HERPES SIMPLEKS I.

PENDAHULUAN Virus herpes simpleks termasuk jenis patogen yang dapat menyesuaikan diri dengan tubuh host. Ada dua jenis yaitu virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) dan tipe 2 (HSV-2). Keduanya berkaitan erat tetapi berbeda dalam gambaran epidemiologinya. HSV-1 dikaitkan dengan penyakit orofacial, sedangkan HSV-2 dikaitkan dengan penyakit genital, namun lokasi lesi tidak selalu menunjukkan virus type.1 Sekitar 80% dari infeksi herpes simpleks tidak menunjukkan gejala. Gejala infeksi dapat dicirikan dengan rekurensi yang sering terjadi dimana pada host yang immunocompromised, infeksi dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.1 Herpes simpleks virus (HSV) adalah virus DNA yang patogen pada manusia yang secara intermitten dapat teraktivasi kembali. Setelah replikasi di kulit atau mukosa, virus menginfeksi ujung saraf lokal dan menuju ke ganglion yang kemudian menjadi laten hingga teraktivasi kembali.2 Prevalensi infeksi HSV di seluruh dunia telah meningkat selama beberapa dekade terakhir, membuatnya menjadi permasalahan kesehatan masyarakat. Sehingga deteksi dini infeksi herpes simpleks dan inisiasi awal dari terapi adalah sangat penting dalam pengelolaan penyakit ini. II. DEFINISI Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe 1 atau tipe 2 yang ditandai oleh adanya vesikel yang berkelompok di atas kulit eritematosa pada daerah dekat mukokutan, sedangkan infeksi dapat berlangsung baik primer maupun rekurens.3

1

Virus herpes simpleks tipe 1 sebagian besar terkait dengan penyakit orofacial, sedangkan virus herpes simpleks tipe 2 biasanya terkait dengan infeksi perigenital. Tetapi, keduanya dapat menginfeksi daerah oral dan genital.2 III. EPIDEMIOLOGI Virus Herpes simpleks memiliki distribusi di seluruh dunia dan menghasilkan infeksi primer, laten dan berulang. Lebih dari sepertiga populasi dunia diperkirakan memiliki kemampuan untuk menularkan virus selama periode penyebaran virus. Pada anak-anak berumur kurang dari 10 tahun, infeksi herpes sering asimtomatik dan dengan type tersering adalah HSV-1 (80-90%). Analisis yang dilakukan secara global telah menunjukkan adanya antibodi HSV-1 pada sekitar 90% dari individu berumur 20-40 tahun. HSV-2 merupakan penyebab infeksi herpes genital yang paling banyak (70-90%), meskipun studi terbaru menunjukkan peningkatan kejadian dapat disebabkan oleh HSV-1 (10-30%). Antibodi untuk HSV-2 jarang ditemukan sebelum masa remaja karena asosiasi HSV-2 terkait dengan aktivitas seksual.4,5 HSV dapat menginfeksi janin dan menyebabkan kelainan. Seorang ibu yang terinfeksi HSV dapat menularkan virus itu padanya baru lahir selama persalinan vagina, terutama jika ibu memiliki infeksi aktif pada saat pengiriman. Namun, 60 80% dari infeksi HSV didapat oleh bayi yang baru lahir terjadi pada wanita yang tidak memiliki gejala infeksi HSV atau riwayat infeksi HSV genital.6 Seropositif HSV-1 biasanya dikaitkan dengan infeksi orolabial dan virus herpes simpleks tipe-2 seropositif biasanya dikaitkan dengan infeksi kelamin. HSV-1 sekarang menjadi penyebab signifikan genital herpes dan terlibat dalam 5% sampai 30% dari semua kasus episode pertama. Proporsi HSV-1 pada infeksi herpes genital awal (primer) lebih tinggi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria(46,9%) dibandingkan di kalangan wanita(21,4%) dan terendah di antara pria heteroseksual (14,6%). Seks oral reseptif secara signifikan meningkatkan kemungkinan bahwa penyebab infeksi awal adalah HSV-1 daripada HSV-2. Genital HSV-1 sering bisa diperoleh melalui kontak dengan mulut mitra.7
2

Penyakit ulkus genital merupakan faktor risiko transmisi Human Immunodeficiency Virus-1 (HIV-1). Puncak beban DNA virus telah dilaporkan terjadi setelah 48 jam. bertransmisi melalui sel epitel mukosa. tetapi juga dari pengeluaran virus dari kulit dalam keadaan asimptomatis. prevalensi infeksi HSV sangat rendah di masa kanak-kanak dan remaja awal tetapi meningkat dengan usia. Melakukan replikasi secara intranuklear dan menghasilkan inklusi intranuklear khas yang terdeteksi dalam preparat pewarnaan. serta melalui gangguan kulit.6. sedangkan HSV-2 lebih dominan pada lesi genital dan paling sering ditemukan di ganglia lumbosakral. Bahkan. Resistensi Acyclovir lebih umum dalam kelompok ini.Usia dan jenis kelamin merupakan faktor risiko penting yang terkait dengan didapatkannya infeksi genital HSV-2. Secara umum.8 Tingkat infeksi HSV meningkat dengan prevalensi tertinggi pada pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV).10 Transmisi dapat terjadi tidak hanya saat gejala manifestasi HSV aktif. Kedua virus. Virion HIV-1 dapat dideteksi dalam ulkus genital yang disebabkan oleh HSV-2 dimana menunjukkan bahwa infeksi herpes genital cenderung meningkatkan efisiensi transmisi seksual dari HIV-1.7 IV. Pengobatan herpes genital menurunkan tingkat infeksi HIV.9. tetapi menggunakan Acyclovir dapat memperpanjang hidup pada beberapa pasien seropositif HIV. ETIOLOGI Kelompok virus herpes sebagian besar terdiri dari virus DNA. dengan tidak ada virus terdeteksi di luar 96 jam setelah permulaan gejala. mencapai maksimum sekitar 40 tahun. gejala muncul 3-6 hari setelah 3 . HSV-1 dan HSV-2 adalah virus doublestranded DNA yang termasuk dalam Alphaherpesvirinae. Namun virus ini dapat menginfeksi kedua daerah orofacial dan saluran genital melalui infeksi silang HSV-1 dan HSV-2 melalui kontak oral-genital. HSV-1 lebih dominan pada lesi orofacial dan biasanya ditemukan di ganglia trigeminal. bermigrasi ke jaringan saraf. di mana mereka tetap dalam keadaan laten. subfamily dari Herpes viridae.

HSV ditularkan melalui kontak pribadi yang erat dan infeksi terjadi melalui inokulasi virus ke permukaan mukosa yang rentan (misalnya. yaitu virus Herpes simpleks-I (HSV-1) dan virus Herpes simpleks II (HSV-2). Virus ini merupakan kelompok virus DNA rantai ganda. Virus ini mudah dilemahkan pada suhu kamar dan pengeringan.10 Manusia adalah reservoir alami dan tidak ada vektor yang terlibat dalam transmisi. virus bereplikasi disepanjang serabut saraf perifer dan dapat menyebabkan infeksi berulang pada kulit atau mukosa. Infeksi terjadi melalui kontak kulit secara langsung dengan orang yang terinfeksi virus tersebut. namun mungkin tidak muncul sampai untuk satu bulan atau lebih setelah infeksi. oropharynx.kontak dengan virus. serviks.9 4 .1. HSV 1 dan HSV-2 bertahan di ganglia saraf sensoris . dimana pada masa ini virus Herpes simpleks inib tidak menghasilkan protein virus. Transmisi tidak hanya terjadi pada saat gejala manifestasi HSV muncul. Setelah masa laten. 9 Virus Herpes simpleks ini dapat ditularkan melalui sekret kelenjar dan secret genital dari individu yang asimptomatik.11 V. meskipun jumlah dari lesi aktif 100-1000 kali lebih besar. akan tetapi dapat juga berasal dari virus shedding dari kulit dalam keadaan asimptomatis. terutama di bulan-bulan setelah episode pertama penyakit. kedua virus Herpeks simpleks . oleh karena itu virus tidak dapat terdeteksi oleh mekanisme pertahanan tubuh host. PATOGENESIS Infeksi virus Herpes simpleks ditularkan oleh dua spesies virus. Virus kemudian akan mengalami masa laten. konjungtiva) atau melalui luka kecil di kulit. 10 Pada infeksi primer.

Herpes simplex virus dalam fase latent dalam ganglion trigeminal C.12 5 . B. perubahan patologis sel epidermis merupakan hasil invasi virus herpes dalam vesikel intraepidermal dan multinukleat sel raksasa. Infeksi virus herpes simpleks primer. Virus Herpes simpleks ini dapat menembus epidermis atau mukosa dan bereplikasi di dalam sel epitel. Sel yang terinfeksi mungkin menunjukkan inklusi intranuklear. virus bereplikasi di orofaringeal dan naik dari saraf sensoris perifer ke ganglion trigeminal. Dikutip Dari Kepustakaan 2 Herpes simplex virus sangat menular dan disebarkan langsung oleh kontak dengan individu yang terinfeksi virus tersebut. yang kemudian turun dari saraf sensorik ke daerah bibir atau perioral menyebabkan herpes labialis rekuren. A.Gambar 1: Herpes labialis.12 Virus Herpes simpleks 1 (HSV-1) biasanya menyerang daerah wajah (non genitalia) dan virus Herpes simpleks 2 (HSV-2) biasanya menyerang alat kelamin. Berbagai rangsangan memicu reaktivasi virus laten.

malaise. gejala biasanya terjadi dalam waktu 3 sampai 7 hari setelah terpapar dengan masa inkubasi selama 2 sampai 20 hari. anoreksia dan demam. diikuti dengan adanya pustul dan ulserasi. Namun bila lesi klinis tanda dan gejala dari infeksi berkembang.VI. kadang-kadang terpusat. tingkat keparahan dan durasi dibandingkan dengan infeksi primer. (Dikutip dari kepustakaan 7) 6 .4.9 Pada infeksi primer. Beberapa vesikel berkelompok dan tersebar. Manifestasi Klinik Infeksi primer pada HSV yaitu mereka yang tanpa adanya kekebalan baik terhadap HSV-1 atau HSV-2 dan sering subklinis. Gejala prodromal seperti limfadenopati. pembengkakan dan rasa terbakar sering terjadi sebelum timbulnya lesi mukokutan. Terbentuk krusta dan gejala resolusi muncul dalam waktu 2 sampai 6 minggu. serta nyeri setempat.15 Gambar 2 : Vesikel Pada Dasar Yang Merah. tetapi yang terakhir sering mengalami penurunan dalam jumlah. Infeksi genital primer lebih sering bergejala dibandingkan dengan oral. vesikel pada dasar eritematous kemudian muncul. Gejala prodromal serupa dapat mendahului lesi rekuren.2. Awalnya nyeri. biasanya lebih parah.7.dan mereka memiliki tingkat komplikasi yang lebih tinggi rekuren. dan lebih sering dengan sistemik.

Lesi Oral disebabkan oleh HSV-2 telah diidentifikasi yang biasanya sekunder dari kontak orogenital. fever blisters) paling sering dikaitkan dengan infeksi HSV-1. Infeksi primer HSV-1 sering terjadi pada masa kanak-kanak dan biasanya asimtomatik.11 7 .Gambar 3 : Bagian Tengah Membentuk Cekungan (Umbilikasi) (Dikutip dari kepustakaan 10) Gambar 4 : Krusta Dan Lesi Penyembuhan dengan atau Tanpa Sikatrik (Dikutip dari kepustakaan 7) Infeksi Orofacial Herpes Orolabial: Herpes labialis (cold sores.

Ketika timbul gejala (mayoritas infeksi orolabial primer tidak menunjukkan gejala). Edema signifikan. gatal. dan mukosa mata.11 Gambar 5 : Herpes simplex virus : gingivostomatitis dikutip dari kepustakaan 2 Penyakit ini dapat dorman untuk beberapa waktu. mulut dan bibir adalah daerah yang paling sering terlibat.7. atau paresthesia biasanya mendahului lesi vesikular berulang yang akhirnya mengalami ulserasi atau membentuk kusta. rasa sakit dan ulserasi dari membran orofaringeal dapat menyebabkan disfagia dan pengeluaran air liur terus-menerus. gingival dan membran orofaringeal lainnya.11 8 . labial. HSV-1 reaktivasi di ganglia sensoris trigeminal menyebabkan rekurensi di wajah dan oral. infeksi primer herpes orolabial biasanya hadir sebagai gingivostomatitis pada anak-anak atau sebagai faringitis pada orang dewasa muda. panas. Secara umum. Lesi yang paling sering terjadi di perbatasan Vermillion. dengan lesi muncul pada mukosa bukal. Nyeri. dan gejala dari rekurensi yang tidak diobati sekitar diobati 1 minggu.

Dikutip dari kepustakaan 7 Infeksi Genital Herpes genital adalah presentasi klinis utama dari infeksi HSV-2. dan limfadenopati inguinal biasanya Adanya keluhan sistemik. mialgia. dan photophobia. terjadi. terjadi pada 70% pada pasien dan lebih sering terjadi pada perempuan.Gambar 6:Paparan matahari memicu rekurensi. Jaringan parut dapat terbentuk pada inflamasi yang hebat. Krusta dan lesi sembuh pada satu atau dua minggu kedepan.7 9 . Discharge. Vesikel membentuk cekungan ditengah (umbilikasi) di hari 2 atau 3. Nyeri khas vesikel atau lesi ulseratif tidak tampak pada kebanyakan orang yang terinfeksi. Diagnosis klinis tidak sensitif dan spesifik. tetapi dapat juga disebabkan HSV-1 yaitu 10%-40% dari kasus.2. dysuria. Gejala episode primer biasanya berlangsung 2-3 minggu. kelesuan. terutama berkaitan dengan kontak oral-genital. termasuk demam.7 Herper genitalis primer terjadi dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus dan memiliki manifestasi klinis yang paling parah.11 Vesikel muncul sekitar 6 hari setelah kontak seksual. kemudian terkikis.

lesi biasanya muncul pada glans penis atau batang penis. yang jarangn terjadi. atau cervix. eritem. nyeri. Reaktivasi HSV-2 pada ganglion lumbosakral menyebabkan rekurensi pada daerah di bawah 10 .7 Adanya keterlibatan lokal yang lebih luas. tetapi mereka juga dapat terjadi di anus dan perineum. lesi dapat melibatkan vulva. bokong. HSV servisitis terjadi pada 80 persen wanita dengan infeksi primer. Cervical discharge biasanya berbentuk mukoid tetapi kadang-kadang mukopurulen.2. lesi vesikular yang mengalami ulserasi paling sering terjadi pada penis. Tampak vesikel didaerah perifer. vagina. Kelompok vesikel yang rupture. nekrotik servisitis. Pada pria. lesi ulseratif yang luas di eksoserviks. Dikutip dari kepustakaan 4 Pada wanita. 2. dan pada pemeriksaan menunjukkan area yang difus dan kemerahan.11 Gambar 7 : Herpes simpleks primer.Pada laki-laki. Dapat tampak sebagai vaginal discharge purulen atau berdarah . perineum. limfadenopati regional dan demam umumnya membedakan infeksi primer dari infeksi rekuren. meninggalkan erosi. atau. Rekurensi lebih sering terjadi pada bulan pertama sampai satu tahun setelah infeksi pertama. Wanita memiliki gejala penyakit yang lebih luas dan insiden yang tinggi mungkin dikarenakan area permukaan yang terlibat lebih luas.

dan kemudian terbentuk vesikel.2.4.16 11 . nyeri. Disebabkan oleh HSV-1. Periungual eritema. Dikutip dari kepustakaan 4 Herpetic whitlow merupkan infeksi herpes simpleks pada jari dan sering mengenai anak-anak dan tenaga medis dan gigi yang secara rutin menggunakan sarung tangan. Meskipun Herpetic whitlow yang terdahulu terutama disebabkan HSV-1. gatal.11 Gambar 8 : Eczema herpeticum secara cepat menyebar.11 Infeksi Pada Bagian Kulit Yang Lain Eczema herpeticum yang terlokalisir atau tersebar juga dikenal sebagai Kaposi varicelliform.4. Rekurensi dari lesi genital dapat didahului dengan gejala prodromal seperti bengkak. atau geli dan perjangkitan penyakitan tidah separah pada infeksi primer. peningkatan jumlah kasus sekarang karena HSV-2 dari jari/ kontak kelamin.pinggang. rasa terbakar. Anak-anak yang paling sering terkena. Eczema herpeticum adalah varian dari infeksi HSV yang biasanya berkembang pada pasien dengan dermatitis atopik. atau kondisi kulit inflamasi. luka bakar. tampak erosi dan ulserasi bersamaan dengan demam pada anak umur 22 bulan dengan riwayat dermatitis atopik parah.

dari luka sedini mungkin. Hal ini tidak dapat membedakan antara jenis virus atau antara herpes simpleks dan herpes zoster.11 VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan sitologik untuk perubahan sel dari infeksi herpes virus tidak sensitive dan tidak spesifik baik menggunakan pemeriksaan Tzank (lesi genital) dan apusan serviks Papanicolaou dan tidak dapat diandalkan untuk diagnosis konklusif infeksi herpes simpleks. Tes ini cepat tapi akurat 50-70% dari waktu.7 Jenis yang lebih tua dari pengujian virologi. (Dikutip dari kepustakaan 17) Tes kultur virus dilakukan dengan mengambil sampel cairan. akan 12 .14 Gambar 9: Herpes simpleks : Sel Raksasa Berinti Banyak. Pada pemeriksaan ditemukan sel raksasa khusus dengan banyak nukleus atau partikel khusus yang membawa virus (inklusi) mengindikasikan infeksi herpes.Herpes gladiatorum disebabkan oleh HSV-1 dan tampak sebagai erosi papular atau vesikular pada torsos atlet dalam olahraga yang melibatkan kontak fisik dekat (gulat klasik). tes Pap Tzanck. idealnya dalam 3 hari pertama manifestasi. jika ada. mengorek dari lesi herpes kemudian menggunakan pewarnaan Wright dan Giemsa. Virus.

pengujian teknologi dapat mempersingkat periode ini sampai 24 jam.PCR dapat membuat banyak salinan DNA virus sehingga bahkan sejumlah kecil DNA dalam sampel dapat dideteksi. Herpes Simplex Virus 1 (HSV-1) atau Virus Herpes Simpleks 2 (HSV-2). Adanya antibodi terhadap herpes juga menunjukkan bahwa seseorang adalah pembawa virus dan mungkin mengirimkan kepada orang lain. Ketika herpes virus menginfeksi seseorang. CDC merekomendasikan hanya tipespesifik glikoprotein (GG) tes untuk diagnosis herpes. Kultur virus sangat akurat jika lesi masih dalam tahap blister jelas.17 Pemeriksaan serologi yang paling akurat bila diberikan 12-16 minggu setelah terpapar virus. lesi berulang. Fitur tes meliputi: • ELISA (immunosorbent assay enzim-link) atau Immunoblot. 14 Tes PCR yang jauh lebih akurat daripada kultur virus. atau latency. Keunggulan utamanya adalah bahwa hanya membutuhkan 13 • . Tes ini mendeteksi HSV-2 saja. sistem kekebalan tubuh tersebut menghasilkan antibodi spesifik untuk melawan infeksi.14 Tes serologi dapat mengidentifikasi antibodi yang spesifik untuk virus dan jenis.14 Meskipun glikoprotein (GG) jenis tes-spesifik telah tersedia sejak tahun 1999. tapi mempercepat jangka waktu selama tes ini mungkin membuat hasil yang kurang akurat.14 Tes tes antibodi terhadap dua protein yang berbeda yang berkaitan dengan virus herpes yaitu Glikoprotein GG-1 dikaitkan dengan HSV-1 dan Glikoprotein GG2 berhubungan dengan HSV-2. banyak tes khusus nontipe tua masih di pasar. Biokit HSV-2 (juga dipasarkan sebagai SureVue HSV-2). tetapi tidak bekerja dengan baik untuk luka ulserasi tua.10 hari untuk melakukannya. Tes sangat akurat dalam mendeteksi kedua jenis virus herpes simpleks.bereproduksi dalam sampel cairan namun mungkin berlangsung selama 1 . dan CDC merekomendasikan tes ini untuk mendeteksi herpes dalam cairan serebrospinal ketika mendiagnosa herpes ensefalitis . Pada tahap ini virus mungkin tidak cukup aktif. Jika infeksi parah.

• Western Blot Test adalah standar emas untuk peneliti dengan tingkat akurasi sebesar 99%. DIAGNOSIS Dalam kebanyakan kasus. Infeksi mukosa HSV juga dapat hadir sebagai uretritis atau faringitis tanpa lesi kulit. Ketersediaan pelayanan kesehatan dapat mendiagnosa herpes genital dengan inspeksi visual jika perjangkitannya khas. memakan waktu lama. Menentukan jika pasangan seseorang didiagnosa menderita herpes genital. Hal ini juga lebih murah.tusukan jari dan hasil yang disediakan dalam waktu kurang dari 10 menit.14 Tes serologi herpes terutama dianjurkan untuk: • Orang yang memiliki gejala genital berulang tapi tidak ada kultur virus negatif. Tanda-tanda dan simptom yang berhubungan dengan HSV-II dapat sangat berbeda-beda. meskipun hasil-hasilnya tidak selalu jelas.18 IX.14 • • • VIII. Orang-orang yang memiliki banyak pasangan seks dan yang perlu diuji untuk berbagai jenis PMS (Penyakit Menular Seksual). Namun. Tes ini mahal. dan dengan mengambil sampel dari luka kemudian mengetesnya di laboratorium. diagnosis didasarkan pada karakteristik tampilan klinis lesi. DIAGNOSIS BANDING 14 . Tes darah untuk mendeteksi infeksi HSV-I atau HSVII. ulserasi herpes dapat menyerupai ulserasi kulit dengan etiologi lainnya. Diagnosis klinis dapat dibuat secara akurat ketika beberapa karakteristik lesi vesikuler pada dasar eritema dan bersifat rekuren. dan tidak tersedia secara luas sebagaimana tes lainnya. Kultur dikerjakan dengan kerokan untuk memperoleh material yang akan dipelajari dari luka yang dicurigai sebagai herpes6. Konfirmasi infeksi pada orang yang memiliki gejala yang terlihat herpes genital.

bula. dasarnya ialah jaringan granulasi berwarna merah dan bersih. diatasnya hanya tampak serum. kadang-kadang waktu penderita datang berobat.3. Impetigo Vesikobulosa Kelainan kulit pada impetigo vesikobulosa berupa eritem. vesikel/bula telah memecah sehingga yang tampak hanya koleret dan dasarnya masih eritematosa.8 15 . ulkus mole. dan bula hipopion. Ulkus durum Chancre (ulkus durum) sifilis biasanya muncul sebagai lesi tunggal yang tidak menyakitkan dan tidak berulang.3 1. Keadaan umum tidak dipengaruhi. Bulla Superfisial dan Erosi di Daerah Hidung (Dikutip dari kepustakaan 4) 2.3 Gambar 10 : Staphylococcus aureus: Impetigo Bulosa.Herpes simpleks di daerah sekitar mulut dan hidung harus dibedakan dengan impetigo vesikobulosa. Ulkus tersebut biasanya bulat. Pada daerah genital harus dibedakan dengan ulkus durum. Yang khas ialah ulkus tersebut indolen dan teraba indurasi. maupun ulkus yang mendahului penyakit limfogranuloma venereum.

Gambar 11 : Chancre pada sifilis primer (Dikutip dari kepustakaan 4) 3. sering bermanifestasi sebagai ulkus dengan eksudat abu-abu kekuningan diatas dasar jaringan granulasi. sering bergaung dan dikelilingi halo yang eritematosa. Chancroid (Ulkus Mole) Chancroid adalah penyakit infeksi menular ulseratif akut yang disebabkan oleh organisme Haemophilus ducreyi. lunak pada perabaan. tidak terdapat indurasi. berbentuk cawan. Ulkus kecil.3 Gambar 12 : Pembesaran chancroid dengan eksudat abu-abu yang telah merusak frenulum (kissing ulcer). pinggir tidak rata. (Dikutip dari kepustakaan 2) 16 .2.

PENATALAKSANAAN Edukasi Pasien dengan herpes genital harus dinasehati untuk menghindari hubungan seksual selama gejala muncul dan selama 1 sampai 2 hari setelahnya dan menggunakan kondom antara perjangkitan gejala. dapat berupa erosi. serta dapat 17 .3 A B Gambar 13: A.Limfogranuloma Venereum Ulkus yang mendahului limfigranuloma venereum berbentuk tidak khas dan tidak nyeri. Terapi antiviral supressidapat menjadi pilihan untuk individu yang peduli transmisi pada pasangannya.Pembesaran dari Kelenjar Getah Bening Inguinalis (Dikutip dari kepustakaan 2) X. pustul. vesikel.4. papul miliar. dan ulkus. Erosi Tidak Nyeri di Prepusium B. tetapi pada waktu terjadi sindrom ingunal yaitu terjadi limfadenitis dan periadenitis.2 Agen Antiviral Pengobatan dapat mengurangi simptom. Umumnya penderita tidak datang berobat pada fase ini. mengurangi nyeri dan ketidak nyamanan secara cepat yang berhubungan dengan perjangkitan.

yaitu Acyclovir. Tiga agen oral yang akhir-akhir ini diresepkan. • • • • Infeksi Primer HSV: 200 mg peroral 5 kali/hari untuk 10 hari atau mg/kg/hari IV setiap 8 jam. Pengobatan hanya untuk menurunkan durasi perjangkitan. dan pada kasus berat secara intravena adalah lebih efektif.19 Famciclovir • • • • • Herpes labialis rekuren : 1500 mg peroral dosis tunggal pada saat onset gejala. Episode primer herpes Genitalis :250 mg peroral 3 kali/hari selama10 hari Episode primer herpes Genitalis :1000 mg peroral setiap 12 jam selama 24 jam pada saat onst gejala (dalam 6 hari gejala pertama) Supressi jangka panjang: 250 mg peroral 2kali/hari HIV-positive individuals dengan infeksi HSV orolabial atau genital rekuren : 500 mg peroral 2 kali/hari untuk 7 hari (sesuaikan dosis untuk insufisiensi ginjal) • Supresi herpes simplex genital rekuren (pasien terinfeksi HIV): 500 mg peroral 2 kali/hari19 5 18 .14 Acyclovir menghambat aktivitas HSV 1 dan HSV-2. Pasien mengalami rasa sakit yang lebih kurang dan resolusi yang lebih cepat dari lesi kulit bila digunakan dalam waktu 48 jam dari onset ruam. Pengobatan peroral. Ketiga obat ini mencegah multiplikasi virus dan memperpendek lama erupsi. dan Valacyclovir. Mungkin dapat mencegah rekurensi. Herpes oral atau genital rekuren : 200 mg peroral 5 kali/hari untuk 5 hari (non-FDA : 400 mg peroral 3 kali/hari untuk 5 hari) Supresi herpes genital : 400 mg peroral 2 kali/hari Disseminated disease: 5-10 mg/kg IV setiap 8 jam untuk 7 hari jika >12 tahun. Famciclovir.mempercepat waktu penyembuhan.

Valacyclovir • • • Herpes labialis: 2000 mg peroral setiap 12 jam selama 24 jam (harus diberikan pada gejala pertama/prodromal) Genital herpes. Foscarnet • • HSV resisten Acyclovir: 40 mg/kg IV setiap 8-10 jam selama 10-21 hari Mucocutaneous. setiap 8-12 jam selama 2-3 minggu atau hingga sembuh. jika >9 rekurensi pertahun : 1000 mg peroral peroral 1 kali/hari. Suppressi herpes Genital (9 atau lebih rekurensi per tahun atau HIV-positif): 500 mg peroral 1 kali/hari. 19 .19 XI. KOMPLIKASI Komplikasi jarang tetapi dapat serius. resisten acyclovir: 40 mg/kg IV. merupakan infeksi virus herpes yang menyebar berupa yg terjadi pada bayi baru lahir atau imunosupresif pasien. krim ini digunakan 1 jam setelah munculnya gejala. • Herpes simplex genital rekuren .19 Topikal Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama 4 hari) atau Acyclovir krim 5% (5 kali sehari selama 5 hari). Herpes genital rekuren: 500 mg peroral 2 kali/hari selama 3 hari. Idealnya. episode primer: 1000 mg peroral 2kali/hari selama 10 hari. diantaranya: • • Infeksi bakteri sekunder. selama 1 jam. Staphylococcus. suppressi( pasien terinfeksi HIV): 500 mg peroral 2kali/hari. meskipun juga pemberian yang terlambat juga dilaporkan masih efektif dalam mengurangi gejala serta membatasi perluasan daerah lesi. 4. Ini biasanya karena Staph. Disseminated herpes simpleks.

tidak selalu disertai dengan lesi kulit. menyebabkan gangguan pada janin.• Herpes simpleks kronis. yang merupakan faktor predisposisi. sedangkan herpes genital biasanya disebabkan oleh HSV tipe 2 (HSV-2). Terapi anti virus efektif menurunkan manifestasi klinis herpes genitalis. PROGNOSIS Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa. Meskipun jarang. Herpes ensefalitis Ini adalah komplikasi serius herpes simpleks. misalnya penyakitpenyakit dengan tumor di system retikuloendoteial. Herpes labialis adalah infeksi paling umum disebabkan oleh HSV tipe 1 (HSV-1). Manifestasi klinis infeksi HSV lain yang kurang umum. Ini lebih umum pada wanita dengan bukti serologi infeksi herpes simpleks tipe 2. Infeksi dini yang segera diobati mempunyai prognosis lebih baik. • • Karsinoma leher rahim.16 XIII. menyebabkan infeksi ini dapat menyebar ke alat-alat dalam dan fatal. Infeksi HSV berlangsung dalam tiga tingkat yaitu infeksi primer. laten dan rekuren.3. Pada orang dengan gangguan imunitas.16 XII. sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya. Kebanyakan infeksi berulang dan cenderung muncul pada atau dekat lokasi yang sama. KESIMPULAN Herpes simpleks virus (HSVs) adalah virus DNA yang menyebabkan infeksi kulit akut dan dikarakteristikan sebagai vesikel berkelompok pada dasar yang eritema.11 20 . virus ini dapat menyebabkan penyakit yang serius dan dapat mempengaruhi kehamilan.7. biasa terjadi pada penderita HIV Herpes ensefalitis. pengbatan dengan imunosupressan yang lama.

dkk. 20 th]: Available from: http://medlineplus. Jakarta: FKUI. editors. editors. Brantley J. Rapini RP. Date (cited 2010. http://virology journal. 2nd ed. Tropical Dermatology. 5. Tyring SK. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. London: Mosby Elsevier. Herpes Simplex/Apthous Ulcer.medscape. Jorizzo JL. In: Wolff K. 2008. Herpes Simplex Virus Infection In Pregnancy And In Neonate: Status Of Art Of Epidemiology. Diagnosis. 2001.p261-66 6. Madkan V . Philadelphia: Mosby. 54. Fioriti D. Salvaggio MR . Hamzah M. Human Herpesviruses. 2009 Date [cited 2010 Mei. R. USA: Landes Bioscience. Anzivino G. 2004.com 7. Aisah S. 2007. 1879-1885 3. editors. Dugdale DC. In: Bolognia JL. Estrada Dermatology. Clinical Dermatology: A Color Guide To Diagnosis And Therapy 4th ed. Fitzpatrick's: Dermatology In General Medicine. Herpes Simplex. 2008. Carrasco D. Straus SE.com 21 . 7 th ed. Mendoza N. Herpes Simplex. 2009. 4. 2009 Date [cited 2010 Mei. 5 ed.Daftar Pustaka 1.com 2. 20th). Herpes Simplex. Marques AR.In: Arenas R. Habif TP. Therapy And Prevention. 20th]: Available from: http://emedicine. Arenas Roberto. New York: McGraw Hill.346-55 8. p. Sra K. Goldsmith LA.

2004.In: Burns T. Cox N. ABC OF DERMATOLOGY 4th Edition. BMJ Evidence Based Dermatology 2nd. 2008.com 12. 13. Paus R. Kongo DL. p. Virus Infections. Griffiths C. Herpes Simplex. Tropical Infectious Diseases. Pinninti SG.Herpes Simplex And Herpes Zoster. Stanberry LR. 18. 22 . Harrison’s Principles of Internal Medicine.com/article/964866-diagnosis 17. Update on 22 Mey 2010. Braunwald E. Gawkrodger DJ. editors. Mahler V. Cited on: 19 Mei 2010 http://www. Anonim.2003p92-3 14. Dermatology An Illustrated Colour Text 3rd Edition. 7th ed.9. In: Guerrant RL. 20th]: Available from: http://emedicine. Rook's Textbook of Dermatology. Hauser S. Torres G. Loscalzo J. 2009 Date [cited 2010 Mei. Kasper DL. London: Mosby Elsevier. Victoria: Blackwell Publishing Ltd. 16. London: Mosby Elsevier. Hudnal SD. Cited on 19 Mei 2010 http://emedicine..medscape. editors.New York:2006. Bigby M. Weller PF editors. Sterry W. Viral infections . Buxton. London:BMJ Publishing Group. BK. 2008. Sterling JC. In: Williams H.USA: Blackwell Publishing:2008 11. Herpes Simplex.25.umm.edu/patiented/articles/how_serious_herpes_simplex_0000 52_5.Edition. Jameson JL. New York: The McGraw-Hill Companies. 2006. Human Herpesviruses Infections. Burgdorf W Thieme Clinical Companions Dermatology. Fauci A. Walker DH. Update on 22 Mey 2010. Herpes Simplex Virus Infection: Differential Diagnoses & Workup.15-22 10.htm 15. Breathnach S.medscape. Herpes simplex – Diagnosis.

20th]: Available from: http://emedicine.19. 2009 Date [cited 2010 Mei.medscape.com 23 . Herpes Simplex: Treatment & Medication. Torres G.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful