P. 1
TESIS BAB 1,2,3

TESIS BAB 1,2,3

|Views: 179|Likes:
Published by Fatih A. Setyawan
TESIS
TESIS

More info:

Published by: Fatih A. Setyawan on Sep 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2014

pdf

text

original

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi setiap manusia, karena dengan pendidikan, manusia dapat mengembangkan potensi dirinya untuk mencapai kesejahteraan hidup. Tuntutan mendasar yang dialami dunia pendidikan saat ini adalah peningkatan mutu pembelajaran. Setiap lembaga pendidikan berusaha untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang terampil dan cerdas sehingga menuntut orang-orang di lembaga tersebut bekerja secara optimal, penuh rasa tanggungjawab dan berdedikasi tinggi. Mata pelajaran Geografi merupakan mata pelajaran yang tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Namun dalam prakteknya, pendekatan pembelajaran yang diterapkan kepada siswa melalui pendekatan konvensional sebagai pendekatan yang dominan, sedangkan Dalam proses pendekatan pembelajaran lain jarang dilakukan. konvensional, siswa kurang kreatif untuk

pembelajaran

mengembangkan kemampuan berpikir, sehingga siswa menjadi pasif dan kurang terlibat dalam pembelajaran. Salah satu upaya Pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan, di antaranya

2

menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Berdasarkan KTSP, kegiatan pembelajaran dirancang dan dikembangkan berdasarkan karakteristik kompetensi dasar, standar kompetensi, potensi peserta didik dan daerah, serta lingkungan. Setiap kegiatan pembelajaran bertujuan untuk mencapai kompetensi dasar yang dijabarkan dalam indikator dengan intensitas pencapaian kompetensi yang beragam. Berdasarken hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran geografi di SMA Muhammadiyah 1 Purbolinggo diketahui bahwa mata pelajaran Geografi dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang menarik dan sulit dipahami, sehingga siswa kurang termotivasi selama proses pembelajaran. Hal tersebut juga diperkuat berdasarkan hasil pengamatan peneliti selaku salah satu guru geografi di SMA Muhammadiyah I Purbolinggo dimana siswa ketika dalam proses pembelajaran kurang termotivasi hal tersebut terlihat kurangnya antusias siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Selaian itu, aktivitas siswa juga masih sangat rendah hal ini terlihat dari kurang interakif antara guru dan murid dimana ketika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tidak ada siswa yang bertanya, ataupun sebaliknya ketika guru memberikan pertanyaan hanya sedikit siswa yang mempunyai keberanian untuk mengeluarkan pendapatnya. hal lain yang menjadi masalah adalah mengenai pemahaman konsep,. Pemahaman konsep disini artinya sejauh mana siswa memahami materi yang dipelajari. Berdasarkan hasil observasi diperoleh nilai siswa kelas XI IPS1 sebagai berikut.

3

Tabel 1. Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas XI IPS SMA Muhammadiyah I Purbolinggo Tahun Pembelajaran 2012/2013. No 1 2 3 Prestasi < 65 (Rendah) 65-79 (Sedang) > 79 (Tinggi) ∑ XI IPS 1 34 3 37 % 92% 8% 0% 100%

Sumber: Dokumentasi Guru Mata Pelajaran Geografi Kelas XI IPS SMA Muhammadiyah I Purbolinggo Tahun Pembelajaran 2012/2013.

Berdasarkan jumlah siswa yang ada yakni 37 siswa hanya 3 siswa atau 8% saja yang lulus nilai KKM sedangkan yang lainya yakni 34 siswa atau sebesar 92% tidak lulus KKM. Adapun nilai KKM yang digunakan adalah sebesar 70. Penentuan nilai KKM ini diperoleh dengan menggunakan 3 kriteria penilaian meliputi, kompleksitas, daya dukung dan intake. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih belum menguasai konsep yang ada. Untuk mengatasi hal ini perlu digunakan pendekatan yang dapat meningkatkan motivasi, aktivitas, dan pemahaman konsep agar siswa dapat berperan aktif selama proses pembelajaran. Hal lain yang dapat terlihat pada saat proses pembelajaran adalah kurang disiplinya siswa ketika berada di dalam lingkungan sekolah. Hal ini terlihat pada saat bel masuk siswa tidak segera masuk melainkan tetap berada diluar kelas sampai guru yang mengajar dikelas tersebut masuk. Kondisi tersebut

4

menunjukkan bahwa sikap siswa tersebut tidak didisiplin hal ini akan berdampak pada kesiapan mereka dalam proses pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, salah satu pendekatan yang diduga dapat mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut dan mencapai tujuan yang diharapkan adalah dengan menerapakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) yang berorientasi pada life skill. Menurut Nurhadi (2003:13), pendekatan CTL yaitu merupakan konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan konteks-konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat, seperti dalam pemanfaatan sumber daya dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkesinabangan dalam masyarakat tersebut. Berbagai alasan tersebutlah yang menjadi alasan bagi peneliti untuk menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) yang berorientasi pada life skill pada pembelajaran geografi. Karena saat ini, siswa cenderung bosen dengan materi-materi atau konsep-konsep yang diberikan oleh guru terlebih itu hanya bersumber dari buku. Karena pada dasarnya memang tidak belajar itu tidak hanya bersumber pada buku melainkan lingkungan disekitar juga bisa menjadi sumber belajar. Berangkat dari hal tersebut maka dengan menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) yang berorientasi pada life skill diharapkan siswa lebih menikmati proses

pembelajaran sehingga siswa tidak terbebani oleh materi-materi yang tersedia

Disiplin siswa masih rendah 5. maka dapat diidentifikasi permasalahanya sebagai berikut: 1. pendekatan tersebut yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi. Pemahaman konsep siswa rendah 4. Rendahnya motivasi siswa pada saat proses pembelajaran 2. Karena dalam hal ini. Kreatifitas siswa masih rendah C. Batasan Masalah Berdasarkan indentifikasi masalah tersebut maka batasan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah: 1. Rendahnya motivasi siswa pada saat proses pembelajaran 2. aktivitas dan pemahaman konsep geografi siswa kelas XI IPS1 semester genap SMA Muhammadiyah 1 Purbolinggo Tahun Pelajaran 2012/2013. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut. Rendahnya aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran . Rendahnya aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran 3. Mengingat manfaat yang diperoleh dari penerapan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill diduga sangat besar baik oleh siswa maupun guru.5 didalam buku. seorang guru mengaitkan pengalamanpengalaman siswa yang diperoleh dilingkungan masing-masing dengan materi yang ada sehingga setidaknya siswa sudah memiliki bekal dalam memahami materi yang ada. B.

Pemahaman konsep siswa rendah D.6 3. 2. rumusan masalahnnya dijabarkan menjadi pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa setelah pembelajaran materi lingkungan hidup dengan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mendeskripsikan peningkatan pemahaman konsep geografi siswa setelah pembelajaran materi lingkungan hidup dengan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill. Mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa setelah pembelajaran materi lingkungan hidup dengan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill. . 3. Bagaimana pemahaman konsep siswa pada materi lingkungan hidup melalui pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill? E. Bagaimana peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi lingkungan hidup melalui pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill? 3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Bagaimana peningkatan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran geografi khususnya meteri lingkungan hidup melalui pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill? 2.

memperhatikan kebutuhan siswa. Bagi sekolah. Dapat memberikan informasi kepada sekolah dalam meningkatnya motivasi. dan dapat meningkatkan pemahaman belajar siswa. aktivitas dan pemahaman konsep terhadap mata pelajaran geografi.7 F. Bagi siswa. 2. aktivitas dan pemahaman konsep belajar siswa dengan menggunakan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill G. 2. aktivitas dan pemahaman konsep geografi siswa. sehingga siswa merasa lebih senang dan tentunya tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran. Ruang lingkup objek penelitian Ruang lingkup objek penelitian ini adalah pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill. Ruang Lingkup Penelitian 1. Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat berguna: 1. motivasi. dapat memberikan informasi yang menarik bagi guru mengenai alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran geografi. Bagi guru. tidak terpusat pada guru. Subjek penelitian . dapat meningkatkan motivasi. sehingga proses pembelajaran lebih bermakna. 3. tidak membosankan.

hakekatnya berkenaan dengan aspek-aspek keruangan permukaan bumi (geosfer) dan faktor-faktor geografis alam lingkungan dan kehidupan manusia (Nursid Sumaatmadja. Ruang lingkup ilmu Ruang lingkup ilmu pada penelitian ini adalah pembelajaran geografi. Pembelajaran geografi.8 Ruang lingkup subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS1 SMA Muhammadiyah I Purbolinggo 3. Alasan dipergunakan pembelajaran geografi sebagai ilmu-ilmu yang mendasar pada penelitian ini. Waktu penelitian Ruang lingkup waktu penelitian pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 5. karena pembelajaran geografi merupakan pembelajaran tentang hakekat geografi yang diajarkan di sekolah dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak pada jenjang pendidikan masing-masing. 2001:12). Tempat penelitian Ruang lingkup tempat penelitian adalah di SMA Muhammadiyah I Purbolinggo. . 4.

Tinjauan Pustaka 1. Menurut pengertian secara psikologis.9 II. belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. KERANGKA PIKIR. Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup. Perubahan yang terjadi pada diri seseorang banyak sekali baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Dalam belajar harus terjadi perubahan baik tingkah laku dan cara berfikir. . sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar menurut Slameto (2003:2) adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. DAN HIPOTESIS A. TINJAUAN PUSTAKA.

Agar terjadi perubahan. Selain definisi di atas. Supaya tingkah laku (respon) yang diinginkan terjadi. Teori belajar kognitif lebih menekankan pada cara-cara seseorang menggunakan pikirannya untuk belajar. harus terjadi proses berfikir yakni proses pengolahan informasi dalam diri seseorang. maka peristiwa belajar sudah terjadi.10 Menurut Abdillah dalam Aunurrahman (2008:27) Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif. Belajar menurut aliran Kognitif Belajar adalah “peristiwa internal. ada beberapa definisi belajar secara khusus yaitu “definisi belajar yang didasarkan pada aliran psikologi tertentu” (Darsono 2000:5) di antaranya : a. dan . mengingat. Belajar menurut aliran Behavioristik Belajar merupakan “proses perubahan perilaku karena adanya pemberian stimulus yang berakibat terjadinya tingkah laku yang dapat diobservasi dan diukur” (Darsono 2000:5). diperlukan latihan dan hadiah (reward) atau penguatan (reinforcement). afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu. Jika hubungan antara stimulus dan respon sudah terjadi akibat latihan dan hadiah atau penguatan. yang kemudian respon berupa tindakan. artinya belajar baru dapat terjadi bila ada kemampuan dalam diri orang yang belajar”. b.

Meskipun orang mempunyai tujuan tertentu dalam belajar serta telah memilih sikap yang tepat untuk merealisir tujuan itu.11 menggunakan pengetahuan yang telah diperoleh dan disimpan di dalam pikirannya secara efektif. tetapi siswa yang harus mengkonstruksikan pengetahuan di dalam memorinya sendiri. namun tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan itu sangat dipengaruhi oleh situasi. orang itu akan memperoleh insight (pemikiran). c. Adapun prinsip-prinsip belajar tersebut sebagai berikut : . d. Belajar menurut aliran Gestalt Belajar adalah “bagaimana seseorang memandang suatu objek (persepsi) dan kemampuan mengatur atau mengorganisir objek yang dipersepsi (khususnya yang kompleks). Kalau insight sudah terjadi. berarti proses belajar sudah terjadi. Belajar menurut aliran Konstruktivistik Belajar adalah “lebih dari sekedar mengingat” (Anni 2004:49). Bila orang sudah mampu mempersepsi suatu objek (stimulus) menjadi suatu gestalt. Hal ini memberikan implikasi bahwa siswa harus terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Teori belajar ini menyatakan bahwa guru bukanlah orang yang mampu memberikan pengetahuan kepada siswa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam belajar adalah prinsip-prinsip belajar. sehingga menjadi suatu bentuk bermakna atau mudah dipahami” (Darsono 2000:16).

i. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya. b. b. motif. c. alat pelajaran. c. relasi antar anggota keluarga. relasi guru dengan siswa. e. d. minat. Keberhasilan ditentukan oleh banyak factor. waktu sekolah. metode belajar dan tugas rumah). Sehubungan hal ini Slameto (2003:54) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah : 1. Faktor keluarga (cara orang tua mendidik. perhatian. Faktor psikologis (inteligensi. Faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat. kematangan dan kesiapan). Faktor sekolah (metode mengajar. teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat).12 a. (Thursan Hakim. keadaan ekonomi keluarga. Proses belajar akan terjadi apabila seseorang dihadapkan pada situasi problematis. standar pelajaran di atas ukuran. c. Belajar merupakan proses kontinu. Belajar harus berorientasi pada tujuan yang jelas. relasi siswa dengan siswa. h.2005:2) Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku seesorang yang diperlihatkan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang menjadi lebih baik dari sebelumnya. mass media. kurikulum. 2. Belajar memerlukan adanya kesesuian antara guru dan murid. f. bakat. Faktor kelelahan. Belajar memerlukan kemampuan dalam menangkap intisari pelajaran itu sendiri. Belajar memerlukan kemampuan yang kuat. Faktor jasmaniah (faktor kesehatan dan cacat tubuh). keadaan gedung. Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang ada di luar individu meliputi : a. . g. Belajar memerlakan metode yang tepat. yaitu faktor intern dan faktor ekstern. sedangkan faktor ekstern adalah faktor faktor yang ada di luar individu. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu. b. disiplin sekolah. tetapi dapat digolongkan menjadi dua saja. Belajar dengan pengertian akan lebih bermakna dari pada belajar dengan hafalan. pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan). Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar meliputi : a. suasana rumah.

menjadi siswa yang memilki pengetahuan. menjadi siswa yang terdidik. Teori konstruktivisme ini menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses pembentukan pengetahuan (Bambang Warsita. Pembelajaran mengubah masukan berupa siswa yang belum terdidik. 2. perancang pembelajaran. siswa yang belum memiliki pengetahuan tentang sesuatu. Maka perserta didik harus aktif melakukan kegiatan. Dengan kata lain para guru. disusun sedemikian rupa untuk mendukung dan mempengaruhi terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. perancang pembelajaran. 2008:78). Maka para guru. dan pengembang progam-progam pembelajaran ini berperan untuk membantu proses pengonstruksian pengetahuan oleh peserta didik agar berjalan lancar. . para guru ini tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya. Pembentukan ini harus dilakukan oleh peserta didik sendiri. Teori belajar Guna mendukung penelitian ini penulis menggunakan teori konstruktivisme.13 Pembelajaran menurut Aunurrahman (2008:26) adalah sebagai suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa. aktif berfikir. Dengan demikian. Istilah pembelajaran sering dipahami sama dengan proses belajar mengajar dimana di dalamnya terjadi interaksi guru dan siswa dan antara sesama siswa untuk mencapai suatu tujuan yaitu terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku siswa. menyusun konsep dan memberi makna sesuatu yang dipelajarinya. yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang. dan pengembang progam-progam pembelajaran ini berperan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya belajar.

Dengan demikian.14 tetapi membantu peserta didik untuk membentuk pengetahuanya sendiri. Jadi. identifikasi kekuatan dan kelemahan model-model pembelajaran secara tepat. dalam belajar harus diciptakan lingkungan yang mengundang atau merangsang perkembangan otak/kognitif peserta didik. Pembelajaran Kooperatif Model-model pembelajaran menurut Joyce dan Weil (1992:4) adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum. karena teori ini berpandangan bahwa setiap siswa memiliki kemampuan untuk menggunakan startegi mereka untuk menggali ilmu dalam proses belajarnya. 3. Oleh karena itu. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa teori belajar konstruktivisme lebih menekankan kepada keaktifan siswa dalam belajar. melainkan sebagai konstruksi kognitif seseorang terhadap objek. Menurut teori konstruktivisme pengetahuan bukan merupakan kumpulan fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari. dan sebagai pedoman kegiatan belajar mengajar di kelas maupun di tempat lain. pengalaman ataupun lingkungannya. maka efektifitas pembelajaran yang kita selenggarakan akan meningkat. Ketepatan model pembelajaran yang dipilih akan memainkan peranan penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. model pembelajaran adalah pola umum untuk menyusun suatu kurikulum/materi ajar untuk mewujudkan peristiwa belajar mengajar yang efektif dalam mencapai . mengembangkan serta menerapkannya dalam proses pembelajaran. untuk mendesain materi pelajaran.

Hal ini sesuai pendapat Slavin dalam Etin dan Raharjo (2007: 4) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang dengan anggota kelompoknya yang bersifat heterogen baik tingkat kemampuannya maupun jenis kelaminnya. yang merupakan paduan antara urutan kegiatan. Makin kuat peran guru makin pasif peran siswa. baik secara individual maupun secara kelompok. model pembelajaran berada dalam garis kontinum untuk mempresentasikan tingkat dominasi peran guru dan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. dalam rangka meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. di mana dalam sistem ini. metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran. Sebagai pola umum kegiatan guru-siswa. di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang hiterogen untuk memecahkan berbagai permasalahan yang disiapkan oleh guru (sharing ideas). keberhasilan belajar dalam kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok. Selanjutnya dikatakan pula. Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Lie dalam Ernawati (2009: 9) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam mengerjakan tugas-tugas terstruktur.15 tujuan pembelajaran tertentu. dan sebaliknya makin sedikit dominasi guru semakin besar peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. guru bertindak sebagai fasilitator yang . serta pendefinisian peran antara guru dan siswa.

Anggota kelompok mengerjakan tugas kelompok secara kolaboratif dan saling membantu satu sama lain. Banyak otak dalam mengerjakan pekerjaan kelompok. Slavin dalam Etin dan Raharjo (2007:5) menyatakan model pembelajaran kooperatif menempatkan siswa sebagai bagian inti dari suatu sistem kerjasama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu jenis model pembelajaran . bekerja dalam kelompok. yaitu “getting better together” atau raihlah yang lebih baik secara bersama-sama. karena setiap anggota kelompok saling melengkapi dan saling menutup kekurangan anggota kelompok yang lain.16 memberikan arahan kepada siswa tentang bagaimana siswa membentuk kelompok. kelompok tersebut tidak akan mampu mendapatkan nilai kelompok yang bagus. karena belajar dalam cooperative learning harus ada “struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif” sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdepedensi yang efektif di antara anggota kelompok. Slavin dan Stahl dalam Etin dan Raharjo (2007:4) menyatakan bahwa cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja. Kelebihan anggota kelompok yang satu bersatu dengan kelebihan anggota kelompok yang lain akan membentuk kekuatan yang sangat besar dalam memecahkan masalah yang disiapkan guru. Tanpa adanya kerjasama yang kompak. Model pembelajaran ini berangkat dari asumsi mendasar dalam kehidupan masyarakat. dan mempertanggungjawabkan pekerjaan secara kelompok. Selanjutnya. tentu lebih baik daripada hanya satu otak dalam mengerjakan tugas.

Lima unsur pembelajaran kooperatif adalah: saling bergantung satu sama lain secara positif. pembelajaran kooperatif merujuk pada kaidah pengajaran yang memerlukan siswa dari kemampuan yang heterogen untuk bekerja sama dengan kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan guru antara lain. akuntabilitas individu atas pembelajaran diri sendiri. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran di mana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Siswa yang mampu membantu siswa yang kurang mampu dalam memahami persoalan yang disediakan oleh guru. menurut Suherman (2003) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran dengan jalan mengelompokkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan sebuah masalah. tanpa ada yang tertinggal. guru akan memberikan waktu tambahan untuk pengayaan dan remedial sehingga dapat mengejar ketertinggalan. Ketika ada siswa yang tertinggal dalam penguasaan materi pelajaran. Siswa yang kurang mampu tidak perlu segan-segan untuk meminta bantuan kepada siswa yang lebih mampu baik saat mengerjakan tugas kelompok di kelas maupun tugas di rumah. saling berinteraksi secara langsung. seluruh siswa mampu menguasai materi pelajaran secara tuntas. Dalam menyelesaikan tugas kelompok. kemahiran kooperatif.17 yang menggunakan kerjasama antarsiswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. . Selanjutnya. setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Menurut Slavin (2008). dan pemrosesan kelompok.

Ada banyak sekali jenis atau tipe pembelajaran kooperatif. mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah sekelompok strategi mengajar di mana di dalamnya melibatkan siswa untuk bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan pembelajaran. . TPS (Think-Pairs-Share). Dengan kegiatan seperti ini akan membuat mereka bisa mengembangkan keterampilan sosial sebagaimana yang terjadi di dunia nyata. (2) akuntabilitas individual. Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan efektif. siswa belajar untuk bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan pada siswa adalah sebagai berikut. atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. TGT (Teams Games Tournament). dan (3) kesempatan untuk sukses yang sama.18 menyelesaikan suatu tugas. dan lain-lain. Jigsaw. Group Investigation. yaitu sama-sama mempunyai tiga komponen esensial: (1) tujuan-tujuan kelompok. Para siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka tenggelam dan berenang bersama. 1. Semua tipe pembelajaran ini mempunyai kesamaan. misalnya tipe STAD (Student Teams Achievement Development). Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan Faiq Dzaki (2009). Di dalam sebuah pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok. Para siswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. 6.com/2008/11/meningkatkan-efektifitasperkuliahan.blogspot. Dalam kelompoknya .19 2. Para siswa harus membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besar diantara para anggota kelompok. (http://scmariani-unnes. anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompoknya dan yang lebih penting adalah memberi dorongan pada anggota lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal. 7. 4. Para siswa berbagi kepemimpinan. Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya. untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada pembelajaran kooperatif. Berdasarkan teori di atas. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama. Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang yang heterogen berdasarkan tingkat kemampuan akademik siswa. struktur pencapaian tujuan kooperatif menciptakan situasi di mana keberhasilan individu dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.html). 5. di samping tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi. sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama selama belajar. Oleh karena itu. 3.

(4) memberikan kesempatan mengembangkan keterampilan metakognitif. Karena keberhasilan kelompok ditentukan oleh keberhasilan masing-masing anggota kelompok. (2) pemanfaatan sesama siswa sebagai sumber belajar. Kemudian. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya masing-masing anggota bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya. Lebih lanjut. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Elaine B. ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari suasana belajar koperatif. maka setiap anggota kelompok harus bekerjasama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. yaitu: (1) melatih kemampuan bekerja sama dalam kelompok. Johnson (Riwayat. dan (5) memenuhi kebutuhan afiliasi siswa. (3) memberi kesempatan mengemukakan gagasan berbeda-beda (divergen). 2008) mengatakan pembelajaran kontekstual adalah sebuah sistem yang meransang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. pembelajaran kooperatif ini memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi pada siswa lainnya untuk memahami kebermaknaan isi pelajaran dan bekerjasama secara aktif dalam menyelesaikan tugas. Membaca uraian di atas dapat diketahui bahwa. sebab . 4.20 siswa diberi kebebasan untuk menyelesaikan tugas kelompoknya. Jadi. Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan seharihari siswa. pembelajaran kontekstual adalah usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa kemampuan diri tanpa merugi dari segi manfaat.

21 siswa berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkannya dengan dunia nyata. Untuk mengaitkannya bisa dilakukan berbagai cara. inti dari pendekatan CTL adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan dunia nyata. yang memang baik secara langsung maupun tidak diupayakan terkait atau ada hubungan dengan pengalaman hidup nyata. kemampuan melaksanakan proses pembelajaran melalui CTL yang baik didasarkan pada penguasaan konsep apa. Ketika memberikan pengalaman belajar akan diorientasikan pada pengalaman dan kemampuan aplikatif yang lebih bersifat praktis. Dengan demikian. mengapa. Sejauh ini. Dengan demikian. pembelajaran masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai fakta untuk dihapal. Pembelajaran tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja. juga akan dirasakan sangat dibutuhkan oleh setiap siswa karena apa yang dipelajari dirasakan langsung manfaatnya. akan tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa itu senantiasa terkait dengan permasalahan-permasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya. media. Melalui pemahaman konsep yang benar dan . sumber belajar. selain karena memang materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual. dan lain sebagainya. tidak diartikan pemberian pengalaman teoritis konseptual tidak penting. dan bagaimana CTL itu. Demikian juga halnya bagi guru. pembelajaran selain akan lebih menarik. Sebab dikuasainya pengetahuan teoritis secara baik oleh para siswa akan memfasilitasi kemampuan aplikatif lebih baik pula. juga bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau contoh.

media. dan penuh keyakinan. Sebab dikuasainya pengetahuan teoritis secara baik oleh para siswa akan memfasilitasi kemampuan aplikatif lebih baik pula. kemampuan melaksanakan proses pembelajaran melalui CTL yang baik didasarkan pada penguasaan konsep apa. juga akan dirasakan sangat dibutuhkan oleh setiap siswa karena apa yang dipelajari dirasakan langsung manfaatnya. tegas. sumber belajar. karena memang telah didasari oleh kemampuan konsep teori yang kuat. Pembejalaran di sekolah tidak hanya difokuskan pada pemberian pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja. juga bisa disiasati dengan pemberian ilustrasi atau contoh. Demikian juga halnya bagi guru. Dengan demikian. akan membekali kemampuan para guru menerapkannya secara lebih luas. tidak diartikan pemberian pengalaman teoritis konseptual tidak penting. Dengan demikian. inti dari pendekatan CTL adalah keterkaitan setiap materi atau topik pembelajaran dengan dunia nyata. Ketika memberikan pengalaman belajar akan diorientasikan pada pengalaman dan kemampuan aplikatif yang lebih bersifat praktis. yang memang baik secara langsung maupun tidak diupayakan terkait atau ada hubungan dengan pengalaman hidup nyata. dan lain sebagainya. akan tetapi bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa senantiasa terkait dengan permasalahanpermasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya. . Untuk mengaitkannya bisa dilakukan berbagai cara.22 mendalam terhadap CTL itu sendiri. pembelajaran selain akan lebih menarik. selain karena memang materi yang dipelajari secara langsung terkait dengan kondisi faktual.

23 mengapa. Dengan demikian. pembelajaran akan lebih bermakna. mencoba. dan bahkan sekadar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru. Untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa. karena memang telah didasari oleh kemampuan konsep teori yang kuat. akan tetapi secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan . akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi fisik). tentu saja diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan. Oleh sebab itu. dan penuh keyakinan. akan membekali kemampuan para guru menerapkannya secara lebih luas. A. dan bagaimana CTL itu. mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata. 2002). Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi. dan mengalami sendiri (learning to do). tegas. melalui pembelajaran konstektual. Melalui pemahaman konsep yang benar dan mendalam terhadap CTL itu sendiri.

yaitu dengan konteks kehidupan pribadi. “Contextual teaching is teaching that enables learning in which student employ their academic understanding and abilities in a variety of in-and out of school context to solve simulated or real word problems. “contextual teaching and learning enabels students to connect an content of academic subject with the immediate context of their daily lives to discover meaning. mengolah. sosial. by providing students with fresh experience that simulate the brain to make new connection and consecuently. CTL memperluas konteks pribadi siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru) (Johnson. It enlarges their personal context furthermore. dan budaya. Pembelajaran konstektual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari. dan menemukan pengalaman belajar yang lebih bersifat konkret (terkait dengan kehidupan nyata) . Sementara itu. 2002) (CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. baik sendiri-sendiri maupun bersamasama).24 situasi dan permasalahan kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat). 2002). to discover new meaning”. (Johnson. Keneth. (CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar dimana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan masalah yang bersifat simulative ataupun nyata. (2001) mendefenisikan CTL sebagai berikut. Sistem CTL adalah proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan jalan menghubungkan mata pelajaran akademik dengan isi kehidupan sehari-hari. both alone and with others”. Howey R.

25

melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses.

Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi, 2002). Untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), dan bahkan sekadar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru.

Oleh sebab itu, melalui pembelajaran konstektual, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi fisik), akan tetapi secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan situasi dan permasalahan kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan masyarakat).

26

Secara lebih terurai diungkapkan oleh Reigeluth, bahwa fungsi dan peran desain pembelajaran, antara lain: 1. Instructional design prescribes methods a part of instructional development; 2. Instructional design prescribes procedure for instructional implementation; 3. Instructional design prescribes procedure for instructional management; 4. Instructional design identifies and remedies weaknesses as a part of instructional evaluation.

Berdasarkan uraian singkat konsep desain di atas, maka desain pembelajaran memiliki sifat keluwesan (fleksibel), tidak kaku dalam satu model tertentu saja. Format desain bisa dikembangkan dalam bentuk yang bervariasi tergantung pada tujuan dan model pembelajaran bagaimana yang akan dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Dari hasil inovasi, kini ditemukan berbagai jenis model pembelajaran seperti model terpadu, model cooperative learning, model pembelajaran quantum teaching and learning, dan lain sebagainya. Kini muncul model lain, yaitu yang disebut dengan Contextual Teaching and Learning (CTL). Tentu saja setiap model tersebut disamping memiliki unsure kesamaan, juga ada beberapa perbedaan tertentu. Hal ini karena setiap model memiliki karakteristik khas tertentu, yang tentu saja berimplikasi pada adanya perbedaan tertentu dalam membuat desain/skenarionya disesuaikan dengan model yang akan diterapkan.

Ciri khas CTL ditandai oleh tujuh komponen utama, yaitu 1) Constructivism; 2)

27

Inquiry; 3) Questioning; 4) Learning Community; 5) Modelling; 6) Reflection; dan 7) Authentic Assessment. Penjelasan dari setiap komponen tersebut sudah diungkapkan dalam materi sebelumnya. Sekarang tinggal bagaimana

melaksanakan setiap komponen tersebut dalam bentuk pembelajaran di kelas atau di luar kelas sehingga benar-benar mencerminkan pelaksanaan model CTL. Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan CTL, tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat desain/skenario pembelajarannya, sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah berukut. 1. Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna, apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru yang akan dimilikinya. 2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topic yang diajarkan. 3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaanpertanyaan. 4. Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi, Tanya jawab, dan lain sebagainya. 5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model, bahkan media yang sebenarnya.

28

6. Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajran yang telah dilakukan. 7. Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa.

B. Komponen Pembelajaran Kontekstual

Komponen pembelajaran kontekstual meliputi: (1) menjalin hubungan-hubungan yang bermakna (making meaningful connections); (2) mengerjakan pekerjaanpekerjaan yang berarti (doing significant work); (3) melakukan proses belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning); (4) mengadakan kolaborasi (collaborating); (5) berpikir kritis dan kreatif ( critical and creative thinking); (6) memberikan layanan secara individual (nurturing the individual); (7)

mengupayakan pencapaian standar tinggi (reaching high standards); dan menggunakan assessment autentik (using authentic assessment). (Johnson B. Elaine, 2002).

C. Prinsip Pembelajaran Kontekstual

CTL, sebagai suatu model, dalam implementasinya tentu saja memerlukn perencanaan pembelajaran yang mencerminkan konsep dan perinsip CTL.

Setiap model pembelajaran, di samping memiliki unsur kesamaan, juga ada beberapa perbedaan tertentu. Hal ini karena setiap model memiliki karakteristik khas tertentu, yang tentu saja berimplikasi pada adanya perbedaan tertentu dalam

Pengetahuan teoritis yang bersifat . Oleh karena itu. konsep. yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Manusia harus membangun pengetahuan itu member makna melalui pengalaman yang nyata. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta.29 membuat desain/skenarionya disesuaikan dengan model yang akan diterapkan. yaitu: 1. tetapi tidak memberikan sumbangan yang cukup baik dalam waktu jangka panjang. atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. strategi untuk membelajarkan siswa menghubungkan antara setiap konsep dengan kenyataan merupakan unsure yang diutamakan dibandingkan dengan penekanan terhadap seberapa banyak pengetahuan yang harus diingat oleh siswa. Konstriktivisme (Contructivisme) Konstriktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) dalam CTL. Ada tujuh perinsip pembelajaran kontekstual yang harus dikembangkan oleh guru. Batasan konstruktivisme di atas memberikan penekanan bahwa konsep bukanlah tidak penting sebagai bagian integral dari pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. akan tetapi bagaimana dari setiap konsep atau pengetahuan yang dimiliki siswa itu dapat memberikan pedoman nyata terhadap siswa untuk diaktualisasikan dalam kondisi nyata. dalam CTL. Hasil penelitian ditemukan bahwa pemenuhan terhadap kemampuan penguasaan teori berdampak positif untuk jangka pendek.

30 hapalan mudah lepas dari ingatan seseorang apabila tidak ditunjang dengan pengalaman nyata. dan media pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk aktif mencari dan melakukan serta menemukan sendiri kaitan antara konsep yang dipelajari dengan pengalamannya. sehingga dengan wawasannya itu ia selalu dengan mudah memberikan ilustrasi. 2. Dengan cara itu. Pembelajaran akan dirasakan memiliki makna apabila secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan pengalaman sehari-hari yang dialami oleh pada siswa itu sendiri. menggunakan sumber belajar. setiap guru harus memiliki bekal wawasan yang cukup luas. Kegiatan pembelajaran yang mengarah pada upaya menemukan. Implikasi bagi guru dalam mengembangkan tahap konstruktivisme ini terutama dituntut kemampuan untuk membimbing siswa mendapatkan makna dari setiap konsep yang dipelajarinya. merupakan kegiatan inti dari CTL. melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan ketrampilan serta kemampuankemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil keringat mereka mengingat fakta-fakta. pengalaman belajar siswa akan memfasilitasi kemampuan siswa untuk melakukan transformasi terhadap pemecahan masalah lain yang memiliki sifat keterkaitan. Oleh karena itu. meskipun terjadi pada ruang dan waktu yang berbeda. telah lama diperkenalkan pula dalam pembelajaran inquiry and discovery (mencari dan menemukan). tetapi merupakan hasil dari menemukan sendiri. Menemukan (Inquiry) Menemukan. Tentusaja unsur menemukan dari kedua pembelajaran (CTL dan inquiry and .

3. Oleh karena itu.31 discovery) secara perinsip tidak banyak perbedaan. Seperti pada tahapan sebelumnya. akan bersifat lebih tahan lama diingat oleh siswa bila dibandingkan dengan sepenuhnya merupakan pemberian dari guru. Penerapan unsur bertanya dalam CTL harus difasilitasi oleh guru. Dilihat dari segi kepuasan secara emosional. berkembangnya kemampuan dan keinginan untuk bertanya. bertanya merupakan strategi utama dalam CTL. Beranjak dari logika yang cukup sederhana itu tampaknya akan memiliki hubungan yang erat bila dikaitkan dengan pendekatan pembelajaran. berimplikasi pada strategi yang dikembangkan oleh guru. Di mana hasil pembelajaran merupakan hasildsn kreativitas siswa sendiri. Untuk menumbuhkan kebiasaan siswa secara kreatif agar bisa menemukan pengalaman belajarnya sendiri. kebiasaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran. yaitu model atau sistem pem-belajarannya yang membantu siswa baik secara individu maupun kelompok belajar untuk menemukan sendiri sesuai dengan pengalaman masingmasing. Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Bertanya (Questioning) Unsur lain yang menjadi karakteristik utama CTL adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya. sesuatu hasil menemukan sendiri nilai kepuasannya lebih tinggi dibandingkan hasil pemberian. intinya sama. sangat dipengaruhi oleh suasana pembelajaran yang .

6) Memfokuskan perhatian siswa. 2) Mengecek pemahaman siswa. tugas bagi guru adalah membimbing siswa melalui pertanyaan yang diajukan untuk mencari dan menemukan kaitan antara konsep yang dipelajarari dalam kaitan dengan kehidupan nyata. 3) Membangkitkan respon siswa. Oleh karena itu. baik administrasi maupun akademik. 4. akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam. 5) Mengetahui hal-hal yang diketahui siswa. dan akan banyak ditemukan unsur-unsur terkait yang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun oleh siswa. Masyarakat Belajar (Learning Community) Maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya.32 dikembangkan oleh guru. maka: 1) Dapat menggali informasi. Dalam implementasi CTL. pembelajaran akan lebih hidup. 4) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa. Dengan kata lain. dan 8) Menyegarkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Melalui penerapan bertanya. 7) Membangkitan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa. bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain melalui berbagai pengalaman . cukup beralasan jika pengembangan bertanya produktivitas pembelajaran akan lebih tinggi karena dengan bertanya. pertanyaan yang diajukan oleh guru atau siswa harus dijadikan alat atau pendekatan untuk menggali informasi atau sumber belajar yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Seperti yang disarankan dalam learning community.

akan tetapi sumber manusia lain di luar kelas (keluarga dan masyarakat). Hal ini berimplikasi pada ada saatnya seseorang bekerja sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Melalui sharing ini anak dibiasakan untuk saling member dan menerima. akan tetapi secara luas dibuka jalur hubungan komunikasi pembelajaran antara siswa dengan siswa lain. Manusia diciptakan sebagai makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial. 5. namun di sisi lain tidak bisa melepaskan diri ketergantungan dengan pihak lain. sifat ketergantungan yang positif dalam learning community dikembangkan. yaitu model komunikasi yang bukan hanya hubungan antara guru dengan siswa atau sebaliknya.33 (sharing). Kebiasaan penerapan dan mengembangkan masyarakat belajar dalam CTL sangat dimungkinkan dan dibuka dengan luas memanfaatkan masyarakat belajar lain di luar kelas. Dimana dituntut keterampilan dan profesinalismeguru untuk mengembangkan komunikasi kebanyak arah (interaksi). Ketika kita dan siswa dibiasakan untuk memberikan pengalaman yang luas kepada orang lain. Setiap siswa semestinya dibimbing dan diarahkan untuk mengembangkan rasa ingin tahunya melalui pemanfaatan sumber belajar secara luas yang tidak hanya disekat oleh masyarakat belajar di dalam kelas. Pemodelan (Modelling) . Penerapan learning community dalam pembelajaran di kelas akan banyak bergantung pada model komunikasi pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. maka saat itu pula kita atau siswa akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dari komunitas lain.

Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru saja dipelajari. membandingkan. Oleh karena itu. maka kini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar bagi siswa. tahap pembuatan model dapat dijadikan alternative untuk mengembangkan pembelajara agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh. 6.34 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu. pengolahan dan pengendapan. siswa diberi kesempatan untuk mencerna. karena dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen. telah berdampak pada kemampuan guru yang memiliki kemampuan lengkap. Pengetahuan yang bermakna diperoleh dari suatu proses yang bermakna pula. Dengan kata lain refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi serta tuntutan siswa yang semakin berkembang dan beranekaragam. yaitu melalui penerimaan. untuk kemudian dapat dijadikan sandaran dalam menanggapi terhadap gejala yang muncul kemudian. dan membantu mengatasi keterbatasan yang dimiliki oleh para guru. menimbang. menghayati. dan ini yang sulit dipenuhi. dan melakukan diskusi dengan dirinya sendiri (lerning to be). siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada saat refleksi. .

Penilaian adalah proses proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar siswa. Dengan terkumpulnya berbagai data dan informasi yang lengkap sebagai perwujudan dari penerapan penilaian. maka akan semakin akurat pula pemahaman guru terhadap proses dan hasil pengalaman belajar setiap siswa. yaitu pada saat ia dituntut untuk menanggapi dan memecahkan permasalahan nyata yang dihadapi I sehari-hari. Mengingat gambaran tentang kemajuan belajar siswa . dan keterampilan pada dunia nyata yang dihadapinya akan mudah diaktualisasikan manakala pengalaman belajar itu telah terinternalisasi dalam setiap jiwa siswa dan disinilah pentingnya menerapkan unsur refleksi pada setiap kesempatan pembelajaran. kemunduran. 7. sikap. dan dengan itu pula guru akan memiliki kemudahan untuk melakukan upaya-upaya perbaikan dan penyempurnaan proses bimbingan belajar dalam langkah selanjutnya. Kemampuan untuk mengaplikasi pengetahuan. pengalaman belajar bukan hanya terjadi dan dimiliki ketika seseorang siswa berada di dalam kelas. akan tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana membawa pengalaman belajar tersebut ke luar dari kelas. dan kesulitan siswa dalam belajar. Guru dengan cermat akan mengetahui kemajuan.35 Melalui model CTL. Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas proses dan hasil pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment) Tahap terakhir dari pembelajaran kontekstual adalah melakukan penilaian.

di mana pada model konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas . laporan hasil praktikum.36 diperlukan di sepanjang proses pembelajaran. (Depdiknas. 5) Pembelajaran terintegrasi. maka penilaian tidak hanya dilakukan di akhir program pembelajaran. 3) Menyenangkan dan tidak membosankan. Proses pembelajaran dengan menggunakan CTL harus mempertimbangkan karakteristik-karakteristik: 1) Kerja sama. program pembelajaran merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang oleh guru. karangan siswa. Dalam program tersebut harus tercermin penerapan dari ketujuh komponen CTL dengan jelas. artikel). tidak ada perbedaan mendasar antara format program pembelajaran konvensional seperti yang biasa dilakukan oleh guru-guru selama ini. 2) Saling menunjang. terletak pada penekanannya. 4) Belajar dengan bergairah. 8) Sharing dengan teman. 7) Siswa aktif. 6) Menggunakan berbagai sumber. Secara umum. tetapi hasil karya siswa. Adapun yang membedakannya. 9) Siswa kritis guru kreatif: 10) Dinding kelas dan loronglorong penuh dengan hasil karya siswa (peta-peta. guru secara nyata akan mengetahui tingkat kemampuan siswa yang sebenarnya. dan lain-lain. Dengan cara tersebut. sehingga setiap guru memiliki persiapan yang utuh mengenai recana yang akan dilaksanakan dalam membimbing kegiatan belajar-mengajar di kelas. 2002:20) Dalam pembelajaran kontekstual. akan tetapi secara integral dilakukan dilakukan selama proses program pembelajaran itu terjadi. 11) Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor. yaitu dalam bentuk skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. gambar.

Uraikan secara terperinci media dan sumber pembelajaran yang akan digunakanuntuk mendukung kegiatan pembelajaran yang di harapkan. Rumuskan skenario tahap demi tahap kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam melakukan proses pembelajarannya. 3. 2. Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya. yaitu kegiatan tahap-demi tahap yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Rumuskan dan lakukan sistem penilaian dengan memfokuskan pada kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh siswa baik pada saat berlangsungnya (proses) maupun setelah siswa tersebut selesai belajar. Menemukan (Inquiry) Bertanya (Questioning) . 4. Oleh karena itu. Nurhadi (2004: 31) menggambarkan keterkaitan ketujuh komponen tersebut seperti bagan di bawah ini. sementara program pembelajaran CTL lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. dan indikator pencapaian hasil belajar. Nyatakan kegiatan utama pembelajarannya. 5. Rumuskan dengan jelas tujuan umum pembelajarannya. materi pokok. program pembelajaran kontekstual hendaknya: 1.37 dan oprasional). yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar.

Apabila tujuh komponen tersebut terpenuhi maka kegiatan pembelajaran akan mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri. . menyelidiki.38 Permodelan (Modelling) Masyarakat belajar (Learning Community) Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) Refleksi (Reflection) Gambar 1.kstual di atas merupakan komponen yang har:us ada pada pelaksanaan pembelajaran kontekstual. menemukan. Bagan keterkaitan antarkomponen pembelajaraa konstekstual Tujuh komponen pendekatan konte. Agar proses pengajaran kontekstual lebih efektif guru perlu melaksanakan beberapa hal sebagai berikut (1) Mengkaji konsep dan kompetensi dasar yang akan dipelajari oleh siswa. dan mengondisikan siswa untuk mengamati. akan mendorong sikap keingintahuaa siswa lewat bertanya tentang topik yang akan dipelajari. menganalisis topik atau permasalahan dihadapi sehingga ia berhasil menemukan sesuatu. dan membangun sendiri pengetehuan dan keterampilan barunya Selain itu.

(Nurhadi. selanjutnya memilih dan mengaitkannya dengan konsep dan kompetensi yang akan dibahas dalam proses pembelajaran kontekstual. (3) Applying.39 (2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. Belajar melalui konteks komunikasi interpersonal. dan mengedepankan proses inquiry. (5) Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dan mengaitkan apa yang dipelajarinya dengan fenomena kehidupan sehari-hari. (6) Melahrkan penilaian terhadap pemahaman siswa. yang disingkat dengan REACT. Hasil penilaian tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap rancangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata (2) Experiencing. yaitu (1) Relating. menuntut siswa agar saling berkomunikasi dan bekerja sama sehingga . Belajar bilamana pengetahuan dipresentasikan di dalam konteks pemanfaatannya (4) Cooperating. penemuan (discoveri). Selanjutnya siswa didorong untuk membangun kesimpulan yang merupakan pemahaman siswa terhadap konsep atau teori yang sedang dipelajarinya. Penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran digunakan untuk menghubungkan situasi sehari-hari dengan informasi baru untuk dipahami atau dengan problema untuk dipecahkan. 2004: 23). Selain itu. Sementara itu Center of Occupationol Research and Developmen (CORD) menyampaikan lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual. (4) Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang akan dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimilki siswa dan lingkungan kehidupan mereka. Belajar ditekankan kepada penggalian (eksplorasi). pemakaian bersama dan sebagainya (5) Transfering. (Nurhadi 2004:22). dan penciptaan (invention). Belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau konteks baru. (3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa.

Skenario Pembelajaran Kontekstual Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan CTL. Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu pengetahuan dan ketrampilan bagi siswa yang diperoleh dari proses menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Dalam praktiknya. D. tentu saja terlebih dahulu guru harus membuat desain (scenario) pembelajaranya. tempat bekerja maupun tempat-tempat lainnya (misalnya ladang sungai dan lainnya).40 dalam kehidupan nyata akan terlatih menjadi warganegara yang hidup berdampingan dan berkomunikasi dengan warga lain. dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru yang harus . Pada intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut. laboratorium sains. Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna apakah dengan cara bekerja sendiri. laboratorium komputer. sebagai pedoman umum dan sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaanya. dan konteks keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan keseharian mereka. Dengan demikian para siswa belajar diawali dengan pengetahuan. siswa menerapkan konsep dan informasi ke dalam kebutuhan kehidupan mendatang yang dibayangkan. menemukan sendiri. Supriyanto (2007 : 4) menyatakan bahwa Teori pendekatan pembelajaran kontekstual berfokus pada multi aspek lingkungan belajar diantaranya ruang kelas. 1. pengalaman.

Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaanpertanyaan 4. . model. 3. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. kepandaian. Melakukan penilaian secara objektif. 2. bahkan media yang sebenarnya. Pendidikan Berorientasi Life Skill Menurut Nurohman (2008: 4) life skills atau biasa disebut sebagai kecakapan hidup jika dirunut dari segi bahasa berasal dari dua kata yaitu life dan skill. 7. Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam progam tersebut harus tercermin penerapan ke tujuh komponen CTL dengan jelas. seperti melalui kegiatan kelompok berdiskusi. yaitu menilai kemampuan yang sebenarnya pada setiap siswa. 6. Dalam pembelajaran konteskstual. sedangkan skill adalah kecakapan. bias melalui ilustrasi. Menciptakan masyarakat belajar.41 dimilikinya. Melasanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua yang diajarkan. Life berarti hidup. Tanya jawab. ketrampilan. sehingga setiap guru memilikiprsiapan yang utuh mengenai rencana yang akan dilaksanakan dalam bimbingan kegiatan belajar mengajar dikelas. progam pembelaaran merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang oleh guru yaitu dalam bnruk scenario tahap demi tahap tentang apa yang dilakukan bersama siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran. dan lain sebagainya 5. 5.

. yaitu kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu yang mencakup kecakapan akademik (Academic skill) dan kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional (Vocational skill).42 Sehingga life skills secara bahasa dapat diartikan sebagai kecakapan. Berdasarkan hal itulah. pertanda tujuan pendidikan belum tercapai. mereka belum mampu memecahkan masalah hidup dan kehidupan. Direktur Tenaga Teknis. Umumnya dalam penggunaan sehari-hari orang menyebut life skills dengan istilah kecakapan hidup. (2) Kecakapan hidup spesifik (specifik life skill / SLS). Kecakapan hidup menurut Depdiknas dalam Subandono (2007: 18) dapat dibagi menjadi dua jenis utama. yang mencakup kecakapan personal (personal skill /PS) dan kecakapan sosial (sosial skill / SS). yaitu (1) Kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skill/GLS). Istilah kecakapan hidup diartikan sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan penghidupan secara wajar tanpa merasa tertekan. Jika selesai mengikuti pendidikan. dalam pelaksanaan pendidikan peserta didik perlu dibekali dengan kecakapan hidup. kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhimya mampu mengatasinya. kepandaian atau keterampilan hidup. Dirjen PLSP dalam Yunus (2009). Tujuan pendidikan bagi setiap manusia adalah agar peserta didik mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan yang dihadapinya.

rincian kecakapan hidup ditunjukkan pada gambar berikut : .43 Secara skematik.

Depdiknas dalam Subandono . Skema terinci kecakapan hidup.44 Gambar 2.

belajar untuk memperoleh pengetahuan. Program kecakapan hidup berpegang pada empat pilar pembelajaran yaitu. Pendidikan kecakapan hidup merupakan konsep pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan warga belajar agar memiliki keberanian dan kemauan menghadapi masalah hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. (3) Kecakapan sosial (social skills). (4) Kecakapan vokasional (vocational skills). dan untuk dapat hidup bersama dengan orang lain. berikut secara ringkas alur pikir pengembangan pendidikan berbasis . Secara sistematis. (2) Kecakapan akademik (akademic skills). 2008) Pada dasarnya kecakapan hidup terbagi pada empat ranah yaitu kecakapan personal.45 Indikator-indikator yang terkandung dalam life skills secara konseptual dikelompokkan: (1) Kecakapan personal (personal skills). sosial. apalagi sekedar keterampilan manual. dan vokasional. untuk dapat berbuat/bekerja. akademik. (Depdiknas dalam Anggoro. Dirjen PLSP dalam Yunus (2009) menyatakan Pendidikan kecakapan hidup (life skills) lebih luas dari sekedar keterampilan bekerja. untuk menjadi orang yang berguna.

46 kecakapan hidup Nilai-nilai kehidupan nyata Pengembangan kompetisi Life skill Pengembangan kultur life skill Pengembangan evaluasi berdasarkan kompetisi life skill Gambar 3. Pada tahap awal. Anwar dalam Diana (2005:17) Menurut Diana (2005:17) gambar tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di masa depan lebih menekankan pada penguasaan kecakapan hidup. kemudian ditentukan pengetahuan. Ini berarti bahwa bahan belajar dipahami sebagai alat untuk mengembangkan kecakapan hidup yang akan digunakan peserta didik . Setelah teridentifakasi. dilakukan identifikasi kecakapan hidup yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. kecakapan hidup dan mata pelajaran terdapat hubungan yang sangat erat. keterampilan dan sikap yang mendukung pembentukan kecakapan hidup tersebut. Antara kehidupan nyata. Alur pikir pengembangan pendidikan berbasis kecakapan hidup. Tahap selanjutnya adalah pengklasifikasian dalam bentuk pokok bahasan yang dikemas dalam bentuk mata pelajaran.

(4) iklim di dalam kelas menyenangkan. Perilaku itu yang diharapkan merupakan bagian dari perilaku secara utuh. Untuk melaksanakan tuntutan tersebut. dan berhasil guna Zulkarnaini (2008: 2). (5) siswa terbiasa mencari informasi dari berbagai sumber. sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup. keterkaitan pembelajaran dengan penerapan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill berarti pembelajaran yang . mata pelajaran merupakan alat. keterampilan dan sikap dan diwujudkan dalam perilaku tertentu. Pendekatan yang dapat diterapkan adalah pendekatan kontekstual. berdayaguna. Pendekatan ini digunakan sehingga: (1) siswa lebih aktif. Berdasarkan uraian di atas. Berdasarkan uraian di atas. Pelaksanaan pembelajaran berorientasi kecakapan hidup dapat menggunakan berbagai pendekatan.47 menghadapi kehidupan nyata. (2) fungsi guru lebih sebagai fasilitator daripada sebagai informan. (3) materi yang dipelajari bermanfaat untuk menghadapi kehidupan. anggota masyarakat dan warga negara. salah satu jalan yang dapat dilakukan guru adalah membuat persiapan mengajar (RP) yang aplikatif. Oleh karena itu tujuan utama belajar suatu mata pelajaran adalah untuk mencapai kompetensi yang mencakup pengetahuan. yaitu kecakapan hidup. dan (6) menggeser teaching menjadi learning. Kecakapan hidup itulah yang diperlukan pada saat seseorang sebagai suatu kompetensi guna memasuki kehidupan sebagai individu yang mandiri. sedangkan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup.

sedangkan tujuan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup. bahan belajar dipahami sebagai alat untuk mengembangkan kecakapan hidup yang akan digunakan peserta didik menghadapi kehidupan nyata. 6. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya mencapainya. Pembelajaran dengan pendekatan CTL memadukan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa agar menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang kuat dan mendalam sehingga siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara penyelesaiannya. bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Dalam praktiknya. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk siswa belajar dan mengalami. Pembelajaran Geografi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Seminar pembelajaran ilmu bumi tahun 1972 di Semarang. Mereka harus sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya. Dalam hal ini siswa perlu mengerti makna belajar dan manfaatnya bagi kehidupan dan bagaimana cara mencapainya. Sehingga mereka dapat menempatkan diri sendiri untuk membekali diri di dalam hidupnya.48 membantu guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. menyimpulkan bahwa untuk keperluan pembelajaran sekolah. Sedangkan hakekat sasaran geografi meliputi : (a) Kebulatan hubungan manusia dan lingkungan dan (b) wilayah region sebagai hasil interaksi asosiasi integrafi dan diferensiasi . objek studi geografi adalah muka bumi sebagian atau seluruhnya sebagai satu kebulatan.

lingkup kajian dan ada kalanya juga cara kerja dan teknik-teknik yang dipakai. Di antara pengkhususan-pengkhususan geografi ada beberapa yang seakan-akan mengkotakkan atas bagian yang saling terpisah yang seolah-olah menimbulkan dualisme atau bahkan kontroversi mengenai mana yang sebaiknya dipelajari atau dikembangkan. ditambah materi-materi pelajaran yang dituntut oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. telah juga mengkotakkan geografi yang menjadi porsi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan yang harus dipelajari dalam bidang ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. bukan geografi sosial dan geografi fisik. Namun dalam kenyataannya para perancang kurikulum sekolah sejalan dengan adanya penjurusan pada tingkat sekolah menengah.49 unsur-unsur alamiah dan manusiawi dalam ruang tertentu di permukaan bumi. Proses pembelajaran menggunakan pendekatan keterampilan proses (PKP). Kebulatan studi geografi disarankan untuk dipakai dalam pembelajaran geografi sekolah. Pada Seminar tahun 1972 tersebut. Dalam praktek pengembangan geografi sebagai ilmu akademik. sehingga siswa tersebut . yaitu geografi terpadu atau unified geography yang tidak mengkotakkotakkan atau memisahkan geografi atas geografi fisis dan geografi sosial. artinya : dalam menyajikan konsepkonsep yang esensial mengacu kepada bagaimana siswa belajar agar siswa mampu mengelola perolehannya dan untuk itu siswa diarahkan dengan belajar aktif baik secara perorangan maupun secara kelompok. pengkhususan perhatian telah disertai dengan pengkhususan sasaran kajian. Kurikulum 1984/1985 dicirikan pada pemilihan materi pelajaran yang esensial dari setiap bidang studi. para ahli geografi dan tokoh pendidikan geografi sepakat untuk mengusulkan hanya ada satu geografi yang perlu diajarkan di sekolah.

SMA tidak terlihat gradasinya. 4. 3. SLTP. SLTP geografi fisik dan antariksa menjadi IPBA masuk IPA. pendekatan pembelajarannya CBSA dan keterampilan proses dengan sistem cawu dan pendekatan tujuan pembelajaran. kedudukan mata pelajaran geografi program inti tetapi di EBTA-kan. pendekatan pembelajaran serta materi belum sepenuhnya dipahami penulis buku. Terlalu sarat materi. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan belajar tuntas. Kurikulum 1994 masih seperti kurikulum 1984/1985 menggunakan pendekatan konsep esensial materi. 2. Kritik/kelemahan mata pelajaran geografi kurikulum 1994 adalah: 1. guru akibatnya materi lebih banyak berupa fakta. . Kedudukan mata pelajaran geografi di sekolah SD masuk rumpun IPS. Geografi sosial ekonomi Indonesia dan geografi Regional Dunia masuk rumpun IPS. Materi kurang terfokus pada fenomena atau gejala permukaan bumi yang nyata terkait dengan wilayah dan kebutuhan hidup anak dalam masyarakat. Pada belajar tuntas ada tolok ukur ketuntasan misalnya 66%-75% yang tidak tuntas diadakan remidi dan yang tuntas berkelanjutan/pengayaan. suplemen 1999 berisi pengurangan pokok bahasan. Pendekatan materi. Kondisi tersebut di atas menyebabkan pandangan masyarakat terhadap buku yang baik adalah buku yang menyajikan materi yang lengkap maka buku SD. begitu juga di SMA. Artinya siswa telah menguasai seluruh konsep esensial dari ma-sing-masing mata pelajaran. kurang kita jumpai kasus dan pemecahan masalahnya.50 mampu memahami dan mebentuk konsep secara sewajarnya.

yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. pengelolaan. sehingga cita-cita untuk mengajarkan geografi sebagai ilmu yang . kelas XI (program IPS) dan kelas XII (program IPS). Kurikulum 2004 lebih menekankan pada aspek kompetensi siswa. di dalam struktur kurikulum SMA/MA. pelajaran geografi diberikan pada kelas X. Implementasi mata pelajaran geografi-IPS di SMA/MA kurang begitu sesuai. Pada kurikulum ini geografi mempunyai lebih keleluasaan dalam pembelajaranya di SMA/MA karena pelajaran geografi diajarkan tidak hanya di kelas X dan pogram IPS kelas XII dan XIII saja. tenaga kependidikan.51 5. pembiayaan dan penilaian pendidikan. meramalkan dan mengontrol dalam GBPP. proses. Belum terlihatnya embrio tiga fungsi ilmu pengetahuan. IPS merupakan himpunan-himpunan ilmu-ilmu yang tergabung dalam rumpun ilmuilmu sosial yang terseleksi. kompetensi lulusan. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi. sarana dan prasarana. tetapi juga diterapkan pada program IPA kelas XI. disederhanakan dan diintegrasikan untuk kepentingan kependidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standart Isi (SI). Pada pertengahan 2006 pemerintah (Depdiknas) mulai menggulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. sedangkan pada penjurusan progam IPA dan program Bahasa pelajaran geografi dihilangkan sama sekali. mendeskripsikan.

. pelajaran geografi di SMA/MA menjadi terpasung dan tidak utuh. Dengan ‘pemaksaan’ memasukkan pelajaran geografi hanya pada program IPS. pedosfer. bertanggung jawab.52 terpadu (dari aneka disiplin ilmu) menjadi semakin kabur dan sulit tercapai. Rasa cinta tanah air dan semangat patriotik dapat dipupuk tidak hanya melalui pelajaran sejarah atau pelajaran kewarganegaraan saja. tetapi justru yang lebih besar sebenarnya ada pada sistem fisik/lingkungan alami/ekologi (litosfer. biosfer. atmosfer). Objek material kajian geografi tidak hanya pada sistem sosial atau lingkungan manusia (antoposfer) saja. Geografi adalah ilmu holistik/integral. oleh karena itu seharusnya geografi diberikan tidak hanya pada penjurusan program IPS saja. bersyukur dan mengenali serta mencintai negara Indonesia dengan segala potensinya. tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan jati diri ilmu geografi. ilmu jembatan bagi semua disiplin ilmu baik sosial maupun fisik. tetapi dapat pula melalui pelajaran geografi karena Kurikulum Geografi mengajarkan siswa memahami fenomena geografi berfokus kepada negara Indonesia dan hubungannya dengan negara-negara lain supaya dapat melahirkan siswa yang berilmu. tetapi juga pada program IPA bahkan pada program Bahasa. hidrosfer. mengenal pasti dan mengkaji segala masalah dari aspek geografi yang integralistik serta membuat keputusan dengan bertanggungjawab. Dengan demikian setiap siswa yang mempunyai wawasan kegeografian diharapkan mempunyai kemampuan :  Memberi pendapat secara kreatif dan kritis. mengingat ilmu geografi sangat diperlukan bagi pembangunan bangsa dan memupuk rasa cinta tanah air.

.net/news/index. akutansi.  Mengenal pasti cara hidup dan budaya berbagai komunitas di negara lain serta menghargai ciri-ciri persamaan dan perbedaan dengan negara Indonesia. 7.  Menyadari keadaan saling ketergantungan dalam sistem alam. Geografi Dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Geografi hakekatanya merupakan salah satu bagian dari ilmu pengetahuan sosial (IPS). Selain geogarfi masih ada mata pelajaran lain yang masih masuk dalam ruang lingkup ilmu pengetahuan sosial (IPS) diantaranya ekonomi. sosiologi.53  Menjelaskan fenomena alam dan saling kaitannya dengan manusia berdasarkan persebaran dan pola-pola yang terdapat di negara Indonesia dan negara-negara lain.php? option=com_content&view=article&id=99:kedudukan-mata-pelajaran-geografidalam-kurikulum&catid=53:kajian-kurikulum-geografi-smp-sma&Itemid=95) Dengan demikian dapat dipahami bahwa pembelajaran geografi untuk tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sangatlah penting karena di dalam materi mata pelajaran geografi mengkaji mengenai aspek fisik maupun sosial hal tersebut akan dapat bermanfaat bagi siswa tersebut dikemudian hari. antropogi dan lain sebagainya. kegiatan ekonomi.  Menerangkan kondisi kegiatan manusia terhadap alam sekitar serta pentingnya mengelola alam dan sumberdaya lainya dengan bertanggung jawab dan bijaksana. (http://geounesa. sosial dan politik antara satu negara dengan negara lain. sejarah.

Sedangkan hakekat sasaran geografi meliputi : (a) Kebulatan hubungan manusia dan lingkungan dan (b) wilayah region sebagai hasil interaksi asosiasi integrafi dan diferensiasi unsurunsur alamiah dan manusiawi dalam ruang tertentu di permukaan bumi. telah juga mengkotakkan geografi yang menjadi porsi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan yang harus dipelajari dalam bidang ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. pengkhususan perhatian telah disertai dengan pengkhususan sasaran kajian. Dalam praktek pengembangan geografi sebagai ilmu akademik. Pada Seminar tahun 1972 tersebut. Namun dalam kenyataannya para perancang kurikulum sekolah sejalan dengan adanya penjurusan pada tingkat sekolah menengah. menyimpulkan bahwa untuk keperluan pengajaran sekolah. yaitu geografi terpadu atau unified geography yang tidak mengkotakkotakkan atau memisahkan geografi atas geografi fisis dan geografi sosial.54 Seminar pengajaran ilmu Bumi tahun 1972 di Semarang . lingkup kajian dan ada kalanya juga cara kerja dan teknik-teknik yang dipakai. Kebulatan studi geografi disarankan untuk dipakai dalam pengajaran geografi sekolah. bukan geografi sosial dan geografi fisik. para ahli geografi dan tokoh pendidikan geografi sepakat untuk mengusulkan hanya ada satu geografi yang perlu diajarkan di sekolah. Di antara pengkhususan-pengkhususan geografi ada beberapa yangseakan-akan mengkotakkan atas bagian yangsalingterpisah yang seolah-olah menimbulkan dualisme atau bahkan kontroversi mengenai mana yang sebaiknya dipelajari atau dikembangkan. objek studi geografi adalah muka bumi sebagian atau seluruhnya sebagai satu kebulatan. Kurikulum 1984/1985 dicirikan pada pemilihan materi pelajaran yang esensial .

SLTP geografi fisik dan antariksa menjadi IPBA masuk IPA. Artinya siswa telah menguasai seluruh konsep esensial dari ma-sing-masing mata pelajaran. Kedudukan mata pelajaran geografi di sekolah SD masuk rumpun IPS. Kurikulum 1994 masih seperti kurikulum 1984/1985 menggunakan pendekatan konsep esensial materi. Pada belajar tuntas ada tolok ukur ketuntasan misalnya 66%-75% yang tidak tuntas diadakan remidi dan yang tuntas berkelanjutan / pengayaan. kedudukan mata pelajaran geografi program inti tetapi di EBTA-kan. Proses belajar mengajar menggunakan pendekatan keterampilan proses (PKP). suplemen 1999 berisi pengurangan pokok bahasan. Terlalu sarat materi. 2. sehingga siswa tersebut mampu memahami dan mebentuk konsep secara sewajarnya. Materi kurang terfokus pada fenomena atau gejala permukaan bumi yang nyata terkait dengan wilayah dan kebutuhan hidup anak dalam masyarakat. pendekatan pembelajarannya CBSA dan keterampilan proses dengan sistem cawu dan pendekatan tujuan pembelajaran. ditambah materi-materi pelajaran yang dituntut oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. . begitu juga di SMA. Geografi sosial ekonomi Indonesia dan geografi Regional Dunia masuk rumpun IPS. Kritik/kelemahan mata pelajaran geografi kurikulum 1994 adalah: 1. artinya : dalam menyajikan konsep-konsep yang esensial mengacu kepada bagaimana siswa belajar agar siswa mampu mengelola perolehannya dan untuk itu siswa diarahkan dengan belajar aktif baik secara perorangan maupun secara kelompok. Pendekatan yang kedua adalah pendekatan belajar tuntas.55 dari setiap bidang studi.

proses. tenaga kependidikan. 4. mendeskripsikan. Belum terlihatnya embrio tiga fungsi ilmu pengetahuan. sarana dan prasarana. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standart Isi (SI). pembiayaan dan penilaian pendidikan. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi. Kondisi tersebut di atas menyebabkan pandangan masyarakat terhadap buku yang baik adalah buku yang menyajikan materi yang lengkap maka buku SD. Kurikulum 2004 lebih menekankan pada aspek kompetensi siswa. 5. Pendekatan materi. di dalam . pengelolaan. guru akibatnya materi lebih banyak berupa fakta. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut. Pada kurikulum ini geografi mempunyai lebih keleluasaan dalam pembelajaranya di SMA/MA karena pelajaran geografi diajarkan tidak hanya di kelas X dan pogram IPS kelas XII dan XIII saja.56 3. SLTP. meramalkan dan mengontrol dalam GBPP. SMA tidak terlihat gradasinya. kurang kita jumpai kasus dan pemecahan masalahnya. kompetensi lulusan. yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum. tetapi juga diterapkan pada program IPA kelas XI. pendekatan pembelajaran serta materi belum sepenuhnya dipahami penulis buku. Pada pertengahan 2006 pemerintah (Depdiknas) mulai menggulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Implementasi mata pelajaran geografi-IPS di SMA/MA kurang begitu sesuai. oleh karena itu seharusnya geografi diberikan tidak hanya pada penjurusan program IPS saja. mengingat ilmu geografi sangat diperlukan bagi pembangunan bangsa dan memupuk rasa cinta tanah air. atmosfer). disederhanakan dan diintegrasikan untuk kepentingan kependidikan. IPS merupakan himpunan-himpunan ilmu-ilmu yang tergabung dalam rumpun ilmu-ilmu sosial yang terseleksi. ilmu jembatan bagi semua disiplin ilmu baik sosial maupun fisik. tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan jati diri ilmu geografi. sehingga cita-cita untuk mengajarkan geografi sebagai ilmu yang terpadu (dari aneka disiplin ilmu) menjadi semakin kabur dan sulit tercapai. kelas XI (program IPS) dan kelas XII (program IPS). biosfer. Geografi adalah ilmu holistik/integral. Rasa cinta tanah air dan semangat patriotik dapat dipupuk tidak hanya melalui pelajaran sejarah atau pelajaran kewarganegaraan saja. sedangkan pada penjurusan progam IPA dan program Bahasa pelajaran geografi dihilangkan sama sekali. tetapi justru yang lebih besar sebenarnya ada pada sistem fisik/lingkungan alami/ekologi (litosfer.57 struktur kurikulum SMA/MA. Dengan ‘pemaksaan’ memasukkan pelajaran geografi hanya pada program IPS. tetapi juga pada program IPA bahkan pada program Bahasa. pedosfer. pelajaran geografi diberikan pada kelas X. hidrosfer. Objek material kajian geografi tidak hanya pada sistem sosial atau lingkungan manusia (antoposfer) saja. pelajaran geografi di SMA/MA menjadi terpasung dan tidak utuh. tetapi dapat pula melalui pelajaran geografi karena Kurikulum Geografi mengajarkan siswa memahami .

mengenal pasti dan mengkaji segala masalah dari aspek geografi yang integralistik serta membuat keputusan dengan bertanggungjawab. Motivasi .html diakses hari sabtu jam 11.com/2012/03/kedudukan-mata-pelajarangeografi-dalam.  Menjelaskan fenomena alam dan saling kaitannya dengan manusia berdasarkan persebaran dan pola-pola yang terdapat di negara Indonesia dan negara-negara lain. bersyukur dan mengenali serta mencintai negara Indonesia dengan segala potensinya.58 fenomena geografi berfokus kepada negara Indonesia dan hubungannya dengan negara-negara lain supaya dapat melahirkan siswa yang berilmu. kegiatan ekonomi.blogspot. 8.  Mengenal pasti cara hidup dan budaya berbagai komunitas di negara lain serta menghargai ciri-ciri persamaan dan perbedaan dengan negara Indonesia.  Menyadari keadaan saling ketergantungan dalam sistem alam. Http://konsepblackbook.  Menerangkan kondisi kegiatan manusia terhadap alam sekitar serta pentingnya mengelola alam dan sumberdaya lainya dengan bertanggungjawab dan bijaksana. Dengan demikian setiap siswa yang mempunyai wawasan ke-geografian diharapkan mempunyai kemampuan :  Memberi pendapat secara kreatif dan kritis.44 tanggal 22 desember 2012. bertanggungjawab. sosial dan politik antara satu negara dengan negara lain.

Nasution dalam Sudrajat (2008) membedakan antara motif dan motivasi. Motivasi akan menentukan intensitas usaha siswa dalam mencapai tujuan belajar. Motivasi belajar merupakan proses yang membangkitkan energi.59 Menurut Latif (2005: 65) motivasi berasal dari kata motif yang berarti Setiap kondisi atau keadaan seseorang atau organisme yang menyebabkan kesiapan untuk memulai atau melanjutkan suatu atau serangkaian perilaku atau perbuatan. Berdasarkan uraian di atas motivasi ialah suatu proses dalam mengatur perilaku untuk memuaskan kebutuhan dalam rangka mencapai tujuan. Seorang siswa yang memiliki intelegensi cukup tinggi. akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Peranannya yang khas adalah dalam penumbuhan gairah. kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. 2008: 2) Berdasarkan kedua pendapat tersebut. Sardiman (2004: 75) menyatakan bahwa Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku seseorang dalam belajar. Motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Tingkat motivasi yang dimiliki siswa akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. merasa senang dan semangat untuk belajar. (lrawati. motivasi merupakan usaha untuk . sehingga orang itu mau atau ingin melakukannya. Seseorang tidak memiliki motivasi. sedangkan motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi. Motivasi merupakan hal yang esensial dalam belajar. boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Sedangkan motivasi ialah suatu proses untuk menggerakkan motifmotif menjadi perilaku yang mengatur perilaku untuk memuaskan kebutuhan dalarn rangka mencapai tujuan. Siswa yang memiliki motivasi kuat.

Motivasi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar murid. Demikian penggunaan asas motivasi adalah sangat esensial dalam proses belajar mengajar. (4) Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan menggunakan motivasi dalam pengajaran erat pertaliannya dengan pengaturan disiplin kelas. bagi guru . Belajar tanpa adanya motivasi kiranya sulit untuk berhasil. Intensitas usaha siswa dalam mencapai tujuan belajar ditentukan oleh motivasi yang ada pada siswa tersebut. (5) Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral daripada asasasas mengajar. Guru senantiasa berusaha agar murid-murid akhirnya memiliki self motivation yang baik. dalam garis besarnya. Kegagalan dalam hal ini mengakibatkan timbulnya masalah disiplin di dalam kelas. dorongan. (3) Pengajaran yang bermotivasi menuntut kreativitas dan imajinasi guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. minat yang ada pada murid. Menurut Hamalik (2004: 161-162). Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 97) adalah (1) Cita-cita atau aspirasi siswa (2) Kemampuan siswa (3) Kondisi siswa (4) Kondisi lingkungan siswa (5) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran (6) Upaya guru dalam membelajarkan siswa. (2) Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan. Pengajaran yang demikian sesuai dengan tuntutan demokrasi dalam pendidikan. sedangkan motivasi belajar merupakan proses yang membangkitkan energi. tetapi juga menjadi faktor yang menentukan pengajaran yang efektif. motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut (1) Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya perbuatan belajar murid. mengarahkan dan mempertahankan tingkah laku seseorang dalam belajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar buku saja melengkapi prosedur mengajar. motif.60 menyediakan kondisi-kondisi sehingga seseorang mau melakukan sesuatu.

serta mengarahkan pengalaman belajar kearah keberhasilan. yaitu 1) motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang akan atau baru berfungsi ketika motivasi tersebut memperoleh rangsangan dari luar. cita-cita dan rasa ingin tahu siswa (6) Usahakan untuk memperhatikan perbedaan individual siswa. namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan. (4) Pemberian pujian dan hadiah lebih baik daripada hukuman. (3) Siswa harus selalu diberitahu tentang hasil belajarnya. Sehingga guru senantiasa berusaha agar murid-murid akhirnya memiliki self motivation yang baik. Siswa juga dilibatkan dalam penyusunan tersebut.61 adanya motivasi dalam pembelajaran maka diperlukan kreativitas untuk melakukan cara-cara yang relevan dan sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa. menunjukkan bahwa guru peduli terhadap mereka. Seperti yang diungkapkan oleh Hamalik (2001: 112) bahwa . Dua macam motivasi yang dijelaskan di atas memiliki keterkaitan satu sama lain. seperti: perbedaan kemampuan. Abror dalam Astuti (2007: 22) menyatakan bahwa motivasi berdasarkan fungsinya terdiri dari dua macam. menurut Mulyasa (2008: 201-202 ) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut (1) Bahwa siswa akan belajar lebih giat apabila topik yang dipelajarinya menarik dan berguna bagi dirinya. rasa aman. latar belakang dan sikap terhadap sekolah atau subyek tertentu. Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa. dan 2) motivasi intrinsik yaitu motivasi yang berfungsi tanpa harus mendapatkan rangsangan dari luar. mengatur pengalaman belajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh kepuasan dan penghargaan. (5) Manfaatkan sikap-sikap. sehingga mencapai prestasi dan mempunyai kepercayaan diri. (2) Tujuan pembelajaran harus disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada siswa sehingga mereka mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai. (7) Usahakan untuk memenuhi kebutuhan siswa dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya.

olahraga. 2004: 170). Siswa yang tampaknya tidak bermotivasi. yakni (1) motivasi intrinsik. 9. (2) motivasi ekstrinsik. Hal tersebut semuanya dilakukan secara otomatis dan bila direnungkan maka sangat menarik untuk dipelajari. yang saling berkaitan satu dengan lainnya. dan lain-lain. Apabila dua motivasi tersebut dapat berkembang dengan baik dalam diri siswa maka siswa akan mencapai keberhasilan dalam belajar. menulis. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar. Hamalik (2001: 108) menyatakan bahwa fungsi motivasi adalah (1) Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar (2) Motivasi berfungsi sebagai pengarah. yang mendorongnya untuk tidak berprestasi di sekolah (Slameto. artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (3) Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik memiliki keterkaitan satu sama lain. Mungkin siswa cukup bermotivasi untuk berprestasi di sekolah. artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Aktivitas Dalam kehidupan sehari-hari banyak faktor atau tingkah laku kita lakukan tanpa memikirkan lagi gerakannya. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan. seperti misalnya teman-teman. membaca. belajar. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuantujuan siswa sendiri. mungkin pada kenyataannya cukup termotivasi tetapi tidak dalam hal-hal yang diharapkan pengajar. . misalnya. akan tetapi pada saat yang sama ada kekuatan-kekuatan lain.62 Motivasi memiliki dua sifat.

2.M. Aktivitas memperhatikan penjelasan guru Perhatian siswa terhadap mata pelajaran IPS yang dijelaskan oleh guru dapat membawa dampak yang baik. menganalisa hasil penelitian dan melakukan suatu latihan serta diskusi. 6. siswa dan alat-alat belajar. Aktivitas memperhatikan penjelasan guru Aktivitas mencatat/membuat rangkuman Aktivitas mengerjakan soal-soal Aktivitas menjawab pertanyaan dan mengajukan pendapat atau bertanya Aktivitas mambaca buku pelajaran Aktivitas mendiskusikan materi pelajaran a. Aktivitas belajar yang dilakukan siswa itu antara lain membaca. maka sesuatu yang belum dipahami dapat dipahami oleh siswa. b. Dengan memperhatikan penjelasan guru. . menyusun tugas. Dengan demikian aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. dalam kegiatan belajar kedua aktivitas harus selalu terikat (Sardiman A. menulis. Jika perhatian siswa untuk mengetahui sesuatu lebih besar. Selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar siswa dibantu dengan sumber belajar yaitu guru. 2008:100). 5. Aktivitas siswa yang dilakukan antara lain: 1. maka akan lebih mudah bagi siswa untuk mengatahui hal-hal yang belum dipahaminya. 3.63 Faktor lingkungan atau faktor dari luar diri siswa akan menjadi sumber semangat dalam melakukan aktivitas belajar. 4. Aktivitas mencatat/membuat rangkuman Menurut Gie (1984:72) kebiasaan baik dalam mengikuti pelajaran diikuti dengan tertib dan penuh perhatian serta mencatat dengan baik akan memberikan pengetahuan yang lebih banyak. mengamati.

Sebaliknya siswa dapat mengajukan pertanyaan pada bagian sola yang belum dikuasainya. Dengan membuat catatan IPS yang rapih. Mengerjakan tugas atau latihan soal dapat berupa pengerjaan tes/ulangan dan ujian yang diberikan guru. apa yang dijelaskan guru tidak semuanya harus dicatat hanya hal-hal penting saja yang perlu dicatat. tetapi juga termasuk membuat/mengerjakan latihan soal-soal yang ada dalam buku-buku ataupun soal-soal buatan sendiri. teratur dan jelas maka dapat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya.64 Selama mengikuti proses pembelajaran IPS. Siswa dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru IPS dengan dibantu oleh buku pelajaran dan catatan yang dimilikinya. . c. Siswa hendaknya langsung mencatat dengan baik dan rapih sehingga mudah untuk dibaca dan dipelajari kembali di rumah. Aktivitas menjawab pertanyaan dan mengajukan pendapat atau bertanya Membaca dengan baik yang dilakukan secara taratur dapat mendukung kegiatan belajar dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan atau bertanya. Dalam belajar.Dengan melaksanakan aktivitas mengerjakan soal-soal IPS diharapkan dapat membantu siswa dalam menangkap serta menyerap materi yang diberikan oleh guru. d. ada suatu prinsip yaitu ulangan dan latihan soal-soal. Aktivitas mengerjakan soal-soal Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut pelaksanaan untuk diselesaikan.

(11) Latihan atau praktek. baik yang dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah.65 e. Cara membaca yang baik dan teratur akan membantu siswa dalam meningkatkan perstasi belajarnya. (9) Mengingat. (5) Membaca. (6) Membuat ikhtisar atau ringkasan dan menggarisbawahi. Aktivitas belajar meliputi seluruh kegiatan yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar. . Aktivitas mendiskusikan materi pelajaran Kegiatan berdiskusi diharapkan dapat membantu meningkatkan aktivitas siswa di kelas. Dengan kegiatan diskusi. (8) Menyusun paper atau kertas kerja. (7) Mengamati tabel-tabel. Klasifikasi aktivitas seperti di atas menunjukkan bahwa aktivitas itu cukup kompleks dan bervariasi. (3) Meraba. mencium dan mencicipi/mencecap (4) Menulis atau mencatat. maka diharapkan siswa akan semakin memahami dan menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Wasty Soemanto (1983:107-113) mengemukakan beberapa contoh aktivitas belajar dalam beberapa situasi sebagai berikut : (1) Mendengarkan. Sebaliknya bila siswa tidak teratur dalam membaca buku IPS maka prestasi belajar yang dicapainya tidak akan baik pula. (10) Berfikir. karena dengan banyak membaca maka seseorang kan lebih banyak memiliki ilmu dan wawasan. Siswa yang pasif akan terpacu untuk dapat berdiskusi dengan siswa yang lain. diagram-diagram dan bagan-bagan. Semakin banyak aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa. (2) Memandang. Aktivitas membaca buku pelajaran Membaca memiliki pengaruh yang besar dalam kegiatan belajar IPS. masing-masing siswa akan terlihat yang aktif dan pasif. f.

Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri. . mengamati. berani bertanya dan memberikan saran. tidak melakukan kegiatan yang berarti untuk dirinya sendiri. Disebut tidak aktif jika seorang siswa dalam mengikuti pelajaran hanya diam saja. menaggapi. jadi melakukan kegiatan. (sadiman 2004: 95). berbuat untuk merubah tingkah laku. menulis. menganalisis. Aktivitas belajar merupakan prinsip atau asas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar.66 Kriteria aktivitas siswa menurut Abu Ahmadi (2000:10) sebagi berikut : a. Memupuk kerja sama yang harmonisndikalangan siswa 4. oleh karenanya: 1. Hamalik (2001: 60) lebih lanjut menyebutkan penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi belajar sisiwa. Berbuat sendiri akan mengambangkan seluruh aspek pribadi siswa integral 3.”tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas”. Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri 2. Seorang siswa disebut aktif belajar jika siswa tersebut telah melakukan kegiatan membaca. b. karena pada prinsipnya belajar adalah berbuat.

keterampilan. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan atau mencatat apa yang diajarkan guru. koneksi dan pemecahan masalah. komunikasi. Jadi jelas apa yang dimaksud dengan aktivitas belajar dapat diartikan sebagai usaha untuk menghasilkan suatu perubahan pengetahuan. Pemahaman konsep sangat penting. karena dengan penguasaan konsep akan memudahkan siswa dalam mempelajari geografi. Pemahaman Konsep Konsep merupakan bayangan mental.67 Dari pendapat di atas terlihat bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan belajar yang saling berinteraksi sehingga menimbulkan perubahan terhadap belajar. maka siswa tersebut telah memahami konsep atau prinsip . Dengan kemampuan siswa menjelaskan atau mendefinisikan. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa. pemahaman. melainkan dituntut untuk dapat mengembangkan kemampuan secara mandiri dengan optimal. Penguasan konsep merupakan tingkatan hasil belajar siswa sehingga dapat mendefinisikan atau menjelaskan sebagian atau mendefinisikan bahan pelajaran dengan menggunakan kalimat sendiri. 10. ide dan proses. Pembentukan konsep merupakan ketajaman berpikir dalam mengklasifikasikan objek atau ide. Kemampuan manusia dalam membentuk suatu konsep memudahkan manusia dalam mengkategorisasikan sesuatu. nilai-nilai sikap yang bersifat konstan atau tetap pada anak yang dihasilkan melalui interaksi dengan lingkungannya atau dari pengalamannya sendiri. Pada setiap pembelajaran diusahakan lebih ditekankan pada penguasaan konsep agar siswa memiliki bekal dasar yang baik untuk mencapai kemampuan dasar yang lain seperti penalaran.

Siswa mengembangkan konsep ketika mereka mampu mengklasifikasikan atau mengelompokkan benda-benda atau ketika mereka dapat mengasosiasikan suatu nama dengan kelompok benda tertentu. Pemahaman konsep adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti dari konsep. Pemahaman konsep penting bagi siswa karena dengan memahami konsep yang benar maka siswa dapat menyerap. yaitu: . Konsep mengurangi kerumitan lingkungan 2. Siswa tidak harus belajar secara konstan. tetapi dapat menggunakan konsep-konsep yang telah dimilikinya untuk mempelajari sesuatu yang baru. Konsep memungkinkan pelaksanaan pengajaran. maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep adalah kemampuan untuk menangkap dan menguasai lebih dalam lagi sejumlah fakta yang mempunyai keterkaitan dengan makna tertentu. menguasai. dan menyimpan materi yang dipelajarinya dalam jangka waktu yang lama.68 dari suatu pelajaran meskipun penjelasan yang diberikan mempunyai susunan kalimat yang tidak sama dengan konsep yang diberikan tetapi maksudnya sama. Konsep membantu siswa untuk mengidentifikasi objek-objek yang ada disekitar mereka 3. Ada beberapa manfaat yang diperoleh dari pemahaman konsep. Menurut abdurrahman (1999:254) “konsep menunjuk pada pemahaman dasar. Dari beberapa penjelasan mengenai pemahaman konsep. 4. Konsep mengarahkan kegiatan istrumental 5. Konsep dan prinsip untuk mempelajari sesuatu yang baru. situasi.” Hamalik (2001:164) menyatakan beberapa kegunaan konsep. yaitu sebagai berikut: 1. serta fakta yang diketahuinya. lebih luas dan lebih maju.

Konsepkonsep yang merupakan dasar untuk proses mental yang lebih tinggi. Konsep membantu proses mengingat dan membuatnya menjadi lebih efisien. salah satunya adalah pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran. Konsep membantu kita menyederhanakan dan meringkas informasi. bukan . komunikasi dan waktu yang digunakan untuk memahami informasi tersebut. Konsep membuat kita tidak perlu ``mengulangulang pencarian arti' setiap kali kita menemukan informasi baru. e. Berbagai pendekatan dapat digunakan untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran. Konsep menentukan apa yang diketahui atau diyakini seseorang. d. Kerangka Pikir Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sumber: http://id. Penerapan pendekatan CTL yang berorientasi pada Life Skill merupakan pembelajaran yang membantu siswa menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalamm kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.69 b.com/social-sciences/education/2264151-definisipemahaman-konsep-dalam-pembelajaran/#ixzz2BhJksCY0 B. salah satunya adalah pendekatan CTL yang berorientasi pada Life Skill. Konsep sangat diperlukan untuk problem solving. f.shvoong. c. g. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk siswa belajar dan mengalami.

sehingga akan terbangun pada diri siswa pemahaman secara aktif. Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan CTL memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk bertanya. membimbing dan menilai kemampuan siswa. Bagi guru. siswa akan lebih termotivasi untuk menemukan pengetahuan atau keterampilan yang baru pada proses pembelajaran.70 transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan pengalaman belajar yang bermakna. bertanya merupakan kegiatan yang mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu. sehingga pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat. Guru mengajak siswa untuk mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Alur kerangka pikir penulis dari penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut Motivasi siswa Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang Berorientasi pada Life Skill . Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta tetapi dari konteks penemuan yang dikaitkan dengan kehidupan nyata yang mereka alami. Dengan bertanya. kreatif. mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi.

71 Aktivitas siswa Pemahaman konsep Gambar 4. Bagan alur kerangka pikir penelitian C. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Penelitian ini ialah penelitian tindakan. Penelitian tindakan kelas (classroom action research) adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mempebaiki suatu praktik pembelajaran dikelas secara berulang-ulang sambil melakukan perbaikan dalam rangka untuk mencapai tujuan atau mencapai hasil . aktivitas. dan pemahaman konsep siswa pada materi pokok lingkungan hidup. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan penelitian ini adalah dengan penerapan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill akan meningkatkan motivasi. III.

B. 1. reflektif. sesuai dengan hakekat yang dicerminkan oleh namanya yaitu action research spiral. pelaksanaan tindakan. Prosedur Penelitian Tindakan Prosedur penelitian tindakan merupakan langkah-langkah sistematis dan logis dalam rangka mencari kebenaran ilmiah. Sehubungan dengan hal ini pada dasarnya Elliot (1991) juga mengemukakan bahwa penelitian tindakan terdiri atas perencanaan. Dalam tradisi penelitian tindakan. triangulatif dan berulang-ulang (siklikal) dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Perencanaan . Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan kajian terhadap suatu tindakan pembelajaran (kelas) secara berulang-ulang sambil melakukan perbaikan dalam rangka mencapai tujuan atau hasil yang diharapkan. prosedur yang digunakan adalah dengan menggunakan sistem daur. berulang-ulang dan terus menerus sampai batas yang ditemukannya tindakan dan hasil yang ideal. Sistem daur merupakan suatu kajian terhadap tindakan pengembangan dan dampaknya atau hasilnya yang dilakukan secara bertahap. refleksi. Dengan demikian. dan revisi yang merupakan suatu siklus. pengamatan. 2011: 36). (Pargito. Menurut Pargito (2011: 118) penelitian tindakan kelas adalah upaya perbaikan tindakan pembelajaran tertentu yang dikaji secara inquiri.72 yang diharapkan.

Kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut: 1) Pendahuluan. guru menyampaikan indikator pembelajaran 2) Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok 3) Guru membahas materi tentang lingkungan hidup serta berdiskusi dengan siswa tentang kaitan materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata yang dihadapi siswa. Tindakan Pada tahap ini kegiatan yang dilaksanakan adalah mengelola proses pembelajaran dengan menerapkan pendekatan CTL. peneliti merencanakan atau mendesain tindakan pembelajaran geografi yang akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan CTL yang berorientasi pada life skill. 4) Pembelajaran menggunakan pendekatan CTL mengandung komponen pembelajaran inquiri. Adapun tahapan atau fase pembelajarannya meliputi: .73 Tahap ini. 2. Perencanaan tindakan pembelajaran tersebut meliputi: 1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 2) Membuat angket motivasi siswa 3) Membuat Lembar Kegiatan Kelompok (LKK) 4) Membuat lembar aktivitas siswa 5) Membuat soal tes formatif untuk mengetahui hasil belajar geografi siswa 6) Membuat lembar observasi untuk mengamati kegiatan guru selama proses pembelajaran 7) Membuat jurnal harian.

Merumuskan masalah Berdasarkan yang telah diberikan. Mengumpulkan Data Dalam tahap ini guru membimbing siswa dan memberikan bantuan jika diperlukan. Dalam presentasi dibuka sesi tanya jawab untuk mengetahui respons siswa yang menjadi pendengar. Merumuskan Kesimpulan Berdasarkan data yang diperoleh dan pengujian hipotesis. siswa memberikan komentar atau saran yang dicatat oleh anggota kelompok yang sedang . Selain itu.74 a. d. e. Fase orientasi Guru memberikan tugas mengenai materi lingkungan hidup dan mengaitkan materi yang mereka pelajari dengan lingkungan sekitar. Melalui diskusi kelompok ini disusun hipotesis atau jawaban sementara terhadap masalah yang diajukkan. f. guru membimbing siswa untuk merumuskan beberapa masalah untuk dicarikan jawabannya melalui kegiatan pembelajaran tersebut. maka guru membimbing siswa untuk merumuskan kesimpulan. b. c. Menguji Hipotesis Guru membimbing siswa untuk menguji hipotesis yang dikemukakan siswa di awal. 5) Setelah data terkumpul didiskusikan dan dipresentasikan di depan kelas. Mengajukan Hipotesis Guru membimbing kelompok siswa untuk berdiskusi.

4. Refleksi Tahap refleksi merupakan suatu penghayatan kembali dan interpretasi mendalam terhadap data-data dan fenomena suatu indikator dari suatu variabel. 3. Pada tahap ini guru peneliti mengidentifikasi kendala-kendala. Sedangkan guru mitra hal yang diamati adalah pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru peneliti yang dicatat dalam lembar observasi pengelolaan pembelajaran dan membantu guru peneliti mengamati kegiatan siswa selama proses pembelajaran. kemudian hasil analisis yang dilakukan akan dijadikan acuan untuk merencanakan perbaikan pada sik -lus berikutnya sehingga diharapkan dapat mencapai hasil yang lebih baik dari siklus sebelumnya. Guru peneliti menganalisis hasil evaluasi tersebut. . hambatan dan masalah yang dihadapi pada tindakan siklus I melalui hasil evaluasi yang telah diperoleh dari hasil observasi.75 mempresentasikan 6) Guru membantu memahami materi yang dipelajari dan membahas kebermanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Observasi Observasi selain dilakukan oleh guru peneliti juga dilakukan oleh guru mitra. Guru peneliti dalam hal ini mengamati aktivitas dan kegiatan-kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung yang dicatat dan ditulis melalui lembar observasi dan jurnal harian. Selain itu mengamati perubahan motivasi yang dilihat dari intensitas bertanya siswa dan diukur melalui angket motivasi begitupun dengan aktivitas dan pemahaman konsep siswa.

.76 Adapun alur penelitian dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat dari diagram alur penelitian tindakan di bawah ini.

Tempat penelitian dilakukan di SMA Muhammadiyah I Purbolinggo. Subjek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah guru yang berjumlah 2 orang yang terdiri dari guru peneliti dan guru mitra dan siswa kelas XI IPS1. Alur Penelitian Dalam Penelitian Tindakan Kelas Riset Aksi Model John Elliot 1991 ( dalam Pargito Th 2011 hal 36 ) C. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013. D. Subjek dan Objek Penelitian 1. yang berjumlah 32 siswa .77 Gambar 5.

sedangkan variabel dampak dalam penelitian ini adalah motivasi. Operasional/ Skenario Penelitian Tindakan Operasional tindakan atau scenario tindakan merupakan penjelasan atau rumusan variabel atau objek yang diteliti. Peneliti bersama kolaborator menggali informasi sesuai dengan indikator dan subindikator variabel yang diteliti. setuju. 2. Penulis merumuskan dan memberikan batasan variabel yang diteliti. Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah ssaran atau variabel yang diteliti. indikator sesuai variabel dan cara melakukan pengukuran untuk melihat tingkat keberhasilan penelitian tindakan.78 yang terdiri atas 14 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. 1. baik dalam tataran konsep maupun praktik atau langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran. Angket ini berbentuk angket skala Likert yang di dalamnya terdapat pilihan jawaban sangat setuju. E. . ragu-ragu. Variabel tindakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) yang berorientasi pada life skill. aktivitas dan pemahaman konsep. Lembar angket motivasi siswa terdiri dari sejumlah pernyataan yang disesuaikan dengan aspek yang diukur. Data Motivasi Siswa Pengumpulan atau perolehan data motivasi siswa diambil melalui lembar angket motivasi siswa.

1. Untuk pernyataan dengan kriteria negatif: 1 = sangat setuju 2 = setuju 3 = ragu-ragu 4 = tidak setuju 5 = sangat tidak setuju (Suhadi. Adapun kisi-kisi angket motivasi sebagai berikut: Tabel 2.50-2.49 = baik.49 = cukup baik skor rata-rata 3. Kisi-kisi angket motivasi N o 1 2 3 4 Kondisi Perhatian (Attention) Relevansi (Relevance) Percaya Diri (Confidence) Kepuasan (Satisfaction) Jumlah Angket Motivasi Nomor Pernyataan Nomor Pernyataan Positif Negatif Pemberian skor dengan ketentuan: a. skor rata-rata 1.50-4. Untuk pernyataan dengan kriteria positif: 1 = sangat tidak setuju 2 = tidak setuju 3 = ragu-ragu 4 = setuju 5 = sangat setuju b.49 = kurang baik skor rata-rata 2. kemudian menentukan kategorinya dengan ketentuan. 2008) Setelah penskoran dilakukan.00 = sangat baik .49 = tidak baik skor rata-rata.50-3.00-1. dan skor rata-rata 4.79 tidak setuju dan sangat tidak setuju.50-5.

80 Bentuk data motivasi belajar siswa per siklus selama diterapkannya pembelajaran menggunakan pendekatan CTL dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. … Jumlah Skor Skor Maksimum % rata-rata aktiviitas . 2. Bentuk data motivasi siswa persiklus No Nama Siswa Siklus ke . Data Akivitas Siswa Pengumpulan atau perolehan data aktivitas siswa diambil melalui lembar observasi aktivitas siswa yang berlangsung selama proses pembelajaran. Bentuk data aktivitas belajar siswa persiklus No Nama Aspek Aktivitas 1 2 3 Skor % Aktivitas Kategori 1. Skor Kategori 2. Bentuk data aktivitas belajar siswa per siklus selama diterapkannya pembelajaran menggunakan pendekatan CTL dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. 3...

Siswa dikatakan memahami konsep apabila memperoleh nilai lbih dari tau sama dengan 70 yang merupakan nilai KKM yang ditetapkan sekolah dan dikatakan tidak memahami konsep apabila memperoleh nilai kurang dari 70. Data pemahaman konsep siswa Data pmahamn konsep diperoleh setelah siswa mengikuti tes hasil belajar pada akhir siklus. Kriteria aktivitas belajar siswa Rentang Nilai 80 – 100 70 – 79 60-69 00 – 59 Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang 3. Presentase siswa memahami konsep dihitung dengan rumus: Keterangan Ks ∑ N = Presentase siswa memahami konep = Jumlah siswa memahami konsep = Jumlah siswa .81 Nilai aktivitas sama dengan persentase aktivitas dihilangkan persennya % AktivitasSiswa = JumlahSkor × 100% SkorMaksimum Adapun mengenai pengambilan kriteria adalah sebagai berikut: Tabel 5.

Peneliti dalam melakukan observasi menggunakan panduan atau lembar observasi. Pengamatan atau observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tidakan yang telah mencapai sasaran (Kunandar. dan pemahaman konsep dari siklus ke siklus berikutnya.82 Apabila setelah dianalisis terdapat peningkatan motivasi. F. dan dampaknya terhadap siswa (aktivitas siswa) pada pelajaran Sejarah. Panduan atau lembar observasi ini digunakan untuk memperoleh . maka penelitian ini dikatakan berhasil. Teknik ini digunakan sebagai alat bantu peneliti dalam mengambil data dengan pengamatan atau observasi. Observasi. aktivitas. 2008:143). Teknik Pengumpulan Data Untuk mempermudah dalam pengumpulan data pada penelitian ini alat bantu yang digunakan: 1. seperti obervasi tentang tindakan guru dalam menggunakan metode inkuiri. Observasi juga merupakan alat pengumpul data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejalagejala yang diselidiki. Namun dalam penelitian ini. observasi yang dilakukan adalah mengamati aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran yang dilakukan di kelas dan proses pembelajaran yang dilakukan guru dalam mengajar atau menyampaikan materi pelajaran.

2008: 146).83 data dari siswa berupa hasil observasi aktivitas belajar siswa. Observasi tertutup adalah apabila sang pengamat atau observer melakukan pengamatanya dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat (Kunandar. Ketika pengamatan berlangsung. Dst Nama Siswa Partisipasi Belajar Siawa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 0 Juml Kriteria Keterangan 1. Kisi-kisi observasi pembelajaran partisipasi siswa dalam proses No 1. lembar observasi diisi oleh guru mitra dan peneliti sendiri. peniliti secara objektif memilih dengan cepat dan memberi tanda cek list pada daftar kejadian. 4. Panduan observasi yang akan digunakan pada penelitian ini adalah dengan cara memberi tanda check list () pada kolom yang telah disediakan. 3. Dalam pelaksanaanya. 2. Tabel 6. Hal ini juga senada dengan pendapat Anggoro (2009:5--20) format observasi check list berisikan serangkaian daftar kejadian penting yang akan diamati. Berkerjasama 6 Memecahkan Soal . Observasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah observasi tertutup.

2. Menjawab 5. Lembar observasi guru diisi oleh guru mitra dengan memberi tanda check list pada kolom pada lembar observasi guru yang dianggap sesuai dengan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru tiap siklusnya. Mengerjakan Tugas Analisis aktivitas belajar siswa dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :  Jumlah Partisipasi belajar siswa 1-2 : Buruk  Jumlah Partisipasi belajar siswa 3-4 : Kurang Baik  Jumlah Partisipasi belajar siswa 5-6 : Cukup Baik  Jumlah Partisipasi belajar siswa 7-8 : Baik  Jumlah Partisipasi belajar siswa 9-10 : Sangat Baik Lembar observasi juga digunakan untuk melihat proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran dalam penelitian ini. Tanggung Jawab 7. Berpendapat 3. Sehingga dalam penelitian ini. Tes .84 2. Lembar observasi yang digunakan oleh guru mitra adalah untuk menilai guru dalam melakukan dan melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Lembar observasi guru ada pada lampiran. Mengambil Keputusan 8. Bertanya 4. tidak hanya siswa yang diteliti akan tetapi proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas juga di teliti dan dilihat keberhasilanya menggunakan lembar observasi yang telah dibuat. Aktif Belajar 9. Memberi Saran 10.

Dokumentasi dalam penelitian ini berisi aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh siswa dan guru selama proses pembelajaran sejarah dengan metode inkuiri berlangsung. Peneliti menggunakan kamera digital dalam mengambil data foto dalam proses pembelajaran pada penelitian yang dilakukan. Teknik Analisis data Setelah data penelitian didapat. alatnya menggunakan butir soal untuk mengukur. Dokumentasi digunakan untuk merekam kegiatan-kegiatan selama proses pembelajaran berlangsung. Tes dilaksanakan pada setiap akhir kegiatan siklus tindakan. selanjutnya dilakukan analisis data untuk mengetahui motivasi. Salah satu teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan dokumentasi foto. Teknik analisis data pada penelitian ini dengan menggunakan analisis diskriptif ( descriptive analysis) yaitu . Alat ini digunakan oleh peneliti adalah untuk meyakinkan bahwa data yang diperoleh atau terkumpul dalam penelitian lebih jelas. dan data tersebut benar adanya. berbentuk plihan ganda yang digunakan sebagaibahan gambaran yang diperoleh dari hasil belajar siswa dan partisipasi belajar siswa pada proses pembelajaran.85 Dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa. dan pemahan konsep siswa materi lingkungan hidup dengan menggunakan pendekatan CTL pada siswa kelas XI IPS 1 SMA Muhammadiyah I Purbolinggo dengan menggunakan pendekatan CTL. Foto digunakan pada penelitian ini sebagai alat untuk mengumpulkan data penelitian. 3. G. Dokumentasi Teknik dokumentasi ini digunakan sebagai bukti peristiwa dalam proses pembelajaran. aktivitas.

86 analsis terhadap suatu keadaan dan gejala yang dijabarkan apa adanya pada waktu penelitian tindakan ini dilakukan hingga akhir dari penelitian ini. dan interprestasi terhadap data dengan memberikan pemahaman dan penjelasan. Analisis data secara deskriotif dapat dilakukan dengan cara pemaparan data masing-masing variabel dan indikator. Sebelum dilakukan analisis data. lalu dilakukan validitas data atau pengecekan tentang keabsahan data yang telah terkumpul. .terlebih dahulu dilakukan pengolahan data mulai dari pengumpulan data dengan cara reduksi data. Simpulan atau akhir penelitian tindakan ini juga merupakan hasil kecenderungan atau konsesus secara triangulasi dari sember-sumber data yang ada. serta analisis deskriptif indikator dalam masing-masing siklus untuk melihat pencapaian indikator dan pemaknaan tiap siklus secara reflektif intuitif berkaitan antar data yang satu dengan data yang lainnya sehingga akan nampak kecenderungannya Data dari hasil penelitian ini diperoleh dengan cara menggunakan instrumen penelitian yang telah divalidasi dan dianalisis dengan cara membandingkan data hasil penelitian dengan indikator yang telah ditetapkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->