P. 1
33310532 Laporan Kuliah Lapangan Morfologi Tumbuhan

33310532 Laporan Kuliah Lapangan Morfologi Tumbuhan

|Views: 578|Likes:
Published by RhEey Penu

More info:

Published by: RhEey Penu on Sep 27, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2014

pdf

text

original

Sections

LAPORAN KULIAH LAPANGAN MORFOLOGI TUMBUHAN Sicincin,Kab.

Padang Pariaman 4 JUNI 2010

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mata Kuliah Morfologi Tumbuhan

Oleh: Kelopok 3 Pendidikan Biologi (RM)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2010

1

KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, dan berkat rahmat dan izin-Nya, kegiatan penulisan Laporan Kuliah Lapangan Morfologi tumbuhan telah dapat penulis laksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan dan Insya Allah dapat diselesaikan dengan baik. Adapun tujuan penulisan Laporan Kuliah Lapangan ini adalah untuk melengkapi tugas-tugas mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tingkat Rendah, selain itu untuk memberikan hasil pengamatan dalam kuliah lapangan. Adapun laporan ini tersusun dengan baik atas kerjasama dan partisipasi teman-teman dari kelompok 3 Pendidikan Biologi (RM) 2009. Laporan ini dapat tersusun dengan baik tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang dalam kepada : 1. Bapak/Ibu dosen yang telah membantu kami dalam mengidentifikasi/mengklasifikasi objek. 2. Kakak-kakak asisten yang telah membantu kami dalam pelaksanaan kuliah lapangan, pembuatan herbarium, dan pengklasifikasian objek. Semoga semua kebaikan dan bantuan Bapak/Ibu dosen serta kakakkakak asisten dapat menjadi amal ibadah dan Allah SWT melipat gandakan semua itu. Penulis sangat menyadari, dalam penulisan laporan ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, masukan, saran, dan kritik yang menunjang untuk kesempurnaan laporan ini sangat diharapkan. Semoga laporan kuliah lapangan Morfologi Tumbuhan ini dapat bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Padang, 4 Juni 2010

TimPenulis

2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.................................................................................. i DAFTAR ISI................................................................................................. ii BAB 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang.................................................................................. 1 B. Tujuan............................................................................................... C. Waktu dan tempat.............................................................................. BAB 2. DASAR TEORI A. Pendahuluan................................................................. B. Akar............................................................................. C. Batang.......................................................................... D. Daun............................................................................. E. Bunga........................................................................... F. Buah............................................................................. G. Biji................................................................................ KESIMPULAN..................................................................... DAFTAR PUSTAKA...........................................................

BAB 1 PENDAHULUAN

3

A.

Latar Belakang Mata kuliah morfologi tumbuhan ini tidak hanya mempelajari

bentuk dan susunan tubuh tumbuhan,tapi juga menentukan apakah fungsi masing-masing bagian itu dalam kehidupan tumbuhan Sekarang ini jenis tanaman beragam, dengan struktur dan ciri khas yang berbeda -beda. Begitu juga dengan habitat dan habitusnya. Dalam hal ini kita akan mengalami kesulitan untuk mengenal dan mempelajari tanaman-tanaman yang ada ataupun pernah ada. Usaha yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kesulitan itu salah satunya adalah dengan cara mempelajari struktur morfologinya serta mengoleksi dan mengawetkan tanaman tersebut, yang disebut dengan specimen herbarium. B. Tujuan Adapun tujuan dari kegiatan kuliah lapangan Morfologi Tumbuhan Ini adalah : 1. Mahasiswa dapat lebih mengenal dan memahami organ-organ Spermathophyta dari tumbuhan yang didapat 2. Mahasiswa dapat mengetahui bermacam-macam tumbuhan yang ada di hutan yang telah ditempuh. 3. Mahasiswa mengetahui morfologi atau bentuk luar dari masingmasing tumbuhan yang didapat tersebut. C. Waktu dan Tempat Hari / tanggal : Jumat / 4 Juni 2010 Pukul Tempat : 08.00- selesai : Sicincin, Kec. 2X11 enam lingkung, kab. Padang Pariaman.

BAB II TEORI DASAR

4

Bentuk-Bentuk Hidup Tumbuhan A. Macam-macam habitat Bentuk-bentuk hidup tumbuhan berdasarkan penyesuaian terhadap lingkungan dapat dibedakan atas : 1. tumbuhan hidrofit (hidrophyte) yang hidup dilingkungan yang basah berair. 2. mesofit (mesophyte) yang hidup dilingkungan yang lebab. 3. xerofit (xerophyte) yang hidup dilingkungan yang kering. 4. halofit (halophyte) yang hidup dilingkungan yang beragam B. Macam-macam habitus Habitus atau perawakan batang tumbuhan dapat dibedakan seperti berikut : 1. Batang basah (herbaceus), batang lunak dan berair. Contoh inai (Impatien balsamina L), kangkung (Impomoea aquatica Forsk.) 2. Batang berkayu (lignosus), batang yang biasanya keras dan kuat karena sebahagian besar terdiri atas kayu. Batang berkayu dapat dibedakan atas 3 bentuk yaitu:  Pohon (arbores), tumbuhan berkayu, tingginya lebih dari 2 meter, yang jelas batang pokoknya, percabangan jauh di atas tanah. Contoh pohon jambu, pohon mangga dan lain-lain.  Perdu (frutices), tumbuhan berkayu, tingginya sampai 2 meter, jelas batang pokoknya, percabangan dekat dari tanah. Contoh cabe, rimbang dan lain-lain.  Semak (suffrutices), tumbuhan berkayu, tingginya sampai 2 meter, tidak jelas batang pokok, percabangan dekat dari tanah. Contoh melati, tembolok ayam dan lain-lain. 3. Batang rumput (calmus), batang bulat, berongga, mempunyai ruas dan buku yang jelas dan pendek. Contoh padi, tebu, bambu, dan lain-lain.

5

4. Batang mendong (calmus), batang segitiga, tidak berongga, mempunyai 1 ruas yang panjang . Contoh rumput teki. C. Morfologi Daun Daun biasanya tipis melebar, berwarna hijau karena banyak mengandung klorfil, merupakan organ pokok dari tumbuhan. Fungsi utama dau adalah untuk pengambilan zat-zat makanan (resorbsi), terutama yang berupa gas (CO2), pengolahan zat-zat makanan (asimilasi), penguapan air (transpirasi) dan pernafasan (respirasi). 1. Perkembangan daun Bakal daun terbentuk dari satu sisi meristem apeks pada pucuk batang. Meristem apeks itu sendiri akan tumbuh membesar dengan adanya pembelahan dan pembesaran sel. Hal ini membuat meristem apeks menjadi lebih tinggi. Pada tumbuhan dikotil pangkal bakal daun biasanya terbatas pada sebagian kecil di sekeliling meristem apeks batang. Sedangkan pada tumbuhan monokotil pangkal daun biasanya menempati sebagian besar keliling batang. Ukuran daun bertambha melalui pembelahan dan pembesaran sel daun lambat laun mencapai ukuran dan bentuk akhir. Penambahan ukuran disebabkan penambahan dalam pembelahan sel dan perluasan sel. Pada perkembangan daun dad beberapa meristem yang bekerja yaitu : a. Meristem apeks (apical meristem) yang menyebebkan daun menjadi tinggi. b. Meristem tepi (marginal meristem) yang menyebabkan daun menjadi lebar. c. Meristem lebar (plate meristem) yang menyebabkan daun menjadi pipih. d. Meristem antara (intercalary meristem/0 memperpanjang tangkai daun dan juga ikut memperpanjang daun terutama pada graminea. e. Meristem adaksial yang menyebabkan tulang daun lebih tebal dari helaian daun.

6

Pada tumbuhan dikotil dan monokotil terdapat perbedaan yang mendasar dalam aktifitas meristematiknya kea rah bagian atas (distal) atau kea rah bagian bawah (proksimal) daun. Pada daun dikotil bagian proksimal daun berkembang menjadi pangkal daun dan daun penumpu jika ada. Bagian distal daun akan berkembang menjadi helaian daun. Sedangkan pada daun monokotil ternyata hanya sebentar saja aktif. Untuk pembentukan seluruh hlaian daun dan pelepah serta tangkai daun jika ada berasala dari bagian bawah bakal daun. Bagian distal hamper tidak aktif dan kadangkadang terlihat sebagai ujung daun yang bersifat rudimen. 2. Variasi daun a. Kelengkapan daun Daun lengkap yaitu daun yang terdiri atas helaian daun (lamina), tangkai daun (petiolus), dan pelepah daun (vagina). Daun yang tidak lengkap adalah daun yang tidak mempunyai satu atau dua bagian dari bagian-bagian tersebut. Ada beberapa macam daun yang tidak lengkap, yaitu : a. Terdiri dari tangkai dan helaian daun disebut dengan daun bertangkai b. Terdiri dari pelepah dan helaian daun disebut daun duduk.berupih. c. Terdiri dari helaian daun saja disebut daun duduk. palsu. b. Bangun (bentuk) daun (Circumscriptio) Berdasarkan letak bagian daun terlebar, bentuk umum daun dapat dibedakan atas 4 golongan yaitu : A. Bagian yang terlebar berada di tengah-tengah helaian daun 1. Jika panjang : lebar = 1: 1 disebut bulat atau bundar (orbicularis). Contoh : pada teratai besar (Jatropa curcas). 2. Jika panjang : lebar = (1,5-2) : (1) disebut jorong ( ovalisatau ellipticus) seperti pada nangka (Arthrocarpus communis). d. Terdiri dari tangkai daun saja disebut helaian daun semu atau

7

3. Jika panjang : lebar = (2,5-3) : (1) disebut memanjang (oblongus), seperti pada srikaya (Annona squamosa) 4. Jika panjanag :lebar = (3,5) : (1) disebut lanset ( lanceolatus) 5. Jika tangkai daun tertanam pada bagian tengah disebut bangun perisai (peltatus), contoh pada keladi (Caladium bicolor). B. Bagian yang terlebar terdapat di bawah tengah-tengah daun 1. Pangkal daun tidak bertoreh a. b. c. d. Bulat telur (ovatus), contoh pada daunkembang Segi tiga (triangularis), segi tiga sama kaki, seperti Delta (deltoids), segi tiga sama sisi, seperti pada daun Belah ketupat (rhomboiides), bangun segi empat sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) pada kembang bunga pukul empat ( Mirabilis jalapa) air mata pengantin ( Antigonon leptopus) tetapi sisinya tidaskl sama panjang, contoh pada anak daun yang di ujung pada bengkuang (Pachyrrhizus erosus) 2. Pangkal daun bertoreh atau berlekuk a. Jantung (cordatus), seperti bulat telur tapi pangkalnya berlekuk, seperti pada daun waru (Hibiscus tilliaceus). b. Ginjal atau kerinjal (reniformis), seperi pada pgagan (Centela asiatica). c. Anak panah (sagitatus), seperti pada enceng (Saginataria shitifolia) d. Tombak (hastatus), pada wewehan (Monocharia hastata) e. Bertelinga (auriculatus), pada tempuyung (Sonchus arvensis) C. Bagian yang terlebar terdapat di atas tengah-tengah helaian daun 1. Bulat telur sungsang (obovatus), pada sawo kecik (Manikara kauki) 2. Jantung sungsang (obcordatus), seperti pada sidaguri (Sida retusa)

8

3. Segi tiga terbalik (cuneatus), pada anak daun semanggi (Marsilea crenata) 4. Sudip (sphatulatus), pada daun tapak liman (Elephantopus scaber) D. Tidak ada bagian yang terlebar, dari pangkal sampai ke ujung hamper sama lebar 1. Garis (linearis), contoh pada daun padi (Oryza sativa) 2. Pita (ligulatus), serupa garis tetapi lebih panjang lagi dan agak lebar, contoh pada jagung (Zea mays) 3. Pedang (ensiformis), seperti bangun garis tetapi daun tebal dibagian tengahnya dan tipis dibagian tepinya, pada nenas seberang (Agave sisalana). 4. Paku atau dabus (subulatus), bentuk daun seperti silindr, ujung runcing, seluruh bagian kaku, pada daun cemara (Araucaria cuninghamii) 5. Jarum (acerosus), serupa paku lebih kecil dan meruncing panjang, pada Pinus merkusii. c. Ujung daun (apex folii) Ada beberapa bentuk ujung daun yaitu : 1. Jika pertemuan tepi daun puncak dengan membentuk sudut lancip, maka disebut ujung daun meruncing (acutus). Biasanya ditemukan pada daun bangun bulat memanjang, lanset, segi iga, delta, belah ketupat dan lain-lain. Contoh pada daun padi. 2. Jika pwertemuan tepi daun berada di bawah puncak maka ujung daun disebut meruncing (acuminatus). Ditemukan pada daun kembang sepatu. 3. Jika pertemuan tepi daun berada di atas puncak dan membentuk sedut tumpul maka ujung daun ini disebut tumpul (obtusus), ditemukan pada daun sawo kecik.

9

4. Jika pertemuan tepi daun tidak membentuk sudut atau bulat maka disebut ujung daun daun membulat (rotundatus). 5. Jika ujung daun rata disebut romping (truncates), contoh pada daun jambu monyet. 6. Jika ujung daun berlekuk maka disebut ujung daun terbelah (retusus), contoh pada daun saliguri (Sida retusa) 7. Jika ujung daun berduri naka disebut mucronatus, contoh daun nenas seberang. 8. Jika ujung daunnya menggulung disebut cirrhosus, biasanya ditemukan pada ujung daun yang bersulur seperti kembang sunsang. 9. Jika pada daun yang distalnya sempit terdapat ujung yang panjang seperti jarum disebut aristatus 10. Jika pada daun yang bagian distalnya lbar dan terdapat ujung yang panjang seperti jarum disebut caudatus. d. Pangkal Daun (basis folii) Untuk menentukan bentuk pangkal daun, kita terlebih dahulu menghubungkan kedua tepi daun ke arah basal. Adakalanya kedua tepi daun tidak menyatu pada pangkal daun karena dibatasi oleh tangkai daun. Berdasarkan ini maka bentuk bentuk pangkal daun dapat dijumpai sebagai berikut : 1. Pangkal daun yang tidak menyatu a. Runcing / acutus b. Meruncing / acuminatus c. Tumpul / obtusus d. Membulat / rotundatus e. Rompang atau rata / truncatus f. Berlekuk / emarginatus g. Hestatus 2. Kedua tepi daun menyatu (connatus)

10

3. Ditembus batang, jika pangkal daun tumbuh menyatu dengan daun yang ada dihadapannya disebut connatus-perfoliatus, dan apabila kedua tepi daun menyatu dan mengelilingi batang disebut perfoliolatus. e. Tulang Daun (nervus) Fungsi tulang daun adalah: 1). Memperkuat daun seperti halnya tulang tulang hewan dan manusia, oleh sebab itu tulang daun disebut juga rangka daun 2). Transportasi zat zat karena tulang daun itu sesungguhnya adalah berkas pembuluh angkut. Berdasarakan besar kecilnya tulang daun, dapat dibedakan menjadi 1). Ibu tulang daun (costa), ukuran terbesar, merupakan terusan dari tangkai daun, biasanya membagi daun menjadi dua bagian. 2). Tulang daun lateral (nervus lateral), cabang tulang daun yang keluar dari ibu tulang daun. 3). Urat daun (vena), tulang daun yang amat kecil yang tersusun seperti jala atau sejajar. Sistem tulang daun menunjukkan cara tulang daun tersusun dalam helaian daun. Menurut susunan tulang daunnya dikenal: 1. Jika tulang daun terpencar ke arah tepi daun a. b. Bertulang menjari / palminervis, cabang tulang daun terpencar dari satu titik pada pangkal ibu tulang. Bertulang menyirip / penninervis, cabang keluar di sepanjang ibu tulang daun. 2. Jika di bagian atas ujung daun tulang tulang menyatu a. b. Bertulang lurus / rectinervis, biasanya ditemukan pada daun rumput rumputan Bertulang melengkung / curvinervis, biasanya ditemukan pada hampir semua Melastomataceae. Biasanya tumbuhan monokotil mempunyai pertulangan sejajar dan melengkung, sedangkan tumbuhan dikotil mempunyai pertulangan

11

menyirip dan menjari. Begitu juga dengan vena (urat daun), pada tumbuhan monokotil umumnya mempunyai vena sejajar, sedangkan tumbuhan dikotil mempunyai vena seperti jala. Namun terkadang pada beberapa jenis, ditemukan pengecualian terhadap hal yang umum di atas. f. Tepi Helaian Daun Berdasarkan torehan yang ada pada daun suatu tumbuhan, maka daun dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu daun dengan pinggiran rata / intinger dan daun dengan torehan pada tepinya / divisus. Torehan pada pinggir daun sangat beraneka ragam sifatnya, berdasarkan dalam atau tidaknya torehan pingir daun dapat dibedakan menjadi dua kelompok. 1. Torehan merdeka, maksudnya bangun daun tidak dipengaruhi oleh torehan itu. Seringkali torehan tidak berkaitan dengan ibu tulang daun atau cabang tulang daun. 2. Torehan mempengaruhi bentuk, tepi daun mengubah bangun umum daun. Torehan biasanya terjadi diantara tulang tulang cabang dengan tulang daun utama. Lekukan yang terjadi pada pinggir daun disebut sinus, serta tonjolannya disebut dengan angulus. Berdasarkan bentuk sinus dan angulusnya, maka pinggir daun dengan torehan merdeka dapat dibedakan atas: 1. 2. 3. 4. 5. Bergerigi / serratus, sinus dan angulusnya sama sama runcing. Bergerigi ganda / biserratus, jika angulus pada daun yang bergerigi mempunyai gerigi lagi. Berombak / repandus, jika sinus dan angulusnya sama sama tumpul Bergigi / dentatus, jika sinus tumpul dan angulusnya runcing. Beringgit / crenatus, jika sinus lancip dan angulus tumpul.

12

Pada pinggir daun yang mempengaruhi bentuk, berdasarkan dalamnya torehan dapat dibedakan sebagai berikut: 1. 2. 3. Berlekuk / lobatus, dalam torehan kurang dari setengah panjang tulang cabang. Bercangap / fissus, dalam torehan sampai dengan setengah panjang tulang cabang. Berbagi / partitus, dalam torehan melebihi setengah panjang tulang cabang. Berdasarkan macam torehan serta hubungannya dengan pertulangan daun itu sendiri maka pinggir daun dapat berbentuk: 1. Palmatilobus / berlekuk menjari 2. Palmatividus / bercangap menjari 3. Palmatipartitus / berbagi menjari 4. Pinnatilobus / berlekuk menyirip 5. Pinnatividus / bercangap menyirip 6. Pinnatipartitus / berbagi menyirip g. Daging Daun (Intervenium) Tebal dan tipisnya daun disebabkan kerja dari meristem papan. Berdasarkan sifat ini daun dapat dibedakan menjadi : 1. Tipis seperti selaput (membranaceus), ex. Hymenophyllum australe 2. Seprti kertas (papyraceus atau chartaceus), ex. Musa paradisiacal 3. Tipis lunak (herbaceous), ex. Nasturtium officinale 4. Seperti perkamen, ex. Cocos nucifera 5. Seperti kulit atau tulang, ex.Calophyllum inophylum 6. Berdaging (carnosus), ex. Aloe sp

h. Warna daun

13

Daun biasanya berwarna hijau sesuai dengan fungsinya sebagai alat fotosintesis, naun kita temukan daun tidak berwarna hijau seperti merah kuning kecoklatan dan lain lain. Misalnya pada daun Acalypha wilkesiana yang berwarna merah disebabkan karena warna antosianin menutupi warna hijau klorofil. Untuk mengamati daun sebaiknya dilihat pada tanaman yang sudah dewasa, karena adakalanya daun muda dari beberapa tumbuhan mempunyai warna yang tidak sama dengan daun yang sudah dewasa. i. Permukaan Daun Permukaan atas daun biasanya berwarna lebih hijau dan mengkilat dibandingkan dengan permukaan bawah daun. Kadang kadang permukaan daun dapat ditumbuhi oleh sisik, rambut, duri dan lain lain. Berdasarkan hal yang demikian maka permukaan daun dibedakan atas: 1. Licin (laevis), dapat terlihat mengkilat(nitidus), suram(opacus) atau juga berselaput lilin (pruinosus). 2. Gundul (glaber) 3. Kasap (scaber) 4. Berkerut (rugosus) 5. Berbingkul bingkul (bullatus), seperti berkerut tapi kerutannya lebih besar. 6. Berambut (pilus) a. Berambut (pilosus), rambut pendek dan tersebar (bulu halus dan jarang). b. Berambut panjang (villosus), rambut panjang dan lunak. c. Berambut beludru (velutinus), rabut pendek dan rapat. d. Berambut kasar (hirsutus), jika rambut kaku, jika diraba terasa kasar. e. Berambut bintang (stellato-pillosus), rambut bercabang. f. Berambut duri (sedtotus), rambut amat kaku dan tegar.

14

g. Berambut bulu (plumosus), rambut seperti bulu yakni rambut yang masing masing berambut lagi. h. Berambut empuk (pubescens), rambut pendek, lunak merapat pada permukaan. i. Berambut sutera (sericeus), rambut tegak, rapat, lurus, lunak dan mengkilap. j. Berambut wol (lonatus), panjang, keriting tidak teratur. k. Berambut seperti vilt (tomentosus), jika rambut kacau yang tidak teratur namun padat membentuk suatu lapisan padat. l. Berambut seperti sikat dan merapat (strigosus), jika rambut kaku dan merapat ke permukaan. 7. Bersisik (lepidus), terdapat pada sisi bawah daun durian.

j. Pelipatan Daun Macam macam cara pelipatan daun: 1. Conduplicate, daun melipat di sepanjang ibu tulang daun. 2. Plicate, daun melipat berulang ulang di sepanjang ibu tulang daun secara longitudinal dalam bentuk zig zag. 3. Circinate, daun menggulung dari ujung daun menuju dasar daun. 4. Convolute / supervolute, daun menggulung dari salah satu pinggir daun, sehingga menutupi bagian yang lain. 5. Involute, kedua pinggir daun menggulung sampai bagian tengahdaun pada permukaan atas. 6. Revulute, kedua pinggir daun menggulung sampai bagian tengah pada permukaan bawah daun. k. Sendi Daun (pulvinus) Yaitu bagian tangkai daun atau tangakai anak daun yang membengkak, baik pada monokotil dan dikotil. Berfungsi sebagai engsel yang memungkinkan gerakan bolak balik antara bagian daun tersebut.

15

Engsel tersebut disebut sendi daun (pulvinus), yang bisa juga ditemukan antara tangkai dan helaian daun dan helaian anak daun. Selain pulvinus, ada pembengkakan pada tangkai daun yang mirip dengan pulvinus, tetapi hanya bisa merubah satu kali orientasi daun atau membentuk kaitan sebagai bantuan untuk memanjat, sendi ini disebut pulvinoid. Sendi absisi adalah bagian daun yang lemah dimana daun atau anak daun atau sebagian tangkai daun atau rakhis akhirnya akan patah. Biasanya sisa sendi absisi bisa dikenali dengan adanya cekungan yang melingkar disekeliling tempat bekas daun. Sendi absisi seringkali membengkak, menandai bagian yang akan patah atau berabsisi. l. Daun Penumpu (stipula) Merupakan lembaran serupa daun kecil atau tonjolan yang akan tumbuh ketika kuncup masih kecil. Dapat segera tanggal atau tetap tinggal lebih lama. Macam macam stipula : 1. 2. 3. 4. Stipula liberae (daun penumpu bebas), daun penumpu ini bebas terletak di kanan kiri pangkal daun. Stipula adnate, daun penumpu ini melekat pada kanan kiri pangkal tangkai daun. Stipula axillaris / stipula interpetiolaris, daun penumpu berlekatan menjadi satu di dalam ketiak daun. Stipula petiolo opposita / stipula antidroma, daun penumpu berlekatan menjadi satu dan berhadapan dengan tangkai daun. Biasanya agak lebar sehingga melingkari batang. 5. Stipula interpetiolaris, dua stipula yang berlekatan terletak diantara dua tangkai daun. Biasanya terdapat pada daun yang duduk berhadapan pada satu buku.

16

m. Selaput Bumbung (ochrea) Merupakan selaput tipis berbentuk tabung yang menyelubungi atau mengelilingi pangkal suatu ruas batang. Sering dianggap sebagai daun penumpu. Misalnya pada Ixora sp dan Morinda citrifolia. n. Lidah lidah (ligula) Merupakan suatu selaput kecil yang biasanya terdapat pada batas antara upih dengan helaian daun pada rumput rumputan (Graminae). Fungsinya adalah untuk mencegah masuknya air ke dalam ketiak daun, sehingga terhindar dari pembusukan. D. Morfologi Batang 1.Ciri-ciri umum batang : 1. Berbentuk panjang bulat seperti silinder dan bisa juga mempunya bentuk lain namun bersifat aktinomorf 2. Terdiri atas ruas dsan buku tempat tumbuh daun 3. Arah tumbuhnya bersifat fototrop 4. Selalu bertambah panjang 5. Mengadakan percabangan 6. Tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang berumur pendek dan batang muda 2.Perkembangan batang Pada ujung batang terdapat titrik tumbuh karena pada daerah ini sel-selnya aktif membelah, meristem apical bersama dengan daun-daun muda yang baru di dekatnya membentuk pucuk batang. Dalam perkembangan selanjutnya ruas di antara daun-daun muda akan memanjang sehingga keseluruhan batang menjadi lebih panjang. Pemanjangan batang juga disebabkan karena penambahan jumlah sel. Kerangka tmbuhan di bangun oleh sejumlah sumbu, suatu sumbu(cabang ataupun sumbu utama) bisa dibangun dengan tiga cara : 1. Monopodium

17

Meristem apical tumbuh terusmembentuk sumbu utama dan bersifat monopodial dan cabang bias terbentuk dari meristem aksilar yang terletak lebih rendah. 2. Simpodium Meristem apical berkembang menjadi bunga atau organ lain atau tidak berfungsi lagi atau berdiferensiasi menjadi parenkim. Dari kuncup aksilar di ketiak daun dekat di bawah meristem apikal yang tak berfungsi itu akan tumbuh cabang yang arahnya sejajar dengan sumbu sebelumnya dan tumbuh seperti sumbu yang digantikannya. Sifat ini dapat terjadi berulang dan sumbu yang terbentuk bisa berkesinambungan seakan-akan seperti monopodium, ini yang disebut monopodium semu. a. Dikotomi (percabangan menggarpu) Meristem apical berhenti , kemudian titik tumbuh terbagi dua bagian yang ekuivalen yang masing-masing menghasilkan sumbu baru. Percabangan ini disebut dikotom. Contoh pada Selaginella. Kadang-kadang percabangan dikotom ujung sumbu utama yang terhenti masih dapat dilihat, percabangan seperti ini disebut dikotom semu. Contoh pada paku resam. Berdasarkan sifatnya batang dibedakan : i. Tumbuhan yang tidak berbatang (planta acaulis), batang sederhana ada tetapi amat pendek, sehingga duduk daun amat rapat yang merupakan roset. ii. Tumbuhan yang jelas berbatang 1) Batang basah (herbaaceus) yaitu batang lunak dan berair, seperti pada Ipomoea aguatica L 2)Batang berkayu (lignosus) a) Arbores (pohon), contoh : Nangka (Artocarpus integra L) Pohon adalah tumbuhan yang tinggi besar, batang berkayu dan bercabang jauh dari tanah

18

b) Frutices (perdu), contoh : Rimbang (Solanum torvum L)\ c) Suffrutices (semak), contoh : melati (Jasminum sambac L) Semak adalah tumbuhan yang tak seberapa besar, batang berkayu, bercabang-cabang dekat dengan permukaan tanah atau malahan dalam tanah 3)Batang rumput (calmus) adalah batang yang tidak keras, mempunyai ruas-ruas yang nyata dan seringkali berongga, contoh : padi (Oryza sativa L) 4)Batang mendong (calamus) adalah seperti batang rumput, tetapi mempunyai ruas-ruas yang lebih panjang dan tidak berongga contoh : teki (Cyperus rotundus L) a.Bentuk batang Bentuk batang dapat dibedakan atas : 1. Bulat (teres), comtoh : tebu ( Sacharum oficinarum) 2. Bersegi (angularis) a) Segitiga (triangularis), contoh : teki (Cyperus rotundus) b) Segi empat (quadrangularis), contoh : piladang (Coleus hibridus) 3. Pipih a) Filokladia (phyllocladia), tumbuh terus, contoh : kaktus (Opuntia dilenii) b) Kladodia (cladodia), pertumbuhan terbatas, contoh : asparagus (Asparagus plumosus) b.Permukaan batang a. licin (laevis), pada jagung (Zea mays) b. berambut (pilosus), pada tembakau (Nicotiana tobacum) c.berusuk (costatus), pada piladang (Coleus hibridus)

19

b. beralur (sulcatus), jika mebujur batang terdapat alur-alur yang jelas, misalnya pada bayam berduri (Amaranthus spinosus) yang sudah tua c. bersayap (alatus) biasanya pada batang bersegi dan pada sudutnya terdapat pelebaran tipis, contoh : Markisah (Passiflora quadrangularis) d. berduri (spinosus), misalnya : bunga ros (Rosa hybrida) e. ada bekas-bekas daun penumpu, pada nagka (Artocarpus integra) f. ada bekas-bekas daun, pada Pepaya (Carica papaya) g. lepasnya kerak (bagian kulit yang mati), pada jambu biji (Psidium guajava) c.Arah tumbuh batang a. Tegak lurus (erectus), pada carica papaya b. Menggantung (dependens, pendulus), bisanya tumbuhan yang hidup di lereng-lereng atau jurang, contoh pada Zebrina pendula c. Berbaring (humifisus), jika batang terletak di permukaan tanah hanya ujungnya saja yang berdiri ke atas, contoh semangka (Citrulus vulgaris) d. Menjalar atau merayap, jika batang berbaring di atas tanah dan pada buku (nodus) yang bersentuhan dengan tanah akan mengeluarkan akar, contoh : ubi jalar (Ipomoea batatas) e. Serong ke atas atau condong (ascendens), pangkal batang seperti hendak berbaring, tetapi bagian yang lainnya membelok ke ata, contoh : kacang tanah (Arachis hypogaea) f. Menggangguk (nutans), batang tegak lurus, tetapi ujungnya, membengkok ke bawah contoh : bunga matahari (Helianthus annus) g. Memanjat (scandens), dengan berbagai macam alat pemanjat seperti 1. Akar pelekat, contoh sirih (Piper betle L) 2. Akar pembelit, contoh : panili (Vanilla planifolia) 3. Cabang pembelit atau sulur, contoh anggur (Vitis vinifera) dan labu siam (Sechium edule)

20

4. Daun pembelit/sulur contoh : daun kembang sungsang (Gloriosa superba) 5. Tangkai pembelit, contoh : kacang kapri (Pissum sativum) 6. Duri, contoh kembang kertas (Bougenvillea spec 7. tabilis) 8. Duri daun, misalnya rotan (Calamus caesius) 9. Kait, misalnya gambir (Uncaria gambir) h. Membelit , batang memanjat tidak menggunakan alat seperti pada batang memanjattetapi batang itu sendiri yang dibelitkan ke tempat penyanggany. Menurut arah membelitnya dibedakan atas : i. Membelit ke kiri (sinistrosum volubilis), misalnya pada kembang telang (Clitoria ternatea) ii. Membelit ke kanan (dextrosum volubiis), misalnya pada gadung (Discorea hispida) d.Sifat cabang h. geragih (flagellum, stolo), cabang-cabang kecil merayap di atas tanah atau merayap di bawag tanah dan diujung stolon tumbuh akar dan kuncup ke atas ini bisa dipisah menjadi individu baru. Contoh o merayap di atas tanah : pegagan (Centela asiatica) o di bawah tanah rumput teki (Cyperus rotundus) i. wiwilan atau tunas air (virga singularis), cabang biasanya cepat tumbuh dengan ruas yang panjang sering kali berasal dari kuncup liar/tidur, contoh : kopi (Coffea robusta) j. sirung panjang (virga), cabang-cabang biasanya pendukung daun dan mempunyai ruas-ruas yang cukup panjang, tidak pernah dihasilkan bunga dan sering disebut cabang mandul k. sirung pendek (virgula), cabang-cabang kecil dengan ruas yang pendek selain daun biasanya pendukung bunga dan buah dan sering disebut cabang fertile, contoh : pinus (Pinus merkusii)

21

e.Arah tumbuh cabang l. tegak (fastigiatus), jika sudut antara batang dan cabang amat kecil sehingga pada pangkal saja yang serong ke atas tetapi selanjutnya hamper sejajar dengan batang pokok atau bersifat ototrop. Contoh : wiwilan pada kopi (Coffea sp) m. condong ke atas (patens), jika cabang dengan batang pokok membentuk sudut lebih kurang 45 derajat atau bersifat ototrop, contoh : cemara laut (Casuarina equisetifolia) n. mendatar (horizontalis), jika cabang batang pokok membentuk sudut 900 atau bersifat plagiotro[, missal ; pohon randu (Ceiba petandra) o. terkulai (declinatus), jika cabang pada pangkal mendatar tetapi ujungnya melengkung ke bawah, missal : kpoi (Coffea robusta) p. bergantung (pendulus0, cabang-cabang tunbuh ke bawah, missal : Zebrina pendula • Konstruksi percabangan Percabangan pada batang menghasilkan arsitektur batang serta menentukan bentuk dari tumbuhan secara keseluruhan. Klasifikasi percabangan 1. Pohon tak bercabang Contoh: kelapa (Cocos nucifera) 2. Pohon bercabang a) Sumbu vegetatif semua ekivalen dan ortotrop.Contoh: pada kamboja b) Sumbu c) Sumbu Pohon Tidak Bercabang Jenis-jenisnya yaitu: • Model Holtum:pohon memiliki satu sumbu saja,tidak bercabang dan tunas terminal berkembang menjadi perbungaan.Contoh:Agave sp,Metroxylon sagu vegetatif terdiferensiasi.Contoh: dengan pohon coklat struktur (Theobroma cacao) vegetatif campur.Contoh:Flamboyan(Delonix regia)

22

Model Corner:Pohon memiliki satu sumbu,tidak bercabang dan perbungaan lateral,meristem apek tumbuh terus.Contoh: Carica papaya,Cocos nucifera.

Pohon bercabang A.Sumbu vegetatif semua ekivalen dan ortotrop Ada beberapa model dalam kelompok ini,yaitu: • Model Tomlinson • Dari tunas ketiak di bawah tanah tumbuh sumbu baru tegak ke atas Tiap sumbu di atas tanah membentuk perakaran sendiri dan ekivalen dengan kaulomer lain Contoh: pisang(Musa spp),jahe-jahean(Zingiberaceae) Model Chamberlain Sumbu vegetatif di atas tanah lurus yang terdiri dari beberapa kaulomer yang bersinambungan (simpodial) Tiap kauloer tumbuh sampai menghasilkan perbungaan terminal dan setiap kaulomer hanya menghasilkan satu kaulomer anak di bawah perbungaan terminal. • Contoh: Clerodendron paniculatum,Jatropha multifida Model Leeuwenberg Sumbu batang di atas tanah beruas dalam tiga dimensi,karena kaulomer awal tumbuh sampai tunas terminal berkembang jadi perbungaan Tepat di bawah perbungaan berkembang 3 tunas ketiak yang masing-masing tumbuh menjadi kaulomer dan menempati ruang 3 dimensi. Contoh: Manihot esculenta(ubi gajah),Plumeria acuminate(kamboja)

23

B. Sumbu vegetatif terdiferensiasi Ada 15 model kelompok ini,diantaranya yaitu: • Model Kwan Koriba Pohon memperlihatkan batang struktur beruas,dan beberapa induk kaulomer monocarp Percabangan simpodial,dari kaulomer perbungaan terminal,kemudian dari tunas ketiak berkembang 3 kaulomer yang identik,salah satu kaulomer memperlihatkan pertumbuhan yang cepat denan arah vertical dan berdiferensiasi menjadi batang tengah sedangkan yang lain menjadi kaulomer cabang • Contoh: Combreto dendron africanum Model Aubreville • Batang pokok monopodium yang ritmis Cabang beruas dan plagiotrop menurut aposisi caulomer secra tak terbatas Letak daun pada kaulomer spiral Perbungaan lateral baik pada batang pokok atau kaulomer cabang Kaulomer cabang tumbuh tak terbatas tetapi sangat lambat Contoh:Teminalia catappa(ketaping)

Model Roux Batang pokok monopodium ortotrop dengan cabang kontiniu atau difus da duduk daun spiral Cabang plagitrop dengan daun berhadapan Cabang sering monopodium dan dapat juga simpodium Contoh:Coffea Arabica(kopi)

C.Sumbu vegetatif dengan struktur campur Ada beberapa model dalam kelompok ini di antaranya adalah: • Model champagnat

24

- Batang pokok ortotrop simpodial,bagian distal dari setiap unit simpodial melengkung karena terlalu berat dan tidak di dukung oleh jaringan penyokong yang cukup - Filotaksis daun spiral - Contoh:Sambucus sp • Model Troll - Bisa terjadi pada batang pkok monopodium atau simpodium - Pertumbuhan awal ortotrop kemudian berubah menjadi plagiotrop,daun cendrung berhadapan - Sumbu pertama bersifat ortotrop,sumbu berikutnya mulai berdiferensiasi ke arah horizontal secara bertahap dan pada pohon yang sudah dewasa cabang sama sekali plagiotrop - Contoh:pada flamboyant(Delonix regia) Batang Termodifikasi Bentuk-bentuk batang termodifikasi,antara lain: • Rimpang(rhizoma) - Merupakan batang yang tumbuh horizontal di bawah tanah dengan buku dan ruas-ruas yang pendek dengan daun-daun yang berbentuk sisik-sisik - Dapat digunakan sebagai perbanyakan vegetatif dan penyimpan cadangan makanan - Contoh:pada Zingiberaceae,Poaceae,Cannaceae • Umbi batang(tuber) - Merupakan batang yang berada di bawah permukaan tanah yang juga menebal,namun tidak berdaun sisik - Permukaan seringkali tampak licin - Buku-buku batang dan ruas-ruasnya tidak jelas - Seringkali dinamakan umbi telanjang(tuber nudus) - Contoh:kentang(Solanum tuberosum) • Umbi lapis(bulbus)

25

- Merupakan modifikasi dari batang beserta daun - Bagian yang merupakan modifikasi dari batang adalah subangatau cakram dengan titik tumbuh di ujungnya - Pada subang terdapat daun dengan pelepah yang membentuk lapisan berdaging - Berdasarkan sifat-sifat fisiknya,umbi lapis dibedakan menjadi dua macam,yaitu: 1. umbi berlapis,yaitu bila daunnya menyerupai bagian yang lebar,dan yang lebih luar menyelubungi bagian yang lebih dalam,misalnya umbi bawang merah(Allium cepa L) 2. umbi bersisik,yaitu bila modifikasi daunnya tidak merupakan bagian yang lebar yang dapat menyelubungi seluruh • Subang(comus) - Merupakan batang yang pendek yang tebal dan membengkak yang berada di dalam tanah - Ruas dan buku masih dapat terlihat - Daun berupa sisik yang kering menutupi subang - Sebagian besar jaringan dalam subang parenkim merupakan penutup yang melindungi subang terhadap luka dan kekeringan - Di ujung distal subang terdapat tunas terminal yang akan membentuk daun-daun dan bunga - Pada buku-buku terdapat tunas ketiak - Pada bagian bawah subang di bentuk sistem akar serabut - Beberapa di antara akar dalam sistem tersebut merupakan akar kontraktil - Contoh:Gladiolus dandavensis umbi,melainkan tersusun seperti genting,misalnya pada (Lilium candidum L)

26

Stolon - Merupakan cabang yang ramping lagi panjang,tumbuh ke samping di atas tanah,kemudian pada ujung stolon di bentuk tumbuhan baru - Berfungsi juga untuk reproduksi secara vegetatif - Contoh:pada teki (Cyperus rotundus)

Filokladodia dan kladodia - Batang yang mengambil alih fungsi daunnya,karena daunnya mengalami reduksi yang lanjut atau berubah menjadi duri - Contoh kladodia :Muehlenbeckia platyclada - Contoh filokladodia:Opuntia vulgaris

Sulur batang atau sulur cabang - Tumbuh dari ketiak daun - Biasanya disangga sisa-sisa daun atau bunga - Contoh:tanaman air mata pengantin (Antigonom leptopus)

Kait - Merupakan bentuk antara duri dan sulur,keras seperti duri,tetapi berpilin-pilin seperti sulur pendek - Contohnya:pada tanaman gambir

Duri batang atau duri cabang - Berasal dari modifikasi cabang - Terletak di ketiak daun dan seringkali menyangga daun-daun atau bunga-bunga yang rudi meter - Contoh:Bougenville

d) Morfologi Akar Akar merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di bawah tanah yang berfungsi untuk memberkuat berdirinya tumbuhan, menyerap air dan zat– zat makanan yang terlarut dalam tanah, mengangkut

27

air dan zat–zat makanan tadi kebagian tumbuhan yang memerlukan dan kadang–kadang untuk menimbun makanan.

Sifat–sifat akar antara lain yaitu : 1. tidak mempunyai klorofil, 2. tidak mempunyai nodus dan internodus serta tidak mendukung daundaun atau sisik maupun bagian-bagian lainnya, 3. arah tumbuh ke pusat bumi atau menuju air dan meninggalkan udara dan cahaya matahari, 4. bentuknya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah, 5. tumbuh terus pada ujungnya, tetapi pertumbuhannya masih kalah jika dibandingkan dengan batang. Bagian-bagian akar yaitu : 1. Leher akar atau pangkal akar (collum) yaitu bagian akar yang bersambungan dengan pangkal batang. 2. Ujung akar (apex radicis), bagian akar yang paling muda, terdiri atas jaringan-jaringan yang masih dapat mengadakan pertumbuhan. 3. Batang akar (corpus radicis), bagian akar yang terdapat antara akar dan leher akar dan ujungnya. 4. Cabang-cabang akar (radix lateralis), yaitu bagian-bagian akar yang tak langsung bersambungan dengan pangkal batang, tetapi keluar dari akar pokok, dan masing-masing dapat mengadakan percabangan lagi. 5. Serabut akar ( fibrilla radicalis), cabang-cabang akar yang halushalus dan berbentuk serabut. 6. Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis), yaitu bagian akar yang sesungguhnya hanyalah merupakan penonjolan sel-sel kulit akar yang panjang. Bentuknya seperti bulu atau rambut, oleh sebab itu dinamakan rambut akar atau bulu akar.

28

7. Tudung akar (calypra), yaitu bagian akar yang letaknya paling ujung, terdiri atas jaringan yang berguna untuk melindungi ujung akar yang masih muda dan lemah. Sewaktu tumbuhan masih kecil yaitu, dalam bentuk lembaga dalam biji, calon akar itu sudah ada, da disebut akar lembaga (radicula). Pada perkembangan lanjutannya, kalau biji mulai berkecambah sampai menjadi tumbuhan dewasa, akar lembaga dapat memperlihatkan perkembangan yang berbeda hingga pada tumbuhan lazimnya dibedakan dua macam sistem perakaran yaitu : a.Sistem akar tunggang, jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akarakar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (radix primaria). Biasanya terdapat pada tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) atau tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae). b. Sistem akar serabut yaitu, jika akar lembaga dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang. Bentuknya seperti serabut oleh karena itu dinamakan akar serabut (radix adventicia). 1.Sistem Akar Tunggang Berdasarkan percabangan dan bentuknya akar tunggang dapat dibedakan atas : a. Akar tunggang yang tidak bercabang/ sedikit bercabang Mempunyai bentuk yang istimewa yaitu : 1. Bentuk tombak (fusiformis), yaitu akar yang memiliki pangkal yang besar meruncing keujung dengan serabut-serabut akar sebagai percabangan, biasanya menjadi tempat penimbunan makanan. Misalnya pada Daucus carota.

29

2.Bentuk gasing (napiformis), pangkal akar besar membulat, akar-akar serabut sebagai cabang hanya pada ujung yang sempit meruncing, seperti pada Beta vulgaris. 3.Bentuk benang (filiformis), jika akar tunggang kecil panjang seperti akar serabut saja dan juga sedikit sekali bercabang, misalnya pada kacang panjang (Phaseolus lunatus). b. Akar tunggang yang bercabang (ramosus) Akar tunggang ini berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak dan cabang-cabangnya bercabang lagi, sehingga dapat memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang dan juga daerah perakaran menjadi amat luas, hingga dapat menyerap air dan zat-zat makanan yang lebih banyak. 2.Sistem akar serabut Sistem akar serabut dapat dibedakan atas : a. Akar serabut kecil-kecil berbentuk benang. Contohnya pada akar padi (Oriza sativa). b. Akar serabut kaku, keras dan cukup besar seperti tambang. Contohnya pada akar kelapa (Cocus nocifera). c. Akar serabut besar-besar, hampir sebesar lengan dan masingmasingnya tidak banyak percabangan. Contohnya pada pandan (Pandanus tectorius 3. Akar terspesialisasi Akar terspesialisasi adalah akar yang dapat berubah bentuk karena fungsinya berbeda dengan fungsi asal, karena cara-cara hidup yang harus disuaikannya dengan keadaan-keadaan tertentu. Akar ini dapat di bedakan atas : a. Akar fotosintesi, yaitu akar udara dan mengandung klorofil. b. Akar penyokong batang (akar tunjang/akar enggrang), yaitu akar yang keluar dari batang membentuk lengkungan ke bawah dan

30

masuk ke dalam tanah

sebagai penunjang tubuh tumbuhan.

Misalnya pada Pandanus tectorius. c. Akar peluk atau akar pembelit, yaitu akar yang keluar pada bukubuku yang digunakan untuk memanjat dengan memeluk penunujangnya. Misalnya pada Vanila planifolia. d. Akar pelekat, yaitu akar yang keluar pada buku-buku batang tumbuhan memanjat dan berguna untuk menempel pada penunjang. Misalnya pada sirih. e. Akar banir atau akar penyangga, yaitu akar yang berbentuk seperti papan pada pangkal batang yang letaknya miring untuk memperkokoh berdirinya batang. Misalnya pada Arthocarpus communis (sukun) f. Akar penyimpan cadangan makanan, yaitu akar yang membesar karena dipakai sebagai penumpukan makanan yang disebut umbi akar. Misalnya pada Manihot utilissima. g. Akar nafas, akar ini terdapat pada tumbuhan magrof. Terbagi atas : 1) Akar pasak Dari akar horizontal dekat permukaan tanah tumbuh cabangcabang arah vertikal keatas dan muncul dipermukaan tanah karena kandungan oksigen tanah rawa kurang 2) Akar lutut Akar horizontal dekat permukaan tanah akan mereorientasi arah pertumbuhannya secara periodik yang tumbuh menjadi akar utama. 3) Akar engarang Akar yang keluar dari batang melengkung ke bawah dan masuk ke dalam tanah. h. Akar kontraktil, yaitu akar yang ditemukan pada tumbahan yang berumbi yang berkontraksi sehingga terjadi pengerutan yang dapat mengakibatkan pemendekan akar sampai 30 – 40% sehingga umbi dapat tertarik kedalam tanah. Misalnya pada akar Gladiolus sp.

31

i. Akar simbiotik, yaitu bintil akar tempat penambat nitrogen bebas dari udara seperti Rhizobium berasosiasi dengan akar kacangkacanagan. j. Akar reproduksi, yaitu pada akar tersebut dapat tumbuh tunas menjadi tumbuhan baru. Contoh pada akar sukun. k. Akar udara atau akar gantung, yaitu akar keluar pada bagian atas, mengantung di udara dan menuju ke tanah. Misalnya pada anggrek kalajengking. l. Akar pengisap atau akar penggerak, yaitu akar yang terdapat pada tumbuhan parasit yang berguna untuk menyerap air ataupun zat makanan dari inangnya yang dapat menembus batang dari inang tersebut sampai ke bagian kayunya. Misalnya pada benalu e) Morfologi Bunga Bunga merupakan modifikasi dari daun dan batang, dan berkembang dari pucuk yang tumbuh menjadi ranting diiringi daun-daun yang sangat rapat. Pada ujung ranting tersebut terdapat ada bagian yang membengkak yang disebut dasar bunga (receptalum) dan dibawahnya terdapat tangakai bunga (pedicle). Pada dasar tangkai bunga terdapat daun pelindung (braktea). Bila daun pelindung itu terdapat pada tangkai bunga pebungaan dan melindungi seluruh perbungaan disebut dengan seludang bunga (spatha). Sedangkan daun pelindung untuk setiap anak bunga disebut brakteola. Bunga yang biasanya terdapat di ujung-ujung cabang atau batang disebut bunga terminalis dan ada juga yang terdapat pada ketiak daun disebut dengan bunga axilaris. Morfologi umum bunga Bunga tediri dari: 1. Perhiasan bunga (periantum), yang terdiri dari: a. Sepal/daun kelopak (sepalum, jamak sepala). Keseluruhan daun kelopak disebut kaliks (calix).

32

b. Petal/daun (corola).

mahkota

(petalum,

jamak

petala).

Keseluruhan petal (daun mahkota) disebut korola c. Perigonium/tenda. Bila bentuk sepal dan petal tidak dapat dibedakan maka disebut tepal (tepalum, jamak tepala). 2. Alat kelamin yang terdiri dari: a. Stamen atau benang sari. Keseluruhan stamen bunga disebut androecium. Bagiannya adalah kepala sari (anthera) yang berisi serbuk sari (pollen) serta tangkai sari (filamen). b. Pistilum (putik) terdiri dari ovarium, stilus dan stigma. Ovarium disusun oleh karpel atau daun buah. Umumnya berjumlah lebih dari satu. Jika bunga memiliki satu karpel arau lebih yang semuanya bersatu maka karpel tesebut disebut pistilum. Didalam ovarium terdapat bakal biji (ovulum). Variasi bunga Alat Kelamin dan Kelengkapannya 1. Bunga lengkap, yaitu bunga yang mempunyai sepal, stamen, dan pistilum. Bunga tidak lengkap, yaitu bunga yang tidak memliki salah satu atau lebih bagian-bagian tersebut. 2. Bunga banci (bisexual), yaitu bunga yang memiliki alat kelamin jantan dan betina. Sedangkan bunga yang hanya memiliki salah satunya disebut bunga unisexual : bunga jantan (flos maskulus), dan bunga betina (flos femineus). 3. 4. Bunga mandul, yaitu bunga yang tidak memiliki alat kelamin. Seperti bunga pita pada bunga matahari. Bunga yang mengalami adnasi adalah bunga yang memiliki bagian-bagian yang menyatu.

33

Sepal atau petal Jika sepal berlekatan dengan sepal yang lain disebut sinsepal, yang akan membentuk tabung kaliks atau bersatu pada pangkalnya saja. Bila petanya terpisah satu sama lain disebut koriopetal. Stamen Bila semua stamen menyatu pangkal sarinya sehingga berbentuk tabung da menjadi berbekas satu disebut monodelphous. Bila berbekas dua disebut diadelphous, dan bila berbekas banyak disebut polydelphous. Karpel Bila semua karpel menyatu sehingga pada tepinya terdapat singkap, maka pistilum berstruktur majemuk. Bila karpel menyatu di tepitepinya maka tidak akan terdapat sekat di dalam ruang ovarium. Adnasi Adnasi yang terjadi antara sepal dan petal akan membentuk tabung perianthium. Pada adnasi antara sepal dan stamen, petal tidak ada sehingga tangkai sari melekat pada tabung kaliks. Berdasarkan alat kelamin bunga yang terdapat pada satu tumbuhan, maka tumbuhan dapat dibedakan mejadi: a. Berumah satu (monoecus/monoecious), yaitu tumbuhan yang mempunyai bunga jantan dan bunga betina dalam satu individu. b. Berumah dua (dioecus/dioecious), jika bunga janta dan bunga betina terletak pada individu berbeda. c. Poligami (polygamus), jika suatu tumbuhan terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga banci seperti pada pepaya. Ada beberapa macam sifat poligami: 1) Gynodeoecus, jika pada satu individu hanya terdapat bunga betina saja, sedangkan pada individu lain bunga banci. Contoh pada Labiate.

34

2) Androdeiocus, jika pada satu individu terdapat bunga jantan saja sedangkan pada individu lain tedapat bunga banci. Contoh pada Dyras octopelata. 3) Monoeco-polygamus, jika pada satu ndividu terdapat bunga jantan, betina, dan banci bersama-sama. Contoh pada pepaya. 4) Gynomonoecus, jika pada satu individu terdapat bunga betina da bunga banci bersama-sama. 5) Trioecus atau trioeco-polygamus, jika bunga jantan, betina, dan banci terpisah pada individu ynag berlainan. Aestifasi Aestifasi merupakan tata letak daun kelopak dan mahkota tehadap sesamanya. Variasi susunan daun kelopak dan mahkota antara lain sebagai berikut: 1. Terbuka (aperta), jika tepi daun kelopak atau mahkota tidak bersenuhan sama sekali. 2. Berkatup (valvata), jika tepi daun kelopak atau mahkota tidak bertemu (bersentuhan) tapi tidak berlekatan. 3. Berkatup dengan tepi melipat kedalam (induplicativa). 4. Berkatup dengan tepi melipat keluar (reduplicativa) Susunan yang saling meutupi ini dapat dibedakan sbb: a) yang terpuntir satu arah (convulata) b) mengikuti rumus 2/5 (quniacuncialis) c) coclearis (koklearis), jika daun mahkota atau kelopak satu di dalam dan satu di luar. Simetri Pada Bunga Bidang simetri pada bunga merupakan bidang vertikal yang membelahbunga dalam berbagai arah sehingga terbagi menjadi dua bagian yang sebangun. 5. Menyirap (impricata), tepi saling menutup seperti genting.

35

Ada tiga tipe simetri, yaitu: 1. Radial simetri (achriomorphus). Bunga dibelah oleh sebuah bidang simetri dalam 3 atau 6 jurusan dan setiap kali akan menjadi dua bagian yang sama dan sebangun. 2. Bilateral simetri (zygomorphus) Bunga dibagi oleh bidang simetri dalam satu jurusan yang sama dan sebangun. 3. Asimetri (asymetrus), dimana suatu bunga yang tidak dapat dibagi sama sekali oleh bidang sinetri menjadi dua bagia yang sama atau setangkup. Bentuk-bentuk Perhiasan Bunga Perhiasan bunga ada yang berbentuk bintang, tabung, terompet, mangkuk, periuk, corong, lonceng, dll. Bentuk-bentuk Perhiasan Bunga yang Zigmorph Bentuk bentuk bunga yang tidak beraturan antara lain bertaji, berbibir, seperti kupu-kupu pita, dan berkedok. Bagian-Bagian Bunga A. Dasar Bunga (receptaculum) Dasar bunga (receptaculum) merupakan ujung tangkai bunga tempat melekatnya bagian-bagian bunga seperti calyx, corola, stamen, dan ovarium. Dasar bunga biasanya berukuran kecil dan letak perhiasan bunga merapat pada dasar bunga dengan ruas yang pendek sekali. Dasar bunga dapat megalam perkembangan sebagai berikut: a. Hipantium (hipanthium). Jika dasar bunga berbentuk seperti cangkir atau tabung. Calyx, corola, dan stamen melekat di tepinya. Contoh pada bunga ros. b. Torus. Dasar bunga berbentuk kuba yang tinggi dan bakal buah melekat di sisi-sisinya. Contoh pada Passifloraceae.

36

c.

Antofor (anthophore). Jika ruas dasar bunga diantara kelopak dan bagian lain dari bunga menjadi panjang. Contoh pada bunga anyelir.

d. Androginofor (androgynophore). Jika dasar bunga memanjang diantara hiasan bunga da mendukung benang sari serta putik. Contoh pada Passiflora. e. Androfor (androphore). Jika sumbu dasar bunga memanjang di antara hiasan bunga dan mendukung benang sari, ditemukan pada bunga jantan seperti pada Myristica corticosa. f. Ginofor (gynophore). Jika sumbu dasar memanjang dan mendukung putik. Seperti pada bunga cempaka. g. Discus atau cakram (discus). Tonjolan yang tumbuh di dasar bunga. Diskus seringkali menghasilkan sekret. Diskus bisa berbentuk tipis dan tak mencolok serta melapisi bagian dalam hipantium. Namun ada pula diskus yang membentuk dasar yang tebal bagi bakal buah, dan bisa berkembang berbentuk cincin , bantal, atau struktur yang terbagi-bagi. Kedudukan perhiasan bunga pada dasar bunga dibandingkan dengan putik: 1. Hipoginus, hiasan bunga lebih rendah dari kedudukan putik. 2. Periginus, jika perhiasan bunga sama tinggi dengan putik atau sedikit lebih tinggi. Contohnya pada bunga bungur. 3. Epiginus, jika perjiasan bunga lebih tinggi dari putik atau putik tenggelam pada dasar bunga. Cotoh pada bunga kaki kuda . B. Kelopak (calyx) Kelopak merupakan daun-daun hiasan bunga yang terletak pada lingkaran bunga paling luar. Kelopak tersusun dari daun-daun kelopak (sepala) yang mempunyai sifat: 1. berlekatan (gamosepalus) 2. berbagi (paritus) 3. bercangap (fissus)

37

4. berlekuk(labotus) 5. lepas dan bebas (polysepalus) 6. beraturan atau aktinomorf 7. setangkup tunggal atau zigomorf C. Tajuk Bunga atau Mahkota Bunga (Corolla) Bagian-bagian tajuk bunga dinamakan daun tajuk (petala), menunjukkan sifat yang berbeda-beda pula: a. b. Lepas Berlekatan monopetalus) atau bebas (choriopetalus, dialypetalus, atau polypetalus). Dalam hal ini, setiap daun tajuk dapat dibedakan : 1) Kuku daun tajuk 2) Helaian daun tajuk Tajuk bunga bentuknya bermacam-macam, dan berdasarkan simetri bunga dapat dibedakan: a. Beraturan (regularis). Bila tajuk bunga dapat dibagi menjadi dua bagian yang sama atau setangkup dengan beberapa cara , meliputi bentuk-bentuk bintang, tabung, terompet, mangkuk, corong. b. Setangkup tunggal, bersimetri satu atau monosimetris. Jika tajuk bunga hanya dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup dengan satu cara, seperti pada bunga yang bertaji, berbibir, seperti kupu-kupu, bertopeng atau berkedok, pita. D. Tenda Bunga Tenda bunga dalah hiasan bunga yang tidak dapat dibedakan anatra kelopak dan tajuk bunganya. Bagian-bagian yang menyusun tenda bunga disebut daun tenda bunga (tepala). Menurut bentuk dan dan warnanya, tenda bunga dapat dibedakan: 1. Serupa kelopak (calycinus) (sympetal, gamopetalus, atau

38

2. Serupa tajuk (corollinus)

E. Benang Sari (Stamen) Benang sari adalah alat kelamin janatn. Pada benang sari dapa dibedakan 3 bagian yaitu: angkai sari (filamentum), kepala sari (anrhera), dan penghubung benang sari(connectivum). Duduk benang sari dapat dibedakan dalam 3 golongan: 3. Duduk pada dasar bunga (thalamiflorae) 4. Tampak seperti duduk di atas kelopak (calyciflorae) 5. Tampak duduk di atas tajuk bunga (corolliflorae) Jumlah benang sari umumnya dibedakan 3 golongan: 1. Benang sari banyak atau lebih dari 20 benang sari 2. Benang sari dua kali lipat jumlah tajuknya,biasanya tersusu dalam dua lingkaran dan ada dua kemungkinan: a. diplostemon, pada lingkaran luar berseling dengan daun tajuk. b. obdiplostemon, pada lingkarn dalam berseling dengan daun tajuk. 3. Benang sari sama banyak dengan daun tajuk atau kurang, duduknya ada yang episepal (berhadapan dengan daun kelopak), dan ada yang epipetal (berhadapan dengan daun tajuk). Berdasarkan panjangnya, benang sari dapat dibedakan: a). Benang sari panjang dua (didynamus) b). Benang sari panjang empat (tetradynamus) Tangkai Sari( filanentum) Tangkai sari biasanya duduk terpisah-pisah diatas dasar bunga, namun ada pula yang bersatu: 1. berbekas satu atau bertukal satu (monodelphus)

39

2. berbekas dua atau bertukal dua (diadelphus) 3. berbekas banyak atau bertukal banyak (polyadelphus).

Kepala Sari (anthera) Daun kepala sari duduk pada tangkai sari bermacam-macam seperti: tegak (innatus), menempel (adnatus), dan bergoyang (vertasilis). F. PUTIK Putik disusun oleh daun buah (carpellum), dan daun-daun sebagai keseluruhan yang menyusun putik dinamakan gynaecium. Putik merupakan alat kelamin betina yang salah satu bagiannya mengandung sel telur atau bakal biji (ovulum) yang akhirnya akan menjadi biji (semen). Putik terdiri dari tiga bagian yaitu : kepala putik (stigma), tangkai putik (sylus), dan bakal buah ovarium) Bakal buah (ovarium), menurut letaknya pada dasarnya bunga dapat dibedakan : a. Bakal buah menumpang (superus) b. Bakal buah setengah tenggelam (semi inferus) c. Bakal buah tenggelam (inferus) Jumlah ruang yang terdapat dalam suatu bakal buah : a. Beruang satu (inilocular) b. Beruang dua ( bilocularis) c. Beruangn tiga (trilocularis) d. Beruang banyak (multilocularis) Tembuni adalah bagian bakal buah yang menjadi pendukung bakal biji. Menurut letaknya tembuni dibedakan menjadi : 1. Marginal (marginalis). Letaknya pada tepi daun buah 2. Laminal (laminalis), letaknya pada helaian tepi daun buah Untuk bakal buah yanghanya satu ruang maka letak tembuninya adalah :

40

a. Parietal (parietalis), yaitu hanya pada dinding daun buah yang dapat pula dibedakan 1. pada dinding di tepi daun buah (parietalis-marginalis) 2. pada dinding di helaian daun buah (parietalis-laminalis) b. Sentral )centralis atau axilis), yaitu di pusat atau diporos c. Aksilar (axilaris), yaitu di sudut tengah. Bakal biji atau calon biji sendiri duduk pada tembuni dengan cara yang berbeda-beda. Bagian-bagian bakal biji dapat dibedakan menjadi : 1. Kulit bakal biji (integumentum) 2. Badan bakal biji atau nuselus ( nucellus) 3. Kandang lembaga (saccus embryonalis), yang mengandung sel telur (ovum) 4. Liang bakal biji (micropyle) 5. Tali pusar (funiculus) Tata letak bakal biji pada tembuni a. Tegak (antropus) b. Mengengguk (anatropus) c. Bengkoko (compilotropus) atau disebut juga mengangguk d. Melipat (comptotropus) Kepala putik (Stigma) Bentuk kepala putik beraneka ragam, biasanya disesuaikan dengan cara penyerbukan pada bunga a. Seperti benang, pada bunga jagung b. Seperti bulu ayam, pada bunga padi c. Seperti bulu-bulu, pada kecipir d. Bulat, pada jeruk e. Bermacam bentuk lain, seperti bentuk bibir, cawan, serupa daun mahkota Tangkai kepala putik (stylus) Tangkai putik biasanya berbentuk buluh yang di dalamnya berongga. Stylus ada yang panjang dan ada yang pendek bahkan ada yang tidak

41

mempunyai stylus (sangat pendek sekali), ada yang bercabang dan ada yang tidak, tapi ujung yang bercabang mendukung stigma. Diagram Dan Rumus Bunga A. Diagram bunga Adalah suatu gambar yang melukiskan keadaan bunga dan bagianbagiannya, atau lebih jelasya sebagai berikut : 1. Suatu gambar proyeksi pad bidang datar dari semua bagian binga yang dipotong melintang (yaitu daun kelopak, tajuk, benang sari dan putik) 2. Suatu gambar yang bersifat skematis atau suatu peta skematis dari bunga Gambar dari suatu diagram bunga harus memperhatikan hal : 3. Letak bunga (terminalis atau axilaris) 4. Lingkaran bagian-bagian bunga yang disebut lingkaran Consentris 1. Kemudian alam menggambarkan bagian-bagian bunganya harus diperhatikan mengenai : 1. jumlah masing-masing bagian bunga 2. Susunan terhadap sesamanya, umpama susunan sesama sepal dan lain-lain 3. Susunan terhadap bagian-bagian bunga yang satu dengan yang lain, seperti antara sepal terhadap petal atau stamen terhadap corolla dan lain-lain. 4. Letak bagian-bagian bugna terhadap bidang median Dalam menggambarkan penampang melintang setiap bagian bunga harus salng berbeda bisanya dengan bentuk-bentuk tertentu seperti braktea dengan bentuk segitiga. Kaliks berbentuk bulan sabit yang hamper sama dengan corolla tapi bias dibedakan dengan memberi warna gelap pada kaliks dan punya sudut ditengahnya. Untuk stamen bentuk angkan 8 (atau bentuk dari anteranya) dan putik bentuk bundar harus sesuai dengan jumlah karpel, ruang dan ovulnya. Mengenai diagram bunga ada 2 macam:

42

1. Diagram bunga empirik, dimana yang digambarkan adalah bagian-bagian yang benar ada. 2. Diagram teoritik, selain bagian bunga yangbenar ada juga dicantumkan bagian-bagian yang sudah tereduksi dan sibolnya biasanya bentuk bintang atau tanda silang. B. Rumus Bunga Yaitu susunan yang dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri dari lambing-lambang huruf dan angka. a. Lambang yang dipakai memberitahukan sifat bunga mengenai simetris dan jenis kelamin bunga. Actinomorphous : * ; zygomorphous : , berkelamin jantan : ♂ : Berkelamin betina : ♀; banci : ♀ b. Huruf yang dipakai untuk singkatan nama bagian-bagian bunga : Kelopak Tajuk Benang sari Tenda : K (singkatan dari kaliks) : C ( singkatan dari Corola) : A (singkatan dari Abdsoecium) : P ( singkatan dari Perigonium)

c. Angka-angka diletakkan dibelakang huruf menunjukkan jumlah masing-masing bagian, umpamanya : kaliks mempunyai 3 sepal : K3 d. Cara untuk menyatakan keadaan lain-lain seperti contoh ; Corolla 6 dalam 2 lingkaran : C3 + 3 Stamen berlekatan pada corola :[C5, A(…)] Duduk bakal buah menumpang : G (3), kalau terbenam G (3) Daun kelopak berbentuk tabung : K (5) Contoh : ♀ K (5) [C 3+3, A6] G (3)

BUNGA MAJEMUK (inforescentia, Anthotaxia)

43

Bunga majemuk yang disebut juga dengan perbungaan adalah serangkaian atau sekolompok bunga yang disusun dengan percabangan tetentu pada sebuah sumbu yang mendukung bunga. Bunga-bunga dapat berkumpul pada ibu tangkai bunga yang merupakan tangkai bung majemuk ( pedunculus). Sumbu primer atau sumbu utama utama disebut dengan rakis (rachls), yang merupakan perpanjangan dari ibu tangkai bunga. Sedangkan sumbu sekunder merupakan cabang dari sumbu utama. Masing-masing bunga dari bunga majemuk dapat mempunyai tangkai sendiri (pedcellus), atau dapat pula tidak bertangkai, sehingga dapat dikatakan duduk (sessilis) pada ibu tangkai bunga. Bunga majemuk dapat dibedakan 3 tipe, yaitu bunga majemuk tak terbatas, bunga majemuk terbatas dan bunga majemuk campuran. a. Bunga majemuk tak terbatas Ciri-ciri bunga majemuk ini adalah : 1. Sumbu utama (rakis) biasanya panjang dan tidak mempunyai bunga pada ujungnya. 2. Dalam pertumbuhannya, sumbu utama berturut-turut membentuk cabang-cabang (sumbu sekunder dari pangkal ke ujung dari bawah ke atas) 3. Jumlah sumbu sekunder yang berbentuk pada sumbu utama biasanya tidak terbatas atau banyak 4. Sumbu utama biasanya lebih panjang daripada sumbu sekunder 5. Karena sumbu sekunder terbentuk dari pangkal ke ujung, maka meker bunga dari bawah ke atas (makin mendekati ujung sumbu utama), atau dapat dikatakan dari luar ke dalam (ke pusat) 6. Bunga yang paling tua (lebih dulu mekar) terletak paling bawah, atau paling jauh dari ujung sumbu utama, sedangkan bunga yangpaling muda terletak pada ujung sumbu utama (susunan acropetal) Bunga majemuk ini dibedakan atas :

44

1. Ibu tangkainya ini adalah :

tidak bercabang-cabang, sehingga bunga

langsung terdapat pada ibu tangkainya. Yang termasuk golongan a. Tandan (racemes atau botrys) b. Bulir (spica) c. Untai atau bunga lad (amentum) d. Tongkol (spad tx) e. Payung (umbrella) f. Cawan (corymbus atau anthodium) g. Bongkol (Capitulum) h. Periuk (hypanthodium) 2. Ibu tangkai bercabang-cabang, dan cabangnya dapat bercabang lagi, sehingga binga tidak terdapat pad ibu tangkainya. Yang termasuk golongan ini adalah : a. Malai (panicula) b. Malai rata (corymbus ramulus) c. Payung Majemuk (umbrella composita) d. Tongkol majemuk e. Bulir majemuk b. Bunga Majemuk Terbatas Ciri-ciri bunga mejemuk adalah : 5. Pada ujung sumbu utama selalu terdapat sebuah kuncup bunga, yang menyebabkan sumbu utama tidak dapat tumbuh terus 6. Bunga pada ujung sumbu utama akan mekar lebih dahulu daripada bunga-bunga lain. Mekar bunga terjadi berturut-turut dari ujung sumbu utama, sehingga dapat dikatakan dari atas ke bawah atauu dari dalam (dari pusat) keluar 7. Sumbu utama biasanya lebih pendek daripada sumbu sekunder, karena tumbuhnya lambat dan cepat berhenti. 8. Sumbu utama membentuk sumbu sekunder hanya sedikit karena tumbuhya terbatas. Sumbu sekunder terbentuk pada tempat-tempat yang sama atau tempat-tempat tertentu.

45

9. Cara sumbu sekunder bercabang tidak berbeda dengan sumbu utama. Bentuk gubahan bunga yang termasuk golongan ini adalah : 1. Anak payung menggarpu (dichasium) 2. Tangga atau bunga bercabang seling (chicinus) 3. Sekerup (bostryx) 4. Sabit (rhipidium)

c. Bunga Majemuk Campuran Bunga majemuk ini memperlihatkan baik sifat-sifat bunga majemuk terbatas maupun sifat bunga majemuk tak terbatas, sehingga bagian-bagiannya tidak mengikuti pola perkembangan yang seragam. Pada bunga majemuk terdapat beberapa bagian yang bersifat seperti daun, seperti : 1. Daun pelindung bunga majemuk (bracea) 2. Daun pelindung satu bunga (bracreola), kadang-kadang disebut juga dengan profil 3. Seludang bunga (spatha) 4. Daun pembalut (bracea involucralis/involucrum) 5. Kelopak tambahan (epicalyx) f)Morfologi Buah Buah yang telah berhasil diserbuki,akan mengalami pembuahan. Pembuahan berlangsung dalam bakal biji yang telah mempersiapkan sel telur dalam kantong embrio. Setelah pembuahan, bakal buah berkembang menjadi buah dan bakal biji berkembang jadi biji. Setelah pembuahan, kelopak, tajuk, benang sari tangkai dan kepala putik akan layu dan gugur.Kadang-kadang ada bagian bunga tersebut yang tidak gugur seperti: daun-daun pelindung pada jagung, daun kelopak pada terung, tangkai kepala putik (rambut jagung) dan kepala putik pada manggis.

46

Pada umumnya buah hanya terbentuk setelah terjadi pernyerbukan dan pembuahan pada bunga. Tetapi ada buah terjadi tanpa pembuahan, peristiwa ini disebut partenokarpi (parthenocarpy), contohnya pada pisang. Pada perkembangan dinding buah sering menebal, bahkan berdaging,dan dapat dibedakan atas beberapa lapis: a.eksokarp (exocarpium,epicarpium) b.mesokarp (mesocarpium) c.endokarp (endocarpium) Jika tidak dapat dibedakan lapisan-lapisan itu,dinding buah juga disebut perikarpium (pericarpium) Penggolongan Buah 1.Buah sejati atau buah telanjang Buah terbentuk hanya dari bakal buah,jika ada bagian yang tertinggal tapi tidak merupakan bagian yang berarti. a.buah sejati tunggal, berasal dari satu bunga,satu ovarium dan satu atau lebih daun buah, satu atau lebih ruang .Contoh:buah mangga,pepaya,durian. b.buah sejati ganda, berasal dari satu bunga dengan ginesium apokarp, masing-masing bakal buah menjadi buah. Contoh pada cempaka. c.buah sejati majemuk, berasal dari bunga majemuk,masingmasing bunga mendukung satu ovarium, setelah jadi buah tetap bersatu (berkumpul), sehingga tampak seperti satu buah, seperti pada pandan. 2.Buah semu atau buah tertutup Jika buah terbentuk dari bakal buah beserta bagian-bagian lain dari bunga (lebih besar dan menarik) sehingga buah yang sesungguhnya tersembunyi. a.buah semu tunggal, misalnya pada jambu monyet, pada ciplukan.

47

b.buah semu ganda, buah berasal dari ginesium apokarpseperti pada arbei. c. buah semu majemuk, berasal dari bunga majemuk seperti pada nangka Menurut perkembangan bakal buah dikenal: a. Buah tunggal,berasal dari satu bakal buah dari satu bunga. b. Buah ganda, berasal dari bakal buah satu bunga (ginesium apokarp).setiap buah mempertahankan identitasnya. c. Buah majemuk,jika berasal dari bunga majemuk.

Buah sejati tunggal. a. • Buah sejati tunggal yang kering. Buah sejati tunggal kering hanya mengandung satu biji, tidak pecah (indehisoen) - buah padi (caryopsis), misalnya pada padi, jagung,dll. -.buah kurung (achenium) pada bunga matahari dan kembang pukul empat. -.buah keras (nux),seperti buah kurung tetapi berasal dari bakal buah beruang banyak tetapi kemudian lebur menjadi satu, misalnya pada sarangan. -.buah keras bersayap ( samara) seperti buah keras tetapi pada kulit ada sayap, contoh meranti-merantian. • Buah sejati tunggal kering, banyak biji dan bila masak bisa pecah menjadi beberapa bagian buah (mericartia), atau pecah dengan biji terlempar keluar. a. buah berbelah (schizocarpium), buah ini mempunyai 2 ruang atau lebih, tiap ruang berisi satu biji. Buah berbelah dibedakan lagi berdasarkasn jumlah ruangannya atas : 1. buah berbelah dua (diachenium),pada pegagan 2. buah berbelah tiga (trichenium)

48

3. buah berbelah empat (tetrachenium) 4. buah berbelah lima (pentachenium) 5. buah berbelah banyak (polyachenium) b. buah kendaga (rhegma), buah ini mempunyai sifat yang sama dengan buah belah tetapi tiap bagian dapat pecah lagi sehingga biji dapat melompat keluar. b. Buah sejati tunggal berdaging, buah ini tidak pecah kalau masak kecuali pada pala. Buah ini dapat dibedakan atas : 1. buah buni (bacca), dindingnya 2 lapis : 2. lapisan luar tipis agak menyangat atau kaku seperti kulit, lapisan dalam yang tebal, lunak , tebal dan berair seringkali dapat dimakan. 3. kulit buahnya tidak begitu tebal, seringkali mempunyai sifat yang agak kaku seperti kulit, tidak lunak, dan tidak berdaging, biji terdapat bebas di dalamnya seperti buah duku. • Buah mentimun (pepo), susunannya hampir sama dengan buah buni. Buah ini mempunyai 3 buah karpel yang tadinya melipat kedalm membentuk sekat sejati, kemudian melipat lagi ke arah dinding luar sehingga ruangan yang sudah terjadi ini terbagi 2 lagi oleh sekat yang tak sempurna. Jika buah masak, sekatnya lenyap hingga buah hanya mempunyai satu ruang saja dengan rongga kosong di tengah. • Buah jeruk (hisperidium), kulit buah terdiri dari tiga lapis : a. lapisan luar, kaku mengandung munyak atsiri (flavedo) b. lapisan tengah, seperti sepon (albedo) c. lapisan • dalam yang bersekat-sekat hingga terdapat beberapa ruangan Buah batu (drupa), kulit buah tiga lapis : a. kulit luar (exocarpium/epicarpium), tipis menjangat b. kulit tengah (mesocarpium), berserabut c. kulit dalam (endocarpium), tebal keras dan berkayu tebal berdaging atau

49

Buah delima, kulit luar kaku seperti kulit atau hampir mengayu, lapisan dalam tipis dan licin. Buah beberapa ruang dengan biji yang berarrilus.

Buah apel (pomum), seperti buah batu dan mempunyai beberapa ruang, tiap ruang mempunyai beberapa biji.

Buah Sejati Ganda Adalah buah yang berasal dari satu bunga dengan bakal buah yang banyak dan masing-masing bebas, kemudian berkumpul menjadi satu kesatuan buah dengan satu tangkai. Tipe-tipe buah sejati ganda adalah : a. buah kurung ganda , di dalam dasar bunga yang hipantium terdapat banyak buah-buah kurung,misalnya pada bunga ros b. buah batu ganda, satu bunga mrmpunyai banyak bakal buah, masinsmasing tumbuh menjadi buah batu, misalnya pada Rubus sp. c. Buah bumbung ganda, satu bunga dengan banyak ovarium, masingmasing tumbuh menjadi buah bumbung, misalnya pada cempaka. d. Buah buni ganda, dari satu bunga dengan ovarium yang banyak masing-masing berkembang menjadi buah buni dan bersatu seperti satu buah, contoh pada sirsak. Buah Sejati Majemuk 1. Buah buni majemuk. Berasal dari bunga majemuk, setiap bakal buah berkembang menjadi buah buni dan bersatu menjadi satu buah,contoh pada nenas. 2. buah batu majemuk, berasal dari bunga majemuk, masing-masing bakal buah berkembang menjadi buah batu dan bersatu menjadi satu buah contoh pada pandan. 3. Buah kurung majemuk, berasal dari bunga majemuk masing-masing ovarium berkembang menjadi buah kurung yang bersatu menjadi satu buah majemuk nisalnya pada bunga matahari g) Morfologi Biji

50

Setelah terjadi pembuahan, bakal buah berkembang menjadi buah dan bakal biji berkembang menjadi biji. Bagi tumbuhan spermatophyta ( tumbuhan berbiji), biji ini merupakan alat perkembangbiakan yang utama, karena biji menagndung calon tumbuhan baru (lembaga). Biji duduk pada tangkai biji (tali pusar) atau funiculus yang keluar dari tembuni (placenta). Bagian biji tempat meletakkan tali pusar disebut pusar biji (hillus). Ada kalanya tali pusar ikut tumbuh dan berubah sifatnya menjadi salut atau selaput biji (arillus). Salut biji ada yang : 1. berdaging atau berair, dan sering kali dapat dimakan seperti pada biji rambutan dan durian. 2. menyerupai kulit dan hanya menutupi sebagian biji seperti biji pala. Biji dapat dibedakan bagian-bagiannya, yaitu berupa : a. kulit biji (spermodermis) b. tali pusar (funiculus) c. inti biji atau isi biji (nucleus seminis ) A. Kulit Biji (spermodermis) Kulit biji berasal dari selaput bakal biji (integumen), oleh sebab itu biasanya kulit biji dari tumbuhan biji tertutup (angiospermae) terdiri dari dua lapisan yaitu ; 1. lapisan luar seperti kulit (testa),ada yang tipis, kaku seperti kulit, ada yng keras seperti kayu atau batu. 2. lapisan kulit dalam 9tegmen) biasanya tispis seperti selaput, seringkali dinamakan kulit ari.. Pada tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae), biji mempunyai tiga lapisan seperti pada tumbuham melinjo (Gnetum gnemon), yaitu : a. kulit luar (sacrotesta),biasanya tebal berdaging, pada watu muda berwarna hijau. b. kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat dan keras, berkayu, dan menyerupai kulit dalam pada buah batu.

51

c. Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis sepeti selaput, seringjkali melekat erta pada inti biji. Pada kulit luar masih dapat ditemukan bagian-bagian seperti : 1. sayap (alae) terdapat pada kulit luar biji yang berguna agar biji mudah diterbangkan oleh angin.Dapat kita amati pada kelor (Moringa oleifera) 2. bulu(koma),yaitu penonolan sel-sel kulit luar biji yang berupa rambutrambut halus. Berfungsi sepert sayap, dapat diamati pada kapas (gossypium). 3. salut biji (arillus), berasal dari pertumbuhan tali pusar, misal pada biji durian (durio zibenthinus). 4. salut biji semu(arillodium), seperti salut biji, tapi berasal dari liang bakal biji, misalnya pada biji pala. 5. pusar biji (hilus), merupakan bekas perlekatan kulit luar biji dengan tali pusar.Contoh pada kacang panjang (vigna siensis). 6. liang biji (micropyle), sering kali tumbuh menjadi badan berwarna putih, yang lunak dan disebut dengan karunkula, seperti yang terlihat pada biji jarak (richinus communis). 7. berkas pembuluh pengangkut (chalaza), adalah tempat pertemuan antaraintegumen dengan nuselus, seperti pada biji anggur (vitis vinifera). 8. tulang biji (rape), merupakan terusan tali pusar pada biji, hanya dapat diamati pada tumbuhan yang mengangguk (anatropus), seperti pada biji jarak (richinus communis). B. Tali Pusar (Funiculus) Tali pusar merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan tembuni, jadi merupakan tangkai biji. Jika biji masak, biasanya biji terlepas dari tali pusarnya (tangkai biji ), dan padanya hanya tampak bekasnya yang dikenal sebagai pusar biji. C. Inti Biji (Nucleus Seminis)

52

Yaitu semua bagian biji yang terdapat di dalam kulit, karenanya inti biji dinamakan juga isi biji. Inti biji terbagi dua yaitu : 1. lembaga (embryo), yang merupakan calon individu baru. 2. putih lembaga (albumen), jaringan berisi cadangan makanan untuk masa pertumbuhan (kecambah).

D. Lembaga (Embryo) Adalah calon tumbuhan baru,yang akan tumbuh menjadi tumbuhan baru, setelah biji memperoleh syarat-syarat yang diperlukan. Lembaga memiliki tiga bagian yaitu, : a. Akar lembaga atau calon akar (radicula), yang biasanya akan tumbuh menjadi akar tunggang (untuk tumbuhan dikotil). Akar ini ujungnya menghadap ke arah liang biji. b. Daun lembaga (cotyledo), yang merupakan daun pertama suatu tumbuhan. Memiliki fungsi yang berbeda-beda, yaitu : 1. sebagai tempat penimbun makanan, yang kelihatan tebaldan jumlahnya dua pada sisi-sisinya. 2. sebagai alat untuk melakukan asimilasi, bertugas seperti daun-daun biasa. 3. sebagai alat penghisap makanan untuk lembaga dari putih lembaga. c.Batang lembaga (cauliculus), yang dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu: a) ruas batang di atas daun lembaga (internodium epicotylum). b) ruas batang di bawah daun lembaga (internodium hypocotylum). Jumlah daun lembaga pada biji erupakan salah satu ciri penting dalam penggolongan tumbuhan berbiji (spermatophyta).Yaitu : 1. tumbuhan berbiji tunggal (monocotyledon), yaitu tumbuhan yang bijinya mempunyai satu daun lembaga. 2. tumbuhan berbiji belah (dicotyledon), yaitu tumbuhan yang mempunyai dua daun lembaga.

53

3. tumbuhan berbiji telanjang (gymnospermae), yaitu tumbuhan yang bijinya mempunyai lebih dari dua daun lembaga, bahkan sampai 15 daun lembaga. Pada sebagian tumbuhan bagian-bagian di atas ada yang belum kelihatan dan akan tampak kemudian setelah perkecambahan, misalnya pada anggrek (orcidaceae). F. Putih Lembaga Adalah bagian dari biji yang terdiri dari suatu jaringan yang menjadi tempat cadangan makanan bagi lembaga. Putih lembaga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. putih lembaga dalam (endospermium), yaitu jaringan penimbun makanan terdiri dari inti lembaga sekunder. Biasanya hanya ditemukan pada tumbuhan angiospermae. 2. putih lembaga luar (perispermium), yaitu jaringan yang berasal dari bagian luar kandung lenbaga, baik nuselus atau selaput bakal biji. G. Kecambah Yaitu tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji, dan masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat di dalam biji. Perkecambahan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. perkecambahan di atas tanah (epigaeis), jika pada perkecambahan daun lembaga terangkat ke atas, muncul di atas tanah,misal pada kacang hijau (Phaseolus radiatus) 2. perkecambahan di bawah tanah (hypogaeis), yaitu bila daun lembaga tetap tinggal di dalam kulit biji, dan tetap di dalam tanah, misal pada kacang kapri (Pisum sativum) Telah dikemukakan sebelumnya bahwa biji hanya akan berkecambah jika syarat-syarat untuk hidup telah terpenuhi, seperti: udara, air, cahaya, dan panas. Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka biji akan dalam keadaan tidur (latent). Dalam keadaan ini biji tetap hidup tanpa kehilangan daya untuk tumbuh. Pada umumnya daya tumbuh biji akan berkurang seiring waktu, tapi ada pula biji yang memerlukan waktu istirahatbaru

54

kemudian akan berkecambah. Sebelum dicukupi waktu yang diperlukan, walaupun ada air, cahaya, udara, dan panas. Dalam dunia botani, hal ini dinamakan dormansi (dormancy).

BAB III ALAT DAN BAHAN Alat dan Bahan di Lapangan :             Cutter / pisau / gunting tanaman Kantong plastik 10 kg Botol slai Botol film Plastik ukuran 1Kg Koran Kertas kardus ukuran 40 X 30 cm Tali rafia Kertas label ukuran 4 X 3 cm Pensil Karung beras Seloptip bening 4 buah 4 buah 8 buah 5 buah 15 buah 8 terbitan 20 buah secukupnya 30 buah

Alat dan Bahan di Kampus       Kertas Monting Benang Jarum jahit Kertas Kalkir Larutan alkohol Larutan FAA 55

BAB IV PEMBAHASAN No Koleksi Nama Kollektor Nim/BP Nama species : 001 : Yulia Espinda : 96878/2009 : Solanum torvum

Klasifikasi Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) 56

Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies Deskripsi : Daur hidup

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asterida : Solanales : Solanaceae (suku terung-terung) : Solanum : Solanum torvum

N. Indonesia : terung pipit, rimbang (Minangkabau)

Tanaman Solanum torvum ini berdasarkan daur hidupnya tergolong policarpa yaitu tyumbuhan yang berbunga dan berbuah beberapa kali selama daur hidupnya Habitus Batang dari tanaman Solanum torvum ini tergolong batang berkayu(lignosus), dimana termasuk dalam tipe frutices(perdu) dengan cirri: Tumbuhan berkayu Tinggi sampai 2 meter Jelas batang pokoknya Percabangan dekat dari tanah Habitat Dilihat dari tanaman ini dijumpai pada saat pengamatan kemarin adalah tergolong halofit (lingkungan beragam), karma tanaman ini dapat hidup di lingkungan yagng kering yg terkena cahaya matahari, dan di lingkungan yang sedikit lembab seperti di hutan yang tidak terlalu tertutu pohon sehingga masih terkena sinar matahari. Daun

57

Daunnya bewarna hijau, tergolong kepada daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai daun dan helaian daun saja. Daunnya bercangap dan permukaannya ditutupi rambut tipis yang agak rapat. Bangun daun tergolong orbicularis dengan ujung daun meruncing. Pertulanagan daunnya menyirip dimana cabang keluar dari sepanjang ibu tulang daun dengan tipe torehan tepi daun pinnatilobus (berlekuk menyirip) karena torehan kurang dari setengah panjang tulang cabang. Batang Batang bewarna hijau dengan tipe yang telah disebutkan di atas yaitu frutices. Bentuk batang bulat dengan permukaan batang ditutupi bulu-bulu halus seprti duri dan beberapa dari bulu halus tersebut berkenbang menjadi duri. Arah tumbuh batangnya tumbuh keatas. Arah tumbuh cabang batang beragan, ada yang tumbuh lurus sejajar induk batang, ada yang condong keatas. Akar Tipe perakarannya adalah system perakaran tunggang dengan serabut-serabut akar kecil-kecil seperti benang. Sehingga jika kita berusaha untuk mencabut tanaman ini, cukup sulit karena selain karma perakarannya yang tungga, juga karma batangg cukup tinggi. Bunga

58

Bunga secara umum Jika diamati bunga dari Solanum torvum ini dap[at kita lihat bahwa bunga dari tanaman ini ini adalah tipe majemuk tak terbatas dengan cabang bunga tumbuh disepanjang ibu tangkai daun. Tata letak perhiasn bunganya adalah periginus yaitu perhiasan bugasama tinggi dengan kedudukan putik. 1. Kelengkapan Bunga Bunganya tergolong bunga lengkap karena memiliki sepal, petal, stamen, gynaecium. Stamen mengalami adnasi dengan petal dimana stamennya tertanam pada sebelah atas tabung korola. Sementara dasar bunga dari tanaman ini adalah tipe hiphantium karena corolla dan stament melekat ditepinya. 2. Aestivatio Tata letak kelopak/mahkota dari bunga tanaman ini adalah tipe aperta(terbuka) karena aik tepi daun ataupun tepi mahkota tidak bersentuhan sama ssekali bisa juga disebut bebas. 3. simetri bunga Adapun simetri bunga dari tanaman ini adalah tipe radial simetri (actinomorphous) karena bentuk perhiasan bunganya adalah berbentuk bintang sehingga dapat dibagi dalam 5 bagian yang sama. Bagiian-bagian bunga 1.Daun kelopak(sepal) Sepalnya bewarna hijau dengan jumlah 5 buah dan tersususn saling bebas(koriosepal). Simetri dari sepal adalah simetri radial kerena dapat dibagi menjadi 5 bagian yang sama. 2.Daun Mahkota(petal) 59

Mahkota dari tanaman ini bewarna putih yang terdiri dari 5 petal yang actinimorph seperti bintang dengan sifat susunan koriopetal sehingga simetrinya adalah tipe radial simetri. 3. Stamen Stamen dari Solanum torvum ini barjumlah 5 dan bewarna kuning. Duduk benang sarinya adalah tipe calyciflorae yaitu tampak duduk diatas kelopak dengan susunan episepal yakni duduk berhadapan dengan daun kelopak. Tangkai sari dari tiap banang sari terpisah satu sama lainnya. Kepala sari besar dan tegak, menutupi putiknya. 4. Putik Putik terdiri dari satu gynaecium dengan bakal buah tipe superus yaitu menumpang. Setelah diamati dibawah mikroskop didapat bahwa jumlah karpellum pada bunga tanaman Solanum torvum ini berjumlah 4 dengan ruang pada masing-masing carpel. 5. Buah dan Biji

Pada saat kuliah lapangan kemarin kami tidak menemukan buah dari tanaman ini karena pada saat itu tanaman ini sedang berbunga sehingga kami tidak bisa menjelaskan secara spesifik dari buah atau biji dari tanaman ini.Namun gambar dari buah pada tanaman ini tetap kami masukkan untuk dapat kita ketahui, gambar ini kami ambil dari internet, untuk dapat dimaklumi. Tapi secara umum buahnya berbentuk bulat seperti buah pada tanaman beringin bewarna hijau saat masih muda.

60

Dari pengamatan diatas didapat: Rumus bunga:

Diagram bunga:

No Coll Kolektor NIM/BP Spesies

: 002 : Nila Hermanita :96864/2009 :Hyptis capitata

Klasifikasi Regnum Sub Regnum Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae

61

Ordo Famili Genus Spesies AKAR

: Lamiales : Lamiaceae : Hyptis : Hyptis capitata

Memiliki system akar tunggang,dengan ciri-ciri akar primer tumbuh terus menjadi akar pokok dan tetap menyolok karena lebih besar dari akar lainnya,serta bercabang banyak menjadi akar-akar yang lebih kecil. Namun pada objek tidak terlihat akar tunggangnya dikarenakan akrnya sudah mengalami benturan,bias saja karena terbentur batu sehingga untuk tumbuh baik maka munculah akar pembantu yang muncul dari pangkal akar. BATANG Tumbuhan ini termasuk planta caulis, karena jelas memiliki batang, habitusnya yaitu herbaceus atau berbatang basah. Batang bersegi empat atau quadra gularis. Batang berambut atau pilosus. Tumbuh tegak lurus ke atas.

DAUN Tumbuhan ini memiliki daun tidak lengkap yaitu daun bertangkai, karena hanya terdapat bagian tangkai daun atau petuiolus dan helaian daun atau lamina saja. Ujung daunnya yaitu termasuk type aculus atau runcing, dengan tepi daun bertipe bergerigi ganda. Tata letak daun berselingan atau disebut juga folia oppusita. Pada bagian ibu tangkai daun terdapat warna keungu-unguan, kedua sisi rambut memiliki rambut-rambut yang panjang.

62

BUNGA Bunga pada tanaman ini adalah bunga axsilaris, yaitu dimana bunga tersebut muncul di ketiak daun. Bunganya adalah bunga majemuk yang hanya terdiri atas bunga tabung. Termasuk bunga majemuk tidak berbatas atau Inflorescentia rasemosa. Karena tidak ada bunga pada ujungnya. Termasuk dalam bunga majemuk dengan ibu tangkainya tidak bercabangcabang yaitu tipe bunga cawan atau corymbus. Corolla atau mahkotanya berwarna putih, atau ada yang berbintik-bintik ungu.

Rumus Bunga *♀K5[C(5)A4]G(2)

63

Diagaram Bunga

HABITAT Tumbuhan ini sering kita jumpai pada daerah tropis lembab, seperti pada pinggir jalan, sumber air, padang rumput dan hutan terbuka. Namun obek ini di temukan pada hutan dengan keadaan tanah yang lembab. PERBANYAKAN Benih di kepala bunga disebarkan oleh air. Biji juga disebarkan oleh hewan, manusia biji ini setiap tahun menjamin kelangsungan hidup Benih,. sensitif terhadap cahaya dan perkecambahan membutuhkan paparan cahaya Di sisi lain, yang dominan sinar matahari disaring melalui kanopi daun. ,

64

Nama species No koleksi Nama kolektor

: Elephantopus tomentosus : 003 : Raya Shoraya

Kingdom Divisi Kelas Ordo

: Plantae : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Asterales

65

Family Genus Species

: Asteraceae : Elephantopus : Elephantopus tomentosus

Deskripsi Tumbuhan: Nama Lokal : Tapak liman (Indonesia), Tutup bumi (Sumatera), Balagaduk, jukut cancang, tapak liman (Sunda),Tampak liman, tapak tangan, talpak tana (Madura), Ku di dan (China). Ciri-ciri tumbuhan: Batang Batang tumbuhan ini berwarna hijau dan berambut yang hingga mencapai panjang 0,9 mm. Batang tumbuh tegak dan berada diatas tanah. Pada saat dipotong melintang, batang tampak dan berwarna hijau dari epidermis luar hingga bagian dalam (korteks). Hal ini mengindikasikan bahwa batang tersebut banyak mengandung klorofil. Percabangan yang dibentuk batang bertipe monopodial, sehingga masih nampak batang utama. Pada bagian pangkal percabangan umumnya terdapat satu daun yang bentuknya agak memanang. Cabang muncul diatas ketiak daun tersebut. Pada umumnya bentuk batang muncul ketika tumbuhan akan membentuk bunga. Hal ini karena bunga terlatak dibagian apeks atau terminalis. 66

Daun a). Daun tunggal dengan permukaan daun berbulu b). Daun berwarna hijau tua,bentuk daun jorong. c). Tepi daun bergerigi. d). Ujung daun runcing dan pangkal daun runcing. e). Panjang daun 10 cm - 18 cm, lebar 3 cm - 5 cm. f). Daun pada percabangan jarang dan kecil, dengan panjang 3 cm - 9 cm, lebar 1 cm - 3 cm. g). Tulang daun menyirip Akar Elephantopus tomentosus memiliki akar tunggang yang berkembang dari akar pokok dengan bentuk akar filiformis. Akar berwarna putih dan bercabang-cabang membentuk akar lateral dari akar pokok. Bunga Elephantopus tomentosus memiliki bunga yang terletak dibagian apeks, atau lebih dikenal dengan bunga terminalis.Termasuk bunga majemuk tipe bongkol. Bunga ini berkelamin dua atau biseksual yang biasanya mekar diantara bulan agustus dan september. Termasuk dalam planta multiflora. Memiliki putik dan benang sari yang fungsional sehingga dapat melakukan penyerbukan. Stamen berjumlah 5 yang bersilangan dengan corola. Sepal termodifikasi, corola berjumlah lima. Bunga ini memiliki simetri aktinomorf. Dibagian bawah bunga terdapat daun yang melingkupi bunga. Umumnya berjumlah tiga helai. Daun tersebut tampak berbeda dengan daun yang ada pada batang karena berukuran lebih kecil. Daun ini disebut sebagai braktea (daun pelindung). Bunga berupa bunga majemuk dengan susunan 67

bunga corymbus.Bunga ini memiliki warna yang bervariasi antara lain warna merah muda, ungu atau putih.

Buah Buah berupa buah longkah,keras,berwarna hitam dan berambut. Biji Berbentuk kerucut berwarna coklat kehitaman Perkembangbiakan Perkembangbiakan E. tomentosus menggunakan biji. Biji berukuran sangat kecil sehingga dapat diterbangkan oleh angin. Biji dapat terbentuk dari pembuahan dari tumbuhan sendiri atau dari pembuahan oleh bunga yang berada pada tumbuhan lain namun masih dalam satu spesies. Umumnya penyerbukannya dilakukan oleh serangga seperti kupu-kupu dan lebah. Habitus: Merupakan tumbuhan semak,tinggi 60-80cm Habitat: Tumbuh liar di lapangan rumput, pematang, kadang-kadang ditemukan dalam jumlah banyak, terdapat di dataran rendah sampai dengan 1.200 m di atas permukaan laut. Rumus bunga

Diagram bunga 68

Kandungan kimia tanaman ini: Daun pada tumbuhan ini mengandung zat semacam glukosida. Ekstrak daun berkhasiat sebagai antibiotik terhadap Staphylococcus, dan pada daunnya juga telah ditemukan suatu zat pahit dan glikosid berupa kristal putih.

Kegunaan tanaman ini: Daunnya digunakan sebagai obat demam, batuk, sariawan, mencret menahun, panas, penyakit cacing dan sebagai perangsang nafsu kelamin. Akarnya bila ditumbuk halus, bisa dijadikan sebagai obat malaria pada anak-anak. Seluruh tumbuhan digunakan untuk mengobati epistaxis (hidung berdarah), sakit kuning, infeksi saluran kencing, cacar air, busung, absces, borok, gigitan ular dan gigitan serangga.

69

No Koleksi Nama Kollektor Nim/BP Nama species

: 004 : Kesi Adilla : 96843/2009 : Eclipta alba Hassk

A. KLASIFIKASI Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Asteridae

70

Ordo : Asterales Famili : Asteraceae Genus : Eclipta Spesies : Eclipta alba Hassk.

B. DESKRIPSI 1. Akar: Tunggang,berwarna putih. 2. Batang: Bulat, bercabang,berambut putih,ungu. 3. Daun: Tunggal,bulat telur,berseling berhadapan,ujung runcing,pangkal meruncing,tepi bergerigi panjang 2-3,5 cm,lebar 5-10 mm,pertulangan menyirip,permukaan berambut,berwarna hijau. 4. Bunga majemuk,bentu bongkol,diameter +4 mm di ketiak daun dan di ujunh batang, tangkai panjang +4 cm,silindris,kelopak bentuk corong,ujung bertoreh enam, berwarna hijau. 5. Buah: Bulat telur,diameter +1 mm,berwarna hitam. 6. Biji: Bentuk jarum,panjang +2 mm,berwarna hitam. 7. Habitat: daerah basah,parit,sekitar sungai. GAMBAR

71

DAUN

BATANG

BUNGA

DAUN

PEMBAHASAN Penyebaran Terna semusim, dengan batang tegak atau berbaring, kerap bercabang-cabang, hingga 0,8 m. Batang bulat pejal, sering keunguan,

72

dengan rambut putih. Daun berhadapan, duduk, lanset memanjang hingga bundar telur memanjang, 2–12,5 × 0,5–3,5 cm, dengan pangkal menyempit dan ujung runcing, tepi daun bergerigi atau hampir rata, kedua permukaannya berambut Bunga-bunga tergabung dalam bongkol bunga majemuk bertangkai panjang, selanjutnya 2-3 bongkol bersama-sama berkumpul di ujung (terminal) atau di ketiak. Daun pembalut dalam 2 lingkaran, panjang 5 mm, membentuk mangkuk. Bunga tepi dengan mahkota bentuk pita sempit, bergigi dua. Bunga cakram bentuk tabung, berwarna putih. Buah keras (achene) memanjang hingga serupa baji pendek, 2 mm, berbintil-bintil. Urang-aring mampu beradaptasi pada lingkungan yang berubah, terutama di tempat-tempat yang berdrainase buruk, daerah-daerah basah di sekitar sungai, parit, atau rawa, namun kaya akan sinar matahari. Mulai dari wilayah pantai –gulma ini tahan hidup di tanah bergaram– hingga ketinggian 2000 m. Kemampuan berbiaknya tinggi: berbunga di sepanjang tahun, urang-aring mampu menghasilkan 17.000 biji per individu tumbuhan. Urang-aring menghasilkan zat pewarna hitam. Cairan sarinya digunakan untuk menghitamkan rambut dan untuk membuat tato. Daun urang-aring diremas-remas dalam air, yang kemudian digunakan untuk mendinginkan kepala serta untuk menyuburkan dan menghitamkan rambut. Cairan urang-aring dioleskan pada kepala bayi agar lekas mendapatkan rambut yang hitam. Seduhan urang-aring dalam minyak kelapa digunakan sebagai minyak penyubur rambut. Minyak urang-aring semacam ini populer di Jawa hingga sekitar tahun ’70-an. Dalam Ayurveda (ilmu pengobatan India), urang aring diyakini sebagai semacam rasayana yang memiliki khasiat panjang usia dan awet muda. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa tumbuhan ini memiliki daya pengobatan terhadap gangguan hati (hepar) dan lambung.

73

Di tempat-tempat lain, urang-aring digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit, eksim, "kutu air", bahkan untuk mengatasi serangan hewan berbisa seperti sengatan kalajengking atau gigitan ular. Daun urangaring juga dimanfaatkan sebagai lalap, atau di Bali, dicampurkan ke dalam sayur. Sejarah Urang aring merupakan tanaman liar bertangkai banyak, tumbuh di tempat terbuka seperti di pinggir jalan, tanah lapang, pinggir selokan. Tanaman ini dapat hidup di daerah mulai dari tepi pantai sampai ketinggian 1.500 m diatas permukaan laut. Tinggi tanaman mencapai 80 cm, posisi tumbuh tegak kadang-kadang berbaring. Asal tanaman urang aring masih belum diketahui dengan pasti. Pada umumnya tanaman ini tumbuh di Indonesia sebagai tanaman liar yaitu terdapat di Sumatera, Jawa, Madura dan Maluku. Telah dilakukan telaah titokimia ekstrak eter minyak bumi herba urang – aring (Elicta prostrata L, Asteraceae). Hasil kromatografi lapis tipis preparatif menunjukkan ekstrak tersebut mengandung steroid. Berdasarkan analisis spektroskopi inframerah dan ultravioletsinar tampak, streroid tersebut diduga ( 3-sitosterol dan saponifikasi ekstrak) menghasilkan satu senyawa karotenoid yang teroksigenasi. Tanaman ini merupakan tanaman obat herba, seluruh bagian tanaman baik segar maupun kering dapat menyembuhkan berbagai penyakit, sebagai obat luar dan untuk diminum, tanaman ini sudah diteliti oleh ahli farmasi. Dalam industri kosmetika telah diproduksi menjadi minyak rambut urang aring dan sampo urang aring yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia. Manfaat dan kegunaan

74

Jenis tanaman liar bertangkai banyak, tumbuh di tempat terbuka seperti di pinggir jalan, tanah lapang, pinggir selokan, dari tepi pantai sampai ketinggian 1.500 m. di atas permukaan laut. Tinggi tanaman mencapai 80 cm., posisi tumbuh tegak kadang-kadang berbaring. Batang bulat berwarna hijau kecoklat-coklatan, berambut agak kasar warna putih. Daun warna hijau bentuk bulat telur memanjang, ujung daun meruncing, pinggir bergerigi halus atau hampir rata, kedua permukaan daun berambut, terasa agak kasar. Bunga majemuk berbentuk bongkol warna putih kecil-kecil. Buahnya memanjang, pipih, keras dan berbulu. Manfaat tanaman urang aring, untuk penyembuhan penyakit yaitu dengan herba segar dilumatkan dibubuhkan ke tempat yang sakit, atau herba segar direbus, untuk cuci pada : Eczema, tinea pedis (jamur), koreng (termasuk koreng di kepala), luka berdarah, gusi bengkak, penyubur rambut. Seluruh bagian tanaman baik segar maupun kering dapat digunakan untuk pengobatan baik sebagai obat luar maupun untuk obat penyakit dalam, seperti : 1. Menghentikan perdarahan pada muntah darah

(hematemesis). 2. batuk darah (hemoptoe). 3. mimisan (epistaxis). 4. kencing darah (hematuria). 5. berak darah (melena). 6. perdarahan rahim (uterine bleeding). 7. Chronic hepatitis. 8. diare. 9. Kurang gizi pada anak (infantile malnutrition). 10. Keputihan (leucorrhoe).

75

11. Rambut memutih (ubanan) pada usia muda. 12. Neurasthenia.

No Koleksi Nama Kollektor Nim/BP Nama species

: 006 : Nella Yunita B : 96861/2009 : Ixora sp.

76

Kingdom Superdivisio Divisio Kelas Sub-kelas Ordo Familia Genus Spesies

: Plantae : Spermatophyta : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Asteridae : Rubiales : Rubiaceae : Ixora : Ixora sp. Deskrisi

Subkingdom : Tracheobionta

Ixora sp merupakan tumbuhan dengan berakar kayu, dan merupakan tumbuhan dikotil. Memiliki kambium sehingga berkas pengangkutnya tersusun sistematik antara floem yang berada di luar kambium dan xylem yang berada di dalam kambium. Karena mamiliki kambium, maka pada Ixora sp terdapat floem dan xylem sekunder. Pada lingkaran tahunnya mengalami perkembangan dan pembelahan aktif, dengan kambium dan lingkaran tepi berdiameter yang tumbuh membesar. 1. Morfologis dan Jenisnya Tanaman soka merupakan tanaman yang menghendaki penyinaran matahari penuh teruatama untuk merangsang pembungaan. Meskipun jenisnya cukup beragam, secara umum bentuk morfologis tanaman terutama bagian bunganya tidak berbeda jauh yaitu tersusun atas beberapa bunga kecil yang masing-masing memiliki empat petal mahkota dalam satu tangkai mirip payung terbuka. Bunga soka yang masih kuncup mirip jarum sehingga akan terkesan gundukan jarum berwarna merah disaat belum mekar. Warna kelopak bunga ada yang merah, merah muda, ungu , putih dan kuning. Namun di Indonesia jumlah soka berwarna merah lebih banyak dibandingkan lainnya. Berbeda dengan bentuk bunganya, penampilan batang dan daun bunga soka bisa bermacam-macam. Ada yang lebar, ada

77

yang sempit, ada juga yang medium tergantung asalnya. Soka Jawa lebih condong berdaun lebar dengan tandan bunga ramping dan kuntum bunganya berwarna merah. Jenis-jenis soka terbagi dalam dua macam yaitu soka biasa dan soka hibrida. Yang tergolong soka biasa diantaranya : Ixora coccinea, Ixora lutea, Ixora fulgen, Ixora chinensis, Ixora Granifolia, Ixora Amboinica . Sedangkan soka hibrida antara lain :I. Mocrothyrsa, I. American, I. Pitsanuloke dan Soka bangkok. Tanaman ini berasal dari daerah Asia Tropis. Bahkan disinyalir ada yang menyebutkan berasal dari negara Indonesia. Namun sejauh ini belum teruji kebenarannya, yang pasti dengan ditemukannya jenis bunga soka kuno yaitu Ixora javanica di pulau Jawa telah cukup menjadikannya alasan mengapa tanaman tersebut berasal dari negara kita. Dugaan kuat mengenai asal usul tanaman ini lebih cenderung kepada negara India dan China, dimana di dua negera tersebut memiliki beragam jenis tanaman Soka. Penyebaran tanaman Soka ke seluruh wilayah negara bisa jadi tidak terlepas dari peran para pendeta beragama Hindu yang membawanya kemana dia pergi termasuk salah satunya ke negara kita. Perlu diketahui pula bahwa ini ada hubungannya dengan kepercayaan umat Hindu terhadap bunga Soka dimana bunga ini merupakan simbol hidup bersuka hati, sehingga sering digunakan sebagai sesaji untuk persembahan dewa Siwa dan Wisnu. Bunga soka awalnya hanya sebagai tanaman liar type perdu. Dengan penampilan bunganya yang memancar seperti kembang api dan hidup di hutan-hutan liar, tidaklah mengherankan bila orang-orang Eropa menjulukinya dengan flame of the wood atau api dari hutan. Mungkin karena penampilannya yang menarik tersebut mengundang orang untuk membawanya ke rumah dan mmeliharanya sebagai tanaman hias. Dengan semakin berkembangnya pengetahuan, jenis soka hibrida saat ini telah bermunculan dengan menghadirkan warna-warna bunga yang lebih beragam

78

dan meriah. Secara ringkas dapat dikemukakan morfologi tanaman soka sebagai berikut: a. kotor. b. Daun : tunggal, lonjong, pangkal meruncing, tepi rata, ujung runcing, pertulangan daun menyirip. c. Bunga : majemuk, berwarna merah, berkelamin dua, kelopak bentuk corong, benang sari 4, kepala sari melekat pada mahkota. d. Akar : tunggang, berwarna cokelat. 2. ANATOMI Secara anatomi bunga mempunyai 4 bagian utama, yaitu daun mahkota, daun kelopak, benang sari dan putik. Bagian-bagian tersebut terpaut pada ujung batang tangkai, disebut penyangga. Daun mahkota dan daun kelopak mempunyai struktur yang sama terdiri dari sel-sel parenkimatis. Pada jaringan dasar mungkin terdapat selsel yang mengandung kristal, idioblas atau saluran getah. Daun-daun timbul dari jaringan yang berada tepat di belakang titik tumbuh kuncup-kuncup. Umumnya, sebuah daun terdiri dari sebuah tangkai daun atau petiol, dan lembar daun itu sendiri, disebut helai daun. Pada beberapa daun terdapat tonjolan-tonjolan kecil yang disebut penumpu, di tempat petiol bertemu dengan batang. Tangkai daun berisi xylem dan floem yang membentuk bagian dari sistem pengantar tumbuhan. Daun-daun tertentu tidak mempunyai tangkai daun, helai daun langsung tumbuh dari batang. Rangka semua helai daun terbuat dari sebuah jaringan tulang daun. Jaringan yang terdapat pada daun adalah jaringan dermal serta derivatnya, jaringan dasar yang menyusun mesofil, jaringan pengangkut, jaringan penguat dan jaringan sekresi. Perbedaan antara daun monokotil dan daun dikotil yaitu pada susunan sel mesofilnya. Seperti tulang daun pada monokotil yang menyirip dan helai daun memanjang atau tidak melebar. Sedangkan pada dikotil Batang : tegak, berkayu bulat, percabangan simpodial, putih

79

tulang daun membuka dan berhadapan berpasangan atau menjari, dan helai daun umumnya melebar. Pada daun Ixora sp, ditemukan epidermis atau mesofil dengan sel lebih dari selapis, jaringan palisade atau jaringan pagar dan di bawah jaringan pagar tersebut terdapat jaringan bunga karang. Yang terbungkus secara longgar dan terdapat banyak ruang diantara sel-sel ini. Baik pada jaringan pagar/ palisade maupun jaringan bunga karang banyak mengandung klorofil dan sel-sel penutup. Selama masa pertumbuhan daun, kebanyakan tumbuhan berwarna hjau. Warna ini disebabkan klorofil, yang sebenarnya terdiri dari 2 pigmen, yaitu klorofil A dan klorofil B. Dua pigmen lainnya yaitu xantofil, suatu pigmen kuning dan karotein pigmen berwarna orange kekuning-kuningan yang juga terdapat pada daun. Namun tersamarkan oleh klorofil yang jauh lebih banyak. Adapun warna lain yang agak berbeda disebabkan pigmen antosianin yang berwarna ungu pada bunga ataupun daun terdapat pada beberapa macam tanaman lainnya. Dan pada bagian bawah bunga karang terdapat stoma yang berbentu seperti setengan lingkaran. No Koleksi Nama Kollektor Nim/BP Nama species : 007 : Rahmatika Husna : 96855/2009 : Wedelia trilobata l...

Klasifikasi objek: 80

Regnum Divisio Sub Divisio Clas Ordo Familia Genus Species

: Plantae : Spermatophyta : Dicotiyledoneae : Dycotyledoneae : Asteriales : Asteraceae : Wedelia : Wedelia trilobata L.

Nama Daerah : Saruni laut (sunda), cinga-cinga (Ternate), Widelia (Jawa),

A. Deskripsi Objek Bunga widelia trilobata merupakan anggota familia

Asteraceae. Bunga ini adalah bunga majemuk terbatas dengan ibu tangkai tidak bercabang-cabang dan trmasuk bunga cawan. Pada pangkal bunga ini terdapat daun-daun pembalut. Bunga majemuk ini terdiri atas unga pita dan bunga tabung. Bunga pita adalah bunga mandul yang terdapat pada tepi cawan dengan mahkota yang berbentuk pita pancung-pancung. Yang menandakan bunga ini memiliki lima daun tajuk. Bungan ini berfungsi sebagai pemikat. Bunga tabung berukuran kecil dan berbentuk tabung. Bungan ini bunga banci mempunyai kedua macam alat kelamin yaitu benang sari dan putik yang nantinya akan menghasilkan buah. 1. Bentuk hidup

81

a.Daur hidup polycarpa,yaitu berbunga dan berbuah beberapa kali dalam siklus hidupnya. b.umur annual,yaitu umurnya kurang dari I tahun mulai dari biji sampai mengahasilkan biji kembali. c.habitat/perawakan merupakan batang basah(herbaceous),yaitu berbatang lunak dan berair. 2.organ tumbuhan a.organum nutritivum/organ vegetatif/organ pokok yaitu,organ tumbuhan yang terbentuk pada lembaga atau merupakan perkembangan dari zigot.contoh :daun,batang,akar. b.organ metarnorfosa yaitu,organ vegetaif yang mengalami perkembangan diikuti modifikasi yang c.organ accessoria yaitu,organ tambahan dan bukan merupakan modifikasi dari organ pokok.contoh :rambut,sisik bulu. A.DAUN Bagian-bagian daun : Merupakan daun tak lengkap,yaitu daun brupih,tidak memiliki tangkai daun(petiolus),daun terdiri dari pelepah daun(vagina),dan helaian daun(lamina).merupakan daun tunggal tak memiliki daun penumpu(stipula),sendi absisi,pulvinoid,selaput bumbung(ochrea). Bangun/bentuk daun(Circumscription) Bagian yang terlebar terletak di atas tengah-tengah helaian daun,yaitu tipe bulat telur sungsang(obovatus) beranekaragam.contoh : batang,akar terspesialisasi,daun terspesialisasi,dan batang trespesialisasi.

82

Ujung daun (Apex foli) Ujung daun runcing(acutus),yaitu pertemuan tepi daun pada puncak membentuk sudut lancip. Pangkal daun (Basis foli) Tumpul(obtusus),yaitu pertemuan tepi daun arah ke basal membentuk sudut tumpul. Tulang daun (Nervus) Tulang daun terpencar ke arah tepi daun yaitu bertipe tulang daun menyirip(penninervus),dimana cabang tulang keluar di sepanjang ibu tulang daun. Tipe helaian daun (Margo) Berlekuk (lobatus),dalam torehan kurang dari setengah panjang tulang cabang,yaitu bertipe berlekuk menyirip(pinatilobus) Daging daun(Intervenium) Seperti kertas(papiraceus/chartaceus),tipis tetapi cukup tegar. Warna daun Daun berwarna hijau. Permukaan daun(Intervenium) Kedua permukaan berambut(pilus),rambut pada buku terdapat dua helai daun yang berhadapan. B.AKAR cirri-ciri akar: -akar tunggang,coklat -akar pokok,jelas -ada cabang-cabang akar -tidak berklorofil Tanaman ini termasuk dalam tanaman dikotil sehingga perakarannya adalah tunggang.salah satu keunikan dari tanaman ini adalah akar dapat tumbuah pada ruas-ruas batangnya.hal ini karena tanaman ini tumbuh merayap di permukaan tanah. C.BUNGA

83

merupakan bunga majemuk,terdiri dari bunga tabung dan bunga pita,terletak diujung batang dan ada yang diketiak daun,termasuk bunga tidak berbatas (rasemosa) tipe bunga majemuk :bunga.cawan yang terdiri atas bunga pita dan bunga tabung. 1.Bunga pita (flos ligulatus),bunga mandul yang terdapat di sepanjang tepi cawan dan mempunyai mahkota berbentuk pita 2.Bunga tabung (flos disci)bunga yang terdapat di atas cawannya sendiri,umumnya berbentuk tabung. Cirri-ciri bunga majemuk: -daun pelindung : ada,berupa daun pembalut (bractea involucralis involucrum) -epikaliks : ada -dasar bunga :cawan -sepal bunga pita dan bunga tabung saling bebas,berwarna hijau. -petal bunga pita dan bunga.tabung berlekatan. -stamen : :bunga pita :bunga tabung :monadelphous -tipe antera bunga tabung :innatus -pistil : :bunga pita :bunga tabung :ada,monocarp :tipe kepala putik bunga tabung D.BATANG Batang tanaman ini berbentuk bulat dan termasuk berbatang basah(herbaceous).mempunyai panjang 1-3 dm.posisi batang tanaman ini merayap di atas permukaan tanah. E.BUAH

84

Ternasuk ke dalam golongan buah kurung (archenium),dinding buahnya tipis,berdampingan dengan kulit biji tetapi tidak berlekatan,dan mempunyai panjang 4-5 mm Habitat Wedelia biasanya melimpah pada belakang pantai,batas hutan bakau.jenis ini dapat membentuk belukar yang sulit di tembus.jenis ini juga umum di hutan sekunder,kebun yang di tinggalkan,perkebunan kelapa dan sawah yang belum di Tanami. Manfaat : Daunnya memiliki kepentingan untuk obat,terutama untuk penggunaan luar.mengobati luka terpotong atau terkena gigitan.cairan yang di ambil dari daunnya dapat di gunakan untuk ibu yang baru bersalin.akar di gumakan untuk obat penyakit kelamin.

Rumus bunga Bunga pita Bunga tabung .Diagram Bunga tabung bunga pita : ♀↑K(2)C(3)A0G0 : ♀‫٭‬K5[ C(5) A(5) ] G(2)

85

No. Koleksi Nama Kolektor Nim/ BP Nama Objek

: 008 : Ayu Wandri Julianti : 96881/ 2009 : Stachytarpheta indica

Stachytarpheta indica (Pecut kuda)

Klasifikasi Regnum Plantae Divisi : Magnoliophyta :

86

Class Ordo Family Genus Species

: Angiospermae : Lamiales : Verbenaceae : Stachytarpheta : Stachytarpheta indica

Deskripsi Batang Daun

Terna tahunan, tumbuh tegak, tinggi ± 50 cm, tumbuh liar di sisi jalan daerah pinggir kota, tanah kosong yang tidak terawat. Daun letak berhadapan, bentuk bulat telur, tepi bergerigi, tidak berambut. Bunga duduk tanpa tangkai pada bulir-buhr yang berbentuk seperti pecut, panjang ± 4-20 cm. Bunga mekar tidak berbarengan, kecil-kecil warna ungu, putih. Stachytarpheta indica Vahl, lebih tinggi dapat mencapai 1 - 2 m, dipelihara sebagai tanaman pagar hidup, mempunyai khasiat obat yang sama. NamaLokal : Pecut kuda, Jarongan, Jarong lalaki, ngadi rengga, ; remek getih, jarong, 87

biron, sekar laru, laler mengeng,; rumjarum, ki meurit beureum.; Yu long bian (China).;

Penyakit Yang Dapat Diobati : Infeksi dan Batu saluran kencing, Reumatik, Sakit tenggorokan; Pembersih darah, haid tidak teratur, Keputihan, Hepatitis A;

Semak, tegak, tinggi 20-90 cm. Berkayu, bulat, bercabang, hijau kepulih-putihan.Tunggal, berhadapan, bulat telur, ujung runcing, tepi beringgil, pangkal meruncing, panjang 4-9 cm, lebar2,5-5 cm. pertulangan menyirip, berbulu, tangkai 1-1,5 cm, hijau.Majemuk, bentuk bulir, tangkai pendek, kelopakbertaju empat, panjang z 5 mm, hijau, mahkola bentuk tabung, bagian dalam berambut putih,bertaju lima, tumpul, ungu, benang sari dua,tangkai ungu, kepala sari coklat, kepala pulik kuning,ungu.Bentuk bulir, masih muda hijau setelah tua hitam. Bentuk jarum, panjang ± 5 mm, hitam.Tunggang, kuning muda. Khaslat Daun Stachytarpheta mutabtlis berkhasiat obat batuk, obat mencret dan obat luka. Untuk obat batuk dipakai ± 30 gram daun segar Stachytarpheta mutabilis, direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit, setelah dmgin disaring. Hasil saringan dirninurn sekaligus. Kandungan krmia Daun dan akar Stachytarpheta mutabilis mengandung saponin dan flavonoida. Di samping itu daunnya juga mengandung tanin, sedangkan akarnya juga mengandung polifenol.

88

No. coll : 009 Collector: Elsa Mardian Nim/BP : 96836/2009

Klasifikasi: Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) 89

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Fabales : Fabaceae (suku polong-polongan) : Cassia : Cassia alata

Deskripsi A. Akar Sistem perakaran pada tanaman Cassia alata adalah akar tunggang dengan jenis akar tunggang bercabang. Bentuk akarnya bulat dengan warna kehitaman. B. Batang Batang pada Cassia alata tampak jelas, berwarna coklat kotor. Tipe batangnya adalah batang berkayu (lignosus) yang termasuk perdu dengan tinggi batang 1-5 m. Bentuk batangnya bulat (teres) dengan permukaan batang yang beralur serta memiliki sistem percabangan simpodial. C. Daun Cassia alata mempunyai ukuran daun yang lumayan besar dengan bentuk bulat panjang (oblong) berwarna hijau. Daun pada tanaman ini merupakan daun majemuk yang mana letak daunnya berhadap-hadapan

90

satu sama lain dalam satu buku, sehingga disebut folio opposite atau folio decussate. Anak daunnya ini ada yang berjumlah delapan sampai dua puluh empat pasang, sepasang yang terbawah langsung terletak diatas pangkal tangkai daun hampir memeluk ranting berdasarkan jumlah daunnya ini maka daun ini merupakan daun majemuk menyirip genap (abrupte pinnatus). Ukuran anak daun pada Cassia alata adalah: panjangnya lebih kurang 3,5-15 cm sedangkan lebarnya lebih kurang 2,5-9 cm. Ujung daunnya tumpul dan tepi rata serta pangkal daun membulat. Pertulangan daunnya menyirip dengan tangkai daun yang pendek. Poros daun tanpa kelenjar dan memiliki stipula (daun penumpu) yang terlihat pada ujung ibu tangkai daun lama tetap tinggal.

D. Bunga Bunga pada Cassia alata merupakan bunga majemuk dengan tipe bunga majemuk tak berbatas, karena sumbu utamanya panjang dan tidak terdapat bunga diujungnya sumbu utama lebih panjang dan bunga mekar dari bawah ke atas (makin mendekati ujung sumbu utama), jadi bunga yang paling tua (lebih dulu mekar) terletak paling bawah dan sebaliknya disebut susunan acropetal. Bentuk bunga majemuk tak berbatasnya adalah bentuk tandan.

91

Kelopak pada bunga ini berbagi (partitus) yang berjumlah lima dan berwarna kuning tua dan merupakan simetri radial. Benang sari berjumlah tiga, letak bakal buahnya adalah inferus (menumpang) dan jumlah ruang pada bakal buah adalah beruang 2 (bilocularis) serta letak plasentanya merupakan aksilar. Daun pelindung bunga pendek dan rontok sebelum mekar, berwarna jingga ukuran 3x2 cm. Daun mahkota berwarna kuning cerah dan mahkota berbentuk kupu-kupu, berjumlah 4 buah. Tandan bunga tidak bercabang, tangkai bunga lebih kurang 10-20 cm. simrtri pada bunga ini adalah radial simetri (actinomorphous)

E. Buah dan Biji Buahnya mirip seperti pete cina hanya ukurannya lebih besar. Apabila tanaman ini sudah berbunga, maka setelah bunga gugur akan muncul buah. Buah yang sudah tua dan kering digunakan untuk memperbanyak tanaman. Buah pada Cassia alata merupakan buah sejati, digolongkan pda buah Polong (legumen), bentuknya panjang dan bersegi empat, panjang ± 18 cm, lebar ± 2,5 cm. Pada buah masih muda akan berwarna hijau kemudian setelah tua akn berwarna hitam kecoklatan. Buah ini bersayap pada kedua sisinya dan akan memecah bila telah masak dan bijinya dapat 50-70 butir. Biji berbentuk segi tiga lancip, pipih, ketika masih muda berwarna hijau setelah tua berwarna hitam.

92

. Rumus dan diagram bunga Sejarah dan Penyebaran Asal mula tanaman ini agaknya dari Amerika Tengah (sekitar Mexico sekarang ini), tetapi kemudian tersebar keman-manam terutama di Asia dan Afrika. Di Australia dianggap sebagai hama (intrusive weed) karena kecepatan tumbuhnya mengalahkan tanaman asli/lokal. Nama baru diberikan di setiap lokasi tumbuh yang baru, misalnya Gelenggang (Malaysia), Akapulko (Filipina), Kupang, Gelenggang, Ketepeng Badak, Ketepeng Cina, Ketepeng, Ki Manila, Ludanggan (beberapa daerah Indonesia). Di Singapura tanaman ini disebut Golden Candlesticks atau Candle Bush karena sebelum mekar tandan bunganya dilapisi oleh semacam lilin tipis. Orang Indian Amerika sudah menggunakan tanaman ini selama ribuan tahun, ada banyak nama yang dipakai oleh masing-masing daerah, seperti Bajagua, Dorance, Hierba de playa, Laureno, Lenguevaca, Lucutema, Lucutena, Majaguilla, Majaguillo, Mocuteno, Senna. Nama Guajava juga banyak dikenal secara umum, sedangkan nama yang dipakai dalam bahasa Inggris, oleh pendatang di Benua Baru ini, adalah "Cure-all" - menyembuhkan

93

segala macam penyakit! Membudidayakan tanaman ini sangat mudah, dengan bijinya. Habitat Cassia alata merupakan jenis perdu yang besar dan banyak tumbuh secara liar di tempat-tempat yang lembab. Kini tumbuhan ini sering dipelihara sebagai perindang halaman rumah/gedung. Ketepeng Cina tumbuh subur pada dataran rendah sampai ketinggian 1400 meter diatas permukaan

Manfaat tanaman Selain bisa digunakan tanaman hias di halaman rumah, Cassia alata juga berkhasiat sebagai tanaman obat, karena daun pada Cassia alata ini mempunyai kandungan kimia, diantaranya: flavonoida, tanin dan antrakinon. Daun Cassia alata adalah bagian yang umumnya dipakai sebagai obat penyakit kulit karena mempunyai khasiat anti-fungal (obat kadas, panu, rang, borok, kudis, gatal-gatal, sariawan, sembelit, cscing kremi pada anak-anak dsb). Di Filipina bahkan ekstraknya dicampurkan dalam produk hygienis seperti sabun, sampo dan lotion [dengan label "Akapulko", nama lokal Cassia alata disitu] Di Afrika orang minum air seduhan daun Cassia alata untuk menurunkan tekanan darah. Di Amerika Selatan tanaman ini dipakai untuk mengobati berbagai penyakit, disamping problem kulit, seperti sakit perut (bijinya mengandung saponin yang berkhasiat sebagai urus-urus dan obat cacingan), demam, asma, gigitan ular, rematik, bahkan penyakit kelamin (syphilis, gonorrhoea) alkaloida, saponin,

94

. Nomor kolektor Nim/ BP Nama kolektor Nama spesies : 010 : 96867/ 2009 : Visca Nursyahira : Melastoma malabatricum

Klasifikasi Domain Regnum Divisio Subdivisio Class Subclass : Eukaryota : Plantae : Spermatophyte : Angiospermae : Dicotyledoneae : Sympetalae 95

Ordo Family Genus Spesies

: Myrtales : Melastomataceae : Melastoma : Melastoma malabatricum

1. Gambar

Bunga

Daun

96

97

Buah

Batang

2. Deskripsi Melastoma malabatricum di masukkan ke dalam divisi spermatophyte karena merupakan tumbuhan berbiji dan mempunyai alat kelamin nyata yaitu mempunyai alat kelamin yang jelas dibedakan dari alat-alat vegetative dari bentuk maupun warnanya. Melastoma malabatricum di masukkan ke dalam subdivisi angiospermae karena bakal biji dilindungi oleh daun buah atau karpel, karena adanya perlindungan ini tumbuhan berbiji tertutup lebih maju dari pada tumbuhan berbiji terbuka. Melastoma malabatricum dimasukkan kedalam class dicotyledoneae karena mempunyai habitus perdu, mempunyai daun lembaga. Akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok atau akar tunggang yang bercabangcabang dan selalu bertambah panjang dan bertambah besar. Batang mempunyai ruas dan buku yang tidak jelas dan percabangan daun tersebar dan berhadapan. Melastoma malabatricum di masukkan ke dalam subdivisi sympetalae karena mempunyai dua macam perhiasan bunga, yaitu kelopak dan mahkota. Dimana kelopaknya saling berlekatan.

98

Melastoma malabatricum termasuk ke dalam ordo Myrtales, family Melastomataceae. Adapun cirri-ciri dari ordo dan family ini adalah pohon kecil atau perdu, banir tidak ada, akar tunjang tidak ada, tidak bergetah, ujung kuncup tidak tertutup oleh kuncup daun, bulu komplek tidak ada, bulu bersengant tidak ada, bulu pada cabang tua ada atau tidak ada. Daun berhadapan, tidak seperti sisik, tunggal, semua daun bentuknya seragam, tidak ada kelenjer minyak, simetri tidak terbelah, halus atau rata. Kulit daun tidak berlilin. Pertulangan tiga tulang daun dari pangkal daun. Tulang daun kedua jelas, tulang daun yang paling kecil tidak jelas, tetapi masih dapat dilihat, seperti tangga. Pertulangan tepi daun ada. Tangkai daun pendek atau panjang, tidak bersayap, menempel di bawah daun, ujung tidak membengkak. Daun penumpu tidak ada. Daun buah kelenjar pada dasar helaian tidak ada. Bulu pada daun tua ada atau tidak ada, banyak atau sedikit. Perbungaan berkelompok atau sendiri, di ujung ranting ada di ketiak bunga dari sumbu utama perbungaan bercabang, bentuk khusus tidak ada. Banyaknya cabang yang berkelompok dibawah tidak ada. Bunga berkelamin dua, bertangkai kecil, sedang atau besar, beraturan atau tidak beraturan. Hypantium tidak ada. Cakram tidak ada. Ekologi tumbuhan Melastoma malabatricum ini tumbuh liar yaitu pada tempat-tempat yang memperoleh sinar matahari cukup, mulai dari pantai yang berlumpur, lapangan terbuka, lahan terlantar, pinggir jalan hingga lereng gunung. Biasannya muncul bersama tanaman semak lainnya. Penyebarannya di seluruh Indonesia. 3. Pembahasan a. Bentuk hidup Berdasarkan daur hidupnya, Melastoma malabatricum tergolong tumbuhan policarpa (polycarpa). Karena Melastoma malabatricum berbunga dan berbuah beberapa kali selama daur hidupnya. Sedangkan lama hidup atau umur sikaduduk ini termasuk tumbuhan perenial, yaitu

99

tumbuhan yang yang dapat mencapai umur lebih dari dua tahun bahkan sampai ratusan tahun. Umumnya tumbuhan perenial ini berbunga dan berbuah berkali-kali. Habitus atau perawakan batang tumbuhan Melastoma malabatricum ini termasuk batang berkayu (lignosus) dalam bentuk perdu (frutices). Tingginya sampai 2 meter, jelas batang pokoknya, percabangannya dekat dari tanah. Berdasarkan penyesuaian terhadap lingkungan hidupnya (habitat), Melastoma malabatricum banyak ditemukan di lingkungan yang beragam (halofit) dan percabangannya banyak. b. Daun Melastoma malabatricum mempunyai daun yang berwarna hijau, hijau tua, sampai hijau kekuningan. Dimana tipe daunnya merupakan daun tunggal dan termasuk daun tidak lengkap karena hanya mempunyai tangkai dan helaian daun saja (daun bertangkai). Bangun atau bentuk daunnya lanset terbalik (oblanceolate), Bentuk ujung daunnya meruncing (acuminatus), Pertemuan tepi daunnya di bawah puncak ujung daun. Dan pangkal daun juga berbentuk meruncing. Pertulangan daun melengkung (curvinervis). Tepi helaian daun rata (integer). Daging daunnya tipis. Melastoma malabatricum mempunyai permukaan daun yang kasap (scaber), tidak mempunyai pelipatan daun dan tata letak daunnya saling berhadapan. Daunnya tidak termasuk daun termodifikasi. c. Batang Melastoma malabatricum mempunyai warna batang yang cokelat, sifat batang yang jelas berbatang karena ruas dan bukunya jelas, termasuk batang berkayu (lignosus). Tipe perbatangannya perdu (frutices). Bentuk batang bulat dan permukaan batangnya kasar, lepasnya kerak atau bagian kulit yang telah mati. Batang mengadakan percabangan. Arah tumbuh batang tegak lurus (erectus). Diameter batangnya kira-kira 2 cm. d. Akar

100

Tipe perakaran Melastoma malabatricum yaitu akar tunggang. Dimana akar tunggang yang bercabang. Akar ini berbentuk kerucut panjang, tumbuh terus kebawah, bercabang-cabang banyak dan cabangnya bercabang lagi. Akarnya tidak termasuk akar terspesialisasi. e. Bunga Bunga Melastoma malabatricum bersifat terminalis yaitu bunga terdapat di ujung-ujung cabang atau ujung-ujung batang. Melastoma malabatricum memiliki bunga majemuk dengan tipe bunga simosa, dimana pada ujung sumbu utama selalu terdapat sebuah kuncup bunga, bunga pada ujung sumbu utama akan mekar lebih dahulu daripada bunga-bunga lain dan sumbu utama lebih pendek daripada sumbu sekunder Daun kelopak (sepal) berwarna merah muda, pada objek terhitung 5 sepal dan tersusun saling berlekatan (symsepal) dengan simetri aktinomorf. Daun mahkota (petal) berwarna ungu yang berjumlah 5 buah, membuka penuh secara horizontal. Susunan petal saling bebas ( kariopetal) dengan simetrinya aktinomorf. Kedudukan perhiasan bunga pada dasar bunga dibandingkan dengan putik yaitu hipogimus, dimana hiasan bunga lebih rendah dari kedudukan putik Stamen (benang sari) berjumlah 2 kali jumlah petal, pada lingkaran dalam berseling dengan daun tajuk (obdiblostemon). Benang sari tersusun dalam 2 lingkaran dan tangkai benang sari tidak menyatu antara sesamanya. Melastoma malabatricum mempunyai putik dengan daun buah berjumlah satu dengan jumlah ruang pada bakal buah 5 dan letak bakal buah superus. Tangkai putik warnanya kuning keputihan panjangnya 8-17 mm. Antara petal, sepal stamen dan putik tidak ada adnasi. Hypanthium bentuk corong, campanulate, cyathiform, atau urceolate. f. Buah Buah suatu kapsul yang gemuk atau kering. Benih atau biji berukuran 3-6 mm ketika kecil, di bengkokkan melalui /sampai separuh suatu lingkaran. Buah jika sudah masak akan merengkah dan terbagi-bagi ke dalam beberapa segmen (bagian), warna ungu tua kemerahan. Biji kecil

101

sekali berupa bintik-bintik berwarna cokelat. Ukuran diameter buah 8-10 mm. g. Rumus dan diagram bunga Rumus bunga merupakan deskripsi bagian-bagian bunga yang dinyatakan dengan sebuah rumus yang terdiri dari lambing-lambang huruf dan angka. Mencantumkan rumus bunga sangat penting dalam mengidentifikasi sebuah tanaman. Pada bunga Melastoma malabatricum atau sering dikenal sikaduduk ini mempunyai rumus bunga yakni, bunga merupakan bunga banci yang terdiri dari putik dan benang sari, simetri banyak atau aktinomorf, terdiri dari kelopak 5 buah yang bebas, benang sari atau androecium 10 buah dan putik satu. Rumus bunga Diagram bunga No. koleksi NIM/BP :005 : 968 /2009 : : ♂ K(5) C5 A10 G1

Nama kolektor:Widia Pita Loka Nama species : Leea rubra

Klasifikasi Regnum

:

: Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida 102

Bangsa: Vitales Suku : Vitaceae Marga : Leea Spesies : Leea rubra

Habitat: Habitat/ekologi Leea rubra: Dalam regrowth sekunder dan semak belukar sampai ketinggian 500 m. Juga pada batu kapur. Lebih suka tanah subur yang lembab, tetapi akan tahan terhadap masa kekeringan.

Batang (Caulis) Sifat batang pada tanaman ini bersifat planta caulis yang merupakan tumbuhan yang jelas berbatang.Tanaman ini tergolong kedalam batang berkayu (lignosus).Bentuk pada dari batang pada ini batang berbentuk ini yaitu bulat licin (teres).Berdasarkan Daun Daun merupakan organ pokok dari tumbuhan, biasanya terdapat pada batang dan berwarna hijau.Daun ini memiliki fungsi sebagai resorbsi, asimilasi, transpirasi, dan respirasi.Berdasarkan kelengkapan bagianbagiannya, daun pada tanaman ini termasuk kedalam daun tidak lengkap karena hanya memiliki helaian (lamina), tangkai daun (petiolus) namun tidak memiliki pelepah daun (vagina), sehingga daun ini termasuk daun bertangkai.Bangun dari daun ini adalah memanjang ( oblongus) berbentuk ellips (elliptic).Ujung daun (apex folii) yaitu meruncing (acuminatus) karena pertemuan tepi daun di bawah puncak, pangkal daun (Basis folii) berbentuk tumpul (obtuse).Tulang daun yang dimiliki pada tanaman ini permukaan

(laevis).Arah tumbuh batang yaitu tegak lurus (erectus).

103

bertulang menyirip (penninervis).Tepi daun (margo folli) termasuk bertoreh merdeka bergerigi.Tanaman ini tergolong daun majemuk menyirip genap. Tata letak daun pada buku terdapat satu helai daun tergolong distik Karena jika dilihat dari atas, daun tersusun dalam dua baris (sudut antara ke dua baris adalah 180) Buah Buah Leea rubra , 9 mm diameter, merah-biru-ungu, drupes. Biji Biji Akar Akar pada Leea rubra adalah akar tunggang yaitu jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar yang lebih kecil.susunan akar yang demikian biasanya terdapat pada tumbuhan berbiji belah (Dicotyledoneae),dan tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae) dan berwarna kunimg pucat. Bunga Tumbuhan ini termasuk bunga mejemuk karena adanya sekelompok bunga yang tersusun dengan system percabangan pada sebuah sumbu yang mendukung dan berbentuk malai.Tumbuhan ini adalah bunga majemuk tak berbatas (inflorescentia rasemosa) Karena pada pertumbuhannya sumbu utama berturut-turut membentuk cabang-cabang dari pangkal ke atas, sumbu utama lebih panjang dari pada sumbu sekunder. Bunganya berbentuk seperti bintang kelopaknya berbulu, bertaju lima, bunganya runcing panjangnya lebih kurang 5 mm, berwarna hijau muda, benang sarinya lima, tangkai bunga panjangnya lebih kurang 1 mm, kepala sari panjangnya 6 mm, bentuk jarum berwarna kuning, tangkai putik lebih kurang 1 mm, kepala putik hijau dan putih. Rumus Bunga : *♀ K(5) [C(5) A5] G1 Leea rubra berbentuk pipih, berukuran kecil, dan permukaannya licin dan berwarna kuning pucat.

104

No. koleksi : 011 Kolektor Nim/TM Objek : Erfina Febri : 96862/2009 : Ageratum conyzoides

Kingdom Divisi

: Plantae (Tumbuhan) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

105

Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Asterales : Asteraceae : Ageratum : Ageratum conyzoides L.

Karakteristik Morfologi Herba, annual, 20-100cm, tegak atau rebah; Batang bulat, berambut; Daun bertangkai, letaknya saling berhadapan dan bersilang, bentuk helaian daun bulat telur, panjang 2-12 cm, lebar 3-8cm, dengan pangkal membulat, ujung runcing, tepi bergerigi, kedua permukaan daun berambut, warnanya hijau. BungaTipe majemuk berkumpul 3 atau lebih, berbentuk malai rata yang keluar dari ujung tangkai, kelopak berbulu, hijau, mahkota bentuk lonceng, putih atau ungu, panjang bonggol bunga 6 - 8 mm, dengan tangkai yang berambut; Buah Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut jarang, warna hitam; Biji kecil, hitam; Akar tunggang, keputihan

a. Pembahasan 1) Bentuk hidup a) Daur hidup Berdasarkan daur hidupnya, tumbuhan Ageratum conyzoides termasuk tumbuhan policarpa karena berbunga dan berbuah beberapa kali selama daur hidupnya. b) Lama hidup/umur

106

Berdasarkan lama hidup/umurnya, tumbuhan Ageratum conyzoides termasuk tumbuhan perennial karena tumbuh mencapai umur lebih dari dua tahun serta berbunga dan berbuah berkali-kali. c) Habitus Berdasarkan habitus atau perawakannya, batang tumbuhan Ageratum conyzoides merupakan tumbuhan herbaceus atau batang basah, dimana batangnya lunak dan berair. d) Habitat Berdasarkan habitat atau penyusaian terhadap lingkungan, tumbuhan Ageratum conyzoides merupakan tumbuhan halofit (halophyte) karena dapat hidup di lingkungan beragam, baik di lingkungan kering maupun di lingkungan lembab. 2) Akar Tipe perakaran tumbuhan Ageratum conyzoides adalah akar tunggang, dimana akar primer (akar dari embrio atau lembaga) tumbuh terus menjadi akar pokok dan tetap menyolok karena lebih besar dari akar lainnya serta berkembang banyak menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar Ageratum conyzoides termasuk akar tunggang bercabang dengan bagian-bagian sebagai berikut: a) Leher akar atau pangkal akar (collum) Yaitu bagian akar yang bersambungan dengan batang b) Ujung akar (apex radicis) Bagian akar yang paling muda, terdiri atas jaringanjaringan yang masih dapat mengadakan pertumbuhan c) Batang akar (corpus radicis) Bagian akar yang terdapat antara leher akar dan ujungnya d) Cabang-cabang akar (radix lateralis) Yaitu bagian akar yang tak langsung bersambungan dengan pangkal batang, tetapi keluar dari akar pokok dan masing-masing dapat mengadakan percabangan laggi

107

e) Serabut akar (fibrilla radicalis) Yaitu cabang-cabang akar yang halus yang berbentuk serabut f) Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis) Merupakan penonjolan sel-sel kulit luar akar yang panjang, bentuknya seperti bulu atau rambut g) Tudung akar (calyptra) Bagian akar yang terletak pada bagian ujung dan berfungsi untuk melindungi akar yang masih muda Akar tumbuhan Ageratum conyzoides bukan merupakan akar terspesialisasi 3) Batang a) Warna batang Batang Ageratum conyzoides waktu masih muda berwarna hijau, dan setelah tua berwarna hijau kecoklatan b) Sifat batang Berdasarkan sifatnya, batang Ageratum conyzoides merupakan tumbuhan yang jelas berbatang (planta caulis) dengan tipe batang basah (herbaceus), yaitu batang yang lunak dan berair c) Bentuk batang Bentuk batang Ageratum conyzoides adalah bulat (teres) d) Permukaan batang Dilihat dari permukaannya, batang Ageratum conyzoides memiliki permukaan yang berambut (pilosus) e) Arah tumbuh batang Batang Ageratum conyzoides memiliki arah tumbuh yang tegak (erectus) dan ada juga arah batang Ageratum conyzoides yang ditemukan menjalar atau merayap (repens), yaitu jika batang berbaring di atas tanah dan pada setiap batang yang bersentuhan dengan tanah akan mengeluarkan akar

108

Batang 4) Daun a) Warna daun

tumbuhan

Ageratum

conyzoides

bukan

merupakan batang termodifikasi

Daun Ageratum conyzoides berwarna hijau karena memiliki zat warna hijau. Hal ini juga sesuai dengan fungsi daun yaitu sebagai tempat foto sintesis b) Tipe daun Daun Ageratum conyzoides merupakan daun tunggal karena pada satu tangkai daun terdapat satu helaian daun. c) Kelengkapan daun Berdasarkan kelengkapannya, daun Ageratum conyzoides merupakan daun tidak lengkap karena tidak memiliki satu atau dua bagian dari bagian-bagian daun lengkap (vagina, petioles, dan lamina). Daun Ageratum conyzoides merupakan daun bertangkai karena hanya memiliki tangkai daun (petioles) dan helaian daun (lamina) saja. d) Bangun (bentuk) daun (circumscriptio) Bangun (bentuk) daun Ageratum conyzoides adalah bulat telur (ovatus) karena mempunyai bagian yang terlebar di bawah tengah-tengah helaian daun dan memiliki pangkal daun tidak bertoreh. e) Ujung daun (apex folii) Bentuk ujung daun Ageratum conyzoides adalah runcing (acutus) karena pertemuan kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang daun membentuk sudut lancip. f) Pangkal daun Pangkal daun Ageratum conyzoides adalah tumpul (obtusus) karena pertemuan tepi daun membentuk sudut tumpul. g) Pertulangan daun Pertulangan daun Ageratum conyzoides adalah melengkung (curvinervis) karena mempunyai tulang daun yang semula

109

memencar kemudian kembali menuju ke satu arah, yaitu ke ujung daun, hingga selain tulang yang di tengah semua tulang-tulangnya kelihatan melengkung. h) Tepi helaian daun Tepi helaian daun Ageratum conyzoides adalah tepi daun dengan toreh merdeka dengan tipe bergerigi (serratus) karena memiliki sinus dan anulus sama-sama lancip. i) Daging daun Daging daun Ageratum conyzoides adalah tipis seperti selaput (membranaceus). j) Permukaan daun Permukaan daun Ageratum conyzoides adalah berbulu (pilosus) karena memiliki bulu yang halus dan jarang-jarang. k) Pelipatan daun Daun Ageratum conyzoides tidak memiliki pelipatan daun. l) Tata letak daun (filotaksis) Tata letak (filotaksis) daun Ageratum conyzoides adalah folia opposita decusata karena daun Ageratum conyzoides terletak berhadapan dan berselang-seling. Daun Ageratum conyzoides tidak memiliki alat tambahan. 5) Bunga a) Tipe bunga Bunga Ageratum conyzoides merupakan bunga majemuk (inflorescentia) dengan tipe perbungaannya rasemosa (bunga majemuk tak berbatas). Bunga Ageratum conyzoides merupakan bunga yang termasuk golongan malai rata (corymbus ramosus) karena ibu tangkai mengadakan percabangan dan juga termasuk bunga cawan dalam bentuk bunga tabung karena ujung ibu tangkainya melebar dan merata, sehingga mencapai bentuk seperti cawan dengan bunganya berbentuk tabung. Dan bunga Ageratum

110

conyzoides mempunyai kedua macam alat kelamin (benang sari dan putik) serta dapat menghasilkan buah. Pada tangkai bunga terdapat alat tambahan, yaitu braktea dan pada masing-masing bunga juga terdapat braktea (daun-daun pelindung) b) Daun kelopak (sepal) Daun kelopak (sepal) Ageratum conyzoides berwarna hijau yang berbentuk seperti pappus. Daun kelopak (sepal) berjumlah lima. Susunan sepal saling bebas (koriosepal) dengan simetri aktinomorf karena kelopak dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup (simetris) dengan beberapa cara. c) Daun mahkota (petal) Daun mahkota (petal) Ageratum conyzoides berwarna putih dan berjumlah lima. Susunan petal saling berlekatan (sympetal) dengan berbentuk tabung dengan simetri aktinomorf karena mahkota dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup (simetri) dengan beberapa cara. d) Kedudukan perhiasan bunga pada dasar bunga Kedudukan perhiasan bunga Ageratum conyzoides pada dasar bunga adalah hipoginus karena kedudukan perhiasan bunga lebih rendah daripada putik. e) Stamen (benang sari) Stamen (benang sari) Ageratum conyzoides berjumlah sama dengan sama dengan jumlah petal. Tangkai benang sari (filament) Ageratum conyzoides tidak bersatu, tapi kepala sari (anthera) saling berlekatan (singenesis). f) Pistillum (putik) Putik (pistilum) Ageratum conyzoides memiliki daun buah (karpel) yang berjumlah dua dengan jumlah ruang pada bakal buah satu. Letak bakal buah superus (menumpang) karena bakal buah duduk di atas dasar bunga.

111

Pada bunga Ageratum conyzoides tidak terdapat adnasi antara bagian-bagian bunga (sepal, petal, stamen, dan putik). 6) Buah Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut jarang, hitam, ovarium superus. 7) Rumus bunga 8) Diagram bunga

9) Biji Kecil, hitam 10) Manfaat Tumbuhan ini berkhasiat stimulan, tonik, pereda demam (antiperik), antitoksik, menghilangkan pembengkakan, menghentikan perdarahan (hemostatis), peluruh haid (emenagog) , peluruh kencing (diuretik) dan peluruh kentut (karminatif). Selain itu daun bandotan dapat digunakan pula sebagai insektisida nabati.Tumbuhan mengandung asam amino, organacid, pectic sub-stance, minyak asiri kumarin, friedelin, Bsiatosterol, stigmasterol, tanin sulfur dan potasium klorida. Akar bandotan mengandung minyak asiri, alkaloid dan kumarin.

112

Nomor kolektor Nim/ BP Nama kolektor Nama spesies

: 013 : 96859/ 2009 : Ahmad Fadli : Piper sp.

113

Klasifikasi Regnum Divisio Classis Order Familia Genus Species : Plantae : : : Piperales : Pipereceae : Piper : Piper sp.

Sirih merupakan tanaman asli Indonesia yang tumbuh merambat atau bersandar pada batang pohon lain. Sebagai budaya daun dan buahnya biasa dimakan dengan cara mengunyah bersama gambir, pinang dan kapur. Namun mengunyah sirih telah dikaitkan dengan penyakit kanker mulut dan pembentukan squamous cell carcinoma yang bersifat malignan.

Tanaman merambat ini bisa mencapai tinggi 15 m. Batang sirih berwarna coklat kehijauan,berbentuk bulat, beruas dan merupakan tempat keluarnya akar. Daunnya yang tunggal berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai, dan mengeluarkan bau yang sedap bila diremas. Panjangnya sekitar 5 - 8 cm dan lebar 2 - 5 cm. Bunganya majemuk berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 - 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedang pada bulir betina panjangnya sekitar 1,5 - 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna

114

putih dan hijau kekuningan. Buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Akarnya tunggang, bulat dan berwarna coklat kekuningan.

DAFTAR PUSTAKA Adi Yudianto, Suroso.1992. Mengerti Morfologi Tumbuhan. Bandung: Tarsito Des,dkk.2007. Buku Ajar Morfologi Tumbuhan. Padang:Jurusan Biologi FMIPA UNP ---------. 2007. Struktur PerkembanganTumbuhan 1. Padang: Jurusan Biologi FMIPA UNP Des,dkk.2010. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Padang: Universitas Negeri Padang Tjitrosoepomo,Gembong.2005.Morfologi Mada Univercity Press Tumbuhan.Yogyakarta:Gajah

115

116

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->