JP

Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung: Tiga Kumpulan Puisi (2007). Selain ke bahasa Inggris, sajak-sajaknya juga diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan, sepilihan puisinya digubah menjadi komposisi musik. Sejumlah sajaknya dipakai pula untuk iklan.
(Foto oleh Budhi Setyawan/2008)

Sepilihan Sajak Jokpin 1996-2007

Celana, 1 Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya. “Kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.” Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan: “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?” (1996)

Pulang Mandi Lama minggat ke Jakarta dan tak pernah ada kabar-beritanya, tahu-tahu ia muncul di depan pintu dan berseru, “Ayo kita mandi!” Wajah yang penuh jahitan, tubuh yang hampir rombengan

nyaris tak terbaca kalau tak ia tunjukkan sepasang tato di pantatnya. “Berbahagialah orang yang berani mandi,” aku bersabda, “sebab ia akan menemukan tubuhnya sendiri.” Maka dalam bahagia mandi ia kelupas karat waktu pada tekstur hidupnya, kerak kenangan pada tipografi nasibnya. “Sakit!” ia menjerit. “Berdarah!” Mungkin sedang ia lepaskan pakaian kotor yang lengket dengan tubuhnya. Kamar mandi kemudian sunyi. Ia menghambur keluar, berjingkrak-jingkrak seperti kanak-kanak dapat bingkisan di hari Lebaran. “Aduh cakepnya,” aku menggoda, dan ia memelukku sambil berkata riang, “Mandiku sukses sekali, abang sayang.” Lama ia tidak mandi. Tapi sekali mandi ia langsung mencopot tubuhnya yang usang dan menggantinya dengan yang baru, yang mutakhir modelnya dan, tentu saja, tahan lama. “Tidak tertarik ke Jakarta?” ia membujukku sambil memamerkan tubuhnya yang trendi. Ah, ya, mungkin perlu juga aku minggat ke Jakarta agar suatu saat dapat pulang mandi dengan bahagia. (1999)

Mei : Jakarta, 1998 Tubuhmu yang cantik, Mei telah kaupersembahkan kepada api. Kau pamit mandi sore itu. Kau mandi api. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api. Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. (2000)

Pacarkecilku untuk Anggra Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan datang membangunkan mimpi. Pacarkecilku berlari ke halaman, menadah hujan dengan botol mainan, menyimpannya di kulkas sepanjang hari, dan malamnya ia lihat di botol itu gumpalan cahaya warna-warni. Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi dalam dekapnya. Ketika bangun ia berkata, “Tadi kau ke mana? Aku mencarimu di rerimbun taman bunga.” Aku terdiam. Sepanjang malam aku hanya berjaga di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan pelan-pelan membuka matanya. Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi dalam botol cintanya bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.

(2001)

Atau Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih menodongkan pisau ke leher saya. “Pilih cinta atau nyawa?” ia mengancam. “Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,” saya menghiba, “supaya saya bersih dari dosa. Setelah itu, perkosalah saya.” Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang entah ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas: jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan. Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih menodongkan pisau ke leher saya. “Pilih perkosa atau nyawa?” ia mengancam. Saya panik, saya jawab sembarangan, “Saya pilih atau!” Ia mengakak. “Kau pintar,” katanya. Kemudian ia mencium leher saya dan berkata, “Tidurlah tenang, dukacintaku. Aku akan kembali ke dalam mimpi-mimpimu.” (2001)

Penumpang Terakhir untuk Joni Ariadinata Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak yang mangkal di bawah pohon beringin itu dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat yang aku suka. Entah mengapa aku sering kangen dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak, lancar pula lajunya.

Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan. Aku akan menabur kembang di atas makam nenekmoyang. Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku khawatir bang becak akan kecapaian, tapi orang tua itu bilang tenang tenang. Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya bercerita tentang anak-anaknya yang pergi merantau ke Jakarta dan mereka sekarang alhamdulillah sudah jadi orang. Mereka sangat sibuk dicari uang dan hanya sesekali pulang. Kalaupun pulang, belum tentu mereka sempat tidur di rumah karena repot mencari ini itu, termasuk mencari utang buat ongkos pulang ke perantauan. Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan, batuknya mengamuk, pandang matanya berkunang-kunang, aduh kasihan. “Biar gantian saya yang menggenjot, Pak. Bapak duduk manis saja, pura-pura jadi penumpang.” Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju kuburan, sementara si abang becak tertidur nyaman, bahkan mungkin bermimpi di dalam becaknya sendiri. Sampai di kuburan aku berseru bangun dong Pak, tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan kutaburkan di atas makam nenekmoyangku atau di atas jenazah bang becak yang kesepian itu. (2002)

Mandi Mereka tiba di kamar mandi menjelang tengah malam ketika langit terang dan bulan sedang cemerlang. Pemimpin rombongan segera angkat bicara, “Hadirin sekalian, malam ini kita berkumpul di sini untuk mengantar mandi salah seorang saudara kita. Mari kita sakiti dia agar sempurnalah mandinya.” Korban segera diseret ke kamar mandi dan diperintahkan berdiri di depan. Wajahnya tertunduk pucat, tubuhnya

gemetar, dan matanya seperti kenangan yang redup perlahan. Belum sempat pemimpin rombongan menanyakan tanggal lahir dan asal-usul korban, orang-orang yang sudah tak sabar menyaksikan sekaratnya berseru nyaring, “Mandikan dia! Mandikan dia!” Tubuh tak bernama yang terlampau tabah menerima cambukan waktu yang gagah perkasa. Mandikanlah dia. Mulut tanpa kata yang tak perlu lagi mengucap segala yang tak terucapkan kata. Mandikanlah dia. Hati paling rasa yang tak pernah usai memburu cinta di rimba raga. Mandikanlah dia. Mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka. Pembantaian sebentar lagi dimulai. Hadirin segera pergi setelah masing-masing menghunjamkan nyeri ke ulu hati. Korban dibiarkan terkapar di lantai kamar mandi. Sepi yang tinggi besar melangkah masuk sambil terbahak-bahak. Korban diperintahkan berdiri. “Mandi!” bentaknya. Dengan geram diterkamnya tubuh korban dan kemudian dikuliti. Lihatlah, korban sedang mandi. Mandi dengan tubuh berdarah-darah. Bahkan bulan tak berani bicara; dengan takut-takut ia melongok lewat genting kaca. Sepi makin beringas. Ia cengkeram tubuh kurus korban, ia serahkan lehernya kepada yang terhormat tali gantungan. Krrrkk! Sepi melenggang pergi sambil terbahak-bahak, meninggalkan korban berkelejatan sendirian. Di hening malam itu tiba-tiba terdengar seorang bocah menjerit pilu, “Ibu, tolong lepaskan aku, Ibu!” (2003)

Masa Kecil Masa kecil seperti penjaga malam yang setia. Ia yang membuka dan menutup pintu setiap kau masuk

dan keluar kamar mandi. Sementara kau sibuk mandi, ia duduk manis di sudut sepi, membaca cerita bergambar sambil ketawa-ketawa sendiri. Jangan suka lihat orang mandi, nanti sakit mata! Ia langsung menutup wajahnya dengan buku, seakan geli atau malu melihat tokoh komiknya yang (tidak) lucu. (2003)

Pacar Senja Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai. Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli. Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu. “Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.” Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya. Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja yang masih megap-megap oleh ciuman senja. “Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium menjadi bekas. Betapa curangnya rindu. Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.” Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap. Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak. (2003)

Baju Bulan Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru, tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang, sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.

Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam? Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri rela telanjang di langit, atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang. (2003)

Kepada Puisi Kau adalah mata, aku airmatamu. (2003)

Cita-cita Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela. Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk, uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat. Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra, “Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu. Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.” (2003)

Penjual Bakso

Hujan-hujan begini, penjual bakso dan anaknya lewat depan pintu rumahku. Ting ting ting. Seperti suara mangkok dan piring peninggalan ibuku. Berulang kali ting ting ting, tak ada yang keluar membeli bakso. Tak ada peronda duduk-duduk di gardu. Semua sedang sibuk menghangatkan waktu. Aku tak ingin makan bakso, tapi tak apalah iseng-iseng beli bakso. Aku bergegas mengejar tukang bakso ke gardu ronda. Bakso! Terlambat. Penjual bakso dan anaknya sedang gigih makan bakso. Airmata penjual bakso menetes ke mangkok bakso. Anak penjual bakso tersengal-sengal, terlalu banyak menelan bakso. Kata penjual bakso kepada anaknya, “Ayo, Plato, kita habiskan bakso kita. Kasihan ibumu.” Mereka yang makan bakso, aku yang muntah bakso. (2004)

Dengan Kata Lain Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek. Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat tukang ojek yang, astaga, adalah guru Sejarah-ku dulu. “Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung,” beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah. “Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?” Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah. Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan. Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja. Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran. Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman.

Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba bangkit berdiri dan berseru padaku, “Dengan kata lain, kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu!” (2004) Telepon Tengah Malam Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja. Sudah sering aku terima telepon dan bertanya “Siapa ini?”, jawabnya cuma “Ini siapa?”. Ada dering telepon, panjang dan keras, dalam rongga dadaku. “Ini siapa, tengah malam telepon? Mengganggu saja.” “Ini Ibu, Nak. Apa kabar?” “Ibu! Ibu di mana?” “Di dalam.” “Di dalam telepon?” “Di dalam sakitmu.” Ah, malam ini tidurku akan nyenyak. Malam ini sakitku akan nyenyak tidurnya. (2004)

Celana Ibu Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah. Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawakan celana yang dijahitnya sendiri. “Paskah?” tanya Maria. “Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga. (2004)

Selepas Usia 60 Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela, mengamati tingkah anak kecil yang lucu-lucu. Saat sekecil mereka saya baru fasih mengucapkan nana, maksudnya celana, dan saya belajar keras memakai celana dan sering keliru: kadang terbalik, kadang seliritnya menjepit dindaku. Ibu curang: diam-diam mengintip lewat celah pintu. Baru setelah ananda terjengkang karena dua kaki masuk ke satu lubang, ibu buru-buru menyayang-nyayang pantatku: Jangan menangis, jagoanku. Celana juga sedang belajar memakaimu. Kasihan ibu, sering didera kantuk hingga jauh malam, menjahit celana saya yang cidera. Sampai sekarang kadang tusukan jarumnya, auw…, masih terasa di pantat saya. Saya masih berdiri di muka jendela, memperhatikan seorang bocah culun, dengan celana bergambar Superman, sedang ciat-ciat bermain silat. Tiba-tiba ia berhenti. Bingung. Seperti ada yang tidak beres dengan celananya. Oh, gambar Superman-nya rontok. Ia cari, tidak ketemu. Lalu ibunya datang menjemput. Senja yang dewasa mulai merosot. Tubuh yang penakut mendadak ribut. Yeah, ini celana diam-diam mau melorot. Saat mau tidur baru saya tahu: hai, ada gambar Superman di celanaku. (2004)

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita? Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan dari cengkraman luka. (2005)

Kepada Cium Seperti anak rusa menemukan sarang air di celah batu karang tersembunyi, seperti gelandangan kecil menenggak sebotol mimpi di bawah rindang matahari, malam ini aku mau minum di bibirmu. Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi yang masih hangat dan murni, seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri pada luka lambung yang tak terobati. (2006)

Terompet Tahun Baru Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota untuk meramaikan malam tahun baru. Ayah pilih menyepi di rumah saja sebab beliau harus menemani kalender pada saat-saat terakhirnya. Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu tergeletak di pinggir jalan. Aku segera memungutnya dan membersihkannya dengan ujung bajuku. Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi. Mengapa terompet ini bisu, Ibu? Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku. (2006)

Di Perjamuan

Aku tak akan minta anggur darahMu lagi. Yang tahun lalu saja belum habis, masih tersimpan di kulkas. Maaf, aku sering lupa meminumnya, kadang bahkan lupa rasanya. Aku belum bisa menjadi pemabuk yang baik dan benar, Sayang. (2006)

Jalan Sunyi Ada jalan kecil menuju kebunmu: ada hujan mungil merayap pelan ke liang kuburku. (2007)

Gambar Hati Versi Penyair Seperti dua koma bertangkupan. Dua koma dari dua kamus yang berbeda dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi. (2007)

Malam Pemadat Pilin dan padatkan aku menjadi sebatang candu, hisap dan bakarlah sampai berkobar di tubuhmu. Jika habis kopimu, seduh dan minumlah abuku sampai menguap di pori-porimu. (2007)

Penjahat Berdasi Ia mati dicekik dasinya sendiri.

(2007)

Taman Hiburan Negara Ini tempat umum, bung. Dilarang melamun sembarangan di sini. (2007)

Pembangkang Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan. Tidak jelas, ia peronda yang kesepian atau pencuri yang kebingungan. Dari arah belakang muncul seorang pengarang yang kehilangan jejak tokoh cerita yang belum selesai ditulisnya. “Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang melamun di sini. Ayo pulang!” Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang. (2007)

Gaun Tidur Gaun tidurku menyembunyikanmu. Seperti doa yang ganas, kau merasuk ke panas darahku. Gaun tidurku basah olehmu. (2007)

Angkringan Lapar mengajak saya ke warung angkringan di pinggir jalan. Tuan pedagang angkringan sedang ketiduran. Ia batuk-batuk, mengerang, kemudian ia betulkan batuknya yang sumbang.

Saya makan dua bungkus nasi kucing. Saya bikin kopi sendiri, ambil rokok sendiri. Saya bayar, saya hitung sendiri. “Kembaliannya untuk Tuan saja,” kata saya dalam hati. Lalu saya pamit pulang. “Selamat tidur, pejuang.” Tuan pedagang angkringan terbangun. “Tunggu, jangan tinggalkan saya sendirian!” Setelah semuanya ia bereskan, ia paksa saya segera naik ke atas gerobak angkringan. ”Berbaringlah, Tuan. Saya antar Tuan pulang.” Amboi, saya telentang kenyang di atas gerobak angkringan yang berjalan pelan menyusuri labirin malam. Saya terbuai, terpejam. Seperti naik perahu di laut terang, meluncur ringan menuju rumah impian nun di seberang. Samar-samar saya lihat bayangan seorang ibu sedang meninabobokan anaknya dalam ayunan: Tidurlah, tidur, tidurlah anakku tersayang…. (2007)

Tukang Potret Keliling Cita-citanya tinggal satu: memotret seorang pujangga yang ia tahu tak pernah suka diambil gambarnya. Ia ingat bual seorang peramal: “Kembaramu akan berakhir pada paras seorang penyair.” Demikianlah, dengan tangan gemetar, ia berhasil mencuri wajah penyair pendiam itu dengan tustelnya. Ia bahagia, sementara sang pujangga terpana: “Ini wajahku, wajahmu, atau wajah kita?” Tak lama kemudian tukang potret keliling itu mati. Tubuhnya yang sementara terbujur di ruang yang dindingnya penuh dengan foto-foto karyanya. Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya. Kerabatnya bingung. Mereka tidak juga menemukan potretnya untuk dipajang di dekat peti matinya. “Sudah, pakai foto ini saja,” cetus salah seorang

dari mereka sambil diambilnya foto pujangga. “Lihat, mirip sekali, nyaris serupa. Ha-ha-ha….” Penyair kita tampak di antara kerumunan pelayat yang berdesak-desakan memanjatkan doa di sekeliling peti almarhum. Ada seorang ibu yang dengan haru mengusap foto itu: “Hatinya pasti manis. Di akhir hayatnya wajahnya keren abis!” (2007)

Kredo Celana Yesus yang seksi dan murah hati, kutemukan celana jinmu yang koyak di sebuah pasar loak. Dengan uang yang tersisa dalam dompetku kusambar ia jadi milikku. Ada noda darah pada dengkulnya. Dan aku ingat sabdamu: “Siapa berani mengenakan celanaku akan mencecap getir darahku.” Mencecap darahmu? Siapa takut! Sudah sering aku berdarah, walau darahku tak segarang darahmu. Siapa gerangan telah melego celanamu? Pencuri yang kelaparan, pak guru yang dihajar hutang, atau pengarang yang dianiaya kemiskinan? Entahlah. Yang pasti celanamu pernah dipakai bermacam-macam orang. Yesus yang seksi dan rendah hati, malam ini aku akan baca puisi di sebuah gedung pertunjukan dan akan kupakai celanamu yang sudah agak pudar warnanya. Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya. Di panggung yang remang-remang sajak-sajakku meluncur riang.

Makin lama tubuhku terasa menyusut dan lambat-laun menghilang. Tinggal celanamu bergoyang-goyang di depan mikrofon, sementara sajak-sajakku terus menggema dan aku lebur ke dalam gema. “Hidup raja celana!” Hadirin terkesima. Kelak akan ada seorang ibu yang menjahit sajak-sajakku menjadi sehelai celana dan celanaku akan merindukan celanamu. (2007)

Mas
Kota telah memberikan segala yang saya minta, tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja. Saya perempuan cantik, cerdas, bertato, sukses, dan kaya. Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri. Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas. Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin bersamamu duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap ke laut. Akan saya bacakan sajak-sajak seorang penyair yang tanpa sengaja menyampaikan cintamu kepada saya. Wah, mas sudah lebih dulu tiba. Ia tampak gelisah dan mondar-mandir saja di pantai. Saya segera memanggil dan mengajaknya duduk di bangku. “Duduklah, mas, jangan mandir-mondar melulu. Ini kubawakan sepotong cokelat dan sebotol anggur merah tua.” Mas mendekat ke arah saya dan saya menyambutnya. “Mas boleh pilih, mau duduk di sebelah kiri atau di sebelah kanan saya.” Ia agak terperangah. “Apa bedanya?” timpalnya. “Kiri: bagian diri saya yang dingin dan suram. Kanan: belahan jiwa saya yang panas dan berbahaya.” Diam-diam mas mendekapnya dari belakang dan berbisik di telinganya: “Kalau begitu, aku duduk di pangkuanmu saja. Aku ingin lelap sekejap sebelum lenyap ke balik matamu yang hangat dan sunyi. Sebelum aku tinggal ilusi.” Perempuan itu merinding dan menjerit: “Maaasss….” Pantai dan bangku mendadak fana dan tak seorang penyair pun dapat menolongnya. Senja yang ia panggil mas telah sirna. Ah, begitu cepat ia rindukan lagi kota.
(2008)

Kredo Celana
Celana Ibu Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah. Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawakan celana yang dijahitnya sendiri. “Paskah?” tanya Maria. “Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga. (2004) Kredo Celana Yesus yang seksi dan murah hati, kutemukan celana jinmu yang koyak di sebuah pasar loak. Dengan uang yang tersisa dalam dompetku kusambar ia jadi milikku. Ada noda darah pada dengkulnya. Dan aku ingat sabdamu: “Siapa berani mengenakan celanaku akan mencecap getir darahku.” Mencecap darahmu? Siapa takut! Sudah sering aku berdarah, walau darahku tak segarang darahmu. Siapa gerangan telah melego celanamu? Pencuri yang kelaparan, pak guru yang dihajar hutang, atau pengarang yang dianiaya kemiskinan? Entahlah. Yang pasti celanamu pernah dipakai bermacam-macam orang.

Yesus yang seksi dan rendah hati, malam ini aku akan baca puisi di sebuah gedung pertunjukan dan akan kupakai celanamu yang sudah agak pudar warnanya. Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya. Di panggung yang remang-remang sajak-sajakku meluncur riang. Makin lama tubuhku terasa menyusut dan lambat-laun menghilang. Tinggal celanamu bergoyang-goyang di depan mikrofon, sementara sajak-sajakku terus menggema dan aku lebur ke dalam gema. “Hidup raja celana!” Hadirin terkesima. Kelak akan ada seorang ibu yang menjahit sajak-sajakku menjadi sehelai celana dan celanaku akan merindukan celanamu. (2007)

Tragedi
Sedekah Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah. Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan, sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah. “Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,” cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.” Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.” Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata. Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya. “Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,” ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato. Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah. Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan kepada entah siapa yang pantas menerimanya. (2003)
Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004)

Penjual Bakso Hujan-hujan begini, penjual bakso dan anaknya lewat depan pintu rumahku. Ting ting ting. Seperti suara mangkok dan piring peninggalan ibuku. Berulang kali ting ting ting, tak ada yang keluar membeli bakso. Tak ada peronda duduk-duduk di gardu. Semua sedang sibuk menghangatkan waktu.

Aku tak ingin makan bakso, tapi tak apalah iseng-iseng beli bakso. Aku bergegas mengejar tukang bakso ke gardu ronda. Bakso! Terlambat. Penjual bakso dan anaknya sedang gigih makan bakso. Airmata penjual bakso menetes ke mangkok bakso. Anak penjual bakso tersengal-sengal, terlalu banyak menelan bakso. Kata penjual bakso kepada anaknya, “Ayo, Plato, kita habiskan bakso kita. Kasihan ibumu.” Mereka yang makan bakso, aku yang muntah bakso. (2004)
Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004)

Penumpang Terakhir untuk Joni Ariadinata Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak yang mangkal di bawah pohon beringin itu dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat yang aku suka. Entah mengapa aku sering kangen dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak, lancar pula lajunya. Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan. Aku akan menabur kembang di atas makam nenekmoyang. Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku khawatir bang becak akan kecapaian, tapi orang tua itu bilang tenang tenang. Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya bercerita tentang anak-anaknya yang pergi merantau ke Jakarta dan mereka sekarang alhamdulillah sudah jadi orang. Mereka sangat sibuk dicari uang dan hanya sesekali pulang. Kalaupun pulang, belum tentu mereka sempat tidur di rumah karena repot mencari ini itu, termasuk mencari utang buat ongkos pulang ke perantauan. Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan, batuknya mengamuk, pandang matanya

berkunang-kunang, aduh kasihan. “Biar gantian saya yang menggenjot, Pak. Bapak duduk manis saja, pura-pura jadi penumpang.” Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju kuburan, sementara si abang becak tertidur nyaman, bahkan mungkin bermimpi di dalam becaknya sendiri. Sampai di kuburan aku berseru bangun dong Pak, tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan kutaburkan di atas makam nenekmoyangku atau di atas tubuh bang becak yang kesepian itu. (2002)
Sumber: Buku Puisi Pacarkecilku (2002)

Sajak tentang Puisi
Kepada Puisi Kau adalah mata, aku air matamu. (2003)

Matakata Matakata menyala melihat tetes darah di matapena. (2004)

Aku Tidak Bisa Berjanji Aku tidak bisa berjanji akan datang ke dalam pesta di mana akan kaupertemukan aku dengan sajak-sajakku, seperti mempertemukan dua anak rantau yang lama memendam rindu tapi pura-pura sungkan bertemu. Sajakku hanya sisa tangis seorang bocah yang ditinggal ibunya pergi cari obat dan tidak juga kembali, sementara panas tubuhnya terus meninggi. “Cepat pulang, Bu!” Bocah itu tampak bahagia duduk bersamamu di pesta. Tapi aku tidak bisa berjanji akan datang ke sana. (2004)

Puisi Telah Memilihku Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi di antara baris-barisnya yang terang. Dimintanya aku tetap redup dan remang. (2007)

Gambar Hati Versi Penyair Seperti dua koma bertangkupan. Dua koma dari dua kamus yang berbeda dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi. (2007)

Sajak Panjang Apa nama jalan menuju judul, sajakku? Namanya jalan panjang, penyairku. (2007)

Pembangkang Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan. Tidak jelas, ia peronda yang kesepian atau pencuri yang kebingungan. Dari arah belakang muncul seorang pengarang yang kehilangan jejak tokoh cerita yang belum selesai ditulisnya. “Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang melamun di sini. Ayo pulang!” Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang. (2007)

Puasa dan Puisi

Puasa kepada penyair Haspahani Saya sedang mencuci celana yang pernah saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri. Saya sedang mencuci kata-kata dengan air mata yang saya tabung setiap hari. Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puisi. (2007)

Baju Bulan Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru, tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang, sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan. Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam? Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri rela telanjang di langit, atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang. (2003)
Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004)

Pacar Puisi
Pacar Senja Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai. Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli. Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu. “Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.” Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya. Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja yang masih megap-megap oleh ciuman senja. “Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium menjadi bekas. Betapa curangnya rindu. Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.” Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap. Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak. (2003)

Pacarkecilku untuk Anggra Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan datang membangunkan mimpi. Pacarkecilku berlari ke halaman, menadah hujan dengan botol mainan, menyimpannya di kulkas sepanjang hari, dan malamnya ia lihat di botol itu gumpalan cahaya warna-warni. Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi dalam dekapnya. Ketika bangun ia berkata: “Tadi kau ke mana? Aku mencarimu di rerimbun taman bunga.” Aku terdiam. Sepanjang malam aku hanya berjaga

di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan pelan-pelan membuka matanya. Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi dalam botol cintanya bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati yang akan ia taburkan di atas jasadku nanti. (2001)

Mata Bola
Ia baru saja menunaikan pertandingan sepakbola. Hatinya memar dan lara. Ia dapatkan tiga peluang emas untuk mencetak gol, semuanya terbuang percuma. Bola yang ditembaknya dengan penuh perhitungan melambung di atas mistar gawang. Satu mendarat di pelukan penjaga gawang. Satu lagi membentur tiang gawang, kemudian memantul deras menghantam jidatnya tersayang. Dengan terpincang-pincang ia tinggalkan gelanggang. Kakinya yang gigih agak rusak digasak lawan. Bola yang dingin dan angkuh dibawanya pulang dan dihajarnya dengan beringas. “Ampun, bang,” rintih bola, “bukan saya yang bikin naas. Kaki abanglah yang kurang cerdas.” Dipandanginya mata bola yang menatapnya penuh iba. Sekonyong-konyong muncul bayangan ayahnya yang tewas dalam kerusuhan penonton saat menyaksikan pertandingan bola. Dengan sesal dibelai-belainya bola dan didekapnya. “Aduh, badanmu panas sekali, bola. Kau demam ya? Kau pasti capek diajak berlari ke sana kemari.” Bola terpejam. Dan dari balik mata bola ia dengar suara ibunya yang telah tiada: “Kakimu cedera ya, nak? Sini ibu pijitin biar tambah sakit. Jangan sedih. Ibu selalu menyertaimu di dalam bola.” Nah, ia akan mencoba cara baru menceploskan bola ke mulut gawang: ia akan menendangnya sambil terpejam. (2008)

Proverbia Latina
Nescire quaedam magna pars sapientiae est. Tidak mengetahui beberapa hal itu merupakan sebagian besar dari kearifan. Terjemahan bebas: orang yang sungguh arif justru akan mengatakan bahwa dia tidak mengetahui semuanya. Nescis, mi fili, quantilla prudential mundus regatur. Anakku, engkau tidak tahu bahwa dunia ini diatur oleh kearifan-kearifan kecil. Qui studet optatam cursu contingere multa tulit fecitque puer. Orang yang ingin naik sampai ke puncak yang tertinggi, haruslah orang yang di masa mudanya banyak menderita dan banyak berbuat. Nihil lacrima citius arescit. Tidak ada yang lebih cepat mongering ketimbang air mata. Ridendo dicere verum. Sambil tertawa mengatakan yang benar. Veritatis simplex oratio est. Bahasa kebenaran itu sederhana.
Sumber: B.J. Marwoto dan H. Witdarmono, Proverbia Latina: Pepatah-pepatah Bahasa Latin (Penerbit Buku Kompas, 2004)

Tribute
Pengarang, engkau sungguh sabar menunggu ide yang tanpa kabar. Dirimu sangat percaya diri meskipun karyamu tidak banyak terbeli. … (Paska Wahyu Wibisono, “Pengarang”, Bobo, 27 November 2003)

Jalan Sunyi

Ada jalan kecil menuju kebunmu: ada hujan mungil merayap pelan ke liang kuburku. (2007)

Sajak-sajak 1980-1991
Layang-layang Dulu pernah kaubelikan aku sebuah layang-layang pada hari ulang tahun. Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak tapi hanya sejenak. Sebab layang-layang itu kemudian hilang, entah ke mana ia terbang. Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang dan kembali kutemu. Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu. Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan selain dibasahkuyupkan di bawah hujan. Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan meskipun tanpa benang dan tinggal robekan. Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang. (1980)

Pohon Bungur : anno 1968 - 1973 Pohon bungur di puncak bukit dalam naungan senja. Bunga-bunganya berceceran dihirup angin selatan. Pohon bungur di puncak bukit dalam belaian usia. Kuingat selalu bunga merahnya yang ranum diguyur hujan menjelang malam turun. (1990)

Penyair Tardji Tardji minta bir buat pesta di malam buta. “Sampai tuntas pahit-asamnya. Sampai pecah ini botolnya.” Dalam mabuk ia minta tuak dari jantungMu. “Mana kapak? Biar kutetak leher panjangMu.” Sampai huruf habislah sudah. Sampai nganga luka dibelah. “Ya Allah, sajak terindah kutemu dalam Kau darah.” (1986)

Tengah Malam Badai menggemuruh di ruang tidurmu. Hujan menderas, lalu kilat, petir dan ledakan-ledakan waktu dari balik dadamu. Sesudah itu semuanya reda. Musim mengendap di kaca jendela. Tinggal ranting dan dedaunan kering berserakan di atas ranjang. Hening. Waktu itu tengah malam. Kau menangis. Tapi ranjang mendengarkan suaramu sebagai nyanyian. (1989)

Bulu Matamu: Padang Ilalang Bulu matamu: padang ilalang. Di tengahnya: sebuah sendang. Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir datang bertapa untuk membuktikan apakah benar wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

Ia tak percaya, maka ia menyelam. Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam. Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam. Bulu matamu: padang ilalang. (1989)

Tukang Cukur Ia membabat padang rumput yang tumbuh subur di kepalaku. Ia membabat rasa damai yang merimbun sepanjang waktu. “Di bekas hutan ini akan kubangun bandar, hotel, dan restoran. Tentunya juga sekolah, rumah bordil, dan tempat ibadah. Ia menyayat-nyayat kepalaku. Ia mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku. “Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu. Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu.” Suara guntingnya selalu mengganggu tidurku. (1989)

Hutan Karet in memoriam: Sukabumi Daun-daun karet berserakan. Berserakan di hamparan waktu. Suara monyet di dahan-dahan. Suara kalong menghalau petang. Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan. Berloncatan di semak-semak rindu.

Dan sebuah jalan melingkar-lingkar. Membelit kenangan terjal. Sesaat sebelum surya berlalu masih kudengar suara bedug bertalu-talu. (1990)

Pada Lukisan Monalisa Di rambutmu burung-burung membuat sarang. Burung-burung yang terbang dari khasanah senja; yang sudah berapa lama terkurung dalam himpian Hawa. Burung-burung yang memintal benang-benang cahaya dengan kepak lembut sayap-sayapnya yang luka. Burung-burung yang menggurat padang langit hijau dengan cakar-cakar perih dan kicau-kicaunya yang parau. Dan engkau adalah pohon yang dahan-dahannya menjulur lentur karena adalah kenangan. Yang akar-akarnya menjuntai ke wilayah malam. Yang ranting-rantingnya lembut karena adalah igauan. Yang daunnya rimbun menghalau kobaran jaman. Yang pucuk-pucuknya menjulang karena adalah jeritan. (1990)

Senandung Becak Ada becak melenggang sendirian di sebuah gang. Pemiliknya, katanya, telah mati di tiang gantungan. Ada becak hanyut di sungai. Sungainya keruh, mengalir ke laut yang jauh. Orang-orang berkumpul di atas jembatan, mengira si pemiliknya telah mati tenggelam. Tapi ada yang berbisik kepada saya: “Akulah yang menghanyutkannya dan ternyata kalian amat suka menontonnya.”

Ada juga yang berkata: “Sesampainya di laut, becak itu akan menjelma menjadi sebuah perahu yang harus bertarung sendirian melawan badai, ombak dan malam.” (1990)

Di Kulkas: Namamu Di kulkas masih ada gumpalan-gumpalan batukmu mengendap pada kaleng-kaleng susu. Di kulkas masih ada engahan-engahan nafasmu meresap dalam anggur-anggur beku. Di kulkas masih ada sisa-sisa sakitmu membekas pada daging-daging layu. Di kulkas masih ada bisikan-bisikan rahasiamu tersimpan dalam botol-botol waktu. (1991)

Ranjang Kematian Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri. Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali oleh keturunan orang-orang mati. Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi. Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu. Bantal, guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku. Dan selimut telah melumut. Telah melumut pula mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi. Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran tempat peri-peri membersihkan diri dari prasangka manusia.

Semalaman mereka telanjang, meniup seruling, hingga terbitlah purnama. Dan manusia terpana, tergoda. (1991)

Perjalanan Pulang Kadang ingin sangat aku pulang ke rumahmu. Setidaknya kubayangkan suatu senja aku datang ke ambang jendelamu, melongok wajah seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan. Halte. Aku terdampar di sebuah halte. Menunggu bus yang sebenarnya telah lama lewat. Mengulur-ulur waktu agar tidak cepat sampai ke arah jantung atau erangan bisu. Lihatlah, setiap orang memasang halte di tempat persinggahan. Menunggu dan menanti tak henti-henti. Mengangankan masih ada bus yang bakal datang membawanya pulang atau mungkin pergi jauh sekali. Demikianlah musafir: kita takut menjadi tua namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi, menjadi kanak-kanak kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatan. Rindu. Aku ini memang selalu rindu untuk pulang tapi saban kali juga tak betah. Petualang sekaligus pencinta rumah. Di saat lelap sering kulihat bayangan tubuhmu berjalan terbungkuk-bungkuk dengan gaun putih, menyibak dan menutup kembali kelambu mimpi. Halte. Aku ingat sebuah halte di ujung kota yang entah. Perhentian tempat penantian dikekalkan dan sekaligus diakhiri. Alamat kepada siapa kaukirimkan aduhan bernama surat. Rendezvous yang kepadanya kautujukan persediaan waktu. Tak bosan-bosan. Jendela selalu membukakan dirinya untuk dimasuki dan ditinggalkan.

Seakan seseorang selalu siap di atas ampunan, menerima dan melepaskan salam. Seperti juga telapak tanganmu: selalu terbuka untuk dilayari dan disinggahi. Mengapa kita takut pada ketakutan? Mengira tak ada yang bisa diabadikan? Tengah malam kita sering terbangun lalu berdiri di depan cermin. Merapikan rambut yang kusut. Membelai wajah yang membangkai. Memugar mata yang nanar. Andaipun langit memperpendek batas, tak berarti jangkauan begitu saja lepas. Siapa tahu tatapan malah meluas, memburu sinyal-sinyal baru yang memberitakan atau menyembunyikan pesanmu. Tergambar jelas di potret lama: wajah yang dingin dihangati usia. Burung-burung pipit mengurung senja, matahari beringsut pada lingkaran biru. Kemudian malam terlipat di pelupukmu dan sebuah himne menggema di lintasan alismu. Berapa lama kata-kata berbincang tentang artian? Uban-uban tak mau bicara tentang ketuaan. Almanak tak menyiratkan tanggal dan bulan. Garis-garis tangan tak menuliskan suratan. Dinding-dinding tak membatasi ruang. Berapa lama ucapan tak mau bungkam? Ah padang pasir. Panasmu ingin menghanguskan perkemahan. Kau pikir para pengungsi mau dilumat kelaparan? Lihatlah, sungai itu tetap saja hijau. Kematian dienyahkan ke bukit-bukit karang, kanak-kanak bermain terompet di lubang persembunyian. Katakan pada ibu, si buyung mau lebih lama merantau. Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan, pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan. Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

Hari itu jam bergerak lambat. Malam mengingsut seperti siput mengusut kabut. Di jauhan anjing-anjing bertengkar berebut kucing. Kalender menangis melengking-lengking. Apakah waktu sudah sangat bosan menghuni jam dinding? Aduh sayang, detik-detik berjatuhan ke lantai dingin, diserbu semut-semut hitam untuk pesta persembahan. Lalu kau merapat ke kaca almari: mengganti baju, menyempurnakan kecantikan. Matamu menyala serupa lilin. Keningmu berkobar dibantai sinar. Apakah kau sedang berkemas ke kuburan? Alamak, beri aku sedikit waktu. Nyawaku tertinggal di rumah sakit. Baju usang yang kusayang tergantung riang di tali jemuran. Sudah rapuh, sudah kumal, sudah pula penuh jahitan. Seperti kujahit leher yang retak, leher yang koyak dirobek-robek kemiskinan. Salam bagimu peziarah muda. Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. Ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari. Lonceng gereja mengepung rindumu di malam buta, membangunkan si sakit dari ranjang beku di kamar-kamar mati. Salam bagimu pasien abadi. Suatu hari aku ingin mengajak si mayat berburu singa di hutan purba. Melacak jejak sejarah nenek moyang yang melahirkan nama-nama. Merunut silsilah gelap dari mana aku datang ke mana aku pulang. Senja hampir layu. Burung-burung berarak pulang menuju lingkaran biru. Gaun siapa tertinggal di bangku taman, dibawa kupu-kupu ke pucuk cemara? Musim bunga tergesa-gesa pergi diburu musim yang kehilangan cuaca. Jika benar air mancur itu tak ingin tidur, barangkali bisa kutitipkan kebosanan padanya. Angin dan angan menyurutkan malam, menyibakkan tirai pagi sebelum surya ungu berayun di ambang pintu: mengabarkan saat kematian dunia waktu.

Halte. Aku terdampar kembali di sebuah halte. Melupakan bus yang tak akan lewat atau sudah lama lewat. Memilih saat terbaik untuk pulang ke rumah, ke dunia entah. Untuk datang ke ambang jendelamu, melongok wajah seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan. Seperti pada saat keberangkatan. (1991)

Penyanyi yang Pulang Dinihari Ia melewati jalan yang sudah bosan menghitung langkahnya. Rambutnya menyimpan kunang-kunang. Matanya ingin menggapai bintang-bintang. Tak ada yang benar-benar mengenalinya selain angin yang masih menyebutnya perempuan. Perempuan itu tak mau menangis. Air matanya sudah hanyut di sungai. Dan meskipun sungai berulangkali meriuhkan keperihan, arus air tak mau kembali mengulang detak jam. Malam sekarat di balik gaun transparan dan sisa waktu dilumatkan di ujung lengan. Letupkan penyanyi, letupkan nada terakhir yang belum sempat dihunjamkan. Siapa tahu dada montok itu masih merindukan jeritan. Tersaruk-saruk ia menyeret bayangan tubuhnya. Gerimis hitam mengguyur wajahnya yang beku sehingga bedak dan lipstik luntur melumuri gaunnya yang putih. Rambut coklatnya meleleh pekat. Tapi singa luka itu tak mau pedih. Mungkin hatinya merintih. Maka kunang-kunang menggeremang di rambutnya, bintang-bintang berkerlapan di matanya. Ia menyanyi dan menari dan pinggulnya yang hijau mengibaskan bayangan hitam orang-orang mati. Tersuruk ia di sebuah tikungan dan para peronda mau membawanya ke gardu.

Tapi singa luka itu menggeram nyalang dan para lelaki dihardiknya pergi. Hai perempuan, rumah mana bakal kautuju? Awas hati-hati, di ujung jalan banyak polisi. Ah sialan, dasar pemberani, sudah luka masih juga menggoda. Tampaknya ia percaya sebuah rumah setia menanti. Seperti tamu asing, ia berhenti di depan pintu besi. Plat nomor telah rusak, tak lagi mencantumkan angka. Ia ragu apakah benar itu rumahnya. Tapi ia masih ingat beha usang yang tergantung di atas pintu, tanda sebuah dunia atau sepenggal kehidupan masih menunggu. Pintu besi telah mengunci diri, menutup hati bagi tamu yang ingin singgah. Daripada kaku dibalut embun pagi, dipanjatnya pagar halaman berduri. Seekor anjing menyalak nyaring menggonggongi bau keringatnya yang asin. Kembali ia termangu. Ia ragu membuka pintu. Ia takut pada pintu. Baru setelah diketuk tujuh kali, pintu hitam membukakan diri. “Bukankah ini rumahmu? Apakah engkau takut atau lupa samasekali?” “Ya, ini memang rumahku. Saban kali aku meninggalkannya, saban kali pula harus mengenalinya kembali.” Ia tertegun. Dadanya mengkerut disepak dentang lonceng jam tiga pagi. “Ah pintu, engkau lebih mengenal rumahku ketimbang aku sendiri yang saban waktu merindukannya dan kemudian meninggalkannya. Barangkali studio-studio suara dan panggung-panggung hiburan telah membuatku jadi pelupa, jadi serba alpa.” Perlahan ia melangkah ke ambang pintu. Angin jahat menyingkap ujung gaunnya yang tipis. Kakinya yang lembab melekat di lantai dingin.

Terasa dunia jadi lain, terasa dunia jadi lain. Di dinding hitam sebuah topeng terkekeh-kekeh, menyeringai menertawakan tamu asing yang bertandang ke rumahnya sendiri. Apakah ada malaikat yang selalu membawa anak kunci? Kamar sudah menganga sebelum ia buka pintunya. Dan di atas meja rias yang porak poranda sebuah boneka masih menari-nari. Astaga, ranjang hitam menggoyang-goyangkan diri. Kelambu telah habis dibakar mimpi. Sebuah radio tertidur pulas di bantal biru, tak henti-hentinya mengigau dan meracau. Wah, tampaknya ia tengah bercumbu dengan orang mati yang menciptakan gelombang siaran dinihari. Ah perempuan, yang merindukan kebangkitan musim semi, kini tubuhmu tegak di hadapan cermin retak. Bibirmu hangus dan mengelupas. Berdarah. Berdarah-darahlah leher hijau yang diterkam musim panas. Kau mengaduh. Aduh. Kepada siapa kau mengaduh? Kepada tatapan yang hancur luluh? Kepada cermin yang tak lagi utuh? Wah, jidatmu yang legam dilayari kupu-kupu hitam, diarungi cicak-cicak hitam. Serba hitam. Perempuan itu samasekali tidak gila. Tidak lupa pada jagad kata yang dihuninya seorang diri tanpa cinta. Tidak sangsi dan benci pada janji-janji baik yang diucapkan para kekasih yang mengurungnya dalam lingkaran ilusi. Ia tidak gila. Hanya sepi berkepanjangan, barangkali. Dan ia benar-benar perempuan. Terbukti ia tabah, tidak mudah menyerah pada keinginan murahan untuk mencekik leher, memotong urat nadi. Memang ia mengambil pisau dari laci almari, tapi bukan untuk bunuh diri. Ia cuma ingin menyembelih bayangan-bayangan hitam yang berbondong-bondong di dinding legam. Sebuah kamar bisa menjadi salon kecantikan. Di sana ia bersolek, mengganti model rambut, alis dan bulu mata agar setiap orang tergoda untuk pura-pura

tak mengenalnya sehingga ia bisa mendapatkan cinta baru di atas kecantikan lama. Demikian pula para lelaki akan mendapatkan kejantanan kembali pada tatapan yang sesilau kerlip api setelah sekian lama dunia mereka miliki sendiri. Ah lelaki, wajahmu tersipu malu disambar rayuan baru. Lalu ia menyanyi di depan kaca almari. Lagu-lagu lama disenandungkan kembali. Kadang lebih merdu dari yang dinyanyikan di masa lalu, lebih baru dari lagu-lagu terbaru. Perempuan, kau memang hanya berlomba dengan waktu. Tak usah ditunda lebih lama. Bibir pedas sudah siap menerima lumatan. Dan jika dada kenyal itu menggembung mengempiskan hasrat-hasrat terpendam, kamar sempit siap menampung gemuruh topan dan lalu badai kehampaan. Tapi tak ada saat untuk menangis menggigit-gigit tangan. Penyanyi, jangan meraung memukul-mukul dinding. Ranjang hitam sudah menggeliat minta dekapan. Cermin retak sudah kembali berdandan. Tanggalkan gaun usang, cobalah menggelinjang. Dentang lonceng jam tiga pagi tergelak-gelak menyaksikan tubuhmu, sakitmu, yang telanjang. (1991)

Anjing
Di depan rumah saya ada sebuah rumah kosong yang dinding sampingnya berbatasan langsung dengan gang. Dinding rumah itu tak pernah sepi dari coretan. Kemarin baru saja dicat putih dalam rangka menyongsong 17 Agustus-an, malamnya sudah belepotan lagi dengan berbagai macam coretan berisi umpatan. Ada coretan puitis berbunyi “asu” yang ditulis besar-besar dengan cat semprot berwarna merah. Itu pasti kelakuan Kasbulah, seorang remaja kampung yang hobinya mencoreti tembok rumah tetangga. Kasbulah adalah bajingan kecil yang rajin membolos sekolah dan memalak temantemannya. Bahkan bapaknya, seorang guru Sekolah Dasar (merangkap tukang ojek) yang tekun dan gigih, sering diperasnya pula. Ia suka meminta uang dengan ancaman tak akan masuk sekolah kalau permintaannya tidak dikabulkan. Pernah permintaannya tidak dipenuhi dan ia marah besar. Diam-diam ia menghunus spidol besar, kemudian menodai saku belakang celana bapaknya dengan tulisan “pelit”. Saya sedang membaca dengan seksama coretan-coretan nakal di dinding rumah kuno itu ketika seekor anjing cerdas lewat. Melihat tulisan “asu” di tembok bercat putih itu, si anjing mendadak berhenti, kemudian menggonggong lantang tak henti-henti dan gonggongannya membuat orang-orang berhamburan keluar. Anjing itu melotot ke arah saya – mungkin ia mengira sayalah yang membubuhkan kata “asu”. Segera saya tutup pintu, takut ia menyerang saya. Aha, anjing keren itu malah tersenyum manis kepada saya, kemudian melanjutkan perjalanannya entah ke mana. Hampir tengah malam, Kasbulah baru pulang dari keluyuran. Dengan gaya seorang jagoan ia berjalan gagah sambil bersiul-siul menyusuri gang gelap menuju rumahnya. Dari arah berlawanan muncul seekor anjing besar, tinggi dan hitam. Kasbulah berlagak tenang dan terus melangkah ke depan. Si hitam besar mencoba meruntuhkan mental bajingan kecil itu dengan meletuskan lolongannya dan lolongannya sungguh sangat mengerikan, seperti suara maut dari lembah kegelapan nun jauh di seberang. “Biarkan Kasbulah berlalu, anjing tetap menggonggong,” kata si anjing dalam hati. Belum sampai berpapasan, mental Kasbulah sudah rontok. Sambil gemetar ia segera berlari berbelok arah, mencari jalan lain menuju rumah bapaknya. Dengan girang si hitam besar mengejarnya. Kasbulah berhasil mencapai rumahnya saat lawannya hampir saja menerkamnya. Sebelum Kasbulah menutup pintu rumahnya, si hitam besar berhasil meraih saku belakang celananya dan merobek-robeknya. Ayah Kasbulah sedang duduk manis di depan televisi, menonton siaran pertandingan sepak bola sambil merokok dan minum kopi

Sajak-sajak 1994-1995
Kisah Seorang Nyumin Demonstrasi telah bubar. Kata-kata telah bubar. Juga gerak, teriak, gegap, gejolak. Tak ada lagi karnaval. Bahkan pawai dan gelombang massa telah menggiring diri ke dataran lengang, tempat ilusi-ilusi ringan masih bisa bertahan dari serbuan beragam ancaman. Siapa masih bicara? Bendera, spanduk, pamflet telah melucuti diri sebelum dilucuti para pengunjuknya. Tak ada lagi karnaval. Di pelataran yang mosak-masik yang tinggal hanya koran-koran bekas, berserakan, kedinginan diinjak-injak sepi. Tapi di atas mimbar, di pusat arena unjuk rasa Nyumin masih setia bertahan, sendirian. Lima peleton pasukan mengepungnya. “Sebutkan nama partaimu.” “Saya tak punya partai dan tak butuh partai.” “Lalu apa yang masih ingin kaulakukan? Mengamuk, mengancam, menggebrak, melawan?” “Diam, itu yang saya inginkan.” “Lakukan, lakukan dengan tertib dan sopan. Kami akan pulang, mengemasi senjata, mengemasi kata-kata. Pulang ke rumah yang teduh tenang.” Sayang Nyumin tak bisa diam. Nyumin terus bicara, menghardik, menghentak, meronta, meninju-ninju udara. Dan para demonstran bersorak: “Hidup Nyumin!” Suasana serasa senyap, sesungguhnya. (1992)

Kisah Senja Telah sekian lama mengembara, lelaki itu akhirnya pulang ke rumah. Ia membuka pintu, melemparkan ransel, jaket,

dan sepatu. “Aku mau kopi,” katanya sambil dilepasnya pakaian kotor yang kecut baunya. Isterinya masih asyik di depan cermin, bersolek menghabiskan bedak dan lipstik, menghabiskan sepi dan rindu. “Aku mau piknik sebentar ke kuburan. Tolong jaga rumah ini baik-baik. Kemarin ada pencuri masuk mengambil buku harian dan surat-suratmu.” Tahu senja sudah menunggu, lelaki itu bergegas masuk ke kamar mandi, gebyar-gebyur, bersiul-siul, sendirian. Sedang isterinya berlenggak-lenggok di cermin, mematut-matut diri, senyum-senyum, sendirian. “Kok belum cantik juga ya?” Lelaki itu pun berdandan, mencukur jenggot dan kumis, mencukur nyeri dan ngilu, mengenakan busana baru. Lalu merokok, minum kopi, ongkang-ongkang, baca koran. “Aku minggat dulu mencari hidup. Tolong siapkan ransel, jaket, dan sepatu.” Si isteri belum juga rampung memugar kecantikan di sekitar mata, bibir, dan pipi. Ia masih mojok di depan cermin, di depan halusinasi. (1994)

Bayi di Dalam Kulkas Bayi di dalam kulkas lebih bisa mendengarkan pasang-surutnya angin, bisu-kelunya malam dan kuncup-layunya bunga-bunga di dalam taman. Dan setiap orang yang mendengar tangisnya mengatakan: “Akulah ibumu. Aku ingin menggigil dan membeku bersamamu.” “Bayi, nyenyakkah tidurmu?” “Nyenyak sekali, Ibu. Aku terbang ke langit ke bintang-bintang ke cakrawala ke detik penciptaan bersama angin dan awan dan hujan dan kenangan.” “Aku ikut. Jemputlah aku, Bayi. Aku ingin terbang dan melayang bersamamu.”

Bayi tersenyum, membuka dunia kecil yang merekah di matanya, ketika Ibu menjamah tubuhnya yang ranum, seperti menjamah gumpalan jantung dan hati yang dijernihkan untuk dipersembahkan di meja perjamuan. “Biarkan aku tumbuh dan besar di sini, Ibu. Jangan keluarkan aku ke dunia yang ramai itu.” Bayi di dalam kulkas adalah doa yang merahasiakan diri di hadapan mulut yang mengucapkannya. (1995)

Di Salon Kecantikan Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan selalu pada akhirnya: terjebak di cakrawala. “Sekali ini aku tak mau diganggu. Waktu seluruhnya untuk kesendirianku.” Senja semakin senja. Jarinya meraba kerut di pelupuk mata. Tahu bahwa kecantikan hanya perjalanan sekejap yang ingin diulur-ulur terus namun toh luput juga. Karena itu ia ingin mengatakan: “Mata, kau bukan lagi bulan binal yang menyimpan birahi dan misteri.” Ia pejamkan matanya sedetik dan cukuplah ia mengerti bahwa gairah dan gelora harus ia serahkan kepada usia. Toh ia ingin tegar bertahan dari ancaman memori dan melankoli. Ia seorang pemberani di tengah kecamuk sepi. Angin itu sayup. Gerimis itu lembut.

Ia memandang dan dipandang wajah di balik kaca. Ia dijaring dan menjaring dunia di seberang sana. Hatinya tertawan di simpang jalan menuju fantasi atau realita. Mengapa harus menyesal? Mengapa takut tak kekal? Apa beda selamat jalan dan selamat tinggal? Kecantikan dan kematian bagai saudara kembar yang pura-pura tak saling mengenal. “Aku cantik. Aku ingin tetap mempesona. Bahkan jika ia yang di dalam cermin merasa tua dan sia-sia.” Yang di dalam kaca tersenyum simpul dan menunduk malu melihat wajah yang diobrak-abrik tatawarna. Alisnya ia tebalkan dengan impian. Rambutnya ia hitamkan dengan kenangan. Dan ia ingin mengatakan: “Rambut, kau bukan lagi padang rumput yang dikagumi para pemburu.” Kini ia sampai di negeri yang paling ia kangeni. “Aku mau singgah di rumah yang terang benderang. Yang dindingnya adalah kaki langit. Yang terpencil terkucil di seberang ingatan. Aku mau menengok bunga merah yang menjulur liar di sudut kamar.” Ada saatnya ia waswas kalau yang di dalam cermin memalingkan muka karena bosan, karena tak betah lagi berlama-lama menjadi bayangannya lalu melengos ke arah tiada. Lagu itu lirih. Suara itu letih. Di ujung kecantikan jarum jam mulai mengukur irama jantungnya.

“Aku minta sedikit waktu lagi buat tamasya ke dalam cemas. Malam sudah hendak menjemputku di depan pintu.” Keningnya ia rapatkan pada kaca. Pandangnya ia lekatkan pada cahaya. Ia menatap. Ia melihat pada bola matanya segerombolan pemburu beriringan pulang membawa bangkai singa. Senja semakin senja. Kupu-kupu putih hinggap di pucuk payudara. Tangannya meremas kenyal yang surut dari sintal dada. Dan ia ingin mengatakan: “Dada, kau bukan lagi pegunungan indah yang dijelajahi para pendaki.” Ia mulai tabah kini justru di saat cermin hendak merebut dan mengurung tubuhnya. “Serahkan. Kau akan kurangkum, kukuasai seluruhnya.” Ia ingin masih cantik di saat langit di dalam cermin berangsur luruh. Hatinya semakin dekat kepada yang jauh. (1995)

Malam Pembredelan Segerombolan pembunuh telah mengepung rumahnya. Mereka menggigil di bawah hujan yang sejak sore bersiap menyaksikan kematiannya. Malam sangat ngelangut, seperti masa muda yang harus bergegas ke pelabuhan, meninggalkan saat-saat indah penuh kenangan. Ia sendiri tetap tenang, ingin santai dan damai menghadapi detik-detik akhir kehancuran. Ia mengenakan pakaian serba putih

dengan rambut disisir rapih dan wajah amat bersih. Bahkan ia masih sempat menghabiskan sisa kopi di cangkir ungu sambil bersiul dan sesekali berlagu. “Selamat datang. Saya sudah menyiapkan semua yang akan Saudara rampas dan musnahkan: kata-kata, suara-suara, atau apa saja yang Saudara takuti tetapi sebenarnya tidak saya miliki.” Ia berdiri di ambang pintu. Ditatapnya wajah pembunuh itu satu satu. Mereka gemetar dan memandang ragu. “Maaf, kami agak gugup. Anda ternyata lebih berani dari yang kami kira. Kami melihat kata-kata berbaris gagah di sekitar bola mata Anda.” “Terima kasih, Saudara masih juga berkelakar dan pura-pura menghibur saya. Cepat laksanakan tugas Saudara atau kata-kata akan balik menyerang Saudara.” “Baiklah, perkenankan kami sita dan kami bawa kata-kata yang bahkan telah Anda siapkan dengan rela. Sedapat mungkin kami akan membinasakannya.” “Ah, itu kan hanya kata-kata. Saya punya yang lebih dahsyat dari kata-kata.” Tanpa kata-kata, gerombolan pembunuh itu berderap pulang. Tubuh mereka yang seram, wajah mereka yang nyalang lenyap ditelan malam dan hujan. Sementara di atas seratus halaman majalah yang seluruhnya kosong dan lengang kata-kata bergerak riang seperti di keheningan sebuah taman. Sebab, demikian ditulisnya dengan tinta merah: “Kata-kata adalah kupu-kupu yang berebut bunga, adalah bunga-bunga yang berebut warna, adalah warna-warna yang berebut cahaya, adalah cahaya yang berebut cakrawala, adalah cakrawala yang berebut saya.” Lalu ia tidur pulas. Segerombolan pembunuh lain telah mengepung rumahnya.

(1995)

Bukan Si Anak Hilang
Sitor Situmorang Paris la Nuit / Paris di Waktu Malam Forum Jakarta-Paris & Komunitas Bambu, 2002 lxiv + 262 halaman

————————————Membicarakan perpuisian Sitor Situmorang, orang mungkin segera teringat sajaknya “Malam Lebaran”, sajak-sebaris yang cuma berbunyi Bulan di atas kuburan. Sajaknya yang juga sangat populer adalah “Si Anak Hilang”. Selain karena kekuatan bentuk pengucapannya, sajak ini pun dianggap mewakili kecenderungan tematik perpuisian Sitor. Sajak ini bercerita tentang anak yang pulang ke kampung halamannya dari pengembaraannya di “dingin Eropa”. Kepulangannya cuma fisik belaka, lantaran jiwanya masih terpaut di seberang sana. Dalam kata-kata A. Teeuw (1980), “kembali tapi tidak pulang”. Ironi semacam inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu daya pikat puisi Sitor. Kedua sajak tersebut tidak dapat dijumpai dalam antologi dwibahasa (Indonesia dan Perancis) yang memuat 102 sajak Sitor ini. Tampaknya buku ini memang tidak diniatkan sebagai koleksi sajak-sajak terbaik Sitor. Ia lebih dimaksudkan untuk menghimpun sajaksajak Sitor yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Di samping sajak-sajak yang dapat dijumpai dalam berbagai kumpulan puisi Sitor sebelumnya, terdapat pula sajak-sajak yang tampaknya belum pernah diterbitkan sebagai buku. Sebagai penyair, Sitor tergolong cukup produktif. Di antara sekian banyak sajaknya, sajak-sajak terindahnya – seperti dikemukakan Wing Kardjo dalam pengantarnya– muncul pada periode-periode awal kepenyairannya, yaitu periode Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), dan Wajah Tak Bernama (1955). Adalah menarik bahwa sajak-sajak terkuat Sitor justru sajak-sajak yang digubah dalam bentuk terikat yang ketat, yang bersumber pada pola-pola persajakan lama seperti pantun dan syair. Selain dalam “Si Anak Hilang”, kecenderungan ini dapat dilihat, misalnya, dalam “Lagu Gadis Itali”, “Angin Merendah”, “La Ronde”, dan tentu saja “Cathedrale de Chartres” yang memukau itu. Sajak-sajak itu gemerlap bahasanya, segar dan lincah imajinya. Dalam perkembangan selanjutnya Sitor banyak menulis sajak yang lebih cair bentuk dan gaya pengungkapannya, meskipun tetap dalam kerangka estetika puisi lirik yang memang merupakan habitatnya. Ciri lain yang juga muncul: tidak banyak lagi ditemukan sajak yang masing-masing menampilkan kesatuan dan keutuhan yang kukuh sebagaimana sajak-sajak yang disebutkan di atas. Yang lebih banyak muncul adalah rangkaian puisi atau bahkan kerumunan puisi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat dalam banyak sajaknya Sitor cenderung melakukan semacam snapshot, bukan pengolahan suatu tema secara utuh dan tuntas. Sajak-sajak semacam ini lebih dapat dinikmati dalam hubungannya atau rangkaiannya dengan sajak-sajak lain, dan terasa kurang gregetnya bila dinikmati secara lepas-lepas.

Pernah, dalam satu periode, yaitu periode Zaman Baru, Sitor ikut-ikutan latah menggubah sajak-sajak “kerakyatan” yang kualitasnya tidak mencerminkan kecerdasan puitiknya. Atau, Sitor telah tidak memanfaatkan kecerdasan puitiknya untuk menggarap tema yang sebenarnya tidak haram itu. Kecenderungan makin mencairnya puisi Sitor ternyata diikuti dengan menjinaknya semangat petualangan si aku-lirik. Pada akhirnya si aku-lirik benar-benar ingin kembali ke kampung halamannya, sebab di negeri kembara ia hanyalah “tamu”, “musafir”, “penumpang”. Simaklah baris-baris sajak “Harianboho” ini: ‘Ku yakin menemukan jalan selalu/kembali padamu,/jalan pulang ke lembah landai/di tepi danau/sepanjang pantai.//‘Ku yakin selalu padamu kembali/di akhir nanti,/saat kembara berakhir,/tiba sadar pada musafir.//Di ladang dan gerbang/negeri-negeri ramah, tapi asing,/kau pun terkenang.//Betapa sering,/puluhan tahun di negeri orang,/ jadi tamu ragam cinta,//namun penumpang jua./Karena ketentuan masalalu,/tak dapat diulang,/lahir sekali di pangkuanmu. Dengan sajak ini si aku-lirik seakan telah menyelesaikan konflik batinnya, meredakan gairah “keisengan”-nya di antara dua kutub rindu: “Harianboho” dan “Paris”. Ada paradoks –atau mungkin ironi– di sini: di satu sisi kita bisa melihat munculnya kearifan hidup, di sisi lain –meminjam kata-kata Teeuw– hilangnya misteri puisi Sitor. Dalam peta perpuisian Indonesia, secara estetik, Sitor, penyair-pengembara itu, sesungguhnya memang bukan “si anak hilang”. Estetika perpuisiannya dapat dengan mudah dilacak jejaknya dalam tradisi perpuisian yang tumbuh di negeri ini. Dan dalam masa bakti kepenyairannya yang panjang ia agaknya tidak tergerak untuk menjelajah dan merambah khasanah estetik lain seperti yang dicoba oleh, misalnya, Rendra. Toh intensitasnya menggulati problematik manusia-pengembara dan kecerdasan artistiknya mendayagunakan unsur-unsur dan pola-pola persajakan lama telah menempatkannya sebagai salah seorang penyair terpenting di negeri yang berkelimpahan puisi ini. Yogyakarta, 28 Maret 2002 Joko Pinurbo
TEMPO No. 10/XXXI 06 Mei 2002

Sesuatu Sapardi: Anda Bahagia Menulis Puisi?
Oleh Hasan Aspahani

SAYA mengenal nama penyair Sapardi Djoko Damono dan puisi-puisinya dalam buku DukaMu Abadi. Ada sebuah toko buku di Balikpapan yang sering saya kunjungi sepulang sekolah. Mengambil gaya Chairil Anwar, saya pernah mencuri buku di sana. Buku Sapardi itu saya beli, tidak saya curi. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Puisi-puisi dalam buku tipis itu waktu itu sangat memikat saya. Kesannya bagi saya waktu itu, eh ternyata mudah sekali membuat puisi tapi hasilnya bukan puisi yang gampangan. Sebuah kesan yang salah, tapi ini kesalahan yang menguntungkan saya. Waktu itu saya merasakan ada sesuatu dalam puisi Sapardi itu yang pasti nanti saya mengerti. Sampai sekarang ternyata sesuatu itu belum juga saya mengerti. Tapi, saya tidak merasa sia-sia. Saya jadi terus-menerus mencari sesuatu dalam puisi siapa saja dengan membacanya. Saya hanya ingin mencari, seperti pada sajak Sapardi, saya tidak kecewa kalau tidak ketemu apa-apa. Dan saya pun akhirnya terus-menerus belajar menyimpan sesuatu di dalam puisi-puisi yang saya tulis. Dari sastrawan Kurnia Effendi, yang membacakan puisi di Aceh bersama Sapardi, Juni lalu, saya dapat bocoran nomor telepon genggam penyair kelahiran Solo, 20 Maret 1940 itu. “Di Aceh nomornya tidak aktif. Besok beliau kembali ke Jakarta. Semoga lekas bisa ngobrol dengan beliau,” pesan Kurnia Effendi. SMS pertama Jumat, 30 Juni 2006, akhirnya dijawab keesokan harinya oleh Sapardi. Lalu mengalirlah sejumlah tanyajawab. Saya menambahi dengan sejumlah catatan dan kutipan, supaya lebih bermanfaat. Berikut ini dialog tanya jawab itu: HASAN ASPAHANI (HASAN): Pak Sapardi, selamat pagi. Boleh saya ganggu dengan sejumlah SMS? Maaf, saya dapatkan nomor Anda dari Pak Kurnia Effendi. SAPARDI DJOKO DAMONO (SAPARDI): Sila. HASAN: Paul McCartney cemas dengan usia 64. Anda sudah melewati usia itu. Apa yang paling Anda cemaskan sekarang? SAPARDI: Saya kuatir nanti menyusahkan keluarga dan orang lain kalau sakit berkepanjangan.
Sapardi adalah kolektor piringan hitam The Beatles. Lagu The Beatles yang dinyanyikan oleh Paul McCartney itu berjudul When I Am Sixty Four dalam album Sgt Pepper Lonely Heart Club Band. Dalam sajak “Pada Suatu Magrib” (Ayat-ayat Api, Pustaka Firdaus, 2000) penyair ini menulis tentang kerepotan usia tua. “Susah benar menyebarang di Jakarta ini;/hari hampir magrib, hujan membuat segalanya tak tertib./Dan dalam usia yang hampir enam puluh ini,/astagfirulah! rasanya di mana-mana ajal mengintip//.

HASAN: Bagaimana dengan puisi? Anda cemas kalau ada yang masih ingin Anda capai? SAPARDI: Tidak. Tapi sulit cari waktu menulis puisi.
Saya lantas teringat sajak “Yang Fana adalah Waktu” (Perahu Kertas, Balai Pustaka, 1983, 1991). Katanya, “waktu itu fana, kita abadi. Kitalah yang memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa”.

HASAN: Kapan saat Anda sangat subur menulis puisi? SAPARDI: Tidak tentu. HASAN: Maksud saya pada usia berapa? SAPARDI: Usia likuran (dua puluhan, red) paling subur. HASAN: Puisi siapa saja yang Anda baca sekarang? Menemukan apa saja dari sajak di negeri kita sekarang? Kabar baik atau kabar buruk? SAPARDI: Banyak baca puisi siapa saja, tapi jarang yang ingat nama. Beberapa serius. Kebanyakan tidak berniat menciptakan bahasa khas.
Dalam sebuah ceramah di tahun 1969, Sapardi menyampaikan bahwa pengalaman puitik adalah sesuatu yang unik, dan keotentikannya hanya akan terjamin apabila penyair berhasil melahirkan bahasa yang unik. Ini bisa tercapai lewat eksperimen-eksperimen yang tekun.

HASAN: Khusus saya tanya tentang Joko Pinurbo. Di buku pertamanya Anda bilang dia layak dapat perhatian kita. SAPARDI: Itu jelas. Dia bikin “bahasa baru”.
Buku puisi pertama Joko Pinurbo, Celana (Indonesia Tera, 1999) diberi kata penutup oleh Sapardi. Ia menyimpulkan bahwa sajak-sajak yang terkumpul dalam buku itu mempergunakan teknik pengungkapan yang mungkin disebut surrealis, yang mencoba mengungkapkan dunia bawah sadar kita. Nyaris tak ada pujian. Kecuali sebuah kalimat pendek yang menutup kata penutup itu: “Ia berhak mendapat perhatian kita.”

HASAN: Jadi yang penting penyair menemukan bahasanya sendiri, bukan kritikus yang menemukan penyair? SAPARDI: Hanya kritikus yang benar yang tahu masalah pembaruan bahasa. HASAN: Masih menerjemahkan puisi luar negeri, kan? SAPARDI: Menerjemahkan itu latihan menulis. HASAN: Kalau tak salah tangkap, Nirwan Dewanto menandai ada “faktor Sapardi”, penyair baru menjadikan sajak Anda sebagai pijakan untuk menemukan bahasa sendiri.

SAPARDI: Itu wajar. Chairil cari puisi dunia dan menerjemahkannya untuk bikin bahasa sendiri. HASAN: Nirwan menulis itu dengan nada cemas. SAPARDI: Dia cemas mungkin lantaran tidak ada yang “mengubah” bahasa saya. Joko Pinurbo ada usaha ke situ. HASAN: Sajak-sajak jenazah yang disukai A Teeuw itu sebenarnya siapa yang wafat? Orang yang dekat sekali dengan Anda? SAPARDI: Tidak semua yang saya tulis ada hubungannya dengan sesuatu. Saya mengandalkan imajinasi.
Tiga sajak yang diulas tuntas oleh A Teeuw ada pada buku DukaMu Abadi (Pustaka Jaya, 1969, 1975; Bentang 2002, 2004). Tiga sajak itu adalah “Saat Sebelum Berangkat” (Waktu seorang bertahan di sini/di luar para pengiring jenazah menanti), “Berjalan di Belakang Jenazah” (…angin pun reda/jam mengerdip/….tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya), dan “Sehabis Mengantar Jenazah” (pulanglah dengan payung di tangan, tertutup/anak-anak kembali bermain di jalanan basah/….barangkali kita tak perlu tua dalam tanda tanya). “Dalam arti ini sajak Sapardi adalah sajak yang indah, yang malahan membebaskan hati saya sambil menjadikannya sedih,” tulis Teeuw.

HASAN: Imajinasi dan sesuatu di masa lalu? Kenangan? Masa kecil? SAPARDI: Sumbernya apa saja tapi andalan saya imajinasi. Ada buku baru tentang saya di Grasindo. Coba baca. HASAN: Saya pasti akan beli dan baca. Eh, sering merasa kecolongan atau cemburu pada puisi penyair lain? SAPARDI: Tidak pernah. HASAN: Saya suka dengan apa yang Anda yakini dengan permainan makna. Makna tidak jadi beban. Tidak jadi amanat yang harus diburu oleh pembaca. Begitukah? SAPARDI: Anda benar. HASAN: Kalau Anda diberi kuasa yang hebat untuk puisi, apa yang pertama Anda buat? SAPARDI: Berbuat baik pada sesama lewat puisi. HASAN: Kalau Anda diminta menderet sepuluh puisi terbaik, maka yang teratas yang mana? SAPARDI: Puisi siapa? HASAN: Puisi Anda. Adakah puisi penyair lain yang sangat Anda sukai?

SAPARDI: Wah, ya banyak. Sulit lewat SMS. HASAN: Saya minta satu sajak yang menurut Anda harus saya baca. SAPARDI: “Topeng”. HASAN: “Topeng”? (Hujan Bulan Juni, Grasindo, 1994). Saya pasti sudah baca. Yang ada nama Danarto di bawah judulnya itu, kan? Boleh saya hubungkan sajak itu dengan topeng Danarto untuk pementasan teater Oedipus Rendra? SAPARDI: Tentu boleh. HASAN: Artinya Anda memainkan imajinasi dari situ? Itu yang dinamakan momentum puitik? SAPARDI: Saya tak pasti. Baru setelah selesai saya ingat Danarto.
Ini adalah sajak panjang ukuran rata-rata sajak Sapardi. Sajak bertarikh 1985 ini terdiri atas 27 larik terbagi atas tiga bagian. Bait pertama di penggal pertama sajak itu begini: Ia gemar membuat topeng. Dikupasnya / wajahnya sendiri satu demi satu / dan digantungkannya di dinding. “Aku / ingin memainkannya,” kata seorang sutradara.

HASAN: Perlukah Indonesia tiap tahun menobatkan semacam poet laureatte? Setahu saya itu ada di Amerika. SAPARDI: Tak perlu. Nanti jadi arisan. Yang perlu adalah hadiah sastra. HASAN: Pada usia sekolah menengah Anda menulis puisi, Anda kok tidak terjangkit wabah puisi cinta ya? SAPARDI: Ya, ada. Tapi tidak penting. HASAN: Yang paling bikin saya penasaran itu sajak Anda “Tuan”. Saya baca tafsiran Sutardji Calzoum Bachri. Lumayan. Tapi saya ingin sekali, Anda sendiri yang buka rahasia tentang sajak itu. SAPARDI: Itu sajak yang sangat sederhana tentang tamu dan tuan rumah yang tolol. He he he. HASAN: Ha ha ha. Terima kasih saya ingin menyimak lagi tanya jawab ini. Nanti saya ganggu lagi. Masih boleh ya? SAPARDI: Sila.
Saya kira sajak “Tuan” adalah sajak paling pendek yang pernah ditulis Sapardi. Cuma sebait dua larik. Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, / saya sedang keluar. Begitu saja. Tahun 1984, Sutardji Calzoum Bachri mengurai kertas kerja dalam sebuah Temu Kritikus dan Sastrawan di Jakarta. Secara khusus Sutadji membahas sajak-sajak Sapardi dari buku Perahu Kertas (Balai Pustaka, Jakarta, 1983, 1993). Ia menulis:

“Setelah keluar dari dunia sajak Sapardi, mengambil jarak dengan jaraknya, barulah pemahaman dari sajaksajaknya bisa lebih mudah didapat. Kita lebih mungkin mendapatkan makna dari sajak-sajak itu, mendapatkan arti atau memberikan arti akan sajak-sajak itu. Sutardji mengambil contoh sajak “Tuan” dan menyebutnya sebagai sajak yang cukup penting dalam hubungan pemahaman yang berjarak itu.”

HASAN: Semalam saya ingat “Dalam Doa”, membaca-bacanya sebagai doa untuk Anda. …”Aku mencintaimu, itulah sebabnya aku tak pernah berhenti mendoakan keselamatanmu.” SAPARDI: Terima kasih. HASAN: Ini imajinasi, kalau waktu bisa dipaket. Saya akan kirim sebagian waktu saya untuk Anda. Supaya Anda bisa terus dan terus menulis puisi. He he he. SAPARDI: Ha ha ha. Terima kasih buaanyak. HASAN: Hasif Amini menyebut “Pada Suatu Hari” (Hujan Bulan Juni, Grasindo, 1994) sebagai contoh puisi tentang puisi dari Anda. Saya membacanya sebagai rangkuman citacita dari seluruh puisi Anda. … dalam bait-bait sajak ini, kau akan terus-menerus kusiasati. SAPARDI: Semua tafsir memperkaya sajak. HASAN: Dan sajak yang baik mengundang tafsir yang kaya? SAPARDI: Itu intinya. HASAN: Puisi bukan milik penyairnya, tapi milik siapa yang menggunakannya. Saya kutip ini dari percakapan Pablo Neruda dan tokoh utama novel Il Postino-nya Antonio Scarmeta. Kita harus ikhlas begitu? SAPARDI: Anda benar. Bahkan harus juga ikhlas ketika puisi saya “Aku Ingin” (Hujan Bulan Juni, Grasindo, 1994) dikatakan karya Kahlil Gibran di televisi tempo hari. Ha ha ha. HASAN: Ha ha ha. Ada juga yang mencantumkan “Aku Ingin” di undangan perkawinan, tanpa mencantumkan nama Anda. SAPARDI: Ya, saya ikhlas saja. Sajak “Hujan Bulan Juni” bisa dimaknai sebagai sebuah keikhlasan memberikan segalanya kepada seseorang yang dicintai. Sajak ini menjadi luar biasa justru karena menyebutkan keinginan untuk mencintai dengan sederhana. HASAN: Sekarang, saya minta nasihat untuk menuliskan puisi. Tiga butir saja. SAPARDI: Wah, nggak ada resepnya. Nulis saja setiap kali Anda pengen nulis.

HASAN: Juga di saat marah? He he. Buku Apa Kabar Hari Ini, Den Sastro? itu bukan yang terakhir, kan? SAPARDI: Bukan. HASAN: Pablo Neruda dan TS Eliot juga tidak mau memberi nasihat puisi. Tapi Rilke menulis surat untuk penyair muda. Senang sekali kalau Anda seperti Rilke. SAPARDI: Begitulah. HASAN: “Ayat-ayat Api” adalah amarah yang tak bisa lagi dibendung setelah Anda menahan marah sekian lama. Kenapa menahan marah? Pilihan sikap hidup? Menyair juga bersikap? SAPARDI: Ya, tentu. Orang marah hanya bisa demo, nggak bisa nulis puisi. Ha ha ha. HASAN: Masa depan sastra Indonesia ada pada wanita, kata Anda beberapa waktu lalu. Ini peringatan atau ramalan? Atau lecutan? SAPARDI: Sindiran. HASAN: Kapan terbit sajak lengkap Sapardi Djoko Damono? Saya menunggu itu. SAPARDI: Beberapa tahun lagi, Insya Allah. HASAN: Anda tidak terlalu ikut-ikut angkatan-angkatan sastra itu ya? SAPARDI: Nggak ikut angkatan, takut sama angkatan bersenjata. Ha ha ha. HASAN: Ini yang terakhir, beri saya empat kata untuk saya tulis jadi puisi. SAPARDI: Anda bahagia menulis puisi? HASAN: Ya, saya bahagia. He he.
BEGITULAH, seorang Sapardi ternyata bukan hanya sesuatu yang satu. Ia bisa serius dan melucu. Dia menyair dengan amat bersungguh-sungguh, tetapi bila perlu juga menyikapi kepenyairan dan sajaksajaknya dengan santai. Dia menulis puisi, kritik ulasan, menerjemahkan, menulis cerita pendek dan yang tak sempat saya tanya dia juga mengulas sepakbola. Baiklah, saya akhiri saja dialog ini dengan memenuhi janji menulis puisi dengan modal empat kata darinya:

Anda Bahagia Menulis Puisi? Maka datanglah padanya sebuah dusta. Memintanya. “Sebutkan aku dalam puisimu,” katanya. “Sebentar,” jawabnya. Lalu dituliskannya beberapa kalimat. “Itu bukan aku,” kata dusta. “Nah, dengan demikian

maka sudah kujelaskan siapa dirimu, bukan?” katanya. Dusta pun berlalu. Tinggal dia sendirian. Dan satu pertanyaan: “Apakah Engkau bahagia menulis puisi?” Lalu datanglah padanya sebuah tanya. Mendesaknya. “Keluarkan aku dari dalam puisimu,” katanya. “Tunggu,” jawabnya. “Sejak kapan kau ada di dalam sana?” Lalu dilepasnya kunci, dikuaknya pintu. “Keluarlah,” katanya. “Ah, mungkin lebih baik aku di sini saja,” kata tanya. Dia pun pasrah. “Terserahlah,” katanya. Tanya pun berdiam saja. Di dalam puisi. Tak juga bisa menjawab: “Apakah Engkau bahagia menulis puisi?” Batam, 7 Juli 2006 Hasan Aspahani lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, 9 Maret 1971 pada sebuah keluarga sederhana petani kelapa. Sekolah di SMAN 2 Balikpapan, sambil jadi kartunis lepas di Surat Kabar Manuntung (Sekarang Kaltim Post). Lalu diundang lewat jalur PMDK di IPB, dan kuliah sambil diam-diam terus mencintai puisi. Setelah berupaya memberdayakan ijazah sarjana di beberapa perusahaan, lalu akhirnya kembali ke dunia tulis menulis lagi, maka sekarang bekerja sebagai Pemimpin Redaksi di Posmetro Batam. Di kota ini menjalani hidup bersama Dhiana (yang disapanya Na’) dan Shiela dan Ikra (yang memanggilnya Abah). Beberapa puisinya pernah terbit di Jawa Pos (Surabaya), Riau Pos (Pekanbaru), Batam Pos (Batam), juga termaktub dalam beberapa antologi seperti Sagang 2000 (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2000) Antologi Puisi Digital Cyberpuitika (YMS, Jakarta 2002), dan Dian Sastro for President 2 #Reloaded (AKY, Yogyakarta, 2003). Puisi “Huruf-huruf Hatta” terpilih sebagai salah satu dari 10 puisi terbaik lomba puisi 100 Tahun Bung Hatta (KPSP, Padang, 2002), dan Les Cyberletress (YMS, 2005). Tinggal di Batam. Riau Pos, Minggu, 16 Juli 2006

Sajak-sajak 1996
Kisah Semalam Yang ditunggu belum juga datang. Tapi masih digenggamnya surat terakhir yang sudah dibaca berulang. “Aku pasti pulang pada suatu akhir petang. Tentu dengan bunga plastik yang kauberikan saat kau mengusirku sambil menggebrak pintu: ‘Minggat saja kau, bajingan. Aku akan selamanya di sini, di rumah yang terpencil di sudut kenangan.’” Belum sudah ia bereskan resahnya. Tapi malam buru-buru mengingatkan: “Kau sudah telanjang, kok belum juga mandi dan berdandan.” Maka ia pun lekas berdiri dan dengan berani melangkah ke kamar mandi. “Aku mau bersih-bersih dulu. Aku mau berendam semalaman, menyingkirkan segala yang berantakan dan berdebu di molek tubuhku.” Dan suntuklah ia bekerja, membangun kembali keindahan yang dikira bakal cepat sirna: kota tua yang porak poranda pada wajah yang mulai kumal dan kusam; langit kusut pada mata yang memancarkan cahaya redup kunang-kunang; hutan pinus yang meranggas pada rambut yang mulai pudar hitamnya; padang rumput kering pada ketiak ang kacau baunya; bukit-bukit keriput pada payudara yang sedang susut kenyalnya; pegunungan tandus pada pinggul dan pantat yang mulai lunglai goyangnya; dan lembah duka yang menganga antara perut dan paha. Benar-benar pemberani. Tak gentar ia pada sepi dan gerombolannya yang mengancam lewat lolong anjing di bawah hujan. Ada suara memanggil pelan. Ada cermin besar hendak merebut sisa-sisa kecantikan. Ada juga yang mengintip diam-diam sambil terkagum-kagum: “Wow, gadisku yang rupawan tambah montok dan menawan. Aku ingin mengajaknya lelap dalam hangat pertemuan.” “Ah, dasar bajingan. Kau cuma ingin mencuri kecantikanku. Kau memang selalu datang dan pergi tanpa setahuku. Masuklah kalau berani. Pintunya sengaja tak aku kunci.”

Tak ada sahutan. Cuma ada yang cekikikan dan terbirit-birit pergi seperti takut segera ketahuan. “Baiklah, kalau begitu, permisi. Permisi cermin. Permisi kamar mandi. Permisi gunting, sisir, bedak, lipstik, minyak wangi dan kawan-kawan. Aku sekarang mau tidur, ngorok. Aku mau terbang tinggi, menggelepar, dalam jaring melankoli.” Sesudah itu ia sering mangkal di kuburan, menunggu kekasihnya datang. Tentu dengan setangkai kembang plastik yang dulu ia berikan. (1996)

Gadis Malam di Tembok Kota untuk Ahmad Syubannuddin Alwy Tubuhnya kuyup diguyur hujan. Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam. Tapi enak saja ia nongkrong, mengangkang seperti ingin memamerkan kecantikan: wajah ranum yang merahasiakan derita dunia; leher langsat yang menyimpan beribu jeritan; dada montok yang mengentalkan darah dan nanah; dan lubang sunyi, di bawah pusar, yang dirimbuni semak berduri. Dan malam itu datang seorang pangeran dengan celana komprang, baju kedodoran, rambut acak-acakan. Datang menemui gadisnya yang lagi kasmaran. “Aku rindu Mas Alwy yang tahan meracau seharian, yang tawanya ngakak membikin ranjang reyot bergoyang-goyang, yang jalannya sedikit goyah tapi gagah juga. Selamat malam, Alwy.” “Selamat malam, Kitty. Aku datang membawa puisi. Datang sebagai pasien rumah sakit jiwa dari negeri yang penuh pekik dan basa-basi.” Ini musim birahi. Kupu-kupu berhamburan liar mencecar bunga-bunga layu yang bersolek di bawah cahaya merkuri. Dan bila situasi politik memungkinkan,

tentu akan semakin banyak yang gencar bercinta tanpa merasa waswas akan ditahan dan diamankan. “Merapatlah ke gigil tubuhku, penyairku. Ledakkan puisimu di nyeri dadaku.” “Tapi aku ini bukan binatang jalang, Kitty. Aku tak pandai meradang, menerjang.” Sesaat ada juga keabadian. Diusapnya pipi muda, leher hangat, dan bibir lezat yang terancam kelu. Dan dengan cinta yang agak berangasan diterkamnya dada yang beku, pinggang yang ngilu, seperti luka yang menyerahkan diri kepada sembilu. “Aku sayang Mas Alwy yang matanya beringas tapi ada teduhnya. Yang cintanya ganas tapi ada lembutnya. Yang jidatnya licin dan luas, tempat segala kelakar dan kesakitan begadang semalaman. Tapi malam cepat habis juga ya. Apa boleh buat, mesti kuakhiri kisah kecil ini saat engkau terkapar di puncak risau. Maaf, aku tak punya banyak waktu buat bercinta. Aku mesti lebih jauh lagi mengembara di papan-papan iklan. Tragis bukan, jauh-jauh datang dari Amerika cuma untuk jadi penghibur di negeri orang-orang kesepian?” “Terima kasih, gadisku.” “Peduli amat, penyairku.” (1996)

Jauh Jauh nian perjalanan di atas ranjang padahal resah cuma berkisar dalam pusaran arus gelombang. Kaudaki puncak risau dalam galau malam namun selalu kandas dihadang konspirasi kecemasan. Memang harus sabar dan tawakal meniti birokrasi kematian.

Lantas laut mencampakkan kau ke pelabuhan. Kauseret bangkai kapal yang terbakar ke pantai gersang. Kau terhempas kembali ke dataran lengang, menyusuri rute panjang kelahiran. Kau mengambang, melayang seperti bayi terlelap dalam ayunan ranjang. (1996)

Ranjang Putih Ranjang telah dibersihkan. Kain serba putih telah dirapihkan. Laut telah dihamparkan. Kayuhlah perahu ke teluk persinggahan. Sampai di seberang tubuhmu tinggal tulang-belulang dan perahumu tertatih-tatih sendirian pulang ke haribaan ranjang. Ranjang telah dibersihkan. Laut telah disenyapkan. Ombak telah diredakan. Tapi kau tak kunjung pulang. Mungkin tubuhmu enggan dikubur di kesunyian ranjang. (1996)

Pulang Malam Kami tiba larut malam. Ranjang telah terbakar

dan api yang menjalar ke seluruh kamar belum habis berkobar. Di atas puing-puing mimpi dan reruntuhan waktu tubuh kami hangus dan membangkai dan api siap melumatnya menjadi asap dan abu. Kami sepasang mayat ingin kekal berpelukan dan tidur damai dalam dekapan ranjang. (1996)

Keranda Ranjang meminta kembali tubuh yang pernah dilahirkan dan diasuhnya dengan sepenuh cinta. “Semoga anakku yang pemberani, yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan, menemukan jalan untuk pulang; pun jika aku sudah lapuk dan karatan.” Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara. Kalaupun sesekali datang, ia datang hanya untuk menabung luka. Dan ketika akhirnya pulang ia sudah mayat tinggal rangka. Bagai si buta yang renta dan terbata-bata ia mengetuk-ngetuk pintu: “Ibu!” Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar memeluknya erat: “Aku rela jadi keranda untukmu.” (1996)

Korban

Darah berceceran di atas ranjang. Jejak-jejak kaki pemburu membawa kami tersesat di tengah hutan. Siapakah korban yang telah terbantai di malam yang begini tenang dan damai? Terdengar jerit lengking perempuan yang terluka dan gagak-gagak datang menjemput ajalnya. Tapi perempuan anggun itu tiba-tiba muncul dari balik kegelapan dan dengan angkuh dilemparkannya bangkai pemburu yang malang. “Beginilah jika ada yang lancang mengusik jagad mimpiku yang tenteram. Hanya aku penguasa di wilayah ranjang.” (1996)

Elegi Bantal, guling, selimut berpamitan kepada ranjang. “Ibu yang penyayang, sudah sekian lama kami membantu Ibu mengasuh anak-anak terlantar dan sebatang kara, memberi mereka tempat terindah buat bercinta, dan merawat mereka ketika sudah pikun dan tak berdaya. Kini saatnya kami harus pergi meninggalkan kisah yang penuh misteri.” “Memang sekali waktu kita perlu istirah. Aku sendiri pun sangat lelah. Aku akan pergi juga, ziarah ke asal-muasal kisah cinta yang melahirkan dongengan panjang penuh rahasia.” Demikianlah di subuh yang hening itu kami pergi ke pelabuhan, melepas ranjang kami yang tua berangkat berlayar ke laut yang luas dan terang. Waktu dan usia seperti perjalanan sebuah doa ketika ranjang kami yang reyot dan renta bergoyang-goyang bagai tongkang, bagai keranda. Terhuyung-huyung dan terbata-bata mencari tanah pusaka yang jauh di seberang sana.

(1996)

Celana, 1 Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya. Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya. “Kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.” Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan: “Ibu, kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?” (1996)

Celana, 2 Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana yang bagus dan sopan, tapi tak pernah diajar melukis seluk-beluk yang di dalam celana, sehingga kami pun tumbuh menjadi anak-anak manis yang penakut dan pengecut, bahkan terhadap nasib kami sendiri.

Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi membuat coretan dan gambar porno di tembok kamar mandi sehingga kami pun terbiasa menjadi orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri. Setelah loyo dan jompo, kami mulai bisa berfantasi tentang hal-ihwal yang di dalam celana: ada raja kecil yang galak dan suka memberontak; ada filsuf tua yang terkantuk-kantuk merenungi rahasia alam semesta; ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma; ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa dan pendoa. Konon, setelah berlayar mengelilingi bumi, Columbus pun akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam celana dan Stephen Hawking khusyuk bertapa di sana. (1996)

Celana, 3 Ia telah mendapatkan celana idaman yang lama didambakan, meskipun untuk itu ia harus berkeliling kota dan masuk ke setiap toko busana. Ia memantas-mantas celananya di cermin sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya pantat tepos yang sok perkasa. “Ini asli buatan Amerika,” katanya kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca. Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih yang menunggunya di pojok kuburan. Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.” Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang bertengger di dalam celana. Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!” Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru, yang gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan burung

yang selama ini dikurungnya sudah kabur entah ke mana. (1996) Catatan: Dalam buku Di Bawah Kibaran Sarung versi 2001 bait terakhir sajak tersebut berbunyi: Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru, yang gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan raja kecil yang selama ini disembahnya tunduk tak berdaya. Boneka, 1 Setelah terusir dan terlunta-lunta di negerinya sendiri, pelarian itu akhirnya diterima oleh sebuah keluarga boneka. “Kami keluarga besar yang berasal dari berbagai suku bangsa. Kami telah menciptakan adat istiadat menurut cara kami masing-masing, hidup damai dan merdeka tanpa menghiraukan lagi asal-usul kami. Anda sendiri, Tuan, datang dari negeri mana?” “Saya datang dari negeri yang pemimpin dan rakyatnya telah menyerupai boneka. Saya tidak betah lagi tinggal di sana karena saya ingin tetap menjadi manusia.” Keluarga boneka itu tampak bahagia. Mereka berbicara dan saling mencintai dengan bahasa mereka masing-masing tanpa ada yang merasa dihina dan disakiti. Lama-lama si pembuat boneka itu merasa asing dan tak tahan menjadi bahan cemoohan makhluk-makhluk ciptaannya sendiri. Ia terpaksa pulang ke negeri asalnya dan mencoba bertahan hidup di dunia nyata. (1996)

Boneka, 2 Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Ia minggat begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun kepada boneka-boneka kesayangannya.

“Mungkin ia sudah bosan dengan kita,” gajah berkata. “Mungkin sudah hijrah ke lain kota,” anjing berkata. “Mungkin pulang ke kampung asalnya,” celeng berkata. “Jangan-jangan sudah mampus,” singa berkata. “Ah, ia sedang nonton dangdut di kuburan,” monyet berkata. “Siapa tahu ia tersesat di tanah leluhur kita,” yang lain berkata. Mereka kemudian sepakat mengurus rumah itu dan menjadikannya suaka margasatwa. Pemilik rumah itu akhirnya pulang juga. Ia masuk begitu saja, namun boneka macan yang perkasa dan menyeramkan itu menyergahnya. “Maaf, Anda siapa ya?” “Lho, ini kan rumahku sendiri.” “Bercanda ya? Rasanya kami tak mengenal Anda. Mungkin Anda salah alamat. Sebaiknya Anda segera pergi sebelum kami telanjangi dan kami seret ke alam mimpi.” (1996)

Boneka, 3 Boneka monyet itu mengajakku bermain ke rumahnya. Di sana telah menunggu siamang, orangutan, simpanse, gorila, lutung dan bermacam-macam kera lainnya. “Kenalkan, ini saudara-saudaramu juga,” monyet berkata. “Kita mau bikin pesta kangen-kangenan sambil arisan.” Aku ingin segera minggat dari rumah jahanam itu, tapi monyet brengsek itu cepat-cepat menggamit lenganku. “Jangan terburu-buru. Kita foto bersama dululah.” Kami pun berpotret bersama. Monyet menyuruhku berdiri paling tengah. “Kau yang paling ganteng di antara kami,” siamang berkata. “Siapa yang paling lucu di antara kita?” monyet bercanda. “Yang di tengah,” lutung berkata. “Ia tampak kusut dan murung karena bersikeras hidup di alam nyata,” gorila berkata. Mereka semua tertawa. (1996)

Humor Serius Joko Pinurbo, Telaah Singkat Kumpulan Puisi Celana
Oleh Hikmat Darmawan

Latar belakang Saya langsung tertarik untuk menelaah kumpulan puisi Celana karya Joko Pinurbo yang diterbitkan oleh IndonesiaTera pada 1999 ini karena tergelitik oleh nada humor pada beberapa puisi di dalamnya yang sempat kami baca selintas. Perkenalan lebih jauh dengan puisi-puisi tersebut menyingkapkan sesuatu yang lain, yaitu ternyata Joko Pinurbo adalah seorang penyair yang sangat serius. Joko Pinurbo, atau biasa dipanggil Jokpin, mengaku dalam buku kecil ini telah menyair sekitar 20 tahun (dihitung pada 1999). Tepatnya, Jokpin mengaku dalam kata pengantarnya, “Sudah sekitar 20 tahun saya belajar menyair”[1] (cetak miring dari kami). Untuk kurun 20 tahun (belajar) menyair, tentu saja 44 buah puisi dalam 65 halaman adalah terhitung sedikit. Jika Jokpin adalah penyair produktif selama 20 tahun tersebut, maka itu berarti kumpulan ini merupakan hasil seleksi yang sangat ketat. Sebaliknya, jika selama 20 tahun tersebut Jokpin tidak produktif, kemungkinan ia sendiri memang sangat selektif terhadap karya-karya yang hendak ia tampilkan/terbitkan. Kedua kemungkinan itu mengindikasikan bahwa Jokpin adalah seorang penyair yang memandang serius proses penerbitan puisi-puisinya, sehingga ia hanya mau mengeluarkan sedikit saja (tapi yang, kemungkinan, ia yakini sebagai terbaik di antara yang lain). Pada saat yang sama, Jokpin mencuat ke permukaan sastra Indonesia justru karena humor-humor dalam puisi-puisinya. Sapardi Djoko Damono, dalam catatan penutup untuk buku ini, menyoroti hal ini. Penyair senior sekaligus pengajar sastra di Universitas Indonesia ini mengawali sorotannya dengan mengungkap pembacaan puisi Jokpin suatu malam pada 1997 di Teater Utan Kayu. Dalam acara pelisanan puisi tersebut, banyak penonton tertawa. Sapardi menulis bahwa banyak alasan orang tertawa atas pelisanan sebuah puisi. Bisa jadi karena gaya atau cara melisankan puisi sang penyair, bisa juga karena pelisanan itu dirancang dalam sebuah pertunjukan yang akan memancing tawa. Semua tawa itu tak ada hubungannya dengan isi puisi itu sendiri. Namun dalam pelisanan puisi-puisi Jokpin, orang-orang malam itu tertawa karena isi puisi itu sendiri. Sapardi mencatat, kemungkinan karena kata-kata dalam puisi Jokpin semacam “Celana (3)” memang menggali bahan lelucon yang agak saru (porno) di masyarakat kita: masalah burung dalam celana. Sapardi kemudian melanjutkan ulasannya, bahwa kita bisa curiga puisi ini tak sepenuhnya tentang celana, atau tentang “burung” di dalam celana. Menurut Sapardi, Jokpin menyandingkan lelucon itu dengan latar kuburan yang membuat pembaca terbawa pada sebuah imaji kematian atau kemuraman. Sapardi juga mengaitkan hal ini dengan

puisi-puisi Jokpin lain dalam buku ini. Jokpin, menurut Sapardi, menggunakan “…teknik surrealis, yang mencoba mengungkapkan dunia bawah sadar kita.”[2] Sapardi meyakini bahwa pendekatan yang memanfaatkan ilmu psikologi, khususnya teori tentang analisis mimpi dari Freud akan banyak gunanya dalam membaca sajak-sajak Jokpin ini. Saya akan mencoba mengulas lebih jauh sajak-sajak tersebut, sambil memanfaatkan semiotika sebagaimana yang diuraikan A. Teeuw dalam buku pengantarnya akan ilmu sastra.[3] Namun kami hanya akan menerapkan pendekatan ini secara sederhana, karena makalah ini hanyalah sebuah analisa atau telaah sederhana dan bukan sebuah penelitian sastra lengkap seperti yang diidealisasikan oleh A. Teeuw dalam buku tersebut. Sastra dan bahasa sehari-hari: masalah pertama Celana Ada sebuah pandangan lazim dalam pembacaan sastra yang membedakan karya sastra dengan yang bukan sastra dari segi pemakaian bahasanya. Dengan kata lain, ada anggapan yang cukup banyak diikuti bahwa bahasa sastra berbeda dari bahasa bukan sastra. Anggapan ini agak tertantang ketika kita membaca beberapa puisi Jokpin dalam kumpulan ini. Kesan umum adalah puisi-puisi ini “enteng”, menggunakan bahasa seharihari, dan karena itu berbeda dari karya sastra lazimnya. Patut kita selidiki, dari mana kesan “enteng” tersebut timbul. Sebab pertama adalah dari kesengajaan Jokpin menggunakan kosa kata sehari-hari atau bahasa lisan yang sering kita gunakan dalam keseharian kita. Jokpin tidak mengharamkan kata-kata semacam “kok”, “nampang”, “sewot”, “ngacir”, “celana kolor”, “Emoh”, “Saya”, dan semacamnya. Kehadiran kata-kata sehari-hari ini mengurangi unsur defamiliarisasi dalam pilihan kata yang biasanya menjadi ukuran nilai kesastraan sebuah puisi. Namun bukan hanya masalah kosa kata saja yang membangun kesan “enteng” atau “bermain-main” dalam puisi-puisi Jokpin ini. Sebab, di samping kosa kata keseharian itu, Jokpin kerap juga menggunakan kata-kata yang tidak biasa kita temukan dalam percakapan sehari-hari. Misalnya, kata “cabar”, “cerau”, “galau”, atau “pasai” (contohcontoh ini dapat kita temukan dalam puisi “Tuhan Datang Malam Ini”, halaman 47). Sering juga Jokpin menggunakan istilah-istilah yang tak lazim, seperti “mosak-masik” (Dalam “Kisah Seorang Nyumin”), “konspirasi kecemasan” dan “birokrasi kematian” (“Ranjang (3)”). Istilah-istilah tersebut memang kadang terasa berlebihan. Misalnya istilah “konspirasi kecemasan” dan “birokrasi kematian” tersebut. Kesan berlebihan ini justru menganulir kesan sastrawi puisi ini. Seakan kita dituntun untuk curiga bahwa Jokpin bukan sedang menciptakan sebuah keluhungan tapi lebih sedang bermain-main dengan konvensi sastra.

Di samping itu, ada kecenderungan lain pada pilihan istilah-istilah dalam kumpulan puisi ini: Jokpin tampak tak keberatan menggunakan kosa kata dan istilah-istilah puitis yang telah klise dalam puisi Indonesia. Misalnya, kata “sembilu”, “sudut kenangan”, “nyeri”, “sunyi”, “ngilu”. Kecenderungan ini turut membangun kesan bermain-main dan santai dalam puisi-puisi Jokpin ini. Ada satu lagi unsur yang menyumbang pada kesan “enteng” dan “bermain-main” puisipuisi ini, yakni susunan kalimat. Jokpin seperti mengabaikan kelaziman berpuisi dengan menyusun kalimat dalam berbagai aturan yang ketat. Untuk jelasnya, mari kita lihat beberapa kutipan berikut:
“Kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.” (”Celana (1)”) Sudah sekian tahun mayatku hilang Ngelayap ke mana saja dia ya, kok belum juga pulang. “Tenang saja. Aku cuma mau iseng cari hiburan, nonton komedi manusia di kebun binatang.” Begitu ia dulu pamitan. (”Di Sebuah Entah”)

Baik jika kita membaca kedua contoh di atas dalam hati, maupun dengan dilisankan, tetap timbul sebuah kesan bahwa puisi di atas sungguh “enteng” dan bermain-main. Jika kita telusuri, kemungkinan kesan ini timbul karena Jokpin memang meminjam struktur kalimat dalam percakapan sehari-hari untuk puisi-puisi tersebut. Jika saja susunan tertulis kalimat-kalimat di atas diurutkan secara menyamping seperti prosa, dan tidak dipatahkan demi membentuk baris-baris yang menjadi kelaziman puisi, maka kalimat-kalimat itu akan terbaca lancar sebagai sesuatu yang prosaik sekaligus terasa akrab kita jumpai dalam percakapan sehari-hari. Dengan kata lain, susunan kalimat-kalimat di atas tidak mementingkan metrum, rima, efek bunyi, dan langgam-langgam puisi lazimnya. Puisi-puisi tersebut seperti ingin dengan santai menyampaikan sebuah cerita yang aneh. Memang, kita bisa segera merasakan juga betapa puisi-puisi ini menyajikan sebuah keadaan yang aneh. Dalam contoh pertama, keanehan terletak pada pengisahan si “aku” yang sedang mencari celana yang “paling pas dan pantas/ buat nampang di kuburan”. Apakah ada celana yang pas untuk nampang di kuburan? Apakah memang ada kegiatan “nampang di kuburan?” Dalam contoh kedua, lebih-lebih lagi terasa situasi aneh itu. Pertama, sang narator mengaku “sudah sekian tahun mayatku hilang”. Jika mayat si narator hilang, mengapakah sang narator masih bisa menuturkan kisah pada kita? Lebih aneh lagi, setelah mengungkap keheranannya soal ke mana saja si mayat itu “ngelayap”, si narator

mengisahkan bagaimana si mayat dulu pamit: iseng, ingin cari hiburan. Seakan tak cukup aneh, puisi ini lanjut mengisahkan bahwa si mayat ingin nonton “komedi manusia di kebun binatang.” Dari dua contoh tersebut, kita bisa melangkah pada sebuah dugaan bahwa segala kebermainan dan kesan “enteng” puisi-puisi Jokpin tersebut adalah sebuah kesengajaan si penyair dalam rangka menyembunyikan (atau menghaluskan?) sesuatu yang lebih serius dan subversif sifatnya. Tapi apa sesungguhnya yang ingin ia ungkapkan? Humor sebagai “logika bengkok”: siasat metafor Celana Jadi kita telah tiba pada dugaan bahwa kebermainan dan kesan “enteng” puisi-puisi Jokpin ini adalah sebuah kesengajaan untuk mengungkapkan sesuatu yang lebih serius. Berikut ini adalah pendekatan lebih jauh tentang aspek yang segera menonjol dari puisipuisi dalam kumpulan ini, aspek yang juga disoroti oleh Sapardi Djoko Damono: aspek humor puisi-puisi Jokpin. Cukup bermanfaat untuk meminjam pengertian humor yang sederhana dari Arswendo Atmowiloto[4], bahwa humor hakikatnya tak lain dari “logika bengkok”. Pengertian logika bengkok sendiri hampir mirip dengan plesetan yang diterapkan di tingkat makna. Contohnya adalah: dalam kenyataan, muka yang ditendang kuda pastilah akan terasa sakit, malah mungkin ada tulang-tulang yang patah; namun dalam humor, muka penyok ditendang kuda adalah sesuatu yang tak menyakitkan tapi menerbitkan kesan apes dan konyol belaka. “Logika bengkok” ini bisa diterapkan baik pada humor-humor slapstick (humor-humor yang bersifat fisik, dan sering dianggap jenis humor paling rendah) hingga ke humorhumor situasi yang canggih. Di tingkat yang canggih, seperti dalam episode-episode Mad About You atau kartun-kartun Far Side Gallery karya Garry Larson, “logika bengkok” dapat memiliki kualitas metaforik atau simbolik. Agaknya, potensi humor inilah yang ditangkap dan diolah Jokpin. Mari kita ambil contoh sebuah humor yang barangkali paling banyak diingat oleh para penggemar puisi-puisi Jokpin, yakni idiom “burung dalam celana”.
CELANA (3) Ia telah mendapatkan celana idaman yang lama didambakan, meskipun untuk itu ia harus berkeliling kota dan masuk ke setiap toko busana. Ia memantas-mantas celananya di cermin sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya pantat tepos yang sok perkasa. “Ini asli buatan Amerika,” katanya kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca.

Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih yang menunggunya di pojok kuburan. Ia memamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika.” Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang bertengger di dalam celana. Ia sewot juga. “buka dan buang celanamu!” Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru, yang gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan burung yang selama ini dikurungnya sudah kabur entah ke mana.

Dalam puisi itu, terasa benar humor saru seputar soal perkelaminan. Jokpin dengan nakal mengambil bulat-bulat sebuah idiom yang sangat umum di masyarakat, yakni penyebutan kelamin lelaki dengan kata “burung”. Dalam kenakalan ini, Jokpin seperti mengingatkan bahwa pada hakikatnya, ungkapan “burung” adalah kegiatan bermetafor yang sangat dasar. Dan Jokpin mengangkat metafor yang menggelikan ini ke aras yang selama ini dianggap “luhung”, yakni puisi. Dan dengan ini, Jokpin memberi kita sebuah kepastian makna yang menggelikan sekaligus menggoyahkan kepastian itu. Di satu sisi, pembaca Indonesia umumnya tahu pasti bahwa “burung” yang dibicarakan Jokpin adalah kelamin lelaki (dan karena itu kita merasa geli). Di sisi lain, bagaimanakah bisa “burung” tersebut “kabur entah ke mana”? Tentu sukar kita menerima bahwa ini adalah sebuah ungkapan harfiah. Dengan demikian, kita melihat bahwa Jokpin mengembalikan idiom “burung” (atau tepatnya “burung dalam celana”) ke dalam kapasitas metaforiknya. Tapi masih tersisa pertanyaan, lantas apa sebetulnya yang dibicarakan Jokpin dalam puisi tersebut? Alam Mimpi Freudian: Kata-kata Kunci dalam Celana Memang benarlah saran Sapardi, bahwa psikoanalisa Freudian bisa sangat membantu pemahaman kita terhadap kumpulan puisi Celana ini. Tanpa terlalu membenam pada persoalan teoritis psikoanalisa, kita bisa memusatkan perhatian pada salah satu unsur terpenting teori ini, yakni bahasan tentang analisa mimpi. Asumsi dasar psikoanalisa Freud adalah adanya dinamika hubungan antara alam sadar dan alam bawah sadar yang menentukan perilaku serta kepribadian seseorang. Freud percaya bahwa untuk dapat menganalisa kepribadian seseorang, kita harus mengeluarkan apa yang tersembunyi dalam alam bawah sadar itu. Pada masa sebelum Freud, cara yang lazim digunakan untuk mengorek alam bawah sadar tersebut adalah dengan hipnotis. Freud menampik hipnotis, dan meyakini bahwa pembongkaran alam bawah sadar itu harus dilakukan dalam keadaan sadar. Metode yang dikembangkan Freud adalah analisis mimpi dan asosiasi bebas. Dalam metode analisis mimpi, Freud berasumsi bahwa alam mimpi mengandung simbolsimbol dari pengalaman di alam sadar yang disublimasi ke alam bawah sadar. Dalam metode asosiasi bebas, Freud percaya bahwa tanggapan spontan atas kata-kata tertentu

mencerminkan sesuatu yang tersimpan di alam bawah sadar kita. Dengan kata lain, psikoanalisa Freudian memercayai sepenuhnya fungsi simbol dan arti penting kata. Kita bisa menerapkan pendekatan ini untuk mencoba memahami kumpulan puisi Celana. Dalam kumpulan ini, kita menemukan ada beberapa kata yang menjadi motif (muncul berulang-ulang) yang kami anggap sebagai kata-kata kunci dalam kumpulan puisi ini. Misalnya, tentu saja, kata “celana”. Paling tidak, ada 5 puisi dalam kumpulan ini yang menggunakan kata “celana”: “Celana (1)”, “Celana (2)”, “Celana (3)”, “Boneka Dalam Celana”, dan “Terkenang Celana Pak Guru”. Kata ini berkait dengan beberapa kata atau istilah kunci lain: “burung”, “seluk-beluk yang di dalam celana”, “boneka di dalam celana”, dan sebagainya. Dalam salah satu puisi, Jokpin dengan jenaka menggambarkan beberapa “penghuni di dalam celana”: “Setelah loyo dan jompo, kami mulai bisa berfantasi tentang hal-ihwal yang di dalam celana:/ada raja kecil yang galak dan suka/ memberontak/ ada filsuf tua yang terkantukkantuk/merenungi rahasia alam semesta/ada gunung berapi yang menyimpan/sejuta magma” (”Celana (2)”). Bahkan dalam puisi itu digambarkan betapa “Columbus/ pun akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam celana/ dan Stephen Hawking khusyuk bertapa di sana.” (”Celana (2)”) Bukan hanya mengacu pada kelamin pria, idiom ini juga terkait dengan kelamin perempuan. Misalnya, “gua garba yang diziarahi/para pendosa dan pendoa”, atau “lubang sunyi, di bawah pusar, yang dirimbuni semak berduri”. Jelaslah dari kata-kata dan idiomidiom kunci ini, masalah perkelaminan, dan dengan demikian juga masalah ketubuhan, adalah hal sangat penting dalam puisi-puisi Jokpin. Apakah Jokpin sedang mengemukakan keyakinan yang sama dengan Freud bahwa seks adalah intisari masalah manusia, hakikat dasar yang menyebabkan kepribadian timbul? Tubuh memang bisa sangat mengungkung jiwa seseorang. Seks, lebih-lebih di zaman modern yang serba terbuka tentang masalah ini, menjadi kenyataan baru yang bisa sangat mengungkung. Sebelum “celana”, Jokpin banyak mengolah kata “ranjang” (dalam kumpulan ini, ia membuat 12 puisi berjudul Ranjang yang diberi nomor urut 1-12). Tapi dalam puisi-puisi ranjang tersebut, Jokpin mengaitkannya dengan kata kunci lain: “kematian” dan “mayat”. Dua kata kunci ini juga muncul di seantero kumpulan ini. Misalnya:
Kami sepasang mayat ingin kekal berpelukan dan tidur damai dalam dekapan ranjang.

Atau:
Darah berceceran di atas ranjang. Jejak-jejak pemburu membawa kami tersesat di tengah hutan.

Dari sini kita bisa lihat bahwa soal-soal seksualitas pada puisi-puisi Jokpin galibnya tersangkut dalam peliknya soal ketubuhan; dan selanjutnya, soal ketubuhan itu sendiri, ternyata terkait dengan soal yang eksistensial bagi manusia: bagaimana seseorang menghadapi persoalan maut, menghadapi kenyataan akan kefanaan dirinya. Upaya Jokpin menggeluti masalah eksistensial ini diwujudkan dalam pengungkapan sebuah dunia mimpi. Puisi-puisinya mengambil gaya bertutur, atau bersifat naratif, dengan bahasa yang tak terlalu di-“berat-beratkan”, dalam rangka mengungkap alam mimpi tersebut. Ada semacam kehendak sang penyair untuk menyiasati soal menakutkan ini (kematian) dengan metafor-metafor humoristis.
[1] Joko Pinurbo, Celana, Penerbit IndonesiaTera, Yogyakarta, 1999. [2] Idem. [3] A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra, cetakan kedua, Pustaka Jaya dan Girimurti Pasaka, Jakarta, Jakarta, 1988. [4] Pengertian humor ini pernah ditulis Arswendo dalam sebuah rangkaian tulisan tentang humor di Majalah Hai pada 1980-an. Sayangnya, kami tak berhasil menemukan edisi yang memuat tulisan tersebut.

Sumber: http://www.hikmatdarmawan.multiply.com/

Sajak-sajak 1997
Boneka dalam Celana Kau pusing seharian keluar-masuk toko mainan hanya untuk mendapatkan boneka lucu yang akan kaugantung di atas ranjang. Padahal di dalam celana ada boneka paling jenaka : boneka kecil yang sering tiba-tiba menjelma raksasa. Kau bilang boneka mungilmu suka keluyuran ke kebun binatang, ke suaka margasatwa, ke hutan yang banyak hewan liarnya, katanya untuk bermain dengan teman-temannya. Kau sudah memanjakannya dengan berbagai model celana yang mahal harganya tapi ia selalu lolos dan tak pernah krasan tinggal di dalamnya. “Sumpek dan penuh aturan,” katanya. Konon raksasa kecil itu telah menjadi seorang tiran. Telah diproklamasikannya sebuah republik dan kau sendiri rela dinobatkan sebagai pengawalnya. “Siapkan pasukan!” kata sang tiran. “Akan kuserbu musuh-musuh yang merongrong kekuasaan.” “Siap Paduka,” timpal pengawal. “Akan hamba tumpas para perusuh yang mengancam kedaulatan.” Di republik celana tiran yang sangat kejam dan pendendam itu sekarang telah menjadi raja telanjang yang tua-renta dan sakit-sakitan. Sehari-hari ia cuma duduk terkantuk-kantuk di kursi goyang sambil mulutnya komat-kamit dan kepalanya menggeleng ke kanan ke kiri

tapi batuknya masih dianggap sakti. Pengawal: “Kalau Paduka sudah lelah dan hendak istirah, silakan. Hamba bersedia menggantikan Paduka duduk di tampuk kekuasaan.” Di sebuah toko mainan kaudapatkan juga boneka lucu yang kauinginkan; kaugantungkan di atas ranjang sehingga kau tidak lagi kesepian. Dan boneka jenaka di dalam celanamu cemburu karena merasa telah mendapatkan saingan. (1997)

Terkenang Celana Pak Guru Masih pagi sekali, Bapak Guru sudah siap di kelas. Kepalanya yang miskin dan merana terkantuk-kantuk, kemudian terkulai di atas meja. Kami, anak-anak yang bengal dan nakal, beriringan masuk sambil mengucapkan: “Selamat pagi, Bapak Guru.” Bapak Guru tambah nyenyak. Dengkur dan air liurnya seakan mau mengatakan: “Bapak sangat lelah.” Hari itu mestinya pelajaran Sejarah. Bapak Guru telah berjanji menceritakan kisah para pahlawan yang potretnya terpampang di seluruh ruang. Tapi kami tak tega membangunkannya. Kami baca di papan tulis: “Baca halaman 10 dan seterusnya. Hafalkan semua nama dan peristiwa.” Sudah siang, Bapak Guru belum juga siuman. Hanya rits celananya yang setengah terbuka seakan mau mengatakan: “Bapak habis lembur semalam.” Ada yang cekikikan. Ada yang terharu dan mengusap matanya yang berkaca-kaca. Ada pula yang lancang membelai-belai gundulnya sambil berkata: “Kasihan kepala yang suka ikut penataran ini.” Sekian tahun kemudian kami datang mengunjungi seorang sahabat yang sedang tidur di dalam makam di bekas lahan sekolah kami. Kami lihat seorang lelaki tua terbungkuk-bungkuk membukakan pintu kuburan. “Silakan,” katanya.

“Dia Pak Guru kita itu!” temanku berseru. “Kau ingat rits celananya yang setengah terbuka?” “Tenang. Jangan mengusik ketenteramannya,” aku memperingatkan. “Dia pasti damai dan bahagia di tempat yang begini bersih dan tenang,” kata temanku sambil menunjuk nisan sahabatnya. “Kelak aku juga ingin dikubur di sini,” sambungnya. “Ah, jangan berpikir yang bukan-bukan,” timpalku. Sementara si penjaga kuburan yang celananya congklang dan rambutnya sudah memutih semua diam-diam mengawasi kami dari balik pohon kamboja. (1997)

Januari untuk NAF Januari yang lusuh datang padaku dengan wajah putih kelabu. “Beri aku tempat perlindungan. Musim begitu rusuh. Bahaya mengancam dari segala jurusan.” Hujan yang basah kuyup tubuhnya kuungsikan ke dalam botol bersama kilat, guruh dan ledakan-ledakan petirnya. Angin yang menggigil kedinginan kusembunyikan ke dalam gelas bersama desah, desau dan desirnya. Semoga sekalian kata dan makna yang kuziarahi bertahun-tahun lamanya ikhlas menerima cobaan yang tiada putusnya sebab memang begitu jauh jarak perjalanan di antara mereka. Semoga sekalian luka dan sembilu yang tak henti-henti meruyaknya tidak saling sayat dan sakit hati justru karena demikian dalam percintaan di antara keduanya.

Januari yang lusuh datang padaku seperti doa yang rela bersekutu dengan sekalian kata dan ucapan yang sering gagap dan gagu. (1997)

Ziarah Masih ada sebuah rumah di sana yang tak pernah mengharap seseorang datang mengunjunginya. Masih ada dinding-dinding kusam, ruang bersih terang, jendela-jendela putih tempat senja berpendaran dengan rambutnya yang keemasan. Masih ada si kecil lagi asyik menggambar pada tembok penuh coretan. “Semalam hujan singgah sebentar, dan setelah meninggalkan riciknya di kulkas itu ia pun berangkat ke sebuah kota yang jauh.” Ingin kupeluk dan kucium parasnya yang lucu, tapi tak ingin dunia kecilnya kusintuh. “Lihat, aku sedang melukis laut, gerimis dan perahu oleng yang dikayuh nelayan kecil menuju pantai yang teduh.” Masih. Masih ada seseorang sedang duduk membungkuk di bawah redup cahaya, khusyuk membaca berkas-berkas tua. “Semalam si mayat datang dengan baju baru. Ia titipkan salam manisnya untukmu.” Ingin kutrima batuknya dalam paru-paruku tapi tak ingin kusintuh kantuknya, rindunya sebab hatinya lebih tegar dari waktu. “Maaf, aku sedang membaca surat-surat yang telah lama kutulis, tapi tak pernah kukirim karena tak kutahu alamatmu.” (1997)

Poster Setengah Telanjang untuk AM Si kecil yang suka makan es krim itu sudah besar dan perawan, sudah tidak pemalu dan ingusan. Ia gemar melucu dan pintar juga menggodamu. “Kau penyair ya? Kutahu itu dari kepalamu yang botak dan licin seperti semangka.” Kau tergoda dan ingin lebih lama terpana ketika matanya mengerjap dan bulan muncrat di atas rambutnya yang hitam pekat. Malam heboh sekali. Orang-orang mulai resah menunggu kereta. “Perempuan, kau mau ikut?” “Emoh ah,” katanya. Kereta sudah siap. Para pelayat berjejal di dalam gerbong sambil melambai-lambaikan bendera. “Perempuan, ikutlah bersama kami. Kita akan pergi menyambut revolusi.” “Ah, revolusi. Revolusi telah kulipat dan kuselipkan ke dalam beha.” “Lancang benar ia. Berani menantang kita dengan senyumnya yang sangat subversif. Ia sungguh berbahaya.” Lonceng terakhir telah selesai menyanyikan “Sepasang Mata Bola”. Tinggallah malam yang redam, langit yang diam. Tinggallah airmata yang menetes pelan ke dalam segelas bir yang menempel pada dada yang setengah terbuka, setengah merdeka. (1997)

Perempuan Pulang Pagi untuk kartu pos S

Rumah yang ditinggalkan semalaman masih menyala terang benderang, sebab ia ingin setiap orang yang lewat di depannya bilang: “Lihat, perempuan kita masih mencangkung di depan jendela, menghadap langit, menghadap waktu, menghadap usia. Ia pulang dinihari sehabis hujan dan angin pergi. Ia tendang pintu yang pura-pura membisu. Dan kepada cermin yang bergoyang di pojok ruangan ia bicara: “Tadi selusin lelaki mau menciumku, tapi kuterkam saja dengan geramku, semuanya lari tunggang langgang.” Ia pulang dinihari ketika bulan belum mau pergi. Ia menyanyi, ia menari, dan sambil berlenggok masuk ke kamar, gemetar melihat seseoerang sedang mendengkur dengan gempar. “Bukankah kau yang semalam kucumbu di kuburan? Sialan. Ternyata kau mendahuluiku terkapar di ranjang yang tak lama lagi akan terbakar.” Lantas ia berhias dan bergegas ke sebuah cemas. “Kau istirahat dulu ya, mayat. Santai-santai saja di sini. Aku ada dinas sebentar ke rumah sakit jiwa. Kalau nanti terbangun dan takut sendirian, teleponlah aku secepatnya.” (1997)

Malam Itu Kita Kondangan Malam itu kita pergi kondangan. Naik andong kehujanan, kudanya lari kencang: kling klong kling klong. Malam sudah sangat larut. Sudah sangat panas pestanya. Di dalam rumah banyak tamu asing lagi asyik main kuda lumping. Pengantin mengenakan topeng monyet, duduk mengangkang di pelaminan. “Selamat kawin, saudara kembar,” kita ucapkan salam.

“Selamat datang, calon jerangkong,” sambutnya riang. Kau terkekeh dan lalu terkenang melihat potretmu di dinding ruang lagi meringis dalam gendongan. “Dia si anak hilang,” pengantin menjelaskan. Malam itu kita kondangan. Naik andong kehujanan, kudanya lari kencang: kling klong kling klong. Kita melaju, melenggang dalam sengkarut ingatan. (1997)

Di Sebuah Entah untuk ND Sudah sekian tahun mayatku hilang. Ngelayap ke mana saja dia ya, kok belum juga pulang. “Tenang saja. Aku cuma mau iseng cari hiburan, nonton komedi manusia di kebun binatang.” Begitu ia dulu pamitan. Pernah kutanyakan pada petugas jawatan penculikan: “Di manakah mayat saya disimpan?” Jawabnya: “Mayatmu masih kami sekap dalam sebuah dokumen rahasia negara.” “Bolehkah saya bicara dengannya sebentar?” “Tidak bisa. Dia tak akan kami lepas sebelum melengkapi berkas-berkas identitas: surat, kartu, dan asal-usul yang jelas.” Ada juga yang bilang: “Lho, ‘kan mayatmu sedang jalan-jalan. Mondar-mandir mencari jejakmu. Mengapa kau selalu menghindar dan menjauh dari kenangan?” Demikianlah, ceritanya, kami saling kehilangan. Selalu bersilang langkah, berselisih jalan

di simpang ingatan di sebuah entah yang senisbi waktu dan selindap ruang. Sampai suatu malam seseorang datang dalam kuyup hujan, membuka pintu, menyibak bayang. “Mayatmu kutemukan di sudut halaman koran yang teronggok di bak sampah di depan kantor departemen pembredelan.” “Siapakah engkau, perempuan?” aku bertanya. “Aku seseorang atau sesuatu dari masa silam.” Setelah menyerahkan mayatku ke dalam pelukan, ia pun menghilang ke balik halusi. Tapak-tapak kakinya, jejak-jejak darahnya seakan adalah sakramen: perjalanan panjang sonyaruri ke sebuah getsemani. “Coba ceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Siapa sesungguhnya perempuan yang mengantarmu ke sini?” “Jangan. Jangan sekarang. Aku masih dalam intaian mata-mata yang bersembunyi di sini, di bekas luka ini.” Kudekap ia, kubaringkan dalam album keluarga. “Jangan nakal. Tidurlah dengan sopan sampai tiba saatnya nanti kaukisahkan semua ini.” (1997)

Tuhan Datang Malam Ini untuk GM Tuhan datang malam ini di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus dan celoteh sepi. Ia datang dengan sebuah headline yang megah: “Telah kubredel ketakutan dan kegemetaranmu. Kini bisa kaurayakan kesepian dan kesendirianmu dengan lebih meriah.” Dengar, Tuhan melangkah lewat dengan sangat gemulai di atas halaman-halaman yang hilang dan rubrik-rubrik terbengkelai. Malam menebar debar. Di sebuah kolom yang rindang, kolom yang teduh

ia kumpulkan huruf-huruf yang cerai-berai dan merangkainya menjadi sebuah komposisi kedamaian. Namun masih juga ia cabar: “Kenapa ya aku masih kesepian. Seakan tak bisa damai tanpa suara-suara riuh dan kata-kata gaduh.” “Mungkin karena kau terlampau terikat pada makna yang berkelebat sesaat,” demikian seperti telah ia temukan jawaban. Begitulah, ia hikmati malam yang cerau dan mencoba menghalau galau dan risau. Dibetulkannya rambut ranggas yang menjuntai di atas dahi nan pasai. Dibelainya kumis kusut dan cambang capai yang menjalar di selingkar sangsai. Sementara di luar hujan dan angin berkejaran menggelar konvoi kemurungan. Lalu diambilnya pena, dicelupkannya pada luka dan ditulisnya: Saya ini apalah Tuhan. Saya ini cuma jejak-jejak kaki musafir pada serial catatan pinggir; sisa aroma pada seonggok beha; dan bau kecut pada sisa cinta. Saya ini cuma cuwilan cemas kok Tuhan. Saya ini cuma seratus hektar halaman suratkabar yang habis terbakar; sekeping puisi yang terpental dilabrak batalion iklan. Dan Tuhan datang malam ini di gudang gelap, di bawah tanah, yang cuma dihuni cericit tikus dan celoteh sepi. Ia datang bersama empat ribu pasukan, lengkap dengan borgol dan senapan. Dengar, mereka menggedor-gedor pintu dan berseru: “Jangan halangi kami. Jangan lari dan sembunyi. Kami cuma orang-orang kesepian. Kami ingin bergabung bersama Anda di sebuah kolom yang teduh, kolom yang rindang. Kami akan kumpulkan senjata dan menyusunnya jadi sebuah komposisi kebimbangan. Sesudah itu perkenankan kami sita dan kami bawa

semua yang Anda punya, sungguhpun cuma berkas-berkas tua dan halaman-halaman kosong semata.” Tuhan, mereka sangat ketakutan. Antarkan mereka ke sebuah rubrik yang tenang. (1997)

Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem untuk Linus Suryadi AG Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk di bawah cahaya lampu remang-remang. Demam mulai merambat ke leher, encok menyayat-nyayat punggung dan pinggang. Dan angin pantai Jepara yang kering berjingkat pelan di alis yang tenang; di pelupuknya anak-anak kesunyian ingin lelap berbaring, ingin teduh dan tenteram. “Terimalah salam damaiku lewat angin laut yang kencang, dinda. Resah tengah kucoba. Sepi kuasah dengan pena. Kaudengarkah suara gamelan tak putus-putusnya dilantunkan di pendapa agung yang dijaga tiang-tiang perkasa hanya untuk mengalunkan tembang-tembang lara? Kaudengarkah juga derap kereta di jauhan datang melaju ke arah jantungku.” Kereta api hitam berderap membelah malam, melintasi hamparan kelabu perkebunan tebu. Kesedihan diangkut ke pabrik-pabrik gula, di belakangnya perempuan-perempuan pemberani berduyun-duyun mengusung matahari. “Perahu-perahu kembara, dinda, telah kulepas dari pantai Jepara.

Berlayarlah tahun-tahunku, mimpi-mimpiku ke gugusan hijau pulau-pulau Nusantara. Berlayarlah ke negeri-negeri jauh, ke Nederland sana. Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon dan Stella: ingin rasanya aku menembus gerbang cakrawala.” Raden Ajeng Kartini terbatuk-batuk di bawah cahaya lampu remang-remang. Tangan masih menyurat di atas kertas. Hati melemas pada berkas-berkas cemas. Angin merambat lewat kain dan kebaya. Dingin merayap hingga sanggulnya. Dan anak-anak kesunyian bergelayutan pada bulu matanya yang sayup, yang mengungkai cahaya redup. “Sering kubayangkan, dinda, perempuan-perempuan perkasa berbondong-bondong menyunggi matahari, menggendong bukit-bukit tandus di gugusan pegunungan seribu menuju hingar-bingar pasar palawija di keheningan langit Jogja. Kubayangkan pula ladang-ladang karang dirambah, disiangi kaki-kaki telanjang dengan darah sepanjang zaman.” Kereta api hitan berderap membelah malam, membangunkan si lelap dari tidur panjang. Jari masih menulis bersama gerimis, bersama angin dan kenangan. Di telapak tangannya perahu-perahu dilayarkan ke daratan-daratan hijau, negeri-negeri jauh tak terjangkau. “Badai, dinda, badai menyerbu ke atas ranjang. Kaudengarkah kini biduk mimpiku sebentar lagi karam di laut Rembang?”

Raden Ajeng Kartini terkantuk-kantuk di bawah cahaya lampu remang-remang. Demam membara, encok meruyak pula. Dan sepasang alap-alap melesat dari ujung pena yang luka. (1997)

Sajak-sajak 1998
Goyang Ranjang bergoyang sepanjang malam. Mungkin sepasang nyawa, sepasang singa sedang tempur. Atau sepasang maut sedang perang. Ranjang bergoyang sepanjang malam. Padahal cuma ada sepasang celana teronggok putih di bantal hitam. (1998)

Taman Pada suatu petang ia datang ke taman yang terhampar hijau di atas ranjang. Ia mencopot baju, menyalakan lampu kemudian membaca buku di atas makam. “Ini tempat suci. Dilarang membaca buku porno di sini,” kata seseorang dari balik nisan. Ia lari tunggang langgang sebelum sempat mengenakan kembali pakaian. Ia perempuan gila, dulu pernah memperkosa Adam dan menghabisinya di atas ranjang. (1998)

Daerah Terlarang Tiba di ranjang, setelah lama menggelandang, ia memasuki daerah terlarang.

Ranjang telah dikelilingi pagar kawat berduri dan ada anjing galak siap menghalau pencuri. “Kawasan Bebas Seks,” bunyi sebuah papan peringatan. Tak terdengar lagi cinta. Tak terdengar lagi ajal yang meronta pada tubuh yang digelinjang nafsu dalam nafas yang mendesah ah, melenguh uh. Memang ada yang masih bermukim di ranjang: merawat ketiak, mengurus lemak, dan dengan membelalak ia membentak: “Pergi! Tak ada seks di sini!” “Kau kalah,” katanya. “Dulu kautinggalkan ranjang, sekarang hendak kaurampas sisa cinta yang kuawetkan.” “Tunggu pembalasanku,” timpalnya. “Suatu saat aku akan datang lagi.” “Kutunggu kau di sini,” ia menantang, “akan kukubur jasadmu di bawah ranjang.” Ia pun pergi meninggalkan daerah terlarang dengan langkah seorang pecundang. “Tunggu!” teriak seseorang dari dalam ranjang. Tapi ia hanya menoleh sambil mengepalkan tangan. (1998)

Kalvari Hari sudah petang ketika maut tiba di ranjang. Orang-orang partai yang mengantarnya ke situ sudah bubar, bubar bersama para serdadu yang mengalungkan kawat berduri di lehernya dan membuang tubuhnya tadi siang. Hanya ada seorang perempuan sedang sembahyang berkerudung kain kafan dan menggelarnya bagi raga yang capai. “Bapa, belum selesai. Entah kapan saya sampai.”

Hanya ia yang tawakal menemani ajal, menyiapkan pembaringan buat tidur seorang pecundang: warga tanpa negara, tanpa agama. Hanya ia yang mendengar sekaratnya. “Telah kuminum anggur dari darah yang mancur. Telah kucecap luka pada lambung yang lapa. Di tubuh Tuhan kuziarahi peta negeri yang hancur.” Maut sudah kosong ketika mereka hendak menculik mayatnya. Hanya ada seorang perempuan sedang membersihkan salib di sudut ranjang. “Ia sudah pergi ke kota,” katanya, “dan kalian tak akan bisa lagi menangkapnya.” (1998)

Ketika Pulang Ketika pulang, yang kutemu di dalam rumah hanyalah ranjang bobrok, onggokan popok, bau ompol, jerit tangis berkepanjangan, dan tumpukan mainan yang tinggal rongsokan. Di sudut kamar kulihat Ibu masih suntuk berjaga menjahit sarung dan selimut yang makin meruyak koyaknya oleh gesekan-gesekan cinta dan usia. “Di mana Ayah?” aku menyapa dalam hening suara. “Biasanya Ayah khusyuk membaca di bawah jendela.” “Ayah pergi mencari kamu,” sahutnya. “Sudah tiga puluh tahun ia meninggalkan Ibu.” “Baiklah, akan saya cari Ayah sampai ketemu. Selamat menjahit ya, Bu.” Di depan pintu aku berjumpa lelaki tua dengan baju usang, celana congklang. “Kok tergesa,” ia menyapa.

“Kita mabuk-mabuk dululah.” “Kok baru pulang,” aku berkata. “Dari mana saja? Main judi ya?” “Saya habis berjuang mencari anak saya, tiga puluh tahun lamanya. Sampeyan sendiri hendak ngeluyur ke mana?” “Saya hendak berjuang mencari ayah saya. Sudah tiga puluh tahun saya tak mendengar dengkurnya.” Ia menatapku, aku menatapnya. “Selamat minggat,” ujarnya sambil mencubit pipiku. “Selamat ngorok,” timpalku sambil kucubit janggutnya. Ia siap melangkah ke dalam rumah, aku siap berangkat meninggalkan rumah. Dan dari dalam rumah Ibu berseru: “Duel sajalah!” (1998)

Pasar Sentir Pasar sentir. Tempatnya di bawah pohon beringin di alun-alun kota kami yang kecil dan tenang. Saya suka iseng main ke sana mengamati tingkah seorang lelaki yang sering datang menemui perempuan gembrot yang tawanya ngakak dan mata-kucingnya selalu tampak membelalak di antara kerumunan nyala lampu, jerit radio, dan gemeremang suara orang-orang kesurupan. Ia lelaki misterius. Kadang mengaku paranormal. Kadang menyebut dirinya pelukis besar. Tapi banyak yang bilang ia penyair yang gagal. Ia suka minum, meracau, dan kalau mabuk tubuhnya yang tambun terhuyung-huyung kemudian ambruk di pangkuan perempuan gembrot yang selalu sabar mendengarkan bualan-bualannya yang gombal. Malam itu ia bawa uang lima ribu buat beli jas merah sebab ia akan pesiar ke tempat yang indah. “Jas ini memang pas untukmu. Cocok buat membajul atau cari gandengan,” kata perempuan antik itu setengah menggoda, tapi lelaki nyentrik itu pura-pura tak tergoda.

Terang bulan. Dengan jas bekas dan celana kolor hitam ia bersiap pergi jalan-jalan cari hiburan. “Malam sangat dingin, Pangeran. Mau melancong ke mana?” “Aku mau cari jangkrik di kuburan.” Sampai keesokan paginya lelaki itu masih tertidur pulas di antara batu-batu nisan dengan bir di tangan sambil mendengarkan bunyi jangkrik yang krakkrik-krakkrik dalam celananya yang kedodoran. Di lain tempat perempuan itu masih terbaring nyenyak di atas tumpukan barang-barang dagangannya, sementara lampu sentirnya masih menyala. Malamnya ia sudah mangkal lagi di sana. Dan perempuan bawel yang sangat kemayu itu menyambutnya dengan senyum rahasia. “Bunyi jangkrikmu terdengar juga dalam tidurku.” Pasar sentir. Saya selalu kangen untuk mampir. Saya anak jadah, calon penyair. Saya tidak bilang bahwa lelaki tambun itu mungkin ayahku dan perempuan gembrot itu mungkin ibuku. (1998)

Minggu Pagi di Sebuah Puisi Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah ketika hari masih remang dan hujan, hujan yang gundah sepanjang malam menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi berbasah-basah ke sebuah ziarah. Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara di sepanjang via dolorosa. Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara. Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan) berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata. “Ibu hendak ke mana?” Perempuan muda itu menyapa. “Aku akan cari dia di Golgota, yang artinya: tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu sambil menunjukkan potret anaknya.

“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya: surga para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh. Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa. Lalu katanya: “Ia telah menciumku sebelum diseret ke ruang eksekusi. Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata telah menjarah perempuan lemah ini. Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina; pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk; pada liang luka, pada ceruk yang remuk.” Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah ketika hari mulai terang, kata-kata telah pulang dari makam, iring-iringan demonstran makin panjang, para serdadu berebutan kain kafan, dan dua perempuan mengucapkan salam: Siapa masih berani menemani Tuhan? (1998)

Patroli Iring-iringan panser mondar-mandir di jalur-jalur rawan di seantero sajakku. Di sebuah sudut yang agak gelap komandan melihat kelebat seorang demonstran yang gerak-geriknya dianggap mencurigakan. Pasukan disiagakan dan diperintahkan untuk memblokir setiap jalan. Semua mendadak panik. Kata-kata kocar-kacir dan tiarap seketika. Komandan berteriak: “Kalian sembunyikan di mana penyair kurus yang tubuhnya seperti jerangkong itu? Pena yang baru diasahnya sangat tajam dan berbahaya.” Seorang peronda memberanikan diri angkat bicara: “Dia sakit perut, Komandan, lantas terbirit-birit ke dalam kakus. Mungkin dia lagi bikin aksi di sana.” “Sialan!” umpat komandan geram sekali, lalu memerintahkan pasukan melanjutkan patroli. Di huruf terakhir sajakku si jerangkong itu tiba-tiba muncul dari dalam kakus sambil menepuk-nepuk perutnya. “Lega,” katanya. Maka kata-kata yang tadi gemetaran serempak bersorak dan merapatkan diri ke posisi semula. Di kejauhan terdengar letusan, api sedang melahap dan menghanguskan mayat-mayat korban.

(1998)

Kurcaci Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan. Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah sementara pena yang dihunusnya belum mau patah. (1998)

Sajak-sajak 1999
Tubuh Pinjaman Tubuh yang mulai akrab dengan saya ini sebenarnya mayat yang saya pinjam dari seorang korban tak dikenal yang tergeletak di pinggir jalan. Pada mulanya ia curiga dan saya juga kurang selera karena ukuran dan modelnya kurang pas untuk saya. Tapi lama-lama kami bisa saling menyesuaikan diri dan dapat memahami kekurangan serta kelebihan kami. Sampai sekarang belum ada yang mencari-cari dan memintanya kecuali seorang petugas yang menanyakan status, ideologi, agama, dan terutama harta kekayaannya. Tubuh yang mulai manja dengan saya ini saya pinjam dari seorang bayi yang dibuang di sebuah halte oleh perempuan yang melahirkannya dan tidak jelas siapa ayahnya. Saya berusaha merawat dan membesarkan anak haram ini dengan kasih sayang dan kemiskinan yang berlimpah-limpah sampai ia tumbuh dewasa dan mulai berani menentukan sendiri jalan hidupnya. Sampai sekarang belum ada yang mengaku sebagai ibu dan bapaknya kecuali seorang petugas yang menanyakan asal-usul dan silsilah keluarganya. Tubuh yang kadang saya banggakan dan sering saya lecehkan ini memang cuma pinjaman yang sewaktu-waktu harus saya kembalikan

tanpa merasa rugi dan kehilangan. Pada saatnya saya harus ikhlas menyerahkannya kepada seseorang yang mengaku sebagai keluarga atau kerabatnya atau yang merasa telah melahirkannya tanpa minta balas jasa atas segala jerih payah dan pengorbanan. Tubuh pergilah dengan damai kalau kau tak tenteram lagi tinggal di aku. Pergilah dengan santai saat aku sedang sangat mencintaimu. (1999)

Bercukur sebelum Tidur Bercukur sebelum tidur, membilang hari-hari yang hancur, membuang mimpi-mimpi yang gugur, memangkas semua yang ranggas dan uzur, semoga segala rambut segala jembut bisa lebih rimbun dan subur. Lalu datang musim dalam curah angin menumpahkan air ke seluruh dataran, ke gunung-gunung murung dan lembah-lembah lelah di seantero badan. Jantungku meluap, penuh. Sungai menggelontor, hujan menggerejai di sektor-sektor irigasi di agrodarahku. Malam penuh traktor, petani mencangkul di hektar-hektar dagingku. Tubuhku hutan yang dikemas menjadi kawasan megaindustri di mana segala cemas segala resah diolah di sentra-sentra produksi. Tubuhku ibukota kesunyian yang diburu investor dari berbagai penjuru. Tubuhku daerah lama yang ditemukan kembali, daerah baru yang terberkati. Lalu tubuhku bukan siapa-siapa lagi. Tubuhku negeri yang belum diberi nama,

dan kuberi saja nama dengan sebuah ngilu saat bercukur sebelum tidur. (1999)

Pulang Mandi Lama minggat ke Jakarta dan tak pernah ada kabar-beritanya, tahu-tahu ia muncul di depan pintu dan berseru: “Ayo kita mandi!” Wajah yang penuh jahitan, tubuh yang hampir rombengan nyaris tak terbaca kalau tak ia tunjukkan sepasang tato di pantatnya. “Berbahagialah orang yang berani mandi,” aku bersabda, “sebab ia akan menemukan tubuhnya sendiri.” Maka dalam bahagia mandi ia kelupas karat waktu pada tekstur hidupnya, kerak kenangan pada tipografi nasibnya. “Sakit!” ia menjerit. “Berdarah!” Mungkin sedang ia lepaskan pakaian kotor yang lengket dengan tubuhnya. Kamar mandi kemudian sunyi. Ia menghambur keluar, berjingkrak-jingkrak seperti kanak-kanak dapat bingkisan di hari Lebaran. “Aduh cakepnya,” aku menggoda, dan ia memelukku sambil berkata riang: “Mandiku sukses sekali, abang sayang.” Lama ia tidak mandi. Tapi sekali mandi ia langsung mencopot tubuhnya yang usang dan menggantinya dengan yang baru, yang mutakhir modelnya dan, tentu saja, tahan lama. “Tidak tertarik ke Jakarta?” ia membujukku sambil memamerkan tubuhnya yang trendi. Ah ya, mungkin perlu juga aku minggat ke Jakarta agar suatu saat dapat pulang mandi dengan bahagia. (1999)

Perahu : YBM Air danau makin meninggi. Entah sudah berapa desa tenggelam di sini. Setelah sembahyang dan menghitung cahaya lampu di kejauhan, pada tengah malam ia memutuskan pergi ke seberang. Di sana anak-anak sudah tak sabar menunggu dan ingin segera mendapat oleh-olehnya: buku tulis, pinsil dan kisah-kisah petualangan yang biasa ia dongengkan dengan jenaka di gedung sekolah darurat yang tentu tidak tertib kurikulumnya. “Hati-hati, Pak Guru, hujan tampaknya segera turun,” kata orang-orang kampung yang membantu mendorong perahunya. “Tenanglah,” timpalnya sambil tersenyum, “saya sudah terlatih untuk kalah.” Meskipun agak gentar sebenarnya, ia meluncur juga bersama sarung dan capingnya. Air danau makin meninggi. Entah sudah berapa rumah tenggelam di sini. Sebelum sampai di seberang, ia memutuskan mundur ke tengah. Seluruh kawasan telah dijaga aparat dan cukup sulit mendapatkan tempat mendarat. Sambil menunggu situasi, ia tiduran saja di atas perahu dan, kalau bisa, bermimpi. Menjelang subuh, perahu mendarat di tujuan. Mereka menyambut girang: “Pak Guru sudah datang!” Pak Guru memang sudah datang. Sayang ia tak juga bangun dan tak akan bangun lagi. Tapi anak-anak, yang ingin segera mendapat oleh-olehnya, tak akan mengerti batas antara tidur dan mati. Beberapa aparat memeriksa tubuhnya yang masih hangat dan menemukan sesobek surat: “Pak Petugas, tolong sampaikan pinsil dan buku tulis ini kepada anak-anakku yang pintar dan lucu. Saya mungkin tak sempat lagi bertemu.”

Ada di antara mereka yang berkata: “Kandas juga ia akhirnya.” Memang ia kandas, dan tenggelam, ke lembah maria. Seperti hidup yang karam ke dalam doa. Barangkali ia sendiri sebuah perahu. Yang dimainkan anak-anak piatu. Yang berani mengarungi mimpi dan menyusup ke belantara waktu. (1999)

Pohon Perempuan Pohon perempuan itu masih berdiri anggun di tengah kota walau sudah sangat tua umurnya. Teman-temannya sudah tumbang dan roboh semua tapi ia masih tegar di sana. Aku ingin mencicipi sepasang buahnya yang indah yang selalu tampak segar dan basah. Tapi kata orang itu buah keramat dan tak seorang pun boleh memetiknya. Pohon keramat itu selalu ramai dikunjungi peziarah yang datang untuk memohon berkah dan tuah. Dan kata orang, hanya yang kudus dan bersih hidupnya boleh ke sana. Sedang aku seorang pendosa yang ketika lahir saja sudah tega menyiksa dan melukai seorang wanita. Tadi siang aku melihat seorang tiran ditangkap, ditelanjangi, diarak keliling kota kemudian digantung di pohon itu sampai melet lidahnya dan mendelik matanya. Sebelum nyawanya oncat ia sempat mendengar pohon perempuan itu berkata: “Minumlah tetekku, hai anak durhaka.” (1999)

Di Sebuah Lukisan Menjelang usia lima puluh kristal waktu di matanya masih juga utuh. Seperti dua butir bulan menyala di kerlap kerling. Seperti dua butir mimpi menyembul di bawah kening. Seperti dua butir maut? “Bukan!” sergahnya sambil berpaling. Pelukis itu sudah lelah sebenarnya. Sudah dibujuknya ia ke sebuah taman, duduk tenang di bangku panjang dengan latar langit mendung sebentar lagi hujan. Tapi perempuan di dalam lukisan itu bilang: ”Beri dong langit yang garang, yang merah cemerlang.” Apa yang lebih merah selain darah? “Brengsek ah,” pelukis itu berkesah. Diirisnya urat darah, diratakannya merah pada langit di atas bukit. Ke sana burung-burung terbang mencari arah. Dari sana sayap-sayap malam akan merendah. “Hatiku damai sekarang,” kata perempuan itu riang. Ia pun memandang ke seberang, ke tempat anak-anak bermain layang-layang di atas kuburan. Ada juga liuk sungai di kejauhan, merayap pelan memasuki hutan. Pelukis itu ingin rebah sebenarnya. Tapi masih ada sedikit ruang di sudut kanvas belum terjamah. “Biarkan tempat itu tetap suwung,” perempuan itu meminta, “ke sana ku akan nyemplung.” (1999)

Perburuan Unggun api masih marak di atas ranjang. Dua pengelana saling merapat menghangatkan badan. “Berapa jauh lagikah kita berjalan?” “Berapa lama lagikah sampai tujuan?” Langit makin malam. Malam makin mendung. “Tampaknya kita tersesat.” Lidah api menjilat-jilat. Mereka kemudian memasang tenda, melanjutkan perburuan. “Sudah kutempuh perjalanan panjang di rimba ranjang

dan hanya gigil yang kudapatkan.” “Sudah kurambah seluruh kilometer tubuhmu sampai ke gua-guanya yang paling dalam dan tebing-tebingnya yang paling curam dan hanya labirin yang kutemukan.” Ketika bangun, tenda sudah rubuh, unggun sudah padam. “Kapan hujan turun?” “Kapan kita pulang?” Waktu mengkerut di seonggok pakaian. (1999)

Tahanan Ranjang Akhirnya ia lari meninggalkan ranjang. Lari sebelum tangan-tangan malam merampas tubuhnya dan menjebloskannya ke nganga waktu yang lebih dalam. “Selamat tinggal, negara. Aku tak ingin lebih lama lagi terpenjara. Mungkin di luar ranjang waktu bisa lebih luas dan lapang.” Ranjang memang sering rusuh dan rawan kekuasaan. Penuh horor dan teror. Di sana ada psikopat gentayangan sambil mengacung-acungkan pistol dan berteriak: “Tiarap. Kau akan kutembak.” Kemudian ada yang balik mengancam sambil membentak: “Angkat tangan. Pistolmu tak bisa lagi meledak.” Ada yang lari meninggalkan ranjang. Ada yang ingin berumah kembali di ranjang. Pada kelambu merah ia baca tulisan: “Ini penjara masih menerima tahanan. Dijamin puas dan jinak. Selamat malam.” (1999)

Selimut

Selimut telah dilipat. Dongeng perlu juga tamat. Cepatlah berangkat walau nafasmu masih tersengal tersendat. Musim panas telah datang mengepak-ngepakkan sayapnya yang lunglai. Datang pula gagak mencabik-cabik sprei, mencari-cari sumber air di balik bongkahan guling dan hanya menemukan ular yang meringkuk melingkar di bawah bangkai bantal yang terlantar terbengkalai. Terdengar juga lengking rusa yang terkapar terbantai. Pemburu liar mondar-mandir mengitari ranjang, mencari suara di balik belukar. Dan ketika angin berhembus kencang semak-semak itu pun terbakar. (1999)

Kepada Penyair Hujan : SDD Lembut sayap-sayap hujan menggelepar di antara pepohonan dan rumput liar di remang sajakmu. Seperti kudengar kepak sayap burung dari khasanah waktu yang jauh. Matahari sebentar lagi padam. Senja hanya diam mengagumi selendang panjang warna-warni yang menjuntai di atas sungai yang hanya terdengar suaranya; malam sesaat lagi akan meraih dan melipatnya. Hujan yang riang, yang melenyap pelan dengan derainya yang bersih, makin lama makin lirih dan akhirnya lengang. Tapi kudengar juga hujan yang risau dan parau. Seperti kudengar seorang musafir

kurus dan sakit-sakitan batuk terus sepanjang malam dengan suara serak dan berat, berjalan terbata-bata menyusuri jalan setapak yang licin meliuk-liuk, mencari tempat yang teduh dan hangat. Musafir itu bikin unggun di atas sajakmu. Aku akan menemaninya. (1999)

Surat Malam untuk Paska Masa kecil kaurayakan dengan membaca. Kepalamu berambutkan kata-kata. Pernah aku bertanya: “Kenapa waktumu kausia-siakan dengan membaca?” Kau jawab ringan: “Karena aku ingin belajar membaca sebutir kata yang memecahkan diri menjadi tetes air hujan yang tak terhingga banyaknya.” Kau memang suka menyimak hujan, bahkan dalam kepalamu ada hujan yang meracau sepanjang malam. Itulah sebabnya, kalau aku pergi belanja dan bertanya minta oleh-oleh apa, kau cuma bilang: “Kasih saja saya beragam bacaan, yang serius maupun yang ringan. Jangan bawakan saya rencana-rencana besar masa depan. Jangan bawakan saya kecemasan.” Kumengerti kini: masa kanak adalah bab pertama sebuah roman yang sering luput dan tak terkisahkan, kosong tak terisi, tak terjamah oleh pembaca, bahkan tak tersentuh oleh penulisnya sendiri. Sesungguhya aku lebih senang kau tidur di tempat yang bersih dan tenang. Tapi kau lebih suka tidur di antara buku-buku, berkas-berkas, yang berantakan. Seakan mereka mau bicara: “Bukan kau yang membaca kami, tapi kami yang membaca kau.” Kau pun pulas. Seperti halaman buku yang luas. Dalam kepalamu ada air terjun, sungai deras di tengah hutan. Aku gelisah saja sepanjang malam, mudah terganggu suara hujan. (1999)

Topeng Bayi untuk Zela Melihat kau tersenyum dalam tidurmu aku ingin kasih topeng bayi yang cantik untukmu. Kau pernah bertanya: “Cantikkah saya waktu bayi?” Sayang, aku tak sempat membuat foto bayimu. Padahal kau sangat lucu dan tak mungkin aku melukiskannya. Di sebuah desa kerajinan aku bertemu seorang pembuat topeng yang sangat aneh tingkahnya. Ia suka menjerit-jerit saat mengerjakan topeng-topengnya. “Anda masih waras kan?” aku bertanya. “Masih. Jangan khawatir,” jawabnya. “Saya hanya tak tahan menahan sakit dan perih setiap memahat dan mengukir wajah saya sendiri.” Aku sangat kesepian setiap melihat kau asyik bercanda dengan topeng bayimu. Kok wajahku cepat tua dan makin mengerikan saja. Tapi kau berkata: “Jangan sedih, Pak Penyair. Bukankah wajah kita pun cuma topeng yang tak pernah sempurna mengungkapkan kehendak penciptanya?” (1999)

Toilet (1) Ia sangat mencintai toilet lebih dari bagian-bagian lain rumahnya. Ruang tamu boleh kelihatan suram, ruang tidur boleh sedikit berantakan, ruang keluarga boleh agak acak-acakan, tapi toilet harus dijaga betul keindahan dan kenyamanannya. Toilet adalah cermin jiwa, ruang suci, tempat merayakan yang serba sakral dan serba misteri. Bertahun-tahun kita mengembara mencari wajah asli kita, padahal kita dapat dengan mudah menemukannya, yakni saat bertahta di atas lubang toilet. Karena itulah, barangkali, kita mudah merasa waswas dan terancam bila melihat atau mendengar kelebat orang

dekat toilet, karena kita memang tidak ingin ada orang lain mengintip wajah kita yang sebenarnya. Demikianlah, ketika saya bertandang ke rumahnya tanpa saya tanya ia langsung berkata: “Kalau mau ke toilet, terus saja lurus ke belakang, putar sedikit ke kiri, kemudian belok kanan.” Mungkin ia bermaksud memamerkan toiletnya yang memang mewah. Begitu saya keluar dari toilet, ia bertanya: “Dapat berapa butir?” Butir apa? (2) Nah, ia terbangun dari tidurnya yang murung dan gelisah. Dengan meringis dan bersungut-sungut ia berjalan tergopoh-gopoh ke toilet. Keluar dari toilet, wajahnya tampak sumringah, langkahnya santai, matanya cerah. “Merdeka!” Sambil senyum-senyum ia kembali tidur. Tidurnya damai dan pasrah. Terus terang saya suka membayangkan yang bukan-bukan kalau ia berlama-lama di toilet. Apalagi tengah malam. Apalagi mendengar ia terengah, mengerang, mengaduh, sesekali menjerit lalu berseru: “Edan!” Seperti sedang melepaskan rasa sakit yang tak tertahankan. O ternyata ia sedang bertelur. Dan ia rajin ke toilet malam-malam untuk mengerami telur-telurnya. Bertahun-tahun ia bolak-balik antara kamar tidur dan toilet untuk melihat apakah telur-telur mimpinya dan telur-telur mautnya sudah menetas. (1999)

Naik Andong Kehujanan Andong terguncang-guncang di bawah hujan. Hujan mengguyur malam, melecut kudaku yang kecapaian. (Andong: keranda indah yang membawa kita tamasya keliling kota. Kling klong kling klong.) Andong: kudanya kurus kering tinggal tulang-belulang, terseok-seok mendaki jalanan licin berkelok-kelok. “Hoya! Hoya!” teriak kusir sambil menyabet-nyabetkan pecutnya.

Kusirnya gundul, gendut dan gendeng. Enak-enak merokok, minum bir, makan apem. “Hoya! Hoya!” hentaknya garang sambil dipecutnya kudaku yang kelaparan. Andong tertatih-tatih di bawah hujan, membawa sepasang pengantin ke sebuah kondangan. Kudanya kurus kering tinggal tulang-belulang, terengah-engah mendaki jalanan gelap dan basah. “Hoya! Hoya!” teriak penumpang membentak kusir yang ketiduran. Penumpangnya pakai topeng, banyak tingkah, pecicilan. Yang satu mabuk, yang lain kesurupan. “Nikmat juga euy naik andong kehujanan,” kata penumpang edan sambil enak-enak minum bir, makan lemper, dan dangdutan. Andong berhenti di kuburan. Pesta kawinan sudah disiapkan. Dan sudah ada pertunjukan jaran kepang. “Selamat datang Pengantin,” sambut seorang arwah penjaga gerbang. Kudaku ketakutan. Melesat minggat sendirian. Kusir dan penumpangnya ditinggalkan. (Andong: keranda kosong yang melaju kencang mencari penumpang. Kling klong kling klong.) Andong meluncur di bawah hujan. Hujan mengguyur malam, melecut kudaku yang kesakitan. “Hoya! Hoya!” gertak kudaku kesetanan, ngebut menembus malam. (1999)

Naik Bus di Jakarta untuk Clink Sopirnya sepuluh, kernetnya sepuluh, kondekturnya sepuluh, pengawalnya sepuluh, perampoknya sepuluh. Penumpangnya satu, kurus, dari tadi tidur melulu; kusut matanya, kerut keningnya

seperti gambar peta yang ruwet sekali. Sampai di terminal kondektur minta ongkos: “Sialan, belum bayar sudah mati!” (1999)

Malin Kundang Malin Kundang pulang menemui ibunya yang terbaring sakit di ranjang. Ia perempuan renta, hidupnya tinggal menunggu matahari angslup ke cakrawala. “Malin, mana isterimu?” “Jangankan isteri, Bu. Baju satu saja robek di badan.” Perempuan yang sudah tak tahan merindu itu seakan tak percaya. Ia menyelidik penuh curiga. “Benar engkau Malin?” “Benar, saya Malin. Lihat bekas luka di keningku.” “Tapi Malin bukanlah anak yang kurus kering dan compang-camping. Orang-orang telah memberi kabar bahwa Malin, anakku, akan datang dengan isteri yang bagus dan pangkat yang besar.” “Mungkin yang Ibu maksud Maling, bukan Malin.” “Jangan bercanda, mimpiku telah sirna.” Walau sakit, perempuan itu memberanikan diri bertanya: “Ke mana saja engkau selama ini?” “Mencari ayah di Jakarta.” Lalu kata ibu itu: “Ayahmu pernah pulang dan aku telah sukses mengusirnya.” “Benar engkau Malin?” Ibu itu masih juga sangsi. Dan anak yang sudah lelah mengembara itu pun bicara: “Benar, saya Malin. Malin yang diam-diam telah menemukan ayahnya dan membunuhnya.” Sambil memejamkan mata, perempuan itu berkata: “Bila benar engkau Malin, biar kusumpahi ranjang dan tubuhku ini menjadi batu.” Tapi ranjang tidak menjadi batu, dan perempuan itu pun masih di situ, seakan ada yang masih ditunggu.

(1999)

Utang Orang miskin itu memberanikan diri bertamu ke sahabatnya yang dulu miskin tapi sekarang kaya raya. Tak ada jeleknya menghibur orang kaya, pikirnya. Orang kaya toh sering kesepian juga. Baru saja melangkah ke ambang pintu, tuan rumah langsung menyergapnya: “Kau ke sini cuma mau menagih utang kan? Utang lama kan? Waktu aku masih miskin kan? Aku akan lunasi sekarang, sekian lipat dari yang kupinjam. Paham?” Sambil menepuk-nepuk bahu tuan rumah yang pemberang tamu itu menjelaskan: “Jangan berburuk sangka. Saya ke sini cuma mau bilang bahwa utang itu sudah saya ikhlaskan. Besok saya mungkin sudah mati. Paham?” Tuan rumah terpana dan merasa utangnya makin bertambah saja. Tamu miskin itu sekarang berdiri di dalam cermin di hadapan saya. Ia mengucapkan hallo, dan saya merasa tertusuk oleh senyumnya. (1999)

Uban Pasukan uban telah datang memasuki wilayah hitam. Hitam merasa terancam dan segera merapatkan barisan. “Putih lambang kematangan, hitam harus kita lumpuhkan.” “Hitam lambang kesuburan, putih harus kita enyahkan.” Tiap malam pasukan putih dan pasukan hitam bertempur memperebutkan daerah kekuasaan sampai akhirnya seluruh dataran kepala berhasil dikuasai masyarakat uban. “Hore, kita menang. Kita penguasa masa depan.” Tapi uban jelek di lubang hidungmu memperingatkan: “Jangan salah paham. Putih adalah hitam yang telah luluh dalam derita dan lebur dalam pertobatan.”

“Demikianlah sabda uban,” sindir uban-uban pengecut yang tiap hari minta didandani dengan semir hitam. (1999)

Kacamata Baru tiga puluh tahun menyair, ia sudah pakai kacamata. Biar tampak bijak dan matang. Biar dikira banyak mikir dan merenung. Biar lebih kebapakan. Kalau lagi kencan dengan kata-kata, ada-ada saja tingkahnya: mencopot kacamata, membersihkannya, menerawangnya, kemudian mengenakannya kembali sambil pura-pura batuk dan pilek. Biasa, cari perhatian. Biar kelihatan berwibawa. Biar dikagumi topeng yang nampang di hadapannya. Dan ia sudah punya bermacam-macam kacamata. Tapi ia masih harus mencari matakaca yang bisa membuatnya tidak grogi menerima teluh cinta kata-kata; yang bisa menjadikannya tidak nyeremimih dan ingah-ingih saat menghadap yang mahamakna. (1999)

Tetangga Ada baiknya sekali-sekali main ke tetangga. Sekadar mengobrol, minum kopi, main kartu, mabuk bareng, pamer utang, atau saling mencabuti uban sambil merencanakan kapan bisa duel untuk saling mengalahkan. Biasanya tetangga lebih cermat mengamati keadaan rumah kita. Siapa tahu ia juga bisa menyumbangkan gagasan cemerlang tentang cara batuk yang sopan supaya tidak mengganggu tetangga yang sedang tidur atau makan. Kita suka menunda-nunda waktu untuk main ke tetangga. Kita suka bilang sibuk atau pura-pura ingin saling menjaga privasi, padahal sebenarnya cuma takut dan malu mendengar gunjingan orang tentang (keburukan) kita.

Saya baru sadar bahwa saya punya tetangga yang baik dan penuh perhatian. Rumahnya cuma di seberang. Saya sering melihatnya baca koran atau main catur semalaman sambil bersiul-siul sendirian. Kadang ia main pantomim di halaman tanpa seorang pun menghiraukan. Setiap saya pergi dan pulang kerja ia selalu menyapa: “Mampir!” “Terima kasih, kapan-kapan,” jawab saya tanpa pernah mampir sungguhan. Sialan. Tetangga saya itu rupanya sering mengintip saya. Suatu saat kami bertemu di jalan dan ia mengatakan: “Aku tahu apa yang kausembunyikan di balik baju dan celanamu. Aku tahu apa yang paling kaubanggakan dari tubuhmu. Kau tak tahu diam-diam aku sering mabuk dan berjoget di bugil badanmu.” Malam itu ia coba-coba mengintip lagi. Saya cepat-cepat membuka jendela, hendak mendampratnya. Tapi ia segera menghilang ke rumahnya yang suram dan tak terawat di bawah pohon kemboja. “Kapan-kapan saya mampir,” kata saya sambil menutup jendela. (1999)

Misbar Di sebuah lapangan di sebuah kampung di sebuah kenangan di pusat Jakarta masih bisa kautemui sebuah misbar. Mereka duduk berdesakan menyaksikan pertunjukan film layar lebar dengan bintang-bintangnya yang cantik dan segar. Suasana begitu hingar. Suara-suara begitu bingar. Setiap orang bebas bicara dan bertingkah, bikin gosip, kabar kabur, colak-colek, clapclup, cicitcuit, berteriak cabul, tanpa menghiraukan benar cerita yang sedang diputar. Ada yang memilih mojok di bawah pohon beringin sambil minum cendol dan bersayang-sayangan. Ada yang lebih suka ajojing sambil mabuk dan menjerit-jerit kesetanan. Ada yang main kartu, perang mulut, ribut dan akhirnya gelut. Ada yang menyetel radio keras-keras dan serius amat mendengarkan pidato presiden. Ada yang bercakap-cakap dengan topeng. Ada yang menyinden. Ada yang main kuda lumping, mengamuk, kemudian terpelanting. Ada yang sesenggukan membaca sepucuk surat dari pacarnya yang minggat.

Ada yang bertengkar memperebutkan laki-laki hidung belang. Ada yang mencopet dan mengutil, kemudian dihajar habis-habisan. Ada yang jual tampang, pamer pamor, menjaring iseng, dengan wajah menor-menor. Ada yang kencing sembarangan di bawah pohon pisang. Ada juga yang menjajakan berbagai mayat orang hilang yang gambarnya sering terpampang di koran. Penyair adalah penjual rokok yang duduk terkantuk-kantuk di sudut yang remang, yang sambil klepas-klepus memperingatkan: “Merokok dapat merugikan kesehatan.” Yang menyimak segala hingar dan segala bingar sambil mendengar yang tak terdengar. Yang berani menduga siapa di antara orang-orang yang sibuk tertawa itu yang melengos pulang kemudian menggantung diri di kamar karena diam-diam merasa sangat kesepian. Tontonan makin seru. Kacau bukan soal. Tiba-tiba terdengar letusan. Banyak yang ngacir. Kocar-kacir. Lintang pukang. Tunggang langgang. Maling berteriak maling. Spiker melengking-lengking. Ada yang lari terkencing-kencing. Lalu datang orang berseragam, mengamankan keadaan. “Tenang. Situasi dapat dikendalikan. Pertunjukan dapat dilanjutkan.” “Jakarta memang asyik euy,” kata penjual rokok itu yang sambil klepas-klepus memperingatkan: “Merokok dapat merugikan kemiskinan.” Kemudian turunlah gerimis, pertunjukan pun bubar. Misbar. Di sebuah lapangan di sebuah kampung di sebuah kenangan di pusat Jakarta masih bisa kautemui sebuah misbar. Suatu saat akan aku temui penjual rokok itu. Siapa tahu ia saudara kembarku. (1999)

Veteran Sehabis merumput di atas kepalaku, selalu ia tanyakan: “Mau dicukur rambut yang lain?” “Jangan,” aku katakan, “nanti tak ada lagi rambut yang saya banggakan.”

Ia seorang veteran, tukang cukur yang intelek dan cekatan, yang membiarkan rambutnya tumbuh panjang tak beraturan. “Tukang cukur sejati tak akan memangkas rambutnya sendiri,” katanya pasti. Ia sudah bertahun-tahun di sana, di bawah pohon beringin yang rimbun daunnya, di sebuah sunyi di sudut kotanya. Ia sangat berpengalaman menangani berbagai macam kepala, hafal merek dan isinya. “Hanya di kepala bisa tumbuh berbagai jenis rambut,” katanya, “sebab memang hanya kepala yang punya otak dan pikiran.” Sambil membabat rumput liar di kepalaku ia lanjutkan: “Ada sebuah tempat nun di pusat pergolakan di mana rambut hanya bisa semrawut. Sebab makhluk yang berdiam di sana memang tidak punya otak dan pikiran, hanya bisa diperintah dan melaksanakan tindakan.” Di meja kerjanya yang antik kulihat album besar berisi koleksi berbagai model rambut dan kepala. Ada gambar Yesus yang mulai botak kepalanya. Ada gambar presiden yang tampak cabul kepalanya. Ada pula gambar penyair yang kelihatan brutal rambutnya. Malam itu aku datang lagi hendak menertibkan si kepala, tapi ia tak ada di tempat tugasnya. “Ke mana tukang cukur saya?” tanya saya kepada seseorang di situ. “Katanya pergi sebentar hendak bercukur,” jawab orang berkepala sederhana itu yang ternyata seorang mata-mata. Di jalan pulang kulihat tukang cukur itu sedang diangkut mobil patroli bersama seluruh peralatan kerjanya. “Selamat malam Veteran,” aku menghormat. Dan sang veteran tersenyum sambil memiring-miringkan telunjuk tangannya di atas jidatnya. (1999)

Di Bawah Kibaran Sarung Di bawah kibaran sarung anak-anak berangkat tidur ke haribaan malam. Tidur mereka seperti tidur yang baka. Tidur yang dijaga dan disambangi seorang lelaki kurus dengan punggung melengkung, mata yang dalam dan cekung. “Hidup orang miskin!” pekiknya sambil membentangkan sarung.

“Hidup sarung!” seru seorang perempuan, sahabat malam, yang tekun mendengarkan hujan. Lalu ia mainkan piano, piano tua, di dada lelaki itu. “Simfoni batukmu, nada-nada sakitmu, musik klasikmu, mengalun merdu sepanjang malam,” hibur perempuan itu dengan mata setengah terpejam. Di bawah kibaran sarung rumah adalah kampung. Kampung kecil di mana kau bisa ngintip yang serba gaib: kisah senja, celoteh cinta, sungai coklat, dada langsat, parade susu, susu cantik dan pantat nungging yang kausebut nasib. Kampung kumuh di mana penyakit, onggokan sampah, sumpah serapah, mayat busuk, anjing kawin, maling mabuk, piring pecah, tikus ngamuk, timbunan tinja adalah tetangga. “Rumahku adalah istanaku,” kata perempuan itu sambil terus memainkan pianonya, piano tua, piano kesayangan. “Rumahku adalah kerandaku,” timpal lelaki itu sambil terus meletupkan batuknya, batuk darah, batuk kemenangan. Dan seperti keranda mencari penumpang dari jauh terdengar suara andong memanggil pulang. Kling klong kling klong. Di bawah kibaran sarung kutuliskan puisimu, di rumah kecil yang dingin terpencil. Seperti perempuan perkasa yang betah berjaga menemani kantuk, menemani sakit di remang cahaya: menghitung iga, memainkan piano di dada lelaki tua yang gagap mengucap doa.

Ya, kutuliskan puisimu kulepaskan ke seberang seperti kanak-kanak berangkat tidur ke haribaan malam. Ayo temui aku di bawah kibaran sarung di tempat yang jauh terlindung. (1999)

Rumah Persinggahan untuk SS “Aku sekarang bisa pulang ke rumah,” kata temanku dengan wajah berbinar-binar. Lalu ia tunjukkan rumahnya yang baru, rumah yang besar, yang halamannya luas tak berpagar. “Bukan pulang, tapi singgah,” aku berkilah, “sebab hanya kalau larut malam kau berumah, sedang sebagian besar waktumu, jadwal hidupmu kauhabiskan di sekian banyak entah.” “Iyalah,” ia mengalah, dan dengan takjub kukagumi arsitektur rumahnya yang langka dan spesial, tampak sederhana tapi menggoda. “Bertahun-tahun aku menabung kemiskinan untuk membangun rumah ini,” kata temanku. “Bukan kemiskinan, tapi kematian,” aku menyanggah. “Iyalah,” ia kembali mengalah. Ketika itu Jakarta hampir punah. Seluruh pelosok telah habis dijarah petualang-petualang kampung dari berbagai daerah. Di mana-mana orang bikin gedung, pabrik, hotel, toko, salon, kesenian, pemerintahan, panti pijat, warung gaul sehingga untuk mukim kau harus cari kapling di kompleks perumahan bawah tanah. Temanku beruntung bisa bikin rumah besar di sebidang tanah bekas kuburan Cina yang konon banyak jinnya.

Kujelajahi rumah temanku yang ada kolam renang dan kolam ikannya. Dinding-dindingnya penuh lukisan dan topeng. “Jin tidak berani gentayangan di sini,” sindir temanku, “sebab jin takut topeng, apalagi topengnya lebih ganteng dari kamu.” Wah, rumah temanku banyak benar kamarnya. Di bagian depan, misalnya, ada kamar khusus untuk tamu-tamu miskin dari luar kota yang datang untuk sekadar numpang mandi, tidur, dan, tentu saja, makan. Persis di bagian tengah tersedia sel tahanan, lengkap dengan terali dan cahaya remang-remangnya. “Siapa tahu ada seniman kriminal tiba-tiba mengamuk di sini,” jelasnya. Nun di pojok belakang ada kamar gelap yang dijaga sepasang jerangkong, dirancang untuk kuburan. “Kau anak jadah, sebatang kara. Kalau suatu saat kau mati di Jakarta, biar kukubur kau di sini,” temanku bercanda. Aku merinding, dan ia tunjukkan nisan coklat yang belum diberi nama. Masih banyak ruangan lain yang entah untuk apa. Ada, konon, ruangan dingin buat bercinta, tapi aku tak tahu di sebelah mana. Ah, kurang apa rumah temanku. Sayang si empunya jarang pulang, eh singgah. Kalaupun singgah, ia lebih suka mendekam dan menulis di dalam sel dan tak seorang pun bisa mengusiknya. “Bahkan topeng pun tidak berani menggangguku,” katanya. Seperti puisi, mungkin juga cinta, rumah temanku jauh dan tersembunyi. Tidak mudah menemukan alamatnya. Kalaupun sampai, kemudian kubuka pintunya, bisa saja aku lantas tersesat dan terkurung dalam keluasannya. Tapi aku selalu ingin singgah ke sana. Teman, aku datang naik andong. Kling klong kling klong. (1999)

Tamu Suatu malam roh musafir itu singgah, hendak menginap di tubuhku. Tubuh yang sudah beberapa lama terbaring sakit menggeliat terperanjat. “Aku tidak siap menerima tamu,” ucapnya lirih. “Tuan, saya kemalaman,” tamu itu berkata. “Bolehkah hamba numpang tidur dan istirah sebentar?” “Tentu saya senang bisa mempersilakan Tuan bermalam di tubuh hamba,” jawabku. “Tapi maaf, hamba tak bisa kasih tempat yang nyaman. Tubuh hamba sedang bobrok dan berantakan.” “Jangan terlalu meninggikan hamba,” timpalnya. “Bisa sekedar berbaring saja sudah cukup membuat bahagia.” Di tubuh yang sumpek dan temaram tamu itu merapal doa sepanjang malam. Doanya mencengkeram meremas-remas jantung sampai darahku bergolak dan tubuhku tersentak: “Aku takut mati!” Tapi doanya tambah deras dan dencar sampai tubuhku gemetar dan urat-urat darahku bergetar. Sesudah itu tubuhku hening hingga tiap denyut darah terdengar nyaring. Pagi-pagi sekali tamu itu pamitan, hendak melanjutkan perjalanan. “Tidur hamba nikmat sekali semalam,” ia berkata. “Terima kasih,” jawabku. “Saya harap suatu saat Tuan berkenan singgah lagi di tubuh hamba. Hamba berjanji akan sediakan tempat yang lapang dan nyaman.” Lama aku menunggunya. Tapi ia tak kunjung datang. (1999)

Sajak-sajak 2000
Sehabis Tidur Sehabis tidur lahan tubuh kita terus berkurang. Kita belum sempat bikin rumah atau tempat perlindungan, diam-diam sudah banyak yang merambah masuk, bermukim di jalur-jalur darah, di kapling-kapling daging, di bukit-bukit sakit, di ceruk-ceruk kenangan, di kuburan-kuburan mimpi, di jurang-jurang ingatan, di gua-gua kata, di sumber-sumber igauan. Berdesakan, berebut ruang, sampai kita kehabisan tempat, sampai harus mengungsi ke luar badan. (2000)

Meditasi Celana tak kuat lagi menampung pantat yang goyang terus memburu engkau. Pantat tak tahan lagi menampung goyang yang kencang terus menjangkau engkau. Goyang tak sanggup lagi menampung sakit yang kejang terus mencengkram engkau. Telanjang tak mampu lagi melepas, menghalau Engkau. (2000)

Di Sebuah Mandi Di sebuah mandi kumasuki ruang kecil di senja tubuhmu. “Ini rumahku,” kau menggigil. Rumah terpencil.

Tubuhmu makin montok saja. “Ah, makin ciut,” kau bilang, “sebab perambah liar berdatangan terus membangun badan sampai aku tak kebagian lahan.” Ke tubuhmu aku ingin pulang. “Ah, aku tak punya lagi kampung halaman,” kau bilang. “Di tubuh sendiri pun aku cuma numpang mimpi dan nanti mungkin numpang mati.” Kutelusuri peta tubuhmu yang baru dan kuhafal ulang nama-nama yang pernah ada, nama-nama yang tak akan pernah lagi ada. “Ini rumahku,” kautunjuk haru sebekas luka di tilas tubuhmu dan aku bilang: “Semuanya tinggal kenangan.” Di sebuah mandi kuziarahi jejak cinta di senja tubuhmu. Pulang dari tubuhmu, aku terlantar di simpang waktu. (2000)

Doa sebelum Mandi Tuhan, saya takut mandi. Saya takut dilucuti. Saya takut pada tubuh saya sendiri. Kalau saya buka tubuh saya nanti, mayat yang saya sembunyikan akan bangun dan berkeliaran. Saya ini orang miskin yang celaka. Hidup saya sehari-hari sudah telanjang. Kerja saya mencari pekerjaan. Tubuh saya sering dipinjam orang untuk menculik dan membinasakan korban. Mereka bisa dengan mudah dihilangkan tapi di tubuh saya mereka tak dapat dilenyapkan. Tuhan, mandikanlah saya agar saudara kembar saya bisa damai dan tenang di tubuh pembunuhnya. (2000)

Mei : Jakarta, 1998 Tubuhmu yang cantik, Mei telah kaupersembahkan kepada api. Kau pamit mandi sore itu. Kau mandi api. Api sangat mencintaimu, Mei. Api mengucup tubuhmu sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi. Api sangat mencintai tubuhmu sampai dilumatnya yang cuma warna yang cuma kulit yang cuma ilusi. Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei adalah juga tubuh kami. Api ingin membersihkan tubuh maya dan tubuh dusta kami dengan membakar habis tubuhmu yang cantik, Mei Kau sudah selesai mandi, Mei. Kau sudah mandi api. Api telah mengungkapkan rahasia cintanya ketika tubuhmu hancur dan lebur dengan tubuh bumi; ketika tak ada lagi yang mempertanyakan nama dan warna kulitmu, Mei. (2000)

Perempuan Jakarta Memang tampak cantik ia dengan celana merah menyala. Senja berduyun-duyun mengejar petang mengejar malam. Pada sebuah billboard masih juga ia bertahan dengan airmata yang disembunyikan.

Di jalanan para demonstran pesta pora mengibarkan kata mengibarkan celana. “Ayo kita sergap dia!” “Ayo tangkap saya!” ia menantang sambil ia pamerkan pantatnya yang matang. Mereka lalu mengepungnya, ingin meraih wajahnya, meraih sakitnya. “Rebutlah aku!” ia merayu dan mereka siap menyerbu. Perempuan pengembara. Aku telah lihat ia punya rahasia. Aku telah lihat tailalat kecil di teteknya, tailalat besar di pantatnya. Aku telah lihat luka yang dalam dan kekal di sentral tubuhnya. Memang tambah cantik ia dengan anggur darah di tangannya. Kota akan kehilangan dia bila ia tak lagi di sana. (2000)

Luas Semalam sehektar ranjang. Setahun sejengkal badan. Kutempuh kau di hektar-hektar mimpi. Di hektar-hektar sakit kau kujelajahi. Tubuhmu jauh, menikung, curam. Tubuhmu lebih luas dari ranjang. (2000)

Kain Kafan Kugelar tubuhku di atas ranjang seperti kugelar kain kafan yang telah dibersihkan.

Siapa yang tidur di atas kain putih ini semalam? Kutemukan bercak-bercak darah: gambar wajah yang kesakitan dan luka lambung yang belum disembuhkan. Kulipat tubuhku di atas ranjang seperti kulipat kain kafan yang kaujadikan selimut tadi malam. (2000)

Sakramen Tubuhmu kandang hewan tempat seorang perempuan singgah melahirkan anaknya yang malang. Tubuhmu bukit tandus tempat kausalibkan Kristus dan kaubiarkan ia mengalahkan ajal sendirian. Tubuhmu gua batu tempat jasadnya kaumakamkan dan kauwartakan: “Di tubuhku Tuhan bersemayam.” Kau lama tak tahu, tak juga paham pada hari ketiga kuburnya sudah kosong dan tubuhmu telah ia tinggalkan. Kau kini sibuk mencari ia di luar badan. (2000)

Perempuan Senja Perempuan itu telah berjanji bertemu senja di kuburan. Ia terlambat datang. Senja baru saja pergi dan hanya meninggalkan dedaunan kering dan kotoran burung di atas nisan. Ia melamun saja, mencari-cari wajah senja di cakrawala. “Senja telah menyerahkanmu ke pelukanku,” tiba-tiba malam menepuk punggungnya dan hendak menciumnya.

Perempuan itu menjerit dan serta merta ditepisnya tangan malam yang hendak merebut wajahnya. Ia bergegas pulang dan malam menguntitnya terus dengan gerimisnya yang cerewet dan nakal. Pagi mendapatkan tubuhnya yang telanjang di ranjang. “Malam telah kubunuh di kuburan. Kau milikku sekarang.” Tapi perempuan itu masih nyenyak tidurnya: mungkin ia sedang bermimpi dicium senja di makam. (2000)

Kucing Hitam Kucing hitam yang ia pelihara dengan kasih sayang kini sudah besar dan buas. Tiap malam dihisapnya darah lelaki perkasa itu seperti mangsa yang pelan-pelan harus dihabiskan. “Jangan anggap lagi aku si manis yang mudah terbuai oleh belaianmu, hai lelaki malang. Sekarang akulah yang berkuasa di ranjang.” Lelaki perkasa itu sudah renta dan sakit-sakitan. Tubuhnya makin hari makin kurus, sementara kucing hitam yang bertahun-tahun disayangnya makin gemuk saja dan sekarang sudah sebesar singa dan ngeongnya sungguh sangat mengerikan. Si tua yang penyabar itu lama-lama geram juga. Tiap malam si hitam gemuk mengobrak-abrik ranjangnya dan melukai tidurnya. “Sebaiknya kita duel saja,” si kurus menantang. “Boleh,” jawab si gemuk hitam. “Nanti tulang-belulangmu kulahap sekalian.” “Ayo kita tempur!” “Ayo kita hancur! “Jahanam besar kau!” “Jerangkong hidup kau!” Parah. Tubuh lelaki itu telah berwarna merah, wajahnya bersimbah darah. Gemetaran ia berdiri dan diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Hore, aku menang!” teriaknya lantang, lalu disepaknya bangkai kucing maut itu berulang-ulang. “Jahanam besar kau!” (2000)

Sajak-sajak 2001
Antar Aku ke Kamar Mandi Tengah malam ia tiba-tiba terjaga, kemudian membangunkan Seseorang yang sedang mendengkur di sampingnya. Antar aku ke kamar mandi. Ia takut sendirian ke kamar mandi sebab jalan menuju kamar mandi sangat gelap dan sunyi. Jangan-jangan tubuhku nanti tak utuh lagi. Maka Kuantar kau ziarah ke kamar mandi dengan tubuh tercantik yang masih kaumiliki. Kau menunggu di luar saja. Ada yang harus kuselesaikan sendiri. Kamar mandi gelap gulita. Kauraba-raba peta tubuhmu dan kaudengar suara: Mengapa tak juga kautemukan Aku? Menjelang pagi ia keluar dari kamar mandi dan Seseorang yang tadi mengantarnya sudah tak ada lagi. Dengan wajah berseri-seri ia pulang ke ranjang; ia dapatkan Seseorang sedang mendengkur nyaring sekali. Jangan-jangan dengkurMu yang bikin aku takut ke kamar mandi. (2001)

Di Tengah Perjalanan Di tengah perjalanan antara kamar tidur dan kamar mandi kami bertemu setelah sekian lama saling menunggu. Ia pulang dari mandi, aku sedang berangkat menuju mandi. Langkahnya mendadak terhenti, pandangnya ragu dan aku tertegun antara gugup dan rindu. “Hai, apa kabar?” kami sama-sama menyeru. Kami bertubrukan, berpelukan di bawah cahaya temaram. Ketika itu tengah malam. Rumah seperti kuburan. Lolong anjing bersahutan. Jam dinding menggigil ketakutan. “Jangan ke kamar mandi. Di sana tubuhmu akan dikuliti. Ikutlah aku pulang ke kamar tidur. Sakitmu akan kuhabisi.”

“Tapi kamar tidur sudah hancur. Di sana kau akan dimusnahkan. Mari ikut aku pesiar ke kamar mandi. Sakitmu akan kuhabiskan.” Kami bersitegang seperti seteru ingin saling mengalahkan. “Bangsat kau. Sekian lama aku menunggu di kamar tidur, kau enak-enak bertapa di kamar mandi.” “Keparat kau. Sekian lama aku menanti di kamar mandi, kau enak-enak mengeram di kamar mimpi.” “Bagaimana kalau kita gelut di kamar tidur?” “Ah, lebih seru berkelahi di kamar mandi.” Di tengah perjalanan antara kamar tidur dan kamar mandi kami tak tahu siapa akan mampus lebih dulu. (2001)

Atau Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih menodongkan pisau ke leher saya. “Pilih cinta atau nyawa?” ia mengancam. “Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,” saya menghiba, “supaya saya bersih dari dosa. Setelah itu, perkosalah saya.” Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang entah ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas: jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan. Apa dosa saya? Saya tidak pernah menyakiti perempuan kecuali saat saya dilahirkan. Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih menodongkan pisau ke leher saya. “Pilih perkosa atau nyawa?” ia mengancam. Saya panik, saya jawab sembarangan: “Saya pilih ATAU!” Ia mengakak. “Kau pintar,” katanya. Kemudian ia mencium leher saya dan berkata: “Tidurlah tenang dukacintaku. Aku akan kembali ke dalam mimpi-mimpimu.”

(2001)

Bangunkan Aku Jam Tiga Pagi Sebelum tidur ia selalu berdoa: Bangunkan aku jam tiga pagi. Jam tiga pagi mimpi mungkin sudah kembali ke nol lagi. Ia ingin dengar bagaimana ranjang menyanyikan tubuhnya dan tubuh menyanyikan sakitnya. Bahkan aku sudah tiba sebelum jam tiga pagi. Sudah lama aku menempuhmu, naik-turun di sengal nafasmu, dan kini aku akan berjaga di tapal batas tubuhmu. Ia terpejam saja. Menggeliat. Seakan waktu sedang sekarat. Tubuh besarku tambah riuh dan tak tersembunyikan lagi. Tubuh kecilku terlindung jauh di relung yang tak terjelajahi. Ada, selalu, yang akan datang jam tiga pagi, menyalakan waktu di unggun tubuhmu, menghabiskan seluruh sisa sakitmu. Bahkan sebelum kau sempat membangunkanKu. (2001)

Pacarkecilku untuk Anggra Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan datang membangunkan mimpi. Pacarkecilku berlari ke halaman, menadah hujan dengan botol mainan, menyimpannya di kulkas sepanjang hari, dan malamnya ia lihat di botol itu gumpalan cahaya warna-warni. Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi dalam dekapnya. Ketika bangun ia berkata: “Tadi kau ke mana? Aku mencarimu di rerimbun taman bunga.” Aku terdiam. Sepanjang malam aku hanya berjaga di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan pelan-pelan membuka matanya.

Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi dalam botol cintanya bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti. (2001)

Kebun Hujan (1) Hujan tumbuh sepanjang malam, tumbuh subur di halaman. Aku terbangun dari rerimbun ranjang, menyaksikan angin dan dingin hujan bercinta-cintaan di bawah rerindang hujan. Subuh hari kulihat bunga-bunga hujan dan daun-daun hujan berguguran di kebun hujan, bertaburan jadi sampah hujan. (2) Kudengar anak-anak hujan bernyanyi riang di taman hujan dan ibu hujan menyaksikannya dari balik tirai hujan. Pagi hari kulihat jasad-jasad hujan berserakan di kebun hujan. Airmataku berkilauan di bangkai-bangkai hujan dan matahari datang menguburkan mayat-mayat hujan. (2001; salam untuk cerpen “Hujan” Sutardji)

Bertelur Dengan perjuangan berat, alhamdulillah akhirnya aku bisa bertelur. Telurku lahir dengan selamat, warnanya hitam pekat. Aku ini seorang peternak: saban hari mengembangbiakkan kata, dan belum kudapatkan kata yang bisa mengucapkan kita. Kata yang kucari, konon, ada di dalam telurku ini.

Kuperam telurku di ranjang kata-kata yang sudah lama tak lagi melahirkan kata. Kuerami ia saban malam sampai tubuhku demam dan mulutku penuh igauan. Kalau aku lagi asyik mengeram, diam-diam telurku suka meloncat, memantul-mantul di lantai, kemudian menggelinding pelan ke toilet, dan ketika hampir saja nyemplung ke lubang kloset cepat-cepat ia kutangkap dan kubawa pulang ke ranjang. Mana telurku? Tiba-tiba banyak orang merasa kehilangan telur dan mengira aku telah mencurinya dari ranjang mereka. Ah telur kata, telur derita, akhirnya kau menetas juga. Kau menggelembung, memecah, memuncratkan darah. Itu bukan telurku! (2001)

Penjual Buah Setiap pagi penjual buah itu lewat di kampung kami, keluar masuk gang sambil melantunkan kata-kata hafalan: Bukan buah sembarang buah, buah saya manis rasanya. Dara-dara remaja senang sekali mendengarnya; mereka cepat-cepat berdiri di depan cermin dan menyaksikan bahwa pohon waktu mulai berbuah. Ibu-ibu muda dengan gembira merubungnya dan merasakan betapa pohon cinta sedang lebat buahnya. Hanya perempuan-perempuan tua suka tersenyum kecut dan kadang ada yang menangis sambil merengek manja: Kembalikan buah saya kembalikan buah saya. “Pisangnya masih, Pak Adam?” demikian ibu-ibu setengah baya suka bertanya, dan sambil tersenyum bangga penjual buah itu menggoda: “Aduh, kok pisang lagi yang diminta!” Bukan buah sembarang buah, buah saya manis rasanya. Kata-kata ini terus saja diulangnya meskipun segala buah yang dijajakannya sudah terbeli semua.

Sudah seminggu ini Pak Adam tak muncul di kampung kami. Kata seorang nenek yang diam-diam mengaguminya, penjual buah itu tampaknya sudah mendapatkan buahnya buah yang belum tentu manis rasanya, yang mungkin pahit rasanya. “Bukan buah sembarang buah,” ujar seorang perawan tua sambil menikmati apel yang tampak merah dagingnya. (2001)

Utan Kayu untuk Godot Suatu malam di Utan Kayu tak kujumpai engkau, tak kujumpai siapa-siapa selain kursi-kursi berjungkiran di atas meja. Kedai sudah tutup. Malam tinggal sisa. Kudengar tikus-tikus bermain musik bersama piring, gelas, sendok. “Kusaksikan tadi pertunjukan besar,” saudara kucing melaporkan. Di mana engkau? Biasanya engkau duduk manis di pojok, minum angin, merokok. Engkau terlonjak girang bila aku datang: “Hai, dari mana saja engkau?” Ternyata engkau sedang termenung di ruang pertunjukan. Engkau sedang mengumpulkan kembali kata-kata yang berceceran. Engkau sedang menangis, mencopot wajah di ruang ganti pakaian. Malam berikutnya tak kulihat lagi engkau di bangku penonton. Engkau tak muncul lagi di panggung permainan. “Hai, ke mana saja engkau?” Kupanggil engkau berulang-ulang. (2001)

Dangdut (1)

Sesungguhnya kita ini penggemar dangdut. Kita suka menggoyang-goyang memabuk-mabukkan kata memburu dang dang dang dan ah susah benar mencapai dut. (2) Para pejoget dangdut sudah tumbang dan terkulai satu demi satu kemudian tertidur di baris-baris sajakmu. Malam sudah lunglai, pagi sebentar lagi sampai, tapi kau tahan menyanyi dan bergoyang terus di celah-celah sajakmu. Kau tampak sempoyongan, tapi kau bilang: “Aku tidak mabuk.” Mungkin aku harus lebih sabar menemanimu. (2001)

Obituari Bambang Bambang adalah teman yang periang dan cerdas. Ia pandai menghibur kita hanya dengan kesederhanaan wajahnya. Ia cepat memahami isi hati dan pikiran kita tanpa harus bertanya dan berkata-kata. Ia selalu tertawa dalam suka maupun duka. Bila kita menghardik, bahkan mencaci-makinya, ia hanya meringis dan tersipu sehingga kita malah terharu olehnya. Kita sering sedih dan menyesal melihat wajah cepat tua, sementara ia tetap saja awet muda. Bambang memang teman yang luar biasa. Sejak kepergiannya, rumah seperti kehilangan jiwa. Tak ada lagi yang menemani kesendirian dan ketakutan kita saat kita bersolek di depan kaca. Tak ada lagi yang menggantikan wajah kita bila kita bosan melihat wajah yang maya. Bambang, topeng kita yang pendiam itu, mungkin sudah dibuang atau disembunyikan oleh entah siapa di antara kita yang tidak sanggup lagi bersaing dengan keluguannya. (2001)

Pesan Uang

Ketika aku akan merantau buat cari penghidupan, uang berpesan: “Hiduplah hemat, jangan royal, supaya kamu cepat kaya. Kalau kaya, kamu bisa balas dendam terhadap kemiskinan.” Sekian tahun kemudian aku pulang sebagai orang kaya. Aku bangun daerah baru di atas perkampungan lama. Hore, aku telah mengalahkan kemiskinan. Aku tak butuh lagi masa depan. Kemudian aku jatuh miskin. Hartaku amblas, harga diriku kandas. Kekayaanku tinggal hutang-hutangku. Ketika aku akan merantau lagi buat cari kekayaan, uang berpesan: “Hiduplah hemat, jangan kauhabis-habiskan kemiskinan. Kalau tak punya lagi kemiskinan, bagaimana bisa mati dengan kaya?” (2001)

Sepasang Tamu Di ruang tamu ini, sekian tahun silam, saya menerima seorang pemuda kurus kering yang datang menawarkan akik. Saya tidak suka akik. Lebih tidak suka lagi pada bualannya tentang kesaktian akik. Seberapa pun hebatnya, akik hanya akan melemahkan iman. Tanpa basa-basi saya minta anak muda yang tampak kelaparan itu segera angkat kaki. Ia pun pamit dengan penuh ketakutan dan sambil pergi matanya tetap memandang sayu kepada saya. Tentu bukan karena akik kalau rumah itu terpaksa saya jual kepada seseorang dan orang itu kemudian menjualnya kepada seseorang yang lain, demikian seterusnya. Rumah itu memang angker, tidak pernah bikin tenteram penghuninya. Kini sayalah yang duduk terlunta-lunta di ruang tamu ini. Wah, mewah benar bekas ruang tamu kesayanganku. Ada pendingin udaranya, ada cermin besarnya, ada pula lukisan tidak jelas yang pasti sangat mahal harganya. Cukup lama saya menunggu, tapi si empunya rumah

tidak juga keluar menemui saya. Saya bermaksud menawarkan obat kuat yang dibuat khusus untuk orang kaya. Dengan jengkel saya mengintip ke ruang tengah. Wah, si empunya rumah sedang sibuk bergoyang-goyang mengikuti irama musik yang ia bunyikan keras-keras. Setelah saya panggil berulang-ulang dengan suara lantang, barulah ia sudi menemui saya. Tidak salah lagi, dia adalah si bekas pedagang akik yang dulu menghiba-hiba di hadapan saya. Sayang ia pura-pura tidak pernah kenal saya. “Masih jualan akik, Pak?” saya coba memancing reaksinya. Ia menjawab ketus: “Jangan bicara akik dengan saya. Akik hanya akan melemahkan iman.” Setelah menimang-nimang seluruh jenis obat yang saya bawa, dengan sinis ia berkata: “Maaf, tidak ada yang cocok dengan kapasitas saya.” Kemudian ia memerintahkan saya segera angkat kaki dan sebelum saya sempat pamitan ia sudah buru-buru masuk ke ruang tengah untuk melanjutkan kesibukannya. Suatu hari saya mendengar kabar bahwa si bekas penjual akik yang mulai sombong itu sedang terkapar di rumah sakit, terkena penyakit berat yang entah apa namanya. Saya menyempatkan diri menjenguknya. Duh, kasihan juga melihat ia terbaring lemah dengan mata kadang terpejam kadang terbuka. Ketika di kamar sakitnya hanya tinggal kami berdua, saya bisikkan di telinganya: “Rasain lu!” Serta-merta matanya membelalak dan dengan gagah ia menimpal: “Prek lu!” Cukup lama kami beradu pandang, dan kami sama-sama berusaha tidak tertawa atau malah mengeluarkan air mata. (2001)

Rumah Kontrakan untuk ulang tahun SDD

Tubuhku adalah rumah kontrakan yang sudah sekian waktu aku diami sampai aku lupa bahwa itu bukan rumahku. Tiap malam aku berdoa semogalah aku lekas kaya supaya bisa membangun rumah sendiri yang lebih besar dan nyaman, syukur dilengkapi taman dan kolam renang. Tadi malam si empunya rumah datang dan marah-marah. “Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara aku butuh biaya untuk memperbaiki rumah ini.” “Maaf Bu,” aku menjawab malu, “uang saya baru saja habis buat bayar utang. Sabarlah sebentar, bulan depan pasti sudah saya lunasi. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri.” Pada hari yang dijanjikan si empunya rumah datang lagi. Ia marah besar melihat rumahnya makin rusak dan berantakan. “Orgil, kau belum juga membereskan uang sewa, sementara aku butuh biaya untuk merobohkan rumah ini.” Dengan susah payah akhirnya aku bisa melunasi uang kontrak. Bahkan diam-diam si rumah sumpek ini kupugar-kurombak. Saat si empunya datang, ia terharu mendapatkan rumahnya sudah jadi baru. Sayang si penghuninya sudah tak ada di sana. Ia sudah pulang kampung, kata seorang tetangga. “Orgil, aku tak akan pernah merobohkan rumah ini. Aku akan tinggal di rumahmu ini.” (2001)

Memo Celana untuk Iqbal Belum lama pindah rumah, kau sudah terserang gundah. Tidur selalu gelisah, mimpi tak pernah indah. Seperti ada yang hilang, yang menggapai-gapai ingatan. Itu dia. Tiba-tiba kau teringat sepasang celana usang, celana kesayangan, yang tertinggal di tali jemuran. Malam-malam kau datang ke bekas rumahmu dan berkata kepada penghuni baru: “Maaf, kami mau menjemput sepasang celana yang tertinggal di halaman belakang. Kami lupa mengajak mereka sebab waktu itu

kami tergesa.” Kaujelaskan ciri-cirinya: warna pudar, pantat koyak, dengkul sobek, enak dipakainya. Dengan pandang mencurigakan orang baru itu berkata, “Saya pernah melihat mereka berpelukan dan berdansa riang di tali jemuran, tapi setelah itu mereka entah ke mana. Saya pikir, diam-diam Anda telah mengambilnya.” Sudahlah. Mungkin celanamu sudah terbang jauh bersama angin dan hujan. Terbang ke langit-langit kenangan. Kadang, dalam doamu, samar-samar kau melihat bayangan sepasang celana sedang bergoyang-goyang di tali jemuran. Lalu telepon genggammu tiba-tiba bicara: “Apa kabar, celana?” Kau menyahut: “Kau bertemu mereka?” Ia diam saja sebab tak ingin mengganggu kekusyukan doamu. Kadang, tengah malam, sambil mengigau kau ngeloyor ke halaman belakang, ingin mencoba bagaimana rasanya tergantung di tali jemuran, sendirian dan kehujanan. Sekian tahun kemudian kau bertemu dengan si penghuni bekas rumahmu di sebuah acara di kuburan. Dengan pandang mencurigakan ia menjabat tanganmu dan berkata lantang: “Hai, kita sudah sama-sama sukses ya!” Kemudian ia bercerita bahwa sepasang celana yang dulu kautanyakan malam-malam sebenarnya ia simpan dan sampai sekarang masih baik keadaannya. “Anda masih memerlukannya?” ia bertanya dengan wajah tanpa dosa. Kau terpana dan hanya bisa berkata: “Sampaikan salam rindu kami kepada mereka.” (2001)

Mudik Mei tahun ini kusempatkan singgah ke rumah. Seperti pesan ayah: “Nenek rindu kamu, pulanglah!” Waktu kadang begitu simpel dan sederhana: Ibu sedang memasang senja di jendela. Kakek sedang menggelar hujan di beranda.

Ayah sedang menjemputku entah di stasiun mana. Siapa di kamar mandi? Terdengar riuh anak-anak sedang bernyanyi. Nenek sedang meninggal dunia. Tubuhnya terbaring damai di ruang doa, ditunggui boneka-boneka lucu kesayangannya. “Hei, bajingan kita pulang!” seru boneka singa yang tetap tampak perkasa, dan menggigil saja ia saat kubelai-belai rambutnya. Ayah belum juga datang, sementara taksi yang menjemputku sudah menunggu di depan pintu. Selamat jalan nek, selamat tinggal semuanya. Baik-baik saja di rumah. Salam untuk bapak tercinta. Di jalan menuju stasiun kulihat ayahanda sedang celingak-celinguk di dalam becak, wajahnya tampak lebih tua; becak melaju dengan sangat tergesa. Dari jendela taksi aku melambai ke ayah, sekali kukecup telapak tanganku, kulambaikan; ia pun mengecup tangannya lalu melambai ke aku sambil berpesan hati-hati di jalan ya. Begitu simpel dan sederhana, sampai aku tak tahu butiran waktu sedang meleleh dari mataku. “Almarhumah nenekmu kemarin masih sempat menumpang taksi ini,” ujar pak sopir yang pendiam itu, yang ternyata bekas guruku. (2001)

Pengamen Sepuluh orang pengamen menyerbu bus yang sedang lapar karena hanya diisi seorang penumpang. Ia orang bingung, duduk gelisah di pojok belakang membaca peta yang sudah kumal dan penuh coretan. Para pengamen yang tampak necis dan gagah bergiliran memetik gitar dan menyanyi lantang kemudian memungut uang dari penumpang lalu duduk berurutan. Setelah semua mendapat bagian, gantian si penumpang berdiri di depan lantas bernyanyi dan bergoyang.

Bahkan para pengamen berwajah seram terheran-heran lantas bertepuk tangan karena penumpang itu ternyata dapat menyanyi lebih merdu dan menghanyutkan. Selesai melantunkan beberapa tembang, ia memungut uang dari para pengamen lalu berteriak stop kepada sopir kemudian melompat turun sambil melepaskan pekik kemenangan: “Hidup rakyat! Hidup penumpang!” (2001)

Penagih Utang Penagih utang itu datang tengah malam. Ia duduk dengan sopan, kedua tangan ditangkupkan, baju batiknya yang murahan tampak terlalu kedodoran untuk tubuhnya yang kurus dan kusam. “Langsung saja, ada perlu apa?” aku menghentak. Ia terperangah, badannya mengkerut, dan kopiahnya yang longgar seakan bergeser dari letaknya. “Maaf, kalau tidak salah ini sudah jadwalnya.” “Jadwal bayar utang, maksudnya? Sabarlah, saya sedang banyak keperluan. Bapak lihat sendiri brankas saya sedang ludas, kolam renang belum selesai saya perbaiki, toilet baru akan saya lapisi emas, isteri belum sempat saya tambah lagi. Mohon pengertian sedikitlah!” Tamu itu berkali-kali minta maaf, kemudian permisi. Sebelum meninggalkan pintu, ia sempat berbisik di telingaku: “Tidak bikin keranda emas sekalian Pak?” “Dasar rakyat!” dalam hati aku mengumpat. Entah mengapa, setiap kali melayat orang meninggal aku selalu melihat penagih utang itu menyelinap di tengah kerumunan. Ia suka mengangguk, tersenyum, namun saat akan kutemui sudah tak ada di tempatnya. Tahu-tahu ia muncul di kuburan, melambaikan tangan, dan ketika kudatangi tiba-tiba raib entah ke mana. Dan orang kaya yang banyak utang itu akhirnya mati mendadak persis saat sedang mencoba keranda emas yang baru saja selesai dibuat oleh ahlinya. Mewakili para pelayat, bapak tua berbaju batik itu tampil menyampaikan kata-kata belasungkawa.

Dalam sambutan singkatnya antara lain ia mengatakan bahwa kematian tragis almarhum tetap tidak dapat menebus utang-utangnya. Namun ia mengajak hadirin untuk mendoakan arwahnya, memaafkan segala salahnya, syukur-syukur bersedia ikut menanggung utang-utangnya. (2001)

Loper Koran Pagi-pagi sekali loper koran itu sudah nongol di depan pintu, menaruh koran di pangkuanku seraya berpesan: “Jangan percaya koran. Koran cuma bohong-bohongan.” Dan setiap akhir bulan, saat menerima uang langganan, ia tak pernah lupa mengingatkan: “Jangan percaya koran. Koran cuma bohong-bohongan.” Suatu siang loper koran yang tak pernah membaca koran itu mati ketabrak mobil wartawan. Tubuhnya digeletakkan di pinggir jalan dan hanya ditutupi selembar koran. Banyak yang pura-pura sibuk mengurusnya dan, tentu saja, ada yang diam-diam mengincar dompetnya. Aku tak tahu siapa yang mengantar pulang jasadnya, tapi setiap membaca koran aku seperti sedang mengantar jenazah loper koran yang malang itu, menyusuri gang demi gang di tengah perkampungan kata-kata yang bising dan pengap, dan setelah muter-muter seharian akhirnya kutemukan sedikit tempat untuk menguburkannya. Setiap Lebaran aku menyempatkan diri ziarah ke makamnya, menyusuri lorong-lorong gelap di tengah kuburan kata-kata yang luas dan lengang dan kudapatkan nisan kecilnya hampir tertutup ilalang. Tak ada bulan di atas kuburan. (2001)

Hampir Ada sepasang pengemis buta suatu hari datang ke rumah. Sebelum minta sedekah, mereka bertanya dulu:

“Apakah Tuan sudah kaya?” Aku menimpal: “Hampir!” Dengan halus mereka mohon diri, kemudian menuju ke tetangga sebelah yang mungkin saja hampir sisa hartanya. Kini aku merasa benar-benar sudah mampu. Telah kusiapkan rapelan sedekah bagi sepasang pengemis buta itu. Mereka muncul juga akhirnya, tapi langsung menuju ke tetangga sebelah tanpa minta sedekah dulu ke aku. Ketika mereka lewat di depan rumahku, samar-samar aku mendengar suara: “Tidak usah ngemis ke tuan yang satu ini. Kasihan, dia hampir miskin. Besok saja kalau dia hampir mati.” (2001)

Ronda Beberapa hari terakhir ini kampung kami sering dilanda gangguan keamanan. Pencurian mulai merajalela, bahkan telah terjadi perampokan disertai penganiayaan. Kepala kampung memerintahkan agar kegiatan ronda digalakkan karena tidak mungkin berharap sepenuhnya kepada petugas keamanan. Malam itu Pak Aman hendak melaksanakan tugas ronda. Ia warga kampung yang rajin dan setia, meskipun tubuhnya yang kurus dan tua kurang mendukung gelora semangatnya. Kalau ronda ia suka memakai topi ninja berwarna hitam, mungkin untuk sekadar gagah-gagahan. Tapi malam itu ia tidak mengenakannya karena topi kebanggaannya itu hilang dicuri orang ketika sedang dijemur di depan rumahnya. Nah, ia memukul-mukul tiang listrik, memanggil-manggil teman-temannya, namun yang dipanggil-panggil tidak juga menampakkan batang hidungnya. Sambil bersiul-siul Pak Aman berjalan gagah ke gardu ronda. Ia terperangah melihat di gardu ronda sudah ada beberapa orang pencoleng sedang bermain kartu sambil terbahak-bahak dan meneriakkan kata-kata yang bukan main kasarnya. Bahkan ia jelas-jelas melihat salah seorang pencoleng dengan enaknya mengenakan topi ninja kesayangannya. “Ada musuh!” seru seorang pencoleng dan kawanan pencoleng segera bersiaga untuk meringkusnya. Secepat kilat Pak Aman melompat dan bersembunyi di sebuah rumpun bambu.

Tubuhnya menggigil demi melihat wajah sangar para pencoleng sampai ia terkencing-kencing di celana. Tidak lama kemudian muncul serombongan petugas patroli, hendak memeriksa keadaan. “Bagaimana situasi malam ini?” tanya seorang petugas. “Aman!” seru orang-orang di gardu ronda yang sebenarnya adalah para bajingan. Meskipun ketakutan, Pak Aman tidak kehilangan akal. Ia punya keahlian menirukan suara binatang, dan ia paling fasih menirukan suara anjing. Maka mulailah ia menggongong dan melolong. Para pencoleng yang merasa sangat terganggu oleh suara anjing serempak mengumpat: “Asu!” Tapi gonggongan dan lolongan itu makin menjadi-jadi sampai beberapa orang kampung mulai berhamburan keluar. Menyadari ada ancaman, kawanan pencoleng yang sedang menguasai gardu ronda segera lari tunggang langgang. Dengan terkekeh-kekeh Pak Aman keluar dari tempat persembunyian dan teman-temannya yang sudah hafal dengan kelakuannya serempak berseru: “Asu!” (2001)

Di Pojok Iklan Satu Halaman Di pojok iklan satu halaman lelaki itu duduk mencangkung sepanjang hari, menunggu perempuan yang pernah ia temui di sebuah mimpi. Kutunggu kau di sudut taman ini. Ia suka menengadah ke langit, menyaksikan ribuan pipit mencecar senja dalam cericit, meringkas waktu ke dalam jerit. Ia mencangkung saja sepanjang hari, lalu tertidur sampai pagi, sampai seorang perempuan datang membangunkannya. Aku ingin memperkosamu di taman yang hening ini. (2001)

Serdadu

Ketika kau tidur, ada seorang serdadu duduk-duduk di atas tubuhmu, merokok, main gitar, dan dengan suara sumbang menyanyikan lagu selamat malam. Di atas tubuhmu ada serdadu sedang tiduran, menjilat darah pada pisau, bersiul, kemudian berdiri sambil mengacungkan senapan. “Hidup revolusi!” pekiknya lantang. Ketika kau tidur, Sayang, ada serdadu mencari-cari jejakku di bilur-bilur merah di mahasakit tubuhmu. (2001

Sajak-sajak 2002-a
Bunga Kuburan Gadis kecil itu suka sekali memetik mawar putih dari kuburan, kemudian menanamnya di ranjang. “Bunga ini, Bu, akan kuncup dalam tidurkuku.” Ibunya sangat sedih setiap melihat bunga itu mekar di ranjang dan harumnya memenuhi ruangan. “Trauma, anakku, menjulurkan wajahnya lewat bunga indah itu.” Ia lalu mencabutnya dan membuangnya ke halaman. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu; ia sangat mencintai bunga itu sebab, “Bunga ini secantik Ibu.” Ia tidak tahu bahwa ibunya sangat membenci kuburan itu. Kuburan itu terletak agak jauh di luar desa, disediakan khusus untuk mengubur mayat para pencoleng, pembunuh, pemerkosa, dan macam-macam penjahat lainnya. Dulu pernah datang seorang petualang, menyatakan cintanya, kemudian diam-diam memperkosanya. Suatu hari petualang itu datang lagi, diringkus dan dikalahkannya. Gadis kecil itu suka sekali memetik mawar putih dari kuburan dan ibunya tidak sampai hati mengatakan: “Buah hatiku, sesungguhnya engkau anak si pemerkosa itu.” (2002)

Di Sebuah Vagina Di sebuah vagina peziarah-peziarah kecil terbaring damai, belajar mendengarkan arus sungai, kecipak ombak di pantai. Vaginamu menyembulkan matahari, menjulurkan bianglala. Vaginamu menyemburkan debur laut, menghamburkan senja. Di sebuah vagina musafir-musafir kecil bersorak gembira, menggiring matahari ke cakrawala: “Selamat tidur ya cahaya.”

Vaginamu kini sunyi dan gelap gulita, vaginamu porak poranda sejak para serdadu memasuki relung-relungnya. Di sebuah vagina peziarah-peziarah kecil terbujur hancur sebelum sempat kauberi nama. (2002)

Tempat yang Jauh dan Indah Sekian lama aku mencari, sekian tempat kujelajahi, belum juga kutemukan saudaraku yang hilang dan entah di mana kini. Tiba-tiba seseorang berkabar dalam mimpi: “Ada sebuah tempat di sebuah lembah yang jauh dan indah, namanya vagina. Barangkali saudaramu bermukim di sana.” Bertahun-tahun berkelana, akhirnya kutemukan juga tempat rahasia itu yang ternyata sebuah gua. “Siapa di dalam?” aku menyeru. Samar-samar kudengar suara menggema: “Silakan masuk!” Aku pun masuk, menyusuri jalan setapak yang gelap berliku. Nun di sebuah ceruk ada seorang pertapa sedang duduk bersila membaca kitab di remang cahaya. “Hai, ketemu lagi!” ia menyapa. Lalu ia tunjukkan lorong kecil di balik sana. “Ini jalan menuju ibu,” katanya. Ketika suatu hari, di rembang petang, aku datang lagi, tempat itu sudah menjadi sebuah kuburan. Kulihat seorang tua berambut putih sedang duduk di sana, di bawah pohon cemara yang rindang daunnya. (2002)

Perias Jenazah Untuk terakhir kali perempuan cantik itu akan merias jenazah. Setelah itu selesailah. Ia sangat lelah setelah sekian lama mengurusi keberangkatan para arwah .

Kini ia harus merias jenazah seorang perempuan yang ditemukan tewas di bawah jembatan, tidak jelas asal-usulnya, serba gelap identitasnya, tidak ada yang sudi mengurusnya, dan untuk gampangnya orang menyebutnya gelandangan atau pelacur jalanan, toh petugas ketidakamanan bilang ah paling ia mati dikerjain preman-preman. Perias jenazah itu tertawa nyaring begitu melihat jenazah yang akan diriasnya sangat mirip dengan dirinya. Kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil dipeluknya jenazah perempuan malang itu. “Biar kurias parasmu dengan air mataku hingga sempurna ajalmu.” Beberapa hari kemudian perias jenazah itu meninggal dunia dan tak ada yang meriasnya. Jenazahnya tampak lembut dan cantik, dan arwah-arwah yang pernah didandaninya pasti akan sangat menyayanginya. Kadang perias jenazah itu diam-diam memasuki tidurku dan merenungi wajahku. Seakan ia tahu bahwa aku yatim piatu, tidak jelas asal-usulnya, serba gelap identitasnya. Kulihat wajah cantiknya berkelebatan di atas ranjang kata-kataku. (2002)

Jurang Berputar-putar di rimba ranjang, mencari jalan setapak menuju tubuhmu yang terjal dan curam, sementara hari mulai gelap dan hujan sebentar lagi datang, awas ada penjahat siap menghadang, akhirnya aku tersesat dan terperosok ke dalam jurang. Tubuhmu terlindung jauh di luar ranjang. (2002)

Doa Mempelai Malam ini aku akan berangkat mengarungimu. Perjalanan mungkin akan panjang berliku dan nasib baik tidak selalu menghampiriku

tapi insyaallah suatu saat bisa kutemukan sebuah kiblat di ufuk barat tubuhmu. (2002; kado buat Ade & Fajar)

Gadis Enam Puluh Tahun Gadis enam puluh tahun berdiri di ambang jendela, berbincang-bincang dengan senja. Senja menggerayangi wajahnya, dan ia merasa sorot senja sangat menyilaukan matanya. “Ngapain ngeliatin gue melulu? Ntar gue colong mata lu!” Senja meredup, kemudian angslup ke pelupuknya. Demikianlah, setiap berangkat bermain layang-layang di kuburan, aku melihat gadis buta itu sedang berdiri di ambang jendela, berpacaran dengan senja, dan sorot senja memancar dari kelopak matanya. (2002)

Penjaga Malam Penjaga malam itu masih setia menjaga rumah besar yang tak pernah dihuni pemiliknya. Ia sangat mencintai rumah kosong itu, bahkan merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya. Suatu malam ia berhasil menangkap seorang penjahat yang berusaha masuk ke rumah itu tanpa seizinnya. Ia tidak rela rumah itu diganggu karena, ya itu tadi, ia merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya. Keesokan harinya penjaga malam itu tak kelihatan lagi batang hidungnya. Ia sudah ditangkap polisi karena telah menghajar pemilik rumah yang dijaganya. (2002)

Aku Tidur Berselimutkan Uang Aku tidur berselimutkan uang. Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang. (2002)

Penumpang Terakhir untuk Joni Ariadinata Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak yang mangkal di bawah pohon beringin itu dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat yang aku suka. Entah mengapa aku sangat suka tamasya dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak, lancar pula lajunya. Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan. Aku akan menabur kembang di atas makam nenek moyang. Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku khawatir bang becak akan kecapaian, tapi orang tua itu bilang tenang tenang. Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya bercerita tentang anak-anaknya yang pergi merantau ke Jakarta dan mereka sekarang alhamdulillah sudah jadi orang. Mereka sangat sibuk dicari uang dan hanya sesekali pulang. Kalaupun pulang, belum tentu mereka sempat tidur di rumah karena repot mencari ini itu, termasuk mencari utang buat ongkos pulang ke perantauan. Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan, batuknya mengamuk, pandang matanya berkunang-kunang, aduh kasihan. “Biar gantian saya yang menggenjot, Pak. Bapak duduk manis saja, pura-pura jadi penumpang.” Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju kuburan, sementara si abang becak tertidur nyaman, bahkan mungkin bermimpi, di dalam becaknya sendiri. Sampai di kuburan aku berseru bangun dong pak, tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan kutaburkan di atas makam nenek moyangku atau di atas jenazah bang becak yang kesepian itu.

(2002)

Lukisan Berwarna untuk Andreas dan Dorothea Hujan beratus warna tumpah di hamparan kanvas senja. Pohon-pohon bersorak gembira sebab dari ranting-rantingnya yang sakit kuncup jua daun-daun beratus warna. Burung-burung bernyanyi riang, terbang riuh dari dahan ke dahan dengan sayap beratus warna. Dua malaikat kecil menganyam cahaya, membentangkan bianglala di bawah langit beratus warna. Airmata beratus warna kautumpahkan ke celah-celah sunyi yang belum sempat tersentuh warna. (2002)

Bayi Mungil di Kamar Mandi Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi. Lengking suaranya menyusup jauh ke relung tidurku. Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi. Lengking suaranya menggetarkan lidah kata-kataku. Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi. Lengking suaranya kupinjam untuk mengucapkan lagi aku. (2002)

Mampir Tadi aku mampir ke tubuhmu tapi tubuhmu sedang sepi dan aku tidak berani mengetuk pintunya. Jendela di luka lambungmu masih terbuka dan aku tidak berani melongoknya. (2002)

Penyair Kecil untuk Nur Penyair kecil itu sangat sibuk merangkai-rangkai kata dan dengan berbagai cara menyusunnya menjadi sebuah rumah yang akan dipersembahkan kepada ibunya. “Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah, Ibu tidur saja di dalam rumah buatanku. Aku akan berjaga di teras semalaman dan semuanya akan aman-aman saja.” Ketika kau bangun di subuh yang hening itu, kau tertawa melihat penyair-kecilmu tertidur kedinginan di teras rumahnya, ditunggui Donald dan Bobo, pengawal-pengawalnya yang setia. (2002)

Penjual Celana Konon ia seorang veteran, bekas pejuang kemerdekaan, sehari-hari bergiat sebagai pedagang celana di sebuah pasar di dekat kuburan di pinggiran kota. Orang-orang sangat suka membeli celana bikinannya karena terjamin kwalitetnya, sangat enak dipakainya, terkenal sejak 1945. Mentang-mentang pakai celana serdadu, penjual celana itu tiba-tiba menjadi sombong dan pura-pura lupa sama aku. “Anda dari kampung ya?” ejeknya ketika aku sibuk mencoba-coba berbagai celana dan tidak juga membelinya.

“Semua celana itu palsu. Yang asli cuma ini,” katanya sembari menunjuk-nunjuk celananya sendiri. Ia tertawa hebat ketika aku berniat membeli celana antik yang dipakainya, berapa pun harganya. Ia bertahan: “Jangan. Ini celana perjuangan.” Ketika sekian tahun kemudian kami bertemu lagi di sebuah rumah sakit jiwa di dekat kuburan di pinggiran kota, bekas serdadu itu mengaku bahwa celana loreng yang dibanggakannya itu sebenarnya palsu dan ia menyesal mengapa dulu tidak menjualnya ke aku. Celana itu sudah dibeli seorang kolektor kaya yang gemar mengumpulkan berbagai macam benda pusaka. (2002)

Bolong Bahkan celana memilih nasibnya sendiri: ia pergi ke pasar loak justru ketika aku sedang giat belajar bugil dan mandi. “Selamat tinggal pantat. Selamat tinggal jagoan kecil yang tampak pemalu tapi hebat.” Entah berapa pantat telah ia tumpangi, berapa kenangan telah ia singgahi, sampai suatu hari aku menemukannya kembali di sebuah kota, di sebuah kuburan. “Pulang dan pakailah celana kesayanganmu ini,” kata perempuan tua penjaga makam. Sampai di rumah, kupakai kembali si celana hilang itu dan aku terheran: “Kok celanaku makin kedodoran!” Aku termenung melihat seorang bocah di dalam cermin sedang sibuk mencoba celana yang sudah bolong di bagian tengahnya. (2002)

Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu

untuk Wibi Empat puluh tahun yang lampau kutinggalkan kau di kamar mandi, dan aku pun pergi merantau di saat kau masih hijau. Kau menangis: “Pergilah kau, kembalilah kau!” Kini, tanpa celana, aku datang menjemputmu di kamar mandi yang bertahun-tahun mengasuhmu. Seperti pernah kaukatakan dalam suratmu: “Jemputlah aku malam Minggu, bawakan aku celana baru.” Di kamar mandi yang remang-remang itu kau masih suntuk membaca buku. Kaulepas kacamatamu dan kau terpana melihatku tanpa celana. Sebab celanaku tinggal satu dan seluruhnya kurelakan untukmu. “Hore, aku punya celana baru!” kau berseru. Kupeluk tubuhmu yang penuh goresan waktu. (2002)

Sajak-sajak 2002-b
Telepon Genggam Di pesta pernikahan temannya ia berkenalan dengan perempuan yang kebetulan menghampirinya. Mata mengincar mata, merangkum ruang. Rasanya kita pernah bertemu. Di mana ya? Kapan ya? Mata: kristal waktu yang tembus pandang. Di tengah hingar mereka berjabat tangan, berdebar-debar, bertukar nama dan nomor, menyimpannya ke telepon genggam, lalu saling janji: Nanti kontak saya ya. Sungguh lho. Awas kalau tidak. Pulang dari pesta, ia mulai memperlihatkan tanda-tanda sakit jiwa. Jas yang seharusnya dilepas malah dirapikan. Celana yang seharusnya dicopot malah dikencangkan. Ingin ke kamar tidur, tahu-tahu sudah di kamar mandi. Mau bilang jauh di mata, eh keliru dekat di hati. Masih terngiang denting gelas, lenting piano dan lengking lagu di pesta itu. Semuanya tinggal gemerincing rindu yang perlahan tapi pasti meleburkan diri ke dalam telepon genggamnya, menjadi sistem sepi yang tak akan pernah habis diurainya. Ia mondar-mandir saja di dalam rumah, bolak-balik antara toilet dan ruang tamu, menunggu kabar dari seberang, sambil tetap digenggamnya benda mungil yang sangat disayang: surga kecil yang tak ingin ditinggalkan. Dipencetnya terus sebuah nomor dan yang muncul hanya tulalit yang membuat sakitnya makin berdenyit. Sesekali tersambung juga, namun setiap ia bilang halo jawabnya selalu Halo halo Bandung. Ia pukulkan telepon genggamnya ke kepala, tapi lalu diciumnya. Kabar dari seberang tak kunjung datang, ia pergi saja ke ranjang: tidur barangkali akan membuatnya sedikit tenang. Ia terbaring terlentang, masih dengan kaos kaki dan jas yang dipakainya ke pesta, dan telepon genggam tak pernah lepas dari cengkeram. Telepon genggam: surga kecil yang tak ingin ditinggalkan. Akhirnya terdengar juga bunyi panggilan. Ia berdebar membayangkan perempuan itu mengucap salam: Tidurlah sayang, sudah malam. Kau tak akan pernah kutinggalkan. Ternyata cuma umpatan dari seseorang yang tak ia kenal: Gile, tidur aja pake jas segala. Emangnya mau mati? Berpuluh pesan telah ia tulis dan kirimkan dan tak pernah ada balasan. Hanya sekali ia terima pesan, itu pun cuma iseng: Selamat, Anda mendapat hadiah undian mobil kodok. Segera kirimkan foto Anda untuk dicocokkan dengan kodoknya. Antara tertidur dan terjaga, antara harap dan putus asa, telepon genggamnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Ia tempelkan benda ajaib itu ke telinganya dan ia dengar suara burung

berkicau tak henti-hentinya. Suara burung yang dulu sering ia dengar dari rerimbun pohon sawo di halaman rumahnya, rumah ibu-bapaknya. Di luar hujan telah turun, terdengar suara peronda meninggalkan gardu. Ia ingin tidur saja karena merasa tak ada lagi yang mesti ditunggu. Ketika untuk terakhir kali ia mencoba menghubungi nomor perempuan itu, ia terkesiap takjub melihat layar telepon genggamnya memancarkan gambar gerimis mengguyur senja. Kalau harus gila, gila sajalah. Ia ingin pulas dalam mimpi yang ia tahu tak pernah pasti. Emangnya gue pikirin? Ia pura-pura tak acuh, padahal sangat butuh. Ia betulkan jasnya, genggam erat surga kecilnya. Lalu terpejam, terlunta-lunta: tubuh rapuh tak berdaya yang ingin tetap tampak perkasa. Ketika ia merasa bahwa tidur pun tak bisa lagi menolongnya, telepon genggamnya tibatiba memanggil. Ia dengar suara anak kecil menangis tak putus-putusnya. Nyaring, lengking, lebih lengking dari hening. Namun ia terpejam saja, terpejam sebisanya, sementara telepon genggamnya meronta-ronta dalam cengkeramannya. Apa yang sedang ia bayangkan? Mungkin ia melihat seorang anak lelaki kecil pulang dari main layang-layang di padang lapang dan mendapatkan rumahnya sudah kosong dan lengang. Hanya terdengar suara burung berkicau bersahutan di rerindang ranting dan dahan. Hanya ada seorang anak perempuan kecil, dengan raut rindu dan binar bisu, sedang risau menunggu. Seperti saudara kembar yang ingin benar memeluknya dalam haru, mengajaknya bermain di bawah pohon sawo: pohon hayat yang tak terlihat waktu. (2002)

Ibu yang Tabah Ibu itu mengasuh anak-anaknya sendirian sejak suaminya dipinjam negara untuk dijadikan kelinci dalam percobaan sistem keamanan. Sampai sekarang belum dikembalikan, padahal suaminya itu sebenarnya cuma pemberani yang lugu dan kadangkadang nekat. Toh ibu itu tak pernah berhenti menunggu, meskipun menunggu adalah luka. Dan ia memang perkasa. Menghadapi anak-anaknya yang nakal dan sering menyusahkan, ia tak pernah kehilangan kesabaran. Setiap subuh ibu itu memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan menghidangkannya kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah. Malam hari diam-diam ia memeras airmata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya kepada anak-anaknya bila mereka sakit. Ia mendidik anak-anaknya untuk tidak cengeng. Ia paling tidak suka melihat orang mudah menangis. Bila anak-anaknya bertanya, “Mengapa Ibu tidak pernah menangis?”,

jawabnya, “Biar kutabung airmataku buat hari tua. Bila kelak aku meninggal, kalian bisa memandikan jenazahku dengan tabungan airmataku.” Sehari-hari ibu yang penyabar itu berjualan awalan ber- di sekolah partikelir yang hidup enggan mati tak mau. Sebagian besar muridnya bodoh dan berandal, tapi ya bagaimana lagi, mereka tetap harus dicintai. Ia rajin menasihati mereka agar tidak mudah putus asa, apalagi menangis, menghadapi kegagalan. “Berlatih gagal itu penting,” pesannya berulang-ulang. Tenaga dan waktunya praktis habis untuk urusan rumah dan pekerjaan sehingga ia kurang hiburan. Satu-satunya hiburan adalah menonton televisi yang sudah agak pucat gambarnya. Dan ia penggemar televisi yang baik. Ia bisa sangat terharu menyaksikan kisah yang menyayat hati, misalnya kisah tentang pejuang yang digugurkan negara dan jenazahnya diselimuti kain bendera. Anak-anak ikut trenyuh dan tersedu melihat ibu mereka diam-diam mengusap airmata. “Jangan menangis!” bentak ibu yang tabah itu tiba-tiba. “Aku menangis hanya untuk menyenang-nyenangkan televisi. Mengerti?” (2002)

Mataair Di musim kemarau semua sumber air di desa itu mengering. Perempuan-perempuan legam berbondong-bondong menggendong gentong menuju sebuah sendang di bawah pohon beringin di celah bebukitan. Tawa mereka yang renyah menggema nyaring di dinding-dinding tebing, pecah di padang-padang gersang. Setelah berjalan lima kilometer jauhnya, mereka pun sampai di mataair yang tak pernah mati itu. Mereka ramai-ramai menuai air membuncah-buncah, menuai airmata yang mereka tanam di ladang-ladang karang. Bulan sering turun ke sendang itu, menemani gadis kecil yang suka mandi sendirian di situ. Langit sangat bahagia tapi belum ingin meneteskan airmata. Nanti, jika musim hujan tiba, langit akan memandikan gadis kecil itu dengan airmatanya. (2002)

Anak Seorang Perempuan Hingga dewasa saya tak pernah tahu saya ini sebenarnya anak siapa. Sejak lahir saya diasuh dan dibesarkan Ibu tanpa kehadiran seorang lelaki yang biasa disebut ayah. Ibu

pernah mengaku bahwa dulu ia memang suka kencan dengan banyak lelaki, tapi tak bisa memastikan benih lelaki mana yang tercetak di rahimnya, kemudian terbit menjadi saya. Ibu tak pernah menyebut dirinya perempuan jalang, dan bagi anak seperti saya yang mengalami kelembutan cinta seorang ibu soal itu toh tidak penting-penting amat. Dan ketika seorang teman penyair iseng-iseng bertanya apakah saya ini buah cinta sejati atau cinta birahi, hasil hubungan terang atau hubungan gelap, saya menganggap dia bukanlah pernyair cerdas. Justru Ibu yang bukan penyair pernah bertanya, “Kau, penyairku, apakah kau tahu pasti asal-usul benih yang tumbuh dalam kata-katamu?” Sudah ada beberapa lelaki misterius yang mengaku-ngaku sebagai ayah saya. Masingmasing menyatakan perihal cintanya yang tulus kepada wanita yang kemudian melahirkan saya. Mereka juga merasa bangga terhadap saya. Sayang, saya tak membutuhkan pahlawan kesiangan. Lagi pula, saya lebih suka membiarkan diri saya tetap menjadi milik rahasia. Kini ibu saya yang cerdas terbaring sakit. Kondisi tubuhnya makin hari makin lemah. Dalam sakitnya ia sering minta dibacakan sajak-sajak saya dan kadang ia mendengarkannya dengan mata berkaca-kaca. Entah mengapa, beberapa saat sebelum beliau wafat saya sempat lancang bertanya: saya ini sebenarnya anak siapa? Saya bayangkan ibu yang penyayang itu akan hancur hatinya. Tapi, sambil mengelus kepala saya, ia menjawab hangat: “Anak seorang perempuan!” (2002)

Rendezvous Kau sudah tak sabar menungguku di halaman rumah berdinding putih itu. Di atas bangku di bawah pohon cemara duduk seorang wanita setengah baya sedang suntuk membaca dan sesekali tertawa. Nah, perempuan itu mengangkat kaki kirinya, kemudian menumpangkannya ke yang kanan. Pahanya tersingkap, clap, kau terkejap: kaususupkan cerlap cahayamu ke celah-celah itu dan aku cemburu. Maka aku pun segera berderai lembut di atas parasmu. Aku berdebar ketika perempuan itu melonjak girang: “Ah, gerimis senja telah datang.” Hanya agar perempuan kita bahagia, kau dan aku rela berebut bianglala dan ingin segera melilitkannya ke tubuhnya. Sebab sesaat lagi kau sudah jadi malam dan aku hujan,

dan perempuan itu tidak mencintai keduanya: ia akan cepat-cepat masuk ke rumahnya, membiarkan kita berdua menghapus jejaknya. (2002)

Tikus Banyak orang begitu jijik dan benci pada tikus, tapi perempuan lajang yang tinggal sendirian di rumahnya yang besar itu justru merasa tentram bersahabat dengan tikus-tikus yang mencericit terus tiada hentinya. Entah berapa tikus berumah di rumahnya. Dan setiap hari ada saja tikus mati, lalu dengan sedih ia buang ke selokan. Sebelum tidur, sambil mengantuk, ia sempatkan membaca buku Hidup Bahagia bersama Tikus sementara konser tikus berlangsung terus sampai jauh malam, juga ketika ia sudah nyenyak bermimpi bertemu kekasih yang selama ini ia sembunyikan dalam ingatan. Malam itu ia tidur berselimutkan sarung cap tikus, dan ada tikus besar dari kuburan mondar-mandir di sekitar tubuhnya, mengendus-endus sakitnya. Saat bangun ia menjerit mendapatkan tikus-tikus mati berkaparan di ranjang. Sialan, kau dapat cericitnya, aku bangkainya! (2002)

Sajak-sajak 2003-a
Laki-laki Tanpa Celana Ini Januari, bulan yang rajin mandi. Di sebuah gang lengang di sudut Januari saya berpapasan dengan seorang perempuan muda, wajahnya milik trauma. Kepalanya agak tunduk, matanya sedikit sembab seperti habis menangis. Saya urung menyapanya dengan selamat pagi karena ia tampak cuek sekali. Ia biarkan serbuk hujan bertaburan di atas rambutnya yang diikat begitu saja, mengguyuri baju putih lengan panjang, celana blue jeans yang sedikit pudar warnanya, dan sepatu tok-tok kecoklat-coklatan. Seakan ia ingin bilang Selamat tinggal kecantikan! Saya terkesima: rasanya saya pernah melihatnya entah di mana. Sebelum saya sempat mengingatnya, tubuhnya keburu lenyap ditelan tikungan. Malamnya saya bermesra-mesraan dengan demam setelah seharian banyak minum hujan. Dalam demam saya tergoda untuk menjumpai para penyair kesayangan saya. Buat orang semelankolis saya, membaca puisi sering lebih mujarab dari minum obat dan saya berusaha tidak telat minum puisi sebab akibatnya bisa gawat. Nah, itu dia. Saya terhenti lama di sebuah sajak Sapardi Djoko Damono, “Pada Suatu Pagi Hari”: Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa. Intuisi saya mengatakan bahwa perempuan yang berpapasan dengan saya di gang lengang pagi tadi adalah perempuan dalam sajak Sapardi. Saya akan menanyakannya ke yang bersangkutan suatu saat nanti. *** Atas petunjuk seorang teman, akhirnya saya jadi menempati rumah besar yang letaknya agak terpencil di pinggir sungai, meskipun banyak orang menganjurkan jangan karena rumah itu angker, ada jinnya, dan memang setiap orang yang pernah tinggal di situ cuma tahan sebentar, lalu pergi mencari rumah kontrakan lain yang lebih aman. Konon rumah itu ditunggui seorang laki-laki tanpa celana yang suka muncul malammalam ketika penghuninya terjaga, dan ia paling suka mencegat orang yang sedang tergopoh-gopoh ke kamar mandi. Oleh seorang penyair saya disarankan cepat-cepat telanjang bila ia datang, lalu katakan selamat malam. Maka, setelah mengucapkan Terima kasih Nona, ia akan segera pamit dan menghilang. Beberapa bulan tinggal di rumah itu, saya tidak pernah mendapat gangguan apa-apa selain serbuan tikus-tikus yang cericitnya membuat keheningan terasa makin menggema sehingga saya bisa dengan tenang menulis novel yang sudah lama saya idam-idamkan. Kecurigaan baru muncul ketika suatu hari saya jatuh sakit. Dalam sakit saya sering mendengar suara orang batuk di kamar mandi, kadang disertai jeritan Sakit euy!

Suatu malam, ketika sedang terhuyung-huyung ke kamar mandi untuk buang sakit, saya dihadang seorang laki-laki tanpa celana dengan darah mengucur dari kelaminnya. Seketika saya ucapkan selamat malam sambil saya tatap wajahnya yang meringis kesakitan, dan seketika pula ia menghilang sebelum saya sempat telanjang. Saat itulah samar-samar saya melihat bayangan wajah ayah saya yang di suatu pagi buta, dulu, dijemput beberapa orang tak dikenal berwajah seram dan sejak itu saya tak pernah lagi melihatnya. Saya mengingatnya sayup-sayup saja karena waktu itu saya baru enam tahun. Konon ayah saya seorang penyair yang berani, meskipun karyanya tidak hebathebat amat. Saya tidak tahu bagaimana persisnya, tapi saya pernah mendengar cerita orang-orang tentang seniman dan demonstran yang diculik kemudian disiksa, bahkan katanya ada yang sampai dikerat kemaluannya. Terbayang wajah laki-laki tanpa celana, saya segera teringat sebuah puisi Sapardi Djoko Damono yang sangat saya hafal salah satu baitnya: Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa. Berkali-kali saya keluar-masuk puisi itu dan akhirnya saya yakin bahwa laki-laki tanpa celana yang meringis kesakitan itu adalah laki-laki yang saya jumpai dalam sajak Sapardi. Semula saya berniat menanyakan hal ini langsung kepada penyairnya, tapi lalu saya pikir untuk apa, sebab Sapardi pasti akan mengatakan bahwa pengarang telah mati. *** Sebagai wartawan yang boleh dibilang agak kurang kerjaan, saya sering menyempatkan diri menelusuri jejak perempuan itu. Belakangan saya tahu bahwa ia tinggal sendirian di sebuah rumah angker di pinggir sungai. Saya sering pura-pura lewat di depan rumahnya hanya untuk memastikan bahwa ia memang tinggal di sana. Kadang-kadang saya melihat ia berdiri lama di depan jendela, bercakap-cakap dengan senja. Saya memutuskan untuk menemui perempuan misterius itu karena memang ada hal penting yang ingin saya tanyakan. Saat itu sedang berlangsung demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan harga bahan bakar minyak yang diikuti dengan makin anjloknya harga manusia. Saya melihatnya di tengah kerumunan demonstran sedang mengacungacungkan tangan sambil meneriakkan kata-kata yang tidak bisa saya dengar jelas bunyinya. Saya dekati dia, saya ajak ke tempat yang agak sepi untuk, katakanlah, semacam wawancara. “Non, sepertinya saya pernah melihat Non dalam sajak Sapardi, ‘Pada Suatu Pagi Hari’.” Ia tampak bingung dan tidak mengerti apa yang saya katakan. “Mengapa pagi itu Non kelihatan habis menangis? Sepertinya baru pulang dari kuburan. Siapa yang meninggal, Non?” Ia makin bingung dan tampak mulai curiga dengan kesehatan jiwa saya. Setelah minta maaf kalau-kalau kelakuan saya telah melukai perasaannya, saya katakan bahwa Sapardi titip salam untuknya (padahal cuma akal-akalan saya saja).

“Sapardi? Pangeran dari mana? Saya nggak kenal tuh.” Tanpa permisi, cepat-cepat saya tinggalkan dia. *** Saya mengasingkan diri ke rumah ini, meninggalkan ibu dan saudara-saudara saya, karena saya tak ingin terpenjara dalam kepedihan masa lalu saya. Toh setiap akhir pekan saya sempatkan pulang ke rumah Ibu, menghirup kehangatan dan kedamaiannya. Saya tidak pernah bercerita kepada Ibu bahwa alasan utama saya pergi menyendiri adalah karena ingin menulis sebuah kisah, bukan karena tak bisa berdamai dengan rumah. Ketika novel yang sedang saya tulis mulai terancam macet, laki-laki tanpa celana itu muncul lagi. Ia sering datang lewat tengah malam ketika saya sudah lelap di pembaringan. Ia duduk di kursi yang biasa saya duduki, mencelupkan pena pada darah yang menyembul dari kelaminnya, lalu menuliskan kata-kata di atas halaman-halaman buku yang terbuka di atas meja kerja saya. Sesekali, saat terjaga, saya dengar ia mengerang, Sakit euy! Ah, laki-laki tanpa celana itu, dengan caranya sendiri, telah ikut menyelesaikan novel saya. Banyak orang heran dan tak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan selembut saya (padahal sebenarnya saya agak cerewet dan keras kepala) bisa betah dan tenang-tenang saja tinggal di rumah terpencil yang menurut mereka sangat menakutkan. Mereka kemudian menyebut saya perempuan sakti karena dianggap mampu mengusir jin laki-laki tanpa celana yang konon sudah menelan banyak korban. Ada yang bahkan meminta saya menyembuhkan penyakit aneh yang bersarang di tubuhnya. Oh ya, tentu saya tahu bahwa laki-laki yang berpapasan dengan saya di gang lengang itu diam-diam suka memantau keberadaan saya. Tampaknya dia memang wartawan yang agak kurang kerjaan karena sering mencari-cari kesempatan hanya untuk memperhatikan atau minta perhatian saya. Seperti tidak ada bahan berita saja. Jangan-jangan dia naksir saya tapi tidak berani atau malu berterus terang. Gombal ah! *** Setelah beberapa lama tidak mengikuti jejaknya, tiba-tiba saya mendapat undangan untuk menghadiri malam peluncuran novel perdananya: Laki-laki Tanpa Celana. Sayang sekali saya datang agak terlambat. Ketika sampai di tempat acara, saya lihat perempuan itu sedang sibuk menjawab pertanyaan orang-orang yang tanpa membaca karyanya terlebih dulu sudah berani menyatakan diri sebagai penggemarnya. Gila, perempuan itu mengenakan semua yang ia kenakan saat berpapasan dengan saya di gang lengang itu: baju putih lengan panjang, celana blue jeans yang sedikit pudar warnanya, dan sepatu tok-tok kecoklat-coklatan. Rambutnya pun diikat begitu saja. Dan matanya sangat kenangan. Saya memperhatikannya dari jauh dan diam-diam mengagumi keindahan bicaranya.

Saya hampir tak percaya melihat Sapardi duduk manis di samping perempuan itu, memberikan komentar sambil membolak-balik halaman-halaman buku Laki-laki Tanpa Celana yang disebutnya memikat antara lain karena tokohnya luar biasa. Sesekali mereka berdua terlihat berbincang akrab sambil ketawa-ketawa, padahal dulu perempuan itu mengaku tidak mengenalnya. Saya tidak tahu apakah mereka diam-diam bersekongkol untuk menghancurkan mental saya. Mudah-mudahan cuma kebetulan saja. Mungkin sudah menjadi suratan nasib saya, ketika saya hendak menyodorkan buku novelnya dan minta tanda tangannya, perempuan itu seakan-akan tidak mengenal saya, bahkan menjauh menghindari saya. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa sangat nelangsa. Dan, sebagaimana tersabdakan dalam sajak Sapardi, malam itu saya ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong yang gelap. Saya ingin malam itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar saya bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa. (2002/2003)

Selamat Tidur Telepon genggam mau tidur. Capek. Seharian bermain monolog. Banyak peran. Konyol. Enggak nyambung. Paling pusing bicara dengan bahasa siluman. Serba akronim dan singkatan. Maunya hemat waktu. Enggak hemat pikiran dan perasaan. Sok cerdas. Pemalas. Paling seru bisa ngakak-ngakak sendirian. Ha ha ha. Atau mengumpat. Bangsat. Brengsek. Prek. Asu. Gombal. Kere. Pengkhianat. Jahanam. Rasain. Mampus. Paling berat bikin rayuan. Ayo sayang. Enggak marah kan? Aduh cakepnya. Mabuk yuk. Sip. Paling senang sebelum tidur bisa memainkan beragam musik yang semuanya sesungguhnya hanya variasi dari suara tangis pertama seorang bayi. Beethoven, telepon genggam mau tidur. Boleh dong pinjam telingamu yang tuli untuk menampung bunyi! (2003)

Panggilan Pulang Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram.

Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan. Bagaimana tidurmu semalam? Sarungnya enak kan? Lupa sama saya ya? Tadi saya nunggu lama di kuburan. Adzan subuh berkumandang. Penuh hujan. Ia buka telepon genggam. Tumben, ayah kirim pesan: Ibu sakit. Kangen berat. Nenek sudah tiga hari hilang. Makam kakek belum sempat dibersihkan. Sarung ayah dicuri orang. Utang stabil. Pohon nangka di samping rumah tumbang. Bisa pulang? Bisa minta ijin telepon genggam? Pesan berakhir. Musik. Telepon genggam menyanyikan The Beatles: Mother…. (2003)

Laut Sekali-sekali telepon genggam perlu juga diajak piknik atau jalan-jalan. Ke pantai, misalnya. Supaya makin luas pandangannya. Makin lepas jangkauannya. Di pantai ia jatuh cinta pada laut. Ia memanggil-manggil nama laut, tapi suaranya lenyap ditelan laut. Aku tiduran di atas pasir, sementara telepon genggam sibuk memotret awan dan air, merekam derai dan desir. “Silakan kau latihan mati,” katanya. “Aku ingin begadang, mendengarkan bisikan-bisikan laut.” Sekarang, bila aku sakit, telepon genggam suka menggodaku dengan suara angin dan ombak. Lalu ia perlihatkan profil bulan yang malu-malu. Profil ajal yang diutus waktu. “Ingat, kau sudah latihan mati di pantai,” bisiknya. Tiba-tiba aku mendengar gemuruh laut. (2003)

Selamat Tinggal Ia tidurkan telepon genggamnya di kuburan, lalu ia buang ke laut. (2003)

E-Mail Tengah Malam

Tugas rutinnya tiap tengah malam adalah membuka dan mengirim e-mail. Ia sering heran sendiri untuk apa repot-repot mengirim e-mail hanya untuk mengucapkan selamat tidur kepada orang yang sudah tidur. Sungguh enggak lucu. Sama enggak lucunya dengan membuka sekian e-mail dari sekian orang yang makin dibaca makin menambah perasaan ngelangut saja. Klik. Kali ini ia mendapat kiriman e-mail yang tidak biasa. Bukan kata-kata. Bukan kalimat-kalimat bego yang enggak ngerti logika dan gramatika. Tapi gambar seorang lelaki yang sedang tergesa-gesa meninggalkan kamar mandi. Lelaki itu tampak ketakutan sekali, seakan ada peri yang ingin segera mencicipi luka yang menganga di tubuhnya. Telepon genggam menyela. Dari seberang seorang perempuan bicara: “Aku kirim gambar bagus, sudah sampai belum?” “Gambar apa?” “Gambar lelaki sedang tergopoh-gopoh mengenakan celana karena ketakutan sendirian di kamar mandi.” “Sudah. Barusan kubuka. Tapi lelaki itu sudah enggak ada. Yang ada cuma celananya, teronggok di lantai kamar mandi. Biru kan celananya?” “Benar, biru. Tapi menghilang ke mana lelaki lucu itu?” “Sudah kuhapus.” “Lho, kenapa?” “Habis dia mirip aku!” “Ha ha ha ….” Ia sudah selesai melakukan tugas rutin tengah malam: membuka e-mail. Tapi kali ini ia tidak tertarik membalas e-mail. Ia ingin sekali kencing, tapi tidak berani ke kamar mandi. Padahal kamar mandi cuma bersebelahan dengan ruang kerjanya. (2003)

Jam Satu-satunya barang berharga yang masih tersisa di rumahnya adalah jam. Jam dinding peninggalan kakeknya yang sengaja ia pasang di ruang tamu supaya setiap orang yang datang bertandang bisa ikut mengagumi waktu. Tiap jam dua belas malam jam itu berdentang dua belas kali. Ia sangat sayang kepada jamnya hingga mati-matian mempertahankannya meskipun sudah banyak orang ingin membelinya. Setiap meninggalkan rumah, ia tak pernah lupa pamitan, “Jam, aku pergi dulu ya!” Dan hanya jamnya yang ia rindukan bila ia pergi jauh dan lama ke luar kota. Teringat jam, ia teringat almarhum kakeknya yang punya hobi bongkar-pasang jam sampai matanya minus delapan. Mewah sekali rasanya duduk santai di bawah jam di malam hujan sembari merokok dan baca koran, mendengarkan dua belas dentang jam, mengenang yang telah silam, membayangkan yang bukan-bukan sambil senyum-senyum (dan, kalau perlu, menangis) sendirian, kemudian tertidur di sandaran kursi sampai saat terdengar kumandang adzan.

Hari itu ia pulang dari kelilang-keliling di luar negeri: cari uang, cari pacar, cari gengsi, cari pengalaman, dan katanya sih cari tujuan. Ia membawa oleh-oleh banyak sekali, termasuk beberapa arloji; semuanya untuk dirinya sendiri. Sungguh parah kangennya hingga begitu membuka pintu ia langsung berseru, “Jam, aku pulang!” Sayang, jam tidak bisa terharu. Ia malah bingung: “Sebetulnya siapa yang lebih pengembara: kamu atau aku?” Toh tiap jam dua belas malam ia tetap berdentang dua belas kali. (2003)

Foto Ia bangga sekali bisa memasang fotonya yang lumayan keren di dinding ruang kerjanya, persis di bawah jam. Berhubung ia sering melaksanakan tugas-tugas negara di luar kantor, foto itu dianggapnya dapat mewakili cintanya yang resmi kepada instansi yang dipimpinnya serta pegawai-pegawainya yang patuh-setia. Tiap hari ada saja pegawai yang datang terlambat. Tanpa sungkan-sungkan pegawai langsung menuju ke ruang kerjanya dan menghormat fotonya: “Maaf bos, saya telat. Kena macet.” Pegawai yang suka ngacir lebih dulu juga tidak malu-malu minta pamit kepada fotonya: “Saya ijin membolos ya bos. Mau buang sebel di kafe.” Setelah beberapa hari tidak menjenguk kantor, siang itu ngapain bos nongol. Pura-pura tampak berwibawa, ia meluncur ke ruang kerjanya untuk menghadap fotonya: “Selamat siang bos. Apa kabar? Lama tidak kelihatan.” Para pegawai berpandang-pandangan penuh keheranan. “Foto itu sudah gila!” seru salah seorang dari mereka. (2003)

Anjing Rumahku dijaga dua anjing cerdas: anjing sungguhan dan anjing-anjingan. Anjing sungguhan sungguh cerewet dan sok polisi: sepi berkelebat sedikit saja ia sudah panik lalu menyalak keras sekali. Anjing-anjingan sungguh kalem lagi pemalu: maklum, tubuhnya terbuat dari waktu, eh batu. Entah mengapa malam lebih takut pada anjing-anjingan ketimbang pada anjing sungguhan sehingga anjing sungguhan jadi cemburu. “Aku yang sibuk menjaga rumah ini, kau yang lebih ditakuti. Dasar anjing!” kata anjing sungguhan kepada anjinganjingan.

Aku sering terbangun dari tidurku mendengar dua ekor anjing bertengkar hebat di depan pintu. Dari suaranya aku bisa tahu bahwa anjing sungguhan makin lama makin frustrasi. Aku baru sadar bahwa anjing-anjingan bisa lebih anjing dari anjing sungguhan. Tapi kalau tidak ada anjing sungguhan, anjing-anjingan pasti akan sangat kesepian. Bisakah kalian berdamai, hai anjing-anjingku? (2003)

Ojek Di pertigaan jalan yang selalu ramai itu terdapat pangkalan ojek yang dikuasai oleh kirakira dua puluh laki-laki berseragam hitam. Mereka siap mengantar siapa saja ke tempat terpencil yang tak terjangkau kendaraan umum. Untuk menunjukkan kekompakan, mereka memakai helm berwarna jingga, warna yang sangat mudah dikenali oleh pengguna jasa mereka. Bagi saya yang baru pertama kali akan naik ojek dari sana, tidak mudah membedakan mana tukang ojek yang ramah dan mana yang suka marah sebab wajah mereka sama dinginnya. Karena sudah larut petang, kendaraan yang menuju ke tempat yang akan saya datangi sudah tidak jalan. Tidak ada cara lain, harus naik ojek. Begitu turun dari bus, saya langsung disergap oleh seorang tukang ojek bermata garang. Semula ia tampak asing dengan alamat yang saya sebutkan. Baru setelah saya bujuk-bujuk dengan ongkos yang jauh lebih tinggi, dengan senang hati ia bersedia mengantar saya. “Kita cari saja, pasti ketemu,” ujarnya. Diam-diam saya merasa was-was mendapat tukang ojek yang sangat mencurigakan. Sepanjang perjalanan saya berdebar-debar seraya tak henti-hentinya berdoa memohon keselamatan. Apalagi jalanan gelap dan sepi, naik-turun penuh tikungan. Saya jadi teringat berita di koran tentang tukang ojek gadungan yang merampok dan kemudian menghabisi penumpangnya sendiri. Ketakutan saya makin berlipat ganda karena sepanjang perjalanan si tukang ojek diam saja, menjalankan sepeda motornya juga seenaknya, tidak mau tahu bahwa penumpang adalah raja. “Syukur alhamdulillah, selamat juga akhirnya!” Itulah yang segera diucapkan si tukang ojek begitu sampai di tempat tujuan. Lho, seharusnya kan saya yang mengucapkan itu? Tidak saya duga, tukang ojek itu pun berdebar-debar sepanjang perjalanan karena ia teringat temannya sesama tukang ojek yang tewas mengenaskan setelah dirampok dan dianiaya oleh penumpangnya sendiri. Wah, draw kalau begitu. Tapi saya tetap merasa rugi karena diam-diam saya dicurigai sebagai pencoleng berlagak penumpang. Indah sekali kompleks perumahan yang saya kunjungi ini. Terletak di atas sebuah bukit, dari ketinggiannya yang hening dan asri saya bisa menyaksikan gugusan cahaya warnawarni di bawah sana. “Itu kota saya,” kata saya. Kemudian saya masuk gerbang, mencaricari rumah mungil tempat sahabat saya yang baik hati sedang beristirahat. Ia mati dengan

sederhana dalam perjalanan naik ojek menuju desa kelahirannya setelah sekian lama hidup makmur dan sejahtera di kota, tapi konon gagal total dalam petualangan cinta. Tukang ojek yang mengantarnya pulang terkena serangan jantung mendadak; sepeda motornya terkejut, kehilangan keseimbangan, kemudian meluncur ke dalam jurang bersama penumpangnya. “Tunggu sebentar ya, saya mau bicara dengan teman saya,” pinta saya kepada tukang ojek. Tanpa berpikir panjang, tukang ojek yang penakut itu cepat-cepat ngacir setelah sebelumnya berkata, “Kalau tahu mau ke kuburan, saya tidak akan sudi mengantarkan!” Wah, tukang ojek itu tidak tahu bahwa jika suatu saat nanti saya tiba di surga, hal pertama yang akan saya lakukan adalah naik ojek keliling kota, bersenang-senang menikmati tabungan. (2003)

Koma Menjelang dinihari pengarang itu mati. Kepalanya terkulai di atas meja, batuknya serasa masih menggema, sementara rokok yang belum habis dihisapnya masih menyala di atas asbak. Tubuhnya babak belur sehabis semalaman duel seru melawan komplotan kata: duel satu lawan satu maupun satu lawan dua, lima, sepuluh, pokoknya banyak. Di layar komputernya tertera tulisan: Kutunggu lagi kalian besok malam. Boleh satu lawan satu, boleh keroyokan. Besoknya ia datang lagi ke gelanggang. Ia pikir malam itu ia akan berhadapan dengan komplotan kata yang lebih preman. Tak tahunya cuma ditantang sebuah tanda koma yang berani-beraninya muncul sendirian. Ah, itu sih kecil. Sekali pukul saja pasti terpental. Wow, ia salah duga. Koma ternyata sangat perkasa. Sudah bertarung semalam suntuk, belum juga ia takluk. Malah makin mbeling saja. Bukan main cerdiknya. “Belajar silat di mana, dik? Di sekolah ya?” tanya pengarang. “Ah, tidak. Saya otodidak saja,” jawab koma. Antara mabuk dan mengantuk, pengarang berusaha keras mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk melumpuhkan koma. Sebab hanya yang mampu menguasai koma yang layak menyebut diri jagoan. Dan tahukah, pengarang, koma pula yang setia menungguimu saat kau mati menjelang dinihari? Ketika pengarang terbangun dari mati, koma memberi kabar bahwa judul sedang sakit sehingga tidak bisa datang. “Dia memang tidak tahan banting. Manja!” ujarnya. “Lantas siapa yang menggantikannya?” timpal pengarang. “Sudah jelas saya, masih nanya!” kata koma. (2003)

Mandi Mereka tiba di kamar mandi menjelang tengah malam ketika langit terang dan bulan sedang cemerlang. Pemimpin rombongan segera angkat bicara: “Hadirin sekalian, malam ini kita berkumpul di sini untuk mengantar mandi salah seorang saudara kita. Mari kita sakiti dia agar sempurnalah mandinya.” Korban segera diseret ke kamar mandi dan diperintahkan berdiri di depan. Wajahnya tertunduk pucat, tubuhnya gemetar, dan matanya seperti kenangan yang redup perlahan. Belum sempat pemimpin rombongan menanyakan tanggal lahir dan asal-usul korban, orang-orang yang sudah tak sabar menyaksikan sekaratnya berseru nyaring: “Mandikan dia! Mandikan dia!” Tubuh tak bernama yang terlampau tabah menerima cambukan waktu yang gagah perkasa. Mandikanlah dia. Mulut tanpa kata yang tak perlu lagi mengucap segala yang tak terucapkan kata. Mandikanlah dia. Hati paling rasa yang tak pernah usai memburu cinta di rimba raga. Mandikanlah dia. Mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka. Pembantaian sebentar lagi dimulai. Hadirin segera pergi setelah masing-masing menghunjamkan nyeri ke ulu hati. Korban dibiarkan terkapar di kamar mandi. Sepi yang tinggi besar melangkah masuk sambil terbahak-bahak. Korban diperintahkan berdiri. Mandi!” bentaknya. Dengan geram diterkamnya tubuh korban dan kemudian dikuliti. Lihatlah, korban sedang mandi. Mandi dengan tubuh berdarah-darah. Bahkan bulan tak berani bicara; dengan takut-takut ia melongok lewat genting kaca. Sepi makin beringas. Ia cengkeram tubuh kurus korban, ia serahkan lehernya kepada yang terhormat tali gantungan. Krrrkk! Sepi melenggang pergi sambil terbahak-bahak, meninggalkan korban berkelejatan sendirian. Lalu, di hening malam itu, tiba-tiba terdengar seorang bocah menjerit pilu: “Ibu, tolong lepaskan aku, Ibu!” (2003)

Mandi Malam

Mandi malam sangat rawan. Banyak ancaman. Kalau tidak siap dan kuat, bisa-bisa pulang telanjang. Ia pun pergi mandi membawa pisau. Pisaunya tajam berkilau. Awas, kuhabisi kau kalau coba-coba mengacau! Masuk kamar mandi, langsung berkelahi. Pisau bicara. Mati satu, mati semua. Sampai akhirnya terdengar suara menghiba: Ampun. Menyerah. Mandi telah dilaksanakan. Sukses. Wajahnya belepotan darah. Darah siapa? Tahu gelagat, sepi cepat-cepat menjawab: Darahnya sendiri! (2003)

Buku Hadiah terindah yang kudapat dari buku ialah ingatan: pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian. Aku teringat sebuah buku yang pernah kulihat dua puluh tahun lalu. Buku kecil yang aku lupa-lupa ingat judulnya. Berkat jasa baik seorang pemulung bukulah akhirnya bisa kutemukan buku itu di sebuah kios buku loak yang letaknya ternyata tidak jauh-jauh amat dari rumahmu. Memang buku lama. Tapi apa bedanya lama dan baru jika aku belum pernah membacanya? Ah, buku tua itu tidak sanggup lagi memamerkan keangkuhannya. Seluruh halamannya sudah kuning kecoklat-coklatan. Bagian pinggirnya sudah geriwing digerogoti waktu. Foto pengarangnya pun sudah pudar, bahkan keropos dan sebentar lagi hancur. Malang benar nasibmu, pengarang. Fotomu yang jelek kautampangkan dengan penuh kebanggaan hanya untuk merana dan mungkin tak pernah digubris orang. Dan ngomong-ngomong, sudah mendapat bayaran atau belum, wahai pengarang budiman? Buku itu isinya sederhana saja: berkhotbah tentang bagaimana sebaiknya membaca buku. 1. Jangan sok pintar dan sok tahu. Jangan belum-belum sudah bilang: ah, kalau cuma begini aku juga mampu. 2. Jangan cepat merasa bodoh kalau tidak juga paham apa maunya buku. Apa yang tak kaupahami suatu saat toh akan membukakan diri. 3. Jangan terlalu lugu. Tahu kan batas antara lugu dan dungu sering tidak jelas-jelas amat? Kau bisa saja mengganti kata-kata dalam buku dengan kata-katamu. 4. Jangan sok filsuf: membaca buku sambil mengernyitkan dahi dan mengerutkan mata, apalagi pakai ketok-ketok jidat segala. Santai saja, supaya tidak penat. Kalau penat, katakata yang kaubaca tidak akan bebas menari-nari dalam otakmu. Alkisah, setelah sekian lama berpacaran dengan buku-buku, temanku seorang macan buku akhirnya menikah juga dengan pacarnya yang sungguhan, yang sama-sama

pencandu buku. Karena tak biasa kasih kado, aku berikan saja buku tua itu sebagai kado pernikahannya. Ngakunya bulan madu, baru sehari ia sudah meneleponku. Kukira mau mengucapkan terima kasih, tak tahunya cuma mau memaki-maki. “Brengsek kau! Gara-gara buku rombeng pemberian kau, program malam pertamaku jadi kacau-balau.” “Maksud kau?” “Ya aku jadi lebih sibuk membaca buku daripada membaca istriku.” “Terus?” “Ia rebut buku itu, lalu ia tamparkan ke jidatku.” “O, bagus itu. Seperti awal-awal orang belajar mencintai buku kan?” “Bagus matamu! Tahu nggak, gara-gara buku sialan itu istriku belum-belum sudah ngomongin cerai segala?” “Ah, kau juga bego sih. Sudah sekian tahun jadi pembaca buku, belum juga tahu cara belajar membaca istrimu.” “Ala, sok tahu lu. Kawin aja belum.” “Belum atau sudah kawin kan aku sendiri yang lebih tahu. Lugu amat lu!” Malang dapat ditolak, untung dapat diraih. Sekian tahun kemudian secara kebetulan aku bertemu pasangan pencinta buku itu di sebuah pesta buku. Mereka tampak bahagia (setidak-tidaknya di depanku). “Kok sendirian?” sapa istri temanku. “Dia bujang lapuk!” bisik temanku ke telinga istrinya, dan sialnya, istrinya menganggukangguk saja. “Terima kasih ya untuk bukunya dulu itu,” ujar istri temanku. “Salam untuk istri tercinta.” Istri? Tercinta? Aku terbengong lama. “Wah, bego juga lu,” tukas temanku. “Ya buku-bukumu itu istrimu!” Aku pilih melengos pergi sambil berkata dalam hati: ah, tampaknya mereka sudah pintar membaca buku. (2003)

Selamat Ulang Tahun, Buku Selamat ulang tahun, buku. Makin lama kau makin kaya saja. Tambah cerdas pula. Aku saja yang tambah parah dan sekarang mulai pelupa. Maaf, aku tidak bisa kasih hadiah apa-apa selain sejumlah ralat dan catatan kaki yang aku tak tahu akan kutaruh atau kusisipkan di mana. Sebab kau sudah pintar membaca dan meralat dirimu sendiri.

Kau bahkan sudah tidak seperti dulu ketika aku berdarah-darah menuliskanmu. Dan aku agak curiga jangan-jangan kau (pura-pura) pangling dengan saya. Selamat ulang tahun, buku. Anggap saja aku kekasih atau pacar naasmu. Panjang umur, cetak-ulang selalu! (2003)

Kanibal yang Malang Sudah tujuh hari tujuh malam kami menjaga makam almarhum, namun apa yang kami takuti tidak juga terjadi. Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai tokoh terhormat dan menjelang wafat sempat menyatakan ingin bertobat karena katanya beliau sebenarnya juga penjahat yang diam-diam suka menyantap nasib orang-orang yang hampir tidak pernah merasakan hidup lezat. Kami ditugaskan untuk menjamin keamanan dan kehormatan jasad almarhum karena di daerah kami sedang gentayangan seorang kanibal yang suka mencuri mayat orang yang baru dikuburkan dan favoritnya adalah mayat tokoh terhormat semisal juragan atau pejabat. Kanibal kita tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang tidak bisa dibilang rumah, sedangkan ayah dan saudara-saudaranya pergi mencari makan entah di mana. Jangankan makan sekolahan, bisa makan makanan pun bagi kanibal kita sudah merupakan kemewahan. Ibunya hanya bisa nelangsa bila anak lelakinya itu bertanya, “Mengapa kita harus lapar, Bu?” atau “Hari ini ada yang bisa dimakan nggak, Bu?” Dan bila pertanyaannya meningkat menjadi “Siapa yang bisa dimakan ya, Bu?”, ibunya langsung merinding karena ia tahu apa yang sedang berkelebat dalam pikirannya. Sampai sejauh ini sudah ada tujuh mayat orang terhormat yang menjadi korban keganasannya dan mayat almarhum yang sedang kami jaga konon termasuk yang paling diincarnya. Mayat-mayat itu disayat-sayat dan dipotong-potongnya, dibikin tongseng atau sate, atau kalau sudah tidak kuat menahan lapar ya diganyang begitu saja. Tulangtulangnya dipendam di kebun atau dibuang ke sumur; khusus tulang yang bagus ia sisakan untuk dijadikan mainan atau hiasan, misalnya pedang-pedangan. Sedangkan tengkoraknya ia pakai untuk menakut-nakuti dirinya sendiri. Berita terakhir yang kami terima sungguh di luar dugaan. Kanibal kampung yang telah membuat penduduk tidak berani keluar malam itu ternyata sudah tewas dimangsa kanibal lain yang lebih buas. Sisa-sisa tubuhnya ditemukan di sebuah kamar hotel. Kepalanya krowak, kedua matanya lenyap, demikian pula jantung, hati, bahkan kemaluannya. Kaki dan tangannya tersisa sebagian. Diantar beberapa petugas, ibu kanibal yang malang datang mengambil sisa-sisa tubuh anaknya itu. Menurut kabar-kabur yang cepat tersiar, kanibal kita dimangsa oleh kanibal kesayangan almarhun yang mengganggap almarhum sebagai pelindung yang baik hati karena semasa

hidupnya banyak memberikan rejeki. Dari pada mayat almarhum dimakan kanibal, lebih baik kanibal itu disantap lebih dulu. Hebat benar almarhum ini. Sudah mati pun masih bisa bikin orang mati. (2003)

Mata Ada tiga mata bertemu di kafe itu: matasenja, matakata dan matangantuk. Matasenja lekas terpejam karena hujan bilang pertemuan ini memang jatahnya malam. Matakata minus delapan karena katakata waduh mabuk berat dihajar kenangan. Matangantuk merah merindu melihat botol bir makin penuh dengan airmatamu. (2003)

Selamat Malam, Kanibal Kita datang ke perjamuan seperti pernah kita janjikan. Kau sangat lapar, aku ingin kenyang. Selamat makan. Hujan sangat kanibal: ia habiskan derau hujan sebelum sempat kita cicipi harum hujan. Ayo minum. Matamu sangat kanibal: mereguk mataku sepenuh ambigu sebelum mataku meneguk matamu. Apa lagi yang akan kausantap, hai kanibal, bila senja yang belum matang juga lenyap dilahap malam? Oh ya, masih ada anggur darah. Kita muntah-muntah. Kau muntah rindu, aku muntah waktu. Kita pulang membawa sesal. Selamat malam, kanibal! Kau melenggang ke kiri, aku menghilang ke kanan. Kita berpisah sebelum sempat saling menghabiskan.

(2003)

Kecantikan Belum Selesai Sudah selesai. Sudah kucoba semua warna. Sekarang bersiaplah kau di ruang ganti busana. Belum. Belum selesai. Beri aku sentuhan terakhir pada rambut, mata dan bibir agar melihatku adalah melihat kecantikan yang belum selesai. Perlukah, manis, kuoleskan darah pada bibirmu yang skeptis agar semua yang mendamba kau sangsai: apakah kecantikan sudah/belum selesai? Ditemani dua orang perias wajah, penyanyi itu tercenung lama di depan kaca, memandang senja di ufuk mata: melihat elang mengitari mambang. Ia berjalan pelan ke arah panggung. Petugas kecantikan segera mengatur tubuhnya sebagaimana mereka mengatur ruang dan cahaya. Konser dimulai. Hadirin bersorak-sorai. Selamat malam. Dua jam bersama kecantikan. Menjelang lagu terakhir penyanyi itu terkulai. Ambruk sebelum usai. Sudah selesai, ia menangis. Belum! mereka histeris. Kecantikan belum selesai! (2003) Lebih Dekat dengan Engkau Tidak mudah mendapatkan waktu yang baik untuk menjumpai engkau. Pagi engkau masih tidur. Malam engkau sibuk menyendiri dan melukis. Secara kebetulan saja aku bisa bertemu engkau. Ketika aku tiba di rumahmu, engkau sedang mandi. Engkau penggemar mandi tampaknya. Mandimu lama dan riang sekali. Kudengar engkau bersenandung. Senandungmu menjangkau relung yang telah lampau. Aku terdiam di ruang tamu. Termangu. Melihat-lihat kau dalam pigura: sedang duduk berdua dengan senja di halaman rumah yang rindang, wajahmu gemilang oleh kemilau mambang.

Lama ditunggu, mandimu selesai juga akhirnya. Kau melongok ke ruang tamu. “Selamat siang! Maaf ya, tadi terlambat bangun. Semalam melukis sampai pagi.” Lalu kau minta ijin untuk mengeringkan rambut yang habis dicuci. Lalu kau muncul bersama hitam: hitam bajumu, hitam celanamu, hitam rambutmu, hitam kopimu. “Ayo minum. Mumpung masih hitam,” kata kau, lalu kaupersilakan aku bicara. “Tapi jangan lama-lama. Sebentar lagi aku harus melukis. Selagi masih bisa berdamai dengan warna.” *** Engkau biasa bangun siang? Ya, itu hobi. Lebih tepatnya pilihan. Entah mengapa aku tidak suka melihat terbitnya matahari. Engkau penggemar mandi? Mandi adalah senang-senang. Bagi orang lain mandi mungkin tugas atau pekerjaan. Atau kontemplasi. Atau melankoli. Untukku mandi adalah pembebasan. Maaf, tampaknya engkau suka berlama-lama mandi. Tergantung suasana hati. Kalau hati senang, mandi juga senang. Dan lama. Kalau hati sedih, mandi adalah penghiburan. Dan bisa lebih lama. Apakah kau suka mandi sambil menyanyi dan menari? Ya itu tadi, tergantung suasana hati. Bisa diperagakan? Ah, kau norak sekali! Adakah hubungan perilaku mandi dengan masa kecil seseorang? Aku pernah membaca buku psikologi mandi. Konon mandi bisa merupakan pelampiasan perasaan-perasaan terpendam yang erat kaitannya dengan memori dan pengalaman masa silam. Bohong! Mandi ya mandi. Titik. Engkau tidak sedang menyembunyikan diri, bukan? Ah, seperti psikolog saja. Memang pernah bercita-cita jadi psikolog, tapi entah mengapa tersesat jadi wartawan. Wah, kalau begitu rugi dong bicara dengan orang tersesat. Aku memang tersesat dalam kepedihan matamu. Gombal! ***

Hari makin beranjak siang. Rumahmu terasa lengang. Makin lengang, makin luas dan ngiang oleh alunan Mozart yang timbul-tenggelam. Engkau minta ijin untuk rehat dulu. Engkau masuk kamar. Kau bilang mau masuk kanvas sebentar. Mau mengaduk warna. Membetulkan garis-garis senja. Dengan wajah berbinar-binar engkau muncul kembali bersama hitam: hitam bajumu, hitam celanamu, hitam rambutmu, hitam lengkung langit matamu. *** Engkau tidak takut sekian lama tinggal sendirian? Engkau tidak pernah kesepian? Oh tidak. Mungkin malah sepi yang takut dengan kesendirianku. Bisa engkau jelaskan? Kesendirian bisa sangat berbahaya jika ia tegar dan kuat. Sepi akan limbung, lalu merasa kehilangan alasan kehadirannya karena tidak mendapatkan antagonisnya. Wah, agak berbau filsafat juga. Harus! Supaya kau bingung. Supaya aku menang. (Engkau tertawa ngakak dan aku senang.) Sejak tadi aku mendengar cericit tikus di rumah ini. Engkau suka memelihara tikus? Tikus-tikus itu dipelihara sepi untuk melawan kesendirianku. Tapi cericit tikus justru membelaku. Engkau tinggal di rumah ini dalam rangka menyendiri atau melarikan diri? Apa bedanya? Menyendiri itu menyepi atas kemauan sendiri. Melarikan diri itu minggat atas paksaan sendiri. Enggak lucu! Keduanya salah. Aku cuma ingin berdamai dengan diri sendiri. Aku benci bunuh diri. Aku dengar rumah ini ditunggui laki-laki tanpa celana yang suka muncul malam-malam dengan darah mengucur dari kelaminnya. Kapan aku bisa bertemu dengannya? Stop! Engkau jahat. Engkau mulai memasukiku. Maaf. Satu lagi. Besok engkau ulang tahun. Keberapa? Enam puluh. Oke. Selamat ulang tahun ke-60. Dirgahayu! ***

(Wawancara imajiner selesai. Pelukis itu termenung di depan kanvas. Berpikir keras bagaimana caranya menempatkan sosok hitam perempuan itu di tengah lanskap senja tanpa mengganggu panorama warna.) (2003)

Lupa Pekerjaan yang paling mudah dilakukan adalah lupa. Tidak butuh kecerdasan. Tidak perlu pendidikan. Hanya perlu sedikit berpikir. Itulah sebabnya, banyak orang tidak suka kalender, jam, dan tulisan. Menghambat lupa. Padahal lupa itu enak. Membebaskan. Sementara. *** Musuh utama lupa ialah kapan. Teman terbaik lupa ialah kapan-kapan. Kapan dan kapankapan ternyata sering kompak juga. *** Ia sudah selesai berdandan. Keren sekali. Pakai jas baru. Dasi warna-warni. Sepatu mengkilat. Minyak rambut. Deodoran. Parfum. Wangi. Sampai di depan pintu tiba-tiba lupa. Sebenarnya mau pergi ke mana? Berpikir sebentar. Memejamkan mata. Oh iya. Tadi itu rencananya kan mau ke kamar mandi! Apa salahnya ke kamar mandi pakai jas, sepatu, dan segala pernik-perniknya? Anggap saja simulasi. Untuk? Memasuki rumah sakit jiwa. *** Mandi lupa membawa handuk atau celana untuk ganti itu biasa. Mandi lupa telanjang mungkin saja terjadi. Tapi mandi lupa membawa topeng? Bisa berabe. Untuk apa topeng diajak mandi? Untuk menakut-nakuti sepi. Untuk menemani wajah sendiri. *** Aku sedang melamun di ruang tamu. Memperhatikan daun-daun dipetik hujan, disebarkan ke halaman. Hampir petang. Kring kring. Ada becak datang. Becak diparkir di depan pintu. Bang becak nyelonong masuk ke ruang tamu. Duduk santai. Merokok. Hap! Aku tergagap. Siapa dia? Aku merasa tidak pesan becak.

“Lupa ya?” Ia senyum-senyum. Aku bingung. Terpana. “Lupa ya?” Ia bertanya lagi. Tersenyum lagi. Tiba-tiba aku ingat bahwa aku memang pernah bertemu orang yang mirip dia di rumah sakit, tapi bukan dia. “Anda lupa ya bahwa Anda belum pernah bertemu saya? Mengapa harus mengingatingat?” “Ikut saya yuk! Gratis.” Ia mengajakku ke kota dengan becaknya. Aku menolak. Kapankapan saja. Ketika aku sibuk mengamati daun-daun dipetik hujan, ia ngeloyor begitu saja dengan becaknya tanpa sempat kuperhatikan arahnya. Aku kini merasa lega setiap kali melihat becak melintas di jalan atau diparkir di halaman karena suatu saat nanti, jika aku hendak pergi ke kota, akan ada bang becak yang menjemput dan mengantarku. Lumayan. Nyaman. Sederhana. Tidak tergesa-gesa. *** Adakah yang benar-benar habis digerogoti lupa? Lupa: matawaktu yang tidur sementara. (2003)

Sudah Saatnya Sudah saatnya jam yang rusak diperbaiki. Kita pergi ke bengkel jam dan kepada pak tua penggemar jam kita meminta, “Tolong ya betulkan jam pikun ini. Jarumnya sering majumundur, bunyinya sering ngawur”. Semoga tukang bikin betul jam tahu bahwa ia sedang berurusan dengan penggemar waktu. *** Sudah saatnya kita periksa mata. Kepada dokter mata kita bertanya, “Ada apa ya dengan mata saya, kok sering terbalik: tidak melihat yang kelihatan, malah melihat yang tak kelihatan?” Mudah-mudahan dokter mata paham: ya memang begitulah jika mata kita pejamkan. *** Sudah saatnya celana yang koyak direparasi, pantat yang congkak didisiplinkan lagi. Kita temui ahli filsafat celana, kita tanyakan, “Mengapa celana dan pantat sering tidak dapat bekerja sama; ada kalanya celana bikin eksis pantat, ada kalanya pantat benci celana?” Dapat diduga bahwa jawabannya tidak terduga, misalnya: “Kita perlu menciptakan situasi nircelana.”

*** Sudah saatnya jiwa yang janggal diselidiki. Kita konsultasi ke pakar psikologi: “Saya bingung. Saya sering mengalami situasi di mana saya tidak tahu pasti apakah sedang berada di masa lalu, masa depan atau masa kini. Tapi saya masih waras. Sungguh. Awas kalau berani menganggap saya gila.” Jika ia memang ahli, seharusnya ia mengerti: ya begitulah jika tubuh kena teluh puisi.” *** Sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili; yang pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh dan berbuah lagi. (2003)

Pelajaran Puisi Ia sering bingung: apa yang harus ia lakukan untuk murid-muridnya saat ia memberikan pelajaran puisi. Susah-susah amat. Ia bentangkan saja puisi di papan tulis atau di dinding kelas. “Puisi itu hutan rimba,” ia memulai pelajaran. “Kalian mau jadi anak rimba?” Meskipun sebagian besar muridnya anak-anak kota, mereka ternyata mau mencoba menjadi anakanak rimba. “Kota juga rimba,” cetus pak guru yang pandang matanya seluas rimba. Setelah menunjukkan beberapa celah untuk masuk rimba, ditambah sedikit penjelasan tentang peta rimba, ia meminta murid-muridnya segera menjelajahi rimba. Semula ada yang takut-takut, namun setelah dilecut-lecut akhirnya berani juga. Ada pula yang belumbelum sudah bergidik: “Kalau ada ular, bagaimana?” Pak guru merasa geli: “Jangankan di hutan, di kamar mandi pun kadang ada ular.” Ribut sekali. Mereka berhamburan ke dalam rimba sambil bersorak-sorak: “Rusa jantan berlari masuk hutan….” Kemudian ada yang menimpal: “Curang! Memangnya hanya rusa jantan yang bisa berlari masuk hutan? Rusa betina juga bisa. Ayo balapan!” Guru puisi itu tampak tenang-tenang saja, tapi waspada. Ia sudah sangat sering masuk hutan dan tahu rahasia rimba. Ia sibuk berjaga-jaga, siap memberikan pertolongan darurat bila, misalnya, ada muridnya yang linglung atau tersesat. Tiba-tiba suasana berangsur senyap. Tak terdengar lagi derai tawa dan suara bernyanyi bersahutan. Ia mulai panik. Jangan-jangan mereka benar-benar tersesat. Jangan-jangan ditelan gelap. Jangan-jangan ada yang masuk jurang. Jangan-jangan ada yang digigit ular.

Ia ingin sekali mencari dan menemukan mereka, tapi sama sekali tak ada sinyal suara. Malah ia sendiri tiba-tiba takut tersesat. Takut pada yang tak terlihat. Ia masih tercenung gundah ketika murid-muridnya satu persatu muncul dari dalam rimba. Ada yang pakaiannya kusut dan kotor. Ada yang wajahnya belepotan tanah. Ada yang lecet-lecet, bahkan luka-luka. Ada yang pantat celananya jebol. Ada yang kehilangan tas dan kamera. Ada yang pura-pura kesurupan dan sakit jiwa. Setelah semuanya berkumpul kembali, dengan nada murung ia berkata: “Maafkan saya ya, tadi cuma menunjukkan jalan masuk rimba, tapi tidak memberi tahu jalan keluar rimba. Aku ingin menjemput kalian sebenarnya, tapi khawatir kalian merasa dikira anak manja.” Seorang murid yang rambutnya jadi mirip rimba menukas: “Jangan terlalu sensi(tif) dong Pak. Kami baik-baik saja. Lihat nih, kami masih utuh.” Tiba-tiba matanya berbinar-binar kembali. Lalu ia agak kewalahan mendengarkan celoteh murid-muridnya. Tadi saya hampir terperosok ke jurang lho Pak. Saya berpapasan dengan ular. Saya malah sempat mandi di pancuran. Saya ketemu pelangi di sungai. Tadi ada monyet naksir saya lho Pak. Saya terjatuh tanpa sebab. Saya terguling di tebing. Saya anak rimba! Bel berbunyi. Bubar. Pelajaran puisi (untuk sementara) selesai. “Terima kasih ya Pak.” “Lho, jangan berterima kasih kepada saya. Berterima kasihlah kepada puisi.” Ia baru sadar bahwa tadi ia tidak sempat sarapan sehingga perutnya kembung. Agak terburu-buru ia meninggalkan ruang kelas. Langkahnya kelihatan goyah. Tubuhnya kelihatan ringkih. Tapi ia adalah raja rimba. Ia kepalkan dan acungkan tangannya: “Hidup puisi!” Gerimis berderai membasuh rambutnya yang keperak-perakan. Gerimis siang. Seperti ribuan diksi dan imaji berhamburan dari pohon hayat yang rimbun dan tinggi. Seperti ribuan morfem dan fonem bertaburan dari pohon waktu yang tak pernah mati. Dan ia berjalan tergesa dengan perut lapar dan kembung. Nun di belakang sana murid-muridnya berdiri dan bernyanyi: “Rusa jantan berlari masuk kantin ….” (2003) Justru Salahnya sendiri, suka usil bermain kata, merakitnya menjadi boneka yang seringainya justru membuat ia takut setengah mati, kemudian bersembunyi di kamar mandi, padahal di kamar mandi ada dedengkot boneka yang lebih rumit seringainya, yaitu tubuhnya sendiri. (2003)

Masa Kecil

Masa kecil seperti penjaga malam yang setia. Ia yang membuka dan menutup pintu setiap kau masuk dan keluar kamar mandi. Sementara kau sibuk mandi, ia duduk manis di sudut sepi, membaca cerita bergambar sambil ketawa-ketawa sendiri. Jangan suka lihat orang mandi, nanti sakit mata! Ia langsung menutup wajahnya dengan buku, seakan geli atau malu melihat tokoh komiknya yang (tidak) lucu. (2003)

Selesai Sudah Tugasku Menulis Puisi sebab kata-kata sudah besar, sudah selesai studi, dan mereka harus pergi cari kerja sendiri. (2003)

Sajak-sajak 2003-b
Pacar Senja Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai. Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli. Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu. “Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.” Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya. Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja yang masih megap-megap oleh ciuman senja. “Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium menjadi bekas. Betapa curangnya rindu. Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.” Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap. Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak. (2003) Perjamuan Petang Dua puluh tahun yang lalu ia dilepas ayahnya di gerbang depan rumahnya. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Jangan pulang sebelum benar-benar jadi orang.” Dua puluh tahun yang lalu ia tak punya celana yang cukup pantas untuk dipakai ke kota. Terpaksa ia pakai celana ayahnya. Memang agak kedodoran, tapi cukup keren juga. “Selamat jalan. Hati-hati, jangan sampai celanaku hilang.” Senja makin menumpuk di atas meja. Senja yang merah tua. Ibunya sering menangis memikirkan nasibnya. Ayahnya suka menggerutu, “Kembalikan dong celanaku!” Haha, si bangsat akhirnya datang. Datang di akhir petang bersama buku-buku yang ditulisnya di perantauan. Ibunya segera membimbingnya ke meja perjamuan.

“Kenalkan, ini jagoanku.” Ia tersipu-sipu. Saudara-saudaranya mencoba menahan tangis melihat kepalanya berambutkan gerimis. “Hai, ubanmu subur berkat puisi?” Ia tertawa geli. Di atas meja perjamuan jenazah ayahnya telentang tenang berselimutkan mambang. Daun-daun kalender beterbangan. “Ayah berpesan apa?” Ia terbata-bata. “Ayahmu cuma sempat bilang, kalau mati ia ingin mengenakan celana kesayangannya: celana yang dulu kaupakai itu.” Diciumnya jidat ayahnya sepenuh kenangan. Tubuh yang tak butuh lagi celana adalah sakramen. Celana yang tak kembali adalah testamen. “Yah, maafkan aku. Celanamu terselip di tetumpukan kata-kataku.” (2003) Dua Orang Peronda Hanya ada dua orang peronda datang ke gardu itu. Mereka duduk berhadapan, mengobrol ke sana kemari, bercerita tentang kekasih masing-masing dengan wajah berapi-api. Peronda tua membanggakan isterinya yang cintanya penuh misteri. Peronda muda memuji-muji ibunya yang cintanya tak terbeli. Sesekali mereka terdiam, beradu pandang, membiarkan hujan mengoceh sendiri. “Kau menantangku?” Tiba-tiba mereka bersitegang karena masing-masing tersinggung oleh sorot mata yang penuh kebencian. Hujan bubar menjelang dinihari dan sepi tak perlu lagi ditemani. “Bosan, nggak ada penjahat. Kita pulang saja.” Pulang ke gardu lain yang lebih hangat. Sampai di teras rumah, mereka berebut membuka pintu. Peronda tua tak mau kalah: “Biar kubuka pintu ini dengan kunciku. Kunci yang kaubawa itu palsu!” Kucing meluncur menuju dapur. “Bu, tuan-tuan pulang!” kucing mengiau kepada perempuan yang sedang terkantuk-kantuk di depan kompor, menjerang air dan airmata, mau bikin kopi buat lelaki-lelaki tercinta. Dua lelaki berjabat tangan erat-erat, saling mengucap selamat istirahat. “Selamat tidur di ranjang palsu ya, Pak,” ujar lelaki muda dengan wajah sinis bercampur bangga. Palsu? Perempuan yang sedang terkantuk-kantuk di depan kompor itu tiba-tiba tersentak. Dua butir airmatanya jatuh berdenting. Ia teringat bagaimana dulu ia bertempur di atas ranjang,

melahirkan anaknya persis saat suaminya sedang termenung sendirian di gardu ronda di malam hujan. (2003) Malam Pertama Malam pertama tidur bersamamu, aku terkenang saat-saat manis bersama ibuku ketika dengan lembut dan jenaka ia mengajariku mandi dan memakai celana hingga kurasakan sentuhan ajaib tangan-tangan cinta tanpa bisa kuucapkan terima kasih padanya selain tersenyum dan tertawa. Lalu ibu menjebloskanku ke sekolah. Bertahun-tahun aku belajar bahasa yang baik dan benar hanya untuk bisa mengucapkan cinta monyet dengan lugu dan malu-malu tanpa menyadari bahayanya. Setelah dewasa aku paham bagaimana menyatakan cinta tanpa harus mengatakannya. Kini aku harus menidurimu. Tubuhmu pelan-pelan terbuka dan merebaklah bau masam dari ketiakmu. Aku gugup. Tapi tak mungkin kupanggil almarhumah ibuku untuk mengajariku membaca halaman-halaman tubuhmu sebagaimana dulu dengan tekun dan sabar ia mengajariku membaca kalimat-kalimat sederhana: ini ibu budi; budi minum susu; ini susu ibu. Malam pertama tidur bersamamu, buku, kulacak lagi paragraf-paragraf cinta ibuku di rimba kata-katamu. Apakah kata-kata mempunyai ibu? Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa kata ibu. Aku sering lupa dulu ibu suka berkata apa. Aku gemetar. Tubuhmu makin cerdas dan berbahaya. Ibukata, temanilah aku. (2003) Surat Surat-surat datang silih berganti, semuanya minta dijawab, segera, kalau bisa hari ini. Konon menulis surat bisa membasmi sepi. Padahal hanya kalau sepi aku bisa dengan tenang menulis surat agar jangan sampai kata-kataku menyakiti. Surat ayah: Ayah menang, habis tempur melawan utang. Surat ibu: Ibu sedang menjahit senja yang terluka oleh rinduku. Surat istri: Telah kupanen putih dari rambutmu. Surat teman: Teman, batukmu meletus dalam dadaku. Surat penggemar: Salam manis buat iblis.

Ada pula surat dari masa kecil, datang di malam eksil, ah pasti ditulis dengan pinsil. Kubuka amplopnya yang warna-warni, isinya: Ayo duel kalau berani! Suratan nasib: tersimpan rapat di laci meja dan tak akan pernah kubuka. (2003) Koran Pagi Koran pagi masih mengepul di atas meja. Wartawan itu belum juga menyantapnya. Ia masih tertidur di kursi setelah seharian digesa-gesa berita. Seperti biasa, untuk melawan pening ia menepuk kening. Lolos dari deadline, ia terlelap. Capeknya lengkap. Tahun-tahun memutih pada uban yang letih. Entah sudah berapa orang peristiwa, berapa ya, melintasi jalur-jalur waktu di kerut wajah. Ke suaka ingatan mereka hijrah. Almarhum bapaknya sebenarnya tak suka ia susah-susah jadi reporter. Lebih baik jadi artis yang kerjanya diuber-uber wartawan. Ibunya berharap ia jadi dokter agar dapat merawat tubuhnya sendiri yang sakit-sakitan. Siang itu, bersama teman-teman sekelasnya, ia sedang berlatih mengarang. Sementara kawan-kawannya sibuk bermain kata, ia bengong saja sambil menggigit-gigit pena meskipun bu guru berkali-kali mengingatkan bahwa cara terbaik untuk mulai menulis adalah menulis. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba terjadi kebakaran. Bu guru dan murid-muridnya segera berhamburan keluar. Belakangan beredar kabar bahwa gedung sekolahnya sengaja dibakar komplotan perusuh berlagak pahlawan. Saat itu situasi memang sedang rawan, penuh pergolakan. Tanpa menghiraukan bahaya, bocah bego itu malah sibuk mencari-cari pena yang terjatuh dari meja. Bu guru nekad menyusulnya, sementara api makin berkobar dan semua panik: jangan-jangan mereka ikut terbakar. Setelah pensiun, bu guru yang pintar itu sibuk mengurus kios koran kebanggaannya. Sedangkan muridnya yang suka bengong kini sedang lelap di kursi, matanya setengah terbuka. Koran pagi masih mengepul di atas meja. (2003) Tiada Tiada pengembara yang tak merindukan sebuah rumah, bahkan jika rumahnya hanya ada di balik iklan yang ia baca di perjalanan.

Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada di bingkai foto yang mulai kusam. Lebih baik punya ibu daripada punya rumah, kata temanku yang rumahnya konon baru enam sementara sosok ibunya belum juga ia temukan. Ya lebih baik punya keduanya, kata saya, dan entah mengapa airmatanya leleh perlahan. (2003) Rumah Cinta buat Wien & A’an Aku datang ke dalam engkau, ke rumah rantau yang melindap di antara dua bukit di mana senja mengerjap-ngerjap dalam kerlap birulangit. Ada sejoli celana berkibar-kibar di balik jendela: Hai, kami sedang belajar bahagia. Ada buku masih terbuka di atas meja dan ada ayat rahasia: Miskin mungkin bencana, tapi kaya juga cuma karunia. Aku pulang ke dalam engkau, ke rumah singgah yang terlindung di antara dua kubah di mana ia datang berkerudungkan bulan, merapikan tubuh yang berantakan dan berkata: Supaya tidurmu makin sederhana. (2003) Celana Tidur Walau punya bermacam-macam celana tidur, ia lebih suka tidur tanpa celana. Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya. Supaya tidurnya tidak rusak oleh celana. (2003) Teman Lama Ia muncul begitu saja di ambang pintu setelah lama

tidak bertemu. Matanya terkejut, kepalanya bergoyang kena hantam dentang jam di dinding ruang tamu. “Maafkan aku, kawan. Sekian tahun tak jumpa, aku mampir ke rumahmu hanya untuk numpang ke kamar mandi. Boleh, kan?” Petang itu saya sedang melamun di halaman koran. “Silahkan,” jawab saya singkat. Lalu ia meluncur cepat ke kamar mandi. Entah apa yang ia perbuat. Dari jauh berkali-kali saya mendengar ia mengumpat, meneriakkan bangsat, jahanam, keparat. Usai bergiat di kamar mandi, wajahnya dibalut misteri. “Setelah menjadi bintang panggung yang sukses, aku merasa ngeri dengan topeng culun di dinding kamar mandimu. Wajahnya sinis, dan aku tersinggung: kok tampang kami tampak makin akur saja.” Bukankah dia sendiri yang dulu menghadiahkan topeng itu kepada saya? Saya periksa si culun, wajahnya tetap saja begitu: dingin, menggoda, pemalu. Jangan-jangan tampang waktu memang bisa tampak berbeda-beda, tergantung siapa yang melihatnya, tergantung siapa yang dilihatnya. (2003) Dokter Mata Belakangan ini saya banyak mendapat gangguan mata. Apa dan siapa yang saya lihat sering tampak bergoyang. Bahkan mata saya kadang salah sangka. Saat bercermin, misalnya, saya merasa bahwa tuan yang sedang mengagumi saya adalah kenalan lama saya. Ternyata ia lupa dan mengajak kenalan ulang. Selain salah lihat, mata saya sering dianggap salah baca. Saya baca buku, buku bilang salah, baca lagi, salah lagi. Tak terkecuali buku-buku yang saya tulis sendiri. Malam ini sakit mata saya makin akut: nyeri, pusing, berdenyut-denyut. Maka datanglah seorang dokter mata: “Selamat malam, pasien.” Tanpa bicara ia periksa mata saya. “Dokter, apakah saya harus pakai kacamata?” “Tidak perlu kacamata. Hanya perlu dicungkil.” Dicungkil? Saya tidak dapat membayangkan mata saya harus diganti dengan mata buatan atau bekas mata orang lain. Saya diminta berdoa dan tidur tenang sementara ia akan menggarap mata saya. Subuh hari saya terbangun. Dokter mata sudah pergi. Aneh, semua terasa nyaman dan normal kembali. Saya segera mendatangi cermin langganan saya dan saya terkejut tiba-tiba bertemu dengan dokter mata itu. “Dokter, apakah Anda telah mengganti mata saya?” “Ah enggak. Aku cuma membersihkan dan merendam

matamu dalam airmataku, kemudian mengembalikannya seperti semula. Kau pangling dengan matamu?” “Terima kasih, Dokter.” Dan dokter mataku tampak ingin menangis, tapi ia tidak ingin aku melihat airmatanya. (2003) Sedekah Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah. Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan, sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah. “Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,” cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.” Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.” Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata. Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya. “Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,” ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato. Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah. Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan kepada entah siapa yang pantas menerimanya. (2003) Baju Bulan Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru, tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang, sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan. Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam? Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan, mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri rela telanjang di langit, atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang. (2003) Kekasihku

untuk Efaen Pacar kecil duduk manis di jendela, menemani senja. Senja, katanya, seperti ibu yang cantik dan capek setelah seharian dikerjain kerja. Ia bersiul ke senja seksi yang tinggal tampak kerdipnya: Selamat tidur, kekasihku. Esok pagi kau tentu akan datang dengan rambut baru. Kupetik pipinya yang ranum, kuminum dukanya yang belum: Kekasihku, senja dan sendu telah diawetkan dalam kristal matamu. (2003) Ibuku Ibu suka membacakan buku untuk menghantar tidurku. Aku terbuai mendengarkan ibu dan buku, mendengarkan ibuku, sambil membayangkan dan bertanya ini itu. Aku pun terlelap dalam mimpi, terbang ke tempat-tempat yang belum kukenali. Ketika bangun, kurasakan basah di celana. Wah, beta telah ngompol dalam dekapan bunda. Bila aku pamit sekolah, ibu tak pernah bilang jangan nakal dan bodoh, jangan membantah guru dan menyanggah buku. Ibu hanya mengecup jidatku: Buka hidupmu dengan buku. Pada saatnya beta harus meninggalkan bunda sebab tak bisa selamanya menyusu pada ibu. Aku harus mencari susu baru. Sambil menahan airmata, ibu memeluk dan menciumku: Pergilah. Terbanglah. Aku pun terbang bersayapkan buku ke antah-berantah yang bagiku sendiri masih entah. Ketika suatu saat aku pulang ke rumah ibu, ibu sudah menjadi buku yang tersimpan manis di rak buku. (2003) Rok Mini untuk Nenek Malam ini nenek bulan tampak kucel dan kusam. Langit seperti kain bekas yang dipakai untuk mengusap wajah seorang pesolek yang sedang muram. Pelukis kecil sedang gelisah di malam mungil. Gundah melihat neneknya yang dekil. “Tunggu sebentar ya, Nek, kubikinkan sesuatu untukmu.” Dengan pinsil warna-warni dirajutnya raut mimpi yang masih murni. “Kok seperti gambar rok mini?” Nenek bulan tersenyum geli. “Ini rok mini untukmu, Nek. Harganya mahal sekali. Pakailah supaya kau tampak seksi.”

Berdua mereka tertawa. Lupa waktu, lupa derita. “Sudah. Nenek pulang dulu. Belajarlah. Nanti ibumu marah. Besok kau harus sekolah.” Pelukis kecil sudah ngantuk dan lelah, lalu tertidur sebelum sempat merampungkan banyak pekerjaan rumah. (2003) Di Bawah Pohon Cemara Di bawah pohon cemara gadis kecil itu sejak tadi duduk termenung. Ia ingin datang ke pesta ulang tahun temannya, tapi malu dengan bajunya yang rombeng dimakan waktu. Matanya menerawang memandang kerlap-kerlip lampu di dinding gereja. Seorang sahabatnya datang mendekat, bajunya putih gemerlap. Sambil makan permen mereka berbincang hangat. “Pergilah ke pesta. Kau bisa memakai bajuku dan aku tak akan malu memakai bajumu.” Di bawah pohon cemara mereka bertukar baju. Pulang dari gereja, ia tak melihat lagi sahabatnya padahal ia ingin mengembalikan bajunya. Hanya ada bungkus permen bertebaran di bawah pohon cemara. Tiba-tiba, “Hai, aku di sini!” Ia mendongak ke langit. Ia terpana melihat bintang Natal memamerkan bajunya. “Itu bajuku!” ia berseru dalam hati. Dengan mata berkaca-kaca dilambaikannya tangannya ke atas sana. Di bawah pohon hujan gadis kecil itu sejak tadi duduk berteduh. Ia kesepian menunggu temannya yang tadi ia pinjami bajunya. Daun-daun hujan berguguran sepanjang subuh. (2003) Penjual Kalender Pawai tahun baru baru saja dibubarkan sepi. Sisa suara terompet berceceran, sebentar lagi basi. Lelaki tua berulang kali menghitung receh di tangan, barang dagangannya sedikit sekali terbeli. “Makin lama waktu makin tidak laku,” ia berkeluh sendiri. Anaknya tertidur pulas di atas tumpukan kalender yang sudah mereka jajakan berhari-hari. Lelaki tua membangunkan anaknya. “Tahun baru sudah tiba, Plato. Ayo pulang. Besok kembalikan saja kalender-kalender ini kepada pengrajin waktu.”

Perempuan itu masih setia menanti ketika dua orang pejuang pulang dinihari. “Selamat tahun baru, tuan-tuan!” Tuan besar segera mampus dihajar kantuknya. Tuan kecil segera ingin menyambung tidurnya. Ibunya menepuk pantatnya: “Kau telah dinakali waktu, Buyung? Kok tubuhmu terhuyung-huyung?” Ia ibu yang pandai merawat waktu. Terberkatilah waktu. Dengan sabar dibongkarnya tumpukan kalender itu. Ha! Berkas-berkas kalender itu sudah kosong, ribuan angka dan hurufnya lenyap semua. Dalam sekejap ribuan kunang-kunang berhamburan memenuhi ruangan. (2003) Cita-cita Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela. Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk, uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat. Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra, “Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu. Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.” (2003) Kepada Puisi Kau adalah mata, aku airmatamu. (2003)

Sajak-sajak 2004
Celana Ibu Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah. Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawakan celana yang dijahitnya sendiri dan meminta Yesus untuk mencobanya. “Paskah?” tanya Maria. “Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira. Mengenakan celana cinta buatan ibunya, Yesus naik ke surga. (2004) Selepas Usia 60 Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela, mengamati tingkah anak kecil yang lucu-lucu. Saat sekecil mereka saya baru fasih mengucapkan nana, maksudnya celana, dan saya belajar keras memakai celana dan sering keliru: kadang terbalik, kadang seliritnya menjepit dindaku. Ibu curang: diam-diam mengintip lewat celah pintu. Baru setelah ananda terjengkang karena dua kaki masuk ke satu lubang, ibu buru-buru menyayang-nyayang pantatku: Jangan menangis, jagoanku. Celana juga sedang belajar memakaimu. Kasihan ibu, sering didera kantuk hingga jauh malam, menjahit celana saya yang cidera. Sampai sekarang kadang tusukan jarumnya, auw, masih terasa di pantat saya. Saya masih berdiri di muka jendela, memperhatikan seorang bocah culun, dengan celana bergambar Superman, sedang ciat-ciat bermain silat. Tiba-tiba ia berhenti. Bingung. Seperti ada yang tidak beres dengan celananya. Oh, gambar Superman-nya rontok. Ia cari, tidak ketemu. Lalu ibunya datang menjemput. Senja yang dewasa mulai merosot. Tubuh yang penakut mendadak ribut. Yeah, ini celana diam-diam mau melorot. Saat mau tidur baru saya tahu: hai, ada gambar Superman di celanaku. (2004) Penjual Bakso

Hujan-hujan begini, penjual bakso dan anaknya lewat depan pintu rumahku. Ting ting ting. Seperti suara mangkok dan piring peninggalan ibuku. Berulang kali ting ting ting, tak ada yang keluar membeli bakso. Tak ada peronda duduk-duduk di gardu. Semua sedang sibuk menghangatkan waktu. Aku tak ingin makan bakso, tapi tak apalah iseng-iseng beli bakso. Aku bergegas mengejar tukang bakso ke gardu ronda. Bakso! Terlambat. Penjual bakso dan anaknya sedang gigih makan bakso. Airmata penjual bakso menetes ke mangkok bakso. Anak penjual bakso tersengal-sengal, terlalu banyak menelan bakso. Kata penjual bakso kepada anaknya, “Ayo, Plato, kita habiskan bakso kita. Kasihan ibumu.” Mereka yang makan bakso, aku yang muntah bakso. (2004) Buah Bulan Duduk sendirian di bawah pohon cemara, peri waktu yang kesepian menimang-nimang buah bulan yang hijau muda. Buah bulan ditaruh di atas meja, dikupas, dibelah-belah, lalu dimakannya. Dari jendela kamar lantai tiga belas perempuan itu hanya bisa menggerutu, “Bangsat benar itu bangsat. Tak secuil pun ia sisakan. Padahal itu buahku.” (2004) Ranjang Ibu Ia gemetar naik ke ranjang, sebab menginjak ranjang serasa menginjak rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang. Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit, serasa terdengar gemeretak tulang ibunya yang sedang terbaring sakit. (2004) Telepon Tengah Malam Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja. Sudah sering aku terima telepon dan bertanya “siapa ini?”, jawabnya cuma “ini siapa?”. Ada dering telepon, panjang dan keras,

dalam rongga dadaku. “Ini siapa, tengah malam telepon? Mengganggu saja.” “Ini Ibu, Nak. Apa kabar?” “Ibu! Ibu di mana?” “Di dalam.” “Di dalam telepon?” “Di dalam sakitmu.” Ah, malam ini tidurku akan nyenyak. Malam ini sakitku akan nyenyak tidurnya. (2004) Aku Tidur di Remang Tubuhmu Aku tidur di remang tubuhmu sampai kau lelap dalam ombak dan deru. Saat ombak surut dan waktu terbungkus kabut, mimpi baru setengah jadi. “Ayo melaut lagi!” Melautlah lagi. Aku sedang mati. (2004) Hijrah Setelah tugas-tugas di ranjang kubereskan, badai kuredakan, aku hijrah ke jauh tubuhmu, menyusuri jalan setapak yang terjal berliku, melintasi daerah-daerah berbahayamu, sebelum sampai di perhentian terakhir di mana aku disalibkan di sebuah ujung dan tubuhmu tinggal raung. (2004) Batuk Batuk, beri aku letusan-letusan lembutmu untuk menggempur limbah waktu yang membatu di rongga dadaku. (2004) Matakata Matakata menyala melihat tetes darah di matapena. (2004) Penyair Panggung

untuk Landung Simatupang Tubuhnya lebih dari puisi, penuh getar dan getir bunyi. Sekali ia menyentuh panggung, waktu seakan linglung dihajar tenung. Di remang ruang tubuhnya menyala sehingga sunyi terlihat jelas posturnya. (2004) Bola Permainan sudah selesai. Perburuan tak akan usai. Kostum, bendera, spanduk bertebaran di pinggir arena. Ribuan penonton telah pulang meninggalkan stadion, tempat yang kalah dan yang menang bertukar celana. Maafkan kami yang tak juga paham rahasia bola. Di tengah lapangan Maradona masih menari di atas bola: bulatan nasib yang selembut doa; buntalan daging yang membalut kandungan bunda, tempat janin kudus mengarungi hari-hari agung penciptaan; puisi pengembara yang ditenun dari benang-benang aksara. Aku ingin masuk ke dalam bola, ingin meringkuk di sana. (2004) Dengan Kata Lain Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek. Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat tukang ojek yang, astaga, adalah guru Sejarah-ku dulu. “Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung,” beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah. “Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?” Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah. Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan. Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja. Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran. Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman. Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba bangkit berdiri dan berseru padaku: “Dengan kata lain, kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu.”

(2004) Satu Celana Berdua untuk Butet Kartaredjasa dan Djaduk Ferianto Dua anak jalanan bertemu di bawah jembatan di malam hujan. Setelah berkenalan, berbagi dingin dan lapar, mereka tidur berdua dalam satu celana. Suatu hari mereka berpisah juga, mencari jalan hidup sendiri-sendiri. Siapa sangka mereka akan jadi bintang. Mereka berjumpa kembali di atas panggung, sekian tahun kemudian. Yang satu pandai menirukan suara bermacam-macam orang, yang lain pintar memainkan beragam bunyi dan bunyi-bunyian. Sejak itu kami sering berburu bunyi dan berburu suara bersama. Bila kami bertemu pengamen kecil di bawah jembatan, kami suka bersitegang. “Dia mirip kamu,” kata saya. Dia balik menuding: “Kamu yang mirip dia.” Kami sendiri masih merasa seperti gelandangan kecil yang berkeliaran di jalanan, mengamen siang malam, untuk mencari tahu siapa ibubunyi dan ibusuara yang telah mempertemukan kami di sebuah celana. (2004) Februari yang Ungu Februari yang ungu berderai pelan sepanjang malam, menyirami daun-daun kalender yang mulai kering. Aku melangkah ke dinding, membetulkan penanggalan yang tampak miring. “Jangan gemetar. Aku baik-baik saja. Tua cuma perasaan,” kata kalenderku yang pendiam. Kuhitung berapa tanggal telah tanggal, berapa pula tinggal tangkai. Sambil menggigil kalenderku berpesan, “Jangan mau dipermainkan angka. Tua cuma pikiran.” Kalenderku suka tertawa membaca catatan yang kutulis dengan tinta merah jingga: Ah, bulan terlambat datang. Ah, bulan datang terlambat. Oh, datang bulan terlambat. Februari yang ungu kuncup mekar sepanjang malam pada tangkai-tangkai kalender yang mulai gersang. (2004) Kosong

Rumah masih saja terasa hampa walau sudah kuisi dengan berbagai macam barang berharga. Kamar tamu terasa sepi walau kau tahan menunggu dalam rinduku. Kamar tidur terasa mati walau kau rajin mendengkur dalam tidurku. Kamar mandi terasa sunyi walau kau suka menggigil dalam mandiku. Aku sering bengong dan pusing memikirkan apa yang membuat rumahku terasa kosong dan asing. Mudah-mudahan bukan karena aku terlampau banyak memasang fotoku di hampir semua dinding. (2004) Rumah Sakit Rumah adalah rumah sakit yang paling nyaman dan murah, sebab, kalau mau, kau bisa sakit sepuasmu. Ada perawat seksi yang, meskipun bawel, tak pernah bosan menemanimu, sangat sabar mengasuh sakitmu supaya makin kuat dan dewasa dan makin mengasihimu. Sementara nafasmu terengah-engah dan nyerimu bertambah parah, enak saja ia bicara, “Hanya orang lemah yang tak mau sakit.” Bahkan ia suka menantang, “Kalau mau sakit, jangan setengah-setengah.” Perawat yang satu ini selalu hadir di setiap sudut rumah. Di album foto yang banyak bercerita tentang masa kecil kurang bahagia. Di almarhum kalender yang cuma bisa meninggalkan sekian banyak rencana. Di ruang tidur yang penuh dengan insomnia. Di kamar mandi yang saat kau mandi pintunya tetap kaukunci walau kau cuma sendirian di rumah — entah kau takut atau malu pada siapa. Di robekan celana yang kaujahit malam-malam sambil tersedu-sedu sehingga kau malah menjahit jarimu. Bila tak ada lagi obat yang kauanggap mujarab, dengan lembut dan hangat perawatmu mencium jidatmu: “Minumlah aku, telanlah aku, makanlah aku.” (2004) Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu untuk lukisan Jeihan Di kotakata masih ada mata yang hening pandang. Matawaktu, matasunyi: memanggil, menelan. Seperti gua yang menyimpan hangat di dalam. Ceruk cinta yang haus warna. Ceruk perempuan. Malam ini aku akan tidur di matamu.

(2004) Bunga Azalea Bunga azalea tumbuh liar di bawah jendela. Mekar, segar, dan bercahaya. Bunga paling pacar, paling disayang waktu. Bunga yang kubawa dari lembah Maria. Bunga azalea tumbuh liar di rimbun aksara. Mekar, segar, dan bersahaja. (2004) Aku Tidak Bisa Berjanji Aku tidak bisa berjanji akan datang ke dalam pesta di mana akan kaupertemukan aku dengan sajak-sajakku, seperti mempertemukan dua anak rantau yang lama memendam rindu tapi pura-pura sungkan bertemu. Sajakku hanya sisa tangis seorang bocah yang ditinggal ibunya pergi cari obat dan tidak juga kembali, sementara panas tubuhnya terus meninggi. “Cepat pulang, Bu!” Bocah itu tampak bahagia duduk bersamamu di pesta. Tapi aku tidak bisa berjanji akan datang ke sana. (2004)

Sajak-sajak 2005
Malam Insomnia Tenang saja, tak usah khawatir. Aku berani pergi sendiri ke kamar mandi. Aku akan baik-baik saja. Tak ada hantu yang perlu ditakuti. Oh tidak, aku tidak akan bunuh diri di kamar mandi. Aku akan segera kembali. Dari tempatku terbaring sayup terdengar suara bocah sedang menjerit-jerit ketakutan. Kemudian hening. Setelah itu ia tertawa nyaring. Bu, aku sudah selesai mandi. Di kamar mandi aku sempat berjumpa dengan gembong sepi nan gondrong rambutnya. Bagus. Nyalakan matamu. Segera tuliskan kata-katamu dengan sisa-sisa sakitmu sebelum aku goyah, berderak, rebah karena tak sanggup lagi menampung gelisah tidurmu yang semakin parah. Baiklah. Doakan menang ya, Bu. Aku akan duel dengan harimau merah yang sering merusak tidurku. (2005) Pesan dari Ayah Datang menjelang petang, aku tercengang melihat Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam di bawah pohon sawo di belakang rumah. Ibu yang membelikan Ayah telepon genggam sebab Ibu tak tahan melihat kekasihnya kesepian. “Jangan ganggu suamiku,” Ibu cepat-cepat meraih tanganku. “Sudah dua hari ayahmu belajar menulis dan mengirim pesan untuk Ibu. Kasihan dia, sepanjang hidup berjuang melulu.” Ketika pamit hendak kembali ke Jakarta, aku sempat mohon kepada Ayah dan Bunda agar sering-sering telepon atau kirim pesan, sekadar mengabarkan keadaan, supaya pikiranku tenang. Ayah memenuhi janjinya. Pada suatu tengah-malam telepon genggamku terkejut mendapat kiriman pesan dari Ayah, bunyinya: “Sepi makin modern.” Langsung kubalas: “Lagi ngapain?” Disambung:

“Lagi berduaan dengan ibumu di bawah pohon sawo di belakang rumah. Bertiga dengan bulan. Berempat dengan telepon genggam. Balas!” Kubalas dengan ingatan: di bawah pohon sawo itu puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan, lalu Ayah membopong tubuhku yang masih lugu dan membaringkannya di ranjang Ibu. (2005) Pohon Cemara Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi, dari jauh terlihat tenang dan tinggi. Jaman berubah cepat, andaikan nasib bisa diralat, dan pohon cemara masih saja serindang mimpi. Pada dahannya masih tergantung sepotong celana: gambar panah di pantat kanan, gambar hati di pantat kiri; dicumbu angin ia menari-nari. Burung bulan suka bersarang di ranting-rantingnya, bulunya berhamburan di tangkai-tangkainya. Aku pulang di malam yang tak kauduga. Halo, itu celana kok sudah beda pantatnya: panah telah patah, hati telah berdarah; darahnya kausimpan di botol yang tak mudah pecah. (2005) Winternachten, 2002 Magrib memanggilku pulang ketika salju makin meresap ke sumsum tulang. Pulang ke hulu matamu agar bisa mencair dan menjadi airmatamu. Musim tidak berbaju, badan dimangsa hujan, dan magrib mengajakku pulang. Pulang ke suhu bibirmu agar bisa menghangat dan menjadi kecupkenyalmu. Menggigil adalah menghafal rute menuju ibukota tubuhmu. (2005)

Rambutku adalah Jilbabku Dua gunting gila menari-nari di atas rambutnya. Anda ingin model yang mana? Mendongak ragu, ia berkata, “Rambutku adalah jilbabku.” Tujuh warna muda melintas-lintas membujuk matanya. Anda ingin warna yang mana? Mengangkat dagu, ia berkata, “Rambutku adalah jilbabku.” Senja yang sedang bingung mondar-mandir di atas keningnya kemudian tertidur di alur alisnya. Tersentuh waktu, rambutnya serupa rumpun putrimalu. (2005) Mobil Merah di Pojok Kuburan Mobil merah di pojok kuburan menderam-deram menyambut malam. Lampu dinyalakan, klakson dibunyikan. Di remang sunyi kembang jepun berguguran. Lelaki tua sibuk berdandan, di kaca spion wajahnya terlihat tampan. Rambutnya harum, licin mengkilat, lalat yang hinggap bakal terjerembab. Kadang ia bersiul, dasi dan jas ia rapikan. Rokok dihisap, asap dikepul-kepulkan. Telepon genggam tak juga bilang kapan si dia bakal muncul dari seberang. Tiba-tiba ia terpana, pandangnya heran: ada gadis kecil lewat, bersenandung pelan, mendaki bukit, menyunggi bulan, sekali-sekali menoleh ke belakang. Mobil merah di pojok kuburan serupa mobil-mobilan yang dulu hilang. Musik dihidupkan, mata dipejamkan. Di terang sepi kembang jepun bermekaran. (2005) Sehabis Sembahyang

Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku. Terima kasih atas segala pemberianmu, mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya agar aku bisa lebih cepat mencapaimu. Sementara aku masuk ke rumahmu, kau malah pergi ke kantor pos kecamatan, mengambil jatah santunan seratus ribu. Berbekal kartu tanda miskin, kau rela antri berjam-jam hingga bajumu yang masih baru langsung luntur oleh cucuran peluhmu. Kau sempat menangis dan pingsan karena uang yang dengan susah payah kaudapatkan langsung amblas dirampas orang. Kulipat dan kusimpan baju sembahyangku di bawah bantal supaya tenang tidurku. Di saku kirinya terselip kartu tanda miskinmu, di saku kanannya kutemukan uang seratus ribu. (2005) Aceh, 26 Desember 2004 Gema lonceng Natal masih bergetar di kaca jendela ketika Aceh meleleh di kelopak mataku, menetes deras ke dalam gelas di atas meja perjamuanmu. (2005) Harga Duit Turun Lagi Mengapa bulan di jendela makin lama makin redup sinarnya? Karena kehabisan minyak dan energi. Mimpi semakin mahal, hari esok semakin tak terbeli. Di bawah jendela bocah itu sedang suntuk belajar matematika. Ia menangis tanpa suara: butiran bensin meleleh dari kelopak matanya. Bapaknya belum dapat duit buat bayar sekolah. Ibunya terbaring sakit di rumah. Malu pada guru dan teman-temannya, coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan. Dadah Ayah, dadah Ibu….

Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya. Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya. Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kemiskinan kami…. (2005) Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita? Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan dari cengkraman luka. (2005) Himne Becak Dua puluh tahun yang lalu aku melihatmu sedang melamun di dalam becak yang kauparkir di depan warung makan Sabar Menanti. Petugas ketertiban kota datang menggarukmu: becak dan si tukang becak diangkut mobil patroli. Sepuluh tahun kemudian aku melihatmu sedang mengantuk di dalam becak yang kauparkir di depan rumah makan Sabar Menanti. Petugas ketertiban kota datang menggarukmu: becak segera diangkut mobil patroli, si tukang becak dipersilakan pulang berjalan kaki. Dan malam ini, sayang, aku melihatmu sedang mendengkur di dalam becak yang kauparkir di depan restoran Sabar Menanti. Petugas ketertiban kota mengayuh becakmu, membawamu pergi ke tempat yang sepi sambil tetap membiarkanmu dininabobokan mimpi. Tidurmu begitu manjur sampai kau tak tahu bahwa becakmu sedang parkir di depan kuburan. Aku tinggal rintik-rintik hujan ketika subuh datang, ketika kau menggeliat dan berbisik lantang sepanjang azan, dan becakmu dicari-cari penumpang. (2005)

Sajak-sajak 2005
Malam Insomnia Tenang saja, tak usah khawatir. Aku berani pergi sendiri ke kamar mandi. Aku akan baik-baik saja. Tak ada hantu yang perlu ditakuti. Oh tidak, aku tidak akan bunuh diri di kamar mandi. Aku akan segera kembali. Dari tempatku terbaring sayup terdengar suara bocah sedang menjerit-jerit ketakutan. Kemudian hening. Setelah itu ia tertawa nyaring. Bu, aku sudah selesai mandi. Di kamar mandi aku sempat berjumpa dengan gembong sepi nan gondrong rambutnya. Bagus. Nyalakan matamu. Segera tuliskan kata-katamu dengan sisa-sisa sakitmu sebelum aku goyah, berderak, rebah karena tak sanggup lagi menampung gelisah tidurmu yang semakin parah. Baiklah. Doakan menang ya, Bu. Aku akan duel dengan harimau merah yang sering merusak tidurku. (2005) Pesan dari Ayah Datang menjelang petang, aku tercengang melihat Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam di bawah pohon sawo di belakang rumah. Ibu yang membelikan Ayah telepon genggam sebab Ibu tak tahan melihat kekasihnya kesepian. “Jangan ganggu suamiku,” Ibu cepat-cepat meraih tanganku. “Sudah dua hari ayahmu belajar menulis dan mengirim pesan untuk Ibu. Kasihan dia, sepanjang hidup berjuang melulu.” Ketika pamit hendak kembali ke Jakarta, aku sempat mohon kepada Ayah dan Bunda agar sering-sering telepon atau kirim pesan, sekadar mengabarkan keadaan, supaya pikiranku tenang. Ayah memenuhi janjinya. Pada suatu tengah-malam telepon genggamku terkejut mendapat kiriman pesan dari Ayah, bunyinya: “Sepi makin modern.” Langsung kubalas: “Lagi ngapain?” Disambung:

“Lagi berduaan dengan ibumu di bawah pohon sawo di belakang rumah. Bertiga dengan bulan. Berempat dengan telepon genggam. Balas!” Kubalas dengan ingatan: di bawah pohon sawo itu puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan, lalu Ayah membopong tubuhku yang masih lugu dan membaringkannya di ranjang Ibu. (2005) Pohon Cemara Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi, dari jauh terlihat tenang dan tinggi. Jaman berubah cepat, andaikan nasib bisa diralat, dan pohon cemara masih saja serindang mimpi. Pada dahannya masih tergantung sepotong celana: gambar panah di pantat kanan, gambar hati di pantat kiri; dicumbu angin ia menari-nari. Burung bulan suka bersarang di ranting-rantingnya, bulunya berhamburan di tangkai-tangkainya. Aku pulang di malam yang tak kauduga. Halo, itu celana kok sudah beda pantatnya: panah telah patah, hati telah berdarah; darahnya kausimpan di botol yang tak mudah pecah. (2005) Winternachten, 2002 Magrib memanggilku pulang ketika salju makin meresap ke sumsum tulang. Pulang ke hulu matamu agar bisa mencair dan menjadi airmatamu. Musim tidak berbaju, badan dimangsa hujan, dan magrib mengajakku pulang. Pulang ke suhu bibirmu agar bisa menghangat dan menjadi kecupkenyalmu. Menggigil adalah menghafal rute menuju ibukota tubuhmu. (2005)

Rambutku adalah Jilbabku Dua gunting gila menari-nari di atas rambutnya. Anda ingin model yang mana? Mendongak ragu, ia berkata, “Rambutku adalah jilbabku.” Tujuh warna muda melintas-lintas membujuk matanya. Anda ingin warna yang mana? Mengangkat dagu, ia berkata, “Rambutku adalah jilbabku.” Senja yang sedang bingung mondar-mandir di atas keningnya kemudian tertidur di alur alisnya. Tersentuh waktu, rambutnya serupa rumpun putrimalu. (2005) Mobil Merah di Pojok Kuburan Mobil merah di pojok kuburan menderam-deram menyambut malam. Lampu dinyalakan, klakson dibunyikan. Di remang sunyi kembang jepun berguguran. Lelaki tua sibuk berdandan, di kaca spion wajahnya terlihat tampan. Rambutnya harum, licin mengkilat, lalat yang hinggap bakal terjerembab. Kadang ia bersiul, dasi dan jas ia rapikan. Rokok dihisap, asap dikepul-kepulkan. Telepon genggam tak juga bilang kapan si dia bakal muncul dari seberang. Tiba-tiba ia terpana, pandangnya heran: ada gadis kecil lewat, bersenandung pelan, mendaki bukit, menyunggi bulan, sekali-sekali menoleh ke belakang. Mobil merah di pojok kuburan serupa mobil-mobilan yang dulu hilang. Musik dihidupkan, mata dipejamkan. Di terang sepi kembang jepun bermekaran. (2005) Sehabis Sembahyang

Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku. Terima kasih atas segala pemberianmu, mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya agar aku bisa lebih cepat mencapaimu. Sementara aku masuk ke rumahmu, kau malah pergi ke kantor pos kecamatan, mengambil jatah santunan seratus ribu. Berbekal kartu tanda miskin, kau rela antri berjam-jam hingga bajumu yang masih baru langsung luntur oleh cucuran peluhmu. Kau sempat menangis dan pingsan karena uang yang dengan susah payah kaudapatkan langsung amblas dirampas orang. Kulipat dan kusimpan baju sembahyangku di bawah bantal supaya tenang tidurku. Di saku kirinya terselip kartu tanda miskinmu, di saku kanannya kutemukan uang seratus ribu. (2005) Aceh, 26 Desember 2004 Gema lonceng Natal masih bergetar di kaca jendela ketika Aceh meleleh di kelopak mataku, menetes deras ke dalam gelas di atas meja perjamuanmu. (2005) Harga Duit Turun Lagi Mengapa bulan di jendela makin lama makin redup sinarnya? Karena kehabisan minyak dan energi. Mimpi semakin mahal, hari esok semakin tak terbeli. Di bawah jendela bocah itu sedang suntuk belajar matematika. Ia menangis tanpa suara: butiran bensin meleleh dari kelopak matanya. Bapaknya belum dapat duit buat bayar sekolah. Ibunya terbaring sakit di rumah. Malu pada guru dan teman-temannya, coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan. Dadah Ayah, dadah Ibu….

Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya. Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya. Berilah kami rejeki pada hari ini dan ampunilah kemiskinan kami…. (2005) Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita? Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan dari cengkraman luka. (2005) Himne Becak Dua puluh tahun yang lalu aku melihatmu sedang melamun di dalam becak yang kauparkir di depan warung makan Sabar Menanti. Petugas ketertiban kota datang menggarukmu: becak dan si tukang becak diangkut mobil patroli. Sepuluh tahun kemudian aku melihatmu sedang mengantuk di dalam becak yang kauparkir di depan rumah makan Sabar Menanti. Petugas ketertiban kota datang menggarukmu: becak segera diangkut mobil patroli, si tukang becak dipersilakan pulang berjalan kaki. Dan malam ini, sayang, aku melihatmu sedang mendengkur di dalam becak yang kauparkir di depan restoran Sabar Menanti. Petugas ketertiban kota mengayuh becakmu, membawamu pergi ke tempat yang sepi sambil tetap membiarkanmu dininabobokan mimpi. Tidurmu begitu manjur sampai kau tak tahu bahwa becakmu sedang parkir di depan kuburan. Aku tinggal rintik-rintik hujan ketika subuh datang, ketika kau menggeliat dan berbisik lantang sepanjang azan, dan becakmu dicari-cari penumpang. (2005)

Sajak-sajak 2007
Jalan Sunyi Ada jalan kecil menuju kebunmu: ada hujan mungil merayap pelan ke liang kuburku. (2007)

Gambar Hati Versi Penyair Seperti dua koma bertangkupan. Dua koma dari dua kamus yang berbeda dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi. (2007)

Puisi Telah Memilihku Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi di antara baris-barisnya yang terang. Dimintanya aku tetap redup dan remang. (2007)

Sajak Panjang Apa nama jalan menuju judul, sajakku? Namanya jalan panjang, penyairku. (2007)

Beethoven: Minuet in G Major Ucapkan selamat tidur kepada matamu. Matamu sebentar lagi jadi kunang-kunangku.

(2007)

Di Kalvari SalibMu tinggi sekali. Ya, lebih baik kaupanjat tubuhmu sendiri. (2007)

Gaun Tidur Gaun tidurku menyembunyikanmu. Seperti doa yang ganas, kau merasuk ke panas darahku. Gaun tidurku basah olehmu. (2007)

Bangkai Banjir Rumahku keranda terindah untuknya. (2007)

Penjahat Berdasi Ia mati dicekik dasinya sendiri. (2007)

Jalan ke Surga Jalan menuju kantorMu macet total oleh antrean mobil-mobil curianku. (2007)

Kambing Hitam Kambing hitam sebentar lagi akan disembelih untuk korban persembahan. Kepada tukang jagal yang akan menggorok lehernya ia berkata: “Ketika lahir, buluku warnanya putih.” (2007)

Taman Hiburan Negara Ini tempat umum, bung. Dilarang melamun sembarangan di sini. (2007)

Seribu Kunang-kunang di Jakarta Gadis kecil jalan seorang dengan payung hitam. Tangannya gemetar menjinjing bulan dalam keranjang. (2007)

Mata Rindu Kelopak matamu pelan-pelan terbuka, mekar menjadi kupu-kupu, hinggap di kuncup mataku. (2007)

Malam Pemadat

Pilin dan padatkan aku menjadi sebatang candu, hisap dan bakarlah sampai berkobar di tubuhmu. Jika habis kopimu, seduh dan minumlah abuku sampai menguap di pori-porimu. (2007)

Cermin Aku bercermin pada wajahmu: airmataku berkilauan di kristal matamu. (2007)

Mata/Bulan Bulan tak akan meminta kembali cahaya yang telah dicurahkannya ke matamu supaya bila redup atau tertutup awan ia masih bisa melihat kecantikannya yang tak pernah padam. (2007)

Rambut Di rambutmu diam-diam tumbuh seutas rambutku yang kelak akan jadi uban terakhir di kepalamu. (2007)

Panta Rei Aku mengalir, kau gemercik sampai ke hilir. (2007)

Jeritan Bayi di Dasar Jurang merontokkan semua huruf “a” dalam doaku yang bawel dan manja. (2007)

Teringat Masa Kecil Saat Bermain Bola di Bawah Purnama Seperti bola pingpong memantul-mantul di atas kening, bergulir pelan ke tebing tidurku yang hening, melenting, menggelinding…. (2007)

Pemalu Gadungan Ada apa di balik matanya yang tampak pemalu? Ada lampu kecil yang terus menyala. Ada buku hijau yang selalu terbuka. (2007)

Rambut Curian Aku beruntung bisa mencuri sehelai rambutmu dan menanamnya di tubuhku sampai tumbuh subur dan lucu. Mungkin kata-kata juga seperti rambut. Hitam di kamu, bisa jadi pirang di aku. (2007)

Rumah Horor Hiii…, Aku merinding masuk ke rumahmu: semua dindingnya penuh dengan fotomu!

(2007)

Rumah Parkir Seluruh bagian rumahmu sudah jadi tempat parkir sampai tak ada lagi ruang untukKu. (2007)

Celana Mimpi Senja membuatkanku celana mimpi. Saat kucoba warnanya jingga, saat kupakai berubah jadi hitam sekali. (2007)

Sukabumi Jika nanti aku tamat, kibarkan celanaku yang dulu hilang di atas makamku. (2007)

Susu Rindu buat Akmal Nasery Basral Ada seseorang di kepalamu yang mirip ibumu. Setiap subuh ia teteskan susu rindu ke kuncup kecil kata-katamu. (2007) *Akmal Nasery Basral menulis cerpen “Ada Seseorang di Kepalaku yang bukan Aku” (2006)

Koruptor Di jidatnya tertera rajah tulisan “Dilarang Mencuri”. (2007)

Kaki Negara Kakiku telah kaujadikan kaki kursimu. Jangan duduk terlalu lama, nanti kakiku patah, kursimu rebah, pantatmu pecah. (2007)

Aku Tak Pergi Ronda Malam Ini Aku doakan semoga aman-aman saja. Kalau nanti bertemu maling, ajak dia ke rumahku. Hasil curiannya bisa kita bagi bertiga. (2007)

Duel Ayo, buku, baca mataku! (2007)

Insomnia Mata tak pernah mati sebab ada mata-mata yang mondar-mandir antara mata kanan dan mata kiri. (2007)

Pagi Sehabis Hujan Pertama Bayi matahari yang baru lahir merangkak pelan ke hijau pipimu, memungut embun merah jambu di sudut matamu. (2007)

Terang Bulan Di bawah jembatan layang bocah lima tahun berkelahi dengan bayangannya sendiri. Uh! Ia mengerang. Perutnya yang kembung kena tendang. (2007)

Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam Sepi meletus. Suaranya yang lucu mengagetkan tato macan yang sedang mengaum di tubuhmu. (2007)

Seorang Februari “Aku sedang bersama hujan, kedinginan. Bisa jemput aku? Aku mendapat nomormu dari teman dekatku, telepon genggam.” “Bukankah engkau seorang februari? Aku sedang menggigil di tubuhmu.” Padahal mereka belum pernah bertemu. (2007)

Kepada Cinta kado buat Iyut & Jamila Menarilah di atas tubuhku, cinta hingga bangkitlah kata-kataku yang mati muda. (2007)

Kepada Helen Keller Mataku berhutang kepada matamu. Mataku sering meminjam cahaya matamu untuk menulis dan membaca ketika tubuhku padam dan gelap gulita. (2007)

Pembangkang Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan. Tidak jelas, ia peronda yang kesepian atau pencuri yang kebingungan. Dari arah belakang muncul seorang pengarang yang kehilangan jejak tokoh cerita yang belum selesai ditulisnya. “Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang melamun di sini. Ayo pulang!” Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang. (2007)

Selamat Malam, Jenderal Ia punya tato jenderal di tubuhnya. Selamat malam, jenderal. Aku mau tidur. Dengan sigap jenderal kecilnya segera berkeliling memeriksa tubuhnya. Kau tak tersiksa tiap malam kuinjak-injak? Tidak tersiksa, jenderal, malah terhormat.

Dan tidurlah ia, sementara jenderal rindu yang lucu dan perkasa itu tetap berjaga sebab siapa tahu berandalan sepi datang mengobrak-abrik tubuh tuannya. (2007)

Puasa kepada penyair Haspahani Saya sedang mencuci celana yang pernah saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri. Saya sedang mencuci kata-kata dengan air mata yang saya tabung setiap hari. Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puisi. (2007)

Doa Sebelum Tidur : Hudan Berkatilah birahi kami agar bisa kami cecap sabda yang sudah menjadi daging ini. Agar bisa kami nyalakan lagi sunyi yang mudah mati oleh tubuh yang bising ini. (2007)

Angkringan Lapar mengajak saya ke warung angkringan di pinggir jalan. Tuan pedagang angkringan sedang ketiduran. Ia batuk-batuk, mengerang, kemudian ia betulkan batuknya yang sumbang.

Saya makan dua bungkus nasi kucing. Saya bikin kopi sendiri, ambil rokok sendiri. Saya bayar, saya hitung sendiri. “Kembaliannya untuk Tuan saja,” kata saya dalam hati. Lalu saya pamit pulang. “Selamat tidur, pejuang.” Tuan pedagang angkringan terbangun. “Tunggu, jangan tinggalkan saya sendirian!” Setelah semuanya ia bereskan, ia paksa saya segera naik ke atas gerobak angkringan. ”Berbaringlah, Tuan. Saya antar Tuan pulang.” Amboi, saya telentang kenyang di atas gerobak angkringan yang berjalan pelan menyusuri labirin malam. Saya terbuai, terpejam. Seperti naik perahu di laut terang, meluncur ringan menuju rumah impian nun di seberang. Samar-samar saya lihat bayangan seorang ibu sedang meninabobokan anaknya dalam ayunan: Tidurlah, tidur, tidurlah anakku tersayang…. (2007)

Tukang Potret Keliling Cita-citanya tinggal satu: memotret seorang pujangga yang ia tahu tak pernah suka diambil gambarnya. Ia ingat bual seorang peramal: “Kembaramu akan berakhir pada paras seorang penyair.” Demikianlah, dengan tangan gemetar, ia berhasil mencuri wajah penyair pendiam itu dengan tustelnya. Ia bahagia, sementara sang pujangga terpana: “Ini wajahku, wajahmu, atau wajah kita?” Tak lama kemudian tukang potret keliling itu mati. Tubuhnya yang sementara terbujur di ruang yang dindingnya penuh dengan foto-foto karyanya. Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya. Kerabatnya bingung. Mereka tidak juga menemukan potretnya untuk dipajang di dekat peti matinya. “Sudah, pakai foto ini saja,” cetus salah seorang

dari mereka sambil diambilnya foto pujangga. “Lihat, mirip sekali, nyaris serupa. Ha-ha-ha….” Penyair kita tampak di antara kerumunan pelayat yang berdesak-desakan memanjatkan doa di sekeliling peti almarhum. Ada seorang ibu yang dengan haru mengusap foto itu: “Hatinya pasti manis. Di akhir hayatnya wajahnya keren abis!” (2007)

Mengenang Jengqy Saya berkenalan dengan Jengqy sepuluh tahun lalu di sebuah senja yang kelabu. “Saya keturunan Amerika, lahir dan besar di Jakarta,” katanya dengan malu-malu. Mungkin karena sudah jodoh, dalam waktu singkat kami merasa sudah dekat. Tanpa ragu ia ikut saya. Kami pun bergandengan dalam hangat. Sungguh saya beruntung punya teman sebaik Jengqy. Ia lembut dan murah hati. Ia pandai membaca pikiran dan perasaan saya. Ia bisa mengerti mimpi-mimpi saya. Ia selalu sabar menyertai hari baik dan hari naas saya. “Suka dan duka kita santap bersama,” ujarnya. Kadang saya mengajaknya ke medan perang untuk menghadapi serangan para gerilyawan sepi yang mengancam kedaulatan hati. Ia sempat terluka dan saya jahit lukanya. Ia juga sering menemani saya memasuki gua gelap kata-kata untuk menaklukkan keangkeran hantu kata-kata. Dasar nasibnya baik, lama-lama ia lebih tenar dari saya. Kadang orang mengenali saya karena mengenali Jengqy. Ketika saya bertandang ke seorang teman, misalnya, ia menyambut saya dengan berseru, “Halo Jengqy, ke mana saja kamu?” Ah Jengqy, kamu ada di mana-mana. Pernah kami bentrok hebat gara-gara ia terlalu cerewet mengenai kesehatan saya. “Sembuhkan dulu sakitmu, baru kerja lagi. Jangan sok heroik, merasa bisa berkarya dengan dahsyat kalau lagi sakit hebat.” Tanpa ampun ia tega meringkus kedua kaki saya dan melarang saya pergi.

Senja itu saya biarkan Jengqy termenung sendirian di ruang belakang. Ia tampak galau dan gundah dan saya tidak berani mengusiknya. Saat saya pulang dari beli rokok, saya dapatkan Jengqy sudah tak ada. Saya ingat Jengqy pernah berkata, “Sayang, aku tak akan tahan melihatmu sekarat dan mati sunyi. Lebih baik aku pergi.” Saya tidak tahu apakah Jengqy –demikian nama celana kesayangan saya itu— telah dipungut oleh pemulung atau oleh seseorang yang diam-diam menginginkannya. Selamat jalan, Jengqy. Di serat-seratmu meresap bau rinduku. (2007)

Kredo Celana Yesus yang seksi dan murah hati, kutemukan celana jinmu yang koyak di sebuah pasar loak. Dengan uang yang tersisa dalam dompetku kusambar ia jadi milikku. Ada noda darah pada dengkulnya. Dan aku ingat sabdamu: “Siapa berani mengenakan celanaku akan mencecap getir darahku.” Mencecap darahmu? Siapa takut! Sudah sering aku berdarah, walau darahku tak segarang darahmu. Siapa gerangan telah melego celanamu? Pencuri yang kelaparan, pak guru yang dihajar hutang, atau pengarang yang dianiaya kemiskinan? Entahlah. Yang pasti celanamu pernah dipakai bermacam-macam orang. Yesus yang seksi dan rendah hati, malam ini aku akan baca puisi di sebuah gedung pertunjukan dan akan kupakai celanamu yang sudah agak pudar warnanya. Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.

Di panggung yang remang-remang sajak-sajakku meluncur riang. Makin lama tubuhku terasa menyusut dan lambat-laun menghilang. Tinggal celanamu bergoyang-goyang di depan mikrofon, sementara sajak-sajakku terus menggema dan aku lebur ke dalam gema. “Hidup raja celana!” Hadirin terkesima. Kelak akan ada seorang ibu yang menjahit sajak-sajakku menjadi sehelai celana dan celanaku akan merindukan celanamu. (2007)

Celana Senja Daun-daun celana berguguran di senja tersayang. Di senja tersayang daun-daun celana berguguran. Merah, kuning, hijau, biru bertaburan di halaman. Hitam, putih, jingga, ungu dicumbu angin dan hujan. Angin dan hujan menerpa pohon celana tercinta. Pohon mimpi. Pohon luka Pohon rindu. Pohon kenangan. Di bawah pohon cinta daun-daun celana bertebaran. Dipungut ibu, dimasukkan dalam keranjang. Daun-daun celana berguguran di senja tersayang. Di senja tersayang daun-daun celana berguguran.

(2007)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful