 - 1987

Architect : Oscar Tusquets

Perumahan gaya Mediterania ini dibangun pada tahun 1983 oleh Oscar Tusquets dan lous Clotet, dimana mereka telah bekerja sama sejak 1964. Gerakan ini, meskipun mendapatkan keuntungan dari ahli mordenisasi, tidak memiliki hasrat untuk menghabiskan simbol – simbol sejarah untuk membangkitkan image dalam kebudayaan bersama. Gaya baru Clotet memanggil kembali gaya baru klasik dengan struktur dan proporsinya meskipun dimasukan gaya klasik, Tusquets disisi lainnya dia juga memiliki kebebasan pediman baluster dan molding , disain interiornya dengan detail yang cermat dan tidak takut dengan konstruksi skala besar.

Pada bangunan ini usur alam menjadi pendukung utama keindahahan bangunan, pemilihan warna, tekstur dinding, dan dekorasi jendela berusaha disesuaikan dengan unsur alam disekitarnya.

Penggunaan dan penempatan simbol–simbol arsitektur seperti ornamen– ornamen, dekorasi ruang, dan penambahan efek lengkung pada sisi–sisi tertentu dari bangunan semakin mempertegas kesan klasik dalam desain ini. Pada pembahasan sublime unsur simbilis dari banguanan ini masih terdapat suatu tradisi sejarah dengan perpaduan gaya modern. Pada tampak depan banguan ini terlihat adanya ornamentasi dari gaya klasik dalam permainannya dengan ornamentasi, warna, dan bentukan geometris yang mendukung merupakan suatu unsur sulime yang nampak.

PARADIGMA 3 : LINGUISTIC THEORI

Pada teori ini dibahas akan adanya budaya yang semakin krisis pada era modernisasi, yang dapat mempolakan suatu pemikiran, pada pergerakan postmodern mulai diperhatikan akan masalah budaya sampai pada rekonstrukturisasi pemaknaan bahasa arsitektural.

Dalam teorinya Mies Van de Rohe menjelaskan akan suatu kesatuan yang utuh antara arsitektur dan teknologi yang ada, tetapi lama kelamaan salah satu akan mendominasi yang lainnya. Dari hal ini budaya arsitektur dapat terkikis oleh perkembangan teknologi yang ada.

Strukturalisme ;

Struktural lebih menfokuskan pada kode, konvensi, dan proses pertanggung jawaban dari pekerjaan dimana menciptakan arti sosial. Struktur merupakan sebuah proses yang liguistik, psycoanalitic, metaphisical, logical, sosiological. Dalam desain struktur merupakan sesuatu kejelasan yang dapat mempertegas arti dari desain yang akan diwujudkan.

Post strukturalism ;

Dalam hal ini untuk membedakan strukturalism dan poststrukturalism sangatlah sulit, karena keduanya hampir sama, Dan untuk memisahkannya dilihat dari aspek bahasa arsitektural yang ditimbulkan dalam desain yang ada, poststrukturalisme lebih mengarah pada pemaknaan dari karya desain arsitekturalnya.

Menurut kelompok kami terhadap konteks teori bahasa :

Bahasa dalam arsitektur mempunyai suatu keterkaitan dengan penanda dan pertanda, hal inilah yang kemudian disampaikan oleh perancang untuk memberikan suatu makna terhadap bangunan. Dalam konteks derrida dibahas bahwa tidak ada suatu konteks yang jelas untuk memisahkan antara petanda dengan penanda. Dalam bahasa arsitektural suatu tanda akan membawa kita ketanda seterusnya tanpa suatu batasan yang jelas. Perlu diketahui dalam hal ini tanda sangat tidak indentik dengan makna, kalau makna dapat berubah menurut ruang lingkup dari tanda yang mengikutinya. Pada dasarnya bahasa arsitektural tidak stabil seperti yang telah dijelaskan oleh kaum strukturalisme, jadi elemen bahasa tidak bisa didefinisikan dengan jelas bila tanpa menelusuri tanda yang saling terkait. Poststrukturalisme adalah suatu reaksi yang ditimbulkan oleh strukturalime, poststrukturalisme memiliki kaitan erat dengan konstruksi massa, bidang, material yang membentuk suatu elemen struktural

yang tidak terikat dengan standart teori yang ada, tetapi merupakan suatu pengembangan dari teori tersebut.

Contoh dari teori bahasa ialah:

1. Parochial Complex

Vienna, Austria, 1981

Architect : Werner Appelt.

Bangunan ini merupakan bangunan ketiga dari Katholik centre yang ada di Vienna. Pada bangunan ini kita dapat melihat bangunan ini memang dengan sengaja didesain dari awal dengan konsep klasik dimana tujuan arsitek yang berusaha menciptakan kesan formal dan religius. Dimana hal tersebut dapat dicapai dengan pengolahan ruang dan tampilan bangunan yang bergaya klasik dan kuno. Dari tampilan depan bangunan yang menggunakan efek dan pengolahan lengkung dalam desain tampilan depan bangunan memperjelas unsur postmodern dalam bangunan ditambah pengolahan masa yang tampak kokoh dengan beton–beton tebal, dimana bukaan hanya mengandalkan jendela

yang penempatannya disusun sedemikian rupa sehingga memberikan penerangan yang baik dan cukup terhadap ruangan. Pada bagian interior dari bangunan kita dapat melihat kesan ruang yang tinggi dan besar yang berusaha mencapai kesan monumental yang memang sangat cocok ditimbulkan oleh bangunan – bangunan yang digunakan untuk acara – acara religius. Dari berbagai segi bangunan ini mempunyai suatu pertanda tersendiri, muali dari tampak luar yang terkesan formil dan religius yang dapat dirasakan dan dibaca dengan pola pemikiran kita. Lalu setelah kita memasuki ruangan akan terkesan berbeda dengan pola pafon yang lengkung dan tinggi akan memberikan suatu kesan akan kebesaran yang kuasa. Bila dibahas lebih dalam lagi konteks bahasa arsitektur akan semakin banyak dan tidak mempunyai batasan yang begitu jelas.

2. Spirit and soul unfold in a Spanish chapel

Kemungkinan besar perancang ingin menghadirkan suatu kestabilan yang dinamis melalui bentuk yang dihadirkan. Maksud dari kestabilan yang dinamis disini ialah perancang ingin menggugah psikologis dari manusianya. Pada bangunan kapel dibuat miring pada sisi-sisinya, dimaksudkan agar pemakai terguncang dan sadar akan dirinya yang tidak berdaya, dan mengakui akan kebesaran penciptanya. Jadi bahasa dalam arsitektur tidak selalu didasarkan akan ornamentasi pada bangunan, tetapi juga dari bentukan yang ditimbulkan

yang dapat merangsang pola pemikiran kata dalam merasakan suatu esensi dari ruang yang ditimbulkan.

Dekonstruksi

Dekonstruksi menganalisis poin dan konsep yang sebenarnya dapat dimengerti diri kita sendiri secara alami,dengan tujuan memasukkan unsur filosofi dalam menghadirkan bentukan baru yang bertolak belakang satu sama lain.

Dekonstruksi merupakan bentuk kritik postmodern terhadap arsitektur modern yang ingin mengakhiri dominasi arsitektur modern,ingin melepaskan diri dari form follow function

Artinya disini bahwa Dekonstruksi adalah merupakan suatu gerakan yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan pada arsitektur modern, melepaskan diri dari kungkungan doktrin form follow function, menitikberatkan bentukan daripada fungsi, mengubah slogan menjadi function follow form atau ada juga yang menggantinya dengan form follow fun, bentukan bisa semaunya berdasarkan konsep sang arsitek,fungsi ruang mengikuti belakangan tanpa mengurangi nilai fungsi dan estetis. Dalam mencapai bentukan yang diiginkan terkadang menghadirkan dua hal yang saling bersebrangan dan berlawanan, antara ada dan tidak ada, ide kebanyakan berangkat dari elemen –elemen ruang yang telah dipisah –pisah dan diuraikan menjadi bagian – bagian yang kemudian dikomposisi ulang

Teori Dekonstruksi

Menurut Nietzche dan Derrida, Dekonstruksi adalah terdiri dari komponen de dan dis yang bila diartikan

“Dekonstruksi itu tidak tersentral, tidak terkomposisi dan memisah struktur ke dalam bagian menolak kepalsuan, mencemooh, mengutuk, mencela semua nilai dan tujuan yang dicapai oleh pemikiran tunggal dan menunjukkan sejauh mana keterkaitannya. Merendahkan sistem unity, menon-manusiawikan kemanusiaan, menon-sakralkan agama, menurunkan monarkhi, menon-sentralkan kota, menghancurkan dan menurunkan kualitas atau hanya dengan memindahkan saja.

Akhirnya untuk mereka yang menginginkan keharmonisan sosial dan setidaknya gedung berdiri saja harus ada pengrusakan, pembongkaran dan penghancuran.

Asas Dekonstruksi harus humor, ironis, skeptical, penuh dengan peran atau tidak tersikap, kesalahpahaman terhadap agendanya sendiri dan pengkhianatan terhadap ketidakjujuran”.

Teori oleh derrida dan Nietzche sangat cocok dan tepat sekali dalam menjelaskan definisi dari dekonstruksi untuk lebih jelasnya akan diambilkan sebuah contoh bangunan di Budapest milik Laslo Rajk

Aplikasi Bentukan

Bangunan ini memakai teknik montage yang mengambil elemen arsitektural dari bangunan dilingkungan sekitarnya, struktur dasarnya dengan merakit semua elemen – elemen façade tersebut.Tampaknya yang kelihatan kacau hasil karakteristik individual terlihat statis, dekoratif namun tetap dinamis. Detail façade berubah secara konstan ketika ditemukan elemen - elemen baru oleh para penyewa stan didalamnya

Leher ter ini merupakan salah satu contoh obyek yang hampir mendekati dengan asas dekonstruksi, cocok dengan dan swesuai baik dengan sub paradigma dekonstruksi maupun klop dengan teori milik Derrida dan Nietzsche

PARADIGMA 4 : MARXISME

Aliran kelompok Marxisme lebih menitikberatkan perubahan besar-besaran dalam bidang arsitektur yang dapat memenuhi kebutuhan sosial, perubahan berupa bentuk kerjasama grup berkala seperti revolusi mahasiswa yang diharapkan membawa perubahan besar. Institusi memegang peranan penting dalam melakukan kontrol dan fungsi sosial.

Teori Marxism

Menurut Marshall Berman, dalam bukunya “All that is solid melts into air”

Subtitle Experience of Modernity

“Revolusi dari produksi yang konstan, gangguan yang tidak terinterupsi dari semua hubungan sosial ketidakpastian abadi dan yang mendorong, membedakan jaman borjuis dengan jaman sebelumnya. Semua kepastian, hubungan kaku yang cepat, dengan kereta penuh ide-ide dan pendapat mulia, semua bentukan baru menjadi kuno sebelum mereka menjadi hancur. Semua terkikis, semua melebur di udara. Semua hal yang suci menjadi tidak senonoh dan manusia ditantang menghadapi kondisi sebenarnya dengan akalnya”.

Teori berhubungan dengan paradigma Marxisme, karena adanya hal yang menceritakan tentang revolusi besar-besaran secara konstan yang menghendaki terjadinya bentukan baru dalam lingkungan sosial, manusia seperti ditantang untuk bepikir dalam menghadapi realita

Aplikasi Bentukan

Samitaur Building oleh Eric Owen Moss merupakan salah satu contoh yang diambil untuk membuktikan teori dari Marshall Berman. Beberapa poin penting dari Marxism secara garis besar yaitu adanya perubahan besar di bidang sosial yang berhubungan dengan gaya arsitektur borjuis, kemudian hasil karya merupakan bentuk kerjasama kelompok, menyatukan philosophy sejarah psychology dan politik ke dalam suatu aliran.

Pada Samitaur Building ini terlihat adanya beberapa faktor di atas yaitu hasil karya ini merupakan bentuk kerjasama kelompok terdiri dari grup arsitek, lebih dari satu arsitek (Smith dan Moss) menggabungkan dua pola pikir yang membawa ke perubahan besar.

Gaya bangunannya yang masif seolah mengambil bentukan arsitektur klasik yang kemudian dimodifikasi, cenderung dominan di lingkungannya dan mempengaruhi bentukan bangunan tetangga. Hal ini dianggap merupakan perubahan di bidang sosial yang berhubungan dengan gaya borjuis.

Yang paling penting adanya penyatuan philosophy, sejarah, pstychology dan politik ke dalam suatu aliran.

Philosophy menggunakan apa yang disebutnya sebagai Gnostic architecture yaitu rumit, individual dan open ended.

Sejarah terlihat dari bentuknya yang masif diberi lubang kecil di sana-sini dan permainan bayangan yang diciptakan dari bentukannya, tanpa permainan material.

Politik yang diterapkan adalah memaksimalkan pemanfaatan site yang kecil, sehingga bangunan diangkat dan menghubungkan 3 buah gudang, secara tidak langsung menyatukan geografi dan membentuk topografi yang unik.

Bila dikaitkan dengan teori Berman yang menyatakan semua hal suci menjadi tidak senonoh dan melebur menjadi satu di udara, membuat manusia ditantang untuk mencari akal menghadapi realita. Kiranya Samitaur Building bisa dikategorikan dalam ke paradigma Marxism dan sesuai atau cocok dengan teori Berman yang diambil dari Communist Manifesto, Karl Marx.

PARADIGMA 5 : FEMINISME

Sistem arsitektur didefinisikan dari apa yang ikut serta dan yang tidak diikutsertakan, menekankan pada psychoanalisis yang memiliki arti ruang sebagai penekanan pada interior didefinisikan oleh wanita dan tubuhnya serta sistem yang terkandung dalam penekanan tersebut.

Aliran feminisme lahir karena didasari rasa ingin mendapatkan persamaan kedudukan dengan kaum pria dalam aspek social politik, hukum, pendidikan dimana wanita diharapkan lebih berperan dalam arsitektur (include) daripada hanya dieksploitasi keindahan tubuhnya, dijadikan patokan dalam represi makna rung interior (exclude).

Dalam arsitektur postmodern kebanyakan pria lebih memegang peranan penting dalam perubahan dunia arsitektur, melihat hal ini para arsitek – arsitek wanita menuntut persamaan kedudukan melalaui gerakan feminisme. Mereka menyadari bahwa selama ini tubuh dan kemolekan mereka dijadikan objek dalam arsitektur (diikutsertakan ) terutama dalam penataan interior ruang tanpa adanya kesempatan ikut serta sendiri dalam berarsitektur.Selain itu juga memperjuangkan persamaan kedudukan dalam hal upah kerja,persamaan hukum dan pendidikan

Teori Feminisme

Menurut Dolores Hayden dalam “What Would a Non Sexist City Be Like ?”

“Saya mempercayai titik serang feminist yang menunjukkan adanya pembagian ruang publik dengan ruang privat”

Para feminist menuntut adanya pembagian ruang dalam arsitektur yang memperhatikan kebutuhan ruang seorang wanita, seperti adanya dapur khusus

dan taman pribadi. Mereka menginginkan pembagian ruang yang jelas antara ruang privat dan publik dengan tambahan ruang yang lebih baik. Kaitannya dengan paradigma, adalah dari teori ini kita dapat melihat adanya jalan pemikiran yang sama antara Hayden dengan feminist yang lain yang menolak adanya pengeksploitasian tubuh wanita sebagai acuan estetis interior , sehingga mereka menuntut lebih ke pembagian ruang yang jelas

Aplikasi Bentukan

Salah satu contoh arsitek wanita yang sejalan dengan pemikiran ini mungkin adalah Zaha Hadid dengan bangunannya Science Centre Wolfsburg di Jerman. Bangunan ini merupakan galery dimana bentukan bangunan geometri penuh sudut saling berpotongan dan kadang hanya berupa bidang yang membentuk rongga . Dibuat berdasar sistem visual axis,berkesan masif tapi ringan dengan konsep ruang yang menciptakan hubungan organis antara public square dengan gallery dan foyer

Dilihat dari konsep ruang terlihat adanya pembagian ,namun kurang begitu jelas mana yang publik dan yang privat .Bila dikaitkan antara teori

Dolores dengan bangunan Zaha terlihat adanya hubungan walaupun tidak langsung,tapi ada kecocokan antara keduanya sama-sama membatasi area publik dan privat dengan caranya sendiri. Dikaitkan dengan paradigma feminism yaitu adanya penataan interior yang yang terdiri dari bidang yang menampilkan kesederhanaan sekaligus kerumitan yang tingi tanpa pemakaian tubuh wanita sebagai acuan estetis interior

Contoh ini dapat masuk dalam teori Hayden walaupun lemah , dan cocok dengan paradigma feminism

Tema arsitektural postmodern

Pada postmodern teori titik beratnya ada pada pelestarian aset – aset perkotaan yang menjadi artifak budaya , dimana seni memainkan peranan penting dalam teori arsitektur postmodern daripada teknologi

.Segi positif dari arsitektur modern adalah didasarkan pada prinsip kenikmatan salah satu contohnya adalah kualitas ruang yang terbentuk mesti nyaman,standard dan sebagainya

Salah satu hal yang menantang dalam arsitektur postmodern adalah adanya pengulangan secara original, meminjam hasil karya orang lain untuk ditampilkan kembali pada kebanyakan karya arsitektur modern seperti menghasilkan karya maskulin untuk artis yang feminim,salah satu cara menarik perhatian penikmat seni

Kebanyakan hasil arsitektur modern sudah terstandard ,harus umum ,kalau tidak berarti salah.Padahal arsitektur adalah campuran seni , sejarah dan teknologi yang sifatnya subyektif.Karena selalu dicekoki yang umum ,maka ketika mengenal aliran baru yang sama sekali lain kemudian merasa aneh kemudian dikatakan tidak serius,tidak terstruktur dsb

TEMA 1 : SEJARAH DAN KESEJARAHAN

Postmodern memposisikan dirinya sebagai arsitektur yang merekomendasikan nilai sejarah, lain halnya dengan arsitektur modern yang menolak sejarah.

Alan Colquhoun menyatakan dalam buku “Three Kinds of Historiscism” pada arsitektur garda depan,dimana terbentuk bentukan baru yang berkelanjutan dibawah gerak sosial, perkembangan teknologi dan representasi simbol .

Modernitas disini ingin memutuskan tali ikatan masa lalu, dengan penemuan baru yang berkesinambungan dan tidak terikat sejarah. Kesejarahan memiliki arti yang masih berkaitan dengan postmodern dan berhubungan dengan kemauan untuk perhatian terhadap tradisi masa lalu , merupakan praktek artistik menggunakan bentukan- bentukan sejarah masa lalu para postmodernist menggunakan elemen –elemen masa lampau untuk ditempelkan merekonstruksi elemen otentik untuk ditempelkan pada bangunan mereka, mereka merasa bahwa setiap elemen memiliki arti sendiri- sendiri yang sangat superior

Salah satu kejadian penting dalam sejarah arsitektur saat ini ,adalah pengelompokkan hasil karya arsitek- arsitek kedalam aliran modern, padahal arsitektur modern tidak singular tetapi terdapat kecenderungan terdapatnya perbedaan

Teori Sejarah dan Kesejarahan

Robert Venturi berpendapat sehubungan dengan adanya keburukan dan kebiasaan sebagai simbol dan gaya arsitektur (style)

“Secara artistik, kegunaan dari elemen konvensional dalam arsitektur lazimnya merupakan bentukan familiar dari sistem konstruksi yang ada ,membangkitkan pikiran dari masa lalu.Beberapa elemen mungkin dipilih secara hati-hati ataupun diadaptasi dari perbendaharaan yang sudah ada dan terstandarisasi daripada secara unik diciptakan melalui data original dan intuisi artistic”

Kaitan antara teori ini dengan ragam tema sejarah jelas sekali terliht saling mempengaruhi, dimana tema sejarah dalam arsitektur modern memperhatikan unsur sejarah masa lalu, pengaplikasiannya pada pengadopsian elemen-elemen original masa lalu yang dikombinasi hal ini mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Venturi yang menyoroti penggunaan elemen yang diadopsi secara standard.Penggunaan elemen masa lalu tidak hanya terbatas pada aliran Greko-Roman saja seperti kolom ionic,doric,pedimen gaya Yunani dsb tapi perlu juga mengingat kesejarahan dibalik pengadopsian elemen tersebut, ada nilai tersendiri yang berkaitan dengan sejarah. Kalau diperhatikan secara seksama antara tema sejarah dengan tema makna ada batas tipis yang membedakan, dimana bisa saja London Bridge Tower dimasukkan kedalam tema makna dan tema sejarah

Aplikasi Bentukan

Sebagai contoh adalah karya Renzo Piano, London Bridge Tower

Bagian puncak menara dari tower seperti tiang kapal yang tinggi , mengikuti konsep dimana arsitektur harus menggunakan memory menjadi bagian dari bangunan. Itu sebabnya Renzo mengadopsi bentukan kapal Layar Thames yang legendaris(yang mengarungi lautan dekat London Bridge). Untuk puncak menara dari tower juga mengambil bentukan puncak menara sebuah gereja. Disini terlihat adanya kecocokan antara objek dan tema, seperti yang dinyatakan oleh Culquhuon dalam “Three Kinds of Historicism” yaitu terbentuknya bentukan baru yang yang berkelanjutan dibawah gerak sosial , perkembangan teknologi dan representasi simbol.

Obyek postmodern memperhatikan tradisi masa lalu. Hal ini seperti yang dihadirkan oleh Renzo mengadopsi bentukan kapal layar Thames yang memiliki nilai kesejarahan tersendiri ,begitu pula dengan puncak gereja. Bila hal ini ditilik dari pengadopsian bentukan terasa klop dengan teori milik Robert Venturi yang menekankan adanya pencomotan elemen original. Bangunan Renzo ini kiranya kemungkinan dapat mempresentasikan teori milik Venturi dan dapat dikategorikan kedalm kelompok tema sejarah dan kesejarahan

Sikap postmodern dalam hubungannya dengan pembaruan

Salah satu hal yang paling membuat bingung adalah istilah yang sering kali dipakai untuk mendeskripsikan kondisi modern .Beberapa usaha yang dilakukan berkaitan dengan pendeskripsian kondisi modern menghindari perbedaan persepsi dibedakan menjadi anti modern dan promodern

Teori yang melandasi anti modern

Mencari perubahan radikal dengan melakukan pembaruan , menawarkan alternatif baik orientasi kedepan ataupun mundur kebelakang (kebangkitan tradisional).Posisi postmodern melindungi sejarah dan dalam arsitekturnya nilai-nilai estetis klasik seperti tiruan dan ornamen kembali diperjuangkan.

Teori anti modern ini lebih condong memunculkan aliran baru yang memusuhi modern ingin memunculkan kembali ornamen masa lampau yang dihindari oleh modern

Teori yang melandasi Promodern

Merupakan kebalikan dari postmodern yang ingin lebih meluaskan modern dan melengkapi budaya tradisi modern dan kemudian mentransformasikannya

Modernisme sebagai program kritik diri yang menjanjikan memelihara kualitas tinggi dari seni masa lalu pada masa sekarang ini dan juga untuk memastikan kelanjutan dari estetis sebagai suatu nilai.

Terjadinya kekecewaan terhadap modern yang diakibatkan beberapa hal yaitu kurang efektif dalam memecahkan permasalahan sosial ,kurang identifikasi sosial, kurangnya ketaatan dan kurangnya kecintaan terhadap diri sendiri

TEMA 2 : MAKNA

Tujuan dari arsitektur adalah menghasilkan wacana tektonis yang menandai sebagai tempat bernaung sekaligus pada saat yang sama mewakili suatu makna atau sebuah cerita

Sebuah lukisan modern berhenti menghadirkan image yang dapat dikenali dalam kehidupan. Jadi mengapa arsitektur harus dibatasi untuk menghadirkan suatu yang eksternal dari diri arsitektur sendiri? Pemikiran ini menggaris bawahi posisi otonomi yang memandang fungsi sebagai eksternal dalam arsitektur.Postmodern menempatkan nilai lebih tinggi pada bentukan daripada fungsi dengan sengaja dan menolak dictum form follow function

Teori dari makna

“ Saya memandang makna sebagai suatu ide yang fundamental dalam arsitektur dan ide dari segala bentuk di lingkungan atau tanda dalam bahasa , yang membantu menjelaskan mengapa bentuk bisa mendadak menyeruak hidup dan terkadang terkesan hancur berkeping. Selama ada dalam masyarakat maka setiap kegunaan akan diubah dengan sendirinya menjadi sebuah tanda contoh sederhana seperti sebuah jas hujan yang melindungi kita dari hujan, tidak dapat dilepaskan dari tanda yang mengindikasikan situasi di atmosfer, jas hujan identik dengan tanda akan turun hujan.jas hujan akan dipisahkan dari maknanya jika guna sosialnya menurun atau masyarakat secara expisit menyangkal maknanya lebih lanjut”

Teori ini dikemukakan oleh Charles Jencks yang merupakan penjelasan mengenai pentingnya makna dari sebuah bangunan akan dapat memberikan jiwa, menghidupkan existensi dari bangunan itu sendiri.Teori ini berkaitan

dengan tema makna yang memandang tujuan dari arsitektur bukan hanya menciptakan tempat hunian untuk bernaung namun jug sebuah karya yang sarat makna bahkan didasari konsep yang mampu menceritakan asal-usul terjadinya bentukan

Aplikasi Bentukan :

Seperti yang dihadirkan oleh Kisho Kurokawa dalam Pasific Tower, tersirat dari bentukan mampu bercerita banyak, mulai dari bentuk tower yang menyerupai separuh bulan ,terinspirasi dari Chu Mon yaitu gerbang simbolik dari pintu masuk ruang minum teh di Jepang ini menunjukan adanya distorsi geometri oleh non-geometri(bentukbalok yang kemudian dipotong cembung)

Penggunaan dua material yang melambangkan dua budaya yaitu budaya Eropa yang diwakili oleh beton agregate putih berupa curving wall, sedangkan pada bagian plaza terdapat curtain wall dari kaca flat yang menciptakan efek transparan,mengingatkan kita pada bahan penutup pintu di Jepang. Gedung ini memang mengekspresikan simbiosis antara Timur dan Barat.

Dari konsepnya dapat terlihat Kisho memulai desainnya berawal dari konsep bentukan, lebih mengutamakan bentuk daripada fungsi menggabungkan unsur

barat dan timur dengan penggunaan dua material termasuk ke dalam kategori memodifikasi struktur. Beliau juga mencoba menghadirkan bentukan gabungan yang memiliki makna tersendiri yang tersirat, memberikan jiwa pada bangunan seperti yang diungkapkan oleh Jencks. Berdasaran uraian diatas bangunan ini cocok dengan teori Jencks karena memiliki “nyawa” sendiri yang mampu bercerita dan dapat dikategorikan kedalam bangunan yang memiliki tema makna karena berangkat dari bentukan

Contoh kedua dari tema makna yaitu Rumah sakit anak-anak penderita “Neuromuscular disorder”(epilepsi) yang dibuat dengan ide dasar “Bahtera Nuh” (Noah’s Ark) yang menceritakan bagaimana Nuh membawa dan merawat bermacam-macam binatang dalam bahteranya melalui badai dan banjir besar. Dan interpretasi pada kenyataannya yaitu sebagai tempat penampungan dan perawatan anak-anak dari berbagai usia, latar belakang, dan jenis penyakit yang cukup beragam.

Representasi dan Kesejarahan Postmodern

Postmodern mereperesentasikan makna dari suatu tema. Para seniman postmodern memperkenalkan kembali sisi manusia pada karya-karya mereka yang mengakhiri era abstraksi yang dimulai dari Cubisme, construktivisme dan suprematisme. Intinya manusia lebih diutamakan dalam karya-karya postmodern yaitu dari segi jiwa (lifestyle) melebihi fungsi bangunan secara umum. Penilaian akan karya arsitektur akan berbeda-beda dari setiap pribadi manusia namun nilai lebihnya yaitu manusia akan merasa lebih dihargai secara emosi dan keinginan untuk mengekspresikan dirinya semaksimal mungkin. Karakteristik lain dalam karya postmodern yaitu merepresentasikan masa lalu untuk keperluan masa kini yang juga disesuaikan dengan kultur setempat. Pada dasarnya segala pembenaran dalam aliran postmodern berdasar pada ekologi, urbanisme dan kultur.

Sebagai contoh bangunan “Portland Building” oleh Michael Graves. Graves memang berminat pada arsitektur figuratif yang artinya arsitektur yang berasosiasi dengan alam dan tradisi klasik. Dengan memanfaatkan fragmenfragmen berkesan sejarah, maka akan muncul makna tradisional dan gambaran yang khas pada bangunan. Patung dan elemen-elemen masif lain memberikan kesan bangunan kembali ke masa kejayaan Yunani dan Romawi walaupun sebenarnya sudah berbeda sekali namun elemen-elemen ini masih memberikan gambaran yang kuat sifat tradisionalnya.

Portland Building

TEMA 3 : TEMPAT

Fungsionalisme pada kenyataannya mematikan sisi manusia dari suatu karya arsitektur, menjadikannya suatu lingkungan skematis dan tidak berkarakter yang sangat miskin kemungkinan untuk penempatan sisi manusiawi.

Manusia, Arsitektur dan Alam

Hubungan antara manusia dan alam merupakan suatu fenomena permasalahan yang sudah lama dicari penyelesaian terbaiknya. Alam (nature) dalam hubungannya dengan kultur telah menjadi patokan tema yang stabil dari masa ke masa. Secara umum pergumulan manusia terhadap keadaan alam yang berbeda-beda karakternya pada setiap tempat yang berbeda menjadikan ide dasar dari suatu tema. Arsitektur dalam hubungannya dengan alam harus dapat menjadi tempat bernaung yang aman bagi manusia dari faktor-faktor alam yang terjadi di suatu tempat. Dari sini munculah teknologi yang dibuat manusia untuk beradaptasi salah satunya dalam berarsitektur.

Arsitektur modern lebih mengutamakan analogi mesin daripada analogi secara organik. Dengan kata lain arsitektur modern mengesampingkan perasaan manusia secara organik dan mengutamakan apa yang dapat dibuat dengan mesin sehingga menjadi standar dan sederhana. Sebagian besar karya-karya arsitektur modern “gagal” untuk menyatu dengan alam dan lingkungan. Contoh sederhana dari satu karya arsitektur yang mengutamakan analogi secara organik untuk dapat menyatu dengan lingkungan yaitu bangunan “Timber Workshop” di bawah ini. Untuk sebuah bangunan gudang tempat penyimpanan dan pemotongan kayu yang berlokasi di tengah hutan sebenarnya dapat saja dibuat sederhana dengan dasar pemikiran pemanfaatan ruang yang maksimal dan fungsional. Namun gambaran yang terjadi dengan lingkungan akan saling bertolak belakang. Karena itu bangunan sedapat mungkin dibuat menjadi seperti suatu unsur organik yang terkesan tidak masif dan dapat bergerak. Struktur atap dan dinding yang menyatu dan dengan lengkungan-lengkungan di seluruh bagian membuat bangunan ini tampak seperti suatu organisme hidup.

Tempat dan Genius Loci

Menurut Albert Einstein, tempat tidak lain hanyalah bagian dari permukaan bumi yang dapat dideskripsikan dengan sebuah nama dan terdiri dari satu atau lebih material yang tersusun di dalamnya. Sejarahwan arsitektur Peter Collins mengembangkan pernyataan tersebut dengan mengatakan bahwa itulah arti ruang (space) yang tepat dalam arsitektur yang mungkin juga berarti “place” (plaza, piazza) adalah karya seni terbesar yang mampu digarap oleh arsitek.

Teori penempatan bermula dari fenomena geografis dari suatu daerah / tempat tertentu dengan karakter dan jiwa yang unik dari tempat tersebut. Merupakan kewajiban arsitek untuk menempatkan karyanya dengan baik pada kondisi tertentu dari suatu tempat dimana karyannya akan dibangun. Struktur yang terjadi dari teori penempatan yang baik juga merupakan realisasi dari pikiran yang mengacu pada keadaan setempat yang kemudian dimodifikasi sehingga menjadi serasi dan sesuai untuk kebutuhan manusia di tempat tersebut. Halangan dan hambatan / tantangan adalah elemen yang mendasar dari tempat. Kedua hal ini akan mengarahkan segala pikiran ke suatu ide menjadi bermakna, berangkat dari pemikiran untuk mengakali penempatan, dengan kata lain mencari Genius Loci dari tempat tersebut.

Konfrontasi dan Penempatan

Dalam membangun sebuah karya arsitektur perlu dipertimbangkan kondisi topografi dari suatu tempat. Hal ini juga menjadi masalah serius yang dapat menimbulkan konfrontasi serta mempengaruhi tema dan bentukan yang terjadi. Menurut Heidegger dalam hal ini dikenal istilah “nature and nurture” arsitektur yang baik juga merawat lingkungan tempat dimana ia didirikan. Menurut Tadao Ando begitu pula di lingkungan perkotaan dengan kepadatan dan kultur tertentu, sebuah karya arsitektur harus dapat mewakili dan merepresentasikannya dengan baik.Sedapat mungkin menghindari konfrontasi akibat salah penempatan. Namun dengan adanya konfrontasi dapat dilakukan perbaikan dan penyesuaian yang terbaik.

Tempat dan Regionalisasi

Menurut Frampton regionalisme kritis mencari kemungkinan dari penempatan dalam makna yang lebih besar dari sebuah karya arsitektur. Diperlukan adanya pengenalan akan regional, bangunan lokal dan sensitivitasnya terhadap cahaya, angin dan kondisi temperatur yang semuanya mengatur respon dari arsitektur yang memberi respon positif pada site. Dengan demikian disain yang terjadi akan menjadi sangat estetis dan ekologis dan juga menolak kapitalisme dari gerakan modernisme.

TEMA 4 : TEORI PERKOTAAN

Seringkali arsitek fokus pada bangunan sebagai suatu objek tunggal dan bukan objek yang berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut teori perkotaan, setiap bangunan dengan fungsi tertentu telah diatur sedemikian rupa untuk berdiri sesuai dengan konteksnya.

Kontekstualisme

Karena itulah ada muncul teori kontekstual yang mengatur tatanan perkotaan secara umum. Ide-ide mengenai tatanan perkotaan sudah muncul sejak awal peradaban manusia. Contoh paling dapat dilihat yaitu kota-kota Romawi yang membagi-bagi secara umum menjadi kompleks-kompleks bangunan seperti bangunan pemerintahan, bangunan spiritual, bangunan tempat hiburan dan pertemuan rakyat dan pemerintah (kaisar), daerah pemukiman rakyat, tempat pembuangan sampah dan lain-lain. Semuanya diatur dalam suatu konteks tertentu yang mengacu pada suatu tatanan perkotaan yang dapat menjadi tema dari arsitektur.

Teori Pembacaan dan Pengartian

Sebuah kota berisi elemen-elemen yang kuat dan yang lemah dimana satu sama lain saling mempengaruhi dan membentuk suatu arti dan makna tertentu. Makna ini dapat berubah menjadi suatu sistem yang kemudian dapat dibaca dan dibedakan antara yang menandai dan yang ditandai dari suatu daerah. Adanya yang dominan dan sub dominan menjadikan suatu kota memiliki makna yang berbeda dipandang dari sudut pandang yang berbeda pula.

Gambaran dari Kota

Gambaran suatu kota dapat terproyeksi dari sejarah kota tersebut. Misalnya dengan adanya bangunan-bangunan bersejarah yang kemudian adanya bangunan-bangunan baru disekitarnya yang disesuaikan dengan bangunan lama namun tidak menengelamkan bangunan lama namun sebaliknya justru membuat eksistensi bangunan lama menjadi semakin kuat dan berpengaruh serta memberi kesan tersendiri pada lingkungan tempat ia berdiri. Dengan memanfaatkan secara efektif akan jalur/jalan (path), sudut/ujung (edge), node (titik temu), daerah/area (district) dan penanda (landmark) pada suatu kota, maka akan terbentuk makna yang kemudian menjadi gambaran (image) dari kota tersebut.

Satu contoh implementasi teori ini dalam suatu karya arsitektur adalah Parc de la Villette, Paris oleh Bernard Tschumi. Kompetisi Parc de la Villette diadakan oleh pemerintah Perancis tahun 1982 secara obyektif, kompetisi tersebut adalah :

1.

Untuk menandakan visi dari suatu masa/era

2. Sebagai aksi terhadap ekonomi masa depan dan perkembangan budaya dari suatu “key are” di Paris

Parc de la Vilette adalah pusat dari berbagai polemik. Pada permulaan kompetisi terjadi polemik antara para disainer lansekap dan para arsitek. Sampai terjadi pergantian pemerintahan dan bermacam krisis perbelanjaan negara.

Parc de la Villette berlokasi di suatu tapak terbesar dan yang terakhir, yang tersisa di Paris. Terletak di sebelah Timur Laut kota, antara the Metro Stations Porte de Pantin dan Porte de la Villette seluas 70 ha. Parc de la Villette kelihatan sebagai percampuran bermacam-macam dasar pragmatis, disamping adanya “the Park, a large museum of science & industry, a city of music, a grand hall for exhibitions and a rock concert hall”. Oleh sebab itu, “the park” bukan merupakan replika lansekap yang sederhana. Sebaliknya merupakan “urban park for 21st century” yang mengembangkan suatu program yang kompleks dari kultur dan fasilitas hiburan, yang terdiri “open air theatre, restaurant, art galleries, music & painting workshop, playgrounds, video computer displays”, sebaik “obligatory garden” yang lebih menekankan pada hasil ciptaan kultural daripada hanya berupa rekreasi alami. Tschumi berhasil menampilkan “a large metropolitan venture”, yang diperoleh dari “isjunction & diassociations” dari waktu kini. Ini dicobanya untuk mempromosikan suatu strategi urban yang baru dengan keterkaitan konsep : seperti “superimposition” architectural “combination”&”cinematic” lansekap. Tchumi menggambarkan ini sebagai “the largest discontinious building in the world”.

Urbanisme Eropa : Neorasionalisme dan Tipologi

Kota-kota di Eropa merupakan gudang dari banyak kenangan sejarah. Dan kota merupakan hasil karya manusia dari masa ke masa. Hal ini sangatlah berarti dan harus diteruskan dan jangan dibinasakan dengan dominasi dari modernisme yang ingin membangun modern city yang membinasakan keberadaan unsur-unsur sejarah dan memori dari suatu kota. Simbolisasi dari suatu kota sangatlah penting dalam upaya memfokuskan kembali perhatian pada ide membuat arsitektur dalam konteks perkotaan. Arsitektur adalah kekontrasan yang muncul dari suatu kota yaitu antara yang partikular dan universal, antara yang individual dan kolektif. Tipologi merupakan alat analisis dan sebagai basis rasional untuk proses disain dari suatu transformasi.

Belajar dari para ahli bahasa

Perlukah fungsi simbolis dengan fungsi literatur dalam berarsitektur? Jika perlu apakah akan dibuat tanda pada bangunan secara khusus atau merupakan bangunan itu sendiri? Akankah arsitektur menyesuaikan bahasanya masing-masing menjadi satu bahasa atau tetap dengan bahasanya dan saling menterjemahkannya kepada yang lain sehingga tercapai suatu kecocokan dalam suatu area atau lingkungan tertentu. Pada dasarnya pikiran manusia memiliki bahasanya masing-masing dan agar orang lain dapat mengerti maka perlu adanya penterjemahan.

Kota-kota pinggiran: Pola Sejaman dari Pembangunan

Kota-kota pinggiran muncul akibat adanya pemeliharaan keberadaan kota lama yang menjadi pusat dari kegiatan. Hal itu merupakan suatu contoh yang umum dan dapat dijumpai dimana-mana. Bahkan setiap kota besar yang terus berkembang selalu mengarah pada pola sentralisasi terutama kota-kota yang memiliki nilai sejarah pada daerah-daerah tertentu. Jika daerah tersebut dipertahankan maka akan muncul kota-kota pinggiran yang membutuhkan suatu space khusus namun tetap menjadi bagian dari kota inti.

TEMA 5 : POLITIK DAN AGENDA ETIKA

Berbicara mengenai politik dan etika, maka arsitektur pun juga tak luput pula memberikan arti dan peran penting dalam dunia politik dan etika. Sehingga bila kita kaitkan dengan politik, arsitektur ini tampil dengan wajah yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan sosial dan memberikan pedoman dalam kehidupan sosial, bahkan arsitektur bisa bersikap kritis dan berperan aktif dalam mendukung status quo suatu daerah. Sehingga boleh dikata wajah arsitektur yang tampil bisa merupkan intervensi dari kebijakan politik. Oleh karena berkaitan dengan penjelasan di atas, dapat kami artikan bahwa arsitektur tidaklah murni sebagai seni atau boleh dikata arsitektur merupakan seni terapan.

Sedangkan dalam kaitannya dengan etika, arsitektur yang didirikan itu haruslah benar-benar mempertimbangkan kondisi budaya setempat, peduli dan ramah

terhadap lingkungan, dalam arti segala macam teknologi dan bahan-bahan bangunan yang dipakai jangan sampai merugikan lingkungan setempat, karena menurut kami arsitektur yang dibangun saat ini akan menjadi “titipan” yang sangat berharga bagi generasi mendatang yang juga butuh suatu lingkungan yang ASRI; bukannya rusak dan “carut-marut” akibat dibangunnya arsitektur tertentu.

Adapun uraian yang kami paparkan diatas kami dapat berdasarkan dari beberapa temuan teori berikut ini; sebagaimana yang disampaikan oleh Christopher Day bahwa meskipun arsitektur sebagai seni tetapi arsitektur itu sendiri bukan hanya berbicara indah dan tidak indah melainkan arsitektur juga harus bisa memperhatikan lingkungan sekitar, dan bahkan sebaliknya pula lingkungan harus bisa juga cocok dengan bahan bangunan dari arsitektur yang akan kita bangun, sehingga agar suatu material bangunan bisa bermanfaat, secara biologi mendukung, secara emosional memuaskan, maka kita harus menggali lebih dalam mengenai apa yang bisa mempersatukan antara material yang dipakai dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu ada benarnya juga bila Christopher Day mengatakan “It starts with the feelings; architecture built up out of adjectives-architecture for the soul” yang artinya bahwa membangun haruslah diawali dengan mengembangkan perasaan barulah kemudian menumbuhkan jiwa yang kuat bagi tempat yang bersangkutan dengan pemilihan material yang benar-benar cocok dan berkualitas tertentu seperti yang dibutuhkan oleh lingkungan.

Lingkungan yang dimaksud pada paparan di atas bukan sekedar lingkungan fisik semata melainkan juga termasuk lingkungan budaya, karena sebagaimana kita ketahui bahwa setiap lingkungan punya perbedaan budaya maka secara individual setiap orang yang berasal dari daerah yang berlainan akan

mempunyai tanggapan yang berbeda satu sama lain. Seperti halnya juga yang disampaikan oleh Prof. Ir. Eko Budiharjo MSc. Dalam bukunya yang berjudul Arsitektur Sebagai Warisan Budaya, dimana karya arsitektur merupakan pernyataan kreatif yang jujur dari interaksi kehidupan sosio-kultural masyarakatnya sehingga tidak mungkin bentuk yang tampil merupakan wujud tunggal rupa, melainkan akan berkembang terus penuh kreativitas dan inovasi baru seiring dengan perkembangan sosio-budayanya.

Menindaklanjuti paparan di atas, adapun Christopher Jones juga berpendapat sama yakni “Architecture is becoming not just visual but social, thermal, temporal, historical.” (Essay In Desaign, 1984), yang intinya perlunya kemampuan artistic dipadukan dengan kepekaan sosial dan moral, dan diseimbangkan dengan kesadaran lingkungan.

Sehingga bila kita mengharapkan arsitektur yang manusiawi, yang sesuai dengan kondisi masyarakat sebagaimana adanya dan bukan memaksakan kondisi semata-mata yang diinginkan perancang, maka jawaban sederhana saja, yakni kita harus menghargai arsitektur sebagai seni yang dapat dinikmati oleh masyarakat banyak, bukan untuk dinikmati oleh keinginan perencana arsitek semata-mata, seperti yang terlihat pada bangunan Moshe Safdie di Montreal, disana jelas sekali yang tampil dominan hanyalah kepuasan Sang arsitek bukanlah kepuasan lingkungan sekitar, misalnya budaya setempat yang tidak lagi dilestarikan dalam bangunan itu, bahkan dalam pelaksanaan konstruksinya pastilah sulit sehingga tidak dapat dipungkiri bila pasti merugikan lingkungan setempat atau “tetangga”nya.

Sedangkan keterlibatan arsitektur terhadap politik, atau boleh dikata sebaliknya campur tangan politik dalam dunia arsitektur seperti terlihat pada bangunan Hong Kong bank dimana konsep struktrur dan visualitas bangunan yang ada, sedianya merupakan intervensi dari pemerintah Inggris, maka boleh dibilang arsitektur tersebut menjadi bagian dari obsesi nasional. Jadi sebenarnya komitment dan perhatian yang besar dari pemerintah atau penentu kebijakan mampu merangsang terciptanya wajah-wajah arsitektur yang baik.

Sebagai ilustrasi atas pernyataan teori di atas berikut ini kami sajikan beberapa contoh bangunan yang relevan dengan pembahasan kali ini diantaranya Gedung parlemen yang ada di Tokyo, di sana terlihat sekali kalau bangunan itu berdiri dengan mempertimbangkan budaya setempat, bahkan kalau kita lihat pada “façade” bangunannya pun mengikuti “façade” bangunan yang ada di samping kanan-kirinya sehingga bisa tampil menyatu dan selaras, maka boleh dikata benar-benar tampil dengan menghargai ciri budaya setempat. Demikian juga yang ditampilkan oleh menara Hitechniaga, bangunan ini meskipun memakai teknolgi yang canggih dan terlihat benar-benar “high tech” akan tetapi tampilan itu diramu sedemikan rupa namun sangat memperhatikan iklim dan kekhasan setempat, karena overstek-overstek yang ada dipakai untuk tampias

hujan sekaligus tatanan “façade” benar-benar ditata untuk pembayangan terhadap cahaya matahari.

TEMA 6 : BADAN

Sebelum kita kaitkan badan dengan dunia arsitektur ada baiknya kalau kita juga pahami bahwa secara harafiah badan tidak lain merupakan komponen fisik dari tubuh manusia, yang dianggap sebagai subyek.

Sehubungan dengan dunia arsitektur, badan ini dianalogikan sebagai wadah arsitektur. Wadah arsitektur bukan berarti tempat seperti arti harafiah sesungguhnya, karena kalau kita telaah lebih dalam dari ulasan yang ada maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa arsitektur menempatkan manusia sebagai inti dan pedoman dalam membangun dan merancang suatu bentuk desain, karena segala macam desain yang tampil itu tidak lain ditujukan untuk bisa dipakai oleh manusia sebagai subyek pengguna yang harus juga merasa nyaman, sehingga badan nantinya diproyeksikan ke dalam perencanaan gambar, fasade, dan detil.

Dalam rangka mendukung uraian di atas, berikut ini kami sampaikan beberapa pendapat para pakar, diantaranya seperti yang disampaikan oleh Dipl. Ing Suwondo B Sutedjo, bahwa arsitektur merupakan suatu karya manusia untuk manusia yang berarti sesungguhnya arsitektur tidak dapat dinilai hanya sebagai

seni bangunan saja tetapi harus selalu dalam konteks manusianya, jadi suatu karya arsitektur bisa dinilai setelah karya tersebut berfungsi dan bukan pada saat karya tersebut secara fisik terselesaikan. Karena manusia menjadi pengguna di dalam karya arsitektur tersebut maka menjadi penting sekali untuk mengetahui tingkah laku manusia sehingga manusia bisa benar-benar menjadi initi dari suatu proses terbentuknya karya arsitektur. Dan menurut beliau bahwa dewasa ini sudah semakin tinggi tingkat kejenuhan arsitek-arsitek Pasca Modern terhadap perancangan yang terlalu ditekankan pada aspek fungsi, bentuk dan estetika yang serba normative dan dogmatis, karena itu mereka ingin menempatkan faktor manusia sebagai titik sentral dalam perancangannya.

Menyambung pendapat dari Dipl. Ing Suwondo B Sutedjo, adapun Robert Venturi juga berpendapat sama dalam bukunya yang berjudul Complexity and Contradiction in Architecture tahun 1966, dimana beliau mengecam perancangan arsitektur yang terlalu menekankan aspek rasional sehingga implikasinya mengabaikan kenyataan bahwa manusia adalah juga makhluk yang emosional, menurutnya kalaupun ingin menerapkan “high tech” maka perlu diperkaya juga dengan “high touch”, nalar dan rasa bukan saja untuk dinikmati oleh arsiteknya melainkan juga bagi manusia lain terlebih sebagai pengguna.

Sebagai pelengkap pemahaman kita akan tema ini, maka kami sertakan juga beberapa obyek kasus diantaranya adalah Henley Regatta Heat Quarters yang berdiri di Henley, bangunan ini terlihat seperti benteng sehingga bila dikaitkan dengan tema yang ada bangunan ini berperan menampilkan kesan kekuasaan karena tampilan bangunan yang mirip

dengan benteng, sehingga manusia dalam arti penghuni di dalamnya ikut juga terangkat statusnya oleh karena tampilan yang disajikan oleh bangunan itu. Oleh karena itu kebutuhan manusia sebagai pengguna bangunan ini yang kurang lebih menghendaki bangunan ini sebagai semacam kantor militer yang syarat dengan kekuasaan bisa dipenuhi. Ini merupakan bukti konkrit kalau bangunan ini mampu memuaskan pemakainya.

Contoh lain dari tema ini adalah bangunan Montmorillon Hospital yang dirancang oleh Architecture Studio (M. Robain, J. F. Galmidre, R. Tisnada, E. X. Descart, J. F. Bonne). Bangunan ini difungsikan sebagai rumah sakit dengan tampilan yang demikian unik menurut kami hal itu dimaksudkan memberikan kepuasan bagi pasien yang tinggal di dalamnya agar tidak mengalami kebosanan dan kejenuhan seperti layaknya ketika tinggal di rumah sakit pada umumnya. Tetapi menurut kami agak kurang cocok dengan tema ini karena tampilan dari luar tidak seperti sebuah rumah sakit apalagi “entrance”nya dibuat sedemikian megah seolah menyimbolkan suatu kekuasaan dan kemegahan dan tidak sebanding dengan seukuran manusia yang masuk.

Arsitektur Bersahabat dengan Alam

Green Architecture, sebuah istilah yang akhir-akhir ini kerap sekali kita dengar,baik mulai dari majalah, surat kabar dan berbagai seminar berlomba-

lomba membahas mengenai Green Architecture. Sebuah istilah yang muncul akibat semakin berkembangnya issue Pemanasan Global.

Dunia Arsitektur dianggap menjadi salah satu penyebab terjadinya Pemanasan Global. Berdirinya bangunan-bangunan modern yang tidak memperdulikan lingkungan sekitar, Pemborosan energi yang dikeluarkan pada setiap bangunan bahkan hingga pengrusakan lingkungan sekitar. Tentu saja Arsitek tidak dapat disalahkan sepenuhnya sebagai penyebab Pemanasan Global. Meningkatnya kepentingan-kepentingan Kapital yang tidak terkontrol, menjadi peran penting dalam terciptanya Pemanasan Global. Seakan-akan tersentak dengan label „penghancur dunia” , para Arsitek-arsitek kini ingin membuktikan diri bahwa mereka mempunyai peranan penting dalam kelangsungan kehidupan di dunia. Menciptakan bangunan yang hemat energi, menghasilkan energi sendiri, dan peduli terhadap kelangsungan alam sekitar, merupakan jawaban dari para Arsitek dalam mencegah Pemanasan Global. Bangunan-bangunan Hijau pun bermunculan, mulai dari bangunan tinggi hingga sebuah rumah tinggal sederhana. Berikut beberapa karya yang mendapatkan Apresiasi lebih dari pengamat Arsitektur.

1. Castle House karya Hamiltons

Castle House merupakan karya Hamiltons yang diperkirakan rampung pada tahun 2009. Sebagai menara yang hemat energi, bangunan ini memanfaatkan turbin angin pada bagian atas menara sebagai sumber energinya. Dengan aliran udara yang sangat kencang di bagian atas bangunan, diharapkan energi yang didapat mampu memenuhi kebutuhan energi dari bangnan tersebut. Ketika selesai, menara utama akan mencapai ketinggian 147 m sedangkan tinggi pavillion hanya sekitar 5 lantai. Bangunan yang terletak di Elephant and Castle London Utara ini akan memiliki 310 apartemen.

2. EDITT Tower, Singapore karya TR Hamzah & Yeang

EDITT Tower karya Ken Yeang di Singapura adalah sebuah contoh lain dari bangunan yang menerapkan konsep sustainable architecture dengan sangat komprehensif. Gedung berlantai 56 ini akan menggunakan bahan-bahan yang dapat di daur ulang, sedangkan luas lahan yang mencapai 855 meter persegi

akan digunakan untuk meletakan panel surya yang akan memenuhi sekitar 40% dari total kebutuhan energi bangunan tersebut. Tidak sampai disitu, bangunan ini juga akan memanfaatkan “limbah” manusia menjadi biogas.

Separuh bangunan ini dibalut dengan berbagai macam tanaman organik yang system pengairannya menggunakan teknologi “Rain Water Harvesting”. Sistem yang menampung air hujan yang kemudian akan digunakan untuk pengairan tanaman tersebut. Keberadaan tanaman juga mampu menekan kebutuhan energi bagi bangunan tersebut.

3. SF’s New Civic Center Menjadi Lebih Hijau

Berlokasi di kota yang paling dikunjungi di dunia, San Francisco's New Civic Center akan mengubah Kota San Francisco menjadi kota hijau di Amerika Serikat. Dengan Turbin angin dan panel matahari akan mengurangi konsumsi energi bagi distrik sebesar 33%, dan reklamasi program air akan mengurangi penggunaan air minum oleh 80% dan limbah pembuangan sebesar 45%.

4. California Academy of Sciences Karya Renzo Piano

Dirancang oleh Renzo Piano, California Academy of Sciences telah dibuka untuk umum sejak 27 September 2008. Bangunan ini menggunakan kosep Sustainable Architecture, dengan cara menggunakan panel matahari, bahan bangunan daur ulang, dan Cahaya Alami dan ventilasi. Insulasi pada atap terdiri atas lapisan penghijauan buatan setebal 20 cm yang ditanami perdu-perduan dan tanaman bunga liar khas California, sedangkan tata udara ventilasi atau HVAC ditata sedemikian rupa hingga secara sistem keseluruhan menjadi benar-benar hemat energi. Dari ruang utama ini pun para pengunjung berkesempatan untuk dapat menikmati view pemandangan ke jembatan Golden Gate melalui konsepsi ruang yang dirancang terbuka dengan bukaan dinding transparan.

5. Garden House , Spanyol

Dirancang oleh ADD + Architecture, Garden House telah menghabiskan US $ 627.000 dan telah selesai sejak 2003. Bangunan ini terletak di Igualada, Spanyol dan meliputi 200 meter persegi dari kawasan dibangun. Seperti anda dapat dilihat pada gambar, atap yang memiliki lapangan golf mini yang melebur kedalam ke dalam lansekap. Mengenai struktur, rumah hijau ini memanfaatkan tabung baja dilindungi dengan panel alumunium.

6. Monte Rosa-Hut By Studio Monte Rosa

Bangunan terletak ditengah Lanskap Gletser, itu membuktikan bahwa bangunan berkelanjutan sangat di mungkinkan walau dengan kondisi apapun.

84 m2 sel fotovoltaik memberikan energi untuk pembersihan limbah air, ventilasi, dan pencahayaan. Surplus energi yang disimpan dalam baterai,

menjamin pasokan daya yang tidak terganggu ketika langit adalah mendung.Panel Surya akan memenuhi kebutuhan terhadap air panas..

7. Songjiang Hotel by Atkins

Bangunan ini didirikan di bekas Tambang yang memiliki kedalaman hingga 100 meter kebawah. Pemilihan lahan merupakan nilai positif , dimana dengan menggubah area bekas tambang menjadi kawasan yang ramah terhadap lingkungan.

Atap-atap bangunan berupa Taman Atap (green roof) , dimana dapat menciptakan ruangan didalam yang lebih dingin ketika musim panas, dan lebih hangat ketika musin dingin.Bangunan ini juga memanfaatkan tenaga panas bumi (Geothermal) untuk memenuhi kebutuhan energi bangunan tersebut.Selain itu juga, Songjiang Hotel memiliki sistem filter atau desalinasi untuk greywater dan air minum mereka.

Tanah Irak kaya akan hasil minyak buminya, tidak hanya itu Tanah Irak melahirkan begitu banyak tokoh- tokoh dunia dari seorang Nebukadnezar, sampai Saddam Hussein. Salah satunya adalah tokoh di bidang arsitektur, ZAHA HADID.

Perempuan yang dilahirkan di kota Baghdad ini meraih pendidikan arsitektur di London dan kemudian memilih berkarier di negeri Inggris.

Lahir negeri 1001 malam, ZAHA Hadid, membawa imajinasi tanpa batasnya untuk menciptakan bangunan dengan sentuhan feminismenya. Tidak heran apabila Zaha Hadid menjadi Arsitek wanita pertama yang meraih Pritzker Prize.

Zaha Hadid mampu mengusung Pritzker Prize pada tahun 2004, Selama 26 tahun Pritzker Architecture Prize yang merupakan sebuah penghargaan tertinggi di bidang arsitektur ini selalu di dominasi Arsitek – arsitek Pria. Pritzker Architecture Prize juga merupakan sebuah bentuk Protes karena tidak dimasukannya bidang arsitektur didalam penghargaan Nobel. Tujuan utamanya adalah memberi penghargaan kepada arsitek yang karyanya mampu memberi sumbangan nyata kepada masalah kemanusiaan dan pada lingkungan binaanya Zaha Hadid merupakan salah satu pengusung utama aliran dekonstruksi Derrida. Bentuk – bentuk bangunan yang di ciptakan Zaha Hadid kadangkadang di luar jangkauan pikiran manusia terhadap suatu bentuk geometri.

Berikut beberapa karya yang mempesona dari Zaha Hadid :

1.Rosenthal Center for Contemporary Art di Cincinnati, Amerika Serikat - 1998 Bangunan ini merupakan karya Zaha Hadid pertama di Amerika 2.Stasiun Pemadam Kebakaran Vitra di Weil am Rhein, Jerman - 1994 3. Hoenheim-North Terminus & Car Park Strasbourg, Perancis - 2001 4. Price Tower, Bartlesville, Oklahoma - 2002 5. Bergisel Ski Jump Innsbruck, Austria - 2002 6. Phaeno Science Center, Wolfsburg,Jerman – 2005

7. Ordrupgaard annexe Copenhagen, Denmark – 2005

8. BMW Central Building, Leipzig, Jerman – 2005

9. High speed train station of Afragola, Itali – 2006

10. Maggie's centre di the Victoria Hospital, Kirkcaldy,Skotlandia

11 Nuragic and Contemporary art museum, Cagliari, Itali – 2006

12. Nordkettenbahn (aerial tramway), Innsbruck, Austria 2007

13. Riverside Museum development of Glasgow Transport Museum, Skotlandia - 2007-2011

13. Kartal Urban Transformation, Istanbul, Turki - 2008

14. Bridge Pavilion Zaragoza, Spanyol – 2008

15. CMA CGM Tower, Marseille, Perancis 2007-2009

16. Eli and Edythe Broad Museum, Michigan State University, 2008

17. Guggenheim-Hermitage Vilnius, Vilnius, Lithuania – 2008

18. Guangzhou Opera House, China

19. EuskoTren Headquarters, Durango, Spanyol

20. MAXXI, Roma, Itali

21. Temporary Guggenheim Museum, Tokyo, Jepang

22. Performing Arts Centre, Saadiyat Island, United Arab Emirates – 2012

23. The Opus, Dubai

24. London Aquatics Centre: Olympics Architecture

25. Serpentine Pavilion, London

26. Innovation Tower, Hong Kong

27 Lilium Tower, Poland

28. Middle East Centre: Queen's College, Inggris

28. Campus de la Justicia Madrid, Spanyol

Desain Zaha haid Lainnya :

Z.CAR hydrogen-powered, three-wheeled automobile Ideal House Cologne - 2007 Swarm Chandelier - for established and sons - 2006 Kitchen for DuPont Corian, 2006

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->