P. 1
Kista Bartolini

Kista Bartolini

|Views: 317|Likes:

More info:

Published by: giegie_mutz_66128546 on Sep 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan, salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini. Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat menyebabkan terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu bentuk tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan dilatasi kistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi abses. Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini merupakan masalah yang perlu untuk dicermati. Kista bartolini bisa tumbuh dari ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.

1

seperti infeksi. peradangan atau iritasi jangka panjang.2. Gambaran kista bartolini 2. dan bahwa perempuan dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Hal ini mungkin menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama usia reproduksi.1. yang paling umum terjadi pada labia majora. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa wanita berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami kista bartolini atau abses bartolini daripada wanita hispanik. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih banyak daripada kista.BAB II PEMBAHASAN 2. Involusi bertahap dari kelenjar Bartolini dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi. 2 . Kista Bartolini. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat.Definisi Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Epidemiologi Dua persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada suatu saat dalam kehidupannya. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista.

kira 2 cm yang terbuka ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen. Jadi.114 kanker per 100. jika diagnosis kanker tertunda. Namun. kelenjar bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi vestibuli. berjumlah dua buah berbentuk bundar.000 wanita-tahun).Biopsi eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa pada wanita pascamenopause dapat berkembang menjadi kanker. Beberapa penelitiantelah menyarankan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan karena rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal.3. Anatomi Kelenjar Bartholini Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna.Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun. Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara labium minus pudendi dan tepi hymen. Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari bulbus. Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di dalam hidup mereka. kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major. hal ini adalah masalah yang perlu dicermati. Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kira. dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan nervushemoroidal inferior. tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang lebih tua atau lebih muda.Namun. 2. seperti pada gambar dibawah ini : 3 . prognosis dapat menjadi lebih buruk. jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan. normalnya kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan palapasi. dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli.

Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia vagina. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan. Fisiologi Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina.4. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.Histologi Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel kolumnair atau kuboid.Etiologi Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. tetapi penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina berasal dari bagian vagina lebih dalam. 2. kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi. seperti Escherichia coli. Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina. Umumnya abses ini 4 . sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel transsisional yang secara embriologi merupakan daerah transisi abtara traktus urinarius dengan traktus genital.

5.melibatkan lebih dari satu jenis organisme. Abses Bartholin merupakan akibat dari infeksi primer dari kelenjar. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi. Kista dan abses bartholin seringkali dibedakan secara klinis. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi. kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia. Kista dapat terinfeksi. dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. 2. kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. sehingga menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan. Pasien dengan 5 . Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Sedangkan kistayang berukuran lebih besar.Sumbatan ini biasanya merupakan akibat sekunder dari peradangan nonspesifik atau trauma. dan abses bisa berkembang dalam kelenjar. Kelenjar Bartholin sangat sering terinfeksi dan dapat membentuk kista atau abses pada wanita usia reproduksi. bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat. atau kista yang terinfeksi. Namun.Patofisiologi Tersumbatnya bagian distal dari duktus Bartholin dapat menyebabkan retensi dari sekresi. Kista bartholin dengan diameter 1-3 cms eringkali asimptomatik. dengan akibat berupa pelebaran duktus dan pembentukan kista. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan.

Pemeriksaan ginekologi Hasil pemeriksaan ginekologi yang dapat diperoleh dari pemeriksaan terhadap Kista Bartholin adalah sebagai berikut: 6 . diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) 1.7. diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) 2. Anamnesa Pada anamnesa biasanya ditemukan gejala klinis. berupa :     Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral.abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan bertambah secara cepat dan progresif. b. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:     Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. a. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda. Abses kelenjar Bartholin disebakan oleh polymicrobial. Gejala klinis Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri. 2.6. Diagnosa Untuk menegakkan diagnosa kista bartolini dapat ditegakkan dengan : 1. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk Nyeri yang mendadak mereda.

Pemeriksaan Penunjang Apabila pasien dalam kondisi sehat. afebris. 2. Kultur bakteri dapat bermanfaat dalam menentukan kuman dan pengobatan yang tepat bagi abses Bartholin. unilateral. Demam.dan seringkali asimptomatik 7 . 2. c.   Jika berukuran besar.8.diperlukan incisi dan drainase sederhana. Beberapa diantaranya adalah: 1. terutama bila massanya bersifat irreguler. Pada keadaan terinfeksi.Dysontogenetic cysts merupakan kista jinak yang berisi mukus dan berlokasi padaintroitus atau labia minora. nodular. tes laboratorium darah tidak diperlukan untuk mengevaluasi abses tanpa komplikasi atau kista. dan keras. dan tidak disertai dengan tanda – tanda selulitis di sekitarnya. suatu pertumbuhan massa pada wanita postmenopause perlu dievaluasi terhadap tanda – tanda keganasan. dapat terdapat discharge yang purulen Kista Bartholin harus dibedakan dari abses dan dari massa vulva lainnya.Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. Kista sebaseous ini merupakansuatu kista epidermal inklusi dan seringkali asimptomatik. meskipun tidak khas pada pasien sehat. Pasien mengeluhkan adanya massa yang tidak disertai rasa sakit. dapat terjadi Jika abses telah pecah secara spontan.    Dalam beberapa kasus. fluktuasi dengan daerah sekitar yangeritema dan edema. Diagnosa banding Beberapa jenis lesi vulva dan vagina dapat menyerupai kista Bartholin. Discharge dari kista yang pecah bersifat nonpurulent Sedangkan hasil pemeriksaan fisik yang diperoleh dari pemeriksaan terhadap abses Bartholin sebagai berikut:  Pada perabaan teraba massa yang tender. didapatkan daerah selulitis di sekitar abses. kista dapat tender. Karena kelenjar Bartholin mengecil saat usia menopause. Terdiri dari jaringan yang menyerupai mukosa rektum. 1.

bahwa terdapat 13% kegagalan pada prosedur ini. Perlu dipertimbangkan untuk dilakukan biopsi apabila timbul perdarahan dan diangkat bila timbul gejala 2.Hematoma pada vulva. Balon kecil di ujung Word catheter dapat menampung sekitar 3-4 mL larutan saline 8 .Incisi dan Drainase Meskipun insisi dan drainase merupakan prosedur yang cepat dan mudahdilakukan serta memberikan pengobatan langsung pada pasien.3.Word Catheter Word catheter ditemukan pertama kali pada tahun 1960-an. namun prosedur iniharus diperhatikan karena ada kecenderungan kekambuhan kista atau abses.10 French Foley kateter.kekerasan.Penatalaksanaan Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien. pertumbuhan yang progresif. Hidradenoma merupakan tumor jinak yang dapat muncul pada labia majora dan labiaminora. Indikasi untuk eksisi berupa timbulnya rasa nyeri. 4. Fibroma merupakan tumor solid jinak vulva yang sering ditemukan. biasanya digunakan untuk mengobati kista dan abses Bartholin. 5. Dapat dibedakan dengan adanya trauma akibat berolahraga. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan. Panjang dari kateter karet ini adalah sekitar 1 inch dengan diameter No. dan kosmetik. Merupakan sebuah kateter kecil dengan balon yang dapat digembungkan dengan saline pada ujung distalnya. 2.Ada studiyang melaporkan. Tindakan Operatif Beberapa prosedur yang dapat digunakan: 1.9. kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase.

Apabila incise dibuat terlalu besar. pemasangan Wordcatheter tidak praktis.11 digunakan untuk membuat incisi sepanjang 5mm pada permukaan kista atau abses. Balon yang mengembang ini membuat kateter tetap berada di dalam rongga kista atau abses. dan pilihan lain harus dipertimbangkan. Ujung bebas dari kateter dapat dimasukkan ke dalam vagina. Setelah insisi dibuat. dan ujung balon dikembangkan dengan 2 ml hingga 3 ml larutan saline.Penting untuk menjepit dinding kista sebelum dilakukan incisi.Jika Kista Bartholin atau abses terlalu dalam. Word catheter dapat lepas. Word catheter dimasukkan.Setelah persiapan steril dan pemberian anestesi lokal. atau bila tidak kista dapat collapse dan dapat terjadi incisi pada tempat yang salah. 9 .Agar terjadi epitelisasi pada daerah bekaspembedahan. Word catheter dibiarkan di tempat selama empat sampai enam minggu. dinding kista atau abses dijepit dengan forceps kecil dan blade no. meskipun epithelialisasi mungkin terjadi lebih cepat.Incisi harus dibuat dalam introitusexternal hingga ke cincin hymenal pada area sekitar orifice dari duktus.sekitar tiga sampai empat minggu.

Selama menunggu hasil kultur.Abses biasanya dikelilingi oleh selulitisyang signifikan. antibiotik diperlukan. dimana hanya bagian pinggul dan bokong yang direndam di dalam air atau saline. Dapat dilakukan kultur untuk mencari kuman penyebab. diberikan terapi antibiotikempiris. Pasien dianjurkan untuk merendam di bak mandi hangat dua kalisehari (Sitz bath). Gambar 6: Alat yang digunakan untuk Sitz Bath 3. Prosedur ini tidak boleh dilakukan ketika terdapat tanda. 10 . Marsupialisasi Alternatif pengobatans elain penempatan Wordcatheter adalah marsupialisasi dari kista Bartholin . berasal dariBahasa Jerman yaitu sitzen yang berarti duduk. Koitus harus dihindari untuk kenyamanan pasien dan untuk mencegah lepasnya wordcatheter.kasus tersebut.tanda abses akut.) dianjurkan dua sampai tiga kalisehari dapat membantu kenyamanan dan penyembuhan pasien selama periode pascaoperasi. Antibiotik yang digunakan harus merupakan antibiotic spektrum luas untuk mengobati infeksi polymicrobial dengan aerob dan anaerob. Sitz bath (disebut juga hip bath. merupakan suatu jenis mandi. dan pada kasus.

Berikut adalah peralatanyang diperlukan dalam melakukan tindakan marsupialisasi. lalu pisahkan mukosa sekiar. Marsupialisasi Kista Bartholin (kiri) Suatu incisi vertikal disebut pada bagian tengah kista. (kanan) Dinding kista dieversi dan ditempelkan pada tepi mukosa vestibular dengan jahitan interrupted Setelah dilakukan persiapan yang steril dan pemberian anestesi lokal. dan lokulasi dapat dirusak dengan hemostat.18 Sitz bath dianjurkan pada hari pertama setelah prosedur dilakukan. 4. Kekambuhan kista Bartholin setelah prosedur marsupialisasi adalah sekitar 5-10 %. isi rongga akan keluar.5 hingga 3cm. 11 . Dinding kista ini lalu dieversikan dan ditempelkan pada dindung vestibular mukosa dengan jahitan interrupted menggunakan benang absorbable 2 -0. Rongga ini dapat diirigasi dengan larutan saline.Incisi dapat dibuat sepanjang 1.Gambar 8. Lalu dibuat incisivertikal pada vestibular melewati bagian tengah kista dan bagian luar dari hymenal ring. dinding kista dijepit dengan dua hemostat kecil. namun prosedur ini harus dilakukan saat tidak ada infeksi aktif. bergantung pada besarnya kista. Setelah kista diincisi.Eksisi (Bartholinectomy) Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak berespon terhadap drainase.

maka sebaiknya dilakukan di ruang operasi dengan menggunakan anestesi umum. Lalu dibuat insisi kulit berbentuk linear yangmemanjang sesuai ukuran kista pada vestibulum dekat ujung medial labia minora dansekitar 1 cm lateral dan parallel dari hymenal ring. Karena alasan ini. Pasien ditempatkan dalam posisi dorsal lithotomy. Alur diseksi harus dibuat dekat dengandinding kista untuk menghindari perdarahan plexus vena dan vestibular bulb danuntuk menghindari trauma pada rectum. diseksi harus dimulai dari bagian bawahkista dan mengarah ke superior. Lalu dipotong dan diligasi dengan benangchromic atau benang delayed absorbable 3-0. Ligasi Pembuluh Darah 12 .Struktur vaskuler terbesar yang memberi supply pada kista terletak pada bagian posterosuperior kista. Gambar 8. Gambar 9. vaskulariasi utama dari kista dicari dan diklem dengan menggunakan hemostat. Hati – hati saat melakukan incisikulit agar tidak mengenai dinding kista. Bagian inferomedial kista dipisahkan secara tumpul dan tajam dari jaringan sekitar. Diseksi Kista Setelah diseksi pada bagian superior selesai dilakukan.Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko perdarahan.

Cool packs pada saat 24 jam setelah prosedur dapat mengurangi nyeri. antibiotik harus segera diberikan sebelum dilakukan insisi dan drainase. Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari 3. Merupakan antibiotik tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri dan. Azitromisin Digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedangyang disebabkan oleh beberapa strain organisme. dan efficacy yang lebih tinggi terhadap bakteri resisten. dapat dianjurkan sitz bath hangat 12 kali sehari untuk mengurangi nyeri post operasi dan kebersihan luka. Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose . akan menghambat sintesis dari dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri. Beberapa antibiotikyang digunakan dalam pengobatan abses bartholin: 1. Ceftriaxone Ceftriaxone adalah sefalosporin generasi ketiga dengan efisiensi broad spectrum terhadap bakteri gram-negatif. Diindikasikan untuk Ctra chomatis. efficacy yang lebih rendah terhadap bakteri gram-positif. Ciprofloxacin Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Dosisyang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari 4. 2. dan pembentukan hematoma. pembengkakan. Dengan mengikat pada satu atau lebih penicillin-binding protein. Idealnya. Doxycycline Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara berikatan dengan 30S dan 50S subunit ribosom dari bakteri. oleh sebab itu akan menghambat pertumbuhan bakteri dengan menginhibisi DNA-gyrase pada bakteri. Alternatif monoterapi untukC trachohomatis. Pengobatan Medikamentosa Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit menular seksual biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal dan chlamydia. Dosis yang dianjurkan: 1 g PO 1x 13 . Setelah itu.

2.Prognosis Jika abses dengan didrainase dengan baik dan kekambuhan dicegah. 14 . 2. terutama pada pasien dengan koagulopati.11. Perdarahan. Tingkat kekambuhan umumnya dilaporkan kurang dari 20%. Pada beberapa kasus dilaporkan necrotizing fasciitis setelah dilakukan drainase abses.10.Komplikasi     Komplikasi yang paling umum dari absesBartholin adalah kekambuhan. prognosisnya baik. Timbul jaringan parut.

menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan kista. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme aerobik yang dominan mengisolasi. Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. seperti infeksi. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Kista kelenjar Bartholin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan. Pasien dengan abses dapat memberikan gejala sebagai berikut:    Nyeri yang akut disertai pembengkakan labial unilateral. peradangan atau iritasi jangka panjang. Kista Bartolini berkembang ketika saluran keluar dari kelenjar Bartolini tersumbat. Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi. Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian terakumulasi. Kelenjar Bartolini bisa tersumbat karena berbagai alasan. dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kelenjar Bartolini adalah abses polimikrobial. Namun. menyebabkan kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista. Dispareunia Nyeri pada waktu berjalan dan duduk 15 . kista saluran Bartolini dan abses kelenjar tidak lagi dianggap sebagai bagian eksklusif dari infeksi menular seksual. Kista dapat terinfeksi. seperti Escherichia coli.1. Pasien dengan kista dapat memberi gejala berupa pembengkakan labial tanpa disertai nyeri. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. bakteri anaerob adalah patogen yang paling umum. Umumnya abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme.Kesimpulan Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum kista dan abses tersebut. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Ini termasuk organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore serta bakteri yang biasanya ditemukan di saluran pencernaan.BAB III PENUTUP 3.

16 . Nyeri yang mendadak mereda. kista yang menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase. Suatu kista tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan. diikuti dengan timbulnya discharge ( sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien.

html http://obgynunair.Jakarta http://obginfo.scribd.wordpress. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. 2006.DAFTAR PUSTAKA Sarwono Prawiro hardjo.com/doc/43731478/LapKas-Kista-Bartholin-Ctine-drNandono 17 .com/tour-of-duty/ginek-akut/ http://www.blogspot.com/2009/08/kista-bartolini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->