Dampak Fluktuasi Nilai Tukar terhadap Output dan Harga

Dampak Fluktuasi Nilai Tukar terhadap Output dan Harga: Perbandingan Dua Rezim Nilai Tukar Jardine A Husman[1] Working Paper Nomor 17 Desember 2006 Abstrak Penelitian ini mengkaji pengaruh fluktuasi nilai tukar terhadap output dan harga pada dua periode rezim nilai tukar. Model yang digunakan nilai tukar, memisahkan dan dari dampak anticipated maupununanticipated dari pergerakan

pergeseran pada permintaan maupun penawaran agregat, terhadap output dan harga. Hasil empiris memperlihatkan bahwa perubahan rezim nilai tukar telah mempengaruhi dampak nilai tukar maupun efektifitas kebijakan moneter dan fiskal dalam mempengaruhi output dan harga. Depresiasi nilai tukar memberikan dampak netto yang ekspansif terhadap output. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan output lebih didominasi oleh sisi permintaan; melalui jalur peningkatan daya saing, daripada sisi penawaran; melalui peningkatan biaya bahan baku impor. Namun demikian, dampak nilai tukar terhadap output dan harga ini masih lebih kecil dibandingkan dampak kebijakan moneter maupun fiskal di tiap periode rezim nilai tukar. Klasifikasi JEL: F41, F43, F31 Keywords: exchange rate, anticipated vs. unanticipated depreciation, supply vs. demand channels. I. Pendahuluan Sebagai perekonomian terbuka, perkembangan nilai tukar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum. Pengaruh nilai tukar

terhadap perekonomian berjalan melalui dua sisi, permintaan dan penawaran. Pada sisi permintaan, depresiasi nilai tukar akan menyebabkan harga barang luar negeri relatif lebih tinggi dibandingkan barang dalam negeri. Hal ini akan meningkatkan permintaan terhadap barang dalam negeri baik dari permintaan domestik maupun dari permintaan luar negeri terhadap ekspor. Analisa sisi permintaan ini diperkaya dengan konsep elastisitas harga Marshall-Lerner condition, di mana depresiasi nilai tukar akan meningkatkan net ekspor apabila jumlah elastisitas harga ekspor dan impor lebih besar dari satu[2]. Di lain pihak, dari sisi penawaran depresiasi nilai tukar akan meningkatkan biaya bahan baku impor yang selanjutnya dapat menyebabkan penurunan output produksi dan memicu kenaikan harga secara umum[3]. Efek netto dari depresiasi nilai tukar terhadap output tergantung dari kekuatan relatif kedua sisi penawaran dan permintaan tersebut. Dari sisi permintaan selain dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar, pergerakan output juga terkait erat dengan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Ekspansi kebijakan moneter akan menurunkan tingkat suku bunga yang selanjutnya dapat meningkatkan investasi dan output. Demikian juga halnya dengan kebijakan fiskal di mana ekspansi pengeluaran pemerintah yang merupakan salah satu komponen permintaan agregat dapat menyebabkan peningkatan output, meskipun dampak crowding-outtetap perlu untuk dipertimbangkan. Di sisi lain, pengalaman dari krisis nilai tukar telah menggarisbawahi arti penting dari penyelarasan proyeksi nilai tukar pelaku ekonomi dalam menentukan kebijakan nilai tukar yang tepat. Berdasarkan hal ini, kontribusi teori rational expectation bertujuan untuk memisahkan dampak pergeseran nilai tukar dari komponen yang anticipated dengan yang unanticipated. Pergerakan yanganticipated pada nilai tukar diasumsikan sejalan dengan pengamatan para pelaku ekonomi terhadap faktor-faktor fundamental. Sementara deviasi pada realisasi nilai tukar dari nilai ekspektasinya dapat menangkap komponen yang unanticipated dari pergerakan nilai tukar. Dalam konteks ini penawaran output dipengaruhi oleh pergerakan harga yang unanticipated dan biaya produksi. Pergerakan yang anticipated dari nilai tukar akan menentukan biaya produksi output tersebut. Di lain pihak, pergerakan nilai tukar yang unanticipated akan menentukan kondisi perekonomian melalui tiga jalur; net-ekspor, permintaan uang dan penawaran output (Kandil dan Mirzaie, 2002).

yaitu periode managed floating dan periode free floating. Studi ini juga mengevaluasi seberapa jauh dampak tersebut lebih dominan dibanding dengan pengaruh kebijakan moneter dan fiskal. II. studi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh dampak fluktuasi nilai tukar rupiah dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Indonesia. Untuk itu evaluasi akan dilakukan dengan membagi periode pengamatan sesuai rezim nilai tukar yang berlaku. . Di samping itu. II. sementara dampak akhir dari sisi permintaan akan menyebabkan dampak total yang inkonklusif[4]. Dari model ini terlihat bahwa depresiasi nilai tukar akan berdampak kontraktif melalui dampak sisi penawaran.1 Permintaan Agregat Sisi permintaan dispesifikasikan berdasarkan kerangka standard IS-LM dengan modifikasi untuk perekonomian terbuka. metodologi dan data yang digunakan. sesi ketiga menguraikan model empiris. semua koefisien bernilai positif). Model ini berangkat dari beberapa asumsi. Landasan Teori Model teoritis yang digunakan dalam studi ini sebagian besar mengikuti Kandil dan Mirzaie (2002) dengan beberapa penyesuaian baik pada permintaan agregat maupun penawaran agregat. sesi kedua menerangkan landasan teori dan model teoritis. sesi keempat menyajikan hasil estimasi dan analisa. Organisasi penulisan terdiri dari lima sesi. Sesi pertama ialah pendahuluan. sesi terakhir kesimpulan. Spesifikasi berikut menggambarkan kondisi keseimbangan di pasar barang maupun pasar keuangan (huruf kecil menunjukkan bentuk dalam logaritma. adanya perubahan rezim nilai tukar dicurigai akan mempengaruhi kekuatan jalur-jalur yang ada. (i) bahwa kebijakan moneter merupakan kebijakan uang beredar.Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut. (ii) faktor ketidak pastian (uncertainty) masuk ke dalam model dalam bentuk gangguan pada permintaan agregat maupun penawaran agregat.

Suku bunga nominal didefinisikan sebagai penjumlahan dari suku bunga riil dan ekspektasi inflasi pada periode t. dengan nilai tukar spot. akan didapatkan kondisi equilibrium pasar barang yang merupakan fungsi dari nilai tukar. pajak riil merupakan fungsi linier dari pendapatan riil.2 Penawaran Agregat . bergerak sejalan dengan real disposable income. yang akan meningkat saat pendapatan luar negeri meningkat. g. disposable income didefinisikan sebagai pendapatan riil. dan suatu konstanta. diasumsikan akan meningkat sejalan dengan pendapatan riil domestik dan akan menurun saat nilai tukar riil meningkat. rer. ekspor riil. m dibagi dengan harga. x0.i. Hubungan searah antara rerdengan x memperlihatkan bahwa saat harga domestik lebih rendah dari harga luar negeri. investasi riil. di mana persamaan (8) memperlihatkan kondisi equilibrium pasar barang. membentuk nilai tukar riil. Nilai tukar spot sendiri menyatakan unit mata uang domestik per unit mata uang asing. Sementara rer sendiri memperlihatkan derajat daya saing produk domestik dibandingkan dengan produk luar negeri. di mana permintaan dan penawaran terhadap money balances riil akan seimbang. Pada persamaan (2). Pada persamaan (5). t. Dalam persamaan (1). p.Persamaan (1) sampai dengan (8) memperlihatkan kondisi di pasar barang. s. ekspor akan meningkat. Variabel Etst+1 merupakan ekspektasi future value dari nilai tukar saat periode t. x. Permintaan money balances riil berhubungan positif dengan pendapatan riil dan berhubungan negative dengan suku bunga nominal. diasumsikan sebagai variabel eksogen. harga dalam dan luar negeri. Persamaan (9) memperlihatkan kondisi equilibrium di pasar uang. dan tingkat harga luar negeri. memiliki hubungan dengan harga relatif. Diasumsikan bahwa penduduk suatu Negara pasti memegang mata uang dalam negeri untuk motif transaksi tetapi dapat berspekulasi dengan memegang mata uang luar negeri. dikurangi pajak. tingkat harga domestik. berkorelasi negatif dengan suku bunga riil. Pada persamaan (6). yd. r. p*. Dengan mensubsitusi (1) sampai dengan (7) ke (8). Money supply riil ditentukan oleh money balances nominal. Pada persamaan (7) import riil. y. Pada persamaan (3). konsumsi riil. Suatu unexpected temporary depreciation pada nilai tukar pada periode t akan memicu spekulasi apresiasi pada periode t+1 untuk mengembalikan tren nilai tukar ke posisi semula (Etst+1 . dan suku bunga riil. p. Pengeluaran pemerintah riil. yang menggambarkan kurva IS. im. Pada persamaan (4). c.st) <> II.

dari yaitu anticipated (steady jalur permintaan dan state) dan unanticipated(random). Kompleksitas dari jalur permintaan dan penawaran dapat menentukan efek dari fluktuasi nilai tukar. Fungsi produksi mengambil bentuk Cobb-Douglass pada U dengan mengasumsikan kapital stok dan tenaga kerja yang tetap. Persamaan (12) yang memperlihatkan permintaan terhadap bahan bau impor didapatkan dengan cara mentransformasi first-order condition dari permasalahan maksimum profit dari fungsi produksi (10). output (Q) diproduksi dengan menggunakan tenaga kerja (L). capital stok (K). Di sisi lain. Apresiasi pada nilai tukar akan menurunkan daya saing sehingga menurunkan prospek produksi dan penawaran output. yakni sebagai berikut: . Sementara itu pada jalur permintaan. penawaran agregat berlawanan arah dengan harga energi dimana peningkatan harga energi akan meningkatkan biaya produksi sehingga menurunkan output yang bisa diproduksi. dan bahan baku impor (U) sebagai faktor produksinya. penawaran agregat dapat bergerak searah dengan nilai tukar. Fungsi produksi ini dipengaruhi oleh harga energi. pada jalur penawaran variasi ouput dapat disebabkan oleh pergerakan anticipated pada nilai tukar. money supply. dan belanja pemerintah. Kombinasi penawaran mengindikasikan bahwa output rill tergantung pada pergerakan unanticipated pada nilai tukar. Z.3 Keseimbangan Pasar Keseimbangan pasar didapat saat permintaan agregat sama dengan penawaran agregat. II. Pada model diasumsikan bahwa pergeseran permintaan dan penawaran dapat terjadi dalam bentuk dua komponen. yang selanjutnya meningkatkan ouput dan harga pada jangka pendek. Tambahan lagi. Efek netto dari fluktuasi nilai tukar terhadap penawaran output akan tergantung pada jalur mana yang lebih dominan. Sebaliknya apresiasi nilai tukar akan menurunkan harga impor sehingga meningkatkan penawaran output. permintaan agregat meningkat sejalan dengan peningkatan belanja pemerintah dan money supply. Persamaan (11) memperlihatkan nilai tambah domestik. Berdasarkan fungsi produksinya.Pada sisi penawaran.

kejutan positif ini akan meningkatkan daya saing produk ekspor dan selanjutnya outlook produser terhadap permintaan eksternal.1 Model Empiris Model empiris pada studi ini mengikuti Kandil dan Mirzaie (2002) dengan spesifikasi berdasarkan hasil uji stasioneritas dari output riil dan tingkat harga konsumen. kejutan positif pada nilai tukar ( unexpected temporary depreciation) selanjutnya akan menimbulkan eskpektasi apresiasi saat t+1. Namun di sisi lain. Di pasar barang. 3. daya saing produk ekspor akan meningkat sehingga meningkatkan output domestik. Hal ini akan memicu pelaku pasar untuk memegang lebih banyak mata uang domestik pada periode t dan meningkatkan suku bunga. Sebagi hasilnya penawaran output akan meningkat. kejutan positif pada nilai tukar ( unanticipated depreciation) akan meningkatkan biaya impor. Model dasar untuk pertumbuhan output rill ialah sebagai berikut: . kejutan positif pada nilai tukar (unexpected depreciation) dapat menyebabkan turunnya harga ekspor domestik dan sebaliknya naiknya harga impor. Efek netto dari depresiasi nilai tukar terhadap output dan harga akan tergantung oleh dominasi antara jalur permintaan dan jalur penawaran. Di sisi penawaran. Pengamatan empiris dilakukan dengan menggunakan data time-series kwartalan dari output rill dan harga pada dua periode rezim nilai tukar. III. Sebagai hasilnya. III.1. meningkatkan biaya produksi dan menurunkan output domestik sehingga meningkatkan tingkat harga agregat. Metodologi dan Data Metodologi diuraikan berdasarkan model empiris yang diestimasi dan teknik ekonometrik yang digunakan dalam estimasi. Di pasar uang. Jalur ini akan mengurangi ekspansi permintaan agregat sehingga juga akan mengurangi peningkatan output dan harga. 2.

sehingga B1 dan B2 >0.1 ditandai dengan Et-1. dan selanjutnya tingkat harga baik agregat. B6 >0. Ekspektasi pelaku pasar untuk suatu variabel pada periode tberdasarkan informasi yang tersedia pada periode t . Dampak akhir tetapindeterminate. di mana gt dan mt menandakan nilai log dari pengeluran pemerintah dan money supply. Kedua jalur pertama akan meningkatkan inflasi. sehingga arah B7 dan B8 masihindeterminate. juga akan menyebabkan naiknya pertumbuhan output riil. bersifat anticipated maupununanticipated meningkatkan . sehingga A3 dan A5 >0. Depresiasi akan meningkatkan biaya bahan impor sehingga menurunkan penawaran output. kebijakan fiskal dan moneter. Pertumbuhan yang bersifat unanticipated pada pengeluaran pemerintah dan money supply akan meningkatkan permintaan agregat. Untuk melihat lebih lanjut apakah efek Pergeseran permintaan. pertumbuhan output akan terpengaruh positif terhadap kenaikan harga minyak dan sebaliknya. Model dasar untuk laju inflasi berdasarkan hasil uji stasioneritas ialah sebagai berikut: (14) Perubahan harga minyak. B4 . perubahan yang bersifat anticipated maupuanunanticipated pada nilai tukar akan menentukan baik permintaan maupun penawaran agregat. Sementara itu depresiasi nilai tukar akan menurunkan penawaran output dan dari sisi permintaan akan meningkatkan (melalui dampak net ekspor) atau menurunkan (melalui dampak permintaan akan mata uang domestik) permintaan output. Hal ini menandakan bahwa A4 dan A6 > 0.Variabel zt merupakan nilai log untuk harga energi. sehingga B3 . sehingga menimbulkan kejutan harga positif. yang inflasi. baik yang bersifat anticipatedmaupun unanticipated. mengaproksimasi pergeseran permintaan (demand shifts). Sementara itu pertumbuhan pengeluaran pemerintah dan money supply yang bersifat anticipated. sementara jalur terakhir akan menurunkan inflasi. Dua sumber kebijakan dalam negeri. B5 . meningkatkan biaya produksi. depresiasi akan meningkatkan net ekspor dan permintaan akan mata uang dalam negeri. Terakhir. Bersamaan dengan itu. Untuk negara pengekspor minyak.

Model dasar pada (13) dan (14) dimodifikasi dengan memasukkan komponen negatif dan positif di atas. 1981).2 Teknik Ekonometrik dan Data Pada tahap pertama dilakukan uji unit root untuk semua variable dalam model dengan menggunakan uji unit root augmented Dickey-Fuller (Dickey and Fuller. sebagai berikut: di mana negt dan post masing-masing merupakan unexpected appreciation dan unexpected depreciation dari nilai tukar. Model (13) untuk pertumpuhan output riil dimodifikasi menjadi (19) dengan parameter A8n dan A8pmengukur efek dari depresiasi dan apresiasi nilai tukar terhadap pertumbuhan output riil. kejutan (shock) pada nilai tukar dipisahkan menjadi dua komponen. Selanjutnya apabila terdapat hubungan kointegrasi antar variable dalam model empiris dilakukan estimasi dengan menggunakan teknik instrumental variable dengan ketentuan sebagai berikut: (i) Nilai variabelanticipated merupakan nilai dynamic forecast variabel yang bersangkutan. Demikian juga halnya dengan persamaan inflasi (14) dimodifikasi menjadi (20) dengan parameter B8n dan B8p mengukur efek dari depresiasi dan apresiasi nilai tukar terhadap inflasi. (ii) Lag (1) dan (2) dari semua variabel dalam model digunakan sebagai kandidat variabel . dilakukan uji kointegrasi dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Johansen (1998).fluktuasi nilai tukar bersifat simetris atau asimetris. III. negative (apresiatif) dan positif (depresiatif) mengikuti metode yang dikembangkan Cover (1992). Berdasarkan hasil uji unit root tersebut.

yaitu periode crawling peg atau managed floating 1990(1) – 1997(2) danperiode free floating 1997(3) – 2006(2). Berikutnya. varibel g merupakan jumlah pengeluaran riil dari konsumsi dan investasi pemerintah. varaibel z merupakan harga minyak internasional. I(1) (Table 1). IV. variabel p merupakan tingkat IHK.1 Uji Unit Root dan Kointegrasi Hasil uji stasioneritas. dilakukan komparasi dampak antar kebijakan etrhadap output maupun inflasi. masing-masing pada α = 5% untuk periode managed floating (1990:1 – 1997:2). sejalan dengan prediksi model empiris. IV. Data yang digunakan merupakan data kwartalan dengan keterangan sebagai berikut: variabel y merupakan data PDB riil. Dari hasil uji stasioneritas pada eror dari persamaan jangka panjang terlihat bahwa persamaan untuk output di kedua periode estimasi memiliki hubungan kointegrasi. Pada akhir bagian.penjelas pada persamaan forecast. Analisa hasil empiris dilakukan dengan membandingkan dampak perubahan tiap variabel kebijakan terhadap pertumbuhan output maupun inflasi. memperlihatkan bahwa seluruh variabel stasioner pada first difference. Untuk dapat menangkap pengaruh ataupun perubahan yang terjadi akibat adanya perubahan rezim nilai tukar. dan (iii) Nilai unanticipated merupakan nilai aktual dikurangi nilai dynamic forecast (anticipated) yang telah didapatkan. untuk menguji adanya hubungan kointegrasi dan banyaknya cointegrating vector. variabel m menggunakan data M1. dilakukan (i) uji stasioneritas pada komponen eror dari persamaan jangka panjang dan (ii) uji kointegrasi Johansen (Table 2). dan terakhir variabel s merupakan nilai tukar nominal IDR/USD. Hal in berdasarkan stasioneritas eror dari persamaan jangka panjang output pada level. Pembagian periode ini murni berdasarkan realisasi perubahan rezim yang berlaku tidak berdasarkan hasil uji break point pada tiap series. dan pada α = 10% untuk periode free floating (1997:3 – . Hasil Empiris Pada bagian ini dijabarkan hasil empiris dari hasil uji ekonometrik maupun estimasi persamaan empiris beserta analisanya. estimasi model empiris dilakukan dengan membagi periode pengamatan.

7600 -1. Berdasarkan kedua uji tersebut. terlihat bahwa baik persamaan output maupun harga. Namun demikian. Kebijakan fiskal baik anticipated maupun unanticipated. sedangkan untuk periode managed floating eror dari persamaan jangka juga telah stasioner pada I(0) dengan α = 5%. Pada akhir sesi dilakukan komparasi dampak antar kebijakan.2006:2). Baik kebijakan fiskal maupun pergerakan nilai tukar tidak dapat secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan output maupun inflasi. Begitu juga halnya dengan persamaan inflasi. IV.5331 -5.7255 0.0000 Order I(1) I(1) I(1) I(1) I(1) I(1) .2 Analisa Hasil Estimasi Pada periode managed floating. dan pergerakan anticipated nilai tukar justru dapat meningkatkan pertumbuhan output riil.0000 0. pada periode free floating terpenuhi uji stasioneritas pada α = 5%.4124 -2. Tabel 1.2979 -6.5800 -6. kebijakan ekspansi moneter tidak dapat mempengaruhi pertumbuhan output riil melainkan hanya akan menyebabkan peningkatan inflasi.0011 0. Selanjutnya analisa akan dilakukan untuk tiap dampak kebijakan.4499 0. Hasil estimasi keempatnya ditampilkan pada Tabel 3.2644 0.9634 0. Dari hasil uji kointegrasi Johansen.0000 0.9680 -5. keduanya memiliki satucointegrating vector berdasarkan kriteria maximum eigen value. Sebaliknya pada periode free floating.2703 -4.7311 -2.0000 0. hanya unanticipated money supply yang dapat mempengaruhi pertumbuhan output dan selanjutnya inflasi.0237 p-val 0.5737 1st diff ADF -8.6406 -1.0000 0.2179 p-val 0. kebijakan fiskal tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap inflasi sementara pergerakan nilia tukar baik anticipated maupun unanticipated berpengaruh signifikan tehadap inflasi. Hasil Uji Stasioneritas No Variabel 1 2 3 4 5 6 yt zt mt gt rert st Level ADF -2. estimasi empiris dilakukan untuk keempat model (persamaan 13 dan 14).2586 -0.8477 0. Eror dari keempat persamaan berdistribusi normal dan saling bebas terhadap lag-nya masing-masing (lihat Apendiks untuk uji autokorelasi dan uji heterokedastik). yaitu untuk persamaan output dan harga di kedua periode estimasi.

659) -0.183) 0.Tabel 2.362** (-1. Dari hasil estimasi persamaan pertumbuhan output.120* (1.109** 1 *) Johansen cointegration test based on Maximum Eigen Values Tabel 3 Hasil Estimasi Model Empiris (t-statistic) Policy Variables Anticipated Energy Prices Unanticipated Energy Prices Anticipated Money Supply Unanticipated Money Supply Anticipated Government Spending Unanticipated Government Spending Anticipated Exchange Rate Unanticipated Exchange Rate R2 IV.061 (-0.441) 0.129 (0. Hasil jalur sisi permintaan ini sejalan dengan Husman Managed Floating 1990:1 – 1997:2 Output Price 0.042 (0.980) 0.112 0.552) (0.058 0.347 (-0.965) 0.a Dampak Nilai Tukar Hasil estimasi model empiris memperlihatkan bahwa fluktuasi nilai tukar hanya berpengaruh pada output dan harga pada periode free floating.898** 0.343 (1.889) (-2.281** 1 -3.233) 0.020 (0.838) -0.048 (1.028 (1.2.*) -4.*) -4.773) 0.511) 0.690) 0.074 (1.252) 0.514) (-0.469 Free Floating 1997:3 – 2006:2 Output Price 0.558) 0.106** (1.033 (2.544** -0.616 (-1.287) -0.900) 0.005 (1.803) 0.092) 0.249 (0.874) (0.159** 1 -1.860) 0.321) 0. anticipated depreciation akan meningkatkan output.487* -0.503** (2. Hasil Uji Kointegrasi Period 1990:1 – 1997:2 1997:3 – 2006:2 Output ADF Coint.427) (-1.441* (1.252) 0. hal ini memperlihatkan bahwa jalur sisi permintaan lebih kuat daripada jalur sisi penawaran.423) 0.219 (-1.508) 0.633 0.690) -1.099** (2.212 (1.764 .335 -0.698) (1.285) -0.231* (3.028 -0.582* -0.003 (-0.762) (-0. sementara pada periode managed floating baik output maupun harga tidak terpangaruh secara signifikan terhadap pergerakan nilai tukar.255 -0.109 (-0.720* 1 Price ADF Coint.793) 0.027) (2.

karena pada periode managed floating perubahan nilai tukar yang terjadi tidaklah besar. diketahui bahwa pengaruh nilai tukar terhadap harga bersifat asimetris dimana depresiasi akan meningkatkan inflasi. sementara pada periode free floating yang terjadi adalah sebaliknya. dari sisi penawaran depresiasi nilai tukar meningkatkan biaya bahan baku impor yang selanjutnya dapat menyebabkan penurunan output produksi dan memicu kenaikan harga secara umum. Pada periode free floating depresiasi nilai tukar baik anticipated maupununanticipated akan menyebabkan peningkatan inflasi. kenaikan harga bahan baku impor tidak serta merta dapat menyebabkan produsen meningkatkan harga jualnya. akan menyebabkan turunnya pengeluaran konsumsi pada periode t sehingga dampak total depresiasi nilai tukar terhadap output belum tentu tetap akan menjadi positif. maka kenaikan harga konsumen. Jika keputusan konsumsi didasarkan oleh intertemporal budget constraint. Berdasarkan hasil estimasi tersebut. Meningkatnya pada periode managed dibandingkan dengan floating mengindikasikan semakin kuatnya direct passthrough pada periode free floating. dalam hal ini inflasi. Dari sisi pembentukan harga. Hasil ini mengindikasikan bahwa produsen hanya akan meneruskan kenaikan . untuk mengetahui simetris atau tidaknya dampak unanticipated shock dari nilai tukar. sementara apresiasi tidak secara signifikan akan menurunkan inflasi. Depresiasi nilai tukar akan meningkatkan harga produk bahan baku impor pada sisi penawaran yang selanjutnya signifikansi akan menyebabkan jalur ini meningkatnya harga konsumen. Namun demikian karena model yang digunakan pada penelitian ini tidak memperlihatkan adanya intertemporal budget constraint pada persamaan konsumsi (1).(2005) yang memperlihatkan terpenuhinya Marshall-Lerner condition pada perdagangan Indonesia dengan mitra dagang utamanya sehingga depresiasi nilai tukar akan meningkatkan netekspor Indonesia yang selanjutnya akan meningkatkan output. Selanjutnya. dilakukan pemisahan dampak depresiatif dan apresiatif nilai tukar terhadap inflasi seperti pada persamaan (20). Berdasarkan hasil estimate terlihat bahwa dampak sisi penawaran lebih kuat jika dibandingkan dengan dampak sisi penawaran terhadap pertumbuhan output sehingga secara netto depresiasi nilai tukar akan berdampak positif terhadap output. maka dampak dari kenaikan harga konsumen akibat adanya depresiasi nilai tukar tidak akan mempengaruhi konsumsi. Di lain pihak.

2. dibutuhkan sterilisasi dengan membeli rupiah terhadap mata uang asing. yaitu parameter λ pada persamaan (9). terlihat bahwa hanya shock pada kebijakan money supply yang dapat mempengaruhi pertumbuhan output dan harga.harga bahan baku impor ke harga jual untuk mempertahankan marjin keuntungannya namun tidak demikian halnya dengan penurunan harga barang impor. Namun seperti yang bisa dilihat dari Grafik 1 yang memperlihatkan pergerakan rupiah sepanjang periode managed floating. IV. 2001). Yanuarti dan Tjahjono (2005).02 namun pada periode free floating nilainya menjadi 0. Namun demikian. sejalan dengan hasil Nugroho. Kembali pada periode managed floating. Signifikannya pengaruh unanticipated money supply shock terhadap output ini sejalan dengan hipotesis yang diungkapkan oleh Barro (1979). Perubahan ini diantaranya dapat disebabkan oleh adanya peningkatan faktor ekspektasi inflasi dimana peningkatan udang berdear akan mempengaruhi ekspektasi masyarakat terhadap tingkat inflasi di masa depan yang pada akhirnya akan meningkatkan tingkat suku bunga (Mishkin.005. Pergeseran kurva LM relatif terhadap posisi semula akan menyebabkan turunnya tingkat suku bunga yang pada gilirannya dapat . Proses ini akan menyebabkan bergesernya kembali kurva LM ke kiri.b Dampak Money Supply Pada periode managed floating. Implikasinya ekspansi moneter gagal untuk menurunkan suku bunga nominal sehingga tidak dapat mendorong pertumbuhan output. Perubahan efektifitas stimulus moneter ini dipengaruhi oleh adanya perubahan pada elastisitas suku bunga terhadap money supply. Hasil estimasi persamaan forecast untuk variabel money supply memperlihatkan bahwa pada periode managed floating parameter λ bernilai -0. pada periode free floating stimulus moneter terlihat tidak efektif dalam meningkatkan output melainkan hanya akan meningkatkan inflasi. ekspansi moneter dapat menyebabkan depresiasi nilai tukar sehingga untuk mempertahankan nilai tukar rupiah. Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa struktur pasar cenderung merupakan monopolistic competition. nilai tukar tetap dibiarkan terdepresiasi secara perlahan sehingga kurva LM tidak sepenuhnya kembali ke posisi semula. sementara faktor lain tidak memberikan dampak secara signifikan.

d Dampak Harga Minyak Pada periode managed floating meskipun Indonesia berperan sebagai net eksportir. pergerakan harga minyak internasional tidak mempengaruhi tingkat inflasi. kebijakan fiskal tidak secara signifikan mempengaruhi harga.2. Pada periode free floating terdapat beberapa perubahan kondisi yang dapat mempengaruhi pengaruh perubahan harga minyak terhadap output maupun harga. namun harga minyak tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan output. Pembahasan tentang perkembangan kebijakan fiskal diluar ruang lingkup penelitian ini. sementara pada periode managed floatingfiskal stimulus tidak efektif dalam meningkatkan output.c Dampak Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal hanya dapat mempengaruhi output pada periode free floating. Pada periode free floating baik anticipated maupun unanticipatedpengeluaran pemerintah dapat menyebabkan peningkatan pertumbuhan output. Namun demikian pada hasil estimasil persamaan inflasi. setidaknya sampai dengan tingkat α= 15%. Studi yang meneliti cyclicality kebijakan fiskal di beberapa negara berkembang tersebut memperlihatkan bahwa untuk kasus Indonesia kebijakan fiskal tidak berjalan optimal dan procyclical terhadap business cyclesebelum tahun 1999. Namun setelah tahun 1999 dengan optimaliitas kebijakan fiskal membeik dan countercyclical terhadap business cycle sejlaan dengan mulai diterbitkannya obligasi pemerintah sebagai salah satu alternatif pembayaran hutang pemerintah. Demikian juga halnya pada persamaan inflasi. Hal ini disebabkan oleh besarnya subdisi pemerintah sehingga harga dalam negeri cenderung stabil. Hasil empiris perbedaan efektifitas kebijakan fiskal ini sejalan dengan temuan Hardiyanto dan Togo (2005). IV.menghasilkan peningkatan output sesuai dengan hubungan yang diperlihatkan pada persamaan (9). yaitu (i) berubahnya peran Indonesia dari net-eksportir menjadi net-importir pada pertengahan tahun 2003 (Grafik 2). dan (ii) terjadi perubahan pola subsidi yang utamanya terjadi pada .2. Hal ini dapat disebabkan oleh pengeluaran subsidi yang dilakukan merupakan bagian dari variabel pengeluaran pemerintah itu sendiri. IV.

IV. Kenaikan ini dapat disebabkan oleh meningkatnya pengaruh ekspektasi inflasi. Pada tingkat yang lebih rendah. dan 0.503%.898% kenaikan pertumbuhan. variabel kebijakan yang paling besar pengaruhnya tehadap pertumbuhan output pada periode free floating ialah kebijakan fiscal dimana setiap kenaikan 1% pada pertumbuhan anticipated dari pengeluaran pemerintah akan menyebabkan kenaikan pertumbuhan output sebesar 0.441%. Namun demikian hasil estimasi persamaan (20) memperlihatkan bahwa dampak pergerakan nilai tukar ini tidak bersifat simetris dimana apresiasi nilai tukar tidak menyebakan penurunan tingkat inflasi. kebijakan moneter memberikan dampak terbesar terhadap inflasi dimana 1% kenaikan pertumbuhan unag beredar akan menyebabkan 0. Namun dampak kedua variabel kebijakan tersebut masih lebih rendah dibandingkan dampak pertumbuhan money supplyterhadap pertumbuhan pada periode managed floating dimana 1% kenaikan pertumbuhan uang beredar akan menyebabkan 0. dan 0.120% untuk dampakanticipated.099% untuk dampak unanticipated.362% pada periode free floating Hasil ini memperlihatkan adanya kenaikan pengaruh uang beredar terhadap inflasi pada periode free floating dibandingkan periode managed floating. V1 Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan V. depresiasi nilai tukar juga memiliki dampak yang signifikan terhadap inflasi dimana kenaikan 1% pada depresiasi nilai tukar akan menyebabkan kenaikan inflasi sebesar 0. Sebagai implikasi dari perubahan tersebut. Dampak terbesar selanjutnya disebabkan oleh depresiasi nilai tukar dimana kenaikan 1% pada depresiasi nilai tukar riil akan menyebabkan kenaikan pertumbuhan output sebesar 0.1 Kesimpulan .tahun 2005 akibat tingginya harga minyak internasional.231% kenaikan inflasi pada periode managed floating. untuk pengeluaran pemerintah yangunanticipated. Untuk persamaan inflasi baik pada periode managed floating maupun periode free floating.3 Komparasi Dampak Kebijakan Berdasarkan nilai parameter hasil estimasi.544%. parameter pengaruh harga minyak tidak dapat secara langsung diintepretasikan. dan 0.

maupun efektifitas kebijakan moneter dan fiskal. V.2 Implikasi Kebijakan . perubahan nilai tukar tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap output maupun harga. dalam mempengaruhi pertumbuhan output dan inflasi. Jika dilihat dari besarnya dampak tiap kebijakan. Di samping itu. Namun dampak kedua variabel kebijakan tersebut masih lebih rendah dibandingkan dampak pertumbuhan money supply terhadap pertumbuhan output pada periode managed floating. selanjutnya diikuti oleh dampak depresiasi nilai tukar. Disisi lain. Perubahan ini mungkin tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan perubahan rezim nilai tukar. baik pada periode managed floating maupun periode free floating. melalui peningkatan biaya bahan baku impor. melalui jalur peningkatan daya saing. Dari sisi dampak nilai tukar terhadap pertumbuhan output. variabel kebijakan yang paling besar pengaruhnya tehadap pertumbuhan output pada periode free floating ialah kebijakan fiskal. Dari sisi efektifitas tiap kebijakan dalam mendorong pertumbuhan terlihat bahwa pada periode managed floatingmonetary stimulus bekerja efektif dalam meningkatkan output namun tidak demikian halnya pada periode free floating. fiskal stimulus justru bekerja efektif dalam meningkatkan output pada periode free floating. pada periode managed floating. Faktor lain yang menyebabkan perubahan efektifitas ini ialah faktor ekspektasi inflasi dimana pengaruhnya meningkat pada periode free floating.Hasil empiris dari studi ini memperlihatkan bahwa perubahan rezim nilai tukar telah mempengaruhi dampak nilai tukar. Sebaliknya. perubahan rezim nilai tukar juga membawa konsekuensi meningkatnya dampak direct-passthrough nilai tukar terhadap inflasi. Peningkatan ini salah satunya diindikasikan oleh berubahnya elastisitas suku bunga terhadap uang beredar. kebijakan moneter memberikan dampak terbesar terhadap inflasi. Sementara itu dari sisi pembentukan harga. tidak pada periode managed floating. Hal ini telihat dari positifnya dampak netto dari depresiasi nilai tukar terhadap pertumbuhan. melainkan melalui faktor lain akibat perubahan rezim itu sendiri. dalam studi ini terlihat bahwa perubahan output lebih didominasi oleh sisi permintaan. daripada sisi penawaran.

S. Dickey. Journal of Economic Dynamics and Control. Olena (2005). 2006. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan. 2. pp. the American Economic Review. Asymmetric Effects of Positive and Negative Money Supply Shocks. J. mimeo. 12. P. Vol 52.. Robert J. Enriko (2005).”Statistical Analysis of Cointegration Vectors”. Vol. Weltwirtschaftliches Archives. Johansen. (1981). Journal of Comparative Economics. Summer Internship programme. namun juga akan menyebabkan peningkatan harga yang selanjutnya dapat berdampak kontraktif terhadap permintaan barang. No. 484-499.R.A. Vol 67. Johansen. Husman.Econometrica. . A Preliminary Study on Fiscal Policy Cyclicality: A Case of Selected Developing Countries. Devaluation and the Real Exchange Rate in Developing Countries.”Maximum Likelihood Estimation and Inferences on Cointegration – with Application to Demand for Money”. and Juselius. BCFBDWorld Bank. (ii) penggunaan kebijakan nilai tukar dalam upaya peningkatan output harus tetap dilakukan secara berhati-hati karena meskipun depresiasi akan meningkatkan daya saing barang domestik. Vol. 3. Vol 33. and Fuller. No. Referensi Agenor. (2005) Pengaruh Nilai Tukar Riil terhadap Nerca Perdagangan Bilateral Indonesia: Kondisi Marshall-Lerner dan Fenomena J-Curve. 1261-1282. W. K (1990).A. (1992). Hardiyanto. (1988).P.”Likelihood Ratio Statistics for Autoregressive Time Series witha Unit Root”. Cover. (1991) Output. Jardine A. Bilan.V. (i) stimulus moneter yang bertujuan untuk meningkatkan output harus dilakukan secara berhati-hati mengingat besarnya dampak pada kenaikan harga yang justru dapat berdampak kontraktif terhadap permintaan. Oxford Bulletin of Economics and Statistics. Quarterly Journal of Economics 107 (4). S. In Search of the Liquidity Effect in Ukraine . A.Dari hasil studi ini dapat diambil dua implikasi kebijakan yaitu. and Togo. 49. Vol. Barro. (1977) Unticipated Money Growth and Unemployment in the United States. D. Band 127.

------------. Banking and Financial Markets . 21 pp 1-31. (2003) The Effects of dollar appreciation on sectoral labor market adjustments : Theory and evidence. vol. (2005) The Effects of exchange rate fluctuations on economic activity in Turkey. Nugroho. WP/03/200. Apendiks A Model Teoritis Setelah mensubstitusi persamaan (1)-(7) ke dalam kondisi ekulibrium di pasar barang. Biro Riset Ekonomi Bank Indonesia. Journal of International Money and Finance. and Dincer N. (2001) The Economics of Money. (2002) Exchange rate fluctuations and disaggregated economic activity in the US: Theory and evidence. didapatkan persamaan untuk pendapatan riil sebagai fungsi dari nilai tukar. didapatkan persamaan untuk permintaan agregat berikut: . vol.Kandil. New York: Addison-Wesley. San Fransisco. Working Paper. Boston. The Quarterly of Economics and Finance. Frederic S. IMF Working Paper. Egypt. Dengan menyelesaikan untuk suku bunga. 43 pp 89-117. r. Kandil. dari persamaan LM pada (9) dan mensubstitusi hasilnya ke dalam persamaan IS. 6th ed. Yanuarti dan Tjahjono (2005) Struktur Biaya dan Pembentukan Harga pada Industri manufaktur Indonesia.and Mirzaie A. M and Mirzaie A. Berument H. harga domestic maupun luar negeri dan suku bunga domestik: (A1) Persamaan di atas merupakan persamaan IS yang memperlihatkan hubungan antara pendapatan riil dan suku bunga riil. WP/12/2005. (2003) The Effects of exchange rate fluctuations on output and prices: Evidence from developing countries. M .and Mirzaie A. ------------. Mishkin. paper presented in Economic Research Forum 12thConference.

Perhitungan output dan harga dilakukan dengan cara menyamakan permintaan agregat dengan penawaran agregat.(A2) di mana dan rer =s – ( p. didapat solusi persamaan harga sebagai berikut: . Selanjutnya dengan menggunakan nilai ekspektasi hasil sebelumnya pada periode t didapat Etpt+1. sementara merupakan random unanticipated changes dengan rata-rata nol dan varian kostan.p*) Dengan substitusi (12) ke dalam transformasi log dari Qpada (10). didapat gross domestic output supplied sebagai berikut: (A3) Subsitusi (A3) ke dalam transformasi log (11) dan menggunakan ekspansi Taylor dengan aproksimasi di sekitar 0. didapat persamaan penawaran agregat untuk nilai tambah domestik sebagai berikut: (A4) Sumber dari pergeseran permintaan dan penawaran diasumsikan mengikuti proses berikut: where merupakan anticipated changes. Dengan mensubstitusi Etpt+1 kembali ke dalam kondisi ekuilibrium.

Chi-Square(2) 0. Chi-Square(2) 1.179 Prob.313 0.323 Prob.639 Square(18) 2.813 0.660 Prob.325 Prob. Chi26. F(2.241 0.526 Prob. F(2.750 Square(18) 0.769 White Heteoskedasticity Test: EQGDP97 F-statistic Obs*R-squared EQGDP06 F-statistic Obs*R-squared EQCPI97 F-statistic Obs*R-squared 0.841 Prob.959 0.839 Prob.(A6) Apendiks B Uji Autokorelasi dan Uji Heterokedastik Persamaan (13) dan (14) Periode I : managed floating (1990(1) – 1997(2)) Periode II : free floating (1997(3) – 2006(2)) Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: EQGDP97 F-statistic Obs*R-squared EQGDP06 F-statistic Obs*R-squared EQCPI97 F-statistic Obs*R-squared EQCPI06 F-statistic Obs*R-squared 1.7) Prob.097 0. Chi21.24) 0.728 0. Chi12.16) Prob. F(18.191 0.243 . F(18.914 0.940 0.8) Prob.603 Prob.368 Prob. F(18.086 0.564 Prob. F(2. Chi-Square(2) 0.234 0.23) 0.15) 4.15) 2. Chi-Square(2) 0. F(2.021 0.655 Square(18) 1.063 Prob.

AV. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Chi23. misalnya Husman (2005) untuk kasus Indonesia.861 Prob. E-mail: jardine@bi. F(18. [4] Depresiasi nilai tukar akan menyebabkan naiknya harga bahan baku impor dan selanjutnya biaya produksi.483 Square(18) 0. . Untuk lengkapnya.15) Prob. lihat Agenor (1991). lihat Nugroho.id [2] Lihat. Namun di sisi lain.173 [1] Peneliti Ekonomi Muda di Biro Riset Ekonomi (BRE). Sementara itu dari sisi permintaan meningkatnya harga bahan baku impor ini akan menurunkan permintaan. Nugroho. sehingga dampak sisi penawaran terhadap output adalah kontraktif. Wahyu A. Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter (DKM). depresiasi nilai tukar akan meningkatkan daya saing produk domestik dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan terhadap barang domestik. Hardiyanto serta staff di Biro Riset Ekonomi untuk masukan dan koreksi pada draft awal. [3] Untuk pembahasan secara komprehensif.115 0.go.EQCPI06 F-statistic Obs*R-squared 1. Pandangan dalam paper ini merupakan pandangan penulis dan tidak semata-mata merefleksikan pandangan DKM atau Bank Indonesia. Yanuarti dan Tjahjono (2005) mengenai struktur biaya industri pengolahan di Indonesia. Kesalahan atau kekeliruan yang ada adalah semata-mata kesalahan penulis. Bank Indonesia. Perry Warjiyo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful