BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kemajuan di bidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi masyarakat dan meningkatnya pengetahuan masyarakat yang bermuara dengan meningkatnya pada kesejahteraan rakyat akan meningkatkan usia harapan hidup sehingga menyebabkan jumlah penduduk usia lanjut dari tahun ke tahun semakin meningkat (Nugroho, 2000). Pada tahun 2000 jumlah usia lanjut di Indonesia sekitar 15.1 juta jiwa atau 7.2% dari seluruh penduduk (Depsos, 2005). Pada tahun 2010 diperkirakan jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia, sebesar 24 juta jiwa atau 9.77% dari total jumlah penduduk (Depkes, 2008). Usia lanjut sebagai tahap akhir siklus kehidupan merupakan tahap perkembangan normal yang akan dialami oleh setiap individu yang sudah mencapai usia lanjut tersebut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat dihalangi (Stanley, 2006). Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang dapat berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degeneratif. Hal ini akan menimbulkan masalah kesehatan, sosial, ekonomi dan psikologis (Depkes, 2008). Salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada masa usia lanjut adalah hipertensi. Sekitar 60% lansia akan mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Hal ini merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi pada orang yang bertambah usianya. Data dari The

National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insiden hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar 29-31%, yang berarti terdapat 58-65 juta penderita hipertensi di Amerika (Yogiantoro, 2006). Berdasarkan data Depkes (2008), prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31.7%. Proporsi mortality rate
hipertensi di seluruh dunia adalah 13% atau sekitar 7,1 juta kematian. Sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdeteksi dan tidak diketahui penyebabnya. Keadaan ini tentu sangat berbahaya yang menyebabakan kematian dan berbagai komplikasi seperti stroke. Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit stroke dan tuberkulosis mencapai 6,7% dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia. Prevalensi hipertensi secara nasional mencapai 31,7% (Riskesdas, 2007). Pada kelompok umur 25-34 tahun sebesar 7% naik menjadi 16%

sikap. memperkuat logistik dan distribusi untuk deteksi dini faktor resiko penyakit jantung dan hipertensi. Pengetahuan dalam pencegahan komplikasi hipertensi dilatarbelakangi oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi meliputi pengetahuan. hal tersebut disebabkan oleh faktor pengetahuan penderita hipertensi. 2007). tidak merokok dan tidak minum alkohol. Sikap merupakan suatu tindakan aktivitas. Pemerintah mengadakan penanggulangan hipertensi bekerjasama dengan Perhimpunan Hipertensi Indonesia atau Indonesian Society of Hypertension (InaSH) membuat kebijakan berupa pedoman penanggulangan hipertensi sesuai kemajuan tekhnologi dan kondisi daerah (local area specific). akan tetapi merupakan predisposisi dari perilaku. 2008). Perilaku merupakan faktor kedua terjadi perubahan derajat kesehatan masyarakat . Peran pemerintah sangat penting didukung juga oleh tingkat pengetahuan keluarga maupun pasien dalam tindakan pencegahan komplikasi hipertensi diharapkan dapat mengontrol tekanan darah yaitu mengurangi konsumsi garam. Penelitian Mardiyati (2009). 2001 cit Yanti. olahraga teratur. 2007). 2001). Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Mubarak dkk. mengembangkan SDM dan sistem pembiayaan serta memperkuat jejaring serta memonitoring dan evaluasi pelaksanaan. menunjukkan bahwa penderita hipertensi mempunyai sikap yang buruk dalam menjalani diet hipertensi. faktor pendukung meliputi ketersediaan sumber fasilitas. anggota keluarga dan teman dekat (Notoatmodjo. faktor pendorong meliputi sikap. membatasi lemak.pada kelompok umur 35-44 tahun dan kelompok umur 65 tahun atau lebih menjadi 29% (Survey Kesehatan Nasional. perilaku seseorang adalah penyebab utama menimbulkan masalah kesehatan.tetapi juga merupakan kunci utama pemecahan. perilaku petugas kesehatan. Peningkatan pengetahuan penderita hipertensi tentang penyakit akan mengarah pada kemajuan berfikir tentang perilaku kesehatan yang lebih baik sehingga berpengaruh terhadap terkontrolnya tekanan darah. Menurut (WHO. tradisi keluarga. kepercayaan. 1992 cit Notoatmodjo. 2007). Pengetahuan atau kognitif merupakan faktor dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). nilai. . menghindari kegemukan atau obesitas (Gunawan. Meningkatnya kasus hipertensi menjadi masalah yang cukup besar.

2. Untuk mengetahui bagaimana hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia dengan hipertensi. Manfaat Penelitian 1. Keaslian Penelitian 7 1. D. 3. Tujuan Peneitian 1. Tujuan Khusus i. Apakah terdapat hubungan antara tngkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia penderita hipertensi ? 2. Bagaimana hubugan antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia dengan hipertensi ? C. 2. dengan juGXO ³+XEXQJDQ SHQJHWDKXDQ DQWDUD NHOXDUJD tentang komplikasi hipertensi dengan praktek pencegahan komplikasi . E. meningkatkan kepatuhan minum obat dan melakukan kontrol tekanan darah secara rutin pada pasien lansia dengan hipertensi. Yanti (2008). Rumusan Masalah 1. Untuk mengetahui adanya hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku pada lansia dengan hipertensi. Memberikan informasi berkaitan dengan pentingnya menjaga gaya hidup. Memberikan kontribusi terhadap pengambilan kebijakan pemerintah dalam usaha penaggulangan hipertensi. Tujuan Umum i. Memberikan kontribusi dalam perkembanan ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Kesehatan Masyarakat.B.

Perbedaannya dengan penelitian ini yaitu menggunakan sampel pasien yang rawat jalan yang rutin kontrol dan pasien baru atau pasien lama yang sudah pernah memeriksakan di Poliklinik Penyakit Dalam RS Jogja.hipertensi di wilayah kerja Pukesmas Gamping 2 Sleman <RJ\DNDUWD´ Uji statistik diperoleh sig. Pramitasari (2009). Demikian pula hasil uji statistik untuk hubungan antara tingkat pengetahuan tentang komplikasi hipertensi dengan praktek pecegahan gaya hidup menunjukkan bahwa sig.296 yang berarti lebih besar dari 0. Penelitian ini tempatnya di Rumah Sakit tidak di komunitas.05 sehingga dapat di simpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang komplikasi hipertensi dengan praktek diet. 2. Persamaaannya dengan penelitian ini adalah dengan desain non eksperiment menggunakan pendekatan cross sectional dan metode purposive sampling teknik pengambilan sampel sesuai kehendak peneliti.(2-tailed) adalah 0. dengan MXGXO ³+XEXQJDQ NHOXDUJD GXNXQJDQ WHUKDGDS perilaku kontrol pasien hipertensi lanjut usia di wilayah kerja Pukesmas 8 .05 sehingga tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang komplikasi hipertensi dengan praktek pencegahan gaya hidup. (2-tailed) sebesar 0.929 untuk hubungan antara tingkat pengetahuan tentang komplikasi hipertensi dengan praktek pencegahan diet. Nilai ini lebih dari 0.

Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan quota sampling. Persamaaannya dengan penelitian ini adalah dengan desain non eksperiment menggunakan pendekatan cross sectional . dengan nilai P= 0. . Perbedaannya dengan penelitian saya yaitu menggunakan sampel pasien yang rawat jalan yang rutin kontrol dan pasien baru atau pasien lama yang sudah pernah memeriksakan di Poliklinik Penyakit Dalam RS Jogja dan tidak dilakukan wawancara terstruktur. Dari penelitian ini di dapatkan hasil yaitu terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku kontrol pasien lansia hipertensi di wilayah kerja Pukesmas Gamping II Kabupaten Sleman. Instrument penelitian menggunakan metode wawancara terstruktur dengan kuisioner.Gamping II KabupatHQ 'HVDLQ LQL SHQHOLWLDQ DGDODK 6OHPDQ´ cross sectional.000. Dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada pasien hipertensi.

Persamaaannya dengan penelitian ini adalah dengan desain non eksperiment menggunakan pendekatan cross sectional dan metode purposive sampling teknik pengambilan sampel sesuai kehendak peneliti. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuisioner. . Perbedaannya dengan penelitian ini yaitu menggunakan sampel pasien yang rawat jalan yang rutin kontrol dan pasien baru atau pasien lama yang sudah pernah memeriksakan di Poliklinik Penyakit Dalam RS Jogja.farmakologi dan non farmakologi dengan terkontrolnya tekanan darah pada lansia di wilayah penelitian yang dilakukan adalah non eksperiment. Hasil pengujian hipotesis didapatkan bahwa ada hubungan antara penatalaksanaan hipertensi secara farmakologi dengan terkontrolnya tekanan darah p=0. Data yang diperoleh retrospektif penelitian ini cara pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling.012 untuk variable penatalaksanaan 9 hipertensi secara farmakologi: nilai p >0.05 dan tidak ada hubungan antara penatalaksanaan hipertensi secara non farmakologi dengan terkontrolnya tekanan darah pada lansia di wilayah Pukesmas Soasio Maluku Utara. Membagikan kuesioner kepada pasien hipertensi.