PENATALAKSANAAN DHF DENGAN PENINGKATAN HEMATOKRIT

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. DHF merupakan penyakit yang sering menyerang pada anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa ruam.1

1.

Etiologi Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue,

yang termasuk genus Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN2, DEN-3, DEN-4 yang semua nya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Keempat serotype ini ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak.2-4 2. Patofisiologi1,5,6 Fenomena patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan demam berdarah dengue dengan dengue klasik ialah tingginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diabetes hemoragik. Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengansyok menimbulkan dugaan bahwasyok terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak dengan mengakibatkan menurunnya volume plasma dan meningginya nilai hematokrit. Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty. Pertama-tama yang terjadi adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam atau bintik-

bintik merah pada kulit (petekie), hyperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).6 Kemudian virus akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstraseluler. Hal ini terbukti dengan peningkatan kadar hematokrit, penurunan natrium dan terdapatnya cairan dalam rongga serosa. Perembesan plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi, dan hipoproteinemia serta efusi dan syok. Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan intravena. Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan faktor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum, pleura, dan pericard yang pada otopsi ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus. Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit

menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadinya edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami syok. Jika syok berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik. Gangguan 2

epistaksis.Mialgia/artralgia 2.Nyeri kepala. 3. . .6-8 Kriteria Klinis:6-8 1. Diagnosis Diagnosis demam berdarah dengue ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO yang terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris.000/mm3 atau kurang) 3 .Perdarahan mukosa. Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan : . purpura .Uji tourniket positif (Rumple leed test) . trombositopenia dan gangguan koagulasi.hemostasis pada DHF menyangkut 3 faktor yaitu : perubahan vaskuler. disertai: . Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis). Demam akut mendadak 2-7 hari.Hematemesis dan melena Kriteria Laboratoris:6-9  Trombositopenia (100. perdarahan gusi . ekimosis. bersifat bifasik.Ruam kulit: ptekie.Nyeri retro-orbital.

Efusi pleura dan atau hipoalbumin. nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur. o Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura. dapat memperkuat diagnosis terutama pada pasien anemia dan atau terjadi perdarahan. Derajat 2: Seperti derajat 1. disertai perdarahan spontan di kulit dan perdarahan lain. Derajat 3: Didapatkan kegagalan sirkulasi. o Penurunan hemtokrit >20% setelah mendapatkan terapi cairan. Peningkatan nilai hematokrit menggambarkan hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD. cukup untuk menegakkan diagnosis klinis demam berdarah dengue. tampak gelisah. tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi. asites atau hipoproteinemia. Perlu mendapat perhatian. Dua kriteria klinis pertama ditambah trombositopenia atau peningkatan hematokrit. yaitu nadi cepat dan lemah. Derajat 4: Syok berat. dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya. WHO (2004) membagi demam berdarah dengue menjadi 4 derajat berdasarkan tingkat keparahan. bahwa nilai hematokrit dipengaruhi oleh penggantian cairan atau perdarahan. yaitu sebagai berikut:8. 4 . merupakan indikator yang peka akan terjadinya perembesan plasma. sehingga peru dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala. Pada umumnya penurnunan trombosit endahului peningkatan hematokrit.10 Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet. mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma. sianosis di sekitar mulut kulit dingin dan lembab. Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih. Terdapat minimal satu tanda-tanda kebocoran plasma sebagai berikut: o Peningkatan hematokrit > 20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis kelamin.

4. suhu lebih tinggi. Diagnosis Banding10 1. tepi dan ujung merah serta ditemukan adanya tremor). Bila dibandingkan dengan DBD. stupor atau koma. Demam chikungunya Demam berdarah dengue harus dibedakan dengan demam chikungunya (DC). Pada demam tifoid biasanya ditemukan adanya bradikardia relatif dimana pada umumnya peningkatan suhu tubuh berhubungan langsung dengan peningkatan denyut nadi. masa demam lebih pendek. Pada DC biasanya seluruh anggota keluarga dapat terserang dan penularannya mirip dengan influenza. Proporsi uji 5 . hampir selalu disertai ruam makulopapular. Untuk menentukan diagnosis biasanya dilakukan uji widal. Pada penderita tifoid biasanya ditemukan lidah yang berselaput ( kotor ditengah. Demam biasanya meningkat pada sore dan malam hari. sakit tenggorokan. sakit kepala. sembelit. injeksi konjungtiva. Mungkin juga terjadi sakit waktu berkemih dan dapat juga terjaid mimisan. Dan kadang ditemukan anemia ringan dan tromnositopenia. Pada sekitar 10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarna merah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2-5 hari. tetapi pada demam tifoid tidak terjadi peningkatan nadi dan kadang menyebabkan bradikardi. Gejalanya bisa berupa demam. Pada kasus yang berat bisa terjadi delirium. Demam seringkali disertai oleh denyut jantung yang lambat dan kelelahan yang luar biasa. penurunan nafsu makan dan nyeri perut. Pada demam tifoid ditemukan laju endap darah meningkat. DC memperlihatkan serangan demam mendadak. Demam tifoid Biasanya gejala mulai timbul secara bertahap dalam wakatu 8-14 hari setelah terinfeksi. Pada pemeriksaan laboratorium sering ditemukan leukopenia seperti pada demam dengue. 2. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya hepatomegali dan splenomegali. tetapi dapat pula terjadi nilai leukosit normal ataupun meningkat. dan lebih sering dijumpai nyeri sendi. nyeri sendi.

diagnosis ITP sulit dibedakan dengan penyakit DBD. sedangkan pada kasus syok mungkin lebih sering (setiap 30-60 menit). Peningkatan hematokrit 20% atau lebih mencermikan perembesan plasma dan merupakan indikasi untuk pemberian cairan. Pada hari-hari pertama. tetapi pada ITP demam cepat menghilang (pada ITP bisa tidak disertai demam). Pada DC tidak ditemukan perdarahan gastrointestinal dan syok. dan jumlah volume urin. dan kegagalan sirkulasi. fase syok) maka dasar pengobatannya adalah penggantian volume plasma yang hilang. Idiopatic Trombositopenik Purpura Idiopathic Thrombocytopenic Purpura (ITP) sulit dibedakan dengan DBD derajat II. petekie dan epistaksis hampir sama dengan DBD. oleh karena didapatkan demam disertai perdarahan di bawah kulit. diastesis hemoragik. Penatalaksanaan Gambaran klinis DBD/SSD sangat khas yaitu demam tinggi mendadak. tidak dijumpai leukopeni. tidak dijumpai pergeseran ke kanan pada hitung jenis. kadar hematokrit. Kebutuhan cairan awal dihitung untuk 2-3 jam pertama. Larutan garam isotonik atau ringer laktat sebagai cairan awal pengganti volume plasma dapat diberikan sesuai dengan berat ringan penyakit. Walaupun demikian. fase krisis. penggantian cairan harus diberikan dengan bijaksana dan berhati-hati. Penggantian volume 6 . tidak dijumpai hemokonsentrasi. 3. Dasar patogenesis DBD adalah perembesan plasma. hepatomegali. Tetesan dalam 24-28 jam berikutnya harus selalu disesuaikan dengan tanda vital. Pada fase penyembuhan DBD jumlah trombosit lebih cepat kembali normal daripada ITP. yang terjadi pada fase penurunan suhu (fase afebris. Maka keberhasilan tatalaksana DBD terletak pada bagian mendeteksi secara dini fase kritis yaitu saat suhu turun (the time of defervescence) yang merupakan fase awal terjadinya kegagalan sirkulasi. 5. dengan melakukan observasi klinis disertai pemantauan perembesan plasma dan gangguan hemostasis.tourniquet positif.

46% 1-2 ml/kgBB intravena bolus perlahan-lahan. Penatalaksanaan kasus tersangka DBD 7 . Cairan intravena diperlukan. Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat dehidrasi dan kehilangan elektrolit. seminimal mungkin mencukupi kebocoran plasma. Secara umum volume yang dibutuhkan adalah jumlah cairan rumatan ditambah 5-8%. tidak mau minum.cairan harus adekuat. diberikan natrium bikarbonat 7. Bila terdapat asidosis. Gambar 1. dianjurkan cairan glukosa 5% di dalam larutan NaCl 0. apabila: a. demam tinggi sehingga tidak rnungkin diberikan minum per oral. b. Muntah terus menerus. Nilai hematokrit cenderung meningkat pada pemeriksaan berkala.45%. ditakutkan terjadinya dehidrasi sehingga mempercepat terjadinya syok.

Penatalaksanaan kasus DBD derajat I atau II dengan peningkatan hematokrit .Gambar 2. Penatalaksanaan kasus DBD derajat I dan II tanpa peningkatan hematokrit Gambar 3.

Gambar 4. Penatalaksanaan kasus DBD derajat III dan IV (Sindrom syok dengue/SSD) .

05 WIB PRIMARY SURVEY Appearance (Penampilan): Tonus Interaktif Consobillity Look Speech : Gerakan kurang aktif. fokus : Berbicara. kurang bersemangat : Dapat ditenangkan : Pandangan baik. mengi (-) : Berbaring : supraclavicula (-). Harapan Raya Ujung :Jumat. merintih (-). 03 Mei 2013 pukul 03.LAPORAN KASUS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Ayah / Ibu Suku Alamat MRS : An. substernal (-) Cuping hidung : Napas cuping hidung (-) 10 . interaksi baik. intercosta (-). A : 6 tahun 9 bulan : Laki-laki : Marjoni/Ernawati : Melayu : Jl. lemah Work of breathing (Upaya Napas) Suara napas Posisi Retraksi : Stridor (-). Tonus otot sedikit lemah : Sadar.

minum sedikit-sedikit. Pasien berobat ke puskesmas.tidak ada sakit menelan. tidak ada kejang. BAK warna kuning jernih. Bintik merah pada kulit tidak ada. mimisan tidak ada. Nafsu makan menurun. Pasien muntah 1 kali berisi sisa makanan.Circulation to skin Akral hangat. 11 . badan berwarna kuning dan badan sering lebam disangkal. sianosis (-) N N Kesimpulan: Metabolic abnormality Alloanamnesis Diberikan oleh Keluhan Utama : Ibu kandung pasien : Demam tinggi terus menerus hari ke 5 Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami demam. demam mendadak dan demam tinggi terus menerus. Demam hanya berkurang apabila diberikan obat penurun panas kemudian kembali panas. pasien dirujuk ke RSUD AA Pekanbaru karena dicurigai demam berdarah. tidak ada mencret/susah buang air besar dan tidak ada nyeri perut. kulit tidak pucat. CRT < 2 detik. pasien juga mengeluhkan adanya nyeri kepala dan badan terasa sakit-sakit teruma pada persendian. Demam tidak disertai menggigil. perdarahan hidung dan gusi berdarah tidak ada. Badan lemah. mottling (-). uji rumple leed (+). batuk dan pilek tidak ada. BAB tidak ada keluhan. nyeri pada saat BAK tidak ada. tidak ada badan pucat.

Campak (+) RIWAYAT PERTUMBUHAN BBL : 3600 gr PBL: 49 cm RIWAYAT PERKEMBANGAN Telungkup : 3 bulan 12 BBS : 13 kg . DM (-). DPT (+). riwayat HT (-). Ibu rutin memeriksa kehamilan ke bidan > 4 kali.sekarang RIWAYAT IMUNISASI: BCG (+). demam saat kehamilan (-) RIWAYAT MAKAN DAN MINUM ASI sejak lahir – 6 bulan PASI 6 bulan – 9 bulan Makan lunak 9 bulan -18 bulan Makan biasa > 18 bulan . lahir spontan ditolong bidan. Polio (+).RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Tidak berhubungan RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan hal yang sama RIWAYAT ORANG TUA Pekerjaan ayah dan ibu Ayah: Wiraswasta Ibu: Ibu rumah tangga RIWAYAT KEHAMILAN Pasien anak ke 2 dari 2 bersaudara.

lingkungan disekitar bersih. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital TD Nadi : Tampak sakit sedang : Komposmentis : Nafas : 20 kali/menit Suhu : 38. Ventilasi dan penerangan cukup. . sumber air minum air galon. terdapat banyak kaleng-kaleng didekat rumah. tebal. Sumber MCK air sumur Bor. : Konjungtiva : Pucat (-/-) 13 . tidak mudah dicabut.1 bulan yang lalu tetangga rumah pasien mengalami hal yang sama dan dinyatakan terkena DBD oleh dokter.Duduk Berdiri : 7 bulan : 9 bulan KEADAAN PERUMAHAN DAN TEMPAT TINGGAL .4oC : 90/70 mmHg : 84 kali/menit GIZI : TB BB : 110 cm : 13 kg Lila : 17 cm Lingkar kepala: 48 cm : BB/TB : 19/20 x 100% = 95%  Gizi baik Status gizi Kepala Rambut Mata : normosephal : Hitam.Rumah perumahan dihuni oleh 4 orang.

bising jantung (-) Abdomen : : perut datar. retraksi (-) : vocal fremitus kanan sama dengan kiri : sonor kedua lapang paru : vesikuler. nyeri tekan (-). simetris : supel. serumen (-) Hidung Mulut Bibir : Bentuk dalam batas normal. basah Selaput lendir : merah muda. hepar teraba1/4 -1/4.Sklera Pupil : Ikterik (-/-) : bulat. nyeri lepas (-). ronkhi (-/-). 14 : merah muda. basah Palatum Lidah Gigi Leher : KGB : tidak ada pembesaran Kaku kuduk : negatif Dada : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : gerakan dada simetris. isokor 2mm/2mm Refleks cahaya: +/+ Telinga : Bentuk dalam batas normal. nyeri telinga (-). sekret (-). wheezing (-/-). BJ I & II reguler. utuh : kotor (-) : karies (+) Inspeksi Palpasi . sekret (-) : : merah muda. keluar air dari telinga (-).

endapan (-) Kimia : glukosa (-). nafsu makan menurun 15 . lendir.6% : 4. protein (-). telur cacing (-). cacing (-) HAL-HAL PENTING DARI ANAMNESIS: Demam tinggi mendadak selama 5 hari terus menerus.800/mm Tromb : 46. massa (-) Perkusi Auskultasi Alat kelamin Ekstremitas : timpani : bising usus normal : laki-laki. ptekie (-/-).Lien tidak teraba.000/mm : Makroskopis : kuning jernih. epitel (-). bilirubin (-) Mikroskopis : eritrosi (-). edema (-).3 g/dl : 45. Nyeri kepala dan badan terasa sakit-sakit teruma pada persendian Badan lemah. muntah 1 kali. kelainan kongenital : pucat (-). CRT < 2 detik. uji rumple leed (+) Status Neurologis : Refleks fisiologis (+/+). akral hangat (-). leukosit (-). lembek. kristal (-) Feses : Makroskopis : warna kecoklatan. Refleks patologis (-/-) PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah rutin (02/05/2013): Urin Hb Ht Leu : 15. darah (-) Mikroskopis : eritrosi (-). panas turun dengan obat penurun panas namun kembali panas. leukosit 0-1/lpb.

Ht dan Trombosit .- 1 bulan yang lalu tetangga rumah pasien mengalami hal yang sama dan dinyatakan terkena DBD oleh dokter.Pemeriksaan Hb.8oC HAL-HAL YANG PENTING DARI LAB RUTIN Hb Ht Leu : 15.6% : 4.000/mm PEMERIKSAAN PENTING DARI PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak ada DIAGNOSIS KERJA Dengue Hemorrhagic Fever Grade I dengan hemokonsentrasi DIAGNOSIS GIZI Gizi normal DIAGNOSIS BANDING .3 g/dl : 45.IgG & IgM anti dengue 16 . teraba kuat Hepar teraba 1/4 – 1/4 RR: 20 kali/menit T: 37.Idiopatic Trombositopenik Purpura PEMERIKSAAN PENUNJANG .800/mm Tromb : 46. HAL-HAL YANG PENTING DARI PEMERIKSAAN FISIK TD: 90/70 mmHg HR: 84 kali/menit.Demam Tifoid .

TERAPI . Hb.Evaluasi setelah 6 jam : vital sign. Ht dan trombosit PROGNOSIS Quo Ad vitam : Bonam Quo Ad Fungsionam : Bonam 17 .Paracetamol 3 x 11/2 Cth . = 7 cc x 19 Kg = 133 cc/jam  135 cc/jam –> 30 tetes/menit (Macro set) .IVFD RL 135 cc/ jam (7cc/kgBB/jam)  BB: 19 Kg.

2 % Trom: 13. perdarahan gusi (-). BAK warna kuning sedikit pekat. CRT < 2 detik. minum banyak. edema (-) Labor: Hb: 16. retraksi (-) Palpasi : vocal fremitus kanan sama dengan kiri 18 . massa (-) Perkusi : timpani Auskultasi: bising usus normal Ekstremitas: akral hangat.15 S: Demam tidak terlalu tinggi. wheezing (-/-).000/mm A: Dengue Hemorrhagic Fever Grade I dengan hemokonsentrasi P : IVFD RL 200cc/jam  50 tetes/menit (macro) Evaluasi kembali vital sign dan laboratorium darah (Hb. BJ I & II reguler. Ht dan Trombosit setelah 1 jam) Jumat 03 mei 2013 Pukul 11. HR: 98 kali/menit. BAB warna hitam (-) O :Kes: komposmentis TTV: TD: 90/60 mmHg. BAB warna hitam (-) O : Kes: komposmentis TTV: TD: 90/70 mmHg. badan lemas. perdarahan hidung (-). perdarahan gusi (-).3oC Kepala: Dalam batas normal Mata: Dalam batas normal Hidung : perdarahan (-) Telinga : Dalam batas normal Leher: Dalam batas normal Thorax: Inspeksi : gerakan dada simetris.05 Setelah loading RL 200cc/jam S: Demam(-). nyeri lepas (-). RR: 22 kali/menit suhu: 37. badan lemas. nyeri tekan (-). ptekie (+). bising jantung (-) Abdomen : Inspeksi : perut datar. simetris Palpasi : supel.600/ mm Ht : 48. HR: 102 kali/menit. retraksi (-) Palpasi : vocal fremitus kanan sama dengan kiri Perkusi : sonor kedua lapang paru Auskultasi:vesikuler. perdarahan hidung (-). Lien tidak teraba. BAK warna kuning sedikit pekat. ronkhi (-/-).FOLLOW UP Jumat 03 mei 2013 Pukul 09.0oC Kepala: Dalam batas normal Mata: Dalam batas normal Hidung : perdarahan (-) Telinga : Dalam batas normal Leher: Dalam batas normal Thorax: Inspeksi : gerakan dada simetris.2 gr/dl Leu : 8. hepar teraba1/4 -1/4. RR: 20 kali/menit suhu: 37.

Lien tidak teraba. CRT < 2 detik. ronkhi (-/-).Perkusi : sonor kedua lapang paru Auskultasi :vesikuler. wheezing (-/-). ptekie (+). edema (-) Labor: Hb: 13.000/mm A: Dengue Hemorrhagic Fever Grade I dengan hemokonsentrasi P : IVFD RL  stop Ganti koloid (Gelafusin)24 tetes/menit Evaluasi kembali vital sign dan laboratorium darah (Hb.000/mm Input : 600cc Output: urine 800cc A: Dengue Hemorrhagic Fever Grade I tanpa hemokonsentrasi P : IVFD Gelafusin  stop Ganti RL 24 tetes/menit (macro) Evaluasi vital sign 19 . bising jantung (-) Abdomen : Inspeksi : perut datar. nyeri lepas (-). perdarahan hidung (-).3 gr/dl Leu : 8. ronkhi (-/-). ptekie (+). nyeri tekan (-). minum banyak. CRT < 2 detik. edema (-) Labor: Hb: 15.000/ mm Ht : 39. BJ I & II reguler. retraksi (-) Palpasi : vocal fremitus kanan sama dengan kiri Perkusi : sonor kedua lapang paru Auskultasi :vesikuler. simetris Palpasi : supel.900/ mm Ht : 47. bising jantung (-) AbAbdomen : Inspeksi : perut datar. massa (-) Perkusi : timpani Auskultasi: bising usus normal Ekstremitas: akral hangat. Lien tidak teraba. hepar teraba1/4 -1/4. Ht dan Trombosit setelah 6 jam) Jumat 03 mei 2013 S: Demam(-). BAK warna kuning banyak. simetris Palpasi : supel. RR: 20 kali/menit suhu: 36. badan lemas. perdarahan gusi (-). BJ I & II reguler.4 gr/dl Leu : 8.5oC 17. jernih.10 Kepala: Dalam batas normal Mata: Dalam batas normal Hidung : perdarahan (-) Telinga : Dalam batas normal Leher: Dalam batas normal Thorax: Inspeksi : gerakan dada simetris. wheezing (-/-). BAB warna hitam (-) O :Kes: komposmentis TTV: TD: 90/70 mmHg. nyeri tekan (-). hepar teraba1/4 -1/4. massa (-) Perkusi : timpani Auskultasi: bising usus normal Ekstremitas: akral hangat.5 % Trom: 21. nyeri lepas (-). HR: 96 kali/menit.3 % Trom: 16.

retraksi (-) Palpasi : vocal fremitus kanan sama dengan kiri Perkusi : sonor kedua lapang paru Auskultasi :vesikuler. ptekie (+). RR: 21 kali/menit suhu: 36. perdarahan gusi (-). ronkhi (-/-). Infus: 1300cc = 2300cc Output: urine 1200cc IWL: 480 = 1680cc Diuresis: 1200cc/24jam x 19 kg = 2. wheezing (-/-). CRT < 2 detik. minum banyak. simetris Palpasi : supel. RR: 20 kali/menit suhu: 2013 36. jernih. perdarahan hidung (-). wheezing (-/-). perdarahan hidung (-). Lien tidak teraba. perdarahan gusi (-).5oC Kepala: Dalam batas normal Mata: Dalam batas normal Hidung : perdarahan (-) Telinga : Dalam batas normal Leher: Dalam batas normal Thorax: Inspeksi : gerakan dada simetris. BAK warna kuning banyak. bising jantung (-) Abdomen : Inspeksi : perut datar. HR: 87 kali/menit. BJ I & II reguler. BAB warna hitam (-) O :Kes: komposmentis 04 mei TTV: TD: 90/70 mmHg. Ht dan Trombosit) Minggu 05 mei 2013 S: Demam(-). HR: 89 kali/menit. retraksi (-) Palpasi : vocal fremitus kanan sama dengan kiri Perkusi : sonor kedua lapang paru Auskultasi :vesikuler.6cc A: Dengue Hemorrhagic Fever Grade I tanpa hemokonsentrasi Sabtu P : IVFD RL 24  15 tetes/menit (macro) Evaluasi kembali vital sign dan laboratorium darah (Hb. hepar teraba1/4 -1/4. BAK warna kuning banyak. nyeri tekan (-).S: Demam(-). minum banyak.3oC Kepala: Dalam batas normal Mata: Dalam batas normal Hidung : perdarahan (-) Telinga : Dalam batas normal Leher: Dalam batas normal Thorax: Inspeksi : gerakan dada simetris. bising jantung (-) 20 . BJ I & II reguler. edema (-) Input : minum:1000cc. BAB warna hitam (-) O :Kes: komposmentis TTV: TD: 90/80 mmHg. nyeri lepas (-). massa (-) Perkusi : timpani Auskultasi: bising usus normal Ekstremitas: akral hangat. jernih. ronkhi (-/-).

edema (-) A: Dengue Hemorrhagic Fever Grade I tanpa hemokonsentrasi Senin P : IVFD RL 24  15 tetes/menit (macro) Boleh pulang 21 . CRT < 2 detik. RR: 21 kali/menit suhu: 2013 36.500/ mm Ht : 38. minum banyak. simetris Palpasi : supel.8oC Kepala: Dalam batas normal Mata: Dalam batas normal Hidung : perdarahan (-) Telinga : Dalam batas normal Leher: Dalam batas normal Thorax: Inspeksi : gerakan dada simetris. perdarahan gusi (-). retraksi (-) Palpasi : vocal fremitus kanan sama dengan kiri Perkusi : sonor kedua lapang paru Auskultasi :vesikuler.8 gr/dl Leu : 9. Infus: 1300cc = 2300cc Output: urine 1200cc IWL: 480 = 1680cc Diuresis: 1200cc/24jam x 19 kg = 2. nyeri lepas (-). Lien tidak teraba.Abdomen : Inspeksi : perut datar. wheezing (-/-). hepar teraba1/4 -1/4. ronkhi (-/-). perdarahan hidung (-). massa (-) Perkusi : timpani Auskultasi: bising usus normal Ekstremitas: akral hangat. CRT < 2 detik. edema (-) Labor: Hb: 12. hepar teraba1/4 -1/4. BAK warna kuning banyak. ptekie (+). simetris Palpasi : supel. nyeri lepas (-).3 % Trom: 207.000/mm Input : minum:1000cc. BAB warna hitam (-) O :Kes: komposmentis 06 mei TTV: TD: 100/70 mmHg. massa (-) Perkusi : timpani Auskultasi: bising usus normal Ekstremitas: akral hangat. jernih.6cc A: Dengue Hemorrhagic Fever Grade I tanpa hemokonsentrasi P : IVFD RL 15 tetes/menit (macro) Evaluasi vital sign S: Demam(-). nyeri tekan (-). BJ I & II reguler. ptekie (+). nyeri tekan (-). badan lemas. bising jantung (-) Abdomen : Inspeksi : perut datar. HR: 88 kali/menit. Lien tidak teraba.

Hal ini sesuai dengan kriteria klinis dari DHF menurut WHO yaitu: Demam tinggi mendadak 2-7 hari. WHO (2004) membagi demam berdarah dengue menjadi 4 derajat.000/mm ). mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma. anak mengalami demam sudah hari ke 5. Perlu mendapat perhatian. Peningkatan nilai hematokrit menggambarkan hemokonsentrasi selalu dijumpai pada DBD. disertai nyeri kepala. pada pasien ini didiagnosis DHF derajat I karena pada pasien ini mengalami demam tinggi terus 22 . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. nyeri retro-orbital. terdapat minimal satu tandatanda kebocoran plasma sebagai berikut: o Peningkatan hematokrit > 20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis kelamin. trombositopenia (46. bahwa nilai hematokrit dipengaruhi oleh penggantian cairan atau perdarahan. Dari anamnesis ibu pasien. Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih.000/mm3 atau kurang).6%) meningkat. Hal ini sesuai kriteria laboratois yaitu ditemukan adanya trombositopenia (100.6-8 Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan Rumple leed test (+) dan didukung dari hasil pemeriksaan penunjang yaitu. Hb (15.PEMBAHASAN Diagnosis pada pasien ini Dengue Hemorrhagic Fever Grade I dengan hemokonsentrasi ditegakkan berdasarkan anamnesis. demam mendadak dan demam tinggi terus menerus. sehingga peru dilakukan pemeriksaan hematokrit secara berkala. Demam hanya berkurang apabila diberikan obat penurun panas kemudian kembali panas. mialgia/artralgia. Pada umumnya penurnunan trombosit didahului peningkatan hematokrit. pasien juga mengeluhkan adanya nyeri kepala dan badan terasa sakit-sakit.3 g/dl) dan Ht (45. merupakan indikator yang peka akan terjadinya perembesan plasma.

Dari hasil evaluais setelah diberikan koloid pada pasien ini didapatkan perbaikan. Ht dan trombit) didapatkan peningkatan Hb (16. Kemudian caiaran koloid diganti menjadi RL 3cc/kgBB/jam.3 gr/dl. Pada pasien ini hanya diberikan 5cc/kgBB diberikan secara perlahan dengan tujuan untuk memberikan jumlah koloid dalam jumlah sedikit demi sedikit.000/mm.10 Penatalaksanaan pada pasien ini berdasarkan ketentuan WHO.3 % dan trombosit menjadi 16. hal ini sesuai dengan ketentuan apabila tidak ada perbaikan maka diberikan koloid yaitu 20-30 cc/kgBB/jam.000/mm. Oleh karena itu pada pasien ini pemberian intravena RL distop dan diganti koloid.2 %) dan penurunan trombosit: 13. Ht dan trombosit).menerus disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan dengan Rumple leed test. Setelah dilakukan pemberian cairan intravena. 23 .8. hal ini sesuai ketentuan WHO tentang penatalaksanaan DBD grade I dengan peningkatan Ht yaitu Peningkatan hematokrit 20% atau lebih mencermikan perembesan plasma dan merupakan indikasi untuk pemberian cairan. pasien berikan cairan intravena yaitu RL 150 cc/ jam (7cc/kgBB/jam)  BB: 19 Kg. Oleh karena itu jumlah cairan intravena dinaiiakan menjadi 10cc/kgBB/jam. Pada pasien ini diberikan cairan intravena 6-7cc/kgBB/jam dan dilakukan monitoring tanda vital dan laboratorium (Hb. Hal ini sesuai menurut WHO yaitu Derajat 1: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet. RR: 22 kali/menit dan dialakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan sedikit penurunan Hb menjadi 15. Ht menjadi 47. dialkukan pemeriksaan ulang laboratorium (Hb.2 gr/dl) dan Ht (48. Namun setelah evaluasi didapatkan hasil pemeriksaan vital sign : 90/60 mmHg. = 7 cc x 19 Kg = 133 cc/jam  135 cc/jam –> 30 tetes/menit (Macro set). HR: 102 kali/menit.

Medicinus: Scientic Journal of Pharmaceutical Development and Medical Application. Fakultas Kedokteran UI : 6. Sinto R. 417-426 10. Edisi IV. Pohan. Prevention and Control. 22: 3-7 8. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. Suhendro. Jakarta : 2006.depkes. Media Aescullapius. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III. 2008 24 . Penerbit FKUI. Sinto R. IDI. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pohan HT. Geneva. Jakarta 2. Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. DEPKES. Sumarno S. Dengue Guidelines for Diagnosis. 141-9 4. Tatalaksana DBD. World Health Organization. 9. Arif & Suprohaita. Chen K. Medicinus: Scientic Journal of Pharmaceutical Development and Medical Application. 2009. Pedoman pelayanan medis. 1999. Jakarta. Dkk. Nainggolan L. Chen K. Jakarta: 2010. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi kedua. Demam Berdarah Dengue. 1990. Herdiman T.go. Chen K. Soeparman. Available from: http://www.id/ downloads/Tata %20Laksana%20DBD. Mansjoer. Infeksi Virus Dengue. Treatment. 22: 3-7 7. 1709-13 3. (2000). 2009. 2009. Pohan. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Dalam : Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis Edisi Kedua. New edition. Herdiman T. Dengue.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam I.pdf 5. Soedarmo. Poorwo. Hendarwanto. Diagnosis dan terapi cairan pada demam berdarah dengue. Diagnosis dan terapi cairan pada demam berdarah dengue.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful