P. 1
Dampak Dari Konglomerasi Media Massa Di Indonesia Terhadap Opini Dan Perilaku Khalayak

Dampak Dari Konglomerasi Media Massa Di Indonesia Terhadap Opini Dan Perilaku Khalayak

|Views: 1,730|Likes:
Published by Joshua Natan

More info:

Published by: Joshua Natan on Oct 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2014

pdf

text

original

Dampak dari Konglomerasi Media Massa di Indonesia Terhadap Opini dan Perilaku Khalayak

Media massa merupakan sebuah pilar negara dalam menciptakan dan mempertahankan demokrasi. Sejarah media massa di Indonesia sebenarnya dimulai setelah berakhirnya orde baru, dimana orde reformasi muncul kebebasan pada pihak swasta dalam membangun media sebagai bentuk pengawasan sosial dan alat kontrol Negara. Dengan adanya kebebasan media massa maka akhirnya mengalami pergeseran ke arah liberal sampai pada beberapa tahun belakangan ini. Kebebasan teresbut menandai adanya kebebasan pers yang terdiri dari dua jenis : Kebebasan Negatif dan Kebebasan Positif. Kebebasan negatif merupakan kebebasan yang berkaitan dengan masyarakat dimana media massa itu hidup, kebebasan dari interfensi pihak luar organisasi media massa yang berusaha mengendalikan, membatasi atau mengarahkan media massa tersebut. Kebebasan positif merupakan kebebasan yang dimiliki media massa secara organisasi dalam menentukan isi media, berkaitan dengan pengendalian yang dijalankan oleh pemilik media dan manajer media terhadap para produser, penyunting serta kontrol yang dikenakan oleh para penyunting terhadap karyawannya. Akibat kebebasan per s positif dan perlunya dana besar dalam menjalankan bisnis media massa, maka sekarang ini sangat dekat bahwa media massa Indonesia tidak lepas dan jauh dari orang dibelakangnya yang memilikinya. “konglomerasi media Indonesia”, dimana terdapat 12 group media besar, dari 12 group perusahaan media massa itu, Mengutip dari Usman KS (Ekonomi Media, 2009, h. 26), Saat ini, di Indonesia terdapat 5 pesaing dalam konglomerasi media TV, yaitu MNC Group (RCTI, MNC TV, Global TV), Trans Corps (TransTV, Trans7), Surya Citra Media (SCTV, Indosiar), Bakrie Group (TvOne, Antv), dan Metro TV. Konglomerasi industri cetak, dikuasai oleh TEMPO Group, Jawa Post, dan Gramedia Group. Untuk konglomerasi radio, ada Trijaya group dan Radio Dangdut TPI dibawah kekuasaan MNC. Kepemilikan banyak media di satu grup bukan saja mendatangkan keuntungan finansial namun juga berpotensi untuk mendominasi opini publik, karena media massa sekarang merupakan sebuah mainstream yang menjadi arus informasi utama masyarakat di Indonesia (Cahyadi, 2012). Dalam perspektif Marxian, media massa berpotensi menyebarkan ideologi dominan. Ideologi dominan biasanya disebarkan oleh orde yang berkuasa dalam rangka mengekalkan kekuasaannya. Keperpihakan media terhadap sejumlah kekuasaan merupakan bentuk dari hegemoni. Konglomerasi media massa akan senantiasa menjadi ajang hegemoni bagi kelompok yang berkuasa artinya masyarakat patuh pada pada kehendak penguasa dan mereka secara tidak sadar berpartisipasi dalam rangka kepatuhan tersebut. Dalam rangka mengekalkan kekuasaan tersebut, kelompok yang dominan melalui media cenderung menyuarakan kepentingannya dan berusaha agar kelas lain turut serta berpartisipasi dengan sukarela, atau tanpa mereka sadari dan itulah yang disebut sebagai hegemoni. Media massa tidak pernah lepas dari intervensi pemilik modal yang dikuasai oleh segelintir orang yang memiliki beragam kepentingan seperti kepentingan ekonomi, politik dan ideologi tertentu. Konglomerasi media makin disuburkan oleh revolusi teknologi informasi yang ditandai oleh kehadiran internet dan digitalisasi data dan informasi. Situasi ini membuka peluang bagi terjadinya konvergensi (penggabungan) media. Ada tiga bentuk konvergensi media, yaitu: a. Konvergensi telematika yang ditandai oleh penggabungan berbagai bentuk saluran media konvensional (cetak dan elektronik) ke dalam suatu media tunggal. Data dan informasi yang

disuguhkan melalui suratkabar dan televisi, misalnya, bisa diakses secara online melalui internet maupun telepon genggam. Berbagai layanan informasi yang dulunya disajikan melalui beberapa media konvensional dapat disuguhkan dalam satu media tunggal. b. Konvergensi kepemilikan media yang ditandai oleh kepemilikan beberapa media oleh satu grup usaha. Seorang pengusaha media memiliki beberapa jenis media sekaligus, baik media cetak, televisi, radio, maupun media daring. Argumen efisiensi dan taktik bisnis melatarbelakangi konvergensi jenis ini. Hal ini berdampak pada pemusatan kepemilikan media pada beberapa gelintir pengusaha media. c. Konvergensi kepemilikan silang bisnis media dan nonmedia yang ditengarai oleh kepemilikan media oleh pengusaha-pengusaha bermodal kuat yang dekat dengan komunitas politik dan memiliki bisnis nonmedia (properti dan tambang, misalnya). Mereka terjun ke bisnis media dan, dengan demikian, memiliki kapasitas yang besar untuk “mengintervensi” proses pembentukan opini publik melalui media yang dimilikinya, utamanya ketika wacana publik tengah mempersoalkan bisnis nonmedia dari pemilik media. Pada era Orde Baru, kepemilikan media didominasi oleh pemerintah otoriter untuk membungkam kritik warganya maka, di era reformasi kepemilikan media berpusat pada segelintir pengusaha kaya di Indonesia. Sebagian besar dari mereka selain menjalankan bisnis media massa, tidak sedikit juga yang menguasai bisnis lainnya dengan menggunakan media massa sebagai alat promosi ataupun pembentuk citra dan opini dari bisinis mereka lainnya bahkan sampai pada ranah politik, dimana media massa digunakan sebagai media propaganda dan kampanye politik. Pemberitaan dimanfaatkan oleh pemilik modal untuk menekan kelompok lawan, baik untuk kepentingan politik maupun bisnis, dari sang konglomerat atau bahkan untuk mempromosikan dan menguntungkan kelompok bisnisnya sendiri. Melihat pendapat dari Associate Professor dari Northestren University Jeffrey A Winters tentang politik ologarki, oligarki terkait dengan politik pertahanan kekayaan oleh pelaku yang memiliki kekayaan. Orang-orang kaya itu terlibat dalam mempengaruhi kebijakan, termasuk dalam hal ini tentunya membangun opini publik, untuk mempertahankan kekayaannya dari ‘gangguan’ masyarakat dan negara. Media massa adalah salah satu wahana untuk membangun opini publik sehingga berdampak pada perubahan kebijakan publik. Praktik politik oligarki dalam konglomerasi media bertambah kuat ketika beberapa pemilik media ternyata juga berafiliasi dengan kekuatan politik tertentu. Konglomerasi Media Massa Indonesia menurut “Kacamata” teori Komunikasi Massa Berdasarkan teori komunikasi massa, agenda setting mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa. Teori agenda setting berangkat dari asumsi “menciptakan apa yang menurut publik dianggap penting.” Media menata (men-setting) sebuah agenda terhadap isu tertentu sehingga isu itu dianggap penting oleh publik yang salah satunya karena isu tersebut berhubungan dengan kepentingan publik, baik secara langsung atau tidak. Caranya, media dapat menampilkan isu-isu itu secara terus menerus dengan memberikan ruang dan waktu bagi publik untuk mengkonsumsinya, sehingga publik sadar atau tahu akan isuisu tersebut, kemudian publik menganggapnya penting dan meyakininya. Sebetulnya, isu yang dianggap publik penting pada dasarnya adalah karena media menganggapnya penting. Teori agenda setting berhubungan dengan tiga model agenda, yakni agenda media, agenda publik dan agenda

politik. Agenda media adalah seperangkat topik atau isu yang dibahas oleh media (televisi, radio, koran, dan lain-lain). Agenda publik adalah seperangkat topik atau isu yang dianggap penting oleh publik. Sementara agenda politik merupakan topik atau isu-isu yang diyakini penting oleh para pembuat keputusan (DPR atau mereka yang berpengaruh dalam proses legislasi). Teori Critical Media, melihat pemilik media massa sebagai aktor berpengaruh dalam menentukan arah media dalam memberikan pemberitaan. Teori ini menjelaskan bahwa pasar dan ideologi memiliki pengaruh besar dalam penentuan isi (content) media. Perbedaan isi media antara satu dengan yang lainnya bergantung pada kepemilikan dan modal yang dimiliki. Media massa yang dikuasai oleh pengusaha mampu memberikan hegemoni menurut Gramsci, sebagai usaha untuk mempertahankan kekuasaan, bersamaan itu, terbentuk Framing, atau membentuk opini Media massa. Belakangan ini juga terjadi dengan sebuah kerangka berpikir dan stereotype. Stuart Hall berpendapat Media massa cenderung mengukuhkan ideology dominan untuk menancapkan kuku kekuasaannya melaui Hegemoni. Melalui media massa pula juga menyediakan frame work bagi berkembangnya budaya massa. Konglomerasi dan pemilikan silang media massa yang menjadi kelompok dominan akan terus-menerus menggerogoti, melemahkan dan meniadakan potensi tanding dari pihak-pihak yang dikuasainya. Dalam kondisi hegemoni, orang tidak akan punya kekuatan kritis lagi, Semuanya serba pesimis. Namun, sajian semacam itu terasa jauh dari nilai-nilai idealisme pers yang dituntut yakni: independen, jujur, serta netral. Kepemilikan berbagai macam perusahaan media massa, baik cetak, online, maupun elektronik, oleh satu konglomerat tertentu diyakini membatasi hak publik dalam memperoleh keberagaman informasi, pemberitaan, dan pandangan, yang sangat diperlukan dalam konteks berdemokrasi. Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Ignatius Haryanto, menurut Haryanto, praktik konglomerasi perusahaan media massa juga menciptakan berbagai kondisi merugikan lain, terutama ketika media massa kemudian hanya dijadikan sekadar corong demi kepentingan politik dan bisnis sang pemilik modal.Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks, dampak bisa dilihat dari: skala kecil (individu) dan luas (masyarakat), kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari) dan lambat (puluhan tahun/ abad) dampak itu terjadi. Secara umum, ada tiga fungsi media massa. Pertama, memberi informasi. Kedua, mendidik. Ketiga, menghibur dan, dalam masyarakat demokrasi seperti kita, sering disebutkan fungsi keempat, yaitu melakukan kontrol sosial. Di sini, media berfungsi seperti anjing penjaga (watchdog) yang mengawasi jalannya pemerintahan; mengritik berbagai penyimpangan di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif; serta berbagai fenomena yang berlangsung dalam masyarakat itu sendiri. Media massa belakangan ini lebih sering menjalankan peran Gatekeeping, dimana teori komunikasi massa yang menekankan adanya peran krusial dari para penjaga gerbang (gatekeepers), yakni para eksekutif media, yang bisa membuka atau menutup ”gerbang” terhadap pesan-pesan yang akan disampaikan media. Merekalah yang menentukan, pesan atau content apa yang dimuat atau ditayangkan di media, dan pesan mana pula yang tidak dimuat atau tidak ditayangkan di media. Penerapan framing hamper ditemukan di seluruh media massa, jadi bisa dikatakan media massa di Indonesia sekarang ini tidak ada yang netral dimana para jurnalis memutuskan, bagaimana suatu berita atau peristiwa disajikan kepada audiens. Berita atau peristiwa itu dibingkai dengan cara tertentu, yakni ada unsur yang dimasukkan di dalam kerangka (frame) sebuah berita, dan ada juga yang dikeluarkan dari kerangka tersebut. Dengan adanya berbagai agenda media massa milik konglomerat media, maka tidak akan lepas dari kemungkinan bias-nya informasi yang disebarkan ke

publik. Media massa dapat membangun wacana di wilayah publik dan lalu berdampak pada pengkristalan opini publik. Opini publik sendiri, dalam iklim demokrasi, akan sangat berpengaruh bagi penyusunan agenda kebijakan publik. Jika media hanya dikuasai oleh segelintir pengusaha yang berada di sekitar ring politik, Agenda-agenda kebijakan publik pada akhirnya hanya akan dipengaruhi kepentingan ekonomi-politik pemilik media. Dampak lain dari konglomerasi dan konvergensi kepemilikan bisnis media dan nonmedia adalah makin seragamnya informasi dan berita yang disuguhkan kepada publik. Disamping itu, kemungkinan degradasi kualitas pemberitaan, yang pada akhirnya sulit bagi publik untuk menerima informasi yang lengkap, beragam, dan obyektif. Dampak lainnya ialah perubahan arah pemberitaan. Area pemberitaan “hard journalism” berubah jadi “soft journalism”, Kisah-kisah soft news dan human interest menjadi buruan wartawan. Liputan politik, seperti korupsi dan manipulasi serta nepotisme, menjadi fleksibel dan adaptabel. Berita-berita tersebut tidak segera atau bahkan terkadang tidak dapat disiarkan. Tapi, kerap dihambat, difilter, diatur, atau dikontrol. Pada dasarnya masalah kepemilikan media dengan menggunakan model media privat sudah mendapat batasan dari pemerintah melalui regulasi yang mengaturnya, yakni melalui Undang-Undang Penyiaran. UU Penyiaran Pasal 16 ayat 2 mengatakan; “Kepemilikan silang antara lembaga penyiaran swasta yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio, dan lembaga penyiaran swasta yang menyelenggarakan jasa penyiaran televisi; antara lembaga penyiaran swasta dengan perusahaan media cetak; dan antara lembaga penyiaran swasta dengan lembaga penyiaran swasta jasa penyiaran lainnya; baik langsung maupun tidak langsung, dilarang.” Pendapat pakar dan praktisi komunikasi media massa mengenai konglomerasi dan kepemilkan silang media Konglomerasi industri media yang dicirikan dengan munculnya gelombang akusisi dan merger oleh konglomerat media terhadap berbagai media cetak dan elektronik sepanjang satu dekade terakhir (Haryanto, 2008). Menguatnya fenomena konglomerasi media (pers industri) sebagai dampak dominasi private sector atas institusi media kita saat ini telah berada pada fase berbahaya karena mengancam keragaman kepemilikan, isi, maupun suara media. (Amir Effendi Siregar, 2009).Wakil Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Hanif Suranto mengungkapkan, pemusatan kepemilikan lembaga penyiaran swasta akan berpotensi dimanfaatkan untuk menggiring opini publik. Penguasaan media-baik cetak, televisi, radio maupun online-oleh para konglomerat media, menurut Dedy Nur Hidayat (2003), saat ini sudah sampai pada tahap predatorik. Konglomerasi yang memberi ancaman serius bagi eksistensi demokrasi. Peneliti Komnas HAM, Asep Mulyana, mengatakan konglomerasi media bukan hanya berdampak pada akses informasi tetapi juga pada kualitas informasi yang disajikan, Jika media mempekerjakan wartawan untuk beberapa media sekaligus, kualitas konten informasi menjadi berkurang. “Alhasil, sulit bagi publik untuk menerima informasi secara lengkap, beragam, dan objektif,” ujarnya.Peter Goldinig dan Graham Murdoch(2000;71) mengatakan “ media as a political and economic vehicle, tend to be controlled by conglomerates and media barons who are becoming fewer in number but through acquistion, controlled the larger part of the world’s mass media and mass communication.” isi / program media yang akan di sampaikan kepada masyarakat dan konglomerasi juga dapat menimbulkan terjadinya homogenisasi , konsentrasi kepemilikan media massa di Indonesia mengakibatkan struktur pasar media massa Indonesia memiliki bentuk oligopoli, yaitu kondisi yang hanya terdapat sejumlah pemain besar dalam industri media massa dengan produk yang terdiferensiasi.

Curran, Gurevitch, dan Woollacott (1982) menganggap bahwa media berfungsi untuk melegitimasi kekuasaan dan menanamkan kesadaran palsu bagi khalayak. Ilustrasi Bursa calon Ketua Umum Golkar Oktober 2009 dimulai, diantara calon-calon tersebut ada nama Abu Rizal Bakrie dan Surya Paloh. Perebutan simpati kedua konstentan ini menjadi hal yang menarik untuk diamati karena mereka berdua sama-sama memiliki jaringan media. Surya Paloh dengan Media Group yang membawahi sejumlah media seperti Metro TV, Media Indonesia, Lampung Post dan Borneo Post sedangkan Abu Rizal Bakrie juga memiliki jaringan media TV – One, Star antv dan Viva News. Menggunakan jaringan media yang mereka miliki guna membuat opini dengan frame yang mereka inginkan. Aburizal yang dianggap bertanggung jawab kasus Lapindo Brantas menjadi bahan perdebatan di kedua media tersebut dengan menggunakan perspektif yang berbeda sesuai dengan paham yang dianut kedua media tersebut. Dalam perspektif Metro Tv yang diangkat adalah sisi korban Lapindo yang sampai saat ini belum juga mendapatkan penggantian yang sesuai dan terkesan terlantar karena pihak Lapindo Brantas dan Aburizal terkesan tidak peduli dengan apa yang terjadi disana. Sedangkan dari TV-One secara live dihadirkan Aburizal Bakrie yang berusaha membuat opini terbaik tentang dirinya termasuk dalam penyelesaian kasus Lapindo Brantas. Baginya kasus ini bukanlah tanggungjawab yang harus dipertenggungjawabkan, namun karena perintah dari sang bunda, ia mencoba untuk menyelesaikan masalah ini dengan kemampuan yang di miliki.

Selain itu, Iklan Partai Nasdem hanya muncul pada Metro TV, sekarang iklan tersebut ditayangkan pada grup penyiaran MNC. Ini karena pemilik grup MNC adalah petinggi partai Nasdem yang berkolaborasi dengan pemilik grup Media Indonesia. Juga Metro TV dan TVOne yang memproduksi sejumlah berita yang cenderung memojokkan partai Demokrat yang notabennya adalah partai lawan politiknya. Hal ini sebenarnya melanggar UU Nomor 32/2002 Pasal 36 ayat 4 tentang netralitas isi siaran, yang bunyinya :“Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu.”Menjelang Pemilu 2014, bukan tidak mungkin media penyiaran akan ramai digunakan sebagai ajang kampanye politik dan sebagai alat untuk kepentingan politik dari penguasa yang ada dibelakangnya.

Contoh diatas, merupakan salah satu bukti dari konsentrasi kepemilikan media oleh orang –orang yang berkuasa. Arus informasi yang seharusnya menjadi milik masyarakat menjadi komoditas pesan demi kepentingan pihak penguasa atau pemilik media massa. Hasil dari Konglomerasi dan Kepemilikan silang media massa Fenomena Komunikasi Media Massa- ekonomi-politik yang melibatkan kekuasaan, Contohnya. Lima korporasi media terbesar di AS berhasil mengajukan sebuah UU baru untuk meningkatkan dominasi korporat mereka dan menghilangkan UU atau peraturan yang membatasi kontrol atas media. Misalnya, UU Telekomunikasi tahun 1996. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Sejak lama, media terutama televisi telah menjadi ajang pertarungan kepentingan bisnis dan politik para penguasa . Selain faktor ekonomi, faktor politik juga berpengaruh besar terhadap kepentingan media dalam konsentrasi media massa di Indonesia, contohnya media yang

dekat dengan pemerintah cenderung menghadirkan pemberitaan yang pro pemerintah atau ketika pemilik media merupakan tokoh politik, ia akan cenderung menggunakan media miliknya sebagai alat politiknya. Hal tersebut mengesampingkan hak masyarakat akan tayangan atau informasi yang memuat kebenaran karena berita atau informasi yang disampaikan cenderung bias memihak pihakpihak tertentu. Di sinilah, terlihat bagaimana korporasi media memiliki peran besar dalam menyaring apa yang boleh dan tidak boleh ditonton oleh masyarakat. Solusi: Manajemen media haruslah memisahkan antara redaksi pemberitaan dan unsur bisnis, sehingga menghindari adanya intervensi pemberitaan karena faktor bisnis. • Media haruslah menyadari tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat sehingga faktor kepentingan pemilik media seperti kepentingan politik pemilik media sebaiknya dipisahkan dengan objektifitas media tersebut. Media haruslah independen dan loyal kepada masyarakat. • Pemberitaan yang mengandung informasi kepada publik yang disampaikan harus mengandung kebenaran yang mencakup akurasi, pemahaman publik, jujur dan berimbang. keseimbangan dalam pemberitaan atau penyiaran termasuk menyangkut sebuah opini dan perspektif atas suatu kasus.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->