P. 1
Cerpen Robohnya Surau Kami

Cerpen Robohnya Surau Kami

|Views: 18|Likes:
Published by Ayu Laras
novel
novel

More info:

Published by: Ayu Laras on Oct 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2014

pdf

text

original

cerpen robohnya surau kami

Menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat o r a n g y a n g m a s u k s u r g a , i a melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan “selamat ketemu nanti”. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang.Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambiltersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama."Engkau?""Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.""Aku tidak tanya nama. Nama bagiku tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.""Ya, Tuhanku.""Apa kerjamu di dunia?""Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.""Lain?""Setiap hari, setiap malam, bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut namaMu.""Lain?""Segala tegah-Mu, kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun duniaseluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu.""Lain?"" Y a , Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat m e n y e m b a h - M u , menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buahbibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkanumat-Mu.""Lain?"Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belumdikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tibamenghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanyamengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu."Lain lagi?" tanya Tuhan."Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih danPenyayang, Adil dan Mahatahu."Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhandengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya. Tapi Tuhan bertanya lagi: "Tak ada lagi?""O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu."" L a i n ? " " S u d a h kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku l u p a mengatakannya, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu.""Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?""Ya, itulah semuanya, Tuhanku.""Masuk kamu."D a n m a l a i k a t d e n g a n s i g a p n y a m e n j e w e r H a j i S a l e h k e n e r a k a . H a j i S a l e h t i d a k mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti yang dikehendaki Tuhan daripadanyadan ia percaya Tuhan tidak silap. Alangkah tercenggangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah takmengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang-orang yang dilihatnya di neraka itutak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula.L a l u H a j i S a l e h m e n d e k a t i m e r e k a , d a n b e r t a n y a k e n a p a m e r e k a d i n e r a k a k a n semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga."Bagaimana Tuhan kita ini?" kata Haji Saleh kemudian, “Bukankah kita disuruhnya-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.” “Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang se-negeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat.” “Ini sungguh tidak adil.” “Memang tidak adil,” kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh. “Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.” “Kita harus mengingatkan Tuhan, kalaukalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.” “Benar. Benar. Benar.” Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. “Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?” suatu suara melengkingdi dalam kelompok orang banyak itu. “Kita protes. Kita resolusikan,” kata Haji Saleh. “Apa kita revolusikan juga?” tanya suara lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpingerakan revolusioner. “Itu tergantung pada keadaan,” kata Haji Saleh. “Yang penting sekarang, mari kita berdemontrasi menghadap Tuhan.” “Cocok sekali. Di dunia dulu dengan

demontrasi saja banyak yang kita peroleh,” sebuahsuara menyela. “Setuju. Setuju. Setuju.” Mereka bersorak beramai-ramai. Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadapTuhan. Dan Tuhan bertanya. “Kalian mau apa?” Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: “O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yangpaling taat beribadat, yang paling taat menyemba h-Mu. Kamilah orangorang yang selalumenyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. A k a n t e t a p i , T u h a n k u y a n g M a h a k u a s a , s e t e l a h k a m i E n g k a u p a n g g i l k e m a r i , E n g k a u masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atasnama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.” “Kalian di dunia tinggal di mana?” tanya Tuhan. “Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.” “O, di negeri yang tanahnya subur itu?” “Ya, benarlah itu, Tuhanku.” “ T a n a h n y a y a n g m a h a k a y a - r a y a , p e n u h o l e h l o g a m , m i n y a k d a n b e r b a g a i b a h a n tambang lainnya bukan?” “ B e n a r . B e n a r . B e n a r . T u h a n k a m i . I t u l a h n e g e r i k a m i . ” M e r e k a m u l a i m e n j a w a b serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yaki nlahmereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu. “Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?” “Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.” “Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.” “Negeri yang lama diperbudak orang lain?” “Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.” “ D a n h a s i l t a n a h m u , m e r e k a y a n g m e n g e r u k n y a , d a n d i a n g k u t n y a k e n e g e r i n y a , bukan?” “Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.” “Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedanghasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?” “Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang pentingbagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.” “Engkau rela tetap melarat, bukan?” “Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.” “Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?” “Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mumereka hafal di luar kepala.” “Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?” “Ada,Tuhanku.” “Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melar at, hingga anak cucumu teraniayasemua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka.Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku berikau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanyaberamal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkaukira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji danmenyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah merekaini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya.” Semua jadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa j a l a n y a n g d i r e d h a i Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah y a n g dikerjakannya di dunia itu salah atau benar.T a p i i a t a k b e r a n i b e r t a n y a k e p a d a T u h a n . I a b e r t a n y a s a j a p a d a m a l a i k a t y a n g mengiring mereka itu."Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?" tanya HajiSaleh."Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupankaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucarkacirs e l a m a n y a . I n i l a h k e s a l a h a n m u y a n g t e r b e s a r , t e r l a l u e g o i s t i s . P a d a h a l e n g k a u d i d u n i a berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikit pun."...Demikian cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang

memurungkan Kakek.D a n b e s o k n y a , k e t i k a a k u m a u t u r u n r u m a h p a g i - p a g i , i s t r i k u b e r k a t a a p a a k u t a k p e r g i menjenguk."Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget."Kakek.""Kakek?""Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikansekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.""Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istrikuyang tercengang-cengang. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa sama istrinyasaja. Lalu aku tanya dia."Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi."Tidakkah ia tahu Kakek meninggal?""Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.""Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa olehperbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang ke mana dia?""Kerja""Kerja?" tanyaku mengulangi hampa."Ya. Dia pergi kerja."

RESENSI CERPEN Judul:RobohnyaSurau Kami Penulis: A.A. Navis Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Halaman: 139 “Robohnya Surau Kami”. Bercerita tentang seorang kakek yang bersedih setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi. Cerita itu adalah tentang percakapan Tuhan dengan seorang manusia yang bernama Haji Saleh, di akhirat ketika Tuhan memeriksa orangorang yang sudah berpulang. Haji Saleh meyakini bahwa dirinya akan dimasukkan ke surga. Namun ternyata Tuhan mengirimnya ke neraka. Haji Saleh kaget dan begitu tercengangnya ketika ia mendapati teman-temannya sedang merintih kesakitan di dalam sana. Ia tak mengerti karena semua orang yang dilihatnya adalah mereka yang tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Akhirnya mereka semua memutuskan untuk memprotes keputusan Tuhan. Navis seperti ingin mengingatkan kita yang seringkali berpuas diri dalam ibadah, tapi sesungguhnya lupa memaknai ibadah itu sendiri. Kita rajin sahalat, mengaji dan kegiatan ritual keagamaan lainnya karena kita takut masuk neraka. Kita menginginkan pahala dan keselamatan hanya untuk diri kita sendiri. Kita melupakan kebutuhan orang lain. Karenanya kita tidak merasa berdosa dan bersalah ketika mengambil hak orang lain, menyakiti perasaan sesama atau bahkan melakukan ketidakjujuran dan kemaksiatan di muka bumi. Jika demikian, maka kesalehan agama yang kita miliki tak lebih superfisial saja sifatnya. Kita tidak sepenuhnya ikhlas. Kita lupa bahwa belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh adalah juga ibadah. Berbuat baik terhadap sesama makhluk hidup juga ibadah. Dan bahwa kita mempunyai tangungjawab sosial terhadap masyarakat dan sekeliling kita. KELEBIHAN & KEKURANGAN : KELEBIHAN : Ceritanya menarik sekali, kita bisa mendapatkan banyak ilmu dari cerpen ini, bahasanya sangat mudah untuk dimengerti. KEKURANGAN : Akhir ceritanya belum jelas sehingga pembaca menjadi penasaran karena penulis tidak menuliskan akhir dari cerita ini. Sumber: http://www.terindikasi.com/2012/07/resensi-cerpen-robohnya-suraukami.html#ixzz2AgdKXjNE

Resensi Cerpen Cinta adalah Kesunyian

Identitas cerpen Judul Cerpen: Cinta adalah Kesunyian Nama Pengarang: Gabriel Garcia Marquez Penerbit: Pusaka Sastra LKiS Yogyakarta Tebal Buku: 164 halaman Cerpen yang diresensikan, halaman 75-83 Cetakan: ke-IV, Juli 2009 Penerjemah: Anton Kurnia isi

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. •

Gabriel Garcia Marquez dilahirkan di Aracataca, Kolombia, 1928. Ia adalah peraih Hadiah Nobel Sastra 1982. Anak seorang operator telegraf itu penah belajar ilmu hokum di Universitas Nasiaonal Kolombia, namun tak selesai. Lalu ia bekerja sebagai wartawan dan kontributor untuk sejumlah kantor berita di beberapa negara Amerika Latin, Eropa dan New York. Di kemudian hari ia menjadi redaktor harian berpengaruh yang terbit di Bogota, El Espectador. Marquez dikenal dunia sebagai pengibar realisme magis dalam novel-novelnya, Al Coronet No Tiene Quien Ie Escriba – Tak Seorang Pun Menulis pada Seorang Kolonel (1961). Los Funerales General en Su Labrinto – Sang Jendral pada Labirinnya (1989). Ia juga menerbitkan sejumlah buku nonfiksi. Florentino Ariza yang digambarkan sebagai lelaki dewasa selalu melamunkan dan membayangkan pujaan hatinya Fermina Daza. Florentino selalu membayangkan sang pujaan hati selama hidupnya tanpa mau menjalani kehidupannya yang sekarang menjadikannya terpuruk oleh perasaan cinta, hingga dirinya hidup di dalam kesunyian. Hingga suatu kali dalam perjalanannya dia bertemu dengan seorang wanita, sebuah cinta ia dapatkan namun sayang cinta itu hanya sekejap dan menghilang begitu saja. Dia (Florentino Ariza) pun kembali terpuruk dan mulai membayangkan sang pujaan hati hingga yang tertinggal hanyalah kensunyian. • Kekurangan & Kelebihan Kekurangan Cerita ini memang menggambarkan abad dua puluhan yang kemungkinan besar banyak pembaca sulit membayangkan masa itu. Dan mungkin tak sedikit pembaca akan berhenti di lembar kedua, karena di masa kini sulit untuk memahami bacaan yang tinggi kebahasaannya. Kelebihan Dalam cerpen ini, pengarang menitikberatkan gambaran dan bahasa sastra lama, kebahasaan yang sangat dijiwai pengarang membuat para pembaca kagum. Dan membuat para pembaca lebih terinpirasi. Terutama pada diakhir-akhir alinea, mulai terlihat ciri pengarang yang menggambarkan cerita dapat berakhir dengan hal apapun, tak harus sedih atau pun senang. Sumber : www.kemudian.com

CINTA ADALAH KESUNYIAN
Florentino Ariza mencoba bertahan dalam perjalanan yang begitu berat dengan kesabaran yang membawa kesedihan pada ibunya dan kegusaran pada teman-temannya. Ia tak berbicara pada seorangpun. Hari-hari begitu tenang baginya, saat ia duduk di dekat tangga, menatap buaya-buaya yang diam menjemur diri di tepi sungai berlumpur, mulut mereka terbuka untuk menangkap kupu-kupu. Ia memperhatikan sekawanan bangau yang muncul tanpa aba-aba di rawa-rawa, dan beruk yang menyusui anaknya dan mengejutkan para penumpang dengan lengking jeritannya yang mirip suara tangisan perempuan. Suatu hari ia melihat tiga sosok mayat manusia berwarna kehijauan terapung di permukaan sungai, burung-burung bangkai bertengger di atasnya. Awalnya dua sosok mayat melintas di atas kapal, salah satunya tanpa kepala. Kemudian, mayat sosok perempuan muda mengapung, rambutnya yang panjang dan ikal terpilin pada baling-baling kapal. Ia tak tahu, karena tak seorangpun pernah tahu, apakah mereka korban wabah kolera atau korban perang. Namun bau busuk yang memuakkan mengotori kenangannya pada Fermina Daza. Selalu seperti itu : setiap peristiwa baik atau buruk selalu mengandung keterkaitan dengan perempuan itu. Di malam hari saat kapal membuang sauh dan sebagian besar penumpang berjalan-jalan di geladak dengan putus asa, ia menyimak novel-novel bergambar yang telah ia kenali sepenuh hati di bawah penerangan lampu neon di ruang makan, satu-satunya ruangan yang dibiarkan terang benderang hingga fajar tiba. Kisah yang ia baca seringkali membawa pengaruh magis saat ia mengerti tokoh-tokoh khayalan dengan orang-orang yang ia kenal dalam kehidupan nyata, membuat dirinya dan Fermina Daza memainkan peranan sepasang kekasih yang berseberangan. Di malam-malam yang lain ia menulis surat-surat penuh kesedihan dan kemudian mencabik-cabiknya lalu membuangnya kedalam arus sungai yang terus mengalir kearah perempuan itu tanpa pernah berhenti saat paling sulit. Baginya terkadang muncul dalam sosok seorang pangeran pemalu atau seorang kekasih gelap yang coba dilupakan hingga akhirnya hembusan angin mulai bertiup sepoi-sepoi dan iapun tertidur diatas kursi dekat tangga. Suatu malam ia selesai membaca lebih awal dari biasanya dan berjalan menuju kamar kecil. Sebuah pintu terbuka saat ia melintasi ruang makan, sesosok tangan mirip cakar seekor elang menyambar lengan bajunya dan menariknya kedalam sebuah kamar. Dalam kegelapan ia bisa melihat sesosok tubuh perempuan telanjang, tubuhnya yang muda berkilat oleh keringat yang panas, napasnya terengah-engah. Perempuan itu mendorongnya terbaring menengadah, membuka ikat pinggangnya, melorotkan celananya, menduduki tubuhnya seolah-olah sedang menunggang kuda, dan merampas keperjakaannya. Mereka berdua terperosok dalam sebuah gairah yang menyakitkan, kedalam sebuah lubang tanpa dasar yang hampa dan beraroma seperti rawa-rawa asin penuh udang. Kemudian perempuan itu terbaring sejenak menindih tubuhnya, terengahengah, dan memintanya pergi dalam kegelapan. “Pergilah dan lupakan semua ini, “ ujar perempuan itu. “Semua ini tak pernah terjadi.” Serangan itu terjadi amat cepat dan begitu mendadak sehingga hanya bisa dipahami sebagai sebuah kegiatan terencana, buah dari sebuah persiapan matang hingga detil paling kecil dan bukan sekedar kegiatan tak sengaja yang disebabkan oleh rasa bosan. Kesadaran akan hal ini menimbulkan kemarahan pada diri Florentino Ariza. Rasa nikmat yang baru saja ia alami menandakan sesuatu yang tak bisa ia percayai, bahkan ia menolak untuk mengakui bahwa khayalan cintanya pada Fermina Daza ternyata bisa digusur oleh secuil nafsu duniawi. Ia penasaran ingin mengetahui siapa sesungguhnya perempuan dengan naluri seekor macan kumbang yang telah membawanya pada nasib buruk itu. Tapi ia tak pernah berhasil. Semakin gigih ia mencari, kian jauh ia dari kebenaran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->