P. 1
konsep astagatra

konsep astagatra

|Views: 3,756|Likes:
Published by Adi Irawan
sxdcfgvhb
sxdcfgvhb

More info:

Published by: Adi Irawan on Oct 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/07/2014

pdf

text

original

konsep astagatra

Ketahanan Nasional di Indonesia mengenal konsep Astagatra (8 aspek kehidupan), yang
terdiri dari :

Trigatra (Aspek Alamiah)
1. Geografi
2. Kekayaan Alam
3. Kependudukan

Pancagatra (Aspek Sosial)
1. Ideologi
2. Politik
3. Ekonomi
4. Sosial Budaya
5. Hankam

Gatra Geografi
Sebagai Negara Kepulauan dengan laut pedalaman yang luas.
Secara Geografis berada pada posisi silang. Berperan dalam persoalan global positif maupun
negatif.
Topografi
 Banyak pulau
 perbandingan luas wilayah darat:laut = 2:3
 Berbatasan dengan banyak negara

Gatra Kekayaan Alam
Menurut Jenisnya:
Hewani, Nabati, Mineral, Tanah, Udara, Potensi ruang angkasa, Energi alami air dan lautan
Menurut Sifatnya:
Dapat diperbarui, tidak dapat diperbarui, dan tetap

Gatra Kependudukan
Komposisi penduduk
 Jumlah penduduk berubah-ubah dan terus bertambah
 Susunan penduduk, pendekatan umur, kelamin, agama, suku, tingkat pendidikan yang
berbeda-beda dan diperlukan untuk memperkuat kondisi ketahanan nasional
Persebaran
 Persebaran tidak merata, banyak di Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali
Kualitas
 Faktor fisik: kesehatan, gizi, dan kebugaran
 Faktor nonfisik: mentalitas dan intelektualitas

Ideologi
Ketahanan Ideologi adalah sikap mental bangsa Indonesia akan kebenaran ideologi Pancasila.
Fungsi:
 Menggalang persatuan dan kesatuan nasional
 Menangkal penetrasi ideologi asing
 Menagkal nilai yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa
Faktor-faktor:
 Kemajemukan masyarakat Indonesia
 Perkembangan dunia
 Kepemimpinan, keteladanan, paternalistik
 Pembangunan nasional berhasil atau gagal

Politik
Ketahanan politik adalah kehidupan politik bangsa berdasarkan demokrasi pancasila dan UUD
1945 dengan slogan “Pelihara stabilitas politik dalam negeri yang sehat dan dinamis, luar negeri
bebas dan aktif”
Unsur-unsur

Ekonomi
Ketahanan Ekonomi adalah kondisi kehidupan perekonomian bangsa Indonesia berlandaskan
demokrasi ekonomi Pancasila. Kemampuan memelihara stabilitas ekonomi nasional,
kemandirian, daya saing. Mewujudkan kemakmuran rakyat, adil, dan merata.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
 Sifat keterbukaan sistem perekonomian
 Manajemen
 SDM
 Pengelolaan Sumber dana
 Infrastruktur sarana dan prasarana
 Teknologi

Sosial Budaya
Ketahanan Sosial Budaya adalah kondisi bangsa yang dijiwai kepribadian nasional pancasila.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
 Kebudayaan daerah
 Kebudayaan nasional
 Integritas nasional
 Kehidupan beragama
 Pendidikan
Pembinaan Ketahanan Sosbud:
 Pengembangan sosial budaya
 Toleransi kehidupan beragama
 Perkembangan IPTEK

Pertahanan dan Keamanan
Konsepsi hankam:
 Mengelola potensi nasional untuk mempertahankan dan mengamankan negara dengan
TNI dan Polri sebagai komponen utama.
 Tanmas Hankam adalah kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela
negara.
 Pandangan Bangsa Indonesia tentang perang dan damai.
 Bela negara merupakan hak dan kewajiban warga negara.
 Sishankamrata (sistem keamanan rakyat semesta)









------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua
Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat
majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit,
agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam
masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang
lain.
Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan
masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk
menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala
gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik
Indonesia.
Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan.
Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa,
warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dan keutuhan Negara Kesatuan Rebublik
Indonesia itu juga dipengaruhi oleh ketahanan nasional yang dimiliki Negara tersebut.
Adapun unsur atau gatra delapan dalam ketahanan nasional adalah penduduk, sumber daya
alam, wilayah, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan Astagatra?
2. Ada berapa unsur-unsur gatra dalam ketahanan nasional?
3. Apa itu perdamaian dunia dan Bagaimana strategi Indonesia dalam usaha mencapai
perdamaian dunia?

1.3 Tujuan
Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Astagatra
2. Untuk mengetahui unsur-unsur gatra dalam ketahanan nasional
3. Untuk mengetahui arti dari perdamaian dunia dan strategi Indonesia dalam usaha mencapai
perdamaian dunia.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia
Unsur-unsur kekuatan nasional di Indonesia diistilahakan dengan gatra dalam ketahanan
nasional Indonesia. Sedangkan unsur-unsur kekuatan nasional Indonesia dikenal dengan nama
Astagatra yang terdiri atas Trigatra dan Pancagatra.
1) Trigatra adalah aspek alamiah yang terdiri atas penduduk, sumber daya alam, dan wilayah.
2) Pancagatra adalah aspek sosial yang terdiri atas ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
dan pertahanan keamanan.
Unsur-unsur tersebut dianggap mempengaruhi negara dalam hal mengembangkan kekuatan
nasionalnya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang bersangkutan.
Dalam praktiknya kondisi ketahanan nasional dapat kita ketahui melalui pengamatan atas
delapan gatra yang sudah disebutkan diatas. Sedangkan lemah/menurunnya tingkat ketahanan
nasional akan menurunkan kemampuan bangsa dalam menghadapi ancaman kekuatan yang
terjadi.

2.2 Penjelasan Atas Tiap Gatra dalam ketahanan Nasional

2.2.1 Gatra Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional negara yang
bersangkutan. Faktor yang bersangkutan dengan penduduk negara meliputi dua hal berikut:
a. Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, ketrampilan, etos kerja, dan kepribadian.
b. Aspek kuantitas yang mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan, dan
perimbangan penduduk di tiap wilayah.

2.2.2 Gatra Wilayah
Wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional Negara. Adapun hal yang terkait dengan
wilayah Negara meliputi:
a. Bentuk wilayah Negara dapat berupa Negara pantai, Negara kepulauan, dan Negara kontinental.
b. Luas wilayah Negara; ada Negara dengan wilayah luas dan Negara dengan wilayah sempit
(kecil).
c. Posisi geografis, astronomis, dan geologis Negara.
d. Daya dukung wilayah Negara; ada wilayah yang habitable dan ada wilayah yang unhabitable.

2.2.3 Gatra Sumber Daya Nasional
Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen ketahanan
nasional, meliputi:
a. Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup sumber daya alam hewani,
nabati, dan tambang.
b. Kemauan mengeksplorasi sumber daya alam.
c. Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan lingkungan hidup.
d. Kontrol atas sumber daya alam.

2.2.4 Gatra di Bidang Ideologi
Ideologi mendukung ketahanan suatu bangsa oleh karena ideologi bagi suatu bangsa
memiliki dua fungsi pokok, yaitu:
a. Sebagai tujuan atau cita-cita dari kelompok masyarakat yang bersangkutan, artinya nilai-nilai
yang terkandung dalam ideologi itu menjadi cita-cita yang hendak dituju.
b. Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan, atinya masyarakat yang banyak
dan beragam itu bersedia menjadikan ideologi sebagai milik bersama dan menjadikannya
bersatu.

2.2.5 Gatra di Bidang Politik
Politik penyelengaraan bernegara sangat memengaruhi kekuatan nasional suatu Negara.
Penyelenggaraan bernegara dapat ditinjau dari beberapa aspek, seperti :
a. Sistem politik yang dipakai yaitu apakah sistem demokrasi atau non demokrasi.
b. Sistem pemerintahan yang dijalankan apakah sistem presidensil atau parlementer.
c. Bentuk pemerintahan yang dipilih apakah republik atau kerajaan.
d. Susunan Negara yang dibentuk apakah sebagai Negara kesatuan atau Negara serikat.

2.2.6 Gatra di Bidang Ekonomi
Ekonomi yang dijalankan oleh suatu Negara merupakan kekuatan nasional Negara yang
bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang ekonomi berperan langsung dalam
upaya pemberian dan distribusi kebutuhan warga Negara.

2.2.7 Gatra di Bidang Sosial Budaya
Unsur budaya di masyarakat juga menentukan kekuatan nasional suatu Negara. Hal-hal
yang dialami sebuah bangsa yang homogen tentu saja akan berbeda dengan yang dihadapi
bangsa yang heterogen (plural) dari segi sosial budaya masyarakatnya.

2.2.8 Gatra di Bidang Pertahanan Keamanan
Pertahanan keamanan suatu Negara merupakan unsur pokok terutama dalam mengahadapi
ancaman militer Negara lain. Oleh karena itu, unsur utama pertahanan keamanan berada di
tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan Negara juga merupakan salah satu fungsi
pemerintahan Negara.

2.3 perdamaian dunia dan Bagaimana strategi Indonesia dalam usaha mencapai perdamaian
dunia
Perdamaian dalam pengertian negatifnya adalah suatu kondisi tidak adanya peperangan,
konflik kekerasan, ketegangan dan huru-hara kerusuhan berskala besar, sistematis serta kolektif.
Namun demikian, berlanjutnya tindak kekerasan seperti terorisme, diskriminasi dan penindasan
terhadap minoritas dan kaum wanita serta anak-anak, kekerasan struktural oleh sebab-sebab
kemiskinan dan pengangguran, intoleransi agama, dan rasisme serta sentimen kesukuan, bisa
dikatakan merupakan keadaan tidak adanya situasi damai bagi mereka yang menjadi korban.
Oleh karena itu, perdamaian harus dirumuskan pula secara lebih positif, tidak hanya dengan
meniadakan peperangan dan konflik bersenjata berskala besar, melainkan juga memberantas
berbagai tindak kekerasan, ketidakadilan, kriminalitas, penindasan dan eksploitasi manusia oleh
manusia lainnya yang lebih kuat serta berkuasa.
Cita-cita perdamaian mungkin sudah berumur sama dengan usia manusia itu sendiri.
Namun demikian, kegagalan-kegagalan menciptakan perdamaian juga sama usianya dengan cita-
cita damai sepanjang zaman. Hal itu menyebabkan berbagai konsekuensi, antara lain pesimisme
bahwa perdamaian abadi dianggap merupakan sebuah utopia belaka, mengingat kenyataan
bahwa kodrat manusia yang ditakdirkan heterogen dalam cita-cita kelompok, keyakinan, serta
kepentingan sosial politik, sudah mengandung implikasi bahwa potensi konflik adalah sebuah
keniscayaan di muka bumi ini. Kalau demikian halnya, mengapa manusia modern di awal
millennium ke-3 ini, masih terus mencoba tidak kehabisan akal untuk mencari cara dalam
mengupayakan terciptanya perdamaian bagi diri, keluarga, kelompok, bangsa, serta perdamaian
global? Salah satu jawabannya adalah bahwa selain kodrat manusia yang berbeda-beda dan
bertentangan berdasarkan suku, bangsa, ras, agama, dan perbedaan kelompok-kelompok secara
primordial maupun pertentangan kepentingan politik dan ideologi, maka merupakan
kodrat/naluri (instinct) manusia pula untuk mempertahankan jenisnya agar tidak mengalami
kemusnahan total oleh saling menghancurkan dan memusnahkan. Itulah sebabnya, dalam
sejarah, setelah peperangan demi peperangan, kekerasan demi kekerasan dilakukan oleh sesama
manusia, maka manusia secara akumulatif selalu berusaha menciptakan mekanisme-mekanisme
untuk mewujudkan pemulihan keadaan damai.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan oleh Negara Indonesia dalam menciptakan sebuah
perdamaian Negara adalah:

1) Menghargai Keberagaman
Indonesia yang terdiri dari berbagai unsur dan bermacam-macam kelompok, hanya akan
terpelihara eksistensinya, apabila ada kerelaan untuk saling menerima keberagaman dari setiap
komponen bangsa terhadap komponen atau kelompok lainnya. Setiap warga negara mesti
menyadari, tidak mungkin kedamaian dibangun secara hakiki, apabila suatu kelompok agama
tertentu menganggap dirinya adalah kelompok agama yang lebih istimewa dibandingkan dengan
yang lainnya. Salah satu potensi besar dalam menyumbang terhadap perdamaian adalah dengan
kembali kepada ajaran-ajaran pokok setiap agama, karena mayoritas sangat besar dari bangsa
Indonesia adalah umat beragama. Agama melalui para pemeluknya harus belajar meninggalkan
sikap memutlakkan ajaran agama (absolutisme agama) sendiri sebagai satu-satunya kebenaran
yang ada di dunia, dan sebaliknya dapat berbagi ruang hidup secara lapang dada dengan
menerima keanekaragaman agama-agama (pluralisme agama) di Indonesia.

2) Dialog Perdamaian
Dalam dialog perdamaian ini, sekali lagi harapan dibebankan kepada para pemeluk-
pemeluk agama. Hal ini didasarkan oleh kenyataan, bahwa sudah begitu banyak kekejaman dan
kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia lainnya di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia, justru dengan justifikasi yang berasal atas ajaran agama-agama tertentu. Apalagi
agamalah tampaknya yang paling sering menjadi alat politik untuk membenarkan kelompok
sendiri, serta menyalahkan kelompok lainnya. Padahal, setiap orang beragama umumnya
sepakat, bahwa pesan inti agama adalah memelihara kehidupan damai serta saling mengasihi
antar sesama manusia. Apabila yang terjadi adalah sebaliknya dari pesan-pesan pokok setiap
agama, tentulah telah terjadi kesalah pahaman antar pemeluk agama. Untuk itulah dialog
perdamaian antar agama perlu dilakukan secara terus-menerus. Momentum dialog antar agama
mulai dirasakan keperluannya dan kemungkinan-kemungkinan keberhasilannya di zaman
modern ini, setelah para uskup agama Katolik seluruh dunia menyelenggarakan Konsili Vatikan
II, tahun 1964. Pada waktu itu antara lain dibahas agar soal umat Katolik menjalin dialog dengan
pemeluk agama dan berbagai kebudayaan lain yang ada di dunia ini. Inisiatif dialog ini kemudian
disambut dengan baik oleh kalangan Islam. Dewasa ini sudah cukup banyak organisasi dan
forum-forum dialog agama-agama internasional, tidak hanya antara Islam dan Kristen,
melainkan juga antara Kristen dengan Yahudi, Kristen dengan Hindu, juga yang bersifat
multilateral antara berbagai agama. Hal ini kalau dilakukan secara terus-menerus dengan
semangat saling menghargai serta sikap yang dilandasi ketulusan dan kejujuran, diharapkan
besar kemungkinan akan memberikan sumbangan berarti bagi Perdamaian.

3) Menegakkan Kebenaran dan Keadilan
Satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam proses awal menciptakan perdamaian yang
hakiki adalah dengan upaya melakukan upaya pengungkapan penyalahgunaan kekuasaan dan
pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu. Tidak akan mungkin tercipta perdamaian yang
hakiki dengan tindakan menutup-nutupi atau menyembunyikan berbagai tindakan kekerasan
terhadap HAM di masa lalu, dan melepaskan para pelaku penyalahgunaan kekuasaan politik atas
nama Negara terhadap masyarakat yang lemah yang seharusnya dilindungi oleh negara.


4) Melalui Pendekatan Cultural (Budaya)
Untuk mewujudkan perdamaian kita harus mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat
ataupun sebuah Negara. Jika tidak, maka akan percuma saja segala upaya kita. Dengan
mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat atau sebuah Negara maka kita bisa memahami
karakteristik dari masyarakat atau Negara tersebut. Atas dasar budaya dan karakteristik
masyarakat atau suatu Negara, kita bisa mengambil langkah-langkah yang tepat dan efektif
dalam mewujudkan perdamaian disana. Dan pendekatan budaya ini merupakan cara yang paling
efektif dalam mewujudkan perdamaian di masyarakat Indonesia serta dunia.
5) Melalui Pendekatan Sosial dan Ekonomi
Dalam hal ini pendekatan sosial dan ekonomi yang terkait masalah kesejahteraan dan
faktor-faktor sosial di masyarakat yang turut berpengaruh terhadap upaya perwujudan
perdamaian dunia. Ketika masyarakatnya kurang sejahtera tentu saja lebih rawan konflik dan
kekerasan di dalamnya. Masyarakat atau Negara yang kurang sejahtera biasanya akan “cuek”
atas isu dan seruan perdamaian. “Boro-boro mikirin perdamaian dunia, buat makan untuk hidup
sehari-hari saja susahnya minta ampun”, begitu fikir mereka yang kurang sejahtera. Maka untuk
mendukung upaya perwujudan perdamaian dunia yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah
meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh masyarakat dan Negara di dunia ini.

6) Melalui Pendekatan Politik
Melalui pendekatan budaya dan sosial ekonomi saja belum cukup efektif untuk
mewujudkan perdamaian dunia. Perlu adanya campur tangan politik, dalam artian ada agenda
politik yang menekankan dan menyerukan terwujudnya perdamaian dunia. Terlebih lagi bagi
Negara-negara maju dan adidaya yang memiliki power atau pengaruh dimata dunia. Negara-
negara maju pada saat-saat tertentu harus berani menggunakan power-nya untuk “melakukan
sedikit penekanan” pada Negara-negara yang saling berkonflik agar bersedia berdamai kembali.
Bukan justru membuat situasi semakin panas, dengan niatan agar persenjataan mereka terus
dibeli.

7) Melalui Pendekatan Religius (Agama)
Pada hakikatnya seluruh umat beragama di dunia ini pasti menginginkan adanya
perdamaian. Sebab tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan, kekerasan ataupun
peperangan. Semua Negara mengajarkan kebaikan, yang diantaranaya kepedulian dan
perdamaian. Maka dari itu setiap kita yang mengaku beragama dan ber-Tuhan tentu harus
memiliki kepedulian dalam turut serta mewujudkan perdamaian di masyarakat maupun di kancah
dunia. Para tokoh agama yang dianggap memiliki kharisma dan pengaruh besar di masyarakat
harus ikut serta aktif menyerukan perdamaian.


BAB III
KESIMPULAN


Untuk mencapai ketahanan nasional menurut Indonesia diperlukan beberapa gatra delapan,
yaitu:
1) Gatra Penduduk
2) Gatra Sumber Daya Alam
3) Gatra Wilayah
4) Gatra Ideologi
5) Gatra Politik
6) Gatra Ekonomi
7) Gatra Sosial Budaya
8) Gatra Pertahanan Keamanan
Dari delapan Gatra tersebut kita juga bisa mengetahui seberapa kuat ketahanan yang
dimiliki Negara kita, dan kita bisa menilai serta membandingkan ketahanan Negara kita dengan
Negara lain.
Dengan adanya ketahanan nasional di Negara kita, maka perdamaianpun akan mudah
diciptakan dalam lingkup hidup bermasyarakat dalam satu Negara. Selama masyarakat kita
bersifat terbuka dan bisa menerima perbedaan agama maupun budaya.
Pada dasarnya pencipta perdamaian adalah tokoh yang mengatasi kekerasan dan konflik
yang dihadapi melalui kepemimpinan dan visi untuk mencapai perdamaian.



















---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Geostrategi Indonesia meliputi konsep ASTAGATRA dan Perdamaian Dunia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di atara benua asia dan benua
Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat
majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit,
agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam
masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang
lain.
Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan
masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk
menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala
gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik
Indonesia. Strategi tersebut dala masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah geostrategi.
Geostrategi diartikan sebagai geopolitik untuk kepentingan militer atau perang. Di
Indonesia geostrategi diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita proklamasi,
sebagaimana tercantum dalam Mukadimah UUD 1945, melalui proses pembangunan nasional.
Karena tujuan itulah maka ia menjadi doktrin pembangunan dan diberi nama Ketahanan
Nasional.
Mengingat geostrategi Indonesia memberikan arahan tentang bagaimana membuat
strategi pembangunan guna mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih aman, dan
sebagainya. Geostrategi Indonesia ditegaskan wujudnya dalam bentuk rumusan ketahanan
nasional sebagai kondisi, metode, dan doktrin dalam pemmbangunan nasional

1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah yang dimunculkan oleh pemater
ialah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan geostrategi ?
2. Seperti apa bentuk strategi yang ada di Indonesia ?
3. Bagaimana strategi Indonesia dalam usaha mencapai perdamaian dunia ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan yang ingin dicapai
oleh penulis ialah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan geostrategi
2. Untuk mengetahui bentuk strategi yang ada di Indonesia
3. Untuk mengetahui strategi Indonesia dalam usaha mencapai perdamaian dunia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Geostrategi
Istilah "strategi" ditempa dari kata-kata Yunani, yaitu stratêgos dan stratos (tentara) serta
agein (menjalankan). Walaupun strategi sendiri lahir dari kancah peperangan, tatapi pada masa
sekarang strategi bukan hanya kiat atau cara berperang malainkan setiap kegiatan yang berkisar
pada suatu tujuan dan cara/jalan pencapaiannya atau, lebih sederhana lagi, setiap usaha yang
membidik sebuah sasaran.
Strategi biasanya menjangkau masa depan, sehingga pada umumnya strategi disusun
secara bertahap dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dengan
demikian geostrategi adalah perumusan strategi nasional dengan memperhitungkan kondisi dan
konstelasi geografi sebagai faktor utamanya. Disamping itu dalam merumuskan strategi perlu
pula memperhatikan kondisi sosial, budaya, penduduk, sumber daya alam, lingkungan regional
maupun Internasional.
Strategi juga dapat diartikan suatu upaya memanfaatkan kondisi geografi Negara dalam
menentukan kebijakan, tujuan, sarana untuk mencapai tujuan nasional (pemanfaatan kondisi
lingkungan dalam mewujudkan tujuan politik). Geostrategi Indonesia diartikan pula sebagai
metode untuk mewujudkan cita-cita proklamasi sebagaimana yang diamanatkan dalam
pembukaan dan UUD 1945.
Strategi merupakan keseluruhan operasi intelektual dan fisik yang disusun untuk
menanggapi, menyiapkan, dan mengendalikan setiap kegiatan kolektif di tengah-tengah konflik.
Mengingat konflik yang diprakirakan terjadi itu melibatkan aneka macam kekuatan, strategi
cepat terkait dengan politik, yang secara esensial berurusan dengan kekuatan dalam kiatnya
mengendalikan pemerintahan masyarakat manusia, merespons aspirasi fundamental dari suatu
kolektivitas, yaitu sekuriti dan kemakmuran. Berhubung konflik yang diprakirakan terjadi di
muka bumi, lalu strategi dibuat "membumi", menjadi "geostrategi".
Geostrategi merupakan strategi dalam memanfaatkan kondisi geografi negara untuk
menentukan tujuan, kebijakan. Geostrategi merupakan pemanfaatan lingkungan untuk mencapai
tujuan politik. Geostrategi juga merupakan metode mewujudkan cita-cita proklamasi.
Geostrategi merupakan upaya untuk mencapai tujuan atau sasaran ditetapkan sesuai
dengan keinginan politik. Karena strategi sendiri merupakan upaya pelaksanaan, maka strategi
pada hakekatnya merupakan suatu seni yang implementasinya didasari oleh intuisi, perasaan dan
hasil pengalaman. Strategi juga merupakan ilmu yang langkah-langkahnya selalu berkaitan
dengan data dan fakta yang ada. Seni dan ilmu digunakan sekaligus untuk membina atau
mengelola sumber daya yang dimiliki dalam suatu rencana dan tindakan (Drs. H. Endang Saelani
Sukarya dkk, 2002:41-42).
Geostrategi untuk negara dan bangsa Indonesia adalah kenyataan posisi silang Indonesia
dari berbagai aspek antara lain : aspek geografi, aspek demografi, ideologi, politik, ekonomi,
sosial budaya dan hankam.
Geostrategi Indonesia berawal dari kesadaran bahwa bangsa dan negara ini mengandung
sekian banyak anasir-anasir pemecah belah yang setiap saat dapat meledak dan mencabik-cabik
persatuan dan kesatuan bangsa. Hal itu tampak jelas pada tahun 1998 dimana timur-timur lepas
dari Negara kesatuan Rebublik Indonesia. Tidak hanya itu saja, tatkala bangsa kita lemah karena
sedang berada dalam suasana tercabik-cabik maka serentak pulalah harga diri dan kehormatan
dengan mudah menjadi bahan tertawaan di forum internasional. Disitulah ketidakberdayaan kita
menjadi tontonan masyarakat internasional, yang sekaligus, apabila kita sekalian sadar,
seharusnya menjadi pelajaran berharga.
Apabila dikehendaki agar hal itu tidak akan terulang lagi, maka jangan sekali-kali
memberi peluang pada anasir-anasir pemecah belah untuk berkesempatan mencabik-cabik
persatuan dan kesatuan nasional. Sentimen SARA yang membabi buta harus ditiadakan, yang
mayoritas harus berlapang dada sedangkan minoritas haruslah bersikap proporsional tanpa harus
mengurut dada. Sekali lagi terbukti bahwa pemimpin yang kuat dan disegani serta mengenal
betul watak dari bangsa Indonesia amatlah diperlukan. Dilain pihak masyarakat perlu menjadi
arif serta pandai menahan diri dalam menghadapi provokasi maupun rongrongan/iming-iming
melalu money politics. Atas dasar adanya ancaman yang laten, terutama dalam bentuk SARA,
maka geostrategi Indonesia sebagai doktrin pembangunan mengandung metode pembentukan
keuletan dan pembentukan ketangguhan bangsa dan negara. Kedua kualita yang harus dibangun
dan dimanfaatkan secara konsisten itu tidaklah hanya ditujukan kepada individu warga bangsa
akan tetapi juga kepada sistem, lembaga dan lingkungan.
Masyarakat bangsa berikut segala prasarananya harus terus dibina keuletannya agar
mampu memperlihatkan stamina dalam penangkalan terhadap anasir-anasir pemecah belah
bangsa dan negara. Dapat diantisipasikan bahwa hanya anasir-anasir tersebut bersifat laten atau
hadir sepanjang masa, maka aspek atau kualita keuletan haruslah dikedepankan.
Pembinaannyapun perlu berlanjut agar setiap generasi yang muncul faham akan pentingnya
kedua kualita tersebut. Kita dapat saksikan bersama bahwa tiap generasi baru merupakan lahan
yang subur bagi upaya-upaya yang tidak sejalan dengan visi kebangsaan, dan ini tidak hanya
terjadi di Indoensia saja. Kemajuan yang bersifat kebendaan, apalagi yang datang dari luar, saat
ini lebih memiliki daya tarik terhadap generasi muda dibandingkan dengan hal-hal yang sifatnya
falsafah dan konsepsional.
Dilain pihak masyarakat harus dibina ketangguhan/kekuatannya agar secara aktif serta
efektif mampu menghadapi bahaya/ancaman yang sifatnya laten tadi. Setidak-tidaknya secara
bergotong-royong dalam lingkungannya masing-masing mampu mengcontain ancaman/bahaya
laten itu. Ketangguhan/kekuatan bisa, antara lain, berupa keberanian dari massa masyarakat
menghadapi apa saja yang mereka anggap dapat berpotensi sebagai anasir pemecah belah
bangsa. Ini sudah barang tentu memerlukan kebersamaan dan kekompakan agar lebih efektif
sebagai kekuatan penangkalan.
Integrasi bangsa adalah pemaduan berbagai unsur kekuatan bangsa ke dalam satu jiwa
kebangsaan dengan aspirasi berbangsa dan bernegara yang sejalan dengan ketentuan konstitusi.
Proses integrasi bangsa adalah unik bagi tiap masyarakat bangsa yang sangat tergantung pada
sejarah serta ciri budayanya. Bagi masyarakat bangsa yang majemuk tetapi homogen, seperti
Amerika, proses integrasi dilaksanakan dengan metode melting pot. Karena pada masyarakat
Amerika tidak ada satupun kelompok masyarakat yang berhak mengklaim satu wilayahpun
sebagai tempat tinggal nenek moyang mereka, terkecuali suku Indian, karena hampir semuanya
berasal dari keturunan imigran. Tidaklah mengherankan apabila sebagai akibat tidak adanya
ikatan historis maupun psikologis kepada wilayah maka sentimen kedaerahan atau kewilayahan
tidak terjadi. Hal yang menguntungkan ini membuat setiap warga negara Amerika, apapun juga
asal keturunannya dapat ditempa menjadi satu dalam satu kancah apapun dan dimanapun.
Memang seorang Gubernur satu negara bagian harus dipilih diantara warga negara bagian itu
akan tetap tidak harus dipilih diantara mereka yang dilahirkan dinegara bagian yang
bersangkutan. Disini sama sekali telah ada sentimen kedaerahan tersangkut.
Lain halnya dengan Indonesia yang masyarakatnya majemuk tetapi heterogen, metode
melting pot tidak dapat dilakukan. Tiap suku memiliki kaitan historis dan psikologis dengan
daerah tempat tinggal nenek moyangnya. Daerah pulau Bali seakan-akan menjadi milik orang
Bali dan bukan milik warga pulau Bali karena itu hanya orang Bali saja yang dapat dicalonkan
menjadi Gubernur Bali. Logika lanjutannya dalah bahwa hanya orang Bali saja yang bisa dan
mampu memahami budaya, adat istiadat maupun agama di daerah itu. Metode melting pot
kadang-kadang juga tidak dapat diterapkan hanya pada tataran anatar propinsi saja, akan tetapi
kadang-kadang antara Kabupaten di dalam satu propinsi juga sukar. Oleh karena itu perlu adanya
strategi untuk menjaga kesatuan wilayan Negara Indonesia.
Pada perkembangannya geostrategi indonesia bagi menjadi empat periode yaitu yang
pertama tahun 1962-an geopolitik indonesia disebut SESKOAD. Hal ini ditujukan terhadap
adanya kekhawatiran mengenai komunis, yang kedua Tahun 1965 (Tanas) menyatakan bahwa
geostrategi Indonesia harus berupa sebuah konsep strategi untuk mengembangkan keuletan dan
daya tahan, pengembangan kekuatan nsional untuk menghadapi dan menangkal ancaman,
tantangan, hambatan dan gangguan baik bersifat internal maupun eksternal. Yang ketiga Tahun
1972 juga dikenal dengan istilah Tanas tetapi dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan
guna menjaga identitas kelangsungan serta integritas nasional sehingga dan tujuan nasional dapat
tercapai. Yang ke empat Tahun 1978 disebutkan bahwa geostrategi Indonesia ditegaskan
wujudnya dalam bentuk rumusan ketahanan nasional sebagai kondisi, metode, dan doktrin dalam
pemmbangunan nasional.

2.2 Katahanan Nasional sebagai Wujud dari Geostrategi Indonesia
Ketahanan nasional adalah kondisi bangsa Indonesia yang meliputi segenap kehidupan
rasional yang terintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan
mengembangkan kekuatan nasional, dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan,
ancaman, hambatan, dan hambatan baik yang datang dari dalam maupun dari luar untuk
menjamin identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan
mencapai tujuan nasional.
Kondisi atau keadaan selalu berkembang serta bahaya dan tantangan-tantangan selalu
berubah, maka ketahanan nasional juga harus dikembangkan dan dibina agar memandai dengan
perkembangan tersebut. Melihat hal itu ketahanan nasional Indonesia haruslah dinamis bukan
statis.
Sunarso dan Kus Edi Sartono (dalam Drs. H. Endang Saelani Sukarya dkk, 2002:68-69)
mengatakan bahwa unsur-unsur ketahanan nasional meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Ketangguhan
Ketangguhan merupakan sebuah kekuatan yang membuat seseorang dapat bertahan, kuat
menderita, atau dapat menanggulangi beban yang dipikulnya.
b. Keuletan
Merupakan usaha secara giat dengan kemampuan yang keras dalam menggunakan kemampuan
tersebut di atas uneuk mencapai tujuan.
c. Identitas
Yaitu ciri khas suatu bangsa atau Negara dilihat secara keseluruhan (holistik). Negara dilihat
dalam pengertian sebagai suatu organisasi masyarakat yang dibatasi oleh wilayah, dengan
penduduk, sejarah, pemerintahan dan tujuan nasional serta dengan peran internasional.
d. Integritas
Merupakan kesatuan menyeluruh dalam kehidupan nasional suatu bangsa baik unsure sosial
maupun alamiah, baik yang bersifat potensial maupun fungsional.
e. Ancaman
Usaha yang bersifat merubah atau merombak kebijaksanaan dan usaha ini dilakukan secara
konseptual, criminal dan politis.
f. Tantangan
Yaitu hal atau usaha yang bersifat menggugah kemampuan. Biasanya ini terjadi karena sesuatu
kondisi yang memaksa sehingga menyebabkan seseorang atau kelompok orang merasa harus
berbuat sesuatu untuk menghadapi keadaan yang disebabkannya.
g. Hambatan
Adalah hal atau usaha dari diri sendiri yang bersifat dan bertujuan melemahkan atau
menghalangi secara tidak konsepsional.
h. Gangguan
Adalah hal atau usaha yang berasal dari luar, bersifat dan bertujuan melemahkan dan atau
menghalangi secara tidak konsepsional.
Seperti yang telah disebutkan bahwa ketahanan nasional merupakan kondisi dinamis
yang harus diwujudkan oleh suatu Negara dan harus dibina secara dini terus menerus dan sinergi
dengan aspek-aspek kehidupan bangsa lain. Pemikiran konseptual tentang ketahanan nasional
inididasarkan atas konsep geostrategi yang merupakan konsep yang dirancang dan dirumuskan
dengan memperhatikan kondisi bangsa dan kondisi stelasi geografi Indonesia yang disebut
dengan konsep ketahanan nasional.
Konsepsi ketahanan nasional merupakan suatu konsepsi di dalam pengaturan dan
penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang mencangkup segenap kehidupan bangsa
yang dinamakan ASTAGATRA yang meliputi aspek Alamiah (TRIGATRA), dan aspek Sosial
(PANCAGATRA).
Yang dimaksud dengan aspek alamiah (trigatra) yaitu :
a. posisi dan lokasi geografi negara
posisi dan lokasi Negara kesatuan republik Indonesia memberikan gambaran tentang
bentuk kedalam (menampakkan corak wujud dan tata susunan tertentu), dan bentuk keluar
(situasi dan kondisi lingkungan serta hubungan timbale balik antara Negara dan lingkungan) dari
Negara kita. Posisi dan lokasi ini merupakan wadah bagi bangsa yang mendiaminya serta saling
mempengaruhi satu sama lain, dan dengan batas nasional tertentu membedakan Negara
Indonesia dengan bangsa lain.
Negara Indonesia merupakan Negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan. Posisi dan
lokasi Negara Indonesia berada dalam posisi silang di jalan silang dunia yaitu antara benua asia
dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Kondisi yang demikian tidak
hanya bersifat fisik tetapi juga terbuka terhadap segala pengaruh dan aliran sosial.
b. keadaan dan kekayaan alam
sebagai makhluk tuhan, untuk hidup berkembang biak dan mempertahankan diri, mereka
memanfaatkan alam dan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Tentu dalam pemanfaatan itu
harus seimbang dan seirama dengan perkembangan penduduk.
Kekayaan alam terbagai menjadi tiga golongan yaitu hewani (fauna), nabati (flora) dan
mineral (ada yang dapat diperbaharui dan ada yang tidak dapat diperbaharui). Kekayaan alam di
atas terbagi menjadi tiga lingkungan yaitu di atmosfir, di permukaan bumi dan di dalam bumi.
Setiap bangsa wajib mengelola sumber daya alam untuk kepentingan kesejahteraan maupun
keamanan. Hal tersebut menjadi penting untuk menjaga agar tidak terjadi ketimpangan antara
perkembangan potensi alam dengan jumlah penduduk, baik secara nasional maupun di dalam
konteks dunia (global). Karena hal tersebut dapat membahayakan ketahanan nasional.
c. keadaan dan kemampuan penduduk
penduduka merupakan manusia yang tinggal di suatu tempat atau wilayah. Yang
termasuk di dalam masalah penduduk antara lain : jumlah penduduk, komposisi penduduk, dan
distribusi penduduk. Masalah penduduk ini pada umumnya dikaitkan dengan pencapaian tingkat
kemakmuran (kesejahteraan dan keamanannya). Ada factor positif dan negative dari keadaan dan
kemampuan penduduk yang langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi ketahanan
nasional.
sedang aspek sosial (pancagatra) meliputi :
a. Ideologi
Suatu bangsa memerlukan landasan falsafah bagi kelangsungan hidupnya yang sekaligus
berfungsi sebgai dasar dan cita-cita nasional yang hendak dicapai. Bangsa Indonesia memiliki
falsafah Negara yang kita kenal dengan pancasila yang lahir dari nilai-nilai yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat Indonesia. Makin tinggi kesadaran dan ketaatan suatu bangsa
mengamalkan ideology negaranya, maka semakin tinggi pula tingkat ketahanan nasional
dibidang ideologinya.
b. Politik
Masalah politik yang kita maksudkan di sini dalam konteksnya dengan Negara. Pusat
kekuasaan suatu Negara berada pada pemerintahannya, maka perjuangan memperoleh kekuatan
berubah menjadi perjuangan mengurusi pemerintah.
Jika dianaligikan dengan ketahanan nasional, maka ketahanan nasional dibidang politik
berarti suatu kondisi dinamik suatu bangsa, yang berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan
mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan baik yang datang dari luar
maupun dari dalam yang langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan hidup
politik bangsa dan Negara.
Bagi Negara berkembang seperti Indonesia, maka bidang politikmasih banyak masalah
yang harus dihadapi. Kesadaran nasional yang masih perlu ditingkatkan, kwalitas pertisipasi
rakyat yang masih belum bersifat nasional, serta dibutuhkan inisiatif pemerintah yang memadai,
agar terjadi keseimbangan dan keserasian. Maka tingkat ketahanan politik dapat diukur dengan
kemampuan suatu sistem politik dalam menghadapi dan menanggulangi problemnya.
c. Ekonomi
Pengertian ekonomi adalah segala kegiatan pemerintah dan masyarakat yang
berhubungan dengan pengelolaan factor praduksi. Ketahanan nasional dibidang ekonomi
merupaka suatu kondisi dinamik suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional didalam menghadapi segala
tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang membahayakan kehidupan ekonomi bangsa
dan Negara.
Oleh karena itu untuk ketahanan nasional dibidang ekonomi ini diperlukan pembinaan
ekonomi yang pada dasarnya adalah menentukan kebijaksanaan ekonomi dan pembinaan factor
produksi serta pengolahannya di dalam produksi dan distribusi serta pengelolaanya di dalam
distribusi barang dan jasa, baik di dalam negeri maupun didalam hubungannya dengan luar
negeri.
d. Sosial budaya
Factor yang mempengaruhi ketahanan nasioanl dibidang sosial budaya adalah tradisi.
Tradisi bangsa adalah seluruh kepercayaan, anggapan dan tingkah laku yang terlembagakan yang
diwariskan dan diteruskan dari generasi kegenerasi serta memberikan suatu bengsa sistem nilai
dan sistem norma untuk menjawab tantangan setiap tahap perkembangan sosial. Tradisi berisfat
dinamis dapat membantu ketahanan nasional, tetapi tradisionalisme yang sikap atau pandangan
memuji secara berlebihan masa kehendaknya dapat kita tinggalkan.
e. Militer HANKAM
Pertahanan kemanan adalah daya upaya rakyat dengan angkatan bersenjata sebagai inti
dan merupakan salah satu fungsi utama pemerintah Negara dalam menegakkan ketahanan
nasional dengan tujuan mencapai keamanan bangsa dan Negara, serta kemampuan
perjuangannya dilaksanakan dengan menyusun, mengerahkan dan menggerakkan seluruh potensi
dan kekuatan masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan nasional secara terintegrasi dan
terkoordinasi.
Ketahanan nasioanal dibidang HANKAM merupakan suatu kondisi dinamis suatu bangsa
yang berisi kemampuan mengembangkan kekuatan nasional di dalam menghadapi dan mengatasi
segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang membahayakan pertahanan dan
keamanan bangsa dan Negara.

2.3 Upaya Indonesia dalam Mencapai Perdamaian Dunia.
Sejak dulu Indonesia selalu aktif dalam upaya mencapai suatu perdamaian dunia,
geostrategi Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia terbentuk dalam system poltik luar
negeri yang diterapkan di Indonesia. Dasar hukum pelaksanaan politik luar negeri Republik
Indonesia tergambarkan secara jelas di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea I
dan alinea IV. Alinea I menyatakan “bahwa kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan oleh sebab
itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan
dan peri keadilan”. Pada alinea IV dinyatakan bahwa “dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social”.
Dari dua kutipan di atas, jelaslah bahwa politik luar negeri RI mempunyai landasan atau
dasar hukum yang sangat kuat, karena diatur di dalam Pembukaan UUD 1945. Selain dalam
pembukaan terdapat juga dalam beberapa pasal contohnya pasal 11 ayat 1, 2,3 dan pasal 13 ayat
1,2,3.
a. Pasal 11 UUD 1945
1) Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat
perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.
2) Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas
dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau
mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat.
3) Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang-undang.
b. Pasal 13 UUD 1945
1) Presiden mengangkat duta dan konsul.
2) Dalam mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
3) Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa rumusan yang ada pada alinea I dan alinea IV
Pembukaan UUD 1945 merupakan dasar hukum yang sangat kuat bagi politik luar negeri
Republik Indonesia. Dari rumusan tersebut, kita belum mendapatkan gambaran mengenai makna
politik luar negeri yang bebas aktif. Karena itu dalam uraian ini akan dikutip beberapa pendapat
mengenai pengertian bebas dan aktif. Menurut A.W Wijaya Bebas artinya tidak terikat oleh
suatu ideologi atau oleh suatu politik negara asing atau oleh blok negara-negara tertentu, atau
negara-negara adikuasa (super power). Aktif artinya dengan sumbangan realistis giat
mengembangkan kebebasan persahabatan dan kerjasama internasional dengan menghormati
kedaulatan negara lain.
Dalam konteks pada masa sekarang pengertian bebas aktif seperti yang dijelaskan di atas
sudah tidak relevan lagi mengingat pada masa sekarang sudah tidak ada lagi blok barat maupun
blok timur. Namun system politik luar negeri tetap menganut system politik luar negeri bebas
aktif artinya apa bahwa Indonesia selalu mau bekerja sama dengan Negara manapun serta
Indonesia tetap aktif dalam usaha mewujudkan perdamaian dunia.
Berbagai usaha dilakukan oleh Indonesia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia
antara lain : Indonesia sebagai anggota OIC (Organization Islamic Conference) menjadi
pendorong bagi perdamaian di Timur Tengah khususnya mendukung Palestina sebagai negara
merdeka dari pendudukan zionisme Israel. Indonesia juga menjadi tuan rumah dan pemrakarsa
Konferensi Internasional Ulama sedunia pada bulan April 2007 di Bogor.
Disini para ulama sedunia menyuarakan penghentian kekerasan di Irak, Lebanon dan
Palestina. Pertemuan itu mengeluarkan pernyataan agar Amerika Serikat tidak menjadi pemecah-
belah umat Islam di Timur Tengah yang ditenggarai para ulama sebagai alasan tidak
terselesaikannya perdamaian di dunia Arab. Indonesia juga mempromosikan Islam yang
moderat, toleran, solidaritas, serta meningkatan dialog lintas budaya dan peradaban, karena pada
saat ini masyarakat internasional salah persepsi bahwa penyerangan yang dilakukan oleh
segelintir orang muslim terhadap kepentingan barat dalam bentuk teror dipahami sebagai
benturan antar peradaban, tapi melainkan terjadi karena ketidakadilan dan ketimpangan sosial di
dunia.
Peran Indonesia dalam hal HAM yaitu, telah meratifikasi Konvenan Internasional
tentang Hak ekonomi sosial dan budaya dan Konvenan internasional tentang hak Sipil dan
politik. Kemudian, kepercayaan Internasional kepada Indonesia menjadikan Indonesia sebagai
ketua Komisi HAM tahun 2006 dan terpilih kembali menjadi Dewan HAM dalam periode satu
tahun 2006-2007. tetapi sangat disayangkan karena Indonesia sendiri belum menegakkan HAM
secara tegas. Hal itu terkait dengan belum terungkapnya kasus-kasus seperti, Tragedi Tanjung
Priok, Talangsari, kerusuhan Mei 1998, tragedi Semanggi dan kematian aktivis HAM (Munir).
Di badan PBB Indonesia terpilih bersama Qatar dari kawasan Asia menjadi DK tidak
tetap di PBB, namun Indonesia tidak menunjukkan Independensinya dengan ikut menyetujui
sanksi terhadap Iran yang dituduh Amerika Serikat (AS) mengoperasikan reaktor nuklir untuk
membuat senjata nuklir yang dirasa AS akan mengancam keamanan negerinya. Saya
berpendapat Indonesia melakukan itu karena mendapat tekanan dari AS dimana kepentingan
nasional Indonesia banyak bergantung kepada AS. Sebagai anggota PBB Indonesia juga telah
banyak ikut serta dalam Peace Keeping Operation salah satunya di Lebanon setelah penyerangan
Israel baru-baru ini. Dibidang pertahanan Indonesia telah menjajaki kerjasama dalam bidang
produksi senjata dengan India dalam pertemuan Komite Bersama Kerja Sama Pertahanan RI-
India di Jakarta, 12-14 Juni 2007, yang diharapkan Indonesia mampu menciptakan alat utama
sistem persenjataan secara mandiri yang diperlukan dalam menjaga kedaulatan negara dari
ancaman pihak luar. Pembelian pesawat tempur dan kapal selam Rusia juga ditempuh agar tidak
tergantung dengan negara Barat khususnya Amerika Serikat
Semua peran internasional Indonesia diatas merupakan poin penting untuk meningkatkan
kepercayaan kepada masyarakat internasional dalam ikut menyelesaikan masalah internasional.
Bila masyarakat internasional telah hormat dan segan kepada Indonesia, diyakini pihak-pihak
luar enggan mengusik Indonesia. Dengan modal kepercayaan itulah Indonesia akan mempunyai
nilai tawar yang tinggi untuk mencapai kepentingan nasional dalam hubungannya dengan negara
lain dan bangsa Indonesia dapat menentukan nasibnya sendiri tanpa didikte pihak lain. Peran
Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia merupakan amanah dari pembukaan UUD 1945,
yaitu ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Geostrategi merupakan uapaya untuk mencapai tujuan atau sasaran ditetapkan sesuai
dengan keinginan politik. Karena strategi sendiri merupakan upaya pelaksanaan, maka strategi
pada hakekatnya merupakan suatu seni yang implementasinya didasari oleh intuisi, perasaan dan
hasil pengalaman. Strategi juga merupakan ilmu yang langkah-langkahnya selalu berkaitan
dengan data dan fakta yang ada. Seni dan ilmu digunakan sekaligus untuk membina atau
mengelola sumber daya yang dimiliki dalam suatu rencana dan tindakan. Pada hakekatnya
geostrategi Indonesia berawal dari kesadaran bahwa bangsa dan negara ini mengandung sekian
banyak anasir-anasir pemecah belah yang setiap saat dapat mengganggu keutuhan Negara
kesatuan republic Indonesia. Tentu masih belum hilang dari ingatan kita bagaimana timur-timur
lepas dari Negara kesatuan republic Indonesia serta pulau Sipandan dan Ligitan menjadi milik
Negara tetangga yaitu Malaysia. Oleh karena itu perlu adanya integrasi bangsa yang mampu
memadukan berbagai unsur kekuatan bangsa ke dalam satu jiwa kebangsaan dengan aspirasi
berbangsa dan bernegara yang sejalan dengan ketentuan konstitusi.
Geostrategi di Indonesia diwujudkan dalam bentuk ketahanan nasional yang mampu
menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang membahayakan keutuhan
Negara kesatuan republic Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya bahwa
konsepsi ketahanan nasional merupakan suatu konsepsi di dalam pengaturan dan
penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang mencangkup segenap kehidupan bangsa
yang dinamakan ASTAGATRA yang meliputi aspek alamiah (TRIGATRA), dan aspek social
(PANCAGATRA). Trigatra meliputi : posisi dan lokasi geografi Negara, keadaan dan kekayaan
alam, keadaan dan kemampuan penduduk sedangkan pancagatra meliputi : Ideology, Politik,
Ekonomi, Social Budaya, dan HANKAM. Hal tersebut ditujukan untuk menjaga keutuhan
Negara kesatuan republic Indonesia.
Selain itu Indonesia juga ikut serta dalam upaya mencapai perdamaian dunia. Hal
tersebut sebagaiman tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia
tahun 1945 alenia ke IV yang berbunyi “mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia”. Pembukaan UUD 1945 tersebut menjadi acuan dasar pelaksanan politik luar
negeri indonesi yaitu politik luar negeri bebas aktif, dimana Indonesia selalu ikut serta dalam
usaha-usaha perdamaian dunia seperti seperti pengiriman pasukan garuda ke timur tengah (jalur
Gaza), selain itu Indonesia juga aktif dalaml organisasi internasional yang bertujuan menjaga
ketertiban dan perdamaian dunia.

3.2 Saran
`Berdasarkan kesimpulan di atas maka saran yang dapat diberikan oleh penulis ialah agar
pemerintah selalu berupaya menumbuhkembangkan rasa nasionalisme dalam masyarakat
Indonesia serta meningkatkan sector pertahan Indonesia agar kasus timur-timur ataupun kasus
pulau Sipandan dan Ligitan tidak terjadi lagi di Indonesia. Selain itu masyarakat Indonesia harus
sadar sepenuhnya bahwa kita semua harus selalu memperkokoh nilai-nilai persatuan dan
kesatuan agar Negara kesatuan republic Indonesia ini tetap utuh.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan suatu negeri yang amat unik. Hanya sedikit negara di dunia, yang bila
dilihat dari segi geografis, memiliki kesamaan dengan Indonesia. Negara-negara kepulauan di
dunia, seperti Jepang dan Filipina, masih kalah bila dibandingkan dengan negara kepulauan
Indonesia. Indonesia adalah suatu negara, yang terletak di sebelah tenggara benua Asia,
membentang sepanjang 3,5 juta mil, atau sebanding dengan seperdelapan panjang keliling Bumi,
serta memiliki tak kurang dari 13.662 pulau.
Jika dilihat sekilas, hal tersebut merupakan suatu kebanggaan dan kekayaan, yang tidak ada
tandingannya lagi di dunia ini. Tapi bila dipikirkan lebih jauh, hal ini merupakan suatu kerugian
tersendiri bagi bangsa dan negara Indonesia. Indonesia terlihat seperti pecahan-pecahan yang
berserakan. Dan sebagai 13.000 pecahan yang tersebar sepanjang 3,5 juta mil, Indonesia dapat
dikatakan sebagai sebuah negara yang amat sulit untuk dapat dipersatukan. Maka, untuk
mempersatukan Bangsa Indonesia, diperlukan sebuah konsep Geopolitik yang benar-benar cocok
digunakan oleh negara.
Geopolitik tidak terlepas dari pembahasan mengenai masalah geografi dan politik. Geopolitik
adalah suatu studi yang mengkaji masalah-masalah geografi, sejarah dan ilmu sosial, dengan
merujuk kepada percaturan politik internasional. Negara tidak akan pernah mencapai persamaan
yang sempurna dalam segala hal.
Keadaan suatu negara akan selalu sejalan dengan kondisi dari kawasan geografis yang mereka
tempati. Hal yang paling utama dalam mempengaruhi keadaan suatu negara adalah kawasan
yang berada di sekitar negara itu sendiri, atau dengan kata lain, negara-negara yang berada di
sekitar (negara tetangga) memiliki pengaruh yang besar terhadap penyelenggaraan suatu negara.
Geopolitik dibutuhkan oleh setiap negara di dunia, untuk memperkuat posisinya terhadap negara
lain, untuk memperoleh kedudukan yang penting di antara masyarakat bangsa-bangsa, atau
secara lebih tegas lagi, untuk menempatkan diri pada posisi yang sejajar di antara negara-negara
raksasa. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keadaan geografi suatu negara sangat
mempengaruhi berbagai aspek dalam penyelenggaraan negara yang bersangkutan, seperti
pengambilan keputusan, kebijakan politik luar negeri, hubungan perdagangan.
1.2 Tujuan
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, diperlukan suatu konsep geopolitik khusus untuk
menyiasati keadaan/kondisi Negara Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar
sepanjang 3,5 juta mil. Konsep geopolitik itu adalah Wawasan Nusantara. Berbeda dengan
pemahaman geopolitik negara lain yang cenderung mengarah kepada tujuan ekspansi wilayah,
konsep geopolitik Indonesia.
Wawasan Nusantara justru bertujuan untuk mempertahankan wilayah. Sebagai negara kepulauan
yang luas, Bangsa Indonesia beranggapan bahwa laut yang dimilikinya merupakan sarana
“penghubung” pulau, bukan “pemisah”. Sehingga, walaupun terpisah-pisah, bangsa Indonesia
tetap menganggap negaranya sebagai satu kesatuan utuh yang terdiri dari “tanah” dan “air”,
sehingga lazim disebut sebagai “tanah air”.
Tujuan dari Wawasan Nusantara dibagi menjadi dua tujuan, yaitu tujuan nasional dan tujuan ke
dalam.
1) Tujuan nasional dapat dilihat dalam Pembukaan UUD ’45. Pada UUD ’45 dijelaskan bahwa
tujuan kemerdekaan Indonesia adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia, serta untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan
perdamaian abadi dan keadilan sosial.
2) Sedangkan tujuan yang kedua, yaitu tujuan ke dalam, adalah untuk mewujudkan kesatuan
segenap aspek kehidupan, baik alamiah maupun sosial. Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan
bangsa Indonesia dilihat dari konsep geopolitiknya adalah menjunjung tinggi kepentingan
nasional, serta kepentingan kawasan untuk menyelenggarakan dan membina kesejahteraan,
kedamaian dan budi luhur serta martabat manusia di seluruh dunia.
Jadi, Wawasan Nusantara bermaksud untuk mewujudkan kesejahteraan, ketenteraman dan
keamanan bagi Bangsa Indonesia, dengan demikian ikut serta juga dalam membina kebahagiaan
dan perdamaian bagi seluruh umat manusia di dunia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Geopolitik
Geopolitik berasal dari dua kata, yaitu “geo” dan “politik“. Maka, Membicarakan pengertian
geopolitik, tidak terlepas dari pembahasan mengenai masalah geografi dan politik. “Geo” artinya
Bumi/Planet Bumi. Menurut Preston E. James, geografi mempersoalkan tata ruang, yaitu sistem
dalam hal menempati suatu ruang di permukaan Bumi. Dengan demikian geografi bersangkut-
paut dengan interrelasi antara manusia dengan lingkungan tempat hidupnya. Sedangkan politik,
selalu berhubungan dengan kekuasaan atau pemerintahan.
Dalam studi Hubungan Internasional, geopolitik merupakan suatu kajian yang melihat
masalah/hubungan internasional dari sudut pandang ruang atau geosentrik. Konteks teritorial di
mana hubungan itu terjadi bervariasi dalam fungsi wilayah dalam interaksi, lingkup wilayah, dan
hirarki aktor: dari nasional, internasional, sampai benua-kawasan, juga provinsi atau lokal.
Dari beberapa pengertian di atas, pengertian geopolitik dapat lebih disederhanakan lagi.
Geopolitik adalah suatu studi yang mengkaji masalah-masalah geografi, sejarah dan ilmu sosial,
dengan merujuk kepada percaturan politik internasional. Geopolitik mengkaji makna strategis
dan politis suatu wilayah geografi, yang mencakup lokasi, luas serta sumber daya alam wilayah
tersebut. Geopolitik mempunyai 4 unsur pembangun, yaitu keadaan geografis, politik dan
strategi, hubungan timbal balik antara geografi dan politik, serta unsur kebijaksanaan.
Negara tidak akan pernah mencapai persamaan yang sempurna dalam segala hal. Keadaan suatu
negara akan selalu sejalan dengan kondisi dari kawasan geografis yang mereka tempati. Hal yang
paling utama dalam mempengaruhi keadaan suatu negara adalah kawasan yang berada di sekitar
negara itu sendiri, atau dengan kata lain, negara-negara yang berada di sekitar (negara tetangga)
memiliki pengaruh yang besar terhadap penyelenggaraan suatu negara.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan, bahwa terdapat dua golongan negara, yaitu golongan
negara “determinis” dan golongan negara “posibilitis”. Determinis berarti semua hal yang
bersifat politis secara mutlak tergantung dari keadaan Bumi/posisi geografisnya. Negara
determinis adalah negara yang berada di antara dua negara raksasa/adikuasa, sehingga, secara
langsung maupun tidak langsung, terpengaruh oleh kebijakan politik luar negeri dua negara
raksasa itu.
Sebenarnya, faktor keberadaan dua negara raksasa, bukanlah satu-satunya faktor yang
mempengaruhi keadaan suatu negara yang berada diantaranya. Faktor lain seperti faktor
ideologi, politik, sosial, budaya dan militer, juga merupakan faktor yang mempengaruhi. Hanya
saja, karena besarnya kekuasaan dua negara besar tersebut, maka keberadaannya menjadi faktor
yang begitu dominan dalam mempengaruhi keadaan negara yang bersangkutan.
Golongan negara yang kedua adalah golongan negara posibilitis. Golongan ini merupakan
kebalikan dari golongan determinis. Negara ini tidak mendapatkan dampak yang terlalu besar
dari keberadaan negara raksasa, karena letak geografisnya tidaklah berdekatan dengan negara
raksasa. Sehingga, faktor yang cukup dominan dalam mempengaruhi keadaan negara ini adalah
faktor-faktor seperti ideologi, politik, sosial, budaya dan militer, seperti yang telah disebutkan
sebelumnya. Tentunya, keberadaan negara-negara lain di sekitar kawasan tersebut juga turut
menjadi faktor yang berpengaruh, hanya saja tidak terlalu dominan.
Geopolitik, dibutuhkan oleh setiap negara di dunia, untuk memperkuat posisinya terhadap negara
lain, untuk memperoleh kedudukan yang penting di antara masyarakat bangsa-bangsa, atau
secara lebih tegas lagi, untuk menempatkan diri pada posisi yang sejajar di antara negara-negara
raksasa.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keadaan geografi suatu negara sangat
mempengaruhi berbagai aspek dalam penyelenggaraan negara yang bersangkutan, seperti
pengambilan keputusan, kebijakan politik luar negeri, hubungan perdagangan dll. Maka dari itu,
muncullah organisasi-organisasi internasional yang berdasarkan pada keberadaannya dalam
suatu kawasan, seperti ASEAN, Masyarakat Ekonomi Eropa, The Shanghai Six dll. Komunitas-
komunitas internasional ini berperan dalam hal kerjasama kawasan, penyelesaian masalah
bersama, usaha penciptaan perdamaian dunia, dll.
Hal ini berkaitan langsung dengan peranan-peranan geopolitik. Adapun peranan-peranan tersebut
adalah:
*Berusaha menghubungkan kekuasaan negara dengan potensi alam yang tersedia;
*Menghubungkan kebijaksanaan suatu pemerintahan dengan situasi dan kondisi alam;
*Menentukan bentuk dan corak politik luar dan dalam negeri;
*Menggariskan pokok-pokok haluan negara, misalnya pembangunan;
*Berusaha untuk meningkatkan posisi dan kedudukan suatu negara berdasarkan teori negara
sebagai organisme, dan teori-teori geopolitik lainnya;
*Membenarkan tindakan-tindakan ekspansi yang dijalankan oleh suatu negara.
a) Unsur Utama Geopolitik
Konsepsi ruang diperkenalkan Karl Haushofer menyimpulkan bahwa ruang merupakan wadah
dinamika politik dan militer, teori ini disebut pula teori kombinasi ruang dan kekuatan
Konsepsi frontier (batas imajiner dari dua negara)
Konsepsi politik kekuatan yag terkait dengan kepentingan nasional
b) Teori Dalam Bidang Geopolitik
Ada banyak teori dalam bidang Geopolitik. Salah satu teori yang paling berpengaruh adalah teori
Lebensraum, yang melahirkan teori Autarkis. Penggabungan dari kedua teori tersebut
menghasilkan teori Pan-Regionalisme.
Teori ini berpandangan bahwa negara merupakan suatu organisme, yang memiliki kecerdasan
intelektual serta memerlukan ruang hidup. Tak ada satupun negara yang dapat hidup mandiri
secara mutlak. Dikarenakan terdapat banyak keterbatasan serta tidak meratanya ketersediaan
Sumber Daya Alam, setiap negara akan mengalami interdependensi, atau keadaan saling
membutuhkan. Teori ini pun berpandangan bahwa satu bagian dunia yang relatif mempunyai
persamaan dalam sifat-sifat geografis, ras, kebudayaan dsb, dapat disatukan dalam satu kesatuan
wilayah.
Teori inilah yang digunakan oleh Bangsa Jerman pada Perang Dunia ke-I. Dengan beranggapan
bahwa bangsa Aria adalah bangsa yang paling unggul, mereka berekspansi ke negara lain, agar
dapat menjadi pemimpin pan Euro-Afrika. Begitupun bangsa Amerika, yang berusaha
menyatukan Pan-Amerika.
2.2 Geopolitik Indonesia
Geopolitik Indonesia tiada lain adalah Wawasan Nusantara Wawasan Nusantara tidak
mengandung unsur-unsur ekspansionisme maupun kekerasan Cara pandang bangsa Indonesia
tentang diri dan lingkungannya berdasarkan ide nasionalnya yang dilandasi Pancasila dan UUD
1945, yang merupakan aspirasi bangsa Indonesia yang merdeka, berdaulat dan bermartabat serta
menjiwai tata hidup dan tindak kebijaksanaannya dalam mencapai tujuan nasional. Wawasan
nusantara juga sering dimaknai sebagai cara pandang, cara memahami, cara menghayati, cara
bertindak, berfikir dan bertingkah laku bagi bangsa Indonesia sebagai hasil interaksi proses
psikologis, sosiokultural dengan aspek-aspek ASTAGATRA.
A.Konsepsi Geostrategi
Suatu strategi memanfaatkan kondisi geografi Negara dalam menentukan kebijakan, tujuan,
sarana utk mencapai tuj-nas (pemanfaatan kondisi lingkungan dalam mewujudkan tujuan
politik). Geostrategi Indonesia diartikan pula sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita
proklamasi sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan dan UUD 1945. Ini diperlukan utk
mewujudkan dan mempertahankan integrasi bangsa dalam masyarakst majemuk dan heterogen
berdasarkan Pemb dan UUD 1945.
Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam wujud Ketahanan Nasional. Geostrategi Indonesia tiada
lain adalah ketahan nasional Ketahanan Nasional mrpk kondisi dinamik suatu bangsa yang berisi
keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, di
dalam menghadapi dan mengatasi segala ATHG baik yang datang dari luar maupun dari dalam,
yang langsungg maupun tidak langsug membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup
bangsa dan Negara serta perjuangan mengejar tujuan nasional. Tannas diperlukan bukan hanya
konsepsi politik saja melainkan sebagai kebutuhan dalam menunjang keberhasilan tugas pokok
pemerintah, seperti Law and order, Welfare and prosperity, Defence and security, Juridical
justice and social justice, freedom of the people.
B.Konsepsi dasar Ketahan Nasional
Model Astagatra merupakn perangkat hubungan bidang kehidupan manusia dan budaya yang
berlangsung diatas bumi degan memanfaatkan segala kekayaan alam. Terdiri 8 aspek kehidupan
nasional
1. Tiga aspek (tri gatra) kehidupan alamiah, yaitu :
a) Gatra letak dan kedudukan geografi
b) Gatra keadaan dan kekayaan alam
c) Gatra keadaan dan kemampuan penduduk
2. Lima aspek (panca gatra) kehidupan social, yaitu :
a) Gatra ideology
b) Gatra Politik
c) Gatra ekonomi
d) Gatra social budaya
e) Gatra pertahanan dan keamanan.
Terdapat hubungan korelatif dan interdependency diantara ke-8 gatra secara komprehensif dan
integral.
2.3 Hubungan Geopolitik dan Geostrategi
Sebagai satu kesatuan negara kepulauan, secara konseptual, geopolitik Indonesia dituangkan
dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas
aktif. sedangkan geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang
bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan
keamanan. Dengan mengacu pada kondisi geografi bercirikan maritim, maka diperlukan strategi
besar (grand strategy) maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa
bagian terluar wilayah yang harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim
adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan
integritas wilayah dari berbagai ancaman. Selain itu hubungan geopolitik dan geostrategi
terdapat dalam astra gatra
*Komponen strategi astra gatra TRI GATRA (tangible) bersifat kehidupan alamiah Letak
geografi Negara *Keadaan dan kekayaan alam (flora, fauna, dan mineral baik yang di atmosfer,
muka maupun perut bumi) dikelola denga dasar 3 asas: asas maksimal, lestari, dan daya saing.
*Keadaan dan kemampuan penduduk (jumlah, komposisi, dan distribusi) Pancagatra (itanggible)
kehidupan sosial IDEOLOGI → Value system POLITIK → Penetapan alokasi nilai di sektor
pemerintahan dan kehidupan pololitik masyarakat.
Sistem politik harus mampu memenuhi lima fungsi utama :
a) Usaha mempertahankan pola, struktur, proses politik
b) Pengaturan & penyelesaian pertentangan / konflik
c) Penyesuaian dengan perubahan dalam masyarakat
d) Pencapaian tujuan
e) Usaha integrasi
• EKONOMI (SDA, Tenaga kerja, Modal, Teknologi)
• SOSBUD (Tradisi, Pendidikan, Kepemimpinan nas, Kepribadian nasional.
2.4 Masalah Teritorial
Indonesia, sebagai sebuah negara kepulauan yang amat luas, memiliki berbagai masalah teritorial
yang berkaitan dengan kondisinya itu. Beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah
teritorial ini antara lain, dasar geografis, demografi, serta kondisi sosial masyarakat. Masalah-
masalah tersebut, umumnya menyangkut beberapa hal berikut:
*Pembinaan wilayah untuk menciptakan ketahanan nasional yang maksimal dan efektif;
*Faktor kesejahteraan dan keamanan bangsa;
*Pembinaan teritorial yang dititikberatkan pada penyusunan potensi Hankam.
Bila masalah-masalah yang timbul dari beberapa faktor di atas dapat diatasi dengan baik oleh
Bangsa Indonesia, maka akan tercapailah suatu keadaan yang dinamakan ketahanan nasional.
Untuk mencapai keadaan tersebut, terdapat suatu prosedur yang dinamakan “geostrategi”.
2.5 Wawasan Nusantara
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, diperlukan suatu konsep geopolitik khusus untuk
menyiasati keadaan/kondisi Negara Indonesia, yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar
sepanjang 3,5 juta mil. Konsep geopolitik itu adalah Wawasan Nusantara. Berbeda dengan
pemahaman geopolitik negara lain yang cenderung mengarah kepada tujuan ekspansi wilayah,
konsep geopolitik Indonesia, atau Wawasan Nusantara justru bertujuan untuk mempertahankan
wilayah. Sebagai negara kepulauan yang luas, Bangsa Indonesia beranggapan bahwa laut yang
dimilikinya merupakan sarana “penghubung” pulau, bukan “pemisah”. Sehingga, walaupun
terpisah-pisah, bangsa Indonesia tetap menganggap negaranya sebagai satu kesatuan utuh yang
terdiri dari “tanah” dan “air”, sehingga lazim disebut sebagai “tanah air”.
Untuk mewujudkan integrasi tanah air serta mencapai tujuan Wawasan Nusantara maka
dipakailah lima asas, yaitu:
1. Satu kesatuan wilayah;
a. Satu wadah Bangsa Indonesia yang bersatu;
b. Satu kesatuan tumpah darah dengan bersatunya dan dipersatukan segala anugerah dan
hakekatnya.
2. Satu kesatuan negara;
a. Satu UUD dan politik pelaksanaannya;
b. Satu ideologi dan identitas nasional.
3. Satu kesatuan budaya;
a. Satu perwujudan budaya nasional atas dasar Bhinneka Tunggal Ika;
b. Satu tertib sosial dan tertib hukum.
4. Satu kesatuan ekonomi;
a. Satu tertib ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan;
b. Seluruh potensi yang ada atau yang dapat diadakan, diselenggarakan secara total untuk
mewujudkan suatu kesatuan sistem pertahanan keamanan, yang meliputi subyek, obyek dan
metode.
Perwujudan tanah air sebagai satu kesatuan, sudah sesuai dengan aspirasi dari falsafah Pancasila.
Pelaksanaan Wawasan Nusantara akan terlihat hasilnya dengan terwujudnya suatu ketahanan
nasional Indonesia.
Ketahanan nasional Indonesia bersifat defensif serta melihat dan mawas ke dalam disertai usaha
untuk membina daya, kekuatan serta kemampuan sendiri, meliputi segenap aspek kehidupan
alamiah dan sosial. Dengan wawasan Nusantara, suatu ketahanan nasional dapat tercapai sesuai
dengan kepribadian serta bentuk kepulauan Indonesia yang satu kesatuan dalam persatuan ini.
2.6 Geostrategi Indonesia Dalam Kepentingan Teritorial
Indonesia tentu patut mewaspadai perkembangan yang terjadi terutama di kawasan Asia Pasifik.
Sebab konsekuensi letak geografis Indonesia di persilangan jalur lalu lintas internasional, maka
setiap pergolakan berapapun kadar intensitas pasti berpengaruh terhadap Indonesia. Apalagi jalur
suplai kebutuhan dasar terutama minyak beberapa negara melewati perairan Indonesia. Jalur
pasokan minyak dari Timur Tengah dan Teluk Persia ke Jepang dan Amerika Serikat, misalnya,
seIndonesiar 70% pelayarannya melewati perairan Indonesia.
Karenanya sangat wajar bila berbagai negara berkepentingan mengamankan jalur pasokan
minyak ini, termasuk di perairan nusantara, seperti, Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok,
Selat Makasar, Selat Ombai Wetar, dan lain-lain. Pasukan Beladiri Jepang secara berkala dan
teratur mengadakan latihan operasi jarak jauh untuk mengamankan area yang mereka sebut
sebagai “life line,” yakni, radius sejauh 1000 mil laut hingga menjangkau perairan Asia
Tenggara. Hal yang sama juga dilakukan Cina, Australia, India, termasuk mengantisipasi
kemungkinan terjadi penutupan jalur-jalur vital tersebut oleh negara-negara di seIndonesiarnya
(termasuk Indonesia.)
Keberadaan Indonesia dipersilangan jalur pelayaran strategis, memang selain membawa
keberuntungan juga mengandung ancaman. Sebab pasti dilirik banyak negara. Karena itu sangat
beralasan bila beberapa negara memperhatikan dengan cermat setiap perkembangan yang terjadi
di Indonesia. Australia misalnya, sangat kuatir bila Indonesia mengembangkan kekuatan
angkatan laut, yang pada gilirannya dapat memperketat pengendalian efektif semua jalur
pelayaran di perairan nusantara.Penetapan sepihak selat Sunda dan selat Lombok sebagai
perairan internasional oleh Indonesia secara bersama-sama ditolak oleh Amerika Serikat,
Australia, Canada, Jerman, Jepang, Inggris dan Selandia Baru. Tentu apabila dua selat ini
menjadi perairan teritorial Indonesia, maka semua negara yang melintas di wilayah perairan ini
harus tunduk kepada hukum nasional Indonesia, tanpa mengabaikan kepentingan internasional
2.7 Ketahanan Nasional
Ketahanan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang terdiri atas ketangguhan
serta keuletan dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi
segala macam dan bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari
dalam maupun luar, secara langsung maupun yang tidak langsung yang mengancam dan
membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Konsepsi ketahanan nasional adalah keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan sosial
melingkupi seluruh aspek kehidupan secara utuh menyeluruh berlandaskan falsafat bangsa,
ideologi negara, konstitusi dan wawasan nasional dengan metode Astagatra.
Ketahanan Nasional mempunyai aspek utama, yaitu Kesejahteraan dan Keamanan.
Kesejahteraan dan Keamanan adalah dua aspek dari Ketahanan Nasional yang dapat dibedakan
tetapi tak dapat dipisahkan. Sebab itu, mengusahakan terwujudnya Ketahanan Nasional
hakikatnya merupakan satu proses membentuk Kesejahteraan dan Keamanan buat negara dan
bangsa. Ketahanan Nasional hanya dapat terwujud kalau meliputi seluruh segi kehidupan bangsa
yang biasanya kita namakan aspek sosial kehidupan, meliputi Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial,
Budaya dan Hankam. Juga meliputi aspek alam , yaitu Geografi, Penduduk dan Kekayaan Alam.
Di lingkungan Lembaga Ketahanan Nasional seluruh segi kehidupan bangsa itu dinamakan Asta
Gatra, terdiri dari Panca Gatra (Sosial) dan Tri Gatra (Alam).
a) Bentuk-bentuk Ancaman Ketahanan Nasional
Ancaman di dalam negeri contohnya adalah pemberontakan dan subversi yang berasal atau
terbentuk dari masyarakat Indonesia.
Ancaman dari luar negeri contohnya adalah infiltrasi, subversi dan intervensi dari kekuatan
kolonialisme dan imperialisme serta invansi dari arat, udara dan laut oleh musuh dari luar negeri.
b) Asas-asas Ketahanan Nasional
Asas ketahanan nasional adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang tersusun berlandaskan
Pancasil, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara. Asas-asas tersebut meliputi :
* Asas kesejahtraan dan keamanan
Didalam kehidupan nasional berbangsa dan bernegara, unsur kesejahteraan dan keamanan ini
biasanya menjadi tolak ukur bagi mantap atau tidaknya ketahanan nasional.
* Asas menyeluruh terpadu
Artinya, ketahanan nasional mencakup seluruh aspek kehidupan. Aspek-aspek tersebut berkaitan
dalam bentuk persatuan dan perpaduan secara selaras, serasi, dan seimbang.
* Asas kekeluargaan
Bersikap keadilan, kebersamaan, kesamaan, gotong royong, tenggang rasa dan tanggung jawab
dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.
Kita harus bersama-sama mewujudkan ketahanan nasional karena dengan ketahanan nasional
kita telah berhasil mengatasi semua ancaman di masa lampau sehingga Republik Indonesia
selamat dari segala ancaman. Dan di masa depan ketahanan nasional harus selalu kita pelihara
agar dapat mencegah timbulnya ancaman baru. Meskipun begitu tantangan-tantangan baru terus
timbul dan harus kita atasi.
2.8 Implementasi Wawasan Nusantara
Implementasi atau penerapan wawasan nusantara harus tercermin pada pola pikir, pola sikap, dan
pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan
pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, wawasan nusantara menjadi pola yang mendasari cara
berpikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi berbagai masalah menyangkut
kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Implementasi wawasan nusantara senantiasa
berorientasi pada kepentingan rakyat dan wilayah tanah air
a) Wawasan Nusantara sebagai Pancaran Falsafah Pancasila
Falsafah Pancasila diyakini sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang sesuai dengan -
proses pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai sekarang. Dengan demikian
wawasan nusantara menjadi pedoman bagi upaya mewujudkan kesatuan aspek kehidupan
nasional untuk menjamin kesatuan, persatuan dan keutuhan bangsa.
b) Hubungan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional
Dalam penyelenggaraan kehidupan nasional diperlukan suatu landasan pedoman yang kokoh
berupa konsepsi wawasan nasional. Wawasan nasional Indonesia menumbuhkan dorongan dan
rangsangan untuk mewujudkan aspirasi bangsa serta kepentingan dan tujuan nasional. Upaya
pencapaian tujuabn nasional dilakukan dengan pembangunan nasional yang juga harus
berpedoman pada wawasan Nasional.
Wawasan nasional bangsa Indonesia adalah Wawasan Nusantara yang merupakan pedoman bagi
proses pembangunan nasional menuju tujuan nasional. Sedangkan ketahanan nasional
merupakan kondisi yang harus diwujudkan agar proses pencapaian tujuan nasional tersebutdapat
berjalan dengan sukses.
2.9 Tantangan Implementasi Wawasan Nusantara
Dewasa ini kita menyaksikan bahwa kehidupan individu dalam bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara sedang mengalami perubahan. Dan kita juga menyadari bahwa faktor utama yang
mendorong terjadinya proses perubahan tersebut adalah nilai-nilai kehidupan baru yang di bawa
oleh negara maju dengan kekuatan penetrasi globalnya. Apabila kita menengok sejarah
kehidupan manusia dan alam semesta, perubahan dalam kehidupan itu adalah suatu hal yang
wajar, alamiah.
Dalam dunia ini, yang abadi dan kekal itu adalah perubahan. Berkaitan dengan wawasan
nusantara yang syarat dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia dan di bentuk dalam proses
panjang sejarah perjuangan bangsa, apakah wawasan bangsa Indonesia tentang persatuan dan
kesatuan itu akan terhanyut tanpa bekas atau akan tetap kokoh dan mampu bertahan dalam
terpaan nilai global yang menantang Wawasan Persatuan bangsa.
a) Aspek Politik
Satu kesatuan politik, dalam arti satu UUD dan politik pelaksanaannya serta satu ideologi dan
identitas nasional.
Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik, yang meliputi:
1. Kebulatan wilayah dengan segala isinya merupakan modal dan milik bersama bangsa
Indonesia
2. Keanekaragaman suku, budaya, dan bahasa daerah, serta agama yang dianutnya tetap dalam
kesatuan bangsa Indonesia
3. Secara psikologis, bangsa Indonesia merasa satu persaudaraan, senasib dan seperjuangan,
sebangsa dan setanah air dalam mencapai cita-cita bangsa.
4. Pancasila merupakan dasar falsafah dan ideology yang dapat mempersatukan bangsa
Indonesia menuju tercapainya suatu cita-cita nasional.
b) Aspek Ekonomi
Satu kesatuan ekonomi dengan berdasarkan atas asas usaha bersama dan asas kekeluargaan
dalam satu sistem ekonomi kerakyatan.
Perwujkudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan ekonomi yang meliputi;
1. Kekayaan di wilayah nusantara secara potensial dan efektif menjadi modal dan milik bersama
bangsa Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pembangunan bangsa secara merata.
2. Tingkat perkembangan ekonomi harus seimbang dan serasi diseluruh daerah dalam wilayah
Indonesia.
3. Kehidupan perekonomian di seluruh wilayah nusantara diselenggarakan sebagai usaha
bersama dengan asas kekeluargaan dalam system ekonomi kerakyatan untuk sebesar-besarnya
bagi kemakmuran rakyat.
c) Aspek Ideologi
Secara ideologis-konstitusional, bangsa Indonesia berdasarkan pada nilainilai Pancasila dan
UUD 1945, yang secara subtantif (isinya), dapat memberi arah pandang kemajemukan bangsa
Indonesia pada prinsip persatuan dan kesatuan bangsa.
d) Aspek Pertahanan Keamanan
Wawasan Nasional bangsa Indonesia adalah Wawasan Nusantara yang merupakan pedoman bagi
proses pembangunan nasional menuju tujuan nasional. Sedangkan ketahanan nasional
merupakan kondisi yang harus diwujudkan agar proses pencapaian tujuan nasional tersebut dapat
berjalan dengan sukses. Oleh karena itu diperlukan suatu konsepsi Ketahanan Nasional yang
sesuai dengan karakteristik bangsa Indonesia. Dan dapat dikatakan bahwa Wawasan Nusantara
dan ketahanan nasional merupakan dua konsepsi dasar yang saling mendukung sebagai pedoman
bagi penyelenggaraan kehidupan barbangsa dan bernegara agar tetap jaya dan berkembang
seterusnya.
e) Aspek Sosial Budaya
Untuk mempercepat tercapainya tujuan wawasan Nusantara, disamping implementasi seperti
yang telah disebutkan diatas, perlu juga dilakukan pemasyarakatan materi Wawasan Nusantara
kepada seluruh masyarakat Indonesia. Pemasyarakatan Wawasan Nusantara tersebut dapat
dilakukan dengan cara berikut:
1. Menurut sifat atau cara penyampaian, yang dapat dilaksanakan sebagai berikut:
• Langsung yang terdiri dari ceramah, diskusi, dialog, tatap muka
• Tidak langsung, yang terdiri dari media elektronik dan media cetak
2.Menurut metode penyampaian yang berupa:
• Keteladanan. Melalui metode penularan keteladanan dalam sikap perilaku kehidupan sehari-
hari kepada lingkungannya serutama dengan memberikan contoh-contoh berpikir, bersikap dan
bertindak mementingkan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan sehingga
timbul semangat kebangsaan yang selalu cinta tanah air.
• Edukasi, yakni melalui metode pendekatan formal dan informal. Pendidikan formal ini dimulai
dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, pendidikan karier di semua strata dan
bidang profesi, penataran, kursus dan sebagainya. Sedangkan pendidikan non-formal dapat
dilaksanakan di lingkungan keluarga, pemukiman, pekerjaan, dan organisasi kemasyarakatan.
• Komunikasi. Tujuan yang ingin dicapai dari sosialisasi wawasan nusantara melalui metode
komunikasi adalah tercapainya hubungan komunikatif secara baik yang akan mampu menciptakn
iklim saling menghargai, menghormati, mawas diri, dan tenggang rasa sehingga terciptanya
kesatuan bahasa dan tujuan tentang wawasan nusantara.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keadaan geografis Indonesia yang unik menuntut sebuah konsep geopolitik khusus yang dapat
diterapkan dengan baik oleh bangsa Indonesia. Konsep geopolitik tersebut adalah Wawasan
Nusantara. Berbeda dengan pemahaman geopolitik negara lain yang cenderung mengarah kepada
tujuan ekspansi wilayah, konsep geopolitik Indonesia, atau Wawasan Nusantara, justru bertujuan
untuk mempertahankan wilayah. Wawasan Nusantara merupakan sebuah konsep geopolitik yang
paling tepat untuk negara Indonesia yang memiliki belasan ribu pulau yang tersebar sepanjang
jutaan mil.
3.2 Saran
Konsep geopolitik ini hendaknya terus diterapkan dan dikembangkan agar dapat mencapai
tujuan-tujuan Wawasan Nusantara yang telah ditetapkan, yaitu mewujudkan kesejahteraan,
ketenteraman dan keamanan bagi Bangsa Indonesia, dengan demikian ikut serta juga dalam
membina kebahagiaan dan perdamaian bagi seluruh umat manusia di dunia.Daftar Referensi
*Harsawaskita, A. 2007. “Great Power Politics di Asia Tengah: Suatu Pandangan Geopolitik”,
dalam Transformasi dalam Studi Hubungan Internasional. Bandung: Graha Ilmu.
*Hidayat, I.Mardiyono. 1983. Geopolitik, Teori dan Strategi Politik dalam Hubungannya dengan
Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya: Usaha Nasional.
*Makarim,N.A.2004.Geopolitik.Tersedia:http://www.kompas.com/kompas cetak /0412/
28/utama [28 Maret 2007].
*Poerwowidagdo,S.J.1999. Geoekonomi, Abstraksi ekonominya di kepulauan RI. Tersedia: —
[28 Maret 2007].
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KETAHANAN NASIONAL SEBAGAI GEOSTRATEGI INDONESIA

Setiap bangsa dalam mempertahankan eksistensi dan mewujudkan cita-citanya perlu
memiliki pemahaman mengenai geopolitik dan geostrategi. Geopolitik bangsa Indonesia
diterjemahkan dalam konsep Wawasan Nusantara, sedangkan geostrategi bangsa Indonesia
dirumuskan dalam konsep Ketahanan Nasional.
Sesuai dengan bagan paradigma ketatanegaraan Negara Republik Indonesia, maka
Ketahanan Nasional (Tannas) merupakan salah satu konsepsi politik dari Negara Republik
Indonesia. Ketahanan Nasional dapat dikatakan sebagai konsep geostrateginya bangsa Indonesia.
Dengan kata lain, geostrategi bangsa Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional.
Geostrategi adalah suatu cara atau pendekatan dalam memanfaatkan kondisi lingkungan
untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan Nasional. Ketahanan Nasional sebagai
geostrategi bangsa Indonesia memiliki pengertian bahwa konsep ketahanan Nasional merupakan
pendekatan yang digunakan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan dalam rangka
mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya. Ketahanan nasional sebagai suatu pendekatan
merupakan salah satu pengertian dari konsepsi ketahanan nasional itu sendiri.

PENGERTIAN
Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamis suatu bangsa berisi keuletan dan
ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional didalam
menghadapi dan mengatasi ATHG baik langsung, tidak langsung dari dalam maupun dari luar
yang membahayakan, Integrasi, idenditas kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta
perjuangan mengejar tujuan Negara.
Secara skematis, rumusan konseptual ketahanan nasional dapat digambarkan sebagai
berikut.


Skema Konsepsi Ketahanan Nasional

Dari sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep ketahanan nasional Indonesia
berawal dari konsep ketahanan nasional yang dikebangkan oleh kalangan militer. Pemikiran
konseptual ketahanan nasional ini mulai menjadi doktrin dasar nasional setelah dimasukan ke
dalam GBHN.

UNSUR-UNSUR KETAHANAN NASIONAL
1. Gatra dalam Ketahanan Nasional
Unsur, elemen atau faktor yang mempengaruhi kekuatan/ketahanan nasional suatu
Negara terdiri atas beberapa aspek. Para ahli memberikan pendapatnya mengenai unsur-unsur
kekuatan nasional suatu Negara.
1. Unsur kekuatan nasional menurut Hans J. Morgenthou
Unsur ketahanan nasional negara terbagi menjadi beberapa faktor, yaitu
a. Faktor tetap (stable factors) terdiri atas geografi dan sumber daya alam;
b. Faktor berubah (dynamic factors) terdiri atas kemampuan industri, militer, demografi, karakter
nasional, modal nasional, moral nasional, dan kualitas diplomasi.
2. Unsur kekuatan nasional menurut James Lee Ray
Unsur kekuatan nasional negara terbagi menjadi dua faktor, yaitu
a. Tangible factors terdiri atas penduduk, kemampuan industry, dan militer.
b. Intangible factors terdiri atas karakter nasional, moral nasional, dan kualitaS kepemimpinan.
3. Unsur kekuatan nasional menurut Palmer & Perkins
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas tanah, sumberdaya, penduduk, teknologi, idiologi,
moral, dan kepemimpinan.
4. Unsur kekuatan nasional menurut Parakhas Chandra
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas tiga, yaitu
a. Alamiah terdiri atas geografi, sumberdaya, dan penduduk;
b. Sosial terdiri atas perkembangan ekonomi, struktur politik, budaya dan moral nasional;
c. Lain-lain: ide, inteligensi, dan diplomasi, kebijakan kepemimpinan.
5. Unsur kekuatan nasional menurut Alfred T. Mahan
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas letak geografi, wujud bumi, luas wilayah, jumlah
penduduk, watak nasional, dan sifat pemerintahan.
6. Unsur kekuatan nasional menurut Cline
Unsur-unsur kekuatan nasional terdiri atas sinergi antara potensi demografi dan geografi,
kemampuan ekonomi, militer, strategi nasional, dan kemauan nasional.
7. Unsur kekuatan nasional model Indonesia
Unsur-unsur kekuatan nasional di Indonesia diistilahkan dengan gatra dalam ketahanan nasional
Indonesia. Pemikiran tentang gatra dalam ketahanan nasional dirumuskan dan dikembangkan
oleh Lemhanas. Unsur-unsur kekuatan nasional Indonesia dikenal dengan nama Astagatra yang
terdiri atas Trigatra dan Pancagatra.
a. Trigatra adalah aspek alamiah (tangible) yang terdiri atas penduduk, sumber daya alam, dan
wilayah.
b. Pancagatra adalah aspek social (intangible) yang terdiri atas idiologi, politik, ekonomi, sosial
budaya dan pertahanan keamanan.
Bila dibandingkan perumusan unsur-unsur kekuatan nasional/ketahanan nasional di atas,
pada hakikatnya dapat dilihat adanya persamaan. Unsur-unsur demikian dianggap mempengaruhi
Negara dalam mengembangkan kekuatan nasionalnya untuk menjamin kelangsungan hidup
bangsa dan negara yang bersangkutan. Pertanyaan dasarnya adalah dalam kondisi apa atau
bagaimana unsur-unsur tersebut dapat dikatakan mendukung kekuatan nasional suatu negara.
Bila mana suatu unsur justru dapat melemahkan kekuatan nasional suatu negara?
Pertanyaan demikian dapat diperinci dan diperjelas. Misalnya, penduduk yang
bagaimanakah yang mampu mendukung kekuatan nasional suatu negara, wilayah atau geografi
yang seperti apa dapat mengembangkan kekuatan sebuah bangsa, dan seterusnya. Jawaban
eksploratif atas pertanyaan tersebut sampai pada kesimpulan bahwa pada hakikatnya ketahanan
nasional adalah sebuah kondisi atau keadaan.
Dalam praktiknya kondisi ketahanan nasional dapat diketahui melalui pengamatan atas
sejumlah gatra dalam suatu kurun waktu tertentu. Hasil pengamatan yang mendalam itu akan
menggambarkan tingkat ketahanan nasional. Apakah ketahanan nasional Indonesia
kuat/meningkat atau lemah/menurun. Lemah atau turunnya tingkat ketahanan nasional akan
menurun kemampuan bangsa dalam menghadapi ancaman yang terjadi. Apakah pengamatan
tersebut kita lakukan pada sejumlah gatra yang ada pada tingkat wilayah atau regional maka akan
menghasilkan kondisi ketahanan regional.

2. Penjelasan Atas Tiap Gatra dalam Ketahanan Nasional
a. Unsur atau Gatra Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional negara yang
bersangkutan, faktor yang berkaitan dengan penduduk negara meliputi dua hal berikut.
1) Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan kepribadian.
2) Aspek kualitas yang mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran; perataan dan
perimbangan penduduk di tiap wilayah negara. Terkait dengan unsur penduduk adalah faktor
moral nasional dan karakter nasional. Moral nasional menunjukan pada dukungan rakyat secara
penuh terhadap negaranya kita menghadapi ancaman. Karakter nasional menunjukan pada ciri-
ciri khusus yang dimiliki suatu bangsa sehingga bias dibedakan dengan bangsa lain. Moral dan
karakter nasional mempengaruhi ketahanan suatu bangsa.

b. Unsur atau Gatra Wilayah
Wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional negara. Hal yang terkait dengan
wilayah negara meliputi:
1) Bentuk wilayah negara dapat berupa negara pantai, negara kepulawan atau negara kontinental;
2) Luas wilayah negara; ada negara dengan wilayah yang luas dan negara dengan wilayah yang
sempit (kecil);
3) Posisi geografis, astronomi dan geologis negara;
4) Daya dukung wilayah negara; ada wilayah yang habitable dan ada wilayah yang unhabitable.
Dalam kaitannya dengan wilayah negara, pada masa sekarang ini perlu dipertimbangkan
adanya kemajuan teknologi, kemajuan informasi dan komunikasi. Suatu wilayah yang pada
awalnya sama sekali tidak mendukung kekuatan nasional, karena penggunaan teknologi maka
wilayah itu kemudian menjadi unsur kekuatan nasional negara. Misalnya, wilayah kering dibuat
saluran atau sungai buatan.
c. Unsur atau Gatra Sumber Daya Alam
Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen ketahanan
nasional, meliputi:
1) Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup sumber daya alam hewani,
nabati dan tambang;
2) Kemampuan mengeksplorasi sumber daya alam;
3) Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan lingkungan hidup;
4) Kontrol sumber daya alam.
Dewasa ini, kemampuan melakukan kontrol atas sumber daya alam menjadi semakin
penting bagi ketahanan nasional dan kemajuan suatu negara. Banyak negara yang kaya akan
sumber daya alam seperti minyak di negara-negara Afrika, tetapi negara tersebut tetaplah miskin.
Negara-negara berkembang belum mampu melakukan kontrol atas sumber daya alam yang
berasal dari miliknya. Justru negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam seperti
Singapura dan Jepang bias maju oleh karena mampu melakukan kendali atas jalur perdagangan
sumber daya alam dunia.
d. Unsur atau gatra di Bidang Idiologi
Idiologi adalah seperangkat gagasan, ide, cita dari sebuah masyarakat tentang kebaikan
bersama yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang harus dicapai dan cara-cara yang digunakan
untuk mencapai tujuan itu. (Ramlan Surbakti, 1999) Idiologi itu berisikan serangkaian nilai
(norma) atau sistem dasar yang bersifat menyeluruh dan mendalam yang dimiliki dan dipegang
oleh suatu masyarakat atau bangsa sebagai wawasan atau pandangan hidup mereka. Nilai yang
terkandung didalam idiologi tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai nilai yang baik, adil dan
benar sehingga berkeinginan untuk melaksanakan segala tindakan berdsarkan nilai tersebut.
Idiologi mengandung ketahanan suatu bangsa oleh karena idiologi bagi suatu bangsa
memiliki dua fungsi pokok, yaitu
1. Sebagai tujuan atau cinta-cinta dari kelompok masyarakat yang bersangkutan, artinya nilai-nilai
yang terkandung dalam idiologi itu menjadi cita-cita yang hendak dituju secara bersama;
2. Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan, artinya masyarakat yang banyak
dan beragam itu bersedia menjadikan idiologi sebagai milik bersama dan menjadikannya bersatu.
Sejarah dunia telah membuktikan bahwa idiologi dapat digunakan sebagai unsur untuk
membangun kekuatan nasional negara. Bagi bangsa Indonesia, Pancasia telah ditetapkan sebagai
idiologi nasional melalui kesepakatan. Pancasila adalah kesempatan bangsa, rujuk bersama,
common denominator yang mampu memperkuat persatuan bangsa. Kesepakatan atas Pancasila
menjadikan segenap elemen bangsa bersedia bersatu di bawah negara Indonesia.
e. Unsur atau Gatra di Bidang Politik
Politik penyelenggaraan bernegara amat memengaruhi kekuatan nasional suatu negara.
Penyelenggara bernegara dapat ditinjau dari beberapa aspek, seperti
1) Sistem politik yang dipakai yaitu apakah sistem demokrasi atau nondemokrasi;
2) Sistem pemerintahan yang dijalankan apakah sistem presidensiil atau parlementer;
3) Bentuk pemerintah yang dipilih apakah republik atau kerajaan;
4) Suatu negara yang dibentuk apakah sebagai negara kesatuan atau negara serikat.
Pemilihan suatu bangsa atas politik penyelenggaraan bernegara tertentu saja tergantung
pada nilai-nilai dan aspirasi bangsa yang bersangkutan. Dalam realitasnya, sebuah bangsa bias
mengalami beberapa kali perubahan dan pergantian politik penyelenggaraan bernegara. Misalnya
negara Prancis dari bentuk kerajaan menjadi republik. Indonesia pernah mengalami pergantian
dari presidensiil ke parlementer dan pernah berubah dalam bentuk negara srikat.
Bangsa Indonesia sekarang ini telah berketetapan untuk mewujudkan negara Indonesia
yang bersusunan kesatuan, berbentuk republik dengan sistem pemerintahan presidensiil. Adapun
sistem politik yang dijalankan adalah sistem politik demokrasi (Pasal 1 ayat (2) UUD 1945).
f. Unsur atau Gatra di Bidang Ekonomi
Ekonomi yang dijalankan oleh suatu negara merupakan kekuatan nasional negara yang
bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang ekonomi berperan langsung dalam
upaya pemberian dan distribusi kebutuhan warga negara. Kemajuan pusat di bidang ekonomi
tertentu saja menjadikan negara yang bersangkutan tumbuh sebagai kesatuan dunia. Contoh,
Jepang dan Cina.
Setiap negara memiliki sistem ekonomi dalam rangka mendukung kekuatan ekonomi
bangsanya. Sistem ekonomi secara garis besar dikelompokan menjadi dua macam yaitu sistem
ekonomi liberal dan sistem ekonomi sosialis. Suatu negara dapat pula mengembangkan sistem
ekonomi yang dianggap sebagai cerminan dari nilai dan idiologi bangsa yang bersangkutan.
Contoh, bangsa Indonesia menyatakan sistem ekonomi Pancasila yang bercorak kekeluargaan.
g. Unsur atau Gatra di Bidang Sosial Budaya
Unsur budaya di masyarakat juga menentukan kekuatan nasional suatu negara. Hal-hal
yang dialami sebuah bangsa yang homogen tentu saja akan berbeda dengan yang dihadapi
bangsa yang heterogen (plural) dari segi sosial budaya nasyarakatnya. Contohnya, bangsa
Indonesia yang heterogen berbeda dengan bangsa Israel atau bangsa Jepang yang relatif
homogen.
Pengembangan integrasi nasional menjadi hal yang amat penting sehingga dapat
memperkuat kekuatan nasionalnya. Integrasi bangsa dapat dilakukan dengan 2 (dua) strategi
kebijakan, yaitu “assimilationist policy” dan “bhinneka tunggal ika policy” (Winarno, 2002).
Strategi pertama dengan cara penghapusan sifat-sifat cultural utama dari komunitas kecil yang
berbeda menjadi sebuah kebudayaan nasional. Strategi kedua dengan cara penciptaan kesetiaan
nasional tanpa menghapuskan kebudayaan lokal, Tidak dapat ditentukan strategi mana yang
paling benar. Negara dapat pula melakukan kombinasi dari keduanya. Kesalahan dalam strategi
dapat mengantarkan bangsa yang bersangkutan ke perpecahan bahkan perang saudara. Misal,
perpecahan etnis di Yugoslavia, pertentangan antara suku Huttu dan Tutsi di Rwanda, perang
saudara antara bangsa Sinhala dan Tamil di Sri Lanka.
h. Unsur atau Gatra di bidang Pertahanan Keamanan
Pertahanan keamanan suatu negara merupakan unsur pokok terutama dalam menghadapi
ancaman militer negara lain. Oleh karena itu, unsur utama pertahanan keamanan berada di
tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan negara juga merupakan salah satu fungsi
pemerintahan negara.
Negara dapat melibatkan rahyatnya dalam upaya pertahanan negara sebagai bentuk dari
hak dan kewajiban warga negara dalam membela negara. Upaya melibatkan rakyat
menggunakan cara yang berbeda-beda sesuai dengan sistem dan politik pertahanan yang dianut
oleh negara. Politik pertahanan negara disesuaikan dengan nilai filosofis bangsa, kepentingan
nasional dan konteks zamannya.
Bangsa Indonesia dewasa ini menetapkan politik pertahanan sesuai dengan Undang-
undang Nomor 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Negara. Pertahanan negara Indonesia bersifat
semesta dengan menempatkan tentara sebagai komponen utama pertahanan.
Ketahanan Nasional Indonesai dikelola berdasarkan unsur Astagrata yang meliputi unsur-
unsur (1) geografi, (2) kekayaan alam, (3) kependudukan, (4) idiologi, (5) politik, (6) ekonomi,
(7) sosial budaya, dan (8) pertahanan keamana. Unsur (1) geografi, (2) kekayaan alam, (3)
kependudukan disebut Trigatra. Unsur keamanan disebut Pancagatra.
Kebutuhan Nasional adalah suatu pengertian holistik, dimana terdapat saling hubungan
antara gatra dalam keseluruhan kehidupan nasional (Astagrata). Kualitas Pancasila dalam
kehidupan nasional Indonesai tersebut terintegrasi dan dalam integrasinya dengan Trigrata.
Keadaaan kedelapan unsur tersebut mencerminkan kondisi Ketahanan Nasional Indonesia,
apabila ketahanan nasional kita kuat atau lemah. Kelemahan disalahsatu gatra dapat
mengakibatkan kelemahan di gatra lain dan memengaruhi kondisi secara keseluruhan. Ketahanan
Nasional Indonesia bahkan merupakan suatu penjumlahan ketahanan segenap gatranya,
melainkan suatu hasil keterkaitan yang integrative dari kondisi dinamik kehidupan bangsa di
seluruh aspek kehidupan.

PEMBELAAN NEGARA
Terdapat hubungan antara ketahanan nasional suatu negara dengan pembelaan negara.
Kegiatan pembelaan negara pada dasarnya merupakan usaha dari warga negara untuk
mewujudkan ketahanan nasional.
Bela negara biasanya selalu dikaitkan dengan militer atau militerisme, seolah-olah
kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada Tentara Nasional
Indonesia. Padahal berdsarkan Pasal 27 dan 30 UUD 1945, masalah bela negara dan pertahanan
negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara Republik Indonesai. Bela negara
adalah upaya setiap warga negara untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman,
baik dari luar maupun dalam negeri.
Dimasa demokrasi dan kebutahuan sekarang ini, tentu timbul pertanyaan apakah bela
negara masih relevan dan dibutuhkan? Seperti apakah pembelaan negara yang harus dilakukan
warga negara dewasa ini?

ASAS MAWAS KE DALAM DAN MAWAS KE LUAR
Sistem kehidupan nasional merupakan perpaduan segenap aspek kehidupan bangsa yang
saling berinteraksi. Di samping itu, sistem kehidupan nasional juga berinteraksi dengan
lingkunagan sekelilingnya. Dalam proses interaksi tersebut dapat timbul berbagai dampak, baik
yang bersifat positif maupun negatif. Untuk itu diperlukan sikap mawas kedalam maupun ke
luar.
a. Mawas ke Dalam
Mawas ke dalam bertujuan menumbuhkan hakikat, sifat, dan kondisi kehidupan nasional
itu sendiri berdasarkan nilai-nilai kemandirian yang propesiaonal untuk meningkatkan kualitas
derajat kemandirian bangsa ulet dan tangguh. Hal ini tidak berarti bahwa Ketahanan Nasional
mengandung sikap isolasi atau nasionalisme sempit.
b. Mawas keluar
Mawas keluar bertujuan untuk dapat mengantisipasi dan berperan serta mengatasi dampak
lingkungan strategis luar negeri dan menerima kenyataan adanya interaksi dan ketergantungan
dengan dunia internasional. Kehidupan nasional harus mampu mengembangkan kekuatan
nasional untuk memberikan dampak ke luar dalam bentuk daya tangkal dan daya tawar. Interaksi
dengan pihak lain diutamakan dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.



ASAS KEKELUARGAAN
Asas kekeluargaan mengandung keadilan, kearifan, kebersamaan, kesamaan, gotong
royong, tenggang rasa dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Asas ini mengakui adanya perbedaan. Perbedaan tersebut harus dikembangkan secara
serasi dalam hubungan kemitraan agar tidak berkembang menjadi konflik yang bersifat saling
menghancurkan.

SIFAT KETAHANAN INDONESIA
Ketahanan Nasional mempunyai sifat yang terbentuk dari nilai-nilai yang terkandung
dalam landsan dan asas-asasnya, yaitu:
1. Mandiri
Ketahanan nasional percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri serta pada keuletan
dan ketangguhan, yang mengandung prinsip tidak mudah menyerah, dengan tumpuan pada
idenditas, integrasi dan kepribadian bangsa. Kemandirian (independency) ini merupakan
persyaratan untuk menjalin kerjasama yang saling menguntungkan dalam perkembangan global
(interdependent)
2. Dinamis
Ketahanan Nasional tidaklah tetap. Ia dapat meningkat atau menurun, tergantung pada
situasi dan kondisi bangsa, negara, sertas lingkungan strategisnya. Hal ini sesuai dengan hakikat
bahwa segala sesuatu di dunia ini senantiasa berubah dan perubahan itu senantiasa berubah pula.
Karena itu, upaya peningkatan Ketahanan Nasional harus senantiasa diorientasikan ke masa
depan dan dinamikanya diarahkan untuk pencapaian kondisi kehidupan nasional yang lebih baik.
3. Wibawa
Keberhasilan pembinaan Ketahanan Nasional Indonesia secara berlanjut dan
berkesinambungan akan meningkat kemampuan dan kekuatan bangsa. Makin tinggi tingkat
ketahanan Nasional Indonesia, makin tinggi pula nilai kewibawaaan dan tingkat daya tangkal
yang dimiliki oleh bangsa dan negara Indonesia.
4. Konsultasi dan Kerjasama
Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia tidak mengutamakan sikap konfrontatif dan
antagonistis, tidak mengandalkan kekuasaan dan kekuatan fisik semata, tetapi lebih
mengutamakan sikap konsultatif. Kerjasama, serta saling menghargai dengan mengandalkan
kekuatan moral dan kepribadian bangsa.

HAK ASASI MANUSIA
1. Pengertian Hak Asasi Manusia
Musthafa Keal (2002) menyatakan hak asasi manusia merupakan hak-hak dasar yang
dibawa manusia sejak lahir yang melekat pada esensinya sebagai anugerah Allah SWT. Pendapat
lain yang senada menyatakan bahahwa hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang dibawa
sejak lahir dan melekat dengan potensinya sebagai mahluk dan wakil Tuhan. Rumusan “sejak
lahir” sekarang ini dipertanyakan, sebab bunyi yang ada dalam kandungan sudah memiliki hak
untuk hidup. Oleh karena itu, rumusan yang lebih sesuai adalah hak dasar yang melekat pada
manusia sejak ia hidup.
Kesadaran akan hak asasi manusia didasarkan pada pengakuan bahwa semua manusia
sebagai mahluk Tuhan memiliki derajat dan martabat yang sama. Dengan pengakuan akan
prinsip dasar tersebut, setiap manusia memiliki hak dasar yang disebut hak asasi manusia. Jadi
kesadaran akan adanya hak asasi manusia tumbuh dari pengetahuan manusia sendiri bahwa
mereka adalah sama dan sederajat.
Pengakuan terhadap HAM memiliki dua landasan, sebagai berikut.
1) Landsan yang langsung dan pertama, yakni kodrat manusia. Kodrat manusia adalah sama derajat
dan martabatnya. Semua manusia adalah sederajat tanpa membedakan ras, agama, suku, bangsa
dan sebagainya.
2) Landasan yang kedua dan yang lebih dalam: Tuhan menciptakan manusia. Semua manusia
adalah mahluk dari pencipta yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu dihadapan
Tuhan manusia adalah sama kecuali nanti pada amalnya.
Istilah hak asasi manusia bermula dari Barat yang dikenal dengan right of man untuk
menggantikan natural right. Karena istilah right of man tidak mencakup right of women maka
oleh Eleanor Roosevelt diganti dengan istilah human right yang lebih universal dan netral.
Istilah natural right berasal dari konsep John Locke mengenai hak-hak alamiah manusia.
John Locke menggambarkan bahwa kehidupan manusia yang asli sebelum bernegara (state of
nature) memiliki hak-hak dasar perorangan yang alami. Hak-hak alamiah itu merupakan hak
untuk hidup, hak kemerdekaan dan hak milik. Setelah bernegara, hak-hak dasar itu tidak lenyap
tetapi justru harus dijamin dalam kehidupan bernegara.
2. Macam Hak Asasi Manusia
Berdasarkan pada undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
dinyatakan bahwa hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugarah-Nya yang
wajib dihormati, dijungjung tinggi, dan dilindungi oleh negara hukum, pemerintah dan setiap
orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.
a. Hak asasi manusia menurut Piagam PBB tentang Deklarasi Universal of Human Rights 1948,
meliputi
a. Hak berpikir dan mengeluarkan pendapat,
b. Hak memiliki sesuatu,
c. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran,
d. Hak menganut aliran kepercayaan atau agama,
e. Hak untuk hidup,
f. Hak untuk kemerdekaan hidup,
g. Hak memperoleh nama baik,
h. Hak untuk memperoleh pekerjaan dan
i. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.
b. Hak asasi manusia menurut Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia,
meliputi:
a. Hak untuk hidup,
b. Hak berkeluarga,
c. Hak mengembangkan diri,
d. Hak keadilan,
e. Hak kemerdekaan,
f. Hak berkomunikasi,
g. Hak keamanan,
h. Hak kesejahtraan dan
i. Hak perlindungan

Hak asasi manusia meliputi beberapa bidang, sebagai berikut.
a. Hak asasi pribadi (personal Rights), missal, hak kemerdekaan, hak menyatakan pendapat, hak
memeluk agama.
b. Hak asasi politik (political Rights), yaitu hak untuk diakui sebagai warga negara. Misalnya,
memilih dan dipilih, hak berserikat, hak berkumpul.
c. Hak asasi ekonomi (Property Rights) missal, hak memiliki sesuatu, hak mengadakan perjanjian,
hak bekerja, hak mendapatkan hidup layak.
d. Hak asasi social dan kebudayaan (Social and Cultural Rights), misalnya, mendapatkan
pendidikan, hak mendapatkan santunan, hak pensiun, hak mengembangkan kebudayaan, hak
berekspresi.
e. Hak untuk mendapat perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintah (rights of Legal
Equality).
f. Hak untuk mendapat perlakuan yang sama dan tata cara peradilan dan perlindungan (Proceural
Rights).

Pada abad ke XX memualai dicetuskan beberapa hak asasi dengan dirumuskan oleh Fran
Klin D. Roosevelt yang dikenal The Four Freedom yaitu sebagai berikut:
1. The Freedom of Speech
2. The Freedoom of Religion
3. The Freedom of Feor
4. The Freedom of Waut

SEJARAH PERKEMBANGAN HAK ASASI MANUSIA
Sejarah Pengakuan Hak Asasi Manusia
Latar belakang sejarah hak asasi manusia, pada hakikatnya, muncul karena inisiatif
manusia terhadap harga diri dan martabatnya, sebagai akibat tindakan sewenang-wenang dari
penguasa, penjajahan, perbudakan, ketidak adilan dan kelazaliman (tirani)
Perkembangan pengakuan hak asasi manusia ini berjalan secara perlahan dan beraneka
ragam. Perkembangannya dapat kita lihat berikut ini
1) Perjuangan Nabi Musa dalam membebaskan umat Yahudi dan perbudakan (Tahun 6000
sebelum masehi)
2) Hukum Hammurabi di Babylonia yang member jaminan keadilan bagi warga negara (Tahun
2000 sebelum Masehi)
3) Socrates (469-399 SM), Plato (429-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM) sebagai filsuf
Yunani peletak dasar diakuinya hak asasi masusia. Mereka mengajarkan untuk mengkritik
pemerintah yang tidak berdsarkan keadilan, cita-cita dan kebijaksanaan.
4) Perjuangan Nabi Muhammmad saw. Untuk membebaskan para bayi wanita dan wanita dari
penindasan bangsa Quraisy (Tahun 600 Masehi).

HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA
Pengakuan Bangsa Indonesai Akan Hak Asasi Manusia
Pengakuan akan hak asasi manusia di Indonesia telah tercantum dalam UUD 1945 yang
sebenarnya lebih dahulu ada dibandingkan dengan Deklaraasi Universal PBB yang lahir pada 10
Desember 1945. Pengakuan akan hak asasi manusia dalam Undang-undang Dasar 1945 dan
peraturan perundang-undangan lainnya adalah sebagai berikut.
a. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea Pertama
Hak asasi manusia sebenarnya sudah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Oleh
kerena itu, bias dikatakan bahwa negara Indonesia sendiri sejak masa berdirinya, tidak bias lepas
dari Hak Asasi Manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat pada alinea pertama berbunyi “…Bahwa
sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa ….” Berdasarkan hal ini, bangsa
Indonesia mengakui adanya hak untuk merdeka atau bebas.
b. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea Keempat
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea empat berbunyi, “kemudian daripada itu,
untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahtraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamayan abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang terbentuk dalam suatu
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan
Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan kerahyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta denagan
mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Sila kedua pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan landasan idiil akan
pengakuan dan jaminan hak asasi manusia di Indonesia.


c. Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945
Rumusan hal tersebut mencakup hak dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya
yang tersebar dari pasal 27 sampai dengan Pasal 34 UUD 1945. Namun rumusan-rumusan dalam
konstitusi itu amat terbatas jumlahnya dan dirumuskan secara singkat dan dalam garis besarnya
saja.
Sampai pada berakhirnya era Orde Baru Tahun 1998, pengakuan akan hak asasi manusia
di Indonesia tidak banyak mengalami perkembangan dan tetap berlandasakan pada rumusan
yang ada dalam UUD 1945, yaitu tertuang pada hak dan kewajiban warga negara. Rumusan baru
tentang hak asasi manusia tertuang dalam Pasal 28 A-J UUD 1945 hasil amandemen pertama
Tahun 1999.
d. Ketetapan MPR
Ketetapan MPR mengenai hak asasi manusia Indonesia tentang dalam ketetapan MPR
No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Berdasarkan hal itu, kemudian keluarlah
Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia sebagai undang-undang
yang sangat penting kaitannya dalam proses jalannya Hak Asasi Manusia di Indonesia. Selain itu
juga Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.
Macam-macam hak asasi manusia yang tercantum dalam ketetapan tersebut adalah
a. Hak untuk hidup,
b. Hak berkeluarha dan melanjutkan keturunan,
c. Hak keadilan,
d. Hak kemerdekaan,
e. Hak atas kebebasan informasi,
f. Hak Keamanan,
g. Hak Kesejahtraan,
h. Kewajiban,
i. Perlindungan dan pemajuan.

HAK ASASI MANUSIA (UUD 1945) sebagai berikit:
1. Berkewajuban menghargai hak orang lain dan pihak lain serta tunduk kepada pembatasan yang
ditetapkan Undang-undang (Pasal 28)
2. Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan HAM adalah tanggung jawab negara
terutama Pemerintah (Pasal 28 I)
3. Untuk kehidupan serta mempertahankan hidup dan kehidupan (Pasal 28 A)
4. Membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 28 B)
5. Mengembangkan diri, mendapatkan pendidikan memperoleh manfaat dari IPTEK, seni dan
budaya memajuakan diri secara kolektif (Pasal 28 C)
6. Pengakuan yang sama didepan hukum, hak untuk bekerja dan kesempatan yang sama dalam
pemerintahan, berhak atas status kewarganegaraan (Pasal 28 D)
7. Kebebasan memeluk agama, meyakini kepercayaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat
tinggal kebebasan berserikat berkumpul dan berpendapat (Pasal 28 E)
8. Berkomunikasi memperoleh mencari, memilih, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan
informasi (Pasal 28 F)
9. Perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, harta benda, rasa aman serta rasa
bebas dari penyiksaan.
Hidup sejahtra lahir batin, memperoleh pelayanan kesehatan, mendapatkan kemudahan dan
perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat guna menycapai persamaan dan
keadilan.





---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Geopolitik secara etimologi berasal dari kata geo (bahasa Yunani) yang berarti bumi yang
menjadi wilayah hidup. Sedangkan politik dari kata polis yang berarti kesatuan masyarakat yang
berdiri sendiri atau negara ; dan teia yang berarti urusan (politik) bermakna kepentingan umum
warga negara suatu bangsa. Sebagai acuan bersama, geopolitik dimaknai sebagai ilmu
penyelenggaraan negara yang setiap kebijakannya dikaitkan dengan masalah-masalah geografi
wilayah atau tempat tinggal suatu bangsa. Frederich Ratzel mengenalkan istilah ilmu bumi
politik (political geography), Rudolf Kjellen menyebut geographical politic dan disingkat
geopolitik.

Unsur utama Geopolitik
 Konsepsi ruang diperkenalkan Karl Haushofer menyimpulkan bahwa ruang merupakan
wadah dinamika politik dan militer, teori ini disebut pula teori kombinasi ruang dan
kekuatan
 Konsepsi frontier (batas imajiner dari dua negara)
 Konsepsi politik kekuatan yang terkait dengan kepentingan nasional
 ©EÞ·]O·) g]COCÞCÞ Þ]_CÒC -CÞ pCÞ_·C ·CO
C -]Þ_CÞ gEÞ·]O g]4C´CÞCÞ ÞC·)EÞC¤
Geopolitik Indonesia
Geopolitik Indonesia tiada lain adalah Wawasan Nusantara
 Wawasan Nusantara tidak mengandung unsur-unsur ekspansionisme maupun kekerasan
 Cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya berdasarkan ide
nasionalnya yang dilandasi Pancasila dan UUD 1945, yang merupakan aspirasi bangsa
Indonesia yang merdeka, berdaulat dan bermartabat serta menjiwai tata hidup dan tindak
kebijaksanaannya dalam mencapai tujuan nasional.
 Wawasan nusantara juga sering dimaknai sebagai cara pandang, cara memahami, cara
menghayati, cara bertindak, berfikir dan bertingkah laku bagi bangsa Indonesia sebagai
hasil interaksi proses psikologis, sosiokultural dengan aspek-aspek ASTAGATRA
Konsep Geostrategi
 Suatu strategi memanfaatkan kondisi geografis Negara dalam menentukan kebijakan,
tujuan, sarana utk mencapai tujuan nasional (pemanfaatan kondisi lingkungan dalam
mewujudkan tujuan politik).
 Geostrategi Indonesia diartikan pula sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita
proklamasi sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan dan UUD 1945.
 Ini diperlukan untuk mewujudkan dan mempertahankan integrasi bangsa dalam
masyarakat majemuk dan heterogen berdasarkan Pembangunan dan UUD 1945.
 Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam wujud Ketahanan Nasional.
 Geostrategi Indonesia tiada lain adalah ketahan nasional
 Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamik suatu bangsa yang berisi keuletan dan
ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional, di
dalam menghadapi dan mengatasi segala ATHG baik yang datang dari luar maupun dari
dalam, yang langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, identitas,
kelangsungan hidup bangsa dan Negara serta perjuangan mengejar tujuan nasional.
 Ketahanan nasional diperlukan bukan hanya konsepsi politik saja melainkan sebagai
kebutuhan dalam menunjang keberhasilan tugas pokok pemerintah, seperti Law and
order, Welfare and prosperity, Defence and security, Juridical justice and social justice,
freedom of the people.
Konsep dasar Ketahan Nasional

Model Astagatra merupakan perangkat hubungan bidang kehidupan manusia dan budaya yang
berlangsung diatas bumi degan memanfaatkan segala kekayaan alam. Terdiri 8 aspek kehidupan
nasional :

1). Tiga aspek (tri gatra) kehidupan alamiah, yaitu :
 Gatra letak dan kedudukan geografi
 Gatra keadaan dan kekayaan alam
 Gatra keadaan dan kemampuan penduduk
2). Lima aspek (panca gatra) kehidupan social, yaitu :
 Gatra ideologi
 Gatra Politik
 Gatra ekonomi
 Gatra sosial budaya
 Gatra pertahanan dan keamanan.
Terdapat hubungan korelatif dan interdependency diantara ke-8 gatra secara komprehensif dan
integral.

Hubungan Geopolitik Dan Geostrategi

Sebagai satu kesatuan negara kepulauan, secara konseptual, geopolitik Indonesia dituangkan
dalam salah satu doktrin nasional yang disebut Wawasan Nusantara dan politik luar negeri bebas
aktif. sedangkan geostrategi Indonesia diwujudkan melalui konsep Ketahanan Nasional yang
bertumbuh pada perwujudan kesatuan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan
keamanan. Dengan mengacu pada kondisi geografi bercirikan maritim, maka diperlukan strategi
besar (grand strategy) maritim sejalan dengan doktrin pertahanan defensif aktif dan fakta bahwa
bagian terluar wilayah yang harus dipertahankan adalah laut. Implementasi dari strategi maritim
adalah mewujudkan kekuatan maritim (maritime power) yang dapat menjamin kedaulatan dan
integritas wilayah dari berbagai ancaman. Selain itu hubungan geopolitik dan geostrategi
terdapat dalam astra gatra.

Komponen strategi astra gatra :
A. TRI GATRA (tangible) bersifat kehidupan alamiah
 Letak geografi Negara
 Keadaan dan kekayaan alam (flora, fauna, dan mineral baik yang di atmosfer, muka
maupun perut bumi) dikelola denga dasar 3 asas : asas maksimal, lestari, dan daya saing.
 Keadaan dan kemampuan penduduk (jumlah, komposisi, dan distribusi)
 Pancagatra
B. (itanggible) kehidupan sosial
 IDEOLOGI → Value system
 POLITIK → Penetapan alokasi nilai di sektor pemerintahan dan kehidupan pololitik
masyarakat. sistem politik harus mampu memenuhi lima fungsi utama :
1. Usaha mempertahankan pola, struktur, proses politik
2. Pengaturan & penyelesaian pertentangan / konflik
3. Penyesuaian dengan perubahan dalam masyarakat
4. Pencapaian tujuan
5. Usaha integrasi
 EKONOMI (Sumber Daya Alam, Tenaga kerja, Modal, Teknologi)
 SOSBUD (Tradisi, Pendidikan, Kepemimpinan nasional, Kepribadian nasional)
 HANKAM meliputi faktor2:
1. Doktrin
2. Wawasan Nasional
3. Sistem pertahanan keamanan
4. Geografi
5. Manusia
6. Integrasi angkatan bersenjata dan rakyat
7. Material
8. Ilmu pengetahuan dan teknologi
9. Kepemimpinan
10. Pengaruh luar negeri



You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->