Pengertian Human Trafficking Istilah dalam perdagangan manusia ini dapat diartikan sebagai “rekrutmen, transportasi, pemindahan, penyembunyian

atau penerimaan seseorang dengan ancaman atau penggunaan kekerasan, penculikan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan ataupun menerima atau memberi bayaran atau manfaat sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, untuk kepentingan eksploitasi yang secara minimal termasuk eksploitasi lewat prostitusi atau bentuk-bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja atau pelayanan paksa, perbudakan atau praktekpraktek lain yang serupa dengan perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ-organ tubuh.” (Sumber: Pasal 3, Protokol untuk Mencegah, Menekan dan Menghukum Perdagangan Manusia, terutama Perempuan dan Anak, sebagai Tambahan terhadap Konvensi PBB menentang Kejahatan Terorganisir Transnasional, 2000). Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan trafficking sebagai: Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang, dengan ancaman, atau penggunaan kekerasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lain, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, atau memberi atau menerima bayaran atau manfaat untuk memperoleh ijin dari orang yang mempunyai wewenang atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. (Protokol PBB tahun 2000 untuk Mencegah, Menanggulangi dan Menghukum Trafficking terhadap Manusia, khususnya perempuan dan anak-anak; Suplemen Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas Batas Negara). Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa istilah trafficking merupakan: a. Pengertian trafficking dapat mencakup kegiatan pengiriman tenaga kerja, yaitu kegiatan memindahkan atau mengeluarkan seseorang dari lingkungan tempat tinggalnya/keluarganya. Tetapi pengiriman tenaga kerja yang dimaksud tidak harus atau tidak selalu berarti pengiriman ke luar negeri. b. Meskipun trafficking dilakukan atas izin tenaga kerja yang bersangkutan, izin tersebut sama sekali tidak menjadi relevan (tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk membenarkan trafficking tersebut) apabila terjadi penyalahgunaan atau korban berada dalam posisi tidak berdaya. Misalnya karena terjerat hutang, terdesak oleh kebutuhan ekonomi, dibuat percaya bahwa dirinya tidak mempunyai pilihan pekerjaan lain, ditipu, atau diperdaya. c. Tujuan trafficking adalah eksploitasi, terutama tenaga kerja (dengan menguras habis tenaga yang dipekerjakan) dan eksploitasi seksual (dengan memanfaatkan kemudaan, kemolekan tubuh, serta daya tarik seks yang dimiliki tenaga kerja yang yang bersangkutan dalam transaksi seks).

Kemiskinan pula yang mendorong kepergian ibu sebagai tenaga kerja wanita yang dapat menyebabkan anak terlantar tanpa perlindungan sehingga beresiko menjadi korban perdagangan manusia.6% pada tahun 2002. penyalahgunaan kekuasaan. baik di luar negeri maupun di wilayah Indonesia · Pembantu Rumah Tangga (PRT). Termasuk ke dalamnya adalah: Kemiskinan Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) adanya kecenderungan jumlah penduduk miskin terus meningkat dari 11. baik di luar ataupun di wilayah Indonesia · Penari. ØBagian Ketiga : untuk tujuan mengeksploitasi.4% pada tahun 1999.Berdasarkan rumusan pasal 546 rancangan KUHP yang dikategorikan kedalam modus perdagangan manusia adalah : ØBagian Pertama : setiap orang yang melakukan perekrutan. Bentuk-Bentuk Trafficking Ada beberapa bentuk trafficking manusia yang terjadi pada perempuan dan anak-anak: · Kerja Paksa Seks & Eksploitasi seks. penculikan. Keinginan cepat kaya · · . kemiskinan telah mendorong anakanak untuk tidakbersekolah sehingga kesempatan untuk mendapatkan keterampilan kejuruan serta kesempatan kerja menyusut. penipuan. baik di luar ataupun di wilayah Indonesia · Bentuk Lain dari Kerja Migran. Penghibur & Pertukaran Budaya terutama di luar negeri · Pengantin Pesanan. atau perbuatan yang dapat tereksploitasi orang tersebut. Seks komersial kemudian menjadi sumber nafkah yang mudah untuk mengatasi masalah pembiayaan hidup. korban pemerkosaan Faktor Penyebab Human Trafficking Tidak ada satu pun yang merupakan sebab khusus terjadinya trafficking manusia di Indonesia. terutama di Indonesia · Trafficking/penjualan Bayi. ØBagian Kedua : dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. terutama di luar negeri · Beberapa Bentuk Buruh/Pekerja Anak. atau penjeratan utang. walaupun berangsur-angsur telah turun kembali menjadi 17. penyekapan. Trafficking disebabkan oleh keseluruhan hal yang terdiri dari bermacam-macam kondisi serta persoalan yang berbeda-beda. baik di luar negeri ataupun di Indonesia Sasaran yang rentan menjadi korban perdagangan perempuan antara lain: · Anak-anak jalanan · Orang yang sedang mencari pekerjaan dan tidak mempunyai pengetahuan informasi yang benar mengenai pekerjaan yang akan dipilih · Perempuan dan anak di daerah konflik dan yang menjadi pengungsi · Perempuan dan anak miskin di kota atau pedesaan · Perempuan dan anak yang berada di wilayah perbatasan anatar negara · Perempuan dan anak yang keluarganya terjerat hutang · Perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga. pemanfaatan posisi kerentanan. penyerahterimaan orang.3% pada tahun 1996 menjadi 23. pengiriman.

Masalah lain yaitu lemahnya hukum di Indonesia. Agen dan pelaku perdagangan memanfaatkan ketiadaan akta kelahiran asli untuk memalsukan umur perempuan muda agar mereka dapat bekerja di luar negeri. Korupsi dan lemahnya penegakan hukum Korupsi di Indonesia telah menjadi suatu yang lazim dalam kehidupan sehari-hari. karena baik kalangan atas maupun bawah telah melakukan praktik korupsi ini.5% sebelum mencapai usia 16 tahun. agen yang sah maupun gelap memakai kantor imigrasi di Entikong. yang tidak tahu bagaimana cara menjaga diri di kota-kota besar karena mereka tidak terbiasa dan sering malu untuk mencari bantuan. khususnya di kalangan masyarakat desa. yang mendorong anak memasuki eksploitasi seksual komersial. Kurangnya pencatatan kelahiran Anak dan orang dewasa yang tidak terdaftar serta tidak memiliki akta kelahiran amat rentan terhadap eksploitasi. Contoh.5% perempuan menikah sebelum mencapai usia 18 tahun dan 21. Tidak peduli berapa usia dan selugu apa pun mereka. Pengaruh sosial budaya Disini misalnya. Tradisi budaya pernikahan dini menciptakan masalah sosio-ekonomi untuk pihak lelaki maupun perempuan dalam perkawinan tersebut. Hal ini mengakibatkan praktik pedagangan/trafficking semakin meningkat dan masih berlangsung. perkembangan pribadi terhambat dan tingkat perceraian yang tinggi. Dampak korupsi ini terhadap buruh migran perempuan dan anak harus dipelajari dari umur mereka yang masih muda dan lugu. Pelaku perdagangan memanfaatkan ketakutan ini. sistem hukum Indonesia sampai sekarang masih lemah. lamban dan mahal. Masalahmasalah yang mungkin muncul bagi perempuan dan gadis yang melakukan pernikahan dini antara lain: Dampak buruk pada kesehatan(kehamilan prematur. penyebaran HIV/AIDS). untuk terus mengeksploitasi para perempuan dan proyek. memfasilitasi perdagangan manusia. seperti yang dikemukakan dalam bagian Kalimantan Barat dari laporan ini (bagian VF). banyak korban perdagangan yang tidak mau menyelesaikan masalah melalui proses hukum. kesempatan ekonomi terbatas. disamping dalam menghalangi penyelidikan dan penuntutan kasus perdagangan.1/1974. untuk memproses paspor palsu bagi gadis-gadis di bawah umur. korupsi memainkan peran integral dalam memfasilitasi perdagangan perempuan dan anak di Indonesia. Karena itulah. Tetapi implikasinya terutama terlihat jelas bagi gadis/perempuan. Berdasarkan UU Perkawinan No. Rendahnya registrasi kelahiran. mereka yang berimigrasi dengan dokumen palsu takut status illegal mereka akan membuat mereka jatuh ke dalam kesulitan lebih jauh dengan pihak berwenang atau dapat dideportasi. Kalimantan Barat. Untuk penyelidikan dan penuntutan kasus-kasus perdagangan. pendidikan terhenti. . Mulai dari biaya illegal dan pemalsuan dokumen. Orang yang tidak dapat memperlihatkan akta kelahirannya sering kali kehilangan perlindungan yang diberi hukum karena dimata negara secara teknis mereka tidak ada. tetapi dengan kemampuan yang minim dan kurang mengetahui informasi pasar kerja. budaya pernikahan di usia muda yang sangat rentan terhadap perceraian.· · · Keinginan untuk hidup lebih layak. dewasa ini pernikahan dini masih berlanjut dengan persentase 46. Akibatnya. perempuan Indonesia diizinkan untuk menikah pada usia 16 tahun atau lebih muda jika mendapat izin dari pengadilan. Sangat sedikit transparansi. sehingga hanya sedikit korban yang mempercayakan kepentingan mereka kepada sistem tersebut. Perilaku kriminal memiliki sumberdaya dan koneksi untuk memanfaatkan sistem tersebut. Meskipun begitu. menyebabkan mereka terjebak dalam lilitan hutang para penyalur tenaga kerja dan mendorong mereka masuk dalam dunia prostitusi.

Pendidikan minim dan tingkat buta huruf Survei sosial-ekonomi nasional tahun 2000 melaporkan bahwa 34% penduduk Indonesia berumur 10 tahun ke atas belum/tidak tamat SD/tidak pernah bersekolah. Beberapa orang dari selir tersebut adalah putri bangsawan yang diserahkan kepada raja sebagai tanda kesetiaan. Raja mempunyai kekuasan penuh. . tetapi ada juga yang berasal dari lingkungan kelas bawah yang di-“jual” atau diserahkan oleh keluarganya dengan maksud agar keluarga tersebut mempunyai keterkaitan langsung dengan keluarga istana. tidak dapat membaca atau mengerti brosur iklan layanan masyarakat lain mengenai rumah singgah atau nomor telepon yang bisa dihubungi untuk mendapatkan bantuan. Pada jaman raja-raja Jawa dahulu. Pada masa penjajahan Belanda. 34. Menurut laporan BPS pada tahun 2000 terdapat 14% anak usia 7-12 dan 24% anak usia 1315 tahun tidak melanjutkan ke SLTP karena alasan pembiayaan. Sistem feodal ini belum menunjukkan keberadaan suatu industri seks tetapi telah membentuk landasan dengan meletakkan perempuan sebagai barang dagangan untuk memenuhi nafsu lelaki dan untuk menunjukkan adanya kekuasaan dan kemakmuran. industri seks menjadi lebih terorganisir dan berkembang pesat yaitu untuk memenuhi kebutuhan pemuasan seks masyarakat Eropa seperti serdadu. antara lain tercermin dari banyaknya selir yang dimilikinya. sebagian lagi persembahan dari kerajaan lain. mengarah ke eksploitasi.2% tamat SD dan hanya 155 yang tamat SMP. perempuan merupakan bagian pelengkap dari sistem pemerintahan feodal. konsep kekuasaan seorang raja digambarkan sebagai yang agung dan mulia. namun kontrak yang mereka tanda tangani (yang mungkin tidak dapat mereka baca) mencantumkan ketentuan kerja serta kompensasi yang jauh berbeda. Bahkan tidak sedikit justru memberitakan yang kurang mendidik dan bersifat pornografis yang mendorong menguatnya kegiatan trafficking dan kejahatan susila lainnya. Selain itu. Pada masa itu.· · Media massa Media massa masih belum memberikan perhatian yang penuh terhadap berita dan informasi yang lengkap tentang trafficking dan belum memberikan kontribusi yang optimal dalam upaya pencegahan maupun penghapusannya. Mereka akan kesulitan bagaimana mengakses sumber daya yang tersedia. Orang dengan pendidikan yang terbatas atau buta aksara kemungkinan besar akan menderita keterbatasan ekonomi. pedagang dan para utusan yang pada umumnya adalah bujangan. Seorang yang rendah melek huruf sering kali secara lisan dijanjikan akan mendapat jenis pekerjaan atau jumlah gaji tertentu oleh seorang agen. mereka akan sulit mencari pertolongan ketika mereka kesulitan saat berimigrasi atau mencari pekerjaan. Dan mereka juga tidak akan mempunyai pengetahuan kepercayaan diri untuk mengajukan pertanyaan tentang ketentuan-ketentuan dalam kontrak dan kondisi kerja mereka. Pada masa pendudukan Jepang (1941-1945). Perbudakan atau penghambaan pernah ada dalam sejarah Bangsa Indonesia.

nilai keperawanan. penyekapan. atau jasa pengiriman TKI. Malaysia dan Hong Kong untuk melayani para perwira tinggi Jepang (Hull. Daerah-daerah yang memasok terbesar kasus trafficking (perdagangan orang) tersebar di tanah air. kemungkinan besar Indonesia terancam dicoret dalam daftar Negara yang berhak mendapatkan jatah bantuan kemanusiaan dari PBB. Selain memaksa perempuan pribumi dan perempuan Belanda menjadi pelacur. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh ILO-IPEC pada tahun 2003 di Jawa Tengah. penculikan. Sulistyaningsih dan Jones 1997). Perdagangan manusia dilakukan untuk tujuan untuk tujuan mengeksploitasi. Dampak perdagangan manusia antara lain : Bentuk perdanagan manusia antara lain setiap orang yang melakukan perekrutan. 1. Cianjur. penyalahgunaan kekuasaan. Kualitas Hidup Kualitas hidup miskin di daerah pedesaan dan desakan kuat untuk bergaya hidup materialistik membuat anak dan orang tua rentan dieksplotasi oleh para pelaku trafficking. banyak para calon TKI yang akan berangkat ke luar negeri tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang bagaimana prosedur dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Sebab. Jakarta. atau perbuatan yang dapat tereksploitasi orang tersebut sehingga sangat merugikan bagi korban perdagangan manusia. Kelengahan mereka kemudian dimanfaatkan secara ekonomi namun tidak bertanggung jawab oleh sejumlah agen. pengiriman. Akibat dari besarnya kasus tersebut. Jawa Timur. dan Indramayu. yaitu pekerjaan yang dilakukan seseorang guna membayar hutang. pemanfaatan posisi kerentanan.komersialisasi seks terus berkembang. DI Yogyakarta. Jepang juga membawa banyak perempuan ke Jawa dari Singapura. calo. penipuan. penanganan terhadap masalah trafficking juga perlu mengatasi masalah pengiriman tersebut. Untuk itulah. Karawang. Perdaganagan manusia banyak menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. dan Jawa Barat menyimpulkan bahwa trafficking di Indonesia merupakan masalah yang sangat kompleks karena juga diperluas oleh faktor ekonomi dan sosial budaya. seperti kawin muda. Dengan perekrutan ini akan banya terjadinya penipuan. Trafficking (perdagangan orang) umumnya terjadi pada kasus-kasus pengiriman TKI ke luar negeri. Kemiskinan telah memaksa banyak keluarga untuk merencakanan strategi penopang kehidupan mereka termasuk bermigrasi untuk bekerja dan bekerja karena jeratan hutang. Provinsi Jawa Barat. penyerahterimaan orang. Disamping diskriminasi terhadap anak perempuan. Selain itu kurangnya pendidikan juga . Suatu data menyebutkan bahwa sedikitnya 80 persen dari 8000 kasus trafficking sejak tahun 2004 melibatkan korban asal warga Subang. pandangan anak gadis tidak perlu pendidikan tinggi menjadi kunci faktor pendorong. atau penjeratan utang.

Perkawinan dini. Pemicu trafiking terjadi karena ada beberapa faktor. Maraknya kasus trafiking yang menimpa anak-anak remaja.Seharusnya remaja dan masyarakat umum harus mampu mengendalikan diri untuk mengurangi gaya hidup yang konsumtif. Peran perempuan dalam keluarga. Yang memprihatinkan. maka akan diikuti dengan faktor kejahatan. kadang dilatarbelakangi keinginan korban untuk memebuhi kebutuhan hidup. Peran anak dalam keluarga. Perkawinan dini mempunyai implikasi yang serius bagi para anak perempuan termasuk bahaya kesehatan. gangguan perkembangan pribadi. d. Bila seseorang tidak bisa mengimbangi gaya hidup. Praktek menyewakan tenaga anggota keluarga untuk melunasi pinjaman merupakan strategi penopang kehidupan keluarga yang dapat diterima oleh . putus sekolah.Faktor Budaya Masyarakat a. kesempatan ekonomi yang terbatas. Orang cenderung menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya. seperti HP yang keren. Anak-anak perempuan yang sudah bercerai secara sah dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap praktek trafficking hal ini disebabkan kerapuhan ekonomi mereka.mempengaruhi. tetapi yang paling sering ditemukan adalah gaya hidup yang konsumtif. juga diakui bahwa perempuan seringkali menjadi pencari nafkah tambahan/pelengkap buat kebutuhan keluarga. Orang dengan pendidikan yang terbatas memiliki lebih sedikit keahlian/skill dan kesempatan kerja dan mereka lebih mudah diperdagangkan karena mereka bermigrasi mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian. Rasa tanggung jawab dan kewajiban membuat banyak wanita bermigrasi untuk bekerja agar dapat membantu keluarga mereka. Kepatuhan terhadap orang tua dan kewajiban untuk membantu keluarga membuat anak-anak rentan terhadap praktek trafficking. baju yang bagus. Selain itu. Perilaku Konsumtif. bahkan uang untuk berfoya-foya. yang dijadikan pekerja seks komersial. juga perceraian dini. Gaya hidup yang konsumtif mendominasi masyarakat belakangan ini. c. Sejarah pekerjaan karena jeratan hutang. menjadi faktor mendasar trafficking. gara-gara ekonomi yang lemah dan tuntutan gaya hidup tinggi. dan seringkali. 3. b. 2. Meskipun norma-norma budaya menekankan bahwa tempat perempuan adalah di rumah sebagai istri dan ibu. orang tua jadi faktor yang mendorong pelaku. Terlebih untuk kalangan remaja gaya hidup yang bermula di lingkungan sekolah atau dirumah dapat menyebabkan perilaku-perilaku konsumtif yang pastinya mengarah pada halhal yang negatif.

khususnya perempuan sebagai suatu bentuk tindak kejahatan yang kompleks. Pasal 285. E. dan paspor yang membuat buruh migran lebih rentan terhadap trafficking karena migrasi ilegal. Orang tanpa pengenal yang memadai lebih mudah menjadi mangsa trafficking karena usia dan kewarganegaraan mereka tidak terdokumentasi. kerjasama yang memadai baik sesama aparat penegak hukum seperti kepolisian.11. e. 138 tentang Usia Minimum yang UU RI No. Orang yang ditempatkan sebagai buruh karena jeratan hutang khususnya.14. Pasal 506 UU RI No. namun juga pengumpulan dan pertukaran informasi. Anak-anak yang perdagangkan. Kurangnya anggaran dana negara untuk menanggulangi usaha-usaha trafficking menghalangi kemampuan para penegak hukum untuk secara efektif menjerakan dan menuntut pelaku trafficking. f. lebih mudah diwalikan ke orang dewasa manapun yang memintanya. Kurangnya pencatatan kelahiran. 20 tahun 1999 (ratifikasi konvensi ILO No. Undang-Undang tentang Trafficking Berikut ini beberapa peraturan perundang-undangan : · · · · · · Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). 1/2000 (ratifikasi konvensi ILO No. Pencegahan dan Penanggulangan Human Trafficking Perdagangan orang. hakim maupun dengan pihak-pihak lain yang terkait yaitu lembaga pemerintah (kementerian terkait) dan lembaga non .6.Pejabat penegak hukum dan imigrasi yang korup dapat disuap oleh pelaku trafficking untuk tidak mempedulikan kegiatan-kegiatan yang bersifat kriminal. Tidak hanya dibutuhkan pengetahuan dan keahlian profesional. akte kelahiran. 7 tahun 1984 (ratifikasi konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap UU RI No. 287-298. kejaksaan. pasal 2.12. tentunya memerlukan upaya penanganan yang komprehensif dan terpadu.9.16) Diperbolehkan Bekerja) untuk Anak) F.15.masyarakat. Para pejabat pemerintah dapat juga disuap agar memberikan informasi yang tidak benar pada kartu tanda pengenal (KTP). Korupsi dan lemahnya penegakan hukum. misalnya. 182 tentang Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk UU RI no. 29/1999 (ratifikasi konvensi untuk Mengeliminasi Diskriminasi Rasial) Keppres No 36/1990 ( ratifikasi konvensi Hak Anak) Perempuan/CEDAW. rentan terhadap kondisi-kondisi yang sewenang-wenang dan kondisi yang mirip dengan perbudakan.

peningkatan pendidikan masyarakat. aparat penegak hukum dapat memaksimalkan jaringan kerjasama dengan sesama aparat penegak hukum lainnya di dalam suatu wilayah negara. Cara-cara tersebut terkesan sangat ideal. peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pemberian informasi seluas-luasnya tentang perdagangan orang beserta seluruh aspek yang terkait dengannya. termasuk kaum perempuan di dalamnya yang rentan dengan trafficking. Ketiga. Salah satu tujuan utamanya adalah mengantisipasi praktek pemalsuan identitas yang kian marak terjadi dalam hal pengurusan syarat-syarat TKI. Keempat. tinggal bagaimana implementasinya secara nyata. Sebagai salah satu bentuk implementasi dari cara-cara tersebut. organisasi masyarakat. khususnya pendidikan alternatif bagi anak-anak dan perempuan. perlu diupayakan adanya jaminan aksesibilitas bagi keluarga khususnya perempuan dan anak untuk memperoleh pendidikan. baik untuk tujuan domestik maupun luar negeri. dan termasuk media massa. PEMECAHAN MASALAH TRAFFICKING ! Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah yang amat pelik ini. peningkatan pendapatan dan pelayanan sosial. Tidak hanya perihal pencegahan.pemerintah (LSM) baik lokal maupun internasional. Padahal. pemetaan masalah perdagangan orang di Indonesia. Dalam konteks penyidikan dan penuntutan. atau bahkan melalui mutual legal assistance. langkah yang selama ini baru dilakukan oleh Kantor Pemberdayaan Perempuan Provinsi DIY(contohnya) untuk meminimalisir praktek trafficking adalah dengan mengadakan pelatihan bagi para kepala desa tentang tertib administrasi. pelatihan. Pertama. swasta. termasuk dengan sarana dan prasarana pendidikannya. bagi pencegahan dan penanggulangan perdagangan perempuan lintas negara. perseorangan. Kedua. Menurut laporan Kementerian Koordinator Kesehateraan Rakyat pencegahan trafficking dapat dilakukan melalaui beberapa cara. Namun. kami mengusulkan agar dilakukan kampanye (sosialisasi) secara massif untuk menyebarluaskan informasi tentang apa dan bagaimana . Upaya Masyarakat dalam pencegahan trafficking yakni dengan meminta dukungan ILO. namun juga penanganan kasus dan perlindungan korban semakin memberikan pembenaran bagi upaya pencegahan dan penanggulangan perdagangan perempuan secara terpadu. Upaya tersebut juga memerlukan keterlibatan seluruh sektor pemerintah. Hal ini bertujuan untuk memastikan agar korban mendapatkan hak atas perlindungan dalam hukum. Masyarakat secara umum sangat rawan menjadi korban trafficking apabila tidak mempunyai bekal pengetahuan yang memadai tentang masalah ini. badan-badan internasional. kami mengambil contoh. Kerjasama dengan aparat penegak hukum di negara tujuan bisa dilakukan melalui pertukaran informasi. Untuk itulah. sayangnya mengapa lembaga perempuan tersebut baru melangkah pada tindakan antisipasi yang sifatnya administratif. dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) yang melakukan Program Prevention of Child Trafficking for Labor and Sexual Exploitation. untuk bertukar informasi dan melakukan investigasi bersama. Semua pihak bisa saling bertukar informasi dan keahlian profesi sesuai dengan kewenangan masing-masing dan kode etik instansi. LSM. masih banyak bentuk kegiatan lain yang bisa menyentuh masyarakat secara umum.

UU tersebut meningkatkan sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah. pelaku trafficking akan semakin leluasa saja. mantan Ketua Panitia Khusus RUU PTPPO. kami bahwa dengan adanya pendidikan (training) tersebut. Hukuman. tetapi harus menembus faktor-faktor penyebabnya. Lebih lanjut. . Andi Akbar dari Lembaga Advokasi Hak Anak (LAHA) mengatakan bahwa penanganan masalah trafficking tidak cukup dalam bentuk penyadaran korban maupun pelaku. Mereka kurang memerhatikan bagaimana akibatnya kemudian. maka para calon TKI akan merasa aman karena tidak adanya biaya-biaya yang menyusahkan mereka. hanya kurang dari 1 persen kasusnya yang dibawa ke pengadilan.Sehingga. Biasanya mereka hanya berpikir bahwa yang penting dapat pekerjaan. Sebab. penambahan masa hukuman penjara selama 15 tahun cukup fair mengingat begitu beratnya kasus kejahatan yang diperbuat oleh para pelakunya. Peningkatan kasus trafficking ternyata tidak diimbangi dengan penegakan hukum yang ketat. Upaya sosialisasi ini adalah bagian dari program pendidikan yang mampu memberdayakan para calon TKI. Sebab. praktek trafficking bermula dari tindakan tidak bertanggung jawab sejumlah pihak (calo TKI) yang merekrut calon TKI dengan iming-iming tertentu. Mereka perlu mendapatkan pengetahuan secara komprehensif tentang tawaran kerja di mana dan bagaimana konsekuensinya. Hukuman selama lima tahun memang dirasa masih kurang. Menurutnya.praktek trafficking yang harus diwaspadai itu. para calon TKI yang berasal dari pedesaan dan sedang dalam himpitan masalah ekonomi dengan mudahnya menerima tawaran tersebut. untuk memberi jera pada pelaku perdagangan manusia. akhirnya mereka menerima pekerjaan secara asal-asalan. Semua kasus tindak pidana trafficking diharapkan dapat diproses secara hukum dan diberi hukuman yang seberat-beratnya. Pasalnya. Aturan yang sudah ada harus benarbenar dilaksanakan jangan hanya dijadikan aturan tanpa ada realisasinya. ketidaksetaraan jender. tanpa memecahkan masalahmasalah semacam itu.Ternyata sosialisasi saja tidak cukup. Sebaiknya peraturan pemerintah baik berupa undang-undang. Cara untuk menghapuskan Human Trafficking. Dalam pelaksanaannya hukuman yang diberikan tidak boleh tebang pilih dan memberikan efek jera kepada para pelaku. Faktor-faktor seperti inilah yang juga perlu mendapatkan perhatian dan diberantas hingga ke akar-akarnya. trafficking dan eksploitasi seks komersial anak antara lain didorong karena faktor kemiskinan. upaya penyadaran hanya berfungsi sesaat saja. Perpres ataupun perda memberikan sanksi yang berat dan tegas kepada para pelaku Human Traficking terutama para sindikat/bos/pelaku utama. sempitnya lapangan kerja. Umumnya. Tanpa penegakan hukum. apalagi payung hukum berbentuk UU khusus sudah ada.Kita semua sepakat bahwa pemberantasan masalah trafficking memerlukan adanya penegakan hukum yang tegas. pemberatasan masalah ini akan sia-sia saja. diantaranya: 1. Ketika merasa terjepit dalam masalah ekonomi. Tentunya. dan peningkatan konsumerisme. Hal ini dimaksudkan agar para pelaku trafficking yang sudah atau belum tertangkap merasa jera dan tidak mengulangi perbuatan yang melawan hukum itu.

pendidikan) agar korban tidak terjebak kembali dalam perdagangan orang. sangat mudah ditembus. rehabilitasi (pemulihan kesehatan fisik. Demikian pula perbatasan antara propinsi di Kalimantan dengan Malaysia Timur (Serawak dan Sabah) sangat mudah dilewati melalui “jalan-jalan tikus” dari Kalimantan Barat menuju Kuching. Oleh karena itu perlu adanya kerjasama semua pihak baik di dalam negeri maupun luar negeri untuk menghapuskan Human Trafficking ini. psikis).000 pulau-pulau seluas total 1. Serawak atau dari Kalimantan Timur menuju Tawau. Negara. 3. Pengawasan Lalu-lintas Lintas Batas Negara Kesatuan Republik Indonesia mempunyai wilayah yang luasnya 5. Hambatan Pemberantasan Trafficking . pemulangan (ke daerah asalnya atau ke dalam negeri) termasuk upaya pemberian bantuan hukum dan pendampingan. Demikian pula yang terjadi di perbatasan antara Papua dengan Papua New Guinea. Oleh karena itu perlu ditingkat pengawasan lalu lintas lintas batas antar negara. mudah ditembus dengan berbagai cara.negara yang anti perbudakan dan berniat melindungi kehidupan warganegaranya harus bersatu padu bekerjasama memerangi perdagangan orang. Perdagangan orang menjadi ancaman bagi keamanan dalam negeri karena telah menjadi sumber penghasilan yang sangat besar bagi sindikat kejahatan internasional. Sebagai bagian dari transnational organized crime. Kerjasama antar Pemerintah (G-to-G) antar LSM. reintegrasi (penyatuan kembali ke keluarganya atau ke lingkungan masyarakatnya) dan upaya pemberdayaan (ekonomi. organisasi masyarakat dan perseorangan dalam dan luar negeri harus dibina dan dikembangkan sehingga terbentuk kekuatan yang mampu memberantas kejahatan teroganisir tersebut.904. Perbatasan antara propinsi-propinsi di Pulau Sumatera dengan Singapura dan dengan Semenanjung Malaysia yang melalui laut. Daratan yang ada merupakan rangkaian dari 17. Perlindungan Korban Perlindungan korban perdagangan orang meliputi kegiatan: penampungan dalam tempat yang aman. Kerjasama Penindakan Hukum. perdagangan orang tidak dapat diperangi secara partial atau secara sendiri-sendiri oleh masing-masing negara.252 km2 terdiri dari sebagian besar lautan dan hanya 36. maupun dengan negara tetangga menjadi sangat “porous”.2. F. 4. Sabah.443 km2 sehingga batas-batas antar wilayah kabupaten/kota dan propinsi di dalam negeri.193.6 % berupa daratan.

Dari berbagai upaya yang telah dilakukan SP selama ini. . anggapan tidak usah melaporkan masalah yang dialami. yaitu antara lain: Budaya masyarakat (culture) Anggapan bahwa jangan terlibat dengan masalah orang lain terutama yang berhubungan dengan polisi karena akan merugikan diri sendiri.Upaya penanggulangan perdagangan manusia khususnya perdagangan perempuan dan anak mengalami berbagai hambatan. Stereotipeyang ada di masyarkat tersebut masih mempengaruhi cara berpikir masyarakat dalam melihat persoalan kekerasan perempuan khususnya kekerasan yang dialami korban perdagangan perempuan dan anak. dan lain sebagainya. terdapat 3 (tiga) hal yang merupakan hambatan kunci dalam melakukan upaya tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful