P. 1
Sifat Kimia Protein

Sifat Kimia Protein

|Views: 902|Likes:
protein
protein

More info:

Published by: Novidha Satya Ningtyas on Sep 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2014

pdf

text

original

Sifat kimia protein Sifat dari protein berbeda-beda tergantung pada jumlah dan jenis asam amino

yang membangun molekul protein tersebut. Disamping itu tergantung pula pada struktur dan urutan asam amino yang terdapat dalam molekul protein. Berdasarkan pasa besarnya molekul protein maka protein dalam air tidak berbentuk larutan murni, melainkan merupakan suatu dispersi koloidal molekul protein tidak dapat melalui membran semipermiabel, tetapi protein dapat menimbulkan tekanan osmosa, yaitu dapat menimbulkan suatu potensial pada membran semipermiabel.
ifat Amfoter Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung rantai molekul protein, menyebabkan protein mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun dengan basa). Dalam kimia, amfoter merujuk pada zat yang dapat bereaksi sebagai asam atau basa. Perilaku ini dapat terjadi karena memiliki dua gugus asam dan basa sekaligus atau karena zatnya sendiri mempunyai kemampuan seperti itu. Zat amfoter yang klasik adalah asam amino, protein, dan air. Beberapa logam, seperti seng, timah, aluminium, dan berilium, dapat membentuk oksida amfoterik. Gejala ini dapat dimanfaatkan untuk memisahkan kation dalam larutan, misalnya seng dari mangan (Linggih, 1988). Denaturasi Protein Denaturasi protein adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terkacaunya ikatan hidrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang memutuskan molekul protein. Akibat dari suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat-sifat biologis suatu protein (Fessenden,1989). Salah satu penyebab denaturasi protein adalah perubahan temperatur, dan juga perubahan pH. Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan denaturasi adalah detergent, radiasi zat pengoksidasi atau pereduksi, dan perubahan jenis pelarut. Denaturasi dapat bersifat reversibel, jika suatu protein hanya dikenai kondisi denaturasi yang lembut seperti perubahan pH. Jika protein dikembangkan kelingkungan alamnya, hal ini untuk memperoleh kembali struktur lebih tingginya yang alamiah dalam suatu proses yang disebut denaturasi. Denaturasi umumnya sangat lambat atau tidak terjadi sama sekali (Fessenden, 1989). Koagulasi dapat ditimbulkan dengan pemanasan, penambahan asam dan perlakuan alkali.Proses pemanasan menyebabkan protein telur terdenaturasi sehingga serabut ovomucin terurai menjadi struktur yang lebih sederhana Interaksi antara protein dan panas mengakibatkan terjadinya koagulasi protein (Alais dan Linden, 1991). Umumnya protein mengalami denaturasi dan koagulasi pada rentang suhu sekitar 55-75 C (De man, 1997). Apabila protein dipanaskan atau dipanaskan atau ditambah alkohol maka protein akan menggumpal, yang disebabkan karena terjadinya penarikan mantel air dari molekulmolekul protein. Penggumpalan ini dapat terjadi akibat enzim-enzim yang dapat menghidrolisa protein (Winarno, 1997).

Sifat kimia protein merupakan suatu senyawa organik yang mempunyai berat molekul besar antara ribuan hingga jutaan satuan(g/mol). Protein tersusun dari atom-atom C,H,O dan N ditambah beberapa unsur lainnya seperti P dan S. Atom-atom itu membentuk unit-unit

Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung rantai molekul protein. Zn++. tanpa menyebabkan pemutusan atau kerusakan lipatan antar asam amino dan struktur primer protein. Selain gugus – COOH dan gugus –NH2. Urutan asam amino dalam protein maupun hubungan antara asam amino satu dengan yang lain. Denaturasi protein adalah suatu keadaan telah terjadinya perubahan struktur protein yang mencakup perubahan bentuk dan lipatan molekul. dalam larutan basa (pH tinggi) molekul protein akan bereaksi sebagai asam atau bermuatan negatif. Dalam suasana asam molekul protein akan membentuk ion positif. Hal ini terjadi karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak atau bergetar sangat cepat sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut. Panas dapat digunakan untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar. Fe++. sehingga tidak bergerak ke arah elektroda positif maupun negatif apabila ditempatkan di antara kedua elektroda tersebut. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit. Ikatan yang terbentuk amat kuat dan akan memutuskan jembatan garam. Daya reaksi berbagai jenis protein terhadap asam dan basa tidak sama. sehingga protein bermuatan positif. Ion-ion tersebut adalah Ag+. 1994). Pada titik isolistrik protein mempunyai muatan positif dan negatif yang sama. Sebaliknya. menyebabkan protein mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun basa). Cu++. Protein telur mengalami denaturasi dan terkoagulasi selama pemasakan. gugus –R pada molekul asam amino tertentu dapat pula mengadakan reaksi dengan ion atau senyawa lain. Protein mempunyai titik isolistrik yang berbeda-beda. Koagulasi adalah denaturasi protein akibat panas dan alkohol. Co++. Secara bersama gugus –COOH dan gugus –NH2 yang terdapat dalam protein dapat bereaksi dengan ion logam berat dan membentuk senyawa kelat. Ca++. menentukan sifat kimia suatu protein (Girinda. sedangkan di bawah titik isolistrik. Hg++. protein bermuatan positif. gugus amino bereaksi dengan H+. Seperti asam amino. Titik isolistrik protein mempunyai arti penting karena pada umumnya sifat fisika dan kimia erat hubungannya dengan pH isolistrik ini. sedangkan dalam suasana basa akan membentuk ion negatif. Denaturasi. Dalam larutan asam (pH rendah). Pada pH di atas titik isolistrik protein bermuatan negatif. protein yang larut dalam air akan membentuk ion yang mempunyai muatan positif dan negatif. koagulasi dan redenaturasi dapat dibedakan sebagai berikut. Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun.90. Pb. tergantung dari jumlah dan letak gugus amino dan karboksil dalam molekul.asam amino. Mn++ dan Pb++. Redenaturasi adalah denaturasi protein yang berlangsung secara reveresibel. Logam Ag dan Hg lebih . Beberapa makanan dimasak untuk mendenaturasi protein yang dikandung supaya memudahkan enzim pencernaan dalam mencerna protein tersebut. Garam logam berat seperti Ag. dan Hg akan membentuk endapan logam proteinat. Titik isolistrik pada albumin adalah pada pH 4. Dari hasil percobaan diketahiu bahwa reagsi antara logam berat dan albumin menghasilkan endapan. endapan yang paling banyak dihasilkan oleh AgNO3 diikuti HgCl2 dan Pb-asetat.55-4. Pada pH isolistrik muatan gugus amino dan karboksil bebas akan saling menetralkan sehingga molekul bermuatan nol. 1990). Gugus sulfihidril (-SH) pada molekul sistein akan bereaksi dengan ion Ag+ atau Hg++ (Poedjiadi. sehingga protein mengalami denaturasi.

Hal ini seperti denaturasi oleh raksa (Hg) untuk pemurnian emas yang terjadi di Minamata. Pengujian endapan yang dihasilkan dengan pereaksi milon bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan tirosin. sehingga saling menetralkan) kelarutan protein sangat menurun atau mengendap. warna berubah menjadi merah bata yang artinya terjadi reaksi positif. sehingga kelarutan protein berkurang.5 di mana protein mempunyai muatan positif dan negatif sama. Kelarutan protein akan berkurang bila ke dalam larutan protein ditambahkan garamgaram anorganik. Sedangkan pada reaksi denaturasi albumin tanpa penambahan alkohol. Jepang. penambahan asam asetat bertujuan agar larutan albumin mencapai pH isolistriknya sehingga bisa terkoagulasi. sehingga albumin dapat terdenaturasi. Larutan albumin dalam air dapat diendapkan dengan penambahan amoniumsulfat ((NH4)2SO4) hingga jenuh. . penambahan bufer asetat bertujuan agar pH isolistrik tercapai. dan bereaksi positif dengan ditandai endapan berwarna kemerahan. Setelah larutan albumin dijenuhkan dengan (NH4)2SO4. Pada uji koagulasi. dalam hal ini pH isolistrik albumin adalah 4. maka protein akan mengendap.90). Protein akan mengalami koagulasi apabila dipanaskan pada suhu 50oC atau lebih. uji kelarutan endapan yang terjadi dengan air menunjukkan hasil positif (endapan larut membentuk butiran). Uji filtrat dengan pereaksi biuret juga menunjukkan hasil poisitif yang ditandai larutan berwarna ungu violet.90. sedangkan pengujian filtrat dengan pereaksi biuret bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada filtrat yang dihasilkan. Garam logam berat sangat berbahaya bila sampai tertelan karena garam tersebut akan mendenaturasi sekaligus mengendapkan protein sel-sel tubuh. sehingga terjadi kompetisi antara garam anorganik dengan molekul protein untuk mengikat air. diikuti oleh NaOH dan HCl. tertier dan kuartener yang menyebabkan koagulasi. Bila garam netral yang ditambahkan berkonsentrasi tinggi. Pada pH iso-elektrik (pH larutan tertentu biasanya berkisar 4–4.7 yang sama dengan pH isolistrik albumin (4. Setelah endapan diuji dengan pereaksi millon. Pengendapan terus terjadi karena kemampuan ion garam untuk menghidrasi. endapan yang paling banyak dihasilkan oleh buffer asetat. Pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta dielektrika dari air. Hasil uji kelarutan endapan dengan air menunjukkan hasil negatif.reaktif daripada Pb kerena kedua logam tersebut merupakn logam transisi pada sistem periodik unsur. Karena garam anorganik lebih menarik air maka jumlah air yang tersedia untuk molekul protein akan berkurang. Kemudian butiran direaksikan dengan pereaksi milon.55-4. dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air. Peristiwa pemisahan protein ini disebut salting out. Pada uji pengendapan protein oleh alkohol endapan yang paling banyak dihasilkan oleh buffer asetat. akibatnya protein akan terpisah sebagai endapan.55-4. Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol. Pada temperatur diatas 60oC kelarutan protein akan berkurang (koagulasi) karena pada temperatur yang tinggi energi kinetik molekul protein meningkat sehingga terjadi getaran yang cukup kuat untuk merusak ikatan atau struktur sekunder. Koagulasi ini hanya terjadi bila larutan protein berada titik isolistriknya. Buffer asetat menghasilkan endapan yang paling banyak karena memiliki pH 4. Pengujian endapan yang dihasilkan dengan pereaksi milon bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan tirosin. diikuti oleh HCl dan NaOH .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->