Upacara Kematian Suku Alas Aceh Tenggara – Suku Alas adalah sekelompok etnis yang bermukim di daerah Alas

, Aceh Tenggara. Sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Menurut Kreemer (1922) kata “Alas” berasal dari nama seorang kepala etnis (cucu dari Raja Lambing), ia bermukim di desa paling tua di Tanoh Alas yaitu Desa Batu Mbulan. Sejarah singkat upacara suku alas Aceh Ukhang Alas atau khang Alas atau Kalak Alas telah bermukim di lembah Alas, jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indonesia. Keadaan penduduk lembah Alas tersebut telah diabadikan dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang bangsa Belanda bernama Radermacher (1781). Bila dilihat dari catatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Alas, pada tahun 1325 (Effendy, 1960:26) maka jelas penduduk ini sudah ada walaupun masih bersifat nomaden dengan menganut kepercayaan animisme. Sisa-sisa kepercayaan animisme pada masyarakat adat, biasanya nampak dalam ritual atau upacara yang digelar. Dalam tulisan ini, kita akan mengetahui, apakah kepanatikan masyarakat suku Alas terhadap Islam, yang telah membuat mereka meninggalkan ke-Batak-an mereka, telah berlaku sama terhadap sisa-sisa keanimismeannya dalam upacara kematian? Tahapan upacara kematian suku alas Upacara kematian dalam masyarakat suku Alas dibagi menjadi beberpa tahapan; masa mayat di Rumah adalah masa pelayatan, seleuruh kerabat diundang terutama sekali kerabat yang paling dekat yakni dua angkatan ke atas dan dua angkatan ke bawah ego (orang yang meninggal). Sebelum di bawa ke sungai, sebelum abad ke 20, warga Alas masih menggelar Seni ngeratap, menangisi mayat dan mengenang segala kebaikannya. Seni ngeratap ini merupakan kebudayaan Karo (juga masyarakat Batak lainnya) yang hari ini dilarang karena dianggap Syirik. Proses Memandikan Mayat masyarakat Alas dilakukan di sungai, dengan kedalaman kira-kira 30 cm dan waktu mayat dipangku dapat mengenai air. Selanjutnya imam akan mengosoki mayat dengan air badar. Setelah semua dianggap bersih, barulah imam menyiram mayat dengan air sembilan. Fungsi air ini adalah sebagai air pembersih terakhir. Setelah selesai dimandikan, sebelum mayat diusung ke luar rumah anak-keluarga mengadakan mengkiran (menusuki) mayat melalui bawah usungan, agar mayat jangan teringat kepada anak dan keluarganya di dalam kubur nanti. Kemudian mayat disalati. Mayat kemudian dibawa ke tempat penguburan dengan diusung dalam peraran. Selanjutnya adalah proses Penguburan Mayat. Masa Takziah, upacara ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut, yakni malam pertama hingga malam ketiga setelah upacara penguburan. Berikutnya adalah Masa Hari Ketujuh, upacara hari ketujuh dilaksanakan agak lebih besar dari upacara sebelumnya. Bagi mereka yang mampu biasanya dilakukan pemtongan kerbau atau sapi. Keluarga duka menyiapkan sirih undangan yang disebut pemanggo 7. Apabila kaum kerabat mendapat sirih pemanggo, ia sibuk mempersiapkan bahan bawaan untuk dipersembahkan kepada keluarga orang yang meningggal itu. Bahan bawaan berupa: limon satu lusin, kerotuum (nasi bungkus yang dibungkus dengan daun pisang yang bentuknya bulat panjang), lauk pauk satu susun (rantang), kelapa ala kadarnya, telur bebek, beras ala kadarnya, dan uang.

dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Suku Alas dalam upacara kematian benar-benar seperti meninggalkan Ke-Batak-annya dengan dihapuskannya seni ngeratap. Bentuk lembu atau vihara dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Upacara dimulai dengan penyiraman kuburan dengan air yang telah disediakan. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah. Batu ditanam kira-kira setengah bagian dengan posisi batu yang tertutup kain berada di atas. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Penyiraman ini dilaksanakan oleh imam sebanyak tiga kali dari atas kuburan ( kepala ) sampai bawah (kaki) sambil membaca doa.Pada pagi hari setelah malam ke tujuh. Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur. Kemudian acara dilanjutkan dengan kenduri makan bersama. juga adanya undangan sirih pemanggo 7 demi menjaga keutuhan kekerabatan suku Alas. Pelaksanaan upacara malam ke empat puluh hari tidak berbeda dengan upacara malam ke tujuh. Kemudian batu yang bagian atasnya telah dibungkus dengan kain putih dan disediakan dalam sebuah talam (tapesi) diambil oleh tengku imam serta ditanam di atas kuburan pada bagian kepala. upacara penanaman batu digelar dengan dipimpin oleh seorang imam. Pada hari ini. Masih terdapat sisa keyakinan animisme dengan adanya mengkiran. Indonesia. kita menemukan kesamaan dengan proses upacara kematian masyarakat Islam di jawa. Puncak acara Ngaben adalah pembakaran keluruhan struktur (Lembu atau vihara yang terbuat dari kayu dan kertas). dan Takziah atau Tahlilan. yakni dengan pembacaan samadiah yang dipimpin oleh imam dan diakhiri dengan pembacaan doa. berserta dengan jenasah. tubuh jenasah diletakkan di dalam peti-mati. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang. Kekhasan Suku Alas terdapat pada sistem kekerabatan yang sangat erat dengan sifat wajib datangnya kerabat yang paling dekat yakni dua angkatan ke atas dan dua angkatan ke bawah ego. Jika kita lihat dari rangkaian upacara kematian suku Alas. Waktu pelaksanaan ritual ngaben . karena jenasah secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasa atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi). Tidak ada airmata. waktu upacara adat ngaben Hari yang sesuai untuk acara ini selalu didiskusikan dengan orang yang paham. Maka tidak sepenuhnya ala Arab. Api dibutuhkan untuk membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi. namun ada pula warga kampung yang menghadirinya. Seusai makan bersama berarti usai pula seluruh rangkaian upacara kematian pada masyarakat Alas. Upacara Adat Ngaben di Bali – Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah atau kremasi umat Hindu di Bali. Peti-mati ini diletakkan di dalam sarcophagus yang menyerupai Lembu atau dalam Wadah berbentuk vihara yang terbuat dari kayu dan kertas. Para peserta biasanya adalah kaum kerabat.

Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segaera. karena upacara Ngaben merupakan perujudan dari rasa hormat dan sayang dari orang yang ditinggalkan. keluarga yang ditinggalkan dapat membebaskan roh/arwah dari perbuatan perbuatan yang pernah dilakukan dunia dan menghantarkannya menuju surga abadi dan kembali berenkarnasi lagi dalam wujud yang berbeda. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah. sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. mayat di masukan/diletakan diatas/didalam “Replica berbentuk Lembu“ yang sudah disiapkan dengan terlebih dahulu pendeta atau seorang dari kasta Brahmana membacakan mantra dan doa. Jadi upacara Ngaben sendiri adalah proses penyucian roh dengan cara dibakar menggunakan api agar bisa dapat kembali ke sang pencipta. Upacara Ngaben biasa nya dilalukan secara besar besaran. yang ditinggalkan hanya jasad kasarnya saja. . Sisa abu dari pembakaran mayat tersebut dimasukan kedalam buah kelapa gading lalu kemudian di larungkan/dihayutkan ke laut atau sungai yang dianggap suci. Arti dari kata ngaben Kata Ngaben sendiri mempunyai pengertian bekal atau abu yang semua tujuannya mengarah tentang adanya pelepasan terakhir kehidupan manusia. Upacara Ngaben ini dianggap sangat penting bagi umat Hindu di Bali. dan semua ini digerakan oleh nyawa/roh yang diberikan Sang Pencipta. Pelaksanaan upacara ngaben Setelah sampai dilokasi kuburan atau tempat pembakaran yang sudah disiapkan. Di saat itu upacara Ngaben ini terjadi sebagai proses penyucian roh saat meninggalkan badan kasar. kemudian “Lembu” dibakar sampai menjadi abu. api penjelmaan dari Dewa Brahma bisa membakar semua kekotoran yang melekat pada jasad dan roh orang yang telah meningggal. dikremasikan. Saat manusia meninggal. sedangkan roh masih ada dan terus kekal sampai akhir jaman. Untuk anggota kasta yang tinggi. Dengan Ngaben. biasanya dalam acara kelompok untuk suatu kampung. lalu upacara Ngaben dilaksanakan. upacara ini dilakukan untuk menyucian roh leluhur orang sudah wafat menuju ketempat peristirahatan terakhir dengan cara melakukan pembakaran jenazah. Dalam ajaran Hindu Dewa Brahma mempunyai beberapa ujud selain sebagai Dewa Pencipta Dewa Brahma dipercaya juga mempunyai ujud sebagai Dewa Api. terdiri dari berbagai rupa sesajen dengan tidak lupa dibubuhi simbol-simbol layaknya ritual lain yang sering dilakukan umat Hindu di Bali. Dalam diri manusia mempunyai beberapa unsur. jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian. Rangkaian upacara ngaben Ngaben dilakukan dengan beberapa rangkaian upacara. Tujuan diadakanya upacara ritual ngaben Ngaben adalah suatu upacara pembakaran mayat yang dilakukan umat Hindu di Bali. juga menyangkut status sosial dari keluarga dan orang yang meninggal. tenaga yang banyak dan juga biaya yang tidak sedikit dan bisa mengakibatkan Ngaben sering dilakukan dalam waktu yang lama setelah kematian. ini semua memerlukan waktu yang lama.

dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang. seperti Aloha di Hawaii. Upacara ini selalu dilakukan secara besar besaran. Tari Topeng Indonesia – Tari Topeng adalah tarian yang penarinya mengenakan topeng. tidak semua umat Hindu di Bali dapat melaksanakannya karena memerlukan biaya yang mahal. upacara ini adalah ungkapan rasa hormat yang ditujukan kepada orang yang sudah meninggal. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka. dan lebih dinamis dari tari Rejang. Tari Topeng Indonesia. Lambat laun. seiring perkembangan zaman. Secara luas digunakan dalam Tari Topeng Indonesia yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur. yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. siapapun bisa menarikan tari Pendet.Dan tari pendet disepakati lahir pada tahun 1950. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih.upacara ngaben upacara yang sakral Dari pemamaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Ngaben adalah upacara pembakaran mayat di Bali yang saat disakralkan dan diagungkan. Sejarah tari Pendet Bali (Sakral) Biasanya Sejarah tari Pendet Bali dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri. Tidak memerlukan pelatihan intensif. topeng masih menghiasi berbagai kegiatan seni dan adat seharihari. . Cerita klasik Ramayana dan cerita Panji yang berkembang sejak ratusan tahun lalu menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa. Topeng telah ada di Indonesia sejak zaman pra-sejarah. Sejarah tari Pendet Bali – Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali.pada tahun 1970-an yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. dengan memakai pakaian upacara. kaum wanita dan gadis desa. baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam. kendi. masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci). Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Diyakini bahwa topeng berkaitan erat dengan roh-roh leluhur yang dianggap sebagai interpretasi dewa-dewa. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental. dan yang lainnya. pemangkus pria dan wanita. yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada. para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”. I Nyoman Kaler. cawan. Pada awalnya Sejarah tari Pendet Bali ini merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura. Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Pada beberapa suku. Topeng-topeng di Jawa dibuat untuk pementasan sendratari yang menceritakan kisah-kisah klasik tersebut.

Desa Pasir Eurih. Semasa hidupnya ia aktif mengajarkan beragam tari Bali. menegaskan bahwa menarikan tari Pendet sudah sejak lama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu Bali.Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat dan mancanegara. Cisolok. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Tarian ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu atau memulai suatu pertunjukkan (1999: 47). Menurut anak bungsunya. merupakan penari yang dikenal luas sebagai penekun seni tari dengan kemampuan menggubah tari dan melestarikan seni tari Bali melalui pembelajaran pada generasi penerusnya. Kecamatan Cigugur. sejarah tari gareng lameng – Indonesia mempunyai lebih dari 700 suku bangsa yang mana masingmasing suku mempunyai tarian khas atau sering dikenal dengan tari tradisional. Kabupaten Kuningan. I Wayan Rindi memodifikasi Tari Pendet sakral menjadi Tari Pendet penyambutan yang kini diklaim Malaysia sebagai bagian dari budayanya. Desa Ciptagelar. Upacara adat seren taun kuningan – Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Tari Gareng Lameng. Keluarga I Wayan Rindi sangat menyesalkan hal ini. Upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris ini diramaikan ribuan masyarakat sekitarnya. Namun bukan tidak mungkin peninggalan leluhur seperti tarian daerah lama-lama akan dilupakan oleh generasi selanjutnya. dipertunjukkan pada upacara khitanan. Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri. tari gareng lameng tarian sakral Tarian gareng lameng ini bisa saja di sebut tari sakral karena tarian ini ti tarikan pada acara-acara tertentu. I Ketut Sutapa. Kasepuhan Banten Kidul. Kabupaten Sukabumi Desa adat Sindang Barang. Wayan Dibia. Kabupaten Bogor Desa Kanekes. Tari ini berupa ucapan selamat serta mohon berkat kepada Tuhan agar yang dikhitan sehat lahir batin dan sukses dalam hidupnya. masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pencipta atau koreografer bentuk modern Sejarah tari Pendet Bali ini adalah I Wayan Rindi (?-1967). Beberapa desa adat Sunda yang menggelar Seren Taun tiap tahunnya adalah: Desa Cigugur. Kecamatan Taman Sari. Semasa hidupnya I Wayan Rindi tak pernah berpikir untuk mendaftarkan temuannya agar tak ditiru negara lain. termasuk tari Pendet kepada keturunan keluarganya maupun di luar lingkungan keluarganya. Banten Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya . Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang. Jawa Barat. Kabupaten Lebak. Jumlah tarian tradisional di Indonesia menurut data wikipedia dikatakan lebih dari 3000 tarian adat.

Kuta Batu. serta dipengaruhi ajaran Hindu. upacara seren taun yang diselenggarakan tiap tanggal 22 Rayagung-bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda. dipusatkan di pendopo Paseban Tri . dewi padi dan kesuburan. Pasir Eurih. atau menyerahkan. Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat peladang Sunda. Upacara ini disebut upacara Seren Taun Guru Bumi sebagai upaya membangkitkan jati diri budaya masyarakat Sunda. Sistem kepercayaan masyarakat Sunda kuno dipengaruhi warisan kebudayaan masyarakat asli Nusantara. Namun akhirnya berhenti benar pada 1970-an. Leuit pangiring menjadi tempat menyimpan padi yang tidak tertampung di leuit indung. seren taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada tahun ini. Upacara besar yang bersifat delapan tahunan sekali atau sewindu disebut upacara Seren Taun Tutug Galur atau lazim disebut upacara Kuwera Bakti yang dilaksanakan khusus di Pakuan. Padi di kedua leuit itu untuk dijadikan bibit atau benih pada musim tanam yang akan datang. Kuningan. dan taun yang berarti tahun. Setelah kegiatan ini berhenti selama 36 tahun. leuit ratna inten. kekuatan alam ini diwujudkan sebagai Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Jadi Seren Tahun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. Kecamatan Taman Sari. sebagaimana biasa. Masyarakat agraris Sunda kuno memuliakan kekuatan alam yang memberikan kesuburan tanaman dan ternak.Istilah laing Seren Taun berasal dari kata dalam Bahasa Sunda seren yang artinya serah. dewa kemakmuran. upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung atau dalam bahasa Sunda disebut leuit. Leuit indung digunakan sebagai sebagai tempat menyimpan padi ibu yang ditutupi kain putih dan pare bapak yang ditutupi kain hitam. seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang. dan Cipakancilan. yaitu lumbung utama yang bisa disebut leuit sijimat. Kegiatan Seren Taun sudah berlangsung pada masa Pajajaran dan berhenti ketika Pajajaran runtuh. Di Cigugur. Ada dua leuit. yaitu animisme-dinamisme pemujaan arwah karuhun (nenek moyang) dan kekuatan alam. Empat windu kemudian upacara itu hidup lagi di Sindang Barang. Lebih spesifik lagi. perayaan Seren Taun sudah turun-temurun dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba seperti kerajaan Pajajaran. Keduanya diwujudkan dalam Pare Abah (Padi Ayah) dan Pare Ambu (Padi Ibu). Kabupaten Bogor. Upacaraupacara di Kerajaan Pajajaran ada yang bersifat tahunan dan delapan tahunan. seserahan. Upacara yang bersifat tahunan disebut Seren Taun Guru Bumi yang dilaksanakan di Pakuan Pajajaran dan di tiap wilayah. serta leuit pangiring atau leuit leutik (lumbung kecil). melambangkan persatuan laki-laki dan perempuan sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan keluarga. Seren Taun dihidupkan kembali sejak tahun 2006 di Desa Adat Sindang Barang. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Sejarah Seren Taun kuningan Menurut catatan sejarah dan tradisi lokal. atau leuit indung (lumbung utama). dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno. Pasangannya adalah Kuwera.

di beberapa desa adat Sunda seperti Sindang Barang. Malamnya diisi dengan pertunjukan wayang golek. Biasanya air yang diambil berasal dari tujuh mata air yang kemudian disatukan dalam satu wadah dan didoakan dan dianggap bertuah dan membawa berkah. Selanjutnya. lalu diteruskan dengan tiga pergelaran kolosal. yang didirikan tahun 1840. angklung baduy. warga yang hadir berebut mengambil kue di dongdang (pikulan) atau tampah yang dipercaya kue itu memberi berkah yang berlimpah bagi yang mendapatkannya. Sebagaimana layaknya sesembahan musim panen. ornamen gabah serta hasil bumi mendominasi rangkaian acara. dilaksanakan kegiatan akhir dari Ngajayak. dan angklung buncis-dimainkan berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang hidup di Cigugur. yaitu penyerahan padi hasil panen dari para tokoh kepada masyarakat untuk kemudian ditumbuk bersama-sama. Setiap hari dipertunjukkan pencak silat. Pemimpin adat kemudian memberikan indung pare (induk padi/bibit padi) yang sudah diberkati dan dianggap bertuah kepada para pemimpin desa untuk ditanan pada musim tanam berikutnya. dimulai dengan pembukaan pameran Dokumentasi Seni dan Komoditi Adat Jabar.00. diawali prosesi ngajayak (menyambut atau menjemput padi). yakni tari buyung. Puluhan orang lainnya berebut gabah dari saung bertajuk Pwah Aci Sanghyang Asri (Pohaci Sanghyang Asri). akan tetapi intinya adalah prosesi penyerahan padi hasil panen dari masyarakat kepada ketua adat. melainkan juga tuntutan tentang bagaimana manusia senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Rangkaian acara bermakna syukur kepada Tuhan itu dikukuhkan pula melalui pembacaan doa yang disampaikan secara bergantian oleh tokoh-tokoh agama yang ada di Indonesia. kediaman Pangeran Djatikusumah. dan Cigugur.Panca Tunggal. Upacara ini juga dimaksudkan agar Tuhan memberikan perlindungan di musim tanam mendatang. Kemudian ritual penyembelihan kerbau yang dagingnya kemudian dibagikan kepada warga yang tidak mampu dan makan tumpeng bersama. tokoh masyarakat. ritual Seren Taun tetap digelar dengan doa-doa Islam. Ritual berikutnya adalah sedekah kue. Puncak acara seren taun biasanya dibuka sejak pukul 08. Ritual seren taun itu sendiri mulai berlangsung sejak tangal 18 Rayagung. maupun rohaniwan yang terlebih dahulu dipersilakan menumbuk padi. seperti masyarakat Kanekes. . Upacara seren taun bukan sekadar tontonan. Ribuan orang yang hadir pun akhirnya terlibat dalam kegiatan ini. Ritual Upacara Seren Taun Rangkaian ritual upacara Seren Taun berbeda-beda dan beraneka ragam dari satu desa ke desa lainnya. mengikuti jejak para pemimpin. Di beberapa desa adat upacara biasanya diawali dengan mengambil air suci dari beberapa sumber air yang dikeramatkan. Kasepuhan Banten Kidul. terlebih di kala menghadapi panen. Masyarakat pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan tetap menjalankan upacara ini. Kini setelah kebanyakan masyarakat Sunda memeluk agama Islam. Dalam upacara Seren Taun dilakukan berbagai keramaian dan pertunjukan kesenian adat. Air ini dicipratkan kepada setiap orang yang hadir di upacara untuk membawa berkah. Padi ini kemudian akan dimasukkan ke dalam leuit (lumbung) utama dan lumbunglumbung pendamping.

dan suling kumbang dari Baduy. . kesenian dari Dayak Krimun. tarawelet.nyiblung (musik air). suling rando. Indramayu. karinding.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful