P. 1
ISLAM KAFFAH : PARADIGMA INTELEKTUAL & GERAKAN

ISLAM KAFFAH : PARADIGMA INTELEKTUAL & GERAKAN

4.75

|Views: 3,770|Likes:

More info:

Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Jul 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

Hilmy Bakar Almascaty

ISLAM KAFFAH
Paradigma Idiologi dan Intelektual Untuk Aktivis Gerakan Islam

DAFTAR ISI
I. II. III. IV. V. VI. VII. PROLOG : KEBANGKITAN ISLAM GELOMBANG KEDUA ISLAM KAFFAH SISTEM HIDUP MASA DEPAN MUHAMMAD RASULULLAH, BAPAK PENCINTA KEADILAN MANHAJ NUBUWWAH, JALAN KEMENANGAN ISLAM JIHAD FI SABILILLAH SYAHID PEMERINTAHAN ISLAM

VIII. IKHWAN AL-MUSLIMIN, GERAKAN ISLAM KAFFAH IX. X. ISLAMISASI PENGETAHUAN KEBANGKITAN NEO-FUNDAMENTALISME ISLAM DI INDONESIA

KATA PENGANTAR Alhamdulillahi Robb al-Alamin, segala puja puji hanyalah milik Allah, Robb yang Menguasai seluruh alam raya. Shalawat dan salam kehadirat Rasululullah Muhammad, Nabi teragung dan terakhir, demikian pula dengan keluarga, para shahabat dan yang mengikuti perjuangannya hingga hari qiyamat. Amin Pertama-tama mungkin banyak orang yang akan terperanjat melihat judul buku ini yang sangat kontraversial. Bagaimana tidak, disaat-saat pemahaman yang berbau Islam Kaffah atau sejenisnya dan segala bentuk gerakannya yang selalu dicitrakan sebagai gerakan destruktif, pemberontakan, radikalisme, militanisme, ekstrimisme, fundamentalisme dan sejenisnya dicurigai, dihujat bahkan diisolir dan diperangi di seluruh muka bumi karena dianggap sebagai sumber kerusakan, ketakutan dan peperangan, justru penulis dengan beraninya menampilkan masalah kontraversial ini. Sumber utama kontraversial tidak lain disebabkan karena penulis menghubungkan Islam dengan terorisme. Permasalahannya bagaimana mungkin Islam yang mengajarkan nilai-nilai keagungan dan kemuliaan berhubungan dengan terorisme ? Apalagi seperti belakangan ini, akibat gencarnya propaganda musuhmusuh Islam, terutama Yahudi yang dimotori Amerika dan sekutunya untuk mengubur gerakan kebangkitan Islam, banyak dikalangan kaum muslimin yang ketakutan dan antipati terhadap ajaran agamanya yang sempurna, penuh keadilan dan kedamaian. Karena setiap upaya untuk memperjuangkan Islam secara kaffah (totalitas) dan konsisten, otomatis diasosiasikan dengan gerakan terorisme, sebagaimana yang menimpa para pejuang Islam, baik di dunia Islam maupun di Indonesia seperti yang dituduhkan kepada al-Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, al-Ustadz Ja’far Umar Thalib, al-Habib Muhammad Riziek Shahab, Agus Dwikarna dan lainnya. Dengan cap teroris yang diberikan terhadap para pejuang Islam, maka akan mudah bagi dunia untuk menangkap, memerangi bahkan menginvasi sebuah negara dengan bantuan badan dunia seperti PBB seperti yang dilakukannya terhadap Afghanistan maupun Irak. Secara teoritis, seorang Muslim yang istiqomah dan taat kepada ajaran Islam, tidak mungkin akan merugikan kepentingan umat manusia di muka bumi ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan para shohabat serta penerus perjuangannya. Karena mereka ditugaskan oleh agamanya agar menjadi juru selamat dan pemberi rahmat, kebahagian, kedamaian, ketenangan, kemakmuran, keadilan, kesejahteraan kepada seluruh umat manusia tanpa mengenal ras dan suku bangsa. Ayat-ayat al-Qur’an dengan tegas dan jelas menyatakan hal itu, dan

amalan inilah yang mengantarkan kaum muslimin sebagai umat terbaik (khairo ummah) yang dipilih dari umat manusia. Generasi Islam terdahulu telah memberikan contoh keagungan dan keindahan ajaran Islam, sehingga 2/3 bumi berada dibawah kekuasaan Islam yang dipimpin manusia-manusia adil seperti Umar bin Khattab. Maka kemudian jika ada yang mengaku Muslim, namun menimbulkan kerusakan dan keonaran di muka bumi, maka perlu dipertanyakan keislamannya. Apakah mereka benar-benar melaksanakan Islam sebagaimana yang diperintahkan Allah yang menurunkan Islam dan dicontohkan Muhammad Rasulullah dan para Shahabat. Karena Islam diturunkan ke muka bumi bukan untuk menciptakan manusia-manusia korup yang menilep harta rakyat sehingga negaranya bangkrut, demikian pula tidak untuk melahirkan manusia-manusia bejat yang mengizinkan kemaksiatan sehingga generasi mudanya hancur akibat narkoba dan tindakan amoral. Islam tidak diturunkan untuk mencetak manusiamanusia perusak, bermoral rendah, berperilaku binatang, merugikan sesamanya dan berbuat semaunya tanpa pertanggungjawaban. Islam tidak pernah mengajarkan pengikutnya agar menjadi manusia-manusia buas yang membunuh dan memerangi manusia lainnya tanpa sebab yang jelas dan dibenarkan. Ajaran Islam sangat jelas, bahkan penuh dengan ketinggian dan keagungan. Bahkan mereka yang mengaku Muslimpun belum tentu dianggap Islam apabila keislamannya karena mengharapkan kepentingan duniawiyah dan bukan karena mengharapkan keridhoan Allah semata. Demikian pula jika ada yang menyatakan dirinya berjuang di jalan Islam, namun mengharapkan balasan dunia walaupun sekedar tali unta, maka dia bukanlah pejuang sejati di hadapan Islam. Apalagi mereka yang berjuang karena dendam pribadi ataupun karena kepentingan dunia lainnya, kemudian melakukan kerusakan demi kerusakan maka jelas tidak berada di jalan Islam. Islam hanya memerintahkan pengikutnya untuk mengajak manusia ke jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan keagungan, keadilan dan kedamaian. Jalan yang akan mengantarkan mereka menuju kesempurnaan dan ketinggian hidup hanya menyembah kepada Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan Tuhan-Tuhan selainnya. Misi inilah yang dibawa semua utusan Allah dari Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad. Namun kenyataannya, tidak semua manusia mau mengikuti seruan dari Sang Maha Pencipta, bahkan ada diantara mereka yang menghalangi dan memerangi para utusan Allah untuk menghalanghalangi manusia lainnya mengikuti ajaran mulia ini. Maka apakah para penghalang dan pemerang ajaran agung ini akan dibiarkan berbuat semaunya agar manusia tidak mengenal keagungan ajaran Penciptanya ? Maka tentu para penghalang ini harus disingkirkan agar semua umat manusia bebas menentukan

pilihannya sendiri tanpa paksaan dan rasa takut. Tapi kenyataannya para penghalang yang umumnya kaum penguasa diktator dan tiranis menyusun kekuatan dengan segala kelengkapannya untuk menghalangi dan memerangi manusia yang menginginkan ditegakkannya keadilan dan kedamaian sejati berdasarkan ajaran Islam. Itulah sebabnya Allah Yang Maha Mengetahui memerintahkan kepada pengikutnya untuk mempersiapkan segala bentuk kekuatan untuk melenyapkan para penghalang kebenaran ini. Akhirnya peperangan pasti tidak akan terelekkan antara pembela kebenaran dan pembela kejahatan sebagaimana yang terjadi disepanjang sejarah umat manusia, dan pasti akan terus terjadi selama masih ada manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai Tuhan-Tuhan dan menghalangi manusia menuju kebenaran. Itulah sebabnya Islam dengan tegas memerintahkan pengikutnya untuk berjihad dengan niat dan tujuan utama untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi dan bukan untuk mencari kepentingan duniawiyah, berupa harta kekayaan, pangkat, jabatan ataupun keharuman nama. Jihad Islam hanya memerlukan manusia-manusia agung yang telah melepaskan segala kepentingan duniawinya, menukarnya dengan kebahagian akhirat untuk mencapai kehidupan yang agung dan mulia. Itulah sebabnya jihad Islam hanya mampu diemban oleh mereka yang hanya mengharapkan keridhoan Allah semata, sebagaimana dicontohkan Rasulullah dan para Shahabat agungnya. Walaupun sebagain mereka awalnya adalah para konglomerat yang kaya raya, namun akhirnya mereka menjalani hidup sederhana dan menginvestasikan hartanya di jalan Allah. Walaupun mereka telah menguasai gudang-gudang kekayaan dunia seperti Romawi, Parsia ataupun Mesir, kehidupan mereka tetap sederhana sebagaimana digambarkan Khalifah Umar bin Khattab yang meninggal hanya mewariskan sebuah baju yang penuh dengan tambalan kepada keluarganya. Ajaran Islam yang agung dan mulia terus menerus melahirkan manusiamanusia agung sepanjang sejarahnya yang mentauladani perjuangan Muhammad Rasulullah dan para Shahabatnya. Demikian pula ketika kebangkitan Islam dikumandangkan beberapa dekade lalu, telah tampil dengan gagah beraninya generasi pejuang muslim yang menentang imperialis Barat, mengusir mereka dengan penuh keperkasaan. Mereka tampil silih berganti mengumandangkan perang suci melawan kaum kafir yang telah meracuni keyakinan dan pemikiran umat sehingga menjadi bangsa yang terbelakang. Kemenangan demi kemenangan mereka peroleh, sehingga para kolonialis kafir dengan berat hati meninggalkan tanah jajahan yang menjadi sumber penghasilan mereka. Dan kini, di tengah-tengah gencarnya sekulerisasi dan westernisasi yang dipaksakan kepada generasi muda Islam, mereka tampil kembali menyerukan agar umat berpegang teguh kepada ajaran agamanya sebagaimana dikehendaki

Allah dan Rasul-Nya. Hari demi hari, seruan mereka yang ikhlas menggema dan membahana, menembus dinding-dinding benteng sekulerisme yang dipropagandakan Barat. Walaupun menghadapi tantangan dan rintangan, mereka tetap tegar menyerukan perjuangan suci agar umat kembali mengamalkan ajarannya dan meninggalkan segala bentuk ajaran sesat yang akan menjadikan mereka sebagai umat terbelakang. Bahkan diantara mereka telah mengorbankan jiwanya di medan jihad yang terbentang dari Palestina, Afghanistan, Checnia, Bosnia sampai di Selatan Filipina dan Ambon. Namun kenyataannya, mereka yang ikhlas berjihad mengorbankan segalanya untuk Allah dalam menegakkan Islam yang menyerukan keadilan dan kedamaian di muka bumi ini, yang meninggalkan kepentingan duniawinya untuk kehidupan akhirat, yang menentang kezaliman para diktator tiranis, yang melawan para perampas hak asasi dan tanah air mereka, yang berjuang mempertahankan eksistensi mereka, yang menginginkan ditegakkannya ajaran Allah di muka bumi agar manusia selamat dunia akhirat dituduh dan dicap sebagai teroris. Mereka dicitrakan secara sistematis sebagai manusia-manusia bejat biang kerok kerusakan oleh Amerika dan sekutunya yang mendapat pengesahan PBB. Para pejuang Islam yang mempertahankan tanah airnya dari penjajahan kapitalisme global yang mengeksploitasi sumber daya alamnya dicitrakan sebagai manusia-manusia pembangkang seperti kaum teroris yang selalu dicitrakan membuat teror, kerusuhan, kerusakan dan sejenisnya. Itulah sebabnya dunia diharapkan memerangi mereka dengan segala kekuatan yang dimilikinya. Dan akhirnya dunia menyaksikan ketidakadilan demi ketidakadilan yang ditimpakan kepada kaum muslimin yang menyerukan keselamatan dan kedamaian sebagaimana yang terjadi terhadap kaum muslimin di Australia dan negara Barat lainnya. Pada hakikatnya, sebagaimana generasi Islam pertama, kelompok yang dituduh sebagai teroris ini ingin menciptakan sebuah masyarakat Islam yang tegak atas dasar al-Qur’an dan Sunnah Rasul namun mampu menjawab tantangan jaman modern sehingga Islam menjadi agama rahmat untuk seluruh alam. Mereka berkeyakinan bahwa Islam adalah ajaran sempurna yang diturunkan Allah untuk seluruh umat manusia, dari sejak diturunkannya sampai hari kiamat kelak. Itulah sebabnya mereka berkeyakinan bahwa Islam pasti mampu membangun tatanan masyarakat utama kapan dan dimanapun. Masyarakat Islam, sebagaimana yang digambarkan masyarakat yang dibina Rasulullah adalah masyarakat yang menjunjung tinggi moral, mengutamakan keadilan, penuh toleransi, menghormati pemeluk keyakinan dan agama lain, mengutamakan persatuan dan keamanan. Masyarakat utama yang pernah dibangun oleh Muhammad Rasulullah dan para shahabat pelanjunya di Madinah

dan menjadi cikal bakal tumbuh berkembangnya masyarakat yang membangun peradaban baru dunia yang berdasarkan keunggulan ajaran Islam. Namun dalam perjuangan mereka menegakkan masyarakat utama ini, kelompok-kelompok lawannya seringkali menentangnya dengan tindakantindakan zalim, tidak jujur, diktator, membelenggu wacana intelektual dan menggunakan cara-cara brutal yang telah menyumbat aspirasi dan kebebasan sehingga membuat mereka terpojok, putus asa dan menimbulkan sikap irrasional dalam mempertahankan keyakinannya sebagaimana yang terjadi di Palestina, Afghanistan dan dunia Islam lainnya. Kenapa mereka yang ikhlas menghendaki kebaikan tidak diberikan kesempatan mengemukakan pendapat mereka dan membuktikan keunggulan ajaran mereka yang dapat memberikan rahmat kepada seluruh umat manusia, sementara kaum kafir, munafik dan pendukung kemaksiatan diberikana kebebasan bahkan didukung dan dilindungi keberadaannya oleh penguasa. Dengan kata lainnya kalangan yang dijuluki sebagai Islam radikal, fundamentalis, teroris dan sejenisnya selalu dihalanghalangi dengan berbagai cara dan dihambat aspirasi mereka dalam menegakkan keyakinannya. Bahkan mereka menyaksikan kezaliman demi kezaliman, teror demi teror, penganiayaan demi penganiayaan dan seribu satu perilaku jahat lainnya yang menjadikan mereka “terpaksa” mempertahankan eksistensi diri, gerakan dan perjuangan mereka. Perlawanan bangsa Palestina terhadap Israel misalnya, tidak lain disebabkan karena Israel telah menzalimi, menjajah, merampas dan merampok bumi Palestina dengan paksa dari tangan kaum muslimin sebagai pemilik sahnya dengan dukungan dari pemerintah Amerika dan sekutu Baratnya. Dengan kekuatan militer dan dukungan diplomasi politik internasional, Israel telah bertindak semena-mena terhadap kaum muslimin Palestina, membunuh dan memerangi mereka tanpa belas kasih. Berapa banyak wanita, orang tua, anakanak yang tidak berdosa harus mati di tangan tentara Israel yang kejam. Bangsa Palestina diusir secara sistematis dari tanah airnya, dan jika bertahan mereka akan menghadapi kekejaman tentara Isreal. Maka untuk menghadapi manusiamanusia bejat semacam orang-orang Israel yang telah menjajah dan membunuh kaum muslimin Palestina ini, tindakan apakah yang paling tepat dilakukan ? Tidak ada jawaban yang lebih mulia kecuali melawan mereka dengan segala kekuatan yang ada untuk mempertahankan eksistensi kaum muslimin dari tanah air mereka. Itulah sebabnya para ulama Islam telah memfatwakan wajibnya melawan agresor Israel dengan segala kekuatan kaum muslimin, termasuk perlawan dengan BOM SYAHID yang sangat ditakuti. Ironisnya, bangsa Pelestina yang memperjuangkan hak-haknya kemudian dicap dunia sebagai teroris, sementara penjajah Israel yang merampas hak asasi manusia dicitrakan

sebagai pahlawan oleh sekutu Baratnya. Melihat kenyataan ini, hati manusia mana yang tidak menjerit, memberontak dan melawan. Itulah sebabnya tidak mengherankan jika pemuda-pemudi muslim Palestina berlomba-lomba menggapai syahid dengan meledakkan dirinya dengan bom, daripada mereka mati konyol tertembak peluru nyasar tentara Israel, toh mereka akan mati juga, dan mereka memilih mati mulia sebagai syuhada. Demikian pula berkobarnya jihad di Afganistan di sulut oleh kebiadaban rezim Komunis, dan apa yang terjadi di Algeria tidak lain akibat kecurakan kelompok nasionalis sekuler yang kalah dalam berdemokrasi. Tampilnya Front Pembela Islam, Laskar Jihad, Mujahidin dan gerakan sejenisnya di Indonesia belakangan ini tidak lain dipicu oleh kurang seriusnya pemerintah terhadap pemberantasan kemaksiatan, membiarkan budaya hedonistik bahkan akan membiarkan munculnya faham komunis ataupun tidak memberikan pembelaan terhadap umat Islam yang dianiaya di Maluku dan Ambon. Karena mereka memiliki semangat keislaman yang membara, maka kelompok Islam ini senantiasa memiliki kepedulian yang lebih besar daripada kelompok Islam lainnya. Kemudian jika Islam dan ajarannya di ganggu gugat, maka merekalah yang akan tampil pertama kali membela kepentingan agama dan umatnya. Tindakan mereka yang penuh dedikasi, pengorbanan dan ketulusan ini seringkali ditafsirkan salah sebagai usaha teror, perusakan dan sebagainya. Sementara jika dikaji ajaran Islam lebih jauh, kadangkala perbuatan mereka beramar makruf nahi mungkar secara terbuka dan berani adalah perkara mulia dan dianjurkan ajaran Islam dan pernah dicontohkan oleh para shahabat mulia. Keberanian Abu Dzar al-Ghifari misalnya adalah contoh dimana seorang pejuang Islam benari mengemukakan kebenaran agamanya di tengah-tengah kejahiliyahan. Walaupun mendapat tantangan dan penyiksaan dari kaum kafir jahiliyah, dia tetap tegar menyuarakan kebenaran yang diyakininya. Kenyataannya para pejuang Islam tidak pernah gentar menghadapi berbagai bentuk perlawanan yang diberikan musuh-musuh mereka, karena setiap orang yang siap menjadi pejuang di jalan Allah, pasti akan mendapat ujian atas kesungguhan perjuangannya. Itulah sebabnya, mereka sepatutnya diberikan kesempatan menjalankan dakwah dan jihad sebagaimana diyakini, tidak perlu dicurigai ataupun dihalang-halangi agar kelihatan wajah asli mereka yang sangat simpatik, penuh pengorbanan dan ketulusan. Bahkan apa yang mereka lakukan pada hakikatnya karena keinginan mereka memasukkan masyarakat ke dalam syurga yang dijanjikan Allah kepada mereka yang mengikuti ajarannya. Pasca penyerangan terhadap Amerika tanggal 11 September 2001, pemerintah Amerika sangat berambisi menghabisi para pejuang Islam dan gerakan kebangkitan Islam di seluruh dunia, terutama perjuangan menegakkan

dan penerapan syari’at Islam. Bersama sekutu dan antek-anteknya mereka telah menyiapkan program yang tersistematis untuk menghancurkan Islam dan umatnya, bahkan dengan terang-terangan mereka telah membangkitkan kembali semangat Perang Salib terhadap kaum muslimin yang dituduhnya sebagai kaum teroris. Dengan dalih terorisme, para pejuang Islam yang memperjuangkan hakhaknya diperangi oleh kekuatan dunia yang dikomandoi Amerika dan atas dukungan badan dunia Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Setelah berhasil menumbangkan pemerintahan Taleban di Afghanistan, Amerika dan sekutunya sangat berambisi menumbangkan pemerintahan Saddam Husein di Irak yang dituduhnya sebagai sarang teroris. Namun ternyata operasi besar yang dilancarkan Amerika dan sekutunya di Afghanistan tidak berhasil menangkap tokoh yang dituduh sebagai teroris paling berbahaya, Osama bin Laden. Walaupun mereka berhasil mengganti pemerintah Taliban dengan pemerintah bonekanya, tapi pada hakekatnya misi utama Amerika dan sekutunya telah gagal, karena tidak berhasil menangkap Osama bin Laden yang menjadi tujuan utama penyerangan ke Afghanistan. Kegagalan ini mendapat kritik demi kritik dari masyarakat Amerika yang telah mengangkat dan membiayai pemerintahan Amerika pimpinan Goerge Walter Bush. Apalagi operasi pengangkapan dan penyerangan ini memakan biaya besar yang pada akhirnya akan mengantarkan Amerika menuju jurang krisis ekonomi. Untuk mengalihkan perhatian rakyatnya, pemerintah Amerika perlu mencari tokoh pengganti yang dapat memuaskan emosional rakyatnya, maka dirancangkan penyerangan terhadap Irak, namun tanpa disangka, negara-negara Arab bersatu mendukung Irak yang membuat Amerika berfikir panjang. Untuk mengurangi resiko, dicarilah pengganti Osama di kawasan lain, dan Asia Tenggara menjadi pilihan. Berkat kecanggihan proposal pemerintah Singapura yang sangat takut dengan kebangkitan Islam, direkayasalah sebuah gerakan Islam yang bernama Jamaah Islamiyah (JI) dengan pemimpin spiritualnya Abu Bakar Ba’asyir. Untuk memuaskan emosi masyarakat Barat yang anti Islam, Ba’asyir perlu dikorbankan dengan menggambarkannya sebagai pemimpin teroris internasional yang dikehendaki PBB. Jadilah Ba’asyir sebagai tokoh teroris internasional yang memimpin sebuah gerakan teroris yang telah meledakkan pusat perdagangan Amerika. Terlepas dari pro dan kontra, pengertian teroris perlu didudukkan dan difahami dalam konteknya. Jangan karena kebencian kepada suatu umat, kemudian dengan mudah dicap sebagai teroris sebagaimana yang ditimpakan kepada kaum muslimin yang memperjuangkan penegakan syari’at Islam saat ini. Ironisnya mereka yang memperjuangkan Islam Kaffah saat ini sudah diidentikkan dengan teroris pula. Wallahu a’lam.......

Prolog : Kebangkitan Islam Gelombang Kedua
Dunia Modern Yang Sesat dan Kehilangan Arah Tujuan Pada awal abad 21 ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa revolusioner, spektakuler dan dramatis yang akan merubah wajah dunia mendatang. Peristiwa-peristiwa revolusioner yang telah menggemparkan umat manusia baik dalam bidang sosial, budaya, politik, ekonomi, militer, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, agama dan lainnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi diluar perkiraan dan rencana manusia. Semua ini terjadi seakan-akan telah dimulainya jaman baru dalam sejarah umat manusia di muka bumi yang dikenal dengan Millinium ketiga.1 Bersamaan dengannya muncullah trend-trend baru yang akan menentukan corak dunia di masa depan, sebagaimana dikemukakan Naisbitt, Aburdene, Toffler, dan lainnya.2 Jaman baru politik dunia ditandai dengan mulai terjadinya rentetan beberapa peristiwa yang telah menggemparkan dunia. Diantaranya seperti pecahnya Super Power Uni Soviet menjadi beberapa negara merdeka yang memiliki kedaulatan dan melahirkan negara-negara Muslim seperti Uzbekistan, Kazakastan dan lainya. Sementara Rusia sendiri dilanda krisis politik yang berkepanjangan akibat konflik kaum Modernis-Kapitalis dengan TradisionalisKomonis. Pecahnya Yugoslavia menjadi beberapa negara merdeka dan melahirkan negara merdeka Bosnia dan Serbia yang telah melahirkan konflik dan peperangan. Perkembangan politik dunia bertambah semarak dengan bersatunya kembali Jerman Barat dan Jerman Timur menjadi negara KapitalisLiberal-Demokratis dan juga bangkitnya Cina dengan ide pembaharuan ekonomi-politik ala Kapitalisme. Pergeseran dan perkembangan politik dunia ini telah memicu lahirnya konflik demi konflik yang berkepanjangan bahkan akan menjadi semacam pertarungan peradaban (the clash of civilizations) sebagaimana dikatakan Huntington.3 Keruntuhan Uni Soviet secara drastis telah menghilangkan taringnya sebagai Super Power, sekaligus meninggalkan konflik berkepanjangan terhadap bekas negara-negara sekutunya yang telah merdeka. Hal ini juga membawa pengaruh terhadap negara-negara Sosialis-Komunis lainnya. Negara-negara Baltik yang selama ini berlindung di bawah kegagahan Uni Soviet sepertinya sudah kehilangan arah dan pedoman akibat krisis ekonomi, sosial ataupun
3rd Millenium, The Challenge and The Vison, Megatrend 2000 Megatrend Asia, The Eight Asia Megatrend that are Changging the World, Global Paradox, The Third Wave, Future Shock,Power Shift,2020 VisionThe Limits to Growth Encounters with the Future : a Forecast of Life into the 21st Century The Clash Of Civilizations and The Remaking of World Order,

politik yang dialaminya. Kini mereka hanya mengharap balas kasihan dari negara-negara Barat yang menjanjikan segala bentuk bantuan dengan syarat segala aktivitas politik negara mereka dikontrol sesuai dengan kebijaksanaan Barat. Diantaranya ada juga negara Sosialis-Komonis yang coba bertahan di tengah-tengah perubahan ini seperti Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro misalnya. Namun negara kecil ini telah mengalami berbagai bentuk krisis, sehingga penduduknya banyak yang mengungsi ke Amerika dan negara tegangga berdekatan.4 Peta kekuasaan dunia telah berubah dengan runtuhnya Super Power Uni Soviet. Akibat paling kentara adalah berakhirnya perang dingin yang berkepanjangan antara blok Barat dan blok Timur yang selama ini menghantui dunia dan telah menimbulkan berbagai bentuk krisis. Kemungkinan perang nuklir yang menakutkan dunia tidak mungkin akan terjadi, karena pada hakikatnya kini Rusia sebagai pewaris persenjataan Uni Soviet telah bertekuk lutut pada kekuatan Barat dan mengikuti segala perintahnya. Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya telah merayakan kemenangan yang mereka nantikan selama ini. Penantian panjang mereka telah berakhir dengan kemenangan yang akan menobatkan mereka sebagai pengontrol dunia. Bersamaan dengan itu Amerikapun memproklamasikan dirinya sebagai satu-satunya Super Power dunia sekaligus sebagai Polisi dunia dengan mengemukakan konsep "The New World Order" (Orde Baru Dunia ) yang dicita-citakannya. Dengan konsep Orde Baru Dunianya ini, Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya dapat melaksanakan segala keinginannya dengan mengatasnamakan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mereka akan memaksa semua bangsa agar tunduk dengan segala perintahnya, termasuk menentukan kebijaksanaan politik dan ekonomi sebuah bangsa. Berapa banyak pemimpin-pemimpin negara yang dipilih rakyat secara demokratis harus meletakkan jabatananya karena tidak dikehendaki Barat. Dalam hal ini kasus Turki dan Algeria adalah contoh yang paling dekat. Walaupun pemimpin-pemimpin Partai Refah dan FIS yang berhaluan Islam mendapat kemenangan besar dalam pemilu yang demokratis, namun karena tidak direstui Barat, terjadilah kudeta militer yang disponsori Barat. Hal ini terbukti karena Barat merestui pemerintahan Nasionalis-militer yang mengadakan kudeta. Namun anehnya mereka sanggup mengadakan penyerangan militer terhadap Haiti untuk menumbangkan rezim militer yang mengadakan kudeta terhadap pemerintah yang dipilih rakyat, atas nama demokrasi. Maka jelas tujuan Orde Baru Dunia yang diproklamasikan Amerika pada hakikatnya adalah untuk mempertahankan dominasi politiknya terhadap bangsa-bangsa lain.
The Soviet Tragedy : A History of Socialism in Russia (1917-1991). The End of History and The Last Man, Communism : The Final Crisis,The End Of Communist Revolution,The End of Communist Power, The Rise and Fall of Communism,

Dibalik kemenangan politiknya, kini Barat mengalami krisis sosial dan ekonomi yang sangat parah. Hal ini diakibatkan terutama oleh kemerosotan sumber daya manusia mereka. Kualitas manusia-manusia Barat masa kini bukanlah seperti kualitas nenek moyang mereka yang gigih dan rajin sehingga mereka sanggup menjelajah dunia untuk menjajahnya. Namun manusia Barat kini adalah manusia pemalas yang penuh dengan krisis dan dilemma. Mereka ingin mendapatkan hasil yang maksimal dengan kerja yang minimal, sehingga waktu dihabiskan dengan berfoya-foya. Itulah sebabnya masyarakat Barat yang sudah kalah bersaing dengan bangsa-bangsa Timur seperti Jepang, Korea, Cina ataupun ASEAN mendesak pemerintahnya agar mengeluarkan segala bentuk dekrit dan undang-undang yang akan mempertahankan dominasi ekonomi mereka. Mentalitas inilah yang telah melahirkan blok ekonomi seperti Masyarakat Ekonomi Eropa (EC), NAFTA, APEC dan sejenisnya. Dan mentalitas seperti inilah yang akhirnya melahirkan pemaksaan kehendak Barat terhadap negara-negara membangun dan terbelakang dalam dunia perdagangan seperti kasus pemberlakuan GATT oleh WTO. Kemerosotan ekonomi Barat telah memberikan kesempatan bangkitnya kekuatan-kekuatan ekonomi baru di kawasan Pasifik seperti Jepang, Taiwan, Cina, Malaysia, Indonesia dan lainnya. Dan para intelektualpun meramalkan akan terjadinya perpindahan pusat perekonomian dari zone Atlantik menuju zone Pasifik. Ramalan ini akan menjadi kenyataan di masa depan dengan mulai tumbuhnya kesadaran baru yang ditunjukkan oleh pemimpin-pemimpin di kawasan ini. Dr. Mahathir Mohammad telah mengusulkan dibentuknya kerjasama ekonomi Asia timur (EAEC) yang melibatkan negara-negara Asean, Cina, Jepang, Korea, Taiwan dan lainnya. Diharapkan dengan wujudnya kerjasama ini akan mendorong kebangkitan ekonomi di kawasan ini. Usul ini telah mendapat sambutan hangat dari negara-negara Asia Timur, namun Barat tetap tidak merestuinya, bahkan berusaha menggagalkannya dengan menekan negara-negara lainnya, karena hal ini akan dapat mengurangkan dominasi ekonominya. Persaingan ekonomi dunia semakin hebat, dan kadangkala untuk mempertahankan dominasi ini harus melibatkan kekuatan politik dan bahkan militer, terutama antara negara-negara maju yang diwakili kelompok utara (Eropa) dengan negara-negara industri baru di kawasan selatan. Negara-negara maju yang merasa dominasi ekonominya tersaingi, akan menggunakan berbagai cara untuk melumpuhkan saingannya. Negara-negara Barat yang merasa tersaing telah merancang berbagai bentuk peraturan dengan mengatasnamakan Persatuan Bangsa-Bangsa dan badan-badannya yang terkadang merugikan negara-negara membangun dan terbelakang. Demikian pula mereka selalu

mengaitkan bantuan ekonomi dengan keadaan politik satu negara. Dengan alasan demokrasi, kebebasasan, hak asasi kemanusian dan sejenisnya, negaranegara maju yang dipromotori Amerika memiliki hak untuk menentukan perkembangan perekonomian sebuah bangsa. Semua itu pada hakikatnya adalah untuk merebut pasaran dunia yang lebih luas sebagai kelanjutan dari penjajahan baru (New Imprialism). Keadaan ekonomi dunia yang tidak menentu ini telah membawa pengaruh terhadap perkembangan sosio-politik dunia. Negara-negara maju seperti Amerika dan negara-negara Barat lainnya yang terbiasa dengan keadaan ekonomi yang mapan dan stabil, kini mulai gelisah. Apalagi tindakan Amerika yang menjadikan dirinya sebagai polisi dunia telah memaksanya untuk mengeluarkan dana besar untuk membantu sekutu-sekutunya. Dalam hal ini Perang Teluk yang memakan biaya ratusan milyar dolar adalah contoh nyata. Akibatnya Amerika perlu mencari sumber-sumber dana lain di tengah-tengah krisis ekonomi yang dialaminya. Jalan pintas yang dilakukannya adalah dengan menjual teknologi yang dimilikinya, terutamanya teknologi persenjataan modern yang memang sangat diminati oleh rezim-rezim diktator yang ingin mempertahankan kekuasaannya ataupun kepada para pemberontak. Dan terjadilah perang yang direncanakan di seluruh dunia, dari Bosnia, Afganistan, Checnya hingga Somalia, Ruwanda dan sebagian negara-negara Afrika. Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya akan melancarkan serangan, baik melalui politik, propaganda hingga militer kepada pemimpin-pemimpin politik yang tidak disenanginya dengan mengatasnamakan PBB, demokrasi, hak asasi, kemanusiaan dan sejenisnya. Amerika dan sekutu-sekutunya telah merencanakan penggulingan Saddam Hussein, Muammar Qathafi setelah gagal membunuhnya secara militer. Pemimpin-pemimpin negara Sudan yang sedang giat mengadakan Islamisasi di tuduh sebagai teroris. Mereka juga telah merancang untuk menjatuhkan Perdana Menteri Jepang, Hosokawa, dengan alasan korupsi. Dan Perdana Menteri Malaysia, DR. Mahathir Muhammad, yang lantang terhadap kebijaksanaan Barat difitnah sebagai sebagai koruptor. Dan pemimpin-pemimpin politik Indonesia yang mayoritas Muslim, seperti BJ. Habibie diserang dengan berbagai tuduhan negatif yang tidak beralasan. Amerika dan sekutunya dengan enteng membumi hanguskan Afghanistan dengan alasan untuk menangkap Osama bin Laden yang dituduh sebagai dalang penyerangan WTC dan Pentagon. Tindakan brutal dan biadab Amerika ini senantiasa mendapat restu PBB yang tunduk dibawah telunjuknya. Sementara kebiadaban Israel yang membantai warga Palestina tetap diacuhkan. Pergeseran kekuasaan dunia dengan runtuhnya Uni Soviet dan menjadikan Amerika sebagai satu-satunya Super Power ternyata tidak

mendatangkan kebaikan kepada dunia. Karena Amerika dan sekutu-sekutu Baratnya dapat berbuat semaunya dengan menunggangi badan-badan dunia yang telah dikontrolnya. Mereka dapat mendektekan segala kemauannya tanpa ada yang dapat menentangnya. Dengan kecanggihan tehnologi militer yang dimilikinya, Amerika dapat menggertak negara-negara yang menentangnya. Demikian pula halnya Barat telah memaksakan nilai-nilai hidup mereka yang sekuleristik kepada bangsa-bangsa lain dengan mengatasnamakan kepentingan sedunia. Mereka hendak mengekspor kehidupan jahiliyah Barat kepada bangsabangsa Muslim dan Timur lainnya yang telah memiliki tradisi sendiri. Semua ini telah menimbulkan kekecewaan mendalam bangsa-bangsa yang baru bangkit membangun, mereka sudah hilang kepercayaan terhadap PBB dan negaranegara maju yang mau menang sendiri. Di abad 21 ini penderitaan umat manusia bertambah parah, baik di negara-negara maju apa lagi di negara yang sedang membangun dan terbelakang. Di negara-negara maju seperti di negara-negara Barat ataupun Amerika, masyarakatnya mengalami penyakit psikologi yang membawa penderitaan batin, kegelisahan, keresahan dan kehampaan dalam hidup. Walaupun mereka dipenuhi dengan segala kelebihan materi, namun mereka tetap merasa menderita, bahkan penderitaan yang mereka rasakan melebihi penderitaan orang miskin. Itulah sebabnya tidak mengherankan kasus bunuh diri meningkat dengan drastisnya di negara-negara maju. Kehidupan individualistik yang mereka amalkan telah menjadikan mereka tidak saling memperdulikan satu dengan lainnya. Lebih jauh telah lahir sekumpulan masyarakat yang amat menyayangi binatang, bahkan mereka sanggup berbuat apa saja demi kepentingan binatang yang disayanginya. Mereka memberi makan binatang-binatang melebihi makanan manusia. Namun anehnya mereka tidak memperdulikan penderitaan masyarakat disekelilingnya, karena hanya mereka berlainan kulit dengannya. Penyakit-penyakit moral dan sosial seperti free-seks, homo-seks, kecanduan ganja dan minuman keras serta lainnya telah menambah lagi penderitaan mereka, yang akhirnya akan melahirkan masyarakat ganas sebagaimana kelihatan tanda-tandanya belakangan ini. Masyarakat yang resah dan gelisah namun memiliki kemampuan sains-teknologi canggih inilah yang akan memusnahkan dunia dengan pengetahuan yang dimilikinya. Penderitaan yang dialami masyarakat di negara-negara terbelakang dan sedang membangun tidak pula kalah pedihnya. Kemiskinan dan kelaparan adalah penderitaan yang telah diwarisi turun temurun sehingga sangat sukar diselesaikan. Keadaan ini umumnya berlaku pada bangsa yang tidak memiliki lahan yang subur ataupun kurangnya hasil alam yang dapat dieksploitasi. Mereka hanya menjadi bangsa yang mengharapkan bantuan dari negara-negara

donor yang mau membantu dengan segala persyaratan yang kadangkala bertentangan dengan tradisi masyarakat setempat. Mereka dipaksa untuk mengurangkan kelahiran dengan cara membebaskan pergaulan laki-perempuan dan kemudahan untuk menggugurkan kandungan (abortus) sebagaimana masyarakat Barat. Peperangan demi peperangan yang terjadi di beberapa bagian dunia telah menambah penderitaan masyarakatnya. Peperangan yang dipaksakan di Bosnia adalah sebuah contah nyata. Pasukan Serbia dengan kekuatan militer canggih yang diwarisinya dari bekas negara Yugoslavia telah berlaku sewenang-wenang menghapuskan etnis Muslim Bosnia yang tidak memiliki kelengkapan militer. Mereka telah membunuh Muslim Bosnia, tanpa memperdulikan lelaki, wanita, orang tua ataupun anak-anak. Mereka telah memperkosa beramai-ramai wanitawanita Bosnia sebagai salah satu strategi peperangan. Di Bosnia kelihatan dengan jelas kekejaman manusia di abad modern yang dilakukan oleh mereka yang mengaku dirinya memiliki peradaban. Namun anehnya, negara-negara maju hanya memperhatikan saja pembantaian Muslim Bosnia. Mereka tidak melakukan pembelaan sebagaimana mereka membela Kuwait ketika perang Teluk. Demikian pula perang saudara yang terjadi di Ruwanda, Somalia, Afganistan, Yaman, Kambodia dan lainnya akibat keserakahan pemimpinpemimpin mereka kepada kekuasaan telah menghancurkan infra-struktur negara. Peperangan-peperangan semacam ini telah menambah kehancuran, keterbelakangan, kemiskinan dan penderitaan masyarakatnya. Rakyat jelata terpaksa mengungsi di negara-negara tetangga yang menerima mereka dengan setengah hati atau tinggal di kemah-kemah darurat dengan mengharapkan bantuan dunia. Rakyat lemah ini terpaksa antri untuk mendapatkan sedikit makanan agar mereka dapat mempertahankan sisa-sisa hidup mereka. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang menemui ajal karena kurangnya makanan. Penderitaan dan kepedihan mereka disiarkan ke seluruh dunia. Penderitan dan kesengsaraan kaum Muslimin di Palestina, Kashmir, Kurdistan, Arakan, Myan Mar, Filipina selatan dan lain-lainnya hampir dilupakan dunia karena penderitaan mereka yang sudah berkepanjangan. Rezim-rezim nasionalis tidak mengakui hak-hak mereka sebagai sebuah bangsa yang memiliki kemerdekaan dan kedaulatan. Mereka tetap menuntut hak dan terus berjuang dari satu generasi ke generasi lainnya dengan mengadakan perlawan senjata. Korban telah berjatuhan demikian banyaknya, sementara perjuangan mereka belum mendatangkan hasil sebagaimana dicita-citakan, kecuali dibeberapa tempat seperti di Palestina, itupun hanya sebatas otonomi. Dunia menyaksikan segala penderitaan mereka, anak-anak yang kehilangan

keluarga, orang tua yang sakit menahan kepedihan, perempuan-perempuan yang hanya mampu meraung dan menyesali keadaan mereka. Generasi yang tidak terdidik dan terbelakang. Bantuan yang mereka terima hanya sekedar untuk dapat bertahan hidup sambil menunggu bantuan lainnya datang. Penderitaan dan kesengsaraan mereka tergambar nyata dalam kehidupan mereka, namun kepada siapakah harus mereka adukan segala bentuk penderitaan mereka? Karena sang pembela dunia yang mengaku Polisi Dunia hanya mau membela orang-orang kaya yang akan membayar pembelaannya. Di abad ini pula telah terjadi berbagai bentuk krisis sosial yang sangat mengerikan. Krisis ini terjadi bukan hanya di negara-negara terbelakang yang serba kekurangan ekonomi, namun bahkan sampai ke negara maju seperti Amerika. Kerusahan antar suku dan ras telah menjadi gejala baru perubahan sosial dunia masa kini. Kerusuhan ini telah melanda kota maju dan berperadaban Barat Los Angles di Amerika Serikat, kerusuhan antara kulit putih, kulit coklat dan kulit hitam. Kerusuhan yang bermula dari peristiwa pemukulan seorang sopir kulit hitam oleh sekumpulan polisi kulit putih. Namun peristiwa kecil ini telah menyulut dendam yang terpendam selama ini akibat ketidakadilan kulit putih terhadap kulit hitam di Amerika. Pertentangan antara Irlandia Utara dengan Inggris, pembantaian Muslim di India, pembantaian Muslim Bosnia, pembntaian kaum Tutsi di Ruwanda, pembantaian kaum Muslim Checnya dan lainnya adalah diantara contoh nyata krisis sosial masa kini. Perlombaan dalam menciptakan sains-teknologi modern yang canggih telah mewarnai kehidupan dunia masa kini. Para saintis dan teknolog berlomba menghasilkan penemuan-penemuan yang memudahkan kehidupan manusia. Namun diantara itu telah muncul pula teknologi yang mengerikan manusia, terutama teknologi persenjataan. Negara-negara maju telah berlomba dengan penuh kegilaan untuk menghasilkan secanggih-canggih senjata pemusnah kehidupan manusia dan lingkungan hidup. Kemudian mereka memasarkannya kepada negara-negara lain, yang akhirnya akan memusnahkan kehidupan manusia. Laporan-laporan terkini yang menginformasikan tentang kecanggihan senjata pemusnah ini mendirikan bulu roma setiap orang. Bagaimana tidak, hanya dengan beberapa gram nuklir, dunia dapat hancur berkeping-keping. Demikian pula telah banyak muncul ilmu yang bertentangan dengan moral manusia. Alhasil, keadaan dunia pada abad 21 ini telah melahirkan kebimbangan, kecemasan dan ketakutan setiap orang yang memiliki hati nurani dan mencintai keadilan. Tanda-tanda kehancuran dunia semakin nyata baik di laut, darat dan udara, misalnya dengan terkikisnya lapisan ozon, meningkatnya suhu bumi,

semakin tingginya air laut, semakin tercemarnya udara dan air, semakin turunnya kualitas lingkungan, semakin liarnya perilaku manusia, semakin seringnya terjadi bencana alam dan peristiwa-peristiwa menakutkan lainnya. Jika keadaan seperti ini dibiarkan terus berlaku, maka tidak diragukan lagi bahwa dunia sedang menuju jurang kehancuran global yang akan memusnahkan semua kehidupan di alam raya ini. Maka keadaan dunia yang sedang porak poranda ini perlu segera ditata kembali menjadi dunia yang harmonis penuh dengan kedamaian, keadilan dan kemakmuran. Untuk tujuan itu perlu dicari alternatif dengan menerapkan sistem universal yang sesuai untuk menata kembali masyarakat modern menjadi masyarakat ideal. Karena pada hakikatnya dinamika sebuah masyarakat ditentukan oleh sistem yang menatanya. Jika sistem yang diterapkannya unggul, maka akan lahirlah masyarakat unggul dan sebaliknya, jika sistemnya sesat dan palsu, maka akan lahirlah masyarakat perusak diri dan lingkungannya. Sistem hidup yang selama ini berkembang, baik di Timur yang beraliran SosialismeMarxisme ataupun di Barat yang Liberalisme-Kapitalisme telah mengalami kegagalan demi kegagalan yang telah mengantarkan dunia seperti keadaannya saat ini. Dunia baru sangat memerlukan sistem hidup baru. Sistem yang akan mengantarkan dunia menuju era baru, era yang penuh dengan keadilan, kedamaian dan kemakmuran yang senantiasa menjadi cita-cita umat manusia. Semua sistem manusiawi yang diterapkan saat ini, tidak diragukan telah mengancam hidup dan kehidupan umat manusia serta alam raya. Namun sistem seperti apakah yang akan mampu menata kembali dunia yang sedang meluncur menuju jurang kehancuran ini ? Mencari Jawaban Dan Jalan Keluar Dengan keadaannya seperti ini, maka tidak diragukan lagi pada hakikatnya dunia modern saat ini membutuhkan sebuah revolusi universal dan total yang digerakkan oleh manusia-manusia unggul yang akan menghantarkannya pada keadilan dan kedamaian sejati. Sebuah perombakan total dalam perilaku kehidupan umat manusia berdasarkan ajaran yang diturunkan oleh pencipta manusia itu sendiri, Tuhan Yang Maha Pencipta dan Yang Maha Mengetahui tentang manusia. Tidak ada seorangpun yang mengetahui tentang manusia dan segala sesuatu yang menyangkut manusia, kecuali pencipta manusia itu sendiri. Sebagaimana tidak ada yang lebih mengetahui tentang seluk beluk mobil kecuali pencipta mobil itu sendiri. Maka satu-satunya jalan keselamatan dan kedamaian di muka bumi ini adalah dengan mengembalikan semua urusan kepada Tuhan Pencipta Manusia. Dan Tuhan Yang Maha Mengetahui telah mengutus Nabi terakhirnya, Muhammad

Rasulullah, dengan membawa ajaran yang agung dan mulia, ajaran yang akan mengantarkan umat manusia menuju keadilan dan kedamaian sejati. Hanya Islamlah yang mampu menyelesaikan segala bentuk krisis dan dilemma manusia modern dengan segala perbendaharaan pengetahuan mereka. Karena Islam terbukti telah berhasil mencetak manusia-manusia unggul dan membangun dunia baru yang menjadi mata rantai peradaban dunia. Maka sekali lagi Islam akan bangkit kembali mencetak manusia-manusia unggul yang akan membangun peradaban baru di atas peradaban modern yang kehilangan arah dan tujuan saat ini. Pada hakikatnya dunia saat ini membutuhkan sebuah gerakan Kebangkitan Islam Gelombang Kedua. Gerakan yang akan merevolusi total sistem kehidupan global yang menyangkut seluruh umat manusia di muka bumi ini, revolusi yang memberikan solusi terbaik terhadap krisis dan tragedi yang di alami umat manusia, baik manusia Barat, Timur, ataupun kulit putih, hitam ataupun coklat, dengan kata lainnya adalah revolusi kemanusian. Gerakan ini hakikatnya adalah program penyelamatan total umat manusia dari jurang kehancuran akibat perbuatan sebagian diantara mereka yang dengan sadar membuat kerusakan demi kerusakan dengan berbagai cara yang dilakukannya, baik melaui perang bersenjata ataupun perang pemikiran dengan diciptakannya berbagai jenis sistem hidup yang merusak. Jadi pengertian kebangkitan disini adalah lebih luas, yaitu menyangkut gerakan perbaikan (islah), pembaharuan (tajdid) dan penyelamatan (taslim) kepada seluruh umat manusia. Kebangkitan Islam gelombang pertama sudah dilalui dengan kesuksesan yang luar biasa. Di tengah-tengah kehancuran dan kegelapan dunia masa itu, baik kehancuran pemikiran dan pengamalan, tampillah generasi-generasi yang menyelamatkan dunia dibawah pimpinan seorang utusan Allah, Muhammad Rasulullah SAW. Dengan wahyu yang diterimanya, Muhammad Rasulullah tampil bersama para sahabatnya menyelamatkan bumi dari kehancuran dan kegelapan, menjadikan dunia yang penuh keadilan dan kedamaian. Generasi ini telah menyinari seluruh dunia dengan cahaya Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam. Memberikan alternatif sistem hidup yang terbaik dan dapat mengantarkan manusia menuju kesempurnaan hidup dengan ajaran-ajaran mulianya. Berkat kegigihan dan ketekunannya, para generasi ini dengan dorongan semangat ajaran Islam berhasil menjadi mercusuar peradaban dunia dan menjadi suri teladan manusia sepanjang jaman. Walaupun cahaya keislaman yang diwariskan generasi pertama Islam ini semakin redup dari masa ke masa, namun masih dapat memberikan spirit yang kuat kepada ummah selama hampir 7 abad, sehingga tiba masa kemunduran akibat penyelewengan mereka yang

terlalu jauh terhadap ajaran Islam dan akhirnya digantikan peranannya oleh Barat. Kemunduran kaum Muslimin telah memberikan peluang kepada para cendikiawan Barat untuk mengambil khazanah peradaban Islam yang telah dihasilkan para cendikiawan Muslim dan mengawinkannya dengan tradisi mereka sehingga lahirlah peradaban Barat dengan cirinya yang khas. Akibat pertentangan para cendikiawan Barat yang tercerahkan dengan para pemuka agama Kristen yang menyeleweng yang melahirkan faham sekulerisme, akhirnya peradaban Islam yang diambil disekulerkan oleh para cendikiawan Barat dan mengklaim peradaban itu sebagai hasil karyanya dan dinamakan dengan peradaban Barat modern. Dengan peradaban yang diadopsinya dari berbagai sumber ini, para cendikiawan Barat kemudian bergerak dengan kecepatan luar biasa menguasai peradaban modern, dan akhirnya mengantarkan mereka menjadi mercusuar peradaban modern sampai saat ini. Ciri khas peradaban Barat yang menolak peranan Tuhan dan segala atribut metafisik, telah mengantarkannya menuju kebingungan justru dipuncak kecemerlangannya, dan pada akhirnya kebingungan ini telah menjerumuskan mereka menuju jurang kehancuran dengan berbagai krisis dan tragedi. Walaupun Barat telah menemukan keberhasilan yang mengagumkan dalam kehidupan material dengan penguasaannya dalam bidang sains dan teknologi modern, namun mereka telah gagal mengantarkan pengikutnya menuju kedamaian dan kebahagian sejati. Kegagalan sistem sosialisme-komonisme di Uni Soviet dan sakit parahnya kapitalisme-liberalisme di Amerika adalah bukti otentik masalah ini. Kegagalan ini tidak lain karena sistem hidup ini lahir dari peradaban yang tidak memiliki landasan filsafat yang kukuh dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Maka dunia hari ini menyaksikan kerusakan demi kerusakan, krisis demi krisis, kehancuran demi kehancuran yang sangat merata di segala lapangan kehidupan, baik di negara yang menyatakan dirinya beradab ataupun biadab atau di negara maju dan terbelakang. Jika keadaan ini tidak segera diatasi, maka dalam waktu dekat dunia akan mengalami kehancuran total. Pada saat yang sangat mengkhawatirkan inilah perlu adanya Gerakan Kebangkitan Islam gelombang kedua untuk menyelamatkan dunia dari kehancurannya. Gerakan ini sama dengan gerakan kebangkitan Islam gelombang pertama, baik misi, orientasi, relevansi ataupun metodologinya. Yang berbeda hanyalah para pendukung gerakan ini. Jika gerakan terdahulu didukung oleh generasi-generasi Islam yang lahir dari pembinaan Rasulullah, maka gerakan masa inipun didukung oleh generasi-generasi Islam masa kini yang lahir dari pembinaan model Rasulullah, karena hanya model pembinaan

yang bersumber pada wahyulah yang akan dapat melahirkan generasi-generasi Islam penyelamat dunia. Karena metode ini telah terbukti mampu melahirkan generasi-generasi agung penyelamat dunia, sementara metode selainnya belum terbukti lagi. Itulah sebabnya, untuk memulai gerakan revolusi ini, harus difahami metode yang telah diterapkan Rasulullah dalam membina generasigenerasi Islam terdahulu dari sumber ajaran Islam, al-Qur’an, al-Sunnah dan perilaku para Sahabat yang diridhoi serta warisan tradisi intelektual Islam. Metode ini perlu dirumuskan kembali dalam bentuknya yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat modern, terutama menjelaskan lagi makna-makna esensial ajaranya agar lebih difahami. Metode ini kemudian diintegrasikan kepada ummah melalui sarana-sarana pendidikan formal dan informal sehingga terbentuknya masyarakat Islam dengan ciri khasnya. Di dalam al-Qur’an telah disinggung pula proses kebangkitan ini, walaupun penggambarannya dalam bentuk yang lebih khusus, sebagaimana disebutkan al-Qur’an : Dan telah Kami tetapkan kepada bani Israil di dalam Kitab itu : Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di atas bumi dua kali dan kamu akan menjadi sombong dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang janji yang pertama, Kami bangkitkan atas kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka menguasai seluruh negeri. Dan itu adalah ketentuan yang berlaku. Kemudian kami berikan giliran kepada kamu (bani Israil) untuk menguasai mereka (hamba-hamba Allah) dan Kami bantu kamu dengan harta benda dan pengikut, Kami jadikan kamu satu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka akibatnya buat kamu juga. Maka apabila datang janji yang terakhir (kedua), (Kami bangkitkan kembali hamba-hamba Kami) supaya mereka menghinakan muka kamu dan supaya memasuki al-Masjid, sebagaimana mereka memasukinya pertama kali dan supaya mereka menghancurkan kamu sehancur-hancurnya. (al-Isro’ : 4-7) Bani Israil atau lebih populer disebut Yahudi, adalah salah satu bangsa keturunan bapak para Nabi, Ibrahim AS dari anaknya Ishaq AS yang mendapat keutamaan dari Allah SWT dan dijuluki sebagai bangsa pilihan, baik oleh Taurat, Injil maupun al-Qur’an. Namun akibat perbuatan mereka yang melampaui batas terhadap para utusan Allah, mereka dihukum Allah dengan berbagai bentuk hukuman. Akhirnya mereka ditakdirkan akan membuat kerusakan (fasad) dua kali (dua gelombang) sebagaimana disebutkan ayat di atas. Para ahli tafsir klasik umumnya menafsirkan ayat di atas dengan kejadiankejadian masa lalu yang tidak berhubungan dengan pengikut Rasulullah SAW, namun para ahli tafsir kontemporer seperti Said Hawa dalam tafsirnya menghubungkan ayat tersebut dengan kejadian-kejadian masa kini. Kerusakan

(fasad) gelombang pertama yang dilakukan bani Israil adalah sebelum bangkitnya Rasulullah dengan gerakan yang sangat radikal, terutama membunuh para Nabi AS, membuat keonaran dan adu domba, merubah ajaran Nabi Musa AS, membuat agama dan sistem hidup baru, memonopoli perekonomian dan kerusakan-kerusakan lainnya. Terjadilah Gerakan Kebangkitan (Islah) Islam gelombang pertama yang dipimpin Rasulullah dan para pengikutnya yang dijuluki dengan sebutan hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar (super power) yang menghancurkan dominasi Yahudi setelah hijrah di Madinah. Kemudian generasi Islam sesudahnya yang dibina Rasulullah menguasai negeri-negeri lain sampai di Palestina yang terdapat masjid al-Aqsha. Selama beberapa abad, generasi Islam telah membangun sebuah peradaban baru yang telah melahirkan tokoh-tokoh besar dalam semua bidang kehidupan. Kemudian generasi Islam dan penerusnya mengalami kemunduran setelah 7 abad lebih memimpin peradaban dunia, dan bangkitlah kekuatan dan peradaban baru yang berpusat di Eropa. Kebangkitan Eropa dijadikan alat oleh bangsa Yahudi untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta benda dan pengikut, akhirnya mereka mendapatkan apa yang telah dijanjikan Allah SWT kepada mereka dengan banyaknya harta benda dan pengikut-pengikut setia yang mereka miliki. Dengan kekuatan harta benda dan pengikut, baik pengikut dalam ideologi ataupun pemikiran, inilah kemudian bangsa Yahudi dengan jaringan Zionisme Internasionalnya membuat kerusakan (fasad) gelombang kedua dan berhasil mendirikan negara Israel serta menguasai masjid al-Aqsha di samping menguasai pusat-pusat kekuatan politik, ekonomi, informasi, teknologi, pengetahuan di seluruh dunia. Jika dianalisa lebih teliti, pada hakikatnya, semua jenis kerusakan di muka bumi ini tidak lain bersumber dari angkara Yahudi yang telah menganggap semua bangsa selain Yahudi adalah keledai tunggangan yang diperalat untuk mencapai maksud dan tujuan mereka. Maka pada saat kerusakan yang ditimbulkan Yahudi dan pengikutpengikut setianya mencapai puncak ekstrimnya, maka pasti akan terjadi Gerakan Kebangkitan (Islah) Islam gelombang kedua dengan hadirnya generasigenerasi Islam yang dijuluki dengan hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar (super power) yang akan menghancurkan segala bentuk dominasi Yahudi dalam semua aspek kehidupan. Dan generasi ini akan kembali menguasai al-Masjid yang tidak lain adalah masjid al-Aqsho di Palestina yang sekarang dikuasai Yahudi. Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnyapun telah menyatakan tentang akan terjadinya kebangkitan Islam ini, diantaranya dinyatakan dalam sebuah hadits shohih ;

Dari Khuzaifah al-Yaman yang berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: “Akan tegak pada kamu masa Nubuwwah (Kenabian) maka tegaklah ia seberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian ia diangkat. Sesudah itu tegaklah padamu Khalifah atas manhaj Kenabian, maka tegaklah ia beberapa lama yang dikehendaki Allah kemudian diangkat. Sesudah itu tegaklah atasmu “Mulkan Adhudan”(kerajaan diktator), tegaklah ia seberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Sesudah itu tegaklah padamu “Mulkan Jabariyin”(kerajaan rusak), tegaklah ia seberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian ia diangkat. Sesudah itu tegaklah padamu Khalifah atas manhaj Kenabian yang menjalankan Sunnah Rasul di kalangan manusia. Islam akan tersebar luas di muka bumi yang diridhoi oleh penghuni langit dan bumi. Langit tidak akan meninggalkan setetespun air hujan, kecuali ia mencurahkannya. Dan bumi tidak akan meninggalkan tanaman dan berkahnya kecuali ia akan mengeluarkannya. (HR. Ahmad dan Tabrani) Hadits di atas adalah diantara hadits-hadits yang menandakan Kenabian Rasulullah SAW yang dapat membaca keadaan masa depan. Perjalanan sejarah umat Islam ditandai dengan diangkatnya Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, masa ini dikenal sebagai masa Nubuwwah yang telah meletakkan fondasi bagi sebuah ajaran kebangkitan Islam, setelah Rasulullah wafat, digantikan oleh para Khalifah yang mendapat petunjuk yang menjalankan dan meneruskan ajaran Rasulullah. Setelah mereka wafat, dimulai dengan pemerintahan Muawiyah bin Abi Sofyan umat Islam dikendalikan oleh sistem dinasti kerajaan dari Kerajaan Dinasti Umayyah, Abbasiah sampai Kerajaan Islam terakhir di Turki. Sesudah itu umat Islam berada di bawah Kerajaan/pemerintahan Kolonialis Barat dan sampai hari ini masih di bawah pemerintahan yang melanjutkan sistem Kolonialis Barat Sekuler dalam sistem pemerintahan nasional. Setelah pemerintahan sistem Kolonialis ini menemui kegagalan, maka akan diganti oleh sistem pemerintahan kekhalifahan atas manhaj Kenabian yang menjalankan Sunnah Rasul. Untuk menegakkan kembali sistem ini sebagaimana awalnya, maka akan ada Kebangkitan Islam sebagaimana yang terjadi pada awal kebangkitan Islam terdahulu. Hadits ini dikuatkan oleh beberapa hadits yang diakui kesahihannya oleh para ahli Hadits. Kebangkitan Islam gelombang kedua pasti akan terjadi sebagai janji Allah dan Rasul-Nya yang pasti kebenarannya. Namun tidak seorangpun dapat mengetahui kapan tepatnya akan terjadi. Demikian pula kelahiran generasi Islam yang memiliki kekuatan besar (super power) akan muncul kembali untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran serta membawa peradaban baru sebagaimana generasi terdahulu. Al-Qur’an dan al-Hadits hanya memberikan tanda-tandanya dan kaum muslimin sebagai pengikut ajaran Islam harus

memenuhi kriteria dan prasyarat kebangkitan tersebut jika mereka ingin menjadi bagian dari kebangkitan agung tersebut. Terutama dalam memahami dan melaksanakan Islam sebagaimana yang telah membangkitkan generasi Islam terdahulu dan bukannya pemahaman Islam yang dijalankan generasi sesudahnya yang mengantarkan mereka pada kejumudan dan kemunduran. Generasi baru hanya akan muncul apabila mereka menerapkan pemahaman Islam yang Kaffah, Islam yang telah mengantarkan Rasulullah dan para shahabatnya sebagai kaum yang besar dan agung. Islam yang telah mengeluarkan mereka dari kebodohan, kesesatan dan segala bentuk kejahiliyahan serta mengantarkan mereka menuju kehidupan yang penuh dengan keridhaan dan pertolongan Allah. Islam yang mengantarkan pengikutnya hidup bersama Allah, hidup bersama al-Qur’an, generasi yang berinteraksi secara langsung dengan kehidupan langit namun mengaplikasikannya di tengah-tengah kehidupan dunia. Mereka memahami benar kehendak Allah Sang Pencipta dalam mengatur kehidupan dunia. Merancang Kebangkitan Islam Gelombang Kedua Untuk mulai menggerakkan kebangkitan Islam gelombang kedua saat ini, tidak semudah mengemukakan teori, karena kondisi umat Islam yang sangat memprihatinkan. Umat Islam dewasa ini bukanlah seperti yang digambarkan alQur’an dengan kesempurnaan karakteristiknya yang penuh dengan sifat-sifat keutamaan dan keagungan sebagaimana generasi Islam terdahulu, namun realitasnya umat hari ini adalah umat yang terbelakang, lemah, jumud dan ketinggalan jaman disertai perpecahan akut diantara mereka menjadi golongan yang saling sesat menyesatkat, hasad menghasadi bahkan perang memerangi. Mereka telah kehilangan pegangan dalam aktivitas kehidupannya akibat kegagalan mereka menemukan solusi terbaik dalam pengamalan ajaran Islam. Ajaran Islam yang mereka fahami seakan tidak mampu lagi mengantarkan mereka menuju masyarakat terbaik yang akan memberikan rahmat kepada seluruh umat manusia. Keadaan ini diperburuk dengan tampilnya musuhmusuh mereka yang merancang dengan sistematis proses penghancuran Islam dan pengikutnya dengan segala bentuk taktik strategi, baik melalui serangan budaya, pemikiran, politik, ekonomi bahkan militer. Akhirnya kita menjumpai umat Islam hari ini dalam keadaan lumpuh total tak berdaya, penuh dengan krisis dan problematika. Tidak sedikit dikalangan umat, khususnya para pemimpin dan cendikiawan mereka yang kalah dalam berinteraksi dengan kejahiliyahan ini mundur dengan teratur dari medan pertempuran yang maha dahsyat ini karena tidak mampu menghadapi realitas yang mengerikan ini dan tidak tahu harus berbuat apa,

bagiamana caranya, dari mana memulainya dan seterusnya. Para generasi penerusnya seakan kehilangan arah di tengah derasnya faham dan kehidupan materialisme sekelurisme. Mereka digiring menjauhi Islam secara terencana dan sistimatis. Jika ada diantara mereka yang konsisten pada Islam, masyarakat segera akan menuduhnya sebagai kaum radikal ataupun teroris. Itulah sebabnya, umat yang sedang sakit parah ini perlu didiagnosa dengan teliti agar ketahuan sumber utama penyakitnya, setelah diketahui penyakitnya dengan pasti, barulah diberikan perawatan intensif setahap demi setahap dengan sistematis dan terencana. Setelah umat sembuh sepenuhnya yang ditandai dengan lahirnya generasi-generasi yang memiliki sifat-sifat utama sebagaimana generasi Islam pertama binaan Rasulullah SAW, barulah diberikan amanah untuk mengadakan revolusi total yang akan menyelamatkan dunia dan umat manusia dari kehancurannya menggunakan pendekatan dan metodenya yang khas dan unik. Bagaimanapun keadaannya, kebangkitan Islam gelombang kedua akan terjadi dan generasi ini pasti akan lahir dan tampil sebagimana yang dikehendaki Allah atasnya. Adalah menjadi kewajiban setiap cendikiwan yang menyatakan dirinya Muslim untuk merencanakan dan mempersiapkan kelahiran generasi penyelamat dunia ini sekaligus memberikan pedoman sesuai dengan kemampuan dan kepakarannya masing-masing, karena pekerjaan ini adalah merupakan tanggung jawab mereka sebagai hamba dan khalifah Allah yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. Demikian pula halnya penyelesaian terhadap krisis dan tregedi yang dihadapi dunia modern saat ini tidak dapat diragukan lagi hanya dapat diatasi oleh kebangkitan Islam yang akan merevolusi dunia dalam artiannya yang luas. Revolusi yang dimaksudkan adalah revolusi total yang menyangkut seluruh aspek kehidupan umat manusia, bukan hanya kaum Muslimin saja, namun seluruh umat manusia yang tinggal di atas bumi ini adalah obyek revolusi Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya yang telah menggerakkan revolusi kemanusian pertama dahulu. Hanya revolusi seperti inilah yang mampu membimbing dan mengarahkan dunia menuju keselamatan dan kedamaian abadi. Revolusi ini akan mengkoreksi kesalahan yang dilakukan Barat terhadap peradaban modern sehingga menimbulkan krisis berkepanjangan yang telah menimbulkan bencana global. Hakikat kebangkitan Islam ini dapat diketahui dengan menelusuri kembali karakteristik kebangkitan yang telah digerakkan generasi Islam pertama beserta metode yang telah diterapkannya dahulu yang telah melahirkan kebangkitan Islam gelombang pertama. Mengetahui dan memahami hakikat kebangkitan Islam gelombang pertama adalah mutlak bagi mereka yang akan menggerakkan kembali kebangkitan Islam gelombang kedua dengan segala karakteristiknya.

Menyusun kembali kerangka kebangkitan Islam pertama yang telah diterapkan Rasulullah kemudian mengaplikasikannya pada kebangkitan Islam kedua di tengah-tengah timbunan peradaban modern, sehingga terwujudlah sebuah dunia baru yang modern dan canggih namun penuh dengan nilai-nilai universal ajaran Islam, sebagai tujuan utama dari kebangkitan Islam gelombang kedua. Kebangkitan Islam yang telah digerakkan Rasulullah telah berhasil meluluhlantakkan tatanan masyarakat jahiliyah, menghancurkan sistemnya, memerangi para pendukung dan pemimpinnya, menguasai wilayahnya serta mengusir mereka yang tidak mendukung revolusi kemanusiaan ini. Di atas tatanan sistem jahiliyah yang pagan dan korup, Rasulullah membangun sistem Islam yang berdasarkan wahyu dari Allah SWT. Sistem yang mengutamaan Penyembahan terhadap Allah Yang Maha Tunggal Penguasa alam, menyebarkan persaudaraan, persamaan, keadilan, kemakmuran dan kedamaian sejati yang merupakan ciri khas masyarakat utama. Perjuangan heroik Rasulullah dengan para pengikut setianya, yang sebagaian besar adalah para masyarakat klas bawah dan budak dalam menantang para pemimpin dan bangsawan musyrikin Quraisy adalah perjuangan suci para orang-orang tertindas (al-Mustad’afin) melawan para penguasa tiran yang ingin mempertahankan kekuasaannya yang korup dan paganis. Pengorbanan mereka yang agung semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah dan mendapatkan syurga yang dijanjikan-Nya, dan bukan semata-mata untuk merebut kekuasaan, yang akan menggantikan tiran lama dengan tiran baru yang hanya menindas rakyat dengan slogan persamaan. Rasulullah dan para shahabatnya berjuang bukan semata-mata memperjuangkan persamaan klas semata, namun lebih jauh mereka memperjuangkan tegaknya sistem Ilahiyah yang akan menciptakan tatanan masyarakat utama yang penuh dengan kebebasan, persaudaraan, persamaan dan sejenisnya yang berdasarkan pada nilai-nilai agung dan mulia ajaran Islam. Itulah sebabnya mereka berani mengorbankan segala yang dimilikinya untuk menegakkan tatanan masyarakat utama ini, karena perjuangan mereka akan dibalas dengan syurga, sebagai puncak kemenangan seluruh perjuangan kemanusiaan. Syurga di dunia bermakna tertegaknya masyarakat yang adil dan makmur serta aman damai, dan syurga di akhirat adalah pembalasan paripurna dengan kenikmatan yang tiada bandingan dan tidak terbayangkan. Dengan pendekatannya yang khas, Rasulullah telah menyerukan revolusi total kemanusian, dan dalam waktu singkat selama 23 tahun, generasi Islam telah berhasil mencapai tujuab utama revolusi Islam. Apakah dalam dunia modern yang penuh dengan perbendaharaan peradaban, ajaran Islam masih memiliki daya gerak dalam menggerakkan sebuah kebangkitan kembali yang akan melahirkan revolusi total yang akan

merubah tatanan dunia yang penuh kecanggihan ini ? Jawabannya pasti bisa, karena Islam adalah ajaran Allah Yang Maha Mengetahui terhadap segala ciptaan-Nya, diturunkan kepada seluruh umat manusia sampai akhir jaman. Maka dengan demikian ajaran Islam pasti akan mampu menggerakkan revolusi yang akan menumbangkan tatanan jahiliyah. Dalam hal ini revolusi Islam di Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomaeny adalah phenomena terdekat bagaimana ajaran Islam mampu menjadi spirit menumbangkan penguasa tiran Pahlevi yang didukung kekuatan Barat. Demikian pula semangat ajaran Islam pasti akan mampu menggerakkan kebangkitan di bagian dunia manapun dan kapanpun, dengan syarat dijalankan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Terutama kebangkitan ini digerakkan oleh mereka yang memahami benar karakteristik ajaran Islam yang kaffah dan mereka adalah orang-orang yang tidak mabuk kekuasan dan kesenangan materi lainnya. Mereka menggerakkan kebangkitan semata-mata mengharapkan ridho Allah dan kenikmatan syurga, dan bukan motif-motif selainnya. Karakteristik Kebangkitan Islam Gelombang Kedua Kebangkitan Islam berbeda dengan segala bentuk kebangkitan ataupun revolusi yang dikemukakan ataupun yang dilakukan oleh manusia, baik di Barat maupun di Timur. Kebangkitan Islam bukan hanya sebuah perjuangan klas, bukan perjuangan sekelompok proletar terhadap kaum berjuis, ataupun bukan perjuangan para revolusiner yang mendambakan kekuasaan atas nama kaum tertindas, bukan perjuangan para buruh yang menginginkan kehidupan sama rata sama rasa ataupun bukan perjuangan para pejuang suatu isme yang akan menggantikan dengan isme lainnya. Kebangkitan Islam tidak identik dengan semua bentuk revolusi di muka bumi ini, karena kebangkitan Islam memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan segala bentuk revolusi, apapun bentuk dan namanya. Kebangkitan Islam bukan hanya perjuangan revolusioner radikal yang memiliki cita-cita pendek dan dangkal yang akan menggantikan satu sistem yang satu dengan sistem lainnya yang sama-sama menindas, ataupun hanya menggantikan penguasa tiran dengan penguasa tiran bentuk lainnya, menggantikan tatanan masyarakat dengan tatanan masyarakat lainnya yang belum terbukti keunggulannya. Namun kebangkitan Islam adalah gerakan agung yang menyandarkan seluruh keagungannya pada keagungan cita-cita ajaran Islam yang tinggi lagi mulia. Sebagaimana kebangkitan Islam terdahulu, kebangkitan Islam gelombang kedua adalah sebuah gerakan yang akan meluluhlantakkan, mencabut sampai keakar-akarnya, seluruh sistem dalam tatanan masyarakat dan menggantikannya dengan tatanan baru dalam tempo waktu sesingkat-

singkatnya dengan cara radikal, ekstrim dan sejenisnya. Kebangkitan Islam yang dikumandangkan Muhammad Rasulullah telah meluluhlantakkan tatanan masyarakat jahiliyah di semenanjung Arab, masyarakat musyrikin jahiliyah dicabut seluruh akar-akar sistemnya dan digantikan dengan tatanan masyarakat Islam yang berbeda dengan masyarakat sebelumnya. Dan seluruh kebangkitan ini dilakukan dalam tempo waktu singkat, sepanjang 23 tahun perjuangan, sejak Rasulullah menyerukan perjuangannya sehingga tertegak masyarakat utama di Madinah. Rasulullah telah menegakkan perjuangannya dengan cara dakwah, peringatan sampai cara peperangan demi peperangan yang telah mengorbankan para pengikutnya. Dan setiap kebangkitan memang menghendaki pengorbanan, dan pengorbanan inilah yang akan ditukar dengan kebahagian, baik di dunia dengan tertegaknya masyarakat Islam yang penuh keadilan, kemakmuran dan kedamaian ataupun kesenangan tiada tertandingkan di akhirat kelak sebagaimana dijanjikan al-Qur’an : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itulah telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah ?. Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( al-Taubah : 111 ) Pengumandangan kalimat “La ilaha illalah Muhammad Rasulullah”, tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, pada hakikatnya adalah seruan sebuah kebangkitan revolusioner yang akan mencabut segala bentuk tatanan dominan masyarakat jahiliyah dan menggantikannya dengan tatanan masyarakat Islami. Kalimat ini bermakna pembebasan dan pemerdekaan umat manusia terhadap segala bentuk belenggu dominasi sesama makhluknya, baik dominasi itu dilakukan oleh seorang raja, penguasa tiran, bangsawan ataupun pemuka agama. Kalimat ini menghendaki pengesaan Allah yang bermakna seluruh manusia adalah sama di sisi Tuhan, tidak ada kelebihan satu ras dengan lainnya, tidak ada keutamaan satu bangsa dengan bangsa lainnya, semua manusia berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Semua manusia besaral dari tanah sehingga mereka memiliki kesamaan kedudukan dihadapan Tuhannya. Penguasa dan para bangsawan adalah sama kedudukannya dengan para budak dan pekerjanya di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Revolusi keyakinan yang sekaligus revolusi sosial inilah yang ditentang mati-matian oleh masyarakat jahiliyah, terutama para pemimpin dan bangsawannya yang telah mendapat haq keistimewaan secara turun temurun. Namun akhirnya sejarah mencatat bahwa kemenangan berada difihak Rasulullah yang telah menyerukan kebenaran, keadilan dan persamaan serta

persaudaraan, walaupun pada awalnya hanya didukung oleh kalangan awam dan beberapa bangsawan yang tercerahkan. Pada hakikatnya seorang nabi, termasuk Nabi besar Muhammad saw dalam gerakannya memadukan dua peranan sekaligus dalam misinya, yaitu peran sebagai seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah, yang mendapat bimbingan kebenaran Ilahiyah, yang dengannya akan membimbing umat manusia menuju kebeneraran sejati dan peran seorang pemimpin pergerakan dalam masyarakatnya yang akan mengadakan perubahan-perubahan tatanan sosial secara radikal revolusioner dan mentransformasikannya ke dalam sebuah model, pola perilaku, pemikiran, emosi, peradaban, moral yang sesuai dengan kebenaran wahyu yang diterimanya. Para Nabi as tidak hanya disibukkan dengan mengemukakan ajaran-ajaran agung dan mulia kepada para pengikut setianya sebagaimana para filosof agung ditempat-tempat suci mereka yang jauh dari masyarakat, namun pada saat yang sama mereka memimpin pergerakan perjuangan dalam menegakkan keyakinannya, berinteraksi langsung dengan masyarakat jahili dan para pemimpinnya, bahkan mereka langsung memimpin pertarungan bahkan pertempuran bersenjata sebagai panglima besar yang gagah perkasa. Maka dengan demikian seorang penggerak kebangkitan Islam akan bertindak sebagai seorang filosof yang mengembangkan nilai-nilai agung sekaligus sebagai penggerak perubahan sosial dan panglima perang dalam menjalankan aksi revolusi sosialnya. Kebangkitan Islam, sebagaimana ajaran Islam lainnya adalah ajaran Yang Maha Mengetahui dan Maha Perkasa serta Pencipta alam raya, sehingga kebangkitan ini bersifat Ilahiyah yang mutlak kebenarannya dengan segala konsep dan metode yang menyertainya. Keilahiyahan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw terpancar dalam ajaran kebangkitan Islam yang penuh kesucian dan keagungan yang membedakannya dengan segala bentuk kebangkitan dan revolusi manusiawi yang penuh pertentangan, intrik, penyelewengan, haus kekuasaan, kekerasan dan sejenisnya. Demikian pula kebangkitan Islam adalah seperti gerakan yang telah dipimpin para nabi revolusioner yang telah menumbangkan penguasa-penguasa tiran-diktator terdahulu seperti gerakan Nabi Ibrahim as yang telah menentang Raja Namrud, Nabi Musa as yang telah menumbangkan Fir’aun, ataupun Nabi Isa as yang menentang dominasi Imperialis Romawi yang serakah. Semua gerakan yang dipimpin para Nabi revolusioner ini memiliki karakteristik yang sama, yaitu karakteristik keilahiyahannya, gerakan yang menyeru kepada Penyembahan terhadap Allah Yang Maha Tunggal dan membangun masyarakat dengan tatanannya. Sebagaimana disebutkan al-Qur’an :

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) “sembahlah Allah saja dan jauhilah Thaghut. ( al-Nahl : 36). Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya “bahwasanya tidak ada Ilah (Tuhan) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu akan Aku.(al-Anbiya : 25) Katakanlah : “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Robbku pada jalan yang lurus, yaitu dien yang benar, dien Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Katakanlah :”Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah. Katakanlah :”Apakah aku akan mencari Robb selain Allah, padahal Dia adalah Robb bagi segala sesuatu. (al-An’am : 161-164) Tujuan utama kebangkitan Islam adalah sama dengan kebangkitan yang telah diserukan oleh para nabi revolusioner, yaitu menjadikan umat manusia sebagai penyembah Allah Yang Maha Tunggal dan menjauhi Thaghut. Thaghut dalam pengertian luasnya dapat diartikan sebagai segala bentuk sesembahan selain dari Allah, seperti Tuhan-tuhan berhala, dewa, dukun, raja zalim, pemimpin tiran dan sejenisnya. Seruan revolusi Islam pada hakikatnya adalah pembebasan manusia secara paripurna terhadap segala bentuk dominasi Thaghut, sehingga manusia menjadi makhluk yang bebas merdeka dan hanya menyerahkan kemerdekaannya kepada kekuasaan Yang Maha Mutlak saja, yaitu Allah Pencipta alam raya ini, dan bukannya menyerahkannya kepada raja zalim, pemimpin tirani-diktator, kaum berjouis, para dukun dan pemimpin agama dan sejenisnya yang akan membelenggu kemerdekaan dan kebebasan mereka. Hanya dengan menyerahkan kemerdekaan dan kebebasan kepada Yang Maha Mutlaklah manusia akan mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan sejatinya. Kebangkitan Islam dengan pendekatannya yang khas telah menyerukan kemerdekaan dan kebebasan ini kepada masyarakat Makkah sehingga pemimpinnya, Muhammad Rasulullah berhadapan dengan para penguasa dan bangsawannya yang tetap ingin mempertahankan dominasinya terhadap masyarakat awam. Pada akhirnya kemenangan tetap pada pihak yang benar, pihak yang menyerukan keadilan, kebebasan, persaudaraan dan keamanan. Sebagaimana yang digambarkan al-Qur’an terhadap kemenangan perjuangan revolusioner Musa as yang mengalahkan Fir’aun dan bangsawannya yang telah mengeksploitasi mereka; Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan

dari mereka, membunuh anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu.(al-Qoshosh : 3-6) Kebangkitan orang-orang yang tertindas akan selalu mendapatkan kemenangan terhadap para penindas, karena Yang Maha Kuat selalu akan membela mereka yang memperjuangkan hak-haknya. Sejarah telah membuktikannya, gerakan yang dipimpin Nabi Ibrahim as akhirnya dapat mengalahkan kedurjanaan Raja Namrud, demikian pula Nabi Musa akhirnya mengalahkan keangkuhan Fir’aun dan Nabi Muhammad saw mengalahkan kecongkakan para pemimpin dan bangsawan Musyrikin dan Kafirin di Makkah. Dan ketentuan ini akan terus terjadi di mana dan kapanpun sampai bumi ini menghembuskan nafas terakhirnya kelak. Kebangkitan Islam adalah revolusi kemanusian, revolusi yang akan mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi, gerakan yang akan menempatkan manusia pada posisi dan maksud diciptakannya di atas bumi. Semua manusia adalah khalifah Allah di muka bumi, di sisi Tuhannya mereka sama kedudukannya, tidak ada keutamaan seorang yang berbangsa Arab dengan seorang yang berbangsa Afrika, tidak ada keutamaan seorang yang keturunan raja dan bangsawan dengan seorang yang berketurunan hamba dan pekerja. Semua manusia sederajad disisi Tuhannya, dan yang membedakannya adalah kedekatan mereka dengan Tuhannya. Sebagaimana dinyatakan al-Qur’an : Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengetahui tentangmu. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat : 13) Itulah sebabnya Islam akan memerangi segala bentuk penindasan manusia terhadap manusia lainnya, bagaimana bentuk dan namanya. Karena penindasan dan dominasi manusia atas manusia lainnya adalah bertentangan dengan tujuan diciptakannya manusia di muka bumi. Hal ini juga berarti bahwa kebangkitan Islam adalah revolusi untuk seluruh umat manusia, karena Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dengan ajarannya yang agung dan mulia Islam akan menggerakkan sebuah revolusi total kemanusian yang

akan menciptakan sebuat tatanan sosial yang tegas atas dasar Iman kepada Allah Yang Tunggal, persaudaraan, persamaan, keadilan dan nilai-nilai luhur lainnya; Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang yang ingkar, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tandatanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang ingkar. (alFath : 29). Kebangkitan Generasi Baru Islam Kebangkitan Islam gelombang kedua adalah perjuangan yang suci dan agung, kebangkitan yang telah dijadwalkan Sang Pencipta alam, itulah sebabnya hanya dapat digerakkan oleh mereka yang terpilih dari kalangan generasi terbaik umat Islam. Generasi yang kehadirannya senantiasa dinanti-nantikan oleh umat manusia, yang akan menyelamatkan mereka dari kesengsaraan dan kedurjanaan para penindas, yang akan membimbing mereka menuju kesempurnaan hidup, memimpin mereka menegakkan keadilan untuk menggapai kebahagian hidup dunia dan akhirat. Sebagaimana dinyatakan alQur’an terdahulu, bahwa kebangkitan Islam kedua akan digerakkan oleh hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar sebagaimana generasi pertama Islam. Kekuatan besar yang tiada tandingannya, karena mereka memiliki keagungan spiritual yang lahir dari kebersihan jiwa, kecerahan intelektual dan memiliki keberanian super yang tidak mengenal rasa takut sehingga dapat mengalahkan musuh-musuh mereka dalam semua lapangan kehidupan. Mereka menjadikan Islam sebagai landasan hidup dan kehidupan, sehingga mereka memiliki kesempurnaan kekuatan spiritual sebagaimana Rasullah dan para shahabatnya, namun pada saat yang sama mereka memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia modern, memahami dan menguasai pengetahuan dan teknologi termodern yang dimiliki peradaban manusia. Kekuatan Islam telah menjadikan mereka sebagai generasi yang unggul dalam arti yang sebenarnya. Merekalah generasi yang telah mampu mengintegrasikan warisan spiritualitas Islam dengan peradaban modern yang dikembangkan Barat, sehingga dapat melahirkan sebuah peradaban baru yang menciptakan keadilan, kedamaian dan kemakmuran di muka bumi sebagai citacita agung diturunkannya Islam. Mereka lahir dari sistem pendidikan yang berdasarkan pendidikan Rasulullah dan sistem pendidikan termodern saat ini.

Generasi baru Islam yang diharapkan dapat membangkitkan kembali Islam adalah generasi yang mengamalkan Islam sebagaimana yang telah diamalkan generasi Islam pertama, namun pada saat yang sama mereka menguasai peradaban modern. Kombinasi dari spirit Islam dan intelektualitas modern akan menjadikan generasi ini memiliki kekuatan besar, kekuatan spiritualitas dan intelektualitas, kekuatan yang akan mengantarkan mereka sebagai generasi yang memiliki super power dan al-Qur’an menyebutnya sebagai : Hamba-hamba Allah yang memiliki kekuatan besar. Hamba-hamba Allah yang menyerahkan kehidupannya kepada Kebesaran dan Keagungan Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Mereka mengambil dan menyandarkan kekuatannya kepada Yang Maha Kuat sehingga mereka menjadi generasi unggul yang senantiasa mendapat pertolongan Allah Yang Maha Kuat, pada saat yang sama mereka menyerap kekuatan peradaban dunia dari kekuatan dan keunggulan manusiwi. Generasi ini memadukan antara kekuatan langit dan kekuatan bumi, sehingga mereka menjadi generasi yang super power. Generasi yang akan mengalahkan generasi manapun yang hanya menyandarkan kekuatannya pada kekuatan manusiawi saja sebagaimana dilakukan manusia Barat saat ini. Generasi inilah yang akan mewarisi kembali semangat Rasulullah dan para shahabat dan perpendaharaan peradaban modern saat ini. Kekuatan mereka yang luar biasa, baik kekuatan spiritualitas ataupun intelektualitas, akan mampu menyelesaikan segala bentuk krisis dan dilemma manusia modern saat ini sekaligus memimpinnya menuju dunia baru yang penuh dengan keadilan, kedamaian dan kemakmuran sejati sebagai cita-cita teragung umat manusia. Kebangkitan dan pergerakan, bagaimanapun bentuknya memerlukan manusia-manusia terunggul untuk memimpinnya, sebagaimana kehadiran para nabi revolusioner terdahulu yang telah berhasil gilang gemilang menggerakkan kebangkitan Ilahiyah yang menumbangkan para tirani serta mengubah tatanan mereka. Membebaskan masyarakat dari belenggu dan kesesatan para tiran dan mengarahkannya menuju kehidupan yang agung dan mulia. Demikian pula halnya dengan kebangkitan Islam gelombang kedua. Apalagi kebangkitan Islam gelombang kedua adalah kebangkitan yang akan menjadi puncak dari seluruh kebangkitan umat manusia yang memiliki keterkaitan dengan perencanaan Allah dan hari pembalasan kelak yang merupakan amanah kemanusiaan yang akan dipertanggungjawabkan. Dan kebangkitan ini hanya dapat diemban oleh mereka yang telah mengikhlaskan perjuangannya semata-mata karena Allah, dan bukannya diembel-embeli oleh keinginan-keinginan rendah duniawi yang akan menggantikan kekuasaan para tirani dengan mengatasnamakan perjuangan rakyat, ataupun para pemburu harta yang akan menggantikan kedudukan para berjouis dengan mengatasnamakan para rakyat tertindas.

Itulah sebabnya, mereka yang akan menggerakkan kebangkitan Islam gelombang kedua adalah mereka yang telah berhasil merevolusi diri sendiri sebelum tampil ke gelanggang perjuangan sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah saw. Sebelum beliau tampil menyerukan gerakannya, Rasulullah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin besar, dan setelah beliau siap, Allahpun mewahyukan ajaran-ajaran mulia yang akan membentuk beliau sebagai seorang pemimpin gerakan kemanusiaan. Maka kebangkitan Islam gelombang kedua akan dimulai dengan kebangkitan kembali jiwa para penggeraknya masing-masing, membersihkan jiwa dan pemikiran dari berbagai bentuk kesyirikan dan kekafiran sehingga didapatkan jiwa dan fikiran yang bersih. Kebersihan jiwa bermakna mereka adalah orang yang berjuang sematamata mengharapkan ridha Allah semata, memiliki ketergantungan dan hubungan yang kuat dengan-Nya. Hidup dan matinya disandarkan sepenuhnya kepada Tuhan seru sekalian alam. Pada saat yang sama mereka dapat berinteraksi dengan dunia dengan segala perbendaharaan materialnya, sehingga generasi ini memiliki kekuatan spriritual dan intelektual. Bersamaan dengan semakin gencarnya Islamisasi kehidupan akibat dari gelombang kebangkitan Islam, maka kini telah lahir generasi baru Islam sebagai cikal bakal penggerak kebangkitan Islam gelombang kedua yang dinantinantikan. Mereka adalah generasi muslim terbaik yang mendapat pendidikan spiritualitas Islam dari para ulama pejuang Islam yang ikhlas namun pada saat yang sama mereka adalah murid peradaban modern yang dibekali dengan intelektualitas prima. Mereka memiliki dan mewarisi pengetahuan keislaman yang prima dari guru-guru ikhlas mereka dan menerapkannya dalam kehidupan sebagaimana yang dijalankan Rasulullah dan para shahabatnya sehingga Allah senantiasa memberikan pertolongan dan kekuatan kepada mereka. Pada saat yang sama mereka sangat aktif berinteraksi dengan dunia tempat mereka hidup, mereka menguasai perbendaharaan dunia modern sesuai kemampuan, hidup di tengah-tengah pertempuran peradaban bahkan mereka menjadikan Islam sebagai sumber dari segala aktivitas kehidupan mereka sehari-hari. Mereka adalah generasi yang mencerminkan keunggulan manusia sejati yang memiliki keunggulan spiritualitas dan intelektualitas. Generasi ini berkembang dan tumbuh subur di tengah-tengah kebingungan dan kesesatan dunia modern, bersamaan dengan tumbuh berkembangnya pusat-pusat Islam di Barat ataupun di Timur. Penyerangan terhadap Islam dan kaum muslimin menambah solidnya generasi ini, bahkan perencanaan Yahudi dan Salibiyah Internasional untuk menguburnya, menjadikan berkembangnya genersi ini menembus Barat dan Timur, menguasai semua lini kehidupan modern. Mereka bergerak pasti untuk mengambil alih kepemimpinan peradaban modern dari manusia-manusia sesat

dan jahil saat ini. Kehadiran generasi baru Islam yang memiliki kekuatan besar akan lahir sebagai penggerak utama kebangkitan Islam gelombang kedua sebagaimana dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Semoga generasi ini tumbuh berkembang agar dunia segera selamat dari kehancurannya. Wallahu a’lam…….

I ISLAM KAFFAH SISTEM HIDUP MASA DEPAN
Kenapa Islam Dimusuhi Pada masa ini tidak ada satupun agama di dunia yang diserang sedemikian hebatnya dengan berbagai cara, secara halus maupun kasar, baik secara sembunyi maupun terang-terangan kecuali Islam. Agama ini telah dimusuhi oleh orang-orang yang mengaku peradaban ataupun tidak, baik orang Barat maupun orang Timur, baik Komunis, Sosialis maupun Kapitalis, apalagi yang Zionis. Bahkan tidak kurang orang yang mengaku dirinya Muslimpun menyerang Islam secara terbuka dan merendah-rendahkan ajarannya dengan berbagai dalih pembaruan agama. Koran dan majalah serta buku-buku yang ilmiah ataupun populer telah menyerang Islam dengan terbuka, mencitrakannya sebagai sumber ajaran teroris, radikal, ekstrim, fundamentalis, ortodoks dan berbagai istilah buruk lainnya. Islam diidentikannya dengan agama kaum primitif dan bar-bar padang pasir yang ketinggalan zaman. Dan tidak kurang pula tampil orang-orang seperti Salman Rushdi yang merendahkan Islam dengan cara yang tidak rasional dan tidak ilmiah.5 Dan kini para intelektual Barat secara terbuka telah menyatakan Islam adalah ancaman terbesar bagi peradaban Barat, seperti yang dikemukakan Huntington,6 Marvin Centron dan Thomas O’Toole.7 Golongan ini seakan-akan menghendaki agar seluruh dunia mengikuti pikirannya untuk membenci dan memusuhi Islam dengan segala propaganda yang dilakukannya secara sistematis. Permasalahannya, kenapa mereka sangat membenci dan memusuhi Islam dan sangat menghendaki lenyapnya agama ini dari muka bumi. Apakah karena agama ini mengajarkan kekacauan yang mengancam keamanan dan kedamaian dunia sebagaimana yang mereka dakwa? Apakah karena agama ini telah melahirkan manusia-manusia teroris yang merusak dan mengacau dunia? Apakah karena agama ini menolak segala bentuk kemajuan dunia hari ini, ataukah ada sebab-sebab lainnya sehingga agama ini harus dimusuhi dan dihilangkan dari dunia ini.
Salman Rushdi, The Satanic Verses. (London Penguin Books, 1986) Samual P. Huntington, The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order, (New York, Simon & Schuster, Marvin Centron & Thomas O’Toole, Ecounters with The Future : a Forecast of Life into The 21.st Century. New York,

1996) 1991.

Ada beberapa sebab utama, kenapa Islam dimusuhi, diantaranya : - Keadaan Umat yang tidak mencerminkan ajaran Islam Ada sebagian orang yang membenci dan memusuhi Islam disebabkan karena keadaan Umat masa ini yang dilanda segala bentuk krisis dan tragedi, kemiskinan, kebodohan, perpecahan dan lainnya akibat penyimpangan mereka dari Islam. Mereka kemudian beranggapan segala bentuk krisis dan tragedi itu disebabkan oleh ajaran Islam. Sebagaimana mereka menilai segala bentuk kerusakan masyarakat, di Barat misalnya, adalah karena pegangan hidup mereka, bukan disebabkan oleh faktor manusianya. Masyarakat Barat misalnya, mereka membenci dan memusuhi Islam karena mereka melihat keadaan Umat Islam yang menurut pandangan mereka sebagai masyarakat yang eksklusif, jumud, reaksioner, fundamentalis, ekstrim, radikal dan sejenisnya. Disamping itu pemberitaan-pemberitaan mengenai Umat Islam adalah disekitar kuburukan dan kekejamannya yang sengaja diangkat agen-agen berita yang disponsori Zionis. Opini ini diperkuat lagi dengan kejadian-kejadian terorisme terhadap masyarakat Barat yang celakanya kebanyakan dilakukan oleh kaum Muslimin militan dari Timur Tengah. Katakanlah beberapa kejadian pembajakan pesawat, pengeboman, penculikan, perampokan dan lainnya yang dilakukan gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam. Peperangan-peperangan diantara sesama kaum Muslimin yang tak kunjung berakhir menambah kecurigaan terhadap Islam yang dituduh sebagai ajaran penganjur kekerasan dan kebencian. Demikian pula perbuatan-perbuatan sumbang yang dilakukan oleh bangsawan-bangsawan Arab menambah buruknya citra Islam. Akhirnya masyarakat Baratpun beranggapan semua itu adalah disebabkan oleh ajaran Islam, tanpa melihat lebih jauh, bahwa yang melakukan penyimpangan itu adalah sebagian kecil dari Umat Islam. Kemudian opini dari masyarakat Barat ini disebar luaskan kepada masyarat dunia melalui media massa seperti koran, majalah, televisi, buku-buku ilmiah dan lainnya. Disamping itu para cendikiawan Barat mengadakan penyelidikan ilmiah yang didasarkan atas opini mereka terhadap Islam yang buruk. Akhirnya merekapun dengan beraninya membuat tesis, bahwa Islam adalah sumber segala tragedi dan krisis Umat Islam, terutama disebabkan oleh perbedaan dan pertentangan mazhab yang senantiasa menimbulkan perdebatan dan perpecahan bahkan peperangan, seperti yang terjadi di Timur Tengah ataupun anak benua India misalnya. Secara jujur perlu diakui bahwa keadaan Umat Islam diseluruh dunia masa ini adalah keadaan umat yang terburuk jika dibandingkan dengan ummat lainnya sebagaimana yang selalu dikemukakan para cendikiawan Muslim

sendiri.8 Namun sebagaimana dinyatakan mereka bahwa segala bentuk krisis dan tragedi yang menimpa ummat dewasa ini bukan disebabkan oleh ajaran Islam, tapi semata-mata disebabkan oleh penganutnya yang tidak mengamalkan ajaran Islam ataupun telah menyelewengkannya. Maka dengan demikian kebencian dan permusuhan orang pada Islam disebabkan kelakuan penganutnya adalah tidak mendasar sama sekali. Seharusnya orang-orang yang menyimpang itulah yang dibenci dan musuhi, bukannya ajaran Islam yang suci dan agung. - Salah faham terhadap ajaran Islam Masih banyak orang yang salah dalam memahami ajaran Islam yang asli, ini disebabkan karena mereka tidak memahami ajaran Islam dari sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Tetapi mereka memahaminya melalui hasil pengkajian para orientalis Barat ataupun cendikiawan Islam yang tidak memahami Islam dengan sebenarnya.9 Memang perlu diakui banyak para orientalis yang jujur dengan metode ilmiah obyektif yang mereka terapkan dalam penelitiannya terhadap Islam, namun tidak kurang pula diantara mereka yang bermaksud jahat untuk mengelirukan dan menyelewengkan makna ajaran Islam. Kelompok terakhir ini dengan terang-terangan bertujuan untuk menghancurkan Islam, membuat keragu-raguan terhadap ajaran Islam dengan memakai penyelidikan ilmiah sebagai topengnya. Terutama yang selalu menjadi sasaran mereka adalah sumber kedua ajaran Islam, Sunnah Nabi saw yang dikatakannya sebagai buatan Ulama Islam terkemudian, sebagaimana yang dikemukakan orientalis Barat seperti Ignuz Golziher, Durkheim, dan lainnya. Orang-orang seperti merekalah yang menjadi rujukan utama peneliti-peneliti Islam, termasuk para cendikiawan Muslim sendiri. Dari murid-murid merekalah lahirnya penentang-penentang Islam yang mengingkari ajaran Islam, seperti golongan ingkarrussunnah misalnya. Kebencian Barat terhadap Islam juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah masa lalu, yaitu peperangan panjang antara kaum Muslimin dan Barat Kristen pada abad pertengahan lalu yang dikenal sebagai Perang Salib. Cendikiawan Barat yang fanatik senantiasa akan mengobarkan luka lama ini, terutama dengan menjelek-jelekkan Islam sebagai agama penindas. Kebencian mereka pada Islam inilah yang mendasari penyelidikan mereka terhadap ajaran Islam dan akhirnya merekapun memberikan tesis salah dengan menganggap Islam sebagai agama peperangan dan penindasan. Agama
Masalah ini banyak mendapat sorotan para intelektual Islam, lihat misalnya : Prof. Ismail Faruqi dalam Islamization of Knowledge, Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam Aina al-Khalal, Prof. Muhammad Qutb dalam Jahiliya al-Qorn al-Isyrien, Prof. Said Hawwa dalam Durus fi al-Amal al-Islami. Prof. Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity, Prof. Sayyid Hossein Nashr dalam Islam and The Plight of Modern Man, Ziauddin Sardar dalam The Future of Muslim Civilization, dan lainlainnya. Muhammad Qutb, al-Subhat haula al-Islam, Beirut : Dar Fiqr, 1972

yang senantiasa menimbulkan kekacauan dan teror sebagaimana kejadiankejadian yang menimpa Barat. Kesalah fahaman terhadap ajaran Islam ini juga dapat timbul akibat kelemahan cendikiawan Islam sendiri yang salah memahami ajaran Islam sebagaimana dikehendaki Allah dan Rasul-Nya sehingga dapat menimbulkan kesalah fahaman. Diantaranya disebabkan sikap inferior (rendah diri) terhadap sistem hidup ataupun idiologi-idiologi dunia, kemudian membuat persamaan antara Islam dengan sistem dan idiologi tersebut. Lahirlah istilah “Sosialisme Islam”, “Liberalisme Islam”, “Kapitalisme Islam”, “Demokrasi Islam”, “Humanisme Islam” dan istilah-istilah yang sama sekali asing bagi ajaran Islam. Maka orangpun memahami bahwa Islam adalah identik dengan sistem dan idiologi ciptaan manusia itu. Disamping itu ada pula cendikiawan Islam yang belum memiliki kelayakan untuk menerangkan ajaran Islam disebabkan pengetahuannya yang dangkal, namun karena mereka tokoh masyarakat atau pemimpin politik yang disegani, merekapun mengeluarkan pandanganpandangan yang dikatakan dari ajaran Islam, namun jauh daripada ajaran Islam disebabkan kejahilannya terhadap Islam. Kemudian pemahamannya yang keliru ini menjadi pegangan yang senantiasa akan mengelirukan banyak orang. Dan sebagiannya akan menimbulkan kebencian masyarakat dunia disebabkan ajarannya yang ekstrim dan radikal, tidak mengenal toleransi terhadap manusia lainnya. Umumnya ini terjadi kepada cendikiawan Islam yang sudah mengalami kekalahan dalam berinteraksi dengan masyarakat jahiliyah disekelilingnya, kemudian mengambil jalan konfrontasi ekstrim dengan masyarakatnya sebagai alternatif. Demikian pula ada sebagian cendikiawan Islam yang terburu-buru menjawab tuduhan-tuduhan mengenai ajaran Islam, karena terburu-buru inilah kemudian ia tergelincir menuju penyimpangan dan penyelewengan. Misalnya ada sebagian cendikiawan Muslim yang terpengaruh pikiran Barat yang menyatakan Islam mengajarkan persamaan status antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana masyarakat Barat. Maka tampilah intelektual Muslim yang terburu-buru ini menjawab dengan suara yang lantang, bahwa Islam mengajarkan drajat wanita adalah dibawah laki-laki, kemudian dia mengutip ayat-ayat Al-Qur’an serta memberikan gambaran tentang masyarakat Islam dengan kehidupan wanitanya yang terbelakang dan tidak berpendidikan. Sebagaimana difahami kebanyakan Ulama ortodoks yang konservatif dan anti kemajuan. Dengan jawabannya yang emosional dan terburu-buru itu, seakanakan Islam mengajarkan wanita adalah dibawah drajat laki-laki, tidak diberi pendidikan, terkurung, dijadikan sebagai pemuas nafsu dengan poligami dan seterusnya. Padahal Islam tidak mengajarkan sebagaimana yang difahaminya itu ataupun yang dikemukakan cendikiawan Islam yang bingung ini, karena Islam

telah menempatkan kaum wanitanya pada tempatnya tersendiri yang akan mengangkat kehormatan mereka. Dan masih banyak lagi contoh kesalah fahaman yang menjadikan orang anti pada Islam. Kesalahan dalam memahami hakikat ajaran Islam ini, seharusnya tidak menjadi penyebab Islam dibenci dan dimusuhi. Orang-orang yang salah faham ini sepatutnya menyadari akan kesahannya dan mau mengadakan penyelidikan yang lebih ilmiah dan jujur, memahami dari sumbernya yang asli dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Maka kehadiran orang-orang yang ikhlas dan jujur dalam mengkaji Islam sangatlah diperlukan untuk meluruskan kesalah fahaman ini. - Pengingkaran terhadap ajaran Islam Adapula orang yang membenci dan memusuhi Islam karena keingkarannya terhadap ajaran-ajaran Islam. Mereka menolak semua ajaran Islam dan memusuhinya. Orang-orang seperti ini memang sudah disebutkan Al-Qur’an : “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar itu sama sahaja atas mereka, engkau beri peringatan ataupun tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan percaya. Allah telah menutup hati-hati mereka dan pendengaran mereka dan atas pengelihatan mereka dengan tutupan. Dan bagi mereka adalah azab yang besar” (Al-Baqarah : 7-8). “Dan orang-orang Yahudi dan Nashoro’ tidak akan suka kepadamu sehingga engkau mengikuti ajaran mereka” (Al-Baqarah : 120). Orang-orang seperti ini memang sudah ada penyakit dalam hati mereka, walau apapun usaha yang dilakukan untuk meyakinkan mereka, mereka tetap akan membenci dan memusuhi Islam. Bahkan mereka akan berusaha untuk melenyapkan Islam dari muka bumi dengan segala taktik dan strategi. - Propaganda musuh-musuh Islam Ada pula orang yang membenci dan memusuhi Islam akibat dari propaganda musuh-musuh Islam yang telah berusaha dengan segala cara untuk menjelekjelekkan imeg Islam. Kononnya Islam digambarkan sebagai agama teroris, radikal, fundamentalis, ortodoks, dan sejenisnya. Karena gencarnya propaganda jahat ini, maka banyak orang yang terpengaruh untuk membenci dan memusuhi Islam tanpa penyelidikan. Hal ini biasanya menimpa masyarakat awam dan orang-orang yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Realitas ini banyak terjadi khususnya didunia Barat, akibat dari penggambaran salah yang dilakukan para intelektual yang memusuhi Islam. Tambah pula Barat telah memiliki sejarah hitam dengan Islam ketika terjadinya peperangan beberapa abad silam yang telah berjaya mengislamkan sebagian Eropa.

- Kecemburuan terhadap Islam dan Umat Musuh-musuh Islam memahami benar potensi yang dimiliki Islam dan ummatnya, baik berupa kekayaan alam, keluasan wilayah ataupun sumber manusia yang besar. Demikian pula Islam adalah panduan hidup terbaik yang telah terbukti keunggulannya. Kesemua ini mendatangkan kecemburuan pada musuh-musuh Islam, sehingga mereka membuat segala bentuk tipu daya untuk melenyapkan Islam dari muka bumi, agar mereka dan ajaran mereka tidak tersaingi oleh kehebatan Islam dan Ummatnya. Meluruskan Kesalah fahaman Terhadap Islam - Tentang Kegagalan Islam Benarkah Islam telah gagal sebagai sistem kehidupan karena tidak berhasil mengantarkan penganutnya masa ini menjadi masyarakat ideal? Dimanakah letak kegagalan Islam, apakah karena kelemahan sistemnya atau karena kegagalan orang-orang Islam menerapkan ajaran agamanya sehingga mengalami krisis dan tragedi seperti yang digambarkan terdahulu. Persoalan ini dapat diandaikan dengan sebuah mobil dan orang yang mengendarainya. Kegagalan sebuah perjalanan ditentukan oleh dua sebab, sebab pertama adalah karena kelemahan mobil dan sebab yang kedua adalah akibat sopirnya. Jika mobil itu tidak dapat mengantarkan penumpangnya ketujuannya, maka perlu diselidiki, kegagalan itu akibat mobil atau sopir yang mengendarainya. Walaupun mobil itu Mercedes Benz yang sudah diakui keunggulannya misalnya, namun jika sopirnya tidak berpengalaman ataupun lalai dalam mengendarai sehingga terjadi kecelakaan, apakah mobilnya yang salah atau sopirnya? Maka jawabannya jelas karena kesalahan sopirnya. Demikian pula halnya dengan Islam, jika Islam hari ini tidak berhasil menghantarkan pengikutnya menuju cita-citanya, maka yang salah Islam atau pengikutnya? Maka perlu diadakan penyelidikan, kegagalan kaum Muslimin menjadi Ummat terbaik saat ini akibat kegagalan Islam atau akibat kegagalan kaum Muslimin sendiri. Krisis dan tragedi dahsyat yang telah menimpa kaum Muslimin masa ini, sebagaimana dikemukakan Syaikh Ameer Syakib Arselan,10 bukan karena kelemahan sistem Islam, tetapi hal ini disebabkan karena kaum Muslimin telah meninggalkan ajaran Islam dan menggantikannya dengan sistem-sistem manusiawi dari Barat maupun Timur. Walaupun mereka tetap menyatakan dirinya sebagai Muslim, namun tingkah laku mereka jauh
10

Syekh Ameer Syakieb Arselan, Limadza Taakhkhor al-Muslimun wa limadza Taqaddam ghairuhum ?, Beirut : Mansyurat al-Maktabah, 1950)

menyimpang dari ajaran agama Islam. Jadi timbulnya krisis berkepanjangan pada kaum Muslimin masa kini bukan disebabkan oleh kelemahan sistem Islam, namun jelas disebabkan oleh kaum Muslimin sendiri yang telah menyeleweng dari ajaran agama Islam.11 Kaum Muslimin ditimpa kemerosotan, kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan, kehinaan, dan seribu satu tragedi lainnya jelas karena mereka telah meninggalkan ajaran Islam sebagaimana yang telah dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Mereka hanya menyatakan dirinya sebagai Islam, namun perbuatannya bertentangan dengan ajaran Islam. Atau mereka hanya menerapkan Islam yang sesuai dengan kepentingan hawa nafsu rendah mereka dan menolak sebagian yang lain, tidak menerapkannya secara total dalam kehidupan mereka. Bahkan ada diantara mereka yang dengan terangterangan melanggar ketentuan Allah dan Rasul-Nya secara terbuka. Realitas ini tampak sangat jelas pada bangsa-bangsa yang menyatakan dirinya Muslim namun jauh dari Islam. Baik kehidupan sosial, masyarakat maupun pemerintahannya. Dalam hal ini dapat diambil contoh seperti negara-negara Arab misalnya.12 Sudah menjadi rahasia umum bagaimana keadaan moral bangsa-bangsa Arab, terutama mereka yang terkena “bom minyak”. Mereka menjadi bangsa yang berfoya-foya penuh dengan maksiat dan skandal. Amir-amir, Bangsawan, dan orang kaya mereka adalah langganan tetap pusat-pusat maksiat dunia. Mereka menghambur-hamburkan uang dengan penuh keborosan, karena sistem pemerintahan ala Raja Diktator memungkinkan mereka berbuat demikian, seakan-akan seluruh harta kekayaan bumi Allah diArab adalah milik mereka dan kaum kerabatnya. Demikian pula dengan generasi mudanya sudah hanyut jauh bersama arus Sekulerisasi dan Westernisasi yang bertopengkan Modernisasi. Bangsa ini digiring secara sistematis untuk menjauhi dan memusuhi Islam oleh kuasa-kuasa besar dunia kaki tangan Zionis atau Salibiah Internasional. Ulama dan intelektual blilyan mereka terpaksa lari akibat kekejaman dan kediktatoran pemerintahan Sekuler yang berlindung diketiak Barat. Mereka benar-benar telah melanggar ajaran-ajaran Islam, baik dalam sistem sosial, politik ataupun hukum. Namun anehnya mereka tetap bersikeras menyatakan dirinya sebagai Muslim, bahkan mengklaim diri sebagai Muslim taat yang patut dicontoh. Maka dalam hal ini perlu dipisahkan antara ajaran Islam yang asli dengan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan orang
Lihat misalnya : Dr. Yusuf al-Qardhawy, Aina al-Khalal,. Qatar, 1987. Prof. Muhammad Qutb, al-Jahiliyya alQorn al-Isyrien, dan juga Hal Nahnu Muslimun ?. Prof. Ismail R. Faruqi, Islamization of Knewledge, op.cit. hlm. 5. Prof. Said Hawwa, Durus fi al-Amal al-Islamy. Op.cit. Lihat misalnya : Ali E Hilali Dessouki (ed). Islamic Resurgence in The Arab World, New York : Yale Univ. Press, 1988. James Piscatori (ed). Islamic Fundamentalism and The Gulf Crisis. Chicago : The American Academy of Art and Science, 1991). Luqman Harun, Potret Dunia Islam, Jakarta : Pustaka Panjimas, 1985. Richard F. Nyrop (ed). Saudy Arabia : a Country Study, NY: Foregn Area Studies : The American Univ, 1985. Sandra Mackey, Saudis, inside Desert Kingdom, New York : Penguin, 1990.

Islam. Ajaran Islam tidak dapat dinilai dari pengalaman orang Islam yang menyeleweng, sebagaimana dinilainya idiologi-idiologi lain dari pengalaman penganutnya. Islam adalah ajaran sempurna yang diturunkan Allah SWT kepada manusia melalui nabi Muhammad Saw. Ia adalah sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan ummat manusia, dari masalah-masalah individu sehingga masalah masyarakat dan negara. Islam adalah way of live yang tertinggi dan tersempurna, ajaran yang akan menghantarkan penganutnya menuju kemenangan sejati didunia dan diakhirat kelak.13 Maka dengan demikian, kegagalan kaum Muslimin masa kini bukan disebabkan oleh kelemahan sistem Islam, namun disebabkan karena kaum Muslimin telah meninggalkan ajaran Islam. - Tentang Pengertian al-Dien al-Islam Banyak kalangan yang keliru memahami konsep al-Dien al-Islam, baik mereka itu Muslim ataupun non Muslim. Kesalahan dalam memahami konsep ini akan berakibat fatal, terutama dalam proses penerapan Islam sebagai sistem kehidupan. Diantara mereka ada yang beranggapan Islam adalah sebatas agama yang mengajarkan peribadatan ritual belaka sebagaimana kebanyakan agamaagama dunia masa kini. Menurut mereka, untuk menjadi seorang Muslim yang soleh, cukup hanya dengan menjalankan peribadatan ritual seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan ditambah dengan amalan etika yang baik. Dengan pemahaman seperti ini, kemudian mereka mengambil sistem hidup selain Islam untuk mengatur kehidupan dunianya, baik dari Barat atapun Timur. Maka munculah orang yang menyatakan dirinya Muslim, namun dalam berekonomi menggunakan sistem kapitalisme, dalam politik memperjuangkan DemokrasiLiberal, berhukum kepala hukum kolonial Barat, menjadikan sistem sosialnya ala Barat Sekuler dan seterusnya. Realitas ini tampak hampir pada seluruh bagian Dunia Islam, tidak terkecuali Saudi Arabia yang mengklaim berundangundangkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Kesalahan fahaman kaum Muslimin dalam memahami makna Al-Dien Al-Islam akan menghantarkan mereka pada keterbelakangan dalam semua aspek kehidupan duniawi, sebagaimana yang terjadi pada masa ini. Tidakada satu bangsa Muslimpun yang berani tampil dengan identitas Islam dan keagungan ajarannya, bahkan mereka merasa rendah diri jika mengatakan dirinya Muslim. Karena memang tidak ada satupun keagungan Dunia Islam yang dapat dibanggakan kepada dunia modern. Dalam hal sains-tehnologi, kaum Muslimin
Untuk masalah ini lihat misalnya : Prof. Said Hawwa, al-Islam, Beirut : Dar al-Fiqr, 1979. Dr. Yusuf al-Qardhawy, al-Hall al-Islam, Qatar : Jami’ah al-Islamiyah Qatar, 1986. Hamudah Abdalaty, Islam in Focus, Kuwait : IIFSO, 1978. Abu Urwah, Sistem-sistem Islam, KL: Pustaka Salam, 1989.

masih menjadi budak konsumsi para kapitalis Barat yang menjual segala bentuk kemajuannya dengan harga tinggi disertai persyaratan yang tidak adil, seperti menghubungkannya dengan HAM ataupun menerapkan Demokrasi-Liberal ala Barat. Dan akhirnya kaum Muslimin tetap bergelimang dalam keterbelakangannya dalam semua aspek kehidupan. Kesalah fahaman ini bahkan berdampak lebih jauh, ada sebagian kaum Muslimin yang menentang keras segala bentuk kemajuan sains-tehnologi yang diidentikannya dengan Baratisasi ataupun sekulerisasi. Mereka masih menolak mengajarkan ilmu pengetahuan modern seperti matematika, fisika, kimia, biologi dan sejenisnya kepada kader-kader Islam dengan alasan ilmu tersebut adalah ilmu duniawi yang tidak wajib dituntut dan tidak akan menghantarkan kebahagian akhirat. Itulah sebabnya generasi Islam terpecah menjadi aliran agama yang diwakili oleh lulusan sistem pendidikan tradisional Islam seperti pondok pesantren dan aliran umum lulusan dari lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah. Akhirnya muncullah cendikiawan Islam tradisional yang memahami Islam sebatas peribadatan keakhirat dan cendikiawan Islam yang menguasai ilmu-ilmu umum. Dan ironisnya kadangkala terjadi pergesekan pemikiran diantara kedua aliran ini, yang justru menambah lemahnya kaum Muslimin. Kesalah fahaman jalannya. Akibat yang paling kentara dengan pemahaman salah ini adalah kaum dalam memahami konsep Al-Dien Al-Islam ini telah membawa dampak sangat negatif bagi perkembangan dan kemajuan kaum Muslimin. Karena dengan pemahaman yang salah ini, kaum Muslimin telah memisahkan Islam dari kehidupan dunia nyata, sedangkan Islam adalah agama yang diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia didunia ini dan menjanjikan kebahagian akhirat bagi mereka yang mengikuti Muslimin telah menyerahkan kehidupan politik ataupun ekonominya kepada orang lain, karena mereka beranggapan masalah ini adalah urusan dunia yang tidak berkaitan dengan Islam. Dan tidak diragukan lagi, bahwa kemunduran dan keterbelakangan kaum Muslimin masa ini akibat dari kesalahan mereka memahami konsep Al-Dien Al-Islam sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Seorang pemikir ulung Islam dari Pakistan, Abu al-Ala al-Maududy,14 membahas pengertian Al-Dien secara terperinci. Menurut Maududy, Al-Dien (menggunakan al) ditujukan hanya untuk penggunaan Islam, sementara tanpa al- digunakan untuk selain Islam, sebagaimana yang disebutkan Al-Qur’an : “Sesungguhnya Al-Dien yang diridhoi disisi Allah hanyalah Islam” (Ali Imran:19) “Dan barang siapa yang mengambil selain Islam sebagai Dien-nya, maka ia tidak akan diterima,dan diakhirat mereka termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imran:83).
Abu A’la al-Maududy, al-Mustalahat al-Arba’at fi al-Qur’an : al-Ilah, al-Robb, al-Ibadat, al-Dien. Kaherat : 1975. Khususnya bagian keempat.

Selanjutnya, Maududy menjelaskan, pengertian Dien adalah seluruh sistem yang mengatur kehidupan manusia, baik sistem politik, ekonomi, etika, peribadatan, sosial, budaya, hukum, perundang-undangan, filsafat, idiologi, way of live dan lain-lainnya. Dalam konsep Islam ada dua Dien, Al-Dien Al-Islam dan Dien AlGhoir Al-Islam (Dien selain Islam) sebagaimana yang dimaksudkan ayat diatas. Dengan demikian, Al-Dien Al-Islam adalah seluruh sistem kehidupan yang diajarkan Islam yang terdiri dari sistem Aqidah (keyakinan), sistem Ibadah (ritual), sistem Akhlaq (etika) dan sistem Muamalat (kemasyarakatan). Sistem Aqidah adalah sistem yang mengatur segala bentuk yang menyangkut kepercayaan kepada Allah dan perkara-perkara tang menyertainya. Sistem Ibadah adalah sistem yang mengatur segala bentuk ritus penyembahan dan pengabdian manusia kepada Allah dan tata caranya, seperti sholat, puasa, zakat, haji dan lain-lainnya. Sistem Akhlaq adalah sistem yang mengatur etika perhubungan manusia, baik kepada Allah ataupun sesama mahluknya. Sedangkan sistem Muamalat adalah segala bentuk sistem yang mengatur hubungan kehidupan manusia dimuka bumi, seperti sistem hukum, perundangundangan, sosial, ekonomi, politik, budaya, pertahanan dan lainnya.15 Prof Said Hawa16 menggambarkan Al-Dien Al-Islam seumpama rumah. Rumah terdiri dari pondasi, bangunan dan atap. Pondasi Islam (arkan al-Islam) adalah rukun Iman yang enam dan rukun Islam yang lima, sedangkan bangunan Islam (bina al-Islam) adalah sistem kemasyarakatan, seperti sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, sains tehnologi dan lainnya sedangkan atap (muayyadat al-Islam) adalah amar ma’ruf nahi mungkar dan jihad fi sabilillah. Sebuah rumah dikatakan sempurna apabila memiliki tiga bagian tersebut, pondasi, bangunan dan atap, jika kurang salah satunya maka ia tidak dapat disebut rumah. Demikian pula halnya, dikatakan al-Dien al-Islam apabila seluruh konsep yang terkandung dalam ajaran Islam menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, pemisahan antara Ketunggalan dan Kekuasaan Allah dalam sistem kemasyarakatan, baik ekonomi maupun politik, sama halnya dengan pemisahan pondasi rumah dengan bangunannya. Anak kecilpun akan mentertawakan jika pondasi disebut rumah, sama halnya jika hanya menjalankan rukun Iman dan rukun Islam saja, kemudian mengklaim sebagai telah melaksanakan ajaran al-Dien al-Islam. Dalam bidang ekonomi misalnya, sistem ekonomi Islam tidak bediri sendiri sebagai sistem yang terpisah dengan keseluruhan sistem Islam, sebagaimana sistem ekonomi Sekuler yang terpisah dari agama dan etika. Dalam konsep ekonomi Kapitalisme, modal adalah milik para pemodal sedangkan menurut
Untuk masalah ini lihat misalnya : Prof. Said Hawwa, al-Islam, op.cit. Dr. Yusuf al-Qardhawy, al-Hall al-Islam, op.cit. Fazlur Rahman, Islam, Lahore : 1973. Hamudah Abdalaty, Islam in Focus. Op.cit. Abu Urwah, Sistem-sistem Islam, op.cit. Prof. Said Hawwa, al-Islam, op.cit. khususnya muqaddimah.

Marxisme modal adalah milik bersama masyarakat. Sedangkan menurut ekonomi Islam, modal pada hakikatnya adalah milik Allah Sang Pemilik Alam Raya yang diamanahkn kepada sipemodal dan akan digunakan untuk kemakmuran masyarakatnya. Pemodal dalam menjalankan aktivitas ekonominya tidak terlepas dari kehendak pemilik (aspek Aqidah), melakukan aktivitas yang halal (aspek Ibadah), tidak boleh berlaku curang, merugikan orang lain dan etika jelek lainnya (aspek Akhlaq), dan diwajibkan mengeluarkan sebagian dari keuntungannya untuk orang-orang yang memerlukannya (aspek Muamalat) akhirnya kelak ia akan diminta pertanggung jawabannya diakhitat, jika ia menjalankan amanah mendapat balasan kebaikan dan jika berkhianat akan mendapat siksaan. Jadi konsep ekonomi Islam tidak terbatas hanya mengatur mekanisme pasar dalam rangka mendatangkan keuntungan sebesarbesarnya tanpa memperhatikan aspek Ketuhanan dan etika sebagaimana sistem ekonomi Kapitalisme, namun sistem ekonomi Islam langsung berkaitan dengan kebahagian seseorang dalam hidup sesudah mati yang berkaitan dengan Aqidah.17 Demikian pula dalam sistem politik, jika menurut teori politik DemokrasiLiberal, kekuasaan ditangan rakyat. Jika rakyat menghendaki putih, maka putihlah sebuah negara, dan jika mereka menghendaki hitam, maka jadilah hitam. Demikian pula dalam sistem ini yang menentukan adalah suara mayoritas, jika suara mayoritas menghendaki seseorang menjadi pimpinan, maka jadilah ia pimpinan, walaupun ia tidak memiliki kelayakan sebagai seorang pemimpin, sebagaimana yang terjadi pada Ronald Regent sang bintang film koboi yang menjadi President Amerika Serikat ataupun Yukio Aoshima, badut lawak gaek yang menjadi gubernur Tokyo. Namun dalam kontek politik Islam, kekuasaan tirtinggi adalah ditangan Allah sebagai penguasa alam, manusia adalah wakil (Kholifah) yang akan melaksanakan segala ketentuan dan peraturan yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hitam dan putihnya sesuatu ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik menyangkut undangundang, hukum dan kriteria pemilihan pemimpin, yang dalam Islam dikenal dengan istilah syuro. Para anggota Majelis syuro adalah wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat sebagai wakilnya dalam mengukur masalah yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. Para anggota syuro tidak dapat memutuskan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian anggota syuro adalah pemegang amanah rakyat sekaligus pemegang amanah Allah dan Rasul-Nya. Kemenangan bukan ditentukan oleh suara mayoritas, tetapi oleh kebenaran ajaran agama Islam, walaupun seluruh rakyat menghendaki sesuatu undang-undang, namun jika undang-undang itu
Untuk masalah ini lihat misalnya : Afzalur Rahman, Economic Doctrines of Islam, London, LMS Publ. 1990.

bertentangan dengan ajaran agama Allah dan Rasul-Nya, maka secara otomatis batallah undang-undang tersebut. Disinilah perbedaan menyolok antara konsep demokrasi Barat dengan sistem Islam yang menghendaki integrasi diantara ajarannya.18 Dengan demikian jelaslah bahwa konsep al-Dien al-Islam adalah satu kesatuan sistem kehidupan yang menyeluruh dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Sistem sosialnya adalah berkaitan erat dengan sistem Ketuhanan dan Peribadatan, demikian pula halnya dengan sistem politik, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Satu ajaran dengan ajarannya saling berkaitan, seumpama tubuh. Dipisahkan satu bagian akan menimbulkan ketimpangan pada sistemnya, sebagaimana dipisahkannya salah satu anggota tubuh. Tangan misalnya, jika dipisahkan dari tubuh, maka jelas tidak akan berfungsi sama sekali, sama halnya jika diterapkannya sistem ekonomi Islam saja, tanpa menerapkan keseluruhannya sistem Islam akan menimbulkan kepincangan, karena ekonomi Islam, ataupun sistem kemasyarakatan Islam akan berjalan baik apabila diterapkan pada masyarakat yang telah menganut ajaran Islam secara menyeluruh, terutama sistem Aqidahnya. Kegagalan kaum Muslimin masa ini karena mereka terburu-buru ingin menerapkan sistem kemasyarakatan Islam, seperti sistem politik ataupun sistem ekonomi, sementara sistem Aqidah dan Ibadah belum tertanam dengan baiknya. Perbuatan seperti ini samalah seperti orang yang membangun rumah, sementara tidak membuat pondasi. Rumah tanpa pondasi pasti akan hancur dalam waktu singkat, seperti cepatnya hancur sistem masyarakat yang tidak berlandaskan Aqidah dan Ibadah. Islam adalah ajaran yang lengkap dan sempurna, sehingga tidak memerlukan tambahan-tambahan dari sistem lainnya. Penambahan sistem Islam dengan sistem lainnya, bukan akan menambah kesempurnaan Islam, tapi justru akan menghilangkan semangat Ketuhanan yang terkandung dalam ajaran Islam. Jika Islam dicampur dengan sistem ekonomi ala Kapitalisme atau Sosilisme sebagaimana yang dilakukan sebagian besar kaum Muslimin masa ini, maka jelas akan menghasilkan masyarakat terbelakang sebagaimana kaum Muslimin masa ini. Ajaran Islam yang dilandaskan Ketunggalan Allah tidak mungkin dicampur dengan ajaran yang menolak keberadaan Tuhan. Itulah sebabnya dengan tegas Islam memberlakukan doktrin : Terima Islam seluruhnya, atau tolak seluruhnya. Tentu dengan memperhatikan tahapan demi tahapan yang diperlukan dalam penerapan Islam. Mungkin ada yang mempertanyakan, jika al-Dien al-Islam dikatakan sebagai ajaran sempurna, kenapa tidak dibahas dalam ajarannya segala sesuatu persoalan kehidupan secara mendetil. Ini dibuktikan al-Qur’an ataupun AlUntuk masalah ini lihat misalnya : Abul A’la al-Maududi, al-Khilafat wa al-Mulk, Kuwait : Dar Qalam, 1978

Sunnah, sumber utama ajaran Islam hanya mengandung beberapa sisi kehidupan manusia secara global ? Disinilah letak keunikan sistem Islam yang diturunkan Yang Maha Mengetahui. Islam sebagai sistem yang diturunkan untuk seluruh ummat manusia, sejak diturunkannya hingga akhir zaman, tidak membicarakan persoalan kehidupan manusia secara mendetil, karena jika itu dilakukan berarti diperlukan beribu-ribu kitab ajaran yang akan membingungkan manusia. Namun Allah Yang Maha Mengetahui menurunkan sebuah Kitab yang mengandung ajaran sempurna. Kesempurnaan disini bukan berarti didalamnya terdapat undang-undang jalan raya, macam-macam jenis transaksi ekonomi ataupun tentang sains tehnologi. Namun al-Qur’an yang dijabarkan dalam Al-Sunnah memberikan petunjuk secara garis besar tentang segala sesuatu kehidupan manusia, baik dalam bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan, budaya, sains tehnologi dan lainnya yang bersifat universal dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Karena didalam al-Qur’an dan alSunnah terdapat panduan-panduan umum yang berlaku sepanjang zaman. Disinilah secara garis besar dan membiarkannya manusia menjabarkannya menurut tingkat pengetahuan dan peradabannya, kebebasan berfikir dan mengembangkan inilah yang menjadi sumber keabadian Islam. Sehingga sistem Islam mampu mengikuti arus kemajuan peradaban manusia sampai kapanpun. Dan yang terpenting difahami dalam metodelogi sistem Islam adalah sistem yang pada hakikatnya akan mencetak manusia-manusia utama (khair alUmmah) dalam membangun kehidupan. Disinilah letak keunggulan Islam. Sistem Islam dengan tahapan demi tahapan ajarannya bermaksud melahirkan manusia unggul, dan dari manusia-manusia unggul inilah akan lahir peradaban agung, sebagaimana telah lahir diawal kebangkitan dan zaman kegemilangan Islam terdahulu. Dari sistem Islam yang sempurna inilah telah lahir manusiamanusia agung yang menjadi pemuka peradaban dunia sampai sekarang. Jadi dengan demikian jelaslah bahwa al-Dien al-Islam adalah ajaran sempurna yang mengatur kehidupan manusia dan tidak dapat dipisah-pisahkan satu bagian ajarannya dengan bagian yang lain. Pemisahan bagian dengan bagiannya yang lain akan menghilangkan keutamaan dan kesempurnaan sistemnya. Demikian pula sistem Islam tidak memerlukan tambahan-tambahan dalam sistemnya, terutama dari sistem-sistem hidup yang berakar pada filsafat Sekulerisme ataupun Materialisme. Sistem Islam adalah sistem yang mandiri dalam kesempurnaannya. - Tentang Kaum Muslimin Orang-orang non Muslim, khususnya di Barat yang masih memelihara dendam Perang Salib, beranggapan dan memberi gambaran yang sangat keliru tentang

sosok kaum Muslimin. Mereka menggambarkan kaum Muslimin adalah sosok manusia biadab yang menolak segala bentuk kemajuan dunia dengan sikapnya yang sangat fundamentalis mempertahankan pendapatnya, sehingga siapapun yang tidak sefaham dengannya akan dianggap musuh dan akan membantainya tanpa toleransi. Bahkan sosok kaum Muslimin dimata mereka adalah identik dengan kaum teroris, kaum radikal-ekstrimis yang menghancurkan segala bentuk kemajuan dunia disamping bangsa yang gemar menyulut peperangan, bahkan sesama mereka. Dan celakanya opini ini dikuatkan oleh realitas kaum Muslimin, khususnya yang berada di Timur Tengah yang selalu menjadi dalang terorisme dan peperangan. Namun permasalahannya, apakah seluruh kaum Muslimin di dunia ini berprilaku seperti para teroris itu, sehingga seluruh kaum Muslimin diidentikan dengan teroris. Padahal realitanya, yang berprilaku teroris adalah sebagian kecil dari kaum Muslimin yang diam-diam menyimpan keagungan peradaban. Jika kelompok kecil ini dijadikan dasar untuk mengklaim kaum Muslimin, maka dapat pula dikatakan bahwa semua masyarakat Barat yang mengaku berperadaban adalah teroris, rasialis, korup, penderita AIDS dan sejenisnya, karena memang ada bagian kecil dari masyarakat Barat yang demikian keadaanya. Tentu klaim semacam ini sangat tidak adil bagi masyarakat Barat seluruhnya, sebagaimana tidak adilnya tuduhan kepada kaum Muslimin. Jika diperhatikan secara teliti keadaan kaum Muslimin di Dunia ini, maka jelas akan tergambar realitas sebenarnya keadaan kaum Muslimin. Coba kita perhatikan nasib kaum Muslimin dinegara-negara minoritas Muslim, pada umumnya mereka dinafikan hak-haknya secara politik, bahkan dipinggirkan dan dibantai. Bagaimana nasib kaum Muslimin di India yang dibantai kaum militan Hindu, bagaimana nasib kaum Muslimin Moro di Filifina selatan yang diperangi dan dibantai, bagaimana nasib kaum Muslimin di Bosnia, ataupun nasib kaum Muslimin pada masyarakat yang menganggap dirinya beradab seperti Eropa atau Amerika. Namun hal ini sangat kontradiktif jika dibandingkan dengan keadaan non Muslim dinegara-negara mayoritas Muslim. Dalam hal ini Indonesia adalah contoh nyata. Walaupun orang Kristen yang hanya berjumlah kurang dari 7 % tapi menduduki jabatan mentri-mentri kunci yang mengatur negara. Namun mayoritas kaum Muslimin di Indonesia menerima keadaan itu dengan lapang dada, yang mana hal ini tidak akan pernah terjadi dinegara minoritas Muslim manapun didunia ini. Pernahkah misalnya di Inggris ataupun Amerika terjadi mentri keuangan atau pertahanannya dari orang Islam? Jawabannya selama berdirinya negara-negara yang mengaku bapak demokrasi ini, belum pernah satupun mentrinya dari kalangan minoritas Muslim, namun hal ini terjadi dinegara mayoritas Muslim Indonesia, mentri

keuangan dan pertahanan/panglima militer adalah dari kaum minoritas Kristen. Di Malaysia, non-Muslim dapat menduduki jabatan mentri, padahal Malaysia adalah negara yang menjadikan Islam sebagai agama resmi. Kaum Muslimin yang dianggap tidak beradab ini justru telah melahirkan tokohtokoh dunia yang dikagumi, terutama dalam bidang sains dan tehnologi. Sebagai contoh mantan Presiden RI ke 3, Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie misalnya. Habibie adalah seorang Muslimin yang taat, bahkan memimpin organisasi para Intelektual Muslim se-Indonesia (ICMI) dan mengetuai Forum Dunia Islam untuk Pembangunan Sains Teknologi dan Sumber Daya Manusia (IFTIHAR). Namun reputasinya didunia Internasional tidak ada satupun orang dapat menapikannya. Pada tahun 1994 Habibie mendapat penghargaan tertinggi Persatuan Bangsa-Bangsa untuk pengembangan ilmu kedirgantaraan yang selama ini belum pernah diterima oleh perorangan sejak berdirinya PBB. Habibie pula yang dikatakan sebagai penyebab kejatuhan industri pesawat FOKKER milik Belanda, akibat kemajuan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang dipimpinnya. Habibie sebagai seorang Muslim yang taat mampu menjadi penggerak dan simbol kemajuan bangsa Indonesia yang multi ras dan agama. Demikian pula masih banyak putra-putra terbaik Islam yang memberikan sumbangan pada kemajuan dunia, diantaranya penyandang NOBEL untuk fisika, Abdus Salam dari Pakistan ataupun Dr. abdurrahman Hilmy dari Mesir dan masih banyak lagi. Mentri keuangan yang dijuluki bekas PM Inggris Margareth Teacher sebagai mentri keungan terbaik abad ini, Anwar Ibrahim dari Malaysia, seorang pemimpin Islam yang brilyan dan sangat toleran pada penganut agama lainnya. Bahkan Anwar dijuluki sebagai tokoh pencerahan Asia (Asia Renaissance) yang senantiasa melakukan dialog antar peradaban dan sangat terbuka dengan kemajuan, sehingga menjadi cermin Muslim Kosmopolit. Presiden PBB, Razali Ismail, adalah seorang Muslim yang tetap menjaga tradisi keislamannya. Demikian pula, masyarakat Islam, khususnya dikawasan Asia Tenggara adalah masyarakat yang amat ramah dan toleran, penuh persahabatan dengan bangsabangsa lain. Bukannya seperti para teroris yang digambarkan. Itulah sebabnya kawasan ini menjadi pusat wisata masyarakat Barat yang merindukan kedamaian. Memang diakui, ada sebagian dunia Islam terjadi peperangan dan teror. Namun jika diteliti dengan seksama, siapakah penyulut dari aksi peperangan dan teror itu. Di Palestina misalnya, para pendatang Yahudi merampas tanah kaum Muslimin dengan alasan, Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Aksi perampasan ini berlanjut menggunakan senjata bahkan mendapat bantuan Bapak Demokrasi dan Hak Asasi Amerika. Secara jujur, apakah tindakan yang dapat kita lakukan andaikan rumah yang

kita huni turun menurun dirampas orang dengan alasan janji Tuhan. Siapapun didunia ini mewakili akal waras akan melawan mati-matian mempertahankan haknya. Jika si kuat malah membantu perampas, maka tidak ada cara lain kecuali melemahkan kekuatan si kuat, agar hak menjadi miliknya. Rasional inilah yang ditempuh kaum Muslimin Palestina, baik di Palestina sendiri ataupun diluar, demi mempertahankan diri dari perampok yang dibela Amerika. Maka tidak mengherankan jika mereka menggalang aksi terorisme untuk menarik perhatian dunia yang sudah dikuasai oleh agen-agen Yahudi Internasional. Kaum Muslimin di Palestina seakan-akan dipaksa untuk berperang dan melakukan aksi teror demi mempertahankan tanah airnya yang dirampas. Demikian pula halnya yang terjadi pada kaum Muslimin di Afghanistan, Kashmir, Bosnia, Chechnya, Moro, Arakan dan lainnya. Mereka dipaksa oleh keadaan yang diciptakan oleh mereka yang mengatakan dirinya sebagai masyarakat beradab dan demokratis, namun senantiasa bersikap tidak adil terhadap kaum Muslimin. Jadi adalah tidak adil sama sekali, jika kaum Muslimin yang terkenal toleran, ramah, penuh persahabatan, memiliki putra-putra terbaik yang menyumbang pada kemajuan dunia dianggap sebagai kaum yang tidak berperadaban, radikal, teroris, dan sejenisnya. Memang diakui kaum Muslimin masih jauh tertinggal jika dibandingkan kaum lainnya, namun mereka kini telah mempersiapkan diri untuk bangkit membangun dunia kembali, sebagaimana bangkitnya generasi mereka terdahulu membangun dunia dan memberikan sumbangan yang tak ternilai pada peradaban ummat manusia. Islam : Alternatif Sistem Dunia Masa Depan Sejarah telah membuktikan, Islam dengan ajarannya yang sempurna telah berhasil membangun sebuah masyarakat dengan peradabannya yang menjulang tinggi pada masa lalu. Islam telah menjadikan bangsa Arab yang terbelakang, terpecah belah dan tertindas menjadi bangsa besar, sebagai super power yang telah menumbangkan dua super power masa itu, Romawi dan Parsi. Islam telah merubah manusia-mnusia jahiliyah penyembah berhala menjadi manusiamanusia yang bertauhid dan berperadaban, menjadi pemimpin-pemimpin besar dunia yang dikagumi hingga hari ini. Islam telah berhasil melahirkan generasi terpilih sepanjang sejarah kemanusian. Generasi-generasi yang menegakan keadilan dan kedamaian sejati serta mengahancurkan segala bentuk kezaliman. Generasi yang telah memberikan rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana yang

telah ditugaskan Allah SWT kepada mereka sebagai Kholifah (wakil)-Nya yang telah memenej alam sesuai dengan kehendak-Nya.19 Jika dahulu Islam dapat melahirkan generasi-generasi agung yang berperadaban serta menguasai dan memenej dunia dengan penuh kegemilangan, maka tidak mustahil Islam sekali lagi akan melahirkan generasi agung berperadaban pada abad ini yang akan menjadi pemimpin dunia. Karena sumber rujukan dan pengambilan yang telah melahirkan generasi terdahulu, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, tetap tersimpan hingga kini. Sumber utama inilah yang akan mencetak generasi baru pemimpin dunia.20 Apalagi secara konsepsional sistem Islam adalah sistem terunggul daripada seluruh sistem dunia masa kini. Sistem lebih unggul daripada Sekulerisme, lebih unggul daripada Kapitalisme-Liberalisme, lebih unggul daripada SosialismeKomonisme, lebih unggul daripada Nazisme-Fascisme, lebih unggul daripada Humanisme, lebih unggul daripada Nasionalisme lebih unggul daripada semua cabang pemikiran Modernisme ataupun Post-Modernisme, Islam lebih unggul daripada seluruh sistem danagama-agama dunia.21 Dalam dunia modern ini, konsep-konsep Islam tetap relevan dan akan menjadi jalan keluar dari segala bentuk krisis dan problema yang dihadapi dunia. Islam sekali lagi akan membuktikan keunggulan konsepnya dari seluruh sistem hidup diabad modern ini. Konsepsi Islam tidak akan pernah lapuk dimakan waktu, karena ia diturunkan untuk seluruh ummat manusia hingga akhir zaman.22

19

Lihat misalnya : Thabary, Tarikh Umam wa al-Mulk, Beirut : Dar Fiqr, 1979. Abul Hasan an-Nadwy, Madza Khasira al-Alam bi inhithoth al-Muslimun ?. op.cit. Abul A’la al-Maududi, al-Khilafah wa al-Mulk, op.cit. Khalid Muhammad Khalid, Rijal Haula al-Rasul, Beirut : Dar Fiqr, 1975. Muhammad al-Ghazaly, Fiqh al-Sirah, Beirut : Dar Fiqr, 1978. Yusuf alKhandahlawy, Hayat al-Shahabah, Lucnow : Dar Ulum, 1980. Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam, London : Chiristopher, 1955. R.A. Nicholson, Literary History of the Arab. Chambridge : Cambridge Univ. Press,1930. Lebih detil lihat : Hilmy Bakar Almascaty, Generasi Penyelamat Ummah, Kuala Lumpur : Berita Publ., 1995. Untuk masalah ini secara mendetil lihat misalnya : Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur : ABIM, 1974. Abul A’la al-Maududi, Capitalism, Socialism and Islam. Kuwait : Islamic Books Publ., 1987. M. Mirza Hussain, Islam and Socialism, a Critical Analisis of Capitalism, Fascism and Nazims as Contrasted with the Qur’an Conception of a New World Order, Lahore : SM, 1974. Maxime Radinson, Islam and Capitalism, Paris : Penguin Books, 1980. Ali Shari’ati, Marxism and Other Western Fallacies, Trans by R. Campbell. Berkeley : Mizan Press, 1980. Mustafa Mahmoud, Marxism and Islam, trans. By MM. Enany, Kaherah : Cairo Univ. 1990. Khalifa Abdul Hakim, Islam and Communism. Lahore : Siddiq Printer, 1976. David Westerwind, From Socialism to Islam, Uppsala : The Scandinavia Inst. Of African Studies, 1982. HOS Cokroaminoto, Islam and Socialism, Kuala Lumpur : Iqrak, 1988. Asghar Ali Engineer, Islam and Liberation Theology. New Delhi : Sterling Publ, 1990. Ahmad Abdul Ghaffar Affar, Humanisme in Islam. Trans. By Albin Michel, Indiana : The American Trust Publ,. 1979. Maryam Jameelah, Islam and Modernism. Lahore : Muhd Yusuf Khan, 4th. Edt. 1977. Dr. Ali Muhd. Nagvi, Islam wa al-Qaumiyah, Tehran : 1404. Muhammad Asad, Islam at the Cross Road, Spain : Dar al-Andalaus : 14th. Edt. 1404 H. Akbar S. Ahmad, Postmodernism and Islam, London : Routledge, 1992. Lihat misalnya : Syed Abdul Wahab Bukhory, Islam and Modern Challenges. Madras : Dar al-Tasneef, 1966. GW. Choudury, Islam and the Contemporary World, London : Indus Thames Publ, 1990. Ahmad al-Shahi dan Denis Mac Eoin, Islam in Modern World, New York : St. Martin’s Press, 1983. John J. Donohue, and John L. esposito (ed), Islam in Transition, Muslim Perspective, New York : Oxford Univ. Press, 1982. Ilse Lilhtenstadter, Islam and Modern Age, An Analysis and Appraisal, New York: Bookman Associates. 2nd. Edt. 1960.

Keunggulan Ajaran Islam Ada beberapa keunggulan dan kelebihan Islam sebagai sistem hidup jika dibandingkan dengan sistem-sistem dunia lainnya, sehingga Islam paling layak menjadi satu-satunya sistem alternatif dunia dimasa depan. Diantara keunggulan itu adalah : - Islam adalah sistem universal Islam adalah sistem hidup yang universal, yaitu sistem hidup yang bersifat global dan mendunia. Ia diturunkan untuk seluruh ummat manusia hingga akihir zaman. Sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an : “Dan tidaklah Kami utus kamu kecuali untuk seluruh ummat manusia”. “Dan tidaklah Kami utus kamu kecuali sebagai rahmat untuk seluruh alam”. (Al-Anbiya : 107) Itulah sebabnya Islam akan senantiasa mampu mengikuti arus perkembangan zaman dari waktu ke waktu, tidak seperti sistem hidup lainnya yang lapuk dimakan zaman karena tidak bersifat universal. Ini terbukti walaupun sudah 15 abad diajarkan, namun sistem Islam masih tetap relevan dengan dunia modern, bahkan ia dapat mengatasi semua sistem hidup yang diciptakan sesudahnya. - Islam adalah sistem yang fitri Islam adalah sistem kehidupan yang fitri, yaitu sistem kehidupan yang sesuai dengan kehendak dan keperluan hati nurani manusia yang menginginkan terwujutnya keadilan, kebahagiaan dan kedamaian sejati. Sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an : “Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama itu, yaitu fitrah Allah adalah sesuai dengan fitrah manusia, dan janganlah ada penukaran terhadap ciptaan Allah, ialah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Al-Rum : 30) Jika diselidiki secara jujur, maka jelaslah ajaran-ajaran Islam sangat sesuai dengan tuntutan hati nurani manusia, karena ia adalah ajaran yang senantiasa mengajak menuju kebaikan, keamanan, keadilan dan kebahagian sejati. Realitas ini tidak dapat dinafikan, kecuali oleh orang-orang ada penyakit dalam hatinya dan menolak kebenaran. - Islam adalah sistem totalitas Islam adalah sistem hidup yang totalitas, yaitu sistem hidup yang sempurna, mengajarkan segala bentuk sistem kehidupan yang akan mengantarkan manusia menuju kebahagian dan kesemppurnaan hidup. Sistem hidup yang memiliki ajaran moral-spiritual, etika, keyakinan, kerohiman dan sekaligus memiliki

ajaran sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan, sains tehnologi, filsafat, militer dan lain-lainnya.23 - Islam adalah sistem unity Islam adalah sistem hidup yang unity, yaitu sistem hidup yang tidak memisahmisahkan antara satu ajarannya dengan ajaran lainnya. Keseluruhan ajarannya adalah satu kesatuan, dari awal hinggalah akhirnya. Al-Qur’an sangat mencela orang-orang yang memisah-misahkan ajarannya : Dan jangalah kamu menjadi orang-orang yang menyekutukan, yaitu daripada orangorang yang memisah-misahkan agama mereka sehingga jadilah mereka beberapa golongan yang tiap-tiap golongan merasa bangga dengan pandangan mereka, (Al-Rum : 31-32) Islam tidak pernah memisahkan antara dunia dengan akhirat, karena keduaduanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Demikian pula Islam tidak memisah-misahkan sistem ekonomi, politik, pendidikan, sosial, sains tehnologi, dan lain-lainnya dengan ajaran moral spiritualnya. Islam memerintahkan agar penganutnya memasuki Islam secara unity, menerima keseluruhan ajarannya, sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah Syaitan, karena sesungguhnya Syaitan adalah musuh kamu yang nyata”. (Al-Baqarah : 208) - Islam berasal dari Pencipta alam Islam adalah sistem hidup yang diajarkan oleh Pencipta Yang Maha Mengetahui tentang seluruh alam, Yang Maha Mutlak kebenarannya, yaitu Allah SWT kepada manusia melalui perantaraan Rasulullah Saw. Sebagaimana disebutkan Al-Qur’an : “Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan sistem kehidupan al-Haq agar memenangkannya diatas semua sistem kehidupan lainnya, walaupun tidak disukai orang-orang musrik”. (Ash-Shoff : 9) Karena diajarkan oleh Yang Maha Mengetahui, maka Islam akan terhindar dari segala bentuk kesalahan dan kelemahan. Ia tidak akan menjadi seperti sistemsistem dunia lainnya yang mengalami kegagalan akibat diasaskan oleh manusia yang serba lemah. - Sumber ajaran Islam jelas Islam adalah sistem hidup yang memiliki sumber pengambilan yang dapat dipertanggung jawabkan keaslian dan kesempurnaannya, yaitu Al-Qur’an dan
Lihat : Prof. Said Hawwa, al-Islam, op.cit. Dr. Yusuf al-Qardhawi, op.cit.

dijelaskan oleh Sunnah Rasulullah Saw. Al-Qur’an sendiri menentang, siapakah yang mampu menandinginya walaupun seayat saja : “Dan jika kamu ragu-ragu terhadap apa yang Kami telah turunkan kepada hamba Kami (Al-Qur’an), maka cobalah kamu buat satu surat yang serupa dengannya, dan ajaklah penolong-penolong kamu selain daripada Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan apabila kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti kamu tidak dapat membuatnya, maka takutlah kamu dengan Neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir”. Keaslian dan kehebatan Al-Qur’an inipun diakui oleh intelektual Barat. Filosof dan sastrawan besar Jerman, Goethe menulis tentang al-Qur’an : “Bagaimana juga saya membaca Al-Qur’an itu, pertama ia menggerakkan saya pada setiap masa, dengan kesegaran dan dengan cepat menganjurkan pendirian hati serta keheranan, yang akhirnya ia mendorong saya kepada pengetahuan agama. Al-Qur’an itu mempunyai susunan kata-kata yang molek dan indah, isi dan tujuannya mengandung suatu pedoman bahagia. Dia adalah memberi ingatan dan menakutkan selamanya, dan seterusnya ia adalah kemulian Yang Maha Tinggi. Demikianlah, Al-Qur’an akan berjalan terus dan bekerja sepanjang masa dengan pengaruh yang amat kuat serta gagah dan teguh”.24 Maka dengan demikian, jelaslah bahwa al-Qur’an, sumber pengambilan utama ajaran Islam adalah yang terbaik dan dapat dipertanggung jawabkan keasliannya. Tidak ada alasan apapun untuk menolaknya, karena ia adalah wahyu Allah yang suci dan terpelihara dari segala jenis penipuan.25 - Islam memiliki contoh teladan Islam adalah sistem kehidupan yang memiliki contoh nyata ajarannya, yaitu masyarakat yang telah dibina oleh Rasulullah diMadinah yang diwahyukan Allah. Masyarakat yang susunannya sangat indah, dibawah pimpinan dan bimbingan Muhammad Rasulullah. Setiap aspek kehidupannya adalah contoh tauladan manusia sepanjang masa. Jika seorang pemimpin ingin melihat contoh, maka Rasulullah Saw, Abu Bakar ra, Umar ra,Uthman ra, dan Ali ra adalah contoh terbaik. Jika seorang perniaga dan hartawan ingin mencari tauladan, maka Abdurahman bin Auf ra adalah figurnya. Demikian pula jika panglima perang mencari contoh, maka contohnya adalah Khalid bin Walid ra. Jika wanita menghendaki contoh tauladan maka Aisyah ra, Fatimah ra, adalah contohnya.
24

Goethe, Hughe’s Dictionary of Islam, dikutip dari : O. Hashem, Kekaguman Dunia Terhadap Islam. Bandung : Pustaka Salman, 1985. Lebih terinci lihat misalnya : Dr. Subhi Shaleh, Mabahits fi ‘ulum al-Qur’an, Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, tt. Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘ulum al-Qur’an, Damsyik : Maktabah al-Ghazaly, Thabaah Tsalist, 1981. Dr. M. Ali al-Hasan, al-Manar fi ‘ulum al-Qur’an, Amman : Matbaah al-Syuruq, 1983. Dr. Shabir Thayyimah, Hazha al-Qur’an, Bairut : Dar al-Jiil, 1989. Syaikh Muhammad Rasyid Ridho, al-wahy al-Muhammady, Bairut : Dar al-Fiqr, 1968.

Islam telah memiliki contoh masyarakat ideal yang akan diciptakannya, berbeda dengan sistem dunia lainnya yang tidak memiliki contoh baik secara pribadi, keluarga dan masyarakat. Islam dengan ajarannya telah terbukti keunggulannya, sehingga dapat melahirkan ummat yang memiliki kekuasaan luas dan menguasai peradaban dunia. Islam telah menciptakan dunia baru yang berlandaskan pada ajarannya yang sempurna. Tidak ada satu sistem duniapun yang mampu menyamai keunggulan sistem Islam, sejarah telah dan akan membuktikannya. Kegagalan sistem Sosialisme-Komonisme menghantarkan penganut-penganutnya menuju model masyarakat yang dicita-citakan karena sistem ini belum terbukti lagi keunggulannya melahirkan masyarakat ideal, dan tidak pernah terwujud sebelumnya masyarakat yang dicita-citakannya, hingga tidak ada contoh nyata bagaimana bentuk masyarakat Sosialisme-Komonisme yang dikehendaki. Demikian pula dengan sistem hidup lainnya, semua belum terbukti keunggulannya menciptakan masyarakat ideal yang dapat menegakan keadilan dan kedamaian sebagaimana masyarakat Islam. - Islam tidak rasialis Islam adalah sistem hidup yang tidak membeda-bedakan tingkatan manusia satu dengan lainnya. Manusia adalah sama, dijadikan dari tanah, tidak ada yang lebih utama ataupun tinggi drajatnya. Tidak ada kelebihan kulit putih daripada kulit hitam, tidak ada perbedan kelas, baik kelas buruh ataupun pemodal, tidak kelas bangsawan yang harus dihormati secara berlebih-lebihan oleh masyarakat awwam. Keutamaan dan kemulian seseorang dipandang adalah berdasarkan pada ketaqwaannya kepada Allah semata, sebagaimana yang disebutkan AlQur'an : “Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami telah jadikan kamu beberapa bangsa dan suku, supaya kamu berkenal-kenalan, sesungguhnya semulia-mulia kamu disisi Allah ialah yang paling bertaqwa diantara kamu”. (Al-Hujurat : 13) Dengan dihilangkannya kasta-kasta manusia ini, Islam bermaksud akan menghantarkan dunia menuju keadilan dan kedamaian sejati, sehingga tidak ada satu ras ataupun satu golongan manusia agar dapat mengeksploitasi manusia lainnya dengan alasan yang satu memiliki drajat yang tinggi daripada lainnya. Dengan demikian pertentangan kelas yang selama ini menghantui dunia akan hilang dengan sendirinya, karena Islam menganggap semua manusia adalah sama drajatnya disisi Tuhannya. - Islam tegak atas keadilan

Islam adalah sistem hidup yang ditegakkan atas dasar keadilan sesama manusia, mengutamakan persaudaraan dan kebaikan. Bukannya seperti sistem dunia lainnya yang menganjurkan pertentangan dan perkelahian yang didasari pada kebencian. Ataupun tidak sama dengan sistem yang mengeksploitasi pekerja untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya sebagaimana diamalkan kaum Kapitalis. Namun Islam adalah sistem yang senantiasa mengajarkan kebajikan umum, dengan sistem ekonominya yang khas. Pengikutnya dianjurkan untuk mendapatkan dan memiliki harta sebanyak kemampuannya, namun dalam hartanya itu terdapat hak Allah dan hak masyarakat yang harus ditunaikan.26 - Islam mampu menghadapi tantangan zaman Islam adalah sistem hidup yang akan dapat menyelesaikan segala bentuk krisis dan tragedi yang diderita dunia masa ini dengan pendekatannya yang khas. Islam akan menyelesaikan problematika masyarakat modern dengan menyelesaikannya dari inti permasalahannya yang dihadapi sehingga tidak akan timbul lagi permasalahan baru diatas permasalahan lama. Islam mengetahui benar dimanakah sumber segala bentuk permasalahan yang dihadapi dunia dan menyelesaikannya secara tuntas. Islam akan menyelesaikan krisis dunia hari ini dengan menyelesaikan manusianya terlebih dahalu, karena semua krisis pada hakikatnya bersumber dari manusia. Jika manusia sudah menjadi baik, maka tentu dunia ini akan menjadi baik pula. Manusia ini terlebih dahulu dididik dan dipimpin Islam dengan pendekatannya yang unik, sehingga menjadi manusia sempurna, secara jasmani maupun rohani.27 - Islam tidak memisahkan agama & pengetahuan Islam adalah sistem hidup yang mempertentangkan antara sains-tehnologi dengan ajarannya. Bahkan Islam mendukung segala bentuk aktivitas penyelidikan ilmiah dan pengembangan sains-tehnologi untuk memudahkan manusia dalam menjalankan aktivitasnya sebagai hamba dan wakil Allah dimuka bumi. Sejarah membuktikan Islam telah melahirkan para saintis dan tehnolog Muslim yang menjadi guru bagi pengembangan pengetahuan dan peradaban Barat dan hasil karya mereka masih menjadi referensi sampai hari ini. - Islam adalah ajaran yang dinamis Islam adalah sistem kehidupan yang dinamis dalam menanggapi segala bentuk perubahan dan perkembangan dunia, tidak seperti agama-agama lainnya ditinggalkan pengikutnya karena tidak mampu mengikuti perkembangan
Lebih detil lihat : Sayyid Qutb, Al-Adalah al-Ijtimaiyyah, Beirut : Dar Fiqr, 1976. Lebih detil lihat ; Prof. Muhammad Qutb, Islam and The Crisis of Modern World, Leicester : The Islamic Foundations, 1979. Prof. Sayyed Hussaein Nashr, Islam and The Plight of Modern Man. London : Longman, 1975.

zaman. Kedinamisan Islam ini disebabkan karena ajarannya yang universal dan datang daripada Allah SWT Yang Maha Mengetahui serta diturunkan sebagai panduan hidup manusia hingga keakhir zaman. Itulah sebabnya ajaran Islam senantiasa akan tetap relevan sepanjang zaman, tetap dinamik mengikuti perkembangan dunia yang semakin canggih dan kompleks ini. Maka dengan demikian Islam akan menjadi satu-satunya alternatif sistem dunia masa depan yang akan menyelesaikan segala bentuk krisis dan tragedi masyarakat modern. Hanya Islamlah yang akan mampu menjawab krisis dan problem masyarakat modern hari ini dan membimbing mereka menuju kehidupan masyarakat ideal, yaitu masyarakat yang menjiwai semangat masyarakat yang pernah dibina Rasulullah 15 abad silam namun mampu berintegrasi dengan dunia moden dengan segala kecanggihan sainstehnologinya.28 Janji-janji Allah dan Rasul-Nya tentang Kemenangan Islam dan Umatnya Islam adalah ajaran yang diturunkan Sang Pencipta alam untuk menyelamatkan seluruh umat manusia sebagai pelengkap dan penutup agama langit sebelumnya. Sebagai agama penyelamat manusia yang terunggul dan tersempurna, Islam mendapat garansi kemenangan dari Allah yang telah menurunkannya dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan-Nya kepada para pendukung dan pengikut setianya. Allah SWT telahpun menegaskan didalam AlQur’an tentang kemenangan Islam, sebagaimana difirmankan-Nya : “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan ad-Dien alHaq (ajaran kebenaran) agar memenangkannya diatas segala dien (ajaran). Walaupun orang-orang yang musrik tidak menyukainya”. (Al-Shoff : 9) “Sesungguhnya dien yang diridhoi disisi Allah hanyalah Islam”. (Ali Imran : 19) “Dan barang siapa yang mengambil selain Islam sebagai dien-nya, maka ia tidak akan diterima, diakhirat mereka termasuk orang-orang yang merugi”. (Ali Imran : 83) Sebagaimana dijelaskan terdahulu, Dien bermakna seluruh sistem kehidupan manusia, dan Islam adalah satu-satunya al-Dien yang akan mendapat kemenangan, dan sejarah telah membuktikannya. Walaupun Islam pada awalnya didukung oleh bangsa yang terbelakang dan primitif, namun berkat ajaranya, Islam telah mengangkat martabat mereka menjadi bangsa yang maju dan besar sebagai mercusuar peradaban dunia. Dan Islam pasti akan mendapat kemenangan sebagaimana ummat terdahulu, asalkan

Lihat : Prof. Sayyed Hussaein Nashr, Islam and The Plight, op.cit.

mereka menerapkan kembali dalam kehidupannya metode yang telah mengantarkan kemenangan dan kejayaan ummat terdahulu. Demikian pula banyak hadists Rasulullah yang menyatakan Ummat Islam akan kembali gemilang sekali lagi diakhir zaman untuk menguasai kepemimpinan peradaban dunia, diantaranya : Bahwasanya Rasulullah Saw telah bersabda : “Tegaklah pada kamu masa Kenabian sampai beberapa lama yang dikehendaki Allah, maka terjadilah ia, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah selepas itu pada kamu masa Kholifah atas manhaj Kenabian, maka terjadilah ia kepadamu beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian ia diangkat. Kemudia terjadilah padamu masa Kerajaan yang menggigit (Mulkan adhudhan), maka terjadilah ia beberapa masa yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah selepas itu Kerajaan rusak (Mulkan Jabbariyyan) terjadilah ia beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Selepas itu tegaklah padamu Kholifah atas manhaj Kenabian yang mengamalkan Sunnah Rasul dikalangan manusia. Islam akan tersebar luas dimuka bumi yang diridhoi oleh penghuni langit dan bumi. Langit tidak akan meninggalkan setetespun air hujan, kecuali ia mencurahkannya. Dan bumi tidak akan meninggalkan tanaman dan barokahnya kecuali ia akan mengeluarkannya”.29 Hadist diatas diperkuat oleh beberapa hadists, diantaranya: Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Saw yang bersabda : “Jika tidak tinggal dari dunia hanya sehari sahaja niscaya allah memanjangkan hari itu hingga bangkit padanya seorang lelaki dari keturunanku atau dari kaum keluargaku, yang namanya menyerupai namaku dan nama bapaknya menyerupai nama bapakku, ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran sebagaimana bumi dipenuhi kezaliman dan kekejaman”. Dalam riwayat Tirmizi disebutkan : “Dunia tidak akan berakhir sehingga bangsa Arab dipimpin oleh seorang laki-laki dari kelurgaku yang namanya menyerupai namaku”.30 Dari Jabir katanya : Rasulullah Saw telah bersabda : “Akan hadir pada hari akhir Ummatku seorang kholifah yang membahagiakan harta dan tidak menghitung-hitungnya”.31 Dari Abu Said al-Khudri dari Rasulullah Saw yang bersabda : “Akan hadir diakhir ummatKu al-Mahdi yang disirami oleh Allah dengan hujan, bumi mengeluarkan tumbuhan, harta diberikan kepada yang sihat, binatang ternakan
Hadits ini diriwayatkan dari Abu Ubaidullah al-Jarrah dan diriwayatkan oleh Imam Tabrany. Diriwayatkan pula oleh Khuzaifah al-Yaman oleh Imam Ahmad (4/273) dalam Musnadnya. Telah berkata al-Hatamy dalam Majmu’ al-Zawaid, (5/179), diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazzar, dan Tabrany dalam al-Ausath menyatakan perawinya adalah thiqah. Dan al-Hafidz al-Iraqi berkata :’ini adalah hadits Shohih’. Sebagaimana dinukil dari Muhammad Nasiruddin al-Bany dalam Salsilah al-Hadits al-Shahih. (Damsyik : al-Maktab al-Islamy tt, hal. 9. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no 4282) dalam Sunan bab al-Mahdi, dan al-Tirmidzi berkata : Hadits ini adalah Hasan Shohih. Dan Ibn Thaymiyah telah menshohihkannya dalam Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah (4/211) dan dihasankan isnadnya oleh al-Bany dalam “Takhrij Ahadits al-Miskah”. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shoheh (no.2913) bab al-Fitan dan Imam Ahmad dalam Musnad (no. 3/37, 318,333).

membiak, ummat Islam menjadi agung dan mulia, ia hidup selama tujuh atau delapan kali haji.32 Menurut keterangan beberapa hadits diatas, dapatlah disimpulkan bahwa akan lahir dimasa yang akan datang seorang pemimpin besar Islam dari keturunan Rasulullah yang bernama Muhammad bin Abdullah bergelar sebagai Imam al-Mahdi al-Muntazar yang akan menegakkan Islam dan menjadikannya sebagai satu-satunya jalan keluar bagi problem dan krisis yang dihadapi masyarakat dunia. Dia akan membawa kegemilangan Islam dan ummat sekali lagi seperti dizaman Rasulullah dan para sahabat terdahulu. Dialah Kholifah yang akan menegakkan keadilan dan kemakmuran, yang akan membagibagikan harta tanpa menghitungnya. Seluruh manusia akan merasa keadilan dan kemakmuran yang dibawanya. Walaupun ada yang menolak hadits-hadits al-Mahdi ini, seperti Ibn Khaldun misalnya, namun banyak imam-imam dan ulama-ulama besar yang membenarkannya, karena hadists-hadists tentang al-Mahdi adalah hadists mutawattir. Diantara yang mensohehkan dan menghasankan hadists-hadists alMahdi yaitu : al-Imam Abu Dawud, al-Imam Tirmizi, al-Hafidz Abu Ja’far alAqili, al-Imam al-Hasan bin Ali bin Khilaf Abu Muhammad al-Barbahary, alImam Abu al-Hasan Ahmad bin Ja’far al-Munady, al-Imam Ibnu Hibban, alHafidz Abu al-Hasan Muhammad bin al-Husain al-A’bari as-Sajzy, al-Imam Abu Sulaiman al-Khotoby, al-Imam Baihaqi, al-Qodhi Abu Bakar bin al-Arbi, alQodhi Iyad, al-Imam as-Suhaily, al-Imam Abu Faraj al-Jauzy, al-Imam Ibnu Athir, al-Imam Qurthubi, al-Imam Ibn Thaimiyah, al-Imam al-Hafidz adzDzahby, al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah, al-Hafidz Ibn Kathir, al-Hafidz Ibnu Hajar al-asqolany, al-Hafidz Suyuthy, al-Allamah Ibn Hajar al-Haithami, alAllamah al-Barzanji, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, al-Allamah alQodhi as-Saukani dan lain-lainnya.33 Ulama dari kalangan Wahibi yang terkenal kehati-hatiannya dalam memelihara ajaran salafpun mengikuti tentang akan hadirnya al-Mahdi, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Mufti Saudi Arabia yang berkata : “Adapun pengingkaran terhadap al-Mahdi al-Muntazar dengan segala yang berkaitan dengannya sebagaimana yang difahami sebagian orang masa ini, maka pengingkaran itu adalah perkataan yang bathil. Karena sesungguhnya hadists-hadists tentang keluarnya (al-Mahdi) diakhir zaman, dan ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan
Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (no. 4/577,558). Berkata al-Bany : Sanadnya Soheh dan perawinya tsiqoh”.. Dikutip dari Salsilah al-Hadits al-Shohihah, op.cit hal. 117. Muhammad bin Ahmad bin Ismail, al-Mahdi Haqiqoh la Khurafah, Kaherah : al-Maktabah al-Tarbiyat al-Islamiyah, 1990. Hal. 59-62.

kemakmuran untuk menggantikan kerusakan, adalah hadists-hadists yang mutawattir dan sangat banyak serta diakui sebagaimana telah disyahkan oleh kebanyakan Ulama, diantaranya Abul Hasan al-Aburi as-Sajastani daripada Ulama kurun keempat, alAllamah as-safarany, al-Allamah Syaukany dan lain-lainnya. Dan hal ini seakan-akan telah ijma (sepakat) dari ahli ilmu…”.34 Maka dengan demikian, Jelaslah bahwa Islam telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya akan mendapat kemenangan dan kejayaan sekali lagi dimasa depan untuk membuktikan kebenaran ajarannya. Namun kemenangan ini tidak akan datang dengan sendirinya, karena bertentangan dengan akal sehat dan semangat agama Islam sendiri. Infrastruktur kemenangan dan kejayaan ini harus dipersiapkan dengan matang dan sistematis oleh para pemimpin dan cendikiawan Islam sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya terdahulu. Generasi Islam pertama telah mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kemenangan mereka melalui perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa seriusnya. Karena janji Allah dan Rasul-Nya adalah janji yang bersyarat, dan kemengan akan diperoleh apabila Ummat memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Pemahaman sebagian Ummat yang menunggu al-Mahdi dengan perbuatan statis adalah bertentangan dengan ajaran Islam yang memerintahkan pengikutnya untuk berjuang dengan seluruh daya upaya mereka. Kedatangan al-Mahdi sebagai pemimpin Ummat dimasa depan harus disambut dengan persiapan-persiapan matang, terutama infrastruktur masyarakat, terutama pemahaman dan pengalaman mereka pada Islam harus sudah sesuai dengan kehendak ajaran Islam. Maka hal ini adalah tugas para pemimpin dan intelektual Islam untuk mengarahkan dan membimbing Ummat agar sesuai dengan ajaran yang dikehendaki Islam. Kebangkitan Islam Demikian pula halnya, diakhir abad 20 ini kaum Muslimin diseluruh penjuru dunia mulai sadar dan bangun menuju era kebangkitan Islam. Akhir abad ini adalah abad kebangkitan Islamdan Ummatnya diseluruh aspek kehidupan setelah beberapa abad tertidur pulas dibawah buaian Imprialis Barat yang meracuni mereka dengan segala sistem hidup yang akhirnya menghilangkan identitas mereka sebagai Ummat terbaik. Kebangkitan kembali Ummat untuk mewarisi kegemilangan peradaban yang telah dibangun generasi mereka terdahulu yang berlandaskan spirit Islam sehingga mengantarkan mereka sebagai cendikiawan-cendikiawan ulung dan briliyan. Kebangkitan kembali untuk menghidupkan sunnah Rasulullah dan pelanjut-pelanjut setianya yang
Dikutip dari Jaridah Ukadz, 18 Muharram 1400.

telah berhasil gilang gemilang memimpin dunia dengan penuh keadilan dan menyelamatkannya dari kehancuran dan kezaliman penguasa-penguasa diktator. Kebangkitan kembali untuk mendaulatkan Islam diatas segala sistem kehidupan manusiawi dan sebagai satu-satunya jalan hidup yang dapat menyelesaikan krisis masyarakat modern. Kebangkitan kembali Ummat menjadi Super Power yang akan menggantikan penguasa-penguasa dunia masa kini yang telah mengalami kegagalan. Gelombang kebangkitan Islam ini terus maju, tidak ada yang dapat menghalainya. Kaum Muslimin mulai sadar, hanya Islamlah yangakan dapat membawa mereka menuju kejayaan dunia akhirat. Pemimpin-pemimpin Islam dari kalangan Ulama dan cendikiawan tampil membina Ummat dengan penuh gairah melalui gerakan dan visi masing-masing. Jama’ah, gerakan dan organisasi Islam tumbuh subur walaupun terpaksa melalui banyak tantangan, rintangan, dan tentangan, terutama kezaliman rezim-rezimdiktator yang tidak menghendaki Islam. Generasi muda mulai mendekati Islam, mereka sangat bangga menjadikan Islam sebagai al-Dien al-hayah (pandangan hidup) mereka. Para cendikiawan Muslim dengan penuh kesungguhan mengislamisasikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mencapai kegemilangan Islam dibidangnya masing-masing. Demikian pula para pakar tehnologi Muslim telah menciptakan penemuan-penemuan baru yang diakui keunggulannya oleh dunia. Al-hasil seluruh Ummat diakhir abad ini seakan-akan bangkit secara menyeluruh untuk menguasai kepemimpinan peradaban dunia dalam segala aspek kehidupan.35 Kebangkitan ini lebih semarak lagi apabila pejuang-pejuang Muslim dengan gerakannya mulai menampakan hasil yang menakjubkan. Dimulai dengan keberhasilan Ayatullah Khomaeni di Iran menumbangkan rezim diktator Syah Reza Pahlevi dengan dukungan kekuatan massa yang dikenal dengan “revolusi Islam” dan berhasil mendirikan Republik Islam Iran yang sangat ditakuti Barat. Selanjutnya keberhasilan gerakan-gerakan Islam di Timur Tengah seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir bangkit kembali membina masyarakat dan sangat berpengaruh dalam politik, dan di Jordania berhasil menguasai parlemen. Dr. Hasan Turabi dengan gerakannya berhasil mengislamisasikan Sudan, yang membuahkan berdirinya Republik Islam Sudan. Kemenangan spektakuler Front Keselamatan Islam (FIS) di Algeria walaupun dizalimi mendapat dukungan rakyat. Kaum pembaharu di Saudi Arabia semakin berpengaruh sesudah perang Teluk dan mengancam sistem monarchi dinasti Saud. Islamic Trend Movements
Lihat misalnya : Abdul Hadi Bu Thalib, ISESCO and The Islamic Revival, Rabat : ISESCO, 1985. Yvanne Yazbeek Haddad and John Esposito, The Contemporary Islamic Revival, New York : Greenwood Press, 1991. John L. Esposito, Voices of Resurgent Islam, New York : Oxford Univ. Press, 1983. Ali E. Hillali Dessouki (ed). Islamic Resurgence in the Arab World, New York : Preager, 1982. Dr. Chandra Muzaffar, Islamic Resurgence in Malaysia, Petaling Jaya : Penerbit Pajar Bhakti, 1987. Dr. Amien Rais (ed), Islam in Indonesia, Jakarta : Rajawali, 1986. VS. Naipul, Among The Believers (An Islamic Journey),. New York : Vintage Books, 1981.

di Tunisia semakin populer dan berpengaruh. Albania yang komunis menjadi anggota Organisasi Konfrensi Islam (OIC). Mujahidin Afghanistan yang lemah persenjataan dan kekuatan material berhasil menumbangkan Super Power Uni Soviet yang komunis, dan membawa kebangkrutannya. Bangkitnya republikrepublik Islam dibekas Uni Soviet yang spektakuler. Islam di Eropa dan America mulai berkembang. Gerakan-gerakan Islam di Nusantara berhasil mewarnai masyarakat dengan Islam, didirikannya institusi intelektual Muslim seperti ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), IIU (Intenational Islamic University), IKIM (Institut Kefahaman Islam Malaisia), ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia) dan lain-lainnya agar kaum cendikiawan Muslim lebih tersistematis dan terkoordinasi dalam mengislamisasikan masyarakat dan negara. Kebangkitan kembali Islam adalah Sunnatullah yang mesti berlaku, kemenangan dan kekalahan senantiasa akan digilirkan antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Masa kemenangan dan kejayaan bangsa Barat sudah berakhir dan akan digantikan oleh bangsa Timur Muslim yang mulai menghayati identitas mereka dengan mengamalkan ajaran Islam dan membuang segala bentuk faham-faham sekulerlisme dan materialisme dari Barat. Disaat bangsa Barat mengalami kemerosotan dan kemunduran sosial ekonomi, bangsa Timur Muslim bangkit dengan dinamisnya. Semua ini adalah petanda awal dari kemenangan besar Islam yang akan didukung kebangkitannya oleh bangsa Timur Muslim. Realitas ini ditgaskan lagi dengan mulai runtuhnya negara-negara adi daya satu persatu. Dimulai dengan runtuhnya Super Power Uni Soviet, mulai goncangnya Eropa, America, Jepang dan lain-lainnya. Setelah bangsa-bangsa maju ini mengalami puncak kemajuan sains tehnologi, ekonomi, dan kemajuan material lainnya, karena tidak memiliki dasar moral spiritual yang kokoh dalam pembangunan negara dan bangsa, masyarakatnya mengalami krisis dan dilema yang tidak kunjung berakhir. Krisis dan dilema yang akan membawa mereka menuju jurang kehancuran. Semua penemuan material yang menjulang tinggi itu akan menghancurkan mereka sendiri. Sebagai contoh nyata, walaupun Amerika telah menemukan teori-teori mengagumkan dalam sains sosial yang senantiasa menjadi rujukan pakar-pakar dunia, termasuk kaum Muslimin, namun America sendiri tidak mampu menyelesaikan krisis sosial antara kulit putih dengan kulit hitam yang senantiasa menimbulkan kerusuhan-kerusuhan dahsyat yang melumpuhkan negara. Penyakit-penyakit sosial menyebar dengan ganasnya tak terkawal lagi. Akhirnya sistem sosial yang begitu indah dalam teori yang mereka ciptakan tak pernah wujud di America. Sistem sosial sudah hancur, institusi keluarga yang merupakan tiang negara sudah punah, kriminalitas semakin meningkat, penyelewengan-penyelewengan berleluasa, sains dan tehnologi

menjadi alat perusak akibat tidak dikawal kekuatan moral spiritual yang lurus dan akhirnya Amerikapun menuju jurang kehancuran mengikuti sahabat karibnya Uni Soviet dengan segala krisis yang dihadapinya. Demikian pula halnya dengan negara-negara besar lainnya, semua sedang berlomba mendaki puncak gunung material sementara fondasi spiritual mereka sangat rapuh, maka ketika berada dipuncaknya mereka akan terjerumus menuju lembah kebinasaan. Mereka saling berlomba, saling menipu, saling memeras dan mengancam serta saling memusnahkan satu dengan lainnya. Negara-negara adi daya yang secara material sangat mengagumkan itu pada hakikatnya sedang berlomba menggali kuburan mereka sendiri dengan sains dan tehnologi canggih mereka yang tidak dikawal dengan kekuatan spiritual. Mereka pasti akan hancur, sebagaimana hancurnya Uni Soviet dengan sistem SosialismeKomunismenya. Kehancuran mereka disebabkan sisrem kehidupan yang diterapkannya setelah menemui kegagalan akibat landasan filsafatnya yang sangat rapuh. Realitas-realitas ini membuktikan Islam akan tampil sekali lagi dengan keunggulannya untuk menyelesaikan segala problem dan krisis ummat manusia dengan pendekatan khasnya. Islam akan mengantarkan bangsa yang menganutnya dengan sempurna menjadi pemimpin baru peradaban dunia dimasa depan. Bangsa Muslim baru ini akan tampil dengan keunggulan Islam untuk menyelesaikan segala krisis dan problem masyarakat modern. Islam sekali lagi akan membuktikan keunggulannya dengan melahirkan masyarakat terbaik yang memiliki kekuatan spiritual dan kekuatan material, masyarakat yang menjiwai semangat para generasi Rasulullah terdahulu namun menguasai sainstehnologi modern.

II MUHAMMAD RASULULLAH
BAPAK PARA REVOLUSIONER

Sejak keberadaannya dunia telah melahirkan manusia-manusia agung yang berjuang dan berkorban untuk kepentingan kemanusiaan, menyeru, mendidik dan memimpin umat manusia menuju kebahagian yang dicitacitakannya. Mereka berjuang dengan penuh heroisme, mengorbankan kepentingan dan kesenangan pribadi mereka bagi kebahagian orang lain. Dengan penuh kasih sayang mereka memimpin manusia-manusia lemah dan dengan tegasnya mereka menentang para penguasa zalim, bangsawan congkak, konglomerat korup dan para pengeksploitasi lainnya. Dengan nilai-nilai agung dan mulia mereka berjuang merubah tatanan masyarakat yang eksploitatif menjadi masyarakat utama yang penuh persaudaraan dan perdamaian. Di antara mereka ada yang berhasil dalam perjuangannya menciptakan tatanan yang dicita-citakannya, namun ada pula yang gugur sebagai pahlawan agung.

Dengan karakter khasnya mereka telah membangun tata dunia baru bagi masyarakatnya, dan tampil silih berganti sesuai kebutuhan masyarakat. Merekalah para revolusioner sejati yang telah menyumbangkan dharma baktinya kepada umat manusia, menggerakkan revolusi-revolusi agung yang telah merombak tatanan, merombak nilai, merombak manusia sekaligus mengantarkan menjadi masyarakat utama. Revolusi-revolusi besar yang terjadi, baik dahulu maupun sekarang, umumnya digerakkan oleh manusia-manusia besar revolusioner yang memang sadar akan pentingnya sebuah revolusi untuk merubah keadaan masyarakat mereka yang terbelakang atau menyimpang. Mereka terdiri dari para pemimpin dan cendikiawan yang tercerahkan atau para Utusan Allah yang dibangkitkan untuk membimbing umat manusia menuju kebahagian sejati. Revolusi manusiawi akan dipimpin oleh para intelektual tercerahkan yang tampil dengan pengetahuan yang diperolehnya untuk merubah masyarakatnya, sementara revolusi Ilahiyah digerakkan oleh para Utusan Allah yang mendapat wahyu dan menggerakkan masyarakatnya menuju kebahagian dunia akhirat. Sebelum mereka tampil ke tengah-tengah masyarakatnya, mereka telah disiapkan menjadi tokoh penggerak revolusi, baik oleh lingkungannya ataupun Tuhan yang mengutusnya jika ia seorang Nabi atau Rasul. Tidak mungkin terjadi sebuah revolusi jika tidak ada para penggerak dibelakangnya, karena sejarah membuktikan, setiap revolusi senantiasa didukung oleh manusia-manusia terunggul di masyarakatnya, yang akan menggerakkan masyarakatnya sesuai dengan kemampuan mereka masingmasing sehingga melahirkan sebuah revolusi, baik revolusi yang bertaraf besar ataupun kecil, berskala dunia ataupun lokal. Dengan demikian tidak disangsikan lagi bahwa setiap revolusi memerlukan seorang tokoh sentral yang akan menggerakkannya dengan metode mereka masing-masing. Kebesaran sebuah revolusi akan ditentukan oleh kebesaran tokoh penggeraknya. Itulah sebabnya, untuk mengetahui kebenaran dan kepalsuan sebuah revolusi, lihatlah siapa tokoh penggerak di belakangnya, jika mereka dikenal sebagai orang yang teruji kebenarannya di tengah-tengah masyarakatnya, baik kehidupannya, watak pribadinya, pemikirannya, kepemimpinannya, moralnya, kesuciannya, keagungannya dan lainnya, maka tidak diragukan, revolusi yang digerakkannya adalah revolusi kebenaran, dan sebaliknya, apabila tokohnya memiliki watak yang bertentangan dengan yang diserukannya, maka revolusi yang diserukannya adalah palsu dan akan membawa penyesalan para pendukung dan pengikutnya. Keberhasilan setiap revolusi yang berskala kecil ataupun besar akan sangat ditentukan oleh para penggeraknya, apakah mereka manusia-manusia

besar yang teguh dan memiliki jiwa besar dalam menghadapi rintanganrintangan yang pasti datang menyertai sebuah revolusi, sebagaimana yang telah menimpa revolusi-revolusi sebelumnya, baik yang digerakkan oleh para intelektual tercerahkan ataupun para Nabi AS. Diantara para Utusan itu ada yang berhasil gilang gemilang seperti yang dialami Nabi Sulaiman AS yang menjadi penguasa alam manusia, binatang dan jin sekaligus. Namun diantara mereka ada pula yang harus mengorbankan nyawanya akibat penolakan manusia, seperti yang dialami Nabi Yahya AS. Disinilah perbedaan antara revolusi yang dibawa para penyeru kebenaran sejati dengan para penyeru kesesatan. Walaupun para penyeru kebenaran harus mengorbankan nyawanya dan ditolak pengikutnya, pada hakikatnya mereka mendapat kemenangan, dan sebaliknya, walaupun penyeru kebatilan mendapat kemenangan dan kejayaan, namun mereka tetap mendapat kekalahan akibat kebatilan yang diserukan dan diperjuangkannya. Karena benar dan salahnya sebuah revolusi bukan ditentukan oleh menang dan kalahnya dalam berinteraksi dengan masyarakat, namun yang menentukan benar atau salahnya adalah ajaran yang dibawanya, ajaran haq atau bathil, bersumber dari wahyu Allah atau pemikiran manusia, mengajarkan ketinggian hidup atau kerendahan hidup dan seterusnya. Nilai sebuah revolusi sepenuhnya akan ditentukan oleh latar belakang para penggeraknya, terutama motivasi yang mendorongnya melakukan revolusi. Revolusi yang benar adalah revolusi yang digerakkan oleh orang-orang agung dan suci yang menginginkan terwujudnya keagungan dan kesucian dalam kehidupan dunia ini. Keagungan adalah warisan tradisi para cendikia yang menginginkan kemajuan dalam peradaban dunia, sementara kesucian adalah warisan tradisi para rohaniawan yang menghendaki kesempurnaan hidup dibawah bimbingan Pencipta alam, itulah sebabnya, revolusi-revolusi sejati yang mengantarkan pengikutnya menuju kegemilangan dan kemenangan sejati biasanya digerakkan oleh mereka yang menghendaki keagungan dan kesucian yang terhimpun dalam pribadi para utusan Allah yang menyeru manusia menuju kesempurnaan hidup menurut tingkat peradaban masyarakatnya. Dan revolusi-revolusi palsu diserukan oleh mereka yang menjadikan keagungan dan kesucian sebagai topengnya untuk mengeksploitasi dan mengelabui para pengikutnya, yang semuanya akan berakhir dengan kekecewaan, penyesalan dan kehancuran. Berapa banyak dalam panggung sejarah telah tampil manusiamanusia licik semacam ini, yang menipu keagungan dan kesucian untuk kepentingan pribadinya, baik untuk mendapatkan pengaruh, jabatan, harta, wanita dan materi duniawi lainnya. Para penipu ini akan menyembunyikan nafsu serakahnya dibalik seruan-seruan palsunya yang memperdaya, namun kelak sejarah akan membuka topeng kepalsuannya, karena sepandai-pandai

manusia menyembunyikan kepalsuan, pasti akan terbongkar jua, apalagi jika kebenaran datang, maka, kepalsuan pasti akan lenyap. Keagungan dan kesucian adalah kata kunci sebuah revolusi Ketuhanan yang tidak mungkin dapat dimanipulasi oleh manusia-manusia serakah dan pembohong. Benar atau palsunya sebuah revolusi dapat dilihat dari riwayat hidup orang-orang yang menggerakkannya, terutama pemimpin dan pendukungpendukung utamanya. Siapa mereka, bagaimana sejarah kehidupannya, apa peranannya dalam masyarakat, bagaimana pola hidup mereka, keturunannya dari mana, pendidikan apa yang diterimanya, bagaimana kehidupan pribadinya, keluarganya dan lingkungan dekatnya. Para penggerakan revolusi yang ideal adalah pribadi-pribadi agung dan suci, yang selalu megutamakan kebenaran dan kepentingan masyarakat, berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta berkorban untuknya, lahir dari keturunan orang-orang suci dan agung, yang hidup dalam kesucian dan keagungan, walaupun masyarakat disekelilingnya penuh dengan penyelewengan dan kemaksiatan, namun mereka tetap memelihara tradisi nenek moyang mereka yang para penyeru-penyeru kebenaran sebelumnya dan didik untuk senantiasa mengutamakan kebenaran dan keadilan oleh pendidik yang teruji kebenaran dan keadilannya. Jalan pintas untuk mengetahui kebesaran sebuah revolusi adalah dengan membandingkannya dengan revolusi-revolusi lainnya, kemudian membandingkan pemimpin-pemimpinnya, membandingkan pendungpendukung utamanya, membandingkan ajaran-ajaran yang diserukannya dan terakhir membandingkan dampak revolusi yang dihasilkannya. Dengan membandingkan semua perkara diatas, maka akan kelihatan, mana revolusi yang teragung dalam sejarah peradaban manusia. Maka untuk mengetahui sejauh mana kebesaran dan keagungan revolusi Islam gelombang pertama yang dipimpin Muhammad Rasulullah, hal pertama yang harus diketahui adalah tokoh dan pemimpin utama yang menggerakkan revolusi ini, yaitu Nabi Muhammad sendiri, dari mana asal usul keturunannya, kepribadiannya, pembinaannya, keluarganya, model kepemimpinannya, sifat-sifatnya dan keutamaan-keutamaannya. Dan tidak diragukan lagi bahwa Muhammad Rasulullah adalah seorang revolusiner sejati yang menggerakkan kaum tertindas (al-Mustadh’afin) menentang kelaliman para penguasa zalim, bangsawan korup, konglomerat berjouis, sekaligus membangunan sebuah tatanan masyarakat berdasarkan nilai-nilai keagungan Islam. Muhammad Rasulullah adalah Bapak dari seluruh para revolusiner di dunia ini. Muhammad Rasulullah, Bapak Para Revolusioner

Menilai kehidupan seseorang bukanlah perkara mudah, apalagi yang dinilai adalah seseorang yang memiliki hubungan sangat dekat dengan yang menilai. Seorang Muslim yang menilai kehidupan Muhammad Rasulullah adalah sama halnya dengan seorang prajurit yang menilai penglima tertinggi yang sangat dikaguminya, atau seperti seorang pengikut setia yang menilai pemimpin agung yang ditaatinya, atau seperti seorang murid yang menilai maha guru yang dihormatinya, atau seperti seorang kekasih yang menilai sang kekasih yang sangat dicintainya, atau seorang revolusiner yang menilai maha bintang revolusiner dunia. Dengan kata lain, subyektifitas sudah terkandung di dalam penilaiannya. Seorang Muslim yang menilai perilaku kehidupan junjungan Nabinya, mungkin tidak akan dapat dengan sempurna mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Karena hubungan ini merupakan hubungan perasaan yang sangat sulit dilukiskan, seperti menceritakan sebuah lukisan indah tanpa cacat kepada orang lain. Dan adalah mustahil dapat mengungkapkan sejarah kehidupan manusia teragung pemimpin besar revolusioner ini dengan sempurna, kecuali hanya dapat menyatakan kekaguman demi kekaguman ketika membaca sejarah hidupnya........ Pada hari itu, dunia yang sedang dilanda kegelapan dan kejahiliyahan tiba-tiba menjadi gempar. Api kaum Majusi yang berabad-abad yang tidak pernah padam, tiba-tiba padam. Di langit bermunculan cahaya gegap gempita yang menandakan telah berlakunya peristiwa besar yang akan merubah sejarah manusia. Para Raja dan Kisra menjadi gelisah dan kalang kabut, seperti ada kekuatan ghoib yang mengancam kedudukan mereka. Terjadilah perkaraperkara aneh dan ajaib, sehingga memeranjatkan ahli sihir, tukang tenung dan para ahli hikmah. Para pencari kebenaran yang selama ini menunggu-nunggu dengan penuh harap akan kedatangan juru selamat dunia, telah merasakan bangkitnya manusia yang dijanjikan oleh para Nabi terdahulu. Para revolusioner yang menanti-nantikan pemimpin agung revolusioner yang akan merombak tatanan dunia, tidak sabar menunggu kehadirannya. Seluruh umat manusia yang dilanda kegelisahan, kecemasan, ketakutan mengharapkan segera tampilnya pemimpin yang akan membebaskan mereka dari kedurjanaan para penindas yang telah mengeksploitasi mereka. Mereka semua menyadari bahwa telah terjadi persitiwa besar, peristiwa yang akan menentukan perjalanan manusia di masa depan. Tidak salah lagi, hari itu, senin 12 Rabiul Awwal yang dikenal sebagai tahun gajah, di antara keheningan malam dalam kawasan Ka'bah, rumah Allah dan tempat tersuci di dunia, telah lahir seorang Utusan Allah terakhir dan terbesar yang akan melancarkan revolusi teragung dalam sejarah umat manusia, yang akan menghancurkan segala bentuk kejahiliahan dengan membawa

petunjuk dari Allah. Kelahiran manusia agung ini menandakan telah dimulainya sebuah revolusi total dalam kehidupan manusia yang akan mengantarkan mereka menuju kesempurnaan hidup di bawah bimbingan Sang Penguasa alam raya. Manusia agung ini lahir dengan membawa keberkahan dan kemukjizatan sebagai tanda kebesaran dan keagungan pribadinya yang telah ditaqdirkan Allah sebagai Utusan terakhir yang akan menyelamatkan umat manusia dari angkara murka iblis dan para pengikut setianya. Beliau telah ditinggalkan ayahandanya ketika dalam kandungan. Dan datuknya, Abdul Mutallib, seorang pemimpin utama kaum Quraisy, menamakannya dengan Muhammad sementara Tuhannya telah memberikan nama Ahmad, yang berarti orang yang terpuji. Nama ini adalah nama yang sangat indah, nama yang senantiasa disebut-sebut sepanjang masa oleh sebagian besar penduduk dunia. Muhammad bin Abdullah, sang pemimpin utama revolusi agung kamanusiaan yang kelak mengguncang dunia, dipilih Allah dari keturunan manusia yang termulia, dari kalangan Bani Hasyim salah satu kabilah Quraisy keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim AS, yang dikenal sebagai bapak para Nabi AS. Merekalah generasi-generasi yang telah dipilih dan diamanahkan Allah untuk menyampaikan risalah kepada umat manusia kerana keutamaankeutamaan yang ada pada mereka. Seorang yang agung dan besar pasti lahir dari keturunan orang-orang yang agung dan besar. Dipilihnya Rasulullah dari kalangan anak-cucu Nabi Ibrahim AS jelas membuktikan masalah ini, karena pohon yang baik, pasti berasal dari pohon yang baik pula. Katika Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS selesai mendirikan Ka’bah di Makkah, beliau berdua berdoa kepada Allah SWT agar kelak dianugrahi anak keturunan yang akan menjadi pemimpin umat manusia, yang akan menggerakkan revolusi teragung dalam sejarah kemanusiaan, dan Allah SWT telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim AS dengan diangkatnya para Nabi dari keturunannya, dan termasuk Nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW. Muhammad Rasulullah tumbuh membesar dengan tanda-tanda keagungan yang menyertainya. Tanda-tanda keagungannya telah kelihatan sejak kecil. Ketika perkampungan bani Sa'ad dilanda kemarau dan kekeringan, pepohonan dan rumput menjadi mati, namun sesampai saja Muhammad bin Abdullah di kampung itu untuk dipelihara dan disusui oleh Halimah, keadaan berubah total. Kampung yang dahulunya kering tandus, mulai mengijau, kambing ternakan yang dahulu kelaparan dan kurus kering, kini menjadi gemuk dan sehat serta menghasilkan susu yang berlimpah ruah. Sungguh agung manusia ini, yang dicintai dan dihormati oleh seluruh alam.

Untuk menjaga kebersihan dan kesucian hatinya, sejak kecil pemimpin agung revolusioner ini dipelihara Allah SWT yang mengutusnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang berkata : "Sesungguhnya Rasulullah SAW telah didatangi Jibril ketika beliau sedang bermain-main dengan sekumpulan anak-anak. Jibril AS telah merebahkan dan membelah dadanya dan mengeluarkan segumpal darah sambil berkata "inilah sasaran Syaitan kepadamu". Sesudah itu dibasuhnya di dalam mangkok dari emas dengan air zam-zam, barulah dimasukkan kembali ke tempat asalnya. Dan anak-anak yang lainnya berlarian menemui ibu penyusuannya Halimah sambil berteriak-teriak : Muhammad telah dibunuh dan mereka semua berlari ke arah Nabi Muhammd dan didapatinya pucat lesu" (Diriwayatkan oleh Muslim) Untuk melengkapkan pembinaannya, Allah SWT memanggil kembali kehadirat-Nya orang-orang tersayang yang memelihara beliau, ibunya Siti Aminah dan kakeknya Abdul Mutallib, sehingga beliau menjadi anak yang yatim piatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan segala hikmah yang terkandung pada setiap kejadian. Dan yatim piatunya Muhammad bin Abdullah akan menghantarkannya sebagai seorang yang berjiwa besar, tabah, serta mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam mengurus keperluannya, sebagai syarat yang diperlukan oleh seorang pemimpin besar yang akan menggerakkan revolusi agung. Demikian pula ia akan terbebas dari segala bentuk pengaruh dan tradisi orang-orang yang menjaganya, apa lagi kakeknya adalah orang ternama dan berpengaruh dalam masyarakat Arab yang tentunya memiliki cara berfikir tersendiri, yang mungkin bertentangan dengan kehendak Allah SWT. Keyatim-piatuan Rasulullah telah menempa jiwanya menjadi pemimpin sejati, seorang yang teguh dalam pendirian, seorang yang tabah dalam menghadapi cobaan hidup, seorang yang independen dan berjiwa besar dan pantang mengalah. Setelah kakek kesayangannya wafat, beliau diperebutkan oleh pamanpamannya, yang kesemuanya adalah pemuka dan bangsawan serta hartawan Quraisy. Akhirnya beliau diberikan hak untuk memilih salah satu paman yang akan menjaganya dan mengasuhnya. Sekali lagi manusia agung pemimpin revolusioner ini menunjukkan kebesarannya dengan memilih pamannya yang terbaik, bukan seorang hartawan yang boros dan angkuh seperti sebagian paman-pamannya yang lain dan terbukti menentang dakwahnya dikemudian hari seperti model Abu Jahal dan Abu Lahab. Tetapi beliau memilih orang yang tepat, yaitu seorang yang sederhana, zuhud dan lurus serta sangat dihormati karena ketaatanya, yaitu Abu Talib bin Abdul Muthallib. Dan sejarah membuktikannya, walaupun pamannya ini tidak mengikuti ajarannya, namun tetap melindungi, membelanya mati-matian daripada kejahatan kaum

musyrikin. Jika beliau SAW memilih salah satu pamannya yang hartawan, boleh jadi akan memberikan kesan buruk terhadap perkembangan jiwanya di kemudian hari, kerana seorang pemimpin agung penggerak revolusi tidak pernah lahir dari kemewahan dan keborosan, tetapi mereka lahir dari kepedihan tempaan hidup yang sukar lagi sempit. Mungkin ada pemimpin sejati yang lahir dari kemewahan, seperti Musa AS misalnya. Namun ketika Allah SWT hendak mengangkatnya menjadi Rasul, beliau harus meninggalkan segala kemewahan istana Fir'aun tempat dibesarkannya, menjadi seorang pengembala yang papa kedana. Kepapan akan melatih seseorang menjadi manusia yang kuat jiwanya dalam menghadapi segala bentuk tantangan dalam mendakwahkan ajarannya kepada berbagai jenis manusia. Demikian pula kesusahan akan menempa jiwa sang revolusioner menjadi manusia tabah yang menghayati dan memahami rakyat tertindas yang dibelanya. Sebuah revolusi tidak mungkin digerakkan melalui menara gading yang jauh dari rakyat tertindas, namun sang pemimpin revolusi harus menghayati kehidupan, penderitaan, kenestapaan, keperihan dan ketidakberdayaan kaum tertindas yang akan diperjuangkannya. Mereka harus hidup di tengah-tengah orang-orang yang akan digerakkannya, merasakan apa yang dirasakan pengikutnya. Sejak kecil pemimpin agung ini telah dikenal sebagai seorang revolusioner utusan Allah yang akan merubah dan menyelamatkan dunia, terutama oleh para pendeta Yahudi dan Nashrani serta ahli hikmah. Dalam usia dua belas tahun pamanda Abu Talib membawa beliau SAW ke negeri Syam. Ketika mereka sampai di suatu tempat di "Bashra", mereka berjumpa dengan seorang pendeta Kristen bernama Buhaira, seorang yang bijak memahami Injil. Beliau memperhatikan Nabi SAW kemudian bertanya kepada Abu Talib; "Lelaki ini anak tuankah ?" Abu Talib menjawabnya "Ya, ini adalah anak saya". Namun Sang pendeta menimpali "Bapak anak ini tidak mungkin masih hidup". kemudian Abu Talib menjawab "Sebenarnya anak ini anak saudaraku, bapaknya meninggal ketika ia masih dalam perut ibunya". Pendeta tadi lalu mengatakan:"Memang benar apa yang engkau ceritakan karena segala-galanya tercatat dalam Injil dan di sini ingin saya memberi nasihat supaya segeralah engkau membawanya pulang sebab kalaulah kelihatan oleh orang-orang Yahudi mereka akan mengancam nyawanya kerana anak saudaramu ini di masa depan nanti akan membawa suatu perkara besar dan agung". Maka Abu Talib membawa pulang Nabi SAW ke Makkah. Pemimpin agung revolusioner ini tumbuh dewasa dengan penuh kebesaran dan kesucian. Beliau tetap terjaga dari perkara-perkara mungkar yang akan merusak nama baiknya dan menodai perjalanan dakwah dan perjuangannya. Beliau benar-benar terjaga dari perkara-perkara yang dibenci

Allah SWT, walaupun lingkungannya penuh dengan kejahiliyahan, sebagaimana baginda SAW menceritakannya : "Aku tidak pernah teringat hendak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh sebahagian besar orang-orang jahiliyah, kecuali dua kali tetapi dijauhkan oleh Allah SWT. Sesudah itu aku tidak mengingat-ingat lagi sehinggalah aku diutuskan. Di suatu ketika aku sedang mengembala dengan seorang pemuda lain di mana aku telah meminta agar menolong melihatkan kambing ternakanku sementara aku hendak pergi melihat-lihat di kota Makkah. Pemuda itu sanggup menunaikan harapanku itu dan akupun keluar sehingga akhirnya sampailah ke rumah pertama di kota Makkah dan aku mendengar permainan lantas akupun bertanya apakah bunyi-bunyian itu. Orang memberitahuku bahwa itulah keramaian dan pesta. Akupun duduk hendak mendengar tetapi Tuhan telah menulikan telingaku menyebabkan aku terlena dan aku terjaga kembali setelah sinar cahaya matahari memancar ke mukaku. Akupun pulang menemui sahabatku tadi. Beliau bertanya bagaimana halnya dengan diriku semalam. Aku pun menceritakan apa yang telah berlaku. Dan di suatu malam yang sekali lagi aku meminta supaya membenarkan aku keluar seperti dahulu tetapi bila aku sampai ke Makkah terus berlaku perkara yang sama seperti dahulu atas diriku. Sesudah itu aku tidak mencoba lagi". Tidak diragukan lagi, bahwa pemuda calon pemimpin revolusi agung ini benar-benar di jaga Allah agar kepemimpinannya sempurna, jauh dari cacat cela sebagaimana pemimpin-pemimpin dunia lainnya yang tidak mendapat petunjuk Allah. Berkat keagungan dan kemulian pribadinya, terkenallah Muhammad bin Abdullah sebagai seorang pedagang yang jujur dan amanah, banyak saudagar yang ingin menjadikannya sebagai pekerja setelah terbukti berhasil mendatangkan keuntungan berlipat ganda pada perdagangan Siti Khadijah. Namun wanita agung dan mulia ini, tidak menganggap Muhammad SAW sebagai seorang pekerja biasa, namun lebih daripada itu, yang hanya diketahui Allah SWT. Dia melihat kebesaran dan keagungan seorang pemuda yang sedang tumbuh menjadi pemimpin revolusioner sejati. Seorang gagah dan bijaksana yang menjadi idaman setiap wanita. Itulah sebabnya tanpa malu dia meminang Muhammad SAW sebagai suami yang akan dibela perjuangannya. Dan jodohpun mempertemukan mereka sebagai sepasang suami-isteri yang ideal, walaupun Khadijah seorang janda dan lebih tua usianya. Namun ternyata hikmahnya sangat besar kepada calon pemimpin agung penggerak revolusi ini. Kenapa mesti Allah SWT memilih Khadijah ra, janda kaya raya sebagai pendamping hidup manusia agung ini ? Isteri bagi seorang pemimpin bukan sekedar ibu rumah tangga yang hanya mengurus rumah

tangga saja, namun lebih daripada itu. Jika kita perhatikan keberhasilan pemimpin-pemimpin besar dunia, dahulu dan kini, pasti ada pendamping terdekat mereka yang akan memberikan saran serta nasihat yang berguna bagi kepemimpinannya. Itulah sebabnya Allah SWT memilihkan pendamping hidup calon pemimpin agung ini seorang yang kaya, bijaksana, cerdik, keibuan, tabah dan segala sifat-sifat mulia yang akan mendukung kejayaan suaminya. Demikian pula, Kahdijah adalah seorang janda, kerana janda memiliki pengalaman dalam seluk beluk kekeluargaan, yang akan lebih dewasa dalam menghadapi tantangan hidup. Ternyata sejarah membuktikannya kemudian, bahwa Khadijah adalah orang yang pertama kali membenarkan kerasulan Muhammad SAW, yang membela perjuangannya dengan penuh pengorbanan, harta dan jiwanya diserahkannya untuk perjuangan menggerakkan revolusi teragung menegakkan amanah Allah yang diemban suami tercintanya. Dialah pula yang telah menenangkan Nabi SAW ketika dilanda kesedihan. Allah SWT benar-benar memilih wanita yang sangat ideal untuk mendampingi perjuangan Rasul-Nya. Sehingga tidak mengherankan jika kecintaan Rasul SAW amat mendalam kepadanya, dan mendatangkan kecemburuan isteri-isteri lainnya, walaupun beliau telah lama wafat. Sungguh agung wanita ini, seorang pendamping pemimpin revolusioner yang telah membuktikan keagungannya membela dan membantu perjuangan suci suami tercintanya. Kepemimpinannya semakin kelihatan ketika beliau SAW mampu menyelesaikan pertikaian diantara kabilah-kabilah Arab yang hampir membawa pada peperangan, yaitu ketika peristiwa perletakan kembali Hajar al-Aswad ketempatnya semula setelah Ka'bah dibangun kembali. Masing-masing kabilah merasa memiliki hak untuk itu, sehingga mereka sepakat untuk memberi keputusan kepada Muhammad SAW yang ditunjuk sebagai penengah. Berkat kebijaksanaannya, beliau berhasil menyelesaikan pertikaian itu sekaligus mendapat gelar al-Amin (orang yang dipercaya). Demikianlah, pemimpin agung ini tumbuh dengan dinamikanya yang tersendiri untuk menyempurnakan dirinya sebagai seorang utusan Allah yang akan memimpin sebuah revolusi terbesar dalam sejarah kemanusiaan di masa depan. Sang pemimpin agung revolusioner ini ditempa secara langsung oleh alam dan lingkungan masyarakatnya, bukan oleh teori-teori filsafat yang tidak ada korelasi dan relevansinya kepada masyarakat yang akan dibimbingnya. Beliau benar-benar hidup di tengah-tengah masyarakatnya, sehingga mengetahui dengan pasti suka dan duka masyarakat yang akan dipimpinnya menuju kehidupan ideal. Beliau tidak hidup di atas menara gading, kemudian menilai masyarakatnya dari jauh dengan penuh kesamaran, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan intelektual kita masa ini, sehingga membingungkan

masyarakatnya yang sudah kebingungan ketika ia mengeluarkan teorinya, kerana semua teorinya jauh dari alam nyata dan problem yang dihadapi masyarakatnya. Kerana hidup di tengah-tengah masyarakat yang akan dibimbingnya inilah Muhammad SAW mengetahui dengan pasti segala suka duka, pergerakan, kekurangan, keutamaan, dan segala sesuatu tentang masyarakatnya. Seorang calon pemimpin agung revolusioner senantiasa berdiri di alam nyata, di tengah-tengah masyarakatnya, karena hanya dengan itulah mereka dapat merobah dan mengarahkan masyarakatnya menuju masyarakat ideal, sebagaimana yang dilakukan pemimpin-pemimpin agung revolusioner sepanjang sejarah. Keadaan seperti ini telah membawa pemahaman Muhammad Rasulullah tentang masyarakat yang dihadapinya. Beliau SAW menyadari bahwa kini masyarakatnya di ambang kehancuran akibat dari kesesatan dan kemungkaran yang mereka lakukan, ataupun eksploitasi kaum lemah oleh penguasa korup dan bangsawan congkak. Nabi SAW senantiasa memikirkan yang terbaik untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dihadapi masyarakatnya. Dengan pembinaan yang dilaluinya tingkat demi tingkat, kini sudah tiba saatnya Muhammad SAW untuk bangkit sebagai seorang utusan Allah SWT yang akan menggerakan revolusi merombak tatanan dan membimbing masyarakatnya menuju masyarakat ideal yang akan menyelamatkan dunia dari segala angkara kejahiliyahan dan penganutnya. Inilah gambaran tepat tentang masa yang paling menentukan dalam sejarah kemanusian sepanjang masa sebagaimana diriwayatkan daripada Aisyah ra : "Permulaan wahyu yang diberikan kepada Rasulullah SAW ialah mimpi yang baik lagi benar di dalam tidur, maka tiadalah beliau bermimpi sebuah mimpi melainkan datanglah mimpi itu seperti cahaya subuh. Kemudian beliau suka berkhalwat mengasingkan diri. Beliau berkhlwat di gua Hira' lalu bertahannuth (beribadah) di dalamnya, yaitu beribadah di dalam masa beberapa malam. Sesudah itu beliau SAW kembali kepada keluarganya untuk mengambil perbekalan bagi melanjutkan tahanuthnya; kemudian beliau menemui Khadijah serta mengambil perbekalan dan berlakulah hal ini berulang-ulang, sehingga datang kebenaran kepadanya. Sewaktu Rasulullah di dalam Gua Hira' maka datang kepadanya Malaikat, lalu ia berkata : Iqra' (Bacalah ! ). Berkata baginda : Ma ana biqari' ( Aku tiada pandai membaca). Berkatalah Beliau saw : "Kemudian jibril menarikku maka dipeluknya kuat-kuat hingga terasa kepadaku kesungguhannya kemudian dilepaskan aku, lalu ia berkata : Iqra' (Bacalah). Maka aku berkata: Ma ana biqari' (Aku tiada pandai membaca), kemudian diambilnya aku lalu dipeluknya erat-erat untuk kali yang kedua sehingga terasa kepadaku kepayahan kemudian dilepaskan aku dan ia berkata : Iqra' ( Bacalah ),

maka berkata aku : Ma ana biqari' (Aku tiada pandai membaca), setelah itu dia memelukku untuk ketiga kalinya lalu dipeluknya sungguh-sungguh hingga terasa eratnya kemudian dilepaskannya aku, maka ia berkata : "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan, yang menjadikan manusia daripada segumpal darah, bacalah demi Tuhammu yang Maha Mulia" ( al-Alaq : 1-3). Pulanglah beliau dengan ayat-ayat itu dan hatinya gemetar, lalu masuklah ia kepada Khadijah seraya berkata : “Selimutkanlah aku, selimutkanlah aku”, maka diselimutkanlah ia sehingga hilang daripadanya rasa ketakutan kemudian ia berkata kepada Khadijah setelah menceritakan kejadian itu :" Sesungguhnya aku takut atas diriku". Lalu Khadijah berkata kepadanya :”Tidak sekali, demi Allah, tiada dihinakan engkau selamanya kerana engkau sebenarnya orang yang sentiasa menyambung kasih sayang (silaturrahim), dan engkau memikul beban yang menderita, membantu orang yang dalam kesusahan, menghormati tamu dan menolong orang dari bala bencana”. Kemudian pergilah Khadijah bersamanya menemui Waraqah bin Naufl Ibnu Asad bin Abdul 'Uzza iaitu sepupu Khadijah, Waraqah adalah seorang yang beragama Nashrani di dalam zaman Jahiliyah dan pandai menulis kitab 'Ibrani. Maka disalinnya kitab Injil itu dengan bahasa 'Ibrani apa yang dikehendaki Allah bahwa ia menulis dan adalah ia seorang yang telah berusia tua dan buta. Maka Khadijahpun berkata kepadanya : "Ya anak bapa saudaraku !, Coba dengarlah kisah anak saudaramu ini. Kemudian Waraqah bertanya kepada Rasulullah :"Wahai anak saudaraku ! apakah yang engkau lihat ?, Lalu Rasulullah SAW menceritakan apa yng dialami dan dilihatnya. Setelah itu Waraqahpun berkata: "Itulah Jibril yang pernah diturunkan Allah kepada nabi Musa AS. Sekiranya aku masih muda dan kuat serta masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu". Segera bertanya Rasulullah SAW : "Apakah mereka akan mengusirku ?". Jawabnya :"Ya, kerana tidak pernah datang seorangpun yang membawa (ajaran) seperti yang engkau bawa itu melainkan ia akan dimusuhi dan sekiranya aku dapati masa itu tentulah aku akan menolangmu dengan pertolongan yang sungguh-sungguh". Kemudian tidak berapa lama sesudah itu Waraqah pun meninggal dunia dan wahyupun terhenti sebentar. (HR. Bukhari Muslim) Setelah turunnya ayat ini, kini Sang Pencipta alam semesta telah mengangkat Muhammad bin Abdullah sebagai seorang utusan yang akan menyampaikan ajaran-ajaran kudus Allah SWT, mengeluarkan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam, menegakkan keadilan dan menghancurkan kezaliman, menggerakkan revolusi Ilahiyah yang akan merombak tatanan jahiliyah menuju tatanan Islami. Kini beliau SAW telah resmi mendapat tugas dari Allah SWT untuk menyelamatkan bumi dan isinya dari kehancuran akibat sistem jahiliyah dan para penganutnya. Maka sejak peristiwa

ini, dimulailah sebuah revolusi yang membawa perubahan besar terhadap kehidupan manusia seluruhnya. Telah hadir ajaran yang senantiasa dinantinantikan dengan penuh harap oleh para pencari kebenaran hakiki. Kini telah dimulai era baru dalam kehidupan umat manusia yang akan mengangkat harkat dan martabat mereka di atas bimbingan wahyu Allah yang disampaikan kepada utusannya. Sejak turunnya ayat pertama di Gua Hira' itu, kemudian Muhammad Rasulullahpun mendapat wahyu dari Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril menurut susunan yang dikehendaki Allah. Wahyu demi wahyu turun kepadanya untuk membimbing diri beliau serta umat manusia menjadi insan kamil, sebagai umat yang terbaik sepanjang masa. Wahyu yang berisikan ajaranajaran suci dan mulia yang akan membimbing pengikutnya menuju kebahagian di dunia dan akhirat. Beliaupun mulai menyebarkan ajaran mulia ini kepada keluarga dan sahabat terdekatnya dan mendapat dukungan dari pada istrinya Khadijah, sepupunya Ali bin Abi Talib, dan sahabatnya dekatnya seperti Abu Bakar dan lain-lainnya. Muhammad Rasul Allah, pada hakikatnya memiliki fungsi ganda dalam manjalankan misinya sebagaimana yang dikehendaki Allah. Pertama Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul utusan Allah yang menerima wahyu dari-Nya berupa kebenaran sejati yang harus disampaikan kepada umatnya. Seorang utusan, sebagimana utusan-utusan Allah lainnya diberikan kewajiban untuk meyakini, mengamalkan dan menyebarkan wahyu yang diterimanya sebagai suatu kebenaran mutlak dari Yang Maha Mutlak. Fungsi kedua, Muhammad Rasulullah adalah penggerak revolusi sosial yang akan mentransformasikan perubahan sosial dalam masyarakatnya berdasarkan perintah Allah. Muhammad Rasulullah bertugas menggerakkan revolusi yang akan merubah tatanan masyarakat jahili yang penuh dengan kemusyrikan, kekafiran, penindasan, diskrimanasi, eksploitasi, kemaksiatan dan nilai-nilai kejahiliyaah lainnya menjadi masyarakat utama yang bertauhid, beriman, menegakkan keadilan, persaudaraan, persamaan dan nilai-nilai agung Islami. Itulah sebabnya dalam Muhammad Rasulullah dan misinya terhimpun semua keutamaan dan keagungan, keutamaan dan keagungan para Nabi dan Rasul sehingga disebut sebagai Penghulu para Nabi dan Rasul, dan sekaligus menghimpun keutamaan dan keagungan para revolusiner yang membangun masyarakat utama sepanjang sejarah kemanusiaan. Itulah sebabnya, disamping sebagai seorang Rasul, Muhammad SAW adalah bapak bagi para revolusioner yang menggerakkan perubahan sosial di masyarakatnya. Dalam kontek Islam, kedua tugas tersebut, sebagai Rasul dan Revolusiner menjadi satu kesatuan yang

tidak terpisahkan sebagai manifestasi kesatuan ajaran Islam yang mengagungkan nilai-nilai Ilahiyah dan menghormati norma-rorma manusiawi. Bagaimanakah Muhammad Rasulullah mulai menggerakkan revolusi totalnya kepada masyarakat Makkah yang tengah bergelimang dalam kesesatan, kemunduran, kemaksitan, kezaliman dan berbagai bentuk krisis masyarakat lainnya ? Pemimpin agung revolusioner ini tidak memulai revolusinya dengan agitasi-agitasi murahan yang membangkitkan semangat dan mempropokator pengikutnya untuk memberontak menumbangkan kekuasan para tiran kejam, beliau tidak memulai gerakannya dengan menjanjikan berbagai iming-iming kenikmatan duniawiyah masyarakat sama rata sama rasa, beliau tidak memulai revolusinya dengan menyebarkan permusuhan dan pertentangan klas yang mengobarkan perkelahian, beliau tidak memulai revolusinya dengan mengangkat senjata melawan keangkuhan rezim diktator, sang pemimpin revolusioner ini tidak memulai gerakan revolusinya dengan cara-cara yang selama ini ditempuh kaum revolusioner lainnya. Beliau memulai revolusinya dengan gerakan khas yang jauh menandingi metode revolusi manapun di dunia ini. Muhammad Rasulullah memulai revolusinya dengan revolusi keyakinan, revolusi aqidah kepercayaan, revolusi keimanan, revolusi yang dapat mengubah watak manusia dari relung terdalam hatinya, revolusi yang membebaskan jiwa dan raganya dari penghambaan sesama makhluk. Revolusi ini dimulai dengan mentauhidkan, mengesakan Sang Maha Kuasa. Sebagaimana dinyatakan dalam wahyu-wahyu awal yang diturunkan kepada Rasulullah: Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah Yang mengajar dengan perantaraan kalam Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (al-Alaq : 1-5) Setelah sang pemimpin revolusioner ini memahami benar makna revolusi keimanan yang hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya “ilah” dalam manipestasi “la ilaha illallah”, tiada Tuhan selain Allah, kemudian diperintahkan bangkit menyerukan gerakan revolusinya kepada masyarakat dengan membawa atribut khas sebagai seorang Rasul-Revolusioner; Hai orang yang berselimut Bangkitlah, lalu berilah peringatan Dan Tuhanmu agungkanlah Dan Pakaianmu bersihkanlah Dan perbuatan dosa tinggalkanlah Dan janganlah kamu memberi dan mengharap balasan lebih

Dan untuk Tuhanmu hendaklah bersabar (al-Muddatstsir : 1-7) Sejak diperintahkan Allah SWT untuk menyampaikan ajaran-Nya kepada keluarga terdekat, Rasulullahpun aktif mendakwahkan apa yang diterimanya dari Jibril kepada kaum kerabat terdekatnya secara tersembunyi. Beliau SAW mendatangi mereka seorang demi seorang tanpa melihat tingkat dan darjat serta warna kulit. Dengan penuh ketabahan, kesabaran serta kesungguhan beliau membimbing mereka menuju jalan lurus yang akan menyelamatkan mereka dari kegelapan jahiliyah sebagaimana diajarkan Allah SWT. Seorang demi seorang mulai mendukung dan mengikuti ajaran suci dan mulia yang dibawanya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Dan inilah awal mula terbinanya generasi baru masyarakat revolusioner yang akan merubah dan merombak wajah dunia di masa depan sebagaimana dibuktikan sejarah. Rasul Allah telah mulai menyiapkan fundamen untuk lahirnya sebuah generasi baru, generasi Qur'ani. Generasi yang lahir dari metode pembinaan al-Qur'an yang unik. Muhammad Rasulullah bersama para pengikut setianya mulai menggerakkan revolusi di tengah-tengah masyarakatnya dengan seruan-seruan yang akan merombak tatanan masyarakat jahiliyah dan membangun masyarakat Islami. Mereka menyerukan tauhid meninggalkan syirik (surat al-Ikhlas : 1-4), meyakini hari pembalasan (al-Qaari’ah : 1-11), mengukuhkan persaudaraan dan persamaan hak dikalangan manusia (al-Ashr : 1-3), mengecam perilaku boros dan angkuh para tiran dan berjouis (al-Lahab : 1-5) (al-Takaasur : 1-8), membantu kaum tertindas dan lemah (al- Maa’uun : 1-7). Dengan gerakan revolusinya ini, kemudian Rasulullah dan para pengikutnya mendapat tantangan demi tantangan, dan mereka tidak pernah lemah semangat dalam memperjuangkan keyakinannya. Pada suatu hari kaum musyrikin membujuk Rasulullah melalui Uthbah bin Rabi’ , yang berkata : Wahai anakku Jika sesungguhnya kamu menghendaki harta Maka kami akan mengumpulkan harta-harta kami dan memberikannya padamu, sehingga kamu menjadi terkaya Jika sesungguhnya kamu menghendaki kekuasaan Maka kami akan mengangkat kamu menjadi penguasa Jika kamu menghendaki wanita Maka pilihlah wanita terbaik dan akan kami kawinkan denganmu Menghadapi rayuan dan sogokan seperti ini, Muhammad Rasulullah tetap pada pendiriannya menegakkan revolusi sampai titik darah penghabisan, sebagaimana katanya :

Demi Allah, wahai paman Andai engkau letakkan mentari di tangan kananku Dan rembulan di tangan kiriku Aku tidak akan meninggalkan gerakanku Sehingga Allah memenangkan perjuanganku Atau aku hancur binasa bersamanya.. Inilah kata-kata teragung dari seorang pemimpin revolusioner yang tidak pernah mau menyerahkan keyakinannya dan menukarkannya dengan segala bentuk kesenangan dunia yang akan menggagalkan gerakan revolusinya. Hanya pemimpin revolusioner yang memiliki tekad kuat dan kemauan keras seperti karanglah yang akan mendapatkan kemenangan dalam perjuangannya. Berkat keteguhan pemimpin gerakannya,Muhammad Rasulullah, generasi revolusioner telah tampil di Makkah dengan gerakannya yang revolusioner, kemudian tumbuh dan berkembang dengan dinamikanya yang unik dan mengagumkan, mereka memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan mereka dengan generasi lainnya, baik dahulu dan kini, sebagaimana digambarkan Allah dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an : Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya adalah bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, penuh rasa kasih sayang terhadap sesamanya (Muslim) kamu dapat lihat mereka orang-orang yang banyak ruku' dan sujud, mencari keutamaan dan keredhaan Allah, di wajah mereka itu nampak bekas sujud. Itulah perumpamaan mereka dalam Taurat, dan perumpamaan mereka dalam Injil. Mereka seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya yang lembut kemudian bertambah kuat dan bertambah besar, sehingga dapat tegak kokoh di atas batangnya, menyebabkan penanamnya menjadi gembira sehingga menjadikan orang yang kafir marah. Allah telah menjanjikan kepada orang yang beriman dan mengerjakan perbuatn yang baik akan memperoleh ampunan dn pahala yang besar. (al-Fath : 29) Perumpamaan Allah pada ayat di atas sangat tepat. Generasi revolusioner yang dibina Muhammad Rasulullah diibaratkan seperti sebuah pohon yang tumbuh dari bibit yang baik, di lahan yang subur serta mendapat pupuk istimewa berupa wahyu dari Allah SWT, sehingga pohon itu membesar dengan cepat dan mengagumkan. Pohon itu siap menghadapi setiap tantangan yang menghambat pertumbuhannya, sehingga ia menjadi pelindung bagi orang-orang yang berteduh dibawahnya. Demikianlah gerakan revolusioner telah menjadikan generasi ini tumbuh dengan dinamiknya menurut caranya yang khas. Seorang demi seorang

mengikutinya sehingga generasi ini menjadi ancaman menakutkan bagi kaum jahiliyah, sehingga mendorong mereka menentang pergerakan generasi ini. Tantangan demi tantangan dihadapkan kepadanya, dari ancaman, teror, hinaan, penyiksaan sampai pembunuhan, namun generasi ini tetap tumbuh menjadi kekuatan baru. Bahkan tantangan yang diberikan kaum Jahiliyah mereka anggap sebagai salah satu pupuk yang akan menyuburkan keimanannya kepada Allah SWT dan gerakan revolusi pembebasan mereka. Karena sebuah keyakinan tanpa ujian adalah mustahil dapat tertanam kokoh. Ujian dan penderitaan mereka anggap sebagai penyubur bagi keimanan dan keyakinan mereka pada Islam. Itulah sebabnya, walaupun banyak diantara generasi ini mengalami penderitaan demi penderitaan, namun mereka tetap teguh dengan keyakinannya, karena mereka telah mengetahui bagaimana sesatnya mengikuti kejahiliyahan dan bagaimana indahnya hidup di bawah petunjuk Allah SWT. Walaupun Abu Lahab, Abu Jahal, Abu Sufyan dan pemuka-pemuka serta pimpinan kaum Jahiliyah melancarkan tentangan dan penyiksaan yang sangat dahsyat, namun generasi yang dibina dan dipimpin Rasulullah ini terus tumbuh dan membesar, tetap tegar menggerakkan revolusi dalam kehidupan umat manusia kerana mereka telah dijamin Allah akan mendapat kemenangan. Mereka tidak akan dapat dikalahkan walau oleh kekuatan apapun, karena mereka adalah generasi pilihan yang akan menyelamatkan dunia dari kehancuran sekaligus membimbingnya menuju keadilan dan kedamaian sejati. Semua penderitaan yang mereka alami adalah untuk menguatkan jiwa mereka, karena pemimpin dunia sejati lahir dari penderitaan yang akan menempa jiwanya menjadi manusia-manusia utama dan agung. Itulah ciri khas metode pendidikan dan pembinaan para revolusioner Islam dalam melahirkan manusiamanusia utama. Sebagaimana yang diterangkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Khabbab bin al-Arat : "Aku datang menemui Rasulullah, beliau sedang meletakkan kepalanya berbaring berbantalkan bajunya di bawah Ka'bah, lalu aku berkata kepada beliau :"Wahai Rasul Allah, kenapa tuan tidak memohon pertolongan Tuhan untuk keselamatan kita semua ?". Beliau saw terus bangun dan duduk dengan muka merah dan bersabda :"Sesungguhnya mereka yang terdahulu dari kamu pernah diganyang dengan besi hingga ke tulang dan urat sharaf, tapi selangkahpun mereka tidak berganjak dan ada pula diantara mereka dibelah kepala dengan gergaji namun demikian mereka tetap juga tidak mengubah pendirian mereka, biarlah Tuhan sempurnakan perkara ini sehingga manusia yang berjalan dari San'a ke Hadralmaut tidak akan gentar dan takut sesuatu melainkan kepada Allah" (HR. Bukhari)

Kebenaran tetaplah kebenaran, yang batil tetaplah batil, dan kemenangan pasti akan berpihak kepada kebenaran, ini sudah menjadi ketetapan sejarah. Dan tiba-tiba pemuka-pemuka kaum Jahiliyah serta seluruh penduduk Makkah guncang, kerana mereka tidak pernah terfikir akan terjadi. Seorang yang terkenal keberanian dan kekuatannya serta sangat memusuhi Islam, tiba-tiba telah berpihak dan membelanya dengan penuh keberanian. Orang itu tidak lain adalah Umar ibn al-Khattab. Dengan keberaniannya yang luar biasa, ia mengikrarkan dirinya sebagai salah seorang anggota dari gerakan revolusioner yang dipimpin Rasulullah yang sangat dimusuhi kaum Jahiliyah. Dengan keislaman Umar dan orang-orang sepertinya semakin menguatkan generasi ini. Kaum jahiliyah tidak dapat berbuat semaunya lagi terhadap generasi baru ini. Kenapa gerakan revolusi yang dipimpin Muhammad Rasulullah mendapat sambutan dari masyarakat Makkah, walaupun pada awalnya mereka menentang pergerakannya sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab. Ketertarikan mereka tidak lain disebabkan oleh pribadi agung penyeru revolusi ini, Muhammad Rasulullah, yang memiliki karakteristik agung seorang revolusioner agung. Seorang pemimpin yang jujur, berdedikasi tinggi, bermoral mulia, bertanggung jawab, penuh perhatian, suka menolong, pantang menyerah dan berani menghadapi semua resiko yang diperjuangkannya. Sifatnya yang suka membela kaum lemah mnjadikannya sebagai pemimpin kaum tertindas, sikapnya yang terhormat menjadikannya pemimpin dikalangan orang-orang terhormat, sikapnya yang gagah berani menjadikannya sebagai pemimpin kaum pemberani, jiwanya yang suci telah menjadikannya pemimpin kaum suci dan moralis. Sebelum masyarakat melihat ajaran yang diserukan dalam sebuah revolusi, mereka tentu ingin mengetahui sejauh mana keagungan pemimpinnya. Dan keagungan karakter pemimpin revolusiner ini tidak lain berkat ajaran Islam yang tertanam dalam dirinya. Islam yang diserukannya terpancar dalam hidup dan kehidupannya sehingga menjadi daya tarik masyarakat mengikuti gerakannya. Disamping karakter pribadi Muhammad Rasulullah, ajaran-ajaran agung dan mulia yang diserukan Islam juga menjadi daya tarik masyarakat dalam mengikuti gerakan revolusi agung ini. Kisah masuk Islamnya Umar bin Khattab adalah contoh nyata masalah ini. Ketika Umar dengan sesumbar mengatakan akan membunuh pemimpin revolusioner Muhammad Rasulullah, sekumpulan orang mentertawakannya, karena adik Umar sendiri telah menjadi anggota gerakan revolusi Islam. Dengan murkanya Umar menemui adiknya untuk membunuhnya, namun ternyata untaian al-Qur’an sumber ajaran Islam yang dilantunkan adiknya telah menggugah hati nurani Umar dan iapun bergegas menemui sang pemimpin revolusioner Muhammad Rasulullah, untuk

menyatakan keislamannya dan mengambil bagiannya sebagai anggota sebuah gerakan yang akan membebaskan umat manusia dari perbudakan dan eksploitasi sesamanya. Pertumbuhan dan perkembangan generasi revolusioner ini yang sangat dinamis, menambah murkanya kaum jahiliyah, sehingga mereka bersatu dengan seluruh masyarakat Arab untuk menentang dan mengisolir mereka. Masyarakat jahiliyah Arab telah memutuskan semua hubungan dengan kaum Muslimin yang tengah melancarkan gerakan revolusinyanya. Gerakan revolusioner ini dibaikot untuk menghambat perkembangannya yang tidak terkendali. Dan kini generasi revoluioner ini kembali mendapat ujian yang akan menentukan kemenangan dan kejayaan mereka di masa depan. Jika mereka mampu bersabar, maka mereka akan mendapatkan kemenangan sebagaimana dijanjikan Allah SWT. Generasi revolusioner ini ternyata mampu menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang dihadapkan kepadanya, bahkan menambah keyakinan para penggerak perubahan ini terhadap ajaran yang diikutinya. Dan sekali lagi kemenangan berpihak kepada generasi ini, kerana Allah SWT senantiasa akan membantu mereka dari kejahatan orang-orang yang menentang. Peristiwa demi peristiwa menyedihkan, sebagai konsekwensi logis sebuah gerakan revoluioner, telah menjadikan generasi ini bermental baja, siap menghadapi setiap tantangan dan rintangan lebih besar yang menanti di masa depan. Setelah Allah SWT yang telah menurunkan ajaran kepada Rasulullah yakin dengan kesiapan dan keteguhan generasi ini untuk merubah dunia, diperintahkannya mereka untuk berhijrah, meninggalkan Makkah untuk membangun pusat gerakan bagi revolusi pembebasan umat manusia sedunia. Allah SWT telah memerintahkan agar generasi revolusioner yang sudah memiliki keyakinan mendalam ini berpindah ke Madinah untuk menjalani satu era baru dalam pergerakan mereka. Dengan penuh ketaatan generasi ini berpindah ke tempat baru, tempat yang lebih subur bagi pergerakan mereka membangun masyarakat baru yang berdasarkan atas tauhid, keadilan, persamaan dan persaudaraan. Mereka bergabung menyatu padukan kekuatan dengan saudara-saudara mereka yang telah mengikuti Islam di Madinah bagi menentukan arah baru dunia. Mereka menjadikan Madinah sebagai pusat gerakan revolusi yang akan membebaskan umat manusia dari kesesatan dan penindasan.Mereka mengadakan perjanjian dengan kelompok non-Muslim untuk saling menghormati dan menghargai sebagai tetangga yang baik. Dengan hijrahnya para pemimpin dan pelopor revolusi Islam ke Madinah, maka berakhirlah periode Makkah dalam proses pembinaan mereka. Periode Makkah adalah period mempersiapkan keyakinan yang mendalam terhadap fondasi ajaran Islam. Di Makkah generasi ini disiapkan dengan

berbagai bentuk tarbiyyah yang akan membentuk mereka sebagai manusiamanusia utama yang memiliki keyakianan mendalam terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya serta memiliki kekuatan jiwa dalam perjuangan selanjutnya. Di Makkah generasi ini ditempa dengan berbagai bentuk ujian dan penderitaan agar mereka siap menghadpi tugas-tugas besar di masa depan. Itulah sebabnya al-Qur'an yang diturunkan di Makkah kebanyakan membicarakan tentang perkara-perkara fundamen dalam kehidupan manusia, yaitu masalah akidah dan peribadatan. Karena ini adalah fondasi utama bagi terbentuknya sebuah masyarakat ideal, yang merupakan kunci utama revolusi kemanusiaan. Namun berbeda dengan ayat-ayat al-Qur'an yang diturunkan di Madinah yang kebanyakannya membicarakan perkara-perkara pergerakan dalam masyarakat dan negara, kerana periode Madinah adalah periode baru yang akan menghantarkan generasi ini sebagai kekuatan baru dunia sebagai satu masyarakat yang telah memiliki kekuatan dan kekuasaan. Periode Madinah adalah periode untuk mengukuhkan kedudukan generasi ini sebagai penyelamat dan pembimbing dunia dengan kekuasan yang ada padanya. Setelah periode ini Rasulullah dan para pengikutnya bukan lagi sekumpulan manusia yang dapat dipandang remeh, tetapi mereka adalah kekuatan baru yang akan menentukan perjalanan sejarah manusia di masa depan. Rasulullah dan gerakan revolusinya semakin kuat di Madinah, jumlah mereka semakin banyak dan mendapat simpati masyarakat dunia. Beliau telah membangun sebuah fondasi masyarakat ideal yang akan menjadi percontohan sepanjang masa. Banyak diantara pemuka-pemuka bangsa Arab yang telah bergabung dengan mereka menjadi pengikut-pengikut setia agama Allah, bahkan diantara mereka sebelumnya adalah penentang-penentang utama generasi ini. Rasulullah SAW sebagai pemimpin utama generasi ini terus mempersiapkan kekuatan mental-spiritual serta material pengikut-pengikutnya sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. Ketika tiba saatnya untuk meneguhkan kedudukan mereka, generasi inipun mulai diperintahkan berperang oleh Allah untuk menghapuskan dominasi kekuasaan Jahiliyah, maka terjadilah peperangan demi peperangan yang semakin meningkatkan semangat dan keyakinan Rasulullah dan para pengikutnya terhadap agama yang mereka anut. Dalam setiap peperangan Allah SWT membantu generasi ini dalam mendapatkan kemenangan demi kemenangan. Kecuali pada perang Uhud dan Perang Hunain, generasi ini diuji dengan kekalahan akibat kelalaian mereka terhadap perintah Allah dan RasulNya. Sehingga tibalah masanya generasi ini memperoleh kemenangan besar dalam peristiwa penaklukan Makkah. Pada masa ini runtuhlah kekuasaan jahiliyah bersama dengan runtuhnya berhala-berhala yang mereka sembah.

Ka'bah telah bebas dari segala kejahiliyahan. Penaklukan Makkah adalah puncak revolusi yang dipimpin Muhammad Rasulullah dan merupakan titik awal dari penaklukan-penaklukan besar lainnya yang semakin mengukuhkan kekuasaan generasi ini di atas bumi, awal kemenangan besar dari revolusi besar-besaran yang telah mengguncang dunia. Sejak itu generasi ini terus maju dengan penuh keyakinan untuk membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia dan sekaligus meruntuhkan dominasi sistem jahiliyah serta menggantikannya dengan sistem Islam. Janji Allah telah benar sebagaimana dinyatakan al-Qur’an : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (al-Nur:55) Allah dan Rasul-Nya telah menepati janjinya. Gerakan revolusi yang dipelopori kaum tertindas kini telah mendapatkan kemenangan demi kemenangan. Mereka telah membangun sebuah tatanan masyarakat Islami yang penuh dengan keadilan, kedamaian, persaudaraan dan persamaan menggantikan masyarakat jahiliyah yang korup dan eksploitatif. Di akhir hayatnya, Pemimpin agung generasi revolusioner ini, Muhammad Rasulullah, telah melihat janji-janji Allah yang telah diturunkan kepadanya. Beliau telah menyaksikan dengan penuh kegembiraan, masyarakat Islam yang dibinanya bersusah payah telah tumbuh menjadi masyarakat ideal yang menegakkan keadilan dan kemakmuran di muka bumi. Dan telah sempurnalah agama yang dibawanya dan telah berakhir pulalah tugas yang diembannya, dan Allah pun memanggilnya kembali ke sisi-Nya. Kepergiannya disambut dengan penuh kesedihan oleh pengikut-pengikut setia yang telah diselamatkan dari kejahiliyahan. Namun demikianlah ketentuan Allah, setiap yang bernyawa pasti akan kembali kehadirat-Nya. Revolusi yang digerakkan Rasulullah telah berhasil dengan gemilangnya menciptakan masyarakat ideal yang dicita-citakan seluruh umat manusia. Sebuah masyarakat yang tegak atas dasar keadilan, persaudaraan, persamaan, keterbukaan, kebebasan dan nilai-nilai agung lainnya. Dan siapapun yang ingin menggerakkan sebuah revolusi agung yang penuh dengan ketinggian nilai-nilai mulia, mereka sepatutnay meniru revolusi yang telah dijalankan dengan sukses oleh bapak para revolusioner, Muhammad Rasulullah. Nilai-nilai keagungan perjuangannya senantiasa akan menginspirasikan revolusi demi revolusi yang

akan membebaskan umat manusia sampai akhir zaman. Sholawat dan salam atasmu, wahai junjungan alam, Muhammad Rasulullah….

III. MANHAJ NUBUWWAH
I. Pendahuluan Para pemimpin dan cendikiawan Muslim, yang terutama diantara mereka seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghany, Muhammad Abduh dan para murid serta penerus perjuangan mereka sejak akhir abad 18 lalu telah berupaya semaksimal mungkin membebaskan ummah dari belenggu penjajahan Barat, keterbelakangan dan kemunduran mereka dengan merumuskan metodemetode perjuangan terbaik menurut jalan pemikiran mereka masing-masing yang telah melahirkan gerakan Pan-Islamisme. Metode perjuangan yang mereka terapkan berhasil menyadarkan ummah dari keterbelakangannya dan bangkit melawan penjajahan, baik melalui perjuangan politik sampai perjuangan militer. Gerakan mereka yang sambung menyambung telah menghasilkan kemerdekaan sebagian besar dunia Islam dari cengkraman jahat penjajah Barat.36
Masalah ini lihat misalnya : Dr. Mukhsin Abdul Hamid, Jamal al-Din al-Afghani, al-Musalih al-Muftara alayh. (Mesir : tt). Ahmad Amin, Zuama al-Ishlah fi al-Asr al-Hadits (Kaherah : Muassasah al-Khanji, tt). Abbas Mahmud al-Aqqad, Muhammad Abduh,(Kaherah : Maktabah Misr,tt). Abd. al-Halim al-Jundi, al-Imam Muhammad Abduh (al-Kaherah:Dar alMaarif,tt). Ahmad Amin, Muhammad Abduh, (Kaherah:Muassasah al-Khanji, 1960). Dr. Muhammad al-Bahiy, al-Fikr al-Islamy al-Hadits wa Silatuhu bi’l Isti’mary al-Gharby,cet.8. (Kaherah : Maktabah Wahb, 1975). Dr. Syaukat Ali, Master of

Generasi sesudah mereka tampil dengan konsep dan metode perjuangan yang lebih menyeluruh dan terpadu, diantaranya adalah Imam Hasan AlBanna37 yang telah mendirikan jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Gerakan al-Ikhwan dengan model kepemimpinannya sangat mempengaruhi perjalanan sejarah dunia Islam kerena telah merumuskan konsep perjuangan Islam di dunia modern serta mampu melahirkan kader-kader brilyan yang disegani dan ditakuti musuh-musuh Islam. Hasan al-Bana adalah pelopor bagi pengembangan konsep gerakan Islam modern yang total dan konsep ini berkembang menjadi model gerakan Islam modern yang sangat efektif menghadapi infiltrasi pemikiran hedonistik-sekuler Barat. Itulah sebabnya gerakan Ikhwan berkembang ke seluruh dunia Islam walaupun di Mesir sendiri mendapat pukulan dahsyat dari rezim Faruk yang bertindak sebagai agen Barat.38 Bersamaan dengan itu tampil pula gerakan-gerakan Islam serupa seperti Syarekat Islam pimpinan HOS. Cokroaminoto di Indonesia39 dan lain-lainnya. Pasca kemerdekaan dunia Islam, telah tampil pula pemimpin-pemimpin ummah dengan penuh semangat menggunakan berbagai bentuk metode perjuangan agar ummah bangkit kembali menjadi pemimpin peradaban dunia. Mereka bangkit melawan rezim-rezim nasionalis sekuler yang ingin melanjutkan dominasi sistem kolonialis Barat sekuler dalam kehidupan masyarakat Muslim. Mereka telah membentuk berbagai gerakan dan organisasi, baik dalam bidang politik, pendidikan, sosial maupun ekonomi yang sangat ditakuti musuh-musuh Islam. Perjuangan mereka telah melahirkan generasi-generasi baru Muslim yang berpegang teguh kepada akar keislamannya, namun tetap berinteraksi dengan dunia modern yang didominasi sistem Barat. Diantara mereka yang terutama adalah Abul A’la al-Maududi di Pakistan,40 Abul Hasan Aly An-Nadwy di India,
Muslim Though. vol. I. (Lahore : Aziz Publ, 1983). Mohd. Kamil Hj. Abdul Majid, Tokoh-tokoh Pemikir Islam.jilid 1. (Kuala Lumpur : ABIM, 1993) Tentang sejarah hidup Imam Hasan al-Banna lihat misalnya : al-Syaikh al-Ghazaly, (dalam M. Syalabi), Hasan alBanna : Imam wa Qaid,(Kaherah: Dar al-Nasyr,tt). Dr. Rif’at al-Sa’id, Hasan al-Banna Muassis Harakat al-Ikhwan alMuslimun.(Beirut : Dar al-Tali’ah, 1986). Jabir Rizq, al-Imam al-Syahid Hasan al-Banna, (al-Mansurat : Dar al-Wafa, 1987). Dr. Shaukat Ali, Master of Muslim Thought, vol.II.(Lahore : Islamic Publ, 1983). hlm.514-638. Anwar Jundi, Hasan al-Banna, al-Roiyat al-Imam wa al-Mujaddid al-Syahid,(Beirut : Daar Qalam, 1978). MN. Shaikh, Memoirs of Hasan al-Banna Shaheed, (Karachi : Int’ Islamic Publ., 1981). Richard. P.Mitchel, The Society of The Muslim Brother,(London : Oxford Univ. Press, 1959). Abdul Muta’al al-Jabary, Limadza Ightayala al-Imam al-Syahid Hasan al-Banna, (Cairo : Dar al-I’tisom, 1978). Muhsin Muhammad, Man Qatala Hasan al-Banna, (Kaherah : Dar al-Syarq, 1987). Salah Syadi, al-Syahidan (al-Manshurat : Dar al-Wafa’, 1988). Umar al-Tilmisany, al-Mulham al-Mauhub : Hasan al-Banna, (Syabra : Dar al-Nasr, tt). Tentang gerakan al-Ikhwan al-Muslimin, lihat : Syaikh Said Hawwa, Madkhal ila da’wah Ikhwan al-Muslimin, (Amman : Dar al-Arqam,tt). Omar Tilmisani, Apa yang aku Pelajari dari Ikhwanul Muslimin, (Shah Alam : Ummah, 1990). Dr. Hasan Ismail Hudhaibi, Duat la Qudhat, (Cairo : Dar al-Thabaat wa al-Nasr al-Islamy, 1977). Kamil al-Syarif, Ikhwan alMuslimun fi Harbi Palistin, (Zarqo’ : Maktabah al-Manar, 1984). Dr. Abdul Halim Mahmud, Wasaail al-Tarbiyyat inda al-Ikhwan al-Muslimun, (Qahirah : Dar al-Wafa’, tt). Ishaq Musa Hussaini, The Muslim Brethen, (Beirut: Khayat’s College Book Coop, 1956). Richard P. Mitchel, The Society of The Muslim Brother, (London : Oxford Univ. Press, 1959). Mahmood Abd alHalim, Ikhwan al-Muslimun, ahdats Tsanaat Tarikh, (Iskandaria : Dar al-Dakwah, tt). Husain Muh. Ali Jabir, Thariq ila Jama’at al-Muslimun, (al-Manshurat : Dar al-Wafa’, 1987) khususnya bab III. Asaf Husain, IslamicMovement in Egypt, Pakistan and Iran, (Islamabad : Manshell Publ, 1983). Husain M. Ahmad Hamudah, Asrar Harakat al-Dubbat al-Ahrar wa alIkhwan al-Muslimun, (Kaherah : al-Zahra li al-A’lam al-Arabiy, 1987). Lihat misalnya : Deliar Noer, The Modernis Movement in Indonesia, 1900-1945 (Singapura / Kuala Lumpur : Oxford Univ. Press, 1973). BJ. Bolland, The Struggle of Islam in Modern Indonesia, (The Hague : Martinus Nijhoff, 1971). Cornelis Van Dick, Darul Islam Sebuah Pemberontakan, (Jakarta : Grafiti Press, 1983) Lihat misalnya : Prof. Masud ul Hasan, Sayyid Abul A’la Maududy and His Thought, vol. I & II, (Lahore : Islamic Publ. 1984). Prof. Ghulam Azam, A Guide to The Islamic Movement, (Dacca : Azam Publ, 1968). Asaf Husain, Islamic Move-

Sayyid Qutb di Mesir yang dijuluki sebagai bapak fundamentalis Islam kontemporer dan lainnya. Meneruskan perjuangan para pendahulu mereka, para cendikiawan Muslim kontemporerpun tampil dengan berbagai bentuk konsep dan teori yang bertujuan mengangkat martabat ummah dari kemundurannya. Umumnya mereka adalah para generasi Islam yang mendapat pendidikan model Barat dan mengetahui kelemahan-kelemahannya serta menyadari pentingnya Islam sebagai sistem hidup, yang terutama diantara mereka adalah Ismail R. Faruqi,41 Fazlur Rahman,42 Syed Naquib al-Attas,43 Yusuf al-Qardhawy44 dan lainnya. Diantara mereka ada yang mendirikan lembaga kajian, institut, akademi sampai universitas yang mendidik ribuan calon-calon cendikiawan muda Muslim di seluruh dunia dengan metodenya yang mengintegrasikan metode Islam dengan Barat. Di lain fihak telah tampil pula para pemimpin dan aktivis Islam yang membimbing dan membina ummah melalui organisasi/ jama’ah, baik yang bergerak dalam bidang sosial ataupun politik yang bertujuan menegakkan kemulian ummah dan Islam. Para aktivisnya bergerak siang malam tanpa mengenal lelah menyeru ummah agar mengikuti petunjuk Islam melalui dakwah, ceramah, diskusi, majlis taklim dan sejenisnya. Di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional seperti pondok pesantren, para Ulama dan ustadz telah mengajarkan ilmu-ilmu Islam klasik kepada para muridnya yang berjumlah ratusan ribuan. Para murid dididik dengan ilmu-ilmu keagamaan agar mereka memiliki bekal dalam membimbing masyarakat menuju kemenangan. Demikian pula halnya para juru dakwah dan muballigh Muslim tampil silih berganti menguman-dangkan seruan kepada ummah agar mengikuti petunjuk Islam dengan pendekatan dan gayanya masing-masing. Mereka semua telah berupaya dengan sungguh-sungguh, penuh pengorbanan dan keiklasan semata-mata bertujuan untuk berbuat yang terbaik bagi kepentingan ummah, dan semoga Allah Yang Maha Bijaksana akan membalas perjuangan suci mereka dan menempatkan mereka ditempat yang paling baik disisi-Nya sebagai balasan perjuangan suci mereka. Namun permasalahan besar yang dihadapi ummah pada masa ini,ditengah-tengah kegairahan ummah menyambut apa yang mereka namakan dengan kebangkitan Islam, realitasnya keadaan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia dewasa ini sangat memprihatinkan, sebagaimana digambarkan para cendikiawan Muslim. Kaum Muslimin berada pada anak tangga terbawah
ment in Egypt, Pakistan and Iran, op.cit. Husain M. Ali Jabir, Thariq ila Jama’at al-Muslimun, op.cit. Ismail R. Faruqi, Islamization of Knowledge, General Principles and Workplan, (Virginia : IIIT, 1982). Fazlur Rahman, Islam and Modernity, Transformation of an Intellectual Tradition, (Chicago : The Univ. Press, 1982) Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, (Kuala Lumpur : ABIM, 1980). Yusuf al-Qardhawy, Islamic Education and Hasan al-Banna, (Calcutta : Hilal Publ, 1983).

dari kemajuan peradaban bangsa-bangsa modern, sehingga mereka hanya menjadi konsumen dari produk Barat, baik dalam pengetahuan, teknologi, sistim, pemikiran, dan lainnya. Mereka senantiasa menjadi obyek musuh-musuh yang berusaha menghilangkan eksistensinya di muka bumi, tanpa mampu memberi perlawanan yang berarti. Citra kaum Muslimin dihadapan dunia sangat buruk, mereka digambarkan sebagai kaum fundamentalis, fanatik, ektrimis ataupun teroris, umat yang senantiasa menyulut peperangan demi peperangan. Perpecahan demi perpecahan yang terjadi dikalangan ummah telah menimbulkan sikap apatis dan frustasi generasi muda Islam. Seakan-akan seluruh dunia menganggap Islam adalah sumber segala malapetaka yang telah menimpa kaum Muslimin dewasa ini. Akhirnya kaum Muslimin menjumpai diri mereka sebagai umat yang terkebelakang dan termundur dalam segala hal.45 Sejauh ini kita belum berani menyatakan bahwa perjuangan suci para pemuka-pemuka ummah telah mengalami kegagalan. Tapi dengan keadaan yang dihadapi ummah sekarang ini, pasti akan timbul seribu satu pertanyaan yang memerlukan jawaban agar mereka dapat bangkit dari keterbelakangannya. Apakah pengorbanan dan perjuangan ikhlas para pejuang Islam yang bersungguh-sungguh, baik dari kalangan cendikiawan, aktivis, ulama, ustadz, muballigh dan lainnya, yang telah mengeluarkan seluruh daya kemampuan mereka tidak dapat membangkitkan ummah secara menyeluruh dan menyelesaikan problematika mereka ? Kenapa perjuangan suci mereka seakan tidak mampu menyelesaikan krisis yang telah melanda ummah ? Kenapa perjuangan suci mereka belum mampu mengantarkan ummah menuju kemenangan sebagaimana generasi Islam pertama ? Dimana letak kekeliruan mereka sehingga teori dan konsep yang mereka kemukakan tidak berhasil melahirkan generasi yang mereka idam-idamkan ? Apakah benar kegagalan itu bersumber dari metode yang mereka terapkan ? Jika hendak membangun kembali metode yang dapat membangkitkan ummah, dari manakah kita mulai, dari mana sumber pengambilannya, bagaimana rumusannya dan terpenting bagaimana penerapannya pada ummah masa kini ? dan seribu satu pertanyaan mendasar yang perlu dijelaskan dengan tuntas agar ummah terhindar dari kebingungan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, pertama para pemuka ummah harus bersikap jujur dan ikhlas dalam penilaiannya semata-mata karena menginginkan yang terbaik bagi ummah dan bukan karena kepentingan pribadi egoistik yang ingin mempertahankan pendapat dan pemikiran mereka. Karena banyak diantara para pemuka ummah yang bertengkar dan saling memojokkan
Masalah ini lihat misalnya : Dr. Mukhsin Abdul Hamid, Ainal Khalal, terj. Farid U. ( Jakarta : Media Dakwah, 1987) hlm. 10-11. Syaikh Said Hawwa, Durus fi al-Amal al-Islamy, terj. al-Muslimun, (Bangil : al-Muslimun, 1987) hlm. 1. Ismail R. Faruqi, Islamization of Knowledge, op.cit. hlm. 1. Muhammad Qutb, Jahiliyya al-Qorn al-Isyrien, (Kaherah : Maktabah Wahb, 1964).

karena ingin mempertahankan pendapatnya semata, bahkan lebih jauh masalah ini dapat menyeret mereka kepada kancah saling memfitnah yang pasti akan menimbulkan perpecahan sebagaimana yang mulai kelihatan tanda-tandanya belakangan ini. Masing-masing mereka merasa bangga dengan metode yang dikemukakannya, namun kenyataannya mereka belum menunjukkan hasil yang gemilang, namun akibat penyakit egoistik mereka, akhirnya terjadi perpecahan yang mengakibatkan ummah bertambah bingung dalam kebingungannya dan bertambah terbelekang dalam keterbelakangnnya. Itulah sebabnya diperlukan sikap jujur dan ikhlas yang akan mendatangkan rahmat dan pertolongan Allah, yang sudah banyak dilupakan oleh para pemuka ummah akibat metode pendidikan Barat yang terlalu mengutamakan rasional. Dengan sikap jujur dan ikhlas inilah perlu dipertanyakan kenapa metode perjuangan yang diterapkan oleh para pemuka ummah terdahulu kurang mampu mengantarkan ummah menuju kebangkitan dan kemengangan yang dicita-citakan, lebih jauh mengapa metode perjuangan itu mengalami kegagalan demi kegagalan jika memang disepakati telah mengalami kegagalan. Atau kenapa metode perjuangan itu sangat lambat dalam membangkitkan ummah dari keterbelakangannya, sementara sejarah membuktikan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya memerlukan waktu 23 tahun saja dalam merubah wajah dunia dan kurang 30 tahun menguasai 2/3 dunia. Pedoman yang digunakan Rasulullah dan para sahabatnya dalam membangun peradaban baru dunia berupa al-Qur’an dan Sunnah tetap berada di tangan ummah hari ini, namun kenapa ummah tidak mampu seperti mereka, dimana letak kekeliruannya ? Untuk mempermudah analisa, rumus tentang kebangki-tan/kemenangan Islam yang sederhana dibawah ini dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai sejauh mana keberhasilan sebuah perjuangan; Kebangkitan/Kemenangan = (Manusia+Islam) + Metode (Manhaj) + Waktu Kebangkitan/Kemenangan Islam yang total dan menyeluruh hanya dapat diraih apabila telah wujud sekumpulan manusia-manusia unggul yang telah dididik dalam ajaran Islam seperti generasi Islam pertama yang tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah dan Rasul-Nya kemudian diterapkan metode (manhaj) Islami dalam seluruh aspek gerakannya yang berdasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul dan puncak kejayaannya ditentukan oleh waktu (periodeisasi) kebangkitan yang telah ditetapkan oleh Allah di dalam alQur’an dan al-Sunnah.

Demikian pula nilai kebangkitan dan kemenangan Islam ditentukan sepenuhnya oleh sejauh mana penerapan metode, keterlibatan manusia dan ketentuan waktu. Semakin unggul metode yang diterapkan dan semakin unggul manusia yang terlibat dan sesuai dengan waktunya, maka akan terjadi kebangkitan dan kemenangan Islam yang luar biasa. Rumus di atas pada hakikatnya berdasarkan pada sebuah hadits yang sangat populer dikalangan ummah, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Khuzaifah al-Yaman, yang berkata bahwasanya Rasulullah telah bersabda : Tegaklah pada kamu zaman Nubuwwah (Kenabian) sampai beberapa masa yang dikehendaki Allah, maka terjadilah ia, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah sesudah itu pada kamu zaman Khalifah atas Manhaj Nubuwwah (metode Kenabian), maka terjadilah ia padamu beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah pada kamu Kerajaan yang menggigit (feodal) maka terjadilah ia padamu beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah sesudah itu Kerajaan sesat/cacat, terjadilah beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian setelah itu tegaklah padamu Khalifah atas Manhaj Nubuwwah (metode Kenabian) yang mengamalkan sunnah Rasul di kalangan manusia. Islam akan tersebar luas di muka bumi yang diridhai oleh penghuni langit dan bumi....... (HR, Ahmad dan Tabrani) Hadits di atas dengan gamblang menyatakan tentang syarat-syarat sebuah kebangkitan dan kemenangan Islam yang meliputi manusia-manusia unggul yaitu Nabi dan Khalifah, metode (manhaj) yaitu Manhaj Nubuwwat dan priodeisasi sejarah Islam dengan masa-masanya. Rumus ini sangat jelas pada peristiwa kebangkitan Islam pertama di zaman Rasulullah saw. Kebangkitan Islam terjadi apabila Allah SWT menurunkan ajaran Islam yang bersifat abadi berupa wahyu kepada utusanNya, Muhammad Rasulullah, disamping ajaran ini, Allah telah menurunkan metode (manhaj) dalam mengaplikasikan ajaran Islam kepada masyarakat Makkah pada waktu itu. Rasulullah mengajarkan dan mengembangkan Islam dengan metode (manhaj) sehingga lahirlah manusia-manusia unggul yang menjadi pendukung gerakan kebangkitan Islam dan pada itu adalah waktunya tepat, yaitu waktu yang telah dijanjikan Allah kepada Nabi-Nabi terdahulu tentang akan terjadinya kebangkitan yang akan dipimpin oleh seorang Rasul Allah. Itulah sebabnya, untuk mengawali gerakan kebangkitan kembali Islam masalah pertama harus difahami adalah mengetahui karekteristik manusiamanusia unggul yang dikehendaki Islam, metode/manhaj yang telah mengantarkan generasi Islam terdahulu dalam mencapai kegemilangan, serta waktu atau priodeisasi yang telah digariskan Allah terhadap Islam.

Mungkin banyak yang masih keliru dalam memahami priodeisasi kebangkitan Islam yang dimaksudkan hadits di atas maka hal ini perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan salah faham. Priodeisasi kebangkitan dan kemunduran Islam dimulai dengan bangkitnya Rasulullah saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir, masa ini dinyatakan sebagai masa Nubuwwat (Kenabian). Setelah Rasulullah wafat, beliau digantikan oleh para Kholifah yang mendapat petunjuk dan menegagakkan manhaj (metode) Nubuwwat. Setelah berakhirnya masa pemerintahan Sayyidina Ali sebagai Khalifah terakhir sebagaimana disepakati mayoritas ummah, masuklah masa pemerintahan dengan sistem Kerajaan feodalis Muslim yang menerapkan sistem monarkhi absolut yang dipimpin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan dan diteruskan oleh keturunannya. Sistem pemerintahan kerajaan feodalis Muslim ini berlangsung terus sambung menyambung dengan pergantian dinasti demi dinasti sampai berakhirnya sistem ini di Turki yang diberi lebel Khilifah Islamiyah. Sesudah itu tegaklah sistem pemerintahan sesat (mulk al-Jabariyyan) yang mengadopsi sistem penjajah sekuler yang memisahkan peranan agama dalam kehidupan duniawi, baik yang berbentuk sosialisme-komonisme, demokrasi liberal ataupun percampuran diantara keduanya yang menolak peranan wahyu dalam sistem pemerintahannya. Ciri khas pemerintahan ini sangat memberikan kekuasaan mutlak kepada rakyat dan apabila rakyat mayoritas menghendaki kerusakan dan kemusyrikan, maka akan tegak kerusakan dan kemusyrikan di tengahtengah masyarakat. Setelah dunia dipenuhi oleh kezaliman dan kesesatan akibat ditegakkanya sistem hidup sekuler akan tegak kembali sistem pemerintahan Islam terakhir dibawah pimpinan seorang Khalifah adil dan bijaksana yang menegakkan Manhaj Nubuwwat. dan akan mengantarkan dunia ini menuju keadilan dan kemakmuran sejati selama yang diizinkan Allah. Jadi untuk menilai sejauh mana keabsahan teori yang dikemukakan para pemuka ummah, dapat dinilai dari produk manusia-manusia unggul yang dihasilkan gerakannya, kemudian sejauh mana kesahihan metode/manhaj mereka dengan manhaj Nubuwwat dan apakah waktunya tepat dengan yang dijanjikan Allah SWT bagi sebuah kebangkitan Islam. Pada hakikatnya, kebangkitan Islam, kehadiran manusia-manusia unggul, manhaj dan masa kegemilangan Islam adalah diantara perkara-perkara yang telah ditetapkan Allah untuk menguji sejauh mana amal kebajikan hamba-hamba-Nya dalam menghadapi realitas kehidupannya. Apakah dengan kemenangan Islam lalu mereka menjadi lalai dan lupa diri atau apakah dengan kemunduran dan kekalahan Islam mereka akan menjadi putus asa. Secara jujur dan ikhlas harus diakui bahwa kurang maksimalnya keberhasilan para pemuka ummah terdahulu dalam membina dan membangun

kegemilangan Islam disebabkan oleh kerancuan mereka dalam memahami esensi kebangkitan Islam. Kebangkitan yang harus ditopang oleh generasigenerasi Muslim unggul yang lahir dari sistem pendidikan dan pembinaan ajaran Islam dengan karakteristik khasnya, kemudian pada mereka ditegakkan metode (manhaj) Islam yang akan diterapkan dalam kehidupan nyata masyarakat, baik aspek spiritual ataupun intelektualnya. Dan terakhir masalah waktu yang akan menentukan keberhasilan dan kegemilangan kebangkitan kembali Islam. Jika sudah terdapat generasi Muslim unggul dan diterapkan manhaj Islami, namun apabila waktu tidak mendukung, maka kebangkitan dan kemenangan akan terjadi sesaat saja dan tidak mampu membangun dan memimpin peradaban dunia sebagaimana dilakukan generasi Islam pertama. Dalam hal ini, kasus Ikhwan al-Muslimun di Mesir adalah contoh yang terbaik. Hasan al-Banna dengan kepemimpinannya yang kharismatis telah menggabungkan metode Islami dengan jeniusnya serta didukung oleh pengikutpengikut setia sehingga mampu membuat gerakan yang besar dan ditakuti musuh-musuhnya. Beliau mampu mengkombinasikan antara keilmuan AlAzhar dengan gerakan Pan-Islamisme al-Afghany sehingga menghantarkan Ikhwan menjadi gerakan yang melahirkan generasi unggul pada dunia modern. Namun faktor waktu yang dijanjikan tidak berfihak pada gerakan ini, sehingga dengan mudah dapat dipatahkan musuh Islam. Walaupun mungkin ada yang berpendapat bahwa kegagalan ikhwan akibat kelemahan sistem pembinaan atau organisasinya. Namun pembunuhan Hasan al-Banna, pemimpin utama gerakan yang masih berusia kurang dari 40 tahun adalah jawaban dari keragu-raguan ini. Jika Allah mengizinkan Imam al-Syahid Hasan al-Banna hidup lebih lama, karena Nabi Muhammadpun diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun, maka dunia Islam pasti akan berwajah lain. Namun demikianlah taqdir Allah, generasi Muslim terunggul abad ini harus meninggalkan perjuangan sucinya dengan kematian suci pula. Setelah syahidnya Hasan al-Banna belum ada yang mampu menggantikan kedudukan beliau dalam membina generasi Muslim unggul dan mengaplikasikan metodenya dalam masyarakat modern. Pemimpin-pemimpin penggantinya hanya mampu membangun gerakan-gerakan lokal atau sempalan yang tidak dapat merubah keadaan masyarakat secara maksimal ataupun hanya menjadi gerakan-gerakan intelektual yang hanya menyebarkan pengetahuan dan pemikiran tanpa membangun gerakan jama’ah sebagaimana dilakukan Imam Hasan al-Banna. Demikian pula halnya dengan para pemuka ummah yang lainnya. Mereka kurang maksimal keberhasilannya dalam mencetak generasi-generasi Islam yang unggul ataupun dalam menerapkan manhaj sebagaimana yang dikehendaki Islam sehingga mereka tidak pernah sampai pada kebangkitan

Islam sebenarnya. Apalagi jika mereka coba-coba mengadopsi metode-metode lain yang diciptakan diluar sistem Islam dalam membina generasi Muslim, maka kebangkitan Islam pasti akan semakin jauh dan ummah bertambah terbelakang, Karena metode-metode selain metode Islami tidak mungkin akan melahirkan generasi agung sebagaimana generasi Islam pertama, kecuali hanya melahirkan generasi-generasi bingung yang tidak mengetahui arah tujuannya sebagaimana keadaan generasi Muslim produk sistim pendidikan sekuler masa ini. Bahkan metode Barat sekuler yang diterapkan pada sistem pendidikan kaum Muslimin telah menjerumuskan mereka menjadi generasi yang bernama Islam namun pemikiran dan tingkah lakunya tidak berbeda dengan orang sekuler yang memisahkan agamanya dari kehidupan dunia. Untuk mencapai kebangkitan dan kemenangan Islam yang sempurna sebagaimana dijanjikan Allah, perlu dibangun dan dikembangkan sebuah model gerakan Islam yang menjadi penyempurna dari gerakan-gerakan Islam terdahulu dan yang akan menerapkan metode/manhaj sebagaimana yang dikehendaki Islam. Gerakan Islam yang akan menerapkan kembali metode yang telah diterapkan Rasulullah dalam mendidik dan membina generasi-generasi agung terdahulu. Karena hanya metode inilah yang akan mengantarkan ummah menuju kegemilangan kembali sebagai pemimpin peradaban dunia di masa depan sebagimana dijanjikan dalam hadits yang telah dikemukakan terdahulu. Hal terpenting yang harus dilakukan saat ini adalah mengetahui dan memahami hakikat metode/manhaj yang telah diterapkan Rasulullah dan para khalifahnya, kemudian menerapkannya dalam kehidupan masyarakat masa kini, sehinngga terbentuklah masyarakat ideal yang akan menegakkan keadilan dan kemakmuran sejati sebagimana generasi Islam terdahulu dibawah pimpinan Rasulullah dan para Khalifah yang mendapat petunjuk. Maka tidak diragukan lagi bahwa menerapkan kembali manhaj (metode) yang telah diterapkan Rasulullah dan para khalifahnya adalah satu-satunnya jalan menuju kebangkitan dan kemenangan yang dijanjikan, kemenangan yang akan menghantarkan kaum Muslimin menjadi pemuka-pemuka peradaban dunia sebagaimana generasi Islam pertama terdahulu. 2. Pengertian Manhaj Nubuwwat 2.0. Pendahuluan Tidak diragukan lagi bahwa kurang maksimalnya keberhasilan gerakan Islam dewasa ini dalam mengarahkan ummah menuju kebangkitan dan membangun kembali peradaban mereka bersumber dari kesalahfahaman mereka

dalam memahi hakikat ajaran Islam. Dan kesalahfahaman ini tidak lain bersumber dari kerancuan sebagian mereka dalam memahami metode/manhaj yang dikehendaki Islam. Akibat kerancuan ini, mereka telah mengadopsi berbagai bentuk metode, baik dari Barat ataupun Timur yang digunakan untuk menjelaskan dan memahami ajaran Islam dengan tujuan agar ummah bangkit dari keterbelakangannya. Namun realitasnya, walaupun para cendikiawan yang rancu ini telah menghabiskan waktu beberapa kurun, namun belum mendatangkan hasil yang memuaskan yang ditandai dengan lahirnya generasigenerasi Islam yang unggul dan ulung. Itulah sebabnya, untuk membangkitkan ummah kembali, para cendikiawan Muslim harus menoleh ke belakang, mengkaji lagi sejarah kegemilangan Islam dan mengenal pasti perkara-perkara yang telah menjadikan generasi Islam terdahulu sebagai generasi terbaik. Imam Malik RA telah menyatakan : Ummah ini tidak akan bangkit kembali, kecuali dengan cara kebangkitannya terdahulu. Pendapat Imam besar Islam ini adalah merupakan hasil pemikiran beliau yang mendalam berkat keluasan ilmu yang dimilikinya. Ummah yang terbelakang dewasa ini, tidak mungkin akan bangkit, kecuali dengan metode/manhaj yang telah ditempuh ummah terdahulu yang telah membawa kegemilangan. Maka dengan demikian, jelaslah kunci kemenangan terdapat pada generasi Islam pertama. Kunci untuk memahami metode Islam yang akan mengantarkan ummah menuju kemuliaan dan keagungan adalah memahami metode yang diterapkan generasi Islam pertama. Metode/manhaj yang diterapkan generasi Islam terahulu yang telah mengantarkan mereka menuju kegemilangan dan juga yang akan mengantarkan generasi Islam sesudahnya menuju kegemilangan, sebagaimana diterangkan hadits terdahulu, adalah manhaj Nubuwwat. Maka dengan pengertian hadits di atas serta pendapat Imam Malik RA, jika para pemimpin Islam ingin mengangkat kembali harkat dan martabat ummah dari kehinaan dan keterbelakangannya masa ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan menegakkan kembali manhaj/metode yang telah dijalankan oleh Rasulullah dan Para Sahabatnya terdahulu yang telah menghantarkan mereka menuju kegemilangan dan kemenangan. Manhaj Nubuwwat (metode Kenabiaan) harus difahami kembali dengan benar, kemudian dilaksanakan dalam kehidupan sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Dengan memahami karekteristiknya dengan pasti, kemudian mengaplikasikannya bagian demi bagiannya pada kehidupan masyarakat Islam masa kini, sebagaimana Rasulullah mengaplikasikannya kepada masyarakatnnya dahulu. Kegagalan dalam memahami makna dan hakikat manhaj Nubuwwat dalam kehidupan akan membawa dampak yang sangat buruk kepada ummah. Karena mereka menganggap Islam tidak memiliki metode dalam menerapkan

ajarannya sehingga mereka leluasa mengadopsi metode-metode selainnya yang justru akan mengakibatkan hilangnya nilai-nilai Ilahiyah yang terkandung dalam ajaran Islam akibat campur tangan manusia. Sebagaimana yang terjadi pada ummah masa ini, akibat campur tangan mereka yang terlalu jauh dalam metode untuk memahami dan mengamalkan Islam, akhirnya Islam menjadi ajaran statis yang hanya dipelajari sebagai pengetahun belaka, bukan sebagai amalan yang diterapkan dalam kehidupan nyata sebagaimana yang telah dilakukan generasi Islam pertama. Manhaj Islam dengan syare’at Islam adalah dua perkara yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan lainnya, karena keduanya adalah satu kesatuan yang saling berhubungkait dan saling menyempurnakan. Jika syari’at Islam diumpamakan seperti sebuah bangunan rumah yang indah dan megah, maka manhaj Islam adalah tata cara (master plan) dalam membangun rumah tersebut. Rumah tidak akan mungkin berdiri dengan megahnya tanpa dijelaskan dan dirincikan bagaimana cara mendirikannya dengan sempurna sesuai dengan petunjuk sang pemilik rumah. Bagaimanapun hebatnya seorang tukang pembuat rumah, tidak mungkin dapat membangun rumah yang indah dan megah tanpa mengetahui master plan rumah tersebut dengan segala rinciannya. Dari mana mulai membangunnya, kemudian tahap demi tahapannya, modelnya, arsitekturnya dan segala detil rumah tersebut yang rumit. Para tukang bangunan pasti akan kebingungan setengah mati jika membangun rumah/gedung tanpa master plan yang dikehendaki oleh pemilikinya. Bangunan rumah saja memerlukan petunjuk pelaksanaan (master plan) dalam membangunnya, apalagi syari’at Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, dari jiwanya yang tersembunyi, fisiknya, pemikirannya, hubungannya dengan sesama makhluk dan dengan Penciptanya serta segala kekomplekan manusia dengan kehidupannya di muka bumi ini. Itulah sebabnya Allah Yang Maha Mengetahui sebagai Pencipta manusia dengan Kasih Sayang-Nya yang tidak terhingga telah menurunkan petunjuk pelaksanaan (master plan) kepada Rasulullah dalam membangun syari’at Islam agar manusia tidak kebingungan dan tersesat dalam membangunnya. Petunjuk pelaksanaan dalam merealisasikan syari’at Islam inilah yang dikenal dengan manhaj Islam atau manhaj Nubuwwat. Maka dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa memahami manhaj Islam adalah sama pentingnya dengan memahami syari’at Islam. Dengan demikian, menegakkan manhaj Islam adalah sama pentingnya dengan menegakkan syari’at Islam dalam kehidupan. Jika seorang Muslim tidak memahami dan tidak menegakkan syari’at Islam dikatakan sebagai seorang yang ingkar, maka demikian halnya jika mereka tidak menegakkan manhaj Islam dalam kehidupannya. Itulah sebabnya, menegakkan manhaj Islam adalah bagian

yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran Islam secara total. Apalagi manhaj Islam adalah kunci dalam menegakkan syari’at Islam, tanpa memahami manhaj Islam dengan baik dan betul, tidak mungkin ditegakkan syari’at Islam dengan sempurna. Menegakkan syari’at Islam adalah wajib hukumnya, dan para ulama tidak berbeda pendapat dalam hal ini, maka menegakkan manhaj Islam sebagai syarat mutlak tertegaknya syari’at Islam adalah wajib pula hukumnya sebagimana disebutkan kaidah fiqh : Sesuatu yang wajib tidak tertegak kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib pula. 2.1. Pengertian Manhaj Sesungguhnya Allah Maha pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia yang telah diciptakan-Nya dan telah diberikan kepadanya amanah sebagai khalifah (wakil) yang akan mengelola alam sesuai dengan kehendakNya. Untuk menyempurnakan kasih sayang-Nya, Allah SWT telah menurunkan kepada manusia pedoman hidup yang akan membimbingnnya menuju keselamatan dan kemenangan. Pedoman hidup itu berbentuk syari’at dan manhaj, sebagaimana disebutkan al-Qur’an : ..... tiap-tiap ummat telah Kami jadikan baginya syari’at dan manhaj....... ( QS, al-Maidah : 48 ) Syari’at adalah undang-undang dan peraturan yang diturunkan Allah SWT untuk mengatur kehidupan umat manusia agar tercipta keamanan, kedamaian dan keadilan di muka bumi, yang meliputi hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan seluruh makhluk di alam raya ini. Sementara manhaj adalah tatacara atau metode dalam melaksanakan syari’at tersebut di dalam kehidupan nyata secara sistimatis sesuai dengan tahapan-tahapannya. Para Nabi terdahulu, baik Nuh AS, Ibrahim AS, Musa AS, Isa AS dan lainnya masing-masing di utus Allah dengan membawa syari’at dan manhaj yang sesuai dengan keadaan dan tingkatan masyarakat mereka. Syari’at mereka adalah sama, yaitu untuk menegakkan Tauhid, keesaan Allah SWT dalam segala aspek kehidupan dan menjauhi thoghut, tuhan-tuhan selain dari Allah SWT. 46
Masalah ini diterangkan beberapa ayat, diantaranya; Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) “sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut” (QS. al-Nahl : 36) Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “bahwasanya tidak ada Ilah (Tuhan) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (QS. al-Anbiya’:25). Katakanlah :”Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Robbku pada jalan yang lurus, yaitu dien yang benar, dien Ibrahim yang lurus: dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Katakanlah :”Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya: dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah. Katakanlah :”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu”. (QS. al-An’am : 161-4).

Namun manhaj mereka berbeda, yaitu pelaksanaan syari’at dalah kehidupan nyata mereka adalah berbeda menurut keadaan dan tingkatan masyarakat yang dibimbingnnya. Maka manhaj yang turun kepada para Nabi dalam rangka menegakkan tauhid ini juga berbeda. Sebagai contoh, Nabi Ibrahim AS membawa tugas menegakkan tauhid, demikian pula halnya dengan Nabi terakhir, Muhammad SAW, namun manhaj (tatacara) mereka melaksanakan tauhid ini berbeda. Nabi Ibrahim AS tidak membawa perintah solat lima waktu, puasa di bulan ramadhan dan lain-lain perintah Allah sebagaimana diperintahkan kepada Nabi Muhammad, yang mana hal ini merupakan manhaj (cara) mencapai syari’at mentauhidkan Allah SWT. Para Nabi dan Rasul silih berganti diutus Allah dengan membawa syari’at dan manhaj yang akan membimbing umat manusia menuju kehidupan ideal dibawah pancaran keridhaan Allah. Apabila manusia menyimpang dan melupakan syari’at dan manhaj para Nabi terdahulu, Allah SWT dengan kasih sayang-Nya senantiasa mengutus kembali Nabi dan Rasul dengan membawa syari’at dan manhajnya yang meluruskan, menggantikan atau menyempurnakan syari’at dan manhaj terdahulu. Karena syari’at dan manhaj yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah yang terakhir, maka ia harus sempurna, menyeluruh, universal dan tidak ketinggalan zaman sampai akhir zaman. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan segala Kesempurnaan-Nya, itulah sebabnya Dia menurunkan al-Dien al-Islam yang mengandung ajaran sempurna dan lengkap dan membahas seluruh aspek kehidupan manusia menurut tingkat pemikiran dan pengetahuannya sampai akhir zaman. Tidak ada satu aspekpun kehidupan manusia yang terabaikan, syari’at dan manhajnya tidak akan ketinggalan zaman, walaupun zaman datang silih berganti, karena ajarannya diturunkan dalam bentuk global dan mengandung pokok-pokok kehidupan manusia yang terpenting. Dengan syari’at dan manhaj inilah Rasulullah membimbing bangsa Arab Jahiliyah yang terpecah belah dan terbelakang dengan penuh ketekunan dengan tahapan-tahapan pembinaannya yang khas. Kemudian sejarah membuktikan, bagaimana bangsa Arab Jahiliyah itu tumbuh dan berkembang menjadi bangsa besar dan utama serta kuat, memiliki wilayah kekuasaan yang luas, menumbangkan penjajahan dan kezaliman super power Romawi dan Persia dan menegakkan keadilan dan kemakmuran di seluruh wilayah kekuasaannya. Semua keagungan dan keutamaan bangsa Arab itu adalah berkat syari’at dan manhaj yang diturunklan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Demikian pula sejarah telah membuktikan, generasi-generasi setelah mereka, walaupun tetap memelihara dan menjalankan syari’at Allah, namun lalai melaksanakan sepenuhnya manhaj yang menyertai syari’at Islam. Pada saat inilah awal

kemunduran kaum Muslimin, yaitu pada saat mereka mengganti manhaj Islam dengan manhaj/metode selainnya dalam memahami dan mengamalkan al-Dien al-Islam, baik yang bercorak filsafat, sufi, kalam ataupun fiqh. Akibatnya telah lahir generasi-generasi yang berbeda dengan watak dan karakteristik generasi Islam pertama. Walaupun mereka dapat menghasilkan perbendaharaan pengetahuan yang menjulang tinggi, namun mereka tidak dapat menyamai kesempurnaan generasi terdahulu yang dibina atas manhaj Nubuwwah, metode yang diterapkan Rasulullah. Keadaan menjadi lebih buruk apabila pintu ijtihad dinyatakan tertutup, karena Ijtihad merupakan salah satu cara dinamis manhaj Islam yang akan mempertahankan keuniversalannya sampai akhir zaman. Setiap penyimpangan atau campur tangan manusia di dalam manhaj ini, bukannya menambah keunggulannya, namun semakin menghancurkannya, menghilangkan keutamaan-keutamaan Ilahiyah yang terkandung didalamnya yang telah disusun dengan amat sempurna oleh Maha Pencipta Alam. Itulah sebabnya Islam melarang sejak awal penambahan-penambahan semacam ini yang dikenal dengan bid’ah, bahkan Rasulullah menyatakan bahwa setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat dimasukkan ke dalam neraka (HR. Bukhari Muslim). Ini jelas karena syari’at dan manhaj yang ada di dalam al-Dien al-Islam telah sempurna; tidak memerlukan tambahan-tambahan ataupun perubahan-perubahan. Setiap keputusan yang telah ditetapkan Allah dan RasulNya di dalam syari’at dan manhaj adalah mutlak, tidak dapat diubah, ditambah dan diganti, karena ini di luar kemampuan dan pengetahuan manusia, sebagaimana ditegaskan Allah dan Rasul-Nya : Sesungguhnya tidak ada perkataan lain yang diucapkan orang-orang Mukmin jika diseru agar mentaati Allah dan Rasul-Nya dalam berhukum di antara mereka, kecuali perkataan :”Kami mendengar dan kami mentaatinya”. (QS, al-Nur : 51) Dan tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin dan perempuan-perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu keputusan untuk memilih selainnya dari urusan tersebut, dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS, al-Ahzab : 36) Tidaklah beriman salah seorang diantara kamu sehingga dia mengikuti apa-apa yang aku bawa padanya. (HR. Tirmizi) Berpegang teguh kepada syari’at dan manhaj merupakan realisasi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya yang seringkali ditegaskan al-Qur’an dan al-Hadits. Penyelewengan dari syari’at dan manhaj yang diajarkan Islam adalah sama artinya dengan tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya. Ini berarti

penentangan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang pasti akan mengakibatkan kecelakaan dan kehinaan bagi siapa yang melakukannya. Sejak generasi terdahulu sampai masa ini, sejak kaum Muslimin meninggalkan manhaj Islam yang unik dan sempurna dalam melaksanakan syari’at Islam, mereka belum pernah mengalami kecemerlangan sebagaimana generasi awal, kecuali sekelompok kecil yang belum mampu merombak wajah dunia. Padahal al-Qur’an dan al-Sunnah, sumber utama syari’at dan manhaj yang digunakan generasi Muslim terdahulu masih tetap utuh di tangan kaum Muslimin sampai hari ini. Namun mengapa mereka menjadi ummat yang terbelakang, yang terbodoh, termiskin, teraniaya dan terendah kualitas SDM-nya diantara seluruh bangsa-bangsa dunia ? Mengapa mereka tidak mampu menjadi seperti generasi-generasi Islam pertama yang merupakan ummat terbaik, termaju, tercemerlang dan paling berkualitas serta menjadi mercusuar peradaban dunia ? Jawabannya jelas, semua ini terjadi akibat terlalu banyak penyimpangan dan campur tangan manusia di dalam manhaj Islam yang telah diturunkan Allah SWT. Mereka telah mengubah, memisah-misahkan serta mengembangkan manhaj Islam yang sempurna menjadi manhaj ala fiqh, manhaj ala filsafat, manhaj ala kalam dan manhaj ala sufi. Mereka telah membangun manhajmanhaj baru yang dikatakannya sebagai pengembangan manhaj Islam, namun pada hakikatnya mereka telah mengadopsi manhaj selain manhaj Islami kemudian mengawinkannya dengan manhaj Ilahiyah yang akhirnya melahirkan manhaj baru yang kadangkala tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai manhaj Islam. Manhaj Ilahiyah yang suci dan sempurna dicampur aduk dengan manhaj rekaan manusia yang serba lemah dan kurang. Manhaj Islam yang diterapkan Rasulullah dikawinkan dengan manhaj filsafat Yunani, manhaj kerahiban Nashrani, manhaj akliyah Israiliyat dan manhaj-manhaj manusiawi lainnya, sehingga manhaj Islam hilang terkubur di antara tumpukan manhaj-manhaj manusiawi tersebut yang akhirnya menjadikannya sebagai manhaj statis yang tertinggal di dalam teori-teori pengetahuan, baik dalam ilmu Kalam, ilmu Tauhid, ilmu Filsafat, ilmu fiqh, ilmu tasawwuf dan lainnya. Sejak itu tidak pernah lahir generasi-generasi Islam yang merombak tatanan dunia sebagaimana generasi Islam pertama akibat ditinggalkannya manhaj Islam dalam menegakkan syari’at Islam yang hakikatnya bertujuan untuk melahirkan ummat terbaik. Perkataan Manhaj sendiri berasal dari pangkal kata bahasa Arab yang digunakan oleh Islam dengan pengertian yang lebih khusus daripada pengertian-pengertian umum yang difahami masyarakat Arab pra Islam, sebagaimana perkataan sholat, zakat, jihad, hajj dan sejenisnya. Jadi untuk

memahami pengertiannya secara tepat, harus dicari akar katanya dari sumbersumber ajaran Islam, seperti al-Qur’an, al-Hadits dan gramatika bahasa Arab. 2.1.1. Manhaj di al-Qur’an Al-Qur’an menyebut perkataan manhaj dalam surat al-Maidah ayat 48;47 Dan Kami turunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab terdahulu, sebagai penimbang atas kitab-kiab itu. Maka berilah hukum kepada mereka menurut hukum yang telah diturunkan Allah kepadamu. Janganlah kamu mengikuti kemauan mereka yang menyeleweng dari kebenaran yang ada padamu. Tiap-tiap ummat telah kami jadikan padanya syariat dan manhaj. Jikalau Allah menghendaki, maka Dia dapat menjadikan kamu satu ummat saja, tetapi Dia mau menguji kamu tentang apa yang telah diberikan-Nya....... (QS. al-Maidah : 48) Umumnya para Mufassirin seperti Ibnu Abbas48, Thabari49, Qurthubi50, alQashimi51, alRadzi52, Ibnu Katsir53, al-Naisaburi,54 al-Alusyi55, Jalalayn56, Khazin57, alBaghawi58, al-Syaukani59, al-Nasafi60, al-Wahidi61, al-Qushairi62, al-Baidhawi63, alZamakhsari64, al-Mudzkari65, Ibn Abi Hayyan66, Thantawi Jauhari67, alThaba’-taba’i68, al-Sabzawari69, Jawad al-Mughniyah70, al-Shabuni71, al-Maraghi72,

al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, juz VI. (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm. 129-130 Ibnu Abbas, Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn Abbas, (Teheran : Intatsorot Istiqlal, tt) hlm. 95 Thabari, Tafsir al-Thabari, Jil. 10 (Kaherah : Dar al-Maarif, tt) hlm. 384 Qurthubi, al-Jami’ al_Ahkam al-Qur’an, juz. 5 (Beirut : Dar Ihya’ al-Turats al-Arbi, 1965) hlm. 211. Jamaluddin al-Qashimi, Mahasin al-Ta’wil,juz 6. (Beirut : Dar Ihya’ al-Kutub al-Arbi,1958) hlm.2017 al-Radzi, al-Tafsir al-Kabir, juz III,(Beirut : Dar Fiqr, 1878) hlm. 412-413 Ibnu Katsir,Tafsir al-Qur’an al-Adzim. juz II. (Kaherah: Dar al-Khairat, 1988) hlm.63 al-Naisaburi, Gharaib al-Qur’an wa Raghaib al-Furqan, (Hulfa : M.Nashir al-Halbi, 1962) hlm. 107-108. al-Alusyi al-Bagdadi, Ruh al-Ma’ani, juz V-VI (Beirut : Dar Ihya’ al-Turats al-Arbi, Thaba’ah Rabi’ah, 1985) hlm.153 al-Jalalayn, Tafsir Jalalayn, (Beirut : Dar Fiqr, 1981) hlm.102. Khazin (Ibrahim al-Bagdadi), Tafsir al-Khazin, juz II (Beirut : Dar Fiqr, 1979) hlm.61 al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, juz II, (Beirut : Dar Fiqr, 1979) hlm.61 al-Syaukani, Fath al-Qadir, jil.II (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.48 al-Nasafi, Tafsir al-Nasafi, jil.I (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.286 al-Wahidi, Marah labid Tafsit al-Nawawi, jil.I (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.207 al-Qushairi, Lataif al-Isyarah, Tafsir Shauf Kamil li al-Qur’an al-Karim, jil.I (Mesir : Markaz Tahqiq al-Turats, Thabaah Tsaniyah, 1981) hlm.429. al-Baidhawi, Tafsir Baidhawi, (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.152. al-Zamakhsari, al-Khasysyaf, jil I, (Beirut : Dar al-Ma’rifah, tt) hlm.618 al-Mudzkari, Tafsir al-Mudzkari, jil.III, (Pakistan : Masjid Ruud, 1982)hlm.123 Ibn Abi Hayyan, Tafsir al-Bahr al-Muhith, juz III (Beirut : Dar Fiqr, Thaba’ah Tsaniyah, 1988) hlm.102 Thanthawi Jauhari, al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim, juz II (Teheran : Intasyarat Aatab, Thaba’ah Tsaniyah, 1350 H) hlm.190 al-Thaba’thaba’i, al-Mizan, jil V,(Beirut : Muassasah al-A’lami, Thaba’ah Tsaniyah, 1974) hlm.351 al-Sabzawari, al-Jadid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, juz III (Beirut : Dar al-Ta’aruf li al-Batba’ah, 1982)hlm.476 Jawad al-Mughniyah, al-Tafsir al-Kasysyaf, jil III (Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, thaba’ah tsaditsah, 1980) hlm.67 al-Shabuni, Shafwat al-Tafasir, jil.I (Beirut : Dar al-Qur’an al-Karim,tt) hlm.346 al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, juz. VI (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm.129-130

Abduh73, Sayyid Qutb74, Said Hawwa75 dan lainnya mengartikan manhaj sebagai thariqan wadhihan (jalan yang terang benderang) atau sabilan (jalan). Di antara mereka ada pula yang menukilkan pendapat bahwa manhaj satu makna dengan syari’at, di mana manhaj berfungsi sebagai penguat (taukid) dari kata syari’at yang mendahuluinya, sebagaimana dinukilkan al-Alusyi dan Khazin.76 al-Thabari menyebutkan bahwa ada perbedaan di antara para Mufassirin dalam mengartikan li kulli min kum (pada tiap-tiap kamu). Ada yang mengartikan kum (kamu) dengan arti seluruh umat manusia dari zaman dahulu telah diturunkan kepada mereka syari’at dan manhaj, namun ada yang mengartikannya sebagai ummat Nabi Muhammad saja.77 Namun dalam hal ini, sebagaimana dikemukakan Khazin, jika dilihat konteks ayatnya secara menyeluruh, maka jelaslah ayat tersebut membahas tentang ummat terdahulu dengan disebut-kannya kitab-kitab terdahulu mereka dan juga kalimat “dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia dapat menjadikan kamu satu ummat saja”. Maka yang lebih kuat pendapat yang mengartikan kum sebagai seluruh ummat manusia sebagaimana difahami jumhur Mufassirin.78 Di antara para Mufassirin, pendapat yang dinukilkan Khazin berkaitan erat dengan pembahasan di sini, yaitu ketika beliau memberikan penjelasan lebih lanjut perbedaan antara syari’at dan manhaj dalam menyanggah mereka yang berpendapat keduanya memiliki persamaan makna sama. Khazin menukilkan : Dan telah berkata yang terakhir, di antara keduanya (syari’at dan manhaj) jauh berbeda, yaitu sesungguhnya syari’at adalah apa yang diperintahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, sedangkan manhaj jalan terang dalam merealisasikan syari’at tersebut.79 Demikian pula pendapat al-Radzi dan al-Maraghi.80 Menurut pendapat terakhir ini, maka jelaslah maksud perkataan manhaj pada ayat di atas menunjukkan pengertian kepada manhaj dalam merealisasikan syari’at yang diturunkan Allah SWT. Pengertian ini diperkuat pula dengan pendapat beberapa Mufassirin yang disebutkan terdahulu yang mengartikan manhaj sebagai jalan terang benderang (thariqon wadhihan) dalam merealisasikan syari’at. Maka dengan demikian beberapa pendapat para Mufassirin ini dapat dihubungkaitkan dan saling menguatkan dengan
Abduh, M, Tafsir al-Qur’an al-Karim, Asyakir bi Tafsir al-Manar, juz.VI, (Beirut : Dar Ma’rifah, tt) hlm.312-313 Sayyid Qutb, Fi Zilal al-Qur’an, juz II. (Jeddah : Dar Ilm li al-Thaba’ah, Thaba’ah al-Tsaniyah asyarah, 1987) hlm.901-902 Said Hawa, al-Asas fi al-Tafsir, juz.III, (Kaherah : Dar Salam, 1985)hlm.1397. al-Alusyi,op.cit. hlm.153. Khazin, op.cit,hlm.61 al-Thabari, op.cit. hlm.384. lihat, Khazin, op.cit, hlm.61. al-Radzi, op.cit. hlm.412-413. al-Maraghi, op.cit. hlm.129-130. Khazin,op.cit. hlm.61 al-Radzi, op.cit. hlm. 413. al-Maraghi, op.cit. hlm.130.

kesimpulan bahwa pengertian manhaj adalah thariq/sabil (jalan/tatacara/kaedah/metode) dalam merealisasikan syari’at Allah. 2.1.2. Manhaj di Hadits Rasulullah Ada beberapa hadits Rasulullah SAW yang menggunakan perkataan manhaj ini. Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari Khuzaifah alYaman, yang berkata bahwa Rasulullah telah bersabda : Tegaklah pada kamu zaman Nubuwwah (Kenabian) sampai beberapa masa yang dikehendaki Allah, maka terjadilah ia, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah sesudah itu pada kamu zaman Khalifah atas Manhaj Nubuwwat, maka terjadilah ia padamu beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian di angkat. Kemudian tegaklah pada kamu Kerajaan feodal yang menggigit maka terjadilah ia padamu beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian tegaklah sesudah itu kerajaan sesat yang menyimpang, terjadilah ia beberapa lama yang dikehendaki Allah, kemudian diangkat. Kemudian setelah itu tegaklah padamu Khalifah atas Manhaj Nubuwwat yang mengamalkan sunnah Rasul di kalangan manusia. Islam akan tersebar luas di muka bumi yang diridhai oleh penghuni langit dan bumi....... (HR, Ahmad dan Tabrani) Manhaj Nubuwwat di dalam hadits ini diartikan sebagai cara-cara yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam melaksanakan seluruh aspek ajaran Islam, baik dari segi sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Hal ini sama dengan pengertian hadits : Kemudian datanglah setelahmu seorang lelaki yang berjalan di atas manhajmu. (HR, Ahmad) Maka dengan demikian, perkataan manhaj dalam hadits-hadits yang digunakan oleh Rasulullah SAW mengandung pengertian sebagai jalan, cara, metode, jejak dan sejenisnya. 2.1.3. Manhaj Menurut Bahasa Arab Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab menukilkan : Manhaj berasal dari pangkal kata “nahjun” yang diartikan sebagai “thariq bayyinun wadhihun” (jalan yang jelas terang benderang). Jama’nya “nahjaatun wa nuhujun wa nuhu-jun. “Thariqun nahjatun” atau “sabilun manhajun” sama artinya “wadhihuhu” (meneranginya). Manhaj dengan Minhaj adalah sama artinya “wadhaha wastabaana wa syara nahjan wadhihan bayyinan

(dijelaskan, diterangi, diterangi dengan jelas). Dan al-Manhaj/al-Minhaj artinya “al-Thariqan al-wadhihan” (jalan yang terang benderang/ tata cara yang jelas).81 Demikian pula halnya para ahli bahasa Arab lainnya mengartikan manhaj sebagai thariqan wadhihan (jalan yang terang. Di antara mereka adalah Imam al-Radzi82, Fairuzzabadi83, Ibnu Faris84, al-Jauhari 85, Farid Wajdi86, dan lain-lainnya87. Sementara Abd. al-Fattah Hadhar mengartikan manhaj sebagai : Seni penyusunan yang bernas (sahih) untuk merumuskan susunan pemikiran-pemikiran yang bijaksana.88 Menurut beberapa penjelasan terdahulu, maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian manhaj menurut al-Qur’an, al-Hadits ataupun bahasa Arab adalah mengandung maksud sebagai tata cara, kaedah, jalan dalam merealisasikan sesuatu. 2.2. Pengertian Manhaj Nubuwwat

Perkataan Nubuwwat sendiri dalam bahasa Arab secara global mengandung pengertian sebagai kenabian, dalam kontek hadits di atas dan untuk selanjutnya berarti sebagai kenabian yang diberikan kepada Muhammad Rasulullah. Maka dengan demikian manhaj Nubuwwat mengandung pengertian sebagai jalan/cara/tatacara/ metode yang telah diterapkan oleh Rasulullah ataupun para shahabat dalam merealisasikan syari’at Islam dalam kehidupan mereka, baik pada pribadi, keluarga, masyarakat, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan dan lainnya. Manhaj ini sendiri telah ditetapkan dan diajarkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad melalui urutanurutan wahyu yang diterimanya, berawal dari wahyu yang turun di gua Hira’ sampai wahyu terakhir yang turun ketika perjalanan pulang Rasulullah dari menunaikan haji terakahir (haji wada’). Dengan demikian manhaj Nubuwwat adalah manhaj Ilahi yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad bersamaan dengan diturunkannya syari’at Islam ke muka bumi. Sebagaimana para Nabi terdahulu yang membawa syari’at dari Allah senantiasa diturunkan
Ibn. Manzhur, Lisan al-Arab, juz II (Beirut : Dar Shadr, tt) hlm.383. Imam al-Radzi, Mukhtasar al-Shihah, (Beirut : Dar Fiqr, 1981) hlm.881 Fairuzzabadi, al-Qamus al-Muhith,jil. I (Beirut : Dar Fiqr, 1978) hlm.210 Ibnu Faris, Mu’jam Muqayis al-Lughah, tahqiq Abd. al-Salam Harun, (Beirut : Dar Fiqr, tt) Ismail al-Jauhari, al-Shihah, Taj al-Lughah wa Shihah al-Arabiyah, (Mesir : Dar al-Kitab, tt) hlm.346 Farid Wajdi, Dairah Maarif al-Qur’an Isyruun, (Beirut : Dar Fiqr, tt) hlm. 380 lihat misalnya : S. Ahmad Ridha, Mu’jam Matan al-Lughah, jil V, (Beirut : Dar Fiqr, 1960) hlm.557. Dr. Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Washith, juz II, (Mesir : Idarah Ihya’ al-Turats al-Islami, tt) hlm.957. Abd. al-Fattah Hadhar, Azimah al-Bahs althami fi al-Alim al-Arbi. (Riyadh : Ma’had al-Idarah al-Ammah, 1981) hlm.12

bersamanya manhaj sebagai pedoman dan petunjuk dalam melaksanakan syari’at bagi para pengikutnya sebagimana dinyatakan al-Qur’an: .......sesungguhnya pada tiap-tiap ummat telah Kami jadikan padanya syari’at dan manhaj...... (al-Maidah : 48) Syari’at Islam yang bersumber dari wahyu mengandung ajaran-ajaran sempurna, membahas seluruh aspek kehidupan manusia, dari masalah-masalah pribadi sampai kemasyarakatan dengan teori-teori suci yang dibawakannya secara global, karena kekomplekannya inilah mutlak diperlukan pedoman nyata dalam pelaksanaannya. Dapat dibayangkan, bagaimana jadinya jika Allah hanya menurunkan syari’at saja tanpa pedoman pelaksanaannya, dari mana mengawali pengamalan ajarannya yang sangat komplek itu yang pasti akan membingungkan para pengikutnya karena tidak mengetahui susunan sistimatikanya. Maka pedoman pelaksanaan syari’at Islam inilah yang dimaksudkan dengan manhaj Islam yang didalam hadits terdahulu disebut sebagai manhaj Nubuwwat yang mengandung pengertian sama. Manhaj Nubuwwat adalah pedoman yang diturunkan Allah kepada Rasulullah untuk menjelaskan dari mana harus mengawali penerapan ajaranajaran Islam yang luas dan kompleks, tingkatan-tingkatan pelaksanaannya, sistimatikanya, susunannya, bagian-bagiannya, awalnya hingga akhirnya dan masalah-masalah lainnya yang menyangkut realisasi syari’at Islam di muka bumi. Karena al-Qur’an, sumber utama syari’at Islam diturunkan Allah sebagaimana pendapat jumhur ulama, secara utuh 30 juz dari sidrat al-Muntaha ke sama’ al-Dunya (langit dunia), dan dari sinilah turun berangsur-angsur ke bumi sesuai kondisi dan keperluan pengikut-pengiku Islam yang dididik Rasulullah pada masa itu. Syari’at Islam tidak diturunkan secara sekaligus kepada Rasulullah dan para pengikutnya, tetapi bagian demi bagian dengan maksud yang jelas dan terang agar syari’at tersebut dapat dilaksanakan secara tahap demi tahap sehingga terwujud keseluruhannya dalam kehidupan. Allah Maha Mengetahui, jika syari’at Islam diturunkan langsung seluruhnya secara sempurna, tidak mungkin masyarakat dapat menerapkannya sekaligus dalam satu waktu dan serta merta dalam kehidupannya. Karena syari’at Islam yang agung ini memang memerlukan waktu panjang untuk merealisasikannya dalam kehidupan nyata sebagimana Rasulullahpun memerlukan waktu 23 tahun untuk menyempurnakan penerapannya pada para pengikutnya. Jika syari’at Islam diturunkan sekaligus. mereka pasti akan mengalami kebingungan demi kebingungan, sebagaimana bingungnya masyarakat Islam dewasa ini yang telah mendapatkan syari’at Islam sudah

sempurna, namun tidak mengetahui bagaimana harus mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata sehingga mereka mencoba-coba untuk membuat berbagai bentuk metode aplikasi sendiri yang akhirnya menambah kebingungan dan keterbelakangan mereka akibat kegagalan demi kegagalan dalam menerapkan ajaran Islam. Rasulullah dan para shahabat berhasil menjadi manusia-manusia unggul yang mencapai kemenangan karena telah dibimbing Allah dalam merealisasikan ajaran Islam dengan manhaj yang diturunkan menyertai syari’at. Untuk mencegah kebingungan dan kesesatan pengikutnya inilah, syari’at Islam turun secara beransur-ansur dengan bagian-bagian materinya yang merupakan manhaj Islam: Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan dengan beransur-ansur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (al-Isra’ : 106) Berkatalah orang-orang yang kafir :”Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja ?”. demikianlah supaya Kami memperkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya bagian demi bagian. (al-Furqan : 32) Maka dengan demikian jelaslah bahwa manhaj Nubuwwat adalah pedoman yang terang benderang dalam mewujudkan syari’at dari alam teori/konsepsi menuju alam nyata pada kehidupan umat manusia. Atas perintah Allah, metode/manhaj inilah yang telah diterapkan Rasulullah dan para shahabat dalam menegakkan syari’at Islam dalam diri, keluarga, masyarakat dan segala aspek kehidupan mereka sehingga menghantarkan mereka menjadi manusia-manusia unggul yang telah membangun peradaban baru dunia yang berdasarkan pada keagungan ajaran Islam. Mereka memahami benar cara menerapkan syari’at Islam ke alam nyata kehidupan mereka, dari mana mengawalinya dengan tingkat-tingkat, bagian-bagian dan sistimatika materinya sehingga menjadi pribadi-pribadi yang tertegak padanya ajaran Islam. Jika diandaikan syari’at seperti sebuah bangunan, maka Rasulullah benarbenar memahami master plan bagunan tersebut, benar-benar mengetahui bagaimana cara mewujudkannya dalam kenyataan sehingga menjadi sebuah bangunan yang indah dan megah. Rasulullah telah membangun bangunan Islam dengan indah dan megahnya pada pribadi-pribadi para pengikutnya sesuai dengan petunjuk Sang Pemilik bangunan Islam, sehingga mereka mendapat julukan sebagai ummat terbaik sepanjang zaman. Rasulullah dan para shahabat tidak pernah berpaling dari manhaj yang telah digariskan Allah, tidak pernah timbul keinginan mereka untuk mengadopsi metode-metode yang lain, karena

mereka yakin seyakinnya bahwa metode yang mereka terapkan adalah metode terbaik yang diajarkan oleh Sang Pencipta manusia. Metode siapakah yang lebih baik daripada metode yang telah ditetapkan Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui kepada ciptaan-Nya ? Dengan binaan metode ini, para pengikut Rasulullah bagaikan prajuritprajurit yang amat taat kepada jendralnya, melaksanakan dengan penuh ketundukan apapun juga yang diperintahkan kepada mereka. Mereka tidak akan meminta tambahan perintah sebelum perintah terdahulu mereka amalkan dalam kehidupan. Mereka sangat yakin bahwa syari’at dengan metodenya yang diberikan Allah kepada mereka dalam metode terbaik dan tersempurna serta terunggul, karena diturunkan dari Yang Maha Mutlak Pengetahuan-Nya. Mereka merasa bangga karena Allah berkenan berhubungan langsung dengan mereka melalui wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan tidak ada kemuliaan tertinggi bagi mereka yang melebihi karunia ini. Sang Pencipta alam raya berkenan berhubungan dengan mereka lalu mengajarkan hal-hal terbaik demi kebaikan dan kesempurnaan mereka. Allah telah berkenan mengatur mereka secara langsung dengan manhaj-Nya yang telah mengantarkan mereka sebagai generasi-generasi agung. Namun berbeda halnya dengan generasi-generasi sesudah mereka yang melalaikan manhaj Nubuwwat yang unik ini. Walaupun syari’at Islam beserta sumber utamanya, al-Qur’an dan al-Sunnah, yang diturunkan kepada generasi terdahulu masih tetap utuh di tangan mereka, namun mereka tidak dapat mencapai taraf keagungan sebagaimana generasi terdahulu. Bahkan sejarah membuktikan mereka adalah generasi yang menyimpang dari jalan generasi para pendahulu mereka. Mereka menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, menindas penegak-penegak keadilan sejati karena kepentingan duniawi bahkan membunuh sebagian shahabat yang telah membela Rasulullah dan keluarganya. Dan mereka telah melakukan berbagai bentuk penyimpangan yang tidak pernah dikenal generasi Islam terdahulu. Hal ini tejadi karena mereka tidak menerapkan syari’at Islam menurut manhajnya sebagaimana Rasulullah dan para shahabat yang telah mengikuti semua tingkatannya dengan cemerlang. Generasi ini telah mengadopsi metode-metode asing ke dalam Islam yang akan menghasilkan generasi-generasi yang kualitasnya jauh dibawah standar Islam yang menghendaki generasi-generasi unggul yang berjiwa khalifafatullah dan hamba Allah. Mereka telah memperlakukan Islam sebagai obyek pengetahuan yang diulas panjang lebar dengan perincian-perinciannya yang rumit seperti model pembahasan ala filsafat, sehingga menghasilkan pemahaman asing terhadap metode Islam yang pada akhirnya akan menghasilkan generasi-generasi yang asing pula pada

pemahaman Islam. Keadaan ini telah menimpa generasi Islam pasca shahabat yang akhirnya mendatangkan kemunduran bagi kaum Muslimin. Itulah sebabnya, manhaj Islam harus tetap diterapkan agar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan syari’at Islam. Memisahkan keduanya sama artinya dengan memisahkan bangunan dengan master plan yang sangat diperlukan dalam pembangunan sebuah bangunan. Syari’at Islam hanya dapat ditegakkan dengan manhaj yang diturunkan bersamanya, bukan dengan manhaj selainnya. III. Aplikasi Manhaj Nubuwwat Di Zaman Rasulullah saw Seluruh aspek kehidupan Nabi Muhammad saw, baik perbuatannya, keputusannya, diamnya, marahnya, kasihnya, pemikirannya dan lainnya tidak terlepas dari wahyu Allah yang diturunkan kepadanya. Jika beliau tersalah dalam satu perkara, maka wahyu akan turun kepadanya yang akan meluruskan kesalahannya. Beliau benar-benar terkontrol dalam lingkungan wahyu Allah, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an : Dan tiadalah perkataannya itu dari kehendaknya sendiri, melainkan wahyu Allah yang diwahyukan kepadanya. (QS al-Najm : 2) Demikian pula masyarakat yang dibina Rasulullah saw tidak terlepas dari kontrol wahyu Allah. Segala tindak tanduk masyarakat senantiasa mendapat sorotan Allah SWT. Jika terjadi penyimpangan-penyimpangan maka wahyu akan turun untuk meluruskannya, mengajarkan pada mereka nilai-nilai idial sebuah masyarakat utama. Perhatian besar yang diberikan Allah kepada masyarakat saat itu tidak lain karena masyarakat ini hendak dijadikan masyarakat percontohan sepanjang masa, yang akan ditauladani oleh manusia sampai hari penghabisan kelak. Itulah sebabnya masyarakat ini harus benarbenar menggambarkan kehendak Allah SWT, menggambarkan sebuah masyarakat idial yang berdasarkan pada wahyu Allah dan Rasulullah dan masyarakatnya benar-benar berhasil dalam menerapkan kehendak-kehendak Allah kepada diri mereka sehingga dijuluki sebagai umat terbaik. Zaman Rasulullah adalah sebaik-baik zaman, zaman yang diberkahi dan dirahmati, karena pada zaman ini telah terjadi hubungan langsung antara langit tertinggi dengan bumi, antara Pencipta alam raya dengan ciptaan, antara Allah Yang Maha Tinggi dengan manusia. Pada zaman ini, dan untuk yang terakhir kalinya, Allah SWT berkenan berhubungan langsung dengan makhluknya, manusia di bumi melalui perantaraan wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad. Seakan-akan Allah berbicara langsung kepada manusia tentang kehidupan mereka, menjelaskan panduan yang akan mengatur kehidupan mereka, memerintahkan yang terbaik dan mencegah yang buruk bagi mereka,

menyelesaikan problematika ataupun perselisihan diantara mereka dan lain-lain masalah yang menyangkut kehidupan mereka di muka bumi ini. Masa 23 tahun, masa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad adalah masa percontohan sepanjang masa. Masa yang telah melahirkan manusia-manusia agung, generasi-generasi terbaik umat manusia yang dilahirkan untuk memberikan teladan kepada seluruh umat manusia sampai hari penghabisan kelak, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an : Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia. (QS. Ali Imron : 110) Dengan kesempurnaan pengetahuan-Nya, pada masa ini Allah berkenan mengatur langsung kehidupan manusia, membimbing mereka menuju kemenangan dan kejayaan, melalui perantaraan wahyu-Nya yang disampaikan Jibril AS kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad saw.Menurunkan peraturanperaturan hidup yang nyata dan langsung diamalkan masyarakat. Allah langsung berkomonikasi dengan mereka. Segala permasalahan mereka, mereka langsung mengadukannya kepada Allah, dan Allah berkenan menjawab serte menyelesaikan permasalahan-permasalahan mereka melalui wahyu kepada utusan-Nya. Jika mereka menghadapi permasalahan yang tidak dapat diselesaikan, maka merekapun menengadahkan muka ke langit, mengadu kepada Allah agar diselesaikan permasalahan mereka. Al-Qur’an telah menggambarkannya ketika kaum Muslimin memohon agar kiblat di masjid alAqsho Yerusalem dipindahkan ke Masjid al-Haram di Makkah, kemudian Allah menjawab dengan firmannya : Sesungguhnya Kami telah melihat engkau menengadahkan mukamu ke langit, lalu Kami hadapkan mukamu ke arah Kiblat yang engkau sukai. (QS. alBaqarah: 144)89 Demikian pula ketika seorang wanita bernama Khaulah binti Tsa’labah yang telah didzihar oleh suaminya Aus bin Tsamit. Ia mengadukan halnya kepada Rasulullah, namun Rasulullah belum mendapat hukumnya dari Allah. Maka iapun mengadukannya langsung kepada Allah, dan Allahpun berkenan menjawab pengaduan wanita malang tersebut dengan mewahyukan kepada Nabi dengan firman-Nya : Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan seorang wanita yang membantah engkau perihal suaminya dan mengadukan halnya kepada Allah. Allah mendengar soal jawab antara keduanya. (QS. al-Mujadilah : 1)90

Suyuthi, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul,(Mesir : Dar al-Tahrir,tt) Jil. I hlm. 33. Lihat juga, Naisabury, Asbab alNuzul,(Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1986) hlm. 23 Suyuthi,op.cit, II/324, Naisabury,op.cit, hlm.231

Dan masih banyak ayat-ayat serupa yang menjawab persoalan masyarakat yang timbul saat itu, sehingga masyarakat benar-benar merasa terkontrol wahyu, mereka merasa benar-benar berhubungan langsung dengan Allah yang telah berkenan mengatur kehidupan mereka secara langsung. Dan Nabi Muhammadpun jika mendapat pertanyaan tentang suatu permasalahan masyarakat, beliau tidak menjawabnya terburu-buru, sebelum datang wahyu kepadanya yang menerangkan permasalahan itu. Setelah turun wahyu kepada beliau, barulah menyampaikannya kepada masyarakat. Jika wahyu tidak turun maka beliaupun memutuskan menurut pendapatnya, namun tetap di bawah kontrol wahyu. Jika pendapat Nabi tersalah, maka akan turun wahyu yang akan mengoreksi pendapatnya, seperti kasus ketika beliau mengharamkan madu untuk dirinya demi menyenangkan istri-istri beliau, maka turunlah ayat : Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah telah halalkan bagimu karena kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu ?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Tahrim : 1)91 Ataupun kasus ketika Rasulullah memutuskan untuk menerima tebusan dari tawanan perang Badr, beliau ditegur Allah : Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS, al-Anfal : 67)92 Demikian pula halnya, Allah SWT melalui wahyu-Nya kepada Nabi seringkali mengomentari kejadian-kejadian yang timbul di masyarakat masa itu. Apakah membenarkan suatu kejadian, mengkoreksinya ataupun membuat peraturan-peraturan baru. Sebagai contoh adalah kasus perkawinan Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah dengan Zainab al-Zahsy, Allah SWT mengomentarinya : Dan ingatlah ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu juga telah memberi nikmat kepadanya :”Tahanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah”. sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang mukmin untuk mengawini istri-istri anak angkat mereka,

Suyuthi,op.cit. II/345, Naisabury,op.cit. hlm.274 Suyuthi,op.cit. I/160, Naisabury, op.cit. hlm. 136-137

apabila anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya dari istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. ( QS. al-Ahzab : 37)93 Ataupun kasus wanita-wanita beriman dari Makkah yang berhijrah ke Madinah, Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu wanita-wanita beriman, maka hendaklah kamu uji keimanan mereka, Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tidak halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tidak halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkan-Nya di antara kamu. dan Allah maha Mengetahui dan maha Bijaksana.(QS,al-Mumtahanah : 10)94 Dan masih banyak lagi kasus-kasus sejenis, di mana Allah mengomentari dan memberikan pelajaran kepada masyarakat saat itu tentang yang terbaik bagi mereka. Karena dekatnya hubungan antara langit dan bumi pada masa itu, masyarakat Islam sangat berhati-hati dalam melaksanakan kehidupan mereka karena takut mendapat teguran langsung dari Allah yang akan diabadikan kisahnya di dalam al-Qur’an dan dampaknya mereka berlomba-lomba melakukan kebajikan agar mendapat tempat disisi Allah. Dari beberapa kenyataan di atas, maka jelaslah bahwa pada masa ini sumber segala tingkah laku masyarakat hanya bersumber dari wahyu Allah semata yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad saw. Segala bentuk pemikiran, amalan, peraturan dan lainnya bersumber langsung dari Allah SWT. Jika masyarakat berbuat sesuai kehendak Allah, akan turun wahyu yang membenarkannya atau akan didiamkan berjalan apa adanya. Namun jika bertentangan dengan kehendak Allah, akan turun wahyu mengenainya yang akan meluruskannya. Seakan-akan seluruh aspek kehidupan manusia di zaman ini tidak terlepas sedikitpun dari wahyu Allah, dan Allahpun senantiasa menyeru masyarakat agar mengikuti wahyu yang diturunkan-Nya, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an:
Suyuthi,op.cit. II/261. Suyuthi, op.cit,II/333. Naisabury,op.cit. hlm.241

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pimpinan-pimpinan selain-Nya. (QS, al-A’raf : 3) Demikian pula halnya ketika Rasulullah melihat Umar bin Khattab memegang lembaran Taurat, beliau bersabda : ”Demi Allah, seandainya Nabi Musa hidup dikalangan kamu sekarang, ia mesti mengikuti apa yang aku bawa” (HR. al-Hafidz Abu Ya’la dari Jabir). Aplikasi Manhaj Nubuwwah Masa Kini Dari beberapa penjelesan di atas, maka tidak diragukan bagi seorang Muslim agar mereka menerapkan Manhaj Nubuwwah dalam seluruh aspek kehidupan mereka kapan dan dimanapun, karena hanya jalan ini yang dapat menghantarkan mereka menuju kemenangan, baik dunia maupun akhirat kelak. Bahkan lebih jauh penerapan Manhaj Nubuwwah (metode Nabawi) adalah perintah agama yang wajib dilaksanakan, sebagaimana wajibnya menjalankan syari’at Islam, karena ayat yang membicarakan masalah manhaj (metode) ini bersamaan dengan syari’at. Bagi mereka yang mengganggap dirinya kaum modern atau yang sudah terbius oleh pemikiran sesat Barat, pasti akan menolak pendapat ini dengan alasan mana mungkin metode yang diturunkan untuk masyarakat terbelakang, masyarakat onta jahili lima belas abad lalu dapat diaplikasikan di tengah-tengah dunia modern, abad informasi yang telah mengalami kemajuan pengetahuan dan teknologi ini. Karena mereka beranggapan bahwa metode yang dibawa alQur’an hanya sesuai untuk sekumpulan masyarat Badui terbelakang seperti zaman Rasulullah dan tidak mungkin mampu menjawab tantangan zaman yang serba komplek ini. Pemikiran-pemikiran sesat seperti ini perlu diluruskan. Bahwa al-Qur’an dengan perbendaharaan Ilahiyah yang terkandung di dalamnya, baik syari’at, manhaj, peradaban, moral, qishah, hukum dan lainnya diturunkan Allah, Sang Pencipta Manusia, Yang Maha Mengetahui dengan pasti segala karakteristik manusia yang diciptakan-Nya, baik dahulu, sekarang dan yang akan datang. Sementara manusia, sepanjang sejarahnya adalah sama karakteristiknya, manusia yang dianugrahi hati, nafsu dan aqal, yang berbeda adalah pengetahuan dan peradabana serta produk keduanya, tergantung dari kemajuan yang diperolehnya. Maka yang dibentuk al-Qur’an adalah karakteristik manusia, agar mereka menjadi manusia-manusia unggul, sepanjang masa, baik dahulu, sekarang dan akan datang, unggul dalam spiritualitas maupun intelektualitasnya. Manusia-manusia unggul inilah, yang dengan pengetahuan

yang diperolehnya akan membangun peradaban baru dunia berdasarkan ajaran Islam. Maka dengan demikian, al-Qur’an bukan hanya sebuah khazanah intelektual belaka, namun al-Qur’an dengan manhajnya menghendaki para pemeluknya agar melaksanakan, mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupannya sehari-hari sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan Para Shohabat, sehingga mereka menjadi al-Qur’an yang hidup dan berjalan. Jadi al-Qur’an bukan hanya menjadi bahan bacaan ataupun diskusi saja, namun lebih jauh dari itu, al-Qur’an menjadi pengamalan sehari-hari. Dengan mengamalkan al-Qur’an sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya, maka tidak diragukan lagi akan terbentuk manusia unggul, dan manusia unggul ini akan membentuk keluarga unggul yang akhirnya akan menjadi masyarakat unggul yang melaksanakan alQur’an. Manhaj Nubuwwah yang telah diterapkan Rasulullah dalam membangun masyarakat Islam pertama dapat diterapkan dimana dan kapanpun. Karena alQur’an diturunkan Allah dengan bahasa yang mudah agar dapat dimengerti oleh manusia dan dapat dilaksanakan. Demikian pula kandungan ajarannya dengan tahapan-tahapannya diatur sedemikian mudahnya agar dapat meresap dalam diri manusia. Pada hakikatnya, sebagaimana ditegaskan al-Qur’an sendiri bahwa ia diturunkan dengan ringan dan mudah agar dapat dilaksanakan pengikutnya. Yang menjadikannya susah dan rumit adalah ketika dibahas, diterjemahkan, ditafsirkan dan sejenisnya dengan berbagai pendekatan peradaban manusia, sebagaimana yang dilakukan para cendekiawan muslim abad pertengahan. Bahkan akhirnya maksud utama al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang mudah, terlupakan akibat keasyikan membahas kandungan khazanah peradaban di dalamnya. Padahal yang utama adalah bagaimana agar al-Qur’an menjadi pedoman hidup lebih dahulu, setelah berurat berakar dalam diri seseorang, maka secara otomatis al-Qur’an dengan perbendaharaan Ilahiyahnya akan memberikan khazanah intelektualitas kepada para pengamalnya sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dengan hidupnya al-Qur’an dalam diri seseorang, maka ia akan menjadi penggerak utama yang akan mengarahkannya menjadi manusia unggul dalam arti sebenarnya. Karena al-Qur’an dengan seluruh doktrinya sangat anti dengan keterbelakangan, kebodohon, ketertinggalan dan sejenisnya. Bahkan lebih jauh doktrin al-Qur’an memerintahkan pengikutnya agar menguasai dan menakluki alam raya, dan manusia tidak mungkin sebagai penakluk tanpa adanya “sulthon” atau power, baik berupa pengetahuan, teknologi dan produk peradaban lainnya. Generasi Islam awal adalah contoh terbaik masalah ini. Dengan semangat yang diberikan

al-Qur’an, mereka menjadi manusia-manusia agung yang menjadi mata rantai peradaban dunia. Namun masalahnya, bagaimana cara mengaplikasikan manhaj ini ditengah kebingungan dan kerancuan kaum muslimin masa ini dengan berbagai bentuk produk pemikiran mereka dengan segala pendekatannya ? Akankah kaum muslimin membentuk masyarakat terasing yang menjauhkan diri dengan peradaban modern lalu kemudian menerapkan al-Qur’an sehingga terbentuklah masyarakat Qur’ani sebagaimana yang telah dilakukan sebagaian jama’ah Islam ? Apakah cara-cara seperti ini efektif dalam membangkitkan kaum muslimin yang bercita-cita sebagai pemimpin peradaban baru dunia ? Bukankan beberapa eksperimen yang dilakukan gerakan Islam yang memisahkan diri dengan dunia modern dan produknya mendatangkan banyak mudharat bagi mereka ? Dan beberapa pertanyaan-pertanyaan kunci lainnya yang senantiasa diajukan mereka yang apatis dengan pendapat ini. Rasulullah, dengan manhaj Qur’ani yang dibawanya, tetap berinteraksi dengan masyarakat jahili Makkah, bahkan mereka dijadikan sebagai kelompok sasaran dakwah dan penerapan al-Qur’an. Dalam manhaj ini, harus dimulai dengan sekelompok muslim yang sadar, yang menggantikan peranan Rasulullah sebagai penterjemah al-Qur’an dalam dunia mereka. Kelompok ini, sebagaimana Rasulullah, membina diri dengan ajaran-ajaran mulia al-Qur’an dengan kata lainnya menjadikan diri mereka sebagai al-Qur’an yang hidup dan berjalan, kemudian tidak meninggalkan masyarakat jahili, namun berinteraksi dengannya, membuktikan diri bahwa semangat al-Qur’an dengan perbendaharaan Ilahiyahnya mampu merubah manusia yang jahil menjadi manusia unggul. Pribadi-pribadi contoh inilah yang terus diperbanyak jumlahnya agar mereka dapat menjadi kelompok baru yang menentukan. Dengan berkembangnya teknologi informasi, semangat Qur’ani ini dapat disebarkan dengan mudah ke seluruh penjuru dunia, misalnya menggunakan teknologi internet dan sejenisnya. Maka dengan demikian, difinisi masyarakat bukan hanya terbatas dalam sebuah lingkungan tempat saja sebagaimana difahami selama ini, namun dengan perkembangan teknologi yang memudahkan interaksi mereka kapanpun, masyarakat Qur’ani yang bercita-cita menegakkan ajaran-ajaran universal Qur’ani dapat berada di mana saja dibelahan bumi ini, tanpa harus berkumpul dalam sebuah lingkungan. Namun yang terpenting mereka memiliki kesamaan pemahaman, cita-cita dan tujuan sebagai masyarakat Qur’ani. Pribadi-pribadi pelopor ini dibina berdasarkan materi-materi al-Qur’an, sesuai dengan tingkat pemahaman dan keimanannya, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Penanaman aqidah dan keimanan dan pelaksanaan ibadah adalah

yang utama. Adapun keinginan mereka untuk mengislamisasikan pengetahuan dan teknologi dapat dilaksanakan setelah mereka benar-benar yakin dengan kadar keislaman mereka sendiri. Yang perlu dipertegas disini, bahwa manhaj Nabawi menuntut pengamalan seseorang terhadap nilai-nilai al-Qur’an dan bukan hanya pengetahuannya saja. Apalah artinya mengetahui ajaran Islam dengan seluruh detilnya yang rumit, namun tidak diamalkan sebagai petunjuk hidup, seperti yang dilakukan para orientalis Barat yang hanya meneliti Islam hanya sebagai sebuah khazanah intelektual belaka. Dengan diterapkan ajaran-ajaran al-Qur’an yang mudah tersebut dalam kehidupan nyata sesuai dengan susunannya, maka tidak diragukan lagi akan lahir generasi Qur’ani yang akan menjadi pelopor kebangkitan Islam sebagaimana yang dicita-cita kaum muslimin. Dan hanya dengan manhaj inilah Islam dan pengikutnya dapap bangkit kembali sebagaimana telah dibuktikan Rasulullah dan para shahabatnya, dan bukan dengan cara-cara selainnya, apapun bentuk dan namanya, yang akhirnya akan senantiasa menimbulkan kerancuan demi kerancuan pada generasi Islam yang sudah terbelakang ini. Hanya manhaj Nabawi yang terkandung dalam al-Qur’an saja yang dapat melahirkan manusia agung yang akan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam……

IV. JIHAD FI SABILILLAH
A. Pendahuluan Ada sebagian orang yang salah pengertian, bahkan beranggapan buruk terhadap jihad yang diserukan Islam sebagai salah satu fondamen utama ajarannya. Jika terdengar olehnya perkataan jihad langsung terbayang dibenaknya gambaran tentang tentara bersorban dengan jenggot panjang yang memanggul senjata lengkap, bermuka garang, bertampang teroris ekstrimis yang siap membunuh semua orang yang dikatakannya kafir, musyrik ataupun musuh yang harus dibantai. Kemudian dengan suara lantang mereka mengobarkan perang suci melawan musuh-musuh mereka, terjadilah peperangan, membunuh atau terbunuh, membantai manusia dengan sadis. Meruntuhkan bangunan, merusak tanaman dan pohon, membinasakan binatang ternak, membakar sawah ladang dan kehancuran peradaban yang telah dibina. Akhirnya terjadilah kemusnahan, kehancuran, kekacauan, darah mengalir, jerit tangis anak-anak kehilangan ayah, istri-istri kehilangan suami, ibu-ibu kehilangan anak. Menawan dan memperbudak yang lemah dan kalah, merampas semua harta benda dan kemerdekaannya. Memaksakan kehendaknya dengan senjata yang siap mencabut nyawa. Anggapannya terus berlanjut di hiasi beraneka ragam kebengisan dan kesadisan. Pada akhirnya, orang yang salah pengertian dan beranggapan buruk ini, mengambil kesimpulan jihad adalah ajaran bengis, sadistis dan merusak, ajaran Arab Badui tidak beradab yang dikekalkan Islam. Dan ia mengakhiri segala anggapan sesatnya dengan ucapan : “ Islam disiarkan dengan pedang, paksaan dan ancaman tentera-tentera Badui kejam yang tidak bermoral

“. dan mereka mulai menyerukan anggapan sesatnya ke seluruh dunia dengan suara sekeras-kerasnya. Bila perlu menjadikan seluruh manusia benci terhadap jihad yang berarti benci terhadap Islam, yang menurut mereka sebagai ajaran yang menimbulkan fanatisme, ekstriminisme, radikalisme, fundamenlisme dan seribu satu ajaran sesat sejenisnya yang tidak berdasar. Bahkan ada dikalangan kaum muslimin yang terpengaruh dengan seruan sesat para penyeru ini, yang hakikatnya adalah musuh-musuh Islam, sehingga mereka sanggup menapikan atau meninggalkan ajaran jihad yang telah disyareatkan Islam dan menjadi fondamen ajarannya. Mereka telah menyelewengkan pengertian jihad sehingga Islam hanya menjadi ajaran yang statis, jumud dan terbelakang.95 Disamping itu ada pula yang beranggapan jihad adalah menjauhi dunia dengan segala kenikmatannya, mengekang kehendak hawa nafsu, pergi beruzlah ke hutan dan gunung mencari ketenangan hidup di kesunyian. Pergi berjalan dari satu tempat ke tempat lain dengan tiada tujuan yang jelas. Meniru bentuk kehidupan para rahib dan petapa yang anti segala bentuk perhiasan dunia. Akhirnya ia berkesimpulan jihad melawan hawa nafsu adalah jihad besar, sementara memerangi musuh-musuh Allah yang memerangi dan menghancurkan Islam dan ummatnya dengan berbagai cara adalah jihad kecil, dengan pengertiannya ini kemudian ia menyatakan : Islam agama damai yang tidak pernah mengajarkan permusuhan, perkelahian apalagi peperangan !!!. Akibat pemahaman salah ini musuh-musuh Islam semakin berani dan agresif dalam memerangi Islam dan pengikutnya, akhirnya kaum Muslimin hanya menerima pembantaian-pembantaian tanpa perlawanan sehingga mereka menjadi terhina dan terbelakang.96 Jihad tidak selamanya tepat jika diartikan hanya sebatas perang bersenjata sahaja, demikian pula tidak tepatnya jika diartikan hanya melawan hawa nafsu sahaja. Jika jihad diartikan sebatas ini saja, maka jelas hal ini mempersempit ajaran yang terkandung padanya dan menghilangkan hakikat mulia dan suci yang terkandung didalamnya. B. Pengertian Jihad Untuk memahami pengertian jihad secara mendalam dan agar sesuai dengan kehendak dan perintah disyari’atkannya, maka perlu dikaji dari pengertiannya menurut bahasa Arab, al-Qur’an, al-Sunnah dan juga pendapat para Ulama dan Cendikiawan Islam.
What Is Islam ?,Islam, Islam, The Life of Mahomet, Ayat al-Jihad fi alQur’an al-Karim, The Mystics of Islam,Al-Ta’aruf li Madzabi Ahl al-Tashawwuf, The Sufi Orders in Islam, Tasawwuf dan Perkembangannya Dalam Islam,

a. Pengertian Jihad Menurut Bahasa Arab Untuk memastikan pengertian jihad dari segi bahasa, berasal dari rumpun kata mana atau berasal dari bahasa mana, perlu diadakan pengkajian. Dalam hal ini , Shaikh Dzakir al- Qasimy menulis : Tidak diragukan lagi, sesungguhnya perkataan jihad adalah perkataan / peristilahan Islami yang khusus digunakan setelah kedatangan Islam dan belum dikenal pada masa jahiliyah. Perkataan ini tidak terdapat dalam syair-syair jahiliyah (Arab kuno), baik yang lampau ataupun yang baru, baik yang semakna ataupun yang menyerupainya. Maka dengan demikian tidak diragukan lagi bahwasanya perkataan jihad adalah perkataan yang berhubungan dengan urusan diny (agama). Datang bersamaan dengan datangnya Islam, sebagaimana perkataan sholat, Zakat dan lainlainnya yang tidak terdapat dalam perkataan jahiliyah. Hanya dikhususkan untuk peristilahan dalam Islam dengan makna / pengertian yang khusus pula, tidak serupa dengan makna kalimat lainnya.97 Jika ditelah daripada akar katanya menurut bahasa Arab, maka jihad berasal dari akar kata jahada – yajhadu – jahdan / juhdan, yang diartikan sebagai al-Toqoh, alMashaqqah dan mubalaqah yaitu kesungguhan, kekuataan dan kelapangan. Adapun jihad berkedudukan sebagai masdar (kata benda) daripada jahada, yaitu bab faa’ala daripada jahada diatas dan diartikan sebagai : berusaha menghabiskan segala daya kekuatan baik berupa perkataan dan perbuatan.98 Dari segi bahasa Arab, secara garis besarnya, jihad dapat pula diartikan sebagai : penyeruan (al-dakwah) , menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kemungkaran (amar makruf nahi mungkar), penyerangan (ghozwah), pembunuhan (qital), peperangan (harb), penaklukan (siyar), menahan hawa nafsu (jihad al-Nafs) dan lain yang semakna dengannya ataupun mendekati.99 Namun demikian, jihad tidaklah identik hanya dengan satu pengertian saja. Misalnya jihad hanya diartikan sebagai peperangan bersenjata saja, tidak ada makna lain, ataupun hanya menahan hawa nafsu saja. Jelas ini menyempitkan makna suci dan luas yang terkandung dalam jihad. Jadi jelas jihad tidaklah identik hanya dengan satu pengertian saja.100 Untuk lebih menjelaskan permasalahan ini, akan diibaratkan dengan perkataan Arab Islami, seperti sholat. Didalam al-Qur’an ataupun al-Hadist , sholat diartikan dengan perkataan qiyam (berdiri), misalnya dalam menyebut qiyamulAl-Jihad wa al-Huquq al-Dauliyah al-Ammah fi al-Islam, Lisan al-Arab, Al-Jihad Sabiluna, op.cit.

lail (sholat malam). Disamping itu shalat juga diartikan sebagai ruku’, sujud, du’a, dzikir dan lainnya. Dengan pengertian ini, jika ada yang mengatakan sholat adalah identik dengan qiyam (berdiri) saja, maka jelaslah ia salah dalam hal ini, dan akan ditertawakan anak kecil. Karena semua orang tahu, bahwa berdiri (qiyam), adalah salah satu syarat/cara dalam sholat dan sholat bukan hanya berdiri. Maka dari pengertian dan pemahaman tersebut, jihad adalah kata-kata Islami yang mengandung pengertian luas, dapat diartikan sebagai perang, dakwah dan sejenisnya dan tidak tepat jika hanya diartikan dengan salah satu pengertian saja, sebagaimana diterangkan diatas. Dalam bahasa Indonesia/Melayu, perkataan yang hampir menyamai perkataan jihad adalah kata perjuangan karena sifatnya yang umum dan mengandung pengertian yang luas, seluas pengertian dan keumuman makna jihad. b. Pengertian Jihad Menurut al-Qur’an Kata jihad di dalam al-Qur’an mengandung beberapa pengertian menurut urutan turunnya ayat. Ada yang berarti penyeruan (dakwah), pemaksaan, peperangan dan lainnya. Diantaranya ada yang menggunakan fi sabilillah dan tidak. Untuk lebih memperjelas pengertiannya, disini akan dikemukakan beberapa contoh. 1. Surat al-Furqon ayat 52. Maka janganlah kamu mengikuti kaum kafir dan berjihadlah dengan mereka menggunakan ini (al-Qur’an) sebesar-besar jihad… Sehubungan pengertian ini, Ibnu Qayyim menulis : Dan tidak diragukan lagi bahwa perintah jihad mutlak datang selepas hijrah. Adapun jihad hujjah (jihad keterangan) diperintahkan-Nnya di Mekkah dengan firman-Nya : Maka janganlah kamu mengikuti kaum kafir dan berjihadlah dengan mereka menggunakan ini (al-Qur’an) sebesar-besar jihad. Inilah surat makiyah, dan jihad didalamnya adalah jihad tabligh dan jihad hujjah .101 Maka jelaslah arti jihad pada ayat ini adalah menyampaikan hujjah kepada orang-orang yang ingkar, ataupun berdiskusi dengannya menggunakan dalildalil pasti yang akan membuat mereka yakin dengan kebenaran Islam. Jihad dalam pengertian ini semakna dengan perkataan dakwah atau seruan ke jalan Islam. 2. Surat al- Ankabut ayat 69

Zaad al-Maad,

Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhoan Kami, niscaya benar-nenar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Perkataan jihad pada ayat diatas mengandung pengertian bersungguh-sungguh melaksanakannya dengan penuh ketabahan dan kesabaran untuk mendapatkan ridho Allah di jalan-Nya. 3. Surat al-Ankabut ayat 8 Dan jika mereka berdua berjihad kepadamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan mu tentangnya, maka janganlah kamu mentaati keduanya. Perkataan jihad pada ayat diatas mengandungi pengertian memaksa dengan penuh kesungguhan untuk mengikutinya ataupun memerintahkan dengan paksa yang sungguh-sungguh. 4. Surat al-Ankabut ayat 6 Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya ia hanyalah berjihad untuk dirinya. Perkataan jihad pada ayat diatas bermaksud bekerja keras, mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada padanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. 5. Surat al- Taubah ayat 41 Berangkatlah baik dalam keadaan ringan ataupun berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu dijalan Allah, karena yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Perkataan jihad dalam ayat di atas mengandung pengertian peperangan, yaitu memerangi orang-orang ingkar dengan menggunakan senjata agar mereka takhluk dibawah kekuasaan Islam. Arti jihad seperti pada ayat inilah yang selalu diartikan kebanyakan orang untuk kata jihad. Dari beberapa ayat diatas, maka jelaslah bahwa di dalam al-Qur’an jihad tidak hanya digunakan untuk satu pengertian sahaja, namun digunakan untuk

beberapa pengertian yang mengandung makna sebagai tabligh, dakwah, pemaksaan, kesungguhan ataupun peperangan. Disamping itu ada pula ulama yang berpendapat : Jika jihad menggunakan tambahan kalimat fi sabilillah sesudahnya maka ia tidak mengandung pengertian lain kecuali berperang menggunakan senjata. Namun jika tidak menggunakan kalimat fi sabilillah setelahnya dapat diartikan selain daripada berperang, baik sebagai dakwah ataupun menahan hawa nafsu.102 c. Pengertian Jihad Menurut al-Sunnah Di dalam hadits-haditsnya, Rasulullah SAW juga menggunakan beberapa pengertian terhadap jihad , diantaranya : 1. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Mas’ud. Tiada seorang Nabipun yang di utus Allah pada umat sebelumku kecuali ada pada mereka diantara umatnya orang-orang Hawary (pengikut setia) dan sahabat-sahabat yang mengambil sunnahnya dan berpegang teguh pada perintahnya, kemudian datanglah sesudah mereka beberapa generasi yang mengatakan apa yang mereka tidak lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad atas mereka dengan tangannya maka ia adalah orang mukmin dan barang siapa yang berjihad atas mereka dengan lisannya maka ia adalah orang mukmin dan barang siapa yang berjihad diatas mereka dengan hatinya maka ia adalah orang mukmin. Dan tidak ada selain itu daripada iman sebesar biji sawipun. Jihad menggunakan tangan maksudnya adalah peperangan menggunakan senjata, jihad menggunakan lisan maksudnya adalah seruan dan peringatan (dakwah), sedangkan jihad menggunakan hati maksudnya berdiam diri karena tidak mampu merubahnya. 2. Hadits yang diriwayatkan Bukhori-Muslim daripada Ibnu Abbas. Tidak ada hijrah sesudah futuh (kemenangan) Makkah, kecuali jihad dan niyat . Jihad dalam hadit ini berarti peperangan melawan musuh-musuh. 3. Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmizy dari Abu Said al-Khudri.
Muqaddimah, Zaad al-ma’ad,

Seutama-utama jihad adalah mengatakan kalimat hak dihadapan penguasa kejam yang mungkar. Jihad dalam hadits tersebut mengandung pengertian seruan dan peringatan dengan ajaran Islam agar mereka kembali kepada Islam dan meninggalkan kemungkaran. 4. Hadith yang diriwayatkan Bukhori- Muslim dari Abdullah bin Umar. Telah datang seorang pemuda kepada Rasulullah SAW untuk minta izin agar diperbolehkan ikut berjihad, maka Rasulullah bersabda : Apakah kedua orang tuamu masih hidup ? Pemuda tadi menjawab : ya, maka Rasulullah SAW bersabda : Tetaplah kamu kepada keduanya dan berjihadlah pada mereka. 5. Hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Aishah RA. Aishah bertanya kepada Rasulullah SAW adakah kewajiban atas wanita untuk berjihad. Rasulullah SAW bersabda : ya, Jihad untuk wanita bukannya peperangan menghadapi musuh, tetapi haji dan umrah. 6. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ghozali daripada Abu Dzar al-Ghifari Telah berkata Abu Bakar ra : Ya Rasulullah, adakah jihad selain membunuh orang Musyrik ? Rasulullah menjawab : Benar wahai Abu Bakar. Sesungguhnya bagi Allah Ta’ala ada mujahid-mujahid ( pejuang-pejuang ) di bumi yang lebih utama daripada orang mati syahid. Mereka hidup mendapat rizki berjalan dibumi. Allah membanggakan mereka kepada para malaikat-Nya di langit dan di syurga dihias untuk mereka seperti berhiasnya Ummu Salamah kepada Rasulullah SAW. Maka berkata Abu Bakar : Siapakah mereka ?. Nabi SAW menjawab : Mereka adalah orang yang menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran dan orang yang cinta karena Allah dan benci karena Allah… Jihad disini diartikan sebagai amar makruf nahi mungkar, yaitu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Dengan demikian, menurut beberapa hadits diatas, jelas menunjukkan bahwa jihad tidak selamanya tepat diartikan sebatas satu pengertian seperti peperangan

bersenjata saja, namun meliputi segala bentuk kebajikan yang diridhoi Allah seperti disebutkan beberapa hadits di atas. d. Pengertian Jihad Menurut Para Ulama dan Cendekiawan Muslim Para Ulama dan Intelektual Islam mempunyai beberapa pendapat dalam mengartikan Jihad, diantaranya ; 1. Imam Mazhab yang empat berpendapat : Jihad adalah berperang menggunakan senjata dan membantu orang-orang yang berperang.103 2. Ibnu Rush berpendapat : Maka sesungguhnya kalimat jihad fi sabilillah jika digunakan maka tidak ada makna lain yang tepat, kecuali berjihad terhadap orang-orang kafir dengan pedang sehingga mereka memeluk Islam atau mereka membayar jizyah (pajak) dengan tangan-tangan mereka sedang mereka adalah hina.104 3. Ibn. Jarir menulis : Jihad menurut bahasa berarti bersusah-susah, sedangkan menurut syara’ mengandung pengertian : berpayah-payah mengeluarkan kemampuan dalam memerangi orang-orang yang ingkar.105 4. Ibn. Human dan al- Bajury menulis : Jihad bermakna berperang di jalan Allah.106 5. Ibn. Manzur menulis : Jihad adalah berusaha dan menghabiskan segala daya kekuatan secara maksimal, baik berupa perkataan ataupun perbuatan.107 6. Ulama Hanafiah dalam Majmu’ al-Anhar : Jihad menurut bahasa adalah menggunakan sesuatu secara maksimal baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sedangkan menurut Syara’ adalah memerangi orang-orang kafir, memenggal kepala mereka, mengambil

Ibara wa Bashair, Muqaddimah, Fath al-Bari’, Fath al-Qadir, Tafsir al-Bajury, Lisan al-Arab,

harta mereka dan meruntuhkan tempat ibadah serta sesembahan mereka guna menegakkan Islam.108 7. Ibn. Taimiyyah menulis : Jihad itu hakikatnya ialah berusaha bersungguh-sungguh untuk menghasilkan sesuatu yang diridhoi Allah daripada keimanan, amal saleh dan menolak sesuatu yang dimurkai Allah dari kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.109 8. al- Sharbiny menulis : Jihad adalah peperangan di jalan Allah dengan hukum-hukum yang bersangkut paut diantara hukumnya.110 9. Abul A’la al-Maududi menulis : Pengertian jihad yang mendekati kebenaran adalah mencetuskan kekerasan daya upaya seseorang dalam mewujudkan suatu niyat.111 10. Abul Hasan al- Nadwi menulis : Jihad berarti mencurahkan seluruh daya upaya dalam batas-batas maksimal di dalam mengejar tujuan pokok dan terpenting.112 11. Sayyid Sabiq menulis : Jihad berasal dari kata al-juhd yaitu upaya dan kesusahan. Artinya meluangkan segala dan berupaya sekuat tenaga serta menanggung segala kesusahan di dalam memerangi musuh dan menahan serangannya.113 12. Munawar Khalil menulis : Jihad ialah bersungguh-sungguh mencurahkan segenap kekuataan untuk membinasakan orang-orang kafir, termasuk juga berjihad melawan hawa nafsu dan terhadap syaiton dan pendurhaka.114

Risalah Jihad, Majmu’ al-Fatawa, al-Iqna’, Syari’at Islam fi al-Jihad, Mazha Khosiral al-Alami.., Fiqh al-Sunnah, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad,

e. Pembahasan Pengertian Jihad Menurut pengertian-pengertian di atas, baik menurut pengertian dari bahasa Arab, al-Qur’an, al-Sunnah dan pendapat para Ulama dan cendikiawan Muslim, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian jihad pada dasarnya adalah pengerahan maksimal seluruh daya upaya seseorang secara bersungguh-sungguh untuk menghancurkan dan mencegah timbulnya segala bentuk kesesatan, kemungkaran ataupun kezaliman yang di buat oleh musuh-musuh yang berwujud manusia-manusia ingkar, syaithan yang menyesatkan maupun hawa nafsu. Pelaksanaannya boleh jadi berbentuk penahanan hawa nafsu berbuat maksiat, peringatan-peringatan kepada manusia, mengeluarkan harta benda, memberikan fasilitas-fasilitas keperluan mujahiddin bahkan sampai kepada peperangan menggunakan persenjataan jika hal ini merupakan alternatif terbaik untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan Islam, yaitu tertegaknya keadilan, kedamaian dan kemakmuran bagi umat manusia. Karena Islam diturunkan sebagai rahmat kepada seluruh umat manusia. Jika untuk menyebarkan rahmat yang akan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kehancuran diperlukan peperangan bersenjata sebagai jalan terbaik, maka tidak ada alasan untuk menolak jalan ini, yang memang diperintahkan pelaksanaannya jika sudah terpenuhi syaratnya. Anggapan jihad sebagai perang suci adalah benar, sebagaimana diketahui salah satu arti jihad adalah peperangan tadi. Kenapa pengertian jihad sebagai peperangan menggunakan senjata senantiasa menimbulkan kontraversi, menimbulkan ketakutan dan kecemasan bahkan pengertian ini banyak ditolak terutama oleh mereka yang beraliran moderat. Apakah pengertian ini telah menimbulkan kerusakan dan kehancuran di muka bumi ? Bahkan fakta sejarah menyatakan lain. Sekiranya Rasulullah dan para Shahabatnya tidak melaksanakan perintah jihad dalam artian perang bersenjata ini ketika peperangan Badar dengan kafir dan musyrikin Makkah saat itu, mungkin agama Islam tidak akan berkembang pesat ke seluruh dunia. Semangat jihad memerangi kaum yang sesat inilah yang telah menjadikan Islam tersebar dan sekaligus membangun peradaban baru dunia yang menjadi mata rantai peradaban klasik Yunani dengan peradaban Barat modern saat ini. Semangat inilah yang telah menjadikan mereka sebagai penguasa-penguasa yang membangun dunia baru berdasarkan Islam. Peperanganlah yang telah membuat Eropa bangkit menjadi manusia modern, terutama perang Salib. Dan kaum Muslimin mengalami kemunduran dan keterbelakangan juga tidak lain akibat mereka telah meninggalkan pengertian jihad ini, yang akhirnya mereka dihancurkan oleh tentara-tentara Barbar Mongol.

Sebenarnya penolakan mereka terhadap pengertian jihad sebagai perang, tidak lain adalah pengaruh pemikiran sesat musuh Islam yang telah meracuni pemikiran mereka. Karena musuh Islam sangat memahami, untuk menghancurkan Islam semangat jihad harus dibuang dari jiwa kaum Muslimin agar mereka mudah dikuasai. Mereka memahami benar bahwa jihad, terutama dalam pengertiannya sebagai peperangan melawan musuh adalah kekuatan dahsyat yang akan menghalangi mereka menaklukkan kaum Muslimin. Namun jika kaum Muslimin sudah hilang keinginannya untuk berperang akibat kesalahfahaman mereka terhadap pengertian jihad kemudian disibukkan dengan urusan kerohanian, intelektual dan sejenisnya, maka akan mudah dikuasai, dijajah ataupun dieksploitasi namun sebaliknya jika kaum Muslimin tetap memiliki keinginan berperang yang dilandasi semangat jihad, tidak mudah untuk menguasai mereka, walaupun mereka memiliki fasilitas persenjataan yang lemah. Para Mujahidin Afghanistan telah membuktikan teori ini. Dengan semangat jihad dan didukung persenjataan seadanya, mereka mampu mengalahkan kekuatan tentara komonis pemerintah Afghanistan yang dibantu tentara Uni Sovyet yang memiliki senjata canggih, setelah mengusir mereka dari bumi Afghanistan, semangat jihad para mujahidin dengan segala pengorbanannya menjadi mukjizat yang telah meruntuhkan Super Power Uni Sovyet menjadi beberapa negara, dan diantaranya menjadi negara mayoritas Muslim. Secara logikapun pengertian jihad sebagai perang bersenjata dapat difahami dengan mudah oleh mereka yang berfikir. Jika musuh merencanakan untuk menguasai negara dan perbendaharaannya, ingin menjajah bangsa serta memaksakan kehendaknya yang bertentangan dengan ajaran agama, kemudian mereka menyerang menggunakan senjata lengkap, adalah tidak logis jika dihadapi dengan berdiam diri, dengan tangan kosong ataupun hanya dengan berdoa tanpa adanya usaha bersungguh-sungguh melawannya dengan senjata lengkap pula, mungkinkah musuh dapat dikalahkan hanya dengan berpangku tangan dan berdoa ? Apakah demikian yang diajarkan Islam kepada ummatnya untuk mencapai kejayaan ? Islam sebagai agama langit yang terlengkap dan terakhir serta memiliki ajaran yang dinamis sangat menekankan kepada pemeluknya agar memperhatikan persoalan jihad yang berhubungan dengan perang bersenjata, kemiliteran ataupun sejenisnya. Bahkan dapat dikatakan sebagian besar maksud jihad di dalam alQur’an, terutama yang menggunakan fi sabilillah sesudahnya, berorientasi pada peperangan menggunakan senjata atau kemiliteran. Ini tidak lain karena kemiliteran ini sangat penting artinya bagi perkembangan dakwah Islamiyah. Ia berfungsi sebagai pendamping yang akan menyelamatkan dakwah dari berbagai tantangan bersenjata fihak luar dan menyingkirkan rintangan-rintangan

penghambat jalannya revolusi pembebasan umat manusia. Ajaran yang tidak didukung kekuatan militer mustahil dapat menyiarkan pesan-pesan mulianya ke seluruh pelosok dunia dengan aman dan mudah. Karena tidak semua manusia dapat menerima ajaran baru yang disampaikan kepadanya dengan tangan terbuka. Al-Qur’an telah menyebut para Nabi AS terdahulu sering kali berhadapan dengan penguasa dan pembesarnya yang mempertahankan ajaran sesat dan adat nenek moyang mereka. Bagaimana Ibrahim AS berhadapan dengan Namrud beserta kaki tangannya, bagaimana Musa AS bertanding dengan Fir’aun beserta pasukannya, dan bagaimana pula Nabi Muhammad SAW bertarung dan berperang dengan Abu Jalal dan kaum Kafir beserta anak buahnya. Dengan segala kemampuan para tiran ini akan mempertahankan kesesatannya untuk tetap menyesatkan rakyat lemah, memimpin mereka menuju jurang kehancuran dan akhirnya menyeret mereka ke neraka jahanam. Datangnya Islam, agama terakhir yang diturunkan Allah ke muka bumi sebagai rahmat umat manusia dengan ajaran sucinya untuk membebaskan dan menyelamatkan seluruh ummat manusia dari kesesatan dan dasyatnya azab jahanam. Mengangkat martabat mereka yang diperbudak sesama makhluknya dengan penuh kehinaan menjadi manusia mulia dan terhormat yang hanya menyerahkan seluruh kehidupannya kepada Allah sang Pencipta dan Penguasa Tertinggi alam. Membimbing mereka hidup sebagai Kholifah, wakil Allah dimuka bumi yang akan memimpin seluruh makhluk dengan sistem hidup yang sempurna, sesuai dengan fitrah mereka. Menganjurkan saling hormat menghormati, sayang menyayangi, bantu membantu sesamanya, menciptakan keadilan, kedamaian dan keamanan. Serta mengajarkan berbagai kebaikan lainnya. Secara moral, salahkah Islam jika menganjurkan peperangan menumpas habis kesesatan penguasa dan pengikut-pengikutnya yang menghalangi rakyat lemah (mustadh’afin) dari menganut keyakinan yang benar dan mulia ? Tidak ada alasan sama sekali untuk menyalahkan ajaran mulia Islam tersebut. Dan perlu diakui, tidak selamanya kebenaran harus disampaikan secara lemah lembut, namun kadangkala diperlukan kekerasan dan ketegasan dalam pelaksanaannya. Pada saat seperti inilah Islam memerintahkan pengikutnya untuk mengamalkan ajaran jihad, yaitu memerangi orang yang keras kepala terhadap kesalahannya dan memaksakan kesalahannya kepada orang lain. Hanya senjatalah yang dapat menghancurkan mereka yang tidak mau mendengar perkataan suci dan mulia dari Sang Maha Kebenaran. Jadi dapat dibenarkan anggapan yang menyatakan Islam disiarkan dengan kekuatan pedang dan senjata, tapi bukan dengan paksaan dan ancaman. Islam disiarkan dengan pedang dan senjata adalah sematamata untuk membebaskan mustadh’afin (kaum tertindas) dari cengkeraman para thoghut, para diktator dan para tiran serakah macam Namrud, Fir’aun, Abu

Jahal serta kaki tangan dan penerus perjuangan sesatnya. Para diktator inilah yang dihadapi dengan pedang, membersihkan bumi dari kejahatan mereka, karena mereka akan selalu mencegah mustadh'’fin mengikuti kebenaran. Banyak orang terjebak perangkap “para penegak keadilan dan hak asasi dari Barat“ yang menggambarkan jihad sinonim dengan penyerangan pasukan bersorban, berjanggut lebat, mata garang dengan senjata terhunus yang siap memenggal leher siapa saja yang menghalangi kehendaknya dengan sadis tidak kenal ampun. Dengan kepandaiannya melukis, mereka memberikan warna kepada jihad hingga menghasilkan lukisan seram, menakutkan bagaikan hantu di siang bolong. Memberikan kesan menakutkan sekaligus menjijikan bagi yang melihatnya. Kemuduan dengan tergesa-gesa ‘orang bingung’ dari kalangan kaum muslimin berusaha membela diri, termasuk memperbaiki citra jihad yang telah dilukis. Mulailah ia berhujjah : “Jihad bukanlah penyerangan (offensif). Tetapi hanya membela diri dari serangan yang dilancarkan musuh (deffensif)”. Ia melanjutkan hujjahnya dengan suara tinggi : “bagaimana jihad dapat dituduh sinonim dengan penyerangan, sedangkan Islam tidak memerintahkan pemaksaan kehendak kepada orang lain; dengan fasihnya ia berdalil, tidak ada paksaan di dalam agama (Islam) “. Dengan pembelaan sempitnya ini jihad tidak lagi bermakna sebagaimana yang dikehendaki Islam. Orang yang terjebak perangkap berbisa “para penegak keadilan dari Barat” harus sadar itu semua adalah tipu daya musuh-musuh Islam untuk melemahkan semangat jihad kaum Muslimin, mengharapkan mereka berpangku tangan menunggu serangan dengan pasif dan tidak mengadakan membebaskan ummat manusia dari cengkeraman kepalsuan dan kesesatan “para penegak keadilan dari Barat” itu dengan segala sistem hidup mereka.. Jihad Islam tidaklah seganas dan seseram yang dilukiskan “para penegak keadilan” itu. Jika kita membalik lembaran sejarah kaum Muslimin dan juga sejarah ‘para penegak keadilan’ ini barulah kita mendapat gambaran sebenarnya dari tuduhan-tuduhan palsu itu. Siapakah sebenarnya yang disebut sebagai perusak dan siapa pejuang sejati. Sejarah kemanusian telah menjadi bukti bahwa tidak ada didunia ini sejak dahulu hingga kini yang dapat menyamai moral tentara Islam periode Rasulullah dan Khulofa al-Rasyidin. Berakhlak mulia, pengasih, rela berkorban, gagah berani dan selangit pujian yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Siapakah yang tidak mengenal kehebatan pribadi-pribadi pahlawan agung seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ali Bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Kholid bin Walid, Hamzah bin Abdul Muthollib, Ammar bin Yasir, Salman al-Faris dan ribuan shohabat agung lainnya.. Mereka dibentuk satu guru, satu pembimbing, Nabi besar Muhammad SAW berpedoman wahyu Ilahi.

Mereka tidak pernah menganiaya yang tidak sepaham atau berlainan agama, menghormati hak-hak penduduk yang ditakhlukkan, memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinannya. Pola hidup mereka sangat sederhana, walaupun kantong-kantong kekayaan dunia berada dibawah telapak kaki mereka. Harta rampasan perang yang mereka peroleh digunakan untuk kemakmuran alam, menegakkan ajaran Islam ke seluruh pelosok, tidak ditimbunnya untuk kepentingan pribadi atau membangun istana mewah, hatta dia seorang kepala negara besar separti Umar bin Khattab, yang hanya menggunakan baju tambalan ketika memimpin 1/3 dunia. Yang membedakan derajat diantara mereka adalah taqwanya, bukan karena jabatan, keturunan, ataupun hartanya. Kemana mereka berjalan disambut penuh harapan dan kecintaan oleh manusiamanusia pendamba kebenaran haqiqi. Tidak mengherankan jika sepertiga bumi ini berada di bawah kendali mereka, menegakkan keadilan sesungguhnya, memberikan rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana misi yang diajarkan Islam. Ketika para pejuang agung ini berhasil membebaskan suatu bangsa dari penjajahan bangsa lainnya, dengan penuh kesadaran mereka mengajarkan peradaban dan pengetahuan yang dimilikinya kepada bangsa yang ditaklukinya tanpa membedakan ras dan warna kulit mereka. Itulah sebabnya ketika Islam berkuasa, pusat peradaban Islam bukan di Makkah ataupun Madinah, asal para pembebas ini, namun mereka membangun pusat peradaban di negeri yang ditaklukinya, baik di Bagdad, Mesir ataupun Parsi dan Andalasia bersama dengan bangsa yang telah dianggapnya sebagai saudara mereka yang sederajat. Sehingga bangsa itu menjadi besar bersama peradaban mereka. Karena Islam tidak pernah membedakan seorang karena warna kulit ataupun rasnya, yang membedakan mereka adalah kedekatannya kepada Sang Pencipta. Ajaran inilah yang telah membangun peradaban baru dunia dan akhirnya diambil alih oleh Eropa. Tapi coba kita membalik lembaran sejarah “para penegak keadilan dan hak asasi” itu yang telah menjajah dunia ketika mereka mengalami kebangkitan teknologi. Dengan teknologi yang dimilikinya, mereka berlomba-lomba dengan rakusnya menguasai bangsa-bangsa terbelakang dengan berbagai cara. Berapa banyakkah darah orang-orang lemah tertumpah untuk menyulut api keserakahan menguasai negara lain dengan alasan disana terdapat kekayaan alam, pasar-pasar baru, tanah pemukiman dan peradaban yang siap dieksploitasi. Berapa banyakkah harta haram yang mereka rampok mengalir ke negeri asalnya, yang hanya digunakan untuk membangun negerinya saja dan memperkaya para bangsawan serakah yang mengeksploitasi orang lemah yang dijajahnya. Berapa banyakkah korban kesewenang-wenangan mereka, yang telah membunuh, memaksa serta memperbodoh bangsa yang dijajahnya. Berapa banyakkah penegakpenegak keadilan sejati yang menuntut persamaan hak dibunuh. Berapa ban-

yakkan peradaban dan pengetahuan yang mereka berikan kepada generasi muda bangsa yang dijajahnya. Bahkan mereka telah menganggap bangsa jajahannya sebagai orang-orang bodoh dan tolol yang tidak pantas diberi pengetahuan, selain pengetahuan dasar yang tidak layak. Mereka hanya merampok hasil alam bangsa jajahannya, kemudian disaat yang sama digunakan untuk membangun peradaban di negeri mereka sendiri, yang akhirnya peradaban itu digunakan untuk memperkuat penjajahan mereka dan memperbodoh jajahannya, dan tidak membangun peradaban di tempat mereka mengambil harta yang berlimpah. Gambaran-gambaran menjijikan pasti terlihat ke mana kita memandang akibat perbuatan sadis ‘para penegak keadilan dan hak asasi’ yang bersemboyan Kolonialisme, Imprialisme, Liberalisme, Materialisme, Komunisme dan Sosialisme. Eropa dan negara-negara Barat yang mengklaim dirinya sebagai penegak keadilan, padahal merekalah penyulut kehancuran dunia yang berakhir dengan penderitaan ummat manusia akibat sistem hidup yang mereka ciptakan untuk mengeksploitasi bangsa lain. Mereka, penegak-penegak keadilan palsu itu, dengan tuduhan-tuduhan berbisanya seakan-akan berkata pada kaum Muslimin : “tugas suci kami adalah memerangi anda, membunuh anda, menjajah anda, bila perlu menjadikan anda binatang tunggangan kami, menjadikan anda budak-budak setia kami, ini semua hak tunggal kami, sedangkan jihad anda, wahai pengikut-pengikut Muhammad hanyalah menyeru dan mempertahankan diri !!!“. Tidak ada alasan sama sekali untuk menolak jihad dengan pengertian peperangan menggunakan perlengkapan militer ini. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang, dimana sebagian besar musuh-musuh Islam, terutama setelah munculnya gerakan Yahudi dengan Zionisme Internasionalnya atau gerakan Salibiyah Internasional yang didukung negara-negara besar telah mempersiapkan diri dengan kekuatan militer modern. Kemudian dengan kelengkapan pasilitas militer itu mereka membuat kerusakkan dimuka bumi. Membantai kaum muslimin dengan sadisnya, menghancurkan mesjid-mesjid dan bangunan Islam, mengusir kaum Muslimin dari negeri mereka, menguasai dengan paksa Palestina yang terdapat di dalamnya mesjid al-Aqsho, tempat suci dan kiblat pertama kaum muslimin. Yahudi dengan kaki tangannya dan juga musuhmusuh Islam lainnya tidak pernah mau mendengar segala bentuk seruan dan resolusi dunia terhadap kejahatannya. Selalu menghianati perjanjian yang ditanda tangani bersama. Mereka terus mengejar-ngejar dan membantai kaum Muslimin yang tidak berdaya dan tidak tahu harus mengadu kepada siapa atas penganiayaan yang mereka terima. Seakan-akan seluruh dunia bersepakan untuk membumi hanguskan apapun yang beratribut Islam dan kaum Muslimin.

Apakah untuk menghadapi musuh-musuh kejam dan sadis semacam ini, yang membantai kaum Muslimin dengan kekuatan persenjataan militer akan dihadapi dengan hujjah ? Mereka tidak mau mendengarkan dalil apapun yang kaum Muslimin kemukakan. Apakah cukup mereka dihadapi dengan rintihan dan doa saja? Sementara mereka, musuh-musuh Allah itu terus menjalankan aksinya memusnahkan Islam dan ummatnya dengan berbagai cara baik di negara mayoritas Muslim apalagi di negara minoritas Muslim. Kaum Muslimin selalu menjadi bulan-bulanan musuhnya, mereka selalu dianggap sebagai pemicu kekacauan dan peperangan, padahal mereka adalah kaum yang sangat mencintai perdamaian dan keadilan. Maka jika musuh-musuh kaum Muslimin telah memeranginya dengan menggunakan kekuatan persenjataan militer, sudah sewajibnyalah kaum Muslimin menghadapi mereka dengan kekuataan militer pula. Besi harus dilawan dengan besi pula, dan tidak mungkin besi dikalahkan dengan ratapan air mata saja. Firman Allah : Dan perangilah orang-orang musyrik itu secara menyeluruh sebagaimana mereka telah memerangi kamu secara menyeluruh, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang Muttaqin ( Al- Taubah : 36 ). Dengan cara ini barulah kaum Muslimin memiliki harga diri dihadapan musuhmusuhnya, tidak diremehkan lagi. Dan cara seperti ini terbukti sangat ampuh untuk membuka mata dan pendengaran mereka hingga mereka mau memperhatikan apa yang diinginkan kaum Muslimin. Jika kaum muslimin tidak menghadapi musuh-musuh Islam itu dengan kekuatan militer, sebagaimana mereka telah menyerang kaum Muslimin, maka tentulah kaum muslimin akan terus mendapatkan dirinya dalam keadaan hina, dipermainkan seenaknya oleh musuh-musuhnya ataupun membantainya dengan sadis, sementara kaum Muslimin hanya bisa berteriak-teriak histeris diantara gelak tertawa musuhmusuhnya. Mentertawakan kebodohan kaum Muslimin yang mengklaim diri mereka sebagai ummat terbaik, tetapi kenyataannya mengalami kehinaan. Namun demikian, kaum Muslimin bukannya dituntut tergesa-gesa membentuk pasukan militernya, kemudian menyerang musuh-musuhnya dengan senjata yang tidak seimbang sama sekali, bukan ini yang dimaksudkan. Banyak kejadian dimana kaum Muslimin sudah jenuh dengan keadaan mereka yang selalu ditindas musuh-musuhnya. Kemudian dengan dasar ini mereka terburu-buru membentuk pasukan militer yang tidak memenuhi syarat kemiliteran dari segi taktik dan strategi. Akibatnya terjadilah pertempuran yang tidak seimbang dan kekalahan ditangan kaum Muslimin yang terburu-buru itu. Mungkin saja niyat mereka baik, tulus ikhlas untuk menegakkan dienullah dan menghapuskan segala ben-

tuk kemungkaran, tapi sebenarnya mereka belum siap bertarung dengan persiapan seadanya. Allahpun memerintahkan agar kaum muslimin mempersiapkan diri sebaik mungkin menyangkut personil maupun persenjataan, tidak asal bertanding seadanya, sebagaimana Allah berfirman : Dan siapkanlah untuk menyerang mereka apa-apa yang kamu mampu dari kekuatan (personil dan senjata) dan kuda-kuda tambatan ; semua itu untuk menakuti musuh-musuh Allah “ (Al Anfal : 60). Persiapan utama yang harus dilakukan kaum muslimin dalam penyusunan kekuatan militer ini adalah mempersiapkan personil tentara yang betul-betul tangguh, memiliki mental mujahid Islam sejati. Sejarah telah membuktikan, musuh-musuh Islam sangat takut pada para mujahid yang menurut mereka berperang untuk mencari mati, sementara mereka berperang untuk bertahan hidup. Seorang perwira Yahudi ketika terjadi peperangan Israel dengan Mesir, menyatakan “Kami tidak takut pada tentara reguler Mesir yang terlatih sekalipun, tapi kami sangat takut dengan pasukan sukarelawan Ikhwanul Muslimin Karena mereka berperang untuk mencari mati dan sangatlah sulit menghadapi orang-orang nekat semacam itu“. Untuk melahirkan mujahid sejati yang ditakuti musuh-musuh Islam diperlukan pendidikan mental bagi calon personil, terutama menanamkam aqidah yang kuat, sehingga aqidah inilah yang menjadi motor penggerak mereka untuk menumpas musuhnya. Aqidah yang mendorong seseorang untuk lebih mencintai Allah, Rasul-Nya dan jihad dijalan Allah daripada kehidupan dunia. Aqidah yang akan melahirkan sikap untuk senantiasa merindukan syahid, gugur di jalan Allah. Aqidah yang telah diwariskan Rasulullah, Shohabatnya dan para pejuang Islam sepanjang masa, Aqidah yang telah menjadikan mereka orang-orang terhormat dihadapan musuh-musuhnya. Jika Aqidah ini belum tertanam dengan baik pada calon personil militer, maka perlu dipertimbangkan masak-masak keinginan membentuk pasukan militer Islam, karena ini tidak mengikuti sunnah Rasulullah. Pasti akan menemui kegagalan ditengah jalan, yang akan menambah hinanya kaum muslimin akibat kekalahan demi kekalahan mereka melawan musuh. Jika sudah dipersiapkan sepenuh kemampuan segala kekuatan, baik personil ataupun persenjataan memadai, barulah dengan bertawakkal sepenuhnya kepada Allah bertanding melawan musuh di medan jihad. Allah Yang Maha Kuat serta Perkasa senantiasa bersama orang-orang mukmin dan Maha Kuasa menolong mereka. Inilah yang telah dilakukan para pejuang di jalan Allah yang telah mengalahkan musuh mereka yang kuat dari Romawi ataupun Parsi dan inipulah yang telah dilakukan para pejuang yang telah berhasil mengusir para penjajah kafir dari dunia Islam, dan hanya hal inilah yang akan menegakkan

kembali kejayaan dan kemenangan Islam kapan dan dimanapun. Jihad melawan musuh tidak cukup hanya dengan semangat dan kekuatan semboyan yang membangkitkan, namun, perjuangan maha suci ini memerlukan para pejuang di jalan Allah dalam arti sebenarnya yang didukung oleh fasilitas semaksimal kemampuan mereka. Pengertian jihad sebagai perang akan dibahas dengan mendetil pada bagian berikutnya. Disamping pengertian di atas, jihad juga dapat diartikan sebagai perang pemikiran (ghozwu al-fikr), sebuah jenis perang yang populer khususnya dikalangan cendikiawan Muslim saat ini. Tidak diragukan jihad dengan pengertian seperti ini sangat penting perananya terutama untuk meluruskan dan menjawab penyimpangan pemikiran yang telah menyesatkan kaum Muslimin yang telah dikemukakan cendikiawan-cendikiawan yang anti Islam. Dengan keahliannya, para cendikiawan anti Islam ini, dengan maksud yang jahat mengadakan penelitian kemudian memutar balikkan fakta, diantaranya menyajikan ajaran-ajaran Islam versi mereka yang menyimpang dan menyesatkan dengan metode yang mereka katakan ilmiah, yang tujuannya tidak lain untuk menimbulkan keraguan kaum Muslimin terhadap ajaran Islam. Berbagai media mereka gunakan untuk menjalankan misinya. Bahkan mereka telah mendirikan universitas dan akademi, menerbitkan buku-buku ilmiah, brosur, majalah dan pasilitas lainnya yang semuanya bertujuan untuk mengaburkan pemahaman Islam dan membingungkan kaum Muslimin dan akhirnya memurtadkan mereka. Dengan lembaga pendidikan yang dimilikinya, para cendikiawan anti Islam, membentuk kader-kader yang akan menyesatkan ummat dengan metode pemutar balikkan fakta. Bahkan mereka telah mendidik generasi Islam dengan pola khusus yang menyesatkan. Banyak lahir cendikiawan beragama Islam namun pemikiran mereka seperti musuh-musuh Islam, menjadi corong untuk menghapuskan Islam dari pengikutnya. Para cendikiawan yang dididik musuh Islam terkenal dinegerinya masing-masing karena mereka disponsori, didukung dan dikatrol musuh-musuh Islam dengan berbagai cara agar semakin banyak ummat yang disesatkannya. Salah satu pemikiran yang senantiasa menimbulkan kontraversial di kalangan umat adalah pendapat mereka yang menyatakan belajar Islam saat ini bukan di universitas Islam yang dikelola Ulama-ulama Islam di Timur Tengah, tapi hanya di universitas-universitas yang didirikan para orientalis di Eropah atupun Amerika. Karana universitas Islam, menurut mereka tidak memiliki metodelogi pendidikan modern untuk memahami Islam secara ilmiah sebagaimana yang dimiliki lembaga pendidikan yang dikelola para orientalis. Mungkin saja pendapat mereka tidak salah sepenuhnya, karena memang lembaga pendidikan Barat telah menyediakan segala fasilitas, baik buku, tenaga pengajar bahkan bea siswa

untuk mendalami pengetahuan tentang Islam. Namun kemudian timbul pertanyaan, mungkinkah kaum Muslimin mendapatkan Islam dengan hidayahnya dari orang-orang yang tidak dapat memberikan hidayah pada diri mereka sendiri. Tujuan utama seorang Muslim mempelajari agamanya adalah untuk mendapatkan hidayah yang akan membimbing hidup mereka menuju keselamatan di dunia dan akhirat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para shahabat, bukan hanya untuk mendapatkan kepuasan intelektual ataupun gelar keduniaan semata. Tapi demikianlah mereka beranggapan Islam adalah semacam pengetahuan yang harus dianalisa secara ilmiah dengan segala metodelogi empirismenya, bukannya sebagai hidayah yang akan membimbing ke jalan lurus. Dan ironisnya banyak dikalangan kaum muslimin yang terpengaruh ide-ide sesat cendikiawan yang hakikatnya menjadi agen musuh Islam. Beralihlah pemikiran mereka dari pemahaman Islam sebagaimana diwariskan Rasul kepada pemahaman Islam yang disajikan cendikiawan anti Islam, dengan alasan selama ini para ulama Islam tidak mampu menyajikan Islam secara ilmiah, modern dan sistematis sebagaimana cendikiawn Barat. Dan mulailah generasi Muslim yang mendapat pendidikan modern ini mempertanyakan keabsahan hukum Islam, Sunnah Rasulullah dan ajaran-ajaran Islam yang menurut mereka kurang ilmiah. Pada akhirnya mereka ‘berijtihad‘, boleh menolak semua itu demi kemajuan, mengikuti ‘fatwa‘ guru besar mereka, sang cendikiawan yang memiliki tujuan jahat terhadap Islam dan umatnya. Melalui publikasi buku-buku yang mereka namakan ilmiah, musuh-musuh Islam menyebarkan ide-ide sesatnya yang menggambarkan Islam sebagai ajaran kuno, jumud, reaksioner, fanatik, ekstrim dan seribu satu nama lagi. Dari yang hanya menyindir secara halus sampai yang jela-jelas menghujat seperti “Ayatayat setannya“ nya Salman Rusdhy. Anehnya banyak para cendikiawan muslim yang menjadikannya sebagai buku referensi utama dalam membahas masalah keislaman. Akhir-akhir ini makin banyak bermunculan buku-buku sesat semacam itu dan beredar dengan bebas di negara-negara muslim. Belum lagi media masa yang dikelola mereka terus menampilkan artikel-artikel yang menyerang Islam dengan hebatnya. Pemikiran-pemikiran sesat para cendikiawan anti Islam sangat mempengaruhi pemahaman kaum muslimin saat ini, menimbulkan keragu-raguan terhadap ajaran Islam yang tinggi, khususnya mereka yang senantiasa mau berfikir ilmiah ala Barat sekuler. Jika kaum Muslimin sendiri sudah ragu dengan ajaran Islam, mungkinkah mereka dapat diajak menegakkan Islam. Dengan dasar inilah tampil para cendikiawan muslim dari berbagai spesialis ilmu, baik tamatan universitas Islam ataupun universitas sekuler, untuk menjawab sekaligus menentang pemikiran sesat musuh-musuh Islam. Mereka berusaha semaksimal kemampuan membela Islam dari tuduhan-

tuduhan palsu. Mendirikan universitas-universitas dan lembaga pendidikan untuk mendidik para kader yang akan memberikan keterangan kepada kaum Muslimin tentang kebenaran dan ketinggian Islam dari berbagai bidang pengetahuan. Merekapun aktif menulis buku-buku yang menjawab semua tuduhan-tuduhan sesat yang dilemparkan musuh Islam dan menelanjangi kesesatan pemikiran musuh-musuh Islam dengan semua sistem yang mereka anut, menggunakan methode ilmiah sebagaimana mereka menyerang Islam. Mereka telah melancarkan perang yang dikenal dengan perang pemikiran (ghozwul fikr), yang akibatnya terkadang lebih dahsyat dari peluru. Jika peluru ditembakkan, baik itu bom nuklirpun, hanya memusnahkan generasi pada saat itu saja, namun pemikiran sesat yang telah terhunjam dalam generasi muda, akan terwariskan generasi demi generasi yang kerusakannya sangat meluas dan memakan waktu yang panjang untuk meluruskannya kembali. Banyak sumbangan berharga yang telah diberikan pejuang-pejuang di medan perang ini khususnya bagi kemajuan peradaban Islam, memberikan jalan keluar dari problematika masyarakat modern dengan konsep-konsep baru yang digali dan dikembangkan dari ajaran Islam dan warisan generasi Islam terdahulu. Disamping mengembalikan pemikiran kaum Muslimin ke jalan yang benar dan menjaga generasi selanjutnya agar tidak terjerumus menganut pemikiranpemikiran sesat musuh-musuh Islam. Tidak sedikit diantara mereka yang harus menebus perjuangannya dengan mendekam dipenjara, ataupun diusir dari negeri kelahirannya, Bahkan ada yang syahid dibunuh kaki tangan musuh Islam yang sangat benci pada mereka dan perjuangannya. Perjuangan mereka yang besar ini tidak dapat dinafikan begitu saja karena alasan berlainan faham dalam memperjuangkan Islam. Mereka telah membuktikan pengabdiannya pada Islam dengan keahliannya. Maka sungguh naif jika ada yang mengatakan “bukan saatnya sekarang untuk beradu fikiran, tapi saatnya untuk beradu otot dan senjata “. Seakan-akan mereka meremehkan pejuang-pejuang mulia ini dengan perjuangannya. Semua kaum Musliminpun mengetahui, setiap pejuangan yang bertujuan menegakkan Islam dengan segala kemampuannya akan mendapatkan balasan disisi Allah SWT, termasuk mereka yang telah menyumbangkan pemikirannya untuk qhozwul fikr melawan musuh-musuh Islam, dan ini adalah perjuangan yang sangat penting bagi eksistensinya Islam dan ummatnya. Disamping itu ada yang mengartikan jihad sebagai memerangi hawa nafsu, bahkan menyatakannya jihad akbar, jihad besar, berdasarkan sebuah hadist yang masih dipertentangkan keshohihannya. Terlepas dari shohih dan tidaknya hadist tersebut, jika ditelaah secara seksama, jihad menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti kebenaran Islam adalah sangat penting. Bagaimana mungkin seseor-

ang akan berperang menegakkan Islam, jika nafsunya sendiri belum tunduk menerima kebenaran Islam. Sebuah hadist menerangkan : “Belum sempurna iman seseorang diantara kamu hingga hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang aku bawa padanya“ (HR. Tirmizy). Jadi perjuangan menundukkan hawa nafsu amat penting, khususnya bagi mereka yang nafsunya belum mau mengikuti petunjuk Islam, dapat dibenarkan jika ini dikatakan sebagai jihad yang lebih besar dari berperang mengalahkan musuh, karena perang itu sendiri merupakan bagian terkecil dari petunjuk Islam yang luas. Maka dari uraian diatas dapat disimpulkan jihad boleh jadi mengandung pengertian menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti hidayah Islam, menjauhkan diri dari tipu daya syaithon yang menyesatkan , memberikan peringatan kepada manusia agar mengikuti Islam, mengeluarkan harta untuk mendukung perjuangan Islam ataupun mengorbankan jiwa memerangi manusia-manusia ingkar. Namun jihad Islam tidak dapat dipecah-pecahkan menjadi satu pengertian tertentu, seperti halnya melawan hawa nafsu saja atau hanya berperang menggunakan senjata saja. Karena pengertian jihad sangat luas, seluas ajaran Islam yang sangat sempurna. Jika pengertian jihad yang sangat luas ini dipisahpisahkan menjadi pengertian khusus tadi, jelas akan menghilangkan hakekat mulia yang terkandung dalam jihad dan mempersempit makna sucinya. C. Pengertian Sabilillah Untuk dapat memahami pengertian jihad dalam Islam secara utuh dan sempurna, ada beberapa aspek yang berkaitan dengannya yang perlu difahami. Diantaranya adalah pengertian tentang fi sabilillah, yang secara harfiah diartikan sebagai di jalan Allah. Karena jihad yang diajarkan Islam berkaitan erat dengan fi sabilillah ini. Namun demikian, pengertiannya tidak sekedar kata di jalan Allah saja, yang mungkin dapat membingungkan atau menimbulkan kesalahfahaman. Karena pengertian fi sabilillah sangat luas, yang untuk memahaminya diperlukan penggalian mendalam, disamping memahami pengertian lawannya fi sabil al-thoghut, di jalan Thogut. Sebagaimana disebutkan al-Qur’an : “Orang-orang yang beriman berperang dijalan Allah dan orang-orang kafir berperang dijalan thoghut”. ( An-Nisa : 76 ) Didalam al-Qur’an ataupun Hadist yang membahas mengenai jihad Islam seringkali diikuti dengan perkataan fi sabilillah.

Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kamu berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa kamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Ash- Shof : ll ) Sebuah Hadist Rasulullah menyebutkan : Dari Abu sa’id Al Khudri ra berkata : Seorang datang kepada Nabi SAW bertanya : Siapakah manusia yang utama ?, Nabi SAW menjawab : “ Orang mukmin yang berjuang dengan harta dan jiwanya dijalan Allah “ ( HR Bukhori Muslim ). Dalam sebuaah Hadistnya Rasulullah menerangkan pengertian fi sabilillah ini; Rasulullah SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang berjuang karena keberanian, seorang berjuang karena kesombongan, dan seorang lagi berjuang karena riya’, yang manakah diantara mereka itu yang berjuang di jalan Allah ?. Rasulullah menjawab : “Barang siapa berjuang untuk meninggikan kalimat Allah (Islam), maka dia berjuang di jalan Allah “ (HR Bukhori Muslim dari Abu Musa Al -Asy’a’ry ). Ibnu Katsir berkata tentang fi sabilillah : Semua amal ta’at kepada Allah. Jihad berjuang untuk menegakkan agama Islam, berdakwa dengan kendaraan atau senjata. 115 Muhammad Rasyid Ridho menulis : Sabilillah ialah jalan yang menghantarkan seseorang pada keridhoan-Nya , jalan untuk memelihara ajaran-Nya dan memperbaiki kondisi hambahamba-Nya.116 Muhammad Syaltut menulis : Secara garis besar, Sabilillah berarti menegakkan kebenaran , menciptakan kebaikan dan berkuasa sebagai pengganti kejelekkan dan kerusakan. Dan meletakkan keadilan dan kasih sayang sebagai pengganti kezholiman dan kekerasan.117 Abul A’la Maududi menyatakan : Semua tindakan yang dilakukan demi kehidupan ummat manusia yang layak secara kolektif dan dimana pelakunya tidak ditunggangi
Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Manar, Tafsir al-Qur’an Kariem,

kepentingan pribadi didunia, kepentingan tunggalnya hanyalah ridho Allah, dalam Islam diakui sebagai suatu amal fi sabilillah. 118 Asy-Syahid Sayyid Qutb menulis dalam tafsirnya : Sabilillah adalah pintu yang lebar yang mencangkup semua kepentingan masyarakat yang ingin merealisasikan kalimat Allah, dimana yang paling penting adalah memepersiapkan penelitian jihad, mempersiapkan dan melatih para sukarelawan, mengutus da’I Islam, menjelaskan hukumhukum dan syareah-syareah Islam kepada segenap manusia, mendirilkan sekolah-sekolah dan universitas-universitas yang mendidik secara Islami dan benar putera-putera Islam, maka kita tidak perlu menitipkan mereka untuk bersekolah di sekolah-sekolah pemerintah yang mengajarkan segala ilmu pengetahuan kecuali Islam, maupun sekolah-sekolah yang dikelola oleh para misionaris yang mengikis keimanan mereka sejak masuk anak-anak padahal mereka tidak punya daya penangkal untuk menghadapi pendangkalan iman itu .119 Fi sabilillah mengandung pengertian yang dalam dan luas, dengan bahasa sastra diterjemahkan sebagai “di jalan Allah “, sangat jarang didapatkan pengertian sempurna dari para Ulama dan Cendikiawan muslim. Namun demikian, secara umum dapat disimpulkan dari pengertian diatas sebagai setiap usaha sungguhsungguh untuk menegakkan kalimat Allah (Islam) dengan cara-cara yang telah digariskan Allah bertujuan hanya untuk mencapai keridhoan Allah semata. Menciptakan kebaikan dan keadilan bagi seluruh makhluk diatas bumi, terhindar dari kehendak untuk mendapatkan segala bentuk materi keduniaan, baik berupa imbalan, jabatan, ataupun pujian kehormatan, maka yang demikianlah yang dimaksud oleh Islam sebagai amal fi sabilillah. Sebagai contoh, jika seseorang mengeluarkan hartanya karena memperkirakan akan mendapatkan imbalan material ataupun moral atas perbuatannya tersebut di dunia ini, maka jelas perbuatan semacam ini tidak diakui sebagai amal fi sabilillah. Namun jika ia berkeiginan hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah semata dengan perbuatannya itu maka sudah dipastikan ia berada dalam garis fi sabilillah, walaupun nantinya ia mendapatkan imbalan materi duniawi akibat perbuatannya. Demikian pula halnya, seorang pelajar, menuntut ilmu dengan bersungguh-sungguh mencari keridhoan Allah dan dikemudian hari dengan ilmu yang diperolehnya ia bercitacita menegakkan Islam, maka dapatlah ia dikategorikan sebagai pejuang dijalan Allah, sebagaimana hadist Rasulullah ;
Jihad fi Sabilillah, op.cit. Fie Dzilal al-Qur’an,

“Barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada dalam fi sabilillah hingga kembali “. ( HR Tirmizi ) Tapi sebaliknya, jika ia menuntut ilmu semata-mata untuk mencapai gelar kesarjanaan ataupun untuk meningkatkan status sosialnya dan maksud-maksud lain diluar untuk keridhoan Allah semata, maka jelas ia tidak dapat disebut sebagai fi sabilillah. Atau seorang yang membantu perjuangan Islam dengan harta benda hasil perampokan, korupsi atau kejahatan lainnya, walaupun niatnya tulus ikhlas untuk mencari ridho Allah, sudah pasti perbuataan semacam ini bukan fi sabilillah, karena tidak memenuhi syarat menuju keridhoan Allah, yaitu dengan barang yang haram. Itulah sebabnya, fi sabilillah hanya dapat dipergunakan bagi perbuatan yang dilakukan dengan niat yang tulus ikhlas untuk mencari keridhoan Allah semata, tanpa diikuti keinginan sedikitpun untuk memperoleh materi duniawi dengan jalan-jalan yang telah ditetapkan Islam, baik cara dan tujuan pelaksanaanya. Fi sabilillah adalah syarat mutlak yang ada pada jihad Islam. Dengan demikian, jihad fi sabilillah bermakna perjuangan dan pengorbanan sungguh-sungguh yang berorientasi hanya untuk mendapatkan keridhoan Allah semata, tanpa diikuti keinginan untuk mendapatkan materi keduniaan. Bila seorang berjuang, kemudian ada di dalam hatinya keinginan untuk mendapatkan materi keduniaan, maka amalan jihadnya akan sia-sia, tidak dinilai sebagai jihad islam. Dari Abu Hurairah ra ia berkata : “ Seorang laki-laki mengatakan kepada Rasululah : “Ya Rasulullah , ada seseorang ikut berjihad dijalan Allah, sedangkan ia mengharap harta duniawi“. Rasulullah menjawab : “ Dia tidak akan memperoleh pahala”.Beliau mengulangi pertanyaan itu sebanyak tiga kali. ( HR. Abu dawud ). Abul A’la Almaududi mengomentari hubungan jihad dengan fi sabilillah : syarat fi sabilillah diterapkan pada jihad dengan alasan yang sama. Ini mengandung arti bahwa, bilamana seseorang atau suatu kelompok bangkit untuk melaksanakan suatu Revolusi dalam suatu sistem kehidupan, dan untuk menciptakan suatu sistem baru yang sesuai dengan ideologi Islam, dia atau mereka harus tetap menjaga agar tidak mempunyai niat pribadi dalam sanubarinya ketika melakukan pengorbanan dan melakukan tindakan pengabdian bagi niat tersebut. Tujuannya tidaklah untuk menyingkirrkan seorang kaisar dan menduduki tahta yang kosong ; menjadi seorang Kaisar dengan menggantikan Kaisarnya lainnya. Sasaran perjuangan ini harus benar-benar terbebas dari niatniat buruk atau yang sifatnya pribadi seperti untuk mendapat harta kekayaan , keterangan nama atau pujian, kemegahan diri atau kenaikan martabat. Semua

pengorbanan dan tindakan harus diarahkan untuk mencapai satu dan satu-satunyatujuan, yaitu pencapaian suatu tatanan sosial yang adil lagi merata bagi makhluk manusia. Dan satu-satu imbalan yang terbayang mestilah untuk mendapatkan ridho Allah“ .120 Sementara fi sabili al-Thoghut adalah kebalikan dari fi sabilillah, yang berarti di jalan kesesatan. Al-Thoghut sendiri dalam kontek bahasa Arab seringkali diartikan sebagai segala sesuatu yang melampaui batas, dapat pula diartikan sebagai pemimpin yang sesat ataupun sesembahan dan tuhan-tuhan selain dari Allah. D. Jihad dan Bentuknya Jihad amat luas, seluas ajaran Islam yang mengatur seluruh sistem kehidupan manusia, dari masalah-masalah pribadi sampai masyarakat dan negara. Maka seluruh sistem kehidupan yang diatur ajaran Islam secara otomatis mengandung unsur jihad. Perintah sholat misalnya, tidak terlepas dari unsur jihad. Jika seseorang akan mendirikan sholat, sebelumnya ia harus berjihad, yakni bersungguhsungguh menundukkan hawa nafsunya agar mau melaksanakan sholat sebagaimana yang diperintahkan Islam. Ketika mendirikan sholat pun ia harus berjihad, berusaha agar tetap melaksanakan sholat dengan khusuk hingga rukun dan syaratnya sempurna. Setelah selesai sholatpun ia harus berjihad, berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menjaga konsekwensi logis sholatnya sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar. Demikian pula halnya dengan proses pembentukan masyarakat Islam, tidak terlepas dari kontek jihad. Dari awal pembentukkannya, yaitu membentuk pribadipribadi muslim yang Istiqomah memerlukan kesungguhan daya upaya. Kemudian menyatukan pribadi-pribadi muslim itu dalam keluarga hingga terbentuklah keluarga muslim yang ideal juga memerlukan kerja keras. Selanjutnya menyatukan keluarga-keluarga muslim itu menjadi sekumpulan masyarakat Islam yang didalamnya tegak peraturan-peraturan Allah bukanlah perkara ringan, namun memerlukan keseriusan total, yang kesemua proses ini tidak terlepas dari jihad. Di dalam Al-Qur’an dan Hadist disebutkan beberapa bentuk jihad antara lain : Orang-orang yang beriman, berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah dan merekalah orang-orang yang memeperoleh kemenangan. ( At- taubah : 20 )

Sesungguhnya orang-orang Mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya : merekalah orang-orang yang benar. ( Al Hujorot : 15 ) Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mereka tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri “. (At-taubah : 122 ) Benerapa hadist yang menyebutkan jenis jihad : Dari Abu Said Al Khudri ra berkata : Seseorang datang kepada Nabi SAW bertanya : Siapakah manusia yang utama ? , Nabi SAW menjawab : “Orang mukmin yang berjuang dengan harta dan jiwanya dijalan Allah . ( HR. Bukhori Muslim ) Dari Anas ra bahwasanya Nabi SAW berkata : “ Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian”. (HR Abu Dawud, Ahmad, Nasa’I, Ibn Hibban dan Hakim) Dari Abu Said al Khudri ra berkata : Telah berkata Rasulullah SAW : “ Seutamautama jihad adalah berkata-kata benar ( haq ) dihadapan penguasa yang zolim” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah) Surat At-Taubah ayat 20 dan surat Al hujarat ayat 15 diatas menyebutkan tentang jihad harta dan jiwa. Surat al-Taubah ayat 122 menyebutkan tentang jihad pengajaran/ pendidikan. Kata ‘nafar’ yang berarti berangkat menuntut ilmu dan mengajarkannya sedangkan ayat ini membicarakan jihad. Hadist dari Abu Sa’id dan Anas menyebutkan jihad jiwa dan harta, sedangkan kata-kata lisan dapat dimasukkan bagian dari jihad jiwa ( anfus ) sebagaimana yang akan diterangkan kemudian. Sedangkan hadist terakhir menyebutkan jihad politik, karena ada hubungannya dengan penegakkan pemerintah yang adil. Untuk melengkapi beberapa bentuk jihad ini, maka dapat disebutkan jihad pengetahuan (makrifah), karena jihad ini meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang digunakan untuk menegakkan kalimat Allah. Maka dengan demikian, dapat disimpulkan secara garis besarnya jihad meliputi : Jihad Harta ( Jihad Amwal )

-

Jihad Jiwa ( Jihad Anfus ) Jihad Pendidikan ( Jihad Ta’limi ) Jihad Politik ( Jihad Siyasi ) Jihad Pengetahuan ( Jihad Ma’rifah )

V.

SYAHID

Setiap Yang Bernyawa Pasti Mati
Setiap yang bernyawa pasti akan menemui kematian. Tidak ada yang kekal abadi di dunia ini, karena sifat dunia ini adalah sementara bagi manusia, hanya sekedar menumpang hidup, menjalani kehidupan dan menemui kematian. Tidak ada seorang manusiapun yang lepas dari kematian. Itulah sebabnya, ketika Budha Gautama diminta salah seorang pengikutnya untuk menghidupkan anaknya yang sudah mati, Budha memerintahkan agar mendapatkan makanan dari keluarga yang belum pernah mengalami kematian anggota keluarganya. Dengan susah payah, sang pengikut mencari keluarga yang tidak mernah mengalami kematian anggota keluarga, dan diapun tidak mendapatkan sebuah keluargapun yang tidak ditimpa kematian. Kematian adalah sesuatu kepastian yang mutlak bagi manusia dan makhluk bernyawa. Seorang raja yang berkuasa sekalipun satu saat akan menemui ajalnya, seorang bangsawan yang terhormat pasti akan mati, seorang Panglima yang gagah beranipun akan menemui kematian. Manusia pasti akan menemui kematiannya, walaupun ia menyukai ataupun tidak menyukainya, kematian pasti akan menjemputnya, baik ketika ia masih muda, remaja ataupun sudah tua. Tidak ada satu manusiapun yang mampu menolak kematian, walau bagaimanapun berkuasanya ia di muka bumi ini, jika saat kematiannya telah tiba, maka kematian akan menjemputnya. Dalam masyarakat banyak terlihat kematian dan sebab-sebabnya. Ada yang mati akibat sakit, ada yang mati akibat kecelakaan ada yang mati akibat keracunan, ada yang mati akibat dibunuh, bahkan ada yang mati dengan tanpa sebab, langsung mati saja. Orang yang sehat wal afiat, tiba-tiba tanpa sebab mati dan sebaliknya orang yang diramalkan dokter akan menemui kematian dalam waktu dekat akibat penyakitnya dapat bertahan hidup bertahun-tahun. Sebab-sebab kematian memang berbagai macam ragamnya, dan terkadang orang yang lemah imannya langsung akan menuding kepada sebabnya. “Seandainya dia rajin berobat, pasti tidak kena peyakit dan terhindar dari kematian”, “Seandainya dia tidak pergi, maka tidak akan terjadi kecelakaan dan tidak merengut nyawanya”, “Seandainya…..” dst… dst. Namun kematian akan tetap menjemputnya, jika tidak karena sakit, pasti akan ada sebab musabab lainnya, karena jika Allah telah menentukan ajal seseorang, walau apapun yang dilakukan untuk menghindari kematian, maka kematian pasti akan menjemputnya dengan berbagai cara dan berbagai sebab. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Munafiqun : 11) Dalam urusan waktu kematian manusia tidak diberi pilihan oleh Sang Penciptanya, namun manusia boleh memilih cara mendapatkan kematiannya. Sebagaimana mereka bebas menjalani kehidupannya, manusia diberi kebebasan pula dalam menempuh cara kematiannya. Apakah ia memilih mati secara mulia atau secara hina, apakah ia mati sebagai pahlawan atau sebagai penghianat, apakah ia mati sebagai seorang yang beriman atau sebagai orang yang ingkar, apakah ia mati sebagai pejuang agung atau hanya sekedar

sampah masyarakat. Allah Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan umur kepada manusia memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih cara dalam menghadapi kematiannya. Kebebasan ini menandakan Keadilan dan Kasih Sayang Allah kepada manusia yang telah diciptakan-Nya.

Memilih Cara Kematian
Manusia hidup di dunia cuma sekali, berarti mereka hanya memiliki kesempatan sekali saja dalam memilih bentuk kehidupan terbaik bagi dirinya dan memilih cara mati yang terbaik, cara yang akan mengantarkannya menuju kemulian setelah kematian menjemputnya. Karena setelah kematiannya, manusia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap semua perbuatannya di muka bumi. Jika mereka dapat mempertanggungjawabkan semua amalannya dengan baik, sesuai dengan amanah dan perintah Allah, maka ia akan mendapatkan balasan kenikmatan dan kemulian berupa syurga yang telah dijanjikan Allah kepadanya. Demikian pula halnya jika mereka tidak dapat mempertanggungjawabkan semua perbuatannya, menghianati amanah dan melanggar perintah Allah, maka ia akan mendapatkan balasan azab yang menyengsarakan. Itulah sebabnya, menusia diberikan kebebasan untuk menentukan hidup dan kehidupannya di dunia, dan mereka akan diminta pertanggungjawabannya kelak, sebagai konsekwensi logis atas kebebasan yang dinikmatinya. Islam sebagai agama terunggul dan tertinggi, senantiasa menyerukan pengikutnya agar memilih bentuk kehidupan yang mulia dibawah perintah dan ridho Allah, serta menemui kematian dengan cara yang terunggul, termulia dan tertinggi. Kematian bagi Islam adalah ibarat sebuah seni indah menawan yang dapat dipersiapkan dan dipilih manusia dalam menghadapinya. Itulah sebabnya Islam mengajarkan kepada para pengikutnya agar menempuh kematiannya sebagai seorang yang terhormat, sebagai seorang yang Syahid (jamaknya Syuhada). Karena hanya dengan memilih mati sebagai seorang yang syahidlah, manusia akan mencapai tingkat tertinggi dari segala kebajikan, sebagaimana yang dinyatakan Rasulullah saw :”Di atas kebajikan tak ada lagi kebajikan kecuali mati syahid. Tak ada lagi kebajikan lebih utama daripada itu. (al-Bihar 74:61). Syahid adalah julukan yang diberikan Islam kepada mereka yang telah menemui kematiannya dengan cara tetap berada dalam posisi menegakkan kalimah Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan “Siapa yang terbunuh karena menegakkan kalimah Allah, dia syahid” (HR. Bukhori). Mereka adalah orang yang mati di jalan Allah dalam memperjuangkan tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Namun tidak semua pejuang yang mati mengatasnamakan Islam dapat dikatakan sebagai syahid, kecuali mereka mengikhlaskan dirinya berjuang semata-mata demi tegaknya kalimah Allah di muka bumi dan dengan cara-cara yang telah digariskan-Nya, dan bukannya mati karena berjuang demi sebuah bangsa, demi sebuah nama besar, demi sebuah pangkat, kekayaan ataupun demi sebuah perintah rezim dan embel-embel duniawi lainnya.

Para syuhada adalah mereka adalah orang-orang yang gugur dalam berjuang karena Allah dan di jalan Allah semata. Boleh jadi mereka adalah seorang tentara gagah perkasa yang berperang membela dan menegakkan kalimah Allah, ataupun seorang pendakwah dan penyeru yang menegakkan Islam, ataupun seorang cendekiawan atau profesional yang berjuang dengan bidangnya untuk kejayaan Islam dan ummatnya, ataupun seorang aktivis pejuang yang telah menyerahkan hidupnya kepada perjuangan menegakkan Islam, ataupun seorang penguasa yang mempertahankan kalimat Allah. Dan diantara mereka adalah seorang beriman yang mempertahankan kehormatan keluarga dan hartanya, ataupun orang yang gugur dalam menunaikan haji, atau seorang muslimah yang gugur dalam melahirkan. Namun syahid tertinggi adalah mereka yang berjuang di medan perang membela kalimat Allah dan mereka yang gugur dalam menentang kezaliman penguasa. Dari Nu’aim bin Umar ra, berkata, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah:”Syuhada manakah yang paling utama ?” “Orang yang bertemu musuh dalam barisan perang, mereka tidak memalingkan wajah-wajah mereka sehingga mereka terbunuh. Mereka akan berjalan di ruangan Syurga yang tertinggi, Allah tertawa melihat mereka dan apabila Allah tertawa kepada hambaNya di dunia, maka dia tak akan mengalami hisab. (HR. Ahmad) Dari Ibnu Mas’ud berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Akan ada pemimpin-pemimpin kamu yang menyeru kepada sunnah seperti (sunnah) ini. Jika kamu membiarkannya mereka akan menjadikannya seperti (sunnah) ini; jika kamu membiarkannya mereka akan membawa bencana besar. Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan juga seorang laki-laki yang mendatangi penguasa yang zalim, yang menyuruh menegakkan keadilan dan melarangnya (melakukan kezalima), kemudian penguasa itu membunuhnya.(HR. al-Hakim) Karena tidak ada lagi kebajikan (al-Birr) yang lebih tinggi dari pada syahid inilah masyarakat agung yang dibina Rasulullah berlomba-lomba memperebutkannya. Seorang panglima Islam yang gagah perkasa, Khalid bin Walid, ketika menjelang kematiannya merintih dengan penuh kesedihan karena tidak mati di medan perang sebagai syahid:”Sungguh aku telah meminta kematian yang kucita-citakan (syahid), namun Allah tidak menakdirkannya, sehingga aku mati ditempat tidurku”. Ketika terjadi sebuah peperangan, Rasulullah menyerukan agar para tentaranya bersegera menggapai syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Kemudian bangkitlah Umair bin Hammam sambil memakan korma, lalu menyisakan sebagiannya karena mengganggapnya terlalu lama baginya untuk mendapatkan syahid. Dengan gagah berani Umair maju memerangi musuh sehingga syahid. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa dua pemuda, Samurah bin Jundab dan Rafi’ bin Hudaj, disuruh keluar dari barisan tentara karena berusia muda. Ayah Rafi’ memohon kepada Rasulullah agar anaknya dapat diikutkan berperang karena ia pandai memanah, dan Rasulullah mengabulkannya. Ketika Samurah bin Jundab mengetahui hal ini, ia protes kepada Rasulullah dan menantang duel Rafi’ dengan perjanjian jika menang agar Rasulullah mengikutkannya

berperang. Ternyata selelah berduel, Samurah memenanginya dan iapun diperbolehkan Rasulullah untuk ikut berperang. Amru bin Jamuh adalah seorang shahabat Nabi yang cacat kakinya. Ia mempunyai empat orang anak laki-laki dan kesemuanya ikut berperang bersama Nabi. Ketika Nabi hendak keluar ke medan Uhud, Amru bin Jamuh ingin ikut serta bersama Nabi. Namun keempat orang anaknya berkata kepadanya:”Sebenarnya Allah telah memberikan engkau uzur untuk tidak ikut berperang, sebaiknya tinggal sajalah di rumah dan kami sebagai penggantimu, karena Allah telah mencabut kewajiban jihad atasmu”. Atas larangan itu, Amru datang melaporkan kepada Rasulullah,”Sebenarnya putera-puteraku melarang aku untuk ikut berjihad bersamamu. Demi Allah aku harapkan mati syahid, sehingga aku dapat masuk Syurga dengan kakiku yang pincang ini”. Kemudian Rasulullah mengizinkannya, dan Amru bin Jamuhpun mendapatkan cita-cita mati sebagai seorang syahid. Umair bi Abi Waqqas, adik Sa’ad bin Abi Waqqas, ketika kaum Muslimin berangkat ke perang Badar, ia berangkat dengan sembunyi-sembunyi karena takut diketahui, dan takut tidak diperbolehkan ikut berperang karena umurnya yang masih sangat muda. Sa’ad kakaknya bertanya :”Kenapa kamu sembunyi-sembunyi ?”. “Aku takut kalau Nabi menyuruhku kembali sedangkan aku ingin mati syahid di medan jihad”. Jawabnya. Tatkala Nabi mengetahui kejadian itu, hampir saja beliau menyuruhnya kembali. Namun karena Umair menangis minta diizinkan oleh Nabi untuk berperang, Nabipun amat kasihan padanya. Akhirnya Nabi mengizinkannya pergi berperang dan terkabul citacitanya. Umair gugur di Badar sebagai syuhada. Menghadapi kekejaman Yazid bin Muawiyah terhadap kaum Muslimin, maka tampillah Husein bin Ali (cucu kesayangan Rasulullah saw) menentangnnya. Sebelum syahid di Karbala, beliau mengucapkan kata-kata agung sebagai seorang pejuang sejati yang pantang menyerah kepada kelaliman, dan siap syahid menghadapinya : Kalian telah menjadikan pemimpin orang-orang yang dahulu menganggap alQur’an sebagai sihir dan mencemoohkan Nabi. Kalian lebih menyukai perbudakan daripada kemerdekaan dan memilih kekafiran daripada iman, karena kecintaan kepada dunia. Tingkah laku seperti ini akan membawa kalian kepada kehinaan dan kerendahan, dan mendatangkan laknat yang kekal bagimu……. Kalian meminta aku mengenakan pakaian kehinaan, padahal kalian tahu bahwa kami tidak pernah menyerah kepada penghinaan seperti itu. Rasulullah saw, dan ayah-ayah kami yang suci telah memiliki jiwa yang begitu suci dan mulia sehingga mereka lebih memilih kematian daripada kehinaan. Kami tidak mengenal takut dan sifat pengecut. Kami berangkat menuju syahid dengan penuh bahagia, karena kami tidak melihat kehidupan abadi selain dalam mati sebagai syahid.. Masyarakat agung yang dibina Rasulullah sangat mencintai syahid, gugur di jalan Allah dalam menegakkan kalimat Allah. Mereka akan berlombalomba memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya ketika mereka diseru menuju

kebahagian yang tiada bandingannya. Karena mereka sangat memahami, bahwa syahid, mati di jalan Allah pada hakikatnya bukan kematian, tetapi sebuah kehidupan baru yang lebih mulia dan menyenangkan, kehidupan yang senantiasa dibamba-dambakan oleh seluruh manusia, sebagaimana yang dinyatakan al-Qur’an : Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada khawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Ali Imron : 169-171) Dalam sebuah riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Allah menjadikan arwah saudara-saudaramu yang gugur di perang Uhud sebagai burung-burung hijau yang mengunjungi sungai di Surga dan makan buah-buahannya, sampai menghampiri lampu mas di bawah naungan ‘arsy. Ketika mereka mendapatkan makanan yang enak, minuman yang lezat dan tempat tidur yang empuk, mereka berkata : “Alangkah baiknya jika teman-teman kita mengetahui apa yang Allah telah jadikan untuk kita, sehingga mereka itu tidak segan berjihad dan tidak mundur dari peperangan”. Allah berfirman kepada mereka : “Aku akan sampaikan hal kalian kepada mereka”. Maka turunlah ayat tersebut di atas yang menceritakan keadaan para syuhada”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim dari Ibnu Abbas) Demikian pula halnya dengan perjuangan di jalan Allah. Untuk memotivasi para pengikutnya, Islam telah memberikan berbagai bentuk janji dan imbalan yang akan diberikan kepada mereka yang berjuang di jalan Allah. Bahkan alQur’an menganggap perjuangan adalah sebuah bisnis yang sangat menguntungkan : Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan memasukkan kamu ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga ‘And. Itulah keberuntungan yang besar. Dan ada lagi karunia lain yang kamu sukai yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (al-Shoff : 10-13) Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itulah janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati

janjinya selain daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (al-Taubah : 111). Mereka yang berjuang di jalan Allah untuk menegakkan kalimat-Nya bukan hanya mengharapkan balasan di dunia saja dengan tegaknya tatanan masyarakat Islam yang adil, makmur, aman damai dan penuh persaudaraan saja. Namun lebih jauh mereka mengharapkan balasan yang tiada bandingannya di syurga kelak. Allah tetap akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan kadar perjuangan mereka, baik mereka membunuh ataupun terbunuh. Jika mereka membunuh musuhnya, Allah akan memberikan kebahagian mereka dengan kehidupan yang penuh kedamaian dalam sebuah masyarakat Islam dan kelak mereka akan mendapat balasannya di akhirat. Bagi mereka yang terbunuh, gugur dalam perjuangannya, Allah SWT langsung memberikan mereka dengan kenikmatan yang belum pernah mereka bayangkan dan rasakan di dunia. Jika Allah dan Rasul-Nya telah menjanjikan balasan kenikmatan di dunia dan di akherat, kenapa para pejuang Islam memiliki semangat yang lebih lemah daripada para pejuang kiri radikal yang telah mengorbankan seluruh hidup dan kehidupan mereka demi sesuatu angan-angan kosong yang tidak berujung. Seharusnya semua janji-janji benar yang telah dibuktikan oleh Rasulullah dan para Shahabatnya dengan tegaknya masyarakat Islam menjadi sumber motivasi dan semangat para pejuang dalam menegakkan kebenaran Islam, membebaskan umat manusia dari kesesatan dan perbudakan hawa nafsu dan segala tuhan-tuhan palsu. Semangat perjuangan dan semangat pengorbanan yang dimiliki para pejuang Islam harus jauh mengatasi segala bentuk semangat radikal kaum kiri dan kaum revolusioner manapun, karena mereka berjuang dengan tujuan yang jelas, dan yang paling terpenting jika mereka gugur di jalan Allah mereka akan mendapatkan predikat sebagai syuhada, gelar tertinggi dan termulia yang senantiasa diharapkan oleh kaum mukminin sepanjang sejarah. Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi drajatnya, jika kamu orangorang yang beriman. Jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya musuhmupun mendapat luka yang sama. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang yang kafir) dan supaya sebagaian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai Syuhada Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.(Ali Imron : 139-140) Allah dengan segala Kasih Sayang-Nya, memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk meraih predikat tertinggi dalam mengakhiri hidupnya, dan tiada yang lebih tinggi dan lebih mulia dari pada gugur dalam membela dan memperjuangkan tegaknya kalimat Allah. Merekalah yang diberi gelar sebagai syahid. Keutamaan dan Balasan Bagi Para Syuhada

Para syuhada, mereka yang gugur di jalan Allah, akan mendapat berbagai bentuk kenikmatan dan keutamaan dari Allah SWT. Selain mereka akan dimasukkan ke dalam syurga yang telah dijanjikan, mereka memperoleh beberapa keutamaan, diantaranya : Bagi orang yang syahid terdapat 6 hal yang akan diterimanya, yaitu : Pertama, Allah memberi ampunan ketika pertama kali bergerak dan akan melihat tempatnya di Syurga. Kedua, selamat dari siksa kubur. Ketiga, selamat dari goncangan hari kiamat. Keempat, akan diberikan kepadanya mahkota kebesaran yang terbuat dari permata Yaqut sebagai tanda kehormatan yang jauh lebih mahal daripada dunia seisinya. Kelima, akan dikawinkan dengan 72 bidadari. Keenam, dapat memberi syafa'’t kepada 70 keluarganya. (HR. Tirmidzi - Mereka merasakan kematian seperti sebuah cubitan “Tidak merasakan kematian bagi orang yang syahid melainkan seperti dicubit”. (HR. Tirmidzi) - Selalu ingin mengulangi kematiannya sebagai syahid Tidak seorangpun yang telah masuk syurga, lalu ingin dikembalikan lagi ke dunia meskipun ia mempunyai kekayaan dunia seisinya, kecuali orang yang mati syahid, maka sesungguhnya ia menginginkan dikembalikan ke dunia lalu dibunuh sebanyak sepuluh kali karena ia melihat kemulian, dan di dalam riwayat lain karena ia melihat keutamaan-keutamaan syahid. (HR. Bukhori Muslim) - Pahala amal sholeh mereka terus mengalir Tiap yang mati ditutup menurut amalnya yang terakhir, kecuali penjaga garis depan fie sabilillah, maka dihidupkan terus amal kelakuan yang biasa dilakukannya sampai hari kiamat dan diselamatkan dari fitnah atau pertanyaan kubur. (HR. Abu Dawud) - Mereka dibangkitkan seperti ketika mereka menemui syahid Apabila para hamba sedang berdiri menunggu hisab, datanglah sekelompok orang yang menyandang senjata di atas tengkuk-tengkuk mereka, menetes darah-darah mereka, mereka berdesak-desakan di pintu Syurga. Bertanya orang-orang:"”iapakah orang-orang itu ?"” Dikatakan : "“ereka adalah para syuhada yang hidup dan diberi rizki"” (HR. Thabrani) Maka dengan segala keutamaan dan kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka yang syahid di jalan-Nya, tidakkah menjadi pendorong bagi hamba-hamba Allah untuk berjuang menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Kehidupan di dunia cuma sekali, demikian pula kematian cuma sekali saja, manusia diberi kebebasan untuk memilih bentuk kehidupan dan kematiannya. Tidak ada satu kebahagian bagi orang beriman, kecuali dia hidup di bawah naungan ajaran Islam dan mati sebagai seorang syahid. Wallahu a’lam…..

VII. PEMERINTAHAN ISLAM
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu yang mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa dia sesungguhnya akan menjadikannya mereka berkuasa dibumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutu sesuatu

apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. ( An-Nur : 55 ) Pemerintahan Islam, berbeda dengan pemerintahan-pemerintahan lain, tidak didasarkan pada konsep kebangsaan dan ras, melainkan semata-mata berdasarkan idiologi dari Qur’an dan sunnah. Selama ini umat Islam belum mempunyai pandangan yang kongkrit mengenai cara-cara pemerintahan dan lembaga-lembaga yang akan memberikan kepada suatu pemerintahan sifat Islamiyah dan sekaligus sesuai dengan keperluan masa sekarang.121 Pemerintahan Islam berbeda secara substansial dengan pemerintahan-pemerintahan yang dirumuskan Barat yang liberalis ataupun sosialis saat ini, baik yang dinamakan dirinya dengan pemerintahan Republik, negara demokrasi, sosialis, monarchi, dan lainnya. Karena sistem pemerintahan manusiawi ini lahir dari falsafah yang berbeda dengan falsafah Islam dalam memandang pemerintahan. Pemerintahan manusiawi berdasarkan teori-teori yang diciptakan manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Sementara pemerintahan Islam lahir bedasarkan akar ajarannya yang sempurna dari Allah, Sang Pencipta Alam. Sebagaimana yang dikatakan Abul Ala Maududi : “Sedini mungkin perlu kiranya kita pahami bahwa Islam bukanlah sekumpulan gagasan yang tidak saling berkaitan atau cara-cara perilaku yang tidak saling melekat bertautan. Islam justru merupakan tatanan yang sempurna, keseluruhan yang bulat, yang mendasarkan diri pada himpunan postulat-postulat jelas yang pasti. Baik semua ajaran utamanya maupun aturan-aturan tindakannya yang terinci, digali dari, dan secara logis, dikaitkan dengan prinsip-prinsip dasarnya. Semua hukum dan perturanperaturan yang telah diletakkan Islam diberbagai sektor kehidupan manusia pada hakekatnya merupakan renungan, pengembangan dan pencerminan prinsip-prinsip utamanya. Beberapa tahap kehidupan Islam dan kegiatannya mengalir dari postulatpostulat dasar ini secara pasti laksana tanaman mencuat dari benihnya……….Semua rancangan kehidupan Islam juga mengalir dari postulat-postulat pokoknya. Oleh karena itu, aspek manapun dari Idiologi Islam yang ingin dikaji, pertama kali yang harus diketahui adalah mengetahui akarnya serta prinsip dasarnya.122 “Iman terhadap ke-Esaan dan kekuasaan Allah merupakan landasan sistim sosial dan moral yang ditanamkan oleh para Rasul. Dari sinilah filsafat politik Islam mengambil titik pijak. Prinsip dasar Islam adalah bahwa mahluk manusia, baik secara individual maupun kelompok, harus menyerahkan hak atas kekuasaan, legislasi serta penguasaan atas sesamanya. Tidak seorangpun yang akan diperkenankan untuk memberikan perintah atau aturan-aturan sekehendaknya sendiri dan tidak seorangpun yang diperkenankan untuk mengakui kewajiban untuk melaksanakan pemerintah atau aturan seperti itu. Tidak seorangpun yang diberi hak istimewa untuk membuat undangundang sekehendak hatinya sendiri dan tidak seorangpun yang wajib mengigatkan

The Principles of State and Government in Islam, The Islamic Law and Constitution,

dirinya kepada undang-undang yang telah dibentuk dengan cara seperti itu. Hak ini hanya merupakan hak Allah. (QS, 12:40, 3:154, 16:116, 5:54).” “Menurut teori ini, kedaulatan ada di tangan Allah . Dia sendirilah yang merupakan pemberi hukum. Tidak seorangpun, sekalipun Rasul, yang berhak memerintah orang lain sekehendak hatinya sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu .” “Dengan demikian, karakteristik utama suatu Negara Islam yang dapat digali dari pernyataan-pernyataan Kitab Suci al-Qur’an adalah sebagai berikut : 1. Tidak ada seorangpun, bahkan seluruh penduduk negara secara keseluruhan, dapat menggugat kedaulatan. Hanya Tuhan yang berdaulat, manusia hanyalah subyek. 2. Tuhan merupakan pemberi hukum sejati dengan wewenang mutlak legislasi ada pada-Nya. Kaum mukmin tidak dapat berlindung pada legislasi yang sepenuhnya mandiri, tidak juga dapat mengubah hukum yang telah diletakkan Tuhan, sekalipun tuntutan untuk mewujudkan legislasi atau perubahan hukum ilahi ini diambil secara mufakat bulat. Suatu negara Islam dalam segala hal haruslah didirikan berlandaskan hukum yang telah diturunkan Allah kepada manusia melalui Rasulullah SAW. Pemerintah yang akan menyelenggarakan negara semacam ini akan di beri hak untuk ditaati dalam kemampuannya sebagai suatu agen politik yang diciptakan untuk menegakkan hukum-hukum Tuhan, sepanjang dia bertindak sesuai dengan kemampuannya. Jika dia mengabaikan hukum yang telah diturunkan Allah, perintah-perintahnya tidak akan lagi mengikat kaum mukminin.123 “Konsep yang digambarkan oleh al-Qur’an bagi negara dan tatanannya, melalui 16 pokok yang telah disebutkan sebelum ini memiliki ciri-ciri yang jelas yaitu : 1. Negara ini didirikan atas dasar kesadaran suatu bangsa yang merdeka dan bersedia menundukkan kepalanya secara suka rela kepada Tuhan Semesta Alam, meskipun adanya kenyataan bahwa ia adalah bangsa yang merdeka dengan kemerdekaan yang sempurna dan ia rela menempati kedudukan sebagai kholifah (pengganti, wakil) bukan kedudukan pengusa tertinggi di bawah kekuasaan Allah yang tertinggi dan bekerja sesuai dengan perundang-undangan dan hukum-hukum yang ditetapkan oleh Allah dalam kitab-Nya dan melalui RasulNya. 2. Bahwasannya kekuasaan dan kedaulatan hukum tertinggi didalamnya adalah sepenuhnya bagi Allah sendiri sampai satu batas yang bersesuaian dengan teori teokrasi, hanya saja cara negara melaksanakan teori ini berbeda dengan sistem teokrasi yang dikenal. Sebagai ganti keistimewaan suatu kelas tertentu dari kaum pendeta atau kaum sesepuh dan lain-lainnya berkenaann dengan perwakilan dari Allah dan pemusatan segenap kekuasaan al- hal wal aqd (melepas dan mengikat) ditangannya, seperti yang dikenal dalam kekuasaan-kekuasaan teokratis, kita mendapati bahwa khilafah atau perwakilan dari Allah dalam negara Islam adalah bagian kaum mukminin semuannya (yaitu mereka yang telah membuat perjanjian dengan Allah dengan kesadaran yang timbul dari keinginan mereka untuk patuh dan taat kepada hukum-Nya) dalam batas-batas negara semuanya, dan bahwa

3.

4.

5.

6.

kekuasaan-kekuasaan al-hal wal aqd yang terakhir berada ditangan mereka secara kolektif. Sistem ini bersesuaian dengan pokok-pokok demokrasi tentang ketentuan bahwa terbentuknya pemerintahan, pergantiannya serta pelaksanaannya haruslah sesuai dengan pendapat rakyat, tetapi rakyat dalam sistem ini, tidak terlepaskan kendalinya sama sekali sehingga menjadikan undang-undang negara, pokok-pokok kehidupannya, garis-garis politik dalam dan luar negerinya serta seluruh daya dan sumber kekuatannya mengikuti hawa nafsu atau kecendrungan mereka, ikur bersama kemana mereka pergi; akan tetapi kecendrungan rakyat diatur dan diluruskan dengan undang-undang Allah dan Rasul-Nya , yaitu undang-undang dasar yang tertinggi. Dan dengan prinsif-prinsif, batasan-batasan, hukum-hukum dan ikatanikatan akhlaqnya. Maka negara menempuh jalan tertentu yang telah ditetapkan dan tidak diperbolehkan bagi badan legislative, yudikatif, eksekurif atau bahkan rakyat seluruhnya untuk mengubahnya. Dalam hal ini tentunya dengan pengecualian apabila rakyat memutuskan untuk melanggar perjanjian (dengan Allah) dan keluar dari lingkungan iman. Negara ini adalah negara yang berdasarkan konsep-konsep tertentu dan sudah barang tentu dikelola oleh orang-orang yang benar-benar percaya dan menerima gagasan-gagasannya, prinsip-prinsip dan teori-teori asasinya. Adapun orang-orang yang tidak meyakini kebenarannya dan tidak menerima dengan baik, tapi mereka ingin tinggal didalam perbatasannya, maka mereka memiliki hak-hak yang sama dengan orang-orang yang meyakini dan menerima prinsip-prinsip serta gagasan-gagasan negara ini. Negara ini berdiri atas dasar idiologi semata-mata dan tidak atas dasar ikatan-ikatan warna, ras, bahasa atau batas-batas geografis. Setiap manusia, dimanapun mereka berada dimuka bumi ini, dapat menerima prinsip-prinsipnya apabila ia ingin dan menggabungkan diri kedalam sistemnya, dan memperoleh hak-haknya sama persis tanpa perbedaan, kefanatikan atau kekhususan… dan setiap negara diseluruh dunia, yang ditegakkan atas dasar prinsip-prinsip ini adalah “negara Islam“ baik ia berdiri di Afrika, di Amerika, di Eropah atau di Asia ; dijalankan dan dilaksanakan urusanurusannya oleh orang-orang yang berkulit merah, hitam ataupun kuning. Tidak ada suatu hambatan apapun yang menghalanginya untuk menjadi sebuah negara dengan kekhususan ideologis ini, sebagai sebuah negara dengan hukum-hukum Internasional . Dan apabila diberbagai tempat diatas muka bumi ini terdapat beberapa negara seperti ini, maka semuanya adalah “negara Islam“ yang dapat saling tolong menolong dan bantu membantu diantara mereka, sebagaimana layaknya antara sanak saudara yang saling mengasihi, tidak bertarung atas dasar nasionalisme ataupun ikatan-ikatan kebangsaan yang beraneka ragam. Dan apabila mereka bersama-sama mencapai persetujuan , merekapun dapat membentuk perdamaian Internasional dan kesatuan pendapat umum yang bersifat internasional. Semangat hakiki yang menjiwai negara ini ialah mengikuti akhlaq, bukannya mengikuti politik serta tujuan-tujuannya, serta menjalankan urusan-urusannya berdasarkan taqwa kepada Allah dan takut kepadaNya. Dasar keutamaan seseorang

dalam negara ini ialah keutamaan dibidang akhlak semata-mata. Urusan-urusan yang paling patut dipelihara dan paling layak diperhatikan dan diayomi ketika pemilihan para pemimpin dan orang-orang ahlul-halli wal-aqd (yang berhak “ melepas dan mengikat “) dalam negara ini ialah : Kebersihan akhlak dan kesuciaannya disamping kemampuan inteligensia dan fisik. Setiap bagian dalam urusan dalam negeri sistem negara ini haruslah ditegakkan atas dasar amanat, keadilan, ketulusan dan persamaan, sebagaimana politik luar negerinya juga harus ditegakkan atas dasar ketulusan sempurna dan berpegang teguh dengan ucapan-ucapan atau keputusan-keputusan yang telah diperbuat, dan mengusahakan adanya perdamaian dan keadilan internasional serta perilaku yang sebaik-baiknya. 7. Negara ini tugasnya bukanlah melaksanajan kewajiban-kewajiban kepolisian semata-mata, sehingga menjadikan fungsinya hanya menangkap, menahan, menetapkan peraturan-peraturan serta menjaga batas-batas negara semata-mata, tetapi ia adalah negara yang memiliki sasaran dan tujuan, dimana kewajibannya yang terpenting ialah menyerukan perbuatan kebaikan, melaksanakan keadilan sosial, menyuburkan kebajikan, mencegah kemungkaran dan memberantas kejahatan serta segala bentuk pengrusakan. 8. Nilai-nilai asasi negara ini ialah persamaan hak, kedudukan dan kesempatan sera pelaksanaan undang-undang, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan dan tidak saling tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, kesadaran akan tanggung jawab dihadapan Allah, kesesuaian antara individu dan masyarakat serta negara dalam sasaran yang satu, dan tidak membiarkan salah seorang anggota rakyat negara ini tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhan asasinya atau keperluankeperluan hidupnya yang esensial. Telah ditetapkan adanya hubungan keseimbangan antara individu dan negara dalam sistem ini, sehingga tidak menjadikan negara sebagai penguasa multak yang dapat berbuat apa saja, atau menjadikan dirinya sebagai majikan yang memiliki kekuasaan tanpa batas dan kesewenangan yang meliputi segalanya, sehingga menjadikan rakyat sebagai hamba yang dimilikinya, tanpa daya dan kekuatan; tapi ia juga tidak memberikan kemerdekaan mutlak tanpa batas kepada individu dan membiarkannya berbuat apa saja, sehingga menjadikannya sebagai musuh bagi dirinya sendiri dan bagi kepentingan masyarakat. Tapi ia memberikan, kepada setiap individu, hak-hak mereka yang asasi dan mewajibkan kepada pemerintah untuk mengikuti undang-undang tertinggi dan berpegang teguh pada permusyawaratan, serta menyiapkan kesempatan-kesempatan yang sempurna untuk mendidik dan membina kepribadian individu dan menjaganya dari campur tangan kekuasaan tanpa alasan, dalam satu segi, dan segi yang lain, ia mengikat orang perorang dengan ikatan-ikatan akhlaq dan mewajibkan atas dirinya, ketaatan kepada pemerintah yang berjalan sesuai dengan undang-undang Allah dan syariatNya dan bekerja sama dengannya dalam kebaikan dan kebajikan dan melarangnya menyebabkan kerusakan dalam tatanannya atau menyebarkan kekacauan diseluruh negeri, atau enggan berkorban dengan jiwa dan harta demi menjaga dan mempertahankannya.124
al-Khilafah wa al-Mulk,

Konstutusi pemerintahan Islam harus mencakup prinsip-prinsip dasar sebagai berikut : 1. Kekuasaan tertinggi atas segenap alam semesta dan semua hukum terletak pada Allah , Tuhan semesta alam saja. 2. Hukum dimuka bumi haruslah berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Ketetapan hukum ataupun aturan administratif yang akan dikeluarkan dan diberlakukan tidak boleh melanggar al-Qur’an dan al-Sunnah. 3. Negara harus berdasarkan prinsip-prinsip dan cita-cita idiologi Islami, bukan pada konsep geografi, ras, bahasa atau konsep-konsep materialistik lainnya. 4. Negara berkewajiban membela dan menegakkan kebenaran (ma’ruf) serta mencegah danmenghapuskan yang salah (mungkar), sebagaimana ditunjukkan al-Qur’an dan al-Sunnah, mengambil semua tindakan yang perlu untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan pola kebudayaan Islam, serta mengadakan pendidikan Islam sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh berbagai aliran pemikiran Islam yang diakui. 5. Negara berkewajiban memperkuat ikatan persatuan dan persaudaraan diantara kaum muslimin diseluruh dunia, menghalangi timbulnya semua prasangka yang berdasarkan perbedaan ras, bahasa, wilayah atau pandanganmaterialistik lainya, serta menjaga dan memperkuat persatuan millat al-Islamiyah (ajaran Islam). 6. Merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menjamin tersedianya keperluankeperluan dasar kehidupan seperti makanan, pakaian, perumahan, kemudahan pengobatan dan pendidikan bagi setiap warganegara tanpa membedakan ras atau agama yang untuk sementara waktu atau selamanya tidak mampu memenuhi nafkahnya karena alasan pengangguran, sakit atau alasan-alasan lainnya. 7. Warganegara berhak atas segala sesuatu yang diberikan kepada mereka oleh hukum Islam, yakni mereka dijamin sepenuhnya dalam batas-batas hukum – dalam hal keamanan jiwa, harta benda dan kehormatan diri , kebebasan beragama dan kepercayaan, kemerdekaan beribadah, kebebasan pribadi, kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan bergerak, kemerdekaan berserikat, kemerdekaan bekerja, persamaan kesempatan, serta hak untuk memperoleh manfaat pelayanan masyarakat. 8. Tidak ada warganegara, kapanpun juga, yang boleh dihalang-halangi dari hak-hak diatas mereka, kecuali atas dasar hukum. Mereka tidak pula boleh dijatuhi hukuman atas tuduhan apapun tanpa diberi kesempatan penuh untuk membela atau tanpa melalui pengadilan. 9. Aliran pemikiran Islam yang diakui memiliki dalam batas-batas hukum kemerdekaan penuh dalam beragama. Mereka memiliki hak untuk menyampaikan ajaranajaran agama kepada para pengikutnya serta hak menyebar luaskan pandanganpandangan mereka, hal-hal yang berkenaan dengan hukum perdata akan diatur sesuai dengan kode hukum (fiqh) mereka masing-masing, dan hendaknya aturan halhal tersebut dilengkapi dengan hakim-hakim (qadhi) dari masing-masing aliran pemikiran. 10. Warganegara bukan muslim dalam batasan hukum memiliki kebebasan sepenuhnya dalam beragama dan beribadah, kebebasan dalam cara hidup, kemerdekaan budaya

11.

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

dan pendidikan agama. Mereka diberi hak untuk mengatur semua hal yang berkenaan dengan hukum perdata sesuai dengan aturan-aturan agama, adat dan kebiasaan mereka. Semua kewajiban negara terhadap warganegara bukan muslim dalam batas-batas syariah-akan dihormati sepenuhnya. Mereka diberi hak yang sama dengan warganegara muslim dalam hal hak-hak warganegara sebagaimana disebutkan dalam paragrap 7 diatas. Kepala negara haruslah seorang laki-laki muslim yang dinilai oleh rakyat atau wakil-wakil pilihan mereka dapat dipercaya dalam hal kesholehan, pendidikan dan kesehatannya. Tanggung jawab pengaturan negara terutama berada ditangan kepala negara, walaupun boleh ia limpahkan sebagian kekuasaannya kepada pribadi atau lembaga lain. Kepala negara menjalankan tugasnya tidak secara otokratik, melainkan secara musyawarah (syuro) dengan para pejabat pemegang tanggung jawab pemerintahan serta dengan wakil-wakil pilihan rakyat. Kepala negara tidak berhak membekukan konstitusi, seluruh atau sebagian, atau menjalankan administrasi pemerintahan tanpa suatu lembaga permasyaratan (syuro). Lembaga yang diberi kuasa memilih kepala negara juga memiliki kekuasaan untuk memecatnya atas dasar suara mayoritas. Dalam hal hak-hak sipil, kepala negara berada setingkat dengan muslim-muslim lainnya. Ia juga tidak bebas dari hukum. Semua warganegara, baik pejabat pemerintahan, pegawai negeri maupun rakyat biasa, tunduk pada hukum yang sama dan pada yurisdiksi pengadilan yang sama . Peradilan dipisahkan dan bebas dari eksekutif, sehingga tidak mungkindipengaruhi oleh eksekutif dalam memenuhi tugas-tugasnya. Penyebaran dan penerbitan pandangan-pandangan dan idiologi-idiologi yang dipandang merongrong prinsip-prinsip dasar dan cita-cita yang melandasi negara Islam adalah terlarang. Berbagai daerah dan wilayah negara hanya dipandang sebagai satuan-satuan administrasi dari suatu negara kesatuan. Mereka tidak merupakan satuan-satuan atas dasar ras, bahasa atau suku,melainkan daerah administrasi semata yang boleh diberi kekuasaan tertentu-dibawahkan oleh pusat- yang diperlukan bagi kelancaran administrasi. Mereka tidak berhak memisahkan diri. Penafsiran konstitusi yang bertentangan dengan al-Qur’an atau al-Sunnah dianggap tidak syah.125

Maka dengan demikian pemerintahan Islam yang adil adalah : “Pemerintahan yang dikelola oleh sekelompok ummat Islam ; baik pemimpinpemimpinnya maupun staf-stafnya terdiri dari orang-orang yang komit terhadap
Concept of Islamic State,

manhaj Islam dan melaksanakan syariat Islam baik terhadap urusan dalam negeri maupun terhadap urusan luar negerinya. Luar dalamnya semuanya Islam, dan patuh secara mutlak kepada hukum Allah. Tujuan dan sasaran yang ingin dicapai baik yang kedalam maupun yang keluar adalah semata-mata untuk kejayaan Islam. Syi’arnya adalah untuk menegakkan Daulah Islamiyah, mempersatukan ummat Islam, menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, memenangkan syariat Islam, dan berjihad di jalan Allah sehingga kalimat Allah benar-benar menjadi tertinggi di dunia. Negara dan pemerintahan semacam ini akan mendidik rakyat / ummatnya dengan tarbiyah Islamiyah yang sempurna, sehingga setiap individu siap menjadikan dirinya sebagai jundullah (tentara Allah) dalam barisan hizbullah dengan kharakter khasnya yang Islami. Inilah yang dimaksudkan ayat : “ (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi niscaya mereka mendirikan sholat , menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar , dan kepada Allahlah kembali segala urusan . ( Al- Hajj : 41 ) Pada pemerintahan ini sudah dapat dipastikan para pemimpin dan pemegang amanatnya selalu tegak diatas manhaj Islam, begitu juga majlis-majlis syuronya. “ 126

- Pemerintahan Islam bukannya Pemerintahan Teokrasi

Pemerintahan Teokrasi biasanya diartikan sebagai : “Suatu bentuk pemerintahan dimana Tuhan ( atau dewa ) dianggap sebagai raja atau penguasa yang tidak dapat diganggu gugat, dan hukumnya dijadikan sebagai undang-undang dasar negara tersebut. Undang-undang ini umumnya diselenggarakan oleh tataan pendeta sebagai menteri-menteri dan oleh karenanya teokarasi merupakan sistem pemerintahan oleh tatanan sakerdotal yang mengaku sebagai para perantara Ilahi “127 Sistem pemerintahan Islam dengan kedaulatan tertinggi pada Allah dalam segala hal yang diamanahkan kepada hamba-Nya sebagai kholifah (wakil) tidaklah identik dengan sistem pemerintahan teokrasi yang dikenalkan para pendeta Nasrani di Barat pada abad pertengahan . Abul A’la Maududi menulis : “Nama yang lebih cocok untuk politik Islam ini adalah “Kerajaan Tuhan“ ( Kingdom of God ) yang didalam bahasa politik disebut sebagai “Teokrasi“. Tetapi teokrasi Islam merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda dari teokrasi yang pernah jaya di Eropah tempat terjadinya pengalaman pahit karena adanya kelompok pendeta, yaitu suatu kelompok masyarakat khusus, yang melakukan dominasi tak terhingga dan menegakkan hukum-hukumnya sendiri atas nama Tuhan, dan pada akhirnya memaksakan keIlahian dan Ketuhanan mereka sendiri atas rakyat. Sistem pemerintahan semacam ini justeru lebih bersifat syaithoniyah daripada Ilahiyah. Sangat bertolak belakang dengan hal ini, teokrasi yang dibangun Islam tidaklah dikuasai oleh kelompok keagamaan manapun kecuali seluruh masyarakat Islam dari segala kelompok. Seluruh penduduk muslim menyelenggarakan pemerintahan sejalan dengan Kitabullah dan praktek Rasulullah. Jika saya diperkenankan untuk menggunakan istilah baru, saya akan menyebut sistem
Jundullah, The Shorter Oxford Dictionary,

pemerintahan semacam ini sebagai “ Teo-Demokrasi “ yaitu sistem pemerintahan demokrasi Ilahi, karena dibawah naungannya kaum muslimin telah diberi kedaulatan rakyat yang terbatas dibawah pengawasan Tuhan. Eksekutif yang terbentuk berdasarkan sistem pemerintahan semacam ini dibentuk berdasarkan kehendak umum kaum muslimin yang juga berhak untuk menumbangkannya. Semua masalah pemerintahan dan masalah mengenai hal-hal yang tidak diatur secara jelas dalam syariah, diselesaikan berdasarkan mufakat bulat dan konsensus dikalangan kaum muslimin. Setiap muslim yang mampu dan memenuhi syarat untuk memberikan pandangan yang sehat mengenai masalah-masalah hukum Islam, diberikan hak untuk menafsirkan hukum Tuhan jika penafsiran hukum ini memang diperlukan. Dalam pengertian ini, politik Islam disebut juga sebuah demokrasi. Tetapi sebagaimana yang telah diuraikan diatas, dia juga teokrasi dalam arti bahwa apabila terdapat perintahperintah atau hukum yang telah jelas atau terang-terangan dari Tuhan atau Rasul-Nya, maka tidak seorangpun atau tak satu lembaga legislatif, yang berhak untuk melaksanakan pertimbangan secara mandiri, sekalipun seluruh muslim disegenap penjuru dunia mencapai sepakat bulat untuk mengubahnya“.128 Dengan demikian jelaslah sistem pemerintahan Islam tidak identik dengan sistem pemerintahan teokrasi yang dikenal Barat, namun perlu digariskan, sistem pemerintahan Islam mengandung unsur teokrasi sebagaimana diterangkan diatas . Atau seperti apa yang dikatakan DR. Said Ramadhan : “ Ringkasnya, boleh dikatakan bahwa pemerintahan hukum Islam tak akan pernah sampai menjadi “ teokrasi “ karena alasan sederhana, yaitu ketiadaan hirarki kependetaan pada konsep paling dasar agama ini “.129 - Pemerintahan Islam bukannya Pemerintahan Demokratis ala Barat Kesalahan politik terbesar kaum muslimin saat ini yang telah menggelincirkan mereka adalah mengidentikkan sistem demokrasi kafir Barat dengan sistem musyawarah (syuro) dalam Islam. Dimana hal ini sangat bertentangan secara substansial ataupun filosofis. Abul A'la Maududi menulis : “Pembahasan-pembahasan dimuka semakin memperjelas bahwa Islam ditinjau dari segi filsafat politik merupakan antitesis sejati dari demokrasi Barat. Landasan-landasan filosofis demokrasi Barat adalah kedaulatan rakyat. Didalamnya, jenis kekuasaan mutlak legislasi mengenai penentuan nilai-nilai serta norma-norma perilaku berada ditangan rakyat. Pembuatan undang-undang merupakan hak prerogatif dan legislasi harus sejalan dengan mood dan suasana hati dari pandangan mereka . Jika sebagian legislasi khusus diinginkan massa, betapapun jahatnya ditinjau dari segi moral dan keagamaan, maka legislasi itu harus dimasukkan kedalam kitab undang-undang; atau jika rakyat tidak menyukai aturan hukum tertentu dan meminta agar dilakukan abrogasi, betapun adil serta benarnya undang-undang tersebut, maka dia harus dilenyapkan. Ini tidak akan terjadi dalam Islam . Dalam hal ini, Islam sama sekali tidak mengekor atau meniru jejak demokrasi Barat. Sebagaimana telah dijelaskan, Islam sama

The Islamic Law and Constitution, Islamic Law, Its Scope and Enguity,

sekali mengenyahkan filsafat kedaulatan rakyat dan menyandarkan politiknya pada landasan-landasan kedaulatan Allah dan kekhalifahan manusia.”130 Sistem demokrasi adalah sistem politik dan pemerintahan yang diciptakan Barat sesuai dengan dinamika sejarah mereka yang telah menolak segala bentuk peranan agama dalam kehidupan dunia, yang dikenal dengan faham sekulerisme. Faham ini sendiri lahir dari kekecewaan masyarakat Barat terhadap ketidakadilan Raja-raja zalim dan Pemuka-pemuka agama kristen yang mengesploitasi rakyat atas nama Tuhan. Kehadiran pemerintahan demokratis adalah hasil perjuangan para cendekiawan Barat menumbangkan dominasi para tirani dan menyerahkan kekuasaan mutlak kepada rakyat. Sementara landasan filosofis pemerintahan Islam yang ditegakkan atas keadilan Sang Pencipta sangat bertentangan dengan konsep yang dikemukakan para pemikir politik Barat dengan teori demokrasi dan segala yang berhubungan dengannya. Maka dengan demikian pemerintahan demokratis ala Barat sebagaimana yang dianut sebagian besar kaum Muslimin saat ini tidak identik dengan syuro’ yang dikehendaki Islam, bahkan bertentangan baik secara filosofis, teoritis maupun prakteknya. Maka istilah dalam sistem politik Islam yang mendekati kebenaran bukan konsep demokrasi, tetapi Teo-Demokrasi sebagaimana dikemukakan Abul A’la al-Maududi terdahulu. Jadi dengan demikian pemerintahan Islam tidak mengenal sistem demokrasi Barat yang disanjung sebagian kaum muslimin dewasa ini, tapi Islam memiliki sistem demokrasi yang khas, yaitu demokrasi terbatas yang tidak dapat menggugat kedaulatan tertinggi Allah. Suara rakyat seluruhnya harus tunduk dibawah kehendak Allah dan Rasul-Nya. Jika terdapat perbedaan antara suara rakyat dan kehendak Allah, maka suara rakyat batal dengan sendirinya, walaupun didukung seluruh rakyat dipermukaan bumi ini. Inilah hakekat sistem demokrasi Islam yang bertentangan dengan demokrasi Barat yang menganjurkan kedaulatan penuh ditangan rakyat. Seluruh kekuasan mutlak milik Allah yang menjadi Penguasa tertinggi dalam hukum, peraturan dan perundang-undangan, sementara manusia berfungsi sebagai wakil yang menjalankannya. - Pemerintahan Islam bukan Pemerintahan Kerajaan (Monarchi) Dengan memahami hakekat sistem pemerintahan Islam terdahulu, maka jelaslah Islam menolak bentuk pemerintahan monarchi absolut (krajaan ) yang dianut kaum muslimin dewasa ini. Islam menolak sistem pemerintahan kerajaan yang menghilangkan hak-hak rakyat untuk menentukan pimpinan mereka secara musyawarah -mengangkat pemimpin pemerintahan secara turun temurun. Islam mengutuk sistem pemerintahan yang mengkonsentrasikan kekuasaan pada salah seorang raja yang berkuasa, yang dapat berbuat apa saja tanpa ada yang dapat menegurnya ataupun memberhentikannya dari jabatannya, yang dapat menghambur-hamburkan harta negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Berkenaan masalah ini, Ayatullah Khomaeni berkata : “Pemerintahan Islam sama sekali tidak ada kaitannya dengan bentuk-bentuk pemerintahan yang ada sekarang ini. Misalnya, pemerinthahan Islam bukanlah tirani yang kepala negaranya dapat bertindak sewenang-wenang menggunakan harta nyawa
The Islamic Law..,

rakyat sekehendaknya, membunuh yang ingin dibunuhnya, memperkaya setiap orang yang dikehendakinya dengan membagi-bagikan tanah dan harta kepunyaan rakyat. Nabi yang mulia saw, Amirul mukminin, sang kholifah yang lain tidak memiliki kekuasaan seperti itu. Pemerintahan Islam bukanlah pemerintahan tirani, bukannya pemerintahan absolut, tetapi pemerintahan konstitusional. Tetapi maksud konstitusional tidaklah sama dengan artinya dewasa ini- yakni berdasarkan hukum yang disesuaikan dengan pendapat mayoritas. Pemerintahan Islam bersifat konstitusional dalam arti bahwa penguasa tunduk pada serangkaian persyaratan dalam memerintah dan mengatur negara; persyaratan yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan alSunnah. Hukum-hukum dan ajaran Islam itulah yang harus dijalankan dan dipatuhi. Karena itu pemerintahan Islam dapat disebut sebagai pemerintahan hukum Allah atas manusia. Perbedaan pokok antara pemerintahan Islam dengan monarchi konstitusional atau republik ialah : Bila wakil-wakil rakyat atau raja dalam pemerintahan tersebut mempunyai kekuasaan membuat hukum, dalam Islam kekuasaan legislatif dan hak membuat hukum hanya kepunyaan Allah SWT. Karena itu dalam Islam majelis perencana mengambil alih majelis legislatif yang merupakan salah satu dari tiga kekuasaan pemerintah. Majelis ini menyusun program untuk berbagai kementrian berdasarkan ajaran Islam dan menentukan bentuk pelayanan pemerintahan diseluruh negeri. “ 131 Abul A’la Mududi dalam bukunya yang terkenal, “al-Khilafah wa al-Mulk”, telah menjelaskan panjang lebar perbedaan sistem pemerintahan Islam (khilafah) dengan sistem kerajaan. Dengan analisa yang terinci panjang lebar, beliau menyimpulkan sistem kerajaan yang dilaksanakan generasi Islam setelah Khulafaur Rosyidin adalah penyelewengan nyata dari ajaran Islam dan tidak patut ditiru. Islam tidak pernah mengajarkan sistem pemerintahan Monarchi Absolut.132 - Pemerintahan Islam bukannya Pemerintahan Nasional Sekuler Pemerintahan Islam bukannya pemerintahan nasional sekuler yang berdasarkan kebanggaan ras/etnis sebagaimana yang dianut sebagian besar kaum muslimin saat ini dengan nama-nama nasional mereka masing-masing dan membentuk ideologi negara tersendiri di luar idiologi Islam. Pemerintahan nasional yang memisahkan diri dengan batas-batas teritorial geografis sempit ini adalah produk Imprialis kafir Barat untuk menghancurkan eksistensi persatuan kaum muslimin dengan membaginya menjadi negara-negara nasional yang berbangga-bangga dengan ciri budaya jahilinya masingmasing, menanggalkan ikatan aqidah yang telah diwarisi pendahulu-pendahulu mereka yang telah menguasai dunia ini. Pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang tidak dibatasi oleh batas geografis negara-negara seperti sekarang. Seluruh permukaan bumi ini adalah daerah kekuasaanNya, karena langit dan bumi adalah milik Allah, Dialah sebagai Penguasa Tertingginya. Maka seluruh permukaan bumi ini harus tunduk dibawah kekuasaan-Nya dan kepada
The Islamic Government, al-Khilafah wa al-Mulk,

orang-orang yang diamanatkan-Nya. Maka bagian dunia manapun yang tidak menjunjung tinggi Allah sebagai Penguasa Tunggalnya harus dibebaskan dan ditaklukkan agar mengakui eksistensi kedaulatan Allah. Jadi pemerintahan Islam menuntut seluruh dunia berada dibawah kekuasaannya, bukan sekedar daerah-daerah geografis tertentu dengan batasannya. Sebagaimana Allah telah menjanjikan kepada hamba-hambaNya didalam Al-Qur’an : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dibumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. ( An- Nur : 55 ) Seluruh permukaan bumi adalah milik kaum muslimin yang telah diamanahkan kepadanya dan harus ditata sesuai dengan aturan-aturaran yang telah diturunkan sang Pemberi Amanah. Tidak ada batasan apaun yang dapatmemisahkan bumi Allah yang satu dengan bumi Allah yang lainnya. Semuanya adalah milik Allah yang harus tunduk dibawah kedaulatan Allah. Dengan demikian Islam sangat menolak prinsip pemerintahan nasional yang berlandaskan semangat ashobiyah ( rasialisme, cheuvinisme, nasionalisme ) sebagaimana diterangkan Rasulullah : Tidaklah termasuk golongan kami orang-orang yang menganjurkan ashobiyah, tidaklah masuk golongan kami orang-orang yang berperang atas dasar ashobiyah dan tidaklah masuk golongan kami orang-orang yang mati atas dasar ashobiyah. ( HR. Abu Dawud ) Sayyid Qutb menulis : “Sebagai tindak lanjut dari penghapusan dinding-dinding ras, bahasa dan warna kulit, maka Islam meniadakan pula batas geografis antara berbagai bangsa, yang menciptakan perasaan nasional sempit dan yang menjadi sumber bagi persaingan sengit antara nasion-nasion yang berbeda-beda. Persaingan inilah yang melahirkan sistem penjajahan yang intipatinya ialah eksploitasi bangsa atas bangsa, jenis atas jenis dan tanah air atas tanah air. Mudahlah dimengerti bahwa penggerak utama dari sengketa jajahan itu dijaman modern ini adalah perasaan nasional sempit yang menjelma dalam bentuk yang khas dibelakang tapal batas negara masing-masing. Semuanya itu karena hasrat masing-masing negara untuk mendapat ruang hidup pada negeri-negeri yang lemah, dalam bentuk penguasaan atas bahan-bahan mentah dan buruh yang murah, lalu menjadi tempat penjualan barang-barang produksi mereka dengan menarik keuntungan yang melimpah-limpah.”133 Pemerintahan nasional dengan batas-batas teritorial tertentu yang dianut kaum muslimin saat ini adalah sumber malapetaka mereka. Dengan terpilah-pilahnya kekuataan kaum muslimin dalam beberapa nasion akan mudah diadu domba dan dihancurkan. Perpecahan mereka telah memudahkan musuh-musuh untuk mendektekan segela kehendak mereka, yang akhirnya menghancurkan eksistensi Islam dan ummatnya. Semangat nasionalisme yang berdasarkan pada kebanggaan suku dan ras ini adalah perkara jahiliyah yang telah dihapus sejak Rasulullah menyerukan Islam pertama kali kepada para pengikutnya.

Masyarakat Islam,

- Pemerintahan Islam bukannya Pemerintahan Diktator ala Fasis Ada sementara orang-orang yang mengidentikkan ketaatan kepada pemerintah dalam Islam dengan ketaatan buta ala pemerintahan diktator yang dianut sistem Fasisme ataupun militerisme. Dengan pemahaman yang salah ini kemudian mereka mengklaim pemerintahan Islam identik dengan pemerintahan diktator yang dapat berbuat semaunya terhadap rakyatnya dengan dalih ketaatan kepada pemerintah (ulil Amri) sebagaimana disebutkan al-Qur’an. Kemudian dalih ayat ini penguasa-penguasa diktator dinegara-negara muslim memperkosa hak-hak asasi rakyatnya, memaksa mereka dengan kekerasan untuk menerima program-program pemerintah yang bertentangan dengan Islam, memenjarakan dan membunuh mereka atas legalisasi ketaatan yang diberikan Tuhan !!!. Penguasa-penguasa ini semakin semakin diktator dan sadis setelah mendapat restu dari ulama-ulama mereka yang dibelinya dengan harga sangat murah untuk memberikan fatwa agama. Pemerintahan diktator adalah sistem pemerintahan ala fasis yang tidak pernah dikenal Islam, karena pemerintahan ini memaksakan kehendaknya kepada rakyat dengan intimidasi, meninggalkan azaz musyawarah. Pemerintah yang dikendalikan segelintir elit penguasa yang memiliki kedaulatan penuh, yang harus ditaati semua perintahnya tanpa kecuali. Siapapun tidak dapat mengganggu otoritasnya dalam menjalankan pemerintahannya, jika ada yang membangkang,maka akan mendapat hukuman tanpa melalui prosedur keadilan , dia dapat saja dibunuh jika pemerintah menghendakinya. Pemerintahan ini adalah pemerintahan tangan besi yang senantiasa mengandalkan kekerasan dan pemaksaan. Pemerintahan model ini dianut kaum fasis yang terkenal kejamnya, tidak mengenal peri kemanusiaan dan kasih sayang, seperti Hitler ataupun Mussailini. Pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan yang melandaskan ketaatannya semata-mata karena Allah dan RasulNya. Pemerintah baru dapat ditaati selama ia mentaati Allah dan RasulNya yang senantiasa mengajarkan kebaikan keadilan dan kedamaian yang abadi. Islam tidak mengenal ketaatan mutlak terhadap manusia / penguasa sebagaimana yang disangkakan kebanyakan orang sehingga diidentikkan dengan diktator ala fasis, Abul A’la Maududi menulis tentang konsepsi ketaatan ini : “Obyek ketiga ketaatan Muslim dalam tatanan kehidupan Islam adalah ulul Amri, yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan pemerintah. Tetapi ketaatan terhadap pemerintah ini baru timbul dengan peringkat dibawah ketaatan terhadap Allah dan ketaatan terhadap rasul, dan tunduk kepada kedua ketaatan tersebut. Menurut ayat ini pula , ulul Amri ini juga harus dibentuk dari kalangan kaum muslimin itu sendiri.”134 Dalam masyarakat ( Islam ) semacam ini, tidak ada ruang bagi kediktatoran seseorang atau kelompok tertentu atas lainnya, karena setiap orang adalah khalifah Allah. Tidak ada seorang atau sekelompok orangpun yang diberi hak istimewa untuk menjadi penguasa mutlak dengan merampas hak-hak asasi orang kebanyakan. Kedudukan seseorang yang terpilih untuk melaksanakan urusan-urusan kenegaraan tidak akan melampaui ketentuan ini sehingga semua muslim, atau tepatnya semua khalifah Tuhan , menyerahkan kekhalifahannya kepada pejabat itu demi penyelenggaraan
Islamic Law,

pemerintahannya. Disatu pihak dia akan bertanggung jawab kepada Allah, dan dilain pihak dia juga akan dimintai tanggung jawabnya oleh rekan-rekannya yang telah mendelegasikan kekholifahan kepada mereka kepadanya. Jika tiba-tiba dia mendaulat diri sebagai penguasa multak yang tidak bertanggung jawab, diktator, maka sebenarnya dia tengah berperan sebagai pemeras ketimbang seorang kholifah, karena kediktatoran merupakan penolakan atas kekhalifahan umum. Kekuasaan yang telah dimiliki para diktator Rusia, Jerman dan Italia atau yang telah dikerahkan oleh Ataturk di Turki, tidak pernah dianugerahkan Islam Amirnya.135 Dengan demikian jelaslah pemerintahan Islam tidak identik sama sekali dengan pemerintahan diktator yang dianjurkan kaum fasis yang terkenal kejamnya. - Pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan Ilahiyah yang unik dan khas Pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan yang khas, tidak dapat diidentikkan dengan salah satu sari semua bentuk pemerintahan ciptaan manusia dimuka bumi ini. Karena pada hakikatnya sistem pemerintahan Islam adalah sistem yang diturunkan Allah, yang menciptakan seluruh alam ini dan yang Maha Mengetahui dengan ciptaanNya untuk membimbing hamba-hambaNya menuju jalan keselamatan didunia dan akherat. Diturunkan semata-mata dengan tujuan suci dan mulia, untuk menciptakan kedamaian dan keadilan hakiki, terjauh dari segala bentuk kejahatan sebagaimana yang diajarkan doktrin Islam. Sementara pemerintahan manusiawi dirumuskan berdasarkan kemampuan manusia yang tidak terlepas dari kelemahan, kekurangan, ambisi-ambisi terselubung dan segala nominasi nafsu. Pemerintahan Islam yang di contohkan Rasulullah dan para khulafaur Rasyidin telah membuktikan dapat menciptakan kedamaian dan keadilan, sementara berapa banyak pemerintahan manusiawi, baik yang menamakan dirinya sebagai demokratisme, sosialisme dan lainnya telah menyemai kehancuran masyarakat, walaupun sebagian mereka mengklaim dirinya sebagai muslim. Jika dalam sistem pemerintahan Islam terdapat sistem musyawarah, maka hal ini tidak dapat diindetikkan dengan sistim demokrasi barat sekuler. Sistim musyawarah melandaskan ajarannya pada kedaulatan Allah sebagai penguasa tertinggi, sementara sistim demokrasi berlandaskan kedaulatan rakyat. Jika dalam sistim pemerintahan Islam terdapat sistim ketaatan mutlak ( itoah ) pada para penguasa, maka hal ini tidak dapat diindentikkan dengan sistim diktator ala fasisme. Karena ketaatan dalam Islam berdasarkan kehendak Allah semata, sementara fasisme berdasarkan kekuatan dan pemaksaan segelintir klas elit terhadap rakyatnya. Demikian pula sistem pemerintahan Islam tidak akan dapat diindentikkan dengan salah satu bentuk pemerintahan yang ada pada saat ini, walaupun didalamnya mungkin terdapat kesamaan ajaran, namun jelas memiliki landasan filsafat yang berbeda dan bertolak belakang. Jadi pemerintahan Islam adalah sistim Pemerintahan yang tersendiri, tidak dapat dipisahkan dari seluruh ajaran Islam yang sempurna dan menyeluruh.

VIII IKHWAN AL-MUSLIMIN
Gerakan Islam Revolusioner
Bersamaan dengan gencarnya seruan kebangkitan Islam yang dipelopori oleh Jamaluddin al-Afgany dan Muhammad Abduh, telah lahir beberapa gerakan Islam modern yang menginginkan kembalinya kejayaan Islam sebagaimana di zaman Rasulullah dan para shahabat. Gerakan-gerakan Islam yang tumbuh berkembang ini ingin mengaplikasikan konsep jama’ah Islamiyah, yaitu sebuah konsep yang mewajibkan seseorang muslim untuk berjuang secara bersama-sama dalam satu barisan organisasi rapi sebagaimana diserukan al-Qur’an dan al-Sunnah. Konsepsi jama’ah (amal jam’I) merupakan keutamaan amalan Islami, seperti sholat berjama’ah yang

pahalanya lebih besar dari solat sendirian, dan berjuang secara berjama’ah tentu lebih utama dan besar pahalanya dari berjuang sendirian. Sejarah menyatakan bahwa jama’ah Islamiyah yang telah dibangun Rasulullah bersama para shahabatnya telah menjadi tulang punggung perjuangan dalam menegakkan Islam. Dimana konsep jama’ah adalah salah satu ajaran Islam yang sangat penting artinya dalam menjaga eksisitensi Islam, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Umar Bin Khattab : Islam tidak akan tegak kecuali dengan berjama’ah, Jama’ah tidak akan tegak keculai dengan ketha’atan, ketha’atan tidak akan tegak kecuali dengan bai’at. Di antara gerakan Islam modern yang paling berpengaruh di Timur Tengah dan dapat memberikan konsep sebuah gerakan revolusioner Islam paling menonjol adalah Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Gerakan Islam yang didirikan oleh Syaikh Imam Hasan al-Banna pada tahun 1928 ketika beliau berusia 20-an tahun bersama beberapa orang sahabatnya. Keberhasilan gerakan Ikhwan alMuslimin tidak terlepas dari figur pendirinya yang agung, Hasan al-Banna, seorang pendidik, pembina dan pembangun umat yang jenius dalam segala lapangan kehidupan. Telah terkumpul padanya sifat kepemimpinan, da’i, ulama, ustadz, mursyid (pembina kerohanian), organisator, orator, ekonom, idiolog sekaligus seorang sufi yang tawaddu’. Beliau telah berhasil mendirikan sebuah lembaga bagi gerakan sosial yang besar dan kuat, memberinya kaidahkaidah, program, orientasi, misi, planing yang sangat jelas dan menyeluruh, sehingga gerakan ini sangat ditakuti penjajah Inggris dan kaki tangannya pada Kerajaan Faruk. Al-Banna sendiri adalah alumni pendidikan tradisional Dar alUlum yang berhasil menegakkan sistem dan metode gabungan sehingga menjadikan gerakannya ibarat universitas modern yang membina dan membimbing masyarakat Muslim menjadi pribadi-pribadi yang soleh sekaligus mampu berinteraksi dengan perubahan dan pembangunan. Gerakannya telah menggabungkan antara aliran-aliran tradisional Islam seperti aliran fiqh, tasawuf, kalam dan mengkombinasikannya dengan teori gerakan sosial modern sehingga melahirkan formulasi gerakan Islam yang berakar pada tradisi Islam namun mampu menjawab dan memberikan solusi pada masyarakat modern, sehingga Ikhwan al-Muslimin menumbuhkan kepercayaan kaum Muslimin akan kemampuan ajaran Islam menyelesaikan problematika dunia modern. Syaikh Hasan al-Banna dengan pendekatannya yang unik dan menyeluruh telah berhasil meletakkan dan merumuskan kembali dasar-dasar metode dan sistem pembinaan dan pendidikan Islam yang tertimbun berabadabad, mempraktikkannya dalam kehidupan nyata bersama-sama dengan binaannya membangun sebuah masyarakat Islam dengan perangkat jama’ah di zaman modern berlandaskan model masyarakat Islam yang telah dibina Rasulullah SAW. Metode pembinaannya sangat orisinil, karena fokusnya adalah pembangunan masyarakat, yang didahului dengan pembangunan pribadi-pribadi Muslim yang memiliki komitmen terhadap pengamalan ajaran Islam yang dimulai dengan penanaman Aqidah, melaksanakan ibadah, syariat dan akhlak Islam serta mengamalkan Islam sebagai sistem sosial. Sehingga Ikhwan al-Muslimin yang dipimpin Syaikh Hasan al-Banna menjadi gerakan

Pan-Islamisme modern yang terorganisir rapi, mempunyai jaringan-jaringan kerja dalam sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, sampai kepada gerakan para militer yang sangat ditakuti musuh Islam. Walaupun akhirnya gerakan ini mendapat pukulan-pukulan hebat penguasa Mesir yang lebih merupakan boneka penjajah Inggris, namun tetap eksis, baik pemikiran-pemikiran yang dikembangkannya ataupun organisasi yang didirikannya dan berhasil mengembangkan pengaruhnya ke dunia Arab dan dunia Islam lainnya karena gerakan universalnya yang bercita-cita mengembalikan keangungan institusi Khilafah Islamiyah yang telah dihancurkan penjajah Barat. Walaupun pemimpin-pemimpin Ikhwan alMuslimin seperti Hasan al-Banna, Sayyid Qutb dan lainnya dibunuh, dipenjara dan diusir dari Mesir, namun ide-ide gerakan revolusionernya yang menentang segala bentuk kezaliman dan manhaj jama’ah Islamiyahnya yang cemerlang terus berkembang dan mendapat sambutan, bahkan dijadikan referensi utama kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Pengorbanan para pemimpinnya yang ikhlas telah menjadikan Ikhwan al-Muslimin sebagai gerakan Islam terbesar abad ini yang pengaruhnya telah menembus kegelapan dunia Islam, memberikan semangat serta inspirasi kepada para cendikiawan Muslim dengan lahirnya gerakan-gerakan serupa di dunia Islam yang pengaruhnya masih membekas sampai sekarang.136 Apa rahasia dari kesuksesan gerakan Ikhwan al-Muslimin di Mesir yang telah mampu menggoncang dunia Islam dengan ide-ide brilyannya, sekaligus menakutkan musuh-musuh Islam dari Barat sampai Timur yang telah mendorong mereka berlaku ganas terhadap gerakan ini ? Seorang kader terkemuka Ikhwan, seorang doktor brilyan lulusan Universitas al-Azhar sekaligus cendikiawan besar terkemuka yang dimiliki dunia Islam masa kini, Syaikh Yusuf al-Qardhawy memberikan jawaban tentang kunci sukses gerakan Ikhwan al-Muslimin dalam bukunya Tarbiyat al-Islamiyah wa Madrasah Hasan al-Banna137 (Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Banna): 1. Keyakinan yang kuat bahwa pendidikan merupakan jalan tunggal bagi upaya merubah masyarakat dan membina kader guna mewujudkan cita-cita 2. Program pendidikan yang mempunyai tujuan, langkah-langkah dan sumber-sumber yang jelas, konprehensif, kaya akan metode, didasari falsafah yang jelas ditimba dari Islam, bukan dari ajaran lainnya 3. Adanya situasi masyarakat yang positip, ciptaan jamaah Ikhwanul Muslimin sendiri
Lihat misalnya : Al-Syaikh al-Ghazaly,(dalam Muhammad Syalabi), Hasan al-Banna : Imam wa Qa’id,(Kaherah : Dar al-Nasyr,tt). Dr. Raf’at al-Sa’id, Hasan al-Banna Muassis Harakat al-Ikhwan al-Muslimin,(Beirut : Dar al-Tali’ah, 1986). Jabir Rizq, al-Imam al-Syahid Hasan al-Banna,(al-Mansurah : Dar al-Wafa, 1987). Dr. Shaukat Ali, Master of Muslim Thought, vol. II,(Lahore : Aziz Publ.,1983) hlm. 514-638. Anwar Jundi, Hasan al-Banna, al-Roiyat al-Iman wa al-Mujadid al-Syahid,(Beirut : Daar Qalam, 1978). M.N. Shaikh, Memoirs of Hasan al-Banna Shaheed,(Karachi : Int’ Islamic Publ.,1981). Richard P.Mitchel,The Society of The Muslim Brother, (London : Oxford Univ. Press, 1959). Abdul Muta’al al-Jabary, Limadza Ightayala al-Imam al-Syahid Hasan al-Banna, (Cairo : Dar al-I’tisom, 1978). Ishaq Musa Hussaini, The Muslim Brethren,(Beirut : Khayat’s College Book Coop.,1956) . Muhsin Muhammad, Man Qatala Hasan al-Banna,(Kaherah : Dar al-Syarq, 1987) Salah Syadi, al-Syahidan,(al-Mansurah : Dar al-Wafa’: 1988). Umar al-Tilmisany, al-Mulham al-Mauhub : Hasan al-Banna, (Syubra : Dar al-Nasr, tt)

4. Adanya pemimpin yang bersih, menghayati tugas dan memiliki kemampuan 5. Adanya tenaga-tenaga pendidik yang tulus, tahan uji dan terpercaya. Mereka meyakini tepatnya lanngkah-langkah yang diambil oleh pimpinannya 6. Bentuk-bentuk kegiatan yang fleksibel dan bervariasi, yakni kegiatan-kegiatan yang individual dan sosial, teoritis dan praktis, pemikiran dan prasaan, postip dan kreatif.138 Hasan al-Banna dengan gerakan Ikhwan al-Muslimin yang dipimpinnnya tidak mendirikan institusi pendidikan formal yang menyaingi Universitas Al-Azhar ataupun universitas-universitas pemerintah lainnya, namun Ikhwan al-Muslimin laksana universitas terbuka yang amat besar, madrasah al-Tarbiyyah yang mendidik dan membina seluruh lapisan masyarakat dengan kurikulumnya yang unik dan khas, memberikan mereka pemahaman Islam yang murni menurut tradisi generasi Islam pertama dengan warisan kegemilangannya yang akan menyinari hati dan fikiran mereka dengan spirit Islam yang selalu menggerakkan penganutnya menuju kemajuan dan keunggulan, membina mereka dengan kekuatan spiritualitas tradisi tashawwuf Islam dengan tujuan lahirnya al-insan al-kamil.139 Universitas kehidupan yang menyeru seluruh manusia menuju Islam dengan memahami dan menghayati ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an, Sunnah Rasul-Nya dan warisan gemilang generasi Islam terdahulu, mempraktikkannya sebagai pedoman hidup di alam nyata kehidupan sehari-hari dalam rangka mencapai kemenangan hidup di dunia dan akhirat. Madrasah Hasan al-Banna atau universitas kehidupan Ikhwan al- Muslimin dengan program yang dikenal sebagai usrah (pengajian kelompok), katibah (ceramah khusus), halaqah (grup pengkajian), dakwah fardhiyah (dakwah pribadi), muzakarah (dialog & diskusi), majlis ta’lim (majlis ilmu) dan lainnya yang diadakan di rumah, di masjid, di universitas, di kantor, sampai di warung, toko dan klub malam dengan jenjang dari masa’id, muntasid, ‘amil, mujahid, naqib, na’ib sampai mursyid dengan murobbi-murabbi (pembina) telah melahirkan generasi baru Islam yang menyinari kegelapan ummah di bawah buaian penjajah Barat yang menyebarkan racun sekulerisme, dengan sifat mereka yang istiqomah, ikhlas, tawaddu’, berani, konsisten, memiliki harga diri dan disegani serta ditakuti musuh-musuh Islam. Mereka terdiri dari kaum cendikiawan yang terpelajar dan brilyan, profesor, ustadz, politisi, ekonom, pegawai pemerintah, juru dakwah, pekerja, buruh, petani, pelajar, pemuda138

Dr. Yusuf al-Qardhawy, Islamic Education and Hasan al-Banna, (Calcutta : Hilal Publ. 1983). hlm. 3-5 Terminologi al-Insan al-Kamil dalam istilah peradaban Islam dan biasanya digunakan oleh para sufi dalam menerangkan hakikat manusia yang dikehendaki Islam, diartikan dengan manusia yang memiliki pengetahuan Islam, mengamalkan Islam dan menguasai peradaban zamannya, dengan kata lainnya menguasai aspek spritual dan meterial. Untuk detilnya lihat Prof. Syed M. Naquib al-Attas, A Commentary on the Hujjat al-Siddiq of Nur al-Din al-Raniri, (Kuala Lumpur : Ministry of Culture Malaysia, 1986). hlm. 44. R.A. Nicholson, The Idea of Personality in Sufism,(Lahore : Sh. Muhammad Ashraf, 1970). hlm. 70-85. Ibn. Arabi, The Bezel of Wisdom,Tran.by R.W.J. Austin (New York : Paulist Press, 1980), Introduction, hlm. 32-38.

pemuda militan sampai tentara-tentara Islam yang gagah perkasa da sangat di takuti Yahudi ketika terjadinya perang Palestina. Bahkan lebih jauh gerakan ini telah melahirkan revolusi sosial yang menumbangkan dominasi kaum feodal yang menjadi agen panjajah Inggris. Madrasah Hasan al-Banna dengan sistem dan metode pendidikannya yang unik telah melahirkan putra-putra terbaik Islam yang telah menyumbangkan pemikiran blilyannya, membangkitkan kesadaran, menanamkan semangat dan harga diri serta mengorbankan nyawanya untuk mengangkat martabat ummah dan mengharumkan Islam, diantara mereka seperti Sayyid Qutb, Dr. Abdul Qadir Audah, Dr. Hasan al-Hudaibi, Umar Tilmisani, Prof. Muhammad Qutb, Dr. Mustafa al-Siba’i, Syaikh Muhammad alGhazali, Zaenab al-Ghazali, Syaikh Sayyid Sabiq, Prof. Said Hawwa, Dr. Said Ramadhan, Dr. Yusuf al-Qardhawy, Mustafa Masyhur dan banyak lagi generasi-generasi Islam yang telah memberikan warna tersendiri dalam kebangkitan Islam dan menjadi penerang kepada generasi Islam dalam perjuangannya menghadapi sekulerisasi dan baratisasi. Setelah gerakan Ikhwanul Muslimin dilarang dan dibubarkan, serta pemimpin-pemimpinnya dibunuh dan dipenjara, akhirnya Madrasah Hasan alBanna menjadi sebuah lembaga intelektual tanpa struktur kepemimpinan dan organisasi yang sangat berpengaruh di dunia Islam dan berkembang sebagai gerakan intelektual yang menembus wilayah geografi, ras, suku dan bangsa. Produk-produk intelektualnya, terutama karya-karya agung pemimpinnya seperti al-Ma’thurat karya Hasan al-Banna atau tafsir fi dzilal al-Qur’an karya Sayyid Qutb dan karya-kaarya lainnya menjadi referensi dan pegangan gerakan-gerakan Islam yang berdiri dan berkembang pesat bersamaan dengan diperolehnya kemerdekaan oleh bangsa-bangsa di dunia Islam.140 Gerakan Ikhwan al-Muslimun yang didirikan Syaikh Imam Hasan alBanna telah menjadi pelopor gerakan Islam modern yang telah melahirkan kader-kader gererasi Islam yang revolusiner, radikal, militan dan memiliki dedikasi tinggi terhadap perjuangan menegakkan ajaran Islam sebagaimana yang yang ajarkan Rasulullah dan Para shahabatnya serta salaf al-soleh. Demikian pula gerakan Ikhwan al-Muslimun dengan aktivitas keislamannya yang konferhensif telah menjadi benteng utama para generasi Islam dalam berhadapan dengan derasnya arus sekulerisasi, baratisasi yang bertopengkan pembangunan dan kemajuan, yang pada hakikatnya adalah gerakan pemurtadan kaum Muslimin. Lebih jauh, gerakan Ikhwan telah berhasil secara gemilang menterjemahkan konsep jama’ah Islamiyah dalam dunia modern dan
Lihat misalnya : Syaikh Said Hawa, Madkhal ila da’wah Ikhwanul Muslimin,(Amman : Dar al-Arqam,tt). Omar Timisani, Apa yang aku Pelajari dari Ikhwanul Muslimin,(Shah Alam : Ummah< 1990). Dr. Hasan Ismail Hudhaibi, Duat la Qudhat,(Cairo : Dar al-Thabaat wa al-Nashr al-Islamy, 1977). Kamil al-Syarif, Ikhwanul Muslimin fi Harbi Palistin,(Zarqo’ : Maktabah al-Manar, 1984). Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Wasaail al-Tarbiyyat inda al-Ikhwan al-Muslimin,(Qahirah : Dar al-Wafa, tt). Ishaq Musa Hussaini, The Muslim Brethen, (Beirut : Khayat’s College Book Coop., 1956). Richard P. Mitchel, The Society of The Muslim Brother, (London : Oxford Univ. Press, 1959). Mahmood Abd al-Halim, Ikhwanul Muslimun,ahdats Tsanaat Tarikh,(Iskandaria : Dar al-Dakwah, tt). Husain Muh. Ali Jabir, Thariq ila Jama’ah al-Muslimun,(al-Mansyurah : Daar al-Wafa’, 1987), khususnya bab III. Asaf Husain, Islamic Movement In Egypt, Pakistan and Iran, (Islamabad : Mansell Publ., 1983) Husain Muhammad Ahmad Hamudah, Asrar Harakah al-Dubbat al-Ahrar wa al-Ikhwan al-Muslimun, (Kaherah: al-Zahra li al-A’lam al-Arabiy, 1987).

mampu mengaplikasikannya serta membuktikan bahwa konsep jama’ah telah menjadikan kaum Muslimin sebagai kekuatan baru yang mampu menghadapi tantangan dan serangan fihak musuhnya. Konsep jama’ah Islamiyah telah mendorong lahirnya revolusi sosial dalam masyarakat Mesir yang menentang segala bentuk kezaliman rezim penguasa. Sebagaimana gerakan Rasulullah dan para shahabatnya, gerakan Ikhwan al-Muslimun telah memobilisasi kekuatan masa kaum Muslimin dan dijadikan sebagai kekuatan penekan yang akan mempengaruhi daya tawar umat dalam menentukan bentuk sosial dan pemerintahan. Cita-cita Hasan alBanna untuk menghidupkan institusi kekhalifahan yang dimulai dengan terbentuknya sebuah Daulah Islamiyah telah mendorongnya untuk mengarahkan jama’ah yang dipimpinnya pada gerakan sosial yang dinamis dan bercita-cita mengambil alih kekuasaan dari tangan para tiran diktator. Khilafah Islamiyah dan Daulah Islamiyah hanya dapat tegak apabila kekuasaan berada di tangan orang-orang beriman dan beramal sholeh, dan kekuasaan dijanjikan kepada mereka sebagaimana dinyatakan al-Qur’an dalam surat al-Nur ayat 55. Janji Allah yang akan memberikan kekuasaan kepada oarang-orang beriman dan beramal soleh inilah yang dituntut para pemimpin Ikhwan dengan perjuangan mereka yang tidak kenal lelah, sebagaimana yang telah dipraktekkan Rasulullah dan Para shahabatnya terdahulu. Pembinaanpembinaan mental spiritual para anggota Ikhwan sendiri ditujukan untuk membangun sebuah tatanan sebagaimana disebutkan dalam Ushul Isyrien (prinsip dua puluh) yang dikemukakan Imam Hasan al-Banna, yang dimulai dari pembentukan syakhsiyah Islamiyah (pribadi Islami), Usrah Islamiyah (Keluarga Islami), Qaryah Islamiyah (lingkungan Islami), Daulah Islamiyah (negara Islami) dan Khilafah Islamiyah (Khalifah Islami) dengan tegaknya tata dunia baru berdasarkan Islam sebagai tujuan akhir pergerakan para pejuang di jalan Allah. Sebagai sebuah gerakan yang besar dan berpengaruh yang merupakan hasil karya dan ijtihad manusiawi para pemimpin-pemimpinnya yang ikhlas dan istiqomah, Ikhwan al-Muslimin tidak terlepas dari kesalahan dalam membuat taktik dan strategi yang akhirnya sangat merugikan mereka. Seperti dikatakan Dr, Kalim Siddiqui, Ikhwan al-Muslimin dengan gerakan raksasanya tidak dapat menyeleksi masuknya anggota-anggota baru dengan cermat, sebagai konsekwensi logis sebuah gerakan yang amat populer, yang akhirnya kurang mendapat pembinaan intensif untuk memahami dasar-dasar gerakan sebagaimana mestinya seorang kader. Terutama kalangan menengah profesional yang telah menduduki jabatan-jabatan tinggi dan strategis dalam pemerintahan Mesir, yang berfungsi sebagai penyambung ide-ide pimpinan tingkat tinggi dengan para bawahan dan pengikut di tingkat akar umbi. Setelah pembunuhan kejam Syaikh Hasan al-Banna sebagai central figur Ikhwan dan penangkapan pemimpin-pemimpin tingkat tingginya oleh agen-agen pemerintah yang didalangi penjajah Inggris, ditambah pembantaian kejam pengikut-pengikut setianya, kalangan menengah profesional ini banyak mengambil peranan dalam melanjutkan strategi perjuangan gerakan. Akibat

latar belakang para profesional yang berbeda, terutama ide-ide keislamannya, bahkan ada diantara mereka yang tidak pernah bertemu sama sekali dengan sang pendiri dan pemimpin agung, akhirnya Ikhwan al-Muslimin terpecah menjadi beberapa kelompok pemikiran yang berbeda. Munculnya kelompok yang sangat akomodatif dan moderat sampai kelompok yang sangat ekstrim dan fundamentalis seperti kelompok sempalan Jamaah Hijra wa Takfir yang mengkafirkan masyarakat Islam yang tidak mendukung pemikirannya, dengan central figur yang berbeda-beda. Demikian pula hadirnya kelompok tandingan yang dibuat pemerintah untuk memecah belah gerakan menambah curiga dan antipatinya masyarakat pada gerakan Ikhwan yang didirikan dengan tujuan suci dan mulia oleh seorang pejuang yang agung. Di kalangan Ikhwan sendiri krisis semakin besar dengan perbedaan pendapat dikalangan pimpinannya, akibat kurang disiapkannya kelompok menengah profesional yang memegang tampuk kepemimpinan secara otomatis setelah penangkapan dan pembunuhan para pemimpin tingginya. Demikian pula ketika kelompok ini meninggalkan Mesir akibat tekanan politik yang semakin keras, menambah kekosongan pemikirpemikir Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Dan kebanyakan kelompok ini sekarang tinggal di negeri-negeri Arab ataupun Barat dengan aktivitas mendakwahkan Islam atas bantuan badan-badan Islam Internasional.141 Demikian pula halnya akibat tekanan-tekanan dan pembantaian tokohtokoh Ikhwan al-Muslimin oleh pemerintah Nasionalis Mesir di bawah Gamal Abd. Naser, yang perjuangannya menggulingkan Dinasti feodal Mesir atas dukungan Ikhwan al- Muslimin, menjadikan gerakan ini bertambah lemah dan terkeping-keping, tidak dapat lagi merumuskan kembali pemikiran-pemikiran baru yang akan merespon kebangkitan ummah yang diserukannya secara kolektif. Ikhwan al-Muslimin menjadi institusi intelektual yang macet, kebanyakan tokoh-tokohnya menjadi reaksioner, menjawab tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepadanya ataupun saling berpolemik diantara tokohtokohnya yang berbeda pandangan. Pemikiran-pemikiran baru yang dominan diantaranya adalah kecaman-kecaman emosional terhadap kezaliman penguasa Nasionalis dengan segala atribut kejahatannya menurut pandangan Islam yang telah membunuh dan menangkap pemimpin ikhwan dan disamping itu muncul pula pemikiran positip untuk membangun kembali jamaah agar bersatu dan menghapuskan kesan ekstrimisme dan fundamentalisme yang dianut pemuda-pemuda Ikhwan. Setelah ujian berat ini, sepertinya pemikiranpemikiran Hasan al-Banna dan pemimpin lainnya yang cemerlang dan merupakan asas pembaharuan pemikiran gerakan, terhenti total dan belum mampu dikembangkan menurut kontek kekinian dengan cerdik sehingga mampu melahirkan masyarakat Islam modern sebagai tujuan akhir perjuangan dan cita-cita mereka.142 Karena penekanan yang sangat kuat pada aspek amali (praktik), bahkan sangat diutamakan dalam sistem pembinaan, menjadikan mayoritas kaderDr. Kalim Siddiqui, Issues in The Islamic Movement 1981-1982. (London : The Open Press,1983),hlm.14-15 ibid

kader Ikhwan al-Muslimin sebagai aktivis dan praktisi brilyan, namun kurang memiliki inovasi dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran Islami yang lebih mendalam, seperti konsep ekonomi Islam, pendidikan Islam, politik Islam, sains Islam, teknologi Islam dan lainnya ataupun mengembangkan pemikiranpemikiran agung para cendikiawan Islam terdahulu yang akan memberikan jalan keluar realistis terhadap problematika masyarakat modern, yang umumnya masih didominasi pemikiran-pemikiran Barat yang sekuler dan menyesatkan. Ini akibat pemahaman tokoh-tokoh mereka, diantaranya seperti Sayyid Qutb, yang memahami bahwa Rasulullah dalam membina ummah didahului dengan penanaman aqidah Islamiyah selama 13 tahun, dengan proses amali, bertahap demi tahap sehingga al-Qur’an terwujud dalam pribadi dan sekumpulan masyarakat saat itu. Setelah masyarakat memiliki kekuatan aqidah dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan dalam kehidupan, barulah mereka memerlukan peraturan-peraturan dalam kehidupan sosial, seperti perangkat hukum, etika dan termasuk sains dan teknologi. Metode Rasulullah, atau yang diistilahkannya dengan metode Qur’ani (al-Manhaj alQur’aniy), harus pula diterapkan pada masyarakat modern jika mereka hendak mencapai kejayaan seperti generasi Islam terdahulu. Sayyid Qutb yakin bahwa inilah metode (manhaj) satu-satunya menuju kegemilangan Islam dan ummatnya di masa depan.143 Pemahaman dan jalan fikir Sayyid Qutb yang fundamentalis ini akhirnya mendominasi pemikiran Ikhwan al- Muslimin dan menjadi pegangan mayoritas pengikutnya setelah itu. Setelah beliau syahid dihukum gantung oleh Pemerintah Nasionali Mesir, pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb menjadi semacam ideologi pengikut Ikhwan, dan telah lahir cendikiawan-cendikiawan muda yang meneruskan pemikirannya, diantaranya yang paling produktif adalah adiknya sendiri, Prof. Muhammad Qutb yang telah mengembangkan dan merumuskan pemikiran abangnya dengan cemerlang.144 Dalam hal metode ini, perlu diingat bahwa kaum Muslimin hari ini adalah kelanjutan dari ummah terdahulu yang telah mengalami pasang surut ataupun penyelewengan-penyelewengan, disamping memiliki keburukan juga memiliki kebaikan-kebaikan dan warisan peradaban yang cemerlang. Ummah masa kini tidak sepenuhnya identik dengan masyarakat jahiliyah di zaman Rasulullah SAW yang menetang keras Islam secara aqidah, namun ummah hari ini adalah ummah yang terpaksa dan dipaksa, baik dengan kekuatan pemikiran, politik bahkan militer berhadapan langsung dengan tatanan masyarakat jahiliyah modern yang sekuler dengan segala produk materialnya yang menjulang tinggi yang telah menipu serta menyesatkan ummah, sehingga ummah tidak berdaya dan hanya mampu mengikuti arus gelombang yang telah
Sayyid Qutb, Maalim fi al-Thariq, (Beirut : Dar al-Syuruq, 1983) khususnya muqaddimah. Lihat juga karya-karya beliau yang lain seperti : Tafsir fi Zilal al-Qur’an, Nahwa Mujtama’ Islami, al-Adalah al-Ijtima’iyyah fi al-Islam. Atau lihat : Salah Abd al-Fatah al-Khalidi, Sayyid Qutb al-Syahid al-Haiyy,(Jordan : Maktabah al-Aqsa, 1985). Mahdi Fadlullah,Ma’a Sayyid Qutb fi Fikrihi al-Siyasiyy wa al-Diny,(Beirut : Muassasah al-Risalah, 1978).
144

Lihat misalnya karya-karya Syaikh Muhammad Qutb,Jahiliya al-Qorn al-Isyrien, al-Subhat haul al-Islam, Hal Nahnu Muslimun,dan lainnya.

dirancang dengan canggihnya oleh musuh-musuh Islam. Dalam keadaan seperti ini kemudian Islam ditantang untuk mampu menyelesaikan krisis problematika masyarakat modern akibat kebingungan dan kegagalan sistem hidup sekuler yang telah mereka terapkan. Islam dituntut menandingi dan mengganti konsep-konsep modern sekuler yang telah dilahirkan oleh landasan filsafat dan sejarah peradaban Barat. Maka dengan demikian ummah hari ini memerlukan pemikiran-pemikiran baru yang akan mengantarkan mereka menuju kemenangan dunia, dengan kata lainnya ummah memerlukan konsep ekonomi Islam, politik Islam, budaya Islam, peradaban Islam, pemikiran Islam, sains Islam dan lain-lain sistem kemasyarakatan yang berlandaskan pada ajaran Islam. Semua ini dapat direalisasikan apabila ummah. khususnya para cendikiawannya, diberikan respon untuk mengembangkan pemikiranpemikiran yang telah dikembangkan generasi Islam terdahulu dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan dan peradaban modern, sebagaimana Barat dahulu mengadopsi pengetahuan dari kaum Muslimin untuk kebangkitan dan kemajuan mereka. Untuk menghasilkan karya-karya agung dalam peradaban kemanusiaan, sebagaimana yang telah diperoleh generasi Islam pertama, tidak cukup hanya membatasi diri dengan mengkaji al-Qur’an saja, namun memerlukan penelitian-penelitian terhadap alam semesta dengan segala produk pradabannya, yang hakikatnya adalah kitab Allah yang tidak dibukukan. Jadi untuk mencapai kegemilangan Islam kembali, ummah tidak cukup hanya ditanamkan aqidah semata, namun mereka memerlukan seperangkat pengetahuan yang lebih luas, dan yang terpenting menjadikan aqidah sebagai landasan dalam pencarian dan pengembangan kemajuan tersebut. Prinsipprinsip ideologi gerakan yang dikemukakan oleh Ikhwan al-Muslimin dapat dijadikan landasan seorang cendikiwan Muslim dalam mengembangkan citacita kemajuan ummah, terutama semangat pemikiran yang telah menghasilkan spirit (ruh) Islam. Dengan segala keutamaan dan kekuarangnnya, Ikhwan al-Muslimin adalah sebuah gerakan yang sangat mengagumkan siapupun yang menelitinya. Prestasinya dalam membangkitkan kesadaran kaum Muslimin dalam menegakkan ajaran Islam serta keberhasilannya dalam membangun sebuah konsep jama’ah dan gerakan Islam modern adalah sumbangan yang tidak ternilai harganya bagi khazanah peradaban kaum Muslimin. Imam Hasan alBanna telah membuktikan dirinya sebagai generasi Islam terbaik yang berjuang, berkorban bahkan gugur sebagai syahid dalam mempertahankan perjuangan sucinya. Kekurangan yang ada pada Ikhwan, terutama aspek strategi yang sifatnya ijtihadi, tidak menjadikannya sebagai sebuah gerakan yang cacat dan cela, namun Ikhwan adalah wadah perjuangan Islam revolusioner yang kalah secara fisik berperang menentang kezaliman penguasa korup dan jahili. Kekalahan melawan kejahiliyahan adalah sunnah Allah, sebagaimana para Nabi dan Rasul, ada diantara mereka yang mendapat kemenangan dengan tegaknya tatanan yang dicita-citakannya, namun ada pula yang harus gugur dalam perjuangannya. Kalah dan menang dalam

perjuangan Islam tidak akan mengurangkan sedikitpun kebenaran yang dibawa sebuah jama’ah. Kebenaran adalah tetap kebenaran, bagaimanapun keadaannya, menang maupun kalah. Generasi muda Islamlah yang bertugas untuk menyempurnakan segala kekurangan pada generasi terdahulu mereka. Perjuangan ikhlas para pemimpin Ikhwan dengan segala pengorbanannya akan senantiasa dikenang generasi Islam sepanjang masa, bahkan senantiasa akan menjadi rujukan dalam mengembangkan perjuangan di masa depan. Walaupun gerakan Ikhwan terusir dari bumi Mesir, namun ideide gerakan revolusioner yang diserukan para pemimpinnya mendapat sambutan hangan di seluruh dunia Islam, bahkan munculnya gerakangerakan Islam kontemporer tidak terlepas dari pengaruh pemikiran Ikhwan. Itu membuktikan bahwa gerakan Ikhwan al-Muslimun telah menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan Islam lainnya yang bertujuan menghidupkan konsep jama’ah Islamiyah yang telah dicontohkan Rasulullah saw yang kini mulai mendapat perhatian besar masyarakat Islam yang sudah muak dengan janji-janji palsu kaum pembaru Muslim yang hakikatnya adalah agen-agen Barat yang akan menyekulerkan dan membaratkan kaum Muslimin. Keadaan ini terlihat dengan jelas pada kebangkiatan, apa yang mereka namakan, kaum neofundamentalis Islam, baik di Mesir, Algeria, Pakistan, Malaysia sampai ke Indonesia. Wallahu a’lam.

Sebuah Evaluasi Atas Metodologi Intelektual Ummah
A. Pendahuluan Sejak dilaungkannya kembali kebangkitan Islam beberapa dekade lalu, telah tampil para cendikiawan Muslim mengemukakan beberapa teori tentang kebangkitan Islam dan beberapa faktor pemicunya, baik dari segi politik, ekonomi, pendidikan, gerakan dan lainnya. Namun pada umumnya mereka berpendapat bahwa keterbelakangan kaum muslimin saat ini tidak lain disebabkan oleh kegagalan mereka merumuskan kembali metodologi intelektual mereka, terutama dalam mempertahankan tradisi keislaman namun sekaligus mampu berinteraksi dengan kemajuan zaman serta mengembangkan bentuk peradaban baru yang berdasarkan pada ajaran Islam.

IX Islamisasi Pengetahuan

Di antara rumusan terkini yang dikemukakan para cendikiawan Muslim dalam pengembangan dan penyempurnaan metodologi dan sistem pendidikan kaum Muslimin adalah apa yang diistilahkan mereka sebagai Islamisasi Pengetahuan (Islamization of Knowledge). Istilah ini muncul dan menjadi populer setelah Ismail R. Faruqi membacakan makalahnya yang terkenal : Islamization of Knowledge : General Principles and Workplan pada seminar internasional Islamisasi pengetahuan yang pertama di Islamabad Pakistan pada tahun 1982 yang dihadiri oleh para cendikiawan Muslim terkemuka dari seluruh dunia. Makalah yang disampaikan Faruqi adalah hasil penelitian bersamanya dengan tokoh-tokoh cendikiawan Muslim seperti AbdulHamid AbuSulayman (tokoh Assocation of Muslim Social Sciencists, AMSS di Amerika). Seminar ini bertujuan mencari rumusanrumusan baru hubungan Islam dengan pengetahuan modern. Menyempurnakan pembaharuan-pembaharuan metode intelektual kaum Muslimin yang telah diserukan terdahulu oleh tokoh-tokoh pelopor pembaharuan seperti Syeikh Muhammad Abduh. Seminar ini berhasil merumuskan kerangka dasar pemikiran sebagai referensi dalam mengislamisasikan pengetahuan modern.145 Menurut Wan Mohd. Nor Wan Daud,146 sebenarnya yang pertama sekali mengemukakan konsep tentang Islamisasi pengetahuan karena pengetahuan yang ada dianggapnya Atheis adalah Sir Muhammad Iqbal pada tahun 30-an, namun beliau tidak menjabarkan lebih jauh idenya.147 Pada tahun 1960, Prof. S.H. Nasr, seorang sarjana terkemuka dalam pengetahuan Islam mengemukakan metode dalam mengislamisasikan pengetahuan modern yang diintrpetasikan dan diaplikasikan dalam teorinya mengenai konsep Islam tentang kosmos.148 Dan yang pertama sekali secara resmi merumuskan, mendifinisikan dan mempertahankan teori Islamisasi pengetahuan yang ada saat ini, dengan mendifinisikan pengertian pengetahuan dan hubungan pentingnya dengan konsep, manusia, keadilan dan kebijaksanaan adalah Prof. Syed Moh. Naquib al-Attas pada tahun 1977 dalam makalahnya The Concept of Education in Islam : A Framework for an Islamic Philosophy of Education149 yang dibacakannya pada konferensi Internasional Pertama dalam Pendidikan Muslim di Makkah

Ismail R. Faruqi, Islamization of Knowledge, revised and expanded,(Virginia : IIIT, 1989). National Hijra Council, Knowledge for what ?. Being the Proceeding and Papers of the Seminar on Islamization of Knowledge,(Islamabad : National Hijra Council, 1986) Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon on The Crest of A Hill,(Kuala Lumpur : ISTAC, 1991), hlm. 34-35 Lihat, K.G. Saiyidain, Iqbal Educational Philosophy (Lahore : Sh. Muh. Ashraf, 1942), hlm. 99. S.H. Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines,, Revised edt. (London : Thames and Hudson, 1978). hlm. xxi-xxii. Syed M. Naqub al-Attas, The Concept of Education in Islam ; A Framework for an Islamic Philosophy of Education, (Kuala Lumpur : ABIM, 1980).

al-Mukarramah yang dihadiri lebih dari 300 cendikiawan Muslim dari seluruh penjuru dunia.150 B. Urgensi Islamisasi Pengetahuan Islamisasi pengetahuan yang diilhami oleh Sir Muhammad Iqbal dan dikembangkan para cendikiawan Muslim belakangan ini memiliki urgensi yang sangat mendasar terhadap sistem pendidikan kaum Muslimin. Kerena pada hakikatnya semua pengetahuan modern yang berkembang pesat dan telah mendominasi pemikiran sebagian besar kaum Muslimin masa ini adalah datang dari peradaban Barat yang sekuler dan dualistik. Mengenai akar peradaban Barat, Prof. SMN alAttas menulis : peradaban yang telah tumbuh dari peleburan historis dari kebudayaan, filsafat, nilai dan aspirasi Yunani dan Romawi kuno beserta perpaduannya dengan ajaran Yahudi dan Kristen yang kemudian dikembangkan lebih jauh oleh rakyat Latin, Jermia, Keltik dan Nordik. Dari Yunani kuno diperoleh unsur-unsur filosofis dan epistemologis dan landasan-landasan pendidikan dan etika serta estetika. Dari Romawi unsur-unsur hukum dan ilmu tata negara serta pemerintahan, dari ajaran Yahudi dan Kristen unsur-unsur kepercayaan relegius dan dari rakyat Latin, Jermia, Keltik dan Nordik nilai-nilai semangat dan tradisi mereka yang bebas dan nasionalis. Mereka ini mengembangkan serta memajukan ilmu-ilmu pengetahuan alam, fisika dan teknologi. Bersama-sama dengan rakyat Slavia, mereka telah mendorong peradaban Barat ke puncak-puncak menara kekuatan. Islam juga telah memberikan sumbangan-sumbangan pengetahuan, menanamkan semangat rasional dan ilmiyah. Mereka telah melebur dan memadukan semua unsur yang membentuk watak serta kepribadian peradaban Barat. Peleburan dan pemaduan yang berlangsung ini menghasilkan suatu dualisme yang khas dalam pandangan dunia dan nilai-nilai kebudayaan dan peradaban Barat.151 Dengan landasan filsafat yang dualistik inilah Barat modern kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi mengembangkan dan menguasai sains-teknologi dalam hampir semua bidang kehidupan manusia. Akibat dualisme pada landasan filsafat pemikirannya ini, maka terjadilah kepincangan-kepincangan pada peradaban Barat yang membawa dampak sangat serius bagi keselamatan umat manusia di
Wan Mohd. Nor Wan Daud, op.cit,hlm.13 Syed M. Naquib al-Attas, Islam and Secularism, hlm. 136

muka bumi ini. Akhirnya peradaban yang dibangun Barat modern dengan segala timbunan materinya yang sangat menyilaukan sebagian besar para cendikiawan Muslim telah mengalami kegagalan seperti yang digambarkan Sayyid Hossein Nasr; Peradaban yang berkembang di Barat sejak zaman Renaissance adalah sebuah eksperimen yang telah mengalami kegagalan sedemikian parahnya sehingga umat manusia menjadi ragu apakah mereka dapat menemukan cara-cara lain di masa yang akan datang. Sangatlah tidak ilmiyah apabila kita menganggap peradaban modern ini dengan segala gambaran mengenai sifat manusia dan alam semesta yang mendasarinya, bukan sebagai sebuah eksperimen yang gagal. Dan sesungguhnya penelitian ilmiyah, jika tidak menjadi jumud karena rasionalisme dan empirisme yang totalarian seperti yang kami katakan di atas, sudah tentu merupakan cara termudah untuk menyadarkan manusia sekarang bahwa peradaban modern sesungguhnya telah gagal karena kesalahan konsepkonsep yang melandasinya. Peradaban modern telah ditegakkan di atas dasar konsep mengenai manusia yang tidak menyertakan hal yang paling mendasar bagi manusia.152 Kegagalan peradaban Barat modern, baik secara teori maupun praktek adalah tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia dan harus segera diatasi secepat mungkin, karena tantangan telah menjadi sumber segala problematika umat manusia, seperti dikatakan oleh Prof. SMN. al-Attas; Banyak tantangan yang timbul di tengah-tengah kebingungan manusia sepanjang zaman, tetapi tidak satupun yang lebih serius dan sangat destruktif kepada manusia sekarang selain yang ditimbulkan oleh peradaban Barat. Saya berpendapat bahwa tantangan yang paling besar yang secara sembunyi-sembunyi telah muncul pada zaman kita adalah tantangan pengetahuan (knowledge), tidak seperti berperang melawan kejahilan; tapi sebagai pengetahuan yang disusun dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia oleh peradaban Barat; sifat dasar pengetahuan menjadi permasalahan setelah ia kehilangan tujuan sebenarnya karena disusun secara tidak adil yang dengan begitu justru menimbulkan kekacauan pada kehidupan manusia, dan lebih jauh pada kedamaian dan keadilan; pengetahuan menganggap diri sesuai dengan kenyataan, padahal ia adalah
S.H. Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, (London : Longman, 1975), hlm.12

produk dari rasa kebingungan dan skeptisme, yang mengangkat keraguan dan dugaan pada tingkat ilmiyah dalam metodeloginya dan memandang keraguan sebagai epistemologi paling tepat dalam mencari kebenaran; pengetahuan, untuk pertama kali dalam sejarah, telah membawa kekacauan pada tiga kerajaan alam; binatang, tumbuhan dan mineral.153 Asumsi-asumsi seperti inilah yang dijadikan alasan utama oleh para cendikiawan Muslim kontemporer seperti Sayyid Hossein Nasr, Syed Muhamad Naquib al-Attas, Ismail R. Faruqi dan lain-lainnya dalam mengembangkan metodelogi pemikiran yang bertujuan untuk mengislamisasikan pengetahuan (Islamization of Knowledge) yang dimiliki peradaban Barat Modern. Karena bagaimanapun peradaban Barat telah menghasilkan pengetahuan yang luar biasa dalam segala aspek kehidupan dan sangat bermanfaat untuk kepentingan umat manusia. Itulah sebabnya, pengetahuan modern Barat perlu diislamisasikan agar sesuai dengan kehendak dan tujuan mulia ajaran Islam. C. Aliran Islamisasi Pengetahuan

Jika dianalisa lebih jauh menurut pendekatan yang digunakan dan diterapkan dalam pengembangan teori-teorinya, ada beberapa aliran yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan sistem pendidikan yang berdasarkan Islamisasi pengetahuan ini, namun pada hakikatnya yang dominan dan didukung institusi intelektual yang solid ada dua, yaitu; Islamisasi Pengetahuan model Faruqi dan Penerusnya yang didukung The International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang berpusat di Virginia Amerika Serikat dan Islamisasi Pengetahuan model Syed Muhammad Naquib al-Attas yang didukung International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang berpusat di Kuala Lumpur Malaysia. Konsep Islamisasi pengetahuan menurut Faruqi hakikatnya adalah proses untuk memberikan ruh (spirit) Islam kepada pengetahuan modern yang telah ditemukan Barat terlebih dahulu, dengan proses mengetahui landasan filsafat pengetahuan tersebut, kemudian dinilai relevansinya terhadap nila-nilai Islam. Oleh karena itu, seorang cendikiawan yang akan mengislamisasikan sebuah pengetahuan harus mengetahui secara pasti ajaran Islam dan pengetahuan modern yang akan dislamisasikan. Istilah Islamisasi
Syed Muh. Naquib al-Attas, Nature of Knowledge and The Definition and Aim of Education,(Jeddah : King Abdul Aziz Univ, 1979). hlm. 19-20.

sendiri digunakan untuk menyaingi dua istilah yang telah populer lebih dahulu dikalangan kaum Muslimin dan sangat mempengaruhi pemikiran mereka, yaitu Westernisasi dan Modernisasi. Di mana kedua istilah ini sangat banyak menimbulkan kekeliruan akibat ketidakjelasan pengertiannya ataupun orientasinya, dan dapat menyesatkan. Pelaksanaan Islamisasi pengetahuan ini boleh saja berbentuk transformasi pengetahuan yang tidak bertentangan dengan Islam secara langsung, menyaring pengetahuan pengetahuan dari pengetahuan non Islami dengan memberikan spirit Islam, ataupun orientasi Islami sehingga sesuai dengan kaedah pengetahuan Islam, menyempurnakan pengetahuan non Islami yang sesuai dengan ajaran Islam dengan memberikan kaedah-kaedah Islami, memperbaharui atau merombak pengetahuan non Islami menjadi Islami, menggabungkan kedua pengetahuan yang ditemukan metodelogi gabungan tradisional dengan sekuler sehingga lahir bentuk pengetahuan baru yang lebih sempurna ataupun cara-cara lainnya.154 Untuk mensukseskan program Islamisasi pengetahuan ini, ditunjuk The International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang berpusat di Herndon, Virginia Amerika untuk menghimpun para cendikiawan Muslim seluruh dunia dari berbagai disiplin pengetahuan, mereka ditugaskan meneliti dan menulis sesuai dengan spesialisasi pengetahuannya masing-masing, kemudian hasil penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal atau buku yang akan disebarluaskan. Para cendikiawan Muslim yang dihimpun IIIT sudah berupaya semaksimal mungkin dengan pengetahuan yang dimilikinya untuk mendifinisikan, merumuskan, menjabarkan dasardasar Islamisasi pengetahuan, kemudian didiskusikan dan diseminarkan dikalangan mereka dan akhirnya diterapkan pada beberapa institusi pendidikan tinggi Islam di negara-negara Muslim seperti Saudi Arabia, Pakistan, Malaysia dan lainnya.155 Sementara Islamisasi pengetahuan menurut Prof. SMN al-Attas pada hakikatnya adalah proses untuk mengisolasi dan memindahkan segala sesuatu yang tidak Islami, terutama elemen-elemen Barat dan konsep-konsep yang menyertainya. Ini juga berarti memasukkan elemen-elemen kunci Islam dan konsep-konsep yang menyertainya kepada elemen-elemen dan konsep-konsep yang baru ataupun asing. Beberapa elemen dan konsep kunci Islam diantaranya adalah agama (din), manusia (insan), pengetahuan (ilm dan ma’rifah), kebijaksanaan
Ismail R. Faruqi, op.cit.hlm. 83. Lihat juga, ‘Imad al-Din Khalil, Madkhal ila Islamiyat al-Ma’rifah, (Herndon, Virginia : IIIT, 1991). Abu al-Qasim Hajj Hammad, al ‘Alamiyah al-Islamiyah al-Insaniyah, (Beirut : Dar al-Masirah, 1980). Taha J. al-’Alwany, “The Islamization of Knowledge : Yesterday and Today”, Dalam The American Journal of Islamic Social Sciences, vol. 12, Spring 1995, No 1 ( Kuala Lumpur : IKD, 1995), hlm. 80-101. ‘AbdulHamid A. AbuSulayman, Mafahim fi I’adat Bina’ Manhajiyat al-Fikr al-Islamy al-Mu’asir, dalam Toward Islamization of Disciplines,(Herndon, Virginia : IIIT, 1989).hlm.31-68. ibid

(hikmah), keadilan (‘adl), perbuatan benar (‘amal sebagai adab), dimana semua ini menjadi kesatuan landasan dan dasar yang saling berhubung-kait dengan konsep Tuhan, esensi dan atribut-Nya (tauhid); pengertian dan pesan al-Qur’an, al-Sunnah dan Syariah.156 Untuk mengembangkan konsep Islamisasi pengetahuan ini, Syed al-Attas didukung oleh sebuah lembaga yang solid, International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang merupakan lembaga studi Islam yang sekaligus mendidik mahasiswa di tingkat pasca sarjana dan tempat berhimpunnya para cendikiawan Muslim seluruh dunia untuk mendiskusikan masalah-masalah keislaman yang didukung oleh perpustakaan yang besar dan lengkap, khususnya mengenai Islam. ISTAC telah menerbitkan beberapa buah buku yang menjadi panduan dalam memahami Islam. Lembaga ini didirikan pada hakikatnya untuk menjadi simbol keagungan pendirinya, Prof. SMN alAttas, seorang cendikiawan Muslim terkemuka masa ini yang memiliki pemikiran-pemikiran cemerlang.157 D. Evaluasi Atas Konsep Islamisasi Pengetahuan

Usaha-usaha serius para cendikiawan Muslim yang berkelanjutan dalam mengislamisasikan pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk menyempurnakan sistem pendidikan kaum Muslimin di masa depan, dan harus difahami bahwa proses ini adalah proses yang masih berada pada tingkat permulaan yang memerlukan penelitian berkepanjangan. Karena kaum Muslimin dewasa ini sudah kehilangan jejak tradisi dan warisan para cendikiawan Muslim terdahulu beberapa abad sejak terjadinya pencerahan Eropa. Memang terlalu awal jika konsep Islamisasi Pengetahuan ini dinilai keberhasilannya, karena teori ini sedang dalam proses eksperimen yang akan menyempurnakan sistem dan metodeloginya. Untuk mengevalusi sejauh mana keabsahan teori ini perlu diberikan penjelasan yang lebih terperinci, sebagaimana dikemukakan Fazlur Rahman,158 terutama dalam proses memberikan spirit Islam kepada pengetahuan Barat modern. Sebagaimana dimaklumi, pengetahuan terdiri dari sains-sains kealaman (eksak) dan sains-sains sosial (humanika). Sains-sains kealaman adalah pengetahuan yang sesuai dengan Sunnatullah (hukum alam) dan tidak mungkin diolahsuai menurut kehendak manusia, karena hal ini adalah sesuatu kejadian yang sudah pasti tertentu kadarnya. Usaha-usaha untuk memanipulasinya jelas akan mendatangkan kegagalan belaka. Dalam
Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Beacon, op.cit. hlm.37 op.cit. hlm. 4-6. Fazlur Rahman, Islam and Modernity, hlm. 131-132

hal ini Islamisasi atau pemberian ruh Islam dapat dilakukan, karena pada hakikatnya alam ini adalah kitab Allah yang tidak tertulis, yang tidak mungkin bertentangan dengan al-Qur’an, sumber utama ajaran Islam, selama tidak dimanipulasi kehendak yang ingin menyimpangkannya. Namun pada sains-sains sosial humanika, lain halnya, karena jelas pengetahuan ini sangat relevan terhadap nilai-nilai yang menemukannya dan merumuskannya. Jika pengetahuan ini dikemukakan Barat, maka pengetahuan ini tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Barat, dengan kata lainnya terkandung unsur subyektivitas dalam pengetahuan tersebut. Maka dalam kasus seperti ini, Islamisasi pengetahuan perlu diberikan pengertian yang lebih jelas, karena sainssains sosial-humanika yang telah dikemukakan Barat saat ini pasti tidak terlepas dari nilai-nilai mereka yang sekuleris dan materialis. Pertanyaan yang timbul, mungkinkah mengislamisasikan pengetahuan yang berbeda, bahkan bertentangan, landasan filsafatnya, orientasinya, relevansinya, produknya dan lain-lain aspeknya dengan ajaran Islam ? Realitasnya, para cendikiawan Muslim yang berhadapan dengan kasus seperti ini, mau tidak mau harus menggali langsung ajaran Islam yang berkaitan dengan pengetahuan berkenaan. Seperti kasus Islamisasi ekonomi misalnya, para cendikiawan Muslim tidak mungkin mengislamisasikan konsep riba’ (intres/bunga) yang terkandung pada sistem ekonomi Kapitalis Barat modern yang berlandaskan filsafat dan nilai-nilai sekuler yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan yang diajarkan Islam. Untuk mengatasi masalah ini, para cendikiawan Muslim terpaksa menggali warisan tradisi Islam yang bersumber pada al-Qur’an, al-Sunnah, perilaku sahabat, ijma’, qiyas dan lainnya sehingga mereka menemukan dan merumuskan sistem ekonomi Islam tersendiri dengan konsep-konsep ataupun teori-teorinya yang sama persis ataupun bertentangan dengan konsep atau teori ekonomi Barat.159 Hal serupa pula yang dilakukan para cendikiawan Muslim ketika mereka akan mengislamisasikan sosiologi,160 mengislamisasikan

Untuk masalah ini lihat misalnya, M. Najatullah Siddiqi, “Islamizing Economics”, dalam Toward Islamization of Disciplines, op.cit. hlm.253-261. M. Anas al-Zarqa,”Tahqiq Islamiyat ‘Ilm al Iqtishad : al-Mafhum wa al-Manhaj, dalam Toward Islamization of Disciplines. op.cit. hlm.317-351. Abdul Hamid A. AbuSulayman, “The theory of the Economics of Islam : the Economics of Tawhid and brotherhood” di Contemporary Aspects of Economic Thinking in Islam,(Indianapolis : American Trust Publ. April, 1968). Mohammad Anwar, Modelling Interest-Free Economy, A Study in Macro-econonomics and Development, (Herndon, Virginia : IIIT, 1987). Khursid Ahmad,(ed), Studies in Islamic Economics, (Jeddah : International Centre for Research in Islamic Economics, King Abdul Aziz Univ, 1980). A.H.M. Sadeq, Islamic Economics, Some Selected Issues,(Lahore : Islamic Publ. 1989). Zohurul Islam, Islamic Economics, (Dhaka : Islamic Foundation Bangladesh, 1987). Taqyuddin al-Nabhani, al-Nidham al-Iqtishadi fi al-Islam,(Beirut : Dar al-Ummah, 1990). M. Umer Chapra, Towards a Just Monetary System, (London : The Islamic Foundation, 1985). S.M. Yusuf, Economic Justice in Islam, (Lahore : Shaikh Muhammad Ashraf, 1971). Ilyas Ba-Yunus & Farid Ahmad, Islamic Sociology : An Introduction,(Cambridge : Hodder and Stoughton, 1985).

antropologi,161 mengislamisasikan seni dan disiplinnya,162 mengislamisasikan bahasa,163 dan mengislamisasikan pengetahuan yang lain-lainnya.164 Dengan demikian, apa yang diistilahkan sebagai Islamisasi pengetahuan dan dipraktikkan cendikiawan Muslim saat ini, khususnya Islamisasi model Faruqi, pada hakikatnya bukanlah suatu proses mengislamkan atau memberikan spirit Islam kepada pengetahuan Barat modern, tetapi lebih merupakan proses mencari, meneliti, merumuskan dan mengembangkan suatu disiplin pengetahuan yang belum ada pada peradaban modern, walaupun nantinya dalam pelaksanaannya mereka menjadikan referensi pengetahuanpengetahuan yang sudah ada, baik dari warisan tradisi peradaban Islam ataupun peradaban Barat. Sementara Islamisasi mengandung pengertian merubah sesuatu yang tidak Islami menjadi Islami, maka jelas perubahan tidaklah identik dengan penyusunan, karena perubahan mengandung pengertian merubah sesuatu yang sudah ada, baik dengan mengurangi ataupun menambahnya, menjadi bentuk lainnya, tetapi penyusunan mengandung makna mengadakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Seperti ekonomi Islam misalnya, saat ini kaum Muslimin belum memiliki model sistem ekonomi Islam yang dapat diterapkan sesuai keperluan masyarakat modern, maka para cendikiawan Muslim tidaklah mengadopsi ekonomi Barat menjadi ekonomi Islam dengan proses perubahan yang disebutnya sebagai Islamisasi, tetapi mereka berusaha mencari, meneliti, merumuskan dan mengembangkan teori-teori ekonomi tersendiri berdasarkan ajaran Islam, dan mungkin mereka akan menggunakan teori ekonomi Barat sebagai bahan perbandingan dan referensi sehingga mereka menemukan suatu teori ekonomi Islam yang mungkin berbeda dan mungkin juga sama persis dengan ekonomi Barat. Namun proses ini tidaklah dapat dinamakan sebagai perubahan teori, namun penyusunan teori baru. Istilah Islamisasi pengetahuan sendiri dapat memberikan kesan seakan-akan ajaran Islam tidak memiliki sistem pengetahuan dan kehidupan yang sempurna, sehingga perlu diambilkan dari dari luar Islam. Seperti sistem ekonomi, seakan-akan Islam tidak memiliki sistem ekonomi sendiri sehingga perlu diambilkan dari sistem luar Islam dengan proses Islamisasi ekonomi. Sementara Islam mengajarkan kepada pengikutnya bahwa Islam adalah sistem yang kaffah dan syumul, yaitu ajaran yang mengatur semua sistem
Akbar S. Ahmad, “Toward Islamic Anthropology, dalam Toward Islamization of Disciplines,,op.cit,hlm.199-247. Lamya al-Faruqi, “Islamizing The Arts Disciplines”, dalam Toward Islamization, op.cit. hlm. 459-504. Sayyid M. Syeed, “Islamization of Linguistics”, dalam Toward Islamization, op.cit. hlm. 545-555. AbdulHamid A. AbuSulayman, “Orientation Guidelines for the International Conference on Islamization of Knowledge, dalam Toward Islamization, op.cit, hlm. 13-16.

kehidupan manusia, dari masalah individu sampai masyarakat dan negara.165 Bagaimana mungkin Islam telah mengajarkan secara terperinci doktrin-doktrin sederhana tata cara keluar masuk kamar kecil dan adab-adabnya, sementara tidak mengajarkan sistem ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan lainnya yang lebih besar dan penting dalam kehidupan pengikutnya ? Maka tentu Islam sebagai aldien (sistim hidup) telah mengajarkan dasar-dasar filsafat semua sistem kehidupan dunia ini, tinggal bagaimana para cendikiawan Muslim mengembangkannya menurut kemampuannya masing-masing. Islam dengan pendekataannya yang khas telah memberikan dorongan kepada pengikutnya untuk meneliti dan mengembangkan segala phenomena alam ini menurut kadar kemampuannya masing-masing. Semangat inilah yang telah mendorong para cendikiawan Muslim terdahulu yang telah mengantarkan mereka menuju puncak kegemilangan peradaban. Maka dengan pengertian ini, Islamisasi pengetahuan harus lebih difokuskan kepada penyusunan dan pengembangan teori-teori pengetahuan baru Islami yang berbeda dari pengetahuan Barat, baik secara substansi ataupun materinya yang berlandaskan filsafat pengetahuan Islam, berorientasi Islami dan menghasilkan produkproduk Islami pula. Jadi yang diperlukan saat ini adalah bagaimana menemukan dan merumuskan kembali konsep pengetahuan Islami, sains Islami, teknologi Islami dan seterusnya, walaupun kaum Muslimin harus mengadopsinya dari Barat yang non Islam, kerena mungkin mereka telah menemukannya lebih dahulu. Para cendikiawan Muslim mempunyai hak untuk mengadopsi pengetahuan tersebut dari mereka, yang hakikatnya adalah ilmu Allah SWT, selama pengetahuan tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Rasulullah sendiri telah memerintahkan kepada ummatnya untuk mengambil ilmu yang bermanfaat sebagaimana sabdanya :”sesungguhnya al-Hikmah (pengetahuan bermanfaat) adalah milik kaum Muslimin, dimanapun mereka menemukannya, mereka berhak mengambilnya kembali”(al-Hadits). Walaupun sistem ekonomi Islam misalnya sudah ditemukan Karl Marx yang atheis, maka para cendikiawan Muslim tetap berhak mengambilnya tanpa rasa rendah diri. Karena semua sistem yang bermanfaat dan benar adalah ilmu Allah yang telah diberikan-Nya kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh, walaupun mereka kafir, atheis ataupun sekuler. Atau para cendikiawan Muslim menggali langsung berdasarkan warisan-warisan cemerlang pendahulu mereka,
Tentang kesempurnaan Islam ini lihat misalnya : Said Hawa, al-Islam, (Beirut : Dar al-Fiqr, 1978). Yusuf al-Qardhawi, al-Hall al-Islam, (Dauhah, Qatar : al-Jamiah al-Islamiyah Qatar, 1986). Hamudah Abdalaty, Islam in Focus,(Kuwait : IIFSO, 1978). Abu Urwah, Sistem-sistem Islam,(Kuala Lumpur : Pustaka Salam, 1989). Abul A’la al-Maududi, Asas-asa Islam, ( Kuala Lumpur : IIFSO, 1981.

menyempur-nakan dan merumuskan kembali menurut keperluan masyarakat masa kini, karena Barat yang memiliki peradaban tinggi saat ini pada awalnya juga belajar dari para cendikiawan Muslim terdahulu. Saat ini, di mana Barat menjadi pemuka pengetahuan modern, maka kaum Muslimin mau tidak mau harus mengambil darinya jika mereka hendak menjadi pemimpin peradaban dunia masa depan. Untuk itu perlu diperjelas bentuk pengetahuan produk Barat sekuler saat ini. Secara global menurut pandangan Islam, pengetahuan Barat saat ini terbagi menjadi dua, yaitu pengetahuan Barat Islami dan pengetahuan Barat non Islami. Ini berangkat dari asumsi tadi, bahwa semua pengetahuan yang benar dan bermanfaat pasti dari Allah SWT dan kebetulan ditemukan oleh Barat yang non Islam maka tidak mejadikan pengetahuan itu non Islami pula. Maka yang dimaksudkan dengan pengetahuan Barat Islami adalah pengetahuan yang dihasilkan Barat namun bersesuaian atau tidak bertentangan dengan ajaran Islam secara substansi ataupun materinya. Sementara pengetahuan Barat non Islami adalah pengetahuan yang diproduk Barat dan bertentangan dengan ajaran Islam. Implikasi dari pengertian ini adalah pengetahuan Barat Islami tinggal ditransfer, kemudian dimanfaatkan dan diatur sesuai dengan syari’at Islam, maka secara otomatis pengetahuan itu akan menjadi pengetahuan Islami yang dapat dimanfaatkan kaum Muslimin. Adapun pengetahuan Barat non Islami harus ditolak. Konsekwensi logisnya, para cendikiawan Muslim harus mengetahui dengan pasti ajaran-ajaran Islam dan juga pengetahuan Barat yang akan ditransfer, baik landasan filsafatnya, orientasinya, relevansinya dan yang terpenting metodeloginya. Itulah sebabnya, sebagaimana dikatakan Fazlur Rahman,166 program utama yang harus dilakukan para cendikiawan Muslim saat ini dalam proses Islamisasi pengetahuan ini adalah mencetak kader-kader cendikiawan Muslim yang berkemampuan untuk menilai pengetahuan Barat dengan dasar pengetahuan keislaman yang dimilikinya kemudian mengembangkannya menurut kemampuannya. Dan menurutnya, yang paling layak mengislamisasikan pengetahuan adalah orang yang memiliki dasar pengetahuan keislaman yang kuat, baik pengetahuan Islam klasik ataupun kontemporer, kemudian mereka dididik agar menguasai dan memahami pengetahuan Barat sesuai minat dan kemampuannya agar dapat menghasilkan pengetahuan yang Islami. Atau sebaliknya dengan mendidik para cendikiawan Muslim yang telah menguasai pengetahuan Barat dengan
Fazlur Rahman, Islam and Modernity, hlm. 134. lihat juga, “Islamization of Knowledge : A Respons”, dalam Ulumul Qur’an, op.cit. no.4. vol.III.

pengetahuan keislaman. Namun cara terakhir ini harus benar-benar mendapat perhatian khusus, karena banyak diantara mereka yang sudah menganggap dirinya menguasai pengetahuan keislaman dengan benar dan mulai mengislamisasikan pengetahuan Barat, namun pada hakikatnya mereka mentransfer apa adanya pengetahuan Barat tersebut dengan semangat sekulernya sekaligus akibat ketidakfahamannya terhadap ajaran Islam. Demikian pula halnya masih terdapat kerancuan-kerancuan pada metodelogi yang digunakan para cendikiawan Muslim dalam mengislamisasikan pengetahuan. Diantaranya ada yang menyamakan begitu saja konsep-konsep sains dengan konsep-konsep yang berasal dari Islam, padahal belum tentu sama pengetiannya. Misalnya menganggap bahwa nafs al-Ammarah, nafs al-Lawwamah dan nafs alMuthmainnah dari al-Qur’an identik dengan konsep id, ego dan super ego dalam psikologi, ataupun menyamakan konsep demokrasi Barat dengan konsep syuro dalam politik, konsep humanisme dengan ukhuwah dalam sistem sosial, dan lainnya dimana hal ini akan mengakibatkan biasnya pengetahuan ke taraf agama yang harus diyakini kemutlakannya.167 Sebagaimana dikemakakan terdahulu, pengetahuan yang dikembangkan Barat, khususnya pengetahuan-pengetahuan sosialhumanika, berasal dari akar filsafat yang berbeda bahkan bertentangan dengan filsafat pengetahuan dalam Islam. Filsafat pengetahuan Barat berlandaskan faham sekulerisme dan materialisme yang menolak agama dan dogma-dogma yang terkandung didalamnya, termasuk perananan Tuhan sebagai pencipta alam raya ini dan ajaran metafisik lainnya dengan alasan tidak rasional, tidak ilmiyah dan tidak sesuai dengan toeri empirisme yang mereka yakini. Faham ini sendiri lahir dari pemberontakan terhadap agama Kristen abad pertengahan yang penuh dengan doktin-doktrin palsu, penyelewengan dan penipuan para pemukanya yang korup dengan mengatasnamakan Tuhan, ajaran yang membelenggu pemikiranpemikiran cemerlang para cendikiawan Barat. Faham ini akhirnya menganggap semua agama yang mengajarkan metafisik adalah candu masyarakat, penghalang kemajuan dan akhirnya menyimpulkan “Tuhan telah mati’, peranannya diganti oleh pengetahuan.168 Sementara filsafat pengetahuan Islam berlandaskan pada Tauhid, wujudnya Allah dalam ketunggalan-Nya sebagai sumber segala
Tokoh-tokoh IIIT sendiri sebagai pendukung utama Islamisasi pengetahuan model Faruqi sebagian besar adalah para cendikiawan Muslim yang latar belakang pendidikannya sekuler Barat ataupun tradisional Islam, dimana hal ini sangat mempengaruhi produk pemikirannya. Demikian pula karya-karya yang diterbitkannya masih banyak dipengaruhi oleh metodelogi sekuler atau tradisional. Lihat misalnya, Toward Islamization of Disciplines terbitan IIIT yang menghimpun tulisan tokoh-tokohnya Syed M.Naquib al-Attas, Islam and Secularism, khususnya bab I dan II.

pengetahuan yang diterima manusia, yang berkedudukan sebagai kholifah, atau wakil Allah yang akan mengatur dan memakmurkan alam menurut kehendak Allah SWT. Penyatuan alam nyata (fisis) dengan alam ghaib (metafisis), penyatuan dunia dengan akhirat, nilai moral dan intelektual, yang tidak mempertentangkan antara wahyu Allah dengan aqal manusia.169 Maka implikasinya, produk-produk pengetahuan yang sifatnya relatif, tidak mungkin disejajarkan dengan konsep ajaran di dalam alQur’an170 yang absolut kebenarannya. Karena produk-produk pengetahuan yang dianggap benar dan didukung hari ini, mungkin besok akan ditentang oleh pendukungnya sendiri dengan adanya penemuan-penemuan baru yang dianggap lebih mendekati kebenaran sebagaimana yang menimpa teeori-teori pengetahuan dari zaman dahulu hingga saat ini. Sementara al-Qur’an, sumber utama ajaran Islam, sejak awal diturunkannya sampai akhir zaman tetap mutlak kebenarannya, tidak akan berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman, yang berubah-ubah adalah penafsiran dan pemahaman orang terhadap kandungannya sehingga melahirkan banyak tafsir al-Qur’an, yang tidak terlepas dari situasi dan kondisi pengetahuan orang berkenaan.171 Dengan mensejajarkan pengetahuan dengan al-Qur’an, jelas akan merendahkan nilai al-Qur’an yang mutlak kebenarannya ke taraf pengetahuan/sains yang relatif dan berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Demikian pula masih ada di antara para cendikiawan Muslim yang menjadikan Islam sebagai penguat pengetahuan, dengan mencari-cari dalil yang akan mendukung suatu gagasan atau teori pengetahuan. Hal ini biasanya dilakukan para cendikiawan yang telah meyakini kebenaran sebuah teori pengetahuan, kemudian dia berusaha membenarkannya dengan mengutip dalil-dalil al-Qur’an ataupun al-Hadits yang menguatkan teori berkenaan. Sehingga lahirlah istilah-istilah aneh seperti sosialisme

Tentang filsafat pengetahuan Islam, lihat misalnya : Syed M. Naquib al-Attas, Islam and The Philoshopy of Science, (Kuala Lumpur : ISTAC, 1989). Wan Mohd. Nor Wan Daud, The Concept of Knowledge in Islam,(London : Mansell Publ, 1989). C.A. Qadir, Philosophy and Science in The Islamic World,(New York: Croom Helm, 1988) khususnya bab 1. Mahdi Golshani, “Philoshophy of Science from the Qur’anic Perspective” dalam Toward Islamization of Disciplines. op.cit. hlm.7392. Sengaja penulis menggunakan al-Qur’an dan bukan ajaran Islam, karena al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam yang tidak pernah dipertentangkan kebenaran dan keabsahannya, dan tidak ada seorangpun sampai hari ini yang berhasil membuktikan kepalsuan ajaran al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT, sementara ajaran Islam adalah produk dari pemahaman terhadap sumber ajaran ini, yang mungkin terdapat perbedaan dalam menafsirkan atau memahaminya, sebagimana yang telah melahirkan berbagai madzhab pemikiran Islam. Tentang difinisi al-Qur’an lihat : Subhi Sholih, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, (Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, tt) hlm. 21. Syaikh M. Ali Al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an,(Damsyiq : Maktabah al-Ghazaly, 1981) hlm. 6. Fuad Ali Ridha, Fi ‘Ulum al-Qur’an,(Beirut : Dar Iqra’, 1986), hlm. 13-14. M. Ali al-Hasan, al-Manar fi ‘Ulum al-Qur’an, (Amman : Mathbaah alSyuruq, 1983). hlm.7-8. Shabir Thayyimah, Haza al-Qur’an,(Beirut : Dar al-Jill, 1989) hlm. 13.

Islam,172 humanisme Islam,173 demokrasi Islam,174 diktatorisme Islam,175 modernisme Islam,176 sekulerisme Islam,177 fundamentalisme Islam,178 dan lainnya. Sementara istilah-istilah seperti itu sudah mengandung konotasi, pengertian, sejarah, filsafat dan pengertian tersendiri yang berbeda dengan ajaran Islam. Apakah mungkin organ-organ sistem yang lahir bukan dari ajaran Islam dapat diadopsi begitu saja karena memiliki kemiripan sedikit saja dengan ajaran Islam ? Tentu tidak mungkin, karena Islam telah memiliki sistem tersendiri dengan ciri khasnya yang berbeda dengan sistem-sistem yang diciptakan manusia. Perbuatan menjadikan Islam sebagai penguat pengetahuan semata-mata adalah sama artinya dengan perbuatan menjual ayatayat Allah dengan harga murah yang dilarang Islam. 179 Dan perbuatan ini akan merendahkan Islam ke taraf pengetahuan yang nilainya relatif, yang dapat diterima ataupun ditolak. Proses Islamisasi pengetahuan ini juga harus menjangkau keseluruhan tingkat pendidikan, dari tingkat dasar, menengah dan tinggi. Apabila dilakukan hanya pada tingkat tinggi saja, tanpa diikuti Islamisasi pada tingkat dasar dan menengah, dalam arti membiarkannya sekuler ataupun tradisional sepenuhnya, jelas akan mengurangi keberhasilannya secara maksimal. Karena pada tingkat dasar dan menengah, dimana pelajar masih murni keyakinan dan pemikirannya, jika Islamisasi bertujuan untuk menanamkan keterikatan cendikiawan pada Islam, maka harus diwarnai dengan semangat ajaran Islam sedini mungkin agar tertanam orientasi keislaman pada dirinya sejak muda yang akan sangat membantunya untuk memahami pengetahuan keislaman pada tingkat yang lebih tinggi. Demikian pula sebaliknya, apabila institusi dasar dan menengah disislamisasikan, ditanamkan nilai-nilai Islam dengan ketat, sementara tingkat tinggi dibiarkan sekuler, boleh jadi akan menghilangkan nilai-nilai Islami yang sudah tertanam dan menjerumuskan para pelajar menjadi sekuler akibat pelajaran tinggi mereka yang sekuler. Itulah sebabnya keberhasilan yang maksimal dapat diraih apabila dilakukan Islamisasi pada semua tingkatan dengan relevansinya masing-masing. Dengan proses Islamisasi menyeluruh ini diharapkan akan melahirkan cendikiawan-cendikiawan Muslim yang utuh, yaitu cendikiawan Muslim
Mustafa H. al-Siba’i, Isytirokiyyat al-Islam, (Sosialisme Islam), (Damsyiq : Damsyiq Univ,tt) Marcel A.Boisard, Humanism in Islam,trans. by Albin Michel,(Indianapolis:The American Trust Publ.,1979) Abul ‘Ala al-Maududi adalah diantara cendikiawan Muslim yang menentang keras istilah demokrasi Islam, karena prinsip demokrasi dan syuro dalam Islam bertentangan. Lebih lanjut lihat tulisan beliau The Islamic Law and Constitution, dan Khilafat wa al-Mulk. Lihat dalam The Islamic Law and Constitution karya Abul “Ala al-Maududi. Istilah ini digunakan secara meluas oleh cendikiawan Muslim, diantara yang menentangnya adalah Maryam Jamilah dalam bukunya Islam and Modernism,(Lahore : Moh. Yusuf Khan, 4th.ed.1977). Istilah ini dipopulerkan Nurcholis Madjid pada tahun 70-an dan mendapat tentangan dari H.M. Rasjidi dalam bukunya Koreksi terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekulerisasi,(Jakarta : Bulan Bintang, 1972). Masalah ini lihat Rifyal Ka’bah, Islam dan Fundamentalisme,(Jakarta : Panjimas,198 “dan janganlah kamu menjual ayat-ayat Kami dengan harga yang murah”

yang kreatif dalam spesialisasi pengetahuannya namun memiliki keterikatan yang kuat pada Islam, atau cendikiawan Muslim yang menjadikan Islam sebagai landasan berfikir kreatifnya, sebagaiman yang telah ditempuh para cendikiawan Islam terdahulu yang menjadikan Islam sebagai landasan spirit dalam meneliti dan mengembangkan pengetahuan karena berkeyakinan bahwa terlibat dalam pengetahuan dianggap sebagai salah satu sarana beribadah kepada Allah SWT. Kurang berhasilnya proses penggabungan kedua metodelogi (tradisional dan sekuler) terdahulu sebagaimana yang dialami Sayyid Ahmad Khan dengan Aligarh Collegenya, karena masih tetap bertahannya kedua metodelogi tersebut pada tempatnya masingmasing, belum mampu saling lengkap melengkapi satu dengan lainnya. Disamping kegagalan tersebut akibat tidak adanya tenaga pengajar yang menguasai metodelogi dan sistem yang diterapkan, namun ini terjadi juga akibat dari proses pemberian spirit Islam hanya dilakukan pada tingkat tinggi saja, sementara pada tingkat dasar dan menengah, yang merupakan jembatan penghubung terpenting yang akan memaksimalkan keberhasilan metodelogi baru ini dibiarkan sepenuhnya sekuler ataupun tradisional. Ataupun kegagalan yang menimpa generasi-generasi Islam yang belajar di Barat dan tersekulerkan akibat mereka hanya mengalami proses penanaman spirit Islam pada tingkat dasar dan menengah, sementara pada tingkat tinggi menerima pengetahuan yang sepenuhnya sekuler dan akhirnya mereka tersekulerkan dengan terkikisnya spirit Islam yang ditanamkan terdahulu. Demikian pula halnya, jangan sampai proses Islamisasi pengetahuan yang sedang dilaksanakan para cendikiawan Muslim ini terjebak faham Barat yang hanya mengutamakan pengetahun saja. Apapun yang diketahui tidak diikuti dengan penekanan pada aspek amali (pelaksanaan). Islam dipelajari hanya sebagai pengetahuan belaka, tanpa suatu tekanan berat kepada pengamalan, karena Islam menekankan pengetahuan sekaligus pengamalan kepada pengikutnya. Apalah artinya mendirikan universitas-universitas yang memakai nama dan lambang Islam, namun pada hakikatnya masih menerapkan dengan penuh kesadaran segala bentuk pengetahuan yang berlandaskan filsafat Barat yang berjiwa sekuler dan materialistik. Idealnya sebuah universitas Islam adalah universitas yang menerapkan aspek pengetahuan dan pengamalan sekaligus, dan nilai keberhasilan sebuah institusi Islam adalah keberhasilannya dalam melahirkan generasi-generasi yang berpengetahuan dan berupaya mengamalkan pengetahuannya dengan semaksimal mungkin. Demikian pula institusi intelektual Islam jangan sampai melahirkan alumni yang hanya pandai

mengeluarkan teori, konsep ataupun makalah dalam seminar dengan metode yang mereka namakan ilmiyah, namun jauh dari masyarakatnya dan terjebak pada budaya sangkar emas intelektual, sebagaimana digambarkan Syari’ati : “Ironisnya dalam budaya dan dan sistem pendidikan modern kaum muda kita dididik dan dilatih di dalam bentengbenteng yang terlindung dan tak tertembus. Begitu mereka masuk kembali ke dalam lingkungan masyarakat, mereka ditempatkan pada kedudukan-kedudukan sosial yang sama sekali terpisah dari rakyat jelata. Maka kaum intelektual muda itu hidup dan bergerak dalam arah yang sama dengan rakyat, tetapi di dalam suatu “sangkar emas” lingkungan eksklusif. Akibatnya di satu fihak, kaum intelektual itu mengejar kehidupan yang terpencil di atas menara gading tanpa memahami sama sekali keadaan masyarakat mereka sendiri dan di lain fihak, rakyat jelata yang tak terpelajar tidak memperoleh kebijaksanaan (hikmah) dan pengetahuan dari kaum intelektual yang sama, yang telah mereka biayai pendidikannya dan mereka dukung perkembangannya.180

EPILOG
KEBANGKITAN NEO-FUNDAMENTALISME ISLAM DI INDONESIA
A. Pendahuluan Dan Latar Belakang Dinamika perkembangan ataupun pembaruan pemikiran Islam sejak awal kebangkitannya selalu menarik untuk dikaji, baik oleh kalangan cendekiawan Muslim sendiri maupun para cendekiawan non Muslim seperti
Ali Syariati, What is To Be Done, op.cit.hlm. 26

para Orientalis Barat misalnya.181 Bagi kalangan Muslim sendiri, ketertarikan ini lebih merupakan sebuah tututan agama untuk mengetahui warisan tradisi generasi terdahulu yang dapat dijadikan tauladan dalam kehidupan modern ataupun lebih jauh sebagai fundamen dalam membangun peradaban baru dunia yang berdasarkan nilai-nilai Islam. Sejak bergemanya kebangkitan kembali Islam beberapa dasawarsa lalu, para cendekiawan muslim sangat antusias untuk mengkaji warisan teradisi generasi terdahulu, terutama produk-produk pemikiran mereka yang telah mengalami persentuhan dengan pemikiran luar Islam dan perkembangannya. Mereka berkeyakinan bahwa untuk bangkit kembali dari keterbelakangan dan kekalahan masa kini mereka harus memahami warisan peradaban generasi Islam terdahulu yang merupakan mata rantai peradaban yang akan menyambung kembali peradaban yang telah lepas dari tangan kaum muslimin. Itulah sebabnya, pengkajian terhadap pemikiran kaum muslimin, perkembangan dan pembaruannya selalu menjadi perhatian besar mereka yang menghendaki kebangkitan kembali Islam dari generasi ke generasi.182 Sejak dikumandangkannya gerakan Pan-Islamisme oleh Jamaluddin alAfghany, atau lebih awal oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, para cendekiawan muslim telah merumuskan berbagai bentuk metodelogi pemikiran, yang pada intinya bertujuan untuk membangkinkan kembali peranan kaum muslimin sebagai kaum maju yang berperadaban dan lebih jauh bercita-cita membangun sebuah peradaban baru yang merupakan perpaduan antara warisan tradisi Islam dengan peradaban modern Barat.183 Adalah sangat menarik untuk mengkaji perkembangan pembaruan pemikiran yang telah dilakukan para cendekiwan muslim, sebagaimana yang telah dilakukan Fazlur Rahman.184 Terlepas dari kontraversi yang digunakan dalam mengistilahkan priode-priode pembaruan pemikiran Islam seperti istilah modernisme ataupun fundamentalisme yang tidak dikenal dalam perbendaharan bahasa masyarakat muslim, namun Rahman telah memberikan pedoman dasar yang bermanfaat untuk mengkaji pembaruan pemikiran Islam serta metodeloginya, terutama oleh para generasi mendatang yang lebih terdidik dan kritis. Mengkaji pembaruan pemikiran Islam di Indonesia adalah sangat penting. Disamping jumlah penduduk Muslim di Indonesia adalah yang terbesar diantara dunia Islam, sejarah pembaruan pemikiran Islam sangat dinamis yang dipelopori oleh para ulama dan cendekiawan yang mendapat pendidikan Islam
Para orientalis Barat sangat aktif mengadakan penelitian terhadap perkembangan Islam dan kaum Muslimin, baik bertujun ilmiah ataupun memburukkan citranya. Masalah ini lihat misalnya : Edward W. Said, Orientalism, (London : Routledge and Kegan Paul, 1978). Lihat jug karyanya : Covering Islam, (New York : Pantheon, 1981), Culture and Imperialism (New York : Vintage, 1994) Masalah ini lihat misalnya : Dr. Abd. Al-Hamid Abu Sulayman, Azmah al-‘Aql al-Muslim, (Virginia : IIIT, 1991). Lihat juga bukunya Al-Minhajiyah al-Islamiyah wa al-‘Ulumi al-Suluhiyat wa al-Tarbawiyat, (Virginia, IIIT, 1991). Masalah ini lihat misalnya : Dr. Mukhsin Abdul Hamid, Jamal al-Din al-Afghani, al-Musalih al-Muftara alayh.(Mesir: tt). Ahmad Amin, Zuama al-Ishlah fi al-Asr al-Hadits, (Kaherah : Muassasah al-Khanji : tt). Abbas Mahmud alAqqad, Muhammad Abduh, (Kaherah : Maktabah Misr :tt). Abd. Halim al-Jundi, al-Imam Muhammad Abduh (al-Kaherah : Dar al-Maarif, tt). Dr. Muhammad al-Bahiy, Al-Fikr al-Islamy al-Hadits wa Silatuhu bi’l Isti’mary al-Gharby, cet.8. (Kaherah : Maktabah Wahb, 1975). Dr. Syaukat Ali, Master of Muslim Thought. Vol.I. (Lahore : Aziz Publ., 1983). Mohd. Kamil Hj. Abd. Majid, Tokoh-tokoh Pemikir Islam. Jilid I. (Kuala Lumpur : ABIM, 1993). Fazlur Rahman, Islam and Modernity, An Intellectual Transformation. (Minneapolis : Bibliotheca Islamica, 1979.

tradisional maupun Barat sekuler.185 Bahkan, menurut Malik ben Nabi, Fazlur Rahman yang diperkuat Alvin Toffler, kebangkitan pemikiran Islam boleh jadi akan dimulai dari Indonesia dan sekitarnya dengan beberapa alasan rasional.186 Selama ini, para cendekiawan muslim di Indonesia dan generasi mudanya sangat aktif merespon segala perkembangan pembaruan pemikiran yang menjadikan mereka sebagai pelaku-pelaku utama mata rantai pembaruan pemikiran dunia Islam. Namun karena lemahnya publikasi, terutama dalam bahasa Arab dan Inggris, mengakibatkan kurang tersebarnya pemikiran brilyan mereka ke dunia internasional. Inilah yang menyebabkan tokoh-tokoh besar pembaru Islam seperti HOS. Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, A.Hassan, HAKA, Hasyim Asy’ary, M. Natsir dan lainnya kurang dikenal dunia, seperti terkenalnya Abduh, Iqbal atau generasi sesudahnya seperti Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Maududi, Nadwy, Syari’aty dan lainnya. Demikian pula halnya dengan generasi pembaru sesudahnya kurang mendapat perhatian dunia, kecuali beberapa diantaranya seperti Nurcholish ataupun Abdurrahman Wahid yang dijuluki sebagai pelopor neo-Modernisme Islam di Indonesia. Mengkaji pembaruan pemikiran terkini di Indonesia adalah merupakan tuntutan yang mesti dilakukan dengan beberapa pertimbangan utama seperti dinyatakan di atas. Selain berkembang pesatnya aliran pemikiran neo-Modernisme Islam yang telah dikaji oleh Greg Barton,187 mengikuti periodeisasi Fazlur Rahman, telah berkembang aliran pemikiran terkini sebagai respon terhadap pembaruan-pembaruan pemikiran terdahulu yang diistilahkannya sebagai neoFundamentalisme Islam yang lahir dari akar pemikiran fundamentalisme Islam terdahulu.188 Uniknya, neo-Fundamentalisme Islam berkembang pesat dan mulai tampil secara terbuka setelah tumbangnya Soeharto dan melahirkan gerakan reformasi dengan berdirinya ormas ataupun orpol yang berazaskan Islam yang sebelumnya dikenal berafiliasi dengan gerakan fundamentalis Islam dari dalam dan luar negeri. Sebagai konsekwensi logis keterbukaan dan deDiantara kajian-kajian utama tentang pembaharuan pemikiran di Indonesia, misalnya : Harry J. Benda, The Crescent and the Rising Sun : The Indonesian Islam under the Japanese Occupation 1942-1945. W.van Hoeve Ltd. (The Haque dan Bandung : 1958). Deliar Noer, The Rise and Development of the Modernist : Muslim Movement in Indonesia : During the Dutch Colonial Period, 1990-1942. (Kuala Lumpur : Oxford Univ. Press, 1978). James Peacock, Muslim Puritans, Reformist Psychology in Southeast Asian Islam, (Berkeley : Univ. California Press, 1978). Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises Over the Banyan Tree, (Yogyakarta : UGM Press, 1983). Ken Ward, The Foundation of the Partai Muslimin Indonesia, (Ithaca : Cornell Modern Ind. Project, 1970). B.J. Boland, The Stuggle of Islam in Modern Indonesia, (The Haque : Martinus Nijhoff, 1971). Taufik Abdullah, School And Politics : The Kaum Muda Movement in West Sumatera 1921-1927. Ph.D. Thesis, Cornell Univ, 1971. Alfian, Islamic Modernism, In Indonesian Politics : The Muhammadiyah Movements During The Dutch Colonial Period 1912-1942. Ph.D. Thesis Univ. of Wisconsin, 1968. Howard M. Federspiel, The Persatuan Islam : Islamic Reform In Twentieth Century Indonesia, Ph.D, Thesis, Mc.Gill University, 1966. Mohd. Kamal Hassan, Muslim Intelectual Responses to “New Order” Modrnisation in Indonesia, (Kuala Lumpur : DBP, 1982). Greg Barton, The Emergence of Neo-Modernism : A Progressive, Liberal Movement of Islamic Thought in Indonesia. Terj. (Jakarta : Paramadina, 1999). Yusril Ihza Mahendra, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam, (Jakarta : Paramadina, 1999). Alwi Shihab, The Muhammadiyah Movement and Its Contraversy with Cristian Mission in Indonesia. Membendung Arus : Respon Gerakan Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, (Bandung : Mizan, 1998) Lihat : Hilmy Bakar Almascaty, Ummah Melayu Kuasa Baru Dunia Abad 21, (Kuala Lumpur : Berita Publishing, 1993) Greg Barton, The Emergence of Neo-Modernism.., op.cit. Fazlur Rahman, “Roots of Islamic Neo-Fundamentalism”, dalam Philip H. Stoddard, et,al.,eds., Change and the Muslim World, (Syracuse, NY.: Syracuse Univ. Press, 1981).

188

mokratisasi yang digulirkan pemerintahan Habibie, akhirnya gerakan reformasi sendiri telah memberikan peluang bangkitnya idiologi kiri radikal yang berakar pada gerakan Marxisme, Sosialisme dan Komonisme ataupun gerakan-gerakan radikal revolusioner lainnya yang kini mendapat sambutan luas dikalangan generasi muda yang mayoritasnya muslim. Ini juga menjadi salah satu penyebab tampilnya gerakan neo-Fundamentalisme Islam yang terkenal radikal dan militan dalam sejarah gerakannya sebagai kekuatan penyeimbang. Karena sejarah pergerakan kaum kiri, termasuk di Indonesia, disamping anti Tuhan dan anti agama, penuh dengan kebohongan, kekejian dan pertumpahan darah, yang mengorbankan kaum muslimin. Maka hanya gerakan sejenis yang mampu membendung gerakannya, gerakan neo-fundamentalisme Islam.189 B. Neo-Fundamentalisme Islam Dan Pembaruan Pemikiran di Dunia Islam Fazlur Rahman190 membagi pembaruan pemikiran di dunia Islam menjadi beberapa fase, diawali dengan fase revivalisme pramodernis, fase modernisme klasik, fase noe revivalisme dan neo-Modernisme. Gerakan revivalisme pramodernis berakar pada seruan pembaruan yang dianjurkan Muhammad bin Abdul Wahhab yang muncul pada abad 18 dan 19 yang menyerukan agar kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Gerakan modernisme klasik adalah kelanjutan dari gerakan terdahulu yang lebih memfokuskan pada pengembangan konsep ijtihad dan keinginan untuk mengadopsi peradaban Barat. Diantara tokohnya adalah Jamaluddin alAfghoni dan Muhammad Abduh. Dan selanjutnya gerakan ini melahirkan para modernis yang berinterksi dengan peradaban Barat. Gerakan neo revivalisme yang mengoreksi pemikiran sebelumnya dengan lebih menekankan pemikirannya pada konsep ketotalan ajaran Islam sebagai sistem hidup dan berkeinginan keras mengaplikasikan Islam dalam sistem kenegaraan dan kemasyarakatan. Gerakan ini muncul pada pertengahan abad 20, diantara tokohnya adalah Iqbal, Maududi, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb dan lainnya. Biasanya kelompok ini dikenal pula dengan istilah fundamentalis Islam. Gerakan neo-Modernisme diidentikkan dengan gerakan pembaruan pemikiran yang dilakukan oleh mereka yang memiliki pemahaman terhadap sumbersumber klasik Islam namun mampu berinteraksi dengan kemodernan dan mengembangkan model pemikiran Islam yang memiliki ciri khasnya. Di Indonesia, menurut Greg Barton dalam The Emergence of Neo-Modernism : A Progressive, Liberal Movement of Islamic Thought in Indonesia, telah lahir kelompok neo-Modernis ini diwakili oleh figur seperti Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi dan Ahmad Wahib. Mereka adalah kelompok tradisionalis yang telah mengalami proses pembaruan pemikiran dan dapat memanfaatkan perbendaharaan peradaban Barat modern, sementara memiliki akar tradisi yang kuat, termasuk penguasaannya yang luas terhadap
Al Chaidar, Reformasi Prematur, Jawaban Islam Terhadap Reformasi Total,(Jakarta : Darul Falah, 1999). Lihat juga bukunya yang lain, Pemilu 1999, Pertarungan Ideologis Partai-partai Islam Versus Partai-partai Sekuler, (Jakarta : Darul Falah, 1999) Fazlur Rahman, “Islam : Challenges and Opportunities” dalam Alford T. Welch dan Pierre Cachia (ed)., Islam : Past Influence and Present Challenge, (Edinburgh : Edinburgh Univ. Press, 1979), halaman 315-330.

sumber-sumber peradaban Islam klasik yang tidak dimiliki oleh kaum modernis.191 Sementara neo-Fundamentalisme Islam yang berkembang di dunia Islam saat ini menurut Fazlur Rahman dalam Roots of Islamic NeoFundamentalism192 lahir atas respon dari ketidakpuasaan sebagian generasi Islam, khususnya mereka yang telah mengecap “pendidikan modern” Barat terhadap kegagalan kaum modernis. Menurut Rahman, kegagalan terbesar kaum modernis adalah ketidakmampuan mereka dalam mengembangkan metodologi pemikiran untuk merespon perkembangan zaman sesuai dengan ajaran Islam. Bahkan lebih jauh terkesan sangat longgar dalam melaksanakan dan menerapkan ajaran Islam dan lebih meniru pemikiran dan gaya hidup Barat yang sekuleristis dan liberal sehingga terkesan sebagai agen penjajah dalam membaratkan kaum Muslimin dengan program modernisasi mereka yang dituduh identik dengan westernisasi. Modernisasi dan program sejenisnya yang dikembangkan telah melahirkan kebingungan dan kerancuan pada generasi Islam, yang akhirnya menimbulkan kegelisan, ketidakpsatian, keputusasaan dan lebih jauh dapat menghantarkan menuju kefasikan, kemunafikan dan bahkan kekufuran. Akhirnya segala produk modernisme Islam, baik dalam bidang pemikiran, pendidikan, politik, ekonomi dan lainnya ternyata tidak mampu, atau lebih tepat telah gagal mengantarkan kaum Muslimin menuju kebangkitan kembali sebagaimana yang di cita-citakan.193 Sejauh ini, para penggagas neo-Modernisme Islam sendiri belum mampu menunjukkan jalan yang terang dalam mengantisipasi perubahan dunia modern yang semakin menggila, terutama dalam membangun metodelogi pemikiran yang nyata untuk mengangkat keterbelakangan kaum Muslimin dalam segala bidang. Realitasnya mereka masih berputar-putar dari teori ke teori dan belum membakukan pemikirannya sebagai sebuah metodelogi yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya dan terbukti dapat bermanfaat bagi kebangkitan Islam dan umatnya dengan membangun masyarakat madani dengan peradabannya yang berdasarkan Islam. Fazlur Rahman194 sendiri, sebagai penggagas neo-Modernisme Islam hanya memberikan ciri khas gerakan ini dan belum sempat menuntaskan dasar-dasar teori pemikiran yang akan dikembangkannya.195 Apalagi akan menerapkannya sebagai eksperimen dalam sebuah lembaga pendidikan dan kader cendikiawan sebagaimana yang

191

Greg Barton, The Emergence of Neo-Modernism, op.cit. Fazlur Rahman, “Roots of Islamic Neo-Fundamentalism”. Dalam Philip H. Stoddard. (ed). Change and the Muslim World, (Syracuse, NY : Syracuse Univ. Press, 1981), halaman 27-28. Lihat juga tulisannya : “Islam : Legacy and Contemporary Challenge,”. Dalam Cyriac K. Pullapilly, Islam in the Contemporary World. (Indiana : Cross Road Books, 1980), halaman 412. Fazlur Rahman, ibid Lihat misalnya karya beliau : Islam and Modernity..dan Major Themes of the Qur’an (Chicago : Bibliotheca Islamica, 1980). Lihat, Ahmad Syafii Maarif, Membumikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, cet.3. 1995). Halaman 4,44-45-64.

dilakukan Faruqi196 atau Naquib al-Attas197 misalnya. Bahkan beliau lebih terkesan sebagai seorang kritikus ulung yang senantiasa mengkritik metodelogi pemikiran rekan-rekannya, baik Maududi yang fundamentalis ataupun Faruqi yang mengambil konsep Islamisasi Pengetahuan. Walaupun kelompok neoModernis mengklaim diri menguasai warisan tradisi Islam dan pemikiran modern yang akan diintegralkan sehingga mampu melahirkan produk pemikiran Islam terkini yang mampu memberikan solusi dan merespon perkembangan dunia modern, namun tetap masih disangsikan, apakah pemikiran-pemikiran abad pertengahan yang penuh dengan dinamika pelaku sejarah dan yang terpenting sebagai produk pemikiran manusia yang terbatas, akan mampu menjadi fondasi pemikiran masa depan. Dengan kata lainnya, apakah produk pemikiran yang mengawinkan pemikiran tradisional Islam abad pertengahan dengan pemikiran Barat modern ini akan mampu melahirkan bentuk pemikiran yang ideal atau justru akan menambah kerancuan demi kerancuan generasi Islam yang sudah rancu.198 Belum lagi jika dilihat pribadipribadi yang mengklaim diri sebagai tokoh-tokoh neo-Modernisme Islam yang selalu membingungkan dengan pemikiran-pemikiran yang kontraversi ataupun tidak memiliki konsistensi akibat terlalu kompromis dan terlalu liberalnya mereka dalam melaksanakan dan memahami Islam. Kontraversi Nurcholish sebagai seorang cendekiawan199 dan Abdurrrahman Wahid sebagai seorang politisi adalah contoh terdekat di Indonesia.200 Kerancuan demi kerancuan dan ketidakpastian yang menambah krisis dan dilemma pada generasi Islam yang hidup dalam dunia yang, sekuler, materialis dan individualistik telah mendorong mereka untuk mencari jalan pintas penyelamatan diri kepada tradisi spiritualitas Islam yang dicontohkan Nabi dan para Shohabat. Mereka berkeyakinan hanya dengan kembali mengamalkan dan menerapkan al-Qur’an dan al-Sunnah serta manhaj Nabawi dalam kehidupan nyata sajalah mereka dapat terlepas dari krisis dan dilemma yang berkepanjangan ini.201 Realitasnya pengamalan-pengamalan ajaran pokok
Ismail R. Faruqi adalah cendikiawan muslim yang mempelopori konsep Islamization of Knowledge dan mendirikan sebuah lembaga pemikiran yang sangat berpengaruh, International Institute of Islamic Thought (IIIT) yang telah menerbitkan berbagai literatur pengetahuan yang berdasarkan Islam. Diantara karya monumentalnya adalah Islamization of Knowledge : General Principles and Workplan. yang menjadi acuan dalam mengislamisasikan pengetahuan non Islami. Pemikirannya diterapkan dalam beberapa universitas Islam, termasuk di dunia Arab, Pakistan dan Malaysia. Syed Muhammad Naquib al-Attas, adalah penyandang Ghazaly Chair di Malaysia, yang merupakan cendikiawan muslim terkemuka, memiliki lembaga kajian International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) yang berpusat di Malaysia yang menjadi laboratorium pengembangan pemikiran Islam dan lembaga kederisasri cendikiawan muda. Dengan pendekatannya yang konperhensif, SMN telah meletakkan metodologi yang unik dalam pengembangan pemikiran Islam. Diantara karya monumental beliau adalah :Plolegomena To The Metaphysics of Islam. Tentang keraguan-raguan ini dapat dilihat dari pemikiran beberapa tokoh besar cendikiawan muslim seperti Iqbal, Sayyid Qutb, Ali Syari’aty dan Mohammad Arkoun yang memperdebatkannya. Lihat :Robert D. Lee, Overcoming Tradition and Modernity : the Search for Islamic Authenticity, ( NY : Westview Press, 1997). Robert N.Bellah, “Islamic Tradition and Problem of Modernization”, dalam Robert N. Bellah, Beyond Belief (New York : Harper and Row, 1976). Tentang kontraversi Nurcholish, lihat misalnya, HM. Rasjidi, Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekulerisasi, (Jakarta : Bulan Bintang, 1972). Tentang kontraversi Gus Dur sebagai President RI yang mendapat tanggapan dari DPR/MPR RI dengan beberapa kebijakannya yang membingungkan, bahkan membahayakan persatuan NKRI. Lihat misalnya : Muhammad Qutb, Jahiliyah al-Qorn al-Ishrien, (Qahirah : Maktabah Wahbah, 1964). Islam and The Crisis of Modern World, (Leicester : The Islamic Foundation, 1979). Al-Insan bayna al-Maddiyah wa al-Islam, (Misr : Isa alBab al-Halibi, tt). Sayyid Qutb, Maalim fi al-Thariq,dan Basic Principles of Islamic World View, (Berkeley : IRIS, 1993). Sayyed

Islam yang ketat ditambah dengan amalan-amalan sunnah seperti solat malam, puasa sunat ataupun tadarrus Qur’an serta zikir telah menghasilkan pengalaman-pengalaman spitual tersendiri dan sekaligus menjadi kekuatan dalam menghadapi kehidupan modern yang penuh tantangan. 202 Pada akhirnya pengalaman-pengalaman spiritual ini telah menumbuhkan semangat tegar dalam melaksanakan ajaran agama, namun pada saat yang sama mereka tetap dapat mengadakan interaksi dengan peradaban modern dan produknya. Bahkan ketegaran dalam melaksanakan Islam dapat menjadi semacam filter dalam mengambil perbendaharaan dunia modern, karena al-Qur’an mengajarkan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah akan diberikan garis pembeda (furqoon) dalam kehidupannya, yang oleh sebagian orang dikenal sebagai al-firasat al-mukmin (insting Ilahi). Mereka yang memiliki bentuk pemikiran seperti ini, biasanya secara akademik dijuluki sebagai kelompok fundamentalis Islam203 dan dalam bentuknya yang lebih mapan dan matang dijuluki sebagai neo-Fundamentalisme Islam. C. Pengertian dan Ciri Khas Neo-Fundamentalisme Islam Sebagaimana istilah-istilah lainnya, seperti fundamentalisme ataupun modernisme misalnya, istilah neo-Fundamentalisme sendiri tidak dikenal dalam perbendaharaan bahasa masyarakat Islam. Istilah-istilah seperti ini dimunculkan oleh kalangan akademisi Barat dalam kontek sejarah keagamaan dalam masyarakat mereka. Kemudian istilah-istilah ini dipergunakan oleh sarjana-sarjana Orientalis dan pakar ilmu sosial dan kemanusian Barat untuk membedakan kecendrungan-kecendrungan pemikiran yang hampir sama dengan apa yang dijumpai dalam agama Kristen di dalam masyarakat yang memeluk agama lain. Hal serupa mereka terapkan pada kaum Muslimin, sehingga lahirlah istilah fundamentalisme Islam, modernisme Islam, neoModernisme Islam atau neo-Fundamentalisme Islam.204 Istilah-istilah seperti ini memang sering menimbulkan polemik bahkan kontraversi yang berkepanjangan di dunia Islam. Dan kadangkala istilah tersebut acapkali digunakan secara tidak seimbang, jauh dari sikap netral dan penuh dengan kecurigaan. Biasanya hal ini terjadi pada penggagas ataupun pendukung aliran-aliran pemikiran ini, dimana mereka dengan penuh kecurigaan ataupun kebencian saling menvonis dengan perkataan yang diluar
Hossein Nashr, Islam and The Plight Modern Man, (London : Longman, 1975). Lihat juga The Encounter of Man and Nature, The Spiritual Crisis of Modern Man, (London : Longman, 1968) Di dalam al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan masalah ini, dianataranya ayat yang menyatakan : Dan orang-orang yang beriman akan tentram hatinya jika mengingat Allah, dan hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram. Lihat : antara lain, Rifyal Ka’bah, Islam dan Fundamentalisme, (Jakarta : Panji Masyarakat, 1981). Riffat Hasan, “The Burgeoning of Islamic Fundamentalism” dalam Norman Cohen (ed). The Fundamentalist Phenomenon, (Michigan : Erdman Publisher, 1990). Yusril Ihza, “Fundamentalisme Sebagai Ekspresi Sikap Keberagamaan”, Makalah diskusi Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, Juni 1992. Hrair Dekmejian, Islam in Revolution : Fundamentalism in the Arab.(Syracus : Syracus Univ. Press, 1985. Jalaluddin Rakhmat, Fundamentalisme Islam : Mitos dan Realitas”, Prisma Ekstra, Jakarta, Maret 1984, halaman 78-88. Yusril Ihza, Modernisme dan Fundamentalism, op.cit. halaman 5-6.

batas-batas ukhuwah Islamiyah dan adab perbedaan pendapat yang diajarkan Islam.205 Sebagai penggerak pembaruan pemikiran yang mengatasnamakan Islam, tidak sewajarnya mereka saling menuduh dengan istilah-istilah yang tidak dikenal dalam akhlak Islamiyah dan perilaku agung Rasulullah. Terkadang mereka lebih mengedepankan paradigma pemikiran Barat yang netral dan sekuler dalam mengemukakan wacana intelektual dengan saudara seimannya yang sama-sama menghendaki kebangkitan dan kejayaan Islam, namun berbeda dalam manhaj. Dengan istilah-istilah kontraversial dan lahir di luar koridor Islam ini, musuh-musuh Islam telah berhasil memecah belah para cendekiawan muslim yang tidak lain akan menambah keterbelakangan mereka. Istilah neo-Fundamentalisme Islam sendiri yang diberikan kepada kelompok kaum muslimin yang berpegang teguh kepada tradisi Rasulullah dan Salaf alShalih dengan penafsiran apa adanya ini, mungkin akan menolak istilah yang diberikan kepada mereka, sebagimana penolakan generasi Islam yang dijuluki fundamentalis Islam terdahulu. Mereka lebih selamat jika menamakan dirinya sebagai al-salafiyah, Islam Kaffah, atau Islami saja.206 Namun sebagai istilah “akademik” yang sudah baku dalam pengkajian pembaharuan pemikiran Islam, penulis, tetap dengan penuh kehati-hatian, akan menggunakan istilah neo-Fundamentalisme Islam sebagai sebuah wacana pembaruan pemikiran yang sulit dicari persamaan istilahnya dalam bahasa Indonesia. Penggunaan istilah ini bukan dimaksudkan sebagai upaya legalisasi hakikat sebuah pemikiran yang dilontarkan dari luar Islam, namun untuk lebih mempermudah pembahasan sesuai dengan jalan pikir para pengkritik aliran pemikiran ini. Dari beberapa literatur, baik dari kalangan mereka ataupun lainnya, dapat dikenali beberapa ciri khas dari gerakan neo-Fundamentalisme Islam ini yang pada intinya masih mempertahankan pemikiran fundamentalisme Islam terdahulu.207 Diantaranya adalah mereka memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat pada Islam dan sangat menginginkan Islam diperkuat untuk menghadapi Barat. Mereka menghendaki penerapan Islam Kaffah (totalitas) dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, yang berarti ditegakkannya syari’at dan hukum Islam dalam sebuah negara Islam (dar al-Islam) yang berdasarkan pada al-Qur’an dan al-Sunnah yang pada akhirnya akan membentuk sebuah Khilafah Islamiyah. Dalam praktek keseharian, mereka
Tentang abad berbeda pendapat dalam Islam lihat, Taha Jabir al-‘Awani, Adab al-Ikhtilaf fi al-Islam, (Virginia : IIIT, 1987) Dr. Muhammad Imarah, Al-Ushuliyah Baina al-Gharbi wa al-Islam, (Kairo : Dar al-Syuruq, 1998) Lihat misalnya karya-karya agung para penggagasnya, seperti karya Hasan al-Banna, Majmu’ al-Rasail, Tafsir alFatihah, Ushul al-Ishrien, Sayyid Qutb dalam Fi Dzilal al-Qur’an, Maalim fi al-Thariq, al-Islam wa Mushkilat al-Hadarat, alMustaqbal li haza al-Dienm , Muhammad Qutb dalam Jahiliya Qorn al-Ishrien, al-Subhat haula al-Islam, al-Thaqofah Islamiyah, Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyat, Hal Nahnu Muslimun ?, al-Shahwah Islamiyah, Abul A’la al-Maududi dalam Khilafat wa alMulk,, al-Islam wa al-Jahiliyah, al-Hukumat al-Islamiyah, al-Islam al-yaum, Jihad in Islam, The Islamic Law and Constitution, Nizam al-Hayat fi al-Islam, Capitalism, Socialism and Islam, Abul Hasan al-Nadwy dalam Mazha Khasiro al-Alam bi inhithot alMuslimun, Mustafa Mashur dalam Dakwah Fardhiah, Said Hawwa dalam al-Islam, Allah, al-Rasul, Jundullah Tsaqofat wa Akhlaq, Asas fi Tafsir, Yusuf Qardhawy dalam al-Hall al-Islam, al-Iman wa al-Hayat, Al-Khoshooish al-Ammah li al-Islam, Aina alKhalal, Al-Sahwah Islamiyah Baina al-Juhul wa Tatharruf, Malamih al-Mujtama’ al-Muslim Alladzi Nashhaduhu, Hady al-Islam Fatawi Muashirah, Maryam Jameelah dalam Islam and Modern Man, Islam in Theory and Practice, Islam and Modernism, Ayatullah Qomaeny, dan lainya yang tersebar dalam ratusan buah buku yang kaya dengan dimensi pemikirannya masing-masing. Disamping itu lihat pula karya para peneliti lainnya, seperti Fazlur Rahman, Roger Geraudy, dan lainnya.

sangat ketat dalam menjalankan ajaran Islam, baik yang wajib ataupun sunnah, penekanan pada pembinaan pribadi dan keluarga Muslim (usroh) yang merupakan inti dari sebuah jama’ah Islamiyah sebagai wadah perjuangan menegakkan Islam dengan struktur kepemimpinan (Imamah) sebagaimana yang diajarkan Rasul saw dengan metode yang dikenal sebagai manhaj Nabawi. Sikap mereka non kompromis dengan kejahiliyahan, baik dari Barat atau Timur, namun bukan berarti menolak segala bentuk yang berbau Barat atau kemodernan, karena mereka berkeyakinan bahwa ada produk peradaban modern yang bermanfaat untuk kemajuan Islam, namun diperlukan metode khusus dalam penerapannya yang akan dilakukan jika sudah tegak sekumpulan masyarakat yang terbina atas dasar aqidah Islam, seperti penerapan pengetahuan yang bermanfaat ataupun teknologi. Dalam perjuangan mereka biasanya sangat revolusioner, radikal dan militan dalam artian yang positif, karena mencontoh perjuangan Rasulullah yang telah berjihad menegakkan kekuasaan Islam dengan perjuangan bersenjata sehingga hanya Islam yang berkuasa dan tidak didekte oleh kekuatan manapun. Dengan sistem pembinaan (tarbiyah) yang teratur dan tersistematik secara berjama’ah, mereka telah melahirkan pribadi-pribadi yang tegar dan pantang menyerah dalam perjuangan, bahkan mereka sanggup dipenjara ataupun dibunuh dalam mempertahankan prisnsip perjuangannya. Mereka memiliki karakteristik yang sungguh sangat mengesankan : heroik, kesungguhan, keikhlasan, kesedian berkorban, dedikasi, dan sifat-sifat lain dari yang umumnya terdapat pada gerakan militan dan revolusioner dari ideologi manapun juga. Jika ditelusuri akar pemikiran neo-Fundamentalisme ini, tidak lain bersumber dari pemikiran neo-Revivalisme atau fundamentalisme yang telah dikembangakan oleh generasi terdahulu seperti Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, Abul A’la al-Maududi dan lainnya.208 Berbeda dengan pendahulunya yang non kompromis serta apatis terhadap Barat dan segala sesuatu yang berbau Barat, kelompok neo-Fundamentalis dapat menerima dengan kritis dan penuh kehatihatian serta menyaringnya menurut kaedah-kaedah ajaran Islam. Bila terjadi pertentangan dengan ajaran Islam, mereka akan lebih mengambil jalan selamat dengan mengutamakan sumber-sumber utama ajaran Islam berupa al-Qur’an dan al-Sunnah. Demikian pula mereka telah mengembangkan metodelogi pemikiran yang khas dalam merespon perkembangan dunia modern dengan segala produknya sebagai pengembangan manhaj nabawi/manhaj Qur’any yang dikemukakan pendahulunya. Karena sebagiannya lahir dari sistem pendidikan modern Barat, mereka memilih wacana intelektual dalam membangun peradaban Islam namun tetap menerima gerakan-gerakan radikal-revolusioner sebagai sebuah alternatif perjuangan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dan para shohabat dan salaf al-shalih. Mereka mendirikan partai untuk merespon demokratisasi dan liberalisasi, namun pada saat yang sama mereka memiliki jama’ah Islamiyah dengan struktur dan kepemimpinan yang berbeda dengan partai. Dengan kata lainnya neo208

Fazlur Rahman, “Roots of Islamic Neo-Fundamentalism”, ibid

Fundentalisme Islam lahir dari kematangan dan kemapanan pemikiran fundamentalisme Islam terdahulu yang telah mengalami pembaruan demi pembaruan dengan segala dinamika yang dialaminya. Salah seorang tokoh neo-Modernisme Islam Indonesia, Nurcholish Madjid dalam Cita-cita Politik Islam Era Reformasi menyatakan: “Jelas sekali bahwa “neo-fundamentalisme” bukanlah masa depan Islam dimanapun, termasuk di Indonesia. Disebabkan oleh tendensi mereka untuk memberi penghargaan yang wajar pada warisan intelektual klasik, kaum “neofundamentalis” akan semakin mengalami pemiskinan intelektual. Alternatif-alternatif mereka sangat terbatas, dan konsep-konsep mereka yang secara intelektual miskin itu tak bakal mampu menopang tuntutantuntutan zaman yang semakin meningkat”.209 Tesis yang dikemukakan Nurcholish terlalu terburu-buru akibat sikap phobianya terhadap beberapa gerakan kelompok fundamentalis Islam terdahulu yang belum mengalami pematangan konsepsi dan pemikiran, baik di Mesir, Pakistan ataupun Indonesia. Nurcholish sendiri rancu ketika memberikan difinisi fundamentalisme Islam dengan neo-Fundamentalisme Islam yang ingin dikritiknya, apakah menurutnya fundamentalisme sama artinya dengan neo-Fundamentalisme ? Kadangkala ia menuduh kelemahan ataupun penyimpangan neo-Fundamentalis dengan dasar argumen kelemahan atau penyimpangan yang dilakukan kelompok fundamentalis terdahulu. Adalah sama tidak adilnya menimpakan kegagalan kelompok modernis kepada kelompok neo-Modernis yang sedang mengembangkan dan ingin membuktikan keunggulan pemikirannya saat ini. Memberikan penghargaan yang wajar kepada warisan intelektual klasik terutama sumber ajaran Islam-al-Qur’an dan al-Sunnah serta perilaku shababat dan salaf al-shalih-tidak akan memiskinkan intelektualitas seseorang sebagaimana dituduhkannya, tapi sebaliknya, persentuhan dengan nilai-nilai Ilahiyah yang terkandung dalam al-Qur’an akan menjadikan seseorang sebagai manusia unggul yang paripurna, baik dalam spiritualitas ataupun intelektualitas. Karena semangat Ilahiyah al-Qur’an dengan segala kemukjizatannya, yang mengandung perbendaharaan pengetahuan Ilahiyah akan mendorong dan merangsang para pembaca dan pengamalnya untuk mencapai titik kesempurnaan, baik dalam spiritualitas dan intelektualitas. Dengan rangkaian ayat-ayat yang tersusun indah dan dengan gaya pendekatan yang khas, para pengamal al-Qur’an pasti akan menemukan dirinya dalam keunggulan. Bila intelektualitas diartikan sebagai penemuan ide-ide baru yang jenius, cemerlang, segar dan bermanfaat, maka tidak diragukan lagi bahwa di al-Qur’anlah tempatnya, karena kitab ini diturunkan kepada seluruh manusia untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia sepanjang zaman. Dan tidak diragukan lagi bahwa al-Qur’an akan membimbing pengikutnya mencapai kekayaan khazanah intelektualitas yang akan bermanfaat untuk seluruh alam. Namun jika intelektualitas hanya diartikan sebatas menghafal teks-teks, tori-teori atau produk pemikiran manusiawi lainnya dan
Nurcholish Madjid, Cita-cita Politik Islam Era Reformasi,(Jakarta : Paramadina, 1999), halaman 37

mengadonnya menjadi bentuk pemikiran baru, maka bukan di al-Qur’an tempatnya apalagi produk pemikiran tersebut membingungkan para pengikutnya.210 Al-Qur’an suci diperuntukkan bagi mereka yang mencari petunjuk kehidupan dalam menggapai kesempurnaan hidup, baik di dunia dan di akhirat. Sepanjang pembicaraannya, dengan berbagai bentuk pendekatannya, al-Qur’an bertujuan untuk membimbing manusia menuju keunggulan dan kesempurnaan, dengan syarat al-Qur’an dilaksanakan dalam kehidupan nyata, dan bukan hanya menjadi teori-teori beku yang didiskusikan saja. Dengan kata lainnya, al-Qur’an mempunyai misi untuk mencetak manusiamanusia unggul seperti Rasulullah dan Para Shahabat yang tidak hanya mampu menghadapi tantangan zaman tapi mampu memimpin dan mengarahkan zaman dengan segala perbendaharaan materinya kapan dan dimanapun, karena al-Qur’an diturunkan untuk manusia sepanjang zaman. Dengan demikian al-Qur’an dengan segala kemukjizatan Ilahiyah yang terkandung didalamnya senantiasa akan memperkaya khazanah intelektualitas sekaligus semangat spiritualisme pengikutnya sehingga mereka menjadi manusia-manusia unggul dalam arti sebenarnya.211 Kesalahan terbesar kaum modernis ataupun neo-Modernis adalah anggapan mereka terhadap al-Qur’an yang hanya sebatas perbendaharaan intelektual yang dengannya dianalisa segala produk pradaban modern sebagaimana pendekatan para filosof generasi Islam pertengahan. Dan bukannya sebagai pedoman harian yang harus diterapkan dalam kehidupan nyata agar dapat membimbing dan memimpin manusia menuju kesempurnaan sebagaimana yang difahami Rasulullah dan para Shahabatnya. Jika al-Qur’an hanya sebatas perbendaharaan intelektual saja, kenapa mesti diturunkan secara berangsurangsur dan dalam tempo waktu selama 23 tahun ? Bukankah al-Qur’an dapat saja diturunkan Allah dalam sedetik kemudian diperintahkan agar cerdik pandai Islam mentelaahnya, mendiskusikannya, membandingkannya sebagai khazanah intelektual ? Namun hakikatnya, Allah Yang Maha Mengetahui ternyata menurunkan al-Qur’an bukan hanya sebatas sebagai perbendaharaan dan khazanah intelektual semata, namun al-Qur’an diturunkan tahap demi tahap dalam waktu 23 tahun agar tertanam pada generasi Islam, agar mereka menjadi al-Qur’an hidup yang berjalan. Dan alQur’an hidup yang berjalan inilah yang akan menghadapi tantangan zaman dengan segala perbendaharaan pengetahuan Ilahiyah didiperolehnya. Dan metode (manhaj) inilah yang telah berhasil mengangkat kegemilangan kaum Muslimin yang sebelumnya terkenal sebagai kaum yang terbelakang dan jahili dan sekaligus menghantarkan mereka sebagai pemuka-pemuka peradaban dunia, yang menghubungkan dan mengembangkan peradaban baru yang berdasarkan Islam. Pendekatan intelektulisme ansich yang dilakukan kaum modernis ataupun neo-Modernis dalam memahami al-Qur’an, mungkin dapat
ibid
Lebih jauh lihat : Sayyid Qutb, Maalim fi al-Thariq dan Fi al-Tarikh… Fikrah wa Manhaj

mengantarkan mereka sebagai pemikir-pemikir ulung dengan teori-teori brilyannya. Namun sesungguhnya, maksud utama diturunkannya al-Qur’an adalah agar terbentuknya pribadi dan masyarakat Islami tempat bersemainya ajaran-ajaran mulia yang dikandung al-Qur’an. Disinilah letak persimpangan pemahaman kedua aliran ini. Apalah artinya jika seorang cendekiawan berhasil merumuskan teori-teori brilyan yang mengalahkan kebesaran teori-teori peradaban modern, namun mereka tidak mampu mengaplikasikan teorinya kepada masyarakatnya yang sedang terbelakang, terkalahkan dan mengalami krisis dan dilemma. Al-Qur’an diturunkan Sang Pencipta dengan bahasa dan pendekatannya yang mudah agar dapat dimenegrti semua orang, dengan pengertian tersebut langsung diamalkan dan dengan pengamalan setahap demi setahap inilah kemudian terciptanya masyarakat madani tempat bersemainya nilai-nilai al-Qur’an dan sekaligus tempat tumbuh dan berkembangnya cikal bakal peradaban paripurna yang berdasarkan nilai Ilahiyah sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah dan para Shahabat yang telah membangun masyarakat madani. Namun jika kita mengambil jalan selainnya, selain yang telah diajarkan al-Qur’an dan manhajnya, mungkinkah kita akan sampai kepada tujuan terbentuknya masyarakat madani yang diridhai Allah atau hanya berputar-putar dari teori satu ke teori lainnya, dari satu konsep ke konsep lainnya dan ironisnya akan menambah kebingungan dan kerancuan ummah yang tengah berada dalam keterbelakangnnya. Manhaj Qur’ani yang telah ditempuh Rasulullah dan para Shahabat yang diridhoi dalam membangun peradaban baru dunia telah berhasil menbangun masyarakat madani dengan produk peradabannya yang menjadi mata rantai peradaban dunia. Manhaj Qur’ani memulai pembangunan peradaban masyarakatnya dari dataran keyakinan (aqidah) dan bukannya dari dataran intelektual. Ketika Rasulullah menyeru mereka kepada masyarakat madani, Rasulullah membersihkan jiwa mereka, mengajarkan mereka wahyu berupa al-Qur’an dan al-Sunnah dan tidak mengajarkan kepada mereka segala bentuk filsafat ataupun pemikiran lainnya. Bahkan pada tahap-tahap awal, Rasulullah telah melarang Umar membaca Taurat dengan ucapan, Wahai Umar, sekiranya Musa masih hidup dia pasti akan mengikutiku” (HR. Abu Ya’la). Dengan tujuan agar masyarakat ini benar-benar memiliki fondasi yang kukuh yang berdasarkan wahyu Ilahi semata, sebelum menerima perbendaharaan dunia lainnya. Apakah manhaj selainnya akan mampu mengembalikan Jika neo-Fundamentalisme Islam dikatakan sebagai kelompok yang lahir dari akar pemikiran fundamentalisme Islam terdahulu, maka kini telah lahir pemikir-pemikir neo-Fundamentalisme yang kecendikiawanannya diakui dunia, seperti Yusuf al-Qordhowy misalnya. Qordhawy adalah seorang cendikiawan Muslim yang tidak diragukan lagi integritas keilmuannya, terutama ilmu keislamannya, baik bidang tafsir, fiqh dan filsafat. Beliau lahir dan berkembang dari akar pemikiran gerakan Ikhwan al-Muslimun yang didirikan Hasan al-Banna. Namun dengan landasan pemikirannya yang “fundamentalis”, Qordhowy mampu menterjemahkan dan mengaktualisasikan ajaran-ajaran Islam dari sumber utamanya al-Qur’an dan al-Sunnah. Bahkan

dengan tegas Qardhowi menyatakan kebingungannya menyelesaikan permasalahan pemikiran ketika dikembalikan kepada tradisi intelektual Islam klasik abad pertengahan sebagaimana yang ditempuh neo-Modernis, pemikiran yang penuh dengan pendapat temporer, dan Qordhowy hanya menemukan jawaban pasti dan terang ketika kembali kepada sumber aslinya, yaitu alQur’an dan al-Sunnah. Hal ini bukan berarti Qardhowy tidak menerima warisan intelektual tradisional, bahkan kenyataannya Qordhawy sangat memahami warisan tradisi ini dan menjadikannya sebagai referensi, namun beliau hanya menemukan jawaban pasti dalam menjawab tantangan zaman ketika langsung berhadapan dengan sumber asal. Dengan keluasan pengetahuannya, Qardhowy telah membahas permasalahan masyarakat Islam kontemporer, dari masalah fiqh, aqidah, tasawuf, gerakan, ekonomi, politik, pendidikan, menejemen, peradaban hingga masalah pemikiran Barat dan problema kontemporer masyarakat Islam yang dinilainya berdasarkan Islam yang menjadi perhatian para cendikiawan internasional. Persentuhan dan keterlibatan hidup sehari-hari Qordhowy dengan dunia modern tidak menghilangkan semangatnya sebagai seorang “fundamentalis” sejati yang merujuk segala permasalahan dengan dasar al-Qur’an dan alSunnah. Bahkan lebih jauh dengan menjadikan Wahyu Allah sebagai referensi dan sumber pengambilan utama, Qordhawy mendapat jawaban pasti tentang hakikat kehidupan manusia dan segala permasalahannya, termasuk perkembangan pemikirannya. Demikian pula Qardhawy dengan terbuka berani mengkoreksi sekaligus memberikan solusi pada perjalanan gerakan Islam sebelumnya, yang dikenal sebagai fundamentalis Islam. Hakikatnya, para cendikiawan yang besar dan berkembang dalam arus pemikiran fundamentalisme seperti Qardhawy dan lainnya sebenarnya telah meletakkan dasar-dasar metodelogi pemikiran bagi terbentuknya sebuah gerakan pemikiran yang baru, yang jika dapat, sebagaimana diistilahkan Fazlur Rahman sebagai “neo-Fundamentalisme Islam”. Karya-karya brilyan Qordhowy menjadi rujukan utama generasi Islam yang mendambakan solusi pemikiran, bahkan di Indonesia pemikiran Qordhowy lebih dikenal luas, khususnya dikalangan mahasiswa dibandingkan pemikiran Fazlur Rahman sebagai bapak neo-Modernis Islam. Pemikiran-pemikiran brilyan Qordhawy memang kurang tersebar, khususnya di arena pemikiran dunia Barat karena ditulis dalam bahasa Arab dan mungkin ada tendensi lain untuk mencegah berkembangnya faham ini di dunia Barat yang terkenal anti Fundamentalisme Islam yang selalu diidentikkannya dengan segerombolan manusia tetoris, radikal dan haus darah. Di Asia Tenggara sendiri secara tidak langsung kehadiran neoFundamentalisme Islam sudah mulai kelihatan sejak beberapa dekade lalu. Di Malaysia misalnya, akar gerakan ini umumnya dari mantan pengurus Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) yang menginspirasikan bentuk perjuangannya pada Ikhwan al-Muslimun, bahkan beberapa rujukannya adalah buku-buku karangan pemimpin Ikhwan. Dalam beberapa bentuk latihan dan pembinaannya, ABIM mengadopsi langsung sistem yang

diterapkan Ikhwan dengan beberapa modifikasi sesuai dengan keadaan Malaysia, dan menerapkan istilah Ikhwan seperti istilah zikir al-Ma’tsurat, usroh, amal jam’I, bai’ah, imamah, dar al-Islam, khilafat dan lainnya. Secara tidak langsung ABIM sebagai organisasi kader telah memicu lahirnya kelompok fundamentalisme Islam di Malaysia, diantaranya seperti Ustaz Fadhel Noor, Presiden Partai Islam SeMalaysia (PAS), partai fundamentalis yang bertujuan mendirikan negara Islam adalah mantan Wakil Presiden ABIM. Demikian pula Ustaz Ash’aari Muhammad ketua Jama’ah Dar al-Arqam mantan pengurus ABIM.212 Bahkan salah seorang mantan tokoh sentral ABIM yang kharismatik, Anwar Ibrahim, dari beberapa pemikirannya dapat digolongkan sebagai kelompok fundamentalis Islam.213 Bahkan dia sendiri tidak pernah menolak dirinya sebagai seorang yang condong kepada pemikiran fundamentalis Islam. Namun difinisi fundamentalisme menurut Anwar adalah keteguhan seseorang berpegang pada akar tradisinya, bagi seorang Muslim adalah kepada Islam, dan Islam tidak dapat dikorbankan demi kepentingan duniawiyah. Dari latar belakangnya pembinaannya dalam dunia fundamentalisme Islam, adalah sangat sukar melepaskan fundamentalisme Islam dalam diri Anwar. Bahkan sebelum aktif dalam UMNO, Anwar adalah pendukung setia, walaupun bukan sebagai anggota dan pengurus, perjuangan Partai Islam Malaysia (PAS) yang mencita-citakan tegaknya negara Islam di Malaysia. Apakah idiologi fundamentalisme Islam dalam diri Anwar yang sudah berurat berakar dapat pupus dengan mudah setelah tertanam sekian lama. Bahkan bukti menyatakan lain, walaupun Anwar sudah menjadi salah seorang pemimpin UMNO, partai Melayu nasionalis, dia tetap mengadakan hubungan dan membangun pergerakan dengan rekan-rekan seperjuangannya di ABIM dulu ataupun dengan tokoh-tokoh pemikir Islam seperti Yusuf al-Qardhowy dan lainnya. Demikian pula secara pemikiran ataupun pengamalan, keterikatan Anwar secara emosional sangat kuat pada Islam, walaupun dibahasakannya dengan istilah baru, demikian pula istri dan anak-anak perempuan Anwar menggunakan jilbab, sikap anti KKN dan keberaniannya menyatakan kebenaran walau apapun resikonya serta kualitas pribadinya sebagai seorang politis yang bersih, kehidupan keluarganya yang bersahaja, yang ini semua merupakan ciri khas fundamentalisme Islam yang tertanam dalam dirinya sejak lama. Namun dengan kematangannya dalam mengembangkan pemikirannya, mungkinkan Anwar sedang menjadi seorang neo-Fundamentalis Islam dalam bentuknya sendiri ? Dalam bukunya The Asian Renaissance214 Anwar menawarkan bentuk dialog peradaban yang akan membuka wawasan masing-masing bangsa. Disamping mengembangkan wacana-wacana peradaban baru berdasarkan Islam, Anwar bersama rekan-rekannya telah
212

Lihat, Zaenah Anwar, Islamic Revivalism in Malaysia,(Petaling Jaya : Pelanduk, 1987). Siddiq Fadhil, Koleksi Ucapan Dasar Muktamar Sanawi ABIM, (Kuala Lumpur : Dewan Pustaka Islam, 1982). Lihat karya beliau : Islam- Penyelesaian Kepada Masalah Masyarakat Majemuk,(Kuala Lumpur : ABIM, tt.). dan Menangani Perubahan, (Kuala Lumpur : Berita Publ, 1990). Anwar Ibrahim, The Asia Renaissance, (Singapore : Time Books Publ, 1997)

mendirikan sebuah Universitas Islam yang menjadi sebuah laboratorium dalam pengembangan pemikiran Islam di masa depan. Dan nilai-nilai Islam yang dikembangkan Anwar dalam penegakan pemerintahan yang bersih, sebagai manifestasi ajaran Islam telah menghantarkannya ke penjara. Demikian pula halnya, apa yang dikemukakan Nurcholish bertolak belakang dengan realita yang terjadi di dunia Islam. Dalam dunia politik misalnya, Yusril Ihza Mahendra dalam Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam menyimpulkan desertasinya : “Dalam beberapa dekade terakhir, posisi politik partai Islam modernis dan fundamentalis telah banyak mengalami perubahan. Sebagian partai Islam modernis-seperti Masyumi di Indonesia, Liga Muslim di Pakistan dan Partai Istiqlal di Aljazair- mulai tersingkir dari panggung kekuasaan. Masyumi bahkan telah dibubarkan pada tahun 1960. Sementara partai Islam fundamentalis (yang sebagian dinyatakan neo-fundementalis oleh Fazlur Rahman)- dan juga kelompok-kelompok bukan partai-tampak mulai menguat dan bahkan tampil memegang kekuasaan. Gejala ini tampak di Aljazair, Iran, Afghanistan, Pakistan di bawah Jendral Zia ul-Haque, dan dalam ruang lingkup yang lebih kecil adalah kasus berkuasanya Partai Islam PAS di Negeri Kelantan, Malaysia.”215 Perkembangan terakhir di Malaysia yang merupakan ladang persemaian pemikiran Islam yang progresif di Asia Tenggara, pada pemilu 1999 Partai Islam PAS yang terkenal sangat fundamentalis dengan cita-cita menegakkkan negara Islam dan melaksanakan hudud (hukum Islam) memenangkan pemilu secara telak di Kelantan dan Trengganu, dan berhasil menaikkan jumlah kursinya lebih 100 % di Parlemen pusat. Dari segi persentase, 70 % orang Melayu memilih PAS dan aliansinya dan hanya 30 % memilih UMNO yang merupakan partai kaum Modernis Malaysia.216 Rakyat Malaysia, terutama kaum terdidiknya telah muak dengan janji-janji palsu para penyeru “penerapan nilai-nilai Islam” yang realitasnya sangat diktator, tidak bermoral dan berani menentang hukum Allah dengan alasan duniawiyah. Berbeda dengan kaum fundamentalis yang senantiasa menunjukkan citra Islami dalam perbuatan dan tingkah laku, konsisten dengan ucapan dan perbuatannya, memiliki akhlaq yang mulia sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat Islam.217 Demikian pula halnya di dunia Islam lainnya. Karena kemuakan masyarakat Islam dengan kepalsuan dan janji-janji kosong kaum utopis yang menjanjikan modernisasi, yang berkolaborasi dengan kapitalis internasional mengeksploitasi Islam demi kepentingan duniawiyah, disamping kebobrokan mental dan kemaksiatan yang dilakukannya, menjadikan masyarakat simpati dengan perjuangan dan jalan berfikir neo-Fundamentalis Islam yang lebih menjanjikan. Ketertarikan kepada kelompok ini karena telah berhasil membuktikan diri, mereka dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kenapa misalnya masyarakat Cina non Muslim di Malaysia mendukung perjuangan Partai Islam Malaysia yang memperjuangkan tegaknya negara Islam ? Tidak
Yusril Ihza, Modernisme dan Fundamentalisme.., op.cit. halaman 314 Kamarudin Jaffar, Pilihanraya 1999 dan Masa Depan Politik Malaysia,(Kuala Lumpur : IKDAS, 2000) ibid, halaman 50-62

lain karena mereka dapat membuktikan bahwa Islam adalah rahmat bagi semua orang, dan dapat memberikan keadilan kepada masyarakat non muslim dengan tidak mengorbankan kepentingan agama.218 Tidak seperti kelompok nasionalis Melayu UMNO yang sangat rasialis dan tidak adil terhadap penganut agama lain.219 Sikap-sikap dan akhlaq Islami yang merupakan nilai-nilai universal, seperti jujur, amanah, setiakawan, konsisten, toleran, bertanggungjawab, sederhana, dedikasi tinggi, dan perilaku mulia semacamnya akan menjadi daya tarik kelompok neo-Fundamentalis Islam di masa depan, disamping tentunya kekayaan spiritual dan intelektual mereka yang Islamis.220 D. Neo-Fundamentalisme Islam di Indonesia Para peneliti, baik dari kalangan muslim dan lainnya belum banyak yang tertarik untuk mengkaji dan mengidentifikasi gerakan pemikiran neoFundamentalisme Islam di Indonesia. Ini dibuktikan dengan kurangnya literatur atau sumber-sumber informasi lainnya yang membahas masalah ini.221 Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yang utama adalah sulitnya mengidentifikasi siapa sebenarnya tokoh-tokoh neoFundamentalis yang tampil dengan gagasan cemerlangnya, dalam gerakannya selama ini mereka lebih mengambil bentuk sebagai sebuah gerakan bawah tanah akibat tekanan dahsyat dari regime orde lama ataupun orde baru yang anti dengan fundamentalisme Islam. Lain halnya dengan gerakan neo-Modernis yang tampil secara terbuka dan dapat bekerjasama dengan pemerintah, sehingga mudah untuk mengidentifikasi tokoh-tokoh maupun pembaharuan pemikiran yang dilakukannya di Indonesia Namun demikian, cara mudah dan aman yang dapat ditempuh untuk mengenal gerakan ini, baik tokoh dan pembaharuan pemikiran yang dikembangkannya di Indonesia, dapat dilakukan misalnya dengan menelusuri gerakan para pendahulu mereka, fundemantalis Islam yang banyak diteliti, baik yang berakar pada gerakan fundamentalisme Islam dari luar Indonesia seperti Ikhwan al-Muslimun Mesir, Jema’at Islamy Pakistan, Hizb al-Tahrir, Salafi dan lainnya ataupun yang berakar dari Indonesia sendiri seperti Jama’ah Darul Islam yang telah memproklamirkan Negara Islam Indonesia pada 7 Agustus 1949 di Jawa Barat. Dengan data-data inilah, akan diidentifikasi siapa neo-Fundamentalis Islam di Indonesia. Gerakan fundamentalisme Islam atau apa yang diistilahkan Fazlur Rahman dengan neo-Revivalisme di Indonesia adalah respon terhadap gerakan-gerakan pemikiran sebelumnya yang telah disemai oleh gerakan kaum muda yang baru pulang dari Timur Tengah. Tokoh-tokoh kaum muda yang lebih dikenal sebagai pembaharu Islam diantaranya seperti HOS. Cokroaminoto yang telah mendirikan Syarikat Islam (SI) yang menjadi organisasi kader bagi kaum
Kamarudin Jaffar, Memperingati Yusuf Rawa, (Kuala Lumpur : IKDAS, 2000) Lihat : SH. Alatas, Reformasi Anwar, Konspirasi Mahathir, (Kuala Lumpur : Pustaka, 1999) Tentang akhlaq ini lihat : Dr. Said Hawa, Jundullah, Tsaqafah wa Akhlaq, (Beirut : Dar Fiqr, 1974) Dari hasil penelitian sementara yang dilakukan, para peneliti belum memfokuskan penelitiannya pada gerakan neo-Fundamentalis Islam karena kesulitan mencari data-data yang diperlukan dan sulitnya mengidentifikasikan gerakan sejenis. Penelitian selama ini banyak dilakukan terhadap gerakan-gerakan fundamentalis Islam, seperti Darul Islam (DI/NII) baik di Jabar, Aceh, Sulawesi dan lainnya termasuk gerakan-gerakan fundamentalis Islam di zaman Orde Baru.

modernis Islam selanjutnya,222 Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah sebagai lembaga modernis Islam yang bergerak dalam pendidikan dan sosial dan lain-lainnya.223 Namun dalam perjalanannya, sebagaimana dikatakan Rahman, bahwa kaum modernis Islam, termasuk di Indonesia, telah gagal meletakkan dasar-dasar metodelogi pemikiran disamping terlalu kompromisnya mereka dengan Barat, baik dalam artian politik maupun pemikiran. Sehingga mereka kadangkala dituduh sebagai agen-agen kolonialis yang ingin membaratkan kaum muslimin, sebagaimana tuduhan kaum tradisionalis terhadap mereka. Kegagalan modernis Islam ini, terutama menjelang kemerdekaan Indonesia telah mendorong tampilnya tokoh-tokoh Islam yang secara politik menghendaki berdirinya Negara Islam di Indonesia dan tidak ada kompromi dalam penegakkannya dan bersebrangan dengan kelompok modernis yang merestui berdirinya negara Pancasila Indonesia.224 Diantara tokoh fundamentalis Islam terkemuka masa ini adalah SM. Kartosoewirjo.225 Mungkin ada yang menolak SM. Katosoewirjo sebagai tokoh fundamentalis Islam terkemuka di Indonesia. Namun Yusril Ihza dalam desertasinya Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam dengan jelas menyatakan : “Sesuai dengan pandangan dasar modernismenya, Masyumi menegaskan bahwa cita-cita itu (melaksanakan Islam dalam urusan kenegaraan) akan dicapai melalui cara-cara yang “sah dan demokratis”, serta “mengikuti hukum yang berlaku di dalam negara Republik Indonesia”. Tetapi sikap moderat dan demokratis ini ditentang oleh kelompok yang lebih cendrung ke arah fundamentalisme di dalam partai, seperti ditunjukkan oleh Kartosuwirjo. Tokoh yang di zaman revolusi itu juga menjadi salah seorang anggota Pimpinan Partai Masyumi, dengan alasan-alasannya sendiri memilih
Tentang perjuangan HOS. Cokroaminoto dan pemikirannya, lihat misalnya : Amelz, HOS. Cokroaminoto : Hidup dan Perjuangannya. (Jakrta : Bulan Bintang, 1952). MM. Amin, Saham HOS. Cokroaminoto dalam Kebangunan Islam dan Nasionalisme di Indonesia. (Yogyakarta : Nur Cahaya, 1980). AT. Jaylani, The Syarikat Islam Movement : Its Contribution to Indonesian Nationalism, MA. Thesis, IIS, Montreal : Mc.Gill University, 1959. Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement in Indonesia : 1900-1942, (Singapore : Oxford Univ. Press, 1973) Mengenai perjuangan KH. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, lihat : Alfian, Muhammadiyah : The Political Behaviour of a Muslim Modernist Organization Under the Dutch Colonialism, (Yogyakarta : Gajah Mada Press, 1969). Solichin Salam, Muhammadiyah dan Kebangunan Islam di Indonesia, (Jakarta : NV. Mega, 1965). Mitsuo Nakamura, The Cresent Arises over the Banyan Tree : A Study of the Muhammadiyah Movement in a Central Javanese Town, (Ithaca YN : Cornell Univ. Press, 1976). Mustafa Kamal Pasha, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam (Yogyakarta : Penerbit Persatuan, 1975). Yusuf Abdullah Puar, Perjuangan dan Pengabdian Muhammadiyah, (Jakarta : Pustaka Antara, 1989). HAMKA, KH.A. Dahlan, (Jakarta : Sinar Pujangga, 1952). Yusron Asrofie, KH. Ahmad Dahlan, Pemikiran dan Kepemimpinannya, (Yogyakarta :

Yogyakarta Offset, 1983).
Masalah ini lihat misalnya : Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, (Jakarta : Gema Insani Press, 1997). Yusril Ihza, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam, (Jakarta : Paramadina,1999). Robert Van Niel, The Emergence of the Modern Indonesia Elite, (The Haque : WV. Hoeve, 1960) Tentang sejarah hidup dan perjuangan SM.Kartosuwirjo, lihat misalnya : Holk H. Dengel, Darul Islam dan Kartosuwirjo, (terj). (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1996). B.J. Boland, The Strunggle of Islam in Modern Indonesia, (The Haque : Martinus Nijhoff, 1971). C. Van Dijk, Darul Islam : Sebuah Pemberontakan (terj), (Jakarta : Pustaka Grafiti Utama, 1989, halaman 11-31. Hiroko Harikoshi, “The Darul Islam Movement in West Java (1948-1962) : An Experience in Historical Process”, dalam Indonesia, vol 20, halaman 62-64.. Pinardi, Sekarmadji Marijan Kartosoewirjo (Jakarta : Aryaguna, 1964). CAO. Nieuwenhuije, Aspect of Islam in Post Colonial Indonesia, (The Haque & Bandung : W.Van Hoeve, 1958). Amak Sjarifudin, Kisah Kartosuwirjo dan Menjerahnya (Surabaya : Grip, 1965). Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM. Kartosoewirjo.( Jakarta : Darul Falah, cet.2, Safar 1420 H).

keluar meninggalkan Masyumi untuk membangun gerakannya sendiri, yaitu “Darul Islam”. Kartosoewirjo kemudian memproklamasikan “Negara Islam Indonesia” di Jawa Barat.226 Membandingkan para penggagas fundamentalisme Islam terkemuka adalah sesuatu yang sangat menarik, karena dari beberapa sisi mereka memiliki kesamaan. Misalnya Hasan al-Banna pendiri Ikhwan al-Muslimun di Mesir,227 Abul A’la al-Maududi pendiri Jame’at Islami di Pakistan228 dan SM. Katosoewirjo pendiri Darul Islam di Indonesia. Mereka bertiga memiliki ciri khas yang hampir sama. Mereka sama-sama dilahirkan di awal abad keduapuluh, sejak muda sebagai aktivis Islam yang revolusioner, hidup ditengah-tengah derasnya arus sekulerisasi dan Baratisasi Imprialis kafir serta pergumulan sengit antara kelompok modernis, baik sebagai nasionalis Islami atau sekuler, Kartosoewirjo dan Maududi berprofesi sama sebagai wartawan dan penulis, al-Banna dan Kartosoewirjo sama-sama syahid mempertahankan perjuangannya di hadapan penguasa nasionalis kafir. Mereka membangun jama’ah Islamiyah yang non kompromistis dengan kolonialis Barat dan agenagennya, perjuangannya mendapat dukungan luas para ulama dan cendekiawan muslim, mereka sama-sama menulis konsep tentang hijrah dan jihad fi sabilillah dengan dasar pendekatan dan tujuan yang sama. Diantara mereka, Kartosoewiryolah yang memproklamirkan Negara Islam yang dicitacitakannya dan turun langsung berjihad menggunakan senjata melawan Tentara Republik. Namun pemikiran-pemikiran Kartosoewirjo kurang dikenal dunia Islam sebagaimana al-Banna dan al-Maududi, disamping akibat perjuangan bersenjata yang menguras daya dari hutan ke hutan, kurangnya penerus perjuangannya yang mumpuni dalam mengaktualisasikan pemikirannya. Disamping perlakuan kejam pemerintah terhadap perjuangan Darul Islam, baik di masa Orla dan Orba.229 Selain SM. Kartosoewirjo, ada beberapa tokoh sentral Darul Islam yang mempengaruhi perjalanan sejarah gerakan ini, yang terutama seperti Tengku Muhammad Daud Beureuh, ulama besar kharismatis dari Aceh,230 Abdul
Yusril Ihza, Modernisme dan Fundamentalisme, halaman 84-85 Tentang riwayat Hasan al-Banna lihat misalnya : Al-Syaikh al-Ghazaly, (dalam M.Syalabi),Hasan al-Banna, Imam wa Qaid, (Kaherah : Dar al-Nasyr, tt). Dr. Rif’at al-Said, Hasan al-Banna Muassis Harakat al-Ikhwan al-Muslimun,(Beirut : Dar al-Tali’ah, 1986). Jabir Rizq, Al-Imam al-Syahid Hasan al-Banna, (al-Manshurat : Dar al-Wafa, 1987). Dr. Shuakat Ali, Master of Muslim Thought, vol. II.(Lahore : Islamic Publ, 1983), halaman 514-638). Anwar Jundi, Hasan al-Banna, al-Roiyat al-Imam wa al-Mujaddid al-Syahid, (Beirut : Dar Qalam, 1978). MN. Shaikh, Memoirs of Hasan al-Banna Shaheed,(Karachi : Int’ Islamic Publ, 1981). Richard P. Mitchel, The Society of The Muslim Brother (London : Oxford Univ. Press, 1959). Umar Tilmisany, al-Mulham al-Mauhub : Hasan al-Banna (Syabra : Dar al-Nashr, tt). Lihat misalnya : Prof. Masud ul Hasan, Sayyid Abul A’la Maududy and His Thought, vol. I & II, (Lahore : Islamic publ, 1984). Abdurrahman Abd, Maulana Maududi Face to Death Sentence. (Lahore : Islamic Publ., 1969). Miasbah ul Islam Faruki, Introducing Maududi, (Lahore : n.p.,1966). Maryam Jameelah, Who Is Mawdoodi ? The Great Mujaddid of Modern Age, (Lahore : Islamic Publication, 1972). A.K. Brohi, “Maulana Maududi : The Man, The Scholar, The Reformer”, dalam Kurshid Ahmad dan Zaffar Ishaq Anshary (eds), Islamic Perpective. (Leicester : The Islamic Foundation, 1979) halaman 289312. Tentang perlakuan pengikut Kartosuwirjo lihat : Al Chaidar, Pengantar pemikiran Politik…, op.cit. khususnya Bab X. Lihat misalnya : Moh. Nur El-Ibrahimy, Teungku Muhammad Daud Beureueh : Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, (Jakarta : Gunung Agung, 1982). Dada Meuraxa, Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Medan : Pustaka Sedar, 1956).

Kahhar Muzakkar, tentara pejuang dari Sulawesi,231 Ibnu Hajar dari Kalimantan, disamping beberapa tokoh ulama dari Jawa Barat.232 Pada umumnya ulama-ulama Tradisionalis Jawa Barat menerima dengan terbuka ide-ide Kartosoewirjo dengan konsep hijrah dan pendirian Negara Islam Indonesia, walaupun dia sendiri adalah keturunan Jawa. Ini tidak lepas dari pengalaman politik Karosoewirjo sebagai salah seorang wakil ketua pengurus pusat Partai Syarikat Islam Indonesia yang sangat berpengaruh sebelum kemerdekaan. Disamping pengaruh bapak mertunya, seorang ulama Tradisionalis yang terkenal di Malangbong, Jabar. Perjuangan Kartosoewirjo dengan Darul Islam mendapat sambutan luas masyarakat, baik di Jawa maupun luar Jawa tidak lain disebabkan oleh kerinduan masyarakat Indonesia akan berdirinya sebuah negara adil makmur yang berdasarkan ajaran Islam sebagaimana diperjuangkankan HOS. Cokroaminoto terdahulu. Demikian pula kondisi Republik Indonesia yang baru diproklamirkan mendapat serangan-serangan dari Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah kembali Indonesia. Serangan-serangan ini nyaris menghilangkan eksistensi RI dengan perjanjian-perjanjian sepihak yang dipaksakan Belanda. Kondisi ini telah dijadikan momentum Kartosoewirjo untuk memproklamirkan Negara Islam Indonesia yang telah diyakini dan diperjuangkannya sejak muda.233 Sebagaimana difahami kaum fundamentalis Islam lainnya, perjuangan bersenjata Kartosoewirjo bersama para pengikutnya dalam menegakkan dan mempertahankan eksistensi Negara Islam Indonesia merupakan manifestasi jihad fi sabilillah seorang muslim dalam menegakkan kedaulatan dan kekuasaan Allah di atas bumi. Itulah sebabnya perjuangan heroik para pejuang fi sabilillah NII/TII dapat bertahan lama meskipun tanpa bantuan dan dukungan diplomatik dari negara-negara luar. Semangat yang didasarkan atas keyakinan akan balasan syurga bagi mereka yang syahid mempertahankan Islam ini senantiasa menjadi penyulut perjuangan para pengikut dan penerus perjuangan Kartosoewirjo yang tampil silih berganti, baik di zaman Soekarno, Soeharto dan sekarang. Menurut sebagian cendikiawan Islam, khususnya dari kalangan fundamentalis, seperti Maududi234 dan Sayyid Qutb,235 berpendapat bahwa perjungan menegakkan kekuasaan Allah dalam bentuk berdirinya sebuah negara Islam atau pemerintahan Islam yang berdasarkan al-Qur’an dan alSunnah adalah bentuk perjuangan tertinggi dalam Islam. Karena perjuangan Rasulullah saw dengan segala suka dukanya, baik perjuangan dengan dakwah, harta sampai bersenjata, dianggap telah sempurna ketika telah tegakkan pemerintahan Islam di Madinah dengan segala perangkatnya. Dengan kata lainnya bahwa perjuangan panjang Rasulullah telah sempurna dengan
Lihat : Andaya Leonard, Arung Palakka and Kahar Muzakkar : A Study of the Hero Figure in Bugis-Makassar Society, B.S. Harvey, Tradition, Islam and Rebellion : South Sulawesi 1905-1965. Lihat : Al Chaidar, op.cit. khususnya babVII. Lihat : Karl D. Jackson, Kewibawaan Tradisional, Islam dari Pemberontakan : Kasus Darul Islam Jawa Barat, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1989). Lihat karya beliau, Khilafat wa al-Mulk, Islamic Law and Constitution, Jihad in Islam. Lihat karya beliau, Maalim fi al-Thariq, Social Justice in Islam, Hadza al-Dien, Islam and Universal Peace.

berhasilnya beliau menegakkan Negara Madinah, ini membawa pengertian bahwa menegakkan negara ataupun pemerintahan Islam yang mendaulatkan kekuasaan Allah adalah setinggi-tinggi jihad di jalan Allah. Penegakkan kekuasaan Allah inilah intipati dan tujuan akhir jihad sebenarnya.236 Tekanan-tekanan dahsyat dan diluar batas kemanusiaan regime Orla maupun orba terhadap perjuangan penerus SM. Kartosoewirjo telah menjadikan Darul Islam sebagai gerakan bawah tanah yang sangat tertutup. Setiap gerakan untuk menegakkan negara Islam selalu dihubungkan dengan Darul Islam, baik yang direkayasa oleh pemerintah nasionalis ataupun gerakan mujahidin lainnya, yang akhirnya menjadikan perkembangan gerakan Darul Islam menjadi semakin terjepit. Namun dengan bergabungnya beberapa tokoh Islam, baik dari kalangan ulama, muballigh, cendikiawan, mahasiswa dan lainnya disekitar tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan telah menjadikan Darul Islam sebagai salah satu alternatif jama’ah Islam. Tekanan-tekanan pemerintah Soeharto, terutama ketika Pangab dipegang LB. Moerdani yang mengambil kebijakan keras terhadap Islam, gerakan Darul Islam justru medapat momennya. Gerakannya semakin meluas bahkan telah menjalin hubungan kerjasama dengan gerakan-gerakan Islam di luar negeri, baik di Mesir, Saudi Arabia, Pakistan, Afghanistan, Malaysia maupun di Eropa dan Amerika.237 Persentuhan tokoh-tokoh muda Darul Islam238 dengan pemikiran gerakan Islam fundamentalis internasional telah mematangkan ide-ide yang selama ini dikembangkan generasi terdahulu. Demikian pula telah terjadi reorientasi pemikiran dalam pergerakan Darul Islam, yang menjadikannya sebagai salah satu aliansi para pejuang yang bercita-cita menegakkan khilafah Islamiyah di dunia. Dan dapat dipastikan dari cikal bakal gerakan Darul Islam ini muncul generasi muda, dengan kadar pemahaman keislaman yang lebih luas, persentuhannya dengan dunia modern, disamping pendidikannya yang tinggi, yang menjadi pelopor kebangkitan, sebagaimana paradigma Fazlur Rahman, neo-fundamentalisme Islam di Indonesia. Mereka tampil dengan gerakan pemikirannya yang khas, berakar pada tradisi fundamentalisme, memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat pada Islam, memahami sejarah pembaruan pemikiran Islam dan metodologinya namun mampu merespon tuntutan zaman dengan intelektualitas yang dimilikinya. Mereka lahir dari semangat perjuangan Darul Islam dan secara bersamaan mereka mendapat pendidikan umum Barat ataupun tradisional, bahkan diantaranya adalah para otodidak-otodidak jenius yang menolak pendidikan resmi, namun mereka hadir dan tampil di tengah-tengah hingar bingarnya gerakan reformasi dengan berbagai bentuk dan nama. Namun mereka dapat dikenal dari tujuannya yang hendak menegakkan kekuasaan dan syari’at Allah di bumi
Pengertian jihad, lihat : Syaikh Dzafir al-Qashimy, Al-Jihad wa al-Huquq al-Dauliyah al-Ammah fi al-Islam, (Beirut : Dar Ilm, 1986) Al Chaidar, op.cit.khususnya bab X Walaupun terpecah berjadi beberapa paksi gerakan, namun tokoh-tokoh muda Darul Islam yang mengenyam pendidikan tinggi, secara formal dan informal di luar negeri, baik di Timur Tengah, Barat ataupun Pakistan dan Malaysia menjadikan mereka dekat secara pemikiran, terutama ide-ide tentang pengembangan pemikiran para pendahulu mereka.

Indonesia secara konsekwen sebagaimana diproklamirkan pada Konggres Mujahidin I di Yogyakarta pada 5-7 Agustus 2000 lalu. Disamping berakar dari gerakan Darul Islam, neo-fundamentalis Islam di Indonesia lahir dari kaderisasi beberapa gerakan Islam dalam negeri lainnya seperti Jama’ah Muslimin (Hizbullah) yang didirikan Wali al-Fattah239, Islam Jama’ah dan beberapa kelompok lainnya. Sedangkan yang berakar pada gerakan Islam luar negeri, umumnya memiliki keterkaitan dengan beberapa gerakan Islam seperti Ikhwan al-Muslimun, Hizbut Tahrir, Salafi, Jama’ah Tabligh, Gerakan Mujahidin Internasional, al-Arqam, dan lainnya. Gerakan ini pada umumnya mulai menampakkan aktivitasnya di antara akhir tahun 70an dan awal 80an. Umumnya pelopor gerakan ini adalah mantan para mahasiwa yang sekolah ke luar negeri, baik di Timur Tengah ataupun Barat dan berinteraksi dengan gerakan Islam dan pemikirannya yang kemudian kembali ke Indonesia dan mengembangkan pemikirannya. Gerakan mereka umumnya diawali dengan penyebaran pemikiran melalui buku-buku, majalah, brosur dan lainnya, kemudian diikuti dengan pengkajian intensif keislaman dengan berbagai nama seperti Latihan Mujahid Dakwah (LMD), Pengkajian Risalah Tauhid (PRT), Pengkajian Nilai Dasar Islam (PNDI) dan lainnya dan diteruskan dengan pengajian rutin berupa usroh dan halaqah. Pada akhirnya gerakan ini membangun jaringan dengan struktur kepemimpinannya yang khas, dan sangat populer di kalangan universitas, terutama universitas umum, seperti di ITB, IPB, UI, UGM dan lainnya. Dari pengajian-pengajian ini kemudian berkembang Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang menjadi jaringan aktivis mahasiswa Islam non organisasi. Dari gerakan inilah kemudian lahir beberapa gerakan mahasiswa Islam, yang menonjol seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang menjadi tulang punggung reformasi dikalangan mahasiswa. Kader-kader organisasi Islam seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) terutama HMI-MPO, Pelajar Islam Indonesia (PII), Gerakan Pemuda Islam (GPI), Dewan Dakwah Islamiyah (DDII), hatta Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS) dan Al-Irsyad yang modernis sekalipun telah menjadi tempat tumbuhnya aliran pemikiran ini. Para anggota ormas Islam yang terlibat dengan pemikiran ini biasanya adalah mereka yang berinteraksi secara konsisten dengan pemikiran-pemikiran fundamentalis Islam, baik melalui buku, literatur ataupun interaksi langsung dengan para tokoh gerakannya yang umumnya memiliki kharisma dan daya tarik tersendiri, terutama kezuhudannya dalam memandang dunia dan keberaniannya menyampaikan kebenaran Islam tanpa kompromi. Sejauh ini diantara beberapa ormas Islam, Pelajar Islam Indonesia, yang sempat bergerak secara illegal karena menolak asas tunggal Pancasila secara terbuka, adalah tempat persemaian yang subur aliran pemikiran ini karena sistem kaderisasinya yang radikal dan nonkomprimistis terhadap rezim Orba dan mampu melahirkan kader-kadernya yang militan dan fundamentalis.

Wali al-Fattah, Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah, Bogor : Al-Amanah, Cet.2, 1995.

Disamping para aktivis gerakan dan organisasi Islam yang menjadi pelopor gerakan neo-fundamentalisme Islam di Indonesia, terdapat pula di antara mereka pribadi-pribadi seperti tokoh-tokoh Alim Ulama, cendekiawan Muslim, Ustadz, Da’i maupun kalangan profesional dan artis. Umumnya mereka bergerak secara individual dengan mengembangkan wacana-wacana pemikiran sesuai dengan bidang dan spesialisasi masing-masing, baik di bidang ekonomi, pendidikan, hukum, politik, budaya dan lainnya. Ciri khas mereka sama dengan para penganut neo-fundamentalisme Islam lainnya dan sangat kuat terikat dengan tradisi maupun simbol-simbol keislaman. Bahkan dikalangan mereka ada mantan artis yang glomour, dan menjadi sangat fundamentalis dalam berpakaian, bergaya maupun bertingkah laku. Diantara mereka yang dapat dikategorikan antara lain seperti Prof. Deliar Noor (cendekiawan), Imaduddin Abdul Rachim (cendekiawan), Abdul Qadir Djaelani (da’I), Sahirul Alim (cendekiawan), Mawardi Noor (ulama), AM. Fatwa (aktivis), Habib Idrus Jamalullail (da’I), Toto Tasmara (profesional), Gito Rolies (artis) dan beberapa pemimpin majlis taklim dan pondok pesantren. Gerakan reformasi yang menumbangkan rezim Soeharto telah mengantarkan Habibie, seorang demokrat Muslim, tampil memimpin Indonesia. Kebijakan demokratisasi dan leberalisasi yang dicanangkan pemerintahan Habibie telah memberikan kekebasan tumbuh dan berkembangnya berbagai bentuk gerakan idiologi, baik yang kiri ataupun kanan sebagai konsekwensi logis sebuah kebebasan dan keterbukaan. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para fundamentalis Islam yang selama ini mengambil sikap oposisi terhadap pemerintah untuk membangun gerakan Islam, baik yang berbentuk organisasi masa, partai sampai gerakan Islam radikal. Namun sejauh ini, terutama partaipartai Islam walaupun mereka secara terbuka telah menggunakan azas Islam, namun belum menyatakan tujuannya untuk menegakkan kakuasaan dan hukum Allah dalam bentuk pemerintahan Islam ataupun negara Islam, sebagaimana ciri khas kelompok Islam fundamentalis.240 Pasca reformasi, dengan beberapa uji coba, gerakan neo-Fundamentalis Islam sudah mulai mewarnai peta pemikiran dan gerakan di Indonesia. Demikian pula dengan tampilnya Abdurrahman Wahid sebagai Presiden yang notabene mewakili gerakan neo-Modernis Islam, yang dinilai sering menimbulkan kontraversi bahkan dianggap merugikan kepentingan Islam, sebagai kelompok penekan maka gerakan neo-Fundamentalis Islam mulai menampilkan diri, baik melaui wacana intelektual ataupun gerakan masa sampai gerakan jihad. Lebih jauh mereka telah mulai memainkan peranan sebagai sentral pergerakan di Indonesia yang mulai diperhitungkan peranan dan keberadaannya. Diantara bentuk gerakannya yang menonjol adalah aksi-aksi demo yang menuntut amar makruf nahi mungkar ataupun diberlakukannya syariat Islam oleh berbagai organisasi seperti Persaudaraan Pekerja Muslim (PPMI) pimpinan jendral demo Eggi Sudjana, Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Habib Rizieq Shahab, Laskar Jihad pimpinan Ja’far Umar Thalib, Front Hizbullah, Forum Bersama Umat Islam dan lainnya. Kekecewaan masyarakat Islam pada pemerintah
Lihat : Al Chaidar, Reformasi Prematur Jawaban Islam terhadap Reformasi Total, (Jakarta : Darul Falah, 1999)

Abdurrahman Wahid dan beberapa lembaga tertinggi negara seperti MPR/DPR akan mempersubur dan memperbanyak pengikut gerakan ini di masa depan.241 Demikian pula keberanian wakil-wakil PPP dan PBB yang mengusulkan diamandemennya pasal 29 UUD 45 dengan mengembalikan perkataan : dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, merupakan indikasi nyata keberadaan neo-fundamentalis Islam dalam MPR/DPR. Dimana hal ini tidak pernah terjadi sejak Soekarno mendekritkan Pancasila menjadi dasar negara pada tahun 1957 sampai tahun 2000, karena dianggap masalah yang sangat tabu, bahkan di zaman Orde Baru digolongkan sebagai tindakan subversi. Walaupun mendapat tentangan dari tokoh-tokoh neo-modernis seperni Nurcholish Madjid, Syafi’e Maarif dkk maupun kalangan kalangan tradisionalis NU yang telah mengganggap final masalah ini, tidak mengendurkan semangat mereka dalam memperjuangkan diberlakukannya syari’at Islam di Indonesia. Penegakan syariat Islam mendapat dukungan Partai Keadilan. Bersamaan dengan bangkitnya gerakan neo-fundamentalisme Islam, kini ideologi negara Pancasila yang selama ini dianggap keramat, diagungkan dan tidak boleh dipersoalkan, mulai dipertanyakan kembali keabsahan dan kebenaran teori yang terkandung di dalam ajarannya. Bahkan kalangan fundamentalis Islam yang selama ini menentang dengan konsisten dasar negara Pancasila yang sekuler dan kabur sejak zaman sebelum kemerdekaan, kini secara terbuka menganggap Pancasila sebagai sumber dari krisis multidimensional yang telah melanda bangsa Indonesia saat ini. Karena kekaburan maknanya yang dapat ditafsirkan bermacam-macam, Pancasila mengantarkan generasi kepada kebingungan dan kesesatan yang akhirnya melahirkan generasi-generasi yang dangkal pemahaman dan pengamalan agamanya, generasi hedonis dan materialis yang hanya mengejar kesenangan duniawiyah belaka. Pendidikan moral Pancasila yang dipaksakan pengajarannya ternyata telah melahirkan generasi rusak moralnya, yang akhirnya menjadi pelopor KKN dan segala bentuk kemaksiatan. Sistem pembangunan dan pelesi ekonomi Pancasila telah mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengutang terbesar dan sumber daya alamnya digadaikan kepada asing. Persatuan yang diserukan Pancasila ternyata tidak mampu menyatukan bangsa Indonesia dengan semboyan “bhinneka tunggal ika”, namun justru melahirkan perpecahan, bahkan peperangan demi peperangan. Ideologi Pancasila yang dianut bangsa Indonesia telah mengantarkan bangsa ini menuju jurang kehancurannya, walaupun sudah 55 tahun diterapkan sebagai sistem berbangsa dan bernegara. Maka tidak mengherankan jika kaum muslimin yang sadar dan mayoritas menghendaki agar Islam dengan syariatnya yang universal dan sempurna dijadikan sebagai dasar negara di Indonesia sebagaimana yang dituntut generasi muda Islam. E. Masa Depan Neo-Fundamentalisme Islam Di Indonesia

Lihat : Sebuah Ancaman Dari “Kanan Jalan”, Tabloid Adil, No.51 Tahun ke 68. 21 Sep. 2000

Kebangkitan neo-fundamentalisme Islam di Indonesia merupakan salah satu phenomena kebangkitan Islam di dunia. Bersamaan dengan gagalnya teori modernisasi Islam yang diserukan para penganjurnya yang melahirkan kegersangan pemikiran, atau lebih jauh kedangkalan keyakinan dan dilemma kejiwaan serta krsis identitas telah mendorong generasi Islam terpelajar mencari pemahaman alternatif dalam mengapresiasikan keislaman mereka. Keberhasilan revolusi Islam Iran yang telah menumbangkan rezim sekuler Pahlevi telah membangkitkan semangat generasi terdidik Islam untuk memahami ajaran-ajaran fundamental Islam, yang ternyata doktrin-doktrin ajaran Islam yang dianut salaf al-soleh generasi shahabat mampu diketengahkan sebagai alternatif dalam dunia modern. Dan yang terpenting ajaran Islam yang diterapkan secara ketat telah melahirkan kekuatan rohani yang dapat dijadikan sebagai benteng dalam menghadapi arus penyesatan Barat dengan berbagai seruan sekulerisme, hedonisme dan liberalisme kehidupan. Kegagalan masyarakat Barat dalam menciptakan masyarakat utama yang idam-idamkannya, akibat kesesatan sistem hidupnya, telah mendorong generasi Islam yang berinteraksi dengannya untuk mencari sesuatu yang dapat menyelamatkan keyakinan dan tradisi mereka. Kemuakan generasi Islam terhadap kepalsuan mereka yang menyerukan persamaan, kebebasan dan kedamaian telah mengantarkan mereka menuju pemahaman Islam yang lebih fundamental. Akibat kezaliman demi kezaliman masyarakat Barat yang arogan, telah melahirkan simpati masyarakat luas pada pergerakan orangorang ikhlas dan soleh yang menyerukan penerapan ajaran Islam dalam kehidupan. Itulah sebabnya terjadi revolusi Islam di Iran, kemenangan Partai Ikhwan di Mesir dan Yordania, kemenangan Front Keselamatan Islam di Algeria, kemenangan Partai Refah di Turki, kemenangan Partai Islam Malaysia di Kelantan dan Trengganu. Kegagalan kaum modernis ataupun neo-modernis Islam di Indonesia dalam menciptakan masyarakat utama, masyarakat yang adil, makmur, aman, dan lebih jauh memberikan pembelaan sewajarnya terhadap kelompok mayoritas Islam akan melahirkan kekecewaan demi kekecewaan para generasi muda Islam. Kekecewaan ini akan menumbuhkan semangat solidaritas dikalangan mereka dan menggerakkan upaya-upaya nyata dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsanya. Kekecewaan masal inilah yang menjadi pendorong utama yang akan melahirkan sikap pemberontakan radikal terhadap tatanan yang menyimpang dan tak kunjung memberikan solusi nyata. Keberhasilan dan kemenangan kaum fundamentalis Islam Afghanistan, Taleeban, dalam mengalahkan faksi-faksi besar mujahidin lainnya tidak lain akibat kekecewaan masal masyarakat Islam Afghanistan yang telah mengalami penderitaan panjang terhadap para mujahidin terdahulu yang saling berebut kekuasaan di antara mereka dan membiarkan masyarakat dalam penderitaannya tanpa solusi. Maka ketika Taleeban, para pelajar dan pemuda radikal, tampil memberontak dan memerangi semua faksi mujahidin yang dianggapnya korup dan menyimpang, dengan serta merta masyarakat

Afghanistan mendukung mereka, dan para mujahidin yang ikhlas berjuang bersama mereka. Kegagalan Amin Rais dan Abdurrahman Wahid, sebagai simbol tokoh neo-modernisme Islam Indonesia, dalam mengantarkan bangsa Indonesia keluar dari krisis multidimensional ini, tidak diragukan akan menumbuh suburkan pergerakan kaum neo-fundamentalis Islam yang telah mendapat perhatian dan simpati masyarakat. Demikian pula perpecahan demi perpecahan di kalangan elit politik akan menyulut kekecewaan demi kekecewaan masyarakat yang sudah penuh dengan penderitaan. Demikian pula dengan perilaku sumbang para elit politik, cendikiawan yang melacurkan pengetahuannya dan meluasnya praktek KKN serta tidak terselesaikannya kasus pelanggaran HAM maupun peperangan di Aceh, Maluku dan Ambon telah memicu ketidak percayaan masyarakat pada pemerintah yang telah dipilihnya dalam pemilu lalu. Kekecewaan masal dan ketidakpercayaan masyarakat ini tidak diragukan akan memicu lahirnya sebuah gerakan alternatif, sebagai gerakan penyelamatan umum terhadap bangsa dan negara yang dilanda ketidakpastian. Umumnya yang dapat memberikan solusi pada masyarakat, menurut teori sosial, hanya dua gerakan, gerakan kiri radikal atau gerakan kanan radikal, yang kedua-duanya sudah mulai tampil di Indonesia. Gerakan neo-fundamentalis Islam, sebagai pengejewantahan dari gerakan kanan radikal memiliki peluang besar sebagai alternatif penyelesaian terhadap krsisi multidimensional yang dihadapi bangsa Indonesia. Karena bangsa Indonesia adalah mayoritas muslim, relegious dan anti pada paham kekiri-kirian yang selalu diidentikkan dengan komonisme yang anti Tuhan dan anti agama. Penampilan para pelopor gerakan neo-fundamentalis Islam yang ramah, zuhud, ikhlas namun konsisten akan menjadi daya tarik masyarakat terhadap alternatif yang ditawarkannya. Hal ini berbeda dengan tawaran kiri yang menginginkan pertentangan kelas dan revolusi brutal. Jadi tidak diragukan gerakan neo-fundamentalisme Islam, dengan keteguhan doktrinnya dan kekonsistenan para pelopornya akan menjadikan gerakan ini sebagai gerakan alternatif bagi bangsa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Masyarakat akan memberikan kesempatan kepadanya untuk membuktikan keunggulan ajaran yang disrukannya, sebagaimana di dunia Islam lainnya. Para penggerak neo-fundamentalis Islam sangat yakin dengan kemenangan mereka, baik kemenangan di dunia dengan tegaknya tata dunia Islami maupun di akherat dengan diganjarnya mereka dengan syurga yang penuh dengan kenikmatan sebagaimana dijanjikan Allah dalam al-Qur’an : Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal soleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana dia telah menjadikan orangorang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoi-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi

aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (al-Nur : 55) Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itulah janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (al-Taubah : 111) Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan dien (agama, sistem hidup) yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala dien, meskipun orang-orang kafir benci. (al-Shaff : 9)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->