P. 1
Berfikir Dalam Tataran Dzikrullah (Website)

Berfikir Dalam Tataran Dzikrullah (Website)

|Views: 63|Likes:

More info:

Published by: widjaja kartadiredja on Sep 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $2.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/30/2014

$2.99

USD

pdf

1

Upload, September 25, 2013
BERFI KI R DALAM TATARAN DZI KRULLAH
Tema Pok ok :
Menaf ak ur i t anda-t anda Kek uasaan dan Keagungan Al l ah
di al am j agat r aya sebagai j al an menuj u ma’r i f at
di i l hami dengan r i t ual t aw af mengel i l i ngi Ka’bah
Penulis : H. Widjaja Kartadiredja
TOPIK MATERI
Topik materi tulisan : 1) Kata Pengantar ; 2) Tentang ayat-ayat kauniah; 3)
Isyarat-isyarat Alqu r’an; 4) Topan besar di jaman Nabi Nuh; 5) Apakah itu
planet Muntaha?; 6) Membayangkan luasnya wilayah tatasurya dan galaksi; 7)
Bersujud di bawah kekuasaan dan keagungan Allah; 8) Makna tawaf mengelilingi
Ka’bah; 9) Dalam ritual tawaf tersirat Isyarat Ilmiah; 10) Penutup.
1. KATA PENGANTAR
Artikel ini memaparkan tentang kontemplasi atau penafakuran, yaitu
terhadap tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah di jagat raya, dengan
menggunakan keterangan-keterangan dalam ayat-ayat kauniah dalam Alqur’an.
2

Ayat kauniah adalah ayat yang menerangkan hukum-hukum alam yang berkaitan
dengan fenomena-fenomena alam yang dapat kita saksikan dalam kehidupan
sehari-hari. Sebagai contoh, adanya pergantian siang dan malam, pergantian
musim di permukaan bumi, adanya gerhana mata hari, gerhana bulan, dan lain-lain
peristiwa alam, semuanya berkaitan dengan hukum-hukum alam yang diisyaratkan
dalam ayat-ayat kauniah dalam Alqur’an.
Tulisan ini tepat sekali dibaca oleh para jema’ah haji atau umrah, dimana
esensi tulisan mengandung tema penting yang harus dimanfaatkan, yaitu untuk
menafakuri fenomene-fenomena alam, yang ada kaitannya dengan isyarat-isyarat
dalam Alqur’an, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
abad modern sekarang ini.
Dengan membaca tulisan ini, pembaca akan tertarik untuk lebih jauh
menafakuri kekuasaan dan keagungan Allah di alam ini, bahwa di balik alam nyata
yang kita saksikan, ada sebuah kekuasaan dan keagungan yang luar biasa yang
hanya bisa ditafakuri oleh manusia yang mau membukakan hatinya untuk
memahami dan meyakini kekuasaan dan keagunggan Allah di alam jagat raya.
Menafakuri dan berfikir tentang kekuasaan dan keagungan Allah
“konotasinya” adalah sama dengan “berfikir dalam tataran dzikrullah”. Hal ini
merupakan salah satu jalan ma’rifat kepada Allah yang pasti amat sangat disukai
Allah sebagaimana hadist qudsi mengakatan : “Annallaha khalaqal insaana li
ma’rifatihi”, yang artinnya “tidak semata-mata Allah menciptakan mahluk
(manusia) melainkan agar mereka berma’rifat kepada-Nya”.
2. TENTANG AYAT-AYAT KAUNIAH
Dalam surat Ali Imran (QS.3) ayat 96 diterangkan bahwa rumah yang mula-
mula dibangun untuk manusia beribadah kepada Allah ialah Baitullah yang ada di
Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semesta alam. Ayat
ini selain mengandung makna ibadah, juga mengandung makna kauniyah. Dalam
Alqur’an yang disebut sebagai “hudan lin-nas” selain berisi petunjuk dan hikmah
3

bagi manusia tentang ibadah, ahlak, dan aspek-aspek kahidupan lainnya, terdapat
didalamnya sejumlah ayat kauniah, yaitu ayat mengenai hukum-hukum alam di
jagat raya. Menurut DR. Zaghlul Al-Najjar, Profesor Geologi dari King Fahd
University, Saudi Arabia, dalam Seminar Internasional ke-6 “Mu’jizat Alqur’an
dan As-Sunnah tentang IPTEK” yang diadakan di Bandung tahun 1994, dalam
Alqur’an terdapat sejumlah ayat kauniyah dan yang membicarakan tentang bumi.
Karena itu dipandang dari makna kauniyah, yang dimaksud dengan “manjadi
petunjuk bagi semesta alam” (“hudan lil ‘alamien”) tersirat pengertian berupa
petunjuk untuk memperhatikan, menafakuri dan mengadakan penelitian terhadap
fenomena-fenomena alam untuk mengetahui dan meyakini tanda-tanda kekuasaan
Allah di jagat raya. Mengetahui dan meyakini kekuasaan Allah di jagat raya salah
satunya dilakukan melalui penelitian-penelitian ilmiah. Betapa banyak kata-kata
dalam ayat-ayat Alqur’an yang menyerukan manusia untuk berfikir. Kini hasil
pemikiran dan penelitian para ilmuwan tentang alam dan fenomenanya telah
menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai bidang, dalam
meningkatkan kemajuan peradaban di muka bumi.
Menurut penelitian para ahli, ada lebih dari 1000 ayat kauniah dalam
Alqur’an, dan diantaranya terdapat 461 ayat kauniah yang menerangkan tentang
bumi dan kehidupan. Keterangan ini pernah diungkapkan oleh DR. J aghlul al-
Najjar, Profesor Geologi dari King Fahd University, Saudi Arabia, pada Seminar
Internasional ke-6 tentang “Miracle of Alqur’an and As-Sunnah on Science and
Technologi” (Mu’zijat Alqur’an dan As-Sunnah dalam bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi) yang diadakan di Bandung pada tahun 1994, bertempat di PT.
Industri Pesawat Terbang Nusantara (sekarang PT. Dirgantara Indonesia). Seminar
ini diadakan atas kerjasama ICMI dengan Rabithah Alam Islami, Saudi Arabia.
3. ISYARAT-ISYARAT ALQUR’AN
Dalam peradaban manusia diabad-abad belakangan ini, sebagai contoh,
orang sudah mengenal dan percaya bahwa bumi itu bulat, dan berputar pada
porosnya sambil mengelilingi surya di angkasa bebas pada garis edarnya, yang
4

mendatangkan adanya siang dan malam, dan adanya pergantian musim di
permukaan bumi yang diketahui dari tentang pengetahuan tatasurya atau ilmu
astronomi.
Pengetahuan tatasurya ini ditemukan oleh peradaban Barat yang
sesungguhnya jauh sebelumnya tentang tatasurya itu telah diisyaratkan dalam
Alqur’an, di antaranya dalam Surat Ar-Ra'd ayat 2 yang mengatakan : "Allah yang
meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia
bersemayam di atas ‘’Arasy’’ dan menundukkan matahari dan bulan yang masing-
masing beredar dalam waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan
(makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesarannya) agar kamu yakin akan
pertemuan dengan Tuhanmu". Bahkan dalam Surat Fushshilat (QS.41) ayat 53,
yang seolah-olah Allah berjanji akan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya
dengan firman-Nya sebagai berikut : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga
jelas bagi mereka bahwa (Alqur’an) itu benar. Tidak cukukah (bagi kamu) bahwa
sesungguhnya Tuhanmu menjadi sanksi atas segala sesuatu?”.
Sedemikian banyaknya isyarat-isyarat Alaqur’an tentang tanda-tanda
kekuasaan Allah di jagat raya, seperti dikatakan oleh DR. Zaghlul Al-Najjar,
tersebar dalam 461 ayat kauniyah.
4. TOPAN BESAR Di JAMAN NABI NUH
Banyak kejadian alam yang dapat kita saksikan di alam ini seperti gerhana
matahari, gerhana bulan, gempa bumi, dan lain-lain, semuanya merupakan tanda-
tanda dari kekuasaan Allah di jagat raya. Di dalam Alqur’an disebutkan tentang
topan besar di jaman Nabi Nuh yang sangat menarik untuk ditafakuri. Menurut
buku “Alqur’an, Dasar Tanya-jawab Ilmiah” yang disusun oleh Nazwar Syamsyu,
yang sumbernya diambil dari keterangan-keterangan dalam beberapa buku
ensyclopaedia, bahwa topan itu telah mengguncangkan permukaan bumi demikian
hebatnya, yang telah mengakibatkan berubahnya wilayah-wilayah daratan menjadi
lautan, diantaranya Lautan Hindia, Laut Merah dan Laut Tengah, dahulunya
5

sebelum kejadian topan Nuh merupakan sebuah daratan. Penyebab terjadinya
topan itu karena “berubahnya” garis edar bumi (dan planet-planet lainnya) akibat
perubahan posisi surya oleh pangaruh serombongan comet yang oleh ilmuwan
dinamakan Comet Hailey. Comet ini besarnya luar biasa dan memiliki panjang
kira-kira 6 kali jarak dari bumi ke surya. J arak dari bumi ke surya 93 juta mil.
Isyarat Alqur’an tentang topan Nuh ini diantaranya terdapat dalam surat Al-
Qomar (QS.54) ayat 11 yang menerangkan bahwa setelah Nabi Nuh berdo’a
kepada Tuhannya karena telah didustakan oleh kaumnya, Allah berfirman : “Maka
Kami bukakan pintu-pintu langit dengan curahan air”. Membukakan pintu-pintu
langit artinya membukakan atmosfir di langit sehingga dapat mendatangkan
peristiwa topan besar di permukaan bumi. Bukti peninggalannya ada dalam surat
Hud (QS.11) ayat 44, yang menjelaskan bahwa kapal Nabi Nuh terdampar di
puncak gunung J udi, setelah menyelamatkan orang-orang yang beriman dan
membinasakan kaum Nuh yang zalim. Gunung J udi adanya di Armenia Selatan
yang berbatasan dengan Mesopotamia.
Isyarat-isyarat Alqur’an tentang kekuasaan Allah di jagat raya diungkapkan
dalam bahasa yang sesuai dengan tingkat akal pikiran manusia pada saat Alqur’an
diturunkan. Namun demikian dalam perkembangan peradaban manusia kemudian,
isyarat-isyarat itu tidak bertentangan dengan hasil-hasil penelitian ilmiah, dan
sebaliknya dapat membuktikan fenomena-fenomena dan hukum-hukum alam di
jagat raya.
5. APAKAH ITU PLANET MUNTAHA?
Dalam wilayah tatasurya terdapat planet-planet yang dinamakan : Mercury,
Venus, Bumi, Mars, J upiter, Saturnus, Uranus, Neptune, dan Pluto. Dari hasil
panalitian oleh para ilmuwan, telah diketahui jarak dari masing-masing planet ke
surya sebagai pusat edarnya yaitu : 1) Planet Mercury jaraknya ke surya 36 juta
mil, 2) Planet Venus jaraknya ke surya 67.2 juta mil, 3) Planet Bumi jaraknya ke
surya 93 juta mil, 4) Planet Mars jaraknya ke surya 141,5 juta mil (manurut
perhitungan para ahli, sebagai penomena alam planet Mars setelah mengelilingi
6

surya dalam waktu 284 tahun, akan kembali berada pada posisi jarak terdekat
dengan bumi). 5) Planet J upiter jaraknya ke surya 90,254 juta mil, 6) Planet
Saturnus jaraknya ke surya 886 juta mil, 7) Planet Uranus jaraknya ke surya 1.785
juta mil, 8) Planet Neptune jaraknya ke surya 2.793,4 juta mil, 9) Planet Pluto
jaraknya ke surya 3.700 juta mil. Menurut para ilmuwan, Pluto adalah planet yang
terjauh dalam tatasurya yang sudah bisa diteliti.
Di belakang planet Pluto, katanya masih ada bintang atau planet yang tidak
bisa diteliti dengan peralatan yang ada saat ini. Ada yang memperkirakan bahwa
planet itu adalah Muntaha, yaitu nama yang disebut dalam Alqur’an ketika
mi’rajnya Nabi SAW ke langit. Namun benar tidaknya anggapan ini, hanya Allah
yang mengetahui. Sebab dalam hal mi’rajnya Nabi SAW ke langit pun ada yang
menafsirkan hanya dengan ruhnya saja, dan ada pula yang berpendapat dilakukan
dengan jasad (tubuh). Dalam hal ini, ada baiknya ditafakuri surat An-Najm
(QS.53) ayat 13-18 yang mengisyaratkan tentang kekuasaan dan keagungan Allah,
yang artinya : ”Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat J iibril itu (dalam rupa
yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada
surga tempat tinggal. (Muhammad melihat J ibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi
oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari
yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat
sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”.
6. MEMBAYANGKAN LUASNYA WILAYAH TATA SURYA DAN
GALAKSI
Menurut para ahli, planet yang paling jauh di tatasurya yang katanya berada
di belakang Pluto, yang belum bisa diteliti, lamanya mengelilingi surya sebagai
pusat edarnya “diperkirakan” dalam waktu seribu tahun. Sebagai perbandingan,
bumi yang jaraknya ke surya 93 juta mil mengelilingi surya dalam waktu 1 tahun
dan Pluto yang jaraknya ke surya 3.700 juta mil mengelilingi surya dalam waktu
248 tahun. Bisa dibayangkan luasnya wilayah tatasurya (termasuk sebuah planet
yang berada di belakang Pluto yang peredarannya mengelilingi surya diperkirakan
7

seribu tahun), yaitu sebuah wilayah di angkasa bebas, dengan lingkaran yang
panjangnya sama dengan garis edar planet yang menempuh perjalanan 1000 tahun.
Kalau kecepatan edar planet sama dengan kecepatan gerak cahaya seperti
yang ditafsirkan oleh para ahli, maka panjangnya garis kelilling wilayah tatasurya
adalah 1000 tahun kali kecepatan gerak cahaya yang per-detiknya 300.000 Km.
Apakah ramalan di atas itu benar? Wallahu ‘alam. Tapi ramalan itu dapat
menggugah hati untuk menafakuri tanda-tanda keagungan Allah di jagat raya. “Dia
mangatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya
dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) seribu tahun menurut perhitunganmu”,
demikian firman Allah dalam surat As-Sajdah (QS32) ayat 5. “Dan mereka
meminta kepadamu (Muhammad) supaya azab itu disegerakan, padahal Allah
sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu
adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”, demikian firman Allah dalam
surat Al-Haj (QS22) ayat 47.
Menurut para ahli, tatasurya itu hanya sebagian kecil saja dari wilayah
angkasa bebas yang dinamakan galaksi. Galaksi ialah gugusan bintang-bintang di
langit (dalam Alqur’an disebut “buruj”), yaitu bintang-bintang yang dikelilingi
oleh bulan dan planet-planet yang merupakan sebuah tatasurya. Karena sangat
jauhnya dari bumi, sebuah bintang yang kelihatan di langit bukanlah sebagai
sebuah bintang, akan tetapi sebuah gugusan bintang yang berupa tatasurya.
Padahal dalam jagat raya, oleh para ahli diramalkan adanya jutaan galaksi, yang
antara galaksi ke galaksi lainnya jaraknya jutaan tahun cahaya. Kalau demikian
halnya, betapa luasnya jagat raya, tidak akan terbayangkan oleh pikiran manusia.
Semua galaxi, sebagaimana firman Allah dalam Alqur’an, tunduk pada ketentuan
dan perintah Allah, yang menjadikan alam jagad raya sebagai ciptaan-Nya yang
maha sampurna, tanpa cacat, demikian pula dengan semua mahluk ciptaan-Nya di
seisi jagat raya.
Untuk menambah keyakinan tentang kekuasaan dan keagungan Allah maka
tafakurilah surat Al-A’raf (QS.7) ayat 54 yang artinya : “Sesungguhnya tuhan
8

kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu
ia bersemayam di atas ‘Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang
mengikutinya dengan cepat, (dan diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan
bintang-bintang masing-masing tunduk kepada perintah-Nya”. Demikian pula
firman Allah dalam surat Al-Ma’arij (QS.70) ayat 1-7 yang artinya : “Ada orang
yang meminta didatangkan azab yang akan menimpa. (Dijawab) : “Untuk orang-
orang kafir, tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya (yang datang) dari
Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan J ibril naik
(menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka
memandang siksa itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat
(pasti terjadi)”.
7. BERSUJUD DI BAWAH KEBESARAN DAN KEAGUNGAN ALLAH
Dengan manafukri ayat-ayat tentang kekuasan dan keagungan Allah di jagat
raya, maka tawaf bagi kaum muslimin yang menjalankan ibadah haji atau ibadah
umrah, merupakan pertanda sujud di bawah keagungan Allah karena iman kepada-
Nya, membenarkan kitab-Nya, memenuhi janji-Nya, mengikuti sunnah Nabi
Muhammad SAW, mohon ampunan dan mohon keselamatan di dunia dan di
akhirat, dan terhindar dari siksa neraka. Disamping itu dengan tawaf, berarti
menafakuri kekuasaan dan keagungan Allah, pencipta langit dan bumi dan
pemelihara alam semesta.
8. MAKNA RITUAL TAWAF MENGELILINGI KA’BAH
Dari sudut ilmiah, dengan pemahaman tentang tatasurya dan makna surat
Ali Imran ayat 96, ada yang menfsirkan bahwa dengan tawaf mengelilingi Kabah
Baitullah tujuh putaran melambangkan ber-putarnya bumi pada porosnya, yang
membuat adanya pergantian siang dan malam tujuh kali dalam seminggu.
Demikian pula sa’i yang dilakukan sesudah tawaf dalam rukun haji dan rukun
umrah, yaitu berjalan tujuh balikan antara Shafa dan Marwa, melambangkan gerak
9

zigzagnya bumi (ke utara dan ke selatan) dalam mengelilingi surya sebagai pusat
edarnya, yang mendatangkan perubahan musim di permukaan bumi.
Selama ini sa’i “dimitoskan” dari segi sejarah Nabi Ibrahim, untuk
mengingatkan kisah Hajar dan Ismail yang kehabisan air dan perbekalan ketika
ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di lembah gurun yang gersang. Karena sangat
gersangnya lembah gurun ini digambarkan dalam buku “The Life of Muhammad”
karangan Tahia Al-Ismail (Abdul-Qasim Publishing House, J eddah), hingga tak
seekor lalat pun yang bisa hidup di sana. Kini lembah gurun itu telah menjadi kota
Makkah Al-Mukarramah dalam “tapak” sajarahnya Nabi Ibrahim, tempat bertawaf
dengan Kabah Baitulah-nya yang diberkahi di alam ini.
9. DALAM RITUAL TAWAF TERSIRAT ISYARAT ILMIAH
Tidak berlebihan kalau diakhir tulisan ini Penulis cuplik buah pikiran Bapak
Ahmad Muflih Saefuddin tentang penafsiran Alqur’an yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi, yang dikemukakan dalam makalahnya yang berjudul
“Alqur’an, Paradigma IPTEK dan Kehidupan”, yaitu pada Seminar Internasional
ke-6 “Mu’jizat Alqur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK” tahun 1994 di Bandung.
Beliau mengatakan bahwa sangat tidak mustahil Alqur’an sekarang tengah dikaji
oleh orang-orang non-muslim untuk kapentingan ilmu pengetahuan dan teknologi
ruang angkasa. Sebab menurut beliau formula Alqur’an merupakan paradigma dan
premis IPTEK modern, yang dipakai oleh mereka untuk mencari kemungkinan
membangun “real estate” di ruang angkasa atau di dasar laut, sebagai jalan keluar
atas pembiakan manusia yang tak terhingga di bumi ini. Sementara menurut beliau,
umat Islam sekarang masih tertatih-tatih dalam menafsirkan Alqur’an yang dititik-
beratkan pada segi linguistiknya, sehingga yang tersintuh bukan isinya tetapi
bahasanya. Sedangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kini makin
melesat, untuk “membuktikan” hasil ciptaan Allah, penguasa langit dan bumi.
Karena itu kalau tawaf benar-benar ditafakuri, maka tawaf mengelilingi
Ka’bah Baitullah, selain mengandung makna ibadah yang bersifat ritual dalam
menjalankan rukun haji dan rukun umrah, tawaf bagaikan “membawa isarat
10

ilmiah” bagi umat manusia di sepanjang peradabannya. Andaikan Ka’bah bisa
bicara seperti manusia, kepada mereka yang bertawaf, Ka’bah akan berkata :
“Wahai hamba-hamba Allah, bersujudlah kepada Allah pencipta langit dan bumi,
seraya menafakuri tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya di jagat raya, agar
dapat menyingkapkan rahasia alam ciptaan-Nya untuk kemajuan peradaban”.
Mengenal akan tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah termasuk
pekerjaan ma’rifat yang sangat disukai Allah, sebagaimana firman Allah dalam
Hadits Qudsi yang menyatakan : Tidak semata-mata Allah menciptakan manusia
melainkan agar mereka berma’rifat kepada-Nya. (“Annallaha khalaqal insaana li
ma’rifatihi”.
10. PENUTUP
Demikian paparan tentang kontemplasi, semoga bermanfaat, khususnya
bagi para jemaah haji dan jemaah umrah musim haji tahun 1434 Hijriyah, dengan
iringan do’a “semoga menjadi haji yang mabrur”.
J uga semoga bermanfaat bagi kaum muslimin dan muslimat umumnya,
khususnya Penulis, sebagai penggugah untuk banyak tafakur dan syukur, dalam
mendekatkan diri kepada Allah Subhana huwa taala, Yang Maha Pencipta dan
Maha Pemelihara semesta alam. Aamiin.
J ika terdapat kesalahan dalam penafsiran, mohon maaf, dan saya
dikembalikan kepada pembaca sabagai bahan koreksi dan perbaikan.
Salam hormat Penulis, H. Widjaja Kartadiredja.

Bandung,West J ava, Indonesia, 25/09/2013.




Dengan membaca tulisan ini. 2.3) ayat 96 diterangkan bahwa rumah yang mulamula dibangun untuk manusia beribadah kepada Allah ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Makkah). adanya pergantian siang dan malam. yang artinnya “tidak semata-mata Allah menciptakan mahluk (manusia) melainkan agar mereka berma’rifat kepada-Nya”. gerhana bulan. dimana esensi tulisan mengandung tema penting yang harus dimanfaatkan.Ayat kauniah adalah ayat yang menerangkan hukum-hukum alam yang berkaitan dengan fenomena-fenomena alam yang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari. semuanya berkaitan dengan hukum-hukum alam yang diisyaratkan dalam ayat-ayat kauniah dalam Alqur’an. ada sebuah kekuasaan dan keagungan yang luar biasa yang hanya bisa ditafakuri oleh manusia yang mau membukakan hatinya untuk memahami dan meyakini kekuasaan dan keagunggan Allah di alam jagat raya. pergantian musim di permukaan bumi. Hal ini merupakan salah satu jalan ma’rifat kepada Allah yang pasti amat sangat disukai Allah sebagaimana hadist qudsi mengakatan : “Annallaha khalaqal insaana li ma’rifatihi”. juga mengandung makna kauniyah. Tulisan ini tepat sekali dibaca oleh para jema’ah haji atau umrah. yaitu untuk menafakuri fenomene-fenomena alam. adanya gerhana mata hari. yang ada kaitannya dengan isyarat-isyarat dalam Alqur’an. Menafakuri dan berfikir tentang kekuasaan dan keagungan Allah “konotasinya” adalah sama dengan “berfikir dalam tataran dzikrullah”. Ayat ini selain mengandung makna ibadah. Dalam Alqur’an yang disebut sebagai “hudan lin-nas” selain berisi petunjuk dan hikmah 2 . dan lain-lain peristiwa alam. yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semesta alam. pembaca akan tertarik untuk lebih jauh menafakuri kekuasaan dan keagungan Allah di alam ini. Sebagai contoh. TENTANG AYAT-AYAT KAUNIAH Dalam surat Ali Imran (QS. bahwa di balik alam nyata yang kita saksikan. sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di abad modern sekarang ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->