P. 1
Sifat Tuhan Dalam Pemikiran Syaikh Nawawi Al-Bantani

Sifat Tuhan Dalam Pemikiran Syaikh Nawawi Al-Bantani

|Views: 3,827|Likes:
Published by znzbpc
Skripsi ini berusaha mengeksplor pemikiran Syaikh Nawawi al-Bantani tentang sifat-sifat Allah SWT.
Skripsi ini berusaha mengeksplor pemikiran Syaikh Nawawi al-Bantani tentang sifat-sifat Allah SWT.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: znzbpc on Jul 08, 2009
Copyright:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

Sebagai reaksi dari timbulnya berbagai firqah (Qadarîyah, Khawârij,

Mu‘tazilah, dsb), maka lahirlah aliran baru yang dipelopori oleh seorang ulama

besar yaitu Abû al-Ĥasan al-Asy‘arî.19

Beliau dilahirkan di Bashrah tahun 260 H

dan di sana pula beliau meninggal dunia pada tahun 324 H. Pada mulanya beliau

18

Boleh dikatakan bahwa hilangnya Mu‘tazilah adalah hilangnya pola pikir rasional
dalam dunia Islam yang sangat kentara mulai abad kelima. Ditambah dengan situasi politik yang
tak menguntungkan, yakni penyerangan Bangsa Mongolia yang membabat dan memporak-
porandakan Baghdad. Dan sayangnya umat Islam melarikan diri dari kenyataan. Melihat
kekalahan-kekalahan, mereka lari ke “sudut-sudut kehidupan”. Mereka mengasingkan diri (‘uzlah)
bukan hanya secara fisik, tetapi bahkan secara pemikiran. Maka dimulailah masa kemunduran
Islam. Lihat Mastuki HS (ed.), Kiai Menggugat: Mengadili Pemikiran Kang Said, Jakarta: Pustaka
Ciganjur, cet. 1, 1999, h. 189

19

Beliau dan Mâturîdî adalah ahli teologi yang mengambil jalan tengah antara pemikiran
Mu‘tazilah yang lebih liberal dengan faham ahl al-ĥadîts yang terlalu tekstual. Para pengikut
kedua tokoh ini biasa disebut Sunni, Asy‘arîyah, atau ‘Asyâ`irah. Lihat Mastuki HS (ed.), Kiai
Menggugat
, h. 13

42

berpegang pada faham Mu‘tazilah sebagaimana diajarkan oleh gurunya al-Jubba‘î.

Setelah 40 tahun menjadi pengikut Mu‘tazilah, akhirnya ia merasa kecewa. Paham

yang diikutinya terlampau mengagungkan akal dan sering mengabaikan teks-teks

ĥadîts. Di lain pihak, ia juga tidak menyukai kaum tekstualis yang hanya percaya

pada bunyi teks dan mengindahkan spiritnya. Kitab-kitab yang pernah

dihasilkannya antara lain al-Ibânah fî Ushûl al-Diyânah, Maqâlât al-Islâmîyîn,

dan al-Mujâz.

Di antara para ulama besar yang menyebarkan aliran Asy‘arîyah ini ialah

Imam Abû Bakr al-Qaffâl (w. 365 H), Imam al-Bâqillânî, dengan kitab al-

Tamhîd-nya yang terkenal (w. 403 H), Imam Abû Isĥâq al-Isfahânî (w. 411 H),

Imam Ĥâfizh al-Bayhaqî (w. 458 H), Imam al-Juwaynî atau dikenal juga dengan

sebutan Imam al-Ĥarâmayn, guru Imam al-Ghazâlî (w. 460 H), Imam al-Qusyayrî

(w. 465 H), Imam al-Ghazâlî (w. 505 H), Imam Fakhr al-Râzî (w. 606 H), dan

Imam ‘Izz al-Dîn ibn ‘Abd al-Salâm (w. 606 H). Dalam masa-masa kemudian,

para ulama yang mendukung faham al-Asy‘arî ini ialah antara lain seperti Syaikh

al-Islâm ‘Abd Allâh al-Syarqâwî (w. 1227 H), Syaikh Ibrâhîm al-Bâjûrî (w. 1272

H), Syaikh Nawawî al-Bantanî (w. 1315 H), Syaikh Zayn al-‘Âbidîn ibn

Muĥammad al-Fathanî dengan ‘Aqîdat al-Nâjîn-nya, Syaikh Ĥusayn al-Tarabalâsî

dengan al-Ĥushûn al-Ĥamîdîyah-nya yang terkenal itu.20

Dalam doktrin Asy‘arîyah, Allah adalah zat mutlak yang mempunyai sifat.

Sifat inilah yang ada relasinya dengan alam semesta ini. Allah punya sifat-sifat

seperti qudrah, irâdah, ‘ilm, sam‘, dan lain sebagainya. Dengan adanya qudrah

20

http://www.bicaramuslim.com/bicara6/viewtopic.php?p=145248&sid=bf822a5c9b123e6d26ab120be5b54dfc

43

maka ada maqdûr; dengan adanya irâdah maka ada murâd; ada ‘ilm ada ma‘lûm;

dan ada sam‘ ada masmû‘. Semua ini adalah relasi antara sifat Allah dengan

makhluk. Hanya saja dalam Islam, sifat-sifat itu tidak bisa menjelma, sifat tidak

bisa pisah dengan Tuhan. Maka dalam ilmu kalam dikatakan, misalnya “Al-‘ilm

shifah qadîmah azalîyah laysat hiya dzâtan wa lâ ghayrahâ (Ilmu itu sifat azali

yang berbeda dengan zat Tuhan, dan bukan pula selain zat-Nya).21

Dalam memperkuat pendapatnya itu, ia mengemukakan ayat-ayat al-

Qur`ân, di antaranya:

“Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya” (Qs. al-Nisâ` [4] : 166)

“Dan tidak seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula)
melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya.” (Qs. al-Fâthir
[35] : 11)

Menurut al-Asy‘arî, kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Allah

mengetahui dengan ilmu. Oleh karena itu, mustahil ilmu Allah itu adalah dzat-

Nya. Jika Allah mengetahui dengan dzat-Nya, maka dzat-Nya itu merupakan

pengetahuan. Mustahil al-‘Ilm (pengetahuan) merupakan al-‘Âlim (Yang

Mengetahui), atau sebaliknya al-‘Âlim (Yang Mengetahui) merupakan al-‘Ilm

(pengetahuan), atau dzat Allah diartikan sebagai sifat-sifat. Oleh karena mustahil

Allah merupakan pengetahuan, maka mustahil pula Allah mengetahui dengan

dzat-Nya sendiri. Dengan demikian, menurut al-Asy‘arî Allah mengetahui dengan

ilmu. Ilmu Allah tersebut bukan merupakan dzat-Nya. Demikian pula dengan

21

Mastuki HS (ed.), Kiai Menggugat, h. 180

44

sifat-sifat lainnya. Bagi al-Asy‘arî, seluruh sifat itu Tuhan qâ`imah bi dzâtih

(berdiri sendiri).22

Di dalam al-Qur`ân terdapat ayat-ayat mutasyâbihât seperti:

“Dan tetap kekal wajh Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan
kemuliaan.” (Qs. al-Raĥmân [55] : 27)

“Dan buatlah bahtera itu dengan ‘ayn dan petunjuk kami.” (Qs.
Hûd [11] : 37)

Yad Allah di atas tangan mereka.” (Qs. al-Fatĥ [48] : 10)

Dalam persoalan ayat-ayat di atas, al-Asy‘ari dapat dianggap mengambil

jalan tengah dengan mengemukakan bahwa Tuhan mempunyai wajah, mata, dan

tangan23

yang tidak akan hancur seperti yang telah disebut dalam Al-Qur`ân,

tetapi dengan tidak diketahui bagaimana bentuknya (bi lâ kayf).24

Sifat Tuhan

bukan esensi Tuhan itu sendiri, sifat Tuhan dan zat Tuhan adalah berbeda.”

Proposisi “sifat itu bukan zat” (laysat hiya dzâtan) digunakan untuk

menjawab argumentasi Mu‘tazilah yang mengatakan sifat itu adalah zat. Dan

proposisi “sifat itu bukan selain zat” (wa lâ ghayrahâ) digunakan untuk

menyanggah orang-orang Nasrani yang meyakini bahwa sifat Tuhan itu dapat

22

Ilhamuddin, Pemikiran Kalam al-Bâqillânî: Studi tentang Persamaan dan
Perbedaannya dengan al-Asy‘arî
, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, cet. 1, 1997, h. 43

23

Ilhamuddin, Pemikiran Kalam al-Bâqillânî, h. 44

24

Maksud dari tidak bisa ditentukan bagaimana (bi lâ kayf) adalah dengan tidak
mempunyai bentuk dan batasan (lâ yukayyaf wa lâ yuĥadd). Lihat Harun Nasution, Teologi Islam,
h. 71

45

dipisahkan dari zat-Nya. Sifat “kalam” (berfirman), misalnya, dapat dipisahkan

karena “kalam” tersebut telah menjelma dalam bentuk Yesus.

Kalau mengikuti lebih lanjut, paham Asy‘arîyah ini sebenarnya sudah jauh

berkembang. Al-Râzî, misalnya, itu sudah jauh sekali dari Asy‘arî. Sebab dia

mengatakan bahwa sifat Tuhan itu hanya al-‘Ilm (ilmu). Pendapat ini justru lebih

mengarah ke faham Mu‘tazilah.25

Bahkan al-Juwaynî, pengikut golongan Asy‘arîyah, juga condong kepada

Mu‘tazilah. Menurutnya, Allah SWT suci dari pengkhususan dengan arah, dengan

sifat-sifat baharu serta bebas pula dari adanya batasan dan ukuran. Baginya, setiap

yang menempati arah mestilah terbatas; setiap yang terbatas mestilah terdiri dari

jawhar yang dapat berkumpul dan bercerai. Sedangkan Allah adalah Mahasuci

dari keadaan bertempat (al-taĥayyuz) dan lepas dari arah tertentu, dan juga tidak

terdiri dari tubuh (jism) tertentu. Oleh karenanya, ayat 5 surat (Thâhâ) di atas

harus ditakwilkan al-qahr (keperkasaan), al-ghalabah (kekuasaan), atau al-

‘uluww (keluhuran).26

Al-Bâqillânî, sebagaimana disebut oleh al-Syahrastânî, setuju jika ĥâl

digunakan untuk menyebut dan menetapkan sifat Allah seperti pandangan Abû

Hâsyim dari kalangan Mu‘tazilah. Tampaknya ia setuju karena umumnya kaum

25

Mastuki HS (ed.), Kiai Menggugat, h. 13

26

Sjechul Hadi Permono, “Aswaja: Aqidah dan Syari‘ah”, dalam Imam Baehaqi (ed.),

Kontroversi Aswaja, h. 49.

Dalam kasus hukum kausalitas, al-Juwaynî juga cenderung kepada pendapat Mu‘tazilah
bahwa manusia tidak dipaksa dalam berbuat, dalam arti manusia juga mempunyai usaha.
Argumentasinya adalah bahwa setiap orang dapat membedakan antara gerak tangannya karena
terpaksa atau sengaja. Lihat Sjechul Hadi Permono, “Aswaja”, dalam Imam Baehaqi (ed.),
Kontroversi Aswaja, h. 55 dan M. Tolhah Hasan, “Mempertahankan dan Mengembangkan Doktrin
Aswaja dalam Konteks Kehidupan Masa Kini”, dalam Imam Baehaqi (ed.), Kontroversi Aswaja,
h. 134

46

Mu‘tazilah menggunakan pendapat Abû Hâsyim tersebut dalam rangka untuk

menetapkan keesaan dan ke-qadîm-an Allah.27

Selanjutnya al-Bâqillânî mengatakan bahwa sifat terdapat pada dzat. Gerak

dan warna, misalnya, keduanya terdapat pada dzat yang bergerak dan berwarna.

Sifat adalah sesuatu yang tampak pada perbuatan, seperti corak atau bentuk. Ada

yang hitam, putih, panjang, atau pendek. Sifat juga bisa merupakan pekerjaan,

seperti kâtib (penulis), bisa juga berdasarkan agama seperti mukmin atau kafir.

Selain itu, bisa juga berdasarkan kebangsaan, seperti ‘Arabî (yang berkebangsaan

Arab), ‘ajamî (yang berkebangsaan non-Arab), atau Hâsyimî (yang berasal dari

keturunan Hâsyim). Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli bahasa bahwa

sifat adalah sesuatu yang menempel pada nama-nama.28

Tetapi, kecenderungan tokoh-tokoh aliran Asy‘arîyah terhadap pemikiran

Mu‘tazilah ini dianggap oleh Said Aqiel Siradj sebagai usaha adaptasi sunni yang

menurutnya sangat lentur.29

Sedangkan Abû Ĥâmid al-Ghazâlî (1058-1111 M), pengikut al-Asy‘arî

yang terpenting dan terbesar pengaruhnya pada umat Islam, berlainan pendapat

dengan gurunya, al-Juwaynî, dan dengan al-Bâqillânî. Paham teologi yang

diajukannya boleh dikatakan tidak berbeda dengan paham-paham al-Asy‘arî. Al-

Ghazâlî, seperti al-Asy‘arî, tetap mengakui bahwa Allah mempunyai sifat-sifat

27

Ilhamuddin, Pemikiran Kalam al-Bâqillânî, h. 50

28

Ilhamuddin, Pemikiran Kalam al-Bâqillânî, h. 51

29

Said Aqiel Siradj, “Ahlussunnah wal Jamâ‘ah di Awal Abad XXI”, dalam Imam
Baehaqi (ed.), Kontroversi Aswaja, h. 140

47

qadîm yang tidak identik dengan dzat Allah itu sendiri, dan mempunyai wujud di

luar dzat-Nya.30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->