P. 1
Kohesi pada Editorial

Kohesi pada Editorial

|Views: 6,509|Likes:
Published by qurix_2426
Thesis
Thesis

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: qurix_2426 on Jul 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2015

pdf

text

original

Kohesi merupakan konsep semantik yang juga merujuk kepada perkaitan

kebahasaan yang didapati pada suatu ujaran yang membentuk wacana. Kohesi

terjadi apabila penafsiran suatu unsur tergantung pada penafsiran unsur yang

lainnya (Halliday dan Hasan, 1979: 4). Dengan kata lain, suatu unsur

mempraanggapkan (presupposing) atau dipraanggapkan (presupposed) unsur

yang lain, dalam pengertian bahwa unsur itu tidak dapat disusun secara baik

kecuali dengan adanya unsur yang lain. Dengan kata lain, sebuah wacana

dikatakan kohesif jika terdapat hubungan dari kalimat ke kalimat dan dari paragraf

ke paragraf.

Dalam bahasa, kekohesifan atau kepaduan wacana timbul karena adanya

keserasian hubungan unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana

26

sehingga terciptalah pengertian yang koheren. Telah diungkap pada paragraf di

atas bahwa antara kata, frasa, klausa ataupun kalimat yang satu dengan kata, frasa,

klausa ataupun kalimat yang lainnya dalam suatu wacana pada umumnya terdapat

hubungan bentuk yang saling mengikat sehingga terbentuk suatu keutuhan atau

kepaduan. Kepaduan ini oleh Halliday dan Hasan disebut kohesi (cohesion).

Unsur-unsur pendukung wacana seperti kata, frasa, klausa, atau kalimat

agar menjadi sebuah wacana yang utuh dituntut adanya tataran dan jalinan yang

erat antara satu unsur dengan unsur yang lainnya. Dengan demikian, tercipta

keselarasan dan kepaduan hubungan antarunsur dalam wacana. Sehingga,

diperlukan alat-alat penghubung seperti kata tunjuk, kata penghubung, dan

sebagainya sebagai penanda hubung dan penanda kohesi.

Penanda kohesi sebagai bagian dari wacana tidak hanya berkedudukan

sebagai alat hubung unit struktur yang mempunyai fungsi semantik. Wacana yang

kohesif akan membawa pengaruh pada kejelasan hubungan antara satuan bentuk

kebahasaan yang satu dengan yang lain sehingga ide dalam wacana lebih terarah

dan utuh. Fungsi penanda kohesi secara formal hadir sebagai alat penjalin

keselarasan dan kepaduan hubungan yang berimplikasi pada kelancaran

pemahaman wacana. Sebagai contoh adalah kalimat di bawah.

)

a

(

/

(b)

(c)

.

(Hintereder, 2008a: 3)

27

/(a) Fī żālika al-yaumi al-‘āsyiri min Kānūni al-`awwali/Desember, huwa żikrā
wafāti Alfred Nobel, (b) kānat as-sa‘ādatu gāmiratan –ḥattā khārija al-`ausāṭi al-
‘ilmiyyati
‘indamā tamma al-`i‘lānu ‘an fauzi ‘ālimaini Almāniyaini bi al-jā`izati
al-lat
ī tumas\s\ilu qimmata at-takrīmi al-‘ilmiyyi, (c) wa humā al-fīziyā`ī Peter
Grunberg, wa al-k
īmiyā`ī Gerhard Ertl/

‘Pada 10 Desember 2007 itu, yaitu peringatan wafatnya Alfred Nobel,
kegembiraan berlimpah––sampai di luar masyarakat ilmiah––ketika selesai
pengumuman tentang kemenangan dua ilmuwan Jerman atas penghargaan yang
menggambarkan puncak penghargaan ilmiah, mereka berdua adalah ahli ilmu
fisika Petrus Grunberg dan ahli kimia Gerhard Ertl.’

Berdasar pada kalimat di atas, referen /humā/ pada klausa (c) tidak dapat

dilepaskan dari referen frasa nominal /ālimaini Almāniyaini/ yang telah

disebutkan pada klausa (b). D amīr (pronomina persona; dalam bahasa Arab)

/humā/ ‘mereka berdua’ pada klausa (c) mengacu ke referen sebelumnya (secara

anaforis) pada frasa nominal /ālimaini Almāniyaini/ ‘dua ilmuwan Jerman’ pada

klausa (b). Dengan menghubungkannya dengan klausa (b), jelaslah bahwa yang

dimaksud /humā/ tidak lain adalah seperti yang diacu oleh /ālimaini Almāniyaini/

dan bukannya yang lainnya. Kedua konstituen yang sama acuannya lazim

dikatakan sebagai dua konstituen yang berkoreferensi (Halliday dan Hasan, 1979:

3). Adanya hubungan antarkonstituen seperti itulah yang membuat kalimat

tersebut menjadi kohesif.

Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa dengan adanya pronomina

persona /humā/ pada klausa (d) membuat kalimat di atas menjadi ringkas dan

padat. Hubungan-hubungan yang saling mengikat semacam itulah yang

menjadikan kalimat tersebut di atas menjadi kohesif.

BAB III

PENANDA-PENANDA KOHESI DALAM WACANA TAJUK RENCANA

MAJALAH “DEUTSCHLAND”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->