P. 1
jurnal fitomedisin brotowali

jurnal fitomedisin brotowali

|Views: 420|Likes:
Published by vietra_ardian

More info:

Published by: vietra_ardian on Oct 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2015

pdf

text

original

EFEK HEPATOPROTEKTOR BROTOWALI (Tinospora cordifolia Miers) TERHADAP VIRUS HEPATITIS B EFFECT OF HEPATOPROTECTOR BROTOWALI (Tinospora cordifolia Miers

) AGAINST HEPATITIS B VIRUS Rini Prastiwi Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Jl. Let. Jend. Sutoyo, Mojosongo, Surakarta 57127 ABSTRAK Brotowali (Tinospora cordifolia Miers) telah banyak digunakan sebagai hepatoprotektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek batang brotowali (Tinospora cordifolia Miers) sebagai hepatoprotektor terhadap virus hepatitis B dengan menggunakan vaksin hepatitis B sebagai penginduksi pada hewan coba mencit balb/c. Percobaan dengan menggunakan 4 kelompok perlakuan yang terdiri dari kelompok kontrol positif (curcuma), kontrol negatif, kontrol normal dan kelompok ekstrak brotowali dengan dosis 100 mg/20 gram BB mencit. Penelitian dilakukan selama 35 hari. Cek kadar ALT pertama dilakukan pada hari ke 0, dan cek kadar ALT yang kedua pada hari ke 35. Cek histopatologi hati dilakukan pda hari ke 35 dengan membedah mencit dan melihat keadaan sel hatinya. Pemakaian vaksin hepatitis B sebanyak 0,0526 mcg / mL suspensi/20 g BB mencit. Pengobatan ekstrak metanol brotowali dosis 100 mg/20 gram BB mencit pada penginduksian dengan vaksin hepatitis B diketahui dapat melindungi hati yang diidentifikasi dengan penurunan level enzim ALT dalam serum dan mengurangi nekrosis hati. Dosis ekstrak brotowali 100 mg/20 gram BB mencit dapat menurunkan kadar serum ALT sebanyak 3.60 ± 0.89 U/L, ini lebih bagus jika dibandingkan dengan kontrl positif dengan penurunan sebesar 1.60 ± 4.62. Uji histopatologi nekrosis sel hati memberikan hasil ekstrak brotoali mampu mencegah kerusakan sel hati sebesar 48.30 ± 2.45 %. Berdasarkan uji identifikasi kandungan senyawa didapatkan hasil senyawa yang terdapat dalam brotowali adalah terpen, steroid, flavonoid, glikosida dan alkaloid. Kesimpulan penelitian kami menunjukkan bahwa pengobatan dengan ekstrak metanol brotowali (Tinospora cordifolia Miers) mampu memberikan pertolongan pada perbaikan fungsi hati akibat penginduksian dengan vaksin hepatitis B. Senyawa yang aktif sebagai hepatoprotektor dalam batang brotowali adalah terpen, steroid, flavonoid, glikosida dan alkaloid. Kata kunci : hepatoprotektor, Tinospora cordifolia Miers ABSTRACT Bitter grape (Tinospora cordifolia Miers) have been widely used as hepatoprotector. This study aims to determine the effect brotowali stem (Tinospora cordifolia Miers) as hepatoprotector against hepatitis B virus using hepatitis B vaccine as induced in experimental animals balb / c. The experiments using the 4 treatment groups consisting of the positive control group (curcuma), negative control, normal control and group brotowali extract with dose of 100 mg/20 g body weight of mice. The study was conducted for 35 days. Check first ALT levels done on day 0, and check the second ALT levels at day 35. Check liver histopathology carried pda day to 35 with dissected mice and see the state of heart cells. Use of hepatitis B vaccine as much as 0.0526 mcg / mL suspensi/20 g BW mice. Treatment of methanol extracts brotowali dose of 100 mg/20 g body weight of mice on penginduksian with hepatitis B vaccine known to protect the liver were identified by a decrease in serum ALT enzyme levels and reduced liver necrosis. Brotowali extract dose 100 mg/20 g body weight of mice can reduce levels of serum ALT as much as 3.60 ± 0.89 U / L, this was better when compared with positive kontrl with a decrease of 1.60 ± 4.62. Liver cell necrosis histopathology test results brotoali extract can prevent liver cell damage amounted to 48.30 ± 2:45%. Based on the identification test results obtained compound compounds contained in brotowali is Terpen, steroids, flavonoids, glycosides and alkaloids. The conclusion Our study showed that treatment with methanol extract brotowali (Tinospora cordifolia Miers) is able to provide help to the improvement of liver function due to penginduksian with hepatitis B vaccine Active compounds as hepatoprotector in stem brotowali is Terpen, steroids, flavonoids, glycosides and alkaloids. Key words : hepatoprotector, Tinospora cordifolia Miers

mikropipet .1. serta mencocokkan ciri-ciri morfologis yang ada pada tanaman brotowali terhadap kepustakaan dan dibuktikan oleh Laboratorium Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan Universitas Setia Budi Surakarta. heksan. Akibatnya. Virus hepatitis B adalah virus nonsitopatik. rifampicin dan pyrazinamide (Panchabai. Selain itu virus hepatitis B dapat menyebabkan karsinoma hepatoseluler (Liang. sentrifuge berpendingin (IEC Centra 7R).PENDAHULUAN Hepatitis merupakan penyakit virus yang berbahaya dan perlu perhatian yang lebih (Hargono. yaitu terbentuknya jaringan parut yang menggantikan sel-sel hati yang telah rusak.. timbangan. yang berarti virus tersebut tidak menyebabkan kerusakan langsung pada sel hati. 2002). jaringan hati yang sehat tidak cukup untuk melakukan fungsi metabolisme. 2005). Karanganyar. Kit reagen ALT. sebaliknya adalah karena reaksi yang bersifat menyerang oleh sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyebabkan radang dan kerusakan pada hati (Horn and Learned . silika gel. rifampicin dan isoniazid. Kerusakan hepar ditandai dengan adanya degenerasi. Ada pula yang bekerja sebagai imunomodulator. . yang menjadi kendala adalah para peminat atau konsumen obat-obat tradisional belum mengetahui dan kurang mendapatkan informasi yang memadai tentang berbagai jenis tumbuhan yang dapat dipakai sebagai ramuan obat tradisional Berdasarkan uraian di atas sangat menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai apakah brotowali juga bisa sebagai hepatoprotektor pada induksi virus hepatitis B. kemudian dilakukan perajangan menjadi bagian yang lebih tipis dan kecil. Determinasi Tanaman Brotowali (Tinospora cordifolia) Tahap pertama penelitian ini adalah menetapkan kebenaran sampel batang brotowali berkaitan dengan ciri-ciri mikroskopis dan makroskopis dari tanaman brotowali tersebut. 2. namun karena beratnya kerusakan. Bahan kimia : Kit Gpt. Pada awalnya. fibrosis. METODE PENELITIAN 1. alat-alat gelas. Prosedur Pelaksanaan 2. Brotowali merupakan salah satu tanaman yang dilaporkan mempunyai efek memperbaiki kerusakan hepatoseluler yang diinduksi oleh obat-obat TBC yaitu isoniazid. Mencit. Pengobatan dengan menggunakan ramuan tumbuhan mempunyai kelebihan yaitu minimnya efek samping yang ditimbulkan seperti yang terjadi pada pengobatan kimiawi. etil asetat. Pembuatan Serbuk Batang Brotowali Batang brotowali dicuci dengan air mengalir hingga bersih. (2007) meneliti bahwa ekstrak air dari brotowali dapat meningkatkan respon imun dan mencegah kerusakan hepar pada induksi obat-obat TBC pirazinamid. Pada organ hati yang terkena virus dan telah terjadi fibrosis. dengan menghambat pembentukan protein dan enzim yang dibutuhkan virus untuk perkembangbiakannya. nekrosis. dilanjutkan pengeringan dengan sinar matahari langsung sampai kering kemudian simplisia kering tersebut diserbukkan dengan cara diblender dan diayak dengan ayakan no. Bahan dan Alat Bahan utama : Batang Tinospora cordifolia yang di ambil dari BPTO Tawang Mangu. yaitu selain aktif membasmi virus juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh.2. dan senyawa apakah yang aktif sebagai hepatoprotektor. Jawa Tengah. 1996).40. Adharyu dkk. vaksin Hepatitis B. Ada yang bekerja menghambat replikasi virus. Alat : Spektrofotometri. jaringan parut yang terbentuk pun semakin banyak sehingga hati tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. detoksifikasi dan fungsi lainnya untuk menjaga agar tubuh tetap sehat. Di pasaran telah tersedia berbagai macam obat antivirus. hati membentuk jaringan parut untuk melindungi dirinya dari peradangan. Aquadest. metanol. 2. 2008).

Diamkan. Selama pemberian vaksin tetap diberi perlakuan yang sama pada masing-masing kelompok. Identifikasi serbuk meliputi pemeriksaan organoleptik dan kandungan kimia sebagai berikut: a. reaksi positif ditunjukkan dengan warna merah atau kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol. Darah tikus yang telah diambil lalu ditampung di dalam tabung sentrifuge. dilakukan sebanyak 3x pengulangan. akan memberikan warna merah tua. kemudian dikalikan 10x pemakaian untuk membuat kondisi menci menjadi hepatitis = 0. terbentuk buih mantap selama tidak kurang 10 menit setinggi 1 cm sampai 10 cm. dihitung sebagai hari ke O.6.Pemeriksaan Organoleptik. ditambah dengan kalsium besi ( III ) sianida dan amoniak. masing-masing kelompok terdiri dari 6 mencit kelompok I sebagai kontrol positif. chloroform. dan kontrol cmc sebagai kontrol negatif. Vaksinasi kedua dilakukan pada hari ke 28.52 µg/20 gram mencit. b. agar sel-sel darah mengendap dan terpisah dari plasmanya (beningan di atas endapan). Sejumlah hewan uji dibagi menjadi 4 kelompok. kemudian disentrifuge.1% cmc. bau dan rasa.Tanin. buih tidak hilang jika ditambah asam klorida.5.0026. di cek kadar ALTnya dan selanjutnya semua hewan uji dikorbankan serta diperiksa hatinya untuk efek hepatoselulernya dengan metode histological-microscopic photograph menggunakan pengecatan hematoxylin-eosin. yang sebelumnya telah diberi vaksin hepatitis B. 2.052 µg x 10 = 0.052 µg/20 gram mencit. e. anthrakinon. Sebelum dilakukan vaksinasi I mencit di cek kadar ALT. temperatur 37o C. Kelompok IV pemberian ekstrak brotowali konsentrasi 100 mg / kg BB Semua kelompok diberi vaksin yang dilakukan secara intraperitoneal (vaksinasi I. Saring melalui kertas saring untuk mendapatkan filtrat.Saponin. Identifikasi Kandungan Senyawa Kimia pada Ekstrak Batang Brotowali Identifikasi kandungan senyawa pada ekstrak metanolik batang brotowali dilakukan dengan cara kualitatif dan Kromatografi lapis Tipis (KLT) terhadap kandungan-kandungan yang mungkin terdapat di dalamnya. 2. Penyediaan ekstrak Seratus gram Serbuk kering Tinospora cordifolia diekstraksi dengan metanol dengan soxhlet. Pemeriksaan kandungan kimia dengan cara kromatgografi lapis tipis.3. dikondisikan selama 7 hari. etil asetat. Eksrtrak yang diperoleh dilarutkan dalam larutan 0. Meliputi: bentuk.4.Identifikasi Kandungan Kimia. Dosis yang digunakan pada mencit adalah dikonversikan dengan dosis manusia ke dosis mencit yaitu angka 0. 2. Tes ALT Tes Alt dilakukan pada hari ke 0 dan hari ke 35 dengan menggunakan reagen kit ALT.2. Mencit dari semua kelompok di ambil darahnya dari plexus retroorbitalis dengan pipa kaliper berheparin. dikocok kuat. Filtrat serbuk dimasukkan dalam tabung reaksi ditambah air panas. kelompok II sebagai kontrol negatif. f.0026 x 20 µg = 0. Filtrat serbuk ditambah dengan sedikit serbuk Mg kemudian ditambah larutan alkohol : HCl (1:1) ditambah larutan amil alkohol. c.Flavonoid. warna. dengan pemberian peroral sekali sehari. Filtrat serbuk dimasukkan tabung reaksi. alkaloid. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak campuran etanol. Alat di atur pada panjang gelombang 340 nm. Pada hari ke 35. d. saponin. Filtrat serbuk dibuat dengan cara: serbuk sebanyak 1 gram tambahkan air kemudian dipanaskan selama 15 menit. Dosis Pemberian Vaksin Hepatitis B pada mencit = faktor konversi manusia ke mencit x dosis pemakaian = 0. Sampel sebanyak 50 µl dan 500 µl . heksan. Sebagai kontrol positif digunakan ekstrak Curcuma. Kelompok III sebagai kontrol normal (tanpa perlakuan) Mencit yang dipakai adalah mencit dengan umur ± 12 minggu. kemudian diberikan pada mencit per oral dosis 100 mg/kg BB. setelah 7 hari pengkondisian). didinginkan dan dikocok kuat-kuat selam 10 detik. berat ± 20 gram. Penyediaan persiapan hewan uji dan pengambilan sampel hewan uji. diantaranya yaitu flavonoid.

yaitu batang brotowali (Tinospora cordifolia Miers). Pengamatan Hepatoseluler Pengamatan Hepatoseluler dilakukan dengan metode Histologicall-microscopic photograph menggunakan pengecatan hematocylin-eosin untuk melihat apakah terdapat perubahan pada sel hati. Analisa statistik yang digunakan dalam pengolahan data yaitu anova dua jalan dilanjutkan dengan uji Dunnett T3 taraf kepercayaan 95%. 2. Pengeringan dilakukan dibawah sinar matahari secara tidak langsung dengan ditutupi kain warna hitam agar kerusakan senyawa aktif dapat dikurangi. 2. Apabila terjadi kerusakan hati maka enzim yang berada pada sel-sel hati akan tumpah ke dalam darah. Uji Efek Hepatoprotektor 4. Uji ALT Transaminase adalah sekelompok enzim yang merupakan katalisator dalam pemindahan gugus amino antara suatu asam alfa amino dengan asam keto (Soemohardjo et al 1983). Makin kuat daya hepatotoksik bahan uji. setelah pemberian perlakuan dengan ekstrak Tinospora cordifolia selama 53 hari.8. Penyediaan Ekstrak Simplisia kering batang brotowali (Tinospora cordifolia Miers) sebanyak 100 gram diekstraksi dengan Soxhlet menggunakan pelarut metanol.dicampur kemudian dibaca absorbansinya pada fotometer. Alanine aminotransferase (ALT) adalah enzim aminotransferase yang paling sensitif dan paling banyak digunakan di hati. 3. Pengeringan dan Pembuatan Serbuk Bahan utama yang dipakai. Hasil Determinasi Tumbuhan Hasil determinasi tumbuhan menyatakan bahwa tanaman yang telah diteliti adalah brotowali (Tinospora cordifolia Miers). ALT sebagian besar ditemukan di hati maka digunakan sebagai indikator yang spesifik dari kerusakan hati. dibanding dengan kontrol. makin besar kemampuannya untuk mempertahankan aktifitas aminotransaminase. 2. 4. Aktifitas enzym ALT yang dihitung.7. dinyatakan dalam U/L dan dihitung untuk tiap-tiap kelompok mencit. Percobaan hepatoprotektor dengan uji ALT dan histopatologi hati. Enzim transaminase dalam darah terdiri dari dua enzim yaitu ALT dan AST. sehingga akan meningkatkan kadar enzim ALT di dalam darah dan merupakan tanda terjadi kerusakan hati. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil rata-rata penurunan nilaiALT adalah sebagai berikut. ALT juga dikenal sebagai serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). Analisi statistik yang digunakan adalah analisis non-parametrik.1. Analisis Hasil Data kuantitatif yang diperoleh dievaluasi secara statistik yang melibatkan semua kelomok perlakuan. Uji Tukey dan Uji Dunett T3. . Pengeringan dilakukan untuk mengurangi kandungan air dan mencegah pertumbuhan mikroba.

Uji Kolomogorov-Smirnov terhadap persentase penurunan nekrosis hati memberikan hasil data terdistribusi secara normal.Tabel 1.89 -2.05 ).80 ± 2.05 ( 0. Bagian yang diamati intinya menyusut.2.17 1.60 ± 4. Kesimpulan yang diambil bahwa data terdistribusi normal. 2004). Histogram rata-rata penurunan nilai ALT Uji Tukey didapatkan tanda * (bintang ) disebelah angka mean difference yang terdapat pada lampiran.40 1 2 3 4 Kelompok ekstrak brotowali Kelompok kontrol normal Kelompok kontrol positif Kelompok kontrol negatif Histogram nilai penurunan ALT dapat terlihat pada tabel dibawah ini: Gambar 1. . Rata-rata nilai ALT tiap kelompok perlakuan Kelompok Kelompok perlakuan Rata-rata nilai ALT (U/L) 3. batas tidak teratur dan berwarna gelap (Cotran dan Mitchell.26 ± 6. ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara pemberian ekstrak Brotowali (Tinospora cordifolia Miers) dalam penurunan nilai ALT antara masing-masing kelompok perlakuan. sehingga uji dapat dilanjutkan dengan menggunakan ANOVA.62 -21. Enzim hati pada dasarnya merubah obat menjadi bahan yang lebih polar dan mudah larut dalam air sehingga mudah diekskresikan melalui ginjal. Pada kelompok ekstrak tidak memberikan perbedaan signifikan dalam penurunan nilai ALT yaitu pada kelompok kontrol normal dan kontrol positif.60 ± 0. tetapi berbeda secara signifikan dalam peningkatan nilai ALT bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. 4. terutama obat-obat peroral. Parameter yang digunakan untuk mengukur derajat kerusakan hati adalah jumlah inti piknotik yang merupakan pertanda terjadinya nekrosis sel.00 < 0.Uji Histologi Hati Hati adalah organ utama dalam metabolisme obat. ini ditunjukkan dengan signifikasi percobaan lebih kecil dari 0.

52 ± 8.001 ( 0.30 ± 2. Kelompok 1 2 3 4 Kelompok perlakuan Kelompok ekstrak Kelompok kontrol normal Kelompok kontrol positif Kelompok kontrol negatif Rata-rata nekrosis hati (%) 48. Pada kelompok ekstrak tidak memberikan perbedaan signifikan dalam penurunan nekrosis hati yaitu pada kelompok kontrol normal dan kontrol positif.05 ). nilai tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan 0.001 < 0. Uji yang digunakan selanjutnya adalah uji Dunett T3 untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak Brotowali (Tinospora cordifolia Miers) pada persentase penurunan nekrosis pada hati antara masing-masing kelompok perlakuan . Tabel 2.90 ± 3.849. tetapi berbeda secara signifikan dalam peningkatan nekrosis hati bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif.06 ± 5. Histogram nilai rata-rata nekrosis hati .34 65.46 45.Uji homogenitas ANOVA didapatkan hasil percobaan sebesar 0.62 Gambar 2.45 41. Rata-rata persentase nekrosis hati Hasil rata-rata nekrosis hati dapat terlihat pada histogram dibawah ini.

5) Flavonoid Etil asetat : Asam formiat : Asam asetat : Air (100 : 11 : 11 : 27) Terpenoid Kloroform : methanol (2 : 8) Steroid Toluen : Etil asetat (93 : 7) glikosida Kloroform : methanol : air (3 : 1 : 0. Fase gerak yang digunakan untuk masing-masing senyawa terlihat pada tabel 3. Masing-masing senyawa aktif yang diuji adalah alkaloid.83) (Rf 0. Sel yang mengalami nekrosis pada tiap kelompok perlakuan. flavonoid.16) Hasil identifikasi kandungan senyawa dalam batang brotowali secara uji tabung dapat terlihat pada tabel dibawah ini.96) Metanol : amoniak (100 : 1. Data kandungan senyawa dalam ekstrak batang brotowali Senyawa Kimia Alkaloid Fase gerak Fase diam Silika GF254 deteksi Hasil Positif Rf (Rf 0. .98) Silika GF254 Silika GF254 Silika GF254 gel Liberman burchad Positif (Rf 0. 0. Tabel 3. terpenoid.31).1) gel Dragendorf Sellulosa Amonia Positif (Rf 0. Ekstrak batang brotowali dilakukan identifikasi kandungan senyawa aktifnya.Ekstrak Kontrol Positif Kontrol Negatif Kontrol normal Gambar 3. glikosida. (Rf 0.69) gel Vanilin-asam Positif sulfat gel Asam sulfat Positif 10 % (Rf.

Brotowali juga dapat mencegah peroksidasi lipid yagn biasa memicu terjadinya kerusakan pada sel (Meghna et al.62. Nilai rata-rata penurunan ALT pada ekstrak brotowali sebesar 3.. dikocok kuat. didinginkan dan dikocok kuat-kuat selam 10 detik. yang berkhasiat sebagai hepatoprotektor adalah flavonoid. dibanding dengan kelompok kontrol positif memberikan selisih hasil yang tidak berbeda secara bermakna yakni mencegah nekrosis hati sebesar 48.90 ± 3.30 ± 2. selain itu brotowali juga dapat meningkatkan GM-CSF (Granulocyte Machrophage Colony Stimulating Factor). Berdasarkan hasil nilai ALT dan uji histologi hati terlihat ekstrak memiliki aktivitas yang lebih bagus dibandingkan dengan kontrol positif (curcuma). Hasil Identifikasi kandungan secara kualitatif dengan uji tabung Senyawa Flavonoid Cara kerja Filtrat serbuk + serbuk Mg + larutan alkohol : HCl (1:1) + larutan amil alkohol. reaksi positif ditunjukkan dengan warna merah atau kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol. baik dengan uji nilai ALT maupun adengan uji histopatologisel hati. sedangkan pada kontrol positif sebesar 1. glikosida. 2008). + Aktifitas brotowali (Tinospora cordifolia Miers) sebagai imunostimulan dan hepatoprotektor sudah banyak diteliti. buih tidak hilang jika + asam klorida 2N.89. Pustaka Hasil Kesimpulan + warna merah Lapisan atau kuning kuning atau jingga kemerahan pada lapisan amil alkohol. Saponin Buih mantap setinggi 1 cm selama 10 menit Buih mantap setinggi 1 cm selama 10 menit + Tanin Filtrat serbuk Warna merah Warna dimasukkan tabung tua Merah tua reaksi. dan kemampuan membunuh dari dari sel polymorphonuclear (Dahanukar. Pengujian dengan mengamati keadaan histopatologi sel hati relatif lebih spesifik dibanding dengan uji ALT. alkaloid.34. Filtrat serbuk dalam tabung reaksi + air panas. akan memberikan warna merah tua. ditambah dengan kalsium besi ( III ) sianida dan amoniak. 2000). Berdasarkan identifikasi kandungan senyawa dalam brotowali. Diamkan. Brotowali dalam meningkatkan respon imun diperkirakan karena kemampuannya dalam memperbaharui sitokin. Senyawa terpen yang aktif dalam brotowali sebagai imunstimulan salah satunya adalah epoxy clerodane diterpen yang dapat mencegah terjadinya hepatoselluler carcinoma (Dhanasekaran. terpen.60 ± 0. Kemampuan brotowali sebagai hepatoprotektor adalah karena aktivitasnya dalam memperbaiki fungsi sel kupffer. 2008). terbentuk buih mantap selama tidak kurang 10 menit setinggi 1 cm sampai 10 cm.60 ± 4. Kebanyakan mempunyai persamaan hasil bahwa yang mempunyai aktifitas imun aktif adalah ekstrak polar.Tabel 4.45 % sedangkan untuk kontrol positif dapat mencegah kerusakan sebesar 45. Untuk uji histopatologi sel hati didapatkan hasil kelompok ekstrak batang brotowali memberikan hasil bagus. Penelitian ini memberikan hasil bahwa brotowali (Tinospora cordifolia Miers ) mempunyai kemampuan hepatoprotektor dengan .

3·July 18. steroid. 2002· 2008 . AIDS Community Research Initiative of America (ACRIA): www. Horn Tom and Learned james. National Institute of Diabetesand Digestive and Kidney Diseases Bethesda. Cermin Dunia Kedokteran No. N Engl J Med. India. India. flavonoid. 108. glikosida dan alkaloid. 2007. glikosida dan alkaloid. flavonoid. Effect of Four Indian Medicinal Herbs on Isoniazid. Panchabha (2007). steroid. Phyllanthus emblica and their combination against antitubercular drugs induced hepatic damage: an experimental study. Rifampicin. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Pertama. and Pyrazinamid. Djoko1996. MD 20892 Hepatitis B e Antigen—The Dangerous Endgame Of Hepatitis B.diinduksi vaksin hepatitis B. No. Senyawa yang dimungkinkan aktif sebagai hepatoprotektor adalah terpen.. 2007 . M. 1996. brotowali mempunyai efek hepatoprotektor pada kerusakan hati yang disebabkan oleh induksi vaksin hepatitis B Kedua. 2007. Indian Journal Pharmacology. 2002. Marcghany. Liang. Departemen Pendidikan Nasional. Protective effect of Tinospora cordifolia. Sekelumit Obat Nabati dan Sistem Imun. induced Hepatic Injury and Imunosupression in Guinea Pigs. UCAPAN TERIMAKASIH Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. DAFTAR PUSTAKA Adhavaryu et al. Hargono. 2005. Vol. Senyawa aktif yang berfungsi sebagai hepatoprotektor dalam brotowali adalah terpen.D. Jake T.acria. Viral Hepatitis and HIV. Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah yang telah mendanai penelitian ini pada penelitian Dosen Muda tahun anggaran 2010. 347.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->