P. 1
Nasyikh Dan Mansyuk Dalam Alquran

Nasyikh Dan Mansyuk Dalam Alquran

|Views: 1,621|Likes:
Published by ucokkholili

More info:

Published by: ucokkholili on Jul 14, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

text

original

NASIKH dan MANSUKH

DALAM ALQURAN
Makalah diajukan dalam matakulliah ALQURAN
Oleh :
Mhd Dongan
NIM : 08 EKNI 1350
Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Nawir Yuslem MA
SEMESTER II
PRODI EKONOMI ISLAM
PASCA SARJANA IAIN SUMATERA UTARA ( IAIN SU)
MEDAN 2009
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
KATA PENGANTAR
ميحرلا نحرلا لا مسب
Dengan segala puji dan puja serta syukur yang sesungguhnya kepada Allah SWT
yang telah menurunkan Alquran sebagai pedoman bagi ummat manusia dalam memajukan
dan memodernisasi kehidupan untuk mencapai kepuasan hidup dan kebahagiaan batin baik
di dunia maupun dalam kehidupan setelah kehidupan dunia ini.
Alquran sebagai pedoman tidak akan pernah selesai untuk dikaji, karena semakin
diperdalam akan memunculkan ilmu-ilmu baru yang sangat berguna bagi kehidupan
manusia, bukan saja kehidupan ukhrawi, tetapi lebih jauh juga membuka ilmu-ilmu dalam
kajian kepentingan kehidupan duniawi.
Salawat dan salam penulis sampaikan kepada nabi Muhammad SAW yang
merupakan perantara sampainya Alquran kepada kita dan melalui beliaulah kita dapat
menikmati keindahan dan jejalan ilmu dari Alquran.
Makalah ini berjudul Nasikh dan Mansukh dalam Alquran diajukan sebagai bahan
diskusi dalam mata kuliah Alquran pada semester II Prodi ekonomi pascasarjana IAIN
Sumatera Utara tahun 2009.
Penulis dalam kesempatan ini mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada bapak dosen pembimbing yang telah memberi pengarahan dalam pembuatan
makalah ini serta semua pihak yang terlibat dalam penulisan karya tulis ini.
Penulis berharap para peserta diskusi memberikan saran dan kritikan terhadap
makalah ini demi kesempurnaannya, semoga makalah ini dapat menggugah minat kita
dalam mengkaji ilmu-ilmu qurany dan dapat bermanfaat bagi pembaca. Serta menjadi
ibadah bagi penulis.
Amin
Medan, April 2009
Penulis
2
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
NASIKH dan MANSUKH
DALAM ALQURAN
DAFTAR ISI
Kata Pengantar -------------------------------------------------------------------------------- i
Daftar Isi----------------------------------------------------------------------------------------ii
I. PENDAHULUAN -------------------------------------------------------------- 1
II. NASIKH dan MANSUKH dalam ALQURAN
a. Pengertian nasikh dan mansukh -------------------------------------------3
b. Ragam nasakh dan contohnya----------------------------------------------- 8
c. Pandangan Ulama tentang Nasakh dalam Alquran---------------------- 13
d. Perbedaan nasakh dan Takhsis ---------------------------------------------17
e. Hikmah nasakh dalam Alquran-------------------------------------------- 18
III. KESIMPULAN----------------------------------------------------------------- 20
Daftar Bacaan -------------------------------------------------------------------------------- 21
3
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
NASIKH dan MANSUKH
DALAM ALQURAN
I. PENDAHULUAN
Alquran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tidaklah sekaligus
dalam satu rentetan ( tartib ) yang sudah siap dan teratur, tetapi Alquran turun dalam
kurun waktu lebih kurang 23 tahun yang oleh para ahli dibagi kepada dua periode yang
disebut dengan periode Makkiyah dan Madaniyah.
Selain masalah waktu, Alquran juga tidak diturunkan secara sitematis ayat demi
ayat mulai dari Alfatihah sampai surah Al-Nas, tetapi turun secara acak sesuai dengan
kebutuhan masyarakat Islam saat itu.
Alquran juga turun dengan membawa hukum sesuai dengan kondisi dan situasi
masyarakat Arab saat itu dengan budaya yang sangat keras disebabkan kondisi
lingkungan masyarakatnya yang cukup keras, sehingga perlu upaya pendekatan
terhadap hati penerimanya, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT dalam
Alquran surah al-Isra’ ayat 106 yang berbunyi sebagai berikut:
, اليز`نت `هانل `زنو ثك`م ىلع سا`نلا ىلع `هأ رقتل `هانق رف اناء`رقو 106 .
Dengan latar belakang yang disebutkan di atas, maka aturan dan hukum yang
hendak diterapkan Allah SWT tidak sekaligus diturunkan, tetapi perlu pendekatan
secara berangsur-angsur agar hati penerimanya tidak semakin keras dan liar.
Sebagai contoh tradisi Arab saat itu yang sudah mendarah daging dalam
kebudayaan mereka adalah meminum minuman yang disebut khamar yang oleh
Alquran ( Allah SWT ) menganggapnya sebagai suatu kebiasaan yang tidak baik dan
justru akan menimbulkan kemudaratan yang besar terhadap kelangsungan hidup dan
kehidupan manusia sebagai khalifah di bumi, Alquran tidak melarangnya secara total
dalam satu ketika, tetapi dimulai dengan menyebut bahwa kerusakan yang ditimbulkan
oleh minuman khamar lebih besar dari pada kenikmatan yang diperoleh ketika
meminumnya, berselang beberapa waktu baru kemudian diturunkan ayat yang melarang
4
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
melaksanakan salat dalam keadaan mabuk sehingga setidaknya menjelang zuhur sampai
selesai solat ‘isya, sudah tidak diminum lagi, beberapa waktu kemudian barulah
diturunkan ayat yang melarang secara total meminum minuman khamar dengan
menyebut minum khamar adalah perbuatan setan.
Hukum yang dibawa Alquran juga selalu memperhatikan kondisi masyarakatnya,
sehingga ketentuan yang sudah cocok pada permulaan Islam, sudah tidak cocok lagi
pada periode berikutnya, sehingga perlu revisi atas aturan tersebut dengan membuat
aturan baru. Inilah yang disebut dalam ilmu Alquran dengan sebutan nasikh mansukh,
yang oleh ulama dianggap sebagai suatu ilmu yang harus dimiliki jika ingin
memahami Alquran dengan benar, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Imam Ali Ibn
Abi Tolib kepada Abdurrahman Ibn Daabi sebagai berikut :
تكلهأو تكله لاق ،ل :لاق ؟ خوسنلاو خسانلا فرعتأ :)ضر( ىلع هل لاقف
1
Artinya : Ali Ra berkata kepadanya ”apakah engkau tahu nasyikh mansukh ?”,
jawabnya “tidak” Ali menjelaskan “engkau celaka dan telah mencelakakan
orang lain”.
Di sisi lain kita tahu bahwa perubahan hukum sebagaimana yang terjadi dalam
kehidupan kita sehari – hari adalah akibat ketidak mampuan manusia memprediksi apa
yang akan terjadi di masa yang akan dating sehingga aturan yang dibuat ketika sudah
diundangkan menjadi mati sedangkan perubahan sosial tetap terjadi sehingga ketika
satu peraturan telah cukup lama, harus diadakan perubahan seperti yang dialami oleh
UUD1945.
Apabila hal ini dikaitkan bahwa Allah SWT maha hakim, maha tahu dan maha
bijaksana, apakah perubahan hukum Alquran apalagi sampai pada penghapusan hukum
juga penghilangan teks ayat yang diturunkan tidak menunjukkan kelemahan Allah
dalam memprediksi manusia .
1
Satu waktu Ali ibn Abu Talib masuk ke mesjid jamik Kaufah, ia menemukan seorang laki-laki yang
disebut bernama Abd al-Raman ibn Daabi ( teman dekat Abu Musa al-asy’ary) sedang melaksanakan halaqah
dan memberikan penjelasaan atas pertanyaan peserta, Ali RA mendengar penjelasannya sudah
mencampurbaurkan antara yang dilarang dengan yang diperintahkan dan antara halal dengan haram, Ali RA
lalu bertanya kepada Abd ar-Rahman ibn Daabi “apakah kamu tahu nasikh dan mansyukh”, ia menjawab :
“saya tidak tahu”. Kata Ali RA : “anda telah sesat dan rusak serta merusak orang lain”. Lebih lanjut lihat
Qatadah Ibn Daamah al-Sadusiy, al-Nasikh wa al-Mansukh, ( Bairut : Muassasah al-Risalah, 1988), h.8-9
5
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Hal inilah yang menjadi bahan perdebatan panjang tentang apakah dalam Alquran
ada nasakh mansukh, lalu sejauh mana nasakh dan mansukh itu terjadi dan apakah sama
nasakh dengan takhsis, bagaimana pendapat para ahli dalam masalah ini. Inilah
permasalahan yang akan dicoba disampaikan dalam makalah singkat ini sebagai bahan
diskusi dengan judul “Nasikh dan Mansukh dalam Alquran".
II. NASIKH DAN MANSUKH DALAN ALQURAN
A. Pengertian Nasikh dan Mansukh
1. Secara etimilogi
Secara etimologi Nasikh adalah isim fa’il yang berasal dari kata خسن
خوسنموخسانواخسنوخسنيوyang diartikan menghapus, mengganti, menghilangkan,
memindahkan, mengubah dan menyalin.
2

Al-Karamy dalam Kitabnya Al-Nasikh wa Al-Mansukh mengartikan
Nasikh dengan 3 makna yaitu:
Pertama makna ةلازلا yang berarti menghilangkan atau menghapuskan.
Defenisi ini merujuk pada dialek orang Arab yang sering berkata شمسلاتخسن
لظلا (cahaya matahari meghilangkan bayang-bayang) artinya tempat bayang-
bayang gelapa diganti dengan cahaya matahari.
Kedua dengan makna ليدبتلا (merubah) yaitu merubah bentuk sesuatu tanpa
menghilangkan, diambil dari kata Arab راثلاحير لاتخسن (angin telah
menghilangkan jejak), hilang jejak di atas pasir hilang karena dihembus
angin, pasirnya tidak hilang. Makna ini sangat tepat untuk nash yang masih
ada teksnya tetapi tak berlaku hukumnya.
Ketiga bermakna tulisan yaitu kumpulan susunan huruf-huruf yang
bermakna
3
.
2
Muhammad ibn Muhammad ibn Abd Al-Razzaq al-Husainy al-Zabidiy, Taj al-Arus,(Mesir:
Maktabah al-Samilah, versi 6.0.1.4, 2001-2004), Juz I, h.1856; lihat juga Muhammad Ibn Mukram ibn
Manzur al-Afriqy al-Misry, Lisan al-Arab, ( Bairut : Dar Sadir, tt.), Juz III, h. 61.
3
Mar’in ibn Abu Bakar al-Karamy, al-Nasihk wa al-Mansukh, ( Kuwait : Dar al-Alquran al-Karim, tt.)
h.23
6
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Sedangkan Mansukh adalah isim maf’ul (objek penderita) dari kata yang
sama. Dengan demikian jika kata Nasikh adalah (kata benda pelaku), maka
Mansukh adalah kata benda objek penderita, dengan demikian kalau Nasikh
diartikan dengan imbuhan me-kan maka Mansukh diartikan dengan imbuhan
di-kan, yaitu bermakna yang dihilangkan, dihapuskan, digantikan, diubah,
dipindahkan dan disalin.
Apabila Nasikh adalah yang me-kan dan Mansukh yang di-kan, maka
Nasakh adalah proses terjadinya yang dapat diartikan dengan “penghilangan,
penghapusan, pergantian, perubahan, pemindahan dan penyalinan”.
2. Secara Terminologi
Secara istilah (terminologi) Nasakh didefenisikan dalam Muqodimah
Alquran dan tafsirnya dengan rumusan sebagai berikut:
“Nasakh dalam arti istilah yaitu: mengangkat atau menghapus hukum syara’
dengan dalil syara’, Nasikh ialah dalil syara’ yang menghapuskan suatu
hukum, dan Mansukh ialah hukum syara’ yang telah dihapus”.
4
Al-Sadusy menjelaskan makna Nasakh sebagai berikut:
.رخأتم ىعرش ليلدب ىعرشلا مكلا عفر وهف حلطصلا ف خسنلا امأ
خسنلا( عفرلا ىمسيو )خسانلا( ىمسي عفارلا ليلدلاو ،)خوسنلا( ىمسب عوفرلا مكلاف).
5
Artinya: Nasakh menurut istilah adalah menghilangkan hukum syara’ dengan
dalil syara’ yang datang terbelakang. Maka hukum yang dihilangkan
disebut Mansukh, dalil yang mengangkat hukum disebut Nasikh dan
proses pengangkatan hukum disebut Nasakh.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas terlihat bahwa untuk terjadinya
Nasakh harus ada empat syarat, yaitu:
a. Hukum syara’ yang sudah berlaku dengan dalil syara’;
b. Dalil syara’ yang baru;
4
Depatemen Agama RI, Muqaddimah Alquran dan Tafsirnya, ( Jakarta : Dep. Agama RI, 2008),
h.261.
5
Al-Sadusiy, al-Nasikh…, h.6
7
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
c. Objek hukum yang sama;
d. Hukum yang baru;
6
Ad. a. Hukum syara’ yang sudah berlaku dengan dalil syara’.
Yang dimaksud dengan hukum syara’ yang sudah berlaku adalah
bahwa hukum yang dinasakhkan tersebut haruslah hukum syara’ bukan
hukum akal atau buatan manusia (hukum maudu’i). adapun yang
dimaksud hukum syara’ adalah hukum yang tertuang dalam Alquran dan
hadist yang berkaitan dengan tindakan mukalaf baik berupa perintah
(wajib, mubah) larangan (haram, makruh) ataupun anjuran ( sunah).
Ad. b. Dalil syara’ yang baru.
Yang dimaksud dengan dalil syara’ yang baru adalah dalil yang
menghapus hukum syara’, harus berupa dalil syara’. Sehingga dalil yang
hukan dalil syar’i bukanlah dalil yang dapat menasakhkan hukum,
seperti ra’y (qiyas, istihsan, istishab, sad al-zari’ah dan qaul sahaby).
Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam QS. AN-
Nisa’:59
7
.
Yang dimaksud dengan dalil yang baru adalah dalil yang kedua
harus datang kemudian setelah hukum yang pertama berlaku, jadi jika
kedua dalil tersebut datang bersamaan sehingga hukum berdasarkan dalil
pertama belum ada peluang untuk berlaku, kemudian datang dalil kedua
dengan hukum yang baru, tidaklah termasuk Nasakh hukum;
Ad. c. Objek hukum yang sama.
Yang dimaksud dengan objek hukum yang sama, adalah bahwa
afrad yang dicakup oleh hukum berdasarkan dalil syar’i yang pertama
6
Abd al-Rahman Ibn Ali ibn Muhammad ibn Jauziy, Nawasikh al-Qur’an, ( Bairut : Dar kutub Al-
Ilmi, 1405).h.24
7
Firman Allah SWT dalam surah al-Nisa’ ayat 59 yang berbunyi :
مjوkيjلاkو mهoللاmب kنوsنmمjؤsت jمsتjنsكjن mإmلوsسoرلاkوmه oلل اىkلmإsهو|دsر kف•ءjيkشيmفjمsتjعkزاkنkت jنmإkف jمsكjنmمmرjمkأ jلايmلوsأkوkلوsسoرل ااوsعيmطkأkوkه oللااوsعيmطkأاوsنkماkءkنيmذ oلااkه|يkأاkي
ا•ليmوjأkت sنkسjحkأkو •رjيkخkك mلkذmرmخآ jلا
(Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an)
dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.)
8
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
sama dengan afrad yang dicakup dalil syar’i yang terakhir datang,
sehingga jika ada perbedaan, seperti yang pertama cakupan hukumnya
lebih luas dari cakupan ayat yang kedua, maka ayat yang kedua disebut
mukhassis, sehingga prosesnya disebut takhsis.
Atau apabila objeknya bebeda sama sekali, maka yang kedua
disebut hukum baru bukan Nasakh, umpamanya ayat pertamanya tentang
anjuran bersedekah bagi yang mempunyai kelebihan rizki dan ayat
kedua menjelaskan tentang kewajiban seseorang memberikan belanja
kepada keluarga dan anak-anaknya. Keduanya walau sama-sama
mengeluarkan harta, tetapi yang pertama diberikan kepada orang yang
bukan tangggungjawab, sedangkan yang kedua penerima adalah orang
yang menjadi tanggungjawabnya.
Ad. d. hukum yang baru.
Yang dimaksud dengan hukum yang baru adalah bahwa hukum
yang sudah berlaku tidak sama dengan hukum berdasarkan dalil syara’
yang kedua, umpamanya hukum yang telah berlaku adalah wajib,
sedangkan berdasarkan dalil syara’ yang kedua hukumnya adalah sunat.
Dan kedua dalil tersebut tidak bisa dikompromikan.
Nasakh berbeda dengan ءادبلا sebab al-bada’ berarti perubahan atas suatu
keputusan setelah mengetahui suatu keadaan yang tidak diketahui sebelumnya,
artinya al-bada’ didahului ketidaktahuan akan akibat yang terjadi kemudian
sehingga setelah kejadian itu terjadi baru diketahui efeknya. Nasakh berasal
dari Allah SWT yang maha tahu, tidak mungkin perubahan hukum tersebut
karma Allah tidak tahu apa yang akan terjadi setelah hukum itu dibuat. Tetapi
perubahan hukum tersebut sudah dirancang sejak awal.
8
Dari pengertian Al-Nasakh wa Al-Mansukh di atas, muncul pertanyaan
“bagaimana cara untuk mengetahui nasikh dan Mansukh?”.
8
Al-Sadusiy, al-Nasikh…, h.7
9
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Untuk menjawab hal ini Al-Qattan memberikan rumusan bahwa Al-
Nasakh wa Al –Mansukh dapat diketahui dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Terdapat keterangan yang tegas dari Nabi atau Sahabat.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Rabi’ Ibn
Sabrah Al-Juhany Rasulullah SAW bersabda:
2098 عاkتjمmت jساmلايmفjمsكkل sتjنmذkأ sتjنsك jدkقي˜نmإsساoنلااkه|يkأا kيkلاkقkف...sهkثoد kحsهاkبkأ oنkأkة kرjب kسmنjبmعيmبoرلاmنkع
اوsذsخjأkتا kلkواkهkليmب kس˜لkخsيjلkف•ء jيkش oنsهjنmم sهkدjنmع kناkكjنkمkف mةkماkي mقjلا mمjوkيىkلmإ sهkمoرkحjدkق kهoللاoنmإkوا kلkأmءا kس˜نل اkنmم
ا•ئjي kشoنsهوsمsتjيkتآاoمmم
9
*
Artinya: Dari Rabi ibn Sabrah bahwa ayahnya menyampaikan kepadanya
… (Rasulullah SAW) berkata “Wahai sekalian manusia, saya
dahulu mengijinkan kamu istimta’ dengan wanita nikah mut’ah)
dan sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat,
siapa di antara kamu yang masih memiliki wanita mut’ah,
lepaskanlah dan jangan minta lagi sedikitpun dari apa yang kamu
berikan kepada mereka (HR Muslim).
Hadis ini menjelaskan pembatalan (Nasakh) nikah mut’ah yang
sebelumnya diperbolehkan tetapi setelah hadis ini disampaikan oleh Nabi
SAW, hukum berubah menjadi haram.
b. Terdapat kesepakatan ummat antara ayat Nasikh dan ayat yang di
Mansukh.
Jika tidak ada nash yang menjelaskan secara langsung tentang
pembatalan atau perubahan hukum, tetapi dapat dipahami langsung dari
dalil-dalil tersebut, maka harus ada ijma’ ulama yang menetapkan hal
tersebut.
c. Dua ayat yang bertentangan namun keduanya tersebut diketahui
mana yang pertama dan mana yang kedua.
9
Imam Muslim ibn Hajjaz al-Kusairy al-Naisabury, Sahih Muslim, ( Bairut : Dar al-Ihya Turas al-
araby, tt.), Juz IV, h.132.
10
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Hal ini sebagaimana ayat 12 dengan ayat 13 surah Al-Mujadalah
tentang keharusan bersedekah ketika menghadap Rasul. Tentang
kewajiban memberi sedekah ketika hendak berhadapan dengan Rasulullah
SAW.
B. Ragam Nasakh dan contohnya.
Nasakh dapat terjadi pada Alquran
10
dan dapat juga terjadi pada Sunnah
Rasulullah SAW, karena jumhur ulama sepakat kedua hal tersebut merupakan
Nash syari’at. Akan tetapi nasakh tidak terjadi pada hukum wada’i (syarat, sebab
dan mani’) sama halnya juga tidak terjadi pada hukum akal dan hukum adat.
1. Berdasarkan sumber nash syari’atnya, nasakh dibagi kepada:
a. Nasakh Alquran dengan Alquran
Jumhur ulama menyatakan jenis nasakh ini dapat diterima. Contoh:
Penghapusan kewajiban bersedekah ketika akan menghadap Rasul
sebagaimana yang terdapat dalam surah Al- Mujadalah:12 yang di Nasakh
ayat 13 yang disebutkan di atas.
b. Nasakh Alquran dan Hadis Ahad.
Nasakh jenis ini terbagi menjadi 2 macam yaitu:
1) Nasakh Alquran dengan Hadis Ahad
Menurut Jumhur ulama’ Nasakh ini tidak diperbolehkan, se4bab
Alquran adalah Mutawatir dan bersifat Qat’i sedangkan Hadis Ahad
adalah bersifat zanni. Sangat tidak logis ketika sesuatu yang mutlak
kebenarannya harus dibatalkan dengan sesuatu yang masih bersifat
dugaan (zan) kebenarannya.
2) Nasakh Alquran dengan hadis Muatawatir.
Jumhur ulama’ (Imam Malik, Abu Hanifah dan Ahmad)
berpendapat jenis ini diperbolehkan, sebab keduanya adalah berangkat
dari wahyu. Hal ini didukung dengan firman Allah SWT yang terdapat
10
Walaupun terjadi perbedaan pendapat ulama tentang ada atau tidaknya nasikh dalam Alquran, namun
jumhur ulama mengakui adanya nasikh dalam Alquran sebagaimana akan dijelaskan dalam sub bab
berikutnya.
11
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
dalam QS.Al-Najm:3-4, namun Imam Al-Syafi’i dan Mazhab Zahiry
menolak jenis Nasakh ini, sebab hadis tidaklah lebih baik atau
sebanding dengan Alquran. Hal ini didukung oleh firman Allah yang
terdapat dalam QS. Al-Baqarah:106.
c. Sunnah dengan Alquran.
Jumhur ulama’ menerima adanya sunnah dinasakh dengan Alquran.
Hal ini sebagaimana hadis Riwayat Bukhari-Muslim tentang kewajiban
puasa pada bulan as-Syura. Yang berbunyi sebagai berikut:
1897 لوsسkرkناkكkوmةoيmلmها kجjلايmفkءاkروsشا kعsموsصkت •شjيkرsق jتkناkك jتkلاkقاkهjنkعم هoللايmضkرkةkشmئاkع jنkع
رjهkشkضmرsفا oمkلkفmهmماkي mصmبkرkمkأkوsهkما kصmةkنيmدkمjلاى kلmإ kرkجاkها oمkلkفsهsمو sصkيkمoل kسkوmهjيkلkعم هoللاىoل kصmهoللا
*ملسمهاور...sهkكkرkتkءا kشjنkمkوsهkما kصkءا kشjنkمkلاkقkنا kضkمkر
11
Artinya: dari Aisyah RA beliau berkata: “Suku Quraisy biasa
mempuasakan hari asyura pada masa jahiliyah dan Rasulullah
SAW juga ikut mempuasakannya, setelah hijrah ke madinah Ia
mempuasakannya dan menyuruh untuk berpuasa pada hari as-
Syura, setelah diwajibkan puasa bulan Ramadan, Rasulullah
SAW berkata Siapa yang mau puasa (hari ‘asyura) silakan, dan
siapa yang tidak mau puasa (hari Asyura) tidak mengapa. HR
Muslim
Berdasarkan sunnah ini diketahui bahwa dahulu puasa asyura adalah
wajib, tentu kewajiban puasa tersebut bukan berdasarkan Alquran karena
tidak ditemukan kewajiban mempuasakan hari Asyura, kalau kewajiban itu
bukan dengan Alquran tentu dengan sunnah Rasulullah SAW karena tidak
ada yang dapat mewajibkan sesuatu kecuali syar’i (Allah SWT dan
Rasulullah SAW), kemudian setelah surah Al-Baqarah ayat 185
diturunkan, puasa asyura tidak wajib lagi. Pembatalan ini tentu pembatalan
sunnah dengan Alquran.
Walaupun demikian menurut as-Syafi’i jenis ini tidak dapat diterima,
sebab antara Alquran dengan sunnah harus berjalan beriringan dan tidak
boleh bertentangan. Dengan kata lain bagi as-Syafi’i adalah tidak mungkin
11
Imam Muslim, Sahih.., juz II, h.792.
12
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
manakala ada hadis yang bertentangan dengan Alquran selain itu,
pandangan ini juga mengisyaratkan bahwa adanya nasakh menunjukkan
adanya ketidaktepatan dalam hadis, padahal sebagaimana yang kita
ketahui keberadaan hadis pada dasarnya sebagai penjelasan atas Alquran.
d. Nasakh sunnah dengan sunnah.
Jenis nasakh ini ada 4 macam kemungkinan, yaitu:
1. Sunnah Mutawatir di-nasakh-kan dengan Sunnah Mutawatir.
2. Ahad dengan Ahad.
3. Ahad dengan Mutawatir.
4. Mutawatir dengan Ahad
Bagi Jumhur ulama’ dari keempat Naskh tersebut tidak menjadi
masalah menjadi bagian dari Nasakh dengan kata lain dapat diterima
kecuali jenis yang keempat yaitu mutawatir dengan ahad. Argumentasinya
tentu tidak terlepas dari tingkat nilai kebenaran yang terkandung
didalamnya.
12

2. Dari segi ganti hukumnya, nasakh dibagi kepada:
a. Nasakh hukum yang tidak ada gantinya.
Dalam jenis ini seperti pembatalan hukum memberikan sedekah
kepada orang miskin bagi orang yang akan berbicara secara khusus dengan
Rasulullah SAW. Hukum ini dibatalkan tetapi tidak ada bentuk lain
sebagai penggantinya.
b. Nasakh dengan pergantian hukum.
Nasakh dalam bentuk ini, hukum yang sudah ada diganti dengan
hukum yang baru lebih ringan dari yang dibatalkan, terkadang justru yang
baru lebih berat, seperti nikah mut’ah, yang sebelumnya dibolehkan tapi
kemudian dilarang.
13
c. Nasakh dengan menghilangkan hukum tanpa pengganti.
12
Disarikan dari Hibat Allah Ibn Abd al-Rahim Ibn Ibrahim, Nasikh al-Alquran wa Mansukhuh,
( Bairut : Muassasah al-Risalah, 1405), h.20-22
13
Abdul Aziz Dahlan at.all, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : PT Ichtiar Van Hoeve, 1996), Jilid 4, h. 1312.
13
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Nasakh dalam bentuk ini hanya menghapuskan hukum tanpa ada
penggantinya.
3. Berdasarkan bentuknya nasakh dalam Alquran dibagi dalam 3 jenis, yaitu:
a. Nasakh hukum sedangkan tilawahnya tetap
b. Nasakh hukum dan tilawahnya
c. Nasakh tilawah-nya sedangkan hukumnya tetap
Ad. a. Nasakh hukum sedangkan tilawah (bacaannya) masih tetap.
14
Nasakh dalam bentuk ini hanya merubah hukum, sedangkan
teksnya masih dapat dibaca sampai sekarang, seperti ayat idah selama
satu tahun yang di Nasakh menjadi 4 bulan 10 hari. Sebagaimana yang
terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 240 sebagai berikut:
ىلإ ا عاتم `مهجاو`زأل ة`ي صو اجاو`زأ نو`رذيو `مك`ن م ن`وفوت`ي نيذلاو
نهسف`نأ ي ف نلعف ا م يف `مك`يلع حان`ج ا لف ن`جرخ نإف جار `خإ ر`يغ ل`وحلا
,ميكح `زيزع `ه للاو فو`ر`عم `نم 240 .
Artinya: “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu
dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-
isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan
tidak disuruh pindah (dari rumahnya) akan tetapi jika mereka
pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau
waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat
yang ma’ruf terhadap diri mereka dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.”
Ayat tersebut di Nasakhkan dengan QS. Al-Baqarah ayat 234
ار`شع و ر`ه`ش أ ةعب`ر أ `نهسف`نأ ب ن`ص`برتي اجاو`ز أ نو`رذي و `مك`ن م ن`وفوت` ي نيذلاو
Artinya: “Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan
meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu)
menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.
Ad. b. Nasakh hukum dan tilawah.
14
Dep. Agama RI, Muqaddimah, h.264.
14
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Nasakh dalam bentuk ini telah dihilangkan teks ayatnya dan juga
hukumnya tidak diberlakukan lagi, sehingga tidak dapat kita jumpai
lagi dalam Alquran. Jenis Nasakh ini masih debatable, sebab apakah
mungkin hal yang demikian itu terjadi. Tentunya keraguan yang
demikian itu adalah wajar, sebab bisa jadi keberadaan jenis Nasakh ini
tereduksi dengan kepentingan tertentu.
Namun demikian, apa dasarnya bentuk Nasakh ini merujuk pada
hadis riwayat Muslim yang menyatakan bahwa:
تلاقاهنأةشئاعنع نمري تامولعم تاعضر رشع نآرقلا نم لزنأ اميف ناك
نهو مل س و ه يلع لا ىل ص لا لوسر فوتف تامولعم سمب نخسن ث
نآرقلا نم أرقي اميف ملسمهاور.
15
Juga hadis yang diriwayatkan oleh Anas Ibn Malik:
ام ةبوتلا ةروس لدعت ةروس أرقن انك لاق هنع لا يضر كلام نب سنأ نع
امهيلإ ىغتبل بهذ نم نايداو مدآ نبل ناك ول ةيلا هذه لإ اهنم ظفحا
بارتلا لإ مدآ نب ا فوج لي لو اعبار هيلإ ىغتبل ا ثلاث ا مل نأ ولو اثلاث
بات نم ىلع لا بوتيو .
16
(Dari Anas ibn Malik RA ia berkata “kami dahulu membaca surah
seimbang panjangnya dengan surah al-Taubat, tetapi saya sudah tidak
hapal lagi kecuali potongan ayat ’’
اثلاث ا مل نأ ولو اثلاث ا مهيلإ ىغتبل بهذ ن م نايداو مدآ نبل ناك ول
بات نم ىلع لا بوتيو بارتلا لإ مدآ نبا فوج لي لو اعبار هيلإ ىغتبل
Menurut Qodi Abu Bakar, nasakh yang demikian ini tidak dapat
diterima, sebab keberadaan jenis nasakh ini ditentukan oleh khabar
ahad. Namun bagi al-Qattan berpendapat bahwa penetapan nasakh dan
penetapan sesuatu sebagai bagian dalam Alquran adalah dua hal yang
15
Imam Muslim, Sahih, Juz II, h.1075.
16
Ibn Hazmin al-Andalusy, al-Nasikh wa al-Mansukh fi al-Alquran al-Karim ( Bairut: Dar Kutub al-
Ilmiyah, 1986), h. 9.
15
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
berbeda. artinya dalam penetapan nasakh cukup dengan khabar ahad
sedangkan sesuatu sebagai Alquran harus dengan dalil qot’i atau
khabar mutawatir.
17
ad. c. Nasakh tilawah sedangkan hukum tetap.
Keberadaan nasakh jenis ini merujuk pada hadis dari Umar Ibn
Khatob yang menyatakan bahwa termasuk ayat yang kami baca dahulu
adalah ayat:
Artinya: “Orang tua laki-laki dan orang tua perempuan itu kalau
keduanya berzina, maka rajamlah (dihukum lempar batu
sampai mati) sekaligus sebagai balasan dari Allah,
sesungguhnya Allah maha Perkasa dan maha Bijaksana”.
18
Ketentuan hukum rajam dari hadis di atas apabila kita mencari
lafaz-nya dalam mushaf Usmani (Alquran) tentu kita tidak akan
menemukannya, sebab ayat tersebut sudah di-mansukh-kan. namun
ketentuan hukumnya (rajam bagi orang tua) masih tetap berlaku.
C. Pandangan ulama tentang nasakh dalam Alquran
Pengetahuan tentang nasakh dalam memahami Alquran menurut Ali Ibn Abi
Talib yang dikutip di atas sangat penting agar tidak tercampur antara yang halal
dengan yang haram, antara yang sah dengan yang batil, sebab nasakh bukan hanya
terkait dengan aspek hukum syara’ melainkan juga tak jarang berkaitan dengan
teologi. Namun demi menjaga kemurnian dan mempertahankan kemuliaannya
terjadilah perbedaan pendapat di antara para ulama tentang nasakh dalam Alquran,
di antara pendapat-pendapat tersebut adalah:
1. Nasakh secara akal bisa terjadi dan secara syara’ telah terjadi
17
.Muhammad Hambali, SHI, an-Nasakh wa al-Mansukh ( http://wordpress.com . diakses tanggal 1
April 2009)
18
Ibid.
16
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Pendapat dikemukakan oleh Jumhur ulama
19
, dasar hukum yang mereka
pakai adalah:
- Bahwa ummat Islam berkeyakinan bahwa Allah SWT berbuat sesuai
dengan kehendaknya tanpa terkait dengan tujuan dan alas an, oleh
sebab itu wajar saja apabila Allah SWT menetapkan hukum lalu
menggantinya sesuai kemaslahatan manusia, dan adalah hak
prerogative-Nya untuk menghapus ataupun tidak satu hukum yang
dibuat-Nya.
20
- Hal ini juga sebagaimana Allah SWT menyampaikan dalam Alquran
surah Al-Baqarah ayat 106 sebagai berikut:
`ريد ق ء`يش لك ىلع هل لا نأ `مل`ع ت `ملأ اهلثم `وأ اه`نم ر`يخ ب تأن اهس`ن `ن `وأ ة ياء `نم `خس`ن ن ام ) 106 (
Ayat ini diiringkan Allah SWT dengan penjelasan tentang kekuasaan
dengan firman-Nya pada ayat berikutnya:
يصن الو ´يلو `نم هلل ا نو`د `نم `مكل امو ض`رأ لاو تاوم `سلا `كل`م `هل هل لا نأ `م ل`عت `ملأ ) 107 (
Artinya: “tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan
bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang
pelindung maupun seorang penolong”.
- Di samping itu dalam kenyataan banyak hukum yang telah di-nasakh-
kan Allah SWT seperti syariat agama sebelum Islam telah di-nasakh-
kan dengan syariat Islam dan dalam syariat Islam sendiri juga banyak
terjadi Nasakh Mansukh seperti dinasakhkannya kewajiban
menghadapi Bait al Muqoddis dalam syarat shalat dengan
memindahkan kiblat ke bait al Haram (Kabah), pembatalan wasiat
(mengenai harta) kepada ahli waris dengan hukum kewarisan.
2. Nasakh secara akal mungkin terjadi namun secara syara’ tidak.
Pendapat ini dimotori oleh Abu Muslim Al-Asfahani. Ia berpendapat
nasakh mungkin terjadi secara logika namun secara syara’ tidak. Sebab ia
berpedoman pada QS. Fushilat ayat 42 yang berbunyi:
19
Yang dimaksud dengan njumhur ulama adalah, kebanyakan ulama yang memberi pendapat sama.
20
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi…, h.1310.
17
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
, دي مح مي كح `نم ليز`ن ت هفل خ `ن م الو ه`ي دي ن`ي ب `نم لطاب لا هيت أي ال 42 .
(Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun
dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi
maha Terpuji).
Al-Asfahani mendalilkan bahwa apabila ada Nasakh dalam Alquran, itu
berarti ada sesuatu yang salah dalam Alquran sehingga perlu diubah setelah
kesalahan itu diketahui Allah, hal itu tidak mungkin sebagaimana disebut
dalam ayat di atas, atau mungkin perubahan hukum adalah demi kemaslahatan
manusia, itu berarti ketika ayat pertama (yang di-mansukh) diturunkan, Allah
belum tahu kemaslahatan bagi manusia pada kejadian kedua.
Hal ini juga mustahil Allah tidak tahu. Kalau ada nasakh dalam Alquran
untuk kemaslahatan manusia, ini memberikan inspirasi bahwa untuk
kemaslahatan manusia, manusia itu dapat merubah imannya di saat genting.
Berdasarkan pendapat tersebut, terlihat bahwa Al-Isfahany tidak dapat
membedakan antara nasakh dengan ibda’ yang dikenal dalam bahasa arab
sebagaimana dijelaskan di awal pembahasan ini.
Selain itu, pendapat ini sepertinya terkontaminasi falsafah yahudi yang
berpendapat tidak ada nasakh hukum yang dibuat Allah, sehingga taurat tidak
dinasakhkan injil karena keduanya berasal dari satu Tuhan, sehingga firman
pertama haruslah menjadi rujukan untuk mengukur keabsahan firman kedua,
hal ini sebagaimana dikutip oleh Mahmud Abasikh
21
.
Secara umum ulama sepakat ada nasakh, namun terjadi perbedaan
pendapat tentang apa syarat agar nasakh dapat diterima, secara umum semua
setuju syarat nasakh haruslah:
1. Yang dinasakhkan adalah hukum syara’;
2. Pembatalan datang dari khatib (syar’i);
3. Pembatalan bukan karena kadaluarsa;
22
21
Mahmud Abasikh, Did al-Masihiyah fi al-Islam (http:\\www.burhanukum.com, diakses tanggal 1
April 2009)
22
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi…h.1310
18
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Namun ada syarat-syarat yang dikemukakan oleh ulama yang tidak
disepakati ulama lain antara lain adalah:
1. Hukum berdasarkan nash pertama harus sudah diberlakukan sebelum
dibatalkan;
Syarat ini dikemukakan oleh Mazhab Hanafi dan Mu’tazila, sedangkan
Jumhur ulama tidak menerimanya. Mazhab ini beralasan bahwa apabila satu
hukum dibatalkan sebelum sempat diberlakukan, hal itu berimplikasi bahwa
hukum tersebut tidak ada kabaikannya sehingga tidak perlu diberlakukan,
hal ini tidak mungkin terjadi pada hukum buatan Allah, kalau hukum
tersebut sudah diberlakukan lalu dengan perubahan waktu dan tempat terjadi
perubahan kondisi masyarakat sehingga perlu diperbaharui, hal itu wajar dan
logis.
Jumhur ulama’ menjawab bahwa hukum dibuat tuhan adalah untuk
dipatuhi, kebaikan tidak hanya dinilai dari manfaat, tetapi kebaikan juga
dapat diambil dari keputusan dan tekad manusia untuk mengamalkan aturan
Allah, sehingga walau belum dilaksanakan, sesungguhnya ummat Islam
telah bertekad untuk mengamalkannya. Dalam kasus ini dapat diambil
contoh kewajiban shalat yang pertama diterima nabi SAW adalah 50 kali
sehari semalam, kemudian dinasakhkan menjadi 5 waktu sehari semalam.
Padahal belum sempat dilaksanakan, namun Nabi SAW telah bertekad
dalam melaksanakannya.
2. Pembatalan (Mansukh) harus dapat diterima akal.
Syarat ini dikemukakan oleh Mu’tazilah dan Maturidiah, yang banyak
mempergunakan ratio dan sangat memberikan perhatian ratio, namun syarat
ini tidak diterima oleh jumhur ulama.
23
3. hukum yang di-nasakh harus ada hukum pengganti.
Pendapat ini dikemukakan oleh ulama usul fiqh, mereka mendasarkan
pada firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 106 di atas yang
artinya: “ayat mana saja yang Kami Nasakhkan, atau Kami jadikan
23
Ibid.h.1311.
19
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
(manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari adanya atau
yang sebanding dengannya….”.
Jumhur menjelaskan bahwa banyak hukum yang dinasakhkan yang
tidak ada hukum penggantinya, seperti pembatalan kebolehan kawin mut’ah,
tidak ada penggantinya.
D. Perbedaan nasakh dengan takhsis
Jumhur ulama membedakan antara nasakh dengan takhsis, namun mazhab
Hanafi tidak membedakannya, Hanafi berpendapat bahwa takhsis adalah bagian
dari nasakh.
Ulama berdalil bahwa yang dimaksud dengan nasakh adalah perubahan
hukum secara keseluruhan dari cakupan hukum yang datang dengan nash tersebut,
sehingga nash tersebut tidak lagi membawa hukum. Sedangkan Hanafi memahami
nasakh dengan semata-mata perubahan hukum, tidak mesti nasakh tersebut tidak
berlaku (tidak membawa hukum ) lagi, cukup apabila ada dua nash, nash yang
pertama tidak diamalkan, tetapi yang diamalkan nash yang kedua walaupun yang
pertama masih berlaku bagi afrad yang lain, disebut nasakh. Sehingga jika satu
nash datang dengan cakupan yang cukup luas dengan keumuman dan
kemutlakannya seperti kewajiban meminta izin setiap kali memasuki rumah orang
lain sebagaimana yang disebut dalam QS. An-Nur 27:
اهل`هأ ىلع ا و`ملس `تو او`سن أت`س ت ى`ت ح `مكتو`ي `ب ر`يغ اتو`ي `ب اول`خ`د ت ال او`نماء نيذل ا اه'يأا ي
Dinasakh dengan ayat 29 berbunyi:
... `مكل `عاتم اهي ف ة نوك`سم ر`يغ اتو`ي `ب اول`خ`د ت نأ `حان `ج `مك`ي لع س`ي ل
(Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami,
yang di dalamnya ada keperluanmu,…)
Jadi berdasarkan ayat pertama siapapun yang hendak memasuki rumah
orang lain harus meminta izin, sedangkan berdasarkan ayat kedua orang yang ada
keperluanmu (ada harta benda) di dalam satu rumah yang bukan rumah dan rumah
itu tidak ada penghuninya tidak perlu minta izin.
20
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
Hanafiah memahami bagi orang yang ada kepentingan masuk ke dalam satu
rumah yang tak berpenghuni, baginya tidak berlaku ketentuan ayat 27, sehingga
baginya ayat tersebut telah mansukh. Tetapi jumhur ulama berpendapat, kejadian
tersebut merupakan n 9takhsis) yang pada kesempatan lain ketika berhadapan
dengan rumah yang berpenghuni, maka ayat pertama tetap berlaku kepadanya.
24
Imam as-sadusy menyebutkan ada 3 perbedaan antara nasakh dengan takhsis
sebagai berikut:
1. nasakh tidak terjadi pada berita (ikhbariyah
25
) hanya terjadi pada
insyaiyah, sedangkan takhsis dapat terjadi pada semua jenis kalimat;
2. Nasakh hanya terjadi pada Alquran dan sunnah, sedangkan takhsis dapat
terjadi pada Alquran, sunnah, qiyas, ra’y bahkan dapat terjadi dengan
intuisi (perasaan);
3. Takhsis dapat terjadi dengan dalil yang bersamaan, atau lebih dulu dari
yang umum atau belakangan dating, sedangkan nasakh hanya boleh
dengan dalil yang datang belakangan, tidak boleh lebih dahulu nasikh
dari mansukh, juga tidak boleh bersamaan.
26

E. Hikmah nasakh dalam Alquran
Dari uraian di atas, maka dapatlah kita pahami bahwa kajian nasakh dan
mansukh memiliki hikmah yang teramat penting. Adapun hikmah tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengukuhkan keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan.
Bahwa Allah tidak akan pernah terikat dengan ketentuan-ketentuan yang
sesuai dengan logika manusia. Sehingga jalan pikiran manusia takkan pernah
bisa mengikat Allah SWT. Allah mampu melakukan apa saja, sekalipun
menurut manusia hal itu tidak logis. Tetapi Allah akan menunjukkan, bahwa
kehendak-Nya lah yang akan terjadi, bukan kehendak kita. Sehingga diharapkan
24
Disarikan dari Fahd Ibn Mubarak al-wahaby, Makna al-Nasakh ‘inda al-Salaf wa khata’ fahmih (
http://.alwahbi.maktoobblog.com, diakses tanggal 1 April 2009)
25
Yang dimaksud dengan kalimat Ikhbariyah adalah kalimat yang berupa penyampaian berita dan
tiodak mengandung makna perintah atau larangan. Sedangkan Insyaiyah adalah kalimat perintahj dan atau
larangan seperti amar, nahi, istifham inkari dan lain-lainnya.
26
Al-Sadusiy, al-Nasikh.. h.8
21
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
dari keberadaan nasakh dan mansukh ini mampu meningkatkan keimanan kita
kepada Allah SWT, bahwa Dia-lah yang Maha Menentukan.
2. Membuktikan bahwa syariat agama Islam adalah syariat yang sempurna.
Dengan adanya nasakh, maka kondisi masyarakat dapat direkayasa dan
dibimbing untuk satu tujuan (social engineering), dengan demikian syariat
Islam akan lebih sempurna diikuti manusia dengan meninggalkan kebiasaan-
kebiasaan lama. Sebagai contoh kebiasaan minum minuman yang memabukkan
dalam budaya Arab, dengan rekayasa yang maha Sempurna akhirnya dapat
dihapus tanpa ada perlawanan budaya yang berarti.
Bentuk perubahan yang dilakukan adalah dengan nasakh, yaitu pertama
membiarkan, lalu mengurangi, terus membatasi akhirnya meniadakan sama
sekali.
3. Cobaan bagi mukallaf untuk mengikuti ataupun tidak mengikuti.
Suatu hukum setelah mapan dan dilaksanakan dengan baik, kemudian
diganti dengan hukum baru, adalah merupakan ujian, apakah orang tersebut mau
mengikuti perintah Allah SWT hal ini terjadi seperti perubahan arah kiblat dari
Bait Al-Muqaddis ke Bait Al-Haram. Sebagaimana difirmankan Allah SWT
dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 143 sebagai berikut:
تناك نإو ه`يبقع ىلع `بلق`ن ي `ن`مم لو `س`رل ا `عب`ت ي `نم مل`عنل ا لإ ا ه`يلع ت`نك يتل ا ةل`بق لا انلع ج امو
هللا ىده نيذ لا ىلع الإ ةيب كل
(… dan Kami menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan
agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa
yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali
bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah).
III. KESIMPULAN
Dari penjelasan tersebut di atas dapat ditimbulkan bahwa nasakh ( nasikh dan
mansukh) ada dalam Alquran, yaitu pembatalan hukum satu nash dengan dalil syra’,
yang oleh ulama disepakati nasakh hanya terjadi antara Alquran dengan Alquran
22
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
sedangkan me-nasakh Alquran dengan sunnah masih terjadi perbedaan pendapat,
walaupun hadis tersebut hadis mutawatir.
Nasakh bukanlah pembatalan hukum akibat ada sesuatu yang baru yang pada
saat hukum pertama ditetapkan belum diketahui (Al-Ibda’), tetapi 23asikh adalah
perubahan hukum untuk kemaslahatan manusia atau untuk menunjukkan kekuasaan
Allah SWT sebagai pencipta dan pemiliknya ( ءاشياملعفي).
Takhsis menurut Hanafiah adalah bagian dari nasakh, namun menurut Jumhur
ulama, nasakh berbeda dengan takhsis, takhsis bukan bagian dari nasakh. Karena nasakh
adalah penghapusan atau perubahan hukum secara menyeluruh, sedangkan takhsis hanya
perubahan sebagian dan sesaat saja.

23
Nasikh dan mansyukh dlm Alquran
Mhd Dongan
DAFTAR BACAAN
Abasikh, Mahmud, Did al-Masihiyah fi al-Islam (http:\\www.burhanukum.com, diakses
tanggal 1 April 2009)
Agama, Depatemen RI, Muqaddimah Alquran dan Tafsirnya, ( Jakarta : Dep. Agama RI,
2008),
al-Andalusy, Ibn Hazmin, al-Nasikh wa al-Mansukh fi al-Alquran al-Karim ( Bairut: Dar
Kutub al-Ilmiyah, 1986)
Dahlan, Abdul Aziz at.all, Ensiklopedi Islam, (Jakarta : PT Ichtiar Van Hoeve, 1996
Hambali, Muhammad, SHI, an-Nasakh wa al-Mansukh ( http://wordpress.com . diakses
tanggal 1 April 2009
Hibat Allah, Ibn Abd al-Rahim Ibn Ibrahim, Nasikh al-Alquran wa Mansukhuh, ( Bairut :
Muassasah al-Risalah, 1405),
al-Karamy, Mar’in ibn Abu Bakar, al-Nasihk wa al-Mansukh, ( Kuwait : Dar al-Alquran
al-Karim, tt.)
al-Misry, Muhammad Ibn Mukram ibn Manzur al-Afriqy, Lisan al-Arab, ( Bairut : Dar
Sadir, tt.),
al-Naisabury, Imam Muslim ibn Hajjaz al-Kusairy, Sahih Muslim, ( Bairut : Dar al-Ihya
Turas al-araby, tt.)
al-Sadusiy, Qatadah Ibn Daamah, al-Nasikh wa al-Mansukh, ( Bairut : Muassasah al-
Risalah, 1988)
al-wahaby, Fahd Ibn Mubarak, Makna al-Nasakh ‘inda al-Salaf wa khata’ fahmih (
http://.alwahbi.maktoobblog.com, diakses tanggal 1 April 2009)
al-Zabidiy, Muhammad ibn Muhammad ibn Abd Al-Razzaq al-Husainy, Taj al-
Arus,(Mesir: Maktabah al-Samilah, versi 6.0.1.4, 2001-2004)
24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->