P. 1
Bahan Konstruksi Teknik Kimia

Bahan Konstruksi Teknik Kimia

5.0

|Views: 823|Likes:
Published by Muhammad Fiji
1. Uraian tentang jenis logam, polimer, keramik, komposit, grafit, dan kayu. Sifat fisik dan kimianya serta kegunaannya dalam bahan konstruksi.
2. Besi dan paduannya mencakup komposisi diagram fasa besi karbon, perhitungan distribusi fasa menggunakan hokum Lever, sifat kimiawi, sifat fisik, dan mekanik, ketahanan terhadap panas, konduktivitas panas dan listrik.
3. Perlakuan panas terhadap besi dan perlakuan dingin serta perlakuannya terhadap paduan dan efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan.
1. Uraian tentang jenis logam, polimer, keramik, komposit, grafit, dan kayu. Sifat fisik dan kimianya serta kegunaannya dalam bahan konstruksi.
2. Besi dan paduannya mencakup komposisi diagram fasa besi karbon, perhitungan distribusi fasa menggunakan hokum Lever, sifat kimiawi, sifat fisik, dan mekanik, ketahanan terhadap panas, konduktivitas panas dan listrik.
3. Perlakuan panas terhadap besi dan perlakuan dingin serta perlakuannya terhadap paduan dan efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan.

More info:

Published by: Muhammad Fiji on Oct 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2014

pdf

text

original

BAHAN KONSTRUKSI TEKNIK KIMIA

DISUSUN OLEH

ADE YUSRA ATIRA PIRANTI DEWI KARLINA DHITA TIARA S DWITA LESTARI ENDANG SUPRIYATNA FLORENSIUS SIAGIAN JACKSON M REDHO O MAHADHIKA K MANAT HUTAJULU METTA MONICA MONICA ANGGRAENI MUHAMMAD FIJI M HARISUL ISLAM NORA FISTI NYIMAS ULFATRI RISTIAN JANUARI SATRIA PAMUNGKAS SEPTRI RIASTUTI SITI DINDA A TIARA OKTAMARISKA VEGA FRESAMITIA VISHE DEVAH YURI PRASETYO

(03111403001) (03111403023) (03111403029) (03111403033) (03111403037) (03111403047) (03111403034) (03111403049) (03111403039) (03111403013) (03111403051) (03111403009) (03111403007) (03111403025) (03111403045) (03111403017) (03111403021) (03111403015) (03111403011) (03111403043) (03111403031) (03111403035) (03111403041) (03111403005) (03111403027)

FAKULTAS TEKNIK TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

TUGAS BKTK Teknik Kimia 2011 Kampus Palembang - Kelas A Materi yang terdapat dalam laporan ini: 1. Uraian tentang jenis logam, polimer, keramik, komposit, grafik, dan kayu. Sifat fisik dan kimianya serta kegunaannya dalam bahan konstruksi. 2. Besi dan paduannya mencakup komposisi diagram fasa besi karbon, perhitungan distribusi fasa menggunakan hokum Lever, sifat kimiawi, sifat fisik, dan mekanik, ketahanan terhadap panas, konduktivitas panas dan listrik. 3. Perlakuan panas terhadap besi dan perlakuan dingin serta perlakuannya terhadap paduan dan efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan.

Logam
1. Alumunium a. Kegunaan Aluminium mengalami korosi dengan membentuk lapisan oksida yang tipis dimana sangat keras dan pada lapisan ini dapat mencegah karat pada Aluminium yang berada di bawahnya. Dengan demikian logam Aluminium adalah logam yang mempunyai daya tahan korosi yang lebih baik dibandingkan dengan besi dan baja lainnya. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik

Sifat Kimia Aluminium mempunyai nomor atom 13, dan massa atom relatif 26,98. Aluminium juga bersifat amfoter. Ini dapat ditunjukkan pada reaksi sebagai berikut: a. b. Al2O3 + 3H2SO4 Al2(SO4)3 + Al2O3 + 6NaOH 3H2O 6H2O

2Na3AlO2 +

Aluminium merupakan unsur yang sangat reaktif sehingga mudah teroksidasi. Karena sifat kereaktifannya maka Aluminium tidak ditemukan di alam dalam bentuk unsur melainkan dalam bentuk senyawa baik dalam bentuk oksida Alumina maupun Silikon.

2.

Litium

a. Kegunaan Litium banyak dipakai untuk baterai, keramik, gelas, lubrican, peningkat kekerasan paduan logam, farmasi, hidrogenasi, cairan pentransfer panas, propelant roket, sintesis vitamin A, pendingin reaktor nuklir, produksi tritium, deoksidator untuk logam tembaga dan paduannya. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik                           Koefisien ekspansi termal 56exp-6 Koduktifitas elektrik 0.106 x 10exp6/omh.cm Konduktifitas termal 0.847 W/cmK Densitas 0.534 g/cc Modulus elastisitas bulk 11/GPA Rigiditas 4.24/GPa Youngs 4.91/GPA Entalpi atomisasi 160.7 KJ/mol Entalpi Fusi 3 KJ/mol Entalpi vaporasi 134.7 KJ/mol Flammabilitas : padatan mudah terbakar Kekerasan 0.6 Mohs Panas penguapan 145.92 KJ/mol Volume molar 13 cm3/mol Kalor jenis 3.6 J/gK tekanan uap 1.6 epx-8 Pa

Sifat Kimia Nomor atom: 3 Nomor Massa : 6.941 g/mol Keelektronegatifias (Pauli): 1 Densitas: 0.53 g/cm3 pada 20 C Titik leleh : 180.5 C Titik Didih : 1342 C Jari-jari Van Der Walls : 0.145 nm Jari-jari ion : 0.06 nm Isotop : Li6 dan Li7 Konfigurasi elektron: 1s2 2s1 Energi ionisasi: 520.1 kJ/mol Potensial standar : -3.02 V

3.

Barium Logam ini digunakan sebagai “getter― dalam tabung vakum. Senyawa-senyawa yang

a. Kegunaan

penting adalah peroksida, klorida, sulfat, nitrat dan klorat. Lithopone, pigmen yang mengandung barium sulfat dan seng sulfida memiliki sifat penutup yang kuat dan tidak menjadi gelap atau hitam oleh sulfida. Barium sulfat digunakan dalam cat, diagnostik sinar x-ray dan dalam pembuatan kaca. Barite sering digunakan sebagai agen pemberat dalam fluida pengebor sumur minyak dan digunakan dalam pembuatan karet. Barium karbonat digunakan dalam racun tikus. Sedangkan nitrat dan klorat memberikan warna pada pertunjukan kembang api. Semua senyawa barium yang larut dalam air atau asam sangat berbahaya. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Fase Massa jenis (mendekati suhu kamar) Massa jenis cairan pada t.l. Titik lebur Titik didih Kalor peleburan Kalor penguapan Kapasitas kalor Sifat Kimia Bereaksi Sifat oksida Asam Kestabilan Peroksida Ikatan Warna Nyala Kestabilan Karbonat Makin stabil sesuai dengan arah panah Ion Hijau (suhu pemanasan antara 550o - 1400oC) Dapat bereaksi dengan air, klor, hidrogen,udara, dan asam Basa solid 3.51 g·cm−3 3.338 g·cm−3 1000 K1341 °F 727 °C, , 3447 °F 1897 °C, 2170 K, 7.12 kJ·mol−1 140.3 kJ·mol−1 28.07 J·mol−1·K−1

4.

Kalium

a. Kegunaan Permintaan terbanyak untuk kalium adalah untuk pupuk. Kalium merupakan bahan penting untuk pertumbuhan tanaman dan ditemukan di banyak tanah. Campuran logam natrium dan kalium (NaK) digunakan sebagai media perpindahan panas. Banyak garam-garam kalium seperti hidroksida, nitrat,

karbonat, klorida, klorat, bromida, ioda, sianida, sulfat, kromat dan dikromat sangat penting untuk banyak kegunaan. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Fase Massa jenis (mendekati suhu kamar) Massa jenis cairan pada t.l. Titik lebur Titik didih Titik tripel Kalor peleburan Kalor penguapan Kapasitas kalor Sifat Kimia Unsur ini sangat reaktif dan yang paling elektropositif di antara logam-logam. Kecuali litium, kalium juga logam yang sangat ringan. Kalium sangat lunak, dan mudah dipotong dengan pisau dan tampak keperak-perakan pada permukaan barunya. Elemen ini cepat sekali teroksida dengan udara dan harus disimpan dalam kerosene (minyak tanah). Seperti halnya dengan logam-logam lain dalam grup alkali, kalium mendekomposisi air dan menghasilkan gas hidrogen. Unsur ini juga mudah terbakar pada air. Kalium dan garam-garamnya memberikan warna ungu pada lidah api. solid 0.862 g·cm−3 0.828 g·cm−3 336.53 K146.08 °F 63.38 °C, , 1398 °F 759 °C, 1032 K, 336.35 K (63°C), kPa 2.33 kJ·mol−1 76.9 kJ·mol−1 29.6 J·mol−1·K−1

5.

Kalsium

a. Kegunaan Logam in digunakan sebagai agen pereduksi dalam mempersiapkan logam-logam lain semacam torium, uranium, zirkonium, dsb. Ia juga digunakan sebagai bahan reaksi deoksida dan desulfurizer atau decarburizer untuk berbagai macam campuran logam besi dan non-besi. Elemen ini juga digunakan sebagai agen pencampur logam aluminium, berilium, tembaga, timbal, dan campuran logam magnesium. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Fase Massa jenis (mendekati suhu kamar) Massa jenis cairan pada t.l. solid 1,55 g·cm−3 1,378 g·cm−3

Titik lebur Titik didih Kalor peleburan Kalor penguapan Kapasitas kalor Sifat Kimia

1115 K1548 °F 842 °C, , 2703 °F 1484 °C, 1757 K, 8,54 kJ·mol−1 154,7 kJ·mol−1 25,929 J·mol−1·K−1

Kalsium memiliki nomor atom 20 dan merupakan unsur kelima dan logam ketiga yang paling melimpah di kerak bumi. Logam ini bersifat trimorfik, lebih keras dibanding natrium tetapi lebih lunak dari aluminium. Kalsium dianggap kurang reaktif dibandingkan logam alkali tanah lainnya. Pada lingkup rumah tangga, ion kalsium yang berasal dari pipa biasanya turut larut dalam air minum.

6.

Stronsium

a. Kegunaan Kegunaan terbesar strontium pada saat ini adalah dalam produksi gelas kaca untuk tabung TV bewarna. Strontium juga digunakan dalam memproduksi magnet ferrite dan dalam penyulingan seng. Strontium titanate merupakan bahan menarik untuk aplikasi optik karena memiliki indeks pantul yang tinggi dan dispersi optik yang lebih besar daripada berlian. Senyawa tidak ditemukan secara alami di alam dan telah digunakan sebagai batu permata, tetapi sangat lunak. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Fase Massa jenis (mendekati suhu kamar) Massa jenis cairan pada t.l. Titik lebur Titik didih Kalor peleburan Kalor penguapan Kapasitas kalor Sifat Kimia Strontium lebih lunak dibanding kalsium dan terdekomposisi dalam air secara cepat. Ia tidak menyerap nitrogen dibawah suhu 380 derajat Celcius. Elemen ini harus direndam dalam minyak tanah (kerosene) untuk menghindari oksidasi. Logam strontium yang baru terbelah memiliki warna keperakperakan, tapi dapat dengan cepat menjadi kuning jika teroksidasi. Logam ini jika terbelah secara halus dapat terbakar di udara secara spontan. Garam-garam strontium memberikan warna yang indah pada solid 2.64 g·cm−3 2.375 g·cm−3 1050 K1431 °F 777 °C, , 2520 °F 1382 °C, 1655 K, 7.43 kJ·mol−1 136.9 kJ·mol−1 26.4 J·mol−1·K−1

lidah api dan digunakan di pertunjukan kembang api dan produksi flares. Strontium alami merupakan campuran dari 4 isotop yang stabil.

7.

Tembaga

a. Kegunaan Tembaga dapat digunakan sebagai bahan untuk kabel listrik dan kumparan dinamo.Tembaga juga bisa dipadukan, paduan tembaga 70% dengan seng 30% disebut kuningan, sedangkan paduan tembaga 80% dengan timah putih 20% disebut perunggu. Perunggu yang mengandung sejumlah fosfor sering digunakan dalam industri arloji dan galvanometer. Kuningan berwarna seperti emas sehingga banyak digunakan sebagai perhiasan atau ornamen-ornamen. Sedangkan perunggu banyak dijadikan sebagai perhiasan dan digunakan pada seni patung. Tembaga juga digunakan sebagai bahan penahan untuk bangunan dan beberapa bagian dari kapal. Dan, serbuk tembaga digunakan sebagai katalisator untuk mengoksidasi metanol menjadi metanal.

b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Tembaga merupakan logam yang berwarna kuning seperti emas kuning seperti pada gambar dan keras bila tidak murni. Mudah ditempa (liat) dan bersifat mulur sehingga mudah dibentuk menjadi pipa, lembaran tipis dan kawat. Konduktor panas dan listrik yang baik, kedua setelah perak. Sifat Kimia Tembaga merupakan unsur yang relatif tidak reaktif sehingga tahan terhadap korosi. Pada udara yang lembab permukaan tembaga ditutupi oleh suatu lapisan yang berwarna hijau yang menarik dari tembaga karbonat basa, Cu(OH)2CO3. Pada kondisi yang istimewa yakni pada suhu sekitar 300 °C tembaga dapat bereaksi dengan oksigen membentuk CuO yang berwarna hitam. Sedangkan pada suhu yang lebih tinggi, sekitar 1000 ºC, akan terbentuk tembaga(I) oksida (Cu2O) yang berwarna merah. Tembaga tidak diserang oleh air atau uap air dan asam-asam nooksidator encer seperti HCl encer dan H2SO4 encer. Tetapi asam klorida pekat dan mendidih menyerang logam tembaga dan membebaskan gas hidrogen. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya ion kompleks CuCl2¯(aq) yang mendorong reaksi kesetimbangan bergeser ke arah produk. Asam sulfat pekatpun dapat menyerang tembaga, Asam nitrat encer dan pekat dapat menyerang tembaga, Tembaga tidak bereaksi dengan alkali, tetapi larut dalam amonia oleh adanya udara membentuk larutan yang berwarna biru dari kompleks Cu(NH3)4+. Tembaga panas dapat bereaksi dengan uap belerang dan halogen. Bereaksi dengan belerang membentuk tembaga(I) sulfida dan tembaga(II) sulfida dan untuk reaksi dengan halogen membentuk tembaga(I) klorida, khusus klor yang menghasilkan tembaga(II) klorida.

8.

Emas

a. Kegunaan Emas digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara dan juga digunakan sebagai perhiasan, dan elektronik. Penggunaan emas dalam bidang moneter dan keuangan berdasarkan nilai moneter absolut dari emas itu sendiri terhadap berbagai mata uang di seluruh dunia, meskipun secara resmi di bursa komoditas dunia, harga emas dicantumkan dalam mata uang dolar Amerika. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Fase Massa jenis Massa jenis Titik lebur Titik didih Kalor peleburan Kalor penguapan : padat : (sekitar suhu kamar)19.3 g/cm³ : cair pada titik lebur 17.31 g/cm³ : 1337.33 K (1064.18 °C, 1947.52 °F) : 3129 K (2856 °C, 5173 °F) : 12.55 kJ/mol : 324 kJ/mol

Kapasitas kalor : (25 °C) 25.418 J/(mol·K) Sifat Kimia Emas murni sangat mudah larut dalam KCN, NaCN, dan Hg (air raksa). Emas merupakan unsur siderophile (suka akan besi), dan sedikit chalcophile (suka akan belerang). Karena sifatnya ini maka emas banyak berikatan dengan mineral-mineral besi atau stabil pada penyangga besi (magnetit/hematit)

9.

Mangan

a. Kegunaan Prospek market mangan sangat bergantung pada industri baja dunia. Saat ini 90 persen produksi mangan masih dikonsumsi industri baja dan untuk keperluan ini biasanya digunakan campuran besi mangan, yaitu feromangan. Feromangan diproduksi dengan mereduksi campuran besi dan oksida mangan dengan karbon. Bijih mangan yang paling utama adalah pirolisit, MnO2. Mangan merupakan salah satu produk pertambangan dengan kegunaan luar biasa. Komoditi yang termasuk dalam kelompok dua belas mineral di kulit bumi menjadi bahan baku yang tidak tergantikan di industri baja dunia. Ferro Mangan dan Silico Mangan merupakan dua bentuk mangan yang banyak digunakan industri baja. Mangan juga digunakan untuk produksi baterai kering, keramik, gelas dan kimia.

Mangan sangat penting untuk produksi besi dan baja. Mangan adalah komponen kunci dari biaya rendah formulasi baja stainless dan digunakan secara luas tertentu. Mangan digunakan dalam paduan baja untuk meningkatkan karakteristik yang menguntungkan seperti kekuatan, kekerasan dan ketahanan.. Mangan digunakan untuk membuat agar kaca tdk berwarna dan membuat kaca berwarna ungu. Mangan dioksida juga digunakan sebagai katalis. Selain itu Mangan digunakan dalam industri elektronik, di mana mangan dioksida, baik alam atau sintetis, yang digunakan untuk menghasilkan senyawa mangan yang memiliki tahanan listrik yang tinggi; di antara aplikasi lain, ini digunakan sebagai komponen dalam setiap pesawat televisi. Mangan merupakan salah satu mineral yang digunakan oleh beberapa orang untuk membantu mencegah keropos tulang dan mengurangi gejala yang mengganggu terkait dengan sindrom pramenstruasi (PMS). Methylcyclopentadienyl mangan tricarbonyl digunakan sebagai aditif dalam bensin bebas timbel bensin untuk meningkatkan oktan dan mengurangi ketukan mesin. Mangan dalam senyawa organologam yang tidak biasa ini adalah dalam bilangan oksidasi 1. Mangan (IV) oksida (mangan dioksida, MnO 2) digunakan sebagai reagen dalam kimia organik untuk oksidasi dari benzilik alkohol (yaitu bersebelahan dengan sebuah cincin aromatik). Mangan dioksida telah digunakan sejak jaman dahulu untuk menetralkan oksidatif kehijauan semburat di kaca disebabkan oleh jumlah jejak kontaminasi besi. MnO 2 juga digunakan dalam pembuatan oksigen dan klorin, dan dalam pengeringan cat hitam. Dalam beberapa persiapan itu adalah cokelat pigmen yang dapat digunakan untuk membuat cat dan merupakan konstituen alam Umber. Mangan (IV) oksida digunakan dalam jenis asli sel kering baterai sebagai akseptor elektron dari seng, dan merupakan bahan kehitaman yang ditemukan saat membuka seng karbon-jenis sel senter. Mangan dioksida yang direduksi ke mangan oksida-hidroksida MnO (OH) selama pemakaian, mencegah pembentukan hidrogen pada anoda baterai. Mangan juga penting dalam fotosintesis oksigen evolusi dalam kloroplas pada tumbuhan. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Mangan adalah kimia logam aktif, abu-abu merah muda yang di tunjukkan pada symbol Mn dan nomor atom 25. Ini adalah elemen pertama di Grup 7 dari tabel periodic. Mangan merupakan unsur

yang dalam keadaan normal memiliki bentuk padat. Massa jenis mangan pada suhu kamar yaitu sekitar 7,21 g/cm3, sedangkan massa jenis cair pada titik lebur sekitar 5,95 g/cm3. Titik lebur mangan sekitar 1519oC, sedangkan titik didih mangan ada pada suhu 2061oC. Kapasitas kalor pada suhu ruang adalah sekitar 26 , 32 J/mol.K. Sifat Kimia  Reaksi dengan air\

Mangan bereaksi dengan air dapat berubah menjadi basa secara perlahan dan gas hidrogen akan dibebaskan sesuai reaksi: Mn(s) + 2H2O → Mn(OH)2 +H2  Reaksi dengan udara

Logam mangan terbakar di udara sesuai dengan reaksi: 3Mn(s) + 2O2 → Mn3O4(s) 3Mn(s) + N2 → Mn3N2(s)  Reaksi dengan halogen

Mangan bereaksi dengan halogen membentuk mangan (II) halida, reaksi: Mn(s) +Cl2 → MnCl2 Mn(s) + Br2 → MnBr2 Mn(s) + I2 → MnI2 Mn(s) + F2 → MnF2 Selain bereaksi dengan flourin membentuk mangan (II) flourida, juga menghasilkan mangan (III) flourida sesuai reaksi: 2Mn(s) + 3F2 → 2MnF3(s)  Reaksi dengan asam

Logam mangan bereaksi dengan asam-asam encer secara cepat menghasilkan gas hidrogen sesuai reaksi: Mn(s) + H2SO4 → Mn2+(aq) + SO42-(aq) + H2(g)

10.

Besi

a. Kegunaan Besi merupakan logam paling biasa digunakan di antara semua logam, yaitu mengandung 95% dari semua logam yang dihasilkan di seluruh dunia. Besi amat diperlukan, terutama dalam penggunaan seperti: Rel kereta, Perabotan, Alat-alat pertukangan, Alat transportasi, peralatan perang, peralatan mesin, tiang listrik, penangkal petir, pipa saluran,rumah/ gedung menggunakan besi baja sebagai tiang-tiang penahannya, dan Badan kapal untuk kapal besar. Manfaat besi ternyata tidak terbatas sebagai bahan pembuatan perlengkapan yang sangat membantu kehidupan manusia, tetapi besi juga memainkan peranan yang istimewa dalam daur

kehidupan organisme hidup. Besi merupakan salah satu mikronutrien penting bagi makhluk hidup. Besi sebagian besar terikat dengan stabil dalam logam protein (metalloprotein), karena besi dalam keadaan bebas dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas yang bersifat toksik pada sel. Besi adalah penyusun utama kelangsungan makhluk hidup dan bekerja sebagai pembawa oksigen dalam hemoglobin. FeSO4 digunakan sebagai sumber mineral besi untuk terapidefisiensi/kekurangan zat besi dan digunakan untuk membuat tinta bubuk. Fe3SO4 digunakan untuk pewarnaan tekstil dan pengetesan aluminium. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik    Pada suhu kamar berwujud padat, mengkilap dan berwarna keabuabuan. Merupakan logam feromagnetik karena memiliki empat electron tidak berpasangan pada orbital d. Penghantar panas yang baik. Kation logam besi Fe berwarna hijau (Fe2+) dan jingga (Fe3+). Hal ini disebabkan oleh adanya elektron tidak berpasangan dan tingkat energi orbital tidak berbeda jauh. Akibatnya, elektron mudah tereksitasi ke tingkat energi lebih tinggi menimbulkan warna tertentu. Jika senyawa transisi baik padat maupun larutannya tersinari cahaya maka senyawa transisi akan menyerap cahaya pada frekuensi tertentu, sedangkan frekuensi lainnya diteruskan. Cahaya yang diserap akan mengeksitasi elektron ke tingkat energi lebih tinggi dan cahaya yang diteruskan menunjukkan warna senyawa transisi pada keadaan tereksitasi. titik didih titik lebur massa atom konfigurasi electron massa jenis fase padat massa jenis fase cair pada titik lebur kalor peleburan kalor penguapan Elektronegativitas jari-jari atom Sifat Kimia   Unsur besi bersifat elektropositif (mudah melepaskan elektron) sehingga bilangan oksidasinya bertanda positif. Fe dapat memiliki biloks 2, 3, 4, dan 6. Hal ini disebabkan karena perbedaan energy elektron pada subkulit 4s dan 3d cukup kecil, sehingga elektron pada subkulit 3d juga terlepas ketika terjadi ionisasi selain electron pada subkulit 4s. 3134 K 1811 K 55,845(2) g/mol [Ar] 3d6 4s2 7,86 g/cm³ 6,98 g/cm³ 13,81 kJ/mol 340 kJ/mol 1,83 (skala Pauling) 140 pm

 

Logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah terkorosi, khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat peningkatan suhu. Memiliki bentuk allotroik ferit, yakni alfa, beta, gamma dan omega dengan suhu transisi 700, 928, dan 1530oC. Bentuk alfa bersifat magnetik, tapi ketika berubah menjadi beta, sifat magnetnya menghilang meski pola geometris molekul tidak berubah.

 

Mudah bereaksi dengan unsur-unsur non logam seperti halogen, sulfur, pospor, boron, karbon dan silikon. Larut dalam asam- asam mineral encer.

11.    

Timbal

a. Kegunaan Timbal digunakan dalam accu dimana accu ini banyak dipakai dalam bidang automotif. Timbal dipakai sebagai agen pewarna dalam bidang pembuatan keramik terutama untuk warna kuning dan merah. Timbal dipakai dalam industri plastic PVC untuk menutup kawat listrik. Timbal dipakai sebagai proyektil untuk alat tembak dan dipakai pada peralatan pancing untuk pemberat disebakan timbale memiliki densitas yang tinggi, harganya murah dan mudah untuk digunakan.            Lembaran timbal dipakai sebagai bahan pelapis dinding dalam studio music Timbal dipakai untuk pelindung alat-alat kedokteran, laboratorium yang menggunakan radiasi misalnya sinar X. Timbal cair dipergunakan sebagai agen pendingin dalam peralatan reactor yang menggunakan timbale sebagai pendingan. Kaca timbal mengandung 12-28% Pb dimana dengan adanya Pb ini akan mengubah karakteristik optis dari kaca dan mereduksi transmisi radiasi. Timbal banyak dipakai untuk elektroda pada peralatan elektrolisis. Timbal digunakan untuk solder untuk industri elektronik. Timbal dipakai dalam berbagai kabel listrik bertegangan tinggi untuk mencegah difusi air dalam kabel. Timbal ditambahkan dalam peralatan yang terbuat dari kuningan agar tidak licin dan biasanya digunakan dalam peralatan permesinan. Timbal dipakai dalam raket untuk memperberat massa raket. Timbal karena sifatnya tahan korosi maka dipakai dalam bidang kontruksi. Dalam bentuk senyawaan maka tetra-etil-lead dipakai sebagai anti-knock pada bahan bakar.

Semikonduktor berbahan dasar timbal banyak seperti Timbal telurida, timbale selenida, dan timbale antimonida dipakai dalam peralatan sel surya dan dipakai dalam peralatan detektor inframerah.

 

Timbal biasanya dipakai untuk menyeimbangkan roda mobil tapi sekarang dilarang karena pertimbangan lingkungan. Digunakan sebagai aditif bahan bakar (TEL), berfungsi untuk mengurangi knock pada mesin.

b. Sifat-Sifat Sifat Fisik                        Fasa pada suhu kamar Densitas Titik leleh Titik didih Panas Fusi Panas Penguapan Kalor jenis : padatan : 11,34 g/cm3 : 327,5 0C : 17490C : 4,77 kJ/mol : 179,5 kJ/mol : 26,650 J/molK

Sifat Kimia Bilangan oksidasi Elektronegativitas Energi ionisasi 1 Energi ionisasi 2 Energi ionisasi 3 Jari-jari atom Radius ikatan kovalen Jari-jari Van Der Waals Struktur Krista l Sifat kemagnetan Resistifitas termal Konduktifitas termal : 4,2,-4 : 2,33 (skala pauli) : 715,6 kJ/mol : 1450,5 kJ/mol : 3081,5 kJ/mol : 175 pm : 146 pm : 202 pm : kubik berpusat muka : diamagnetic : 208 nohm.m : 35,3 W/mK

Timbal larut dalam beberapa asam Bereaksi secara cepat dengan halogen Bereaksi lambat dengan alkali dingin tetapi bereaksi cepat dengan alkali panas menghasilkan plumbit. Timbal sering kali memiliki sifat tampak seperti gas mulia yaitu tidak reaktif, ditunjukkan oleh harga potensial standarnya sebesar – 0,13 V. kereaktifan yang rendah ini dikaitkan dengan overvoltage yang tinggi terhadap hidrogen, dan juga dalam beberapa hal tidak terlarutkan oleh H2SO4 pekat dan HCl pekat.

12.    

Magnesium

a. Kegunaan Magnesium dapat digunakan untuk memberi warna putih terang pada kembang api dan pada lampu Blitz Senyawa MgO dapat digunakan untuk melapisi tungku, karena senyawa MgO memiliki titik leleh yang tinggi Senyawa Magnesim Hidroksida diguakan dalam pasta gigi untuk mengurangi asam yang terdapat di mulut dan mencegah terjadinya kerusakan gigi, sekaligus sebagai pancegah maag Membuat campuran logam semakin kuat dan ringan sehingga biasa digunakan pada alat-alat rumah tangga b. Sifat-Sifat Sifat Fisik

Sifat Kimia   Magnesium oksida merupakan oksida basa sederhana. Reaksi dengan air: MgO + H2O --> Mg(OH)2

  

Menghasilkan MO dan M3N2 jika dipanaskan. Reaksi dengan Hidrogen : tidak bereaksi Reaksi dengan klor: M + X2 --> (dipanaskan) --> MX2 (garam)

13.   

Raksa

a. Kegunaan Logam ini banyak digunakan di laboratorium untuk pembuatan termometer, barometer, pompa difusi dan alat-alat lainnya. Unsur ini juga digunakan dalam pembuatan lampu uap merkuri, sakelar merkuri, dan alat-alat elektronik lainnya. Kegunaan lainnya adalah dalam membuat pestisida, soda kaustik, produksi klor, gigi buatan, baterai dan katalis. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik
    

Berkilau seperti warna keperakan Mempunyai titik leleh yang rendah 234.32 K (-38.83o C, -37.89o F) Berujud cair pada suhu kamar (25o C) dengan titik beku paling rendah sekitar -39o C. Masih berujud cair pada suhu 396o C. Pada temperatur 396o C ini telah terjadi pemuaian secara menyeluruh.

Sifat Kimia
    

Daya hantar listrik yang tinggi Bersifat diagmanetik Memberikan uap monoatom dan mempunyai tekanan uap (1,3 x 10-3 mm) pada suhu 20o C. Larut dalam cairan polar maupun tidak polar. Merupakan logam yang paling mudah menguap jika dibandingkan dengan logam-logam yang lain.Karena penguapan dan toksisitas yang tinggi, air raksa harus disimpan dalam kemasan tertutup dan ditangani dalam ruang yang cukup pertukaran udaranya.

Air raksa mudah hilang dari larutan akua garam air raksa karena reduksi oleh runutan bahan pereduksi, atau dengan disproporsionasi Hg22+.

 

Cenderung membentuk ion-ion M22+. Dilihat dari potensial standar, jelas bahwa hanya zat pengoksidasi dengan potensial dalam ranah – 0,79 V sampai -0,85 V dapat mengoksidasi air raksa menjadi Hg1 namun tidak menjadi Hg11.

Apabila air raksa direaksikan dengan zat pengoksidasi berlebih, seluruhnya akan berubah menjadi Hg11.

Sangat sedikit senyawa raksa yang larut dalam air, dan kebanyakan tak terhidrasi.

14.      

Perak

a. Kegunaan Perak sterling digunakan untuk perhiasan, perabotan perak, dsb. dimana penampakan sangat penting. Campuran logam ini biasanya mengandung 92.5% perak, dengan sisanya tembaga atau logam lainnya. Perak juga merupakan unsur penting dalam fotografi, dimana sekitar 30% konsumsi industri perak digunakan untuk bidang ini. Perak juga digunakan sebagai campuran logam pengganti gigi, solder, kotak listrik, dan baterai perak-timah dan perak-cadmium. Cat perak digunakan untuk membuat sirkuit cetak. Perak juga digunakan untuk produksi kaca dan dapat didepositkan sebagai lapisan pada gelas atau logam lainnya dengan metoda chemical deposition, electrode position atau dengan cara penguapan.  Ketika perak baru saja didepositkan, lapisan ini merupakan reflektor cahaya paling baik. Tapi lapisan ini juga cepat rusak dan ternoda dan kehilangan reflektivitasnya. Walau lapisan perak bagus untuk cahaya, ia sangat buruk untuk memantulkan sinar ultraviolet.     Silver fulminate, bahan peledak yang kuat, kadang-kadang terbentuk saat pembentukan perak. Silver iodide digunakan untuk membuat hujan buatan. Silver chloride memiliki sifat-sifat optikal yang unik karena bisa dibuat transparan. Silver nitrate, atau lunar caustic, yang merupakan senyawa perak yang penting banyak digunakan di bidang fotografi. Selama beratus-ratus tahun, perak telah digunakan sebagai bentuk pembayaran dalam bentuk koin oleh banyak negara. Belakangan ini sayangnya, konsumsi perak telah jauh melebihi produksi. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik      Perak murni memiliki warna putih yang terang. Unsur ini sedikit lebih keras dibanding emas dan sangat lunak dan mudah dibentuk terkalahkan hanya oleh emas dan mungkin palladium. Perak murni memiliki konduktivitas kalor dan listrik yang sangat tinggi diantara semua logam dan memiliki resistansi kontak yang sangat kecil. E lemen ini sangat stabil di udara murni dan air, tetapi langsung ternoda ketika diekspos pada ozon, hidrogen sulfida atau udara yang mengandung belerang. Sifat Kimia  Salah satu sifat perak adalah sangat tidak reaktif dan merupakan logam mulia

 

Udara yang mengandung H2S 4Ag +2H2S + O2 → 2H2O + 2Ag2S Bereaksi dengan halogen 2Ag + Cl2 → 2AgCl (dalam keadaan panas) 2Ag + Br2 → 2AgBr (dalam keadaan panas)\

 

Bereaksi dengan belerang 2Ag + S → Ag2S Bereaksi dengan beberapa asam 2Ag + H2SO4 (p) → Ag2SO4 + SO2 + 2H2O 3Ag + 4HNO3 (e) → 3AgNO3 + 2H2O + 2NO Ag + 2HNO3 (p) → AgNO3 + H2O + NO2 2Ag + 2HCl → 2AgCl + H2 + 171 Kkal

Bereaksi dengan Alkali Sianida 4Ag + 8NaCN + 2H2O + O2 → 4Na [Ag(CN)2] + 4NaOH

15.    

Natrium

a. Kegunaan Senyawa natrium dibutuhkan oleh semua organisme dan digunakan pula dalam kehidupan kita sehari-hari. Natrium chloride (NaCl), atau garam dapur dibutuhkan agar sel dapat berfungsi baik serta merupakan penyususn elektrolit yang dibutuhkan darah. Natrium juga digunakan dalam berbagai produk industri seperti baking soda (NaHCO3) Pemutih (NaOCl), serta digunakan dalam paduan logam karena efisien dalam mentransfer panas. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik Densitas Titik leleh Titik didih Potensial standar Koefisien ekspansi liner termal Konduktifitas termal Konduktivitas listr Kalor jenis Tekanan uap Bentuk ik : 0,97 gr/m : 97,5°C : 883°C : -2,7 : 70,6 x 10-5 /K : 1,41 W/cmK : 0,21 x 10-6 ohmcm : 1,23 J/gr K : 0,0000143 Pa pada 961°C : padatan pada suhu standar

Warna Sifat Kimia Nomor atom Nomor massa Jari-jari atom Jari-jari ion Keelektronegatifan Afinitas elektron Energi ionisasi Warna nyala : 11

: putih keperakan\

: 22,989 : 1,86 Amstrong : 0,95 Amstrong : 0,9 (skala pauling) : -53 : pertama 496 KJ/mol, kedua 4562 KJ/mol : kuning

16. 

Seng

a. Kegunaan logam ini digunakan untuk membentuk berbagai campuran logam dengan metal lain. Kuningan, perak nikel, perunggu, perak Jerman, solder lunak dan solder aluminium adalah beberapa contoh campuran logam tersebut.    Seng dalam jumlah besar digunakan untuk membuat cetakan dalam industri otomotif, listrik, dan peralatan lain semacamnya. Campuran logam Prestal, yang mengandung 78% seng dan 22% aluminium dilaporkan sekuat baja tapi sangat mudah dibentuk seperti plastik. Prestal sangat mudah dibentuk dengan cetakan murah dari keramik atau semen. Seng juga digunakan secara luas untuk menyepuh logam-logam lain dengan listrik seperti besi untuk menghindari karatan.   Seng oksida banyak digunakan dalam pabrik cat, karet, kosmetik, farmasi, alas lantai, plastik, tinta, sabun, baterai, tekstil, alat-alat listrik dan produk-produk lainnya. Lithopone, campuran seng sulfida dan barium sulfat merupakan pigmen yang penting. Seng sulfida digunakan dalam membuat tombol bercahaya, sinar X, kaca-kaca TV, dan bola-bola lampu fluorescent. Klorida dan kromat unsur ini juga merupakan senyawa yang banyak gunanya. b. Sifat-Sifat Sifat Fisik    Seng merupakan logam yang berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifat diamagnetik berstruktur kristal heksagonal. Keras dan rapuh pada kebanyakan suhu Pada suhu 100-150 °C : dapat ditempa

         

Suhu > 210 °C : kembali menjadi rapuh dan dapat dihancurkan menjadi bubuk dengan memukulmukulnya Mampu menghantarkan listrik. titik lebur (420 °C) dan tidik didih (900 °C) Seng memiliki konfigurasi elektron [Ar]3d104s2 dan merupakan unsur golongan 12 tabel periodik. Reaktif Reduktor kuat Jika dibakar menghasilkan lidah api berwarna hijau kebiruan dan mengeluarkan asap seng oksida Seng bereaksi dengan asam, basa, dan non-logam lainnya. Seng yang sangat murni hanya akan bereaksi secara lambat dengan asam pada suhu kamar. Asam kuat seperti asam klorida maupun asam sulfat dapat menghilangkan lapisan pelindung seng karbonat dan reaksi seng dengan air yang ada akan melepaskan gas hidrogen.

Sifat Kimia

17.

Bismut

a. Kegunaan Bismut adalah magnet permanen yang terbuat dari MnBi dan diproduksi oleh US Naval Surface Weapons Center. Bismut mengembang 3.22% jika dipadatkan. Sifat ini membuat campuran logam bismut cocok untuk membuat cetakan tajam barang-barang yang dapat rusak karena suhu tinggi. Dengan logam lainnya seperti seng, kadmium, dsb. bismut membentuk campuran logam yang mudah cair yang banyak digunakan untuk peralatan keselamatan dalam deteksi dan sistim penanggulangan kebakaran. Bismut digunakan dalam memproduksi besi yang mudah dibentuk. Logam ini juga digunakan sebagai bahan thermocouple, dan memiliki aplikasi sebagai pembawa bahan bakar U235 dan U233 dalam reaktor nuklir. Garamnya yang mudah larut membentuk garam basa yang tidak terlarut jika ditambah air, suatu sifat yang kadang-kadang digunakan dalam deteksi. Bismut oksiklorida banyak digunakan di kosmetik. Bismut subnitrat dan subkarbonat diguanakan di bidang kedokteran. b. Sifat-sifat Sifat Fisik        Kristal berwarna putih dengan campuran merah jambu Sangat rapuh Logam paling diamagnetik, dan konduktor panas yang paling rendah Memiliki resitansi listrik yang tinggi dan memiliki efek Hall yang tertinggi Padatan dengan suhu 298 K Titik didih: 1860 K Titik leleh: 903,78 K

    

Densitas: 6,697 g/cm3

Sifat kimia Berekasi dengan udara 4 Sb + 3O2 Sb4O6

Bereaksi dengan air 4Sb + 6H2O Bereaksi dengan asam Sb + 6H2SO4 Bereaksi dengan logam 2 Sb + 3 Mg2+ Mg3Sb2 Sb2(SO4)3 + 6H2O + 3SO Sb4O6 + 6H

18.

Radium

a. Kegunaan Radium juga digunakan dalam memproduksi cat yang menyala dengan sendirinya, sumber netron dan dalam kedokteran. Dalam dunia kedokteran, radium digunakan dalam terapi kanker dan penyakitpenyakit lainnya. Beberapa isotop yang baru saja ditemukan seperti 60Co juga digunakan menggantikan radium dalam aplikasi-aplikasi tersebut. Beberapa sumber ini sangat kuat dan yang lainnya sangat aman digunakan. Radium kehilangan sekitar 1% dari aktifitasnya dalam 25 tahun, karena tertransformasikan menjadi unsur-unsur yang lebih ringan. Timbal merupakan hasil akhir disentegrasi radium. Radium harus disimpan di ruangan dengan ventilasi yang baik untuk menghindari pembentukan radon. b. Sifat-sifat Radium diproduksi secara komersil sebagai bromida dan klorida. Sangat jarang unsur ini tersendiri tersedia dalam jumlah banyak. Logam murni unsur ini berwarna putih menyala ketika baru saja dipersiapkan, tetapi menjadi hitam jika diekspos ke udara. Kemungkinan besar karena formasi nitrida. Elemen ini terdekomposisi di dalam air dan lebih reaktif ketimbang barium. Radium memberikan warna merah menyala pada lidah api. Unsur ini memancarkan sinar alpha, beta, dan gamma dan jika dicampur dengan berilium akan memproduksi netron. Satu gram 226Ra mengalami disintegrasi 3.7 x 1010 per detik. Unit disintegrasi unsur curie didefinisikan dari 1 gram226Ra tersebut. Ada 25 isotop radium yang diketahui. Isotop 226Ra adalah isotop yang banyak ditemukan dan memiliki paruh waktu1600 tahun.

19.

Kobalt

a. Kegunaan Kobalt dicampur dengan besi, nikel, dan logam lainnya untuk membuat Alnico, alloy dengan kekuatan magnet luar biasa untuk berbagai keperluan. Alloy stellit, mengandung kobalt, khrom, dan

wolfram, yang bermanfaat untuk peralatan berat, peralatan yang digunakan pada suhu tinggi, maupun peralatan yang digunakan dengan kece[atan tinggi. Kobalt juga digunakan untuk baja magnet dan tahan karat lainnya. Sebagai alloy, digunakan dalam turbin jet, dan generator turbin gas. Logam digunakan dalam electroplating karena sifat penampakannya, kekerasannya, dan sifat tahan oksidasinya. Garam kobalt telah digunakan selama berabad-abad untuk menghasilkan warna biru brilian yang permanen pada porselen, kaca, pot, keramik, dan lapis e-mail gigi. Garam kobalt adalah komponen utama dalam membuat biru Serve dan biru Thenard. LArutan kobalt klorida digunakan sebagai pembalut warna tinta. Kobalt digunakan secara hati-hati dalam bentuk klorida, sulfat, asetat, nitrat karena telah ditemukan efektif dalam memperbaiki penyakit kekurangan mineral tertentu pada binatang. b. Sifat-sifat Sifat Fisik               Melebur pada suhu 14900 C dan mendidih pada suhu 35200 C Memiliki 7 tingkat oksidasi, yaitu -1, 0, +1, +2, +3, +4, dan +5 Tidak reaktif, meskipun lambat larut dalam asam mineral encer Rapuh agak keras dan mengandung metal serta kaya sifat magnetis Logam berwarna abu-abu

Sifat Kimia Mudah larut dalam asam-asam mineral encer Kurang reaktif Dapat membentuk senyawa kompleks Dalam larutan air, terdapat ion Co2+ yang berwarna merah Senyawa Co(II) yang tak terhidrat atau tak terdisosiasi berwarna biru Ion Co3+ tidak stabil, tetapi kompleks-kompleksnya stabil baik dalam bentuk larutan maupun padatan Kobalt (II) dapat dioksidasi menjadi kobalt (III) Berekasi dengan hidogen sulfide membentuk endapan hitam Tahan korosi

20.

Nikel

a. Kegunaan
Nikel digunakan secara besar-besaran untuk pembuatan baja tahan karat dan alloy lain yang bersifat tahan korosi, seperti Invar, Monel , Inconel , dan Hastelloys . Alloy tembaga-nikel berbentuk tabung banyak digunakan untuk pembuatan instalasi proses penghilangan garam untuk mengubah air laut menjadi air segar. Nikel, digunakan untuk membuat uang koin,dan baja nikel untuk melapisi senjata dan ruangan besi (deposit di bank), dan nikel yang sangat halus, digunakan sebagai katalis

untuk menghidrogenasi minyak sayur (menjadikannya padat). Nikel juga digunakan dalam keramik, pembuatan magnet Alnico dan baterai penyimpanan Edison . Bijih nikel dialam semesta digolongkan dalam dua jenis, yaitu: bijih nikel sulfida berada didaerah subtropis, dan bijih nikel oksida yang lazimnya disebut laterit berada didaerah khatulistiwa. Cadangan bijih nikel dunia sekitar 61 % berupa laterit sedangkan kebutuhan nikel dunia yang berasal dari laterit sekitar 40 %. Indonesia yang memiliki cadangan bijih nikel nomor dua (2) di dunia dan sampai tahun 1999 memasok kebutuhan nikel dunia sekitar 7 %, mempunyai peran strategis untuk pemanfaatan laterit untuk memasok kebutuhan nikel dunia. Karena sumber daya alam laterit yang berlimpah maka negara-negara besar terutama yang bergabung dalam G8 sangat berminat untuk mengeksploitasi laterit di Indonesia, diantaranya Amerika Serikat (USA) melalui PT Pasific Nickel pada tahun 1970-an, Canada melalui PT INCO pada tahun 1970-an, Jepang mengimpor saprolit untuk bahan baku ferro nikel (FeNi), dan Canada melalui PT Weda Bay Nickel (WBN) pada tahun 1998. Karenan PT Pasific Nickel sampai saat ini tidak merealisasi maka pemerintah RI mengalihkan kepada PT BHP Australia pada tahun 1990-an untuk mengeksploitasi laterit di pulau Gag-Papua. Demikian juga dengan WBN yang ditunda walaupun menurut rencana pada tahun 2003 mulai melakukan aktifitas penambangan, dan pada tahun 2004 mulai memproduksi NiS di Weda Halmahera untuk memasok 10 % kebutuhan nikel dunia. Sejak maret 2006, WBN telah berpindah kepemilikan ke ERAMET Perancis. Berdasarkan uraian singkat diatas, dalam tulisan ini akan dikaji sampai sejauh mana potensi laterit yang telah dimanfaatkan, dan bagaimana prospeknya kedepan untuk laterit yang belum dimanfaatkan.

b. Sifat-sifat
       Nikel berwarna putih keperak-perakan dengan pemolesan tingkat tinggi. Bersifat keras, mudah ditempa, sedikit ferromagnetis, dan merupakan konduktor yang agak baik terhadap panas dan listrik. Mempunyai kekuatan tarik cukup tinggi (50 kp/mm2 ) Nikel tergolong dalam grup logam besi-kobal, yang dapat menghasilkan alloy yang sangat berharga.

21.
   

Kadmium

a. Kegunaan Dalam industry batu baterai Senyawa kadmium digunakan dalam fosfor tabung TV hitam-putih dan fosfor hijau dalam TV bewarna. Di gunakan dalam penyepuhan kayu, CdO. Sebagai katalis.

   

Digunakan Dalam elektroplating. Kadmium adalah komponen dari beberapa senyawa semikonduktor, yang dapat digunakan untuk cahaya. Obat – obatan seperti sipilis dan malaria. Penambangan timah hitam dan bijih seng

b. Sifat-sifat Sifat Fisik             Logam berwarna putih keperakan Mengkilat Lunak/Mudah ditempa dan ditarik Titik lebur rendah

Sifat Kimia Cd tidak larut dalam basa. Larut dalam H2SO4 encer dan HCl encer Cd + H2SO4 → CdSO4 + H2 Cd tidak menunjukkan sifat amfoter Bereaksi dengan halogen dan nonlogam seperti S, Se, P Cd adalah logam yang cukup aktif Dalam udara terbuka, jika dipanaskan akan membentuk asap coklat CdO Memiliki ketahanan korosi yang tinggi CdI2 larut dalam alcohol

22.

Platina

a. Kegunaan Platinum digunakan besar-besaran sebagai perhiasan wanita, kawat, dan bejana untuk aplikasi laboratorium dan banyak instrumen berharga lainnya termasuk termokopel. Platinum juga digunakan untuk bahan kontak listrik, peralatan tahan korosi dan kedokteran gigi. Alloy platinum-kobalmemiliki sifat magnetis. Salah satunya terdiri dari 76.7% berat Pt dan 23.3% berat Co, merupakan magnet yang sangat kuat hampir dua kali lipat dari Alnico V. Ketahanan kawat platinum digunakan untuk membuat tungku listrik bersuhu tinggi. Platinum digunakan untuk melapisi kerucut misil, kerucut bensin mesin jet dan lain-lain, yang mengandalkan ketahanan pada suhu tinggi untuk waktu yang sangat lama. Logam ini, seperti palladium, menyerap sejumlah besar hidrogen, menahannya pada suhu biasa dan melepaskannya ketika dipanaskan. Dalam kondisi yang sangat halus, platinum merupakan katalis yang sempurna, yang banyak digunakan untuk menghasilkan asam sulfat. Juga digunakan sebagai katalis dalam pemecahan produk minyak bumi. Platinum juga banyak diminati untuk dimanfaatkan sebagai katalis dalam sel bahan bakar dan peralatan anti polusi untuk mobil. Anoda platinum

digunakan secara ekstensif dalam sistem perlindungan katoda untuk kapal besar dan bejana yang melewati lautan, pipa, baja dermaga dan lain-lain. Kawat platinum yang sangat halus akan berkilau merah terang bila ditempatkan dalam uap metil alkohol, di mana platinum berperan sebagai katalis, untuk mengubah alkohol menjadi formaldehida. Fenomena ini digunakan secara komersial untuk memproduksi pemantik api rokok dan pennghangat tangan. Hidrogen dan oksigen dapat meledak dengan adanya platinum. b. Sifat-sifat Platinum adalah logam dengan putih keperak-perakan yang indah. Mudah ditempa delam keadaan murni. Platinum memiliki koefisien muai yang hampir sama dengan kaca silika-natroium karbonat, dan karenanya digunakan untuk membuat elektroda bersegel dalam sistem kaca. Logam ini tidak teroksidasi di udara pada suhu berapapun, tapi termakan oleh halogen, sianida, sulfur dan basa kaustik. Platinum tidak dapat larut dalam asam klorida dan asam nitrat, tapi melarut dengan aqua regia membentuk asam kloroplatinumt.

23.

Iridium

a. Kegunaan Meskipun kegunaan utamanya dalah sebagai zat pengeras untuk platinum, iridium juga digunakan untuk membuat cawan dan peralatan yang membutuhkan suhu tinggi. Iridium juga digunakan sebagai bahan kontak listrik. Unsur ini membentuk alloy dengan osmium yang digunakan untuk mata pulpen dan bearingkompas. b. Sifat-Sifat Iridium, termasuk keluarga grup platinum, berwarna putih (sama dengan platinum) tapi dengan sedikit kuning semu. Karena iridium sangat keras dan rapuh, maka logam ini sangat sulit dipakai maupun dibentuk. Iridium adalah logam yang paling tahan korosi, dan dulu digunakan dalam pembuatan standar ukuran panjang dalam satuan meter di Paris, yang merupakan campuran dari platinum 90% dan iridium 10%. Standar ini ini akhirnya diganti pada tahun 1960 dengan kripton. Iridium tidak dapat larut dalam asam bahkan aqua regia, tapi larut dalam garam cair seperti NaCl, dan NaCN. Bobot jenis iridium mendekati bobot jenis osmium. Perhitungan kerapatan iridium dan osmium dari lapisan ruang memberikan nilai 22.65 dan 22.61 g/cm3. Nilai ini lebih dapat dipercaya dariada pengukuran fisik untuk menentukan unsur mana yang lebih berat.

Polimer
Poly Methyl Methacrylate (PMMA) Sifat Fisika:   Polimer dari monomer methyl methacrylate Termoplastik transparan

     

Densitas 1,17–1,20 g/cm3
Rasio penyerapan air 0,3-0,4% berat Koefisien ekspansi termalnya tinggi, (5–10)×10−5 K−1

Titik leleh pada 160oC Transisi kaca (Tg) pada 105oC Terbakar pada suhu 460oC

Sifat Kimia:      Biasanya diproduksi dengan polimerisasi emulsi, polimerisasi larutan dan polimerisasi bulk. Jika terbakar akan terbentuk karbon dioksida, air, karbon monoksida dan senyawa dengan berat molekulnya rendah, termasuk formaldehyde. PMMA membengkak dan dapat larut pada banyak pelarut organic Mudah terhidrolisis oleh senyawa ester Stabilitas lingkungan lebih unggul disbanding polystyrene dan polyethylene

Kegunaan:      Pengganti kaca transparan Pengarah ulang cahaya matahari Pada bioproses kromatografi kolom, menggunakan tabung akrilik sebagai alternative kaca dan stainless steel. PMMA terdapat pada CD dan DVD Perkembangan bioteknologi dan penelitian Biomedis menggunakan PMMA untuk membuat perangkat mikrofluida lab-on-a-chip, yang membutuhkan 100 mikrometer lebar geometri untuk merutekan cairan. PMMA digunakan dalam proses fabrikasi biochip karena memiliki biokompatibilitas yang moderat. PMMA dapat digunakan sebagai dispersant untuk serbuk keramik untuk menstabilkan suspensi koloid dalam media yang tidak mengandung air

Poly Methyl Pentene (PMP) Sifat Fisika:          Monomernya adalah methyl pentene Material padat dan keras Transparan Densitasnya rendah, 0,84 g·cm³ Rasio penyerapan air, 0,01% Koefisien ekspansi termalnya, 6,5 × 10−5 K−1 Titik leleh 230 – 240oC Transisi kaca (Tg) pada 75 – 105oC Kekuatan kelenturannya berkisar antara 6300 – 8300 psi

 Kekuatan tarik pada istirahat 2300 – 2500 psi Sifat Kimia:    Memiliki ketahanan yang baik pada bahan kimia Penyerapan kelembapannya rendah Lebih rapuh dan lebih mudah menangkap gas dibandingkan polyolefin

Kegunaan:    Karena titik lelehnya yang tinggi dan stabilitas suhu yang baik, PMP digunakan pada peralatan laboratorium dan autoklaf medis Digunakan pada komponen listrik PMP juga terdapat pada komponen microwave dan peralatan memasak lainnya

Poly Oxymethylene (POM) Sifat Fisika:       Keras dan kaku Berwarna putih keruh karena komposisi kristalnya tinggi Densitasnya 1,410-1,420 g/cm3 Titik leleh untuk POM homopolymer 175oC Titik leleh untuk POM copolymer 162 – 173oC Transisi kaca (Tg) -50oC

Sifat Kimia:       Ketahanan abrasinya tinggi Koefisien gesek rendah Ketahanan terhadap panas tinggi Sifat dielektrik dan elektriknya baik Penyerapan airnya rendah POM sensitive terhadap oksidasi sehingga perlu penambahan anti-oksidan saat pencetakan material

Kegunaan:    Roda gigi pada mesin-mesing Ditemukan dalam bagian-bagian elektronik Konstruksi berbahan kaca

Poly Phenylene Oxide (PPO) atau Poly Phenylene Ether (PPE) Sifat Fisika:  Monomer PPO adalah dimethyl phenol

    

Densitasnya 1,06 g.cm-3 Rasio penyerapan air 0,1 – 0,5 % Koefisien ekspansi termal 6 × 10−5 K−1 Titik leleh 262oC (+ atau – 10oC) Trasnsisi kacanya pada 90oC

Sifat Kimia:     Termasuk plastik tahan panas yang murah namun pengolahannya sulit dan ketahanan terhadap panasnya akan berkurang seiring waktu Dengan modifikasi dan penggabungan campuran seperti glass fiber, sifat dapat dimodifikasi dengan luas Viskositas lelehnya terlalu tinggu sehingga perlu dicampur dengan polimer lain yang sederhana Monomer yang digunakan untuk pembuatan PPO/PPE harus murni karena impurity / kotoran dapat menyebabkan cabang pada rantai polimer

Kegunaan:     Campuran pada struktur banungan, elektronik, barang otomotif Terdapat pada campuran yang harus memiliki ketahanan panas yang tinggi dan dimensi stabil Digunakan pada alat-alat kedokteran yang dapat di sterilisasi yang terbuat dari plastik Dapat menggantikan logam pada struktur/kerangka mobil

Poly Propylene (PP) Sifat Fisika:        Berasal dari monomer propylene Kuat dan fleksibel Ketahanan terhadap impact/tekanannya besar Berwarna buram Densitasnya 0.855 g/cm3 jika amorphous, dan 0.946 g/cm3 dalam bentuk crystalline Titik lelehnya adalah 176oC Transisi kaca (Tg) nya -18oC

Sifat Kimia:     Commercial PP biasanya isotactic Sifat fisiknya dapat berkurang jika laju aliran leleh pada saat pencetakan dinaikkan 3 tipe umum PP: homopolymer, random copolymer dan block copolymer Karet ethylene-propylene ditambahkan pada PP homopolymer untuk meningkatkan kekuatan tumbukan pada suhu rendah

Polimerisasi dengan etilen dapat mengurangi kristalinitas dan membuat warnanya menjadi lebih transparan Kegunaan:      Digunakan pada sistem pipa karena ketahanannya terhadap korosi dan bahan kimia Pada peralatan laboratorium yang berbahan plastik Sebagai alternative PVC Serat PP digunakan pada aditif beton untuk meningkatkan kekuatan dan mengurangi cracking dan spalling Kebanyakan digunakan pada pencetakan plastic, disuntikkan ke dalam cetakan dalam keadaan cair

Polypropylene Glycol (PPG) Sifat Fisika:      Monomernya adalah propylene oxide Memiliki kesamaan sifat dengan polyethylene glycol Pada suhu ruangan berfase cair Titik lelehnya 75oC Transisi kaca pada -75oC

Sifat Kimia:     Solubilitas pada air akan berkurang drastic jika massa molarnya naik PPG lebih tidak beracun dibandingkan poluethylene glycol sehingga bioteknologi sekarang memproduksi PPG Toksisitas PPG dikarenakan komponen induk bukan karena metabolite-nya. Dapat menyebabkan iritasi jika kontak langsung dengan mata atau kulit

Kegunaan:    Digunakan dalam banyak campuran untuk polyurethanes, untuk mengubah reologinya PPG digunakan sebagai acuan dalam penyetelan spektrometri massa PPG merupakan bahan utama dalam pembuatan paintball atau cat

Poly Styrene (PS) Sifat Fisika:      Polimer dengan monomernya styrene Polimer aromatic Petrokimia berfase cairan PS bisa kaku atau berbusa Jika digunakan dalam fase padat akan keras, namun rapuh

  

Densitasnya 0,96-1,04 g/cm³ Titik lelehnya 240oC Transisi kaca pada 100oC

Sifat Kimia:      Ketahanannya terhadap oksigen dan uap air kurang baik Sangat lambat untuk terurai Termasuk bahan yang mudah terbakar Pada suhu kamar berfase padat (kaca), jika dipanaskan diatas 100oC akan masuk dalam suhu transisi kaca dan menjadi kaku ketika didinginkan Perubahan fase karena suhu yang tidak terlalu tinggi, PS sering dimafaatkan untuk ekstrusi, pencetakan dan pembentukan vakum karena dapat membuat cetakan dengan detail yang halus

Kegunaan:   Jarang digunakan dalam bahan konstruksi kimia karena mudah terbakar dan titik lelehnya rendah Biasa digunakan untuk kemasan makanan, tempat CD, plat mobil dan dibanyak benda yang kaku dan membutuhkan plastic yang ekonomis

Poly Vinyl Chloride (PVC) Sifat Fisika:         PVC berwarna putih Berfase padat rapuh/Kristal kecil Densitas PVC adalah 1,3 - 1,45 g/cm³ Titik lelehnya 212oC Transisi kaca (Tg) pada 81oC Kelenturannya berkisar 10.500 psi Modulus elastisitas mencapat 1500 – 3000 MPa Koefisien ekspansinya kecil

Sifat Kimia:        Tidak larut dalam alcohol Sedikit larut pada tetrahydrofuran Memiliki daya tahan terhadap bahan kimia Koefisien ekspansi Sifatnya dapat terbakar Indeks oksidasi nya mencapai 45 atau lebih Diperlukan stabilizer panas selama proses pengolahan PVC untuk memastikan sifat dari produk

Kegunaan:     Pada campuran pipa logam untuk mencegah terjadinya korosi Sebagai pembungkus pada kabel listrik Dipakai apada industry baju dan perabot rumah karena lebih murah dibandingkan karet, latex atau kulit Dapat ditemui di berbagai objek yang berbahan plastic yang ekonomis

Poly Vinylidene Fluoride (PVDF) Sifat Fisika:        Monomer PVDF adalah vinylidene difluoride Sangat tidak reaktif Tahan terhadap pelarut, asam atau basa Ketika terbakar menghasilkan sedikit asap Densitas 1,78 g/cm³ Titik lelehnya 178oC, termasuk rendah dibandingkan fluoropolymer lainnya Transisi kaca (Tg) nya -35oC

Sifat Kimia:    Hasil dari polimerisasi vinylidene difluoride PVDF merupakan polimer feroelektrik dan dapat menunjukkan sifat efisiensi piezoelectric dan pyroelectric Agar sifat piezoelectricnya muncul, perlu diakukan penarikan secara mekanik untuk mengarahkan rantai molekul dan di pole di bawah tegangan

Kegunaan:     Digunakan pada sistem pemipaan, tabung, dan pembungkus kabel listrik Terdapat dalam ion litium pada baterai Pada bahan pokok pembuatan cat untuk logam Dapat ditemukan di barang-barang yang membutuhkan ketahanan panas, ketahanan terhadap korosi kimia yang tinggi dan membutuhkan kemurnian yang tinggi

1. Poly carbonate : Sifat kimia : a. larut dalam air b. dikenal sebagai soda pencuci c. mudah ternetralisir dengan asam membentuk garam dan air. Sifat fisika : a. rumus molekul : CO3

b. massa molar : 60,01 g mol Kegunaan : a. digunakan pembuatan batu kapur b. untuk pembuatan kaca c. sebagai peleburan besi d. bahan baku pembuatan semen Portland e. serta komposisi glasir keramik 2. Poly ethylene : Sifat kimia : a. tidak larut dalam pelarut apapun pada suhu kamar b. tahan terhadap asam/basa, tetapi dapat dirusak oleh asam nitrat c. tidak tahan terhadap cahaya dan oksigen d. pemasukan atom CI secara acak ke dalam rantai dapat menghancurkan kekristalan polyethylene Sifat fisika : a. berat molekul: 10.000 – 1.000.000 g/mol b. bentuk : padatan, cairan, slurry c. densitas : 0,91 – 0.96 g/cm3 Kegunaan : a. film : plastic, plstik pembungkusan baju, plstik karung. b. kabel : pembungkusan kabel tegangan rendah. c. injection : kursi plastik, ember, gelas dan piring plastik. 3. Poly nylon 6,6 : Sifat kimia : a. tahan alkali tapi tidak tahan klor b. larut dalam fenol c. tidak tahan terhadap panas Sifat fisika : a. titik lebur 363 _ 367 F b. panas laten difusi 35,98 BTU/ib c. kepadatan 1,15 g/cm3 d. konduktivitas listrik 10 – 12 S/m Kegunaan : a. tekstil b. manufaktur c. imdustri benang d. digunakan untuk aplikasi militer e. digunakan dalam karpet dan stoking nylon

4. Poly ethylene oxide : Sifat kimia : a. senyawa yang reaktif b. berbentuk gas c. dapat bereaksi dengan senyawa-senyawa berikatan rangkap d. mudah meledak Sifat Fisika : a. berat molekul : 44,054 b. titik didih pada 1 atm: 10,4 c. titik lebur pada 1 atm : -112,5 d. suhu kritis : 196,18 e. tekanan kritis: 7,191 f. volume kritis: 0,00319 m3/kg g. density kritis: 314 kg/l kegunaan: a. mensterilkan bahan-bahan rumah tangga (ex: pakaian, perabot rumah tangga) b. digunakan sebagai pestisida c. kedokteran: peralatan bedah, bahan-bahan plastik

5. Poly ketone : Sifat kimia : a. bila keton direduksi akan menghasilkan alcohol sekunder b. keton tidak dapat dioksidasi oleh pereaksi fehling dan tollens. Inilah yang dapat membedakan keton dengan aldehid c. keton merupakan senyawa polar d. senyawa keton tidak mengandung hydrogen e. senyawa keton merupakan reduktor yang sangat lemah Sifat fisika : a. keton merupakan senyawa elektrolit b. larut dalam air c. keton memiliki bau yang harum d. titik didih relative lebih tinggi daripada senyawa hidrokarbon e. keton lebih mudah menguap daripada alcohol f. keton merupakan akseptor ikatan hydrogen Kegunaan : a. digunakan sebagai parfum

b. digunakan sebagai cat c. sebagai pelarut dan zat dalam industry kimia

6. Poly isobutylene : Sifat kimia : a. berbentuk gas dan tidak berwarna b. berbau tidak menyengat (samar) c. sangat mudah terbakar d. isobutylene mudah bereaksi dengan alkil halide, halogen, asam sulfat pekat . Sifat fisika : a. rumus molekul : C4H8 b. berat jenis uap : 2 c. indeks bias : 1,3811 d. tekanan uap : 3278 mm Hg e. titik lebur : -140,34 C f. titik didih : 266 K g. massa molar : 56,11 g.mol h. density : 0,5879 Kegunaan : a. digunakan sebagai perantara dalam pembuatan produk (ex: bensin, serta bahan bakar lainnya) . b. sebagai antioksidan

7. Poly nylon 6,10 Sifat kimia : a. sifatnya mudah menyerap air b. tahan akan sinar matahari c. tidak mudah memudar pada warna d. resistensi yang rendah Sifat fisika : a. rumus molekul : C16H30O2N21 b. temperature transisi : 50 C c. suhu leleh : 215 C d. density ; 1,04 g/cm3 e. berat molekul : 282,43 g/mol Kegunaan ; a. digunakan dalam pembuatan sikat

b. digunakan sebagai pakaian c. digunkan sebagai alat rumah tangga

8. Poly ethylene terephthalate : Sifat kimia : a. tidak berwarna dalam keadaan murni b. saat dicampur dengan kloroform makanya warna akan menjadi putih c. sebagai resin semi-kristal sifat fisika : a. rumus molekul : C10H804 b. massa molar : 192,2 g c. titik lebur : 260 C d. tititk didih : 350 C e. konduktivitas termal : 0,24 WmK f. density : 1,22 g/cm3 Kegunaan : a. digunakan dalam serat aplikasi dan kemasan b. digunakan pembuatan botol plastik

9. Poly nylon 6 : Sifat kimia : a. bukan merupakan polimer kondensasi b. berbau harum atau menyengat c. dapat menyerap air hingga 2,4% d. tahan atas abrasi e. tahan atas bahan kimia (ex :asam dan basa) Sifat fisika : a. rumus molekul : C6H11NO b. titik lebur : 434 C c. suhu leleh : 220 C d. temperature transisi : 47 C e. density : 1,084 g/cm3 d. kerapatan Kristal : 1,23 g/cm Kegunaan : a. digunakan dalam pembuatan ban b. industry otomotif : kap mobil c. alat-alat listrik rumah tangga

d. pembuatan alat music : gitar, sitars, biola, dan cello e. digunakan untuk bingkai pistol f. digunakan untuk pembuatan bantalan

10. Poly butylenes terephthalate : Sifat kimia : a. tahan terhadap pelarut b. tahan terhadap panas hingga 150 C c. sangat mudah terbakar e. tingkat penyerapan air sangat rendah f. tahan terhadap bahan kimia dan perubahan cuaca Sifat fisika : a. rumus molekul : C12H12O4 b. titik lebur : 223 C c. temperatur transisi : 66 C d. berat molekul : 220,23 g/mol Kegunaan : a. diguakan untuk perumahan di bidang teknik listrik b. dibidang otomotif : plug konektor c. di rumah tangga : shower dan besi e. digunakan dalam pembuatan pakaian renang f. digunakan dalam pembuatan keyboard

11. Poly acrylo nitrille : Sifat kimia : a. tidak berwarna b. larut dalam air dan pelarut organic c. bahan kimia yang reaktif yang berpolimerisasi spontan d. dapat meledak jika didekatkan dengan api Sifat fisiks : a. rumus molekul : C3H3N b. berat molekul : 53,1 g/mol c. density : 0,81 g/cm3 d. titik didih : 77,3 C e. titik leleh : -82 C f. tekanan uap : 100 torr

Kegunaan : a.digunakan dalam pembuatan serat akrilik dan modakrilik b. sebagai bahan baku pembuatan plastik c. sebagai bahan baku pembuatan karet nitril dan resin penghalang

Keramik
Keramik merupakan senyawa yang berada diantara unsur logam dan bukan logam, yang dapat kita ketahui adalah oksida, nitrida, dan karbida. Sebagai contoh, bahan keramik yang umum diantaranya aluminium oksida (alumina atau, Al2O3), silikon dioksida (silika atau, SiO2), silikon karbida (SiC), silikon nitrida (Si3N4), dan di samping itu, ada beberapa disebut sebagai keramik tradisional yang terdiri dari tanah liat mineral (porselen), semen dan kaca. Terkait dengan sifat mekanik, bahan keramik relatif kaku dan kuat. Kekakuan dan kekuatan sebanding dengan yang dari logam. Selain itu, keramik biasanya sangat keras. Secara historis, keramik telah menunjukkan kerapuhan yang ekstrim (kekurangan daktilitas) dan sangat rentan terhadap fraktur/patah. Namun, keramik baru sedang direkayasa untuk memiliki peningkatan daya tahan terhadap fraktur, bahan ini digunakan untuk peralatan masak, peralatan makan, dan bahkan bagian mesin mobil. Selain itu, bahan keramik biasanya insulatif terhadap bagian dari panas dan listrik (yaitu, memiliki konduktivitas listrik yang rendah) dan lebih tahan terhadap suhu tinggi dan lingkungan yang ekstrim daripada logam dan polimer. Berkenaan dengan karakteristik optik, keramik bisa transparan, tembus, atau buram, dan beberapa keramik oksida (misalnya, Fe3O4) menunjukkan perilaku magnetik.

Gambar 1. Beberapa benda keramik yang umum ditunjukkan atau sering kita temui dalam

kegidupan sehari-hari

Karena keramik terdiri dari setidaknya dua elemen, dan sering lebih, struktur kristal mereka umumnya lebih kompleks daripada yang logam. Ikatan atom dalam materi ini

berkisar dari murni ionik hingga benar-benar kovalen, banyak keramik menunjukkan kombinasi dari dua jenis ikatan, tingkat karakter ionik tergantung pada elektronegativitas dari atom. Tabel 12.1 menyajikan karakter ionik persen untuk beberapa bahan keramik umum.

Struktur Kristal AX-Type Beberapa bahan keramik yang umum adalah dimana ada jumlah yang sama dari kation dan anion. Ini sering disebut sebagai senyawa AX, di mana A menunjukkan kation dan anion X. Ada beberapa struktur kristal yang berbeda untuk senyawa AX, tiap struktur biasanya dinamai bahan umum yang mengasumsikan struktur tertentu.  Struktur NaCl (Garam) a. Bentuk kubik berpusat muka (FCC) b. Satu atom kation Na+ dikelilingi 6 atom anion Cl- (BK 6) c. Posisi atom kation Na+: ½½½, 00½, 0½0, ½00 d. Posisi atom anion Cl- : 000, ½½0, ½0½, 0½½ e. Contoh seperti kristal garam : MgO, MnS, LiF dan FeO. f. Perbadingan jari-jari atom kation dan anion = 0,102/0,181 = 0,56 g. Struktur kristal ditunjukkan pada Figure 12.2

 Struktur CsCl a. Bentuk kubik sederhana (simple cubic) b. Satu atom kation Cs+ dikelilingi 8 atom anion Cl- (BK 8) c. Posisi atom kation Na+ : ½½ d. Posisi atom anion Cl- :000 e. Perbandingan jari-jari aton kation dan anion = 0,170/0,181 = 0,94 f. Struktur kristal ditunjukkan pada Figure 12.3

 Struktur ZnS a. Bentuk Sphalerite b. Satu atom kation Zn+ dikelilingi 4 atom anion S- (BK 4) c. Posisi atom kation Zn+ : ¾¾¾, ¼¼¾, ¼¾¼, ¾¼¼ d. Posisi atom anion S- : 000, ½½0, ½0½, 0½½ e. Contoh seperti kristal ZnS : ZnTe, BeO dan SiO. f. Perbandingan jari-jari atom kation dan anion = 0,060/0,174 = 0,344 g. Struktur kristal ditunjukkan pada Figure 12.4

 Struktur intan a. Bentuk sama seperti ZnS, tetapi seluruh atomnya diisi atom C. b. Ikatan atomnya ikatan atom kovalen c. Struktur kristal intan ditunjukkan pada Figure 12.5

Figure 12.5 Struktur kristal intan

Struktur Kristal AmXp-Type Kristal Jika muatan pada kation dan anion tidak sama, suatu senyawa bisa berada dengan rumus kimia AmXp, di mana m dan / atau p Z 1. Sebuah contoh akan ax2, yang struktur kristal yang umum ditemukan dalam fluorit (CaF2). Rasio jari-jari ionik rC / rA untuk CaF2 adalah sekitar 0,8, yang memberikan bilangan koordinasi 8. Ion kalsium diposisikan pada pusat kubus, dengan ion fluor di sudut. Senyawa lain yang memiliki struktur kristal ini termasuk ZrO2 (kubik), UO2, PuO2, dan ThO2. Struktur kristal CaF2 ditunjukkan pada Figure
12.5 berikut.

Struktur Kristal AmBnXp-Type Hal yang mungkin untuk senyawa keramik memiliki lebih dari satu jenis kation,
karena dua jenis kation (diwakili oleh A dan B), rumus kimianya dapat ditunjuk sebagai

AmBnXp. Barium titanate (BaTiO3), memiliki keduanya kation Ba2+ dan kation Ti4+, berada ke dalam klasifikasi ini. Bahan ini memiliki struktur kristal perovskit dan sifat elektromekanis yang cukup menarik akan dibicarakan nanti. Pada suhu di atas 120 oC (248 F), struktur kristalnya adalah kubik. Struktur kristal BaTiO3 ditunjukkan pada Figure 12.6 berikut.

Tabel 12.4 merangkum Rock Salt, cesium klorida, Zinc blende, fluorit, dan struktur kristal perovskit dalam bentuk rasio kation-anion dan bilangan koordinasi, dan memberikan contohnya masing-masing. Tentunya, banyak struktur kristal keramik lainnya yang mungkin. Karakter dari keramik : • • • Senyawa logam atau bukan logam yang mempunyai ikatan atom ionik dan kovalen Ikatan ionik dan kovalen menyebabkan keramik mempunyai titik lebur tinggi dan bersifat isolator Keramik terdiri dari : – – • • • Keramik tradisional, disusun oleh tanah liat, silika dan feldspar. Contoh bata, ubin, genteng dan porselen Keramik murni atau teknik, disusun oleh senyawa murni.

Struktur kristal dari keramik : Sebagian besar keramik diikat secara ionik dan hanya sedikit tang diikat secara kavalen Ikatan ionik biasanya mempunyai diameter atom kation < atom anion, akibatnya atom kation selalu dikelilingi atom anion. Jumlah atom tetangga terdekat (mengelilingi) atom tertentu dikenal sbg bilangan koordinasi (Coordination number).

Hubungan bilangan koordinasi dan perbandingan jari-jari atom kation-anion

Jari-jari kation dan anion Kation Al 3+ Ba 2+ Ca 2+ Cs + Fe 2+ Fe 3+ K+ Mg 2+ Mn 2+ Na 2+ Ni 2+ Si 4+ Ti 2+ Jari-jari ion (nm) 0,053 0,136 0,100 0,170 0,077 0,069 0,138 0,072 0,067 0,102 0,069 0,040 0,061 Anion Br Cl FIO 2S 2Jari-jari ion (nm) 0,196 0,181 0,133 0,220 0,140 0,184

Jenis keramik berdasarkan lapisan bahannya, antara lain : Keramik yang mempunyai lapisan glasir (glazed) Keramik berglasir merupakan jenis keramik yang paling banyak terdapat di pasaran. Lapisan glasir diaplikasikan dengan temperatur tinggi sehingga menyatu dengan badan keramik. Lapisan ini yang membuat motif desain dan tekstur keramik. Lapisan glasir membuat keramik tahan air, tahan api, dan mudah dibersihkan karena sangat padat dan tidak berpori. Keramik homogenious tanpa lapisan glasir (unglazed) Keramik jenis ini sudah terdapat dalam bermacam-macam desain. Tidak ada lapisan apapun yang diaplikasikan pada keramik. Pencampuran bahan utama dan motif keramik dilakukan sejak awal sebelum pembentukan sehingga ada kesatuan warna

antara bagian permukaan dan belakang. Permukaan keramik mengkilat dengan cara di-polish. Keramik jenis ini biasanya lebih tebal, keras dan lebih tinggi kekuatannya daripada keramik berglasir. Keramik jenis ini cocok untuk tempat yang ramai dengan aktivitas tinggi.

Jenis permukaan lantai keramik, antara lain : Mengkilat dan licin Biasa dipakai untuk keramik dinding ataupun keramik lantai dalam ruangan. Tidak cocok untuk lantai yang sering terkena air atau area servis karena tidak tahan terhadap goresan. Doff / matte Cocok diaplikasikan pada berbagai macam ruang, tidak licin dan mengkilap. Biasanya dipakai dirumah dengan desain minimalis. Jenis permukaan lantai ini lebih tahan terhadap goresan. Bertekstur kasar Cocok dipakai untuk lantai kamar mandi, carport, atau ruang terbuka yang sering terkena panas dan hujan. Jenis keramik ini tidak licin walaupun terkena air. Cutting edge Permukaan keramik yang sangat siku pada keempat sisinya. Keramik jenis ini dipotong setelah proses pembakaran. Hampir semua homogenius tile memakai sistem ini sehingga nat yang dipakai bisa sangat tipis. Namun kini produsen keramik berglasir juga mengembangkan keramik jenis ini walaupun harganya relatif mahal. Sifat Keramik Sifat fisik keramik merupakan material yang kuat dan keras namun rapuh tahan terhadap gesekan tahan terhadap korosi

Sifat kimia keramik memiliki kerapatan yang rendah titik lelehnya yang tinggi bersifat asam atau bersifat basa kapasitas panasnya baik konduktivitas panas yang rendah

-

stabil pada temperatur tinggi memiliki densitas yang kecil

Kegunaan keramik, antara lain : digunakan sebagai sudu turbin untuk penuntun benang mesin produksi serat sintetik untuk penahan bocor pada pompa air perkakas untuk pengerjaan logam yang menggunakan kekerasan busi sebagai konstruksi dalam pembangunan dibidang kedokteran yang dikenal dengan bio keramik, misalnya beberapa organ tubuh manusia yang rusak ternyata dapat digantikan dengan bahan keramik seperti tulang dan gigi. dalam bidang teknologi kedirgantaraan maupun antariksa, ternyata bagian-bagian tertentu dari pesawat terbang maupun pesawat luar angkasa terbuat dari bahan keramik sebagai pelindung, agar radiasi tidak menyebar kemana-mana karena sangat membahayakan Sifat-sifat keramik
Secara umum kramik merupakan paduan antara logam dan non logam , senyawa paduan tersebut memiliki ikatan ionik dan ikatan kovalen . untuk lebih jelasnya mengenai sifat-sifat kramik berikut ini akan dijelaskan lebih detail.

a. Sifat Mekanik
Keramik merupakan material yang kuat, keras dan juga tahan korosi. Selain itu keramik memiliki kerapatan yang rendah dan juga titik lelehnya yang tinggi. Keterbatasan utama keramik adalah kerapuhannya, yakni kecenderungan untuk patah tiba-tiba dengan deformasi plastik yang sedikit. Di dalam keramik, karena kombinasi dari ikatan ion dan kovalen, partikel-partikelnya tidak mudah bergeser. Faktor rapuh terjadi bila pembentukan dan propagasi keretakan yang cepat.Dalam padatan kristalin, retakan tumbuh melalui butiran (trans granular) dan sepanjang bidang cleavage (keretakan) dalam kristalnya. Permukaan tempat putusyang dihasilkan mungkin memiliki tekstur yang penuh butiran atau kasar. Material yang amorf tidak memiliki butiran dan bidang kristal yang teratur, sehingga permukaan putus kemungkinan besar terjadi. Kekuatan tekan penting untuk keramik yang digunakan untuk struktur seperti bangunan. Kekuatan tekan keramik biasanya lebih besar dari kekuatan tariknya. Untuk memperbaiki sifat ini biasanya keramik di-pretekan dalam keadaan tertekan

b. Sifat Termal
Sifat termal bahan keramik adalah kapasitas panas, koefisien ekspansitermal, dan konduktivitas termal. Kapasitas panas bahan adalah kemampuan bahan untuk mengabsorbsi panas dari lingkungan. Panas yang diserap disimpan olehpadatan antara lain dalam bentuk vibrasi (getaran) atom/ion penyusun padatantersebut. Keramik biasanya memiliki ikatan yang kuat dan atom-atom yang ringan. Jadigetaran-getaran atom-atomnya akan berfrekuensi tinggi dan karena ikatannya kuat maka getaran yang besar tidak akan menimbulkan gangguan yang terlalu banyak padakisi kristalnya. Sebagian besar keramik memiliki titik leleh yang tinggi, artinya walaupun pada temperatur yang tinggi material ini dapat bertahan dari deformasi dan dapat bertahan dibawah tekanan tinggi. Akan tetapi perubahan temperatur yang besar dan tiba-tiba dapat melemahkan keramik. Kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tersebutlah yang dapat membuat keramik pecah.

c. Sifat elektrik
Sifat listrik bahan keramik sangat bervariasi. Keramik dikenal sangat baik sebagai solator. Beberapa isolator keramik (seperti BaTiO 3) dapat dipolarisasi dan digunakan ebagai kapasitor. Keramik lain menghantarkan elektron bila energi ambangnya dicapai, dan oleh karena itu disebut semikonduktor. Tahun 1986, keramik jenis baru, yakni superkonduktor temperatur kritis tinggi ditemukan. Bahan jenis ini di bawah suhu kritisnya memiliki hambatan = 0. Akhirnya, keramik yang disebut sebagai piezoelektrik dapat menghasilkan respons listrik akibat tekanan mekanik atau sebaliknya. Elektron valensi dalam keramik tidak berada di pita konduksi,sehingga sebagian besar keramik adalah isolator. Namun, konduktivitas keramik dapat ditingkatkan dengan memberikan ketakmurnian. Energi termal juga akanmempromosikan elektron ke pita konduksi, sehingga dalam keramik, konduktivitasmeningkat (hambatan menurun) dengan kenaikan suhu. Beberapa keramik memiliki sifat piezoelektrik, atau kelistrikan tekan. Sifat ini merupakan bagian bahan “canggih” yang sering digunakan sebagai sensor. Dalambahan piezoel ektrik, penerapan gaya atau tekanan dipermukaannya akan menginduksipolarisasi dan akan terjadi medan listrik, jadi bahan tersebut mengubah tekananmekanis menjadi tegangan listrik. Bahan piezoelektrik digunakan untuk tranduser,yang ditemui pada mikrofon, dan sebagainya. Dalam bahan keramik, muatan listrik dapat juga dihantarkan oleh ion-ion. Sifat ini dapat diubah-ubah dengan merubah komposisi, dan merupakan dasar banyakaplikasi komersial, dari sensor

zat kimia sampai generator daya listrik skala besar.Salah satu teknologi yang paling prominen adalah sel bahan bakar.

d. Sifat Optik
Bila cahaya mengenai suatu obyek cahaya dapat ditransmisikan, diabsorbsi, ataudipantulkan. Bahan bervariasi dalam kemampuan untuk mentransmisikan cahaya, danbiasanya dideskripsikan sebagai transparan, translusen, atau opaque. Material yang transparan, seperti gelas,mentransmisikan cahaya dengan difus, seperti gelasterfrosted, disebut bahan translusen. Batuan yang opaque tidak mentransmisikan cahaya.Dua mekanisme penting interaksi cahaya dengan partikel dalam padatan adalahpolarisasi elektronik dan transisi elektron antar tingkat energi. Polarisasi adalahdistorsi awan elektron atom oleh medan listrik dari cahaya. Sebagai akibat polarisasi,sebagian energi dikonversikan menjadi deformasi elastik (fonon), dan selanjutnya panas.

e. Sifat kimia
Salah satu sifat khas dari keramik adalah kestabilan kimia. Sifat kimia dari permukaan keramik dapat dimanfaatkan secara positif. Karbon aktif, silika gel, zeolit, dsb, mempunyai luas permukaan besar dan dipakai sebagai bahan pengabsorb. Kalau oksida logam dipanaskan pada kirakira 500 C, permukaannya menjadi bersifat asam atau bersifat basa. Alumina g , zeolit, lempung asam atau S 2O 2 – TiO 2 demikian juga berbagai oksida biner dipakai sebagai katalis, yang memanfaatkan aksi katalitik dari titik bersifat asam dan basa pada permukaan.

f. Sifat fisik
Sebagian besar keramik adalah ikatan dari karbon, oksigen atau nitrogen dengan material lain seperti logam ringan dan semilogam. Hal ini menyebabkan keramik biasanya memiliki densitas yang kecil. Sebagian keramik yang ringan mungkin dapat sekeras logam yang berat. Keramik yang keras juga tahan terhadap gesekan. Senyawa keramik yang paling keras adalah berlian, diikuti boron nitrida pada urutan kedua dalam bentuk kristal kubusnya. Aluminum oksida dan silikon karbida biasa digunakan untuk memotong, menggiling, menghaluskan dan menghaluskan material-material keras lain.

Komposit
Bahan komposit (atau komposit) adalah suatu jenis bahan baru hasil rekayasa yang terdiri dari dua atau lebih bahan dimana sifat masing-masing bahan berbeda satu sama lainnya baik itu sifat kimia maupun fisikanya dan tetap terpisah dalam hasil akhir bahan tersebut.

Bahan komposit memiliki banyak keunggulan, diantaranya berat yang lebih ringan, kekuatan dan kekuatan yang lebih tinggi, tahan korosi dan memiliki biaya perakitan yang lebih murah karena berkurangnya jumlah komponen dan baut-baut penyambung. Kekuatan tarik dari komposit serat karbon lebih tinggi daripada semua paduan logam. Komposit dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu: 1. Material komposit serat, yaitu komposit yang terdiri dari serat dan bahan dasar yang diproduksi secara fabrikasi, misalnya serat + resin sebagai bahan perekat, sebagai contoh adalah FRP (Fiber Reinforce Plastic) plastik diperkuat dengan serat dan banyak digunakan, yang sering disebut fiber glass. 2. Komposit lapis (laminated composite), yaitu komposit yang terdiri dari lapisan dan bahan penguat, contohnya polywood, laminated glass yang seringdigunakan sebagai bahan bangunan dan kelengkapannya. 3. Komposit partikel (particulate composite), yaitu komposit yang terdiri dari partikel dan bahan penguat seperti butiran (batu dan pasir) yang diperkuat dengan semen yang sering kita jumpai sebagai betin.

Contoh-contoh bahan komposit: KUNINGAN Kuningan adalah paduan antara logam tembaga(cu) dengan seng(zn) dengan kadar yang bervariasi antara 10% - 40%,dan semakin tinggi kadar kuningan maka akan semakin kuat seng itu,tapi bila zn melebihi 40% seng akan mengalami penurunan kekuatan dan bila dilebur seng akan menguap membuat tembaga lebih sempurna sehingga akan menjadi lebih keras dan karena itu lebih baik untuk dikerjakan dengan mesin. Dalam perdagangan dikenal 2 jenis kuningan, yaitu:
 Kawat kuningan (brass wire) kadar tembaga antara 62-95%  Pipa kuningan (seamless brass tube) kadar tembaga antara 60-90%  Plat kuningan (brass sheet) kadar tembaga antara 60-90%

Tembaga dalam kuningan membuat kuningan bersifat antiseptik, melewati efek oligodinamis. Contohnya, gagang pintu yang terbuat dari kuningan dapat mendisinfeksi diri dari banyak bakteri dalam waktu 8 jam.Efek ini penting dalam rumah sakit, dan berguna dalam banyak konteks. Kuningan adalah logam yang merupakan campuran dari tembaga dan seng. Tembaga merupakan komponen utama dari kuningan, dan kuningan biasanya diklasifikasikan sebagai paduan tembaga. Warna kuningan bervariasi dari coklat kemerahan gelap hingga ke cahaya kuning keperakan tergantung pada jumlah kadar seng.

Seng lebih banyak mempengaruhi warna kuningan tersebut. Kuningan lebih kuat dan lebih keras daripada tembaga, tetapi tidak sekuat atau sekeras seperti baja. Kuningan sangat mudah untuk di bentuk ke dalam berbagai bentuk, sebuah konduktor panas yang baik, dan umumnya tahan terhadap korosi dari air garam. Karena sifat-sifat tersebut, kuningan kebanyakan digunakan untuk membuat pipa, tabung, sekrup, radiator, alat musik, aplikasi kapal laut, dan casing cartridge untuk senjata api. Jenis-Jenis Kuningan o Kuningan Admiralty, Mengandung 30% seng, dan 1% timah. o Kuningan Aich, Mengandung 60,66% tembaga, 36,58% seng, 1,02% timah, dan 1,74% besi. Dirancang untuk digunakan dalam pelayanan laut karena sifatnya yang tahan korosi, keras, dan tangguh. o Kuningan Alpha, Memiliki kandungan seng kurang dari 35%. Bekerja dengan baik pada suhu dingin. o Kuningan Alpha-beta (Muntz), sering juga disebut sebagai kuningan dupleks, mengandung 3545% seng, Bekerja baik pada pada suhu panas. o Kuningan Aluminium, Mengandung aluminium yang menghasilkan sifat peningkatan ketahanan korosi. o Kuningan Cartridge, mengandung 30% seng, memiliki sifat kerja yang baik pada suhu dingin. o Kuningan umum atau kuningan paku keling, mengandung 37% seng, murah dan standar sifat kerja baik pada suhu dingin. o Kuningan Tinggi, mengandung 65% tembaga dan 35% seng, memiliki kekuatan tarik tinggi, banyak digunakan untuk pegas, sekrup, dan paku keling. o Kuningan Rendah, paduan tembaga-seng mengandung 20% seng, memiliki sifat warna keemasan. o Kuningan Mangan, kuningan yang digunakan dalam pembuatan koin dolar emas di Amerika Serikat. Mengandung 70% tembaga, 29% seng, dan 1,3% mangan. o Kuningan nikel, terdiri dari 70% tembaga, 24,5% seng, dan 5,5% nikel. digunakan untuk membuat koin mata uang Poundsterling.

o Kuningan Angkatan Laut, mirip dengan kuningan admiralty, mengandung 40% seng dan 1% timah. o Kuningan Merah, mengandung 85% tembaga, 5% timah, 5% timbal, dan 5% seng. o Kuningan Tombac, mengandung 15% seng. Sering digunakan dalam aplikasi produk perhiasan. o Kuningan Tonval (Juga disebut dengan CW617N atau CZ122 atau OT58), paduan tembagatimbal-seng. o Kuningan Putih, mengandung seng lebih dari 50%. Sifatnya sangat rapuh untuk penggunaan umum. o Kuningan Kuning, adalah istilah Amerika untuk kuningan yang mengandung 33% seng.

Sifat Kimia dan Fisika Kuningan  Sifat Kimia : 1. Memiliki titik lebur yang relatif tinggi, memiliki ikatan ganda (ikatan logam dan ikatan kovalen logam) yang menyebabkan kuningan tersebut memiliki daya hantar listrik dan daya hantar panas yang baik. 2. Berdasarkan sifat kemagnetannya, kuningan bersifat paramagnetik (tertarik oleh medan magnetik). 3. Mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu. Adanya bilangan oksidasi lebih dari satu ini menyebabkan mudahnya melepaskan elektron valensi. Dengan demikian, energi ionisasi pertama, kedua, dan seterusnya memiliki harga yang relatif kecil dibandingan unsur golongan utama. 4. Kuningan bersifat logam, maka sering disebut logam transisi. 5. Karena kuningan merupakan campuran unsur Cu dan Zn, maka dapat membentuk senyawa yang lebih kompleks. 6. Sebagai katalis yang baik (Katalis merupakan suatu zat yang mempengaruhi kecepatan reaksi tetapi tidak dikonsumsi dalam reaksi dan tidakmempengaruhi kesetimbangan kimia pada akhir reaksi)  Sifat Fisika 1. Merupakan paduan logam tembaga dan logam seng dengan kadar tembaga antara 60-96% massa. 2. Mempunyai masa jenis sekitar 8,4 – 8,9 kg/dm3.

3. 4. Komposisi kimia paduan kuningan mengandung unsur utama yaitu Tembaga (Cu) sebesar 65,493 % dan seng (Zn) sebesar 34,506 % serta unsur-unsur lainnya. Kekuatan tariknya adalah 19.3055 kg/mm2 5. Unsur ini mempunyai titik lebur 1.083° Celcius (1981,40F). 6. Titik leleh yang relatif rendah dari kuningan (900-940°C, tergantung pada komposisi) dan karakteristik aliran yang membuatnya bahan relatif mudah meleleh.  Penggunaan Kuningan dalam bahan konstruksi, antara lain : 1. Kuningan digunakan sebagai bahan dalam pembuatan kawat listrik 2. Sebagai bahan penggosok, bahan bangunan konstruksi ringan dan tahan api. 3. Sebagai pelapis besi agar tidak mudah berkarat, karena kuningan mempunyai sifat keras, tahan korosi dan mudah mengkilap jika digosok. 4. Sebagai perhiasan, campuran antara kuningan dan emas 5. Sebagai bahan pembuat uang logam. 6. Merupakan penghantar listrik yang panas yang sangat baik, sehingga banyak digunakan pada alat-alat listrik

BAJA Baja adalah logam paduan, logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa elemen lainnya, termasuk karbon. Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar antara 0.2% hingga 2.1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini selalu ada dalam baja: karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen, nitrogen dan aluminium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk membedakan karakteristik antara beberapa jenis baja diantaranya: mangan, nikel, krom, molybdenum, boron, titanium, vanadium dan niobium. Dengan memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan.

Baja adalah logam aloy yang komponen utamanya adalah besi, dengan karbon sebagai material pengaloy utama. Karbon bekerja sebagai agen pengeras, mencegah atom besi, yang secara alami teratu dalam lattice, begereser melalui satu sama lain. Memvariasikan jumlah karbon dan penyebaran alloy dapat mengontrol kualitas baja. Baja dengan peningkatan jumlah karbon dapat memperkeras dan memperkuat besi, tetapi juga lebih rapuh. Definisi klasik, baja adalah besi-karbon aloy dengan kadar karbon sampai 5,1 persen; ironisnya, aloy dengan kadar karbon lebih tinggi dari ini dikenal dengan besi.

 Sifat Kimia Baja Baja pada dasarnya ialah besi (Fe) dengan tambahan unsur Karbon ( C ) sampai dengan 1.67% (maksimal). Bila kadar unsur karbon ( C) lebih dari 1.67%, maka material tersebut biasanya disebut sebagai besi cor (Cast Iron). Makin tinggi kadar karbon dalam baja, maka akan mengakibatkan halhal sebagai berikut: · Kuat leleh dan kuat tarik baja kan naik, · Keliatan / elongasi baja berkurang, · Semakin sukar dilas. Struktur Mikro Unsur Fe dan C menyususn diri dalam suatu struktur berulang dalam pola tiga dimensi yang dinamakan dengan kristal. Kristal –kristal yang berorientasi (arah pengulangan / susunan ) sama disebut sebagai butir.Susunan kumpulan butir satu dengan yang lain pada suatu fasa tertentu dinamakan struktur mikro, contoh struktur mikro antara lain: ferit, perlit dan sementit. Ukuran Butiran Penghalusan butir baja akan menghasilkan. -Peningkatan kuat leleh (yield strength), -Perbaikan sifat keuletan (toughness) dan keliatan (ductility), -Penghalusan butiran dapat dilakukan dengan penambahan unsur niobium, vanadium dan aluminium dengan jumlah maksimal 0.05% atau dengan heat treatment.

Kandungan unsur-unsur logam. Unsur – unsur non-logam yang umumnya dibatasi jumlahnya didalam produk baja adalah Sulfur (S) dan Fosfor (P). Tinggi kadar kedua unsur tersebut bisa menurunkan keliatan (ductility) baja dan meningkatkan kemungkinan retak pada sambungan las. Pada baja khusus mampu las, kandungan kedua unsur diatas dibatasi kurang dari 0.05%.

Kandungan unsur-unsur non logam. Baja yang mengandung gas – gas terlarut dalam kadar yang tinggi terutama: Oksigen (O) dan Nitrogen (N) dapat menimbulkan sifat getas. Untuk mengurangi kadar gas tersebut biasa digunakan unsur - unsur yang dapat mengikat kedua unsur gas diatas menjadi senyawa yang cukup ringan sehinggan senyawa tersebut akan mengapung ke permukaan baja yang masih panas dan cair. Unsur - unsur pengikat gas N dan O biasanya digunakan unsur silicon (Si) dan atau aluminium (Al) yang fungsinya disebut sebagai Deoxidant. Sifat tahan panas dan tahan korosi. Sifat – sifat khusus baja seperti yang dibahas pada bab 1 paragraf 4, dapat dicapai dengan penambahan unsur – unsur utama sebagai berikut: Chrom (Cr), Nikel (Ni) dan molybdenum (Mo).  Sifat Fisika Baja Baja banyak digunakan karena baja mempunyai sifat mekanis/fisik lebih baik dari pada besi, sifat baja antara lain: 1. Tangguh dan ulet 2. Mudah ditempa 3. Mudah diproses 4. Sifatnya dapat diubah dengan mengubah karbon 5. Sifatnya dapat diubah dengan perlakuan panas 6. Kadar carbon lebih rendah dibanding besi 7. Banyak dipakai untuk berbagai bahan peralatan  Kegunaan baja dalam bahan konstruksi 1. Baja tahan karat martensit mengandung chrom 13% kuat leleh dan tariknya diperoleh dari proses pendinginan pada kondisi udara luar, sesuai untuk lingkungan korosif ringan, serta biasanya digunakan untuk saluran dan rumah –rumah turbin. 2. Baja tahan karat ferit mengandung chrom 16%, sesuai untuk lingkungan korosif terutama terhadap bahan kimia asam nitrat, serta biasanya digunakan untuk komponen – komponen dalam industri kimia.

3. Baja karat austenit mengandung chrom-nikel 18%, dimana sifat tahan karatnya didapat melalui pemanasan pada suhu 1000 - 11000 lalu didinginkan dengan direndam kedalam air, sesuai untuk lingkungan yang mengandung garam, serta biasanya digunakan untuk baling – baling kapal. 4. Baja tahan panas biasanya dinamakan untuk baja yang tahan pada suhu 6500, dimana sifat itu didapat pada kodisi kadar chrom dan nikel yang cukup tinggi. Berbeda dengan baja tahan karat adalah umunya kandungan karbonnya lebih tinggi. Umumnya digunakan pada ketel uap, boiler, tungku dan lain – lain.

PLYWOOD Plywood adalah lembaran-lembaran tipis kayu yang dilekatkan menjadi satu lembaran kayu dengan ketebalan tertentu Pada saat ini istilah plywood juga bisa digunakan untuk menyebut suatu konstruksi yang menggunakan lembaran kayu di bagian depan atau bagian belakang dengan core di bagian tengahnya. Suatu particle board, hardboard, mdf atau laminated wood yang dilapisi veneer di bagian luar saja juga bisa disebut sebagai plywood. Selain banyak jenis core yang bisa digunakan ada banyak jenis overlay yang bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya untuk outdoor uses maka resin impregnated paper bisa digunakan karena lebih awet dan menghasilkan permukaan yang lebih mudah di cat dengan paint. Bahan dari reprinted paper atau plastic sheet dengan penampilan wood grain painted juga banyak ditawarkan untuk pembuatan papan panel. Plywood dapat dibuat dalam berbagai ketebalan dengan vareasi pada jumlah dan ketebalan dari lapisan yang dipakai, Tetapi ukuran standard yang biasa digunakan adalah 1/8 in sampai ¼ in, dengan ukuran panjang dan lebar standard adalah 4 ft x 8 ft. Plywood adalah bahan dasar yang umum digunakan untuk pembuatan furniture. Harganya relatif lebih murah daripada kayu solid. Plywood merupakan kayu olahan yang relatif lebih kuat dibanding jenis kayu olahan lainnya seperti hdf, mdf, blockboard atau partikel board. Bahan dasar plywood adalah kulit kayu yang berlapis-lapis dan dipress. Plywood biasanya dilapisi kulit kayu jati, sungkai, nyatoh atau kulit kayu lainnya. Dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan kayu olahan lainnya, menyebabkan furniture dengan bahan plywood memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan kayu olahan lainnya.

 Sifat Kimia PLYWOOD 1. Struktur kimia yang tetap pada suhu kamar 2. Penyusun utama plywood adalah karbon(40%) 3. Mudah terbakar saat kering 4. Jarak partikel penyusun dekat dan teratur 5. Tidak korosif (berkarat)  Sifat Fisika PLYWOOD 1. Isolator (daya hantar panas dan listrik yang jelek) 2. Termasuk zat padat/rigid (mempunyai ikatan antar patikel yang kuat) 3. Kerapatan/massa jenis lebih besar dibanding zat cair dan gas 4. Volume tetap 5. Bersifat higroskopis(dapat menyerap dan melepaskan air dari lingkungannya)  Kegunaan PLYWOOD dalam bahan konstruksi Umumnya plywood digunakan sebagai bahan dasar furniture. Kelebihan plywood adalah karena daya tahannya terhadap penyusutan kayu dan ukuran panjang lebar yang tidak mungkin didapatkan dari kayu solid pada posisi kualitas yang sama. Tetapi bukan berarti plywood punya daya tahan yang sama kuatnya terhadap cuaca. material ini hanya direkomendasikan untuk perabot di dalam ruangan (indoor). Pada awalnya plywood diproduksi karena kebutuhan akan papan lebar sangat besar dan apabila menggunakan kayu solid sangat beresiko tinggi terhadap efek penyusutan kayu (melengkung, melintir dan pecah/retak). Namun demikian plywood juga memiliki keterbatasan dalam ukuran panjang dan lebar. Dari konstruksi yang digunakan untuk membuat plywood, maka bahan ini sangat tahan terhadap resiko pecah/retak, melengkung atau melintir yang tergantung pula pada ketebalannya. Dimulai dari standar ketebalan 3mm, 4mm, 6,9,12,15,18mm dan seterusnya. BETON Beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi aggregat dan pengikat semen. Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang umum digunakan untuk bahan dasar bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain-lain. Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton ini di dapatkan dengan cara mencampur agregat halus (pasir), agregat kecil (kerikil), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen portland atau semen hidrolik yang lain. Kadang-kadang dengan bahan tambahan (additif) yang bersifat kimiawi ataupun fisikal pada perbandingan tertentu,

sampai menjadi satu kesatuan yang homogen. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan terjadi karena peristiwa reaksi kimia antara semen dengan air.

Kelebihan Beton : 1. Beton mampu menahan gaya tekan dengan baik, serta mempunyai siifat tahan terhadap korosi dan pembusukan oleh kondisi lingkungan. 2. Beton segar dapat dengan mudah dicetak sesuai dengan keinginan. Cetakan dapat pula dipakai berulang kali sehingga lebih ekonomis. 3. Beton segar dapat disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak maupun dapat diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan. 4. Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang posisinya sulit. 5. Beton tahan aus dan tahan bakar, sehingga perawatannya lebih murah.

Kekurangan Beton : 1. Beton dianggap tidak mampu menaahan gaya tarik, sehingga mudah retak. Oleh karena itu perlu diberi baja tulangan sebagai penahan gaya tarik. 2. Beton keras menyusut dan mengembang bila terjadi perubahan suhu, sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mencegah terjadinya retakan-retakan akibat terjadinya perubahan suhu. 3. Untuk mendapatkan beton kedap air secara sempurna, harus dilakukan dengan pengerjaan yang teliti. 4. Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan diteliti secara saksama agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.  Sifat Fisika Beton 1. Faktor yang mempengaruhi kekuatan beton adalah perbandingan berat air dan semen, tipe dan gradasi agregat, kualitas semen, dan perawatan (curing)

2. Kekuatan beton terutama dipengaruhi oleh banyaknya air dan semen yang digunakan atau tergantung pada faktor air semen dan derajat kekompakannya 3. Kenyataan menunjukkan bahwa penggunaan agregat akan menghasilkan beton dengan kuat tekan dan kuat tarik lebih besar daripada penggunaan kerikil halus dari sungai 4. Beton memiliki kuat tekan yang relatif tinggi, namun kekuatan tarik secara signifikan lebih rendah, dan dengan demikian biasanya diperkuat dengan bahan yang kuat dalam ketegangan (misal:baja).  Sifat Kimia Beton :

1. Kuat tekan beton benda uji silinder maupun kuat lentur benda uji yang dipanaskan dalam tungku
pada temperature 200ºC meningkat sekitar 10-15% dibandingkan dengan beton normal yang tanpa dipanaskan.

2. Pada suhu antara 400 - 600ºC, penurunan kuat tekan dan kuat lentur hingga mencapai 50% dari
kuat tekan sebelumnya.

3. Beton pada dasarnya tidak diharapkan mampu menahan panas sampai di atas 250 ºC 4. Kepadatan beton bervariasi, tetapi sekitar 2.400 kg / m³ (150 pound per kaki kubik atau £ 4050 / yd
³) Adapun komposisi dari beton itu sendiri sebagai berikut :

 Kegunaan Beton dalam bahan konstruksi : Konstruksi Beton merupakan konstruksi dengan bahan dari beton yang terdiri dari semen (umum Portland semen ) dan bahan semen lain seperti fly ash dan semen terak , agregat (agregat kasar umumnya terbuat dari batu kerikil atau dihancurkan seperti kapur , atau batu granit , ditambah agregat halus seperti pasir ), air , dan kimia pencampuran. Beton mengeras dan mengeras setelah pencampuran dengan air dan penempatan karena proses kimia yang dikenal sebagai hidrasi. Air bereaksi dengan semen, yang obligasi komponen lainnya

bersama-sama, akhirnya membuat bahan batu-seperti. Beton digunakan untuk membuat trotoar , pipa, struktur arsitektur, jalan raya / jalan , jembatan / jalan layang , parkir struktur, bata / blok dinding dan pondasi untuk pintu gerbang, pagar dan tiang.

KACA LAMINATED GLASS Kaca laminated dihasilkan melalui proses laminasi dengan melekatkan dua lembar kaca biasa dan menggunakan polyvinil butiral film. Bilamana kaca tersebut pecah, pecahannya akan tetap melekat pada film tersebut. Polyvinil film yang digunakan untuk kaca laminated merupakan lembaran film yang transparan dan bebas dari perubahan warna, tidak memuai dan retak sehingga tidak mengurangi keindahan dan kejernihan dari kaca itu sendiri. Karakteristik 1. Aman Apabila sebuah benturan memecahkan kaca laminated pecahannya tidak akan melukai penggunanya. 2. Melindungi Kaca laminasi menawarkan perlindungan lebih besar bagi orang dan properti dibandingkan produk kaca lainnya. Standar dua-konstruksi /lapis memberikan ketahanan terhadap penetrasi ketika mengalami serangan. Multi-lapis kaca dan film polyvinil desain dapat memberikan resistensi terhadap peluru, bom dan serangan yang kuat. 3. Pengontrol suara Kinerja kaca film membuat kaca laminated sangat efektif digunakan untuk mengontrol transmisi suara. 4. Kontrol solar energi Polyvinil fim yang berwarna dapat mengurangi transmisi solar energi sehingga memberikan kesejukan. Kaca laminated juga mengurangi pantulan sinar matahari tanpa distorsi warna pandang, dan dengan warna warna film pilihan, kaca laminated memberikan ‘nilai tambah untuk desain. 5. Membatasi sinar ultra violet Kemampuan daya tahan kaca laminated menyaring ultra violet, sangat membantu melindungi barang barang rumah tangga dari efek perubahan warna yang diakibatkan pengaruh radiasi ultra violet. 6. Penampilan struktur Kaca laminated pada dasarnya memiliki penampilan struktur yang sama dengan kaca tunggal, yaitu memiliki kejernihan yang sempurna dan bebas dari perubahan warna.

7. Daya tahan terhadap pengaruh sinar, kelembaban dan panas Kaca laminated mempunyai daya tahan terhadap sinar ultra violet, kelembaban dan suhu panas sehingga tidak akan ada perubahan warna, luntur dan tidak ada gelembung hawa pada polyvinil film. 8. Warna Kaca laminated yang dibuat dari polyvinil film yang merupakan pigmen solid, tersedia dengan pilihan warna-warna menarik, dan bervariasi.

Sifat Kaca Sifat kaca yang penting untuk dipahami adalah sifat pada saat kaca berbentuk fasa cair dan fasa

padatnya. Sifat fasa cair dari kaca digunakan dalam proses pengambangan (floating) dan pembentukan kaca, sedangkan untuk sifat fasa padat dari kaca digunakan di dalam pemakaiannya (kegunaannya). Beberapa sifat fisik dan kimia yang penting dari kaca antara lain : 1. Sifat mekanik Tension strength atau daya tarik adalah sifat mekanik utama dari kaca.Tensile strength merupakan tegangan maksimum yang dialami oleh kaca sebelum terpisahnya kaca akibat adanya tarikan (fracture). Sumber fracture ini dapat muncul jika kaca mempunyai cacat di permukaan, sehingga tegangan akan terkonsentrasi pada cacat tersebut. Kekuatan dari kaca akan bertambah jika cacat di permukaan dapat dihilangkan. 2. Densitas dan Viskositas Densitas adalah perbandingan antara massa suatu bahan dibagi dengan volumenya. Nilai densitas dari kaca adalah sekitar 2,49 g/cm3. Densitas dari kaca akan menurun seiring dengan kenaikan temperatur. Sedangkan, viskositas merupakansifat kekentalan dari suatu cairan yang diukur pada rentang temperatur tertentu. Viskositas dari kaca sekitar 4,5 x 107 poise. Harga viskositas dari kaca merupakan fungsi dari suhu dengan kurva eksponensial.

3. Sifat termal Konduktivitas panas dan panas ekspansi merupakan sifat thermal yang penting dari kaca. Kedua sifat ini digunakan untuk menghitung besarnya perpindahan panas yang diterima oleh cairan kaca tersebut. Nilai dari tahanan kaca sekitar 1020 – 1 Ω cm13. 4. Optical properties
 Refractive properties

Kaca mempunyai sifatmemantulkan cahaya yang jatuh pada permukaan kaca tersebut. Sebagian sinar dari kaca yang jatuh itu akan diserap dan sisanya akan diteruskan. Apabila cahaya dari udara melewati medium padat seperti kaca, maka kecepatan cahaya saat melewati kaca menurun. Perbandingan antara kecepatan cahaya di udara dengan kecepatan cahaya yang lewat gelas ini disebut dengan indeks bias. Nilai indeks bias untuk kaca adalah ± 1,52.
 Absorptive properties

Intensitas cahaya yang masuk ke dalam akan berkurang karena adanya penyerapan sepanjang tebal kaca tersebut. Jika kaca semakin tebal, maka energi cahaya yang diserap akan semakin banyak sedangkan intensitas cahaya yang masuk melalui kaca akan semakin rendah. 5. Stabilitas kimia Stabilitas kimia adalah ketahanan suatu bahan terhadap pengaruh zat kimia. Stabilitas kimia banyak dipengaruhi oleh bahan – bahan pembentuk kaca.

 Kegunaan Laminated Glass dalam bahan konstruksi 1. Untuk pintu partisi digedung ataupun dirumah pribadi dimana kekuatan dan kebeningan kaca serta keamanan dibutuhkan. 2. Untuk kaca depan dan kaca jendela dari berbagai jenis kendaraan. 3. Untuk kaca anti peluru. 4. Untuk loket dan tempat menyimpan dan memamerkan barang barang berharga. 5. Dengan polyvinil film yang berwarna akan menjadikan kaca laminated sebagai hiasan yang indah untuk jendela dan partisi serta masih banyak lagi kegunaan lainnya. 6. Arsitektur, karena kelebihan yang dimiliki kaca laminated, maka semakin banyak arsitek menggunakannya pada gedung gedung yang ramai dikunjungi orang atau dirumah rumah dimana banyak anak anak bermain. Loket penjualan karcis di bioskop bioskop, loket di bank dan tempat penyimpanan barang barang berharga. Kaca laminated juga digunakan pada jendela -jendela yang harus menahan kerasnya tiupan angin atau derasnya tekanan air, seperti atap kaca, aquarium.

7. Kendaraan bermotor, karena daya tahan yang.tinggi terhadap benturan dan tekanan angin, maka kaca laminated merupakan kaca pengaman yang baik untuk kaca depan dan jendela kendaraan bermotor (mobil, kereta api, kapal laut, pesawat udara).

FIBRE REINFORCED PLASTIC Fibreglass Reinforced Plastic adalah material yang sangat baik untuk digunakan dalam berbagai produk dari bahan komposit relatif modern yang terdiri dari berbagai komponen material Fibre. Ada banyak material Fibre yang digunakan dalam memproduksi suatu barang jadi. Namun Disini penuslis hanya akan menjelaskan beberapa material Fibreglass yang sering digunakan dalam memproduksi barang Sifat Fisika: 1. Begitu kuat dan kaku untuk berat, ia dapat melebihi sebagian besar bahan lainnya termasuk baja, aluminium dan kayu 2. Jauh lebih padat dan lebih ringan walaupun volumenya setara baja atau aluminium. 3. Dengan Reinforced Fibre, komposit dapat memiliki sifat anisotropik. Artinya, komposit dapat direkayasa untuk memiliki sifat yang berbeda dalam arah yang berbeda tergantung pada orientasi dari Reinforced Fibre tersebut 4. Kekuatan dan elastisitas yang ditingkatkan dalam FRP tergantung pada sifat mekanik dari kedua serat dan matriks, volume relatif mereka satu sama lain, dan panjang serat dan orientasi dalam matriks.

Sifat Kimia: 1. Fiber tidak hanya tahan lama tetapi dapat mempertahankan suhu, sehingga mengurangi pemanasan dan pendinginan biaya. Permukaan fiberglass tetap nyaman untuk disentuh 2. Berpengaruh minimal oleh perubahan suhu eksternal, fiberglass sangat ideal untuk situasi di mana suhu berfluktuasi 3. Minimum reaktif, sehingga ideal sebagai penutup pelindung untuk permukaan dimana tumpahan bahan kimia mungkin terjadi. Hal ini berguna dalam pembangunan tangki, kerudung, selimut, pipa, saluran dan struktur lainnya di kertas, kimia, pengolahan air dan industri minyak bumi.

Kegunaan: Bahan baku konstruksi pada industri, otomotif, penerbangan. Ada beberapa bahan bakuyang dapat dihasilkan dari Material FRP ini, diantaranya : 1. Boats Azimut Flybridge yang diproduksi SeaRayBoats Amerika

2. Interior dan eksterior Intrior boat pesiar yang diproduksi Cisangarung

3. Dashboard Dashboar boat pesiar yang diproduksi Cisangarung

4.

Pelat dinding/lantai

5. Kursi Mini kursi yang diproduksi Cisangarung

PULP CEMENT BOARD Papan Semen Pulp (Pulp Cement Board) adalah suatu bahan dalam bentuk lembaran yang terbuat dari campuran semen portland, asbes dan bahan pengisi anorganik dengan perbandingan tertentu. Sifat Fisika:   Dibuat dalam lapisan ketebalan yang sangat tipis, sehingga sangat sulit untuk memproduksi papan ketebalan tinggi Pulp Cement Board dapat diklasifikasikan sebagai tahan air dan tidak terpengaruh oleh paparan air. Tapi memungkinkan adanya penetrasi dari aliran air dan uap air

Sifat Kimia:    Terbuat dari sekitar 40-60% dari semen, 20-30% dari pengisi, 8-10% dari selulosa, 10-15% dari mika Pulp Cement Board memiliki kinerja lebih baik karena tidak akan membentuk jamur atau kerusakan fisik bila dihadapkan terus dengan kelembaban atau kebocoran Pulp Cement Board sebenarnya tidak tahan air, tetapi sangat tahan terhadap menyerap kelembaban dan memiliki sifat pengeringan baik

Kegunaan: Digunakan pada konstruksi bangunan. Pulp Cement Board biasanya digunakan sebagai furniture untuk dinding rumah atau gedung pencakar langit.

CERAMIC FIBER Sifat Fisika:  Serat diatur berbentuk 2-dimensi (2D) ditumpuk polos atau satin menenun kain. Dengan demikian materi yang dihasilkan adalah anisotropic atau, lebih khusus, orthotropic  Sifat termal dan listrik dari komposit merupakan hasil dari konstituen, yaitu serat, matriks dan pori-pori serta komposisi mereka. Orientasi serat menghasilkan data anisotropic. Oksida Carbon Fiber merupakan isolator listrik yang sangat baik, dan karena porositas tinggi isolasi termal mereka jauh lebih baik daripada keramik oksida konvensional.  Rata-rata kepadatan Ceramic Fibre adalah 96 kg/m3. Ini adalah sepersepuluh dari berat batu bata isolasi dan sepertiga yang asbes / kalsium papan silikat. Untuk tungku baru dukungan struktural dapat dikurangi dengan 40%.  Karena berat jenisnya kecil maka panas yang diserap jumlahnya kecil

Sifat Kimia:  Hanya serat yang stabil pada suhu di atas 1000 ° C bisa digunakan, seperti serat alumina, mullite, SiC, zirkonia atau karbon  Ceramic Fibre menahan sebagian besar serangan kimia dan tidak terpengaruh oleh hidrokarbon, air dan uap hadir dalam gas buang.  Lapisan Ceramic Fibre menyerap lebih sedikit panas karena kepadatan yang lebih rendah. Tungku dapat dipanaskan dan didinginkan pada tingkat yang lebih cepat. Biasanya panas yang disimpan dalam sistem lapisan serat keramik di kisaran 2700 - 4050 kCal/m2 (1000-1500 Btu/Ft2)  Rendahnya konduktivitas termal - 0,1 kkal / m jam deg C pada 600 ° C setiap 128 kg/m3 kepadatan permukaan

Kegunaan: -Pelindung panas pada pesawat luar angkasa -Bahan baku pembuatan turbin gas bersuhu tinggi -Bahan baku sistem pengereman pada kendaraan

METAL FIBER Sifat Fisika:  Jaringan dari Metal Fiber sangat berpori, bahan permeabel, yang menunjukkan memiliki kekuatan relatif tinggi  Metal Fiber dibuat dengan melebur logam dan paduan lembut, seperti emas, perak, tembaga dan perunggu, menjadi lembaran tipis, dan kemudian memotong lembaran menjadi sempit seperti pita filamen  Metal Fiber memiliki batasan penggunaannya. Metal Fiber mahal untuk diproduksi,Metal Fiber cenderung tidak fleksibel dan kaku, dan penampang pita seperti yang disediakan cutting edge yang dibuat untuk keras, pegangan kasar, Metal Fiber sulit untuk dirajut atau ditenun, dan Metal Fiber hanya memiliki resistensi terbatas terhadap abrasi.  Metal fiber yang digunakan dalam industri hampir seluruhnya sebagai bahan dekoratif. Metal Fiber berbentuk logam, dan berkilauan yang tidak dapat diperoleh dengan cara lain  Serat logam mungkin kering dibersihkan tanpa kesulitan, asalkan perawatan diambil dalam pemilihan pelarut yang sesuai dengan jenis serat.

Sifat Kimia:  Ketika perekat dan film yang cocok digunakan, mereka tidak terpengaruh oleh air asin, air yang mengandung klor di kolam renang atau kondisi iklim  Proses sintering dalam atmosfir hidrogen dapat mengubah materi menjadi besi murni.

 Aluminium akan menimbulkan korosi dan ternoda di udara dan kontak dengan air laut, tetapi dalam Metal Fiber akan terlindungi dengan sangat efektif sehingga dapat mempertahankan gemerlapnya untuk waktu yang lama  Jenis Asetat harus disetrika pada suhu tidak lebih tinggi dari 105 ° C. Jenis Polyester dapat disetrika pada suhu sampai 130 ° C.

Kegunaan: Salah satu bahan pada industri tekstil sebagai decorative (hiasan) pada pakaian.

CARBON FIBER Carbon Fiber ini adalah serat karbon yang telah ditenun dan telah berbentuk lembaran kain. Keunggulan frame carbon adalah bobotnya yang sangat ringan dan stiffness yang sangat bagus, juga tahan korosi. Penggunaan carbon ini tidak melulu untuk seluruh frame, bisa juga pada bagian-bagian tertentu yang membutuhkan stiffness lebih. Di sisi lain, frame carbon juga mempunyai kelemahan. Sekalipun kuat, carbon fiber kurang tahan terhadap benturan keras dibanding frame metal. Sehingga frame yang terjatuh bisa saja tidak dapat digunakan lagi atau bahkan patah. Pada dasarnya carbon fiber ini adalah plastik yang diperkuat oleh serat carbon, maka akan getas dengan berjalannya waktu namun dengan penemuan nano-alloy membuat umur frame lebih panjang.

Sifat Fisika:  Kekakuan tinggi, kekuatan tarik tinggi, berat badan rendah, ketahanan kimia yang tinggi, toleransi suhu tinggi dan ekspansi termal rendah  Setiap thread filamen karbon memiliki bundel ribuan filamen karbon. Sebuah filamen tunggal tersebut adalah tabung tipis dengan diameter 5-8 mikrometer dan terdiri hampir seluruhnya dari karbon  Struktur atom serat karbon mirip dengan grafit, yang terdiri dari lembaran atom karbon (lembaran graphene) diatur dalam pola heksagonal biasa

Sifat Kimia  Karbon serat yang berasal dari Polyacrylonitrile (PAN) yang turbostratik, sedangkan serat karbon yang berasal dari lapangan mesofasa yang graphitic setelah perlakuan panas pada suhu melebihi 2200 ° C  Karbon yang dipanaskan pada kisaran 1500-2000 ° C (karbonisasi) menunjukkan kekuatan tarik tertinggi (820,000 psi, 5.650 MPa atau N / mm ²), sedangkan serat karbon yang dipanaskan 25003000 ° C (graphitizing) menunjukkan modulus elastisitas yang lebih tinggi (77.000.000 psi atau 531 GPa atau 531 kN / mm ²).

Kegunaan:     Digunakan pada tekstil Digunakan sebagai bahan baku otomotif Digunakan padaindustri militer seperti senjata Digunakan pada peralatan pabrik

Grafit

Grafit, sebagaimana berlian, adalah bentuk alotrop karbon, karena kedua senyawa ini mirip namun struktur atomnya mempengaruhi sifat kimiawi dan fisikanya. Grafit adalah mineral yang dapat berasal dari batuan beku, sedimen, dan metamorf. Grafit terdiri atas lapisan atom karbon, yang dapat menggelincir dengan mudah. Artinya, grafit amat lembut, dan dapat digunakan sebagai minyak pelumas untuk membuat peralatan mekanis bekerja lebih lancar. Secara alamiah, grafit ditemukan di Sri Lanka, Kanada dan Amerika Serikat. Grafit juga disebut sebagai timbal hitam. Grafit dinamai oleh Abraham Gottlob Werner pada tahun 1789 dengan mengambil kata dari bahasa Yunani. Grafit juga bisa dibuat menjadi isi pensil. Tidak seperti diamond grafit bersifat konduktor sehingga dapat dipakai untuk elektroda dalam proses elektrolisis. Sifat daya hantar ini disebabkan grafit memiliki elektron dalam orbital pi yang terdelokalisasi dibawah dan diatas bidang karbon. Ikatan yang terdapat dalam grafit adalah sp2 dengan bentuk datar/plane dengan sudut 120 derajat. Elektron ini dapat bergerak bebas sejauh dalam lapisan karbon. Grafit lebih reaktif dibandingkan dengan karbon, disebabkan reaktan dapat menetrasi diantara lapisan heksagonal grafit. Tidak bereaksi dengan asam encer atau basa dan dapat dioksidasi oleh asam kromat menjadi CO2. Grafit tidak mencair akan tetapi mengalami sublimasi pada suhu 3500 C. Kristal grafit memiliki dua bentuk yaitu alfa-grafit dengan bentuk heksagonal dan beta grafit dengan bentuk rombohedral. Di samping tidak cukup padat, grafit tidak terdapat dalam jumlah banyak di alam. Oleh karena itu,untuk keperluan peralatan teknik serta pembuatan elektroda, grafit harus dibuat secara sintetik.

Pembuatan: Grafit alam atau grafit yang dibuat dari kokas diperkecil ukurannya, dicampur dengan ter atau resin sintetik,kemudian dipanaskan sehingga membentuk padatan (sintering) dalam 105 cetakan. Grafit memiliki struktur lapisan (layer structure) yang sedikit sulit untuk digambarkan secara meyakinkan pada bentuk tiga dimensi. Diagram dibawah ini menunjukkan susunan atom pada tiap lapisan, dan cara lapisan menempati ruang.

Menurut Kuzvart (1984) grafit dapat terjadi secara proses magnetik awal, kontak magmatik, hidrotermal, metamorfogenik, dan residual. 1. Sifat Fisik Grafit Rapat massa Panas fusi Kapasitas panas (25oC) Konduktivitas termal (300 K) Tingkat kekerasan (Mohs) Warna Bentuk Berat jenis  2,267 g.cm-3 100 kJ.mol-1 8,517 J.mol-1.K-1 119-165 m-1.K-1 1-2 Hitam hingga abu-abu tembaga Serbuk 2,1-2,3

Memiliki titik leleh tinggi, sama seperti intan. Untuk melelehkan grafit, tidak hanya cukup memisahkan salah satu lembaran atom dari lembaran atom yang lainnya. Kamu harus memutuskan seluruh ikatan kovalen yang terdapat pada seluruh bagian struktur grafit.

2. Sifat Kimia Grafit Adapun sifat kimia yang dimiliki grafit adalah : a. Tidak berbau dan tidak beracun b. Tidak mudah larut, kecuali dalam asam hidroflorik atau aqua regia mendidih. c. Proses dekomposisi berlangsung lambat pada suhu 6000C dan dalam kondisi oksida atau pada suhu 3.5000C bila kondisi bukan oksida. d. Grafit adalah panas yang cukup baik tetapi bersifat rapuh. e. Akibat delokalisasi elektron antar-permukannya, grafit dapat berfungsi sebagai konduktor listrik. f. Menghantarkan listrik. Elektron yang terdelokalisasi bebas bergerak di seluruh bagian lembaran atom. Jika setiap bagian grafit terhubung pada suatu sirkuit, elektron akan dapat berpindah dari ujung lembaran dan dapat digantikan oleh elektron yang baru pada ujung yang lain. g. Tidak larut dalam air dan pelarut organik – dengan alasan yang sama seperti intan yang tidak larut. Dayatarik antara molekul pelarut dan atom karbon tidak akan pernah cukup kuat untuk melampaui ikatan kovalen yang kuat pada grafit. h. Ditinjau dari segi ketahanan terhadap korosi, grafit merupakan bahan yang bidang penggunaannya sangat luas. Bahan tersebut tahan terhadap semua asam dan sebagian besar basa hingga di atas 100°C. Kegunaan Grafit : 1. Karena sifatnya sebagai konduktor listrik grafit digunakan sebagai anoda pada baterai (sel Leclanche) dan sebagai elektroda pada sel elektrolisis. 2. Serat grafit dimanfaatkan untuk pelepasan muatan elektrostatik pada selubung ventilasi. 3. Grafit sekarang umum digunakan sebagai "timbal" pada pensil setelah dicampur dengan tanah liat. 4. Refraktori. Penggunaan ini dimulai sebelum tahun 1900 dengan wadah grafit yang digunakan untuk menyimpan logam cair. 5. Sebagai pelumas untuk mesin. 6. Digunakan dalam produksi baja.

7. Jika karbon aktif dipanaskan pada suhu 1.500 °C dengan paladium dan platina sebagai katalis, akan menghasilkan serat polimer, seperti poliakrilonitril atau selulosa, yang bila digabungkan dengan plastik akan membentuk foam dan foil. 8. Beberapa jenis grafit digunakan sebagai insulator panas. 9. Sebagai zat warna untuk cat hitam. 10. Lapisan rem Serpihan grafit amorf alami dan halus digunakan dalam lapisan rem atau sepatu rem. Menurut USGS , Amerika Serikat konsumsi grafit alam untuk lapisan rem sebanyak 6.510 ton pada tahun 2005.

Kayu
Sifat Fisik Kayu 1. Berat dan Berat Jenis Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat ekstraktif didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu nani). Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula. 2. Keawetan Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dll. Keawetan kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif didalam kayu yang merupakan unsur racun bagi perusak kayu. Zat ekstraktif tersebut terbentuk pada saat kayu gubal berubah menjadi kayu teras sehingga pada umumnya kayu teras lebih awet dari kayu gubal. 3. Warna Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi warna dalam kayu yang berbeda-beda. 4. Tekstur Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu digolongkan kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh: kempas, meranti dll).

5. Arah Serat Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon. Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak, serta terpilin dan serat diagonal (serat miring). 6. Kesan Raba Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu. 7. Bau dan Rasa Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka. Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper (kapur) dsb. 8. Nilai Dekoratif Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat, tekstur, dan pemunculan riap-riap tumbuh dalam pola-pola tertentu. Pola gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu mempunyai nilai dekoratif. 9. Higroskopis Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air. Makin lembab udara disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content). 10. Sifat Kayu terhadap Suara, yang terdiri dari : a. Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat dengan elastisitas kayu. b. Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang suara. Kualitas nada yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu banyak dipakai untuk bahan pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola dll). 11. Daya Hantar Panas Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan untuk membuat barangbarang yang berhubungan langsung dengan sumber panas.

12. Daya Hantar Listrik Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran listrik. Daya hantar listrik ini dipengaruhi oleh kadar air kayu. Pada kadar air 0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya apabila kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya boleh dikatakan sama dengan daya hantar air. Sifat Kimia Kayu 1. Unsur karbohidrat terdiri dari selulosa dan hemiselulosa  Selulosa organik dengan rumus (C6H10O5)n,

Selulosa merupakan senyawa

sebuah polisakarida yang terdiri dari rantai linier dari beberapa ratus hingga lebih dari sepuluh ribu ikatan β(1→4) unit D-glukosa. Selulosa merupakan komponen struktural utama dinding sel dari tanaman hijau, banyak bentuk ganggang dan Oomycetes. Beberapa spesies bakteri mengeluarkan itu untuk membentuk biofilm. Selulosa adalah senyawa organik yang paling umum di Bumi. Sekitar 33% dari semua materi tanaman adalah selulosa (isi selulosa dari kapas adalah 90% dan dari kayu adalah 40-50%). Selulosa tidak dapat dicerna oleh manusia, hanya dapat dicerna oleh hewan yang memiliki enzim selulase.  Hemiselulosa pada polisakarida yang mengisi ruang antara serat-

Hemiselulosa merujuk

serat selulosa dalam dinding sel tumbuhan. Secara biokimiawi, hemiselulosa adalah semua polisakarida yang dapat diekstraksi dalah larutan basa (alkalis). Namanya berasal dari anggapan, yang ternyata diketahui tidak benar, bahwa hemiselulosa merupakan senyawa prekursor (pembentuk) selulosa. Monomer penyusun hemiselulosa biasanya adalah rantai D-glukosa, ditambah dengan berbagai bentuk monosakarida yang terikat pada rantai, baik sebagai cabang atau mata rantai, seperti D-mannosa, D-galaktosa, Dfukosa, dan pentosa-pentosa seperti D-xilosa dan L-arabinosa. Komponen utama hemiselulosa pada Dicotyledoneae didominasi oleh xiloglukan, sementara

pada Monocotyledoneae komposisi hemiselulosa lebih bervariasi. Pada gandum, ia didominasi oleh arabinoksilan, sedangkan pada jelai dan haver didominasi oleh betaglukan. 2. Unsur non karbohidrat terdiri dari lignit  Lignit Batu bara atau lignit adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya

adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

3. Unsur yang diendapkan dalam kayu selama proses pertumbuhan dinamakan zat ekstraktif  Zat ekstraktif Zat ekstraktif adalah zat yang mudah larut dalam pelarut seperti: eter, alcohol, bensin dan air. Jumlah zat ekstraktif rata-rata 3 – 8%, dari berat kayu karing tanur. Termasuk di dalamnya minyak-minyakan, resin, lilin, lemak, tannin, gula, pati dan zat warna. Zat ekstraktif tidak merupakan bagian struktur dinding sel, tetapi terdapat dalam rongga sel. Sifat Mekanik Kayu 1. Keteguhan Tarik Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik kayu. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu : a. Keteguhan tarik sejajar arah seradan b. Keteguhan tarik tegak lurus arah serat. Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat. Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat. 2. Keteguhan tekan / Kompresi Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu : a. Keteguhan tekan sejajar arah serat dan b. Keteguhan tekan tegak lurus arah serat. Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi sejajar arah serat. 3. Keteguhan Geser Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya. Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu : a. Keteguhan geser sejajar arah serat b. Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan c. Keteguhan geser miring

Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah serat. 4. Keteguhan lengkung (lentur) Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban pukulan. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu : a. Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara perlahan-lahan. b. Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya secara mendadak. 5. Kekakuan Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan. Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas. 6. Keuletan Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian. 7. Kekerasan Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan kayu. 8. Keteguhan Belah Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial) dari pada arah tangensial. Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat keku-atan kayu atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam kg/cm2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara garis besar digolongkan menjadi dua kelompok :

a. Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu. b. Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb. Macam Penggunaan Kayu Penggunaan kayu untuk suatu tujuan pemakaian tertentu tergantung dari sifat-sifat kayu yang bersangkutan dan persyaratan teknis yang diperlukan. Jenis-jenis kayu yang mempunyai persyaratan untuk tujuan pemakaian tertentu antara lain dapat dikemukan sebagai berikut : 1. Bangunan (Konstruksi) Persyaratan teknis : kuat, keras, berukuran besar dan mempunyai keawetan alam yang tinggi. Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, cengal, giam, jati, kapur, kempas, keruing, lara, rasamala. 2. Veneer biasa Persyaratan teknis : kayu bulat berdiameter besar, bulat, bebas cacat dan beratnya sedang. Jenis kayu : meranti merah, meranti putih, nyatoh, ramin, agathis, benuang. 3. Veneer mewah Persyaratan teknis : disamping syarat di atas, kayu harus bernilai dekoratif. Jenis kayu : jati, eboni, sonokeling, kuku, bongin, dahu, lasi, rengas, sungkai, weru, sonokembang. 4. Perkakas (mebel) Persyaratan teknis : berat sedang, dimensi stabil, dekoratif, mudah dikerjakan, mudah dipaku, dibubut, disekrup, dilem dan dikerat. Jenis kayu : jati, eboni, kuku, mahoni, meranti, rengas, sonokeling, sonokembang, ramin. 5. Lantai (parket) Persyaratan teknis : keras, daya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat. Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bintangur, bongin, bungur, jati, kuku. 6. Bantalan Kereta Api Persyaratan teknis : kuat, keras, kaku, awet. Jenis kayu : balau, bangkirai, belangeran, bedaru, belangeran, bintangur, kempas, ulin.

7. Alat Olah Raga Persyaratan teknis : kuat, tidak mudah patah, ringan, tekstur halus, serat halus, serat lurus dan panjang, kaku, cukup awet. Jenis kayu : agathis, bedaru, melur, merawan, nyatoh, salimuli, sonokeling, teraling. 8. Alat Musik Persyaratan teknis : tekstur halus, berserat lurus, tidak mudah belah, daya resonansi baik. Jenis kayu : cempaka, merawan, nyatoh, jati, lasi, eboni. 9. Alat Gambar Persyaratan teknis : ringan, tekstur halus, warna bersih. Jenis kayu : jelutung, melur, pulai, pinus. 10. Tong Kayu (Gentong) Persyaratan teknis : tidak tembus cairan dan tidak mengeluarkan bau. Jenis kayu : balau, bangkirai, jati, pasang. 11. Tiang Listrik dan Telepon Persyaratan teknis : kuat menahan angin, ringan, cukup kuat, bentuk lurus. Jenis kayu : balau, giam jati, kulim, lara, merbau, tembesu, ulin. 12. Patung dan Ukiran Kayu Persyaratan teknis : serat lurus, keras, tekstur halus, liat, tidak mudah patah dan berwarna gelap. Jenis kayu : jati, sonokeling, salimuli, melur, cempaka, eboni. 13. Korek Api Persyaratan teknis : sama dengan persyaratan veneer, cukup kuat (anak korek api), elastis dan tidak mudah pecah (kotak). Jenis kayu : agathis, benuang, jambu, kemiri, sengon, perupuk, pulai, terentang, pinus. 14. Pensil Persyaratan teknis : BJ sedang, mudah dikerat, tidak mudah bengkok, warna agak merah, berserat lurus. Jenis kayu : agathis, jelutung, melur, pinus.

15. Moulding Persyaratan teknis : ringan, serat lurus, tekstur halus, mudah dikerjakan, mudah dipaku. Warna terang, tanpa cacat, dekoratif. Jenis kayu : jelutung, pulai ramin, meranti dll. 16. Perkapalan  Lunas

Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, tahan binatang laut. Jenis kayu : ulin, kapur.  Gading

Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut. Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.  Senta

Persyaratan teknis : kuat, liat, tidak mudah pecah, tahan binatang laut. Jenis kayu : bangkirai, bungur, kapur.  Kulit

Persyaratan teknis : tidak mudah pecah, kuat, liat, tahan binatang laut. Jenis kayu : bangkirai, bungur, meranti merah.  Bangunan dan dudukan mesin

Persyaratan teknis : ringan, kuat dan awet, tidak mudah pecah karena getaran mesin. Jenis kayu : kapur, meranti merah, medang, ulin, bangkirai.  Pembungkus as baling-baling

Persyaratan teknis : liat, lunak sehingga tidak merusak logam. Jenis kayu : nangka, bungur, sawo.  Popor Senjata

Persyaratan teknis : ringan, liat, kuat, keras, dimensi stabil. Jenis kayu : waru, salimuli, jati. 17. Arang (bahan bakar) Persyaratan teknis : BJ tinggi.

Jenis kayu : bakau, kesambi, walikukun, cemara, gelam, gofasa, johar, kayu malas, nyirih, rasamala, puspa, simpur.

Besi dan paduannya
1) Komposisi Diagram Fase Besi Carbon
Besi dan Baja paling banyak dipakai sebagai bahan industri, dimana sebagian penggunaannya ditentukan oleh nilai ekonominya, tetapi yang paling penting karena sifat–sifatnya yang bervariasi. Mulai dari sifat yang paling lunak dan mudah dibuat sampai yang paling keras dan tajam seperti pisau. Dari unsur besi berbagai struktur logam dapat dibuat sehingga besi dan baja disebut bahan yang kaya akan sifat-sifatnya. Logam tersusun dari atom – atom yang memiliki ikatan metalik. Setiap atom yang berikatan metalik akan membentuk satu kristal. Kristal ini memiliki struktur dan orientasi sendiri bergantung sumbu terbentuknya kristal tersebut, dan setiap kristal yang berada dalam satu orientasi akan berkumpul membentuk satu butir. Struktur kristal dipengaruhi oleh jumlah elemen paduan yang mampu menyelinap di sela – sela ikatan atom, atau disekitar kristal satu dengan yang lain. Selain jumlah, ukuran pun penting untuk menentukan apakah elemen paduan tersebut menyelinap (interstisi), atau mengganti (substitusi). Atom itu tidak diam, tapi bergerak. Atom dalam setiap logam mampu bergerak dan berpindah tempat disebabkan oleh dua hal : Kondisi energi yang diberikan (diwakilkan oleh temperatur) dan komposisi elemen paduan (diwakilkan oleh persen berat unsur). Secara alamiah, suatu lingkungan yang padat akan cenderung mencari kestabilan dengan mengurangi kepadatannya menuju lingkungan lain yang kurang padat. Itu adalah proses difusi; dipengaruhi oleh gradien komposisi. Namun, untuk bisa berpindah, butuh energi. Kombinasi dari keduanya, maka kita akan mendapatkan ilmu pertama dari Ilmu dan Teknik Material : Diagram Fasa.

Berikut ini titik-titik penting pada diagram fasa : A: Titik cair besi B: Titik pada cairan yang ada hubungannya dengan reaksi peritektik. H: Larutan padat δ yang ada hubungan dengan peritektik. Kelarutan karbon maksimum adalah 0,1% J: Titik peritektik. Selama pendinginan austenit pada komposisi J, fasa γ terbentuk dari larutan padat δ pada komposisi H dan cairan pada komposisi B. N: Titik transformasi dari besi δ ↔ besi γ , titik transformasi A4 dari besi murni.

C: Titik eutektik. Selama pendinginan fasa γ dengan komposisi E dan sementit dengan pada komposisi F(6,67% C) terbentuk dari cairan pada komposisi C. Fasa eutektik ini disebut ledeburit. E: Titik yang menyatakan γ, ada hubungan dengan reaksi eutektik. Kelarutan maksimum dari karbon 2,14%. Paduan besi karbon sampai pada komposisi ini disebut baja. G: Titik transformasi besi γ ↔ besi α. Titik transformasi A3 untuk besi. P: Titik yang menyatakan ferit, fasa α , ada hubungan dengan reaksi eutectoid. Kelarutan maksimum dari karbon kira-kira 0,02%. S: Titik eutektoid. Selama pendinginan,ferit pada komposisi P dan sementit pada komposisi K (sama dengan F) terbentuk simultan dari austenit pada komposisi S. Reaksi eutektoid ini dinamakan transformasi A1, dan fasa eutektoid ini dinamakan perlit. GS: Garis yang menyatakan hubungan antara temperatur dan komposisi, dimana mulai terbentuk ferit dari austenit. Garis ini disebut garis A3. ES: Garis yang menyatakan hubungan antara temperatur dan komposisi; dimana mulai terbentuk sementit dari austenit, dinamakan garis Acm. A2: Titik transformasi magnetic untuk besi dan ferit . A0 : Titik transformasi magnetic untuk sementit.

Gambar diagram Fase Besi Carbon
Komponen dari diagram fasa ada dua : komposisi karbon (sumbu X) dan temperatur (sumbu Y). Di tengah diagram tersebut ada “peta” dari jenis fasa yang terbentuk. Keterangan dari tulisan yang ada disana akan dijelaskan di bawah ini :

Delta Iron (Delta Ferrite)

Delta Iron merupakan fasa yang terbentuk dan stabil pada temperatur sekitar 1500 derajat celcius. Pada daerah ini, karbon yang bisa menjadi interstisi didalam besi maksimal sekitar 0.09%. Kita mengetahuinya dari garis mendatar. Delta, di sebelah kiri, memiliki garis kelarutan karbon (lebih dari 0.025% dan kurang dari 0.5%), garis mendatar di sebelah kanan, menunjukkan kelarutan karbon maksimal. Fasa delta ini cenderung lunak dan tidak stabil pada suhu kamar. Struktur kristal yang terbentuk adalah BCC. Gambar di sebelah kanan menunjukkan gambar struktur mikro Delta Iron yang di etching menggunakan teknik metalurgi khusus pada baja stainless steel.

Ferrite (α) Sebagai satu fasa sendiri, karena memberikan kontribusi sifat yang seragam. Seperti dijelaskan di atas, di dalam satu fasa, biasa terbentuk dalam satu butir. Namun, untuk Pearlite berbeda, karena ada dua fasa dalam satu butir. Karena butir berukuran lebih besar dari ukuran fasa Ferrite dan Cementite itu sendiri (ukuran terkecil yang bisa dikarakterisasi sebesar ukuran indentasi dari uji keras mikro vickers, sekitar 50 mikron), maka Pearlite, atas kesepakatan bersama para ahli material, digolongkan sebagai satu fasa dalam satu butir. Pearlite memiliki morfologi mirip seperti lapisan (lamellae) antara Ferrite (hitam) dan Cementite (putih). Pada gambar di sebelah kiri, bisa dilihat struktur mikro dari pearlite tersebut. Perhatikan juga pembesaran yang ada di sebelah kanan bawah, hal ini menunjukkan perbedaan gambar ini dengan gambar pada baja cor putih. Apa perbedaannya dengan baja cor putih, pada pembesaran yang sama? Pearlite merupakan satu fasa yang terbentuk dari gabungan dua fasa, Ferrite dan Cementite. Pearlite dianggap distribusi dari fasa Pearlite dan Cementite nya. Austenite (γ) Gamma Iron merupakan fasa yang terbentuk pada terbentuk pada temperatur 1140 derajat celcius, dengan kelarutan karbon 2,08%. Kelarutan karbon akan turun menjadi o,08% pada 723 derajat celcius. Fasa ustenite terlihat jelas pada gambar di bagian Ferrite di atas, berwarna putih. Hal ini menunjukkan bahwa fasa ini memiliki ketahanan karat yang lebih baik daripada fasa yang lain. Austenite merupakan fasa yang tidak stabil di temperatur kamar, sehingga dibutuhkan komposisi

paduan lain yang akan berungsi sebagai penstabil fasa austenite pada temperature kamar, contohnya adalah mangan (Mn). Eutectic, Hypo-eutectoid dan hyper-eutectoid Seperti kata Human (manusia) dan Humanoid (seperti-manusia), maka daerah pendinginan pun memiliki dua garis mendatar : eutectoic dan eutectoid (eutectic-like). Kedua garis isotermal ini menunjukkan perubahan fasa yang berbeda : Eutectic [L -> γ+Fe3C] dan Eutectoid [γ->α+Fe3C]. Titik eutectoid terletak pada garis komposisi 0,8 % karbon, sedangkan titik eutectic terletak pada garis komposisi 4% karbon. Biasanya, baja yang terletak pada daerah eutectoid disebut baja karbon, sedangkan pada daerah 4% karbon disebut baja cor. Pada baja karbon, ada baja karbon yang kandungan karbonnya rendah (dibawah 0,8%) dan tinggi (diatas 0,8%). Dengan kesepakatan bersama, baja dengan kandungan karbon dibawah 0,8% disebut baja karbon rendah, medium, dan tinggi, sedangkan baja dengan kandungan karbon diatas 0,8% disebut baja saja (steel). 2) Perhitungan distribusi fasa menggunakan hokum Lever Perhitungan distribusi fase menggunakan hukum fase

Asumsi Balok = Besi

Jika sebuah balok berbentuk silinder dikenai gaya F , seperti dituunjukan pada gambar diatas , memperoleh kekuatan dan kinerja pada balok . tegangan yang terdapat diujung balok tidak tepat

Dimana , L I R = Panjang = Momen inersia pada balok = Jari-jari

Selanjut nya , defleksi balok

Dimana E merupakan modulus elastic pada balok 3) Sifat besi dan paduan Besi (Iron)

Sifat fisis Densitas Sifat kimia Nomor atom Thermal Neutron Cross Section X-ray Absorption Edge

Metric 7.87 g/cc Metric 26 2.53 barns/atom 1.743 Å 14.601 Å 17.169 Å 17.4838 Å -0.0400 V 1.83 0.640 Å 0.740 Å 0.695 g/A/h

English 0.284 lb/in³ English 26 2.53 barns/atom 1.743 Å 14.601 Å 17.169 Å 17.4838 Å -0.0400 V 1.83 0.640 Å 0.740 Å 0.695 g/A/h

Electrode Potential Electronegativitas Ionic Radius Electrochemical Equivalent

1.042 g/A/h Sifat mekanis Kekerasan, Brinell Kekerasan, Rockwell A Kekerasan, Rockwell B Kekerasan, Vickers Kekuatan tarik pada istirahat Kekuatan tarik, Yield Modulus elastisitas Modulus bulk Poissons Ratio Modulus shear Sifat elektrikal Resistivitas listrik Sifat termal Panas fusion Panas penguapan CTE, linear Metric 146 49 79 150 540 MPa 50.0 MPa
@Strain 0.500 %

1.042 g/A/h English 146 49 79 150 78300 psi 7250 psi
@Strain 0.500 %

200 GPa 166 GPa 0.291 77.5 GPa Metric 0.00000890 ohm-cm Metric 272 J/g 6615 J/g 12.2 µm/m-°C
@Temperature 20.0 - 100 °C

29000 ksi 24100 ksi 0.291 11200 ksi English 0.00000890 ohm-cm English 117 BTU/lb 2846 BTU/lb 6.78 µin/in-°F
@Temperature 68.0 - 212 °F

15.0 µm/m-°C
@Temperature 250 °C

8.33 µin/in-°F
@Temperature 482 °F

16.0 µm/m-°C
@Temperature 500 °C

8.89 µin/in-°F
@Temperature 932 °F

24.0 µm/m-°C
@Temperature 1000 °C

13.3 µin/in-°F
@Temperature 1830 °F

Specific Heat Capacity Konduktivitas panas Titik leleh Sifat optik Emisivitas (0-1) Reflection Coefficient, Visible (0-1) Sifat elemen komponen Iron, Fe Sifat deskriptif CAS Number

0.440 J/g-°C 76.2 W/m-K 1535 °C Metric 0.35 0.65

0.105 BTU/lb-°F 529 BTU-in/hr-ft²-°F 2795 °F English 0.35 0.65

Metric 100 %

English 100 %

7439-89-6

Crucible steel Sifat fisis Densitas Sifat mekanis Kekerasan, Brinell Kekerasan, Rockwell C Metric 7.83 g/cc Metric 187 - 220 58 - 60 English 0.283 lb/in³ English 187 - 220 58 - 60

Modulus elastisitas Dampak Charpy Sifat termal CTE, linear

207 GPa 125 J Metric 12.6 µm/m-°C
@Temperature 20.0 - 205 °C

30000 ksi 92.2 ft-lb English 7.00 µin/in-°F
@Temperature 68.0 - 401 °F

13.7 µm/m-°C
@Temperature 20.0 - 540 °C

7.61 µin/in-°F
@Temperature 68.0 - 1000 °F

Konduktivitas panas Shrinkage Sifat elemen komponen Carbon, C Chromium, Cr Iron, Fe Manganese, Mn Molybdenum, Mo Silicon, Si Vanadium, V

28.5 W/m-K
@Temperature 95.0 °C

198 BTU-in/hr-ft²-°F
@Temperature 203 °F

-0.100 % Metric 0.55 % 3.25 % 93.5 % 0.70 % 1.4 % 0.35 % 0.25 %

-0.100 % English 0.55 % 3.25 % 93.5 % 0.70 % 1.4 % 0.35 % 0.25 %

Baja karbon (Carbon steel) Sifat fisis Densitas Ukuran partikel Sifat kimia Temperatur kritis Sifat mekanis Kekerasan, Brinell Kekerasan, Knoop Kekerasan, Rockwell B Kekerasan, Rockwell C Kekerasan, Vickers Kekuatan tarik, Ultimate Kekuatan tarik, Yield Perpanjangan pada istirahat Pengurangan luas Modulus elastisitas Modulus bulk Poissons Ratio Kekuatan kelelahan Ketangguhan Retak Machinability Modulus shear Dampak izod Dampak Charpy Sifat elektrikal Resistivitas listrik Metric 7.75 - 7.89 g/cc 6.70 - 12.0 µm Metric 166 - 838 °C Metric 126 - 578 145 - 616 71.0 - 112 9.00 - 63.5 131 - 614 450 - 2730 MPa 245 - 1740 MPa 5.00 - 34.2 % 20.0 - 71.4 % 187 - 213 GPa 140 GPa 0.280 - 0.300 138 - 614 MPa 80.9 - 143 MPa-m½ 40.0 - 80.0 % 72.0 - 82.0 GPa 9.00 - 135 J 10.8 - 65.0 J Metric 0.0000166 - 0.0000263 ohm-cm English 0.280 - 0.285 lb/in³ 6.70 - 12.0 µm English 331 - 1540 °F English 126 - 578 145 - 616 71.0 - 112 9.00 - 63.5 131 - 614 65300 - 396000 psi 35500 - 252000 psi 5.00 - 34.2 % 20.0 - 71.4 % 27100 - 30900 ksi 20300 ksi 0.280 - 0.300 20000 - 89100 psi 73.7 - 130 ksi-in½ 40.0 - 80.0 % 10400 - 11900 ksi 6.64 - 99.6 ft-lb 8.00 - 47.9 ft-lb English 0.0000166 - 0.0000263 ohm-cm

Sifat termal CTE, linear Specific Heat Capacity Konduktivitas panas Sifat elemen komponen Aluminum, Al Boron, B Carbon, C Chromium, Cr Cobalt, Co Copper, Cu Iron, Fe Manganese, Mn Molybdenum, Mo Nickel, Ni Phosphorous, P Silicon, Si Sulfur, S Vanadium, V

Metric 10.4 - 15.1 µm/m-°C 0.470 - 0.519 J/g-°C 21.9 - 52.0 W/m-K Metric 0.0200 - 1.15 % 0.000500 - 0.00300 % 0.100 - 1.29 % 0.130 - 4.50 % 4.50 - 8.00 % 0.200 - 0.500 % 78.7 - 100 % 0.100 - 3.00 % 0.0300 - 4.25 % 0.150 - 10.0 % 0.00800 - 0.200 % 0.0500 - 2.20 % 0.00200 - 0.330 % 0.0300 - 1.00 %

English 5.78 - 8.39 µin/in-°F 0.112 - 0.124 BTU/lb-°F 152 - 361 BTU-in/hr-ft²-°F English 0.0200 - 1.15 % 0.000500 - 0.00300 % 0.100 - 1.29 % 0.130 - 4.50 % 4.50 - 8.00 % 0.200 - 0.500 % 78.7 - 100 % 0.100 - 3.00 % 0.0300 - 4.25 % 0.150 - 10.0 % 0.00800 - 0.200 % 0.0500 - 2.20 % 0.00200 - 0.330 % 0.0300 - 1.00 %

Spring steel Sifat fisis Densitas Sifat mekanis Kekerasan, Rockwell C Kekuatan tarik, Yield Metric 7.85 g/cc Metric 41 - 60 1590 - 1760 MPa
@Diameter 6.35 mm

English 0.284 lb/in³ English 41 - 60 231000 - 255000 psi
@Diameter 0.250 in

1640 - 1820 MPa
@Diameter 5.26 mm

238000 - 264000 psi
@Diameter 0.207 in

1690 - 1860 MPa
@Diameter 4.50 mm

245000 - 270000 psi
@Diameter 0.177 in

1740 - 1920 MPa
@Diameter 3.81 mm

252000 - 278000 psi
@Diameter 0.150 in

1770 - 1950 MPa
@Diameter 3.56 mm

257000 - 283000 psi
@Diameter 0.140 in

1800 - 1990 MPa
@Diameter 3.18 mm

261000 - 289000 psi
@Diameter 0.125 in

1870 - 2070 MPa
@Diameter 2.54 mm

271000 - 300000 psi
@Diameter 0.100 in

1940 - 2150 MPa
@Diameter 2.00 mm

281000 - 312000 psi
@Diameter 0.0787 in

2020 - 2230 MPa
@Diameter 1.60 mm

293000 - 323000 psi
@Diameter 0.0630 in

2090 - 2310 MPa
@Diameter 1.30 mm

303000 - 335000 psi
@Diameter 0.0512 in

2170 - 2410 MPa
@Diameter 1.00 mm

315000 - 350000 psi
@Diameter 0.0394 in

2250 - 2490 MPa
@Diameter 0.810 mm

326000 - 361000 psi
@Diameter 0.0319 in

2350 - 2600 MPa
@Diameter 0.610 mm

341000 - 377000 psi
@Diameter 0.0240 in

2500 - 2760 MPa
@Diameter 0.400 mm

363000 - 400000 psi
@Diameter 0.0157 in

2600 - 2880 MPa
@Diameter 0.300 mm

377000 - 418000 psi
@Diameter 0.0118 in

2750 - 3040 MPa
@Diameter 0.200 mm

399000 - 441000 psi
@Diameter 0.00787 in

3030 - 3340 MPa
@Diameter 0.100 mm

439000 - 484000 psi
@Diameter 0.00394 in

Modulus elastisitas Poissons Ratio Modulus shear Sifat termal Maximum Service Temperature, Air Sifat elemen komponen Carbon, C Iron, Fe Manganese, Mn Phosphorous, P Silicon, Si Sulfur, S

210 GPa 0.313 80.0 GPa Metric 120 °C Metric 0.70 - 1.0 % 97.8 - 99 % 0.20 - 0.60 % <= 0.025 % 0.10 - 0.30 % <= 0.030 %

30500 ksi 0.313 11600 ksi English 248 °F English 0.70 - 1.0 % 97.8 - 99 % 0.20 - 0.60 % <= 0.025 % 0.10 - 0.30 % <= 0.030 %

Alloy steel Sifat fisis Densitas Sifat mekanis Kekerasan, Brinell Kekerasan, Knoop Kekerasan, Rockwell B Kekerasan, Rockwell C Kekerasan, Vickers Modulus elastisitas Modulus bulk Poissons Ratio Machinability Modulus shear Sifat elektrikal Resistivitas listrik Sifat termal CTE, linear Metric 7.87 g/cc Metric 179 - 335 282 98 25 271 200 GPa 140 GPa 0.29 55 % 80.0 GPa Metric 0.0000174 ohm-cm Metric 11.5 µm/m-°C
@Temperature 20.0 °C

English 0.284 lb/in³ English 179 - 335 282 98 25 271 29000 ksi 20300 ksi 0.29 55 % 11600 ksi English 0.0000174 ohm-cm English 6.39 µin/in-°F
@Temperature 68.0 °F

12.2 µm/m-°C
@Temperature 0.000 - 300 °C

6.78 µin/in-°F
@Temperature 32.0 - 572 °F

13.9 µm/m-°C
@Temperature 0.000 - 500 °C

7.72 µin/in-°F
@Temperature 32.0 - 932 °F

Specific Heat Capacity Konduktivitas panas

0.472 J/g-°C 51.9 W/m-K

0.113 BTU/lb-°F 360 BTU-in/hr-ft²-°F

Sifat elemen komponen Carbon, C Iron, Fe Manganese, Mn Phosphorous, P Silicon, Si Sulfur, S Stainless steel

Metric 0.28 - 0.33 % 97.35 - 97.97 % 1.6 - 1.9 % <= 0.035 % 0.15 - 0.35 % <= 0.040 %

English 0.28 - 0.33 % 97.35 - 97.97 % 1.6 - 1.9 % <= 0.035 % 0.15 - 0.35 % <= 0.040 %

Sifat fisis Densitas Ukuran partikel Sifat mekanis Kekerasan, Brinell Kekerasan, Knoop Kekerasan, Rockwell B Kekerasan, Rockwell C Kekerasan, Vickers Kekuatan tarik, Ultimate Kekuatan tarik, Yield Perpanjangan pada istirahat Elongation at Yield Pengurangan luas Creep Strength Modulus elastisitas Compressive Yield Strength Poissons Ratio Kekuatan kelelahan Modulus shear Dampak izod Dampak izod Unnotched Dampak Charpy Dampak Charpy, Unnotched Sifat elektrikal Resistivitas listrik Magnetic Permeability Sifat termal CTE, linear Specific Heat Capacity Konduktivitas panas Titik leleh Solidus Liquidus Maximum Service Temperature, Air Minimum Service Temperature, Air Shrinkage

Metric 0.190 - 9.01 g/cc 6.70 - 300 µm Metric 80.0 - 382 97.0 - 414 37.0 - 100 15.0 - 43.0 82.0 - 399 250 - 2200 MPa 138 - 1800 MPa 1.00 - 88.0 % 28.0 - 62.0 % 35.0 - 88.0 % 5.86 - 140 MPa 79.3 - 214 GPa 262 - 1320 MPa 0.240 - 0.333 180 - 605 MPa 70.3 - 86.0 GPa 55.0 - 165 J 108 - 149 J 43.0 - 325 J 190 - 216 J Metric 0.0000695 - 0.000108 ohm-cm 1.00 - 8.48 Metric 14.2 - 20.5 µm/m-°C 0.450 - 0.502 J/g-°C 11.6 - 18.7 W/m-K 1230 - 1510 °C 1230 - 1450 °C 1390 - 1510 °C 300 - 1150 °C -200 - -196 °C 0.400 - 0.530 %

English 0.00686 - 0.326 lb/in³ 6.70 - 300 µm English 80.0 - 382 97.0 - 414 37.0 - 100 15.0 - 43.0 82.0 - 399 36300 - 319000 psi 20000 - 260000 psi 1.00 - 88.0 % 28.0 - 62.0 % 35.0 - 88.0 % 850 - 20300 psi 11500 - 31000 ksi 38000 - 191000 psi 0.240 - 0.333 26100 - 87700 psi 10200 - 12500 ksi 40.6 - 122 ft-lb 80.0 - 110 ft-lb 31.7 - 240 ft-lb 140 - 159 ft-lb English 0.0000695 - 0.000108 ohm-cm 1.00 - 8.48 English 7.89 - 11.4 µin/in-°F 0.108 - 0.120 BTU/lb-°F 80.5 - 130 BTU-in/hr-ft²-°F 2250 - 2750 °F 2250 - 2640 °F 2530 - 2750 °F 572 - 2100 °F -328 - -321 °F 0.400 - 0.530 %

Processing Properties Annealing Temperature Hot-Working Temperature Sifat elemen komponen Aluminum, Al Carbon, C Chromium, Cr Cobalt, Co Copper, Cu Iron, Fe Manganese, Mn Molybdenum, Mo Nb + Ta Nickel, Ni Niobium, Nb (Columbium, Cb) Nitrogen, N Oxygen, O Phosphorous, P Selenium, Se Silicon, Si Sulfur, S Tantalum, Ta Tin, Sn Titanium, Ti WC

Metric 1010 - 1090 °C 899 - 1290 °C Metric 0.100 - 0.800 % 0.0100 - 0.750 % 13.5 - 57.0 % 0.200 % 0.200 - 4.00 % 5.50 - 78.0 % 0.200 - 5.00 % 0.300 - 7.90 % 0.800 - 1.00 % 4.30 - 39.0 % 0.250 - 1.00 % 0.0100 - 1.00 % 0.250 % 0.0100 - 0.450 % 0.150 - 0.350 % 0.100 - 3.00 % 0.00100 - 0.400 % 0.100 - 1.00 % 2.00 % 0.0100 - 2.35 % 0.0450 %

English 1850 - 2000 °F 1650 - 2350 °F English 0.100 - 0.800 % 0.0100 - 0.750 % 13.5 - 57.0 % 0.200 % 0.200 - 4.00 % 5.50 - 78.0 % 0.200 - 5.00 % 0.300 - 7.90 % 0.800 - 1.00 % 4.30 - 39.0 % 0.250 - 1.00 % 0.0100 - 1.00 % 0.250 % 0.0100 - 0.450 % 0.150 - 0.350 % 0.100 - 3.00 % 0.00100 - 0.400 % 0.100 - 1.00 % 2.00 % 0.0100 - 2.35 % 0.0450 %

Besi tuang (Cast iron) Sifat fisis Densitas Sifat mekanis Kekerasan, Brinell Kekerasan, Knoop Kekerasan, Rockwell B Kekerasan, Rockwell C Kekerasan, Vickers Kekuatan tarik, Ultimate Kekuatan tarik, Yield Perpanjangan pada istirahat Pengurangan luas Modulus elastisitas Flexural Yield Strength Compressive Yield Strength Poissons Ratio Kekuatan kelelahan Ketangguhan Retak Machinability Modulus shear Shear Strength Metric 5.54 - 7.81 g/cc Metric 110 - 807 162 - 906 40.0 - 97.0 11.4 - 65.0 151 - 871 90.0 - 1650 MPa 65.5 - 1450 MPa 0.200 - 40.0 % 2.00 - 10.0 % 62.1 - 240 GPa 248 - 655 MPa 331 - 2520 MPa 0.240 - 0.370 68.9 - 510 MPa 44.0 - 109 MPa-m½ 0.000 - 125 % 27.0 - 67.6 GPa 149 - 1480 MPa English 0.200 - 0.282 lb/in³ English 110 - 807 162 - 906 40.0 - 97.0 11.4 - 65.0 151 - 871 13100 - 240000 psi 9500 - 210000 psi 0.200 - 40.0 % 2.00 - 10.0 % 9000 - 34800 ksi 36000 - 95000 psi 48000 - 365000 psi 0.240 - 0.370 10000 - 74000 psi 40.0 - 99.2 ksi-in½ 0.000 - 125 % 3920 - 9800 ksi 21600 - 215000 psi

Dampak izod Unnotched Dampak Charpy Dampak Charpy, Unnotched Sifat elektrikal Resistivitas listrik Magnetic Permeability Sifat termal CTE, linear Specific Heat Capacity Konduktivitas panas Titik leleh Maximum Service Temperature, Air Minimum Service Temperature, Air Shrinkage Sifat elemen komponen Aluminum, Al Antimony, Sb Arsenic, As Bismuth, Bi Boron, B Cadmium, Cd Carbon, C Cerium, Ce Chromium, Cr Copper, Cu Iron, Fe Lead, Pb Magnesium, Mg Manganese, Mn Molybdenum, Mo Nickel, Ni Oxygen, O Phosphorous, P Selenium, Se Silicon, Si Sulfur, S Tellurium, Te Tin, Sn Titanium, Ti Vanadium, V

4.00 - 244 J 0.100 - 40.0 J 2.70 - 200 J Metric 0.00000500 - 110 ohm-cm 100 - 750 Metric 7.75 - 19.3 µm/m-°C 0.506 J/g-°C 11.3 - 53.3 W/m-K 1120 - 2220 °C 649 - 982 °C -59.4 - -30.0 °C 0.800 - 1.50 % Metric 0.0500 - 25.0 % 0.00200 - 0.200 % 0.0200 % 0.00200 % 0.000600 % 0.00500 % 0.400 - 4.10 % 0.00500 - 0.200 % 0.0300 - 35.0 % 0.0200 - 10.0 % 49.0 - 96.3 % 0.00200 - 0.00300 % 0.0200 - 0.0700 % 0.100 - 4.50 % 0.000 - 16.0 % 0.0500 - 43.0 % 0.00500 % 0.00200 - 1.00 % 0.0300 % 0.500 - 17.0 % 0.00200 - 0.250 % 0.0200 % 0.0100 - 0.300 % 0.0400 % 0.100 - 2.00 %

2.95 - 180 ft-lb 0.0738 - 29.5 ft-lb 1.99 - 148 ft-lb English 0.00000500 - 110 ohm-cm 100 - 750 English 4.31 - 10.7 µin/in-°F 0.121 BTU/lb-°F 78.4 - 370 BTU-in/hr-ft²-°F 2050 - 4030 °F 1200 - 1800 °F -75.0 - -22.0 °F 0.800 - 1.50 % English 0.0500 - 25.0 % 0.00200 - 0.200 % 0.0200 % 0.00200 % 0.000600 % 0.00500 % 0.400 - 4.10 % 0.00500 - 0.200 % 0.0300 - 35.0 % 0.0200 - 10.0 % 49.0 - 96.3 % 0.00200 - 0.00300 % 0.0200 - 0.0700 % 0.100 - 4.50 % 0.000 - 16.0 % 0.0500 - 43.0 % 0.00500 % 0.00200 - 1.00 % 0.0300 % 0.500 - 17.0 % 0.00200 - 0.250 % 0.0200 % 0.0100 - 0.300 % 0.0400 % 0.100 - 2.00 %

Invar

Sifat fisis Densitas Sifat mekanis

Metric 8.05 g/cc Metric

English 0.291 lb/in³ English

Kekerasan, Rockwell B Kekuatan tarik, Ultimate Kekuatan tarik, Yield Perpanjangan pada istirahat Pengurangan luas Modulus elastisitas Sifat elektrikal Resistivitas listrik Curie Temperature Sifat termal CTE, linear

90 621 MPa 483 MPa
@Strain 0.200 %

90 90100 psi 70100 psi
@Strain 0.200 %

20 % 60 % 148 GPa Metric 0.0000820 ohm-cm 279 °C Metric 1.30 µm/m-°C
@Temperature 93.0 °C

20 % 60 % 21500 ksi English 0.0000820 ohm-cm 534 °F English 0.722 µin/in-°F
@Temperature 199 °F

4.18 µm/m-°C
@Temperature 260 °C

2.32 µin/in-°F
@Temperature 500 °F

7.60 µm/m-°C
@Temperature 371 °C

4.22 µin/in-°F
@Temperature 700 °F

Specific Heat Capacity Konduktivitas panas Titik leleh Solidus Liquidus Sifat elemen komponen Carbon, C Iron, Fe Manganese, Mn Nickel, Ni Silicon, Si

0.515 J/g-°C 10.15 W/m-K 1427 °C 1427 °C 1427 °C Metric 0.020 % 63 % 0.35 % 36 % 0.20 %

0.123 BTU/lb-°F 70.44 BTU-in/hr-ft²-°F 2601 °F 2601 °F 2601 °F English 0.020 % 63 % 0.35 % 36 % 0.20 %

4) Ketahanan terhadap panas Biji besi terdiri atas oksigen dan atom besi yang berikatan bersama dalam molekul. Baja pada dasarnya ialah besi (Fe) dengan tambahan unsur Karbon ( C ) sampai dengan 1.67% (maksimal). Bila kadar unsur karbon (C) lebih dari 1.67%, maka material tersebut biasanya disebut sebagai besi cor (Cast Iron). Material Logam dikelompokan menjadi dua yaitu 1. Logam Besi (ferrous) Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, keras, penghantar listrik dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan cara penambangan yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur.

2. Logam Non Besi (Non Ferrous) Logam non besi merupakan semua unsur logam yang komposisi utamanya bukan besi. Logam non besi juga sering digunakan walaupun pada umumnya jarang sekali di industri. Itu karena Logam besi lebih banyak dipakai semua industri. Logam Besi (Ferrous) juga terdiri menjadi dua yaitu; A. Baja (Steel) Baja paduan adalah baja paduan dengan berbagai elemen dalam jumlah total antara 1,0% dan 50% berat untuk meningkatkan sifat mekanik. Baja Paduan dipecah menjadi dua kelompok: 1). Baja paduan rendah (low alloy steel) Baja paduan rendah biasanya digunakan untuk mencapai hardenability lebih baik, yang pada gilirannya akan meningkatkan sifat mekanis lainnya. Mereka juga digunakan untuk meningkatkan ketahanan korosi dalam kondisi lingkungan tertentu. Dengan menengah ke tingkat karbon tinggi, baja paduan rendah sulit untuk las. Menurunkan kandungan karbon pada kisaran 0,10% menjadi 0,30%, bersama dengan beberapa pengurangan elemen paduan, meningkatkan weldability dan sifat mampu bentuk baja dengan tetap menjaga kekuatannya. Seperti logam digolongkan sebagai baja paduan rendah kekuatan tinggi. Baja paduan rendah dikelompokan menjadi 3 yaitu: a). Baja Karbon Rendah (low carbon steel) Baja ini dengan komposisi karbon kurang dari 2%. Fasa dan struktur mikronya adalah ferrit dan perlit. Baja ini tidak bisa dikeraskan dengan cara perlakuan panas (martensit) hanya bisa dengan pengerjaan dingin. Sifat mekaniknya lunak, lemah dan memiliki keuletan dan ketangguhan yang baik. Serta mampu mesin (machinability) dan mampu las nya (weldability) baik. b). Baja Karbon Sedang ( medium carbon steel) Baja Mil memiliki komposisi karbon antara 0,2%-0,5% C (berat). Dapat dikeraskan dengan perlakuan panas dengan cara memanaskan hingga fasa austenit dan setelah ditahan beberapa saat didinginkan dengan cepat ke dalam air atau sering disebut quenching untuk memperoleh fasa ang keras yaitu martensit. Baja ini terdiri dari baja karbon sedang biasa (plain) dan baja mampu keras. Kandungan karbon yang relatif tinggi itu dapat meningkatkan kekerasannya. Namun tidak cocok untuk di las, dengan kata lain mampu las nya rendah. Dengan penambahan unsur lain seperti Cr, Ni, dan Mo lebih

meningkatkan mampu kerasnya. Baja ini lebih kuat dari baja karbon rendah dan cocok untuk komponen mesin, roda kereta api, roda gigi (gear), poros engkol (crankshaft) serta komponen struktur yang memerlukan kekuatan tinggi, ketahanan aus, dan tangguh. c). Baja Karbon Tinggi (high carbon steel) Baja karbon tinggi memiliki komposisi antara 0,6- 1,4% C (berat). Kekerasan dan kekuatannya sangat tinggi, namun keuletannya kurang. baja ini cocok untuk baja perkakas, dies (cetakan), pegas, kawat kekuatan tinggi dan alat potong yang dapat dikeraskan dan ditemper dengan baik. Baja ini terdiri dari baja karbon tinggi biasa dan baja perkakas. Khusus untuk baja perkakas biasanya mengandung Cr, V, W, dan Mo. Dalam pemaduannya unsur-unsur tersebut bersenyawa dengan karbon menjadi senyawa yang sangat keras sehingga ketahanan aus sangat baik. 2). Baja Paduan Tinggi (high alloy steel) Baja paduan tinggi terdiri dari baja tahan karat atau disebut dengan stainless steel dan baja tahan panas. Baja ini memiliki ketahanan korosi yang baik, terutama pada kondisi atmosfer. Unsur utama yang meningkatkan korosi adalah Cr dengan komposisi paling sedikit 11%(berat). Ketahanan korosi dapat juga ditingkatkan dengan penambahan unsur Ni dan Mo. Baja tahan karat dibagi menjadi tiga kelas utama yaitu jenis martensitik, feritik, dan austenitik. jenis martensitik dapat dikeraskan dengan menghasilkan fasa martensit. baja tahan karat austenitik memiliki fasa y (austenit) FCC baik pada temperatur tinggi hingga temperatur kamar. Sedangkan jenis feritik terdiri dari fasa ferrit (a) BCC. Untuk jenis austenitik dan feritik dapat dikeraskan dengan pengerjaan dingin (cold working). Jenis Feritik dan Martensitik bersifat magnetis sedangkan jenis austenitik tidak magnetis. Pengaruh Campuran Unsur Kimia Pada Baja/ Besi: 1. Si = SILICON : Mempunyai SIFAT ELASTIS / KEULETANNYA TINGGI. SILICON juga menambah kekerasan dan ketajaman pada baja. Tapi penambahan SILICON yang BERLEBIHAN akan menyebabkan BAJA tersebut MUDAH RETAK. SILICON berupa massa hitam mirip logam yang meleleh pada 1410°C . Unsur ini mempunyai kecenderungan yang kuat untuk berikatan dengan oksigen dan SIFAT SERATNYA TAHAN API.

2. Mo = MOLYBDENUM : Mempunyai sifat TAHAN PEKERJAAN PANAS sehingga cocok untuk hotwork tool steel, batas pencampuran unsur ini MAX.7% juga berfungsi sebagai penetralisir kekerasan wolfram. Molybdenum merupakan unsur tambahan pembuat keuletan baja yang maximum. 3. Co = COBALT : Sifatnya TAHAN GESEK dan TAHAN PANAS pada temperatur tinggi., KEKERASAN TINGGI TAPI GETAS. Berfungsi untuk membentuk CARBIDE, meningkatkan kekerasan dan hot strength, yang sangat baik untuk ketajaman pada mata pisau. 5) Konduktivitas panas dan listrik untuk besi dan paduan

CSNDT=CSNDT compiled by Eddy Current Technology Incorporated ECTM=Eddy Current Testing Manual on Eddy Current Method compiled by Eddy Current Technology Incorporated MHASM1=ASM Metals Handbook--Volume 1, Tenth Edition

6) Perlakuan panas dan dingin terhadap besi dan paduannya Perlakuan panas adalah suatu metode yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, dan kadang-kadang sifat kimia dari suatu material melalui proses mengubah suhu pada material . Tujuannya adalah untuk mendapatkan sifat-sifat yang lebih baik dan yang diinginkan sesuai dengan batas-batas kemampuannya.

Secara umum perlakukan panas (heat treatment) diklasifikasikan dalam 2 jenis : 1. Near Equilibrium (Mendekati Kesetimbangan) Tujuan dari perlakuan panas Near Equilibrium adalah untuk : a. b. c. d. Melunakkan struktur Kristal Menghaluskan butir Menghilangkan tegangan dalam Memperbaiki machineability.

Jenis dari perlakukan panas Near Equibrium, misalnya : a. b. c. d. e. Full Annealing (annealing) Normallizing Spheroidizing Homogenizing Stress relief Annealing

2. Non Equilirium (Tidak setimbang) Tujuan panas Non Equilibrium adalah untuk mendapatkan kekerasan dan kekuatan yang lebih tinggi. Jenis dari perlakukan panas Non Equibrium, misalnya : a. b. c. d. Hardening Martempering Austempering Surface Hardening (Carburizing, Nitriding, Cyaniding, Flame hardening, Induction hardening)

Perlakuan panas juga merupakan pemanasan terkontrol dan pendinginan logam untuk mengubah sifat fisik dan mekanik tanpa mengubah bentuk produk. Tujuan dari perlakuan panas adalah untuk membuat logam lebih bermanfaat dengan mengubah atau memulihkan properti mekanis. Pemanasan dilakukan secara bertahap dengan tujuan untuk menjaga suhu yang seragam sehingga tidak mengakibatkan distorsi atau retak. Tahapannya adalah Tahap perendaman, dimana setelah logam dipanaskan sampai suhu yang tepat, logam itu ditahan pada suhu tersebut sampai internal yang diinginkan saat perubahan struktural terjadi. Kemudian Tahap pendinginan, yaitu setelah logam direndam, suhu logam harus dikembalikan ke suhu ruang untuk menyelesaikan proses perlakuan panas.

Tipe Perlakuan Panas dan Dingin

1. Anealing Annealing ialah menurunkan kekerasan suatu bajadengan jalan memanaskan baja tersebut pada temperatur diatas temperatur krisis maksimum 980oC, dan kemudian dinginkan secara perlahan-lahan di udara(sampai dingin). Tujuan dari annealing ialah untuk : 1) Mendapatkan baja yang mempunyai kadar karbon tinggi, tetapi dapat dikerjakan mesin atau pengerjaan dingin. 2) Memperbaiki keuletan. 3) Menurunkan atau menghilangkan ketidak homogenan stuktur. 4) Memperhalus ukuran butir. 5) Menghilangkan tegangan dalam. 6) Menyiapkan struktur baja untuk proses perlakuan panas. Tipe proses annealing: 1. Full Annealing Full annealing (FA) terdiri dari austenisasi dari baja yang diikuti dengan pendinginan yang lambat didalam tungku, kemudian temperatur yang dipilih untuk austenisasi tergantung pada kandungan karbon dari baja tersebut. 2. Spheroidized Annealing Spheroidized annealing (SA) dilakukan dengan cara memanaskan baja sedikit diatas atau dibawah titik A1, kemudian didiamkan pada temperatur tersebut untuk jangka waktu tertentu kemudian diikuti dengan pendinginan yang lambat. Proses ini ditujukan agar karbida-karbida yang berbentuk lamelar pada perlit dan ementit sekunder menjadi bulat. Disamping itu, perlakuan ini ditunjukan

mendeformasikan struktur seperti martensit, trostit, dan sorbit dlsb yang merupakan hasil akhir dari proses quench.

3. Isothermal Annealing Isotermal annealing dikembangkan dari diagram TTT. Jenis proses ini digunakan untuk melunakan baja-baja sebelum dilakukan proses pemesinan. Proses ini terdiri dari austenisasi pada temperatur anilnya ( full annealing) kemudian diikuti dengan pendinginan yang relatif cepat sampai ke temperatur 50- 600C dibawah garis A1 (menahan secara isotermal pada daerah perit). Penahanan baja pada temperatur tersebut untuk jangka waktu tertentu menyebabkan timbulnya penguraian austenit menjadi strutur yang optimal untuk dimesin. Setelah transformasi berlangsung, baja kemudian didinginkan didalam tungku atau di udara atau bahkan didinginkan dengan cepat. 4. Intermediate Annealing Proses ini dilakukan terhadap baja yang sudah mengalami proses ”Case hardening” agar dapat dimesin. Prosesnya terdiri dari penahan benda kerja pada temperatur dibawah A1, yaitu sekitar 6306800C, untuk selama 4-6 jam dan diikuti dengan pendinginan yang lambat (lihat gambar 5). Tujuan dari proses ini mirip proses sperodisasi yaitu memperbaiki mampu mesin. 5. Bright Annealing Proses ini dilakukan untuk menghasilkan permukaan benda kerja yang bebas dari oksidasi. Perlindungan terhadap oksidasi selama proses perlakuan panas biasanya dilakukan dengan “menyelimuti” benda kerja dengan atmosfer tungku yang sesuai. Atmosfer tungku yang dipilih selain mencegah oksidasi, juga harus mampu mencegah timbulnya sulfidasi, pengetasan atau dekarburasi selama proses perlakuan panas berlangsung. 2. Normalizing

Normalizing adalah proses Perlakuan panas terhadap baja dengan tujuan mendapatkan struktur, butiran yang halus dan seragam untuk menghilangkan tegangan dalam akibat pengerjaan dengan mesin. Tujuan dari normalizing adalah : a. Untuk memperhalus butir b. Memperbaiki mampu mesin c. Menghilangkan tegangan sisa d. Memeperbaiki sifat mekanik baja karbon struktural dan baja-baja paduan

3. Hardening

Proses pengerasan atau hardening adalah suatu proses perlakuan panas yang dilakukan untuk menghasilkan suatu benda kerja yang keras, proses ini dilakukan pada temperatur tinggi yaitu pada temperatur austenisasi yang digunakan untuk melarutkan sementit dalam austenit yang kemudian di quench. Proses pengerasan atau hardening adalah suatu proses perlakuan panas yang dilakukan untuk menghasilkan suatu benda kerja yang keras, proses ini dilakukan pada temperatur tinggi yaitu pada temperatur austenisasi yang digunakan untuk melarutkan sementit dalam austenit yang kemudian di quench. a) Flame Hardening: Sebuah intensitas api oksi-asetilen tinggi yang diterapkan ke daerah selektif. Suhu dinaikkan cukup tinggi berada di wilayah transformasi Austenite. Suhu ditentukan oleh operator berdasarkan pengalaman dengan melihat warna baja. Perpindahan panas keseluruhan dibatasi oleh obor dan dengan demikian interior tidak pernah mencapai suhu tinggi. Wilayah dipanaskan didinginkan untuk mencapai kekerasan yang diinginkan. Tempering dapat dilakukan untuk menghilangkan kerapuhan. b) Induction Hardening: Dalam Induction Hardening, bagian baja ditempatkan di dalam kumparan listrik yang telah dilewati arus balik. Ini memberi energi pada bagian baja yang memanas itu. Tergantung pada frekuensi dan arus listrik, laju pemanasan serta kedalaman pemanasan dapat dikendalikan.Oleh karena itu, ini cocok untuk perawatan permukaan panas. c) Laser Beam Hardening: merupakan variasi lain dari flame hardening. Sebuah lapisan fosfat diaplikasikan di atas baja untuk memfasilitasi penyerapan energi laser. Daerah yang dipilih dari bagian yang terkena energi laser.Hal ini menyebabkan daerah yang dipilih menjadi panas. Dengan memvariasikan kekuatan laser, kedalaman penyerapan panas dapat dikendalikan. d) Electron Beam Hardening: Electron Beam Hardening mirip dengan sinar Laser Beam Hardening. Sumber panas adalah sinar energi tinggi elektron. Balok yang dimanipulasi menggunakan kumparan elektromagnetik. 4. Carburizing Karburising merupakan proses penambahan unsur karbon pada baja karbon rendah secara difusi sehingga karbon dari media karburising akan masuk ke permukaan baja dan meningkatkan kadar karbon pada permukaan baja karbon rendah tersebut.

5. Cyaniding Pengerasan yang cepat dan efisien. Baja dipanaskan kembali kemudian dicelupkan ke

dalambak sianida yang dipanaskan dan dibiarkan meresap. Setelah penghapusan, itu didinginkan dan kemudian dibilas untuk menghilangkan setiap residu sianida. Proses ini menghasilkan, kerak yang keras tipis yang lebih sulit dari yang dihasilkan oleh karburasi dan dapat diselesaikan dalam 20 sampai 30 menit. Kelemahan utama adalah bahwa garam sianida racun mematikan. 6. Quenching Perlakuan baja ini dilakukan dengan memanaskan baja hingga fasa menjadi austenit dan didinginkan secara cepat. Media pendinginan cepat seperti air, oli, garam atau media pendinginlainnya. Tujuan utama perlakuan ini untuk meningkatkan kekerasan baja. Quenching merupakan salah satu teknik perlakuan panas yang diawalidengan proses pemanasan sampai temperatur austenit (austenisasi) diikuti pendinginan secara cepat, sehingga fasa austenit langsung bertransformasi secaraparsial membentuk struktur martensit. Tujuan utama quenching adalah menghasilkan baja dengan sifat kekerasan tinggi. 7. Tempering Tempering bertujuan unuk mengurangi tegangan sisa, meningkatkan ketangguhan dan keuletan baja yang telah mengalami pengerasan martensit. Selama proses tempering baja akan mengalami penurunan kekerasan tapi keuletannya akan naik yang juga diikuti oleh menurunnya kerapuhan. Penurunan tegangan sisa pada baja akan menyebabkan penurunan kerapuhan baja. PERLAKUAN PANAS DAN DINGIN PADA BESI DAN PADUANNYA Secara teknis bahan paduan besi karbon terdiri dari dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah kelompok baja dengan kandungan karbon hingga sekitar 2%. Kelompok ini dapat dikenali melalui strukturnya, baik dalam keadaan as cast maupun setelah perlakuan panas, tidak mengandung karbon bebas (grafit). Sedangkan kelompok kedua adalah kelompok besi dengan kandungan karbon lebih dari 2% serta pada umumnya dapat mengandung grafit didalam strukturnya. Berdasarkan struktur pembekuannya, paduan ini terdiri dari paduan metastabil (as cast besi cor mampu tempa dan besi cor putih) dan paduan yang pada kondisi as cast telah mengandung grafit (besi cor kelabu dan besi cor nodular).

Gambar 35. Pembagian kelompok paduan besi karbon. Garis likuidus AC memperlihatkan bahwa peleburan bahan baja akan membutuhkan temperatur yang jauh lebih tinggi dari besi cor yang memiliki kandungan C tinggi dimana pada temperatur diatas AC ini akan terjadi berbagai lossis terutama unsur C, Si dan P. Pada baja, secara prinsip, tidak terjadi pelepasan C bahkan ketika temperatur telah mencapai sesaat menjelang AC. Namun demikian, khususnya pada baja hipereutektoid, pada akibat dari prosesproses pembentukan panas (hot forming) seperti tempa dan pengerolan ataupun pemanasan pada waktu yang lama, penggrafitan dapat terjadi sebagai efek yang tidak diinginkan. Dalam hal ini baja akan menjadi rapuh dengan patahan yang berwarna kelabu sampai kehitaman serta disebut dengan patahan hitam. Kecuali pada paduan dengan kandungan C lebih dari 1% yang ditambah dengan Si sampai dengan 2%. Pada paduan ini, melalui proses anil, sebagian dari kandungan C diubah menjadi grafit (baja bergrafit). Besi Cor Mampu Tempa (BCMT/maleable cast iron), merupakan paduan besi karbon yang memiliki struktur as castnya putih (ledeburit). Namun melalui proses perlakuan panas struktur tersebut diubah dengan cara mentransformasikan sebagian besar dari unsur kandungan C menjadi grafit (grafit temper) serta menghasilkan struktur dasar (matriks) perlit dan atau ferit.

100x Gambar 36. BCMT feritik. BCMT putih di temper didalam atmosfir oksidasi sehingga selain menghasilkan grafit temper, terjadi pula dekarbonisasi terutama pada bagian permukaan. Untuk benda-benda tipis dekarbonisasi ini bahkan dapat terjadi pada seluruh bagian benda sehingga struktur BCMT menjadi mirip dengan baja karbon

100x Gambar 37. BCMT perlitik.

rendah.Sedangkan BCMT hitam ditemper didalam atmosfir udara bebas (netral) sehingga kandungan C yang tertransformasi akan sepenuhnya menjadi grafit. 100x Gambar 38. Daerah dekarbonisasi BCMT putih. Besi cor putih (hard cast) sendiri merupakan paduan besi karbon dengan struktur ledeburit yang digunakan pada keadaan as cast. Dibandingkan dengan as cast BCMT hanya berbeda pada kandungan C nya yang lebih tinggi serta beberapa unsur kandungan lain didalamnya, yang akan menjadikan besi cor menjadi putih hanya dipermukaan atau secara keseluruhan. Untuk besi cor kelabu, secara teknis tidak ditemukan struktur yang murni feritik sebagaimana teori-teori terdahulu yang menjelaskan tentang pembekuan stabil. Selain grafit akan terdapat struktur dasar ferit-perlit sampai dengan perlitik. Bentuk, ukuran maupun sebaran grafit sangat dipengaruhi

oleh kondisi-kondisi peleburan maupun pendinginan. Melalui berbagai upaya teknis, selain lamelar, grafit dapat terbentuk menjadi vermikular sampai dengan nodular.

100x Gambar 39. Besi cor nodular feritik.

100x Gambar 40. Besi cor nodular perlitik.

Untuk menentukan suhu proses perlakuan panas paduan-paduan besi karbon dapat mengacu kepada diagran besi karbon, namun perlu diperhatikan, mengingat diagram tersebut dibuat pada keadaan ekuilibrium dan berbeda dengan kondisi proses yang mengakibatkan adanya histeresis, maka suhu transformasi g-a perlu dinaikkan sebesar 20 oC – 30 oC, bahkan pada pendinginan lambat sekalipun, agar lebih mendekati kekeadaan yang sebenarnya. Hal lain yang juga perlu diingat adalah bahwa produk paduan besi karbon pada kondisi industri tentunya akan mengandung berbagai unsur sampingan seperti Mn, Si dan lain sebagainya yang tentunya akan mengubah kurva diagram ekuilibrium (ideal) menjadi berbeda.

Proses Normalisasi. Proses ini diberlakukan terhadap baja cor polos (plain carbon cast steel) hipo hingga eutektoid, akibat terjadinya struktur yang tidak homogen (Widmanstatten) pasca pengecoran. Struktur Widmanstatten merupakan struktur berupa jarum-jarum tebal dengan orientasi tertentu yang terjadi akibat dari hambatan proses pendinginan oleh pasir cetak yang menyimpan panas dari produk cor.

100x Gambar 41. Struktur Widmanstatten baja cor hipoeutektoid.

100x Gambar 42. Struktur dari gambar 41 setelah proses normalisasi.

Proses normalisasi dilakukan sengan memanaskan dan menahan benda kerja sedikit diatas temperatur Ac3, yaitu sedikit diatas garis GOS. Kemudian didinginkan secara bebas diudara. Selama penahanan panas, butiran akan berada pada fasa g dan berkembang sesuai dengan lama waktu penahanannya. Sebagaimana temperatur, maka penahananpun tidak dianjurkan terlalu lama (sekedar mencapai pemerataan temperatur saja) sehingga diharapkan akan terbentuk butiran-butiran yang cukup halus dan normal. Proses ini juga dapat dibertlakukan untuk produk-produk yang telah mengalami proses pengerolan maupun penempaan sehingga akan dihasilkan benda dengan struktur normal. Semakin cepat proses pemanasan dilakukan, maka akan menghasilkan struktur yang semakin halus (tidak memberikan kesempatan kepada g untuk berkembang menjadi kasar). Sebaliknya proses pendinginan dianjurkan untuk tidak terlalu cepat untuk menghindari efek pengerasan.

Pada baja-baja cor dengan kandungan C rendah sampai menengah, akibat dari ukuran butiran dan kecepatan pendinginan, ferit tidak hanya akan tumbuh dibatas-batas butiran perlit, namun juga tumbuh sebagai struktur Widmanstatten didalam butiran austenit. Semakin kasar butiran austenit ini, maka akan meningkat pula kecenderungan terjadinya anomali struktur tersebut. Hal mana sangat mungkin terjadi pada proses pendinginan pasca pengecoran, dimana pasir yang menjadi panas menahan laju pendinginan didaerah austenit.

Anil Temperatur Tinggi (High Anealing). Proses ini merupakan kebalikan dari normalisasi, dengan menggunakan temperatur yang lebih tinggi serta pendinginan yang lambat hingga titikk Ar1, dengan tujuan menghasilkan butiran yang lebih kasar serta sebaran perlit yang lebih meluas. Dibawah Ar1 barulah pendinginan dilakukan dengan cepat.

Pelunakan. Proses pelunakan dimaksudkan untuk mengubah bentuk sementit lamelar dari perlit, sementit pada baja-baja cor hipereutektoid ataupun setiap sementit proeutektoid, sehingga menjadi sementit bulat sebagaimana ditunjukkan pada gambar 43.

100x Gambar 43. Struktur suatu baja eutektoid setelah proses pelunakan. Pembulatan sementit lamelar dapat dicapai selain melalui proses pendinginan lambat setelah pemanasan hingga temperatur sedikit diatas Ac1, melalui penahanan panas pada waktu yang lama

sedikit dibawah temperatur Ac1 ataupun melalui pemanasan bergantian diatas maupun dibawah Ac1 yang juga diikuti dengan pendinginan lambat. Penahanan panas dibawah Ac1 pada umumnya diterapkan terhadap baja cor hipoeutektoid, sedangkan pemanasan hingga diatas Ac1 diterapkan pada baja cor hipereutektoid yang sekaligus berperan mirip dengan proses normalisasi.

Anil Peredaan Tegangan (Stress relieveing). Perlakuan panas ini hanya bertujuan untuk meredakan tegangan yang muncul akibat pendinginan yang tidak seragam. Pemanasan harus dilakukan jauh dibawah Ac1 namun cukup untuk dapat meredakan tegangan agar tidak terjadi perubahan yang tidak dikehendaki terhadap struktur. Pada umumnya temperatur tersebut adalah sekitar 550 oC – 650 oC, yang kemudian diikuti dengan pendinginan lambat agar tidak terjadi tegangan baru. Pada dasarnya tegangan akan mereda dengan sendirinya bahkan pada temperatur kamar, namun hal ini baru akan tercapai pada waktu yang sangat lama. Penerapan temperatur tinggi pada proses ini akan membatu mempercepat tercapainya peredaan tegangan.

Anil Difusi. Segregasi akibat dari pendinginan yang nonequilibrium pasca pengecoran dapat dihomogenkan melalui proses anil difusi. Proses ini dilakukan dengan menahan panas benda hingga sedikit dibawah garis likuidus AHIE dalam waktu yang cukup lama serta diikuti dengan pendinginan normal. Selama penahanan panas unsur-unsur kandungan akan saling berdifusi untuk membentuk kristal-kristal fasa yang sempurna, namun akan diikuti dengan pertumbuhan butiran menjadi sangat kasar. Kekasaran butiran ini kemudian dapat diatasi dengan beberapa kali proses normalisasi.

Penguraian Ledeburit. Ledeburit merupakan struktur keras yang terdiri dari perlit dan karbida besi (sementit). Struktur ini terjadi pada paduan besi karbon dengan komposisi C lebih dari 2.02% (baca Diagram Besi Karbon). Pada besi cor kelabu maupun nodular struktur ini sangat dihindari dengan cara menambahkan unsur paduan Si, agar kandungan C tertransformasi tidak sebagai senyawa Fe3C (karbida besi) melainkan grafit.

Ledeburit dapat diuraikan menjadi struktur perlit/ferit dan grafit melalui proses perlakuan panas. Pemanasan dilakukan hingga mendekati temperatur eutektiknya kemudian ditahan pada waktu yang lama sehingga senyawa Fe3C eutektik lambat laun akan terurai menjadi Fe dan grafit. Proses pendinginan pun dilakukan sesuai dengan struktur akhir yang dikehendaki. Apabila struktur akhir dikehendaki feritis, maka pendinginan dilakukan dengan sangat lambat sehingga unsur C yang melepaskan diri dari austenit tidak menjadi senyawa Fe3C, melainkan terbentuk menjadi grafit. Sedangkan apabila struktur yang dikehendaki adalah perlit, maka pendinginan dilakukan diudara terbuka hingga tiup, tergantung dari seberapa tebal produk yang diproses. Beberapa Perlakuan Panas pada Besi dan Paduannya 1. Baja/besi cor paduan Mn. Paduan Mn dalam jumlah kecil memiliki efek promosi pembentukan perlit, sedangkan dalam jumlah besar akan memperluas daerah g diagram fasa biner FE-C, sehingga pada temperatur kamar dapat dihasilkan struktur g (austenit) yang cukup stabil. Baja paduan Mn rendah pasca pengecoran, mengingat kandungan C yang hanya sekitar 0,3%, perlu sedikitnya diberlakukan proses normalisasi agar perlit yang terbentuk tidak menjadi kasar (widmanstatten). Proses pemanasan dilakukan hingga diatas Ac3 dan didinginkan diudara bebas setelah mengalami penahanan homogenisasi temperatur. Proses perlakuan panas lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan keuletan bahan adalah anil, Dimana setelah proses ini akan dihasilkan struktur perlit dengan karbida besi (sementit) tumpul hingga bulat. Pemanasan dilakukan hingga temperatur dibawah Ac3 yang diikuti dengan pendinginan dalam tungku. Lama penahanan panas menentukan tingkat kebulatan karbida besi. Sedangkan untuk menghasilkan struktur martensit yang keras, paduan ini dapat dikeraskan melalui pemanasan sedikit diatas Ac3 dan dikuens kedalam air serta diikuti dengan proses temper. Untuk baja paduan Mn tinggi, dimana diharapkan memiliki struktur austenit, dilakukan proses austenisasi melalui pemanasan hingga temperatur 1100 oC yang dilanjutkan dengan pendinginan kuens kedalam air. Lama penahanan panas ditentukan berdasarkan ketebalan produk dengan tujuan homogenisasi temperatur.

2. Baja/besi cor paduan Cr dan Stainless steel. Paduan Cr pada baja pada umumnya digunakan untuk menghasilkan struktur as cast ferit, sehingga produk dapat diaplikasikan pada temperatur kerja tinggi. Bersama dengan Ni akan menghasilkan struktur austenit yang non mahnetis. Oksida Cr (CrO2) yang sangat tahan terhadap korosi akan selalu melapisi bagian kulit dari produk cor sehingga baja-baja paduan Cr maupun Cr-Ni masuk kedalam katagori stainless steel (baik feritis, maupun austenitis). Struktur martensit baru akan terbentuk pada besi cor paduan Cr, dimana unsur C tersedia cukup banyak. Proses hardening perlu dilakukan untuk menjamin terbentuknya struktur martensit yang halus. Namun demikian pemanasan maupun pendinginan tidak boleh dilakukan dengan terlalu cepat untuk menghindari keretakan akibat dari banyaknya karbida Cr yang keras dan rapuh. Pemanasan dilakukan dengan lambat hingga mencapai temperatur 1020 oC dan ditahan agar terjadi homogenisasi temperatur. Pendinginan cepat dilakukan dengan menggunakan media udara tiup. Kemudian dilanjutkan dengan proses temper pada temperatur 350 oC dan pendinginan udara.

3. Besi cor putih paduan Ni (Ni Hard) Ni Hard merupakan besi cor putih paduan Ni dan Cr yang terdiri dari Ni Hard 1 & 2 serta Ni Hard 4. Memiliki ketahanan gesek yang sangat baik namun kurang mampu menerima beban impak. Ni Hard 1 dan 2 memiliki struktur martensit-ledeburit yang keras namun rapuh. Keuletan bahan ini dapat ditingkatkan melalui proses temper pada temperatur 275 oC serta pendinginan diudara bebas setelah mengalami penahanan panas (setelah temperatur homogen) selama 4 – 8 jam. Berbeda dengan

Ni Hard 2 dan 2, Ni Hard 4 memiliki struktur martensit dan karbida Cr yang memiliki ketahanan impak jauh lebih baik. Peningkatan kekerasan dapat dilakukan dengan memperbanyak karbida Cr dan diakhiri dengan peningkatan keuletan melalui proses temper untuk membulatkan martensitnya.

4. Baja paduan rendah (low alloy steel) Baja paduan rendah biasanya digunakan untuk mencapai hardenability lebih baik, yang pada gilirannya akan meningkatkan sifat mekanis lainnya. Mereka juga digunakan untuk meningkatkan ketahanan korosi dalam kondisi lingkungan tertentu. Dengan menengah ke tingkat karbon tinggi, baja paduan rendah sulit untuk las. Menurunkan kandungan karbon pada kisaran 0,10% menjadi 0,30%, bersama dengan beberapa pengurangan elemen paduan, meningkatkan weldability dan sifat mampu bentuk baja dengan tetap menjaga kekuatannya. Seperti logam digolongkan sebagai baja paduan rendah kekuatan tinggi.

Baja paduan rendah dikelompokan menjadi 3 yaitu: a. Baja Karbon Rendah (low carbon steel) Baja ini dengan komposisi karbon kurang dari 2%. Fasa dan struktur mikronya adalah ferrit dan perlit. Baja ini tidak bisa dikeraskan dengan cara perlakuan panas (martensit) hanya bisa dengan pengerjaan dingin. Sifat mekaniknya lunak, lemah dan memiliki keuletan dan ketangguhan yang baik. Serta mampu mesin (machinability) dan mampu las nya (weldability) baik.

b. Baja Karbon Sedang ( medium carbon steel) Baja Mil memiliki komposisi karbon antara 0,2%-0,5% C (berat). Dapat dikeraskan dengan perlakuan panas dengan cara memanaskan hingga fasa austenit dan setelah ditahan beberapa saat didinginkan dengan cepat ke dalam air atau sering disebut quenching untuk memperoleh fasa ang keras yaitu martensit. Baja ini terdiri dari baja karbon sedang biasa (plain) dan baja mampu keras. Kandungan karbon yang relatif tinggi itu dapat meningkatkan kekerasannya. Namun tidak cocok untuk di las, dengan kata lain mampu las nya rendah. Dengan penambahan unsur lain seperti Cr, Ni, dan Mo lebih meningkatkan mampu kerasnya. Baja ini lebih kuat dari baja karbon rendah dan cocok untuk komponen mesin, roda kereta api, roda gigi (gear), poros engkol (crankshaft) serta komponen struktur yang memerlukan kekuatan tinggi, ketahanan aus, dan tangguh.

c. Baja Karbon Tinggi (high carbon steel) Baja karbon tinggi memiliki komposisi antara 0,6- 1,4% C (berat). Kekerasan dan kekuatannya sangat tinggi, namun keuletannya kurang. baja ini cocok untuk baja perkakas, dies (cetakan), pegas, kawat kekuatan tinggi dan alat potong yang dapat dikeraskan dan ditemper dengan baik. Baja ini terdiri dari baja karbon tinggi biasa dan baja perkakas. Khusus untuk baja perkakas biasanya mengandung Cr, V, W, dan Mo. Dalam pemaduannya unsur-unsur tersebut bersenyawa dengan karbon menjadi senyawa yang sangat keras sehingga ketahanan aus sangat baik.

5. Baja Paduan Tinggi (high alloy steel) Baja paduan tinggi terdiri dari baja tahan karat atau disebut dengan stainless steel dan baja tahan panas. Baja ini memiliki ketahanan korosi yang baik, terutama pada kondisi atmosfer. Unsur utama yang meningkatkan korosi adalah Cr dengan komposisi paling sedikit 11%(berat). Ketahanan korosi dapat juga ditingkatkan dengan penambahan unsur Ni dan Mo. Baja tahan karat dibagi menjadi tiga kelas utama yaitu jenis martensitik, feritik, dan austenitik. jenis martensitik dapat dikeraskan dengan menghasilkan fasa martensit. baja tahan karat austenitik memiliki fasa y (austenit) FCC baik pada temperatur tinggi hingga temperatur kamar. Sedangkan jenis feritik terdiri dari fasa ferrit (a) BCC. Untuk jenis austenitik dan feritik dapat dikeraskan dengan pengerjaan dingin (cold working). Jenis Feritik dan Martensitik bersifat magnetis sedangkan jenis austenitik tidak magnetis.

6. Austempered Ductile Iron (ADI) ADI merupakan penyempurnaan dari besi cor bainitis, dimana struktur dasarnya dihasilkan melalui proses austemper terhadap besi cor nodular. Gambar 47 memperlihatkan perbedaan antara proses pendinginan langsung melalui bainit pada pengecoran besi cor bainit dengan proses perlakuan panas hingga memasuki daerah austenit kemudian didinginkan secara cepat untuk menghindari pertumbuhan perlit dan secara isotermal ditahan masih didaerah austenit hingga memasuki wilayah bainit. Setelah penahanan selama beberapa waktu, pendinginan dilakukan dengan normal diudara terbuka.

Struktur yang akan terjadi adalah ausferit (austenit-ferit) yang sangat mirip dengan bainit, namun memiliki elongasi yang jauh lebih besar. Hal ini dapat terjadi karena selama proses isotermal jarumjarum ferit tumbuh dari austenit. Pada waktu yang sama kandungan C dari ferit akan berkumpul dibatas-batas butirannya, namun karena terdapat kandungan Si yang cukup besar, C tidak berubah menjadi senyawa sementit melainkan akan menjadikan austenit disekitar batas butiran ferit menjadi kaya dengan unsur C dan stabil. Tergantung dari berapa tinggi temperatur isotermal serta waktu penahanan, struktur dapat berupa bainit yang bebas sementit yang berupa jarum ferit serta sampai dengan 50% sisa austenit.

Gambar 47. Diagram CCT besi cor nodular dengan pendinginan langsung dan austemper.

Gambar 48. Struktur ADI setelah proses austemper dengan isotermal pada 370 oC, dan lama penahanan 1,5 jam. a) 500x, b) 5000x

7) Efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan

Bahan Logam Besi (pengajuan, lembaran atau

Hazard Low –

Comment Hazard Serbuk besi atau bubuk di mata sangat menyakitkan mengoksidasi lingkungan
HIGHLY FLAMMABLE

karena dengan garam. cepat besi

besi dalam sering

batangan logam)

Sampel

tidak sangat murni dan bereaksi dengan asam encer dapat menghasilkan racun

Logam (Serbuk)

Besi

gas hidrogen sulfida (berbau telur yang buruk). Besi sering dilapisi dengan seng (galvanis) untuk melindunginya dari korosi.

Untuk reaksi dengan sulfur Besi (II) Oksida Low - Hazard dan Besi (II) Berlaku untuk semua oksida besi: besi (II) oksida, besi (III) oksida (hematit),

Karbonat

besi (II) besi (III) oksida (magnetit). Besi (II) karbonat biasanya dijual

dicampur dengan gula (saccharated), untuk memperlambat oksidasi. Besi (VI) (II) dan sulfat besi (III) Harmful Berbahaya jika tertelan. Biasanya jika larutan yang dibuat di encer, asam sulfat (yang mungkin sendirinya berbahaya untuk besi tetapi

ammonium Sulfat

memperlambat Ammonium

oksidasi.larutan (II) lebih stabil

(padat atau solusi terkonsentrasi (Dari lebih)) Besi (VI) (II) dan sulfat besi (III) Irritant 1M atau

masih dibuat dalam asam untuk membatasi oksidasi.

Mengiritasi mata dan kulit, biasanya jika larutannya dibuat encer

ammonium Sulfat

( padat atau larutan terkonsentrasi (Dari lebih )) Besi(III) atau Besi Low - Hazard Larutan yang telah dibuat dalam asam sulfat 0.3M atau

(III)sulfat(VI) atau Besi

mungkin berbahaya jika PH Asamnya adalah lebih dari 0,5 M

(II)Ammonium atau sulfat (larutan encer ( jika kurang dari 1m Besi (III)

besi (II) or 0.3M Besi (III) ) Besi (II) atau Harmful / Irritant Berbahaya jika tertelan, lalu menyebabkan iritasi pada kulit, risiko cedera serius pada mata. larutan yang digolongkan sebagai yg mengganggu, BERBAHAYA. Beberapa pemasok mengklasifikasikan dan Padatan sebagai

besi (III) klorida Hidrat anhidrat atau atau padat larutan

terkonsentrasi (Jika 0,2 M atau lebih). Besi (II) dan Besi Low - Hazard (III) Klorida

bahwa anhidrat padat besi (III) klorida bersifat KOROSIF -

(jika larutan encer kurang dari 0,3M )

BESI DAN PADUANNYA ( efek yang ditimbulkan pada lingkungan ) SECARA UMUM Korosi sumuran (pitting corrosion) merupakan korosi lokal yang terjadi pada permukaan yang terbuka akibat pecahnya lapisan pasif. Terjadinya korosi sumuran ini diawali dengan pembentukan lapisan pasif di permukaan bahan pada antar muka lapisan pasif dan elektrolit terjadi penurunan pH, sehingga terjadi pelarutan lapisan pasif secara perlahan-lahan dan menyebabkan lapisan pasif pecah dan terjadi korosi sumuran. Korosi sumuran ini sangat berbahaya karena lokasi terjadinya sangat kecil tetapi dalam, sehingga dapat menyebabkan peralatan atau struktur patah mendadak. Korosi celah (crevice corrosion) adalah korosi lokal yang terjadi pada celah di antara dua komponen. Mekanisme tejadinya korosi celah ini diawali dengan terjadi korosi merata di luar dan di dalam celah, sehingga terjadi oksidasi logam dan reduksi oksigen. Apabila oksigen (O2) di dalam celah telah habis sedangkan oksigen(O2) di luar celah masih banyak, maka akibatnya permukaan logam yang berhubungan dengan bagian luar menjadi katode dan permukaan logam di dalam celah menjadi anode

sehingga terbentuk celah yang terkorosi.korosi ini Tidak tampak dari luar dan sangat merusak konstruksiSering terjadi pada sambungan kurang kedap. Penyebabnya, lubang, gasket, lap joint, kotoran/endapan Korosi galvanik terjadi apabila dua logam yang tidak sama dihubungkan dan berada di lingkungan korosif saat terjadi kontak atau secara listrik kedua logam yang berbeda potensial tersebut akan menimbulkan aliran elektron/listrik diantar kedua logam. shg Salah satu dari logam tersebut akan mengalami korosi, sedangkan logam lainnya akan terlindungi dari serangan korosi. Logam yang mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial lebih rendah dan logam yang tidak mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial yang lebih tinggi. Contoh korosi galvanik misalnya pada seng terjadi akibat perbedaan potensial lokal yang dimilikinya. Perbedaan potensial tersebut dapat berasal dari fasa – fasa, batas – batas butir, impurity dan bagian – bagian lain. Dengan demikian akan terbentuk suatu anoda dan katoda lokal pada permukaan logam tersebut. Selanjutnya terjadi aliran elektron dari anoda ke katoda yan dimiliki oleh oksidasi dari anoda lokal. Pada keadaan tertentu, misalnya seng tercelup dalam larutan asam klorida pekat, Zn akan terkorosi maka terus sampai habis. Korosi galvanic corrosion dipengaruhi oleh, lingkungan, jarak, area/luas Korosi merata (uniform corrosion) adalah korosi yang terjadi secara serentak diseluruh permukaan logam, oleh karena itu pada logam yang mengalami korosi merata akan terjadi pengurangan dimensi yang relatif besar per satuan waktu. Kerugian langsung akibat korosi merata berupa kehilangan material konstruksi, keselamatan kerja dan pencemaran lingkungan akibat produk korosi dalam bentuk senyawa yang mencemarkan lingkungan. Sedangkan kerugian tidak langsung, antara lain berupa penurunan kapasitas dan peningkatan biaya perawatan (preventive maintenance) Korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen) adalah bentuk korosi dimana material mengalami keretakan akibat pengaruh lingkungannya. Korosi retak tegang terjadi pada paduan logam yang mengalami tegangan tarik statis dilingkungan tertentu, seperti : baja tahan karat sangat rentan terhadap lingkungan klorida panas, tembaga rentan dilarutan ammonia dan baja karbon rentan terhadap nitrat. Korosi retak fatk terjadi akibat tegangan berulang dilingkungan korosif. Sedangkan korosi akibat pengaruh hidogen terjadi karena berlangsungnya difusi hidrogen kedalam kisi paduan.

Korosi intergranular adalah bentuk korosi yang terjadi pada paduan logam akibat terjadinya reaksi antar unsur logam tersebut di batas butirnya. Seperti yang terjadi pada baja tahan karat austenitik apabila diberi perlakuan panas. Pada temperatur 425 – 815 oC karbida krom (Cr23C6) akan mengendap di batas butir. Dengan kandungan krom dibawah 10 %, didaerah pengendapan tersebut akan mengalami korosi dan menurunkan kekuatan baja tahan karat tersebut.

Selective leaching adalah korosi yang terjadi pada paduan logam karena pelarutan salah satu unsur paduan yang lebih aktif, seperti yang biasa terjadi pada paduan tembaga-seng. Mekanisme terjadinya korosi selective leaching diawali dengan terjadi pelarutan total terhadap semua unsur. Salah satu unsur pemadu yang potensialnya lebih tinggi akan terdeposisi, sedangkan unsur yang potensialnya lebih rendah akan larut ke elektrolit. Akibatnya terjadi keropos pada logam paduan tersebut. Contoh lain selective leaching terjadi pada besi tuang kelabu yang digunakan sebagai pipa pembakaran. Berkurangnya besi dalam paduan besi tuang akan menyebabkan paduan tersebut menjadi porous dan lemah, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pecah pada pipa. Fretting Corrosion akan terjadi jika : Interface harus dalam kondisi pembebanan, Getaran atau gerakan relatif yang berulang diantara dua permukaan harus terjadi, Beban dan getaran aktif dari interface harus mampu menghasilkan slip atau deformasi pada permukaannya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->