PEMERIKSAAN FISIK NEUROLOGI Pemeriksaan fisik neurologi merupakan pemeriksaan yang memerlukan ketelitian dan sistimatik sehingga dapat

menentukan diagnosis klinis dan topik, dari kemungkinan diagnosis ini maka perencanaan pemeriksaan penunjang dapat dilaksanakan secara rasional dan objektif.1 Pemeriksaan fisik neurologi mencakup hal-hal sebagai berikut : 1,2,3 Pemeriksaan tingkat kesadaran Pemeriksaan tanda rangsangan meningeal Pemeriksaan saraf kranial Pemeriksaan fungsi motorik Pemeriksaan fungsi sensorik Pemeriksaan fungsi luhur Pemeriksaan fungsi otonom Pemeriksaan fungsi koordinasi Pemeriksaan reflek fisiologis Pemeriksaan reflek patologis

Pada makalah ini akan dibahas pemeriksaan tingkat kesadaran, tanda rangsangan meningeal, saraf kranial dan fungsi motorik.

PEMERIKSAAN TINGKAT KESADARAN Kesadaran adalah produk neurofisiologik dimana seorang individu mampu berorientasi secara wajar terhadap waktu, tempat dan orang. Kesadaran adalah keadaan sadar terhadap diri sendiri dan lingkungan. Keadaan sadar adalah

keadaan terjaga dan waspada dimana sipenderita akan bereaksi sepenuhnya dan adekuat terhadap rangsangan visual, auditoris dan sensibel.4 Koma adalah suatu keadaan tidak sadar total terhadap diri sendiri dan lingkungan meskipun distimulasi dengan kuat. Diantara keadaan sadar dan koma terdapat berbagai variasi keadaan/status gangguan kesadaran.4

1

Anatomi Kesadaran4 Keadaan sadar ditentukan oleh 2 komponen, yaitu: a. Aspek “on‐off quality” atau “Arousibility” Formasio retikularis terletak di rostral mid pons, midbrain (mesencephalon) dan thalamus ke korteks serebri  ARAS (= Ascending Reticular Activating System) b. Aspek “Content” ( isi kesadaran) : Korteks Serebri

Pendekatan Diagnostik pada Pasien Tidak Sadar Berbagai proses intrakranial maupun ekstrakranial dapat disertai gangguan kesadaran. Dalam hal ini naik turunnya tingkat kesadaran dan lamanya gangguan kesadaran merupakan salah satu petunjuk penting dari maju mundurnya suatu penyakit.4 Komponen yang harus diperiksa pada pasien tidak sadar adalah:4 Tingkat kesadaran (kualitatif dan kuantitatif) Pola pernafasan Ukuran dan reaksi pupil Pergerakan mata Respon dari okulovestibuler

Pemeriksaan kesadaran dapat dinyatakan secara kualitatif maupun kuantitatif. Cara Pemeriksaan Kualitatif1,2 Tingkat kesadaran kualitatif yaitu :  Composmentis : Keadaan sisitim sensorik utuh, ada waktu tidur dan sadar penuh serta aktivitas yang teratur.  Somnolen :Pasien dapat bangun spontan pada waktunya atau sesudah dirangsang tapi kembali tidur setelah stimulasi dihilangkan.  Sopor : Pasien terlihat tertidur tapi dapat dibangunkan dengan rangsang verbal yang kuat, dapat spontan hanya waktu singkat, sistem sensorik berkabut, dapat mengikuti beberapa perintah sederhana.

2

 Soporokoma : Pasien tidak ada respon dengan rangsang verbal, dengan rangsang nyeri masih ada gerakan, reflek‐reflek (cornea, pupil dll) masih baik dan nafas masih adekuat.  Koma : Gerakan spontan negatif, reflek‐reflek negatif, fungsi nafas terganggu atau negatif. Tingkat kesadaran kualitatif kurang akurat karena merupakan hasil pemeriksaan individual.

Cara Pemeriksaan Kuantitatif (Metoda Glasgow Coma Scale) Aspek-aspek kesadaran yang dinilai secara kualitatif kurang seragam, kriterinya sering kurang tegas sehingga bila digunakan untuk memonitor tingkat kesadaran seseorang seringkali dilakukan oleh beberapa orang dengan hasil yang tidak konsisten. Untuk mengatasi hal ini Prof. Dr. Bryan Jennet dan Teasdale, ahli bedah saraf dari universitas Glasgow pada tahun 1974 menilai tingkat kesadaran secara objektif dari tiga aspek, yaitu kemampuan membuka mata, kemampuan motorikdankemampuanberkomunikasi.1,5 Pemeriksaan fungsi membuka mata, respon verbal dan respon motorik terhadap rangsangan yang diberikan. Rangsangan berupa suara atau rangsangan nyeri. Rangsangan nyeri dapat diberikan pada supra orbita, ujung kuku, manubrium sternum, prosesus stilomastoideus dan papilla mamae.1 Penilaian Glasgow Coma Scale (GCS) Eye (Mata)1,2,4,5     Membuka mata spontan = 4 Membuka mata dengan stimulus suara (panggilan) = 3 Membuka mata dengan stimulus nyeri = 2 Tidak membuka mata dengan stimulus apapun = 1

3

tak ada gerakan dengan rangsangan cukup kuat = 1 4 .5       Mengikuti perintah . dapat melakukan gerak sesuai perintah = 6 Reaksi setempat. fleksi lengan disertai adduksi bahu = 3 Reaksi ekstensi terhadap nyeri. endorotasi bahu dan pronasi lengan bawah = 2 Tak ada reaksi.1 Motor (Reaksi Motorik)1. ada gerakan menghindar terhadap rangsangan yang diberikan di beberapa tempat = 5 Menghindari nyeri.Lokasi memberikan rangsangan nyeri.4.2. ekstensi lengan disertai adduksi. reaksi fleksi cepat disertai abduksi bahu = 4 Reaksi fleksi abnormal.

seperti berteriak dan tidak menanggapi pembicaraan orang lain = 3 5 .5    Orientasi baik. jawaban yang kacau terhadap pertanyaan = 4 Kata tak jelas (inappropriate). berorientasi baik terhadap tempat.Verbal4. waktu dan orang = 5 Gelisah (confused).

Refleks kornea positif kedua sisi : 2 Negative : 1 3. terutama untuk penilaian verbal dan motorik.hati bila ada disfasia (untuk menilai verbal) dan kelumpuhan motorik (untuk menilai motorik) Penilaian GCS untuk anak-anak berumur < 5 tahun berbeda nilainya dari dewasa.  Suara yang tidak jelas artinya (unintelligible‐sounds). nilai minimum E1MV1 = 3 Hati. Doll’s eye movement/ice water calories positif kedua sisi : 2 negatif : 1 4. Reaksi pupil kanan terhadap cahaya positif : 2 negatif : 1 5. selalu ada suara rintihan dan erangan = 2 Tak ada suara = 1 Cara kwantitatif dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) dipandang lebih baik karena beberapa hal. PITTSBURGH BRAIN STEM SCORE1 Cara ini dapat digunakan untuk menilai refleks brainstem pada pasien koma. Reaksi pupil kiri terhadap cahaya positif : 2 6 . Brainstem reflex 1. mengingat fungsi otak belum maksimum. Refleks bulu mata positif kedua sisi: 2 Negative : 1 2. yaitu :1    Dapat dipercaya Sangat teliti dan dapat membedakan kelainannya hingga tidak terdapat banyak perbedaan antara dua penilai (obyektif ) Dengan sedikit latihan dapat juga digunakan oleh perawat sehingga observasi mereka lebih cermat Hal-hal yang perlu diingat :1.4    Nilai maksimum E4M6V5 = 15.

5 KAKU KUDUK2. kemudian kepala ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada. atau fleksi leher  normal Adanya rigiditas leher dan keterbatasan gerakan fleksi leher  kaku kuduk Arti klinis: Meningitis. SAH. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat.3. Hasil pemeriksaan: Leher dapat bergerak dengan mudah. Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring. meningoensefalitis. dagu dapat menyentuh sternum. Cara : Pasien tidur telentang tanpa bantal.5 Jangan dikerjakan pada pasien trauma. Refleks muntah atau batuk positif : 2 negatif : 1 Interpretasi:   Nilai minimum : 6 Nilai maksimum : 12 ( nilai /skor makin tinggi makin baik ) PEMERIKSAAN TANDA RANGSANG MENINGEAL Mekanisme perangsangan selaput otak disebabkan oleh pergeseran strukturstruktur intrakranial atau oleh ketegangan saraf spinal yang hipersensitif dan meradang. Karsinomameningeal dengan cervical tidak stabil seperti pada 7 .negatif : 1 6. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Tanda-tanda perangsangan selaput otak dan gejalanya ini bervariasi bergantung pada berat ringan proses yang terjadi. Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan.

8 . B.3. pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada persendian panggul sampai membuat sudut 90 derajat.Sewaktu mengangkat kepala.Gerakan leher ke kanan atau kiri tidak ada gangguan.Gerakan dorsofleksi tidak ada tahanan KERNIG SIGN2. badan ikut terangkat.A. C. Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135 derajat. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135 derajat terhadap paha.5 Pada pemeriksaan ini . maka dikatakan kernig sign positif.

9 .3. Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi lutut. tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada.5 Pasien berbaring terlentang.3.BRUDZINSKI I (Tanda Leher menurut Brudzinski)2. Test ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik. dengan tangan yang ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring .kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. Bila timbul gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul ini menandakan test ini postif. BRUDZINSKI II (Tanda tungkai kontra lateral menurut Brudzinski)2.5 Pasien berbaring dalam sikap terlentang.

4 Saraf otak terbagi atas saraf otak I-XII (Nervus cranialis I-XII). Bila inti rusak hal ini diikuti oleh degerasi saraf perifernya. Saraf perifer dapat pula terganggu tersendiri. 2. sedangkan saraf cranial sensorik berasal dari kumpulan sel di batang otak.fungsi dan hubungannya dengan struktur lainnya.6. karena itu perlu pemahaman anatomi. Saraf otak III-X dan XII berhubungan dengan batang otak.7. biasanya dalam ganglion-ganglion yang dianggap aanalog dengan ganglion radiks dorsals saraf spinalis. Saraf otak I & II merupakan jaras-jaras berupa tonjolan otak.8 10 . Nervus cranial yang mempunyai fungsi motorik berasal dari kelompok-kelompok sel yang terbenam di batang otak yang analog dengan sel-sel pada cornu anterior medula spinalis. Tiap saraf otak harus diperiksa dengan teliti. pada inti (nuklir) atau hubungan ke sentral (supranuklir). Lesi dapat terjadi pada serabut atau bagian perifer (infranuklir. Saraf otak XI berasal dari segmen servical atas medula spinalis.PEMERIKSAAN SARAF KRANIAL Pemeriksaan saraf otak dapat membantu kita menentukan lokasi lesi dan jenis penyakit.

yang muncul dari bulbus olfaktorius pada bagian ventral lobus frontalis dan dilanjutkan ke posterior untuk berakhir tepat di sebelah lateral kiasma optikum.Obyektif Tujuan pemeriksaan : untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu. Sebelumnya periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat. Persiapan : Pasien harus sadar dan kooperatif Bahan :kopi.SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS )2.4. misalnya ingus atau polip.aq.7 Anatomi: Istilah umumnya ditujukan pada traktus olfaktorius. selain itu untuk mengetahui apakah gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau penyakit hidung lokal. dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan tertentu yang tidak merangsang .Subyektif : Keluhan pasien 2.teh. Cara pemeriksaan: Salah satu hidung pasien ditutup.5.Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan.jeruk.rosarum Pemeriksaan : 1.6.kamper.tembakau. pepperminth. tempat dimana jaras tersebut menembus cerebrum. Interpretasi : • Anosmia adalah hilangnya daya penghiduan • Hiposmia adalah bila daya ini kurang tajam 11 .

7 Anatomi : Nervus optikum berisi serabut-serabut saraf yang timbul dari permukaan dalam retina dan diteruskan ke posterior memasuki rongga cranium melalui foramen optikum. tetapi bila tercium suatu modalitas olfaktorik tanpa adanya perangsangan maka kesadaran akan suatu jenis bau ini adalah halusinasi. yaitu halusinasi olfaktorik.5.6. hanya pengenalan nya saja tidak sesuai.• Hiperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka • Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana tercium bau yang tidak sesuai misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bau bawang goreng. • Jika parosmia dicirikan oleh modalitas olfaktorik yang tidak menyenangkan atau yang memuakan seperti bacin . pesing dsb. SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS)3. • Baik dalam hal parosmia maupun kakosmia adanya perangsangan olfaktorik merupakan suatu kenyataan. pengenalan warna. Tujuan pemeriksaan : untuk mengukur tajam penglihatan (visus). Sebagian serabutnya menyilang ke sisi yang lain melalui kiasma optikum. maka digunakan istilah lain yaitu kakosmia. lapangan pandang dan pemeriksaan fundus (funduskopi) serta untuk 12 .

13 . Mata kiri ditutup dengan tangan kiri dan visus mata kanan diperiksa.tidak dilihat. • Pasien memberitahukan berapa jari dokter yang diperlihatkan kepadanya. Interpretasi • Normal:menghitung jari tangan jarak 60 m.visus diperiksa dengan menghitung jari-jari. Tabel Snellen Pasien berdiri 6 m dari kartu snellen. – Jarak berapa pasien dengan jelas dapat menentukan arah gerakan tangan pemeriksa. Dengan mata kanannya membaca huruf-huruf dalam tabel snellen. • jika hanya dapat menghitung jari-jari tangan dari jarak 5 m→ visus: 5/60 Gerakan Tangan – Pasien menentukan arah gerakan tangan pemeriksaan. Interpretasi Visus normal : 6/6 x : jarak penderita dengan snellen y : jarak dimana orang normal dapat melihat tulisan dalam snellen Jari-jari Tangan • Visus pasien menurun →< 6/60. Pemeriksaan Tajam Penglihatan ( Visus ) Persiapan : Yakinkan tidak ada gangguan visus oleh karena penyakit mata.menentukan apakah kelainan pada penglihatan disebabkan oleh kelainan okuler lokal atau oleh kelainan saraf. jarak diperpendek sampai dapat dilihat. Begitu juga sebaliknya untuk mata kiri. 1. Interpretasi Normal : Gerakan tangan dari jarak 300 m Hanya melihat arah gerakan tangan dari 3 m→visus 3/300 Lampu / Cahaya Memakai rangsangan cahaya. • Jika sejauh 6 m.

Pemeriksaan & Interpretasi Pengenalan Warna Pemeriksaan : – Menggunakan kartu test istihara dan stiling / benang wol berwarna. – Mengambil wol yang berwarna sesuai perintah. Cahaya tidak dilihat→visus: nol (nol light perseption) 2.Mata pasien disinari dengan cahaya lampu lalu pasien disuruh menentukan gelap atau terang. • Benda penguji (test objek) berupa bundaran kecil berdiameter 1-3 mm. pemeriksaan Lapang Pandang Metode test : Tanpa alat : Test konfrontasi. • Mata pasien difiksasi di tengah & benda penguji digerakan dari perifer ke tengah dari segala jurusan 14 . Interpretasi: Normal atau Buta Warna 3. Dengan alat : Test kampimeter dan Test perimeter Persiapan : – Pasien kooperatif. Interpretasi Normal : Jarak tak terhingga Jika dpt melihat cahaya dr jarak 1 m→ visus 1/~. – Pasien diberi penjelasan test yang akan dilakukan Test konfrontasi Interpretasi: Normal atau menyempit Test Kampimeter & Test Perimeter • Papan hitam diletakan di depan pasien jarak 1 atau 2 m. – Pasien membaca angka berwarna dlm kartu istihara atau stiling.

• Skotoma positif : tanpa diperiksa pasien sudah merasa adanya skotoma. Gambaran retina Normal : _ Latar belakang :merah jingga _ Papil nervus optikus : lebih muda _ Pembuluh darah berpangkal pada pusat papil memancarkan cabangcabangnya ke seluruh retina _ Arteri berwarna jernih dan vena berwarna merah tua _ Reflek sinar hanya tampak pada arteri _ Vena berukuran lebih besar & tampak berkelak-kelokdibandingkan arteri _ Tampak pulsasi pada pangkal vena besar (di papil) dan penekanan bola mata → pulsasi lebih jelas 15 .total blindness dsb 4.• Ada bagian bagian visual field yang buta dimana pasien tidak dapat melihatnya.homonymous quadrantanopsia . o Mata kanan pasien diperiksa dengan mata kanan pemeriksa. Pemeriksaan Funduskopi o Pemeriksa memegang oftalmaskop dengan tangan kanan. Interpretasi Funduskopi: 1. • Skotoma negatif: dengan diperiksa pasien baru merasa adanya skotoma.begitu sebaliknya. o Pemeriksa menyandarkan dahinya pd darsum manus tangan kiri yang memegang dahi pasien. binasal ) . o Tangan kiri pemeriksa memfiksasi dahi pasien. • Macam macam gangguan ”visual field” antara lain : . o Pemeriksa menilai retina & papil nervi optisi. bitemporalis . nasal . ini disebut dengan SKOTOMA.homonymous hemianopsia .hemianopsia ( temporal.

batas tegas.2. cupping menghilang Papil Atropi Primer : papil pucat.5.8 Anatomi : Nervus III (okulomotorius) meninggalkan otak pada sisi medial pedunkulus serebri dimana serabut saraf ini terletak di sebelah posterior arteri serebri posterior.VI (OKULOMOTORIUS. diantara nervus okulomotorius dan cabang opthalmika nervus trigeminus. Nervus VI (abdusen) keluar dari permukaan ventral batang otak di dalam alur antara piramis medulla dan ujung caudal pons.4. serta kemudian berjalan sepanjang 16 . Kemudian nervus okulomotorius berjalan ke anterior.TROKLEARIS.6. batas tegas. Nervus ini terus berjalan ke anterior di dalam dinding lateral sinus kavernosus.batas tidak tegas cupping (-) SARAF OTAK III.Gambaran Nervus Optikus Normal : bentuk lonjong.IV. Nervus IV (trokhlearis) mempunyai tempat asal superfisial pada dorsal batang otak. lalu melengkung ke ventral diantara arteri cerebri posterior dan arteri cerebelaris superior (disebelah lateral nervus okulomotorius). cupping (+) Papil Atropi Sekunder: papil pucat. dan memasuki orbita melalui fisura orbitalis superior. disebelah lateral arteri carotis intern dalam sinus kavernosus.ABDUSENS)2. bagian nasal agak kabur. vena:arteri 3:2 Papil edema : papil hiperemis. di sebelah anterior arteri cerebelaris superior dan di sebelah lateral arteeri basilaris. dan meninggalkan rongga tengkorak melalui fisura orbitalis superior.7. warna jingga muda. bagian temporal sedikit pucat. fisiologik cupping. batas papil kabur.

sinus kavernosus untuk keluar dari rongga cranium melalui fisura orbitalis superior. Serabut otonom N III mengatur otot pupil. krisis akulogirik – Eksoptalmus / endoftalmus Interpretasi Normal : Kedudukan bola mata simetris 17 .IV. deviasio conjugee.Kedudukan bola mata Pemeriksaan – Kedudukan mata kiri dan kanan semetris/tidak – Strabismus.Pemeriksaan fungsi & reaksi pupil 1. Pemeriksaan nervi III.Inspeksi saat istirahat A. Fungsinya ialah menggerakkan otot mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata. Fungsi N III.Inspeksi saat bergerak : Observasi gerakan mata sesuai perintah 3.IV.VI: 1.Inspeksi saat istirahat : • Kedudukan bola mata • Observasi celah kelopak mata 2.VI saling berkaitan dan diperiksa bersama-sama .

Enoftalmus dan blefarospasmus 2. Pemeriksaan gerakan bola mata     Penilaian gerakan monokular Penilaian gerakan kedua bola mata atas perintah Penilaian gerakan bola mata mengikuti obyek bergerak Pemeriksaan gerakan konjungat reflektorik (doll’s eye movement) Interpretasi gerakan bola mata : • Normal : o Gerakan konjungat o Gerakan diskonjungat/gerakan konversion o Dolls eye movement (+) • Kelainan : o Tanda parinaud (+) (paralisis lirikan ketas) 18 .Kelainan : Stabismus. eksoptalmus /endoftalmus B.Observasi celah kelopak mata Pemeriksaan : Penderita memandang lurus kedepan Perhatikan kedudukan kelopak mata thd pupil & iris. Interpretasi Normal : simetris kanan-kiri Kelainan : 1. deviatio conjugee.Celah kelopak mata menyempit : Ptosis. krisis okulogirik.Celah kelopak mata melebar : Eksoftalmus & proptosis 2.

o Stabismus o Gerakan okulogirik o Diplopia o Gangguan gerakan bola mata kesamping o Gangguan gerakan bola mata adduksi. kebawah 3.Pemeriksaan & Interpretasi Pupil-Reaksi pupil Pemeriksaan :    Observasi bentuk. ukuran pupil & posisi pupil Perbandingan pupil kanan dan kiri Pemeriksaan reflek pupil : Reflek cahaya langsung Reflek cahaya tidak langsung atau konsensuil Reflek pupil akomodatif /reflek pupil konvergensi Interpretasi : Normal : • Bentuk pupil : bulat reguler • Ukuran pupil : 2 mm – 5 mm • Posisi pupil : ditengah-tengah • Isokor • Reflek cahaya langsung (+) • Reflek cahaya konsensuil (+) • Reflek akomodasi/konvergensi (+) Kelainan : – Pintpoin pupil – Bentuk ireguler – Anisokor dengan kelainan reflek cahaya – Pupil marcus gunn – Pupil argyll robertson – Pupil adie 19 .

Fungsi sensorik N. Pemeriksaan: 1.Trigeminus 3.maseter & temporalis •Pasien membuka mulutnya.6. berjalan ke posterior di antara sinus petrosus superior dan tentorium. Serabut-serabut sensorik bgian mndibularis. bersatu dengan bagian motorik atau masticator yang meninggalkan pons di bagian ventromedial sensory rootlets dan meninggalkan rongga cranium melalui foramen ovale. Trigeminus • Pasien menggigit giginya sekuat-kuatnya.pterigoideus lateralis) •Kayu tong spatel digigit bergantian.Pterigoideus Medialis) 20 .7. Reflek Trigeminal 1. Trigeminus 2.perhatikan deviasi rahang bawah (m. serta menembus pedunkulus cerebelaris medius untuk memasuki pons. bandingkan bekas gigitan (M.8 Anatomi : Nervu V (trigeminus) berisi radiks sensoris yang besar dan radiks motorik yang lebih kecil. palpasi m. Serabut-serabut bagian opthalmika masuk ke dalam tengkorak melalui fisura orbitalis superior.SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS )3. Fungsi Motorik N. Bagian sensorik berasal dari sel-sel pada ganglion semilunaris (gasseri) yang besar di bagian lateral sinus kavernosus. Fungsi motorik N.

pipi dan rahang bawah. malah kadang kadang tidak ada. pterygoideus medialis yang menyebabkan mulut menutup ini disebut reflex meninggi. m. Refleks kornea ( berasal dari sensorik Nervus V) Kornea disentuh dengan kapas.masseter & m. m.temporalis kanan dan kiri (-) / melemah. Normalnya didapatkan sedikit saja gerakan. Refleks masseter / Jaw reflex ( berasal dari motorik Nervus V) Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada bagian tengah dagu. Interpretasi : Normal : gangguan sensibilitas(-) Kelainan : •Analgesi : tidak merasakan rangsang nyeri •Termanestesi : tidak merasakan rangsangan suhu •Anestesi : tidak merasakan rangsangan raba 3.Trigeminus Cara pemeriksaan : Dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan suhu. Bila ada gerakan nya hebat yaitu kontraksi m.masseter & m.Fungsi Sensorik N.pterigoideus lateralis yg lumpuh. temporalis. 2.pterigoideus medialis yang lumpuh lebih dangkal. sama dalam pada gigitan kanan dan kiri Kelainan : – Kontraksi m. b. – Bekas gigitan pada sisi m. – Deviasi rahang bawah saat membuka mulut ke sisi m.masseter. bila normal pasien akan menutup matanya atau Lalu menanyakan apakah pasien dapat merasakan.Reflek Trigeminal a. 21 .temporalis simetris – Rahang bawah berada ditengah tengah – Kekuatan gigitan kayu tong spatel.Interpretasi Normal: – Kontraksi m. lalu pasien dalam keadaan mulut setengah membuka dipukul dengan ”hammer refleks”. kemudian lakukan pemeriksaan pada dahi.

tinggi alis. Perhatikan wajah pasien kiri dan kanan apakah simetris atau tidak.5.6. Pemeriksaan: 1. Radiks sensorik berasal dari sel-sel pada ganglion genikulatum dan berjalan sepanjang meatus akustikus intrnus untuk menembus medulla oblongata melalui bagian yang berada disebelah dorsal (nervus dari wrisberg). Perhatikan juga lipatan dahi.Fasialis 1. Fungsi motorik N.Pemeriksaan dan Interpretasi fungsi motorik a. 22 .Fasialis 3.c. lipatan kulit nasolabial dan sudut mulut. lebarnya celah mata. Refleks supraorbital Dengan mengetuk jari pada daerah supraorbital.Observasi otot wajah dalam keadaan istirahat Pemeriksaan : Pasien diperiksa dalam keadaan istirahat. Parasimpatis N.8 Anatomi : Radiks motorik nervus fasialis muncul dari batas posterior pons tepat di sebelah lateral olive inferior sepanjang sisi medial sudut serebelopontin dan meninggalkan cranium melalui meatus akustikus internus. Fungsi sensorik N.7.Fasialis 2. SARAF OTAK VII (NERVUS FASIALIS)3. normalnya akan menyebabkan mata menutup homolateral (tetapi sering diikuti dengan menutupnya mata yang lain).

– Suruh pasien bersiul.5 cm x 1. – Mengangkat alis – Menutup mata dengan rapat dan coba buka dengan tangan pemeriksa. Pasien cukup menuliskan apa yang terasa diatas secarik kertas Interpretasi : Ageusia.Bersihkan lidah sebelum pemeriksaan 3. 2. Interpretasi : Normal : Lakrimasi dan sekresi glandula submasilaris dan sublingualis baik Kelainan : Hiperlakrimasi dan Hiposekresi gl.submaxilaris dan sublingualis 23 .5 %. Cara : • Sekresi air mata.b.5 cm • Warna berubah menjadi Biru : Normal: 10 – 15 mm ( lama 5 menit ). cuka (rasa asam) Pemeriksaan: 1.Observasi otot wajah saat digerakkan – Mengerutkan dahi. Pargeusia. gula (rasa manis). glandula submaxilaris dan glandula sublingualis Bahannya adalah: Glukosa 5 %.Berilah rangsangan pada indera pengecapnya 2/3 bagian depan 4. Hipoageusia dan Hemiageusia 3. Asam sitrat 1 %. • Dengan menggunakan Schirmer test ( lakmus merah ) • Ukuran : 0. Bila ada kelumpuhan maka angin akan keluar kebagian sisi yang lumpuh. Gunakan kertas lakmus untuk memeriksa sekresi glandula lakrimasi.075 %.Pemeriksaan fungsi Pengecapan Persiapan : Bahan : larutan garam (rasa asin).Mintalah pasien untuk menjulurkan lidahnya 2. Nacl 2. kinine (rasa pahit).Pemeriksaan fungsi parasimpatis Pemeriksaan : 1. dibagian yang lumpuh lipatannya tidak dalam. – Moncongkan bibir atau menyengir. Kinine 0. dalam keadaan pipi mengembung tekan kiri dan kanan apakah sama kuat . Inspeksi lakrimasi dan sekresi kelenjar ludah 2.

Kokhlearis Fungsi N.SARAF OTAK VIII (NERVUS KOKHLEARIS. Pemeriksaan Weber. b. Maksudnya membandingakn pendengaran melalui tulang dan udara dari pasien. a. Pada telinga yang sehat. Pemeriksaan Rinne. misal: otitis media kiri. Kokhlearis adalah untuk pendengaran. Bagian vestibuler timbul dari sel-sel dalam ganglion vestibularis (ganglion dari scarpa) yang terletak di dalam bagian dorsal meatus auditori inteernus.5. Pendengaran tulang mengeras bila pendengaran udara terganggu. Maksud nya membandingkan transportasi melalui tulang ditelinga kanan dan kiri pasien. pada keadaan normal kiri dan kanan sama keras ( pasien tidak dapat menentukan dimana yang lebih keras ).8 Nervus akustikus atau statoakustikus memasuki rongga cranium melalui meatus akustikus internus dan masuk kedalam batang otak di belakang tepi posterior pedunkulus serebelaris medius.6. Pemeriksaan N.3. Bagian koklear timbul dari ganglion spiralis. pendengaran melalui udara didengar lebih lama dari pada melalui tulang. pada test weber dikanan terdengar lebih keras . NERVUS VESTIBULARIS) Antomi : 2. Garpu tala ditempatkan didahi pasien. Bila terdapat ” nerve deafness ” disebelah kiri . pada test weber terdengar kiri lebih keras. Garpu tala ditempatkan pada planum mastoid sampai 24 .7.

Bila pemeriksa masih mendengarkan bunyinya maka dikatakan Schwabach (untuk konduksi tulang) lebih pendek. b. garpu tala ditempatkan didekat telinga pemeriksa. Nystagmus ini disebut sesuai dengan fasenya yaitu : fase cepat dan fase pelan. Jika pada posisi yang kedua ini masih terdengar dikatakan test positip. Bila telinga kiri dipanaskan ( diberi air panas ) timbul nystagmus kekiri. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa. Pada ” Conduction deafness ” test Rinne negatif. Dirusuh ia mendengarkan bunyinya. misalnya nystagmus kekiri berarti fase cepat kekiri. Bila sudah tidak mendengar lagi maka garpu tala diletakkan ditulang mastoid pemeriksa. Setelah pasien tidak mendengarkan bunyi lagi. Pemeriksaan dengan test kalori Bila telinga kiri didinginkan ( diberi air dingin ) timbul nystagmus kekanan. Garpu tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan didekat telinga pasien. Pemeriksaan “past pointing test” 25 . Pemesiksaan Schwabach.pasien tidak dapat mendengarnya lagi. Pemeriksaan N. Pada orang normal test Rinne ini positif. c. Bila ada gangguan keseimbangan maka perubahan temperatur dingin dan panas memberikan reaksi. Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid pasien. Kemudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus. Vestibularis a. maka dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek (untuk konduksi udara). Pada test ini pendengaran pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa yang dianggap normal.

Test Romberg Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lainnya. Serabut-serabut motoriknya meninggalkan medulla oblongata dan bersatu dengan bagian sensorik saraf tersebut. dengan mata tertutup . lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. c. Normalnya pasien harus dapat melakukannya. kemudian dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengulangi.6. Orang yang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih.7. d.Pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya. 26 . atau badan terputar lebih dari 30 derajat. SARAF OTAK IX & X (NERVUS GLOSOFARINGEUS & NERVUS VAGUS)2. Bagian motorik muncul pada nucleus ambigus dan meninggalkan lateral medulla oblongata untuk bersatu dengan bagian sensorik.Selama test ini pasien diminta untuk berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama test berlangsung.5. Nervus vagus berisi serabut-serabut aferen yang berasal dari sel-sel dalam ganglion jugularis dan ganglion nodosum tepat di bawah foramen jugulare.8 Anatomi : Nervus glosofaringeus berisi serabut-serabut sensorik yang berasal dari sel-sel dalam ganglion superior dan petrosus. Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir pasien beranjak lebih dari 1 meter dari tempatnya semula. Test melangkah ditempat ( Stepping test ) Pasien disuruh berjalan ditempat. lalu berjalan melewati foramen jugulare dan memasuli medulla oblongata pada sisi lateral oliva inferior tepat di belakang nervus fasialis. sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti jalan biasa. dan berjalan memalui foramen jugulare untuk memasuki medulla tepat di belakang nervus glosofaringeus . Tumit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang lainnya.3.

a. Kelainan : air akan masuk ke hidung pd lesi n.Nervus IX Nervus X 1. Pemeriksaan fungsi menelan Minta penderita minum air. Lengkung langit-langit yg lumpuh tertinggal. Interpretasi: Normal : mampu minum air dg baik.” Interpretasi : Normal : tidak ada kelainan Kelainan : gangguan fonasi suara “sengau” 27 .a. Perhatikan lengkung langit-langit dan posisi uvula. Interpretasi : Normal : Simetris lengkung langit-langit Kelainan : Lengkung langit-langit yg sehat bergerak keatas. Pemeriksaan Fungsi Motorik A. B.a. lalu perhatikan apakah pasien mampu minum air atau air masuk ke hidung.a.IX bilateral C. Inspeksi lengkung langit-langit Minta penderita membuka mulut dan suruh ucapkan “Ah.Pemeriksaan Fonasi suara Minta penderita mengucapkan “ a.Ah”.

Berilah rangsangan pengecapan pada lidah 1/3 belakang.Pemeriksaan fungsi parasimpatis Inspeksi sekresi kelenjar ludah Interpretasi : Normal : sekresi kelenjar ludah ada Kelainan : sekresi kelenjar ludah (-) 3. Parageusia dan Hemiageusia SARAF OTAK XI ( NERVUS AKSESORIUS)2. Bersihkan lidah penderita pada 1/3 bagian belakang. Hipoageusia. 28 .3.Reflek muntah Sentuh bagian atas faring/palatum molle Interpretasi : Reflek muntah +/ B.Pemeriksaan Fungsi Sensorik A. Interpretasi : Ageusia. dari permukaan lateral medulla oblongata dan medulla spinalis servikal atas serta meninggalkan cranium melalui foramen jugulare. Pemeriksaan Fungsi pengecapan Minta pasien menjulurkan lidahnya.7.6.2.8 Anatomi : Nervus aksesorius timbul superficial dari suatu rangkaian filamen yang berada di belakang filamen-filamen radiks nervus vagus.5.

Dengan menekan pundak pasien dan pasien diminta untuk mengangkat pundaknya.Sterno Kleidomastodius Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan kekiri dan ditahan oleh pemeriksa.Saat bahu digerakkan Interpretasi : Normal : simetris Kelainan : Asimetris : kelemahan pada bahu yg sakit SARAF OTAK XII ( NERVUS HIPOGLOSUS ) 2.1. A. Sternocleidomastoideus.3. 29 . kemudian dilihat dan diraba tonus dari m. Trapezius.Pemeriksaan Fungsi M. filament-filamen ini kemudian menyatu dan meninggalkan fossa posterior tulang tengkorak melalui canalis hipoglosus.Trapezius Memeriksa tonus dari m.6. Interpretasi : Normal : Kontraksi + Kelainan : Kontkaksi 2.Pemeriksaan Fungsi M.7.8 Anatomi : Nervus hipoglosus berjalan dari tempat asal superficial melalui filament di dalam sulkus ventrolateralis medulla oblongata diantara oliva inferior dan piramis.Saat Istirahat B.5.

• Dalam keadaan diam lidah tidak simetris. 2.Cara pemeriksaan.jari kaki. 30 . • Simetri tubuh dan ektremitas. • Kekuatan otot lidah dapat diperiksa dengan menekan lidah ke samping pada pipi dan dibandingkan kekuatannya pada kedua sisi pipi. • Kelumpuhan badan dan anggota gerak dan lain-lain. – Fleksi dan ekstensi artikulus genu. biasanya tergeser ke daerah lumpuh karena tonus disini menurun. maka perkataan perkataan tidak dapat diucapkan dengan baik hal demikian disebut: dysarthri. – Gerakan jari. PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. – Mengepal dan membuka jari-jari tangan. – Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki. – Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul. • Melihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah . • Dengan adanya gangguan pergerakan lidah. – Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti.3 1. • Bila lidah dijulurkan maka lidah akan membelok kesisi yang sakit. Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan. Pengamatan • Gaya berjalan dan tingkah laku. Gerakan Volunter Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa. misalnya: – Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.

untuk memeriksa kekuatan otot ada dua cara: 31 . 5. – Kelumpuhan jenis UMN ( spastisitas ). Tonus otot. – Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di ”motor end plate”. Kekuatan otot. • Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku dan lutut . Palpasi otot • Pengukuran besar otot • Nyeri tekan • Kontraktur • Konsistensi (kekenyalan) • Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada : – Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis. • Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson. 6. • Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja. ini dijumpai pada kelumpuhan UMN. 4.3. Perkusi otot. HNP. • Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi (biasanya terdapat pada pasien mixedema. – Gangguan UMN ekstrapiramidal ( rigiditas ). misal: meningitis. pasien dengan gizi buruk). • Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali (dijumpai pada kelumpuhan LMN). • Konsistensi otot yang menurun terdapat pada: – Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot. • Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan . – Kontraktur otot. Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar. • Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot. • Hipotoni : tahanan berkurang. • Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa.

saraf ulnaris ). Derajat 2 : otot hanya dapat bergerak bila gaya berat dihilangkan.     Derajat 3 : seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan gaya berat. saraf ulnaris ). Gerakan dapat pula dilakukan dengan menyuruh pasien membuat gerakan tersebut.yaitu :3 • Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti ( C7. paralisis total.saraf ulnaris) • Pemeriksaan otot aduktor policis ( C8. Cara pemeriksaan otot : Pasien disuruh menggerakkan otot menurut fungsinya dan pemeriksa memberikan perlawanan terhadap gerakan tersebut. yaitu :5  Derajat 5 : kekuatan normal. Derajat 1 : kontraksi otot minimal dapat terasa pada otot bersangkutan tanpa mengakibatkan gerakan. Untuk memeriksa kekuatan otot maka sebaiknya dilakukan satu arah gerakan pada satu sendi saja dan otot atau kelompok otot tersebut langsung dinilai. • Pemeriksaan otot interosei palmaris ( C8.  Derajat 4 : seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan gaya berat dan juga melawan tahanan ringan dan sedang dari pemeriksa.T1. Derajat 0 : tidak ada kontraksi sama sekali. – Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disuruh menahan. Anggota gerak atas. atau sebaliknya pemeriksa melakukan gerakan pasif pada anggota gerak pasien dan pasien disuruh melawan gerakan tersebut.saraf ulnaris ).5 Cara menilai kekuatan otot dengan menggunakan angka dari 0-5.T1. Seluruh gerakan dapat dilakukan otot tersebut dengan tahanan maksimal dari pemeriksa yang dilakukan berulang-ulang tanpa terlihat adanya kelelahan. • Pemeriksaan otot interosei dorsalis ( C8. 32 .C8.T1 . tetapi tidak dapat melawan tahanan dari pemeriksa.T1.– Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa menahan gerakan ini.

Gerakan involunter. • Gerakan involunter ditimbulkan oleh gejala pelepasan yang bersifat positif.C6. Susunan ekstrapiramidal ini mencakup kortex ekstrapiramidalis. saraf obturatorius). disebabkan lesi pada corpus striatum ( nucleus kaudatus. • Pemeriksaan otot latisimus dorsi ( C5-C8.saraf radialis ). corpus luysi.S1. • Pemeriksaan otot biseps ( C5. disebabkan gangguan mekanisme “feedback” oleh serebellum terhadap aktivitas kortes piramidalis dan ekstrapiramidal hingga timbul kekacauan gerakan volunter. S2. Anggota gerak bawah. • Pemeriksaan otot aduktor ( L2-L4. putamen. saraf tibialis 7. • Tremor saat bergerak ( intensional ) : disebut juga tremor serebellar. 33 .C5. saraf muskulokutaneus ).• Pemeriksaan abduksi ibu jari.S2. yaitu . • Pemeriksaan otot fleksor digitorum longus ( S1.3 • Pemeriksaan otot kuadriseps femoris ( L2-L4. putamen. S2. substansia nigra. globus pallidus. • Pemeriksaan otot triseps ( C6-C8. • Pemeriksaan otot seratus aterior ( C5-C7. globus pallidus dan lintasan lintasan penghubungnya ) misalnya kerusakan substansia nigra pada sindroma Parkinson.L5.saraf tibialis ).saraf siatika ). • Pemeriksaan otot kelompok ” hamstring ” ( L4. • Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian atas ( C5-C8). saraf radialis ). nuklues kaudatus.saraf torakalis ). saraf subskapularis). nucleus ruber.saraf femoralis ). nukleus ventrolateralis thalami substansia retikularis dan serebelum.8. • Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7. • Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah ( C5-C8).S1. • Pemeriksaan otot deltoid ( C5. • Pemeriksaan otot gastroknemius ( L5. yaitu dikeluarkan aktivitas oleh suatu nukleus tertentu dalam susunan ekstrapiramidalis yang kehilangan kontrol akibat lesi pada nukleus pengontrolnya. saraf aksilaris ). • Tremor saat istirahat : disebut juga tremol striatal.

basal ganglia. • Fasikulasi: kontrasi abnormal yang halus dan spontan pada sisa serabut otot yang masih sehat pada otot yang mengalami kerusakan motor neuron. biasanya lengan atau tangan. Khorea disebabkan oleh lesi di corpus striataum. substansia nigra dan corpus subthalamicus. 34 . vertibular apparatus dan korda spinalis. cepat berganti sifat dan arah gerakan secara tidak teratur. • Tujuan pemeriksaan ini untuk menilai aktivitas serebelum. Gerakan ini dihubungkan dengan lesi di corpus subthalamicus. terutama lengan atau tangan atau tangan yang agak lambat dan menunjukkan pada gerakan melilit lilit .• Khorea : gerakan involunter pada ekstremitas. corpus luysi. 8. Gerakan ini dianggap sebagai manifestasi lesi di nucleus kaudatus. area prerubral dan berkas porel. berlangsung sejenak. – Test fenomena rebound. tapping jari tangan. – Test tumit – lutut. waktu bergerak maupun waktu istirahat. – Test diadokinesia berupa: pronasi – supinasi. siku dan pergelangan tangan. keduten tidak secepat fasikulasi dan berlangsung lebih lama dari fasikulasi. • Athetose : gerakan involenter pada ektremitas. Lesi organ akhir sensorik dan lintasan – lintasan yang mengirimkan informasi ke serebelum serta lesi pada serebelum dapat mengakibatkan gangguan fungsi koordinasi atau sering disebut “ Cerebellar sign “. Serebelum adalah pusat yang paling penting untuk mengintegrasikan aktivitas motorik dari kortex. eksplosif. torsi ekstensi atau torsi fleksi pada sendi bahu. Kontraksi nampak sebagai keduten keduten dibawah kulit. • Ballismus: gerakan involunter otot proksimal ekstremitas dan paravertebra. Fungsi koordinasi. dapat timbul sekali saja atau berkali kali ditiap bagian otot skelet dan pada setiap waktu. aritmik. yang hanya terhenti pada waktu tidur. – Test jari – jari tangan. • Myokloni : gerakan involunter yang bangkit tiba tiba cepat. hingga menyerupai gerakan seorang yang melemparkan cakram. • Macam-macam pemeriksaan “ Cerebellar sign” – Test telunjuk hidung.

Gait dan Station. keseimbangan . • Jalan lurus lalu putar.lengan atau tungkai dengan halus. • Spastik ( scissors gait ): gaya jalan dengan sirkumduksi kedua tungkai. • Berdiri dengan satu kaki. ayunan tangan dan gerakan kaki dan mintalah pasien untuk melakukan. – Test romberg. • Jalan diatas tumit. – Test nistagmus. • Tandem walking. dan menunjukkan gejala jalan yang khas yang disebut “ celebellar gait “ • Pasien tidak dapat melakukan gerakan volunteer dengan tangan. • Jalan diatas jari kaki. • Pasien sulit berjalan pada garis lurus pada tandem walking. misalnya spastik paraparese. Harus diperhitungkan adanya kemungkinan kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan pada orang orang tua atau penyandang cacat non neurologis. Macam macam Gait: • Hemiplegik gait: gaya jalan dengan kaki yang lumpuh digerakkan secara sirkumduksi. pasien akan jatuh kesisi lesi setelah beberapa saat kehilangan kestabilan ( bergoyang – goyang ). Gerakan nya kaku dan terpatah-patah. 35 .– Test mempertahankan sikap. • Pemeriksaan ini hanya dilakukan bila keadaan pasein memungkinkan untuk itu. Pada saat pasien berdiri dan berjalan perhatikan posture. • Tabetic gait: gaya jalan pada pasien tabes dorsalis. • Test romberg positif: baik dengan mata terbuka maupun dengan mata tertutup . • Hopping. • Jalan mundur. – Test disgrafia.

pada paraparese flaccid atau paralisis n. kedua tungkai berfleksi sedikit pada sendi lutut dan panggul. Peroneus. Langkah dilakukan setengah diseret dengan jangkauan yang pendek-pendek. • Parkinsonian gait: gaya berjalan dengan sikap tubuh agak membungkuk. 36 . khas untuk kelemahan otot tungkai proksimal. misalnya otot gluteus. • Waddling gait: gaya berjalan dengan pantat dan pinggang bergoyang berlebihan.• Steppage gait: gaya jalan seperti ayam jago.

Duus Peter. 553 4. 1990. 78-127 8. FKUI. Binarupa Aksara. Chusid JG. 18-50 6.DAFTAR PUSTAKA 1. 2007. 225-257 37 . Fisiologi. Fitzgerald MJ. Jogjakarta. Jakarta. 7-111 3. Markam S. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. EGC. 150-190 7. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi. Cambell W. Jakarta. Juwono T. Plum F. Lumbantobing SM. Lippincott Williams and Wilkins. 2004. Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional Bagian Satu. DeJong’s The Neurologic Examination Sixth edition.97-277 2. EGC. 2005.19-20. Pemeriksaan Klinik Neurologi dalam Praktek. Philadelpia.37-40. Jakarta. Mtui E. 38-42 5. Jakarta. Plum and Posner Diagnosis of Stupor and Coma fourth edition. Clinical Neuroanatomy and Neuroscience Fifth edition International edition. Penuntun Neurologi. 2007. Gajah Mada University Press. Tanda dan Gejala edisi II. Saper CB. Posner JB. Schiff ND. British. Oxford University Press. Saunders Elsevier. Gruener G. Oxford.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful