Senin, 29 Oktober 2012 MAKALAH TRANSFER EMBRIO BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Untuk mengatasi kurangnya konsumsi protein

hewani dan rendahnya penghasilan masyarakat Indonesia, usaha yang telah dilakukan adalah meningkatkan produksi peternakan. Salah satu usaha kearah tersebut adalah penerapan teknologi modern dalam reproduksi. Teknologi yang dimaksud adalah Inseminasi Buatan (IB) dan Transfer embrio. Transfer embrio banyak dibicarakan di Indonesia pada akhir tahun 1982, sejak datangnya seorang tamu penceramah dari Amerika Serikat yang menyampaikan suatu bahasan mengenai TE. Ceramah dia dakan di Balai Penelitian Ternak Ciawi yang diikuti oleh para cendekia peternakan dari kalangan perguruan tinggi, lembaga penelitian maupun Direktorat Jenderal Peternakan. Sedangkan teknologi transfer embrio untuk pertama kali diintroduksi pada sapi di Cicurug Jawa Barat pada tahun 1984 dengan menggunakan embrio beku import dari Texas, USA. Transfer dilakukan pada 77 ekor resepien dengan cara pembedahan lewat daerah kampong oleh tim dari Granada Livestock Transplant Co, USA B. Rumusan Masalah Rumusan dari makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan Transfer Embrio. 2. Apa saja tahapan utama dalam transfer Embrio 3. Apa saja metode Transfer Embrio C. Tujuan dan Manfaat Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Transfer Embrio, tahapan-tahapan Transfer Embrio, dan apa saja metode Transfer Embrio itu sendiri sedangkan manfaat dari penulisan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui apa yang di maksud dengan Transfer Embrio, tahap-tahap transfer embrio dan apa-apa saja metode dari Transfer embrio itu sendiri A.

Dibeberapa Negara maju. Transfer embrio adalah suatu teknik dimana embrio (fertilized ova) dikoleksi dari alat kelamin ternak betina menjelang nidasi dan ditransplantasikan ke dalam saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga sempurnah. PMSG/CG atau HMG) guna melipat gandakan produksi sel telur. setelah mengalami pembuahan dan berkembang menjadi embrio ditampung atau dikoleksi untuk kemudian ditransfer pada betina resipien. Dalam teknik in vivo. limbah rumah potong hewan (RPH) tersebut. Berbeda halnya dengan Transfer embrio dimana dapat mempercepat percepatan dari sisi betina. Embrio paruh yang dihasilkan dapat ditransfer atau sebagai bahan untuk menentukan jenis kelamin. in vitro fertilisasi dan transfer inti.BAB II PEMBAHASAN A. Dengan bantuan ultrasonografi. Dan saat ini teerdapat teknik-teknik yang berhubungan dengan Transfer Embrio seperti sexing spermatozoa. sumber sel telur umumnya berasal dari ovarium yang berasal dari hewan yang telah dipotong. Di samping ditransfer secara langsung embrio dapat dibekukan atau dimanipulasi guna menghasilkan kembar identik. Untuk beberapa tahun peningkatan mutu genetic ternak sapi telah dilakukan dengan metode inseminasi buatan dengan memanfaatkan sisi pejantan. Tahapan utama Transfer Embrio adalah: . setelah melalui serangkaian teknik tertentu teryata terbukti telah secara komersial dapat meyediakan embrio bagi penyediaan ternak potong. Pengertian Transfer Embrio Transfer Embrio merupakan suatu teknik yang dikenal juga dengan genetic manipulation. Produksi embrio dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro. B. yakni penyuntikan hormone gonadotropin (FSH. Tahapan Utama dalam Transfer Embrio Transfer embrio terdiri dari beberapa tahapan yang dimulai dari seleksi donor. hewan betina donor akan menjalani superovulasi. Keuntungan praktis dari transfer embrio adalah untuk meningkatkan kapasitas reproduksi ternak yang berharga. mikromanipulasi. teknik “ovum pick-up” telah dapat diterapkan guna menyediakan oosit ternak unggul yang masih produktif tanpa harus menunggu di potong. implantasi/nidasi dan kelahiran. Sel-sel telur yang diovulasikan tersebut. namun berjalan sangat lambat karena ternak sapi betina bersifat monotokus dan mempunyai masa kebuntingan yang cukup panjang. Pada teknik in vitro. seperti konsepsi.

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh ternak donor adalah: 1. Sinkronisasi estrus. Denga metode superovulasi dapat diperoleh beberapa sel telur ataupun embrio dari seekor ternak sapi dalam satu siklus estrus. FSh. 2. 3. 2. karena waktu paruhnya singkat antara 2 sampai 5 jam di dalam tubuh ternak sapi. Induksi Superovulasi Sapi adalah hewan monotokus dimana biasanya ova yang diovulasikan hanya satu tiap siklus estrus. Teknik yang berhubungan dengan Transfer Embrio adalah: In vitro Fertilisasi Mikromanipulasi. hal ini sangat berbeda dengan PMSG dimana waktu parunya sangat panjang. Untuk menginduksi ovulasi (produksi beberapa ova). Mempunyai nilai pasar yang tinggi. Namun pengunaan hormone FSH dapat menghasilan ovulasi yang lebih baik dan embrio dengan kualitas yang lebih baik dari pada PMSG.1. Tingkat reprouksi yang tinggi. Sejarah reproduksinya diketahui dan mempunyai sikus estrus yang normal. Namun beberapa tahun terakhir hormone yang sering digunakan adalah PMSG. Transfer Embrio. Seleksi Donor Untuk keberhasilan mendapatkan embrio denga kuaitas yang baik ternak donor harus diperiksa kondisi kesehatannya serta tingkat fertilitasnya. Pemanenan embrio. Untuk merangsang folikel menjadi matang . 3. Kriopreservasi. biasanya 8 ali selama 4 hari. Peyimpanan embrio dan kultur. 4. 4. Kemampuan genetic yang superior tanpa penyakit menurun. sehat tanpa penyakit hewan bawaan seja lahir. 5. DNA-PCR menthod) Cloning. 3. injeksi FSH harus diberikan secara berulang. Klasifikasi embrio. dapat digunakan beberapa hormone gonadotropin PMSG. a. 2. 1. Induksi superovulasi. . 7. dan HMg (human menopause gonadotropin). 6. dan dapat ditransfer ke ternak sapi lainnya. 4. Sexing (karyotyping. 1.

4. b.4. Tanpa penyakityang mempengaruhi tingkat fertilisasi. 1. oleh karena itu palpasi uterus pada fase luteal atau pemeriksaan lender estrus perluh dilaksanakan.5.2.1.3.5. . 6. · · · · 3. Hal ini menujukan bahwa ovarium mengandung sedikit folikel yang responsif terhadap perlakuan superovulasi.1) hingaga 28(5. donor yang mempunyai CL yang baik dapat dilakukan superovulasi. Ternak donor harus memperlihatkan tanda-tanda estrus yang sempurna dan interval siklus estrus normal (18-24 hari). Subklinikal endometritis kadang sulit untuk didteksi. Dosis optimum FSH untuk superovulasi dipengaruhi oleh bangsa sapi donor.3. dosisnya dibagi dua yaitu 20 mg diinjeksikan siang dan 10 mg diinjeksikan malam. Biasanya dengan dosis 2000-3000 IU PMSG diberikan kepada donor selama 9-14 hari dari siklus estrus. Interval waktu antara injeksi siang dan malam adalah 8-12 jam.3.1. Prosedur Superovulasi Sebelum perlakuan dimulai. 48 jam setelah injeksi FSh yang petama (haru ketiga dari skedul). harus diberikan prostaglandin atau 750 µg cloprostaglandin.2. beberapa kondisi di bawah ini harus dipenuhi untuk keberhasilan produksi beberapa kondisi di bawah ini harus dipenuhi untuk keberhasilan produksi beberapa embrio dengan kualitas yang baik: · Siklus estrus donor normal.3. Jika ovarium kecil akan kurang menghasilkan sel telur/embrio. Pengunaan preparat progesterone preparat progesterone seperti syncromate-B (implant di telinga) dan CIDR (intravagina). · Tidak mengalami kelainan uterus atau tuba fallopi seperti endometritis.. Total dosis yang dibutuhkan untuk seekor donor adalah 36 mg FSH diinjeksikan dengan cara dosis menurun selama 4 hari. Superovulasi dengan FSH Karena waktu paruh FSH sangat singkat maka pengulangan injeksi sangat diperlukan.2. 2. · Pada hari ke 9-14. Superovulasi dengan PMSG PMSG dapat menggantikan FSH meskipun embrio yang dihasilkan kurang baik daripada menggunakan FSH. akan memberikan hasil yang lebih baik.4.1) mg FSH. dan dapat digunakan dalam rangkaian superovulasi setiap saat tanpa melihat siklus estrus donor. misalnya untuk sapi jenis Japanese Black dibutuhkan 20(4. 4. Untuk mengetahui paling sedikit harus diamati selama dua siklus estrus secara berurutan. digunakan untuk sinkronisasi estrus.2. Tidak terlalu tua.

. 2. 1. donor yang telah diberi perlakuan menunjukan estrus 42-48 jam setelah injeksi prostaglandin. Beberapa factor berikut adalah yang dapat mempengaruhi respon ovarium selama superovulasi: Hormon gonadotropin · Jenis hormone. Inseminator harus menagani alat kelamin betina dengan betina bagian atas sangat sensitife terhadap stres. terdapat banyak jenis hormone.c. 2. perubahan makanan. Factor-faktor yang mempengaruhi Superovulasi Pengaruh respon ovarium adalah yang sangat penting dalam mempengaruhi keberhasilan superovulasi pada ternak. oleh karena itu donor harus diinseminasi untuk pertama kali pada saat siang hari pada hari ke lima pelaksanaan superovulasi dan inseminasi kedua pagi hari pada hari keenam perlakuan superovulasi. Donor · Bangsa · Umur. 1. Biasanya dua kali inseminasi cukup untuk estrus yang normal dan menghasilkan embrio dengan menghasilkan peroehan embrio yang jelek. Semen beku dengan tingkat fertilisasi sperma yang telah diketahui dapat digunakan dalam rangkaian superovulasi. panas dsb) · Muslim Folikel Dominan Pada Ovarium Donor d. Umumnya saat terbaik untuk inseminasi buatan adalah 10-24 jam setelah estrus pertama kali muncul. Hal yang harus diperhatikan selama inseminasi Jangan disentuh ovarium pada saat estrus dan ovulasi. · Sisa LH pda saat pembuatan/sintesis Fsh. 3. sapi induk atau dara · Siklus estrus saat diberi perlakuan hormone · Kondisi kesehatan · Jarak/interval dari saat melahirkan · Kondisi nutrisi · Stress (transport. Palpasi rectal pada ovarium selama ternak yang disuperovulasi estrus dapat menyebabkan rusaknya folikel yang sedang berkembang. Kualitas semen beku Kualitas semen juga sangat penting dalam menghasilkan embrio dengan kualitas yang baik. Inseminasi Donor yang Telah Disuperovulasi Waktu inseminasi Biasanya. 3. cara penyuntikan. · Dosis. Jadwal atau skedul ini dapat berubah tergantung pada saat munculnya estrs pertama.

Medium Untuk pemanenan Dua medium yang sering digunakan untuk pemannan embrio. saat donor diseleksi. Kondisi kesehatan ternak donor harus dicek secara baik melalui test darah dan vaksinasi. Alat. Kondisi kesehatan Transfer embrio sangat membutuhkan kondisi kesehtan ternak dalam keadaan baik. 2. Manajemen Donor 1. Embrio di dalam medium yang tidak mengandung protein akan lengket ke permukaan pelastik atau kaca seperti petri dishes (cawn petri) · Dulbecco’s Phosphate Buffered Saline (D-PBS) atau · Lacto-Ringer’s solution Ditambah: Protein : CS 10-20 ml atau BSA 3-4 g/liter dan Antibiotik : penicillin 200. e. Penimbangan ternak secara periodic dan menentukan skor tubuh ternak akan membantu dalam manajemen pemberian pakan. Medium. Pengaruhi pakan yang jelek terhadap perkembangan folikel pada sapi telah banyak dilaporkan. Saat ini. Juga.4% Bovine Serum Albumin (BSA) atau 1-2% Calf Serum (CS) yang telah diinaktivasi ditambahkan sebagai sumber protein kedalam medium. keberadaan folikel dominan pada saat pemberian hormone gonadotropin menyebabkan respon yang kurang baik. saluran reproduksi harus diperiksa secara palpasi rectal untuk mengetahui abnormalitas dan memastikan ternak tidak dalam keadaan bunting. . Seleksi folikel dominan diikuti dengan pertumbuhan sejumlah folikel yang keil. Dalam perlakuan superovulasi. dan Obat a. Oleh karena itu. Baik obesitas maupun kondisi pakan yang jelek dapat mengurangi fertilitas. yaitu 0. banyak dilakukan penelitian untuk mengoptimalisasikan respon superovulasi.Penelitian terbaru terhadap dinamika folikel dalam ovarium ternak menunjukan bahwa pada umumnya folikel dalam ovarium ternak menunjukan bahwa pada umunya dalam satu siklus terdapat 2 atau 3 gelombang folikel. Pada saat gelombang tertinggi menunjukan terdapat folikel dominan dalam ovarium. Pemanenan Embrio 1. yang dicirikan oleh profil FSH. 2.3-0. Pakan dan manajemen Pakan yang sesuai dan program manajemen yang baik untuk ternak donor pada saat persiapan akan memberikan hasil yang baik.000 IU + streptomycin 0. donor harus dikontrol sehingga kondisi tubuh sesuai dengan yang dipersyaratkan.2 g atau kanamycin 100 mg/liter.

Cervical forceps. Kertas tisu dicelup dengan desinfektan (0. Padrine (prifinum Bromide: parasympathicolytic. lokasi dan kondisinya.b. Injection needle (18 G). Botol atau plastik silinder untuk medium pemanenan. · Palpasi dan tentukan panjang saluran reprodksi. Pada hari ke 6 ovum yang diovulasikan telah berada di bagian unjung anterior tanduk uterus. Isodine solution (2% PVP-Iodine) atau antibiotic untuk pemberian intrauterine. anticonvulsivant).1% Benzalkonium chloride). Juga estimasi dan catat jumlah CL dan folikel yang tidak diovulasikan pada ovarium. Vagia scope. Persiapan · Sapi donor dijepit dalam kandang jepit. Peralatan Foley catheter atau ballon catheter untuk sapi (1. Prosedur pemanenan embrio: a. · · · · · 2. Prosedur pemanenan Embrio Metode dengan operasi (surgical) adalah metode pertama kali yang sukses dalam pemanenan embrio. Infusion tube (medical use).18 atau 20 G) Inner stylet untuk foley catheter. . Silicone tube dengan Y-atau T connector dan clamp. Panen embrio sapi biasanya dilakukan hari ke 6 sampai ke 8 setelah estrus (hari estrus = hari ke 0) yang akan menghasilkan embrio dengan tingkat perkembangan yang cocok untuk ditransfer ataupun dibekukan.50 ml). 2% xylocaine. Obat · Cotton-alcohol (kapas dicelup dengan 70% Ethylalcohol). Disposable syringes (5. · · · · · · · · · · · · · c.20. namun saat ini terdapat metode non operasi (non surgical) sebagai pilihan panen embrio. Cervix expander. Intrauterine injector. PGF2α atau Cloprostenol. Kaki depan lebih tinggi dari pada kaki belakang sehingga saluran reproduksi lebih mudah diakses/dikendalikan. Kocher’s forceps. Plastic gloves.

Baik inflow maupun outflow tube diisi dengan medium sebelum pemanenan dimulai. Botol medium disambungkan dengan inflow tube dan diarahkan ke foley catheter. Feses harus dikeluarkan dari rectum sebelum pemberian anastesis lokal untuk mencegah masuknya udara dalam jumlah banyak maka dapat dikeluarkan dengan pompa vakum. Pada kasus dimana sapi Holstein baru saja melahirkan maka penempatan balon harus lebih dalam karena belum mengalami involusi uteri . Hal ini adala alternative untuk anastesi dengan Xylocaine. Kkemudian operator memasukan salah satu tangannya ke rectum. dicuci dengan sabun antiseptic. Outflow tube disambungkan dengan inflow tube menggunakan Yatau T-connector. Selanjutnya vulva dibuka oleh seorang asisten dan cervical expander dimasukan ke vagina dan ditempatkan di dalam lumen cervix. · · · · Hangatkan lebih kurang 1000 ml medium flushing (pembilasan) untuk setiap donor dalam water bath sebelum digunakan. Anastesi Epidural Pangkal ekor dijepit. · · · · c. Injeksi 20 ml prifinum Bromide (padrin: parasympathicolytic) intravena atau intramuscular dapat menghalagi tekanan yang ekstrim terhadap rectum dan akan memudahkan penanganan uterus. Kateter foley dengann ukuran 18-20 G (tergantung pada uukuran cervix) dengan inner stylet dimasukan dengan perlahan ke dalam vagina dank e dalam lumen cervix hingga badan uterus dengan palpasi rectal seperti saat IB. Posisi injeksi yang tepat akan menghindari efek negatife. kemudian lap/hapuss dengan cotton-alcohol. Pemasukan kateter Balon dan Fiksasi Balon Vulva dan rectum dicuci dengan air hangat dan dibersihkan dengan kertas tisu (yang diberi desinfektan) dan ikut dengan kapas yang di beri alcohol.· · · · b. Setelah anastesi afektif dilakukan pangkal ekor diikat dan difiksir ke tubuhnya. Kemudian kateter foley dimanipulasi/diarahkan ke dalam salah satu tanduk uterus sehingga balon dapat difiksir 2-3 cm di bagian eksternal bifurcation tanduk uterus. Fiksasi stylet dilakukan dengan tube connector atau kocher’s forceps. Dengan sangat hati-hati untuk memudahkan masuknya cervical expander dimasukan ke dalam cervix untuk memudahkan masuknya kateter foley. Ballon catheter dibilas dengan medium pemanenan dan sebuah inner stylet difiksir ke chateter sebelum digunakan. dan anatesi epidural diberikan antara sacrum terakhir dan coccygeal pertama tulang belakang dengan 5 ml 2% Xylocaine.

· Setelah tanduk uterus diisi dengan medium. Mmemanipulasi uterus yang berisi larutan medium dapat menyebabkan embrio kembali ke tuba fallopi.penggunaan cervix forcep memberikan hasil yang lebih bai. · Volume medium pembilassan bervariasi antara 20-50 ml. Selama pembilasan pertama medium yang dimasukan hanya 20-30 ml dan secara bertahap ditingkatkan hingga 4050 ml. · Saat memutar. tergantung pada ukuran tanduk uterus dan posisi balon. Prosedur pembilasan · Pembilasan dapat dilakukan dengan metode konvensional. Pada umumnya 12-14 ml udara untuk sapi dara dan sekitar 14-16 ml udara untuk sapi induk. · Medium yang telah bercampur dengan sel telur kemudian dialirkan ke luar tanduk uterus. hentikan aliran. Jangan lupa bahwa tanduk uterus mempuyai bagian yang terbuka terhadap tuba fallopi. Pada penggunaan mesin otomatis. Jangan menyentuh uterus jika outlet tube dalam kondisi tidak terbuka. seorang asisten menginjeksikan 10 ml udara ke dalam balon. dan inlet tube dibuka. Segera setelah kateter masuk pada posisi yang benar. Proses tersebut diulang 8-10 kali hingga total medium pembilasan yang digunakan 400-500 ml. Penambahan 3-6 ml udara biasanya sudah cukup. Balon harus ketat sehingga medium tidak dapat mengalir ke luar antara balon dan dinding tanduk uterus. namun sekarang sudah dikembangkan peralatan yang otomatis. isi dengan medium. · Sebelum kateter balon di hubungkan dengan inlet tube. penanganan yang sangat hati-hati harus diperhatikan untuk mencegah penggelumbungan balon yang berlebihan. Setelah clamp outlet dibuka. Perlakuan yang hati-hati akan menghindarkan dari kerusakan endometrium saat pemasukan kateter.· · · · yang harus lebih dalam karena belum mengalami involusi uteri yang sempurna. kemudian secara perlahan ditambahkan udara sesuai dengan total volume hingga teknisi merasa bahwa tanduk uterus sudah cukup gembung. Outlet tube (pengeringan) di tutup dengan clamp. teknisi maraba dan memanipulasi uterus sehingga diperoleh sel telur yang terdapat dalam lipatan-lipatan endometrium uterus. Volume udara balon yang sesuai tergantung pada ukuran uterus dan posisi balon. d. . Apabila balon terlalu gembung dapat merusak endometrium dan menginduksi pendarahan. inner stylet dikeluarkan secara perlahan sehingga tidak mengenaii balon.

2 g atau mpicillin 500 mg. Selama proses ini kebersihan harus tetap terjaga dan penanganan embrio dilakukan dengan baik. Tipe morfologi setiap tahap perkembangan embrio adalah sebagai berikut: · Morula . 8-16 sel pada hari ke-4. · Injeksi donor dengan 15-25 mg PGF2α atau 500-750 g atau analog PGF2α (estrumate) untuk mencegah kebuntingan dan mengembalikan kondisi reproduksi ternak kepada keadaan awal. · Untuk membilas tanduk uterus harus menggunakan kateter secara berulang sebaliknya dihindari jika sterilitasnya tidak terjamin.200 x untuk melihat tahap perkembangan sel. morula pada haro ke-5-6. perluh dilakukan perlakuan sebagai brikut sehingga dapat dilakukan superovulasi dan pembilasan untuk periode berikutnya. Koleksi dan penaganan Embrio Koleksi embrio dari medium pembilasan harus dilakukan sesegera mungkin dan tanpa ada embrio yang tertinggal/hilang.. morula akhir atau blastosis pada hari ke-7 dan expanded blastosis pada hari ke-8. Klasifikasi atau Evaluasi Embrio Evaluasi embrio merupakan factor penentu yang sangat penting untuk keberhasilan transfer embrio. a. 3. Embrio yang telah diperoleh harus segera dipindahkan ke mmedium segar dan dicuci beberapa kali. e. 1. Perlakuan setelah pembelisan Setelah pembelisa.l. Seluruh embrio yang diperoleh harus dievaluasi secara individu di bawah mikroskop dngan pembesaran 100 . Sebagai contoh: embrio yang diperoleh 3 hari setelah donor mengalami estrus seharusnya mempunyai tahap perkembangan pada 48 sel.: · Bilas uterus dengan 50 ml larutan PVP-iodine 2% atau antibiotik (penicillin 200.000 IU + streptomycin 0. Jika terdapat perlakuan pada membraan. penggunaan antibiotik lebih baik karena membrane yang mengalami iritasi berespon terhadap larutan antibiotik atau iodine. morfologi dan kualitas embrio. 3. Hal ini karena medium pembilasan mengandung banyak mukosa darah dan serpihan lapisan epitel dan ini dapat berakibat yang tidak baik terhadp embrio.· Pengisian uterus dengan medium menggunakan syringe pada ujung keteter foley untuk mendorong medium masuk kedalam uterus tidak boleh terlalu cepat karena dapat merusak endometrium uterus. Tahap perkembangan Tahap perkembangan embrio yang diproleh harus sama dengan jumlah hari perlakuan superovulasi. dsb).

berbentuk bola. Masa sel embrio menempati sebagian besar ruangan perivitelin. · Expanded blastocyst Diameter embrio meningkat secara dramatis (1. · Hatched Blastocyst Embrio yang diperoleh pada tahap perkembangan ini dapat mengalami proses haching atau secara sempurna terlepas dari zona pelusida. warna densitas/kepadatan sitoplasma dan area yang mengalami degenerasi.Biasanya embrio menyerupai bola (bll of cell).2-1. Tahap perkembangan embrio harus sesuai dengan jumlah hari setelah estrus. Hatcing blastocyst berbentuk seperti bola dengan blastokol yang masih baik ataupun collaps. warna dan tekstur yang seragam/sama. Blastokol terlihat memenuhi ruang perivitelin. · Blastocyst Perbedaan lapisan tropoblas bagian luar dan bagian inner cell mass yang lebih kompak berwarna lebih gelap dapat dilihat dengan jelas. Klasifikasi Kualitas Embrio: Excellent: Embrio yang ideal. Evaluasi embrio Kuliats embrio dapat dinilai berdasarkan morfologi sperti bentuk. massa embrio menempati 60-70@ ruang perivitelin dimana ruangannya lebih besar daripada tahap morula. Indentifikasi embrio pada tahap ini aakan sulit jika operator belum berpengalaman 2.5 x) bersamaan dengan menipisnya zona peluside lebih kurang 1/3 ketebalan awa. · Good: · . Embrio yang diperoleh pada tahap expanded blastocyst biasanya terlihat collaps. yang dicirikan dengan hilangnya seluruh atau sebagian blastokol. Individu blastomer sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. dan ketebalan zona pelusida jarang kembali seperti ketebalan awal. · Campact Morula Individu blastomer terlah bersatu membentuk massa yang kompak. simetris dengan ukuran sel.

sel mengalami degenerasi. 4. banyak terdapat gelembung dengan ukuran besar tetapi terlihat seperti massa embro yang sehat (30-50% bentuk tidak beraturan). Untk Negara-negara eropa transfer embrio beku lebih banyak diharapkan daripada embrio segar. Teknik pembekuan embrio telah secara luas dilaukan di berbagai Negara. sedikit sel mengalami degenerasi (10-30% tidak berarturan). ukuran sel bervariasi. pembekuan embrio juga dapat dilakukan bagi embrio yang telah dibelah (embrio paruh) melalui metode splitting (pembelahan mikro). Bagi Indonesia.Tidak sempurna seperti blastomer tertekan. Perbandingan kurang lebih sama degan 70:30. teknik pembekuan telah lama menjadi subsitusi transfer secara langsung. berbentuk tidak berarturan dan terdapat sedikit gelembung. · Poor: Merupakan masalah serius seperti banyaknya blastomer yang tertekan. (3) mengawetkan cadangan genetis yang unggul atau yang terancam punah. pengangkutan dan karantina ternak antar pulau. Dengan perbedaaan angka kebuntingan yang relative tidak banyak (sekitar 5-10% lebih rendah) disbanding transfer embrio secara langsung. · Fair: Terbatas. karena angka kebuntingan nya masih relatife rendah dan teknik splitting menuntut keahlian serta . maka industry TE didukung oleh pemanfaatan teknik pembekuan mengalami kemajuan yang amat pesat. di samping menghemat biaya pemesanan . embrio beku diantisipasi dapat menjadi alternative bagi pengiriman ternak antara pulau. Namun demikian. tetapi bukan merupakan masalah yang serius seperti sedikit blastomer tertekan. Embrio beku terbukti dapat menjadi alternative bagi tataniaga bibit ternak hidup antara Negara atau antara pulau dan impor semen beku. (2) menyederhanakan transportasi embrio. Kriopresrvasi atau pembekuan embrio setelah dilaporkan oleh wilmut dan Rowson pada 1973 bahwa embrio sapi mampu bertahan dalam suhu beku dan prinsp kerja serta cara kerja teknik pembekuannya telah dilakukan juga pada domba oleh wiladsen pada tahun 1997. Teknik pembekuan ini dpat pula membantu mengatasi keterbatasan atau kelebihan resipien. Tiga alasan utama pemanfaatan pembekuan embrio adalah (1) pendayagunaan sumber data resipien yang tersedia. Di samping terhadap embrio utuh. Hal ini akan mengatasi hambatan kesehatan hewan bila antara sumber dan penerima bibit komoditas ternak terdapat perbedaan status penyakit menular yng mudah terbawa oleh hewan hidup.

Oleh karena itu.memakan waktu. (2) memangkas konsumsi waktu dan teknik pengenceran krioprotektan pasca thawing. maka efisiensi pembekuan embrio paruh masih relative rendah. · · · · · · · · b. Resipien. Infeksi. Penggunaan metode operasi menghasilkan tingkat kebuntingan yang tinggi namun tingkat kebuntingan dengan metode non operasi juga dapat menyamai metode operasi jika teknisi mempunyai keahlian yang tinggi dalam transfer embrio. Seleksi Resipien Resipien yang adalah masih muda dan terbebas dari penyakit dengan tingkat fertilitas yang tinggi dan mempunyai sifat keibuanyang baik juga. dithawing dan ditransferkan secara sederhana mendekati prosedur inseminasi buatan. Hal yang sama juga tidak atau belum dianjurkan bagi embrio yang dihasilkan dari pembuahan in vitro. Medium Transfer. Status nutrisi resipien. Manajemen kesehatan resipien . Faktor yang mempengaruhi keberhasilan Transfer embrio Kualitas Embrio. Penempatan embrio dalam uterus. c.. teknik baru yakni vitrifikasi dan metode pengenceran satu tahap (one-step delution) menjanjikan efisiensi waktu. dara atau induk. teknik pembekuan tidak dianjurkan untuk diterapkan pada embrio paruh. Dari pengembangan prosdur yang berlaku. mempunyai pertumbuhan yang baik dan mudah dalam melahirkan anak. tenaga dan biaya dengan hasil yang relatife baik. Dengan metode satu tahap embrio dapat diproses. C. Sinkronisasi estrus donor dengan resipien. Teknik yang dikembangkan melalui beberapa penelitian mengacu pada dua aspek: (1) efisiensi teknik pembekuan. Metode non operasi dan teknisi. a. bangsa ternak tidak terlalu menjadi permasalahan. yakni dengan menetapkansistem baku yang banyak dianut sampai saat ini yang terbukti memiliki viabilitas cukup tinggi. dalam rangka menghemat waktu dan bahan serta penyerdehanaan proses. Metode Transfer Embrio Terdapat dua metode utama dalam transfer embrio yaitu metode operasi dan non operasi.umumnya jenis persilangan menunjukan tingkat fertilitas yang cukup baik.

deteksi yang dilakukan terutama terhadap abnormalitas saluran reproduksi. Estrus akan muncul 48-96 jam kemudian. maka harus dikarantina sebelum digunakan sebagai resipien. Metode Injeksi PGF2α 1. Tingkat keberhasilan akan lebih tinggi jika perbedaan estrus resipien dan donor maksimal 1 hari. Estrus akan muncul 48-96 jam kemudian. Selama periode ini. gelisah · Keluarnya lender bening dari vagina b. namun saat ini terdapat peralatan yang dapat membantu deteksi estrus seperti heat mount detector atau paint stick. Donor dan resipien harus mempunyai panjang siklus estrus yang normal. d. peningkatan suhu tubuh dan infeksi yang mempunyai korelasi yang tinggi terhadap fertilitas. Ulangi injeksi PGF2α 11 hari kemudian. Walaupun pengamatan secara langsung dengan mata adalah metode deteksi estrus yang terbaik. Jika resipien yang telah disinkronisasikan mempunyai CL yang baik pada saat transfer embrio. kondisi kebuntingan dan kesehatan ternak. maka tingkat kebuntingan yang diperoleh akkan sama dengan resipien yang estrus alami. Deteksi Estrus Keberhasilan Transfer embrio juga tergantung dari sinkronisasi estrus antara donor dan resipien. Injeksi tunggal PGF2α dengan palpasi rectal Resipien yang berada pada pertengahan siklus estrus dan menunjukan CL pada ovarium akan berespon baik terhadap PGF2α pertama kali resipien diseleksi dengan palpasi rectal. Ciri lain yang menandakan estrus adalah: · Turunnya selera makan · Penurunan produksi susu secara tajam · Perubahan tingkah laku. Injeksi ganda PGF2α tanpa palpasi rectal Seluruh resipien diinjeksi dengan PGF2α tanpa memperhatikan keberadaan CL pada ovarium. Sikronisasi dan Deteksi Estrus a. Resipien yang memiliki CL dikelompokan ke dalam satu kelompok dan diinjeksikan dengan PGF2α (15-25 mg) atau estrumate (500 mg).Kesehatan dan kodisi reproduksi resipien harus di uji pada saat seleksi. 2. Standing heat adalah indikasi sapi estrus ditandai sapi akan diam jika dinaiki sapi lain. . Bila calon resipien didatangkan dari luar. Sinkronisasi Estrus Resipien Cara yang paling umum dilakukkan untuk sinkronisasi estrus adalah dengan injeksi PGF2α atau analognya (estrumate). resipien harus diamati setiap hari terhadap tanda-tanda penyakit.

· Diikuti dengan pemasukan udara sepanjang lebih kurang 0. karena pengaruh perlakuan superovulai pada donor dengan hormone gonadotropin menyebabkan sebagian besar donor akan menjadi estrus 36-60 jam setelah injeksi PGF2α. Persiapan dan prosedur Transfer a. · Masukan medium (M-PBS) sehingga mengisi straw lebih kurang 2-3 cm. Resipien harus diinjeksikan dengan PGF2α satu hari lebih cepat dari pada donor. Pemasukan embrio ke dalam straw Persiapan straw : · Straw dicuci dengan air murni tanpa membasahi sumbat kapas. keringkan dan sterilisasi dengan gas ethylene oxide atau dengan cahaya ultra viole. karena residu gas tersebut dapat memberikan pengaruh yang merusak terhadap embrio.Resipien yang tidak respon terhadap injeksi PGF2α yang pertama akan berada pada posisi pertengahan siklus pada injeksi yang ke dua dan kembali akan menunjukan gejalah estrus. Material Peralatan : · Transfer gun · Plastic sheath · Outer sheath · Gunting · Plastic straw · Straw cutter · Disposable syringe (5-10 ml) dengan jarum suntik · Cervix expander Obat : · Kapas dicelupan ke dalam ethyl alcohol 70% · Kertas tisu dibasahi dengan densifektan (benzalkonium chloride · Xylocaine 2% (lidocaine HCL) · Padrine (prifinum bromide :anticonvulsivant) b. · Kemudian medium yang mengandung embrio dimasukan ke dalam straw dengan syringe tuberculin 1 ml mendekati sumbat kapas. · Straw dipotong 1-2 cm untuk menyesuaikan dengan transfer gun. e. · Straw dicuci beberapa kali dengan medium tanpa membasahi sumbat kapas.5 cm dari straw. Resipien yang tidak respon terhadap injeksi PGF2α ke dua karena pada saat itu mereka berada pada posisi pertengahan siklus estrus. Dengan metode ini seluruh resipien akan mengalami estrus. Sterilisasi dengan gas ethylene harus sudah dilakukan 2 minggu sebelum straw digunakan. diikutii denga udara .

Sangat penting diperhatikan adalah jangan sampai melukai bagian dinding uterus selama proses transfer embrio. jangan dipaksa. maka straw harus ditutupi dan dibawah dengan hati-hati. maka tahap morula dan blastosis awal ditransfer pada hari ke 6. Bagian vulva dan rectal dicuci dengan air hangat dan diusap dengan kertas tisu yang dicelupkan dengan desinfektan dan terakhir dengan kapas beralkohol. Tetapi apabila lokasi resipien berjauhan dengan lab. Sebagi contoh. Jika hari ke 6-8 tersedia resipien. maka jangan meyentuh atau meraba bagian ovarium dan uterus secara kasar. · · · · dan medium berikutnya. dan dijaga agar tetap berada pada posisi horizontal. tahap kompak morula dan blastosis awal ditransfer hari ke 7 dan expanded blastosis ditransfer hari ke 7 dan expanded blastosis ditransfer hari ke 8. Medium terakhir akan membasahi sumbat kapas yang berada pada unjung straw. Tanduk uterus ditinggikan dan diluruskan di depan unjung gun. . Jika pemeriksaan dilakukan dengan palpasi rectal. pada hari ke 7 pembilasan transfer embrio segar dapat dilakukan. Sinkronisasi antara tahap perkembangan embrio dengan siklus estrus resipien Jika tahap perkembangan embrio dan siklus estrus resipien berbeda. Jika resipien berada berdekatan dengan lab transfer embrio cara di atas dapat dilakukan secara langsung. f. vulva dibuka dan transfer gun yang telah ditutupi cover sheath dimasukan ke dalam vagina oleh seorang asisten. Kendalikan resipien di dalam kandang jepit dan keluarkan seluruh feses yang berada dalam rectum. maka harus disinkronkan sebaik mungkin. Prosedur transfer Pada saat teknik menempatkan tangannya di dalam rectum. Ujung gun harus dimasukan 5-10 cm melewati external bifurcation. Hindarkan dari kontaminasi. Persiapan resipien Pemeriksaan resipien untuk terakhir kalinya dilakukan 1 hari atau beberapa saat menjelang transfer. Persiapan transfer gun Straw yang telah berisi embrio ditempatkan dalam transfer gun dan ditutup dengan outher sheath. Gun harus masuk melewati cervix hingga masuk ke salah satu tanduk uterus dimana ovariumnya mengandung CL (ipsilateral). tunggu hingga relaks.c. Jika terdapat tekanan dari uterus. · · · · e. Lakukan epidural anastesi dengan 3 ml xylocaine. · · d.

1981. BAB III PENUTUP A. Bogor. In Vitro Fertilisasi. Bandung. . transfer Embrio. Lokakarya Nasional I Bioteknologi Peternakan. pemanenan embrio. Dr. seperti konsepsi. implantasi/nidasi dan kelahiran. Bina prod.R.· · Jika posisi yang diinginkan sudah diperoleh. Mata kulia Inti Dalam Pelatihan Tugas teknisi. Supriatna. Pengembangan Bioteknologi peternakan. Transfer Embrio dan Pembekuan Embrio. Pasarribu. pengkkajian dan Aplikasi. B. Saran Saran yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini ialah sebelum kita melakukan Transfer embrio kita perluh memperhatikan tahap-tahap sebelum melakukan transfer embrio yaitu inuksi super ovulasi. Balai pembibitan Ternak dan hijaun makanan. Fisiologis Reproduksi pada Ternak. purwokerto. maka dapat dibantu dengan menggunakan expander cervix yang berukuran kecil. DAFTAR PUSTAKA Soehadji. Kerjasama Kantor menristek dengan Departemen pertanian. klasifikasi embrio. Keterkaitan penelitian. 1993. penyiapan embrio dan kultur. I. DIKTI dan PAU IPB Bogor.H. Angkasa. maka embrio ditempatkan pada posisi tersebut. kriopreservasi. Depdikbud. Kesimpulan Transfer embrio adalah suatu teknik dimana embrio (fertilized ova) dikoleksi dari alat kelamin ternak betina menjelang nidasi dan ditransplantasikan ke dalam saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga sempurnah. Metode-metode dasar pembekuan embrio mamalia. Peternakan. M. Toelihere. Bila cervix terlalu sempit dan sulit dimasuki gun. 1995. Supriatna. sinkronisasi estrus. I dan F. 1992.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful