P. 1
PuisiPuisi Joko Pinurbo

PuisiPuisi Joko Pinurbo

|Views: 4,569|Likes:
Published by deistisida

More info:

Published by: deistisida on Jul 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

Sections

JP

Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma
maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di
Sekolah Menengah Atas. Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh
Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan
judul Trouser Doll (2002). Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-
Celana 2-Celana 3
. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat
Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia
dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima
Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004). Buku puisinya yang
lain: Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja: Seratus Puisi
Pilihan
(2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran
Sarung: Tiga Kumpulan Puisi
(2007). Selain ke bahasa Inggris, sajak-sajaknya juga
diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra,
antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis
Ananda Sukarlan, sepilihan puisinya digubah menjadi komposisi musik. Sejumlah
sajaknya dipakai pula untuk iklan.

(Foto oleh Budhi Setyawan/2008)

Sepilihan Sajak Jokpin 1996-2007

Celana, 1

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

(1996)

Pulang Mandi

Lama minggat ke Jakarta dan tak pernah ada
kabar-beritanya, tahu-tahu ia muncul di depan pintu
dan berseru, “Ayo kita mandi!”
Wajah yang penuh jahitan, tubuh yang hampir rombengan

nyaris tak terbaca kalau tak ia tunjukkan
sepasang tato di pantatnya.

“Berbahagialah orang yang berani mandi,” aku bersabda,
“sebab ia akan menemukan tubuhnya sendiri.”

Maka dalam bahagia mandi ia kelupas karat waktu
pada tekstur hidupnya, kerak kenangan
pada tipografi nasibnya.
“Sakit!” ia menjerit. “Berdarah!”
Mungkin sedang ia lepaskan pakaian kotor
yang lengket dengan tubuhnya.

Kamar mandi kemudian sunyi.
Ia menghambur keluar, berjingkrak-jingkrak
seperti kanak-kanak dapat bingkisan di hari Lebaran.
“Aduh cakepnya,” aku menggoda,
dan ia memelukku sambil berkata riang,
“Mandiku sukses sekali, abang sayang.”

Lama ia tidak mandi. Tapi sekali mandi
ia langsung mencopot tubuhnya yang usang
dan menggantinya dengan yang baru,
yang mutakhir modelnya dan, tentu saja, tahan lama.

“Tidak tertarik ke Jakarta?” ia membujukku
sambil memamerkan tubuhnya yang trendi.
Ah, ya, mungkin perlu juga aku minggat ke Jakarta
agar suatu saat dapat pulang mandi dengan bahagia.

(1999)

Mei

: Jakarta, 1998

Tubuhmu yang cantik, Mei
telah kaupersembahkan kepada api.
Kau pamit mandi sore itu.
Kau mandi api.

Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.

Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit yang cuma ilusi.

Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei
adalah juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan tubuh dusta kami dengan membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei

Kau sudah selesai mandi, Mei.
Kau sudah mandi api.
Api telah mengungkapkan rahasia cintanya
ketika tubuhmu hancur dan lebur
dengan tubuh bumi;
ketika tak ada lagi yang mempertanyakan
nama dan warna kulitmu, Mei.

(2000)

Pacarkecilku

untuk Anggra

Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan
datang membangunkan mimpi.
Pacarkecilku berlari ke halaman, menadah hujan
dengan botol mainan, menyimpannya di kulkas
sepanjang hari, dan malamnya ia lihat
di botol itu gumpalan cahaya warna-warni.

Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi
dalam dekapnya. Ketika bangun ia berkata,
“Tadi kau ke mana? Aku mencarimu di rerimbun
taman bunga.” Aku terdiam. Sepanjang malam
aku hanya berjaga di samping tidurnya
agar dapat melihat bagaimana azan
pelan-pelan membuka matanya.

Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi
dalam botol cintanya bakal berganti
menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.

(2001)

Atau

Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih cinta atau nyawa?” ia mengancam.

“Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,”
saya menghiba, “supaya saya bersih dari dosa.
Setelah itu, perkosalah saya.”

Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang entah
ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas:
jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan.

Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih perkosa atau nyawa?” ia mengancam.
Saya panik, saya jawab sembarangan, “Saya pilih atau!”

Ia mengakak. “Kau pintar,” katanya.
Kemudian ia mencium leher saya dan berkata,
“Tidurlah tenang, dukacintaku. Aku akan kembali
ke dalam mimpi-mimpimu.”

(2001)

Penumpang Terakhir

untuk Joni Ariadinata

Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak
yang mangkal di bawah pohon beringin itu
dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat
yang aku suka. Entah mengapa aku sering kangen
dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak,
lancar pula lajunya.

Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan.
Aku akan menabur kembang di atas makam
nenekmoyang. Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku
khawatir bang becak akan kecapaian, tapi orang tua itu
bilang tenang tenang.

Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya
bercerita tentang anak-anaknya yang pergi merantau
ke Jakarta dan mereka sekarang alhamdulillah
sudah jadi orang. Mereka sangat sibuk dicari uang
dan hanya sesekali pulang. Kalaupun pulang, belum tentu
mereka sempat tidur di rumah karena repot
mencari ini itu, termasuk mencari utang buat ongkos
pulang ke perantauan.

Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan,
batuknya mengamuk, pandang matanya
berkunang-kunang, aduh kasihan. “Biar gantian saya
yang menggenjot, Pak. Bapak duduk manis saja,
pura-pura jadi penumpang.”

Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju
kuburan, sementara si abang becak tertidur nyaman,
bahkan mungkin bermimpi di dalam becaknya sendiri.

Sampai di kuburan aku berseru bangun dong Pak,
tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas
tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan
kutaburkan di atas makam nenekmoyangku
atau di atas jenazah bang becak yang kesepian itu.

(2002)

Mandi

Mereka tiba di kamar mandi menjelang tengah malam
ketika langit terang dan bulan sedang cemerlang.
Pemimpin rombongan segera angkat bicara,
“Hadirin sekalian, malam ini kita berkumpul di sini
untuk mengantar mandi salah seorang saudara kita.
Mari kita sakiti dia agar sempurnalah mandinya.”

Korban segera diseret ke kamar mandi dan diperintahkan
berdiri di depan. Wajahnya tertunduk pucat, tubuhnya

gemetar, dan matanya seperti kenangan
yang redup perlahan. Belum sempat
pemimpin rombongan menanyakan tanggal lahir
dan asal-usul korban, orang-orang yang sudah tak sabar
menyaksikan sekaratnya berseru nyaring,
“Mandikan dia! Mandikan dia!”

Tubuh tak bernama yang terlampau tabah menerima
cambukan waktu yang gagah perkasa. Mandikanlah dia.

Mulut tanpa kata yang tak perlu lagi mengucap segala
yang tak terucapkan kata. Mandikanlah dia.

Hati paling rasa yang tak pernah usai memburu cinta
di rimba raga. Mandikanlah dia.

Mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka.

Pembantaian sebentar lagi dimulai. Hadirin segera pergi
setelah masing-masing menghunjamkan nyeri ke ulu hati.
Korban dibiarkan terkapar di lantai kamar mandi.

Sepi yang tinggi besar melangkah masuk
sambil terbahak-bahak. Korban diperintahkan berdiri.
“Mandi!” bentaknya. Dengan geram diterkamnya
tubuh korban dan kemudian dikuliti. Lihatlah, korban
sedang mandi. Mandi dengan tubuh berdarah-darah.

Bahkan bulan tak berani bicara; dengan takut-takut ia
melongok lewat genting kaca. Sepi makin beringas.
Ia cengkeram tubuh kurus korban, ia serahkan lehernya
kepada yang terhormat tali gantungan. Krrrkk!
Sepi melenggang pergi sambil terbahak-bahak,
meninggalkan korban berkelejatan sendirian.

Di hening malam itu tiba-tiba terdengar seorang bocah
menjerit pilu, “Ibu, tolong lepaskan aku, Ibu!”

(2003)

Masa Kecil

Masa kecil seperti penjaga malam yang setia.
Ia yang membuka dan menutup pintu setiap kau masuk

dan keluar kamar mandi. Sementara kau sibuk mandi,
ia duduk manis di sudut sepi, membaca cerita bergambar
sambil ketawa-ketawa sendiri. Jangan suka lihat orang
mandi, nanti sakit mata!
Ia langsung menutup wajahnya
dengan buku, seakan geli atau malu melihat tokoh
komiknya yang (tidak) lucu.

(2003)

Pacar Senja

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak
dalam gemuruh ombak.

(2003)

Baju Bulan

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.

Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni
baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri
rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

(2003)

Kepada Puisi

Kau adalah mata, aku airmatamu.

(2003)

Cita-cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya
dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

(2003)

Penjual Bakso

Hujan-hujan begini, penjual bakso dan anaknya
lewat depan pintu rumahku. Ting ting ting.
Seperti suara mangkok dan piring peninggalan ibuku.

Berulang kali ting ting ting, tak ada yang keluar
membeli bakso. Tak ada peronda duduk-duduk
di gardu. Semua sedang sibuk menghangatkan waktu.

Aku tak ingin makan bakso, tapi tak apalah
iseng-iseng beli bakso. Aku bergegas mengejar
tukang bakso ke gardu ronda. Bakso! Terlambat.
Penjual bakso dan anaknya sedang gigih makan bakso.

Airmata penjual bakso menetes ke mangkok bakso.
Anak penjual bakso tersengal-sengal, terlalu banyak
menelan bakso. Kata penjual bakso kepada anaknya,
“Ayo, Plato, kita habiskan bakso kita. Kasihan ibumu.”

Mereka yang makan bakso, aku yang muntah bakso.

(2004)

Dengan Kata Lain

Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek.
Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat
tukang ojek yang, astaga, adalah guru Sejarah-ku dulu.

“Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung,”
beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah.
“Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?”

Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru
sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah.
Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan.
Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau
sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.

Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran.
Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya
berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman.

Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku, “Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu!”

(2004)

Telepon Tengah Malam

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
“Siapa ini?”, jawabnya cuma “Ini siapa?”.

Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
“Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
“Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”
“Ibu! Ibu di mana?”
“Di dalam.”
“Di dalam telepon?”
“Di dalam sakitmu.”

Ah, malam ini tidurku akan nyenyak.
Malam ini sakitku akan nyenyak tidurnya.

(2004)

Celana Ibu

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

(2004)

Selepas Usia 60

Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela,
mengamati tingkah anak kecil yang lucu-lucu.
Saat sekecil mereka saya baru fasih mengucapkan nana,
maksudnya celana, dan saya belajar keras memakai celana
dan sering keliru: kadang terbalik, kadang seliritnya
menjepit dindaku. Ibu curang: diam-diam mengintip
lewat celah pintu. Baru setelah ananda terjengkang
karena dua kaki masuk ke satu lubang, ibu buru-buru
menyayang-nyayang pantatku: Jangan menangis,
jagoanku. Celana juga sedang belajar memakaimu.

Kasihan ibu, sering didera kantuk hingga jauh malam,
menjahit celana saya yang cidera.
Sampai sekarang kadang tusukan jarumnya, auw…,
masih terasa di pantat saya.

Saya masih berdiri di muka jendela, memperhatikan
seorang bocah culun, dengan celana bergambar Superman,
sedang ciat-ciat bermain silat. Tiba-tiba ia berhenti.
Bingung. Seperti ada yang tidak beres dengan celananya.
Oh, gambar Superman-nya rontok. Ia cari, tidak ketemu.
Lalu ibunya datang menjemput. Senja yang dewasa
mulai merosot. Tubuh yang penakut mendadak ribut.
Yeah, ini celana diam-diam mau melorot. Saat mau tidur
baru saya tahu: hai, ada gambar Superman di celanaku.

(2004)

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkraman luka.

(2005)

Kepada Cium

Seperti anak rusa menemukan sarang air
di celah batu karang tersembunyi,

seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

malam ini aku mau minum di bibirmu.

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,

seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati.

(2006)

Terompet Tahun Baru

Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota
untuk meramaikan malam tahun baru.
Ayah pilih menyepi di rumah saja
sebab beliau harus menemani kalender
pada saat-saat terakhirnya.

Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu
tergeletak di pinggir jalan.
Aku segera memungutnya
dan membersihkannya dengan ujung bajuku.
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi.

Mengapa terompet ini bisu, Ibu?
Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku.

(2006)

Di Perjamuan

Aku tak akan minta anggur darahMu lagi.
Yang tahun lalu saja belum habis,
masih tersimpan di kulkas.
Maaf, aku sering lupa meminumnya,
kadang bahkan lupa rasanya.
Aku belum bisa menjadi pemabuk
yang baik dan benar, Sayang.

(2006)

Jalan Sunyi

Ada jalan kecil menuju kebunmu:
ada hujan mungil merayap pelan
ke liang kuburku.

(2007)

Gambar Hati Versi Penyair

Seperti dua koma bertangkupan.
Dua koma dari dua kamus yang berbeda
dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi.

(2007)

Malam Pemadat

Pilin dan padatkan aku menjadi sebatang candu,
hisap dan bakarlah sampai berkobar di tubuhmu.
Jika habis kopimu, seduh dan minumlah abuku
sampai menguap di pori-porimu.

(2007)

Penjahat Berdasi

Ia mati dicekik dasinya sendiri.

(2007)

Taman Hiburan Negara

Ini tempat umum, bung.
Dilarang melamun sembarangan di sini.

(2007)

Pembangkang

Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan.
Tidak jelas, ia peronda yang kesepian
atau pencuri yang kebingungan.
Dari arah belakang muncul seorang pengarang
yang kehilangan jejak tokoh cerita
yang belum selesai ditulisnya.
“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang
melamun di sini. Ayo pulang!”
Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang.

(2007)

Gaun Tidur

Gaun tidurku menyembunyikanmu.
Seperti doa yang ganas,
kau merasuk ke panas darahku.
Gaun tidurku basah olehmu.

(2007)

Angkringan

Lapar mengajak saya ke warung angkringan
di pinggir jalan. Tuan pedagang angkringan
sedang ketiduran. Ia batuk-batuk, mengerang,
kemudian ia betulkan batuknya yang sumbang.

Saya makan dua bungkus nasi kucing.
Saya bikin kopi sendiri, ambil rokok sendiri.
Saya bayar, saya hitung sendiri. “Kembaliannya
untuk Tuan saja,” kata saya dalam hati.
Lalu saya pamit pulang. “Selamat tidur, pejuang.”

Tuan pedagang angkringan terbangun.
“Tunggu, jangan tinggalkan saya sendirian!”
Setelah semuanya ia bereskan, ia paksa saya
segera naik ke atas gerobak angkringan.
”Berbaringlah, Tuan. Saya antar Tuan pulang.”

Amboi, saya telentang kenyang di atas
gerobak angkringan yang berjalan pelan
menyusuri labirin malam. Saya terbuai, terpejam.
Seperti naik perahu di laut terang, meluncur ringan
menuju rumah impian nun di seberang.
Samar-samar saya lihat bayangan seorang ibu
sedang meninabobokan anaknya dalam ayunan:
Tidurlah, tidur, tidurlah anakku tersayang….

(2007)

Tukang Potret Keliling

Cita-citanya tinggal satu: memotret seorang pujangga
yang ia tahu tak pernah suka diambil gambarnya.
Ia ingat bual seorang peramal: “Kembaramu
akan berakhir pada paras seorang penyair.”

Demikianlah, dengan tangan gemetar, ia berhasil
mencuri wajah penyair pendiam itu dengan tustelnya.
Ia bahagia, sementara sang pujangga terpana:
“Ini wajahku, wajahmu, atau wajah kita?”

Tak lama kemudian tukang potret keliling itu mati.
Tubuhnya yang sementara terbujur di ruang
yang dindingnya penuh dengan foto-foto karyanya.
Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya.

Kerabatnya bingung. Mereka tidak juga menemukan
potretnya untuk dipajang di dekat peti matinya.
“Sudah, pakai foto ini saja,” cetus salah seorang

dari mereka sambil diambilnya foto pujangga.
“Lihat, mirip sekali, nyaris serupa. Ha-ha-ha….”

Penyair kita tampak di antara kerumunan pelayat
yang berdesak-desakan memanjatkan doa
di sekeliling peti almarhum. Ada seorang ibu
yang dengan haru mengusap foto itu: “Hatinya
pasti manis. Di akhir hayatnya wajahnya keren abis!”

(2007)

Kredo Celana

Yesus yang seksi dan murah hati,
kutemukan celana jinmu yang koyak
di sebuah pasar loak.
Dengan uang yang tersisa dalam dompetku
kusambar ia jadi milikku.

Ada noda darah pada dengkulnya.
Dan aku ingat sabdamu:
“Siapa berani mengenakan celanaku
akan mencecap getir darahku.”

Mencecap darahmu? Siapa takut!
Sudah sering aku berdarah,
walau darahku tak segarang darahmu.

Siapa gerangan telah melego celanamu?
Pencuri yang kelaparan,
pak guru yang dihajar hutang,
atau pengarang yang dianiaya kemiskinan?
Entahlah. Yang pasti celanamu
pernah dipakai bermacam-macam orang.

Yesus yang seksi dan rendah hati,
malam ini aku akan baca puisi
di sebuah gedung pertunjukan
dan akan kupakai celanamu
yang sudah agak pudar warnanya.
Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.

Di panggung yang remang-remang
sajak-sajakku meluncur riang.

Makin lama tubuhku terasa menyusut
dan lambat-laun menghilang.
Tinggal celanamu bergoyang-goyang
di depan mikrofon,
sementara sajak-sajakku terus menggema
dan aku lebur ke dalam gema.
“Hidup raja celana!” Hadirin terkesima.

Kelak akan ada seorang ibu
yang menjahit sajak-sajakku
menjadi sehelai celana
dan celanaku akan merindukan celanamu.

(2007)

Mas

Kota telah memberikan segala yang saya minta,
tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya
yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja.
Saya perempuan cantik, cerdas, bertato, sukses, dan kaya.
Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri.

Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali
saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas.
Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa
menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin bersamamu
duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap ke laut.
Akan saya bacakan sajak-sajak seorang penyair
yang tanpa sengaja menyampaikan cintamu kepada saya.

Wah, mas sudah lebih dulu tiba. Ia tampak gelisah
dan mondar-mandir saja di pantai. Saya segera memanggil
dan mengajaknya duduk di bangku. “Duduklah, mas,
jangan mandir-mondar melulu. Ini kubawakan
sepotong cokelat dan sebotol anggur merah tua.”

Mas mendekat ke arah saya dan saya menyambutnya.
“Mas boleh pilih, mau duduk di sebelah kiri atau di sebelah
kanan saya.” Ia agak terperangah. “Apa bedanya?” timpalnya.
“Kiri: bagian diri saya yang dingin dan suram.
Kanan: belahan jiwa saya yang panas dan berbahaya.”

Diam-diam mas mendekapnya dari belakang dan berbisik
di telinganya: “Kalau begitu, aku duduk di pangkuanmu saja.
Aku ingin lelap sekejap sebelum lenyap ke balik matamu
yang hangat dan sunyi. Sebelum aku tinggal ilusi.”
Perempuan itu merinding dan menjerit: “Maaasss….”

Pantai dan bangku mendadak fana dan tak seorang
penyair pun dapat menolongnya. Senja yang ia panggil mas
telah sirna. Ah, begitu cepat ia rindukan lagi kota.

(2008)

Kredo Celana

Celana Ibu

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

(2004)

Kredo Celana

Yesus yang seksi dan murah hati,
kutemukan celana jinmu yang koyak
di sebuah pasar loak.
Dengan uang yang tersisa dalam dompetku
kusambar ia jadi milikku.

Ada noda darah pada dengkulnya.
Dan aku ingat sabdamu:
“Siapa berani mengenakan celanaku
akan mencecap getir darahku.”
Mencecap darahmu? Siapa takut!
Sudah sering aku berdarah,
walau darahku tak segarang darahmu.

Siapa gerangan telah melego celanamu?
Pencuri yang kelaparan,
pak guru yang dihajar hutang,
atau pengarang yang dianiaya kemiskinan?
Entahlah. Yang pasti celanamu
pernah dipakai bermacam-macam orang.

Yesus yang seksi dan rendah hati,
malam ini aku akan baca puisi
di sebuah gedung pertunjukan
dan akan kupakai celanamu
yang sudah agak pudar warnanya.
Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.

Di panggung yang remang-remang
sajak-sajakku meluncur riang.
Makin lama tubuhku terasa menyusut
dan lambat-laun menghilang.
Tinggal celanamu bergoyang-goyang
di depan mikrofon,
sementara sajak-sajakku terus menggema
dan aku lebur ke dalam gema.
“Hidup raja celana!” Hadirin terkesima.

Kelak akan ada seorang ibu
yang menjahit sajak-sajakku
menjadi sehelai celana
dan celanaku akan merindukan celanamu.

(2007)

Tragedi

Sedekah

Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan
sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah.
Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan,
sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah.

“Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,”
cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.”
Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.”

Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci
pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci
dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata.
Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya.

“Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli
tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,”
ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil
Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato.

Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas
dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah.
Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik
oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan
kepada entah siapa yang pantas menerimanya.

(2003)

Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004)

Penjual Bakso

Hujan-hujan begini, penjual bakso dan anaknya
lewat depan pintu rumahku. Ting ting ting.
Seperti suara mangkok dan piring peninggalan ibuku.

Berulang kali ting ting ting, tak ada yang keluar
membeli bakso. Tak ada peronda duduk-duduk
di gardu. Semua sedang sibuk menghangatkan waktu.

Aku tak ingin makan bakso, tapi tak apalah
iseng-iseng beli bakso. Aku bergegas mengejar
tukang bakso ke gardu ronda. Bakso! Terlambat.
Penjual bakso dan anaknya sedang gigih makan bakso.

Airmata penjual bakso menetes ke mangkok bakso.
Anak penjual bakso tersengal-sengal, terlalu banyak
menelan bakso. Kata penjual bakso kepada anaknya,
“Ayo, Plato, kita habiskan bakso kita. Kasihan ibumu.”

Mereka yang makan bakso, aku yang muntah bakso.

(2004)

Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004)

Penumpang Terakhir

untuk Joni Ariadinata

Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak
yang mangkal di bawah pohon beringin itu
dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat
yang aku suka. Entah mengapa aku sering kangen
dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak,
lancar pula lajunya.

Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan.
Aku akan menabur kembang di atas makam
nenekmoyang. Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku
khawatir bang becak akan kecapaian, tapi orang tua itu
bilang tenang tenang.

Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya
bercerita tentang anak-anaknya yang pergi merantau
ke Jakarta dan mereka sekarang alhamdulillah
sudah jadi orang. Mereka sangat sibuk dicari uang
dan hanya sesekali pulang. Kalaupun pulang, belum tentu
mereka sempat tidur di rumah karena repot
mencari ini itu, termasuk mencari utang buat ongkos
pulang ke perantauan.

Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan,
batuknya mengamuk, pandang matanya

berkunang-kunang, aduh kasihan. “Biar gantian saya
yang menggenjot, Pak. Bapak duduk manis saja,
pura-pura jadi penumpang.”

Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju
kuburan, sementara si abang becak tertidur nyaman,
bahkan mungkin bermimpi di dalam becaknya sendiri.

Sampai di kuburan aku berseru bangun dong Pak,
tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas
tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan
kutaburkan di atas makam nenekmoyangku
atau di atas tubuh bang becak yang kesepian itu.

(2002)

Sumber: Buku Puisi Pacarkecilku (2002)

Sajak tentang Puisi

Kepada Puisi

Kau adalah mata, aku air matamu.

(2003)

Matakata

Matakata menyala melihat tetes darah di matapena.

(2004)

Aku Tidak Bisa Berjanji

Aku tidak bisa berjanji akan datang ke dalam pesta
di mana akan kaupertemukan aku dengan sajak-sajakku,
seperti mempertemukan dua anak rantau yang lama
memendam rindu tapi pura-pura sungkan bertemu.

Sajakku hanya sisa tangis seorang bocah yang ditinggal
ibunya pergi cari obat dan tidak juga kembali, sementara
panas tubuhnya terus meninggi. “Cepat pulang, Bu!”

Bocah itu tampak bahagia duduk bersamamu di pesta.
Tapi aku tidak bisa berjanji akan datang ke sana.

(2004)

Puisi Telah Memilihku

Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi
di antara baris-barisnya yang terang.
Dimintanya aku tetap redup dan remang.

(2007)

Gambar Hati Versi Penyair

Seperti dua koma bertangkupan.
Dua koma dari dua kamus yang berbeda
dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi.

(2007)

Sajak Panjang

Apa nama jalan menuju judul, sajakku?
Namanya jalan panjang, penyairku.

(2007)

Pembangkang

Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan.
Tidak jelas, ia peronda yang kesepian
atau pencuri yang kebingungan.
Dari arah belakang muncul seorang pengarang
yang kehilangan jejak tokoh cerita
yang belum selesai ditulisnya.
“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang
melamun di sini. Ayo pulang!”
Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang.

(2007)

Puasa dan Puisi

Puasa

kepada penyair Haspahani

Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan air mata yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puisi.

(2007)

Baju Bulan

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni
baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri
rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

(2003)

Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004)

Pacar Puisi

Pacar Senja

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas
cium menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap. Pacar senja
berangsur lebur, luluh, menggelegak dalam gemuruh ombak.

(2003)

Pacarkecilku

untuk Anggra

Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan datang
membangunkan mimpi. Pacarkecilku berlari ke halaman,
menadah hujan dengan botol mainan,
menyimpannya di kulkas sepanjang hari, dan malamnya
ia lihat di botol itu gumpalan cahaya warna-warni.

Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi dalam dekapnya.
Ketika bangun ia berkata: “Tadi kau ke mana?
Aku mencarimu di rerimbun taman bunga.”
Aku terdiam. Sepanjang malam aku hanya berjaga

di samping tidurnya agar dapat melihat bagaimana azan
pelan-pelan membuka matanya.

Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi dalam botol cintanya
bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku nanti.

(2001)

Mata Bola

Ia baru saja menunaikan pertandingan sepakbola.
Hatinya memar dan lara. Ia dapatkan tiga peluang emas
untuk mencetak gol, semuanya terbuang percuma.
Bola yang ditembaknya dengan penuh perhitungan
melambung di atas mistar gawang.
Satu mendarat di pelukan penjaga gawang.
Satu lagi membentur tiang gawang,
kemudian memantul deras menghantam jidatnya tersayang.

Dengan terpincang-pincang ia tinggalkan gelanggang.
Kakinya yang gigih agak rusak digasak lawan.
Bola yang dingin dan angkuh dibawanya pulang
dan dihajarnya dengan beringas.
“Ampun, bang,” rintih bola, “bukan saya
yang bikin naas. Kaki abanglah yang kurang cerdas.”

Dipandanginya mata bola yang menatapnya penuh iba.
Sekonyong-konyong muncul bayangan ayahnya
yang tewas dalam kerusuhan penonton
saat menyaksikan pertandingan bola.
Dengan sesal dibelai-belainya bola dan didekapnya.
“Aduh, badanmu panas sekali, bola. Kau demam ya?
Kau pasti capek diajak berlari ke sana kemari.”

Bola terpejam. Dan dari balik mata bola ia dengar suara
ibunya yang telah tiada: “Kakimu cedera ya, nak?
Sini ibu pijitin biar tambah sakit.
Jangan sedih. Ibu selalu menyertaimu di dalam bola.”

Nah, ia akan mencoba cara baru menceploskan bola
ke mulut gawang: ia akan menendangnya sambil terpejam.

(2008)

Proverbia Latina

Nescire quaedam magna pars sapientiae est.

Tidak mengetahui beberapa hal itu merupakan sebagian besar dari kearifan.
Terjemahan bebas: orang yang sungguh arif justru akan mengatakan bahwa dia tidak
mengetahui semuanya.

Nescis, mi fili, quantilla prudential mundus regatur.

Anakku, engkau tidak tahu bahwa dunia ini diatur oleh kearifan-kearifan kecil.

Qui studet optatam cursu contingere multa tulit fecitque puer.

Orang yang ingin naik sampai ke puncak yang tertinggi, haruslah orang yang di masa
mudanya banyak menderita dan banyak berbuat.

Nihil lacrima citius arescit.

Tidak ada yang lebih cepat mongering ketimbang air mata.

Ridendo dicere verum.

Sambil tertawa mengatakan yang benar.

Veritatis simplex oratio est.

Bahasa kebenaran itu sederhana.

Sumber: B.J. Marwoto dan H. Witdarmono, Proverbia Latina: Pepatah-pepatah Bahasa Latin (Penerbit
Buku Kompas, 2004)

Tribute

Pengarang, engkau sungguh sabar
menunggu ide yang tanpa kabar.
Dirimu sangat percaya diri
meskipun karyamu tidak banyak terbeli. …

(Paska Wahyu Wibisono, “Pengarang”,
Bobo, 27 November 2003)

Jalan Sunyi

Ada jalan kecil menuju kebunmu:

ada hujan mungil merayap pelan

ke liang kuburku.

(2007)

Sajak-sajak 1980-1991

Layang-layang

Dulu pernah kaubelikan aku sebuah layang-layang
pada hari ulang tahun.
Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak
tapi hanya sejenak.

Sebab layang-layang itu kemudian hilang,
entah ke mana ia terbang.
Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang
dan kembali kutemu.
Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu.

Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan
selain dibasahkuyupkan di bawah hujan.
Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan
meskipun tanpa benang dan tinggal robekan.
Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang.

(1980)

Pohon Bungur

: anno 1968 - 1973

Pohon bungur di puncak bukit
dalam naungan senja.

Bunga-bunganya berceceran
dihirup angin selatan.

Pohon bungur di puncak bukit
dalam belaian usia.

Kuingat selalu bunga merahnya yang ranum
diguyur hujan menjelang malam turun.

(1990)

Penyair Tardji

Tardji minta bir buat pesta di malam buta.
“Sampai tuntas pahit-asamnya.
Sampai pecah ini botolnya.”

Dalam mabuk ia minta tuak dari jantungMu.
“Mana kapak? Biar kutetak leher panjangMu.”

Sampai huruf habislah sudah.
Sampai nganga luka dibelah.
“Ya Allah, sajak terindah kutemu dalam Kau darah.”

(1986)

Tengah Malam

Badai menggemuruh di ruang tidurmu.
Hujan menderas, lalu kilat, petir
dan ledakan-ledakan waktu dari balik dadamu.

Sesudah itu semuanya reda.
Musim mengendap di kaca jendela.
Tinggal ranting dan dedaunan kering
berserakan di atas ranjang. Hening.

Waktu itu tengah malam. Kau menangis.
Tapi ranjang mendengarkan suaramu sebagai nyanyian.

(1989)

Bulu Matamu: Padang Ilalang

Bulu matamu: padang ilalang.
Di tengahnya: sebuah sendang.

Kata sebuah dongeng, dulu ada seorang musafir
datang bertapa untuk membuktikan apakah benar
wajah bulan bisa disentuh lewat dasar sendang.

Ia tak percaya, maka ia menyelam.
Tubuhnya tenggelam dan hilang di arus mahadalam.
Arwahnya menjelma menjadi pusaran air berwarna hitam.

Bulu matamu: padang ilalang.

(1989)

Tukang Cukur

Ia membabat padang rumput yang tumbuh subur
di kepalaku. Ia membabat rasa damai
yang merimbun sepanjang waktu.

“Di bekas hutan ini akan kubangun bandar, hotel,
dan restoran. Tentunya juga sekolah,
rumah bordil, dan tempat ibadah.

Ia menyayat-nyayat kepalaku.
Ia mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku.

“Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu.
Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu.”

Suara guntingnya selalu mengganggu tidurku.

(1989)

Hutan Karet

in memoriam: Sukabumi

Daun-daun karet berserakan.
Berserakan di hamparan waktu.

Suara monyet di dahan-dahan.
Suara kalong menghalau petang.

Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan.
Berloncatan di semak-semak rindu.

Dan sebuah jalan melingkar-lingkar.
Membelit kenangan terjal.

Sesaat sebelum surya berlalu
masih kudengar suara bedug bertalu-talu.

(1990)

Pada Lukisan Monalisa

Di rambutmu burung-burung membuat sarang.
Burung-burung yang terbang dari khasanah senja;
yang sudah berapa lama terkurung dalam himpian Hawa.
Burung-burung yang memintal benang-benang cahaya
dengan kepak lembut sayap-sayapnya yang luka.
Burung-burung yang menggurat padang langit hijau
dengan cakar-cakar perih dan kicau-kicaunya yang parau.

Dan engkau adalah pohon yang dahan-dahannya
menjulur lentur karena adalah kenangan.
Yang akar-akarnya menjuntai ke wilayah malam.
Yang ranting-rantingnya lembut karena adalah igauan.
Yang daunnya rimbun menghalau kobaran jaman.
Yang pucuk-pucuknya menjulang karena adalah jeritan.

(1990)

Senandung Becak

Ada becak melenggang sendirian di sebuah gang.
Pemiliknya, katanya, telah mati di tiang gantungan.

Ada becak hanyut di sungai.
Sungainya keruh, mengalir ke laut yang jauh.

Orang-orang berkumpul di atas jembatan,
mengira si pemiliknya telah mati tenggelam.
Tapi ada yang berbisik kepada saya:
“Akulah yang menghanyutkannya
dan ternyata kalian amat suka menontonnya.”

Ada juga yang berkata:
“Sesampainya di laut, becak itu akan menjelma
menjadi sebuah perahu yang harus bertarung
sendirian melawan badai, ombak dan malam.”

(1990)

Di Kulkas: Namamu

Di kulkas masih ada
gumpalan-gumpalan batukmu
mengendap pada kaleng-kaleng susu.

Di kulkas masih ada
engahan-engahan nafasmu
meresap dalam anggur-anggur beku.

Di kulkas masih ada
sisa-sisa sakitmu
membekas pada daging-daging layu.

Di kulkas masih ada
bisikan-bisikan rahasiamu
tersimpan dalam botol-botol waktu.

(1991)

Ranjang Kematian

Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri.
Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali
oleh keturunan orang-orang mati.
Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi.

Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu.
Bantal, guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku.
Dan selimut telah melumut. Telah melumut pula
mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi.

Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran
tempat peri-peri membersihkan diri dari prasangka manusia.

Semalaman mereka telanjang, meniup seruling,
hingga terbitlah purnama. Dan manusia terpana, tergoda.

(1991)

Perjalanan Pulang

Kadang ingin sangat aku pulang ke rumahmu.
Setidaknya kubayangkan suatu senja aku datang
ke ambang jendelamu, melongok wajah seseorang
yang sedang melukis matahari di telapak tangan.

Halte. Aku terdampar di sebuah halte.
Menunggu bus yang sebenarnya telah lama lewat.
Mengulur-ulur waktu agar tidak cepat sampai
ke arah jantung atau erangan bisu.

Lihatlah, setiap orang memasang halte
di tempat persinggahan.
Menunggu dan menanti tak henti-henti.
Mengangankan masih ada bus yang bakal datang
membawanya pulang atau mungkin pergi jauh sekali.

Demikianlah musafir: kita takut menjadi tua
namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi,
menjadi kanak-kanak
kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran
di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatan.

Rindu. Aku ini memang selalu rindu untuk pulang
tapi saban kali juga tak betah.
Petualang sekaligus pencinta rumah.
Di saat lelap sering kulihat bayangan tubuhmu
berjalan terbungkuk-bungkuk dengan gaun putih,
menyibak dan menutup kembali kelambu mimpi.

Halte. Aku ingat sebuah halte di ujung kota yang entah.
Perhentian tempat penantian dikekalkan
dan sekaligus diakhiri.
Alamat kepada siapa kaukirimkan aduhan bernama surat.
Rendezvous yang kepadanya kautujukan persediaan waktu.

Tak bosan-bosan. Jendela selalu membukakan dirinya
untuk dimasuki dan ditinggalkan.

Seakan seseorang selalu siap di atas ampunan,
menerima dan melepaskan salam.
Seperti juga telapak tanganmu: selalu terbuka
untuk dilayari dan disinggahi.

Mengapa kita takut pada ketakutan?
Mengira tak ada yang bisa diabadikan?
Tengah malam kita sering terbangun
lalu berdiri di depan cermin.
Merapikan rambut yang kusut.
Membelai wajah yang membangkai.
Memugar mata yang nanar.

Andaipun langit memperpendek batas,
tak berarti jangkauan begitu saja lepas.
Siapa tahu tatapan malah meluas,
memburu sinyal-sinyal baru
yang memberitakan atau menyembunyikan pesanmu.

Tergambar jelas di potret lama:
wajah yang dingin dihangati usia.
Burung-burung pipit mengurung senja,
matahari beringsut pada lingkaran biru.
Kemudian malam terlipat di pelupukmu
dan sebuah himne menggema di lintasan alismu.

Berapa lama kata-kata berbincang tentang artian?
Uban-uban tak mau bicara tentang ketuaan.
Almanak tak menyiratkan tanggal dan bulan.
Garis-garis tangan tak menuliskan suratan.
Dinding-dinding tak membatasi ruang.
Berapa lama ucapan tak mau bungkam?

Ah padang pasir.
Panasmu ingin menghanguskan perkemahan.
Kau pikir para pengungsi mau dilumat kelaparan?
Lihatlah, sungai itu tetap saja hijau.
Kematian dienyahkan ke bukit-bukit karang,
kanak-kanak bermain terompet di lubang persembunyian.

Katakan pada ibu, si buyung mau lebih lama merantau.
Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan,
pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan.
Aduh sayang, jarak itu sebenarnya tak pernah ada.
Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan.

Hari itu jam bergerak lambat.
Malam mengingsut seperti siput mengusut kabut.
Di jauhan anjing-anjing bertengkar berebut kucing.
Kalender menangis melengking-lengking.
Apakah waktu sudah sangat bosan menghuni jam dinding?
Aduh sayang, detik-detik berjatuhan ke lantai dingin,
diserbu semut-semut hitam untuk pesta persembahan.

Lalu kau merapat ke kaca almari:
mengganti baju, menyempurnakan kecantikan.
Matamu menyala serupa lilin.
Keningmu berkobar dibantai sinar.
Apakah kau sedang berkemas ke kuburan?
Alamak, beri aku sedikit waktu.
Nyawaku tertinggal di rumah sakit.

Baju usang yang kusayang tergantung riang di tali jemuran.
Sudah rapuh, sudah kumal, sudah pula penuh jahitan.
Seperti kujahit leher yang retak, leher yang koyak
dirobek-robek kemiskinan.

Salam bagimu peziarah muda.
Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil
yang dilupakan dunia.
Ke mana nyerimu melangkah, ke sana jantungmu mencari.
Lonceng gereja mengepung rindumu di malam buta,
membangunkan si sakit dari ranjang beku
di kamar-kamar mati. Salam bagimu pasien abadi.

Suatu hari aku ingin mengajak si mayat berburu singa
di hutan purba. Melacak jejak sejarah nenek moyang
yang melahirkan nama-nama. Merunut silsilah gelap
dari mana aku datang ke mana aku pulang.

Senja hampir layu. Burung-burung berarak pulang
menuju lingkaran biru. Gaun siapa tertinggal
di bangku taman, dibawa kupu-kupu ke pucuk cemara?
Musim bunga tergesa-gesa pergi diburu musim
yang kehilangan cuaca.

Jika benar air mancur itu tak ingin tidur,
barangkali bisa kutitipkan kebosanan padanya.
Angin dan angan menyurutkan malam,
menyibakkan tirai pagi sebelum surya ungu
berayun di ambang pintu:
mengabarkan saat kematian dunia waktu.

Halte. Aku terdampar kembali di sebuah halte.
Melupakan bus yang tak akan lewat atau sudah lama lewat.
Memilih saat terbaik untuk pulang ke rumah, ke dunia entah.
Untuk datang ke ambang jendelamu, melongok wajah
seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan.
Seperti pada saat keberangkatan.

(1991)

Penyanyi yang Pulang Dinihari

Ia melewati jalan yang sudah bosan
menghitung langkahnya.
Rambutnya menyimpan kunang-kunang.
Matanya ingin menggapai bintang-bintang.
Tak ada yang benar-benar mengenalinya
selain angin yang masih menyebutnya perempuan.

Perempuan itu tak mau menangis.
Air matanya sudah hanyut di sungai.
Dan meskipun sungai berulangkali meriuhkan keperihan,
arus air tak mau kembali mengulang detak jam.

Malam sekarat di balik gaun transparan
dan sisa waktu dilumatkan di ujung lengan.
Letupkan penyanyi, letupkan nada terakhir
yang belum sempat dihunjamkan.
Siapa tahu dada montok itu masih merindukan jeritan.

Tersaruk-saruk ia menyeret bayangan tubuhnya.
Gerimis hitam mengguyur wajahnya yang beku
sehingga bedak dan lipstik luntur
melumuri gaunnya yang putih.
Rambut coklatnya meleleh pekat.
Tapi singa luka itu tak mau pedih.
Mungkin hatinya merintih.

Maka kunang-kunang menggeremang di rambutnya,
bintang-bintang berkerlapan di matanya.
Ia menyanyi dan menari dan pinggulnya yang hijau
mengibaskan bayangan hitam orang-orang mati.
Tersuruk ia di sebuah tikungan
dan para peronda mau membawanya ke gardu.

Tapi singa luka itu menggeram nyalang
dan para lelaki dihardiknya pergi.

Hai perempuan, rumah mana bakal kautuju?
Awas hati-hati, di ujung jalan banyak polisi.
Ah sialan, dasar pemberani, sudah luka
masih juga menggoda. Tampaknya ia percaya
sebuah rumah setia menanti.

Seperti tamu asing, ia berhenti di depan pintu besi.
Plat nomor telah rusak, tak lagi mencantumkan angka.
Ia ragu apakah benar itu rumahnya.
Tapi ia masih ingat beha usang yang tergantung
di atas pintu, tanda sebuah dunia
atau sepenggal kehidupan masih menunggu.

Pintu besi telah mengunci diri,
menutup hati bagi tamu yang ingin singgah.
Daripada kaku dibalut embun pagi,
dipanjatnya pagar halaman berduri.
Seekor anjing menyalak nyaring
menggonggongi bau keringatnya yang asin.

Kembali ia termangu.
Ia ragu membuka pintu.
Ia takut pada pintu.
Baru setelah diketuk tujuh kali,
pintu hitam membukakan diri.
“Bukankah ini rumahmu?
Apakah engkau takut atau lupa samasekali?”
“Ya, ini memang rumahku.
Saban kali aku meninggalkannya,
saban kali pula harus mengenalinya kembali.”

Ia tertegun. Dadanya mengkerut
disepak dentang lonceng jam tiga pagi.
“Ah pintu, engkau lebih mengenal rumahku
ketimbang aku sendiri yang saban waktu merindukannya
dan kemudian meninggalkannya.
Barangkali studio-studio suara
dan panggung-panggung hiburan
telah membuatku jadi pelupa, jadi serba alpa.”

Perlahan ia melangkah ke ambang pintu.
Angin jahat menyingkap ujung gaunnya yang tipis.
Kakinya yang lembab melekat di lantai dingin.

Terasa dunia jadi lain, terasa dunia jadi lain.
Di dinding hitam sebuah topeng terkekeh-kekeh,
menyeringai menertawakan tamu asing
yang bertandang ke rumahnya sendiri.

Apakah ada malaikat yang selalu membawa anak kunci?
Kamar sudah menganga sebelum ia buka pintunya.
Dan di atas meja rias yang porak poranda
sebuah boneka masih menari-nari.

Astaga, ranjang hitam menggoyang-goyangkan diri.
Kelambu telah habis dibakar mimpi.
Sebuah radio tertidur pulas di bantal biru,
tak henti-hentinya mengigau dan meracau.
Wah, tampaknya ia tengah bercumbu dengan orang mati
yang menciptakan gelombang siaran dinihari.

Ah perempuan, yang merindukan kebangkitan musim semi,
kini tubuhmu tegak di hadapan cermin retak.
Bibirmu hangus dan mengelupas. Berdarah.
Berdarah-darahlah leher hijau yang diterkam musim panas.
Kau mengaduh. Aduh. Kepada siapa kau mengaduh?
Kepada tatapan yang hancur luluh?
Kepada cermin yang tak lagi utuh?
Wah, jidatmu yang legam dilayari kupu-kupu hitam,
diarungi cicak-cicak hitam. Serba hitam.

Perempuan itu samasekali tidak gila.
Tidak lupa pada jagad kata yang dihuninya seorang diri
tanpa cinta. Tidak sangsi dan benci pada janji-janji baik
yang diucapkan para kekasih yang mengurungnya
dalam lingkaran ilusi. Ia tidak gila.
Hanya sepi berkepanjangan, barangkali.

Dan ia benar-benar perempuan. Terbukti ia tabah,
tidak mudah menyerah pada keinginan murahan
untuk mencekik leher, memotong urat nadi.
Memang ia mengambil pisau dari laci almari,
tapi bukan untuk bunuh diri.
Ia cuma ingin menyembelih bayangan-bayangan hitam
yang berbondong-bondong di dinding legam.

Sebuah kamar bisa menjadi salon kecantikan.
Di sana ia bersolek, mengganti model rambut, alis
dan bulu mata agar setiap orang tergoda untuk pura-pura

tak mengenalnya sehingga ia bisa mendapatkan cinta baru
di atas kecantikan lama.

Demikian pula para lelaki
akan mendapatkan kejantanan kembali
pada tatapan yang sesilau kerlip api
setelah sekian lama dunia mereka miliki sendiri.
Ah lelaki, wajahmu tersipu malu disambar rayuan baru.
Lalu ia menyanyi di depan kaca almari.
Lagu-lagu lama disenandungkan kembali.
Kadang lebih merdu dari yang dinyanyikan di masa lalu,
lebih baru dari lagu-lagu terbaru.
Perempuan, kau memang hanya berlomba dengan waktu.

Tak usah ditunda lebih lama.
Bibir pedas sudah siap menerima lumatan.
Dan jika dada kenyal itu menggembung mengempiskan
hasrat-hasrat terpendam, kamar sempit siap menampung
gemuruh topan dan lalu badai kehampaan.
Tapi tak ada saat untuk menangis menggigit-gigit tangan.

Penyanyi, jangan meraung memukul-mukul dinding.
Ranjang hitam sudah menggeliat minta dekapan.
Cermin retak sudah kembali berdandan.
Tanggalkan gaun usang, cobalah menggelinjang.
Dentang lonceng jam tiga pagi tergelak-gelak
menyaksikan tubuhmu, sakitmu, yang telanjang.

(1991)

Anjing

Di depan rumah saya ada sebuah rumah kosong yang dinding sampingnya berbatasan
langsung dengan gang. Dinding rumah itu tak pernah sepi dari coretan. Kemarin baru saja
dicat putih dalam rangka menyongsong 17 Agustus-an, malamnya sudah belepotan lagi
dengan berbagai macam coretan berisi umpatan. Ada coretan puitis berbunyi “asu” yang
ditulis besar-besar dengan cat semprot berwarna merah. Itu pasti kelakuan Kasbulah,
seorang remaja kampung yang hobinya mencoreti tembok rumah tetangga.

Kasbulah adalah bajingan kecil yang rajin membolos sekolah dan memalak teman-
temannya. Bahkan bapaknya, seorang guru Sekolah Dasar (merangkap tukang ojek) yang
tekun dan gigih, sering diperasnya pula. Ia suka meminta uang dengan ancaman tak akan
masuk sekolah kalau permintaannya tidak dikabulkan. Pernah permintaannya tidak
dipenuhi dan ia marah besar. Diam-diam ia menghunus spidol besar, kemudian menodai
saku belakang celana bapaknya dengan tulisan “pelit”.

Saya sedang membaca dengan seksama coretan-coretan nakal di dinding rumah kuno itu
ketika seekor anjing cerdas lewat. Melihat tulisan “asu” di tembok bercat putih itu, si
anjing mendadak berhenti, kemudian menggonggong lantang tak henti-henti dan
gonggongannya membuat orang-orang berhamburan keluar. Anjing itu melotot ke arah
saya – mungkin ia mengira sayalah yang membubuhkan kata “asu”. Segera saya tutup
pintu, takut ia menyerang saya. Aha, anjing keren itu malah tersenyum manis kepada
saya, kemudian melanjutkan perjalanannya entah ke mana.

Hampir tengah malam, Kasbulah baru pulang dari keluyuran. Dengan gaya seorang
jagoan ia berjalan gagah sambil bersiul-siul menyusuri gang gelap menuju rumahnya.
Dari arah berlawanan muncul seekor anjing besar, tinggi dan hitam. Kasbulah berlagak
tenang dan terus melangkah ke depan. Si hitam besar mencoba meruntuhkan mental
bajingan kecil itu dengan meletuskan lolongannya dan lolongannya sungguh sangat
mengerikan, seperti suara maut dari lembah kegelapan nun jauh di seberang. “Biarkan
Kasbulah berlalu, anjing tetap menggonggong,” kata si anjing dalam hati. Belum sampai
berpapasan, mental Kasbulah sudah rontok. Sambil gemetar ia segera berlari berbelok
arah, mencari jalan lain menuju rumah bapaknya. Dengan girang si hitam besar
mengejarnya. Kasbulah berhasil mencapai rumahnya saat lawannya hampir saja
menerkamnya. Sebelum Kasbulah menutup pintu rumahnya, si hitam besar berhasil
meraih saku belakang celananya dan merobek-robeknya. Ayah Kasbulah sedang duduk
manis di depan televisi, menonton siaran pertandingan sepak bola sambil merokok dan
minum kopi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->