P. 1
Konsep Komunikasi Terapeutik

Konsep Komunikasi Terapeutik

|Views: 10,273|Likes:
Published by babazaenab

More info:

Published by: babazaenab on Jul 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

Konsep Komunikasi Terapeutik – Anang

July 8, 2009 by Anang Rachyudi Mahasiswa E lerning UNPAD BANDUNG, Dosen Pembimbing Yth Bapak Iyus .Assalamualaikum,Wr.Wb Latar Belakang .1 Saat ini perkembangan keperawatan di Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat pesat menuju perkembangan keperawatan sebagai profesi. Proses ini merupakan proses perubahan yang sangat mendasar dan konsepsional, yang mencakup seluruh aspek keperawatan baik aspek pendidikan, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kehidupan .keprofesian dalam keperawatan Perkembangan keperawatan menuju keperawatan profesi dipengaruhi oleh sebagai perkembangan keperawatan profesional seperti: adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan. Oleh sebab itu jaminan pelayanan keperawatan yang berkualitas hanya dapat diperoleh dari tenaga keperawatan yang profesional. Dalam konsep profesi terkait erat tiga nilai sosial yaitu: pengetahuan yang mendalam dan sistematis, keterampilan teknis dan kiat yang diperoleh melalui latihan yang lama dan teliti, dan pelayanan/angsuran kepada yang memerlukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis tersebut dengan berpedoman pada filsafat moral yang diyakini, yaitu etika .profesi serta konsep-konsep dalam berkomunikasi Masalah .2 Dalam profesi keperawatan, komunikasi sangat penting antara perawat dengan perawat, dan perawat dengan klien, khususnya komunikasi antar perawat dengan klien dimana dalam komunikasi itu perawat dapat menemukan beberapa solusi dari permasalahan yang sedang dialami klien, dan komunikasi ini dinamakan dengan komunikasi terapeutik. Akan tetapi dalam pelaksanaan komunikasi terapeutik ini ada fase-fase, tehnik-tehnik, dan faktor-faktor, serta proses komunikasi terapeutik tersebut dalam perawatan sehingga pelayanan/asuhan keperawatan dapat berjalan dengan baik serta .memberikan tingkat kepuasan pada klien Tujuan .3 Dengan memberikan materi ini diharapkan mahasiswa dapat memahami serta dapat menerapkan tentang konsep komunikasi terapeutik yang berkenaan dengan fase-fase, tehnik-tehnik, dan .faktor-faktor, serta prosesnya dalam perawatan Metode .4 Pengambilan bahan materi ini menggunakan metode studi pustaka dengan cara membaca buku-buku yang berkaitan dengan materi konsep dasar komunikasi, khususnya pada fase-fase, tehnik-tehnik, .dan faktor-faktor, serta prosesnya dalam perawatan

URAIAN MATERI KONSEP DASAR KOMUNIKASI Fase – fase komunikasi terapeutik .1 )Tahap Persiapan (Prainteraksi .1 Tahap Persiapan atau prainteraksi sangat penting dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (Christina, dkk, 2002). Pada tahap ini perawat menggali perasaan dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini perawat juga mencari informasi tentang klien. Kemudian perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahap ini harus dilakukan oleh seorang perawat untuk memahami dirinya, mengatasi kecemasannya, dan meyakinkan dirinya bahwa dia siap untuk .)berinteraksi dengan klien (Suryani, 2005 :Tugas perawat pada tahap ini antara lain Mengeksplorasi perasaan, harapan, dan kecemasan. Sebelum .1 berinteraksi dengan klien, perawat perlu mengkaji perasaannya sendiri (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Perasaan apa yang muncul sehubungan dengan interaksi yang akan dilakukan. Apakah .)ada perasaan cemas? Apa yang dicemaskan? (Suryani, 2005 Menganalisis kekuatan dan kelemanhan sendiri. Kegiatan ini .2 sangat penting dilakukan agar perawat mampu mengatasi kelemahannya secara maksimal pada saat berinteraksi dengan klien. Misalnya seorang perawat mungkin mempunyai kekuatan mampu memulai pembicaraan dan sensitif terhadap perasaan orang lain, keadaan ini mungkin bisa dimanfaatkan perawat untuk memudahkannya dalam membuka pembicaraan dengan klien dan .)membina hubungan saling percaya (Suryani, 2005 Mengumpulkan data tentang klien. Kegiatan ini juga sangat .3 penting karena dengan mengetahui informasi tentang klien perawat bisa memahami klien. Paling tidak perawat bisa mengetahui identitas klien yang bisa digunakan pada saat memulai interaksi .)(Suryani, 2005 Merencanakan pertemuan yang pertama dengan klien. Perawat .4 perlu merencanakan pertemuan pertama dengan klien. Hal yang direncanakan mencakup kapan, dimana, dan strategi apa yang akan .)dilakukan untuk pertemuan pertama tersebut (Suryani, 2005 Tahap Perkenalan .2 Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat pertama kali bertemu atau kontak dengan klien (Christina, dkk, 2002). Pada saat berkenalan, perawat harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu kepada klien (Brammer dalam Suryani, 2005). Dengan memperkenalkan dirinya berarti perawat telah bersikap terbuka pada klien dan ini diharapkan akan mendorong klien untuk membuka dirinya (Suryani, 2005). Tujuan tahap ini adalah untuk memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat

dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan .)yang lalu (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005 :Tugas perawat pada tahap ini antara lain Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan, dan .1 komunikasi terbuka. Hubungan saling percaya merupakan kunci dari keberhasilan hubungan terapeutik (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005), karena tanpa adanya rasa saling percaya tidak mungkin akan terjadi keterbukaan antara kedua belah pihak. Hubungan yang dibina tidak bersifat statis, bisa berubah tergantung pada situasi dan kondisi (Rahmat, J dalam Suryani 2005). Karena itu, untuk mempertahankan atau membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur, ikhlas, menerima klien apa adanya, .)menepati janji, dan menghargai klien (Suryani, 2005 Merumuskan kontrak pada klien (Christina, dkk, 2002). Kontrak ini .2 sangat penting untuk menjamin kelangsungan sebuah interaksi (Barammer dalam Suryani, 2005). Pada saat merumuskan kontrak perawat juga perlu menjelaskan atau mengklarifikasi peran-peran perawat dan klien agar tidak terjadi kesalah pahaman klien terhadap kehadiran perawat. Disamping itu juga untuk menghindari adanya harapan yang terlalu tinggi dari klien terhadap perawat karena karena klien menganggap perawat seperti dewa penolong yang serba bisa dan serba tahu (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Perawat perlu menekankan bahwa perawat hanya membantu, sedangkan kekuatan dan keinginan untuk berubah ada pada diri .)klien sendiri (Suryani, 2005 Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah .3 klien. Pada tahap ini perawat mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya. Dengan memberikan pertanyaan terbuka, diharapkan perawat dapat mendorong klien untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya sehingga dapat .mengidentifikasi masalah klien merumuskan tujuan dengan klien. Perawat perlu merumuskan .4 tujuan interaksi bersama klien karena tanpa keterlibatan klien mungkin tujuan sulit dicapai. Tujuan ini dirumuskan setelah klien .diidentifikasi Fase orientasi, fase ini dilaksanakan pada awal setiap pertemuan kedua dan seterusnya, tujuan fase ini adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini, dan mengevaluasi hasil tindakan yang lalu. Umumnya dikaitkan dengan hal yang telah dilakukan bersama klien (Cristina, .)dkk, 2002 Tahap Kerja .3 Tahap kerja ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Pada tahap ini perawat dan klien bekerja bersama-sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien. Pada tahap kerja ini dituntut

kemampuan perawat dalam mendorong klien mengungkap perasaan dan pikirannya. Perawat juga dituntut untuk mempunyai kepekaan dan tingkat analisis yang tinggi terhadap adanya .perubahan dalam respons verbal maupun nonverbal klien Pada tahap ini perawat perlu melakukan active listening karena tugas perawat pada tahap kerja ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah klien. Melalui active listening, perawat membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang dihadapi, bagaimana cara mengatasi masalahnya, dan mengevaluasi cara atau alternatif .pemecahan masalah yang telah dipilih Perawat juga diharapkan mampu menyimpulkan percakapannya dengan klien. Tehnik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu perawat-klien memiliki pikiran dan ide yang sama (Murray, B & Judth dalam Suryani, 2005). Tujuan tehnik menyimpulkan adalah membantu klien menggali hal-hal dan tema )emosional yang penting (Fontaine & Fletcner dalam Suryani, 2005 Tahap Terminasi .4 Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat dengan klien (Christina, dkk, 2002). Tahap ini dibagi dua yaitu terminasi .)sementara dan terminasi akhir (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005 Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawatklien, setelah terminasi sementara, perawat akan bertemu kembali .dengan klien pada waktu yang telah ditentukan Terminasi akhir terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses .keperawatan secara keseluruhan :Tugas perawat pada tahap ini antara lain Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah .1 dilaksanakan. Evaluasi ini juga disebut evaluasi objektif. Dalam mengevaluasi, perawat tidak boleh terkesan menguji kemampuan klien, akan tetapi sebaiknya terkesan sekedar mengulang atau .menyimpulkan Melakukan evaluasi subjektif. Evaluasi subjektif dilakukan dengan .2 menanyakan perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Perawat perlu mengetahui bagaimana perasaan klien setelah berinteraksi dengan perawat. Apakah klien merasa bahwa interaksi itu dapat menurunkan kecemasannya? Apakah klien merasa bahwa interaksi itu ada gunanya? Atau apakah interaksi itu justru .menimbulkan masalah baru bagi klien Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah .3 dilakukan. Tindakan ini juga disebut sebagai pekerjaan rumah untuk klien. Tindak lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang akan dilakukan berikutnya. Misalnya pada akhir interaksi klien sudah memahami tentang beberapa alternative mengatasi marah. Maka untuk tindak lanjut perawat mungkin bisa meminta klien untuk .mencoba salah satu dari alternative tersebut

Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya. Kontrak ini .4 penting dibuat agar terdapat kesepakatan antara perawat dan klien untuk pertemuan berikutnya. Kontrak yang dibuat termasuk tempat, .waktu, dan tujuan interaksi Stuart G.W. (1998) dalam Suryani (2005), menyatakan bahwa proses terminasi perawat-klien merupakan aspek penting dalam asuhan keperawatan, sehingga jika hal tersebut tidak dilakukan dengan baik oleh perawat, maka regresi dan kecemasan dapat terjadi lagi pada klien. Timbulnya respon tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan perawat untuk terbuka, empati dan responsif terhadap kebutuhan klien pada pelaksanaan tahap .sebelumnya Tehnik-tehnik Komunikasi Terapeutik .2 Bertanya .1 Bertanya (questioning) merupakan tehnik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Tehnik .berikut sering digunakan pada tahap orientasi Pertanyaan fasilitatif dan nonfasilitatif .1 Pertanyaan fasilitatif (facilitative question) terjadi jika pada saat bertanya perawat sensitif terhadap pikiran dan perasaan serta secara langsung berhubungan dengan masalah klien, sedangkan pertanyaan nonfasilitatif (nonfacilitative question) adalah pertanyaan yang tidak efektif karena memberikan pertanyaan yang tidak fokus pada masalah atau pembicaraan, bersifat mengancam, dan tampak kurang pengertian terhadap klien (Gerald, D dalam .)Suryani, 2005 Pertanyaan terbuka dan tertutup .2 Pertanyaan terbuka (open question) digunakan apabila perawat membutuhkan jawaban yang banyak dari klien. Dengan pertanyaan terbuka, perawat mampu mendorong klien mengekspresikan dirinya .)(Antai-Otong dalam Suryani, 2005 Pertanyaan tertutup (closed question) digunakan ketika perawat .membutuhkan jawaban yang singkat Inapropriate quantity question .3 Inapropriate quantity question yaitu pertanyaan yang kurang baik dari sisi jumlah pertanyaan, yang mengakibatkan klien bingung dalam menjawab. Terlalu banyak pertanyaan merupakan tindakan yang tidak tepat karena menimbulkan kebingungan klien untuk .)menjawab (Long, L dalam Suryani, 2005 Inapropriate quality question .4 Inapropriate quality question yaitu pertanyaan yang tidak baik diberikan pada klien dan biasanya dimulai dengan kata “why” : (mengapa). Why question ini dipertimbangkan tidak tepat karena

a. Terkesan menginterogasi, sehingga klien merasa seolah-olah diintimidasi (Sturat, G.W dalam Suryani, 2005). Hal ini bisa .menghambat keterbukaan klien terhadap perawat b. Tidak akan dapat menggali perasaan klien yang sebenarnya karena why question mengiring klien untuk menjawab secara rasional atau mengemukakan alasan dari suatu perbuatan atau keadaan, bukan bagaimana perasaanya terhadap kejadian (Gerald, .)D dalam Suryani, 2005 Mendengarkan .2 Mendengarkan (listening) merupakan dasar utama dalam komunikasi terapeutik (Keliat, Budi Anna, 1992). Mendengarkan adalah proses aktif (Gerald, D dalam Suryani, 2005) dan penerimaan informasi serta penelaahan reaksi seseorang terhadap .)pesan yang diterima (Hubson, S dalam Suryani, 2005 Selama mendengarkan, perawat harus mengikuti apa yang dibacakan klien dengan penuh perhatian. Perawat memberikan tanggapan dengan tepat dan tidak memotong pembicaraan klien. Tunjukkan perhatian bahwa perawat mempunyai waktu untuk .)mendengarkan (Purwanto, Heri, 1994 Mengulang .3 Mengulang (restarting) yaitu mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien (Keliat, Budi Anna, 1992). Restarting (pengulangan) merupakan suatu strategi .)yang mendukung listening (Suryani, 2005 Klarifikasi .4 Klarifikasi (clarification) adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti .)dari ungkapannya (Gerald, D dalam Suryani, 2005 Pada saat klarifikasi, perawat tidak boleh menginterpretasikan apa yang dikatakan klien, juga tidak boleh menambahkan informasi (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Apabila perawat menginterpretasikan pembicaraan klien, maka penilaiannya akan berdasarkan pandangan dan perasaannya. Fokus utama klarifikasi adalah pada perasaan, karena pengertian terhadap perasaan klien .sangat penting dalam memahami klien Refleksi .5 Refleksi (reflection) adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan, dan isi pembicaraan kepada klien. Hal ini digunakan untuk memvalidasi pengertian perawat tentang apa yang diucapkan klien dan menekankan empati, minat, dan penghargaan terhadap .)klien (Antai-Otong dalam Suryani, 2005 )Tehnik-tehnik refleksi terdiri dari: (Keliat, Budi Anna, 1992 Refleksi visi, yaitu memvalidasi apa yang didengar. Klarifikasi ide .1 .yang diekspresikan klien dengan pengertian perawat

Refleksi perasaan, yaitu memberi respon pada perasaan klien .2 terhadap isi pembicaraan, agar klien mengetahui dan menerima .perasaanya : Gunanya adalah untuk .a. Mengetahui dan menerima ide dan perasaan .b. Mengoreksi .c. Memberi keterangan lebih jelas : Ruginya adalah .a. Mengulang terlalu sering dan sama .b. Dapat menimbulkan marah, iritasi, dan frustasi Memfokuskan .6 Memfokuskan (focusing) bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada pencapaian tujuan (Stuart, G.W dalam Suryani, 2005). Dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah dan penggantian topik pembicaraan. Hal yang perlu diperhatikan dalam mengguanakan metode ini adalah usahakan untuk tidak memutus pembicaraan ketika klien menyampaikan masalah penting (Suryani, .)2005 Diam .7 Tehnik diam (silence) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat. Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisasi pikiran masing-masing (Stuart & Sundeen dalam Suryani, 2005). Tehnik ini memberikan waktu pada klien untuk berfikir dan menghayati, memperlambat tempo interaksi, sambil perawat menyampaikan dukungan, pengertian, dan penerimaannya. Diam juga memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri dan berguna pada saat klien harus mengambil keputusan .)(Suryani, 2005 Memberi Informasi .8 Memberikan tambahan informasi (informing) merupakan tindakan penyuluhan kesehatan klien. Tehnik ini sangat membantu dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan pada klien tentang aspekaspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien. Informasi yang diberikan pada klien harus dapat memberikan pengertian dan pemahaman tentang masalah yang dihadapi klien serta membantu dalam memberikan alternatif pemecahan masalah .)(Suryani, 2005 Menyimpulkan .9 Menyimpulkan (summerizing) adalah tehnik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi perawat-klien. Tehnik ini membantu perawat dan klien untuk memiliki pikiran dan ide yang sama saat mengakhiri pertemuan.

Poin utama dari menyimpulkan yaitu peninjauan kembali komunikasi .)yang telah dilakukan (Murray, B & Judith dalam Suryani, 2005 )Manfaat dari menyimpulkan antara lain : (Suryani, 2005 Memfokuskan pada topik yang relevan .1 Menolong perawat dalam mengulang aspek utama interaksi .2 Membantu klien untuk merasa bahwa perawat memahami .3 perasaannya Membantu klien untuk dapat mengulang informasi dan membuat .4 tambahan atau koreksi terhadap informasi sebelumnya Mengubah Cara Pandang .10 Tehnik mengubah cara pandang (refarming) ini digunakan untuk memberikan cara pandang lain sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Tehnik ini sangat bermanfaan terutama ketika klien berfikiran negatif terhadap sesuatu, atau memandang sesuatu dari sisi negatifnya. Seorang perawat kadang memberikan tanggapan yang kurang tepat ketika klien mengungkapkan masalah, misalnya menyatakan : “sebenarnya apa yang anda pikirkan tidak seburuk itu kejadiannya”. Reframing akan membuat klien mampu melihat apa yang dialaminya dari sisi positif (Gerald, D dalam Suryani, 2005) sehingga memungkinkan klien untuk membuat perencanaan yang .lebih baik dalam mengatasi masalah yang dihadapinya Eksplorasi .11 Eksplorasi bertujuan untuk mencari atau menggali lebih jauh atau lebih dalam masalah yang dialami klien (Antai-Otong dalam Suryani, 2005) supaya masalah tersebut bisa diatasi. Tehnik ini bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang detail tentang .masalah yang dialami klien Membagi Persepsi .12 Stuart G.W (1998) dalam Suryani (2005) menyatakan, membagi persepsi (sharing peception) adalah meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan atau pikirkan. Tehnik ini digunakan ketika perawat merasakan atau melihat ada perbedaan .antara respos verbal dan respons nonverbal klien Mengidentifikasi Tema .13 Perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan klien dan harus mampu manangkap tema dari seluruh pembicaraan tersebut. Gunanya adalah untuk meningkatkan pengertian dan menggali masalah penting (Stuart & Sadeen dalam Suryani, 2005). Tehnik ini sangat bermanfaat pada tahap awal kerja untuk memfokuskan .pembicaraan pada awal masalah yang benar-benar dirasakan klien Humor .14 Humor bisa mempunyai beberapa fungsi dalam hubungan terapeutik. Florence Nightingale dalam Anonymous (1999) dalam

Suryani (2005) pernah mengatakan suatu pengalaman pahit sangat baik ditangani dengan humor. Humor dapat meningkatkan kesadaran mental dan kreativitas, serta menurunkan tekanan darah .dan nadi : Dalam beberapa kondisi berikut humor mungkin bisa dilakukan Pada saat klien mengalami kecemasan ringan sampai sedang, .1 .humor mungkin bisa menurunkan kecemasan klien .Jika relevan dan konsisten dengan sosial budaya klien .2 .Membantu klien mengatasi masalah lebih efektif .3 Memberikan Pujian .15 Memberikan Pujian (reinforcement) merupakan keuntungan psikologis yang didapatkan klien ketika berinteraksi dengan perawat. Reinforcement berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien (Gerald, D dalam Suryani, 2005). Reniforcement bisa diungkapkan dengan kata-kata ataupun melalui .isyarat nonverbal Tehnik – tehnik komunikasi yang kurang tepat Komunikasi yang tidak efektif juga bisa mengakibatkan tidak .puasnya klien terhadap pelayanan keperawatan :Tehnik-tehnik keperawatan yang kurang tepat antara lain Memberi jaminan .1 Memberi jaminan artinya menyatakan sesuatu pada klien yang .belum pasti hasilnya dengan maksud menenangkan Memberikan penilaian .2 Memberikan penilaian dapat mengakibatkan klien merasa bahwa perawat mengabaikan perasaan klien atau merendahkan dirinya .)(Kozier, Erb & Oliveri dalam Suryani, 2005 Memberi komentar klise .3 Memberi komentar klise artinya memberikan komentar yang itu-itu saja atau komentar yang terlalu umum (Kozier, Erb & Oliveri dalam Suryani, 2005). Contoh : setiap klien melakukan atau menjawab .”sesuatu dengan tepat, perawat mengatakan “bagus Memberi saran .4 Memberi saran pada klien tidak tepat karena apabila saran (advice)nya tidak mampu mengatasi masalah, klien akan menyalahkan atau .)memulangkannya pada perawat (Gerald, D dalam Suryani, 2005 Mengubah pokok pembicaraan .5 Tehnik ini tidak tepat karena berorientasi pada perawat. Pada saat menggali masalah klien, terkadang perawat tidak tertarik pada ungkapan klien sehingga perawat mengubah topik pembicaraan .)(Kozier, Erb & Oliveri dalam Suryani, 2005 Defensif .6

Respon perawat yang defensif bisa menghambat klien dalam mengungkapkan perasaannya (Kozier, Erb & Oliveri dalam Suryani, 2005). Dengan memberikan respons defensif, sebetulnya perawat .sedang menutupi kekurangan atau kelemahannya Faktor-faktor Komunikasi Terapeutik .3 Faktor – faktor penghambat dalam proses komunikasi terpeutik )adalah : (Purwanto, Heri, 1994 a. Kemampuan pemahaman yang berbeda b. Pengamatan/penafsiran yang berbeda karena pengalaman masa lalu c. Komunikasi satu arah d. Kepentingan yang berbeda e. Memberikan jaminan yang tidak mungkin f. Memberitahu apa yang harus dilakukan kepada penderita g. Membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi h. Menuntut bukti, tantangan serta penjelasan dari pasien mengenai tindakannya i. Memberikan kritik mengenai perasaan penderita j. Menghentikan/mengalihkan topik pembicaraan k. Terlalu banyak bicara yang seharusnya mendengarkan .l. Memperlihatkan sifat jemu, pesimis )Faktor penghambat komunikasi : (Kariyoso, 1994 Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi .1 Sikap yang kurang tepat .2 Kurang pengetahuan .3 Kurang memahami sistem sosial .4 Prasangka yang tidak beralasan .5 Jarak fisik, komunikasi menjadi kurang lancar bila jarak antara .6 komunikator dengan reseptor berjauhan Tidak ada persamaan persepsi .7 Indera yang rusak .8 Berbicara yang berlebihan .9 Mendominir pembicaraan, dan lain sebagainya .10 )Faktor yang mempengaruhi komunikasi : (Suryani, 2005 Kredibilitas .1 Kredibilitas (credibility) terdapat dan berpengaruh pada sumber atau komunikator. Kredibilitas komunikasi sangat mempengaruhi keberhasilan proses komunikasi, karena hal ini mempengaruhi tingakat kepercayaan sasaran atau komunikasi terhadap pesan yang .disampaikan Isi pesan .1

Pesan yang disampaikan hendaknya mengandung isi yang bermanfaat bagi sasaran. Hasil komunikasi akan lebih baik jika isi .pesan besar manfaatnya bagi kepentingan sasaran Kesesuaian dengan kepentingan sasaran .1 Kesesuaian dengan kepentingan sasaran (context) terdapat dan berperan pada pesan. Pesan yang disampaikan harus berhubungan .dengan kepentingan sasaran Kejelasan .1 Kejelasan (clarity) terdapat dan berperan pada pesan. Kejelasan pesan yang disampaikan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan .komunikasi Kesinambungan dan konsistensi .1 Kesinambungan dan konsistensi (continuity and consistency) terdapat pada pesan. Pesan yang akan disampaikan harus .konsistensi dan berkesinambungan Saluran .1 Salura (channel) terdapat dan berperan pada media. Media yang .digunakan harus disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan Kapabilitas sasaran .1 Kapabilitas sasaran (capability of the audience) terdapat pada komunikan. Dalam menyampaikan pesan, komunikator harus .memperhitungkan kemampuan sasaran dalam menerima pesan )Psikologis (Rahmat, J dalam Suryani, 2005 .1 .Seperti sikap, pengalaman hidup, motivasi, kepribadian, dan konsep )Sosial (Ellis, Gates & Kenwarthy dalam Suryani, 2005 .1 Seperti usia, jenis kelamin, kelas sosial, suku, bahasa, kekuasaan, .dan peran sosial )Faktor yang mempengaruhi komnikasi : (Kariyoso, 1994 Ditinjau dari komunikator .1 Kecakapan komunikator .1 Sikap komunikator .2 Pengetahuan komunikator .3 Sistem sosial .4 Pengaruh komunikasi .5 Ditinjau dari komunikan .1 Kecakapan .1 Sikap .2 Pengetahan .3 Sistem sosial .4 Saluran (pendengaran, penglihatan) dari komunikan .5

Faktor yang menghambat komunikasi : (Blais, Kathleen Koening, )dkk, 2002 Tahap perkembangan .1 Jenis kelamin .2 Peran dan hubungan .3 Karakteristik sosiokultural .4 Nilai persepsi .5 Ruang dan teritorial .6 Lingkungan .7 Kesesuaian .8 Sikap interpersonal .9 Komunikasi Terpeutik dalam Proses Perawatan .4 )Proses komunikasi : (Mubarak, Wahid Iqbal, dkk, 2007 * Reference, stimulus yang memotifasi seseorang untuk .1 berkomunikasi dengan orang lain. Dapat berupa pengalaman, ide .atau tindakan Pengirim/ sumber/ encorder, disebut juga komunikator. Bisa .2 .perorangan atau kelompok Pesan/ berita, informasi yang dikirimkan. Dapat berupa kata-kata, .3 .gerakan tubuh atau ekspresi wajah Media/ saluran, alat atau sarana yang dipilih pengirim untuk .4 .menyampaikan pesan pada penerima/ sasaran Penerimaan/ sasaran/ decoder, kepada siapa pesan yang ingin .5 .disampaikan tersebut dituju Umpan balik/ feed back/ respons, reaksi dari sasaran terhadap .6 .pesan yang disampaikan .Proses komunikasi terapeutik dalam perawatan * )Pengkajian (Purwanto, Heri, 1994 .1 .Menentukan kemampuan seseorang dalam proses informasi Mengevaluasi data tentang status mental pasien untuk .menentukan batas intervensi Mengevaluasi kemampuan pasien dalam berkomunikasi secara .verbal .Mengobservasi apa yang terjadi pada pasien tersebut saat ini Mengidentifikasi tingkat perkembangan pasien sehingga interaksi .yang diharapkan bisa realistik Menentukan apakah pasien memperlihatkan sikap verbal dan .nonverbal yang sesuai Mengkaji tingkat kecemasan pasien sehingga dapat mengantisifasi .intervensi yang dibutuhkan )Diagnosa keperawatan (Potter & Perry, 1999 .2 .Analisa tertulis dari penemuan pengkajian -

.Sesi perencanaan tim kesehatan Diskusi dengan klien dan keluarga untuk menentukan metoda .implementasi .Membuat rujukan )Rencana tujuan (Purwanto, Heri,1994 .3 .)Rencana asuhan tertulis (Potter & Perry, 1999 .Membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan sendiri Membantu pasien agar dapat menerima pengalaman yang pernah .dirasakan .Meningkatkan harga diri pasien .Memberikan support karena adanya perubahan lingkungan Perawat dan pasien sepakat untuk berkomunikasi secara lebih .terbuka )Implementasi (Purwanto, Heri, 1994 .4 .Memperkenalkan diri kepada pasien .Memulai interaksi dangan pasien Membantu pasien untuk dapat menggambarkan pengalaman .pribadinya Menganjurkan kepada pasien untuk dapat mengungkapkan .perasaan kebutuhannya .Menggunakan komunikasi untuk meningkatkan harga diri pasien )Evaluasi (Purwanto, Heri, 1994 .5 Pasien dapat mengembangkan kemampuan dalam mengkaji dan .memenuhi kebutuhan sendiri Komunikasi menjadi lebih jelas, lebih terbuka dan berfokus pada .masalah Membantu menciptakan lingkungan yang dapat mengurangi .tingkat kecemasan : Sumber Pustaka .Suryani, Komunikasi Terpeutik : teori dan praktik, Jakarta, 2005 .1 Keliat, Budi Anna, Hubungan terapeutik perawat-klien, Jakarta, .2 .1992 .Purwanto, Heri, Komunikasi untuk perawat, Jakarta, 1994 .3 Potter & Perry, Fundamental keperawatan : konsep, proses, dan .4 .praktik, vol 1, E/4, Jakarta, 1999 .Christina, dkk, Komunikasi kebidanan, Jakarta, 2002 .5 Mubaraq, Wahid Iqbal, dkk, Promosi kesehatan : sebuah .6 pengantar proses belajar mengajar dalam pendidikan, Yogyakarta, .2007 .Karyoso, Komunikasi bagi siswa keperawatan, Jakarta, 1994 .7 Blais, Kethleen Koening, dkk, Praktik keperawatan profesional : .8 .komsep & perspektif, Ed. 4, Jakarta, 2002

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->