Persahabatan Dapat Merubah Segalanya

Marcel, Leo, Marsya, Clarissa, Monica, Helen, adalah 6 siswa yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda. Mereka dipersatukan di sekolah yang sama. Banyak orang berfikiran jika mereka disatukan, maka tidak dapat kompak satu sama yang lainnya. Tapi disini, semua berbeda.. Marcel, si pintar yang selalu bersikap sinis. Leo, anak yang jarang berfikir sebelum bertindak. Marsha, orang yang tidak pernah mau meminta atau menerima bantuan orang lain. Clarissa, orang yang tidak pernah mau pusing memikirkan orang lain. Monica, orang yang tidak pernah peduli dengan pendapat orang lain. Dan Helen, cewek pemalu yang tidak pernah bisa menolak permintaan orang lain. Kini mereka harus menjalankan tugas dari Mr. Ray yang mengharuskan mereka berada di suatu kelompok. Tugas yang diberikan adalah mengurus mading yang ada di sekolah mereka.. Apakah mereka akan menjadi kompak satu sama lain? Atau justru kebaliakannya? Berikut ini adalah kisah selanjutnya…. Pak Ray : “Leo, sudah berapa kali bapak bilang pada kamu. Berpikirlah sebelum kamu melakukan sesuatu. Pikirkan apa resiko yang akan kamu dapatkan nantinya.” Leo : “Iya pak saya tahu. Tapi saya tidak terima kalau ada orang yang mengejek saya.” Pak Ray : “Tapi tidak dengan kekerasan. Apa kamu pikir dengan memukul orang tersebut akan menyelesaikan masalah?” Leo : “Tidak pak.” Pak Ray : “Yasudah, sebagai hukumannya saya mau kamu masuk untuk mengurus mading sekolah.” Leo : “Bersama siapa pak?”

Sepulang sekolah…

(tok.. tok.. tok.. terdengar suara ketukan pintu)

Pak Ray : “Silahkan masuk.” Marsha : “Permisi, bapak memanggil saya dan yang lain?” (sambil menoleh ke arah temantemannya) Pak Ray : “iya.” Monisa : “Ada apa ya pak?” Clarissa : “Apa kita ngelakuin kesalahan.” Helen : “Atau ada sesuatu yang penting pak?” Marcel : “Yang pasti bukan karna kita bermasalah. Seperti dia.” (sambil memegang helmnya, dia

menunjuk ke arah Leo)

Leo : “Maksud kamu apa?” Pak Ray : “Sudah sudah. Saya memanggil kalian semua karna saya ingin meminta kalian untuk mengurus mading sekolah kita.” Marsha : “Kenapa mesti kita pak?” Pak Ray : “Seperti yang kalian ketahui, mading sekolah kita sekarang sudah tidak begitu aktif lagi, semenjak kakak-kakak kelas kalian yang dulu mengurus mading fokus untuk menghadapi ujian.” Marcel : “Lalu?” Clarissa : “Urusannya sama kami apa pak?” Monica : “Jangan bilang kita akan jadi satu kelompok untuk mengurus mading sekolah.”

Pak Ray : “Kamu benar Monic. ini gak adil. terima kasih anak-anak atas pengertian kalian.” Marsha : “Benar pak. Pak Ray hanya ingin kita membuat inovasi baru untuk mading sekolah kita. satu persatu dari mereka datang ke perpustakaan) Leo : “Kamu lagi apa Helen?” Helen : “Hah? Gak kok.” Monica : “Saya juga deh pak.” Leo : “Kenapa semua pada nyalahin aku sih. sekarang hanya ada Helen yang masih aktif mengurus mading sekolah. tolong bantu saya dan Helen mengurus mading sekolah.” (Bel pulang berbunyi.” Clarissa : “Iya pak.” Helen : “Makasih yaa teman-teman.” Leo : “Masa sih? Tadi aku lihat kamu lagi buat apa gitu?” Helen : “Kamu mau tau aja sih” Leo : “Emang gak boleh ya?” Helen : “Hmm… boleh kok. Bagaimana dengan kamu Leo. mungkin kalian tidak bisa menerima keputusan saya. kita kan tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Leo. Beliau bilang kita harus mengadakan rapat untuk membahas tema apa untuk mading sekolah kita minggu ini.” Marsha : “Baik pak. Gimana Cel? Kamu bisa?” Marcel : “Bisa.” Marcel : “Tapi ini sama saja kita membantu Leo menjalani hukumannya.” Monic : “Iya aku bisa kok.” Leo : “Kalau saya tidak mau bagaimana pak?” Pak Ray : “Kamu tidak bisa menolak Leo.” Pak Ray : “Baik. Jadi saya minta kepada kalian untuk bekerja sama membangkitkan kembali mading sekolah.” Leo : “Yaa saya bisa apa pak? Memangnya saya bisa nolak? Jadi saya setuju aja.” Marcel : “Yasudahlah.” Monica : “Tapi ini semua berawal dari masalah Leo.” Helen : “Iya gak apa-apa kok. Semoga kita bisa bekerja sama. saya setuju pak.” Leo: “Ohya? Cuma aku? Berarti aku special buat kamu. Cuma kamu yang aku kasih tau. tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya. aku juga gak mau kaya gini.” Helen : “Apaansih? Kepedean banget” .” Helen : “Bukan itu maksud Pak Ray teman-teman.” Pak Ray : “Sebelumnya bapak minta maaf.” Marsha : “Oke. gak lagi ngapa-ngapain. kamu sedang dalam masa hukuman. Aku gak tau apa-apa soal ini. tapi mungkin gak bisa terlalu lama. tapi maaf mungkin aku datang telat.” (Mendengan pernyataan Leo semua tertawa) *Keesokan harinya. Tapi untuk kali ini saya mohon pada kalian.” Clarissa : “Saya ikut yang lain. Leo yang berbuat kesalahan tapi kita yang kena. emang menurut kalian tema yang bagus apa?” Helen : “Nanti kita omongin. di dalam kelas* Helen : “Teman-teman tadi Pak Ray nitipin pesan sama aku.” Clarissa : “Okedeh. karna yang lain setuju saya juga setuju.” Leo : “Okesip. saya mau membantu mengurus mading sekolah.

mulai aja rapatnya. gimana kalau kita ngebahas tentang ibu.” Marsha : “Ada yang udah punya karya buat ditampilin?” Monica : “Aku belum ada.” Leo : “Helen.” Helen : “Hah. hm. Mau nolak pun juga percuma. kalian lagi apa?” Leo : “Paan sih.” Helen : “Ada sih. ayo mulai rapat.” (Helen membacakan karya puisinya) Ketika wanita menangis.. untuk edisi mading minggu ini menurut kalian tema apa yang bagus untuk kita bahas?” Marcel : “Menurut aku.” (nengok kanan-kiri) Clarissa : “Tapi apaan lagi sih? Udah cepet. kita itu nungguin kamu.” Helen : “Yaudah rapat kita mulai. temanya cocok banget. nggak kok nggak” (panik) Clarissa : “Ehem… Ehem…” Monica : “Hayo. tapi menurut aku puisi bagus buat ditampilin.” Helen : “Yaudah kita mulai aja yaa.. Namanya apa coba kalo bukan special.” Marcel : “Aku yakin pasti ada. Melainkan karena pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya... wanita atau apapun yang masih berhubungan dengan hari ibu.” Marcel : “Yaudah kita semua setuju untuk edisi mading seklah minggu ini kita ngebahas tema tentang ibu atau wanita. Jadi aku nurut aja sama kalian.Leo : “Aku gak kepedean. Gini teman-teman. Udahlah mulai aja. supaya bisa cepet dimulai. karena minggu ini ada hari ibu. nunggu apalagi sih?” Monica : “Pasti nungguin Marsha.. lagian dia kan tadi udah bilang mau datang telat. Melainkan justru dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya.” Monica : “Yaa. Tapi. bukannya kamu jago nulis puisi. Helen : “Oke. .. kita pake tema itu.” Monica : “Yaudahlah mending kamu duduk.” Clarissa : “Aku juga. Itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya. Apaan?” Marcel : “Udah. tapi gak bagus-bagus banget. Gimana menurut kamu Leo?” Leo : “Aku gak bisa apa-apa. Buktinya Cuma aku yang kamu kasih tau.” Clarissa : “Aku juga.” Marsha : “Maaf. Ketika wanita menangis. Tapi temanya emang bagus kok. udah mulai dari tadi yaa?” Clarissa : “Belum sama sekali malah.” Marsha : “Coba kamu baca deh puisinya.” (Tiba-tiba Marsha datang) Marsha : “Maaf teman-teman aku telat.” Leo : “Iya udah. Itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya.” Marsha : “Aku setuju.. Gak ada apa satu puisi yang pas buat tema ini.” Marcel : “Eh. Yaudah deh. aku ikut aja. Ketika wanita menangis.

Leo menempel puisi karya Helen di mading sekolah. HP Marsya Berbunyi) Marsha : “Iya halo.” Leo : “Aku yang nempel yaa.. Kemudian ia menangis) Leo : “Kapu kenapa sha?” Clarissa : “Apa yang terjadi??” Monica : “Siapa yang menelfon sha?” Helen : “Iya. rapatnya udah selesai kan? Aku buru-buru nih. Dia tidak sadarkan diri.” Leo : “Baik pak” (semua anak mengangguk dan mengikuti Pak Ray) Marsha : “Ada apa pak?” Pak Ray : “Begini..” Yang lainnya : “Iya.” (beberapa menit setelah Marcel pergi.” Marcel : “Jadi kita semua setuju.Hasilnya sangat memuaskan. aku setuju banget. Melainkan karena dia sudah tidak sanggup berpura-pura kuat.” Clarissa : “Ia benar cel..” Helen : “Kalian terlalu berlebihan. makasih buat hari ini. kemaren bapak dengar Marcel kecelakaan sha? Dan Helen juga pingsan?” .. Marcel kecelakaan. semuanya boleh pulang. ini semua kan juga berkat bapak yang sudah menyatukan kami.” (memegang kepala) Leo : “Kamu ngak apa-apa len?” Helen : ….Itu bukan karena ia ingin terlihat lemah. Monica : “Menurut aku bagus.” Clarissa : “Ayo.” Marsha : “Oke.” (berlari meninggalkan kelas) Helen : “Marsha tunggu! Duh.” Clarissa : “Yaa emang Cuma itu yang kamu bisa. puisi Helen yang akan kita pajang di mading.” Clarissa : “Terima kasih pak. Ada apa sih??” Marsha : “Mar… Marcel.” Marsha : “Ini beneran bagus. Duluan ya. Sampai ketemu besok yaa. itu gak sebagus apa yang kalian bilang.” Marcel : “Cukup bagus kok buat dipajang di mading.. (pingsan) Leo : “Helen!” Monica : “Ayo bawa dia ke uks. mengenai mading sekolah edisi minggu ini. bapak sangat bangga pada kalian semua Ternya kalian bisa bekerjasama dengan baik sekali.” Marcel : “Yaudah.. Ini dari siapa ya? Apa???” (hp marsha terjatuh karena sangat shock.” Monica : “Saya baru sadar ternya kerja sama itu gak seburuk yang saya kira. Dan mendapatkan tanggapan positif dari seluruh siswa) Pak Ray : “Anak-anak tolong ikut saya ke kelas ya.” *Keesokan harinya* (sebelum bel mausk berbunyi..” Pak Ray : “Iya sama-sama..” Helen : “Yaudahlah terserah kalian aja. Oiya. banget malah.

Terima kasih atas kerja sama kamu.” Leo : “Hah? Kenapa?” (tiba-tiba marcel masuk) Marcel : “Pagi. tidak ada apa-apa kok. Saya sudah memutuskan untuk keluar sebagai pengurus Mading sekolah ini. Lho kenapa semuanya terlihat shock?” Marsha : “Syukurlah kamu udah bisa masuk sekolah lagi. Ini murni keinginan saya.” Leo : “Tapi aku menganggap kamu dan yang lain itu sahabat aku. saya dan yang lain tidak bisa memaksa. Ketika saya sampai hanya kepalanya yang terbentur sehingga ia pingsan. kita gak bisa maksa. Tapi kenapa harus mendadak gini??” Clarissa : “Ada apa memangnya? Kita berbuat salah sama kamu?” Monica : “Atau ada kelakuan atau perkataan kita yang menyinggung kamu?” Marcel : “Yaudah.” Pak Ray : “Iya benar. itu sudah keputusan kamu. Kalau Helen.” Leo : “Hah? Emang kamu sakit apa?” Helen : “ Tumor otak. aku dan yang lain gak mau kehilangan kamu.” Leo : “Maksud kamu apa? Aku semakin gak ngerti. Aku gak mau rasa sayang kalian ke aku terlalu dalam.Aku akan tetap keluar dari mading sekolah. aku gak mau kalian ngerasa kehilangan saat aku pergi nanti. Tapi tolong jangan keluar dari mading sekolah.” Marcel : “Sama-sama pak. kemarin saya langsung ke rumah sakit. Kamu berarti banget buat kita.” Leo : “Lalu kenapa kamu mengundurkan diri tiba-tiba?” Helen : “Kamu gak perlu tau.” (pergi meninggalkan Leo yang masih berdiri terpaku) (yang lainnya berjalan meningggalkan Leo dan Helen) . Itu urusan ku.” Leo : “Itu urusan ku juga. Saya ngak tahu pak. Dia mau keluar dari pengurus mading.” Clarissa : “Yaudahlah.” Marcel : “Iya.” Monica : “Maaf kalau kita ada salah.” Helen : “Justru itu.Yang nantinya akan bikin kalian gak bisa nerima kepergian aku.” Helen : “Sejak kapan kamu jadi sahabat aku? Aku gak pernah minta kamu untuk jadi sahabat aku.” Pak Ray : “Baiklah..Marsha : “Iya pak. Hari ini dia sudah bisa masuk sekolah... Mungkin sebentar lagi dia datang.” Pak Ray : “Kamu tidak apa-apa Helen?” Helen : “Tidak pak. Kemarin saya hanya sedikit kecapekan. kita minta maaf kalau kita ada salah. Helen.” Leo : “Helen kemarin memang pingsan.Kepergian?Maksudnya?Kamu mau mati?” Helen : “Iya. ada apa dengan kamu? Apa yang terjadi?” Helen : “Maaf pak. kamu bener. kamu sahabat aku.” Leo : “Tapi pak. Dan luka-luka ringan.” Leo : “Sebenernya apa masalahnya?” Helen: “Gak ada masalah apa-apa. Oiya pak.” Marcel : “Makasih untuk selama ini. Maaf juga teman-teman.” Marsha : “Sudah Leo.

Helen sendiri yang bilang sama aku kalau dia sakit tumor otak.” Clarissa : “Itu bohong kan pak? Pak Ray : “Itu benar.” Pak Ray : “Yaudah.. Tapi dia menolak.” (sambil menggaruk kepalanya) Clarissa : “Jadi bapak meminta kita berkelompok untuk mengurus mading sekolah.” Anak-anak : “Iya pak” (secara serempak) .Leo : “Dia sakit tumor otak.sudah sejak 2 tahun yang lalu.” Marcel : “Jangan bercanda dong.” Monica : “Masih gak ngerti pak. Malah bercanda. dia gak mau kita ngerasa kehilangan kalo nanti dia pergi.” Leo : “Tuh kan bener. demi ayahnya. aku serius. besok kita ngomong sama dia.” Monica : “Maksud bapak?” Marcel : “Jangan bilang Helen beneran sakit tumor otak?” Pak Ray : “Helen memang menderita tumor otak.” Marcel : “Dan supaya Helen mau dioperasi?” Marsha : “Tapi kenapa sekarang Helen malah ngejauh dari kita pak?” Leo : “Tadi dia bilang. Leo gak bohong..” Pak Ray : “Bapak juga tidak tahu.” Monica: “Hush. Ngasal banget sih ngomongnya.” Marsha: “Tapi kan masih ada ayahnya pak.” Clarissa : “Kenapa? Kok kamu ngomong sendiri?” Marsha : “Siapa yag sakit tumor otak?” Marcel : “Terus siapa yang mau mati?” Leo : “Helen. lebih baik kalian pulang sekarang.” Monica : “Jadi kita sekarang harus ngelakuin apa?” Clarissa : “Kita bujuk Helen supaya dia mau tetep hidup demi kita.” Marcel : “Memangnya kenapa pak?” Pak Ray : “Helen merasa sudah tidak ada alasan untuk dia bertahan hidup semenjak ibunya meninggal. Aneh. dia ngada-ngada. Dia bilang ke kita semua kalau Helen sakit tumor otak.” Leo : “Aku gak bercanda.” Leo : “Sama. Ayahnya sudah memaksanya untuk melakukan operasi.” Leo : “Masa dia gak mau bertahan hidup demi ayahnya sih.” (Pak Ray datang tiba-tiba) Pak Ray : “Kalian sedang membicarakan apa anak-anak?” Marsha : “Leo pak. Ini adalah salah satu alasan kenapa bapak meminta kalian berkelompok untuk mengurus mading sekolah.” Clarissa: “Tau nih. supaya Helen bisa jadiin kita alasan untuk hidup.” Pak Ray : “Kau benar Leo.” Marsha : “Oke.” Marsha : “Kenapa dia nolak pak?” Leo : “Udah bosen hidup kali pak. Gak lucu tau. tapi sikap nya seperti gak lagi sakit apa-apa. lagi serius juga. Gak takut mati apa. dan demi semua orang yang sayang sama dia.

” Leo : “Yaiyalah.” Helen : “Kalian gak ngerti.” Helen : “Iya pak. Leo.” Marsha : “Kemu gak akan nyesel kok jadiin kita alasan kamu untuk hidup.. Pak Ray datang dan mendekat ke anak-anak) SELESAI .” Marsha : “Oke.” Marcel : “Kenapa sih len kamu gak mau berbagi rasa sakit kamu ke kita?” Marsha : “Kita itu sahabat kamu dan kamu sahabat kita len. Aku seneng banget bisa kenal sama kalian dan bisa jadi sahabat kalian. kalau kamu ngakmau juga.” Monica : “Kita mohon len. demi semua orang yang sayang sama kamu. kamu gak akan pernah bisa ketemu sama cowok sekece aku disana. supaya kamu mau operasi. Tapi yakin bahwa bertahan demi orang yang kita sayang dan menyayangi kita itu jauh lebih baik daripada menyerah dengan keadaan.” Leo : “Makasih ya len. Kita gak mau kehilangan sahabat kaya kamu... (tiba-tiba. kalo kamu gak mau operasi dan nanti kamu meninggal. saya baru sadar. kita semua sayang sama kamu. banyak orang yang sayang sama kamu. pengen banget dibilang kece.” Marsha : “Capek deh. demi kita.” Helen: “Kenapa?” Clarissa : “Tentang penyakit kamu. saya mau. Aku ngelakuin ini karna aku gak mau ngeliat kalian sakit.” Helen : “Seharusnya aku yang berterima kasih sama kalian. Kita bakalan nyanyiin lagu buat kamu.*Keesokan harinya* Marsha : “Helen.” Leo : “Kita mohon.” (melirik ke arah Leo) Leo : “Hehe. Memang nanti akan ada saatnya dimana kita akan merasa kehilangan seseorang yang kita sayang. maaf len.” Clarissa : “Aku yakin kamu pasti bisa kok hidup lebih lama lagi demi kita” Marcel : “Kita akan selalu ada untuk kamu.” Monica : “Sekali lagi makasih banget yaa cel. Kamu mau ngelakuin operasi itu. Kamu kan gak ngelarang akau buat ngasih tau ke yang lain.ckckck” Seluruhnya: “Hahahahah…” Persahabatan yang dapat mengubah segalanya.” Helen : “Kalian udah tau ya? Pasti dari Leo.” Clarissa : “Tapi kita semua ada disini buat kamu cel.” Monica : “Ini bukan waktunya untuk bercanda leo.” Pak Ray : “Leo..Demi ayah kamu.” Clarissa : “Kamu itu.” (mulai bernyanyi dan memainkan gitarnya) Pak Ray : “Kamu denger sendiri kan len.” Pak Ray : “Jadi gimana? Mau jadiin mereka alasan untuk kamu hidup? Helen : “Iya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful