Asas-asas dan Sumber Peraturan Perundang-undangan

REP | 05 January 2013 | 16:17 Oleh: EKA SARIPUDIN[1] 1. Pendahuluan Peranan peraturan perundang-undangan semakin meningkat. Akan tetapi, patut disayangkan tidak jarang muncul masalah seputar peraturan perundang-undangan, baik sebelum, sesudah, maupun setelah ada. Salah satu kemungkinan penyebab masalah itu adalah akibat tidak atau kurang memnfaatkan Ilmu Pengetahuan Perundang-undangan. Memahami Ilmu Perundang-undangan sangatlah penting, seperti salah satunya memahami tentang asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan, karena di dalamnya terdapat acuan bagaimana cara melahirkan sebuah produk hukum dalam hal ini undang-undang yang sesuai dengan kebutuhan publik pada saat itu. Jika kita tidak berpedoman kepada asas-asas tersebut maka kemungkinan besar kita akan mendapatkan banyak kekeliruan dalam penetapan dalam sebuah hukum, seperti halnya salah satu asasnya adalah peraturan yang bersifat khusus menyampingkan peraturan yang bersifat umum. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah melahirkan asas-asas tersebut sangat membantu sekali dalam penetapan peraturan hukum dikemudian hari. Banyak pakar melahirkan asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan, yang pada hakikatnya tujuannya sama. Intinya walaupun banyak pakar yang memikirkan tetang asas-asas pembentukkan ini adalah sama. Menginginkan melahirkan produk hukum yang efisien dan efektif. Mengenai materi sumber hukum yang menjadi acuan pembentukkan produk hukum adalah Pancasila, UUD 1945, Yurisprudensi, Hukum Agama, Hukum Adat, dan Hukum Internasional. Yang lebih lanjut akan dibahan pada pembahasan makalah ini. Sebelum dan sesudahnya kami minta maaf kepada Bapak Dosen, karena tidak bisa sesuai dengan keinginan bapak agar tidak meng-copy-paste dari tulisan bapak, karena kami melihat dari buku yang kami temukan, semuanya telah lengkap di dalam buku bapak ini sehingga terlalu picik buat kami jika memaksakan diri untuk berbeda dengan apa yang bapak tulis itu. 2. Asas-Asas Pembentuk Peraturan perundang-undangan Dibaca: 5588 Komentar: 1 0

Peraturan perundang-undangan tidak dapat di ganggu gugat. c. Hampir sama dengan pendapat ahli sebelumnya Amiroedin Sjarief. kemudian penulis akan mengklasifikasikannya ke dalam dua bagian kelompok asas utama (1) asas materil atau prinsip-prinsip substantif.Asas adalah dasar atau sesuatu yang dijadikan tumpuan berpikir. d. Peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus menyampingkan peraturan perundang-undangan yang bersifat umum (lex specialis derogat lex generalis). b. melalui pembaharuan atau pelestarian (asas welvaarstaat). Purnadi Purbacaraka dan Prof. Peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi. Soerjono Soekanto[3]. d. dan (2) asas formal atau prinsip-prinsip teknik pembentukan peraturan perundang-undangan. e. Asas tingkatan hirarkhi. UU yang baru menyampingkan UU yang lama (lex posteriori derogat lex periori). f. memperkenalkan enam asas sebagai berikut: a. Dalam menyusun peraturan perundang-undangan banyak para ahli yang mengemukakan pendapatnya. e. berpendapat dan bertindak. mengajukan lima asas. Peraturan perundang-undangan tidak berlaku surut. Berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat ahli. berpendapat dan bertindak[2]. Meskipun berbeda redaksi. c. Peraturan perundang-undangan tidak dapat di ganggu gugat. b. Prof. pada dasarnya beragam pendapat itu mengarah pada substansi yang sama. Peraturan perundang-undangan tidak berlaku surut (non retroaktif). Padanan kata asas adalah prinisip yang berarti kebenaran yang menjadi pokok dasar dalam berpikir. Peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus menyam-pingkan UU yang bersifat umum (lex specialis derogate lex generalis). Peraturan perundang-undangan sebagai sarana untuk semaksimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spiritual dan materil bagi masyarakat maupun individu. . mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula. Peraturan perundang-undangan yang berlaku belakangan membatal-kan peraturan perundang-undangan yang berlaku terdahulu (lex posteriori derogate lex periori). sebagai berikut:[4] a. Asas-asas pembentuk peraturan perundang-undangan berati dasar atau sesuatu yang dijadikan tumpuan dalam menyusun peraturan perundang-undangan.

b. Attamimi sebagaimana dikutip oleh Maria Farida. e. Hamid. Asas dapat dilaksanakan (het beginsel van uitvoorbaarheid). di mana sebuah negara menganut paham konstitusi. Asas terminologi dan sistimatika yang benar (het beginsel van duitdelijke terminologie en duitdelijke systematiek). prinsip negara hukum dan konstitusionalisme. yang oleh Attamimi diistilahkan sebagai bintang pemandu. Asas perlu pengaturan (het noodzakelijkheids beginsel). Sedangkan yang masuk asas materiil adalah sebagai berkut: a. Asas pelaksanaan hukum sesuai dengan keadaan individual (het beginsel van de individuale rechtsbedeling). Asas formal mencakup:[5] a. Asas perlunya pengaturan. maka pembagiannya sebagai berikut : a. d. Asas dapat dikenali (het beginsel van de kenbaarheid). c. Asas–asas formal: 1. Asas konsensus (het beginsel van consensus). Lebih lanjut mengenai A. Asas organ / lembaga yang tepat (beginsel van het juiste organ). S. Asas kepastian hukum (het rechtszekerheidsbeginsel). Asas tujuan yang jelas (beginsel van duetlijke doelstelling).C van der Vliesdi mana asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan dapat dibagi menjadi dua. Hamid S. 2.[6] yang mengatakan bahwa pembentukan peraturan perundang– undangan Indonesia yang patut akan mengikuti pedoman dan bimbingan yang diberikan oleh cita negara hukum yang tidak lain adalah Pancasila. Asas perlakuan yang sama dalam hukum (het rechsgelijkheids beginsel). c. mengatakan jika dihubungkan pembagian atas asas formal dan materil. . Pendapat terakhir dikemukakan oleh A.Pendapat yang lebih terperinci di kemukakan oleh I. d. Asas tujuan yang jelas. Attamimi. e. b. yaitu asas formal dan asas materil.

Terdapat enam hak yang dikenal dalam disiplin Syariat Islam: a. dan tokoh-tokoh kontemporer lainnya. Asas sesuai dengan prinsip pemerintahan berdasarkan konstitusi. Asas sesuai dengan cita hukum Indonesia dan norma fundamental negara. hak asasi manusia juga diacu sebagai landasan perumusan materi kebijakan. Hak untuk mempertahankan nama baik (hifdz al irdh) . Hak kebebasan beragama (hifdz a din) c. Asas sesuai dengan hukum dasar negara. Penegakan hak asasi manusia (iqamat al huquq al Insaniyah). c. Pluralisme (al ta’addudiyyah). mengakomodasi keberagaman di suatu komunitas. Hak kebebasan berfikir (hifdz al aqli) d. 5. Hak untuk hidup (hifdz al nafs aw al hayat) b. Asas dapat dikenali. Ibnu al Qayyim al Jauziyah. Nasionalitas (muwathanah). Hak properti (hifdz al maal) e. 6. Asas–asas materiil: 1. Asas sesuai dengan prinsip negara berdasarkan hukum. spirit nasionalisme yang melandasi bangunan bangsa Indonesia harus menjadi batu pijak dan poros dalam perumusan kebijakan (meskipun ia berbasis pada syariat Islam). suatu prinsip keanekaragaman. di mana setiap peraturan perundang-undangan yang disusun harus menghargai. 4. b. Asas materi muatan yang tepat. Dalam Islam. b. Beberapa prinsip itu antara lain: a. prinsip-prinsip perumusan peraturan perundang-undangan (qanun) juga telah lama diperkenalkan oleh ahli Islam seperti Al Ghazali. menurut Imam Ghazali adalah bahwa perumusan kebijakan dioreintasikan pada komitmen untuk melindungi hak-hak kemanusiaan. 4. Asas organ / lembaga yang tepat. Asas dapat dilaksanakan. 3.3. 2.

Kemaslahatan (al mashlahah) Ibnu al Qayyim al Jauziyah menyebutkan bahwa syariat Islam itu dibangun untk mewujudkan nilai-nilai universal seperti: al mashlahah (kemaslahatan). e. yang digunakan untuk mengadili peristiwa pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Timor Timur yang terjadi pada 1999. baik dari segi materi-materi yang harus dimuat dalam peraturan perundang-undangan. Namun demikian. Persaudaraan (al ukhuwwah) d. Uraian berikut ini sebagian besar mengacu pada UU No. akurasi organ pembentuk. peraturan perundang-undangan yang dibuat hanya berlaku pada peristiwa-peristiwa hukum yang terjadi setelah peraturan perundang-undangan itu lahir.1. al adalah (keadilan). 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. al hikmah (kebijaksanaan). al rahmat (kasih sayang). Hak untuk memiliki garis keturunan (hifdz al nasl) d. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan perundang-undangan. Demokratis: secara prinsipil nilai-nilai Islam berkesesuaian (compatibel) dengan nilai-nilai demokrasi. Kemerdekaan (al hurriyyah) c. . dan lain-lain. cara atau teknik pembuatannya. Sebagai contoh UU No. Berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas. 2. Kesetaraan dan keadilan gender: setiap kebijakan disusun tidak boleh membedakan setiap jenis kelamin. Asas-asas Hukum Umum a. Musyawarah (al syuro) f. di bawah ini akan diuraikan penjelasan asas-asas itu yang dikelompokkan ke dalam 3 bagian asas yang harus dipenuhi. Egalitarianisme (al musawah) b. Untuk memudahkan pemahaman. Beberapa di antaranya: a.f. dengan tambahan dan penjelasan yang dideduksi dari uraian para ahli. pada dasarnya menunjuk pada bagaimana sebuah peraturan perundang-undangan dibuat. Keadilan (al adalah) e. Peraturan perundang-undangan tidak berlaku surut (non retroaktif). mengabaikan asas ini dimungkinkan terjadi dalam rangka untuk memenuhi keadilan masyarakat. Ia harus mengakomodasi dan mensetarakan gender.

memperhatikan keragaman penduduk. Asas kepatuhan pada hirarkhi (lex superior derogat lex inferior). Ketiga prinsip dasar itu jika diturunkan secara lebih rinci adalah sebagai berikut: a. c. Pengayoman. Bhinneka Tunggal Ika. peraturan perundang-undangan yang ada di jenjang yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berada pada jenjang lebih tinggi. Peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus menyampingkan peraturan perundang-undangan yang bersifat umum (lex specialis derogat lex generalis). dan budaya.b. c. agama. kecuali terhadap pengaturan yang tidak bertentangan. mencerminkan watak bangsa Indonesia yang pluralistik. memuat misi keadilan. b. Kesamaan kedudukan di muka hukum dan pemerintahan. dalam setiap peraturan perundang-undangan biasanya terdapat klausul yang menegaskan keberlakuan peraturan perundang-undangan tersebut dan menyatakan peraturan perundang-undangan sejenis yang sebelumnya digunakan. golongan. f. kondisi khusus daerah. Ketertiban dan kepastian hukum. d. menciptakan ketertiban melalui jaminan hukum. d.2. Kemanusiaan. Dan seterusnya sesuai dengan hirarkhi norma dan peraturan perundang-undangan. Asas Material/ Prinsip-prinsip Substantif Secara umum. memberikan akses dan kedudukan yang sama di hadapan hukum. memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketenteraman masyarakat. jaminan integritas hukum nasional. dan (3) peran negara versus masyarakat dalam negara demokrasi. 2. g. prinsip-prinsip yang dapat dijadikan acuan dalam menilai substansi/ materi muatan peraturan perundang-undangan adalah (1) nilai-nilai hak asasi manusia (HAM) dan keadilan gender yang sudah tercantum di dalam konstitusi. . Keadilan. sebagai contoh UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat. Kebangsaan. suku. e. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh adalah lex specialis yang banyak mengesampingkan UU No. Peraturan perundang-undangan yang berlaku belakangan membatalkan peraturan perundang-undangan yang berlaku terdahulu (lex posteriori derogate lex periori).

sehingga dapat dilaksanakan. setiap peraturan perundangundangan harus memuat klausul yang memungkinkan peninjauan kembali bagi koreksi dan evaluasi untuk perbaikan. terminologi. yang mudah dimengerti dan tidak multitafsir. Dapat dilaksanakan. peraturan perundang-undangan harus memuat aturan yang menjawab kebutuhan masyarakat. . keseresaian.h. warna kulit. Kedayagunaan dan kehasilgunaan. mengandung tujuan yang jelas yang hendak dicapai. serta kepentingan bangsa dan negara. tidak mengandung muatan pembedaan (baik langsung maupun tidak langsung). Ketepatan kelembagaan pembentuk Perda. dan keselarasan. dan identitas sosial lainnya. Membuka kemungkinan koreksi dan evaluasi. jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga yang memiliki kewenangan. s. memuat substansi yang memberikan keadilan dan kesetaraan gender dan mengandung pengaturan mengenai tindakan-tindakan khusus bagi pemajuan dan pemenuhan hak perempuan. tidak hanya dibuat untuk mengatasi suatu peristiwa tertentu. memuat aturan yang efektif secara filosofis. t. berdasarkan jenis kelamin. l. j. memberikan daya guna dan hasil guna. Keseimbangan. Antidiskriminasi. suku. agama. r. Universal dan visioner. Kejelasan rumusan. bahasa. dan sosiologis. q. muatan peraturan perundang-undangan disusun untuk menjawab persoalan umum dan menjangkau masa depan (futuristik). Rumusan yang komprehensif. menyeimbangkan antara kepentingan individu dan masyarakat. o. Fair trial (peradilan yang fair dan adil). muatan Perda harus dibuat secara holistik dan tidak parsial. sistematika. yuridis. muatan tentang pelaksanaan peraturan perundang-undangan harus menyediakan mekanisme penegakan hukum yang fair. Keadilan dan kesetaraan gender. jenis dan hirarki peraturan perundangundangan memuat substansi yang sesuai berdasarkan kewenangan yang telah diberikan oleh undang-undang. p. m. n. akurasi pemecahan masalah. i. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan. Kejelasan tujuan. k.

perdebatan dan kerja pembentukan peraturan perundang-undangan bisa mengacu pada segala macam diskursus. dalam praktiknya. Asas formal/ Prinsip-prinsip Teknik Pembentukan Peraturan Perundangundangan Proses pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik harus memenuhi asas atau prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Namun demikian. e. dan pembahasan harus bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap orang.[7] Jika demikian. serta pembiayaan. keyakinan. kecermatan memahami masalah secara akurat. proses pembentukan peraturan perundangundangan yang meliputi perencanaan. termasuk penyediaan mekanisme partisipasi dan pengelolaan aspirasi. sebagai konsekuensi sosiologis dan keberagaman yang dimiliki oleh suatu bangsa. kinerja lembaga legislatif dan eksekutif. Ketersediaan kajian akademik. d. b. agama. berbagai kehendak dan aturan yang bersumber pada keyakinan idiologisnya sah-sah saja menjadi sumber hukum. Partisipasi publik. pembentukan. Akan tetapi semua itu harus mengacu pada konsensus yang telah disepakati dan dijadikan state ground norm. Indonesia di awal kemerdekaannya hingga kini telah menyepakati bahwa Pancasila adalah hasil . proses pembentukan peraturan perundangundangan harus didahului dengan kajian mendalam atas masalah yang dihadapi atau hal-hal yang hendak diatur. naskah. sumber pembentuk peraturan perundang-undangan adalah segala sesuatu yang berupa tulisan.2. proses pembentukan peraturan perundang-undangan membutuhkan kemampuan menangkap aspirasi dan kekhawatiran publik. Sumber-Sumber Peraturan perundang-undangan Sumber secara literal berarti tempat keluar. dan lain sebagainya yang dapat dijadikan dasar bagi perumusan norma-norma hukum yang kemudian diadopsi menjadi muatan peraturan perundang-undangan. 3. dokumen. sumber peraturan perundang-undangan jika mengacu pada asas hirarkhi adalah bersumber pada peraturan perundang-undangan yang berada pada jenjang di atasnya. atau tempat di mana sesuatu itu diambil atau berasal. proses pengambilan kesepakatan diupayakan dengan jalan musyawarah. yang biasanya dituangkan dalam bentuk draft akademik. Pada dasarnya. norma dasar negara.3. proses peraturan perundang-undangan harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka yang meliputi: akurasi perencanaan kerja. Aksessibilitas dan keterbukaan. dan lain sebagainya. Akuntabilitas. keyakinan. Secara teoritik. c. serta kapasitasnya menemukan titiktitik konsensus antara berbagai pengemban kepentingan tentang suatu isu atau permasalahan. persiapan.Kekeluargaan.

Misalnya sebagian orang hendak menyusun peraturan perundang-undangan berdasarkan nilai tertentu. Amiroeddin Syarief[8] menyebut tiga kategori landasan: a. norma. di mana rumusan norma-norma hukum mencerminkan kenyataan. Landasan sosiologis. memilih dan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara harus tetap dijaga. agama. yang bersumber dari agama dan keyakinan tertentu. dan keyakinan yang lain yang hendak dijadikan peraturan perundangundangan nasional. Posisinya yang demikian kuat. di mana norma-norma yang diadopsi menjadi materi muatan peraturan perundang-undangan mendapat justifikasi atau pembenaran secara filosofis. maka sesungguhnya Pancasila tetap merupakan dasar dan inspirasi pembangunan hukum nasional. Pancasila juga merupakan instrumen penyaring nilai. di sini tugas Pancasila adalah menakar apakah ia sesuai dengan sila-sila Pancasila atau tidak. Di samping sebagai sumber. suku. b. berbangsa dan bernegara. Landasan filosofis. Penegasan di atas mengandung arti bahwa secara idiil tatanan masyarakat Indonesia telah dirumuskan dalam nilai-nilai yang terkandung pada setiap sila Pancasila.dan produk konsensus nasional yang telah disepakati oleh semua elemen bangsa melintasi batas wilayah. Sumber peraturan perundang-undangan dengan kata lain bisa disebut dengan landasan peraturan perundang-undangan. dan (2) landasan yuridis materil. Pancasila Pancasila merupakan pedoman sekaligus ajaran yang telah diakui dan diyakini sebagai pandangan dan falsafah hidup bangsa Indonesia serta sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu ketentuan-ketentuan hukum yang memberi kewenangan kepada organ pembentuknya. Pancasila sebagai dasar negara adalah mengikat seluruh tatanan kehidupan bermasyarakat. Jika tidak sesuai maka demi keutuhan nasional dan konsensus.[9] . karena isi Pancasila melekat dalam UUD 1945 yang menempati hirarkhi teratas peraturan perundang-undangan.1. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila itu memberikan arah bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita dan tujuan nasional. dan lain sebagainya. Meskipun Pancasila tidak lagi disebut sebagai sumber segala sumber pascalahirnya UU No. c. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan perundangundangan. di mana norma-norma yang tertuang merujuk pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang derajat hirarkhinya lebih tinggi. Landasan yuridis. Pancasila menjadi sumber bagi pembentukan peraturan perundangundangan. yaitu ketentuan-ketentuan hukum tentang masalah atau materi-materi yang harus diatur dalam peraturan perundang-undangan. 3. keyakinan umum atau kesadaran hukum masyarakat. idiologi. Landasan yuridis dibagi menjadi dua (1) landasan yuridis formal.

dipastikan dimensi agama akan merasuk di dalam setiap perspektif dan pendapat pada pembuat peraturan perundangundangan. ia merupakan prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan negara yang menuntut penjabaran lebih lanjut dalam bentuk peraturan perundang-undangan yang di bawahnya. Hukum Agama Indonesia memiliki berbagai agama dan kepercayaan. Yurisprudensi Yurisprudensi atau keputusan-keputusan lembaga peradilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap. akan tetapi secara umum ijtihad-ijtihad (usaha penemuan hukum. rechfinding) yang dilakukan para hakim bisa kemudian dijadikan sumber bagi perumusan peraturan perundang-undangan. tak pelak. Banyak norma hukum yang terkandung di dalam agama-agama yang bisa diadopsi menjadi materi muatan peraturan perundang-undangan. karena tidak semua norma agama dapat dikuailfikasi sebagai norma hukum yang diyakini kebenarannya oleh semua orang. Namun demikian. 3. dalam praktik pembentukan peraturan perundang-undangan. ia harus dipastikan tidak memaksakan norma non hukum dijadikan norma hukum. juga bisa dijadikan sebagai sumber pembentukan peraturan perundang-undangan.5. Berbagai nilai kebenaran tersimpan di dalam agama-agama itu.2.3. Ia menempati urutan pertama dalam hirarkhi peraturan perundangundangan. Keberadaan agama-agama dan kepercayaan itu diakui keberadaannya oleh konstitusi. 3. tapi juga menjadi sumber bagi perumusan peraturan perundang-undangan itu. Karakter konstitusi di manapun. dibandingkan jika ia dipaksakan untuk ditampilkan secara formal dalam sebuah kebijakan negara. Karena keyakinannya. menuntut atribusi. 3. Setiap agama memiliki ajaran dan norma yang diyakini dan dipeluk oleh pemeluknya masing-masing. Undang-Undang Dasar 1945 Sebagai landasan konstitusional Undang-Undang Dasar 1945 merupakan norma dasar yang harus dipedomani dalam merumuskan berbagai peraturan perundangundangan. Meskipun keputusan hakim itu perlu diuji kebenarannya. Di dalam diri UUD 1945 misalnya. maka kalaupun agama menjadi sumber pembentuk peraturan perundang-undangan. Pilihan untuk tidak memaksakan norma non hukum yang bersumber dari agamaagama dan kepercayan adalah sebagai konsekuensi politik dan sosiologis berbangsa dan bernegara. Karena itu UUD 1945 tidak hanya mendelegasikan pembentukan perundang-udangan. tapi tidak sedikit juga norma non hukum dalam agama-agama dan kepercayaan yang justru lebih mulia dan tetap dipatuhi oleh pemeluknya.3. Hukum Adat . terdapat lebih kurang 53 perintah langusng perumusan peraturan perundang-undangan.4. Secara sosiologis ia juga memiliki penganut sendiri-sendiri.

bangsa ini juga memiliki beragama hukum adat yang masih hidup di tengah masyarakat. Cet. h.70 [3]Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto. 3. Ke-3. Cit. Kamus Besar Bahasa Indonesia. yang harus dirujuk dalam pembentukan peraturan perundangundangan. baik berupa perjanjian internasional. 330 [6]Maria Farida Indrati Soeprapto. 7-11 [4]Amiroedin Sjarif. Citra Aditya Bakti. Balai Pustaka. Bandung: PT. kecuali yang sudah menjadi sistem dan diadopsi secara nasional. ratifikasi kovenan dan konvensi yang dikeluarkan oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau badan internasional lainnya. Op. Cit. Op. [1] Dipresentasikan pada Mata Kuliah Hukum Perundang Undangan. Edisi III. Jakarta: Disertasi Doktor Universitas Indonesia. sesungguhnya ia telah mengikat secara hukum (legally binding).Sama dengan agama-agama dan kepercayaan pada uraian di atas. Jurusan Perbandingan Madzhab Hukum. 2002. h. 197 [7]Departemen Pendidikan Nasional. dan kemudian diadopsi menjadi muatan peraturan perundangundangan.6. Karena fakta sosiologisnya bangsa Indonesia terdiri dari beragam adat. Studi Analisis mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu PELITA I-PELITA IV. h. [2]Departemen Pendidikan Nasional. 78-84 [5]A. Jakarta. 1102 [8]Amiroeddin Syarief. 91-94 [9]Perdebatan di dalam pembahasan RUU Pembentukan Peraturan Peraturan perundang-undangan. Hukum Internasional Hukum internasional. Cit. 1990. h.. h. Op. Cit. merupakan sumber atau referensi yang bisa dirujuk dalam merumuskan peraturan perundang-undangan. Fakultas Syari’ah dan Hukum.. Hukum adat. Peraturan perundang-undangan dan Yurisprudensi. Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara. h. Bahkan untuk beberapa kovenan dan konvensi yang sudah diratifikasi. Hamid S Attamimi. di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan kearifan adat dan nilai serta norma yang dimiliki oleh sebuah komunitas adat dapat diobyektivikasi dan diakui oleh semua orang sehingga ia bisa dikualifikasi sebagai norma hukum. ia juga tidak bisa semuanya digeneralisir sebagai suatu norma yang dapat ditampilkan di aras publik dan mengikat semua orang. h. Op. Pancasila tidak lagi disebut sebagai . 1989. sebelum menjadi UU.

Jadi bukan berarti Pancasila diabaikan sebagai sumber pembentukan peraturan perundangundangan. karena posisinya sebagai dasar negara jauh lebih agung dibanding jika ia masuk di dalam urutan peraturan perundang-undangan.sumber segala sumber. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful