P. 1
Kasus Yang Bertentangan Dengan Sila Pancasila

Kasus Yang Bertentangan Dengan Sila Pancasila

5.0

|Views: 2,020|Likes:

More info:

Published by: Yudha Wisnu Syaputra on Sep 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2014

pdf

text

original

Kasus yang bertentangan dengan sila pancasila

KORUPSI
Akhir-akhir ini masalah korupsi sedang hangat-hangatnya dibicarakan publik, terutama dalam media massa baik lokal maupun nasional. Menurut Kartono korupsi adalah suatu tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara. Tindakan korupsi ini jelas melanggar nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila khususnya sila ke-4 yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan karena korupsi menempatkan sesuatu (barang, uang, ataupun lainnya) di tempat yang tidak sesuai. Sebab sesuatu tersebut haruslah ditujukan untuk kepentingan negara, namun korupsi menempatkannya pada seseorang ataupun golongan tertentu. Korupsi yang dilakukan oleh banyak orang merupakan penyelewangan terhadap sila ini, sebab praktik korupsi merupakan perilaku yang dilakukan bersama untuk kepentingan tetrtentu, padahal sila ini bermakna bahwa setiap tindakan dilaksanakan bersama untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Adapun hal- hal yang menyebabkan korupsi terjadi, antara lain yaitu : 1. Lemahnya pendidikan agama dan etika ; 2. Kurangnya pendidikan. Namun kenyataannya sekarang kasus-kasus korupsi di Indonesia dilakukan oleh koruptor yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, terpelajar dan terpandang sehingga alasan ini dapat dikatakan kurang tepat ; 3. Kemiskinan. Pada kasus korupsi yang merebak di Indonesia, para pelakunya bukan didasari oleh kemiskinan melainkan keserakahan, sebab mereka bukanlah dari kalangan yang tidak mampu melainkan para konglomerat ; 4. Tidak adanya sanksi yang keras dan tegas atas pelaku tindak pidana korupsi ; 5. Kurangnya pengetahuan. Namun pada kenyataannya sekarang kasus-kasus tindak pidana korupsi di Indonesia justru dilakukan oleh para koruptor yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas sehingga alasan tentang kurangnya pengetahuan ini dapat dipatahkan alias masih kurang tepat.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyebab terjadinya korupsi yaitu 1. Kebiasaan Dan Tidak Adanya Sikap Bertanggung Jawab Salah satu penyebab utama terjadinya korupsi di Indonesia adalah kebiasaan untuk memperoleh sesuatu dengan cara yang mudah serta kurangnya sikap bertanggung jawab pada suatu tugas yang diemban.

2. Penyalahgunaan Kekuasaan Kekuasaan yang dipegang menjadikan seseorang memanfaatkan kesempatan yang ada, mulai dari penyalahgunaan wewenang dan menjadi diktator yang berlebihan untuk memperkaya diri sendiri. Hingga kegiatan nepotisme yaitu memasukkan anggota keluarganya sendiri untuk menduduki suatu jabatan. 3. Mendapatkan Jabatan dengan Modal Uang Banyak Jabatan di Negri ini seolah-olah bisa dibeli. Menyuap atasan sampai berlomba-lomba untuk menang dalam pemilu hingga rela mengeluarkan biaya untuk dukungan suara. Akibatnya setelah menjadi pejabat dan terpilih bentuk penyimpangan korupsinya adalah mencari modal awal dulu agar bisa kembali. Bahkan tidak hanya modal yang didapat tetapi lebih dari itu yang didapatkan. 4. Lemahnya Hukum Di Negri ini Untuk Menjerat Koruptor Penyebab selanjutnya adalah sangat lemahnya hukum di negri ini sehingga yang terjadi adalah makin merebak korupsi dimana-mana. Jika saja para koruptor dihukum berat maka akan membuat jera terhadap orang-orang yang akan melakukan tindakan korupsi. Coba kita lihat yang sudah terjadi bahwa para koruptor hukuman malah lebih ringan dibanding maling ayam hingga harus digebukin belum lagi masuk bui yang sangat lama melebihi koruptor. Melihat kondisi tersebut kami menyarankan penganggulangan korupsi sebagai berikut : 1. Memiskinkan para koruptor ; 2. Menghapus remisi bagi koruptor ;
3. Menumbuhkan “sense of belongingness” atau rasa memiliki dikalangan pejabat dan pegawai, sehingga mereka merasa perusahaan atau lembaga tersebut adalah milik sendiri dan tidak perlu korupsi, dan selalu berusaha melakukan yang terbaik ; 4. Pencatatan ulang terhadap kekayaan pejabat ; 5. Adanya kesadaran rakyat untuk ikut memikul tanggung jawab guna melakukan Partisipasi politik dan kontrol social, serta ; 6. Ketegasan Hukum. Ini syarat mutlak, tanpa ini semua upaya pemberantasan korupsi

tidak akan berhasil. Hukum harus diberlakukan tanpa pandang bulu, tidak perduli anak, suami, istri, atau keluarga jika salah harus tetap diproses menurut hukum yang berlaku.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->