P. 1
Upaya Melestarikan Budaya Indonesia

Upaya Melestarikan Budaya Indonesia

|Views: 2,211|Likes:
Published by Ismail Muridan

More info:

Published by: Ismail Muridan on Oct 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/13/2014

pdf

text

original

Upaya Melestarikan Budaya Indonesia Tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta

mewarisi budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan megharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak diklaim oleg negara lain.Berikut beberapa hal yang dapat kita simak dalam rangka melestarikan budaya. 1. Strengh (Kekuatan) a. Keanekaragaman budaya lokal yang ada di Indonesia Indonesia memiliki keanekaragaman budaya lokal yang dapatdijadikan sebagai ke aset yang tidak dapat disamakan dengan budaya lokal negara lain. Budaya lokal yang dimiliki Indonesia berbeda-beda pada setiap daerah. Tiap daerah memiliki ciri khas budayanya, seperti rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut. Semua itu dapat dijadikan kekuatan untuk dapat memperkokoh ketahanan budaya bangsa dimata Internasional. b .Kekhasan budaya Indonesia Kekhasan budaya lokal yang dimiliki setiap daerah di Indonesia memliki kekuatan tersediri. . Misalnya rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut. Kekhasan budaya lokal ini sering kali menarik pandangan negara lain. Terbukti banyaknya warga asing yang mempelajari budaya Indonesia seperti belajar tarian khas suat daerah atau mencari barang-barang kerajinan untuk dijadikan buah tangan. Ini membuktikan bahwa budaya bangsa Indonesia memiliki ciri khas yang unik. c. Kebudayaan Lokal menjadi sumber ketahanan budaya bangsa Kesatuan budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili identitas negara Indonesia. Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan baik agar budaya bangsa tetap kokoh. 2. Weakness (Kelemahan) a. Kurangnya kesadaran masyarakat Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meningalkan ciri khas dari budaya tersebut. b .Kurangnya pembelajaran budaya Pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan perkembangan zaman. c.Minimnya komunikasi budaya Kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman

Kemajuan pariwisata Budaya lokal Indonesia sering kali menarik perhatian para turis mancanegara. Sementara itu pelestarian budaya bukan suatu usaha bersifat elastis untuk membangkitkan feodalisme. 3. Pada kesempatan yang berbahagia ini kami atas nama panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak dan ibu serta hadirin sekalian yang telah berkenan hadir pada acara ini. c.tentang budaya yang dianut. Indonesia akan di pandang sebagai negara yang dapat mempertahankan identitasnya di mata Internasioanal. 4. . Dr Junaidi SS MHum. Misalnya. Kemajuan Teknologi Meskipun dipandang banyak memberikan banyak manfaat. Perubahan lingkungan alam dan fisik Perubahan lingkungan alam dan fisik menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negara untuk mempertahankan budaya lokalnya. Ini dapat dijadikan objek wisata yang akan menghasilkan devisa bagi negara.Indonesia dipandang dunia Internasional karena kekuatan budayanya Apabila budaya lokal dapat di jaga dengan baik. Karena seiring perubahan lingkungan alam dan fisik. peran budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman. tetapi merupakan upaya memelihara dan melindungi asset bangsa agar seluruh pelapisan masyarakat mendukung pelaksanaan pembangunan bangsa yang lebih berbudaya. Akan tetapi hal ini juga harus diwaspadai karena banyaknya aksi pembajakan budaya yang mungkin terjadi. Riau. Kami sangat bangga atas antusias para hadirin semuanya dalam usahausaha pelestarian seni dan budayanya sendiri. Opportunity (Peluang) a. sistem sasi (sistem asli masyarakat dalam mengelola sumber daya dikawasan Maluku dan Irian Jaya. Masuknya Budaya Asing Masuknya budaya asing menjadi tantangan tersendiri agar budaya lokal tetap terjaga. Karena adanya saling menghormati antara budaya lokal sehingga dapat bersatu menjadi budaya bangsa yang kokoh. juga dapat memperkokoh persatuan. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning. b. b. memperkokoh rasa persatuan Usaha masyarakat dalam mempertahankan budaya lokal agar dapat memperkokoh budaya bangsa. mengatakan bahwa multikulturalisme meberikan peluang bagi kebangkitan etnik dan kudaya lokal Indonesia. d. Sistem sasi mengatur tata cara sertamusim penangkapan iakn di wilayah adatnya.Multikuturalisme Dalam artikelnya. Threatment (Tantangan) a. Kuatnya budaya bangsa. Dua pilar yang mendukung pemahaman ini adalah pendidikan budaya dan komunikasi antar budaya. namun hal ini mulai tidak di lupakan oleh masyarakatnya c. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa. Dalam hal ini. kemajuan teknologi ternyata menjadi salah satu factor yang menyebabkan ditinggalkannya budaya lokal. pola piker serta pola hidup masyakrkat juga ikt berubah.

pertumbuhan berbangsa masyarakat Eropa-Amerika sesungguhnya berbasis pada kemampuan mengembangkan aspek kesenian dalam arti luas. Inspirasinya justru datang dari kalangan seniman. kami mohon maaf . jika ada kata-kata yang salah dalam penyampainya tadi . seni maupun kesusastraan yang memberikan pencerahan Eropa dari kegelapan intelektual. dapat disimpulkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi diletakkan sebagai bagian dari kemajuan kebudayaan. membiarkan seni dan budaya kita sendiri hilang. Kesenian. Kalau kita petik pelajaran dari Renaissance Eropa. yang melandasi seluruh strategi politik-kebudayaannya. Kami sangat bangga atas antusias para hadirin semuanya dalam usaha-usaha pelestarian seni dan budayanya sendiri. sekaligus dapat jadi bekal dalam mengembangkan penciptaan kreasi dan karsa di masa-masa mendatang. memang belum built-in menyatu dalam strategi politik kebangsaan. tentu kita tidak berpangku tangan saja. Dalam situasi zaman sekarang. Padahal sejarah menunjukkan. yakni kebutuhan setelah faktor primer dan sekunder terpenuhi. budaya Yunani dan Romawi kuna. kesenian bahkan sering disebut klangenan. Tentunya tidak. Menurut adat Jawa. Kiranya demikian yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga kita semua menjadi paham dan mengerti. Kegiatan seperti ini bermaksud sebagai motivasi dan mendorong masyarakat agar dengan kesadaranya mau merawat dan melestarikan nenek moyang kita. ditelan waktu. sehingga giliranya nanti mampu menambah kazanah dan daya kreasi terhadap seni dan budaya kita sendiri. Para hadirin sekalian yang saya hormati. Pelestarian budaya dan seni kali ini diharapkan mampu merangsang animo kita semua untuk selalu melihat seni dan budaya kita sendiri. tetapi merupakan upaya memelihara dan melindungi asset bangsa agar seluruh pelapisan masyarakat mendukung pelaksanaan pembangunan bangsa yang lebih berbudaya. Misalnya oleh Leonardo . Pada kesempatan yang berbahagia ini kami atas nama panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak dan ibu serta hadirin sekalian yang telah berkenan hadir pada acara ini. ibu serta hadirin yang saya hormati Izinkan kami atas nama panitia mengucapkan puji syukur kepada tuhan yang telah melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul dalam acara gelar seni dan budaya pada hari ini.Bapak. Akhirnya terima kasih atas kehadiran dan perhatianya .Akhirnya selamat mengikuti acara ini. Renaissance adalah kelahiran kembali masa keemasan budaya klasik. Berbagai usaha pelestarian budaya memang tidak berjalan mulus. Masa itu ditandai oleh kehidupan yang cemerlang di bidang sains. banyak kendala yang dihadapi. filsafat. Sementara itu pelestarian budaya bukan suatu usaha bersifat elastis untuk membangkitkan feodalisme.

kesenian yang penuh kekerasan dan vulgar. kehilangan ruang publik dan pelayanan publik serta produk-produk publik yang menumbuhkan kebangsaan. Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat. selama kesenian belum menjadi bagian dari proses bertumbuh individu kaum elite dan kebijakan politik. maupun seniman-praktisi yang berkarya di tengah-tengah masyarakat. Yang tersisa tinggal kaum elite yang mencari jabatan. Pendidikan sastra. tetapi melatih daya kritis mata terhadap dunia visualnya. jika seorang individu mengalami pendidikan kesenirupaan. inilah pekerjaan rumah kita yang tidak ringan! Termasuk bagi kalangan seniman. Dengan kata lain. Misalnya Syahrir dan Tan Malaka. perdagangan yang monopolistik. Kemerosotan berbangsa boleh jadi oleh sebab elite politik kita tidak tumbuh dalam tradisi berkesenian. yang dikenal mencintai rakyatnya. dan Michel Angelo dengan karya patungnya “Pieta“. Agaknya. Apalagi Soekarno. dan bereaksi hanyalah dipenuhi kekerasan dan amuk. Sementara Hatta. tetapi mengajak individu bangsa mengalami dunia sensitivitas terhadap kemanusiaan. fisik atau pun simbolik. Pada akhirnya. Sejarah berbangsa mencatat. maupun kontemporer. klasik. penekanan pada aspek ekonomi dan politik semata telah membuktikan hanya menghasilkan kelimpahruahan sementara yang penuh gejolak. dan pertumbuhan berbangsa yang meningkatkan konsumerisme tanpa produktivitas dan daya saing. maka proses berbangsa akan kehilangan humanismenya. dalam proses perkawinannya memberikan sebuah buku yang ditulisnya sendiri sebagai hadiah pernikahan. kekerasan dan kekerdilan tanpa disertai sense of urgency dari para elite kita. yang dikenal mencintai demokrasi. tumbuh dalam disiplin arsitektur dan mencintai berbagai bentuk kesenian. berbagai tontonan yang populer tanpa menumbuhkan peradaban. kebudayaan yang merupakan keutamaan bangsa sebagai cara berpikir. mencipta seni tari dengan mengambil ragam seni etnik yang lain. tidak selalu untuk menjadi perupa. mereka bertumbuh dalam dunia tonil dan bacaan kebudayaan yang pluralis. serta ruang publik yang sarat premanisme. baik populer. tumbuh pada sosok para negarawan kita masa silam. namun memiliki sifat inklusif.da Vinci dengan lukisannya “Monalisa“. tidaklah semata untuk menjadi sastrawan. pemain teater atau film. . Yang dikhawatirkan lahir dari situasi semacam ini adalah elite politik yang bermain politik tanpa memahami kemanusiaan. bekerja. Hal yang berbeda. tetapi agar setiap individu menyadari berbagai aspek dalam ruang kehidupan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang tumbuh di lingkungan sarat budaya tradisional. Demikian juga pendidikan seni pertunjukan tidaklah semata untuk menjadi penari. seperti yang seringkali terjadi sekarang ini. Padahal. baik seniman-intelektual yang tumbuh di kampus-kampus.

serta sensitif terhadap gejala estetis dan artistik. baik dari aspek teknologi hingga estetik serta peran barunya. seperti “Bharâtâyudhâ” karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh di Abad ke 12 dengan karya Yasadipura I di Abad ke-18. karya-karya seni dihidupkan kembali dengan karya-karya alusi. dengan bertindak bebas dan mengambil keputusan yang dapat dipertanggung-jawabkan bagi sesama. di manakah letak koordinat kesenian kita? Artinya. emosi. hidup manusia mengalami tiga tingkatan. Lalu. manusia juga homo creator. Dalam tingkatan etis. pengalaman seni adalah keterlibatan aktif dengan kesadaran yang melibatkan kecendekiaan. dan simbol ini bermakna pembebasan dan perluasan pandangan. Dalam proses ini terdapat pembelajaran kembali proses kreatif. Terbukti. sekaligus pertemuan antargenerasi. . Atau “Sêrat Niti sastrâ” oleh Sultan Agung. kecuali melalui simbol. agar terbaca oleh generasi yang kemudian. ide itu menjadi multi interpretable. Yakob Sumardjo (2000) menjelaskan. manusia mencoba meningkatkan kehidupan estetisnya dalam bentuk tindakan manusiawi. seorang penghayat sebenarnya sedang mencari pengalaman estetis. Manusia tidak pernah mengenal dunia secara langsung. Pengalaman estetis. Artinya. Misalnya film Pearl Harbour hingga Titanic atau rekaman ulang lagu-lagu lama Koes Plus. seperti yang tertera dalam buku. Susastrâ Jawa juga memiliki pertalian antarzaman. estetis. “dicetak ulang” dengan beberapa sisipan oleh Ranggawarsita. Jalur benang merah itu tampak terentang. berperasaan dan bersikap dengan ungkapan simbolis. manusia adalah mahluk berkreasi. etis dan religius. Selain animal symbolicus. media ruang memori kolektif yang penting dalam proses membangsa. seberapa besar apresiasi bangsa ini terhadap keseniannya sendiri? Apresiasi berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk karya seni. Dalam proses itu unsur perasaan dan intuisi lebih menonjol dibandingkan nalar. maka unsur-unsur karya-karya lama dihidupkan kembali dengan berbagai nilai tambah. Dengan kehidupan estetis manusia mampu menangkap dunia dan sekitarnya. Candler. Kemudian dia menuangkan kembali rasa kekagumannya ke dalam karya seni. Ketika industri budaya populer menjadi jenuh. indera dan intuisi manusia dengan lingkungan. Menurut Soren Kierkegaard. sebuah ide jika dinyatakan dengan simbol. analisis ruang budaya dulu dan kini. Manusia berpikir. sehingga mampu menikmati dan menilai karya seni dengan semestinya.SEJARAH dunia juga mengajarkan. seorang filsuf eksistensialis. menurut Albert R. sehingga tetap bisa melacak dan merekam jejak sejarah kebudayaan bangsanya dengan memberi makna dan ruh baru. Dalam apresiasi. adalah kepuasan kontemplatif atau kepuasan intuitif. bahwa pengelolaan kebudayaan populer tidak bisa dilepaskan dari aspek kebudayaan klasik.

dalam konsep filosofis disebutkan. barulah proses awal “menjadinya” “Sang Amurwâbumi” yang sesungguhnya. Dia adalah simbol dari sejumlah gagasan.Akhirnya. Oleh sebab itu. mulai unsur. ide. nilai gagasan. dan nilai-nilai hidup manusia. metafora dan lain sebagainya. keburu terbunuh oleh anak tirinya. Wujud sebuah karya seni adalah representasi pengalaman-pengalaman estetis seseorang. Dalam perjalanan sejarah umat manusia. Untuk lebih memahami pengalaman religius itu. Anusapati. Sebetulnya dalam berkarya seorang seniman tidak saja bekerja sebagai abdi alam. manusia semakin sadar bahwa hidup mesti memiliki tujuan. berikut ini: Badan njâbâ wujud kitâ iki Badan njêro munggwing jroning kâcâ Ananging dudu pangilon Pangilon jroning kalbu Yèku wujud kitâ pribadi Tinitah jro panyiptâ Ngêrêmkên pandulu Luwih gêdé bêrkahirâ Lamun janmâ wus gambuh ing badan batin Sasat Srirâ Bathârâ . dalam melihat sebuah karya seni masalah bentuk dan isi karya adalah masalah yang saling berkait. struktur. Tetapi sebelum paripurna. batinnya pun semakin terbuka. Yang saya tangkap bukan sosok “Sang Amurwâbumi”-nya. sebab tatkala manusia melahirkan kreasi pada benda-benda alamiah itu. tetapi juga mencari makna dirinya sendiri. Sedangkan persoalan isi mempertanyakan nilai kognitif-informatif. Demikian juga Bêdhâyâ “Sang Amurwâbumi” ini. Artinya. agar apa dilakukan memiliki arti yang dapat dipertanggung-jawabkan. ada baiknya dibaca melalui satu penggal bait yang dicuplik dari Sêrat Déwâ-Ruci. simbol. Segala tindakan kemudian dipertanggung-jawabkan kepada yang Maha Tinggi. ketika dia mencoba mencari jawaban atas apa yang ada di balik gejala yang ditangkap oleh inderanya. atas responnya terhadap alam sekitar yang diolah dari getar perasaannya. tercipta atas dasar “isyarat” yang saya terima secara religius dalam suatu proses kontemplatif yang sangat pribadi (personalized). saya lebih mementingkan “the song. setelah menyerap ajaran “Delapan Ajaran Kebenaran” dan “Sepuluh Kesempurnaan Laku”. Karena itu. not the singer”. bahwa kedua ajaran itu melekat pada sosok yang “dipersonifikasikan” oleh “Sang Amurwâbumi”. Bentuk adalah segala hal yang membicarakan faktor intrinsik karya. tingkatan ketiga dari hipotesa Kierkegaard. tokoh kontroversial Ken Arok yang sifat-sifatnya penuh premanisme. Tuhan Yang Maha Esa. nilai emosi-intuitif. imajinasi. telah terbukti bahwa seni sebagai kreasi manusia tidaklah berdiri sendiri. Dengan menyandang gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi.

Untuk menjawab pertanyaan introspektif tadi. Kertanegara adalah penganut agama Siwa-Buddha sekte Tantrayana yang taat. Patung itu mensintesekan sikap bhairâwâ-anorâgâ (perkasa di luar. dengan sosok gambar-wayangnya adalah Arjuna. Tetapi. setting temporalnya memang berbeda dengan Bêdhâyâ “Sang Amurwâbumi”. yang berarti pribadi jantan yang bertekad kokoh. karena berkaitan dengan pawiwahan Jumênêngan pada 7 Maret 1989 (koreksi tanggal. yang mencerminkan watak patriotisme “Sang Amurwâbumi”: “setia pada janji. Sedangkan Bêdhâyâ “HarjunâWijâyâ” dipergelarkan saat pahargyan Tumbuk Agêng 7 April 2007 pada masa ketidakpastian akan nasib KeIstimewaan DIY. Artinya. toleran. lembut di dalam). bahwa untuk menjadi raja bijaksana. mengapa tidak menggunakan saja ajaran “Asthâ Brâtâ” yang sudah mapan dan diterima khalayak Jawa? Ajaran “Asthâ Brâtâ” terkandung dalam pesan Rama kepada Wibisama. Sikap duduk atau silanya (mudrâ) menunduk ke bumi (bhumi sparsâ mudrâ). tertulis di buku 8 April 1998). saya mencoba membandingkan sosok “Sang Amurwâbumi” dengan “Sri Kêrtanêgârâ” yang secara badan wadhag ada kemiripannya. yang akrab dengan persoalanpersoalan filsafat. ada dua pendapat tentang keberadan nilai dalam sebuah karya seni. yaitu . seharusnya mengikuti delapan laku utama yang melekat pada sifat-sifat delapan dewa. kokoh. Sedangkan kalau yang dominan karsâ-nya. yaitu perlunya kita menggali dan mengkaji konsep kepemimpinan Jawa dari piwulang lama. selalu berbuat baik. Orang Jawa yang lebih mementingkan ciptâ-râsâ. Untuk pemahaman lebih lanjut. Jika kembali pada ajaran yang diekspresikan dalam konsep filosofis Bêdhâyâ “Sang Amurwâbumi”. Namun dapat pula pencarian hakekat seni dilakukan dari aspek penerima seni. Nitisruti dan Râmâyânâ Kakawin Jâwâ Kunâ. akan mengambil lakon “Arjunâ-Wiwâhâ” sebagai acuan hidup. Ritualnya dengan melakukan “ma-lima” secara total dengan maksimalisasi kepuasan nafsu duniawi sebagai media-antara agar sampai ke haribaan Tuhannya. berwatak tabah.Dalam psikologi Jawa ciptâ dan râsâ itu menyatu. akan mendalami serat Sêrat Déwâ-Ruci dengan Bima sebagai tokohnya. sedangkan karsâ-nya dilambangkan Bima. Bêdhâyâ “Hèrjunâ-Wiwâhâ”. Dalam komunikasi seni ada tiga unsur utama yang terkait. dan sosial”. Ada yang bependapat. Ajaran itu termuat dalam teks Sêrat Râmâ Jarwâ Mâcâpat. Sedangkan monumen simboliknya berupa patung Jâkâ-Dholog. setiap karya cipta seni itu punya konteks dengan waktu. tak tergoyahkan (maliging râsâ). nilai seni sebuah karya terletak pada benda dan senimannya. tidak lepas dari situasi kegamangan akan kevakuman kepemimpinan saat bêdhâyâ ini tercipta di tahun 1990-an itu. ora katut pangrâsâ (pangingrâsâ/kêdhêr).

jika dihidupi oleh dua hal. Tetapi. Layaknya mengumpulkan batu yang terserak untuk merekonstruksi bangunan candi. agar berada dalam kesamaan platform dan persepsi dengan ”publik seni”. dengan menggubah dan merevitalisasi isi dan bahasanya disesuaikan dengan zamannya. dengan menguatkannya. komunikasi seni akan berjalan sehat. persoalan komunikasi seni ini tidak lagi mudah terjalin. Sejak dulu para pujangga sudah berusaha menggali naskah-naskah lama yang berisi ajaran etika. mengganti batu-batu rapuh dengan batu yang lebih kompak. atau jika miring. bahkan jika perlu. Ibaratnya sebuah eksperimentasi ramuan obat. Panembahan Senapati dan Sultan Agung. Seni tanpa kritik dikhawatirkan akan mandeg dan tumpul kreativitas. dengan menegakkannya. seperti: Sêrat Wulang Rèh. Sêrat Wulang Sunu dan Sêrat Wulang Putri karya Sri Paku Buwono IV (1768-1820). saya mencoba mendekatkan karya cipta bêdháyá sebagai “benda seni” yang sarat simbol-simbol yang multi interpretasi. yang belum tentu bisa menjawab secara tuntas. Telah diterbitkan berbagai karya sastra yang mengajarkan etika. menerima keduanya dengan lapang dada.seniman. perlu penataan oleh para ahli dengan menumpuk dan merekatkannya. Dan saya. Pada umumnya isi ajarannya bersumber pada etika dan filsafat Jawa beserta laranganlarangannya dengan mengacu pada ajaran leluhur dinasti Mataram. Jika yang ideal ini terjadi. Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat. Produk-produk seni akan selalu hidup. JIKALAU demikian. Bersatunya unsur-unsur komunikasi seni ini dalam satu peristiwa seni akan melahirkan apa yang dinamakan pengalaman seni. sebab adakalanya nilai seni yang diterima dan dipahami senimannya tidaklah selalu sama. benda seni dan publik seni. pujangga wanita masa Sri Paku Buwono IX (1861-1893). dengan merapatkannya. bahkan berbeda jauh dengan nilai seni yang diterima dan dipahami masyarakat atau publik seni. dengan premis dasar: dunia ideal adalah dunia harmoni lahir dan batin. bagaimana kita menangkap ajaran “Sang Amurwâbumi” sebagai salah satu sumber acuan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa? Untuk menjawab pertanyaan itu. Sêrat Wêdhâtâmâ karya Sri Mangkunegara IV (1853-1881) dan Sêrat Wulang Putrâ karya Nyi Adisara. . catatan ini harap dianggap bahan dasar yang perlu dikaji dan diuji secara cermat oleh mereka yang peduli. Demikian juga. Namun dalam masyarakat yang terbuka terhadap informasi nilai. apresiasi maupun kritik. jika konstruksinya goyah. Jika terdapat lubang. ijinkanlah saya mengutarakan terlebih dulu sebagian sêrat-sêrat piwulang dan pitutur luhur yang kita miliki. Dengan pemahaman seperti itu.

Seseorang harus memelihara watak “rèh“. “anut ombaking jaladri“ mengikuti tata-cara yang umum. Secara lebih konkrit. meski dengan berdalih di balik bukti hukum. Hal ini dianggap penting. pendidikan etika seorang putri diajarkan dengan cara nêmbang. “Sawiji“ adalah konsentrasi atau penjiwaan total tanpa menjadi tak sadarkan diri atau in-trance. intinya adalah tékad-nyawiji. orâ-mingkuh“. Dalam Sêrat Wulang Putrâ. dan “ririh“. Dan bisa dianggap melengkapi ajaran kepemimpinan “Asthâ Brâtâ” tadi. melainkan harus diikuti dengan prestasi. Selain itu. tetapi lebih secara kultural-spiritual. yang akhirnya harus dibaktikan bagi kesejahteraan Rakyat. yaitu “Hastâ Karmâ Pratâmâ“ dan “Dâsâ Paramitâ“ akan diterapkan sebagai acuan pendidikan karakter bangsa. yang sangat kasatmâtâ. pada intinya adalah adanya satunya kata dengan tindakan. sêngguh. Sesungguhnya. mengolah rasa dalam bertatakrama. Ajaran “Hastâ Karmâ Pratâmâ“ atau “Delapan Ajaran Kebenaran”. untuk saling melengkapinya. Hal ini menegaskan bahwa setiap tindakan orang Jawa memiliki konsekuensi agamis sebagai agêming aji. seperti Wulang Rèh mengajarkan. grêgêt. atau satyâ-wacânâ. Bêdhâyâ “Sang Amurwâbumi” sebagai wujud Jogèd Mataram berakar pada konsep dasar. melainkan diperlukan syarat rumasuk-nya wahyu sebagai bukti lulusnya laku. sebagai sasaran antara menuju pendidikan mengasah pikiran. kesemuanya itu harus didudukkan pada kebenaran yang sejati. dan sewenang-wenang haruslah dijauhi. adalah karakter yang harus melekat pada diri seorang pemimpin. garis kepemimpinan tidak cukup hanya oleh kelangsungan “darah” saja. agar tingkah-lakunya menjadi “dêdugâ”. dipikir mendalam sebelum mengambil keputusan. karena saat ini sering terjadinya ketidakjujuran. teratur dan berhemat. Sedangkan ajaran “Dâsâ Paramitâ“. Dalam hal menyembah kepada Allah juga sangat ditekankan untuk dijalankan. atau setidaknya bisa kita rasakan aromanya. Berbohong. kikir. tetap harus dikaitkan dengan ajaran-ajaran lama tersebut. keutamaan laku ditambahkan agar “satiti“. Ini sejalan dengan prasâpâ Sultan Agung Hanyakrakusuma dalam Sastrâ Gendhing. kelestarian turun (suksesi. “sawiji. berhati-hati. berkeyakinan benar akan keputusan itu. agar meresap ke dalam batin. bukan semata soal bibit yang baik (prestise). Sehingga jika ajaran “Sang Amurwâbumi”. bersabar. “grêgêt“ –semangat atau . dikaji secara teliti. dipertimbangkan masak-masak sebelum melangkah. misalnya. Nusa-Bangsa dan Dunia. dan “têpâ sarirâ”. “prayogâ”. Padahal sekarang ini kebohongan publik sudah jamak tanpa pelakunya merasa malu. “watârâ“. bahkan kebohongan publik. regenerasi) yang bisa menjaga nama baik leluhur. Artinya. “rêringâ”. dan bersosialisasi. Mengurangi makan-tidur adalah latihan utama untuk memperoleh kewaspadaan batin. Dalam Sêrat Wulang Putri. atau “Sepuluh Kesempurnaan Laku”. Bahwa faktor keturunan bukan hanya dipahami secara biologis atas dasar pewarisan. serta Sang Maha Pencipta. dilihat baik-buruknya. tenggang rasa.

budayawan. Seorang penari yang mampu menguasai empat baku senitari itu dengan sempurna. Karakter berkaitan dengan kekuatan moral. Orang Jawa dinilai berhasil hidupnya kalau dapat betindak êmpan-papan. Keempat unsur itu bersifat paradoksal. kekuatan karakter . “sêngguh“ –penuh percaya diri namun low profile. wêjangan. You lose health. mahasiswa serta khalayak luas. tidak mencirikan karakter khas Jogèd Mataram. jugar-gênturing tâpâ. “orâ-mingkuh“ –pantang mundur dengan tetap menjaga disiplin diri. Butir-butir pendidikan karakter yang merupakan kearifan lokal itu hendaknya dikaji dan digali dengan pendekatan ilmiah. Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat. wursitâ. ramah. dapat dikatakan secara kultural-spiritual telah mencapai tingkatan “manunggaling kawulâ-Gusti“ oleh menyatunya penguasaan lahir-batin. Para pemimpin Jawa sejak dulu memahami benar tentang arti penting pendidikan karakter ini. dosen. you lose everything”. bukan netral. dalam lukisan karyanya. you lose something. jujur dan nilai-nilai keutamaan lainnya.D. You lose character. Jadi. tanpa menjadi sombong. seorang penari bisa terkesan tinggi hati. agal-alusing râsâ. seniman terkemuka dan Guru Besar Emeritus ITB. pitutur. Peterson dan Seligman. dugâ-prayogâ. dalam Character Strength and Virtue menyatakan. suka menolong.dinamika batin tanpa menjadi kasar. wulang-wuruk. etika kerap disebut pêpali. pujangga Kraton diberi tugas khusus untuk menyusun tatatertib sosial yang mengikat semua warga. Tinggi-rendahnya peradaban dapat dilihat dari etika yang dijalankan oleh masyarakatbangsa. cendekiawan. DIPERLUKANNYA pendidikan karakter. Pirous. wulangan. dengan menempatkan diri dalam unggah-ungguhing bâsâ. unggah-ungguh. Oleh karena itu. Tampaknya ini ada kesesuaiannya dengan pepatah Jawa: “Kélangan sakèhé rájá-bráná atêgês orá kélangan ápá-ápá. budi-pêkêrti. Ternyata. pitungkas. Bagi masyarakat Jawa. wêdharan. misalnya. konsep baku Jogèd Mataram itu ada koherensinya dengan inner realism-nya Konstantin Stanilavsky yang mendasari penghayatan total seni peran. karena jika salah dalam mengekspresikan “sêngguh“. wêwalêr. tâtâ-susilâ. pituduh. Dari keempat konsep baku Jogèd Mataram ini pun dapat kita serap ajaran-ajaran yang bisa diterapkan dalam pendidikan karakter bangsa. sehingga layak dijadikan referensi bagi para ilmuwan. pranatan. tâtâ-krâmâ. Kélangan nyáwá iku têgêsé mung kélangan sêparo. berkonotasi positif. The Nightmare of Losing. dengan sisipan sesanti: “You lose wealth. karena adanya kecemasan akan hilangnya karakter bangsa yang adiluhung. you lose nothing. Kecemasan itu dengan sangat tepatnya digambarkan oleh A. Kélangan kapêrcayan iku têgêsê kélangan sakabèhê . wêwarah. ‘orang berkarakter’ adalah orang punya kualitas moral tertentu yang positif. subâ-sitâ.

dalam arti. Kebiasaan ini tumbuh dan berkembang dengan didasari oleh kesadaran. Faktor bawaan berada di luar jangkauan masyarakat untuk mempengaruhinya. dalam pembangunan karakter. rasa saling menghormati di antara kelompok berbeda. Sebuah bangsa bisa bertahan hidup dan berkembang jika bangsa tersebut memiliki kemampuan integrasi internal dan adaptasi eksternal yang diperbarui terus-menerus. mengatasi perselisihan secara damai. Dengan adanya kohesivitas. kemampuan menemukan platform bersama di tengah perbedaan. Selain itu. seperti kuatnya rasa persatuan. Jadi. karena karakter adalah kualitas pribadi seseorang yang terbentuk melalui proses belajar. dan faktor lingkungan (nurture). pembangunan karakter bangsa adalah usaha sistematik untuk mengembangkan potensi kebajikan yang membuat kohesivitas bangsa terbangun dan terjaga. fokus perhatian kita pada pembentukan lingkungan. proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah. sehingga bangsa itu berada posisi yang relatif kuat dan mampu berkontribusi dalam membangun masa depan untuk kesejahteraan. bekerjasama secara kreatif. Salah satu kriteria utama dari ‘character strength’ adalah karakter tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. kepekaan dan sikap orang yang bersangkutan. Dalam perspektif integrasi internal ini. suatu bangsa menjadikan kebhinnekaan sebagai sumber kekuatan dan kreativitas. disebut faktor bawaan (nature). dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang bersih serta efisien. yaitu masyarakat yang cerdas. perguruan tinggi punya posisi strategik. Sebaliknya. keyakinan. Dalam hal ini. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi. mendorong dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan baik. hilangnya kohesivitas menyebabkan kehancuran. bukan karena paksaan dari luar. rasa saling percaya antarkelompok. Untuk membangun karakter bangsa kita harus bergegas membangun basis kesejahteraan yang kuat. Kemampuan . bukan sumber masalah. Kemampuan adaptasi eksternal mencakup kemampaun mengantisipasi secara cerdas perubahan lingkungan. bahwa perilaku yang berkembang menjadi kebiasaan baik ini terjadi karena adanya dorongan dari dalam. Kemampuan integrasi internal mencakup kemampuan membangun dan menjaga kohesivitas. Proses pembangunan karakter dipengaruhi oleh faktor khas.dipandang sebagai unsur psikologis yang membangun kebajikan (virtues). di mana peran pendidikan sangat sentral. Kohesivitas ini dimanifestasikan dalam berbagai bentuk. mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan kelompok. dapat melipatgandakan kekuatan karena terbentuknya sinergi di antara kekuatan-kekuatan yang berbeda. berkarakter kuat. yang kohesif dalam kebhinnekaan. yang terbentuk dan terakumulasi melalui pendidikan. karakter bersifat inside-out. Dengan demikian.

Yang perlu dipikirkan adalah. bagaimana kita dapat menerjemahkan tradisi bersastra itu ke dalam karya seni pertunjukan. gambar. cantrik dan alumni ISI Yogyakarta yang menekuni disiplin ilmu seni pertunjukan ada yang berminat melestarikan tradisi susastrâ Jâwâ. Kemampuan adaptasi eksternal yang rendah akan menyebabkan suatu bangsa makin lama makin tertinggal dari bangsa lain. SEBELUM memasuki bagian akhir dari pidato ini. runtut. Diharapkan juga.adaptasi ekstenal muncul. jika bisa berlangsung kolaborasi para êmpu dan cantrik-nya bersama para alumni ISI untuk menggarap kandungan isi sêratsêrat piwulang itu tidak terbatas hanya sebagai têmbang mâcâpat yang audience-nya terbatas. bahwa ISI Yogyakarta mampu menerjemahkannya ke dalam program akademik maupun tindakan nyata di tengah masyarakat dalam rangka sumbangsihnya bagi pendidikan karakter bangsa. maupun yang modern-kontemporer dari karya tulis sastra modern yang bersumber dari cerita wayang. ijinkanlah saya mengajukan sekadar pesan dan harapan dalam bentuk nanting sarirâ. sistematis. ISI Yogyakarta sebagai Institut yang memiliki ‘penjaga budaya’ Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan dan seni. mencoba mengubah karya sastra menjadi koreografi seni pertunjukan yang eksploratif sebagai bentuk counter culture?”. Konsekuensi lanjutannya menjadi sangat indah. Rapat Senat Terbuka ISI Yogyakarta Yang Terhormat. kecuali jika kita tidak hanya berhenti dalam merekam jejak para leluhur. juga untuk “diinternalisasikan” dan “diaktualisasikan”. tetapi lebih dari itu. untuk kemudian. menegakkan standar etika yang bersifat universal. tetapi juga menata tindak. Sehingga ada pertautan tradisi bersastra dengan seni pertunjukan. meningkatkan daya saing ekonomi. ”digerakkan” menjadi acuan pendidikan karakter bangsa. Momentum hari ini tidak akan bermakna bagi pengembangan seni pertunjukan. warna. tetapi menjadi berbagai ekspresi seni pertunjukan. musik. analitis. ”Apakah para êmpu. mimpi. pembangunan karakter bangsa adalah usaha sistematik untuk mengembangkan potensi kebajikan untuk menjadikan Indonesia negara yang berdaya saing dan mampu berkontribusi bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia. seperti: kemampuan untuk maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. dengan dikemas melalui multi media mutakhir. apa yang saya sampaikan ini tidak sekadar “menginspirasi” saja. baik yang klasik dari sêrat atau babad. Dunia seni lebih cenderung pada kreativitas. saya yakin dan percaya. Sementara teknologi memiliki karakteristik logis. Indonesia sekarang menjurus ke keadaan seperti itu. . untuk kemudian dikembangkan dalam koregrafi seni pertunjukan seperti diteladankan oleh para pengembang seni pendahulu kita. dengan memberi “ruh” dan tafsir baru atas naskah-naskah lama. Dengan peran strategiknya itu. Dilihat dari perspektif adaptasi eksternal. dan sebagainya. untuk kemudian.

agar selalu diberi keteguhan sikap batin. Lalu. Dan karena itulah. Saya juga menyampaikan rasa terima kasih atas kesaksian dan kesabaran Bapak/Ibu Tamu Undangan yang terhormat dalam mengikuti pidato ini. Kebudayaan adalah simbol dari suatu daerah. A. Lagi-lagi kita tak dapat berkutik. sebuah karya seni tidak melulu harus terpisah dari teknologi.M. Terlebih oleh generasi muda seperti kita ini. kita pun tak dapat berbuat banyak. Wasana kata. Kehadiran Bapak/Ibu itu juga berarti doa yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami sekeluarga. Bapak Prof Dr. khususnya di bidang Seni Pertunjukan. sehingga gelar yang tersandang ini mampu saya gunakan bagi sebesarbesar kesejahteraan rakyat. kebudayaan harus tetap kita jaga dan lestarikan. Ibu Prof. dan Co-Promotor. Dengan budaya kita bisa memberikan sebuah identitas tentang daerah kita. Dan kita sebagai masyarakat melayu yang terkenal dengan sikap ramah tamah dan sopan santun. Bukan hal baru lagi bahwa telah sangat banyak budaya-budaya yang kita miliki perlahan-lahan diakui secara sepihak oleh negara tetangga. serta unsurunsur Institut lainnya. Y. ijinkanlah saya mengungkapkan rasa terima kasih yang dalam dan penghargaan yang tinggi. contohnya dengan tetap menggunakan bahasa daerah kepada teman-teman. Sekretaris dan Anggota Senat Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Dr. Keduanya bahkan bisa saling melengkapi dan membentuk sebuah harmoni yang indah. Bahkan ketika pulau akan direbut ke negara tetangga. masing-masing Kepada Yang Terhormat Rektor serta Ketua. Ada beberapa hal konkrit yang dapat kita lakukan untuk mengantisipasi pencurian kebudayaan daerah Indonesia umumnya oleh negara tetangga. Bagaimana cara melestarikan budaya daerah kita? Banyak hal yang dapat kita lakukan. Hermien Kusmayati. cara lainnya adalah dengan mengetahui seluk beluk tentang kebudayaan daerah yang kita miliki. Untuk itu.Meskipun begitu. Sumandiyo Hadi. Mengakhiri pidato ini. yang telah memberikan persetujuan Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa Bidang Seni Pertunjukan kepada saya. moralitas dan kearifan dalam mengamalkan ilmu di tengahtengah masyarakat-bangsa dan masyarakat antarbangsa. Ungkapan yang sama juga saya sampaikan kepada Promotor. semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan melimpahkan berkah serta rahmat-Nya. ternyata hanya bisa mengelus dada. sehingga memungkinkan saya berdiri di depan Rapat Senat Terbuka Yang Terhormat ini. diantaranya: . saya mohon doa restu.

Anak-anak kita bahkan terkadang tidak lagi mengenal aneka ragam budayanya. lagu daerah.makanan khas. Salah satu kebijakan pemerintah yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan daerah di setiap even-even akbar nasional. Mengenali dan bangga akan budaya daerah Penyakit masyarakat kita terkadang tidak bangga dengan produk dan budaya sendiri. Melestarikan suatu kebudayaan pun dengan cara mendalami atau paling tidak mengetahui tentang budaya itu sendiri. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatian pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah. tentu mereka lebih memilih dunia playstation ketimbang mainan tradisional. Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional. Budaya daerah banyak yang hilang dikikis zaman oleh sebab kita sendiri yang tidak mau mempelajari dan melestarikannya.salah satunya dengan mengembangkan seni budaya tersebut disertai dengan keadaaan yang kita alami sekarang ini. saya berharap. Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal pendidikan. Dengan beberapa tips yang saya berikan tersebut di atas. Walaupun Indonesia memiliki berbagai macam . Semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda. Sebagai warga negara Indonesia. 2. kita semua saling berpegangan tangan untuk tetap menjaga budaya daerah yang kita miliki.dan sebagainya. Karena budaya yang kita punya dapat mencerminkan kepribadian bangsa kita yaitu Indonesia. Misalnya taritarian. Pelestarian adalah suatu proses atau tehnik yang didasarkan pada kebutuhan individu itu sendiri. bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan dari leluhurnya. Bukan berasal dari negara tetangga. Anak-anak kecil zaman sekarang saat ditanya soal mainan.kita wajib melestarikan budaya-budaya negara kita sendiri agar tidak luntur atau hilang.baju daerah. Kita lebih bangga dengan budaya-budaya impor yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang Timur. Mempertahankan nilai budaya. Yang bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai budayanya. Sebagai contoh. Oleh karena itu harus dikembangkan pula.1. Alhasil kita baru bersuara ketika negara lain sukses dan terkenal dengan budaya yang mereka curi secara diam-diam dari kita. dan sebagainya. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan daerah yang kita miliki. Contohnya seperti tarian. Kelestarian tidak dapat berdiri sendiri. Kebijakan pemerintah Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah di tanah air.

(4).karena pelestarian bisa terjadi karena kita telah terbiasa dengan kebudayaan tersebut. Paling tidak kita mengetahui tentang budaya jaman dahulu didaerah kita sendiri. melaksanakan penelitian. kita lindungi dan lestarikan agar dapat memperkokoh ketahanan budaya bangsa. perlindungan. Faktor Eksternal yang mempengaruhi lunturnya kebudayaan indonesia adalah generasi muda lebih bangga terhadap budaya asing yang lebih mengarah pada kebebasan.Setelah itu kita wajib memperkenalkan kepada orang lain atau yang belum tahu tentang kebudayaan tersebut syukur-syukur sampai ke negara lain. Lembaga Swadaya Masyarakat. Hal ini terkait dengan citra.suku dan adat tetapi tetap saja itu semua merupakan satu bagian dari kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. 2. kelestarian dan Kekokohan akan budaya bangsa kita. kajian laporan. memelihara asset budaya agar tidak punah dan rusak disebabkan oleh manusia dan alam. pengembangan. karena budaya tumbuh dan kembang pada ranah masyarakat pendukungnya. Kebudayaan Lokal Indonesia adalah semua budaya yang terdapat di Indonesia yaitu segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang bernilai di seluruh kepulauan indonesia. maka akan muncul suatu keterjaminan. Ketika pengelolaan kekayaan budaya dikelola dengan baik. Upaya melestarikan budaya antara lain : 1. (2). 3. Membiasakan hal-hal atau kegiatan yang dapat melestarikan budaya seperti memakai batik atau bahkan belajar membuat batik. bagi pemerintah pusat. masyarakat sendiri. (3). Disamping itu. harkat. dan martabat bangsa. baik yang ada sejak lama maupun ciptaan baru yang berjiwa nasional. Kegiatan melaksanakan pengelolaan kebudayaan meliputi : (1). pendalaman teori kebudayaan dan mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung dalam penelitian. oleh karena itu Pemerintah Daerah dituntut untuk bergerak lebih aktif melakukan pengelolaan kekayaan budaya. sehingga generasi muda tidak peduli dengan eksistensi budayanya sendiri. melaksanakan kegiatan pembuatan laporan berupa narasi yang dilengkapi dengan foto dan audio visual. Pelestarian adalah Upaya untuk menjaga keaslian budaya agar tidak terkikis oleh budaya asing. Pengelolaan kekayaan budaya sebetulnya merupakan cara kita bagaimana budaya itu bisa kita pahami. sebagai contoh Generasi muda mungkin tidak mengetahui lagu-lagu dan tarian . Peranan budaya lokal ini mempunyai peranan yang penting dalam memperkokoh ketahanan budaya bangsa. pendokumentasian. bimbingan dan penyuluhan. melaksanakan kegiatan pengemasan produk. pemanfaatan. kegiatan festival dan penyebaran informasi. dan elemen lainnya haruslah menyokong atas keberlangsungan dalam pengelolaan kekayaan budaya kedepan. Kemudian mendalami kebudayaan itu. Sedangkan Faktor Internal adalah Masyarakat tidak mengajarkan pada generasi mereka. merawat.

Menanamkan rasa bangga terhadap budaya kita sendiri.Memupuk semangat generasi muda agar bangga dengan adat budaya nusantara.Belajar mendalami budaya kita dan memperkenalkanya pada saat hari-hari penting atau upacara kedaerahan. jika suatu bangsa kehilangan budayanya maka sama saja kehilangan identitas.adidas.chanel.dengan harga yang lebih murah juga contoh nya sepatu dan tas bisa di beli di tajur (bogor) walaupun tidak sama tp barang-barang nya juga tidak kalah dengan produk-produk buatan luar negeri. pada saat ini. UPAYA PELESTARIAN DAN MENJAGA KEBUDAYAAN ASLI INDONESIA harusnya masyarakat semua sadar akan produk-produk buatan dalam negeri.marc jacob dll sepatu=nike.karena produk dalam negeri selain lebih murah juga tidak kalah kualitasnya dengan produkproduk luar negeri. 4. Hubungan eksistansi budaya dengan eksistansi lokal adalah berbanding lurus.itu sangat membantu upaya pelestarian hasil-hasil kebudayaan asli indonesia selain itu juga bisa membantu kestabilan ekonomi di indonesia. kepribadian dan kehormatannya. 2.Selalu mengasah ketrampilan agar nantinya bisa dipentaskan dalam acara kenegaraan sehingga budaya kita dikenal dimata Nasional dan Internasional.dari daerah mereka sendiri tetapi mereka bisa dengan mudahnya menarikan dance modern atau balet dan menyanyikan lagu-lagu anak sekarang (pop. Upaya melestarikan budaya antara lain : 1. 5.converse dll itu adalah sebagisn kecil produk impor yang bebas keluar masuk di indonesia.Dengan kita mempelajari kebudayaan dari daerah kita sendiri. Artinya jika budaya-budaya lokal di suatu negara memiliki kekuatan dan . 2.hal itu sangat membuat kebudayaan asli indonesia perlahan akan hilang karena semua orang lebih senang menggunakan prodik-produk impor daripada produkproduk buatan dalam negeri. eksistensi suatu budaya nasional sangatlah dipengaruhi oleh eksistensi budaya lokal.contoh nya seperti merk-merk asli tas= luis vilton. 3. Upaya untuk melestarikan dan mengeksistensikan budaya antara lain: 1. dan sebagian barang tersebut telah di gunakan oleh sebagian besar masyarakat di indonesia. Mengenalkan dan mempelajari budaya dari kecil atau dini. Mencintai keudayaan 4. Ada pepatah yang mengatakan. Menerapkan dalam kehidupan nyata.rock).Selain belajar budaya daerah sendiri kita juga bisa mempelajari budaya dari daerah lain. Untuk itu diperlukan upaya yang konkrit untuk mengurangi dampak dari globalisasi terhadap nilai-nilai budaya nasional yang kita miliki dan melestarikan budaya Indonesia.banyak sekali pengaruh budaya barat yang masuk di negara kita Indonesia.Membuat suatu wadah atau lembaga untuk menyalurkan bakat dan kreatifitas generasi muda dalam hal kebudayaan.contoh : memakai batik.contoh nya adalah produk-produk baju. 3. Oleh karena itu. 6.aksesoris dan alat-alat elektronik.

Hal ini dapat dilakukan dengan memilih duta wisata masing-masing daerah yang bertujuan untuk penciptaan generasi muda yang berperan aktif dalam mempromosikan kekayaan seni. Langkah paling mudah adalah mengenakannya dan kalau bisa terus memperkenalkannya kepada dunia. begitu pula sebaliknya. Contohnya lagu "Rasa Sayange" yang telah direbut oleh Malaysia. Indonesia adalah Negara Agraris dan beriklim tropis dengan keanekaragaman hayati yang berlimpah. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan. Musik daerah yang indah. Ibu pertiwi yang mampu menelurkan berbagai jenis bahan makanan yang tidak dimiliki Negara Lain juga merupakan asset yang tak ternilai harganya. Pelestarian budaya itu sebenarnya bukanlah hal yang sulit jika di dalam jiwa tiap individunya tersemat semangat untuk menjaga apa yang sudah kita punya. Indonesia sebagai Negara yang berbudaya dengan kreatifitas seni yang tinggi telah mampu meninggalkan warisan seni dalam bentuk sandang dengan motif dan corak yang beraneka ragam. menyanyi dan lain-lain.sendiri. 4. Tempat tinggal yang unik dari berbagai pulau sudah barang seharusnya dikenalkan pada dunia juga. Budaya daerah banyak yang hilang karena kita tidak mau melestarikan budaya kita. Dan masih banyak lagi . Upaya melestarikan budaya Indonesia dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Kemudian papan. Kita harus bangga terhadap produk dalam negeri. Kita harus mengenal budaya-budaya yang ada di Indonesia mulai dari kecil atau bangku sekolah seperti menari. Mulai dari kebutuhan primer. Langkah pertama untuk menyelamatkan budaya bangsa Indonesia yang diakui atau tidak telah terwesternisasi dapat dimulai dari hal-hal kecil yang apabila dikaji dan dijalankan terusmenerus dan konstan akan berdampak besar.eksistensi yang tinggi maka kekuatan budaya nasional di negara tersebut juga akan tinggi. dan papan. bahasa yang beraneka ragam tanpa mengurangi rasa persatuan karena adanya bahasa Indonesia. salah satunya adalah batik yang setiap daerahnya mempunyai motif sendiri. Menurut opini saya Kebudayaan itu adalah sebuah warisan yang harus dilestarikan keberadaannya karena budaya merupaka IDENTITAS suatu bangsa dimana bangsa tersebut bisa dikenali oleh bangsa lain. Indonesia adalah Negara dengan banyak pulau dan budaya. Menyisipkan nilai-nilai budaya dalam kurikulum pendidikan. pangan. yaitu sandang. 2. Berbagai jenis makanan dari sabang sampai merauke yang rasanyapun tidak bisa diragukan lagi sudah seharusnya mulai kita perkenalkan pada dunia. 3. budaya dan pariwisata lokal. Mengenali dan bangga akan budaya Indonesia. alat music dengan kekhasan di tiap daerah masing – masing. Untuk melestarikan budaya ini. Mematenkan hak cipta budaya Indonesia. Karya seni yang begitu berlimpah. Jangan sampai kita terus terjajah dengan makanan luar negeri yang sebenarnya tidak cocok untuk perut orang Indonesia yang mempunyai iklim tropis ini. ada baiknya kita sebagai generasi muda harus kreatif dalam mempertahankannya. Kita sering kali merasa menghargai suatu budaya setelah kita kehilangan. Kemudian ditinjau dari sisi pagan.

dan sebagainya. maka seharusnya kita bisa belajar dan berlatih dalam menguasai Tarian tersebut. 2. Pelestarian Budaya dapat dilakukan dengan cara terjun langsung ke dalam sebuah pengalaman kultural. Misalnya : Tari-tarian. Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional. Tunjukanlah bahwa kita ini merupakan Generasi Muda yang peduli dan cinta akan kebudayaan sendiri. . Sungguh sebenarnya Indonesia adalah Negara unik yang mempunyai nilai budaya yang sangat tinggi dan beraneka ragam. Oleh sebab itu. Semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada Generasi Muda. Dengan demikian para Generasi Muda dapat mengetahui tentang kebudayaanya sendiri. Bahasa yg dipakai tidak bahasa ibu yg pernah berkembang di sana. Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal pendidikan. Pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatian pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah. 2. Dengan hal ini setidaknya kita dapat mengantisipasi pencurian kebudayaan yang dilakukan oleh negara-negara lain. 1. Contohnya : Jika kebudayaan tersebut berbentuk Tarian. Budaya yg berkembang juga tdk budaya setempat. bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan dari leluhurnya. Peletarian Budaya dapat dilakukan dengan dengan cara membuat suatu pusat informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsionalisasi kedalam banyak bentuk. kita juga dapat melestarikan kebudayaan dengan cara mengenal budaya itu sendiri.budaya yang lain adalah asset warisan leluhur yang harus dilestarikan dan dikembangkan oleh kita GENERASI MUDA. Dan begitu pula dengan Budayabudaya kita yang lainnya. Bukan berasal dari negara tetangga. Budaya merupakan suatu kebiasaan yang mengandung nilai – nilai penting dan fundamental yang diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu kebijakan pemerintah yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan daerah disetiap event-event akbar nasional. lagu daerah. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan yang kita miliki. Kebiasaan setempat ditinggalkan. Pertanyaannya adakah bangsa yg tak punya jati diri? Bagaimana ciri-cirinya suatu bangsa tg tak punya jati diri? Bangsa yg tak punya jati diri atau identitas ciri-cirinya adalah: 1. kita sebagai Generasi Muda Indonesia wajib untuk menjaga dan melestraikan kebudayaan kita ini. 3. Bangsa yg tak punya identitas adalah bangsa yg tak punya jati diri. Tujuannya adalah untuk edukasi ataupun untuk kepentingan pengembangan kebudayaan itu sendiri dan potensi kepariwisataan dalam suatu daerah. Dengan begitu Budaya kita akan tetap terjaga kelestariannya. maka Warisan tersebut harus dijaga agar tidak luntur atau hilang sehingga dapat dipelajari dan dilestarikan oleh generasi berikutnya. Peran Pemerintah juga cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah ditanah air. Selain dilestarikan dalam dua bentuk diatas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->